P. 1
PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

|Views: 4,727|Likes:
Published by Taufik Abidin

More info:

Published by: Taufik Abidin on Jan 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2015

pdf

text

original

TEACHING HEALTH ETHICS PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

Pendahuluan
Perkembangan pengobatan kedokteran saat ini semakin mengarah pada pengobatan modern. Berbagai jenis operasi dan penggunaan obat-obatan produksi pabrik semakin meluas. Tentunya perkembangan tersebut terjadi demi semakin membaiknya hasil yang diharapkan. Banyak pasien yang tertolong dengan adanya perkembangan pengobatan tersebut. Meskipun demikian, tentunya terdapat pula efek samping yang ditimbulkan. Hal tersebut membuat masyarakat selaku konsumen dari pengobatan tersebut berpikir ulang dalam memilih jenis pengobatan. Tidak jarang masyarakat memilih pengobatan tradisional yang dianggap memiliki efek samping yang lebih kecil, yang di samping itu juga terdapat keterkaitan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh masayarakat. Adapun pengobatan tradisional tersebut merupakan pengobatan dengan cara maupun obat yang mengacu pada pengalaman, ketrampilan turun menurun atau pelatihan yang diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun sering kali dasar dari pengobatan tradisional tersebut belum jelas dan belum terdapat penelitian yang akurat terhadap metode dan jenis obat yang digunakan, tidak jarang pasien beralih kepada pengobatan tradisional. Pasien menolak diberikan pengobatan secara modern dengan berbagai alasan dan beralih ke pengobatan tradisional meskipun berdasarkan teori akan dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih lanjut. Di lain pihak, seorang pasienpun memiliki hak untuk memilih pengobatan yang akan digunakannya. Keadaan seperti ini menimbulkan perdebatan atau masalah yang kontroversial hingga saat ini. Kontroversi yang terjadi lebih menitik beratkan pada budaya,
1

adat istiadat yang berlaku, etika, bahkan agama. Pelayanan kesehatan modern, dalam hal ini pengobatan modern telah memunculkan dilema-dilema etika yang sangat kompleks dari berbagai sudut pandang. Dokter sering kali tidak dipersiapkan untuk mengelola hal-hal tersebut secara baik (kompeten). Pembahasan mengenai etik akan sangat bermanfaat dalam menghadapi persoalan tersebut. Perlu dilakukan telaah etik dalam menyelesaikan ketidaksepakatan yang terjadi. Bioetika berperanan dalam menyikapi keadaan ini tergantung dari masing-masing individu. Semakin hari pemahaman etika kedokteran merupakan tuntutan yang dipandang semakin perlu. Praktek kedokteran klinik yang baik memerlukan beberapa pengetahuan tentang masalah etika seperti informed consent, kejujuran, kerahasiaan, perawatan akhir hidup, menghilangkan sakit, dan hak pasien. Etik sendiri secara harfiah berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti. Dari uraian tersebut, maka etika dapat dipahami sebagai ilmu mengenai kesusilaan. Dalam filsafat, pengertian etika adalah telaah dan penilaian kelakuan manusia ditinjau dari kesusilaannya. Kesusilaan yang baik merupakan ukuran kesusilaan yang disusun bagi diri seseorang atau merupakan kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang dibutuhkan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu bagi anggota-anggotanya. Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa aturan dibawahnya. Keempat kaidah tersebut adalah :
1.

Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the right to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent.

2.

Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan untuk kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya.

3.

Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “above all do no harm”.

2

4.

Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. Sedangkan aturan dibawahnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka),

privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). Etika kedokteran yang membahas tata susila dokter dalam menjalankan profesinya, khususnya yang berkaitan dengan pasien, semakin menjadi tantangan yang harus digeluti. Sebab tugas profesi kedokteran adalah tugas kemanusiaan yang luhur. Apalagi kesediaan untuk terlibat dan melayani manusia sakit adalah pilihan hidupnya. Ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: etika jabatan (medical ethics) dan etika asuhan kedokteran (ethics of medical care). Etika jabatan kedokteran menyangkut masalah yang berkaitan dengan sikap para dokter terhadap teman sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat dan pemerintah. Etika asuhan kedokteran merupakan etika kedokteran untuk kehidupan sehari-hari, yaitu mengenai sikap dan tindakan seorang dokter terhadap penderita yang menjadi tanggungjawabnya. Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Nilai-nilai etika profesi tersebut tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Kode Etik Kedokteran di Indonesia pertama kali disusun tahun 1969 dalam musyawarah kerja Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta. Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik Kedokteran Internasional yang telah disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar ke-22 Ikatan Dokter Sedunia. Kode Etik tersebut mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir adalah pada musyawarah kerja nasioal IDI XIII, 1993. Secara umum, pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar, yaitu : (a) kebutuhan fisiologis yang dipenuhi dengan makanan dan minuman, (b) kebutuhan psikologis yang dipenuhi dengan rasa kepuasan, istirahat, santai, dll, (c) kebutuhan sosial yang dipenuhi melalui keluarga, teman dan komunitas, serta (d) kebutuhan kreatif dan spiritual yang dipenuhi dengan melalui pengetahuan, kebenaran, cinta dan lainnya.
3

Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara berimbang. Apabila seseorang memilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara tidak berimbang, maka ia telah menentukan secara subyektif apa yang baik bagi dirinya, yang belum tentu baik secara obyektif. Baik disebabkan oleh ketidaktahuan atau akibat kelemahan moral, seseorang dapat saja tidak mempertimbangkan semua kebutuhan tersebut dalam membuat keputusan etik, sehingga berakibat terjadinya konflik di bidang keputusan moral.

Skenario Kasus
Teaching Health Ethics (Resource Materials from the WHO South-East Asia Region)
Learning Scenarios > The physician-patient relationship >Conflict and conflict-solvng

Seseorang yang lebih memilih pengobatan tradisional. Dokter: Pasien ini tinggal di sebuah kota, namun mengalami kecelakaan di kota lain dalam negara yang sama. Ia mengalami trauma pada lututnya. Seorang dokter menemaninya saat dirujuk. Ia tidak memiliki masalah pada pembiayaan karena ditanggung oleh asuransi. Dia dijelaskan bahwa tidak terdapat masalah dan pihak rumah sakit akan menyediakan fasilitas untuk operasi. Namun ia menolak untuk diobati. Saya menjelaskan kepada pasien dan keluarganya, jika tidak diberikan pengobatan, konfigurasi lutut pasien akan berubah dan mengakibatkan gangguan pergerakan. Juga akan timbul nyeri apabila pasien berjalan terlalu jauh. Akan muncul artritis pasca trauma. Deformitas akan terjadi yang dapat menyebabkan pasien tidak bisa berjalan dengan stabil. Ia tetap menolak meskipun sudah dijelaskan semuanya. Ia meminta untuk dikirim ke tempat pengobatan traditional yang terkenal. Keluarganya setuju dengan pendapatnya. Saya tidak mampu untuk mengubah pemikiran mereka, jadi saya membiarkan mereka untuk memutuskannya. Ternyata tempat pengobatan tersebut memiliki pasien yang sangat banyak, melebihi pasien di rumah sakit.

