P. 1
Gambaran Kejadian Abortus Pada Remaja

Gambaran Kejadian Abortus Pada Remaja

2.5

|Views: 3,625|Likes:

More info:

Published by: edwin armawan, SpOG(K) on Jan 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

“Gambaran Kejadian Abortus Pada Remaja.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Abortus Definisi abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin cukup berkembang untuk dapat hidup diluar kandungan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang didasarkan pada tanggal hari pertama menstruasi terakhir dengan berat janin kurang dari 500 gram. (10) Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin terkecil, yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gr waktu lahir. Akan tetapi jarangnya janin dilahirkan dengan berat badan di bawah 500gram dapat terus hidup, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai 500 gram atau kurang dari 20 minggu.(13) Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidup, yaitu sebelum kehamilan berusia 20 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya perdarahan pada ibu yang sedang hamil. Dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukkan kantong kehamilan yang kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, di mana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai berusia kehamilan.(1) Aborsi bisa dilakukan oleh seorang wanita hamil dengan berbagai alasan. Tetapi alasan yang paling utama adalah alasan-alasan yang non-medis (termasuk jenis aborsi buatan atau sengaja).

Alasan-alasan dilakukannya aborsi seperti: tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu karir, sekolah ataupun tanggung jawab lainnya; tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak; dan tidak ingin memiliki anak tanpa ayah. Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Kebanyakan kasus aborsi adalah karena alasan-alasan yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri termasuk takut tidak mampu membiayai, takut dikucilkan, malu atau gengsi

Tabel 2.1 Hubungan Lama Kehamilan dengan Berat Anak Lamanya Kehamilan < 20 minggu 20 – 28 minggu 28 – 37 minggu 37 – 42 minggu Berat Anak < 500 gram 500 – 100 gram Abortus Partus Immaturus Istilah

1000 gram – 2500 gram Partus praematurus 2500 gram – 4500 gram Partus (matures) > 4500 gram a’terme

> 42 minggu

Partus serotinus

Sumber : Bag. Obstetri & Ginekologi Unpad Bandung,2004

2.2 Manifestasi klinis • Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.

Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.

Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus

Pemeriksaan ginekologi : a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak berbau busuk dari vulva b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dario ostium. c. Pemeriksaan dalam : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.(11)

2.3. Pemeriksaan Penunjang Pada banyak kasus, pemeriksaan serum untuk kehamilan sangat berguna. Pemeriksaan laboratorium paling sedikit harus meliputi biakan dan uji kepekaan mukosa serviks atau darah (untuk mengidentifikasi pathogen pada infeksi) dan pemeriksaan darah lengkap. Analisis genetik bahan abortus dapat menentukan kelainan kromosom sebagai etiologi abortus.(12)

• • •

Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.(1)

2.4 Klasifikasi Abortus Abortus dapat dibagi atas dua golongan. Menurut terjadinya dibedakan atas: 2.4.1 Abortus spontan Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktorfaktor alamiah. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis (9) Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa obat-obatan atau secara otomatis mengkosongkan uterus. Secara las dikalan dengan keguguran (11) a.Abortus membakat (imminens) Abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Diagnosis abortus iminens ditentukkan karena pada ibu hamil terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar

tuanya kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada ibu hamil dapat terjadi perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadi pembuahan. Hal ini disebabkan oleh villi korealis ke dalam desidua, pada saat implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasanya sedikit, warnanya merah, dan cepat berhenti, tidak disertai mules. Dalam hal ini, keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat- obat hormonal dan antispasmodika serta istirahat. Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Kalau reaksi kehamilan 2 kali berturutturut negatif, maka sebaiknya uterus dikosongkan /kuret.(13) b. Abortus insipiens Abortus yang sedang berlangsung dan mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, ketuban yang teraba akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri, kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Perdarahan yang terjadi kadang dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi, sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Ciri dari abortus ini adalah perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat dan sering, serviks terbuka(3) c. Abortus inkomplit (keguguran yang tersisa) Jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Perdarahan biasanya terus berlangsung,banyak dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda didalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan terus berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehigga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat abortus insipiens. Ciri dari abortus ini adalah perdarahan yang banyak, disertai kontraksi,serviks terbuka, sebagian jaringan keluar(3) d. Abortus komplit

Artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong. Perdarahan dan rasa nyeri kemudian akan berhenti, serviks menutup dan uterus mengalami involusi. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dan lengkap. Ciri dari abortus ini adalah perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks menutup, ada keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus.(9) e. Missed abortion Abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih. Fetus yang meninggal ini bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati, bisa diresorbsi kembali sehingga hilang, bisa terjadi mengering dan menipis yang disebut fetus papyraceus, atau bisa jadi mola karnosa dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.(3) f. Abortus habitualis Keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih. Penyebab abortus habiatualis lebih dari satu (multipel) dan sering terdapat lebih dari satu factor yang terlibat. Kesehatan umum yang jelek,penyakit atau infeksi kronis, ansietas, inkompeten serviks dan gangguan hormonal semuanya ini merupakan unsur penyebab yang biasa menimbulkan abortus habitualis. Ibu yang mengalami peristiwa tersebut, umunya tidak mendapat kesulitan untuk menjadi hamil, akan tetapi kehamilannya tidak dapat berlangsung terus dan terhenti sebelum waktunya, biasanya pada trimester pertama tetapi kadang-kadang pada kehamilan lebih tua. Sebab dari abortus habitualis diantanya:

- Kelainan pada zigot,kelainan genetik pada suami dan istri dapat menjadi sebab kelainan pada zigot dengan akibat terjadinya abortus. - Gangguan fungsi endometrium, yang menyebabkan gangguan implantasi ovum yang dibuahi dan atau gangguan dalam pertumbuhan mudigah. - kelainan antomik pada uterus yang dapat menghalangi bekembangnya janin di dalamnya dengan sempurna.(14) g. Abortus febrilis Abortus inkomplit dan abortus insipiens yang disertai infeksi. Manifestai klinik ditandai dengan adanya demam, lochia yang berbau busuk, nyeri diatas symphisis atau diperut bawah, abdomen kembung atau tegang sebagai tanda peritonitis. Abortus ini dapat menimbulkan syok endotoksin (3). h. Abortus septik (abortus infeksius), Abortus kriminalis masih menjadi penyebab infeksi yang paling serius karena tidak dilakukan secara aseptik. Faktor lain yang terlibat adalah keberadaan produk pembuahan, yaitu jaringan plasenta yang mati didalam rahim. Infeksi dapat menyerang endometium dan menyebar ke bagian lain secara langsung atau tidak langsung untuk menyebabkan peritonitis, salpingitis dan septikemia.(9) Abortus infeksius adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedang abortus septik adalah abortus infeksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum. Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkomplit dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Umunya pada abortus infeksius infeksi terbatas pada desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi, dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba,

parametrium dan peritoneum. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti syok.(13) 2.4.2 Abortus provokatus Abortus provokatus (induksi abortus) adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum atau dilakukan oleh orang yang tdak berwenang.(3) Abortus ini terbagi lagi menjadi: a. Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli. b. Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.(1)

2.5 Etiologi Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya abortus didahului oleh kematian janin. Pada kehamilan muda abortus tidak jarang di dahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin keluarkan dalam keadaan masih hidup. (3,13) Mekanisme pasti yang menyebabkan abortus tidak selalu jelas, tetapi pada bulan-bulan awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu didahului oleh kematian mudigah atau janin. Karena itu, pertimbangan etiologis pada abortus dini antara lain mencakup pemastian

kausa kematian janin (apabila mungkin). Pada bulan-bulan selanjutnya, janin belum sering meninggal di dalam uterus sebelum ekspulsi, dan penyebab ekspulsi tersebut perlu adanya penelitian lebih lanjut.(15) 2.5.1 Faktor janin.

Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yaitu:
a. Kelainan telur, telur kosong (blighted ovum), kerusakan embrio atau kelainan

kromosom. Kelainan kromosom diantanya yaitu: Trisomi autosom,yaitu merupakan kelainan kromosom tersering dijumpai pada abortus trimester pertama. Trisomi dapat disebabkan oleh nondisjunction tersendiri, translokasi seimbang maternal dan paternal atau inversi kromosom seimbang. Monosomi X(45,X), yaitu kelainan kromosom tersering berikutnya dan

memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom turner). Abnormalitas embrio atau janin merupakan penyebab paling sering untuk abortus dini dan kejadian ini kerapkali disebabkan oleh cacat kromosom.(9) Kelainan struktural kromosom jarang menyebabkan abortus dan baru teidentifikasi setelah dikembangkannya teknik pembanding. Sebagian dari janin ini lahir hidup dengan translokasi seimbang dan mungkin normal. Monosomi autosom sangat jarang dijumpai dan tidak memungkinkan untuk hidup. Polisomi kromosom seks (47,XXX atau 47,XXY) jarang dijumpai pada abortus tetapi relatif sering pada bayi lahir hidup. (15) b. Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas).

