P. 1
Laporan Perekonomian Indonesia 2002

Laporan Perekonomian Indonesia 2002

|Views: 1,316|Likes:
Published by yuliandriansyah
Laporan perekonomian Indonesia tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
Laporan perekonomian Indonesia tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

More info:

Published by: yuliandriansyah on Jan 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

Daftar Isi

Landasan Hukum i Alamat Kantor Pusat Bank Indonesia ii Visi Misi dan Nilai-Nilai Strategis Bank Indonesia iv Keterangan Tanda- Tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data Daftar Tabel Dan Grafik vi Dewan Gubernur Bank Indonesia xii Kata Pengantar xii Bab 1: Tinjauan Umum 1
Evaluasi Perekonomian Indonesia Tahun 2002 4 Kondisi Ekonomi Makro 4 Nilai Tukar dan Inflasi 8 Kebijakan dan Perkembangan Moneter 9 Kebijakan dan Perkembangan Perbankan 12 Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Nasional Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2003 16 Prospek Ekonomi Dunia 16 Prospek Ekonomi Makro 17 Prospek Nilai Tukar dan Inflasi 19 Prospek Perbankan 20 Faktor Risiko dan Ketidakpastian 21 Sasaran Inflasi dan Arah Kebijakan Tahun 2003 23 PENUTUP 25

iv

14

BAB 2: Kondisi Ekonomi Makro
Permintaan Agregat 28 Penawaran Agregat 37 Ketenagakerjaan 41

26

Bab 3: Nilai Tukar

47
49

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Faktor Fundamental 49 Faktor Sentimen 49 Indikator Risiko 52 Faktor Kebijakan 54 Permintaan dan Penawaran Valuta Asing 56 Nilai Tukar Riil 57
boks: Pengaruh Pelaku Utama Pasar pada Nilai Tukar 59

Bab 4 : Inflasi

61

Perkembangan Indikator Inflasi 62 Perkembangan Inflasi IHK 64 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi 66 Pengaruh Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Pengaruh Ekspektasi 67 Pengaruh Kondisi Permintaan dan Penawaran 69 Pengaruh Faktor Eksternal 69 Pengaruh Faktor Alam 70

66

Bab 5 : Moneter

71

Evaluasi Kebijakan Moneter 2002 73 Perkembangan Uang beredar 76 Uang Primer 76 Uang Beredar 79

Transmisi Kebijakan Moneter 82 Suku Bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Suku Bunga Deposito dan Kredit 84 Pasar Modal 86 Obligasi Pemerintah 89
boks: Perkembangan Reksa Dana di Indonesia 93

82

Bab 6 : Neraca Pembayaran
Transaksi Berjalan 99 Ekspor 100 Impor 102 Jasa-jasa 104 Lalu Lintas Modal 105 Cadangan Devisa 108

96

boks: Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan

109

Bab 7 : Keuangan Pemerintah

111

Pendapatan Negara dan Hibah 114 Belanja Negara 116 Defisit Dan Pembiayaan 119 Dampak Operasi Keuangan Pemerintah Terhadap Sektor Riil 119 Dampak Rupiah Operasi Keuangan Pemerintah 120 Dampak Valuta Asing Operasi Keuangan Pemerintah 121 Prospek APBN 2003 123 Pendapatan Negara dan Hibah 124 Belanja Negara 125 Defisit dan Pembiayaan 126 Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Permintaan Agregat, Moneter dan Neraca Pembayaran 127
boks: Reprofiling Obligasi Negara 133 boks: Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (UU SUN) 136

Bab 8 : Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain
Perbankan 140 Kebijakan Perbankan 141 Kebijakan Perbankan Syariah 149 Kebijakan di Bidang Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Perkembangan Bank Umum 155 Perkembangan Perbankan Syariah 162 Lembaga Keuangan Lainnya 166 Perusahaan Pembiayaan 167 Perum Pegadaian 169

139

154

boks: Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank 171 boks: Makassar Meeting dan Upaya Pengembangan UKM 173 boks: Pembatasan Pembelian Kredit oleh Bank dari BPPN 177 boks: Pengaturan Risiko Pasar (Market Risk) dalam Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank 179

Bab 9: Sistem Pembayaran Nasional

180

KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN TAHUN 2002 181 Sistem Pembayaran Tunai 181 Sistem Pembayaran Nontunai 182 PERKEMBANGAN ALAT-ALAT PEMBAYARAN 186 Alat Pembayaran Tunai 186 Alat Pembayaran Nontunai 188 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL Sistem Pembayaran Tunai 192 Sistem Pembayaran Nontunai 192
boks: Penukaran Uang Pecahan Kecil Melalui Pihak Ketiga boks: Pengembangan Intercity Clearing 195 194

191

Bab 10 : Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA 198 Amerika Serikat 200 Negara-negara Euro 201 Jepang 202 Asia Non Jepang 203 Amerika Latin 204 Pasar Keuangan Internasional 205 Pasar Komoditas Internasional 206 Kerjasama Internasional 206 Kerjasama di Bidang Moneter, Keuangan dan Perbankan 207 Bilateral Swap Arrangement 211 The New Basel Capital Accord 211 Anti Money Laundering dan Pembiayaan Terorisme 212 Kerjasama di Bidang Pembangunan 214

197

Bab 11: Prospek Ekonomi Dan Arah Kebijakan
Prospek Ekonomi Global 220 Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Dunia 220 Inflasi dan Suku Bunga Internasional 221 Prospek Harga Komoditas Pasar Internasional 222 Prospek Ekonomi Indonesia 223 Prospek Permintaan 223 Prospek Penawaran 227 Prospek Neraca Pembayaran Tahun 2003 231 Prospek Nilai Tukar 233 Prospek Inflasi 234 Prospek Perbankan 238 Faktor Risiko Dan Ketidakpastian 239 Sasaran Inflasi dan Arah Kebijakan 241 Sasaran Inflasi 241 Arah Kebijakan Moneter 242 Arah Kebijakan Perbankan 243 Arah Kebijakan Sistem Pembayaran 244

218

boks: SBI Scripless dan Automatic Bidding System (ABS) 245 boks: On-line Scripless Securities Settlement System (Ssss) 247 boks: Konsekuensi dan Persiapan Indonesia Menghadapi Berakhirnya Program IMF pada Akhir Tahun 2003 251 boks: Arsitektur Perbankan Indonesia 255 boks: Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Di Indonesia 257

Lampiran
A Kantor Pusat, Kantor Perwakilan dan Kantor-Kantor Bank Indonesia 263 B Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 31 Desember 2002 264 C.1 Organisasi dan Sumber Daya Manusia 265 C.2 Struktur Organisasi Bank 271 D.1 Neraca Bank Indonesia 277 D.2 Laporan Surplus Defisit Bank Indonesia 278 E.1 Daftar Peraturan Bank Indonesia 2002 279 E.2 Daftar Surat Edaran (Ekstern) Bank Indonesia 2002 284 E.3 Berbagai Ketentuan dan Kebijakan Penting di Bidang Ekonomi dan Keuangan 2002 F.1 Tabel Statistik I 296 G Specimen Pecahan Uang Kartal yang Ditebitkan Pada 2002 343 H Daftar Singkatan 311

286

Landasan Hukum

Laporan ini merupakan penjelasan lengkap dari informasi mengenai “Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Moneter 2002 dan Arah Kebijakan Moneter 2003” yang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan masyarakat melalui media massa pada tanggal 9 Januari 2003 sebagai pelaksanaan amanat pasal 58 Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia

i

Alamat Kantor Pusat Bank Indonesia

Sampul Depan : Rotunda antara Gedung A dan Gedung B Bank Indonesia, Jakarta Alamat Kantor Pusat : Jl. MH. Thamrin No. 2, Jakarta 10110 - Indonesia http://www.bi.go.id

ii

2002

LAPORAN TA H U N A N

ISSN 0522-2575

iii

Visi Misi dan Nilai-Nilai Strategis Bank Indonesia

Visi Bank Indonesia :
“Menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil.”

Misi Bank Indonesia :
“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan.”

Nilai-Nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia :
“Nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen, dan pegawai untuk bertindak dan atau berperilaku, yang terdiri atas Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas, dan Kebersamaan.”

iv

Keterangan Tanda- Tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data

Keterangan Tanda-tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data
r * ** ... x -$ (dolar) BI AS Angka diperbaiki Angka sementara Angka sangat sementara Angka belum tersedia Angka tidak ada Angka sebelum dan sesudah tanda ini tidak dapat diperbandingkan satu sama lain Nol atau lebih kecil daripada digit terakhir Dolar Amerika Serikat Bank Indonesia Amerika Serikat

Periode laporan adalah 1 Januari 2002 sampai dengan 31 Desember 2002. Sumber data adalah Bank Indonesia, kecuali jika dinyatakan lain.

v

Daftar Tabel Dan Grafik

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
TABEL
Tabel 1.1 Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 2.6 Tabel 2.7 Tabel 2.8 Tabel 2.9 Tabel 2.10 Tabel 2.11 Tabel 3.1 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 6.1 Tabel 6.2 Tabel 6.3 Tabel 6.4 Tabel 6.5 Tabel 6.6 Tabel 6.7 Tabel 6.8 Tabel 6.9 Tabel 7.1 Tabel 7.2 Tabel 7.3 Tabel 7.4 Tabel 7.5 Tabel 7.6 Tabel 7.7 Tabel 7.8 Beberapa Indikator Makroekonomi ........................................................ Produk Domestik Bruto Menurut Penggunaan ............................................ Perkembangan Alat Pembayaran Berbasis Kartu ........................................ Persetujuan PMA dan PMDN ................................................................ Penerbitan Obligasi Tahun 2002 ........................................................... Kesenjangan Tabungan-Investasi .......................................................... Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Ekonomi ........................................ Tingkat Utilisasi Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan ................................. Angkatan Kerja dan Pengangguran ........................................................ Jumlah Pekerja Berdasarkan Sektor Perekonomian .................................... Jumlah Pekerja Berdasarkan Status Pekerjaan .......................................... Penganggur Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan .................................. Sovereign (Foreign Currency Long Term) Debt Ratings ................................. Sumbangan Inflasi IHK Menurut Kelompok Tahun 2002 ................................. Realisasi Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan 2002 ............ Uang Primer ................................................................................... Operasi Pasar Terbuka dan Komponennya ................................................ Uang Beredar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya ............................. Perkembangan Suku Bunga 2002 .......................................................... Perkembangan Posisi Obligasi Pemerintah ............................................... Neraca Pembayaran Indonesia ............................................................. Ekspor Barang Industri ...................................................................... Ekspor Barang Pertambangan .............................................................. Impor Nonmigas Menurut Kelompok Barang ............................................. Impor Barang Baku ........................................................................... Impor Barang Modal ......................................................................... Posisi Utang Luar Negeri Indonesia ........................................................ Posisi Utang Luar Negeri Menurut Jangka Waktu ....................................... Indikator Beban Utang ...................................................................... Perkembangan Asumsi APBN ................................................................ Pendapatan Negara dan Hibah ............................................................. Belanja Negara ............................................................................... Operasi Keuangan Pemerintah ............................................................. Stimulus Fiskal ............................................................................... Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah APBN 2002 ...................................... Dampak Valuta Asing Keuangan Pemerintah APBN 2002 ............................... Asumsi Pokok APBN 2003 .................................................................... 5 28 31 33 35 35 37 39 40 42 43 44 52 65 66 76 78 80 84 90 98 101 101 103 103 103 105 106 108 113 115 117 118 120 121 122 122

vi

Tabel 7.9 Tabel 7.10 Tabel 7.11 Tabel 7.12 Tabel 7.13 Tabel 7.14 Tabel 8.1 Tabel 8.2 Tabel 8.3 Tabel 8.4 Tabel 8.5 Tabel 8.6 Tabel 8.7 Tabel 8.8 Tabel 8.9 Tabel 8.10 Tabel 8.11 Tabel 8.12 Tabel 8.13 Tabel 8.14 Tabel 8.15 Tabel 9.1 Tabel 9.2 Tabel 9.3 Tabel 9.4 Tabel 10.1 Tabel 11.1 Tabel 11.2 Tabel 11.3 Tabel 11.4 Tabel 11.5 Tabel 11.6 Tabel 11.7 Tabel 11.8 Tabel 11.9

Pendapatan Negara dan Hibah ............................................................. Belanja Negara ............................................................................... Operasi Keuangan Pemerintah ............................................................. Stimulus Fiskal ............................................................................... Dampak Rupiah Operasi Keuangan Pemerintah ......................................... Dampak Valuta Asing Operasi Keuangan Pemerintah ................................... Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank ........................................... Indikator Kinerja Bank Umum .............................................................. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Perbankan ............................................ Perkembangan Posisi Kredit Perbankan .................................................. Perkembangan Realisasi Kredit Baru ...................................................... Perkembangan Kredit UKM (Pagu di bawah Rp5,0 Miliar) .............................. Perkembangan Jaringan Kantor Perbankan Syariah .................................... Perkembangan Pangsa Kegiatan Usaha Perbankan Syariah Terhadap Perbankan Nasional ....................................................................................... Realisasi PYD Perbankan Syariah kepada Sektor UKM .................................. Perkembangan Usaha BPR .................................................................. Perkembangan Kinerja Perusahaan Pembiayaan ........................................ Perkembangan Sumber dan Penggunaan Dana Perusahaan Pembiayaan ............ Rincian Pembiayaan Menurut Sektor Ekonomi .......................................... Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif Perusahaan Pembiayaan ................... Perkembangan Kinerja Perum Pegadaian ................................................ Perkembangan Posisi UYD .................................................................. Perkembangan Penemuan Uang Palsu Per Pecahan ..................................... Pangsa Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Pelaku .......................................... Peta Aliran Dana Antar Rekening .......................................................... Beberapa Indikator Ekonomi Dunia ...................................................... Pertumbuhan Ekonomi di Berbagai Kawasan Dunia .................................... Perkembangan Inflasi dan Suku Bunga Internasional ................................... Proyeksi Produksi Permintaan Minyak Dunia ............................................. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran ....................................... Prediksi Pertumbuhan PDB Sektoral 2002-2003 ......................................... Proyeksi Neraca Pembayaran Indonesia .................................................. Rencana dan Prakiraan Penerapan Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Tahun 2003 ..................................................................... Perbandingan Harga Jual BBM 2002 dan Prakiraan Harga Jual BBM 2003 ........... Lintasan Indikatif Sasaran Inflasi IHK Jangka Menengah ...............................

125 127 129 130 130 131 154 155 156 157 158 159 161 162 163 165 166 166 167 168 169 186 188 189 190 199 220 221 222 223 227 231 236 236 241

vii

GRAFIK
Grafik 2.1 Grafik 2.2 Grafik 2.3 Grafik 2.4 Grafik 2.5 Grafik 2.6 Grafik 2.7 Grafik 2.8 Grafik 2.9 Grafik 2.10 Grafik 2.11 Grafik 2.12 Grafik 2.13 Grafik 2.14 Grafik 2.15 Grafik 2.16 Grafik 2.17 Grafik 2.18 Grafik 2.19 Grafik 2.20 Grafik 2.21 Grafik 2.22 Grafik 2.23 Grafik 2.24 Grafik 2.25 Grafik 2.26 Grafik 2.27 Grafik 3.1 Grafik 3.2 Grafik 3.3 Grafik 3.4 Grafik 3.5 Grafik 3.6 Grafik 3.7 Grafik 3.8 Grafik 3.9 Grafik 3.10 Grafik 3.11 Grafik 3.12 Grafik 4.1 Pertumbuhan Konsumsi Tahunan ........................................................... Indeks Riil Penjualan Eceran ............................................................... Survei Penjualan Eceran .................................................................... Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga .................................................... Penjualan Sepeda Motor .................................................................... Penjualan Van dan Sedan ................................................................... Perkembangan Kredit Konsumsi ........................................................... Perkembangan Biaya Konsumen ........................................................... Survei Konsumen ............................................................................. Perkembangan Impor Barang Konsumsi ................................................... Penjualan Truk ................................................................................ Produksi Semen ............................................................................... Pertumbuhan Investasi Berdasarkan Jenis ............................................... Perkembangan Kredit Investasi ............................................................ Pertumbuhan Ekspor-Impor Barang dan Jasa ............................................ Kontribusi Terhadap Pertumbuhan ........................................................ Survei Kegiatan Dunia Usaha ............................................................... Indeks Produksi ............................................................................... Produksi Kendaraan Bermotor ............................................................. Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) ................................................ Proporsi Pekerja Formal dan Informal .................................................... Tingkat Pengangguran Terbuka dan Jumlah Tenaga Kerja Terkena PHK ............. Penggunaan Tenaga Kerja ................................................................... UMR/UMP ...................................................................................... Pertumbuhan UMR/UMP Riil ................................................................ Kasus Pemogokan dan Jam Kerja yang Hilang ........................................... Pendapatan Per Kapita Riil ................................................................. Perkembangan Rata-Rata (Bulanan) Nilai Tukar Rupiah Tahun 2002 ................. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Faktor Sentimen Tahun 2002 ................ Perkembangan Premi Swap ................................................................. Kurva Yield Swap ............................................................................. Covered Interest Rate Parity ............................................................... Arah Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Premi Risiko .............................. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah............................................................... Penawaran dan Permintaan Valas di Pasar Spot ......................................... Volume Transaksi Spot dan Volatilitas Nilai Tukar ...................................... Komposisi Transaksi Devisa Antarbank Khusus Dolar-Rupiah .......................... Real Effective Exchange Rate .............................................................. Bilateral Real Exchange Rate .............................................................. Perkembangan Inflasi IHK Tahunan dan Bulanan ........................................ 29 29 29 30 30 30 30 31 31 32 34 34 34 34 36 37 38 38 39 41 43 43 44 44 45 45 45 48 50 53 53 53 53 55 56 57 57 58 58 62

viii

Grafik 4.2 Grafik 4.3 Grafik 4.4 Grafik 4.5 Grafik 4.6 Grafik 4.7 Grafik 4.8 Grafik 4.9 Grafik 4.10 Grafik 5.1 Grafik 5.2 Grafik 5.3 Grafik 5.4 Grafik 5.5 Grafik 5.6 Grafik 5.7 Grafik 5.8 Grafik 5.9 Grafik 5.10 Grafik 5.11 Grafik 5.12 Grafik 5.13 Grafik 5.14 Grafik 5.15 Grafik 5.16 Grafik 5.17 Grafik 5.18 Grafik 5.19 Grafik 5.20 Grafik 5.21 Grafik 5.22 Grafik 5.23 Grafik 5.24 Grafik 5.25 Grafik 5.26 Grafik 5.27 Grafik 6.1 Grafik 6.2 Grafik 6.3 Grafik 6.4 Grafik 6.5 Grafik 6.6

Inflasi IHK dan Inflasi Inti ................................................................... 63 Indeks Harga Pedagang Besar (IHPB) Umum ............................................. 63 Inflasi Harga Aset dan PDB Deflator ....................................................... 63 Inflasi IHK dan Administered Price ........................................................ 67 Ekspektasi Kenaikan Harga (Survei Konsumen) .......................................... 68 Ekspektasi Kenaikan Harga 1 Bulan ke Depan (Survei Penjualan Eceran) ........... 68 Inflasi Makanan dan Bukan Makanan ...................................................... 69 Inflasi Traded dan Non-Traded ............................................................. 70 IHPB Impor dan Nilai Tukar ................................................................. 70 Target Indikatif dan Aktual Uang Primer ................................................. 73 Pertumbuhan Uang Kartal dan Uang Primer ............................................. 74 Suku Bunga Instrumen Moneter ............................................................ 74 Pertumbuhan Tahunan Test Date Uang Primer ........................................... 76 Pertumbuhan Tahunan Uang Kartal ....................................................... 77 Net Domestic Assets ......................................................................... 78 Net International Reserve .................................................................. 78 Perkembangan M1 Nominal ................................................................. 79 Perkembangan M2 Nominal ................................................................. 79 APU1, APU2, dan Rasio C/DPK ............................................................. 79 Pertumbuhan M1 Riil dan M2 Riil .......................................................... 80 Posisi Uang Kartal dan Simpanan Giro .................................................... 80 Posisi Simpanan Rupiah ..................................................................... 81 Nilai dan Suku Bunga PUAB Rupiah ........................................................ 82 PUAB Valas .................................................................................... 83 Net Pemberi dan Penerima di PUAB Pagi dan Sore ..................................... 83 Net Pemberi dan Penerima di PUAB Valas ................................................ 84 Suku Bunga Perbankan ...................................................................... 85 Suku Bunga Riil ............................................................................... 86 Suku Bunga Deposito Riil Beberapa Negara .............................................. 86 Perkembangan IHSG dan LQ 45 ............................................................ 87 Pergerakan Indeks Saham di Beberapa Bursa ........................................... 88 Nilai dan Volume Perdagangan ............................................................. 88 Net Beli/Jual Asing .......................................................................... 89 Perkembangan Volume dan Frekuensi Transaksi Perdagangan Obligasi Pemerintah ... 91 Perkembangan Volume Transaksi Perdagangan Obligasi Menurut Jenis Transaksi ...... 91 Kepemilikan Obligasi Pemerintah ......................................................... 92 Transaksi Berjalan, Neraca Perdagangan, dan Neraca Jasa ........................... 99 Nilai Ekspor Nonmigas dan Migas .......................................................... 99 Pangsa Ekspor Nonmigas .................................................................... 100 Pangsa Ekspor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Tujuan ........................... 102 Pangsa Impor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Asal ................................ 104 Pangsa Utang Luar Negeri .................................................................. 106

ix

Grafik 6.7 Grafik 7.1 Grafik 7.2 Grafik 7.3 Grafik 7.4 Grafik 7.5 Grafik 7.6 Grafik 7.7 Grafik 7.8 Grafik 7.9 Grafik 7.10 Grafik 8.1 Grafik 8.2 Grafik 8.3 Grafik 8.4 Grafik 8.5 Grafik 8.6 Grafik 8.7 Grafik 8.8 Grafik 8.9 Grafik 8.10 Grafik 9.1 Grafik 9.2 Grafik 9.3 Grafik 9.4 Grafik 9.5 Grafik 9.6 Grafik 9.7 Grafik 9.8 Grafik 9.9 Grafik 9.10 Grafik 10.1 Grafik 10.2 Grafik 10.3 Grafik 10.4 Grafik 11.1 Grafik 11.2 Grafik 11.3

Cadangan Devisa ............................................................................. Perkembangan Penerimaan Pajak dan Bukan Pajak ( Persen Terhadap Pendapatan Negara) ......................................................................... Komponen Pendapatan Negara ............................................................ Komponen Belanja Negara ................................................................. Komponen Pembiayaan Defisit ............................................................. Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Sektor Riil (Persen Terhadap PDB a/d Harga Berlaku) ..................................................................... Perkembangan Penerimaan Pajak dan Bukan Pajak (Persen Terhadap Pendapatan Negara) ........................................................................................ Komponen Pendapatan Negara ............................................................ Komponen Belanja Negara ................................................................. Komponen Pembiayaan Defisit ............................................................. Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Sektor Riil (Persen Terhadap PDB a/d Harga Berlaku) ..................................................................... Pangsa Aset Per Kelompok Bank ........................................................... Komposisi Aktiva Produktif ................................................................. Perkembangan DPK, Kredit dan LDR ...................................................... Perkembangan NPLs ......................................................................... Perkembangan Net Interest Income (NII) ................................................ Perkembangan Modal Perbankan .......................................................... Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah ..................................... Perkembangan Penghimpunan Dana Perbankan Syariah ............................... Perkembangan Pembiayaan Nonlancar (Gross) Bank Syariah ......................... Perkembangan Kinerja Perum Pegadaian ................................................ Perkembangan Posisi Kas ................................................................... Perkembangan PTTB ......................................................................... Perkembangan Jumlah Inflow dan Outflow .............................................. Aktivitas Harian BI-RTGS Tahun 2002 ..................................................... Sistim Pembayaran Nontunai ............................................................... Waktu Penggunaan BI-RTGS ................................................................ Nominal Kliring Nasional .................................................................... Volume Kliring Penyerahan ................................................................. Transaksi Kartu Kredit, Kartu Debit, dan ATM ........................................... Jumlah Mesin ATM ............................................................................ Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Industri Utama ................................ Perkembangan Inflasi Negara-Negara Industri Utama .................................. Suku Bunga Fed Fund ........................................................................ Perkembangan Suku Bunga LIBOR ......................................................... Perkembangan Harga Komoditas Pertanian .............................................. Leading Indikator Ekonomi ................................................................. Indeks Survei Konsumen ....................................................................

108 114 114 116 119 119 123 124 126 126 128 155 155 159 160 160 161 162 162 163 168 187 187 188 189 189 190 190 191 191 191 199 199 201 205 222 223 224

x

Grafik Grafik Grafik Grafik Grafik Grafik

11.4 11.5 11.6 11.7 11.8 11.9

Komponen Indeks Ekspektasi Konsumen .................................................. Rencana Konsumsi dalam 6-12 Bulan yang Akan Datang ............................... Perkembangan Harga Komoditas Mineral ................................................ Perkembangan Komposit Inflasi Beberapa Mitra Dagang .............................. Ekspektasi Inflasi Berdasarkan Consensus Forecast .................................... Ekspektasi Harga Penjual Eceran ..........................................................

224 224 226 235 235 236

xi

Dewan Gubernur Bank Indonesia

DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA
Per Tanggal 31 Desember 2002

Duduk dari kiri ke kanan : SYAHRIL SABIRIN, Gubernur. ANWAR NASUTION, Deputi Gubernur Senior. Berdiri dari kiri ke kanan : AULIA POHAN, Deputi Gubernur. MAMAN H. SOMANTRI, Deputi Gubernur. MIRANDA S. GOELTOM, Deputi Gubernur. ASLIM TADJUDDIN, Deputi Gubernur. MAULANA IBRAHIM, Deputi Gubernur. BUN BUNAN E.J. HUTAPEA, Deputi Gubernur.

xii

Kata Pengantar

Kata Pengantar
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahiim perkenankan saya mengantarkan penerbitan Laporan Tahunan Bank Indonesia tahun 2002. Laporan ini adalah salah satu wujud akuntabilitas Bank Indonesia sebagaimana diatur di dalam pasal 58 Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Laporan ini menyajikan langkah-langkah kebijakan yang telah diambil dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran selama tahun 2002 serta arah kebijakan Bank Indonesia tahun 2003. Laporan ini juga menguraikan perkembangan dan permasalahan yang terjadi pada perekonomian Indonesia dan internasional selama tahun 2002 serta prospeknya di tahun 2003. Dalam tahun 2002 upaya kita untuk keluar dari krisis ekonomi telah menunjukkan hasilhasil yang cukup membesarkan hati, meskipun tidak berlangsung secepat yang kita harapkan. Di sektor keuangan, program restrukturisasi perbankan telah mulai menunjukkan hasil yang positif. Kondisi kesehatan perbankan mulai membaik sehingga telah memungkinkan bank-bank untuk meningkatkan pemberian kredit serta penyaluran dana dalam bentuk lainnya, sehingga pelaksanaan fungsi intermediasi perbankan sedikit demi sedikit mulai pulih kembali. Di sektor fiskal, berbagai upaya pengurangan subsidi serta pengurangan beban utang dalam dan luar negeri pemerintah telah mulai memberikan ruang gerak bagi Pemerintah dalam memberikan stimulus kepada perekonomian. Dengan didukung oleh langkah tegas namun bijaksana oleh Pemerintah dalam menangani kasus-kasus separatisme dan terorisme di dalam negeri, ketegangan sosial-politik dan kerawanan keamanan di beberapa daerah konflik telah mulai berkurang. Kebijakan moneter dan

xiii

fiskal yang konsisten dan didukung oleh faktor kestabilan politik, perbaikan keamanan, serta beberapa kemajuan yang dicapai dalam program restrukturisasi ekonomi telah membantu tercapainya kestabilan ekonomi dan moneter selama tahun 2002. Kondisi moneter di sepanjang tahun 2002 cukup stabil dan terkendali, baik dari sisi nilai tukar rupiah, inflasi, maupun jumlah uang beredar, sehingga telah memungkinkan terjadinya penurunan suku bunga secara signifikan. Nilai tukar rupiah secara rata-rata mengalami apresiasi sebesar 10% disertai dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sehingga oleh berbagai pihak serta media massa disebut sebagai the best-performing currency in Asia dalam tahun 2002. Kekhawatiran banyak kalangan bahwa tragedi bom di Bali bulan Oktober yang lalu akan menyebabkan nilai tukar rupiah terpuruk telah berhasil dihindari. Didukung oleh berkurangnya ekspektasi inflasi di kalangan masyarakat, laju inflasi menurun dari 12,55% pada tahun 2001 menjadi 10,03% pada tahun 2002, setelah sebelumnya selama dua tahun berturut-turut mengalami peningkatan. Laju inflasi tahun 2002 ini hanya berada sedikit di atas sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 9% - 10%. Situasi moneter yang stabil telah memberikan ruang gerak bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga secara bertahap. Selama tahun 2002 suku bunga SBI 1 bulan telah turun sebesar 469 basis points, yaitu dari 17,62% pada akhir 2001 menjadi 12,93% pada akhir 2002, diikuti oleh penurunan jenis-jenis suku bunga lainnya. Perkembangan makroekonomi yang positif tersebut telah memberikan harapan bagi percepatan pemulihan ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang. Meskipun belum optimal, iklim yang positif ini telah dimanfaatkan oleh perbankan untuk melakukan restrukturisasi kredit, memperkuat struktur permodalan, dan meningkatkan penyaluran kredit. Secara keseluruhan, selama tahun 2002 bank-bank umum telah menyalurkan kredit baru sebesar Rp79,4 triliun, meningkat dibandingkan dengan jumlah kredit baru selama tahun 2001 sebesar Rp56,8 triliun. Sekitar 41% dari jumlah kredit baru tahun 2002 tersebut disalurkan pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). Perkembangan yang menggembirakan juga terjadi pada perbankan syariah, baik dari sisi jumlah bank dan jaringan kantor cabangnya, maupun dari sisi aset, dana pihak ketiga, dan pembiayaan yang diberikan. Sementara itu, suku bunga simpanan yang menurun telah meningkatkan minat investor terhadap obligasi. Di sektor riil, kondisi moneter yang stabil telah memberikan

xiv

kesempatan kepada dunia usaha untuk melakukan restrukturisasi keuangan secara internal serta membantu masyarakat dalam mempertahankan tingkat konsumsinya. Penurunan suku bunga juga telah mendorong perusahaan bereputasi baik untuk mencari alternatif pembiayaan dari pasar keuangan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sekalipun demikian, masih banyak tantangan yang harus dijawab untuk mewujudkan prospek ekonomi yang lebih baik. Berbagai perkembangan yang terjadi dan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2002 cukup menjanjikan harapan bagi percepatan pemulihan ekonomi di tahun 2003. Namun, aktivitas di sektor riil selama tahun 2002 yang masih berjalan lambat, dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 3,7%, memperlihatkan masih banyaknya tantangan yang harus dihadapi guna mewujudkan harapan itu. Dari sisi eksternal, prospek perekonomian dunia di tahun 2003 secara keseluruhan diperkirakan akan membaik namun disertai oleh meningkatnya ketidakpastian. Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia semakin meningkat dengan bergabungnya Cina ke dalam WTO, munculnya negara-negara pesaing baru di kawasan regional, dan mulai diberlakukannya AFTA pada tahun ini. Dari sisi internal, berbagai permasalahan struktural, khususnya yang terkait dengan penegakan hukum, otonomi daerah, dan ketenagakerjaan, yang tahun lalu telah menyebabkan sektor riil kurang responsif terhadap perbaikan kondisi makroekonomi, tahun ini diperkirakan masih akan membatasi pertumbuhan investasi dan ekspor. Selain itu, tensi sosial-politik menjelang Pemilu 2004 diperkirakan akan meningkat. Berbagai permasalahan eksternal dan internal tersebut diperkirakan akan mempengaruhi upaya optimalisasi fungsi intermediasi perbankan pada khususnya dan pemulihan ekonomi pada umumnya. Di tengah berbagai tantangan yang harus kita hadapi, Bank Indonesia memandang prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2003 secara umum akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Kondisi makroekonomi yang stabil diperkirakan masih terus berlangsung pada tahun ini sehingga dapat menciptakan ekspektasi positif di kalangan pelaku usaha dan mendorong berlanjutnya pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Kenaikan stimulus fiskal dan mulai berjalannya proyek-proyek besar yang selama ini terbengkalai akan memberikan dampak multiplier di berbagai sektor perekonomian. Sekalipun membaik, ruang lingkup pemulihan ekonomi diperkirakan masih terbatas. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan masih bertumpu pada

xv

kegiatan konsumsi. Sementara itu, investasi dan ekspor diperkirakan mulai tumbuh positif tetapi tidak terlalu signifikan. Dalam situasi demikian, pertumbuhan ekonomi tahun 2003 diprakirakan pada kisaran 3,5% - 4,0%. Nuansa optimisme dalam melihat prospek ekonomi ke depan juga diperlihatkan oleh kalangan perbankan nasional sebagaimana terlihat pada rencana sebagian besar bank untuk meningkatkan ekspansi kredit dalam tahun 2003. Namun, perbankan tampaknya masih akan dihadapkan pada pilihan pasar yang terbatas mengingat kinerja sektor korporasi belum banyak yang dapat diharapkan. Solusi yang tersedia adalah dengan memanfaatkan bisnis kecil dan menengah (UKM) sebagai fokus pertumbuhan kredit. Guna memanfaatkan peluang tersebut, perbankan nasional telah merencanakan untuk meningkatkan plafon kredit baru pada sektor UKM, yaitu dari sebesar Rp30,89 triliun pada tahun 2002 menjadi Rp42,3 triliun pada tahun 2003. Kestabilan moneter diperkirakan dapat terus berlanjut dalam tahun 2003. Nilai tukar rupiah diprakirakan masih dapat menguat dan bergerak stabil pada kisaran Rp8.800 -Rp9.200 per dolar Amerika Serikat. Secara fundamental, kestabilan nilai tukar rupiah tersebut antara lain didukung oleh kondisi neraca pembayaran yang diperkirakan masih akan mengalami surplus. Sekalipun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap kestabilan nilai tukar, yaitu meningkatnya suhu politik menjelang Pemilu 2004 dan kemungkinan melemahnya mata uang regional akibat flight to safety jika terjadi serangan Amerika Serikat ke Irak. Sementara itu, tekanan inflasi di tahun 2003 diprakirakan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh relatif menguatnya nilai tukar rupiah dan menurunnya ekspektasi inflasi di kalangan masyarakat. Sumber utama inflasi tahun 2003 diprakirakan masih berasal dari dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Untuk memperkuat kestabilan makroekonomi, Bank Indonesia akan mengupayakan penurunan laju inflasi secara gradual sesuai dengan sasaran inflasi jangka menengah sebesar 6% - 7% pada tahun 2006. Komitmen pada upaya pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ini sangat diperlukan untuk mendukung penurunan ekspektasi inflasi masyarakat. Sejalan dengan prospek makroekonomi tahun 2003 dan sasaran inflasi jangka menengah tersebut, Dewan Gubernur Bank Indonesia telah menetapkan sasaran inflasi untuk tahun 2003 sebesar 9% dengan deviasi

xvi

sebesar satu angka persentase. Pertumbuhan uang primer yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut diperkirakan rata-rata sekitar 13%. Dalam hal ini, penurunan suku bunga diperkirakan masih dimungkinkan sepanjang tidak mengganggu kestabilan nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi. Untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi, Bank Indonesia akan berupaya secara konsisten menempuh kebijakan-kebijakan yang diperlukan, baik di bidang moneter, perbankan, maupun sistem pembayaran. Demikianlah sekelumit gambaran kinerja ekonomi Indonesia di tahun 2002 serta prospek ekonomi dan arah kebijakan Bank Indonesia di tahun 2003 yang uraiannya secara panjang lebar terdapat di dalam laporan ini. Semoga laporan ini dapat menjadi bahan referensi yang bermanfaat bagi para pembaca. Akhir kata, saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan dan karyawan Bank Indonesia yang selama tahun 2002 yang lalu telah bekerja keras secara profesional dalam mengemban amanat Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada berbagai pihak di luar Bank Indonesia yang selama ini telah memberikan bantuan dan kerja sama yang tulus kepada Bank Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah selalu melimpahkan ridha-Nya dan memberikan kemudahan kepada kita semua dalam melangkah menuju ke masa depan yang lebih baik. Jakarta, Februari 2003 GUBERNUR BANK INDONESIA

Syahril Sabirin

xvii

Bab 1: Tinjauan Umum

BAB

laporan tahunan

1 Tinjauan Umum

Tinjauan Umum

1

B Tinjauan Umum A B

1
2002,

TINJAUAN UMUM

S

Kondisi moneter yang stabil selama 2002 telah menyebabkan tingkat inf lasi IHK mengalami kecender ungan yang menur un hingga mencapai 10,03%, sedikit di atas sasaran inflasi yang telah ditetapkan 9%-10%.
elama secara Indonesia umum kondisi tumbuh sebesar 9,1% lebih rendah dari sasaran indikatifnya sebesar 13%-14%. Kondisi moneter yang stabil tersebut telah menyebabkan tingkat inflasi IHK selama 2002 mengalami kecenderungan yang menurun hingga mencapai 10,03%, sedikit di atas sasaran inflasi yang telah ditetapkan 9%-10%. Menurunnya tekanan inflasi selama tahun laporan juga tercermin dari kecenderungan inflasi inti1 yang menurun hingga mencapai 6,96%. Kecenderungan penurunan inflasi ini konsisten dengan proses disinflasi yang telah ditetapkan Bank Indonesia (BI) dengan sasaran inflasi jangka menengah sebesar 6%-7% pada 2006. Membaiknya kondisi moneter yang terjadi selama 2002 telah memberikan iklim yang positif bagi perekonomian seperti yang tercermin dari membaiknya ekspektasi dunia usaha terhadap proses pemulihan ekonomi. Iklim yang positif ini juga dimanfaatkan oleh perbankan untuk memperbaiki kondisi internalnya melalui restrukturisasi kredit dan penguatan struktur permodalan sehingga mampu meningkatkan ekspansi kredit perbankan walaupun belum seperti yang diharapkan. Di sektor dunia usaha, penurunan suku bunga secara umum telah memberikan optimisme
1 Inflasi inti dihitung dengan pendekatan exclusion, yaitu dengan mengeluarkan barang-barang yang tergolong dalam administered price dan volatile food dari keranjang IHK. Volatile food adalah barangbarang dalam keranjang IHK yang pergerakan harganya sangat berfluktuasi, antara lain : beras, daging ayam ras, daging sapi, lombok merah, lombok rawit, minyak goreng.

perekonomian

menunjukkan

perkembangan positif yang ditandai dengan semakin stabilnya kondisi makroekonomi. Kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten didukung oleh beberapa kemajuan yang dicapai dalam restrukturisasi ekonomi telah membantu tercapainya kestabilan ekonomi dan moneter selama tahun laporan. Nilai tukar menguat secara signifikan dengan pergerakan yang stabil, uang primer terkendali berada di bawah sasaran indikatifnya, sementara agregat moneter lainnya, M1 dan M2, mengalami pertumbuhan walaupun melambat. Perkembangan positif ini telah mendorong penurunan tingkat inflasi, setelah selama dua tahun berturut-turut mengalami peningkatan. Membaiknya prospek inflasi, terkendalinya uang primer, serta perkembangan nilai tukar yang stabil dan cenderung menguat tersebut telah memberikan ruang gerak bagi kebijakan moneter untuk secara bertahap dan konsisten menurunkan suku bunga dalam rangka memberikan sinyal yang positif bagi proses pemulihan ekonomi. Secara keseluruhan tahun, suku bunga SBI mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 17,62% menjadi 12,93%. Nilai tukar mengalami apresiasi secara signifikan sebesar 10,10% sehingga mencapai rata-rata Rp9.316 per dolar. Uang primer

2

Tinjauan Umum

pelaku usaha akan prospek pemulihan ekonomi dan memberikan kesempatan kepada sektor korporat untuk melakukan restrukturisasi keuangan. Ditengah masih terbatasnya pembiayaan dari perbankan, kondisi tersebut telah memberikan peluang yang lebih luas bagi perusahaan dengan reputasi baik untuk memperoleh alternatif pembiayaan melalui penerbitan obligasi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Sementara itu, di sektor rumah tangga, penurunan suku bunga tersebut telah mendorong peningkatan konsumsi. Namun demikian, keberhasilan dalam mencapai berbagai perbaikan indikator makro dan moneter masih dihadapkan pada permasalahan struktural sehingga perekonomian Indonesia tidak terlalu responsif terhadap perbaikan yang telah dicapai. Tingginya risiko di sektor riil yang ditimbulkan oleh permasalahan struktural, seperti ketidakpastian hukum, ketidakpastian regulasi investasi akibat otonomi daerah, masalah perburuhan, dan faktor keamanan menyebabkan sumber-sumber

pemerintah), secara umum Neraca Pembayaran Indonesia mengalami perbaikan selama 2002. Ke depan, prospek pemulihan ekonomi Indonesia 2003 diprakirakan akan sedikit membaik dengan pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 3,5%-4,0%, walaupun berbagai risiko dan ketidakpastian di dalam negeri terutama menjelang dilangsungkannya Pemilu 2004 perlu terus diwaspadai. Masih lemahnya perekonomian global dan persepsi negatif masyarakat internasional terhadap keamanan Indonesia akan memberikan tekanan pada ekspor dan arus modal dari luar negeri akan membatasi investasi Indonesia. Dengan demikian, prospek ekonomi Indonesia 2003 diprakirakan masih tergantung pada kinerja konsumsi. Ketergantungan pertumbuhan ekonomi yang semakin besar terhadap konsumsi yang telah berlangsung sejak krisis tentu saja kurang menggembirakan mengingat pertumbuhan seperti ini tidak menjamin pertumbuhan yang berkesinambungan (sustainable). Oleh sebab itu, berbagai upaya perlu dilakukan untuk terus memperbaiki iklim investasi dan ekspor melalui serangkaian langkah mengatasi berbagai permasalahan mendasar, baik melalui kebijakan struktural yang dapat menciptakan insentif seperti kebijakan perpajakan, perburuhan dan keamanan, maupun dari segi pembiayaan. Laju inflasi pada 2003 diprakirakan sedikit mengalami penurunan. Dari sisi permintaan, tekanan inflasi diprakirakan tidak terlalu signifikan seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih moderat. Sementara itu, tekanan inflasi yang bersumber dari passthrough nilai tukar diprakirakan juga tidak terlalu kuat seiring dengan menguatnya nilai tukar dibanding

pertumbuhan ekonomi yang berasal dari investasi dan ekspor masih terbatas. Dengan adanya permasalahan struktural tersebut di atas, secara keseluruhan selama 2002 perekonomian Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 3,7% dan masih bertumpu pada konsumsi, sementara peranan investasi dan ekspor dalam mendorong pertumbuhan masih terbatas. Di sisi eksternal, masih lemahnya perekonomian global, meningkatnya persaingan di Asia dalam menarik minat investasi asing, dan mulai menurunnya daya saing Indonesia memperburuk kinerja ekspor. Walaupun demikian, dengan keberhasilan

restrukturisasi utang luar negeri (swasta dan

3

Tinjauan Umum

tahun 2002 walaupun risiko melemahnya rupiah menjelang diselenggarakannya Pemilu tetap harus diwaspadai. Di sisi lain, tekanan inflasi yang bersumber dari dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diprakirakan masih relatif tinggi walaupun lebih rendah dibanding tahuntahun sebelumnya. Dengan memperhatikan prakiraanprakiraan tersebut di atas, BI menetapkan sasaran inflasi IHK yang dipandang cukup realistis yang sesuai dengan kondisi perekonomian pada 2003, yaitu sebesar 9% dengan deviasi sebesar 1%. Untuk mencapai sasaran laju inflasi tersebut, kebijakan moneter BI diarahkan pada upaya pengendalian uang primer dengan fokus pada penyerapan kelebihan likuiditas perbankan agar tetap sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Dalam

produksi dan investasi di sektor riil yang sangat diperlukan untuk memperbaiki struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara itu, kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan pada upaya peningkatan efisiensi, efektivitas serta keamanan sistem pembayaran guna mendorong terwujudnya sistem pembayaran yang aman dan efisien serta menjaga stabilitas sistem keuangan dari kemungkinan terjadinya kegagalan sistemik.

EVALUASI PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2002 Kondisi Ekonomi Makro Bersamaan dengan membaiknya indikatorindikator makro moneter seperti nilai tukar, inflasi, dan suku bunga, perekonomian Indonesia selama 2002

Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,7% dengan konsumsi masih menjadi motor pertumbuhan.
kaitan ini, BI menetapkan sasaran pertumbuhan uang primer sebesar 13%. Pencapaian sasaran uang primer tersebut diprakirakan masih dapat membawa suku bunga untuk cenderung menurun mengingat masih longgarnya likuiditas perbankan. Secara operasional, pengendalian moneter akan dilakukan dengan mengoptimalkan instrumen-instrumen moneter yang tersedia khususnya melalui operasi pasar terbuka (OPT) dan sterilisasi valas untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. Di bidang perbankan, kebijakan BI akan diarahkan pada upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan, memperbaiki secara umum masih mengindikasikan berlangsungnya proses pemulihan ekonomi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi hanya mampu mencapai 3,7% disertai dengan belum seimbangnya struktur pertumbuhan ekonomi. Ketidakseimbangan struktur pertumbuhan ekonomi tersebut tercermin dari masih besarnya ketergantungan pertumbuhan ekonomi pada konsumsi (Tabel 1.1). Lebih dari itu, kinerja ekspor dan investasi yang semula diprakirakan membaik justru mengalami kontraksi selama tahun laporan. Sejalan dengan perkembangan tersebut, impor juga mengalami penurunan secara tajam, terutama impor bahan baku dan barang modal. Di bidang tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi yang moderat tersebut diprakirakan hanya mampu menampung tenaga kerja

infrastruktur sistem perbankan, serta upaya untuk tetap mempercepat pemulihan fungsi intermediasi perbankan, dalam rangka mendorong kegiatan

4

Tinjauan Umum

(Persen) Tabel 1.1 Beberapa Indikator Makroekonomi Rincian
Produk Domestik Bruto Menurut Pengeluaran Konsumsi Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Menurut Lapangan Usaha Pertanian Industri pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Agregat Moneter Pertumbuhan M2 - Rata-Rata - Akhir Periode Pertumbuhan M1 - Rata-Rata - Akhir Periode Pertumbuhan Uang Primer - Rata-Rata (test date) - Akhir Periode Suku Bunga SBI (1 bulan) PUAB (overnight) Deposito (1 bulan) Kredit Modal Kerja Kredit Investasi Inflasi Neraca Pembayaran Transaksi Berjalan/PDB DSR Cadangan Devisa Setara Impor Nonmigas Rata-Rata Nilai Tukar (Rp/$)
Sumber: - BPS - Bank Indonesia

justru menunjukkan kinerja yang membaik dibanding tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga selama

2000
4,9

2001
3,4*

2002
3,7**

2002 mengalami pertumbuhan sebesar 4,7% sedangkan konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 12,8%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini

3,9 3,6 6,5 13,8 26,5 21,1

4,8 4,4 9,0 7,7 1,9 8,1

5,5 4,7 12,8 -0,2 -1,2 -8,3

antara lain didorong oleh kenaikan upah minimum yang cukup signifikan di awal tahun dan meningkatnya pembiayaan konsumen baik yang disediakan oleh perbankan maupun lembaga pembiayaan bukan bank. Di sisi konsumsi pemerintah, pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut terutama didorong oleh menurunnya beban subsidi pemerintah sehingga memungkinkan peningkatan pengeluaran konsumsi. Dari jumlah pengeluaran konsumsi tersebut,

1,9 6,0 7,6 5,7 8,6 4,6

1,0 4,1 7,7 5,3 7,3 3,4

1,7 4,0 6,2 3,6 7,8 5,6

9,88 15,60

14,74 12,99

8,05 4,72

sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai dan pengeluaran rutin daerah.

22,67 30,13

19,76 9,59

9,85 7,99

Sementara itu, investasi yang diprakirakan akan membaik pada paro kedua 2002 ternyata masih menunjukkan kecenderungan yang kurang

18,62 22,28

17,85 9,47

9,06 5,97

14,53 14,22 11,96 17,65 16,86 9,35

17,62 15,90 16,07 19,19 17,90 12,55

12,93 12,42 12,81 18,25 17,82 10,03

menggembirakan sehingga secara keseluruhan justru mengalami kontraksi sebesar 0,2%, jauh lebih rendah dari tahun 2001 (7,7%) dan 2000 (13,8%). Melambatnya pertumbuhan investasi ini konsisten dengan melemahnya aktivitas konstruksi dan menurunnya impor bahan baku dan barang-barang modal seperti mesin dan peralatan. Memburuknya pertumbuhan investasi juga diindikasikan dari menurunnya nilai persetujuan investasi, baik PMA

5 41 6 8.403

4,7 39,7 6,1 10.255

4,0 32,2 6,4 9.316

sebesar 0,8 juta dari penambahan angkatan kerja baru sebesar 1,7 juta selama 2002, sehingga jumlah pengangguran terbuka mencapai 9,1 juta dengan tingkat pengangguran terbuka sekitar 9,1%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi yang semula diprakirakan mengalami perlambatan

maupun PMDN, yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 35,3% dan 57,0%. Dari sisi pembiayaan, melemahnya investasi tercermin dari masih terbatasnya kredit investasi bank. Di sisi eksternal, ekspor mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1,2% yang jauh lebih rendah dibandingkan

5

Tinjauan Umum

dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 1,9%. Rendahnya kinerja investasi dan ekspor tersebut tidak terlepas dari masih tingginya risiko investasi yang memperburuk daya saing

dari meningkatnya jumlah penumpang maskapai penerbangan udara sebagai akibat turunnya tarif penerbangan. Untuk subsektor komunikasi, kegiatan yang menyumbang pada pertumbuhan adalah investasi perusahaan telepon swasta dan operator telepon seluler. Sektor perdagangan, hotel dan restoran masih memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi, walaupun mengalami perlambatan pertumbuhan (3,6%) terutama akibat terjadinya tragedi Bali yang mengganggu kinerja subsektor hotel dan restoran menjelang akhir tahun. Sektor pertanian mengalami peningkatan

perekonomian Indonesia terkait dengan berbagai masalah struktural yang masih ada. Di samping itu, kinerja investasi dan ekspor diperburuk oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah, semakin tajamnya persaingan global, dan regional serta masih berlangsungnya proteksionisme di beberapa negara. Sejalan dengan masih lemahnya investasi dan ekspor, impor juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar 8,3%. Dari sisi produksi, seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan yang positif, dengan sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor listrik, gas dan air bersih menunjukkan pertumbuhan tertinggi, masing-masing sebesar 7,8% dan 6,2%. Dilihat dari sumbangan terhadap pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi 2002 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Walaupun pertumbuhan sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar, namun selama 2002 pertumbuhan sektor ini sedikit mengalami

pertumbuhan. Membaiknya kinerja sektor ini terutama didukung oleh meningkatnya produktivitas dan perluasan lahan pertanian. Sementara itu, gejala El Nino yang semula diperkirakan memberikan dampak negatif ternyata tidak terjadi. Di bidang fiskal, pelaksanaan keuangan pemerintah selama 2002 masih mencerminkan langkah-langkah konsolidasi pemerintah untuk menjamin kesinambungan fiskal jangka menengah. Meskipun demikian, penurunan defisit lebih cepat dari rencana semula, terutama karena sangat rendahnya realisasi pengeluaran pembangunan. Defisit keuangan pemerintah tercatat sebesar 1,7% dari PDB, lebih rendah dari rencana semula sebesar 2,5% dari PDB. Di sisi pendapatan, tax ratio hanya akan mencapai 12,7% dari PDB terutama karena tidak tercapainya tar-

perlambatan, yaitu tumbuh sebesar 4,0%, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 4,1%. Sektor pengangkutan dan komunikasi

get penerimaan PPh nonmigas dan PPN. Meskipun demikian, tekanan dari sisi perpajakan ini dapat diimbangi oleh lebih tingginya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terutama dari sektor migas sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia. Secara keseluruhan pendapatan negara tercatat 18,0% dari

merupakan salah satu sektor yang juga terkena dampak langsung dari tragedi Bali, walaupun sampai akhir tahun laporan sektor ini masih tumbuh cukup tinggi. Tingginya pertumbuhan tersebut terutama berasal dari Subsektor Pengangkutan yang tercermin

6

Tinjauan Umum

PDB atau relatif sama dengan target semula. Di sisi belanja negara, realisasi pengeluaran rutin berada di bawah target meskipun beban pembayaran bunga utang dalam negeri melampaui target karena perkembangan suku bunga domestik yang lebih tinggi dari asumsi APBN. Realisasi pengeluaran pembangunan berada di bawah target karena rendahnya tingkat penyerapan pinjaman luar negeri khususnya pinjaman proyek. Sementara itu, realisasi anggaran belanja untuk daerah relatif tidak mengalami hambatan yang berarti dan berjalan sesuai dengan target. Secara keseluruhan, realisasi belanja negara tercatat 19,7% dari PDB, atau lebih rendah 4,7% dari target semula. Dalam kaitannya dengan dampak pengeluaran pemerintah terhadap perekonomian, pemerintah masih terus melakukan stimulus fiskal pada tingkat yang relatif sama dengan tahun lalu yaitu sekitar 11, 8% terhadap PDB dimana 7,0% dari PDB diantaranya dalam bentuk konsumsi dan 4,8% dari PDB dalam bentuk investasi. Di sisi lain pembayaran transfer turun secara signifikan yang dicapai melalui pengurangan subsidi dari 5,2% menjadi 2,4% dari PDB. Dari sisi moneter, perkembangan pengeluaran rupiah pemerintah cukup kondusif dalam mendukung operasi pengendalian moneter. Ekspansi rupiah bersih pemerintah turun dibanding tahun lalu dari Rp32,2 triliun menjadi sekitar Rp19,5 triliun. Seluruh jumlah ini diperkirakan akan dapat diserap oleh BI mengingat pada periode yang sama terjadi aliran devisa masuk bersih dari sektor pemerintah setara Rp24,3 triliun. Di sektor eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan kinerja yang membaik, yang

ditunjang oleh meningkatnya surplus transaksi berjalan dan menurunnya defisit neraca modal. Membaiknya transaksi berjalan terutama didukung oleh

meningkatnya kinerja ekspor. Sementara itu, membaiknya kinerja neraca modal terutama disebabkan oleh keberhasilan dalam merestrukturisasi utang luar negeri. Walaupun ekspor telah menunjukan kinerja membaik, namun dengan masih adanya berbagai kendala menyebabkan kinerja ekspor belum seperti yang diharapkan. Mulai menurunnya daya saing ekspor Indonesia dan masih lemahnya perekonomian dunia serta semakin tajamnya persaingan global

menyebabkan kinerja ekspor barang dan jasa masih terbatas. Rendahnya daya saing tersebut tercermin dari menurunnya pangsa ekspor Indonesia di negaranegara tujuan ekspor, sementara negara pesaing seperti Cina menunjukkan peningkatan pangsa. Dari dalam negeri, ekspor masih menghadapi kendala terkait dengan masalah keamanan dan perburuhan yang menyebabkan terjadinya relokasi usaha sejumlah perusahaan. Sebagai akibatnya, selama tahun laporan kinerja ekspor nonmigas hanya mampu mencapai $45,3 miliar atau tumbuh1,0% dan ekspor migas mencapai $12,7 miliar atau tumbuh 1,3%. Impor secara keseluruhan mengalami peningkatan sebesar 0,5% sehingga menjadi $34,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama berasal dari impor migas yang tumbuh sebesar 15,0%, sementara impor nonmigas mengalami penurunan sebesar 2,4%. Defisit transaksi jasa-jasa pada 2002 mencapai $15,9 miliar tidak jauh berbeda dengan defisit pada 2001 sebesar $15,8 miliar. Peristiwa tragedi Bali yang diprakirakan akan menurunkan arus masuk turis dapat

7

Tinjauan Umum

diimbangi oleh menurunnya pembayaran bunga utang luar negeri dan menurunnya pembayaran jasa sektor minyak sejalan dengan menurunnya volume produksi minyak. Secara keseluruhan, surplus transaksi berjalan tahun 2002 diprakirakan mencapai $7,3 miliar (3,9% dari PDB) lebih tinggi dari surplus tahun sebelumnya sebesar $6,9 miliar (4,7% dari PDB). Dari sisi neraca modal, kinerja transaksi modal membaik dengan adanya penjadwalan dan

sampai dengan akhir 2002 menjadi $31,6 miliar atau setara dengan 6,6 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.