4

Masalah Moral yang Terjadi
Bagaimana peran dokter dalam hubungan dokter-pasien dalam kasus tersebut? Bagaimana menyikapi hak otonomi pasien dalam memilih pengobatan? Bagaimana sikap anda sebagai dokter bila menghadapi kasus tersebut?

Fakta – fakta yang Terjadi
2.1 Cedera Lutut Persendian atau artikulasio adalah suatu hubungan antara dua buah tulang atau lebih yang dihubungkan melalui pembungkus jaringan ikat pada bagian luar dan pada bagian dalam terdapat rongga sendi dengan permukaan tulang yang dilapisi oleh tulang rawan. Fungsi dari sendi secara umum adalah untuk melakukan gerakan pada tubuh. Sendi lutut merupakan bagian dari extremitas inferior yang menghubungkan tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi dari sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki. Dan untuk menggerakkan kaki ini juga diperlukan antara lain :
a.

Otot- otot yang membantu menggerakkan sendi. jangan lepas bila bergerak.

b. Capsul sendi yang berfungsi untuk melindungi bagian tulang yang bersendi supaya

c. d. e.

Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang mengatur luasnya gerakan. Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi untuk mengurangi gesekan antara tulang pada permukaan sendi. Ligamentum-ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang merupakan penghubung kedua buah tulang yang bersendi sehingga tulang menjadi kuat untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh.
5

Sendi lutut ini termasuk dalam jenis sendi engsel, yaitu pergerakan dua condylus femoris diatas condylus tibiae. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi ini yaitu gerakan fleksi , ekstensi dan sedikit rotatio. Jika terjadi gerakan yang melebihi kapasitas sendi maka akan dapat menimbulkan cedera yang antara lain terjadi robekan pada kapsul dan ligamentum di sekitar sendi. Tipe-tipe cedera pada lutut dapat dibedakan menjadi trauma lutut yang akut dan kronis. Tipe akut biasanya disebabkan karena benturan secara langsung pada lutut. Sedangkan untuk tipe kronis biasanya muncul karena penggunaan sendi yang berlebihan dan meliputi ligamen dan tendon di sekitarnya. Keluhan pada cedera kronis pada umumnya berupa rasa nyeri yang muncul bertahap atau bersifat hilang timbul. Adapun pencetusnya adalah cedera yang tidak sembuh secara sempurna. Selain itu, aktivitas seperti olahraga atau gerakan yang berulang juga merupakan faktor resiko untuk cedera. Beberapa gejala yang ditemukan pada pemeriksaan cedera lutut, antara lain a) Nyeri yang merupakan gejala yang paling sering ditemukan; b)Kekakuan. Sendi terasa kaku dan dapat menyebabkan pincang; c) Deformitas. Deformitas atau kaki bengkok sering ditemukan tetapi jarang mengganggu; d) Pembengkakan. Bersifat lokal atau tersebar, dan dapat muncul dengan segera atau setelah beberapa jam; e)Penguncian. Lutut mendadak tidak bisa diluruskan sepenuhnya, meskipun fleksi masih dapat dilakukan; dan f) Pemberian jalan. Menunjukkan suatu kelainan mekanis, meskipun kelainan ini dapat terjadi akibat kelemahan otot. Secara umum, dikenal penatalaksanaan cedera lutut dengan menggunakan konsep RICE (rest, ice, compression, elevation). a. Rest (istirahat). Pada awalnya, istirahatkan sendi dengan menghindari aktivitas yang menggunakan dan membebani sendi. b. Ice (es). Dilakukan dengan menggunakan kantong yang berisi es dan dibungkus dengan handuk, lalu diletakkan di atas lokasi cedera secepatnya. Diamkan selama kurang lebih 20 menit dan ulangi setiap 2-3 jam untuk 48 jam hingga 72 jam pertama. Penggunaan es ini dapat mengurangi bengkak dan nyeri. c. Compression (kompresi). Membalut cedera dengan elastic bandage untuk mengurangi bengkak. Balutan tersebut akan memberikan kompresi yang cukup,
6

namun tidak sampai menghambat gerakan dan aliran darah. Balutan ini dilepas pada saat malam/tidur. d. Elevation (elevasi). Bagian yang cedera dinaikkan lebih di atas daripada jantung. Hal ini akan membantu dalam proses penyembuhan. Cedera lutut yang ringan biasanya dapat membaik dengan sendirinya atau hanya dengan menggunakan obat-obatan luar dan analgetik untuk menghilangkan rasa sakitnya. Namun, sebaiknya semua cedera diperiksa oleh dokter atau fisioterapi. Nyeri lutut yang menetap memerlukan pengobatan. Dengan pengobatan yang tepat akan memungkinkan untuk penyembuhan yang sempurna. Terapi-terapi yang diberikan dapat berupa: a. Aspirasi. Bila sendi lutut membengkak, maka utnuk menghilangkan tekanan dapat dilakukan dengan mengaspirasi cairan dengan menggunakan jarum. b. Fisioterapi. Meliputi pengobatan stimulasi otot dengan gelombang ultrasound dan elektrik, latihan untuk meningkatkan mobilitas dan kekuatan, dan teknik-teknik lainnnya. Terapi secara fisik berperan penting dalam pengobatan dan rehabilitasi lutut. Adapun penatalaksanaan dengan terapi fisik dapat dibagi menjadi latihan dengan proteksi yang maksimal dan pengembalian ke fungsi semula. Latihan dengan proteksi maksimal dimaksudkan adalah serangkaian latihan yang didesain secara khusus untuk membantu pergerakan. Beberapa latihan dalam fase ini dapat berupa berjalan di air, berenang dan pembebanan pada kaki. Sedangkan pengembalian ke fungsi semula dilakukan dengan latihan kekuatan yang lebih besar, dilakukan secara bertahap hingga dapat kembali ke fungsi sebelumnya. c. Pembedahan arthroskopi. Disebut juga pembedahan keyhole. Pembedahan arthroskopi dilakukan dengan insisi kecil dan memasukkan alat melalui insisi tersebut untuk dapat mengetahui daerah yang rusak. Prosedur ini dilakukan dengan singkat dan rasa sakit yang sesaat. d. Operasi pembedahan. Pada beberapa kasus cedera lutut, juga diperlukan pembedahan dalam penatalaksanaannya. Pembedahan dilakukan bila cedera yang terjadi cukup parah dan mengenai keseluruhan sendi. Penatalaksanaan cedera lutut pada umumnya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, memerlukan waktu yang cukup lama.
7