Endarteritis dapat terjadi dalam villikorealis dan menyebabkan oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.(13). 2.5.2 Faktor maternal

a. Infeksi, infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang berkembang, terutama

pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya. Penyakit penyakit maternal dan penggunaan obat: penyakit mencakup infeksi virus akut, panas tinggi dan inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar. Nefritis kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin.kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin. Obat-obat tertentu, khususya preparat sitoktik, akan mengganggu proses normal pembelahan sel yang cepat. Prostaglandin akan menyebabkan abortus dengan merangsang kontraksi uterus.(9) Pada awal kehamilan, penyakit kronik yang menyebabkan penyusutan tubuh misalnya tuberkulosis atau karsinoma motosis, jarang menyebabkan abortus. Hipertensi jarang menyebabkan abortus di bawah 20 minggu, tetapi dapat menyebabkan kematian janin dan pelahiran preterm.(15)
b. Kelainan endokrin, abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak

mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid dan defisiensi insulin. Penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia kehamilan 10-12

minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih fungsi korpus luteum dalam produksi hormon.
c. Faktor imunologis, ketidakcocokan (inkompatibilitas) sistem HLA (Human Leukocyte

Antigen)(3). Banyak perhatian ditujukan pada sistem imun sebagai faktor penting dalam kematian janin berulang. Dua model patofisiologis utama yang berkembang adalah teori autoimun (imunitas teradap tubuh sendiri) dan teori aloimun (imunitas terhadap orang lain)(15). d. Trauma, tetapi biasanya jika terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi orgasme, dapat menyebabkan abortus pada ibu dengan riwayat keguguran yang berkali-kali. Kasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera satelah trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan : - pengangakatan ovarium yang mengandung korpus luteum gravidaditatum sebelum minggu ke 8 - pembedahan intraabdominal dan operasi pada saat hamil. f. Kelainan uterus, abnormalitas uterus yang mengakibatkan kelainan kavum uteri atau adanya halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolaps atau retroversio uteri. Kelainan uterus diantaranya : hipoplasia uterus, mioma (terutama submukosa), serviks inkompeten.(3,11). Serviks

inkompeten ditandai oleh pembukaan serviks tanpa nyeri pada trimester kedua, atau mungkin awal trimester ketiga, disertai prolaps atau menggembungnya selaput ketuban ke dalam vagina, diikuti oleh pecahnya selaput ketuban dan ekspulsi janin immatur. Apabila tidak diterapi secara efektif, rangkaian ini akan berulang setiap kehamilan(15).

2.5.3 Faktor eksternal a. Radiasi,dosis 10 rad bagi janin pada kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.

b. Obat-obatan, antagonis asam folat, antikoagulan, dan lain lain Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan 16 minggu, kecuali telah dibuktikan bahwa obat tersebut tidak membahayakan janin, atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah. c. Bahan-bahan lainnya, seperti : - Tembakau, merokok dilaporkan menyebabkan peningkatan resiko abortus (Harlap dan Siono,1980). Bagi ibu yang merokok lebih dari 14 batang perhari, resiko tersebut sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kontrol normal. - Alkohol, abortus dan anomali janin dapat terjadi akibat sering mengkonsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Abortus spontan bahkan meningkat apabila alkohol dikonsumsi dalam jumlah sedang. - Kafein, konsumsi kopi dalam jumlah lebih dari empat cangkir perhari tampaknya sedikit meningkatkan resiko abortus (Armstrong dkk,1992). Risiko tampaknya meningkat seiring dengan peningkatan jumlah. Kadar paraxantin (suatu metabolit kafein) dalam darah ibu menyebabkan peningkatan dua kali lipat rsiko abortus spontan hanya apabila kadar tersebut tinggi. (15) d. Sebab psikomatik

Stres dan emosi yang kuat diketahui dapat memprngaruhi fungsi uterus lewat sistem hipotalamus-hiofise. Banyak Dokter obstetri yang melaporkan kasus-kasus abortus spontan dengan riwayat stres, dan biasanya juga mereka menyebutkan kehamilan yang berhasil baik (pada ibu dengan riwayat stres berat setelah kecemasan dihilangkan. (16) 2.6 Komplikasi 2.6.1 Perdarahan (hemorrhage) Penyebab kematian kedua yang paling penting adalah perdarahan. Perdarahan dapat disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap atau cedera organ panggul atau usus. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.(dr enci) Kematian biasanya disebabkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi rumah sakit serta keterlambatan pertolangan yang diberikan. 2.6.2 Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain. 2.6.3 Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
(12,16)

2.6.4

Infeksi

Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif

enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.(1)

2.7 Patogenesis Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti dengan perdarahan kedalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan perubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi sel sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi rahim dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim(ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama 2 minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin tidak layak jika talah terjadi perdarahan banyak karena abortus tidak dapat dihindari.