Nilai Tukar dan Inflasi Secara umum, nilai tukar rupiah selama tahun laporan mengalami apresiasi disertai dengan menurunnya volatilitas. Perkembangan ini selain ditunjang oleh membaiknya faktor fundamental, faktor regional, dan faktor sentimen, juga tidak terlepas dari intervensi BI dalam menjaga agar nilai tukar tidak terlalu berfluktuasi. Secara keseluruhan, rata-rata nilai tukar rupiah mengalami apresiasi sekitar 10,10% dari tahun sebelumnya, yaitu dari Rp10.255 per dolar menjadi Rp9.316 per dolar atau secara point-to-point mengalami apresiasi sebesar 16,2%, yaitu dari Rp10.400 per dolar menjadi Rp8.950 per dolar pada akhir 2002. Dari sisi fundamental apresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh membaiknya neraca pembayaran dari defisit menjadi surplus. Dari sisi sentimen pasar, menguatnya nilai tukar rupiah juga ditunjang oleh menguatnya sentimen positif pasar yang didorong oleh keberhasilan penjadualan utang, persetujuan pencairan pinjaman IMF, perbaikan peringkat utang Indonesia oleh Fitch dan Standard and Poor, dan terlaksananya beberapa program privatisasi dan divestasi BCA dan Bank Niaga. Menguatnya sentimen positif ini tercermin juga dari menurunnya tingkat premi swap untuk semua tenor. Premi swap untuk 1 bulan yang pada akhir 2001 sebesar 16,8% mengalami penurunan hingga 12,5% pada akhir 2002. Sementara itu, melemahnya bursa Amerika sehubungan dengan berbagai skandal keuangan yang melibatkan

restrukturisasi utang serta tambahan arus modal masuk sektor swasta. Keberhasilan pemerintah dalam penjadwalan kembali utang melalui Paris Club dan London Club memberikan kontribusi positif pada menurunnya defisit neraca modal pemerintah, yaitu sebesar $0,6 miliar. Sementara itu, defisit neraca modal swasta mengalami perbaikan secara signifikan sejalan dengan berhasilnya restrukturisasi utang dan meningkatnya arus modal masuk sebagai hasil privatisasi dan divestasi. Arus modal masuk juga diperoleh dari mulai maraknya akses pinjaman melalui pasar obligasi internasional dari perusahaan domestik dengan reputasi yang bagus. Perkembangan yang positif ini menyebabkan defisit transaksi modal swasta turun menjadi $3,0 miliar, lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya sebesar $8,3 miliar. Dengan demikian, arus modal secara keseluruhan mengalami penurunan defisit menjadi $3,6 miliar, jauh berkurang dibandingkan dengan $9,0 miliar pada tahun sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia mengalami surplus sebesar $3,6 miliar, membaik dari tahun sebelumnya yang mengalami defisit sebesar $1,38 miliar. Perkembangan neraca pembayaran ini menyebabkan posisi cadangan devisa

8

Tinjauan Umum

beberapa perusahaan besar di Amerika dan menurunnya Fed Fund rate sebesar 50 bp mendorong melemahnya US dolar terhadap Yen yang kemudian berimbas pada sejumlah mata uang regional, termasuk rupiah. Menguatnya nilai tukar rupiah secara signifikan selama tahun laporan dan permintaan yang belum memberikan tekanan signifikan, telah memberikan dampak positif pada perkembangan inflasi yang menunjukkan kecenderungan menurun, tercermin

kecenderungan meningkatnya tekanan depresiasi rupiah; dan faktor musiman sehubungan dengan perayaan hari keagamaan.

Kebijakan dan Perkembangan Moneter Kebijakan Moneter Pada awal 2002, dengan mempertimbangkan bahwa tekanan inflasi yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh kebijakan pemerintah di bidang harga (cost push) dan ekspektasi inflasi, kebijakan moneter selama 2002

Menguatnya nilai tukar dan masih melemahnya permintaan agregat menyebabkan inflasi cenderung menurun.
baik dari perilaku inflasi IHK maupun inflasi inti. Secara keseluruhan, inflasi IHK selama 2002 mengalami penurunan menjadi sebesar 10,03%, lebih rendah dibanding 2001 yaitu sebesar 12,55%, sedangkan inflasi inti sebesar 6,96% dibandingkan 10,04% pada tahun sebelumnya. Tekanan inflasi IHK tersebut antara lain bersumber dari dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 3,31%, lebih rendah diarahkan pada upaya penyerapan ekses likuiditas perbankan dengan tetap memperhatikan perkembangan suku bunga yang terjadi agar tetap dapat memberikan sinyal yang kondusif bagi perbaikan sisi penawaran di sektor riil. Secara operasional, strategi kebijakan moneter ini ditempuh dengan mengoptimalkan instrumen moneter yang tersedia, khususnya OPT dan sterilisasi valas, sehingga penyerapan kelebihan likuiditas dapat berlangsung dengan suku bunga SBI yang cenderung menurun. Strategi ini ditempuh sepanjang tidak menimbulkan tekanan inflasi ke depan yang dapat mengakibatkan inflasi melampaui kisaran target yang telah ditetapkan. Dalam perjalanannya, kondisi moneter sejak awal 2002 terus menunjukkan perkembangan yang positif. Perkembangan uang primer menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dan berada pada level di bawah target indikatif yang ditetapkan, sementara nilai tukar cenderung stabil dan menguat, sehingga mengurangi tekanan inflasi. Kondisi ini telah memberikan ruang gerak bagi BI untuk menurunkan suku bunga secara

dibandingkan 3,83% pada tahun sebelumnya. Di samping itu, tekanan inflasi juga berasal dari gejolak suplai terutama menurunnya pasokan bahan makanan dan gangguan distribusi barang akibat banjir yang terjadi di awal tahun. Faktor lainnya yang menjadi determinan inflasi adalah menurunnya ekspektasi inflasi. Walaupun secara umum ekspektasi masyarakat terhadap inflasi cenderung membaik seperti yang tercermin dari survei yang dilakukan, namun sejak triwulan III-2002 ekspektasi inflasi mengalami peningkatan, terutama dipicu oleh kebijakan pemerintah di bidang harga, seperti BBM;

9

Tinjauan Umum

bertahap dengan tetap memperhatikan perkembangan suku bunga riil dan perbedaan suku bunga dengan luar negeri (interest rate differential). Kebijakan penurunan suku bunga ini dilakukan untuk terus berupaya memberikan stimulus perekonomian melalui pemulihan intermediasi dan peningkatan ekspektasi pelaku usaha terhadap membaiknya prospek pemulihan ekonomi (confidence channel). Strategi ini diharapkan mendorong pelaku usaha untuk melakukan restrukturisasi keuangannya dan memanfaatkan sumber-sumber pendanaan yang tersedia baik melalui perbankan maupun pasar modal guna meningkatkan penggunaan dan kapasitas produksinya. Dalam pelaksanaannya, strategi ini dilakukan dengan terus melihat perkembangan inflasi, nilai tukar, uang primer, dan suku bunga riil dari triwulan ke triwulan. Pada triwulan I-2002, dengan melihat tingginya angka uang primer pada akhir 2001 dan perkiraan akan masuknya kembali uang kartal ke dalam sistem perbankan setelah perayaan hari besar keagamaan, BI berupaya melakukan penyerapan likuditas perbankan melalui kombinasi instrumen OPT dan sterilisasi valas agar uang primer kembali pada tingkat di bawah target indikatifnya. Adanya kelebihan likuditas yang sangat tinggi di perbankan di awal tahun menyebabkan penyerapan ini berhasil dilakukan sekaligus menurunkan suku bunga SBI sebesar 86 bp hingga mencapai 16,76% pada akhir triwulan pertama. Suku bunga fasilitas simpanan BI (FASBI) yang tidak mengalami perubahan dalam periode ini, menunjukkan kehati-hatian sebelum dipastikannya bahwa perkembangan ini tidak membahayakan inflasi dan nilai tukar. Pada triwulan II dan III-2002, terus berlanjutnya

kecenderungan menguatnya nilai tukar dan menurunnya inflasi serta perkembangan uang primer di bawah sasarannya memberikan ruang gerak pada BI untuk memperkuat sinyal penurunan suku bunga (accommodative policy). Sinyal ini dilakukan melalui penurunan suku bunga FASBI sebanyak empat kali dari 15,13% menjadi 12,63% atau 250 bp selama periode ini. Penurunan suku bunga FASBI ini terus mendorong penurunan suku bunga SBI hingga mencapai 13,22% pada akhir triwulan III-2002. Pada triwulan IV-2002, strategi kebijakan moneter sedikit mengalami perubahan dari strategi yang akomodatif menjadi lebih netral (neutral bias). Perubahan ini didasari oleh mulai meningkatnya ekspektasi inflasi sehubungan dengan agak melemahnya nilai tukar pasca terjadinya tragedi Bali serta sudah cukup rendahnya suku bunga SBI dalam menjaga tingkat inflasi ke depan yang konsisten dengan pencapaian target inflasi jangka menengah. Namun dalam kenyataannya dampak tragedi Bali tersebut terhadap nilai tukar tidak berlangsung lama dan tidak seburuk yang diprakirakan bahkan nilai tukar rupiah mengalami penguatan kembali. Membaiknya nilai tukar rupiah ditambah dengan menurunnya prospek inflasi ke depan mendorong BI untuk menurunkan suku bunga FASBI sebesar 50 bp untuk seluruh tenor pada akhir bulan November. Secara keseluruhan, kebijakan moneter selama 2002 tersebut telah mendorong penurunan suku bunga SBI 1 dan 3 bulan sebesar 469 bp dan 451 bp untuk hingga masing-masing mencapai 12,93% dan 13,12% pada akhir Desember 2002. Membaiknya perkembangan inflasi dan nilai tukar selama 2002 telah mendorong ekspektasi positif masyarakat terhadap penurunan inflasi dan kestabilan moneter yang kemudian mendorong

10

Tinjauan Umum

mereka menurunkan permintaan uang kartal untuk berjaga-jaga (precautionary demand motive). Di samping itu, menurunnya permintaan uang kartal untuk motif ini didorong oleh membaiknya kondisi sosial politik pada 2002. Menurunnya pertumbuhan uang kartal ini menjadi penyebab utama menurunnya pertumbuhan uang primer selama tahun laporan. Secara rata-rata, pertumbuhan uang primer mencapai 9,06%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17,85% dan berada di bawah sasaran indikatifnya sebesar 13%-14%. Seiring dengan menurunnya pertumbuhan uang primer, M1 dan M2 juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 9,85% dan 8,05%, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, masing-masing sebesar

bunga simpanan ini juga terkait dengan penurunan suku bunga maksimum penjaminan sebesar 355 bp yang diantaranya disebabkan oleh penurunan margin suku bunga penjaminan sebesar 200 bp. Sejalan dengan menurunnya suku bunga deposito nominal tersebut, suku bunga deposito riil juga mengalami penurunan hingga mencapai 2,78%. Pergerakan suku bunga deposito riil yang turun secara signifikan ini telah mendorong permintaan agregat melalui konsumsi. Strategi penurunan suku bunga yang dilakukan pada saat menguatnya nilai tukar ini telah memberikan sinyal positif bagi perekonomian riil melalui membaiknya persepsi investor sebagaimana yang tercermin dari menurunnya premi risiko dan persepsi yang tertangkap dari survei-survei yang

Menurunnya suku bunga SBI telah mendorong penurunan suku bunga deposito, namun belum mampu sepenuhnya mendorong penurunan suku bunga kredit.
19,76% dan 14,74%. Transmisi Kebijakan Moneter Secara umum, kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Penurunan suku bunga simpanan direspon suku bunga kredit secara berbeda-beda. Suku bunga kredit modal kerja mengalami penurunan sebesar 94 bp menjadi 18,25% yang terjadi sejak triwulan II seiring dengan menurunnya suku bunga instrumen moneter. Suku bunga kredit investasi yang sejak awal 2002 masih menunjukkan peningkatan, sejak Oktober mulai menunjukkan sedikit penurunan yang mencerminkan adanya time lag dalam merespon penurunan suku bunga instrumen moneter. Masih lambatnya penurunan suku bunga kredit investasi ini juga disebabkan masih tingginya persepsi risiko perbankan terhadap penyaluran kredit yang bersifat jangka panjang ini yang menyebabkan perbankan belum bisa optimal dalam

akomodatif berupa penurunan suku bunga instrumen moneter telah berhasil mendorong penurunan suku bunga simpanan, sementara suku bunga kredit belum mengalami perubahan sebagaimana yang diharapkan. Penurunan suku bunga instrumen mendorong penurunan suku bunga PUAB dalam level yang cukup signifikan. Penurunan itu juga diikuti oleh pergerakan suku bunga simpanan perbankan yang juga menurun, meskipun laju penurunannya tidak setajam laju penurunan suku bunga SBI. Suku bunga rata-rata tertimbang deposito 1 bulan mengalami penurunan sebesar 326 bp hingga tercatat pada posisi 12,81%. Dalam pada itu, penurunan suku

11

Tinjauan Umum

menyalurkan kredit investasi seperti tercermin pada pertumbuhan kredit investasi yang rendah. Di sisi permintaan, rendahnya pertumbuhan kredit investasi juga mencerminkan masih tingginya risiko yang dihadapi dunia usaha. Sementara suku bunga kredit konsumsi justru mengalami peningkatan sebesar 36 bp dari 19,85% menjadi 20,21%. Namun demikian volume kredit konsumsi tetap meningkat cukup signifikan pada akhir periode laporan yang antara lain mencerminkan adanya reorientasi kredit perbankan dari sektor korporat ke sektor ritel. Walaupun dampak penurunan suku bunga terhadap sektor riil melalui jalur kredit perbankan belum sebagaimana yang diharapkan, namun kebijakan ini telah memberikan dampak positif melalui jalur harga aset, yaitu pada tingkat tertentu telah terjadi pergeseran sumber pembiayaan dari perbankan kepada obligasi. Di tengah-tengah menurunnya suku bunga deposito dan keterbatasan pembiayaan kredit jangka panjang, sektor korporasi yang memiliki reputasi baik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menerbitkan obligasi. Di sisi penempatan dana oleh nasabah, menurunnya suku bunga simpanan perbankan tersebut menyebabkan obligasi dan reksa dana menjadi alternatif penempatan dana yang menarik.

penjaminan meskipun secara bertahap cakupan penjaminannya akan dikurangi. Sedangkan terhadap program rekapitalisasi bank dan restrukturisasi kredit yang telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir, BI terus melakukan pemantauan perkembangannya. Dalam program pemantapan sistem perbankan, upaya perbaikan infrastruktur perbankan, peningkatan mutu pengelolaan perbankan dan penyempurnaan aturan prudensial terus dilakukan. Salah satu prioritas dalam memperbaiki infrastruktur perbankan yang sangat krusial dalam menunjang stabilitas sistem keuangan adalah rencana pendirian lembaga penjamin simpanan (LPS) sebagai pengganti skema penjaminan yang ada saat ini. Dalam hal ini, BI bersama-sama dengan Pemerintah melakukan persiapan pendirian LPS ini, termasuk mempersiapkan landasan hukumnya dan skema penjaminan yang optimal, dalam arti sejauh mungkin mengurangi moral hazard yang mungkin terjadi namun dengan tetap mempertahankan momentum kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional yang terus membaik. Di bidang pengawasan dan pengaturan

perbankan, untuk memenuhi standar internasional seperti yang ditetapkan dalam 25 Basel Core Principle, penyempurnaan terhadap sistem pengawasan perbankan dengan pendekatan risiko (risk-based

Kebijakan dan Perkembangan Perbankan Melanjutkan kebijakan perbankan yang ditempuh pada tahun sebelumnya, pada 2002 BI tetap memfokuskan pada tiga hal, yaitu program penyehatan perbankan, program pemantapan ketahanan sistem perbankan dan program pemulihan intermediasi perbankan. Dalam program penyehatan perbankan, pemerintah masih tetap melanjutkan program

approach) terus dilakukan, termasuk dimasukkannya risiko pasar (market risk) dalam memperhitungkan permodalan bank yang diperlukan. Dengan semakin kompleksnya produk dan jasa perbankan disertai dengan meningkatnya globalisasi ekonomi,

pembenahan terhadap tatanan sistem perbankan ke depan sangat diperlukan. Dalam hal ini, BI sedang mempersiapkan cetak biru Arsitektur Perbankan In-

12

Tinjauan Umum

donesia (API) dengan tujuan menciptakan sistem perbankan ke depan yang mampu menghadapi perubahan serta menjamin stabilitas sistem keuangan. Sedangkan untuk mendorong stabilitas sistem keuangan, BI sedang mempersiapkan Cetak Biru Stabilitas Sistem Keuangan dengan cakupan kerangka kerja pelaksanaan tugas BI dalam mendorong stabilitas sistem keuangan, kerangka kerja koordinasi dalam mencegah krisis keuangan (crisis prevention) dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penanganan krisis (crisis resolution). Secara internal, BI mempersiapkan organisasi yang melakukan monitoring dan surveilance terhadap

memberi keringanan dalam kriteria penilaian kualitas kredit yang disalurkan perbankan kepada sektor mikro dan UKM di daerah-daerah tersebut. Selain itu, sebagai wujud dukungan BI terhadap upaya pengentasan kemiskinan, BI telah bekerja sama dengan Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam mendorong perbankan menyalurkan kredit kepada masyarakat

berpenghasilan rendah. Kebijakan pemantapan ketahanan sistem perbankan juga dilakukan melalui pengembangan sistem perbankan berdasarkan prinsip syariah. Di bidang ini, sejumlah inisiatif dan langkah strategis

Dalam rangka mengantisipasi perkembangan perbankan ke depan dan meningkatkan stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia mempersiapkan cetak biru Arsitektur Perbankan Indonesia dan Stabilitas Sistem Keuangan.
stabilitas sistem keuangan. Sementara itu, untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan, berbagai langkah terus dilakukan, terutama dalam bentuk insentif guna mendorong penyaluran kredit khususnya kepada sektor usaha kecil dan menengah yang saat ini dirasakan sebagai salah satu sektor yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitan ini berbagai upaya telah dilakukan seperti Proyek Kredit Mikro, Pengembangan Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil, serta upaya-upaya mempertemukan pelaku usaha dengan perbankan yang dikenal sebagai Bazar Intermediasi di sejumlah daerah. Untuk menggairahkan kembali telah dilakukan. Langkah strategis yang dilakukan pada 2002 adalah diselesaikannya Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia yang mencakup arah pengembangan perbankan syariah yang menjadi landasan bagi BI dan lembaga perbankan syariah serta lembaga keuangan syariah lainnya dalam mengembangkan perbankan syariah yang memiliki daya saing, efisien dan memenuhi prinsip kehatihatian namun mampu berperan mendorong sektor riil melalui pembiayaan yang berdasarkan prinsip bagi hasil (quasi equity). Sesuai dengan cetak biru tersebut, prioritas yang dilakukan selama 2002 adalah melengkapi dan menyempurnakan

ketentuan perbankan syariah, meningkatkan pemahaman masyarakat, pengembangan

perekonomian di daerah-daerah tertentu, khususnya daerah-daerah yang sedang dilanda konflik, BI telah

infrastruktur dan meningkatkan kerjasama

13

Tinjauan Umum

internasional di bidang perbankan syariah. Seiring dengan tingginya keinginan dari perbankan konvensional untuk membuka kantor bank berdasarkan prinsip syariah atau perubahan status menjadi perbankan syariah, BI telah mengeluarkan Peraturan BI untuk mengatur hal ini. Dalam bidang kerjasama internasional, BI terlibat aktif dalam pengembangan Internasional Islamic Financial Market (IIFM) sebagai lembaga pengembangan instrumen pasar keuangan syariah dan Islamic Financial Services Board (IFSB) yang berperan dalam pengaturan dan pengawasan perbankan syariah. Berbagai kebijakan perbankan tersebut di atas dan didukung oleh membaiknya kondisi makro moneter telah mendorong perbaikan kinerja perbankan. Perbaikan tersebut tercermin dari peningkatan struktur permodalan, perbaikan rasio NPLs, peningkatan profitabilitas serta terus berlangsungnya pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Dalam hal permodalan, perbaikan struktur permodalan bank tercermin dari meningkatnya indikator CAR industri perbankan yang mencapai 22,49% pada akhir 2002 atau meningkat 1,99% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, upaya-upaya restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh perbankan telah memperbaiki NPLs perbankan yang mencapai 8,3% (atau secara neto 2,9%), dibandingkan dengan 12,1% (3,6% neto) pada tahun sebelumnya. Walaupun secara industri, NPL neto di bawah 5%, namun masih terdapat 20 bank dengan rasio NPLs neto di atas 5%. Dari segi profitabilitas, seiring dengan meningkatnya spread antara suku bunga kredit dengan suku bunga simpanan akibat penurunan suku bunga SBI, net in-

terest income perbankan mengalami peningkatan, yaitu sebesar Rp42,9 triliun dibandingkan dengan Rp37,8 triliun pada tahun sebelumnya. Membaiknya kondisi kesehatan perbankan yang didukung oleh membaiknya kondisi makro moneter telah memperbaiki kinerja intermediasi perbankan walaupun sebagaimana diharapkan. Membaiknya kinerja intermediasi perbankan tersebut tercermin dari meningkatnya outstanding kredit yang disalurkan oleh perbankan yang mengalami peningkatan sebesar 17,4%. Namun demikian, dilihat dekomposisinya, pertumbuhan terbesar masih dialami oleh kredit konsumsi (36,5%). Sementara kredit modal kerja dan kredit investasi masih tumbuh masing-masing sebesar 13,8% dan 11,3%. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi perbankan dalam penyaluran kredit masih ditujukan pada kredit yang bersifat jangka pendek yang mencerminkan masih tingginya persepsi perbankan terhadap risiko pinjaman jangka panjang dan tingginya kehati-hatian di sisi perbankan. Dilihat dari kredit baru, jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan selama 2002 telah mencapai Rp79,4 triliun meningkat dibandingkan dengan penyaluran kredit baru 2001 yang hanya mencapai Rp56,8 triliun. Sementara itu, karena sektor korporasi sebagian besar sedang dalam proses restrukturisasi, perbankan lebih banyak memfokuskan pada sektor retail dan UKM. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan untuk segmen ini. Dari total kredit baru yang disalurkan selama 2002, sebanyak 41,1% merupakan penyaluran kredit kepada sektor UKM.

Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran Nasional Dalam rangka memperlancar aktivitas dan

14

Tinjauan Umum

efisiensi perekonomian, upaya untuk menjaga stabilitas dan kelancaran sistem pembayaran terus diupayakan oleh Bank Indonesia. Pada sistem pembayaran non tunai, kebijakan tahun 2002 dititikberatkan pada upaya untuk penurunan risiko dan peningkatan efisiensi sistem pembayaran. Dalam rangka meningkatkan efisiensi sistem pembayaran, kebijakan ini diimplementasikan melalui perluasan penerapan sistem BI-RTGS, penurunan batas nominal (capping) nota kredit yang diproses melalui kliring, penyesuaian biaya pemrosesan transaksi melalui BI-RTGS dan kliring, implementasi sistem otomasi kliring berbasis image di KBI Bandung dan Medan, serta implementasi kliring antar wilayah (intercity clearing). Sementara dalam rangka penurunan risiko sistem pembayaran, berbagai kebijakan telah dilakukan pada 2002 termasuk penyusunan mekanisme untuk mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian kewajiban setelmen (failure to settle scheme), regulasi di bidang penyelenggaraan kegiatan usaha alat pembayaran berbasis kartu, serta penyusunan RUU Transfer Dana. Secara internal, upaya pengurangan risiko sistem pembayaran ini dilakukan dengan membentuk Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran di Bank Indonesia. Pada tataran yang lebih strategis, untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan risiko sistem pembayaran, BI sedang melakukan kaji ulang terhadap Blue Print Sistem Pembayaran 1995. Dalam memenuhi ketentuan standar internasional di bidang sistem pembayaran, terutama sistem pembayaran yang memiliki dampak sistemik seperti yang ditentukan oleh BIS dalam The Core Principles for Systemically Important Payment System, BI telah menetapkan BI-RTGS dan Sistem Kliring sebagai sistem pembayaran yang penting secara sistemik. Dalam kaitan ini, BI juga telah melakukan penilaian

secara menyeluruh kesesuaian kedua sistem di atas terhadap prinsip-prinsip tersebut dan melakukan beberapa penyempurnaan terhadap beberapa hal yang masih belum memenuhi standar internasional tersebut. Kebijakan sistem pembayaran di atas, terutama upaya perluasan penerapan sistem RTGS dan adanya kebijakan penurunan batas nominal (capping) nota kredit yang diproses melalui RTGS, telah menyebabkan aktivitas sistem pembayaran melalui RTGS mengalami peningkatan yang cukup berarti. Hal tersebut tercermin dari peningkatan nominal rata-rata harian transaksi RTGS sebesar 21,3% atau jumlah transaksi per hari mengalami kenaikan sebesar 105,8%. Sebaliknya, sejalan dengan peningkatan aktivitas RTGS, aktivitas kliring harian mengalami penurunan sebesar 23,8%. Di bidang aktivitas transaksi pembayaran berbasis kartu, penggunaan kartu ATM, kartu debet dan kartu kredit mengalami peningkatan yang cukup berarti. Peningkatan transaksi berbasis kartu tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya jaringan ATM dan outlet yang menggunakan kartu debet, serta meningkatnya pembiayaan konsumen melalui kartu kredit. Untuk sistem pembayaran tunai, prioritas kebijakan BI selama 2002 diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal, menjaga kualitas uang yang diedarkan, dan minimalisasi peredaran uang palsu. Dalam hal pemenuhan kebutuhan akan uang, beberapa langkah yang telah ditempuh, antara lain dengan penyempurnaan Rencana Distribusi Uang (RDU) dan kerjasama dengan pihak ketiga dalam

pendistribusian uang pecahan kecil di wilayah JABOTABEK. Pemenuhan kebutuhan uang kartal di masyarakat tercermin dari posisi uang kartal yang

15

Tinjauan Umum

diedarkan (UYD), sepanjang 2002 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11,8%. Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam pada 2002 tidak banyak mengalami perubahan, yaitu sebesar 97,76% untuk uang kertas dan 2,24% untuk uang logam. Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup, BI juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang dipegang masyarakat dalam kondisi layak edar dengan cara melakukan clean money policy yaitu menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak edar melalui Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB). Secara nominal, jumlah PTTB selama 2002 sebesar Rp54,1 triliun atau meningkat sebesar 62,33%. Di samping itu, untuk menjaga kualitas uang sekaligus meningkatkan efisiensi pengadaan uang, BI telah melakukan kajian terhadap alternatif komposisi kandungan bahan logam dan standarisasi ukuran uang logam untuk mendapatkan bahan logam uang yang secara intrinsik lebih rendah dari nilai nominalnya tetapi memiliki masa edar yang relatif lama. Dalam rangka minimalisasi peredaran uang palsu, berbagai langkah telah ditempuh baik yang bersifat langkah preventif dan represif. Upaya preventif dilakukan dengan memperkuat unsur pengaman yang dapat memudahkan masyarakat untuk mengenali uang rupiah secara kasat mata dan kasat raba serta sosialisasi pengenalan keaslian uang rupiah melalui penyebaran poster dan stiker, penataran, dan penayangan iklan layanan masyarakat di media masa. Sedangkan upaya represif dilakukan dengan meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya memberantas peredaran uang palsu tersebut antara lain dengan Badan Koordinasi

Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL) dan POLRI dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan pihakpihak yang terlibat dalam pemalsuan uang rupiah ke pengadilan. Selama 2002, jumlah uang palsu yang dilaporkan oleh bank-bank, POLRI dan BI berjumlah 370.112 bilyet (Rp9,9 miliar), mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 98.028 bilyet (Rp3,9 miliar).

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN TAHUN 2003 Evaluasi kinerja ekonomi tahun 2002

menunjukkan bahwa terdapat berbagai perkembangan positif yang memberikan sejumlah harapan terhadap perbaikan ekonomi tahun 2003. Membaiknya indikator moneter dan kestabilan makroekonomi yang diprakirakan tetap dapat dijaga pada 2003 diharapkan akan semakin mendorong ekspektasi positif pelaku usaha terhadap proses pemulihan ekonomi. Namun demikian, sejumlah faktor eksternal dan masih adanya sejumlah permasalahan struktural menyebabkan sektor riil menjadi kurang responsif terhadap perbaikan indikator moneter yang telah terjadi. Kondisi ini telah menyebabkan proses pemulihan ekonomi Indonesia tidak secepat yang diharapkan. Upaya mengatasi berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut akan menjadi kunci keberhasilan untuk menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik pada tahun mendatang.

Prospek Ekonomi Dunia Selama 2003, perekonomian dunia diprakirakan akan tumbuh 3,7%, lebih tinggi dari pertumbuhan 2002 yang diprakirakan mencapai 2,8%. Membaiknya

16

Tinjauan Umum

perekonomian dunia ini terutama didukung oleh meningkatnya volume perdagangan yang diprakirakan tumbuh sebesar 6,1%. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut juga didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung ekspansif di

dari 5,6% menjadi 6%. Meskipun demikian, dengan tetap berlangsungnya kebijakan ekonomi yang ekspansif, suku bunga diprakirakan akan cenderung turun, terutama suku bunga jangka pendek. Sementara itu, kenaikan harga komoditi non

Semakin membaiknya kestabilan ekonomi makro diprakirakan akan mendorong peningkatan kinerja perekonomian tahun 2003, terutama jika didukung oleh sejumlah kebijakan struktural, seperti di bidang hukum, perburuhan dan investasi.
beberapa negara. Di negara industri maju, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sedikit membaik namun masih relatif lamban, dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Jepang dan Eropa diprakirakan tumbuh masing-masing sebesar 2,6%, 1,1% dan 2,3%. Di negara-negara berkembang, pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju. Dalam 2003 pertumbuhan ekonomi di negara-negara di kawasan Afrika, Asia, ASEAN dan Amerika Latin diprakirakan tumbuh masing-masing sebesar 4,2%, 6,3%, 4,2% dan 3,0%. Membaiknya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan domestik yang didukung oleh kebijakan Prospek Ekonomi Makro Membaiknya indikator makroekonomi yang diprakirakan masih terus berlangsung hingga tahun depan akan terus menciptakan ekspektasi positif para pelaku usaha dan mendorong terus pulihnya fungsi intermediasi. Sementara itu, stimulus fiskal dan mulai berjalannya proyek-proyek besar yang sementara ini terhenti akan memberikan dampak multiplier di berbagai sektor perekonomian. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2003 migas pada 2002 diprakirakan masih terus berlanjut pada 2003. Kenaikan harga komoditi terutama terjadi pada harga-harga komoditi pertanian dan bahan baku industri seiring dengan meningkatnya permintaan. Harga minyak dunia diprakirakan akan kembali turun. Beberapa faktor yang mendukung penurunan harga minyak antara lain relatif stabilnya persediaan minyak dunia sertapenambahan kuota produksi OPEC.

makroekonomi yang cenderung longgar, terutama di negara-negara dengan tingkat inflasi rendah. Seiring dengan meningkatnya permintaan agregat yang didorong kebijakan ekonomi yang ekspansif, tingkat inflasi dunia secara umum mengalami peningkatan secara moderat. Laju inflasi di negara maju diprakirakan akan meningkat dari 1,4% menjadi 1,7%, sedangkan inflasi di negaranegara berkembang diprakirakan akan meningkat

diprakirakan akan mencapai kisaran 3,5%-4,0%, lebih tinggi dibandingkan dengan 2002. Perkiraan pertumbuhan ini masih berada dalam kisaran asumsi APBN 2003.

17

Tinjauan Umum

Dari sisi permintaan, proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut diprakirakan masih bertumpu pada konsumsi. Penurunan suku bunga dan masih rendahnya tingkat leverage sektor rumah tangga
2

proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan tol dan proyek-proyek kelistrikan, sektor bangunan dan sektor listrik diprakirakan akan tumbuh relatif tinggi. Pembangunan proyek-proyek infrastruktur ini diprakirakan akan memiliki dampak multiplier yang besar terhadap beberapa sektor usaha lainnya, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Di sektor bangunan, pembangunan properti, yaitu perumahan dan pusat perbelanjaan, juga diprakirakan tumbuh tinggi. Seiring dengan meningkatnya kinerja di sektor bangunan, industri konstruksi baja dan industri semen diprakirakan tumbuh dengan pesat. Di sektor listrik, optimalisasi pembangkit yang sudah ada dan pembangunan pembangkit baru serta adanya kelanjutan pembangunan beberapa proyek listrik swasta dalam rangka mengantisipasi kenaikan permintaan terhadap energi listrik pada 2003, akan mendorong sektor listrik mengalami pertumbuhan yang tinggi. Sektor industri pengolahan, yang memberikan sumbangan terbesar, diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sektor-sektor lainnya seperti sektor perdagangan, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor jasa diprakirakan tumbuh lebih rendah dari tahun sebelumnya akibat dampak dari tragedi bom Bali. Namun, khusus untuk subsektor komunikasi pertumbuhannya diprakirakan tinggi sejalan dengan ekspansi yang dilakukan oleh Indosat dan Telkom. Di sisi fiskal, APBN 2003 tetap disusun dengan semangat mengendalikan defisit dengan

diprakirakan terus mendorong meningkatnya penyaluran kredit konsumsi, terutama bagi kelas menengah ke atas. Kenaikan konsumsi juga didukung oleh kenaikan gaji PNS dan UMP. Sementara itu, investasi diprakirakan mulai tumbuh positif walaupun tidak terlalu signifikan. Pertumbuhan investasi diprakirakan masih bertumpu pada investasi pemerintah melalui berbagai proyek besar yang tertunda, seperti pembangunan 21 proyek jalan tol, kelistrikan dan kimia. Sementara investasi swasta diprakirakan masih lemah karena masih terbatasnya sumber-sumber pembiayaan serta iklim investasi yang belum kondusif. Ekspor diprakirakan akan meningkat seiring dengan mulai membaiknya perekonomian mitra dagang dan meningkatnya permintaan komoditi andalan Indonesia, seperti minyak sawit, karet dan produk agribisnis lainnya. Hal ini ditunjang juga oleh kebijakan pemerintah untuk mencari pasar nontradisional seperti Amerika Latin dan Eropa Timur. Dengan membaiknya ekspor, impor juga diprakirakan akan meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi diprakirakan terjadi di semua sektor ekonomi dengan sektor listrik, sektor angkutan terutama subsektor telekomunikasi dan sektor bangunan akan mengalami kinerja yang terbaik. Sesuai dengan rencana pemerintah untuk melanjutkan kembali sejumlah
2

mempertimbangkan pula perkembangan terkini berupa dampak negatif peristiwa Bali dan upaya untuk

Rasio antara utang rumah tangga terhadap pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh rumah tangga.

mengakomodasi kuatnya keinginan masyarakat akan

18

Tinjauan Umum

stimulus fiskal. Defisit direncanakan sebesar 1,8% dari PDB, relatif sama dengan realisasi defisit tahun 2002 yang turun lebih cepat dari rencana semula. Pengendalian defisit tahun ini direncanakan akan dicapai melalui langkah-langkah lanjutan peningkatan pendapatan negara terutama dari penerimaan pajak dan penghematan terutama dari pemotongan subsidi migas dan pengurangan beban bunga utang dalam negeri. Di sisi pembiayaan defisit, sumber pembiayaan pemerintah masih berasal dari non-perbankan dalam negeri —seperti privatisasi dan penjualan asset oleh BPPN—sedangkan selebihnya diperoleh dari utang luar negeri. Namun, karena sumbangan bersih dari sumbersumber tersebut lebih kecil dari kebutuhan pembiayaan defisit, maka untuk menutup kekurangannya –dan untuk pertama kalinya sejak krisis tahun 1997– pemerintah berencana akan menarik tabungannya pada sistem moneter atau Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp8,5 triliun. Dalam kaitannya dengan dampak pengeluaran pemerintah terhadap perekonomian, kontribusi langsung sektor pemerintah terhadap PDB meningkat dibanding tahun lalu yaitu dari 11,8% pada 2002 menjadi 13,4% pada 2003, dimana 7,7% dari PDB diantaranya untuk pengeluaran konsumsi dan 5,7% dari PDB untuk pengeluaran investasi. Sebagaimana telah disinggung di atas, peningkatan ini akan dicapai terutama melalui langkah-langkah pemotongan yang cukup signifikan pada subsidi BBM dan pengurangan beban bunga utang dalam negeri. Di sisi moneter, adanya alokasi dana tambahan untuk stimulus fiskal menyebabkan ekspansi rupiah bersih pemerintah akan meningkat menjadi Rp26,7 triliun. Sebagian besar dari jumlah tersebut diprakirakan dapat dibiayai dengan aliran devisa masuk bersih dari sektor pemerintah yang

mencapai setara Rp18,2 triliun, dan sisanya dengan penarikan SAL sebesar Rp8,5 triliun. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada 2003 diprakirakan akan menunjukkan kinerja yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari menurunnya surplus neraca pembayaran menjadi sebesar $1,0 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus tahun 2002 sebesar $3,6 miliar. Penurunan surplus NPI ini disebabkan oleh penurunan surplus transaksi berjalan yang dibarengi meningkatnya defisit transaksi modal. Penurunan surplus transaksi berjalan sebesar $2,6 miliar diprakirakan terutama karena terjadinya peningkatan defisit neraca jasa (sebesar $2,3 miliar) sehubungan dengan menurunnya penerimaan dari sektor pariwisata terkait dengan terjadinya tragedi Bali. Di sisi neraca perdagangan, ekspor dan impor selama 2003 diprakirakan akan tumbuh masing-masing sebesar 1,3% dan 2,8%, sehingga surplus neraca perdagangan diprakirakan akan turun sekitar $0,2 miliar. Sementara itu, neraca lalu lintas modal pada 2003 diprakirakan akan sedikit memburuk yang tercermin dari peningkatan defisit dari $3,6 miliar menjadi $3,7 miliar. Memburuknya defisit tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya defisit lalu lintas modalswasta sebesar $2,6 miliar. Dengan prakiraan di atas, posisi cadangan devisa pada akhir 2003 diprakirakan mencapai sebesar $32,6 miliar atau setara dengan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Prospek Nilai Tukar dan Inflasi Secara umum nilai tukar rupiah selama 2003 diprakirakan masih menguat walaupun tidak

19

Tinjauan Umum

setajam tahun sebelumnya dan bergerak pada kisaran Rp8.800-Rp9.200 per dolar. Secara fundamental, prakiraan nilai tukar tersebut didasarkan pada membaiknya kinerja perekonomian Indonesia termasuk neraca pembayaran yang masih mengalami surplus walaupun dalam jumlah yang lebih kecil. Faktor lain yang menunjang penguatan nilai tukar adalah keberhasilan dalam

adanya tragedi Bali telah menurunkan optimisme investor terhadap membaiknya iklim investasi dan ekspor. Dengan prakiraan nilai tukar pada 2003 akan mengalami penguatan, secara umum pergerakan nilai tukar diprakirakan tidak akan memberikan tekanan terhadap inflasi. Di lain pihak, rencana kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan pada 2003 diprakirakan memberikan sumbangan sebesar 3,02%, terutama terkait dengan rencana kebijakan pemerintah menaikkan harga beberapa administered prices seperti TDL (6% per triwulan), BBM (sekitar 23%), tarif telpon (15%) dan upah minimum propinsi (7%).

restrukturisasi utang pemerintah dan swasta serta program privatisasi BUMN dan divestasi aset-aset BPPN yang selain menambah pasokan valas juga memberikan dampak sentimen positif. Di samping itu, persepsi positif pasar terhadap komitmen BI untuk memelihara stabilitas nilai tukar diharapkan masih akan berlanjut. Namun di sisi lain perlu diwaspadai meningkatnya suhu politik menjelang Pemilu 2004 dan kemungkinan melemahnya mata uang regional akibat flight to safety jika terjadi serangan AS ke Irak. Sementara itu, tekanan inflasi 2003

Prospek Perbankan Seiring dengan membaiknya prospek

pertumbuhan ekonomi dan menurunnya suku bunga, perkembangan kondisi perbankan Indonesia di 2003 diprakirakan juga akan semakin membaik. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga pada 2003 diprakirakan masih akan meningkat, khususnya untuk simpanan giro dan tabungan. Namun demikian, penghimpunan dana dalam bentuk deposito diprakirakan akan mengalami persaingan yang cukup ketat dari reksadana, mengingat tingkat

diprakirakan lebih rendah dari inflasi 2002. Prakiraan ini didasarkan pada prakiraan masih lemahnya tekanan inflasi yang bersumber dari permintaan agregat, relatif menguatnya nilai tukar rupiah dan menurunnya ekspektasi inflasi oleh masyarakat. Sumber inflasi ke depan diprakirakan antara lain bersumber dari dampak penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan yang diprakirakan masih cukup tinggi, walaupun lebih rendah dari sebelumnya. Rendahnya inflasi yang berasal dari tekanan permintaan agregat didukung oleh prakiraan bahwa pertumbuhan ekonomi 2003 masih tergantung pada pertumbuhan konsumsi yang cenderung menunjukkan perlambatan. Lebih dari itu,

pengembalian (rate of return) yang diberikan oleh reksadana lebih tinggi dari pada bunga deposito. Sejalan dengan peningkatan penghimpunan dana, pemberian kredit diprakirakan akan terus meningkat, baik dalam bentuk corporate lending maupun retail lending. Hasil survei terhadap 14 bank besar yang masuk dalam systemically important bank (SIB) menunjukkan bahwa ekspansi kredit baru oleh bank-bank tersebut pada 2003 diprakirakan

20

Tinjauan Umum

akan mencapai Rp83 triliun. Sementara itu, hasil survei lainnya menunjukkan bahwa 40 bank akan menaikkan ekspansi kreditnya secara rata-rata diatas 5% dibandingkan dengan tahun 2002. Dari sisi penggunaannya, peningkatan kredit tersebut diprakirakan sebagian besar masih disalurkan untuk modal kerja dan konsumsi, sementara kredit investasi diprakirakan masih belum banyak tumbuh secara signifikan. Sementara itu, pangsa penyaluran kredit untuk sektor UKM diprakirakan akan meningkat menjadi sekitar Rp42,3 triliun, mengingat sebagian besar bank-bank telah melakukan reposisi kebijakan pemberian kreditnya dari kredit korporat ke kredit ritel. Di sisi permodalan, secara keseluruhan perkembangan kecukupan modal (CAR) perbankan diprakirakan akan sedikit mengalami penurunan walaupun masih diatas 8%. Penurunan tersebut disebabkan oleh semakin besarnya risiko aktiva produktif perbankan seiring dengan ekspansi kredit. Di sisi lain, meskipun secara industri rasio NPLs neto di bawah 5% diprakirakan akan dapat dipertahankan pada 2003, namun masih terdapat beberapa bank yang NPLs neto-nya berada di atas 5% karena adanya berbagai kendala dalam restrukturisasi kredit. Pada 2003, perbankan syariah diprakirakan akan tumbuh pesat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh masih besarnya potensi pasar perbankan syariah dan banyaknya wilayah potensial yang belum terlayani oleh jasa perbankan ini. Optimisme pertumbuhan volume usaha perbankan syariah juga didukung oleh rencana pengembangan usaha yang dicanangkan oleh bank umum syariah dan unit usaha syariah bank umum konvensional, serta

rencana masuknya bank-bank baru kedalam industri perbankan syariah. Faktor Risiko dan Ketidakpastian Prospek perkonomian Indonesia pada 2003 akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan berbagai faktor risiko dan ketidakpastian baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah faktor risiko dan ketidakpastian yang diprakirakan akan berpengaruh terhadap prospek ekonomi Indonesia pada 2003, antara lain: Pertama, dari sisi dunia eksternal, secara meskipun

perekonomian

keseluruhan

diprakirakan akan membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun juga disertai

meningkatnya ketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi dunia di 2003 lebih banyak merupakan kontribusi kinerja ekonomi regional berbagai negara di kawasan Asia. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang diprakirakan belum tumbuh secara berarti. Relatif lemahnya pertumbuhan ekonomi tersebut bahkan dapat semakin memburuk apabila meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah berlangsung lama sehingga secara signifikan mempengaruhi arus perdagangan dunia. Meningkatnya

ketidakpastian akibat ketegangan politik di Timur Tengah tersebut diprakirakan juga akan berdampak negatif terhadap iklim investasi global yang sementara ini belum pulih. Perkembangan kondisi global yang kurang menguntungkan tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk persepsi investor dan mitra dagang luar negeri terhadap prospek perekonomian Indonesia. Tendensi memburuknya

21

Tinjauan Umum

kepercayaan masyarakat internasional tersebut antara lain nampak dari pengenaan “war premium” terhadap kegiatan perdagangan luar negeri Indonesia. Premi tersebut meningkatkan biaya transaksi dagang dengan mitra luar negeri serta semakin memperkuat keengganan investor internasional untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kedua, dari sisi investor dan mitra dagang luar negeri, persepsi negatif terhadap prospek perekonomian Indonesia dikhawatirkan akan semakin meningkat. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan sosial politik dan keamanan yang diperburuk oleh dampak lanjutan insiden Bali. Tendensi memburuknya kepercayaan masyarakat internasional tersebut antara lain nampak dari dikenakannya “war premium” terhadap kegiatan perdagangan Indonesia. Premi tersebut akan meningkatkan biaya transaksi dagang dengan mitra luar negeri dan memperkuat keengganan masyarakat internasional untuk menanam modal di Indonesia. Ketiga, dari sisi internal, secara khusus perlu dicermati pula perkembangan situasi politik dan keamanan terutama menjelang dilangsungkannya Pemilu 2004. Meskipun cenderung terus membaik, perkembangan faktor tersebut masih mengandung banyak ketidakpastian yang dapat meningkatkan ketegangan politik. Apabila ketegangan tersebut meningkat di luar kendali maka dalam jangka pendek akan berpengaruh negatif pada berbagai variabel indikator seperti nilai tukar dan uang kartal. Perkembangan tersebut juga bisa berdampak negatif pada sektor

riil karena memburuknya tingkat kepercayaan konsumen dan iklim investasi. Keempat, masih maraknya berbagai konflik perburuhan yang ditandai oleh berbagai aksi pemogokan buruh diyakini dapat mengganggu ketenangan dan kepastian usaha. Berlarutnya permasalahan tersebut selain berpotensi

meningkatkan angka PHK, juga membentuk persepsi yang kurang kondusif di kalangan mitra dagang maupun investor luar negeri sehingga dapat mengurangi minat pihak asing untuk berdagang dan berinvestasi di Indonesia. Di samping itu, kenaikan upah sebagai solusi konflik perburuhan jika tidak diikuti peningkatan produktivitas akan menurunkan daya saing produk Indonesia. Kelima, mencuatnya berbagai ketidakpuasan atas proses dan penyelesaian beberapa kasus hukum yang besar mengakibatkan persepsi masyarakat yang kurang kondusif terhadap penegakan supremasi hukum. Berlarutnya permasalahan tersebut, selain memicu rendahnya kepercayaan dunia usaha terhadap iklim usaha domestik juga berdampak buruk terhadap upaya untuk

menggerakkan minat investor luar negeri untuk masuk ke Indonesia. Di samping itu, hal tersebut juga dapat mengurangi kredibilitas pemerintah dalam menyelenggarakan good governance. Keenam, faktor risiko yang juga akan menentukan prospek ekonomi ke depan adalah fungsi intermediasi perbankan yang belum pulih sebagaimana yang diharapkan. Meski ekspansi kredit pada 2002 relatif membaik namun peningkatannya dirasakan masih jauh dari yang dibutuhkan oleh sektor riil. Keengganan bank untuk menyalurkan kredit seperti

22

Tinjauan Umum

yang tercermin dari masih rigid-nya suku bunga kredit dalam merespon penurunan suku bunga SBI dan terbatasnya pembiayaan yang bersifat jangka panjang menyebabkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari investasi menjadi terkendala. Ketujuh, berkenaan dengan akan diakhirinya program IMF pada akhir 2003 perlu adanya exit strategy yang tepat. Disatu sisi, keberhasilan dari exit program IMF akan dapat memelihara kepercayaan dunia internasional dan independensi kebijakan ekonomi. Namun kegagalan memelihara ketahanan fiskal dan neraca pembayaran, terutama jika exit policy yang dilakukan tidak dapat menjaga

dan sejalan dengan upaya BI untuk terus membangun kredibilitas. Sejalan dengan strategi jangka menengah tersebut, BI menetapkan sasaran inflasi untuk tahun 2003 sebesar 9% dengan deviasi 1%. Sasaran diatas diharapkan akan dapat tercapai bila didukung oleh ekspektasi inflasi yang terus menurun, nilai tukar rupiah mencapai rata-rata Rp9.000 per dolar, pertumbuhan ekonomi mencapai 3,8% dan sumbangan dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diprakirakan tidak lebih dari 3,02%.

Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi tahun 2003 sebesar 9% dengan deviasi 1%
kepercayaan dunia internasional, dapat Arah Kebijakan Dengan memperhatikan prospek ekonomi dan sasaran inflasi yang ditetapkan serta berbagai tantangan yang dihadapi pada 2003, BI akan berupaya untuk secara konsisten menempuh kebijakan-kebijakan di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran. Di bidang moneter, kebijakan BI secara konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi IHK sebesar 9% pada 2003 serta menjaga komitmen pencapaian sasaran inflasi jangka menengah, yaitu 6%-7% pada 2006. Dalam pelaksanaannya, kerangka kebijakan moneter yang digunakan tetap mengacu pada pencapaian sasaran uang primer. Untuk itu, pada 2003 uang primer perlu diarahkan untuk secara bertahap mencapai pertumbuhan rata-rata sekitar 13% yang diprakirakan sesuai dengan kebutuhan riil

memperburuk prospek perekonomian Indonesia. Sasaran Inflasi dan Arah Kebijakan Tahun 2003 Sasaran Inflasi Pada tahun lalu, BI telah menetapkan program disinflasi jangka menengah dengan menetapkan sasaran inflasi sebesar 6%-7% pada 2006. Mengingat sasaran jangka menengah tersebut merupakan tingkat inflasi yang memberikan dampak negatif minimal terhadap proses pemulihan ekonomi, maka sasaran inflasi tahunan dalam beberapa tahun ke depan akan terus diupayakan agar konsisten dengan sasaran jangka menengah tersebut. Komitmen pada upaya pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ini sangat perlu untuk mendorong terus menurunnya ekspektasi inflasi masyarakat

23

Tinjauan Umum

perekonomian. Upaya penyerapan kelebihan likuditas agar tetap sesuai dengan sasaran uang primer tersebut diprakirakan masih dapat membawa suku bunga instrumen moneter terus menurun. Dalam operasional kebijakan moneter, optimalisasi penggunaan instrumen moneter seperti yang dilakukan pada 2002 tetap perlu

rangka meningkatkan peran BI dalam menjaga kestabilan sistem keuangan, BI mempersiapkan Cetak Biru Stabilitas Sistem Keuangan dengan cakupan aspek surveilance/monitoring stabilitas sistem keuangan, prosedur penyelesaian krisis (crisis resolution) dan aspek organisasinya. Di samping itu, BI akan tetap mendorong pemulihan fungsi intermediasi perbankan dengan tetap

dipertahankan, termasuk upaya untuk tetap menggunakan kebijakan sterilisasi/intervensi valas dalam membantu penyerapan likuditas perbankan serta meminimalkan fluktuasi nilai tukar yang berlebihan. Sementara itu, dalam jangka panjang penggunaan Surat Perbendaharaan Negara dan Obligasi Negara tetap perlu dipertimbangkan sebagai alternatif instrumen. Oleh sebab itu upaya untuk membangun infrastruktur pengembangan pasar sekunder surat-surat berharga tersebut perlu terus dilakukan, terutama dalam rangka

memperhatikan ketentuan kehati-hatian serta melanjutkan upaya-upaya dalam pemberdayaan UKM. Terkait dengan target pencapaian NPLs neto maksimum 5% pada akhir Juni 2003, BI meminta bank-bank yang masih memiliki NPLs neto diatas 5% untuk membuat rencana yang jelas dan konkrit di dalam menyusun business plan agar dapat mencapai target NPLs neto maksimum 5%. Di bidang perbankan syariah, arah kebijakan selama 2003 akan diprioritaskan pada upaya penyempurnaan ketentuan dan infrastruktur pendukung bagi pengembangan perbankan syariah. Di sisi ketentuan, penyempurnaan tersebut antara lain mencakup penyusunan ketentuan pengawasan perbankan syariah berbasis risiko (risk based supervision), prudential regulation dan penilaian tingkat kesehatan perbankan syariah, penyempurnaan sistem pelaporan dan pedoman akuntasi dan audit perbankan syariah. Sementara itu,

meningkatkan efektivitas penggunaan surat-surat berharga tersebut sebagai instrumen moneter. Di bidang perbankan, kebijakan masih diarahkan pada program penyehatan perbankan dan ketahanan sistem perbankan, dengan lebih menekankan pada risk based supervision. Dalam rangka memperkuat struktur perbankan Indonesia, BI sedang menyempurnakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang akan selesai pada 2003. Penyempurnaan API ini mencakup enam pilar, yaitu penciptaan struktur perbankan yang sehat, sistem pengawasan yang independen dan efektif, sistem pengaturan perbankan yang mampu mengantisipasi perkembangan perbankan dan pasar keuangan ke depan, penguatan infrastruktur perbankan dan perlindungan konsumen. Sementara itu, dalam

penyempurnaan infrastruktur akan meliputi pemetaan wilayah-wilayah potensial bagi pengembangan kantor-kantor bank syariah baru guna mendorong pengembangan jaringan kantor bank syariah. Di bidang sistem pembayaran, kebijakan

24

Tinjauan Umum

tahun 2003 tetap diprioritaskan pada upaya peningkatan kelancaran sistem pembayaran melalui peningkatan efisiensi dan pengurangan risiko sistem pembayaran. Di bidang sistem pembayaran tunai, upaya peningkatan efektivitas pengedaran uang kepada masyarakat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak ketiga. Di samping itu, dalam upaya untuk meningkatkan penanggulangan terhadap uang palsu, jejaring dengan pihak-pihak terkait akan diperluas seperti P O L R I , K B I d a n Pe r b a n k a n y a n g m e m p u n y a i jaringan sampai tingkat pedesaan, termasuk sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah terutama mengenai unsur-unsur pengaman (security features) yang kasat mata dan kasat raba. Di bidang sistem pembayaran non tunai, kebijakan di tahun 2003 diarahkan pada kebijakan untuk dapat mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi sistem pembayaran melalui program lanjutan implementasi BI-RTGS di 10 KBI dan penyusunan ketentuan yang terkait dengan masalah

PENUTUP Sebagai penutup, perlu dikemukakan bahwa beberapa kemajuan yang dicapai di bidang ekonomi dan moneter selama 2002 merupakan hasil dari kerjasama dan koordinasi yang baik antara kebijakan makroekonomi seperti kebijakan moneter dan fiskal yang ditunjang dengan kemajuan di bidang restrukturisasi ekonomi. Oleh sebab itu, ke depan koordinasi seperti ini perlu terus ditingkatkan apalagi tantangan serta ketidakpastian yang menghadang semakin berat. Pengalaman selama 2002 memberikan pelajaran kepada kita bahwa keberhasilan kebijakan makroekonomi dalam menjaga stabilitas maupun melakukan stimulus tidak akan berhasil membawa dampak yang signifikan pada perekonomian, jika persoalan struktural dan mikroekonomi, seperti persoalan perburuhan, perpajakan, keamanan berinvestasi serta good governance tidak dibenahi. Oleh sebab itu, ke depan penyelesaian masalah struktural dan kebijakan mikroekonomi perlu menjadi prioritas utama. Sementara itu, BI terus melakukan transformasi internal, baik dalam rangka meningkatkan efektivitas kebijakan moneter dalam bentuk kaji ulang terhadap kerangka kebijakan moneter, melakukan reposisi peran BI dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, maupun dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen intern melalui perbaikan tata kelola (good governance) guna menghadapi tantangan dan perubahan-perubahan ke depan.

penyelenggaraan kegiatan usaha alat pembayaran berbasis kartu, upaya mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian settlement serta rancangan UU Transfer Dana.

25

Kondisi Ekonomi Makro

BAB

laporan tahunan

2 Kondisi Ekonomi Makro

26

BAB 2: Kondisi Ekonomi Makro

BA B

2

Kondisi Ekonomi Makro

KONDISI EKONOMI MAKRO

Perekonomian tahun 2002 tumbuh 3,7%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih belum didukung oleh struktur yang seimbang. Perekonomian masih bertumpu pada konsumsi sementara investasi dan ekspor masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

B

ersamaan dengan membaiknya indikator makro moneter seperti inflasi, nilai tukar, dan

dan proteksionisme, serta daya saing produk Indonesia di pasar global yang menurun. Pada sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor angkutan dan komunikasi, sektor listrik, gas dan air bersih, dan sektor keuangan. Sementara itu, sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan yang memiliki pangsa dominan dalam pembentukan PDB mengalami perlambatan. Namun melambatnya pertumbuhan kedua sektor tersebut masih dapat diimbangi oleh membaiknya kinerja sebagian besar sektor dalam pembentukan PDB, sehingga secara keseluruhan pertumbuhan PDB tetap meningkat. Pertumbuhan sektor industri pengolahan yang melemah dapat diimbangi oleh pasokan impor barang konsumsi sehingga kondisi penawaran masih dapat memenuhi pertumbuhan permintaan. Kinerja investasi yang masih kurang

suku bunga, perekonomian Indonesia sepanjang 2002 secara umum masih mengindikasikan proses pemulihan ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 dengan harga berlaku mencapai Rp1.610,0 triliun. Sementara itu, pertumbuhan PDB 2002 dengan harga konstan mencapai 3,7%, meningkat

dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3,4%. Dengan pertumbuhan tersebut, PDB 2002 dengan harga konstan baru mencapai Rp426,7 triliun, masih lebih rendah dari PDB 1997 senilai Rp433,2 triliun. Perkembangan ini menandakan perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis yang berlangsung sejak lima tahun silam. Aktivitas ekonomi yang meningkat tercermin dari meningkatnya permintaan konsumsi baik di sektor rumah tangga maupun di sektor pemerintah, sedangkan kegiatan investasi belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dari sisi permintaan luar negeri, kinerja ekspor yang mengalami kontraksi tidak terlepas dari kondisi perekonomian dunia yang belum pulih, persaingan yang semakin ketat di pasar global, adanya hambatan ekspor seperti pengalihan perdagangan seiring dengan terbentuknya blok-blok perdagangan (trade diversion)

menggembirakan menyebabkan kapasitas perekonomian, khususnya sektor industri pengolahan, tumbuh melambat. Namun masih lemahnya permintaan masyarakat menyebabkan tingkat utilisasi kapasitas produksi belum mengalami peningkatan yang berarti sehingga secara rata-rata masih tetap pada tingkat yang cukup rendah. Dengan demikian, perkembangan

27

Kondisi Ekonomi Makro

tingkat utilisasi kapasitas tersebut belum memberikan tekanan harga secara signifikan. Perkembangan di sisi produksi dan investasi tersebut mengindikasikan bahwa perbaikan beberapa indikator moneter belum direspon secara optimal oleh kegiatan di sektor riil. Pertumbuhan ekonomi yang moderat tersebut belum mampu memperbaiki kondisi ketenagakerjaan. Jumlah pengangguran terbuka meningkat karena jumlah angkatan kerja semakin tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Di samping itu, pengurangan atau penghentian aktivitas produksi mendorong meningkatnya pemutusan hubungan kerja. Kondisi ketenagakerjaan bertambah suram menyusul kasus pemulangan besar-besaran tenaga kerja ilegal Indonesia di Malaysia, anjloknya kunjungan wisatawan mancanegara pasca tragedi Bali, serta masih maraknya aksi unjuk rasa dan pemogokan buruh.

sebelumnya sebesar 3,4% (Tabel 2.1). Meskipun demikian, kenaikan pertumbuhan tersebut tidak diikuti oleh membaiknya struktur perekonomian. Di sisi domestik, konsumsi tetap menjadi tumpuan kenaikan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, kegiatan

investasi justru mengalami pertumbuhan negatif. Di sisi eksternal, ekspor neto yang meningkat lebih disebabkan oleh kontraksi impor barang dan jasa yang jauh lebih tajam dari pada kontraksi ekspor barang dan jasa. Perkembangan indikator moneter yang positif sepanjang tahun —seperti menurunnya tekanan inflasi, stabilnya nilai tukar dan menurunnya suku bunga—, belum direspon secara optimal oleh sektor riil. Penurunan suku bunga cenderung direspon lebih kuat oleh kegiatan konsumsi. Sementara itu, respon kegiatan investasi —yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang lebih tinggi daripada

PERMINTAAN AGREGAT
Pertumbuhan PDB 2002 tercatat sebesar 3 , 7% , l e b i h t i n g g i d a r i p e r t u m b u h a n t a h u n

konsumsi— masih lemah. Rendahnya realisasi investasi juga tidak terlepas dari iklim investasi yang masih belum kondusif di samping masih tingginya
(Persen)

Tabel 2.1 Produk Domestik Bruto menurut Pengeluaran Jenis Produk Domestik Bruto (Riil) Menurut Pengeluaran Konsumsi Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Investasi1) Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa 4,3 4,6 0,7 -18,2 -31,8 -40,7 3,3 3,2 0,1 -4,5 -11,4 -14,3 3,9 3,6 6,5 13,8 26,5 21,1 3,1 2,6 0,5 2,8 6,4 4,4 4,8 4,4 9,0 7,7 1,9 8,1 3,7 3,1 0,7 1,7 0,6 2,0 5,5 4,7 12,8 -0,2 -1,2 -8,3 4,3 3,3 1,0 -0,1 -0,4 -2,2 1999
Pertumbuhan Kontribusi

2000
Pertumbuhan Kontribusi

2001*
Pertumbuhan Kontribusi

2002**
Pertumbuhan Kontribusi

0,8

0,8

4,9

4,9

3,4

3,4

3,7

3,7

1) Investasi disini adalah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto

Sumber : BPS

28

Kondisi Ekonomi Makro

Grafik 2.1 Pertumbuhan Konsumsi Tahunan

Grafik 2.2 Indeks Riil Penjualan Eceran

suku bunga kredit investasi. Selain itu, nilai tukar rupiah yang menguat dengan volatilitas yang rendah sepanjang tahun laporan juga belum dapat mendorong kegiatan produksi dan investasi termasuk di dalamnya kegiatan ekspor dan impor. Pada 2002 sumbangan konsumsi terhadap laju pertumbuhan PDB sebesar 4,3%, meningkat dari 3,7% pada 2001. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan konsumsi baik di sektor rumah tangga maupun di sektor pemerintah. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat dari 4,4% menjadi 4,7% pada tahun laporan. Sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah mencapai 12,8% pada 2002, jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencapai 9,0%. Hal ini seiring dengan meningkatnya peran pemerintah dalam mendorong roda perekonomian. Meningkatnya peran pemerintah tercermin pada pertumbuhan konsumsi pemerintah yang selalu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sejak 2000 (Grafik 2.1). M e ningkatn y a k o n s u m s i r u m a h t a n g g a tercermin dari beberapa indikator konsumsi. Secara umum perkembangan triwulanan indeks riil

penjualan eceran terus menunjukkan peningkatan, hingga mencapai 126,2 pada triwulan IV-2002 (Grafik 2.2). 1 Kenaikan penjualan eceran terjadi di hampir seluruh kelompok barang yang disurvei, kecuali untuk penjualan eceran kelompok bahan konstruksi yang mencatat penurunan. Peningkatan penjualan terutama disumbang oleh peningkatan penjualan kelompok makanan dan tembakau, kelompok kendaraan dan suku cadangnya, kelompok pakaian dan perlengkapannya dan kelompok perlengkapan rumah tangga (Grafik 2.3).

Grafik 2.3 Survei Penjualan Eceran

1

Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia

29

Kondisi Ekonomi Makro

Grafik 2.4 Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga

Grafik 2.6 Penjualan Van dan Sedan

Hasil survei yang menunjukkan peningkatan penjualan pada kelompok makanan dan tembakau, searah dengan meningkatnya pertumbuhan tahunan pengeluaran konsumsi yang dialokasikan untuk

konsumsi lainnya seperti angka penjualan kendaraan bermotor nonniaga. Didorong oleh kemudahan dari sisi pembiayaannya, penjualan sepeda motor terus mengalami peningkatan hingga mencapai 2,3 juta unit pada 2002 atau meningkat 39,5% dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik 2.5). Perkembangan yang sama juga ditunjukkan oleh penjualan van dan sedan yang angka penjualannya tetap meningkat dan mencapai 264 ribu unit pada 2002 atau meningkat 5,1% dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik 2.6). Meningkatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga tercermin pula dari sisi pembiayaannya, baik

makanan yang meningkat dari 0,3% pada 2001 menjadi 0,7% pada tahun laporan (Grafik 2.4). Sementara itu, meskipun terdapat kecenderungan melemah, pertumbuhan tahunan pengeluaran konsumsi bukan makanan pada 2002 masih tetap tinggi yakni sebesar 9,0%. Kecenderungan

meningkatnya perkembangan pengeluaran konsumsi bukan makanan tersebut tercermin pada indikator

Sumber : GAIKINDO

Grafik 2.5 Penjualan Sepeda Motor

Grafik 2.7 Perkembangan Kredit Konsumsi

30

Kondisi Ekonomi Makro

a)

Data s.d. November 2002

Grafik 2.8 Perkembangan Pembiayaan Konsumen

Grafik 2.9 Survei Konsumen

yang bersumber dari perbankan (kredit konsumsi) maupun yang bersumber dari perusahaan

sebelumnya yang mencapai rata-rata 76,3%, terdapat perlambatan pertumbuhan (Grafik 2.8). Hal ini mengindikasikan gejala melambatnya sumber pembiayaan konsumsi. Indikasi tersebut juga terlihat pada perkembangan alat pembayaran kartu. Pemakaian kartu kredit sebagai sarana transaksi non tunai semakin meluas sebagaimana tercermin pada peningkatan jumlah pemegang kartu kredit yang hingga November 2002 telah mencapai 4,1 juta orang atau meningkat 18,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, pertumbuhan volume transaksi kartu kredit justru menurun dari 41,9% pada 2001 menjadi 14,9% pada 2002. Di samping itu, sumber

pembiayaan (pembiayaan konsumen). Pertumbuhan tahunan kredit konsumsi masih tetap tinggi hingga mencapai 36,5%. Meskipun demikian, pertumbuhan tahunan tersebut masih lebih rendah apabila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 45,5% (Grafik 2.7). Perkembangan serupa juga ditunjukkan oleh indikator pembiayaan konsumen. Pertumbuhan rata-rata pembiayaan konsumen masih tetap tinggi seiring dengan menurunnya suku bunga dan hingga November 2002 mencapai 24,7%. Namun demikian dibandingkan dengan pertumbuhan tahun

Tabel 2.2 Perkembangan Alat Pembayaran Berbasis Kartu Jenis Kartu Kredit Jumlah Pemegang (Orang) Volume Transaksi (Triliun Rp) Nilai Transaksi per Orang (Juta Rp) Kartu Debit Jumlah Pemegang (Orang) Volume Transaksi (Triliun Rp) Nilai Transaksi per Orang (Juta Rp)
a) Data s.d. November 2002

1998

1999

2000

2001

2002 a) 4.093.371 22,2 5,4 12.930.161 7,5 0,6

2.028.442 4,9 2,4 5.374.376 2,6 0,5

2.043.846 10,4 5,1 12.110.970 3,2 0,3

2.622.604 13,6 5,2 13.103.676 4,7 0,4

3.457.226 19,3 5,6 13.587.505 6,7 0,5

31

Kondisi Ekonomi Makro

pembiayaan sendiri berupa penggunaan kartu debit sebagai sarana transaksi juga mengalami penurunan. Jumlah pemegang kartu debit menurun sebesar 4,8% dari 13,6 juta orang pada 2001 menjadi 12,9 juta pada tahun laporan (Tabel 2.2). Sementara itu, Survei Konsumen mengindikasikan konsumen yang masih tetap pesimis terhadap kondisi ekonomi sebagaimana tercermin dari indeks kondisi ekonomi saat ini yang masih berada di bawah 100 sepanjang tahun laporan (Grafik 2.9).2 Pesimisme konsumen tersebut juga tercermin pada indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama yang masih tetap rendah, yang berarti masyarakat masih memprioritaskan pembelian barang primer seperti sandang dan pangan. Ketidakmampuan untuk membeli barang dan persepsi semakin tingginya harga-harga barang adalah dua alasan utama konsumen tidak membeli barang tahan lama. Alasan tersebut mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat meskipun dari sisi pendapatan terjadi kenaikan secara nominal terkait dengan adanya kenaikan upah minimum propinsi yang diberlakukan sejak 1 Januari 2002. Di samping itu, berbagai kebijakan pemerintah di bidang harga untuk menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik, tarif telepon, dan tarif angkutan semakin memperlemah daya beli masyarakat. Melemahnya daya beli masyarakat tersebut diperburuk oleh kondisi sektor tenaga kerja seiring dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Pesimisme konsumen juga diperlihatkan oleh hasil-hasil survei yang dilakukan lembaga lain. Survei Tendensi Konsumen yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya perubahan arah kecenderungan konsumsi. Hingga triwulan III-2002 indikasi tendensi konsumen terus menunjukkan peningkatan, namun memasuki triwulan IV-2002 indeks telah berada di bawah 100 yang mengindikasikan bahwa prospek konsumen secara umum menurun.
Grafik 2.10 Perkembangan Impor Barang Konsumsi

Perkembangan yang serupa juga ditunjukkan oleh hasil Survei Consumer Confidence yang dilakukan oleh Danareksa Research Institute (DRI). Sejak awal tahun indeks kepercayaan konsumen terus meningkat hingga September 2002, selanjutnya indeks kembali berada di bawah 100. Ditinjau dari sumber atau asal barang, perkembangan konsumsi tidak saja dipenuhi dari produksi dalam negeri, namun juga dari impor. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan konsumsi, pertumbuhan impor barang konsumsi 2002

menunjukkan peningkatan sebesar 12,7%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun lalu yang menurun 5,8% (Grafik 2.10). 3 Kenaikan impor barang konsumsi terjadi pada hampir seluruh

2

Hasil Survei Konsumen (SK) yang dilakukan oleh Bank Indonesia

3

Sumber: Neraca Pembayaran Indonesia

32

Kondisi Ekonomi Makro

jenis komoditi seperti bahan makanan dan minuman, makanan dan minuman untuk rumah tangga, dan barang konsumsi tidak tahan lama. Peningkatan impor barang konsumsi dapat dilihat dari maraknya impor produk pertanian seperti beras dan gula serta membanjirnya produk manufaktur seperti pakaian jadi dan barang-barang elektronik di pasar domestik. Di satu sisi, meningkatnya kehadiran pemain asing di pasar domestik selain memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen, hal tersebut juga membantu mengurangi tekanan harga melalui pemenuhan kekurangan pasokan khususnya bahan pokok seperti beras dan gula. Namun di sisi lain, fenomena tersebut mengindikasikan rendahnya daya saing industri dalam negeri. Di sektor pemerintah, pertumbuhan konsumsi pemerintah dalam PDB pada tahun laporan meningkat cukup tinggi sebesar 12,8% dibandingkan tahun sebelumnya 9,0%. Hal ini disebabkan oleh menurunnya beban subsidi pemerintah sehingga memungkinkan peluang bagi peningkatan pengeluaran konsumsi pemerintah. Dari jumlah pengeluaran konsumsi tersebut, sebagian besar digunakan untuk konsumsi daerah yang dialokasikan dalam bentuk Dana Alokasi Umum serta Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang. Kegiatan investasi yang diprakirakan akan membaik di paro kedua 2002 ternyata masih menunjukkan kecenderungan yang kurang

Tabel 2.3 Persetujuan PMA dan PMDN 2000
Penanaman Modal Dalam Negeri Jumlah Proyek Nilai Investasi (Miliar Rp) 355 92.410,0 264 181

2001

2002

58.816,0 25.262,3

Penanaman Modal Asing Jumlah Proyek Nilai Investasi (Juta $) Sumber : BKPM 1.524 15.426,6 1.333 15.055,9 1.135 9.744,1

perburuhan, implementasi otonomi daerah yang terkait dengan investasi, ketidakpastian hukum serta kondisi keamanan yang diperburuk oleh tragedi Bali. Secara umum indikasi memburuknya kegiatan investasi dapat dilihat dari menurunnya jumlah persetujuan investasi asing maupun domestik dan menurunnya impor barang modal dan bahan baku. Nilai persetujuan investasi dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) merosot 57,0%, yakni dari Rp58,8 triliun (264 proyek) di tahun 2001 menjadi hanya Rp25,2 triliun (181 proyek) pada periode yang sama di tahun laporan. Perkembangan serupa juga terjadi pada nilai persetujuan investasi dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) yang merosot sebesar 35,3%, yakni dari $15,1 miliar (1.333 proyek) menjadi $9,7 miliar (1.135 proyek) pada 2002 (Tabel 2.3). Selain itu, terdapat pula indikasi beralihnya minat investor asing dari sektor industri ke bidang perdagangan dan reparasi serta bidang jasa lainnya yang tingkat pengembaliannya lebih cepat dan sunk cost (biaya investasi awal yang pasti hilang) yang lebih rendah.

menggembirakan sehingga secara keseluruhan justru mengalami kontraksi sebesar 0,2%, jauh lebih rendah dari 2001 (7,7%) dan 2000 (13,8%). Semakin memburuknya kegiatan investasi tidak terlepas dari masih tingginya risiko investasi yang memperburuk daya saing perekonomian seperti masalah

33

Kondisi Ekonomi Makro

Grafik 2.11 Penjualan Truk

Grafik 2.13 Pertumbuhan Investasi Berdasarkan Jenis

Selain hasil survei, melemahnya kegiatan investasi juga diperlihatkan oleh berbagai indikator dini (prompt indicator) seperti penjualan truk dan produksi semen. Meskipun penjualan truk maupun produksi semen masih terus meningkat, pertumbuhannya menunjukkan kecenderungan yang melambat. Melambatnya pertumbuhan penjualan truk tercermin dari menurunnya rata-rata pertumbuhan dari 43,3% (2001) menjadi 11,5% (2002) (Grafik 2.11). Perkembangan penjualan truk tersebut searah dengan perkembangan investasi alat angkutan yang dalam tahun laporan terus mengalami penurunan. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan

produksi semen pada 2002 mengalami kontraksi 1,8%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 2001 sebesar 12,6% (Grafik 2.12). Pertumbuhan produksi semen tersebut terlihat melambat sejak pertengahan 2001 meskipun sempat menunjukkan arah peningkatan pada pertengahan tahun laporan. Perkembangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan tahunan investasi bangunan yang cenderung melambat, meskipun terlihat mulai menunjukkan kenaikan menjelang akhir tahun 2002 (Grafik 2.13). Dari sisi pembiayaan, indikasi melemahnya kegiatan investasi terlihat pada menurunnya pangsa

Grafik 2.12 Produksi Semen

Grafik 2.14 Perkembangan Kredit Investasi

34

Kondisi Ekonomi Makro

(Miliar Rp) Tabel 2.4 Penerbitan Obligasi Tahun 2002 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Emiten Jasa Marga IX Oto Multiartha I Astra Sedaya Finance II Pupuk Kaltim I Perum Pegadaian IX Bhakti Investama III Telkom I Federal International Finance I Matahari Putra Prima Indosat II Bank Nagari V Inti Visindo Internasional Total
Sumber : Bursa Efek Surabaya

kredit investasi terhadap total kredit perbankan dari 24,0% pada 2001 menjadi 22,8% pada tahun laporan.

Nilai 400 300 400 600 300 200 1.000 300 450 1.075 200 100 5.325

Ditinjau dari pertumbuhannya, kredit investasi tumbuh 11,3%, relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya yakni 10,2% (Grafik 2.14). Kecenderungan yang berbeda diperlihatkan oleh pembiayaan yang bersumber dari non perbankan seperti penerbitan obligasi yang terus meningkat. Maraknya penerbitan obligasi tersebut terutama didukung oleh faktor suku bunga yang menurun. Sepanjang tahun laporan, tercatat dua belas perusahaan yang telah menerbitkan obligasi dengan total nilai sebesar Rp5,3 triliun (Tabel 2.4). Meskipun iklim investasi masih belum kondusif, potensi pembiayaan domestik yang diperlukan untuk mendukung kegiatan investasi pada dasarnya masih
2002

Tabel 2.5 Kesenjangan Tabungan-Investasi
1999 Pemerintah Tabungan Investasi Defisit/Surplus Swasta Tabungan Investasi Defisit/Surplus Total Tabungan Investasi Defisit/Surplus Pemerintah Tabungan Investasi Defisit/Surplus Swasta Tabungan Investasi Defisit/Surplus Total Tabungan Investasi Defisit/Surplus 2000 2001 Harga Berlaku (Triliun Rp) 62,9 74,2 -11,3 222,9 166,1 56,8 285,8 240,3 45,5 28,9 60,1 -31,2 307,3 208,6 98,7 336,2 268,7 67,5 21,8 62,3 -40,5 365,1 253,8 111,3 386,9 316,1 70,8 38,21) 65,91) -27,7 355,1 259,4 95,7 393,3 325,3 68,0

tinggi. Hal ini antara lain tercermin dari masih besarnya kesenjangan tabungan-investasi walaupun nisbah surplus kesenjangan tabungan-investasi terhadap PDB sejak 2000 terus menunjukan penurunan hingga mencapai 4,08% pada 2002. Penurunan surplus tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya surplus di sektor swasta. Sementara itu, defisit di sektor pemerintah sedikit menurun dari 2,72% pada 2001 menjadi 1,66% dalam tahun laporan (Tabel 2.5). Faktor utama menurunnya defisit tersebut adalah peningkatan tabungan pemerintah akibat menurunnya pengeluaran rutin untuk subsidi BBM. Penyumbang kedua terbesar dalam

Rasio Terhadap PDB (Persen) 5,67 6,68 -1,02 20,08 14,96 5,12 25,75 21,65 4,10 2,25 4,69 -2,44 23,97 16,27 7,70 26,22 20,96 5,27 1,46 4,18 -2,72 24,49 17,02 7,46 25,95 21,20 4,75 2,29 3,95 -1,66 21,29 15,55 5,74 23,58 19,50 4,08

pertumbuhan PDB adalah ekspor neto yang mencapai 1,8%. Namun, tingginya sumbangan ekspor neto tersebut disebabkan oleh kontraksi impor barang dan jasa yang jauh lebih tajam daripada kontraksi ekspor barang dan jasa. Setelah mencapai puncaknya pada 2000 yang mencapai

Produk Domestik Bruto (Triliun Rp) 1.110,0 1.282,0 1.491,0 1.667,91) 7,32) Transaksi Berjalan (Miliar ) 6,9 8,0 5,8 9.316 Rata-Rata Nilai Tukar (Rp/$) 8.438 10.255 7.850
1)

2)

Tabungan-Investasi Pemerintah dan PDB harga berlaku berdasarkan APBN Realisasi 2002 Transaksi Berjalan berdasarkan Neraca Pembayaran Indonesia

Sumber : BPS, Bank Indonesia dan Departemen Keuangan (diolah)

35

Kondisi Ekonomi Makro

pertumbuhan 26,5%, pertumbuhan ekspor barang dan jasa terus menunjukkan penurunan hingga mencatat kontraksi sebesar 1,2% pada 2002. Secara umum, buruknya kinerja ekspor tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar negeri. Dari dalam negeri, industri berorientasi ekspor masih menghadapi sejumlah persoalan seperti: (i) ketidakpastian penegakan hukum; (ii) naiknya beban biaya produksi sehubungan dengan kenaikan tarif telepon, listrik, dan BBM; (iii) tuntutan kenaikan upah buruh dan maraknya aksi pemogokan; (iv) teknologi produksi yang mulai usang seiring dengan turunnya investasi barang modal; (v) lemahnya penguasaan pasar dan belum efisiennya sistem distribusi; (vi) adanya persoalan struktural seperti munculnya peraturanperaturan daerah yang tidak mendukung

World Economic Outlook yang pada awal tahun memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS 2002 sebesar 2,3%, ternyata justru merevisinya menjadi 2,2%. Melambatnya kinerja ekonomi tersebut tercermin dari kepercayaan konsumen yang menyentuh level terendah dalam 9 tahun terakhir. Sementara itu, kegiatan ekonomi di Jepang pada 2002 kembali mengalami kontraksi 0,5%, lebih rendah dari tahun lalu sebesar -0,3%. Perkembangan ekonomi Jepang yang kurang menggembirakan tersebut menyebabkan business confidence pengusaha menurun, seperti tercermin pada indeks Tankan pada September 2002 yang masih negatif. Lemahnya kinerja ekonomi di dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut telah menyebabkan terhambatnya proses pemulihan perekonomian dunia. Selain perekonomian dunia yang belum sepenuhnya pulih, beberapa permasalahan ekspor lainnya dari sisi eksternal adalah: (i) semakin tajamnya persaingan global. Masuknya Cina sebagai anggota WTO menjadi tantangan yang cukup berat bagi produk Indonesia; (ii) meningkatnya

pengembangan industri dan perdagangan; (vii) kondisi keamanan yang tidak kondusif. Dari sisi eksternal, lambatnya pemulihan ekonomi di beberapa negara — terutama negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang— semakin mempersulit kinerja ekspor.

proteksionisme yang diperlihatkan oleh sikap sejumlah negara yang cenderung meningkatkan hambatan non tarif dengan dalih melindungi industri dalam negeri; (iii) terjadinya pengalihan

perdagangan (trade diversion) seiring dengan terbentuknya blok-blok perdagangan; (iv)

perkembangan harga komoditi primer di pasar internasional yang tidak menguntungkan posisi penjual. Hal ini terkait dengan kondisi global saat ini yang diwarnai oleh kelebihan pasokan dunia
Grafik 2.15 Pertumbuhan Ekspor-Impor Barang dan Jasa

sehingga pembeli lebih berperan dalam penentuan harga (buyer’s market).

36

Kondisi Ekonomi Makro

(Persen)

Tabel 2.6 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Ekonomi Sektor 1) Pertanian Pertambangan Industri Listrik Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa PDB
1) Nama sektor disederhanakan Sumber : BPS

1999
Pertumbuhan Kontribusi

2000
Pertumbuhan Kontribusi

2001*
Pertumbuhan Kontribusi

2002**
Pertumbuhan Kontribusi

22,0 -1,6 3,9 8,3 -1,9 -0,1 -0,8 -7,2 1,9 0,8

0,4 -0,2 1,0 0,1 -0,1 0,0 -0,1 -0,5 0,2 0,8

1,9 5,5 6,0 7,6 5,6 5,7 8,6 4,6 2,3 4,9

0,3 0,5 1,6 0,1 0,3 0,9 0,6 0,3 0,2 4,9

1,0 0,0 4,1 7,7 4,2 5,3 7,3 3,4 2,0 3,4

0,2 0,0 1,1 0,1 0,2 0,9 0,5 0,2 0,2 3,4

1,7 2,3 4,0 6,2 4,1 3,6 7,8 5,6 2,0 3,7

0,3 0,2 1,1 0,1 0,2 0,6 0,6 0,4 0,2 3,7

Sementara itu, kegiatan impor mencatat kontraksi sangat tajam. Impor barang dan jasa pada tahun laporan mencatat kontraksi 8,3%, jauh lebih buruk dibandingkan dengan tahun lalu yang meningkat sebesar 8,1% (Grafik 2.15). Pertumbuhan yang negatif tersebut terkait erat dengan masih buruknya pertumbuhan investasi dan rendahnya pertumbuhan sektor industri berorientasi ekspor yang memiliki kandungan impor tinggi terutama untuk bahan baku dan barang modal. Dalam periode laporan, pertumbuhan impor bahan baku mengalami kontraksi sebesar 2,9%, sedangkan impor barang modal mengalami kontraksi sebesar 6,7%.4

mengalami peningkatan pertumbuhan, yakni sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor

pengangkutan, dan sektor keuangan. Sementara itu sektor-sektor lainnya justru melambat, termasuk sektor industri pengolahan yang memiliki pangsa terbesar dalam pembentukan PDB. Dilihat dari penyumbang terhadap pertumbuhan, kontributor utama

pertumbuhan pada tahun laporan masih berasal dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor pengangkutan, masingmasing sebesar 1,1%, 0,6%, dan 0,6% (Grafik 2.16).

PENAWARAN AGREGAT
Pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi pada 2002 menunjukkan adanya peningkatan dengan pertumbuhan positif terjadi pada seluruh sektor pembentuk PDB (Tabel 2.6). Meski demikian, dari 9 sektor ekonomi yang ada, hanya 4 sektor yang
Grafik 2.16 Kontribusi terhadap Pertumbuhan
4

Sumber : Neraca Pembayaran Indonesia

37

Kondisi Ekonomi Makro

Grafik 2.17 Survei Kegiatan Dunia Usaha

Grafik 2.18 Indeks Produksi

Sektor pertambangan yang tahun lalu tidak mengalami pertumbuhan, pada tahun laporan mengalami pertumbuhan sebesar 2,3%. Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 4,0% dan memberikan sumbangan 1,1% terhadap pertumbuhan PDB. Meskipun demikian, angka pertumbuhan ini sedikit melambat apabila dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 4,1%. Berbagai permasalahan yang melingkupi dunia usaha seperti faktor risiko usaha yang tinggi, meningkatnya biaya produksi yang bersumber dari penyesuaian harga BBM, TDL serta berbagai retribusi baru seiring dengan implementasi otonomi daerah, menjadi beberapa penyebab melambatnya

dibandingkan tahun 2001. Selain itu, permasalahan mendasar dalam perekonomian Indonesia seperti tidak adanya kepastian hukum turut menghambat proses pemulihan ekonomi. Adanya persaingan dari negara-negara tetangga seperti Vietnam, Cina, India juga merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha di Indonesia. Dampak dari permasalahan ini sudah mulai terlihat dari adanya penutupan beberapa perusahaan PMA. Indikasi perlambatan pertumbuhan sektor ini tercermin juga pada hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Survei Tendensi Bisnis yang dilakukan BPS (Grafik 2.17). Kedua survei tersebut menunjukkan perkembangan indeks yang melemah yang

pertumbuhan sektor ini. Perlambatan pertumbuhan pada sektor ini juga tak terlepas dari masih belum tuntasnya permasalahan yang membatasi proses intermediasi perbankan, meski suku bunga SBI sudah turun. Meskipun jumlah kredit baru terus meningkat, peningkatannya tidak cukup besar untuk dapat memacu pertumbuhan yang lebih tinggi. Bahkan posisi kredit perbankan yang disalurkan ke sektor ini mengalami penurunan

mengindikasikan menurunnya optimisme pengusaha terhadap kondisi perusahaan dan bisnis. Prospek bisnis yang melemah tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya pesanan baik dari dalam maupun luar negeri. Gambaran serupa juga tercermin pada hasil survei industri besar dan sedang, dimana pertumbuhan indeks produksinya bahkan mencatat kontraksi (Grafik 2.18).

38

Kondisi Ekonomi Makro

(Persen)

Tabel 2.7 Tingkat Utilisasi Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan 1997 1998 1999 2000 2001 2002*
Industri Kimia Hulu Industri Kimia Hilir Industri Kimia Hasil Pertanian Industri Agro Industri Hasil hutan Rata-Rata 72,1 78,1 69,0 47,5 68,4 67,0 65,4 54,9 67,8 44,2 58,5 58,2 66,0 64,3 68,0 46,4 60,1 61,0 75,9 70,4 69,6 53,4 67,4 67,3 80,8 72,2 71,8 53,4 57,8 67,2 84,8 75,8 75,4 56,1 60,7 70,6

Sumber : Departemen Perindustrian dan Perdagangan

Grafik 2.19 Produksi Kendaraan Bermotor

Indikator

dari

pertumbuhan

subsektor

perdagangan tercermin dari dibukanya beberapa gerai ritel selama tahun laporan. Hasil Survei Penjualan

Terlepas dari masih terdapatnya berbagai permasalahan diatas, seiring dengan kenaikan permintaan, kegiatan ekonomi dari sisi produksi masih terus tumbuh positif, meski pertumbuhannya tidak dapat memenuhi seluruh kenaikan permintaan tersebut. Peningkatan kegiatan ekonomi ini tercermin dari angka utilisasi kegiatan di sektor industri pengolahan -khususnya industri elektronika serta industri kimia, agro dan hasil hutan yang memiliki pangsa lebih dari 80% dari total produksi di sektor industri pengolahan- yang menunjukkan peningkatan bahkan tingkat utilisasinya sudah berada diatas angka utilisasi sebelum krisis (Tabel 2.7). Indikator lain seperti produksi sepeda motor juga masih berada pada tren yang terus meningkat sejak 1998 (Grafik 2.19). Sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami pertumbuhan sebesar 3,6%, turun dibandingkan tahun lalu sebesar 5,3%. Dengan pertumbuhan yang melambat tersebut, kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan PDB hanya mencapai 0,6%. Pertumbuhan pada sektor ini terutama didorong oleh subsektor perdagangan besar dan eceran seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat.

Eceran sampai dengan Desember 2002 juga menunjukkan adanya peningkatan namun dengan laju yang melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Perlambatan ini diperparah oleh tragedi Bali yang menyebabkan merosotnya kinerja subsektor hotel dan subsektor restoran. Pada tahun laporan sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 7,8%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya (7,3%). Meski terjadi tragedi Bali pada triwulan terakhir 2002, dampaknya tidak terlalu signifikan mengingat sampai tiga triwulan pertama 2002, sektor pengangkutan dan komunikasi masih mencatat pertumbuhan yang meningkat apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang terjadi terutama berasal dari pertumbuhan pada subsektor pengangkutan, khususnya angkutan jalan raya dan angkutan udara. Untuk angkutan udara, bertambahnya maskapai penerbangan udara dan kebijakan pemerintah yang hanya membatasi ceiling price mendorong persaingan yang semakin ketat sehingga menyebabkan harga tiket pesawat lebih murah. Namun demikian, tragedi Bali telah menyebabkan pertumbuhan kegiatan angkutan udara melambat.

39

Kondisi Ekonomi Makro

Untuk subsektor komunikasi, pertumbuhan pada tahun laporan terkait erat dengan deregulasi di sektor telekomunikasi. Deregulasi ini

secara signifikan dan bahkan mampu mendukung penurunan kegiatan sektor-sektor lainnya yang sampai paro pertama 2002 masih kurang

memungkinkan terjadinya persaingan yang ketat antar perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. Deregulasi ini juga mendorong terjadinya

menggembirakan. Selain tanaman bahan makanan, subsektor perkebunan juga memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pertumbuhan sektor ini. Sementara itu, subsektor kehutanan justru mengalami kontraksi. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan di subsektor kehutanan dalam upayanya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sektor-sektor lain dalam pembentukan PDB secara umum juga memperlihatkan perbaikan. Sektor keuangan dan sektor pertambangan mencatat adanya peningkatan pertumbuhan. Meningkatnya dana pihak ketiga dan penyaluran kredit

peningkatan investasi oleh beberapa operator utama. Selain itu berbagai tawaran program baru dari operator telepon seluler juga berperan dalam peningkatan pertumbuhan subsektor ini. Sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,7%, lebih tinggi dari pertumbuhan pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar 1,0%. Peningkatan pertumbuhan ini terutama terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan lahan pertanian. Selain itu, gejala alam El Nino yang semula diperkirakan memberikan dampak negatif ternyata tidak terjadi. Dalam mengantisipasi kemungkinan penurunan produksi akibat terjadinya musim kering, Departemen Pertanian telah menggalakkan upaya untuk memperluas lahan tanam dan penyediaan benih kepada petani. Selain itu, tercukupinya kebutuhan pupuk dalam negeri karena tidak adanya gangguan pasokan gas kepada industri pupuk juga turut memperlancar proses produksi di sektor ini. Fenomena yang paling menonjol pada sektor pertanian adalah terjadinya pergeseran masa panen raya. Bencana banjir yang terjadi pada akhir 2001 dan awal tahun laporan telah menyebabkan mundurnya masa tanam padi. Akibatnya, musim panen raya bergeser ke triwulan II. Dengan demikian, produksi padi pada triwulan ini meningkat

mencerminkan proses intermediasi perbankan yang terus membaik. Sektor konstruksi juga terus tumbuh terutama berasal dari perbaikan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah seiring dengan pelaksanaan proyek-proyek besar pembangunan jalan di berbagai daerah di Indonesia serta pembangunan properti komersial dan residensial.

Interaksi Permintaan dan Penawaran Perkembangan sisi penawaran menunjukkan pertumbuhan yang positif, meski belum pada tingkat yang diharapkan. Terus melemahnya pertumbuhan investasi, serta menurunnya impor bahan baku penolong dan impor barang modal menyebabkan penambahan kapasitas produksi dan utilisasi menjadi terbatas. Bahkan peningkatan di sisi penawaran ini tidak cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan domestik. Kesenjangan antara permintaan dan

40

Kondisi Ekonomi Makro

(Grafik 2.20). Dengan kata lain, laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat membutuhkan investasi yang lebih tinggi dengan rasio yang relatif sama.

KETENAGAKERJAAN
Perkembangan ketenagakerjaan pada 2002 menunjukkan kecenderungan yang memburuk sebagaimana tercermin dari besarnya penambahan angkatan kerja yang tidak sebanding dengan
Grafik 2.20 Incremental Capital-Output Ratio (ICOR)

penambahan lapangan kerja. Hal ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah.

penawaran domestik ini ditutup oleh pasokan yang berasal dari impor sehingga tekanan harga yang berasal dari permintaan tidak terlalu besar. Perkembangan perekonomian yang belum terlalu menggembirakan tercermin pula pada angka incremental capital output ratio (ICOR) yang mengukur efisiensi dari suatu perekonomian. Pada periode laporan angka ICOR relatif tidak berubah

Sementara itu, upaya peningkatan kesejahteraan pekerja belum optimal karena masih relatif tingginya tingkat inflasi, sehingga upah minimum propinsi (UMP) masih berada di bawah tingkat kebutuhan hidup minimum (KHM). Di sisi lain, permasalahan perburuhan di dalam negeri dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di luar negeri turut memperburuk kondisi ketenagakerjaan 2002.
(Juta Orang)

Tabel 2.8 Angkatan Kerja dan Pengangguran 1997 Penduduk Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) Bekerja Formal Informal Bekerja >= 35 jam seminggu Bekerja < 35 jam seminggu (setengah penganggur) Penganggur Terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Penganggur Terbuka & Setengah Penganggur Tingkat Penganggur Terbuka & Setengah Penganggur (%) Bukan Angkatan Kerja Penduduk Bukan Usia Kerja
Sumber : BPS

1998 198,5 138,6 92,7 66,9 87,7 30,3 57,3 55,7 31,9 5,1 5,5 37,0 39,9 45,8 59,9

1999 200,3 141,1 94,8 67,2 88,8 31,9 56,9 57,4 31,4 6,0 6,4 37,4 39,4 46,3 59,2

2000 205,8 141,2 95,7 67,8 89,8 31,5 58,3 59,7 30,1 5,8 6,1 35,9 37,5 45,5 64,6

2001 208,9 144,0 98,8 68,6 90,8 29,4 61,4 60,4 30,4 8,0 8,1 38,4 38,9 45,2 64,9

2002* 212,0 148,4 100,5 67,8 91,6 29,2 62,4 62,8 28,9 9,1 9,1 38,0 37,8 48,3 63,6

195,8 135,1 89,6 66,3 85,4 31,7 53,7 57,4 28,0 4,2 4,7 32,2 36,0 45,5 60,7

41

Kondisi Ekonomi Makro

Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja Jumlah penduduk usia kerja pada akhir 2002 mencapai 148,4 juta orang , meningkat dibandingkan pada akhir 2001 sebanyak 144 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 67,7% atau 100,5 juta orang merupakan angkatan kerja. Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja mencapai 91,6 juta orang atau naik 1,7% dibandingkan pada 2001 (Tabel 2.8). Dengan perkembangan tersebut tingkat kesempatan kerja mencapai 91,2%, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 91,9%. Jika dihitung berdasarkan penduduk yang bekerja minimal 35 jam seminggu, yaitu sebanyak 62,8 juta orang, tingkat kesempatan kerja hanya mencapai 62,5%. Ditinjau berdasarkan lapangan pekerjaan, terjadi penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Meskipun
5

oleh tenaga usaha pertanian (42,1%), disusul tenaga produksi (25,4%), dan tenaga usaha penjualan (18,4%). Jumlah pekerja yang berprofesi sebagai tenaga kepemimpinan dan tenaga profesional masih sangat kecil, yaitu masing-masing 0,4% dan 3,5% dari penduduk yang bekerja (Tabel 2.9). Berdasarkan status pekerjaan, jumlah

penduduk yang bekerja di sektor formal turun sebesar 0,5%. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal bersumber dari penurunan jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan, yang merupakan status pekerjaan terbanyak. Di sisi lain, terjadi peningkatan pada jumlah penduduk yang berusaha dengan dibantu buruh tetap. Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa jumlah unit usaha formal sebenarnya mengalami peningkatan pada 2002 namun secara keseluruhan usaha formal tersebut mempekerjakan lebih sedikit karyawan dibandingkan 2001. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja di sektor informal mengalami peningkatan sebesar 1,6%, yang disebabkan oleh terjadinya kenaikan jumlah pekerja bebas dan jumlah orang yang berusaha sendiri tanpa dibantu anggota keluarga atau buruh tetap (Tabel 2.10). Perkembangan tersebut mengindikasikan adanya peralihan pekerja dari sektor formal ke sektor informal sehingga pangsa pekerja di sektor formal semakin menurun sebagaimana kecenderungan yang terjadi sejak 1997 (Grafik 2.21).

mengalami penurunan, sektor pertanian masih menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar (42,5%), disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran (19,6%), sektor industri pengolahan (13,7%), dan sektor jasa-jasa (11,9%). Sejalan dengan dominasi sektor pertanian sebagai penyedia lapangan kerja, jenis pekerjaan juga didominasi
(Juta Orang)

Tabel 2.9 Jumlah Pekerja Berdasarkan Sektor Perekonomian 1997 1998 1999 2000 2001 2002*
Pertanian Perdagangan, Hotel dan Restoran Industri Pengolahan Jasa-Jasa Lain-Lain Total 34,8 17,0 11,0 12,6 10,1 85,4 39,4 16,8 9,9 12,4 9,1 87,7 38,4 17,5 11,5 12,2 9,2 88,8 40,7 18,5 11,6 9,6 9,5 89,8 39,7 17,5 12,1 11,0 10,5 90,8 39,0 17,7 12,6 10,9 11,5 91,6

Tingkat Pengangguran Jumlah penganggur mencapai 38,0 juta orang, yang terdiri dari 9,1 juta orang penganggur

* angka sementara Sumber : BPS

5

Sumber BPS.

terbuka dan 28,9 juta orang setengah penganggur.

42

Kondisi Ekonomi Makro

(Juta Orang)

Tabel 2.10 Jumlah Pekerja Berdasarkan Status Pekerjaan 1997 Pekerja Formal Buruh/karyawan Berusaha dibantu buruh tetap Pekerja Informal Berusaha sendiri Berusaha dibantu anggota keluarga/buruh tidak tetap Pekerja bebas di pertanian Pekerja bebas di nonpertanian Pekerja tak dibayar Total Pekerja Sumber BPS. 31,7 30,3 1,5 53,7 19,9 18,0 0,0 0,0 15,8 85,4 1998 30,3 28,8 1,5 57,3 20,5 19,7 0,0 0,0 17,1 87,7 1999 31,9 29,4 2,6 56,9 21,7 18,9 0,0 0,0 16,3 88,8 2000 31,5 29,5 2,0 58,3 19,5 20,7 0,0 0,0 18,1 89,8 2001 29,4 26,6 2,8 61,4 17,5 20,3 3,6 2,4 17,6 90,8 2002* 29,2 26,2 3,0 62,4 19,1 18,0 4,2 3,3 17,9 91,6

Masih tingginya jumlah penganggur tersebut tidak terlepas dari rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang hanya mampu menyerap

sedangkan penganggur terbuka berpendidikan SLTP ke atas berkurang (Tabel 2.11). Namun demikian, penganggur terbuka tetap didominasi oleh angkatan kerja berpendidikan SLTA (34,7%). Selain karena bertambahnya angkatan kerja baru, jumlah penganggur yang bertambah juga disebabkan oleh meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama karena pengurangan atau penghentian sejumlah aktivitas produksi di sektor industri pengolahan. Selama 2002 jumlah PHK tercatat sebanyak 3.774 kasus dengan jumlah pekerja

penambahan tenaga kerja sebanyak 0,8 juta orang, sementara penambahan angkatan kerja baru pada periode yang sama mencapai 1,7 juta. Hal ini mengakibatkan tingkat pengangguran terbuka meningkat dari 8,1% pada 2001 menjadi 9,1% pada 2002 (Grafik 2.22). Ditinjau dari komposisi tingkat pendidikan, penganggur terbuka tak berpendidikan hingga berpendidikan SD mengalami peningkatan

Sumber : BPS

Grafik 2.21 Proporsi Pekerja Formal dan Informal

Grafik 2.22 Tingkat Pengangguran Terbuka dan Jumlah Tenaga Kerja Terkena PHK

Sumber : BPS

43

Kondisi Ekonomi Makro

Tabel 2.11 Pengganggur Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan 1997
< SD SD SLTP SLTA > SLTA Total
216.495 760.172 736.375

kerja lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang menambah tenaga kerja. Secara sektoral, indikasi pengurangan tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor pertanian.

