P. 1
Makalah Pengantar Studi Islam Dalam Pandangan Fiqih Islam

Makalah Pengantar Studi Islam Dalam Pandangan Fiqih Islam

|Views: 11,574|Likes:
Published by adlan fahmie

More info:

Published by: adlan fahmie on Jan 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Fiqih islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang paling dikenal oleh masyarakat. Ini karena fiqih terkait langsung dengan kehidupan masyarakat. Dari sejak lahir sampai dengan meninggal dunia manusia selalu berhubungan dengan fiqih. Tentang siapa misalnya yang harus bertanggung jawab memberi nafkah terhadap dirinya, siapa yang menjadi ibu bapaknya, sampai ketika ia dimakamkan terkait dengan fiqih. Karena sifat dan fungsinya yang demikian itu, maka fiqih dikategorikan sebagai ilmu al-hal, yaitu ilmu yang berkaitan dengan tingkah laku kehidupan manusia, dan termasuk ilmu yang wajib dipelajari, karena dengan ilmu itu pula seseorang baru dapat melaksanakan kewajiban mengabdi kepada Allah melalui ibadah seperti salat, puasa, haji, dan sebagainya. Dengan fungsinya yang demikian itu tidak mengherankan jika fiqih termasuk ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak dari sejak dibangku Taman Kanak-Kanak sampai dengan ia kuliah di perguruan tinggi. Dari sejak kanak-kanak seseorang sudah mulai diajari berdoa, berwudlu, shalat, dan sebagainya, dilanjutkan sampai ke tingkat dewasa di perguruan tinggi, para mahasiswa mempelajari fiqih secara lebih luas lagi, yaitu tidak hanya mnyangkut fiqih ibadah, tetapi juga fiqih muamalah, seperti jual beli, perdagangan, sewa-menyewa, gadai-menggadai, dan perseroan; dilanjutkan dengan fiqih dengan peradilan tindak pidana, masalah rumah tangga, perceraian, sampai dengan masalah perjanjian, peperangan, dan pemerintahan. Keadaan fiqih yang demikian itu tampak menyatu dengan misi agama Islam yang kehadirannya untuk mengatur kehidupan manusia agar tercapainya ketertiban dan keteraturan, dengan Rasulullah SAW. Sebagai aktor utamanya yang melaksanakan aturan-aturan hukum tersebut sebagai ilmu al-hal. Berdasarkan pada pengamatan terhadap fungsi hukum Islam atau fiqih tersebut, maka muncullah serangkaian penelitian dan pengembangan hukum

1

Islam, yaitu penelitian yang ingin melihat seberapa jauh produk-produk hukum Islam tersebut masih sejalan dengan tuntutan zaman, dan bagaimana seharusnya hukum Islam itu dikembangkan dalam rangka merespons dan menjawab secara konkret berbagai masalah yang timbul di masyarakat. Penelitian ini dinilai penting untuk dilakukan agar keberadaan hukum islam atau fiqih tetap akrab dan fungsional dalam memandu dan membimbing perjalanan umat. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Studi Islam? 2. Bagaimana Studi Islam dalam pandangan Fiqih Islam? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui makna Studi Islam lebih jelas. 2. Untuk mengetahui Studi Islam dalam perspektif Fiqih Islam. D. Manfaat Penulisan 1. Menghasilkan deskripsi tentang studi pengertian. 2. Menghasilkan deskripsi tentang studi islam dalam pandangan fiqih islam.

2

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Studi Islam Secara etimologis merupakan terjemahan dari bahasa Arab Dirasah Islamiah. Dalam kajian Barat Studi Islam disebut Islami Studies. Dengan demikian, studi islam secara harfiah adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan ke islaman. Sedangkan pengertian terminologis tentang studi islam dalam kajian ini, yaitu kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui, memahami dan menganalisis secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama islam, pokok-pokok ajaran islam, sejarah islam, maupun realitas pelaksanaanya dalam kehidupan1. Secara teoritas islam adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan tuhan kepada manusia melalui Muhammad sebagai Rasul, Islam pada hakikatnya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber ajaran yang mengambil berbagi segi dari kehidupan manusia. Sumber ajaran yang mengambil berbagai aspek ialah Al-Quran dan Hadits. Sumber-smber ajaran islam yang merupakan bagian pilar penting kajian islam dimunculkan agar dikursuskan dan paradigma keislaman tidak keluar dari sumber asli, yaitu alQuran dan al-hadits. 2. Studi Islam dalam Pandangan Fiqih Islam Istilah “hukum islam” merupakan kata yang populer dan dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan tentang hukum islam yang terdapat dalam literatur bahasa Arab adalah “Fiqih” dan “syariat” atau “hukum syara”. Menurut ahli hukum islam, fiqih adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat operasional (amaliyah) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terperinci. Sedangkan syari’at atau hukum syara’ adalah seperangakat urutan dasar tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan secara umum dan dinyatakan langsung oleh Allah dan Rasul-Nya2
1 Asy’ari, dkk., Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN AMPEL PRESS, 2005) hal.1 2 Ibid, hal. 201

