P. 1
Kusta/ Lepra/ Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen

Kusta/ Lepra/ Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen

3.0

|Views: 14,988|Likes:
Published by silviairani

More info:

Published by: silviairani on Jan 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2015

pdf

text

original

Sections

Kusta

Kusta/ Lepra/ Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit
infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.[1]

Penyakit ini adalah
tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan
lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar.[2]

Bila tidak ditangani, kusta dapat
sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan
mata.

Sejarah

Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban
Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India.[3]

Pada 1995, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta. [4]
Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang
perlu dan tidak etis, beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai
belahan dunia, seperti India dan Vietnam.

Pengobatan yang efektif terhadap penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan
diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga, bakteri penyebab lepra
secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Hal ini
terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini
pun mampu ditangani kembali.

Ciri-ciri

Lesi kulit pada paha.

Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan
membran mukosa.[5]

Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi 'kusta
tuberkuloid
(Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler),
atau kusta multibasiler (borderline leprosy).

Kusta multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering
ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya
lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai,

dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak
stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.

Kusta tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan
bagian yang tidak berasa (anestetik).

Kusta lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang
menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan
hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap
kerusakan saraf sering kali terlambat.

Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan
pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama oleh Paul Brand, disebutkan
bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering menyebabkan
luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada penderita AIDS.[6]

Penyebab

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mycobacterium leprae

Mycobacterium leprae.

Paket terapi multiobat.

Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta.[2]

Sebuah bakteri yang tahan asam M.
leprae
juga merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi
oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium.[7]

M. leprae

belum dapat dikultur pada laboratorium.[8]

Patofisiologi

Mekanisme penularan yang tepat belum diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan
seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. [9]

Selain manusia, hewan yang
dapat tekena kusta adalah armadilo, simpanse, dan monyet pemakan kepiting.[10]

Terdapat

bukti bahwa tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman M. leprae menderita kusta,
dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan
pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat
terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu. [11]

Faktor ketidakcukupan gizi juga

diduga merupakan faktor penyebab.

Penyakit ini sering dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang
yang terinfeksi dan orang yang sehat.[12]

Dalam penelitian terhadap insidensi, tingkat
infeksi untuk kontak lepra lepromatosa beragam dari 6,2 per 1000 per tahun di Cebu,
Philipina [13]

hingga 55,8 per 1000 per tahun di India Selatan.[14]

Dua pintu keluar dari M. leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa
hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adnaya sejumlah
organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih belum dapat dibuktikan bahwa
organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat laporan
bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epitel deskuamosa di kulit, Weddel et al
melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. [15]

Dalam
penelitian terbaru, Job et al menemukan adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan
keratin superfisial kulit di penderita kusta lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah
pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat. [16]

Pentingnya mukosa hidung telah dikemukakan oleh Schäffer pada 1898.[17]

Jumlah dari

bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000
hingga 10.000.000 bakteri.[18]

Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien
lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka.[19]

Davey dan Rees

mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi
10.000.000 organisme per hari.[20]

Pintu masuk dari M. leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini
diperkirakan bahwa kulit dan saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya
bakteri. Rees dan McDougall telah sukses mencoba penularan kusta melalui aerosol di
mencit yang ditekan sistem imunnya. [21]

Laporan yang berhasil juga dikemukakan
dengan pencobaan pada mencit dengan pemaparan bakteri di lubang pernapasan. [22]
Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa saluran pernapasan adalah rute yang paling
dimungkinkan menjadi gerbang masuknya bakteri, walaupun demikian pendapat
mengenai kulit belum dapat disingkirkan.

Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha
mengukur masa inkubasinya. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa
minggu, berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda.[23]

Masa inkubasi maksimum
dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran
perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non-
endemik. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah
3-5 tahun.

Pengobatan

Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada
pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal
(pembasmi bakteri) yang lemih terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson
menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. {ada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.

Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan
klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an. [24]

Obat terapi multiobat kusta.

Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan
rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri.[25]

Terapi multiobat dan
kombinasi tiga obat di atas pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada
1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan
sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.

Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang
endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara.
Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah
resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000,
dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk
mengembangkan strategi penghapusan kusta.

Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan
dua tipe terapi multiobat standar.[26]

Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan
untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah
pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara
endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010.

Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan
pertama.[3]

Cara ini aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada

kemasan obat.[3]

Epidemiologi

Distribusi penyakit kusta dunia pada 2003.

Di seluruh dunia, dua hingga tiga juta orang diperkirakan menderita kusta.[4]

India adalah

negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar.

Pada 1999, insidensi penyakit kusta du dunia diperkirakan 640.000, pada 2000, 738.284
kasus ditemukan. Pada 1999, 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada 2000, WHO
membuat daftar 91 negara yang endemik kusta. 70% kasus dunia terdapat di India,
Myanmar, dan Nepal. Pada 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh dunia, dan
menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar,
Mozambik, Tanzania dan Nepal.

[sunting] Kelompok berisiko

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik
dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak
bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang
dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari
wanita.

Situasi global

Sebagaimana yang dlaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori pada 2006 dan
diterbitkan di Weekly Epidemiological Record, prevalensi terdaftar kusta pada awal tahun
2006 adalah 219.826 kasus.[27]

Penemuan kasus baru pada tahun sebelumnya adlaah
296.499 kasus. Alasan jumlah penemuan tahunan lebih tinggi dari prevalensi akhir tahun
dijelaskan dengan adanya fakta bahwa proporsi kasus baru yang terapinya selesai pada
tahun yang sama sehingga tidak lagi dimasukkan ke prevalensi terdaftar. Penemuan
secara globa terhadap kasus baru menunjukkan penurunan.

Tabel 1 menunjukkan penemuan kasus secara global menurun sejak 2001. Tabel 2
menunjukkan situasi kusta pada enam negara utama.

Kusta

Sabtu, 24-02-2007 13:48:51 oleh: Sapto
Kanal: Kesehatan

Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprea yang menyerang syaraf tepi, kulit
dan jaringan tubuh lainnya. Kuman ini biasanya berkelompok dan hidup dalam sel serta
mempunyai sifat tahan asam (BTA). Kuman ini pertama kali ditemukan pada tahun 1873
oleh GH Hansen.

Masa belah kuman tersebut lebih lama dibandingkan dengan jenis kuman lainnya, yakni
mencapai 12-21 hari dengan tunas selama 2-5 tahun. Penderita kusta dapat
diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu PB (pausi basiler) dan MB (multi basiler).
Perkembangan penyakit ini dapat ditularkan oleh penderita tipe MB secara langsung, baik
melalui pernafasan maupun gesekan kulit.

Selanjutnya kuman ini akan menyerang syaraf tepi pada si penderita, sehingga dia akan
mengalami gangguan fungsi syaraf tepi seperti sensorik, motorik dan otonom. Jika si
penderita tidak segera diobati akan mengalami cacat syaraf tepi yang diakibatkan karena
kuman kusta atau disebabkan oleh peradangan (neuritis) sewaktu reaksi lepra.

Serangan terhadap fungsi sensorik akan menyebabkan terjadinya mati/kurang rasa
(nestasi) yang selanjutnya akan terjadi luka pada tangan atau kaki. pada kornea mata akan
mengakibatkan kurang/hilangnya reflek kedip, sehingga mata akan mudah kemasukan
kotoran dan benda-benda asing yang dapat menimbulkan kebutaan. Kerusakan fungsi
motorik akan mengakibatkan lemah/lumpuhnya otot kaki/tangan, jari-jari tangan/kaki
menjadi bengkok (claw had/ claw toes).