1998
257.330 911.782 984.104

1999
278.500 1.151.252 1.159.478 2.886.216 554.873 6.030.319

2000
221.242 1.216.976 1.367.892 2.546.355 460.766 5.813.231

2001
851.426 1.893.565 1.786.317 2.933.490 540.233 8.005.031

2002*
1.110.200 2.393.300 1.874.600 3.157.700 564.200 9.100.000

2.106.182 2.479.739 378.082 429.528

Upah Minimum Secara rata-rata UMP 2002 mencapai

4.197.306 5.062.483

Sumber : BPS

Rp362.743/bulan atau meningkat 18,1% dibanding tahun sebelumnya (Grafik 2.24). Namun demikian, peningkatan UMP ini masih lebih rendah dibandingkan peningkatan kebutuhan hidup minimum (KHM) yang pada 2002 mencapai sekitar Rp422.347/bulan atau meningkat 23% dibanding 2001. Relatif tingginya indeks harga konsumen menyebabkan terjadinya penurunan daya beli pekerja sebagaimana terlihat dari kenaikan UMP riil yang melambat dari 22,4% pada 2001 menjadi 7,3% pada 2002 (Grafik 2.25). Secara sektoral, UMP tertinggi di beberapa propinsi seperti Kalimantan Tengah, Irian Jaya, Maluku, dan Maluku Utara diterima pekerja di sektor pertambangan. Sementara untuk provinsi lainnya, UMP sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor keuangan menempati urutan teratas.

yang kehilangan pekerjaan mencapai 116.176 orang. Jumlah ini telah mendekati jumlah pekerja yang terkena PHK selama puncak krisis tahun 1998 yang tercatat sebanyak 127.735 orang (Grafik 2.22). Angka pengangguran tersebut juga diperparah oleh dampak tragedi Bali yang mengakibatkan melambatnya kegiatan ekonomi di sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor transportasi dan sektor jasa-jasa yang terkait dengan pariwisata. Tingkat pengangguran dan PHK yang meningkat pada 2002 sejalan dengan Indikator Penggunaan Tenaga Kerja SKDU. Untuk rata-rata seluruh sektor, indikator tersebut mencatat Saldo Bersih Tertimbang negatif (Grafik 2.23). Hal itu menunjukkan bahwa jumlah perusahaan yang mengurangi penggunaan tenaga

Grafik 2.23 Penggunaan Tenaga Kerja

Sumber : Depnakertrans dan data diolah

Grafik 2.24 UMR/UMP

44

Kondisi Ekonomi Makro

Sumber : Depnakertrans dan data diolah

Sumber : BPS

Grafik 2.25 Pertumbuhan UMR/UMP Riil

Grafik 2.26 Kasus Pemogokan dan Jam Kerja yang Hilang

Permasalahan Ketenagakerjaan Permasalahan ketenagakerjaan diwarnai dengan meningkatnya jumlah pemogokan. Sampai November 2002, tercatat 209 kasus pemogokan yang melibatkan 92.325 pekerja dan menyebabkan 659.102 jam kerja hilang (Grafik 2.26). Meskipun jumlah kasus pemogokan mengalami peningkatan, dampak pemogokan terhadap penurunan

Indonesia. Selain berdampak pada meningkatnya jumlah pencari kerja di tanah air, pemulangan TKI ilegal tersebut diperkirakan mempengaruhi perekonomian desa yang selama ini bergantung pada kiriman uang dari TKI.

Pendapatan Perkapita Dengan jumlah penduduk pada 2002 yang diperkirakan mencapai sekitar 212 juta jiwa maka pendapatan per kapita nominal 2002 mencapai Rp7,6 juta atau setara dengan $811, meningkat dibandingkan pada 2001 senilai $677.

produktivitas mengalami penurunan karena jam kerja yang hilang lebih sedikit dibandingkan pada kasus pemogokan 2001. Selain disebabkan oleh masalah pemenuhan UMP, beberapa faktor lain pemicu kasus pemogokan adalah ketidakpuasan kerja, perlakuan yang tidak adil, tuntutan perbaikan fasilitas dan tunjangan kerja, permasalahan jender, masalah uang Jamsostek dan penolakan terhadap metode kerja baru yang diterapkan perusahaan. Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pada 2002 ditandai dengan diberlakukannya kebijakan baru pemerintah Malaysia yang lebih keras terhadap tenaga kerja ilegal. Hal ini memicu eksodus besar-besaran TKI ilegal di Malaysia untuk kembali ke

Sumber : BPS

Grafik 2.27 Pendapatan Per Kapita Riil

45

Kondisi Ekonomi Makro

Secara riil, pendapatan per kapita 2002 mencapai sekitar Rp2 juta 6, atau setara dengan $ 2 1 5. Wa l a u p u n t e r j a d i p e n i n g k a t a n 2,1% dibandingkan tahun 2001, pendapatan per kapita riil 2002 tersebut masih lebih rendah

dibandingkan pendapatan per kapita 1997 yang mencapai Rp2,2 juta (Grafik 2.27). Sementara itu peningkatan pendapatan per kapita dalam dolar lebih disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah pada tahun laporan.

6

PDB atas dasar harga konstan 1993 dibagi jumlah penduduk

46

BAB

laporan tahunan

3 Nilai Tukar

Nilai Tukar

Bab 3: Nilai Tukar

47

BNilai Tukar AB

3

NILAI TUKAR

Nilai tukar rupiah mengalami apresiasi secara signifikan disertai penurunan volatilitas yang disebabkan oleh membaiknya faktor fundamental dan sentimen serta dukungan kebijakan nilai tukar.

S

etelah mengalami depresiasi pada 2001, nilai tukar rupiah mengalami apresiasi yang

rupiah cenderung mengalami penguatan yang tajam hingga sempat menyentuh nilai tertinggi Rp8.425 per dolar dengan disertai pergerakan yang relatif stabil. Menguatnya nilai tukar rupiah tersebut terutama didukung oleh membaiknya faktor fundamental yang bersumber dari surplus neraca pembayaran dan dipicu oleh membaiknya faktor-faktor sentimen serta upaya Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Selanjutnya pada fase kedua yang berlangsung dari Juli s.d. Desember 2002, nilai tukar rupiah bergerak lebih fluktuatif. Pola pergerakan nilai tukar rupiah pada fase kedua ini dipicu oleh faktor-faktor sentimen negatif dan diikuti oleh meningkatnya permintaan valuta asing di pasar domestik, terutama akibat tragedi Bali yang menyebabkan rupiah terpuruk ke nilai terendah Rp9.425 per dolar pada Oktober 2002. Namun, melemahnya rupiah tersebut tidak berlangsung lama setelah BI melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Selanjutnya, pulihnya kepercayaan pasar yang diiringi oleh membaiknya faktor sentimen dan fundamental telah mendorong rupiah bertahan di bawah level Rp9.000 per dolar pada akhir periode laporan. Pergerakan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh

signifikan pada periode laporan 2002. Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah menguat tajam, yaitu sebesar 10,1% dari rata-rata Rp10.255 per dolar pada 2001 menjadi Rp9.316 pada 2002. Sementara itu secara point to point, nilai tukar rupiah bahkan mengalami apresiasi yang lebih tajam, yaitu sebesar 16,2% dari Rp10.400 pada akhir 2001 menjadi Rp8.950 per dolar AS pada akhir 2002. Dengan apresiasi tersebut, rupiah tercatat sebagai mata uang yang mengalami apresiasi tertinggi di Asia selama 2002. Perkembangan nilai tukar rupiah sepanjang periode laporan secara umum dapat dibagi dalam dua fase (Grafik 3.1). Dalam fase pertama yang berlangsung dari Januari s.d. Juni 2002, nilai tukar

Grafik 3.1 Perkembangan Rata-Rata (Bulanan) Nilai Tukar Rupiah Tahun 2002

sejumlah faktor, baik faktor fundamental, faktor sentimen dan risiko, maupun kebijakan di bidang nilai

48

Nilai Tukar

tukar. Dari sisi fundamental, pergerakan nilai tukar rupiah selama 2002 terutama dipengaruhi oleh besarnya surplus neraca pembayaran yang disebabkan oleh penurunan defisit transaksi modal dan meningkatnya surplus transaksi berjalan. Dari sisi sentimen, faktor positif yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah terutama terkait dengan kemajuan yang dicapai dalam program restrukturisasi ekonomi seperti keberhasilan penjadwalan kembali utang luar negeri, pencairan pinjaman IMF, dan terlaksananya program divestasi bank serta privatisasi BUMN. Sentimen positif tersebut dikonfirmasi oleh membaiknya beberapa indikator risiko seperti peringkat kredit (credit rating), tingkat premi risiko1, dan tingkat premi swap. Dari sisi kebijakan, berbagai upaya telah ditempuh oleh BI terutama dalam rangka meminimalkan fluktuasi nilai tukar rupiah. Kebijakan ini dilakukan baik melalui intervensi valuta asing maupun kebijakan lainnya yang bersifat

NPI mengalami surplus sebesar $3,6 miliar, setelah dalam tahun sebelumnya mencatat defisit sebesar $1,4 miliar. Surplus tersebut bersumber dari berkurangnya secara drastis defisit lalu lintas modal dan meningkatnya surplus transaksi berjalan (Lihat Bab 6 Neraca Pembayaran). Defisit lalu lintas modal menurun drastis dari $9,0 miliar pada 2001 menjadi $3,6 miliar pada tahun laporan. Penurunan defisit tersebut terutama bersumber dari penarikan pinjaman IMF, penjadwalan kembali pembayaran utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta, menurunnya pembayaran utang luar negeri swasta, keberhasilan pelaksanaan program divestasi bank dan privatisasi BUMN, serta penerbitan obligasi swasta dalam valuta asing di luar negeri. Sementara itu, surplus transaksi berjalan meningkat dari $6,9 miliar menjadi $7,3 miliar dalam periode yang sama. Peningkatan surplus tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan impor.

nonkonvensional, seperti moral suasion kepada pelaku pasar dan pemantauan kegiatan transaksi devisa yang dilakukan oleh bank dan pelaku pasar utama nonbank.

Faktor Sentimen
Kecenderungan menguatnya nilai tukar rupiah pada fase pertama juga dipicu oleh sejumlah faktor

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR Faktor Fundamental
Secara fundamental, kecenderungan menguatnya nilai tukar rupiah dalam periode laporan tidak terlepas dari membaiknya kinerja sektor eksternal yang tercermin dari surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Selama tahun laporan,
1

sentimen (Grafik 3.2). Berbagai peristiwa yang menimbulkan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah dapat dikelompokkan sebagai berikut: i. Dampak penguatan mata uang Asia (regional). Masih lemahnya kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) menyebabkan nilai tukar dolar cenderung melemah terutama terhadap mata uang utama seperti yen dan euro. Hal

Premi risiko diproksi dengan menggunakan selisih yield antara Yankee Bond Indonesia dan US Treasury Note yang sama-sama berjangka waktu 10 tahun dan akan jatuh tempo tahun 2006.

ini banyak memberikan pengaruh positif

49

Nilai Tukar

Grafik 3.2 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Faktor Sentimen Tahun 2002

terhadap pergerakan mata uang regional, termasuk rupiah. ii. Keberhasilan pemerintah dalam melakukan negosiasi dengan negara-negara donor. Perundingan pemerintah dengan negaranegara donor yang tergabung dalam forum PC III telah menghasilkan kesepakatan mengenai penjadwalan kembali pembayaran utang pemerintah sebesar $5,4 miliar, masingmasing sebesar $2,4 miliar yang jatuh tempo tahun 2002 dan $3,0 miliar yang akan jatuh tempo tahun 2003. Menyusul keberhasilan forum PC III, kreditur komersial yang tergabung dalam forum London Club akhirnya juga memberikan persetujuan prinsip terhadap penjadwalan kembali pembayaran utang komersial pemerintah. Sementara itu, IMF iv.

juga telah mengucurkan pinjaman kepada Indonesia sekitar $1,09 miliar dalam enam bulan pertama 2002. iii. Kemajuan dalam proses divestasi dan privatisasi sejumlah bank dan BUMN. BPPN telah berhasil menuntaskan proses divestasi BCA, sementara proses privatisasi sejumlah BUMN seperti Bank Mandiri, PT Telkom, dan PT Indofarma juga mulai berjalan secara bertahap. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk memperpanjang masa Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) tidak lebih dari tiga bulan juga mendapat sambutan yang positif dari pasar. Minat investor asing terhadap aset-aset pemerintah cukup besar. Proses divestasi dan privatisasi sejumlah bank dan BUMN telah

50

Nilai Tukar

mengundang masuk investor asing seperti Farallon Capital yang telah memenangkan tender pembelian saham BCA. Sementara itu, sentimen negatif selama fase pertama bersumber dari penurunan credit rating Indonesia oleh Standar & Poor’s (S&P) dari CCC menjadi “Selective Default (SD)” pada April 2002, dan aksi profit taking dengan membeli dolar yang dilakukan pada saat rupiah menguat. Namun demikian, secara keseluruhan sentimen positif masih lebih kuat, sehingga nilai tukar rupiah cenderung menguat sepanjang Januari hingga Juni 2002. Selanjutnya pada fase kedua, nilai tukar rupiah cenderung berfluktuasi akibat beberapa sentimen negatif sebagai berikut: i. Dampak melemahnya mata uang regional. Melemahnya rupiah dalam fase kedua ini cukup banyak dipengaruhi oleh kecenderungan melemahnya mata uang regional Asia terhadap dolar. Memburuknya kondisi ekonomi global, ancaman perang AS terhadap Irak, dan terorisme internasional telah meningkatkan risiko keamanan dan ketidakpastian dalam berusaha. ii. Kepercayaan investor asing terhadap pasar modal yang memburuk. Memburuknya iii.

Bursa Efek Jakarta (BEJ) sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dampak tragedi Bali. Serangkaian aksi peledakan bom terutama di Bali telah merusak kepercayaan investor internasional sehingga mendorong mereka mengambil posisi long dollar. Tragedi tersebut antara lain menyebabkan tertundanya pertemuan CGI yang semula direncanakan di Yogyakarta pada Oktober 2002. Tragedi tersebut juga menyebabkan anjloknya pendapatan devisa dari sektor industri pariwisata dan menimbulkan pesimisme di sebagian kalangan, antara lain terlihat dari penilaian Political and Economic Risk Consultancy Ltd. (PERC) terhadap risiko keamanan Indonesia yang memburuk. Walaupun tekanan depresiasi terhadap rupiah pada fase kedua cukup berat, namun terdapat beberapa aspek yang menimbulkan sentimen positif sehingga sangat membantu mengurangi tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah, bahkan kadangkala berdampak apresiatif. Beberapa aspek tersebut antara lain: i. Aspek ekonomi. Membaiknya beberapa indikator ekonomi seperti neraca pembayaran yang masih mencatat surplus, laju inflasi dan suku bunga yang cenderung menurun, uang primer yang terkendali di bawah target, serta defisit fiskal yang lebih kecil di bawah target semula telah meningkatkan kepercayaan lembaga donor sebagaimana tercermin dari pencairan pinjaman IMF senilai $365 juta pada Desember 2002. Khusus terkait dengan membaiknya kinerja fiskal, selain bersumber dari pencairan pinjaman

kepercayaan investor tersebut diawali dengan terpuruknya indeks Dow Jones. Hal ini merupakan akibat dari terbongkarnya skandal keuangan yang melibatkan perusahaanperusahaan raksasa di Amerika Serikat. Sentimen negatif tersebut kemudian menjalar ke berbagai bursa saham di seluruh dunia yang memicu aksi jual saham oleh investor asing di

51

Nilai Tukar

IMF, keberhasilan pemerintah dalam mengurangi beban fiskal juga bersumber dari hasil divestasi Bank Niaga, privatisasi PT Indosat, dan persetujuan reprofiling obligasi pemerintah untuk bank-bank rekap. ii. Aspek politik, hukum, dan keamanan. Dari aspek politik, penguatan rupiah didukung oleh situasi politik yang cukup kondusif setelah Sidang Tahunan MPR tahun 2002 yang berjalan cukup lancar dan aman. Dari aspek hukum, upaya-upaya pemerintah untuk menyelesaikan kasus peledakan bom di Bali mendapat dukungan dari berbagai negara dan telah mencatat kemajuan yang cukup pesat sehingga berangsur-angsur memulihkan kepercayaan investor. Dari aspek keamanan, optimisme terhadap membaiknya situasi keamanan muncul setelah ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM pada Desember 2002. iii. Country risk. Menyusul suksesnya hasil

perundingan Paris Club dan London Club, beberapa lembaga pemeringkat utang seperti Fitch IBCA dan S&P memperbaiki credit rating Indonesia. Bahkan, , pasca tragedi Bali, S&P telah meningkatkan outlook utang perbankan untuk 2003.

Indikator Risiko
Country risk Indonesia secara umum dinilai membaik sebagaimana tercermin dari membaiknya peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia yang dilakukan oleh dua lembaga pemeringkat internasional, yaitu Fitch IBCA dan S&P (Tabel 3.1). Perbaikan peringkat kredit oleh Fitch IBCA tersebut didasarkan pada disetujuinya penjadwalan kembali pembayaran utang pemerintah dalam forum PC III dan London Club. Perbaikan peringkat kredit terjadi baik pada foreign maupun local currency long-term debt, masing-masing dari B- menjadi B, yang efektif berlaku sejak 1 Agustus 2002. Langkah Fitch IBCA

Tabel 3.1 Sovereign (Foreign Currency Long Term) Debt Ratings Country Malaysia S&P
Rating Effective Rating

MOODY’S
Effective

FITCH IBCA
Rating Effective

BBB+ BBB BBBBBBBBB ABB+ BB BBCCC+ SD CCC

20-Aug-02 10-Nov-99 15-Sep-98 8-Jan-98 24-Oct-97 3-Sep-97 21-Feb-97 30-May-95 30-Jun-93 5-Sep-02 23-Apr-02 2-Nov-01

Baa2 *+ Baa2 Baa3 *+ Baa3 Ba1 *+ Ba1 *+ Ba1 Ba2 *+ Ba2 B3 B2 Ba1

24-Jun-02 17-Oct-00 12-Jul-00 21-Jun-00 3-Apr-00 21-Dec-97 18-May-97 23-Jan-97 12-May-95 20-Mar-98 9-Jan-98 21-Dec-97

BBB+ BBB BBB- *+ BBBBB+ *+ BB+ BB+ BB+ *BB+ B BB+ *-

7-Aug-02 7-Dec-99 9-Sep-99 24-Jun-99 26-Apr-99 14-May-98 15-Mar-01 17-Jan-01 8-Jul-99 1-Aug-02 16-Mar-98 21-Jan-98

Thailand

Philippines

Indonesia

Investment Grade Non-Investment/Speculative Grade

52

Nilai Tukar

tersebut diikuti oleh S&P dengan meningkatkan peringkat utang Indonesia dari “Selective Default (SD)” menjadi CCC+ yang efektif sejak 5 September 2002. Selanjutnya, pasca tragedi Bali, S&P bahkan telah meningkatkan outlook utang sektor perbankan untuk 2003 dari “negative” menjadi “stable”. Hal ini menunjukkan pandangan optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Sementara itu, lembaga pemeringkat dari Hong Kong, Political and Economic Risk Consultancy Ltd. (PERC), menilai country risk Indonesia memburuk pasca tragedi Bali. Hal ini didasarkan pada meningkatnya faktor risiko keamanan sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan menurunnya industri pariwisata, berkurangnya iklim investasi yang kondusif, dan terganggunya aktivitas ekspor dan impor. Di samping itu memburuknya peringkat tersebut juga didasarkan pada beban fiskal yang diperkirakan semakin berat akibat tertundanya sidang CGI pada Oktober 2002. Namun demikian, penilaian lembaga ini tidak banyak mempengaruhi persepsi pasar yang positif terhadap prospek ekonomi Indonesia sebagaimana tercermin dari membaiknya indikator risiko. Membaiknya country risk Indonesia
Grafik 3.4 Kurva Yield Swap

dikonfirmasi juga oleh membaiknya beberapa indikator risiko. Indikator risiko berjangka pendek yang diwakili oleh tingkat premi swap menunjukkan kecenderungan menurun untuk semua tenor sejak akhir 2001 (Grafik 3.3 dan 3.4). Tingkat premi swap 1 bulan menurun dari 16,80% pada akhir 2001 menjadi 12,53% pada akhir 2002, sementara tingkat premi swap 3 bulan menurun dari 17,30% menjadi 13,00%. Dengan suku bunga SIBOR 1 bulan yang menurun signifikan dari 1,88% menjadi 1,38%, maka tingkat implied swap premium2 1 bulan menurun tajam dari 18,68% menjadi 13,91% dalam periode yang sama. Tingkat implied swap premium tersebut lebih tinggi dari suku bunga SBI 1 bulan yang cenderung menurun hingga mencapai 12,93% pada akhir periode laporan sehingga membuka peluang sejumlah bank untuk menarik keuntungan yang timbul akibat terjadinya perbedaan antara suku bunga Ru-

Grafik 3.3 Perkembangan Premi Swap

2

Implied swap premium adalah tingkat premi swap ditambah dengan suku bunga simpanan/penempatan dalam valuta asing.

53

Nilai Tukar

Grafik 3.5 Covered Interest Rate Parity

Grafik 3.6 Arah Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Premi Risiko

piah di pasar uang dan implied swap rate. Menurunnya premi swap dan suku bunga —baik dalam negeri (JIBOR) maupun luar negeri (SIBOR) —
3

baik ke depan meskipun disertai sikap kehatihatian sebagaimana tercermin dari masih cukup tingginya tingkat premi risiko tersebut

menyebabkan covered interest rate parity4 membaik. Hal ini tercermin dari angka covered interest rate yang positif selama delapan bulan berturut-turut dalam periode laporan setelah selama satu tahun sebelumnya terus-menerus mencatat angka negatif (Grafik 3.5). Walaupun tragedi di Bali kemudian memicu kenaikan tingkat premi swap sehingga menyebabkan angka covered interest rate kembali negatif sejak bulan Oktober 2002, namun posisinya masih membaik dari -0,83% pada akhir periode sebelumnya menjadi -0,75% pada akhir periode laporan. Dalam jangka yang lebih panjang, indikator risiko yang diwakili oleh tingkat premi risiko juga membaik dari 534 bp menjadi 402 bp dalam kurun waktu yang sama (Grafik 3.6). Hal ini menunjukkan ekspektasi pelaku pasar terhadap rupiah yang lebih

dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti Cina, Korea Selatan, dan Malaysia yang berada dalam kisaran 150-250 bp. Penurunan tersebut disebabkan oleh yield Yankee Bond RI yang menurun lebih besar dibandingkan dengan menurunnya yield US Treasury Notes dalam periode laporan.

Faktor Kebijakan
Dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah, pada periode laporan BI melakukan berbagai langkah kebijakan dengan mengoptimalkan seluruh instrumen yang tersedia. Langkah-langkah tersebut meliputi penyerapan secara konsisten terhadap ekses likuiditas rupiah di pasar melalui instrumen Operasi Pa s a r Te r b u k a (OPT),

pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan mengenai pembatasan transaksi rupiah oleh
3

4

Dalam hal ini, JIBOR dianggap sebagai benchmark suku bunga pasar uang antarbank di dalam negeri, sementara SIBOR dianggap sebagai benchmark suku bunga pasar uang antarbank di luar negeri (Singapura). Covered interest rate parity = suku bunga dalam negeri (JIBOR 1 bulan) – suku bunga luar negeri (SIBOR 1 bulan) – premi swap (1 bulan).

nonresiden, pengawasan terhadap kewajaran transaksi valuta asing, moral suasion, dan

54

Nilai Tukar

sterilisasi/intervensi valuta asing. Untuk membatasi kegiatan spekulasi valuta asing, BI tetap melakukan pemantauan terhadap tingkat kepatuhan bank dalam transaksi valuta asing sesuai dengan PBI No.3/3/2001 tanggal 12 Januari 2001 tentang Pembatasan Terhadap Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank. Berkaitan dengan itu, transaksi forward jual dan swap jual kepada nonresiden dalam jumlah tertentu tetap dilarang apabila tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil (underlying transaction). Pemantauan tersebut secara efektif dapat meningkatkan kepatuhan bank, sehingga membantu mengurangi gejolak nilai tukar rupiah di pasar. Untuk mengikuti perkembangan pasar secara cermat, BI secara ketat mengamati kewajaran transaksi valas melalui Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU). Pengawasan tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa transaksi di pasar telah berlangsung secara wajar menurut common practice yang berlaku di pasar valas. Pemantauan tersebut juga merupakan bagian dari early warning system untuk mengetahui lebih dini terhadap transaksi tertentu yang berpotensi mengganggu kestabilan nilai tukar rupiah di pasar. Di samping itu, BI secara rutin melakukan survei untuk mengetahui persepsi pelaku pasar terhadap arah perkembangan nilai tukar rupiah ke depan. Hasil survei tersebut digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pelaksanaan kebijakan di bidang nilai tukar. Berdasarkan pemantauan terhadap kondisi pasar tersebut, BI melakukan kebijakan moral suasion dengan memberikan penjelasan untuk menenangkan pelaku pasar. Pada periode laporan, hal tersebut dilakukan beberapa kali seperti pada saat terjadi panic buying oleh pelaku pasar yang merespon tragedi Bali secara berlebihan. Kebijakan tersebut telah mengembalikan kepercayaan pasar, sehingga membantu menahan nilai tukar rupiah tidak melemah lebih lanjut. Untuk melengkapi berbagai langkah kebijakan di atas, BI dalam periode laporan juga melaksanakan kebijakan sterilisasi/intervensi valuta asing dengan menjual dolar untuk menambah pasokan valuta asing di pasar. Selain berfungsi sebagai instrumen untuk menyerap kelebihan likuiditas rupiah, kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah yang berlebihan dan sekaligus mempengaruhi persepsi pasar. Dalam pelaksanaannya, kebijakan ini dilakukan secara konsisten dan terukur dengan memperhatikan psikologi pasar dan kecukupan cadangan devisa. Kebijakan tersebut terbukti mampu meredam gejolak nilai tukar rupiah sepanjang tahun laporan. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata harian tingkat volatilitas5 nilai tukar rupiah pada 2002 yang menurun menjadi 1,4%, dibandingkan 2,8% pada periode sebelumnya (Grafik 3.7). Sementara dari sisi level nilai tukar, kebijakan sterilisasi/intervensi valuta asing dalam
5

Grafik 3.7 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

Deviasi nilai tukar harian dari 22 days moving average (1 bulan kalender).

55

Nilai Tukar

periode laporan juga cukup efektif menjaga momentum kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah, bahkan sampai dengan akhir tahun mampu bertahan di bawah level Rp9.000.

PERMINTAAN DAN PENAWARAN VALUTA ASING

Berbagai faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah selama periode laporan seperti dikemukakan di atas juga tercermin dari kondisi permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Selama periode laporan, permintaan valuta asing masih cukup kuat sebagaimana tercermin dari aksi beli valuta asing korporasi —terutama oleh beberapa BUMN sebagai big players— meskipun sebagian dapat dipenuhi dari penerimaan devisa hasil penjualan aset-aset BPPN. Aksi beli yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan besar tersebut selama ini seringkali menjadi faktor pemicu permintaan di pasar valuta asing (Boks: Pengaruh Pelaku Utama Pasar pada Nilai Tukar). Tekanan permintaan valuta asing dari pemain utama tersebut terasa lebih berat dalam semester II yang rata-rata mencapai posisi net beli sebesar $454,5 juta setiap bulannya, meningkat dari ratarata $304,6 juta dalam semester I-2002. Peningkatan permintaan tersebut sejalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat dalam semester I-2002 dan kemudian cenderung melemah dalam semester II-2002.
Masih tingginya tekanan permintaan valuta asing juga tercermin dari data transaksi devisa antara bank dengan nasabahnya. Nasabah on-shore mencatat posisi net overbought sebesar $2,5 miliar, sementara nasabah off-shore mencatat posisi net oversold sebesar $1,2 miliar, sehingga secara keseluruhan nasabah mencatat posisi net overbought terhadap bank di pasar spot sebesar $1,3 miliar dalam periode laporan. 6 Perkembangan ini

Grafik 3.8 Penawaran dan Permintaan Valas di Pasar Spot

menunjukkan bank mencatat posisi net oversold sebesar $1,3 miliar. Posisi oversold bank yang sejalan dengan posisi oversold nasabah off-shore

mengindikasikan bahwa nasabah off-shore menjadi market maker yang diikuti oleh bank-bank dengan mengambil posisi yang sama. Mengalirnya pasokan valuta asing dari nasabah off-shore yang terus-menerus mencatat posisi net oversold sejak Januari hingga Juni 2002 tersebut juga menjadi penyebab

menguatnya rupiah dalam semester I-2002 (Grafik 3.8). Namun, pasokan dari nasabah offshore mulai berkurang memasuki semester II2002 sebagaimana tercermin dari seringnya nasabah off-shore berada dalam posisi net overbought. Hal ini menyebabkan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah dalam semester II-2002. Sementara itu, volume transaksi devisa antarbank di pasar spot secara rata-rata harian sedikit meningkat dari $517,7 juta dalam

2

Overbought adalah kelebihan jumlah pembelian valas dibanding dengan penjualan valas. Oversold adalah sebaliknya.

56

Nilai Tukar

Grafik 3.9 Volume Transaksi Spot dan Volatilitas Nilai Tukar

Grafik 3.10 Komposisi Transaksi Devisa Antarbank Khusus Dolar-Rupiah

periode sebelumnya menjadi $538,2 juta dalam periode laporan (Grafik 3.9). Lonjakan volume
7

antarbank masih didominasi oleh bank-bank asing. Pangsa 5 pemain terbesar —terdiri atas 4 bank asing dan 1 bank persero— mencapai 55,8% dari total volume transaksi devisa antarbank dalam periode laporan.

transaksi harian terjadi setelah tragedi Bali yang memicu kepanikan pasar (panic buying), sehingga volume transaksi valuta asing melonjak hingga mencapai $786,8 juta pada 14 Oktober 2002. Dilihat dari jenis transaksi, transaksi devisa antarbank dalam periode laporan masih

NILAI TUKAR RIIL
Selama tahun laporan, nilai tukar rupiah secara riil masih undervalued terhadap dolar sebagaimana terlihat dari indeks Real Effective Exchange Rate (REER) yang masih di bawah 100 (Grafik 3.11). Meskipun demikian, rupiah mengalami penguatan sebagaimana tercermin dari meningkatnya indeks REER dari 73,52 pada akhir 2001 menjadi 88,57 pada akhir tahun laporan. Penguatan tersebut sejalan dengan menguatnya nilai tukar rupiah secara nominal. Secara bilateral, nilai tukar rupiah relatif masih kompetitif dalam mendukung ekspor dibandingkan dengan mata uang negara-negara emerging Asia lainnya, kecuali terhadap baht Thailand. Indeks Bilat-

didominasi oleh transaksi swap yang secara kumulatif mencapai $146,0 miliar atau 54% dari total transaksi, sementara transaksi spot dan forward masing-masing hanya mencapai $117,2 miliar dan $7,1 miliar atau 43% dan 3% dari total transaksi devisa antarbank dalam periode yang sama (Grafik 3.10). Dengan demikian, volume transaksi devisa antarbank secara kumulatif —baik spot, forward maupun swap— menurun 5,5% dari $286,1 miliar pada 2001 menjadi $270,3 miliar pada 2002. Sementara itu, transaksi devisa

7

Volume transaksi devisa antarbank hanya dihitung dari satu sisi (bank penjual atau bank pembeli) sehingga tidak terjadi double counting. Data yang ditampilkan dalam analisis ini hanya khusus untuk transaksi dolarrupiah.

eral Real Exchange Rate (BRER) Indonesia meningkat

57

Nilai Tukar

Grafik 3.11 Real Effective Exchange Rate

Grafik 3.12 Bilateral Real Exchange Rate

dari 51,47 pada akhir periode sebelumnya menjadi 64,13 pada akhir periode laporan (Grafik 3.12). Indeks BRER Indonesia tersebut sudah berada di atas indeks BRER Thailand yang mencapai 60,97 pada akhir periode laporan. Namun, nilai tukar rupiah masih lebih kompetitif dibandingkan dengan ringgit Malaysia, dolar

Singapura, won Korea, dan yuan RRC.

58

Nilai Tukar

b o k s

Pengaruh Pelaku Utama Pasar pada Nilai Tukar

Di tengah nuansa pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung mengalami penguatan, aksi beli valuta asing oleh pelaku utama pasar merupakan faktor pemicu terjadinya depresiasi dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah. Hal ini disebabkan kegiatan transaksi pelaku utama pasar mempunyai peran penting dalam mempengaruhi perilaku pelaku pasar lainnya. Pada umumnya, transaksi valuta asing oleh pelaku utama pasar merupakan permintaan murni (genuine demand) yang digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional dalam proses produksi. Sementara itu, transaksi pelaku pasar lain yang mengikuti pelaku utama pasar, selain untuk memenuhi permintaan murni juga memanfaatkan momentum tersebut untuk kegiatan spekulasi. Secara bersama-sama, transaksi pelaku pasar menjadi faktor yang cukup dominan menentukan perkembangan nilai tukar rupiah. Sebagaimana tahun sebelumnya, pelaku utama pasar masih didominasi oleh beberapa korporasi BUMN dengan jumlah permintaan yang cukup signifikan di pasar. Sepanjang periode laporan, transaksi valuta asing pelaku utama pasar cukup sensitif terhadap perkembangan sentimen baik dari dalam maupun luar negeri. Pada pertengahan tahun, nilai dolar yang mencapai harga terendah dan kemudian disusul oleh sentimen negatif regional, mendorong peningkatan

permintaan dolar dari pelaku utama pasar yang segera diikuti oleh pelaku pasar lainnya. Kecenderungan tersebut menimbulkan efek yang berkelanjutan (snowball effect) pada transaksi pasar valuta asing domestik. Dengan demikian, permintaan murni valuta asing menciptakan dampak berganda (multiplier effect), sehingga pelaku pasar lain cenderung ikut membeli valuta asing(long dollar position) dalam rangka transaksi murni maupun spekulasi. Bahkan beberapa pelaku pasar bertindak over-responsive dengan ikut membeli valuta asing mendahului pembelian dari pihak korporasi. Kebutuhan Valuta Asing Korporasi Utama

BBM Dalam Negeri

Impor BBM Pengeluaran Dalam Dolar Impor Minyak Mentah

Pengolahan Kilang Dalam Negeri

Konsumsi BBM Nasional

Produksi Minyak Mentah Dalam Negeri

Utang Luar Negeri

Dari sisi korporasi utama, kebutuhan valuta asing yang harus dipenuhi di pasar diperkirakan masih tetap besar, mengingat penerimaan devisa hasil ekspor migas masih belum mencukupi kebutuhan operasional diantaranya untuk pembiayaan impor minyak mentah dan distribusi. Sementara itu, korporasi BUMN lainnya juga mempunyai kebutuhan valuta asing untuk biaya pengadaan listrik namun dengan jumlah yang lebih

59

Nilai Tukar

kecil serta frekuensi yang lebih rendah. Selain untuk keperluan impor bahan baku, pembelian valuta asing oleh korporasi juga digunakan untuk memenuhi kewajiban lainnya seperti pembayaran pinjaman luar negeri yang cenderung meningkat pada 2002. Di sisi lain, berdasarkan kelompok pelaku pasar juga dijumpai adanya dampak penggandaan yang masih merupakan hal yang wajar. Transaksi dari kelompok nasabah, baik dari dalam maupun luar negeri, mendorong terciptanya transaksi antarbank yang merupakan derivasi pasar untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah. Pada 2002, transaksi devisa nasabah yang rata-rata mencapai $349 juta per hari, mendorong naiknya transaksi antarbank yang rata-rata menjadi $546 juta per hari. Dengan demikian, transaksi nasabah mendorong terjadinya

kenaikan transaksi antarbank sebesar 1,5 kali, tidak jauh berbeda dibandingkan angka tahun sebelumnya. Dampak penggandaan tersebut memberikan pengaruh negatif terhadap volatilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut menunjukkan besarnya kendala yang dihadapi BI dalam mengendalikan nilai tukar rupiah pada 2002 di tengah kecenderungan menguatnya rupiah dengan tingkat volatilitas yang rendah.
Dampak Multiplier Pasar Valuta Asing
STABILITAS NILAI TUKAR RUPIAH
PELAKU UTAMA PASAR

BANK A

BANK B

Snow Ball Effect

FOLLOWER : BANK AND NONBANK

60

Bab 4 : Inflasi

BAB

laporan tahunan

4 Inflasi

Inflasi

61

BInflasi AB

4

INFLASI

Laju inflasi 2002 mengalami penurunan seiring dengan menguatnya nilai tukar, dan membaiknya ekspektasi inflasi masyarakat, sedangkan permintaan belum memberikan tekanan yang signifikan.

P

ada 2002, perkembangan seluruh indikator harga yakni inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK),

inflasi inti, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), Indeks Harga Aset (IHA), dan PDB deflator menunjukkan terjadinya penurunan inflasi dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan inflasi dalam tahun laporan terutama disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah yang disertai dengan rendahnya tingkat volatilitas dan membaiknya ekspektasi inflasi. Sementara itu, permintaan domestik belum menyebabkan tekanan inflasi yang signifikan karena meningkatnya pasokan barang konsumsi yang berasal dari impor. Sementara itu, perkembangan inflasi IHK1 , yang merupakan sasaran Bank Indonesia (BI), walaupun telah menunjukkan kecenderungan menurun tetapi masih sedikit di atas sasaran 2002. Relatif tingginya inflasi tersebut pada tahun laporan antara lain disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan yang lebih tinggi dari prakiraan awal tahun serta ekspektasi masyarakat terhadap inflasi yang masih tinggi walaupun telah menunjukkan perbaikan. tahun sebelumnya yang mencapai 12,55%. Penurunan inflasi tahunan (y-o-y) yang cukup tajam terutama terjadi pada semester pertama, meskipun kemudian agak tertahan penurunannya pada semester kedua. Kecenderungan penurunan inflasi juga terlihat dari pergerakan inflasi bulanan (m-t-m). Inflasi tertinggi terjadi pada Januari dan kemudian sempat mengalami deflasi di Maret dan April (Grafik 4.1). Kecenderungan penurunan inflasi semakin jelas terlihat dari perkembangan inflasi inti (core inflation) yang dihitung dengan pendekatan exclusion. Inflasi inti2 PERKEMBANGAN INDIKATOR INFLASI Inflasi pada 2002 tercatat sebesar 10,03% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi yang sejak awal 2000 mencatat peningkatan, pada pertengahan 2001 mulai menunjukkan kecenderungan menurun. Pada 2002 penurunan inflasi inti tersebut
2 1 Selanjutnya yang disebut inflasi adalah inflasi IHK Untuk selanjutnya, istilah inflasi inti dalam laporan ini digunakan untuk menunjukkan inflasi inti yang dihitung dengan pendekatan exclusion kecuali disebutkan lain.

Grafik 4.1 Perkembangan Inflasi IHK Tahunan dan Bulanan

62

Inflasi

Grafik 4.2 Inflasi IHK dan Inflasi Inti

Grafik 4.3 Indeks Harga Pedagang Besar (IHPB) Umum

terus berlanjut bahkan dengan laju penurunan yang lebih tajam mencapai 6,96% dibandingkan pada 2001 sebesar 10,04%. Hal ini mengindikasikan bahwa laju inflasi secara umum pada dasarnya mengalami penurunan, tetapi karena adanya kenaikan harga/tarif yang ditetapkan oleh pemerintah (administered prices), penurunan inflasi tidak setajam inflasi inti (Grafik 4.2). Kecenderungan laju inflasi yang menurun juga diindikasikan oleh indikator perkembangan harga lainnya seperti IHPB dan IHA. Kecenderungan penurunan laju inflasi IHPB Umum telah terjadi sejak awal 2001 bahkan dengan penurunan yang cukup tajam pada pertengahan 2002 yang ditandai oleh deflasi IHPB tahunan pada Juni sebesar 3,33% (Grafik 4.3). Secara bulanan, penurunan IHPB ditandai oleh deflasi pada 4 bulan yakni Maret, April, Juni dan Agustus. Terjadinya deflasi IHPB umum pada periode tersebut terutama disebabkan oleh deflasi yang cukup besar pada IHPB kelompok barang impor dan ekspor seiring dengan terjadinya apresiasi nilai tukar rupiah yang cukup besar. Sejalan dengan itu, laju inflasi harga aset yang diukur dari perubahan IHA tahunan (y-o-y) mencatat penurunan yang cukup tajam pada 2002 yakni

mencapai 1,52%, dibandingkan 2001 sebesar 23,09% (Grafik 4.4). Rendahnya laju IHA pada tahun laporan terutama disebabkan oleh penurunan yang cukup tajam pada harga sewa properti komersial, yakni dari 39,69% pada 2001 menjadi -3,68% pada tahun laporan. Penurunan harga properti komersial tersebut terutama terkait dengan penguatan nilai tukar rupiah mengingat sebagian besar harga properti komersial tersebut dalam satuan dolar. Komponen inflasi harga aset lainnya, yakni harga properti residensial walaupun tidak mengalami deflasi tetapi cenderung mengalami inflasi yang rendah. Secara tahunan, harga properti

Grafik 4.4 Inflasi Harga Asset dan PDB Deflator

63

Inflasi

residensial pada tahun laporan hanya meningkat sebesar 6,95%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 10,86%. Kenaikan harga properti residensial tersebut terutama terjadi pada tipe rumah besar yang berlokasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sejalan dengan perkembangan harga properti tersebut, komponen inflasi harga aset lainnya yang merupakan kelompok financial asset diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), juga mencatat penurunan. Penurunan IHSG tersebut selain dipengaruhi oleh perkembangan di dalam negeri yang kurang kondusif juga dipengaruhi oleh melemahnya perdagangan di bursa saham regional dan dunia. Indikator harga yang lebih luas cakupannya yakni PDB deflator juga menunjukkan perkembangan yang menurun pada 2002. PDB deflator pada tahun 2002 mencatat inflasi 4,54% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2001 yang mencapai 12,58%. Berbagai perkembangan indikator harga tersebut di atas mengindikasikan bahwa penurunan inflasi merupakan kecenderungan umum yang terjadi sepanjang tahun laporan.

apresiasi yang cukup besar dan disertai oleh volatilitas yang rendah sehingga menurunkan tekanan inflasi yang bersumber dari sisi eksternal. Pengaruh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap inflasi antara lain tercermin dari perkembangan inflasi kategori traded yang turun cukup tajam pada pertengahan tahun laporan. Selain faktor menguatnya nilai tukar rupiah, penurunan inflasi juga dipengaruhi oleh

membaiknya ekspektasi inflasi. Hal ini tercermin dari hasil survei konsumen yang antara lain mengukur ekspektasi masyarakat atas perkembangan harga pada periode 6 s.d. 12 bulan ke depan. Hasil survei mengindikasikan bahwa ekspektasi inflasi konsumen cenderung membaik yang antara lain dipicu oleh menguatnya nilai tukar rupiah dan harapan membaiknya kondisi ekonomi. Penurunan inflasi juga ditunjang oleh terjaganya pasokan kebutuhan pokok masyarakat khususnya beras. Operasi pasar beras yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) dan ditunjang oleh melimpahnya beras impor telah menyebabkan turunnya harga beras. Harga beras yang sempat

PERKEMBANGAN INFLASI IHK Sebagaimana diuraikan sebelumnya, laju inflasi telah menunjukkan kecenderungan menurun. Namun demikian, realisasi inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dari sasaran inflasi IHK yang ditetapkan pada 2002 yakni pada kisaran 9,0%-10,0%. Pada semester pertama 2002 laju inflasi menunjukkan kecenderungan yang menurun. Hal ini terutama disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah dan membaiknya ekspektasi inflasi. Nilai tukar rupiah dalam periode tersebut mengalami

mencapai level yang cukup tinggi pada awal 2002, secara bertahap mengalami penurunan mencapai Rp2.790 per kg.3 Pada akhir tahun laporan, stok beras Bulog mencapai 1,75 juta ton atau masih cukup untuk memenuhi kebutuhan distribusi rutin sekitar tujuh bulan.4 Laju penurunan inflasi pada semester pertama 2002 sedikit terhambat oleh adanya kebijakan

3 4

Sumber : Bulog Sumber : Siaran Pers Kantor Menko Perekonomian, 29 November 2002.

64

Inflasi

pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tarif telepon dan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada periode tersebut tidak hanya meningkatkan harga BBM dan tarif listrik tetapi juga mendorong kenaikan barang dan jasa lainnya akibat kenaikan faktor biaya ( cost push) dan meningkatnya ekspektasi inflasi yang menyertai kenaikan harga yang ditetapkan pemerintah tersebut. Pada semester kedua 2002, penurunan inflasi sedikit tertahan. Kondisi ini terutama terkait dengan faktor musiman yakni menghadapi perayaan hari besar keagamaan, berlanjutnya kenaikan administered prices, dan meningkatnya ekspektasi inflasi. Sebagaimana periode-periode sebelumnya, tekanan inflasi yang terjadi menjelang perayaan hari raya keagamaan dan akhir tahun cenderung tinggi. Sementara itu, kebijakan pemerintah di bidang harga yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap kenaikan inflasi pada semester kedua tahun laporan antara lain berasal dari kenaikan tarif listrik, kenaikan BBM, kenaikan Harga Jual Eceran (HJE) rokok, dan kenaikan harga LPG. Faktor lainnya yang menyebabkan tertahannya penurunan inflasi pada akhir 2002 adalah mulai memburuknya ekspektasi inflasi. Hasil survei menunjukkan ekspektasi konsumen pada kuartal terakhir 2002 cenderung meningkat yang dipicu oleh kenaikan administered price, meningkatnya tekanan depresiasi nilai tukar rupiah pasca tragedi Bali, serta faktor musiman yang terkait dengan perayaan keagamaan dan tahun baru. Selain mempengaruhi ekspektasi inflasi konsumen, berbagai perkembangan tersebut juga turut memicu meningkatkan ekspektasi inflasi pedagang.

Berdasarkan hasil survei penjualan eceran, ekspektasi inflasi pedagang yang meningkat di akhir 2002 terutama dipicu oleh kenaikan administered prices. Di samping itu, adanya faktor musiman dan kecenderungan dari pedagang untuk memanfaatkan momentum perayaan keagamaan dan tahun baru dengan menaikkan harga telah mendorong peningkatan ekspektasi inflasi pedagang. Berdasarkan kelompoknya, sumbangan

tertinggi inflasi 2002 terjadi pada kelompok perumahan yang diikuti oleh kelompok bahan makanan, kelompok transpor dan komunikasi serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (Tabel 4.1). Sementara kelompok yang memberikan sumbangan terendah adalah kelompok sandang. Tingginya sumbangan inflasi kelompok perumahan terutama karena dalam kelompok ini terdapat sub kelompok biaya tempat tinggal dimana di dalamnya termasuk tarif listrik, sewa rumah, dan upah pembantu, yang pada tahun laporan mengalami kenaikan cukup tinggi. Apabila dilihat dari kenaikan harganya, kelompok transpor dan komunikasi mencatat inflasi yang tertinggi
(Persen)

Tabel 4.1 Sumbangan Inflasi IHK Menurut Kelompok Tahun 2002 No
1 2 3 4 5 6 7

Kelompok
Bahan Makanan Makanan Jadi, minuman, Rokok, dan Tembakau Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, Olahraga Transport dan Komunikasi Total

Inflasi
9,13 9,18 12,71 2,69 5,63 10,85 15,52

Sumbangan
2,36 1,72 2,79 0,26 0,31 0,82 1,77 10,03

Sumber: BPS

65

Inflasi

yakni sebesar 15,52%. Inflasi yang tinggi pada kelompok ini terutama bersumber dari kenaikan harga sub kelompok transportasi yakni harga b e n s i n , s o l a r, d a n t a r i f a n g k u t a n s e r t a s u b kelompok komunikasi dan pengiriman dalam hal ini adalah tarif telepon. Ditinjau dari inflasi per kota, inflasi tertinggi terjadi di kota Manado sebesar 15,22%, sedangkan inflasi terendah terjadi di kota Ternate sebesar 6,40%. Namun demikian, sumbangan inflasi terbesar masih bersumber dari sejumlah kota besar terutama kota Jakarta sebesar 3,09% dan Surabaya sebesar 0,74% mengingat bobotnya yang tinggi.

pendapatan

antara

lain

diarahkan

untuk

mempertahankan daya beli sebagian masyarakat, khususnya mereka yang berpendapatan tetap. Pada 2002 kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan masih memberikan dampak yang cukup besar (3,31%) terhadap inflasi, walaupun telah menurun dibandingkan tahun sebelumnya (3,83%). Realisasi dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan asumsi pada awal 2002 yang diperkirakan sebesar 2,57%. Hal ini terutama disebabkan oleh: (i) penetapan harga/tarif yang belum teridentifikasi pada awal tahun, (ii) perubahan mekanisme penetapan kenaikan harga BBM, dan (iii)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI Pengaruh Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan Di bidang harga, pemerintah secara bertahap melanjutkan penyesuaian harga sejumlah barang pada harga pasarnya. Sementara itu, kebijakan di bidang

realisasi kenaikan harga/tarif yang lebih tinggi dari asumsi awal tahun (Tabel 4.2). Hal tersebut telah menyebabkan realisasi dampak kebijakan pemerintah lebih tinggi dari asumsi pada awal tahun yang diprakirakan sekitar 2,57% Kebijakan pemerintah yang belum teridentifikasi pada awal tahun antara lain kenaikan harga LPG yang

(Persen)

Tabel 4.2 Realisasi Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan 2002 Kebijakan Pemerintah Di Bidang Harga Listrik BBM Angkutan *) Gas Elpiji Telepon Air Minum Rokok Di Bidang Pendapatan UMP Total
Catatan: *) termasuk dampak tidak langsung Sumber: BPS, diolah

terjadi dua kali yakni pada Juni dan Desember, kenaikan tarif Kereta Api kelas bisnis dan eksekutif pada Februari, dan kenaikan tarif angkutan kota dalam propinsi (AKDP) di sejumlah kota, serta kenaikan tarif air PAM. Belum teridentifikasinya kebijakan pemerintah tersebut karena pada awal tahun laporan informasi mengenai rencana kenaikan tersebut belum tersedia. Penetapan harga BBM pada 2002 mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan Harga/Tarif 38,51 21,74 18,69 24,34 41,13 9,54 4,24 18,10

Dampak Inflasi 0,74 0,40 1,10 0,10 0,51 0,05 0,19 0,22 3,31

Perubahan mendasar dari penetapan harga BBM dalam negeri terjadi pada mekanisme penetapannya yang dilakukan secara bulanan. Berdasarkan Keputusan

66

Inflasi

Presiden (Keppres) No. 9 tanggal 16 Januari 2002 mengenai Penetapan Harga BBM Dalam Negeri, antara lain disebutkan bahwa penetapan harga BBM dalam negeri dilakukan oleh Pertamina pada setiap awal bulan 5 dengan memperhitungkan perkembangan harga Mid Oil Platt’s Singapore (MOPS) yang merupakan harga transaksi jual beli pada bursa minyak di Singapura. Selain itu, Keppres tersebut juga menyebutkan mulai berlakunya batas harga terendah (floor price) dan tertinggi (ceiling price) untuk setiap jenis BBM dalam rangka menghindari fluktuasi harga BBM dalam negeri yang terlalu besar. Perubahan jangka waktu penetapan harga BBM menjadi bulanan menyebabkan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga BBM setiap bulan sehingga dampaknya terhadap inflasi juga akan terjadi secara bulanan. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya dimana kenaikan harga BBM hanya terjadi satu atau dua kali dalam periode satu tahun. Sementara itu, TDL dan tarif telepon mencatat kenaikan harga lebih tinggi dari yang diprakirakan semula. Selama 2002, TDL dalam keranjang IHK mencatat kenaikan harga sekitar 38,5%, jauh lebih tinggi dari rencana semula yakni sebesar 6,0% setiap triwulan atau 24,0% dalam satu tahun. Dalam periode yang sama, tarif telepon dalam keranjang IHK mencatat kenaikan sekitar 41,1%, jauh lebih tinggi dari rencana semula rata-rata sebesar 15,0%. Dalam tahun laporan tidak semua harga/tarif yang ditetapkan pemerintah tersebut memberikan dampak inflasi setinggi dari yang diprakirakan Pengaruh Ekspektasi Bank Indonesia mengumumkan sasaran inflasi
5 Berdasarkan Keputusan Presiden No. 27 Tahun 2002 tanggal 30 April 2002, pasal 6 antara lain mengubah penetapan harga BBM menjadi setiap awal bulan.