3

Mengetahui hukum Allah yang diturunkan melalui wahyu hanya bersifat aturan dasar dan hukum, maka perlu dirumuskan secara rinci dan operasional, sehingga dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, diperlukan usaha yang optimal penggalian dan perumusan praktis yang disebut ijtihad, yang dilakukan seorang pakar hukum yang dinamakan mujtahid. Langkah ini harus dilakukan, karena titah Allah yang bernilai hukun dalam al-Quran jumlahnya sangat terbatas, padahal persoalan yang harus diselesaikan sangat banyak, yaitu semua dimensi kehidupan dengan berbagai persoalannya dan persiapan hidupnya di akhirat kelak. Titah Allah dalam al-Quran ada yang menunjukkan hukum secara jelas dan pasti, yang biasa disebut dengan hukum qath’iy, sehingga tidak membutuhkan penjelasasn lebih lanjut. Namun ada titah Allah itu yang tidak menunjukkan hukum secara jelas, yang dikenal dengan sebutan dhanny, sehingga banyak membutuhkan penjelasan dan pengembangan pikiran yang biasa disebut dengan ijtihad. Hukum yang dhanny ini justru yang paling dominan dalam al-Quran dari pada qath’i. Dengan demikian, Al-Quran dan hadits sebagai aturan dasar yang bersifat umum ini, sebenarnya menunggu pemikiran-pemikiran kreatif dari pemeluknya, sehingga mudah direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. a. Penelitian Ilmu Fiqih Model Harun Nasution Harun Nasution mempunyi perhatian terhadap hukum islam. Penelitiannya dalam bidang hukum islam ini dituangkan secara ringkas dalam bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid II. Melalui penelitiannya secara ringkas namun mendalam tehadap berbagai literatur tentang hukum Islam dengan menggunakan pendekatan sejarah. Sesuai dengan penelitiannya, maka perolehan informasi tentang jumlah ayat al-quran yang berkaitan dengan hukum, yang jumlahnya 368 ayat 228 ayat atau 3 1/5 persec merupakan ayat yang mengungkap soal kehidupan kemasyarakatan umat, yaiatu ayat yang barkaiatan dengan hidup kekeluargaan, perkawinan, perceraian, dan hak waris, ayat-ayat mengenai perdagangan, perekonomian,

4

jual beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, gadai, perseroan, dan kontrak. Ayat-ayat tentanng kriminal mengenai hubungan islam dan bukan islam, soal pengadialn, hubungan kaya dan miskin, seta mengenai soal kenegaraan. Selanjutnya harun nasution membagi perkembangan hukum islam kedalam empat periode, yaitu periode nabi, periode sahabat, periode ijtihad serta kemajuan, dan periode taklid serta kemunduran. Pada periode Nabi, karena segala persoalan dikembalikan kepada nabi untuk menyelesaikannya, maka nabi lah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Selanjutnya pada periode sahabat, karena daerah yang dikuasai islam bertambah luas dan termasuk kedalamya daerah diluar semenanjung arabiyah yang telah mempunyai kebudayaan tinggi dan susunan masyarakat yang bukan sederhana dibandingkan dengan masyarakat arabiyah ketika itu, maka sering dijumpai berbagai persoalan hukum. Untuk ini para sahabat disamping berpegang kepada al-quran dan sunah juga ijma’ para sababat. Pada periode ijtihad yang dinamakan oleh Harun Nasution sebagai periode kemajuan islam I (700-1000M), problema hukum yang dihadapi semakin beragam, sebagai akibat dari semakin bertambahnya daerah islam dengan berbagai macam bangsa masuk islam dengan membawa berbagai macam adat istiadat, tradisi, dan sistem kemasyarakatan. Dalam kaitan ini maka muncullah ahli-ahli hukum mujtahid yang disebut imam atau fakih (fukaha) dalam islam, dan pemuka hukum ini mempunyai murid. Pada masa ini timbulnya madzhab dalam hukum islam, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ali Hanbal3. b. Penelitian Ilmu Fiqih Menurut Model Noel J. Coulson Noel J. Coulson menyajikan hasil penelitiannya di bidang Hukum Islam dalam karyanya berjudul Hukum Islam Dalam Perspektif Sejarah. Penelitian yang bersifat deskriptif analitis ini menggunakan pendekatan sejarah. Hasil penelitiannya itu dituangkan dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang terbentuknya hukum syariat, yang didalamnya dibahas
3 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999 ) hal.327-328