Pada mata terjadi kelumpuhan pada otot mata sehingga mata tidak dapat dirapatkan.
Rusaknya fungsi otonom berakibat terjadinya gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar
minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras,
dan pecah-pecah yang pada akhirnya akan membuat si penderita cacat seumur hidup.

Ada empat tanda pokok (cardinal signs) yang ada pada tubuh jika seseorang terjangkit
kuman kusta. pertama adanya kelainan kulit dalam hal ini dapat berupa hipopigmentasi
(semacam panu) bercak-bercak merah, infiltrat (penebalan kulit) dan nul (benjolan).

Tanda lainnya adalah berkurang atau sampai hilangnya rasa pada kelainan kulit tersebut,
terjadi penebalan syaraf tepi dan adanya kuman tahan asam dalam korekan jaringan kulit
(BTA positif). Ada lima hal yang mempermudah terjadinya reaksi penyakit kusta, yaitu si
penderita sedang dalam keadaan kondisi lemah, kehamilan, sesudah mendapat imunisasi,
malaria dan stres.

Untuk memutus mata rantai menjalarnya kuman kusta bagi penderita PB sebaiknya
berobat secara dini dan teratur. Namun jika penderita sudah dalam keadaan cacat
permanen, pengobatan hanya dapat mencegah agar jangan terjadi cacat tambahan.

Pengobatan penyakit kusta ditujukan untuk mematikan kuman mycobacterium leprea
sehingga tidak berdaya masuk jaringan tubuh, dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang
efektif dan akhirnya dapat hilang. Dengan sendirinya penularan kusta kepada orang lain
juga menjadi terputus.

Hingga saat ini para ahli kesehatan sudah menemukan enam macam obat untuk
mengobati dan meminimalisasi penyebaran kuman kusta di tubuh manusia, salah satunya
adalah DDS (diamino diphenyl sulfon). Obat ini berbentuk tablet berwarna putih.

Obat lainnya lamprene (B663) atau biasa disebut Clofazimine berwarna coklat dengan
bentuk kapsul. Sifat dari obat ini bakterostik(menghambat pertumbuhan dan antireaksi).
Selain itu, ada Rifampicin berbentuk kapsul dan mempunyai sifat bakteriosid atau
mematikan kuman kusta. Efek sampingnya dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan
ginjal, karenanya sebelum diberikan obat ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan pada hati
dan ginjal si penderita

MEMAHAMI SELUK BELUK PENYAKIT KUSTA

Kusta Dapat Disembuhkan, Bukan Kutukan Tuhan
atau pun Penyakit Keturunan

18 Februari 2009

Surabaya, eHealth. Apa yang akan Anda lakukan apabila menemui
seseorang mengidap Kusta di jalan atau di sebuah Rumah Sakit?
Respon utama yang terbersit di benak orang-orang umumnya
adalah menghindari, takut, merasa jijik, najis, dan lain sebagainya
karena alasan takut tertular. Bahkan sebagian masyarakat masih
terpatri pada stigma bahwa Kusta atau Lepra ini merupakan
sebuah kutukan dari Tuhan dan juga penyakit keturunan. Karena
informasi yang tidak lengkap ataupun pemikiran yang salah
tersebut, maka pasien Kusta biasanya tidak hanya menghadapi permasalahan dari segi
medis saja, tetapi juga menghadapi masalah psikososial. Bahkan permasalahan Kusta
ini dapat meluas sampai permasalahan sosial ekonomi, budaya, keamanan, dan
ketahanan sosial. Lalu sebenarnya apakah Kusta itu? Benarkah anggapan masyarakat
mengenai Kusta? Berikut Liputan Khusus Tim eHealth mengenai Kusta.

Sejarah Singkat Kusta

Kusta berasal dari kata kustha di bahasa Sansekerta, yang berarti kumpulan gejala-gejala
kulit secara umum. Penderita Kusta sebenarnya telah ditemukan sejak tahun 600 Sebelum
Masehi. Namun, kuman penyebab penyakit Kusta, yakni Mycobacterium leprae,
ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun
1873, maka dari itu Kusta ini dikenal juga dengan nama Morbus Hansen, sesuai dengan
penemu kuman penyebab kusta tersebut.

