P. 1
DEFINISI SOSIAL

DEFINISI SOSIAL

|Views: 24,334|Likes:
Published by adamsegamat

More info:

Published by: adamsegamat on Jan 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2015

pdf

text

original

DEFINISI SOSIAL

Definisi oleh antok 123 days ago (Editorial) Definisi Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun juga bisa hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial. Begitu juga ketika anda sedang menelpon, atau chatting (ngobrol) melalui internet. Pun bahkan setiap kali anda membayangkan adanya orang lain, misalkan melamunkan pacar, mengingat ibu bapa, menulis surat pada teman, membayangkan bermain sepakbola bersama, mengenang tingkah laku buruk di depan orang, semuanya itu termasuk sosial. Sekarang, coba anda ingat-ingat situasi dimana anda betul-betul sendirian. Pada saat itu anda tidak sedang dalam pengaruh siapapun. Bisa dipastikan anda akan mengalami kesulitan menemukan situasinya. Jadi, memang benar kata Aristoteles, sang filsuf Yunani, tatkala mengatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial, karena hampir semua aspek kehidupan manusia berada dalam situasi sosial. Apakah tindakan sosial?Tindakan sosial adalah bagian dari perilaku sosial. Oleh sebab itu mula-mula harus didefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan perilaku sosial. Perilaku sosial adalah perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yakni bagaimana orang berpikir, merasa dan bertindak karena kehadiran orang lain. Pertama, berpikir dalam situasi sosial. Apa yang anda pikirkan ketika bertemu seseorang bertubuh tinggi besar, berewokan, berkulit hitam legam, bermantel tebal? Apa yang anda pikirkan saat kekasih anda mengingkari janji? Apa yang anda pikirkan saat teman anda mendapatkan promosi kenaikan jabatan? Apapun yang ada dalam benak anda , anda pasti memikirkan! Kedua, merasa dalam situasi sosial. Harus diakui, sebagian besar situasi sosial melibatkan perasaan. Coba anda bayangkan kembali perasaan anda saat berda dalam situasi sosial tetentu. Apa yang anda rasakan saat membayangkan sang kekasih? Apa yang anda rasakan saat menyaksikan pembunuhan sadis? Apa yang anda rasakan saat bertemu dengan orang yang pernah mencelakai anda? Ketiga, bertindak dalam situasi sosial. Inilah langkah kongkret anda yang bisa dilihat orang lain dalam situasi sosial. Mungkin anda menolong orang yang jatuh dari sepeda motor. Mungkin anda mengajak bersalaman dan berkenalan dengan orang yang baru anda temui. Mungkin anda memaki orang yang menyusahkan anda. Mungkin anda menyebarkan kebohongan. Mungkin anda mendatangi undangan pernikahan, atau yang lainnya. Sangat beragam bentuk-bentuk tindakan sosial manusia. Tindakan sosial sangat dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan atau emosi. Tidak ada tindakan sosial yang terjadi tanpa pengaruh keduanya. Oleh karena itu, meskipun buku ini khusus membahas tindakan sosial manusia, baik pikiran maupun emosi yang mempengaruhi tindakan sosial juga akan dikupas secara berbarengan. Apakah situasi-situasi sosial manusia? Apa yang dimaksud sosial telah dibahas diatas, yakni adanya kehadiran orang lain baik secara nyata maupun imajiner. Jika lebih diperinci, maka terdapat sekurangnya empat bentuk situasi sosial. Pertama, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra namun tanpa interaksi. Misalnya anda pergi ke perpustakaan. Disana duduk seseorang yang sedang membaca sendirian. Pada saat itu tidak ada interaksi apapun. Si dia bahkan mungkin tidak menyadari kalau anda ada disana. Namun sepanjang anda menyadari kehadirannya, maka itu disebut situasi sosial karena kehadiran orang itu secara otomatis telah mempengaruhi anda.

Sebelumnya anda merasa sendirian, lalu anda tidak lagi merasa sendirian. Boleh jadi anda juga membuat penilaian tentangnya berdasarkan penampilannya. Mungkin anda menilainya kutu buku jika berkacamata tebal dan tekun di depan buku. Banyak situasi sosial terjadi tanpa interaksi seperti diatas, namun pengaruhnya nyata bagi anda. Anda melihat orang naik mobil ngebut di jalan raya, anda lantas memaki dalam hati. Anda melihat pengemis di kejauhan, anda lantas merasa kasihan padanya. Anda mendengar ada suami istri bertengkar dijalan, lantas anda menyimpulkan mereka bukan pasangan berbahagia. Kedua, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra dan ada interaksi dengannya. Istilah lainnya adalah interaksi sosial. Misalnya anda saling melambaikan tangan atau mengklakson pada seseorang yang naik motor berplat daerah sama. Anda mengobrol bersama orang lain. Anda bermain sepak bola bersama tim. Anda menghadiri pesta, dan lainnya. Umumnya orang menganggap yang dimaksud situasi sosial adalah hanya interaksi sosial ini, meski tentu saja interaksi sosial hanyalah bagian dari situasi sosial. Ketiga, imajinasi akan adanya kehadiran orang lain. Termasuk dalam tipe ini adalah jika anda melamunkan kekasih, membayangkan sedang berada dirumah bersama saudara, atau mengingat kenangan-kenangan anda bersama seseorang atau kelompok orang. Pendek kata, semua lamunan, khayalan dan ingatan tentang orang lain yang mempengaruhi anda tercakup didalamnya. Bagaimana dengan mimpi? Dalam mimpi seseorang mengingat atau mengkhayalkan seseorang. Namun demikian, mimpi tidak bisa dimasukkan dalam kategori sosial karena merupakan keadaan tidak sadar. Anda tidak bisa memprogram untuk mimpi persis seperti yang anda inginkan layaknya memutar video. Keempat, adanya kehadiran orang lain melalui media tertentu yang anda ketahui dan kehadirannya mempengaruhi anda. Misalnya anda membaca surat dari ayah anda, lantas anda menangis. Anda melihat berita pesawat garuda terbakar hebat di Jogja, lalu berpendapat naik pesawat tidak aman. Anda mendengar berita pemerkosaan lantas anda mengira-ngira pelakunya. Anda membaca di koran bahwa Dewi Yul bercerai, lantas anda menduga-duga sebabnya. Banyak sekali situasi sosial terjadi dalam tipe ini. Apakah yang dimaksud interaksi sosial? Interaksi sosial adalah keadaan dimana seseorang melakukan hubungan saling berbalas respon dengan orang lain. Aktivitas interaksinya beragam, mulai dari saling melempar senyum, saling melambaikan tangan dan berjabat tangan, mengobrol, sampai bersaing dalam olahraga. Termasuk dalam interaksi sosial adalah chatting di internet dan bertelpon atau saling sms karena ada balas respon antara minimal dua orang didalamnya. Berdasarkan sifat interaksi antara pelakunya, interaksi sosial dibedakan menjadi dua, yakni interaksi yang bersifat akrab atau pribadi dan interaksi yang bersifat non-personal atau tidak akrab. Dalam interaksi sosial akrab terdapat derajat keakraban yang tinggi dan adanya ikatan erat antar pelakunya. Hal itu mencakup interaksi antara orangtua dan anaknya yang saling menyayangi, interaksi antara sepasang kekasih, interaksi antara suami dengan istri, atau interaksi antar teman dekat dan saudara. Sebagian besar interaksi sosial manusia adalah interaksi sosial tidak akrab. Umumnya interaksi dalam situasi kerja adalah interaksi tidak akrab. Termasuk juga ketika anda mengobrol dengan orang yang baru saja anda kenal, interaksi antar sesama penonton

sepakbola di stadion, interaksi dalam wawancara kerja, interaksi antara penjual dan pembeli, dan sebagainya.
http://definisi.net/story.php?title=sosial