Grafik 4.5 Inflasi IHK dan Administered Price

semula. HJE ditetapkan naik sebesar 22%, namun kenaikan harga rokok dalam keranjang IHK hanya naik rata-rata sekitar 4,2%. Hal ini disebabkan sejumlah industri rokok sudah memberlakukan harga jual produknya di atas HJE minimum yang baru. Selain HJE, Upah Minimun Propinsi (UMP) juga memberikan dampak inflasi yang lebih rendah dari prakiraan karena realisasi kenaikan UMP lebih rendah dari prakiraan awal. Tingginya dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan terhadap inflasi, secara lebih jelas terlihat pada perkembangan inflasi tahunan kelompok administered price yang masih berada di atas inflasi IHK (Grafik 4.5). Inflasi administered price di tahun laporan masih mencatat peningkatan bahkan sempat mencapai tingkat tertinggi pada Mei 2002 sebesar 35,66% (y-o-y) dan pada akhir tahun mencatat inflasi 22,12% (y-o-y).

untuk tahun 2002 sebesar 9%-10% dengan maksud mengarahkan ekspektasi inflasi pelaku ekonomi, baik

67

Inflasi

konsumen maupun pedagang pada kisaran level sasaran inflasi yang ditetapkan. Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pelaku ekonomi, baik bagi konsumen dalam hal

membelanjakan pendapatannya maupun bagi pedagang dalam hal kalkulasi biaya dan penetapan harga jual produknya. Dalam perkembangannya, ekspektasi inflasi selama 2002 cenderung membaik yang tercermin dari perkembangan ekspektasi inflasi hasil survei konsumen dan survei penjualan eceran.6 Membaiknya ekspektasi inflasi konsumen maupun pedagang tersebut sejalan dengan penguatan nilai tukar rupiah dan peningkatan ketersediaan barang-barang. Namun demikian, apabila dilihat perkembangannya secara triwulanan, sejak awal triwulan III-2002 ekspektasi inflasi baik konsumen maupun pedagang sedikit memburuk. Memburuknya ekspektasi inflasi tersebut dipicu oleh kecenderungan meningkatnya tekanan depresiasi rupiah, penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga, dan faktor musiman sehubungan dengan perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru. Ekspektasi inflasi telah cenderung membaik, namun masih berada pada tingkat yang cukup tinggi. Hal ini terkait dengan pembentukan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi yang masih cenderung bersifat adaptive, yakni pembentukan inflasi yang lebih mendasarkan pada mengakibatkan masih tingginya ekspektasi inflasi masyarakat selama 2002. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Grafik 4.6 dan 4.7 menunjukkan perkembangan ekspektasi inflasi baik oleh konsumen maupun pedagang yang searah dengan pergerakan nilai tukar rupiah. Pada saat nilai tukar menguat, ekspektasi inflasi yang terbentuk juga cenderung membaik. Sebaliknya pada saat nilai tukar mendapat tekanan maka pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat cenderung memburuk. Di samping
Grafik 4.6 Ekspektasi Kenaikan Harga Survei Konsumen

perkembangan inflasi pada periode-periode sebelumnya. Inflasi yang masih berada pada tingkat yang tinggi (double digit) tahun lalu,
Grafik 4.7 Ekspektasi Kenaikan Harga 1 Bulan ke Depan Survei Penjualan Eceran

6

Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi perkembangan ekspektasi inflasi konsumen maupun pedagang adalah hasil Survei Konsumen dan Survei Penjualan Eceran, Bank Indonesia.

68

Inflasi

itu, pergerakan ekspektasi inflasi baik konsumen maupun pedagang pada 2002 juga dipengaruhi oleh penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Pada awal tahun, ekspektasi inflasi yang terbentuk masih cenderung tinggi karena pada saat itu, pemerintah mengumumkan rencana untuk menaikkan harga sejumlah barang/jasa, walaupun pada periode tersebut rupiah mengalami apresiasi. Dalam perkembangannya, implementasi kebijakan pemerintah di bidang harga tersebut dilakukan secara bertahap, sehingga dampak inflasi pada semester pertama cenderung menurun. Seiring dengan itu, ekspektasi inflasi masyarakat yang terjadi juga membaik. Namun demikian, pada periode selanjutnya seiring dengan meningkatnya dampak kebijakan pemerintah di bidang harga, ekspektasi inflasi yang terjadi cenderung memburuk. inflasi bukan makanan lebih disebabkan faktor-faktor lainnya, seperti administered prices (Grafik 4.8). Di sisi penawaran, rendahnya tingkat investasi dan utilisasi menyebabkan peningkatan kapasitas perekonomian relatif terbatas. Sementara itu, membaiknya sektor pertanian telah menyebabkan terjaganya pasokan bahan makanan dalam tahun Pengaruh Kondisi Permintaan dan Penawaran Dalam tahun laporan, interaksi permintaan dan penawaran relatif tidak menimbulkan tekanan inflasi secara signifikan. Pertumbuhan permintaan yang masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga terutama dialokasikan untuk pengeluaran bukan makanan. Kecenderungan peningkatan pengeluaran konsumsi bukan makanan tersebut sudah tampak sejak akhir 1998 dan pada tahun laporan proporsi7 pengeluaran konsumsi bukan makanan sudah lebih tinggi dibandingkan pengeluaran konsumsi makanan. Tingginya pertumbuhan pengeluaran konsumsi bukan makanan ini belum memberikan tekanan yang signifikan pada laju inflasi bukan makanan karena cukupnya pasokan. Tekanan
7 Distribusi persentase terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) harga konstan 1993.

Grafik 4.8 Inflasi Makanan dan Bukan Makanan

laporan. Dalam kondisi permintaan yang masih meningkat tekanan inflasi dapat terjadi. Namun, adanya penambahan pasokan barang yang berasal dari luar negeri, khususnya impor barang konsumsi mampu mengurangi tekanan inflasi yang terjadi.

Pengaruh Faktor Eksternal Faktor eksternal yang mempengaruhi inflasi antara lain bersumber dari nilai tukar rupiah dan harga barang impor. Pergerakan nilai tukar rupiah yang secara umum menguat dalam tahun laporan telah membantu menurunkan tekanan inflasi. Pengaruh apresiasi nilai tukar terhadap inflasi antara lain terlihat dari pergerakan IHPB dan inflasi kelompok traded (Grafik 4.9). Sementara itu, kecenderungan perkembangan harga di pasar dunia bagi sejumlah

69

Inflasi

Grafik 4.9 Inflasi Traded dan Non-traded

Grafik 4.10 IHPB Impor dan Nilai Tukar

komoditas penting seperti beras, gula pasir dan emas juga mengalami penurunan. Apresiasi nilai tukar rupiah yang diiringi oleh penurunan harga barang impor tersebut memberikan pengaruh pada penurunan tekanan inflasi pada tahun laporan. Perkembangan IHPB impor dan inflasi kelompok traded menunjukkan perkembangan yang menurun bahkan untuk IHPB impor telah mengalami deflasi sejak Maret 2002 (Grafik 4.10).

bencana banjir. Dampak banjir ini tercermin pada tingginya inflasi Februari 2002 yang mencapai 1,50% (m-t-m). Realisasi inflasi Februari tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi bulanan Februari selama 3 tahun terakhir yang hanya di bawah 1% mengingat periode tersebut pada umumnya merupakan puncak surplus bahan pangan. Pada periode akhir tahun, produksi beberapa komoditas pertanian cenderung mencapai tingkat

Pengaruh Faktor Alam Di awal tahun laporan, bencana banjir besar melanda beberapa daerah, seperti Jabotabek, Jawa Timur, Sumatera Utara dan beberapa daerah yang merupakan sentra produksi bahan pangan dan jalur transportasi penting. Bencana banjir tersebut sempat mengganggu aktifitas ekonomi dan distribusi yang melalui wilayah yang terkena

yang terendah. Dalam tahun laporan, musim kemarau yang diikuti oleh anomali El Nino walaupun dalam intensitas lebih rendah, telah menyebabkan kemarau di sejumlah daerah terutama di pesisir pulau Jawa dan daerah lainnya yang merupakan penghasil bahan pangan dan sayuran. Kondisi ini antara lain turut meningkatkan tekanan inflasi menjelang akhir tahun laporan.

70

BAB 5 : MONETER

BAB

laporan tahunan

5 Moneter

Moneter

71

BMoneter AB

5

MONETER

Kondisi moneter selama 2002 menunjukan perkembangan yang kondusif tercermin dari terkendalinya uang primer, menguatnya nilai tukar, dan menurunnya suku bunga.

S

elama 2002, kebijakan moneter tetap ditujukan pada upaya pengendalian uang primer

ekspektasi masyarakat atas kestabilan moneter dan sosial politik. Ekspektasi positif atas kestabilan moneter terbentuk karena pada saat yang bersamaan indikator makro lainnya seperti laju inflasi dan nilai tukar juga menunjukkan perkembangan yang positif. Sementara itu, agregat moneter lainnya, M1 dan M2, masih mengalami pertumbuhan meskipun melambat. Perkembangan positif tersebut memberikan keyakinan terhadap membaiknya prospek inflasi sehingga membuka ruang gerak yang lebih lebar bagi BI untuk memberikan sinyal penurunan suku bunga secara bertahap melalui penurunan suku bunga instrumen moneter. Langkah penurunan tersebut dilakukan secara hati-hati dengan tetap memperhatikan perkembangan suku bunga riil dan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri (interest rate differential). Penurunan suku bunga instrumen moneter tersebut juga diikuti oleh beberapa suku bunga l a i n n y a . S u k u b u n g a Pa s a r U a n g A n t a r B a n k (PUAB) dan suku bunga simpanan perbankan mengalami penurunan yang signifikan,

yang sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Kebijakan tersebut dimaksudkan agar kestabilan harga tetap dapat terjaga sehingga mampu mendukung proses pemulihan ekonomi yang terus berlangsung. Dalam melaksanakan kebijakan tersebut, strategi kebijakan moneter selama 2002 tetap ditujukan pada upaya penyerapan ekses likuiditas perbankan dengan mengupayakan penurunan suku bunga. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) menetapkan target pertumbuhan rata-rata uang primer selama 2002 sebesar 13,0%-14,0%. Dalam perjalanannya, perkembangan uang primer selama 2002 terkendali seperti tercermin dari pertumbuhan uang primer yang berada di bawah target pertumbuhannya. Di samping itu, terkendalinya pergerakan uang primer juga tercermin dari posisi test date1 uang primer yang selalu berada di bawah target indikatifnya. Melambatnya pertumbuhan uang primer tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya motif berjaga-jaga dalam memegang uang kartal sehubungan dengan membaiknya

sementara suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK)
1

Test date adalah rata-rata uang primer yang dihitung dari tanggal 16 bulan yang bersangkutan hingga tanggal 15 bulan berikutnya

dan Kredit Investasi (KI) belum menunjukkan penurunan yang berarti. Dalam pada itu, suku

72

Moneter

bunga Kredit Konsumsi (KK) justru mengalami sedikit peningkatan. Lambannya penurunan suku b u n g a KI t e r u t a m a d i s e b a b k a n o l e h m a s i h tingginya persepsi risiko perbankan terhadap penyaluran kredit jangka panjang. Selain itu, menurunnya suku bunga simpanan dan relatif rigid-nya suku bunga kredit perbankan telah mendorong beberapa perusahaan yang memiliki reputasi baik untuk menerbitkan obligasi di pasar domestik atau melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan penawaran terbatas (right issue) di pasar modal. Sementara itu, dari sisi permintaan, penurunan suku bunga simpanan telah mengakibatkan obligasi dan reksa dana menjadi alternatif investasi yang menarik.

Rp9.500 – Rp10.500 per dolar. Dengan pertumbuhan uang primer tersebut, BI mengharapkan dapat mencapai target inflasi yang telah ditetapkan sekaligus tetap menjaga likuiditas yang cukup bagi

perekonomian. Dalam pelaksanaannya, dengan menimbang bahwa tekanan inflasi yang terjadi selama ini lebih banyak disebabkan oleh keterbatasan dari sisi penawaran dan kebijakan pemerintah di bidang harga (cost push), maka kebijakan moneter selama 2002 diarahkan pada upaya penyerapan ekses likuiditas perbankan dengan tetap memperhatikan perkembangan suku bunga yang terjadi agar dapat memberikan sinyal yang kondusif bagi perbaikan sisi penawaran di sektor riil. Titik berat pengendalian likuiditas melalui penyerapan ekses likuiditas perbankan tersebut juga sejalan dengan

EVALUASI KEBIJAKAN MONETER 2002 Pada awal 2002, BI menetapkan sasaran moneter khususnya uang primer dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13,0%-14,0% selama 2002. Penetapan target uang primer tersebut didasarkan pada target inflasi IHK sebesar 9,0%-10,0%, pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5%-4,0%, dan rata-rata nilai tukar rupiah sebesar

kenyataan bahwa perkembangan uang primer sangat ditentukan oleh perilaku permintaan uang kartal2 yang sulit dikendalikan melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT). Strategi ini diterjemahkan dalam bentuk

perkembangan suku bunga SBI yang menurun dengan magnitude yang kecil sepanjang tekanan inflasi ke depan masih berada dalam kisaran target inflasi yang telah ditetapkan. Secara operasional, strategi kebijakan moneter ditempuh dengan mengoptimalkan instrumen moneter yang tersedia, khususnya OPT dan sterilisasi valuta asing (valas). Uang primer selama 2002 menunjukkan perkembangan yang terkendali , yang tercermin dari lebih rendahnya posisi test date uang primer dibandingkan target indikatifnya(Grafik 5.1).

Grafik 5.1 Target Indikatif dan Aktual Uang Primer

2

Uang kartal adalah uang logam dan uang kertas yang berada di masyarakat.

73

Moneter

Grafik 5.2 Pertumbuhan Tahunan Uang Kartal dan Uang Primer (Target Indikatif dan Aktual)

Grafik 5.3 Suku Bunga Instrumen Moneter

Hal tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya permintaan uang kartal untuk berjaga-jaga sejalan dengan ekspektasi positif atas kestabilan sosial politik dan moneter. Disamping itu, lebih rendahnya posisi uang primer tersebut diakibatkan oleh lebih rendahnya permintaan uang kartal untuk kebutuhan transaksi sejalan dengan lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi dan menguatnya rata-rata nilai tukar dibandingkan prakiraan semula (Grafik 5.2). Terkendalinya uang primer yang dibarengi dengan menurunnya prospek inflasi serta stabilnya pergerakan nilai tukar telah memungkinkan BI untuk memberikan sinyal penurunan suku bunga secara bertahap, yang diperlukan guna mempercepat proses pemulihan ekonomi. Sinyal penurunan suku bunga ini terutama dilakukan melalui penurunan suku bunga Fasilitas Simpanan BI (FASBI3 ) yang diikuti oleh penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Selama 2002, suku bunga FASBI overnight (O/N) diturunkan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 300 bp hingga
3

pada akhir Desember 2002 mencapai posisi 12,13%. Sementara itu, FASBI dengan jangka waktu 2-6 hari dan 7 hari masing-masing turun sebesar 300 bp dan 338 bp hingga mencapai 12,38% dan 12,50%. Selanjutnya, suku bunga SBI 1 dan 3 bulan mengalami penurunan masing-masing sebesar 469 bp dan 451 bp dibandingkan posisi akhir 2001 hingga tercatat pada posisi 12,93% dan 13,12% pada akhir Desember 2002. Penurunan suku bunga SBI 1 dan 3 bulan yang terjadi selama 2002 lebih besar dibandingkan peningkatan yang terjadi selama 2001, yaitu sebesar 309 bp dan 332 bp. Laju penurunan suku bunga SBI tersebut terutama terjadi hingga September 2002 dan sejak Oktober penurunan yang terjadi menjadi relatif lambat hingga akhir 2002 (Grafik 5.3). Secara operasional, strategi kebijakan moneter selama 2002 dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi makro dan moneter dari triwulan ke triwulan. Pada triwulan I, dengan mempertimbangkan bahwa angka uang primer pada akhir 2001 masih cukup tinggi dan akan masuknya kembali uang kartal ke dalam sistem perbankan

Sebelum November 2002 dikenal dengan Intervensi Rupiah Kontraktif yang selanjutnya diubah menjadi FASBI

setelah perayaan hari besar keagamaan, BI berusaha

74

Moneter

melakukan penyerapan likuditas secara optimal terutama melalui pelaksanaan OPT. Hal ini dilakukan untuk menjaga perkembangan uang primer agar sesuai dengan target indikatifnya. Kondisi perbankan yang likuid di awal tahun menyebabkan suku bunga SBI 1 bulan mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 86 bp setelah mencatat terus peningkatan selama 2001. Namun demikian, mengingat laju inflasi masih relatif tinggi dan nilai tukar masih relatif lemah, dalam periode ini BI masih menempuh kebijakan yang berhati-hati dengan tidak mengubah suku bunga FASBI (neutral bias). Memasuki triwulan II-2002, posisi uang primer berada di bawah target indikatifnya, sementara nilai tukar rupiah dan inflasi menunjukkan perkembangan yang membaik. Perkembangan yang positif ini memberikan ruang gerak pada BI untuk memberikan sinyal penurunan suku bunga guna memelihara momentum pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga pencapaian target inflasi

Sejalan dengan kecenderungan semakin positifnya perkembangan moneter, upaya untuk memperkuat sinyal penurunan suku bunga dalam triwulan III-2002 semakin ditingkatkan terutama melalui penurunan lebih lanjut suku bunga FASBI O/N sebesar 150 bp. Strategi tersebut berhasil mendorong penurunan suku bunga SBI 1 bulan dan 3 bulan masingmasing sebesar 189 bp dan 107 bp. Sebagaimana triwulan sebelumnya, meskipun suku bunga SBI mengalami penurunan, posisi test date uang primer selama triwulan III-2002 tetap berada di bawah target indikatifnya. Dalam upaya untuk meningkatkan fungsi FASBI sebagai instrumen pengendalian moneter, pada September 2002 BI memisahkan periode perdagangan FASBI O/N menjadi pagi dan sore serta

membedakan suku bunga antara kedua periode tersebut. Sesi pagi dimulai pukul 08.00 s.d. 12.00 bbwi, sementara sesi sore sore dimulai 13.00 s.d. 16.30 bbwi. Tingkat suku bunga FASBI O/N sesi sore ditetapkan sebesar 50,0% dari suku bunga FASBI O/N sesi pagi. Dengan kebijakan tersebut, suku bunga FASBI O/N sesi pagi sebesar 12,63% dan FASBI O/N sesi sore sebesar 6,31%. Sementara itu, semua perdagangan FASBI untuk tenor lainnya hanya dibatasi pada sesi pagi. Pada triwulan IV-2002, dengan melihat perkembangan suku bunga SBI yang sudah menurun hingga mencapai tingkat yang cukup rendah dan konsisten dengan pencapaian target inflasi jangka menengah, BI berusaha memperlambat laju penurunan suku bunga SBI. Kebijakan moneter ini dilakukan juga untuk mengantisipasi melemahnya nilai tukar rupiah sebagai dampak dari tragedi Bali.

(accomodative policy). Sinyal penurunan suku bunga tersebut dilakukan melalui penurunan suku bunga FASBI seluruh tenor pada Mei dan Juni masingmasing sebesar 50 bp. Penurunan suku bunga FASBI tersebut mendorong penurunan suku bunga SBI 1 dan 3 bulan dalam triwulan II-2002 masing-masing sebesar 165 bp dan 171 bp. Penurunan suku bunga SBI tersebut juga didorong oleh kondisi perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas sebagai akibat dari belum berjalannya fungsi intermediasi perbankan secara lebih optimal. Perkembangan ini memungkinkan posisi test date uang primer selama triwulan II-2002 masih berada di bawah target indikatifnya.

75

Moneter

Setelah nilai tukar menguat kembali, serta mempertimbangkan prospek inflasi yang tetap membaik, pada akhir November 2002 BI menurunkan suku bunga FASBI sebesar 50 bp untuk seluruh tenor. Secara keseluruhan, selama triwulan IV-2002 tersebut suku bunga SBI 1 bulan hanya menurun sebesar 29 bp dari 13,22% pada akhir September 2002 menjadi 12,93% pada akhir Desember 2002.
Grafik 5.4

PERKEMBANGAN UANG BEREDAR Uang Primer Selama 2002, posisi test date uang primer selalu berada di bawah target indikatifnya dengan perbedaan berkisar antara Rp1,26 triliun sampai Rp7,7 triliun. Perbedaan terbesar terjadi pada Agustus, sementara perbedaan terkecil pada November. Dengan perkembangan tersebut, rata-rata pertumbuhan tahunan test date uang primer selama 2002 hanya mencapai 9,06%, lebih rendah

Pertumbuhan Tahunan Test Date Uang Primer

dibandingkan rata-rata pertumbuhan pada tahun sebelumnya yaitu 17,85% (Grafik 5.4). Dilihat dari posisi akhir Desember 2002, uang primer mencapai Rp138,3 triliun atau Rp10,5 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2001 sebesar Rp127,8 triliun (Tabel 5.1). Ditinjau dari komponennya, peningkatan uang primer tersebut terutama berasal dari peningkatan uang kartal sebesar
(Triliun Rp)

Tabel 5.1 Uang Primer Rincian Uang Primer Uang Kertas dan Logam yang Diedarkan di masyarakat di perbankan Giro Bank pada Bank Indonesia Giro Sektor Swasta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Uang Primer Cadangan Devisa Bersih (NIR) (USD=Rp7000) Aktiva Domestik Bersih (NDA) 1. Tagihan Bersih pada Pemerintah 2. Bantuan Likuiditas 3. Kredit Likuiditas 4. Tagihan Lainnya 5. Operasi Pasar Terbuka 6. Lainnya Bersih (NOI) 2001
Des Maret Juni

2002
Sept Des

Perubahan Tahunan

127,8 91,3 76,3 14,9 34,8 1,7 127,8 128,1 -0,3 160,8 37,1 15,1 1,9 -102,6 -112,4

117,0 82,4 69,7 12,7 33,4 1,2 117,0 130,1 -13,1 174,6 36,4 14,9 1,9 -114,5 -126,4

119,9 84,5 72,0 12,5 34,0 1,5 119,9 133,0 -13,0 173,2 36,9 14,7 2,2 -118,0 -122,0

123,9 86,3 72,8 13,6 36,0 1,5 123,9 142,9 -19,0 171,2 36,7 14,5 2,3 -115,9 -127,9

138,3 98,4 80,7 17,7 38,2 1,6 138,3 151,8 -13,6 168,5 36,6 14,4 2,4 -113,3 -122,2

10,5 7,1 4,4 2,7 3,4 -0,1 10,5 23,7 -13,2 7,8 -0,5 -0,6 0,5 -10,6 -9,7

76

Moneter

Rp4,4 triliun dan saldo giro positif bank umum sebesar Rp3,4 triliun. Peningkatan uang kartal tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan transaksi masyarakat berkaitan dengan Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, peningkatan saldo giro positif bank di BI terutama bersumber dari meningkatnya posisi Giro Wajib Minimum (GWM), seiring dengan peningkatan dana pihak ketiga bank. Selain kedua komponen di atas, peningkatan uang primer juga bersumber dari meningkatnya posisi kas di bank sebesar Rp2,7 triliun untuk mengantisipasi penarikan uang kartal oleh masyarakat. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan uang kartal selama 2002 mengalami perlambatan (Grafik 5.5). Rata-rata pertumbuhan tahunan uang kartal selama 2002 tercatat sebesar 10,85%, lebih rendah dibandingkan 2001 sebesar 19,58%. Faktor utama yang mendorong lambatnya pertumbuhan uang kartal selama 2002 adalah berkurangnya permintaan uang kartal untuk tujuan berjaga-jaga. Hal ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi positif masyarakat

seiring dengan lebih stabilnya kondisi sosial politik pada 2002 serta adanya kecenderungan membaiknya perkembangan beberapa agregat moneter seperti inflasi dan nilai tukar. Selain itu, relatif lambatnya pertumbuhan uang kartal 2002 juga disebabkan oleh lebih rendahnya permintaan uang kartal untuk kebutuhan transaksi. Hal ini seiring dengan membaiknya laju inflasi dan nilai tukar rupiah dibandingkan dengan 2001. Berdasarkan faktor yang mempengaruhinya, peningkatan uang primer terutama bersumber dari lebih besarnya net ekspansi rupiah rekening pemerintah dan biaya pengendalian moneter dibandingkan dengan pengaruh kontraksi OPT dan sterilisasi valas. Hingga Desember 2002, net ekspansi rekening rupiah pemerintah yang berdampak pada uang primer mencapai Rp7,5 triliun , yang diantaranya ditujukan untuk pembayaran gaji, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp110,0 triliun, pembayaran kupon obligasi sebesar Rp66,0 triliun dan pembayaran proyek sebesar Rp22,8 triliun. Ekspansi ini lebih besar dibandingkan kontraksi yang diantaranya berasal dari penerimaan pajak Rp146,9 triliun, penerimaan BPPN sebesar Rp29,0 triliun, penerimaan deviden Rp11,7 triliun. Net ekspansi sebesar Rp7,5 triliun tersebut telah memperhitungkan dampak kontraksi dari
4

penerbitan Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp2,0 triliun pada akhir Desember 2002.

4

Grafik 5.5 Pertumbuhan Tahunan Uang Kartal

Net ekspansi rekening rupiah pemerintah sebesar Rp7,5 triliun rupiah merupakan bagian dari mutasi rekening tagihan bersih pada pemerintah (sebesar Rp7,8 triliun) yang berpengaruh langsung pada uang primer

77

Moneter (Triliun Rp)

Tabel 5.2 Operasi Pasar Terbuka dan Komponennya 2002 Trw I Trw II Trw III Trw IV TOTAL Perubahan OPT -11,8 -3,6 2,2 2,6 -10,6 Perubahan SBI -44,4 -2,4 4,8 20,1 -21,9 Perubahan FA S B I 32,6 -1,2 -2,6 -17,5 11,3

Keterangan : (-) Kontraksi / (+) Ekspansi

Sementara itu, net kontraksi OPT hingga akhir 2002 berjumlah Rp10,6 triliun terutama berasal dari kontraksi SBI sebesar Rp21,9 triliun, lebih besar dibandingkan dengan pengaruh ekspansi FASBI sebesar Rp11,3 triliun (Tabel 5.2). Kontraksi SBI tersebut terutama terjadi pada triwulan I-2002 (Rp44,4 triliun), sementara pada triwulan II-2002 kontraksi yang terjadi semakin mengecil bahkan mencatat ekspansi pada triwulan III dan IV-2002. Semakin rendahnya kontraksi SBI pada triwulan II2002 dan ekspansi SBI pada triwulan III-2002 berkaitan dengan semakin tajamnya penurunan suku bunga SBI pada kedua periode tersebut. Sebagian besar ekspansi SBI tersebut dapat terserap kembali melalui FASBI, berkaitan dengan masih belum adanya tempat

Grafik 5.7 Net International Reserve

penanaman lain yang lebih menguntungkan bagi perbankan. Sementara itu, ekspansi SBI yang cukup besar pada triwulan IV-2002 lebih disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas jangka pendek perbankan seiring dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal menjelang perayaan beberapa hari besar keagamaan dan tahun baru. Dengan perkembangan tagihan bersih kepada pemerintah (NetClaims on Goverment/NCG) dan OPT tersebut, Aktiva Domestik Bersih (NetDomestic Assets/NDA) selama 2002 menunjukkan kecenderungan yang menurun dan pada umumnya berada di bawah performance criteria (PC) NDA yang ditetapkan. Pada akhir Desember 2002, NDA mencapai posisi negatif Rp13,6 triliun atau Rp24,5 triliun di bawah PC NDA sebesar positif Rp10,9 triliun (Grafik 5.6). Sementara itu, posisi Net International Reserves (NIR) menunjukkan perkembangan yang meningkat dan selalu berada di atas PC NIR yang ditetapkan (Grafik 5.7). Pada akhir Desember 2002, posisi NIR
6 5

Grafik 5.6 Net Domestic Assets

5

6

performance criteria NDA adalah batas atas dari NDA pada akhir periode yang tidak boleh terlampaui. performance criteria (PC) NIR adalah batas bawah dari NIR pada akhir periode.

78

Moneter

Grafik 5.8 Perkembangan M1 Nominal

Grafik 5.9 Perkembangan M2 Nominal

mencapai $21,7 miliar atau $2,9 miliar diatas PC NIR sebesar $18,8 miliar. Dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya, NIR mengalami peningkatan sebesar $3,3 miliar, terutama berasal dari hasil migas sebesar $4,7 miliar, penerimaan pinjaman luar negeri sebesar $2,0 miliar, dan penerimaan BPPN sebesar $1,7 miliar. Penerimaan valas tersebut lebih besar dibandingkan pengeluaran valas terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah sebesar $5,1 miliar.

19,76% dan 14,74% . Lambatnya pertumbuhan M2 diantaranya berkaitan dengan menurunnya suku bunga dana perbankan dan masih belum optimalnya penyaluran kredit perbankan. Lambatnya pertumbuhan M1 dan M2 tersebut diiringi oleh relatif stabilnya angka pengganda uang (APU), sehingga melambatnya laju pertumbuhan M1M2 lebih disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan uang primer (Grafik 5.10). Rata-rata APU1 dan APU2 pada tahun laporan masing-masing sebesar 1,44 dan 6,95,

7

Uang Beredar Selama 2002, posisi likuiditas perekonomian yang tercermin dari jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2) terus menunjukkan peningkatan walaupun dengan pertumbuhan yang melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Posisi M1 maupun M2 menunjukkan peningkatan sepanjang tahun, kecuali pada triwulan I-2002 (Grafik 5.8 dan 5.9). Selama tahun laporan, M1 dan M2 mengalami rata-rata pertumbuhan tahunan masing-masing sebesar 9,85% dan 8,05%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai
7

Grafik 5.10 APU1, APU2, dan Rasio C/DPK

rata-rata pertumbuhan M2 pada masa sebelum krisis mencapai 24,0%.

79

Moneter

Rendahnya pertumbuhan M1 dan M2 dibandingkan laju inflasi yang terjadi selama 2002 menyebabkan likuiditas perekonomian secara riil mengalami rata-rata pertumbuhan yang negatif (Grafik 5.11). Selama 2002, M1 dan M2 riil rata-rata tumbuh sebesar -1,87% dan -3,47%, lebih rendah dibandingkan 2001 yang mencapai 7,46% dan 2,96%. Sampai dengan akhir Desember 2002, M1
Grafik 5.11 Pertumbuhan M1 Riil dan M2 Riil

mencapai posisi Rp191,9 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp14,2 triliun (pertumbuhan tahunan 7,99%) dibandingkan posisi akhir Desember

hampir sama dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata APU1 dan APU2 tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelum krisis yang mencapai 1,75 dan 7,96.
(Triliun Rp)

2001 (Tabel 5.3). Dilihat dari komponennya, peningkatan M1 tersebut berasal dari peningkatan uang kartal sebesar Rp4,3 triliun dan uang giral sebesar Rp9,9 triliun. Berdasarkan kepemilikannya, peningkatan uang giral terutama terjadi pada simpanan giro milik perusahaan swasta. Dalam pada itu, peningkatan uang kartal sebesar Rp4,3 triliun terutama terjadi pada November dan Desember 2002 berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal menjelang perayaan hari besar keagamaan dan Tahun Baru (Grafik 5.12). Sementara itu, dalam periode yang sama, M2 mengalami peningkatan sebesar Rp39,9 triliun

Tabel 5.3 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Rincian M2 M1 Uang Kartal Uang Giral Uang Kuasi Deposito dalam Rupiah Tabungan dalam Rupiah Simpanan dalam Valas Faktor yang Mempengaruhi M2 Aktiva Luar Negeri (Bersih) Bank Indonesia Bank Umum Aktiva Dalam Negeri (Bersih) Tagihan Bersih pada Pemerintah Bank Indonesia Bank Umum Tagihan kepada Sektor Usaha Total Kredit Kredit dalam Rupiah Kredit dalam Valas Tagihan Lainnya Lainnya (Bersih) 2000 747,0 162,2 72,4 89,8 584,8 292,0 152,6 140,2 747,0 210,7 201,2 9,5 536,3 520,3 133,7 386,6 294,9 269,0 152,5 116,5 25,9 -278,9 2001 844,1 177,7 76,3 101,4 666,3 340,9 170,7 154,8 844,1 234,0 192,6 41,4 610,1 529,7 160,8 368,9 329,2 307,6 202,6 105,0 21,6 -248,8 2002 883,9 191,9 80,7 111,3 692,0 359,8 191,7 140,5 883,9 250,7 212,4 38,3 633,2 510,4 168,5 341,8 389,3 365,4 271,9 93,6 23,9 -266,4 Perubahan 2002-2001 39,9 14,2 4,3 9,9 25,6 18,9 21,0 -14,3 39,9 16,7 19,8 -3,1 23,1 -19,4 7,8 -27,1 60,1 57,8 69,2 -11,4 2,3 -17,7

Grafik 5.12 Posisi Uang Kartal dan Simpanan Giro

80

Moneter

nilai tukar rupiah. Apabila dinilai dalam valuta dolar, simpanan valas meningkat sebesar $0,8 miliar. Berdasarkan faktor-faktor yang

mempengaruhi, meningkatnya M2 selama 2002 disebabkan oleh pengaruh ekspansi Aktiva Dalam Negeri Bersih (NetDomestic Assets/NDA) sebesar Rp23,1 triliun dan Aktiva Luar Negeri Bersih (NetForeign Assets/NFA) sebesar Rp16,7 triliun.
Grafik 5.13 Posisi Simpanan Rupiah

Ekspansi NDA tersebut terutama didorong oleh ekspansi tagihan bersih kepada sektor usaha (Claims on Business Sector/CBS) sebesar Rp60,1

hingga mencapai posisi Rp883,9 triliun pada akhir Desember 2002 (pertumbuhan tahunan 4,72%). Peningkatan tersebut, selain disebabkan oleh peningkatan M1 juga berasal dari peningkatan uang kuasi sebesar Rp25,6 triliun. Dilihat dari komponennya, peningkatan uang kuasi tersebut terutama terjadi pada deposito dalam rupiah sebesar Rp18,9 triliun dan tabungan dalam rupiah sebesar Rp21,0 triliun (Grafik 5.13). Peningkatan tersebut lebih besar dibandingkan dengan penurunan simpanan dalam valas sebesar Rp14,3 triliun. Dengan perkembangan tersebut posisi deposito dan tabungan pada akhir tahun masing-masing mencapai Rp359,8 triliun (pertumbuhan tahunan 5,56%) dan Rp191,7 triliun (12,3%). Pertumbuhan deposito rupiah sebesar 5,56% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 16,75%. Hal ini diprakirakan berkaitan dengan cenderung

triliun

sementara

tagihan

bersih

kepada

pemerintah (Net Claims on Government/NCG) mencatat kontraksi sebesar Rp19,4 triliun. Adapun, peningkatan NFA terutama berasal dari ekspansi NFA BI sebesar Rp19,8 triliun yang lebih besar dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi di bank umum sebesar Rp3,1 triliun. Ekspansi CBS terjadi karena adanya

peningkatan kredit rupiah sebesar Rp69,2 triliun yang terutama ditujukan untuk pembiayaan modal kerja sektor perindustrian, jasa-jasa dunia usaha, perdagangan dan konstruksi. Selain itu,

peningkatan kredit rupiah tersebut juga disebabkan peralihan kredit dari BPPN ke perbankan diantaranya melalui program asset to bond swap8 . Sementara itu, kredit valas mengalami penurunan sebesar Rp11,4 triliun, yang lebih diakibatkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah. Jika faktor nilai tukar dihilangkan, kredit valas sampai dengan Desember 2002 meningkat sebesar $0,4 miliar.

menurunnya suku bunga deposito selama 2002 dan semakin berkembangnya obligasi dan produk reksa dana yang menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi dari deposito. Sementara itu, penurunan simpanan valas semata-mata sebagai dampak dari menguatnya

8

Asset to bond swap merupakan program pertukaran kredit antara obligasi pemerintah dengan kredit yang telah direstrukturisasi maupun straight bond.

81

Moneter

Kontraksi pada NCG sebesar Rp19,4 triliun bersumber dari kontraksi NCG di Bank Umum sebesar Rp27,1 triliun, sedangkan NCG di BI mengalami ekspansi sebesar Rp7,8 triliun. Kontraksi NCG di bank umum tersebut terutama berkaitan dengan pelunasan obligasi yang jatuh tempo secara tunai sebesar Rp3,9 triliun, program asset to bond swap sebesar Rp8,7 triliun, serta adanya pengalihan obligasi rekap yang dimiliki bank kepada pengelola reksa dana. Adapun ekspansi NCG di BI terutama disebabkan oleh ekspansi rekening rupiah pemerintah seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Sementara itu, peningkatan NFA yang terutama terjadi di BI bersumber dari penerimaan migas, penerimaan pinjaman luar negeri dan pengelolaan cadangan devisa yang lebih besar dibandingkan pengeluaran khususnya untuk pembayaran hutang luar negeri. Dalam pada itu, penurunan NFA di Bank Umum sebagian besar berasal dari penurunan tagihan perbankan kepada bukan penduduk antara lain tagihan dalam bentuk giro dan call money.

menyalurkan kredit jangka pendek dibandingkan kredit jangka panjang. Masih tersendatnya penyaluran KI yang lebih berjangka panjang mendorong perusahaan-

perusahaan yang memiliki reputasi baik untuk mencari dana di pasar modal. Di sisi lain, menurunnya suku bunga dana telah mendorong sebagian investor mengalihkan sebagian dananya ke pasar obligasi dan reksa dana yang memberikan coupon rate atau capital gain yang lebih menarik.

Suku Bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Perkembangan PUAB selama 2002 menunjukkan kondisi yang cukup likuid, terlihat dari terus turunnya suku bunga PUAB. Penurunan suku bunga PUAB ini searah dengan turunnya suku bunga instrumen moneter BI khususnya FASBI O/N. Suku bunga PUAB O/N baik di pagi maupun sore hari turun masingmasing sebesar 348 bp dan 739 bp dan tercatat pada posisi 12,42% dan 8,14% di akhir Desember 2002 (Grafik 5.14). Lebih tingginya penurunan suku bunga di PUAB sore hari berkaitan dengan dipisahkannya

TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER Penurunan suku bunga instrumen moneter yang terjadi selama periode laporan diikuti oleh penurunan suku bunga PUAB dan suku bunga simpanan perbankan secara signifikan. Namun di sisi lain, penurunan tersebut belum diikuti oleh penurunan suku bunga kredit khususnya KMK dan KI secara proporsional, sementara suku bunga KK justru sedikit meningkat. Meskipun menurun, suku bunga KI yang merupakan kredit berjangka waktu panjang masih cenderung tinggi. Fenomena ini menunjukkan perbankan lebih cenderung untuk

FASBI O/N menjadi pagi dan sore serta ditetapkannya

Grafik 5.14 Nilai dan Suku Bunga PUAB Rupiah

82

Moneter

dibandingkan dengan 2001. Rata-rata per hari volume PUAB pagi dan sore meningkat dari Rp1,8 triliun dan Rp1,4 triliun di 2001 menjadi Rp2,2 triliun dan Rp1,5 triliun. Sementara itu, volume perdagangan PUAB valas yang terjadi selama 2002 menunjukkan pergerakan yang lebih rendah dibandingkan dengan 2001. Ratarata volume PUAB valas selama 2002 mencapai $155,5 juta per hari, lebih rendah dibandingkan 2001 yang
Grafik 5.15 PUAB Valas

mencapai $166,7 juta per hari. Berdasarkan kelompok pelaku di pasar PUAB rupiah, bank umum swasta devisa (BUSD) dan non devisa

suku bunga FASBI O/N sore yang jauh lebih rendah dibandingkan pagi hari. Di PUAB valas dalam negeri, hingga Oktober suku bunga yang terjadi cenderung stabil dan selanjutnya terus menurun hingga akhir 2002 (Grafik 5.15). Suku bunga PUAB valas turun sebesar 48 bp dari 1,73% di akhir 2001 menjadi 1,25% di akhir tahun laporan. Cenderung turunnya suku bunga PUAB valas tersebut berkaitan dengan turunnya suku bunga di luar negeri. Volume transaksi di PUAB rupiah menunjukkan pergerakan yang cenderung fluktuatif dan lebih tinggi

(BUSND) masih dominan bertindak sebagai bank pemberi baik di PUAB pagi maupun sore (Grafik 5.16). Dominannya kelompok BUSD sebagai bank pemberi berkaitan dengan tingginya kondisi likuiditas bank tersebut sehubungan dengan besarnya dana yang diterima terutama berasal dari kupon obligasi rekap. Sementara itu, bank asing dan campuran selalu menjadi net peminjam untuk kedua PUAB. Adapun bank persero selama 2002 lebih banyak bertindak sebagai net pemberi pada PUAB pagi, namun di PUAB sore terkadang juga bertindak sebagai net peminjam dalam jumlah yang relatif kecil.

Grafik 5.16 Net Pemberi dan Penerima di PUAB Pagi dan Sore

83

Moneter

sementara kelompok bank lainnya sepanjang tahun bertindak sebagai net peminjam (Grafik 5.17). Kelompok bank persero masih merupakan peminjam terbesar di pasar valas, diantaranya berkaitan dengan upaya untuk memperoleh margin suku bunga dengan melakukan penempatan di luar negeri.

Suku Bunga Deposito dan Kredit
Grafik 5.17 Net Pemberi dan Penerima di PUAB Valas

Seiring dengan penurunan suku bunga PUAB, suku bunga rata-rata tertimbang deposito perbankan jangka waktu 1 dan 3 bulan masing-masing turun

Berdasarkan kelompok pelaku di PUAB valas, hanya kelompok bank umum swasta devisa (BUSD) saja yang selalu bertindak sebagai net pemberi,

sebesar 326 bp dan 361 bp hingga tercatat pada posisi 12,81% dan 13,63% di akhir 2002. Meskipun suku bunga rata-rata tertimbang deposito 1 bulan
(Persen)

Tabel 5.4 1 Perkembangan Suku Bunga 2002 Jenis SBI 1 bulan 3 bulan Fasilitas Simpanan BI (FASBI) O/N 2-6 hari 7 hari Pasar Uang Antar Bank Puab O/N pagi Puab O/N sore Puab O/N valas Suku Bunga Penjaminan Dep 1 bl Dep 3 bl PUAB rupiah PUAB valas Deposito 1 bulan - Counter rate - Rata-rata tertimbang(LBU) 3 bulan 6 bulan 12 bulan Kredit Modal kerja Investasi Konsumsi
1) Akhir periode 2) Suku bunga sesi pagi

2001
IV I II

2002
III IV

2002

17,62 17,63 15,13 15,38 15,88 15,90 15,53 1,73 17,88 18,04 15,69 2,05 13,77 16,07 17,24 16,18 15,48 19,19 17,90 19,85

16,76 16,89 15,13 15,38 15,88 15,66 15,43 1,66 17,87 18,32 18,15 1,70 13,95 15,64 17,02 16,26 16,13 19,35 18,03 20,11

15,11 15,18 14,13 14,38 14,88 14,54 14,47 1,81 16,73 19,92 14,95 1,67 13,62 14,76 15,85 15,73 16,23 19,08 18,11 20,28

13,22 14,11 12,63 12,88 13,13 12,93 11,29 1,71 15,12 15,21 13,73 1,67 12,71 13,50 14,36 14,81 15,99 18,74 18,11 20,1

12,93 13,12 12,13 12,38 12,50 12,42 8,14 1,25 14,33 14,44 12,72 1,31 11,91 12,81 13,63 13,79 15,28 18,25 17,82 20,21
2

-4,69 -4,51 -3,00 -3,00 -3,38 -3,48 -7,39 -0,48 -3,55 -3,60 -2,97 -0,74 -1,86 -3,26 -3,61 -2,39 -0,20 -0,94 -0,08 0,36

84

Moneter

masih lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga SBI pada tenor yang sama, yaitu sebesar 12,93%, namun dengan lebih cepatnya penurunan SBI dibandingkan suku bunga deposito, perbedaan yang terjadi semakin tipis (Tabel 5.4). Hal ini berkaitan dengan berpengaruhnya juga suku bunga penjaminan terhadap pergerakan suku bunga deposito. Selama tahun laporan suku bunga penjaminan deposito 1 dan 3 bulan hanya turun sebesar 355 bp dan 360 bp hingga mencapai 14,33% dan 14,44% di Desember 2002. Penurunan suku bunga penjaminan ini, selain didorong oleh penurunan rata-rata deposito beberapa bank JIBOR, juga didorong oleh penurunan margin penjaminan. Margin penjaminan deposito ini masingmasing turun sebesar 100 bp pada April dan Juni 2002. Dengan penurunan tersebut, margin penjaminan antara suku bunga rata-rata bank JIBOR dengan suku bunga penjaminan secara total hanya tinggal 200 bp dibandingkan dengan akhir 2001 yang mencapai 400 bp. Penurunan suku bunga simpanan perbankan tersebut ternyata tidak diikuti oleh penurunan suku bunga kredit dengan pergerakan yang sama, bahkan

suku bunga KK menunjukkan sedikit peningkatan (Grafik 5.18). Suku bunga KMK dan KI hanya turun sebesar 94 bp dan 8 bp dibandingkan dengan posisi akhir 2001, hingga masing-masing berada pada posisi 18,25 % dan 17,82% di Desember 2002. Sementara itu, suku bunga KK meningkat sebesar 36 bp, hingga berada pada posisi 20,21% di Desember 2002. Tingkat suku bunga KMK yang mulai turun sejak triwulan II-2002 tersebut telah lebih rendah dibandingkan masa sebelum krisis yang berkisar 19,0%. Sementara itu, tingkat suku bunga KI yang baru menunjukkan sedikit penurunan sejak Oktober 2002 tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum krisis yang berkisar antara 16,0% hingga 16,5%. Rigid-nya pergerakan suku bunga KI ini disebabkan oleh masih tingginya persepsi risiko perbankan terhadap penyaluran kredit yang bersifat jangka panjang yang menyebabkan perbankan cenderung menyalurkan kredit yang berjangka pendek. Hal ini tercermin dari pertumbuhan KI yang rendah. Di sisi permintaan, rendahnya pertumbuhan KI juga mencerminkan masih tingginya risiko dunia usaha. Meskipun suku bunga kredit relatif tinggi, namun permintaan akan kredit perbankan cenderung meningkat khususnya KMK dan KK. Meningkatnya KMK terkait dengan menurunnya suku bunga jenis kredit ini dan masih tingginya kebutuhan perusahaan dalam memanfaatkan kapasitas produksi yang masih tersedia. Sementara itu, meningkatnya KK ditengah masih tingginya suku bunga jenis kredit ini lebih disebabkan oleh relatif rendahnya risiko yang dihadapi

Grafik 5.18 Suku Bunga Perbankan

perbankan dalam menyalurkan KK. Selain itu, peningkatan KK ini juga sejalan dengan masih

85

Moneter

Grafik 5.19 Suku Bunga Riil

Grafik 5.20 Suku Bunga Deposito Riil Beberapa Negara

rendahnya tingkat leverage ratio (rasio antara cicilan utang terhadap pendapatan) di sektor rumah tangga dan adanya reorientasi kredit perbankan dari sektor korporat ke sektor retail. Pada awal tahun, beberapa indikator suku bunga riil, seperti SBI dan simpanan perbankan sempat menunjukkan peningkatan, namun di akhir tahun suku bunga riil cenderung menurun. Penurunan suku bunga riil ini berkaitan dengan lebih cepatnya penurunan suku bunga secara nominal dibandingkan dengan penurunan inflasi yang terjadi. Kondisi ini telah menyebabkan posisi SBI 1 dan 3 bulan riil pada akhir Desember 2002 berada pada posisi 2,90% dan 3,09%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan akhir 2001 yang mencapai 5,07% dan 5,08%. Dengan arah pergerakan yang sama dengan SBI, suku bunga deposito riil baik 1 dan 3 bulan pada akhir tahun laporan juga turun mencapai 2,78% dan 3,60%, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2001 sebesar 3,52% dan 4,69% (Grafik 5.19). Meskipun cenderung menurun, suku bunga riil Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan suku bunga riil beberapa negara Asia lainnya seperti Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia, kecuali Filipina

(Grafik 5.20). Suku bunga riil di ketiga negara tersebut hanya berkisar antara 1% hingga 2%. Dengan demikian, kisaran suku bunga deposito riil yang terjadi saat ini dirasa masih cukup kompetitif untuk menjaga minat masyarakat untuk menanamkan dananya di perbankan dalam negeri.

Pasar Modal Seiring dengan masih tingginya suku bunga kredit perbankan yang berjangka waktu panjang, perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi baik berusaha untuk mendapatkan dana di pasar modal. Di sisi investor, menurunnya suku bunga simpanan perbankan mendorong sebagian investor untuk mengalihkan penanaman dananya ke pasar obligasi dan reksa dana. Di pasar obligasi korporasi, total perusahaan yang melakukan IPO pada 2002 mencapai 12 perusahaan dengan nilai Rp5,3 triliun, meningkat dibandingkan 2001 yang hanya mencapai 6 perusahaan dengan nilai Rp2,9 triliun. Dengan perkembangan tersebut, jumlah perusahaan yang telah memperoleh pernyataan “efektif melakukan penawaran umum obligasi” mencapai 100 emiten

86

Moneter

dengan total nilai emisi Rp37,2 triliun di 2002. Posisi tersebut meningkat dibandingkan akhir 2001 sebanyak 94 perusahaan dengan nilai emisi Rp31,7 triliun. Adapun total obligasi yang beredar di pasar sekunder mencapai nilai Rp20,6 triliun, relatif sama dibandingkan dengan 2001. Meningkatnya transaksi masyarakat di pasar obligasi dan menurunnya suku bunga simpanan perbankan, juga telah mendorong semakin maraknya perdagangan pasar reksa dana terutama pada jenis penanaman yang berpendapatan tetap (boks: Perkembangan Reksa Dana di Indonesia). Dari sisi produk, jumlah reksa dana yang diterbitkan mengalami peningkatan dari 108 jenis di akhir 2001 menjadi 131 jenis pada 2002. Adapun jumlah pemegang unit penyertaan meningkat cukup signifikan dari 51.723 unit di tahun 2001 menjadi 125.820 unit, dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari hanya Rp8,0 triliun di akhir 2001 menjadi Rp46,61 triliun di 2002. Relatif rigid-nya suku bunga pinjaman di sektor perbankan juga telah mendorong dunia usaha untuk mencari dana di pasar saham. Hal ini terlihat dari meningkatnya posisi penawaran umum perdana (IPO) dan penawaran terbatas (right issue) di pasar saham. Jumlah perusahaan yang melakukan IPO di pasar saham selama 2002 telah mencapai 20 perusahaan dengan nilai mencapai Rp1,2 triliun, lebih tinggi dibandingkan 2001 yang mencapai Rp1,1 triliun dengan jumlah 32 perusahaan. Selain itu, total right issue yang terjadi juga meningkat dari Rp4,2 triliun dengan 13 perusahaan pada 2001 menjadi Rp8,7 triliun dengan 12 perusahaan pada 2002.

