P. 1
Laporan Perekonomian Indonesia 2000

Laporan Perekonomian Indonesia 2000

|Views: 1,481|Likes:
Published by yuliandriansyah
Laporan perekonomian Indonesia tahun 2000 yang dikeluarkan Bank Indonesia.
Laporan perekonomian Indonesia tahun 2000 yang dikeluarkan Bank Indonesia.

More info:

Published by: yuliandriansyah on Jan 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

LAPORAN TAHUNAN

2000

BANK INDONESIA

LAPORAN TAHUNAN

2000
BANK INDONESIA

ISSN 0522 – 2575

Keterangan Tanda-tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data
r * ** ... x -Angka diperbaiki Angka sementara Angka sangat sementara Angka belum tersedia Angka tidak ada Angka sebelum dan sesudah tanda ini tidak dapat diperbandingkan satu sama lain Nol atau lebih kecil daripada digit terakhir

$ (dolar) Dolar Amerika Serikat Periode laporan adalah 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2000. Sumber data adalah Bank Indonesia, kecuali jika dinyatakan lain.

i

Dewan Gubernur Bank Indonesia
Pada Tanggal 31 Desember 2000
Miranda S. Goeltom Deputi Gubernur

Aulia Pohan Deputi Gubernur

Syahril Sabirin Gubernur

Achwan Deputi Gubernur

Anwar Nasution Deputi Gubernur Senior

Achjar Iljas Deputi Gubernur

Burhanuddin Abdullah Deputi Gubernur

xi

GUBERNUR BANK INDONESIA

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2000 tersaji ke hadapan pembaca. Sebagaimana dalam tiap tahun sebelumnya, Laporan Tahunan Bank Indonesia merupakan salah satu wujud akuntabilitas Bank Indonesia dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Laporan ini juga menguraikan berbagai perkembangan penting dalam perekonomian Indonesia serta berbagai faktor yang mempengaruhinya selama tahun laporan. Di samping itu, prospek dan arah kebijakan ke depan merupakan bagian yang penting pula dari Laporan Tahunan Bank Indonesia ini. Laporan Tahunan Bank Indonesia untuk periode laporan tahun 2000 ini memiliki nuansa khusus karena tahun 2000 merupakan tahun-penuh bagi Bank Indonesia bekerja berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Sebagaimana diketahui, Undang-undang ini telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi pelaksanaan tugas Bank Indonesia yang terfokus ke arah kestabilan nilai rupiah dengan diperkuat oleh elemen independensi dan akuntabilitas secara seimbang. Sebagai wujud dari pelaksanaan tugasnya tersebut, pada awal tahun 2000 Bank Indonesia telah mengumumkan sasaran inflasi yang hendak dicapai dalam tahun 2000, yakni antara 3,0% sampai 5,0%, di luar dampak kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Hal ini dilakukan mengingat karakteristik inflasi di Indonesia yang juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar moneter, seperti halnya kebijakan Pemerintah mengenai administered prices – yaitu harga barang-barang dan jasa-jasa yang ditentukan oleh Pemerintah – dan gaji pegawai negeri maupun perkembangan di sisi penawaran. Untuk ini Bank Indonesia telah pula mengeluarkan prakiraan mengenai dampak dari rencana kebijakan Pemerintah tersebut selama tahun laporan. Dari sisi operasional pencapaian sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia telah mengumumkan besaran pertumbuhan uang primer yang akan dijadikan acuan dalam tahun laporan. Rencana pertumbuhan uang primer ini dibuat dengan memperhitungkan berbagai asumsi penting yang mempengaruhinya seperti laju pertumbuhan ekonomi, perkembangan nilai tukar, maupun

xii

perkembangan keuangan Pemerintah. Di samping itu terdapat juga satu asumsi yang mensyaratkan adanya kestabilan sosial politik yang sangat penting bagi pemulihan kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Di awal tahun berbagai asumsi ini dirasakan cukup realistis mengingat tingkat perkembangan harga yang sangat rendah dalam tahun 1999, pertumbuhan ekonomi yang masih memiliki ruang gerak yang lebih tinggi karena baru bertumpu pada sektor konsumsi serta tersiratnya nuansa optimisme terhadap kondisi sosial politik sehubungan dengan terpilihnya Pemerintah yang baru. Sementara itu laju pertumbuhan perekonomian dunia yang tinggi memberikan peluang akan membaiknya kinerja sektor eksternal Indonesia. Perkembangan selama tahun 2000 menunjukkan terjadinya beberapa perubahan asumsi yang cukup signifikan. Terdapat perubahan asumsi yang menggembirakan seperti laju pertumbuhan ekonomi yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal. Namun ada juga perubahan asumsi yang kurang menggembirakan seperti tekanan inflasi yang meningkat, nilai tukar rupiah yang melemah dan kondisi sosial politik yang kurang menguntungkan untuk perekonomian. Dalam kondisi ini, Bank Indonesia dituntut untuk melakukan respon kebijakan moneter yang bersifat memaksimalkan perkembangan yang positif sementara menekan seminimal mungkin risiko yang ada. Kita patut bersyukur bahwa dalam tahun 2000 laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai cukup tinggi, yang ditunjang pula oleh perbaikan kinerja ekspor dan investasi. Bagi Indonesia yang sedang berusaha memulihkan diri dari krisis, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ini menunjukkan percepatan pemulihan yang sangat dibutuhkan dalam melangkah lebih jauh kedepan, dan oleh karenanya sangat mahal bagi Indonesia kalau proses pemulihan ini berjalan mundur. Di samping itu tentunya merupakan harapan kita bahwa pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ini dapat disertai dengan "economic cost" –dalam hal ini laju inflasi– yang minimal agar pemulihan ekonomi dapat berkesinambungan. Pilihan yang ditempuh Bank Indonesia dalam tahun 2000 oleh karenanya merupakan pilihan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias). Ini berarti kebijakan moneter diarahkan guna menyerap kelebihan likuiditas agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis dan berlebihan. Kenaikan suku bunga yang drastis dan berlebihan dikhawatirkan akan mengancam kelangsungan proses restrukturisasi utang dan perbankan yang sedang berjalan serta kesinambungan keuangan Pemerintah, yang pada akhirnya dapat mengancam pemulihan perekonomian yang telah dengan susah payah kita usahakan. Untuk itu Bank Indonesia telah berupaya semaksimal mungkin melakukan kebijakan moneter yang mendorong kearah itu. Namun harus diakui pula bahwa dalam pelaksanannya, upaya ini menghadapi permasalahan yang menyebabkan Bank Indonesia selaku otoritas moneter dihadapkan pada dilema.

xiii

Tekanan inflasi dan gejolak nilai tukar yang telah terasa sejak pertengahan tahun, yang menjadi dasar asumsi sasaran inflasi, membuat Bank Indonesia harus berupaya agar tekanan tersebut tidak menjadi persisten dan dapat menimbulkan ekspektasi inflasi yang tinggi. Namun di sisi lain harus pula diakui bahwa upaya ini tidaklah mudah. Upaya pengetatan yang berlebihan dapat menjadi kontra produktif terhadap pemulihan perekonomian. Disamping itu kondisi perbankan yang masih mengalami konsolidasi menyebabkan transmisi moneter menjadi terganggu dan mengharuskan kehati-hatian yang lebih tinggi dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Dalam upaya pengendalian uang primer, permasalahan menjadi bertambah kompleks dengan terjadinya penyimpangan yang diamati dalam perilaku masyarakat dalam memegang uang kartal. Uang kartal merupakan komponen penting dari uang primer yang merupakan sasaran indikatif Bank Indonesia yang selalu diamati dari waktu ke waktu. Selama tahun 2000, uang kartal mengalami peningkatan yang menonjol yang menyebabkan uang primer sulit dikendalikan ke level sasaran indikatif. Terdapat beberapa penyebab yang dapat menjelaskan tingginya uang kartal tersebut yakni kebutuhan uang kartal yang meninggi karena pertumbuhan perekonomian yang lebih cepat, inflasi dan ekspektasi inflasi yang tinggi, serta suku bunga riil yang rendah yang membuat daya tarik penyimpanan dana di bank menjadi kurang menarik, dan berdekatannya beberapa hari besar menjelang akhir tahun. Permasalahan yang dihadapi transmisi moneter sehubungan dengan belum pulihnya intermediasi perbankan hanya merupakan salah satu saja dari permasalahan yang terkait dengan penyehatan perbankan nasional. Terlebih dari itu, penyehatan perbankan merupakan kunci dari kebangkitan kembali perekonomian nasional secara keseluruhan. Dalam tahun laporan ini berbagai langkah dan upaya telah dilakukan yang pada intinya meneruskan dan memantapkan berbagai upaya penyehatan perbankan yang dilakukan bersamasama dengan lembaga lainnya seperti BPPN. Perkembangan yang menggembirakan dalam restrukturisasi kredit diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pemulihan dunia usaha di samping membantu penyehatan perbankan itu sendiri. Di samping itu, tuntasnya proses rekapitalisasi perbankan nasional merupakan langkah penting dalam tahun laporan. Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai penyempurnaan ketentuan perbankan yang intinya diarahkan bagi peningkatan praktek perbankan yang sehat. Langkah ini telah dibarengi pula dengan upaya pemantapan pengawasan bank dan peningkatan mutu pengelolaan bank. Kesemuanya ini diarahkan kepada peningkatan daya tahan bank, pada tiap skala usahanya, yang sehat sebagai modal penting bagi perekonomian yang berkesinambungan (sustainable).

xiv

Di tengah berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia di atas, masih terdapat beberapa permasalahan yang mengganggu yang terkait dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia di masa lalu, khususnya dalam upaya Bank Indonesia, dan Pemerintah pada waktu itu, merespon krisis yang dihadapi. Permasalahan BLBI sempat berlarut-larut dan mengganggu konsentrasi manajemen Bank Indonesia. Untuk ini, penyelesaian BLBI yang telah disepakati antara Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat menjadi modal dasar agar masalah BLBI ini tidak terus membebani. Permasalahan lainnya yang menonjol adalah permasalahan sekitar pelaksanaan Undang-undang No. 23 Tahun 1999 yang masih belum dapat berjalan mulus sebagaimana diharapkan, khususnya menyangkut aspek independensi. Menjelang akhir tahun 2000, masalah bahkan mengkristal dengan mencuatnya gagasan untuk melakukan amandemen terhadap undang-undang yang belum berumur dua tahun ini. Munculnya permasalahan ini telah pula menyita perhatian dan sumber daya Bank Indonesia yang tidak sedikit selama tahun 2000. Memandang ke tahun 2001 harus diakui bahwa permasalahan yang akan diahadapi merupakan permasalahan yang kompleks dan saling terkait. Namun berbagai pengalaman dan pelajaran yang dapat ditarik selama pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam tahun 2000 akan merupakan dasar yang sangat berharga dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia di masa yang akan datang. Kesemuanya ini dilakukan untuk melaksanakan tugas-tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral yang tidak hanya independen tetapi juga accountable. Untuk ini Bank Indonesia akan bekerja keras untuk mencapai sasaran laju inflasi tahun 2001, yakni 4,0–6,0% di luar dampak kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan, yang diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 9 Januari 2001. Dalam konteks ke depan (forward looking), adalah sangat penting untuk mencapai sasaran inflasi tersebut untuk menekan tingkat ekspektasi inflasi masyarakat. Komitmen Bank Indonesia adalah bahwa berbagai upaya tersebut dilakukan semata-mata demi kepentingan nasional. Dalam hal ini saya juga melihat bahwa akuntabilitas Bank Indonesia haruslah dilihat terhadap suatu kerangka kerja yang ditempuh oleh Bank Indonesia. Ini juga berarti akuntabilitas terhadap keseluruhan rangkaian mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan proses evaluasi. Upaya ini telah dimulai dari penetapan sasaran inflasi yang diikuti dengan melakukan pemantauan secara mendalam terhadap perkembangan besaran moneter, dalam hal ini uang primer, yang terkait dengan perkembangan perekonomian. Bank Indonesia telah pula melaksanakan Rapat Dewan Gubernur bulanan dan triwulanan yang hasilnya diumumkan kepada masyarakat. Laporan triwulanan kami sampaikan secara periodik kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

xv

Besar harapan kami bahwa berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia tersebut, termasuk kendala dan permasalahan yang dihadapi, dapat diterima disebagai perwujudan akuntabilitas Bank Indonesia. Tidak dapat dipungkiri masih terdapat kekurangan yang dimiliki Bank Indonesia dalam pelaksanaan tugasnya. Sebagian kekurangan tersebut bersifat internal dan untuk ini telah dilakukan evaluasi dan Bank Indonesia bertekad untuk terus memperbaiki diri. Namun disadari bahwa sebagian kekurangan tersebut juga terkait dengan kondisi di luar Bank Indonesia. Oleh karena itu kami mengharapkan dukungan dari berbagai pihak agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia dapat berjalan baik. Terhadap kekurangan dan kemajuan yang diperoleh, Bank Indonesia tidak akan berhenti sampai di situ saja dan akan berupaya terus memantapkannya. Untuk ini berbagai saran dan kritik yang konstruktif sangatlah diharapkan agar kualitas pelaksanaan tugas Bank Indonesia dapat lebih ditingkatkan di masa yang akan datang. Akhir kata, saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada seluruh Pimpinan dan Staf Bank Indonesia yang selama tahun 2000 ini, ditengah berbagai badai dan cobaan, telah tetap bersabar dan bekerja secara profesional dalam mengemban amanat Undangundang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Kepada pembaca saya harapkan kiranya Laporan Tahunan Bank Indonesia ini dapat menjadi referensi yang berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah selalu melimpahkan ridhaNya dan memberikan kemudahan kepada kita semua dalam upaya kita melangkah kedepan. Jakarta, Februari 2001 BANK INDONESIA GUBERNUR

Syahril Sabirin

xvi

Bab 1

Tinjauan Umum

bab Bab 1 Tinjauan Umum

1

Tinjauan Umum

M

emasuki awal tahun 2000, perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansa optimisme yang cukup tinggi.

meningkatkan kegiatan usaha mereka, baik untuk memenuhi konsumsi domestik maupun ekspor. Beberapa kemajuan juga dicapai dalam proses restrukturisasi perbankan, penjadwalan kembali utang luar negeri pemerintah, serta penyelesaian masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Namun demikian, sejumlah permasalahan mendasar dan faktor ketidakpastian masih berlanjut dan menjadi kendala bagi proses pemulihan ekonomi secara lebih cepat dan berkelanjutan. Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang mengalami krisis serupa, proses pemulihan ekonomi di Indonesia juga relatif lebih lambat. Secara mikro, masih banyaknya kendala yang membatasi percepatan investasi swasta menimbulkan kekhawatiran akan kesinambungan pemulihan ekonomi dalam jangka menengah. Ekspansi kredit perbankan masih relatif terbatas meskipun secara umum kondisi perbankan telah membaik. Kemajuan dalam proses restrukturisasi utang perusahaan dan utang luar negeri swasta juga belum secepat yang diharapkan. Besar nya beban pengeluaran pemerintah, terutama untuk pembayaran bunga utang dan subsidi, mengakibatkan terbatasnya stimulus fiskal untuk mendorong pemulihan ekonomi dan kekhawatiran akan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah panjang. Nuansa optimisme yang tinggi di awal tahun mengenai akan terjadinya perbaikan di bidang politik, keamanan, dan hukum di dalam negeri ternyata juga belum dapat terwujud. Dengan berbagai permasalahan mendasar dan faktor ketidakpastian tersebut, proses pemulihan ekonomi selama tahun 2000 telah dibarengi dengan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan laju inflasi. Nilai tukar rupiah cenderung melemah dan bergejolak sejak bulan Mei 2000 sejalan dengan memanasnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri, di samping tekanan yang muncul dari kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Sementara itu, tekanan terhadap laju inflasi semakin

Tanda-tanda awal dari proses pemulihan ekonomi telah mulai nampak sejak triwulan III tahun 1999. Stabilitas moneter juga terkendali, sebagaimana tercermin dari pencapaian tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar yang menguat hingga akhir tahun 1999. Kondisi sosial-politik dan keamanan pada waktu itu sudah membaik, dengan proses pelaksanaan pemilihan pimpinan nasional yang dinilai berjalan lancar dan demokratis. Berbagai perkembangan yang menggembirakan tersebut telah memungkinkan terjadinya penurunan suku bunga lebih lanjut hingga akhir tahun 1999 dan menggairahkan pasar modal sehingga proses pemulihan ekonomi mendapatkan momentumnya kembali. Dengan sejumlah perkembangan yang positif tersebut dan memperhatikan kondisi fundamental ekonomi terutama tingkat penggunaan kapasitas produksi nasional yang masih rendah serta perekonomian dunia yang kondusif, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 3,0%–4,0% pada tahun 2000. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 3,0%– 5,0%. Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan tersebut diprakirakan dapat menimbulkan kenaikan laju inflasi sekitar 2,0% diatas sasaran tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi tersebut, pertumbuhan uang primer ditetapkan sebesar 8,3% dari posisi target akhir tahun 1999. Dalam perkembangannya, pada tahun 2000 beberapa indikator menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi nampak semakin menguat. Pertumbuhan ekonomi meningkat lebih tinggi dari yang diprakirakan semula menjadi 4,8%. Beberapa faktor seperti membaiknya permintaan domestik, masih kompetitifnya nilai tukar rupiah, serta situasi ekonomi dunia yang membaik, telah memungkinkan sejumlah sektor ekonomi, termasuk sektor usaha kecil dan menengah (UKM),

2

Bab 1 Tinjauan Umum

meningkat sehubungan dengan relatif lambatnya sisi penawaran dalam mengimbangi kenaikan sisi permintaan akibat berbagai permasalahan struktural ekonomi yang masih ada. Tekanan inflasi juga muncul sebagai dampak dari kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, serta melemahnya nilai tukar rupiah. Berbagai perkembangan tersebut menyebabkan inflasi melampaui sasaran yang ditetapkan pada awal tahun. Kondisi ekonomi dan inflasi seperti yang digambarkan di atas telah menyebabkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam tahun 2000 menjadi lebih sulit dan dilematis. Di satu sisi, meningkatnya tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah menuntut Bank Indonesia untuk melakukan pengetatan di bidang moneter. Akan tetapi, di sisi lain pengetatan moneter ini tidak dapat dilakukan secara drastis dan berlebihan karena akan mengancam kelangsungan proses penyehatan perbankan dan restrukturisasi perusahaan yang masih rentan. Kegagalan dalam bidangbidang tersebut pada gilirannya dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan publik terhadap prospek pemulihan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini dapat menjadi pemicu bagi kembalinya lingkaran depresiasi nilai tukar dan kenaikan laju inflasi (depreciation–inflation spiral) seperti yang terjadi pada puncak krisis ekonomi yang lalu. Dalam menyikapi perkembangan inflasi, nilai tukar dan ekonomi seperti di atas, Bank Indonesia memilih untuk menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias), terutama sejak Mei 2000. Artinya, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas dalam perekonomian agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis dan berlebihan. Sasaran moneter yang ditetapkan pada awal tahun perlu disesuaikan dengan perkembangan perekonomian yang ternyata lebih cepat dari yang diasumsikan semula. Upaya di bidang moneter ini telah dibarengi dengan kebijakan perbankan yang tetap difokuskan pada upaya memperlancar program penyehatan lembaga perbankan dan program peningkatan ketahanan industri perbankan di masa depan. Di bidang sistem pembayaran, berbagai upaya penyempurnaan

terus dilakukan untuk menciptakan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal guna mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter serta mendorong upaya penciptaan sistem perbankan yang sehat. Ke depan, Bank Indonesia berpendapat bahwa proses pemulihan ekonomi tahun 2001 akan tetap berlangsung. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan dapat mencapai 4,5%–5,5% dengan sumber pertumbuhan berasal dari masih relatif baiknya kinerja ekspor dan meningkatnya investasi. Optimisme ini didasarkan kepada asumsi akan semakin cepatnya proses reformasi dan restrukturisasi ekonomi Indonesia di berbagai bidang, khususnya restrukturisasi utang perusahaan dan semakin pulihnya intermediasi perbankan. Di samping itu, proses alokasi dan penggunaan sumber daya secara lebih efisien diperkirakan akan terus berlanjut dengan dukungan daya saing rupiah yang kompetitif dan perkembangan ekonomi dunia yang diprakirakan tetap kondusif dalam tahun 2001. Secara keseluruhan, apabila kondisi sosial-politik dan keamanan di dalam negeri semakin membaik, Bank Indonesia memandang kecenderungan perbaikan ekonomi dalam negeri akan mendapatkan momentum yang lebih kuat. Dengan memperhatikan perkembangan dan prospek makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, dampak kebijakan Pemerintah Pusat di bidang harga dan pendapatan diprakirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju inflasi sekitar 2,0%–2,5% di atas sasaran tersebut. Untuk mencapai sasaran laju inflasi tersebut, Bank Indonesia akan mengendalikan pertumbuhan uang primer agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menetapkan sasaran pertumbuhan uang primer hingga akhir tahun 2001 sebesar 11,0%–12,0%. Sasaran pertumbuhan ini dihitung berdasarkan perkembangan uang primer bulan Desember 2000, dengan melakukan koreksi atas unsur musiman yang cukup signifikan pada bulan tersebut.

3

Bab 1 Tinjauan Umum

Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, Bank Indonesia memandang perlu untuk sementara waktu mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan harga-harga dan nilai tukar rupiah dengan tetap mengupayakan pencapaian sasaran inflasi guna mendukung proses pemulihan ekonomi yang berkesinambungan. Sementara itu, di bidang perbankan, kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan pada upaya untuk memelihara hasil dari program restrukturisasi perbankan serta untuk memperbaiki fungsi intermediasi bank, dengan tetap mengacu kepada asas kehati-hatian dalam pengelolaan perbankan nasional. Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter dan mempercepat pemulihan sektor perbankan, kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan pelaksanaan sistem pembayaran nasional yang efisien, akurat, aman, dan handal melalui peningkatan mutu pelayanan jasa sistem pembayaran.

Berbeda dengan tahun 1999 yang hanya didorong oleh pengeluaran konsumsi, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 menjadi lebih seimbang. Dengan didukung oleh nilai tukar yang kompetitif, ekspor nonmigas menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kegiatan investasi mulai meningkat. Peningkatan ini antara lain didorong oleh mulai tersedianya pembiayaan dari sisi perbankan di samping tetap besarnya penggunaan dana sendiri (self financing). Tingkat penggunaan kapasitas pada beberapa sektor produksi bahkan telah mencapai tingkat yang tinggi guna memenuhi konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Sementara itu, pengeluaran konsumsi juga tetap meningkat sejalan dengan perbaikan tingkat pendapatan pada sebagian lapisan masyarakat, baik yang berasal dari upah/gaji maupun ekspor. Sumbangan ekspor, investasi, dan konsumsi terhadap pertumbuhan PDB pada tahun 2000 masing-masing mencapai 3,9%, 3,6%, dan 3,1%. Kuatnya kinerja ekspor dan peran investasi yang meningkat dalam pembentukan PDB mengindikasikan semakin mantapnya proses pemulihan ekonomi yang terjadi. Di sisi penawaran, semua sektor dalam perekonomian

Evaluasi Perekonomian Indonesia tahun 2000 Kondisi Makroekonomi Secara keseluruhan, selama tahun 2000 perekonomian Indonesia menunjukkan pemulihan ekonomi yang semakin kuat dengan pola pertumbuhan ekonomi yang semakin seimbang. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun 2000 mencapai 4,8%, lebih tinggi dari prakiraan awal tahun Bank Indonesia sebesar 3,0%–4,0%. Sejumlah kemajuan juga dicapai dalam proses penyelesaian utang luar negeri pemerintah, telah selesainya program rekapitalisasi perbankan, serta telah dicapainya kesepakatan dalam penyelesaian masalah BLBI antara Pemerintah dan Bank Indonesia. Namun demikian, kecepatan proses pemulihan ekonomi tersebut dibatasi dengan masih berlanjutnya beberapa permasalahan mendasar dalam perekonomian, terutama berkaitan dengan lambatnya restrukturisasi utang perusahaan, belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan, dan relatif terbatasnya stimulus fiskal bagi pertumbuhan ekonomi.

mencatat pertumbuhan positif. Dengan dorongan permintaan baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor pengangkutan menjadi motor pertumbuhan dengan sumbangan terhadap pertumbuhan PDB masing masing sebesar 1,6%, 0,9%, dan 0,7%. Sektor industri pengolahan pada tahun 2000 mencatat pertumbuhan sebesar 6,2%, sementara sektor perdagangan serta sektor pengangkutan masing-masing meningkat sebesar 5,7% dan 9,4% (Tabel 1.1). Di sektor eksternal, kinerja neraca pembayaran pada tahun 2000 tetap menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Perkembangan transaksi berjalan sepanjang tahun 2000 bahkan mencatat surplus yang cukup besar yakni mencapai $7,7 miliar (5,0% dari PDB), atau meningkat $1,9 miliar dari tahun sebelumnya. Surplus dalam transaksi berjalan ini tidak hanya didorong oleh membaiknya neraca perdagangan migas, namun juga didorong oleh membaiknya kinerja ekspor nonmigas, khususnya dari sektor barang industri dengan komoditi utama barang elektronik

4

Bab 1 Tinjauan Umum

ekonomi Indonesia. Dengan perkembangan tersebut, neraca
Tabel 1.1 Beberapa Indikator Makroekonomi Rincian 1998 1999 2000

pembayaran Indonesia secara keseluruhan mengalami surplus sebesar $5,0 miliar. Posisi cadangan devisa bruto pada akhir
Pertumbuhan tahunan (%)
–13,1 0,8* 4,8**

Desember 2000 meningkat menjadi $29,3 miliar, atau setara dengan 6,3 bulan nilai impor dan pembayaran cicilan

Produk Domestik Bruto Riil (a.d. tahun dasar 1993) Menurut pengeluaran Konsumsi Pembentukan modal tetap domestik bruto Ekspor barang dan jasa Impor barang dan jasa Menurut lapangan usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa Moneter Uang Primer M2 M1 Uang Kuasi Suku Bunga (%) SBI 1 bulan PUAB overnight Deposito 1bulan Kredit modal kerja Kredit Investasi Inflasi Neraca Pembayaran Transaksi berjalan/PDB (%) Debt service ratio (DSR) (%) Cadangan devisa setara impor nonmigas dan cicilan pinjaman pemerintah (bulan) Nilai Tukar rata-rata (Rp/$)
Sumber : – Badan Pusat Statistik – Bank Indonesia

pinjaman pemerintah. Dalam rangka mengurangi beban pembayaran utang luar negeri pemerintah, pada tahun laporan telah dilakukan

–7,1 –33,0 11,2 –5,3

4,3 –19,4 –31,6 –40,7

3,9 17,9 16,1 18,2

pertemuan Paris Club II pada tanggal 12 dan 13 April 2000. Dalam pertemuan tersebut berhasil disetujui penjadwalan kembali pembayaran utang pokok pemerintah sebesar $5,8 miliar, yaitu pinjaman yang jatuh tempo 1 April 2000 s.d. 31 Maret 2002. Di samping itu, sebagai kelanjutan dari hasil perundingan dalam kerangka London Club, pada bulan September 2000 telah berhasil dijadwalkan kembali pembayaran utang pokok pinjaman komersial yang diterima dari sindikasi bank-bank di luar negeri sebesar $340 ,0 juta.

–1,3 –2,8 –11,4 3,0 –36,4 –18,2 –15,1 –26,6 –3,8

2,7 –2,4 3,8 8,3 –0,8 0,1 –0,8 –7,5 1,9

1,7 2,3 6,2 8,8 6,7 5,7 9,4 4,7 2,2

63,0 62,3 29,2 71,7

35,5 11,9 23,2 9,5

23,4 15,6 30,1 12,1

Dalam pada itu, langkah restrukturisasi utang luar negeri swasta juga dilakukan. Restrukturisasi utang swasta bank yang berhasil dilakukan melalui program exchange offer (EO) mencapai $6,3 miliar. Sementara itu, restrukturisasi utang swasta bukan bank yang berhasil dilakukan melalui Prakarsa Jakarta (Jakarta Initiative Task Force/JITF) sampai dengan tahun 2000 mencapai $9,4 miliar, atau 93,6% dari target sebesar $10 miliar.

38,4 33,4 41,4 34,7 26,2 77,6

12,5 12,1 12,2 20,7 17,8 2,01

14,5 11,4 12,0 17,7 16,9 9,35

Utang swasta bukan bank yang direstrukturisasi melalui JITF terdiri dari utang luar negeri dan dalam negeri. Di sektor fiskal, realisasi defisit operasi keuangan pemerintah dalam tahun 2000 diperkirakan sebesar 3,2% dari

4,2 57,9

4,1 56,8

5,0 44,8

5,7 10.088

6,7 7.850

6,3

PDB, atau lebih rendah dari rencana defisit sebesar 4,8% dari
8.400

PDB. Rasio realisasi penerimaan ter hadap anggaran penerimaan mencapai 127,0%, lebih tinggi dari rasio realisasi pengeluaran terhadap anggaran pengeluaran yang mencapai 113,6%. Defisit anggaran tahun 2000 dibiayai dari penjualan aset

serta sektor pertambangan dengan komoditi utama tembaga dan nikel. Di sisi lain, belum pulihnya arus modal swasta asing mengakibatkan lalu lintas modal masih mengalami defisit sebesar $4,6 miliar. Hal ini terutama berkaitan dengan belum pulihnya kepercayaan internasional akan prospek pemulihan

program restrukturisasi perbankan dan penarikan pinjaman luar negeri. Relatif tingginya total penerimaan pemerintah mengurangi kebutuhan pemerintah akan penarikan pinjaman luar negeri untuk menutup kekurangan pembiayaan anggaran. Penarikan pinjaman luar negeri bersih hanya mencapai 62,0% dari rencana semula. Perkembangan tersebut telah

5

Bab 1 Tinjauan Umum

memungkinkan Pemerintah memperbaiki struktur fiskal yang mengarah lebih berkesinambungan dalam jangka menengahpanjang, meskipun dengan implikasi lebih terbatasnya stimulus fiskal untuk pemulihan ekonomi dalam jangka pendek. Faktor utama yang menyebabkan terlampauinya sasaran penerimaan adalah tingginya harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional selama tahun anggaran 2000 yang mencapai rata-rata $29,1 per barel, lebih tinggi dari asumsi semula sebesar $20,0 per barel. Kenaikan harga migas tersebut juga meningkatkan penerimaan pajak, khususnya pajak penghasilan (PPh) migas yang disetorkan ke Pemerintah. Realisasi tax ratio tahun 2000 mencapai 11,8% dari PDB nominal, lebih tinggi dari sasaran dalam APBN tahun 2000 sebesar 11,1%. Sementara itu, realisasi tax ratio tanpa PPh migas hampir sama dengan sasarannya, yakni sekitar 10,0% dari PDB. Dari sisi pengeluaran, hampir 75,0% dari realisasi pengeluaran pemerintah dialokasikan untuk pengeluaran yang bersifat wajib seperti belanja pegawai, pembayaran bunga utang dan subsidi. Belanja pegawai mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebagai akibat kebijakan pemerintah untuk menaikkan gaji pegawai negeri sebesar 15,0% masing-masing pada bulan April dan Oktober 2000. Peningkatan pembayaran subsidi, khususnya subsidi BBM, merupakan akibat kenaikan harga minyak, depresiasi rupiah, kenaikan impor BBM, serta penundaan pelaksanaan pengurangan subsidi. Sementara itu, peningkatan pembayaran beban utang selain diperuntukkan bagi pembayaran bunga utang luar negeri, juga ditujukan untuk pembayaran bunga obligasi dalam rangka rekapitalisasi perbankan.

piah rata-rata mencapai Rp8.400 per dolar AS, lebih tinggi dari asumsi yang dipergunakan dalam penetapan sasaran inflasi yakni sebesar Rp7.000 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat terutama sejak bulan April 2000 sebagai akibat perkembangan politik dan keamanan menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2000, menguatnya mata uang dolar AS terhadap hampir semua mata uang utama dunia, dan besarnya permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri. Berbagai tekanan terhadap rupiah tersebut telah mengakibatkan kurs rupiah menjadi terlalu rendah (undervalued) dan tidak sesuai dengan perkembangan fundamental perekonomian. Secara umum, kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek pemulihan ekonomi akibat berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang menyebabkan depresiasi rupiah terkait dengan masih terbatasnya pasokan valuta asing di pasar sebagai akibat dari masih rendahnya arus modal masuk swasta dan tidak kembali sepenuhnya hasil devisa ekspor ke dalam negeri, sementara tekanan permintaan valuta asing dari sektor swasta khususnya dalam rangka pelunasan utang luar negeri yang jatuh tempo. Selain itu, sentimen negatif pasar terhadap gejolak politik dan keamanan dalam negeri juga memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dari sisi eksternal, kecenderungan meningkatnya suku bunga internasional dan gejala menguatnya dolar AS dalam skala global serta gejolak nilai tukar regional dalam tahun 2000 telah turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Disamping itu, tingginya gejolak rupiah juga dimungkinkan karena pelaku pasar nonresiden semakin aktif dalam perdagangan rupiah di pasar off-shore sejalan dengan

Nilai Tukar dan Inflasi Seperti telah disinggung sebelumnya, dengan masih berlanjutnya beberapa permasalahan struktural dalam perekonomian dan meningkatnya faktor ketidakpastian di dalam negeri, proses pemulihan ekonomi selama tahun 2000 ternyata dibarengi oleh meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah. Selama tahun 2000, nilai tukar ru-

meningkatnya internasionalisasi rupiah. Dengan likuiditas valuta asing yang sangat terbatas menyebabkan kondisi pasar valuta asing sangat tipis, sehingga adanya tekanan-tekanan kecil di sisi permintaan telah menimbulkan lonjakan-lonjakan yang tajam dalam nilai tukar. Dalam perkembangannya, reaksi pasar cenderung bersifat asimetris, dengan kecenderungan reaksi yang berlebihan terhadap berita negatif.

6

Bab 1 Tinjauan Umum

Akselerasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang diprakirakan juga telah meningkatkan tekanan kenaikan harga terutama sejak pertengahan tahun 2000. Tekanan inflasi muncul karena dorongan permintaan agregat yang tinggi tidak sepenuhnya dapat diimbangi dengan kenaikan sisi penawaran agregat sebagai akibat masih adanya berbagai permasalahan struktural dalam perekonomian. Tekanan inflasi menjadi lebih tinggi lagi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi berbagai subsidi guna mendorong pembentukan harga berdasarkan mekanisme pasar, melemahnya nilai tukar rupiah, serta tingginya ekspektasi inflasi di masyarakat. Berbagai perkembangan tersebut mengakibatkan kecenderungan kenaikan harga-harga menjadi sulit diredam dengan segera karena sifatnya yang menetap (persistent). Adanya tekanan inflasi yang tinggi di tengah-tengah proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan mengakibatkan kebijakan moneter Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi menjadi dilematis. Di satu sisi, upaya menjaga kestabilan moneter membutuhkan langkah-langkah pengetatan moneter agar pembentukan ekspektasi inflasi sedapat mungkin dibendung sejak awal. Namun di sisi lain, upaya pengetatan moneter yang seketika dan berlebihan dapat menumpulkan kembali insiatif-inisiatif dari dunia usaha dan masyarakat pada umumnya untuk melakukan kegiatan usaha. Implementasi kebijakan tersebut menjadi semakin sulit mengingat Bank Indonesia menghadapi keterbatasan dalam mengendalikan permintaan agregat perekonomian sehubungan dengan belum normalnya transmisi kebijakan moneter ke sektor riil. Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan mengakibatkan adanya ekses likuiditas di perbankan, sehingga sinyal kebijakan moneter yang cenderung ketat tidak direspons oleh perbankan dengan peningkatan suku bunga yang sepadan. Dalam kondisi demikian, pengendalian permintaan agregat sebagaimana direncanakan semula memerlukan kenaikan suku bunga yang sangat besar. Namun langkah tersebut dikhawatirkan dapat mengancam proses pemulihan ekonomi secara keseluruhan. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia selama tahun 2000 terus menerus memantau perkembangan harga-harga

di dalam negeri dengan tetap mengupayakan pencapaian sasaran laju inflasi yang menjadi tujuan Bank Indonesia guna mendukung proses pemulihan ekonomi yang berkesinambungan. Dalam perkembangannya, laju inflasi IHK tahun 2000 mencapai 9,35% (y.o.y), lebih tinggi daripada laju inflasi pada tahun 1999 sebesar 2,01%. Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan selama tahun 2000 diperkirakan telah memberikan kontribusi terhadap inflasi sebesar 3,42%, lebih besar dari 2,0% seperti yang diperkirakan semula. Hal ini disebabkan oleh belum teridentifikasikannya sejumlah kebijakan di awal tahun, lebih besarnya sebagian kenaikan tarif daripada yang diperkirakan, dan adanya perubahan pola implementasi kebijakan. Dengan demikian, laju inflasi dalam tahun laporan di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan tersebut diperkirakan sebesar 5,93%. Angka laju inflasi ini masih melampaui sasaran inflasi Bank Indonesia tahun 2000 yang ditetapkan sebesar 3,0%–5,0%.

Kebijakan dan Perkembangan Moneter Meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat terutama sejak bulan Mei 2000. Kebijakan ini ditempuh guna mencapai laju inflasi yang cukup rendah yang memiliki arti penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dengan tetap mempertimbangkan dampaknya secara minimal terhadap proses pemulihan perbankan, penyelesaian utang, dan pemulihan perekonomian yang sedang berlangsung. Pada tahun 2000, penetapan sasaran indikatif uang primer dilakukan dengan memperhitungkan beberapa asumsi besaran perekonomian yaitu sasaran inflasi, pertumbuhan perekonomian, dan nilai tukar. Berkaitan dengan asumsi-asumsi tersebut, Bank Indonesia menetapkan target pertumbuhan uang primer tahun 2000 sebesar 8,3%. Target ini menyiratkan adanya sikap optimis terhadap pulihnya kegiatan ekonomi dengan tetap memperhatikan tekanan-tekanan inflasi yang dapat timbul.

7

Bab 1 Tinjauan Umum

Namun dalam pelaksanaannya, upaya Bank Indonesia dalam menjaga uang primer selama tahun 2000 mengalami beberapa kendala yang terutama berasal dari tidak sesuainya asumsi-asumsi yang mendasari perhitungan target uang primer. Dalam realisasinya PDB tumbuh lebih cepat dari yang diprakirakan, sementara nilai tukar mengalami tekanan depresiasi yang lebih besar daripada prakiraan awal tahun. Perkembangan uang primer cenderung terus meningkat dan berada di atas target indikatif yang ditetapkan awal tahun, terutama sejak bulan Mei 2000. Peningkatan uang primer yang sangat besar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar Rp25,4 triliun dari posisi akhir November 2000 sebesar Rp100,2 triliun. Dengan perkembangan tersebut, posisi uang primer pada akhir Desember 2000 mencapai Rp125,6 triliun, atau 23,4% lebih tinggi daripada posisi akhir tahun sebelumnya. Dilihat dari komponennya, tingginya kenaikan uang primer disebabkan oleh kuatnya permintaan uang kartal. Tingginya permintaan uang kartal selain disebabkan oleh tingginya kegiatan ekonomi dalam tahun 2000 juga dikarenakan kecenderungan menurunnya tingkat suku bunga riil deposito. Hal ini mengingat belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan sehingga sinyal kebijakan moneter tidak direspon secara sepadan oleh perbankan. Di samping itu, tingginya permintaan uang kartal juga disebabkan oleh tindakan berjaga-jaga masyarakat seiring dengan tingginya faktor ketidakpastian selama tahun laporan serta pengaruh faktor musiman yang terutama terjadi pada Desember 2000 sehubungan dengan berlangsungnya sejumlah hari raya keagamaan secara bersamaan, berakhirnya tahun fiskal, serta lebih panjangnya hari libur akhir tahun 2000. Berbagai faktor tersebut menyebabkan posisi uang kartal mencapai Rp72,4 triliun atau tumbuh sebesar 24,0% pada akhir Desember 2000. Sementara itu posisi saldo positif bank pada Bank Indonesia selama tahun 2000 tidak mengalami perubahan yang berarti. Dari faktor yang mempengaruhi uang primer, kenaikan uang primer ini disebabkan oleh ekspansi tagihan bersih kepada Pemerintah (NCG) dan operasi pasar terbuka (OPT) sepanjang tahun 2000. Berkaitan dengan pengendalian uang primer, Bank Indonesia menghadapi dilema khususnya dalam upaya untuk

mengembalikan posisi uang primer ke sasaran indikatif. Dilema tersebut terkait dengan pertanyaan apakah kebijakan moneter akan tetap mengikuti arah seperti direncanakan di awal tahun, ataukah perlu disesuaikan kembali untuk mendukung proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan dengan konsekuensi mengorbankan pencapaian sasaran laju inflasi yang telah ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia memilih menempuh kebijakan moneter yang diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar. Namun demikian upaya menstabilkan kembali laju inflasi dan nilai tukar dilakukan dengan tetap menjaga agar kenaikan suku bunga secara drastis dan berlebihan dapat dihindarkan. Dalam menjalankan kebijakan moneter, Bank Indonesia terutama menggunakan piranti Operasi Pasar Terbuka (OPT) dalam bentuk penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan transaksi intervensi rupiah di pasar uang. Strategi pengendalian moneter melalui OPT tersebut juga dibarengi dengan langkahlangkah untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah yang berlebihan. Langkah kebijakan yang telah ditempuh antara lain adalah operasi sterilisasi di pasar valuta asing guna menyerap ekspansi pengeluaran rupiah pemerintah yang dibiayai dengan dana yang berasal dari luar negeri. Di samping itu, Bank Indonesia juga melakukan pengawasan langsung pada sejumlah bank guna meningkatkan kepatuhan perbankan terhadap ketentuan kehati-hatian yang terkait dengan transaksi valuta asing, serta monitoring terhadap rekening vostro sebagai langkah awal menuju pembatasan transaksi rupiah oleh non-residen. Kebijakan moneter yang cenderung ketat tercermin dari peningkatan suku bunga SBI secara bertahap untuk memberikan sinyal kepada pasar akan perlunya mengurangi tekanan laju inflasi dan melemahnya nilai tukar. Setelah sempat menurun dari 11,48% pada akhir Januari menjadi 10,88% pada bulan Mei, suku bunga SBI 1 bulan kemudian berangsur-angsur meningkat sehingga pada akhir Desember telah mencapai 14,53%. Namun demikian, peningkatan suku bunga SBI tersebut tidak diikuti oleh peningkatan suku bunga deposito secara sepadan sehubungan dengan tingginya

8

Bab 1 Tinjauan Umum

ekses likuiditas bank-bank sebagai akibat belum berjalannya fungsi intermediasi perbankan secara normal. Dengan perkembangan tersebut, suku bunga riil deposito perbankan di tahun 2000 cenderung menunjukkan penurunan dan mencapai 2,56% pada akhir tahun 2000. Penurunan suku bunga deposito ini mencerminkan penurunan opportunity cost memegang uang kartal dan selanjutnya mendorong terjadinya proses penyesuaian portofolio (portfolio adjustment) kearah aset-aset yang lebih likuid di masyarakat. Selama tahun 2000, deposito dan tabungan di perbankan mengalami pertumbuhan yang menurun, sementara uang giral dan uang kartal sebaliknya menunjukkan peningkatan pertumbuhan. Perkembangan ini dengan sendirinya berpengaruh kepada meningkatnya laju pertumbuhan uang primer dan M1 terutama pada akhir periode, sementara laju pertumbuhan M2 mengalami penurunan.

Dengan telah selesainya program rekapitalisasi, maka diharapkan permodalan bank sudah tidak lagi menjadi kendala bagi penyehatan perbankan dan obligasi tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bank dengan cara menjual atau mengagunkannya. Untuk meningkatkan perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder, Pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah, antara lain melalui program pertukaran obligasi pemerintah (bond exchange offer). Program ini dilakukan dengan menawarkan penukaran obligasi rekap yang dimiliki bank (FR 001 dan 003) dengan stapled bonds (FR 006, 007, 008 dan 009) dengan tujuan agar aktivitas perdagangan obligasi pemerintah dapat menjadi lebih menarik bagi investor dan membantu bank-bank rekap dalam pemenuhan kebutuhan likuiditasnya.1) Penyempurnaan ketentuan perbankan ditujukan untuk meningkatkan praktek-praktek perbankan yang berdasarkan

Kebijakan dan Perkembangan Perbankan Dalam tahun 2000, sebagai kelanjutan dari kebijakan tahun sebelumnya, kebijakan perbankan tetap difokuskan pada upaya memperlancar program penyehatan lembaga perbankan dan program peningkatan ketahanan industri perbankan di masa depan. Program penyehatan lembaga perbankan meliputi penjaminan pemerintah bagi bank umum dan BPR, rekapitalisasi perbankan, restrukturisasi kredit perbankan dan pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Sementara itu, upaya meningkatkan ketahanan sistem perbankan difokuskan pada pengembangan infrastruktur perbankan, peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good governance) serta penyempurnaan sistem pengaturan dan pengawasan bank. Berkaitan dengan program rekapitalisasi, Pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyelesaikan program rekapitalisasi perbankan pada 31 Oktober 2000, seiring dengan telah selesainya rekapitalisasi enam bank umum (BNI, BRI, BTN, Bank Niaga, Bank Bali dan Bank Danamon). Jumlah obligasi yang diterbitkan selama tahun 2000 mencapai Rp148,6 triliun, sehingga total obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi perbankan adalah sebesar Rp430,4 triliun.

prinsip kehati-hatian sesuai dengan standar internasional. Penyempurnaan tersebut meliputi fit and proper test, exit policy, BMPK, restrukturisasi kredit, penilaian aktiva produktif, kelembagaan bank umum, pendanaan jangka pendek, perdagangan portofolio obligasi dan bank syariah. Ketentuan exit policy merupakan penyempurnaan kebijakan dalam penanganan bank bermasalah yang lebih transparan dengan menetapkan kriteria bank yang dikategorikan dalam pengawasan khusus dan tindakan-tindakan korektif yang harus diselesaikan dalam periode tertentu dan kriteria bank untuk dialihkan menjadi Bank Dalam Penyehatan di bawah pengawasan BPPN. Dalam rangka pemantapan pengawasan bank, Bank Indonesia telah menyempurnakan sistem pengawasan yang semula terfokus pada compliance based supervision diperluas menjadi pengawasan yang berbasis risiko (risk based supervi-

1) Stapled Bonds adalah suatu paket obligasi yang terdiri dari dua jenis obligasi. Obligasi jenis pertama (FR 006 dan 008) memberikan kupon sesuai dengan yield yang diharapkan pasar (market expected yield) yaitu sebesar 16,5%, sementara obligasi jenis kedua (FR 007 dan 009) memberikan kupon sebesar 10,0%. Meskipun demikian, rata-rata tertimbang kupon dua jenis obligasi tersebut adalah sama dengan kupon obligasi rekap yang dipertukarkan yaitu sebesar 12,5%.

9

Bab 1 Tinjauan Umum

sion) dan berorientasi ke depan yang mengacu pada standar internasional. Dalam kaitan tersebut Bank Indonesia telah menempatkan tenaga pengawas dalam rangka On-site Supervisory Presence pada beberapa bank. Sementara itu, untuk lebih meningkatkan kemampuan tenaga pengawas bank serta penanganan tugas pengawasan khusus (Special Surveilance) telah dilakukan pelatihan-pelatihan dan persiapan untuk pelaksanaan consolidated supervision. Sementara itu, upaya peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good governance) dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi dan integritas bankir melalui pelaksanaan fit and proper test, wawancara terhadap calon pemilik dan pengurus (new entry) serta penunjukan compliance director yang bertanggung jawab atas kepatuhan bank terhadap ketentuan kehati-hatian yang berlaku. Dalam tahun 2000, berbagai kebijakan pokok yang telah ditempuh di atas telah menunjukkan hasil dengan adanya berbagai kemajuan dalam kinerja perbankan nasional. Dengan selesainya program rekapitalisasi perbankan pada akhir Oktober 2000, permodalan bank yang pada tahun 1999 masih negatif telah membaik hingga mencapai Rp53,5 triliun pada Desember 2000 sehingga meningkatkan capital adequacy ratio (CAR) bank. Sementara itu penghimpunan dana bank yang menunjukkan peningkatan sudah mulai diikuti pula dengan peningkatan penyaluran kredit. Hingga Desember 2000, non-performing loans (NPLs) juga telah membaik hingga mencapai 18,8% secara gross atau 5,8% secara netto,2) yang disebabkan oleh pengalihan kredit ber-

Meskipun mencatat perbaikan yang cukup berarti, perbankan masih menghadapi beberapa tantangan seperti belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan secara normal. Hal ini antara lain disebabkan oleh masih tingginya faktor risiko dan ketidakpastian serta proses restrukturisasi kredit yang belum berjalan sepenuhnya. Dengan masih terbatasnya penyaluran kredit, ekses likuiditas yang dialami perbankan lebih banyak ditanamkan pada SBI, antar bank aktiva serta surat-surat berharga lainnya. Hal ini perlu diwaspadai karena tidak dapat menjamin kesinambungan kinerja perbankan di masa mendatang. Berkaitan dengan restrukturisasi kredit perbankan, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh Satgas Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia maupun oleh BPPN. Langkah-langkah penyempurnaan oleh Satgas Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia mencakup upaya untuk meningkatkan koordinasi kelembagaan dengan BPPN dan Prakarsa Jakarta, koordinasi internal Bank Indonesia, serta kemampuan profesional satgas dalam proses mediasi restrukturisasi kredit. Penyempurnaan strategi untuk mempercepat restrukturisasi kredit juga dilakukan oleh BPPN terutama dengan pengelompokkan kredit berdasarkan prospek usaha dan potensi pengembaliannya, itikad debitur, dan pemberian sanksi bagi debitur tidak kooperatif dan insentif bagi debitur kooperatif. Di samping itu, untuk mempercepat restrukturisasi kredit di bawah Rp5 miliar, BPPN memberikan insentif dalam bentuk diskon bunga (25,0%–50,0%), diskon denda (100,0%), dan penjualan kredit. Dalam perkembangannya, sampai dengan Desember 2000, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi baik oleh bank sendiri atau melalui fasilitasi Satgas Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia telah mencapai Rp59,9 triliun atau sekitar 71,0% dari total NPLs. Sementara itu, restrukturisasi kredit oleh BPPN yang mencapai tahap implementasi proposal dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) restrukturisasi baru sebesar 28,3% dari total kredit sebesar Rp286,3 triliun. Sehubungan dengan itu, percepatan proses restrukturisasi kredit khususnya yang dilakukan oleh BPPN akan menjadi salah satu

masalah ke BPPN, restrukturisasi kredit dan penyaluran kredit baru. Dalam pada itu net interest margin (NIM) yang negatif pada tahun 1999 telah membaik menjadi positif sebesar Rp22,8 triliun sejalan dengan positive spread yang didukung juga dengan relatif stabilnya suku bunga dana. Perbaikan CAR, peningkatan penghimpunan dana dan penyaluran kredit, perbaikan NPLs, dan NIM yang positif diharapkan akan terus berlanjut pada tahun 2001.
2) Dalam praktek internasional, NPL dihitung secara netto artinya dengan memperhitungkan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) yang dibentuk

faktor pendorong pulihnya kondisi perbankan dan pesatnya kegiatan investasi pada periode mendatang.

10

Bab 1 Tinjauan Umum

Sementara itu, dengan dialihkannya pengelolaan kredit likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dalam rangka kredit program kepada Pemerintah, kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami perubahan yang mendasar. Kebijakan Bank Indonesia selanjutnya diarahkan pada peningkatan bantuan teknis kepada usaha kecil dan mikro, mendorong diversifikasi portofolio perbankan kearah peningkatan pangsa kredit untuk usaha kecil dan mikro, serta memfasilitasi pengembangan Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE). Di kelompok lembaga keuangan lainnya, sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang semakin kondusif dalam tahun laporan, kinerja perusahaan pembiayaan tampak membaik. Sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, penyaluran dana perusahaan pembiayaan menunjukkan perkembangan sedikit lebih baik daripada tahun sebelumnya. Sementara itu, masih lambatnya proses penyaluran kredit perbankan, telah memberikan peluang kepada pegadaian untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan kepada masyarakat, khususnya untuk jangka waktu pendek.

masyarakat akan uang kartal dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Kenaikan kebutuhan uang kartal tersebut, selain disebabkan oleh peningkatan kegiatan ekonomi, juga untuk kebutuhan berjaga-jaga khususnya menghadapi tanggaltanggal kritis di tahun 2000, dan kebutuhan untuk merayakan hari-hari besar keagamaan. Posisi UYD sepanjang tahun 2000 cenderung meningkat. Posisi UYD akhir Desember 2000 mencapai Rp89,7triliun, meningkat 23,6% dibandingkan dengan posisi UYD akhir Desember tahun 1999 yang hanya sebesar Rp72,6 triliun. Besarnya kenaikan UYD terutama disebabkan adanya penarikan yang cukup besar dari masyarakat dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan, Hari Natal dan Hari Raya Idul Fitri yang waktunya hampir bersamaan pada bulan November dan Desember 2000. Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam sepanjang tahun 2000 tidak banyak mengalami perubahan, dengan pangsa masing-masing jenis uang sebesar 98,5% dan 1,5%. Sementara itu, dilihat dari pecahannya, posisi UYD di tahun 2000 didominasi oleh pecahan Rp100.000,00 dan Rp50.000,00 yang pangsa keduanya mencapai 58,5% dari total UYD. Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup,

Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Sepanjang tahun 2000 Bank Indonesia masih terus melakukan berbagai upaya penyempurnaan untuk menciptakan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal guna mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter serta mendorong upaya penciptaan sistem perbankan yang sehat. Secara garis besar, kebijakan sistem pembayaran terdiri dari kebijakan pengedaran uang dan peningkatan pelayanan jasa Bank Indonesia di bidang lalu lintas pembayaran. Di bidang pengedaran uang, dalam lingkup pembayaran tunai Bank Indonesia berusaha mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap uang kertas dan uang logam untuk keperluan pembayaran serta menjaga agar uang yang diedarkan (UYD) oleh Bank Indonesia berada dalam kondisi layak edar. Pada tahun 2000, Bank Indonesia meningkatkan penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan kebutuhan

Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang beredar di masyarakat selalu baik dengan cara melakukan kebijakan pemusnahan uang yang sudah tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) serta mengganti uang yang dimusnahkan tersebut. Sementara itu, dalam rangka menanggulangi peningkatan uang palsu yang cukup meningkat dalam tahun 2000 ini, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif dan represif. Beberapa langkah preventif antara lain dengan mencabut dan menarik dari peredaran uang kertas yang banyak dipalsukan yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi 1993/95 (seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri Cendrawasih), dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri Hamengkubuwono IX). Di samping itu, Bank Indonesia menyebarluaskan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui media cetak, papan pengumuman, serta kegiatan penataran. Hal lain dilakukan

11

Bab 1 Tinjauan Umum

dengan meningkatkan koordinasi bersama unsur-unsur terkait. Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang Rupiah. Di bidang lalu lintas pembayaran, kebijakan dalam lingkup pembayaran bukan tunai mencakup penerusan langkah-langkah pengembangan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS), memantapkan tindakan dalam menghadapi masalah komputer tahun (MKT) 2000, penyempurnaan berbagai peraturan dan ketentuan lalu lintas pembayaran dan kliring, serta peningkatan keamanan semua komponen infrastruktur jaringan komputer Bank Indonesia (BI-Net) dalam rangka implementasi RTGS dengan melakukan audit terhadap BI-Net. Dalam tahun laporan, transaksi menggunakan alat pembayaran bukan tunai juga meningkat cukup tajam, baik yang berbasis warkat maupun yang menggunakan kartu elektronik. Sampai akhir tahun 2000, nominal kliring penyerahan secara nasional menunjukkan peningkatan sebesar 41,7% dari tahun 1999, sedangkan volume warkat kliring penyerahan mengalami penurunan sebesar 7,9 %. Peningkatan nominal kliring penyerahan yang cukup besar terjadi pada triwulan IV/ 2000, terutama berkaitan dengan adanya serangkaian perayaan hari besar keagamaan pada penghujung tahun 2000. Sementara itu, penurunan volume warkat kliring penyerahan yang terjadi pada triwulan IV/2000 dapat menjadi indikasi awal bahwa implementasi BI-RTGS sangat diminati oleh kalangan perbankan nasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan kecenderungan beralihnya aktivitas kliring nilai besar pada wilayah kliring Jakarta, dari Otomasi Kliring Jakarta (OKJ) dan Sistem Kliring Elektronis Jakarta (SKEJ) ke BI-RTGS.

indicator) yang dilakukan Bank Indonesia. Dari sisi eksternal, perekonomian global diprakirakan masih mengalami perkembangan yang positif yaitu sebesar 4,2%, atau sedikit lebih rendah dibanding tahun 2000 sebesar 4,7%. Penurunan pertumbuhan terutama akan terjadi di negara-negara Amerika Utara dan sebagian negara di kawasan Eropa. Namun berbagai negara terutama Jepang diprakirakan mengalami pertumbuhan yang meningkat sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap iklim investasi dan ekspor Indonesia melalui berbagai anak perusahaan dan perusahaan patungan yang beroperasi di Indonesia. Sejalan dengan kegiatan ekonomi dunia yang sedikit menurun dan harga minyak yang masih tinggi, volume perdagangan dunia akan tumbuh meskipun melambat. Inflasi di negara-negara industri juga diprakirakan akan mengalami penurunan di tahun 2001, sementara suku bunga internasional diperkirakan relatif tetap sehingga mendorong adanya aliran dana ke negara-negara berkembang (emerging markets) termasuk negara-negara yang terkena krisis seiring dengan membaiknya credit rating. Dengan mempertimbangkan kondisi eksternal di atas dan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8% di tahun 2000, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2001 diprakirakan dapat mencapai sekitar 4,5%–5,5%. Pertumbuhan moderat tersebut sebagai kelanjutan dari proses pemulihan yang terus berlangsung. Dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi diprakirakan mencatat pertumbuhan positif di tahun 2001 dengan sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor bangunan akan tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, pendorong utama pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan bersumber dari kegiatan ekspor dan investasi. Dorongan untuk meningkatkan utilisasi kapasitas produksi ataupun penambahan kapasitas yang telah

Prospek Ekonomi Dan Arah Kebijakan Tahun 2001 Kondisi Makroekonomi Prospek perekonomian Indonesia tahun 2001 diprakirakan akan membaik sejalan dengan berbagai perkembangan positif baik dari sisi eksternal maupun internal. Hal ini diindikasikan dari hasil survey maupun Indikator Dini Ekonomi (leading economic

ada untuk kebutuhan domestik maupun ekspor diperkirakan memperoleh momentum yang lebih kuat seperti adanya suku bunga riil yang masih relatif rendah dan fungsi intermediasi perbankan yang diperkirakan terus membaik. Sementara itu, seiring dengan meningkatnya investasi dan masih relatif baiknya pertumbuhan ekspor, impor juga

12

Bab 1 Tinjauan Umum

diprakirakan akan meningkat khususnya impor bahan baku dan barang modal. Dengan perkembangan tersebut surplus transaksi berjalan diprakirakan akan sedikit menurun menjadi sekitar 2,0%– 4,0% dari PDB. Namun, secara keseluruhan kinerja neraca pembayaran Indonesia diharapkan masih akan tetap terpelihara. Sementara itu, beban pembayaran utang luar negeri diperkirakan akan mulai berkurang di tahun 2001 terutama utang luar negeri swasta sejalan dengan kemajuan yang dicapai dalam restrukturisasi utang luar negeri swasta. Dengan perkembangan tersebut, kondisi defisit neraca modal diperkirakan akan semakin mengecil dibandingkan periode tahun sebelumnya.

meningkatnya penggunaan kapasitas produksi dan cukup kuatnya sisi permintaan. Di sisi lain, rencana Pemerintah untuk meningkatkan harga BBM, harga dasar gabah, cukai rokok, gaji PNS dan UMR diprakirakan juga akan memberikan dampak pada inflasi. Selain itu, mulai diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001 dikhawatirkan akan dapat memacu laju inflasi, terutama apabila daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan pungutan, retribusi, ataupun pajak daerah. Oleh karena itu, upaya untuk meredam tekanan-tekanan inflasi harus dapat dilakukan secara pre-emptive tanpa mengganggu proses pemulihan ekonomi nasional.

Sasaran Inflasi Nilai Tukar dan Inflasi Faktor risiko dan ketidakpastian, khususnya akibat kondisi sosialpolitik dan keamanan yang belum membaik, masih akan mempengaruhi perkembangan nilai tukar. Tekanan-tekanan melemahnya nilai tukar rupiah masih akan dirasakan, namun secara keseluruhan nilai tukar rupiah diprakirakan dapat menguat sehingga mencapai rata-rata sekitar Rp7.750 – Rp8.250 per dolar AS pada tahun 2001. Dari sisi domestik, membaiknya kondisi fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2001, baik dari segi kinerja ekonomi maupun komitmen untuk melakukan perbaikan struktural, diperkirakan akan meningkatkan kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Di sisi lain, kondisi politik dan keamanan dalam negeri diharapkan semakin kondusif. Sementara itu, dari sisi eksternal, kecenderungan melambatnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat pada tahun 2001 diperkirakan akan mendorong penurunan suku bunga dolar AS, yang pada gilirannya akan menghambat laju apresiasi dolar AS secara global. Patut dikemukakan bahwa nilai tukar rupiah secara riil (real effective exchange rate/REER) diperkirakan akan tetap kompetitif sehingga tetap dapat mendukung proses perbaikan struktur ekonomi dan alokasi sumber-sumber daya ke arah yang lebih efisien. Dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi, tekanan-tekanan kenaikan harga pada tahun 2001 diprakirakan akan tetap besar. Hal ini disebabkan masih tingginya ekspektasi inflasi seiring dengan Tantangan Ke depan Gambaran mengenai prospek ekonomi, nilai tukar dan sasaran inflasi tersebut akan sangat dipengaruhi oleh kemajuan dalam penyelesaian berbagai permasalahan mendasar dalam perekonomian dan perkembangan berbagai faktor risiko dan ketidakpastian. Upaya mengatasi berbagai faktor tersebut akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik pada tahun 2001 dan tahun-tahun mendatang. Berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut antara lain mencakup: – Pertama, kemungkinan berlanjutnya ketidakpastian kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Berlanjutnya Dengan memperhatikan perkembangan dan prospek makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 diluar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, dampak kebijakan Pemerintah Pusat di bidang harga dan pendapatan yang telah teridentifikasi seperti peningkatan gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Polri, kenaikan UMR, pengurangan subsidi BBM, kenaikan harga dasar gabah, serta kenaikan cukai rokok, diprakirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju inflasi sekitar 2,0%–2,5% diatas sasaran tersebut.

13

Bab 1 Tinjauan Umum

ketidakpastian tersebut berpotensi meningkatnya country risk Indonesia, penanganan berbagai masalah ekonomi menjadi lambat dan tidak pasti, serta mendorong kegiatan spekulasi dalam pasar valuta asing. – Kedua, masih lambannya proses restrukturisasi utang perusahaan. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan kegiatan ekonomi dan penyaluran kredit perbankan tidak dapat berjalan lebih cepat, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar dari –

hukum, termasuk penegakan hukum, terutama melalui penerapan UU kepailitan maupun pembenahan secara menyeluruh institusi yudikatif di Indonesia. Ketujuh, dari sisi eksternal, ketidakpastian dan risiko yang mungkin terjadi adalah melambatnya perekonomian Amerika Serikat sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi global secara tajam (hard landing). Melambatnya ekonomi AS ini merupakan ancaman bagi optimisme terhadap kinerja ekspor sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2001.

perekonomian nasional. – Ketiga, proses intermediasi perbankan yang belum berjalan normal. Ekspansi kredit perbankan masih terbatas karena masih tingginya faktor risiko dan ketidakpastian, banyaknya perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi, maupun kondisi internal perbankan. Kondisi ini sangat membatasi sumber pembiayaan kegiatan ekonomi, sehingga kegiatan ekonomi lebih banyak dibiayai oleh dana sendiri (self-financing). Selain itu, dorongan bagi perbankan untuk mobilisasi dana relatif rendah, sehingga menyebabkan suku bunga deposito rendah dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan dananya untuk konsumsi ataupun jenis investasi lain. – Keempat, beban keuangan pemerintah yang masih berat, terutama ditengarai oleh pengeluaran subsidi dan utang pemerintah yang masih besar. Sementara kemajuan dalam asset recovery BPPN maupun privatisasi BUMN diperkirakan belum dapat menutupi beban keuangan pemerintah. Dengan kondisi demikian, stimulus dari sisi fiskal untuk percepatan pemulihan ekonomi menjadi sangat terbatas. – Kelima, kelancaran pelaksanaan otonomi daerah mulai tahun 2001 menjadi kunci bagi keberhasilan proses pemulihan ekonomi dan pemerataan pembangunan ke depan. Ancaman terhadap pemulihan ekonomi dan inflasi akan muncul apabila pengeluaran daerah menjadi tidak terkoordinasi maupun apabila daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan pungutan, retribusi dan pajak daerah. – Keenam, ketidakpastian hukum di Indonesia. Berbagai kasus hukum masih memerlukan pembenahan sistem Arah Kebijakan Dengan memperhatikan prospek ekonomi di tahun 2001 dan sasaran inflasi yang ditetapkan serta berbagai tantangan yang muncul, Bank Indonesia akan berupaya untuk secara konsisten dan berhati-hati menempuh kebijakan-kebijakan di bidang moneter, sistem pembayaran dan perbankan. Sehubungan dengan hal tersebut, kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter tetap diarahkan pada upaya mengendalikan tekanan inflasi dan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui pengendalian instrumen-instrumen moneter yang mengacu pada sasaran uang primer. Guna mencapai sasaran laju inflasi di atas, Bank Indonesia berkeyakinan bahwa tingkat pertumbuhan uang primer yang sesuai dengan sasaran inflasi serta tidak menimbulkan risiko yang berlebihan pada proses pemulihan perbankan dan ekonomi secara keseluruhan, adalah berada pada kisaran 11,0%-12,0%. Sasaran

pertumbuhan ini dihitung berdasarkan perkembangan uang primer bulan Desember 2000, dengan melakukan koreksi atas unsur musiman yang cukup signifikan pada bulan tersebut. Pencapaian target instrumen-instrumen moneter dimaksud tetap akan mengacu pada pelaksanaan kegiatan OPT melalui lelang SBI. Secara umum, strategi pengelolaan moneter tahun 2001 untuk mendukung OPT tersebut mencakup langkah-langkah sebagai berikut : (i) OPT melalui intervensi rupiah untuk sementara waktu akan dioptimalkan untuk mendukung pencapaian sasaran uang primer yang telah ditetapkan, tanpa harus menimbulkan dampak yang berlebihan pada kenaikan suku bunga SBI.

14

Bab 1 Tinjauan Umum

(ii) Sterilisasi valuta asing akan tetap menjadi opsi yang terbuka khususnya untuk menyerap kelebihan likuiditas di pasar sebagai akibat ekspansi pengeluaran pemerintah yang bersumber dari dana luar negeri. (iii) Surat berharga jangka pendek pemerintah (T–Bills) dan obligasi pemerintah yang diperkirakan akan aktif diperdagangkan di pasar sekunder akan digunakan sebagai instrumen moneter yang pada waktunya akan menggantikan SBI. (iv) Kebijakan nilai tukar yang dapat secara langsung mengurangi gejolak nilai tukar rupiah juga akan tetap menjadi opsi yang terbuka dengan tetap berdasar pada sistem nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas. Sementara di bidang perbankan, kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan pada upaya untuk memelihara hasil dari program restrukturisasi perbankan serta untuk memperbaiki fungsi intermediasi bank, dengan tetap mengacu kepada asas kehati-hatian dalam pengelolaan perbankan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia akan mengupayakan agar perbankan meningkatkan manajemen risiko dengan mengeluarkan risk management guideline bagi bank-bank. Sebagai syarat dapat dilaksanakannya manajemen risiko dan pengawaan berdasarkan risiko (risk-based supervision), perlu dilakukan pembenahan sistem informasi di bank-bank. Sementara itu, berkaitan dengan pemisahan fungsi pengawasan bank dari Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UU, Bank Indonesia terus melakukan berbagai persiapan agar pengalihan fungsi pengawasan tersebut berjalan dengan lancar sehingga tidak mengganggu sistem perbankan. Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter dan mempercepat pemulihan sektor perbankan, kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan pelaksanaan sistem pembayaran nasional yang efisien, akurat, aman, dan handal melalui peningkatan mutu pelayanan jasa sistem pembayaran. Salah satunya diwujudkan dengan mengembangkan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) yang pada tahun 2000 telah mulai diimplementasikan. Disamping itu,

guna meningkatkan efisiensi perbankan dan mempercepat proses kliring antar bank, pada tahun 2001 Bank Indoneisa akan menerapkan Bulk Interbank Payment System (BIPS), yaitu kliring khusus untuk transaksi-transaksi bulk sehingga transaksi antar bank lainnya yang telah dilakukan melalui kliring menjadi lebih cepat. 3) Sementara itu, untuk mengefisienkan proses pembukuan dan switching pada bank-bank penyelenggara ATM di Indonesia, serta untuk memberikan tambahan kemudahan dan keamanan bagi para para nasabah penggunanya, maka Bank Indonesia akan memfasilitasi dan mendorong (dalam bentuk moral suassion) bank-bank penyelenggara ATM untuk dapat mengkoneksikan jaringannya satu sama lain.

Penutup Berbagai langkah kebijakan yang telah dan akan ditempuh Bank Indonesia tersebut merupakan perwujudan nyata dari komitmen Bank Indonesia untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh amanat UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia juga telah menempuh berbagai langkah kebijakan di bidang manajemen intern untuk memberikan dukungan yang cepat, tepat dan handal bagi pelaksanaan tugas-tugas di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran. Dukungan manajemen intern yang semakin berkualitas tersebut tercermin dari berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan dan dilaporkan dalam Laporan Triwulanan yang telah disampaikan kepada DPR dan dipublikasikan kepada masyarakat luas. Di samping penyempurnaan di bidang organisasi dan pengembangan sumber daya manusia, kebijakan yang diambil mencakup pula peningkatan manajemen keuangan intern, pengembangan sistem teknologi informasi, peningkatan kebijakan hukum, peningkatan sistem pengawasan intern, pengembangan program kehumasan, manajemen dokumen dan peningkatan manajemen di bidang logistik.

3) Transaksi bulk adalah transaksi antar bank yang bersifat rutin dengan volume tinggi dan bernilai nominal rendah seperti transaksi pembayaran gaji/upah, kartu kredit, asuransi, angsuran kredit, tagihan telepon/listrik/air, dan lain-lain.

15

Bab 1 Tinjauan Umum

Suatu kemajuan berarti juga telah dicapai pada tahun 2000 dalam penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Dalam Rapat Kerja tanggal 10 Oktober 2000, Komisi IX DPR RI telah meminta Pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera menyelesaikan masalah BLBI sebesar Rp144,5 triliun. Kesepakatan penyelesaian BLBI tersebut dicapai pada tanggal 17 November 2000, antara lain diputuskan adanya pembagian beban (burden sharing) keuangan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. Dengan memperhitungkan kemampuan keuangan Bank Indonesia, maka disepakati BLBI yang menjadi beban Bank Indonesia sebesar Rp24,5 triliun sehingga Pemerintah tidak perlu melakukan penambahan modal Bank Indonesia. Pembebanan tersebut dilakukan dengan penerbitan Surat Utang Bank Indonesia (SU–BI) pada tanggal 5 Desember 2000 kepada Pemerintah dengan persyaratan yang sama dengan Surat Utang Pemerintah (SUP) No. 1 dan No. 3. Dalam kesepakatan tersebut, Pemerintah juga menegaskan tidak akan menarik kembali SUP yang telah diterbitkan dalam rangka pengalihan BLBI kepada Bank Indonesia. Dengan tercapainya penyelesaian BLBI tersebut, kredibilitas dan kepercayaan kepada Bank Indonesia diharapkan dapat ditingkatkan sehingga mampu mendukung peran strategisnya dalam pembangunan ekonomi nasional (Boks : Penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)). Di samping itu, dalam tahun 2000 Bank Indonesia juga melanjutkan langkah-langkah divestasi penyertaan Bank Indonesia pada beberapa bank dan perusahaan sebagai implementasi UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Langkah yang ditempuh antara lain dengan telah berhasilnya penjualan saham di dua bank yaitu PT. Bank Niaga dan PT. Bank Utama. Di samping itu, langkah divestasi lain yang masih dilakukan adalah proses divestasi penyertaan Bank Indonesia pada beberapa bank seperti Indover Bank dan PT. Bank Danamon serta pada beberapa perusahaan seperti PT. Askrindo, PT. Bahana dan PT. Bina Usaha Indonesia (Boks : Divestasi Penyertaan Bank Indonesia). Sebagaimana telah dikemukakan, pelaksanaan tugastugas Bank Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai perkembangan baik di bidang ekonomi maupun kondisi politik

dan keamanan dalam negeri. Salah satu perkembangan penting yang mempengaruhi pelaksanaan tugas Bank Indonesia adalah adanya usulan amandemen terhadap UU No. 23 tentang Bank Indonesia (UU BI) pada akhir tahun laporan. Sebagaimana diketahui, usulan amandemen UU BI tersebut berasal dari Pemerintah, sementara keterlibatan Bank Indonesia dalam proses amandemen tersebut terbatas sebagai nara sumber. Pada prinsipnya Bank Indonesia berpendapat bahwa amandemen tersebut belum perlu dilakukan antara lain karena UU BI tersebut belum lama diundangkan. Berbagai komentar yang muncul atas UU BI lebih banyak disebabkan belum tersosialisasinya UU BI dengan baik. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia berpendapat bahwa tujuan tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah serta aspek-aspek independensi sebagaimana tercantum dalam UU BI tersebut perlu tetap dipertahankan. UU BI tersebut pada dasarnya juga telah memuat aspek akuntabilitas seperti kinerja, pelaksanaan tugas dan wewenang, keuangan, etika dan hukum pidana. Selain itu, masalah koordinasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah juga telah secara tegas dan jelas diatur dalam UU BI tersebut (Boks : Amandemen UndangUndang No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia). Sebagai penutup, rangkaian kebijakan Bank Indonesia di tahun 2001 yang ditempuh Bank Indonesia pada hakikatnya merupakan salah satu langkah dari kerangka kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan. Gambaran prospek dan arah kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia di atas sudah tentu sangat tergantung pada perkembangan politik dan keamanan di dalam negeri serta langkah-langkah kebijakan di bidang lain untuk mengatasi berbagai permasalahan dan faktor risiko seperti yang telah dikemukakan di atas. Di samping itu, beberapa aspek penting seperti perlunya koordinasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan kebijakan, pentingnya pemupukan kesatuan pandang dan kemitraan yang lebih mendalam antara Pemerintah dan Bank Indonesia, serta beberapa instansi terkait lainnya, juga sangat diperlukan agar terdapat sinergi dalam berbagai langkah kebijakan yang ditempuh. Dengan demikian, kepercayaan para pelaku ekonomi diharapkan semakin tumbuh dan percepatan pemulihan ekonomi akan semakin terwujud.

16

Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)

Dalam tahun 2000, penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) merupakan permasalahan yang menuntut perhatian dan langkah-langkah nyata dari berbagai pihak, ter masuk Bank Indonesia. Hal ini tidak saja karena kompleksitas permasalahan yang ada, tetapi juga mengingat implikasi keuangan terhadap APBN dan neraca Bank Indonesia serta implikasi hukum yang mungkin terjadi baik dalam penyaluran maupun penggunaan dana BLBI tersebut. Bagi Bank Indonesia, penyelesaian BLBI tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari langkah-langkah untuk memulihkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap Bank Indonesia dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai bank sentral yang sangat diperlukan bagi penyehatan perbankan dan pemulihan ekonomi secara keseluruhan. Sebagaimana diketahui, dalam rangka memperoleh kejelasan dan langkah-langkah penyelesaian BLBI tersebut, DPR telah membentuk Panitia Kerja (Panja) BLBI. Dalam laporannya tanggal 6 Maret 2000, Panja BLBI Komisi IX DPR-RI menyebutkan bahwa BLBI merupakan kebijakan Pemerintah dan menjadi tanggung jawab Pemerintah. Bahkan dari tanggung jawab finansial, Pemerintah bertanggung jawab dari kemungkinan terjadinya likuidasi, karena equity Bank Indonesia merupakan kekayaan negara. Dalam aspek hukum DPR merekomendasikan agar Jaksa Agung, Kapolri, Mahkamah Agung, Menkumdang, secepatnya merumuskan formulasi kebijaksanaan hukum secara jelas dan transparan mengenai arah kebijaksanaan penyelesaian BLBI termasuk pelanggaran BMPK. Pimpinan DPR juga menjanjikan untuk menjembatani perbedaan pendapat antar Bank Indonesia dengan Menteri Keuangan mengenai status BLBI dalam neraca Bank Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari hasil Panja BLBI tersebut, DPRRI telah meminta BPK-RI untuk melakukan audit investigasi terhadap penyaluran BLBI di Bank Indonesia dan penggunaan BLBI di bank-bank penerima dana BLBI. Bank Indonesia menyambut baik audit investigasi yang dilakukan oleh BPK-RI

tersebut sebagai bagian dari usaha menegakkan transparansi dan akuntabilitas. Namun demikian, Bank Indonesia memandang bahwa dalam hasil audit investigasi tersebut BPK-RI belum memberikan penilaian yang berimbang baik dari sudut kebijakannya maupun pelaksanaan penyaluran BLBI di lapangan. Padahal, sebagaimana diketahui, kebijakan penyaluran BLBI pada hakikatnya merupakan kebijakan untuk mengatasi krisis perbankan dan perekonomian yang terjadi yang ditempuh Pemerintah pada waktu itu. Oleh karena itu, dalam melihat masalah BLBI, sewajarnya latar belakang kebijakan pemerintah untuk memberikan BLBI juga diberikan bobot yang proporsional. Bank Indonesia juga berpendapat bahwa audit BPK-RI tersebut terlalu menitikberatkan kepada compliance audit dan bukan kepada policy audit. Dalam pelaksanaannya, BPK-RI kurang mempertimbangkan bahwa Bank Indonesia pada dasarnya hanya melaksanakan kebijakan Pemerintah dengan pertimbangan dalam situasi krisis perbankan yang terjadi pada saat itu diperlukan suatu tindakan dalam upaya menjaga eksistensi perbankan Indonesia yang apabila tidak dilakukan akan menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih parah. Banyak temuan yang diistilahkan penyimpangan oleh BPK-RI hanya didasarkan kepada penerapan ketentuan/ kebijakan Bank Indonesia pada situasi kondisi normal, sementara penyaluran BLBI adalah suatu konsekuensi yang harus ditempuh dalam situasi krisis. Sementara itu, berkaitan dengan penyelesaian di sisi hukum terhadap BLBI tersebut, Bank Indonesia akan selalu mendukung proses hukum itu dengan bersikap terbuka dan kooperatif terhadap upaya transparansi termasuk rangkaian penyidikan oleh pihak Kejaksaaan Agung. Selanjutnya, dalam rangka mempercepat proses penyelesaian BLBI tersebut, pada tanggal 10 Oktober 2000 DPR-RI telah mengadakan Rapat Kerja dengan Pemerintah dan Bank Indonesia. Dalam Rapat kerja tersebut, Komisi IX DPR RI telah meminta Pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera menyelesaikan masalah BLBI sebesar Rp144,5 triliun

17

Bab 1 Tinjauan Umum

secara tuntas dalam waktu 30 hari. Dalam rangka penyelesaian masalah BLBI tersebut, telah dicapai kesepakatan antara Bank Indonesia dan Pemerintah yang tertuang dalam Pokok-Pokok Kesepakatan Pemerintah dan Bank Indonesia Mengenai Penyelesaian BLBI tanggal 17 November 2000. Dalam kesepakatan tersebut antara lain diputuskan adanya pembagian beban (burden sharing) keuangan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. Dengan memperhitungkan kemampuan keuangan Bank Indonesia, maka yang menjadi beban Bank Indonesia adalah sebesar Rp 24,5 triliun. Pembebanan tersebut dilakukan dengan cara penerbitan Surat Utang Bank Indonesia (SU-BI) kepada Pemerintah yang persyaratannya sama dengan persyaratan Surat Utang Pemerintah (SUP) No.1 dan No.3. Dengan demikian, Pemerintah tidak perlu melakukan penambahan modal Bank Indonesia. Dalam kesepakatan tersebut di atas, Pemerintah juga menegaskan tidak akan menarik kembali SUP yang telah diterbitkan dalam rangka pengalihan BLBI kepada Bank Indonesia. Penerbitan SU-BI dilakukan dengan pertimbangan antara lain sebagai berikut: 1. Penerbitan SU-BI tidak akan mengubah perikatanperikatan hukum yang telah dilakukan oleh BPPN, dan pada akhirnya, tidak mengurangi kepastian hukum bagi upaya asset recovery di kemudian hari. 2. Penerbitan SU-BI telah mempertimbangkan dampak moneter, khususnya peningkatan jumlah uang beredar

yang mungkin terjadi apabila penyelesaian BLBI tersebut dilakukan dengan cara lain. Sebagai pelaksanaan dari Pokok-Pokok Kesepakatan tersebut, Bank Indonesia pada tanggal 5 Desember 2000 telah menerbitkan SU-BI kepada Pemerintah sebesar Rp24,5 triliun dengan persyaratan yang sama dengan SUP yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah (SUP 001/MK/1998 dan SU 003/MK/1999), dan telah disampaikan kepada Menteri Keuangan dengan surat No.2/2/DGS/DKI tanggal 5 Desember 2000. Jangka waktu SU-BI tersebut adalah 18 tahun 2 bulan, dan akan berakhir pada 7 Februari 2019 (termasuk masa tenggang 3 tahun). SU-BI sebesar Rp 24,5 triliun tersebut telah dibebankan ke rekening Surplus/Defisit Bank Indonesia tahun 2000 sebagai pos Luar Biasa dan disajikan di Neraca Bank Indonesia tahun 2000 sebagai Pinjaman dari Pemerintah dalam Rupiah. Perlu diinformasikan bahwa walaupun pembebanan atas Surplus/ Defisit tahun 2000 telah dilakukan namun posisi Surplus Bank Indonesia tampak masih positif. Konsekuensi lanjut dari penerbitan SU-BI tersebut adalah adanya kewajiban Bank Indonesia untuk membayar bunga dan angsuran pokok, yang dibayarkan setiap 6 bulan sekali, masing-masing dimulai pada 1 Februari 2001 dan 1 Februari 2004. Akhirnya, dengan tercapainya penyelesaian BLBI tersebut, kredibilitas dan kepercayaan kepada Bank Indonesia diharapkan dapat ditingkatkan sehingga mampu mendukung peran strategisnya dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

18

Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Divestasi Penyertaan Bank Indonesia

Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia pasal 64 ayat 2 dan pasal 77 disebutkan bahwa Bank Indonesia hanya dapat melakukan penyertaan modal pada badan hukum atau badan lainnya yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia dan dengan persetujuan DPR. Penyertaan yang tidak memenuhi ketentuan dimaksud wajib dilepaskan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Undang-undang tersebut yaitu pada tanggal 17 Mei 2001. Sebagaimana diketahui, penyertaan Bank Indonesia pada awalnya dimaksudkan untuk membantu upaya penyelamatan bank, sedangkan penyertaan pada lembaga keuangan bukan bank (LKBB) dilakukan dalam rangka pengembangan pasar finansial dan membantu program pemerintah dalam pengembangan usaha kecil dan menengah. Divestasi penyertaan Bank Indonesia dilakukan dengan pertimbangan agar pengawasan perbankan dapat dilakukan secara obyektif dan terhindar dari konflik kepentingan antara Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas bank dengan Bank Indonesia sebagai pemegang saham. Proses divestasi telah dilakukan secara bertahap sejak tahun 1994 melalui berbagai cara antara lain penjualan sebagian atau seluruh saham, tidak melakukan penambahan modal, tidak menggunakan hak right issue dan membatasi atau mengurangi pinjaman subordinasi bahkan tidak menyetujui usulan untuk mengkonversinya menjadi penyertaan. Berbagai langkah telah dilakukan Bank Indonesia dalam proses divestasi tersebut. Hal ini terlihat baik dari semakin kecilnya prosentase penyertaan maupun keikutsertaan Bank Indonesia pada beberapa bank dan LKBB. Langkah yang ditempuh antara lain dengan telah berhasilnya penjualan saham di 2 bank yaitu PT. Bank Niaga dan PT. Bank Utama sehingga penyertaan Bank Indonesia di 11 perusahaan telah menurun menjadi 9 perusahaan.
No.

Langkah divestasi lainnya yang saat ini dilakukan adalah proses divestasi Bank Indonesia pada beberapa bank seperti Indover Bank, Bank Danamon dan beberapa Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU) serta Bank Pacific (bank dalam likuidasi). Dalam hal Indover Bank, proses penjualan saham bank tersebut menunggu hasil kajian dari Tim Divestasi bersama ABN Amro sebagai Financial Advisor-nya. Untuk Bank Danamon, penjualan masih menunggu membaiknya harga saham yang saat ini diperkirakan masih sangat rendah. Sementara itu, divestasi pada beberapa bank BBKU dan bank dalam likuidasi menunggu hasil dari Tim likuidasi. Selain itu, rencana divestasi pada 3 LKBB yang ada (PT. Askrindo, PT. Bahana, dan PT. Bina Usaha Indonesia) saat ini tengah diproses melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di masing-masing perusahaan untuk kemudian ditunjuk jasa konsultan independen dalam melakukan due diligence pada masing-masing lembaga keuangan tersebut. Sejalan dengan berbagai langkah dalam program divestasi di atas, maka posisi penyertaan Bank Indonesia pada bank dan LKBB per 31 Desember 2000 adalah sebagai berikut : Posisi Penyertaan Bank Indonesia pada Bank-bank dan LKBB Per 31 Desember 2000
Penyertaan Nominal (Rp) 1. Indover Bank Amsterdam 2. PT Bank Danamon (d/h PT Bank PDFCI) 3. PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia 4. PT Asuransi Kredit Indonesia 5. PT Bina Usaha Indonesia 6. PT Bank Papan Sejahtera (BBKU) 7. PT Bank Ficorinvest (BBKU) 8. PT Bank Uppindo (BBKU) 9. PT Bank Pacific (Bank Dalam Likuidasi) 53.905.437.110,00 10.889.285.000,00 9.500.000.000,00 175.568.800.000,00 2.872.000.000,00 4.462.474.000,00 5.545.750.811,00 14.238.000.000,00 30.600.000.000,00 Persentase 100,00 0,003 42,22 55,00 57,44 5,76 6,42 23,20 51,00

Bank/LKBB

19

Bab 1 Tinjauan Umum

Boks : Amandemen Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia
Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undangundang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (amandemen UU BI) diajukan oleh Pemerintah kepada DPRRI tanggal 20 November 2000. Alasan-alasan pengajuan amandemen UU BI adalah untuk melakukan penataan kembali lembaga-lembaga negara, termasuk Bank Indonesia, agar sejalan dan dapat mendukung program pembangunan nasional yang diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional, perlunya pengaturan akuntabilitas yang lebih jelas dalam UU BI sehingga memberi peluang kepada DPR-RI dan masyarakat luas untuk melakukan kontrol terhadap Bank Indonesia serta untuk menjamin terlaksananya supremasi hukum atas kemungkinan terjadinya tanggung jawab pidana di antara rangkaian kinerja Bank Indonesia secara lebih jelas.1) Materi amandemen UU BI yang diajukan oleh Pemerintah pada awalnya mencakup 5 (lima) pasal, yaitu Pasal 38 mengenai Tugas dan Wewenang Dewan Gubernur, Pasal 43 mengenai Rapat Dewan Gubernur, Pasal 48 mengenai Pemberhentian Anggota Dewan Gubernur, Pasal 54 mengenai Hubungan dengan Pemerintah dan Pasal 75 yaitu Ketentuan Peralihan yang berkaitan dengan Dewan Gubernur . Atas usulan Pemerintah tersebut, fraksi-fraksi di DPR-RI menanggapi bahwa apabila usulan Pemerintah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki Bank Indonesia baik dari kelembagaan, personil maupun akuntabilitasnya, maka materi yang disampaikan oleh Pemerintah belum mencerminkan maksud tersebut. Berkenaan dengan itu, maka diperlukan amandemen lebih menyeluruh tidak terbatas pada materi yang telah disampaikan oleh Pemerintah.2) Sebagaimana diketahui, usul amandemen UU BI tersebut berasal dari Pemerintah, sementara keterlibatan Bank Indonesia dalam proses amandemen UU BI tersebut terbatas
1) Keterangan pemerintah di hadapan Rapat Paripurna DPR-RI tanggal 27 November 2000 2) Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPR-RI atas usulan amandemen UUBI

sebagai narasumber. Dalam perkembangannya, Bank Indonesia telah memberikan pandangan dan masukan kepada Panitia Khusus DPR-RI tentang Amandemen UU BI pada tanggal 7 Desember 2000. Pada prinsipnya Bank Indonesia berpendapat bahwa amandemen terhadap UU BI tersebut belum perlu dilakukan karena antara lain UU BI belum lama diundangkan, bahkan belum seluruh ketentuan dalam UU BI ditindaklanjuti dengan ketentuan pelaksanaan yang lebih rendah, sehingga Bank Indonesia belum dapat menilai kelemahan-kelemahan dari UU BI yang menyebabkan perlu dilakukan amandemen. Bank Indonesia juga berpandangan bahwa komentar-komentar yang muncul atas UU BI lebih banyak disebabkan belum tersosialisasinya UU BI dengan baik. Dalam perkembangannya, baik atas usulan dari DPRRI maupun tambahan usulan dari Pemerintah, materi amandemen UU BI bertambah dalam mengevaluasi pasalpasal UU BI. Namun demikian, ada satu hal penting untuk dicatat yaitu seluruh pihak yang terkait dengan amandemen UU BI senantiasa mengemukakan akan tetap menghormati independensi Bank Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Di samping itu, tujuan Bank Indonesia yang telah ditetapkan dalam UU BI yaitu untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah tidak akan diubah. Berkaitan dengan materi amandemen UU BI tersebut, terdapat beberapa hal penting yang menurut Bank Indonesia perlu disikapi secara hati-hati, yaitu mengenai tujuan, independensi, akuntabillitas, dan koordinasi dengan pemerintah. Seperti diketahui, dalam pasal 7 UU No.23/1999, Bank Indonesia mempunyai tujuan tunggal (single objective), yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan tunggal ini perlu dipertahankan karena pertama tidak terdapat ambiguity dalam penetapan dan pencapaian tujuannya. Kedua, tujuan yang fokus akan lebih memperjelas Bank Indonesia dalam mempertanggungjawabkan kinerjanya. Walaupun dalam UU tersebut tujuan terfokus dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, dalam pelaksanaannya Bank Indonesia juga sudah memperhitungkan

20

Bab 1 Tinjauan Umum

perkembangan makroekonomi. Bahkan, kestabilan nilai rupiah tersebut merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan pertimbangan ini, tambahan kalimat "dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor riil" juga tidak diperlukan dalam amandemen terhadap pasal 8 UU BI tersebut. Untuk menjamin efektifitas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia, aspek-aspek independensi sebagaimana tercantum dalam pasal 4 dan 9 UU BI perlu tetap dipertahankan. Dalam hubungan ini, keberadaan pasal 9 dimaksudkan untuk menegaskan status independensi Bank Indonesia baik secara kelembagaan maupun secara fungsional dengan melarang pihak lain melakukan campur tangan dalam pelaksanaan tugas-tugas Bank Indonesia. Untuk mengurangi kesan bahwa aturan dalam pasal ini berlebihan dan kurang jelas, penyempurnaan dapat saja dilakukan terutama mengenai pengertian campur tangan dan kriterianya, mekanisme serta siapa yang lebih tepat menilai ada tidaknya campur tangan tersebut. Apabila pasal 9 ini akhirnya disepakati untuk dihapus maka pasal 4 ayat (2) dan pengaturan sanksi sebagaimana tercantum dalam pasal 67 dan pasal 68 perlu tetap dipertahankan. Kalau tidak, independensi tersebut akan kehilangan makna. Independensi tanpa disertai kewajiban akuntabilitas dan transparansi yang memadai dapat membawa bank sentral menjadi tidak tersentuh oleh ketentuan hukum. Oleh karena itu, UU BI telah menyeimbangkan independensi yang dimilikinya dengan akuntabilitas yang mewajibkan Bank Indonesia melakukan public accountability dan transparency. UU BI sebagaimana tercermin di dalam beberapa pasalnya pada dasarnya telah memuat beberapa aspek akuntabilitas seperti kinerja, pelaksanaan tugas dan wewenang, keuangan, etika, dan hukum pidana. Akuntabilitas aspek kinerja (pasal 7) diwujudkan dalam bentuk penyampaian informasi pada setiap awal tahun kepada masyarakat mengenai hasil evaluasi pelaksanaan kebijakan moneter setahun terakhir dan rencana kebijakan dan sasaran-sasaran moneter tahun yang akan datang (pasal 58 ayat 1). Penyampaian informasi tersebut wajib disampaikan pula oleh Bank Indonesia kepada DPR dan Presiden secara tertulis (pasal 58 ayat 2). Sementara itu, akuntabilitas aspek pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia kepada

DPR secara triwulanan (pasal 58 ayat 3). Di samping itu, DPR diberikan kewenangan pula untuk meminta BPK melakukan pemeriksaan khusus kepada Bank Indonesia setiap saat diperlukan (pasal 59). Sedangkan akuntabilitas aspek keuangan dibagi dalam aspek umum dan aspek anggaran. Aspek umum diwujudkan dalam bentuk penyampaian laporan keuangan tahunan Bank Indonesia kepada BPK (pasal 61), dan aspek anggaran diwujudkan dalam bentuk penyampaian anggaran tahunan kepada DPR (pasal 60). Sementara itu, terkait dengan akuntabilitas moral dan etika, UU BI menggariskan salah satu persyaratan untuk diangkat sebagai anggota Dewan Gubernur adalah memiliki akhlak dan moral yang tinggi. Akuntabilitas moral dan etika ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan Dewan Gubernur tentang Tata Tertib dan Tata Cara Penyelenggaran Tugas Dewan Gubernur Bank Indonesia yang menyangkut prinsip-prinsip dasar moral dan etika yang wajib ditaati Dewan Gubernur. Adapun akuntabilitas hukum anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia tentu saja sebagai warga negara mereka tidak kebal hukum. Asas equality before law juga berlaku terhadap tindakan yang melanggar rambu-rambu hukum. Hanya saja, dalam konteks pelaksanaan tugas, dalam UU BI memang perlu melakukan penegasan mengenai perlindungan hukum tersebut. Dalam hal ini, setiap kebijakan atau keputusan yang diambil berdasarkan kewenangannya dalam rangka melaksanakan tugas dan kewajiban menurut UU BI dan dilakukan dengan itikad baik merupakan tanggung jawab Bank Indonesia sebagai kelembagaan dan tidak dapat dibebankan sebagai tanggung jawab masing-masing anggota Dewan Gubernur atau pejabat Bank Indonesia secara individu. Sejalan dengan pemahaman akan perlunya koordinasi antarkebijakan ekonomi di dalam negara khususnya antara kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral dengan kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya yang ditempuh oleh Pemerintah, masalah koordinasi dengan pemerintah secara tegas dan jelas telah diatur dalam UU BI. Hal ini secara khusus diatur dalam Bab VIII dan pasal-pasal lainnya seperti pasal 43 mengenai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang menetapkan bahwa dalam RDG bulanan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri

21

Bab 1 Tinjauan Umum

atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. Dalam praktek yang telah dilakukan selama ini, hubungan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah telah berjalan dengan cukup baik. Secara khusus, Bank Indonesia telah menyelenggarakan rapat koordinasi dengan Pemerintah (Menteri-menteri bidang perekonomian) yang dilakukan secara reguler setiap bulan untuk mengkoordinasikan berbagai kebijakan yang telah

ditempuh serta membahas permasalahan-permasalahan yang membutuhkan langkah penyelesaian bersama lebih lanjut. Dalam upaya lebih meningkatkan koordinasi antara Bank Indonesia dengan pemerintah dapat lebih terjalin dengan baik dan agar masyarakat dapat mengetahui hasilhasil yang telah dicapai dalam rangka koordinasi tersebut, salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah pengaturan mekanisme kordinasi dan penyampaian hasil rapat kordinasi tersebut kepada publik.

22

Bab 2

Kondisi Makroekonomi

2
S

b a b Makroekonomi Bab 2 Kondisi

Kondisi Makroekonomi

elama tahun 2000, perekonomian Indonesia menunjukkan proses pemulihan yang semakin mantap dengan sumber

berkesinambungan. Selain itu, besarnya beban pengeluaran pemerintah terutama untuk pembayaran utang dan subsidi menyebabkan terbatasnya stimulus fiskal guna mempercepat proses pemulihan. Dari sisi permintaan, telah terjadi pergeseran motor pertumbuhan ekonomi, dari konsumsi menjadi ekspor dan investasi yang telah memberikan kontribusi yang positif dan signifikan. Dari sisi penawaran, semua sektor juga telah tumbuh positif, dengan sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap nilai tambah perekonomian. Perbaikan kondisi makroekonomi tersebut telah mengurangi jumlah pengangguran terbuka. Jumlah perkara dan tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerjapun turut berkurang. Meskipun masih ada tekanan inflasi, membaiknya pertumbuhan ekonomi dan adanya kebijakan pemerintah untuk menaikkan gaji pegawai negeri

pertumbuhan yang semakin seimbang. Seluruh sektor/ kegiatan memberikan sumbangan yang positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). PDB pada tahun laporan tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 4,8%, lebih tinggi dari yang diprakirakan pada awal tahun yakni berkisar 3,0%– 4,0% (Tabel 2.1). Walaupun demikian, proses pemulihan ekonomi masih menghadapi beberapa permasalahan mendasar yang menahan percepatan pemulihan ekonomi seperti belum selesainya restrukturisasi perbankan, kredit, dan perusahaan yang disertai pula dengan tingginya ketidakpastian sosial, politik dan keamanan. Permasalahan ini pada gilirannya masih membatasi penanaman investasi baru yang sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang
Tabel 2.1 Perkembangan PDB Riil
1998 Rincian Pertumbuhan
PDB (riil) Menurut Pengeluaran Konsumsi -– Konsumsi Rumah Tangga -– Konsumsi Pemerintah Investasi Ekspor Impor Menurut Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Lembaga Keuangan Jasa-jasa –13,1

sipil, TNI dan Polri serta peningkatan upah minimum regional, telah meningkatkan tingkat pendapatan riil yang diterima
1999* Pertumbuhan
0,8

2000**

pekerja.

Kontribusi (%)
–13,1

Kontri- Pertum- Kontribusi (%) buhan busi (%)

Permintaan Agregat
0,8 4,8 4,8

Berbeda dengan pertumbuhan tahun sebelumnya, di mana konsumsi menjadi satu-satunya kegiatan yang mencatat pertumbuhan positif, pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pada tahun 2000 disumbang oleh pertumbuhan ekspor, diikuti oleh investasi dan konsumsi. Sumbangan ekspor, investasi, dan konsumsi terhadap pertumbuhan PDB masing-

–7,1 –6,2 –15,4 –33,0 11,2 –5,3

–5,1 –3,9 –1,1 –10,6 3,1 –1,7

4,3 4,6 0,7 –19,4 –31,6 –40,7

3,3 3,2 0,0 –4,8 –11,3 –14,3

3,9 3,6 6,5 17,9 16,1 18,2

3,1 2,6 0,5 3,6 3,9 3,8

–1,3 –2,8 –11,4 3,0 –36,4 –18,2 –15,1 –26,6 –3,8

–0,2 –0,2 –2,8 0,0 –3,0 –3,1 –1,1 –2,4 –0,3

2,7 –2,4 3,8 8,3 –0,8 0,1 –0,8 –7,5 1,9

0,5 –0,2 1,0 0,1 0,0 0,0 –0,1 –0,6 0,2

1,7 2,3 6,2 8,8 6,7 5,7 9,4 4,7 2,2

0,3 0,2 1,6 0,1 0,4 0,9 0,7 0,3 0,2

masing mencapai 3,9%, 3,6%, dan 3,1%. Kuatnya kinerja ekspor dan meningkatnya peran investasi mengindikasikan semakin mantapnya proses pemulihan perekonomian yang terjadi. Ekspor barang dan jasa pada tahun laporan mencatat pertumbuhan sebesar 16,1% dan memberi sumbangan pada pertumbuhan PDB sebesar 3,9%. Pertumbuhan ini merupakan

Sumber : Badan Pusat Statistik

24

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

lonjakan yang besar dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi pada tahun sebelumnya sebesar 31,6%. Pertumbuhan ekspor ini didukung oleh peningkatan ekspor nonmigas khususnya ekspor sektor industri dan sektor pertambangan. Kinerja ekspor yang tumbuh pesat tersebut terutama disebabkan oleh tingginya permintaan dunia, masih kompetitifnya produk ekspor Indonesia dan dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong kegiatan ekspor.
10 SBT* 60 50 40 30 20 Perkiraan Investasi 1 Triwulan Kedepan Realisasi Investasi

Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan ketentuan mengenai jaminan pembiayaan perdagangan internasional yang dilakukan oleh bank-bank umum.1) Seiring dengan
0
I III I III I III I III I III

1996

1997

1998

1999

2000

pertumbuhan kegiatan ekspor tersebut, pertumbuhan impor barang dan jasa turut meningkat sebesar 18,2%. Peningkatan impor tersebut erat kaitannya dengan tingginya pertumbuhan investasi dan pertumbuhan sektor industri berorientasi ekspor yang memiliki kandungan impor tinggi terutama untuk bahan baku dan barang modal. Penyumbang terbesar kedua dalam pembentukan PDB dari sisi permintaan adalah investasi, yang mencatat pertumbuhan sebesar 17,9% dan memberikan sumbangan sebesar 3,6% terhadap PDB. Pertumbuhan investasi ini cukup tinggi mengingat investasi masih mengalami kontraksi pada tahun sebelumnya. Meskipun mencatat pertumbuhan yang tinggi, nilai nominal investasi yang terjadi selama periode laporan masih relatif terbatas dalam artian nilainya masih lebih kecil dibandingkan dengan investasi yang terjadi pada periode sebelum krisis. Peningkatan kinerja investasi ini tercermin pada meningkatnya impor bahan baku dan barang modal selama tahun laporan. Pertumbuhan investasi yang tinggi ini memberikan sinyal proses pemulihan ekonomi telah berada pada jalur yang tepat dan berkesinambungan. Hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) juga menunjukkan adanya peningkatan kegiatan investasi sebagaimana tercermin dari masih positifnya saldo bersih tertimbang dari pengusaha yang melakukan investasi pada tahun 2000 dengan kecenderungan yang meningkat (Grafik 2.1). Angka

Grafik 2.1 Realisasi Investasi (SKDU)
* SBT (saldo tertimbang) adalah selisih anatara jawaban meningkat dan menurun dikalikan dengan bobot

saldo bersih tertimbang yang positif ini menunjukkan lebih banyak pengusaha yang merealisasikan rencana investasinya pada tahun laporan. Sumber pembiayaan kegiatan investasi tersebut ditengarai sebagian besar bersumber dari modal sendiri (selffinancing), mengingat sumber pembiayaan yang berasal dari kredit perbankan masih relatif terbatas. Sumber pembiayaan self- financing tersebut antara lain berasal dari akumulasi laba devisa hasil ekspor yang lebih banyak disimpan di luar negeri. Hal ini antara lain terkait dengan masih tingginya faktor risiko dan ketidakpastian di dalam negeri serta berbagai kemudahan yang ditawarkan perbankan luar negeri dalam pembiayaan ekspor. Masih relatif terbatasnya pembiayaan kredit perbankan dalam negeri antara lain disebabkan oleh masih adanya beberapa permasalahan internal yang terkait dengan masalah pemenuhan Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Selain itu, beberapa permasalahan eksternal seperti terbatasnya debitur potensial sehubungan masih banyaknya debitur besar dalam proses restrukturisasi di BPPN dan relatif tingginya penilaian perbankan terhadap risiko usaha juga turut

1) PBI No. 2/13/2000 tanggal 16 Mei 2000, tentang jaminan pembiayaan perdagangan internasional.

membatasi penyaluran kredit perbankan. Meskipun demikian, penyaluran kredit oleh perbankan khususnya pada paro

25

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Peningkatan tabungan swasta tersebut sejalan dengan
Nisbah terhadap PDB 30 Investasi 28 Defisit

peningkatan pendapatan yang masih lebih tinggi dari konsumsi swasta. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu dimana konsumsi swasta tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Perkembangan ini mengSurplus Tabungan

26

gambarkan kondisi yang positif, terutama bila dibandingkan tahun lalu dimana surplus yang terjadi disebabkan oleh penurunan investasi yang lebih tajam daripada penurunan tabungan.