:: RANCANGAN MALAYSIA KE SEMBILAN (2006-2010) :: BAB 14 : MENGUPAYAKAN BELIA UNTUK MASA HADAPAN

III : PROSPEK 2006-2010

14.20 Program pembangunan belia dalam tempoh RMKe-9 akan memberi penekanan kepada mengupayakan belia bagi membolehkan mereka lebih terlibat dalam membina nusa dan bangsa, memperkukuh perpaduan nasional dan integrasi sosial serta menjadi belia contoh dalam masyarakat. Usaha akan diambil untuk melengkapkan belia dengan kualiti dan kemahiran yang perlu bagi memastikan mereka mempunyai masa hadapan yang lebih baik dan bersedia menghadapi pembangunan ekonomi yang pesat dan perubahan persekitaran. Sehubungan ini, dasar dan program pembangunan belia akan diorientasi semula bagi mempertingkatkan keberkesanannya. Teras strategik untuk pembangunan belia adalah seperti berikut: a) mengupayakan belia untuk masa hadapan melalui peningkatan akses kepada pendidikan dan latihan; b) meningkatkan penyertaan belia dalam organisasi belia; c) memupuk semangat persaingan di kalangan belia; d) memperkukuh rangka kerja perundangan program pembangunan belia; dan e) menggalak perpaduan negara dan integrasi sosial. Belia dan Guna Tenaga 14.21 Dalam tempoh Rancangan, golongan belia dijangka meningkat pada kadar purata sebanyak 1.1 peratus setahun, daripada 11.10 juta pada tahun 2005 kepada 11.65 juta pada tahun 2010, seperti ditunjukkan dalam Jadual 14-1. Bagi memenuhi permintaan ekonomi berasaskan pengetahuan dan mengambil kira peranan belia dalam pembangunan negara, mereka akan digalak untuk terus meningkatkan tahap pengetahuan serta membina pemikiran dan sikap yang positif serta kepemimpinan dan kemahiran keusahawanan. Bagi tujuan ini, belia akan disediakan peluang yang lebih luas untuk mendapatkan pendidikan dan latihan seterusnya membangunkan mereka untuk menjadi lebih berbakat, inovatif, kreatif dan cemerlang dalam bidang yang dipilih. 14.22 Peratusan belia dalam kategori pekerjaan profesional dan teknikal dijangka lebih tinggi dengan bertambahnya bilangan siswazah dalam bidang profesional dan teknikal daripada institusi pendidikan tinggi dan bilangan lepasan institusi latihan

kemahiran serta peningkatan peluang pekerjaan dalam sektor perkhidmatan dan pembuatan. Guna tenaga belia sebagai pekerja mahir juga akan meningkat berikutan permintaan yang tinggi terhadap pekerja ini. Program Pembangunan Belia 14.23 Dalam tempoh Rancangan, program pembangunan belia akan memberi tumpuan yang lebih kepada belia dalam kumpulan umur 15-30 tahun. Bagi mengupayakan belia untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan nusa dan bangsa, peluang mereka untuk mendapat pendidikan dan latihan akan terus dipertingkat manakala latihan kepemimpinan dan kemahiran, pembangunan keusahawanan dan program gaya hidup sihat akan dilaksanakan secara lebih meluas. Di samping itu, keyakinan diri, disiplin dan unsur positif lain dalam pembentukan sahsiah diri akan digabungkan dalam program ini. Langkah juga akan diambil untuk meningkatkan akses kepada program pembelajaran sepanjang hayat melalui pendidikan jarak jauh dan tidak formal sebagai satu usaha untuk meningkatkan peluang mendapat pekerjaan dan kualiti hidup mereka. 14.24 Akta Belia Negara akan digubal bagi memastikan keberkesanan pelaksanaan program pembangunan belia dan untuk membantu dan menggalakkan penyertaan lebih ramai belia dalam persatuan belia. Akta ini akan menggabungkan peranan antara kementerian dalam pembangunan belia untuk memastikan program belia dilaksanakan secara lebih bersepadu, selaras dan bersinergi. Bagi membolehkan Kerajaan merancang dan melaksanakan program pembangunan belia yang mempunyai sasaran khusus dengan lebih berkesan, profil mengenai belia akan dibangunkan. Di samping itu, Institut Penyelidikan Belia Negara akan diwujudkan dengan menggunakan kemudahan sedia ada untuk menjalankan penyelidikan dalam enam bidang, iaitu memasyarakatkan belia, agama dan budaya, potensi belia dan integriti, belia berpersatuan, kepemimpinan dan kesukarelaan, belia dan pendidikan serta belia dan kesedaran politik. 14.25 Pelaksanaan program pembangunan belia dalam tempoh Rancangan akan melibatkan penyertaan aktif sektor swasta, NGO dan persatuan belia bagi melengkapkan usaha sektor awam. NGO dan persatuan belia akan diberi kepercayaan untuk menggembleng belia bagi memenuhi objektif memelihara perpaduan negara serta kestabilan ekonomi dan sosiopolitik memandangkan pentingnya peranan belia dalam membina nusa dan bangsa untuk masa hadapan. Sehubungan ini, program bersama antara sektor awam dan swasta akan dianjurkan dengan mensasarkan penyertaan belia pelbagai bangsa. Latihan Kepemimpinan 14.26 Dalam tempoh Rancangan, usaha berterusan akan dilaksanakan untuk membina generasi baru pemimpin muda sebagai penggerak utama pembangunan. Sehubungan ini, kurikulum program latihan kepemimpinan akan diperkukuh supaya lebih proaktif dan sesuai dengan keperluan masa hadapan. Dianggarkan seramai 100,000 belia termasuk pemimpin NGO akan dilatih di bawah program ini. 14.27 Kerajaan akan terus membangun dan menyemai kualiti kepemimpinan di kalangan belia melalui kursus dan latihan yang dijalankan mengenai nilai murni dan sikap positif. Kursus khas mengenai nilai juga akan dijalankan untuk membentuk belia sebagai warganegara yang bertanggungjawab dan menjadi belia contoh dalam masyarakat. Kesedaran yang lebih terhadap kepentingan peranan belia dalam memupuk dan mendorong perpaduan ke arah membina rakyat Malaysia yang bersatu padu akan diberi keutamaan dalam program latihan kepemimpinan. Bagi membendung polarisasi kaum di kalangan belia, lebih banyak persatuan belia pelbagai kaum akan ditubuh untuk meningkatkan interaksi sesama mereka. Di

