P. 1
minangkabau(Haryono Yusman)

minangkabau(Haryono Yusman)

|Views: 2,733|Likes:
Published by haryono yusman
membahas tentang adat budaya minangkabau dengan tuntas.
membahas tentang adat budaya minangkabau dengan tuntas.

More info:

Published by: haryono yusman on Jan 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

Sections

Bagi orang Minang nama itu penting. Ketek banamo - gadang bagala.

Katiko ketek disabuik namo - alah gadang disabuik gala. Sebagaimana telah

kita ketahui bahwa yang dikatakan sepesukuan sebagai unit terkecil dalam

sistem kekerabatan Minang terdiri dari 5 lapis generasi atau keturunan.

Mungkin dalam satu masa tidak terdapat kelima tingkat keturunan itu, karena

hal itu sangat tergantung dari usia rata-rata anggota suku dari tiap generasi.

51

1. Panggilan Sesama Anak

Adik memanggil kakaknya yang perempuan dengan “Uni” dan “Uda”

untuk kakak lelaki. Antara mereka yang seusia, memanggil nama masing-

masing. Mande dan Mamak serta generasi yang lebih tua, memanggil anak-

anak dengan panggilan kesayangan “Upiak” pada anak perempuan dan

“Buyuang” untuk anak laki-laki.

2. Panggilan untuk Ibu dan Paman

Anak sebagai generasi terbawah dalam susunan pesukuan Minang,

mempunyai panggilan kehormatan terhadap ibu dan saudara ibunya, serta

generasi yang berada diatasnya.

Anak memanggil ibunya dengan panggilan Mande - Amai - Ayai -

Biyai - Bundo - Andeh dan di zaman modern ini dengan sebutan Mama -

Mami - Amak - Ummi dan Ibu.

Jika ibu kita mempunyai saudara perempuan yang lebih tua dari ibu

kita (kakak ibu) maka sebagai anak kita memanggilnya dengan istilah Mak

Adang yang berasal dari kata Mande dan Gadang.Bila ibu mempunyai adik

perempuan, maka kita memanggilnya dengan Mak Etek atau Etek yang

berasal dari kata Mande nan Ketek.Bila ibu kita punya saudara lelaki, kita

panggil beliau dengan Mamak. Semua lelaki dalam pesukuan itu, dan dalam

suku yang serumpun yang menjadi kakak atau adik dari ibu kita, disebut

Mamak. Jadi Mamak tidak hanya sebatas saudara kandung ibu, tapi semua

lelaki yang segenerasi dengan ibu kita dalam suku yang serumpun. Dengan

demikian kita punya Mamak Kanduang, Mamak Sejengkal, Mamak Sehasta,

Mamak Sedepa sesuai dengan jarak hubungan kekeluargaan. Mamak Kandung

adalah Mamak dalam lingkungan semande.Mamak tertua dan yang lebih tua

dari ibu kita, kita panggil dengan istilah Mak Adang dari singkatan Mamak

nan Gadang sedangkan yang lebih muda dari ibu kita , kita sebut dengan Mak

Etek atau Mamak nan Ketek. Mamak yang berusia antara yang tertua dan yang

termuda dipanggil dengan Mak Angah atau Mamak nan Tangah.

52

3. Kedudukan Mamak

Mamak mempunyai kedudukan yang vital dalam struktur kekerabatan

minang, khususnya dalam hubungan Mamak-Kemenakan, seperti diatur dalam

Pepatah Adat berikut ini.

Kamanakan barajo ka mamak,

Mamak barajo ka panghulu,

Panghulu barajo ka mufakat,

Mufakat barajo ka nan bana,

Nan bana badiri sandirinyo.

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa mamak mempunyai kedudukan

yang sejajar dengan ibu kita. Karena beliau itu saudara kandung. Sehingga

mamak dapat diibaratkan sebagai ibu-kandung kita juga kendatipun beliau

lelaki. Adat Minang bahkan memberikan kedudukan dan sekaligus kewajiban

yang lebih berat kepada mamak ketimbang kewajiban ibu. Adat mewajibkan

mamak harus membimbing kemenakan, mengatur dam mengawasi

pemanfaatan harta pusaka, mamacik bungka nan piawai. Kewajiban ini

tertuang dalam pepatah adat, ataupun dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Kewajiban untuk membimbing kemenakan sudah selalu didendangkan orang

Minang dimana-mana. Namun kini sudah mulai jarang diamalkan Pepatah

menyebutkan :

Kaluak paku kacang balimbiang,

Buah simantuang lenggang lenggangkan,

Anak dipangku kamanakan dibimbiang,

Urang kampuang dipatenggangkan.

Kewajiban mamak terhadap harta pusaka antaranya dalam menjaga

batas sawah ladang, mengatur pemanfaatan hasil secara adil di lingkungan

seperindukan, dan yang terpenting mempertahankan supaya harta adat tetap

berfungsi sesuai ketentuan adat.

53

Fungsi utama harta pusaka :

Sebagai bukti dan lambang penghargaan terhadap jerih payah nenek

moyang yang telah mencancang-malateh, manambang-manaruko,

mulai dari niniek dan inyiek zaman dahulu, sampai ke mande kita

sendiri. Karena itu kurang pantaslah bila kita sebagai anak cucu, tidak

memeliharanya, apalagi kalau mau menjualnya. Tugas mamak

terutama untuk menjaga keberadaan harta pusaka ini.

Ramo-ramo si kumbang janti,

Katik Endah pulang bakudo,

Patah tumbuah hilang baganti,

Harto pusako dijago juo.

Sebagai lambang ikatan kaum yang bertali darah. Supaya tali jangan

putus, kait-kait jangan sekah (peceh) sehingga pusaka ini menjadi harta

sumpah satie (setia), sehingga barang siapa yang merusak harta pusaka

ini, akan merana dan sengsara seumur hidupnya dan keturunannya.

Sebagai jaminan kehidupan kaum jaman dahulu sehingga sekarang

terutama tanah-tanah pusaka. Baik kehidupan zaman agraris, maupun

kehidupan zaman industri, tanah memegang peranan yang sangat

strategis. Jangan terpedaya atas ajaran individualistis atas tanah, yang

bisa menghancurkan sendi-sendi adat Minang.

Sebagai lambang kedudukan social.

Itulah 4 fungsi utama dari harta pusaka yang menjadi kewajiban mamak

untuk memeliharanya. Kewajiban mamak sebagai pamacik bunka nan piawai,

selaku pemegang keadilan dan kebenaran. Kewajiban ini dilakukan dengan

bersikap adil terhadap semua kemenakan. Antaranya dalam pemanfaatan hasil

harta pusaka tinggi. Dilain pihak penanggung jawab terhadap ikatan perjanjian

antara pihak luar pesukuan misalnya dalam ikatan perkawinan. Bila sudah ada

kesepakatan antara kedua keluarga, maka mamaklah menjadi penanggung

jawab atas kesepakatan itu. Bila terjadi ingkar janji, mamaklah yang harus

membayar hutang. Bila telah dilakukan Tukar Tando sebagai tanda

54

kesepakatan, maka mamaklah yang akan menjadi tumpuan dan tumbal bagi

kesepakatan

itu.

Mamaklah yang menjadi penanggung jawab atas janji antara kedua keluarga

ini, bukan kemenakan yang akan dikawinkan.