Cedera lutut yang tidakdengan segera ditangani, tentunya akan menimbulkan komplikasi yang nantinya akan semakin memperparah keadaan dari lutut tersebut. Adapun komplikasi tersebut tergantung pada letak cedera lutut secara spesifik. Namun, secara umum, dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi lanjutan. a. Komplikasi dini dapat berupa: Kerusakan kulit yang sering ditemukan dan memerlukan pembersihan luka. Kerusakan arteri atau cedera vaskular merupakan kedaruratan tingkat pertama yang memerlukan eksplorasi dan perbaikan. Selain itu, nantinya juga dapat mengakibatkan bahaya ganggren. Sindroma komparment yang biasanya muncul apabila terdapat banyak perdarahan dengan jenis fraktur tertutup sehingga darah mengumpul di dalam. Hal ini selanjutnya akan menmbulkan iskemia jaringan otot. Cedera saraf yang dapat terjadi terutama pada saraf popliteus lateral. Infeksi, biasanya muncul pada fraktur terbuka. Meskipun perforasi yang kecil sekalipun harus diperiksa secara seksama dan debridemen harus dilakukan sebelum luka ditutup. Namun, apabila laserasi besar, membutuhkan eksisi yang lebar dan luka harus dibiarkan terbuka sampai resiko infeksi telah lewat. b. Komplikasi lanjutan dapat berupa: - Kekakuan sendi yang hampir tidak dapat dihindari. - Non union, biasanya muncul karena gerakan lutut yang dipaksaka terlalu awal. - Deformitas biasanya karena reduksi fraktur tak sempurna atau fraktur mengalami pergeseran ulang selama terpai. - Osteoarthritis - Perlekatan, terjaid bila lutut dengan robekan ligamen sebagian tidak digunakan secara aktif, maka serta yang putus akan menempel pada serat ayng utuh dan tulang. - Ketidakstabilan sendi. Biasanya tersisa tetapi, asalkan otot kuadriseps cukup kuat, ketidakmampuan biasanya tidak berat. - Dislokasi yang berulang.
8

- Malunion. Selain terdapat berbagai komplikasi bila tidka dilakukan operasi pada cedera lutut, komplikasi juga dapat timbul setelah dilakukan operasi. Meskipun operasi pembedahan minor, juga beresiko untuk terjadinya komplikasi, tergantung pada kompleksitas dari prosedur yang dilakukan. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah bekuan darah pada pembuluh darah vena di kaki. Meskipun hal ini merupakan masalah kecil, namun apabila bekuan darah ini sampai ke jantung atau paru-paru maka akan menjadi berbahaya. Komplikasi yang paling berbahaya adalah infeksi. Ini dapat terjadi apabila higienitas saat dilakukan dan setelah operasi kurang. Selain itu, juga dapat terjadi komplikasi yang lainnya, seperti kerusakan saraf, komplikasi patella, trauma pada arteri, perdarahan, komplikas anastesi, alergi terhadap metal yang diimplantasikan, kompliasi dari transfusi dan mati rasa di sekitar luka. 2.2 Pengobatan Tradisional Pengobatan tradisional merupakan salah satu upaya pengobatan dan/atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan/atau ilmu keperawatan, yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan. Terdapat berbagai jenis pengobatan tradisional, yang didasarkan pada penggunaan tanaman, hewan dan mineral, selain itu juga terdapat terapi dengan cara spiritual dan manual. Dalam aplikasinya dapat berdiri sendiri ataupun kombinasi. Adapun definisi dari pengobatan tradisional itu sendiri adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara, obat atau pengobatnya yang mengacu kepada pengalaman, ketrampilan turun menurun, dan/atau pendidikan/pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Definisi tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi dari WHO, yang menyebutkan bahwa pengobatan tradisional adalah praktek, pengetahuan, dan kepercayaan dalam pengobatan yang didasarkan pada penggunaan tumbuh-tumbuhan, hewan dan/atau mineral, terapi spiritual, dan teknik manual yang digunakan secara tersendiri atau kombinasi yang digunakan untuk mengobati, mendiagnosa dan mencegah penyakit. Di Indonesia, meskipun pelayanan kesehatan modern telah berkembang, jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut survei Sosial
9

Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, 31,7% menggunakan obat tradisional, dan 9,8%% memilih cara pengobatan tradisional. Obat-obatan yang sering digunakan merupakan ramuan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian atau campuran bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Jenis-jenis pengobatan tradisional, dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Pengobat tradisional ketrampilan terdiri dari pengobat tradisional pijat urut, patah

tulang, sunat, dukun bayi, refleksi, akupresur, akupuntur, chiropractor dan pengoabt tradisional lainnya yang metodenya sejenis. 2. Pengobat tradisional ramuan terdiri dari pengobat tradisional ramuan Indonesia (jamu), gurah, tabib, shinshe, homoeopathy, aromatherapist dan pengobat tradisional lainnya yang metodenya sejenis. 3. Pengobat tradisional pendekatan agama terdiri dari pengobat tradisional dengan pendekatan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, atau Budha.
4. Pengobat tradisional supranatural terdiri dari pengobat tradisional tenaga dalam