samping itu, nilai moral yang baik seperti kesefahaman,harmoni, hormat budaya dan tradisi kaum lain, muhibah dan amanah juga akan dipupuk di kalangan belia untuk memperkukuh usaha membina nusa dan bangsa. Sektor swasta juga akan digalak untuk menyumbang kepada latihan belia sebagai sebahagian daripada tanggungjawab sosial mereka. Lebih banyak penyertaan aktif belia di peringkat antarabangsa akan digalakkan melalui institusi antara kerajaan dan institusi bukan kerajaan. 14.28 Dalam tempoh Rancangan, pelaksanaan Program Rakan Muda akan diperkukuh untuk memberi penekanan kepada kumpulan sasar khusus, terutamanya belia yang berada di luar sistem pendidikan dan belia yang menganggur kerana mereka merupakan golongan yang lebih mudah terpengaruh untuk terlibat dalam aktiviti negatif dan tidak sihat. Sehubungan ini, Program Rakan Muda akan memberi tumpuan kepada usaha mewujudkan belia contoh yang penyayang, mahir dan dinamik. Di samping itu, Program Rakan Muda juga akan memberi penekanan untuk menggalakkan kerjasama di kalangan agensi yang terlibat dalam agenda sosial. Dengan kerjasama Jabatan Perpaduan dan Integrasi Nasional, Program Rakan Muda Jiran Muda akan disasarkan kepada mereka yang berumur di bawah 15 tahun dan bertujuan untuk membangunkan nilai positif serta menghindarkan mereka daripada terlibat dalam aktiviti tidak sihat. Kira-kira 300,000 kanak-kanak akan terlibat dalam program ini. Bagi memastikan keberkesanan pelaksanaan Program Rakan Muda, lebih ramai Penggerak Rakan Muda akan dilantik untuk menarik minat lebih ramai belia menyertai program ini. 14.29 Usaha juga akan diambil untuk bekerjasama dengan sektor swasta dan NGO bagi menggalakkan lebih ramai pekerja mereka menyertai Program Rakan Muda. Sehubungan ini, pusat Rakan Muda baru akan dibina, terutamanya di kawasan bandar dan perindustrian untuk menyediakan kemudahan sukan dan rekreasi serta khidmat kaunseling dan nasihat kepada belia dalam kumpulan ini. 14.30 Satu program baru, Program Memperkasakan Tenaga Muda akan dilaksanakan terutama untuk belia yang tidak terpilih menyertai PLKN. Aktiviti dan modul di bawah PLKN akan dilaksana untuk memastikan mereka yang tidak terpilih menyertai PLKN mendapat pendedahan kepada program yang sama. Sebagai persediaan yang lebih baik kepada pelajar untuk menyertai PLKN, Kerajaan akan menyepadukan program ini dalam kokurikulum dan kurikulum di sekolah menengah. Peserta PLKN akan digalakkan menyertai Program Rakan Muda untuk terus memupuk semangat kesukarelaan dan kesepakatan di kalangan mereka. Latihan Kemahiran 14.31 Bagi memenuhi keperluan tenaga kerja mahir dalam negara, program latihan kemahiran yang lebih komprehensif untuk belia akan dilaksanakan. Program latihan kemahiran akan diperluas bagi merangkumi bidang baru seperti penyenggaraan bangunan dan pesawat serta pengurusan hotel selain memperkenalkan program teknikal dan vokasional yang baru. Latihan dalam soft skills seperti komunikasi berkesan, hospitaliti, kemahiran pemikiran kreatif dan pengurusan perniagaan akan diberi penekanan yang lebih. Bagi mencapai tujuan ini, kolej komuniti, institut latihan perindustrian dan institusi latihan kemahiran baru akan dibina manakala infrastruktur dan kemudahan latihan sedia ada akan dinaik taraf. Langkah ini akan menyediakan tempat latihan kepada kira-kira 300,000 belia dalam tempoh Rancangan. Bagi meningkatkan peluang mendapat pekerjaan di kalangan belia di luar bandar, peluang latihan kemahiran akan dipertingkat, terutamanya untuk belia daripada skim pembangunan tanah. 14.32 Kerajaan akan terus menggalakkan sektor swasta untuk menyediakan latihan kemahiran kepada belia melalui kerjasama dan menjalin perkongsian

strategik. Melalui pendekatan ini, kursus yang sesuai dengan keperluan industri akan dikenal pasti dan dilaksanakan bagi memberi pengalaman dan kemahiran sambil bekerja yang akan meningkatkan peluang mereka mendapat pekerjaan. Sehubungan ini, program latihan yang dilaksanakan di bawah Skim Perantisan Hotel dan Program Latihan Kemahiran Tidak Formal akan dipergiat. Seramai 150,000 belia akan dilatih dalam tempoh Rancangan. Pembangunan Keusahawanan 14.33 Selaras dengan objektif untuk mewujud dan menubuhkan komuniti belia perdagangan dan perindustrian, peluang perniagaan yang baru akan disediakan kepada belia melalui kerjasama strategik dengan syarikat swasta dan entiti yang telah diswastakan. Belia akan terus dilatih untuk mengambil peluang daripada program pembangunan francais dan vendor sedia ada, pemasaran di bawah konsep payung dan skim modal teroka syarikat besar. 14.34 Bagi membantu belia dalam perniagaan, seminar dan kursus mengenai kewangan dan pengurusan perniagaan, peluang perniagaan dan motivasi akan dijalankan. Program ini akan memberi pendedahan kepada belia untuk memulakan perniagaan dan menggalakkan mereka bekerja sendiri terutamanya di kalangan siswazah yang baru tamat pengajian. 14.35 Program Pembangunan Belia Tani akan diperkenalkan dalam tempoh Rancangan untuk terus menggalak dan menarik minat lebih ramai belia melaksanakan projek dalam sektor pertanian. Pelaksanaan program ini meliputi penubuhan perniagaan berasaskan pertanian dan menggalakkan penggunaan teknologi moden seterusnya mewujudkan generasi petani muda yang baru dan moden. Komponen program meliputi latihan dan khidmat nasihat kepada belia untuk melaksanakan aktiviti perdagangan berasaskan pertanian. Dianggarkan kirakira 1,000 usahawan tani di kalangan belia akan diwujudkan dalam tempoh Rancangan. 14.36 Dengan peningkatan aplikasi ICT dalam perniagaan, Program Pembangunan Usahawan ICT untuk belia akan terus dilaksanakan dalam tempoh Rancangan. Kandungan program termasuk kursus dan seminar dalam celik komputer serta pensijilan sains komputer, pembangunan IT dan program galakan. Seramai 50,000 belia dijangka mendapat manfaat daripada program ini. Program Pencegahan dan Pemulihan 14.37 Dalam tempoh Rancangan, Kerajaan akan terus memberi penekanan kepada program pencegahan dan pemulihan untuk menangani masalah sosial di kalangan belia. Kerjasama erat antara masyarakat setempat dengan agensi kerajaan untuk membanteras jenayah di kalangan belia akan diwujudkan. Di samping itu, program latihan untuk belia yang berisiko tinggi terlibat dalam jenayah akan dilaksanakan untuk mendidik mereka menjadi warganegara yang bertanggungjawab. 14.38 Usaha yang bersepadu akan diambil untuk menangani penagihan dan pengedaran dadah di kalangan belia. Sehubungan ini, program kesedaran akan diperhebat termasuk kempen Belia Benci Dadah. Sebilangan besar pemimpin agama akan dilantik untuk menyemai nilai positif dan kerohanian di kalangan belia, terutamanya mengenai kesan negatif penyalahgunaan dadah dan tingkah laku yang menyimpang. Di samping itu, pendekatan baru bagi mendekati dan membantu kumpulan belia ini akan diguna pakai bagi memastikan keberkesanan pelaksanaan program pencegahan dan pemulihan. 14.39 Pendidikan tentang pencegahan dan penyebaran maklumat mengenai dadah

