P. 1
SKRIPSI REVISI

SKRIPSI REVISI

|Views: 1,796|Likes:
Published by grirahito

More info:

Published by: grirahito on Jan 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

Menurut KBBI edisi kedua (250:1991) bahwa Egoisme adalah: 1. teori yang

mengemukakan bahwa segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh

keinginan untuk menguntungkan diri sendiri, 2. hal atau keadaan mementingkan

diri sendiri, 3. tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri

sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain.

2.2 Sikap Orang Tua dalam Mendidik Anak

Orang tua yang terlalu egois dengan sikap memaksa dan tidak sabar dalam

mendidik anaknya, memberikan pengaruh negatif terhadap mental dan emosi

anak, cara orang tua yang memperlakukan anak-anaknya dengan disiplin yang

keras atau perlakuan yang tidak empatik, ketidakpedulian atau kehangatan akan

berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak. Menurut ahli

psikologi, bahwa kurang berhasilnya seorang ibu dalam mendidik anak ialah

karena tidak pernah mempelajari psikologi. Banyak yang tidak pernah membaca

buku mengenai pendidikan anak. (Hariyono 2000:36).

Orang tua sering bertengkar dalam memberikan pendidkan kepada anak

yang menyebabkan anak menjadi bingung untuk menerima pendidikan dari ayah

18

atau ibunya, dan ketika pendidikan itu tidak bisa diterima dengan baik oleh anak,

maka orang tua menjadi marah dan mencemoh anaknya. Orang tua yang suka

memaksa, kehilangan kesabaran dalam menghadapi ketidakmampuan anaknya,

meninggikan suaranya dengan nada mencemooh atau putus asa, bahkan ada yang

mencap anaknya tolol membawa kecenderungan-kecenderungan yang sama

kearah penghinaan dan kebencian yang mengotori kehidupan perkawinan.

(Goleman, 1995:269).

Orang tua hendaknya dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya tidak

egois dan mengeluarkan kemarahanya melainkan memperhatikan sistuasi dan

kondisi anak, memperhatikan keadaan emosional anak agar anak bisa tumbuh

berkembang menjadi anak yang baik tanpa ditumbuhkan dengan kekerasaan.

Sebab, kekerasan hanya akan mengantarkan kepada konflik rumah tangga yaitu

pertentangan antara orang tua dengan anak, suami dan istri.

Orang tua yang salah di dalam cara menyampaikan nasehat kepada anak-

anak maka akan menimbulkan salah pengertian bagi anak-anak. Padahal, orang

tua mempunyai maksud baik bagi anak-anaknya. Namun, karena cara

penyampaian dan gaya bahasa orang tua yang kurang cocok, maka nasehat yang

baik itu akan berubah menjadi nasehat yang mengarahkan anak kepada pemikiran-

pemikiran yang negatif.

Anak lebih memahami apa yang menjadi maksud orang tuanya, jika orang

tua menggunakan bahasa yang pantas di dalam memberikan pendidikan dalam

bentuk cinta kasih kepada anak. Dengan demikian anak akan lebih mengerti arti

pentingnya cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari. Mendidik anak agar menjadi

19

manusia yang berguna dalam masyarakat merupakan harapan dan cita-cita semua

orang tua, pendidikan dengan cara yang tepat akan memberikan reaksi dan respon

positif dari anak yang akan dididik.

Menurut (Goleman 1995:269) Tiga gaya mendidik anak yang secara

emotional pada umumnya tidak efisien dilakukan oleh orang tua diantaranya

adalah: 1. Sama sekali mengabaikan perasaan; 2. Terlalu membebaskan; menawar

serta suap agar anak berhenti bersedih hati atau marah, 3. Menghina, tidak

menunjukan penghargaan terhadap perasaan anak.

Orang tua memiliki kewajiban di dalam menyekolahkan anaknya, tetapi

tidak harus memaksakan kehendaknya sendiri dengan sikap egois memaksa anak

untuk memasuki suatu sekolah yang bukan keinginan hati dan bakat serta

kemauan anak, karena sikap egois dan memaksakan kehendak seperti itu

sangatlah tidak baik bagi dunia pendidikan dan tingkat keberhasilan yang akan di

capai oleh anak.

Contoh umum yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah

orang tua yang memaksa anaknya agar masuk ke Fakultas Kedoteran,

sedangkan sang anak tidak berminat dalam hal itu. Inilah problem yang

sering dihadapi masyarakat kita dewasa ini. Menghadapi kenyataan seperti

ini mungkin sang anak bertambah malas kuliahnya. Hal ini harus kita sadari

bahwa kemalasan sekolah sang anak disebabkan oleh perasaan tidak senang

yang hinggap dalam hatinya. Dan perasaan seperti inilah yang bisa dianggap

sebagai suatu gangguan. Kalau orang tua memaksa anaknya terus-menerus

maka si anak akan menderita seumur hidup. (Hariyono, 2000:38).

Sikap egois yang dilakukan oleh orang tua dengan cara memaksa anaknya

untuk menempuh kuliah sesuai dengan Fakultas yang diinginkan orang tua, maka

berakibat buruk bagi tingkat ketertarikan anak untuk terus bersemangat di dalam

mengejar ilmu sehingga tidak jarang anak menjadi seorang pemalas dan tentunya

20

orang tua sangatlah tidak baik bagi orang tua karena akan sia-sia saja karena tidak

sesuai dengan harapan.

Jadi, menurut para ahli mengatakan bahwa sikap orang tua di dalam

memberikan pendidikan dan bentuk-bentuk sikap yang egois yang ditunjukan oleh

orang tua dalam memberikan pendidikan maupun nasihat kepada anak adalah: (1)

Orang tua memaksakan kehendak sendiri, (2) Disiplin yang keras.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->