24

22

20 1995 1996 1997 1998 1999 2000*

Pada sektor pemerintah, peningkatan defisit berasal dari penurunan tabungan pemerintah yang lebih besar dari penurunan investasi pemerintah. Penurunan tabungan pemerintah antara lain disebabkan oleh masih tingginya pengeluaran pemerintah untuk subsidi bahan bakar minyak

Grafik 2.2 Perkembangan Surplus/ Defisit Kesenjangan Tabungan Investasi
Sumber: Departemen Keuangan, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)

kedua tahun 2000 meningkat relatif besar, dari Rp277.3 triliun pada akhir tahun 1999 menjadi Rp320.4 triliun pada akhir tahun 2000. Pemberian kredit terutama diberikan oleh bank-bank kelompok A --yaitu bank dengan CAR diatas 4%-- serta bank asing dan campuran, sementara penyaluran kredit oleh bank persero dan bank-bank dalam rekapitalisasi masih sangat terbatas. Berbagai permasalahan di atas menyebabkan potensi sumber pembiayaan dari dalam negeri tidak dapat disalurkan ke dalam bentuk investasi. Hal ini terefleksi dari masih besarnya surplus kesenjangan tabungan-investasi (saving-investment gap) pada tahun laporan (Grafik 2.2). Nisbah surplus kesenjangan tabungan-investasi terhadap PDB meningkat dari 4,1% menjadi 5,0% (Tabel 2.2). Kenaikan surplus ini berasal dari kenaikan nisbah surplus kesenjangan tabungan – investasi pada sektor swasta dari 5,1% menjadi 7,2%. Di lain pihak, sektor pemerintah masih mencatat defisit pada nisbah kesenjangantabungan investasi, yakni dari 1,0% menjadi 2,2%.2) Peningkatan surplus kesenjangan tabungan-investasi swasta terutama bersumber dari peningkatan tabungan swasta yang lebih cepat dibandingkan peningkatan investasi.

Tabel 2.2 Kesenjangan Tabungan Investasi
1998 1999 triliun rupiah Pemerintah Tabungan Investasi Defisit (–), surplus (+) Swasta Tabungan Investasi Defisit (–), surplus (+) Tabungan Domestik Bruto (a) Investasi Kesenjangan Tabungan Investasi PDB 2000

48,0 49,8 –1,8 236,4 193,2 43,1 284,4 243,0 41,3 955,8

62,9 74,2 –11,3 222,8 166,1 56,7 285,7 240,3 45,4 1.110,0

36,1 64,4 –28,3 342,5 249,5 93,0 378,6 313,9 64,7 1.290,7

persentase terhadap PDB Pemerintah Tabungan Investasi Defisit (–), surplus (+) Swasta Tabungan Investasi Defisit (–), surplus (+) Tabungan Domestik Bruto (a) Investasi Kesenjangan Tabungan Investasi Transaksi Berjalan (dalam miliar USD) 5,0 5,2 –0,2 24,7 20,2 4,5 29,8 25,4 4,3 4,1 5,7 6,7 –1,0 20,1 12,0 5,1 25,7 21,6 4,1 5,8 2,8 5,0 –2,2 26,5 19,3 7,2 29,3 24,3 5,0 7,7

2) Perhitungan kesenjangan tabungan-investasi untuk sektor pemerintah menggunakan tahun kalender.

Catatan : Rata-rata nilai tukar Rp/USD 10.088 7.850 8.400 (a) Tidak termasuk perubahan stok Sumber : Departemen Keuangan, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)

26

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

(BBM) akibat tertundanya pelaksanaan kenaikan harga BBM, adanya kenaikan volume impor BBM serta meningkatnya pembayaran bunga obligasi pemerintah. Di sisi lain, penurunan investasi disebabkan oleh besarnya jumlah dana yang harus dialokasikan pemerintah untuk pengeluaran rutin yang bersifat wajib (non-discretionary) yaitu belanja pegawai pusat dan daerah, pembayaran bunga utang, dan subsidi. Peningkatan surplus kesenjangan tabungan-investasi tersebut mengindikasikan bahwa potensi pembiayaan dari dalam negeri mampu berperan lebih besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun potensi tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena adanya berbagai hambatan dalam penyalurannya. Rendahnya penyaluran kredit perbankan ke sektor riil tidak terlepas dari belum berjalan sepenuhnya perkembangan restrukturisasi kredit serta masih terbatasnya sektor usaha yang layak untuk dibiayai. Tentunya berbagai kendala di dalam negeri harus segera diatasi agar proses pemulihan dapat semakin cepat. Sementara itu, sumber pembiayaan dari luar negeri untuk peningkatan kegiatan investasi juga masih relatif terbatas mengingat belum kondusifnya iklim usaha di dalam negeri. Terbatasnya sumber pembiayaan luar negeri juga tercermin dari neraca modal yang masih mengalami defisit terutama karena lebih rendahnya aliran modal masuk bersih sektor pemerintah. Penyumbang terbesar ketiga dalam pembentukan PDB adalah konsumsi yang pada tahun sebelumnya merupakan satu-satunya kegiatan yang memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan. Dalam periode laporan konsumsi masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 3,9%, dengan sumbangan sebesar 3,1% terhadap PDB, walaupun lajunya sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi ini

Peningkatan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi antara lain disebabkan oleh adanya perbaikan pendapatan masyarakat, mulai mengucurnya kredit konsumsi, dan tingginya ekspektasi kenaikan harga yang mendorong sebagian pelaku ekonomi untuk melakukan konsumsinya sekarang. Rendahnya suku bunga tabungan/deposito perbankan turut menyebabkan masih tingginya pengeluaran konsumsi dalam tahun laporan. Peningkatan konsumsi tersebut dicerminkan oleh sejumlah indikator konsumsi seperti meningkatnya konsumsi semen dan penjualan kendaraan bermotor. Konsumsi semen meningkat cukup tajam terutama pada paro kedua tahun 2000 (Grafik 2.3). Hal ini sejalan dengan mulai meningkatnya pertumbuhan sektor bangunan yang cukup pesat setelah sempat mengalami kontraksi pada tahun sebelumnya. Gambaran serupa juga terjadi pada penjualan kendaraan bermotor yang menunjukkan kecenderungan meningkat (Grafik 2.4). Selain menunjukkan masih meningkatnya konsumsi masyarakat, kedua indikator tersebut menyiratkan masih terjadinya alokasi pengeluaran yang terkonsentrasi pada barang-barang tahan lama (durable goods). Indikator konsumsi lainnya yaitu hasil Survey Penjualan Eceran (SPE) juga menunjukkan peningkatan (Grafik 2.5). Indeks penjualan eceran menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi sejak triwulan II/2000 setelah sempat mengalami

Ribu ton 2.500

2.000

1.500

1.000

500

0

didukung oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 3,6%, dengan sumbangan sebesar 2,6% terhadap PDB. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu 6,5% meskipun sumbangannya relatif rendah yakni sebesar 0,5%.

Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei. Jul. Sep. Nov.

1998

1999

2000

Grafik 2.3 Konsumsi Semen
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia

27

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

jumlah realisasi pengeluaran pemerintah yang mempengaruhi
Unit
30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 0
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.

Unit Non Niaga (aksis kanan) Niaga (aksis kiri)
5.000 4.500 4.000 3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0 1998 1999 2000

permintaan agregat tersebut, 62,0% dalam bentuk pengeluaran konsumsi dan sisanya sebesar 38,0% dalam bentuk pengeluaran investasi. Sejalan dengan perkembangan pengeluaran pemerintah tersebut, kondisi keuangan pemerintah dalam tahun anggaran 2000 (April–Desember) mengalami defisit sebesar 3,2% dari PDB, lebih rendah dibandingkan prakiraan pada awal tahun sebesar 4,8% dari PDB. Lebih rendahnya defisit tersebut terutama disebabkan oleh lebih besarnya realisasi penerimaan migas dari yang direncanakan semula akibat membaiknya harga minyak dunia. Di sisi lain realisasi pengeluaran pemerintah hampir seluruhnya sesuai dengan rencana yang ditetapkan

Grafik 2.4 Penjualan Kendaraan Bermotor
Sumber: Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)

sebelumnya. koreksi terhadap faktor musiman dengan berlalunya musim libur anak sekolah. Sementara itu, konsumsi pemerintah dalam tahun laporan mengalami pertumbuhan sebesar 6,5%. Realisasi pengeluaran pemerintah mencapai Rp223,9 triliun, dimana 49,0% atau Rp109,3 triliun diantaranya mempengaruhi permintaan agregat sebagai belanja konsumsi dan investasi pemerintah, dan 42,2% atau Rp94,5 triliun sebagai pembayaran transfer ke sektor swasta dalam bentuk pembayaran subsidi dan bunga utang dalam negeri. Dari Penawaran Agregat Dari sisi penawaran, proses pemulihan ekonomi juga terlihat semakin menjanjikan. Semua sektor telah memberikan nilai tambah yang positif pada perekonomian, dengan sektor industri pengolahan tetap sebagai penyumbang pertumbuhan terbesar. Namun demikian, peningkatan penawaran ini tidak tumbuh secepat pertumbuhan permintaan mengingat investasi pada tahun-tahun sebelumnya sempat mengalami kontraksi. Sedangkan dalam tahun laporan, penanaman investasi baru masih rendah dibanding masa sebelum krisis. Di samping itu, berkurangnya tingkat kapasitas terpasang sebagai dampak dari krisis serta
Indeks 250

berbagai

hambatan

lain

khususnya

dari

sisi

pembiayaannya turut mempengaruhi lambatnya
200

pertumbuhan dari output potensial. Laju pertumbuhan output potensial yang lebih lambat dari laju pertumbuhan permintaan --yang dalam beberapa tahun terakhir

150

100

dimotori oleh pertumbuhan konsumsi-- pada gilirannya
50

akan memberikan tekanan pada peningkatan harga umum.
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

0 2000

Penawaran Jangka Pendek Grafik 2.5 Indeks Penjualan Eceran Dalam tahun 2000 semua sektor dalam perekonomian mencatat pertumbuhan positif. Sektor industri pengolahan

28

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

tetap menjadi motor utama pertumbuhan, diikuti oleh sektor perdagangan dan sektor pengangkutan (Boks: Krisis dan Struktur Perekonomian Indonesia). Sektor keuangan yang pada tahun sebelumnya mengalami kontraksi terbesar juga sudah mencatat pertumbuhan positif. Sektor industri pengolahan pada tahun 2000 mencatat pertumbuhan sebesar 6,2%. Walaupun pertumbuhan sektor ini lebih kecil dibandingkan sektor pengangkutan, sektor listrik, dan sektor bangunan, namun mengingat pangsa sektor industri pengolahan yang sangat besar dalam pembentukan PDB maka dengan pertumbuhan tersebut menyebabkan kontribusi sektor ini menjadi yang terbesar. Pertumbuhan di sektor industri pengolahan ini seiring dengan meningkatnya permintaan khususnya untuk subsektor industri nonmigas. Kegiatan yang memberikan kontribusi terbesar adalah alat angkutan, mesin dan peralatan serta pupuk, kimia dan barang dari karet. Peningkatan kinerja sektor industri pengolahan ini sejalan dengan meningkatnya impor bahan baku untuk proses produksi. Kinerja sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi tersebut sejalan dengan hasil Survey Produksi yang dilakukan Bank Indonesia terhadap sejumlah perusahaan manufaktur yang menunjukkan adanya peningkatan indeks produksi (Grafik 2.6). Dari 9 kelompok industri yang disurvei, hampir seluruh kelompok industri

menunjukkan peningkatan kecuali kelompok industri kayu, rotan dan rumput-rumputan. Kelompok industri yang mencatat pertumbuhan tertinggi secara berurutan adalah kelompok industri barang dari logam, kelompok industri pengolahan lainnya, dan kelompok industri makanan, minuman dan tembakau. Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga turut mencatat pertumbuhan yang tinggi, yakni sebesar 5,7%. Kontribusi terbesar pada pertumbuhan sektor ini berasal dari subsektor perdagangan sebagaimana tercermin dari Indeks Penjualan Eceran yang senantiasa meningkat (Grafik 2.5). Selain itu, tingkat hunian hotel di Jakarta dan Bali juga cenderung meningkat, sehingga memberikan kontribusi positif bagi perkembangan subsektor hotel dan subsektor restoran (Grafik 2.7). Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun laporan mencatat pertumbuhan sebesar 9,4% dengan sumbangan terbesar berasal dari subsektor angkutan jalan raya. Momentum kebangkitan sektor ini tidak terlepas dari adanya Hari Raya Idul Fitri yang terjadi dua kali dalam tahun laporan serta mulai stabilnya harga suku cadang yang sempat menjadi pemicu krisis pada sektor ini. Mulai stabilnya harga suku cadang tercermin dari meningkatnya indeks penjualan untuk kendaraan dan suku cadang dalam survei penjualan eceran. Disamping itu, pertumbuhan sektor pengangkutan juga didukung oleh peran kegiatan pariwisata yang terus

Indeks 160 Indeks Produksi Manufaktur Trend 140

%
75

65

120

55

100

45

80

35

Jakarta Bali
25
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.

60 1998 1999 2000

Jan. Mar. Mei

Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei

Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei

Jul.

1998

1999

2000

Grafik 2.6 Perkembangan Indeks Produksi

Grafik 2.7 Tingkat Hunian Hotel di Jakarta dan Bali

29

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Ribu orang 110 100 90

% 100 Ritel 90 Kantor

80

80 70 60 50 40
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul.

70

60

50
Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

1998

1999

2000

1999

2000

Grafik 2.8 Kedatangan Wisman melalui 4 Pintu Kedatangan Utama

Grafik 2.9 Tingkat Hunian Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran

meningkat, yang tercermin pada peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia melalui 4 pintu kedatangan utama (Grafik 2.8). Beroperasinya beberapa maskapai penerbangan baru juga turut memberikan kontribusi bagi pertumbuhan sektor ini. Sektor bangunan yang sempat mengalami kontraksi paling besar pada awal krisis, sudah mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif, yakni sebesar 6,8%, jauh membaik dibandingkan kontraksi sebesar 0,7% pada tahun lalu. Peningkatan sektor ini ditandai dengan maraknya perkembangan properti terutama pada segmen properti komersial sejalan dengan meningkatnya kegiatan dunia usaha. Permintaan akan ruang pusat perbelanjaan di wilayah Jabotabek dan areal perkantoran di wilayah Jakarta sepanjang tahun laporan menunjukkan kecenderungan yang meningkat seperti yang tercermin dari tingginya tingkat hunian properti komersial (Grafik 2.9). Sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 1,7%, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa faktor yang menyebabkan melambatnya pertumbuhan pada sektor pertanian ini antara lain berlalunya masa bonanza tanaman perkebunan yang sempat terjadi pada awal krisis, terbatasnya pendanaan untuk melakukan ekspansi usaha, dan meningkatnya harga input produksi yang

sebagian masih harus diimpor. Melimpahnya pasokan komoditi substitusi pertanian dari luar negeri turut menyebabkan melambatnya pertumbuhan pada subsektor tanaman bahan makanan. Selain itu, rendahnya harga jual produk tanaman bahan makanan, seperti beras, jagung, gula, turut menurunkan motivasi petani untuk menggarap tanah olahannya.

Penawaran Jangka Panjang Sisi penawaran jangka panjang atau output potensial3) selama tahun laporan sudah menunjukkan arah yang membaik. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, berbagai indikator menunjukkan adanya perkembangan positif seperti meningkatnya investasi walaupun relatif terbatas dan meningkatnya jumlah angkatan kerja yang menambah jumlah input faktor produksi. Perkembangan ini pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan output potensial. Namun demikian, kenaikan output potensial ini masih lebih lambat dari kenaikan output aktual (permintaan). Masih

3) Output potensial dihitung dengan menggunakan metode HodricPrescott filter. Metode ini sebenarnya mengandung kelemahan terutama berkaitan dengan masalah end-point problem. Penggunaan metode ini tetap populer terutama karena kepraktisannya. Upaya untuk mengatasinya ialah dengan memasukkan proyeksi PDB sampai dengan tahun 2003.

30

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Rasio 18 16 14 12 10
14,8

Triliun Rp. 115 Aktual 110 105 100 95 Potensial

8 6 4 2 0 1986-1988 1989-1991 1992-1994
5,0 5,4 4,3

6,9

90 85 80 75
1995-1997 1998-2000
I III I III I III I III I III I III I III I III

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

Grafik 2.10 Perkembangan ICOR periode 3 tahun

Grafik 2.12 Kesenjangan Output
Sumber: Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia (diolah)

rendahnya minat investasi serta terbatasnya penyaluran kredit investasi jangka panjang menyebabkan pertambahan kapasitas terpasang menjadi relatif terbatas. Sementara itu, sempat terbengkalainya mesin-mesin dan peralatan karena tidak beroperasinya pabrik-pabrik, mahalnya suku cadang, menyebabkan penyusutan nilai kapasitas terpasang menjadi lebih cepat. Masih belum pulihnya investasi jangka panjang secara penuh turut mempengaruhi percepatan pertumbuhan output potensial. Kondisi sosial politik dan keamanan yang belum kondusif turut memperberat permasalahan yang

dihadapi dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia. Permasalahan pemulihan perekonomian juga terkait dengan masih rendahnya produktivitas dan belum pulih sepenuhnya mata rantai proses produksi. Hal ini tercermin dari tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) pada periode 1998–2000 (Grafik 2.10).4) Perlu dicermati bahwa lonjakan angka ICOR ini merupakan konsekuensi yang wajar karena rendahnya pertumbuhan ekonomi pada periode krisis tersebut. Pada saat yang bersamaan, pertumbuhan permintaan semakin cepat. Peningkatan permintaan ini belum diantisipasi sepenuhnya dengan melakukan investasi baru, melainkan lebih memanfaatkan kapasitas menganggur yang tersedia

% 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.

sebagaimana tercermin dari hasil Survei Produksi Bank Indonesia yang memperlihatkan adanya peningkatan kapasitas terpakai (Grafik 2.11). Tingginya permintaan aktual yang tidak diikuti pertumbuhan output potensial dengan kecepatan yang sama akan menyebabkan kesenjangan output menjadi menyempit (narrowing output gap) dan pada gilirannya akan memberikan tekanan pada peningkatan harga-harga umum (Grafik 2.12).
2000

4) ICOR selama periode t2 sampai dengan t1, dihitung dengan rumus:

Grafik 2.11 Kapasitas Terpakai

ICORt -t =
2 1

t=t2-1

Σ PMTDB
1

t1-1

t

PDBt – PDBt

2

31

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Ketenagakerjaan Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian, kondisi ketenagakerjaan juga turut membaik yang antara lain tercermin dari mulai terjadinya proses penyerapan tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbuka --yang merupakan perbandingan antara jumlah pengangguran terbuka terhadap jumlah angkatan kerja-- mengalami penurunan, mengingat penambahan jumlah angkatan kerja dapat diimbangi oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja yang lebih cepat. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2000 adalah sebesar 6,1%, menurun dibandingkan dengan pengangguran terbuka tahun lalu sebesar 6,4% (Tabel 2.3). Indikator penting lainnya yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang mengukur nisbah antara jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja, menunjukkan peningkatan. Peningkatan TPAK ini menggambarkan jumlah penduduk yang bersedia secara aktif melakukan kegiatan ekonomi terhadap total penduduk usia kerja meningkat. Selain itu, sejalan dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka, jumlah perkara yang masuk maupun tenaga kerja yang terkait dalam proses PHK tersebut cenderung menurun (Grafik 2.13). Namun demikian, terdapat beberapa hal yang masih menjadi tantangan di bidang ketenagakerjaan. Meskipun angka pengangguran menunjukkan penurunan, jumlah orang menganggur masih mencatat angka yang cukup tinggi yaitu 5,9 juta orang. Dari sisi tingkat pendidikan, proporsi tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan rendah masih sangat besar, dimana sekitar 38,0% dari tenaga kerja hanya tamatan sekolah
Diploma 2% Universitas 2% < SD 24%

Kasus 700 600 500 400 300 200 100 0
I II III IV I II III

Ribu orang Perkara Tenaga Kerja 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
IV

1999

2000

Grafik 2.13 Perkembangan PHK

dasar (Grafik 2.14). Apabila digabungkan dengan kelompok tenaga kerja yang tidak pernah sekolah/tidak tamat SD, maka pangsa mereka mencapai 62,0%. Sementara itu, tenaga kerja dengan pendidikan akademi atau lebih tinggi hanya memiliki pangsa 4,0%. Di samping menurunnya tingkat pengangguran, tingkat pendapatan masyarakat juga turut meningkat. Pada tahun 2000, upah minimum regional (UMR) meningkat sebesar 25,0% dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel 2.4). Perkembangan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana tercermin dari laju

Tabel 2.3 Indikator Ketenagakerjaan
1998 Indikator Juta penduduk Penduduk usia kerja Jumlah Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (%) TPAK (%)
Sumber : Badan Pusat Statistik

SMA 18%

1999

2000 ∆1999–2000

138,5 92,8 87,7 5,1 5,5 66,9

141,1 94,8 88,9 6,0 6,4 67,2

141,3 95,7 89,8 5,9 6,1 67,7

0,15 0,95 1,04 –1,64 –2,60 0,73

SMP 16%

SD 38%

Grafik 2.14 Latar Belakang Pendidikan Tenaga Kerja
Sumber : Badan Pusat Statistik

32

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Tabel 2.4 Perkembangan UMR dan KHM
1)

Tabel 2.5 Upah/Gaji Mingguan
Upah Nominal Upah Riil Ribu rupiah Tahun Industri Pengolahan 67,8 75,4 73,1 78,1 78,7 88,0 90,1 Hotel PertamIndustri bangan Pengolahan 200,1 246,8 202,1 220,2 231,1 235,7 234,9 32,9 36,8 36,5 37,6 38,4 42,5 42,6 Hotel Pertambangan 97,1 120,6 100,9 110,1 112,8 113,9 111,0

UMR Tahun

KHM

UMR

KHM

UMR/KHM Persen 90,6 93,5 74,4 68,5 82,6 I/99 II/99 III/99 IV/99 I/00 II/00 III/00 74,1 77,7 78,1 97,4 95,8 98,0 95,1

Rupiah per bulan 118.170 125,65 144.491 166,917 207,752 130.501 134,384 194,161 243,667 251,634

Perubahan (%) 57,9 6,3 15,0 15,5 24,5 37,9 3,0 44,5 25,5 3,3

1996 1997 1998 1999 2000

35,9 38,0 39,0 48,7 46,8 47,3 44,9

1) UMR dihitung berdasarkan 30 hari kerja Sumber: Departemen Tenaga Kerja

Sumber: Badan Pusat Statistik

pertumbuhan UMR yang semakin tinggi (Grafik 2.15). Namun demikian, masih terdapat perbedaan upah yang sangat tajam baik antar daerah/kota maupun antar sektor ekonomi. Daerah

yang memiliki UMR paling tinggi adalah Batam, diikuti oleh Jakarta, Jabar dan Irian Jaya, sedangkan daerah dengan UMR terendah adalah Maluku, Jambi dan Bengkulu. Peningkatan UMR ini juga lebih cepat dari peningkatan Kebutuhan Hidup

Rupiah 2000 1999 1998 1997 1996 1995 1994 1993 1992 1991 1990
1.340 1.621 2.195 1.835 2.888 3.441 4.347 3.939 5.009 5.782 7.328

Minimum (KHM). Perkembangan tersebut mengakibatkan nisbah UMR/KHM juga membaik yang mengindikasikan adanya perbaikan dalam tingkat kesejahteraan masyarakat. Di samping kenaikan UMR, pemerintah melalui kebijakan pendapatan, juga menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Polri. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi juga turut memperbaiki pendapatan pekerja, sebagaimana tercermin dari peningkatan upah/gaji nominal yang diterima oleh pekerja di sektor industri pengolahan dan perhotelan

Grafik 2.15 Upah Minimum Harian Regional1)
1)Tidak termasuk Batam

menunjukkan peningkatan. Peningkatan pendapatan yang lebih cepat dari laju inflasi pada akhirnya menyebabkan upah/ gaji riil meningkat (Tabel 2.5).

33

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Boks : Krisis dan Struktur Perekonomian Indonesia
Berdasarkan pendekatan strukturalis, pembangunan ekonomi merupakan suatu proses transisi dan transformasi yang berkisar pada perubahan struktural yang menyangkut perubahanperubahan pada struktur dan komposisi produk nasional, kesempatan kerja produktif, ketimpangan antarsektoral, antardaerah, dan antar- golongan masyarakat, serta kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.1) Lebih jauh, Simon Kuznets –pemenang nobel bidang ekonomi pada tahun 1971— dalam penjelasannya mengenai modern economic growth menekankan bahwa negara berkembang pada umumnya dicirikan dengan karakteristik-karakteristk yang pada intinya mencakup pertumbuhan dari besaran makro ekonomi (output perkapita, populasi, dan produktivitas), transformasi struktural dari besaran ekonomi agregat tersebut, dan distribusi dari pertumbuhan itu sendiri. Untuk kasus Indonesia, sejumlah indikator menunjukkan telah terjadinya perubahan struktur perekonomian dalam periode sebelum krisis. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian kebijakan liberalisasi di berbagai sektor ekonomi yang ditempuh Pemerintah sejak awal dekade 1980-an. Setelah terjadinya krisis sejak pertengahan 1997, timbul pertanyaan apakah struktur perekonomian Indonesia telah mengalami perubahan secara signifikan. Dalam tulisan ini, pembahasan akan lebih difokuskan kepada permasalahan sekitar transformasi dalam perekonomian. Dari sisi penawaran, transformasi struktural dapat dideteksi dengan karakteristik turunnya peranan/pangsa (share) sektor primer yang tradisional (sektor pertanian dan sektor pertambangan). Pada saat yang bersamaan sektor sekunder (sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air minum, dan sektor bangunan) meningkat dan selanjutnya diikuti oleh peningkatan sektor tersier (sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan telekomunikasi, sektor bank dan lembaga keuangan, dan sektor jasa-jasa). Dalam proses ini, pergeseran pangsa tetap harus diikuti oleh pertumbuhan dari masing-masing sektor meskipun dengan laju yang berbeda. Lebih lanjut, pengalaman negara-negara berkembang menunjukkan, laju percepatan dari suatu proses transformasi akan berbeda untuk masing-masing negara, tergantung dari karakteristik perekonomian negara yang bersangkutan. Untuk negara yang kaya sumber daya alam, proses transformasinya cenderung lebih lambat dibandingkan dengan negara yang perekonomiannya relatif tidak tergantung pada sumber daya alam. Perbedaan ini karena untuk negara-negara yang kaya sumber daya alam cenderung masih membutuhkan pertumbuhan yang relatif tinggi pada sektor primer untuk mendukung percepatan pertumbuhan pada sektor lainnya. Dari grafik mengenai perubahan pangsa terhadap PDB terlihat bahwa sampai sebelum krisis, pangsa sektor primer terlihat terus menurun, pada saat yang bersamaan sektor sekunder dan sektor tersier terus meningkat. Pada awal tahun 1980, pangsa sektor primer masih mencapai sekitar 43% dari PDB, dan secara konsisten turun hingga sekitar 23% pada tahun 1997. Sementara itu, pangsa sektor sekunder dan sektor tersier naik masing-masing dari sekitar 18% dan 37% menjadi sekitar 34% dan 42%. Memasuki periode krisis, terjadi perubahan arah dengan meningkatnya kembali pangsa sektor primer sampai sekitar 26%. Dalam periode yang relatif singkat ini, perubahan pola ini belum dapat ditengarai apakah bersifat permanen atau sementara. Proses transformasi struktural yang terjadi pada masa sebelum krisis disatu pihak sejalan dengan pola pembangunan yang umum dialami oleh negara berkembang. Sejak diterapkannya deregulasi perbankan pada tahun 1983 yang mengawali berbagai deregulasi di bidang ekonomi dan keuangan, terlihat peningkatan yang pesat pada pangsa sektor sekunder. Meningkatnya potensi sumber pembiayaan dimanfaatkan dengan melakukan investasi pada sektor industri pengolahan. Selanjutnya, dengan diberlakukannya paket kebijakan Oktober 1988 (Pakto 1988) yang memberikan ruang gerak lebih luas pada perbankan, pangsa sektor tersier menunjukkan peningkatan yang pesat terutama disumbang
1) Sumitro Djojohadikusumo, “Dasar Teori Ekonomi Pertumuhan dan Ekonomi Pembangunan”, Jakarta, Juni 1994, hal 126.

oleh lonjakan pangsa sektor bank dan lembaga keuangan. Perkembangan yang amat pesat pada sektor sekunder

34

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

terutama untuk industri pengolahan dan (pada tahap berikutnya) sektor tersier yang dimotori oleh perbankan, jauh melebihi percepatan pertumbuhan sektor primer sehingga pangsa sektor primer menurun secara tajam. Permasalahan yang muncul adalah mengenai percepatan tranformasi itu sendiri. Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam --dengan mengacu pada pengalaman negara-negara berkembang sebagaimana telah disebutkan di muka-- seyogyanya mengalami proses penurunan pangsa sektor primer yang tidak terlalu drastis. Batasan mengenai kecepatan perubahan ini sendiri memang sumir, sehingga kajian singkat ini tidak akan membahas lebih jauh mengenai “ketepatan” dari percepatan laju perubahan tersebut melainkan lebih menekankan pada bagaimana

proses transformasi itu terjadi, mulai dari masa pertumbuhan tinggi (booming) hingga periode pemulihan. Seperti telah disinggung sebelumnya, proses transformasi di Indonesia dipicu oleh perkembangan industri manufaktur yang amat pesat. Namun, proses ini ternyata didukung oleh perkembangan industri manufaktur yang kurang berbasis pada sumber daya alam dimana Indonesia memiliki keunggulan komparatif. Ekspansi usaha yang pesat pada sektor sekunder berpusat pada proyek-proyek berskala mega maupun sektor yang relatif kurang kompetitif namun memberikan return tinggi. Pembiayaan kegiatan ini dilakukan dengan melakukan pinjaman luar negeri yang pada gilirannya dapat memberikan tekanan pada neraca pembayaran dan memiliki potensi permasalahan dalam pelunasannya.

%
45,0 40,0 35,0

%
44,0 43,0 42,0 41,0

% 30,0 Pertanian Pertambangan

% 30,0

25,0

25,0

20,0

20,0

30,0 25,0

40,0 39,0 38,0

15,0

15,0

20,0 Primer 15,0
I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV

10,0
37,0 Sekunder Tersier (aksis kanan) 36,0

10,0

5,0
I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV

5,0
‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

%

% 10,0 Industri Listrik (aksis kanan) Bangunan (aksis kanan)

% 18,0
Perdagangan Pengangkutan Jasa-jasa Bank

%
11,0

30,0

26,0

8,0

16,0

10,0

22,0

6,0

14,0

9,0

18,0

4,0

12,0

8,0

14,0

2,0

10,0

7,0

10,0
I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV

0,0
‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

8,0
I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV III II I IV

6,0
‘82 ‘83 ‘84 ‘85 ‘86 ‘87 ‘88 ‘89 ‘90 ‘91 ‘92 ‘93 ‘94 ‘95 ‘96 ‘97 ‘98 ‘99 ‘00

Grafik 1 Pangsa terhadap PDB

35

Bab 2 Kondisi Makroekonomi

Perkembangan ini dimungkinkan karena adanya proteksi terhadap proyek-proyek tersebut, serta diperparah dengan adanya distorsi-distorsi seperti mark-up nilai proyek, praktik KKN dan lain sebagainya yang menghasilkan ekonomi biaya tinggi dan berdiri tidak dengan fondasi yang kuat (bubbles). Berbagai ketidakseimbangan ini pada gilirannya akan mengalami penyesuaian. Krisis yang terjadi --diawali dengan tekanan pada nilai tukar sejak paro kedua 1997-- telah mengubah arah pangsa masing-masing sektor terhadap PDB. Sektor primer yang secara konsisten menunjukkan penurunan pangsa, sejak krisis melonjak dengan pesat. Mengingat Indonesia sebagai suatu negara yang kaya akan sumber daya alam dan mempunyai latar belakang historis pertanian yang kental, sektor primer pada saat krisis menjadi bantalan (bumper) terhadap anjloknya pertumbuhan. Hal ini terlihat dari meningkatnya peran sektor pertanian dan pertambangan dalam pembentukan PDB. Seiring dengan meningkatnya pangsa sektor primer, sektor sekunder dan terutama sektor tersier menurun drastis, sebagai koreksi terhadap bubbles yang terjadi sebelumnya. Penurunan pangsa sektor sekunder memang tidak terlalu drastis karena masih tertolong oleh peningkatan pangsa industri makanan, minuman dan tembakau, industri pengilangan minyak bumi dan gas alam cair. Namun demikian, sebagian besar industri yang termasuk dalam sektor industri pengolahan mengalami penurunan, terutama pangsa dari industri semen dan industri alat angkutan, mesin dan peralatan. Sektor tersier bahkan mengalami penurunan pangsa yang paling dalam. Sejalan dengan yang pernah dialami oleh negara-negara lain dimana penyesuaian terhadap bubbles pertama-tama akan menyebabkan koreksi pada sektor properti, sektor konstruksi di Indonesia juga mengalami kontraksi yang amat dalam sehingga menipiskan pangsanya dalam pembentukan PDB. Pergeseran pangsa ini berlangsung kurang lebih 1–2 tahun dan secara perlahan arah pergerakan telah kembali ke pola transformasi struktural yang biasa dialami oleh negara berkembang. Patut dicermati bahwa peningkatan pangsa

sektor primer pada periode awal krisis ekonomi bukanlah suatu fenomena distranformasi, tapi lebih merupakan dampak penyesuaian pasar terhadap sektor sekunder dan tersier. Secara nominal, nilai tambah sektor primer relatif tidak bertambah semenjak krisis, sedangkan nilai tambah sektor sekunder dan tersier merosot drastis. Hal ini tidak sejalan dengan proses transformasi yang tidak hanya merupakan pergeseran pangsa tetapi juga mensyaratkan pertambahan dari segi produksinya. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa selama krisis terganggunya proses kelangsungan proses produksi pada sektor sekunder, khususnya industri pengolahan, merupakan akibat dari merosotnya impor karena nilai tukar rupiah yang melorot tajam sejak pertengahan 1997. Di sisi lain, depresiasi nilai tukar telah menyebabkan ekspor meningkat khususnya untuk komoditi di sektor primer. Seiring dengan surplus transaksi berjalan yang semakin besar, kemampuan untuk melakukan impor khususnya bahan baku dan barang modal menjadi meningkat pula, sehingga mendorong kegiatan di sektor industri pengolahan, baik untuk memenuhi permintaan domestik maupun lular negeri. Mulai pulihnya konsumsi masyarakat serta sektor industri pengolahan menandai dimulainya periode pemulihan. Laju pertumbuhan sektor sekunder meningkat relatif pesat, melampaui laju pertumbuhan di sektor primer, sehingga pangsa sektor ini kembali meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akibat krisis yang terjadi sejak 1997 yang lalu, perekonomian Indonesia tidak mengalami perubahan struktur yang signifikan. Pergeseran pangsa yang terjadi hanyalah merupakan shock temporer sebagai penyesuaian terhadap landasan perekonomian Indonesia. Sektor sekunder dan tersier akan tetap menjadi motor pertumbuhan dengan pangsa yang terus meningkat. Pelajaran yang dapat ditarik yang terkait dengan perubahan struktur tersebut adalah perlunya strategi pembangunan, khususnya sektor industri, yang lebih berbasis pada sumber daya alam sehingga proses peralihan dari sektor primer yang tradisional ke sektor sekunder dan tersier berlangsung secara lebih "wajar".

2) Grafik mengenai ICOR dapat dilihat pada Grafik 2.10

36

Bab 3

Nilai Tukar dan Inflasi

3
P

b a Nilai Tukar dan Inflasi b Bab 3

Nilai Tukar dan Inflasi
Bab 3 Moneter

erkembangan nilai tukar dan inflasi sepanjang tahun 2000 sangat terkait dengan perkembangan di sisi makro-

bersifat menetap (persistent). Secara keseluruhan, laju inflasi tahun 2000 mencapai 9,35% (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi tahun 1999 sebesar 2,01%. Melemahnya nilai tukar rupiah yang lebih besar dari yang diprakirakan juga mendorong tekanan kenaikan harga melalui kenaikan harga barang-barang impor. Selama tahun 2000, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai Rp8.400 per dolar AS, lebih tinggi dari asumsi sebesar Rp7.000 per dolar AS yang digunakan dalam penetapan sasaran inflasi. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat terutama sejak bulan April 2000 sebagai akibat perkembangan situasi politik dan keamanan menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2000, menguatnya mata uang dolar AS terhadap hampir semua mata uang utama dunia, dan besarnya permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri. Tekanan-tekanan terhadap rupiah telah membuat kurs rupiah menjadi terlalu rendah terhadap nilai fundamentalnya. Perkembangan tersebut menggambarkan eratnya kaitan antara perkembangan sisi ekonomi maupun politik dan keamanan dengan perkembangan inflasi dan nilai tukar. Dalam hal ini, Bank Indonesia berperan penting dalam memelihara kestabilan nilai rupiah dalam mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 7 Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah baik terhadap harga barang dan jasa di dalam negeri (laju inflasi) maupun kestabilan nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing (nilai tukar rupiah). Dalam melaksanakan pengendalian moneter, Bank Indonesia menetapkan laju inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter dengan mempertimbangkan berbagai asumsi penting seperti pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar, termasuk juga asumsi situasi politik yang berdampak bagi perekonomian. Dengan demikian, pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia tersebut akan

ekonomi maupun kondisi politik dan keamanan di dalam negeri. Proses pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang diprakirakan ternyata diikuti oleh meningkatnya tekanantekanan kenaikan harga terutama sejak pertengahan tahun 2000. Akselerasi kegiatan ekonomi telah memberikan dorongan kenaikan di sisi permintaan yang cukup kuat baik untuk konsumsi, impor maupun investasi walaupun belum dapat diimbangi kenaikan di sisi penawaran. Sisi penawaran masih rawan dengan berbagai permasalahan struktural berkaitan dengan lambatnya proses restrukturisasi utang dan perusahaan, belum pulihnya intermediasi perbankan, serta sangat terbatasnya sumber pembiayaan dari luar negeri. Iklim berusaha juga belum membaik akibat perkembangan politik dan keamanan di dalam negeri. Tekanan kenaikan harga yang muncul karena berbagai permasalahan dan faktor ketidakpastian tersebut telah menyebabkan kenaikan sisi penawaran kurang dapat mendukung peningkatan di sisi permintaan. Tekanan kenaikan harga menjadi lebih besar dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi berbagai subsidi guna mendorong pembentukan harga berdasarkan mekanisme pasar serta kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS). Dalam tahun 2000, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan penyesuaian di bidang harga dan pendapatan yang antara lain mencakup pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM), kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tarif angkutan, cukai rokok, serta kenaikan gaji PNS, TNI, dan Polri, serta upah minimum regional (UMR). Selain itu, tekanan inflasi juga muncul dengan semakin tingginya ekspektasi peningkatan laju inflasi di kalangan konsumen dan produsen. Peningkatan ekspektasi ini mengakibatkan kecenderungan kenaikan harga-harga menjadi sulit diredam dengan segera karena cenderung

38

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan keuangan secara keseluruhan. Dalam tahun 2000, perkembangan ekonomi, nilai tukar dan inflasi seperti yang digambarkan di atas telah menyebabkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia menjadi lebih sulit dan dilematis. Di satu sisi, meningkatnya tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah menuntut Bank Indonesia untuk melakukan pengetatan di bidang moneter. Akan tetapi, di sisi lain pengetatan moneter ini tidak dapat dilakukan secara drastis dan berlebihan karena akan mengancam kelangsungan proses penyehatan perbankan dan restrukturisasi perusahaan yang masih rentan. Kegagalan dalam bidang-bidang tersebut pada gilirannya dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan publik terhadap prospek pemulihan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini dapat menjadi pemicu bagi kembalinya lingkaran depresiasi nilai tukar dan kenaikan laju inflasi (depreciation inflation spiral) seperti yang terjadi pada puncak krisis ekonomi yang lalu. Dalam menyikapi perkembangan inflasi, nilai tukar dan ekonomi seperti di atas, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) terutama sejak Mei 2000. Artinya, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas dalam perekonomian agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, namun dengan menghindari kenaikan suku bunga yang drastis dan berlebihan. Langkah pengetatan moneter dilakukan melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) untuk menyerap ekses likuiditas rupiah di pasar uang agar tidak digunakan untuk spekulasi di pasar valuta asing. Langkah pengetatan ini juga dibantu dengan sterilisasi valuta asing yang dilakukan Bank Indonesia untuk menyerap kembali pengeluaran rupiah dari penerimaan luar negeri pemerintah sekaligus untuk menambah pasokan valuta asing di pasar. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan langkah-langkah yang secara langsung dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, seperti pengawasan langsung terhadap sejumlah bank pelaku terbesar dalam transaksi valuta asing, monitoring

terhadap rekening vostro (milik nonresiden), dan melakukan kajian yang mendalam terhadap kemungkinan pembatasan transaksi rupiah oleh nonresiden.

Nilai Tukar Selama tahun 2000, perkembangan nilai tukar rupiah cenderung mengalami depresiasi disertai dengan volatilitas yang tinggi. Secara rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp8.400 per dolar AS, melemah dibandingkan rata-rata tahun 1999 sebesar Rp7.850 per dolar AS. Nilai tukar rupiah mencapai titik terendah sebesar Rp9.675 per dolar AS pada akhir Desember 2000. Dengan perkembangan ini, nilai tukar rupiah mengalami deviasi yang cukup besar terhadap nilai fundamentalnya. Tekanan depresiasi rupiah tersebut terutama disebabkan oleh kesenjangan antara penawaran dan permintaan valuta asing (supply-demand imbalance), ekses likuiditas rupiah di pasar uang, sentimen negatif terhadap ketidakstabilan situasi politik dan keamanan di dalam negeri, dan semakin aktifnya perdagangan rupiah oleh nonresiden sejalan dengan meningkatnya internasionalisasi rupiah. Kesenjangan yang terjadi antara penawaran dan permintaan valuta asing tersebut tidak sejalan dengan membaiknya kinerja sektor perdagangan luar negeri. Surplus perdagangan yang cukup besar dalam tahun laporan belum mampu meningkatkan pasokan valuta asing di pasar secara berarti karena devisa hasil eskpor belum seluruhnya mengalir ke dalam negeri. Demikian pula, aliran devisa masuk (capital inflows) yang bersumber dari investasi asing belum dapat diharapkan karena situasi di dalam negeri yang belum kondusif. Di pihak lain, tekanan permintaan terhadap valuta asing masih besar, terutama permintaan murni dalam rangka pelunasan utang luar negeri swasta. Ketidakseimbangan tersebut telah mengakibatkan kondisi pasar valuta asing sangat tipis sehingga sangat rentan terhadap ketidakstabilan di dalam negeri. Dalam situasi seperti itu, gejolak nilai tukar rupiah mudah terjadi yang mencerminkan rendahnya kepercayaan pelaku pasar untuk memegang rupiah. Dalam tahun laporan, konflik sosial politik yang terjadi secara berkelanjutan telah menimbulkan ketidakstabilan di dalam

39

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

negeri yang pada gilirannya telah membentuk sentimen pasar yang asimetris terhadap rupiah. Dengan perilaku yang asimetris tersebut, pelaku pasar cenderung bereaksi secara berlebihan terhadap berita negatif dibandingkan berita positif. Sementara itu, sebagai akibat belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan terbatasnya outlet investasi di pasar uang dalam negeri, kondisi likuiditas rupiah di pasar uang dalam negeri cenderung longgar. Di pihak lain, rambu-rambu yang mengatur lalu lintas rupiah antar negara (cross-border transaction) masih sangat longgar sehingga mengakibatkan ekses likuiditas rupiah di pasar uang dalam negeri (on-shore) banyak mengalir secara bebas ke pasar uang luar negeri (offshore) yang pada gilirannya meningkatkan internasionalisasi rupiah. Dalam perkembangannya, pemanfaatan rupiah di pasar luar negeri tersebut cenderung lebih banyak digunakan untuk kegiatan transaksi di pasar uang yang tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil, termasuk transaksi derivatif untuk tujuan spekulasi. Menghadapi nilai tukar rupiah yang cenderung mengalami depresiasi tersebut, Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya agar rupiah tidak mengalami depresiasi yang lebih tajam. Pertama, langkah pengetatan moneter dilakukan melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) untuk menyerap ekses likuiditas rupiah di pasar uang agar tidak dipergunakan untuk spekulasi di pasar valuta asing. Pengetatan ini juga dibantu dengan sterilisasi valuta asing yang dilakukan Bank Indonesia untuk menyerap pengeluaran rupiah pemerintah, sekaligus untuk menambah pasokan valuta asing di pasar. Kedua, Bank Indonesia juga melakukan langkahlangkah yang secara langsung dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Langkah ini antara lain mencakup pengawasan langsung terhadap sejumlah bank pelaku terbesar dalam transaksi valuta asing, monitoring terhadap rekening vostro (milik nonresiden), dan melakukan kajian yang mendalam terhadap kemungkinan pembatasan transaksi rupiah oleh nonresiden. Namun disadari bahwa upaya meredam gejolak nilai tukar tersebut belum memberikan hasil yang optimal mengingat besarnya pengaruh faktor non-ekonomi yang kurang kondusif.

Perkembangan Nilai Tukar tahun 2000 Dalam tahun 2000, nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi yang sangat tajam dengan volatilitas yang tinggi. Nilai tukar rupiah melemah dari rata-rata bulan Januari Rp7.274 per dolar AS menjadi Rp9.435 per dolar AS pada bulan Desember 2000 atau telah terdepresiasi sebesar 22,9%, dengan titik terendah pada level Rp9.675 per dolar AS yang dicapai pada akhir Desember 2000 (Grafik 3.1). Terpilihnya Pemerintahan baru secara demokratis pada akhir tahun 1999 pada awalnya telah menumbuhkan optimisme akan terciptanya stabilitas sosial politik di dalam negeri sehingga pemulihan ekonomi diharapkan berjalan lebih cepat. Hal ini diperlihatkan oleh sentimen positif pasar sehingga mendorong penjualan valuta asing di pasar dan memperkuat nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp7.000 per dolar AS. Hal ini terus berlanjut sampai awal tahun 2000. Dengan harapan kondisi sosial politik akan stabil sepanjang tahun 2000, nilai tukar rupiah pada awalnya diprakirakan akan stabil pada level Rp7.000 per dolar AS. Namun harapan tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Kondisi kondusif yang tercipta pada awal tahun tidak berlangsung lama, karena konflik sosial politik secara tidak terduga mulai meningkat terutama sejak awal April 2000. Pertentangan terbuka antar tokoh politik, kerusuhan sosial berlatar belakang etnis dan SARA di beberapa daerah, serta

Rp/$ 9.500 9.000 8.500 8.000
7.438 7.463 7.785 7.274 8.340 8.605 8.436 9.352 9.153 8.915 8.631 9.435

7.500 7.000 6.500 6.000 5.500 5.000

Jan.

Feb.

Mar.

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags.

Sep.

Okt.

Nov.

Des.

2000

Grafik 3.1 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

40

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

ancaman disintegrasi, kembali memperburuk sentimen pasar yang pada gilirannya mendorong terjadinya aksi beli valuta asing. Kepercayaan pasar untuk memegang rupiah semakin menurun setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan sovereign credit rating Indonesia untuk utang jangka panjang dan jangka pendek berdenominasi valuta asing masing-masing dari CCC+ dan C menjadi SD (selective default). Pada saat yang bersamaan Standard & Poor's juga menurunkan peringkat utang luar negeri Indonesia terhadap bank-bank asing dari CCC+ menjadi D (default). Di pihak lain, kekhawatiran terhadap melemahnya nilai tukar rupiah lebih lanjut telah mendorong pembelian valuta asing oleh dunia usaha, guna mengantisipasi pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo pada bulan Juni dan Juli. Hal ini pada gilirannya semakin memperberat tekanan depresiasi terhadap rupiah sehingga nilai tukar menembus level psikologis Rp8.000 per dolar AS pada akhir bulan April 2000, yang merupakan titik terendah sejak 15 Oktober 1999. Rendahnya kepercayaan pasar terhadap rupiah akibat kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang kurang kondusif terus berlanjut memasuki bulan Mei 2000 sehingga terus memberi tekanan depresiasi terhadap rupiah. Menghadapi nilai tukar rupiah yang depresiatif tersebut, Bank Indonesia mulai melakukan langkah pengetatan moneter

melalui operasi pasar terbuka (OPT) untuk menyerap kelebihan likuiditas rupiah di pasar. Suku bunga SBI mulai meningkat untuk memberikan sinyal kepada pasar mengenai langkah pengetatan Bank Indonesia dalam meredam melemahnya nilai tukar rupiah. Selain itu, untuk membantu OPT, Bank Indonesia juga melakukan sterilisasi valuta asing guna memberikan tambahan pasokan valuta asing di pasar. Namun, langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia tersebut belum memberikan hasil yang optimal karena eskalasi konflik politik semakin meningkat. Di samping itu, secara global mata uang dolar AS semakin menguat akibat antisipasi pasar terhadap berlanjutnya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat. Akibatnya, tekanan depresiasi terhadap rupiah terus berlanjut dan mencapai titik tertinggi pada level Rp8.650 per dolar AS pada bulan Mei 2000 (Grafik 3.2). Selanjutnya, menjelang sidang tahunan MPR 2000 konflik politik semakin tajam sehingga meningkatkan kekha watiran terhadap stabilitas keamanan di dalam negeri. Ketidakpastian akibat ketidakstabilan kondisi sosial politik tercermin dari perkembangan premi swap dan premi risiko yang terus meningkat tajam (Grafik 3.3 dan 3.4). Seiring dengan perkembangan tersebut, volatilitas nilai tukar meningkat tajam dan nilai tukar menembus level psikologis Rp9.000 per dolar AS dalam bulan Juli 2000 dan mencapai titik terendah pada level Rp9.600 per dolar AS (Grafik 3.5).

Kurs (Rp/$)

Premi

Kurs

750
9.500

10.000

700
9.000 8.500 8.000

650 600

Premi Risiko IDR/USD Trend Trend

9.500 9.000 8.500

550 500
7.500 7.000
Jan. Feb. I Mar. Apr. Mei II Jun Jul. Ags. III Sep. Okt. Nov. IV Des.

8.000 7.500 7.000
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.

IDR 10 per. Mov. Avg. (IDR)

450 400
2000

2000

Grafik 3.2 Trend Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

Grafik 3.3 Premi Risiko dan Nilai Tukar Tahun 2000

41

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

% 8,0 O/N 7,0 6,0 5,0 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan

% 5,0

3,0

1,0

–1,0
4,0 3,0 2,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

–3,0

–5,0
IV I II III IV

2000

1999

2000

Grafik 3.4 Perkembangan Premi Swap Tahun 2000

Grafik 3.5 Volatilitas Nilai Tukar Tahun 2000

Kekhawatiran tersebut memudar setelah sidang tahunan MPR berjalan lancar tanpa gangguan berarti, sehingga mendorong penjualan kembali valuta asing di pasar. Di pihak lain, melalui operasi pasar terbuka dan sterilisasi valuta asing, Bank Indonesia secara konsisten terus menyerap kelebihan likuiditas rupiah dan meningkatkan pasokan valuta asing di pasar. Kedua faktor tersebut mendorong nilai tukar rupiah menguat hingga mendekati level Rp8.000 per dolar AS pada bulan Agustus 2000. Namun demikian, penguatan nilai rupiah tersebut tidak berlangsung lama karena permintaan valuta asing oleh korporasi kembali meningkat guna mengantisipasi pelunasan utang luar negeri yang jatuh waktu sampai Desember 2000. Di pihak lain, kekhawatiran terhadap ketidakstabilan situasi sosial politik dan terganggunya stabilitas perekonomian kembali meningkat. Silang pendapat antar tokoh politik, ancaman disintegrasi, ketidakpastian terhadap amandemen UU Bank Indonesia, dan aksi teror terhadap sejumlah tempat ibadah di beberapa daerah kembali memperburuk sentimen pelaku pasar terhadap rupiah. Memburuknya sentimen pasar akibat gejolak faktor nonekonomi yang disertai dengan meningkatnya permintaan murni valuta asing oleh dunia usaha tersebut telah membuat pelaku pasar tidak banyak bereaksi terhadap beberapa faktor positif seperti upgrading peringkat sovereign credit Indonesia

oleh Standard & Poor's dan terus membaiknya kegiatan ekonomi yang didukung oleh ekspor, konsumsi dan investasi. Respon pelaku pasar yang asimetris tersebut pada gilirannya menyebabkan nilai tukar rupiah bergerak dalam trend yang melemah secara persisten sampai akhir Desember 2000. Secara rata-rata, nilai tukar rupiah pada bulan Desember mencapai Rp9.435 per dolar AS. Melemahnya nilai tukar rupiah secara cukup tajam dalam tahun 2000, telah mengakibatkan rupiah mengalami deviasi yang cukup besar terhadap nilai fundamentalnya. Dengan mengunakan pendekatan Real Effective Exchange Rate (REER) dan memperhatikan perkembangan nilai tukar negara-negara pesaing, maka rata-rata nilai tukar sepanjang tahun 2000 yang sesuai dengan keseimbangan internal dan eksternal diprakirakan hanya mencapai Rp7.500 per dolar AS. Dengan demikian, apabila dibandingkan dengan rata-rata nilai tukar pasar sepanjang tahun 2000 sebesar Rp8.400 per dolar AS, maka nilai tukar rupiah mengalami deviasi dari nilai fundamentalnya sekitar 12,0% (Grafik 3.6). Sementara itu, bila memperhitungkan posisi per Desember 2000, maka nilai tukar yang sesuai dengan keseimbangan internal dan eksternal diprakirakan hanya mencapai Rp7.600 per dolar AS. Dengan demikian, dengan rata-rata nilai tukar pasar pada bulan Desember sebesar Rp9.435 per dolar AS, maka nilai tukar rupiah telah mengalami

42

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Penawaran Valuta asing
Rp/$ 9.500 9.000 Kurs Pasar 8.500 8.000 7.500 7.000 6.500 Nilai Tukar Keseimbangan Fundamental Devisasi

Dari sisi penawaran, sumber utama pasokan valuta asing di pasar adalah devisa hasil ekspor, sterilisasi valuta asing oleh bank sentral, dan aliran modal masuk asing baik berupa penanaman modal langsung (FDI), investasi portofolio, maupun pinjaman luar negeri. Namun, beberapa kendala telah menghambat terciptanya peningkatan pasokan valuta asing tersebut sehingga kondisi pasar valuta asing domestik masih tetap tipis.
Des.

Jan.

Feb.

Mar.

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags.

Sep.

Okt.

Nov.

Sepanjang tahun 2000 kinerja ekspor Indonesia mengalami peningkatan dengan neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar $14,9 miliar. Sementara itu, lalu lintas modal swasta masih mengalami defisit sebesar $8,5 miliar karena arus modal keluar terutama untuk pembayaran utang luar negeri swasta belum diimbangi

2000

Grafik 3.6 Deviasi Kurs Pasar dari Nilai Fundamental

deviasi dari nilai fundamentalnya sekitar 24,0%. Sementara itu, apabila menggunakan pendekatan Bilateral Real Exchange Rate (BRER) , sepanjang tahun 2000 nilai tukar rupiah undervalued sekitar 45,0% --lebih tinggi dibandingkan Singapura, Thailand, Malaysia, Korea, dan Republik Rakyat Cina--, sehingga sangat kompetitif bagi produk ekspor Indonesia (Grafik 3.7). Terjadinya deviasi nilai tukar rupiah terhadap nilai ekuilibrium fundamental ekonomi juga dapat dijelaskan melalui fenomena speculative bubble yang terjadi di pasar valuta asing (Boks : "Speculative Bubble" Dalam Pasar Valuta Asing).

dengan masuknya arus modal masuk secara berarti. Namun surplus perdagangan sektor nonmigas yang cukup besar tersebut belum memberikan dampak apresiasi terhadap rupiah karena tidak seluruh devisa hasil ekspor mengalir ke dalam negeri. Eksportir masih cenderung menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di bank luar negeri karena beberapa alasan. Pertama, kepercayaan pihak luar negeri terhadap stabilitas sosial politik masih sangat rendah. Sebagai akibatnya, eksportir hanya memperoleh kontrak-kontrak perdagangan jangka pendek dan sebagai tindakan berjagajaga hal ini mendorong eksportir menyimpan devisanya di luar

Indek BRER 95 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45
Jan.
Indonesia Malaysia Singapura Korea Thailand RRC

negeri. Selain itu, masih rendahnya kepercayaan luar negeri terhadap kondisi perbankan di dalam negeri mendorong eksportir membuka L/C di bank luar negeri. Kedua, dengan menyimpan DHE di bank luar negeri, eksportir dengan mudah dapat memperoleh fasilitas kredit valuta asing dalam rangka pembiayaan ekspor dengan biaya yang lebih rendah, yang pada dasarnya kemudahan ini sulit diperoleh dari bank di dalam negeri. Hal ini mengakibatkan sebagian besar hasil
Okt. Nov. Des.

Feb.

Mar.

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags.

Sep.

devisa ekspor dimasukkan kembali dalam rekening escrow di bank-bank luar negeri. Di pihak lain, ongkos perolehan valuta asing yang harus dipikul eksportir di bank-bank domestik dinilai masih kurang kompetitif dan tidak efisien. Ketiga, kegiatan ekspor banyak diantaranya merupakan ekspor yang dilakukan

2000

Grafik 3.7 Bilateral Real Exchange Rate

43

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

nonresiden yang melakukan kegiatan produksi di Indonesia yang hasil produksinya kemudian diekspor ke luar negeri sehingga cukup beralasan bagi mereka untuk menyimpan devisa hasil eskpornya di bank luar negeri. Arus modal asing (capital inflows) baik dalam bentuk investasi langsung maupun portofolio belum menunjukkan perkembangan positif. Penanaman modal berjangka panjang masih belum dapat diharapkan karena rendahnya kepercayaan investor asing terhadap kepastian berinvestasi di Indonesia, khususnya yang terkait dengan jaminan keamanan, kepastian hukum, restrukturisasi sektor dunia usaha yang lamban, serta fluktuasi nilai tukar (risiko nilai tukar) yang sangat tinggi. Dalam pada itu, kelengkapan instrumen dan kedalaman pasar derivatif guna melakukan lindung nilai (hedging) mata uang rupiah yang sangat fluktuatif masih sangat terbatas. Sementara itu, investasi portofolio yang pada umumnya bersifat jangka pendek sangat sensitif terhadap ekspektasi perubahan situasi sosial politik di dalam negeri sehingga belum dapat menjadi sumber pasokan valuta asing yang permanen. Di pasar modal, situasi sosial politik yang belum kondusif mendorong investor asing cenderung melakukan strategi perdagangan yang hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan sesaat (hit and run). Sedangkan di pasar uang, situasi yang sama menyebabkan investor asing kurang sensitif terhadap arah perubahan suku bunga di dalam negeri. Dalam kondisi di mana country risk sangat tinggi, perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri (meskipun masih positif) bukan merupakan pertimbangan utama investor (Grafik 3.8). Di pihak lain, pengalihan portofolio investor internasional dari pasar keuangan Eropa, Jepang, dan negara-negara emerging market ke pasar keuangan Amerika Serikat sepanjang tahun laporan semakin meningkat, terutama dipicu oleh dua faktor. Pertama, berlanjutnya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat (profit motive). Kedua, merupakan upaya penyelamatan portofolio karena memburuknya sentimen investor internasional terhadap negara-negara emerging market (flight to quality motive). Kedua faktor ini, secara tidak langsung telah menghambat aliran investasi portofolio ke pasar keuangan Indonesia. Permintaan Valuta Asing Dari sisi permintaan, tekanan depresiasi terhadap rupiah diakibatkan oleh masih tingginya permintaan valuta asing yang berasal dari permintaan murni untuk transaksi ekonomi, permintaan yang bermotif spekulasi, serta yang bermotif penyelamatan portofolio. Permintaan murni terutama untuk memenuhi kebutuhan impor dan pelunasan utang luar negeri swasta. Kebutuhan valuta asing untuk impor semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan produksi berorientasi ekspor. Selain itu, valuta asing juga banyak diperlukan beberapa badan usaha milik pemerintah khususnya dalam rangka impor migas dan bahan pangan. Dalam pada itu, tekanan permintaan valuta asing untuk pelunasan utang luar negeri masih besar. Permintaan valuta Dalam pada itu, pasokan valuta asing yang berasal dari Bank Indonesia melalui sterilisasi valuta asing hanya dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini terkait dengan fungsi utama sterilisasi valuta asing sebagai bagian dari pengendalian moneter Bank Indonesia dalam rangka menyerap kelebihan likuiditas rupiah untuk mencapai target uang primer yang ditetapkan, khususnya untuk menyerap kembali pengeluaran rupiah dari penerimaan luar negeri pemerintah.
% 6,0 4,0 2,0 0,0 8.000 -2,0 7.500 -4,0 -6,0 CIP -8,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

IDR/$ 10.000 9.500 9.000 8.500

7.000 IDR/$ 6.500 6.000 1999 2000

Grafik 3.8 Kurs Rupiah dan Covered Interest Rate Parity

44

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

asing untuk pelunasan utang luar negeri ini telah menimbulkan tekanan depresiasi yang besar terhadap nilai rupiah karena belum dapat diimbangi dengan pasokan valuta asing yang memadai (Grafik 3.9). Permintaan valuta asing yang bermotif spekulasi dan penyelamatan portofolio masih tetap tinggi hampir sepanjang tahun sehingga cenderung melemahkan nilai tukar rupiah secara persistent. Tingginya permintaan valuta asing akibat kedua motif tersebut masih lebih banyak dilatarbelakangi sentimen pasar yang negatif terhadap mata uang rupiah sehubungan dengan ketidakstabilan situasi sosial politik yang tak kunjung reda dan lambannya implementasi agenda restrukturisasi sektor dunia usaha yang dikhawatirkan akan menghambat proses pemulihan ekonomi. Tekanan depresiasi terhadap rupiah akibat motif transaksi penyelamatan portofolio juga dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian dalam skala regional dan global. Hal ini mendorong investor internasional melakukan pengalihan portofolio ke mata uang dolar AS yang dianggap sebagai mata uang yang paling aman (safe haven currency). Dalam skala regional, country risk beberapa negara Asia mulai meningkat terutama sebagai akibat ketidakstabilan situasi politik dan lambannya proses restrukturisasi sektor swasta yang dikhawatirkan akan menjadikan negara-negara di kawasan ini rentan terhadap shock eksternal. Hal ini telah turut menimbulkan tekanan depresiasi terhadap sejumlah mata uang Asia. Sementara itu, dalam skala global, mata uang dolar AS cenderung menguat khususnya terhadap beberapa mata uang utama dunia seperti yen dan euro (Grafik 3.10). Menguatnya sentimen positif secara global terhadap mata uang dolar AS dalam tahun laporan antara lain sehubungan dengan menguatnya perekonomian Amerika Serikat secara relatif terhadap perekonomian Eropa dan Jepang yang berjalan sangat lamban. Selain itu, kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat sejak pertengahan tahun 1999 sampai
Juta $ 3.000 Bank 2.500 2.000 1.500 1.000 500 Non Bank
Indeks 135 130 125 120 115 110 105 100 95
I II III IV

IDR PHP JPY THB KRW Euro

2000

Grafik 3.10 Apresiasi dolar AS Secara Global

pertengahan tahun 2000, semakin memperlebar perbedaan suku bunga antara tiga kekuatan ekonomi dunia tersebut yang pada gilirannya mendorong aliran modal ke pasar keuangan Amerika Serikat.

Likuiditas dan Internasionalisasi Rupiah Selain dilatarbelakangi oleh permintaan murni dan spekulasi, meningkatnya permintaan valuta asing juga merupakan

0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

akibat dari kondisi likuiditas rupiah di pasar uang yang sangat longgar. Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan terbatasnya kelengkapan instrumen investasi di pasar uang dan pasar modal dalam negeri mengakibatkan kondisi

2000

Grafik 3.9 Realisasi Pelunasan Utang Luar Negeri Swasta1)
1) Angka bulan November dan Desember adalah merupakan perkiraan

keuangan perbankan domestik mengalami kelebihan likuiditas

45

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

rupiah. Di pihak lain, rambu-rambu yang membatasi lalu lintas rupiah antar negara masih sangat longgar. Kedua hal ini mengakibatkan ekses likuiditas rupiah di pasar uang dalam negeri banyak mengalir secara bebas ke pasar uang luar negeri khususnya melalui transaksi pinjaman antar bank. Dalam perkembangannya, pemanfaatan rupiah di pasar uang luar negeri oleh nonresiden cenderung lebih banyak digunakan untuk transaksi yang tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil seperti ekspor/impor dan investasi, melainkan lebih banyak digunakan untuk kegiatan spekulasi di pasar rupiah (without underlying transaction) sehingga sering mempengaruhi trend dan gejolak nilai tukar. Selain itu, kemajuan dalam rekayasa instrumen derivatif semakin meningkatkan intensitas spekulasi oleh nonresiden yang pada dasarnya kurang dapat tertangkap secara penuh oleh beberapa ketentuan kehati-hatian (prudential regulation) yang ditetapkan Bank Indonesia (Boks : Internasionalisasi Rupiah). Pada umumnya, nonresiden melakukan transaksi melalui perantaraan sejumlah bank asing yang sebagian besar merupakan market makers, sehingga mereka berperan besar dalam proses pembentukan harga di pasar. Peran aktif nonresiden dalam perdagangan rupiah antara lain tercermin dari beberapa indikator. Pertama, meningkatnya permintaan terhadap likuiditas rupiah oleh nonresiden, yang tercermin dari peningkatan suku bunga rupiah di pasar uang antar bank luar

negeri, sering diiringi dengan peningkatan tekanan depresiasi terhadap rupiah. Kedua, mutasi rekening vostro (milik nonresiden) sangat aktif dan untuk rekening vostro dengan klasifikasi pasar valuta asing selalu menunjukkan kecenderungan net outflow (Grafik 3.11). Ketiga, pangsa volume transaksi cabang bank asing di pasar domestik sangat dominan di mana sepanjang tahun laporan selalu berada di atas 50,0% dari total volume transaksi.

Transaksi Devisa Antar Bank Sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah sepanjang tahun laporan, volume transaksi devisa antar bank meningkat sekitar 21,6% dibanding tahun sebelumnya menjadi $349,0 miliar. Sedangkan secara rata-rata harian, volume transaksi devisa antara bank tercatat sebesar $1,4 miliar per hari atau telah meningkat sebesar 25,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan jenis transaksi, transaksi swap memiliki pangsa terbesar dari total volume transaksi, disusul oleh transaksi spot dan forward (Grafik 3.12). Apabila dibandingkan dengan kondisi tahun lalu, pangsa transaksi swap tahun ini meningkat 2,5 %, transaksi spot turun 2,5 %, sedangkan pangsa transaksi forward relatif tidak berubah. Menurunnya pangsa transaksi spot dan meningkatnya pangsa transaksi swap pada tahun 2000 menunjukkan bahwa meskipun secara total vo-

Miliar Rp. 5.500 3.500 1.500 -500 -2.500 -4.500 -6.500 -8.500 Trans. Pasar Valas Transaksi Lainnya
Agustus

Swap 62,0%

Forward 0,9%

Spot 37,1%

Trans. Pasar Modal Poly. (Trans. Pasar Valas)
Oktober November

7 10 15 21 24 29 1 6 11 14 19 22 27 2 5 10 13 18 24 30 2 7 10 15 20 23 28 September

2000

Grafik 3.11 Rekening Vostro

Grafik 3.12 Komposisi Volume Transaksi

46

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

lume transaksi telah meningkat namun pelaku pasar lebih bersikap hati-hati dalam mengantisipasi fluktuasi kurs. Transaksi spot devisa antar bank dalam rupiah valuta asing (Rp/$) mencapai 85,4% dari total transaksi devisa sepanjang tahun 20001), dengan kecenderungan minat beli valuta asing yang lebih besar dibandingkan minat jual. Hal ini tercermin dari posisi transaksi spot perbankan dengan counterpart-nya yang mengalami net-oversold sebesar $135,3 juta. Dari total posisi transksi spot tersebut, posisi transaksi spot dengan counterpart nasabah dalam negeri mengalami oversold sebesar $567,4 juta atau dengan kata lain nasabah dalam negeri cenderung memelihara long dolar AS. Di pihak lain, posisi transaksi spot perbankan mengalami overbought dengan counterpart luar negeri sebesar $432,0 juta yang menunjukkan bahwa pihak luar negeri cenderung memiliki posisi short dolar AS. Dari perkembangan secara triwulanan, posisi dan volume transaksi valuta asing perbankan berfluktuasi seiring dengan perkembangan nilai tukar rupiah (Grafik 3.13). Pada Triwulan I 2000 volume transaksi harian tercatat sebesar $1.080,9 juta dengan posisi net overbought. Memasuki Triwulan II volume transaksi harian meningkat 28,8% dengan posisi perbankan mengalami net oversold, yang mencerminkan meningkatnya kecenderungan minat beli valuta asing akibat meningkatnya suhu politik menjelang sidang tahunan MPR pada bulan Agustus. Dalam periode tersebut nilai tukar rupiah melemah cukup tajam. Volume harian transaksi kembali menurun 5,7% pada triwulan III dengan posisi transaksi perbankan mengalami net overbought. Hal ini menunjukkan adanya aksi jual valuta asing oleh masyarakat ke perbankan setelah dalam triwulan III diwarnai aksi beli. Perkembangan tersebut sejalan dengan terjadinya penguatan nilai tukar rupiah dalam periode tersebut. Selanjutnya, rata-rata harian volume transaksi valuta asing pada triwulan IV turun 3,2% dengan posisi transaksi perbankan mengalami net-oversold. Hal ini menunjukkan terjadinya akumulasi posisi long valuta Inflasi Perkembangan harga-harga selama tahun 2000 mendapat tekanan yang berat sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi, adanya kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, melemahnya nilai tukar rupiah, dan meningkatnya ekspektasi inflasi. Berbagai faktor tersebut telah menyebabkan laju inflasi IHK tahun 2000 mencapai 9,35% (y-o-y) jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 2,01%. Dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan secara kumulatif bulanan diprakirakan memberikan sumbangan inflasi sebesar 3,19%. Sementara itu, secara tahunan (y-o-y), dampak kebijakan pemerintah tersebut diprakirakan memberikan sumbangan terhadap inflasi sebesar 3,42%. Angka ini lebih tinggi dari yang semula diprakirakan yakni sebesar 2,0%. Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diprakirakan sebesar 5,93%,
1) 14,6% merupakan transaksi spot devisa antara bank selain transaksi dalam Rp/$
Juta $ 1.500 1.300 1.100 900 700 500 300 100 –100 –300
Volume Transaksi Harian I II Posisi Bank, Overbought (+) / Oversold (–) III IV

2000

Grafik 3.13 Rata-rata Volume Transaksi Harian dan Posisi Transaksi Bank

asing oleh masyarakat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir tahun, yang disertai dengan munculnya kembali beberapa berita negatif sehingga turut membentuk sentimen pasar yang negatif.

lebih tinggi dari sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia pada awal tahun sebesar 3,0%–5,0%.

47

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Sejalan dengan upaya menstabilkan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi agar sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan pada awal tahun. Namun demikian, dalam pelaksanaannya Bank Indonesia menghadapi situasi dilematis seperti disinggung pada awal bab ini. Di satu sisi, Bank Indonesia ingin melakukan kebijakan moneter yang ketat untuk mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, dengan konsekuensi suku bunga meningkat tajam dan proses pemulihan ekonomi yang masih rentan dapat terhambat. Di sisi lain, Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan moneter yang kondusif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun sasaran inflasi akan terlampaui. Dalam kondisi demikian, Bank Indonesia menempuh kebijakan yang cenderung ketat melalui kenaikan suku bunga secara bertahap, guna memberikan sinyal kepada masyarakat bahwa Bank Indonesia tetap konsisten untuk menekan laju inflasi tanpa mengganggu proses pemulihan ekonomi secara berarti. Kebijakan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa terhambatnya proses pemulihan ekonomi dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kelanjutan pemulihan ekonomi, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan tekanan inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah yang lebih tinggi lagi. inflasi tertinggi yakni sebesar 2,66%. Kecenderungan ini telah terjadi sejak tahun lalu dengan peningkatan yang lebih tajam dalam tahun laporan. Peningkatan sumbangan inflasi perumahan ini terutama disebabkan oleh kenaikan pada subkelompok biaya tempat tinggal dan sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air. Kelompok lainnya yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap inflasi tahun 2000 adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, dan kelompok transpor dan komunikasi dengan sumbangan inflasi masing-masing sebesar 1,78% dan 1,50%. Perkembangan Inflasi IHK Dalam tahun laporan, inflasi IHK tercatat sebesar 9,35% (y-o-y) jauh lebih tinggi dibandingkan 2,01% pada tahun 1999. Perkembangan inflasi bulanan menunjukkan bahwa tekanan inflasi terjadi pada 10 bulan, kecuali Maret dan September yang mencatat deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 1,94% (m-t-m). Peningkatan tekanan harga tertinggi terjadi pada tiga bulan terakhir tahun laporan antara lain terkait dengan serangkaian kebijakan pemerintah seperti pengurangan subsidi BBM, cukai rokok, dan toeslag angkutan lebaran, serta adanya peningkatan permintaan masyarakat dalam rangka menyambut hari raya keagamaan dan tahun baru (Grafik 3.14). Berdasarkan sumbangan kelompok barang, dalam tahun 2000 kelompok perumahan merupakan penyumbang
(%) 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0 –0,5 –1,0 –1,5 –2,0 1999 2000
Pendidikan Kesehatan Transpor Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang

% 10,0 9,0 8,0 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 -1,0 -2,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

(m-t-m) Bulanan (y-o-y) Tahunan

2000

Grafik 3.14 Inflasi IHK

Grafik 3.15 Sumbangan Inflasi Kelompok Barang

48

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

mengendalikan inflasi menjadi dilematis karena dikhawatirkan
m-t-m (%) 10 8 6 4 2 0 -2 -4 -6
Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov.

akan menghambat proses pemulihan ekonomi yang masih
Food & energy IHK bulanan

rentan.

Pengaruh Meningkatnya Kegiatan Ekonomi Tingginya tekanan inflasi yang terjadi terutama didorong oleh masih kuatnya peningkatan permintaan agregat sejalan dengan meningkatnya kegiatan perekonomian domestik. Dalam kaitan ini, tekanan inflasi muncul karena peningkatan permintaan tersebut tidak dapat diimbangi oleh peningkatan penawaran agregat dalam jangka pendek sehubungan dengan permasalahan struktural perekonomian seperti masih terganggunya fungsi intermediasi perbankan dan rendahnya minat investasi karena masih tingginya faktor
1999 2000

Grafik 3.16 Inflasi Food & Energy

Sementara itu, kelompok yang memberikan sumbangan di bawah 1,0% adalah masing-masing bahan makanan (0,95%), sandang (0,78%), pendidikan, rekreasi dan olah raga (0,80%) dan kesehatan (0,86%) (Grafik 3.15). Laju inflasi food & energy dalam tahun laporan mencapai 7,95% (y-o-y), dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 3,84%. Inflasi food & energy tersebut jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat deflasi sebesar 1,58% (y-o-y) dan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,72%. Kenaikan laju inflasi food & energy ini antara lain juga terkait dengan serangkaian kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, dan peningkatan permintaan terutama menjelang akhir tahun bersamaan dengan perayaan hari keagamaan (Grafik 3.16).

risiko. Tingginya tekanan inflasi tersebut antara lain tercermin pada perkembangan output gap yang cenderung menyempit seperti ditunjukkan oleh peningkatan kapasitas terpakai (Grafik 3.17). Sementara itu, output potensial belum memperlihatkan peningkatan secara berarti antara lain terkait dengan iklim investasi yang belum kondusif dan masih terbatasnya sumber pembiayaan untuk kegiatan investasi khususnya yang berasal dari sektor perbankan. Beberapa subsektor sektor industri pengolahan yang tingkat utilisasinya

Output Gap (%) 15

IHK (y-o-y), % 90 Output Gap1) 80 70 60 50

10

IHK

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi Tingginya tekanan kenaikan harga-harga pada tahun laporan disebabkan oleh akselerasi kegiatan perekonomian

5 0 -5

40 30 20 10 0

yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan di sisi penawaran karena masih adanya berbagai permasalahan struktural. Selain itu, tekanan inflasi juga disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, melemahnya nilai tukar rupiah, serta tingginya ekspektasi inflasi masyarakat yang telah terjadi sejak awal tahun laporan. Kebijakan moneter yang dilakukan untuk
-10 -15
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

-10 1997 1998 1999 2000

1) rasio terhadap output potensial

Grafik 3.17 Output Gap dan Inflasi IHK

49

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Sementara itu, perkembangan aset ekuitas yang tahun lalu
%, (y-o-y)
120 100 80 60 40 20 0 –20 –40 –60
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

menunjukkan perkembangan positif, dalam tahun laporan
Komposit IHSG Komersial Residensial

mencatat deflasi sebesar 38,49% (y-o-y) (Grafik 3.18). Hal ini terutama akibat kecenderungan melemahnya pasar modal secara regional dan adanya sentimen negatif pelaku pasar sehubungan dengan ketidakstabilan politik di dalam negeri (Boks : Inflasi Harga Aset).

Pengaruh Kebijakan pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Dalam tahun 2000, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan di bidang harga dan pendapatan yang antara lain mencakup kenaikan harga BBM, tarif angkutan, tarif listrik, cukai rokok dan bea masuk impor. Kebijakan di bidang pendapatan terutama mencakup kenaikan gaji PNS, TNI dan Pollri, serta

1 9 9 7

1 9 9 8

1 9 9 9

2 0 0 0

Grafik 3.18 Inflasi Harga Aset

sudah sangat tinggi adalah subsektor industri yang berorientasi ekspor seperti subsektor barang galian bukan logam, diikuti oleh subsektor tekstil, pakaian jadi dan kulit serta subsektor kimia, minyak bumi, karet dan plastik. Sementara itu, beberapa subsektor yang tingkat utilisasinya masih rendah adalah subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau. Indikator lainnya yang menunjukkan tekanan harga yang berasal dari pesatnya peningkatan kegiatan perekonomian tercermin pada perkembangan laju inflasi harga aset. Inflasi harga aset menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi sebagaimana ditunjukkan oleh komposit inflasi harga aset yang mencapai 13,0% (y-o-y). Peningkatan inflasi harga aset ini terutama terjadi pada kelompok inflasi aset properti. Minat masyarakat untuk membeli properti sebagai alternatif untuk menyimpan kekayaan (store of wealth) kembali meningkat. Pendorong utama peningkatan inflasi harga aset properti terjadi pada kelompok inflasi aset properti komersial yang meningkat sebesar 19,9% (y-o-y), setelah tumbuh negatif pada tahun sebelumnya. Inflasi aset properti residensial juga mencatat pertumbuhan yang tinggi, yakni mencapai 12,2% (y-o-y). Peningkatan inflasi harga aset antara lain disebabkan oleh peningkatan harga bahan bangunan dan terbatasnya pasokan properti yang tidak mengalami penambahan sementara permintaannya cukup besar.

UMR. Beberapa dari kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan tersebut telah dapat diidentifikasikan pada awal penetapan APBN 2000 sehingga dapat diprakirakan dampaknya terhadap kenaikan inflasi. Namun sebagian kebijakan lainnya belum dapat diidentifikasi pada saat penyusunan sasaran inflasi di awal tahun sehingga realisasi dampaknya terhadap inflasi belum diperhitungkan. Di samping itu, pola implementasi kebijakan tersebut berbeda dengan implementasi kebijakan serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Pengaruh kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan terhadap inflasi IHK terdiri dari dampak langsung, dampak tidak langsung, dan announcement effect dari kebijakan pemerintah tersebut. Dampak langsung dihitung dengan mengeluarkan sumbangan inflasi dari komoditas yang mengalami kenaikan harga dari hasil perhitungan dalam keranjang IHK. Dampak tidak langsung dihitung dengan mengeluarkan sebagian sumbangan inflasi dari komoditas subkelompok yang memiliki keterkaitan langsung dengan komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti subkelompok biaya tempat tinggal dan subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya. Perhitungan dampak tidak langsung tersebut menggunakan pola dampak kenaikan TDL dan BBM terhadap industri-industri penghasil komoditas terkait yang terjadi pada tahun 1996. Sementara itu, announcement effect dari

50

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Tabel 3.1 Perkiraan Dampak Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Tahun 2000
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Total

persen Dampak langsung Kebijkan harga Harga BBM/Gas Elpiji Tarif Angkutan Tarif Dasar Listrik/PAM Cukai Rokok Dampak tindak langsung kebijakan harga Announcement Effect Gaji PNS UMR Total dampak kebijakan(kumulatif bulanan) Total dampak kebijakan (year on year) 0,27 0,16 0,56 0,27 0,29 1,07 0,57 0,09 0,94 0,51 0,36 0,08 0,17 0,20 –0,04 0,25 0,29 0,27 0,27 0,09 0,03 0,20 0,15 0,32 0,09 0,38 0,38 0,36 0,13 1,51 0,59 0,26 0,23 0,43 0,84 0,83 0,54 0,29 3,19 3,42

kebijakan pemerintah terhadap inflasi diprakirakan dengan mengalikan persentase kenaikan gaji dan UMR terhadap tingkat sensitivitas kenaikan gaji dan UMR terhadap IHK. Dengan perhitungan seperti di atas, dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan terhadap inflasi IHK selama tahun 2000 secara kumulatif bulanan diprakirakan mencapai 3,19%. 2) Angka realisasi dampak kebijakan pemerintah ini lebih tinggi dari perkiraan semula yang hanya sekitar 2,0%. Secara kumulatif bulanan, dampak langsung kebijakan harga memberikan dampak sebesar 1,51% yang terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan Gas Elpiji sebesar 0,59% dan cukai rokok sebesar 0,43%. Sementara itu, kenaikan tarif angkutan dan tarif dasar listrik memberikan dampak langsung masing-masing sebesar 0,26% dan 0,23%. Pengaruh dampak tidak langsung yang menyertai pelaksanaan kebijakan harga dalam tahun 2000 adalah sebesar 0,84% dimana dampak terbesar terjadi pada Mei dan Oktober masingmasing sebesar 0,25% dan 0,29% yang terkait dengan kenaikan tarif angkutan dan TDL serta kenaikan BBM. Sementara itu, announcement effect kebijakan pemerintah memberikan dampak
2) Secara year on year (angka indeks Desember 2000 dibandingkan indeks 1999) kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diperkirakan memberikan dampak sekitar 3,42%

sebesar 0,83% yang terutama terjadi pada saat pengumuman pertama kenaikan gaji PNS, TNI, dan Polri serta UMR pada bulan April. Kenaikan gaji yang terjadi dua tahap yakni April dan Oktober memberikan dampak sebesar 0,54% (Tabel 3.1). Lebih tingginya realisasi dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya kebijakan pemerintah yang belum diidentifikasi pada saat penyusunan perhitungan inflasi, sehingga dampaknya tidak diperhitungkan dalam perkiraan awal. Kebijakan tersebut antara lain kebijakan cukai rokok yang meskipun pelaksanaannya sempat ditunda dari April menjadi November 2000, telah menimbulkan dampak kenaikan inflasi yang cukup besar. Selain itu, pada September terjadi kenaikan harga gas elpiji dan tarif jasa pos. Kedua, besarnya kenaikan yang terjadi tidak seluruhnya sama dengan asumsi yang digunakan dalam perkiraan awal, seperti kenaikan UMR yang diprakirakan sebesar 25,0% ternyata dalam realisasinya bervariasi antara 15,0% s.d. 55,0%. Di samping itu, persentase realisasi kenaikan gaji pegawai negeri sipil, TNI dan Polri lebih tinggi dari 30,0% karena disertai dengan kenaikan tunjangan struktural dan kenaikan gaji guru di luar kenaikan gaji secara umum.

51

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Ketiga, adanya perubahan pola pemberlakuan kenaikan harga dibandingkan pola kenaikan harga yang terjadi pada periode sebelumnya. Penundaan kenaikan harga BBM selain jenis Premix dan Super TT dari April menjadi Oktober 2000, misalnya, tidak diperhitungkan dalam penyusunan perkiraan awal dampak kebijakan. Meskipun pelaksanaan kenaikannya sempat mengalami penundaan, harga-harga telah sempat mengalami kenaikan pada April 2000. Selain itu, kenaikan tarif angkutan tidak terjadi sekaligus untuk seluruh moda angkutan. Kenaikan tarif angkutan dalam kota, khususnya di Jakarta pada Mei mendahului kenaikan tarif angkutan darat antarkota, kereta api, dan kapal pada September 2000. Secara keseluruhan, kenaikan tarif angkutan mendahului kenaikan BBM. Pola kenaikan seperti ini berbeda dengan pola pada tahun sebelumnya dimana kenaikan tarif angkutan umumnya berlangsung serentak untuk seluruh moda transportasi segera setelah kenaikan harga BBM. Dengan demikian kenaikan tarif angkutan dianggap lebih merupakan dampak tidak langsung kenaikan harga BBM dan dampak lanjutannya terhadap kenaikan harga barang lain menjadi berkurang. Perubahan pola ini menyebabkan dalam tahun ini kenaikan tarif angkutan dan harga BBM berdampak lebih besar pada harga barang-barang lainnya. kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi sejak triwulan II tahun 2000. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian terhadap kelompok barang traded. Dampak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap inflasi tercatat sangat besar pada tahun 1998, di mana inflasi kelompok traded mencapai 95,24%. Di lain pihak, menguatnya nilai tukar rupiah pada tahun 1999 mendorong deflasi pada kelompok traded sebesar 0,56%, sehingga merupakan salah satu penyumbang rendahnya inflasi pada tahun tersebut. Gambaran perilaku indeks kelompok Pengaruh Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Faktor penting lainnya yang juga berpengaruh terhadap tingginya tekanan inflasi dalam tahun laporan adalah nilai tukar rupiah. Selama tahun 2000, nilai tukar rupiah ratarata mencapai Rp8.400 per dolar AS atau lebih tinggi dari asumsi nilai tukar pada awal tahun sebesar Rp7.000 per dolar AS. Dampak nilai tukar rupiah terhadap laju inflasi antara lain tercermin pada perkembangan inflasi kelompok traded yang terus mengalami peningkatan sejak triwulan II/2000. Secara tahunan, indeks harga traded mencapai 7,43% (y-oy). Sementara itu, laju inflasi yang diukur menggunakan indeks harga perdagangan besar (IHPB) juga menunjukkan kenaikan harga tertinggi terjadi pada sektor ekspor yakni sebesar 34,49% (y-o-y) (Grafik 3.19). Perkembangan tersebut sejalan dengan Pengaruh Ekspektasi Inflasi Ekspektasi harga selama tahun 2000 menunjukkan kecenderungan yang meningkat sebagaimana dicerminkan oleh hasil survei ekspektasi konsumen (SEK) dan survei kegiatan dunia usaha (SKDU). Survei tersebut menggambarkan pendapat konsumen terhadap kecenderungan harga-harga dan ekspektasi produsen terhadap perkembangan harga jual, sewa, suku bunga dan tarif. Faktor utama yang menyebabkan tingginya ekspektasi harga adalah adanya kebijakan pemerintah di bidang harga (tarif dasar listrik dan penghapusan BBM), belum stabilnya kondisi keamanan, sosial dan traded ini menunjukkan pentingnya stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai salah satu faktor kunci dalam pengendalian inflasi di Indonesia. (Boks: Dampak Nilai Tukar Terhadap Inflasi). Grafik 3.19 Inflasi Traded dan IHPB Ekspor
Traded y-o-y(%) 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 -10 -20
Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov.

IHPB Ekspor (%) 80 Traded IHPB Ekspor Poly. (Traded) Poly. (IHPB Ekspor) 60 40 20 0 –20 –40 –60 1999 2000

52

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

PDB, dan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,4%.
Net balance 90 Ekspektasi Konsumen 80 70 60 50 40 30 20 10 0
Des. Mar. Jun. Sep. Des.

Harapan akan pulihnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri seiring dengan terbentuknya Pemerintahan baru

Ekspektasi Produsen

secara demokratis akan mendorong perkembangan nilai tukar ke arah nilai keseimbangan, sehingga nilai tukar rupiah rata-rata pada tahun 2000 diasumsikan sebesar Rp7.000 per dollar AS. Dalam perkembangannya, realisasi inflasi melampaui sasaran inflasi yang telah ditetapkan untuk tahun 2000. Setelah mengeluarkan dampak kebijakan pemerintah di bidang harga
2000

1999

dan pendapatan sebesar 3,42% (y-o-y) dari perhitungan laju inflasi IHK sebesar 9,35% (y-o-y), diperoleh laju inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan adalah sebesar 5,93%. Angka laju inflasi ini melampaui sasaran inflasi Bank Indonesia tahun 2000 yang

Grafik 3.20 Ekspektasi inflasi Konsumen dan Produsen

politik, dan melemahnya nilai tukar rupiah. Berbagai faktor tersebut menimbulkan efek psikologis terhadap aktivitas konsumen dalam permintaan dan aktivitas produsen dalam penyesuaian harga (Grafik 3.20).

ditetapkan sebesar 3,0%–5,0% (y-o-y). (Grafik 3.21) Beberapa permasalahan dihadapi Bank Indonesia dalam mencapai sasaran inflasi dalam tahun 2000. Pertama, perkembangan beberapa asumsi yang digunakan sebagai dasar penetapan sasaran inflasi tidak seperti yang diprakirakan

Permasalahan Pengendalian Inflasi Pada awal tahun 2000, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi yang sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi dan dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter yakni sebesar 3,0%5,0%. Sasaran ini belum termasuk dampak kenaikan hargaharga yang bersumber dari kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan (administered prices and income

pada awal tahun seperti perkembangan ekonomi yang tumbuh lebih cepat dari yang diprakirakan semula. Kedua, nilai tukar rupiah tidak menguat seperti yang diasumsikan semula tetapi terus melemah terutama karena faktor nonekonomi. Ketiga, meningkatnya tekanan inflasi mendorong ekspektasi

y–t–d (%)

policy). Bersamaan dengan penetapan sasaran tersebut, Bank Indonesia memperkirakan bahwa dampak kebijakan pemerintah adalah sebesar 2,0%. Sasaran inflasi Bank Indonesia untuk tahun 2000 tersebut ditetapkan dengan memperhatikan prospek ekonomi dan moneter secara keseluruhan yang dapat diprakirakan berdasarkan data dan informasi pada awal tahun. Nuansa optimisme mempengaruhi beberapa asumsi yang digunakan dalam menetapkan inflasi pada waktu itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diasumsikan akan mencapai sekitar 3,0%-4,0%, surplus transaksi berjalan sebesar 2,3% dari PDB, defisit anggaran pemerintah sebesar 4,8% dari

10,0 9,0 8,0 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Inflasi IHK Inflasi IHK tanpa memperhitungkan dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan

2000

Grafik 3.21 Sasaran Inflasi

53

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

inflasi yang lebih tinggi di kalangan konsumen dan produsen sehinga menambah tekanan terhadap inflasi yang lebih besar (gejala self-fulfilling inflation expectation). Keempat, proses pemulihan ekonomi yang masih rentan dan adanya kendala (bottleneck) di sisi penawaran dalam jangka pendek sehingga tidak dapat memenuhi kenaikan sisi permintaan. Dengan permasalahan seperti di atas, serta dengan mempertimbangkan proses pemulihan ekonomi yang masih rentan, pelaksanaan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi perlu di lakukan secara hati-hati. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia telah menempuh berbagai langkah kebijakan moneter untuk mengendalikan laju inflasi agar sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan pada awal tahun. Namun demikian, dalam pelaksanaannya Bank Indonesia menghadapi sejumlah permasalahan terutama terkait dengan kondisi kebijakan moneter yang dilematis antara pertumbuhan

ekonomi dan pengendalian laju inflasi, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, fungsi intermediasi perbankan yang belum pulih sepenuhnya telah menyebabkan pengetatan kebijakan moneter untuk meredam tekanan inflasi melalui sinyal kenaikan suku bunga SBI kurang ditanggapi secara proporsional oleh perbankan. Demikian juga, proses restrukturisasi perbankan yang belum selesai, pemulihan ekonomi yang masih rentan, dan belum berkembangnya pasar obligasi dalam negeri telah mempersempit atau membatasi secara langsung maupun tidak langsung ruang gerak kebijakan moneter untuk mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini, pengetatan secara drastis dan berlebihan untuk mencapai sasaran inflasi akan meningkatkan risiko bagi kelangsungan pemulihan perbankan dan perekonomian yang pada gilirannya dapat mengancam pencapaian stabilisasi nilai tukar dan sasaran inflasi itu sendiri.

54

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Inflasi Harga Aset
Perkembangan luar biasa yang terjadi pada siklus kegiatan usaha pada akhir dekade 1980-an, telah menyulitkan otoritas moneter di beberapa negara industri untuk mengidentifikasi tekanan inflasi. Hal ini karena tekanan inflasi tidak saja datang dari harga barang-barang pada umumnya tetapi juga terjadi pada harga-harga aset. Kebijakan moneter konvensional yang hanya memperhatikan indikator perkembangan harga seperti IHK terbukti terlambat mengantisipasi gejolak inflasi yang muncul. Hal ini karena cakupan inflasi yang dihitung berdasarkan kenaikan harga barang-barang dalam basket IHK belum memperhitungkan kenaikan harga yang terjadi di pasar aset. Keterbatasan ini menyebabkan gejolak yang terjadi di pasar aset tidak secara langsung dicerminkan oleh peningkatan pada indikator inflasi IHK. Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa meskipun IHK tidak menunjukkan peningkatan yang berarti, namun ternyata tekanan harga di pasar properti cukup kuat, seperti yang ditunjukkan oleh kenaikan harga tanah, rumah, sewa ruang perkantoran maupun harga saham. Perhatian terhadap masalah inflasi harga aset semakin meluas dan serius semenjak munculnya fenomena bubble 1 yang dialami oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Untuk menghitung inflasi harga aset perlu disusun terlebih dahulu indeks harga aset yang merupakan indeks komposit dari beberapa jenis aset. Secara teori yang dimaksud dengan aset masyarakat untuk menyusun indeks inflasi harga aset adalah seluruh jenis aset yang secara dominan dimiliki oleh masyarakat. Sementara itu, jenis aset yang tidak diperhitungkan pada umumnya antara lain yang berupa: rural asset, household durable goods, notes and coin in circulation, net assets held abroad dan non-financial holdings of government fixed income securities. Di sejumlah negara, kelompok aset tersebut dikeluarkan dari perhitungan karena porsinya yang relatif kecil terhadap total kekayaan masyarakat, AP (t) = keterangan : AP(t): adalah indeks harga aset pada waktu tertentu w(i,s): adalah bobot penimbang untuk aset (i) yakni ekuiti, properti komersial dan properti residensial untuk masa
1) Bubble dapat didefinisikan sebagai setiap penyimpangan harga aset dari nilai fundamental aset tersebut.

memiliki elatisitas penawaran yang tinggi, dan volatilitas harganya rendah. Secara umum, jenis aset yang diperhitungkan dalam pengukuran inflasi harga aset terdiri dari: aset ekuiti, aset properti komersial, dan aset properti residensial. Aset ekuiti yaitu kelompok aset yang menggambarkan aset perusahaan. Namun mengingat cukup sulit untuk menghitung secara tepat jumlah kekayaan perusahaan, aset ekuiti ini seringkali diukur dengan indeks harga saham gabungan. Properti komersial yaitu properti yang dimiliki dengan tujuan untuk investasi (kecuali perumahan dan apartemen) atau kegiatan produksi, contohnya adalah ruang kantor (office space), pertokoan (mall, retail), hotel, kawasan industri, pergudangan dan fasilitas rekreasi yang berkaitan dengan batasan definisi tersebut. Properti residensial adalah properti yang digunakan untuk perumahan atau tempat tinggal, seperti misalnya real estate, apartemen atau tanah yang belum dibangun tetapi direncanakan sebagai tempat hunian. Dalam perhitungan indeks inflasi harga aset, faktor penting lainnya adalah pembobotan untuk menyusun suatu indeks gabungan (composite index). Pembobotan dihitung berdasarkan pangsa ketiga jenis aset tersebut dalam portfolio kekayaan masyarakat. Negara yang telah memiliki data Standardized National Account (SNA) akan lebih mudah menentukan berapa share dari masing-masing aset. Pembobotan untuk suatu negara dapat berbeda dengan negara lainnya sesuai dengan kharakteristik perekonomian negara tersebut. Secara umum rumus penghitungan indeks inflasi harga aset dinotasikan sebagai berikut: n

i =1

Σ

w (i,s)p(i,t)

validitas (s) tertentu. P(i,t): adalah indeks harga aset (i) pada saat (t).

55

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Pengalaman di sejumlah negara menunjukkan bahwa inflasi harga aset dipicu oleh adanya peralihan kepemimpinan negara (regime switching), deregulasi di sektor keuangan dan perbankan, perubahan sistem perpajakan dan keuangan negara, serta perubahan sistem nilai tukar yang berdampak secara struktural terhadap perekonomian. Secara sederhana proses terjadinya inflasi harga aset dapat digambarkan pada diagram berikut. Diagram : Proses Terjadinya Inflasi Harga Aset

akses masyarakat terhadap sumber pembiayaan atau pasar uang menjadi semakin mudah dan murah. Perkembangan ini selanjutnya menyebabkan ekspansi kredit perbankan dengan cepat tumbuh dan mendorong pertumbuhan jumlah uang beredar di atas rata-rata sebelumnya. Sementara itu, deregulasi perpajakan turut memberi peluang sektor swasta untuk terus mengakumulasi hutangnya dan sebaliknya mengurangi komponen ekuiti dalam struktur usahanya. Terhadap utang tersebut banyak yang dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan merger dan akuisisi, maupun pembangunan proyek-proyek real estate yang baru. Ekses likuiditas di masyarakat akibat deregulasi sektor keuangan dan perbankan tersebut memberi insentif kepada masyarakat untuk mengubah pola konsumsi ke arah pembelanjaan yang sebagian besar dibiayai dengan kredit seperti pembelian barang mewah, rumah maupun jenis barang tahan lama lainnya. Sejalan dengan meningkatnya secara signifikan porsi pengeluaran masyarakat untuk pembayaran bunga kredit, pola konsumsi masyarakat berubah menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan suku bunga. Di samping itu, ekses likuiditas juga mengakibatkan

Deregulasi keuangan

Persaingan diantara lembaga keuangan

Peningkatan kredit kepada dunia usaha dan masyarakat/rumah tangga

Inflasi harga aset

Deregulasi sektor keuangan ditujukan untuk mengurangi campur tangan pemerintah pada sektor keuangan dan perbankan serta menyerahkan pengelolaan usaha pada perbankan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Penyerahan pada kekuatan pasar tersebut antara lain menyebabkan meningkatnya persaingan antara lembaga keuangan dalam meningkatkan pelayanannya kepada para nasabah, seperti ditunjukkan oleh munculnya lembaga keuangan baru, inovasi produk keuangan, dan meningkatnya penawaran kredit oleh perbankan. Kondisi ini menyebabkan

apresiasi terhadap nilai aset sehingga terjadi kenaikan capital gain dalam jumlah yang cukup besar yang dinikmati oleh para pemilik aset terutama rumah tinggal dan aset komersial lainnya. Keuntungan serupa juga terjadi pada pasar aset finansial yang mengalami apresiasi nilai mengikuti kenaikan nilai aset perusahaan. Wealth effect yang meningkat tersebut terus mendorong tingkat konsumsi dan memperkuat ekspektasi kenaikan harga aset. Kondisi terus terjadi sampai bubble di pasar aset hilang dan perekonomian menuju pada keseimbangannya yang baru.