akan diadakan untuk mengurangkan bilangan penagih dadah dan meningkatkan penyertaan komuniti dalam usaha pencegahan dan rawatan pemulihan. Penambahbaikan program pemulihan dan latihan akan dilaksana untuk meningkatkan peluang mendapat pekerjaan kepada bekas penagih serta mengurangkan kes penagihan semula. Lebih banyak pusat perkhidmatan akan ditubuh bagi menyediakan kaunseling kepada individu, kumpulan dan keluarga. Pusat ini akan menjadi fokus utama integrasi antara agensi Kerajaan dengan NGO dalam mewujudkan satu persekitaran yang kondusif untuk penagih dadah kembali ke pangkuan masyarakat. 14.40 Satu kempen bersepadu menentang kegiatan samseng dan kongsi gelap di kalangan pelajar yang melibatkan Kementerian Pelajaran, Kementerian Perumahan dan Kerajaan Tempatan dan Polis serta PIBG akan dilancarkan sebagai sebahagian daripada pendekatan jangka panjang bagi menangani masalah disiplin di sekolah. Di samping itu, pertubuhan sukarela seperti PEMADAM, PENGASIH serta pertubuhan sosial lain dan pertubuhan agama akan digalak untuk meningkatkan penglibatan mereka dalam program pencegahan dan pemulihan.

http://www3.pmo.gov.my/RancanganWeb/Rancangan1.nsf/vAllDoc/1B2E FA147E3A5C4B482571AA000D43DB

Malaysia adalah sebuah negara yang rakyatnya terdiri daripada pelbagai budaya, bahasa, agama dan etnik. Masyarakat pelbagai budaya ini terdiri daripada lebih 200 suku etnik. Kumpulan etnik terbesar adalah Melayu, Cina, India, Kadazan, Iban, Dusun, Banjar dan Bidayuh. Insiden salah faham, ketegangan dan konflik etnik sering digambarkan berlaku di Malaysia (Mansor et al.,2006). Polarisasi kaum di institusi pengajian tinggi merupakan suatu masalah yang perlu diteliti dan diberi perhatian yang serius. Masalah ini jika tidak dikawal boleh menjejaskan perkembangan yang sihat di kalangan pelajar-pelajar kita dan mungkin juga akan menggagalkan pencapaian matlamat pendidikan kebangsaan untuk menghasilkan rakyat Malaysia yang bersatupadu. Masalah polarisasi kaum ini juga harus dilihat sebagai suatu reaksi dan akibat dari sistem yang wujud di negara ini. Oleh kerana golongan pelajar itu sebahagian dari masyarakat, maka masalah pelajar itu juga adalah mencerminkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat seluruhnya (Sanusi,1989). Negara yang dianggap paling maju sekalipun, harus berusaha melakukan penyelidikan dan inovasi untuk terus menjadi lebih maju. Begitu juga negara yang dianggap paling aman juga harus terus berusaha mengekalkan keamanan. Malaysia bukanlah negara yang paling maju mahupun yang paling aman. Kita mempunyai wawasan yang tertentu untuk menjadi negara maju dan banyak tanda menunjukkan Page 16 2 bahawa kita akan dapat mencapai sasaran kita tepat pada waktu yang ditetapkan. Kita juga terus berusaha dan cuba mencari jalan bukan saja untuk mengekalkan keamanan yang sedia ada, tetapi mencari penyelesaian kepada isu-isu yang boleh memantapkan keamanan dalam masyarakat Malaysia. Salah satu isu fokus yang sering memberikan

cabaran kepada kita ialah isu hubungan etnik (Kamarulzaman,2007). Isu hubungan etnik dan masalah yang timbul dari “hubungan” ini bukanlah perkara yang baru dalam konteks Malaysia. Masalah tinggalan era penjajah ini kerap timbul dari masa ke semasa walaupun pelbagai usaha dilakukan untuk mengurus dan menyelesaikannya. Dalam beberapa tahun ini sahaja, kita berhadapan dengan insiden-insiden yang mencabar keutuhan hubungan etnik di negara ini dan memberi tanda tanya tentang keberkesanan program-program yang telah diperkenalkan untuk mewujudkan perdamaian dan perhubungan etnik yang positif. Antara insiden besar termasuk kes-kes Kampung Rawa pada tahun 1998 dan Kampung Medan pada tahun 2001. Di samping itu, data-data yang dikumpulkan oleh Jabatan Perpaduan mengenai insiden konflik sosial dari tahun 1998 hingga 2004 menunjukkan bahawa walaupun insiden konflik kerana isu etnik atau perkauman adalah sedikit (cuma 1 peratus dari semua jenis isu konflik), insiden-insiden lain yang melibatkan isu-isu seperti sosial, agama, keselamatan, politik, dan ekonomi, banyak melibatkan faktor atau pelaku dari kumpulan etnik yang berbeza (Kamarulzaman,2007). Jadi, isu Malaysia sebagai sebuah negara berbilang kaum penting untuk difikirkan. Kita melihat perbezaan bukan sahaja dari segi etnik malahan dari aspek ekonomi, kebudayaan dan agama. Sesuatu etnik adalah mustahil untuk menjadi etnik yang lain. Maka struktur ekonomi, budaya dan pendidikan telah dijadikan pemangkin untuk mencapai perpaduan (Azra,2005). Hussein Hj Ahmad (1993) menyatakan bahawa peranan sistem persekolahan sehingga akhir tahun 1980an bermotifkan tiga perkara utama. Pertamanya, pendidikan untuk menyediakan tenaga kerja negara. Kedua, pendidikan sebagai asas perpaduan kaum. Ketiga, pendidikan adalah untuk pembinaan disiplin di kalangan rakyat berbilang kaum. Page 17 3 Selain itu, Ting Chew Peh (1987) juga menyatakan bahawa pendidikan banyak fungsinya. Selain daripada menyampaikan ilmu pengetahuan, kemahiran dan nilai yang mustahak kepada kelangsungan hidup sesebuah masyarakat, ia juga berfungsi sebagai satu alat untuk memupuk integrasi. Namun demikian, pada masa ini, kita dapati pergaulan di kalangan pelajar lebih terhad kepada sesama kaum walaupun di dalam kelas terdiri daripada pelbagai etnik. Demikian juga dalam aktiviti kokurikulum, ada sesetengah aktiviti dan permainan penyertaan dimonopoli hanya sesuatu kaum sahaja. Keadaan ini berterusan hingga ke IPTA (Berita Harian,28 Julai 2006). Oleh itu, langkah-langkah yang efektif perlu diambil untuk menyelesaikan masalah hubungan etnik di kalangan pelajar-pelajar. Menghadapi cabaran yang ditimbulkan oleh hubungan etnik bukannya mudah. Pelbagai usaha dijalankan termasuk penubuhan Jabatan Perpaduan Negara dan Integrasi Nasional pada awal tahun tujuh-puluhan yang memperkenalkan program-program memupuk perpaduan dalam masyarakat. Antara program-program yang telah diperkenalkan oleh negara untuk menangani masalah ini termasuklah Rukun Tetangga hinggalah kepada Pelan Integrasi Nasional; penubuhan Sekolah Wawasan; Program Latihan Khidmat Negara di samping banyak lagi program yang memfokuskan kepada kelompok belia ini; program "Kongsi-Raya" dan lain-lain yang berusaha mempromosi perpaduan dan