(prana), paranormal, reiky master, qigong, dukun kebatinan dan pengobat tradisional lainnya yang metodenya sejenis. Saat ini, pengobatan tradisional semakin berkembang dan digunakan secara luas. Di beberapa negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin, sering kali pengobatan tradisional digunakan sebagai pilihan pengobatan pertama. Bahkan, di Afrika sendiri, 80% populasi penduduknya menggunakan pengobatan tradisional sebagai pengobatan pertama. Di negara-negara industri, pengobatan tradisional diadaptasi sebagai pengobatan komplementer atau pengobatan alternatif. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan pengobatan tradisional pada beberapa negara.
1. Di Cina, obat-obat herbal tradisional meliputi 30% hingga 50% dari total

penggunaan obat. 2. Di negara Ghana, Mali, Nigeria dan Zambia, 60% terapi pada anak dengan panas tinggi karena malaria diobati pertama kali di rumah dengan obat herbal.
3. WHO memperkirakan di beberapa negara Afrika kelahiran pada umumnya dibantu

dengan cara tradisional.
10

4. Di Eropa, Amerika utara dan beberapa negara industri lainnya, lebih dari 50% populasi pernah menggunakan pengobatan alternatif atau komplementer paling sedikit satu kali. 5. Di San Fransisco, London dan Afrika selatan, 75% pasien dengan HIV/AIDS menggunakan pengobatan alternatif.
6. 70%

dari

populasi

penduduk

Kanada

pernah

menggunakan

pengobatan

komplementer paling sedikit satu kali.
7. Di Jerman, 90% dari populasi pernah menggunakan pengobatan alami. Antara tahun

1995 dan 2000 jumlah dokter yang mengikuti pelatihan pengobatan alami menjadi dua kali lipat, yaitu 10.800 orang.
8. Di Amerika Serikat, 158 juta populasi dewasa menggunakan pengobatan

komplementer

dan

berdasarkan

USA

Commission

for

Alternative

and

Complementary medicines, sekitar 17 milyar dolar Amerika digunakan untuk terpai dengan cara tradisional pada tahun 2000. 9. Di Inggris, pengeluaran tahunan untuk pengobatan alternatif adalah sekitar 230 juta dolar. Untuk cedera lutut, jenis pengobatan tradisional yang digunakan pada umumnya adalah pengobat tradisional yang menggunakan ketrampilan, yaitu pengobat tradisional dengan pijat urut. Terkadang juga disertai dengan pemberian ramuan yang dioleskan pada lokasi cedera (seperti minyak urut) dan juga ramuan yang diminum. 2.3 Nilai-nilai Pasien dan Sosial Dengan mengacu kepada hak-hak asasi manusia, hak-hak pasien adalah hak-hak yang dimiliki pribadi manusia sebagai pasien. Adapun hak-hak pasien dalam hukum kedokteran yang bertumpu dan berdasarkan atas dua hak asasi manusia, yaitu : 1. Hak atas pemeliharaan kesehatan (The Right to Health Care) 2. Hak untuk menentukan nasib sendiri (The Right to Self Determination) Untuk mengatur hal tersebut maka dibuatlah Deklarasi Lisabon 1981 yang mengatur tentang hak yang dimiliki oleh pasien, yaitu : 1. Pasien berhak memilih dokternya secara bebas.
11

Seseorang mempunyai hak untuk memilih dokter yang ia harapkan dapat memberikan suatu pertolongan. Pada dasarnya hubungan dokter dengan pasien dilandasi oleh suatu kepercayaan. Meskipun demikian, seseorang memilih dokter mungkin didasarkan atas beberapa pertimbangan lain, seperti: a. b. c. d. e.
2.

keadaan sosial ekonomi pasien, kepopuleran dokter, kelengkapan peralatan kedokteran, jarak tempat antara dokter dan pasien, atau prestise pasien. Pasien berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan sesudah ia

memperoleh informasi yang jelas. Merupakan hak pasien untuk mendapatkan informasi dan setiap pembedahan atau tindakan invasif lainnya harus memperoleh persetujuan pasien terlebih dahulu. Dokter harus menjelaskan tindakan dengan bahasa yang dapat dimengerti pasien. Informasi ini meliputi tindakan yang diambil, resikonya, kemungkinan akibat yang timbul berikut jenis tindakan yang dilakukan untuk dapat mengatasinya, kemungkinan yang akan terjadi bila tindakan tidak dilakukan, dan prognosis. Informasi yang diberikan disampaikan dalam bahasa yang sederhana, tetapi cukup lengkap. Pasien harus dibimbing agar dapat memutuskan secara mandiri dan bertanggung jawab. Persetujuan pasien atas tindakan setelah diinformasikan terlebih dahulu disebut informed consent. Dokter juga harus tahu kapan informasi itu tidak baik diberikan, misalnya bila informasi tersebut akan menambah keadaan sakit pasien atau jika pasien masih di bawah umur sehingga tidak dapat memahami informasi yang diberikan, informasi itu bisa diberikan kepada keluarga pasien.
3.

Pasien berhak mengakhiri atau memutuskan hubungan dengan dokternya

dan bebas untuk memilih atau menggantinya dengan dokter lain. Dengan perkataan lain, dokter tidak berhak mencegah/melarang/menghalangi pasien yang ingin berobat ke dokter lain.
4.

Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat

klinis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.

12

5. 6. 7. 8.

Pasien berhak atas privacy yang harus dilindungi, ia pun berhak atas sifat Pasien berhak mati secara bermartabat dan terhormat. Pasien berhak menerima/menolak bimbingan moril ataupun spiritual. Pasien berhak mengadukan dan berhak atas penyelidikan pengaduannya Etika bersifat pluralistik. Setiap orang memiliki perbedaan terhadap penilaian benar

kerahasiaan data-data mediknya.

serta berhak diberi tahu hasilnya. atau salah bahkan jika ada persamaan bisa saja hal tersebut berbeda dalam alasannya. Di beberapa masyarakat, perbedaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal dan ada kebebasan besar bagi seseorang untuk melakukan apa yang dia mau, sejauh tidak melanggar hak orang lain. Namun di dalam masyarakat yang lebih tradisional, ada persamaan dan persetujuan pada etika dan ada tekanan sosial yang lebih besar, kadang bahkan didukung oleh hukum, dalam bertindak berdasarkan ketentuan tertentu. Dalam masyarakat tersebut budaya dan agama sering memainkan peran yang dominan dalam menentukan perilaku yang etis. Setiap kasus klinis, yang dilihat sebagai suatu masalah etika, harus dianalisa berdasarkan atas empat faktor, yaitu: 1. Medical Indications (Indikasi Medis) Meliputi diskusi klinis tentang diagnosa dan terapi pada kondisi patologi pasien. " Indikasi" mengacu pada hubungan antara patofisiologi yang terjadi pada pasien dan dan diagnosa serta terapi intervensi yang " diindikasi," sesuai untuk mengevaluasi dan mengatasi masalah tersebut. Walaupun hal ini merupakan materi umum yang mencakup segala permasalahan klinis pasien, diskusi etika tidak hanya meninjau ulang fakta medis, tetapi juga memperhatikan maksud dan tujuan semua indikasi intervensi. 2. Patient Preferences (Pilihan Pasien) Dalam semua perawatan medis, pilihan pasien berdasarkan nilai-nilai kepunyaan pasien dan penilaian pribadi dari manfaat dan beban yang relevan secara etika. Pada kasus klinis, perlu diadakan peninjauan mengenai tujuan dan keinginan pasien. Dimana hal tersebut akan memunculkan berbagai pertanyaan lebih lanjut. Sudahkah pasien diberikan informasi yang cukup? Apakah pasien mengerti? Apakah pasien memahami ketidakpastian dalam setiap rekomendasi medis dan cakupan pilihan yang ada? Apakah pasien menyetujui dengan
13