4. Panggilan Generasi Ketiga

Dalam hubungan pesukuan diatas, terlihat bahwa kita sebagai anak

menjadi generasi kelima. Kita sebagai generasi kelima, memanggil “Uo” atau

“Nenek” kepada Mande dari ibu kita sendiri dan Mamak atau Tungganai

(Mamak Kepala Waris) pada saudara lelaki dari Uo (Nenek) kita. Berdasarkan

pada pengelompokkan umur rata-rata, maka yang diangkat jadi Penghulu

dalam pesukuan ini, biasanya dari kelompok tungganai ini. Pada saat kita

lahir,kelompok para tungganai ini berusia sekitar 40 tahun, sehingga

memenuhi syarat usia yang pantas untuk memimpin suku (kaum)

kita. Selanjutnya pada generasi kedua kita memanggil Gaek untuk perempuan

dan Datuak pada lelaki yang termasuk dalam generasi kedua ini. Generasi

pertama (kalau masih hidup) kita sebut dengan panggilan Niniek untuk

perempuan dan Inyiek untul lelaki yang termasuk generasi pertama. Usia rata-

rata generasi pertama ini, pada saat kita lahir sekitar 80 th. Bagi mamak atau

tungganai yang diangkat jadi Penghulu, diberi gelar DATUK. Keluarga yang

seusia atau lebih tua dari Penghulu memanggilnya dengan “Ngulu”, sedangkan

yang lebih muda dengan panggilan yang biasa seperti Uda dan Mamak.

6. Suku dan Pengembangannya

1. Suku Asal

Kata suku dari bahasa Sanskerta, artinya “kaki”, satu kaki berarti

seperempat dari satu kesatuan. Pada mulanya negeri mempunyai empat suku,

Nagari nan ampek suku. Nama-nama suku yang pertama ialah Bodi, Caniago,

Koto, Piliang. Kata-kata ini semua berasal dari sanskerta :

• Bodi dari bhodi (pohon yang dimuliakan orang Budha)

• Caniago dari caniaga (niaga = dagang) ·

55

• Koto dari katta (benteng)

• Piliang dari pili hiyang (para dewa) Bodi Caniago adalah kelompok

kaum Budha dan saudagar-saudagar (orang-orang niaga) yang

memandang manusia sama derajatnya.

Koto Piliang adalah kelompok orang-orang yang menganut agama Hindu

dengan cara hidup menurut hirarki yang bertingkat-tingkat. Dalam tambo,

kata-kata Bodi Caniago dan Koto Piliang ditafsirkan dengan : Budi Caniago =

Budi dan tango, budi nan baharago, budi nan curigo Merupakan lambang

ketinggian Dt. Perpatih nan Sabatang dalam menghadapi pemerintahan

aristokrasi Dt. Katumanggungan. Koto Piliang = kata yang pilihan (selektif)

dalam menjalankan pemerintahan Dt. Katumanggungan.

2. Pertambahan Suku

Suku yang empat itu lama-lama mengalami perubahan jumlah karena :

Pemecahan sendiri, karena warga sudah sangat berkembang. Umpama :

suku koto memecah sendiri dengan cara pembelahan menjadi dua atau tiga
suku.

Hilang sendiri karena kepunahan warganya, ada suku yang lenyap

dalam satu nagari.

Perpindahan, munculnya suku baru yang warganya pindah dari negeri

lain.

Tuntutan kesulitan sosial, hal ini timbul karena masalah perkawinan,

yang melarang kawin sesuku (eksogami). Suatu suku yang

berkembang membelah sukunya menjadi dua atau tiga.

Biasanya suku-suku yang baru tidak pula mencari nama baru. Nama yang

lama ditambah saja dengan nama julukan. Jika suku bari itu terdiri dari

beberapa ninik, jumlah ninik itu dipakai sebagai atribut suku yang baru itu.

Koto Piliang memakai angka genap dan Bodi Caniago memakai angka ganjil.

Umpama :

56

Suku Melayu membelah menjadi : melayu ampek Niniak, Melayu

Anam Niniak, Caniago Tigo Niniak, Caniago Limo Niniak (Bodi

Chaniago)

Kalau gabungan terdiri dari sejumlah kaum, namanya : Melayu Ampek

Kaum (Koto Piliang), Melayu Tigo Kaum (Bodi Caniago)

Apabila gabungan terdiri dari sejumlah korong namanya : Melayu Duo

Korong (Koto Piliang), Caniago Tigo Korong (Bodi Caniago)

3. Pembentukan

Suku dipemukiman baru perpindahan dari beberapa negeri ke tempat

pemukiman baru di luar wilayah negari masing-masing, ditempat yang baru

itu dapat dibuat suku dengan memilih beberapa alternatif :

Setiap anggota bergabung dengan suku yang sejenis yang terlebih dulu

tiba di tempat itu.

Beberapa ninik atau kaum dari suku yang sama berasal dari nagari

yang sama bergabung membentuk suku baru. Nama sukunya pakai nan

spt: Caniago nan Tigo Niniak atau Caniago nan Tigo.

Apabila tidak ada tempat bergabung dengan suku yang sama lalu

mereka berkelompok membentuk suku baru. Mereka memakai nama

suku asli dari negerinya tanpa atribut, spt asal Kitianyir ditempat baru

tetap Kutianyir.

Membentuk suku sendiri di nagari baru tanpa bergabung dengan suku

yang ada ditempat lain. Biasanya memakai atribut korong spt Koto nan

Duo Korong.

Orang-orang dari bermacam-macam suku bergabung mendirikan suku

yang baru. Nama suku diambil dari nama negeri asal : spt Suku Gudam

(negeri Lima Kaum), Pinawan (Solok Selatan), suku Padang Laweh,

suku Salo dsb.

Selain dari itu , cara-cara lain yaitu mengambil nama-nama dari :

57

Tumbuh-tumbuhan, seperti Jambak, Kutianyir, Sipisang, Dalimo,

Mandaliko, Pinawang dll.

Benda seperti Sinapa, Guci, Tanjung, Salayan dll.

Nagari seperti Padang Datar, Lubuk Batang, Padang Laweh, Salo dll.

Orang seperti Dani, Domo, Magek dll.

Suku yang demikian lebih banyak daripada suku-suku yang semula.

Apabila dijumlahkan nama-nama suku itu seluruhnya sudah mendekati seratus

buah di seluruh Alam Minangkabau.

4. Adat orang sesuku

Orang-orang yang sesuku dinamakan badunsanak atau sakaum. Pada
masa dahulu mulanya antara orang yang sesuku tidak boleh kawin walaupun
dari satu nagari, dari satu luhak ke luhak. Tetapi setelah penduduk makin
bertambah banyak, dan macam-macam suku telah bertambah-tambah, dewasa
ini hal berkawin seperti itu pada beberapa nagari telah longgar. Tiap-tiap suku
itu telah mendirikan penghulu pula dengan ampek jinihnyo. Jauh mencari
suku, dakek mancari indu, sesungguhnya sejak dahulu sampai sekarang masih
berlaku, artinya telah menajdi adat juga. Adat serupa ini sudah menjadi
jaminan untuk pergi merantau jauh. Mamak ditinggakan, mamak ditapati.
Mamak yang dirantau itulah, yaitu orang yang sesuku dengan pendatang baru
itu yang menyelenggarakan atau mencarikan pekerjaan yang berpatutan
dengan kepandaian atau keterampilan dan kemauan “kemenakan” yang datang
itu sampai ia mampu tegak sendiri. Baik hendak beristri, sakit ataupu kematian
mamak itu jadi pai tampek batanyo, pulang tampek babarito, bagi kemenakan
tsb. Sebaliknya “kemenakan” itu harus pula tahu bacapek kaki baringan
tangan menyelenggarakan dan memikul segala buruk baik yang terjadi dengan
“mamak” nya itu. Dengan demikian akan bertambah eratlah pertalian kedua
belah pihak jauh cinto-mancinto, dakek jalang manjalang. Tagak basuku
mamaga suku adalah adat yang membentengi kepentingan bersama yang
merasa semalu serasa. Bahkan menjadi adat pusaka bagi seluruh
Minangkabau, sehingga adat basuku itu berkembang menjadi Tagak basuku
mamaga suku tagak banagari mamaga nagari, tagak baluhak mamaga luhak
dll. Artinya orang Minangkabau dimana saja tinggal akan selalu bertolong-
tolongan, ingat mengingatkan, tunjuk menunjukkan, nasehat menasehatkan,
ajar mengajarkan. Dalam hal ini mereka tidak memandang tinggi rendahnya
martabat, barubah basapo batuka baangsak. Karena adat itulah orang
Minangkabau berani pergi merantau tanpa membawa apa-apa, jangankan
modal. Kalau pandai bakain panjang Labiah dari kain saruang Kalau pandai
bainduak samang Labiah dari mande kanduang. Lebih-lebih kalau yang
datang dengan yang didatangi sama-sama pandai. Padilah nan sama disiukkan
sakik nan samo diarangkan. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Apalagi kalau “ameh lah bapuro, kabau lah bakandang“.