kefahaman tentang budaya yang berbeza melalui cara meraikan hari kebesaran semua kelompok secara bersama. Pengenalan kursus hubungan etnik di institusi pengajian tinggi negara yang begitu hangat diperdebatkan pada masa ini pula adalah sebagai salah satu usaha untuk menangani masalah hubungan etnik yang sering menjadi isu dalam proses pembangunan negara (Kamarulzaman,2007). 1.2 Latar Belakang Masalah Menurut Sanusi (1989), polarisasi kaum di Malaysia bukan sesuatu yang baru. Masalah ini kita warisi sejak zaman penjajahan dulu. Anehnya fenomena ini Page 18 4 terus berkembang dan berjaya pula mempengaruhi berbagai bidang kehidupan masyarakat kita. Walaupun penjajahan menjadi punca masalah polarisasi yang kita hadapi sekarang, tetapi kita harus akui bahawa sejak kita mencapai kemerdekaan, segala bentuk dasar di negara ini adalah hasil ciptaan dan pemikiran kita sendiri. Polarisasi kaum yang terdapat di sekolah-sekolah dan di institusi-institusi pengajian tinggi di negara ini tidak boleh dipandang ringan dan sepi oleh kerana kesan dan implikasinya amat besar kepada masa depan rakyat dan negara kita. Fenomena ini juga tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang berasingan oleh kerana sekolah dan institusi pengajian tinggi adalah sebahagian daripada masyarakat yang lebih besar. Oleh itu fenomena ini haruslah dilihat sebagai suatu bentuk reaksi atau kesan dari sistem politik dan ekonomi yang sedia wujud serta berbagai dasar yang sedang dilaksanakan sekarang. Keadaan polarisasi kaum yang terus berkembang di kalangan rakyat ketika ini membuktikan bahawa langkah-langkah yang dilaksanakan setakat ini bukan sahaja tidak berjaya mengawal perkembangannya tetapi juga tidak menampakkan kesan yang boleh dibanggakan. Dalam sejarah Malaysia yang sudah merdeka pun kita telah menyaksikan beberapa peristiwa yang menyusahkan kita dan pepimpin negara. Peristiwa yang tragis yang melibatkan bukan sahaja melibatkan masalah perbezaan stratifikasi sosioekonomi, masalah interaksi sosio-budaya tetapi juga identiti dan integriti bangsa iaitu peristiwa rusuhan 13 Mei pada tahun 1969. Peristiwa ini bukanlah sesuatu yang tidak diramal sama sekali, kerana terdapat pelbagai peristiwa pernah berlaku sebelum dan selepas kemerdekaan yang menunjukkan dengan jelas corak perhubungan bangsa yang tidak menyenangkan khususnya masalah ini timbul di antara orang-orang Melayu dan orang-orang keturunan Cina dan pada amnya di antara pihak bumiputera dan bukan bumiputera (Wan Halim Othman,1982). Begitu juga contoh pergaduhan antara kaum India dan kaum Melayu di Kampung Medan, Petaling Jaya pada 12 Mac 2001 berlaku kerana salah faham yang telah menyebabkan 5 orang terkorban, 37 orang cedera dan 153 orang ditahan. Beratus-ratus pegawai dan anggota polis rusuhan telah dikerah untuk mengawal keadaan (Zaid Ahmad et al., 2006). Demikian contoh insiden yang harus diambil iktibar ke arah menjadi masyarakat Malaysia yang aman dan harmoni terhindar dari peristiwa hitam. Page 19 5 Perpaduan merupakan aspek penting dalam pembangunan negara. Kemajuan yang dinikmati sekarang adalah hasil daripada perpaduan erat antara pelbagai kaum

di negara ini. Oleh itu, aktiviti pendidikan mestilah memberi keutamaan kepada usaha-usaha memupuk dan mengekalkan semangat perpaduan di kalangan rakyat. Usaha-usaha perpaduan boleh dicapai melalui aktiviti kurikulum, kokurikulum dan sukan. Peranan pendidikan penting untuk melahirkan semangat cintakan negara. Oleh itu, KPM menghadapi cabaran besar melahirkan pelajar dengan ciri-ciri individu dan masyarakat Bangsa Malaysia. Bangsa Malaysia yang dihasratkan terdiri daripada individu dan masyarakat yang mempunyai keyakinan tinggi, jati diri kukuh, berpegang teguh kepada ajaran agama dan nilai moral, dapat hidup sebagai sebuah masyarakat yang penyayang, demokratik, liberal dan bertolak ansur, serta berfikiran dan berbudaya saintifik (Pelan Induk Pembangunan Pendidikan 2006-2010). Menurut Rusimah Sayuti et al. (2004) pula menyatakan bahawa pelajarpelajar berbilang bangsa yang berada sama ada di IPTA atau IPTS hidup dalam satu komuniti dengan tujuan yang sama iaitu menuntut ilmu lebih mudah untuk saling faham-memahami dalam pelbagai aspek. Sebagai contoh memahami amalan agama sesuatu bangsa terutama dalam konteks kehidupan berasrama adalah penting. Menurut Sanusi (1989), sudah banyak perbincangan yang disiarkan tentang polarisasi kaum di beberapa buah universiti tempatan. Bentuk polarisasi yang dilaporkan hampir sama di semua universiti. Selain dari itu terdapat juga beberapa kajian ilmiah yang dijalankan di beberapa buah universiti. Berasaskan kepada kajian ini, beberapa generalisasi umum tentang keadaaan polarisasi kaum di kalangan pelajar-pelajar di institusi pengajian tinggi dapat dibuat iaitu darjah interaksi antara pelajar berbagai etnik adalah rendah walaupun terdapat banyak peluang-peluang untuk berinteraksi sesama mereka di kampus, terdapat kecenderungan untuk memilih sahabat atau kawan dari anggota kumpulan etnik yang sama, kurang perbincangan secara terbuka dan serius di kalangan pelajar berbagai etnik mengenai soal politik, ekonomi dan sosial, terdapat prasangka dan stereotaip yang kuat, sebahagian besar daripada pelajar mempunyai etnosentrisma yang tinggi dan banyak kegiatan pelajar yang dijalankan adalah mengikut garis etnik bukan merentas garis etnik. Page 20 6 Menurut Sanusi (1989) lagi, keadaan ini jelas menunjukkan bahawa peluangpeluang berinteraksi yang terdapat di kampus seperti tinggal di tempat yang sama, bersukan, makan di kantin bersama, perpustakaan, organisasi-organisasi pelajar dan lain-lain kegiatan pelajar lagi tidak banyak mendorong pelajar-pelajar tersebut untuk berhubung dan bergaul dengan lebih luas di kalangan mereka yang merentas garis etnik. Apa yang seringkali berlaku ialah kebanyakan kegiatan pelajar seperti makan di kantin, ke perpustakaan, bersiar-siar, menonton wayang, berbincang dan juga bersukan dilakukan bersama dengan anggota-anggoata dari kumpulan etnik yang sama. Perkembangan demikian sudah tentu bertentangan dengan hasrat dan cita-cita kita untuk mewujudkan perhubungan yang lebih erat, persefahaman dan integrasi nasional. Jika pembelajaran anak-anak dilibatkan dengan asuhan, bimbingan berterusan tentang teori dan amalan berbudi bahasa dan kesopanan, generasi berbudi akan datang dan melentur ke arah itu. Didikan di sekolah perlu mengutamakam aspek berkawan, bersahabat melalui pelbagai kaum dan agama. Murid dan pelajar, pelajar