sukarela? Apakah pasien dipaksa? Dalam beberapa kasus, tidak didapatkan jawaban dari pertanyaan ini, karena pasien tidak mampu untuk merumuskan suatu pilihan atau pernyataan. Jika pasien secara mental tidak mampu membuat suatu keputusan, kita harus menanyakan siapa yang mempunyai otoritas untuk memutuskan atas nama pasien ini, apa batas sah dan yang etis menyangkut otoritas itu, dan apa yang akan dilaksanakan jika tak seorangpun dikenali seperti wakil/pengganti. Masalah etis muncul dalam menentukan siapa yang berhak mewakili pasien dalam mengambil keputusan dan dalam memilih kriteria keputusan berdasarkan kepentingan pasien yang tidak kompeten tersebut. Dokter dapat dianggap sebagai pengambil keputusan yang tepat bagi pasien yang tidak kompeten jika sistem paternalisik berlaku. Dokter sebaiknya berkonsultasi dengan anggota keluarga mengenai pilihan tindakan yang ada, walaupun keputusan final ada di tangan dokter. Dengan perkembangan saat ini, secara bertahap dokter mulai kehilangan kewenangan ini di banyak negara, karena pasien diberi hak untuk memilih sendiri siapa yang dapat mewakilinya dalam mengambil keputusan jika memang tidak kompeten lagi. Dan di beberapa negara bagian, secara khusus menentukan siapa yang berhak menjadi wakil pasien dalam mengambil keputusan dalam urutan ke bawah yaitu: suami atau istri, anak dewasa, kakak atau adik dan seterusnya. Dalam hal ini dokter membuat keputusan untuk pasien jika pengganti yang sudah ditentukan tidak dapat ditemukan, yang sering terjadi dalam keadaan darurat. Jika dokter berhasil mengkomunikasikan semua informasi yang diperlukan oleh pasien dan jika pasien tersebut ingin mengetahui diagnosa, prognosis, dan pilihan terapi yang dijalani, maka kemudian pasien akan berada dalam posisi dapat membuat keputusan berdasarkan pemahamannya tentang bagaimana menindaklanjutinya. Walaupun istilah ijin mengandung pengertian menerima perlakuan yang diberikan, namun konsep ijin berdasarkan pengetahuan dan pemahaman juga bermakna sama dengan penolakan terhadap terapi atau memilih. Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk menolak perawatan, walaupun penolakan tersebut dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. 3. Quality of Life (Mutu Hidup) Luka atau penyakit yang dapat mengancam atau potensial mengurangi mutu hidup, dinyatakan dengan tanda dan gejala dari penyakit mereka. Obyek semua intervensi medis
14

adalah untuk memperbaiki kembali, memelihara atau meningkatkan mutu hidup. Karena itu, dalam semua situasi medis, topik mutu hidup harus diperhatikan. Banyak pertanyaan sekitar topik ini: apa arti ungkapan "mutu hidup" secara umum? Bagaimana hal itu dipahami secara khusus? Bagaimana orang lain memahami mutu hidup pasien tersebut dan keterkaitan etis dalam persepsi mereka? yang paling penting, apa keterkaitan mutu hidup dengan pertimbangan etika? Topik ini, lebih sedikit literatur tentang etika medis dibanding dua topik sebelumnya, membahayakan sebab membuka jalan untuk penyimpangan dan prasangka. Meskipun demikian, harus diperhatikan dalam menganalisa permasalahan etika klinik. 4. Contextual Features Pasien datang ke dokter karena mereka mempunyai suatu masalah dan mereka berharap dokter itu dapat membantu. Dokter merawat pasien dengan tujuan dan tugas agar semua usaha layak untuk membantu mereka. Topik indikasi medis, pilihan pasien dan mutu hidup memunculkan segi penting dari kasus ini. Namun setiap kasus medis berhubungan dengan suatu konteks besar dari orang, institusi, pengaturan sosial dan keuangan. Kepedulian pasien dipengaruhi, secara positif atau secara negatif, oleh berbagai kemungkinan dan batasan konteks tersebut . Pada waktu yang sama, keputusan yang dibuat oleh atau tentang pasien mempunyai dampak psikologis, emosional, keuangan, legal, pendidikan, serta pengaruh rohani pada orang lain. Di dalam setiap kasus, keterkaitan contextual features harus ditentukan dan ditaksir. contextual feature sangat penting dalam memahami dan mengatasi kasus yang terjadi. Setiap kasus dapat dipandang dalam kaitan dengan empat faktor ini. Walaupun fakta dari tiap kasus berbeda, empat faktor ini selalu relevan. Faktor-faktor ini mengatur bermacam-macam fakta kasus tertentu dan, pada waktu yang sama, faktor meperhatikan prinsip moral yang sesuai kepada kasus tersebut. Tujuannya untuk menunjukkan bagaimana faktor-faktor tersebut menyediakan suatu cara sistematis untuk mengidentifikasi, meneliti dan memecahkan permasalahan etika yang timbul dalam kedokteran klinik. Selain berbagai hal mengenai etika di atas, tidak lupa juga perlunya dibahas mengenai hubungan dokter dengan pasien. Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang
15