Sebelum minggu ke 10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke 10 vili korealis belum menanamkan diri dengan erat kedalam desidua hingga telur mudah lepas keseluruhannya. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa sisa korion (plsenta) tertinggal kalau terjadi abortus.(3) Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Adakalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum), mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion). Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka janin dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya telah terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberosa, dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion. Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi, janin mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap, ia menjadi agak gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat yang lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus). Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadi maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan, dan seluruh janin berwarna kemerahan.(16) 2.8 Aborturitas Pada Remaja 2.8.1 Definisi Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, karena pada masa ini remaja telah mengalami perkembangan fisik maupun psikis yang sangat pesat, dimana secara fisik remaja telah menyamai orang dewasa, tetapi secara psikologis mereka belum matang. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja. Lebih jelas, WHO memberikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual. Remaja adalah suatu masa dimana, Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri. Jelasnya remaja adalah suatu periode dengan permulaan dan masa perlangsungan yang beragam, yang menandai berakhirnya masa anak dan merupakan masa diletakkannya dasardasar menuju taraf kematangan. Perkembangan tersebut meliputi dimensi biologik, psikologik dan sosiologik yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Secara biologik ditandai dengan percepatan pertumbuhan tulang, secara psikologik ditandai dengan akhir perkembangan kognitif dan pemantapan perkembangan kepribadian. Secara sosiologik ditandai dengan intensifnya persiapan dalam menyongsong peranannya kelak sebagai seorang dewasa muda.

Mengenahi umur masa remaja, ahli-ahli ilmu jiwa tidak mempunyai kata sepakat tentang batasan umur yang jelas dan dapat disetujui bersama sebab dalam kenyataannya konsep remaja ini baru mulai muncul pada abad ke-20. Menurut Powel, masa remaja digolongkan, pre adolescence, mulai 10-20 tahun; awal adolescence 13-16 tahun, and akhir adolescence, 17-21 tahun. Sedang WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja.

2.9 Karakteristik ibu 2.9.1 Usia Umur ibu merupakan salah satu faktor risiko kematian akibat abortus. Semakin muda usia ibu pada waktu melakukan tindakan, semakin besar risiko kematian yang dihadapi. Angka kematian akibat tindakan aborsi yang tinggi di Amerika Latin ditemukan pada kelompok remaja, sedangkan pada kelompok mahasiswa dan pekerja relatif lebih rendah.(16) Umur yang dianggap paling aman bagi seorang ibu unuk hamil dan bersalin adalah 20 – 30 tahun. Seorang ibu yang berumur lebih dari 35 tahun mungkin akan menghadapi risiko persalinan yang lebih besar dibandingkan ibu yang berusia 20 – 30 tahun. Penyebab kematian maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah usia ibu. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada ibu hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari kematian maternal pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun. Menurut Catanzarite dalam Maternal Newborn (1999), menyatakan bahwa ibu usia lebih dari 30 tahun sering kali mengalami kondisi kesehatan yang kronik (resiko tinggi). Tentu saja hal itu akan sangat berpengaruh jika ibu tersebut hamil. (7) Resiko keguguran spontan tampak meningkat dengan bertambahnya usia terutama setelah usia 30 tahun, baik kromosom janin itu normal atau tidak, ibu berusia lebih tua, lebih besar kemungkinan keguguran baik janinnya normal atau abnormal (Murphy,2000:9). Semakin lanjut umur ibu, semakin tipis cadangan telur yang ada, indung telur juga semakin kurang peka terhadap rangsangan gonadotropin. Makin lanjut usia ibu, maka resiko terjadi abortus, makin