dan mahasiswa perlu terdedah kepada pembelajaran dan kurikulum yang disertai pelbagai kaum. Dorongan untuk memahami dan bertoleransi di kalangan pelbagai kaum, agama dan budaya adalah teras muhibbah bagi masyarakat Malaysia. Ini adalah tunjang perpaduan. Barangkali sudah sampai masanya bagi mewujudkan beberapa kepastian yang mewajibkan interaksi antara kaum dalam pelbagai urusan dan kegiatan. Latihan Khidmat Negara sudah jelas menjurus kepada matlamat ini dengan undang-undangnya yang sedia ada. Tetapi untuk mencipta dan mewujudkan bangsa yang terhindar dari sikap perkauman, Latihan Khidmat Negara tentunya memerlukan program-program sampingan. Kegiatan kokurikulum di sekolah dan universiti, di padang permainan, di kelab-kelab misalnya mungkin dapat dijuruskan supaya mengutamakan interaksi pelbagai kaum. Bila perpaduan kaum sudah menjadi amalan, negara bangsa akan pantas mencapai kejayaan (Rais Yatim,2006). Page 21 7 1.3 Pernyataan Masalah Pelajar Institusi Pengajian Tinggi merupakan generasi dan pewaris kepada kepimpinan negara serta pencorak pemikiran masyarakat akan datang. Pelajar Universiti Teknologi Malaysia dipilih mewakili IPTA-IPTA di Malaysia terdiri daripada pelbagai bangsa, budaya, agama, dan adat tetapi menuntut ilmu dalam kampus dan tinggal di asrama yang sama. Kajian ini dijalankan untuk mengenalpasti setakat manakah perpaduan kaum terbina di kalangan pelajar-pelajar universiti yang terdiri daripada pelbagai kaum terutama dilihat dari segi aspek saling bantu-membantu, hormat-menghormati serta toleransi di antara pelajar-pelajar yang terdiri daripada pelbagai etnik. Adakah terdapat budaya dan nilai tersebut dalam diri pelajar untuk mewujudkan persefahaman antara pelajar-pelajar berbilang kaum. Dalam erti kata lain adakah terdapat unsur-unsur perpaduan yang diterjemahkan dalam kehidupan harian di kampus
http://74.125.155.132/search? q=cache:AFIiL_RPuY0J:www.fp.utm.my/ePusatSumber/pdffail/ptkghdfwP /THAYCHEOWYINBP050199D2008TTP.pdf+kerjasama+sosial+di+kalanga n+masyarakat+pelbagai+kaum&cd=17&hl=en&ct=clnk&gl=my&client=f irefox-a

Senario mutakhir benar-benar mencetuskan ke resahan di kalangan masyarakat. Semacam negara sedang berada di persimpangan genting apabila membicarakan isu berkaitan polemik perpaduan kaum di Malaysia. Memang tidak dinafikan dalam realiti dunia tanpa sempadan kini dengan kecanggihan teknologi komunikasi seperti Internet, masyarakat digalakkan untuk berfikiran terbuka dan bersikap kritis. Namun, keterbukaan tidak bermakna masyarakat berhak berbuat sesuka hati hingga melampaui batas-batas etika tanpa mengira kesannya terhadap kerukunan hidup bermasyarakat. Dalam konteks inilah sejarah menjadi asas terpenting untuk ditelaah kembali oleh generasi pelanjut perjuangan agar

lebih menghargai suasana keharmonian kaum yang wujud, sekali gus memaksa semua pihak bertolak ansur dan bersikap berlapang dada antara satu sama lain. Apa yang lebih membimbangkan sudah ada kecenderungan di kalangan generasi muda negara yang mula mempertikaikan kontrak sosial yang selama ini menjadi teras perpaduan dan persefahaman di antara kaum. Ini termasuklah keberanian mempertikaikan keistimewaan orang Melayu dan kedudukan Islam sebagai agama rasmi negara. Lebih mendukacitakan apabila wujud kecenderungan di kalangan umat Islam sendiri yang mempersoalkan kedudukan Islam dalam perlembagaan. Ketaksuban kepada prinsip kebebasan yang dinobatkan Barat turut menyebabkan sebahagian mereka sanggup mengeluarkan pelbagai andaian liar terhadap agama sendiri. Kegagalan memahami Islam dalam kerangkanya yang luhur turut menjebakkan mereka untuk turut mendendangkan alunan nista golongan Islamofobia yang langsung tidak menggambarkan prinsip keadilan Islam sebenar. Persoalannya benarkah Islam agama eksklusif yang menafikan hak dan keistimewaan agama lain sebagaimana didakwa? Apakah Islam tidak meraikan kepelbagaian kaum dan agama dalam sesebuah negara? Atau adakah Islam tidak memperakui kontrak sosial yang mempertahankan hak dan kebebasan beragama? Hakikat yang tidak boleh dinafikan, Islamlah agama terawal yang merumuskan formula kontrak sosial sebagaimana terangkum dalam Piagam Madinah. Bahkan kontrak sosial yang terbentuk melalui Piagam Madinah pada tahun 622 Masihi itu merupakan dokumen perlembagaan terawal yang menggariskan prinsip kebebasan dan jaminan hak yang sama di kalangan pelbagai kaum. Keistimewaan Kontrak sosial tersebut jelas memperincikan dan mempertahankan hak, keistimewaan, kebebasan dan keadilan setiap kaum di Madinah termasuklah kaum minoriti Yahudi dan bangsa Arab lain yang bukan Islam. Malah daripada 47 fasal yang terkandung dalam Piagam tersebut, 24 daripadanya adalah peruntukan hak dan kewajipan masyarakat minoriti Yahudi. Prinsip kebebasan beragama amat dititikberatkan Rasulullah s.a.w. hingga baginda secara jelas menegah sebarang usaha merobohkan gereja dan tempat peribadatan agama lain bagi digantikan dengan pembinaan masjid. Paderi-paderi dan ketua-ketua agama lain yang tinggal di Bukit Sinai umpamanya turut diberikan perlindungan khusus oleh Rasulullah daripada sebarang ancaman musuh. Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Ghayr Al-Muslimeen fil Mujtama AlIslami turut membahaskan hak-hak golongan minoriti bukan Islam yang wajib dipertahankan oleh kerajaan Islam. Dalam bukunya, Al-Qaradawi menukilkan bagaimana di zaman Khalifah Umar al-Khattab, rakyat di Ilya (Jerusalem) yang terdiri daripada pelbagai agama termasuklah Islam, Kristian dan Yahudi dikehendaki memeterai kontrak sosial yang menjamin kebebasan dan hak mereka sebagai warganegara. Ini termasuklah hak untuk mengamalkan agama masing-masing tanpa penindasan dan penganiayaan. Malah penegasan turut dibuat bagi menghalang sebarang unsur-unsur paksaan terhadap penganut agama lain termasuklah yang bersangkutan dengan harta mahupun agama. Khalid Al-Walid pula dalam memeterai kontrak sosial bersama masyarakat ‘Anat yang terdiri daripada penganut agama Kristian jelas menyebutkan: “Penganut Kristian mesti dibenarkan membunyikan loceng pada bila-bila masa sama ada siang mahupun malam kecuali ketika waktu umat Islam menunaikan sembahyang. Mereka juga mesti dibenarkan mempamerkan salib pada hari-hari