memberikan batasan atau rambu-rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi, yaitu otonomi, beneficence, nonmaleficence, dan justice, yang disebut sebagai prinsip utama; dan veracity, fidelity, privacy, dan confidentiality sebagai prinsip turunannya. Pada awalnya hubungan dokter-pasien adalah hubungan yang bersifat paternalistik, dengan prinsip moral utama adalah beneficence. Sifat hubungan paternalistik ini kemudian dinilai telah mengabaikan nilai otonomi pasien, dan dianggap tidak sesuai dengan perkembangan moral (orang barat) saat ini, sehingga berkembanglah teori hubungan kontraktual (sekitar tahun 1972 - 1975). Konsep ini muncul dengan merujuk kepada teori social contract di bidang politik. Veatch (1972) mengatakan bahwa dokter dan pasien adalah pihak-pihak yang bebas, yang meskipun memiliki perbedaan kapasitas dalam membuat keputusan, tetapi saling menghargai. Dokter akan mengemban tanggungjawab atas segala keputusan teknis, sedangkan pasien tetap memegang kendali keputusan penting, terutama yang terkait dengan nilai moral dan gaya hidup pasien. Hubungan kontrak mengharuskan terjadinya pertukaran informasi dan negosiasi seblum terjadinya kesepakatan, namun juga memberikan peluang kepada pasien untuk menyerahkan pengambilan keputusan kepada dokter (I'm confused by all these facts, doctor. What do you think I ought to do?). Walaupun hubungan dokter-pasien ini bersifat kontraktual, namun mengingat sifat praktek kedokteran yang berdasarkan ilmu empiris, maka prestasi kontrak tersebut bukanlah hasil yang akan dicapai (resultaat verbintennis) melainkan upayanya yang sungguh-sungguh (inspanning verbintennis). Hubungan kontrak semacam ini harus dijaga dengan peraturan perundang-undangan dan mengacu kepada suatu standar atau benchmark tertentu. Oleh karena itu sejak sebelum Masehi telah ada Code of Hammurabi yang mengancam dengan pidana bagi dokter yang karena salahnya telah mengakibatkan cedera atau matinya pasiennya, dan Code of Hittites yang mewajibkan dokter untuk membayar ganti rugi kepada pasiennya yang terbukti telah dirugikan karena kesalahannya/kelalaiannya. Dengan menganggap bahwa teori kontrak telah terlalu menyederhanakan nilai hubungan dokter dengan pasien, maka Smith dan Newton (1984) lebih memilih hubungan
16

yang berdasar atas virtue sebagai hubungan yang paling cocok bagi hubungan dokterpasien. Hubungan kontrak mereduksi hubungan dokter-pasien menjadi "peraturan" dan "kewajiban" saja, sehingga seseorang dokter dianggap "baik" bila ia telah melakukan kewajiban dan peraturan (followed the rules). Hubungan kontrak tidak lagi mengindahkan empathy. compassion, perhatian, keramahan, kemanusiaan, sikap saling mempercayai, itikad baik, dan lainnya yang merupakan bagian dari virtue-based ethics (etika berdasar nilai kebajikan/keutamaan). Pada hubungan dokter-pasien yang virtue-based dirumuskan bahwa hubungan itu bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun ketentuan yang ditentukan pada permulaan dapat menentukan masa depan. Baik dokter maupun pasien harus tetap berdialog untuk menjaga berjalannya komunikasi dalam rangka mencapai tujuan bersama, yaitu kesejahteraan pasien. Tentu saja komunikasi yang baik tersebut membutuhkan prinsip-prinsip moral di atas, termasuk informed consent yang berasal dari prinsip otonomi.

Analisis
Keadaan Pasien Pasien mengalami trauma pada lututnya dan perlu dirawat dan dioperasi di rumah sakit. Dalam hal biaya tidak terdapat masalah karena pasien ditanggung oleh asuransi. Namun ia menolak untuk diobati. Pasien dan keluarga sudah diberikan penjelasan bahwa jika tidak diberikan pengobatan, maka akan terjadi komplikasi. Konfigurasi lutut berubah dan mengakibatkan gangguan pergerakan, timbul nyeri apabila pasien berjalan terlalu jauh, muncul artritis pasca trauma, serta deformitas yang dapat menyebabkan pasien tidak bisa berjalan dengan stabil. Pasien tetap menolak dan meminta untuk dikirim ke tempat pengobatan traditional yang terkenal. Keluarganya setuju dengan pendapatnya. Ternyata tempat pengobatan tersebut memiliki pasien yang sangat banyak, melebihi pasien di rumah sakit. Otonomi Dari Pasien

17

Otonomi adalah prinsip yang mengakui hak setiap pribadi untuk memutuskan sendiri mengenai masalah kesehatannya, kehidupannya, serta kematiannya. Jadi otonomi merupakan bentuk kebebasan bertindak dari seseorang dalam mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Dalam kasus ini, pasien memiliki hak otonomi dalam menentukan hal yang dianggap terbaik bagi kesehatannya. Jadi kebebasan pasien untuk memilih jenis pengobatan yang dia perlukan. Tanggung jawab seorang pelayanan kesehatan yang professional Profesi kesehatan mempunyai perbedaan sudut pandang mengenai persamaan dan hak-hak pasien. Satu sisi dokter paham bahwa tidak boleh membiarkan pertimbangan usia, penyakit atau kecacatan, keimanan, etnik, jenis kelamin, nasionalitas, keanggotaan politik, ras, orientasi seksual, atau posisi sosial mengintervensi tugas dokter. Dan, pada saat yang sama dokter juga mengklaim bahwa pasien berhak menolak atau autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence (melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur). Berdasarkan prinsip bioetika Beauchamp dan Childress, yang mempublikasikan Principles of Biomedical Ethics (1979), yaitu empat prinsip dasar bioetika yang dipikirkan dalam pengambilan keputusan. Otonomi (autonomy): Dasar dari prinsip otonomi adalah bahwa setiap individu mampu bebas dari obyek personal dan bertindak seturut kebebasannya. Otonomi ini mempunyai 3 syarat dasar: a. b. c. mempunyai maksud/intense paham akan arti tindakannya tidak berada dalam pengaruh luar.

Menguntungkan (beneficence): harus berbuat baik. Prinsip berbuat baik ini dalam penelitian ilmiah berarti berupaya untuk memperoleh manfaat maksimal dengan kerugian yang minimal. Dalam hal hubungan antara dokter dan

18

pasien prinsip ini dapat diartikan tidak melakukan sesuatu yang merugikan, berbuat baik meskipun berakibat kesusahan bagi sang dokter dan meskipun sang dokter harus berkorban. Terdapat dua jenis beneficence, yaitu : 1. general beneficence : berbuat baik terhadap siapapun termasuk ”yang tidak kita kenal” impartially, merupakanetika normative
2. spesific beneficence : bermoral bila tindakan baik ditujukan pada pihak khusus

”yang kita kenal” : pasien, anak-anak, teman-teman. Hal ini menimbulkan kewajiban ”mutlak” profesi, khususnya secara psikologis. Tidak merugikan (non maleficence): “primum non nocere” artinya pertama jangan menyakiti, bahwa tidak diperbolehkan membuat rusak dan kejelekan. Diterjemahkan dalam kata lain: tidak menyebabkan sakit. Prinsip ini merupakan komplementer dari prinsip beneficence. Kewajiban menganut ini berdasarkan hal-hal: pasien dalam keadaaan amat berbahaya atau beresiko hilangnya sesuatu yang penting

dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami resiko minimal) tindakan kedokteran tidak terbukti efektif