5

tentang legalisasi al-quran, praktik hukum di abad pertama Islam, akar, yurisprudensi sebagai madzhab pertama, Imam Asy-Syafi’i. Bagian kedua, berbicara tentang pemikiran dan praktik hukum Islam di abad pertengahan. Di dalamnya dibahas tentang teori hukum klasik, antara kesatuan dan keragaman, dampak aliran dalam sistem hukum, pemerintahan Islam dan Hukum syariat, masyarakat Islam dan hukum syariat. Bagian ketiga berbicara tentang hukum Islam dimasa modern yang didalamnya dibahas tentang penyerapan hukum Eropa, hukum syariat kontemporer, taklid dan pembaharuan hukum serta neo ijtihad. Ketika berbicara tentang legalisasi Al-Quran, Coulson mengatakan bahwa prinsipTuhan adalah satu-satunya pembentukan hukum dan bahwa semua perintah-Nya harus dijadikan kendali utama atau segenap aspek kehidupan sudahlah mapan. Hanya saja perintah-perintah itu tidak tersusun secara bulat dalam bentuk bab yang lengkap buat manusia. Selanjutnya peristiwa-peristiwa pada masa berikutnya menunjukkan bahwa konsepkonsep Al-Quran tidak lebih dari semacam mukadimah dari suatu hukum Islam, suatu kitab yang kemudian dioperasikan oleh generasi-generasi berikut secara terus-menerus. c. Penelitian Ilmu Fiqih Menurut Model Muhammad Atho Mudzar Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui materi fatwa yang dikemukakan Majelis Ulama Indonesia serta latar belakang sosial politik yang melatarbelakangi timbulnya fatwa tersebut. Produk fatwa Majelis Ulama Indonesia yang ditelitinya adalah terjadi di sekitar tahun 1975-1988 pada saat Menteri Agama dijabat masing-masing oleh A. Mukti Ali (1972-1978), Alamsyah Ratu Perwira Negara (1978-1983), dan Munawir Sjadzali (19831988). Sementara itu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dijabat K.H. Hasan Basri. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam empat bab. Bab pertama mengemukakan tentang latar belakang dan karakteristik Islam di Indonesia serta pengaruhnya terhadap corak hukum Islam.

6

Pada bab kedua, disertai tersebut mengemukakan tentang Majelis Ulama Indonesia dari segi latar belakang didirikannya, sosiopolotik yang mengitarinya, hubungan Majelis Ulama Indonesia dengan pemerintah dan organisasi Islam serta organisasi non islam lainnya, dan berbagai fatwa yang dikeluarkannya. Pada bab ketiga, mengemukakan tentang isi produk fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia serta metode yang digunakannya. Fatwa-fatwa tersebut antara lain meliputi bidang ibadah ritual, masalah keluarga dan pernikahan, kebudayaan, makanan, perayaan hari-hari besar agama Nasrani, masalah kedokteran, keluarga berencana, dan aliran minoritas dalam Islam. Adapun bab keempat adalah berisi kesimpulan yang dihasilkan dari studi tersebut. Dalam kesimpulan tersebut dinyatakan bahwa MUI dalam kenyataannya tidak selalu konsisten mengikuti pola metodologi dalam penetapan fatwa sebagaimana dijumpai dalam ilmu fiqih. Fatwa-fatwa tersebut terkadang langsung merujuk pada Al-Quran sebelum merujuk pada hadits dan pada kitab fiqih yang ditulis para ulama madzhab. Sedangkan sebagian fatwa lainya terkadang tidak didukung oleh argumen yang meyakinkan, baik secara tekstual maupun rasional. Penelitian tersebut bermanfaat dalam upaya membuka pikiran dan pandangan para ulama fiqih di Indonesia yang cenderung kurang berani mengeluarkan fatwa, atau kurang produktif dalam menjawab berbagai masalah aktual yang muncul di masyarakat. Karena menyesuaikan hasil pemahaman ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan perkembangan zaman perlu dilakukan. Sehingga dengan cara inilah makna kehadiran Al-Quran secara fungsional dapat dirasakan oleh masyarakat4. BAB III PENUTUP Kesimpulan Ilmu fiqih adalah ilmu yang menjelaskan tentang aturan hukum
4Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999 ) hal 331-332`

7

amal-amal yang zahir bagi kalangan mukalaf seperti ibadah dan muamalah, untuk mengetahui yang haram dan yang halal dari amal tersebut, dan yang diisyariatkan serta yang tidak. Kata fiqih dipakai untuk nama segala hukum agama, baik yang berhubungan dengan kepercayaan ataupun yang berhubungan dengan muamalah praktis. Segala hukum dinamai fiqih dan memahami hukum dinamai juga paham dengan fiqih. Fiqih atau hukum Islam tumbuh berkembang hingga sampai ke puncak perkembangannya menuju kesempurnaan. Fiqih islam tumbuh dari suatau yang telah ada yang terdapat pertama kali menjadi pendukung hukum Islam yang juga pengembangan ke penjuru dunia. Fiqih Islam meliputi pembahasan yang mengenai individu, masyarakat dan negara, melengkapi bidang ibadah, muamalah, kekeluargaan, perikatan kekayaan, warisan, kriminal, peradilan, acara pembuktian, kenegaraan, dan hukum-hukum internasional. Oleh karena itu, para ulama membagi ilmu fiqih pada garis besarnya menjadi dua bagian pokok.

DAFTAR PUSTAKA

Ahm, Asy’ari,dkk.. Pengantar Studi Islam. 2005. IAIN Sunan Ampel

8

Press : Surabaya Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. 2006. AMZAH: Jakarta Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. 1999. PT. Grafindo Persada : Jakarta

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->