Penyakit ini diduga berasal dari Afrika dan Asia tengah dan kemudian tersebar melalui
perpindahan penduduk di beberapa belahan dunia, penyebaran penyakit tersebut
umumnya dibawa oleh para pedagang yang melintasi batas negara. Sedangkan Kusta
masuk ke Indonesia ini melalui para pedagang dan penyebar agama sekitar abad ke IV-V
oleh orang India.

Hari Kusta

Penyakit Kusta juga diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day), yang
awalnya di inspirasi oleh seorang wartawan berkebangsaan Perancis yang benama Raoul
Fallereau. Wartawan tersebut juga mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib
penderita Kusta selama 30 tahun. Raoul berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di
masyarakat. Sampai dengan tahun 1955, terdapat 150 radio dari 60 negara yang
menyiarkan kampanye pemberantasan Kusta. Peristiwa yang terjadi pada akhir minggu
bulan Desember tahun 1955 ini ditetapkan sebagai Hari Kusta Sedunia.

Sementara itu, di sejumlah negara-negara Asia termasuk Indonesia, peringatan Hari
Kusta Sedunia diperingati pada minggu akhir bulan Januari sebagai penghormatan
terhadap jasa-jasa Mahatma Gandhi yang meninggal diakhir bulan Januari tersebut.
Mahatma gandhi adalah tokoh pejuang India yang menaruh perhatian yang sangat besar
kepada penderita Kusta, khususnya di India.

Sejauh ini Indonesia memiliki pasien Kusta terbanyak setelah India, Brazil dan Myanmar.
Namun untuk Kota Surabaya sendiri, penyakit ini masih dalam kategori rendah.
Berdasarkan data dari Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota
Surabaya, jumlah kasus baru Kusta yang terdata pada tahun 2008 lalu sebanyak 159
pasien untuk jenis Kusta basah atau MB, sedangkan 5 orang lainnya mengidap jenis
Kusta kering. Karena penyakit Kusta merupakan penyakit dengan penyembuhan jangka
panjang, maka beberapa diantara pasien tersebut merupakan pasien lama yang sedang
menjalani pengobatan. Untuk jumlah secara keseluruhan, jumlah pasien kusta tahun 2008
kemarin adalah sebanyak 196 untuk Kota Surabaya.

Dijelaskan oleh dr. Ina Aniati, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas
Kesehatan Kota Surabaya, bahwa umumnya pasien yang mengidap Kusta di kota
metropolis ini kebanyakan penduduk musiman yang berasal dari luar kota. Penurunan
kasus Kusta di Surabaya sendiri tidak terlalu signifikan.

”Biasanya jumlah Kusta turun pada saat awal-awal pelatihan petugas Puskesmas
(mengenai penyakit Kusta, Red) saja, karena jarangnya kasus tersebut (di Surabaya, Red)
maka sering terlupa oleh orang-orang,” tambah dokter alumnus Universitas Airlangga
ketika ditemui di kantornya.

Penyebab Kusta

Seperti yang telah tertera di atas, Kusta yang merupakan penyakit kronis ini disebabkan
oleh infeksi Mycobacterium leprae (M.leprae). Kuman ini adalah kuman aerob,
berbentuk batang dengan ukuran 1-8 μ, lebar 0,2 – 0,5 μ, sifatnya tahan asam sehingga
tidak mudah untuk diwarnai. M.leprae biasanya berkelompok dan ada pula yang tersebar
satu-satu. Kuman ini hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak
dapat dikultur dalam media buatan.

Masa belah diri kuman kusta ini memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan
dengan kuman lain, yaitu 12-21 hari. Sehingga masa tunas pun menjadi lama, yaitu
sekitar 2–5 tahun.