• •

Keadilan (justice): keadilan distributif: kasus yang sama seharusnya diperlakukan dengan cara sama dan kasus yang berbeda diperlakukan dengan cara yang berbeda. Dalam bahasa latin disebut: Justitia est constans et perpetua voluntas ius suum cuique tibuens. Prinsip ini bertujuan untuk menyelenggarakan keadilan dalam transaksi dan perlakuan antar sesama manusia. Prinsip ini mengacu pada kewajiban etika untuk memperlakukan setiap manusia dengan moral yang benar dan pantas serta memberi setiap orang yang merupakan haknya. Memberi perlakuan yang sama pada semua pasien untuk kebahagian pasien dan umat manusia yakni : memberi sumbangan relatif sama dengan kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai dengan kebutuhan pasien), menuntut pengorbanan mereka secara relatif sama dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).

19

Setiap kasus terkait dengan etika tentunya memiliki penyelesaiannya tersendiri, tergantung prinsip yang dipegang. Seorang dokter akan memberikan hal yang terbaik dan bermanfaat lebih besar daripada sisi buruk bagi pasiennya sesuai dengan pengetahuan yang dimiliknya yang dilandasi oleh etika. Dalam kasus ini, seorang dokter harus mampu memberikan informasi-informasi yang jelas yang perlu dipikirkan oleh pasien mengenai operasi yang dilakukan dan menerangkan apa keuntungan dan kerugian sehingga pasien bisa memutuskan apa yang terbaik bagi pasien. Dan hendaknya seorang dokter menjaga hubungan yang baik dengan keluarga pasien dan menghindari hubungan yang paternalistik.

Pengambilan Keputusan
Rekapitulasi masalah moral Pada kasus diatas, diketahui bahwa pasien ini mengalami cedera lutut yang memerlukan tindakan operasi segera, dan apabila tidak dilakukan akan menimbulkan komplikasi seperti perubahan konfigurasi lutut, gangguan pergerakan nyeri, artritis pasca trauma dan deformitas. Dokter pada awalnya harus menjelaskan secara lengkap informasi mengenai kemungkinan diagnosa dari penyakit pasien dan keadaan pasien saat ini. Setelah penjelasan tersebut, dokter juga harus memberikan penjelasan mengenai tindakan yang diperlukan untuk mengatasi penyakit tersebut, komplikasi yang akan timbul baik bila tindakan tidak dilakukan dan bila tindakan dilakukan. Dengan kata lain, perlu dijelaskan keuntungan dan kerugian bila dilakukan dan tidak dilakukan tindakan. Apabila dilakukan tindakan operasi, dokter harus menyampaikan informed consent terlebih dahulu mengenai bagaimana pelaksanaanya, seberapa besar keuntungan bagi pasien dan bagaimana pembiayaan dari pemeriksaan yang dilakukan. Dalam penyampaian informed consent, perlu diingat kelayakan pasien dalam kapasitasnya untuk memutuskan, serta diperlukan juga pendapat dari pihak keluarga. Namun, walaupun demikian perlu juga diperhitungkan hak otonomi pasien untuk menentukan pilihan. Apabila pasien menolak tindakan operasi, seperti dalam kasus ini, disinilah dilema etika akan muncul. Di satu pihak kondisi pasien sangat mendesak untuk dilakukan operasi sesegera mungkin. Sedangkan di pihak lain pasien dan

20

keluarga sendiri menolak untuk dioperasi dan lebih memilih pengobatan tradional. Disinilah dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan harus teliti dalam menentukan sikap yang akan diambil sesuai dengan keempat prinsip etika. Argumen Kita menyatakan bahwa setiap kasus klinis, yang dilihat sebagai suatu masalah etika, harus dianalisa berdasarkan atas empat faktor. Empat faktor tersebut adalah: 1. Medical Indications (Indikasi Medis) Pada faktor indikasi medis, meliputi bahan diskusi klinis tentang mengenai diagnosa, terapi dan komplikasi pada kondisi patologi pasien. Dari indikasi medis, fakta klinis diperlukan untuk mendiagnosa dan mengetahui tingkat keparahan cedera lutut yang dialami pasien. Hal ini diperlukan untuk membuat prognosis, pilihan terapi, perbaikan fungsi termasuk resiko, keuntungan dan hasil dari setiap pengobatan. Cedera lutut yang parah akan dapat menimbulkan berbagai komplikasi nantinya, sehingga memerlukan tindakan operasi segera. Dengan dilakukannya operasi segera, tentunya akan dapat menghindari komplikasi yang dapat timbul. 2. Patient Preferences (Pilihan Pasien) Dalam semua perawatan medis, pilihan pasien berdasarkan nilai-nilai kepunyaan pasien dan penilaian pribadi dari manfaat dan beban yang relevan secara etika. Masalah etis muncul dalam menentukan siapa yang berhak mewakili pasien dalam mengambil keputusan dan dalam memilih kriteria keputusan berdasarkan kepentingan pasien yang tidak kompeten tersebut. Jika paternalisme medis berlaku, dokter dianggap sebagai pengambil keputusan yang tepat bagi pasien yang tidak kompeten. Dokter sebaiknya berkonsultasi dengan anggota keluarga mengenai pilihan tindakan yang ada, walaupun keputusan final ada di tangan dokter. Jika dokter berhasil mengkomunikasikan semua informasi yang diperlukan oleh pasien dan jika pasien tersebut ingin mengetahui diagnosa, prognosis, dan pilihan terapi yang dijalani, maka kemudian pasien akan berada dalam posisi dapat membuat keputusan berdasarkan pemahamannya tentang bagaimana menindaklanjutinya. Walaupun istilah ijin mengandung pengertian menerima perlakuan yang diberikan, namun konsep ijin
21