56

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Dampak Nilai Tukar Terhadap Inflasi

Dalam buku teks standar ekonomi internasional, nilai tukar diyakini sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi inflasi di samping variabel ekonomi lainnya. Perhatian terhadap nilai tukar di Indonesia saat ini semakin meningkat mengingat perkembangannya selama tahun 2000 menunjukkan volatilitas tinggi dan disertai depresiasi yang cukup besar. Pada periode yang hampir bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah tersebut, tekanan inflasi mulai meningkat sehingga mencapai 9,35% (y-o-y) di tahun 2000, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 2,01%. Secara umum, inflasi didefinisikan sebagai proses kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan sebagai akibat adanya ketidakseimbangan dalam perekonomian. Berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari internal dan eksternal perekonomian. Faktor internal antara lain bencana alam, perubahan kebijakan harga pemerintah, faktor musiman seperti perayaan hari besar keagamaan,dan tindakan spekulatif menimbun barang yang dapat mengganggu ketersediaan barang. Sementara itu, faktor eksternal dicerminkan oleh pengaruh kenaikan harga barang-barang di luar negeri baik akibat harga komoditi tersebut meningkat atau karena terjadinya depresiasi nilai tukar. Jalur transmisi inflasi yang berasal dari dampak nilai tukar secara umum dapat dikelompokkan sebagai dampak langsung (exchange rate pass through) dan dampak tidak langsung (indirect pass through effect) (Bagan: mekanisme transmisi nilai tukar) Jalur transmisi dampak langsung nilai tukar terhadap inflasi adalah melalui barang-barang impor (imported inflation). Barang-barang tersebut dapat berupa barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal. Dampak perubahan nilai tukar terhadap inflasi melalui impor barang konsumsi tergolong ke dalam first direct pass through, karena harga impornya dapat langsung mempengaruhi harga jual produk tersebut di dalam negeri. Kelompok barang ini memiliki elastisitas yang tinggi terhadap perubahan nilai tukar. Sedangkan dampak melalui impor bahan baku dan barang modal tergolong ke

Bagan : Mekanisme Transmisi Nilai Tukar Dalam Small Scale Economic Model 1)

OIL PRICE* OUTPUT RMB SBI

OUTPUT GAP Direct Pass Through Effect WPI IMP

FED FUND* UIP US INFL

INFLASI

KURS REG INFL*

Indirect Pass Through Effect

EXPT. INFL

TARGET INFL*

Keterangan: * = Reg.Infl = US Infl = RMB = WPI IMP = UIP =

variabel endogen Regional Country Inflation US inflation Real Money Balance Whole Price Index Import Uncovered Interest Rate Parity

dalam second direct pass through, karena pembentukan harganya melalui proses produksi terlebih dahulu. Kelompok barang ini memiliki elastisitas yang lebih rendah terhadap perubahan nilai tukar dibandingkan kelompok barang konsumsi. Saat ini, komposisi terbesar dari barang impor nonmigas Indonesia adalah impor bahan baku yakni sekitar 73%. Hal ini menyebabkan tekanan inflasi yang berasal dari dampak langsung perubahan nilai tukar sebagian besar disumbang oleh perubahan harga impor bahan baku tersebut. Sementara itu, jalur transmisi tidak langsung terjadi melalui dorongan permintaan (demand pull), dimana kenaikan harga luar negeri ataupun kenaikan mata uang asing terhadap rupiah mengakibatkan peningkatan penghasilan produsen eksportir dalam negeri sehingga dapat meningkatkan permintaan mereka akan barang dan jasa di dalam negeri. Dampak kenaikan permintaan ini pada akhirnya akan menaikkan harga.
1) Model makro dinamis untuk melakukan proyeksi inflasi Indonesia

57

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Di sejumlah negara maju, dampak depresiasi nilai tukar terhadap permintaan dalam negeri adalah peningkatan permintaan seperti diuraikan di atas. Untuk kasus Indonesia, penelitian yang telah dilakukan 2) menunjukkan bahwa depresiasi nilai rupiah menyebabkan penurunan permintaan. Hal ini antara lain karena struktur industri di Indonesia baik yang berbasis ekspor maupun berbasis pasar dalam negeri memiliki import content yang tinggi. Selain itu, struktur kredit di Indonesia pada periode sebelum krisis ekonomi 1997 yang memiliki kontribusi pinjaman luar negeri sekitar 20%3) menyebabkan cost of capital sektor industri di Indonesia sangat elastis terhadap perubahan nilai tukar. Hal ini menyebabkan apabila terjadi depresiasi, biaya produksi akan meningkat sehingga penghasilan yang diterima berkurang dan pada akhirnya menurunkan permintaan. Selain melalui jalur transmisi tersebut di atas, tekanan inflasi dipengaruhi pula oleh adanya ekspektasi inflasi yang antara lain terkait dengan perkembangan nilai tukar. Ekspektasi berkaitan erat dengan pola perilaku pelaku ekonomi berdasarkan informasi yang dimilikinya. Jenis informasi yang diterima akan bervariasi (asymmetric information) dan pola perilaku merekapun berbeda-beda dalam menyikapi mengenai suatu jenis informasi yang sama. Ekspektasi ini terdapat di pasar barang, pasar uang, dan pasar tenaga kerja dimana masing-masing memiliki keterkaitan dan mempengaruhi perkembangan harga. Berdasarkan model inflasi yang pernah dikembangkan, variabel ekspektasi yang menggunakan model ekspektasi

adaptif (backward looking)4) memiliki pengaruh yang paling besar terhadap inflasi dibandingkan bila menggunakan variabel ekspektasi yang lain. Berdasarkan pengalaman sebelumnya melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan harga-harga sehingga apabila saat ini nilai tukar melemah kembali maka para pelaku ekonomi (misalnya pedagang) akan berupaya menaikkan harga untuk mempertahankan tingkat pendapatan riilnya, meskipun barang yang dinaikan harganya tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan nilai tukar. Sedangkan dari sisi konsumen, melemahnya nilai tukar rupiah diantisipasi dengan melakukan pembelian barang dan jasa yang mendorong permintaan dan pada akhirnya menaikan harga. Analisa mengenai ekspektasi ini semakin kompleks apabila dikaitkan dengan kebutuhan pasar mengenai informasi perkembangan variabel ekonomi di masa datang sebagai bahan pengambilan keputusan saat ini. Kondisi ini dapat digambarkan sebagai pasar yang bereaksi terhadap kejadian dimasa datang (forward looking expectation). Sebagai contoh harga-harga mengalami kenaikan seiring dengan perkiraan meningkatnya ketegangan politik pada periode mendatang yang diperkirakan dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan harga-harga di Indonesia diyakini terbentuk dari kombinasi antara backward dan forward looking expectation. Oleh karena itu, penyediaan informasi secara lengkap dan akurat sangat penting dilakukan dalam mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat pada tujuan yang diinginkan.

2) lihat Fadjar Majardi, "Dampak Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Laju Inflasi Indonesia," Bank Indonesia, 2000. 3) Angka rata-rata perbandingan outstanding kredit non-rupiah terhadap total kredit sejak 03:1993 s.d. 06:1997

4) Backward looking expectation mengasumsikan bahwa inflasi yang terjadi pada periode sebelumnya akan terjadi kembali pada periode saat ini dan mendatang. Sedangkan forward looking expectation menggunakan informasi mengenai kejadian yang akan terjadi pada periode mendatang sebagai variabel yang berpengaruh pada saat ini.

58

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : Internasionalisasi Rupiah

Indonesia secara bertahap telah melakukan liberalisasi sistem devisa mulai tahun 1970 dan sejak tahun 1982 Indonesia menganut sistem devisa bebas sebagaimana ditetapkan dalam PP No.1/1982 yang selanjutnya dipertegas dengan UU No.24/1999 mengenai Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Kebijakan ini diikuti dengan liberalisasi sektor keuangan, khususnya perbankan di tahun 1983 dan 1988. Sejalan dengan proses liberalisasi arus modal dan perbankan serta cepatnya proses integrasi keuangan dunia, transaksi devisa berkembang dengan pesat dan arus modal antar negara makin meningkat dengan peranan swasta yang makin dominan. Pembatasanpembatasan terhadap transaksi devisa dalam bentuk capital control dihindari karena dikhawatirkan akan mengurangi kepercayaan investor dan akan menghambat aliran modal masuk ke Indonesia, serta menghambat pengembangan pasar keuangan domestik. Terlebih Indonesia masih tergantung pada aliran modal luar negeri dimana hingga tahun 1997 Indonesia merupakan net importer modal untuk memenuhi saving-investment gap yang masih besar. Proses liberalisasi arus modal dan pasar keuangan Indonesia, telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang liberal dalam transaksi yang melibatkan pergerakan dana lintas batas (cross border transactions) baik dalam valuta asing maupun dalam mata uang domestik, khususnya di Asia Tenggara. Hal ini tercermin dari rendahnya indeks capital control Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya (Grafik 1). Relatif bebasnya transaksi cross-border telah mendorong aktifnya pasar rupiah di luar negeri (rupiah off-shore market). Rupiah telah menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan di pasar internasional yang mengindikasikan telah terjadinya proses internasionalisasi rupiah. Internasionalisasi rupiah secara umum dapat diartikan sebagai penggunaan rupiah secara internasional baik dalam transaksi yang terkait dengan perdagangan internasional (ekspor-impor barang/jasa), investasi dan/atau dalam transaksi pasar keuangan. Penggunaan rupiah secara internasional untuk kebutuhan pembayaran ekspor dan impor tercatat tidak signifikan. Invoice ekspor dan impor lebih banyak dinyatakan

Indeks
0,77

0,8 0,7 0,6
0,45 0,60 0,61

0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 Singapura Indonesia Thailand Philipina Korea Malaysia
0,35 0,30

Grafik 1 Indeks Capital Control dalam mata uang kuat dunia seperti dolar AS dan yen Jepang. Dengan demikian, proses internasionalisasi rupiah lebih mengarah pada penggunaan rupiah secara internasional dalam transaksi di pasar keuangan. Salah satu indikator dari telah terjadinya proses internasionalisasi mata uang domestik tercermin dari besarnya pangsa transaksi nonresiden dan pangsa lembaga keuangan asing di pasar keuangan domestik. Pada awal gencarnya liberalisasi sektor keuangan, terdapat kecenderungan untuk meningkatkan proses internasionalisasi rupiah. Pada masa itu, internasionalisasi rupiah dipandang bermanfaat untuk mendorong pendalaman pasar keuangan domestik serta mendorong arus modal masuk yang berasal dari investasi asing. Namun dalam perkembangannya, proses internasionalisasi rupiah memberikan peluang bagi nonresiden melakukan kegiatan spekulasi di pasar rupiah luar negeri, didukung dengan kemajuan rekayasa keuangan yang berkembang pesat. Kegiatan spekulasi rupiah-valuta asing semakin meningkat intensitasnya di tengah kondisi sosial politik yang kurang stabil di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan gejolak nilai tukar rupiah yang berlebihan sehingga sangat mengganggu efektivitas kebijakan moneter dalam rangka memelihara kestabilan nilai rupiah, yang selanjutnya berdampak buruk pada perekonomian secara makro.

59

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Dalam hal ini nonresiden berperan besar dalam menentukan arah perkembangan nilai tukar rupiah karena perilaku transaksinya diikuti oleh pelaku pasar lokal (herding behavior). Opini negatif nonresiden terhadap stabilitas sosial politik di dalam negeri seringkali menimbulkan dampak psikologis di pasar domestik sehingga menimbulkan sentimen negatif terhadap rupiah. Di samping itu, bank-bank asing di dalam negeri yang digunakan nonresiden sebagai perantara dalam bertransaksi rupiah adalah pemain besar yang sangat berpengaruh di pasar. Dalam perdagangan valuta asing di pasar domestik, bank asing menguasai lebih dari 50,0% dari keseluruhan transaksi derivatif antar bank. Sulit untuk mengetahui dengan pasti jumlah rupiah yang beredar di pasar rupiah luar negeri karena berada di luar wilayah pengawasan Bank Indonesia. Namun aktivitas transaksi rupiah nonresiden dapat diikuti dari perkembangan rekening giro rupiah milik nonresiden (rekening vostro) yang ada di bankbank dalam negeri (onshore banks) yang menjadi bank-bank koresponden nonresiden tersebut. Hal ini dimungkinkan karena transaksi yang menimbulkan klaim rupiah yang dilakukan oleh nonresiden di luar negeri, penyelesaian (settlement) transaksinya sebagian besar dilakukan antar bank di Indonesia dengan menggunakan rekening vostro. Dengan demikian, besarnya peran nonresiden dalam mempengaruhi arah perkembangan nilai tukar dapat tercermin dari mutasi rekening vostro tersebut yang ditujukan untuk keperluan transaksi valuta asing di beberapa bank domestik. Pengamatan terhadap perkembangan transaksi melalui rekening vostro menunjukkan bahwa mutasi pada vostro account cenderung aktif dan volumenya meningkat dalam periode nilai tukar mengalami tekanan (Grafik 2). Kegiatan spekulasi rupiah oleh nonresiden dimungkinkan karena mudahnya akses perolehan dana rupiah dari bankbank di dalam negeri yang belum diatur secara khusus. Terlebih, adanya kecenderungan longgarnya likuiditas di pasar uang, sementara fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya pulih, mengakibatkan likuditas rupiah banyak berputar di pasar uang. Dengan sarana investasi yang masih terbatas, bermain di pasar valuta asing merupakan salah satu alternatif yang menarik bagi bank yang mengalami kelebihan likuiditas. Dengan adanya beberapa permasalahan di atas, diperlukan kebijakan yang dapat meminimumkan kesempatan berspekulasi mata uang rupiah oleh nonresiden antara lain

Vostro (Triliun Rp) 16 14 12 10 8 6 4 2 0
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

Kurs Rp/$ 8.000 Kurs Rp/$ Rekening Vostro 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0
III

1996

1997

1998

1999

2000

Grafik 2 Arah Perkembangan Kurs Rp/$ dan Rekening Vostro dengan membatasi akses perolehan rupiah. Apalagi penggunaan rupiah di luar negeri cenderung tidak berkaitan dengan kegiatan perdagangan dan investasi, sehingga kurang memiliki dasar yang kuat dalam mendorong kegiatan ekonomi riil. Dalam hal ini, kebijakan untuk membatasi transaksi rupiah antara bank dengan nonresiden semakin mendesak untuk diimplementasikan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian di Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan arus modal yang dapat meningkatkan prudential management dari sistem keuangan seperti kebijakan pembatasan internasionalisasi rupiah dapat digunakan untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya (i) memperluas cakupan ketentuan larangan pemberian kredit kepada nonresiden, tidak hanya mencakup larangan pemberian kredit tunai tetapi juga mencakup larangan terhadap setiap transaksi yang menimbulkan tagihan rupiah kepada nonresiden antara lain seperti penempatan dana rupiah kepada nonresiden, pembelian surat-surat berharga dalam rupiah yang diterbitkan oleh nonresiden, serta penyempurnaan terhadap ketentuan pembatasan transaksi derivatif yang tidak didasari underlying transactions ; (ii) pembatasan penggunaan rekening vostro. Kebijakan noninternasionalisasi rupiah diperlukan untuk mempersempit peluang perolehan dan pemanfaatan rupiah oleh nonresiden yang dapat digunakan untuk spekulasi sehingga dapat meredam gejolak nilai tukar.

60

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

Boks : "Speculative Bubble" di Pasar Valuta Asing

Fluktuasi nilai tukar di pasar valuta asing sering terjadi secara berlebihan yang tidak sejalan dengan perkembangan fundamental ekonomi. Tekanan deperesiasi terhadap mata uang suatu negara dapat terjadi meskipun kondisi fundamental ekonomi negara tersebut semakin membaik. Hal ini dapat terjadi karena dalam sistem nilai tukar mengambang bebas, faktor ekspektasi memegang peranan yang sangat penting dalam keputusan yang diambil pelaku pasar --spekulator atau investor-- yakni ekspektasi mengenai arah atau trend nilai tukar ke depan. Fluktuasi nilai tukar yang dipengaruhi oleh ekspektasi ini terutama terjadi ketika nilai tukar begerak dalam pola "speculative bubble". Fluktuasi tersebut merupakan "noise" yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel ekonomi makro. Ketika bergerak dalam pola "speculative bubble", nilai tukar di pasar berfluktuasi menjauh dari nilai ekuilibrium fundamental ekonomi karena terjadinya penggelembungan ekspektasi secara berkelanjutan yang terkait dengan proses yang dinamakan "self-confirming expectation" di pasar valuta asing. Proses penggelembungan ekspektasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada periode 0, karena beberapa alasan --misalnya karena kemungkinan terjadinya ketidakstabilan politik di masa depan-spekulator berekspektasi bahwa rupiah akan terdepresiasi dalam periode 1. Untuk melindungi portfolionya dari kerugian nilai tukar (exchange rate risk) atau didasari oleh keinginan untuk meraih keuntungan (exchange rate gain), spekulator tersebut menjual rupiah (membeli valuta asing) sehingga mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah. Pada periode 1, rupiah mungkin benarbenar terdepresiasi sehingga menjastifikasi ekspektasi spekulator tersebut. Hal ini akan terbukti apabila terjadi aksi jual terhadap rupiah dalam periode 1 karena adanya ekpektasi depresiasi rupiah yang akan terjadi dalam periode 2. Apakah tidak masuk akal untuk berekspektasi bahwa akan terjadi depresiasi dalam periode 2? Tidak, apabila terjadi aksi jual terhadap rupiah sebagai akibat adanya ekspektasi bahwa rupiah akan terdepresiasi dalam periode 3. Demikian pula akan menjadi rasional bagi spekulator tersebut untuk berekspektasi

terjadinya depresiasi dalam periode 3 apabila depresiasi diperkirakan akan terjadi dalam periode 4, dan selanjutnya. Tanpa adanya suatu periode yang diketahui dapat menghentikan proses penggelembungan ekspektasi tersebut, maka nilai tukar rupiah akan terus bergerak menjauhi nilai ekulibrium fundamental ekonomi. Pada umumnya, seorang spekulator akan merasa terikat untuk mengikuti prilaku "herding" tersebut, karena dengan mayoritas spekulator di pasar berusaha menekan nilai tukar rupiah dalam trend yang meningkat (up-trend), seorang spekulator akan mengalami kerugian apabila mencoba melawan trend dengan arah yang berlawanan (against the market trend). Dalam prakteknya, nilai tukar di pasar tidak menyimpang terhadap nilai ekuilibrium fundametal ekonomi dalam rentang waktu yang tidak terbatas (infinity). Kondisi yang sering terjadi adalah bahwa nilai tukar menyimpang dari nilai ekuilibrium fundamental untuk jangka waktu pendek sebelum gelembung ekspektasi pecah. Namun sangat mungkin bahwa gelembung ekspektasi tersebut terbentuk dan pecah secara bergantian, yang pada gilirannya meningkatkan variabilitas pergerakan nilai tukar. Kalangan ekonom yang sangat percaya bahwa fenomena seperti ini penting untuk dikenali oleh otoritas moneter berpendapat bahwa kebijakan intervensi oleh bank sentral di pasar valuta asing dapat mengurangi volatilitas yang berlebihan (unnecessary volatility) dalam suatu perekonomian meskipun tanpa adanya suatu perubahan dalam kebijakan moneter.1) Dalam sistem free float, pelaku pasar secara bebas dapat membeli atau menjual suatu mata uang, yang didasari atas ekspektasinya mengenai arah perkembangan nilai tukar mata uang tersebut untuk meraih keuntungan. Apabila spekulator berprilaku atas dasar ekspektasi mengenai arah

1) John Williamson and Marcus Miller, Targets and Indicators : A Blueprint for the International Coordination of Economic Policy, Policy Analyses in International Economic, No. 22 (Washington : Institute for International Economics, September 1987)

61

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

perkembangan nilai tukar, maka untuk meraih keuntungan mereka akan membeli suatu mata uang pada saat nilai tukar mata uang tersebut tinggi dan menjualnya pada saat nilai tukar mata uang tersebut rendah (buy low sell high). Kalau demikian halnya, apakah jenis spekulasi seperti ini dapat mengakibatkan variabilitas nilai tukar meningkat? Belum tentu, karena meningkatnya pembelian terhadap suatu mata uang akan mengakibatkan nilai tukar mata uang tersebut menguat, sebaliknya meningkatnya penjualan terhadap mata uang tersebut akan mengakibatkan nilai tukar mata uang tersebut melemah. Jenis spekulasi seperti ini membuat tekanan dari sisi permintaan dan penawaran pada akhirnya menuju arah yang convergence sampai pada suatu titik dimana nilai tukar bergerak relatif stabil. Dalam kenyataanya, spekulator tidak berperilaku seperti dijelaskan di atas. Spekulator pada umumnya membentuk ekspektasinya dengan cara melakukan ekstrapolasi terhadap trend di masa lalu, yang sering disebut sebagai fenomena "the bandwagon expectation". Apabila spekulator berperilaku atas dasar fenomena tersebut maka mereka akan bergerak mengikuti trend (jump on the bandwagon) ketika nilai tukar mulai bergerak dalam suatu arah tertentu baik arah meningkat (up trend) ataupun arah menurun (down-trend). Dalam kondisi demikian, mereka dapat menciptakan situasi "speculative bubble" seperti yang telah diuraikan di atas. Spekulator melakukan "buy high sell low" di mana mereka menjual suatu mata uang pada saat nilai tukar mata uang tersebut sedang melemah oleh karena itu akan semakin mempertajam tekanan depresiasi terhadap mata uang tersebut (sampai gelembung ekspektasi pecah). Sebaliknya, akan membeli mata uang tersebut pada saat nilai tukar mata uang tersebut sedang menguat sehingga akan semakin mempertajam tekanan apresiasi mata uang tersebut. Jenis spekulasi seperti ini pada dasarnya akan membuat ketidakstabilan nilai tukar yang sangat tinggi dan menciptakan gejolak di pasar valuta asing (destabilizing). Dalam kondisi di mana mekanisme pasar berfungsi sebagaimana mestinya dan ekspektasi yang terbentuk didasari oleh perkembangan fundamental ekonomi, sejumlah ekonom berpandangan bahwa ekspektasi tersebut akan banyak berperan menstabilkan nilai tukar. Misalnya, apabila mata uang domestik mengalami deviasi (overshooting) dari nilai ekuilibrium

berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) karena adanya peningkatan dalam jumlah uang beredar maka spekulator atau investor akan berekspektasi bahwa mata uang domestik pada akhirnya akan kembali terapresiasi. Bagaimana ekspektasi tersebut terbentuk, dapat dijelaskan dengan model Dornbusch seperti dapat dilihat dalam grafik di bawah ini (Grafik 1). Dengan asumsi bahwa harga barang tidak banyak berubah (sticky) dalam jangka pendek, maka peningkatan uang beredar sebesar 10,0% akan mengakibatkan uang beredar secara riil meningkat 10,0%. Proses penyesuaian di pasar uang akan mengakibatkan suku bunga bergerak turun, yang pada gilirannya akan mendorong arus modal ke luar (capital outflow) sehingga menyebabkan nilai tukar mata uang domestik terdepresiasi. Dengan demikian, nilai tukar ekuilibrium, S, juga akan mengalami depresiasi sebesar 10,0%. Namun dalam realitasnya mungkin saja nilai tukar di pasar mengalami overshooting atau terdepresiasi lebih dari 10,0% sehingga mencapai s. Dalam jangka panjang, harga menjadi lebih fleksibel. Ketika perekonomian berada dalam ekuilibrium jangka pendek, C, nilai tukar sangat lemah (kompetitif) sehingga akan mendorong permintaan terhadap produk dalam negeri. Di pihak lain, pada titik C, tingkat suku bunga riil sangat rendah sehingga dapat menstimulasi investasi dan konsumsi. Kedua faktor tersebut akan memberi tekanan terhadap harga, yang

P

PPP : S = P/P*

B P’ Proportional to ∆ M P A Proportional to ∆ M A’ Overshooting C p=P

0

S1

S2

s

Grafik 1 Dornbusch Overshooting Model

62

Bab 3 Nilai Tukar dan Inflasi

pada gilirannya mengakibatkan jumlah uang beredar secara riil menurun. Sebagai akibatnya suku bunga secara perlahan akan bergerak naik sehingga mengundang arus modal masuk dan menyebabkan nilai tukar terapresiasi menuju kembali ke nilai ekuilibrium berdasarkan PPP dan perekonomian berada pada titik B. Setiap spekulator atau investor yang berprilaku atas dasar ekspektasi demikian akan segera membeli mata uang domestik sehingga nilai tukarnya akan kembali menguat.2) Namun demikian, sangat sulit untuk menerima realitas bahwa ekspektasi yang terbentuk di pasar seluruhnya merupakan hasil dari suatu pemahaman spekulator terhadap fenomena ekonomi seperti dijelaskan di atas. Seringkali pelaku pasar (secara umum) mengabaikan perkembangan fundamental ekonomi dan lebih banyak melakukan ekstrapolasi terhadap trend. Dengan menggunakan analisa teknis (technical analysis )3) spekulator yang sering dinamakan "noise traders" dapat menggerakkan nilai tukar menyimpang jauh dari nilai ekuilibrium fundamentalnya, dan tidak berekspektasi bahwa nilai tukar harus kembali ke nilai ekuilibrium fundamental semula seperti yang dijelaskan berdasarkan pendekatan overshooting di atas. Dalam satu dekade terakhir, jumlah spekulator di pasar valuta asing dunia yang berperan sebagai "noise traders" 4) relatif lebih besar dibandingkan investor yang berperan sebagai fundamentalists. Hal ini semakin memperjelas bahwa fenomena bandwagon expectation lebih banyak menjelaskan pergerakan nilai tukar yang pada dasarnya tidak dapat dijelaskan secara penuh melalui pendekatan fundamental ekonomi. Fenomena "the bandwagon expectation" seperti yang dikemukakan di atas telah terjadi dalam pasar rupiah terutama setelah Indonesia menganut sistem nilai tukar

mengambang bebas di mana analisa teknis (technical analysis) sebagai perangkat untuk melakukan peramalan nilai tukar telah digunakan dalam perdagangan rupiah. Penggunaan analisa teknis tersebut semakin intensif digunakan seiring dengan meningkatnya internasionalisasi rupiah. Spekulator di pasar off-shore dan on-shore menggunakan analisa trend dengan memperhatikan sentimen asimetris yang terbentuk akibat ketidakstabilan kondisi sosial politik di dalam negeri. Hal ini mengakibatkan nilai tukar rupiah telah bergerak naik (up-trend) secara persisten sepanjang tahun 2000. Tembusnya beberapa level psikologis seperti Rp8.000 dan Rp9.000 semakin mengundang spekulator untuk melakukan aksi jual terhadap rupiah (jump on the bandwagon) dengan harapan bahwa trend nilai tukar akan terus bergerak dalam trend yang meningkat (self-confirming expectation). Realitas tersebut di atas dapat menjelaskan mengapa nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam dan sulit untuk kembali ke nilai ekuilibrium fundamentalnya. Di samping itu, meskipun nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sangat besar dan turut menyumbang dalam menciptakan surplus neraca perdagangan namun proses penyesuaian otomatis yang seharusnya ditimbulkan oleh surplus tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga tidak mendorong terjadinya apresiasi rupiah. Proses penyesuaian tersebut tidak berjalan karena devisa hasil ekspor tidak seluruhnya mengalir ke dalam negeri untuk dapat memperkuat sisi supply di pasar. Di pihak lain, ketidakstabilan kondisi sosial politik sepanjang tahun 2000 secara persisten telah menciptakan sentimen yang negatif terhadap rupiah sehingga semakin membuka ruang bagi terciptanya proses speculative bubble yang pada dasarnya tidak dapat dijelaskan berdasarkan pendekatan fundamental ekonomi.

2) Richard E. Caves, Jeffrey A. Frankel, and Ronald W. Jones, World Trade and Payments (1996) 3) Technical analysis adalah studi mengenai trend pergerakan harga dengan filosofi bahwa "history repeat its'self, price move in trend, and price discount everything" 4) Noise traders adalah spekulator yang melakukan pembelian atau penjualan suatu mata uang atau asset, atas dasar sentimen (beliefs) yang tidak sepenuhnya konsisten dengan fundamental ekonomi

63

Bab 4

Moneter

4
D

bab

Bab 4 Moneter

Moneter

i tengah nuansa optimisme yang cukup kuat mengenai prospek ekonomi Indonesia tahun 2000, sebagaimana ter-

menghambat momentum pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Di dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia memilih menerapkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) yang terutama diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas di luar kebutuhan transaksi riil, tanpa harus mengorbankan proses pemulihan ekonomi yang baru berjalan. Dalam kaitan ini, kebijakan moneter yang cenderung ketat dilakukan dengan tetap menjaga agar kenaikan suku bunga tidak terjadi secara drastis dan berlebihan. Dalam upaya mengendalikan uang primer,

cermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,0%–4,0%, nilai tukar rata-rata sebesar Rp7.000 per dolar AS, dan sasaran inflasi (di luar dampak kenaikan harga yang disebabkan oleh kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan) sebesar 3,0%–5,0%, Bank Indonesia pada awal tahun laporan menetapkan sasaran pertumbuhan uang primer sebesar 8,3%. Namun dalam perjalanan waktu, upaya mencapai sasaran uang primer tersebut menghadapi banyak tantangan. Tantangan terbesar bersumber dari lebih kuatnya aktivitas perekonomian dari yang diperkirakan semula, memburuknya ekspektasi inflasi, dan kuatnya tekanan terhadap rupiah. Di samping itu, pengendalian moneter juga menghadapi kendala yang bersumber dari sisi operasional sehubungan dengan belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan meningkatnya ketidakpastian sosial politik dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang memburuk, dan rupiah yang melemah tersebut menyebabkan permintaan uang primer meningkat tajam. Sementara itu, masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan menyebabkan sinyal kebijakan moneter Bank Indonesia tidak direspon secara proporsional oleh perbankan, sehingga tidak mendukung upaya penarikan uang kartal yang beredar di masyarakat yang merupakan komponen terbesar uang primer. Kondisi ini menjadi semakin berat seiring dengan meningkatnya ketidakpastian sosial politik di dalam negeri yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan berjaga-jaga dengan lebih banyak memegang uang kartal. Berbagai permasalahan tersebut menghadapkan Bank Indonesia pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, upaya untuk meredam permintaan uang primer membutuhkan respon kebijakan moneter yang ketat dengan konsekuensi suku bunga meningkat tajam. Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga yang terlalu tinggi dikhawatirkan dapat

pengendalian moneter terutama ditempuh melalui operasi pasar terbuka (OPT) dalam bentuk lelang SBI dan intervensi langsung di pasar uang rupiah (Intervensi Rupiah). Selain itu, untuk mendukung pelaksanaan OPT, Bank Indonesia dalam beberapa kali kesempatan melakukan sterilisasi di pasar valuta asing untuk mengurangi dampak ekspansi uang primer yang berasal dari pengeluaran pemerintah dalam rupiah yang dibiayai dari penerimaan luar negeri. Penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat tercermin dari meningkatnya suku bunga SBI, baik 1 bulan dan 3 bulan, secara bertahap. Peningkatan suku bunga SBI tersebut ternyata tidak diikuti oleh peningkatan yang seimbang pada suku bunga deposito perbankan, meskipun telah didukung oleh kebijakan Bank Indonesia untuk meningkatkan marjin suku bunga penjaminan terhadap suku bunga rata-rata deposito rupiah peserta JIBOR—dari 100 basis point menjadi 200 basis point.1) Dengan tingginya laju inflasi, suku bunga deposito riil mengalami penurunan, sehingga mengurangi minat masyarakat untuk menyimpan kembali uang kartal mereka di perbankan. Dalam perkembangannya, sebagai akibat berbagai faktor tersebut di atas, tingginya posisi uang kartal telah
1) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/17/DPNP/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Perubahan atas Marjin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga yang dijamin Pemerintah.

65

Bab 4 Moneter

menyebabkan uang primer meningkat tajam sebesar 23,4% pada akhir tahun laporan.2) Tingginya pertumbuhan uang primer, khususnya yang terjadi pada bulan terakhir tahun 2000, terkait erat dengan kuatnya pengaruh faktor musiman di bulan tersebut sehubungan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan yang berlangsung secara hampir bersamaan, berakhirnya tahun fiskal, serta lebih panjangnya hari libur pada akhir tahun laporan. Dalam hubungan ini pula, peningkatan uang kartal telah mendorong kenaikan pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1). Sementara itu, rendahnya suku bunga deposito riil selama tahun 2000 berdampak pada melambatnya pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2).

Tabel 4.1 Uang Primer dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
1999 Rincian I II 2000 III IV

Triliun rupiah Uang Primer Uang kertas dan logam yang diedarkan – di masyarakat – di perbankan Giro bank pada Bank Indonesia Giro Sektor Swasta Faktor-faktor yang Mempengaruhi Uang Primer Cadangan Devisa Bersih (NIR) Aktiva Domestik Bersih (NDA) Tagihan Bersih pada Pemerintah Bantuan likuiditas Kredit Likuiditas Tagihan lainnya Operasi Pasar Uang Lainnya Bersih (NOI) 101,8 72,6 58,4 14,2 28,1 1,1 88,9 59,8 51,2 8,6 27,7 1,4 94,6 64,4 55,9 8,5 28,4 1,8 97,1 65,6 56,9 8,7 29,7 1,9 125,6 89,7 72,4 17,3 33,9 2,0

Uang Beredar Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, peningkatan uang primer, yang terlihat secara jelas sejak Mei 2000, bersumber dari peningkatan uang kartal sehubungan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian, rendahnya suku bunga deposito riil, tindakan berjaga-jaga oleh masyarakat, dan sejumlah faktor musiman yang lebih tinggi dari biasanya. Tindakan berjaga-jaga masyarakat terjadi seiring dengan meningkatnya faktor ketidakpastian selama periode laporan. Peningkatan uang kartal terbesar, yang berasal dari pengaruh faktor musiman terutama terjadi selama Desember 2000, yang tercatat sebesar Rp13,9 triliun. Peningkatan tersebut terkait dengan berlangsungnya perayaan sejumlah hari raya keagamaan yang hampir bersamaan, berakhirnya tahun fiskal, serta lebih panjangnya hari libur akhir tahun 2000. Secara keseluruhan, faktor-faktor, tersebut di atas mengakibatkan uang kartal tumbuh sebesar 24,0% hingga mencapai posisi Rp72,4 triliun pada akhir tahun laporan (Tabel 4.1). Peningkatan uang kartal yang tajam inilah yang menjadi faktor utama peningkatan uang primer hingga posisinya pada akhir tahun

101,8 114,5 –12,7 149,6 37,2 23,7 1,1 –86,9 –137,4

88,9 129,6 –40,6 165,3 36,9 18,6 1,1 –107,4 –155,2

94,6 113,6 –19,1 156,3 37,3 17,7 1,3 –98,5 –133,2

97,1 116,8 –19,7 148,7 37,3 16,7 1,4 –86,8 –137,0

125,6 124,5 1,1 133,7 37,3 15,9 1,5 –78,9 –108,4

laporan mencapai Rp125,6 triliun, atau tumbuh sebesar 23,4% dari tahun sebelumnya (Grafik 4.1). Selama Desember 2000, uang primer meningkat sebesar Rp25,4 triliun. Sementara itu, saldo giro positif bank di Bank Indonesia dan kas di bank (cash in vaults) yang merupakan komponen lain dari uang primer secara umum menunjukkan perkembangan yang relatif stabil, kecuali pada triwulan

Triliun Rp

120

110

100
Aktual

90
Target Indikatif

80

70
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.

2) Dengan menggunakan angka test date--rata-rata uang primer selama 10 hari kerja (5 hari kerja terakhir di bulan tersebut dan 5 hari kerja pertama bulan berikutnya)--sesuai dengan yang tercantum dalam Letter of Intent (LOI) dengan IMF, pertumbuhan uang primer dalam tahun 2000 tercatat sedikit lebih rendah, yakni sebesar 21,4%.

1999

2000

Grafik 4.1 Uang primer : Aktual dan Target

66

Bab 4 Moneter

terakhir tahun 2000. Peningkatan kedua komponen pada triwulan tersebut merupakan cerminan dari langkah antisipasi perbankan dalam menghadapi kenaikan permintaan uang kartal di bulan Desember. Secara keseluruhan cash in vaults dan giro positif bank di Bank Indonesia meningkat masingmasing sebesar Rp3,1 triliun dan Rp5,8 triliun dari tahun sebelumnya, hingga mencapai posisi Rp17,3 triliun dan Rp33,9 triliun pada akhir tahun. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi uang primer, cadangan devisa bersih (net international reserves atau NIR) terus berada di atas batas bawah (floor) yang ditetapkan. Posisi NIR meningkat sebesar $1,4 miliar hingga mencapai posisi $17,8 miliar pada akhir tahun 2000. Pada Desember 2000, posisi NIR lebih tinggi $3,1 miliar dibandingkan targetnya (Grafik 4.2). Posisi NIR tersebut telah mengalami penyesuaian ke bawah (downward adjustment) sebesar $2,0 miliar sejak Mei 2000, sehubungan dengan mulai diterapkannya konsep Special Data Dissemination Standard (SDDS) dalam penghitungan NIR. Konsep baru ini hanya memperhitungkan faktor-faktor cadangan devisa yang bersifat siap untuk digunakan sewaktu-waktu (readily available) dan sepenuhnya dapat dikuasai oleh otoritas moneter. Sementara itu, posisi aktiva domestik bersih (net domestic assets atau NDA) cenderung berada di bawah target

yang ditetapkan, kecuali pada Desember 2000. Peningkatan NDA pada bulan terakhir tahun laporan lebih banyak disebabkan oleh cenderung ekspansifnya sektor keuangan pemerintah (net claims on government atau NCG) pada akhir tahun fiskal (Grafik 4.3). Di samping itu, kenaikan NDA juga terkait dengan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal menjelang perayaan sejumlah hari raya keagamaan, seperti tercermin dari turunnya posisi operasi pasar terbuka (OPT). Kondisi tersebut mengakibatkan NDA berada pada posisi Rp1,1 triliun pada akhir Desember 2000— posisi positif NDA tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Pada Desember 2000, posisi NDA lebih tinggi Rp5,0 triliun dibandingkan dengan targetnya. Pada periode laporan, posisi M1 mengalami peningkatan sebesar 30,1% hingga mencapai posisi Rp162,2 triliun pada Desember 2000. Peningkatan tersebut selain disebabkan oleh peningkatan uang kartal seperti telah dijelaskan sebelumnya, juga disebabkan oleh peningkatan uang giral sebesar Rp23,5 triliun (35,5%). Peningkatan uang giral ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian dan rendahnya suku bunga deposito riil. Sementara itu, uang kuasi dalam tahun laporan mengalami peningkatan sebesar 12,1% dari tahun sebelumnya. Berdasarkan komponennya, tabungan mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 24,4%, sedangkan

Miliar $ 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.

Triliun Rp 10
Aktual
Target Indikatif

0 -10 -20 -30 -40 -50
Target indikatif
Aktual

-60 -70 -80 -90
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.

1999

2000

1999

2000

Grafik 4.2 Cadangan Devisa Bersih (NIR): Aktual dan Target

Grafik 4.3 Aktiva Domestik Bersih (NDA): Aktual dan Target

67

Bab 4 Moneter

% 160 140 120 100 80 60 40 20 0 -20
Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des.

Tabel 4.2 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Deposito

1998 Rincian
Tabungan

1999 Perubahan

2000

2000 Posisi

Triliun rupiah M1 Uang kartal 22,9 13,0 9,9 198,9 172,3 26,5 221,7 73,7 32,3 41,4 17,5 29,7 99,4 51,6 57,7 –9,9 1,4 23,4 17,0 6,5 45,4 49,9 –4,5 68,8 –12,6 –14,6 2,0 425.3 –29,7 –299,7 –172,6 –89,7 –37,4 –14,5 37,6 14,0 23,5 63,3 36,1 27,2 100,8 81,6 92,0 –10,3 123,1 0,0 42,3 12,0 31,9 –1,5 –146,2 162,2 72,4 89,8 584,8 444,7 140,2 747,0 210,7 201,2 9,5 520,3 0,0 294,9 152,5 116,5 25,9 –278,9

Giro

Uang giral Uang Kuasi Deposito dan Tabungan dalam rupiah Simpanan dalam valuta asing M2

1998

1999

2000

Grafik 4.4 Pertumbuhan Giro, Tabungan dan Deposito Masyarakat

Faktor-faktor yang mempengaruhi M2 Aktiva luar negeri (bersih) Bank Indonesia Bank-bank umum Tagihan kepada pemerintah (bersih)

simpanan berjangka (deposito) dan simpanan valuta asing masing-masing meningkat sebesar 2,1% dan 24,1% (Grafik 4.4). Tingginya pertumbuhan tabungan dan rendahnya pertumbuhan simpanan berjangka didorong oleh adanya perpindahan dana dari deposito ke tabungan. Perpindahan tersebut diduga terjadi karena masyarakat cenderung menempatkan dananya pada jenis simpanan yang relatif mudah ditarik di tengah-tengah kondisi peningkatan aktivitas perekonomian dan ketidakpastian sosial politik dalam negeri. Sementara itu, peningkatan simpanan valuta asing lebih disebabkan oleh kenaikan nilai rupiah dari simpanan valuta asing seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Dalam denominasi dolar, simpanan valuta asing sebaliknya menunjukkan penurunan sebesar 8,2%. Dengan perkembangan M1 dan uang kuasi seperti tersebut di atas, M2 mengalami pertumbuhan sebesar 15,6%, menjadi Rp747,0 triliun pada akhir tahun 2000. Pertumbuhan M2 tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 11,9% (Tabel 4.2). Namun apabila dampak depresiasi nilai tukar dihilangkan, pertumbuhan M2 selama tahun laporan hanya mencapai 10,0%, lebih rendah daripada pertumbuhan tahun 1999 yang tercatat sebesar 14,5%. Sementara itu, lebih rendahnya pertumbuhan M2 daripada uang primer berdampak pada turunnya angka pengganda uang (APU) M2 (Grafik 4.5).

Tagihan bersih pada BPPN Tagihan kepada sektor usaha Kredit dalam rupiah Kredit dalam valuta asing Tagihan lainnya Lainnya (bersih)

Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi M2, aktiva luar negeri bersih (net foreign assets atau NFA) meningkat sebesar Rp81,6 triliun, atau tumbuh sebesar 63,2%, terutama sebagai akibat kenaikan penerimaan minyak. Namun apabila pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah diabaikan, NFA hanya

APU1 1,55 1,50

APU2 8,50

8,00 1,45 1,40 1,35 1,30 6,50 1,25 1,20
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.

7,50 APU 1

7,00

APU 2 6,00 1998 1999

2000

Grafik 4.5 Angka Pengganda Uang M1 dan M2

68

Bab 4 Moneter

meningkat sebesar 20,8%. Tagihan kepada Pemerintah (bersih) atau net claims on government (NCG) mengalami ekspansi sebesar 31,0% yang sebagian besar terkait dengan penerbitan obligasi pemerintah untuk rekapitalisasi perbankan. Sementara itu, tagihan pada sektor usaha yang mencakup pemberian kredit rupiah, kredit valuta asing, dan tagihan lainnya memberikan pengaruh ekspansif sebesar Rp42,3 triliun (16,8%). Namun demikian, peningkatan tagihan pada sektor usaha di atas lebih dipengaruhi oleh peningkatan nilai rupiah dari kredit
9 % 15 14 13 12 11 10 SBI 1 bulan SBI 3 bulan

Intervensi rupiah

valuta asing sebesar 37,7% seiring dengan melemahnya rupiah. Dalam denominasi dolar, pemberian kredit valuta asing hanya tumbuh sebesar 1,9%. Kondisi ini dan kenyataan bahwa pemberian kredit rupiah hanya tumbuh sebesar 8,5%, sementara dana masyarakat di perbankan tumbuh cukup tinggi, memberi indikasi kuat bahwa fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya pulih.

Des.

Feb.

Apr.

Jun.

Ags.

Okt.

Des.

1999

2000

Grafik 4.6 Perkembangan Suku Bunga Instrumen OPT

Penggunaan piranti SBI dan Intervensi Rupiah di tengah-tengah keterbatasan ruang gerak kenaikan suku bunga tersebut menjadi semakin kurang efektif sehubungan dengan tidak

Operasi Pasar Terbuka Selama tahun laporan, strategi Operasi Pasar terbuka (OPT) di bawah kerangka kebijakan moneter yang cenderung ketat ditujukan pada pengendalian uang primer terutama guna mengurangi tekanan inflasi dan juga melemahnya nilai tukar rupiah, dengan tetap memperhatikan agar suku bunga tidak mengalami kenaikan secara drastis dan berlebihan. Strategi ini tercermin dari peningkatan suku bunga SBI secara bertahap. Setelah mencapai posisi terendahnya sebesar 10,53% pada pertengahan Mei 2000, suku bunga rata-rata tertimbang SBI 1 bulan meningkat hingga mencapai posisi 14,3% pada akhir Desember 2000. Dalam periode yang sama, suku bunga ratarata SBI 3 bulan dan Intervensi Rupiah juga mengalami peningkatan, hingga masing-masing mencapai 14,31% dan 10,88% pada akhir tahun laporan (Grafik 4.6). Pengendalian moneter melalui instrumen SBI dan Intervensi Rupiah dalam tahun 2000 mengalami kesulitan untuk menyerap uang primer, khususnya komponen uang kartal, meskipun suku bunga kedua instrumen tersebut telah mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya ruang gerak bagi peningkatan suku bunga sebagai konsekuensi dari kebijakan moneter yang cenderung ketat.

diresponnya sinyal kebijakan moneter oleh perbankan secara proporsional. Hal ini terkait erat dengan masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. Sebagai akibatnya, posisi OPT pada akhir tahun tercatat sebesar Rp78,9 triliun, atau Rp7,9 triliun lebih rendah dari tahun sebelumnya. Penurunan tersebut berasal dari penurunan SBI dan Intervensi Rupiah masingmasing sebesar Rp3,0 triliun dan Rp4,9 triliun (Grafik 4.7). Sementara itu, guna mendukung pelaksanaan OPT, Bank

Triliun Rp.

% 15 Posisi Suku Bunga SBI 1 bulan 14,5 14 13,5 13

120 100
80 60 40 20 0
Desember
Maret Juni September

12,5 12 11,5 11 10,5 10
Desember

1999

2000

Grafik 4.7 Perkembangan SBI

69

Bab 4 Moneter

Indonesia dalam berbagai kesempatan melakukan sterilisasi di pasar valuta asing untuk mengurangi dampak ekspansi uang primer yang berasal dari pengeluaran pemerintah dalam rupiah yang dibiayai dengan penerimaan luar negeri. Melemahnya nilai tukar rupiah, tingginya laju inflasi, dan meningkatnya suku bunga luar negeri telah menimbulkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam negeri di kalangan perbankan, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk cenderung meningkatkan penawaran suku bunga pada setiap lelang SBI sejak Mei 2000. Pada waktu yang bersamaan, tekanan permintaan uang kartal oleh masyarakat telah meningkatkan kebutuhan likuiditas perbankan. Kondisi ini mendorong perbankan untuk memindahkan dana mereka ke jenis penanaman dengan jangka waktu yang lebih pendek, seperti dari SBI 3 bulan ke SBI 1 bulan maupun ke Intervensi Rupiah (Grafik 4.8). Berdasarkan kepemilikannya, mayoritas SBI dimiliki oleh kelompok bank swasta nasional (46,4%), disusul oleh kelompok bank asing campuran (38,7%), bank pemerintah (3,5%), dan BPD (2,3%) (Grafik 4.9). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kepemilikan SBI oleh bank pemerintah menunjukkan penurunan, sementara sebaliknya kepemilikan bank swasta nasional meningkat. Hal ini mengindikasikan relatif lebih tingginya kondisi likuiditas kelompok bank swasta nasional dibandingkan kelompok-kelompok bank lainnya. Sementara itu, guna menjaga kestabilan moneter, khususnya di pasar uang, Bank Indonesia dalam fungsinya sebagai lender of the last resort pada September 2000 mengeluarkan kebijakan pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) sebagai penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya. Berkaitan dengan mulai dilaksanakannya sistim Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia menyediakan Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) bagi bank umum peserta RTGS. Selain itu, kedua fasilitas ini juga ditujukan untuk memperlancar sistem pembayaran serta menjaga kelangsungan usaha bank (Boks : Fasilitas Pinjaman Jangka
Triliun Rp. 80 70 60 50 40 30 20 10 0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Bank Asing & Campuran 38,7%

Bank Pemerintah 3,5%

Masyarakat 9%

BPD 2,3%

Bank Swasta 46,4%

Grafik 4.9 Posisi Kepemilikan SBI

Pendek dan Fasilitas Likuiditas Intrahari). Dalam rangka mendorong perkembangan pasar uang dan pengendalian moneter pada kelompok bank syariah, Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan mengenai pasar uang antar bank ,3) ketetapan GWM rupiah dan valuta asing sebesar 5% dan 3% , 4) dan instrumen OPT, 5) yang seluruhnya berlaku bagi bank berdasarkan prinsip syariah .
3) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/8/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 tentang Ketentuan Pasar Uang Antar Bank bagi Bank berdasarkan Prinsip Syariah. 4) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/7/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 tentang Ketentuan GWM dalam Rupiah dan Valas bagi Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah. 5) Peraturan Bank Indonesia, No. 2/9/PBI/2000 tentang Ketentuan mengenai Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

SBI 1 bulan

SBI 3 bulan

Intervensi Rp.

Grafik 4.8 Posisi Intervensi Rupiah, SBI 1 dan 3 bulan

70

Bab 4 Moneter

Pasar Uang Antar Bank Baik volume transaksi harian maupun suku bunga di pasar uang antar bank (PUAB) menunjukkan kecenderungan peningkatan selama tahun 2000, terutama sejak triwulan II (Tabel 4.3).
13 %

15

Kecenderungan ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan likuiditas jangka pendek bagi perbankan, khususnya yang terkait dengan pelunasan pembayaran repo obligasi yang jatuh tempo oleh sejumlah bank, serta pemenuhan kebutuhan uang kartal masyarakat menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2000 dan pada akhir tahun. Sekalipun cenderung meningkat, volume transaksi harian PUAB secara keseluruhan masih lebih kecil daripada tahun sebelumnya. Kondisi ini terutama terkait dengan menurunnya kebutuhan dana bank-bank yang mengikuti program rekapitalisasi, selain telah berkurangnya peserta PUAB sebagai akibat proses merger dan dibeku-operasikannya sejumlah bank pada tahun laporan. Sementara itu, kendati juga cenderung meningkat sejak triwulan II tahun laporan, suku bunga PUAB pada akhir tahun 2000 masih lebih rendah daripada akhir tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan relatif lebih likuid dan stabilnya kondisi pasar di tahun laporan. Perbedaan suku bunga tertinggi dan terendah di PUAB selama tahun 2000 masih cukup besar, meskipun cenderung stabil kecuali pada bulan November (Grafik 4.10). Pada bulan
5
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul.

Tertinggi 11

9 Terendah 7

Ags.

Sep.

Okt.

Nov.

Des.

1999

2000

Grafik 4.10 Suku Bunga Tertinggi dan Terendah di PUAB

tersebut, suku bunga tertinggi sempat meningkat sehubungan dengan pertambahan kebutuhan dana sejumlah bank yang mengalami kesulitan memperoleh credit line di PUAB menjelang diberlakukannya sistim BI-RTGS. Hal-hal tersebut di atas merupakan cerminan dari masih adanya segmentasi di pasar uang, meski dengan skala yang lebih kecil daripada tahun-tahun sebelumnya. Dilihat dari pelakunya, kelompok bank swasta nasional devisa merupakan kelompok bank dengan kecenderungan

Tabel 4.3 Suku Bunga dan Volume Transaksi Harian PUAB Suku Bunga (%) Rincian Pagi Sore Keseluruhan Trw I /1999 Trw II /1999 Trw III /1999 Trw IV /1999 Trw I /2000 Trw II /2000 Trw III/ 2000 Trw IV /2000 39,56 29,13 13,28 12,46 9,74 10,18 11,18 11,64 37,83 28,21 13,10 12,34 9,37 9,86 10,64 11,21 38,97 28,67 13,21 12,39 9,59 10,02 10,89 11,43 3.074 2.627 1.964 2.040 1.003 961 1.197 1.340 2.075 2.624 1.420 1.731 708 945 1.289 1.470 Volume (Miliar Rp/Hari) Pagi Sore Keseluruhan 5.149 5.252 3.384 3.771 1.712 1,907 2.486 2.810

Miliar Rp. 2.000 1.500 1.000 500 0 -500 -1.000 -1.500 -2.000
I II III IV I II III IV

Bank Pemberi

Bank Penerima

1999 Bank Pemerintah Bank Non Devisa

2000 Bank Devisa Bank Asing

Bank Campuran

Grafik 4.11 Kelompok Bank dalam PUAB

71

Bab 4 Moneter

sebagai pemberi pinjaman (Grafik 4.11). Kelompok bank pemerintah yang pada awalnya banyak berlaku sebagai peminjam di pasar PUAB, sejak September 2000 beralih menjadi
14,0 % 15,0

pemberi pinjaman. Hal ini berkaitan dengan membaiknya kondisi likuiditas kelompok bank tersebut sehubungan dengan telah diselesaikannya pelaksanaan program rekapitalisasi perbankan. Seperti diketahui, bank-bank peserta rekap dimungkinkan untuk menjual obligasinya di pasar sekunder sebesar maksimum 25% dari seluruh obligasi yang mereka miliki. Sebaliknya, kelompok bank asing sejak triwulan III cenderung beralih dari pemberi pinjaman menjadi peminjam di PUAB.
13,0 12,0 11,0 10,0 9,0
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul.

SBI 1 bulan

Deposito 1 bulan

PUAB O/N

Ags.

Sep.

Okt.

Nov.

Des.

1999

2000

Grafik 4.12 Perkembangan Berbagai Suku Bunga Suku Bunga Walaupun tingkat suku bunga PUAB dan deposito 1 bulan pada akhir tahun 2000 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan peningkatan suku bunga SBI sejak Mei 2000, kedua jenis suku bunga tersebut meningkat secara bertahap meski dengan besaran yang berbeda (Grafik 4.12). Suku bunga PUAB dan deposito 1 bulan meningkat masingmasing sebesar 1,84% dan 1,63% hingga mencapai posisi 11,41% dan 12,0% pada akhir Desember 2000 (Tabel 4.4). Relatif rendahnya peningkatan kedua jenis suku bunga tersebut dibandingkan dengan peningkatan suku bunga SBI terkait dengan tingginya kondisi likuiditas perbankan, yang terutama bersumber dari ekspansi keuangan pemerintah di tengah-tengah belum normalnya fungsi intermediasi perbankan. Kondisi likuiditas tersebut juga didorong oleh upaya perbankan untuk memaksimalkan keuntungan bunga sehubungan dengan masih tingginya spread antara suku bunga simpanan dan SBI. Rendahnya peningkatan suku bunga simpanan, di tengah-tengah peningkatan laju inflasi, mengakibatkan turunnya suku bunga riil hingga posisinya mencapai 2,56% pada akhir Desember 2000 (Grafik 4.13). Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak tertarik untuk menyimpan kembali

Tabel 4.4 Perkembangan Suku Bunga1)
Rincian SBI 1 bulan PUAB O/N Keseluruhan Deposito 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Kredit Modal Kerja Investasi
1) Rata-rata tertimbang dalam bulan Desember.

Deposito Nominal (%)

Deposito Riil (%) 14 12

12,5

1998

1999 Persen

2000
12,0 Deposito Riil
10

38,4 33,4 39,5 41,4 49,2 36,8 28,3 16,6 34,7 26,2

12,5 12,1 12,4 12,2 12,9 14,3 22,4 18,4 20,7 17,9

14,5 11,4 12,3 12,0 13,2 13,3 12,2 14,3 17,7 16,9

11,5
8

11,0
6

10,5 Deposito Nominal 10,0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

4 2 2000

Grafik 4.13 Suku Bunga Nominal dan Riil

72

Bab 4 Moneter

% 50

IHSG 800

Nilai (Triliun Rp)

40

700 600

Nilai IHSG

3.500 3.000 2.500 2.000

30

500

20

Kredit Investasi

400

Kredit Modal Kerja
300

1.500
200 100

10

1.000 500 0

Deposito 3 bulan

0
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.

0

2000

4 Jan.

17 Feb.

5 Apr.

22 Mei

5 Jul.

16 Ags.

2 Okt.

14 Nov.

2000

Grafik 4.14 Perkembangan Suku Bunga Jangka Panjang

Grafik 4.15 IHSG dan Nilai Perdagangan Saham

uang kartal mereka di perbankan. Sementara itu, suku bunga jangka panjang, khususnya suku bunga kredit baik untuk modal kerja maupun investasi, cenderung relatif stabil (Grafik 4.14). Relatif stabilnya suku bunga kredit ini sekali lagi terkait erat dengan masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan.

termasuk pemberlakuan ketentuan fraksi harga saham yang lebih rendah. Namun demikian, kebijakan ini tampaknya belum memberikan kontribusi yang optimal dalam meningkatkan kinerja pasar modal di tengah-tengah kuatnya sentimen negatif pasar terhadap kondisi sosial politik dalam negeri.

Pasar Modal Masih tingginya ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri, melemahnya nilai tukar rupiah, dan meningkatnya suku bunga SBI mendorong penurunan kinerja pasar modal di tahun 2000. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun laporan tercatat sebesar 416,3, terkoreksi sebesar 260,6 poin (62,6%) dari posisi tahun sebelumnya (Grafik 4.15). Sejalan dengan itu, nilai kapitalisasi pasar juga mengalami penurunan sebesar 42,5%, dari Rp451,8 triliun pada akhir tahun 1999 menjadi Rp259,6 triliun. Menurunnya IHSG dalam tahun laporan juga tidak terlepas dari semakin kecilnya kontribusi investor asing di pasar modal Indonesia. Posisi nilai transaksi investor asing terhadap total perdagangan menurun, dari Rp51,7 triliun (35,0%) di tahun 1999 menjadi Rp24,8 triliun (20,2%). Meskipun mengalami penurunan kinerja, jumlah emiten di bursa saham di tahun laporan mencatat peningkatan, dari 321 emiten dengan nilai Rp206,7 triliun menjadi 346 emiten dengan nilai Rp225,6 triliun. Guna meningkatkan kinerja pasar modal dalam tahun laporan, pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan,

Aktivitas perdagangan saham di tahun 2000 ditandai pula dengan mulai berlakunya prinsip syariah sejak Juli 2000. Penentuan indeks saham berprinsip syariah mengacu kepada 30 saham yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah Islam. Sejalan dengan pergerakan IHSG, indeks saham dengan prinsip syariah (Jakarta Islamic Index) juga menurun, dari 78,5 pada awal peluncuran menjadi 57,9 pada akhir tahun 2000. Berbeda dengan aktivitas perdagangan di pasar saham, perdagangan di pasar obligasi korporasi mencatat sejumlah kemajuan. Jumlah emiten meningkat dari 76 emiten dengan nilai Rp15,9 triliun menjadi 91 emiten dengan nilai Rp22,4 triliun. Indeks perdagangan obligasi meningkat sebesar 64,6%, dari 252,2 pada akhir tahun lalu menjadi 415,0. Meningkatnya indeks perdagangan obligasi dibarengi dengan meningkatnya aktivitas perdagangan harian, dari Rp4,9 miliar menjadi Rp10,7 miliar dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp18,9 miliar. Adanya peningkatan aktivitas perdagangan harian ini mencerminkan bertambah aktifnya sejumlah perusahaan

73

Bab 4 Moneter

dalam mencari alternatif sumber dana di tengah-tengah masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan cenderung meningkatnya suku bunga di pasar uang. Sementara itu, perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder juga menunjukkan peningkatan, baik yang bersifat outright (penjualan sebagian obligasi pemerintah yang dimiliki bank) maupun repo (penjualan dengan perjanjian untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu). Hal ini sejalan dengan telah diberlakukannya ketentuan yang memungkinkan peningkatan jumlah maksimum obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan, berturut-turut dari 10% pada Februari, 15% pada September, dan 25% pada Desember 2000. 6, 7, 8) Transaksi perdagangan obligasi

pemerintah di pasar sekunder sejak Februari 2000 telah mencatat volume sebesar Rp27,9 triliun, terdiri dari transaksi obligasi variable rate sebesar Rp16,2 triliun dan obligasi fixed rate sebesar Rp11,7 triliun (Lihat Boks: Pengembangan Pasar Sekunder Obligasi Pemerintah). Selain itu, guna meningkatkan perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder, Pemerintah juga telah meluncurkan program pertukaran obligasi (bonds exchange offer). Program tersebut dilakukan dalam bentuk penukaran obligasi yang dimiliki bank peserta rekap yang memiliki jangka waktu 5 tahun dan dengan kupon 12,0%, dengan dua jenis obligasi (stapled bond) masing-masing dengan kupon 16,5% dan 10,0%.

6) Peraturan Bank Indonesia, No. 1/10/PBI/1999 tanggal 3 Desember 1999 tentang Portofolio Obligasi Pemerintah bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi. 7) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/18/DPM/200o tanggal 19 September 2000 tentang Peningkatan Persentase Portofolio Obligasi Pemerintah yang dapat diperdagangkan bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi . 8) Surat Edaran Bank Indonesia, No.2/26/DPM/2000 tanggal 8 Desember 2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0006, FR0007, FR0008, dan FR0009 untuk diperdagangkan di Pasar Sekunder serta Peningkatan Persentase Portofolio Obligasi Pemerintah yang dapat diperdagangkan bagi Bank Umum peserta Rekapitalisasi .

74

Bab 4 Moneter

Boks : Pengembangan Pasar Sekunder Obligasi Pemerintah
Perkembangan obligasi pemerintah di pasar sekunder masih sangat terbatas walaupun Pemerintah telah meningkatkan porsi obligasi rekapitalisasi yang dapat diperdagangkan. Upaya untuk mendorong pasar sekunder obligasi pemerintah melalui penerbitan stapled bonds juga belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Oleh karena itu, Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar pasar sekunder obligasi pemerintah tersebut menjadi aktif dan berkembang. Posisi obligasi yang telah diterbitkan oleh Pemerintah dalam rangka program rekapitalisasi perbankan (obligasi rekap) hingga akhir Desember 2000 adalah sebesar Rp431,8 triliun, yang terdiri dari fixed rate bond (FR) sebesar Rp179,4 triliun (41,6%), variable rate bond (VR) sebesar Rp219,5 triliun (50,8%), dan hedge bond sebesar Rp32,9 triliun (7,6%) (Grafik 1). Berdasarkan komposisinya, obligasi pemerintah yang masuk dalam portofolio perdagangan sampai dengan akhir tahun 2000 baru mencapai Rp31,6 triliun (7,3%) –termasuk yang diagunkan sebesar Rp12,1 triliun–, sedangkan sisanya sebesar Rp400,2 triliun tercatat dalam portofolio investasi (Grafik 2). Posisi portofolio perdagangan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan portofolio obligasi rekap pemerintah yang dapat diperdagangkan, yakni sebesar 25% dari total obligasi rekap jenis FR dan VR. Pada awal penerbitannya, obligasi rekap lebih didominasi oleh seri VR daripada seri FR. Hal ini didasarkan oleh adanya prakiraan bahwa arah suku bunga mendatang akan mengalami penurunan, sehingga penerbitan obligasi rekap VR akan mengurangi beban pemerintah untuk membayar bunga. Namun demikian, seiring dengan kecenderungan kenaikan suku bunga sejak Mei 2000, Pemerintah menerbitkan obligasi rekap seri FR yang jauh lebih besar dari seri VR dalam rangka menyeimbangkan komposisi jenis obligasi rekap di pasar dan mengurangi beban pembayaran kupon. Volume perdagangan obligasi rekap yang terjadi
triliun rupiah 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0
Mei. Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan.Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Invesstasi, triliun rupiah 450 400 350 Investasi

Perdagangan, triliun rupiah 35 30 25

300 250 20 150 100 50 0
Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

20 Perdagangan 15 10 5 0 1999 2000

Grafik 2 Perkembangan Portofolio Obligasi Pemerintah

sebagian besar dilakukan atas dasar jual beli bersyarat Repurchase Agreement (repo) daripada penjualan lepas (outright) seperti tampak pada Tabel 1. Lebih menariknya transaksi
Total Obligasi Variable Rate

repo tersebut terkait dengan faktor risiko transaksi yang relatif rendah dan berjangka pendek. Dilihat dari jenisnya, obligasi VR mencatat volume transaksi sebesar Rp16,2 triliun, sedangkan obligasi FR mencapai Rp11,7 triliun. Lebih aktifnya
Hedge Bond

Fixed Rate

transaksi perdagangan obligasi VR disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kecenderungan kenaikan suku bunga. hal ini terkait dengan dijadikannya suku bunga SBI 3 bulan sebagai acuan kupon obligasi VR. Adapun obligasi rekap yang paling aktif diperdagangkan adalah obligasi yang memiliki jangka waktu yang relatif pendek (3-4 tahun), yaitu VR0001 yang jatuh

1999

2000

Grafik 1 Perkembangan Posisi Obligasi Pemerintah

75

Bab 4 Moneter

FR Bulan Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Transaksi Jenis Transaksi – Repo – Outright 26 7.000 1.053 419 2.277 922 11.696

VR Miliar rupiah 6 62 1.587 86 2,788 2.284 798 5.372 3.227 16.210

Total

stapled bonds, namun rata-rata tertimbang kuponnya tetap sama dengan kupon obligasi rekap yang dipertukarkan, sehingga beban fiskal pemerintah tidak berubah. Sampai dengan akhir tahun laporan tercatat 14 bank telah menukarkan obligasi rekapnya senilai Rp58,5 triliun atau 90,1% dari total nilai obligasi seri FR0001 dan FR0003. Namun demikian, sampai dengan akhir tahun belum terdapat transaksi perdagangan stapled bonds. 2. Pemerintah saat ini sedang menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) obligasi pemerintah untuk memberikan dasar hukum bagi penerbitan obligasi pemerintah dan meningkatkan kepercayaan investor. RUU tersebut antara lain memuat jaminan pemerintah untuk membayar kupon dan pokok obligasi yang jatuh tempo (standing appropriation). 3. Pemerintah juga mempersiapkan penerbitan surat hutang jangka pendek pemerintah (Treasury Bills) dan diharapkan sudah dapat direalisasikan pada kuartal kedua tahun 2001. 4. Bank Indonesia bersama-sama dengan pelaku pasar2) sedang menyusun acuan aturan main perdagangan obligasi secara repo, baik repo di antara pelaku pasar maupun antara Bank Indonesia dengan para pelaku pasar. Perdagangan obligasi pemerintah ini diperkirakan akan meningkat pada tahun 2001 seiring dengan mulai diberlakukannya sistem BI-RTGS. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan perbankan terhadap obligasi pemerintah selain SBI, sebagai agunan untuk mendapatkan FLI dan FPJP. Dengan berbagai langkah dan fasilitas yang telah dan sedang dipersiapkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia tersebut, diharapkan pasar sekunder obligasi pemerintah menjadi lebih aktif.

6 87 8.587 86 3.842 2.703 798 7.649 4.149 27.906

13.999 50,2% 13.906 49,8%

tempo pada 25 Juni 2002 dan VR0002 yang jatuh tempo pada 25 Februari 2003. Sementara itu, untuk meningkatkan aktivitas perdagangan pasar sekunder dan membantu bank-bank rekap dalam memenuhi kebutuhan likuiditasnya, Pemerintah dan Bank Indonesia mengambil berbagai langkah kebijakan sebagai berikut: 1. Pada tanggal 30 November 2000, Pemerintah telah menawarkan kepada bank pemilik obligasi rekap untuk melakukan program pertukaran obligasi pemerintah atau Bonds Exchange Offer (BEO)1) . Obligasi rekap yang dapat ditukarkan ialah seri FR0001 jatuh tempo 15 September 2004 dan FR0003 jatuh tempo 15 Mei 2005, dengan kupon 12,0%. FR0001 ditukar dengan obligasi seri FR0006 kupon 16,5% dan seri FR0007 kupon 10,0%. FR0003 ditukar dengan obligasi seri FR0008 kupon 16,5% dan seri FR0009 kupon 10,0%. Walaupun terdapat perbedaan tingkat kupon

1) Bonds Exchange Offer adalah suatu program yang menawarkan Stapled Bonds untuk ditukarkan dengan obligasi rekap. Stapled Bonds adalah suatu paket obligasi yang terdiri dari dua jenis obligasi, dimana obligasi jenis pertama memberikan kupon yang lebih tinggi dari obligasi jenis kedua, namun rata-rata tertimbang kupon dua jenis obligasi tersebut adalah sama dengan kupon obligasi rekap yang akan dipertukarkan.

2) Pelaku pasar meliputi beberapa pihak dari kalangan bank domestik yang besar, bank asing, perusahaan sekuritas asing, Asosiasi Fixed Income Dealer, perusahaan efek nasional.

76

Bab 4 Moneter

Boks : Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek dan Fasilitas Likuiditas Intrahari
Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas, Bank Indonesia memberlakukan dua ketentuan yang berkaitan dengan pemberian fasilitas pendanaan kepada bank, yakni Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI). Sebagai lender of the last resort, Bank Indonesia dapat memberikan kredit kepada perbankan untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek.1) Pemberlakuan Peraturan Bank Indonesia tentang FPJP merupakan penyempurnaan dari ketentuan yang telah dikeluarkan sebelumnya.2) Dalam skim FPJP, kesulitan jangka pendek didefinisikan sebagai suatu keadaan yang dialami oleh bank umum yang disebabkan oleh terjadinya arus dana masuk yang lebih kecil dibandingkan dengan arus dana keluar (mismatch) sehingga diperkirakan dapat mengakibatkan terjadinya saldo negatif rekening giro rupiah di Bank Indonesia. Untuk lebih menjamin berjalannya fungsi lender of the last resort dalam pemberian FPJP, Bank Indonesia mengupayakan agar suku bunga FPJP di atas suku bunga pasar. Oleh karena itu, suku bunga FPJP ditetapkan sebesar suku bunga tertinggi di antara dua suku bunga berikut: a. Rata-rata tertimbang suku bunga PUAB keseluruhan jangka waktu overnight pada 1 hari kerja sebelumnya ditambah 200 basis point; atau b. Rata-rata tertimbang tingkat diskonto SBI jangka waktu 1 bulan pada lelang terakhir ditambah 200 basis point. Bank Indonesia memberikan FPJP dengan jangka waktu 1 hari kerja atau overnight, sementara itu bank dapat menggunakan FPJP sebanyak-banyaknya 90 hari secara berturut-turut. Sementara itu, pemberlakuan ketentuan mengenai FLI merupakan salah satu perwujudan dari pelaksanaan tugas
1) Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Pasal 11. 2) Peraturan Bank Indonesia No. 1/1/PBI/1999 tanggal 18 Mei 1999 tentang Fasilitas Pendanaan dalam Rangka Mengatasi Kesulitan Jangka Pendek.

Bank Indonesia, khususnya dalam rangka mendukung sistem pembayaran.3 ) Pemberian FLI terutama dimaksudkan untuk membantu bank dalam menghadapi kesulitan pendanaan jangka waktu sangat pendek (short term liquidity mismatch) yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan terjadinya kemacetan (gridlock) pada Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Kemacetan tersebut pada gilirannya dapat mengganggu kelancaran sistem pembayaran nasional serta menimbulkan ketidakstabilan sistem keuangan dan moneter secara keseluruhan. Kesulitan pendanaan jangka waktu sangat pendek dimaksud dapat timbul sebagai akibat transaksi keluar (outgoing transaction) melalui sistem BI-RTGS pada saat tertentu lebih besar dibandingkan dengan saldo giro rupiah bank peserta di Bank Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidaktepatan waktu transaksi masuk (incoming transaction) atau nilai transaksi masuk tersebut pada saat tertentu lebih kecil daripada nilai transaksi keluar. Penggunaan dan pelunasan FLI bank yang telah disetujui oleh Bank Indonesia pada 1 hari sebelum transaksi (T1) dilakukan secara otomatis oleh sistem BI-RTGS. Pada hari penggunaan FLI (T+0), bank dapat menggunakan FLI dari pukul 08.30 WIB sampai dengan 18.00 WIB dalam hal rekening giro rupiah di Bank Indonesia tidak mencukupi untuk melaksanakan outgoing transaction. Sementara itu, pelunasan FLI dilakukan pada pukul 08.30 WIB sampai dengan 19.00 WIB setiap adanya incoming transaction. Dalam hal bank tidak melunasi FLI sampai dengan pukul 19.00 WIB pada T+0, maka nilai FLI tersebut beralih menjadi FPJP. Untuk menghindari terjadinya moral hazard oleh perbankan, pemberian FPJP maupun FLI harus dijamin oleh bank penerima kredit dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan serta bernilai minimal sebesar jumlah kredit yang diterima. Agunan yang dapat diterima Bank Indonesia dalam rangka permohonan fasilitas tersebut adalah:

3) Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Pasal 15.

77

Bab 4 Moneter

a.

SBI dengan sisa jangka waktu 3 hari s.d. 30 hari dengan nilai jual sekurang-kurangnya 100% dari fasilitas kredit yang ditarik oleh bank;

memperoleh fasilitas tersebut dilarang untuk memperjualbelikan dan atau menjaminkan kembali surat berharga yang dijaminkan tersebut. Terhadap bank pengguna FLI maupun FPJP, Bank Indonesia berwenang melakukan pengawasan baik sebelum maupun sesudah periode penggunaan fasilitas dimaksud. Selain itu, kepada bank yang akan memanfaatkan kedua fasilitas tersebut disyaratkan memenuhi ketentuan Kecukupan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang berlaku dan harus memenuhi tingkat kesehatan bank di mana dalam waktu 3 bulan terakhir sekurang-kurangnya cukup sehat.

b.

Obligasi pemerintah dengan sisa jangka waktu 15 hari dengan nilai pasar sekurang-kurangnya 115% dari fasilitas kredit yang ditarik oleh bank;

c.

Surat berharga lain yang akan ditentukan kemudian oleh Bank Indonesia. Agunan tersebut harus bebas dari segala bentuk

perikatan, sengketa, dan tidak sedang dijaminkan kepada pihak lain dan atau Bank Indonesia. Selain itu, bank yang telah

78

Bab 5

Neraca Pembayaran

5
D

b a Neraca Pembayaran b Bab 5

Neraca Pembayaran

alam tahun 2000, secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan perkemba-

dalam tahun laporan. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekspor nonmigas, Pemerintah telah mengambil berbagai langkah kebijakan antara lain melalui penurunan tarif pajak ekspor secara bertahap1), pengeluaran keputusan tentang ketentuan kuota ekspor tekstil dan produk tekstil2),

ngan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan semakin membaiknya kinerja ekspor nonmigas dan meningkatnya penerimaan ekspor migas sehubungan dengan tingginya harga minyak di pasar internasional. Di sisi lain, mengingat kandungan impor untuk menghasilkan barang ekspor masih cukup tinggi, meningkatnya kinerja ekspor nonmigas telah pula memberikan dorongan terhadap meningkatnya impor nonmigas terutama dalam bentuk bahan baku dan penolong. Peningkatan impor tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di dalam negeri. Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa juga mengalami peningkatan yang disebabkan oleh tingginya pembayaran bunga utang luar negeri, meningkatnya pembayaran bagi hasil minyak untuk kontraktor asing, serta meningkatnya biaya transportasi yang terkait dengan kegiatan impor. Secara keseluruhan transaksi berjalan dalam tahun laporan tetap menunjukkan surplus bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dari sisi transaksi modal, berkurangnya pemasukan modal Pemerintah dan masih tingginya defisit dalam lalu lintas modal swasta, telah menyebabkan transaksi modal dalam tahun laporan masih mengalami defisit. Dengan perkembangan tersebut, secara keseluruhan NPI dalam tahun 2000 mengalami surplus sebesar $5,0 miliar sehingga posisi cadangan devisa pada akhir tahun 2000 mencapai $29,3 miliar atau setara dengan 6,3 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah (Tabel 5.1). Perkembangan NPI tersebut di atas tidak terlepas dari langkah-langkah kebijakan yang telah diambil Pemerintah

Tabel 5.1 Neraca Pembayaran Indonesia
1998 Rincian Miliar $ A. Transaksi Berjalan 1. Barang a. Ekspor f.o.b Nonmigas Migas Minyak LNG LPG b. Impor f.o.b Nonmigas Migas Minyak LNG 2. Jasa a. Nonmigas b. Migas Minyak LNG B. Modal di Luar Sektor Moneter 1. Lalu lintas modal pemerintah (bersih) a. Penerimaan pinjaman dan bantuan b. Pelunasan pinjaman 2. Lalu lintas modal swasta (bersih) a. Penanaman modal langsung b. Lainnya C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu-lintas Moneter Catatan: 1. Cadangan Devisa Bersih (NIR) 2. Aktiva Luar Negeri (GFA)2) Setara impor nonmigas dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah (bulan) 3. Transaksi Berjalan/PDB (%) 4,1 18,4 50,4 43,0 7,4 4,1 3,0 0,2 –31,9 –29,1 –2,9 –2,6 –0,2 –14,3 –11,4 –2,9 –1,4 –1,5 –3,9 10,0 13,7 –3,8 –13,8 –0,4 –13,5 0,2 2,1 –2,3 5,8 20,6 51,2 41,0 10,3 5,7 4,2 0,4 –30,6 –26,6 –4,0 –3,7 –0,3 –14,9 –11,7 –3,2 –1,5 –1,7 –4,6 5,4 9,4 –4,11) –9,9 –2,7 –7,2 1,2 2,1 –3,3 7,7 25,1 62,5 47,0 15,5 8,6 6,4 0,4 –37,4 –32,1 –5,3 –5,0 –0,3 –17,4 –12,7 –4,7 –2,3 –2,4 –4,6 3,8 8,3 –4,51) –8,5 –4,1 –4,4 3,1 1,9 –5,0 1999 2000*

14,1 23,8 5,7 4,2

16,4 27,1 6,7 4,1

17,8 29,3 6,3 5,0

1) Termasuk Keputusan Menteri Keuangan No.387/KMK.017/2000 tanggal 12 September 2000 tentang Penetapan Besarnya Tarif Pajak Ekspor Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya. 2) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.174/MPP/Kep/ 5/2000 tangal 25 Mei 2000 tentang Ketentuan Kuota Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil.

1) Termasuk rescheduling 2) Sejak tahun 2000 menggunakan konsep IRFCL, menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

80

Bab 5 Neraca Pembayaran

penyediaan pembiayaan dan penjaminan yang termasuk pula pemberian jasa konsultasi, serta usaha lainnya dalam rangka mendorong dan memperlancar kegiatan ekspor. Di samping itu, Pemerintah juga mendorong perluasan pasar tujuan ekspor, antara lain melalui penataan pengorganisasian misi dagang dan melalui peningkatan diplomasi perdagangan baik dalam rangka kerjasama bilateral, regional maupun multilateral melalui pemberdayaan perwakilan RI di luar negeri terutama yang menangani bidang ekonomi. Adapun sasaran perluasan pasar tujuan ekspor antara lain adalah Timur Tengah, Eropa Timur, Amerika Latin dan Asia Timur. Sementara itu, tingginya pertumbuhan impor tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang telah ditempuh Pemerintah untuk melakukan upaya restrukturisasi perdagangan luar negeri. Dalam upaya meningkatkan kegiatan industri di dalam negeri yang membutuhkan bahan baku impor, Pemerintah telah menyempurnakan berbagai skim pembiayaan dan penjaminan, serta membuka kembali akses ke sumber-sumber perdagangan internasional. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama baik kepada eksportir yang termasuk dalam kelompok perusahaan eksportir tertentu (PET) maupun bukan (non-PET) antara lain dalam menggunakan fasilitas skim pembiayaan dan penjaminan, menghapuskan batasan jenis komoditas impor yang dapat dibiayai atau dijamin, dan menambah jumlah bank pembuka L/C impor. Di samping itu, dalam tahun laporan Pemerintah tetap melanjutkan pemberian jaminan melalui Bank Indonesia atas seluruh L/C yang dibuka oleh seluruh perbankan Indonesia dalam rangka membuka kembali akses ke bank-bank internasional. Guna menjamin tersedianya bahan baku/penolong bagi industriindustri di dalam negeri, Pemerintah juga melanjutkan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk atas impor bahan baku komoditas tertentu.3) Dalam tahun 2000 Pemerintah juga

telah mengeluarkan kebijakan persyaratan impor kendaraan Complete Built Up (CBU).4) Di bidang lalu lintas modal, dalam rangka mengurangi beban pembayaran utang luar negeri Pemerintah, pada tahun laporan telah dilakukan pertemuan Paris Club II yang berlangsung tanggal 12 dan 13 April 2000 di Paris. Dalam pertemuan ini berhasil disetujui penjadwalan kembali pembayaran cicilan utang pokok pemerintah untuk pinjaman yang jatuh tempo 1 April 2000 sampai dengan 31 Maret 2002, baik pinjaman lunak (Official Development Assistance atau ODA) maupun yang tidak lunak. Di samping itu, pada September 2000 telah berhasil dijadwalkan kembali pembayaran utang pokok pinjaman komersial yang diterima dari sindikasi bank-bank di luar negeri sebagai kelanjutan dari hasil perundingan dalam kerangka London Club dan sebagai pelaksanaan azas Comparable Treatment yang dituntut oleh negara donor utang luar negeri Pemerintah. Sementara itu, upaya restrukturisasi utang luar negeri swasta baik melalui Jakarta Initiative Task Force (JITF) dan program Exchange Offer, dalam tahun laporan juga terus dilakukan. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan sistem pemantauan kegiatan lalu-lintas devisa (LLD), dalam tahun laporan Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang mewajibkan lembaga keuangan non bank (LKNB) untuk melaporkan kegiatan LLD yang dilakukannya sebagaimana telah diterapkan kepada bank-bank umum. 5) Dengan berlakunya ketentuan ini, pelaksanaan pemantauan kegiatan LLD diharapkan sudah mencakup sebagian besar kegiatan LLD yang dilakukan oleh penduduk (Boks : Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa melalui Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank).

3) Keputusan Menteri Keuangan No.98/KMK.05/2000 tanggal 31 Maret 2000 tentang Keringanan Bea masuk Bahan Baku/Sub Komponen/ Bahan Penolong untuk Pembuatan Elektronika, dan Keputusan Menteri Keuangan No.135/KMK.05/2000 tanggal 1 Mei 2000 tentang Keringan Bea Masuk atas Impor Mesin/Barang dan Bahan dalam Pembangunan/ Pengembangan Industri.

4) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 49/MPP/Kep/ 2/2000 tanggal 25 Februari 2000 dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 192/MPP/Kep/6/2000 tanggal 2 Juni 2000 tentang peraturan mengenai persyaratan impor kendaraan bermotor dalam keadaan utuh (CBU). 5) Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/23/DSM tanggal 10 November 2000 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu-Lintas Devisa oleh Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB).

81

Bab 5 Neraca Pembayaran

Transaksi Berjalan Dalam periode laporan, transaksi berjalan mencatat surplus sebesar $7,7 miliar, meningkat 33,0% dibandingkan dengan surplus dalam tahun sebelumnya sebesar $5,8 miliar. Surplus transaksi berjalan tersebut terutama berasal dari surplus neraca
10 Miliar $ 16 14 12

perdagangan yang mencapai $25,1 miliar (Grafik 5.1).
8

Kenaikan surplus neraca perdagangan yang tajam terutama disebabkan oleh meningkatnya penerimaan dari sektor migas sebagai akibat tingginya harga minyak di pasar internasional. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan di sektor nonmigas mencapai $14,9 miliar, relatif tetap dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Grafik 5.2). Sementara itu, neraca jasa mencatat defisit sebesar $17,4 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya yang mencatat defisit sebesar $14,9 miliar.

6 4 2 0 1997 1998 1999 2000 Nilai Ekspor Bersih Non Migas Nilai Ekspor Bersih Migas

Grafik 5.2 Nilai Ekspor Bersih Nonmigas dan Migas

Ekspor Sebagaimana telah dikemukakan kegiatan ekspor baik migas maupun nonmigas dalam tahun laporan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Total nilai ekspor mencapai $62,5 miliar, meningkat 22,0% dibandingkan ekspor pada tahun sebelumnya. Perkembangan ekspor yang cukup tinggi tersebut telah meningkatkan peran ekspor sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Dalam tahun laporan, ekspor nonmigas meningkat 15,0% dari tahun sebelumnya sehingga mencapai $47 miliar,

sedangkan ekspor migas meningkat 50,5% dari tahun sebelumnya sehingga mencapai $15,5 miliar (Grafik 5.3). Peningkatan kinerja ekspor nonmigas, selain didorong oleh meningkatnya permintaan dunia terutama dari negaranegara di kawasan Amerika dan Asia, juga disebabkan oleh adanya kebijakan-kebijakan Pemerintah yang mendorong kegiatan ekspor. Peningkatan ekspor nonmigas terutama disumbang oleh ekspor sektor industri dan sektor pertambangan. Sektor industri masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur ekspor

Miliar $ 30 Transaksi Berjalan Neraca Jasa Neraca Perdagangan

Miliar $ Ekspor Non migas Ekspor Migas

50 40

20

10

30
0

20
–10

10
–20 1997 1998 1999 2000

0 1997 1998 1999 2000

Grafik 5.1 Transaksi Berjalan, Neraca Perdagangan, dan Neraca Jasa

Grafik 5.3 Nilai Ekspor Nonmigas dan Migas

82

Bab 5 Neraca Pembayaran

nonmigas Indonesia dengan pangsa yang mencapai 80,0% dari total nilai ekspor nonmigas Indonesia, diikuti oleh sektor pertambangan dan sektor pertanian masing-masing sebesar 11,0% dan 9,0% (Grafik 5.4). Dalam tahun 2000, total nilai ekspor barang industri meningkat sebesar 15,0% dari tahun sebelumnya sehingga mencapai $37,6 miliar (Tabel 5.2). Tajamnya peningkatan ekspor barang industri tersebut terjadi pada peningkatan nilai ekspor mesin & pesawat mekanik (77,4%), barang-barang listrik (70,8%), kertas (14,1%) dan tekstil & produk tekstil (6,4%). Peningkatan nilai ekspor barang industri tersebut di samping disebabkan oleh naiknya harga kertas di pasar dunia, juga didorong kuatnya permintaan akan barang-barang tekstil & produk tekstil, barang-barang listrik, dan mesin & pesawat mekanik di pasar internasional. Sementara itu, total nilai ekspor sektor pertambangan mencapai $5,2 miliar atau meningkat 25,3% dibanding pada tahun sebelumnya. Di sektor ini, tembaga memberikan sumbangan yang cukup besar dengan nilai ekspor yang mencapai $2,1 miliar atau meningkat sebesar 47,3% dari tahun sebelumnya. Peningkatan nilai ekspor tembaga tersebut selain disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor, juga sebagai akibat dari meningkatnya harga tembaga di pasar internasional sejalan dengan kuatnya permintaan dunia. Ekspor sektor pertanian pada tahun laporan mengalami peningkatan sebesar $58 juta sehingga menjadi $4,2 miliar. Beberapa komoditas utama yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan tersebut antara lain komoditas getah karet dan udang yang masing-masing meningkat sebesar 5,2% dan 5,9% dibanding tahun sebelumnya. Ditinjau dari negara tujuan, ekspor nonmigas Indonesia
%

Tabel 5.2 Ekspor Barang Industri
1999 Rincian 2000 2000* Nilai (juta $) 6.693 3.702 515 4.239 1.936 285 1.199 50 2.065 1.111 5.746 138 3.017 405 337 1.575 1.099 3.287 5.874 37.634 Pangsa (%) 17,8 9,8 1,4 11,3 5,1 0,8 3,2 0,1 5,5 3,0 15,3 0,4 8,0 1,1 0,9 4,2 2,9 8,7 15,6 100

Perubahan (%) -10.6 -8,5 -72,8 6,6 -3,0 559,6 54,2 -9,1 -12,5 -22,3 19,6 64,1 7,0 -9,8 3,9 -4,0 -8,0 25,3 7,5 6,4 7,3 -9,4 -6,3 -14,3 11,8 -12,4 6,5 15,5 3,0 70,8 -3,5 14,1 8,1 20,7 3,7 27,8 77,4 3,6

Tekstil & Produk Tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk Rotan Minyak Sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & pesawat mekanik Lainnya Total

sebagian besar ditujukan ke negara-negara di kawasan Asia dengan pangsa mencapai 57%, diikuti kawasan Amerika dan

100 80

Eropa masing-masing mencapai 20,0% dan 19,0%. Negara tujuan ekspor nonmigas terbesar di kawasan Asia adalah negara ASEAN, diikuti oleh Jepang dan RRC (Grafik 5.5). Sementara itu, pertumbuhan nilai ekspor migas yang

60 40

tinggi dalam tahun laporan, terutama disebabkan oleh me20

ningkatnya harga minyak bumi maupun gas di pasar
1996
Industri

0

1997

1998
Pertanian

1999

2000*
Pertambangan

internasional. Dalam tahun 2000 rata-rata harga minyak bumi Indonesia mencapai $28,6 per barrel, jauh lebih tinggi dari ratarata harga minyak bumi tahun sebelumnya yang tercatat $17,4

Grafik 5.4 Pangsa Ekspor Non Migas

per barrel dan juga lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar $20 per barrel. Kenaikan harga minyak bumi tersebut antara lain

83

Bab 5 Neraca Pembayaran

Jepang 15%

Lain-lain 4%

Amerika 20%

Tabel 5.3 Impor Nonmigas Menurut Kelompok Barang
Nilai (juta $) 1999 2000 2.198 23.392 6.514 Pertumbuhan (%) 1999 –18,2 –0,6 –25,7 2000 63,3 20,6 10,6 Pangsa (%) 1999 5,0 72,8 22,1 2000 6,8 72,9 20,3

Eropa 19% ASEAN 19%

Asia kecuali Jepang dan ASEAN 23%

Barang konsumsi 1.343 Bahan baku penolong 19.398 Barang modal 5.891

Grafik 5.5 Pangsa Ekspor Non Migas Menurut Negara Tujuan Tahun 2000

maupun migas yang masing-masing naik sebesar 20,7% dan 32,5%. Peningkatan impor nonmigas tersebut sejalan dengan mulai meningkatnya permintaan domestik. Sementara itu, peningkatan impor migas disebabkan oleh kurang cukupnya

disebabkan oleh kepatuhan dari negara-negara anggota OPEC terhadap kuota yang ditetapkan dan berkurangnya pasokan minyak di pasar internasional sebagai akibat ketidakstabilan kondisi politik di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, harga rata-rata ekspor baik liquefied natural gas (LNG) maupun liquefied petroleum gas (LPG) juga meningkat masing-masing menjadi sebesar $4,58 per MMBTU dan $295,2 per Mton dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar $2,76 per MMBTU dan $197,4 per Mton. Ditinjau dari komponennya, ekspor minyak bumi naik sebesar 50,9%, ekspor gas alam cair (LNG) naik sebesar 54,8%, sementara itu ekspor gas minyak cair (LPG) relatif tetap. Meskipun nilai ekspor migas mencatat adanya peningkatan, namun volumenya mengalami penurunan. Volume ekspor minyak bumi, LNG, dan LPG turun masing-masing sebesar 8,5%, 6,9% dan 26,9%. Penurunan volume ekspor minyak tersebut disebabkan oleh turunnya volume produksi minyak mentah. Sementara itu, penurunan volume ekspor gas antara lain disebabkan oleh berakhirnya beberapa kontrak penjualan gas (LNG) jangka pendek dengan negara pembeli Korea.

produksi minyak dalam negeri untuk memenuhi peningkatan permintaan dalam negeri. Berdasarkan kelompok barang, peningkatan nilai impor nonmigas berasal dari semua kelompok barang, yaitu kelompok barang konsumsi sebesar 63,3%, bahan baku 20,6% dan bahan modal 10,6% (Tabel 5.3). Meskipun demikian, kelompok bahan baku masih merupakan penyumbang terbesar terhadap nilai impor nonmigas secara keseluruhan, dengan pangTabel 5.4 Impor Bahan Baku
1999* Rincian 2000* Nilai (juta $) 2000 Pangsa (%)

Pertumbuhan (%)

Impor Dalam tahun laporan, nilai impor meningkat sebesar 22,2% setelah pada tahun sebelumnya turun sebesar 4,1%. Peningkatan impor tersebut terjadi baik pada sektor nonmigas

Makanan & minuman (industri) Makanan & minuman (industri 1/2 jadi) Bahan baku mentah untuk industri Bahan baku 1/2 jadi untuk industri Bahan bakar & pelumas (mentah) Bahan bakar & pelumas (1/2 jadi) Suku cadang & perlengkapan barang modal Suku cadang & perlengkapan alat angkutan Lainnya Total

4,5 38,6 10,8 -13,5 63,2 –30,6 –51,2 –36,9 49,6 -0,6

11,8 -8,2 -24,8 25,4 -36,5 47,5 2,3 119,6 31,8 20,6

770,6 605,9 2.061,3 9.360,3 7,5 86,0 1.041,6 1.402,5 8.056,1 23.391,8

3,3 2,6 8,8 40,0 0,0 0,4 4,5 6,0 34,4 100,0

84

Bab 5 Neraca Pembayaran

Serikat. Pangsa impor dari negara-negara Asia, terutama
Tabel 5.5 Impor Barang Modal
1999* Rincian 2000 2000* Nilai (juta $) 27,4 0,0 25,1 2.346,0 380,7 1.000,3 26,0 400,6 64,7 2.243,2 6,514 Pangsa (%) 0,4 0,0 0,4 36,0 5,8 15,4 0,4 6,2 1,0 34,4 100,0

Jepang meningkat dari 9,5% menjadi 18,5% dengan nilai impor mencapai $5,9 miliar. Pangsa impor dari RRC meningkat dari
Perubahan (%) –75,4 –60,4 –41,3 –45,0 –61,8 2,2 –47,1 –32,4 –69,2 24,9 –25,7 125,0 –97,5 –37,7 10,0 12,1 36,6 27,5 59,5 601,2 –4,7 10,6

3,9% menjadi 6,4% sehingga mencapai $2,1 miliar, dan pangsa Amerika Serikat sedikit meningkat dari 9,5% menjadi 12,0% atau mencapai $3,8 miliar (Grafik 5.6).

Traktor & alat pertanian Alat kerajinan / perhiasan Kontainer & kotak penyimpanan Reaktor nuklir & mesin mekanik Generator & alat elektronika Lokomotif, kapal, pesawat Alat pertukangan Alat optik & ukur Mobil penumpang Lainnya Total

Jasa-jasa Dalam tahun laporan, defisit neraca jasa meningkat sebesar $2,5 miliar menjadi defisit $17,4 miliar. Semakin besarnya defisit tersebut berasal dari meningkatnya defisit jasa-jasa migas sebesar 46,9% dan nonmigas sebesar 8,5%. Meningkatnya defisit jasa-jasa migas terutama terjadi pada jasa-jasa non freight yang meningkat 49,0% menjadi $4,2 miliar. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya

sa mencapai 72,9%. Peningkatan impor bahan baku terutama terjadi pada komoditas bahan baku setengah jadi untuk industri dan impor suku cadang & perlengkapan alat angkutan, yang masing-masing meningkat sebesar 25,4% dan 119,6% dari tahun sebelumnya (Tabel 5.4). Kondisi ini mengindikasikan mulai meningkatnya kegiatan produksi di dalam negeri. Di samping itu, indikasi mulai meningkatnya kegiatan perekonomian juga tercermin dari impor barang modal yang meningkat (Tabel 5.5). Dilihat dari negara asal, impor Indonesia terutama berasal dari negara-negara di kawasan Asia dan Amerika

pembayaran bagi hasil minyak dan gas bumi untuk kontraktor, dan meningkatnya harga komoditas tersebut di pasaran internasional. Di sisi sektor jasa-jasa nonmigas, defisit jasa non freight meningkat sebesar 8,7% sehingga mencapai $10,1 miliar, antara lain berasal dari meningkatnya pembayaran bunga utang Pemerintah dan jasa transportasi. Sementara itu, sejalan dengan meningkatnya impor nonmigas, defisit jasa-jasa freight pada sektor jasa nonmigas meningkat sebesar 9,4% menjadi $2,6 miliar. Dari sisi penerimaan jasa-jasa nonmigas, penerimaan devisa terbesar berasal dari sektor pariwisata yang dalam tahun laporan meningkat sebesar $0,4 miliar sehingga menjadi

Amerika kecuali Amerika Serikat 5% Asia kecuali Jepang Amerika Serikat dan ASEAN 12% 24% Lain-lain 8%

$4,8 miliar. Dalam tahun 2000, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia meningkat dari 4,5 juta orang menjadi 5,1 juta orang. Sebagian besar wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia tersebut masuk melalui 3 pintu utama yaitu Denpasar, Medan, Batam, dan Jakarta. Peningkatan

Jepang 18% Eropa 19%

jumlah wisatawan tersebut menunjukkan membaiknya posisi
ASEAN 14%

Indonesia sebagai negara tujuan wisata.

Lalu lintas Modal Grafik 5.6 Pangsa Impor Non Migas Menurut Negara Asal Tahun 2000 Dalam tahun laporan, lalu lintas modal bersih masih mengalami defisit yaitu sebesar $4,6 miliar, relatif tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Defisit tersebut bersumber

85

Bab 5 Neraca Pembayaran

dari penurunan surplus lalu lintas modal Pemerintah dan defisit lalu lintas modal swasta. Surplus lalu lintas modal bersih Pemerintah dalam tahun 2000 mencapai $3,8 miliar, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai surplus $5,4 miliar. Turunnya surplus tersebut terutama disebabkan oleh penurunan bantuan program baik dari ADB, IBRD maupun Jepang (JBIC), yang dalam tahun laporan turun sebesar 59,0% sehingga menjadi $1,6 miliar. Di samping itu, penurunan jumlah bantuan pangan pada tahun laporan sebesar 73,0% sehingga hanya menjadi $73 juta, juga memberikan kontribusi terhadap turunnya surplus lalu lintas modal bersih Pemerintah. Sementara itu, pada tahun laporan pinjaman proyek baik dari CGI maupun non–CGI meningkat sebesar $0,3 miliar sehingga menjadi sebesar $2,7 miliar. Peningkatan tersebut terutama berasal dari pinjaman multilateral ODA yang naik sebesar $0,5 miliar sehingga menjadi $1,5 miliar. Sementara itu pinjaman non–ODA pada tahun laporan turun sebesar $0,3 miliar sehingga menjadi $0,4 miliar. Sebagaimana tahun sebelumnya, lalu lintas modal swasta pada tahun laporan masih mengalami defisit sebesar $8,5 miliar, meskipun turun $1,4 miliar dari tahun sebelumnya. Turunnya defisit tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya arus masuk modal swasta khususnya dalam rangka penanaman modal asing (PMA) dan menurunnya pembayaran hutang luar negeri swasta (outflows) terutama dari sektor perbankan. Sementara itu, dalam tahun laporan posisi utang luar negeri sampai dengan akhir Oktober 2000 tercatat sebesar $140,0 miliar atau menurun 5,5% dari posisi utang akhir tahun 1999 sebesar $148,1 miliar (Tabel 5.6). Penurunan tersebut bersumber dari penurunan posisi utang luar negeri swasta maupun Pemerintah. Penurunan posisi utang swasta terjadi karena adanya pelunasan utang, terutama oleh swasta nonbank. Sementara itu, penurunan posisi utang Pemerintah adalah akibat dari pelunasan utang serta dampak dari melemahnya Yen terhadap USD. Sebagaimana diketahui, selain dalam valuta USD peranan utang luar negeri pemerintah dalam mata uang Yen juga cukup signifikan. Dilihat dari komposisi penerimaan pinjaman, posisi utang luar negeri Pemerintah masih tetap mendominasi utang luar negeri Indonesia, yaitu sebesar $74,8 miliar atau 53,4% dari total utang yang berjumlah $140,0 miliar. Sementara itu, jika dilihat dari jangka waktu utang, utang luar negeri Indonesia berjangka waktu pendek yang jatuh waktu sampai dengan akhir Oktober 2001 diperkirakan sebesar $29,0 miliar (terdiri dari utang Pemerintah sebesar $3,4 miliar dan utang swasta sebesar $25,6 miliar). Dari jumlah tersebut, sebesar $22,4 miliar merupakan utang jangka pendek yang berasal dari utang jangka panjang yang akan jatuh tempo sampai dengan Oktober 2001 (remaining maturity) dan sisanya sebesar $6,7 miliar merupakan utang jangka pendek sesuai loan agreement yang berjangka waktu sampai dengan 1 tahun (original maturity). Dari jumlah utang jangka pendek swasta sebesar $25,6 miliar, sebesar $23,7 miliar (92,7%) merupakan utang jangka pendek swasta non bank dan sisanya sebesar $1,9 miliar (7,3%) merupakan utang jangka pendek swasta bank (Tabel 5.7). Dilihat dari sektor ekonomi yang dibiayai, sektor jasa keuangan dan leasing merupakan sektor yang paling besar menyerap utang, yaitu sebesar $31,6 miliar atau 22,9% dari total utang luar negeri Indonesia. Selanjutnya adalah industri pengolahan sebesar $31,3 miliar (22,7%) dan sektor gabungan,
Pemerintah Swasta : Bank Non Bank Surat Berharga Total 67.315 83.572 10.769 67.515 5.288 75.862 72.235 10.836 58.243 3.156 2000 1998 1999 Mar. Jun. Sep. Okt.
1)

Tabel 5.6 Posisi Utang Luar Negeri

Juta $ 75.292 68.991 10.379 55.309 3.303 76.487 67.678 10.314 54.917 2.447 75.405 65.396 9.385 53.714 2.297 74.800 65.197 7.975 55.027 2.195

150.887 148.097 144.283 144.165 140.803 139.997

1) Angka utang luar negeri tidak termasuk dana pihak III (berdasarkan SE No.2/20/DLN/2001)

86

Bab 5 Neraca Pembayaran

persetujuan untuk menjadwalkan kembali pembayaran
Tabel 5.7 Pinjaman Luar Negeri Menurut Jangka Waktu Posisi Oktober 20001)
Swasta No. Jangka Waktu Pemerintah Non Bank Bank PMA
Juta $ 1 Jangka Pendek2) – Original Maturity – Remaining Maturity Jangka Menengah & Panjang 3) Total 1) Termasuk domestic securities 2) Sampai dengan 1 tahun 3) Lebih dari 1 tahun 3.420 56 3.364 71.380 74.800 1.877 25 1.852 6.107 7.982 12.068 1.786 10.282 16.117 28.185 11.636 4.781 6.855 17.392 29.001 6.648 22.353 110.996

cicilan utang pokok pemerintah sebesar $5,8 miliar untuk pinjaman yang jatuh tempo 1 April 2000 sampai dengan 31 Maret 2002. Berdasarkan persetujuan tersebut, pembayaran
Jumlah Non PMA

untuk pinjaman lunak (ODA) dijadwalkan kembali dengan masa 20 tahun termasuk 7 tahun masa tenggang dengan tingkat bunga yang berlaku bagi pinjaman lunak. Untuk pinjaman bila teral non-ODA, pembayarannya dijadwalkan kembali dengan masa 15 tahun termasuk 3 tahun masa tenggang dengan bunga pasar. Di samping itu, jumlah pinjaman komersial yang berhasil dijadwalkan kembali melalui kerangka London Club adalah sebesar $340 juta dengan jangka waktu penjadwalan 12 tahun 6 bulan dengan masa

2.

yaitu sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar $14,5 miliar (10,5%). Apabila dibandingkan dengan posisi akhir 1999, terjadi pergeseran dominasi sektor ekonomi, yaitu dari industri pengolahan ke sektor jasa keuangan dan leasing. Dilihat berdasarkan negara pemberi utang, Jepang merupakan negara kreditor terbesar yang memberikan utang luar negeri kepada Indonesia, yaitu sebesar $46,7 miliar atau 33,3% dari total utang luar negeri Indonesia, diikuti oleh Amerika, Belanda, dan Jerman, masing-masing sebesar $13,0 miliar (9,3%), $8,1 miliar (5,8%), dan $8,0 miliar (5,7%). Sementara itu, IBRD, IMF, dan ADB merupakan organisasi internasional pemberi utang terbesar dengan masing-masing utang sebesar $11,8 miliar (8,4%), $ 10,7 miliar (7,6%), dan $7,5 miliar (5,3%). Meskipun demikian, jika dilihat dari mata uang yang digunakan, utang luar negeri Indonesia masih didominasi oleh utang dalam valuta USD, yaitu sebesar $89,2 miliar atau 63,7%, diikuti utang dalam valuta JPY, SDR dan DEM masing-masing tercatat sebesar $30,6 miliar (21,8%), $10,8 miliar (7,7%) dan $2,5 miliar (1,8%). Dalam tahun laporan, jumlah utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo mencapai $4,5 miliar. Dari jumlah tersebut, yang merupakan pelunasan sebesar $2 miliar, sedangkan sisanya sebesar $2,5 miliar telah berhasil di– restrukturisasi melalui pertemuan Paris Club I dan II. Dapat ditambahkan bahwa pada tanggal 12–13 April 2000, telah dilakukan pertemuan Paris Club II yang berhasil mencapai

tenggang 3 tahun. Sementara itu, upaya restrukturisasi utang luar negeri swasta dalam tahun laporan juga terus dilakukan. Utang sektor swasta bank yang berhasil direstrukturisasi melalui program Exchange Offer (EO) adalah sebesar $6,3 miliar, terdiri dari Exchange Offer I (EO I) sebesar $ 3,0 miliar dan Exchange Offer II (EO II) $3,3 miliar. Sementara itu, restrukturisasi utang swasta bukan bank yang berhasil dilakukan melalui Jakarta Initiative Task Force (JITF) dari tahun 1998 sampai dengan 2000 adalah sebesar $9,4 miliar, atau 93,6% dari target sebesar $10 miliar, yang terdiri dari utang luar negeri dan dalam negeri. Nisbah DSR, nisbah total utang terhadap ekspor, dan total utang terhadap PDB pada tahun 2000 masing-masing mencapai 44,8%, 198,2%, dan 84,3%, dibandingkan 56,8%, 252,1,0% dan 103,3% pada tahun 1999 (Tabel 5.8). Meskipun relatif membaik dari tahun sebelumnya, tingginya nisbah

Tabel 5.8 Indikator Beban Utang Luar Negeri Indonesia
1997 Indikator Persen DSR Posisi Utang/Ekspor Posisi Utang/PDB 44,5 207,3 62,2 57,9 261,8 146,3 56,8 252,1 103,3 44,8 198,2 84,3 1998 1999 2000*

87

Bab 5 Neraca Pembayaran

tersebut mencerminkan masih cukup tingginya beban utang
Miliar $

sekaligus ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap utang luar negeri.