Sementara itu, kinerja transaksi di pasar saham lebih didorong oleh faktor-faktor yang bersifat sentimen dan perkembangan bursa di luar negeri dibandingkan dengan perkembangan suku bunga yang terjadi. Seiring dengan menguatnya nilai tukar rupiah dan relatif stabilnya kondisi politik dan keamanaan di dalam negeri, pasar saham sempat membaik selama empat bulan pertama 2002. Dalam periode ini indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sempat meningkat hingga menembus angka tertinggi yang merupakan posisi tertinggi sejak Mei 2000 (Grafik 5.21). Namun demikian, perkembangan saham tersebut kembali menunjukkan arah yang terus memburuk hingga akhir Oktober dan ditutup sedikit membaik di akhir tahun. Di awal tahun, membaiknya kondisi pasar modal didorong oleh faktor eksternal maupun internal. Dari faktor eksternal, membaiknya prakiraaan ekonomi global telah mendorong peningkatan indeks di bursa saham internasional yang juga berpengaruh terhadap kinerja perdagangan saham di dalam negeri. Indeks Dow Jones sempat mencapai posisi 10.635 dan Nikkei

Grafik 5.21 Perkembagan IHSG dan LQ 45

87

Moneter

11.980 (Grafik 5.22). Selain faktor eksternal di atas beberapa faktor dari dalam negeri juga turut membantu mendorong membaiknya pasar modal seperti: 1. Menguatnya nilai tukar rupiah dan relatif stabilnya kondisi politik dan keamanan di dalam negeri. 2. Keberhasilan pemerintah dalam penjadwalan kembali utang luar negeri di forum Paris Club yang dilanjutkan dengan penjadwalan kembali utang dalam London Club. 3. Keberhasilan program divestasi 51% saham pemerintah di BCA yang berhasil memberikan sentimen positif terhadap iklim investasi di dalam negeri. Kondisi tersebut telah meningkatkan IHSG dan LQ 45, yang merupakan indikator kinerja 45 saham terlikuid di BEJ, hingga masing-masing sempat menembus level tertinggi selama 2002 sebesar 551,60 dan 122,09. Sementara posisi keduanya pada akhir 2001 hanya sebesar 392,03 dan 80,06. Namun demikian seiring dengan memburuknya kondisi bursa regional dan internasional berkaitan

dengan skandal keuangan pada perusahaan-perusahaan besar AS menyebabkan IHSG terdorong melemah. Kondisi tersebut juga didorong oleh peristiwa-peristiwa di dalam negeri yang dinilai berdampak negatif bagi perkembangan bursa. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah keputusan pailit PT. Asuransi Manulife Indonesia, penundaan divestasi Bank Niaga dan tidak tercapainya target divestasi saham pemerintah di Indosat. Menurunnya kinerja bursa saham di dalam negeri semakin diperburuk lagi oleh tragedi Bali pada pertengahan Oktober sehingga IHSG dan LQ 45 sempat mencapai posisi terendahnya sejak 1999 yaitu pada posisi 337,48 dan 69,09. Posisi IHSG dan LQ 45 ini ditutup sedikit membaik, masing-masing pada posisi 424,95 dan 91,98 pada akhir Desember 2002. Arah perkembangan yang sama juga terjadi pada indikator kinerja pasar modal lainnya seperti nilai dan volume perdagangan saham, kapitalisasi pasar, dan net beli (jual) asing. Selama 2002, pergerakan nilai dan volume perdagangan saham searah dengan pergerakan IHSG. Perdagangan saham sempat mencapai total volume sebesar 35,72 miliar lembar saham dengan nilai Rp20,3

Grafik 5.22 Pergerakan Indeks Saham di Beberapa Bursa

Grafik 5.23 Nilai dan Volume Perdagangan

88

Moneter

triliun pada April 2002, yang selanjutnya menurun menjadi 6,23 miliar lembar dengan nilai Rp10,2 triliun di Desember 2002. Nilai perdagangan saham tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan akhir 2001 yang mencapai Rp6,6 triliun (Grafik 5.23). Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar juga menunjukkan arah perkembangan yang sama, yaitu sempat mencapai nilai tertinggi pada posisi Rp344 triliun dengan jumlah 889,9 miliar lembar saham di April dan kemudian cenderung menurun hingga akhir 2002 tercatat pada posisi Rp268,8 triliun dengan jumlah 939,5 miliar lembar saham. Nilai kapitalisasi pasar tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan akhir 2001 yang mencapai Rp239,3 triliun dengan jumlah saham hanya 884,2 miliar lembar. Posisi net beli asing yang sempat mencapai posisi yang tinggi pada Juli 2002 sebesar Rp1,0 triliun, terus menurun bahkan sempat terjadi net jual sebesar Rp17,1 miliar di November (Grafik 5.24). Net beli asing tersebut kembali meningkat tajam pada akhir tahun hingga mencapai Rp4,8 triliun, berkaitan dengan keberhasilan proses divestasi yang menyebabkan membaiknya beberapa harga saham unggulan. Seiring dengan itu, persentase rata-rata nilai perdagangan asing terhadap total perdagangan selama 2002 menunjukkan kecenderungan yang terus menurun sejak Juli hingga November dan kembali mencatat peningkatan tertinggi sebesar 24,0% di akhir tahun laporan. 4. 3. 2. 1. Meningkatnya jumlah obligasi variable rate (VR) akibat penggantian beberapa jenis obligasi lainnya yang jatuh tempo dengan jenis VR. Meningkatnya permintaan akan obligasi pemerintah di pasar sekunder oleh kelompok nonbank. Meningkatnya perdagangan obligasi bunga tetap (FR) di pasar sekunder. Menurunnya yield obligasi secara umum terutama terjadi pada seri FR sehingga mendorong meningkatnya harga jenis obligasi ini. Sejak dikeluarkannya obligasi pemerintah pada 28 Mei 1999 sampai 31 Oktober 2000 total obligasi yang diterbitkan mencapai Rp430,4 triliun. Posisi tersebut terus mengalami perubahan hingga mencapai Rp419,4 triliun di akhir 2002, menurun dibandingkan dengan posisi akhir 2001 yang mencapai Rp435,3 triliun (Tabel 5.5). Berdasarkan Obligasi Pemerintah Menurunnya suku bunga instrumen moneter dan perbankan selama 2002 juga telah berdampak pada perubahan komposisi obligasi pemerintah dan volume perdagangannya di pasar sekunder sebagai berikut : komposisinya, posisi obligasi di akhir 2002 tersebut sebagian besar merupakan jenis variable rate (VR) yang mencapai Rp239,6 triliun atau mencapai 57,1% dari total, diikuti oleh obligasi bunga tetap (FR) sebesar Rp154,5 triliun (36,8%), dan hedge bond
Grafik 5.24 Net Beli/Jual Asing

89

Moneter

(HB) Rp25,3 triliun (6,0%). Komposisi obligasi FR dan HB tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan 2001 sementara posisi obligasi VR cenderung meningkat. Hal ini berkaitan dengan cenderung turunnya suku bunga perbankan yang mendorong pemerintah mengganti beberapa obligasi jenis FR dan HB yang jatuh tempo ke jenis VR. Penurunan dan perubahan komposisi obligasi selama 2002 antara lain disebabkan oleh: 1. Penukaran obligasi seri FR yang jatuh tempo dengan VR milik beberapa bank (total Rp24,8 triliun) pada Maret 2002. Penukaran sebagian besar obligasi jatuh tempo ini berkaitan dengan semakin menurunnya suku bunga SBI 3 bulan. 2. Pelunasan secara tunai obligasi seri VR0001 yang jatuh tempo sebesar Rp3,9 triliun pada Juli 2002. 3. Pelunasan obligasi seri VR sebesar Rp7,2 triliun dan FR sebesar Rp1,5 triliun melalui program 6. 5. 4.

asset to bond swap sejak Agustus hingga Desember. Program ini merupakan pertukaran antara obligasi pemerintah dengan kredit yang telah direstrukturisasi maupun straight bond (kredit yang tidak mengandung unsur ekuitas) di BPPN. Program ini ditujukan untuk mengurangi beban kewajiban pembayaran kupon dan pokok obligasi pemerintah yang jatuh tempo. Penukaran obligasi HB yang jatuh tempo sebesar Rp10,0 triliun dengan obligasi seri VR sebesar Rp6,5 triliun dan FR sebesar Rp3,5 triliun yang akan jatuh tempo 2008 hingga 2011. Indeksasi obligasi seri HB yang menyesuaikan dengan menguatnya nilai tukar selama 2002. Selain itu, pada November 2002 pemerintah telah melakukan reprofiling obligasi pemerintah senilai Rp171,8 triliun yang dimiliki oleh 4 bank BUMNrekap. Program ini dilakukan dengan melunasi obligasi yang jatuh tempo antara 2004-2009 dengan
(Miliar Rp)

Tabel 5.5 Perkembangan Posisi Obligasi Pemerintah Jenis Menurut Seri Fixed Rate Variable Rate Hedge Bond Menurut Portofolio Investasi Perdagangan - Bebas diperdagangkan - Yang diagunkan Menurut Kepemilikan Departemen Keuangan Bank-Rekap Bank Non-Rekap Sub-Registry
Total Obligasi Rekap* Pangsa (%) 2001 Pangsa (%) 2002 Pangsa (%)

430.422 167.217 226.398 36.807 430.422 430.422 -

100,00 38,85 52,60 8,55 100,00 100,00

435.303 175.464 219.479 40.360 435.303 370.649 64.654 61.184 3.470 435.303 878 396.631 24.773 13.022

100,00 40,31 50,42 9,27 100,00 85,15 14,85 94,6 5,4 100,00 0,20 91,12 5,69 2,99

419.356 154.456 239.602 25.299 419.356 319.643 99.713 99.713

100,00 36,83 57,14 6,03 100,00 76,22 23,78 100,0 0,0 100,00 0,21 85,82 3,30 10,68

430.422 430.422

100,00 100,00

419.356 872,5 359.872 13.829 44.782

* Total obligasi rekapitalisasi perbankan sejak tanggal 28 Mei 1999 s.d. 31 Oktober 2000

90

Moneter

menerbitkan obligasi seri baru sebagai pengganti dengan jangka waktu yang lebih panjang antara 2010-2020 Di pasar sekunder, jumlah portofolio

perdagangan obligasi menunjukkan peningkatan yang signifikan seiring dengan semakin meningkatnya persentase obligasi pemerintah yang boleh diperdagangkan. Jumlah obligasi pemerintah yang boleh diperdagangkan mengalami peningkatan dari hanya 25% menjadi 100% dari seluruh portofolio yang dimiliki. Meskipun demikian, jumlah portofolio yang diperdagangan hanya meningkat dari Rp64,7 triliun (14,9% dari total obligasi) di 2001 menjadi Rp99,7 triliun (23,6%) di Desember 2002. Peningkatan portofolio perdagangan ini mencerminkan masih tingginya kebutuhan likuiditas bank-bank peserta rekapitalisasi, meningkatnya permintaan pasar terhadap obligasi pemerintah, dan pemenuhan dana guna pelunasan kewajiban sebagian bank rekap kepada BPPN. Perdagangan obligasi di pasar sekunder tersebut cenderung meningkat tinggi selama 2002 mencapai rata-rata Rp475,2 miliar per hari, jauh meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp256,5 miliar per hari. Perdagangan di pasar sekunder tersebut mencapai puncaknya pada Agustus 2002 yang mencapai rata-rata Rp754,7 miliar per hari (Grafik 5.25). Jenis transaksi obligasi di pasar sekunder dapat dibedakan atas transaksi repo (jual dengan kewajiban pembelian kembali) dan outright (jual putus). Dari keseluruhan total transaksi, jenis transaksi outright lebih mendominasi dibandingkan transaksi repo (Grafik 5.26). Sementara itu dari transaksi outright tersebut, obligasi seri FR merupakan jenis obligasi yang paling
Grafik 5.26 Perkembangan Volume Transaksi Perdagangan Obligasi Menurut Jenis Transaksi Grafik 5.25 Perkembangan Volume dan Frekuensi Transaksi Perdagangan Obligasi Pemerintah

banyak diminati oleh investor dibandingkan dengan seri VR. Kondisi ini berlawanan dengan tahun 2001. Berdasarkan komposisi kepemilikannya setelah transaksi di pasar sekunder, pangsa kepemilikan obligasi rekap terbesar masih berada di bank peserta rekapitalisasi yang mencapai Rp359,9 triliun atau 85,8% dari total obligasi (Grafik 5.27). Pangsa kepemilikan tersebut diikuti oleh kelompok subregistry, yang terdiri atas beberapa lembaga keuangan nonbank dan masyarakat, mencapai Rp44,8 triliun (10,7%). Pangsa kepemilikan oleh kelompok subregistry tersebut meningkat dibandingkan 2001 yang

91

Moneter

Grafik 5.27 Kepemilikan Obligasi Pemerintah

hanya sebesar Rp13,02 triliun (3,0%). Peningkatan kepemilikan oleh kelompok sub-registry ini dipicu oleh cenderung menurunnya suku bunga deposito dan kurang menariknya kondisi pasar modal selama 2002. Adapun kepemilikan obligasi oleh bank nonrekap mencapai Rp13,8 triliun (3,3%), jauh menurun dibandingkan dengan posisi akhir 2001 sebesar Rp24,8 triliun. Sementara itu, kepemilikan asing atas obligasi pemerintah masih sangat kecil dengan proporsi sekitar 0,14% pada 2002. Jumlah kepemilikan asing tersebut mengalami peningkatan dari Rp38,0 miliar pada 2001 menjadi Rp611,1 miliar pada 2002.

Perdagangan obligasi pemerintah selama 2002 selain dipengaruhi oleh menurunnya suku bunga SBI juga diwarnai oleh isu reprofiling. Kedua faktor tersebut telah berpengaruh terhadap menurunnya obligasi terutama untuk obligasi berjangka waktu pendek dan jenis FR. Isu reprofiling telah memberikan sentimen positif kepada pasar karena penyebaran maturity obligasi pada jangka waktu yang lebih panjang akan semakin memberikan keyakinan pasar akan kemampuan kembali. pemerintah untuk membayar

92

Moneter

boks

Perkembangan Reksa Dana di Indonesia

Investasi dalam bentuk reksa dana telah diperkenalkan sejak 1996 yang meliputi penanaman dana dalam bentuk reksa dana fixed income, reksa dana equity, reksa dana mixed antara keduanya, serta reksa dana dalam bentuk pasar uang. Sampai dengan Desember 2002 terdapat 131 macam jenis reksa dana yang telah diterbitkan oleh lembaga keuangan yang ada di Indonesia. Perkembangan reksa dana mulai semakin marak pada 2002 karena sekitar 60% pemasaran dari reksa dana tersebut

tertentu dari para pengelola dana (fund manager) tersebut. Kegiatan usaha baru bank sebagai agen reksa dana ini telah mampu mengumpulkan dana masyarakat sekitar Rp27 triliun per Oktober 2002 atau sekitar 60,0% dari total dana masyarakat yang terkumpul melalui produk reksa dana. Pada umumnya reksa dana yang dijual adalah reksa dana pendapatan tetap dengan tingkat pengembalian (return) berkisar antara 10,0%14,0% dengan rata-rata pengembalian sebesar 12,0%-13,0% setahun. Bahkan ada reksa dana pendapatan tetap dari sebuah BUSN per Oktober 2002 dapat mencetak tingkat pengembalian hingga 18,94% dalam satu tahun. Selain itu, bank juga menjual reksa dana pasar uang, campuran bahkan reksa dana saham dengan tingkat pengembalian lebih tinggi hingga mencapai 40,0% setahun. Pertumbuhan investasi reksa dana dalam setahun terakhir terus memperlihatkan kenaikan yang sangat pesat. Dari grafik di bawah terlihat bahwa dana masyarakat yang berhasil dihimpun dan dikelola oleh Manajer Investasi (MI) pada Januari 2002 hanya mencapai Rp16,62 triliun kemudian menjadi Rp56,09 triliun pada Desember

menggunakan marketing channeling perbankan.
(Triliun Rp)

Perkembangan Dana Masyarakat yang Dikelola Manajer Investasi Tahun 1995-2002
Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
Sumber : Statistik Pasar Modal, Bapepam

Dana Masyarakat 2,58 5,20 8,75 5,39 9,05 10,25 15,88 56,09

Saat ini telah banyak bank-bank yang menjadi agen dari penjualan reksa dana, yaitu sekitar 12 bank, dimana 6 bank merupakan bank asing dan 6 bank lainnya merupakan bank umum swasta nasional (BUSN) dan bank campuran. Atas jasa layanan tersebut bank menerima imbalan (fee)

2002 atau mengalami kenaikan sebesar 237,48%. Sedangkan nilai aset bersih reksa dana mengalami peningkatan dari Rp8,53 triliun pada bulan Januari 2002 menjadi Rp46,61 triliun pada Desember 2002. Reksa dana pendapatan tetap mencapai Nilai Aset Bersih (NAB)terbesar sebesar Rp37,34

93

Moneter

faktor-faktor tersebut adalah : (i) suku bunga SBI dalam setahun terakhir yang terus menunjukkan trend menurun yang diikuti oleh penurunan suku bunga simpanan bank, (ii) reksa dana yang berumur kurang dari 5 tahun tidak terkena pajak atas capital gain ataupun kuponnya sesuai Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000, dan (iii) sejak Agustus 2002 manajer investasi dapat
Perkembangan Dana Masyarakat yang Dikelola Reksa Dana

berinvestasi pada efek-efek luar negeri sebesar 15,0% dari total dana kelolaan.

triliun atau pangsanya mencapai 80,11% dari NAB total reksa dana yang mencapai Rp46,61 triliun. Komposisi reksa dana pendapatan tetap tersebut sebagian besar terdiri dari obligasi pemerintah yang dianggap merupakan

Dari sisi bank, faktor yang mempengaruhi adalah : (i) perbaikan atas struktur aset bank untuk meningkatkan likuiditas dan penghasilan dari obligasi pemerintah di saat penyaluran dana pada kredit belum optimal; (ii) penurunan cost of fund karena beralihnya simpanan masyarakat dari deposito ke giro milik MI. Perkembangan pesat reksa dana

instrumen yang bebas dari risiko (risk free) sebagaimana terlihat dari pertumbuhan kepemilikan obligasi pemerintah oleh reksa dana yang meningkat. Pertumbuhan investasi reksa dana yang sangat cepat dalam setahun terakhir tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Dari sisi nasabah

diperkirakan masih akan berlanjut terus mengingat proporsi reksa dana dari total investasi masyarakat dibandingkan baru mencapai 6,29%, bila

dengan

proporsi

simpanan

masyarakat pada DPK yaitu 93,71% dimana deposito mencapai 53,4% dari komposisi DPK. Kondisi ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan di Malaysia dan AS yang investasi masyarakat pada reksa dananya telah mencapai 50,0% serta 60,0% dari total investasinya. Adapun risiko-risiko dari produk reksa dana ini bagi nasabah meliputi :
Kepemilikan Obligasi Pemerintah oleh Reksa Dana dan Perbankan 2002

·

Risiko kredit : risiko menurunnya NAB jika terjadi wanprestasi/kebangkrutan dari

94

Moneter

manajer investasi dan penerbit surat berharga (emiten); · Risiko likuiditas : dalam hal terjadi penjualan kembali (redemption) secara massal dalam jangka waktu singkat oleh pemegang unit penyertaan maka dapat terjadi risiko penundaan dalam pelunasan portofolio. · Risiko harga : risiko terjadinya penurunan NAB akibat perubahan harga pasar dari portofolio. Sementara itu, bagi bank yang bertindak sebagai agen dari reksa dana maka timbul pula risiko reputasi yang dapat berubah menjadi tuntutan hukum dari nasabah kepada bank akibat terjadi kesalahpahaman nasabah bahwa reksa dana yang dijual bank merupakan produk bank serta dijamin pula oleh program penjaminan simpanan nasabah.

Pertumbuhan yang sangat cepat dari investasi reksa dana tersebut juga harus diiringi dengan pengawasan dan monitoring yang lebih ketat lagi oleh Bapepam terhadap lembaga-lembaga penerbit reksa dana tersebut. Untuk mengantisipasi perkembangan

tersebut, dalam jangka panjang diperlukan pengkajian dan pembahasan yang mendalam guna melindungi kepentingan nasabah dan bank melalui pengaturan : (i) Lembaga kustodian yang digunakan MI harus berupa lembaga bank (ii) Kemungkinan pengaturan komposisi

portofolio Manajer Investasi agar terdiri dari efek-efek yang telah di rating dan tercatat di bursa efek; (iii) Pembatasan prosentase pembelian efek tidak hanya dari satu perusahaan namun dari satu grup usaha.

95

Neraca Pembayaran

BAB

laporan tahunan

6 Neraca Pembayaran

96

BA B

6

Neraca Pembayaran

NERACA PEMBAYARAN

Neraca Pembayaran Indonesia menunjukan perkembangan yang membaik terutama didukung oleh menurunnya defisit lalu lintas modal hasil dari restrukturisasi utang luar negeri dan meningkatnya surplus transaksi berjalan.

D

alam tahun laporan, secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

diterapkan di beberapa negara mitra dagang. Dari sisi internal, kinerja ekspor selama 2002 dipengaruhi oleh berbagai permasalahan

menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan naiknya surplus neraca transaksi berjalan dan turunnya defisit lalu lintas modal (LLM). Kenaikan surplus transaksi berjalan disumbang oleh peningkatan ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan impor. Dari sisi transaksi modal, penurunan defisit LLM terutama berkaitan dengan keberhasilan penjadwalan kembali utang luar negeri (ULN) baik pemerintah maupun swasta. Walaupun kinerja ekspor dalam tahun laporan telah menunjukkan perbaikan, namun perkembangan ekspor tersebut masih menghadapi beberapa permasalahan yang berasal dari sisi eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ekspor Indonesia dipengaruhi oleh masih lesunya kondisi

struktural seperti masalah perburuhan, penegakan hukum, kondisi keamanan, dan masih rendahnya kegiatan penanaman modal. Hal ini juga tercermin dari turunnya impor nonmigas dalam bentuk bahan baku dan barang modal yang sebagian besar ditujukan untuk kegiatan industri yang menunjang ekspor. Dari sisi LLM, semakin menurunnya defisit LLM swasta terkait dengan hasil privatisasi dan divestasi, penjadwalan kembali ULN swasta, penerbitan obligasi beberapa perusahaan di luar negeri dan meningkatnya penarikan pinjaman oleh perusahaan penanaman modal asing (PMA). Sedangkan turunnya defisit LLM pemerintah t e r u t a m a b e r a s a l d a r i penjadwalan kembali pembayaran pokok dan bunga ULN pemerintah dan peningkatan realisasi penarikan pinjaman dari IMF. Dengan perkembangan tersebut di atas, secara keseluruhan NPI pada 2002 mengalami surplus sebesar $3,6 miliar, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat defisit sebesar $1,4 miliar. Dengan peningkatan surplus

perekonomian dunia terutama di beberapa negara maju yang merupakan pasar utama ekspor Indonesia. Di samping itu, perkembangan ekspor Indonesia juga masih menghadapi beberapa masalah sehubungan dengan semakin tajamnya persaingan global dalam perdagangan internasional dan semakin ketatnya standar kualitas beberapa komoditi yang

97

Neraca Pembayaran (Miliar $)

Tabel 6.1 Tabel 6.1 Neraca Pembayaran Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia Rincian
A. Transaksi Berjalan 1. Neraca Barang a. Ekspor (fob) Nonmigas Migas Minyak LNG LPG b. Impor (fob) Nonmigas Migas Minyak Gas 2. Jasa a. Nonmigas b. Migas Minyak Gas B. Lalu Lintas Modal 1. Lalu Lintas Modal Pemerintah (Bersih) a. Penerimaan pinjaman dan bantuan b. Pelunasan pinjaman 1) 2. Lalu Lintas Modal Swasta (Bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih) C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu lintas Moneter 2) Catatan : 1. Aktiva Luar Negeri (GFA) 3) Setara Impor Nonmigas dan Pembayaran Utang Luar Negeri Pemerintah (bulan) 2. Transaksi Berjalan/PDB (%)
1) 2) 3)

membentuk Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor1 untuk merumuskan langkah kebijakan yang terpadu dan terkoordinasi guna menunjang dan meningkatkan kelancaran arus barang serta meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Selain itu, dalam rangka meningkatkan nilai tambah ekspor komoditas pertambangan serta mendukung tetap terpeliharanya kelestarian lingkungan, pemerintah menetapkan kembali barang yang diatur, diawasi, dan dilarang ekspornya.2 Untuk mendorong kegiatan industri pengolahan, pemerintah mengatur tata cara impor mesin dan peralatan mesin bukan baru3 dengan menetapkan kriteria mesin dan peralatan mesin bukan baru yang dapat diimpor dan ketentuan mengenai uji kelaikan barang impor tersebut. Di samping berbagai kebijakan untuk mendorong ekspor dan impor, Bank Indonesia juga terus berupaya meningkatkan sistem pemantauan kegiatan lalu lintas devisa (LLD) masyarakat. Setelah mewajibkan bank menyampaikan laporan kegiatan LLD sejak tahun 2000, kewajiban tersebut kini diperluas untuk perusahaan bukan lembaga keuangan (Boks: Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan). Dalam rangka mengurangi tekanan terhadap
6,9 22,7 57,4 44,8 12,6 6,9 5,3 0,4 -34,7 -29,0 -5,7 -5,4 -0,3 -15,8 -11,5 -4,3 -2,4 -1,9 -9,0 -0,7 1,1 -1,8 -8,3 -5,9 -2,4 -2,1 0,7 1,4 28,0 5,9 4,7 7,3 23,1 58,0 45,3 12,7 6,7 5,7 0,3 -34,8 -28,3 -6,6 -6,3 -0,3 -15,9 -11,6 -4,2 -2,1 -2,1 -3,6 -0,6 1,3 -1,8 -3,0 -6,9 3,9 3,7 -0,1 -3,6 31,6 6,6 3,9

2000 2001 2002*
8,0 25,0 65,4 50,3 15,1 8,0 6,8 0,4 -40,4 -34,4 -6,0 -5,8 -0,1 -17,1 -12,5 -4,6 -2,2 -2,4 -6,8 3,2 5,0 -1,8 -10,0 -4,6 -5,4 1,2 3,8 -5,0 29,4 6,0 3,4

Setelah diperhitungkan penjadwalan kembali ULN Minus (-) : Surplus, dan sebaliknya Sejak 2000 menggunakan konsep IRFCL menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir 2002 tercatat sebesar $31,6 miliar (Tabel 6.1). Perkembangan yang cukup menggembirakan pada NPI tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintah di bidang ekspor dan impor serta LLM. Di bidang ekspor dan impor, pemerintah

neraca modal, pemerintah telah menempuh upaya penjadwalan kembali ULN pemerintah melalui fase kedua Paris Club (PC) II, dan PC III serta London Club.

2

3 1

Keputusan Presiden RI No. 54 Tahun 2002 tentang Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor, tanggal 23 Juli 2002.

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 575/MPP/ KEP/VIII/2002 tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 558/MPP/KEP/12/1998 tentang Ketentuan Umum Dibidang Ekspor Sebagaimana Telah Diubah Beberapa Kali Terakhir Dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 443/MPP/KEP/5/2002, tanggal 6 Agustus 2002. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 756/MPP/ II/2002 tentang Impor Mesin dan Peralatan Mesin Bukan Baru, tanggal 12 November 2002.

98

Neraca Pembayaran

Berbeda dengan penjadwalan sebelumnya yang hanya mencakup pokok pinjaman, pada PC III ini penjadwalan ULN mencakup juga bunga pinjaman. Di samping itu, sebagai implikasi comparable treatment dari kesepakatan yang diperoleh dalam PC III, pemerintah telah melakukan negosiasi dalam forum London Club sehingga penjadwalan kembali Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN) selain pokok pinjaman juga mencakup bunga Pinjaman Sindikasi. Upaya perbaikan LLM swasta melalui proses penjadwalan kembali ULN swasta nonbank dan swasta bank juga memperlihatkan keberhasilan dibandingkan tahun sebelumnya. Penyelesaian ULN swasta di bawah Prakarsa Jakarta (Jakarta Initiative Task Force) telah mencapai rasio sekitar 65,2% total ULN yang ingin diselesaikan melalui Prakarsa Jakarta, meningkat dari 14% pada tahun sebelumnya. Penjadwalan kembali ULN swasta bank melalui mekanisme program Exchange Offer I dan II (EO I & EO II) juga memperlihatkan penyelesaian yang semakin positif.

TRANSAKSI BERJALAN Pada tahun laporan transaksi berjalan mencatat surplus sebesar $7,3 miliar, meningkat dari surplus tahun sebelumnya sebesar $6,9 miliar (Tabel 6.1 dan Grafik 6.1). Surplus neraca perdagangan yang mencapai $23,1 miliar merupakan sumber utama naiknya surplus transaksi berjalan tersebut. Meningkatnya surplus neraca perdagangan dalam tahun laporan bersumber dari meningkatnya ekspor migas dan nonmigas. Sementara itu, impor juga mengalami peningkatan meskipun impor nonmigas menunjukkan penurunan. Turunnya impor nonmigas terutama pada bahan baku dan barang modal mencerminkan masih lemahnya kegiatan investasi dan produksi di dalam negeri. Sementara itu, dalam tahun laporan neraca jasa mencatat defisit sebesar $15,9 miliar, tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya sebesar $15,8 miliar. Relatif tetapnya defisit neraca jasa pada tahun laporan berasal penurunan defisit jasa di sektor migas yang diimbangi dengan peningkatan defisit jasa dari sektor nonmigas.

Grafik 6.1 Transaksi Berjalan, Neraca Perdagangan, dan Neraca Jasa

Grafik 6.2 Nilai Ekspor Migas dan Nonmigas

99

Neraca Pembayaran

ekspor sektor industri relatif tetap, sedangkan sektor pertambangan turun dari 12,5% dan sektor pertanian naik dari 7,9%. Di sektor pertanian, nilai ekspor mencapai $3,9 miliar, meningkat dibandingkan dengan nilai ekspor tahun sebelumnya ($3,6 miliar). Peningkatan ekspor terjadi di beberapa komoditas utama seperti getah karet (19,0%) dan kopi (36,7%). Peningkatan ekspor
Grafik 6.3 Pangsa Ekspor Nonmigas

getah karet terkait erat dengan keberhasilan kesepakatan International Tripartite Rubber Company (ITRCo) antara Indonesia, Malaysia dan Thai-

EKSPOR Kinerja ekspor Indonesia dalam tahun laporan telah menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Total nilai ekspor tercatat sebesar $58,0 miliar, meningkat dibandingkan dengan nilai ekspor tahun sebelumnya sebesar $57,4 miliar. Ekspor nonmigas tercatat sebesar $45,3 miliar sementara ekspor migas mencapai $12,7 miliar (Grafik 6.2). Ekspor nonmigas dalam tahun laporan mencapai pertumbuhan positif sebesar 1,0% setelah dalam tahun sebelumnya mencatat pertumbuhan negatif 11,0%. Secara sektoral, kenaikan ekspor nonmigas tersebut berasal dari kenaikan ekspor barang di sektor pertanian dan industri yang masing-masing mengalami pertumbuhan 10,2% dan 0,9%. Sementara itu, kelompok barang di sektor pertambangan menunjukkan pertumbuhan negatif 4,4%.

land yang ditandatangani pada Agustus 2002 yang antara lain untuk mengawasi skema pengurangan produksi (management scheme). Kesepakatan ketiga negara penghasil karet terbesar di dunia tersebut mampu mengangkat harga karet internasional. Selain itu, masuknya Vietnam sebagai anggota Asean Rubber Business Club (ARBC) juga turut mengangkat harga karet alam mengingat ARBC menguasai hampir 90% pangsa pasar karet dunia. Sedangkan peningkatan nilai ekspor komoditi kopi antara lain lebih disebabkan oleh kenaikan volume ekspor kopi terkait dengan peningkatan permintaan dunia. Sementara itu, ekspor udang yang merupakan komoditas unggulan dari sektor pertanian

menunjukkan penurunan (-10,6%). Turunnya ekspor udang antara lain berkaitan dengan turunnya harga di pasar internasional sebagai akibat isu bahwa sebagian udang asal Asia mengandung chloramphenicol yang cukup tinggi. Hal tersebut mengurangi minat konsumen untuk membeli produk impor karena dikhawatirkan tidak aman untuk dikonsumsi (produk tercemar). Di samping itu, pemogokan pekerja di pantai barat AS yang menyebabkan tertahannya

Sebagaimana tahun sebelumnya, struktur ekspor nonmigas tetap didominasi oleh sektor industri yang mencapai 79,5% dari nilai total ekspor nonmigas, diikuti oleh sektor pertambangan dan sektor pertanian masing-masing sebesar 11,8% dan 8,7% (Grafik 6.3). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pangsa

100

Neraca Pembayaran

Tabel 6.2 Ekspor Barang Industri
2001 Rincian 2002* 2002* Nilai (Juta $) 6.116 3.256 501 3.783 1.515 280 2.068 64 2.242 1.043 6.562 113 2.500 520 309 1.349 1.053 3.128 4.329 35.962 Pangsa (%) 13,5 7,2 1,1 8,4 3,3 0,6 4,6 0,1 5,0 2,3 14,5 0,3 5,5 1,1 0,7 3,0 2,3 6,9 9,6 79,5 Perubahan (%) -7,7 -6,0 -2,9 -11,9 -13,6 -8,1 6,2 -20,3 -5,0 -7,1 -3,9 20,7 -12,1 -2,3 -12,5 -11,6 -15,8 -19,3 -31,8 -12,3 -9,4 -14,8 -5,9 -4,5 -12,2 3,3 54,0 30,8 4,5 -7,7 7,3 -33,1 -6,6 21,0 1,2 -5,8 2,8 2,4 2,2 0,9

didorong oleh perkembangan teknologi informasi (TI) dunia. Hal tersebut berkaitan dengan dominasi komponen TI dalam struktur ekspor barang-barang elektronik dari Indonesia. Sementara itu, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang merupakan salah satu komoditas unggulan terus menunjukkan penurunan (-9,4%) sebagaimana yang terjadi dalam tahun sebelumnya (-7,7%). Penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh relokasi pabrik tekstil ke Cina dan Vietnam seiring dengan belum kondusifnya iklim usaha di dalam negeri terkait dengan masalah struktural yang belum terselesaikan. Di sektor pertambangan, nilai ekspor mencapai $5,4 miliar atau turun 4,4% dibandingkan tahun

Tekstil & produk tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & pesawat mekanik Lainnya Total

Tabel 6.3 Ekspor Barang Pertambangan
2001 2002* 2002* Nilai (Juta $) 287 2.224 47 233 2.144 436 5.370 Pangsa (%) 0,6 4,9 0,1 0,5 4,7 1,0 11,9 Rincian Perubahan (%) 4,8 6,3 -16,9 -18,6 19,0 -37,5 1,0 16,8 -8,0 -84,4 10,1 10,2 -13,3 -4,4

barang-barang ekspor ke AS, turut mempengaruhi turunnya nilai ekspor udang. Di sektor industri, total nilai ekspor mencapai $36,0 miliar atau tumbuh sebesar 0,9%
Timah Tembaga Nikel

Alumuniun Batu bara Lainnya Total

dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel 6.2). Peningkatan ekspor tersebut terjadi pada beberapa komoditas utama, seperti minyak sawit (54,0%) dan barang-barang elektronik (7,3%). Peningkatan ekspor minyak sawit disebabkan oleh peningkatan permintaan dunia yang diikuti dengan penurunan produksi di beberapa negara pesaing. Selain itu, penurunan produksi minyak nabati terutama minyak kedelai dan minyak bunga matahari yang merupakan substitusi minyak sawit, turut mendorong naiknya volume ekspor dan harga minyak sawit di pasar Internasional. Kenaikan yang terjadi pada ekspor barang-barang elektronik

sebelumnya. Penurunan ekspor terjadi pada beberapa komoditas seperti tembaga (-8,0%), dan nikel (-84,4%). Penurunan nilai ekspor komoditas tembaga dan nikel lebih dikarenakan turunnya harga komoditi tersebut di pasar internasional. Sebaliknya, nilai ekspor komoditas alumunium, batu bara dan timah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 10,1% 10,2% dan 16,8% (Tabel 6.3). Berdasarkan negara tujuan, pangsa ekspor nonmigas ke negara-negara Asia mencapai 56,8%,

101

Neraca Pembayaran

Grafik 6.4 Pangsa Ekspor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Tujuan

kawasan Amerika 19,1%, Eropa 18,7%, Australia/ Oceania 3,0%, dan Afrika 2,4% (Grafik 6.4). Tujuan ekspor nonmigas terbesar di kawasan Asia adalah ASEAN, kemudian diikuti Jepang dan Cina. Secara individual, pangsa ekspor Indonesia ke Amerika dan Jepang turun masing-masing sebesar 1,3% dan 9,8% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan pangsa ekspor Indonesia ke Amerika antara lain disebabkan oleh meningkatnya ekspor dari negara-negara pesaing seperti Cina dan Vietnam4 . Sementara itu, ekspor Indonesia ke Australia/Oceania dan Singapura mengalami peningkatan masing-masing sebesar 32,6% dan 1,3%. Di tengah meningkatnya harga minyak dunia, ekspor migas mengalami peningkatan sebesar 1,3%. Ditinjau dari komponennya, peningkatan tersebut bersumber dari peningkatan ekspor gas sebesar 7,1% sementara ekspor minyak bumi turun sebesar 3,5%. Penurunan ekspor minyak bumi lebih disebabkan oleh menurunnya produksi minyak dari sebesar 1,3 juta barel
4

per hari menjadi 1,2 juta barel per hari. Menurunnya produksi minyak antara lain disebabkan oleh penurunan produksi secara alamiah (natural decline) pada beberapa sumur yang ada, penerapan teknologi baru yang masih dalam tahap penyelesaian, dan jumlah penemuan cadangan minyak baru relatif kecil seiring dengan belum ditemukannya sumber-sumber minyak baru. Sementara itu, harga rata-rata ekspor minyak bumi pada 2002 meningkat menjadi $24,6 per barel dibandingkan dengan $23,4 per barel dalam tahun 2001. Peningkatan harga minyak antara lain terjadi karena meningkatnya permintaan menjelang pergantian musim di belahan barat dunia dan rencana penyerangan AS ke Irak. Sedangkan harga rata-rata ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) mengalami penurunan masing-masing menjadi sebesar $4,2 per MMBTU dan $249,1 per ribu MTon dari $4,3 per MMBTU dan $258,4 per ribu MTon.

IMPOR Sejalan dengan peningkatan ekspor, nilai

Hal ini dapat dilihat dari peningkatan pangsa impor Amerika dari Cina dan Vietnam masing-masing sebesar 12,35% dan 0,05% (pada Q12002) dari 11,77% dan 0,03% (pada Q2-2001) Sumber : Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES), Vol. 38, No. 2,2002: 141-162.

impor dalam tahun laporan meningkat sebesar 0,5% sehingga menjadi $34,8 miliar. Hal ini bersumber

102

Neraca Pembayaran

Tabel 6.4 Impor Nonmigas Menurut Kelompok Barang
Rincian Nilai (Juta $) 2001 Barang Konsumsi Bahan Baku Barang Modal 2.287 5.789 2002* 2.576 5.402 Pertumbuhan (%) 2001 -5,8 -15,7 -19,2 2002* 12,7 -2,9 -6,7 Pangsa (%) 2001 7,9 72,1 20,0 2002* 9,1 71,8 19,1 Rincian

Tabel 6.5 Impor Bahan Baku
2001 2002* 2002* Nilai (Juta $) 1.090 723 2.576 12.363 12 139 1.648 1.728 20.281 Pangsa (%) 3,9 2,6 9,1 43,8 0,0 0,5 5,8 6,1 71,8

Perubahan (%) -16,0 -14,1 -21,0 -14,2 -23,5 10,5 0,4 -32,5 -15,7 14,1 -7,7 -0,5 -5,6 -1,5 -6,9 -5,2 10,6 -2,9

20.886 20.281

dari peningkatan impor migas menjadi $6,6 miliar dari sebesar $5,7 miliar pada 2001 sebagai akibat menurunnya produksi minyak di dalam negeri. Sementara itu, impor nonmigas mengalami penurunan, yaitu dari $29,0 miliar menjadi $28,3 miliar dalam tahun laporan. Berdasarkan kelompok barang, penurunan nilai impor nonmigas terjadi pada bahan baku dan barang modal masing-masing sebesar 2,9% dan 6,7%, sedangkan kelompok barang konsumsi mengalami kenaikan sebesar 12,7% (Tabel 6.4). Perkembangan ini mencerminkan masih rendahnya kegiatan investasi dan produksi di Indonesia. Sementara itu, kenaikan nilai impor migas terutama berasal dari peningkatan nilai impor minyak sebesar 16,4% sedangkan nilai impor gas relatif tidak berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagaimana tahun sebelumnya, pangsa impor nonmigas terbesar masih didominasi oleh impor kelompok bahan baku, diikuti oleh impor kelompok barang modal dan barang konsumsi. Dibandingkan dengan tahun lalu, pangsa impor kelompok bahan baku dan barang modal sedikit menurun, sedangkan kelompok barang konsumsi meningkat. Di kelompok bahan baku dan barang modal, hampir seluruh barang mengalami penurunan terutama pada bahan baku setengah jadi untuk industri di kelompok bahan baku dan mesin mekanik di kelompok barang modal

Makanan dan minuman (industri) Makanan dan minuman (industri 1/2 jadi) Bahan baku mentah untuk industri Bahan baku 1/2 jadi untuk industri Bahan bakar dan pelumas (mentah) Bahan bakar dan pelumas (1/2 jadi) Suku cadang dan perlengkapan barang modal Suku cadang dan perlengkapan alat angkutan Total

sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6.5 dan Tabel 6.6. Penurunan nilai impor kedua komponen penunjang industri itu menunjukkan bahwa berkurangnya tambahan mesin baru antara lain disebabkan oleh kegiatan investasi di Indonesia belum membaik. Sementara itu, di kelompok barang konsumsi, kenaikan antara lain terjadi pada bahan makanan dan minuman, alat angkutan bukan untuk industri, dan barang konsumsi setengah tahan lama.

Tabel 6.6 Impor Barang Modal
2001 Rincian Traktor dan alat pertanian Alat kerajinan / perhiasan Kontainer dan kotak penyimpanan Reaktor nuklir dan mesin mekanik Generator dan alat elektronika Lokomotif, kapal, pesawat Alat pertukangan Alat optik & ukur Mobil penumpang Total 2002* 2002* Nilai (Juta $) 34 0 61 3.225 714 910 39 326 93 5.402 Pangsa (%) 0,1 0,0 0,2 11,4 2,5 3,2 0,1 1,2 0,3 19,1

Perubahan (%) -49,6 -16,8 23,1 -7,8 -2,4 -44,2 -1,7 -41,1 -39,3 -19,2 51,8 -22,3 3,2 -12,1 12,1 -2,4 -2,8 -7,3 22,7 -6,7

103

Neraca Pembayaran

Grafik 6.5 Pangsa Impor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Asal

Berdasarkan negara asalnya, pangsa impor barang nonmigas (C&F) Indonesia dari negara-negara di Asia mencapai 58,9%, Eropa 18,5%, kawasan Amerika 14,3%, Australia/Oceania 7,0%, dan Afrika 1,3% (Grafik 6.5). Negara pengimpor nonmigas terbesar di kawasan Asia adalah Jepang, kemudian diikuti oleh ASEAN dan Cina. Secara individual, pangsa impor dari Jepang dan Cina pada 2002 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya masing-masing dari 16,9% dan 6,7% menjadi 18,1% dan 8,6%. Sedangkan pangsa impor nonmigas yang berasal dari Amerika sebesar 14,3%, menurun dibandingkan pangsa tahun sebelumnya sebesar 15,8%.

Penurunan defisit jasa di sektor migas terutama terjadi pada jasa non-freight sehingga mencapai defisit sebesar $3,7 miliar, sedangkan defisit jasa freight justru mengalami peningkatan menjadi $0,6 miliar seiring dengan meningkatnya impor migas. Sebaliknya, turunnya defisit pada sektor nonmigas berasal dari defisit jasa freight yang menurun sebesar 10,1% sebagai dampak turunnya impor nonmigas. Sementara itu, defisit jasa non freight pada sektor nonmigas meningkat sebesar 4,1% sehingga mencapai $9,5 miliar, meskipun penerimaan devisa yang berasal dari transfer tenaga kerja Indonesia (TKI) mengalami peningkatan dan pembayaran bunga

JASA-JASA Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, neraca jasa dalam tahun laporan mencatat masih defisit. Defisit neraca jasa pada 2002 mencapai $15,9 miliar yang disumbang oleh defisit jasa sektor migas dan nonmigas masing-masing sebesar $4,2 miliar dan $11,6 miliar. Relatif tetapnya defisit neraca jasa pada tahun laporan berasal penurunan defisit jasa di sektor migas yang diimbangi oleh peningkatan defisit jasa dari sektor nonmigas.

ULN mengalami penurunan. Peningkatan tersebut antara lain bersumber dari turunnya penerimaan devisa dari sektor pariwisata dan naiknya pembayaran jasa pengangkutan. Penerimaan dari sektor pariwisata turun menjadi $5,0 miliar (4,7 juta orang) setelah dalam tahun sebelumnya mencatat pemasukan sebesar $5,3 miliar (5,1 juta orang) antara lain merupakan dampak tragedi Bali pada bulan Oktober. Selama 2002, pembayaran jasa pengangkutan mengalami peningkatan sekitar 7,7%.

104

Neraca Pembayaran Juta $

Sementara itu, penjadwalan kembali bunga ULN pemerintah sebesar $765 juta telah memberikan sumbangan terhadap penurunan pembayaran bunga ULN dalam tahun laporan.

Tabel 6.7 Posisi Utang Luar Negeri Indonesia
Keterangan
Pemerintah Swasta a. Lembaga Keuangan

2000

2001

2002 Mar Jun Sep
73.464 56.390 8.021 5.164 2.857 48.369

Des *)
74.197 55.230 7.437 4.869 2.568 47.793

74.916 71.377 64.608 8.870 7.720 1.150 60.058 7.713 6.649 1.064

71.677 74.157 58.299 56.493 8.735 6.309 2.426 8.372 5.848 2.524

LALU LINTAS MODAL Dalam tahun laporan, lalu lintas modal bersih tercatat mengalami defisit sebesar $3,6 miliar, jauh lebih rendah dari defisit tahun sebelumnya sebesar $9,0 miliar. Penurunan defisit tersebut disumbangkan oleh penurunan defisit LLM swasta dan LLM pemerintah masing-masing dari $8,3 miliar dan $0,7 miliar menjadi sebesar $3,0 miliar dan $0,6 miliar. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, turunnya defisit LLM tersebut antara lain bersumber dari hasil penjadwalan kembali ULN pemerintah dan swasta. Dari sisi LLM swasta, turunnya defisit LLM swasta bersumber dari penerimaan dalam rangka privatisasi, aliran bersih investasi portofolio, dan meningkatnya penarikan pinjaman perusahaan PMA. Dalam hal investasi portofolio, telah terjadi inflows yang berasal dari penerbitan obligasi di luar negeri oleh beberapa perusahaan. Di samping itu, turunnya pembayaran ULN swasta juga mendorong penurunan defisit LLM swasta. Adapun surplus pada aliran bersih modal pemerintah terutama berasal dari realisasi penarikan pinjaman IMF (IMF purchase) sebesar $1,4 miliar, pinjaman proyek sebesar $1,4 miliar, dan pinjaman program sebesar $0,8 miliar. Khusus mengenai pinjaman IMF, pencairan pinjaman IMF dalam tahun laporan naik $1,0 milyar setelah pada tahun sebelumnya mengalami beberapa kali penundaan sehubungan dengan tertundanya

- Bank - Bukan Bank b. Bukan Lembaga Keuangan Surat-Surat Berharga

55.738 52.345

49.564 48.121

2.169

1.638

1.580

1.486

1.436

1.470

Total

141.693 133.073 131.556 132.136 131.290 130.897

kesepakatan tentang Letter of Intent (LoI) antara IMF dengan Pemerintah RI. Selain itu, perbaikan lalu lintas modal pemerintah tidak terlepas dari hasil penjadwalan kembali utang pemerintah melalui Paris Club dan London Club. Dalam konteks utang luar negeri, posisi ULN Indonesia akhir tahun laporan turun 1,6% menjadi $130,9 miliar dibandingkan dengan posisi akhir 2001 (Tabel 6.7). Penurunan tersebut terutama karena turunnya utang swasta dalam jumlah yang cukup signifikan sekitar $4,8 miliar yang disebabkan oleh pembayaran atas utang yang jatuh tempo. Sedangkan utang pemerintah meningkat sekitar $2,8 miliar terutama dipengaruhi oleh apresiasi yen Jepang terhadap dolar AS. Dampak apresiasi itu sendiri terhadap posisi ULN pemerintah cukup signifikan mengingat pangsa utang pemerintah dalam mata uang yen Jepang mencapai sekitar 33,7% dari total ULN pemerintah. Utang luar negeri pemerintah diakhir tahun laporan mencapai 56,7% dari total ULN Indonesia. Sementara pangsa utang swasta lembaga keuangan dan bukan lembaga keuangan (termasuk surat-surat berharga) masing-masing tercatat sebesar 5,7% dan

105

Neraca Pembayaran Juta $

Tabel 6.8 Posisi Utang Luar Negeri Menurut Jangka Waktu
Des 2002 *) NO JANGKA WAKTU Swasta Pemerintah Lembaga Keuangan Bank 1 2 Jk. Pendek 2) Jk. Menengah & Panjang 3) 95,3 74.102,0 74.197,3 338,8 4.530,0 4.868,8 Bukan Lembaga Bukan Bank Keuangan1) 116,8 2.451,0 2.567,8 928,3 48.334,8 49.263,1 Total Swasta 1.383,8 55.315,8 56.699,7 Jumlah

1.479,1 129.417,9 130.897,0

Total

Grafik 6.6 Pangsa Utang Luar Negeri

1) Termasuk surat-surat berharga 2) Sampai dengan 1 tahun 3) Lebih dari 1 tahun *) Angka sementara

mencapai $0,1 miliar dan utang swasta termasuk 37,6% (Grafik 6.6). Dalam tahun laporan posisi ULN pemerintah tercatat sebesar $74,2 miliar. Dari total utang tersebut, utang multilateral tercatat sebesar $28,8 miliar, utang bilateral $26,2 miliar, fasilitas kredit ekspor (FKE) $16,4 miliar, utang leasing $369 juta, utang komersial $2,3 miliar dan utang dalam bentuk surat-surat berharga yang dimiliki oleh investor asing $95 juta. Sementara itu, posisi ULN swasta pada akhir tahun laporan mencapai $56,7 miliar, turun 8,1% dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Dari total utang tersebut, utang lembaga keuangan tercatat s e b e s a r $ 7 , 4 m i l i a r, u t a n g b u k a n l e m b a g a keuangan $47,8 miliar, dan utang dalam bentuk surat-surat berharga yang dimiliki oleh investor asing $1,5 miliar. Berdasarkan jangka waktu pembayarannya, utang jangka pendek diperkirakan mencapai $1,5 miliar atau 1,1% dari total ULN Indonesia, selebihnya sebesar $129,4 miliar tergolong utang jangka menengah dan panjang. Dari total utang j angka pendek tersebut, utang pemerintah bank sebesar $1,4 miliar. Dari total utang jangka pendek swasta tersebut, sejumlah $0,5 miliar merupakan utang lembaga keuangan dan $0,9 miliar adalah utang bukan lembaga keuangan (Tabel 6.8). Berdasarkan sektor ekonomi yang dibiayai, sektor industri pengolahan merupakan sektor ekonomi terbesar yang dibiayai dengan ULN, yaitu mencapai $27,9 miliar atau 21,6% dari total ULN. Sektor kedua terbesar adalah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang mencapai $23,2 miliar atau 17,9%, dan diikuti oleh sektor listrik, gas dan air bersih sebesar $14,3 miliar atau 11,0%. Dilihat dari negara pemberi utang, Jepang merupakan kreditur terbesar dengan jumlah mencapai $38,9 miliar atau 29,7% dari total ULN Indonesia. Amerika Serikat di urutan kedua dengan jumlah sebesar $11,9 miliar atau 9,1%, kemudian berturut-turut diikuti oleh Singapura, Belanda, Jerman dan Inggris masingmasing sebesar $7,3 miliar (5,6%) $6,4 miliar (4,9%), $6,3 miliar (4,8%) dan $4,7 miliar (3,6%). Sebagaimana tahun sebelumnya, lembaga internasional seperti IBRD, IMF dan ADB merupakan lembaga pemberi pinjaman terbesar kepada pemerintah Indonesia masing-masing

106

Neraca Pembayaran

mencapai $10,7 miliar (8,2%), $8,8% miliar (6,7%) dan $8,1 miliar (6,2%). Sementara itu dalam konteks penjadwalan kembali ULN, periode laporan ditandai dengan penyelesaian fase kedua PC II pada Februari 2002 dengan nilai penjadwalan kembali pokok pinjaman sebesar $2,7 miliar. Nilai tersebut merupakan fase terakhir dari rencana total penjadwalan kembali ULN PC II sebesar $5,8 miliar. Selanjutnya pemerintah juga berhasil menjadwal kembali ULN yang jatuh tempo selama 21 bulan terakhir sampai dengan akhir 2003 melalui PC III. Melalui kesepakatan tersebut, pemerintah dapat menunda beban utang (pokok dan bunga) sebesar $5,4 miliar, mencakup utang yang akan jatuh tempo selama 2002 sekitar $2,4 miliar dan selama 2003 sekitar $3,0 miliar. Dalam kerangka penjadwalan kembali PC III ini pemerintah juga telah menandatangani perjanjian debt swap dengan Jerman dengan nilai sebesar DM50 juta yang ditujukan untuk perbaikan kualitas pendidikan. Delapan negara lainnya yaitu Inggris, Kanada, Perancis, Finlandia, Italia, Selandia Baru, Swedia, dan Spanyol juga telah menyatakan ikut mendukung program debt swap bagi Indonesia. Dalam konteks ini, pada tanggal 12 Juni 2002 telah ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Inggris mengenai kesedian Inggris untuk mengkonversi ULN Indonesia sejumlah GBP100 juta melalui program debt swap. Jumlah tersebut akan ditingkatkan menjadi GBP200 juta apabila program konversi yang disepakati berhasil diimplementasikan. Di samping itu, sebagai implikasi comparable treatment kesepakatan Paris Club, pemerintah juga telah melakukan penjadwalan kembali PKLN berupa pokok dan bunga Pinjaman

Sindikasi 1995 dan bunga Pinjaman Sindikasi 1996 dan 1997 dengan total nilai sebesar $1,3 miliar 5 melalui forum London Club. Selain itu, selama periode laporan proses penyelesaian penjadwalan kembali ULN swasta juga relatif memperlihatkan tanda-tanda yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut antara lain tercermin dari penyelesaian penjadwalan kembali ULN swasta melalui Prakarsa Jakarta (Jakarta Initiative Task Force) yang sampai dengan Desember 2002 mencapai nilai kumulatif $18,9 miliar atau sekitar 65,2% dari total ULN bermasalah dari sekitar 126 perusahaan yang terdaftar pada lembaga tersebut6 . Relatif meningkatnya penyelesaian penjadwalan kembali ULN swasta ini diantaranya juga didukung oleh fluktuasi nilai tukar yang relatif stabil selama periode laporan sehingga penyusunan proyeksi arus kas perusahaan relatif lebih mudah dilakukan dan konsistensi kesepakatan nilai penjadwalan kembali dapat dipertahankan. Di sektor swasta perbankan, proses penjadwalan kembali ULN yang dilakukan melalui program EO I dan EO II yang perjanjiannya ditandatangani masingmasing pada 18 Agustus 1998 dan 25 Mei 1999, juga memperlihatkan penyelesaian yang positif. Program EO I dengan nilai penjadwalan kembali sebesar $3,0 miliar telah berakhir dengan dilakukannya pembayaran pokok tranche keempat/tranche terakhir pada tanggal 28 Agustus 2002. Sementara untuk EO II dengan nilai penjadwalan kembali sebesar $3,3 miliar, telah mulai

5 6

Terdiri dari Pinjaman Sindikasi 1995 sebesar $ 300 juta, 1996 sebesar $ 500 juta dan 1997 sebesar $ 500 juta. Press release JITF per 20 Desember 2002. Jumlah utang yang direstrukturisasi sampai pada tahapan MoU, meliputi utang domestik dan utang luar negeri baik dalam rupiah maupun valuta asing.