meningkat karena menurunnya kualitas sel telur atau ovum dan meningkatnya resiko kejadian kelainan kromosom (Samsulhadi,2003). Pada gravida tua terjadi abnormalitas kromosom janin sebagai salah satu faktor etiologi abortus (Friedman,1998).(1) 2.9.2 Usia kehamilan Usia kehamilan dihitung berdasarkan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) dan rumus Neagle. Stadium kehamilan ketika abortus dilakukan merupakan faktor risiko yang penting. Di Chili, 47% ibu-ibu yang melakukan aborsi pada usia kehamilan 3--5 bulan berakhir dengan perawatan di rumah sakit. Sementara, yang dilakukan pada usia kehamilan satu bulan hanya 18% yang memerlukan perawatan. Di Amerika Serikat, diketahui bahwa risiko kematian upaya pengguguran pada usia kehamilan sampai 8 minggu, 20 kali lebih rendah dari risiko kematian persalinan normal. Pada aborsi yang ditolong oleh tenaga profesional pun, risiko kematiannya akan meningkat sesuai dengan peningkatan usia kehamilan.(16,17) 2.9.3 Status Pernikahan Umumnya yang melakukan aborsi adalah para ibu yang belum menikah. Survei yang dilakukan di sembilan negara Amerika Latin menemukan 18% komplikasi abortus terjadi pada kelompok yang belum menikah. Di Korea dan Thailand, insiden aborsi di kalangan yang tidak menikah sangat tinggi, umumnya terjadi di kalangan mahasiswa dan ibu pekerja. Di Subsahara Afrika, abortus lebih sering dilakukan di kalangan ibu yang tidak menikah. Sebaliknya, di India abortus umumnya dilakukan oleh para ibu yang telah menikah. Masalah yang sangat memprihatinkan bahwa hampir di semua negara, program keluarga berencana hanya diperuntukkan bagi ibu yang telah menikah.(17) 2.9.4 Pendidikan ibu

Secara umum didapatkan gambaran bahwa keluarga yang beresiko tinggi terjadinya abortus pada bidang obstetrik adalah keluarga dengan pendidikan rendah. Maka resiko terjadinya abortus juga meningkat karena implikasi kurangnya pengetahuan ibu dalam melakukan perawatan kehamilan, maupun adanya kemungkinan ibu dengan pendidikan rendah, melakukan pekerjaan yang lebih berat dan memiliki status sosial yang lebih rendah. Sehingga kebutuhan nutrisi kurang diperoleh saat masa kehamilan, maka akan menyebabkan terjadinya abortus.(

2.10 Penatalaksanaan Abortus 2.10.1 Abortus iminens Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat dilanjutkan.(18,19) Sonografi vagina, pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin korionik (hCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan apakah terdapat janin hidup intrauterus. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Setelah konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang keluar harus

diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan kuretase. Ultrasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus terdapat jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan dilakukan kuretase .
(20,21)

Penanganan abortus imminens meliputi : - Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. - Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. - Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih hidup 2.10.2. Abortus insipiens Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum. Penanganan Abortus Insipiens meliputi : 1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan: - Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). - Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. 2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :

- Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. - Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. 3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan –

Uterotonik pascaevakuasi Antibiotik selama 3 hari.(22) 2.10.3 Abortus inkomplit Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat.(9,22) Penanganan abortus inkomplit : 1) Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum isoprostol 400 mcg per oral. 2) Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan : - Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.

- Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). 3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: - Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi - Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) - Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. 4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.(22,25) 2.10.4. Abortus komplit Pada abortus komplit semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap. Penderita dengan abortus komplit tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari selama 2 minggu atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah. Apabila 10 hari pascaabortus masih ada perdarahan juga, abortus inkomplitus atau endometritis pascaabortus harus dipikirkan.(3,22) 2.10.3 Missed abortion

Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi malah mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai berusia kehamilan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan.
(25)

Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang ibu yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. Dengan cara •

Evakuasi dengan kuret, bila umur kehamilan >12 minggu Uterotonika pasca evakuasi Antibiotika Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ovum

• •

lalu dengan kuret tajam.

Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi.

• •

Pada umur kehamilan <12 minggu lakukan pembukaan servik dengan gagang laminaria Pada kehamilan >12 minggu, berikan dietilstilbestrol lalu infus oksitosin Bila TFU sampai 2 jari dibawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam cavum uteri melalui dinding perut.(3.13) 2.10.6. Abortus habitualis Jika ia belum hamil lagi : • • Pemeriksaan umum Apakah ada kelainan anatomi

Sudah hamil lagi : • • • Dilakukan pemeriksaan seperti diatas kecuali yang dapat mengganggu kehamilan Banyak istirahat Pada hamil muda sebaiknya jangan bersenggama

2.10.7. Abortus febrilis • • • • • Perbaiki keadaan umum Posisi fowler Antibiotik yang ade kuat (untuk bakteri aerob dan anaerob) Uterotonika Pemberian antibiotik selama 24 jam iv dilanjutkan dengan evakuasi digital atau kuret tumpul. • Abortus septik harus dirujuk ke RS.

• • •

Penanggulangan infeksi Tingkatkan Asupan cairan Bila perdarahan banyak, lakukan transfusi darah Dalam 24 jam – 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.(3,13)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->