30 25 20 15 10 5 0 1997 1998 1998 20001)

Cadangan Devisa Dengan surplus neraca pembayaran yang mencapai $5 miliar, pada akhir tahun laporan cadangan devisa mencapai $29,3 miliar atau setara dengan 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dapat ditambahkan bahwa sejak Mei 2000, pencatatan angka cadangan devisa Indonesia menggunakan konsep International Reserves and Foreign Grafik 5.7 Cadangan Devisa Currency Liquidity /IRFCL (Boks : Konsep Baru Cadangan Devisa) menggantikan konsep aktiva luar negeri bruto (Gross Foreign Assets/GFA).

1) Sejak tahun 2000 menggunakan konsep IRFCL, menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

88

Bab 5 Neraca Pembayaran

Boks : Konsep Baru Cadangan Devisa
Pada akhir Mei 2000, sesuai dengan kesepakatan dalam Letter of Intent (Lol) tanggal 20 Januari 2000, Bank Indonesia mulai mengumumkan angka cadangan devisa dengan menggunakan konsep International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) yang memiliki kesamaan standar pelaporan secara internasional. Konsep baru tersebut menggantikan konsep lama yang dikenal dengan istilah aktiva luar negeri bruto atau Gross Foreign Assets (GFA) yang diperkenalkan pada Januari 1998. Konsep IRFCL, seperti halnya GFA, dibuat dengan berdasarkan Balance of Payment Manual ke-5 (BPM5) dan program Special Data Dissemination Standard (SDDS) IMF. Menurut BPM5, yang dijadikan referensi utama untuk SDDS, cadangan devisa atau international reserves (disebut pula reserve assets atau official reserve assets) harus memenuhi empat prinsip utama. Pertama, cadangan devisa harus bersifat likuid atau tersedia setiap waktu (readily available) dalam jangka waktu pendek (setahun) dan dapat dikuasai (controllable) oleh otoritas moneter yang dalam hal ini adalah Bank Indonesia. Kedua, cadangan devisa hanya memperhitungkan aktiva luar negeri bruto, bukan aktiva luar negeri neto. Dengan kata lain, kewajiban luar negeri otoritas moneter tidak menjadi faktor pengurang cadangan devisa. Ketiga, aktiva luar negeri adalah tagihan otoritas moneter kepada bukan-penduduk (non-residents). Keempat, jenis aktiva luar negeri tidak hanya mencakup aktiva dengan valuta asing, namun juga emas, special drawing rights (SDRs), simpanan pokok di IMF, dan tagihan lainnya. Sejalan dengan perubahan konsep cadangan devisa, konsep gross reserves pada Net International Reserves (NIR) yang pertama kali diperkenalkan pada Januari 1998 mengalami perubahan. Seperti halnya pada international reserves perubahan tersebut mencakup pengelompokan kembali jenis aktiva yang sesuai dengan konsep IRFCL yang hanya memperhitungkan aktiva yang "readily available". Aktiva-aktiva yang tidak lagi diperhitungkan tersebut antara lain adalah wesel ekspor dan sebagian simpanan emas dalam bentuk koin-koin (commemorative coins). Dengan adanya perubahan tersebut maka posisi NIR berubah sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 1. Perlu dikemukakan bahwa meskipun mempunyai komponen yang sama dengan international reserves, gross reserves dengan konsep NIR menggunakan kurs yang berbeda dengan international reserves dengan konsep IRFCL. Untuk menghitung gross reserves dengan konsep NIR digunakan kurs tetap antar-valuta asing, sedangkan untuk international reserves dengan konsep IRFCL dipakai kurs berlaku antar-valuta asing yang berlaku saat tanggal pelaporan. Posisi NIR tersebut, yang telah dikonversi ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs tetap Rp/$ sesuai dengan Lol, dipublikasikan melalui siaran pers yang dibuat oleh Bank Indonesia setiap minggu. Selain NIR, siaran pers tersebut juga memuat posisi international reserves (official reserve assets) secara mingguan. Sementara itu publikasi IRFCL yang lengkap (international reserves dan FCL lainnya) akan dilakukan secara rutin setiap akhir bulan untuk data akhir bulan sebelumnya. Publikasi tersebut dapat dilihat dalam website dengan alamat http://www.imf.org/country/idn dan http://www.sdds.or.id.
I. International Reserves a. Official Reserve Assets b. Other Foreign Currency Assets II. Gross Foreign Liabilities (IMF) III. Reserve against FCD’s IV. Net International Reserves 30 April 2000 (juta $) Rincian Konsep Baru 26.941,2 26.941,2 0,0 10.451,9 755,2 15.734,1 Konsep Lama 29.477,8 28.443,8 1.034,0 10.451,9 755,2 18.270,7

Tabel 1 : Net International Reserves

89

Bab 5 Neraca Pembayaran

Boks : Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Melalui Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB)
Dalam rangka mewujudkan sistem pemantauan kegiatan lalu lintas devisa (LLD) sebagaimana diamanatkan oleh Undangundang No. 24 tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar, pada tahun 1999 Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.1/9/DSM/PBI/1999 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank. Sebagai pelaksaan dari peraturan tersebut di atas, Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia No.1/9/DSM tanggal 28 Desember 1999 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Bank, mewajibkan semua bank umum yang melakukan kegiatan lalu lintas devisa untuk menyampaikan laporan kegiatan devisanya kepada Bank Indonesia secara bulanan. Ketentuan ini mulai berlaku untuk kegiatan LLD yang dilakukan pada bulan Maret 2000 yang laporannya disampaikan kepada Bank Indonesia dalam bulan April 2000. Adapun pertimbangan utama ditetapkannya bank sebagai prioritas pertama dalam pelaporan LLD adalah karena sebagian besar kegiatan lalu lintas devisa dilakukan melalui bank. Hingga saat ini seluruh bank yang melakukan kegiatan lalu lintas devisa telah melaporkan kegiatan lalu-lintas devisanya kepada Bank Indonesia. Mengingat sistem pemantauan kegiatan LLD merupakan hal baru, dalam pelaksanaannya masih menghadapi beberapa kendala seperti penyiapan sistem onlline internal bank, kurangnya pemahaman atas ketentuan pelaporan, adanya kesulitan dalam memperoleh data dari nasabah khususnya untuk transfer masuk (incoming transfer) dan ketentuan pelaporan yang belum sempurna. Kendalakendala tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi akurasi pelaporannya, sehingga untuk sementara data yang diperoleh dari laporan LLD bank tersebut masih belum dapat dipublikasikan. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya antara lain dengan membentuk Working Group yang dimaksudkan sebagai sarana bagi bank untuk membahas permasalahanpermasalahan pelaporan LLD secara bersama, membentuk Help Desk, dan memberikan umpan balik (feed back) kepada bank pelapor. Di samping itu, ketentuan pelaporan LLD juga telah disempurnakan yaitu dengan dikeluarkannya Surat Edaran Bank Indonesia No.2/28/DSM tanggal 21 Desember 2000 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Oleh Bank. Ketentuan ini mulai berlaku untuk kegiatan LLD periode Februari 2001 yang laporannya disampaikan dalam bulan Maret 2001. Dengan berbagai upaya tersebut, sistem pemantauan kegiatan LLD bank diharapkan akan semakin baik. Di samping menyempurnakan ketentuan pelaporan LLD bank, dalam tahun laporan Bank Indonesia juga mengeluarkan Surat Edaran No.2/23/DSM tanggal 10 November 2000 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Lembaga Keuangan Non Bank yang merupakan kelanjutan pelaksanaan dari PBI Keuangan Non Bank yang merupakan kelanjutan pelaksanaan dari PBI No.1/9/PBI/1999 tersebut di atas. Berdasarkan surat edaran ini, Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) yang melakukan kegiatan LLD diwajibkan untuk menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia yang mencakup : 1. Kegiatan LLD yang dilakukan tidak melalui bank di dalam negeri yaitu kegiatan LLD yang dilakukan melalui rekening giro LKNB pada bank di luar negeri (Overseas Curent Account), rekening antar perusahaan/kantor (Inter Company/Office Account), dan sarana-sarana lainnya secara bulanan; dan atau 2. Posisi tagihan (Claims) dan kewajiban LKNB kepada bukan penduduk akhir semester. Kewajiban pelaporan kegiatan LLD oleh LKNB tersebut mulai berlaku untuk kegiatan LLD bulan Januari tahun 2001 yang penyampaian laporannya kepada Bank Indonesia dilakukan dalam bulan Februari tahun 2001. Dengan telah diberlakukannya pelaporan LLD baik kepada bank maupun LKNB, sistem pelaporan LLD diharapkan telah mencakup sebagian besar kegiatan LLD yang dilakukan oleh penduduk.

90

Bab 5 Neraca Pembayaran

Ikhtisar Ketentuan Pelaporan Kegiatan LLD oleh LKNB

No.
1.

Keterangan
LKNB pelapor

Ketentuan
Seluruh perusahaan LKNB yang berbadan hukum Indonesia termasuk kantor cabang LKNB asing yang berkedudukan di Indonesia. Transaksi (penerimaan dan atau pembayaran) yang dilakukan tidak melalui bank dalam negeri. Posisi awal, mutasi, dan posisi akhir Laporan pengganti dari laporan kegiatan LLD yang telah disampaikan sebelumnya karena adanya ketidaklengkapan dan atau kesalahan. Bulanan Semesteran Paling lambat pada tanggal 15 bulan berikutnya setelah berakhirnya periode laporan. Surat atau faksimili

2.

Cakupan Laporan : – Laporan Transaksi

– Laporan Posisi – Laporan Koreksi

3.

Periode Laporan : – Laporan Transaksi – Laporan Posisi Masa penyampaian laporan

4.

5. 6.

Cara penyampaian laporan Sanksi : - Terlambat melapor - Tidak menyampaikan laporan - Laporan tidak lengkap dan atau tidak benar - Tidak menyampaikan laporan selama 6 periode berturut-turut atau paling lama 6 bulan

Denda Rp. 1.000.000 per hari keterlambatan. Denda Rp. 20.000.000 + denda keterlambatan. Denda Rp. 50.000 per data yang tidak lengkap dan atau tidak benar dengan maksimum denda Rp. 20.000.000. Dapat direkomendaikan kepada instansi yang berwenang untuk mencabut ijin usahanya.

91

Bab 6

Keuangan Pemerintah

bab

6
T

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Keuangan Pemerintah

ahun anggaran 2000 merupakan tahun konsolidasi dan transisi bagi pemerintah guna menuju kondisi fiskal yang

daerah dan desentralisasi fiskal. Beberapa program lainnya dihadapkan pada beberapa masalah dalam implementasinya, sehingga harus ditunda pelaksanaannya seperti pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) pada kawasan otorita pulau Batam dan privatisasi beberapa BUMN. Meskipun demikian, secara umum pelaksanaan APBN tahun 2000 menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan dalam APBN. Realisasi anggaran secara total —baik penerimaan maupun pengeluaran— melampaui sasaran yang ditetapkan, dengan pencapaian yang lebih tinggi dari sisi penerimaan. Faktor utama yang menyebabkan terlampauinya sasaran penerimaan adalah tingginya harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional yang mencapai rata-rata $29,1 per barel selama tahun anggaran 2000 (Tabel 6.1), dan diikuti pula oleh tingginya harga gas di pasar internasional. Di sisi lain, faktor tingginya harga minyak telah meningkatkan jumlah pengeluaran pemerintah melalui peningkatan beban subsidi BBM, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil dari peningkatan penerimaan migas. Kenaikan harga migas juga cukup signifikan dalam menaikkan penerimaan pajak khususnya pajak penghasilan (PPh) migas yang disetorkan ke Pemerintah sehingga realisasi tax ratio tahun 2000 mencapai 11,8% dari

lebih sehat dan berkesinambungan (sustainable). Beberapa kemajuan mulai terlihat dalam tahun ini, seperti mulai meningkatnya kemampuan Pemerintah dalam menggali sumber-sumber penerimaan dalam negeri, lebih tajamnya prioritas pengeluaran, dan mulai berkurangnya ketergantungan Pemerintah terhadap sumber-sumber pembiayaan luar negeri. Secara umum, sasaran strategis kebijakan fiskal dalam tahun anggaran 2000 –yang berlangsung selama sembilan bulan sejak 1 April 2000 sampai dengan 31 Desember 2000– meliputi 6 hal yaitu : i. Mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) melalui penurunan nisbah defisit APBN terhadap PDB dan pengurangan nisbah utang luar negeri terhadap PDB dengan memperbesar pembiayaan yang berasal dari dalam negeri; ii. Menciptakan stimulus fiskal melalui penajaman prioritas alokasi anggaran pembangunan bagi program-program pemberdayaan masyarakat golongan ekonomi lemah; iii. Mendukung program penyehatan sektor perbankan dengan penyediaan alokasi anggaran untuk pemenuhan kewajiban pembayaran bunga utang dalam negeri dalam rangka rekapitalisasi perbankan; iv. Mengurangi subsidi secara bertahap yang dilakukan secara selektif baik sasaran maupun komoditasnya; v. Memperbaiki kesejahteraan aparat sektor publik; vi. Memperkuat persiapan pelaksanaan desentralisasi dan perwujudan otonomi daerah. Beberapa sasaran strategis tersebut telah dilaksanakan, seperti program rekapitalisasi perbankan, pengurangan subsidi BBM –meskipun sempat tertunda menjadi bulan Oktober 2000, peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil/TNI/Polri, dan peraturan perundangan dalam rangka implementasi otonomi

Tabel 6.1 Asumsi Dasar Penyusunan APBN 2000
APBN-P1) 2000 937,4 4,5 7,0 29,1 1,41 8.292

Asumsi PDB a.d. harga berlaku (triliun rupiah) Pertumbuhan ekonomi (%) Laju inflasi (%) Harga minyak mentah ($ per barel) Produksi minyak (juta barel per hari) Nilai tukar (Rp/$)
1) APBN–Perubahan (Perkiraan Realisasi) Sumber: Departemen Keuangan

APBN 910,4 3,8 4,8 20,0 1,46 7.000

93

Bab 6 Keuangan Pemerintah

PDB nominal, lebih tinggi dari sasaran dalam APBN tahun 2000 sebesar 11,1% (Tabel 6.2). Di sisi pengeluaran, sesuai rencana anggaran, sebagian besar dari realisasi pengeluaran pemerintah dialokasikan untuk pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary), yaitu belanja pegawai pusat dan daerah, pembayaran bunga utang, dan subsidi. Belanja pegawai mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu karena kebijakan kenaikan gaji PNS dan TNI/Polri melalui pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) masing-masing sebesar Rp64.750

dan Rp65.000 untuk setiap pegawai per April dan Oktober 2000. Pembayaran bunga utang juga meningkat dibandingkan tahun lalu karena peningkatan posisi utang dalam negeri (obligasi) dan melemahnya nilai tukar rupiah. Sementara itu, tingginya alokasi dana untuk pembayaran subsidi, selain karena faktor harga minyak dan nilai tukar, juga disebabkan oleh tertundanya kenaikan harga BBM dari rencana pada April menjadi Oktober 2000, serta adanya kenaikan impor BBM akibat gangguan produksi kilang minyak di dalam negeri.

Tabel 6.2 Perkiraan Realisasi Operasi Keuangan Pemerintah Tahun 2000 1999/001)
Triliun Rp A. Total Penerimaan Migas dan Non Migas Migas Pajak Bukan Pajak B. Total Pengeluaran Pengeluaran Operasional Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Rutin Daerah Pembayaran Bunga Utang – Utang Dalam Negeri – Utang Luar Negeri Subsidi – Subsidi BBM – Subsidi Non BBM Pengeluaran Rutin Lainnya Pengeluaran Pembangunan – Pembiayaan Pembangunan Rupiah – Pembiayaan Proyek C. Perbedaan Statistik D. Surplus/Defisit Di luar Pembayaran Bunga E. Surplus/Defisit Anggaran 188,5 188,5 42,7 128,6 17,2 206,4 155,1 32,1 10,0 17,3 42,8 22,2 20,6 47,0 35,8 11,2 5,8 51,3 28,1 23,2 0,2 25,1 (17,7) % thd. PDB 16,5 16,5 3,7 11,3 1,5 18,1 13,6 2,8 0,9 1,5 3,8 1,9 1,8 4,1 3,1 1,0 0,5 4,5 2,5 2,0 0,0 2,2 (1,6)

2000 APBN2)
Triliun Rp 152,9 152,9 33,2 101,4 18,2 197,0 156,1 30,7 9,4 18,1 54,6 38,0 16,6 30,8 22,5 8,4 12,5 40,9 24,9 16,0 0,0 10,5 (44,1) % thd. PDB 16,8 16,8 3,6 11,1 2,0 21,6 17,2 3,4 1,0 2,0 6,0 4,2 1,8 3,4 2,5 0,9 1,4 4,5 2,7 1,8 0,0 1,2 (4,8) Triliun Rp 194,1 194,1 59,6 111,1 23,5 223,9 182,4 30,0 9,0 17,6 53,3 34,8 18,6 59,7 51,1 8,6 12,7 41,5 24,9 16,6 0,0 23,6 (29,8)

Rincian

Realisasi3)
% thd. PDB 20,7 20,7 6,4 11,8 2,5 23,9 19,5 3,2 1,0 1,9 5,7 3,7 2,0 6,4 5,5 0,9 1,4 4,4 2,7 1,8 0,0 2,5 (3,2) % thd. APBN 127,0 127,0 179,4 109,5 128,7 113,6 116,8 97,7 95,8 97,1 97,6 91,5 193,7 227,7 102,7 102,0 101,5 100,2 103,6 – 224,7 67,4

Pembiayaan bersih A. Perbankan Dalam Negeri B. Non Perbankan Dalam Negeri – Privatisasi – Penjualan Aset Prog. Restrukt. Perbankan – Penjualan Obligasi C. Pembiayaan Luar Negeri Bersih – Penarikan Pinjaman Luar Negeri – Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN
1 ) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 2 ) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 3 ) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) Sumber : Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

17,7 (14,8) 16,6 3,7 12,9 – 15,9 36,2 (20,3)

1,6 (1,3) 1,5 0,3 1,1 – 1,4 3,2 (1,8)

44,1 – 25,4 6,5 18,9 – 18,7 27,3 (8,6)

4,8 – 2,8 0,7 2,1 – 2,1 3,0 (0,9)

29,8 (0,8) 18,9 – 18,9 – 11,6 19,7 (8,1)

3,2 (0,1) 2,0 – 2,0 – 1,2 2,1 (0,9)

67,4 – 74,4 – 100,0 – 62,0 72,0 93,8

94

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Dalam kaitannya dengan moneter, operasi keuangan pemerintah dalam 8 bulan pertama tahun anggaran terus mengalami kontraksi neto terhadap jumlah uang beredar. Kontraksi tersebut disebabkan oleh lebih besarnya jumlah penerimaan rupiah terutama dari pajak dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan dibandingkan berbagai pengeluaran rupiah pemerintah. Ekspansi neto dalam jumlah besar baru terjadi pada bulan terakhir tahun anggaran, setelah direalisasikannya secara penuh pengeluaran subsidi dan pengeluaran pembangunan. Di sisi neraca pembayaran, operasi keuangan pemerintah menciptakan aliran modal masuk bersih (net-inflows) yang cukup signifikan, karena tingginya penerimaan migas pemerintah. Tingginya penerimaan migas tersebut telah mengurangi keperluan pemerintah untuk melakukan penarikan pinjaman luar negeri untuk menutup kekurangan pembiayaan. Penarikan pinjaman luar negeri mencapai 72,0% dari rencana semula. Penerimaan1) Total penerimaan negara dan hibah selama tahun anggaran 2000 diperkirakan mencapai Rp194,1 triliun, atau 27,0% di atas sasaran yang ditetapkan. Sumber terbesar penerimaan tersebut berasal dari kelompok penerimaan perpajakan yang menyumbang 57,2% dari total penerimaan negara dan hibah dengan angka pencapaian 109,5% dari sasaran. Terlampauinya sasaran penerimaan perpajakan tersebut terjadi pada hampir seluruh komponen perpajakan, kecuali PPh nonmigas, pajak lainnya, dan pajak ekspor. Sumber terbesar kedua adalah kelompok penerimaan migas yang menyumbang 30,7% dari total penerimaan negara dan hibah dengan angka pencapaian 179,4% dari sasaran, sedangkan sisanya berasal dari kelompok penerimaan negara bukan pajak dengan angka pencapaian 128,7% dari sasaran. Jika komponen-komponen penting pada ketiga kelompok besar penerimaan negara dan hibah tersebut dilihat secaSisa Penerimaan Bukan Pajak Cukai PPN PPh Non Migas PPh Migas Penerimaan Migas 10 20 30 40 50 103,5% 116,7% 90,8% 174,1% 179,4% 60 70 115,7% 127,5%

Pendapatan Bukan Pajak 12% Cukai 5,5%

Sisa 5,9%

Penerimaan Migas 30,7%

PPN 16,2% PPh Non Migas 20,7% Total PPh 29,7%

PPh Migas 9%

Grafik 6.1 Komposisi Penerimaan Pemerintah

ra individual, maka penerimaan terbesar berasal dari penerimaan migas yang menyumbang 30,7% dari total penerimaan negara dan hibah, diikuti oleh PPh 29,7%, dan PPN 16,2 %. Kontribusi PPh tersebut terdiri dari PPh migas (9,0%) dan PPh nonmigas (20,7 %) (Grafik 6.1). Dilihat dari pencapaian target anggaran penerimaan, pencapaian tertinggi berasal dari penerimaan migas yaitu 179,4%, diikuti oleh pajak pertambahan nilai (116,7 %) dan pajak penghasilan (106,3%) (Grafik 6.2). Khusus untuk PPh, realisasi PPh nonmigas hanya mencapai 90,8% dari sasarannya, sedangkan PPh migas

Realisasi APBN 2000 APBN 2000

Triliun Rp

1) Perkiraan realisasi, untuk periode April s.d. Desember 2000, sesuai Nota Keuangan dan Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 2 Tahun 2000 tentang APBN Tahun Anggaran 2000.

Grafik 6.2 Pencapaian Target Anggaran Penerimaan

95

Bab 6 Keuangan Pemerintah

mencapai 174,1%, yang mencerminkan signifikannya kontribusi PPh migas dalam pencapaian sasaran PPh secara keseluruhan. Tidak tercapainya sasaran PPh nonmigas antara lain disebabkan oleh lebih rendahnya suku bunga deposito dibandingkan tahun sebelumnya dan diberlakukannya kebijakan pemberian fasilitas pembebasan pajak (tax exemption) di kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET). Dua komponen lainnya yang diperkirakan tidak mencapai sasaran, adalah komponen penerimaan yang relatif kecil pangsanya terhadap total penerimaan, yaitu pajak lainnya dan pajak ekspor. Penerimaan pajak lainnya sebagian besar berasal dari pungutan bea meterai. Jenis penerimaan ini meskipun meningkat menjadi hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, namun masih lebih rendah dari sasaran yang ditetapkan karena masih relatif rendahnya transaksi usaha/bisnis yang menggunakan meterai. 2) Sementara itu, tidak tercapainya pajak ekspor antara lain karena adanya penurunan tarif pajak ekspor guna mendorong ekspor komoditas tertentu, terutama CPO dan produk turunannya.3) menjadi lebih dari dua kali rencana semula. Peningkatan subsidi BBM ini terjadi karena adanya kenaikan harga minyak, depresiasi rupiah, kenaikan impor BBM akibat gangguan produksi kilang minyak di dalam negeri, dan diundurkannya kenaikan harga BBM di dalam negeri yang semula direncanakan mulai awal April 2000. Pengeluaran terbesar adalah untuk pembayaran subsidi sebesar 26,7% dari total pengeluaran, diikuti oleh bunga utang Pengeluaran Total pengeluaran pemerintah selama tahun anggaran 2000 diperkirakan mencapai Rp223,9 triliun, atau 13,6% di atas sasaran yang ditetapkan. Sesuai dengan rencana anggaran, sebagian besar, atau lebih kurang 81,5% dari realisasi pengeluaran, didominasi oleh pengeluaran operasional dengan angka pencapaian terhadap sasaran sebesar
Sisa Realisasi APBN 2000
97,1%

Pengeluaran Pembangunan 18,0%

Sisa 10,2%

Belanja Pegawai 21,3%

Pembayaran Bunga 23,8%

Subsidi 26,7%

Grafik 6.3 Komposisi Pengeluaran Pemerintah

dalam dan luar negeri (23,8%), dan belanja pegawai pusat dan daerah (21,3%) (Grafik 6.3). Dilihat dari pencapaian sasaran, seluruh pos-pos penting pengeluaran berada pada angka pencapaian antara 97,0% – 103,0 %, kecuali subsidi yang

116,8%, sedangkan sisanya (18,5%) untuk pengeluaran pembangunan dengan angka pencapaian terhadap sasaran sebesar 101,5%. Pelampauan realisasi pengeluaran operasional dari sasaran hampir sepenuhnya berasal dari pembayaran subsidi khususnya subsidi BBM yang meningkat
2) Upaya untuk mencapai sasaran yang ditetapkan telah dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 24 tanggal 20 April 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal yang Dikenakan Bea Meterai 3) Keputusan Menteri Keuangan No. 387 tanggal 12 September 2000 tentang Penetapan Besarnya Tarif Pajak Ekspor Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya
Subsidi Pengeluaran Pembangunan

APBN 2000

103,0%

Pembayaran Bunga Utang

97,6%

193,7%

Belanja Pegawai

97,5%

-

10

20

30

40

50

60

70

Triliun Rp

Grafik 6.4 Pencapaian Target Anggaran Pengeluaran

96

Bab 6 Keuangan Pemerintah

mencapai 193,7% dari sasaran (Grafik 6.4). Tingginya alokasi dana untuk subsidi menyebabkan jumlah pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary) meningkat menjadi 17,1% dari PDB, dibandingkan 12,2% pada tahun lalu.

dengan realisasi defisit yang terjadi, maka terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) sebesar Rp0,8 triliun atau 0,1% dari PDB yang akan menambah rekening bersih pemerintah di sistem moneter. Dilihat dari pencapaian sasaran, penjualan aset pro-

Pembiayaan Dengan lebih tingginya angka pencapaian sasaran penerimaan pemerintah dari angka pencapaian sasaran pengeluaran, maka operasi keuangan pemerintah pada tahun 2000 diperkirakan mengalami defisit Rp29,8 triliun atau 3,2% dari PDB, lebih rendah dari rencana defisit sebesar Rp44,1 triliun atau 4,8% dari PDB (Tabel 6.2). Defisit tersebut ditutup dengan dua sumber pembiayaan, yaitu penjualan aset program restrukturisasi perbankan (61,9%) dan penarikan pinjaman luar negeri bersih (38,1%), sedangkan hasil privatisasi masih nihil. Dengan lebih besarnya sumber pembiayaan dibandingkan

gram restrukturisasi perbankan mencapai 100,0%, sedangkan penarikan pinjaman luar negeri bersih hanya 62,0%. Nihilnya hasil privatisasi BUMN antara lain disebabkan oleh beberapa hal yaitu (i) kondisi pasar modal domestik dan internasional yang kurang kondusif untuk melakukan IPO (Initial Public Offering), (ii) faktor country risk yang masih tinggi, dan (iii) masih belum selesainya restrukturisasi BUMN yang akan diprivatisasi. Dengan perkembangan pembiayaan di atas, maka rasio pembiayaan dalam negeri terhadap PDB meningkat menjadi 2,0%, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya

Tabel 6.3 Nisbah-nisbah Penting 1998/99a) Rincian
Persen
1. Tax Ratio 2. Tax Ratio Di Luar PPh Migas 3. Penerimaan Pajak Domestik1)/ Penerimaan Pajak Penerimaan Pajak Domestik1)/ PDB 4. Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional2)/ Penerimaan Pajak Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional2)/ PDB 5. Buoyancy3) 6. Penerimaan Migas/ Total Penerimaan Penerimaan Migas/PDB 7. Konsumsi Pemerintah/PDB 8. Pembentukan Modal Domestik Bruto /PDB 9. Transfer Payment4)/PDB 10. Pengeluaran Non–discretionary5)/PDB 11. Pengeluaran Non–discretionary5)/Penerimaan Pajak 12. Surplus (+)/Defisit (–) Terhadap PDB 13. Surplus (+)/Defisit (–) Di Luar Pembayaran Bunga Terhadap PDB 14. Outstanding Utang Publik6)/PDB 15. Outstanding Utang Pemerintah/PDB 16. Outstanding Utang Luar Negeri Pemerintah/PDB 17. Outstanding Utang Domestik Pemerintah7)/PDB 18. Pembiayaan Dalam Negeri8)/PDB
Catatan : 1) 2) 3) 4) 5) Terdiri dari seluruh penerimaan pajak minus penerimaan Pajak Perdagangan Internasional Terdiri dari penerimaan PPh Migas, Bea masuk dan Pajak Ekspor Dihitung dengan formula pertumbuhan seluruh penerimaan pajak dibagi pertumbuhan PDB Terdiri dari pengeluaran untuk Subsidi dan Pembayaran Bunga Utang Dalam Negeri Terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Rutin Daerah, Bunga Utang dan pengeluaran untuk Subsidi 6) Termasuk di dalamnya adalah Utang Luar Negeri Pemerintah, BUMN dan Bank Milik Pemerintah dan Utang Dalam Negeri Pemerintah

1999/00b)

2000 APBNc) Realisasid)

10,7 9,7 84,3 9,1 15,7 1,7 0,8 19,5 2,9 4,6 5,1 3,4 10,0 92,7 –1,5 1,6 93,4 85,0 64,0 20,9 0,2

11,3 9,9 83,8 9,5 16,2 1,8 1,64 22,7 3,7 5,6 4,5 6,1 12,2 108,3 –1,6 2,2 100,5 94,2 49,9 44,3 1,5

11,1 10,0 84,3 9,4 15,7 1,8 n.a. 21,7 3,6 7,6 4,5 7,6 14,7 132,3 –4,8 1,2 2,8

11,8 10,0 78,5 9,3 21,5 2,6 1,58 30,7 6,4 7,2 4,4 10,1 17,1 144,6 –3,2 2,5 106,9 100,7 49,9 50,8 2,0

7) Terdiri dari obligasi pemerintah yang dikeluarkan untuk rekapitalisasi perbankan, BLBI dan dalam rangka penjaminan 8) Terdiri dari Privatisasi BUMN dan Asset Recovery a) APBN setelah diaudit (PAN) b) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 c) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 d) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

97

Bab 6 Keuangan Pemerintah

yang tercatat 1,5% dari PDB (Tabel 6.3). Sementara itu, meskipun dalam tahun 2000 terjadi penarikan pinjaman luar negeri bersih, namun tidak mengubah rasio posisi utang luar negeri terhadap PDB yaitu 49,9%. Secara keseluruhan, utang
Rincian

Tabel. 6.5 Perkiraan Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah April s.d. Desember 2000
1999/001) 2000 APBN2) Realisasi3)

pemerintah meningkat menjadi 100,7% dari PDB yang disebabkan oleh peningkatan utang domestik sehubungan dengan penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka program rekapitalisasi perbankan.
A.Penerimaan Rupiah Pajak Migas Pajak Nonmigas dan Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran Rupiah Operasional Belanja Pegawai dan Rutin Daerah Subsidi Bunga Utang DN Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Jumlah Pengeluaran C.Perbedaan Statistik D. Dampak Rupiah (A-B+C)4)

Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB

15,8 129,9 3,7 12,9 162,3 –133,7 –48,8 –47,0 –22,2 –15,6 –36,2 –169,9 0,2 –7,3

1,4 11,4 0,3 1,1 14,2 –11,7 –4,3 –4,1 –1,9 –1,4 –3,2 –14,9 0,0 –0,6

10,0 109,6 6,5 18,9 145,1 –138,0 –48,0 –30,8 –38,0 –21,1 –30,5 –168,4 0,0 –23,4

1,1 12,0 0,7 2,1 15,9 –15,2 –5,3 –3,4 –4,2 –2,3 –3,3 –18,5 0,0 –2,6

17,5 116,8 0,0 18,9 153,2 –162,3 –46,8 –59,7 –34,8 –21,0 –30,7 –193,0 0,0 –39,8

1,9 12,5 0,0 2,0 16,3 –17,3 –5,0 –6,4 –3,7 –2,2 –3,3 –20,6 0,0 –4,2

Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Permintaan Agregat dan Moneter Dalam tahun 2000, Pemerintah telah melakukan pengeluaran sebesar Rp223,9 triliun, dimana 48,8% atau Rp109,3 triliun diantaranya secara langsung mempengaruhi permintaan agregat sebagai belanja konsumsi dan investasi pemerintah, dan 42,2% atau Rp94,5 triliun sebagai pembayaran transfer ke sektor swasta dalam bentuk pembayaran subsidi dan pembayaran bunga utang dalam negeri. Dari jumlah yang secara langsung mempengaruhi permintaan agregat tersebut, sebesar Rp67,8 triliun atau 62,0% dalam bentuk pengeluaran konsumsi dan sisanya Rp41,5 triliun atau 38,0% dalam bentuk pengeluaran investasi (Tabel 6.4). Dari sisi moneter, transaksi keuangan pemerintah selama tahun 2000 memberikan net ekspansi rupiah sebesar Rp39,8 triliun

1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada tanggal 2 Maret 2000 3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) 4) Tanda negatif (-) berarti ekspansi, positif (+) berarti kontraksi Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

(Tabel 6.5). Ekspansi terbesar adalah untuk pembayaran subsidi, belanja pegawai, dan bunga obligasi. Sementara itu, aliran kontraksi rupiah ke sistem moneter sebagian besar berasal dari

Tabel. 6.4 Perkiraan Dampak Keuangan Pemerintah Terhadap Sektor Riil April s.d. Desember 2000
Rincian 1999/001) 2000 APBN2) Realisasi3)

Juta $ 350 300 250 200 150 100 50
Pinjaman Proyek Pinjaman Program

Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB A. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai DN Belanja Barang DN Belanja Rutin Daerah Pengeluaran Rutin Lainnya B. Pembentukan modal domestik bruto Pembiayaan Dalam Rupiah Bantuan Proyek C. Jumlah (A + B) 64,4 31,5 9,8 17,3 5,8 51,3 28,1 23,2 115,7 5,6 2,8 0,9 1,5 0,5 4,5 2,5 2,0 10,1 69,1 29,9 8,7 18,1 12,5 40,9 24,9 16,0 110,0 7,6 3,3 1,0 2,0 1,4 4,5 2,7 1,8 12,1 67,8 29,2 8,3 17,6 12,7 41,5 24,9 16,6 109,3 7,2 3,1 0,9 1,9 1,4 4,4 2,7 1,8 11,7

0

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags.

Sep.

Okt.*

Nov.*

Des.*

2000
Sumber : Bank Indonersia

1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

Grafik 6.5 Penarikan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah

98

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Pembangunan Nasional (PROPENAS), juga merupakan tahun
Tabel. 6.6 Perkiraan Dampak Valas Keuangan Pemerintah April s.d. Desember 2000
1999/001) 2000 APBN2) Realisasi3)

pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal (Tabel 6.7). Strategi umum kebijakan fiskal yang akan ditempuh pada tahun anggaran 2001 adalah : i. Mengoptimalkan penerimaan dalam negeri baik penerimaan pajak maupun bukan pajak; ii. Mengendalikan dan meningkatkan efisiensi pengeluaran negara; iii. Mengurangi subsidi; iv. Menerapkan pembagian dana perimbangan; v. Mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber pembiayaan luar negeri. Operasi keuangan pemerintah pada tahun 2001 tersebut direncanakan akan mengalami defisit sebesar

Rincian

Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Belanja Barang LN Neraca Jasa Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai LN B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang Luar Negeri dan Hibah Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Pemerintah C. Dampak Valas (A+B)4) 6,2 27,4 42,7 -15,1 -0,2 -21,3 -20,6 -0,6 0,5 2,4 3,7 -1,3 0,0 -1,9 -1,8 -0,1 4,6 22,0 33,2 -10,4 -0,8 -17,4 -16,6 -0,8 0,5 2,4 3,6 -1,1 -0,1 -1,9 -1,8 -0,1 28,8 48,1 59,6 -10,8 -0,7 -19,4 -18,6 -0,8 3,1 5,1 6,4 -1,2 -0,1 -2,1 -2,0 -0,1

16,0 36,3

1,4 3,2

18,7 27,3

2,1 3,0

11,8 19,9

1,3 2,1

-20,3 22,2

-1,8 1,9

-8,6 23,4

-0,9 2,6

-8,1 40,6

-0,9 4,3

Rp52,5 triliun atau 3,7% dari PDB, yang secara persentase menurun dibandingkan rencana defisit pada APBN tahun sebelumnya yang tercatat Rp44,1 triliun atau 4,8% dari PDB (Tabel 6.8). Penurunan defisit tersebut akan dicapai dengan meningkatkan penerimaan negara dan hibah terutama melalui upaya penghimpunan penerimaan perpajakan

1) Realisasi s.d. 31 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 3) APBN-Perubahan (Perkiraan Realisasi) 4) Tanda negatif (-) berarti outflows, positif (+) berarti inflows Sumber: Departemen Keuangan (diolah) dan Bank Indonesia

penerimaan pajak dan sisanya dari penjualan aset program restrukturisasi perbankan. Dari sisi neraca pembayaran, tingginya penerimaan migas dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah yang lebih besar baik dari pembayaran kewajiban luar negeri (debt service payments) maupun impor bantuan proyek telah menciptakan aliran modal masuk bersih (net capital inflows) yang menambah cadangan devisa di sistem moneter setara dengan Rp40,6 triliun (Tabel 6.6). Dilihat dari kontribusinya, aliran terbesar bersumber dari penerimaan migas, sedangkan peranan utang luar negeri terlihat berkurang. Penarikan pinjaman lebih banyak dalam bentuk pinjaman proyek, sedangkan pinjaman program relatif sangat kecil (Grafik 6.5).

yang lebih besar dari tahun sebelumnya —yang tercermin dari peningkatan tax ratio dari 11,1% menjadi 12,6% dari PDB — dan dengan lebih mengefisienkan pengeluaran. Di sisi pembiayaan, sumber dana untuk menutup defisit terutama akan berasal dari dalam negeri, yaitu dari hasil privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan (2,4% dari PDB), sedangkan kekurangannya masih akan ditutup

Tabel. 6.7 Asumsi Dasar Penyusunan APBN 2001
Asumsi APBN 20001) 910,4 3,8 4,8 20,0 1,46 7.000 APBN 2001 1.425,0 5,0 7,2 24,0 1,46 7.800

PDB a.d. harga berlaku (trilliun rupiah) Pertumbuhan ekonomi (%) Laju inflasi (%)

APBN 2001 APBN 2001 memiliki arti strategis dalam pengelolaan keuangan negara, karena disamping merupakan Rencana Pembangunan Tahunan (Repeta) pertama dari pelaksanaan Program

Harga minyak mentah ($ per barel) Produksi minyak (juta barel per hari) Nilai tukar(Rp/$)
1) Periode April s.d. Desember Sumber : Departemen Keuangan

99

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Tabel. 6.8 Operasi Keuangan Pemerintah APBN 2000 dan 2001
Rincian A.Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Non Migas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Cukai iv. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional 2. Penerimaan Bukan Pajak (SDA Migas) a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang c. Pembayaran Bunga Utang i. Utang Dalam Negeri ii. Utang Luar Negeri d. Subsidi i. Subsidi BBM ii. Subsidi non BBM e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan pembangunan rupiah b. Pembiayaan proyek II. Dana Perimbangan C. Perbedaan Statistik D. Surplus/Defisit di luar Pembayaran Bunga E. Surplus/Defisit F. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan dalam negeri a. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) b. Kredit/Pinjaman Sektor Perbankan 2. Non-Perbankan dalam negeri a. Privatisasi b. Penjualan aset program restrukturisasi perbankan II. Pembiayaan Luar Negeri (Netto) 1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (bruto) a. Pinjaman Program b. Pinjaman Proyek 2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri
1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000 Sumber: Departemen Keuangan (diolah)

Tabel 6.9 Dampak Rupiah APBN 2000 dan 2001
APBN 20012) 263,2 263,2 179,9 169,5 96,3 20,8 75,5 48,9 17,1 7,3 10,4 83,3 64,5 59,7 4,7 10,5 8,4 0,0 315,8 234,1 190,1 40,0 9,7 76,5 53,5 23,1 54,0 41,3 12,6 9,9 44,0 21,7 22,3 81,7 0,0 24,0 18,5 18,5 12,6 11,9 6,8 1,5 5,3 3,4 1,2 0,5 0,7 5,8 4,5 4,2 0,3 0,7 0,6 0,0 22,2 16,4 13,3 2,8 0,7 5,4 3,8 1,6 3,8 2,9 0,9 0,7 3,1 1,5 1,6 5,7 0,0 1,7 (3,7) 3,7 2,4 0,0 0,0 0,0 2,4 0,5 1,9 1,3 2,5 1,0 1,6 (1,2) APBN 20001) Rincian A. Penerimaan rupiah Migas Non Migas Privatisasi Penjualan Aset Program Restruktrukturisasi Perbankan Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran rupiah Operasional Belanja Pegawai Subsidi Bunga Utang DN Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Dana Perimbangan Jumlah Pengeluaran C. Perbedaan Statistik D. Dampak Rupiah
1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada Desember 2000 Sumber: Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20001) Triliun Rp 152,9 152,9 101,4 95,5 54,2 10,0 44,2 27,0 10,3 4,0 5,9 51,5 40,1 33,2 6,9 5,3 6,1 0,0 197,0 163,5 137,3 30,7 9,4 54,6 38,0 16,6 30,8 22,5 8,4 11,7 26,2 10,2 16,0 33,5 0,0 10,5 (44,1) 44,1 25,4 0,0 0,0 0,0 25.4 6,5 18,9 18,7 27,3 11,3 16,0 (8,6) 16,8 16,8 11,1 10,5 6,0 1,1 4,9 3,0 1,1 0,4 0,6 5,7 4,4 3,6 0,8 0,6 0,7 0,0 21,6 18,0 15,1 3,4 1,0 6,0 4,2 1,8 3,4 2,5 0,9 1,3 2,9 1,1 1,8 3,7 0,0 1,2 (4,8) 4,8 2,8 0,0 0,0 0,0 2,8 0,7 2,1 2,1 3,0 1,2 1,8 (0,9)

APBN 20012)

% thd.PDB Triliun Rp % thd.PDB

Triliun Rp % thd. PDB Triliun Rp % thd. PDB

10,0 109,6 6,5 18,9 145,1 -119,8 -29,9 -30,8 -38,0 -20,4 -15,8 -33,5 -168,4 0,0 -23,4

1,1 12,0 0,7 2,1 15,9 -13,2 -3,3 -3,4 -4,2 -2,2 -1,7 -3,7 -18,5 0,0 -2,6

20,8 182,7 6,5 27,0 237,0 -164,8 -38,7 -54,0 -53,5 -18,7 -29,5 -81,7 -276,0 0,0 -39,0

1,5 12,8 0,5 1,9 16,6 -11,6 -2,7 -3,8 -3,8 -1,3 -2,1 -5,7 -19,4 0,0 -2,7

dengan penarikan pinjaman luar negeri bersih sebesar 1,3% dari PDB. Upaya untuk meningkatkan penerimaan baik dari pajak maupun bukan pajak akan memberikan kontraksi rupiah yang cukup besar. Meskipun demikian, operasi keuangan pemerintah tetap akan berdampak ekspansif terhadap uang beredar (Tabel 6.9). Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah pengeluaran rupiah dari 18,5% dari PDB menjadi 19,4% dari PDB. Sebagian besar (82,6%) dari pengeluaran tersebut merupakan jenis-jenis pengeluaran yang tidak dapat dihindarkan, yaitu gaji pegawai pemerintah pusat, subsidi, bunga obligasi, dan dana perimbangan untuk daerah. Secara keseluruhan, APBN tahun 2001 diperkirakan akan memberikan dampak ekspansi neto terhadap uang beredar sebesar 2,7% dari PDB. Dampak ekspansi neto transaksi rupiah pemerintah tersebut akan mempunyai implikasi pada pelaksanaan kebijakan moneter Bank Indonesia. Pada prinsipnya ekspansi

(52,5) 52,5 33,5 0,0 0,0 0,0 33,5 6,5 27,0 19,0 36,0 13,7 22,3 (17,0)

fiskal tersebut harus diserap kembali dalam rangka mencapai sasaran uang primer dan menekan laju inflasi. Penyerapan ini dilakukan dengan mekanisme Operasi Pasar Terbuka (OPT)

100

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Tabel. 6.10 Dampak Valas APBN 2000 dan 2001
APBN 20001) Rincian A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Lainnya Neraca Jasa Pembayaran Bunga Pinjaman Luar Negeri Lainnya B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Pinjaman Luar Negeri Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Pemerintah C. Dampak Valas
1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000 Sumber: Departemen Keuangan (diolah)

Tabel. 6.11 Dampak APBN 2000 dan 2001 Terhadap Sektor Riil
APBN 20011) Triliun Rp 20,0 44,3 59,7 –14,5 –1,0 –24,3 –23,1 –1,2 19,0 36,0 –17,0 39,0 % thd. PDB 1,4 3,1 4,2 –1,0 –0,1 –1,7 –1,6 –0,1 1,3 2,5 –1,2 2,7 III. Jumlah I + II
1) APBN yang disahkan pada 2 Maret 2000 2) APBN yang disahkan pada 5 Desember 2000 Sumber: Departemen Keuangan (diolah)

Triliun Rp 4,6 22,0 33,2 –10,4 –0,8 –17,4 –16,6 –0,8 18,7 27,3 –8,6 23,4

% thd. PDB 0,5 2,4 3,6 –1,1 –0,1 –1,9 –1,8 –0,1 2,1 3,0 –0,9 2,6

Rincian

APBN 20001) Triliun Rp 69,1 29,9 8,7 18,1 12,5 % thd. PDB 7,6 3,3 1,0 2,0 1,4

APBN 20012) Triliun Rp 96,3 38,7 8,7 38,9 9,9 % thd. PDB 6,8 2,7 0,6 2,7 0,7

I.

Konsumsi Pemerintah Belanja pegawai DN Belanja barang DN Belanja rutin daerah Pengeluaran rutin lainnya

II. Pembentukan modal domestik bruto Pembiayaan dalam rupiah Bantuan proyek 40,9 24,9 16,0 110,0 4,5 2,7 1,8 12,1 86,8 64,5 22,3 183,1 6,1 4,5 1,6 12,8

sebagai instrumen utama dalam pengendalian moneter di Bank Indonesia. Selain itu, ekspansi fiskal tersebut dapat pula diserap kembali melalui sterilisasi valuta asing (valas) oleh Bank Indonesia yang dilakukan sesuai kebutuhan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya potensi aliran modal masuk neto transaksi valas pemerintah ke Bank Indonesia, terutama dari penerimaan migas dan penarikan pinjaman luar negeri bersih masing-masing sebesar 4,2% dan 1,3% dari PDB (Tabel 6.10). Penarikan pinjaman itu sendiri akan lebih rendah dari tahun lalu, yang menunjukkan upaya konkrit pemerintah untuk menurunkan rasio utang luar negeri dalam beberapa tahun ke depan. Dalam kaitannya dengan sektor riil, kontribusi operasi keuangan pemerintah terhadap pembentukan permintaan

agregat diperkirakan sebesar 12,8% dari PDB nominal, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,1% (Tabel 6.11). Alokasi anggaran untuk beberapa pos di sisi pengeluaran konsumsi –dalam persentase terhadap PDB-terlihat mengalami penurunan, terutama karena pengalihan anggaran dan wewenang dari yang semula berada pada pemerintah pusat menjadi berada pada pemerintah daerah. Khusus untuk dana perimbangan, hampir seluruhnya (99,0%) bersifat umum (block grant), dimana kewenangan pemanfaatannya sepenuhnya berada pada pemerintah daerah. Sementara itu, sektor pemerintah juga akan berperan dalam meningkatkan konsumsi sektor swasta melalui transfer payment subsidi dan pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar 7,6% dari PDB.

101

Bab 6 Keuangan Pemerintah

Boks : Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Pengendalian Moneter
Sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR No IV tahun 2000, otonomi daerah diimplementasikan pada awal Januari 2001. Implementasi otonomi daerah tersebut didasarkan pada UU No 22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah serta berbagai peraturan pendukungnya yang mengatur pelimpahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Dati II) serta penyerahan sumber keuangan yang menyertainya. Sejalan dengan pelaksanaan kedua UU tersebut, pemerintah daerah diharapkan akan dapat lebih mengembangkan segenap potensi ekonomi yang ada di daerahnya yang pada gilirannya akan dapat memicu peningkatan aktivitas perekonomian di daerah. Namun, keinginan tersebut dihadapkan pada adanya keanekaragaman potensi perekonomian (fiscal capacity) dan jenis kebutuhan (fiscal needs) di daerah yang berpotensi untuk menghambat kesuksesan pelaksanaan otonomi daerah. Pelimpahan wewenang serta fungsi kepada pemerintah daerah, mempunyai dampak yang signifikan terhadap struktur dan besarnya pengeluaran pemerintah daerah dan penerimaan daerah. Studi yang dilakukan oleh World Bank (2000) memperkirakan bahwa pengeluaran daerah akan meningkat lebih dari 50% dibandingkan kondisi sekarang. Peningkatan tersebut akan mendorong peningkatan pangsa pengeluaran pemerintah daerah terhadap keseluruhan pengeluaran pemerintah menjadi sekitar 40%. Hal tersebut tentu saja menimbulkan konsekuensi pada adanya peningkatan kebutuhan penerimaan daerah dalam jumlah yang memadai. Guna mengantisipasi hal tersebut, UU No.25/1999 telah menetapkan berbagai sumber penerimaan daerah yang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah dan Lain-lain Penerimaan yang sah. Kebijakan lain yang dikeluarkan dalam rangka mendorong peningkatan PAD adalah revisi dari UU No. 18/1997 yang mengatur jenis-jenis pajak dan retribusi yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah. Revisi undang-undang tersebut telah memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk memungut sendiri pajak potensial yang dimilikinya. Meskipun demikian, pengaruh revisi undang-undang ini terhadap PAD – dalam jangka pendek – diperkirakan belum akan signifikan. Hal ini disebabkan karena jenis pajak dan retribusi yang dapat dipungut dan dimiliki sendiri oleh daerah hanyalah pajak yang nilainya kecil, dan diperlukan waktu yang cukup panjang untuk melakukan studi dan evaluasi tentang jenis retribusi dan pajak yang layak untuk dipungut. Dengan demikian, Dana Perimbangan akan mempunyai peran yang sangat vital bagi daerah sebagai sumber utama penerimaan daerah, paling tidak dalam jangka pendek. Dari sisi pemerintah pusat, ketergantungan daerah terhadap Dana Perimbangan – Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK)– dihadapkan pada masalah pendistribusian dana tersebut yang minimal harus dapat mendukung operasional pelaksanaan fungsi pelayanan kepada masyarakat. DBH yang merupakan bagian dari daerah atas penerimaan dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan penerimaan dari sumber daya alam hanya akan cenderung menguntungkan segelintir daerah yang “beruntung” memiliki potensi sumber daya alam yang besar yang berpotensi untuk meningkatkan ketimpangan pendapatan antar daerah. Distribusi yang tidak merata tersebut juga akan dapat menyebabkan daerah mengalami kekurangan dana untuk membiayai pelimpahan fungsi dan tugas yang diterimanya (fiscal gap). Untuk meminimalkan dampak negatif tersebut, UU No.25/1999 telah mengamanatkan adanya alokasi dana yang cukup besar (minimal 25% dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN) dalam bentuk DAU. Permasalahan yang kemudian muncul adalah bagaimana menciptakan formula pembagian DAU yang adil bagi daerah-daerah di tengah realitas kemajemukan potensi perekonomian dan jenis kebutuhan yang sangat besar. Dari berbagai mekanisme pembagian DBH dan DAU tersebut, tidak terdapat jaminan bagi tidak terjadinya fiscal

102

Bab 6 Keuangan Pemerintah

gap di daerah serta tidak meningkatnya kesenjangan fiskal antar daerah. Untuk menutupi fiscal gap, pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 25/1999 yang antara lain berupa pinjaman kepada pemerintah pusat. Pinjaman daerah kepada Pemerintah pusat berpotensi untuk meningkatkan defisit APBN yang pada gilirannya akan membahayakan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Guna menghindari hal tersebut, baik Pemerintah pusat maupun daerah harus melaksanakan kebijakan fiskal yang berhati-hati sehingga fungsi stimulus fiskal dari pengeluaran pemerintah tetap dapat dilakukan namun dengan cara yang seefisien mungkin. Berbagai dinamika pelaksanaan otonomi daerah tersebut diperkirakan akan menimbulkan beberapa implikasi moneter. Implikasi tersebut dapat dilihat dari dua hal, pertama, berkaitan dengan pengaruh otonomi daerah terhadap laju inflasi. Kedua, berkaitan dengan dampak dari pelimpahan dana dan kewenangan pengelolaannya kepada daerah terhadap teknis pengelolaan kebijakan moneter. Dilihat dari aspek pertama, upaya fiscal adjustment baik di sisi penerimaan maupun pengeluaran yang dilakukan Pemerintah Daerah dalam menyikapi kondisi keuangannya, akan sangat berpengaruh pada perkembangan laju inflasi. Komposisi dari fiscal adjustment yang terdiri dari peningkatan pajak daerah – sebagai upaya peningkatan PAD – dengan komposisi pengeluaran yang terutama didominasi oleh pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary spending) – sebagian besar terdiri dari pengeluaran noninvestasi – akan menambah tekanan pada laju inflasi. Di sisi lain, fiscal adjustment yang dilakukan dengan mengefisienkan pengeluaran rutin Pemerintah Daerah dengan tanpa harus mengurangi pengeluaran investasi dan tanpa meningkatkan pajak secara berlebihan akan mengurangi tekanan pada laju inflasi. Oleh karena itu, perlu dihindarkan adanya upaya pengenaan pajak daerah secara berlebihan serta alokasi pengeluaran pemerintah daerah yang terpusat pada kegiatan-kegiatan yang dapat memicu laju inflasi. Dilihat dari aspek kedua, aspek moneter dari implementasi otonomi daerah menjadi sangat relevan mengingat besarnya jumlah dana yang dialokasikan bagi daerah. Penyaluran dana perimbangan akan mengandung potensi over liquidity – yang dapat memicu ketidakstabilan

nilai tukar — jika dana perimbangan yang disalurkan oleh pemerintah pusat tidak segera digunakan oleh Pemerintah Daerah untuk membiayai pengeluarannya. Lebih lanjut, kemungkinan adanya perubahan pola pengeluaran fiskal (fiscal spending behavior) juga akan menambah kompleksitas dari operasi pengendalian moneter (OPT) karena pola pengeluaran pemerintah yang selama ini digunakan sebagai salah satu komponen perhitungan perkiraan kebutuhan likuiditas di pasar akan menjadi tidak akurat lagi. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah dimungkinkannya daerah yang mengalami defisit untuk melakukan pinjaman daerah sebagai tambahan sumber pembiayaan. Jika pinjaman tersebut berasal dari dalam negeri dan tidak dikendalikan secara baik, maka pinjaman daerah juga dapat menciptakan crowding out karena dapat menyebabkan berkurangnya alokasi dana (kredit) untuk sektor swasta, yang pada gilirannya akan menaikkan suku bunga dan menurunkan investasi. Jika pinjaman tersebut berasal dari luar negeri, maka pada saat pembayarannya kembali dapat menimbulkan tekanan terhadap neraca pembayaran, sehingga pada gilirannya memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Kedua permasalahan ini pada gilirannya akan memberikan tekanan pada inflasi. Guna mengurangi berbagai kemungkinan dampak negatif pelaksanaan otonomi daerah terhadap pelaksanaan operasi pengendalian moneter, diperlukan adanya koordinasi yang erat antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah. Koordinasi tersebut terutama berupa penyampaian data penerimaan dan pengeluaran aktual secara akurat dan tepat waktu, serta data perkiraan realisasi mingguan, bulanan hingga tahunan (fiscal programming). Ketersediaan data-data yang akurat tersebut akan sangat membantu kegiatan evaluasi dan akurasi perkiraan kebutuhan likuiditas pasar oleh Bank Indonesia, sehingga diharapkan akan dapat pula meningkatkan kinerja operasi pengendalian moneter. Lebih lanjut, perlu dipertimbangkan pula adanya ketentuan bagi Pemerintah Daerah untuk membuka rekening di Kantor Bank Indonesia (KBI) yang difungsikan sebagai kas daerah. Dengan digunakannya KBI sebagai kas daerah dampak moneter yang bersifat negatif dari implementasi otonomi daerah akan dapat diminimalkan dan dideteksi secara dini.

103

Bab 7

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bab

7
K

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

inerja perbankan dan lembaga keuangan lainnya selama

menyebabkan penyaluran kredit perbankan belum optimal, meskipun telah mulai mengalami peningkatan khususnya dalam paro kedua tahun 2000. Perbankan pada umumnya mengalami kelebihan likuiditas sehingga mobilisasi dana dari masyarakat lebih banyak ditanamkan dalam bentuk pinjaman antarbank dan SBI.

tahun 2000 telah menunjukkan perbaikan seiring dengan

membaiknya perekonomian nasional serta sebagai hasil dari berbagai langkah restrukturisasi menyeluruh yang dilakukan Pemerintah dan Bank Indonesia. Perbaikan kinerja perbankan antara lain tercermin dari meningkatnya penghimpunan dana, pemberian kredit baru walaupun masih relatif kecil, permodalan, profitabilitas bank, serta menurunnya kredit bermasalah. Sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan kinerja perusahaan pembiayaan juga mengalami perbaikan seperti tercermin pada peningkatan sumber dana dan kegiatan usahanya dalam tahun laporan. Sementara itu, peluang perusahaan pegadaian untuk meningkatkan penyaluran dananya seperti tercermin dari peningkatan omzet usahanya juga menjadi lebih besar dengan masih belum besarnya penyaluran kredit perbankan. Namun demikian, secara umum fungsi intermediasi keuangan dari industri perbankan dan lembaga keuangan lainnya belum sepenuhnya berjalan normal dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Hal ini tidak terlepas dari permasalahan yang masih dihadapi baik oleh sektor riil maupun oleh perbankan itu sendiri, disamping masih besarnya faktor risiko dan ketidakpastian berkaitan dengan kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Di sektor riil, proses restrukturisasi kredit, utang luar negeri dan perusahaan secara keseluruhan masih berjalan lambat. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan kegiatan sektor riil tidak dapat berjalan lebih cepat, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar dari perekonomian nasional. Dari sisi perbankan, belum pulihnya fungsi intermediasi tidak terlepas dari masih tingginya ketidakpastian di tengah situasi sosial politik yang belum stabil dan masih berlangsungnya proses konsolidasi internal perbankan dalam rangka memenuhi berbagai ketentuan prudensial Bank Indonesia. Perkembangan tersebut telah

Perbankan Kebijakan perbankan pada tahun 2000 tetap difokuskan pada berbagai upaya untuk mempercepat penyelesaian restrukturisasi perbankan. Disamping memperpanjang program penjaminan pemerintah, upaya mempercepat restrukturisasi perbankan dilakukan dengan menyelesaikan program rekapitalisasi bank umum dan mempercepat restrukturisasi kredit bermasalah. Berbagai langkah ini diharapkan dapat mendorong perbankan untuk segera keluar dari krisis dan dapat berfungsi normal kembali sebagai lembaga intermediasi keuangan bagi sektor riil. Untuk mendukung pengembangan industri yang lebih tangguh di masa depan, berbagai upaya tersebut disertai pula dengan langkah-langkah peningkatan ketahanan sistem perbankan dengan perbaikan infrastruktur perbankan, penyempurnaan ketentuan dan pemantapan pengawasan, dan peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good corporate governance). Berbagai langkah kebijakan yang ditempuh telah memberikan hasil positif terhadap kinerja perbankan. Hal ini tercermin dari peningkatan total aset, dana pihak ketiga, penyaluran kredit baru, kualitas kredit, permodalan, serta profitabilitas perbankan. Proses rekapitalisasi bank telah dapat diselesaikan dalam tahun laporan melalui penerbitan obligasi pemerintah sehingga telah ikut meningkatkan total aset dan modal perbankan. Seiring dengan telah selesainya proses rekapitalisasi dan masih berjalannya program penjaminan pemerintah, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap terpelihara sehingga memungkinkan perbankan untuk

105

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

meningkatkan dana pihak ketiga yang dapat dimobilisasi dari masyarakat. Perbankan juga telah mulai menyalurkan kredit baru kepada dunia usaha, meskipun dengan pertumbuhan yang masih relatif rendah. Peningkatan kredit tersebut, yang disertai pula dengan kemajuan yang dicapai dalam restrukturisasi kredit bermasalah, pada gilirannya menjadi salah satu faktor penyebab membaiknya kualitas kredit perbankan. Hasil akhir kinerja perbankan yang membaik ditunjukkan oleh meningkatnya profitabilitas, seperti tercermin dari peningkatan Net Interest Margin (NIM). Meskipun secara keseluruhan kinerja industri perbankan membaik, sejumlah bank tercatat masih menghadapi permasalahan dalam hal Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loans (NPLs). Sebagai akibat memburuknya kualitas aktiva produktif, masih terdapat beberapa bank yang mempunyai CAR di bawah batas minimum sebesar 4,0%. Di samping itu, meskipun NPLs secara keseluruhan menurun menjadi 23,9%, sejumlah bank tercatat masih mempunyai NPLs di atas batas 35,0%. Kondisi yang dialami oleh beberapa bank ini akan merupakan tantangan bagi upaya restrukturisasi perbankan lebih lanjut, mengingat pada akhir tahun 2001 bank-bank dipersyaratkan untuk mencapai CAR sekurangkurangnya 8,0% dan tingkat NPLs maksimal sebesar 5,0%.

laporan, Bank Indonesia juga tetap mempertimbangkan dan memenuhi berbagai kesepakatan yang telah dibuat dengan lembaga keuangan internasional antara lain International Monetary Fund (IMF) yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI), World Bank dan Asian Development Bank.

Program Penyehatan Perbankan Dalam rangka penyehatan perbankan, kebijakan yang ditempuh pada tahun laporan diarahkan untuk memperpanjang program penjaminan pemerintah dan melakukan pengkajian dalam rangka pembentukan lembaga penjamin simpanan, menyelesaikan program rekapitalisasi perbankan, melanjutkan proses restrukturisasi kredit, serta memulihkan fungsi intermediasi.

Program Penjaminan Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan, Pemerintah telah memperpanjang periode program penjaminan sampai dengan 31 Januari 2001 dan dapat diperpanjang dengan sendirinya untuk jangka waktu enam bulan berikutnya apabila sebelumnya tidak dinyatakan berakhir.1) Keputusan Menteri Keuangan ini juga sekaligus mengalihkan proses administratif penjaminan yang sebelumnya dilakukan oleh Bank Indonesia kepada

Kebijakan Perbankan Seperti disinggung di atas, sebagai bagian dari upaya untuk mendukung program pemulihan perekonomian nasional, kebijakan perbankan pada tahun laporan tetap difokuskan pada kesinambungan upaya untuk mempercepat pelaksanaan program restrukturisasi perbankan. Hal ini dilakukan melalui (i) program penyehatan lembaga perbankan, dengan memperpanjang program penjaminan pemerintah, menyelesaikan program rekapitalisasi bank umum, melanjutkan restrukturisasi kredit, dan memulihkan fungsi intermediasi; serta (ii) upaya meningkatkan ketahanan sistem perbankan, dengan perbaikan infrastruktur perbankan, penyempurnaan ketentuan dan pemantapan pengawasan, dan peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good corporate governance). Dalam memutuskan kebijakan perbankan yang ditempuh pada tahun

Departemen Keuangan dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sebagaimana diketahui, program penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh (blanket guarantee) tersebut hanya diberlakukan sampai dengan terbentuknya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kajian tentang kemungkinan dihapuskannya program blanket guarantee secara bertahap telah mulai dilakukan pada tahun laporan agar perbankan dapat menyesuaikan diri dengan rencana pembentukan LPS yang baru. Sementara itu, sesuai Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur Bank Indonesia dan Menteri
1) Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 179/KMK.017/2000 Tanggal 26 Mei 2000 tentang Syarat, Tatacara dan Ketentuan Pelaksanaan Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum

106

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Keuangan tanggal 3 Mei 2000, pelaksanaan program penjaminan yang terkait dengan trade finance dan interbank debt exchange offer masih dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Sehubungan dengan pelaksanaan penjaminan tersebut, selama tahun laporan telah dilakukan pembayaran pokok dan bunga atas interbank debt exchange offer sebesar $495,9 juta yang merupakan bagian dari penerbitan obligasi pemerintah kepada Bank Indonesia dalam rangka program penjaminan sebesar Rp53,8 triliun yang telah diterbitkan tahun 1999. Selain itu, sebagai kelanjutan pelaksanaan penjaminan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), pada tahun laporan sedang disusun MoU antara Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas pihak mana yang melaksanakan penjaminan BPR, sehubungan dengan telah dialihkannya pelaksanaan penjaminan bank umum ke BPPN. Sehubungan dengan hal tersebut, telah diusulkan pula penyempurnaan Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1999, tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank. Dengan penyempurnaan peraturan ini, BPR di waktu mendatang diharapkan tidak perlu menanggung biaya likuidasi, yaitu pembayaran seluruh kewajiban BPR. Pemerintah akibat penambahan modal bank rekap hasil right issue atau Initial Public Offering yang melebihi prakiraan; (ii) konversi hedge bond menjadi fixed rate bond dan; (iii) penyesuaian nilai hedge bond berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dengan telah selesainya program rekapitalisasi tersebut, permodalan bank diharapkan tidak lagi menjadi kendala bagi penyehatan perbankan. Di samping itu, obligasi rekap tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bank baik dengan cara menjual maupun mengagunkan obligasi yang dimiliki. Namun demikian, penjualan dan pengagunan obligasi Program Rekapitalisasi Bank Umum Pada tahun laporan Pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyelesaikan program rekapitalisasi perbankan pada 31 Oktober 2000. Sebagai kelanjutan dari program rekapitalisasi sebelumnya, selama tahun 2000 telah dilaksanakan rekapitalisasi terhadap enam bank umum yaitu Bank Niaga, Bank Bali, Bank Danamon (merger dengan 8 Bank Take Over) dan penerbitan obligasi tahap II bagi BNI, BRI dan BTN. Obligasi yang diterbitkan selama tahun laporan berjumlah Rp148,6 triliun, sehingga jumlah obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam program rekapitalisasi bank-bank umum nasional menjadi sebesar Rp430,4 triliun (Tabel 7.1). Setelah memperhitungkan beberapa penyesuaian, posisi obligasi pemerintah pada akhir tahun laporan menjadi sebesar Rp431,8 triliun. Penyesuaian itu terkait dengan (i) buy back sebesar Rp6,9 triliun karena kelebihan Penyertaan Modal tersebut masih menghadapi kendala terutama sehubungan dengan belum likuidnya pasar sekunder obligasi. Dalam kondisi demikian, harga obligasi menjadi di bawah nilai nominalnya. Kurang menariknya obligasi pemerintah juga disebabkan oleh suku bunga domestik yang fluktuatif mengingat sebagian obligasi dalam bentuk fixed rate. Untuk meningkatkan daya tarik obligasi, bank harus memberikan diskonto yang tinggi yang pada gilirannya dapat mempengaruhi permodalan bank. Untuk mengatasi hal ini, BI dan Pemerintah mengupayakan terciptanya iklim yang kondusif bagi pengembangan pasar sekunder. Dilihat dari komposisi portofolio, pada akhir tahun laporan, jumlah obligasi dalam portofolio perdagangan tercatat Rp19,5 triliun atau 4,5% dari total obligasi rekapitalisasi meskipun sebenarnya bank dimungkinkan untuk memperdagangkan sampai dengan 25,0% dari total posisi obligasi Pemerintah yang
Bank BUMN BTO Bank Rekap BPD Total 4 14 7 12 37 Kelompok Bank

Tabel 7.1 Rincian Nominal Penerbitan Obligasi Pemerintah Untuk Program Rekapitalisasi (Posisi 31 Desember 2000)
Jumlah Bank Nominal Obligasi (Triliun Rp) Fixed Rate Variable Rate 114,9 33,9 18,0 0,4 167,2 131,2 75,4 18,9 0,8 226,4 Hedge Bond 36,8 36,8 282,9 109,3 36,9 1,2 430,4 Total (Triliun Rp)

107

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dimilikinya . 2) Sementara itu, jumlah portofolio obligasi Pemerintah yang diagunkan adalah Rp12,1 triliun atau 2,8% dari total posisi obligasi. Usaha meningkatkan likuiditas pasar sekunder obligasi rekapitalisasi masih harus dilakukan untuk meningkatkan likuiditas bank rekapitalisasi yang pada akhirnya akan mempercepat pemulihan intermediasi perbankan.

menerapkan hair cut pokok pinjaman pada kredit sindikasi yang melibatkan bank asing, bank BUMN dan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN). Kendala lain yang masih muncul dalam pelaksanaan program restrukturisasi kredit adalah masih belum stabilnya nilai tukar rupiah dan pengenaan pajak terhadap debitur yang memperoleh hair cut pokok pinjaman. Dalam rangka optimalisasi proses restrukturisasi kredit

Program Restrukturisasi Kredit dan Pemulihan Fungsi Intermediasi Program restrukturisasi kredit bermasalah yang berada dalam portofolio bank dilakukan baik oleh bank sendiri maupun melalui mediasi dari Satuan Tugas Restrukturisasi Kredit (Satgas) yang dibentuk Bank Indonesia. Sementara itu, BPPN melakukan restrukturisasi atas kredit bermasalah yang ditransfer dari bankbank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan bank-bank peserta program rekapitalisasi. Di sisi lain, restrukturisasi terhadap utang luar negeri perusahaan swasta nonbank dilakukan melalui mediasi Prakarsa Jakarta. Restrukturisasi kredit tersebut pada prinsipnya bertujuan membantu pemulihan usaha debitur sehingga mampu kembali menjalankan aktivitas usahanya. Untuk kredit yang masih berada pada portofolio bank, keberhasilan restrukturisasi kredit tersebut diharapkan mendorong debitur dapat kembali memenuhi kewajibannya kepada bank, yang pada gilirannya akan memperbaiki kualitas portofolio kredit bank. Sementara untuk kredit yang berhasil direstukturisasi oleh BPPN akan ditransfer kembali kepada perbankan, yang selanjutnya akan mendorong kembali penyaluran kredit oleh perbankan. Kunci keberhasilan dari proses restrukturisasi kredit tersebut terletak pada negosiasi antara kreditur dan debitur. Dalam kaitan ini, walaupun berbagai langkah strategis dan penyempurnaan telah dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait di atas, namun masih terdapat permasalahan teknis dalam upaya mempertemukan kepentingan debitur dan kreditur, terutama dalam

pada perbankan, langkah-langkah penyempurnaan telah dilakukan Satgas dengan upaya baik yang bersifat eksternal maupun internal. Upaya eksternal dilakukan dengan meningkatkan koordinasi dengan BPPN dan Prakarsa Jakarta. Sementara itu, upaya internal difokuskan pada peningkatan kemampuan profesional Satgas dalam proses mediasi restrukturisasi dalam bentuk penyiapan manual due diligence, proyeksi finansial serta penggunaan model yang diperlukan. Sementara itu, strategi restrukturisasi yang dilakukan BPPN untuk melanjutkan restrukturisasi kredit antara lain berupa:3) a) pengelompokan utang perusahaan berdasarkan besaran utang, prospek usaha dan potensi pengembalian, itikad debitur dan bagian kepemilikan BPPN terhadap kreditur lain; b) pengelompokan proses restrukturisasi utang per grup peminjam (one obligor); c) restrukturisasi utang berskala besar dengan menggunakan konsultan keuangan dan hukum; d) pengalihan restrukturisasi kredit berskala menengah, kecil dan ritel kepada beberapa bank (outsourcing); e) penyelesaian secara hukum (litigasi) bagi debitur yang tidak beritikad baik; dan f) peningkatan kerja sama dengan lembaga yang terkait dengan restrukturisasi kredit. Di samping itu, untuk mempercepat restrukturisasi kredit di bawah Rp5 miliar BPPN melakukan penjualan kredit dan pemberian insentif berupa diskon bunga (25,0% s.d. 50,0%) dan diskon denda (100,0%) 4). Sampai dengan akhir tahun 2000, kredit bermasalah di luar BPPN yang sudah direstrukturisasi baik oleh bank sendiri maupun melalui mediasi Satgas dan telah memasuki tahap

2) Surat Edaran No. 2/26/DPM Tanggal 8 Desember 2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0006, FR0007, FR0008, FR0009 Untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder Serta Peningkatan Persentase Portofolio Obligasi Pemerintah Yang Dapat Diperdagangkan.

3) Rencana Strategis BPPN Periode 1999 – 2004 4) Untuk debitur dengan pokok pinjaman di bawah Rp5 miliar yang mempunyai kemauan dan kemampuan menyelesaikan kewajibannya (sumber : Laporan Bulanan BPPN).

108

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

implementasi tercatat sebanyak 20.430 debitur dengan jumlah Rp59,9 triliun atau 71,4% dari total NPLs. Sementara itu, BPPN telah berhasil merestrukturisasi kredit sehingga mencapai tahap penandatanganan MoU dan implementasi proposal restrukturisasi sebesar Rp80,9 triliun atau 28,3% dari total kredit perbankan yang dikelolanya sebesar Rp286,3 triliun.

meningkatkan sistem pengawasan dan sumber daya manusia (SDM) BPR. Dalam rangka pengembangan infrastruktur BPR, Bank Indonesia bekerjasama dengan konsultan Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit GmbH (GTZ) melakukan pengkajian terhadap : (i) pembentukan LPS BPR; (ii) pemberdayaan asosiasi BPR untuk dapat bertindak sebagai pengawas, kon-

Peningkatan Ketahanan Sistem Perbankan Dalam tahun laporan, terdapat beberapa kemajuan yang berarti dalam upaya untuk meningkatkan ketahanan sistem perbankan. Hal ini ditandai dengan adanya (i) perbaikan infrastruktur perbankan yang antara lain tercermin dari pengembangan BPR dan perbankan syariah, serta telah dimulainya pengkajian pembentukan LPS sebagai pengganti program penjaminan pemerintah; (ii) penyempurnaan berbagai ketentuan dan sistem pengawasan bank yang telah mempertimbangkan standar Bank for International Settlements (BIS) dan komitmen dalam LoI; serta (iii) peningkatan mutu pengelolaan bank (good corporate governance) dengan telah dilakukannya fit and proper test, proses seleksi yang lebih ketat terhadap calon pengurus baru di bidang perbankan, penunjukan direktur kepatuhan, dan penyerahan kasus hasil investigasi tindak pidana di bidang perbankan kepada lembaga penegak hukum.

sultan dan penyelenggara pelatihan bagi BPR anggotanya, dan (iii) pembentukan Lembaga Penyangga Dana yang dapat berfungsi untuk mengatasi permasalahan likuiditas BPR, (iv) Baseline Survey mengenai pandangan masyarakat terhadap BPR, permasalahan yang dihadapi BPR dan kebutuhan pelatihan BPR. Untuk mendukung tercapainya proyek tersebut telah dibentuk working group yang beranggotakan Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Koperasi dan konsultan GTZ. Sementara itu, untuk lebih memberdayakan dan meningkatkan sistem pengawasan BPR, Bank Indonesia telah berupaya untuk meningkatkan law enforcement, meningkatkan kualitas pengawas melalui studi banding, kursus, seminar, serta mengintensifkan pemeriksaan BPR dengan menggunakan tenaga Kantor Akuntan Publik. Bank Indonesia juga mendapat bantuan teknis dalam bentuk kerja sama dengan GTZ, United States Agency for International Development (USAID) dan Institut Bankir Indonesia (IBI) untuk: (i)

Perbaikan Infrastruktur Perbankan Pengembangan infrastruktur perbankan selama tahun laporan tetap difokuskan pada pengembangan BPR dan bank syariah serta persiapan awal pembentukan LPS. Kebijakan ini tidak terlepas dari fakta bahwa selama periode krisis, BPR dan bank syariah relatif lebih tahan dari fluktuasi nilai tukar dan suku bunga, sehingga pengembangan BPR dan perbankan syariah dilakukan untuk menjaga ketahanan sistem perbankan. Upaya ini dilakukan melalui perlindungan dana nasabah kecil sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

pendidikan dan pelatihan BPR dengan sertifikasi; (ii) penyempurnaan sistem dan prosedur operasional BPR yang terintegrasi dalam sistem pengawasan Bank Indonesia, (iii) studi banding pada BPR yang berhasil, dan (iv) penyusunan konsep rekapitalisasi BPR di Jawa Barat.

Pengembangan Perbankan Syariah Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Indonesia mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengembangkan bank syariah di Indonesia. Dalam tahun laporan, kebijakan pengembangan bank syariah dilaksanakan melalui

Pengembangan BPR Beberapa upaya telah dan terus dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur BPR,

penyempurnaan ketentuan, pengembangan piranti moneter dan pasar keuangan syariah serta sosialisasi dan pengembangan SDM perbankan syariah.

109

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Penyempurnaan ketentuan perbankan syariah mencakup penyusunan Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan Syariah (PSAKS) dan pedoman teknis dalam bentuk Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI). PSAKS telah selesai dibahas oleh Tim yang anggotanya berasal dari Bank Indonesia, Bank Muamalat Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Dalam rangka penyusunan ketentuan CAR dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) bank syariah, pada Oktober 2000 telah dilakukan survei dan simulasi penerapan konsep CAR dan KAP yang hasilnya diharapkan dapat dijadikan masukan bagi Bank Indonesia. Dalam pengembangan piranti moneter, telah dilakukan pengkajian terhadap keikutsertaan bank syariah dalam Reksadana Syariah dengan tujuan menjajaki kemungkinan penanaman dana bank syariah dalam bentuk Reksadana Syariah dan sekaligus sebagai surat berharga yang dapat dijadikan agunan dalam mendapatkan fasilitas jangka pendek dari Bank Indonesia apabila bank mengalami kesulitan likuiditas. Untuk lebih memperkenalkan kegiatan usaha perbankan syariah, Bank Indonesia terus melakukan sosialisasi perbankan syariah secara intensif di berbagai daerah melalui kerja sama dengan Majelis Ulama setempat. Di samping itu, Bank Indonesia telah melakukan penelitian tentang potensi, preferensi dan perilaku konsumen terhadap bank syariah di Pulau Jawa, untuk mendapatkan data mengenai peta pengembangan bank syariah yang potensial. Dalam rangka pengembangan SDM, Bank Indonesia telah melaksanakan pelatihan dasar perbankan syariah dengan peserta pelatihan berasal dari perbankan, universitas, pesantren dan intern Bank Indonesia. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan para bankir, para akademisi dan pengurus pesantren serta jajaran pengawas bank di Bank Indonesia serta untuk meningkatkan pengetahuan tentang bank syariah, sehingga diharapkan peserta pelatihan dapat mensosialisasikan bank syariah kepada masyarakat luas.

untuk pada waktunya nanti diberlakukan sebagai pengganti program penjaminan Pemerintah. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1999 pemerintah telah membentuk suatu working group, dimana Bank Indonesia sebagai salah satu anggotanya, untuk mengkaji dan mempersiapkan pendirian LPS tersebut sebagaimana diatur dalam UU Perbankan. Kajian ini mencakup prasyarat pendirian LPS, jenis simpanan yang dijamin, batas maksimum yang dijamin, keanggotaan, premi penjaminan, kelembagaan, dan kepemilikan. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia telah menyampaikan masukanmasukan kepada working group tersebut. Untuk itu, Bank Indonesia membuat proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi mengenai berbagai aspek dalam pendirian LPS bank umum termasuk dengan mengamati praktek yang terjadi di beberapa negara lain. Bank Indonesia bekerjasama dengan konsultan GTZ juga melakukan pengkajian tentang LPS untuk BPR. Dengan memperhatikan perkembangan perbankan nasional, LPS diharapkan dapat direalisasikan selambat-lambatnya tahun 2004.

Penyempurnaan Ketentuan dan Pemantapan Pengawasan Bank Sebagai upaya memantapkan ketahanan industri perbankan, pada tahun laporan Bank Indonesia telah menyempurnakan beberapa ketentuan perbankan dan lebih memantapkan sistem pengawasan bank. Penyempurnaan ketentuan perbankan antara lain mencakup ketentuan mengenai fit and proper test, penetapan status bank, exit policy, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), restrukturisasi kredit, penilaian aktiva produktif, pendanaan jangka pendek, perdagangan portofolio obligasi pemerintah, bank syariah, laporan bulanan bank, fasilitas likuiditas intrahari dan kelembagaan bank umum. Sementara itu, sesuai dengan LoI, pemantapan sistem pengawasan bank dilakukan dengan perubahan paradigma pengawasan menjadi berorientasi ke depan (forward looking), dengan berdasarkan pada penga-

Lembaga Penjamin Simpanan Dalam tahun laporan, kajian dalam rangka pembentukan LPS yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia telah dimulai

wasan berbasis risiko (risk based supervision) yang mengacu pada standar internasional dengan 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision.

110

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Penyempurnaan Ketentuan Perbankan Selama tahun laporan Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa ketentuan yang ruang lingkupnya meliputi: (i) sistem pengawasan; (ii) peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good corporate governance); (iii) prinsip kehati-hatian (prudential banking); (iv) likuiditas perbankan; serta, (v) penjaminan pemerintah. (i) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup sistem pengawasan mencakup persyaratan dan tata cara pemeriksaan (LBU) ,6) bank , 5) laporan bulanan bank umum Ketentuan LBU merupakan umum .7)

restrukturisasi kredit12) dan exit policy.13 ) Ketentuan exit policy merupakan penyempurnaan kebijakan dalam penanganan bank bermasalah yang lebih transparan dengan menetapkan kriteria bank yang dikategorikan dalam pengawasan khusus (special surveillance) dan tindakan-tindakan korektif yang harus diselesaikan dalam periode tertentu dan kriteria bank untuk ditransfer menjadi Bank Dalam Penyehatan di bawah pengawasan BPPN. Penyempurnaan terhadap ketentuan restrukturisasi kredit dan BMPK serta penilaian aktiva produktif juga dilakukan untuk memperlancar restrukturisasi kredit. Penyempurnaan ini pada dasarnya memberikan kelonggaran perpanjangan batas waktu penyelesaian pelampauan BMPK kepada perusahaan yang mengikuti program restrukturisasi kredit melalui lembaga resmi. Di samping itu, dalam perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) aktiva produktif kualitas Lancar dinilai berdasarkan nilai buku, sedangkan aktiva produktif dengan kualitas nonlancar dinilai berdasarkan nilai buku setelah dikurangi Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Selain itu, menyangkut rahasia bank telah dipertegas batasan kerahasiaan bank yang tidak berlaku untuk keperluan perpajakan; penyelesaian piutang bank yang sudah diserahkan kepada Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BPULN) atau Panitia Urusan Piutang Negara; dan, kepentingan peradilan dalam perkara pidana; sepanjang terlebih dahulu memperoleh perintah atau izin tertulis dari

dan bank

penyempurnaan pelaporan bank umum kepada Bank Indonesia sehubungan dengan diberlakukannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 31 dan penyesuaian dengan kemajuan teknologi informasi. Halhal yang diatur antara lain jenis laporan yang disampaikan; periode dan prosedur, untuk penyampaian dan koreksi laporan; serta, sanksi. (ii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup peningkatan mutu pengelolaan perbankan mencakup rincian penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) ,8) dan penyempurnaan tata cara penentuan hasil penilaian kemampuan dan kepatutan.9) Penyempurnaan ketentuan fit and proper test berkaitan dengan hal-hal: (i) transparansi proses penilaian; (ii) jangka waktu pengenaan sanksi, (iii) kriteria penentuan faktor materialitas kerugian yang dialami bank; serta (iv) penilaian setelah masa pengenaan sanksi terlampaui. (iii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup prinsip kehatihatian mencakup penyediaan dana bank,10 ) rahasia bank, 11) beberapa ketentuan untuk memperlancar

5) Peraturan Bank Indonesia No.2/6/PBI/2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Persyaratan dan Tatacara Pemeriksaan Bank. 6) Peraturan Bank Indonesia No.2/21/PBI/2000 tanggal 19 September 2000 tentang Laporan Bulanan Bank Umum. 7) Peraturan Bank Indonesia No.2/27/PBI/2000 tanggal 15 Desember 2000 tentang Bank Umum. 8) Peraturan Bank Indonesia No.2/1/PBI/2000 tanggal 14 Januari 2000 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). 9) Peraturan Bank Indonesia No.2/23/PBI/2000 tanggal 6 November 2000 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test).

10) Peraturan Bank Indonesia No.2/5/PBI/2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Penyediaan Dana Bank Yang Dijamin Oleh Bank Lain. 11) Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tanggal 7 September 2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank. 12) Peraturan Bank Indonesia No.2/15/PBI/2000 tanggal 12 Juni 2000 tentang Perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/ 150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Restrukturisasi Kredit; Peraturan Bank Indonesia No.2/16/PBI/2000 tanggal 12 Juni 2000 tentang Perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/177/ KEP/DIR tanggal 31 Desember 1998 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum; dan, Surat Edaran Bank Indonesia No.2/ 12/DPNP tanggal 12 Juni 2000 tentang Penilaian Aktiva Produktif Dalam Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko. 13) Peraturan Bank Indonesia No.2/11/PBI/2000 tanggal 31 Maret 2000 tentang Penetapan Status Bank dan Penyerahan Bank Kepada BPPN.

111

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pimpinan Bank Indonesia. Namun, perintah atau izin tertulis tersebut tidak diperlukan dalam rangka kepentingan peradilan dalam perkara perdata antara bank dengan nasabahnya; tukar menukar informasi antarbank; permintaan, persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan yang dibuat secara tertulis; dan, permintaan ahli waris yang sah dari nasabah penyimpan yang telah meninggal dunia. (iv) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup likuiditas bank mencakup penetapan obligasi pemerintah untuk diperdagangkan di pasar sekunder dan persentase obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan serta penatausahaannya, 14) fasilitas pendanaan jangka

Bank Indonesia telah menyusun rencana induk (Master Plan) perbankan yang berisi program pokok pemantapan efektivitas pengawasan langsung (pemeriksaan bank) maupun tidak langsung. Program pokok tersebut antara lain mencakup program pengawasan intensif (special surveillance) dan On-Site Supervisory Presence (OSP) di beberapa bank yang secara sistemik memiliki pengaruh yang cukup besar bagi perekonomian. Sebagian besar dari pokok program rencana induk tersebut telah dilaksanakan dalam tahun laporan. Sesuai kesepakatan di atas, Bank Indonesia perlu segera menyesuaikan standar pengawasan bank sesuai dengan standar internasional pengawasan bank sebagaimana dimuat dalam 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision. Untuk itu, Bank Indonesia telah menyusun suatu Detailed Action Plan (DAP) yang memuat langkah-langkah pokok dalam kerangka pengaturan dan pengawasan bank untuk memastikan pemenuhan Bank Indonesia terhadap standar internasional di bidang pengawasan bank dalam 2 tahun ke depan yakni sampai tahun 2002. Beberapa kegiatan pokok dalam DAP tersebut, antara lain meliputi implementasi (i) persyaratan/ketentuan dalam pemberian izin untuk pendirian bank, pemilik dan pengurus bank; (ii) koordinasi antar otoritas pengawas di sektor keuangan; (iii) perluasan cakupan pemeriksaan yang bukan hanya pada segi operasional bank tetapi juga meliputi kebijakan, prosedur dan pengawasan intern; (iv) pengawasan

pendek (FPJP) dan fasilitas likuiditas intrahari (FLI). Ketentuan FPJP memungkinkan Bank Indonesia untuk memberikan fasilitas pendanaan kepada bank yang mengalami kesulitan likuiditas pendanaan jangka pendek dan tidak mengalami kesulitan struktural. Sementara ketentuan FLI bertujuan meminimalkan kemungkinan terjadinya kemacetan dalam sistem pembayaran (gridlock) karena bank mengalami kesulitan pendanaan dalam waktu yang sangat pendek. (v) Dalam kaitan dengan penjaminan pemerintah, ketentuan yang dikeluarkan mencakup penjaminan interbank debt exchange offer dan trade finance.15)

Pemantapan Sistem Pengawasan Bank Sebagai bagian dan dalam rangka memenuhi kesepakatan Pemerintah Indonesia dengan IMF yang tertuang dalam LoI,

yang berdasarkan risiko; (v) pengawasan bank secara konsolidasi dengan perusahaan afiliasi; dan (vi) perhitungan CAR dengan memasukkan unsur market risk. Bank Indonesia telah menyelesaikan dokumen DAP tersebut sesuai batas waktu yang ditetapkan. Lebih jauh, Bank

14 Surat Edaran Bank Indonesia No.2/14/DPNP tanggal 27 Juni 2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah seri FR0002 Untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder; Surat Edaran Bank Indonesia No.2/16/DPNP tanggal 25 Juli 2000 tentang Penetapan Obligasi Pemerintah Seri FR0003, FR0004 dan FR0005 Untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder; Surat Edaran Bank Indonesia No.2/18/DPM tanggal 19 September 2000 tentang Peningkatan Prosentase Portofolio Obligasi Pemerintah Yang Dapat Diperdagangkan Bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi Perbankan 15 Peraturan Bank Indonesia No.2/12/PBI/2000 tanggal 16 Mei 2000 tentang Jaminan Pinjaman Luar Negeri Antarbank; dan, Peraturan Bank Indonesia No.2/13/PBI/2000 tanggal 16 Mei 2000 tentang Jaminan Pembiayaan Perdagangan Internasional.

Indonesia telah mensinergikan antara kegiatan-kegiatan dalam rencana induk (Master Plan) pengawasan dengan kegiatan serupa yang dimuat dalam DAP untuk menghasilkan produk berupa Master Dokumen Pengawasan Bank (MDPB) – Bank Indonesia. MDPB tersebut selanjutnya akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia. Untuk memastikan efektivitasnya, maka penyusunan MDPB mendapatkan prioritas dan komitmen khusus.

112

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Selanjutnya, dalam rangka lebih memantapkan fungsi pengawasan bank, pelaksanaan pengawasan bank tidak hanya difokuskan pada pengawasan berdasarkan kepatuhan terhadap ketentuan kehati-hatian (compliance supervision) tetapi juga diarahkan pada pengawasan berdasarkan risiko yang dihadapi (risk based supervision). Dalam kaitan tersebut, Bank Indonesia telah menempatkan tenaga OSP pada beberapa bank yang dinilai penting bagi perekonomian. Hingga saat ini telah ditempatkan beberapa tenaga OSP pada 4 bank BUMN dan 5 bank swasta nasional. Untuk lebih memantapkan kemampuan tenaga OSP, telah dilakukan pula pelatihan dengan Technical Assistance (TA) dari IMF. Selain itu, telah ditempatkan dua orang TA IMF dalam rangka meningkatkan fungsi pengawasan bank termasuk membantu penanganan tugas Special Surveillance, yaitu pengawasan secara intensif terhadap bank yang memiliki CAR di bawah 4,0% dan atau NPLs di atas 35,0%. Dengan telah dan mulai diterapkannya master plan, OSP dan DAP yang juga meliputi 25 BIS Core Principles, maka komitmen Bank Indonesia dalam LoI pada tahun 2000 telah terpenuhi.

(84 orang), 74 bank kategori A (700 orang), 2 bank swasta peserta program rekapitalisasi (27 orang), 1 BTO (6 orang) dan 25 BPD (260 orang). Dari penilaian tersebut sebanyak 631 orang pengurus dinyatakan Lulus, 76 orang pemilik dan 243 orang pengurus Lulus Bersyarat dan sebanyak 17 orang pemilik dan 110 orang pengurus dinyatakan Tidak Lulus.

Wawancara Terhadap Calon Pemilik dan Pengurus Bank Wawancara dilakukan untuk mengetahui integritas dan kompetensi calon pengurus baru dan integritas calon pemilik bank. Sampai dengan akhir periode laporan, Bank Indonesia telah melakukan wawancara terhadap 562 calon pengurus dan pemilik yang diajukan oleh 153 bank. Dari wawancara tersebut, 507 calon dinyatakan lulus fit and proper test.

Direktur Kepatuhan (Compliance Director) Penunjukan Direktur Kepatuhan merupakan bagian penting dari sistem pencegahan internal oleh manajemen bank. Fungsi Direktur Kepatuhan adalah untuk secara aktif mengambil berbagai langkah guna mencegah manajemen bank menetapkan kebijakan dan/atau mengambil keputusan yang di dalamnya mengandung unsur-unsur ketidakpatuhan,

Peningkatan Mutu Pengelolaan Perbankan (good corporate governance) Peningkatan mutu pengelolaan perbankan merupakan salah satu upaya dalam rangka memantapkan ketahanan sistem perbankan, yaitu melalui pelaksanaan fit and proper test pada pemilik dan pengurus bank, wawancara bagi calon pemilik dan pengurus bank, penunjukkan direktur kepatuhan, dan investigasi tindak pidana di bidang perbankan.

penyimpangan atau bahkan pelanggaran terhadap ketentuan kehati-hatian (prudential regulation). Sampai dengan Desember 2000, 161 bank telah mengajukan 216 orang calon Direktur Kepatuhan. Hasil penilaian atas pencalonan tersebut, sebanyak 156 orang calon telah disetujui, 30 orang calon ditolak, 14 orang calon sedang dalam proses penilaian, sedangkan 16 orang calon mengundurkan diri atau membatalkan pencalonannya.

Pelaksanaan Penilaian Fit and Proper Penilaian fit and proper dilakukan terhadap pemilik dan pengurus bank secara berkala dan berkesinambungan melalui penelitian administrasi yang berkaitan dengan penilaian kinerja masa lalu (track record). Sejak tahun 1999 sampai dengan periode laporan telah dilakukan penilaian fit and proper terhadap 1.077 orang yang terdiri dari 93 orang pemilik dan 984 orang pengurus. Jumlah tersebut berasal dari 3 bank BUMN

Investigasi Tindak Pidana di Bidang Perbankan Dalam melakukan investigasi tindak pidana di bidang perbankan, Bank Indonesia, dalam hal ini Unit Khusus Investigasi Perbankan (UKIP) terus meningkatkan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung dalam membahas kasus-kasus tindak pidana di perbankan. Dalam pembahasan bersama tersebut, BPPN juga diikutsertakan sebagai nara sumber. Sampai dengan Desember 2000, UKIP

113

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

telah menyerahkan kasus dugaan tindak pidana di bidang perbankan yang terjadi pada 19 bank termasuk 3 BPR kepada lembaga penegak hukum.
Tabel 7.3 Daftar Bank Merger, Bank Beku Kegiatan Usaha Tahun 2000
Bank Merger 30 Juni 2000 ke Danamon 1. Bank Tiara Asia 2. Bank Nusa Nasional 3. Bank Tamara 4. Bank Rama 5. Bank Pos Nusantara 6. Bank Duta 7. Bank Risjad Salim Internasional 8. Bank Jaya Internasional 20 Desember 19991) 1. Bank PDFCI 24 Desember 19991) 1. Hanvit 2)
1) Merger tahun 1999, pelaksanaan tahun 2000 2) Merger 2 bank campuran : – Korea Commercial Surya – Hanil Tamara Bank

Bank Beku Kegiatan Usaha 20 Oktober 2000 1. Bank Prasida Utama 2. Bank Ratu 28 Januari 2000 1. Bank Putera Multikarsa

Kelembagaan Perkembangan Bank Umum Pada akhir tahun laporan jumlah bank yang beroperasi menjadi 151 bank, turun sebanyak 13 bank dari 164 bank pada tahun laporan sebelumnya (Tabel 7.2). Penurunan ini disebabkan adanya merger 9 bank take over (BTO) menjadi Bank Danamon, pembekuan kegiatan usaha 3 BUSN dan merger 2 bank campuran (Tabel 7.3) Sejalan dengan penggabungan dan pembekuan kegiatan usaha tersebut, jumlah kantor bank umum yang beroperasi menurun dari 7.113 kantor menjadi 6.509 kantor. Dengan penggabungan tersebut maka jumlah kantor kelompok BTO atau BUSN Devisa mengalami penurunan menjadi 3.302 kantor dibandingkan 3.798 kantor pada tahun

laporan sebelumnya. Penurunan tersebut juga sejalan dengan pelaksanaan program restrukturisasi perbankan.

Tabel 7.2 Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank
Posisi Kelompok Bank 1998 I. Bank Umum Jumlah Bank Jumlah Kantor 2) Bank BUMN Jumlah Bank Jumlah Kantor BPD Jumlah Bank Jumlah Kantor BUSN Devisa Jumlah Bank Jumlah Kantor BUSN Nondevisa Jumlah Bank Jumlah Kantor Bank Campuran Jumlah Bank Jumlah Kantor Bank Asing Jumlah Bank Jumlah Kantor II. BPR BKD NonBKD 1999 2000 Pertumbuhan (%) 1999 2000 Pangsa 1) (%) 2000

Perkembangan BPR Dalam tahun laporan, jumlah BPR menurun sebanyak 8 BPR sehingga menjadi 7.764 BPR sebagai akibat pencabutan izin usaha 10 BPR dan pendirian 2 BPR baru. Selain itu, dalam tahun laporan juga dilakukan pembekuan kegiatan usaha tertentu terhadap 96 BPR. Adapun BPR yang beroperasi dengan prinsip

208 7.661 7 1.875 27 822 71 4.157 59 701 34 65 10 41 7.607 5.345 2.262

164 7.113 5 1.853 27 825 47 3.798 45 533 30 57 10 47 7.772 5.345 2.427

151 6.509 5 1.736 26 826 38 3.302 43 535 29 57 10 53 7.764 5.345 2.419

–21,2 –7,2 –28,6 –1,2 0,0 0,4 –33,8 –8,6 –23,7 –24.0 –11,8 –12,3 0,0 14,6 2,17 0,00 7,29

–7,9 –8,5 0,0 –6,3 –3,7 0,1 –19,1 –13,1 –4,4 0,4 –3,3 0,0 0,0 12,8 –0,10 0,0 –0,33

100,0 100,0 3,3 26,7 17,2 12,7 25,2 50,7 28,5 8,2

syariah tercatat sejumlah 79 BPR. Sementara itu, kegiatan usaha BPR menunjukkan peningkatan yang tercermin dari perkembangan total aset, penyaluran kredit dan pendanaan (Tabel 7.4). Sejalan dengan perkembangan tersebut, dalam
Tabel 7.4 Perkembangan Usaha BPR
Uraian 1997 1998 1999 Miliar rupiah
Volume Usaha Dana Pihak Ketiga Kredit Modal Disetor Laba (Rugi) Tahun Berjalan 1) Angka proyeksi 2.994 1.601 2.288 623 30 2.981 1.527 1.986 706 (42) 3.702 2.054 2.593 778 (16) 4.018 2.332 2.875 812 (11)

20001)

19,2 0,9 6,6 0,8

1) Pangsa terhadap seluruh bank umum 2) Tidak termasuk BRI Unit Desa

114

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

tahun laporan BPR dapat memperkecil rugi usaha dari Rp16,0 miliar menjadi Rp11,0 miliar. Walaupun kinerja BPR telah membaik namun BPR belum dapat menyaingi bank umum yang melakukan penetrasi pasar pada segmen yang sama. Dalam upaya mengurangi persaingan antara bank umum dan BPR di pasar yang sebenarnya diarahkan untuk BPR tersebut, perbaikan infrastruktur bagi BPR masih memerlukan ketegasan sikap Pemerintah
Total Aset Dana Pihak Ketiga Kredit Kualitas Aktiva Produktif : Lancar Dalam Perhatian Khusus Kurang Lancar Diragukan Macet NPLs - gross (%) NPLs - net (%) Modal Laba (Rugi) Net Interest Margin 895,5 625,4 545,5 408,2 48,2 57,5 83,7 135,5 48,6 34,7 -129,8 -178,6 -73,0 Indikator Perbankan 1998 1999 Triliun rupiah 1.006,7 617,6 277,3 607,2 25,2 28,1 35,4 28,5 32,8 7,3 -41,2 -91,7 -38,6 1.030,5 699,1 320,4 591,2 21,3 32,3 16,9 29,3 18,8 5,8 53,5 10,5 22,8 2000

Tabel 7.5 Indikator Perbankan

Perkembangan Bank Syariah Sejalan dengan kebijakan pengembangan bank syariah, jumlah kantor cabang bank umum yang beroperasi dengan prinsip syariah meningkat sebanyak 37 sehingga menjadi 119 kantor bank. Kantor cabang tersebut terdiri dari 27 kantor cabang Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri, 10 Kantor Cabang Syariah (KCS) dari 3 bank umum konvensional yaitu Bank IFI, Bank BNI dan Bank Jabar, serta 79 BPR syariah. Pada akhir tahun 2000, pangsa pasar bank syariah masih sangat kecil yaitu hanya sebesar Rp1,71 triliun atau 0,2% dari total aset perbankan, sehingga kemampuan melakukan penetrasi pasar sangat terbatas. Hal tersebut antara lain disebabkan adanya keterbatasan jumlah bank dan jaringan, SDM yang memahami prinsip syariah maupun pemahaman masyarakat terhadap bank syariah.

yang memberikan dampak negatif pada kinerja perbankan nasional. Terbatasnya alternatif penempatan dana menyebabkan perbankan cenderung untuk memilih alternatif penanaman berjangka waktu pendek dengan risiko rendah seperti SBI dan antarbank. Fenomena ini menyebabkan perbankan cenderung terus mempertahankan marjin keuntungannya melalui penetapan suku bunga simpanannya di bawah suku bunga SBI. Kondisi ini yang menyebabkan peningkatan suku bunga SBI tidak diikuti oleh kenaikan suku bunga simpanan secara proporsional (Boks : Sensitivitas Suku

Kegiatan Usaha Bank Umum Secara umum, beberapa indikator kinerja perbankan pada tahun 2000 menunjukkan perbaikan, seperti tercermin dari meningkatnya total aset, penghimpunan dana, pemberian kredit, kualitas aktiva produktif, permodalan, dan profitabilitas bank (Tabel 7.5). Perbaikan kinerja perbankan tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah kebijakan yang telah ditempuh dalam rangka restrukturisasi perbankan nasional, serta didukung pula oleh perbaikan kondisi makroekonomi secara keseluruhan. Walaupun demikian, dalam hal penyaluran kredit, perbankan masih melihat tingginya risiko dunia usaha akibat pengalaman terpuruknya sektor korporasi selama masa krisis

Bunga Deposito).