107

Neraca Pembayaran Persen

Tabel 6.9 Indikator Beban Utang
Indikator DSR 1997 44,5 1998 57,9 1999 56,8 2000 41,1 2001 2002*) 41,4 32,2 Kriteria Bank Dunia 20

Ratio Total Utang terhadap 207,3 261,8 252,1 191,0 200,7 194,0 130-220 Ekspor Ratio Total Utang terhadap PDB

62,2 146,3 105,0

93,8

91,1

68,7

50 - 80

Grafik 6.7 Cadangan Devisa

dilakukan pembayaran pokok tranche pertama pada tanggal 5 Juli 2002. Selama 2002 juga telah

normal standar rasio yang ditetapkan oleh Bank Dunia. Secara umum perkembangan rasio-rasio tersebut mencerminkan semakin berkurangnya tekanan beban ULN dan ketergantungan

dilakukan transaksi buyback oleh beberapa obligor peserta EO II yang mencapai sebesar total $330,1 juta sampai dengan akhir Desember 2002. Adapun sisa posisi EO II tercatat sebesar $2,5 miliar pada akhir Desember 2002. Di akhir tahun laporan, rasio pembayaran utang terhadap ekspor (DSR) tercatat sebesar 32,2%, rasio total utang terhadap ekspor dan rasio total utang terhadap PDB masing-masing sebesar 194,0% dan 68,7% (Tabel 6.9). Rasio-rasio tersebut relatif mengalami perbaikan dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya. Di samping itu, kecuali DSR, kedua rasio lainnya juga sudah berada pada kisaran

perekonomian Indonesia terhadap sumber dana dari luar negeri.

CADANGAN DEVISA Dengan surplus neraca pembayaran yang mencapai $3,6 miliar, pada akhir tahun laporan posisi cadangan devisa meningkat sebesar 12,7%. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah cadangan devisa mencapai $31,6 miliar atau setara dengan 6,6 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah (Grafik 6.7).

108

Neraca Pembayaran

Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan

boks

Sebagaimana diketahui bahwa berdasarkan Undang-Undang No. 24 tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa (LLD) dan Sistem Nilai Tukar, Bank Indonesia telah mengeluarkan serangkaian peraturan yang mewajibkan lembaga keuangan (Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank/LKNB) untuk menyampaikan laporan kegiatan LLD kepada Bank Indonesia. Pelaporan kegiatan LLD oleh bank telah dilakukan sejak tahun 2000, sedangkan pelaporan kegiatan LLD oleh LKNB dilakukan sejak tahun 2001. Dalam perkembangannya, sistem pemantauan kegiatan LLD Bank dan LKNB terus diperbaiki sehingga diharapkan dapat

Sebagai pelaksanaan dari peraturan tersebut di atas, Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran No. 4/5/DSM tanggal 28 Maret 2002 tentang Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. Mengingat luasnya cakupan perusahaan yang perlu dipantau serta untuk menjaga kesinambungan dan konsistensi data LLD yang diperoleh, maka pada tahap awal ketentuan ini hanya diberlakukan kepada seluruh Badan Usaha yang beroperasi di Indonesia yang memiliki aset atau omzet per tahun sebesar Rp100 miliar atau lebih. Kewajiban pelaporan kegiatan LLD tersebut mulai

meningkatkan kualitas data laporan. Selanjutnya, dari hasil penelitian diketahui bahwa masih cukup banyak kegiatan LLD yang dilakukan penduduk antara lain melalui rekening giro yang dibuka pada bank di luar negeri dan yang penyelesaiannya dilakukan secara netting. Oleh karena itu, melalui Peraturan Bank Indonesia No. 4/2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan cakupan pemantauan tersebut diperluas. Ketentuan bukan tersebut lembaga

diberlakukan untuk pelaporan kegiatan LLD periode laporan Mei 2002. Pada tahap selanjutnya, ketentuan ini juga akan diberlakukan secara bertahap pada perusahaan lainnya. Di dalam ketentuan dimaksud, perusahaan yang melakukan kegiatan LLD diwajibkan untuk menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia secara berkala yang mencakup : 1. Laporan transaksi LLD secara bulanan, yaitu kegiatan LLD yang dilakukan melalui rekening giro perusahaan pada bank di luar negeri (overseas current account atau OCA), rekening antar perusahaan/kantor (inter company/office account atau ICA), dan melalui sarana lainnya;

mewajibkan

perusahaan

keuangan (selanjutnya disebut Perusahaan) untuk melaporkan kegiatan LLD secara langsung kepada Bank Indonesia.

109

Neraca Pembayaran

2.

Laporan Posisi secara semesteran, yang meliputi tagihan (claims) dan kewajiban (liabilities) perusahaan kepada bukan penduduk. Menyadari bahwa pemantauan LLD ini

dan mulai diberlakukan untuk pelaporan kegiatan LLD periode laporan Januari 2004. Untuk mendukung kelancaran sistem pelaporan dan peningkatan kualitas data LLD, berbagai upaya terus dilakukan antara lain membentuk help desk yang bertugas untuk melayani konsultasi dalam membahas

merupakan hal yang baru bagi perusahaan, maka perusahaan diberi kesempatan untuk memahami dan melakukan uji coba pelaksanaan pelaporan kegiatan LLD kepada Bank Indonesia sampai dengan periode laporan November 2002. Selanjutnya, sanksi administratif mulai

permasalahan yang terjadi pada pelaporan LLD Perusahaan. Dengan peraturan tersebut diharapkan diperoleh keterangan dan data LLD perusahaan yang lengkap dan akurat untuk melengkapi data yang sudah diperoleh terlebih dahulu dari pemantauan kegiatan LLD Bank dan LKNB sehingga mendukung perumusan dan peningkatan

diberlakukan mulai pelaporan kegiatan LLD periode laporan Desember 2002. Namun demikian, mengingat masih banyaknya perusahaan yang belum siap memenuhi ketentuan terutama berkaitan dengan diberlakukannya sanksi administratif maka pengenaan sanksi tersebut diundur

efektivitas kebijakan moneter maupun kebijakan ekonomi lainnya.

110

Bab 7 : Keuangan Pemerintah

BAB

laporan tahunan

7 Keuangan 5 Moneter Pemerintah

Keuangan Pemerintah

111

B Keuangan Pemerintah A B

7

KEUANGAN PEMERINTAH

Kebijakan keuangan pemerintah masih diarahkan untuk mendukung konsolidasi fiskal dalam rangka menjamin tercapainya kondisi fiskal yang sustainable. Pada 2002 defisit anggaran dapat dikendalikan pada tingkat yang lebih rendah dari rencana semula yaitu 1,7% dari PDB.

P

elaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2002 diarahkan pada langkah-

(i) peningkatan tarif efektif Pajak Penghasilan (PPh) atas WP pengusaha tertentu dari 1 ,0% menjadi 2,0% dari omzet; (ii) peningkatan tarif PPh final atas bunga obligasi dari 15,0% menjadi 20,0%; serta (iii) pengenaan PPh atas capital gain penjualan aset (Non Prakarsa Jakarta) dalam rangka restrukturisasi. Sementara itu upaya ekstensifikasi diantaranya meliputi: (i)

langkah konsolidasi pemerintah untuk menjamin kesinambungan keuangan negara di masa depan. Beberapa langkah konsolidasi dalam paket kebijakan fiskal 2002 berhasil dilaksanakan misalnya penurunan yang cukup signifikan pada subsidi, reprofiling sebagian utang dalam negeri (Boks : Reprofiling Obligasi Negara) dan rescheduling utang luar negeri pemerintah, namun sebagian lainnya harus ditunda misalnya pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di pulau Batam. 1 Disamping itu, pemerintah menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam proses penyesuaian fiskal untuk mengantisipasi perkembangan aktual pada besaran-besaran ekonomi makro terutama suku bunga domestik dan tingkat penyerapan utang luar negeri yang tidak sesuai dengan asumsi semula. Kebijakan di sisi pendapatan negara terutama dilakukan di sektor perpajakan yang meliputi upaya-upaya intensifikasi pajak dan serta

peningkatan dan perluasan program pemeriksaan pajak; (ii) identifikasi dan monitoring secara intensif atas 400 penunggak pajak terbesar; serta (iii) pembangunan dan pengembangan bank data melalui kerjasama dengan berbagai instansi terkait. Meskipun berbagai kebijakan tersebut dapat dilaksanakan, tingkat tax ratio diprakirakan hanya mencapai 12,7% dari PDB, atau di bawah target anggaran 13,0% dari PDB. Pencapaian pajak yang lebih rendah tersebut terutama terjadi pada jenis penerimaan perpajakan terpenting, yaitu PPh Nonmigas dan PPN, di samping juga Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Perdagangan Internasional. Hal ini terutama diprakirakan karena: (i) tertundanya implementasi dari beberapa kebijakan perpajakan, seperti

ekstensifikasi

penerimaan

peningkatan pelayanan kepada wajib pajak (WP). Upaya intensifikasi terutama meliputi:

1

Pada tahun 2002 pemerintah juga memberlakukan Undang-Undang tentang Surat Utang Negara (SUN) yang memberikan “standing appropriation” yaitu jaminan pemerintah kepada pasar untuk membayar semua kewajiban pokok dan bunga utang (Boks : Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara).

pengenaan PPN di pulau Batam dan pencabutan fasilitas pembebasan pajak atas barang-barang strategis; (ii) kondisi perusahaan-perusahaan besar

112

Keuangan Pemerintah

terutama perusahaan PMA yang masih merugi; (iii) adanya perlambatan perkembangan industri yang berbasis ekspor, terutama industri sepatu, garmen, elektronik dan produk kayu. Di sisi lain, sumber Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) memberikan kontribusi yang cukup signifikan untuk menutup kekurangan pendapatan negara dari perpajakan. Jenis pendapatan ini mencapai sekitar 5,3% dari PDB, lebih tinggi dari target semula 4,9% dari PDB. Kelebihan PNBP terhadap targetnya terutama berasal dari penerimaan yang tidak diprakirakan sebelumnya dari migas (oil windfall profit) dan PNBP Lainnya berupa carry over penerimaan di 2001 yang baru dibayarkan pada 2002. Dengan kondisi ini, jumlah pendapatan negara dan hibah secara keseluruhan diprakirakan mencapai 18,0% dari PDB atau relatif sama dengan target semula. Di sisi belanja negara, beberapa kebijakan penting yang dilaksanakan antara lain penurunan subsidi dan pengurangan beban bunga utang dalam negeri melalui kebijakan buy back. Dengan berbagai kebijakan di sisi belanja tersebut, realisasi belanja negara dapat dikendalikan pada angka 19,7% dari PDB, atau di bawah rencana semula 20,4% dari PDB. Dilihat dari tiga kelompok belanja negara, pengeluaran rutin pemerintah pusat dan pengeluaran pembangunan berada di bawah target (2,4% dan 23,0% di bawah target), sedangkan anggaran belanja untuk daerah relatif tidak mengalami perubahan yang berarti dan berjalan sesuai dengan target. Dari sisi ekonomi makro, pelaksanaan APBN juga menghadapi tekanan akibat perkembangan aktual ekonomi makro yang berbeda dengan

Tabel 7.1 Perkembangan Asumsi APBN
APBN-PAN 2001
PDB Nominal (triliun rupiah) Pertumbuhan Ekonomi (%) Laju Inflasi (%) Harga Minyak Mentah ($ per barel) Produksi Minyak (juta barel per hari) Nilai Tukar (Rp/$) Rata-Rata Suku Bunga SBI 3 Bulan (%)

APBN 2002 1.685 4,0 9,0 22,0 1,32 9.000 14,0

APBN-P 2002 1.716 4,0 9,5 22,8 1,26 9.280 15,7

Realisasi 2002 1)
1.668 3,6 10,03 24,1 1,26 9.311 15,2

1.491
3,5 11,9 24,6 1,27 10.219 16,4

1) Realisasi sementara (revisi IV, Januari 2003)

Sumber : Departemen Keuangan

prakiraan semula. Tekanan yang paling signifikan berasal dari suku bunga SBI 3 bulan yang diprakirakan mencapai rata-rata 15,2% atau lebih tinggi dari prakiraan semula 14,0% per tahun yang menyebabkan lebih tingginya beban bunga utang dalam negeri dibandingkan alokasi anggarannya (Tabel 7.1). Meskipun pelaksanaan APBN menghadapi berbagai tantangan, pemerintah memprakirakan bahwa defisit operasi keuangan pemerintah dapat dikendalikan pada angka 1,7% dari PDB atau di bawah rencana semula 2,5% dari PDB yang terutama dibiayai dengan hasil privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan. Namun, sebagai konsekuensinya tingkat stimulus fiskal atau kontribusi langsung pemerintah terhadap permintaan agregat hanya mencapai 11,8% dari PDB, lebih rendah dari rencana semula 12,5% dari PDB. Kontribusi tersebut dalam bentuk pengeluaran konsumsi sebesar 7,0% dari PDB dan pengeluaran investasi sebesar 4,8% dari PDB. Di sisi moneter, perkembangan pengeluaran pemerintah masih cukup kondusif dalam mendukung operasi pengendalian moneter, meskipun ekspansi rupiah bersih pemerintah mencapai Rp19,5 triliun,

113

Keuangan Pemerintah

lebih tinggi dari rencana semula Rp15,4 triliun. Seluruh jumlah ini diprakirakan dapat diserap oleh Bank Indonesia mengingat pada periode yang sama terjadi aliran devisa masuk bersih dari sektor pemerintah setara Rp24,3 triliun. Dibandingkan realisasi tahun lalu, operasi keuangan pemerintah pada tahun laporan secara umum menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Hal ini tercermin dari beberapa indikator seperti lebih tingginya tax ratio (12,7% dari PDB pada 2002 dibandingkan 12,4% dari PDB pada 2001), lebih rendahnya defisit anggaran (1,7% dari PDB pada 2002 dibanding 2,7% dari PDB pada 2001) dan lebih kondusifnya dampak rupiah keuangan pemerintah terhadap operasi pengendalian moneter (1,2% dari PDB pada 2002 dibanding 2,2% dari PDB pada 2001).

persentase

terhadap

PDB

angka

realisasi

pendapatan tersebut mencapai 18,0% atau sedikit di atas target anggaran yang ditetapkan sebesar 17,9% dari PDB. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, rasio pendapatan negara dan hibah pada 2002 lebih rendah dari 2001 yang tercatat 20,2% dari PDB. Secara umum, hal ini terutama disebabkan oleh harga minyak yang lebih rendah dan nilai tukar yang menguat. Kontributor utama penerimaan pemerintah masih tetap berasal dari penerimaan perpajakan yang mencakup 70,3% dari total penerimaan. Meskipun demikian, tingkat tax ratio hanya mencapai 12,7% dari PDB, atau di bawah target yang diharapkan yaitu 13,0% dari PDB. Jika dilihat lebih jauh, pencapaian pajak yang lebih rendah tersebut terutama terjadi pada jenis penerimaan perpajakan terpenting yaitu PPh

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH Realisasi pendapatan negara dan hibah dapat mencapai jumlah yang ditargetkan. Dalam nilai nominal angka realisasinya mencapai Rp300,2 triliun atau 0,6% di bawah target, sedangkan dalam

Nonmigas dan PPN. Hal ini disebabkan oleh tertundanya implementasi beberapa kebijakan perpajakan dan aktivitas perekonomian yang lebih rendah dari prakiraan semula. Sementara itu, PNBP justru memperlihatkan perkembangan

Catatan:
1) 2) Data diolah dari tahun anggaran menjadi tahun kalender 1997-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003)

Grafik 7.1 Perkembangan Penerimaan Pajak dan Bukan Pajak (Persen terhadap Pendapatan Negara)

Grafik 7.2 Komponen Pendapatan Negara

114

Keuangan Pemerintah

yang cukup menggembirakan. Meskipun target anggarannya ditetapkan lebih konservatif dibandingkan penerimaan pajak, namun dalam realisasinya penerimaan ini mencapai 5,3% dari PDB, atau lebih tinggi dari target yang diharapkan yaitu 4,9% dari PDB. Pelampauan PNBP ini disebabkan adanya penerimaan yang melampaui target dari minyak dan gas alam serta PNBP lainnya, termasuk didalamnya penyetoran dana off budget dan pengembalian kelebihan subsidi BBM tahun 2001 dengan mengacu pada

hasil audit BPKP (Grafik 7.1). Secara keseluruhan, PPh Nonmigas dan PPN masih menjadi dua sumber utama pendapatan negara dengan pangsa masing-masing sebesar 28,1% dan 21,9% dari total pendapatan negara. Walaupun tidak mencapai target, namun kedua penerimaan tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, sumber penerimaan ketiga terbesar adalah PNBP dari minyak dengan p a n g s a 1 5 , 9 % dari total pendapatan negara. Penerimaan ini melebihi target namun menurun
(Triliun Rp)

Tabel 7.2 Pendapatan Negara dan Hibah 2001 Uraian
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak Penghasilan 1. Migas 2. Non Migas ii. Pajak Pertambahan Nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan v. Cukai vi.Pajak Lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea Masuk ii. Pajak/Pungutan Ekspor 2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) a. Penerimaan Sumber Daya Alam (SDA) i. Minyak Bumi ii. Gas Alam iii. Pertambangan Umum iv. Kehutanan v. Perikanan b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % Thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

301,08 300,60 185,54 175,97 94,58 23,10 71,47 55,96 5,25 1,42 17,39 1,38 9,57 9,03 0,54 115,06 85,67 58,95 22,09 2,32 2,24 0,07 8,84 20,55 0,48

20,19 20,16 12,44 11,80 6,34 1,55 4,79 3,75 0,35 0,10 1,17 0,09 0,64 0,61 0,04 7,72 5,75 3,95 1,48 0,16 0,15 0,00 0,59 1,38 0,03

301,87 301,87 219,63 207,03 104,50 15,68 88,82 70,10 5,92 2,21 22,35 1,95 12,60 12,25 0,35 82,25 63,20 44,01 14,52 1,34 3,03 0,29 10,35 8,70 -

17,91 17,91 13,03 12,28 6,20 0,93 5,27 4,16 0,35 0,13 1,33 0,12 0,75 0,73 0,02 4,88 3,75 2,61 0,86 0,08 0,18 0,02 0,61 0,52 -

305,15 304,89 214,71 202,57 103,31 16,11 87,20 67,80 6,03 1,50 22,47 1,46 12,14 11,84 0,31 90,18 68,00 47,68 16,35 1,43 2,36 0,19 10,91 11,27 0,26

17,78 17,76 12,51 11,80 6,02 0,94 5,08 3,95 0,35 0,09 1,31 0,08 0,71 0,69 0,02 5,25 3,96 2,78 0,95 0,08 0,14 0,01 0,64 0,66 0,01

300,19 299,89 210,95 200,32 101,68 17,22 84,46 65,85 6,36 1,63 23,34 1,47 10,63 10,40 0,23 88,93 65,22 47,69 12,33 1,85 3,15 0,20 9,76 13,95 0,30

18,00 17,98 12,65 12,01 6,10 1,03 5,06 3,95 0,38 0,10 1,40 0,09 0,64 0,62 0,01 5,33 3,91 2,86 0,74 0,11 0,19 0,01 0,59 0,84 0,02

(2,20) (2,18) 0,20 0,21 (0,25) (0,52) 0,27 0,20 0,03 0,00 0,23 (0,00) (0,00) 0,02 (0,02) (2,38) (1,84) (1,09) (0,74) (0,04) 0,04 0,01 (0,01) (0,54) (0,01)

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

115

Keuangan Pemerintah

dibandingkan tahun lalu (Grafik 7.2 dan Tabel 7.2). Jenis-jenis penerimaan lain yang cukup penting seperti cukai dan PPh Migas berada di atas target, sedangkan PNBP dari gas alam berada di bawah target. Cukai mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu karena

sebesar 20,4% dari PDB. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, rasio belanja negara pada 2002 lebih rendah dari 2001 yang tercatat 22,9% dari PDB terutama karena penurunan yang sangat signifikan pada alokasi dana untuk subsidi. Alokasi belanja terbesar masih tetap untuk pengeluaran rutin pemerintah pusat yang mencapai 57,7% dari total belanja negara, diikuti oleh belanja untuk daerah (30,0%) dan pengeluaran pembangunan (12,3%). Dibandingkan dengan rencana anggaran, realisasi dana untuk pengeluaran rutin pemerintah pusat dan alokasi dana untuk pengeluaran pembangunan masing-masing tercatat 2,4% dan 23,0% lebih rendah, sedangkan alokasi dana untuk belanja daerah sedikit lebih tinggi dari rencana anggaran. Sebagian besar dari alokasi anggaran

meningkatnya produksi barang kena cukai serta dampak beberapa kebijakan seperti pemberantasan peredaran rokok polos dan pemantauan secara intensif terhadap Harga Jual Eceran (HJE) barang kena cukai di peredaran Sementara itu, PNBP dari gas alam mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu seiring dengan turunnya harga minyak internasional dan menguatnya nilai tukar rupiah.

BELANJA NEGARA Realisasi belanja negara berada di bawah jumlah yang ditargetkan. Dalam nilai nominal, angka realisasinya mencapai Rp327,9 triliun atau 4,7% di bawah target, sedangkan dalam persentase terhadap PDB angka realisasi belanja tersebut mencapai 19,7% atau di bawah rencana anggaran yang ditetapkan

digunakan untuk pembayaran bunga utang yakni sebesar 27,4%, diikuti oleh Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah sebesar 21,1% dan subsidi sebesar 12,2% dari total belanja negara (Grafik 7.3). Realisasi yang lebih rendah pada pengeluaran rutin pemerintah pusat terjadi pada hampir seluruh komponennya, kecuali pembayaran bunga utang khususnya utang dalam negeri. Terlampauinya alokasi dana untuk pembayaran bunga utang dalam negeri disebabkan oleh lebih tingginya tingkat suku bunga rata-rata SBI 3 bulan yang menjadi acuan penentuan bunga utang dalam negeri dan ditambah pula oleh tertundanya pelaksanaan penarikan obligasi rekapitalisasi perbankan. Penarikan obligasi tersebut semula direncanakan dimulai pada awal tahun anggaran, namun baru dapat dilaksanakan mulai

Grafik 7.3 Komponen Belanja Negara

akhir triwulan III-2002. Dibandingkan dengan tahun lalu, hampir seluruh pos mengalami kenaikan

116

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.3 Belanja Negara 2001 Uraian
B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang c. Pembayaran Bunga Utang i. Utang Dalam Negeri ii. Utang Luar Negeri d. Subsidi i. Subsidi BBM ii. Subsidi Non BBM - Pangan - Listrik - Bunga Kredit Program - Lainnya e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan Pembangunan Rupiah b. Pembiayaan Proyek (termasuk Hibah) II. Anggaran Belanja untuk Daerah 1. Dana Perimbangan a. Dana Bagi Hasil b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

341,56 260,51 218,92 38,71 9,93 87,14 58,20 28,95 77,44 68,38 9,06 5,69 41,59 21,37 20,21 81,05 81,05 20,01 60,35 0,70 -

22,91 17,47 14,68 2,60 0,67 5,84 3,90 1,94 5,19 4,59 0,61 0,38 2,79 1,43 1,36 5,44 5,44 1,34 4,05 0,05 -

344,01 246,04 193,74 41,30 12,86 88,50 59,52 28,98 41,59 30,38 11,21 4,70 4,11 2,20 0,20 9,49 52,30 26,47 25,83 97,97 94,53 24,60 69,11 0,82 3,44

20,41 14,60 11,50 2,45 0,76 5,25 3,53 1,72 2,47 1,80 0,67 0,28 0,24 0,13 0,01 0,56 3,10 1,57 1,53 5,81 5,61 1,46 4,10 0,05 0,20

345,60 247,80 200,38 42,20 13,90 91,54 63,21 28,32 42,64 31,16 11,47 4,70 4,10 2,47 0,20 10,11 47,41 27,19 20,22 97,81 94,04 24,27 69,11 0,66 3,77

20,13 14,44 11,67 2,46 0,81 5,33 3,68 1,65 2,48 1,82 0,67 0,27 0,24 0,14 0,01 0,59 2,76 1,58 1,18 5,70 5,48 1,41 4,03 0,04 0,22

327,86 229,34 189,07 39,69 12,43 89,87 64,46 25,41 40,01 31,16 8,84 7,08 40,27 27,64 12,63 98,52 94,76 24,99 69,14 0,64 3,76

19,66 13,75 11,34 2,38 0,75 5,39 3,86 1,52 2,40 1,87 0,53 0,42 2,41 1,66 0,76 5,91 5,68 1,50 4,15 0,04 0,23

(3,25) (3,72) (3,35) (0,22) 0,08 (0,46) (0,04) (0,42) (2,80) (2,72) (0,08) 0,04 (0,37) 0,22 (0,60) 0,47 0,25 0,16 0,10 (0,01) 0,23

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

realisasi, kecuali pembayaran subsidi BBM dan bunga utang luar negeri. Tercapainya rencana anggaran untuk daerah tidak terlepas dari semakin baiknya pelaksanaan otonomi daerah sejak mulai digulirkan pada awal 2001. Alokasi terbesar masih tetap untuk DAU yang mencakup lebih dari dua pertiga total belanja untuk daerah. Dibandingkan dengan tahun lalu, alokasi dana untuk hampir seluruh pos pada belanja daerah ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan, termasuk untuk pos baru yang dinamakan Dana

Otonomi Khusus dan Penyeimbang. Pada pos yang terakhir ini tercakup pula alokasi anggaran untuk membiayai kenaikan tunjangan kependidikan untuk guru pada 2002 sebesar 50,0% yang berlaku sejak Oktober 2002. Rendahnya tingkat realisasi pengeluaran pembangunan tidak terlepas dari kendala teknis dan administratif dalam pencairan utang luar negeri serta rendahnya tingkat penyerapan pinjaman proyek. Pi n j a m a n ini terutama

dialokasikan untuk melanjutkan kembali proyek-

117

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.4 Operasi Keuangan Pemerintah 2001 Uraian
APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak 2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) II. Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin 2. Pengeluaran Pembangunan II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang C. Keseimbangan Primer Perbedaan Statistik D. Surplus/(Defisit) Anggaran E. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan Dalam Negeri a. Otoritas Moneter b. Kredit/Pinjaman Sektor Perbankan c. Koreksi Moneter 2. Non-Perbankan Dalam Negeri a. Privatisasi b. Penjualan Aset Program Restruk. Perbankan c. Penjualan Obligasi Pemerintah II. Pembiayaan Luar Negeri (Neto) 1. Penarikan Pinjaman LN (Bruto) a. Pinjaman Program b. Pinjaman Proyek 2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN

301,08 300,60 185,54 115,06 0,48 341,56 260,51 218,92 41,59 81,05 81,05 46,66 0,00 (40,48) 40,49 30,22 (1,23) (1,23) 31,45 3,47 27,98 10,27 26,15 6,42 19,74 (15,88)

20,19 20,16 12,44 7,72 0,03 22,91 17,47 14,68 2,79 5,44 5,44 3,13

301,87 301,87 219,63 82,25 344,01 246,04 193,74 52,30 97,97 94,53 3,44 46,36 0,00

17,91 17,91 13,03 4,88 20,41 14,60 11,50 3,10 5,81 5,61 0,20 2,75

305,15 304,89 214,71 90,18 0,26 345,60 247,80 200,38 47,41 97,81 94,04 3,77 51,08 0,00

17,78 17,76 12,51 5,25 0,01 20,13 14,44 11,67 2,76 5,70 5,48 0,22 2,98

300,19 299,89 210,95 88,93 0,30 327,86 229,34 189,07 40,27 98,52 94,76 3,76 62,19 (0,00)

18,00 17,98 12,65 5,33 0,02 19,66 13,75 11,34 2,41 5,91 5,68 0,23 3,73

(2,20) (2,18) 0,20 (2,38) (0,01) (3,25) (3,72) (3,35) (0,31) 0,47 0,25 0,23 0,60

(2,72) 2,72 2,03 (0,08) (0,08) 2,11 0,23 1,88 0,69 1,75 0,43 1,32 (1,07)

(42,14) 42,13 23,50 23,50 3,95 19,55 18,63 35,36 9,53 25,83 (16,73)

(2,50) 2,50 1,39 1,39 0,23 1,16 1,11 2,10 0,57 1,53 (0,99)

(40,46) 40,45 24,19 0,20 0,20 23,99 4,44 19,55 16,26 29,31 9,35 19,96 (13,05)

(2,36) 2,36 1,41 0,01 0,01 1,40 0,26 1,14 0,95 1,71 0,54 1,16 (0,76)

(27,68) 27,68 20,56 (4,71) (4,71) 25,27 7,66 19,55 (1,94) 7,12 19,37 7,04 12,33 (12,26)

(1,66) 1,66 1,23 (0,28) (0,28) 1,52 0,46 1,17 (0,12) 0,43 1,16 0,42 0,74 (0,73)

1,06 (1,06) (0,79) (0,20) (0,20) (0,59) 0,23 (0,70) (0,12) (0,26) (0,59) (0,01) (0,58) 0,33

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

proyek

transportasi

dan

energi

yang
2

pelaksanaannya tertunda akibat krisis ekonomi sejak tahun anggaran 1997/1998. Selain itu, pinjaman proyek juga digunakan untuk proyek-

Proyek-proyek cost recovery yaitu proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan sehingga dapat memenuhi pembayaran kembali sekaligus membiayai operasional dan pemeliharaan proyek yang bersangkutan, sedangkan proyek-proyek dengan spillovers yaitu proyek-proyek yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat di luar lokasi proyek.

118

Keuangan Pemerintah

Catatan: 2000-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003)

Catatan: 1) Data diolah dari tahun anggaran menjadi tahun kalender 2) 1997-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003) 3) Terdiri dari Pembayaran Bunga Utang Dalam Negeri dan Subsidi

Grafik 7.4 Komponen Pembiayaan Defisit

Grafik 7.5 Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Sektor Riil (Persen terhadap PDB a/d Harga Berlaku)

proyek cost recovery dan proyek-proyek dengan spillovers yang signifikan. Dibandingkan dengan
2

penyerapan utang luar negeri hanya mencapai 54,8% dari rencana semula. Tingkat penyerapan yang rendah terutama terjadi pada jenis pinjaman proyek yang hanya mencapai 47,7%, sementara pinjaman program mencapai 73,9%. Pembayaran cicilan pokok diprakirakan juga di

tahun lalu, tingkat realisasi pengeluaran pembangunan pada 2002 relatif tidak mengalami perubahan yang berarti (Tabel 7.3). DEFISIT DAN PEMBIAYAAN Dengan perkembangan pendapatan dan belanja negara di atas, defisit operasi keuangan pemerintah pada 2002 dapat dikendalikan pada angka Rp27,7 triliun atau setara dengan 1,7% terhadap PDB (Tabel 7.4). Angka ini lebih rendah dari rencana anggaran yang ditetapkan sebesar Rp42,1 triliun atau 2,5% terhadap PDB. Sebagian besar dari defisit ini dibiayai dari hasil privatisasi BUMN dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan, sedangkan sisanya dibiayai dari penarikan pinjaman luar negeri bersih. Hasil dari privatisasi BUMN sebesar Rp7,7 triliun atau 93,9% di atas target, sedangkan penjualan aset oleh BPPN dapat memenuhi target anggaran. Sumber pembiayaan dari luar negeri bersih berada di bawah target karena tingkat

bawah target yaitu hanya mencapai 73.3% dari rencana, terutama karena depresiasi dolar terhadap mata uang regional khususnya yen yang merupakan negara pemberi pinjaman terbesar kepada Indonesia (Grafik 7.4). Di sisi pembiayaan dalam negeri, pada periode laporan pemerintah melakukan refinancing untuk obligasi pemerintah yang jatuh tempo senilai Rp1,9 triliun, atau lebih rendah dari rencana semula Rp3,9 triliun.

DAMPAK OPERASI KEUANGAN PEMERINTAH TERHADAP SEKTOR RIIL Stimulus fiskal, melalui pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah, pada 2002 diprakirakan mencapai 11,8% dari PDB, di bawah target yang ditetapkan 12,5% dari PDB. Alokasi terbesar yaitu 7,0%

119

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.5 Stimulus Fiskal 2001 Uraian
I. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai Dalam Negeri Belanja Barang Dalam Negeri Dana Alokasi Umum Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang Pengeluaran Rutin Lainnya II. Pembentukan Modal Domestik Bruto Pembiayaan dalam Rupiah Bantuan Proyek Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus III. Jumlah I + II Memo Items : Pembayaran Transfer a. Bunga Utang Dalam Negeri b. Subsidi APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

102,87 38,71 9,93 48,53 5,69 74,11 21,37 20,21 11,82 20,71 176,98 135,64 58,20 77,44

6,90 2,60 0,67 3,25 0,38 4,97 1,43 1,36 0,79 1,39 11,87 9,10 3,90 5,19

120,01 39,80 11,71 55,58 3,44 9,49 91,25 26,47 25,83 13,53 25,42 211,26 101,11 59,52 41,59

7,12 2,36 0,69 3,30 0,20 0,56 5,41 1,57 1,53 0,80 1,51 12,54 6,00 3,53 2,47

122,81 40,65 12,71 55,58 3,77 10,11 85,87 27,19 20,22 13,53 24,92 208,69 105,85 63,21 42,64

7,16 2,37 0,74 3,24 0,22 0,59 5,00 1,58 1,18 0,79 1,45 12,16 6,17 3,68 2,48

117,06 38,79 11,84 55,60 3,76 7,08 79,44 27,64 12,63 13,54 25,63 196,49 104,47 64,46 40,01

7,02 2,33 0,71 3,33 0,23 0,42 4,76 1,66 0,76 0,81 1,54 11,78 6,26 3,86 2,40

0,12 (0,27) 0,04 0,08 0,23 0,04 (0,21) 0,22 (0,60) 0,02 0,15 (0,09) (2,83) (0,04) (2,80)

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

dari PDB masih tetap untuk pengeluaran konsumsi terutama DAU untuk daerah dan Belanja Pegawai Dalam Negeri Pemerintah Pusat, sisanya untuk pengeluaran investasi terutama dalam bentuk Pembiayaan Rupiah dan Dana Bagi Hasil untuk daerah (Tabel 7.5). Selain melakukan stimulus fiskal, pemerintah juga melakukan transfer ke sektor swasta dalam bentuk pembayaran bunga utang dalam negeri dan subsidi. Transfer terbesar dan lebih tinggi dari rencana semula adalah untuk pembayaran bunga utang dalam negeri yang mencapai 3,9% dari PDB, sementara sisanya untuk subsidi yang mencapai 2,4% dari PDB. Jika dilihat dari perkembangan dari tahun ke tahun, tampak bahwa sumbangan pemerintah terhadap permintaan agregat terutama dalam bentuk investasi masih terbatas. Terbatasnya investasi

pemerintah

terutama

disebabkan

oleh

ketidaklancaran dalam penarikan pinjaman luar negeri —yang terkait dengan kendala teknis dan administratif serta pemenuhan policy matrix dengan pemberi pinjaman (Grafik 7.5). Di sisi lain, konsumsi pemerintah masih cenderung meningkat, terutama dalam bentuk dana perimbangan untuk daerah.

DAMPAK RUPIAH OPERASI KEUANGAN PEMERINTAH Selama tahun 2002 operasi keuangan pemerintah dalam rupiah diprakirakan menimbulkan dampak ekspansi bersih pada uang beredar sebesar Rp19,5 triliun. Angka ini lebih tinggi sekitar 26,7% dari rencana semula terutama karena tidak tercapainya target penerimaan pajak dan lebih tingginya realisasi

120

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.6 Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah APBN 2002 2001 Uraian
A. Penerimaan Rupiah Pajak Migas Nonmigas Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Aset Prog. Restrukt. Perbankan Penjualan Obligasi Pemerintah Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran Rupiah Operasional Belanja Pegawai Dalam Negeri Subsidi Bunga Utang Dalam Negeri Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Dana Perimbangan Jumlah Pengeluaran C. D. Perbedaan Statistik Dampak Rupiah (189,98) (38,71) (77,44) (58,20) (15,62) (25,41) (81,05) (296,45) 0,00 (32,17) (2,16) (12,74) (2,60) (5,19) (3,90) (1,05) (1,70) (5,44) (19,88) (162,1 1) (39,80) (41,59) (59,52) (21,20) (31,64) (97,97) (291,71) 0,00 (15,42) (0,92) (9,62) (2,36) (2,47) (3,53) (1,26) (1,88) (5,81) (17,31) (169,31) (40,65) (42,64) (63,21) (22,82) (31,24) (97,81) (298,36) 0,00 (25,03) (1,46) (9,86) (2,37) (2,48) (3,68) (1,33) (1,82) (5,70) (17,38) (162,17) (38,79) (40,01) (64,46) (18,91) (30,17) (98,52) (290,86) (0,00) (19,54) (1,17) 0,99 (9,72) (2,33) (2,40) (3,86) (1,13) (1,81) (5,91) (17,44) 3,02 0,27 2,80 0,04 (0,09) (0,10) (0,47) 2,44 23,10 162,44 60,55 0,99 17,20 264,27 1,55 10,89 4,06 0,07 1,15 17,72 15,68 203,94 43,52 1,13 12,02 276,29 0,93 12,10 2,58 0,07 0,71 16,39 16,11 196,32 47,61 1,27 12,02 273,33 0,94 11,44 2,77 0,07 0,70 15,92 17,22 191,46 50,38 2,19 12,02 (1,94) 271,32 1,03 11,48 3,02 0,13 0,72 (0,12) 16,27 (0,52) 0,58 (1,04) 0,06 (0,43) (0,12) (1,46) APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

pembayaran bunga utang dalam negeri. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah memberikan dampak ekspansi rupiah yang lebih rendah. Hal ini tercermin pada ekspansi rupiah yang turun dari Rp32,2 triliun menjadi sekitar Rp19,5 triliun. Penurunan ini dicapai terutama berkat penurunan yang sangat tajam pada pembayaran subsidi dari Rp77,4 triliun menjadi Rp40,0 triliun (Tabel 7.6). DAMPAK VALUTA ASING OPERASI KEUANGAN PEMERINTAH Selama 2002, operasi keuangan pemerintah dalam valuta asing diprakirakan menghasilkan aliran devisa masuk bersih setara Rp24,3 triliun, atau lebih besar dari jumlah ekspansi rupiah bersih pemerintah tersebut di atas. Angka tersebut lebih tinggi 57,3% dari target semula terutama karena faktor nilai tukar rata-rata aktual sebesar Rp9.311 yang lebih tinggi dari

121

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.7 Dampak Valuta Asing Keuangan Pemerintah APBN 2002 2001 Uraian
A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Neraca Jasa Utang Luar Negeri Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai Luar Negeri Belanja Barang Luar Negeri Penerimaan PPh Nonmigas Hibah B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang Luar Negeri Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Privatisasi Penjualan Aset Prog. Restrukt. Perbankan C. Dampak Valas (A+B) 23,52 26,15 (15,88) 2,48 10,78 33,40 1,58 1,75 (1,07) 0,17 0,72 2,24 28,99 35,36 (16,73) 2,82 7,53 15,42 1,72 2,10 (0,99) 0,17 0,45 0,92 26,97 29,31 (13,05) 3,17 7,53 24,83 1,57 1,71 (0,76) 0,18 0,44 1,45 20,12 19,37 (12,26) 5,48 7,53 24,25 1,21 1,16 (0,73) 0,33 0,45 1,45 (0,37) (0,59) 0,33 0,16 (0,27) (0,79) APBN-PAN 1)
Nominal % thd PDB

2002
APBN
Nominal % thd PDB

APBN-P 2)
Nominal % thd PDB Nominal

Realisasi

3)

% thd PDB Perubahan4)

9,88 38,34 54,51 (16,17) (28,47) (28,95) 0,48

0,66 2,57 3,66 (1,08) (1,91) (1,94) 0,03

(13,57) 18,07 38,73 (20,66) (31,63) (28,98) (1,50) (1,16) -

(0,80) 1,07 2,30 (1,23) (1,88) (1,72) (0,09) (0,07) -

(2,14) 26,39 42,57 (16,18) (28,53) (28,32) (1,55) (1,19) 2,28 0,26

(0,12) 1,54 2,48 (0,94) (1,66) (1,65) (0,09) (0,07) 0,13 0,01

4,13 28,45 38,55 (10,11) (24,32) (25,41) (0,90) (0,60) 2,28 0,30

0,25 1,71 2,31 (0,61) (1,46) (1,52) (0,05) (0,04) 0,14 0,02

(0,41) (0,87) (1,34) 0,48 0,45 0,42 (0,05) (0,04) 0,14 (0,01)

1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : perkiraan realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

asumsi anggaran sebesar Rp9.000 per dolar dan karena adanya penerimaan migas yang lebih tinggi dari yang diprakirakan. Dari

harga minyak (Tabel 7.7).

perbandingan dampak rupiah dan valas di atas terlihat bahwa aliran devisa masuk bersih sektor pemerintah lebih besar dari ekspansi rupiah bersih pemerintah sehingga memungkinkan BI untuk menyerap seluruh ekspansi rupiah bersih tersebut melalui sterilisasi valas. Dibandingkan dengan tahun lalu, aliran devisa masuk bersih pada tahun ini terlihat lebih rendah yang terutama juga disebabkan oleh menguatnya rata-rata nilai tukar rupiah, di samping karena penurunan produksi dan
PDB Nominal (triliun rupiah) Pertumbuhan Ekonomi (%) Laju Inflasi (%) Harga Minyak Mentah ($ per barel) Produksi Minyak (juta barel per hari) Nilai Tukar (Rp/$) Rata-Rata Suku Bunga SBI 3 Bulan (%)

Tabel 7.8 Asumsi Pokok APBN 2003
Realisasi 20021) 1668 3,6 10,03 24,1 1,26 9311 15,2 APBN 2003 1940 4,0 9,0 22,0 1,27 9000 13,0

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV Januari 2003)

Sumber : Departemen Keuangan

122

Keuangan Pemerintah

PROSPEK APBN 2003 Sesuai amanat Propenas 2000 – 2004, kebijakan fiskal pada APBN 2003 merupakan kelanjutan dari langkah konsolidasi fiskal dalam dua tahun terakhir. Secara operasional langkah konsolidasi tersebut dilakukan dalam bentuk pengendalian defisit anggaran melalui peningkatan penerimaan pajak secara progresif, penghematan anggaran belanja negara terutama subsidi, dan pengurangan utang secara bertahap. Meskipun demikian, pemerintah tetap melakukan upaya memperkuat stimulus fiskal melalui alokasi sejumlah dana dari subsidi ke pengeluaran pembangunan. Adapun asumsi-asumsi ekonomi makro yang digunakan untuk menyusun APBN 2003 dapat dilihat di Tabel 7.8. Sebagai konsekuensi dari rencana tindak lanjut kebijakan fiskal di 2003 tersebut, rasio penerimaan pajak (tax ratio) diprakirakan akan mengalami peningkatan meskipun rasio pendapatan negara secara keseluruhan terhadap PDB akan sedikit menurun karena menurunnya penerimaan minyak.Di sisi belanja negara, terlihat upaya pemerintah untuk menekan belanja negara melalui pemotongan subsidi secara signifikan. Sementara itu, peningkatan stimulus fiskal dilakukan melalui kebijakan di sisi pendapatan dan belanja negara, termasuk di dalamnya sejumlah stimulus fiskal tambahan untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan mengantisipasi dampak negatif tragedi Bali. Secara keseluruhan, rasio defisit pada 2003 akan sedikit lebih tinggi dibanding 2002 yaitu dari 1,7% menjadi 1,8%
3

terhadap PDB. Untuk membiayai defisit, pemerintah masih mengandalkan sumber pembiayaan baik dari nonperbankan dalam negeri maupun utang luar negeri. Oleh karena jumlah pembiayaan bersih lebih kecil dari prakiraan defisit, maka untuk menutup kekurangannya pemerintah berencana akan menarik tabungannya pada sistem moneter sebesar Rp8,5 triliun. Hal ini dilakukan pemerintah untuk pertama kalinya sejak krisis ekonomi 1997. Operasi keuangan pemerintah di 2003 akan menimbulkan beberapa konsekuensi baik terhadap permintaan agregat maupun moneter. Di sisi permintaan agregat, kontribusi langsung sektor keuangan pemerintah terhadap PDB akan meningkat dibandingkan tahun lalu dari 11,8% menjadi 13,4%. Peningkatan tersebut terjadi baik melalui pengeluaran konsumsi dari 7,0% menjadi 7,7% dari PDB maupun pengeluaran investasi dari 4,8% menjadi 5,7% dari PDB. Peningkatan tersebut dicapai melalui pemotongan yang cukup signifikan pada jenis pengeluaran transfer (transfer payment) dari 6,3% menjadi 4,2% dari PDB. Di sisi moneter, tambahan likuiditas rupiah ke perekonomian diprakirakan meningkat dari 1,2%

3

Stimulus fiskal antara lain dilakukan dalam bentuk penundaan, penurunan dan pencabutan 45 jenis pajak (PPh, PPN dan PPnBM) dan kenaikan gaji/pensiun Pegawai Negeri Sipil rata-rata 10%. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan dana kompensasi sosial sebesar Rp4,4 triliun untuk Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi (PPD-PSE) antara lain dalam bentuk bantuan beras murah, pelayanan kesehatan, bantuan pendidikan, pembangunan sarana air bersih, dana bergulir untuk usaha kecil dan penanggulangan pengangguran.

Catatan:
1) 2) Data diolah dari tahun anggaran menjadi tahun kalender 1997-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003); 2003 APBN

Grafik 7.6 Perkembangan Penerimaan Pajak dan Bukan Pajak (Persen terhadap Pendapatan Negara)

123

Keuangan Pemerintah

menjadi 1,4% dari PDB, demikian pula secara nominal meningkat dari Rp19,5 triliun menjadi Rp26,7 triliun. Tambahan likuiditas rupiah pada 2003 tersebut akan lebih besar dari aliran devisa masuk bersih pemerintah pada tahun yang sama yang diprakirakan hanya mencapai 0,9% dari PDB (setara Rp18,2 triliun). Dengan demikian, selisihnya sebesar Rp8,5 triliun tidak dapat disterilisasi dengan aliran devisa masuk bersih pemerintah. Pendapatan Negara dan Hibah Pendapatan negara direncanakan sebesar Rp 336,2 triliun atau setara dengan 17,3% dari PDB, lebih rendah dibanding rasio di 2002 sebesar 18,0% dari PDB. Faktor dominan yang mempengaruhi

pendapatan negara yaitu penerimaan pajak direncanakan sebesar Rp254,1 triliun atau 75,6% dari total pendapatan negara. Dibandingkan realisasi di 2002, tax ratio meningkat dari 12,7% menjadi 13,1% (Grafik 7.7). Adapun rencana tindak kebijakan di bidang perpajakan untuk mencapai target pajak antara lain: a. Kenaikan tarif PPh atas keuntungan dari revaluasi aset; b. Pengenaan PPh atas capital gain dari pengalihan hak penambangan minyak oleh suatu

perusahaan minyak kepada perusahaan lainnya; c. Pencabutan pembebasan PPN atas barang strategis; d. Peningkatan persentase Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) PBB; e. Perubahan strata industri rokok dari tiga strata menjadi dua strata, yakni industri kecil dan nonkecil; serta f. Perubahan tarif cukai dari ad valorem menjadi semi specific. Sementara itu, PNBP direncanakan sebesar Rp82,0 triliun atau 24,4% dari total pendapatan negara. Dibandingkan realisasi di 2002, rasio PNBP terhadap PDB turun dari 5,3% menjadi 4,2%. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih

perkembangan pendapatan negara tersebut adalah lebih rendahnya rasio PNBP, khususnya minyak, walaupun di sisi lain, rasio penerimaan pajak (tax ratio) diprakirakan lebih tinggi (Grafik 7.6). Dilihat dari jenis penerimaan, sumber penerimaan terbesar secara berturut-turut masih didominasi oleh PPh Nonmigas, PPN dan PNBP dari minyak dengan pangsa masing-masing sebesar 31,6%, 24,0% dan 11,9%. Tulang punggung utama

rendahnya penerimaan dari sumber daya alam (SDA) (Grafik 7.7). Penurunan PNBP dari SDA didorong oleh prakiraan menurunnya penerimaan minyak sejalan dengan penggunaan asumsi harga minyak yang lebih rendah dan apresiasi nilai tukar rupiah.