58

BAB IV

PERATURAN ADAT

1. Pemberian Gelar

Sesuatu yang khas Minangkabau ialah bahwa setiap laki-laki yang telah

dianggap dewasa harus mempunyai gelar. Ini sesuai dengan pantun adat yang

berbunyi sbb :

Pancaringek tumbuah di paga

Diambiak urang ka ambalau

Ketek banamo gadang bagala

Baitu adaik di Minangkabau

Ukuran dewasa seorang laki-laki ditentukan apabila ia telah berumah tangga.

Oleh karena itulah untuk setiap pemuda Minang, pada hari perkawinannya ia

harus diberi gelar pusaka kaumnya. Menurut kebiasaan dikampung-kampung

dulu, bagi seorang laki-laki yang telah beristeri rasanya kurang dihargai, kalau

ia oleh fihak keluarga isterinya dipanggil dengan menyebut nama kecilnya

saja.

Penyebutan gelar seorang menantu, walaupun dengan kata-kata Tan saja untuk

Sutan atau Kuto saja untuk Sutan Mangkuto, telah mengungkapkan adanya

sikap untuk menghormati sang menantu atau rang sumandonya. Ketentuan ini

sudah tentu tidaklah berlaku bagi orang-orang tua pihak keluarga isteri yang

sebelumnya juga sudah sangat akrab dan intim dengan menantu atau

semendanya itu dan telah terbiasa memanggil nama.

Setiap kelompok orang seperut yang disebut satu suku didalam sistim

kekerabatan Minangkabau mempunyai gelar pusaka kaum sendiri yang

diturunkan dari ninik kepada mamak dan dari mamak kepada kemenakannya

yang laki-laki. Gelar inilah yang diberikan sambut bersambut kepada pemuda-

pemuda sepersukuan yang akan berumah tangga. Karena itu pemberian gelar

untuk seorang pemuda yang akan kawin, harus dimintakan kepada mamaknya

atau saudara laki-laki dari pihak ibu.

59

Selain dari mengambil gelar dari perbendaharaan suku yang ada dan telah

dipakai oleh kaumnya sejak dahulu, maka gelar untuk seorang calon mempelai

pria dengan persetujuan mamak-mamaknya juga dapat diambilkan dari

persukuan ayahnya atau dari dalam istilah Minang disebut pusako bako. Dan

yang tidak mungkin atau sangat bertentangan dengan ketentuan adat ialah

mengambil gelar dari pihak persukuan calon isteri, karena dengan demikian

calon mempelai pria akan dinilai sebagai perkawinan orang sesuku.

Ketentuan untuk memberikan gelar adat kepada pemuda-pemuda yang baru

kawin ini, tidak hanya harus berlaku dari rang sumando atau menantu-

menantu yang memang berasal dari suku Minangkabau saja, tetapi juga dapat

diberikan kepada orang semenda atau menantu yang berasal dari suku lain.

Kepada menantu orang Jawa, orang Sunda bahkan kepada menantu orang

asing sekalipun. Karena gelar seorang menantu sebenarnya lebih berguna

untuk sebutan penghormatan dari pihak keluarga mempelai wanita kepada

orang semenda dan menantunya itu.

Gelar yang diberikan kepada seorang pemuda yang akan kawin, tidak sama

nilainya dengan gelar yang harus disandang oleh seorang penghulu. Gelar

penghulu adalah warisan adat yang hanya bisa diturunkan kepada

kemenakannya dalam suatu upacara besar dengan kesepakatan kaum setelah

penghuluvyang bersangkutan meninggal dunia. Tetapi gelar untuk seorang

laki-laki yang akan kawin dapat diberikan kepada siapa saja tanpa suatu acara

adat yang khusus.

Pada umumnya gelar untuk pemuda-pemuda yang baru kawin ini diawali

dengan Sutan. Seperti Sutan Malenggang, Sutan Pamenan, Sutan Mangkuto

dsb.

Ada ketentuan adat yang tersendiri dalam menempatkan orang semenda dan

menantu-menantu dari suku lain ini dalam struktur kekerabatan Minangkabau.

Bagaimanapun para orang semenda ini, jika telah beristerikan perempuan

Minang, maka mereka itu oleh pihak keluarga mempelai wanita ditegakkan

sama tinggi dan didudukkan sama rendah dengan menantu dan orang

60

semendanya yang lain. Karena itu kalau sudah diterima sebagai menantu,

masuknya kedalam kekeluargaan juga harus ditetapkan secara kokoh dengan

mengikuti ketentuan-ketentuan yang sama. Ini sesuai bunyi pepatah-petitih

Minangkabau :

Jikok inggok mancangkam

Jikok tabang basitumpu

Artinya segala sesuatunya itu haruslah dilaksanakan secara sepenuh hati

menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Nah, untuk semenda yang datang dari suku lain ini, pemberian gelar juga tidak

boleh diambilkan dari perbendaharaan gelar yang ada dalam kaum ninik

mamak mempelai wanita, karena jatuhnya nanti juga jadi perkawinan sesuku.

Tetapi dapat diambilkan dari perbendaharaan gelar yang ada di keluarga ayah

mempelai wanita atau disebut juga dari keluarga bako.

Atau bisa juga menurut prosedur yang agak berbelit yaitu calon menantu

dijadikan anak kemenakan dulu oleh ninik mamak suku lain yang bukan suku

mempelai wanita, kemudian ninik mamak suku yang lain ini memberikan

gelar adat yang ada disukunya kepada calon orang semenda itu.

Pemberian gelar untuk calon menantu inilah, baik ia orang Minang maupun

orang dari suku dan bangsa lain, yang wajib disebutkan pada waktu

berlangsungnya sambah-manyambah dalam acara manjapuik marapulai. Hal

ini ditanyakan oleh juru bicara rombongan calon mempelai pria yang menanti.

Kemudian disebutkan pula secara resmi ditengah-tengah orang ramai setelah

selesai acara akad nikah secara Islami. Inilah yang disebut dalam pepatah

petitih :

Indak basuluah batang pisang

Basuluah bulan jo matoari

Bagalanggang mato rang banyak

Pengumuman gelar mempelai pria secara resmi setelah selesai acara akad

nikah ini sebaiknya disampaikan langsung oleh ninik mamak keluarga

61

mempelai pria, atau bisa juga disampaikan oleh pembawa acara. Dalam

pengumuman itu disebutkan secara lengkap dari suku dan kampung mana

gelar itu diambilkan.

2. Upacara Adat

1. Upacara Sepanjang Kehidupan ManusiaUpacara sepanjang kehidupan

manusia ini dapat pula dibedakan sbb:

1. Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan

2. Upacara Karek Pusek (Kerat pusat)

3. Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)

4. Upacara Sunat Rasul

5. Mengaji di Surau

6. Tamat Kaji (khatam Qur’an)

Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan

seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama

sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang

dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-

upacara semasa remaja ini adalah sbb:

1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak

menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah

guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan

untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.

2. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah

bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak

didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya

dengan ilmu pengetahuan.

3. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan

pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat

pengajaran adat dan agama.

62

4. Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat

pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan

Tambo Adat.

5. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat).

Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang

sudah kenamaan.

6. Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan

ini berkaitan dengan pengajaran agama.

7. Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah

baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan

indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.

Setelah dewasa maka upacara selanjutnya adalah upacara perkawinan. Pada

umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam

masalah nikah kawin sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam

pelaksanaan nikah kawin dikatakan “nikah jo parampuan, kawin dengan

kaluarga”. Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya

sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga

besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu

perkawinan harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas

kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkawinan acara yang dilakukan

adalah sbb:

1. Pinang-maminang (pinang-meminang)

2. Mambuek janji (membuat janji)

3. Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)

4. Nikah

5. Jampuik anta (jemput antar)

6. Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang).

Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya

7. Baganyie (merajuk)

8. Bamadu (bermadu)

63

Dalam acara perkawinan setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan

keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan

dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan

yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan

sesudah kematian adalah sbb:

1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)

2. Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)

3. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)

4. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)

5. Doa talakin panjang di kuburan

6. Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh

hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari.

Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian

Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah,

membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat.

Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat. Para pemangku

adat mengadakan pertemuan terlebih dahulu, bila diadakan gotong royong

memperbaiki tali bandar dan turun kesawah. Untuk menyatakan rasa syukur

atas rahmat yang diperoleh dari hasil pertanian biasanya diadakan upacara-

upacara yang bersifat keluarga maupun melibatkan masyarakat yang ada

dalam kampung. Pada masa dahulu diadakan pula upacara maulu tahun (hulu

tahun), maksudnya pemotongan padi yang pertama sebelum panen

keseluruhan. Diadakan upacara selamatan dengan memakan beras hulu tahun

ini. Upacara dihadiri oleh Ulama dan Ninik mamak serta sanak keluarga.

Adapun acara yang berkaitan dengan turun kesawah ini adalah sbb:

1. Gotong royong membersihkan tali bandar

2. Turun baniah, maksudnya menyemaikan benih

64

3. Turun kasawah (turun ke sawah)

4. Batanam (bertanam)

5. Anta nasi (megantarkan nasi)

6. Basiang padi (membersihkan tanaman yang mengganggu padi)

7. Tolak bala (upacara untuk menolak segala malapetaka yang mungkin

menggagalkan pertanian)

8. Manggaro buruang (mengusir burung)

9. Manuai (menuai), manyabik padi (potong padi)

10. Makan ulu tahun (makan hulu pertahunan)

11. Tungkuk bubuang (telungkup bubung)

12. Zakat.

3. Upacara Selamatan

Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara

selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam masuk ke

Minangkabau. Doa selamat ini untuk menyatakan syukur atau doa selamat

agar mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa upacara yang

termasuk doa selamatan ini seperti :

1. Upacara selamatan atas kelahiran, turun mandi, bacukua (bercukur),
atau memotong rambut pertama kali.
2. Upacara selamatan dari suatu niat atau melepas nazar. Sebagai contoh
setelah sekian lama sakit dan si sakit kemudian atau keluarganya
berniat bila seandainya sembuh akan dipanggil orang siak dan sanak
famili untuk menghadiri upacara selamatan.
3. Selamat pekerjaan selesai.
4. Selamat pulang pergi naik haji
5. Selamat lepas dari suatu bahaya
6. Selamat hari raya
7. Selamat kusuik salasai, karuah manjadi janiah (selamat kusut selesai,
keruh menjadi jernih). Upacara selamat diadakan karena adanya
penyelesaian mengenai suatu permasalahan baik yang menyangkut
dengan masalah kekeluargaan maupun yang menyangkut dengan adat.

8. Maulud nabi.
9. dll

Dengan banyaknya upacara yang dilakukan dalam masyarakat Minangkabau

secara tidak langsung juga sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan

65

bermasyarakat dan juga dalam alih generasi yang berkaitan dengan adat dan

agama di Minangkabau.

3. P E N G H U L U

1. Arti Penghulu

Setelah nenek moyang orang Minang mempunyai tempat tinggal yang tetap

maka untuk menjamin kerukunan, ketertiban, perdamaian dan kesejahteraan

keluarga, dibentuklah semacam pemerintahan suku.

Tiap suku dikepalai oleh seorang Penghulu Suku.

Hulu artinya pangkal, asal-usul, kepala atau pemimpin. Hulu sungai

artinya pangkal atau asal sungai yaitu tempat dimana sungai itu berasal atau

berpangkal. Kalang hulu artinya penggalang atau pengganjal kepala atau

bantal.

Penghulu berarti Kepala Kaum, Semua Penghulu mempunyai gelar

Datuk, Datuk artinya ” Orang berilmu - orang pandai atau yang di Tuakan”

atau Datu-datu. Didalam pepatah dikatakan bahwa datuk itu :

“Didahulukan salangkah,

Ditinggikan sarantiang”

Kedudukan penghulu dalam tiap nagari tidak sama. Ada nagari yang

penghulunya mempunyai kedudukan yang setingkat dan sederajat. Dalam

pepatah adat disebut “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Penghulu yang

setingkat dan sederajat ini adalah di nagari yang menganut “laras” (aliran)

Bodi-Caniago dari keturunan Datuk Perpatih nan Sabatang. Sebaliknya ada

pula nagari yang berkedudukan penghulunyu bertingkat-tingkat yang didalam

adat disebut “Berjenjang naik bertangga turun”, yaitu para Penghulu yang

menganut laras (aliran) Koto - Piliang dari ajaran Datuk Katumanggungan.

66

Balai Adat dari kedua laras ini juga berbeda. Balai Adat dari laras Bodi

Caniago dari ajaran Datuk Perpatih nan Sabatang lantainya rata,

melambangkan “duduk sama rendah - tegak sama tinggi”.

Balai Adat dari laras Koto Piliang yang menganut ajaran Datuk

Katumanggungan lantainya mempunyai anjuang di kiri kanan, yang

melambangkan kedudukan Penghulu yang tidak sama, tetapi “berjenjang naik

- batanggo turun”.

Kendatipun kedudukan para penghulu berbeda di kedua ajaran adat itu, namun

keduanya menganut paham demokrasi. Demokrasi itu tidak ditunjukkan pada

cara duduknya dalam persidangan, dan juga bentuk balai adatnya yang

memang berbeda, tetapi demokrasinya ditentukan pada sistem “musyawarah -

mufakat”. Kedua sistem itu menempuh cara yang sama dalam mengambil

keputusan yaitu dengan cara “musyawarah untuk mufakat”.

2. Kedudukan dan peranan penghulu

Di dalam pepatah adat disebut;

Luhak Bapanghulu

Rantau barajo

Hal ini berarti bahwa penguasa tertinggi pengaturan masyarakat adat di daerah

Luhak nan tigo - pertama Luhak Tanah Datar - kedua Luhak Agam dan ketiga

Luhak 50-Koto berada ditangan para penghulu. Jadi penghulu pemegang

peranan utama dalam kehidupan masyarakat Adat.