Total Aset Dalam tahun laporan, total aset perbankan meningkat sebesar 2,4% dibanding Desember 1999 sehingga menjadi Rp1.030,5 triliun. Sebagian besar aset perbankan berupa obligasi pemerintah yang dimiliki oleh bank-bank peserta program rekapitalisasi. Pada akhir tahun 2000, portofolio obligasi pemerintah di bank-bank mencapai Rp431,8 triliun atau 41,9% dari total aset dan SBI sebesar Rp59,8 triliun atau 5,8% dari total aset. Sementara itu, portofolio kredit sebesar Rp320,4 triliun atau 31,1% dari total aset (Grafik 7.1). Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank mempunyai kelebihan dana yang sebagian

115

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

(%) 120,0 100,0 80,0 60,0 40,0 60. 20,0 27. 0,0 Des-98 Kredit Obligasi Des-99 SBI Antarbank aktiva Des-00 Surat-surat Berharga Penyertaan 31. 27. 48. 48.

Tabel 7.6 Perkembangan Dana Pihak Ketiga
Posisi (triliun rupiah) Jenis Simpanan 1998 Giro Rupiah Valuta Asing Deposito Berjangka Rupiah Valuta Asing Tabungan Rupiah Valuta Asing Total Rupiah 99,8 57,4 42,4 456,9 300,4 156,5 68,7 68,7 – 625,4 426,5 198,9 19991) 2000 111,8 68,5 43,4 382,8 301,4 81,4 123,0 123,0 – 617,6 492,9 124,8 161,5 103,6 57,9 384,7 296,7 88,0 152,9 152,9 – 699,1 553 145,9 1999 12,1 19,3 2,3 (16,2) 0,3 (48,0) 79,0 79,0 – (1,2) 15,6 (37,3) 2000 44,4 51,3 33,4 0,5 (1,6) 8,1 24,4 24,4 – 12,2 16,9 2000 23,10 14,82 8,28 55,03 42,44 12,59 21,88 21,88 – 79,13 20,87 Pertumbuhan Pangsa (%) (%)

Grafik 7.1 Komposisi Aset Perbankan

13,2 100,00

dapat disalurkan dalam bentuk kredit. Selain itu persentase total kredit perbankan sebesar 31,1% masih jauh di bawah posisi sebelum krisis yang mencapai di atas 70,0%. Hal ini menunjukkan masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan yang bertumpu pada penyaluran kredit. Di samping itu, masih besarnya porsi obligasi pemerintah menunjukkan bahwa upaya untuk melakukan penjualan sebagian obligasi pemerintah yang dimiliki dan pengambilalihan (refinancing) kredit yang telah direstrukturisasi BPPN oleh perbankan belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Valuta Asing

1) Tidak termasuk simpanan antarbank

rintah dan proses rekapitalisasi. Dana pihak ketiga dalam valuta asing meningkat 16,9%, namun apabila pengaruh nilai tukar diabaikan dana pihak ketiga dalam valuta asing tersebut justru turun sebesar 12,9%. Dilihat dari komposisinya, deposito masih mendominasi dana pihak ketiga dengan pangsa sebesar 55,0%. Sementara itu, giro dan tabungan masing-masing memiliki pangsa sebesar 23,1% dan 21,9%. Dibandingkan tahun sebelumnya giro dan

Penghimpunan Dana Selama tahun 2000, dana pihak ketiga16) yang berhasil dihimpun perbankan mengalami peningkatan sebesar 13,2% sehingga menjadi Rp699,1 triliun (Tabel 7.6) . Peningkatan ini meliputi seluruh jenis simpanan rupiah dan valuta asing, terkecuali deposito rupiah yang menurun 1,6%. Faktor utama penyebab meningkatnya dana pihak ketiga antara lain adalah karena masih terjaganya kepercayaan masyarakat seiring dengan dilanjutkannya program penjaminan peme-

tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 44,3% dan 24,3%. Sementara deposito hanya mengalami kenaikan sebesar 0,5% dengan memperhitungkan depresiasi nilai tukar rupiah. Apabila dihilangkan pengaruh depresiasi tersebut, deposito justru mengalami penurunan sebesar 5,4% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan deposito tersebut menunjukkan terjadinya perubahan minat penanaman dana masyarakat dari deposito ke dalam bentuk giro dan tabungan. Hal ini antara lain disebabkan oleh relatif kecilnya perbedaan antara suku bunga deposito dan tabungan yang ditawarkan oleh bank, sementara di sisi lain giro dan tabungan

16) Dana pihak ketiga perbankan berbeda dengan konsep yang ada di bab moneter. Dalam konsep perbankan, dana pihak ketiga mencakup dana milik non residen dan pemerintah.

menawarkan fleksibilitas yang diperlukan dalam kondisi tingginya ketidakpastian sosial politik.

116

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Kredit Perbankan Selama periode laporan, posisi kredit perbankan meningkat sebesar 15,5% sehingga menjadi Rp320,4 triliun dibanding tahun sebelumnya (Tabel 7.7). Peningkatan tersebut berasal dari kredit rupiah dan kredit valuta asing yang masing-masing naik sebesar Rp18,9 triliun (11,9%) dan Rp24,2 triliun (20,5%). Apabila pengaruh nilai tukar dihilangkan, kredit dalam valuta asing menjadi turun sebesar 10,8%, sehingga posisi kredit dalam tahun laporan hanya meningkat sebesar 2,2%. Peningkatan kredit rupiah antara lain disebabkan adanya penyaluran kredit baru dan penjualan kembali kredit yang telah direstrukturisasi oleh BPPN ke sektor perbankan. Selama paro kedua tahun laporan, kredit baru yang telah disalurkan sebesar Rp26,5 triliun17) . Sementara itu, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi, baik oleh bank sendiri atau melalui fasilitasi Satgas sampai dengan Desember 2000 tercatat sebesar Rp59,9 triliun atau 71,0% dari total NPLs yang terdiri atas 20.430 debitur. Berdasarkan Laporan Bulanan BPPN tanggal 2 Januari 2001, dari Rp286,3 triliun kredit perbankan yang telah dialihkan dan dikelola BPPN, tercatat sejumlah Rp80,9 triliun telah berhasil direstrukturisasi. Dapat diinformasikan bahwa selama tahun laporan masih terdapat pengalihan kredit ke BPPN sehubungan program rekapitalisasi, khususnya untuk bank BUMN. Masih rendahnya pertumbuhan kredit selama tahun 2000 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, debitur potensial masih terbatas sehubungan masih banyaknya debitur berskala besar dalam proses restrukturisasi di BPPN. Sebagian dari penyaluran kredit baru hanya diberikan dalam bentuk kredit menengah dan kredit kecil dengan tujuan konsumsi. Kedua, perbankan menilai bahwa risiko usaha masih tinggi, meskipun terdapat permohonan kredit oleh nasabah baru. Ketiga, para debitur belum melakukan penarikan atas komitmen kredit secara optimal karena belum didukung oleh iklim usaha yang kondusif. Keempat, beberapa bank rekapitalisasi yang masih mengalami masalah likuiditas Kualitas Aktiva Produktif Dalam tahun laporan, kualitas aktiva produktif perbankan yang terdiri dari kredit, surat berharga, obligasi pemerintah, penanaman antarbank, dan penyertaan mengalami sedikit perbaikan. Pada akhir tahun 2000, besarnya aktiva produktif bermasalah yang dimiliki perbankan tercatat sebesar 11,3% dari total aktiva, menurun dari 12,7% pada periode sebelumnya (Tabel 7.8). Hal ini berkaitan dengan kemajuan proses restrukturisasi kredit dan tambahan penerbitan obligasi pemerintah dalam tahap akhir proses rekapitalisasi perbankan.
17) Berdasarkan data Sistem Informasi Debitur (SID) yang didukung hasil survei terhadap sejumlah bank.
Menurut Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan Perindustrian Listrik Konstruksi Perdagangan Pengangkutan Jenis Dunia Usaha Jasa Sosial Lain-lain Menurut Kelompok Bank Bank BUMN BUSN Devisa BUSN Non Devisa BPD Bank Campuran Bank Asing Menurut Denominasi Rupiah Valuta asing Jenis Kredit 1998 545,4 34,9 7,9 195,8 23,6 41,5 96,1 17,6 88,6 8,3 31,0 545,4 279,4 179,5 7,0 12,8 37,5 29,3 545,4 315,3 230,2 1999 277,3 26,1 5,4 97,9 20,0 13,3 45,2 12,4 26,4 3,3 27,3 277,3 152,1 56,5 5,0 13,6 22,5 27,6 277,3 159,1 118,2 2000 1999 2000 15,5 (23,8) (1,9) 12,1 (74,5) (45,9) 1,8 (41,1) -(12,1) 231,9 15,6 (6,1) 40,5 112,0 (15,3) 30,0 69,6 15,5 11,9 20,5 2000 100,0 6,2 1,7 34,2 1,6 2,2 14,4 2,3 8,2 0,9 28,3 100,0 44,6 24,8 3,3 3,6 9,1 14,6 100,0 55,6 44,4 Posisi (triliun rupiah) Pertumbuhan Pangsa (%) (%)

Tabel 7.7 Perkembangan Kredit Perbankan

320,4 (49,2) 19,9 (25,2) 5,3 (31,6) 109,7 (50,0) 5,1 (15,3) 7,2 (68,0) 46,0 (53,0) 7,3 (29,5) 26,4 (70,2) 2,9 (60,2) 90,6 (11,9) 320,4 (49,2) 142,8 (45,6) 79,4 (68,5) 10,6 (28,6) 11,5 6,4 29,3 (40,0) 46,8 (5,9) 320,4 (49,2) 178,0 (49,5 142,4 (48,7)

menghadapi kesulitan untuk menjual obligasi yang dimilikinya karena belum berkembangnya pasar sekunder obligasi pemerintah. Kelima, beberapa bank masih menghadapi masalah yang terkait dengan pemenuhan CAR dan pelanggaran BMPK.

Sejalan dengan kemajuan proses restrukturisasi kredit, rasio NPLs tanpa memperhitungkan PPAP yang dibentuk (Gross

117

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

pemberian kredit baru dan pengalihan kredit yang telah
Tabel 7.8 Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif Posisi (triliun rupiah) 1998 Lancar Dalam Perhatian Khusus Kurang Lancar Diragukan Macet Total 408,2 48,2 57,5 83,7 135,5 733,1 1999 607,2 25,2 28,1 35,4 28,5 724,5 2000 591,2 21,3 32,3 16,9 29,3 691,1 Pangsa (%) 1999 83,8 3,5 3,9 4,9 3,9 100,0 2000 85,5 3,1 4,7 2,4 4,2 100,0

direstrukturisasi dari BPPN ke perbankan.

Kategori Kualitas

Pembiayaan Usaha Kecil Sejak diberlakukannya pasal 74 UU No. 23 tahun 1999, kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami perubahan yang mendasar. Bank Indonesia tidak lagi memberikan bantuan keuangan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) kepada dunia usaha termasuk UKM dan sumber pembiayaan untuk usaha kecil selanjutnya berasal dari Pemerintah dan perbankan. Adapun kebijakan pengembangan usaha kecil Bank Indonesia

NPLs), turun dari 32,8% pada posisi Desember 1999 menjadi 18,8% pada akhir tahun laporan (Grafik 7.2). Sementara itu, apabila NPLs memperhitungkan PPAP yang dibentuk (Net NPLs) nilainya menjadi sebesar 5,8% pada akhir tahun laporan. Secara nominal perkembangan NPLs juga turun dari Rp91,1 triliun pada Desember 1999 menjadi Rp83,9 triliun pada akhir tahun laporan. Perbaikan tersebut antara lain dipengaruhi adanya ekspansi kredit baru yang menambah jumlah kredit yang tergolong Lancar dan adanya pengalihan kredit macet ke BPPN. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai target 5,0% NPLs pada tahun 2001, di antaranya adalah percepatan restrukturisasi kredit, peningkatan

selanjutnya meliputi : (i) peningkatan bantuan teknis kepada usaha kecil dan mikro melalui kegiatan penelitian, pelatihan dan sosialisasi; (ii) kebijakan di bidang perbankan dengan : a) mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit ke usaha kecil, b) mendorong perbankan untuk melakukan diversifikasi portofolio kredit melalui peningkatan pangsa kredit kepada usaha kecil dan mikro, c) mendorong perbankan untuk melakukan pemberian kredit dengan bunga pasar, dan d) pengembangan kelembagaan perbankan antara lain pengembangan BPR dan bank yang beroperasi dengan prinsip syariah. (iii) memfasilitasi sistem informasi usaha kecil melalui Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem

% dari total kredit 60 50 40 30 20

Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE) (Boks : SIB dan SIABE). Untuk kesinambungan pembiayaan kredit program, Bank Indonesia telah melaksanakan kebijakan-kebijakan melalui mekanisme: (i) Pembelian Surat Utang Pemerintah (SUP) sesuai dengan Keppres No. 176 tahun 1999 tanggal 28 Desember 2000.

10 0
Des Mar Juni Sep Des Mar Jun Sep Des

SUP tersebut dibeli oleh Bank Indonesia dengan nilai maksimum Rp10,0 triliun dan dapat dicairkan secara bertahap berdasarkan jumlah KLBI yang akan jatuh tempo pada tahun 2000-2001. Sampai dengan periode Grafik 7.2 Perkembangan NPLs Desember 2000, SUP yang dapat dicairkan adalah sebesar Rp2,4 triliun dan sudah dicairkan oleh Pemerintah adalah

1998

1999

2000

118

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Rp850 miliar, sehingga dana yang masih dapat dicairkan sejumlah Rp1,5 triliun. (ii) Mekanisme relending, yakni pengelolaan dana angsuran KLBI oleh BUMN koordinator sampai dengan KLBI dimaksud jatuh tempo dengan menyalurkan kembali angsuran KLBI tersebut kepada perbankan melalui skim-skim kredit program yang ada. Sampai dengan periode Desember 2000, dana angsuran yang siap disalurkan kembali oleh 3 BUMN koordinator yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), BRI dan BTN sebesar Rp1,5 triliun (iii) Penyediaan KLBI untuk proyek-proyek yang sudah memperoleh komitmen pembiayaan dari Bank Indonesia sebelum adanya pengalihan KLBI. Dari hal-hal di atas tercermin bahwa Bank Indonesia masih tetap memiliki komitmen yang tinggi dalam mendukung pengembangan usaha kecil baik melalui SUP dan relending maupun melalui pemberian bantuan teknis. Namun demikian, dalam beberapa hal pelaksanaannya masih mengalami berbagai kendala, khususnya pemanfaatan dana tersebut oleh perbankan yang belum optimal. Dana yang belum dimanfaatkan dari SUP dan relending masing-masing sebesar Rp1,5 triliun sehingga jumlah totalnya menjadi sebesar Rp3,0 triliun. Dalam upaya untuk mengatasi kendala tersebut , Bank Indonesia telah melakukan koordinasi dengan BUMN koordinator dan instansi terkait. Koordinasi tersebut akan terus dilanjutkan pada tahun mendatang. Selain itu, dalam rangka mendukung pengembangan usaha kecil tersebut, Bank Indonesia akan melakukan kajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan relending oleh BUMN koordinator. Dalam pada itu, sebagai pengganti skim Kredit Usaha Tani (KUT) , Pemerintah telah menerbitkan skim Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang pendanaan dan risiko kreditnya ada pada bank, sedangkan Pemerintah memberikan subsidi bunga. Dalam rangka mendorong pengembangan usaha kecil Bank Indonesia melaksanakan beberapa kegiatan penelitian. Kegiatan tersebut antara lain melakukan penelitian mengenai Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) khusus pembiayaan kelapa sawit, penelitian mengenai pengalihan bantuan teknis, dan penelitian mengenai studi tunggakan

Pengembangan Hubungan Bank dan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) serta penelitian mengenai pelaksanaan peraturan kredit usaha kecil. Penelitian evaluasi efektivitas KKPA yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan KKPA kelapa sawit, memberikan kesimpulan bahwa program KKPA mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja meskipun masih perlu untuk ditingkatkan lagi. Dari hasil penelitian, bank responden yang terlibat dalam penyaluran KKPA telah melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sementara itu, penelitian mengenai pengalihan bantuan teknis bertujuan untuk mengetahui kemungkinan lembaga yang dapat menggantikan fungsi Bank Indonesia dalam bantuan teknis. Hasil penelitian tersebut merekomendasikan : (i) bantuan teknis tetap dilaksanakan oleh Bank Indonesia, (ii) penggabungan aktivitas dari lembaga yang memungkinkan seperti BPD dan PT PNM, (iii) bantuan teknis selanjutnya dilakukan oleh lembaga baru. Selanjutnya, penelitian mengenai studi tunggakan kredit PHBK ditujukan untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan peningkatan tunggakan kredit PHBK, yakni proses pembentukan kelompok yang kurang baik, persepsi anggota kelompok yang salah, seleksi anggota kurang ketat, rendahnya partisipasi kelompok, menurunnya kegiatan ekonomi dan musibah/bencana alam. Faktor-faktor yang mempengaruhi tunggakan kredit PHBK secara uji statistik meliputi jumlah tenaga kerja yang menerima pelatihan, jumlah kelompok yang dilayani, motivasi bank dalam kegiatan PHBK, dan kegiatan penelitian (investigasi) kepada kelompok sebelum menerima kredit. Variabel tabungan beku18) dan kondisi moneter secara relatif tidak mempengaruhi tunggakan PHBK. Selain melakukan penelitian di atas, Bank Indonesia juga aktif mensosialisasikan pentingnya pemberian kredit usaha mikro, kecil dan menengah yang bertujuan untuk mendorong peningkatan pemberian kredit Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dalam bidang bantuan teknis, dilaksanakan kegiatan pelatihan Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro (PUKM) dan

18) Tabungan beku adalah tabungan yang diblokir untuk digunakan sebagai agunan kredit.

119

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

sosialisasi lending model dari berbagai komoditi unggulan yang dapat dikembangkan oleh usaha kecil. Selanjutnya untuk mengkaji pelaksanaan peraturan kredit usaha kecil (KUK), telah dilakukan penelitian kepada bank-bank responden dengan hasil sebagai berikut : (i) penyaluran KUK dinilai menguntungkan karena tingkat kemacetan relatif kecil, penyebaran risiko, marjin keuntungan lebih besar, tidak rentan terhadap

pemberian KUK, luas jaringan kantor dan pendelegasian wewenang memutus kredit. Sementara itu dari sisi eksternal antara lain : kebijakan pemerintah dalam pengembangan UKM, jumlah usaha kecil dan ketentuan KUK dari Bank Indonesia. Dalam pada itu, faktor-faktor yang menghambat dalam pemberian KUK adalah persyaratan izin usaha/ NPWP dan adanya agunan tambahan. Dari hasil penelitian KUK tersebut, dilakukan penyempurnaan KUK dimana pemberian KUK tidak lagi merupakan kewajiban bagi perbankan namun lebih bersifat anjuran. Sementara itu, pemberian KUK oleh perbankan pada tahun laporan telah mengalami peningkatan, yaitu tumbuh sebesar 52,8% sehingga menjadi Rp56,9 triliun (Tabel 7.9). Dengan perkembangan tersebut, sampai akhir tahun 2000 rasio penyaluran KUK meningkat dari 7,1% menjadi 7,7% dari total kredit yang disalurkan.

perubahan suku bunga dan ketaatan dalam pembayaran kewajiban, (ii) ketentuan KUK dianggap masih relevan namun perlu penyesuaian-penyesuaian antara lain keringanan denda penalti dan persentase KUK disesuaikan dengan kemampuan atau karakteristik bank masing-masing, serta plafon KUK diusulkan untuk dinaikkan sampai dengan Rp500 juta, (iii) faktor-faktor internal yang mempengaruhi dalam pemberian KUK meliputi : penyederhanaan prosedur

Permodalan
Tabel 7.9 Perkembangan Kredit Usaha Kecil
Posisi (Triliun rupiah) 1998 Menurut Jenis Penggunaan Modal Kerja Investasi Konsumsi Menurut Sektor Ekonomi Pertanian Perindustrian Perdagangan, Restoran & Hotel Jasa–jasa Lain–lain Menurut Kelompok Bank Bank BUMN BUSN Devisa BUSN Non Devisa BPD Bank Campuran dan Asing 10,7 5,6 19,9 45,6 27,3 12,9 1,9 3,4 0,1 8,8 3,4 16,2 37,2 25,4 5,9 1,8 4,1 0,07 10,3 4,7 30,9 56,9 30,8 12,3 5,1 8,7 0,1 (17,8) (39,3) (18,6) (18,4) (7,0) (54,3) (5,3) 20,6 (30,0) 17,3 37,9 90,5 52,8 21,1 108,9 180,8 111,0 0,4 18,2 8,2 54,3 100,0 54,1 21,7 8,9 15,2 0,1 45,6 17,6 8,3 19,7 45,6 7,6 1,8 1999 37,2 15,7 5,4 16,1 37,2 7,7 1,1 2000 56,9 22,5 7,5 26,8 56,9 9,3 1,7 Pertumbuhan Pangsa (%) (%) 1999 (18,4) (10,8) (34,9) (18,3) (18,4) 1,3 (38,9) 2000 52,8 43,4 39,4 66,6 52,8 20,5 55,2 2000 100,0 39,6 13,2 47,2 100,0 16,3 3,0
Triliun Rp 80 40 0 –40 –80 –120 –160 –200 –240 –280 –320
IV I II III IV I

Sejalan dengan telah diselesaikannya program rekapitalisasi, permodalan bank meningkat sangat signifikan, dari negatif Rp41,2 triliun pada Desember 1999 menjadi positif Rp53,5 triliun di akhir tahun laporan, dengan kepemilikan mayoritas modal perbankan oleh pemerintah (Grafik 7.3. dan Boks : Kepemilikan

Penyebaran KUK

Bank Kategori A Bank Rekapitalisasi BTO Bank BUMN BPD Bank Campuran Bank Asing Seluruh Bank
II III IV

1998

1999

2000

Grafik 7.3 Perkembangan Permodalan Bank

120

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pemerintah di Perbankan Nasional). Selain faktor rekapitalisasi perbankan, peningkatan modal bank juga disebabkan oleh peningkatan laba. Dilihat dari kelompok bank, sejak akhir triwulan kedua tahun laporan modal semua kelompok bank tercatat sudah positif. Modal terbesar dimiliki oleh kelompok bank BUMN sebesar Rp21,3 triliun, sedangkan modal terkecil dimiliki oleh bank asing yaitu sebesar Rp0,7 triliun. Namun demikian, dalam
-60 Triliun Rp 40 20 0 -20 -40

tahun laporan masih terdapat beberapa bank yang mempunyai CAR di bawah 4%, yang terdiri dari sebuah bank besar dan beberapa bank kecil serta BPD. Hal ini sebagai akibat masih rendahnya pemberian kredit sehingga tidak dapat menutup biaya operasi bank-bank tersebut. Usaha peningkatan permodalan bank, terutama yang masih di bawah ketentuan minimum terus dilakukan di antaranya dengan meminta para pemilik bank untuk menambah modal disetor maupun dengan melakukan merger. Selanjutnya, dalam rangka pemantauan CAR terhadap beberapa faktor yang mempengaruhinya, Bank Indonesia melakukan kajian stress test (Boks : Stress Test CAR Perbankan terhadap Perubahan Suku Bunga dan Nilai Tukar). laba usaha. Laba yang berhasil diperoleh perbankan mencapai Rp10,5 triliun. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 1999 yang mengalami kerugian kumulatif sebelum pajak sebesar Rp91,7 triliun (Grafik 7.4). Laba tersebut terutama berasal dari laba nonoperasional sebesar Rp11,2 triliun, sementara laba operasional masih tercatat negatif Rp0,7 triliun. Laba Profitabilitas Dalam tahun laporan, kegiatan perbankan sudah menunjukkan perbaikan yang tercermin pada peningkatan nonoperasional terutama berasal dari keuntungan selisih kurs akibat melemahnya nilai tukar dan adanya koreksi PPAP berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh dari kredit yang telah dihapusbukukan. Meskipun laba operasional negatif, namun pendapatan
Triliun Rp 50 25 0 –25 –50 –75 –100 –125 –150 –175 –200
IV I II III IV I II III IV

-80
Des Feb Apr Jun 1999 Ags Okt Des Feb Apr Jun 2000 Ags Okt Des

Grafik 7.5 Perkembangan Net Interest Margin

bunga perbankan yang tercermin dari NIM masih mengalami peningkatan yang cukup berarti dari negatif Rp38,6 triliun menjadi positif Rp22,8 triliun (Grafik 7.5). Sejak triwulan II tahun laporan, seluruh kelompok bank telah berhasil mencapai NIM yang positif. Positifnya NIM perbankan sejalan dengan positive spread yang sudah dicapai bank sejak pertengahan tahun
Laba/Rugi Operasional Laba/Rugi Nonoperasional Laba Rugi Sebelum Pajak

1999 dan adanya tambahan pendapatan dari bunga obligasi pemerintah. NIM ini diharapkan akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan fungsi intermediasi perbankan. Lembaga Keuangan Lainnya Membaiknya kondisi ekonomi dalam tahun laporan telah memberikan pengaruh positif terhadap kinerja lembaga

1998

1999

2000

Grafik 7.4 Perkembangan Laba/Rugi Perbankan

121

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

keuangan lainnya. Sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan, sumber dana perusahaan pembiayaan yang berasal dari perbankan meningkat sehingga memberikan kemampuan untuk meningkatkan nilai kegiatan usahanya. Sementara itu, proses penyaluran kredit perbankan yang belum sepenuhnya pulih sebagaimana sebelum krisis, telah memberikan peluang kepada perusahaan pegadaian untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan kepada masyarakat menengah kebawah, khususnya kredit yang berjangka waktu pendek.

negeri. Seiring dengan membaiknya kondisi perbankan dan mulai meningkatnya konsumsi masyarakat khususnya untuk pembelian kendaraan bermotor, pinjaman yang diperoleh perusahaan pembiayaan dari bank dalam negeri meningkat sebesar 4,2% sehingga menjadi Rp11,2 triliun. Dalam tahun 2000 sebagian besar dana perusahaan pembiayaan disalurkan dalam bentuk pembiayaan, yaitu sebesar 76,4% dari seluruh total dana atau sebesar Rp26,1 triliun (Tabel 7.10). Sejalan dengan membaiknya ekonomi nasional, kegiatan pembiayaan yang dilakukan perusahaan ini meningkat sebesar 17,5% dibandingkan tahun sebelumnya

Perusahaan Pembiayaan Secara umum, kinerja perusahaan pembiayaan dalam tahun 2000 mengalami perbaikan dibanding dengan periode sebelumnya. Hal ini tercermin dari meningkatnya total nilai kegiatan usaha yang sampai dengan Oktober 2000 naik sebesar 17,5% dibanding tahun sebelumnya. Dalam tahun laporan jumlah perusahaan yang masih memiliki izin usaha masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 245 perusahaan. Sementara itu, dalam upaya mengembangkan perusahaan pembiayaan, pemerintah telah mengeluarkan surat keputusan mengenai perusahaan pembiayaan (multifinance) yang mengatur mengenai pemberian izin bagi pendirian perusahaan pembiayaan baru.19) Dalam periode laporan, seluruh jenis kegiatan usaha perusahaan pembiayaan mengalami peningkatan kecuali pembiayaan anjak piutang yang menurun sebesar 16,8%.

sehingga menjadi Rp26,1 triliun. Beberapa bentuk usaha pembiayaan yang ditengarai mulai berkembang dalam tahun 2000 antara lain adalah sewa guna usaha (bidang pertambangan, kehutanan, pertanian), dan pembiayaan konsumen seperti untuk pembelian kendaraan yang disalurkan bank melalu sistem chanelling kepada perusahaan pembiayaan. Sementara itu, simpanan pada bank yang dimiliki perusahaan pembiayaan mengalami penurunan sebesar 16,0%. Terjadinya shifting penyaluran dana dari simpanan di bank mengindikasikan mulai menariknya aktivitas kegiatan usaha dibanding penanaman di bank.

Tabel 7.10 Sumber dan Penggunaan Dana Perusahaan Pembiayaan
Posisi Rincian (Triliun rupiah) 1998 Sumber dana Pinjaman bank dalam negeri Pinjaman bank luar negeri Pinjaman diterima lainnya d.n. Pinjaman diterima lainnya l.n. Modal 2) Lain-lain Penggunaan dana Pembiayaan Simpanan pada bank Penyertaan Lain-lain 43,6 14,4 16,4 3,0 2,7 1,3 5,9 43,6 29,5 6,0 0,3 7,8 1999 30,2 10,7 8,6 3,7 2,3 (1,3) 6,3 30,2 22,2 5,1 0,1 2,8 20001) 34,1 11,2 7,9 4,2 4,0 (0,8) 7,7 34,1 26,1 4,3 0,9 2,9 1999 0,0 –25,2 –47,7 25,3 –17,6 –202,7 7,7 –30,7 –24,9 –15,1 –63,3 –63,9 Pertumbuhan (%) 2000 12,9 4,2 –7,3 11,9 76,7 37,5 22,5 12,9 17,5 –16,0 822,7 2,1

Peningkatan terbesar terjadi pada pembiayaan konsumen yaitu naik sebesar 64,5%. Dilihat dari komposisinya, kegiatan usaha perusahaan pembiayaan masih didominasi oleh sewa guna usaha, yaitu mencapai 50,1% dari total pembiayaan. Pangsa kegiatan usaha lainnya adalah pembiayaan konsumen sebesar 27,3%, anjak piutang 20,5%, dan kartu kredit sebesar 1,5%. Dilihat dari sumber dana, dalam tahun 2000 dana yang dihimpun perusahaan pembiayaan meningkat sebesar Rp3,9 triliun atau naik 12,9% (Tabel 7.11). Sumber utama pendanaan perusahaan pembiayaan berasal dari pinjaman bank dalam
19) Keputusan Menteri Keuangan No. 448/KMK.017/2000 tanggal 27 Oktober 2000, tentang Perusahaan Pembiayaan.

1) Oktober 2) Modal bersih setelah ditambah/dikurangi laba/rugi tahun berjalan

122

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 7.11 Perkembangan Perusahaan Pembiayaan
Posisi Rincian 1998 Jumlah perusahaan2) 245 (Triliun rupiah) 1999 245 20001) 245 1999 Pertumbuhan (%) 2000

Tabel 7.12 Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif
1998 L Pembiayaan Sewa Guna Usaha 72,8 15,2 5,6 37,9 12,0 27,2 2,6 70,3 36,3 31,4 10,3 5,2 3,8 19,4 58,5 64,7 69,2 28,5 52,9 11,9 4,2 1,6 18,9 67,3 45,4 D M L 1999 D M L 2000 D M

Nilai kegiatan usaha Sewa guna usaha Pembiayaan anjak piutang Pembiayaan kartu kredit Pembiayaan konsumen Lainnya

29,5 15,6 8,0 0,4 5,2 0,3

22,2 10,9 6,4 0,3 4,3 0,2

26,1 13,1 5,3 0,4 7,1 0,2

–24,8 –29,9 –19,9 –15,9 –16,9 –33,3

17,5 19,5 –16,8 14,2 64,5 –9,0

Anjak Piutang 67,1 Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen 92,6 59,5

2,9

4,6

90,9

2,4

6,7

93,7

1,9

4,5

Surat Berharga yang dimilki Penyertaan 85,2 61,4 5,6 0,0 9,2 38,6 88,5 97,8 2,4 0,0 9,0 2,2 87,3 97,5 0,2 0,0 12,5 2,5

Posisi pinjaman Dalam negeri – Bank – Bukan Bank Luar Negeri

36,4 17,3 14,4 3,0 19,1

25,2 14,4 10,7 3,7 10,8

27,2 15,3 11,2 4,2 11,9

–30,7 –16,9 –25,5 25,2 –43,4

7,9 6,2 4,2 11,9 10,2

L = Lancar D = Diragukan M = Macet

pangsa aktiva produktif yang bermasalah, yaitu kategori dira1) Oktober 2) Satuan

gukan dan macet, menurun sebesar 1,6% dari tahun sebelumnya sehingga menjadi 32,2% (Grafik 7.6). Dilihat dari jenis pembiayaan yang diberikan dalam tahun laporan, kualitas aktiva terburuk terjadi pada pembiayaan anjak piutang yaitu dengan pangsa kategori macet mencapai 67,3%. Sedangkan aktiva produktif yang terbaik adalah pembiayaan konsumen dengan porsi hanya sebesar 4,5% (Tabel 7.12).

Dalam tahun laporan, kualitas aktiva produktif yang terdiri dari sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, pembiayaan konsumen, surat berharga, dan penyertaan menunjukkan sedikit perbaikan. Sampai dengan Oktober 2000,

% 80

Pegadaian Dalam tahun 2000 kinerja perusahaaan umum pegadaian

60

menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan

40

jangkauan pelayanan yang didorong pula oleh belum pulih sepenuhnya kondisi perbankan nasional. Dalam konteks peningkatan pelayanan, perusahaan pegadaian mampu

20

0 1998 Lancar 1999 Diragukan 2000 Macet

menambah cabang dari 650 unit menjadi 700 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Kondisi perbankan nasional yang masih menjalani proses penyehatan dan sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat, membuat pegadaian masih menjadi alternatif untuk mendapatkan pinjaman dengan cepat dan mudah, khususnya bagi

Grafik 7.6 Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif

123

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

masyarakat kecil dan menengah. Secara umum, pinjaman yang dimanfaatkan dari pegadaian adalah pinjaman dengan jangka waktu pendek. Peningkatan aktivitas usaha pegadaian tercermin dari omzet kegiatan usaha atau pinjaman yang diberikan, jumlah nasabah, dan penurunan kredit yang tidak dilunasi. Sampai dengan Desember 2000, omzet usaha pegadaian meningkat sebesar 31,0% dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sehingga menjadi Rp4,2 triliun (Tabel 7.13). Namun demikian, pendapatan utama usaha pegadaian mengalami penurunan sebesar 13,2% sehingga menjadi Rp370,1 miliar. Jasa sewa modal mengalami penurunan sebesar 14,7% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan sewa modal terjadi karena adanya penurunan tarif sewa modal yang berlaku mengikuti penurunan bunga bank. Walaupun demikian, jasa sewa modal memberikan kontribusi terbesar pada pendapatan usaha yang mencapai 92,4%. Dari jumlah nasabah, dalam tahun laporan terjadi pertumbuhan sebesar 4,5% sehingga mencapai 12,9 juta nasabah. Dominasi terbesar nasabah pegadaian adalah nasabah dengan kategori A (nasabah kredit dengan plafon Rp5.000–Rp40.000) yaitu sekitar 37,1%. Sebagian besar kredit pegadaian disalurkan kepada masyarakat menengah ke bawah dengan profesi karyawan industri, nelayan, petani, dan pedagang. Sementara itu, kredit yang tidak dilunasi oleh nasabah pegadaian sebagaimana tercermin dari nilai barang lelang, turun sebesar 57,6 % menjadi Rp38,9 miliar pada akhir tahun (Tabel 7.13). Hal ini disebabkan sebagian besar barang yang dijadikan jaminan kembali ditebus oleh para debitur. Dari sisi sumber dana, sebagian besar pendanaan pegadaian dibiayai dari penerbitan obligasi dan modal, masing-masing sebesar 38,1% dan 31,2% dari total dana. Pada Maret 2000, pegadaian mengalihkan pinjaman obligasi sebesar Rp99 miliar menjadi pinjaman jangka pendek, dan melunasi pinjaman kepada Bank Indonesia sebesar Rp90 miliar. Pengalihan ini dilakukan karena obligasi III dengan nominal Rp100 miliar akan jatuh tempo pada tahun 2001. Sedangkan pelunasan utang kepada Bank Indonesia dilakukan sehubungan dengan dikeluarkannya UU No. 23 tahun 1999 yang melarang Bank Indonesia menyalurkan kredit program. Selanjutnya pada tanggal 27 Juni 2000, pegadaian melakukan Emisi Obligasi ke-VII sebesar Rp150 miliar guna menambah modal kerja.
1) Data Desember 2000 sebelum audit 2) Orang

Tabel 7.13 Perkembangan Kinerja Pegadaian
Rincian Omset Pendapatan Usaha : Sewa Modal Jasa Taksiran Jasa Titipan Pendapatan Penyimpanan dan Asuransi Posisi Pasiva Kewajiban Jangka Pendek Utang Bank Lainnya Utang Obligasi Utang Jangka Panjang Ekuitas Nilai Barang Lelang Jumlah Nasabah 2)

1998

1999
Juta rupiah

2000*)

2.008.187 341.040 319.520 27 43 21.450 401.552 387.487 14.065 264.600 100.000 371.273

3.229.280 426.338 401.030 18 7 25.283 197.424 180.340 17.084 399.600 100.000 407.666

4.230.778 370.100 341.933 13 9 28.145 342.850 312.083 30.767 549.600 100.000 450.397 38.943 12.982.306

21.869 91.712 10.277.584 12.427.554

124

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Sensitivitas Suku Bunga Deposito
Belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan menyebabkan suku bunga SBI dan penjaminan deposito menjadi kurang efektif dalam mempengaruhi suku bunga perbankan. Kenaikan suku bunga SBI dan kenaikan suku bunga penjaminan deposito tidak diikuti secara proporsional oleh kenaikan suku bunga deposito. Respon suku bunga deposito terhadap kenaikan suku bunga tersebut bersifat asimetri. Artinya, walaupun terjadi kenaikan suku bunga SBI dan suku bunga penjaminan deposito, namun suku bunga deposito perbankan relatif tidak berubah. Sebaliknya, ketika suku bunga SBI turun, suku bunga SBI baru digunakan sebagai patokan dalam penentuan suku bunga deposito (Grafik 1). Untuk mengetahui pengaruh perubahan suku bunga SBI dan penjaminan deposito terhadap suku bunga deposito dilakukan analisis sensitivitas dengan pendekatan elastisitas. Analisis sensitivitas suku bunga deposito 1 bulan dilakukan masing-masing terhadap perubahan suku bunga SBI 1 bulan dan terhadap suku bunga penjaminan deposito 1 bulan. Data yang digunakan adalah data series mingguan, minggu IV Mei 1999 sampai dengan minggu IV Desember 2000. Data series tersebut dibagi dalam 2 periode pengamatan: periode I yaitu minggu IV Mei 1999 – minggu II Juni 2000; dan periode II yaitu minggu III Juni 2000 - minggu IV Desember 2000). Pembagian periode didasarkan besarnya pengaruh perubahan suku
Suku Bunga (%) 32,0 28,0 24,0 20,0 16,0 12,0 8,0
Mei Jul. Sep. Okt. Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov.

bunga SBI dan suku bunga penjaminan terhadap suku bunga deposito secara grafis. Pada periode I, perubahan suku bunga SBI atau suku bunga penjaminan berpengaruh cukup signifikan terhadap suku bunga deposito. Sedangkan pada periode II, perubahan suku bunga SBI atau suku bunga penjaminan deposito tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap suku bunga deposito. Hasil simulasi perhitungan elastisitas pada dua periode pengamatan menghasilkan elastisitas yang berbeda (Tabel 1). Elastisitas suku bunga deposito terhadap suku bunga SBI berbeda ketika bunga SBI turun dan ketika bunga SBI naik. Pada saat suku bunga SBI turun (periode I), respon suku bunga deposito sangat tinggi yang ditunjukkan oleh nilai elastisitasnya sebesar 0,88. Hal ini berarti setiap penurunan suku bunga SBI sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan suku bunga deposito sebesar 0,88%. Sebaliknya, pada saat suku bunga SBI naik (periode II), respon perubahan suku bunga deposito menjadi sangat kecil yang tercermin dari nilai elastisitas 0,09. Hal ini berarti setiap kenaikan suku bunga SBI sebesar 1% hanya akan diikuti oleh kenaikan suku bunga deposito sebesar 0,09%. Tingkat elastisitas yang rendah ini menyebabkan spread antara suku bunga SBI dan suku bunga deposito semakin besar, apabila suku bunga SBI terus naik. Elastisitas suku bunga deposito terhadap perubahan pada suku bunga penjaminan deposito hampir sama dengan elastisitasnya terhadap suku bunga SBI di atas. Pada saat suku

Penjaminan 1 Bulan SBI 1 Bulan Rata-Rata Deposito 1Bulan

bunga penjaminan deposito turun (periode I) suku bunga

Tabel 1. Elastisitas Suku Bunga Deposito
Periode I Mei 1999 – Juni 2000
1999 2000

Periode II Juni 2000 – Oktober 2000 naik 1% naik 0,09% naik 1% naik 0,48%
○ ○ ○

Grafik 1. Suku Bunga Penjaminan Deposito, SBI dan Deposito

SBI 1 bulan Deposito 1 bulan Penjaminan Depo 1 bulan Deposito 1 bulan
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

turun 1% turun 0,88% turun 1% turun 0,67%

125

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Suku Bunga (%) 30,0 27,0 24,0 21,0 Penjaminan 1 Bulan SBI 1 Bulan Rata-Rata Depo 1 Bulan

Suku Bunga (%) 15,0 14,0 13,0 12,0

18,0 15,0 12,0 9,0
Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei

11,0 10,0 9,0
Juni Juli Agustus September Oktober November

1999

2000

2000 SBI 1 Bulan Penjaminan 1 Bulan Rata-Rata Depo 1 Bulan

Grafik 2. Suku Bunga pada Periode I deposito memiliki elastisitas sebesar 0,67. Hal ini berarti, setiap 1% penurunan suku bunga penjaminan deposito akan diikuti oleh penurunan suku bunga deposito sebesar 0,67%. Sebaliknya, pada saat suku bunga penjaminan deposito meningkat (periode II), elastisitas suku bunga deposito 0,48. Hal ini berarti, setiap 1% kenaikan suku bunga penjaminan deposito, maka perbankan akan menaikkan suku bunga deposito sebesar 0,48%. Pada periode suku bunga SBI turun, perbankan benarbenar menggunakan SBI sebagai patokan dalam pembentukan suku bunga dananya, mengingat bunga SBI merupakan salah satu sumber utama penerimaan perbankan dalam kondisi belum normalnya fungsi intermediasi perbankan, sedangkan suku bunga penjaminan dijadikan sebagai batas atas. Perubahan perilaku perbankan dalam penentuan suku bunga depositonya dapat dilihat dari perbedaan Grafik 2 dan 3. Sebelum minggu ke II Juni 2000, suku bunga SBI selalu berada

Grafik 3. Suku Bunga pada Periode II di bawah suku bunga penjaminan (Grafik 2). Namun sejak suku bunga SBI terus mengalami kenaikan, kondisi yang terjadi adalah sebaliknya yaitu suku bunga SBI menjadi lebih besar dari suku bunga penjaminan (Grafik 3). Hal ini antara lain disebabkan penentuan suku bunga penjaminan didasarkan pada pergerakan suku bunga deposito anggota JIBOR + 200 bps. Sedangkan suku bunga SBI ditentukan atas dasar keputusan lelang dari bidding yang dilakukan perbankan secara keseluruhan. Sementara itu, penentuan suku bunga deposito ditentukan berdasarkan kebutuhan likuiditas dan pendanaan perbankan. Suku bunga penjaminan hanya dijadikan batas atas bagi perbankan apabila diperlukan. Oleh karena itu, pada saat suku bunga SBI naik, suku bunga deposito (termasuk suku bunga deposito anggota JIBOR) cenderung tetap. Hal ini mengakibatkan kenaikan suku bunga SBI lebih cepat dari kenaikan suku bunga penjaminan.

126

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) dan Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE)
Dengan telah diberlakukannya UU No.23 tahun 1999, Bank Indonesia tidak dapat memberikan kredit likuiditas dalam rangka kredit program untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM). Namun Bank Indonesia tetap memperhatikan perkembangan UKM mengingat peranan sektor ini sangat penting dalam perekonomian khususnya dalam penyerapan tenaga kerja. Disamping itu pengalaman Bank Indonesia dalam mengembangkan UKM serta pengembangan yang telah dilakukan merupakan modal yang sangat berharga dalam melanjutkan komitmen Bank Indonesia. Salah satu perwujudan dari pelaksanaan kebijakan pengembangan UKM Bank Indonesia adalah dengan pemberian informasi berkenaan dengan kondisi dan potensi usaha kecil pada semua sektor ekonomi di wilayah Indonesia. Hal ini antara lain dilakukan dengan memasyarakatkan hasil Baseline Economic Survey (BLS) yang selama ini telah dilakukan bersama beberapa Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi, di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Hasil BLS tersebut disosialisasikan melalui SIB. SIB adalah sistem informasi yang dirancang berdasarkan hasil studi BLS dan dikembangkan untuk memasyarakatkan informasi hasil studi tersebut. SIB menyajikan informasi yang mencakup identifikasi usaha kecil yang potensial pada semua sektor ekonomi di suatu daerah beserta infor masi pendukungnya. SIB juga memberikan manfaat bagi pemerintah maupun swasta khususnya kalangan perbankan dalam rangka pengembangan dan pembinaan usaha kecil, pembinaan program kemitraan terpadu serta promosi investasi pada berbagai sektor usaha di suatu daerah. Sebagai upaya lebih memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar, laporan hasil penelitian BLS tersebut dimasukkan dalam sistem informasi elektronik internet yang dapat diakses secara mudah oleh pihakpihak yang memerlukannya. SIB dapat diakses melalui website Bank Indonesia http://www.bi.go.id atau ke http :// sib.bi.go.id. Secara garis besar, informasi yang disajikan dalam SIB meliputi : (i) Daftar Skala Prioritas, yakni daftar komoditi/ sektor usaha pada tingkat Kecamatan di suatu Kabupaten/ Propinsi berdasarkan potensi pengembangannya yang meliputi 7 aspek yakni pemasaran, wirausaha, teknik produksi, pertumbuhan/ keterkaitan sektoral, prasarana darah dan kebijakan pemerintah yang mendukung, (ii) Daftar Komoditi Prioritas Kemitraan Terpadu, yakni daftar komoditi/ sektor usaha yang berada dalam kategori Sangat Potensial dan Potensial pada tingkat Kecamatan di suatu Kabupaten/Propinsi beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Selain SIB, Bank Indonesia juga mengembangkan SIABE yakni sistem informasi yang dirancang untuk membantu pengguna dalam mendapatkan informasi yang lengkap tentang produk-produk agroindustri yang telah diekspor ke berbagai negara tujuan. Informasi yang dapat diperoleh dari SIABE adalah daerah asal komoditi, teknologi pengolahan, daftar eksportir, pasar ekspor dan standar mutu produk. Dengan adanya SIABE ini diharapkan iklim investasi di bidang pertanian dan agroindustri semakin membaik dan proses pengambilan keputusan baik di perbankan maupun instansi yang terkait untuk menentukan kebijakan investasi di bidang agroindustri menjadi semakin mudah, cepat dan akurat. Untuk tahap awal SIABE baru mencakup 11 komoditi agroindustri yaitu teh, coklat, jambu mete, kelapa sawit, kopi, ikan, udang, kulit hewan, ubi kayu, ukiran kayu dan kayu manis (cassiavera). SIABE baru meliputi 3 propinsi yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan yang selanjutnya akan dikembangkan untuk seluruh propinsi di Indonesia. SIABE dapat diakses melalui website Bank Indonesia http:// www.bi.go.id atau ke http ://siabe.bi.go.id.

127

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Stress Test CAR Perbankan terhadap Perubahan Suku Bunga dan Nilai Tukar
Dalam upaya memonitor sensitivitas Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap faktor-faktor yang mengakibatkan kerugian bank, Bank Indonesia telah melakukan stress test1) terhadap beberapa bank yang secara sistemik sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Faktor-faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap kerugian bank meliputi perubahan suku bunga dan nilai tukar. Stress test ini juga menjadi salah satu rekomendasi dari komite pengawasan bank di BIS dalam menerapkan manajemen risiko di perbankan. Stress test atas pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap CAR bank dilakukan dengan mempertimbangkan Net Open Position (NOP) untuk setiap posisi mata uang dan beberapa skenario depresiasi nilai tukar rupiah terhadap setiap mata uang dimaksud. Dalam praktek biasanya digunakan kondisi paling buruk (worst case scenario) dan penurunan nilai tukar didasarkan pada skenario tertentu (hypothetical scenario). Dari hasil stress test nilai tukar ini akan diperoleh informasi tentang sensitivitas CAR bank terhadap berbagai kemungkinan penurunan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing sebagai bahan informasi bagi Bank Indonesia sebagai regulator maupun bank itu sendiri. Informasi ini dapat digunakan dalam pengambilan kebijakan moneter yang berkaitan dengan kondisi perbankan di Indonesia. Apabila berbagai skenario dimaksud berpengaruh cukup signifikan terhadap penurunan CAR, maka diharapkan bank akan menurunkan posisi NOP-nya. Berbeda dengan stress test penurunan nilai tukar, stress test kenaikan suku bunga menggunakan informasi sumber dan penempatan dana yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ketidaksesuaian jangka waktu (maturity) dan tingkat suku bunga dari sumber dan penempatan dana apabila terjadi perubahan suku bunga, akan menimbulkan risiko kerugian bagi bank. Setiap posisi sumber dan penempatan dana tersebut dikelompokkan menjadi beberapa time band yakni berdasarkan jatuh temponya apabila bunga tetap, dan berdasarkan waktu perubahan suku bunga (repricing date) apabila tingkat bunganya mengambang (floating). Dengan demikian akan diperoleh posisi long2) dan short3) untuk setiap time band. Kenaikan suku bunga akan menyebabkan keuntungan bagi bank yang mempunyai posisi long, dan kerugian bagi bank yang mempunyai posisi short. Berkaitan dengan pengaruh nilai tukar, bank yang memiliki posisi long, akan memperoleh keuntungan. Sebaliknya pada bank yang dalam keadaan short akan mengalami kerugian. Stress test yang dilakukan mengasumsikan bahwa rupiah akan terdepresiasi terhadap dolar AS dan suku bunga naik pada waktu yang bersamaan, sementara variabel-variabel lain diasumsikan tidak mengalami perubahan. Pengujian sensitivitas ini menggunakan sampel 27 bank yang mewakili bank BUMN, BTO, bank rekapitalisasi dan bank umum lainnya. Hasil pengujian dapat dilihat dalam Tabel. Dari hasil pengujian tersebut terlihat bahwa dampak depresiasi rupiah dan kenaikan suku bunga yang terjadi secara bersamaan akan berbeda antara satu bank dengan bank lain karena tergantung pada beberapa faktor, antara lain posisi long atau short. Sebagai akibatnya CAR bank dapat naik atau turun. Oleh karenanya informasi dari stress test ini sangat membantu pengelolaan likuiditas bank.
2) Posisi penempatan dana (sisi aktiva) lebih besar dari posisi sumber dana (sisi pasiva) pada neraca bank. 3) Posisi sumber dana (sisi pasiva) lebih besar dari posisi penempatan dana (sisi aktiva) pada neraca bank. Hasil Stress Test Sensitivitas Nilai Tukar & Suku Bunga terhadap CAR
Nilai Tukar Rupiah Turun & Suku Bunga Naik Rp 1.000 & 1% Rp 2.000 & 2% Rp 3.000 & 1% Rp 4.000 & 4% Rp 5.000 & 5% CAR Turun 0 s.d.1% 4 1 0 0 0 CAR Turun 1 s.d. 2% 3 3 3 3 1 CAR Turun 2 s.d. 5% 0 3 3 2 4 CAR Turun > 5% 1 1 1 3 3 CAR Naik 19 19 20 19 19

*) Kurs awal sebesar Rp9.530 (November 2000) dan suku bunga awal sebesar 11,25% (rata-rata suku bunga deposito 1 bulan pada November 2000)

1) Stress test adalah pengujian pengaruh volatilitas faktor-faktor suku bunga dan nilai tukar terhadap CAR perbankan dengan menggunakan skenario tertentu.

128

Bab 7 Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Boks : Kepemilikan Pemerintah di Perbankan Nasional

Sebagai tindak lanjut dari program restrukturisasi perbankan, seluruh proses rekapitalisasi perbankan melalui penerbitan obligasi pemerintah yang dimulai sejak Mei 1999 akhirnya telah berhasil diselesaikan pada Oktober 2000. Khusus sepanjang tahun laporan, telah dilaksanakan rekapitalisasi 6 bank umum, yaitu Bank Niaga, Bank Bali, Bank Danamon (merger dengan 8 Bank Take Over) serta penerbitan obligasi tahap 2 bagi BNI, BRI dan BTN. Obligasi yang telah diterbitkan selama tahun laporan berjumlah Rp148,6 triliun, sehingga sampai dengan akhir tahun 2000, total obligasi yang telah diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi bank-bank umum nasional sebesar Rp430,4 triliun. Sebagai konsekuensi dari hasil rekapitalisasi, kepemilikan pemerintah di perbankan nasional pada posisi akhir tahun 2000 mencapai 95,1% dari total permodalan perbankan nasional dengan CAR perbankan setelah direkapitalisasi mencapai 12,7% (lihat grafik). Kepemilikan pemerintah di bank-bank rekapitalisasi hanya bersifat sementara dan akan dilakukan divestasi secara berkala. Kepemilikan pemerintah dalam proses rekapitalisasi perbankan ini mempunyai dampak positif terhadap arah penyebaran kepemilikan perbankan di masa mendatang. Melalui rencana divestasi, diharapkan akan tercipta kepemilikan yang lebih merata. Pada gilirannya, hal ini akan memperkuat independensi pengurus bank, suatu elemen yang sangat penting dalam pengelolaan bank yang sehat. Pengalaman masa lalu menunjukkan konsentrasi kepemilikan bank oleh grup akan menganggu independensi pengelolaan bank. Secara umum divestasi direncanakan paling lambat lima tahun setelah dilakukan rekapitalisasi perbankan, sehingga diharapkan akan selesai dilakukan pada akhir tahun 2004. Divestasi kepemilikan pemerintah terhadap BCA dan Bank Niaga direncanakan akan dilakukan pada kuartal pertama

Nov.’00 Sep.’00 2001
8%

2004 Sep.’97 Jun.’97 Des.‘97 Jun.’98
4% 90% 4% Kepemilikan Pemerintah 70% 60% 50% –4% 40% 30% 20% 12%

Des.’00 Jun.’00
100%

Sep.’98
80%

Des. ‘99

Mar.’00 Nov.’99
–12%

Ags.’99 Des.’98
Capital Adequacy Ratio

–20%

Jul.’99

–28%

–36%

–44%

Mar.’99

–52%

Jun.’99 Rencana Aktual

–60%

Evolusi CAR dan Kepemilikan Pemerintah di Perbankan tahun 2001. Rencana divestasi tersebut akan dapat dilakukan sesuai dengan target apabila situasi perekonomian sudah sepenuhnya pulih kembali. Pulihnya perekonomian akan mendorong perbaikan kondisi bank yang pada akhirnya akan meningkatkan harga saham bank. Selama ini pemerintah melihat bahwa penawaran harga dari calon investor tidak sesuai dengan harapan pemerintah, sehingga rencana divestasi dimaksud belum dapat terlaksana sesuai dengan yang direncanakan semula.

129

Bab 8

Sistem Pembayaran Nasional

bab

8
S

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Sistem Pembayaran Nasional

eperti telah diamanatkan dalam Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indone-

pemantapan tindakan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya Masalah Komputer Tahun 2000 (MKT2000) sehubungan dengan pergantian tahun 1999 ke tahun 2000. Di samping itu, penyempurnaan berbagai peraturan dan ketentuan lalu lintas pembayaran dan kliring, serta audit terhadap jaringan komputer Bank Indonesia (BI-Net) untuk mengantisipasi keamanan jaringan/sistem diseluruh kantor Bank Indonesia dalam rangka implementasi sistem RTGS juga dilakukan. Pada tahun 2000, Bank Indonesia meningkatkan penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan kebutuhan masyarakat akan uang kartal. Kenaikan kebutuhan uang kartal tersebut, selain disebabkan oleh peningkatan kegiatan ekonomi, juga diakibatkan oleh adanya kekhawatiran masyarakat dalam menghadapi tanggal-tanggal kritis di awal tahun 2000 yang berkaitan dengan MKT2000. Di samping itu, dalam rangka standardisasi ukuran uang kertas rupiah dan peningkatan pengamanannya, Bank Indonesia telah menerbitkan emisi baru uang kertas pecahan Rp1.000,00 dengan desain yang baru serta ukuran lebar yang sama dengan uang kertas pecahan Rp100.000,00. Selain itu, dalam rangka memperlancar pendistribusian uang kertas baru tersebut, telah diaktifkan kembali kegiatan kas keliling untuk

sia diberi wewenang untuk mengatur dan menjaga sistem pembayaran guna menciptakan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia terus menempuh berbagai kebijakan di bidang sistem pembayaran, baik yang berkaitan dengan alat pembayaran tunai (kartal) maupun lalu lintas pembayaran bukan tunai (giral). Dalam tahun 2000, kebijakan Bank Indonesia di bidang pembayaran tunai mencakup langkah untuk mencabut dan menarik uang kertas yang banyak dipalsukan, serta mengeluarkan uang kertas emisi baru dengan desain dan ukuran yang sesuai dengan standar Bank Indonesia. Sementara itu, dalam bidang lalu lintas pembayaran bukan tunai, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa ketentuan penyempurnaan mengenai kliring antara lain mengenai pemberian wewenang yang lebih besar terhadap penyelenggara kliring. Langkah besar yang telah diambil Bank Indonesia dalam bidang lalu lintas pembayaran bukan tunai dalam tahun 2000 adalah implementasi sistem Real Time Gross Settlement (RTGS).

Kebijakan Sistem Pembayaran dalam tahun 2000 Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran nasional, berbagai kebijakan telah dikeluarkan baik dalam lingkup pembayaran tunai maupun bukan tunai. Kebijakan dalam lingkup pembayaran tunai antara lain menyediakan dan mengeluarkan uang kertas baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, serta penanggulangan uang palsu yang ditemukan pada beberapa daerah. (Boks : Proses Pembuatan Uang Rupiah dan Boks : Uang Palsu "Permasalahan dan Penanggulangannya"). Kebijakan dalam lingkup pembayaran bukan tunai mencakup penerusan langkah-langkah pengembangan sistem RTGS dan

memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan merayakan harihari besar keagamaan dan tahun baru. Sementara itu, dalam rangka menanggulangi keberadaan uang palsu yang cukup meningkat dalam tahun 2000 ini, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif dan represif. Langkah preventif yang dilakukan antara lain dengan mencabut dan menarik dari peredaran uang kertas yang banyak dipalsukan, yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi 1993/95 (seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri Cendrawasih), dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri Hamengkubuwono IX). Langkah preventif lainnya adalah dengan menyempurnakan desain serta meningkatkan

131

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

penggunaan unsur-unsur pengamanan pada pencetakan uang rupiah yang baru. Di samping itu, Bank Indonesia juga menyebarluaskan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui media cetak, papan pengumuman, serta kegiatan penataran. Hal lain dilakukan dengan meningkatkan koordinasi bersama unsur-unsur terkait yang tergabung dalam Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL) yaitu Kepolisian, Kejaksaan Agung, Peruri, Ditjen Bea Cukai, dan Ditjen Imigrasi. Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang Rupiah. Berkenaan dengan sistem pembayaran bukan tunai, khususnya yang menyangkut kliring, telah pula dilakukan sejumlah penyempurnaan. Bagi penyelenggara kliring bukan-Bank Indonesia diberikan wewenang yang lebih besar untuk memutuskan suatu permasalahan yang terjadi dalam kegiatan kliring di wilayahnya seperti pemberian persetujuan kepada calon peserta dan penyelesaian dispute antar peserta kliring. Disamping itu, dalam rangka mengurangi pemberian subsidi kepada perbankan, khusus untuk penyelenggara kliring lokal nonBank Indonesia yang jumlah perputaran warkat per hari di wilayah kliring tersebut telah mencapai 1.000 warkat atau lebih dalam waktu 6 bulan berturut-turut, penyelenggara kliring tersebut dapat mengenakan biaya kepada setiap peserta kliring yang besarnya sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Satu kemajuan penting dan mendasar dalam perkembangan sistem pembayaran bukan tunai di Indonesia adalah mulai diterapkannya sistem RTGS pada November 2000 oleh Bank Indonesia untuk semua bank yang beroperasi di Jakarta. Sebagaimana diketahui, sistem RTGS merupakan sistem yang memproses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran antarbank yang dilakukan per transaksi dan bersifat real time (electronically processed) di mana rekening bank peserta dapat didebit/dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah dan penerimaan pembayaran. Berbagai jenis transaksi pembayaran yang dilakukan bank dapat dijalankan melalui Sistem BI-RTGS, seperti transaksi-transaksi antar bank dalam rangka Pasar

Uang Antar Bank (PUAB), transaksi rupiah dalam rangka jual beli mata uang asing (foreign exchange), transaksi yang berkaitan dengan rekening pemerintah dan transaksi setoran/ penarikan tunai di Bank Indonesia, serta transaksi-transaksi antarnasabah. Dengan diterapkannya sistem tersebut, Bank Indonesia menjadi bank sentral keempat di kawasan ASEAN yang mengoperasikan sistem RTGS, setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ada beberapa manfaat yang diperoleh masyarakat dan sistem perekonomian dalam menggunakan sistem BI-RTGS ini. Bagi masyarakat sistem ini di samping memberikan kecepatan dan ketepatan waktu, juga dapat memberikan kepastian dari pengiriman maupun penerimaan dana sehingga

memudahkan perencanaan kegiatan ekonomi. Bagi Bank Indonesia sistem ini bermanfaat dalam menurunkan risiko sistem pembayaran, dan mengurangi tindakan spekulasi bank-bank. Di samping itu sistem RTGS juga menjadi sumber informasi yang akurat dalam pengawasan bank-bank dan pengendalian moneter. Dalam rangka penerapan sistem BI-RTGS tersebut, Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah persiapan baik intern maupun ekstern sehingga implementasinya dapat berjalan lancar. Dari sisi intern, Bank Indonesia melakukan persiapan organisasi dan personil, peralatan dan infrastruktur sistem BI-RTGS baik di main site maupun di Disaster Recovery Centre (DRC), dan seluruh perangkat aturannya. Di sisi ekstern, Bank Indonesia secara terus menerus mengadakan pertemuan dengan seluruh bank, baik untuk keperluan pelatihan teknis, diskusi atas solusi teknis dan non teknis, serta sosialisasi berbagai ketentuan terkait termasuk ketentuan antarbank dalam rangka RTGS (Interbank Bye-Laws). Bank Indonesia juga secara kontinyu memonitor persiapan manajemen bank pelaksana serta komite internal bank untuk mengimplementasikan sistem RTGS. Di samping itu, untuk memantau kesiapan dan keamanan semua komponen infrastruktur jaringan komputer Bank Indonesia (BINet) dalam rangka implementasi sistem RTGS, telah dilakukan audit terhadap keseluruhan infrastruktur BI-Net yang dilakukan oleh auditor internasional yang telah memiliki pengalaman dalam bidang tersebut.

132

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Perkembangan Alat-alat Pembayaran Sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dalam tahun 2000, perkembangan alat-alat pembayaran tunai maupun bukan tunai juga menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Di samping itu, berdekatannya hari-hari keagamaan dan tahun baru juga menjadi faktor penyebab meningkatnya penggunaan kedua alat pembayaran tersebut di atas.
Triliun rupiah 9 8 7 6 5 4 3

1999 2000

Alat Pembayaran Tunai Posisi UYD (Uang Kartal Yang Diedarkan) sepanjang tahun 2000 cenderung meningkat. Posisi UYD akhir Desember 2000 mencapai Rp89,7 triliun atau meningkat 23,6% dibandingkan dengan posisi UYD akhir Desember tahun 1999 yang hanya sebesar Rp72,6 triliun (Tabel 8.1). Sementara itu, rata-rata posisi UYD akhir bulan pada tahun 2000 mencapai Rp65,0 triliun atau naik 21,1% dibandingkan rata-rata posisi UYD akhir bulan pada tahun 1999 sebesar Rp53,6 triliun. Kenaikan UYD ini secara umum dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap uang kartal untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan perkembangan berbagai indikator ekonomi nasional. Ditinjau dari besarnya kenaikan UYD, kenaikan yang cukup drastis

2 1 0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2000

Grafik 8.1 Perkembangan Jumlah Uang yang Dimusnahkan (PTTB)

terjadi dari bulan November ke Desember 2000 yaitu sebesar 32,3%. Hal ini disebabkan adanya penarikan yang cukup besar dari masyarakat dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan, Hari Natal dan Hari Raya Idul Fitri yang waktunya hampir bersamaan. Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam sepanjang tahun 2000 tidak banyak mengalami perubahan, dengan pangsa masing-masing jenis

Tabel 8.1 Perkembangan Uang Kartal yang Diedarkan Per Pecahan
Rincian UYD1) Uang Kertas 100.000 50.000 20.000 10.000 5.000 1.000 <1.000 Uang Logam 1.000 500 100 50 25 <25 1998 1999 Miliar Rupiah 48.329 47.435 – 18.941 13.643 9.566 3.311 1.232 742 894 101 99 497 143 42 12 72.560 71.480 5.526 36.909 16.560 7.389 2.757 1.620 720 1.080 130 153 587 151 43 16 89.705 88.370 6.832 45.630 20.472 9.135 3.408 2.003 890 1.335 161 189 725 187 53 20 2000 2)

uang sebesar 98,5% untuk uang kertas dan 1,5% untuk uang logam. Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup, Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang beredar di masyarakat tetap baik. Hal ini dilakukan dengan cara menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak edar, atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB), serta mengganti uang yang ditarik/dimusnahkan tersebut. Jumlah rata–rata PTTB periode Januari s.d. Desember 2000 sebesar Rp5,6 trilliun atau naik 38,5% dibandingkan rata-rata PTTB pada tahun 1999 yang mencapai Rp4,0 triliun (Grafik 8.1). Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya kegiatan PTTB karena adanya jenis uang kertas yang dicabut dari peredaran yaitu pecahan Rp50.000,00 emisi 1993/1995 (seri Soeharto), pecahan Rp20.000,00 emisi 1992 (seri

1) Uang kartal di luar BI 2) Estimasi UYD per pecahan tanggal 30 Desember 2000

133

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Cendrawasih) dan pecahan Rp10.000,00 emisi 1992 (seri Hamengkubuwono IX).
Triliun rupiah 90

Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar dan Posisi Kas Aliran uang masuk (inflow) dari masyarakat kembali ke Bank Indonesia secara nasional cenderung berfluktuasi. Rata-rata inflow bulanan pada tahun 2000 adalah sebesar Rp12,3 triliun atau naik 22,8% dibandingkan dengan rata-rata bulanan inflow pada tahun 1999 yang mencapai Rp10,0 triliun (Grafik 8.2). Sementara itu, rata-rata bulanan aliran uang keluar (outflow) dari Bank Indonesia ke masyarakat pada periode Januari s.d. Desember 2000 mencapai Rp13,7 triliun atau meningkat 12,7% dibandingkan rata-rata bulanan outflow tahun 1999 yang mencapai Rp12,1 triliun. Berdasarkan perkembangan inflow – outflow di atas, secara nasional pada tahun 2000 terjadi net outflow sebesar Rp17,0 triliun. Jumlah ini merupakan tambahan uang yang diedarkan oleh Bank Indonesia selama tahun 2000 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, bila dilihat dari karakteristik Kantor Bank Indonesia (KBI), hampir seluruh KBI di luar Jawa mengalami net outflow, sedangkan KBI di Jawa kecuali Jakarta mengalami net inflow. Hal ini terutama disebabkan aktivitas pengeluaran/belanja masyarakat Indonesia sebagian besar terjadi di Jawa.

80 70 60 50 40 30 20 10 0

2000

1999

1998

Jan. Feb. Mar. Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Grafik 8.3 Perkembangan Posisi Kas

Posisi kas Bank Indonesia pada akhir tahun 2000 sebesar Rp27,7 triliun atau turun 51,3% dibandingkan dengan posisi kas pada akhir tahun 1999 yang tercatat Rp56,9 triliun (Grafik 8.3). Penurunan posisi kas ini terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah uang yang dimusnahkan (PTTB) sebagai akibat dari kebijakan pencabutan beberapa jenis pecahan serta dipengaruhi oleh meningkatnya penarikan uang kartal oleh masyarakat terutama menjelang akhir tahun.

Triliun rupiah 30 25 20 15 10

Perkembangan Jumlah Temuan Uang Palsu Dari data statistik penemuan uang palsu yang berasal dari
Aliran Uang Masuk Aliran Uang Keluar

laporan bank-bank, POLRI dan BI, dari tahun 1994 s.d. November 2000, jumlah uang palsu yang ditemukan sebesar 989.621 bilyet atau senilai Rp32,6 miliar (Tabel 8.2). Dari jumlah tersebut, penemuan terbesar adalah untuk pecahan Rp50.000,00 yaitu 495.330 bilyet (50%), diikuti pecahan Rp20.000,00 sebanyak 287.891 bilyet (29,1%). Untuk periode Januari s.d November 2000

5 0
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

jumlah temuan uang palsu meningkat 48,8% dibandingkan dengan jumlah temuan uang palsu dalam tahun 1999 yaitu
2000

dari 215.950 bilyet menjadi 317.124 bilyet (88,0% diantaranya adalah pecahan Rp50.000,00). Dari jumlah uang palsu yang ditemukan menunjukkan bahwa sebagian besar adalah uang palsu yang belum sempat

Grafik 8.2 Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar

134

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tabel 8.2 Perkembangan Penemuan Uang Palsu Per Pecahan Tahun 1994 – 2000
Jenis Pecahan Periode 50.000 1994 1995 1996 1997 1998 1999 20001) Jumlah 14 74 128 16.392 107.520 89.137 282.065 495.330 20.000 2.340 5.349 5.379 139.938 9.758 100.536 24.591 287.891 Bilyet 10.000 1.925 7.224 9.904 82.274 59.633 26.053 12.766 199.779 5.000 624 403 2.537 234 754 224 1.845 6.621 Jumlah 4.903 13.050 17.948 238.838 177.665 215.950 321.267 989.621

Tabel 8.4 Nisbah Uang Palsu Terhadap UYD
Pecahan

Rincian
50.000 1994 1995 1996 1997 1998 1999 20001) 0,000000 0,000001 0,000001 0,000097 0,000284 0,000124 0,000641

Bilyet
20.000 0,000007 0,000014 0,000011 0,000250 0,000014 0,000123 0,000041 10.000 0,000003 0,000009 0,000014 0,000092 0,000062 0,000035 0,000025 5.000 0,000002 0,000001 0,000008 0,000000 0,000001 0,000000 0,000004

1) Data sampai dengan November 2000

1) Data sampai dengan November 2000

beredar di masyarakat, yang merupakan hasil penangkapan petugas POLRI. Data dari Januari s.d. November 2000 menunjukkan bahwa 83,7% uang palsu yang ditemukan adalah berasal dari Kepolisian sedangkan sisanya (16,3%) berasal dari laporan bank-bank (Tabel 8.3). Secara umum jumlah uang palsu yang ditemukan cenderung meningkat. Apabila dibandingkan dengan uang kartal yang diedarkan (UYD), berkisar antara 0 – 641 lembar per satu juta lembar UYD (Tabel 8.4). Untuk itu, Bank Indonesia tetap meningkatkan kerja sama dengan instansi terkait dalam upaya memberantas peredaran uang palsu tersebut, antara lain dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu

(BOTASUPAL). Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan security features (tanda pengaman) pada setiap uang kertas yang akan diterbitkan dan meningkatkan sosialisasi mengenai keaslian uang rupiah kepada masyarakat. Selama tahun 2000 telah dilakukan 55 kali penyuluhan, yang diikuti oleh siswa sekolah, guru-guru dan tokoh masyarakat. Selain upaya yang bersifat preventif tersebut, Bank Indonesia menerapkan upaya represif dengan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang rupiah.

Alat Pembayaran Bukan Tunai Seperti alat pembayaran tunai, dalam tahun laporan transaksi
Tabel 8.3 Pangsa Penemuan Uang Palsu Menurut Sumber Laporan
POLRI Periode Persen Bank-Bank

menggunakan alat pembayaran bukan tunai juga meningkat cukup tajam baik yang berbasis warkat maupun yang menggunakan kartu elektronik. Perkembangan tersebut sejalan dengan semakin maraknya kegiatan ekonomi selama

1998 1999 20001)
1) Data sampai dengan November 2000

84,4 80,4 83,7

15,6 19,6 16,3

tahun laporan.

Alat Pembayaran Bukan Tunai Berbasis Warkat Sampai akhir tahun 2000, nominal kliring penyerahan secara nasional menunjukkan peningkatan sebesar 41,7% dibanding

135

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Triliun Rp 200
Aktivitas Kliring Nilai Besar sebelum BI-RTGS

Tabel 8.5 Perkembangan Perputaran dan Penolakan Kliring Secara Nasional
RTGS Aktivitas Kliring Nilai Besar setelah BI-RTGS

150

2000 Warkat Kliring
Penyerahan Nominal (Triliun Rp) Lembar (ribu) 6.760 5.755 5.156 1.711 1.939 2.007 1.648 111.270 87.324 78.090 18.425 18.950 18.378 17.954

1997

1998

1999

I

II

III

IV2)

100

50

Penolakan1) Nominal (Triliun Rp)
17 21 23 27 29 01 06 07 11 13 15 19 21

20,3 1.944

24,9 1.247

12,3 852

3,1 203

2,9 225

3,8 227

4,2 237

Lembar (ribu)
November 2000 Desember 2000

1) Terdiri atas : Cek kosong, BG Kosong dan Alasan Lain 2) s.d. akhir bulan Desember 2000 (minggu ke-4 libur Natal, Idul Fitri dan tahun baru)

Transaksi 6.000
Aktivitas Kliring Nilai Besar sebelum BI-RTGS

5.000 4.000

RTGS Aktivitas Kliring Nilai Besar setelah BI-RTGS

ber 2000) yang memiliki risiko kegagalan bayar kecil, sangat diminati oleh kalangan perbankan nasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan kecenderungan beralihnya aktivitas kliring

3.000 2.000 1.000 -

nilai besar pada wilayah kliring Jakarta dari Otomasi Kliring Jakarta (OKJ) dan Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ) ke Sistem BI-RTGS (Grafik 8.4). Namun mengingat implementasi Sistem BI-RTGS masih sangat baru, kelanjutan dari kecen17 20 21 22 23 24 27 28 29 30 01 04 05 06 07 08 11 12 13 14 15 18 19 20 21 22

November 2000

Desember 2000

derungan ini masih harus terus dicermati. Apabila dilihat berdasarkan wilayah kliring, Jakarta

Grafik 8.4 Perkembangan Transaksi BI-RTGS

masih merupakan penyumbang terbesar dalam nominal kliring penyerahan secara nasional (Tabel 8.6). Hal tersebut

tahun 1999, dari Rp5.156 triliun menjadi Rp 7.304 triliun. Secara umum hal ini didorong oleh meningkatnya kegiatan ekonomi dalam tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1999. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rangkaian perayaan hari-hari besar keagamaan pada triwulan IV/2000, yang biasanya mendorong peningkatan volume warkat dan nominal kliring penyerahan, tahun ini tidak menunjukkan perilaku yang sama. Pada triwulan tersebut nominal perputaran kliring penyerahan justru menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan volume warkat kliring penyerahan pada tahun 2000 turun 7,9 % dari 78.090 ribu lembar pada tahun 1999 menjadi 73.707 ribu lembar (Tabel 8.5). Hal ini merupakan indikasi bahwa setelmen melalui sistem BI-RTGS (diimplementasikan pada tanggal 17 Novem-

Tabel 8.6 Perkembangan Perputaran dan Penolakan Kliring Menurut Wilayah
1997
Warkat Kliring

1998

1999

20003)

Jakarta

Luar Jakarta Luar Jakarta Luar Jakarta Luar Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta 4.659 41.531 1.095 4.144 1.012 6.222 1.082 45.793 38.805 41.285 35.650 38.057

Penyerahan Nominal (triliun Rp) 6.120 640 Lembar (ribu) 55.273 55.997 Penolakan1) Nominal (triliun Rp) Lembar (ribu) PUAB2) Nominal (triliun Rp) Lembar (ribu)

43 1.548

5 396

21 803

2 245

8 458

5 394

9 496

5 395

6.244 492

6.641 442

2.250 177

1) Terdiri atas : Cek kosong, BG Kosong dan Alasan Lain 2) Sejak tanggal 19 Agustus 1999 pencatatan PUAB kliring dimasukkan dalam Nilai Kliring Nominal Besar 3) Sampai dengan akhir Desember 2000 (minggu ke-4 libur Natal, Idul Fitri dan Tahun Baru)

136

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

pada tahun 2000 menunjukkan perbandingan yang relatif
Unit 1.600 1.400 Jakarta Luar Jakarta

tetap, yaitu 48,0% bagi wilayah Jakarta dan 52,0% untuk wilayah luar Jakarta. Dalam pada itu, kliring retur yang dipresentasikan oleh cek

1.200 1.000 800 600 400 200 Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

dan bilyet giro kosong, menunjukkan kecenderungan pergerakan yang searah dengan kliring penyerahan. Volume cek dan bilyet giro kosong naik dari 852 ribu lembar pada awal periode laporan menjadi 891 ribu lembar pada akhir Desember 2000, sedangkan nominal cek dan bilyet giro kosong naik dari Rp 12,3 triliun menjadi Rp. 14,0 triliun.
1999 2000

Dalam tahun 2000, jumlah bank peserta kliring turun dari 2.178 kantor bank pada akhir 1999 menjadi hanya 1.973 kantor bank pada akhir tahun laporan (Grafik 8.5). Penurunan terbesar terjadi di Jakarta yaitu sebesar 12,5 % atau dari 681 kantor bank menjadi 596 kantor bank,

Grafik 8.5 Perkembangan Kantor Bank Peserta Kliring (Peserta Langsung)

terlihat dari pangsa nominal kliring Jakarta terhadap kliring secara nasional yang mencapai 85,2%. Wilayah kliring di luar Jakarta cenderung mengalami penurunan nominal kliring yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan pangsa dari 19,6% pada 1999 menjadi hanya 14,8%. Sementara itu, pangsa volume warkat kliring berdasarkan wilayah kliring

sedangkan luar Jakarta dari 1.497 kantor bank menjadi 1.377 kantor bank. Sementara itu, bila dilihat dari penggunaan jenis warkat dalam kliring, sampai akhir periode laporan warkat berjenis debet (cek, bilyet giro, nota debet, dan warkat debet lainnya) masih mendominasi dengan pangsa 54,6% (Grafik 8.6), sedangkan warkat kredit hanya memiliki pangsa 45,4%. Dari

Warkat Debet 54,55%

Warkat Kredit 45,45%

persentase warkat debit tersebut, bilyet giro masih merupakan warkat kliring yang paling banyak digunakan (48,2%), diikuti oleh cek (6,1%). Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa
Tabel 8.7 Pertumbuhan Nominal Transaksi Alat Pembayaran Bukan Tunai Elektronis
Jumlah 1) Piranti % Pertumbuhan dibanding 1999 1998

Nota Debet 0,23%

Lainnya 0,01%

Cek 6,10%

2000

Kartu Kredit Kartu Debet Kartu Smart
Bilyet Giro 48,21%

13.639 4.663 0.001 153.590 0.898

31.65 45.17 (99.65) 79.86 7.99

176.16 80.75 (99.97) 650.62 95.28

ATM EFT/POS

Grafik 8.6 Pangsa Penggunaan Warkat dalam Kliring (Wilayah Kliring Jakarta)

1) Jumlah dalam triliun rupiah

137

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tabel 8.8 Perkembangan Alat Pembayaran Bukan Tunai Elektronis
2000 1998 I. Kartu Kredit Jumlah Pemegang (orang) Jumlah Transaksi (ribu) Volume Transaksi (triliun Rp) 1999 I II III IV

2.028.442 15.395 4,9 5.374.376 11.935 2,6 83.190 4.171 2,6 5.985 13.169.663 171.802 20,5 4.213 46.652 1.936 0,5

2.043 29.578 10,4 12.110.970 16.002 3,2 29.918 62 0,2 6.012 16.195.251 408.766 85,4 5.089 53.322 2.952 0,8

2.070.147 8.081 3,0 12.327.766 3.819 0,8 25.750 0,4 0,0 6.119 13.989.452 100.087 29,6 5.523 51.564 634 0,2

2.171.667 8.665 3,2 12.448.780 4.393 1,1 25.396 0,2 0,0 6.227 17.278.118 113.601 34,9 5.793 54.527 671 0,2

2.368.370 9.784 3,6 12.824.485 5.321 1,3 25.279 0,1 0,0 6.433 17.859.821 126.751 41,6 6.599 57.701 664 0,2

2.622.604 10.770 3,9 13.103.676 5.850 1,5 25.075 0,2 0,0 6.767 18.786.094 130.732 47,4 7.005 61.934 715 0,2

II. Kartu Debet Jumlah Pemegang (orang) Jumlah Transaksi (ribu) Volume Transaksi (triliun Rp) III. Kartu Smart Jumlah Pemegang (orang) Jumlah Transaksi (ribu) Volume Transaksi (triliun Rp) IV. ATM Jumlah Mesin (unit) Jumlah Pemegang (orang) Jumlah Transaksi (ribu) Volume Transaksi (triliun Rp) V. EFT/POS Jumlah Mesin (unit) Jumlah Pemegang (orang) Jumlah Transaksi (ribu) Volume Transaksi (triliun Rp)

penggunaan jenis warkat kliring yang lain (seperti Nota Debet, WBUT, SBPT) sangat jarang digunakan.

sia akan memindahkan Bagian Pengedaran, Kas Kota dan Kas Thamrin ke Gedung C, Bank Indonesia Thamrin. Untuk mendukung pelaksanaan operasional perkasan di Kantor

Alat Pembayaran Bukan Tunai Elektronis / Berbasis Kartu Perkembangan alat pembayaran bukan tunai elektronis/ber– basis kartu pada tahun laporan tumbuh sejalan dengan aktivitas perekonomian yang direfleksikan oleh perkembangan uang beredar dan aktivitas kliring. Hampir seluruh alat pembayaran bukan tunai elektronis berbasis kartu ini memiliki kecenderungan peningkatan pada akhir periode laporan, kecuali kartu Smart (Tabel 8.7 dan Tabel 8.8). Nilai transaksi alat pembayaran bukan tunai elektronis (diluar kartu Smart) tahun 2000 meningkat sebesar 41,2% dibanding tahun 1999. Perkembangan ini juga me– nunjukkan makin meningkatnya penerimaan masyarakat ter– hadap keberadaan alat pembayaran bukan tunai elektronis ini.

Pusat, pemindahan tersebut sekaligus dilakukan bersamaan dengan implementasi Otomasi Administrasi Perkasan (OAP) Kantor Pusat. Dengan adanya implementasi tersebut, maka seluruh transaksi perkasan di Kantor Pusat akan dilaksanakan secara on-line.

Penyempurnaan Surat Edaran Penyetoran dan Pembayaran Sehubungan dengan semakin meningkatnya aktivitas bank umum yang berdampak pada semakin meningkatnya tugastugas pengelolaan uang kartal, maka dipandang perlu untuk menyempurnakan ketentuan tentang pengambilan dan penyetoran uang kartal oleh bank umum di Bank Indonesia

Rencana pengembangan sistem pembayaran nasional Peningkatan Pelayanan Kas di Kantor Pusat Dalam rangka efisiensi dan meningkatkan pelayanan kepada perbankan serta memudahkan koordinasinya, Bank Indone-

dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI). Dengan penyempurnaan ketentuan tersebut, kegiatan pengambilan dan penyetoran uang kartal di Bank Indonesia yang selama ini dilakukan oleh bank umum, nantinya dimungkinkan dapat

138

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

diserahkan kepada perusahaan jasa pihak ketiga yang melakukan kegiatan pengambilan, penyetoran dan penukaran uang sepanjang perusahaan jasa pihak ketiga tersebut mendapatkan kuasa dari bank pemegang rekening di Bank Indonesia.

tasikan di 12 Kantor Bank Indonesia. Pengintegrasian sistem BI-RTGS di kantor pusat dan kantor cabang Bank Indonesia ini akan menghapus rekening giro bank yang ada di kantor-kantor Bank Indonesia sehingga hanya ada satu rekening giro bank di kantor pusat Bank Indonesia (centralized settlement account).

Pengembangan Sistem Informasi Pengedaran Uang Untuk mendukung kegiatan-kegiatan di bidang pengedaran uang, seperti penyusunan rencana cetak, penyediaan stok uang dan kertas uang, sistem distribusi uang kertas/uang logam dan lain sebagainya, pada pertengahan tahun 2001 akan diterapkan Sistem Informasi Pengedaran Uang (SIPU). Sistem ini merupakan database khusus yang terpisah dari sistem OAP yang selama ini diterapkan di Satuan Kerja Kas Bank Indonesia. Dengan penerapan SIPU tersebut, maka penyediaan informasi yang berkaitan dengan bidang perkasan menjadi semakin cepat dan up to date.

Penggabungan rekening ini menguntungkan bagi Bank Indonesia maupun bank peserta. Penggabungan rekening tersebut memudahkan Bank Indonesia dalam memantau ketaatan bank dalam memenuhi kebutuhan Giro Wajib Minimum (GWM). Selain itu, Bank Indonesia dapat memantau likuiditas bank, sehingga dapat dipakai sebagai early warning system bagi bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Bagi bank peserta, penggabungan rekening ini memudahkan mereka untuk melakukan pengawasan terhadap posisi likuiditasnya sehingga bank dapat mengelola dananya secara efektif dan efisien. Selanjutnya, untuk terus menurunkan risiko yang

Standardisasi Uang Kertas Salah satu aspek yang menjadi pertimbangan dalam pencetakan uang adalah agar uang tersebut mudah dan nyaman digunakan. Dalam arti yang lebih luas, secara fisik uang yang dicetak tidak akan menimbulkan kesulitan bagi pengguna baik masyarakat umum maupun perbankan. Oleh karena itu, untuk memudahkan masyarakat pengguna uang rupiah, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyeragamkan ukuran lebar dari setiap pecahan uang kertas yang akan diterbitkan disertai peningkatan security features sebagaimana yang sudah dilakukan terhadap beberapa pecahan uang kertas emisi baru. Dengan demikian di masa yang akan datang, untuk mengetahui perbedaan pecahan uang kertas secara sepintas dapat dilihat dari ukuran panjangnya saja.

terkandung dalam sistem kliring, maka ketentuan "Cap" (pembatasan nilai transaksi) maksimum atas warkat transfer melalui kliring akan segera diberlakukan pada awal tahun 2001. Dengan diberlakukannya "Cap" tersebut, maka transaksi mulai Rp1 miliar ke atas harus melalui sistem BI-RTGS, sedangkan transaksi dengan nilai dibawah Rp 1 miliar akan diselesaikan melalui sistem kliring. Di samping itu, untuk menurunkan risiko setelmen di pasar uang dan pasar modal, akan dilakukan pengembangan Delivery Versus Payment (DVP) tahap pertama. Dari pengembangan ini akan tercipta suatu integrasi sistem setelmen antara sisi pembayaran (payment leg) melalui sistem BI-RTGS dengan sisi penyerahan sekuritas (delivery leg) melalui sistem setelmen sekuritas

Penyempurnaan aktivitas kliring Pengembangan RTGS Sebagai kelanjutan dari program RTGS tahap pertama yang telah diimplementasikan pada November 2000, penerapan Sistem BI-RTGS sebagai suatu mekanisme setelmen transaksi nilai besar/urgent akan diimplemenDalam rangka mengurangi risiko pembayaran antarbank, serta untuk meningkatkan efisiensi dan pengawasan dalam pelaksanaan kliring maka sejumlah penyempur naan direncanakan akan diberlakukan pada tahun 2001. Penyempurnaan tersebut meliputi :

139

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Upgrade sistem Otomasi Kliring Medan (OKM) Upgrade akan dilakukan terhadap mesin reader/sorter (R/S) pada KBI Medan yang belum berbasis image menjadi berbasis image pada akhir 2001. Penyempurnaan ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan volume kliring di wilayah kliring Medan.

Pengembangan Bulk Interbank Payment System (BIPS) Pembayaran bulk adalah pembayaran-pembayaran antar bank yang bersifat rutin dengan volume tinggi dan bernilai nominal rendah seperti transaksi pembayaran gaji/upah, kartu kredit, asuransi, angsuran kredit, tagihan telepon/listrik/air, dan lain-lain. Pada saat ini sudah banyak bank yang memiliki produk

Penerapan Otomasi Kliring Bandung (OKB) Sampai saat ini volume warkat pada wilayah kliring Bandung sudah sedemikian tingginya untuk tetap dilayani dengan sistem kliring Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL). Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan otomasi kliring guna mengatasi permasalahan yang timbul bila terjadi peningkatan volume klring di kemudian hari. Selain itu penerapan OKB juga ditujukan agar pemrosesan warkat dapat menjadi lebih cepat dan efisien serta merupakan antisipasi terhadap pengembangan sistem pembayaran di masa mendatang.

pembayaran bulk yang memungkinkan masyarakat atau perusahaan untuk melakukan pembayaran telepon/listrik/air, gaji/upah, kartu kredit, dan lain-lain secara autodebet. Perkembangan ini dapat mengurangi efisiensi perbankan karena mereka harus menyediakan SDM, investasi mesin dan biaya pencetakan warkat. Di sisi Bank Indonesia melonjaknya volume warkat-warkat kliring pada hari pembayaran transaksi bulk menyebabkan tekanan yang cukup berat pada proses warkat kliring di mesin reader sorter yang pada akhirnya dapat memperlambat setelmen hasil kliring perbankan. Pada tahun 2001, Bank Indo-

Pengembangan sarana back up data image warkat kliring (CD Burner) di Jakarta, Bandung dan Surabaya Untuk mengatasi keterbatasan sistem (baik hardware maupun software) guna menyimpan data image dalam jangka waktu yang panjang (saat ini jangka waktu maksimum 30 hari), serta untuk mengantisipasi kemungkinan permintaan data dan informasi kliring yang terjadi setelah melampaui 30 hari, diperlukan suatu media penyimpan yang mampu mengoptimalkan penggunaan teknologi image yang sekaligus meningkatkan kualitas informasi yang dihasilkan, tanpa meninggalkan aspek efisiensi biaya. Untuk maksud tersebut, CD Burner diharapkan dapat diimplementasikan pada KBI penyelenggara kliring yang menggunakan basis image.

nesia diharapkan dapat mengimplementasikan kliring khusus untuk transaksi-transaksi bulk sehingga transaksi antar bank lainnya yang telah dilakukan melalui kliring saat ini menjadi lebih efisien.

Implementasi Back End Switch. Untuk mengefisienkan proses pembukuan dan switching pada bank-bank penyelenggara ATM di Indonesia, serta untuk memberikan tambahan kemudahan dan keamanan bagi para nasabah penggunanya, maka Bank Indonesia akan memfasilitasi dan mendorong (dalam bentuk moral suassion) bank-bank penyelenggara ATM untuk dapat menghubungkan jaringannya satu sama lain.

140

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Boks : Proses Pembuatan Uang Rupiah
Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999, Bank Indonesia merupakan satusatunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan uang rupiah. Sejalan dengan tugas dimaksud, Bank Indonesia harus dapat menjamin tersedianya uang yang cukup dalam berbagai pecahan, kapan dan dimanapun diperlukan dengan kualitas baik serta kondisi layak edar. Untuk dapat mencapai hal tersebut, dalam setiap penerbitan uang baru diupayakan agar uang yang diterbitkan harus dapat mempermudah kelancaran transaksi pembayaran tunai serta dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat. Dasar pertimbangan yang digunakan dalam penerbitan uang baru antara lain : (1) Menyederhanakan satuan hitung dan untuk memperlancar transaksi pembayaran tunai dengan melakukan penyederhanaan atau menata kembali pecahan-pecahan yang ada. (2) Melakukan penyesuaian terhadap perkembangan ekonomi seperti tingkat inflasi dan perubahan nilai tukar. (3) Melakukan perubahan-perubahan pada uang untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pengadaan, seperti penggantian unsur pengaman (security features) dan antisipasi terhadap kemungkinan pemalsuan terhadap uang yang sudah beredar cukup lama. (4) Memperingati suatu kejadian tertentu yang bersifat monumental dalam bentuk uang peringatan. Dalam menerbitkan uang baru diupayakan agar fisik uang tersebut memiliki karakteristik : (1) Mudah dan nyaman digunakan (user friendly) Bertujuan agar uang tersebut tidak akan menimbulkan kesulitan bagi pengguna baik masyarakat umum maupun para kasir dan pengguna uang lainnya serta memiliki aspek kepraktisan dan kemudahan. (2) Tahan lama (durable) Diupayakan agar uang baru tersebut memiliki kualitas baik dan memungkinkan masa edar relatif lama sesuai dengan jenis dan besarnya pecahan, dengan memperhatikan : (a) Bahan uang yang digunakan berkualitas, sehingga kertas uang tidak mudah lusuh, relatif tahan terhadap iklim panas dan kelembaban, unsur pengaman tetap terjaga, sedangkan untuk logam uang tidak mudah luntur dan rusak dalam peredaran. (b) Proses cetak uang dapat menghasilkan hasil cetak yang baik sesuai dengan standar yang diinginkan. (3) Mudah dikenali (easily recognizable) Agar masing-masing jenis dan pecahan mudah dikenali dengan cepat oleh masyarakat termasuk penyandang tuna netra, maka warna, gambar desain dan ukuran untuk masingmasing pecahan dibuat dengan perbedaan yang jelas, khususnya uang logam. (4) Sulit dipalsukan (secure against counterfeiting) Untuk menghindari pemalsuan, maka dalam menerbitkan uang baru diperlukan suatu perpaduan gambar desain uang, unsur pengaman (security features) dan proses cetak dengan menggunakan teknologi yang canggih. Agar dapat menerbitkan uang baru dalam jumlah yang cukup, maka dalam memperhitungkan jumlah uang yang dicetak harus memperhatikan faktor-faktor pertumbuhan UYD yang mempertimbangkan variabel-variabel ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, suku bunga dan kurs; serta penggantian uang lusuh yang telah dimusnahkan dan persediaan uang tunai di seluruh satuan kerja kas. Penerbitan uang (emisi) baru tersebut harus didasarkan pada suatu penelitian yang komprehensif dan perencanaan yang matang agar uang yang diterbitkan tersebut memiliki kualitas yang baik dan memenuhi karakteristik di atas dengan biaya yang dikeluarkan wajar dibandingkan mutu dan jumlah yang dicetak. Untuk dapat mencapai hal tersebut, maka keputusan menerbitkan uang biasanya dikeluarkan jauh sebelum penerbitan dilakukan, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut : (1) Tahap Persiapan (a) Penetapan desain uang – Pemilihan gambar desain uang yaitu gambar utama dan gambar lain sebagai pendukung yang umumnya bersifat nasionalistik seperti flora, fauna, kesenian, pemandangan alam, kebudayaan dan pahlawan nasional. Dalam tahap ini, ditetapkan juga pemilihan terhadap gambar tanda air (watermark).

141

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Pemilihan warna berupa warna dominan untuk memudahkan masyarakat membedakan suatu pecahan. Warna uang merupakan salah satu unsur pengaman uang, sehingga dalam pewarnaan uang di beberapa bagian dibuat gradasi warna tertentu agar sulit dipalsukan.

(d) Persiapan untuk pencetakan – Setelah rencana gambar desain uang dan unsur pengaman telah ditetapkan, Bank Indonesia meminta perusahaan pencetak uang membuat usulan gambar uang yang sebenarnya dan apabila sesuai akan disampaikan kepada Dewan Gubernur untuk mendapat persetujuan. – Berdasarkan persetujuan Dewan Gubernur tersebut, dibuat master dies dan plat cetak oleh perusahaan pencetak uang serta dilakukan pengadaan bahan uang sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. – Perusahaan pencetak uang membuat contoh uang dalam bentuk beberapa lembar besar dan single note pada bahan uang baru yang apabila sesuai disampaikan kepada Dewan Gubernur untuk mendapat persetujuan. Berdasarkan persetujuan tersebut, perusahaan pencetak uang melakukan pencetakan donesia. (2) Tahap Produksi (Pencetakan) Uang (a) Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia No.34 Tahun 2000 pencetakan uang rupiah dilakukan oleh Perum Peruri, kecuali apabila Perum Peruri menyatakan ketidaksanggupan untuk melaksanakan pencetakan uang dimaksud, maka pencetakan uang dilakukan di tempat lain. (b) Persyaratan yang menetapkan hasil cetak harus memiliki kualitas yang baik dan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Pada tahap ini, hasil cetak yang diterima dari Perum Peruri harus sesuai dengan jadwal penyerahan Hasil Cetak Sempurna (HCS) yang telah disepakati antara Bank Indonesia dan Perum Peruri. Namun tidak tertutup kemungkinan adanya Hasil Cetak Tidak Sempurna (HCTS) yang selanjutnya akan dimusnahkan oleh Bank Indonesia. (3) Tahap Kampanye dan Penerbitan Uang (Emisi) Baru Kampanye dilakukan secara efektif beberapa waktu sebelum penerbitan uang agar masyarakat memahami dan akan mengenali ciri-ciri uang baru melalui press release, brosur, leaflet, media cetak, radio, TV, dll. yang baru sesuai dengan penempatan cetak yang ditetapkan oleh Bank In-

Ukuran uang yang mempertimbangkan masalah kepraktisan dan kemudahan bagi pengguna; memungkinkan dioperasikan dalam mesin/alat kas (mesin sortasi uang, mesin hitung uang dan kemasan uang) dan ATM serta digunakan dalam vending machines; dan membantu masyarakat membedakan pecahan uang berdasarkan ukuran uang yang berbeda.

Teks pada uang dalam bentuk huruf dan angka dibuat kasat mata dan tidak kasat mata.

(b) Pemilihan unsur pengaman (security features) Merupakan salah satu aspek yang penting untuk mencegah upaya pemalsuan, dengan mempertimbangkan : – – Diperlukan unsur pengaman yang lebih baik dan semakin kompleks untuk pecahan besar. Didasarkan pada hasil observasi atau penelitian, khusus pecahan besar diterapkan satu atau beberapa unsur pengaman yang canggih agar upaya pemalsuan tidak sempurna. – Perkembangan ciri-ciri uang palsu dan teknologi cetak yang digunakan seperti electronic scanners, color management software dan sophisticated printers. (c) Rencana penempatan unsur pengaman Perlu dilakukan pembahasan terlebih dahulu dengan pihak pencetak uang dan pabrikan mesin sortasi untuk menetapkan letak : – Overt security features yang mudah diketahui maupun dideteksi oleh masyarakat awam, kasir perbankan dan pengguna lainnya. – Covert security features agar dapat dideteksi oleh sensor yang terletak pada posisi-posisi tertentu dalam sortasi uang. Apabila unsur pengaman yang dipilih mengakibatkan penambahan sensor maupun penyesuaian, diusahakan dengan biaya seminimal mungkin.

142

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Proses Penerbitan Uang Baru Secara garis Besar Peruri
Bank Indonesia Satuan Kerja Pimpinan
Masukan Catatan Usulan Penerbitan Uang Baru

Keterangan

A

= Arsip

Catatan Usulan Penerbitan Uang Baru

Asumsi : Usulan langsung disetujui

A
Surat permintaan untuk membuat desain uang Surat permintaan untuk membuat desain uang Asumsi : Desain yang diajukan oleh Peruri layak untuk diajukan kepada pimpinan Bank Indonesia Catatan Tanda terima Catatan Permintaan persetujuan desain Catatan Desain Desain Desain Asumsi : Pimpinan langsung setuju terhadap desain yang diajukan

Desain uang dan tanda terima

Desain uang dan tanda terima

A
Proof cetak 2 set dan tanda terima Proof cetak 2 set dan tanda terima Catatan Proof cetak 2 set Catatan Persetujuan proof cetak 2 set Proof cetak Catatan Proof cetak 2 set CETAK MASSAL Asumsi proof cetak yang diajukan oleh Peruri layak untuk diajukan kepada pimpinan Bank Indonesia Asumsi : Pimpinan langsung setuju terhadap proof cetak yang diajukan

Tanda terima

A

1 set proof cetak diserahkan kepada Peruri disertai tanda terima dan 1 set proof cetak lainnya disimpan oleh Satuan Kerja

143

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Boks : Uang Palsu "Permasalahan dan Penanggulangannya"
Uang palsu merupakan suatu permasalahan yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Dalam segala kegiatan transaksi ekonomi di suatu negara, keberadaan uang palsu adalah hal yang sulit dihindari karena uang memiliki fungsi yang sangat strategis dalam kelangsungan hidup manusia, pemerintahan dan/atau negara. Unsur strategis tersebut karena selain digunakan sebagai alat transaksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, uang juga dapat dijadikan sebagai alat politik untuk menjatuhkan perekonomian suatu negara. Agar keberadaan uang di suatu negara sesuai dengan fungsi dan tujuannya, maka upaya pencegahan terhadap keberadaan uang palsu dilakukan baik secara preventif maupun represif. Beberapa tahun terakhir, terutama sejak Indonesia mengalami krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 yang berlanjut menjadi krisis ekonomi, tindak pemalsuan uang rupiah menjadi topik yang menarik dalam pemberitaan di berbagai media massa. Salah satu faktor yang menyebabkan masih beredarnya uang palsu saat ini, antara lain : a. Sebagian besar masyarakat masih belum mengetahui secara jelas mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah, sehingga masyarakat sulit membedakan antara uang asli dan uang palsu. b. Jumlah setoran nasabah yang besar, mengakibatkan bank-bank mangalami kesulitan dalam melakukan sortir terhadap uang yang masuk, sehingga memungkinkan masuknya uang palsu ke dalam sistem perbankan. c. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pemalsuan uang karena keterbatasan informasi, keengganan untuk melaporkan uang palsu sehingga uang palsu tersebut beredar kembali di masyarakat. Dalam rangka mengantisipasi tindak pidana pemalsuan uang rupiah, Bank Indonesia sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah senantiasa melakukan upayaupaya penanggulangan yang bersifat preventif sebagai berikut : a. Memasyarakatkan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui media elektronik, penataran kepada kasir, guru, penyebaran pengumuman, brosur dan leaflet. b. Meningkatkan unsur pengaman (security features) pada uang baru yang meliputi bahan uang, disain, warna dan teknik cetak uang. c. Meningkatkan kerja sama dengan instansi terkait yaitu BOTASUPAL (Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu). d. Meningkatkan kerjasama internasional. e. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pihak-pihak yang harus dihubungi (Bank Indonesia/ Perbankan/Kepolisian) apabila menemukan uang palsu. Selain upaya preventif sebagaimana tersebut di atas, maka tindakan represif yang dilakukan lebih banyak terkait dengan instansi lain yang berwenang untuk memberikan sanksi, antara lain pihak Kepolisian Republik Indonesia. Berdasarkan laporan dari bank-bank dan kepolisian, penemuan uang palsu pada dua tahun terakhir mengalami peningkatan, yaitu tahun 1999 meningkat 21,6% dibandingkan tahun 1998 dan pada tahun 2000 (periode Januari s.d. November) meningkat 48,8% dibandingkan tahun 1999. Selama periode Januari s.d. November 2000, jumlah uang palsu yang beredar di masyarakat sebanyak 321.267 lembar atau sebesar 0,0004% dibandingkan dengan jumlah uang yang diedarkan. Dari jumlah tersebut sebesar 16,3% merupakan uang palsu yang berasal dari temuan bank-bank (sudah beredar di masyarakat) dan 83,7% merupakan hasil temuan pihak Kepolisian (belum beredar di masyarakat). Pemalsuan uang yang ada saat ini dapat dideteksi dari teknik pencetakan dan bahan yang digunakan. Teknik pencetakan uang palsu yang banyak digunakan atau 64,2% menggunakan offset, sedangkan sisanya sebesar 35,8% menggunakan color printer. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan uang kertas palsu akhir-akhir ini adalah kertas sekuritas berserat kapas yang umumnya digunakan untuk pembuatan surat berharga seperti ijasah dan piagam. Perbedaan kertas tersebut dengan bahan kertas uang asli yaitu tidak memendar di bawah lampu ultra violet.