Kuman Kusta ini pertama kali menyerang saraf tepi, yang selanjutnya dapat menyerang
kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot,
tulang dan juga testis, kecuali susunan saraf pusat. Kusta yang merupakan penyakit
menahun ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan anggota tubuh penderita tidak
dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Penderita Kusta kebanyakan dari masyarakat ekonomi menengah kebawah yang kurang
atau belum memahami arti penting dari kebersihan lingkungan. ”Tentu saja kebersihan
lingkungan pun menjadi faktor lain penyebab Kusta, selain kuman,” ungkap Prof. dr.
Jusuf Barakbah, SpKK, salah seorang dokter spesialis penyakit Kulit Kelamin di Rumah
Sakit Dr. Soetomo Surabaya saat dikonfirmasi melalui telepon. Ia menambahkan bahwa
terlebih bagi mereka yang tinggal di daerah kumuh dan terbatas akan fasilitas air bersih.

Sehingga, setelah kita mengetahui faktor penyebab Kusta, maka
anggapan masyarakat bahwa Kusta adalah penyakit kutukan Tuhan
dan penyakit keturunan adalah salah.

Jenis Kusta

Dari sisi medis, Kusta diklasifikasikan berdasarkan banyak faktor,
hal tersebut bertujuan untuk mempermudah cara penanganan dari
penyakit kulit ini. Namun, pada umumnya Kusta terbagi menjadi
dua, yakni kusta pausibasilar (PB) atau kusta tipe kering dan kusta
multibasilar (MB) atau kusta tipe basah.

Kusta Pausibasilar (PB)

Tanda-tandanya:

Bercak putih seperti panu yang mati rasa, artinya bila bercak putih tersebut disentuh
dengan kapas, maka kulit tidak merasakan sentuhan tersebut.

Permukaan bercak kering dan kasar

Permukaan bercak tidak berkeringat

Batas (pinggir) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil.

Kusta tipe kering ini kurang/tidak menular, namun apabila tidak segera diobati akan
menyebabkan cacat. Umumnya, orang mengira bercak putih seperti tanda-tanda di atas
adalah panu biasa, sehingga pemeriksaan pun tidak segera dilakukan sebelum akhirnya
orang tersebut telah mengalami Kusta pada level lebih lanjut. Sehingga, pemeriksaan dan
pengobatan semenjak dini ke Puskesmas atau pun Rumah Sakit terdekat pun sangat
dianjurkan. Pengobatan kusta tipe PB ini cenderung lebih sebentar daripada tipe basah.

Kusta Multibasilar (MB)

Tanda-Tandanya:

Bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan.

Terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak.

Pada permukaan bercak, sering ada rasa bila disentuh dengan kapas.

Pada permulaan tanda dari tipe kusta basah sering terdapat pada cuping telinga dan

muka.

Kusta tipe basah ini dapat menular, maka bagi yang menderita penyakit tipe kusta tipe
basah ini harus berobat secara teratur sampai selesai seperti yang telah ditetapkan oleh
dokter. Namun, umumnya kendala yang dihadapi adalah pasien tidak mentaati resep
dokter, sehingga selain mereka tidak menjadi lebih baik, mereka pun akan resisten
terhadap obat yang telah diberikan.

Untuk Kusta MB ini menular lewat kontak secara langsung dan lama. ”Penularan terjadi
apabila seseorang kontak dengan pasien sangat dekat dan dalam jangka panjang,” dr. Ina
kembali menjelaskan. Sehingga bagi pasien kusta MB harus segera melakukan
pengobatan, dan melakukan penyembuhan secara teratur.