Pepatah merumuskan kedudukan dan peranan penghulu itu sebagai berikut;

Nan tinggi tampak jauh Yang tinggi tampak jauh

Nan gadang jolong basuo Yang besar mula ketemu

Kayu gadang di tangah padang Pohon besar di tengah padang

Tampek balinduang kapanasan Tempat berlindung kepanasan

Tampek bataduah kahujanan Tempat berteduh kehujanan

Ureknyo tampek baselo Akarnya tempat bersila

67

Batangnyo tampek basanda Batangnya tempat bersandar

Pai tampek batanyo Pergi tempat bertanya

Pulang tampek babarito Pulang tempat berberita

Biang nan ka menabuakkan Biang yang akan menembus

Gantiang nan ka mamutuihkan Genting yang akan memutus

Tampek mangadu sasak sampik Tempat mengadu

kesulitan

Dengan ringkas dapat dirumuskan kedudukan dan peranan Penghulu sebagai

berikut;

Sebagai pemimpin yang diangkat bersama oleh kaumnya sesuai rumusan adat

Jadi Penghulu sakato kaum, Jadi Rajo sakato alam

Sebagai pelindung bagi sesama anggota kaumnya. Sebagai Hakim yang

memutuskan semua masalah dan silang sengketa dalam kaumnya.

Sebagai tumpuan harapan dalam mengatasi kehidupan kaumnya.

3. Syarat-syarat untuk menjadi Penghulu

Baik buruknya keadaan masyarakat adat akan ditentukan oleh baik buruknya

Penghulu dalam menjalankan keempat fungsi utamanya diatas.Pepatah

menyebutkan sebagai berikut;

Elok Nagari dek Penghulu

Elok tapian dek nan mudo

Elok musajik dek Tuanku

Elok rumah dek Bundo Kanduang.

Oleh karena Penghulu mempunyai tugas yang berat dan peranan yang sangat

menentukan dalam masyarakat adat, maka dengan sendirinya yang harus

diangkat jadi penghulu itu, adalah orang yang mempunyai “bobot” atas sifat-

sifat tertentu.

Perlu dicatat disini bahwa Adat Minang secara mutlak menetapkan bahwa

penghulu hanya pria dan tidak boleh wanita. Disini jelas dan mutlak pula

bahwa sistem kekerabatan matrilinial tidak dapat diartikan dengan “wanita

68

yang berkuasa”. Satu dan lain karena keempat unsur utama seorang penghulu

seperti sebagai Pemimpin, Pelindung, Hakim dan Pengayom yang merupakan

unsur-unsur yang sangat dominan dalam menentukan “kekuasaan”, berada di

tangan pria yaitu di tangan penghulu yang justru mutlak seorang pria itu.

Pepatah adat menetapkan sifat-sifat orang yang disyaratkan menjadi penghulu

itu adalah sebagai berikut;

Nan cadiak candokio Yang cerdik cendekia

nan arif bijaksano Yang arif bijaksana

nan tau diunak kamanyangkuik Yang tahu duri yang akan menyangkut

nan tau dirantiang kamancucuak Yang tahu ranting yang akan menusuk

Tau diangin nan basiru Tahu angin yang melingkar

Tau di ombak nan badabua Tahu ombak yang berdebur

Tau dikarang nan baungguak Tahu karang yang beronggok

Tau dipasang turun naiak Tahu pasang turun naik

Tau jo ereng gendeng Tahu sindiran tingkah polah

Tau dibayang kato sampai Tahu bayangan ujud kata

Alun bakilek lah bakalam Belum dijelaskan sudah paham

Sakilek ikan dalam aie Selintas ikan dalam air

Jaleh jantan batinyo Jelas sudah jantan betinanya

Tau di cupak nan duo Tahu dengan undang-undang yang dua puluh

Paham di Limbago nan sapuluah. Tahu dengan lembaga hukum yang sepuluh.

Dapat disimpulkan terdapat 4 (empat) syarat utama untuk dapat diangkat

menjadi Penghulu diluar persyaratan keturunan sebagai berikut;

Berpengetahuan dan mempunyai kadar intelektual yang tinggi atau

cerdik pandai, Orang yang arif bijaksana, Paham akan landasan pikir dan

Hukum Adat Minang, Hanya kaum pria yang akil-balig, berakal sehat.

4. Sifat-Sifat Penghulu

Pakaian penghulu melambangkan sifat-sifat dan watak yang harus

dipunyai oleh seorang penghulu. Arti kiasan yang dilambangkan oleh pakaian

69

itu digambarkan oleh Dt. Bandaro dalam bukunya “Tambo Alam

Minangkabau” dalam bahasa Minang sebagai berikut;

a. Deta / Destar

Niniek mamak di Minangkabau Niniek mamak di Minangkabau

Nan badeta panjang bakaruik Yang berdestar panjang berkerut

Bayangan isi dalam kuliek Bayangan isi dalam kulit

Panjang tak dapek kito ukue Panjang tak dapat kita ukur

Leba tak dapek kito belai Lebar tak dapat kita sambung

Kok panjangnyo pandindiang korong Panjangnya pendinding kampung

Leba pandukuang anak kamanakan Lebarnya pendukung anak

kemenakan

Hamparan di rumah tanggo Hamparan di rumah tangga

Paraok gonjong nan ampek Penutup gonjong yang empat

Tiok liku aka manjala Tiap liku akal menjalar

Tiok katuak ba undang undang Tiap lipatan berundang-undang

Dalam karuik budi marangkak Dalam kerutan budi merangkak

Tambuak dek paham tiok lipek Tembus karena paham tiap lipatan

Manjala masuak nagari. Menjalar masuk negeri.

b. Baju

Babaju hitam gadang langan Berbaju hitam berlengan lebar

Langan tasenseng tak pambangih Lengan tersingsing tak pemarah

Pangipeh angek naknyo dingin Pengipas panas supaya dingin

Pambuang nan bungkuak sarueh Pembuang yang bungkuk seruas

Siba batanti timba baliek Pinggiran berenda timbal balik

Gadang barapik jo nan ketek Besar berimpit dengan yang kecil

Tando rang gadang bapangiriang Tandanya orang besar berpengiring

Tatutuik jahit pangka langan Tertutup jahitan pangkal lengan

Tando membuhue tak mambuku Tandanya membuhul tak mengesan

70

Tando mauleh tak mangasan Tandanya menyambung tak kentara

Lauik tatampuah tak berombak Laut ditempuh tak berombak

Padang ditampuah tak barangin Padang ditempuh tak berangin

Takilek ikan dalam aie Terlintas ikan dalam air

Lah jaleh jantan batinonyo Sudah jelas jantan betinanya.

Lihienyo lapeh tak bakatuak Lehernya lepas tak berkatup

Tando pangulu padangnyo lapang Tandanya penghulu padangnya lapang

alamnyo leba alamnya lebar (lapang dada/sabar)

Indak basaku kiri jo kanan Tidak bersaku kiri dan kanan

Tandonyo indak pangguntiang Tandanya bukan penggunting dalam

dalam

lipatan

lipatan

Indak panuruak kawan seiriang Bukan penusuk kawan seiring.