144

Bab 8 Sistem Pembayaran Nasional

Tindakan pemalsuan uang merupakan tindak pidana dan pihak yang berwenang menindak sesuai ketentuan hukum pidana adalah Kepolisian Republik Indonesia. Dalam hal ini sesuai dengan cakupan tugas, wewenang dan tanggung jawab, Bank Indonesia lebih banyak berperan mengambil langkah-langkah preventif yang sifatnya lebih banyak membantu pihak berwenang.

Berdasarkan tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing pihak tersebut, maka dalam pengertian yang lebih luas upaya penanggulangan uang palsu tidak sematamata menjadi tanggung jawab Bank Indonesia maupun Kepolisian, melainkan menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pihak-pihak yang berkepentingan baik perbankan maupun masyarakat pada umumnya.

145

Bab 9

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

bab

9

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Perekonomian Dunia Perkembangan ekonomi dunia dalam tahun laporan ditandai dengan meningkatnya ekspansi perekonomian di berbagai kawasan, sebagai kelanjutan dari ekspansi ekonomi tahun sebelumnya. Berlanjutnya ekspansi perekonomian dunia tersebut telah diiringi dengan meningkatnya volume perdagangan dunia, meningkatnya tekanan inflasi di beberapa negara industri maju, menguatnya mata uang dolar AS terhadap mata uang utama (meskipun melemah kembali pada akhir tahun), serta kecenderungan melemahnya harga saham dunia (Tabel 9.1). Ekspansi perekonomian dunia pada tahun laporan terutama ditopang oleh pesatnya ekspansi perekonomian di Amerika Serikat, membaiknya perekonomian di kawasan

Eropa dan Amerika Latin, serta berlanjutnya pemulihan ekonomi di beberapa negara Asia. Ekspansi perekonomian Amerika Serikat masih didorong oleh permintaan domestik yang sangat kuat. Sebagai lokomotif perekonomian global, berlanjutnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor negaranegara di berbagai kawasan, khususnya kawasan Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Di pihak lain, meningkatnya ekspansi perekonomian dunia telah disertai dengan menguatnya tekanan inflasi khususnya di negara-negara industri. Kuatnya tekanan inflasi tidak hanya berasal dari sisi permintaan tetapi juga berasal dari sisi penawaran. Dari sisi penawaran, tekanan inflasi terutama disebabkan oleh naiknya biaya produksi akibat kenaikan harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar

Tabel 9.1
Beberapa Indikator Ekonomi Dunia Rincian 1998 1999 20001)

beberapa mata uang dunia. Kenaikan harga minyak juga berimplikasi luas terhadap peningkatan biaya hidup masyarakat sehingga mendorong maraknya tuntutan kenaikan upah di beberapa negara. Hal ini pada gilirannya

Pertumbuhan Ekonomi (%) Dunia Negara-negara industri Negara-negara berkembang Negara-negara dalam transisi Laju Inflasi (%) Negara-negara industri Negara-negara berkembang Volume Perdagangan Dunia (% pertumbuhan) Harga Perdagangan Dunia (% perubahan) Barang Manufaktur Komoditas primer nonmigas Minyak bumi Nilai Tukar Utama Yen/USD USD/EURO Suku Bunga Negara Industri (rata-rata %) Jangka pendek Jangka panjang

2,6 2,4 3,5 –0,8 1,5 10,1 4,3

3,4 3,2 3,8 2,4 1,4 6,6 5,1

4,7 4,2 5,6 4,9 2,3 6,2 10,0

menambah tekanan inflasi dan semakin mempersulit pencapaian sasaran inflasi khususnya bagi negara-negara pengimpor minyak. Guna meredam menguatnya tekanan inflasi tersebut, sampai akhir paro pertama tahun 2000, beberapa negara industri maju masih melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias). Namun sejak triwulan IV/2000, dengan indikasi mulai melambatnya kegiatan

–1,2 –14,7 –32,1 130,9 –

–1,2 –7,1 37,5 113,7 1,0660

–5,3 3,2 47,5 107,8 0,9238

ekonomi dan kecenderungan menurunnya harga minyak, stance kebijakan moneter di beberapa negara menjadi cenderung netral (neutral bias). Pesatnya ekspansi perekonomian dan berlanjutnya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat telah

4,0 4,5

3,5 4,7

4,5 5,0

mengakibatkan nilai tukar dolar AS menguat secara global khususnya terhadap mata uang euro dan yen. Untuk mena-

1) Angka Perkiraan Sumber : IMF, World Economic Outlook, Oktober 2000, Bloomberg, dan publikasi eksternal

han tekanan apresiasi dolar AS yang sangat kuat tersebut khususnya terhadap mata uang euro, dalam triwulan III/2000,

147

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

beberapa bank sentral negara G-7 melakukan intevensi bersama, namun belum memberikan hasil yang optimal. Intervensi tersebut berjalan efektif pada triwulan IV/2000, seiring dengan munculnya indikasi perlambatan ekspansi perekonomian Amerika Serikat. Sementara itu, pada paro pertama tahun laporan, perkembangan pasar modal dunia ditandai dengan meningkatnya harga saham-saham berbasis teknologi informasi. Namun, pada paro kedua, harga saham-saham tersebut kembali jatuh sebagai akibat respon pasar terhadap kemungkinan melemahnya permintaan terhadap produk teknolgi informasi sehubungan dengan indikasi melambatnya ekspansi perekonomian global. Meskipun secara umum kondisi perekonomian dunia membaik, beberapa faktor risiko dan ketidakpastian masih membayangi kesinambungan ekspansi perekonomian di berbagai kawasan. Dalam kelompok negara-negara industri maju, kesenjangan kinerja ekonomi di tiga kekuatan ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang masih lebar (Grafik 9.1). Perekonomian Amerika Serikat mengalami akselerasi pertumbuhan yang pesat. Di pihak lain ekspansi perekonomian Eropa Barat masih relatif lambat. Sementara itu, kondisi perekonomian Jepang masih rentan, meskipun mulai membaik. Dalam kelompok negara-negara emerging market khususnya di kawasan Asia, proses restrukturisasi sektor

swasta belum sepenuhnya berjalan baik sehingga kawasan ini masih sangat rentan terhadap shock eksternal.

Amerika Serikat Pada tahun laporan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan mencapai 5,0%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 1999 sebesar 4,2%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2000 secara umum masih ditopang oleh kuatnya per mintaan domestik terutama konsumsi dan investasi swasta. Guna meredam tingginya ekspansi permintaan domestik dan mencapai soft landing perekonomian, sejak pertengahan tahun 1999 sampai dengan pertengahan tahun 2000 Federal Reserve menerapkan kebijakan moneter pre-emptive yang cenderung ketat (Grafik 9.2). Kebijakan moneter pre-emptive yang dijalankan Federal Reserve ditengarai telah turut mempertahankan kesinambungan ekspansi perekonomian Amerika Serikat dalam 8 tahun terakhir tanpa disertai tekanan inflasi yang berarti (non-inflationary expansion). Namun demikian, sejak Triwulan IV/2000, beberapa data ekonomi mulai menunjukkan indikasi perlambatan permintaan domestik yang cukup tajam, lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Kegiatan investasi dan konsumsi mulai melemah, bersamaan dengan menurunnya tingkat kepercayaan dunia usaha dan konsumen terhadap prospek perekonomian di masa depan. Melemahnya kegiatan investasi antara lain tercermin

% 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0
AS

% 7,0 Fed Fund Effective Rate 6,5 Fed Fund Target

6,0

5,5

5,0

-1,0 -2,0 I

Euro Jepang

4,5
II 1999 III IV I II 2000 III IV
30/4 28/5 30/6 30/7 31/8 30/9 29/10 30/11 31/12 31/1 29/2 31/3 28/4 31/5 30/6 31/7 31/8 30/9 31/10 30/11 30/12

1999

2000

Grafik 9.1 Pertumbuhan Ekonomi G-3 1999 – 2000

Grafik 9.2 Fed Fund Rate

148

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

dari menurunnya tingkat pesanan kalangan produsen terhadap barang-barang tahan lama (durable), yang kemudian diiringi dengan menurunnya output industri manufaktur. Sementara itu, melemahnya konsumsi tercermin dari merosotnya tingkat kepercayaan konsumen dan angka penjualan pada tingkat retail. Dari pasar tenaga kerja, melemahnya kegiatan ekonomi ditandai oleh peningkatan klaim ter hadap tunjangan pengangguran secara persistent. Sejumlah perusahaan mulai mengalami penurunan credit rating karena dihadapkan dengan utang macet. Pada tahun laporan, laju inflasi di Amerika Serikat mencapai 3,4%. Rendahnya tingkat laju inflasi dalam kondisi perekonomian yang tumbuh pesat merupakan dampak dari terjadinya peningkatan produktivitas perekonomian, seiring dengan meningkatnya pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi dalam skala luas (Boks : "The New Economy" dan Kebijakan Moneter Federal Reserve). Kemungkinan melambatnya ekspansi perekonomian dan melemahnya tekanan inflasi yang didukung oleh produktivitas perekonomian yang terus meningkat, telah menjadi dasar bagi Federal Reserve untuk merubah stance kebijakan moneter dari tight bias ke neutral bias terutama sejak pertengahan tahun 2000. Perubahan stance kebijakan tersebut mengakhiri siklus kebijakan moneter ketat yang telah diberlakukan sejak paro kedua tahun 1999 dengan meningkatkan target suku bunga Fed fund dari 4,8% menjadi 6,5%. Pada tahun 2001, kebijakan moneter Federal Reserve diperkirakan akan semakin longgar guna menghindari kontraksi perekonomian yang sangat dalam (hard landing). Namun, kemampuan perekonomian untuk menghindari terjadinya hard landing tersebut juga akan tergantung dari sejauh mana beberapa ketimpangan fundamental dapat teratasi terutama defisit transaksi berjalan dan defisit keuangan sektor swasta yang semakin membesar. Dalam pada itu, pasar keuangan telah mengantisipasi kemungkinan melemahnya kegiatan ekonomi tersebut seperti tercermin dari jatuhnya harga saham dan menurunnya yield obligasi jangka panjang.

Eropa Barat Pada tahun laporan, ekspansi perekonomian Eropa Barat khususnya negara-negara yang tergabung dalam zona Euro juga menunjukkan peningkatan, walaupun pada tingkat yang moderat. Dalam tahun 2000, perekonomian Euro diperkirakan tumbuh 3,4%, setelah tahun 1999 hanya tumbuh 2,3%. Ekspansi perekonomian pada tahun 2000 terutama disumbang oleh membaiknya kinerja sektor eksternal. Kinerja ekspor negaranegara di kawasan ini semakin membaik seiring dengan meningkatnya permintaan impor dari pasar Amerika Serikat dan Asia. Selain akibat meningkatnya permintaan impor, membaiknya kinerja ekspor didukung pula oleh nilai tukar euro yang sangat kompetitif. Sejak diluncurkannya pada awal Januari 1999, nilai mata uang Euro telah melemah sebesar 26,0%. Di pihak lain, melemahnya nilai tukar euro dan meningkatnya harga minyak yang persisten mengakibatkan harga impor meningkat sehingga memberi tekanan yang sangat besar terhadap inflasi. Pada tahun 2000, laju inflasi mencapai 2,8% menembus batas atas yang ditetapkan Bank Sentral Eropa. Dalam tahun 2000 harga minyak yang melonjak dan nilai tukar euro yang melemah merupakan dua faktor ancaman yang serius bagi kesinambungan ekspansi perekonomian zona Euro karena kombinasi kedua faktor tersebut menimbulkan permasalahan yang berdimensi luas. Pertama, kedua faktor tersebut menimbulkan lingkaran harga-upah (wage-price spiral). Meningkatnya biaya hidup akibat peningkatan harga minyak dan melemahnya nilai tukar euro telah mendorong serikat buruh di beberapa negara mengajukan tuntutan peningkatan upah, yang pada gilirannya memberi tekanan terhadap inflasi. Kedua, perkembangan kedua faktor tersebut memperburuk consumer confidence yang berdampak kontraksi terhadap kegiatan konsumsi. Ketiga, kedua faktor tersebut mengakibatkan perusahaan-perusahaan yang hanya mengandalkan pasarnya ke pasar domestik mulai mengurangi kegiatan produksi karena meningkatnya ongkos produksi dan mulai melemahnya permintaan. Mencermati perkembangan tersebut, Bank Sentral Eropa telah melakukan kebijakan moneter yang cenderung ketat.

149

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Guna meredam tekanan depresiasi terhadap euro, patokan tingkat suku bunga (refinancing rate) ditingkatkan dari 3,0% menjadi 4,75%. Selain itu, negara-negara G-7 juga telah melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing. Sampai triwulan III/2000, intervensi bersama yang dilakukan negaranegara G-7 belum berhasil mengangkat nilai tukar euro. Intervensi bersama tersebut, baru memberikan dampak positif sejak November 2000 sehingga berhasil memperkuat nilai tukar euro mencapai level di atas 0.90. Kecenderungan menguatnya nilai tukar euro dan menurunnya harga minyak pada akhir tahun telah mengurangi tekanan bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan kembali suku bunga. Sampai akhir tahun 2000, patokan suku bunga jangka pendek dipertahankan pada tingkat 4,75%.

perekonomian Jepang tahun 2000 diperkirakan tumbuh sebesar 1,9%.

Asia Non–Jepang Pada tahun 2000, sejumlah negara di Asia masih mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi (Grafik 9.3). Seiring dengan berlanjutnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat, sektor ekspor –baik produk elektronik maupun nonelektronik masih menjadi penggerak utama ekspansi perekonomian negara-negara Asia tersebut. Dalam tahun laporan, Republik Rakyat Cina, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi antara 7,0% sampai dengan 10,0%. Pada fase awal pemulihan ekonomi tahun 1998/1999, pesatnya pertumbuhan ekspor telah mendorong peningkatan investasi dan konsumsi dan hal ini

Jepang Sementara itu, perekonomian Jepang masih mengalami ekspansi yang sangat lambat dan rentan. Sumber utama penghambat ekspansi perekonomian adalah lambatnya restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan dalam skala luas sehingga menimbulkan credit crunch dalam perekonomian. Beberapa perusahaan besar mulai terancam bangkrut dan tingginya kredit macet terus memperburuk neraca perbankan sehingga memperlambat proses restrukturisasi sektor keuangan. Pada gilirannya hal ini membatasi kemampuan bank untuk menyalurkan kredit ke dunia usaha meskipun suku bunga masih dipertahankan rendah (terendah di dunia). Ekspansi perekonomian Jepang pada akhir tahun 2000 semakin melambat karena kinerja ekspor sebagai penopang utama perekonomian mulai menurun khususnya ekspor untuk tujuan pasar Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan surplus perdagangan mulai mengecil. Sektor fiskal yang pada awal tahun 2000 menjadi penggerak roda perekonomian, sejak

masih berdampak ekspansif sampai tahun 2000. Meskipun pada tahun 2000 suku bunga internasional cenderung meningkat, beberapa negara Asia masih tetap mempertahankan suku bunga yang rendah, kecuali Hong Kong yang menganut Currency Board System, dan negaranegara Asia yang mengalami tekanan depresiasi mata uang yang sangat kuat. Thailand, Singapura, dan Malaysia masih tetap mempertahankan suku bunga rendah. Bahkan tingkat suku bunga di Thailand (1,5%) merupakan yang terendah di

% 15,0 10,0 5,0 0,0 –5,0 –10,0 –15,0 Thailand Philipina Korea Singapura Malaysia Indonesia
I II III IV I II III IV I II III IV I II III

Triwulan II mulai kehilangan momentum. Kemampuan sektor
–20,0

fiskal untuk menjadi penopang pertumbuhan ekonomi semakin tidak dapat diharapkan (unsustainable) karena sumber pembiayaan fiskal melalui penerbitan utang (obligasi) pemerintah telah mencapai 130,0 % dari PDB (tertinggi di antara negara-negara industri maju). Secara keseluruhan

1997

1998

1999

2000

Grafik 9.3 Pertumbuhan PDB Asia 1997 – 2000

150

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

dunia setelah Jepang. Suku bunga yang rendah masih diperlukan guna memelihara momentum pemulihan ekonomi dan restrukturisasi sektor perbankan dan korporasi. Di pihak lain, tingkat suku bunga di Indonesia dan Filipina cenderung meningkat sebagai akibat tekanan depresiasi yang kuat terhadap mata uang domestik terutama sehubungan dengan meningkatnya gejolak sosial politik. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi beberapa negara Asia dalam dua tahun terakhir, reformasi struktural di kawasan ini belum sepenuhnya berjalan baik. Apabila hal ini tidak dicermati akan mengakibatkan perekonomian di kawasan ini sangat rentan terhadap shock eksternal. Reformasi struktural tersebut terutama menyangkut restrukturisasi neraca dunia usaha. Di sejumlah negara Asia, upaya untuk memperbaiki neraca dunia usaha seolah tertutup oleh kisah suksesnya kebangkitan perekonomian negara-negara tersebut dari krisis. Akibat lambannya proses restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan, kualitas aset pada kedua sektor tersebut belum membaik. Tingkat non performing loans tidak mengalami penurunan yang berarti, Bahkan hal ini di beberapa negara menjadi penghambat utama berfungsinya intermediasi perbankan. Dengan prakiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi Asia pada tahun 2001, maka tantangan untuk melanjutkan upaya restrukturisasi sektor swasta diperkirakan akan semakin berat.

kebijakan moneter dan fiskal mulai diperketat terutama sejak paro kedua tahun 2000. Pada tahun 2000, perekonomian Brasil diperkirakan mencatat pertumbuhan sebesar 4,0 %, setelah tumbuh 1,0% pada tahun 1999. Dari sisi penawaran, kinerja perekonomian terutama dipacu oleh pesatnya pertumbuhan sektor manufaktur. Sedangkan dari sisi permintaan, sumbangan utama berasal dari konsumsi sebagai akibat kebijakan fiskal yang sangat ekspansif. Perekonomian Cile yang pada tahun 1999 mengalami kontraksi sebesar 1,1%, pada tahun 2000 diperkirakan mencatat pertumbuhan sebesar 5,5%. Sektor ekspor menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Peningkatan ekspor terutama disebabkan oleh peningkatan produksi dan harga tembaga di pasar internasional yang merupakan komoditas andalan Cile. Negara besar di Amerika Latin lainnya, Argentina, pada tahun laporan mengalami perkembangan ekonomi yang stagnan. Pada tahun 2000, perekonomian Argentina diperkirakan hanya mengalami ekspansi sebesar 0,5%, meskipun lebih baik dibandingkan dengan kinerja tahun 1999 yang mengalami kontraksi sebesar 3,3%. Lambannya proses pemulihan ekonomi mengakibatkan penerimaan pemerintah tidak dapat meningkat secara pesat. Hal ini mengakibatkan defisit anggaran semakin membengkak sehingga pada tahun 2000 mencapai $1,5 miliar dibandingkan dengan defisit sebesar $1,05 miliar pada tahun 1999. Di pihak lain, negara ini dihadapkan dengan tingginya utang luar negeri. Kedua hal ini

Amerika Latin Kondisi perekonomian di negara-negara Amerika Latin juga semakin membaik, terutama ditopang oleh membaiknya kinerja ekspor dan konsumsi swasta. Meksiko merupakan negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi terpesat yang diperkirakan mencapai 7,0 % pada tahun 2000, lebih tinggi dari 3,5% yang dicapai pada tahun 1999. Kesinambungan ekspansi perekonomian negara ini sejak krisis ekonomi tahun 1994 ditopang oleh kebijakan moneter yang berhati-hati, pendapatan dari meningkatnya harga minyak, berlanjutnya ekspansi ekonomi di Amerika Serikat (sebagai tujuan ekspor utama), serta konsumsi dan investasi yang terus ekspansif. Untuk mencegah agar suhu perekonomian tidak memanas,

menimbulkan spekulasi terhadap kemungkinan terjerumusnya negara ini ke dalam perangkap utang (debt trap) sehingga menimbulkan gejolak di pasar keuangan. Paket bantuan IMF sebesar $39,7 miliar untuk sementara dapat meredam gejolak di pasar keuangan tersebut, meskipun masih banyak yang mempertanyakan tentang kemampuan negara ini untuk membiayai defisit fiskal dan utang luar negerinya yang sangat tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Afrika dan Timur Tengah Di beberapa negara kawasan Afrika dan Timur Tengah, perkembangan ekonomi pada tahun 2000 banyak ditopang oleh faktor eksternal termasuk meningkatnya harga komoditas

151

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

terutama minyak. Meningkatnya pendapatan sebagai akibat menguatnya harga minyak secara persistent sepanjang tahun 1999 dan 2000 telah meningkatkan kepercayaan konsumen dan dunia usaha yang pada gilirannya mendorong kegiatan investasi dan konsumsi. Selain itu, membaiknya kondisi perekonomian beberapa negara di dua kawasan ini juga tidak terlepas dari keberhasilan langkah-langkah restrukturisasi perekonomian yang mulai diimplementasikan sejak beberapa tahun sebelumnya, meskipun belum dilakukan dalam skala yang luas. Pada tahun 2000, perekonomian Afrika Selatan diperkirakan tumbuh 3,0%, setelah mengalami pertumbuhan sebesar 1,2% pada tahun 1999. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Afrika, membaiknya kondisi perekonomian di negara ini telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian negara-negara lainnya di kawasan Afrika. Meskipun demikian, sejumlah negara Afrika yang kurang memiliki sumber daya alam masih tetap dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Sementara itu, negara-negara di kawasan Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Mesir, Iran, dan Kuwait, diperkirakan akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang bervariasi antara 3,0% sampai dengan 5,0% terutama disumbang oleh meningkatnya penerimaan dari ekspor minyak. Dengan melihat struktur perekonomian sebagian besar negara di dua kawasan ini, kinerja perekonomian di kawasan Afrika dan Timur Tengah dalam tahun-tahun mendatang dikhawatirkan masih sangat rentan terhadap perkembangan harga komoditas internasional yang cenderung fluktuatif. terhadap melebarnya kesenjangan kinerja ekonomi antara Amerika Serikat, dengan Jepang dan Euro, serta semakin melebarnya perbedaan suku bunga antara dolar AS dengan yen dan euro. Namun demikian, menjelang akhir tahun 2000 nilai tukar dolar AS kembali melemah terhadap mata uang euro setelah terdapat sinyal bahwa ekspansi perekonomian Amerika Serikat akan melambat yang pada gilirannya akan mempersempit kesenjangan kinerja ekonomi antara Amerika Serikat dan zona Euro. Sementara itu, terhadap yen, nilai tukar dolar AS tetap menguat sampai akhir tahun karena meningkatnya sentimen negatif terhadap lambannya pemulihan ekonomi di Jepang serta memanasnya suhu politik. Sejalan dengan melemahnya mata uang yen, beberapa mata uang Asia mengalami depresiasi yang cukup tajam. Selain dilatarbelakangi oleh menguatnya nilai tukar US dollar secara global, faktor internal Pasar Valuta Asing Di pasar valuta asing, pada tahun 2000 nilai tukar dolar AS menguat secara global (Grafik 9.4). Nilai tukar dolar AS menguat terhadap mata uang utama seperti yen dan euro terutama dipicu oleh terjadinya pemindahan modal khususnya yang berbentuk portofolio dari pasar keuangan Jepang dan Euro ke pasar keuangan Amerika Serikat. Pemindahan modal portofolio tersebut merupakan respon investor internasional Pasar Modal Di pasar modal, harga saham dunia secara umum cenderung menurun (Grafik 9.5). Harga saham-saham perusahaan yang terutama gejolak sosial politik yang berkepanjangan di beberapa negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Taiwan menimbulkan sentimen negatif terhadap mata uang negara-negara tersebut. Grafik 9.4 Indeks Nilai Tukar Nominal Asia Tahun 2000 (3 Jan 2000 = 100)
Indeks 140,0 135,0 130,0 125,0 120,0 115,0 110,0 105,0 100,0 95,0 90,0
I II III IV

JPY

KRW

SGD

THB

PHP

IDR

2000

152

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Indonesia di samping mendapat manfaat bantuan dari
Indeks 240 220 200 180 160 140 120 100
1 Jan. 26 Feb. 23 Mar. 18 Jun. 13 10 Ags. 12 Des. 28 Jan. 24 Mar. 19 Mei 14 Jul. 8 Sep. 3 Nov. 29 Des. Nasdaq Dow Jones Nikkei Dax Germany

negara sahabat maupun lembaga internasional dalam membantu proses pemulihan ekonomi, namun juga aktif terlibat dalam diskusi dan kajian-kajian yang dilakukan di fora internasional tersebut. Isu kerja sama di bidang moneter, keuangan dan perbankan masih banyak mengarah pada pengembangan arsitektur keuangan internasional sebagai tema sentral. Pengembangan arsitektur keuangan internasional di tahun laporan mulai bergeser dari isu konseptual ke isu yang lebih konkret serta kemungkinan pelaksanaannya. Sejumlah pilot Grafik 9.5 Perkembangan Indeks Saham Dunia Jan. 1999 – Des. 2000 (1 Jan. 1999 = 100) project telah diluncurkan di tahun 2000, antara lain pembentukan expert group, komitmen penerapan international standards and codes, penyusunan pedoman praktek keuangan yang berhati-hati dan kajian atas penerapan stand1999 2000

bergerak di sektor teknologi informasi dan telekomunikasi (IT), yang pada awal tahun meningkat tajam, sejak paro kedua tahun 2000 mulai berjatuhan, seperti tercermin dari fluktuasi tajam pada indeks Nasdaq. Menurunnya harga saham di Amerika Serikat pada paro kedua tahun laporan terutama dipicu oleh meningkatnya harga minyak, tingginya suku bunga, dan ekspektasi penurunan perolehan keuntungan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Anjloknya indeks Nasdaq telah menjalar ke pasar saham Asia khususnya di negara-negara penghasil produk IT seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Sementara itu, harga saham di Jepang juga menurun tajam, dipicu oleh memburuknya sentimen investor internasional terhadap prospek pemulihan ekonomi Jepang yang diiringi dengan bangkrutnya beberapa perusahaan besar serta gejolak politik khususnya menjelang akhir tahun.

still sebagai cara untuk meningkatkan keterlibatan sektor swasta dalam penanganan krisis. Fokus kerja sama di bidang pembangunan meliputi pengentasan kemiskinan dan penyediaan fasilitas pinjaman. Selama tahun laporan, Bank Dunia aktif menggerakkan partnership dan sumber-sumber lain untuk meningkatkan kapasitasnya dalam membantu negara-negara miskin. Sementara itu, Bank Pembangunan Asia memfasilitasi komitmen negara-negara anggota untuk memberikan pinjaman bagi sektor sosial dengan meningkatkan pendanaan Asian Development Fund. Kerja sama di tingkat regional mengartikulasikan komitmen untuk melakukan reformasi sistem keuangan internasional dan proses pemulihan ekonomi dan penciptaan kemampuan untuk menyediakan bantuan likuiditas jangka pendek kepada negara anggota. Forum APEC menyepakati bahwa negara anggota akan berupaya untuk membangun

Kerja Sama Internasional Kerja sama di bidang ekonomi selama tahun laporan memfokuskan agendanya pada upaya mencegah terulangnya kembali krisis ekonomi, mendorong proses pemulihan ekonomi di berbagai negara, serta meningkatkan kapasitas lembaga internasional dalam mempercepat negara anggota keluar dari krisis. Dalam kerja sama tersebut,

pondasi yang kuat untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan liberalisasi perdagangan dan investasi. Sementara itu, forum ASEAN menyepakati perluasan ASEAN Swap Arrangement (ASA) yang merupakan fasilitas penyediaan bantuan likuiditas devisa jangka pendek kepada negara-negara anggota, penyediaan fasilitas Bilateral Swap Arrangement (BSA) bersama Cina, Jepang dan Korea Selatan

153

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Kerja Sama di Bidang Moneter, Keuangan, dan Perbankan International Monetary Fund (IMF) Selama tahun 2000 isu-isu yang dibahas oleh IMF meliputi: (i) upaya memperkuat sistem keuangan internasional yang mencakup peran IMF di masa yang akan datang; (ii) review terhadap fasilitas pendanaan IMF; (iii) peningkatan surveillance dan transparansi di sektor keuangan serta keterlibatan sektor swasta dalam mengatasi krisis; (iv) pembentukan independent evaluation office; dan (v) poverty reduction growth facility. Dalam rangka memperkuat sistem keuangan internasional, IMF dan komunitas internasional berupaya untuk mengurangi kerentanan dan menghindari krisis, serta mengurangi efek penularan pada saat terjadi krisis. IMF memegang peranan sentral dalam mempersatukan usaha untuk memperkuat sistem keuangan internasional dengan cara tetap bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional lain dan mendorong kestabilan makroekonomi dan keuangan internasional serta pertumbuhan dari negara-negara anggota. Berkenaan dengan fasilitas pembiayaan, IMF telah melakukan pengkajian terhadap fasilitas dan kebijakan yang menyangkut aspek fasilitas IMF. Pengkajian terhadap fasilitas IMF meliputi kaji ulang atas periode repurchase dan tingkat pembebanan Stand-By Arrangement (SBA) dan Extended Fund Facilities (EFF), penggunaan Contingent Credit Lines (CCL) dan pelaksanaan post program monitoring. Sedangkan pengkajian terhadap kebijakan meliputi jangka waktu dan struktur harga dari fasilitas IMF. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong negara anggota untuk mempercepat pelunasan pinjamannya dan menghindari penggunaan fasilitas SBA dan EFF yang berkepanjangan. Upaya meningkatkan surveillance dan transparansi di sektor keuangan diperlukan untuk mengidentifikasi kerentanan dan mengantisipasi ancaman bagi kestabilan keuangan negara anggota. Upaya meningkatkan surveillance didukung oleh ketersediaan data serta penggunaan standar dan penilaian yang berlaku internasional. Sedangkan upaya untuk meningkatkan transparansi dilakukan dengan menerapkan kebijakan umum dari Article IV Consultation.

Berkaitan dengan perlunya restrukturisasi utang atau pengurangan utang, Komite setuju bahwa program bantuan IMF harus ditekankan pada medium-term sustainability dan menjaga keseimbangan antara kontribusi private external creditors dan official external creditors dalam hal pembiayaan yang berasal dari lembaga keuangan internasional. Dalam rangka surveillance, IMF telah melakukan penyesuaian melalui perubahan-perubahan perekonomian global dan memperkuat beberapa area kunci seperti masalah sektor keuangan, utang luar negeri dan perkembangan neraca modal. Di samping itu, IMF juga meningkatkan perhatian pada masalah tingkat kerawanan keuangan, dan mendukung analisa tingkat kerawanan tersebut dalam surveillance-nya dengan cara: (i) mendorong perkembangan lebih lanjut dan integrasi indikator tingkat kerawanan keuangan suatu negara dalam IMF surveillance; (ii) bersama-sama dengan Bank Dunia menyelesaikan guidelines mengenai sovereign debt management; dan (iii) meminta Dewan Eksekutif IMF untuk mengupayakan lebih lanut mengenai bagaimana memasukkan kebijakan official reserves ke dalam surveillance dan memberikan bantuan teknis. Sedangkan upaya untuk melibatkan sektor swasta dalam pengelolaan dan pencegahan krisis disepakati untuk sebanyak mungkin menggunakan pendekatan sukarela dan marketoriented solution. Selanjutnya untuk meningkatkan budaya belajar di IMF, memperkuat kredibilitas eksternal bagi IMF, meningkatkan pemahaman terhadap lingkup kerja IMF di seluruh negara anggota, serta mendukung kepemimpinan dan tanggung jawab Dewan Eksekutif, IMF menyetujui upaya untuk membentuk Independent Evaluation Office (EVO) yang diharapkan akan beroperasi sebelum PertemuanInternational Monetary Financial Committee (IMFC) pada Spring 2001. Dalam upaya memperkuat sistem keuangan internasional, IMF telah melakukan evaluasi dan pengembangan program pengentasan kemiskinan dan pengurangan beban utang negara miskin. Selama tahun 2000, IMF telah mengembangkan country-owned poverty reduction strategies yang mengaitkan pemberian debt relief yang merupakan acuan bagi IMF dan Bank Dunia dalam memberikan

154

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

concessional lending. Dalam kerangka Highly Indebted Poor Countries (HIPC) Initiative, IMF dan Bank Dunia mengusahakan agar 20 negara mencapai decision point pada akhir tahun 2000 dan berusaha menjaga agar debt relief senantiasa tersedia untuk menunjang pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan. Dalam perkembangannya lima negara di antaranya telah mencapai decision point. Selanjutnya dalam rangka program bantuan IMF, Pemerintah Indonesia selama tahun 2000 telah menandatangani tiga Letter of Intent (LoI) dan Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP), yaitu pada 20 Januari, 17 Mei, dan 7 September. Pada Januari 2000, pemerintah telah meminta IMF untuk memberikan New Extended Fund Facility yang menggantikan dan membatalkan Extended Fund Facility lama yang disetujui pada 25 Agustus 1998. Dengan disetujuinya permintaan tersebut, nilai EFF yang tersedia bagi Pemerintah Indonesia meningkat dari SDR9.052.240.000 menjadi SDR11.104.820.000. Selama Januari sampai dengan Desember 2000, Indonesia telah melakukan pembelian EFF sebesar SDR851.150.000, sehingga jumlah pembelian SBA dan EFF yang telah dilakukan sampai dengan Desember 2000 adalah sebesar SDR8.317.970.000. Nilai EFF yang masih tersedia sampai dengan November 2002 adalah sebesar SDR2.786.850.000.

Upaya mengurangi tingkat kerawanan sistem keuangan dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan yang tepat dalam hal: (i) pemilihan sistem nilai tukar; (ii) manajemen utang luar negeri, (iii) pendekatan yang lebih sistematis atas keterlibatan sektor swasta dalam pencegahan krisis pengembangan; dan (iv) implementasi standar and code. Pemilihan sistem nilai tukar harus dilengkapi dengan kebijakan makroekonomi yang tepat dan sistem keuangan yang kuat, dan pilihan tersebut tidak selalu dapat diterapkan dengan hasil yang sama di setiap negara. Kecenderungan di banyak negara adalah menerapkan sistem nilai tukar yang kondusif (mengarah pada sisten nilai tukar mengambang) bagi stabilitas sistem keuangan. Disepakati bahwa apapun sistem yang diterapkan, suatu negara harus menghindari intervensi yang ditujukan untuk mempertahankan suatu level nilai tukar yang tidak sustainable. Kebijakan manajemen utang luar negeri secara berhatihati memerlukan keseimbangan yang tepat antara minimisasi biaya dengan meningkatnya risiko likuiditas, kehati-hatian agar terhindar dari penggunaan utang jangka pendek yang berlebihan serta currency mismatch, dan pengembangan pasar utang jangka panjang yang efisien dan likuid untuk surat berharga pemerintah. Terkait dengan manajemen utang luar negeri, negara-negara G-20 mendukung upaya yang tengah dilakukan IMF dalam menyusun guidelines for public debt

G – 20 Dalam periode laporan isu-isu pembahasan G-20 meliputi globalisasi, dan upaya mengurangi tingkat kerawanan sistem keuangan global. Negara G-20, menegaskan keyakinannya bahwa integrasi ekonomi dapat terus menjadi kekuatan yang besar dalam memberi kontribusi pada perbaikan kehidupan dengan memberikan akses pada modal, barang dan pengetahuan. Namun globalisasi juga dapat menimbulkan kesulitan ekonomi dan dislokasi sosial. Dalam hal ini, pemerintah memainkan peran penting dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan untuk meminimalisasi risiko yang timbul akibat globalisasi.

management dan debt-reserve related indicator. Dalam hal keterlibatan sektor swasta untuk menyelesaikan dan mencegah krisis ekonomi diperlukan kerangka pelaksanaan keterlibatan sektor swasta melalui penciptaan pasar uang dan modal yang lebih stabil dan efisien yang diterapkan secara fleksibel. Upaya lain dalam melibatkan sektor swasta dilakukan dengan meningkatkan dialog antara pemerintah dengan sektor swasta dan mengembangkan prinsip equal treatment di antara kreditur. Dalam hal penerapan international standard and codes (codes), disepakati bahwa: (i) negara G20 perlu mengartikulasikan komitmen mereka dalam menerapkan codes, (ii) sektor pemerintah perlu terus melanjutkan dialog dengan

155

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

sektor swasta untuk mendapatkan pandangan mereka mengenai prioritas yang harus dilakukan oleh negara maupun masyarakat internasional dalam penerapan codes, (iii) IMF bertanggung jawab melakukan surveillance mengenai perkembangan penerapan codes di negara anggota, dan (iv) Pemerintah dan masyarakat internasional harus bekerja sama untuk menjamin tersedianya sumber daya manusia dan keuangan bagi negara-negara untuk mengimplementasi codes.

Kerja Sama Bank Sentral Dalam periode laporan, kerja sama dengan bank sentral lain terus dilakukan oleh Bank Indonesia. Kerja sama tersebut dilakukan melalui forum Executive Meeting of East Asia Pacific Central Bank (EMEAP), South East Asia, New Zealand and Australia Central Bank (SEANZA), dan South East Asia Central Bank (SEACEN). Forum EMEAP tahun 2000 menekankan fokusnya pada tiga isu, yaitu: (i) keterlibatan sektor swasta; (ii) highly leverage institutions (HLI); dan (iii) aliran modal. Dalam hal meningkatkan

Manila Framework Selama tahun 2000, isu-isu yang dibahas di Manila Framework meliputi: (i) restrukturisasi sektor keuangan; dan (ii) kecukupan jumlah cadangan devisa. Sehubungan dengan restrukturisasi sektor keuangan kemajuan pesat dicapai Malaysia dan diikuti Korea, sebagaimana terlihat dari berbagai indikator seperti menurunnya Non Performing Loans (NPLs), dan kemajuan dalam restrukturisasi perusahaan, serta penjualan aset. Sementara itu, Indonesia belum banyak menunjukkan kemajuan yang berarti dalam restrukturisasi sektor keuangan. IMF, Bank Dunia maupun Asian Development Bank (ADB) berpendapat bahwa restrukturisasi sektor keuangan tidak akan berhasil tanpa disertai keberhasilan restrukturisasi sektor korporat. Berkenaan dengan isu kecukupan jumlah cadangan devisa yang dapat menunjang stabilitas perekonomian dan sekaligus menghindari terjadinya krisis, forum Manila Framework berpendapat bahwa jumlah cadangan devisa yang dianggap cukup untuk satu negara berbeda dengan negara lain, tergantung pada sistem nilai tukar yang diterapkan, jumlah kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo, dan kesehatan sistem keuangan di negara yang bersangkutan. Dalam sidang Manila Framework yang akan datang, forum sepakat untuk membahas kembali rencana pembentukan kerja sama keuangan yang pernah dilontarkan pada sidang Manila Framework pertama di Manila pada November 1997. Dalam hal ini Indonesia termasuk negara yang diminta untuk memberikan sumbangan pikiran dalam mempersiapkan background paper.

keterlibatan sektor swasta, negara-negara EMEAP masih terbagi dalam dua pendapat yang bebeda. Sebagian negara anggota EMEAP menyetujui pendekatan secara kasus per kasus dan sebagian anggota lainnya menyetujui penerapan common framework. Dalam rangka mengatasi dampak negatif HLI terhadap sistem keuangan internasional, Working Group HLI merekomendasikan agar memperkuat praktekpraktek manajemen risiko HLI dan counterpart-nya, meningkatkan public disclosure, dan membangun infrastruktur pasar keuangan. Dalam pembahasan mengenai aliran modal, terdapat pandangan umum bahwa beberapa negara mengalami instabilitas ekonomi sebagai akibat dari sudden reversal capital flows saat terjadi krisis nilai tukar di Asia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, beberapa negara menerapkan capital controls dalam bentuk market-based restriction. Dalam hal sistem nilai tukar, sistem yang dipilih harus sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan diterapkan bersama dengan kebijakan makro ekonomi yang konsisten. Sementara itu untuk memperkuat sistem keuangan negara tersebut, diperlukan upaya memperkuat prudential regulation dan meningkatkan efisiensi sistem keuangan, serta memperkuat hubungan kerja sama dalam rangka mencapai pertumbuhan yang stabil dan mencegah terulangnya krisis. SEACEN yang merupakan lembaga yang menangani Riset dan Training bagi bank sentral di Asia Tenggara, di tahun 2000 telah beberapa kali melakukan pertemuan. Di antara pertemuan tersebut adalah mengadakan dialog internasional mengenai isu capital flows, sebagai tindak lanjut atas

156

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

kesepakatan Gubernur-Gubernur Bank Sentral SEACEN. Bank sentral dan otoritas moneter anggota SEACEN bersepakat kuat untuk mendukung upaya internasional dalam rangka meningkatkan stabilitas arus modal dengan membentuk SEACEN Expert Group (SEG) on Capital Flows. Adapun tujuan SEG tersebut adalah: (i) menyusun proposal yang konkret dan praktis agar anggota SEG dapat melaksanakannya secara individu maupun kolektif untuk pengendalian arus modal yang lebih baik; (ii) menetapkan isu-isu yang terkait dengan anggota SEG dalam fora internasional. Simposium dalam forum SEANZA membahas independensi bank sentral yang meliputi pengalaman Bank of England (BoE) dalam menerapkan prinsip kemandirian bank sentral khususnya setelah pemberlakuan undang-undang BoE yang baru pada tahun 1998. BoE menekankan bahwa independensi harus ditopang oleh pejabat yang memiliki integritas, obyektivitas, dan kompetensi. Dalam kesempatan tersebut delegasi Bank Indonesia mengemukakan bahwa pengalaman di Indonesia selama sekitar 15 bulan sejak pemberlakuan UU No. 23/1999 menunjukkan perlunya waktu untuk penyesuaian bagi semua pihak baik pemerintah, parlemen, dunia usaha, dan masyarakat agar prinsip-prinsip independensi yang tertuang dalam undang-undang tersebut dapat diterapkan secara konsisten, terutama dalam kondisi perubahan format politik maupun pemerintahan yang sangat cepat. Pandangan tersebut memperoleh tanggapan positif dan moral support dari Gubernur BoE dan para pimpinan delegasi bank sentral lainnya.

Meluasnya wabah dikhawatirkan dapat berpengaruh pada melemahnya proses pertumbuhan ekonomi, human capital, dan produktivitas tenaga kerja. Dalam rangka pengentasan kemiskinan Bank Dunia terlibat dalam penyediaan global public goods. Keterlibatan tersebut diperlukan karena: (i) memberikan nilai tambah terhadap tujuan pengembangan Bank Dunia; (ii) menggerakkan sumber-sumber lainnya dan meningkatkan partnership; (iii) memberikan keunggulan komparatif bagi Bank Dunia; dan (iv) memerlukan aksi global. Sedangkan keterlibatan Bank Dunia dalam public goods tersebut diwujudkan dalam bentuk meningkatkan kerja sama dengan lembaga internasional, memfasilitasi aliran dari barang, jasa dan faktor produksi secara internasional, memperbesar manfaat globalisasi dan mencegah masalah ekonomi dan sosial, menjaga dan melindungi lingkungan, serta mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan pembangunan. Sementara itu dalam rangka pengurangan beban utang negara miskin, selama tahun laporan terdapat lima negara yaitu Bolivia, Mauritania, Mozambique, Tanzania dan Uganda yang telah mencapai decision point dengan total penghapusan utang luar negeri dalam kerangka Prakarsa HIPC sebesar lebih dari $14,0 miliar. Selanjutnya di tahun yang sama IMF dan Bank Dunia mempertimbangkan 15 negara tambahan untuk mendapatkan pengurangan beban utang luar negeri. Dalam rangka pengembangan dan persiapan terhadap strategi pengurangan kemiskinan yang lebih komprehensif bagi negara-negara berpendapatan rendah. Komite Pembangunan mendorong IMF dan Bank Dunia untuk

Kerja Sama di Bidang Pembangunan Bank Dunia Pertemuan Bank Dunia dalam tahun 2000 membahas topiktopik utama sebagai berikut: (i) intensifikasi usaha dalam menanggulangi HIV/AIDS; (ii) pengurangan kemiskinan dan global public goods; (iii) comprehensive development framework (CDF); dan (iv) memperbarui kapasitas keuangan IBRD. Komite Pembangunan menyerukan perlunya tindakan intensif secara internasional untuk mencegah epidemi HIV/AIDS dan memberikan perawatan kepada penderitanya.

mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dengan melanjutkan kerja sama dengan negara-negara anggota. Sehubungan dengan hal tersebut negara maju perlu meningkatkan akses pasar bagi produk-produk ekspor negara berkembang dan memberikan perhatian terhadap potensi integrasi regional untuk membantu negara berkembang meningkatkan pangsanya di pasar dunia. Ekspansi perdagangan yang terintegrasi diperlukan dalam kerangka pembangunan yang menyeluruh (comprehensive develop-

157

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

ment framework) yang mencakup reformasi, investasi kelembagaan, infrastruktur dan program sosial. Tinjauan atas laporan Bank Dunia mengenai kapasitas keuangan IBRD menunjukkan terjadinya peningkatan permintaan bantuan Bank Dunia. Terbatasnya kapasitas keuangan Bank Dunia dikhawatirkan akan membatasi pemenuhan permintaan tersebut. Dalam kaitan ini, Dewan Eksekutif meminta untuk melakukan kajian kemungkinan meningkatkan kapasitas keuangan Bank Dunia.

informasi melalui website, perluasan Collective Action Plan dalam bentuk paperless trading yang terkait dengan prosedur perpajakan dan upaya-upaya implementasi kesepakatan WTO melalui peningkatan capacity building. Pertemuan tingkat Menteri Keuangan juga telah melakukan kerja sama dalam rangka memperkuat sistem keuangan negara anggota APEC melalui reformasi international financial architecture. Berbagai langkah konkret telah dilakukan guna mengidentifikasikan berbagai sumber kerentanan, meningkatkan elastisitas pasar domestik dan inter-

Bank Pembangunan Asia (ADB) Kerja sama negara-negara Asia melalui ADB telah menghasilkan beberapa komitmen, di antaranya yaitu: (i) dalam era globalisasi, negara emerging market harus secara kontinyu mencari cara untuk mempercepat pembangunan ekonominya, melalui pendekatan participating dalam pengentasan kemiskinan menjangkau secara luas kelas masyarakat yang berbeda. (ii) dalam rangka mengimbangi peningkatan pemberian pinjaman untuk sektor sosial khususnya dalam pengentasan kemiskinan, negara anggota mendukung penambahan Asian Development Fund (ADF). Berkaitan dengan komitmen ADB untuk menyediakan pinjaman jangka panjang, dalam tahun 2000 Indonesia telah menerima pinjaman sebesar $564,7 juta.

nasional, serta memperbaiki fungsi sistem secara keseluruhan. Adapun langkah-langkah konkret tersebut antara lain meliputi upaya menerapkan international standard and codes di kawasan APEC maupun upaya meningkatkan kegiatan surveillance sebagai unsur penting dalam mendorong penguatan ekonomi domestik dan internasional. Dalam rangka memperkuat sistem keuangan tersebut, APEC telah menyambut baik upaya mengembangkan keterlibatan sektor swasta dalam mengatasi krisis, upaya memodifikasi fasilitas pinjaman IMF, kerja sama keuangan di tingkat regional sebagai pelengkap pinjaman IMF, maupun upaya mengurangi kerentanan suatu negara terhadap krisis sesuai hasil pertemuan G-20. Berkaitan dengan international standard and codes, APEC telah mendukung key standard yang diidentifikasikan

Kerja Sama Regional Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Dalam tahun laporan, berbagai pertemuan telah diselenggarakan dalam kerangka APEC. Pertemuan tersebut mendiskusikan kerja sama antarnegara anggota di berbagai sektor ekonomi. Adapun rangkaian pertemuan tersebut meliputi pertemuan tingkat menteri, tingkat Kepala Pemerintahan, dan pertemuan para Menteri Keuangan. Pertemuan tingkat menteri membahas tema pokok APEC 2000, yaitu: (i) Building Stronger Foundation; (ii) Creating New Opportunities; dan (iii) Making APEC Matter More. Berkenaan dengan tema Building Stronger Foundation, APEC telah mencapai kemajuan-kemajuan dalam mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi, seperti penyebaran

oleh Financial Stability Forum (FSF) dan mendukung upaya negara anggota APEC dalam menerapkan codes sebagai prioritas utama. Dalam hal ini, APEC telah mancapai kemajuankemajuan dalam mengembangkan internasional standard, codes dan best practice guidelines dalam cakupan-cakupan yang luas yang akan membantu upaya meningkatkan kerangka hukum, kelembagaan dan pengaturan di perekonomian negara APEC. Implementasi rekomendasi FSF pada HLI, capital flows dan Offshore Financial Center (OFC) akan membantu mengurangi risiko cross-border capital flows dan mendorong international financial stability. Sementara itu, untuk memperkuat sistem keuangan di kawasan APEC, ekonomi anggota APEC telah mengembangkan berbagai inisiatif antara lain meliputi Voluntary Ac-

158

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

tion Plan for Freer and More Stable Capital Flows, studi mengenai Bank Failure Management, pengembangan kemampuan regulator keuangan dan sistem pengawasan, meningkatkan corporate governance, social safety nets, kerangka legal dan pengaturan untuk melawan kejahatan keuangan, kajian terhadap Credit Rating Agencies serta inisiatif yang terkait dengan transaksi keuangan secara elektronis. Berkaitan dengan Voluntary Action Plan (VAP), ekonomi APEC menyatakan pentingnya APEC memfokuskan upaya memperkuat dan meningkatkan kredibilitas kebijakan untuk meminimalkan risiko dan memanfaatkan keuntungan dalam pasar modal internasional. Sementara dalam liberalisasi capital account, ditekankan pula pentingnya upaya memperkuat sistem keuangan dan kerangka manajemen risiko yang efektif. Sehubungan dengan Policy Dialogue Process, Voluntary Action Plan Group Meeting, secara prinsip telah menyetujui Basel Committee’s Core Principle for Effective Banking Supervision sebagai topik yang akan dibahas tahun 2001. Policy Dialogue Process merupakan salah satu komponen VAP Initiative Bagian II sebagai upaya yang melibatkan negara anggota APEC dalam tukar menukar pandangan mengenai isu kebijakan dalam menerapkan standar internasional guna memperkuat pasar keuangan di kawasan APEC. Dalam rangka memperkuat pasar keuangan domestik, studi mengenai Bank Failure Management akan memfokuskan pada upaya pengelolaan bank yang mengalami krisis maupun respon kebijakan yang diperlukan untuk mencegah systemic failure. Sementara berkaitan dengan upaya Credit Rating Agency yang efisien dan terpercaya, negara anggota APEC dapat memainkan peranan aktif dengan meningkatkan kualitas dan meningkatkan corporate governance. Dalam upaya mengurangi dampak krisis dan mencegah terjadinya krisis, APEC telah melakukan kajian terhadap penerapan social safety net di negara anggota APEC yang meliputi: (i) kebutuhan perencanaan safety net pre-crisis yang cukup; (ii) akurasi informasi mengenai negara yang rentan dan miskin; serta (iii) kebutuhan untuk mempunyai instrumen yang luas untuk menjamin cakupan dan pencapaian target. Pelaksanaan program tersebut perlu dikoordinasikan di antara

lembaga Pemerintah agar tidak terjadi tumpang tindih dan menimbulkan beban administrasi.

ASEAN Dalam tahun 2000, kerja sama bank sentral ASEAN mencapai kesepakatan bahwa negara anggota ASEAN tetap menginginkan agar ASEAN Central Bank Forum (ACBF) dipertahankan seperti yang ada saat ini tanpa mengikutsertakan Sekretariat ASEAN dalam dialog. Dalam hal ini menyepakati ACBF sebagai forum pertukaran informasi antarbank sentral. Dalam periode laporan, negara anggota ASEAN telah menyetujui untuk memodifikasi Asean Swap Arrangement (ASA). Tujuan dari New ASA tersebut adalah menyediakan bantuan likuiditas devisa jangka pendek kepada negara anggota yang mengalami kesulitan neraca pembayaan dan meningkatkan kerja sama keuangan di antara negara-negara ASEAN. Dalam kaitan ini, Working Group on ASA yang dipimpin oleh Bank Indonesia telah menyepakati ketentuan ASA sebagai berikut: (i) negara yang berpartisipasi dalam ASA meningkat dari 5 negara menjadi seluruh negara ASEAN (10 negara); (ii) jatuh tempo dan perpanjangan ASA yang lebih fleksibel, namun tidak boleh melebihi 6 bulan; (iii) cooling off period pengajuan permintaan penarikan fasilitias ditingkatkan dari 1 bulan menjadi 6 bulan; (iv) total fasiltias ASA ditingkatkan dari $200 juta menjadi $1 miliar, dengan kontribusi dibagi menjadi 2 group, yaitu group I (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam) dengan kontribusi total $900 juta, atau masingmasing $150 juta, serta group II dengan kontribusi total disepakati sebesar $100 juta yang bersumber dari Kamboja ($17 juta), Laos ($5 juta), Vietnam ($50 juta), dan Myanmar ($428 juta); (v) prakondisi New ASA yaitu negara tersebut berada dalam program IMF atau cadangan devisanya menurun tajam dan hanya mencakup kebutuhan impor kurang dari 3 bulan; dan (vi) mata uang yang digunakan adalah dolar AS, yen, dan euro; suku bunga yang digunakan yaitu LIBOR, Euro Yen, dan Euro LIBOR. Dengan ASA yang berlaku telah berakhir 4 Agustus 2000, maka anggota ASA menyepakati bahwa Malaysia akan bertindak sebagai agent bank.

159

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Sementara itu, kerja sama ASEAN + 3 telah pula menyepakati untuk menyediakan fasilitas bilateral swap dan repurchase agrement (BSA) di antara negara-negara ASEAN dengan Jepang, Cina, dan Korea Selatan. BSA tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan keuangan jangka pendek dalam bentuk swap kepada negara yang ikut serta dalam Chiang Mai Initiative untuk mendukung neraca pembayaran. Swap tersebut merupakan tambahan atas fasilitas keuangan internasional yang ada, termasuk bantuan IMF dan ASA. Secara garis besar, pokok-pokok dari BSA adalah: (i) BSA tidak terkait dengan ASA, fasilitas yang mandiri, dan dapat dilaksanakan secara paralel dengan ASA; (ii) fasilitas BSA dapat digunakan oleh seluruh negara tanpa ada keterkaitan dengan IMF; (iii) suku bunga adalah LIBOR+150 basis point (bp) untuk penarikan dan perpanjangan pertama dan bertambah sebesar 50 bp pada setiap dua periode perpanjangan. Fasilitas BSA tersebut belum dapat direalisasikan mengingat masih terdapat beberapa masalah yang belum

disepakati, antara lain masalah jaminan pemerintah untuk fasilitas BSA yang diberikan dan belum jelasnya maksimum total fasilitas dimaksud. Kerja sama ASEAN lainnya yang telah dicapai adalah pembentukan working group on ASEAN Currency and exchange Rate Regime. Pembentukan working group tersebut merupakan kelanjutan dari ide pembentukan ASEAN common currency and exchange rate yang pernah dikemukakan di ASEAN Summit tahun 1998 di Hanoi di bawah Hanoi Plan on Action. Malaysia sebagai ketua dari working group tersebut selama periode laporan telah menyampaikan Terms of Reference untuk mengkaji manfaat dan kerugian dari pembentukan ASEAN common currency kepada seluruh negara anggota ASEAN. Proyek ASEAN tersebut memperoleh bantuan teknis dari IMF dan bertujuan untuk: (i) meningkatkan stabilitas keuangan dan sosial, khususnya pada tingkat regional; (ii) mencegah terjadinya krisis keuangan di masa yang akan datang, dan (iii) meningkatkan kerja sama keuangan regional.

160

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Boks : “The New Economy” dan Kebijakan Moneter Federal Reserve
Pesatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat yang disertai dengan peningkatan pertumbuhan produktivitas secara berkesinambungan dalam 8 tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan fundamental tengah berlangsung dalam perekonomian Amerika Serikat (Grafik 1.2). Banyak pengamat ekonomi yang berpandangan sama bahwa pesatnya pertumbuhan produktivitas tersebut dipicu oleh kemajuan pesat di bidang teknologi komputer dan informasi (IT) dan pemanfaatan teknologi ini dalam berbagai sektor ekonomi sehingga melahirkan fenomena yang disebut “the new economy”. Peningkatan produktivitas dapat dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi komputer dan informasi melalui tiga jalur : ♦ Peningkatan produktivitas (direct productivity gain) dalam industri yang memproduksi barang-barang teknologi informasi berdampak luas terhadap peningkatan produktivitas pada seluruh sektor perekonomian. Meningkatnya produktivitas dalam sektor ini telah mendorong harga komputer dan berbagai produk yang terkait dengan komputer turun tajam. Hal ini pada gilirannya mendorong industri lainnya secara intensif menggunakan produk komputer. ♦ Terjadinya capital deepening di pasar keuangan yang pada gilirannya meningkatkan rasio modal terhadap jumlah tenaga kerja di berbagai industri. Dengan
% 6,5 6,0 5,5 5,0 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000
% 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 –1,0 –2.0 Mar. 1990 Sep. 1991 Mar. 1993 Sep. 1994 Mar. 1996 Sep. 1997 Mar. 1999 Sep. 1990

Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat1992–2000 meningkatkan investasi dalam perangkat komputer dan teknologi informasi produktivitas tenaga kerja meningkat. Pemanfaatan perangkat komputer telah membantu dalam menciptakan cara-cara berproduksi yang lebih efisien, cepat, dengan input seminimal mungkin. ♦ Spillover effect terjadi ketika keuntungan yang diraih produsen dari suatu investasi meningkat. Hal ini pada gilirannya mendorong produsen lainnya melakukan investasi yang sama. Spillover effect menjadi intensif dengan meningkatnya investasi dalam teknologi informasi. Keuntungan yang diraih atas investasi dalam “internet capable computer” meningkat ketika semakin banyak konsumen dan korporasi yang menggunakan jasa internet. Beberapa penelitian memberikan indikasi besarnya sumbangan pemanfaatan teknologi informasi terhadap peningktan produktivitas. Satu persen laju pertumbuhan produktivitas di Amerika Serikat, sekitar 44% sampai dengan 73% disumbang oleh pemanfaatan teknologi informasi.1) Beberapa perekonomian negara industri lainnya termasuk

Grafik 1. Pertumbuhan Produktivitas Amerika Serikat1992–2000

1 Penelitian dilakukan oleh Dale Jorgenson and Kevin Stiroh; “Raising the Speed Limit: U.S. Economic Growth in the Information Age” (periode 1990-1998), Steven D. Oliner and Daniel E. Sichel; “The Resurgence of Growth in the Late 1990s” (periode 1990-1999), dan Karl Whelan; “Computers, Obsolescence, and Productivity” (periode 1974-1998).

161

Bab 9 Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

negara-negara industri baru di Asia mengalami pertumbuhan produktivitas yang tinggi terutama melalui capital deepening dan sumbangan total factor productivity (TFP) . Negaranegara tersebut melakukan investasi sekurang-kurangnya 5,0% dari PDB dalam perangkat teknologi informasi. Besarnya investasi dalam produk IT di Amerika Serikat telah mengakibatkan terjadinya perubahan struktural perekonomian sehingga meningkatkan produktivitas secara persisten. Sebagai akibatnya, output potensial perekonomian terus meningkat. Sampai pertengahan tahun 1990-an, output potensial perekonomian Amerika Serikat hanya sekitar 2,5%. Pada tahun 2000, hitungan beberapa ekonom memperkirakan ouput potensial Amerika Serikat telah mencapai 3,5% sampai dengan 4,0%. Hal ini mengakibatkan output gap perekonomian tidak memberi tekanan inflasi meskipun permintaan domestik tumbuh pesat. Rendahnya tekanan inflasi juga dapat dijelaskan dari sudut pandang mikro. Dengan semakin meningkatnya kegiatan ekonomi, permintaan terhadap tenaga kerja semakin meningkat sehingga mengakibatkan kondisi pasar tenaga kerja menjadi ketat. Hal ini pada gilirannya menumbulkan tekanan peningkatan tingkat upah. Meskipun demikian, dengan meningkatnya produktivitas, tekanan kenaikkan upah tersebut dapat di-offset dengan penurunan ongkos produksi per unit, sehingga tidak ada alasan bagi kalangan produsen untuk menaikkan harga produk. Terjadinya perubahan struktural dalam perekonomian tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa beberapa indikator ekonomi seperti angka NAIRU yang dalam dekade lalu sering digunakan oleh Federal Reserve dalam memformulasikan kebijakan moneternya, dalam beberapa
2

tahun terakhir ini kurang reliable. Misalnya, pesatnya pertumbuhan ekonomi telah menyerap banyak tenaga kerja sehingga menurunkan tingkat pengangguran. Hitungan angka NAIRU (Non-accelerating inflation rate of unemployment) yang sering digunakan ekonom untuk mengukur tingkat pengangguran terendah yang tidak akan memicu kenaikkan harga telah turun menjadi 5,0 persen. Meskipun tingkat pengangguran pada tahun 2000 turun mencapai 3.9 persen —terendah dalam 30 tahun terakhir—, hal itu tidak menimbulkan tekanan inflasi. Dengan alasan tersebut, dalam beberapa tahun terakhir formulasi kebijakan moneter lebih banyak didasarkan pada information variable yang diperoleh dari sektor riil khususnya berbagai leading indicators yang akan memberikan arah kegiatan ekonomi ke depan. Indikatorindikator ekonomi tersebut antara lain factory order di industri hulu, consumer and business confidence, weekly jobless claim, business inventory, productivity index, dan lain-lain. Selain itu, Federal Reserve juga sangat memperhatikan indikator di pasar modal khususnya perkembangan harga saham karena besarnya wealth effect perkembangan harga saham terhadap konsumsi swasta. Tersedianya berbagai leading indicators seperti di atas sangat membantu Federal Reserve dalam menjalankan kebijakan moneter yang pre-emptive. Secara singkat, lahirnya “the new economy” dalam perekonomian Amerika Serikat dan langkah pre-emptive dalam kebijakan moneter Federal Reserve dapat menjelaskan mengapa perekonomian negara adikuasa ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkesinambungan dalam delapan tahun terakhir tanpa disertai dengan tekanan inflasi yang cukup berarti (non-inflationary expansion) .

2 Dalam konsep perhitungan “Sollow Growth Model” , TFP adalah residual yang mencerminkan spillover effect .

162

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

10
P

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

bab

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

rospek pemulihan perekonomian Indonesia tahun 2001 diprakirakan tetap membaik. Dengan melihat semakin

Selain itu, implementasi otonomi daerah pada tahun 2001 memiliki potensi yang dikhawatirkan dapat memacu laju inflasi, terutama apabila daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan pungutan, restribusi, ataupun pajak daerah. Dengan memperhatikan perkembangan dan prospek makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan yang diperkirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju inflasi sekitar 2,0%–2,5% di atas target tersebut. Untuk mencapai sasaran laju inflasi tersebut, Bank Indonesia akan mengendalikan pertumbuhan uang primer agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia memutuskan bahwa sasaran pertumbuhan uang primer pada akhir tahun 2001 sebesar 11,0%–12,0%. Dengan prakiraan masih besarnya tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, kebijakan moneter yang cenderung ketat dalam tahun 2001 dipandang masih perlu, setidaknya sampai dengan semester pertama 2001. Apabila tekanan terhadap inflasi mulai mereda dan fungsi intermediasi perbankan semakin membaik, ruang gerak bagi kebijakan moneter yang relatif longgar akan lebih luas. Sementara itu, nilai tukar tetap diupayakan agar tidak terlalu bergejolak. Upaya pemeliharaan kestabilan nilai tukar rupiah melalui sterilisasi terhadap dampak ekspansif pengeluaran pemerintah yang bersumber dari dana luar negeri tetap perlu dilakukan. Kebijakan lain yang secara langsung dapat mengurangi gejolak nilai tukar rupiah harus menjadi opsi yang tetap terbuka, antara lain monitoring dan pengaturan transaksi devisa, serta pembatasan internasionalisasi rupiah. Prospek pertumbuhan ekonomi dan keberhasilan pencapaian sasaran inflasi tahun 2001 tersebut akan

kuatnya proses pemulihan yang tengah berlangsung dan asumsi terkendalinya berbagai faktor risiko dan ketidak pastian di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi tahun 2001 diprakirakan dapat mencapai 4,5% – 5,5%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh masih cukup baiknya kinerja ekspor, meningkatnya kegiatan investasi dan masih cukup kuatnya konsumsi. Dari sisi internal, berbagai permasalahan penting, seperti upaya restrukturisasi perbankan dan utang perusahaan diprakirakan secara berangsur akan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Sementara dari sisi eksternal, kondisi perekonomian global yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, serta harga minyak, diprakirakan masih kondusif terhadap perkembangan perdagangan luar negeri maupun arus modal Indonesia. Walaupun demikian, beberapa faktor risiko dan ketidakpastian diperkirakan masih mempengaruhi perkembangan nilai tukar tahun 2001. Tekanan-tekanan melemahnya nilai tukar rupiah masih akan dirasakan, meskipun secara keseluruhan nilai tukar rupiah diprakirakan dapat menguat hingga mencapai rata-rata sekitar Rp7.750-Rp8.250 per dolar AS pada tahun 2001. Prakiraan membaiknya nilai tukar ini disebabkan oleh membaiknya kondisi fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2001 dan menurunnya laju apresiasi dolar AS secara global akibat melambatnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat. Dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi, tekanan-tekanan inflasi pada tahun 2001 diprakirakan relatif masih tinggi. Hal ini disebabkan masih tingginya ekspektasi inflasi, meningkatnya penggunaan kapasitas produksi dan cukup kuatnya sisi permintaan. Di samping itu, rencana Pemerintah untuk meningkatkan harga BBM, harga dasar gabah, cukai rokok, gaji PNS dan UMR diprakirakan juga akan memberikan dampak pada inflasi.

164

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

tergantung pada kemajuan dalam menangani berbagai permasalahan mendasar serta upaya meminimalkan berbagai risiko dan ketidakpastian di dalam negeri. Berbagai permasalahan tersebut antara lain menyangkut keberhasilan proses restrukturisasi utang perusahaan, pemulihan intermediasi perbankan, terkendalinya peningkatan beban keuangan pemerintah, dan kelancaran pelaksanaan otonomi daerah. Berbagai faktor non ekonomi khususnya faktor sosial politik, keamanan, dan ketidakpastian hukum juga dapat menjadi kendala yang signifikan dalam proses pemulihan ekonomi dan perbankan maupun dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi.

bersumber dari meningkatnya biaya energi serta mulai berkurangnya dampak bawaan dari pesatnya pertumbuhan ekonomi pada dua tahun terakhir. Penurunan pertumbuhan terutama akan terjadi di kawasan Amerika Utara dan sebagian kawasan Eropa yang antara lain disebabkan oleh mulai menurunnya konsumsi masyarakat, terutama konsumsi barang-barang tahan lama. Di sisi lain, perekonomian Jepang diprakirakan akan mulai membaik menyusul keberhasilan upaya restrukturisasi sektor perbankan Jepang serta penggabungan usaha (merger). Kondisi ini diprakirakan akan memberikan pengaruh positif terhadap iklim investasi dan ekspor Indonesia melalui berbagai anak perusahaan dan perusahaan patungan Jepang yang

Prospek Ekonomi Global Pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2001 diprakirakan akan mencapai 4,2%, sedikit lebih rendah dibanding tahun 2000 sebesar 4,7%. Sejalan dengan kegiatan ekonomi dunia yang cenderung turun, pertumbuhan volume perdagangan dunia secara tertimbang diprakirakan akan berkisar 7,8% atau menurun bila dibandingkan dengan tahun 2000 sebesar 10,0% (Tabel 10.1). Faktor utama yang memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan tahun 2001 adalah naiknya produktivitas masyarakat sebagai dampak penggunaan teknologi yang lebih maju. Sementara itu, faktor negatif

beroperasi di Indonesia. Perekonomian negara-negara maju pada tahun 2001 diproyeksikan akan tumbuh sebesar 3,2% atau lebih rendah dari tahun 2000 sebesar 4,2%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama terjadi di Amerika Serikat, yaitu dari 5,2% tahun 2000 menjadi menjadi 3,2% tahun 2001. Perlambatan pertumbuhan ekonomi diprakirakan juga akan berlangsung di kawasan Uni Eropa, yaitu dari 3,5% pada tahun 2000 menjadi 3,4% pada tahun 2001. Sementara itu, ekonomi Jepang diprakirakan akan mulai membaik pada 2001 dengan mencatat pertumbuhan sebesar 1,8%, terutama terkait dengan kemajuan yang dicapai atas restrukturisasi perusahaan dan perbankan. Melambatnya pertumbuhan ekonomi negara

Tabel 10.1 Pertumbuhan Ekonomi Dan Volume Perdagangan Dunia
1999 Pertumbuhan ekonomi (%) Dunia Negara-negara industri Negara-negara berkembang Negara-negara transisi Amerika Serikat Jepang Jerman Inggris Perancis RRC Korea Selatan Singapura Volume Perdagangan Dunia (%)
1) Angka perkiraan Sumber : World Economic Outlook, Oktober 2000

maju tersebut akan berdampak pada melambatnya kinerja ekonomi negara-negara berkembang, terutama beberapa
20011) 4,2 3,2 5,7 4,1 3,2 1,8 3,3 3,0 3,3 7,3 6,5 5,9 7,8

20001) 4,7 4,2 5,6 4,9 5,2 1,4 2,9 3,1 2,9 7,5 8,8 7,9 10,0

negara Asia. Seperti diketahui, ekonomi negara Asia pada tahun 2000 sangat terbantu oleh kinerja ekspor, khususnya ekspor barang elektronika, ke berbagai negara maju, termasuk ke kawasan Amerika Utara. Dengan prospek seperti di atas, perkembangan ekonomi di berbagai negara yang menjadi mitra dagang Indonesia secara keseluruhan diprakirakan juga akan sedikit melambat.

3,4 3,2 3,8 2,4 4,2 0,2 1,6 1,4 1,6 7,1 10,7 5,4 5,1

Inflasi dan suku bunga internasional Dengan prakiraan turunnya harga minyak dan melemahnya permintaan agregat, inflasi dunia diprakirakan sedikit menurun

165

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

cenderung tinggi sementara harga produk pertanian
Tabel 10.2 Perkembangan Inflasi Dan Suku Bunga Internasional
1999 Inflasi (%) Negara-negara industri Negara-negara berkembang Negara-negara transisi Sukubunga jangka pendek (%) Amerika Serikat Jepang Uni Eropa
1) Angka perkiraan Sumber : World Economic Outlook, Oktober 2000

cenderung rendah. Namun demikian, dalam jangka relatif
20011)

20001)

pendek harga-harga komoditi diprakirakan kembali bergerak dalam satu arah sejalan dengan mulai turunnya harga minyak

1,4 6,6 43,8

2,3 6,2 18,3

2,1 5,2 12,5

serta sedikit meningkatnya harga komoditi pertanian. Pada tahun 2001, harga minyak diprakirakan turun sebesar 11,0%13,0% di 2001(Grafik 10.1), sementara harga komoditi logam

4,8 0,0 2,9

6,1 0,2 4,4

6,7 0,5 5,1

dan mineral diprakirakan naik sebesar 1,5% . Sementara itu, harga komoditi pertanian diprakirakan mampu meningkat hingga 4,0%. Dengan adanya kesepakatan mekanisme penetapan harga dan kuota minyak OPEC tanggal 1 Oktober 2000, harga

pada 2001. Perkembangan ini terjadi baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Laju inflasi Amerika Serikat diprakirakan turun menjadi 2,6%. Sementara itu, Jepang diprakirakan mengalami inflasi 0,5% setelah sebelumnya mencatat deflasi. Laju inflasi di negara berkembang diprakirakan turun menjadi 5,2% lebih rendah dibandingkan laju inflasi sebesar 6,2% ditahun sebelumnya. Sementara laju inflasi di negara-negara transisi diprakirakan akan mencapai 12,5% (Tabel 10.2). Relatif stabilnya inflasi akan mendorong negara maju untuk melakukan kebijakan suku bunga yang relatif tetap atau cenderung turun. Khusus Amerika Serikat, hal tersebut sejalan dengan prakiraan masyarakat umum bahwa kebijakan pengetatan dari bank sentral AS (Federal Reserve) telah berakhir guna menjaga agar melambatnya ekspansi perekonomian

minyak diprakirakan akan berangsur turun sebesar $3.0-$4.0 per barrel. Sebagaimana diketahui, berdasarkan mekanisme penentuan harga baru tersebut, anggota OPEC diperkenankan untuk meningkatkan produksi minyak apabila keranjang harga minyak OPEC melebihi batas atas kisaran harga yang disepakati selama 20 hari berturut-turut. Sebaliknya apabila harga minyak lebih rendah dari batas bawah kisaran harga, maka kuota produksi dapat dikurangi kembali. Dengan pertimbangan tersebut di atas serta adanya akumulasi persediaan minyak dunia akibat kebutuhan musim dingin yang lebih rendah dari yang diprakirakan maka harga minyak ratarata tahun 2001 diprakirakan akan berkisar $24,0-$25,0 per barrel.

$/barrel

tahun 2001 tidak mengakibatkan terjadinya resesi yang parah. Perkembangan suku bunga internasional yang relatif tetap serta membaiknya perkembangan ekonomi di kawasan Asia yang terkena krisis diprakirakan akan mendorong terjadinya realokasi dana oleh investor ke pasar Asia. Sejalan dengan hal tersebut, akses negara-negara yang terkena krisis ke pasar internasional diprakirakan juga akan membaik seiring dengan adanya revisi credit rating ke tingkat yang lebih baik.

40 35 30 25

Minas Basket Venezuelan Crude Batas atas

Batas bawah 20 15 10 5 1996 1997 1998 1999 2000

Harga komoditas internasional Harga komoditas internasional bergerak dalam arah yang beragam setelah krisis Asia 1999. Harga komoditi minyak masih

Grafik 10.1 Perkembangan Harga Minyak Mentah

166

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

diprakirakan akan terkoreksi turun akibat meningkatnya
Indeks 130 120 110 100 90 80 70 60 50 40 30
4

penggunaan produk hasil daur ulang. Sementara itu, hargaTimah Aluminium Rata-rata Emas Tembaga

harga komoditi utama ekspor pertanian seperti karet, kopi, teh dan coklat – meskipun sedikit meningkat -- diprakirakan masih cenderung tertahan di tingkat harga yang relatif rendah akibat terus meningkatnya produksi dan jumlah persediaan (Grafik 10.3).

Angka estimasi s.d. 2002
6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2

Prospek Ekonomi Indonesia Prospek perekonomian Indonesia tahun 2001 diprakirakan terus membaik sebagaimana tercermin dari indeks komposit Lead‘99 ‘00 ‘01 ‘02

‘98

Grafik 10.2 Indeks Harga Komoditas Mineral Dunia

ing Indikator Ekonomi (LIE) yang masih cukup tinggi (Grafik 10.3). Setelah tumbuh 4,8% pada tahun 2000, pertumbuhan ekonomi tahun 2001 diprakirakan berkisar 4,5%-5,5%. Pertumbuhan

Secara umum, perkembangan harga-harga produk ekspor nonmigas Indonesia tahun 2001 di pasaran internasional diprakirakan relatif stabil bahkan cenderung naik sehingga memberikan insentif positif bagi para pengusaha untuk mendorong ekspor (Grafik 10.2). Harga ekspor komoditi pertambangan diprakirakan meningkat seiring dengan peningkatan permintaan terutama terkait dengan relatif pesatnya perkembangan industri manufaktur Republik Rakyat Cina dan perkembangan industri semikonduktor di Amerika Serikat serta menurunnya persediaan komoditi tambang dunia. Harga beberapa produk tambang seperti nikel dan aluminium

moderat tersebut sebagai kelanjutan dari proses pemulihan yang terus berlangsung. Dari sisi permintaan, pendorong utama pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan bersumber dari kegiatan ekspor dan investasi. Sementara itu dari sisi penawaran, sumber pertumbuhan akan berasal dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor bangunan. Seiring dengan adanya perbaikan ekonomi yang berkelanjutan di semua sektor, kesenjangan output (output gap) akan semakin menyempit. Menyempitnya kesenjangan output ini akan mendorong perusahaan untuk melakukan

Indeks 300 250 200 150

% 10,0 Karet Palm oil Kopi Kayu lapis Teh Rata-rata 5,0 0

Indeks 1,4 1,2 1,0 0,8

–5,0 0,6 –10,0 100 –15,0 50 Angka estimasi s.d. 2002 0
4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2

0,4 Growth Y-o-Y (kiri) LIE Komposit (kanan) –20,0
1 5 9 1 5 9 1 5 9 1

0,2 0,0

‘98

‘99

‘00 ‘01 ‘02

1998

1999

2000

2001

Grafik 10.3 Indeks Harga Komoditas Pertanian Dunia

Grafik 10.4 Leading Indikator Ekonomi

167

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

investasi baru guna memenuhi permintaan yang meningkat. Berdasarkan optimisme pertumbuhan investasi tersebut, arah pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan diprakirakan masih meningkat. Di samping itu, permintaan ekspor juga diprakirakan masih tumbuh dengan cukup kuat, walaupun tidak sekuat pertumbuhan ekspor tahun 2000.

Tabel 10.3 Pertumbuhan Dari Sisi Permintaan Tahun Rincian Asumsi Volume perdagangan dunia (%) Harga minyak ($/barrel ) LIBOR 3 bulan (%) Yen/$ Rp/$ Defisit fiskal (% thd PDB) Proyeksi (% pertumbuhan tahunan) PDB riil Konsumsi Investasi Ekspor barang dan jasa Impor barang dan jasa
1) Angka proyeksi

2000** 11,5 25 6,5 105 8.400 6,5 4,8 3,9 17,9 16,1 18,2

20011) 9,2 25 6,5 105 8.000 3,5 4,5 –5,5 3,0–5,0 10,0 –12,0 8,5–10,5 11,0–13,0

Permintaan Dari sisi permintaan, pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2001 diprakirakan masih ekspansif dengan sumber pertumbuhan berasal dari kegiatan ekspor, investasi, dan konsumsi. Sumbangan dari ketiga komponen tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan semakin seimbang. Pertumbuhan ekspor tahun 2001 diprakirakan masih cukup tinggi meskipun cenderung lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan barang ekspor seiring dengan melambatnya pertumbuhan beberapa negara mitra dagang utama di kawasan Eropa dan Amerika. Sementara itu, perkembangan harga-harga beberapa komoditi ekspor non migas di pasaran dunia, terutama komoditi mineral serta produk manufaktur, masih menunjukkan perkembangan yang stabil bahkan cenderung meningkat. Hal tersebut diprakirakan akan mampu menjadi insentif bagi pengusaha untuk lebih mendorong kegiatan ekspor. Ekspor produk manufaktur, seperti kayu lapis tekstil, garment, pulp, dan barang-barang elektronik serta komoditi pertambangan, seperti nikel, tembaga, aluminium dan besi baja diprakirakan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap keseluruhan produk ekspor Indonesia. Sedangkan komoditi pertanian diprakirakan akan memberikan kontribusi yang terbatas. Seiring dengan meningkatnya investasi dan masih relatif baiknya pertumbuhan ekspor, impor juga diprakirakan meningkat khususnya impor bahan baku dan barang modal. Namun, mengingat base yang sudah tinggi, pertumbuhan impor barang dan jasa cenderung akan lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang base–nya rendah. Secara keseluruhan, pertumbuhan pengeluaran ekspor

barang dan jasa dan impor barang dan jasa dalam PDB diprakirakan masing-masing tumbuh dalam kisaran 8,5%–10,5% dan 11,0%–13,0% (Tabel 10.3). Dari sisi neraca pembayaran, prospek ekspor dan impor tahun 2001 juga tercermin pada surplus transaksi berjalan yang diprakirakan akan mengalami penurunan, yaitu menjadi 2,0%4,0% terhadap total PDB (Tabel 10.4). Sementara itu, arus modal ke luar negeri diprakirakan semakin berkurang dan penanaman modal asing diprakirakan mulai tumbuh secara signifikan. Hal ini secara umum mencerminkan mulai
Tabel 10.4 Proyeksi Neraca Pembayaran Indonesia
Rincian 2000** Miliar $ 7,7 62,5 15,5 47,0 –37.4 –5,3 –32,1 –17.4 5.0 –4.6 4,7 65,2 13,7 51,5 –41,4 –4,6 –36,7 –19.0 2,0 - 4,0 –1.3 20011)

Transaksi Berjalan Ekspor (f.o.b) Ekspor migas Ekspor nonmigas Impor (f.o.b) Impor migas Impor nonmigas Jasa-jasa (bersih) Surplus transaksi berjalan (% thd PDB) Neraca Modal Cadangan Devisa Nominal Bulan impor dan utang LN pemerintah
1) Angka proyeksi

29.3 6.3

32.7 6.1

168

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

membaiknya kepercayaan luar negeri terhadap prospek pemulihan ekonomi yang sedang berjalan. Dengan beban pembayaran utang luar negeri yang diprakirakan semakin menurun, kondisi neraca modal diprakirakan mencatat defisit yang semakin mengecil. Pertumbuhan investasi tahun 2001, terutama investasi swasta diprakirakan akan cukup tinggi terutama karena prospek dunia usaha yang membaik, adanya dorongan untuk meningkatkan kapasitas produksi khususnya industri yang berorientasi ekspor, serta mulai tersedianya pembiayaan investasi dari perbankan. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV/2000 menunjukkan kegiatan usaha di triwulan I/ 2001 masih akan mengalami peningkatan pada hampir seluruh sektor ekonomi, kecuali pada sektor pertanian dan pertambangan (Grafik 10.5). Kegiatan usaha di tahun 2001 diprakirakan terus membaik seiiring dengan positifnya saldo bersih tertimbang (SBT) sejak triwulan III/1999. Dari sisi rencana investasi, diprakirakan akan terjadi peningkatan rencana investasi di triwulan I/2001 (Grafik 10.6). Investasi di tahun 2001 juga diprakirakan terus membaik yang mana hal tersebut tercermin dari kecenderungan yang meningkat dari jumlah responden yang melakukan investasi sejak awal tahun 1999. Persetujuan investasi pada bulan Juli 2000 juga mengalami peningkatan, terutama pada investasi asing (PMA) (Grafik 10.7). Sementara itu, implementasi investasi baik PMDN maupun PMA sampai dengan bulan Juli 2000 sedikit mengalami peningkatan (Grafik 10.8). Tahun 2001 diprakirakan akan terjadi peningkatan baik dari persetujuan investasi maupun dari realisasi investasi seiring dengan membaiknya kondisi di bidang keamanan dan politik di dalam negeri . Sementara itu, sumber pembiayaan investasi - yang menjadi kendala utama untuk meningkatkan kapasitas produksi pada tahun 2000 - diprakirakan dapat dipenuhi baik dari pembiayaan sendiri yang berasal dari penyisihan laba dan
Jumlah responden (%) 45 40 35 30 25 20 15 10 5 Perkiraan 0
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I

1996

1997

1998

1999

2000

2001

Grafik 10.6 SKDU Investasi

Saldo Bersih Tertimbang (%) 40 30 20

Miliar Rp 60.000 Dalam Negeri (Kiri) 50.000 40.000 Asing (Kanan)

Juta $ 4.500 4.000 3.500 3.000 2.500

10 0 -10 -20
10.000 30.000 20.000 2.000 1.500 1.000 500 Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul.

-30 Perkiraan -40
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I

-

1996

1997

1998

1999

2000

2001

1999

2000

Grafik 10.5 SKDU Kegiatan Usaha

Grafik 10.7 Persetujuan Investasi

169

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

masih rendah. Selain pada perusahaan atau industri yang
Miliar Rp 380.000 330.000 280.000 230.000 180.000 PMDN (kiri) 130.000 80.000
Jan. Jun. Sep. Apr. Sep. Feb. Jul. Des. Mei Okt. 1997 1998 1999 1996 Mar. 2000

Juta $ 75.000 70.000 65.000 60.000 55.000 50.000 45.000 40.000 35.000

berskala besar, pertumbuhan investasi diprakirakan akan didukung pula oleh sektor usaha menengah seiring dengan tersedianya kembali dana untuk ekspansi usaha. Dengan ditunjang oleh investasi pemerintah pada sektor-sektor produktif serta perbaikan berbagai sarana dan prasarana masyarakat, investasi secara keseluruhan diprakirakan mampu tumbuh sebesar 10,0%–12,0% pada tahun 2001. Pertumbuhan investasi ini cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya karena base-nya yang lebih tinggi. Sumber permintaan dalam negeri yang lain yakni konsumsi diprakirakan masih akan mengalami pertumbuhan yang relatif sama dengan tahun sebelumnya, yaitu berkisar

PMA (kanan)

Grafik 10.8 Implementasi Investasi

akumulasi depresiasi aktiva tetap maupun dari penerbitan surat utang dan pemberian kredit perbankan. Dari sumber dalam negeri, realisasi kredit baru sektor perbankan pada tahun 2001 diprakirakan meningkat cukup signifikan seiring dengan kemajuan proses restrukturisasi kredit BPPN dan penyelesaian masalah utang perusahaan. Sampai dengan akhir tahun 2000, jumlah kredit yang telah berhasil direstrukturisasi oleh BPPN dan siap dijual ke perbankan tercatat sebesar Rp80,9 triliun. Dari sumber luar negeri, sedikit melambatnya pertumbuhan Amerika Serikat dan Eropa diprakirakan akan mendorong investor untuk melakukan realokasi dana sehingga membuka kemungkinan masuknya arus modal ke Indonesia sejalan dengan membaiknya faktor non ekonomi di dalam negeri. Namun demikian arus realokasi dana ini diprakirakan tidak terlalu besar mengingat perbaikan ekonomi di kawasan yang terkena krisis belum sepenuhnya pulih seperti semula. Investasi dalam bentuk ekspansi atau pembangunan pabrik baru diprakirakan terus berlangsung untuk industriindustri yang berorientasi ekpor yang mana kapasitas terpakainya sudah relatif tinggi, misalnya industri bahan galian bukan logam, industri tekstil dan pakaian jadi. Investasi tahun 2001 diprakirakan sebagian besar dalam bentuk bangunan. Sementara itu, investasi pada sektor industri pengolahan diprakirakan masih belum cukup berarti mengingat rata-rata kapasitas terpakai pada sektor industri ini diprakirakan relatif

3,0%– 5,0%. Dengan pertumbuhan sebesar ini konsumsi masih tetap memainkan peranan penting dalam pembentukan PDB. Hasil Survey Ekspektasi Konsumen (SEK) bulan Desember 2000 menunjukkan bahwa secara umum kondisi keuangan masyarakat untuk 6–12 bulan berikutnya relatif membaik (Grafik 10.9). Dengan masih positifnya harapan masyarakat akan kondisi keuangannya di tahun 2001, maka konsumsi diprakirakan terus meningkat. Namun demikian, relatif rendahnya pertumbuhan konsumsi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan menyebabkan

Saldo Bersih (%) 35 30 25 20 15 10 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

2000

Grafik 10.9 SEK Kondisi Keuangan

170

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor
% 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 Konsumsi swasta Investasi Ekspor

bangunan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi (Tabel 10.5). Secara umum, peningkatan produksi tahun 2001 terkait dengan adanya kenaikan permintaan domestik dan eksternal. Sektor ekonomi yang akan menikmati kenaikan permintaan domestik antara lain adalah sektor bangunan dan perdagangan. Sementara itu, peningkatan produksi sektor pertambangan akan lebih banyak diarahkan untuk memenuhi permintaan ekspor. Sektor pertanian tahun 2001 diprakirakan sedikit membaik dibanding tahun 2000. Hal ini didorong oleh perubahan musim ke arah yang lebih bersahabat dengan petani. Selain itu, subsidi bunga kredit program, termasuk Kredit Ketahanan Pangan (KKP), diprakirakan ikut mendorong penambahan output di sektor pertanian.

Grafik 10.10 Perkembangan Pangsa Konsumsi Terhadap Total PDB

pangsa konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional menjadi semakin menurun (Grafik 10.10). Sumber peningkatan pertumbuhan konsumsi diprakirakan berasal dari relatif meningkatnya pendapatan riil masyarakat seiring dengan prakiraan membaiknya perekonomian tahun 2001. Selain itu, adanya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat melalui peningkatan gaji pegawai negeri (income policy) dan upah minimum regional (UMR) diprakirakan juga memberikan pengaruh positif. Sementara itu, perkembangan suku bunga diprakirakan masih dalam kisaran yang wajar sehingga dapat mengurangi kendala dari sisi pembiayaan. Hal ini diharapkan mampu memberikan dorongan tambahan bagi kegiatan konsumsi rumah tangga. Berdasarkan perkembangan tersebut konsumsi rumah tangga tahun 2001 diprakirakan tumbuh sebesar 2,0% - 4,0%. Konsumsi pemerintah diprakirakan juga tumbuh cukup tinggi seiring dengan peningkatan alokasi anggaran belanja rutin pemerintah dalam RAPBN 2001. Di samping itu, besarnya alokasi anggaran belanja pemerintah untuk kegiatan konsumsi diprakirakan memberikan kontribusi yang signifikan.

Sumbangan utama pertumbuhan positif tersebut diprakirakan berasal dari sub sektor perikanan dan sub sektor tanaman bahan makanan. Sektor pertambangan tahun 2001 diprakirakan tumbuh 3,0%–4,0%. Produksi barang-barang pertambangan diprakirakan sedikit meningkat terutama untuk kebutuhan ekspor bagi negara-negara industri. Kenaikan harga komoditi logam dan mineral di pasar internasional akan semakin mendorong kegiatan penambangan dalam negeri. Kecenderungan produksi tembaga yang meningkat selama

Tabel 10.5 Pertumbuhan Sektoral
Tahun (% y-o-y) Sektor 2000** Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa Total
1) Angka sementara 2) Angka proyeksi

20011) 1,0–2,0 3,0–4,0 5,5–6,5 7,5–8,5 9,0–10,0 6,5–7,5 6,5–7,5 5,5–6,5 3,0–4,0 4,5–5,5

1,7 2,3 6,2 8,8 6,8 5,7 9,4 4,7 2,2 4,8

Penawaran Dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi diprakirakan mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2001 dengan sektor

171

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

tahun 2000 diprakirakan terus berlangsung seiiring dengan kecenderungan peningkatan harga tembaga di pasar internasional. Sementara itu, produksi minyak di dalam negeri juga berkecenderungan meningkat setelah adanya kesepakatan anggota OPEC untuk menaikkan produksinya karena harga minyak dunia yang sudah terlalu tinggi. Sektor industri pengolahan tahun 2001 diprakirakan tumbuh antara 5,5%–6,5%. Beberapa indikator menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan, antara lain produksi semen, produksi kendaraan bermotor, dan masih tersedianya lahan industri di kawasan Jabotabek. Meningkatnya produksi semen berkaitan dengan mulai pulihnya sektor properti residensial, yang mana para pengembang sudah mulai gencar memasarkan penjualan rumah baru. Produksi semen tahun 2001 diprakirakan sedikit meningkat atau relatif sama dibandingkan dengan tahun 2000 mengingat masih relatif tingginya permintaan akan tempat tinggal. Begitu pula dengan produksi sepeda motor dan mobil yang menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Produksi sepeda motor diprakirakan masih terus meningkat karena tingginya permintaan kendaraan roda dua, meskipun akhir-akhir ini pasar sepeda motor dibanjiri oleh impor dari Cina. Peningkatan permintaan ini nampaknya akan dapat dipenuhi mengingat produksi sepeda motor masih jauh di bawah level sebelum krisis. Begitu pula dengan produksi mobil sedan dan van yang diprakirakan masih akan terus meningkat mengingat masih relatif tingginya permintaan dalam negeri. Tingginya permintaan terhadap kendaraan bermotor tercermin dari kecenderungan penjualan yang meningkat. Sektor listrik diprakirakan tumbuh 7,5%–8,5% pada tahun 2001. Peningkatan penjualan listrik selama periode Januari 1998 s.d November 2000 mempunyai kecenderungan yang positif dan relatif stabil, yaitu rata-rata tumbuh 11,0% per tahun. Peningkatan tersebut diharapkan berlanjut terus seiring dengan meningkatnya konsumsi listrik, terutama pada sektor industri dan rumah tangga. Namun, salah satu kendala yang perlu diwaspadai adalah kemampuan PLN untuk meningkatkan kapasitas pasokan listrik karena berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya, khususnya beban utang luar negeri.

Sementara itu, penyediaan tambahan kapasitas oleh perusahaan listrik swasta juga masih menghadapi permasalahan terutama perjanjian kontrak dengan Pemerintah. Sektor bangunan diprakirakan tumbuh antara 9,0%– 10,0% selama tahun 2001, naik cukup signifikan dibanding tahun 2000. Peningkatan pada sektor ini didukung oleh beberapa indikator, antara lain meningkatnya konsumsi semen, penjualan rumah, dan rencana penerusan kembali proyek pembangunan yang sempat tertunda akibat krisis ekonomi. Peningkatan konsumsi semen yang cukup signifikan selama tahun 2000 diprakirakan akan tetap berlanjut seiring dengan mulai pulihnya sektor properti residensial dan maraknya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Peningkatan daya beli masyarakat dan mulai gencarnya penyaluran KPR oleh perbankan menyebabkan permintaan akan tempat tinggal meningkat. Sementara itu, adanya rencana pembangunan kembali infrastruktur yang tertunda, yaitu Jakarta Outer Ring Road, double track rel KA Jakarta – Surabaya, pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dan perencanaan rel KA trans Sumatra, memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan sektor bangunan. Sektor perdagangan diprakirakan tumbuh sebesar 6,5%– 7,5% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya, yaitu 5,7%. Salah satu indikator maraknya sektor ini adalah penjualan kendaraan bermotor yang meningkat sampai 200% selama sebelas bulan pertama tahun 2000. Peningkatan penjualan tersebut diprakirakan terus meningkat seiring dengan tingginya permintaan dan meningkatnya daya beli masyarakat. Momentum peningkatan aktivitas perdagangan yang tercermin dari peningkatan indeks penjualan eceran pada tahun 2000 – yang dimotori oleh penjualan pakaian dan perlengkapan dan penjualan kendaraan bermotor dan suku cadang – diprakirakan juga terus berlangsung. Dalam pada itu, tingkat hunian dan pasokan perkantoran serta tingkat hunian hotel di kawasan Jakarta diprakirakan sedikit meningkat pada tahun 2001 seiring dengan semakin mantapnya laju pertumbuhan ekonomi dan membaiknya situasi politik keamanan dalam negeri.

172

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

Sektor pengangkutan tahun 2001 diprakirakan tumbuh sebesar 6,5%–7,5%. Pertumbuhan ini sejalan dengan maraknya kegiatan di sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan yang membutuhkan sarana transportasi yang lebih banyak. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga didorong oleh maraknya mobilitas penduduk seiring dengan makin kondusifnya iklim berusaha dan kondisi ekonomi tahun 2001. Namun demikian, pertumbuhan di sektor ini tidak setinggi tahun sebelumnya karena adanya dua kali hari raya Idul Fitri di tahun 2000. Sektor keuangan diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2000, sejalan dengan membaiknya profitabilitas perbankan yang tercermin dari peningkatan net interest margin (NIM) dan menurunnya non performing loans (NPL). Membaiknya kondisi perbankan ini disebabkan oleh meningkatnya portofolio kredit perbankan seiring dengan langkah perbankan yang mulai membeli kembali kredit yang telah direstrukturisasi BPPN dan meningkatnya penyaluran kredit baru. Sampai dengan akhir Desember 2000, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi oleh BPPN dan siap dijual ke perbankan di tahun 2001 berjumlah Rp80,9 triliun. Sementara potensi penyaluran kredit baru dapat berasal dari kelebihan likuditas perbankan yang ditanamkan dalam SBI maupun dari hasil penjualan obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan. Sektor yang paling dominan untuk pengucuran kredit tahun 2001 diprakirakan masih pada sektor perdagangan, hotel dan restoran dan pada sektor industri pengolahan. Sementara itu, permintaan terhadap kredit diprakirakan juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Sebagai gambaran, hasil survey kredit perbankan triwulan IV/2000 menunjukkan bahwa secara netto 75,0% responden memperkirakan adanya peningkatan permintaan kredit baru untuk triwulan I/2001. Meningkatnya permintaan kredit baru ini selain disebabkan oleh membaiknya prospek usaha, sebagian juga didorong oleh relatif moderatnya tingkat suku bunga riil. Sektor jasa-jasa diprakirakan tumbuh sebesar 3,0%–4,0% pada tahun 2001. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung oleh pertumbuhan sektor jasa pemerintah seiring dengan diimplementasikannya otonomi daerah yang mana alokasi

dana pemerintahan daerah akan lebih difokuskan pada peningkatan pelayanan publik. Selain itu, penjualan listrik untuk kepentingan publik dan sosial menunjukkan kecenderungan meningkat. Sebagai gambaran, sampai dengan bulan November 2000 penjualan listrik pada sektor publik dan sosial mengalami peningkatan masing-masing 55,65% dan 11,76% dibandingkan pada periode yang sama tahun 1999. Pertumbuhan penjualan listrik kepada sektor publik relatif stabil, sementara penjualan listrik untuk keperluan sosial yang semula menurun cukup signifikan sudah kembali pada level sebelum krisis.

Prospek Nilai Tukar Faktor risiko dan ketidakpastian, khususnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri, diprakirakan masih sangat mempengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah selama tahun 2001, khususnya pada paro pertama tahun 2001. Pada paro kedua tahun 2001 nilai tukar rupiah diprakirakan cenderung menguat sejalan dengan membaiknya kondisi berbagai faktor, baik domestik maupun internasional. Secara keseluruhan, dengan pergerakan yang cenderung menguat pada paro kedua tahun 2001, rata-rata nilai tukar rupiah pada tahun 2001 diprakirakan akan mencapai Rp7.750 - Rp8.250 per US dollar, menguat dibandingkan dengan rata-rata sebesar Rp8.400 pada tahun 2000 (Grafik 10.11). Sebagai catatan, nilai tukar

Kurs (Rp/$)

Indeks

10.000

750 700

9.000

650 600 550

8.000 500 450 7.000

Skenario Optimis Skenario Pesimis Premi Risiko
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

400 350 300

6.000

2000

2001

Grafik 10.11 Trend Pergerakan Nilai Tukar Dan Premi Risiko

173

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

rupiah rata-rata Rp7.750 per dolar masih mungkin tercapai apabila tidak ada gangguan pada faktor-faktor non ekonomi sehingga premi risiko kembali pada tingkat terbaik seperti pada Maret 2000. Perkembangan premi risiko pada tahun 2001 diprakirakan masih akan mempengaruhi arah perkembangan nilai tukar rupiah. Secara keseluruhan, premi risiko pada tahun 2001 diprakirakan akan membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, premi risiko diprakirakan akan meningkat kembali menjelang Sidang Tahunan MPR Agustus 2001. Selanjutnya, dengan kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang diharapkan semakin membaik, secara bertahap keterkaitan antara premi risiko dan kurs rupiah diharapkan semakin berkurang, sehingga arah perkembangan nilai tukar rupiah akan menjadi searah dengan perkembangan fundamental ekonomi yang semakin membaik. Dari sisi domestik, membaiknya kondisi fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2001 diprakirakan akan mulai meningkatkan kepercayaan pasar terhadap mata uang rupiah. Selanjutnya, dengan membaiknya kepercayaan terhadap perekonomian nasional, aliran devisa masuk yang bersumber dari transaksi perdagangan internasional dan transaksi modal diprakirakan akan mulai meningkat. Hal ini seiring dengan kemajuan yang dicapai dalam proses restrukturisasi utang luar swasta yang diharapkan akan mengurangi permintaan valuta asing di pasar oleh perusahaan serta meningkatnya pasokan valuta asing yang berasal dari devisa ekspor dan mulai masuknya aliran dana ke Indonesia. Dengan adanya perkembangan tersebut, kesenjangan antara permintaan dan pasokan valuta asing diprakirakan akan semakin menurun. Di sisi lain, kondisi politik dan keamanan dalam negeri diharapkan akan semakin stabil setelah Sidang Tahunan Agustus 2001. Namun demikian, hal ini perlu terus diwaspadai mengingat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional dapat kembali menurun dan mendorong permintaan valuta asing yang bersifat spekulatif atau penyelamatan aset dalam periode dimana eskalasi gejolak faktor non ekonomi dirasakan meningkat. Gejolak politik dan keamanan dalam

negeri dapat mendorong pergerakan nilai tukar rupiah ke arah yang lebih pesimis. Sementara itu, dari sisi eksternal, kecenderungan melambatnya ekspansi perekonomian Amerika Serikat pada tahun 2001 diprakirakan akan mendorong penurunan suku bunga, yang pada gilirannya akan mulai menghambat laju apresiasi dollar AS secara global. Aliran modal ke negaranegara emerging market di Asia termasuk Indonesia akan mulai meningkat meskipun masih disertai kewaspadaan investor internasional terhadap tingginya risiko berinvestasi di negara-negara emerging market.