Cacat Kusta

Apabila kita mendengar kata Kusta, salah satu hal yang terbersit dalam pikiran kita
adalah penyakit yang dapat menyebabkan cacat bagian tubuh lebih lagi pada mutilasi
beberapa bagian tubuh tertentu. Seperti halnya penyakit lain, cacat tubuh tersebut
sebenarnya dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan penyakit dilakukan
semenjak dini. Demikian pula diperlukan pengetahuan berbagai hal yang dapat
menimbulkan kecacatan dan pencegahan kecacatan, sehingga tidak menimbulkan cacat
tubuh yang tampak menyeramkan.

Menurut WHO (1980) batasan istilah dalam cacat Kusta adalah:

1. Impairment: segala kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi yang
bersifat psikologik, fisiologik, atau anatomik, misalnya leproma, ginekomastia,
madarosis, claw hand, ulkus, dan absorbsi jari.
2. Dissability: segala keterbatasan atau kekurangmampuan (akibat impairment)
untuk melakukan kegiatan dalam batas-batas kehidupan yang normal bagi
manusia. Dissability ini merupakan objektivitas impairment, yaitu gangguan pada
tingkat individu termasuk ketidakmampuan dalam aktivitas sehari-hari, misalnya
memegang benda atau memakai baju sendiri.
3. Handicap: kemunduran pada seorang individu (akibat impairment atau disability)
yang membatasi atau menghalangi penyelesaian tugas normal yang bergantung
pada umur, seks, dan faktor sosial budaya. Handicap ini merupakan efek penyakit
kusta yang berdampak sosial, ekonomi, dan budaya.
4. Deformity: kelainan struktur anatomis
5. Dehabilitation: keadaan/proses pasien Kusta (handicap) kehilangan status sosial
secara progresif, terisolasi dari masyarakat, keluarga dan teman-temannya.
6. Destitution: dehabilitasi yang berlanjut dengan isolasi yang menyeluruh dari
seluruh masyarakat tanpa makanan atau perlindungan (shelter).

Jenis Cacat Kusta

Cacat yang timbul pada penyakit Kusta dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok,
yaitu:

1.Kelompok pada cacat primer, ialah kelompok cacat yang disebabkan langsung
oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respons jaringan terhadap
kuman Kusta.
2.Kelompok cacat sekunder, cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama
akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom). Kelumpuhan motorik
menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan mengenggam
atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Kelumpuhan saraf otonom
menyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang. Akibatnya kulit mudah retak-
retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.

Pencegahan Cacat Pada Kusta

Pencegahan cacat Kusta jauh lebih baik dan lebih ekonomis daripada
penanggulangannya. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin, baik oleh petugas
kesehatan maupun oleh pasien itu sendiri dan keluarganya. Di samping itu perlu
mengubah pandangan yang salah dari masyarakat, antara lain bahwa Kusta identik
dengan deformitas atau disability.

Upaya pencegahan cacat terdiri atas:

1.Untuk Upaya pencegahan cacat primer, meliputi:

odiagnosis dini
opengobatan secara teratur dan akurat
odiagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi

2.Upaya pencegahan sekunder, meliputi:

oPerawatan diri sendiri untuk mencegah luka

oLatihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk
mencegah terjadinya kontraktur
oBedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar
tidak mendapat tekanan yang berlebihan
oBedah septik untuk mengurangi perluasan infeksi, sehingga pada proses
penyembuhan tidak terlalu banyak jaringan yang hilang
oPerawatan mata, tangan dan atau kaki yang anestesi atau mengalami
kelumpuhan otot.

Prinsip yang penting pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah:

opasien mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko
terjadinya luka
opasien harus melindungi tempat risiko tersebut (dengan kaca mata, sarung
tangan, sepatu, dll)
opasien mengetahui penyebab luka (panas, tekanan, benda tajam dan kasar)
opasien dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok,
melumasi) dan melatih sendi bila mulai kaku
openyembuhan luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan
membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka dengan cara istirahat

Penularan Kusta

Sampai saat ini penyebab penularan penyakit Kusta yang pasti masih belum diketahui,
namun para ahli mengatakan bahwa penyakit Kusta dapat ditularkan melalui saluran
pernafasan dan juga melalui kulit.