berdasarkan pengetahuan dan pemahaman juga bermakna sama dengan penolakan terhadap terapi atau memilih. Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk menolak perawatan, walaupun penolakan tersebut dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Pada kasus ini usia pasien tidak disebutkan, jadi akan terdapat dua kemungkinan yaitu pasien berada dalam usia yang tidak mampu menentukan pilihan terapi dan pasien berada dalam usia yang mampu menentukan pilihan terapi. Pasien disebutkan menolak untuk dilakukan operasi dan meminta agar dibawa ke tempat pengobatan tradisional. Pada kemungkinan pertama yaitu pasien berada dalam usia yang tidak mampu menentukan pilihan terapi, maka keputusan ini dapat diwakilkan kepada keluarganya, dan disebutkan bahwa keluarganya sendiri juga mendukung keinginan pasien untuk berobat dengna pengobatan tradisional. Sedangkan pada kemungkinan kedua, maka pasien sendiri mampu menentukan pilihan terapi dan pasien memilih untuk berobat dengna pengobatan tradisional. 3. Quality of Life (Mutu Hidup) Obyek semua intervensi medis adalah untuk memperbaiki kembali, memelihara atau meningkatkan mutu hidup. Karena itu, dalam semua situasi medis, topik mutu hidup harus diperhatikan. Dalam kasus ini menurut dokter, pasien perlu segera dilakukan operasi. Apabila tidak dilakukan tindakan operasi dengan segera, maka akan muncul berbagai komplikasi yang lebih parah. Apalagi bila pasien melakukan perjalanan, maka keadaan pasien akan memburuk. 4. Contextual Features Dokter merawat pasien dengan tujuan dan tugas agar semua usaha layak untuk membantu mereka. Topik indikasi medis, pilihan pasien dan mutu hidup memunculkan segi penting dari kasus ini. Namun setiap kasus medis berhubungan dengan suatu konteks besar dari orang, institusi, pengaturan sosial dan keuangan. Dalam kasus ini pasien dan keluarga lebih memilih menggunakan pengobatan tradisional daripada dilakukan operasi di rumah sakit. Meskipun pasien telah diberikan penjelasan mengenai keadaannya saat ini, komplikasi yang terjadi bila tidak dilakukan

22

operasi dengan segera dan bahwa tindakan yang operasi tersebut telah ditanggung asuransi, pasien dan keluarga tetap menolak untuk dilakukan operasi. Keputusan yang Diambil Menurut saya keputusan dokter pada kasus diatas adalah tidak melaksanakan operasi. Jika ditinjau dari keempat faktor diatas maka alasan saya adalah: 1. Berdasarkan indikasi medis pilihan terapi yang terbaik untuk cedera lutut yang terjadi pada pasien ini adalah dengan melakukan operasi pembedahan. Diharapkan dengan pelaksanaan pemebdahan ini, maka akan dapat memperbaiki keadaan pasien dan mencegah munculnya komplikasi yang dapat memperparah keadaan pasien. Memang jika dilihat dari kondisi pasien, maka dokter akan berpikir jika melakukan tindakan operasi pembedahan. Meskipun demikian, kita juga tidak boleh lupa bahwa tindakan operasi pembedahan juga akan dapat menimbulkan komplikasi. 2. Dari segi pilihan pasien, maka semua keputusan harus diserahkan kepada pasien yang dalam kasus ini selain ia sudah menentukan sendiri pilihannya, keluarga pasien juga mendukung pilihan pasien untuk menolak tindakan operasi pembedahan dan lebih memilih menggunakan pengobatan tradisional. Namun kita sebagai dokter wajib memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang penyakit yang diderita pasien, selain itu dokter juga wajib menjelaskan segala komplikasi yang akan timbul bila tidak dilakukan pembedahan. 3. Jika dilihat dari segi mutu hidup maka jika tidak dilakukan operasi, maka keadaan pasien dapat menjadi lebih buruk, akan muncul berbagai komplikasi. Jika dilakukan operasi, maka keadaan pasien akan dapat membaik dan komplikasi dapat dihindari, namun tidak tertutup kemungkinan pula komplikasi akan dapat muncul setelah dilakukan operasi pembedahan. 4. Pertimbangan terakhir adalah dari konteks yang lain, yaitu kepercayaan pasien terhadap pengobatan tradisional yang akan ditujunya. Diketahui bahwa ternyata temapt pengobatan tradisional tersebut memiliki pasien yang lebih banyak daripada rumah sakit. Jadi menurut saya berdasarkan pertimbangan diatas, kalau memang dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sudah mengarahkan bahwa cedera lutut yang dialami pasien memerlukan tindakan pembedahan sesegera mungkin. Meskipun demikian,
23

segala tindakan yang akan dilakukan tentunya memerlukan persetujuan dari pasien itu sendiri. Penolakan terhadap tindakan yang akan dilakukan adalah merupakan hak pasien. Namun, disini perlu diingat bahwa dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan sebelumnya telah menjelaskan mengenai keadaan penyakit pasien. Evaluasi Dilema pada kasus ini adalah tindakan apa yang sebaiknya diambil oleh dokter. Keputusan yang diambil harus berdasarkan etika yang berlaku dilandasi niat yang murni untuk berbuat kebaikan. Pasien sebagai orang yang mempunyai penyakit harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik dan informasi mengenai penyakit dan konsekuensi yang ditimbulkan yang harus dijelaskan dengan lengkap oleh dokter. DAFTAR PUSTAKA
1. Aone Mokaila, MacMurray College. (2001), “Traditional vs. Western Medicine -

African 2. 3. 4.

Context

“.

Available

at:

http://www.drury.edu/multinl/story.cfm?

ID=2524&NLID=166 Apley A. Graham, Louis Solomon. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya Medika. 1995. Bertens K. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1993. Darsono RS. Etik, Hukum Kesehatan Kedokteran (Sudut Pandang Praktikus), Dalam: Suharto, G dan Prasetyo, A, editor. Semarang: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Diponegoro. 2004. 5. 6. Gunawan. Memahami Etika Kedokteran. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1992. Hill,McGraw,Inc.(1998), “Clinical Ethics: A Practical Approach to Ethical Decisions 7. Keputusan 2003. in Medical Menteri Medicine” Kesehatan 4th edition. Available at: http://www.Bioethicaltool.htm Republik Indonesia Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.

24

8. 9.

Maertens G, Wachter M, Bone E, Harvey JC, Bertens K. Bioetika, Refleksi Atas Masalah Etika Biomedis. Jakarta: PT Gramedia; 1990. Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia. KODEKI dan Pedoman Penatalaksanaan KODEKI Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia. 2002

10. Samil, RS. Etika Kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2001. 11. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar. 2005. 12. Schiffert Health Center. (2004), “Knee Injury”. Available at:www.healthcenter.vt.edu
13. State of New York Department of Insurance. (2007), “Knee Injury Medical Treatment

Guidelines”.
14. World

Health

Organization.

(2003),

“Traditional

medicine”.

Available

at:http://www.who.int/__utm.js"

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->