perayaan.” Begitulah hebatnya prinsip keadilan dan kebebasan yang menjadi bukti perakuan Islam terhadap pembentukan kontrak sosial di kalangan masyarakat berbilang kaum dan agama. Semuanya bagi menjamin keharmonian dan kestabilan yang berkekalan khususnya dalam realiti masyarakat plural dalam sesebuah negara. Bagi yang masih sangsi terhadap keadilan Islam, cukuplah sejarah menjadi bukti terbaik yang menunjukkan betapa Islam memperakui dan mempertahankan kontrak sosial bagi menjamin hak dan kebebasan setiap warga tidak kira agama mahupun bangsa. Justeru dalam mencari formula terbaik untuk merangka pelan tindak pemerkasaan persefahaman dan perpaduan kaum di Malaysia hari ini, semua pihak khususnya generasi muda negara harus kembali me nelusuri sejarah serta menjunjung prinsip dan nilai luhur yang terkandung di dalam ajaran Islam. Hanya dengan memahami sejarah dan menjiwai prinsip Islam sejati generasi muda akan lebih menghargai kontrak sosial dan sensitiviti kaum yang menjadi teras pembentukan masyarakat Malaysia yang aman, makmur dan bahagia. http://yuzray.blog.friendster.com/2006/10/

Objektif 3: Memperkukuhkan dan Membangunkan Sistem Sokongan Sosial Dan Perkhidmatan Sosial. Segala usaha perlu diambil untuk memperkuatkan sistem sokongan sosial yang sedia wujud iaitu sistem keluarga, komuniti, kumpulan etnik, agama, pendidikan dan organisasi sosial untuk membantu setiap anggota masyarakat membangun dan berfungsi secara optimum serta berfungsi sebagai sistem kawalan sosial. Selain itu, sistem sokongan yang baru sebagai tambahan perlu diwujudkan bagi tujuan tersebut. Semua sektor yang terlibat di dalam sistem penyampaian perkhidmatan sosial perlu saling menyokong dan melengkapi untuk menentukan anggota masyarakat yang memerlukannya mendapat pilihan perkhidmatan bermutu. Strategi-strategi bagi mencapai objektif :• • • Membangunkan setiap keluarga untuk berfungsi sebagai satu pasukan yang saling menyokong dalam memainkan peranan serta tanggungjawab supaya setiap ahli keluarga berkembang dengan optimum mengikut keunikan dan potensi setiap individu. Mengiktiraf identiti, kepentingan dan keperluan pelbagai kelompok etnik dalam masyarakat Malaysia untuk mewujudkan sikap toleran dan saling membantu di dalam dan di antara kaum yang berbeza. Mengiktiraf kelompok keagamaan sebagai kelompok sosial yang mengamalkan sistem nilai dan cara hidup tersendiri selaras dengan Perlembagaan Negara, menghormati sistem nilai dan cara hidup penganut agama lain serta menggalakkan interaksi dan saling memahami antara penganut pelbagai agama. Memberikan peluang kepada semua anggota masyarakat untuk mencapai kecemerlangan melalui sistem pendidikan yang fleksible, aksesibel, inovatif, relevan dan dinikmati oleh semua anggota masyarakat sepanjang hayat mereka. Memastikan sesebuah organisasi atau agensi menyediakan keperluan asas sosial serta memberikan sokongan dan bimbingan kepada kakitangannya sebagai satu tanggungjawab asas. Menentukan supaya organisasi atau agensi yang memberikan khidmat sosial mementingkan kakitangan yang dilengkapi dengan kemahiran sosial dan teknologi terkini serta yang berhubung langsung dengan kumpulan sasar. Menggalakkan setiap organisasi atau agensi, di semua peringkat dan sektor menggubal dan melaksanakan dasar di peringkat organisasi sebagai panduan bagi menentukan perkembangan sosial yang optimum untuk kakitangan dan kumpulan sasarnya.

• • • •

• • • • •

• • • • • • • • • •

Menggalakkan sesebuah komuniti, sama ada di dalam bandar atau luar bandar supaya bekerjasama dan saling membantu menyediakan berbagai-bagai perkhidmatan untuk memenuhi keperluan anggotanya dan mendirikan sistem amaran awal untuk mengenal pasti gejala sosial. Menjalankan Penilaian Prestasi Perkhidmatan Sosial atau Audit Sosial bagi membuat pemantauan ke atas organisasi dan agensi perkhidmatan sosial. Mensyaratkan Penilaian Impak Sosial atau Social Impact Assessment (SIA) digunapakai dalam perancangan dan pelaksanaan semua program dan aktiviti pembangunan awam dan swasta. Menyediakan Laporan Tahunan Sosial yang mengandungi petunjuk-petunjuk sosial lengkap bagi memantau secara objektif dan tepat berkaitan kemajuan pembangunan sosial. Menentukan sesuatu isu sosial dikaji, diselidiki dan dianalisa dengan terperinci, objektif, rasional dan profesional dari segala sudut serta menyebarkan kefahaman tentang isu sosial itu kepada seluruh masyarakat supaya segala usaha yang diambil untuk menanganinya adalah cekap dan berkesan. Mewujudkan peluang untuk semua anggota masyarakat memperolehi pelbagai kemahiran sosial sama ada secara formal ataupun tidak formal agar anggota masyarakat dapat berinteraksi dengan berkesan. Memperluaskan khidmat bimbingan yang ditawarkan oleh semua sektor kepada semua kumpulan sasar yang memerlukan khidmat bimbingan serta menentukan perkhidmatan tersebut bermutu dan profesional, serta disokong oleh separa-profesional. Mewujudkan satu pangkalan maklumat mengenai perkhidmatan sosial yang ditawarkan oleh semua sektor yang boleh dicapai oleh setiap anggota masyarakat dengan cepat, mudah dan pada kadar yang dimampuinya. Menyediakan kemudahan bagi semua sektor untuk menjalankan perkhidmatan perdampingan bagi mendekati mana-mana pihak yang memerlukan pertolongan dan bimbingan. Mewujudkan di dalam setiap organisasi satu pasukan intervensi krisis yang terlatih dan berkemahiran yang sentiasa bersedia untuk mengendalikan berbagai jenis krisis sosial dengan berkesan. Membangunkan perkhidmatan pakar di dalam semua bidang berkaitan dengan pembangunan sosial untuk memenuhi keperluan sebenar masyarakat. Menyediakan perkhidmatan bimbingan guaman dengan kadar yang tidak membebankan untuk membantu anggota masyarakat membuat keputusan tentang tindakan terhadap hak dan tanggungjawab mereka dalam masyarakat. Menggalakkan sektor swasta dan sukarela menubuh dan mengendalikan institusi perkhidmatan sosial yang bermutu untuk memenuhi keperluan anggota masyarakat yang memerlukan perkhidmatan sedemikian. Menggalakkan serta menyokong usaha berdikari dan pemerkasaan diri melalui penubuhan kelompok sokongan. Menggalakkan serta menyokong penyertaan aktif komuniti dalam usaha mewujudkan pelbagai jenis perkhidmatan pemulihan untuk semua kumpulan sasar.