c. Sarawa

Basarawa hitam ketek kaki Bercelana hitam kecil kaki

kapanuruik alue nan luruih untuk menurut alur yang lurus

panampuah jalan nan pasa untuk menempuh jalan yang wajar

ka dalam korong jo kampuang ke dalam korong kampung

sarato koto jo nagari serta koto dan negeri

Langkah salasai baukuran Langkah bebas berukuran

martabat nan anam membatasi martabat yang enam membatasi

murah jo maha ditampeknyo murah dan mahal ditempatnya

ba ijo mako bakato di eja baru berkata

ba tolam mako bajalan di agak baru berjalan

d. Kain Sarung

Sarung sabidang ateh lutuik Sarung sebidang atas lutut

patuik senteng tak bulieh dalam Pantasnya pendek tak boleh panjang

patuik dalam tak bulieh senteng Pantasnya panjang tak boleh pendek

karajo hati kasamonyo Kerja hati semuanya

71

mungkin jo patuik baukuran Mungkin dan patut berukuran

murah jo maha ditampeknyo Murah dan mahal ditempatnya

e. Karih / keris

Sanjatonyo karih kabasaran Senjatanya keris kebesaran

samping jo cawek nan tampeknyo sesamping dan cawat yang tempatnya

sisiknyo tanaman tabu sisiknya tanaman tebu

lataknyo condong ka kida letaknya miring ke kiri

dikesong mako dicabuik dikisar baru dicabut

Gembonyo tumpuan puntiang Hulunya tumpuan puntiang

Tunangannyo ulu kayu kamat Tunangannya hulu kayu kamat

bamato baliak batimba bermata timbal balik

tajamnyo bukan alang kapalang tajamnya bukan alang kepalang

tajamnyo pantang melukoi tajamnya pantang melukai

mamutuih rambuik diambuihkan putus rambut ditiupkan

Ipuahnyo turun dari langit Racunnya turun dari langit

bisonyo pantang katawaran bisanya pantang berpenawar

jajak ditikam mati juo jejak ditikam mati juga

ka palawan dayo rang aluih untuk melawan kekuatan gaib

ka palunak musuh di badan untuk pelunak musuh didiri

bagai papatah gurindam adat bagai pepatah gurindam adat

Karih sampono Ganjo Erah Keris sempurna Ganja Erah

lahie bathin pamaga diri Lahir batin pemagar diri

Kok patah lidah bakeh Allah Kalau patah lidah kepada Tuhan

patah karih bakeh mati Patah keris berarti mati

f. Tungkek

Pamenannyo tungkek kayu kamat Mainannya tongkat kayu kamat

ujuang tanduk kapalo perak Ujung tanduk kepala perak

panungkek adat jo pusako penopang adat dan pusaka

Gantang nak tagak jo lanjuangnyo Gantang supaya tegak dengan

72

bubungannya

sumpik nan tagak jo isinyo karung supaya tegak dengan isinya

5. Peringatan bagi Penghulu

Falsafah pakaian rang penghulu Falsafah pakaian bagi penghulu

Di dalam luhak ranah Minang Di dalam luhak Ranah Minang

Kalau ambalau meratak ulu Kalau ambalau meretak hulu

Puntiang tangga mato tabuang Tangkai lepas mata terbuang

Kayu kuliek mengandung aie Kayu kulit mengandung air

Lapuknyo sampai kapanguba Lapuknya sampai kepenguba (inti)

Binaso tareh nan di dalam Binasa teras yang di dalam

Kalau penghulu berpaham caie Kalau penghulu berpaham cair

Jadi sampik alam nan leba Jadi sempit alam yang lebar

Dunia akhirat badan tabanam Dunia akhirat badan terbenam

Elok nagari dek pangulu Elok negeri karena penghulu

Rancak tapian dek nan mudo Cantik tepian karena yang muda

Kalau kito mamacik ulu Kalau kita memegang hulu

Pandai menjago puntiang jo mato Pandai menjaga tangkai dan mata

Petitih pamenan andai Petitih mainan andai

Gurindam pamenan kato Gurindam mainan kata

Jadi pangulu kalau tak pandai Jadi penghulu kalau tak pandai

Caia nagari kampung binaso Hancur negeri kampung binasa

Adat ampek nagari ampek Adat empat negeri empat

Undangnyo ampek kito pakai Undangnya empat kita pakai

Cupak jo gantang kok indak dapek Cupak dan gantang kalau tak dapat

Luhak nan tigo tabangkalai Luhak yang tiga terbengkalai

Payakumbuah baladang kunik Payakumbuh berladang kunir

Dibao urang ka Kuantan Dibawa orang ke Kuantan

Bapantang kuning dek kunik Pantang kuning karena kunir

Tak namuah lamak dek santan Tak ingin enak karena santan

4. Sambah Manyambah

Sambah-manyambah adalah satu tata cara menurut adat istiadat

Minangkabau, yang mengatur tata tertib dan sopan santun pembicaraan orang

73

dalam sebuah pertemuan. Kata-kata sambah yang dalam bahasa Indonesia

berarti sembah, diambil dari semacam sikap awal yang dilakukan oleh setiap

orang yang akan melaksanakan pasambahan. Sebelum memulai

pembicaraannya ia harus terlebih dahulu mengangkat dan mempertemukan

kedua telapak tangannya lurus diantara kening dan hidung bagaikan orang

menyembah. Begitu pula sebaliknya sikap yang dilakukan lawan bicara ketika

menerima sembah.Sikap ini saja sudah menjelaskan intu hakikat dari acara

tersebut, yaitu bagaimana masing-masing pihak yang bertemu dalam satu

pertemuan bisa saling menghormati saling memperlihatkan adat sopan santun

dan budi bahasa yang baik, termasuk dalam mengatur kata-kata yang akan

diucapkan. Dan dalam sambah-manyambah ini bahasa Minang yang

dipergunakan memang agak berbeda dengan bahasa yang diucapkan orang

sehari-hari. Bahasa yang dipakai diambil dari bahasa

74

BAB V

ADAT PERKAWINAN

DI MINANGKABAU

1. Fungsi perkawinan

Manusia dalam perjalanan hidupnya melalui tingkat dan masa-masa

tertentu yang dapat kita sebut dengan daur-hidup. Daur hidup ini dapat dibagi

menjadi masa balita (bawah usia lima tahun), masa kanak-kanak, masa remaja,

masa pancaroba, masa perkawinan, masa berkeluarga, masa usia senja dan

masa tua. Tiap peralihan dari satu masa ke masa berikutnya merupakan saat

kritis dalam kehidupan manusia itu sendiri. Salah satu masa peralihan yang

sangat penting dalam Adat Minangkabau adalah pada saat menginjak masa

perkawinan. Masa perkawinan merupakan masa permulaan bagi seseorang

melepaskan dirinya dari lingkungan kelompok keluarganya, dan mulai

membentuk kelompok kecil miliknya sendiri, yang secara rohaniah tidak lepas

dari pengaruh kelompok hidupnya semula. Dengan demikian perkawinan

dapat juga disebut sebagai titik awal dari proses pemekaran kelompok.

Pada umumnya perkawinan mempunyai aneka fungsi sebagai berikut :

• Sebagai sarana legalisasi hubungan seksual antara pria dengan wanita

dipandang dari sudut adat dan agama serta undang-undang negara.

• Penentuan hak dan kewajiban serta perlindungan atas suami istri dan

anak-anak.

• Memenuhi kebutuhan manusia akan teman hidup status sosial dan

terutama untuk memperoleh ketentraman batin.

2. Perkawinan Adat Di Pariaman

Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan bagaimanapun,

perkawinan memerlukan penyesuaian dalam banyak hal. Perkawinan

menimbulkan hubungan baru tidak saja antara pribadi yang bersangkutan,

antara marapulai dan anak daro tetapi juga antara kedua keluarga. Latar

belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda baik asal-usul, kebiasaan

hidup, pendidikan, tingkat sosial, tatakrama, bahasa dan lain sebagainya.