Walau tidak terdapat hukum-hukum pasti penularan Kusta ini, perlu diketahui bahwa
jalan keluar dari kuman Kusta ini adalah melalui selaput lendir hidung penderita. Namun
ada beberapa artikel yang menyatakan bahwa penularan Kusta ini melalui sekret hidung
penderita yang telah mengering dimana basil dapat hidup 2 -7 hari. Cara penularan lain
yang umumnya diungkapkan adalah melalui kulit ke kulit, namun dengan syarat tertentu.
Karena tidak semua sentuhan kulit ke kulit itu dapat menyebabkan penularan.

Sampai saat ini masih belum ditemukan vaksinasi terhadap Kusta, namun berdasarkan
beberapa sumber, dikatakan bahwa apabila kuman Kusta tersebut masih utuh bentuknya
maka memiliki kemungkinan penularan lebih besar daripada bentuk kuman yang telah
hancur akibat pengobatan. Sehingga, perlu ditekankan bahwa pengobatan merupakan
jalan untuk mencegah penularan penyakit Kusta ini.

Penanggulangan Kusta

Tujuan utama adanya upaya penanggulangan Kusta adalah memutus mata rantai
penularan untuk menurunkan insiden penyakit, mengobati, dan menyembuhkan
penderita, serta mencegah timbulnya cacat. Salah satu cara penanggulangan penyakit
Kusta yang telah lama dilaksanakan adalah melalui program MDT (Multi Drug Therapy).

Program MDT ini dimulai pada tahun 1981, yaitu ketika Kelompok Studi Kemoterapi
WHO secara resmi mengeluarkan rekomendasi pengobatan Kusta dengan rejimen
kombinasi yang selanjutnya dikenal sebagai rejimen MDT-WHO. Rejimen ini terdiri atas
kombinasi obat-obat dapson, rifampisin, dan klofazimin. Selain untuk mengatasi
resistensi dapson yang semakin meningkat, penggunaan MDT dimaksudkan juga untuk
mengurangi ketidaktaatan penderita dan menurunkan angka putus-obat (drop-out rate)
yang cukup tinggi pada masa monoterapi dapson. Di samping itu diharapkan juga MDT
dapat mengeliminasi persistensi kuman Kusta dalam jaringan. Namun dalam pelaksanaan
program MDT-WHO ada beberapa masalah yang timbul, yaitu adanya persister,
resistensi rifampisin dan lamanya pengobatan terutama untuk kusta MB.

Terdapat juga beberapa metode penanggulangan Kusta, yakni metode pemberantasan dan
pengobatan, metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial,
rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari
rehabilitasi, dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok
tersendiri. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan
tidak dapat dipisahkan.

Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa penyakit Kusta bukan hanya permasalahan
medis saja, namun menyangkut psikis, sosial, budaya, bahkan ekonomi. Anggapan salah
mengenai penyakit Kusta tidak akan membantu terputusnya mata rantai penularan kusta.
Namun, melalui dukungan dan himbauan kepada pasien tersebut lah yang akan
meminimalisir jumlah pasien kusta di satu wilayah.

”Segera temui dokter sesaat setelah menemui bercak putih di kulit dan mati rasa,” himbau
Prof dr. Jusuf Barakbah, SpKK. Hal tersebut juga diungkapkan oleh dr. Ina Aniati, bahwa
pasien tidak perlu bingung atau malu untuk memeriksakan dirinya ketika mencurigai ada
bercak putih mati rasa di kulit. Seluruh Puskesmas, terutama di Kota Surabaya, dapat
melayani permasalahan tersebut. Semakin dini diatasi maka semakin kecil kemungkinan
penularan. Kusta tidak menular, apabila kita peduli dan memiliki niat kuat untuk
menanggulanginya.(fie)

LAPORAN KASUS

SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->