http://www.pensabah.gov.my/dasar/dasar_sosial_negara.htm

Pembangunan Komuniti
Perkhidmatan Pembangunan Komuniti

Perkhidmatan Perundingan dan Khidmat Masyarakat menumpukan perhatian kepada penglibatan masyarakat dalam pembangunan komuniti dan pemulihan dalam komuniti melalui peningkatan penyertaan aktif Pertubuhan Bukan Kerajaan (NGO), pihak swasta, para sukarelawan dan komuniti tempatan melalui usaha Jabatan mewujudkan perkongsian bijak ke arah memenuhi agenda sosial negara di mana kebajikan adalah tanggungjawab bersama. Di samping itu, bahagian ini mengendalikan urusan pemberian geran serta mengawal kutipan derma yang dikendalikan oleh NGO Kebajikan. Objektif

Kanak-Kanak Tidak Terkawal 1. Mempertingkatkan kedudukan sosio-ekonomi komuniti miskin melalui berbagai aktiviti kerja komuniti serta memperluaskan program Pemulihan Dalam Komuniti 2. Meningkatkan program perkhidmatan dan pembangunan Pertubuhan Bukan Kerajaan (Kebajikan Sukarela) melalui khidmat nasihat dan bantuan kewangan. 3. Menggerakkan penglibatan dan sumbangan berbagai sumber pengurusan dan pengeluaran dari sektor korporat untuk keperluan kumpulan sasar. 4. Menggalakkan penglibatan masyarakat dalam bidang kerja sosial dan khidmat masyarakat ke arah pembangunan kesukarelaan.

Perkhidmatan

1. Pembangunan Komuniti • • • • Projek Penyertaan Komuniti Projek diwujudkan pada tahun 1983 untuk memberi tumpuan ke arah mengukuhkan komuniti setempat supaya dapat bergerak dan bertindak secara kolektif. Projek yang dilaksanakan merangkumi aktiviti ekonomi, latihan kemahiran, pendidikan sosial, pendidikan kerohanian dan khidmat masyarakat seperti : Tenunan Songket

1. Kelas Jahitan 2. Kelas Bimbingan 3. Kelas Fardhu Ain 4. Taska 5. Kursus Keusahawanan 6. Kepimpinan Tujuan 1. Menggalakkan dan menggerakkan penglibatan komuniti sasar dan masyarakat umum dalam pembangunan setempat.

2. Meningkatkan kualiti hidup komuniti sasar melalui penglibatan proaktif dan berkesan dalam aktiviti sosial dan ekonomi yang dikenalpasti.

3. Memaksimakan penggunaan sumber tempatan dalam mewujudkan komuniti sasar yang berdikari. • • • • Program Briged Kebajikan Perdana Pemulihan Dalam Komuniti Rumah Kelompok Rumah Orang Tua Islam Tidak Berwaris

2. Pembangunan Pertubuhan Sukarela Kebajikan • • • • • Khidmat Nasihat Bantuan Kewangan/geran Kutipan Derma Perkongsian Bijak Penglibatan NGO

Penglibatan NGO dapat membantu kerajaan menangani masalah sosial semasa dan memenuhi keperluan sosial khusus bagi masyarakat yang berkeperluan. Jabatan memberi geran tahunan dan sokongan serta khidmat nasihat Jawatankuasa Pentadbir pertubuhan dan ahli melaksanakan pelbagai aktiviti dengan semangat kesukarelaan untuk meningkatkan perkhidmatan yang disediakan.

· Rumah Perlindungan Sosial

3. Penggalakan Penyertaan Korporat

Objektif utama adalah untuk mengerakkan penglibatan dan sumbangan berbagai sumber pengurusan dan pengeluaran baik dari segi keperluan kewangan mahupun material, guna tenaga dan kepakaran sektor korporat.

Menerusi kaedah ini ianya dapat merealisasikan konsep Perkongsian Bijak dalam kerja kebajikan dan memanfaatkan kumpulan sasar dengan lebih berkesan.

Contoh aktiviti adalah seperti berikut:-

1. sumbangan kewangan, peralatan, aset untuk kumpulan sasar.

2. perkongsian bijak antara Jabatan dan korporat dalam melaksanakan program.

3. Pembangunan Kesukarealaan • • • • • Penglibatan Masyarakat (Sukarela) Program & Aktiviti (Perkhidmatan Luar) Pertubuhan Bukan Kerajaan (Briged Kebajikan Perdana) Institusi Kebajikan NGO Latihan

Maklumat lanjut hubungi: Bahagian Perundingan dan Khidmat Masyarakat Tkt. 22, Menara Tun Ismail Mohamed Ali, Jalan Raja Laut, 50562 Kuala Lumpur.

Bagaimana orang ramai yang berminat dapat membabitkan diri dalam program Pemulihan Dalam Komuniti (PDK)? Program Pemulihan Dalam Komuniti (PDK) merupakan salah satu program yang melibatkan pembabitan secara aktif ibubapa/ penjaga ahli keluarga golongan kurang upaya dan komuniti setempat untuk membantu orang kurang upaya hidup berdikari dan diintegrasikan dalam masyarakat. Program ini diuruskan oleh Jawatankuasa PDK yang dilantik melalui persetujuan bersama antara Jabatan Kebajikan Masyarakat Malaysia dalam komuniti setempat. Ianya dianggotai oleh ibubapa/penjaga ahli keluarga golongan kurang upaya, pemimpin setempat, komuniti yang berminat dan penasihat bagi Jawatankuasa PDK ialah Pegawai Kebajikan

Masyarakat Daerah dengan dibantu oleh Pegawai dari Kementerian Kesihatan dan Kementerian Pendidikan (Pendidikan Khas). Bagi orang ramai yang berminat untuk menyumbang tenaga, idea dan kewangan bolehlah melibatkan diri secara aktif di dalam program-program yang dijalankan oleh PDK yang berhampiran. Selain daripada itu, orang ramai juga digalakkan bekerjasama dengan ahli-ahli Jawatankuasa PDK bagi meningkatkan lagi keberkesanan program pemulihan di PDK melalui perkongsian maklumat, idea dan lainlain.
http://pmr.penerangan.gov.my/index.php? option=com_content&view=article&id=1206%3Aperkhidmatan&catid=42%3Akebajikan-sosial-dan-masyarakat&Itemid=4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->