Karena itu syarat utama yang harus dipenuhi dalam perkawinan, kesediaan

75

dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari masing-masing

pihak. Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak masing-

masing pribadi dan keluarganya penting sekali untuk memperoleh keserasian

atau keharmonisan dalam pergaulan antara keluarga kelak

kemudian. Perkawinan juga menuntut suatu tanggungjawab, antaranya

menyangkut nafkah lahir dan batin, jaminan hidup dan tanggungjawab

pendidikan anak-anak yang akan dilahirkan. Berpilin duanya antara adat dan

agama Islam di Minangkabau membawa konsekwensi sendiri. Baik ketentuan

adat, maupun ketentuan agama dalam mengatur hidup dan kehidupan

masyarakat Minang, tidak dapat diabaikan khususnya dalam pelaksanaan

perkawinan. Kedua aturan itu harus dipelajari dan dilaksanakan dengan cara

serasi, seiring dan sejalan. Pelanggaran apalagi pendobrakan terhadap salah

satu ketentuan adat maupun ketentuan agama Islam dalam masalah

perkawinan, akan membawa konsekwensi yang pahit sepanjang hayat dan

bahkan berkelanjutan dengan keturunan. Hukuman yang dijatuhkan

masyarakat adat dan agama, walau tak pernah diundangkan sangat berat dan

kadangkala jauh lebih berat dari pada hukuman yang dijatuhkan Pengadilan

Agama maupun Pengadilan Negara. Hukuman itu tidak kentara dalam bentuk

pengucilan dan pengasingan dari pergaulan masyarakat Minang. Karena itu

dalam perkawinan orang Minang selalu berusaha memenuhi semua syarat

perkawinan yang lazim di Minangkabau.

Syarat-syarat Perkawinan Adat di Pariaman adalah sebagai berikut :

Kedua calon mempelai harus beragama Islam.
Kedua calon mempelai tidak sedarah atau tidak berasal dari suku yang

sama, kecuali pesukuan itu berasal dari nagari atau luhak yang lain.

Kedua calon mempelai dapat saling menghormati dan menghargai

orang tua dan keluarga kedua belah pihak.

Calon suami (marapulai) harus sudah mempunyai sumber penghasilan

untuk dapat menjamin kehidupan keluarganya.

Perkawinan yang dilakukan tanpa memenuhi semua syarat diatas

dianggap perkawinan sumbang, atau perkawinan yang tidak memenuhi syarat

menurut adat Minang. Selain dari itu masih ada tatakrama dan upacara adat

dan ketentuan agama Islam yang harus dipenuhi seperti tatakrama japuik

76

manjapuik, pinang meminang, batuka tando, akad nikah, baralek gadang,

jalang manjalang dan sebagainya. Tatakrama dan upacara adat perkawinan

inipun tak mungkin diremehkan karena semua orang Minang menganggap

bahwa “Perkawinan itu sesuatu yang agung”, yang kini diyakini hanya

“sekali” seumur hidup.

3. Urang Sumando

Disamping menganut sistem eksogami dalam perkawinan, adat Minang

di Pariaman juga menganut paham yang dalam istilah antropologi disebut

dengan sistem “matri-local” atau lazim disebut dengan sistem “uxori-local”

yang menetapkan bahwa marapulai atau suami bermukim atau menetap

disekitar pusat kediaman kaum kerabat istri, atau didalam lingkungan

kekerabatan istri. Namun demikian status pesukuan marapulai atau suami

tidak berubah menjadi status pesukuan istrinya. Status suami dalam

lingkungan kekerabatan istrinya adalah dianggap sebagai “tamu terhormat”,

tetap dianggap sebagai pendatang. Sebagai pendatang kedudukannya sering

digambarkan secara dramatis bagaikan “abu diatas tunggul”, dalam arti kata

sangat lemah, sangat mudah disingkirkan. Namun sebaliknya dapat juga

diartikan bahwa suami haruslah sangat berhati-hati dalam menempatkan

dirinya dilingkungan kerabat istrinya. Sebagai seorang sumando harus

mengerti yang namanya kato malereang atau kata sindiran. Jangan sampai

mertua mengatakan ”kuciang ko lalok kalalok se karajonyo, ndak pandai

mancari mancik, usia lah ko lai (kucing ini tidur-tiduran saja kerjanya, ngak

bisa mencari tikus, usir saja lagi)” yang artinya mertua sangat marah kepada

menantunya karena menantu hanya tidur-tidur saja, dan tidak mau bekerja.

Jika seorang mertua ingin menyuruh atau memarahi urang sumando biasanya

tidak mengatakan lansung kepada urang sumando, akan tetapi dengan sindiran

tersebut.

Dilain pihak perkawinan bagi seorang perjaka Minang berarti pula,

langkah awal bagi dirinya meninggalkan kampung halaman, ibu dan bapak

serta seluruh kerabatnya, untuk memulai hidup baru dilingkungan kerabat

istrinya. Prosesi turun janjang dari rumah tangga orang tuanya, bagi seorang

perjaka Minang adalah suatu peristiwa yang sangat mengharukan. Rasa sedih

dan gembira bergalau menjadi satu. Upacara turun janjang ini, dilakukan

77

dalam rangka upacara “japuik menjapuik”, yang berlaku dalam perkawinan

adat Minang di Pariaman.

Pepatah Minang mengatur upacara ini sebagai berikut;

Sigai mancari anau Anau tatap sigai baranjak

Datang dek bajapuik

Pai jo baanta

Ayam putieh tabang siang

Basuluah matoari

Bagalanggang mato rang banyak.

(Tangga mencari enau)

Enau tetap tangga berpindah

Datang karena dijemput

Pergi dengan diantar

(Bagaikan) Ayam putih terbang siang

Bersuluh matahari

Bergelanggang (disaksikan) mata orang banyak.

Maksud dari pepatah diatas adalah bahwa dalam setiap perkawinan

adat Minang di pariaman “semua laki-laki yang diantar ke rumah istrinya,

dengan dijemput oleh keluarga istrinya secara adat dan diantar pula bersama-

sama oleh keluarga pihak laki-laki secara adat pula. Mulai sejak itu suami

menetap di rumah atau dikampung halaman istrinya.” Bila terjadi perceraian,

suamilah yang harus pergi dari rumah istrinya. Sedangkan istri tetap tinggal

dirumah kediamannya bersama anak-anaknya sebagaimana telah diatur hukum

adat.

Bila istrinya meninggal dunia, maka kewajiban keluarga pihak suami

untuk segera menjemput suami yang sudah menjadi duda itu, untuk dibawa

kembali kedalam lingkungan sukunya atau kembali ke kampung halamannya.

Situasi ini sungguh sangat menyedihkan, namun begitulah ketentuan adat

Minang. Secara lahiriyah maupun rohaniah yang memiliki rumah di

Minangkabau adalah wanita dan kaum pria hanya menumpang. Tempat

berlindung pria Minang di pariaman adalah surau. Menyedihkan memang.

Tapi ini pula yang menjadi sumber dinamika pria Minang, sehingga mereka

menjadi perantau atau pengembara yang tangguh. Kenyataan ini dihayati dan

78

diterima dengan sadar oleh hampir seluruh warga Minang di pariaman, baik

mereka yang menempati Rumah Gadang tradisional, maupun yang menempati

rumah gedung modern, baik mereka yang bermukim di kampung halaman,

maupun mereka yang sudah merantau ke kota besar.