Prospek Inflasi Tekanan inflasi tahun 2001 diprakirakan masih cukup tinggi, sehingga perlu untuk terus diwaspadai. Secara umum tekanan inflasi berasal dari faktor fundamental dan non fundamental. Faktor fundamental yang merupakan hasil interaksi dalam perekonomian diantaranya adalah (1) ekspektasi inflasi, (2) perkembangan tingkat permintaan masyarakat yang tercermin pada pergerakan kesenjangan output, dan (3) pengaruh langsung dari pergerakan nilai tukar (pass through effect) yang berasal dari perkembangan harga dunia dan perkembangan nilai tukar rupiah. Sementara itu, faktor non fundamental terutama berasal dari kebijakan pemerintah dan faktor alam serta masalah yang terkait dengan distribusi. Dari faktor fundamental, tekanan yang cukup tinggi terutama berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi dan meningkatnya tekanan permintaan. Tekanan permintaan diprakirakan bersumber dari relatif kuatnya konsumsi pemerintah, tingkat investasi, dan kegiatan ekspor yang ketiganya berpengaruh kepada menyempitnya kesenjangan output. Di samping itu, akselerasi peningkatan kapasitas produksi yang levelnya sudah mendekati tingkat potensialnya, memberikan tekanan yang lebih besar terhadap inflasi. Pergerakan kesenjangan output yang semakin menyempit tersebut sejalan dengan pergerakan Leading Indikator Inflasi (LII) yang masih tetap menunjukkan upward trend sampai pertengahan tahun 2001 (Grafik 10.12). Pergerakan LII yang

174

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

Persen
90 80 70 60 50 1.1 40 30 20 0.9 10 0
1 5 9 1 5 9 1 5 9 1 5

1.4 Inflasi (y-o-y) LII + 8 bln 1.3 1.2

90 80 70 60 50 40 30 20 10

1

0.8 1999 2000 2001

-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

1998

2000

Grafik 10.12 Leading Indikator Inflasi

Grafik 10.13 SEK Harga-Harga (saldo bersih)

meningkat tersebut diprakirakan masih akan berlanjut pada tahun 2001. Sementara dari hasil Survey Ekspektasi Konsumen (SEK) periode Desember 2000 terlihat bahwa dalam 6 s.d. 12 bulan berikutnya harga-harga secara umum diprakirakan masih akan meningkat (Grafik 10.13). Peningkatan ini terutama terjadi pada harga rumah dan bahan bangunan, bahan makanan, serta biaya transportasi dan komunikasi. Tekanan inflasi dari sisi eksternal diprakirakan tidak signifikan. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2001 yang diprakirakan akan sedikit melambat berimplikasi terhadap perkembangan inflasi dunia yang tidak akan menunjukkan peningkatan yang berarti. Sementara itu, perkembangan nilai tukar tahun 2001 diprakirakan akan menguat seiring dengan membaiknya perkembangan perekonomian serta kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Menguatnya nilai tukar rupiah ini akan memberikan dampak deflasi terhadap perkembangan harga. Namun mengingat harga tidak terlalu fleksibel untuk turun (downward rigidity), dampak deflasi dari menguatnya nilai rupiah tersebut diprakirakan relatif kecil. Walaupun demikian, pergerakan nilai tukar di tahun 2001 perlu terus diwaspadai, karena pergerakannya dapat berubah ke arah yang melemah apabila faktor risiko dan

ketidakpastian di dalam negeri meningkat. Depresiasi nilai tukar memiliki elastisitas yang cukup tinggi terhadap perkembangan harga-harga, terutama untuk barangbarang dalam kelompok traded. Kelompok traded memiliki kontribusi yang besar dalam perhitungan indeks harga konsumen dengan bobot sekitar 60,0%, sehingga pergerakan kelompok barang ini secara signifikan dapat menentukan arah pergerakan laju inflasi. Sementara itu, dari faktor non fundamental, tekanan inflasi yang cukup besar berasal dari kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Kebijakan pemerintah tersebut masih terus berlangsung dalam tahun 2001 dan tahuntahun selanjutnya seiring dengan rencana pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi dalam APBN. Untuk tahun 2001 rencana kebijakan pemerintah yang telah teridentifikasi adalah kenaikan harga BBM, kenaikan harga dasar gabah, kenaikan cukai rokok, kenaikan gaji pegawai negeri sipil melalui perubahan struktur gaji, dan kenaikan upah minimum regional. Rencana kenaikan tarif listrik sementara ini masih dalam tahap pengkajian, namun demikian pemerintah belum berencana mengurangi subsidi di sektor ini dalam APBN tahun 2001. Secara keseluruhan, dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan yang telah teridentifikasi saat ini terhadap kenaikan inflasi dalam tahun 2001 diprakirakan

175

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

sangat tinggi pada tahun 1998. Pada tahun 2001 volatilitas
Tabel 10.6 Prakiraan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Laju Inflasi Dalam Tahun 2001
Kebijakan Pemerintah Di bidang harga : Tarif Listrik BBM Beras Gabah HPS Cukai Rokok Tarif PAM Di bidang Pendapatan Gaji PNS UMR Lain-lain : Otonomi Daerah Total Koefisien Dampak 0.013 0,075 0,024 0,045 0,028 0,037 0,005 0,012 Kenaikan Hara/tarif 20 7 5 20 30 15 Dampak Inflasi 2,09 1,49 0,32 0,18 0,10 0,37 0,20 0,17 2,47 Pemberlakuan

kelompok bahan makanan tersebut diprakirakan akan kembali normal dengan kecenderungan harga yang meningkat. Indikasi masih tingginya tekanan inflasi di tahun 2001 juga sejalan dengan prakiraan inflasi dari berbagai lembaga riset

April Januari Agustus Januari

ekonomi. Angka inflasi tahun 2001 yang diproyeksi oleh lembaga-lembaga riset nasional secara rata-rata adalah sekitar 7,9%. Sementara rata-rata inflasi yang diproyeksikan oleh lembaga-lembaga riset internasional terlihat lebih optimis, yaitu sekitar 7,1%.

Sepanjang tahun Sepanjang tahun

Sasaran Inflasi Dengan memperhatikan relatif tingginya prakiraan inflasi dari berbagai lembaga di atas serta besarnya sumber-sumber

mencapai sekitar 2,5% (Tabel 10.6). Rencana diberlakukannya otonomi daerah pada 2001 diprakirakan memiliki potensi yang dapat memacu laju inflasi terutama di daerah-daerah. Dari sisi permintaan indikasi ini muncul dari prakiraan perilaku pembelanjaan dari daerah yang akan cenderung ekspansif. Sementara itu, sisi penawaran tekanan kenaikan harga diprakirakan dapat bersumber dari peningkatan pungutan, retribusi, dan pajak daerah dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di masing-masing wilayah. Namun demikian, sampai saat ini masih terlalu sulit untuk memperkirakan seberapa besar pelaksanaan otonomi daerah tersebut akan berdampak pada inflasi tahun 2001. Faktor non fundamental lainnya berasal dari volatilitas pergerakan harga barang-barang yang terutama tergolong ke dalam kelompok bahan makanan. Pergerakan harga kelompok barang ini memiliki andil yang besar dalam pergerakan laju inflasi nasional berkaitan dengan bobotnya yang besar dalam perhitungan indeks harga konsumen. Secara historis, volatilitas harga kelompok bahan makanan memiliki kecenderungan yang inflatoir. Namun dalam tahun 1999 dan 2000 terdapat pengecualian dimana gejolak harga yang terjadi dalam periode tersebut masing-masing memberikan dampak deflasi dan inflasi yang rendah. Hal ini terjadi akibat melimpahnya pasokan bahan makanan dan adanya koreksi harga yang dialami dalam tahun tersebut menyusul kenaikan harga yang

tekanan inflasi ditahun 2001, Bank Indonesia memandang bahwa tekanan inflasi tersebut perlu dikendalikan. Melihat perkembangan dan prospek makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan harga yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi tahun 2001 di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diprakirakan dapat menimbulkan tambahan kenaikan laju inflasi sekitar 2,0%–2,5% di atas target tersebut. Dalam perjalanannya, berbagai gejolak yang berada di luar kendali kebijakan moneter kemungkinan dapat terjadi, termasuk gejolak-gejolak yang berasal dari sisi penawaran dan fluktuasi nilai tukar yang disebabkan faktor non fundamental. Respon kebijakan moneter terhadap gejolak-gejolak tersebut dapat menimbulkan biaya yang sangat mahal, karena akan memerlukan pengetatan moneter yang berlebihan sehingga dapat berdampak pada lambatnya proses pemulihan ekonomi. Oleh sebab itu, sejumlah perkecualian perlu dikemukakan yang memungkinkan dapat terlampauinya sasaran inflasi yang akan dicapai, yaitu meliputi: – adanya kebijakan inflatoir dari pemerintah --baik pusat maupun daerah-- yang sebelumnya tidak teridentifikasi dan terhitung dampaknya dalam prakiraan inflasi,

176

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

fluktuasi nilai tukar yang tidak terkait dengan fundamental perekonomian dan kebijakan moneter domestik,

sehingga menyebabkan suku bunga deposito rendah dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan dananya untuk konsumsi ataupun jenis investasi lain. – Keempat, beban keuangan pemerintah yang masih cukup berat, terutama ditandai oleh pengeluaran untuk subsidi dan utang pemerintah yang masih besar. Sementara itu, kemajuan dalam asset recovery BPPN maupun privatisasi

terjadinya gangguan keamanan dan bencana alam yang dapat menyebabkan perubahan secara drastis produksi dan distribusi bahan makanan yang berdampak pada harga bahan makanan pokok.

Tantangan ke depan Gambaran mengenai prospek ekonomi makro, termasuk inflasi dan nilai tukar rupiah, pada tahun 2001 akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan berbagai faktor risiko dan ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian nasional. Oleh sebab itu, upaya mengatasi berbagai faktor tersebut akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik pada tahun 2001 dan tahun-tahun mendatang. Berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut adalah sebagai berikut. – Pertama, kemungkinan berlanjutnya ketidakpastian kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Akibat dari berlanjutnya ketidakpastian tersebut masih akan mendorong tingginya country risk Indonesia, penanganan berbagai masalah ekonomi menjadi lambat dan tidak pasti, serta mendorong kegiatan spekulasi dalam pasar valuta asing. – Kedua, belum selesainya proses restrukturisasi utang perusahaan. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan kegiatan ekonomi dan penyaluran kredit perbankan belum sepenuhnya pulih, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar dari perekonomian nasional. – Ketiga, fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya kembali normal. Ekspansi kredit perbankan masih terbatas karena masih tingginya faktor risiko dan ketidakpastian, banyaknya perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi, maupun kondisi internal perbankan. Kondisi ini sangat membatasi sumber pembiayaan kegiatan ekonomi, sehingga kegiatan ekonomi lebih banyak dibiayai oleh dana sendiri (self-financing). Sementara itu, dorongan bagi perbankan untuk mobilisasi dana relatif rendah, – – –

BUMN diperkirakan belum dapat menutupi beban keuangan pemerintah. Di sisi lain ada tuntutan untuk mengurangi pinjaman luar negeri agar fiscal sustainability dalam jangka menengah-panjang dapat terjaga. Dengan kondisi demikian, stimulus dari sisi fiskal untuk percepatan pemulihan ekonomi, masih relatif terbatas dalam jangka pendek ini. Kelima, kelancaran pelaksanaan otonomi daerah mulai tahun 2001 menjadi kunci bagi keberhasilan proses pemulihan ekonomi dan pemerataan pembangunan ke depan. Ancaman terhadap pemulihan ekonomi dan inflasi akan muncul apabila pengeluaran daerah menjadi tidak terkoordinasi maupun apabila daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan pungutan, retribusi dan pajak daerah. Keenam, ketidakpastian hukum di Indonesia. Berbagai kasus hukum ini memerlukan pembenahan sistem hukum di Indonesia, termasuk penegakan hukum, terutama melalui penerapan UU kepailitan maupun pembenahan secara menyeluruh institusi yudikatif di Indonesia. Ketujuh, dari sisi eksternal, ketidakpastian dan risiko yang mungkin terjadi adalah melambatnya perekonomian Amerika Serikat sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Melambatnya ekonomi AS ini merupakan ancaman bagi optimisme terhadap kinerja ekspor sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2001.

Arah Kebijakan Dengan memperhatikan sasaran inflasi sebesar 4,0%–6,0% dalam tahun 2001 dan untuk terus mengupayakan stabilisasi nilai tukar rupiah, Bank indonesia akan menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat. Dalam pelaksanaannya,

177

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

kebijakan moneter akan dilakukan secara sangat hati-hati mengingat belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan masih rentannya proses pemulihan ekonomi. Sampai pertengahan tahun 2001 inflasi dan nilai tukar diprakirakan masih mengalami tekanan yang relatif tinggi sehingga kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk sementara waktu masih perlu dipertahankan. Apabila tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah mulai menguat, kebijakan moneter yang relatif lebih longgar dapat dilakukan. Dengan arah kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia perlu menetapkan sasaran-sasaran moneter khususnya uang primer dengan pertumbuhan 11,0%–12,0% pada tahun 2001. Sasaran uang primer ini dihitung berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,0%, inflasi 4,0%–6,0%, dan nilai tukar rupiah rata-rata Rp8.000 per US dolar. Sasaran uang primer sebesar 11,0%–12,0% ini diprakirakan cukup konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi yang ditetapkan, tanpa harus menimbulkan risiko yang berlebihan terhadap proses pemulihan perbankan dan perekonomian nasional. Sebagai catatan, sasaran uang primer tersebut perlu disesuaikan, terutama apabila terjadi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan nilai tukar rupiah yang tidak sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut, ataupun terjadi perkembangan inflasi yang lebih disebabkan oleh faktor-faktor di luar kendali Bank Indonesia seperti dijelaskan di atas. Dengan pertumbuhan uang primer sebesar itu, likuiditas perekonomian (M2) diprakirakan akan tumbuh sebesar 9,0%– 11,0% dan kredit akan tumbuh sekitar 14,0%–16,0% sehingga mampu mendukung proses pemulihan ekonomi. Dalam operasi kebijakan moneter, upaya pencapaian sasaran moneter di atas dilakukan melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT) dalam bentuk lelang SBI sebagai instrumen utama. Akan tetapi, optimalisasi penggunaan berbagai instrumen moneter lain yang tersedia perlu dilakukan dengan strategi yang lebih baik. Di satu sisi, hal ini diperlukan dalam rangka meningkatkan efektivitas pencapaian sasaransasaran moneter tersebut. Di sisi lain, langkah tersebut perlu dilakukan agar implementasi kebijakan moneter tidak menimbulkan dampak yang berlebihan terhadap kenaikan

suku bunga sehingga tetap dapat memberikan iklim yang kondusif terhadap pemulihan perbankan dan perekonomian. Pada prinsipnya strategi pengelolaan moneter untuk mendukung OPT tersebut perlu mencakup langkah-langkah sebagai berikut: – Pertama, OPT melalui intervensi rupiah untuk sementara waktu akan dioptimalkan untuk mendukung pencapaian sasaran uang primer yang telah ditetapkan, tanpa harus menimbulkan dampak yang berlebihan pada kenaikan suku bunga SBI. Upaya ini sekaligus untuk memperbaiki struktur suku bunga antara suku bunga SBI, suku bunga intervensi rupiah, dan suku bunga PUAB yang kondusif bagi pelaksanaan kebijakan moneter. – Kedua, sterilisasi valas akan tetap menjadi opsi yang terbuka khususnya untuk menyerap ekspansi pengeluaran pemerintah yang bersumber dari dana luar negeri. Dengan demikian, beban OPT dalam pencapaian sasaran moneter dapat dikurangi sehingga kenaikan suku bunga SBI yang berlebihan dapat dihindari. Upaya ini sekaligus untuk mendorong penguatan nilai tukar rupiah ke arah tingkat yang lebih sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi. – Ketiga, obligasi pemerintah yang diperkirakan akan mulai aktif diperdagangkan di pasar sekunder dapat digunakan sebagai alternatif instrumen moneter terutama mengingat besarnya biaya OPT yang harus ditanggung oleh Bank Indonesia jika menggunakan SBI. Dengan cukup tingginya yield staple bonds dan obligasi pemerintah jangka pendek yang akan dikeluarkan, diperkirakan masih akan menguntungkan bagi Bank Indonesia untuk mempunyai portfolio kedua jenis obligasi pemerintah tersebut sebagai instrumen pengendalian moneter. (Boks : Obligasi Pemerintah Sebagai Alternatif Instrumen Kebijakan Moneter) Strategi pengelolaan moneter tersebut perlu terus didukung oleh kebijakan nilai tukar berdasarkan sistem nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas. Namun disadari bahwa strategi pengelolaan moneter tersebut akan kurang efektif untuk mengatasi tekanan inflasi dan gejolak nilai tukar

178

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

rupiah yang bersumber dari faktor-faktor di luar kendali Bank Indonesia. Oleh karena itu, berbagai langkah yang dapat secara langsung mengurangi gejolak nilai tukar rupiah perlu tetap menjadi opsi yang terbuka. Dalam hubungan ini, upaya memelihara kestabilan nilai tukar rupiah dapat ditempuh melalui sterilisasi di pasar valuta asing secara selektif, sebagai bagian dari instrumen pengendalian moneter. Seperti dikemukakan di atas, kebijakan ini terutama ditujukan untuk menyerap kembali ekspansi moneter yang ditimbulkan oleh kenaikan pengeluaran pemerintah yang dibiayai dari sumber dana luar negeri. Selain dengan instrumen yang konvensional seperti intervensi, beberapa alternatif yang nonkonvensional perlu dilakukan, seperti pengawasan langsung di bank-bank yang diperkirakan melakukan spekulasi valuta asing dan penyempurnaan pengaturan di bidang lalu lintas devisa termasuk pembatasan internasionalisasi rupiah. Implementasi kebijakan moneter tersebut memerlukan dukungan yang optimal dari perbankan agar transmisi kebijakan moneter ke sektor riil berjalan efektif. Salah satu tantangan utama dari kebijakan moneter dan perbankan tahun 2001 adalah bagaimana mengatasi permasalahan credit crunch pada perbankan. Untuk itu, berbagai langkah akan ditempuh oleh Bank Indonesia untuk segera memulihkan fungsi intermediasi perbankan. Di sisi makro, Bank Indonesia memandang kebijakan moneter yang kondusif bagi proses restrukturisasi perbankan dan perusahaan yang tercermin dari kestabilan suku bunga dan nilai tukar masih tetap diperlukan. Di sisi mikro, karena credit crunch yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh non-price rationing seperti masih tingginya credit risk yang dirasakan oleh perbankan, kurangnya informasi mengenai nasabah yang layak memperoleh kredit maka berbagai usaha akan dilakukan oleh Bank Indonesia dengan bekerja sama dengan institusi terkait. Bank Indonesia akan melakukan penyempurnaan berbagai ketentuan untuk mengurangi kendala bank dalam memberikan kredit dan meningkatkan ketentuan untuk meningkatkan ketahanan industri perbankan terhadap perubahan kondisi makro. Sementara itu, restrukturisasi kredit untuk menurunkan non-performing loans tetap menjadi prioritas utama. Dengan pulihnya

fungsi intermediasi perbankan, diharapkan efektivitas kebijakan moneter di dalam mempengaruhi sektor riil semakin meningkat. Berbagai upaya peningkatan pengawasan dan penyempurnaan ketentuan yang mengacu pada standar internasional terus dilakukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia juga mengupayakan agar perbankan meningkatkan manajemen risiko dengan mengeluarkan risk management guideline bagi bank-bank, yang kemudian akan dilanjutkan dengan penerapan pengawan bank berdasarkan risiko (riskbased supervision) oleh Bank Indonesia. Sementara itu, ke depan sistem pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia menggunakan pendekatan yang memfokuskan pada core bank yang secara sistemik sangat berpengaruh pada perekonomian (systemically important banks). Berkaitan dengan pemisahan pengawasan bank kepada lembaga pengawas yang baru (Lembaga Pengawas Jasa Keuangan), Bank Indonesia terus melakukan berbagai persiapan agar pengalihan fungsi pengawasan tersebut berjalan dengan lancar sehingga tidak mengganggu sistem perbankan. Di samping itu, persiapan juga dilakukan agar aliran data dan informasi perbankan yang diperlukan bagi formulasi kebijakan moneter tidak mengalami hambatan. Di samping itu, dalam rangka menciptakan perbankan yang sehat dan menyesuaikan dengan ketentuan perbankan international, perbankan diarahkan untuk memenuhi CAR minimum sebesar 8,0% dan non performing loans maksimum sebesar 5,0% pada akhir tahun 2001. Dalam hal pemenuhan modal minimum, kebijakan yang akan diambil antara lain mengupayakan penyetoran modal oleh para pemegang saham, penggabungan bank melalui merger, mencari investor baru baik domestik maupun asing, dan penerapan exit policy. Dalam hal pemenuhan target NPL, kebijakan yang akan ditempuh adalah: (1) mewajibkan bank-bank untuk melakukan penghapusbukuan (write-off) atas portofolio NPL setelah jangka waktu tertentu, (2) mengatasi kendala-kendala yang menghambat restrukturisasi yang dilakukan oleh perbankan maupun yang difasilitasi oleh Satuan Tugas Restrukturisasi Kredit dan oleh Prakarsa Jakarta.

179

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

Sementara itu, pengembangan bank syariah dalam tahun 2001 akan difokuskan pada kebijakan pembukaan loket untuk pelayanan bank syariah di kantor cabang bank konvensional. Fasilitas ini hanya diberikan kepada kantor cabang bank yang akan dikonversi menjadi kantor cabang syariah. Perluasan jaringan bank syariah tersebut akan dipandu oleh hasil penelitian terhadap potensi, preferensi, dan perilaku masyarakat terhadap bank syariah. Untuk mendukung efektivitas kebijakan moneter, kebijakan Bank Indonesia dalam meningkatkan kelancaran sistem pembayaran terus dilakukan. Sebagai kelanjutan dari program Real Time Gross Settlement (RTGS) tahap pertama yang telah diimplementasikan pada bulan November 2000, sistem setelmen transaksi nilai besar/bulk tersebut akan diimplementasikan di 12 Kantor Bank Indonesia. Pengintegrasian sistem RTGS di kantor pusat dan kantor Bank Indonesia ini akan menghapus rekening giro bank yang ada di kantor Bank Indonesia sehingga hanya ada satu rekening giro bank di kantor pusat Bank Indonesia (centralized settlement account). Penggabungan rekening ini menguntungkan bagi Bank Indonesia maupun bank peserta. Penggabungan rekening tersebut memudahkan Bank Indonesia dalam memantau ketaatan bank dalam memenuhi kebutuhan Giro Wajib Minimum (GWM). Selain itu, Bank Indonesia dapat memantau likuiditas bank, sehingga dapat dipakai sebagai early warning system bagi bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Sedangkan bagi bank peserta, penggabungan rekening ini memudahkan mereka untuk melakukan pengawasan terhadap posisi likuiditasnya sehingga bank dapat mengelola dananya secara efektif dan efisien. Di samping itu, untuk menurunkan risiko settlement di perusahaan sekuritas, akan dilakukan pengembangan Delivery Versus Payment (DVP) tahap pertama. Dari pengembangan ini akan tercipta suatu integrasi sistem setelmen antara pasar uang dan pasar modal. Di samping itu, guna meningkatkan efisiensi perbankan dan mempercepat proses kliring antar bank, pada tahun 2001 Bank Indonesia akan menerapkan Bulk Interbank Payment System (BIPS), yaitu kliring khusus untuk transaksi-transaksi bulk sehingga transaksi antar bank lainnya yang telah dilakukan

melalui kliring menjadi lebih cepat. Transaksi bulk adalah transaksi antar bank yang bersifat rutin dengan volume tinggi dan bernilai nominal rendah seperti transaksi pembayaran gaji/ upah, kartu kredit, asuransi, angsuran kredit, tagihan telepon/ listrik/air, dan lain-lain. Untuk mengefisienkan proses pembukuan dan switching pada bank-bank penyelenggara ATM di Indonesia, serta untuk memberikan tambahan kemudahan dan keamanan bagi para para nasabah penggunanya, maka Bank Indonesia akan memfasilitasi dan mendorong (dalam bentuk moral suasion) bank-bank penyelenggara ATM untuk dapat mengkoneksikan jaringannya satu sama lain. Efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter juga sangat dipengaruhi oleh koordinasi dengan kebijakan fiskal. Besarnya pengeluaran pemerintah memerlukan koordinasi mengenai waktu dan mekanisme pelaksanaannya agar dampaknya terhadap kebijakan moneter dapat diantisipasi dan dilakukan langkah yang diperlukan dalam pemeliharaan likuditas perekonomian. Oleh sebab itu, ke depan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal perlu ditingkatkan dan dilakukan secara rutin. Berkaitan dengan kebijakan di bidang utang luar negeri, dalam beberapa tahun mendatang utang luar negeri diperkirakan masih diperlukan mengingat tingkat kebutuhan investasi khususnya sektor swasta masih sangat tinggi, sementara sumber dana domestik masih sangat terbatas sehubungan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Untuk utang luar negeri pemerintah, dengan telah dipersiapkan UU tentang Pinjaman Luar Negeri oleh Pemerintah, diharapkan kebijakan maupun pengelolaan utang luar negeri di masa mendatang hanya melalui satu pintu (one gate policy), sehingga terdapat kejelasan peran masingmasing instansi pemerintah. Dengan demikian, mekanisme dan prosedur dalam pengelolaan utang luar negeri akan lebih transparan. Sementara itu, utang luar negeri komersial diprakirakan masih dihadapkan pada masalah kepercayaan internasional terhadap kondisi ekonomi dan politik dalam negeri sehingga pencarian pinjaman langsung melalui pasar uang dan modal masih relatif sulit dilakukan. Oleh sebab itu,

180

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

kedepan perlu upaya-upaya terobosan melalui instrumeninstrumen baru di pasar uang/modal. Sementara itu, dalam rangka mendorong ekspor, kebijakan berupa Trade Maintenance Facility (TMF) masih tetap akan dilanjutkan mengingat kepercayaan internasional terhadap bank-bank nasional belum sepenuhnya pulih. Sebagai penutup, rangkaian kebijakan Bank Indonesia yang ditujukan untuk menciptakan kestabilan inflasi dan nilai tukar rupiah pada dasarnya merupakan salah satu langkah

dari kerangka kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan. Langkah-langkah kebijakan di bidang lain, khususnya untuk mengatasi berbagai faktor risiko dan ketidakpastian seperti diuraikan sebelumnya, sangat menentukan dalam upaya mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional. Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu terus menjalin kerjasama dengan instansi-instansi terkait guna mengatasi permasalahan yang mungkin timbul dan mewujudkan pemulihan ekonomi Indonesia yang diinginkan bersama.

181

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

Boks : Kajian Tentang Sasaran Inflasi Jangka Menengah
Pada setiap awal tahun Bank Indonesia menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi untuk dicapai dalam rentang waktu tertentu. Penetapan sasaran inflasi tersebut merupakan bagian dari kerangka kerja kebijakan moneter dengan sasaran tunggal inflasi. Kerangka kerja kebijakan ditandai oleh manajemen operasi kebijakan moneter yang berorientasi ke depan (forward looking). Artinya, kebijakan moneter yang ditempuh bukan merupakan respon terhadap inflasi yang sudah terjadi melainkan bertujuan agar tekanan inflasi yang akan terjadi dapat diantisipasi sehingga mengarah pada sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penetapan suatu kebijakan moneter dilakukan setelah memperhitungkan berbagai potensi penyebab inflasi di masa mendatang. Dalam pelaksanaannya, kebijakan moneter yang bersifat forward looking menghadapi sejumlah keterbatasan yang antara lain terkait dengan sulitnya memprakirakan sumber-sumber gangguan yang potensial dalam memberikan tekanan terhadap inflasi karena besarnya faktor ketidakpastian. Kebijakan moneter juga memiliki keterbatasan dalam mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari kebijakan pemerintah di bidang harga, yang diprakirakan masih cukup besar hingga tiga tahun mendatang. Oleh karena itu pencapaian sasaran inflasi yang cukup rendah belum dimungkinkan dalam waktu yang singkat. Di samping itu, kebijakan moneter diyakini tidak dapat dengan seketika mempengaruhi kegiatan ekonomi. Ada waktu tunda mulai dari suatu kebijakan ditempuh hingga pengaruhnya pada kegiatan ekonomi riil dirasakan secara penuh. Efek tunda ini dipengaruhi oleh bagaimana jalur dan mekanisme yang dilalui suatu kebijakan moneter dalam mentransmisikan pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi di sektor riil. Mekanisme transmisi ini pada dasarnya masih sulit diketahui secara pasti terutama dalam situasi masih terdapatnya berbagai hambatan struktural perekonomian, seperti fungsi intermediasi perbankan yang masih terganggu. Lamanya efek tunda kebijakan moneter juga bervariasi tergantung pada arah kebijakan yang sedang ditempuh, apakah pengetatan atau pelonggaran likuiditas perekonomian. Oleh karena itu, seberapa lama efek tunda Grafik Optimal Path dari Inflasi
Total loss (%)
1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 Target 6 tahun 0,1 0 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5 7 Target 5 tahun
0,33 0,32 0,33 0,33 0,30

kebijakan moneter Bank Indonesia terhadap inflasi pada dasarnya sulit diprediksi secara tepat. Penelitian yang pernah dilakukan Bank Indonesia menunjukkan adanya efek tunda kebijakan moneter dalam mempengaruhi sektor riil dan laju inflasi. Adanya keterbatasan kebijakan moneter tersebut membawa implikasi perlunya jangka waktu pencapaian sasaran melebihi satu tahun untuk memberikan ruang gerak bagi kebijakan moneter. Oleh karena itu, di samping menetapkan sasaran jangka pendek, ke depan Bank Indonesia juga perlu menetapkan sasaran inflasi jangka menengah untuk dicapai secara bertahap sebagai komitmen Bank Indonesia untuk tetap mencapai dan memelihara laju inflasi yang rendah. Sasaran inflasi jangka menengah tersebut diharapkan menjadi acuan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi. Selain dipengaruhi oleh prakiraan lamanya efek tunda kebijakan moneter, jangka waktu pencapaian ini juga tergantung pada seberapa rendah sasaran akhir inflasi yang ingin dicapai dan seberapa besar pengorbanan gejolak output yang dapat ditolerir untuk mencapai sasaran tersebut. Kriteria pemilihan kombinasi sasaran inflasi dan jangka waktu pencapaian yang optimal didasarkan pada total fluktuasi inflasi dan fluktuasi output terendah yang akan terjadi selama jangka waktu pencapaian suatu sasaran inflasi. Total fluktuasi

Target 4 tahun

Target 3 tahun

Level target akhir (%)

182

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

inflasi dan fluktuasi output yang bersifat trade-off ini biasa disebut sebagai total social loss (total kerugian sosial). Kombinasi level sasaran dan horison waktu pencapaian yang optimal dihasilkan melalui suatu simulasi dengan menggunakan model makroekonomi skala kecil yang dilengkapi dengan suatu rule kebijakan moneter untuk merespon prakiraan inflasi. Grafik optimal path dari inflasi menunjukkan prakiraan besarnya kerugian sosial yang terjadi untuk beberapa alternatif sasaran akhir dan jangka waktu pencapaiannya. Total kerugian sosial yang terendah diperkirakan dapat terjadi melalui pencapaian sasaran inflasi 5,0%-6,0% dalam tiga tahun ke depan. Kerugian sosial yang cukup rendah juga diperkirakan dapat terjadi melalui pencapaian sasaran inflasi 4,5%-5,5% dalam empat tahun ke depan atau 4,0%-4,5% dalam lima tahun yang akan datang.

Mengacu pada hasil penelitian tersebut, inflasi IHK yang dapat dijadikan sasaran jangka menengah adalah sebesar 4,0%-6,0% untuk diupayakan pencapaiannya dalam lima tahun ke depan. Inflasi jangka menengah yang relatif rendah tersebut diperkirakan dapat dicapai dalam jangka waktu tersebut terutama karena kenaikan-kenaikan harga melalui kebijakan pemerintah diperkirakan telah berkurang secara signifikan mulai tahun 2004. Kondisi ini didukung pula oleh tekanan harga dari sisi permintaan yang diperkirakan sudah lebih terkendali pada periode tersebut seiring dengan membaiknya iklim investasi sehingga kapasitas produksi diprakirakan terus meningkat dan semakin stabilnya nilai tukar. Di sisi lain proses disinflasi tersebut diperkirakan tidak membawa dampak negatif pada pertumbuhan perekonomian dalam jangka menengah.

183

Bab 10 Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2001

Boks : Obligasi Pemerintah Sebagai Alternatif Instrumen Kebijakan Moneter
Instrumen moneter utama dalam pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi pasar terbuka (OPT) adalah SBI dan Intervensi Rupiah. Penggunaan SBI sebagai instrumen moneter disebabkan oleh tidak tersedianya surat-surat berharga pemerintah seperti obligasi. Namun di sisi lain, Bank Indonesia memerlukan instrumen untuk melakukan kontraksi moneter guna menyerap ekses likuiditas yang meningkat tajam akibat krisis. Sebagai konsekuensi penggunaan SBI, Bank Indonesia harus menanggung biaya diskonto SBI yang cukup besar. Biaya yang besar tersebut dapat menimbulkan masalah terhadap kelangsungan pelaksanaan kebijakan moneter. Untuk itu, diperlukan instrumen alternatif untuk mengatasinya. Obligasi yang telah diterbitkan pemerintah baik dalam rangka rekapitalisasi perbankan maupun obligasi dalam rangka penyehatan perbankan kepada Bank Indonesia dapat dijadikan instrumen moneter, sepanjang pasar sekunder obligasi pemerintah telah likuid. Sementara itu, mayoritas bank sentral di dunia, dalam melaksanakan kebijakan moneter melalui OPT menggunakan surat berharga pemerintah, misalnya obligasi pemerintah. Penggunaan obligasi pemerintah memiliki baik keunggulan maupun kelemahan. Keunggulan obligasi pemerintah mencakup bahwa obligasi pemerintah dapat: (i) diterbitkan dalam jumlah besar dengan jangka waktu yang beragam; (ii) memiliki potensi mendorong pengembangan pasar keuangan; (iii) menghasilkan yield curve yang dapat digunakan sebagai reference suku bunga jangka menengah panjang dan ekspekstasi; dan dari sisi bank sentral, (iv) akan mengurangi biaya pelaksanaan operasi moneter yang pada gilirannya akan berdampak positif pada kredibilitas dan efektifitas kebijakan moneter. Di lain pihak, penggunaan obligasi pemerintah memiliki beberapa kelemahan: (i) ketergantungan pada kredibilitas pemerintah, sehingga pemerintah harus menjaga kredibilitas dan kesinambungan fiskal; (ii) bank sentral akan tergantung pada kesinambungan supply surat berharga pemerintah, sehingga diperlukan komitmen pemerintah; (iii) mengakibatkan manajemen moneter kurang terpisah dari manajemen fiskal; dan, (iv) obligasi tidak dapat dijadikan benchmark suku bunga jangka pendek. Penggunaan obligasi sebagai alternatif instrumen OPT mensyaratkan adanya persediaan awal obligasi yang harus dimiliki oleh Bank Indonesia. Persediaan obligasi tersebut dapat dipupuk dari berbagai sumber: (1) pembelian obligasi rekap jenis Variable Rate Bond (VRB) dan Fixed Rate Bond (FRB) di pasar sekunder; (2) konversi pembayaran bunga obligasi yang dimiliki Bank Indonesia (obligasi indeksasi dan obligasi VRB kredit program) menjadi obligasi; (3) konversi pokok obligasi indeksasi dalam rangka program penjaminan. Namun, saat ini Bank Indonesia menghadapi kendala dalam memupuk persediaan obligasi. Stance kebijakan moneter yang cenderung ketat menjadi kendala dalam melakukan pembelian obligasi rekap di pasar sekunder. Hal ini disebabkan pembelian obligasi rekap akan mengakibatkan ekspansi moneter. Disamping itu, kendala lain adalah persyaratan dalam obligasi indeksasi yang tidak dapat dipindahtangankan dan diperdagangkan serta tatacara pembayaran obligasi indeksasi. Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan kesepakatan antara Bank Indonesia dan Pemerintah untuk mengubah terms and conditions obligasi indeksasi dan obligasi kredit program yang dimiliki Bank Indonesia, mengingat perubahan tersebut akan mempengaruhi beban fiskal pemerintah. Dengan mengatasi kendala-kendala dalam memupuk persediaan obligasi dan dengan memiliki strategi OPT yang menggunakan obligasi sebagai instrumen fine tuning di pasar repo1) dan transaksi outright2) melalui lelang, di masa yang akan datang diharapkan obligasi pemerintah dapat dijadikan salah satu instrumen kebijakan moneter.
1) Repurchase Agreement adalah jual beli bersyarat untuk membeli atau menjual kembali. 2) Outright adalah jual beli lepas tanpa kewajiban untuk membeli atau menjual kembali.

184

Lampiran

Lampiran A

BANK INDONESIA

Kantor Pusat Jakarta

Kantor-Kantor Perwakilan London New York Singapura Tokyo

Kantor-Kantor Bank Indonesia Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Cirebon, Denpasar, Jambi, Jayapura, Jember, Kediri, Kendari, Kupang, Lhokseumawe, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Palu, Pekanbaru, Pontianak, Purwokerto, Samarinda, Semarang, Sibolga, Solo, Surabaya, Tasikmalaya, Ternate, Yogyakarta

186

Lampiran B

Dewan Gubernur Bank Indonesia
pada tanggal 31 Desember 2000

Gubernur Syahril Sabirin

Deputi Gubernur Senior Anwar Nasution

Deputi Gubernur Miranda S. Goeltom Aulia Pohan Achwan Achjar Iljas Burhanuddin Abdullah

187

Lampiran C.1

Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Selama tahun laporan, Bank Indonesia telah melakukan beberapa penyempurnaan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penyempurnaan organisasi yang telah dilakukan yaitu meliputi beberapa satuan kerja sesuai dengan perubahan yang terjadi, seperti perubahan teknologi, penajaman tugas, serta perubahan beban tugas. Dalam rangka meningkatkan kualitas maupun kuantitas penelitian bidang tugas utama Bank Indonesia yaitu pengendalian moneter, perbankan dan sistem pembayaran, telah dibentuk Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK). Di samping itu, guna lebih meningkatkan kelancaran pembayaran nasional maka pada Mei 2000 telah dibentuk satuan kerja yang menangani Real Time Gross Settlement (RTGS). Dengan sistem ini, Bank Indonesia mampu menyediakan sarana yang dapat meningkatkan dan memperlancar sistem pembayaran nasional. Hal ini berdampak kepada peningkatan pelayanan perbankan kepada nasabahnya, khususnya untuk transaksi pembayaran nontunai dalam jumlah besar. Dalam rangka mempersiapkan pengalihan tugas pengawasan bank kepada lembaga independen sesuai amanat dalam pasal 34 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, telah disiapkan draft penanganan SDM perbankan. Untuk mengantisipasi trend perkembangan perbankan nasional dari bank konvensional menjadi bank

syariah maka telah disusun pula konsep organisasi pengelolaan bank syariah yang lebih terfokus. Sejalan dengan program Pemerintah untuk mengimplementasikan konsep Otonomi Daerah, telah dilakukan berbagai diskusi dan seminar dengan stakeholders mengenai implikasi Otonomi Daerah terhadap keuangan dan perbankan daerah dalam rangka menyesuaikan tugas Bank Indonesia bidang moneter yang akan dilaksanakan oleh Kantor Bank Indonesia (KBI). Guna meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Dewan Gubernur Bank Indonesia, telah dibentuk Staf Ahli Dewan Gubernur dengan tugas memberikan saran/masukan kepada Dewan Gubernur mengenai hal-hal strategis yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas Dewan Gubernur Bank Indonesia. Di samping itu telah disusun pula Kode Etik Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan menjadi pedoman bagi anggota Dewan Gubernur dalam pelaksanaan tugasnya. Mengingat tuntutan stakeholder agar SDM Bank Indonesia lebih profesional dan berintegritas tinggi program penyempurnaan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) terus dilakukan. Sistem MSDM yang sangat mendesak dan telah mencapai tahap finalisasi produk hukum adalah Manajemen Jalur Karir Pegawai Bank Indonesia dan ketentuan disiplin pegawai. Manajemen jalur karir ini bertujuan untuk memberikan kejelasan bagi organisasi dalam menyusun perencanaan

188

SDM Bank Indonesia dan memberikan gambaran kepada pegawai mengenai karirnya di masa depan. Manajemen jalur karir ini juga diharapkan akan mampu mewujudkan prinsip man to job fit. Guna mempersiapkan calon pimpinan Bank Indonesia yang handal di masa depan, saat ini juga telah disusun sistem Rencana Suksesi Bank Indonesia (RESBI). Sistem ini akan menyediakan pola yang jelas bagi Bank Indonesia dalam

mencetak pimpinan yang dapat memenuhi harapan semua pihak (stakeholders). Di bidang Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SIMASDAM) telah dilakukan penyempurnaan yang berkaitan dengan akurasi data dan informasi untuk memperoleh data yang lengkap, akurat, terkini dan utuh guna menunjang Gubernur. pengambilan keputusan oleh Dewan

Jumlah Pegawai

Akhir No. Tahun Anggaran

Kantor Pusat

Kantor Bank Indonesia di Daerah

Kantor Perwakilan Jumlah

1. 2. 3. 4. 1) 2)

1997/1998 1998/1999 1999/2000 20002)

3.341 3.299 3.068 3.056

2.882 2.852 2.601 2.498

671) 21 17 17

6.290 6.172 5.686 5.571

Termasuk petugas belajar jangka panjang. Data per 31 Desember 2000

189

Kantor Pusat Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa Direktorat Luar Negeri Biro Kredit Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pemeriksaan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pemeriksaan Bank 2 Direktorat Pengedaran Uang Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Logistik dan Pengamanan Direktorat Teknologi Informasi Direktorat Sumber Daya Manusia Direktorat Keuangan Intern Direktorat Hukum Direktorat Pengawasan Intern Biro Gubernur Biro Sekretariat Unit Khusus Investigasi Perbankan Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Hartadi A. Sarwono Ny. Ratnawati Priyono Tarmiden Sitorus (pejabat sementara) Made Sukada Nana Supriana Abdul Azis Djoko Sarwono Imam Sukarno Ny. Siti Ch. Fadjriah S. Nelson Tobing (pejabat sementara) R. Maulana Ibrahim Ardhayadi M. Abdul Salam Adi Putra Hasan Harmain Salim (pejabat sementara) M. Ashadhi Octo R. Nasution Baridjussalam Hadi Bun Bunan E.J. Hutapea R. Moh. Sis. Abadi S. Bachri Ansjori Halim Alamsyah S. Nn. Roswita Roza Bambang Setijoprodjo Bambang S. Wahyudi

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan :

Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat :

Kantor Perwakilan Perwakilan Singapura Perwakilan Tokyo Perwakilan London Perwakilan New York : Kemas A. Sjarifuddin : Djakaria : Maman H. Somantri : Aslim Tajuddin

190

Kantor Bank Indonesia Kelas I Kantor Bank Indonesia Bandung Kantor Bank Indonesia Medan Kantor Bank Indonesia Semarang Kantor Bank Indonesia Surabaya Kelas II Kantor Bank Indonesia Bandar Lampung Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kantor Bank Indonesia Denpasar Kantor Bank Indonesia Manado Kantor Bank Indonesia Padang Kantor Bank Indonesia Palembang Kantor Bank Indonesia Makassar Kantor Bank Indonesia Yogyakarta Kelas III Kantor Bank Indonesia Ambon Kantor Bank Indonesia Banda Aceh Kantor Bank Indonesia Cirebon Kantor Bank Indonesia Jambi Kantor Bank Indonesia Jayapura Kantor Bank Indonesia Malang Kantor Bank Indonesia Mataram Kantor Bank Indonesia Pekan Baru Kantor Bank Indonesia Pontianak Kantor Bank Indonesia Samarinda Kantor Bank Indonesia Solo : : : : : : : : : : : M. Yusuf Oesep W. Yusmanazir Katin Djatiwalujo Ade N. Rachmana Norman John M. Zaeni Aboe Amin Satria Mulya C.Y. Boestal Amin Sisworo Sarman Bona Sihotang Suwondo : : : : : : : : Imrandani Suryanto Ilham Ikhsan M. Djaelani S. Aris Anwari Langka Ardimudinar Tjarlis Gafar Ny. Hirawati Suherman : : : : Maskan Iskandar S. Budi Rochadi Azis Sanuri Wiwiek Sudibyo

191

Kantor Bank Indonesia Kelas IV Kantor Bank Indonesia Balikpapan Kantor Bank Indonesia Kupang Kantor Bank Indonesia Jember Kantor Bank Indonesia Kediri Kantor Bank Indonesia Purwokerto Kantor Bank Indonesia Tasikmalaya Kantor Bank Indonesia Palangkaraya Kantor Bank Indonesia Bengkulu Kantor Bank Indonesia Kendari Kantor Bank Indonesia Palu Kelas V Kantor Bank Indonesia Batam Kantor Bank Indonesia Sibolga Kantor Bank Indonesia Lhokseumawe Kantor Bank Indonesia Ternate : : : : Bistok W. Ritonga Yasin Effendi Fauzi Abubakar Tri Selo : : : : : : : : : : Erman Kurnandi Budiman Usman Sunaryo Budhi Santoso Sumarno Sunarko Moenandar Cheppy Sumawijaya Mokhammad Dakhlan Moch. Zaenal Alim

192

Lampiran C.2

STRUKTUR ORGANISASI BANK INDONESIA
DEWAN GUBERNUR
Gubernur Deputi Gubernur Senior
UKIP

Deputi-Deputi Gubernur

DKM

DSM

DPM

DPD

DLN

BKr

DPNP

DPIP

DPwB1

DPmB1

DPwB2

DPmB2

DPBPR

DPU

DASP

DLP

DTI

DSDM

DKI

DHk

BSk

PPSK

DPI

BGub

APK

SMon

OPU

DR

APLN

PAdk

PNPB

DtB

Tim

Tim

Tim

Tim

Tim

KasT

PSPN

PrLJ

PPTI

PrOS

PrKeu

Tim

Pro

PPr

Tim

Tim

SPPK

SNP

PPU

APD

PLN

Tim

Tim

Prz

IDWB1

IDMB1

IDWB2

IDMB2

IDBPR

Pd

AkR

PgL-I

PmTI

PgKP

LKeu

Ars

Kel.

AdPI

SEM

SRKP

PTPU

PTD

EXIM

IDPnP

Tim

PAPU

AkDv

PgL-II

PDE

PPbP

GE

SSR

PDIE

Admp

Admv

KEPI

IDPiP

KasK

KlJ

PgJ

Ang

SEI

Adms

PTR

Pam

PRAd

NY

Lnd

Tky

Sn

Mdn

Pdg

Bd

Sm

Sb

Bjm

Mks

Bna Lsm Sbg

Pbr Jb Bn Btm

Pg Bdl Cn Tsm

Yk Slo Pwt

Dpr Ml Mtr Kpa Kd Jr

Ptk Bpp Plk Smr

Mo Kdi Ab Jap Pal Tt

193

Daftar Satuan Kerja di Bank Indonesia1)
No.
I.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT RISET EKONOMI DAN KEBIJAKAN MONETER 1. Bagian Analisis dan Perencanaan Kebijakan 2. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan 3. Bagian Studi Ekonomi Makro 4. Bagian Studi Sektor Riil 5. Bagian Studi Ekonomi dan Lembaga Internasional 6. Bagian Perpustakaan Riset dan Administrasi DIREKTORAT STATISTIK EKONOMI DAN MONETER 1. Bagian Statistik Moneter 2. Bagian Statistik Neraca Pembayaran 3. Bagian Statistik Sektor Riil dan Keuangan Pemerintah 4. Bagian Pengelolaan Data dan Informasi Ekonomi dan Moneter 5. Bagian Administrasi DIREKTORAT PENGELOLAAN MONETER 1. Bagian Operasi Pasar Uang 2. Bagian Pengembangan Pasar Uang 3. Bagian Penyelesaian Transaksi Pasar Uang 4. Bagian Administrasi DIREKTORAT PENGELOLAAN DEVISA 1. Dealing Room 2. Bagian Analisis Pengelolaan Devisa 3. Bagian Penyelesaian Transaksi Devisa 4. Bagian Administrasi DIREKTORAT LUAR NEGERI 1. Bagian Administrasi dan Analisis Pinjaman Luar Negeri 2. Bagian Pinjaman Luar Negeri 3. Bagian Ekspor Impor 4. Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Internasional 5. Bagian Administrasi BIRO KREDIT 1. Bagian Pengelolaan dan Administrasi Kredit 2. Tim Penelitian dan Pengembangan DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGATURAN PERBANKAN 1. Tim-tim a. Tim Pengaturan Bank b. Tim Pengembangan Pengawasan Bank 2. Biro Penelitian Perbankan 3. Bagian Informasi dan Dokumentasi Penelitian dan Pengaturan Perbankan
1) SE No.2/27/INTERN tgl. 7 Juli 2000

Singkatan
DKM APK SPPK SEM SSR SEI PRAd DSM SMon SNP SRKP PDIE Adms DPM OPU PPU PTPU Admp DPD DR APD PTD Amdv DLN APLN PLN EXIM KEPI Adml BKr PAdk DPNP -

II.

III.

IV.

V.

VI.

VII.

PNPB IDPnP

194

No.
VIII.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT PERIZINAN DAN INFORMASI PERBANKAN 1. Tim-tim a. Tim Bank Dalam Likuidasi b. Tim Penjaminan 2. Bagian Data Perbankan 3. Bagian Perizinan 4. Bagian Informasi dan Dokumentasi Perizinan dan Informasi Perbankan DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 1 1. Tim-tim Pengawas 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 1 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 1 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 1 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 2 1. Tim-tim Pengawas 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 2 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 2 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 2 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK PERKREDITAN RAKYAT 1. Tim-tim a. Tim Pengawas b. Tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan BPR DIREKTORAT PENGEDARAN UANG 1. Bagian Kas Thamrin 2. Bagian Pengedaran 3. Bagian Perencanaan, Pembinaan dan Administrasi Pengedaran Uang 4. Bagian Kas Kota DIREKTORAT AKUNTING DAN SISTEM PEMBAYARAN 1. Biro Pengembangan Sistem Pembayaran 2. Bagian Akunting Rupiah 3. Bagian Akunting Devisa 4. Bagian Kliring Jakarta 5. Bagian Penyelesaian Transaksi Rupiah DIREKTORAT LOGISTIK DAN PENGAMANAN 1. Bagian Perencanaan Logistik dan Jasa 2. Bagian Pengelolaan Logistik I 3. Bagian Pengelolaan Logistik II 4. Bagian Pengelolaan Jasa 5. Bagian Pengamanan

Singkatan
DPIP -

DtB Prz IDPiP DPwB1 IDPWB1 DPmB1 IDMB1 DPwB2 IDWB2 DPmB2 IDMB2 DPBPR -

IX.

X.

XI.

XII.

XIII.

IDBPR DPU KasT Pd PAPU KasK DASP PSPN AkR AkDv KlJ PTR DLP PrlJ PgL-I PgL-II PgJ Pam

XIV.

XV.

XVI.

195

No.
XVII.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT TEKNOLOGI INFORMASI 1. Bagian Penelitian dan Pengembangan Teknologi Informasi 2. Bagian Pemeliharaan Teknologi Informasi 3. Bagian Pemrosesan Data Elektronis DIREKTORAT SUMBER DAYA MANUSIA 1. Biro Perencanaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia 2. Bagian Pengembangan Karir Pegawai 3. Bagian Penerimaan dan Pembinaan Pegawai DIREKTORAT KEUANGAN INTERN 1. Bagian Perencanaan Keuangan 2. Bagian Laporan Keuangan 3. Bagian Gaji dan Emolumen 4. Bagian Anggaran DIREKTORAT HUKUM 1. Tim-tim a. Tim Penasehat Hukum b. Tim Dokumentasi dan Informasi Hukum c. Tim Enquiry Point BIRO SEKRETARIAT 1. Bagian Protokol 2. Bagian Arsip DIREKTORAT PENGAWASAN INTERN 1. Tim-tim a. Tim Pengembangan Pengawasan Intern b. Tim Analisis Ketentuan c. Tim Pengawasan Intern 2. Bagian Administrasi dan Informasi BIRO GUBERNUR 1. Tim-tim a. Perencanaan dan Pemantauan b. Tim Hubungan Masyarakat c. Staf Gubernur UNIT KHUSUS INVESTIGASI PERBANKAN 1. Tim-tim Investigasi PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN 1. Kelompok Pengembangan dan Monitoring Program 2. Kelompok Peneliti 3. Bagian Pelaksanaan Program

Singkatan
DTI PPTI PmTI PDE DSDM PrOS PgKP PPbP DKI PrKeu LKeu GE Ang DHk -

XVIII.

XIX.

XX.

XXI.

BSk Pro Ars DPI -

XXII.

AdPI BGub -

XXIII.

XXIV.

UKIP PPSK PPr

XXV.

196

Nama Satuan Kerja
Kantor Perwakilan Bank Indonesia 1. New York 2. London 3. Tokyo 4. Singapore Kantor Bank Indonesia 1. Ambon 2. Balikpapan 3. Banda Aceh 4. Bandar Lampung 5. Bandung 6. Banjarmasin 7. Batam 8. Bengkulu 9. Cirebon 10. Denpasar 11. Jayapura 12. Jambi 13. Jember 14. Kediri 15. Kendari 16. Kupang 17. Lhokseumawe 18. Makassar 19. Malang 20. Mataram 21. Medan 22. Menado 23. Padang 24. Palangkaraya 25. Palembang 26. Palu 27. Pekanbaru 28. Pontianak 29. Purwokerto 30. Samarinda 31. Semarang 32. Sibolga 33. Solo 34. Surabaya 35. Tasikmalaya 36. Ternate 37. Yogyakarta

Singkatan

NY Lnd Tky Sn

Ab Bpp Bna Bdl Bd Bjm Btm Bn Cn Dpr Jap Jb Jr Kd Kdi Kpa Lsm Mks Ml Mtr Mdn Mo Pdg Plk Pg Pal Pbr Ptk Pwt Smr Sm Sbg Slo Sb Tsm Tt Yk

197

Lampiran D.1

Neraca Bank Indonesia
per 31 Desember 20001) (Miliar Rupiah)

Aktiva

Pasiva
KEWAJIBAN

1. Emas 2. Uang asing 3. Hak tarik khusus 4. Giro A. Bank Sentral B. Bank Koresponden 5. Deposito pada Bank Koresponden 6. Surat berharga A. Dalam rupiah B. Dalam valuta asing 7. Tagihan A. Kepada pemerintah – Dalam rupiah – Dalam valuta asing B. Kepada bank – Dalam rupiah – Dalam valuta asing C. Kepada lainnya – Dalam rupiah – Dalam valuta asing 8. Penyisihan kerugian aktiva 9. Penyertaan 10. Aktiva lain-lain 7.279 0 18.803 1.729 279.061 124 0 217.662 2.950 2.201

8.170 794 306 5.151

1. Uang dalam peredaran 2. Giro A. Pemerintah – Dalam rupiah – Dalam valuta asing B. Bank 61.677 29.621

89.704 91.298

41.313 33.677 7.636 6.485 6.283 202 105.135 105.135 0 78.673 78.673 0 27.531 336 2.165 25.030 18.990 1.299 460.429

61.538 217.662

– Dalam rupiah – Dalam valuta asing C. Pihak swasta lainnya – Dalam rupiah – Dalam valuta asing

279.185

D. Lembaga keu. internasional – Dalam rupiah – Dalam valuta asing

20.532

3. Surat berharga yang diterbitkan A. Dalam rupiah B. Dalam valuta asing

7.279

4. Pinjaman dari pemerintah A. Dalam rupiah B. Dalam valuta asing

(27.383) 0 6.369

C. Surat utang Bank Indonesia 5. Pinjaman luar negeri 6. Kewajiban lain-lain JUMLAH KEWAJIBAN EKUITAS 1. Modal 2. Cadangan umum 3. Cadangan tujuan 4. Hasil revaluasi aktiva tetap 5. Hasil revaluasi kurs dan SSB 6. Hasil indeksasi SUP 7. Hasil indeksasi SUBI 8. Surplus (defisit) tahun sebelumnya 9. Surplus (defisit) tahun berjalan JUMLAH EKUITAS

2.606 6.431 2.756 4.767 79.954 18.818 (476) 1.773 2.547 119.175 579.604

JUMLAH AKTIVA

579.604

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

1) Belum diaudit. Laporan Keuangan Bank Indonesia Tahun 2000 yang lengkap telah disampaikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 31 Januari 2001 dalam rangka memnuhi pasal 61 UU No.23 tahun 1999

198

Lampiran D.2

Laporan Surplus Defisit
Periode 1 Januari – 31 Desember 2000 (Miliar Rupiah)

PENERIMAAN 1. Pengelolaan Moneter A. Pengelolaan Devisa B. Kegiatan Pasar Uang 35.443 52 11.412 39 33 3.093 162 2.931 46.907

C. Pemberian Kredit dan Pembiayaan 2. 3. 4. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Pengaturan Perbankan Lainnya A. Penerimaan Lainnya B. Pemulihan Penyisihan Aktiva

Jumlah Penerimaan

50.072

PENGELUARAN 1. Biaya Pengendalian Moneter A. Beban Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Moneter B. 2. Beban Pengelolaan Devisa (11.890) (7.791) (721) (696) (25) (132) (2.436) (2.253) (183) (19.681)

Beban Sistem Pembayaran A. Beban Pengedaran Uang B. Beban Penyelenggaraan Sistem Pembayaran

3. 4.

Beban Pengaturan dan Pengawasan Bank Beban Umum, Administrasi, dan Lainnya A. Beban Umum, Administrasi, dan Lainnya B. Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Jumlah Pengeluaran

(22.970)

Surplus (Defisit) Sebelum Pos Luar Biasa Saldo Surplus penyesuaian Due Dilligence Neraca Awal Beban karena Pos Luar Biasa

27.102 – (24.554)

SURPLUS (DEFISIT)

2.547

199

Lampiran E

Tanggal

BERBAGAI KETENTUAN DAN KEBIJAKAN PENTING Keterangan Ketentuan/Kebijakan DI BIDANG EKONOMI DAN KEUANGAN TAHUN 2000

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

2000 Januari
14 Bank Indonesia mengeluarkan peraturan mengenai penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). Penilaian kemampuan dan kepatutan tersebut dilakukan terhadap pemegang saham pengendali, pengurus, dan pejabat eksekutif bank. Dijelaskan juga bahwa penilaian tersebut dilakukan secara berkala atau setiap waktu apabila dianggap perlu oleh Bank Indonesia. 14 Pemerintah mengeluarkan keputusan mengenai perhitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor tahun 2000. 20 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kebijakan restrukturisasi dan penyelesaian pinjaman bagi debitur di BPPN. 21 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penatausahaan dan perdagangan obligasi pemerintah. Beberapa hal yang diatur dalam ketentuan tersebut antara lain fungsi Bank Indonesia dalam kaitan tersebut, pencatatan kepemilikan, kliring, setelmen obligasi, tata cara perdagangan, pengawasan dan pelaporan. Februari 1 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai pengalihan pengelolaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dalam rangka kredit program. Di dalam ketentuan tersebut diatur bahwa pengelolaan KLBI dalam rangka kredit program (KLBI) dialihkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah ditunjuk oleh Pemerintah, yaitu: PBI No. 2/3/2000 PBI No.2/2/2000 Kep. Menko Ekuin No. Kep. 01.A/M.EKUIN/01/2000 SK Mendagri No.1 tahun 2000 PBI No. 2/1/2000

200

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

1. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero); 2. PT. Bank Tabungan Negara (Persero); 3. PT. Permodalan Nasional Madani (Persero). 11 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/3/PBI/ 1999 tentang Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Antar Bank Atas Hasil Kliring Lokal. Bahwa dengan telah diberikannya kesempatan bagi bank konvensional untuk membuka kantor cabang yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah maka diperlukan pengaturan tambahan yang berkaitan dengan keikutsertaan bank tersebut dalam kliring lokal. 18 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan upah minimum regional pada 26 (dua puluh enam) propinsi di Indonesia dan upah minimum sektoral regional di 20 (dua puluh) propinsi di Indonesia. 21 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penyediaan dana oleh bank yang dijamin bank lain. Penyediaan Dana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini adalah penanaman dana bank baik dalam rupiah maupun valuta asing, dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antarbank, termasuk komitmen dan kontinjensi. Selanjutnya juga diatur bahwa Bagian Penyediaan Dana kepada pihak terkait untuk setiap peminjam atau kelompok peminjam yang dijamin oleh bank lain tidak diperhitungkan dalam ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit dengan jumlah setinggi-tingginya sebesar 90% (sembilan puluh perseratus) dari Modal Bank. Bagian Penyediaan Dana kepada pihak tidak terkait untuk setiap peminjam atau kelompok peminjam yang dijamin oleh bank lain tidak diperhitungkan dalam ketentuan Batas Maksimum PemPBI No. 2/5/2000 SK Menaker No.Kep-20/ Men/2000 PBI No. 2/4/2000

201

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

berian Kredit dengan jumlah setinggi-tingginya sebesar : a. 70% (tujuh puluh perseratus) dari Modal Bank sampai dengan akhir tahun 2001; b. 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Modal Bank selama tahun 2002; c. 80% (delapan puluh perseratus) dari Modal Bank sejak tanggal 1 Januari 2003. Bank lain yang menjamin Penyediaan Dana wajib memenuhi persyaratan memiliki : a. peringkat investasi; dan b. total aset yang termasuk dalam peringkat 200 (dua ratus) besar dunia. 21 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemeriksaan bank. 23 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai Giro Wajib Minimum (GWM) dalam rupiah dan valuta asing bagi bank umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Bahwa dengan telah berkembangnya sistem perbankan berdasarkan prinsip syariah, kewajiban pemeliharaan GWM perlu diberlakukan pula bagi bank umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. GWM dalam rupiah ditetapkan sebesar 5% (lima perseratus) dari dana pihak ketiga (DPK) bank dalam rupiah. Sedangkan GWM dalam valuta asing ditetapkan sebesar 3% (tiga perseratus) dari DPK Bank dalam valuta asing. Pemenuhan persentase GWM dilakukan secara harian pada saat Bank Indonesia menutup sistem akunting. 23 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di bidang Pertambangan Umum. PP No.13 Tahun 2000 PBI No. 2/7/2000 PBI No. 2/6/2000

202

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

23

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai pasar uang antar bank berdasarkan prinsip syariah.

PBI No. 2/8/2000

23

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai Sertifikat Wadiah Bank Indonesia. Dengan berkembangnya bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dan dalam rangka pelaksanaan pengendalian moneter, maka perlu diciptakan piranti moneter yang sesuai dengan prinsip syariah dalam bentuk Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

PBI No. 2/9/2000

25

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai persyaratan impor kendaraan bermotor dalam keadaan utuh (CBU).

Kep. Memperindag No.49/ MPP/Kep/2/2000 Keppres No. 32 tahun 2000

26

Pemerintah mengeluarkan keputusan mengenai pembentukan Tim Penanggulangan Masalah Utang-Utang Perusahaan Swasta Indonesia.

28

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pembentukan Tim Monitoring Bank Umum Peserta Rekapitalisasi.

Keputusan Menkeu No.51/ KMK.017/2000 Surat Dirjen Perdagangan Luar Negeri N0.25/DJPLN/ II/2000

29

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan harga patokan ekspor kelapa sawit, minyak kelapa sawit, dan produk turunannya.

Maret 10 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai PP No.16 Tahun 2000 pembagian hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Di dalam ketentuan tersebut diatur bahwa hasil PBB dibagi untuk Pemerintah Pusat dan Daerah dengan perimbangan sebagai berikut: a) 10% untuk Pemerintah Pusat; b) 90% untuk Daerah.

203

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

Jumlah 90% yang merupakan bagian Daerah diperinci sebagai berikut: a) 16,2% untuk Daerah Propinsi yang bersangkutan; b) 64,8% untuk Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan; c) 9% untuk Biaya Pemungutan. 21 Pengesahan UU No.2 tahun 2000 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2000. 21 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan upah minimum regional Propinsi Kalimantan Timur. 21 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan upah minimum regional Propinsi Sulawesi Tengah 29 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/10/PBI/1999 tentang Portofolio Obligasi Pemerintah Bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi. 29 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan tarif cukai dan harga dasar hasil tembakau. 31 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai keringanan bea masuk bahan baku/subkomponen/bahan penolong untuk pembuatan elektronika. 31 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan status bank dan penyerahan bank kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Peraturan Bank Indonesia (PBI) ini, diantaranya mengatur tentang penetapan Bank Dalam Pengawasan Khusus (Special Surveillance), penetapan Bank dengan Status Bank Dalam Penyehatan (BDP) dan penyerahannya kepada BPPN, penetapan bank dengan Status Bank Beku Kegiatan PBI No. 2/11/2000 Kep. Menkeu No.89/KMK. 05/2000 Kep. Menkeu No.98/KMK. 05/2000 Kep. Menaker No.Kep.35/ MEN/2000 Kep. Menaker No.Kep.37/ MEN/2000 PBI No. 2/10/2000 UU No. 2 tahun 2000

204

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

Usaha (BBKU) dan penyerahannya kepada BPPN, serta pengaturan kriteria dan prosedur penetapan bank yang tidak ikut serta dalam program penjaminan pemerintah. PBI dimaksud juga mengatur penyerahan bank kepada BPPN oleh karena sebab lainnya, yaitu apabila bank memiliki aktiva produktif bermasalah yang akan diselesaikan melalui pengalihan kepada BPPN dan terdapat kesepakatan antara Bank Indonesia, BPPN dan pemegang saham untuk mengalihkan aktiva produktif bermasalah tersebut. Secara lebih rinci, PBI tersebut antara lain menetapkan bahwa suatu bank masuk kelompok Bank Dalam Pengawasan Khusus (special surveillance) apabila atas dasar penilaian Bank Indonesia suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya yang tercermin antara lain pada Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (CAR) kurang dari 4% dan/atau non performing loan (NPL) lebih besar dari atau sama dengan 35% dari total kredit. Adapun jangka waktu pengawasan khusus (special surveillance) adalah 6 (enam) bulan untuk bank go public dan 3 (tiga) bulan untuk bank non-go public. Sementara itu, penetapan bank dengan status BDP dan penyerahannya ke BPPN didasarkan pada kriteria apabila jangka waktu pengawasan khusus (special surveillance) telah terlampaui dan CAR kurang dari 4% namun dinilai bank yang bersangkutan dapat memenuhi persyaratan, diantaranya CAR dapat ditingkatkan menjadi 8% pada akhir 2001, dapat menyelesaikan pelampauan dan atau pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), dan dapat menurunkan NPL menjadi 5% dari total kredit pada akhir 2001. Jangka waktu penanganan oleh BPPN bagi bank dengan status BDP tersebut adalah 18 bulan. Sedangkan penyerahan suatu bank dengan status BBKU kepada BPPN didasarkan atas 2 (dua) kriteria, yaitu walaupun jangka waktu pengawasan khusus (special surveil-

205

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

lance) belum terlampaui, namun bank tersebut memiliki CAR kurang dari 2% dan dinilai tidak dapat ditingkatkan menjadi 8% per akhir 2001 atau Giro Wajib Minimum (GWM) dalam rupiah lebih kecil dari 0% dan tidak dapat diselesaikan; dan kriteria kedua adalah bahwa jangka waktu pengawasan khusus sudah terlampaui dan CAR lebih kecil dari 4%, kondisi bank tidak mengalami perbaikan dan tidak memenuhi persyaratan BDP. Jangka waktu penanganan BBKU oleh BPPN adalah 2 (dua) tahun. 31 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan ketiga atas PP No.17 tahun 1999 tentang Badan Penyehatan Perbankan Nasional. April 7 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. 24 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan tarif bea meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan bea meterai. 26 Pengesahan UU No.3 tahun 2000 tentang perubahan atas UU No.7 tahun 1999 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1999/2000. 27 Bank Indonesia (BI) bersama Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) telah mengakhiri status BDPBTO PT Bank Central Asia, Tbk (BCA). BCA dimasukkan ke dalam program penyehatan BPPN pada Mei 1998 sebagai Bank Take Over. Selama proses penyehatan di bawah BPPN, BCA telah dapat mengembalikan kinerjanya dari posisi rugi yang sangat besar menjadi laba. Pemerintah yang diwakili BPPN sebagai pemegang mayoritas BCA akan melanjutkan langkah berikutnya, yaitu UU No. 3 tahun 2000 PP No. 24 tahun 2000 PP No. 20 tahun 2000 PP No. 18 tahun 2000

206

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

program divestasi atas saham Pemerintah di BCA. Proses divestasi tersebut, saat ini sedang berlangsung melalui Initial Public Offering (IPO) BCA. Mei 1 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai keringanan bea masuk atas impor mesin, barang dan bahan dalam rangka pembangunan/pengembangan industri/industri jasa. 6 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai PP No. 25 tahun 2000 Kep. Menkeu No.135/KMK. 05/2000

kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. 15 Bank Indonesia mulai Mei 2000 akan menyajikan data cadangan devisa per 30 April 2000 dengan menggunakan konsep terakhir dari Special Data Dissemination Standards, yaitu yang disebut International Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). Standar ini dipergunakan oleh negara-negara anggota IMF, yang dipelopori oleh negaranegara G7. Konsep baru ini mengubah cara perhitungan cadangan devisa dari konsep yang selama ini digunakan, yaitu Gross Foreign Assets (GFA). Perbedaan antara konsep IRFCL dan GFA terletak pada klasifikasi aset dan nilai konversi terhadap mata uang lain (cross rate) yang digunakan. Aset yang tercakup dalam konsep IRFCL diklasifikasikan sebagai aset yang likuid (sampai dengan satu tahun) dan mudah diperdagangkan. Cross rate yang dipergunakan, yang semula atas dasar kurs tanggal 31 Maret 1998 dalam perhitungan Net International Reserves (NIR), pada konsep yang baru diubah menjadi atas dasar kurs pasar (current market rate). Kedua perubahan mendasar ini akan menyebabkan angka cadangan devisa bersih (NIR) Indonesia menjadi lebih rendah dibandingkan dengan data yang dipublikasikan selama ini. Siaran Pers BI No. 2/79/ BGub/Humas

207

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

16

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai jaminan pinjaman luar negeri antar bank. Jaminan Bank Indonesia diberikan kepada kreditur dalam hal bank tidak dapat memenuhi kewajibannya maksimal sebesar pokok dan bunga Pinjaman Luar Negeri Antar Bank serta biayabiaya lain sebagaimana diatur dalam Master Loan Agreement (MLA). Jaminan Bank Indonesia berlaku sesuai dengan jangka waktu angsuran Pinjaman Luar Negeri Antar Bank yaitu 1 (satu), 2 (dua), 3 (tiga), 4 (empat), 5 (lima) dan 6 (enam) tahun sejak pinjaman dipertukarkan menjadi pinjaman baru.

PBI No. 2/12/2000

16

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai jaminan pembiayaan perdagangan internasional. Dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi nasional khususnya kegiatan perdagangan internasional, Bank Indonesia untuk dan atas nama Pemerintah menerbitkan Letter of Guaranty untuk menjamin pembiayaan perdagangan internasional yang dilakukan oleh bank.

PBI No.2/13/2000

25

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai ketentuan kuota ekspor tekstil dan produk tekstil.

Kep. Menperindag No. 174/MPP/KEP/5/2000

26

Pemerintah

mengeluarkan

peraturan

mengenai

Keputusan Menkeu No.179/KMK.017/2000

persyaratan, tata cara dan ketentuan pelaksanaan jaminan pemerintah terhadap kewajiban pembayaran bank umum. 30 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai

Keputusan Menkeu No.187/KMK.01/2000

perubahan klasifikasi dan penurunan tarif bea masuk atas impor beberapa produk tertentu. Juni 2 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai

Kep. Menperindag No.192/MPP/KEP/6/2000

perubahan Kep. Memperindag No.230/MPP/KEP/7/1997

208

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

tentang barang yang diatur tata niaga impornya sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Kep. Memperindag No.50/MPP/KEP/2/1999 mengenai perubahan ketentuan impor kendaraan bermotor dalam keadaan utuh (CBU). 7 Pemerintah (PERURI). 9 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan kedua atas PBI No.1/3/PBI/1999 tentang Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Antar Bank Atas Hasil Kliring Lokal. 12 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan SK Dir.BI No.31/150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Restrukturisasi Kredit. Penyelesaian pelampauan BMPK yang semula harus diselesaikan oleh perbankan dalam waktu 9 bulan sejak Desember 1998, diperpanjang menjadi selambatlambatnya pada akhir Mei 2001. Sedangkan untuk kredit yang direstrukturisasi melalui mediasi lembaga resmi seperti Prakarsa Jakarta dan/atau Satgas Restrukturisasi Bank Indonesia, batas waktu penyelesaiannya diperpanjang selambat-lambatnya pada akhir Desember 2002. Sebagai komponen perhitungan CAR, Bank Indonesia dalam perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) untuk Aktiva Produktif yang digolongkan Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar (KL), Diragukan (D), dan Macet (M) dilakukan (Nilai dengan memperhitungkan perhitungan Penyisihan ATMR tidak Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang telah dibentuk Buku). Semula PBI No.2/15/2000 PBI No.2/14/2000 mengeluarkan peraturan mengenai PP No. 34 tahun 2000

Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia

209

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

memperhitungkan PPAP yang telah dibentuk. Perubahan ketentuan ini mengikuti standar yang telah diberlakukan Bank for International Settlement (BIS) yang menerapkan penggunaan nilai buku Aktiva Produktif dalam perhitungan ATMR. 12 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan SK Dir.BI No.31/177/KEP/DIR tanggal 31 Desember 1998 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum. 26 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan upah minimum regional Propinsi DKI Jakarta yaitu yang semula Rp286.000 menjadi Rp344.257 26 Penundaan berlakunya PP no.39 tahun 1998 tentang perlakuan wajib pajak pertambahan nilai dan pajak atas barang mewah di kawasan berikat (bonded zone) daerah industri Pulau Batam 28 Surat Edaran Bank Indonesia mengenai perubahan atas marjin suku bunga simpanan pihak ketiga yang dijamin pemerintah. Ditetapkan bahwa marjin suku bunga simpanan pihak ketiga dalam rangka rupiah dan valas yang dijamin pemerintah, yaitu: 1. marjin suku bunga simpanan pihak ketiga dalam Rupiah sebesar 200 (dua ratus) basis point. 2. marjin suku bunga simpanan pihak ketiga dalam valas sebesar 100 (seratus) basis point. 30 Bank Indonesia secara bertahap akan menarik uang pecahan Rp50.000,00 seri Soeharto. Namun demikian uang pecahan Rp50.000,00 seri Soeharto masih tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Uang Rp50.000,00 seri Soeharto sudah diedarkan Bank Indonesia Siaran Pers BI No. 2/ 109 / BGub/Humas SE BI No.2/17/DPNP PP No.45 tahun 2000 SK Menaker No.KEP-185/ MEN/2000 PBI No.2/16/2000

210

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

sejak 1993 dan sebagai pengganti dari seri tersebut, Bank Indonesia sejak 1999 telah mengeluarkan uang Rp50.000,00 seri W.R. Soepratman. Penarikan bertahap oleh Bank Indonesia dilakukan dengan tidak mengedarkan kembali seri Soeharto yang masuk ke Bank Indonesia dan menggantinya dengan seri W.R. Soepratman. 30 Sebagai kelanjutan dari program transformasi Bank Indonesia, maka mulai 3 Juli 2000, Bank Indonesia membentuk sebuah badan penelitian yang disebut Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan. Badan yang disingkat PPSK ini akan lebih memfokuskan pada pengembangan kemampuan sumber daya manusia di Bank Indonesia dan pelaksanaan penelitian di bidang keilmuan yang terkait dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Jika selama ini seluruh riset yang dilaksanakan Bank Indonesia lebih terfokus pada penentuan dan pelaksanaan kebijakan, maka PPSK mempunyai tujuan untuk lebih meningkatkan keahlian dalam bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran. Juli 20 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai pengeluaran dan pengedaran serta pencabutan dan penarikan uang rupiah. Beberapa hal yang diatur dalam ketentuan tersebut antara lain tentang pengeluaran uang, pengedaran uang, pencabutan dan penarikan uang dari peredaran dan lain-lain. 20 Pencabutan dan penarikan dari peredaran uang kertas pecahan Rp10.000,00 Tahun Emisi 1992, Rp20.000,00 Tahun Emisi 1992 dan 1995, Rp50.000,00 Tahun Emisi 1993 dan 1995, serta Rp50.000,00 Plastik Tahun Emisi 1993. Agustus 4 Perhitungan anggaran negara tahun anggaran 1998/1999. UU No.22 tahun 2000 PBI No.2/18/2000 PBI No.2/17/2000 SE No.2/24/Intern

211

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

September 7 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank. Ketentuan ini antara lain mengatur ketentuan bahwa bank wajib merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanan Nasabah tidak berlaku bagi: 1. kepentingan perpajakan; 2. penyelesaian piutang Bank yang sudah diserahkan kepada Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara/ Panitia Urusan Piutang Negara; 3. kepentingan peradilan dalam perkara pidana; 4. kepentingan peradilan dalam perkara perdata antara Bank dengan Nasabahnya; 5. tukar menukar informasi antar Bank; 6. permintaan, persetujuan atau kuasa dari Nasabah Penyimpan yang dibuat secara tertulis; 7. permintaan ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan yang telah meninggal dunia. 11 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan Kep. Menkeu No.891/KMK.05/2000 tentang penetapan tarif cukai dan harga dasar hasil tembakau. 12 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan besarnya tarif pajak ekspor kelapa sawit, CPO dan produk turunannya. Dalam keputusan tersebut antara lain ditetapkan tarif pajak ekspor CPO sebesar 5%. 12 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas pendanaan jangka pendek bagi bank umum. Untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek, Bank Indonesia sebagai lender of the last resort dapat memberikan PBI No.2/20/2000 SK Menkeu No.387/KMK. 017/2000 SK Menkeu No.378/KMK. 05/2000 PBI No.2/19/2000

212

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

kredit kepada bank umum yang dijamin dengan agunan berkualitas tinggi dan mudah dicairkan. 15 Bank Indonesia terhitung sejak tanggal 14 September 2000 sampai adanya pemberitahuan lebih lanjut menghentikan sementara PT Bank Hanvit Indonesia sebagai peserta kliring lokal sehubungan dengan penutupan kantor bank tersebut akibat ledakan bom di area parkir Gedung Bursa Efek Jakarta (Gedung BEJ) pada 13 September 2000. Penghentian sementara tersebut merupakan jawaban Bank Indonesia atas surat PT Bank Hanvit Indonesia kepada Bank Indonesia. Dalam surat dimaksud pimpinan bank bersangkutan menyampaikan pemberitahuan bahwa kantor PT Bank Hanvit Indonesia yang terletak di Gedung BEJ tidak dapat melakukan kegiatan perbankan sebagaimana mestinya, sehingga ditutup untuk umum serta tidak dapat mengikuti kegiatan kliring sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Penutupan kantor ini dilakukan menyusul kejadian ledakan bom yang mengakibatkan seluruh aktivitas di Gedung BEJ ditutup untuk umum oleh pihak pengelola gedung. 18 Bank Indonesia terhitung sejak kegiatan Kliring Penyerahan Nominal Besar pada hari Jumat, 15 September 2000 telah mengikutsertakan kembali PT Bank Hanvit Indonesia dalam Kliring Lokal Jakarta. Sehubungan dengan hal itu, sejak tanggal dimaksud maka warkat-warkat kliring yang berasal dan ditujukan kepada PT Bank Hanvit Indonesia dapat kembali diperhitungkan dalam Kliring Lokal Jakarta. 19 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai laporan bulanan bank umum. Dalam rangka penyusunan laporan dan informasi dalam penetapan kebijakan bidang moneter, sistem pembayaran, dan perbankan serta untuk keperluan pemantauan keadaan bank secara benar, PBI No.2/21/2000 Siaran Pers BI No.2/161/ BGub/Humas Siaran Pers BI No. 2/159/ BGub/Humas

213

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

diperlukan informasi keadaan keuangan, dan kegiatan usaha bank secara individual yang lebih lengkap termasuk kegiatan usaha bank yang dilakukan di luar negeri. 19 Surat edaran Bank Indonesia mengenai peningkatan persentase portofolio obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan bagi bank umum peserta program rekapitalisasi perbankan. Jumlah persentase obligasi yang dapat diperdagangkan yang semula ditetapkan setinggitingginya sebesar 10% (sepuluh perseratus) ditingkatkan menjadi setinggi-tingginya sebesar 15% (lima belas perseratus) dari nilai keseluruhan Obligasi Pemerintah yang dibeli pada saat Bank menerima penyertaan tunai dari pemerintah sehubungan dengan Program Rekapitalisasi Bank Umum. 28 Bank Indonesia atas nama Pemerintah RI telah menandatangani perjanjian perpanjangan jangka waktu (rescheduling) pembayaran pokok dua pinjaman siaga yang diterima Pemerintah RI dari sindikasi bank-bank di luar negeri pada tahun 1994 dan 1995. Total kewajiban yang direstrukturisasi adalah sebesar $340 juta, yang terdiri atas kewajiban pinjaman siaga tahun 1994 sebesar $140 juta dan kewajiban pinjaman siaga tahun 1995 sebesar $200 juta. Oktober 2 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai kewajiban pelaporan utang luar negeri. Bank, Badan Usaha Bukan Bank dan perorangan yang mempunyai utang luar negeri (ULN) wajib menyampaikan laporan setiap ULN kepada Bank Indonesia secara lengkap, benar, dan tepat waktu secara berkala sesuai jangka waktu yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 2 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan uang kertas, uang logam serta bahan baku untuk SK Menkeu No.414/KMK. 04/2000 PBI No.2/22/2000 Siaran Pers BI No. 2/170/ BGub/Humas SE BI No.2/18/DPM

214

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

pembuatan uang kertas dan uang logam, sebagai barang kena pajak yang bersifat strategis untuk keperluan pembangunan nasional. 20 Terhitung sejak 20 Oktober 2000 Bank Indonesia membekukan kegiatan usaha (BBKU) PT Bank Ratu dan PT Bank Prasidha Utama dan selanjutnya diserahkan kepada BPPN untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 27 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perusahaan pembiayaan. Dijelaskan bahwa perusahaan pembiayaan melakukan kegiatan usaha: – – – – November 6 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penilaian kemampuan dan kepatutan (Fit and Proper Test). 10 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 10 Surat edaran Bank Indonesia mengenai pelaporan kegiatan lalu lintas devisa oleh Lembaga Keuangan Non Bank. 16 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai Surat Dirjen Perdagangan Luar Negeri No.280/ DJPLN/XI/2000 Siaran Pers BI No. 2/201/ BGub/Humas SE BI No.2/23/DSM PP No. 106 tahun 2000 PBI No.2/23/2000 Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Usaha Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen SK Menkeu No.448/KMK. 04/2000 SK DGS BI No.2/24/KEP. DGS/2000 dan No.2/25/ KEP. DGS/2000

penetapan harga patokan ekspor kelapa sawit, minyak kelapa sawit, dan produk turunannya. 17 Sebagai pertanggungjawaban moral dari Pimpinan Bank Indonesia yang diharapkan dapat membantu penyelesaian

215

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

sebaik-baiknya terhadap kasus BLBI, dengan segala kesadaran dan tanpa tekanan dari pihak manapun, Deputi Gubernur Senior, Anwar Nasution dan sebagian Deputi Gubernur yaitu Miranda S. Goeltom, Dono Iskandar Djojosubroto, Achwan, dan Burhanuddin Abdullah, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia. 17 Surat edaran Bank Indonesia mengenai Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS). Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS) adalah suatu sistem transfer dana elektronik antar bank dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan per transaksi secara individual. 17 Surat edaran Bank Indonesia mengenai biaya dalam penggunaan Sistem Bank Indonesia RTGS. Jenis biaya dalam penggunaan sistem BI-RTGS terdiri dari : – – Biaya transaksi; Biaya perpanjangan Jam Operasional. SE BI No. 2/25/DASP SE BI No.2/24/DASP

Besarnya biaya transaksi adalah sebagai berikut : – – – biaya single credit transaction sebesar Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah) per transaksi; biaya multiple credit transaction sebesar Rp50.000 (lima puluh ribu rupiah) per transaksi; biaya pengiriman administrative message sebesar Rp2.500 (dua ribu lima ratus rupiah) per administrative message. Besarnya biaya perpanjangan Jam Operasional adalah Rp5.000.000 (lima juta rupiah) untuk 30 (tiga puluh) menit pertama dan Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah) untuk 30 (tiga puluh) menit kedua, dan dikenakan kepada Peserta yang mengajukan perpanjangan Jam Operasional.

216

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

17

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai hubungan rekening giro antara Bank Indonesia dengan pihak ekstern.

SE BI No. 2/25/DASP

17

Seluruh pimpinan bank sentral dan otoritas moneter negaranegara ASEAN serta Menteri Keuangan Brunei Darussalam pada 17 November 2000 sepakat untuk meningkatkan jumlah fasilitas short-term liquidity support dari $200 juta menjadi $1 milyar yang diperuntukkan bagi anggotanya yang mengalami kesulitan neraca pembayaran jangka pendek. Negara-negara anggota dimaksud adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar. Dengan tersedianya fasilitas tersebut yang dikenal dengan istilah ASEAN Swap Arrangements (ASA), negara-negara ASEAN akan memiliki akses untuk mendapat bantuan likuiditas jangka pendek (maksimal 6 bulan) dengan suku bunga yang rendah.

23

Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Pecahan Rp1.000,00 Tahun Emisi 2000.

PBI No.2/25/2000

Desember 8 Surat edaran Bank Indonesia mengenai peningkatan persentase portofolio obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan bagi bank umum peserta program rekapitalisasi perbankan. Jumlah persentase obligasi yang dapat diperdagangkan yang semula ditetapkan setinggitingginya sebesar 15% (lima belas perseratus) ditingkatkan menjadi setinggi-tingginya sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari nilai keseluruhan Obligasi Pemerintah yang dibeli pada saat Bank menerima penyertaan tunai dari Pemerintah sehubungan dengan Program Rekapitalisasi Bank Umum. SE BI No.2/26/DPM

217

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

13

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas likuiditas intrahari bagi bank umum. Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) adalah fasilitas pendanaan selama jam operasional Sistem BI-RTGS berupa suatu nilai maksimum tertentu yang disediakan oleh Bank Indonesia untuk Bank Peserta guna mengatasi Kesulitan Pendanaan Jangka Sangat Pendek dalam rangka mendukung kelancaran sistem pembayaran nasional.

PBI No.2/26/2000

15

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai bank umum. Beberapa ketentuan yang diatur dalam ketentuan tersebut antara lain mengenai perizinan, modal, kepemilikan, kepengurusan bank dan lain-lain.

PBI No.2/27/2000

218

Lampiran F
Keterangan IKHTISAR

No.

PERBANDINGAN KETENTUAN KEHATI-HATIAN Baru Ketentuan Lama Ketentuan (KPMM, KAP, PPAP, Koreksi DAN PDN) BMPK, Tertulis Tertulis Koreksi
Ketentuan Lama Tertulis Koreksi Ketentuan Baru Tertulis
SK DIR BI No. 26/20/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993

No.

Keterangan

Koreksi
SK DIR BI No. 26/20/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993 dan SK DIR BI No. 31/ 146/KEP/DIR tanggal 12 November 1998

1.

KPMM

– Perhitungan – Modal

Modal/ATMR x 100 – Modal inti adalah modal disetor, modal sumbangan, laba setelah pajak dan cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak.

Modal/ATMR x100% – Modal inti adalah modal disetor, agio saham, modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba tahun-tahun lalu setelah pajak, laba tahun berjalan setelah pajak (50%), dikurangi dengan rugi tahun berjalan dan goodwill.

Modal/ATMR x 100 – Modal inti adalah modal disetor, modal sumbangan, laba setelah pajak dan cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak.

Modal/ATMR x100% – Modal inti adalah modal disetor, agio saham, modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba ditahan setelah pajak, laba tahun-tahun lalu setelah pajak, laba tahun berjalan setelah pajak (50%), dikurangi dengan rugi tahun berjalan dan goodwill.

– Modal pelengkap adalah modal pinjaman, pinjaman subordinasi dan cadangan yang dibentuk dari cadangan revaluasi aktiva tetap dan cadangan umum penyisihan

– Modal pelengkap cadangan revaluasi aktiva tetap, cadangan umum penyisihan penghapusan aktiva produktif (maksimum 1,25% dari ATMR), modal pinjaman dan pinjaman

– Modal pelengkap adalah modal pinjaman, pinjaman subordinasi dan cadangan yang dibentuk dari cadangan revaluasi aktiva tetap dan cadangan umum penyisihan

– Modal pelengkap adalah cadangan revaluasi aktiva tetap, cadangan umum penyisihan penghapusan aktiva produktif (maksimum 1,25% dari ATMR), modal pinjaman dan

219

No.

Keterangan

Ketentuan Lama Tertulis
penghapusan aktiva produktif maksimum sebesar 125% dari jumlah ATMR. – Jumlah modal pelengkap yang diperhitungkan maksimum 100% dari jumlah modal inti.

Ketentuan Baru Tertulis
penghapusan aktiva produktif maksimum sebesar 125% dari jumlah ATMR.

Koreksi
subordinasi (maksimum 50% dari jumlah modal inti).

Koreksi
pinjaman subordinasi (maksimum 50% dari jumlah modal inti). – Jumlah modal pelengkap yang diperhitungkan maksimum 100% dari jumlah modal inti.

2.

KAP

SK DIR BI No. 26/22/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993

SK DIR BI No. 30/267/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998

– Aset yang dinilai

Aktiva produktif adalah penanaman bank dalam bentuk kredit, surat berharga, penyertaan dan penanaman lainnya, yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan.

Aktiva produktif adalah penanaman bank dalam bentuk kredit dan surat berharga.

– Penggolongan kualitas

– Lancar, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet

– Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet

– Dasar penilaian

– keadaan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bunga kredit serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali

– untuk kredit didasarkan pada ketepatan pembayaran kembali pokok dan bunga serta kemampuan

220

No.

Keterangan

Ketentuan Lama Tertulis
dana yang ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya.

Ketentuan Baru Tertulis Koreksi

Koreksi
peminjam yang ditinjau dari keadaan usaha yang bersangkutan. – untuk surat berharga didasarkan pada tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan.

3.

PPAP

– Cadangan khusus sekurang-kurangnya : – 5% dari AP yang tergolong DPK, – 15% dari AP yang tergolong KL, – 50% dari AP yang tergolong D, – 100% dari AP yang tergolong M masing-masing setelah

– Cadangan khusus sekurang-kurangnya: a. untuk kredit – 5% dari AP yang tergolong DPK, – 15% dari AP yang tergolong KL, – 50% dari AP yang tergolong D, – 100% dari AP yang tergolong M dikurangi agunan tunai b. untuk surat berharga : 100% dari surat berharga yang tergolong macet.

dikurangi agunan tunai. masing masing setelah

4.

BMPK – Pelampauan BMPK – Pelampauan BMPK – Pelampauan BMPK yang terjadi karena gejolak nilai tukar dan atas penurunan .............. yang terjadi karena perubahan nilai tukar dan / atau penurunan .............

5.

PDN – Pemeliharaan Posisi

– PDN per mata uang maksimum 25%

– PDN per mata uang maksimum 25% dari modal bank

221

No.

Keterangan

Ketentuan Lama Tertulis
– PDN untuk rekening administratif maksimum 20% – PDN keseluruhan maksimum 20%

Ketentuan Baru Tertulis Koreksi

Koreksi
– PDN untuk rekening administratif maksimum 20% dari modal bank – PDN keseluruhan maksimum 20% dari modal bank

222

Lampiran G
Tabel Statistik
1. Produk Domestik Bruto menurut Jenis Penggunaan .................................................................................. 2. Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha ..................................................................................... 3. Pengaruh Nilai Tukar Dagang terhadap Produk Domestik Bruto ............................................................. 4. Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertanian ............................................................................................ 5. Produksi, Luas Panen, dan Produksi Rata-rata Padi serta Palawija.......................................................... 6. Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertambangan dan Penggalian .................................................... 7. Produksi Tenaga Listrik ..................................................................................................................................... 8. Perkembangan Upah Minimum Harian Regional per Propinsi .................................................................. 9. Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor ................... 10. Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I 11. Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor .................................. 12. Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I ............. 13. Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Negara Asal ....................... 14. Indeks Harga Konsumen Indonesia ............................................................................................................... 15. Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia .............................................................................................. 16. Perkembangan Laju Inflasi di 43 Kota ........................................................................................................... 17. Neraca Pembayaran Indonesia .................................................................................................................... 18. Nilai Ekspor Nonmigas menurut Komoditas .................................................................................................. 19. Volume Ekspor Nonmigas menurut Komoditas ........................................................................................... 20. Nilai Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan .......................................................................................... 21. Nilai Impor Nonmigas Menurut Negara Asal (FOB) ..................................................................................... 22. Ekspor Migas ..................................................................................................................................................... 23. Uang Beredar ................................................................................................................................................... 24. Perkembangan Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya ......................................... 25. Suku Bunga Deposito dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank ................................ 26. Pasar Uang Antarbank di Jakarta ................................................................................................................. 27. Tingkat Diskonto Sertifikat Deposito Rupiah menurut Kelompok Bank ..................................................... 28. Penerbitan, Pelunasan, dan Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ............................................................ 29. Tingkat Diskonto SBI .......................................................................................................................................... 30. Transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) antara Bank Indonesia dan Bank-bank .......................... 31. Penerimaan Pemerintah ................................................................................................................................. 32. Pengeluaran Pemerintah ................................................................................................................................ 33. Penghimpunan Dana oleh Bank Umum ....................................................................................................... 34. Giro dalam Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Kelompok Bank ............................. 35. Simpanan Berjangka Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Jangka Waktu .............. 36. Simpanan Berjangka Rupiah pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik ........................................ 225 226 227 228 229 230 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259

223

37. Sertifikat Deposito ............................................................................................................................................ 38. Tabungan menurut Jenis pada Bank Umum ............................................................................................... 39. Suku Bunga Kredit Rupiah Menurut Kelompok Bank .................................................................................. 40. Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Sektor Ekonomi ...................................... 42. Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi ... 43. Perkembangan Jumlah Aliran Uang Kertas di Jakarta dan KKBI ............................................................. 44. Pangsa Aliran Uang Keluar per Jenis Pecahan di Jakarta dan KKBI Tahun 2000 .................................. 45. Perkembangan Jumlah Aliran Uang Logam di Jakarta dan KKBI ............................................................ 46. Pertumbuhan Ekonomi Dunia ........................................................................................................................ 47. Inflasi Dunia ....................................................................................................................................................... 48. Suku Bunga (%) dan Nilai Tukar ...................................................................................................................... 49. Perkembangan Volume Perdagangan Barang dan Harga Dunia .......................................................... 50. Transaksi Berjalan di Negara Industri dan Negara Sedang Berkembang ...............................................

260 261 262 263 265 266 266 267 268 269 270 270 271

41. Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis Penggunaan dan Sektor Ekonomi 264

224

Tabel 1 Produk Domestik Bruto menurut Jenis Penggunaan
(miliar rupiah)

Jenis penggunaan

1996

1997

1998 Harga konstan 1993

1999*

2000**

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok 2) Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung neto dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional

288.697,6 257.016,2 31.681,4 128.698,6 5.873,1 112.391,4 121.862,8 413.797,9 –12.486,8 401.311,1 22.469,6 20.689,9 358.151,6

308.816,9 277.116,1 31.700,8 139.725,6 3.341,7 121.157,9 139.796,1 433.246,0 –15.462,9 417.783,1 26.100,1 21.662,4 370.020,6

286.850,6 260.022,7 26.827,9 93.604,7 –6.386,9 134.707,2 132.400,7 376.374,9 –27.965,4 348.409,5 1.858,9 18.818,8 327.731,8 Harga berlaku

299.084,5 272.070,2 27.014,3 75.467,9 –8.571,9 92.123,6 78.546,4 379.557,7 –22.145,1 357.412,6 6.112,6 18.978,0 332.322,0

310.725,2 281.957,4 28.767,8 88.984,5 –16.138,3 106.917,5 92.822,6 397.666,3 –24.592,7 373.073,6 –11.666,1 19.883,3 364.856,4

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok 1) Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung neto dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional Memorandum item: Produk Domestik Bruto per kapita dalam ribu rupiah dalam $ Produk Nasional Bruto per kapita dalam ribu rupiah dalam $ Pendapatan Nasional per kapita dalam ribu rupiah dalam $ 1) Residual Sumber : Badan Pusat Statistik

372.393,6 332.094,4 40.299,2 157.652,7 5.800,4 137.533,3 140.812,0 532.568,0 –14.272,2 518.295,8 28.918,9 26.628,4 462.748,5

430.122,7 387.170,7 42.952,0 177.686,1 21.615,1 174.871,3 176.599,8 627.695,4 –18.355,0 609.340,4 37.828,7 31.384,8 540.126,9

702.239,5 647.823,6 54.415,9 243.043,4 –82.716,1 506.244,8 413.058,1 955.753,5 –53.893,7 901.859,8 6.480,5 47.787,7 847.591,6

885.814,6 813.183,3 72.631,3 240.322,2 –105.063,3 390.560,1 301.654,1 1.109.979,5 –78.896,7 1.031.082,8 17.950,1 55.498,9 957.633,8

958.776,8 867.997,1 90.779,7 313.915,2 –83.319,2 497.518,9 396.207,5 1.290.684,2 –89.256,4 1.201.427,8 –37.820,3 64.534,3 1.174.713,8

2.142,1 1.177 2.077,4 1.145 1.854,0 1.023

2.212,5 118 2.133,5 1.086 1.889,6 962

1.896,0 491 1.755,1 463 1.651,0 436

1.894,7 703,0 1.784,1 653,0 1.658,9 606,5

1.954,6 782,5 1.833,7 728,4 1.793,4 712,2

225

Tabel 2 Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha
(miliar rupiah)

Harga konstan 1993 Lapangan usaha 1996 Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan Tanaman bahan makanan Tanaman perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertambangan dan penggalian Minyak dan gas bumi Pertambangan tanpa migas Penggalian Industri pengolahan Industri migas Pengilangan minyak bumi Gas alam cair Industri tanpa migas Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Perdagangan besar dan eceran Hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Pengangkutan Komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Bank 1) Sewa bangunan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Pemerintahan umum Swasta PRODUK DOMESTIK BRUTO Nonmigas Migas 63.827,8 33.647,0 10.354,9 7.133,3 6.444,1 6.248,5 37.739,4 24.062,8 7.267,6 6.408,9 102.259,7 10.863,9 6.291,5 4.572,4 91.395,8 4.876,8 32.923,7 69.475,0 55.513,5 13.961,5 29.701,1 24.444,6 5.256,5 36.384,2 18.886,9 17.497,3 36.610,2 23.338,4 13.271,7 413.797,9 378.871,2 34.926,7 64.468,0 32.688,4 10.496,6 7.483,1 7.189,8 6.610,1 38.538,2 23.919,8 7.645,6 6.972,8 107.629,7 10.650,3 5.925,5 4.724,8 96.979,4 5.479,9 35.346,4 73.523,8 58.842,3 14.681,6 31.782,5 25.609,1 6.173,4 38.543,0 19.956,0 18.587,0 37.934,5 23.616,5 14.318,0 433.245,9 398.675,8 34.570,1 63.609,5 33.350,4 10.501,8 6.439,7 6.580,7 6.736,9 37.474,0 23.340,1 9.678,0 4.455,9 95.320,6 11.042,2 6.310,0 4.732,3 84.278,4 5.646,1 22.465,3 60.130,7 47.845,9 12.284,8 26.975,1 20.503,8 6.471,3 28.278,7 13.173,0 15.105,7 36.475,0 21.887,5 14.587,5 376.374,9 341.992,5 34.382,4 65.339,1 33.970,4 10.740,6 6.869,2 6.299,0 7.459,9 36.571,8 22.136,8 10.018,1 4.416,9 98.949,4 11.688,1 6.606,6 5.081,5 87.261,3 6.112,9 22.825,5 60.195,1 47.694,2 12.500,9 26.772,1 19.737,6 7.034,5 26.147,8 11.765,0 14.382,8 37.184,0 22.250,6 14.933,4 379.557,7 345.732,8 33.824,9 66.431,5 34.302,3 10.908,8 7.059,5 6.410,8 7.750,1 37.423,2 22.230,1 10.482,0 4.711,1 105.085,1 11.571,9 7.068,7 4.503,2 93.513,2 6.649,5 23.788,7 63.621,2 50.456,7 13.164,5 29.284,0 21.430,5 7.853,5 27.373,4 12.403,1 14.970,3 38.009,6 22.555,1 15.454,5 397.666,3 363.864,2 33.802,1 88.791,8 47.622,1 14.434,6 9.523,8 8.170,5 9.040,8 46.088,1 28.118,3 9.097,8 8.872,0 136.425,9 14.194,3 8.340,1 5.854,2 122.231,6 6.892,6 42.024,8 87.137,2 69.375,4 17.761,9 34.926,3 29.246,4 5.679,9 43.981,9 21.853,6 22.128,3 46.299,4 29.752,9 16.546,5 532.568,1 490.255,5 42.312,6 101.009,4 52.189,4 16.447,3 11.688,2 9.806,5 10.878,0 55.561,9 34.036,7 11.192,4 10.332,8 168.178,0 15.621,9 8.116,1 7.505,8 152.556,1 7.832,4 46.678,8 99.581,9 77.543,3 22.038,6 38.530,9 31.497,6 7.033,3 54.360,3 25.205,2 29.155,1 55.962,0 32.127,9 23.834,1 627.695,6 578.037,0 49.658,6 1997 1998 1999* 2000** 1996 1997

Harga berlaku 1998 1999* 2000**

172.827,6 91.346,0 33.289,6 15.743,6 11.700,5 20.747,9 120.328,5 74.883,7 35.459,9 9.984,9 238.897,1 33.172,4 15.092,2 18.080,2 205.724,7 11.283,1 61.761,6 146.740,1 116.688,5 30.051,6 51.937,2 41.837,2 10.100,0 69.891,7 31.710,2 38.181,5 82.102,5 40.641,0 41.445,8 989.611,6 881.555,5 108.056,1

216.913,6 115.134,9 36.691,7 23.939,4 13.839,7 27.307,9 109.974,2 71.847,2 27.668,6 10.458,2 287.702,7 34.541,7 16.216,5 18.325,2 253.161,0 13.429,0 74.496,4 176.663,7 141.098,4 35.564,9 55.189,6 42.735,7 12.453,9 70.641,9 30.529,1 40.112,8 104.968,7 56.745,0 48.223,7 1.109.979,5 1.003.590,7 106.388,8

218.397,6 110.640,6 34.784,5 27.507,3 15.077,7 30.387,5 166.563,1 123.409,8 31.384,9 11.768,4 336.053,2 49.932,2 21.823,8 28.108,4 286.121,0 15.072,4 92.175,9 196.049,5 156.323,8 39.725,7 64.550,1 49.336,7 15.213,4 80.047,2 34.901,1 45.146,1 121.775,3 69.460,2 52.315,1 1.290.684,2 1.117.342,3 173.342,0

1) Termasuk lembaga keuangan di luar bank dan jasa penunjang keuangan Sumber : Badan Pusat Statistik

226

Tabel 3 Pengaruh Nilai Tukar Dagang terhadap Produk Domestik Bruto
(miliar rupiah)

Rincian

1996

1997

1998

1999*

2000**

1. Ekspor barang dan jasa atas dasar harga berlaku 2. Ekspor barang dan jasa atas dasar harga konstan 3. Deflator ekspor [(1 : 2) x 100] 4. Impor barang dan jasa atas dasar harga berlaku 5. Impor barang dan jasa atas dasar harga konstan 6. Deflator impor [(4 : 5) x 100] 7. Indeks nilai tukar dagang [(3 : 6) x 100] 8. Perubahan indeks nilai tukar dagang (%) 9. Kapasitas impor riil dari ekspor (1 : 6) x 100 10. Pengaruh nilai tukar dagang (9 – 2) 11. Perubahan nilai tukar dagang (%) 12. PDB atas dasar harga konstan 1993 13. Perubahan PDB atas dasar harga konstan (%) 14. Pendapatan Domestik Bruto (PnDB) (10 + 12) 15. Pertumbuhan PnDB (%) –407.164,0 7,2 –415.976,0 2,2 –348.811,5 –16,1 –369.985,1 6,1 –388.026,2 4,9 7,8 4,7 –13,1 0,8 4,8 119.025,3 6.633,9 64.2 413.797,9 138.427,8 17.269,9 160.3 433.245,9 162.270,6 27.563,4 59,6 376.374,9 101.696,2 9.572,6 –65,3 379.557,7 116.557,6 9.640,1 0,7 397.666,3 2,0 7,9 5,4 –8,4 –1,2 121.862,8 115,5 105,9 139.796,1 126,3 114,3 132.400,7 312,0 120,5 78.546,4 384,0 110,4 92.822,6 426,8 109,0 140.812,0 176.599,8 413.058,1 301.654,1 396.207,5 112.391,4 122,4 121.157,9 144,3 134.707,2 375,8 92.123,6 424,0 106.917,5 465,3 137.533,3 174.871,3 506.244,8 390.560,1 497.518,9

1) Data sampai dengan Triwulan III/2000 Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

227

Tabel 4 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertanian
(ribu ton)

Rincian

1996

1997

1998

1999

20001)

Tanaman pangan Beras Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Tanaman perkebunan Karet Rakyat Perkebunan Kopra Minyak sawit Inti sawit Tebu Teh Rakyat Perkebunan Kopi Rakyat Perkebunan Tembakau Rakyat Perkebunan Cengkeh Kakao Kehutanan Kayu bulat2) Peternakan Daging Telur Susu (juta liter) Perikanan Laut Darat

33.217 9.307 17.002 2.018 738 1.517 301 1.574 1.193 381 2.761 4.899 1.085 2.094 169 34 135 459 436 23 151 148 3 60 374 26.069 1.632 780 441 3.503 1.017

32.095 8.771 15.134 1.847 688 1.357 262 1.553 1.175 378 2.704 5.380 1.229 2.192 154 33 121 428 396 32 210 206 3 59 330 29.920 1.559 761 424 3.482 1.099

32.004 10.059 14.728 1.928 691 1.306 303 1.662 1.243 419 2.778 5.640 1.284 1.488 167 34 133 515 470 45 105 102 2 67 449 18.728 1.490 579 434 3.616 1.145

33.063 9.204 16.459 1.666 660 1.383 265 1.715 1.295 420 2.789 5.989 1.370 1.489 162 34 128 511 466 45 105 102 2 68 461 ... ... ... ... ... ...