Karena pola kehidupan yang demikian, sudah lazim penghuni Rumah

Gadang di Minangkabau adalah kaum wanita dengan suami dan anak-anak

mereka terutama anak-anak wanita, sedangkan anak laki-laki mulai usia

sekolah, sudah harus mengaji di surau-surau, belajar silat, bergaul dengan pria

dalam segala tingkat usia, sehingga mereka terbiasa hidup secara spartan

(secara keras dan jantan). Jika ada anak laki-laki yang telah bersekolah atau

yang sudah mulai beranjak remaja akan tetapi dia masih tinggal dengan orang

tuanya, biasanya akan mendapat cemooh dari teman-temannya serta mendapat

panggilan bujang gadih (bencong). Dalam struktur adat Minang, kedudukan

suami sebagai orang datang (Urang Sumando) sangat lemah. Sedangkan

kedudukan anak-lelaki, secara fisik tidak punya tempat di rumah ibunya. Bila

terjadi sesuatu di rumah tangganya sendiri, maka ia tidak lagi memiliki tempat

tinggal. Situasi macam ini secara logis mendorong pria Minang untuk

berusaha menjadi orang baik agar disengani oleh dunsanaknya sendiri,

maupun oleh keluarga pihak istrinya.

seperti yang dijelaskan tadi pada dasarnya di Pariaman anak laki-laki

sejak kecil sudah dipaksa hidup berpisah dengan orang tua dan saudara-

saudara wanitanya. Mereka dipaksa hidup berkelompok di surau-surau dan

tidak lagi hidup di rumah Gadang dengan ibunya. Sekalipun di rumah gedung

modern sudah ada pencampuran hidup bersama antara anak lelaki dan anak

wanita Minang, namun prinsip pergaulan terpisah ini tetap dijalankan. Antara

mereka anak lelaki dan anak wanita tetap mempunyai jarak dalam pergaulan

sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu dasar dari ajaran moralita menurut

adat Minang. Adat Minang tidak mengenal ajaran pergaulan bebas, walau

antara saudara kandung sendiri. Kehidupan keluarga yang seperti ini,

diperkirakan telah melahirkan watak perantau bagi pria Minang dan watak

Bundo Kanduang bagi wanita Minang, mereka menjadi wanita yang sangat

terampil dan cermat dalam mendidik anak-anak dan dalam mengendalikan

harta pusaka. Dengan adanya ketentuan domisili-matrilokal ini, mengharuskan

79

para suami bersikap hati-hati karena akan selalu mendapat sorotan dari

keluarga istri. Berbagai istilah diberikan oleh orang Minang sebagai penilaian

atas perangai dan tingkah laku Urang Sumando mereka. Ada Urang Sumando

memperoleh sebutan terhormat sebagai “Rang Sumando Niniek-mamak”,

karena tingkah laku dan adat istiadatnya menyenangkan pihak keluarga istri.

Namun sebaliknya banyak pula Urang Sumando ini yang mendapat gelar-gelar

ejekan yang diberikan kepada Urang Sumando itu sesuai dengan tingkah polah

perangai mereka itu. Rang Sumando yang kerjanya hanya kawin-cerai di

setiap kampung dan meninggalkan anak dimana-mana disebut dengan “Rang

Sumando Langau-Hijau” atau “Rang Sumando” Lalat-Hijau yang kerjanya

meninggalkan larva (ulat) dimana-mana. “Rang Sumando” yang kerjanya

hanya mengganggu ketentraman tetangga karena menghasut dan memfitnah,

atau memelihara binatang ternak yang dapat mengganggu lingkungan seperti

itik, ayam, kambing dan lainnya diberi gelar “Rang Sumando Kacang Miang”,

yaitu sejenis kacang-kacangan yang kulitnya berbulu gatal-gatal. Di

Minangkabau berlaku pepatah “Kaluak paku kacang balimbing, daun

simantuang lenggang-lenggangkan anak dipangku kemenakan dibimbing

urang kampung dipatenggangkan“. Kalau seorang suami sampai lupa kepada

kemenakan dan kampung halamannya sendiri, karena sibuk dan rintang

dengan anak dan istrinya saja, maka suami yang demikian itu diberi gelar oleh

orang kampungnya sendiri sebagai “Rang Sumando Lapiak Buruak”, yang

artinya Rang Sumando yang diibaratkan sama dengan tikar pandan yang lusuh

di rumah istrinya. Bagi suami atau “Rang Sumando” yang kurang

memperhatikan kewajiban terhadap anak-anaknya sendiri, maka “Rang

Sumando” yang demikian itu mendapat gelar “Rang Sumando apak paja”,

yang artinya hanya berfungsi sebagai pejantan biasa dan Rang Sumando

semacam ini merupakan kebalikan dari Rang Sumando lapiak buruak yang

menjadi “orang pandie” di rumah istrinya. Dalam zaman modern ini, dimana

kehidupan telah berubah dari sektor agraria menjadi sektor jasa dan industri,

maka sebagian keluarga Minang terutama di rantau telah berubah dan

cenderung kearah pembentukan keluarga batih dalam sistem patrilinial atau

sistem keluarga barat dimana bapak merasa dirinya sebagai kepala keluarga

dan sekaligus sebagai kepala kaum, menggantikan kedudukan

80

mamak. Kecenderungan semacam ini telah merusak tatanan sistem

kekerabatan keluarga Minang yang telah melahirkan pula jenis. “Rang

Sumando”, bentuk baru yang dapat kita beri sebutan sebagai “Rang Sumando

Gadang Malendo”, yang tanpa malu-malu telah menempatkan dirinya sendiri

sebagai kepala kaum, sehingga menyulitkan kedudukan mamak terhadap para

kemenakannya.

4. Maresek

Awal dari sebuah perkawinan jika menjadi urusan keluarga, bermula

dari penjajakan. Di Pariaman sendiri kegiatan ini disebut dengan berbagai

istilah. Ada yang menyebut maresek, ada yang mengatakan marisiak, ada juga

yang menyebut marosok sesuai dengan dialek daerah masing-masing. Namun

arti dan tujuannya sama, yaitu melakukan penjajakan pertama. Sesuai dengan

sistem kekerabatan matrilineal yang berlaku di Minangkabau, maka yang

umum melakukan lamaran ini adalah pihak keluarga perempuan. Sebagaimana

telah kita sebutkan diatas sebelum lamaran yang sebenarnya dilakukan, maka

yang dilaksanakan terlebih dahulu adalah penjajakan. Untuk ini tidak perlu

ayah-ibu atau mamak-mamak langsung dari si anak gadis yang akan dicarikan

jodoh itu yang datang. Biasanya perempuan-perempuan yang sudah

berpengalaman untuk urusan-urusan semacam itu yang diutus terlebih dahulu.

Tujuannya adalah mengajuk-ajuk apa pemuda yang dituju telah niat untuk

dikawinkan dan kalau sudah berniat apakah ada kemungkinan kalau

dijodohkan dengan anak gadis si Anu yang juga sudah berniat untuk berumah

tangga. Jika mamak atau ayah bundanya nampak memberikan respon yang

baik, maka angin baik ini segera disampaikan kembali oleh si telangkai tadi

kepada mamak dan ayah bunda pihak si gadis.

Untuk kasus-kasus yang semacam ini, tentang siapa yang harus

terlebih dahulu melakukan penjajakan, tidaklah merupakan masalah. Karena

disini berlaku hukum sesuai dengan pepatah petitih :

Sia marunduak sia bungkuak

Sia malompek sia patah.

Artinya siapa yang lebih berkehendak tentulah dia yang harus

mengalah.

81

Seringkali resek-maresek ini tidak selesai satu kali, tapi bisa berlanjut

dalam beberapa kali perundingan. Dan jika semuanya telah bersepakat untuk

saling menjodohkan anak kemenakan masing-masing dan segala persyaratan

untuk itupun telah disetujui oleh pihak keluarga laki-laki dengan telangkai

yang datang, maka barulah langkah selanjutnya ditentukan untuk mengadakan

pertemuan secara lebih resmi oleh keluarga kedua belah pihak. Acara inilah

yang disebut acara maminang.

5. Babaua

Adat perkawinan di pariaman setelah acara maresek diadakan acara

babaua, atau acara mufakat yang di adakan dirumah calon mempelai wanita

atau anak daro. Acara ini dihadiri oleh niniak mamak sang calon anak daro,

tujuan dari acara ini adalah untuk menentukan kapan acara maminang,

maantaan tando dan kampia siriah akan di adakan. Dalam acara ini tidak ada

yang dating dari pihak mempelai pria karena acara ini khusus niniak mamak,

serta keluarga dari mempelai wanita saja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->