32.953 9.156 15.317 1.631 710 1.046 269 1.752 1.324 428 2.778 6.257 1.433 1.841 151 29 122 511 466 45 105 102 2 68 471 ... ... ... ... ... ...

1) Angka prakiraan Triwulanan III/2000 2) Tahun fiskal dalam ribu meter kubik Sumber : – Departemen Pertanian – Departemen Kehutanan dan Perkebunan

228

Tabel 5 Produksi, Luas Panen, dan Produksi Rata-rata Padi serta Palawija

Rincian

1996

1997

1998

1999

20001)

Produksi (ribu ton) Padi 2) Jagung (pipilan) Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Luas panen (ribu hektar) Padi 2) Jagung (pipilan) Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Produksi rata-rata (kuintal/hektar) Padi 2) Jagung (pipilan) Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau
1) Data sampai dengan September 2000 2) Gabah kering giling Sumber : Departemen Pertanian

51.102 9.307 17.002 2.018 738 1.517 301

49.377 8.771 15.134 1.847 688 1.357 262

49.237 10.059 14.728 1.928 691 1.306 303

50.866 9.204 16.459 1.666 660 1.383 265

50.696 9.156 15.317 1.631 710 1.046 269

11.570 3.744 1.415 212 689 1.279 331

11.141 3.335 1.243 195 628 1.119 294

11.730 3.834 1.205 201 650 1.091 338

11.963 3.456 1.350 172 625 1.151 298

11.608 3.374 1.261 171 673 860 302

51,1 24,9 120,2 95,3 10,7 11,9 9,1

44,3 26,1 121,7 94,5 11,0 12,1 8,9

41,9 26,5 122,0 97,0 10,6 11,9 9,0

42,5 26,6 121,9 96,7 10,6 12,0 8,9

43,7 27,1 121,5 95,7 10,5 12,2 8,9

229

Tabel 6 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertambangan dan Penggalian

Rincian

Satuan

1996

1997

1998

1999

20001)

Minyak mentah Gas bumi Bijih timah Batu bara Tembaga (konsentrat) Nikel Nikel bijih Fero Nikel (ingot) Fero Nikel (kandungan Ni) Nikel matte Bauksit Pasir Besi Emas Perak

juta barel miliar kaki kubik ribu ton ribu ton ribu ton

582,7 3.164,0 51,0 50.332,0 1.758,9

576,9 3.165,7 55,2 54.608,4 1.817,9

568,8 2.978,7 54,0 60.321,0 2.640,0

545,7 3.063,4 47,8 64.602,1 2.645,2

386,7 2.138,4 36,7 35.638,4 2.270,5

ribu ton ribu ton ribu ton ribu ton ribu ton ribu ton kilogram kilogram

3.426,9 46,7 9,6 43,5 842,0 425,1 83.564,1 255.404,0

2.829,9 48,7 10,0 33,7 808,7 487,4 89.978,7 279.160,5

3.233,4 41,5 8,5 35.7 1.055,6 560,5 124.018,7 348.973,8

3.235,3 44,1 9,4 45,9 1.116,3 562,3 129.032,1 292.331,0

1.881,8 34,9 7,9 43,9 885,0 342,1 74.290,6 114.245,0

1) Data sampai dengan September 2000 Sumber : Departemen Pertambangan dan Energi

Tabel 7 Produksi Tenaga Listrik
(juta KWJ) 1)

Tahun

PLN

Di luar PLN

Jumlah

1995/96 1996/97 1997/98 1998 1999 2000

59.830 67.356 68.975 74.585 78.350 ...

1.281 1.649 1.870 2.832 3.990 ...

61.111 69.005 70.845 77.417 82.340 ...

1) Hanya yang disalurkan kepada masyarakat melalui PLN Sumber : PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

230

Tabel 8 Perkembangan Upah Minimum Harian Regional per Propinsi
(dalam rupiah)

Rincian
D.I. Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Batam Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Rata-rata 1) Rata-rata 2) Perubahan (%)3)

1996
3.850 4.600 3.600 4.600 7.350 3.600 3.850 3.850 3.850 5.200 4.663 3.400 3.200 3.740 4.250 3.250 3.200 4.200 3.800 4.150 3.800 4.600 3.600 3.200 3.400 3.650 4.100 5.150 3.939 4.061 10,38

1997
4.270 5.030 3.970 5.050 7.830 3.980 4.250 4.250 4.200 5.750 5.120 3.770 3.550 4.150 4.720 3.600 3.550 4.600 4.220 4.600 4.170 5.100 3.930 3.550 3.750 4.030 4.530 5.670 4.347 4.471 10,35

1998
4.900 5.800 4.567 5.800 9.000 4.583 5.183 4.883 4.833 6.617 5.892 4.333 4.083 4.767 5.417 4.133 4.083 5.283 4.850 5.283 4.800 5.867 4.517 4.083 4.317 4.633 5.217 6.517 5.009 5.151 15,24

1999
5.700 7.000 5.333 7.267 9.667 5.000 5.850 5.000 5.333 7.700 6.958 5.100 4.333 5.683 5.883 4.833 4.767 6.100 5.833 6.500 5.533 6.467 5.167 5.000 4.933 5.333 6.000 7.500 5.782 5.921 15,43

2000
8.833 8.467 6.667 10.000 14.167 5.767 6.533 5.777 6.400 11.475 7.667 6.167 6.483 7.150 6.343 6.000 6.133 – 7.600 9.500 6.667 7.767 6.200 6.767 6.667 7.000 6.000 10.500 7.328 7.581 26,74

1) Tidak termasuk Batam 2) Termasuk Batam 3) Perubahan tidak termasuk Batam Sumber : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi

231

Tabel 9 Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor
(miliar rupiah) Jumlah 1) Sektor 1996 1997 1998 1999 20002) 1968 s.d. 2000 Nilai Proyek

Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah

16.072,1 15.284,4 45,6 742,1 460,1 59.217,7 13.748,3 3.365,8 1.128,9 12.763,9 13.392,7 7.964,8 4.460,7 2.375,9 16,7 1.550,0 5.019,3 3.065,0 9.425,7 5.905,3 100.715,2

14.807,7 13.737,5 165,5 904.7 126,3 79.334,3 13.048,6 6.831,3 762,2 11.841,9 22.497,2 11.638,7 8.021,5 4.683,9 9,0 877,0 2.587,9 4.649,4 4.300,5 13.189,8 119.872,9

5.315,1 4.757,9 542,9 14,3 116,3 44.908,0 6.711,8 1.137,6 1.971,9 12.754,1 15.583,2 3.469,0 1.786,3 960,9 533,2 1.992,0 1.150,4 3.260,5 1.547,5 2.459,5 60.749,3

2.408,3 1.614,8 749,3 44,2 174,0 46.747,5 12.729,9 2.561,5 1.229,0 20.244,1 2.480,9 70,4 6.354,2 1.070,7 6,8 395,1 1.379,9 225,3 995,5 1.226,3 53.551,9

3.559,4 2.816,0 9,1 734.3 34,1 11.516,8 3.963,9 1.683,4 145,3 1.598,3 2.476,4 553,1 187,7 908,7 ... 449,1 29,2 629,5 292,6 985,8 17.496,5

88.020,7 70.944,4 6.608,7 10.467,6 5.974,4 580.991,0 153.704,9 56.017,6 19.342,0 101.120,1 122.656,5 63.561,2 33.437,8 30.024,3 1.126,6 9.569,2 32.676,8 26.151,8 37.540,0 28.715,4 809.639,3

1.711 1.094 301 316 172 6.561 990 1.358 816 423 1.350 436 211 873 104 170 717 1.004 369 387 11.091

1) Setelah diperhitungkan proyek-proyek yang dibatalkan dan beralih status Penjumlahan sejak Juli 1968 s.d. Desember 2000 2) Data per akhir Juli 2000 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

232

Tabel 10 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I
(miliar rupiah) Jumlah 1) Daerah tingkat I 1996 1997 1998 1999 20002) 1968 s.d. 2000 Nilai Proyek

Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah

43.772,3 14.395,5 19.213,5 3.366,9 222,5 6.573,9 24.033,6 1.474,8 2.364,0 3.066,7 8.854,8 925,5 5.024,1 404,7 1.919,0 18.432,4 9.316,4 2.182,9 2.709,9 4.223,2 6.272,9 326,1 2.636,8 2.597,5 712,5 244,6 0,7 243,9 561,3 450,0 282,6 6.665,5 100.715,2

63.680,8 8.553,5 37.423,5 5.764,2 235,6 11.704,0 33.561,7 1.114,1 3.395,5 522,6 11.862,4 9.793,5 5.391,4 630,7 851,5 13.935,7 3.825,9 1.688,0 4.300,1 4.121,7 3.849,9 277,8 725,5 1.880,0 966,6 1.222,5 352,5 870,0 850,7 – 1.060,0 1.711,6 119.872,9

18.871,5 4.289,7 8.117,1 2.574,9 6,0 3.883,8 10.669,4 1.297,3 1.101,5 336,8 4.925,1 1.429,4 882,7 4,0 692,6 11.966,6 416,9 9.093,4 640,6 1.815,7 13.022,9 1.132,4 630,7 11.168,7 91,1 1.288,5 638,5 650,5 804,6 2.802,6 44,5 1.278,7 60.749,3

22.126,8 1.260,5 18.393,9 849,6 34,6 1.588,2 14.746,3 94,2 1.079,4 597,6 9.091,5 3.001,7 149,3 121,4 611,2 5.359,5 222,6 3.561,4 410,5 1.165,0 1.795,8 51,8 543,9 696,2 503,9 35,2 14,9 20,3 1.002,7 47,8 20,0 8.416,0 53.550,1

9.450,0 1.262,4 5.673,5 1.066,8 86,8 1.360,5 5.175,2 889,3 326,8 482,3 2.333,2 832,5 10,0 108,0 193,1 974,7 9,1 526,0 71,3 368,3 1.811,1 58,0 11,3 1.574,9 166,9 51,4 50,0 1,4 34,1 – – – 17.496,5

401.423,9 71.339,3 221.414,4 36.884,6 2.053,4 69.732,2 239.389,2 9.435,6 15.841,5 90.401,7 61.807,6 28.618,3 19.123,8 3.013,6 11.147,1 77.561,5 20.110,6 20.243,0 12.899,4 24.308,5 39.054,4 6.062,4 6.389,2 22.443,0 4.159,8 5.237,3 2.821,1 2.416,2 10.979,2 3.359,4 7.688,7 24.945,9 809.639,5

7.419 1.841 3.434 758 127 1.259 1.677 135 356 137 470 90 251 58 180 845 253 145 166 281 475 91 74 268 42 131 78 53 316 8 133 87 11.091

1) Setelah diperhitungkan proyek-proyek yang dibatalkan dan beralih status Penjumlahan sejak Juli 1968 s.d. Desember 2000 2) Data per akhir Juli 2000 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

233

Tabel 11 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor
(juta $) Jumlah 1) Sektor 1996 1997 1998 1999 20002) 1967 s.d. 2000 Nilai Proyek

Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah

1.521,5 1.306,2 135,5 79,8 1.696,7 16.072,2 691,4 514,6 101,1 2.907,3 7.404,6 789,8 650,9 2.938,6 73,9 296,8 1.716,5 694,6 3.000,3 4.932,8 29.931,4

463,7 436,6 – 27,1 1,6 23.017,3 572,8 372,6 69,7 5.353,3 12.376,4 1.457,3 357,0 2.331,7 126,5 306,8 462,6 5.900,0 1.397,6 2.282,9 33.832,5

998,2 965,2 – 33,0 0,3 8.388,2 342,0 216,9 70,8 40,8 6.178,8 237,1 394,4 890,5 16,9 197,8 451,1 79,0 1.270,9 2.177,6 13.563,1

482,4 412,7 – 69,7 14,2 6.929,2 680,9 240,2 113,2 1.411,8 3.268,2 110,4 501,3 593,0 10,2 153,4 228,6 102,7 171,1 2.800,2 10.881,8

152,2 131,9 5,0 15,3 2,2 5.179,6 190,4 286,8 106,0 71,0 3.176,0 8,2 794,1 544,0 3,1 87,8 29,4 138,1 104,6 393,1 6.087,0

8.063,6 6.686,6 653,1 723,9 9.925,3 146.967,6 7.276,6 7.730,4 2.369,2 24.809,8 68.478, 9 7.068,8 9.786,2 18.801,2 646,5 2.049,0 11.327,4 13.529,6 12.697,6 23.922,4 228.482,5

380,0 240,0 28,0 112,0 207,0 4.376,0 352,0 800,0 391,0 130,0 928,0 166,0 136,0 1.337,0 136,0 376,0 331,0 279,0 221,0 2.278,0 8.448,0

1) Setelah diperhitungkan proyek-proyek yang dibatalkan dan beralih status Penjumlahan sejak Juli 1967 s.d. Desember 2000 2) Data per akhir Juli 2000 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

234

Tabel 12 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I
(juta $)

Jumlah 1) Daerah tingkat I 1996 1997 1998 1999 20002) 1967 s.d. 2000 Nilai Proyek

Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah

17.908,4 4.403,9 7.760,1 3.273,7 69,0 2.401,7 4.297,6 525,8 614,7 79,3 1.664,5 9,0 1.292,3 64,2 47,8 2.876,6 547,1 140,2 19,2 2.170,1 2.552,6 72,3 10.0 2.467,5 2,8 1.385,0 1.316,2 68,8 380,0 2,8 4,9 523,5 29.931,4

20.535,0 6.136,1 7.973,3 2.195,7 14,3 4.215,6 11.163,9 771,9 3.514,6 7,1 6.743,0 – 73,2 – 54,1 1.056,1 28,2 6,0 438,7 583,2 426,0 358,8 5,5 58,3 3,5 14,5 0,6 14,0 114,7 – 17,8 504,4 33.832,5

10.840,4 1.700,1 5.504,1 3.066,7 6,0 563,5 1.415,7 6,2 229,6 175,8 537,1 201,9 129,3 37,7 98,1 722,7 251,2 0,4 73,4 397,7 192,7 157,4 6,9 27,8 0,6 57,2 34,6 22,6 308,5 12,4 4,9 8,6 13.563,1

2.635,9 783,8 1.498,2 69,7 10,5 273,7 7.652,6 51,8 102,7 344,9 6.956,9 42,0 39,7 18,4 96,2 226,8 102,0 50,3 30,3 44,2 141,8 24,1 2,7 12,5 102,5 15,0 13,6 1,4 193,8 – 1,7 23,2 10.890,8

5.576,9 627,2 1.835,6 2.989,0 1,2 123,9 335,5 0,6 124,8 14,0 146,2 34,5 6,5 – 8,9 54,7 – 10,7 3,1 40,9 42,8 3,6 0,3 34,6 4,3 5,4 0,4 5,0 33,1 – 0,1 38,5 6.087,0

144.536,6 34.897,1 64.993,2 13.837,6 309,9 30.498,8 49.753,1 2.549,5 9.978,0 1.036,2 24.801,8 4.407,8 5.147,4 258,1 1.574,3 11.513,7 1.225,6 547,4 3.279,0 6.461,7 8.916,0 1.117,9 172,2 7.373,8 252,1 3.936,8 3.774,3 162,5 3.381,7 45,2 395,5 6.003,9 228.482,5

6,345 2,754 2,646 267 45 633 1,061 44 203 52 607 19 61 23 52 267 73 55 49 90 170 68 21 60 21 77 59 18 441 2 28 57 8.448

1) Setelah diperhitungkan proyek-proyek yang dibatalkan dan beralih status Penjumlahan sejak Juli 1967 s.d. Desember 2000 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

235

Tabel 13 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Negara Asal
(juta $) Jumlah 1) Negara asal 1996 1997 1998 1999 20002) 1967 s.d. 2000 Nilai Proyek

Eropa Belanda Belgia Inggris Jerman Perancis Swiss Lainnya Amerika Amerika Serikat Kanada Lainnya Asia Hong Kong Jepang Korea Selatan Malaysia Filipina Singapura Taiwan Thailand Lainnya Australia Afrika Gabungan negara Jumlah

5.233,4 1.329,5 39,5 3.390,6 164,9 70,8 160,1 78,0 754,5 642,1 35,8 76,6 18.371,3 1.105,6 7.655,3 1.231,4 1.393,3 3,1 3.131,0 534,6 1.610,6 1.706,4 515,7 5,7 5.050,8 29.931,4

11.740,2 319,5 16,5 5.473,6 4.467,8 456,6 73,5 932,7 1.112,8 1.017,7 6,2 88,9 15.169,6 251,0 5.421,3 1.409,9 2.289,3 – 2.298,6 3.419,4 19,1 61,0 187,5 93,5 5.528,9 33.832,5

5.311,0 411,8 11,5 4.745,3 71,0 7,5 35,1 28,8 699,6 568,3 8,1 123,2 4.673,8 549,1 1.330,7 202,4 1.060,2 62,5 1.267,4 165,4 2,8 33,3 85,1 75,2 2.718,4 13.563,1

730,2 48,7 9,8 507,0 87,1 22,7 42,1 12,8 144,2 136,7 3,2 4,3 6.486,1 76,9 644,3 263,0 186,1 4,9 731,1 1.489,3 8,4 3.082,1 2.458,5 65,6 1.006,0 10.890,6

3.250,2 31,8 0,2 3.091,4 14,7 56,7 34,5 20,9 100,6 92,6 1,8 6,2 2.095,0 103,5 1.274,1 151,1 119,2 6,1 241,8 35,6 2,6 161,0 44,2 115,5 481,5 6.087,0

41.250,8 6.228,8 367,3 21.163,5 8.329,1 1.219,8 1.083,1 2.859,2 11.642,4 10.449,2 156,7 1.036,5 110.509,6 14.594,4 36.586,1 9.490,0 7.035,3 165,2 19.190,2 16.100,7 1.781,8 5.565,9 9.501,0 1.440,1 54.138,6 228.482,5

1.254 267 50 390 192 107 74 174 550 397 109 44 5.103 404 1.179 936 366 26 1.094 809 38 251 456 47 1.038 8.448

1)

Setelah diperhitungkan proyek-proyek yang dibatalkan dan beralih status Penjumlahan sejak Juli 1967 s.d. Desember 2000 2) Data per akhir Juli 2000 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

236

Tabel 14 Indeks Harga Konsumen Indonesia

Bahan Makanan Akhir periode 1)

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Perumahan

Sandang

Kesehatan

Pendidikan, Rekreasi & Olahraga

Transpor dan Komunikasi

Umum

Perubahan Indeks Umum

19942) 1995 1996 1997 1998 Januari–Maret April–Juni 3) Juli–September Oktober–Desember 1999 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober 4) November Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

156,97 179,14 189,99 227,88 166,71 196,39 261,00 263,22 281,09 287,60 281,65 275,09 271,38 268,25 258,96 248,54 239,06 237,24 240,00 249,54 256,85 256,00 250,16 246,16 246,08 246,47 251,39 246,68 240,76 241,37 246,97 259,59

– – – – 142,23 167,92 207,21 211,58 213,80 216,87 216,34 215,52 215,20 215,16 214,87 215,33 216,26 216,13 216,51 219,20 220,00 220,17 219,97 225,28 225,07 227,25 229,45 231,43 232,73 237,42 241,62 243,49

178,57 188,93 198,00 210,36 128,61 139,17 155,92 159,03 160,62 162,06 162,92 164,04 164,91 165,34 166,06 165,87 166,12 166,45 165,93 166,77 167,56 168,34 169,05 171,03 174,18 174,87 176,06 176,71 177,93 180,60 182,93 183,61

147,53 157,42 166,76 179,96 161,39 195,29 225,22 219,71 232,11 234,23 234,71 233,58 231,18 228,32 224,69 226,56 229,63 232,23 228,38 233,21 237,47 239,79 240,09 240,50 242,55 244,54 248,54 247,01 247,12 248,68 249,95 256,98

161,69 173,33 190,72 206,72 155,88 171,97 204,49 212,54 214,07 214,12 215,80 216,57 217,60 218,22 219,48 220,98 220,00 220,06 219,97 220,37 220,87 221,85 222,43 224,87 225,76 226,50 229,42 230,43 236,19 238,16 240,47 241,46

– – – – 134,74 140,84 162,17 161,84 161,40 161,89 162,05 162,04 162,59 163,06 163,87 166,48 169,52 170,17 170,42 170,44 170,43 170,23 171,83 173,50 174,91 175,41 178,51 195,70 198,02 199,24 199,50 200,28

– – – – 119,74 150,38 163,18 163,70 164,95 164,29 169,16 169,07 170,06 170,23 169,94 169,68 169,94 171,31 171,56 172,20 173,68 173,45 174,01 176,83 181,19 182,54 183,37 184,69 186,65 191,19 191,78 194,00

163,17 177,83 189,62 211,62 142,15 163,89 196,23 198,64 204,54 207,12 206,75 205,34 204,76 204,07 201,93 200,05 198,68 198,79 199,00 202,45 205,12 205,27 204,34 205,48 207,21 208,24 210,91 211,99 211,87 214,33 217,15 222,10

9,24 8,64 6,47 11,05 77,63 27,11 15,29 19,73 1,23 2,01 2,97 1,26 –0,18 –0,68 –0,28 –0,34 –1,05 –0,93 –0,68 0,06 0,25 1,73 3,26 0,07 –0,45 0,56 0,84 0,50 1,28 0,51 –0,06 1,16 1,32 1,94

Catatan : 1) Angka tahunan/triwulanan adalah angka akhir periode yang bersangkutan 2) Berdasarkan April 1988 - Maret 1989 = 100 dengan 4 kelompok: kolom (2) adalah kelompok Makanan; kolom (6) adalah kelompok Aneka Barang & Jasa 3) Berdasarkan Januari 1996 - Desember 1996 = 100, IHK dihitung di 44 kota dan dibagi menjadi 7 kelompok 4) Sejak Oktober 1999, IHK dihitung di 43 kota (minus kota Dili) Sumber : Badan Pusat Statistik

237

Tabel 15 Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia 1)

Perubahan 2000 Kelompok 1996 1997 1998 1999 2000
2)

terhadap 1999 (%)

Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Impor Ekspor Migas Nonmigas Indeks umum

399 296 265 243 203 173 306 258

445 318 275 260 238 204 353 282

750 396 455 598 592 474 994 568

410 214 268 289 366 355 370 314

459 236 278 316 461 393 634 353

11,95 10,28 3,73 9,34 25,96 10,70 71,35 12,42

1) Angka Tahunan merupakan rata-rata indeks selama satu tahun yang bersangkutan 2) Tahun 1996 – 1998, perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1983 (1983=100) Tahun 1999 – 2000. perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1993 (1993=100) Sampai dengan bulan Oktober 2000 Sumber : Badan Pusat Statistik

238

Tabel 16 Perkembangan Laju Inflasi di 43 Kota (persen)
Kota 1996 1997 1998 1) 1999 2) 2000

Lhokseumawe Banda Aceh Padang Sidempuan Sibolga Pematang Siantar Medan Padang Pekanbaru Batam Jambi Palembang Bengkulu Bandar Lampung Jakarta Tasikmalaya Serang/Cilegon Bandung Cirebon Purwokerto Surakarta Semarang Tegal Yogyakarta Jember Kediri Malang Surabaya Denpasar Mataram Kupang Dili Pontianak Sampit Palangkaraya Banjarmasin Balikpapan Samarinda Manado Palu Makasar Kendari Ternate Ambon Jayapura Inflasi Nasional
Keterangan :

– 6,66 – – – 8,70 7,32 4,32 – 5,00 6,14 5,18 6,09 7,25 – – 6,54 – – – 4,37 – 3,05 – – – 6,68 3,14 6,33 5,04 7,30 5,75 – 3,22 5,71 – 4,05 3,98 6,33 4,56 5,16 – 6,12 6,78 6,47

– 9,90 – – – 13,10 10,72 11,05 – 9,89 13,58 9,21 9,70 11,70 – – 9,95 – – – 10,88 – 12,72 – – – 9,11 9,75 8,66 7,71 9,79 12,29 – 13,03 12,98 – 10,93 13,66 9,70 8,20 8,42 – 7,99 10,35 11,05

79,66 79,01 85,72 85,01 80,23 83,81 87,20 75,86 52,89 72,31 89,18 84,10 85,22 74,42 73,55 65,43 72,59 62,23 80,93 66,38 67,19 67,73 77,46 84,95 77,08 93,16 95,21 75,11 90,50 62,58 72,36 78,85 75,94 74,65 74,43 75,10 68,31 74,24 95,18 80,86 97,79 72,98 75,82 61,83 77,63

6,61 5,57 –0,14 1,65 –0,54 1,68 4,23 4,35 –0,28 0,49 –1,01 0,47 3,34 1,77 1,58 –0,04 4,29 4,75 0,99 0,46 1,51 1,11 2,51 3,16 –0,64 1,49 0,24 4,39 0,59 10,65 5,86 3) 4,49 –4,98 –0,13 1,47 3,01 3,69 7,41 3,58 1,64 1,29 0,38 8,26 3,49 2,01

8,73 10,57 3,95 6,95 4,67 5,90 10,99 10,34 9,00 8,40 8,49 8,21 10,18 10,29 4,57 7,03 8,52 6,52 10,02 7,89 8,73 7,85 7,32 10,35 7,05 10,62 10,46 9,81 5,19 10,62 – 8,34 11,87 8,57 7,57 10,67 11,91 11,41 8,11 9,73 11,25 14,51 8,52 10,23 9,35

1) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 44 kota dan terbagi menjadi tujuh kelompok 2) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 43 kota (minus kota Dili) dan terbagi menjadi tujuh kelompok 3) Sampai dengan September 1999 Sumber : Badan Pusat Statistik

239

Tabel 17 Neraca Pembayaran Indonesia 1)
(juta $)

Rincian

1997

1998

1999

2000*

A. Neraca Barang dan Jasa 1. Barang dagangan ekspor f.o.b. Barang dagangan impor f.o.b. 2. Ongkos pengangkutan dan asuransi berhubungan dengan impor 3. Ongkos pengangkutan lainnya 4. Perjalanan luar negeri 5. Jasa modal 5.1. Jasa modal dari sektor minyak bumi dan LNG 5.2. Jasa modal dan penanaman modal langsung dan lainnya 6. Pemerintah, tidak termasuk bagian lain 7. Jasa lain-lain Neraca Barang (1) Neraca Jasa (2 s.d. 7) B. Hibah 8. Swasta 9. Pemerintah C. Transaksi Berjalan (A + B) D. Lalu-lintas Modal D.1. Di luar sektor moneter 10. Penanaman modal langsung dan lalu lintas modal jangka panjang lainnya 10.1. Penanaman modal langsung 10.2. Obligasi a. Pemerintah b. Swasta 10.3. Lalu lintas modal jangka panjang lainnya a. Pemerintah b. Swasta 11. Lalu lintas modal jangka pendek 11.1. Pemerintah 11.2. Swasta D.2. Sektor moneter 12. Emas moneter 13. Special Drawing Rights 14. Hubungan dengan IMF 15. Valuta asing 16. Lain-lain E. Selisih perhitungan (antara C dan D)

–5.001 56.297 –46.223 –5.084 –934 4.236 –8.946 –2.614 –6.332 –244 –4.103 10.074 –15.075 309 – – 309 –4.692 6.343 2.233 4.478 4.677 –– –– – – –199 2.571 –2.770 –2.245 0 –2.245 4.110 219 –524 273 4.142 0 –1.651

3.589 50.371 –31.942 –3.337 –852 2.154 –9.955 –1.766 –8.189 –78 –2.773 18.429 –14.841 508 – – 508 4.097 –6.219 –3.875 4.354 –356 –– –– – – 2.931 9.970 –7.039 –6.450 0 –6.4502) –2.344 6 132 0 –2.482 0 2.122

4.978 51.242 –30.598 –2.719 –955 2.000 –11.029 –2.033 –8.997 –91 –2.872 20.644 –15.666 805 –– 804 5.783 –7.863 –4.571 139 –2.745 –– –– – – 2.884 5.352 –2.468 –4.710 0 –4.710 –3.292 –9 156 0 –3.439 0 2.080

7.068 62.510 –37.423 –3.050 –1.116 1.568 –12.144 –3.224 –8.920 –110 –3.166 25.087 –18.019 626 –– 626 7.694 –9.625 –4.638 531 –4.056 –– –– –– 4.587 3.830 757 –5.169 0 –5.169 –4.987 53 206 –190 –5.056 0 1.931

1) – Penyajian baku (standard presentation) menurut IMF – Positif berarti defisit dan negatif berarti surplus – Sebelum tahun 1998 menggunakan konsep cadangan devisa resmi – Sejak tahun 2000 menggunakan konsep Internasional Reserves & Foreign Currency Liquidity (IRFCL) 2) Angka dikoreksi

240

Tabel 18 Nilai Ekspor Nonmigas Menurut Komoditas
(juta $)

Rincian
Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan dan hasilnya – Udang Kulit Lain-lain Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu Bara Lain-lain Industri Tekstil & produk tekstil – Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu – Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & psw. mekanik Lainnya

1996
38.021 5.166 58 1.894 598 106 99 82 49 1.682 994 33 566 3.640 310 1.397 374 320 1.058 182 29.215 5.869 3.187 526 5.378 3.544 324 1.017 106 1.241 953 3.593 18 1.369 336 211 2.049 590 1.108 4.527

1997
44.577 5.166 64 1.505 583 152 165 124 23 1.789 1.047 56 706 4.353 277 1.548 233 280 1.638 377 35.057 7.614 4.186 1.031 5.704 3.482 204 1.662 86 1.746 1.140 3.264 37 1.957 406 272 2.219 787 1.415 5.515

1998
42.951 5.091 53 1.006 602 169 195 139 21 1.779 1.041 72 1.056 4.703 260 1.792 165 202 1.669 614 33.157 7.034 3.769 2.089 4.245 2.328 39 888 51 2.098 1.387 2.813 87 2.471 415 269 1.583 935 1.478 5.275

1999
40.987 4.179 86 854 465 102 183 108 23 1.574 886 74 710 4.130 242 1.441 219 138 1.665 425 32.678 6.291 3.450 569 4.526 2.259 255 1.369 47 1.835 1.078 3.365 143 2.645 374 279 1.519 860 1.853 5.670

20001)
47.045 4.237 92 899 334 108 229 84 11 1.555 938 89 835 5.174 243 2.124 412 274 1.619 502 37.634 6.693 3.702 515 4.239 1.936 285 1.199 50 2.065 1.111 5.746 138 3.017 405 337 1.575 1.099 3.287 5.874

1) Angka proyeksi

241

Tabel 19 Volume Ekspor Nonmigas Menurut Komoditas
(ribu ton)

Rincian

Rincian

1996 Volume Pangsa (%)

1997 Volume Pangsa (%) 251.845 4.731 708 1.483 356 96 33 56 244 704 141 1 1.050 217.018 50 1.932 2.224 1.081 45.822 165.909 30.096 1.369 318 183 6.914 5.087 52 3.245 1.090 4.206 1.090 356 794 3.768 167 643 193 720 114 5.192 100,0 1,9 0,3 0,6 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,3 0,1 0,0 0,4 86,2 0,0 0,8 0,9 0,4 18,2 65,9 12,0 0,5 0,1 0,1 2,7 2,0 0,0 1,3 0,4 1,7 0,4 0,1 0,3 1,5 0,1 0,3 0,1 0,3 0,0 2,1

1998 Volume Pangsa (%) 199.771 5.936 489 1.584 411 113 45 114 211 949 165 13 2.007 154.226 49 2.946 1.409 1.076 52.411 96.335 39.609 1.635 414 223 7.302 5.157 14 1.700 984 6.883 3.391 381 3.736 5.585 203 957 173 1.244 763 4.435 100,0 3,0 0,2 0,8 0,2 0,1 0,0 0,1 0,1 0,5 0,1 0,0 1,0 77,2 0,0 1,5 0,7 0,5 26,2 48,2 19,8 0,8 0,2 0,1 3,7 2,6 0,0 0,9 0,5 3,4 1,7 0,2 1,9 2,8 0,1 0,5 0,1 0,6 0,4 2,2

1999 Volume Pangsa (%) 175.610 5.395 679 1.544 362 107 35 78 300 819 164 38 1.433 116.809 47 2.261 2.008 1.125 53.899 57.469 49.307 1.525 333 196 6.791 4.302 114 3.600 983 5.378 3.191 437 7.383 9.048 209 1.555 165 1.045 166 7.156 100,0 3,1 0,4 0,9 0,2 0,1 0,0 0,0 0,2 0,5 0,1 0,0 0,8 66,5 0,0 1,3 1,1 0,6 30,7 32,7 28,1 0,9 0,2 0,1 3,9 2,4 0,1 2,0 0,6 3,1 1,8 0,2 4,2 5,2 0,1 0,9 0,1 0,6 0,1 4,1

2000 1) Volume Pangsa (%) 153.916 4.321 650 1.392 360 104 61 32 152 600 133 10 958 108.969 49 2.849 2.085 1.375 59.549 43.063 40.637 1.531 315 192 6.322 3.795 124 3.912 1.078 5.213 1.456 628 7.356 4.932 211 940 153 1.090 258 5.241 100,0 2,8 0,4 0,9 0,2 0,1 0,0 0,0 0,1 0,4 0,1 0,0 0,6 70,8 0,0 1,9 1,4 0,9 38,7 28,0 26,4 1,0 0,2 0,1 4,1 2,5 0,1 2,5 0,7 3,4 0,9 0,4 4,8 3,2 0,1 0,6 0,1 0,7 0,2 3,4

Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan dan hasilnya Udang Kulit Lain-lain Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu Bara Lain-lain Industri Tekstil & produk tekstil Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & pesawat mekanik Lain-lain
1) Angka proyeksi

138.260 4.757 643 1.498 372 98 39 30 410 606 134 0 1.061 110.181 56 1.606 1.952 690 29.842 76.035 23.322 967 259 124 6.748 5.147 92 1.873 976 2.559 902 317 303 2.427 134 597 199 481 83 4.540

100,0 3,4 0,5 1,1 0,3 0,1 0,0 0,0 0,3 0,4 0,1 0,0 0,8 79.7 0,0 1,2 1,4 0,5 21,6 55.0 16,9 0,7 0,2 0,1 4.9 3,7 0,1 1,4 0,7 1,9 0,7 0,2 0,2 1,8 0,1 0,4 0,1 0,3 0,1 3,3

242

Tabel 20 Nilai Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan
(juta $)

1996 Benua/negara Nilai Pangsa (%) Nilai

1997 Pangsa (%) Nilai

1998 Pangsa (%)

1999 Nilai Pangsa (%)

2000 1) Nilai Pangsa (%)

Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia ASEAN Brunei Darussalam Malaysia Filipina Singapura Thailand Hong Kong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Saudi Arabia Taiwan Lain-lain Australia & Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lain-lain Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain Lain-lain Jumlah

622 7.585 6.259 742 365 219 21.553 5.970 29 1.061 535 3.714 630 1.568 448 1 7.129 1.348 80 124 965 505 1.056 2.357 591 7.671 6.795 1.555 620 1.138 558 1.415 541 968 129 224 522 38.021

1,6 19,9 16,5 2,0 1,0 0,6 56,7 15,7 0,1 2,8 1,4 9,8 1,7 4,1 1,2 0,0 18,7 3,5 0,2 0,3 2,5 1,3 2,8 6,2 1,6 20,2 17,9 4,1 1,6 3,0 1,5 3,7 1,4 2,5 0,3 0,6 1,4 100,0

777 8.286 6.701 875 397 314 25.350 7.723 47 1.343 734 4.913 686 2.053 597 19 7.015 1.297 159 170 1.387 627 1.330 2.975 783 9.379 8.408 1.825 804 1.263 636 1.502 527 1.851 120 196 656 44.576

1,7 18,6 15,0 2,0 0,9 0,7 56,9 17,3 0,1 3,0 1,6 11,0 1,5 4,6 1,3 0,0 15,7 2,9 0,4 0,4 3,1 1,4 3,0 6,7 1,8 21,0 18,9 4,1 1,8 2,8 1,4 3,4 1,2 4,2 0,3 0,4 1,5 100,0

904 7.815 6.383 459 409 564 24.831 8.723 43 1.358 608 5.798 916 2.037 782 45 5.964 1.166 175 152 1.320 476 1.288 2.702 910 8.491 7.474 1.488 773 1.120 729 1.458 545 1.360 67 310 640 42.951

2,1 18,2 14,9 1,1 1,0 1,3 57,8 20,3 0,1 3,2 1,4 13,5 2,1 4,7 1,8 0,1 13,9 2,7 0,4 0,4 3,1 1,1 3,0 6,3 2,1 19,8 17,4 3,5 1,8 2,6 1,7 3,4 1,3 3,2 0,2 0,7 1,5 100,0

1.032 7.679 6.297 429 346 607 23.573 7.982 26 1.388 646 4.998 923 1.400 807 63 5.791 1.287 101 151 1.486 428 1.234 2.846 1.058 7.645 6.744 1.464 687 1.175 605 1.217 506 1.090 49 232 621 40.987

2,5 18,7 15,4 1,0 0,8 1,5 57,5 19,5 0,1 3,4 1,6 12,2 2,3 3,4 2,0 0,2 14,1 3,1 0,2 0,4 3,6 1,0 3,0 6,9 2,6 18,7 16,5 3,6 1,7 2,9 1,5 3,0 1,2 2,7 0,1 0,6 1,5 100,0

1.049 9.504 8.055 590 405 454 26.501 9.110 22 1.747 793 5.683 865 1.463 1.005 87 7.092 1.587 66 143 1.746 505 1.381 2.318 1.030 8.961 8.311 1.776 855 1.487 674 1.356 666 1.496 77 205 368 47.045

2,2 20,2 17,1 1,3 0,9 1,0 56,3 19,4 0,0 3,7 1,7 12,1 1,8 3,1 2,1 0,2 15,1 3,4 0,1 0,3 3,7 1,1 2,9 4,9 2,2 19,0 17,7 3,8 1,8 3,2 1,4 2,9 1,4 3,2 0,2 0,4 0,8 100,0

1) Angka proyeksi

243

Tabel 21 Nilai Impor Nonmigas Menurut Negara Asal (FOB)
(juta $)

1996 Benua/negara Nilai Pangsa (%) Nilai

1997 Pangsa (%)

1998 Nilai Pangsa (%)

1999 Nilai Pangsa (%)

20001) Nilai Pangsa (%)

Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia ASEAN Brunei Darussalam Malaysia Filipina Singapura Thailand Hong Kong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Saudi Arabia Taiwan Lain-lain Australia & Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lain-lain Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain 2) Lain-lain Jumlah

372 7.103 4.280 818 724 1.281 19.941 2.940 2 562 78 1.319 979 215 752 1 7.375 2.009 33 110 1.137 217 1.406 3.745 2.112 10.342 6.846 434 331 960 1.076 2.624 859 562 272 129 129 39.870

0,9 17,8 10,7 2,1 1,8 3,2 50,0 7,4 0,0 1,4 0,2 3,3 2,5 0,5 1,9 0,0 18,5 5,0 0,1 0,3 2,9 0,5 3,5 9,4 5,3 25,9 17,2 1,1 0,8 2,4 2,7 6,6 2,2 1,4 0,7 0,3 7,8 100,0

422 7.374 4.765 733 609 1.267 20.495 3.494 4 619 108 1.788 974 269 630 3 7.517 1.973 19 42 1.167 115 1.360 3.907 2.181 10.974 7.686 474 292 1.082 931 2.410 1.929 570 312 124 2.853 41.447

1,0 17,8 11,5 1,8 1,3 3,1 49,4 8,4 0,0 1,5 0,3 4,3 2,3 0,6 1,5 0,0 18,1 4,8 0 0,1 2,8 0,3 3,3 9,4 5,3 26,5 18,5 1,1 0,7 2,6 2,2 5,8 4,7 1,4 0,8 0,3 6,9 100,0

362 5.285 3.150 420 422 1.294 14.354 2.396 2 344 71 1.195 785 236 256 3 4.202 1.228 10 128 887 105 882 4.022 1.614 7.472 4.938 316 232 779 476 2.399 513 224 151 68 2.316 29.087

1,2 18,2 10,8 1,4 1,5 4,4 49,3 8,2 0,0 1,2 0,2 4,1 2,7 0,8 0,9 0,0 14,4 4,2 0,0 0,4 3,0 0,4 3,0 13,8 5,5 25,7 17,0 1,1 0,8 2,7 1,6 8,2 1,8 0,8 0,5 0,2 8,0 100,0

449 4.973 2.541 507 360 1.566 13.810 2.730 1 424 48 1.433 824 212 231 0 2.541 1.064 17 98 1.039 120 695 5.062 2.021 5.378 3.027 314 143 500 232 1.232 328 277 102 44 2.204 26.632

1,7 18,7 9,5 1,9 1,4 5,9 51,9 10,2 0,0 1,6 0,2 5,4 3,1 0,8 0,9 0,0 9,5 4,0 0,1 0,4 3,9 0,5 2,6 19,0 7,6 20,2 11,4 1,2 0,5 1,9 0,9 4,6 1,2 1,0 0,4 0,2 8,3 100,0

452 5.363 3.847 661 719 135 18.061 4.474 2 766 133 2.366 1.207 433 551 1 5.928 2.102 24 61 2.069 297 1.507 614 2.175 6.049 4.553 525 365 784 394 1.446 597 441 282 58 1.155 32.099

1,4 16,7 12,0 2,1 2,2 0,4 56,3 13,9 0,0 2,4 0,4 7,4 3,8 1,3 1,7 0,0 18,5 6,5 0,1 0,2 6,4 0,9 4,7 1,9 6,8 18,8 14,2 1,6 1,1 2,4 1,2 4,5 1,9 1,4 0,9 0,2 3,6 100,0

1) Angka proyeksi 2) Terdiri dari Ceko, Slovakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, Rumania, Bulgaria, dan bekas Yugoslavia

244

Tabel 22 Ekspor Migas 1)

Negara

1996

1997

1998

1999

2000

Nilai Ekspor 2) Minyak Bumi 3) Gas – _ LNG LPG 4.400 545 4.432 518 3.046 233 4.207 369 6.426 409 7.222 6.771 4.141 5.680 8.631

Total

12.167

11.721

7.420

10.256

15.466

Volume Ekspor Minyak Bumi (juta barrel) Gas – – LNG (juta MBTU)4) LPG (juta MT)5) 1.357 2.672 1.387 2.233 1.384 1.620 1.511 1.865 1.406 1.362 362 362 340 336 307

1) Nilai f.o.b. sistem klasifikasi barang berubah menjadi HS (Harmonized Commodity Description and Coding System) sehingga beberapa barang ekspor mengalami pergeseran dalam pengelompokannya 2) Juta $ 3) Terdiri atas minyak mentah dan hasil-hasil minyak 4) MBTU : Mille British Thermal Unit 5) MT : Metric Tonnes

245

Tabel 23 Uang Beredar
(miliar rupiah)

M1 1) Akhir periode Posisi Pangsa (%) 1996 1996/97 1997 1997/98 1998r 1998/1999 1999 Maret 4) Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1) 2) 3) 4)

Uang kuasi 2) Posisi Pangsa (%) 224.543 231.016 277.300 351.554 476.184 497.620 497.620 509.447 534.165 521.572 528.180 531.174 531.788 538.284 553.252 550.503 554.196 549.072 551.024 568.562 579.058 584.842 77,8 78,4 78,0 78,2 82,5 82,5 82,5 82,8 81,9 80,7 81,2 81,3 81,0 80,9 80,9 80,4 80,3 80,1 80,3 80,4 80,4 78,3 288.632 294.581 355.643 449.824 577.381 603.325 603.325 615.411 652.289 646.205 650.597 653.334 656.451 665.651 683.477 684.335 689.935 685.602 686.455 707.447 720.262 747.027 Posisi

M2 3) Perubahan (%) Tahunan 29,6 26,7 23,2 52,7 62.3 34,1 34,1 8,8 18,5 11,9 9,1 8,4 8,8 8,6 8,8 11,2 10,0 7,7 5,2 12,5 12,7 15,6 8,8 0,3 4,2 1,6 Triwulanan 11,0 2,1 8,1 26,5 4,9 4,5 4,5 2,0 6,0 –0,9

64.089 63.565 78.343 98.270 101.197 105.705 105.705 105.964 118.124 124.633 122.417 122.160 124.663 127.367 130.225 133.832 135.739 136.530 135.431 138.885 141.204 162.185

22,2 21,6 22,0 21,8 17,5 17,5 17,5 17,2 18,1 19,3 18,8 18,7 19,0 19,1 19,1 19,6 19,7 19,9 19,7 19,6 19,6 21,7

Terdiri atas uang kartal dan uang giral Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan, dalam rupiah dan valuta asing, serta giro valuta asing milik penduduk Terdiri atas uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi Data statistik Bank Beku Operasional telah dikeluarkan ( 7 bank sejak April 1998, 3 bank sejak Agustus 1998, dan 38 bank sejak Maret 1999)

246

Tabel 24 Perubahan Uang Beredar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
(miliar rupiah)

2000 Rincian 1996 1997 1998r 1999r 2000 I Uang Beredar : II III IV

M2 M1 Kartal Giral Kuasi 1)

65.994 11.412 1.680 9.732 54.582

67.011 14.254 5.755 8.317 52.757

221.738 22.854 12.970 9.884 198.884

68.824 23.436 16.959 6.477 45.388

100.822 37.552 14.017 23.535 63.270

10.246 30 –7.156 7.186 10.216

27.884 9.169 4.634 4.535 18.715

2.120 1.599 1.013 586 521

60.572 26.754 15.526 11.228 33.818

Faktor-faktor yang mempengaruhi : Aktiva luar negeri bersih Tagihan kepada pemerintah bersih Tagihan bersih pada BPPN Tagihan kepada sektor swasta Tagihan kepada lembaga/ perusahaan pemerintah Tagihan kepada perusahaan swasta dan perorangan 51.768 132.031 93.032 –291.550 46.852 4.784 11.431 346 30.291 4.626 5.031 6.389 –8.139 –4.506 –3.192 3.541 –257 –4.598 18.015 –2.757 0 56.394 17.344 –16.486 0 137.062 73.692 17.513 29.693 –12.580 425.287 –29.693 81.636 123.060 0 42.347 8.846 61.903 0 1.591 43.961 38.509 0 14.973 –4.247 23.893 0 89 33.076 –1.245 0 25.694

99.421 –299.689

Aktiva lainnya bersih

–5.658

–70.909

31.112

–44.194 –146.221

–62.094

–69.559

–17.615

3.047

1) Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan dalam rupiah maupun valuta asing serta giro valuta asing milik penduduk

247

Tabel 25 Suku Bunga Deposito dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank 1)
(persen per tahun)

Desember 1996 Jangka waktu Rupiah Bank Persero 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Swasta Nasional 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Pemerintah Daerah 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Asing & Campuran 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Umum 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan 16,43 17,03 16,78 16,70 15,14 6,50 6,67 7,17 7,50 7,17 13,53 13,77 15,60 15,95 16,58 4,95 5,14 5,05 5,36 7,03 14,93 15,64 15,01 16,27 15,24 6,73 6,73 7,48 7,36 – 14,40 14,58 16,14 16,05 14,50 5,67 6,32 6,76 7,23 7,79 Valas

Desember 1997 Rupiah Valas

Desember 1998 Rupiah Valas

Desember 1999 Rupiah Valas

Desember 2000 Rupiah Valas

19,74 19,88 15,66 15,19 15,32

7,31 7,41 7,49 7,81 7,23

41,24 48,69 35,17 28,75 16,01

13,23 13,70 8,14 12,61 14,87

12,52 13,19 14,44 23,14 18,53

5,44 5,45 7,94 8,91 14,87

12,05 13,33 13,42 12,48 14,32

6,37 6,59 6,17 6,24 10,23

16,96 17,56 17,42 17,26 17,26

6,86 6,85 7,73 8,01 6,88

27,68 27,76 19,17 17,43 16,79

8,77 8,40 7,81 7,99 7,76

41,88 50,24 33,34 26,16 22,85

12,72 10,64 10,21 11,49 14,91

12,14 12,66 13,55 17,07 17,59

5,34 5,68 7,98 16,63 8,02

12,05 13,20 13,16 11,50 14,22

6,07 6,43 6,23 11,39 8,14

21,10 20,62 14,16 16,65 14,58

6,23 6,76 7,15 7,20 –

42,05 45,35 29,46 23,91 14,03

12,99 10,99 10,43 12,94 –

12,20 12,51 13,46 16,17 13,73

5,09 6,19 5,18 5,67 –

11,39 12,92 12,94 11,43 13,44

4,97 4,56 5,13 5,05 –

17,70 18,03 13,99 13,64 15,48

5,19 5,99 5,71 5,92 3,57

33,07 40,84 44,42 31,74 15,57

4,71 4,71 5,15 5,17 3,59

9,46 9,24 9,05 13,46 11,67

4,08 4,03 4,31 4,67 4,00

9,73 11,21 8,13 8,51 13,00

4,61 4,81 4,12 5,09 6,05

25,39 23,92 16,96 15,92 15,46

7,97 7,77 7,53 7,73 6,47

41,42 49,23 36,78 28,29 16,61

12,11 10,73 8,22 11,66 14,71

12,24 12,95 14,25 22,35 18,38

5,15 5,24 7,85 9,11 14,63

11,96 13,24 13,31 12,17 14,32

5,94 6,11 5,72 7,86 9,47

1) Rata-rata tertimbang pada akhir periode

248

Tabel 26 Pasar Uang Antarbank di Jakarta

Akhir periode

Nilai transaksi (miliar rupiah) 477.564 784.368 2.104.924 62.559 123.832 148.358 142.815 138.121 157.529 210.670 278.048 526.347 500.713 625.331 452.533

Suku bunga rata-rata tertimbang (persen per tahun) 13,96 26,98 64,08 12,83 14,61 14,75 13,63 12,08 13,45 42,70 39,68 57,36 66,38 74.13 54,68

1996 1997 1998 1996

Januari – Desember Januari – Desember Januari – Desember Januari–Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember Januari–Maret April–Juni Juli-September Oktober-Desember Januari-Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember

1997

1998

1999 Januari-Maret April- Juni Juli-September Oktober-Desember 20001) Januari Februari Maret Januari–Maret April Mei Juni April–Juni Juli Agustus September Juli–September Oktober November Desember Oktober–Desember 1.314 1.978 1.843 1.712 1.665 1.957 2.099 1.907 1.879 2.626 2.953 2.486 2.991 2.502 2.936 2.810 9,19 9,56 9,75 9,50 9,64 9,83 10,63 10,03 10,90 10,90 10,88 10,89 10,87 11,22 12,20 11,43 173.045 160.470 127.906 133.941 39,57 29,70 13,44 12,43

1) Angka rata-rata harian

249

Tabel 27 Tingkat Diskonto Sertifikat Deposito Rupiah menurut Kelompok Bank 1)
(persen per tahun)

1997 Jangka waktu Maret Maret

1998 Desember

1999 Desember Maret Juni

2000 September Desember

Bank Persero 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Swasta Nasional 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Pemerintah Daerah 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Bank Asing & Campuran 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Seluruh Bank 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan 14,72 16,34 15,81 15,68 15,29 28,80 27,56 22,40 15,58 16,95 45,94 49,99 35,50 41,51 14,56 39,57 38,68 30,89 28,77 14,53 11,31 11,31 10,87 14,41 – 11,15 11,07 11,68 12,41 – 12,13 11,49 11,91 10,97 – 12,47 11,83 12,00 12,11 11,50 14,00 12,00 13,23 12,85 – 13,02 20,41 19,08 – – 58,46 39,91 – – – 48,41 34,00 35,50 – – – 9,54 – 12,00 – – 10,25 – 12,00 – 9,07 9,26 7,98 7,98 – 9,43 9,70 8,28 7,90 – 13,97 16,98 14,85 18,09 – 22,49 20,85 15,71 18,04 13,86 40,49 52,57 22,00 21,20 14,50 31,90 35,48 26,26 25,21 14,50 11,52 12,62 12,00 12,50 – 10,33 12,10 12,00 12,10 – 12,32 13,40 12,00 12,08 – 11,26 13,88 12,00 13,81 – 16,08 16,43 16,35 15,74 17,52 29,41 30,29 22,11 15,63 17,47 44,26 48,62 38,35 49,89 15,93 38,77 39,53 32,62 52,40 30,00 11,34 11,36 10,28 16,02 – 11,20 11,09 11,74 10,44 – 12,29 11,51 12,13 10,40 – 12,59 11,81 13,24 12,12 – 9,14 14,98 13,69 15,59 13,79 18,05 23,71 23,42 14,21 14,01 43,95 55,30 32,18 23,86 12,90 37,96 36,94 28,13 23,60 14,22 10,59 11,81 11,56 15,36 – 10,23 10,67 11,51 13,93 – 11,48 11,86 11,55 11,68 – 12,04 12,95 11,62 11,66 11,50

1) Rata-rata tertimbang pada akhir periode

250

Tabel 28 Penerbitan, Pelunasan, dan Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
(miliar rupiah)

Periode Januari–Desember 1996 Januari–Desember 1997 Januari–Desember 1998 Januari–Desember 1999

Penerbitan 157.948 176.452 735.844 711.542

Pelunasan 151.250 187.969 700.182 691.408

Posisi 1) 18.553 7.034 42.765 62.899

2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

70.066 73.289 94.621 81.000 78.024 79.525 69.324 99.654 65.213 85.422 95.524 37.282

51.049 66.655 95.451 79.490 78.524 94.278 68.080 96.515 70.847 83.720 97.660 54.943

82.066 88.700 87.870 94.380 93.880 79.127 80.371 83.510 77.875 79.578 77.442 59.781

Keterangan : Penerbitan SBI dimulai pada bulan Februari 1984, dan sejak Juli 1988 Penjualan SBI dilakukan melalui lelang dengan sistem SOR (Stop Out Rate) 1) Posisi akhir bulan.

251

Tabel 29 Tingkat Diskonto SBI 1)
(persen per tahun)

Periode
1996 Maret Juni September Desember 1997 Maret Juni September Desember 1998 Maret Juni September Desember 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

7 hari

14 hari

28 hari

90 hari

180 hari

360 hari

12,86 12,75 12,75 11,72

13,16 13,13 13,00 11,94

13,98 13,75 13,75 12,88

– – – 13,75

– – – 13,90

– – – 14,17

7,61 7,29 18,35 16,00

8,70 8,50 20,06 18,00

11,07 10,50 22,00 20,00

11,88 11,25 – –

– 12,0 – –

– 12,50 – –

29,24 – – –

– 52,81 – –

27,75 58,00 68,76 38,44

– – – 39,00

– – – –

– – – –

– – – –

– – – –

37,84 22,05 13,02 12,51

38,00 23,75 13,25 12,75

– – – –

– – – –

– – – – – – – – – – – –

– – – – – – – – – – – –

11,48 11,13 11,03 11,00 11,08 11,74 13,53 13,53 13,62 13,74 14,15 14,53

11,50 11,13 11,00 11,00 11,00 11,09 13,04 13,29 13,32 13,56 13,83 14,31

– – – – – – – – – – – –

– – – – – – – – – – – –

1) Rata-rata tertimbang

252

Tabel 30 Transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) antara Bank Indonesia dan Bank-bank
(miliar rupiah)

Periode
1996 Januari–Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember 1997 Januari–Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember 1998 Januari–Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember 1999 Januari–Maret April–Juni Juli–September Oktober–Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Pembelian

Pelunasan

Posisi

21.364 54.044 20.511 25.605

22.988 55.407 20.390 26.773

2.580 1.218 1.339 171

15.954 18.937 50.131 94.934

13.455 19.480 52.237 91.499

2.670 2.126 21 3.455

257.109 42.929 24.136 1.342

256.474 46.873 24.057 550

4.090 146 227 1.018

1.018 0 0 644

1.018 0 0 1.662

1.018 1.018 1.018 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

253

Tabel 31 Penerimaan Pemerintah
(miliar rupiah)

2000 Rincian 1996/97p 1997/98p 1998/99p 1999/00* APBN1) Realisasi 2) 2001 APBN

Penerimaan migas dan nonmigas Penerimaan minyak bumi dan gas alam Minyak bumi 3) Gas alam 4) Penerimaan nonmigas Pajak Penghasilan a. Migas b. Nonmigas Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Bea masuk Cukai Pajak ekspor Pajak Bumi dan Bangunan Pajak lainnya Penerimaan bukan pajak & LBM 5) Penerimaan Lainnya Bersih 6) Jumlah Penerimaan Dalam Negeri Hibah Catatan : Privatisasi Asset recovery
p) *) 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perhitungan Anggaran Negara (PAN) Realisasi sampai dengan 31 Maret 2000 APBN (April – Desember 2000) APBN-p Sebelum TA 2000 termasuk PPh minyak bumi Sebelum TA 2000 termasuk PPh gas alam Termasuk privatisasi dan asset recovery Selisih yang belum diperhitungkan

87.630

112.276

158.042

205.043

178.297

212.835

296.727

20.137 14.783 5.354 67.493 27.062

30.559 22.264 8.295 81.717 34.388

41.368 25.957 15.411 116.674 55.944

58.482 38.024 20.458 146.561 59.683

33.320 25.311 7.918 145.067 54.225 10.036 44.189

59.618 44.892 14.726 153.216 57.615 17.471 40.144

59.738 45.945 13.793 236.989 96.287 20.837 75.450

20.351 2.579 4.263 81 2.413 591 10.153 – 87.630 –

25.199 2.999 5.101 129 2.641 478 10.782 – 112.276 –

27.803 2.306 7.733 4.630 3.565 413 14.280 – 158.042 62

33.087 4.177 10.381 848 4.071 568 33.746 – 205.043 51

27.002 4.976 10.272 923 2.901 1.139 43.630 – 178.297 –

31.525 6.116 10.632 338 3.824 1.014 42.152 – 212.834 –

48.853 9.975 17.100 397 5.642 1.638 57.097 – 296.727 –

– –

– –

1.634 –

3.727 12.886

6.500 18.900

– 18.900

6.500 27.000

Sumber : Departemen Keuangan

254

Tabel 32 Pengeluaran Pemerintah
(miliar rupiah) 2000 2001 APBN1)
Pengeluaran operasional Belanja pegawai Gaji dan pensiun Tunjangan beras Biaya makan/lauk pauk Lain-lain belanja pegawai dalam negeri Belanja pegawai luar negeri Belanja barang Belanja barang dalam negeri Belanja barang luar negeri Subsidi daerah otonom3) Belanja pegawai Belanja non-pegawai Bunga Utang dalam negeri 4) Utang luar negeri Subsidi Subsidi BBM Subsidi non BBM5) Lain-lain termasuk Departemen Hankam Pengeluaran investasi Departemen/lembaga Pembiayaan bagi daerah Inpres pembangunan Desa Inpres pembangunan Dati II Inpres pembangunan Dati I Inpres daerah dengan dana PBB Inpres sekolah dasar Inpres kesehatan Inpres program makanan tambahan anak sekolah Inpres desa tertinggal Program JPS 7) Dana JPS dan pemberdayaan masyarakat 8) Dana JPS dan penanggulangan kemiskinan 9) Lain-lain pembangunan 10 ) Cadangan anggaran pembangunan Bantuan proyek Jumlah p) *) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 47.455 14.455 13.004 768 101 479 103 8.109 7.825 284 9.358 8.874 484 6.610 – 6.610 1.602 1.416 186 7.321 34.767 11.160 8.869 458 2.941 1.394 2.396 592 564 – 524 – – – 2.838 – 11.900 82.222 72.553 17.269 13.698 788 1.174 671 938 8.999 8.242 757 11.061 10.520 541 10.818 – 10.818 21.121 9.814 11.307 3.285 36.750 11.160 9.864 467 3.440 1.608 2.352 658 592 263 484 – – – 1.340 – 14.386 109.303 118.444 23.216 18.657 1.245 1.547 1.073 695 9.862 8.888 974 13.074 12.408 666 32.864 8.385 24.480 35.786 28.607 7.179 3.642 54.225 12.150 13.575 474 3.828 1.732 3.703 591 814 409 218 1.807 – – 2.318 – 26.181 172.669 168.861 32.106 26.427 1.882 2.116 1.040 640 9.971 9.791 180 17.341 16.568 773 42.846 22.231 20.615 60.768 40.923 19.845 5.829 51.316 11.262 12.661 807 4.186 2.382 3.608 – – – – – 1.679 – 4.161 – 23.232 220.177 156.142 30.682 25.761 1.527 1.585 1.014 795 9.441 8.676 765 18.114 17.363 751 54.623 37.998 16.625 30.828 22.462 8.366 12.454 6) 40.888 7.494 15.409 670 6.040 3.281 3.593 – – – – – – 2.825 1.956 – 16.030 197.030

Rincian

1996/97p

1997/98p

1998/99p

1999/00*

Realisasi 2)
182.391 29.990 24.868 1.528 1.740 1.047 806 9.047 8.339 708 17.593 16.588 1.005 53.329 37.770 18.559 59.726 51.135 8.590 12.706 41.516 7.007 16.301 670 6.602 3.299 3.542 – – – – – – 2.188 1.608 – 16.600 223.907

APBN 11)
190.918 39.969 33.658 1.586 2.114 1.371 1.240 9.689 8.735 954 – 12) – – 76.550 53.460 23.090 53.952 41.304 12.648 10.759 13) 43.162 16.368 – 12) – – – – – – – – – – – 4.530 – 22.265 234.080

Perhitungan Anggaran Negara (PAN) Realisasi sampai dengan 31 Maret 2000 APBN (April – Desember 2000) APBN-p Berubah menjadi Dana Rutin Daerah sejak TA. 1999/2000 Utang dalam negeri untuk pembayaran bunga program restrukturisasi perbankan Termasuk subsidi pupuk, subsidi pangan, subsidi bunga kredit program, dan subsidi lainnya Termasuk cadangan untuk bunga obligasi program restrukturisasi perbankan Rp4.366,5 miliar dan dana reboisasi Rp4.744,8 miliar Berlaku sejak TA. 1998/99 Berlaku sejak TA 1999/2000 Berlaku sejak TA 2000 Termasuk PMP APBN Sejak TA 2001 menjadi bagian dari dana perimbangan Termasuk dana kontinjensi desentralisasi Rp6.092,3 miliar

Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

255

Tabel 33 Penghimpunan Dana oleh Bank Umum 1)
(miliar rupiah)

Giro Akhir periode Dalam rupiah Dalam valas Subjumlah Dalam rupiah2)

Deposito Tabungan Dalam valas Subjumlah Jumlah

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

44.817 42.628 53.103 64.074 58.067

12.675 14.375 30.125 44.629 39.351

57.492 57.003 83.228 108.703 97.418

119.165 119.283 125.743 177.954 303.016

43.496 44.374 80.652 94.106 103.782

162.661 163.657 206.395 272.060 406.798

61.565 66.321 67.990 72.173 69.308

281.718 286.981 357.613 452.936 573.524

60.002 63.056 71.250 68.456

47.244 38.835 52.357 47.110

107.246 101.891 123.607 115.566

303.022 325.746 301.469 301.431

109.778 91.950 104.389 85.640

412.800 417.696 405.858 387.071

79.453 89.088 117.802 122.981

599.499 608.675 647.267 625.618

72.629 73.573 75.847 75.277 76.604 84.262 87.511 90.820 94.576 100.953 102.182 104.538

46.213 45.781 46.078 48.796 54.777 49.805 54.114 51.428 56.820 58.996 69.959 70.970

118.842 119.354 121.925 124.073 131.381 134.067 141.625 142.248 151.396 159.949 172.141 175.508

301.020 304.216 301.087 302.905 301.908 289.385 283.019 286.510 286.843 293.163 296.284 296.884

88.050 86.802 86.670 87.210 91.187 87.737 88.528 81.223 83.942 90.004 93.150 93.658

389.070 391.018 387.757 390.115 393.095 377.122 371.547 367.733 370.785 383.167 389.435 390.542

129.857 132.705 135.801 138.434 143.374 146.662 149.162 148.066 148.665 149.618 152.937 154.329

637.769 643.074 645.483 652.622 667.850 657.851 662.334 658.047 670.846 692.735 714.513 720.379

1) Termasuk dana milik pemerintah dan bukan penduduk 2) Termasuk sertifikat deposito

256

Tabel 34 Giro dalam Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Kelompok Bank
(miliar rupiah)

Bank Persero Akhir periode Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah 15.536 14.111 17.492 20.595 24.751 2.836 3.024 7.125 9.638 8.476 18.372 17.135 24.617 30.233 33.227

Bank Swasta Nasional Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah 21.620 5.601 27.221 21.873 6.764 28.637 24.301 12.693 36.994 28.663 14.812 43.475 23.151 13.447 36.598

Bank Pemerintah Daerah Bank Asing & Campuran Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah 4.375 3.287 4.014 2.738 4.895 2 2 7 12 13 4.377 3.289 4.021 2.750 4.908 Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah 3.286 4.236 7.522 3.357 4.585 7.942 7.296 10.300 17.596 12.078 20.167 32.245 5.270 17.415 22.685

Jumlah Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah 44.817 42.628 53.103 64.074 58.067 12.675 57.492 14.375 57.003 30.125 83.228 44.629 108.703 39.351 97.418

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

28,271 11.624 39.895 26.620 9.506 36.126 29.295 12.616 41.911 25.407 12.483 37.890

21.921 23.785 27.438 26.866

14.255 12.804 18.402 15.792

36.176 36.589 45.840 42.658

4.374 5.471 6.262 7.055

12 12 12 15

4.386 5.483 6.274 7.070

5.436 7.180 8.255 9.128

21.353 16.513 21.327 18.820

26.789 23.693 29.582 27.948

60.002 63.056 71.250 68.456

47.244 38.835 52.537 47.110

107.246 101.891 123.607 115.566

25.713 26.112 28.859 26.375 26.178 33.858 36.469 39.521 40.390 43.226 42.838 49.205

11.898 11.823 12.539 12.625 15.544 9.696 11.904 11.900 14.888 15.545 26.121 24.284

37.611 37.935 41.398 39.000 41.722 43.554 48.373 51.421 55.278 58.771 68.959 73.489

29.539 30.230 32.432 32.443 33.205 33.056 32.986 32.696 33.638 35.408 36.062 34.123

15.066 14.690 14.695 15.040 16.303 16.768 17.713 16.539 17.963 18.284 18.430 18.973

44.605 44.920 47.127 47.483 49.508 49.824 50.699 49.235 51.601 53.692 54.492 53.096

7.297 6.882 5.412 6.895 7.083 8.123 8.707 9.691 10.277 11.050 11.211 10.806

23 14 16 20 16 20 21 18 23 22 24 17

7.320 6.896 5.428 6.915 7.099 8.143 8.728 9.709 10.300 11.072 11.235 10.824

10.080 10.349 9.144 9.564 10.138 9.225 9.349 8.912 10.270 11.269 12.071 10.404

19.226 19.254 18.828 21.111 22.914 23.321 24.476 22.971 23.946 25.144 25.384 27.695

29.306 29.603 27.972 30.675 33.052 32.546 33.825 31.883 34.216 36.413 37.455 38.099

72.629 73.573 75.847 75.277 76.604 84.262 87.511 90.820 94.576 100.953 102.182 104.538

46.213 45.781 46.078 48.796 54.777 49.805 54.114 51.428 56.820 58.996 69.959 70.970

118.842 119.354 121.925 124.073 131.381 134.067 141.625 142.248 151.396 159.949 172.141 175.508

257

Tabel 35 Simpanan Berjangka Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Jangka Waktu
(miliar rupiah)

Akhir periode

24 bulan

12 bulan

6 bulan

3 bulan

1 bulan1)

Lain-lain

Jumlah

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1998/99 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

1.214 1.334 359 2.140 610

25.255 27.711 25.377 28.937 21.039

40.598 42.190 28.664 27.841 17.151

32.932 33.251 34.637 30.101 50.352

50.511 47.441 88.987 138.596 266.585

12.151 11.730 28.371 44.445 51.061

162.661 163.657 206.395 272.060 406.798

502 430 501 436

15.449 18.990 20.056 14.742

19.414 22.291 35.305 35.244

24.840 49.632 41.479 42.125

307.610 284.152 268.885 243.645

44.984 42.202 39.632 50.879

412.799 417.696 405.858 387.071

644 652 628 532 560 666 460 4.855 6.836 11.160 12.932 14.061

13.455 13.410 12.992 9.850 10.329 9.217 8.660 7.827 7.719 7.848 7.231 6.920

32.869 33.231 45.123 47.031 44.221 42.666 42.920 41.767 35.941 30.485 26.163 23.503

47.022 48.547 55.711 55.345 54.553 52.589 53.262 57.392 59.614 65.770 66.026 68.877

249.597 247.841 231.854 232.913 234.721 230.451 218.558 212.207 204.986 208.769 217.825 215.532

45.483 47.337 41.449 44.444 48.711 41.534 47.687 43.685 55.689 59.135 59.258 61.649

389.070 391.018 387.757 390.115 393.095 377.123 371.547 367.733 370.785 383.167 389.435 390.542

1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu

258

Tabel 36 Simpanan Berjangka Rupiah pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik
(miliar rupiah)
Penduduk Bukan Akhir periode Badan/ Perusahaan Perusahaan Perusahaan Yayasan Pemerintah lembaga asuransi negara swasta dan badan pemerintah sosial Koperasi Perorangan Lainnya Subjumlah penduduk Jumlah

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

3.990 4.079 5.363 6.124 8.805

2.134 1.991 1.786 1.882 3.626

4.933 5.480 6.323 6.845 8.399

6.131 5.836 6.540 11.470 18.241

26.792 26.117 26.512 35.877 46.408

10.684 10.923 12.784 13.344 20.041

341 322 282 420 768

46.617 47.668 56.856 94.053 182.561

17.359 16.581 9.031 7.500 13.555

118.981 118.997 125.477 177.515 302.404

184 286 266 439 612

119.165 119.283 125.743 177.954 303.016

8.150 9.600 10.344 11.268

3.320 4.578 4.208 4.713

7.963 8.936 10.975 11.916

16.755 18.483 17.524 20.463

47.583 52.347 51.329 46.882

17.970 21.128 22.709 20.187

726 832 774 952

188.258 197.883 172.889 173.786

11.487 11.223 10.078 10.167

302.212 325.010 300.830 300.334

810 736 639 1.097

303.022 325.746 301.469 301.431

11.519 12.702 12.455 12.567 12.056 7.595 4.816 4.311 4.206 4.602 4.112 4.408

5.608 4.986 3.863 4.577 3.898 4.023 3.482 4.544 4.846 6.832 6.536 5.162

9.905 11.646 10.844 11.409 12.846 12.012 12.966 13.975 24.420 25.549 25.221 24.412

21.904 24.790 22.616 25.230 25.769 23.603 22.661 22.232 19.843 19.323 18.462 18.595

46.580 48.669 48.714 48.582 49.049 48.048 45.995 47.466 41.948 41.950 42.453 39.653

20.014 19.798 22.328 21.996 19.844 19.434 18.847 18.929 21.207 21.291 22.255 22.864

715 692 619 777 815 604 575 606 1.041 1.711 1.143 941

173.063 169.654 169.245 166.587 166.334 162.654 161.637 162.648 162.539 163.952 167.666 172.917

10.756 10.649 9.600 10.352 10.462 10.599 11.277 10.393 4.579 6.583 6.523 6.273

300.064 303.586 300.284 302.077 301.073 288.572 282.256 285.104 284.628 291.792 294.372 295.225

956 630 803 828 835 813 763 1.406 2.215 1.371 1.912 1.659

301.020 304.216 301.087 302.905 301.908 289.385 283.019 286.510 286.843 293.163 296.284 296.884

259

Tabel 37 Sertifikat Deposito
(miliar rupiah)

Akhir periode

Bank Persero

Selain Bank Persero

Jumlah

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

4.320 3.205 777 493 1.792

11.061 11.113 5.894 3.409 5.004

15.381 14.318 6.671 3.902 6.796

829 1.054 801 491

2.825 2.696 1.751 2.156

3.654 3.750 2.552 2.647

460 288 279 270 261 245 259 306 360 405 456 410

1.977 2.352 2.715 2.954 2.931 3.017 2.912 3.352 3.434 3.158 3.218 3.215

2.437 2.640 2.994 3.224 3.192 3.262 3.171 3.658 3.794 3.563 3.674 3.625

260

Tabel 38 Tabungan menurut Jenis pada Bank Umum

Akhir periode

Tabungan yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu Penabung (ribu) Posisi (miliar Rp) 55.858 60.521 62.765 66.653 62.506

Tabungan berjangka Penabung (ribu) 216 238 274 271 307 Posisi (miliar Rp) 131 140 173 220 1.908

Tabungan lainnya Penabung (ribu) 15.324 15.522 17.295 19.102 18.890 Posisi (miliar Rp) 5.577 5.661 5.052 5.300 4.894

Jumlah Penabung (ribu) 53.584 54.527 60.441 62.605 65.489 Posisi (miliar Rp) 61.566 66.322 67.990 72.173 69.308

1996 1996/97 1997 1997/98 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

38.044 38.767 42.872 43.232 46.292

45.442 46.853 107.916 66.926

72.328 82.306 110.184 115.945

222 139 141 161

2.047 1.378 972 855

18.549 18.231 18.242 17.437

5.078 5.404 6.646 6.181

64.213 65.223 126.299 84.524

79.453 89.088 117.802 122.981

49.602 64.047 47.607 48.700 48.906 49.442 49.233 51.020 80.913 64.791 65.392 65.041

122.521 125.370 127.821 130.969 135.857 138.732 141.221 140.638 146.300 147.746 151.111 152.388

161 166 196 195 185 191 198 198 302 230 429 355

850 824 1532 756 716 1065 869 702 1290 929 741 755

17.593 17.451 17.755 17.173 17.270 16.825 16.957 16.195 748 975 1.315 1.298

6.486 6.511 6.448 6.709 6.801 6.865 7.072 6.726 1.075 944 1.086 1.185

67.356 81.664 65.558 66.068 66.361 66.458 66.388 67.413 81.963 65.996 67.136 66.694

129.857 132.705 135.801 138.434 143.374 146.662 149.162 148.066 148.665 149.619 152.938 154.328

261

Tabel 39 Suku Bunga Kredit Rupiah Menurut Kelompok Bank 1)
(persen)

Bank Akhir Periode Pemerintah Modal Kerja Investasi

Bank Pemerintah Daerah Modal Kerja Investasi

Bank Swata Nasional Modal Kerja Investasi

Bank Asing & Campuran Modal Kerja Investasi

Bank Umum

Modal Kerja

Investasi

1996 1997 1998 1999 Maret Juni September Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

16,88 20,41 29,03

15,02 16,12 22,35

20,48 23,04 30,20

15,26 15,49 15,83

20,24 28,22 38,70

19,69 27,31 40,32

17,07 26,76 42,89

19,59 25,22 35,53

19,04 25,40 34,75

16,36 18,94 26,23

28,28 27,03 23,51 21,61

22,49 21,45 19,21 17,48

26,57 24,35 21,47 21,81

15,54 14,89 14,38 13,43

36,47 32,42 23,22 19,57

39,96 32,06 24,24 20,61

40,84 29,41 19,82 18,28

40,25 33,49 26,28 22,70

33,12 28,84 23,07 20,68

26,10 22,75 19,73 17,80

21,14 21,12 20,36 20,23 19,64 18,99 19,69 18,54 18,62 18,67 18,66 18,40

17,31 17,26 16,48 16,34 16,22 15,79 15,40 15,34 16,19 16,47 16,67 16,53

21,42 20,97 20,23 20,22 19,54 19,42 19,47 19,62 21,58 21,31 21,35 21,11

11,75 11,65 11,64 11,62 19,31 18,98 18,91 17,72 18,00 18,04 18,05 18,11

18,94 18,11 17,62 17,60 17,55 17,65 17,63 17,56 17,88 17,70 17,60 17,55

20,27 18,76 18,28 17,99 17,78 17,85 17,59 17,54 18,00 17,70 17,64 17,59

17,24 16,84 16,37 16,19 15,79 15,96 16,29 16,25 15,32 15,32 15,41 15,42

18,43 17,32 16,81 15,96 15,96 15,20 15,20 15,20 14,88 15,02 15,31 15,49

20,08 19,75 18,93 18,83 18,42 18,14 18,01 17,93 17,99 17,90 17,84 17,65

17,43 17,14 16,46 16,30 16,54 16,21 15,86 15,79 16,62 16,78 16,94 16,86

1) Rata-rata tertimbang

262

Tabel 40 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

2000 Rincian 1996 1997 1998 1999 Mar. Jun. Sep. Des.

Kredit dalam rupiah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain Kredit dalam valuta asing Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain

234.490 15.158 716 51.984 55.763 78.391 32.478 58.431 2.472 977 26.866 14.823 13.265 28 292.921 17.630 1.693 78.850 70.586 91.656 32.506

261.534 20.340 2.769 56.123 57.471 85.598 39.233 116.600 5.662 2.547 55.556 24.793 27.971 71 378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

313.118 29.430 2.729 85.594 59.830 101.129 34.406 174.308 9.878 3.180 86.074 36.534 37.995 647 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

140.527 21.139 879 35.561 29.687 26.332 26.929 84.606 2.638 2.818 48.698 13.601 16.829 22 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

130.875 21.959 912 29.723 26.222 24.092 27.967 92.360 2.718 4.058 52.908 15.056 17.458 162 223.235 24.677 4.970 82.631 41.278 41.550 28.129

134.654 20.066 1.050 29.715 29.160 24.000 30.663 105.481 3.266 4.466 60.311 17.548 19.776 114 240.135 23.332 5.516 90.026 46.708 43.776 30.777

139.763 16.134 2.788 29.411 28.610 24.121 38.699 109.231 4.703 3.502 65.484 12.805 20.327 2.410 248.994 20.837 6.290 94.895 41.415 44.448 41.109

152.482 15.028 2.879 35.697 30.601 23.784 44.493 116.518 4.475 3.801 71.085 13.498 20.532 3.127 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

1) Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

263

Tabel 41 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis Penggunaan dan Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

2000
Rincian 1996 1997 1998 1999

Mar.
Kredit modal kerja Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain 222.478 5.893 1.288 54.602 58.695 69.494 32.506 277.399 11.373 3.995 76.585 64.336 81.806 39.304 345.962 22.058 3.880 121.867 72.065 91.039 35.053 167.442 12.162 2.368 61.278 36.181 28.502 26.951 57.691 11.615 1.329 22.981 7.107 14.659 0 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951 165.712 13.129 2.649 60.445 33.861 27.499 28.129 57.523 11.548 2.321 22.186 7.417 14.051 0 223.235 24.677 4.970 82.631 41.278 41.550 28.129

Jun.
180.893 11.014 3.101 68.913 38.943 28.145 30.777 59.242 12.318 2.415 21.113 7.765 15.631 0 240.135 23.332 5.516 90.026 46.708 43.776 30.777

Sep.
18.4381 9.211 3.158 72.577 34.131 24.195 41.109 64.613 11.626 3.132 22.318 7.284 20.253 0 248.994 20.837 6.290 94.895 41.415 44.448 41.109

Des.
203.724 8.693 3.796 80.572 36.318 26.725 47.620 65.276 10.810 2.884 26.210 7.781 17.591 0 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

Kredit investasi Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain

70.443 11.737 405 24.248 11.891 22.162 0

100.735 14.629 1.321 35.094 17.928 31.763 0

141.464 17.250 2.029 49.801 24.299 48.085 0

Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain

292.921 17.630 1.693 78.850 70.586 91.656 32.506

378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

1) Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

264

Tabel 42 Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

2000 Rincian 1996 1997 1998 1999 Mar. Jun. Sep. Des.

1. Bank Persero Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain 2. Bank Swasta Nasional Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain 3. Bank Pemerintah Daerah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain 4. Bank Asing dan Campuran Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain 5. Jumlah (1 s.d. 4) Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Lain-lain

108.925 12.111 921 33.562 22.887 25.510 13.934 149.955 4.912 388 29.638 41.752 58.841 14.424 6.457 229 14 375 1.100 2.170 2.569 27.584 378 370 15.275 4.847 5.135 1.579 292.921 17.630 1.693 78.850 70.586 91.656 32.506

153.266 14.279 1.939 46.868 32.970 39.421 17.789 168.723 10.185 2.500 35.592 40.513 63.716 16.217 7.539 267 21 429 1.206 2.386 3.230 48.606 1.271 856 28.790 7.575 8.046 2.068 378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

220.747 17.012 1.989 84.510 43.601 55.792 17.843 193.361 20.272 2.414 45.416 40.687 72.058 12.514 6.570 354 19 409 1.053 1.820 2.915 66.748 1.670 1.487 41.333 11.023 9.454 1.781 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

112.288 15.516 1.360 38.489 21.958 19.945 15.020 56.012 5.740 371 14.421 13.307 15.605 6.568 6.793 853 18 190 816 1.376 3.540 50.040 1.668 1.948 31.159 7.207 6.235 1.823 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

102.364 15.675 2.315 33.075 17.870 18.421 15.008 60.562 6.300 405 16.432 15.140 15.058 7.227 7.344 964 17 201 869 1.255 4.038 52.965 1.738 2.233 32.923 7.399 6.816 1.856 223.235 24.677 4.970 82.631 41.278 41.550 28.129

100.941 15.189 2.539 31.101 17.912 18.548 15.652 68.823 5.305 426 19.756 19.963 15.364 8.009 8.600 954 14 209 1.018 1.282 5.123 61.771 1.884 2.537 38.960 7.815 8.582 1.993 240.135 23.332 5.516 90.026 46.708 43.776 30.777

98.630 12.903 2.586 29.839 16.056 18.683 18.563 73.603 4.906 782 19.948 19.833 15.836 12.298 9.296 514 67 236 1.126 1.410 5.943 67.465 2.514 2.855 44.872 4.400 8.519 4.305 248.994 20.837 6.290 94.895 41.415 44.448 41.109

102.061 11.209 2.522 34.878 16.431 16.370 20.651 82.425 4.987 863 22.914 21.656 17.500 14.505 10.106 527 65 249 1.182 1.260 6.823 74.408 2.780 3.230 48.741 4.830 9.186 5.641 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

1) Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

265

Tabel 43 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Kertas di Jakarta dan KKBI
(triliun rupiah)

1996 Kantor Masuk Keluar

1997 Masuk Keluar Masuk

1998 Keluar

1999 Masuk Keluar Masuk

2000 Keluar

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

13,3 11,8 9,9 11,4 4,5 3,1 3,7 2,9

24,1 7,0 5,1 10,3 4,6 4,1 4,1 3,9

18,7 14,1 11,8 13,9 6,9 4,2 4,7 3,6

32,2 9,1 6,9 13,3 7,7 5,6 5,4 4,9

24,2 17,9 14,5 18,8 9,4 5,8 7,3 4,8

39,9 14,7 9,3 18,5 10,3 8,7 8,8 7,2

24,4 22,2 17,8 23,4 11,4 6,5 8,7 6,1

47,2 17,1 13,6 23,9 12,8 11,7 10,0 9,0

33,2 28,0 20,2 28,8 11,5 7,8 10,4 7,8

51,4 20,4 15,1 28,6 11,9 13,1 12,4 11,2

Jumlah

57,2

63,2

77,7

85,0

102,7

117,5

120,4

145,4

147,7

164,1

Tabel 44 Pangsa Aliran Uang Keluar per Jenis Pecahan di Jakarta dan KKBI Tahun 2000 (persen)

Kantor

Rp100.000,00

Rp50.000,00

Rp20.000,00

Rp10.000,00

Rp5.000,00

<= Rp1.000,00

Total

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

34 39 27 28 30 39 33 32

47 36 45 54 51 34 43 48

12 18 21 11 12 18 17 13

4 5 5 5 5 6 5 4

2 2 1 2 2 2 2 2

1 1 0 1 1 1 1 1

100 100 100 100 100 100 100 100

266

Tabel 45 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Logam di Jakarta dan KKBI
(miliar rupiah)

1996 Kantor Masuk Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin 13,5 14,5 22,5 3,9 1,4 0,6 1,3 1,0 Keluar 94,9 8,6 8,8 10,4 6,5 4,3 4,9 4,6

1997 Masuk 14,4 17,3 23,2 2,9 2,0 0,7 1,0 0,7 Keluar 79,5 8,7 7,4 15,9 7,4 7,3 7,4 6,1

1998 Masuk 4,4 10,8 13,9 1,2 3,3 0,3 0,5 0,7 Keluar 105,5 12,9 8,3 32,8 11,2 14,1 12,6 15,5

1999 Masuk 2,2 11,1 12,2 2,2 1,1 0,3 0,6 0,6 Keluar 117,7 14,8 13,2 29,7 13,1 9,7 11,2 11,4 Masuk 4,1 15,2 14,3 1,8 0,4 0,3 1,1 1,4

2000 Keluar 184,5 21,0 14,5 33,5 14,2 12,4 10,9 11,6

Jumlah

58,7

143,0

62,2

139,7

35,1

212,9

30,3

220,8

38,6

301,7

267

Tabel 46 Pertumbuhan Ekonomi Dunia
(persen)

Negara Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara Industri Utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah dan Eropa Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-negara Transisi 2) Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah

1996r 4,1 3,2 3,0 3,6 5,0 0,8 1,1 1,1 2,6 1,5 3,7 6,5 5,7 4,5 3,6 8,3 6,2 9,6 7,8 7,5 8,6 5,5 5,8 9,3 –0,5 1,7 –3,4 1,3

1997r 4,1 3,4 3,2 4,4 1,6 1,4 2,0 1,8 3,5 4,4 4,2 5,7 2,8 5,1 5,4 6,5 5,8 8,8 4,7 9,0 7,7 –1,3 5,2 8,2 1,6 2,1 0,9 2,6

1998r 2,6 2,4 2,5 4,4 –2,5 2,1 3,2 1,5 2,6 3,3 2,0 3,5 3,1 3,1 2,2 4,1 –2,3 7,8 –13,2 0,3 –6,7 –9,4 –0,5 3,5 –0,8 2,0 –4,9 2,5

1999r 3,4 3,2 2,9 4,2 0,2 1,6 2,9 1,4 2,1 4,5 4,7 3,8 2,2 0,8 0,3 5,9 7,8 6,6 0,2 4,5 2,4 4,0 2,2 3,5 2,4 1,3 3,2 4,6

2000* 4,7 4,2 3,9 5,2 1,4 1) 2,9 3,5 3,1 3,11) 4,7 5,1 5,6 3,4 4,7 4,3 6,7 7,9 8,0 4,5 9,9 5,9 4,3 3,9 – 4,9 3,1 7,0 5,3

1) Bloomberg, January 2000 2) Tidak termasuk Belarusia dan Ukraina Sumber : – IMF, World Economic Outlook, October 2000 – Bank Indonesia

268

Tabel 47 Inflasi Dunia
(persen)

Negara

1996r

1997r

1998r

1999r

2000 *

Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara Industri Utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah dan Eropa Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-negara Transisi Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah
1) November Sumber : – IMF, World Economic Outlook, October 2000 – Bank Indonesia – BPS – The Economist

4,3 2,4 2,2 2,9 0,1 1,2 2,1 3,9 3,0 1,6 3,2 14,6 25,9 24,2 22,4 8,2 4,3 8,4 6,5 1,4 3,5 5,9 8,4 5,8 40,6 32,0 47,8 64,1

4,2 2,1 2,0 2,3 1,7 1,5 1,3 1,7 2,8 1,4 2,4 9,2 11,1 23,1 13,2 4,8 3,4 2,8 11,1 2,0 2,7 5,6 6,0 3,2 28,2 36,7 14,7 36,5

2,5 1,5 1,3 1,6 0,6 0,6 0,7 1,7 2,7 1,0 2,5 10,3 8,7 23,6 10,6 8,0 4,4 –0,8 77,6 –0,3 5,3 8,1 9,7 7,7 20,9 17,8 27,7 15,3

3,0 1,4 1,4 2,2 –0,3 0,7 0,6 1,7 2,3 1,7 1,3 6,6 11,8 20,4 9,3 2,4 0,3 –1,5 2,01 0,2 3,0 0,5 8,5 7,6 43,8 20,6 85,9 15,4

– 2,3 2,2 3,2 -0,2 1,7 1,5 2,5 2,0 2,3 2,4 6,2 12,7 17,4 8,9 2,4 2,2 1,5 9,4 2,01) 1,4 1,3 6,6 – 18,3 18,8 18,6 14,8

269

Tabel 48 Suku Bunga (%) dan Nilai Tukar

Rincian Suku Bunga di Negara-negara Industri Jangka Pendek Jangka Panjang Nilai Tukar Yen/USD DM/USD USD/GBP
Sumber : – –

1996r

1997r

1998r

1999r

2000 *

4,10 6,10

4,00 5,40

4,00 4,50

3,80 5,30

– –

108,78 1,50 1,56

120,99 1,73 1,64

130,91 1,76 1,66

113,9 1,84 1,62

107,9 2,13 1,50

IMF, World Economic Outlook, October 2000 IMF, International Financial Statistics, December 2000

Tabel 49 Perkembangan Volume Perdagangan Barang dan Harga Dunia
(persen)

Rincian

1996r

1997r

1998r

1999r

2000 *

Volume perdagangan barang Harga Barang-barang Industri Komoditas Primer Nonmigas Minyak

5,8

10,0

4,1

5,2

10,4

–3,1 –1,2 18,4

–7,8 –3,2 –5,4

–1,2 –14,7 –32,1

–1,2 –7,1 37,5

–5,3 3,2 47,5

Sumber :

IMF, World Economic Outlook, October 2000

270

Tabel 50 Transaksi Berjalan di Negara Industri dan Negara Sedang Berkembang
(persen PDB)

Negara 7 Negara Industri Utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada

1996r

1997r

1998r

1999r

2000

–1,6 1,4 –0,3 1,3 3,2 –0,1 0,6

–1,7 2,2 –0,1 2,8 2,8 0,8 –1,6

–2,5 3,2 –0,2 2,7 1,7 – –1,8

–3,6 2,5 –0,9 2,7 0,7 –1,2 –0,4

–4,2 2,6 –0,2 3,4 1,0 –1,5 1,4

Negara Berkembang RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina 0,9 –3,5 15,9 –4,9 –7,9 –4,7 3,8 –2,3 15,7 –5,1 –2,0 –5,3 3,4 4,3 20,9 12,9 12,8 2,0 1,3 4,0 21,1 11,7 8,8 2,2 1,2 5,5 21,9 10,2 7,2 10,1

Sumber :

– –

IMF, World Economic Outlook, October 2000 The Economist, Januari 2001

271

Lampiran H

Specimen Pecahan Uang Kartal yang Diterbitkan Pada Tahun 2000
Pecahan Rp 1000
Bayang-bayang logo "BI" ( Latent Image)

Gambar utama terasa kasar bila diraba

Angka nominal terasa kasar bila diraba

Garuda Pancasila Tanda air Cut Nyak Meutia Angka nominal terasa kasar bila diraba

Rectoverso

Tulisan nominal terasa kasar bila diraba Benang pengaman

Bayang-bayang angka "1000" dan logo "BI" (Embossed- Latent Image)

Tulisan mikro "BI"

Tulisan mikro "BANK INDONESIA"

Cetak Intaglio

Nomor Seri

Tanda air Cut Nyak Meutia

Rectoverso

Tulisan mikro "BI" Nomor Seri Angka nominal

Benang pengaman

Tulisan mikro "BANK INDONESIA"

272

Lampiran I
Daftar Singkatan

ACBF ADB ADF Ags AP APBD APBN APEC Apr APU AS ASA ASEAN ATM ATMR BBKU BBM BCA BDP BEJ BGub BI BI-LINE BIPS BIS BKD BLBI BLS BMPK BNI BOE BOTASUPAL bp BPD BPHTB BPM

ASEAN Central Bank Forum Asian Development Bank Asian Development Fund Agustus aktiva produktif Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Asia-Pacific Economic Cooperation April angka pengganda uang Amerika Serikat ASEAN Swap Arrangements Association of South-east Asian Nations automated teller machine Aktiva Tertimbang Menurut Risiko bank beku kegiatan usaha bahan bakar minyak Bank Central Asia bank dalam penyehatan Bursa Efek Jakarta Biro Gubernur Bank Indonesia Bank Indonesia Layanan Informasi dan Transaksi secara Elektronis Bulk Interbank Payment System Bank For International Settlement Badan Kredit Desa Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Baseline Economic Survey batas maksimum pemberian kredit Bank Negara Indonesia Bank of England Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu basis point Bank Pembangunan Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Balance of Payment Manual

273

BPPN BPR BPS BUPLN BRI BSA BTN BTO BUMN BUSN CAR CBU CCL CCCN CDF CGI CPO D D DAK DAP DASP Dati DAU DBH DHE DEM Depo Des DGS DI Dir DJPLN DKI DLN DN DPK DPK

Badan Penyehatan Perbankan Nasional Bank Perkreditan Rakyat Badan Pusat Statistik Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Bank Rakyat Indonesia Bilateral Swap Arrangement Bank Tabungan Negara bank take over Badan Usaha Milik Negara Bank Umum Swasta Nasional capital adequacy ratio Completely Built Up Contingent Credit Lines Custome Cooperation Council Numencelature comprehensive development framework Consultative Group for Indonesia crude palm oil diragukan default dana alokasi khusus Detailed Action Plan Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Daerah Tingkat dana alokasi umum dana bagi hasil devisa hasil ekspor Deutchmark Deposito Desember Deputi Gubernur Senior Daerah Istimewa Direktur Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Daerah Khusus Ibukota Direktorat Luar Negeri dalam negeri dalam perhatian khusus dana pihak ketiga

274

DPM DPNP DPR DRC DSM DSR DVP EFT EFF Ekuin EMEAP EO EVO FCL FDI Feb FLI fob FSF Gaikindo GBI GBP GDP GDDS GFA GTZ GWM HCS HCTS HPS HIPC HLI HS Humas IBI IBRD ICOR IAI

Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Penelitian dan Pengembangan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat Disaster Recovery Centre Direktorat Statistik Moneter debt service ratio Delivery Versus Payment electronic fund transfer Extended Fund Facility ekonomi, keuangan, dan industri Executive Meeting of East Asia and Pacific Central Bankers Exchange Offer Independent Evaluation Office foreign currency liquidity Foreign Direct Investment Februari Fasilitas Likuiditas Intrahari free on board Financial Stability Forum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Gubernur Bank Indonesia Great Britain Poundsterling gross domestic product Global Data Dissemination Standard gross foreign assets Gesselschaft fur Technische Zusammenarbeit GmbH Giro Wajib Minimum hasil cetak sempurna hasil cetak tidak sempurna harga patokan semen Highly Indebted Poor Countries Highly Leverage Institutions Harmonized System hubungan masyarakat Institut Bankir Indonesia International Bank for Reconstruction and Development Incremental Capital Output Ratio Ikatan Akuntan Indonesia

275

IHK IHPB IHSG IMF IMFC Infl IPO IRFCL IT Jan JBIC JIBOR JITF JPY Jul Jun KA KAP KAPET KBI KCS Kep Keppres KHM KKBI KKP KKPA KKSK KLBI KL KMK KMK KPMM KPR KRW KUK KUT L/C

indeks harga konsumen indeks harga perdagangan besar indeks harga saham gabungan International Monetary Fund International Monetary Financial Committee inflasi Initial Public Offering International Reserve and Foreign Currency Liquidity teknologi informasi dan telekomunikasi Januari Japan Bank for International Cooperation Jakarta interbank offered rate Jakarta Initiative Task Force Japan Yen Juli Juni Kereta Api kualitas aktiva produktif Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Kantor Bank Indonesia Kantor Cabang Syariah keputusan Keputusan Presiden kebutuhan hidup minimum Koordinator Kantor Bank Indonesia Kredit Ketahanan Pangan Kredit Koperasi Primer untuk Anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan Kredit Likuiditas Bank Indonesia kurang lancar Keputusan Menteri Keuangan kredit modal kerja kewajiban penyediaan modal minimum Kredit Pemilikan Rumah Korean Won Kredit Usaha Kecil Kredit Usaha Tani Letter of Credit

276

LIBOR LIE LKNB LLD LN LNG LoI LPG LPS M Mar MDPB MEE MEFP MEN Menaker Mendagri Menkeu Menko Menperindag Migas MKT MLA MMBTU MoU MPP MPR MSDM mtm NAIRU NCG NDA MDPB NFA NIM NIR No NOI

London Inter Bank Offered Rate Leading Indikator Ekonomi lembaga keuangan nonbank lalu lintas devisa luar negeri liquefied natural gas Letter of Intent liquefied petroleum gas Lembaga Penjamin Simpanan macet Maret Master Dokumen Pengawasan Bank Masyarakat Ekonomi Eropa Memorandum of Economic and Financial Policies Menteri menteri tenaga kerja menteri dalam negeri menteri keuangan menteri koordinator menteri perindustrian dan perdagangan minyak dan gas masalah komputer tahun Master Loan Agreement mille mille British thermal unit Memorandum of Understanding Menteri Perindustrian dan Perdagangan Majelis Permusyawaratan Rakyat Manajemen Sumber Daya Manusia month to month Non-accelerating inflation rate of unemployment net claims on government net domestic assets Master Dokumen Pengawasan Bank net foreign assets net interest margin net international reserve nomor net other items

277

Nov NPI NPLs NPWP OAP ODA OFC OKB OKJ Okt O/N OPEC OPT OSP PAD PAM PAN PAPSI PBB PBI PDB PDG PDN PET PHBK PHK PHP Peruri PLN PMA PMTDB PMDN PNBP PnDB PNM PNS Polri PP

November Neraca Pembayaran Indonesia non performing loans Nomor Pokok Wajib Pajak Otomasi Administrasi Perkasan Official Development Assistance Offshore Financial Center Otomasi Kliring Bandung Otomasi Kliring Jakarta Oktober overnight Organization of Petroleum Exporting Countries operasi pasar terbuka on-site supervisory presence Pendapatan Asli Daerah Perusahaan Air Minum perhitungan anggaran negara Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia pajak bumi dan bangunan Peraturan Bank Indonesia produk domestik bruto Peraturan Dewan Gubernur Posisi Devisa Neto perusahaan eksportir tertentu Pengembangan Hubungan Bank dan Kelompok Swadaya Masyarakat pemutusan hubungan kerja Philipine Peso Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia Perusahaan Listrik Negara penanaman modal asing Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto penanaman modal dalam negeri Penerimaan Negara Bukan Pajak Pendapatan Domestik Bruto Permodalan Nasional Madani pegawai negeri sipil Polisi Republik Indonesia Peraturan Pemerintah

278

PPP PPAP PPh PPN PPSK PROPENAS PSAKS PT PTTB PUAB PUKM RAPBN REER Repeta RESBI RI RMB Rp RRC R/S RTGS RUU SARA SBA SBI SBPU SBPT s.d SD SDA SDDS SDM SDR SE SEACEN SEANZA SEG SEK

Purchasing Power Parity penyisihan penghapusan aktiva produktif pajak penghasilan pajak pertambahan nilai Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Program Pembangunan Nasional Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan Syariah Perseroan Terbatas pemberian tanda tidak berharga pasar uang antar bank Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara real effective exchange rate Rencana Pembangunan Tahunan Rencana Suksesi Bank Indonesia Republik Indonesia Real Money Balance Rupiah Republik Rakyat Cina reader / sorter Real Time Gross Settlement Rancangan Undang-Undang suku agama ras aliran Stand By Arrangement Sertifikat Bank Indonesia Surat Berharga Pasar Uang Surat Bukti Penerimaan Transfer sampai dengan selective default sumber daya alam Special Data Dissemination Standard sumber daya manusia Special Drawing Rights Surat Edaran South East Asia Central Bank South East Asia, New Zealand, and Australia Central Bank SEACEN Expert Group Survey Ekspektasi Konsumen

279

Sep SGD SIABE SIB SID SI Gap SILPA SIMASDAM SIPU SK SKDU SKEJ SNA SOKL SOR SPE SU-BI SUP TA TAP TDL TFP THB thd TMF TNI TPAK TPP Trw TV UIP UKIP UKM ULN UMR US USAID USD

September Singapore Dollar Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor Sistem Informasi Baseline Economic Survey Sistem Informasi Debitur Saving Investment Gap sisa lebih pembiayaan anggaran Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia Sistem Informasi Pengedaran Uang Surat Keputusan Survey Kegiatan Dunia Usaha Sistem Kliring Elektronik Jakarta Standardized National Account semi otomasi kliring lokal Stop Out Rate survey penjualan eceran surat utang – Bank Indonesia Surat Utang Pemerintah technical assistance Ketetapan tarif dasar listrik total factor productivity Thailand Bath terhadap Trade Maintenance Facility Tentara Nasional Indonesia tingkat partisipasi angkatan kerja Tunjangan Perbaikan Penghasilan triwulan Televisi Uncovered Interest Rate Parity Unit Khusus Investigasi Perbankan usaha kecil dan menengah utang luar negeri upah minimum regional United States United States Agencies for International Development United States Dollar

280

UU UYD Valas VAP WB WBUT WPI WTO YoY

Undang-Undang uang yang diedarkan valuta asing Voluntary Action Plan World Bank Wesel bank untuk Transfer Wholesale Price Index World Trade Organization year on year

281

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->