Grafik 7.7 Komponen Pendapatan Negara

124

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.9 Pendapatan Negara dan Hibah 2002 Uraian
Realisasi
Nominal
1)

2003
APBN
Nominal % thd PDB Perubahan2) % thd PDB

A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak Penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak Pertambahan Nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan v. Cukai vi. Pajak Lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea Masuk ii. Pajak/Pungutan Ekspor 2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) a. Penerimaan Sumber Daya Alam (SDA) I. Minyak Bumi ii. Gas Alam iii. Pertambangan Umum iv. Kehutanan v. Perikanan b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah

300,19 299,89 210,95 200,32 101,68 17,22 84,46 65,85 6,36 1,63 23,34 1,47 10,63 10,40 0,23 88,93 65,22 47,69 12,33 1,85 3,15 0,20 9,76 13,95 0,30

18,00 17,98 12,65 12,01 6,10 1,03 5,06 3,95 0,38 0,10 1,40 0,09 0,64 0,62 0,01 5,33 3,91 2,86 0,74 0,11 0,19 0,01 0,59 0,84 0,02

336,16 336,16 254,14 241,74 120,92 14,78 106,15 80,79 7,52 2,40 27,95 2,16 12,40 11,96 0,44 82,02 59,40 39,91 16,28 1,48 1,27 0,45 10,41 12,21 -

17,33 17,33 13,10 12,46 6,23 0,76 5,47 4,16 0,39 0,12 1,44 0,11 0,64 0,62 0,02 4,23 3,06 2,06 0,84 0,08 0,07 0,02 0,54 0,63 -

(0,67) (0,65) 0,45 0,45 0,14 (0,27) 0,41 0,22 0,01 0,03 0,04 0,02 0,00 (0,01) 0,01 (1,10) (0,85) (0,80) 0,10 (0,03) (0,12) 0,01 (0,05) (0,21) (0,02)

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

BELANJA NEGARA Belanja negara direncanakan sebesar Rp370,6 triliun atau setara dengan 19,1% dari PDB, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19,7% dari PDB (Tabel 7.10). Penurunan tersebut bersumber dari lebih rendahnya rasio pengeluaran rutin pemerintah pusat, sementara rasio pengeluaran pembangunan pemerintah pusat dan rasio anggaran belanja untuk daerah mengalami kenaikan. Kebijakan ini merupakan bagian dari

langkah

konsolidasi

fiskal

yang

dilakukan

pemerintah dalam rangka mengendalikan defisit anggaran menuju ketahanan fiskal yang

berkesinambungan. Pengeluaran Rutin direncanakan sebesar Rp188,6 triliun atau 50,9% dari total belanja negara. Angka
4

Harga eceran BBM yang pada 2002 masih ada yang diberlakukan dengan 75,0% dari harga pasar (atau 25,0%-nya masih disubsidi), terutama untuk industri kecil menengah dan sektor transportasi, tidak berlaku lagi. Pada 2003, harga seluruh jenis BBM, kecuali minyak tanah untuk rumah tangga dan UKM, akan diberlakukan 100,0% dari harga pasar di Singapura (Mid Oil Platts Singapore) plus 5,0%.

125

Keuangan Pemerintah

Catatan: 2000-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003); 2003 APBN

Grafik 7.8 Komponen Belanja Negara

Grafik 7.9 Komponen Pembiayaan Defisit

ini turun dari 11,3% dari PDB pada 2002 menjadi 9,7% dari PDB pada 2003 (Grafik 7.8). Turunnya pengeluaran rutin terutama karena turunnya subsidi BBM dan beban bunga utang dalam negeri. Penurunan subsidi BBM direncanakan melalui kebijakan penyesuaian harga BBM dalam negeri serta didasari pula oleh prakiraan apresiasi rupiah dari Rp9.311 menjadi Rp9.000 per dolar.4 Penurunan beban bunga utang dalam negeri didasarkan atas prakiraan lebih rendahnya suku bunga SBI 3 bulan dibandingkan realisasi di 2002 yaitu dari rata-rata 15,2% menjadi 13% dan penurunan posisi utang karena adanya pembayaran obligasi pemerintah jatuh tempo dan kebijakan pembelian kembali (buy back) obligasi pemerintah. Pengeluaran pemerintah yang juga mendapat porsi cukup besar pada APBN 2003 adalah anggaran belanja daerah yang dianggarkan sebesar Rp116,9 triliun atau 31,5% dari total belanja negara. Dibandingkan realisasi di 2002, angka ini sedikit meningkat dari 5,9% menjadi 6,0% dari PDB. Alokasi dana terkecil adalah untuk pengeluaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp65,1 triliun atau 17,6% dari total belanja negara.

Sebagaimana telah disinggung di atas, angka ini meningkat cukup tajam dibanding 2002 dari 2,4% terhadap PDB menjadi 3,4% terhadap PDB sebagai upaya untuk meningkatkan stimulus fiskal dan mengantisipasi dampak negatif tragedi Bali. Defisit dan Pembiayaan Defisit pada APBN 2003 diprakirakan sebesar Rp34,4 triliun atau 1,8% dari PDB. Angka defisit ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi defisit 2002 sebesar 1,7% dari PDB. Untuk membiayai defisit, pemerintah masih mengandalkan sumber pembiayaan dari nonperbankan dalam negeri, yaitu penjualan aset oleh BPPN dan privatisasi. Sumbangan penjualan aset dan privatisasi masing-masing direncanakan sebesar Rp18 triliun dan Rp8 triliun.5 Selain itu, dalam pos nonperbankan dalam negeri dianggarkan dana Rp12,1 triliun untuk membiayai pengelolaan surat utang negara, yang sebagian anggarannya (Rp8,5 triliun) berasal dari Sisa

5

Program privatisasi tahun 2003 merupakan kelanjutan sebagian program privatisasi 2002 yang belum selesai ditambah penjualan beberapa BUMN.

126

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.10 Belanja Negara 2002 Uraian
327,86 229,34 189,07 39,69 12,43 89,87 64,46 25,41 40,01 31,16 8,84 7,08 40,27 27,64 12,63 98,52 94,76 24,99 69,14 0,64 3,76 Realisasi
Nominal % thd PDB1) Nominal

2003
APBN
% thd PDB Perubahan2)

B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang c. Pembayaran Bunga Utang i. Utang Dalam Negeri ii. Utang Luar Negeri d. Subsidi i. Subsidi BBM ii. Subsidi Non BBM - Pangan - Listrik - Bunga Kredit Program - Lainnya e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan Pembangunan Rupiah b. Pembiayaan Proyek (termasuk Hibah) II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan a. Dana Bagi Hasil b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang

19,66 13,75 11,34 2,38 0,75 5,39 3,86 1,52 2,40 1,87 0,53 0,42 2,41 1,66 0,76 5,91 5,68 1,50 4,15 0,04 0,23

370,59 253,71 188,58 50,24 15,43 81,98 55,18 26,80 25,47 13,21 12,26 4,70 4,52 1,64 1,40 15,48 65,13 46,23 18,90 116,88 107,49 27,90 76,98 2,62 9,39

19,10 13,08 9,72 2,59 0,80 4,23 2,84 1,38 1,31 0,68 0,63 0,24 0,23 0,08 0,07 0,80 3,36 2,38 0,97 6,02 5,54 1,44 3,97 0,13 0,48

(0,55) (0,67) (1,61) 0,21 0,05 (1,16) (1,02) (0,14) (1,09) (1,19) 0,10 0,24 0,23 0,08 0,07 0,37 0,94 0,73 0,22 0,12 (0,14) (0,06) (0,18) 0,10 0,26

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) guna membiayai program buy back obligasi negara. Sementara itu, pemerintah masih merencanakan penarikan utang luar negeri setara Rp29,3 triliun dan di sisi lain melakukan amortisasi utang luar negeri setara Rp17,3 triliun. Pembiayaan dari luar negeri ini telah memperhitungkan penjadwalan ulang cicilan pokok dan bunga utang luar negeri dari hasil Paris Club III. Oleh karena jumlah pembiayaan bersih baik dari nonbank dalam negeri maupun utang luar negeri lebih kecil dari prakiraan defisit, maka untuk menutup

kekurangannya —dan untuk pertama kalinya sejak krisis ekonomi 1997— pemerintah berencana akan menarik tabungannya pada sistem moneter sebesar Rp8,5 triliun (Tabel 7.11). Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Permintaan Agregat, Moneter dan Neraca Pembayaran Di sisi permintaan agregat, kontribusi langsung sektor keuangan pemerintah terhadap PDB akan meningkat dibandingkan tahun lalu dari 11,8% menjadi 13,4%. Peningkatan tersebut terjadi melalui baik

127

Keuangan Pemerintah

Di sisi moneter, tambahan likuiditas rupiah dari pemerintah ke perekonomian pada 2003 diprakirakan akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dari Rp19,5 triliun menjadi Rp26,7 triliun. Ekspansi rupiah terbesar akan berasal dari pembayaran dana perimbangan untuk daerah yang
Catatan: 1) Data diolah dari tahun anggaran menjadi tahun kalender 2) 1997-2001 APBN-PAN; 2002 Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV-Januari 2003); 2003 APBN 3) Terdiri dari pembayaran bunga utang dalam negeri dan subsidi

mencapai 36,0% dari total pengeluaran rupiah pemerintah, kemudian diikuti oleh pembayaran bunga utang domestik, pengeluaran investasi, dan belanja pegawai pusat masing-masing antara 15,0% - 17,0%. Sementara itu, kontraksi rupiah

Grafik 7.10 Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Sektor Riil (Persen terhadap PDB a/d Harga Berlaku)

pengeluaran konsumsi dari 7,0% menjadi 7,7% maupun pengeluaran investasi dari 4,8% menjadi 5,7%. Sebaliknya, akan terjadi pemotongan yang cukup signifikan pada jenis pengeluaran transfer (transfer payment) dari 6,3% menjadi 4,2% (Grafik 7.10). Sementara itu, komposisi pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah terhadap total pengeluaran pemerintah yang berpengaruh terhadap permintaan agregat masih relatif tetap, yaitu masing-masing sekitar 65,0% dan 35,0%. Sebagian besar pengeluaran konsumsi masih dialokasikan untuk DAU dan belanja pegawai pemerintah pusat, sementara sebagian besar pengeluaran investasi masih dialokasikan untuk pembiayaan rupiah dan Dana Bagi Hasil. Selanjutnya, transfer ke sektor swasta menurun dari 6,3% terhadap PDB pada 2002 menjadi 4,2% pada 2003. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada subsidi, yaitu subsidi BBM sebagai konsekuensi dari pergeseran prioritas pengeluaran pemerintah untuk stimulus fiskal melalui pengeluaran pembangunan. Penurunan juga terjadi pada pembayaran bunga utang dalam negeri karena prakiraan menurunnya suku bunga dan posisi utang domestik (Tabel 7.12).

sebagian besar (85,0%) akan berasal dari penerimaan pajak terutama PPh Nonmigas dan PPN (Tabel 7.13). Di sisi transaksi valas pemerintah, aliran devisa masuk pemerintah terutama berasal dari penerimaan migas dan penarikan utang luar negeri. Aliran devisa masuk tersebut lebih besar dari pembayaran kewajiban luar negeri pemerintah seperti bunga dan pokok utang luar negeri serta impor bantuan proyek sehingga akan menciptakan aliran devisa masuk bersih bagi neraca pembayaran Indonesia setara Rp18,2 triliun (Tabel 7.14). Dari perbandingan dampak rupiah dan valas di atas terlihat bahwa rencana aliran devisa masuk bersih sektor pemerintah akan lebih rendah dari rencana ekspansi rupiah bersih, sehingga tidak

seluruh ekspansi rupiah bersih dapat disterilisasi dengan aliran devisa masuk bersih pemerintah. Kondisi ini juga sejalan dengan rencana pemerintah yang akan menggunakan akumulasi tabungannya pada tahuntahun anggaran sebelum ini atau dikenal sebagai SAL sebesar Rp8,5 triliun untuk menutup kekurangan pembiayaan anggaran 2003 ini.

128

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.11 Operasi Keuangan Pemerintah 2002 Uraian
Realisasi
Nominal
1)

2003
APBN
Nominal % thd PDB Perubahan2) % thd PDB

A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak 2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) II.Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin 2. Pengeluaran Pembangunan II.Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang C. Keseimbangan Primer Perbedaan Statistik D. Surplus/(Defisit) Anggaran E. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan Dalam Negeri a. Otoritas Moneter b. Kredit/Pinjaman Sektor Perbankan c. Koreksi Moneter 2. Non-Perbankan Dalam Negeri a. Privatisasi b. Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan c. Penjualan Obligasi Pemerintah II.Pembiayaan Luar Negeri (Neto) 1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (Bruto) a. Pinjaman Program b. Pinjaman Proyek 2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri

300,19 299,89 210,95 88,93 0,30 327,86 229,34 189,07 40,27 98,52 94,76 3,76 62,19 (0,00) (27,68) 27,68 20,56 (4,71) (4,71) 25,27 7,66 19,55 (1,94) 7,12 19,37 7,04 12,33 (12,26)

18,00 17,98 12,65 5,33 0,02 19,66 13,75 11,34 2,41 5,91 5,68 0,23 3,73

336,16 336,16 254,14 82,02 370,59 253,71 188,58 65,13 116,88 107,49 9,39 47,54 (0,00)

17,33 17,33 13,10 4,23 19,10 13,08 9,72 3,36 6,02 5,54 0,48 2,45

(0,67) (0,65) 0,45 (1,10) (0,02) (0,55) (0,67) (1,61) 0,94 0,12 (0,14) 0,26 (1,28)

(1,66) 1,66 1,23 (0,28) (0,28) 1,52 0,46 1,17 (0,12) 0,43 1,16 0,42 0,74 (0,73)

(34,44) 34,44 22,45 8,50 8,50 13,95 8,00 18,00 (12,05) 11,99 29,25 10,35 18,90 (17,26)

(1,78) 1,78 1,16 0,44 0,44 0,72 0,41 0,93 (0,62) 0,62 1,51 0,53 0,97 (0,89)

(0,12) 0,12 (0,08) 0,72 0,72 (0,80) (0,05) (0,24) (0,50) 0,19 0,35 0,11 0,23 (0,15)

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

129

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.12 Stimulus Fiskal 2002 Uraian
I. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai Dalam Negeri Belanja Barang Dalam Negeri Dana Alokasi Umum Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang Pengeluaran Rutin Lainnya II. Pembentukan Modal Domestik Bruto Pembiayaan dalam Rupiah Bantuan Proyek Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus III. Jumlah I + II Memo Items : Pembayaran Transfer a. Bunga Utang Dalam Negeri b. Subsidi Realisasi1)
Nominal % thd PDB Nominal

2003
APBN
% thd PDB Perubahan2)

117,06 38,79 11,84 55,60 3,76 7,08 79,44 27,64 12,63 13,54 25,63 196,49 104,47 64,46 40,01

7,02 2,33 0,71 3,33 0,23 0,42 4,76 1,66 0,76 0,81 1,54 11,78 6,26 3,86 2,40

149,70 48,70 14,24 61,90 9,39 15,48 110,72 46,23 18,90 15,07 30,51 260,42 80,65 55,18 25,47

7,72 2,51 0,73 3,19 0,48 0,80 5,71 2,38 0,97 0,78 1,57 13,42 4,16 2,84 1,31

0,70 0,18 0,02 (0,14) 0,26 0,37 0,94 0,73 0,22 (0,03) 0,04 1,64 (2,11) (1,02) (1,09)

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

(Triliun Rp) Tabel 7.13 Dampak Rupiah Operasi Keuangan Pemerintah 2002 Uraian
A. Penerimaan rupiah Pajak Migas Nonmigas Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan Penjualan Obligasi Pemerintah Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran rupiah Operasional Belanja Pegawai Dalam Negeri Subsidi Bunga Utang Dalam Negeri Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Dana Perimbangan Jumlah Pengeluaran C. Perbedaan Statistik D. Dampak Rupiah 17,22 191,46 50,38 2,19 12,02 (1,94) 271,32 (162,17) (38,79) (40,01) (64,46) (18,91) (30,17) (98,52) (290,86) (0,00) (19,54) 1,03 11,48 3,02 0,13 0,72 (0,12) 16,27 (9,72) (2,33) (2,40) (3,86) (1,13) (1,81) (5,91) (17,44) (1,17) 14,78 239,36 43,78 2,29 11,06 (12,05) 299,22 (159,06) (48,70) (25,47) (55,18) (29,71) (50,01) (116,88) (325,95) (0,00) (26,73) 0,76 12,34 2,26 0,12 0,57 (0,62) 15,42 (8,20) (2,51) (1,31) (2,84) (1,53) (2,58) (6,02) (16,80) (1,38) (0,27) 0,86 (0,76) (0,01) (0,15) (0,50) (0,84) 1,52 (0,18) 1,09 1,02 (0,40) (0,77) (0,12) 0,64 (0,21) Realisasi1)
Nominal % thd PDB Nominal

2003
APBN
% thd PDB Perubahan2)

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

130

Keuangan Pemerintah

(Triliun Rp) Tabel 7.14 Dampak Valuta Asing Operasi Keuangan Pemerintah 2002 Uraian
A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Neraca Jasa Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai Luar Negeri Belanja Barang Luar Negeri Penerimaan PPh Nonmigas Hibah B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang Luar Negeri Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Privatisasi Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan C. Dampak Valas (A+B) Realisasi
Nominal
1)

2003
APBN
Nominal % thd PDB Perubahan3) % thd PDB

4,13 28,45 38,55 (10,11) (24,32) (25,41) (0,90) (0,60) 2,28 0,30 20,12 19,37 (12,26) 5,48 7,53 24,25

0,25 1,71 2,31 (0,61) (1,46) (1,52) (0,05) (0,04) 0,14 0,02 1,21 1,16 (0,73) 0,33 0,45 1,45

(6,41) 23,12 38,24 (15,12) (29,53) (26,80) (1,54) (1,19) 24,64 29,25 (17,26) 5,71 6,94 18,23

(0,33) 1,19 1,97 (0,78) (1,52) (1,38) (0,08) (0,06) 1,27 1,51 (0,89) 0,29 0,36 0,94

(0,58) (0,51) (0,34) (0,17) (0,06) 0,14 (0,03) (0,03) (0,14) (0,02) 0,06 0,35 (0,15) (0,03) (0,09) (0,51)

1) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003) 2) Selisih antara pangsa masing-masing pos dalam APBN 2003 terhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam Realisasi APBN 2002 terhadap PDB

Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

131

Keuangan Pemerintah

b o k s

Reprofiling Obligasi Negara

Kebijakan reprofiling (penataan ulang profil jatuh tempo) obligasi negara pada dasarnya merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi potensi tekanan terhadap kondisi likuiditas keuangan negara di masa mendatang. Reprofiling tersebut dilakukan dengan cara menukarkan sebagian obligasi negara di bank-bank yang direkapitalisasi oleh pemerintah dengan obligasi negara seri baru yang berjangka waktu lebih panjang. Transaksi penukaran obligasi negara tersebut dilakukan dengan metode free of payment (FoP) yaitu tanpa perpindahan dana atas pokok utang. Sifat kebijakan ini adalah voluntary yang ditujukan pada bank-bank yang telah direkapitalisasi oleh pemerintah. Secara lebih spesifik, beberapa

Dampak

positif

yang

diharapkan

pemerintah dari reprofiling tersebut antara lain adalah: (i) profil jatuh tempo obligasi negara menjadi lebih merata dan tersebar dalam kurun jangka waktu yang lebih panjang, sehingga menurunkan beban pembayaran pokok utang pada setiap tahun anggaran pada periode 2004 – 2009; (ii) resiko tidak terbayarnya pokok obligasi antara tahun 2004 – 2009 (refinancing risk ) berkurang; (iii) penurunan beban pembayaran pokok utang di atas akan memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi pemerintah untuk melakukan stimulus fiskal; (iv) mendorong terbentuknya benchmark yield curve dengan jangka waktu yang lebih panjang; (v) berkurangnya refinancing risk akan

pertimbangan yang mendasari dilakukannya reprofiling antara lain adalah: (i) struktur jatuh tempo obligasi yang ada tidak seimbang dari tahun ke tahun, dimana sebagian besar diantaranya jatuh tempo pada periode 2004 – 2009; (ii) tingginya alokasi anggaran pemerintah untuk pembayaran bunga obligasi negara sehingga membatasi ruang gerak pemerintah untuk melakukan stimulus fiskal; (iii) pasar sekunder belum berkembang sepenuhnya, dalam arti bahwa hanya beberapa seri tertentu obligasi pemerintah yang laku di pasar, sehingga pasar belum memiliki benchmark untuk pembentukan harga yang transparan (Grafik 1).

meningkatkan kepercayaan pasar terhadap

Profil Jatuh Tempo Obligasi Negara

Keterangan Sumber

: Hedge Bond diasumsikan di-roll over pada 2008-2009 : Pusat Manajemen Obligasi Negara - Departemen Keuangan.

132

Keuangan Pemerintah

Profil Jatuh Tempo Seluruh Obligasi Pemerintah Seri FR dan VR Sebelum dan Sesudah Reprofiling
Keterangan Sumber : Tidak termasuk Surat Utang ke Bank Indonesia dan Hedge Bond : Pusat Manajemen Obligasi Negara - Departemen Keuangan.

Profil Jatuh Tempo Obligasi Negara Berdasarkan Kepemilikan
Keterangan : Posisi per 30 Agustus 2002, tidak termasuk Hedge Bonds dan Surat Utang ke Bank Indonesia. Sumber : Pusat Manajemen Obligasi Negara - Departemen Keuangan.

obligasi yang diterbitkan pemerintah. 1 Dari sisi bank rekapitalisasi, program reprofiling ini juga bermanfaat karena mengurangi resiko kredit (credit risk) aset obligasi yang dimilikinya, di samping juga dapat

diperpanjang sampai dengan 2020, yaitu untuk seri FR baru menjadi 2010 – 2013 dan untuk seri VR baru menjadi 2014 – 2020; (iii) menggunakan yield curve yang berlaku di pasar, dengan didasarkan pada: harga rata-rata obligasi tersebut di pasar sekunder saat ini, perkembangan suku bunga SBI dan tambahan 2 bps (0,02%) per tahun setelah 2009; (iv) jumlah obligasi yang ditata ulang pada periode 2004 – 2009 disesuaikan dengan proyeksi kemampuan APBN, kebutuhan likuiditas perbankan dan perkembangan pasar sekunder. Untuk tahap pertama, program reprofiling dilakukan terhadap 4 Bank BUMN yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI dan BTN yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada 11 November 2002 dan telah dilaksanakan pada 20 Novem-

menyeimbangkan antara struktur cash flow yang berasal dari obligasi negara dengan kebutuhan likuiditasnya (Grafik 2). Beberapa prinsip umum yang digunakan pemerintah dalam melakukan program

reprofiling adalah: (i) Net Present Value (NPV) obligasi negara adalah netral atau tetap, dalam arti nilai saat ini (present value) dari obligasi yang ditata ulang sama dengan obligasi baru hasil pertukaran; (ii) jangka waktu jatuh tempo a t a u m a t u r i t y o bligas i yang ditata ulang
1

Sementara itu, untuk mengurangi jumlah obligasi negara, selama 2002, pemerintah telah melakukan penarikan obligasi negara melalui penarikan obligasi rekapitalisasi karena kelebihan penyertaan modal pemerintah sebesar Rp7,8 triliun, program asset to bond swap sebesar Rp8,7 triliun dan pelunasan obligasi negara yang telah jatuh tempo sebesar Rp3,9 triliun.

ber 2002. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Bank-Bank BUMN merupakan pemilik terbesar obligasi negara yang telah diterbitkan

133

Keuangan Pemerintah

Rp231,6 triliun— menyerahkan kepada pemerintah obligasi negara yang jatuh tempo pada periode 2004 - 2009 sebesar Rp171,8 triliun, sementara sisanya sebesar Rp59,8 triliun tetap berada pada bank-bank tersebut (retained) (Grafik 4). Obligasi yang diserahkan adalah seri FR0002 sampai dengan FR0009 sebesar Rp74,8 triliun dan seri VR0006 sampai dengan VR00016 sebesar Rp97,0 triliun yang diambil dari portofolio investasi dan atau
Obligasi Negara Bank BUMN yang Ditata Ulang dan Tetap Berada di Bank

portofolio perdagangan masing-masing bank. Sebagai pengganti obligasi negara yang telah

Sumber: Pusat Manajemen Obligasi Negara - Departemen Keuangan.

diserahkan tersebut, pemerintah menerbitkan obligasi baru dengan jangka waktu jatuh tempo lebih

pemerintah (Grafik 3). Dalam pertukaran tersebut, keempat bank BUMN —yang memegang obligasi negara sejumlah

panjang yaitu 2010 sampai dengan 2020 dengan jumlah nominal yang sama. Obligasi baru diterbitkan dengan rincian seri FR0010 sampai dengan FR0020

Seri dan Jatuh Tempo Obligasi Reprofiling VR Lama Seri
VR0006 VR0007 VR0008 VR0009 VR0010 VR0011 VR0012 VR0013 VR0014 VR0015 VR0016 VR0017 VR0018

Baru Seri
VR0019 VR0020 VR0021 VR0022 VR0023 VR0024 VR0025 VR0026 VR0027 VR0028 VR0029 VR0030 VR0031

Jatuh Tempo
25-Des-04 25-Apr-05 25-Nov-05 25-Mar-06 25-Okt-06 25-Feb-07 25-Sep-07 25-Jan-08 25-Agt-08 25-Des-08 25-Jul-09 25-Jun-11 25-Okt-12

Jatuh Tempo
25-Des-14 25-Apr-15 25-Nov-15 25-Mar-16 25-Okt-16 25-Feb-17 25-Sep-17 25-Jan-18 25-Jul-18 25-Agt-18 25-Agt-19 25-Des-19 25-Jul-20

Seri
FR0006 FR0007 FR0003 FR0008 FR0009 FR0004 FR0005 FR0002

FR Lama Jatuh Tempo
15-Sep-04 15-Sep-04 15-Mei-05 15-Mei-05 15-Mei-05 15-Feb-06 15-Jul-07 15-Jun-09

Seri
FR0013 FR0010 FR0011 FR0014 FR0012 FR0015 FR0016 FR0017 FR0018 VR0019 VR0020

Baru Jatuh Tempo
15-Sep-10 15-Mar-10 15-Mei-10 15-Nov-10 15-Mei-10 15-Feb-11 15-Agt-11 15-Jan-12 15-Jul-12 15-Jun-13 15-Des-13

Sumber : Pusat Manajemen Obligasi Negara - Departemen Keuangan

134

Keuangan Pemerintah

dan seri VR0019 sampai dengan seri VR0031 yang selanjutnya dicatat dalam portofolio investasi masing-masing bank (Tabel 1). Seluruh obligasi negara yang telah diserahkan ke pemerintah tersebut dinyatakan lunas dan tidak berlaku lagi terhitung sejak 20 November 2002. Berkaitan dengan bunga pada periode berjalan, bunga berjalan (accrued interest) obligasi seri Fixed Rate (FR) sampai dengan 20 November 2002 telah dibayar sebesar Rp2,9 triliun. Sementara itu, bunga berjalan atas obligasi negara seri Variable Rate (VR) diperhitungkan di dalam pembayaran kupon pertama obligasi negara seri VR yang baru dan dibayarkan penuh pada tanggal

jatuh tempo kupon berikutnya. Upaya untuk mempertahankan NPV agar netral diperkirakan akan mengakibatkan

penambahan beban bunga sebesar Rp0,8 triliun per tahun (perhitungan atas dasar yield curve pasar pada tanggal 13 September 2002). Namun, tambahan beban ini diharapkan akan dapat ditutup dari dividen dan PPh yang disetor bank-bank BUMN. Untuk mencapai target dividen tersebut, pemerintah merencanakan untuk meningkatkan bagian labanya (pay out ratio) dari bank-bank BUMN dari 50,0% menjadi 54,0%-55,0%. Laba dimaksud adalah pendapatan BUMN setelah dipotong pajak penghasilan (PPh)

135

Keuangan Pemerintah

Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (UU SUN)

b o k s

Pada 22 Oktober 2002 pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang (UU) No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (UU SUN). Sebelum Undang-Undang ini disahkan, istilah

SUN diterbitkan dengan beberapa tujuan, yaitu: (i) membiayai defisit APBN; (ii) menutup kekurangan kas jangka pendek akibat

ketidaksesuaian antara arus kas penerimaan dan pengeluaran dari Rekening Kas Negara dalam satu tahun anggaran; (iii) mengelola portfolio utang negara.

Surat Utang Negara (SUN) lebih dikenal sebagai Obligasi Pemerintah. Tema pokok UU SUN adalah memberikan “standing appropriation” yaitu jaminan pemerintah kepada pasar untuk membayar semua kewajiban pokok dan bunga utang yang timbul akibat penerbitan SUN. Makna penting UU SUN adalah, memberikan landasan hukum bagi pemerintah untuk menerbitkan SUN dan memberikan kepastian hukum bagi investor (pemodal) untuk memiliki SUN sehingga dapat menjadi instrumen investasi yang aman dan bebas risiko. Sedangkan kepada Bank

PERANAN PEMERINTAH, BANK INDONESIA, DPR, DAN BAPEPAM. a. Peranan Pemerintah (Menteri Keuangan) UU SUN memberikan kewenangan kepada pemerintah dalam menerbitkan dan mengelola SUN termasuk kewajiban yang menyertai yaitu akuntabilitas dan transparansi pengelolaan SUN dimaksud. Dalam pelaksanaannya kewenangan ini dilaksanakan melalui menteri keuangan yang dalam hal ini telah membentuk instansi khusus yang menangani pengelolaan SUN yaitu Pusat Manajemen Obligasi Negara (PMON). Dalam pengelolaan SUN, Menteri Keuangan antara lain berwenang menunjuk agen lelang di pasar perdana termasuk ketentuan-ketentuan yang terkait dengan lelang (metode, kriteria peserta, dan penetapan hasil akhir lelang) serta pihak yang menjadi pelaksana pembelian dan penjualan SUN di pasar sekunder. Sehubungan dengan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan SUN, pemerintah diwajibkan membuat laporan

Indonesia(BI), UU SUN memberikan landasan hukum sebagai agen lelang dan penatausaha. Mengacu kepada UU SUN, Surat Utang Negara terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) atau semacam T-Bills di AS dan Obligasi Negara (ON). SPN merupakan SUN yang berjangka waktu sampai dengan 12 bulan pembayaran bunga secara dengan

diskonto, dengan

demikian memiliki karakteristik yang mirip dengan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sementara ON berjangka waktu lebih panjang dari 12 bulan dengan kupon dan/atau pembayaran bunga secara diskonto.

136

Keuangan Pemerintah

pertanggungjawaban sebagai bagian pelaksanaan APBN kepada DPR (Pasal 16) dan secara berkala mempublikasikan informasi tentang kebijakan pengelolaan utang, rencana penerbitan, jumlah SUN yang beredar beserta komposisinya (Pasal 17).

agen lelang. Penunjukan BI sebagai agen lelang ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitifas pelaksanaan kebijakan moneter dan sesuai dengan arah kebijakan BI untuk menggunakan SUN sebagai piranti Operasi Pasar Terbuka (OPT) alternatif di masa mendatang dan secara bertahap dapat

b. Peranan Bank Indonesia UU SUN memberikan beberapa peran kepada BI dalam rangka pelaksanaan penerbitan SUN. Pertama, UU SUN mewajibkan pemerintah untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI ketika akan menerbitkan SUN (Pasal 6). Konsultasi dengan BI dilakukan pada saat pemerintah merencanakan penerbitan SUN untuk satu tahun anggaran, dan dimaksudkan untuk mengevaluasi implikasi moneter dari penerbitan SUN agar tercapai keselarasan antara kebijakan fiskal, termasuk manajemen utang, dan kebijakan moneter. Kedua, UU SUN memberikan landasan hukum bagi BI untuk bertindak sebagai penata usaha SUN (Pasal 12). Sebagai penata usaha SUN, BI melakukan tiga kegiatan yaitu pencatatan kepemilikan, kliring dan penyelesaian transaksi (settlement), serta agen pembayar bunga dan pokok SUN. Kedua hal pertama merupakan fungsi BI sebagai central registry sedangkan hal terakhir merupakan fungsi BI sebagai paying agent. Ketiga, UU SUN memberikan landasan hukum bagi BI sebagai agen lelang di pasar perdana (Pasal 13) dalam penerbitan Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Sementara itu, untuk penerbitan Obligasi Negara, BI dapat ditunjuk pemerintah sebagai

menggantikan SBI. Keempat, UU SUN dapat memberikan peran kepada BI sebagai agen pemerintah dalam kegiatan di pasar sekunder, yaitu bahwa pemerintah dapat menunjuk BI sebagai agen pembelian atau penjualan ketika pemerintah melakukan manajemen utang di pasar sekunder (Pasal 14), misalnya saat melakukan buy back atas SUN yang masih outstanding.

c. Peranan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sebagai lembaga legistatif yang salah satu tugasnya melakukan pengawasan terhadap pihak pemerintah, peranan DPR dilakukan pada saat sebelum dan setelah penerbitan SUN. Sebelum menerbitkan SUN, pemerintah terlebih dahulu perlu mendapat persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU SUN. Persetujuan DPR ini memegang peranan yang penting dalam standing appropriation karena meliputi juga persetujuan atas kewajiban pemerintah untuk membayar semua kewajiban bunga dan pokok utang yang timbul akibat penerbitan SUN sampai dengan jatuh waktu SUN yang bersangkutan dengan

mengalokasikan dana yang dianggarkan dari APBN setiap tahunnya. Setelah penerbitan SUN,

137

Keuangan Pemerintah

DPR dapat melakukan pengawasannya yang antara lain bersumber dari laporan

kegiatan perdagangan SUN dapat dilaksanakan secara efisien dan sehat.

pertanggungjawaban dan publikasi yang disampaikan pemerintah sebagaimana Sanksi hukum dan Ketentuan Peralihan Untuk mencegah pemalsuan dan

dimaksudkan pada huruf a.

perdagangan SUN secara tidak sah maka UU SUN d. Peranan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) UU SUN juga menyinggung peranan instansi Pemerintah dalam pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan perdagangan SUN yang b e r f u n g s i s e b a g a i o t o r i t a s Pa s a r M o d a l . Otoritas pasar modal dimaksud adalah Bapepam sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pa s a r Modal. ini Pe n g a t u r a n dan juga mengatur mengenai sanksi yang tegas bagi pihak yang sengaja melakukan pelanggaran hukum dengan memberikan sanksi denda dan pidana yang diatur pada Pasal 19. Sedangkan pada ketentuan peralihan dalam Pasal 20 diatur bahwa Surat Utang atau Obligasi Negara yang telah diterbitkan pemerintah dan masih outstanding sebelum berlakunya UU SUN ini dalam rangka: a) program rekapitalisasi bank umum, b) pinjaman luar negeri dalam bentuk surat utang atau obligasi, c) pinjaman dalam negeri dalam bentuk surat utang, dan d) pembiayaan kredit program, dinyatakan sah dan tetap berlaku sampai dengan saat jatuh tempo.

pengawasan memberikan

dimaksudkan

untuk

perlindungan

terhadap

kepentingan pemodal dan para pelaku pasar SUN sebagaimana diatur pasal Pasal 15 UU SUN. Pengawasan dan pengaturan diperlukan agar

138

ab 8 : Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

BAB

laporan tahunan

8 Perbankan dan Lembaga
Keuangan Lain

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

139

BPerbankan dan Lembaga Keuangan Lain AB PERBANKAN

8

DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN

perkembangan yang membaik. Di sektor perbankan, perbaikan tersebut tercermin dari terus

a

s

Berbagai kebijakan perbankan dan membaiknya kondisi moneter telah meningkatkan kinerja perbankan sebagaimana tercermin dari semakin pulihnya fungsi intermediasi, serta membaiknya permodalan dan kualitas kredit.
ecara umum kinerja perbankandan lembaga keuangan lainnya pada 2002 menunjukkan menyalurkan kredit, terutama kredit kepada sektor korporat dan kredit yang berjangka waktu panjang, sehingga mendorong perbankan untuk melakukan ekspansi kredit ke sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dalam kaitan tersebut dan untuk mendorong kredit UKM, BI melakukan penyederhanaan kriteria penilaian kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan kepada sektor UKM dan daerah-daerah tertentu (distressed area). Selain itu, BI juga

berlangsungnya proses pemulihan fungsi intermediasi seperti meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit yang disalurkan. Selain itu, perbaikan sektor perbankan juga terlihat dari meningkatnya permodalan dan profitabilitas, serta membaiknya kualitas kredit. Sementara itu, perbaikan kinerja lembaga keuangan lainnya seperti perusahaan pembiayaan dan Perum Pegadaian tercermin dari meningkatnya total aset, permodalan, nilai kegiatan usaha dan perolehan laba tahun berjalan. Perbaikan di sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya tidak terlepas dari membaiknya kondisi ekonomi makro, seperti stabilnya nilai tukar, terkendalinya laju inflasi dan penurunan suku bunga. Di sektor perbankan, perbaikan tersebut juga didorong oleh kebijakan perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) dan konsolidasi internal perbankan. Namun demikian proses pemulihan intermediasi perbankan masih menghadapi beberapa hambatan, seperti masih tingginya persepsi perbankan terhadap risiko dan ketidakpastian di sektor riil. Kondisi tersebut menyebabkan perbankan berhati-hati dalam

menghimbau kepada beberapa bank yang memiliki Capital Adequacy Ratio (CAR) cukup tinggi supaya lebih memperhatikan ekspansi kreditnya dalam rangka mempercepat pemulihan fungsi intermediasi perbankan.

PERBANKAN Melanjutkan kebijakan pada tahun-tahun sebelumnya, kebijakan BI di bidang perbankan pada 2002 tetap difokuskan pada upaya-upaya untuk mempertahankan program penyehatan lembaga perbankan dan program pemantapan ketahanan sistem perbankan. Berbagai kebijakan perbankan yang didukung oleh perbaikan-perbaikan pada indikator makro, berhasil mendorong perbaikan kinerja perbankan pada tahun laporan. Perbaikan tersebut tercermin dari

140

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

meningkatnya DPK, permodalan dan CAR, perbaikan rasio Non–Performing Loans (NPLs) serta terus berlangsungnya pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Pemulihan fungsi intermediasi perbankan tercermin dari peningkatan penyaluran kredit baru, peningkatan Loan to Deposits Ratio (LDR), perubahan komposisi aktiva produktif perbankan dan

bank; (3) program pemulihan fungsi intermediasi perbankan, terutama melalui upaya mendorong penyaluran kredit di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Program Penyehatan Perbankan Kebijakan penyehatan perbankan selama 2002 masih diarahkan untuk melanjutkan program penjaminan pemerintah. Selain itu, pemantauan terhadap program rekapitalisasi bank umum dan program restrukturisasi kredit juga terus dilanjutkan.

peningkatan pendapatan bunga kredit. Sementara itu, kinerja perbankan syariah selama 2002 juga mengalami pertumbuhan pesat baik dari sisi jumlah jaringan kantor maupun dari sisi aset, DPK dan pembiayaan yang diberikan (PYD). Membaiknya kinerja perbankan syariah tersebut tidak terlepas dari semakin berkembangnya pasar keuangan syariah sebagai bagian dari infrastruktur perbankan syariah. Perkembangan yang menggembirakan juga terjadi pada kelompok Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tercermin dari indikator penghimpunan dan penyaluran dana serta rasio NPLs, profitabilitas dan permodalannya.

Program Penjaminan Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan, pemerintah tetap memberlakukan program penjaminan untuk bank umum dan BPR. Untuk program penjaminan bank umum, secara bertahap akan dilakukan pengurangan cakupan penjaminan seiring dengan akan dibentuknya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam kaitan tersebut, BI, untuk dan atas nama pemerintah, melakukan pembayaran pokok dan bunga yang terkait

Kebijakan Perbankan Kebijakan perbankan tetap difokuskan pada kesinambungan upaya pelaksanaan program

dengan interbank debt exchange offer. Selama tahun laporan telah dilakukan pembayaran kewajiban interbank debt exchange offer sebesar $171,7 juta. Sementara itu, untuk program penjaminan BPR, sampai dengan September 2002 jumlah dana untuk pembayaran dana nasabah dari 96 BPR yang dibekukan kegiatan usahanya pada 1999 dan 2000 mencapai sebesar Rp115,3 miliar. Sedangkan untuk BPR dengan status Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU) pada Desember 2001 dan Januari 2002 telah disetujui pembayaran penjaminannya.

restrukturisasi perbankan. Hal ini dilakukan melalui : (1) program penyehatan perbankan yang meliputi penjaminan pemerintah bagi bank umum dan BPR, rekapitalisasi bank umum dan restrukturisasi kredit perbankan; (2) program pemantapan ketahanan sistem perbankan yang meliputi pengembangan infrastruktur perbankan, peningkatan good corporate governance, serta penyempurnaan

pengaturan dan pemantapan sistem pengawasan

141

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Program Rekapitalisasi Dalam pelaksanaan program rekapitalisasi, perbankan diwajibkan mencatat obligasi pemerintah yang dimiliki dalam portofolio investasi, perdagangan dan yang diagunkan (collateral). Posisi obligasi pemerintah per 31 Desember 2002 adalah sebesar Rp419,4 triliun yang terdiri dari obligasi portofolio perdagangan sebesar Rp99,7 triliun (23,8%) dan portofolio investasi sebesar Rp319,6 triliun (76,2%). Jumlah obligasi yang dimasukkan dalam portofolio perdagangan mengalami peningkatan sebesar Rp35,0 triliun (54,1%) bila dibandingkan dengan posisi pada akhir 2001. Sementara berdasarkan kepemilikan, obligasi yang dimiliki bank rekap sebesar Rp359,9 triliun (85,8%) , sedangkan sisanya sebesar Rp59,5 triliun
1

yang telah dialihkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), pelaksanaan restrukturisasinya dilaksanakan oleh lembaga tersebut. Sementara restrukturisasi terhadap utang luar negeri perusahaan swasta bukan bank masih dilakukan melalui Prakarsa Jakarta. Berdasarkan sampel yang diambil dari enam bank yang termasuk dalam Systemically Important Banks (SIBs) pada September 2002, restrukturisasi kredit yang dilakukan telah mencapai Rp42,0 triliun. Adapun dalam pelaksanaan restrukturisasi kredit, perbankan masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain: (i) terganggunya kondisi perusahaan terkait yang selama ini membiayai pembayaran kewajiban debitur; (ii) rendahnya kualitas manajemen perusahaan debitur; (iii) persyaratan atau model restrukturisasi yang diterapkan oleh bank pada saat awal restrukturisasi kadang kala tidak sesuai dengan perkembangan usaha debitur; (iv) pola restrukturisasi kredit yang telah disepakati tidak sepenuhnya diterapkan dengan baik oleh debitur; (v) sulitnya merestrukturisasi kredit sindikasi; (vi) masalah kepastian hukum dalam hal eksekusi agunan kredit; dan (vii) sulitnya penyelesaian kewajiban debitur yang terkait dengan debitur pada bank lain dan/atau BPPN.

dimiliki oleh bank nonrekap, masyarakat (sub-registry) dan Departemen Keuangan. Untuk obligasi yang dimiliki masyarakat meningkat sebesar Rp31,8 triliun (244,5%) dibanding posisi pada akhir 2001 yaitu dari Rp13,0 triliun menjadi Rp44,8 triliun pada Desember 2002. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh maraknya produk reksadana yang diinvestasikan dalam obligasi pemerintah.

Program Restrukturisasi Kredit Dengan berakhirnya masa kerja Satuan Tugas (Satgas) Restrukturisasi Kredit di BI pada 31 Desember 2001 maka upaya restrukturisasi kredit bermasalah yang berada dalam portofolio bank tetap dilakukan oleh masing-masing bank. Untuk kredit bermasalah

Sementara itu, restrukturisasi atas kredit bermasalah yang dialihkan bank-bank peserta rekapitalisasi kepada BPPN, sampai dengan Desember 2002 mencapai Rp367,6 triliun dengan 296.883 debitur, dimana sebesar Rp55,9 triliun sudah memasuki tahap implementasi usulan restrukturisasi dan sebesar Rp21,4 triliun telah terbayar penuh.

1

Bank rekap terdiri dari 4 bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), 4 Bank Take Over (BTO), 3 bank umum Swasta Nasional (BUSN) Rekap dan 12 Bank Pembangunan Daerah (BPD) rekap.

Sedangkan restrukturisasi atas pinjaman luar negeri perusahaan swasta bukan bank yang telah

142

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

selesai melalui mediasi Prakarsa Jakarta sampai dengan November 2002 sebesar $17,5 miliar.

cakupan penjaminan, pemerintah diharapkan benarbenar dapat mengelola kondisi aktual perbankan saat ini agar tetap dapat mempertahankan momentum

Pemantapan Ketahanan Sistem Perbankan Upaya pemantapan ketahanan sistem perbankan dilakukan melalui: (i) perbaikan infrastruktur perbankan yang tercermin dari pengembangan BPR dan perbankan syariah, serta upaya pembentukan LPS sebagai pengganti program penjaminan pemerintah; (ii) peningkatan mutu pengelolaan bank (good corporate governance) melalui pelaksanaan fit and proper test, wawancara terhadap calon pengurus baru di bidang perbankan, penunjukan Direktur kepatuhan, dan penyerahan kasus hasil investigasi tindak pidana di bidang perbankan kepada lembaga penegak hukum; (iii) penyempurnaan berbagai ketentuan perbankan; dan (iv) pemantapan sistem pengawasan bank yang mengacu pada 25 prinsip dasar pengawasan perbankan yang efektif dan berbasis resiko.

kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang terus membaik. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam rencana pengurangan cakupan penjaminan oleh pemerintah adalah: (a) kondisi perekonomian yang mendukung proses penyehatan perbankan; (b) telah selesainya proses restrukturisasi perbankan; (c) adanya kerangka pengawasan dan pengaturan yang efektif; (d) tersedianya prosedur penyelesaian bank bermasalah; (e) adanya elemen lender of the last resort; dan (f) pulihnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Dalam rangka persiapan pendirian LPS tersebut, Tim Kerja Persiapan LPS yang beranggotakan BI, Departemen Keuangan dan BPPN sedang melakukan kajian terhadap landasan hukum operasional LPS. Salah satu rekomendasi dari tim kerja adalah usulan agar LPS diatur dalam Undang-Undang (UU). Hal

Perbaikan Infrastruktur Perbankan Guna mendukung ketahanan sistem perbankan yang mantap dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan maka diperlukan infrastruktur yang memadai, antara lain dilakukan melalui pengembangan bank berdasarkan prinsip syariah, pengembangan BPR2 serta rencana pembentukan LPS. Komitmen pemerintah untuk mulai

tersebut dengan pertimbangan untuk memberikan keleluasaan gerak LPS dan memberikan landasan hukum yang lebih kuat dari penjaminan pemerintah saat ini yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Rencana pendirian LPS tersebut akan diselaraskan dengan rencana pemerintah untuk mulai mengurangi cakupan penjaminan.

mengurangi cakupan penjaminan saat ini dan persiapan pendirian LPS sebagaimana diatur dalam pasal 37b UU No.10 Tahun 1998, akan mulai efektif dibahas kembali di 2003. Dalam hal pengurangan
2

Peningkatan Mutu Pengelolaan Perbankan (Good Corporate Governance) Secara umum upaya meningkatkan good corporate governance (GCG) telah dimulai pada 1999 melalui pembentukan Komite Nasional Kebijakan Cor-

Untuk lebih jelasnya baca sub bab Kebijakan Perbankan Syariah dan sub bab Kebijakan BPR dan Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

porate Governance. Tugas utama komite ini adalah

143

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan nasional corporate governance yang mencakup pedoman GCG, rincian penyempurnaan perangkat hukum dan struktur kelembagaan pendukung. Khusus untuk industri perbankan, GCG dilakukan melalui fit and proper test terhadap pemilik dan pengurus bank, penerapan wawancara bagi calon pemilik dan pengurus bank (new entry), penunjukan direktur kepatuhan (compliance director), dan investigasi tindak pidana di bidang perbankan. Pelaksanaan Penilaian Fit and Proper Fit and proper test merupakan upaya menciptakan sumber daya manusia perbankan yang memiliki integritas dan kompetensi yang tinggi. Penilaian dilakukan terhadap dewan komisaris, direksi dan pejabat eksekutif bank yang selama ini telah aktif di bank (existing) dalam pengelolaan kegiatan operasional bank serta didasarkan atas hasil pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan BI. Sejak 1999 sampai dengan periode laporan telah dilakukan penilaian fit and proper terhadap 1.149 orang yang terdiri dari 93 orang pemilik (pemegang saham) dan 1.056 orang pengurus. Investigasi Tindak Pidana di Bidang Perbankan Koordinasi antara BI dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung dalam rangka penanganan tindak pidana yang terjadi di bidang perbankan terus ditingkatkan. Selama 2002 BI telah melaporkan sebanyak 28 kasus dugaan tindak pidana Wawancara Terhadap Calon Pemilik dan Pengurus Bank Wawancara terhadap pengurus baru (new entry) termasuk pimpinan kantor perwakilan bank, dan calon pemilik bank dilakukan untuk mengetahui integritas dan kompetensinya. Selama 2002, BI telah melakukan wawancara terhadap 229 calon terdiri dari 12 calon pemilik dan 217 calon pengurus yang diajukan oleh 90 bank, dan yang berhasil lulus sebanyak 12 calon pemilik (100%) dan 197 calon pengurus (91%). di bidang perbankan yang terjadi pada 15 bank yang terdiri dari : (i) sembilan kasus transaksi yang mencurigakan yang berindikasi tindak pidana di bidang pencucian uang (money laundering) pada 6 bank umum; dan (ii) sembilan belas kasus dugaan tindak pidana di bidang perbankan yang terjadi pada 7 bank umum dan 2 BPR. Dalam rangka mempercepat proses tindak lanjut terhadap laporan transaksi yang mencurigakan (suspicious transactions) yang disampaikan oleh bankDirektur Kepatuhan (Compliance Director) Direktur kepatuhan merupakan bagian penting dari sistem pengendalian internal yang dilaksanakan oleh manajemen bank yang secara aktif mengambil berbagai langkah untuk mencegah manajemen bank dalam menetapkan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan yang di dalamnya mengandung unsur-unsur ketidakpatuhan, penyimpangan atau bahkan pelanggaran terhadap ketentuan kehati-hatian (prudential regulation). Sejak Juli 1999 sampai dengan Desember 2002 perbankan telah mengajukan sebanyak 272 orang calon. Hasil penilaian atas pencalonan tersebut, sebanyak 211 orang calon telah disetujui, 37 orang calon ditolak, 5 orang calon sedang dalam proses penilaian, dan 19 orang dibatalkan pencalonannya.

144

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bank, maka sejak 1 Desember 2002 BI membentuk satu tim investigasi yang bertugas khusus untuk melakukan analisis dan tindak lanjut terhadap laporanlaporan bank yang berkaitan dengan transaksi yang mencurigakan tersebut. Namun setelah dibentuknya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), maka tugas tim investigasi akan dialihkan dari BI kepada PPATK. Dalam rangka operasionalisasi PPATK, BI mendukung sepenuhnya langkah-langkah pemerintah untuk segera mengefektifkan lembaga tersebut melalui berbagai dukungan penuh berupa sumber daya manusia dan fasilitas perkantoran.

(i)

Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup sistem pengawasan mencakup penetapan status BPR dalam pengawasan khusus dan pembekuan kegiatan usaha 3 , perubahan

kegiatan usaha bank umum konvensional menjadi bank umum berdasarkan prinsip syariah4 dan KAP5 . Ketentuan penetapan status BPR merupakan peraturan pelaksanaan PBI No.3/ 15/PBI/2001 tanggal 21 September 2001 tentang Penetapan Status Bank Perkreditan Rakyat Dalam Pengawasan Khusus dan

Pembekuan Kegiatan Usaha sebagaimana telah diubah dengan PBI No.3/24/PBI/2001 tanggal 24

Penyempurnaan Ketentuan Perbankan Pada tahun laporan BI telah menyempurnakan beberapa ketentuan perbankan antara lain mencakup ketentuan mengenai perubahan kegiatan usaha bank umum konvensional menjadi bank umum berdasarkan prinsip syariah, penetapan margin suku bunga simpanan pihak ketiga yang dijamin pemerintah, Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dan prinsip kehatihatian dalam rangka pembelian kredit oleh bank dari BPPN. Secara garis besar, ketentuan perbankan yang dikeluarkan BI dapat dikelompokan menjadi: (i) sistem pengawasan; (ii) prinsip kehati-hatian (prudential banking); dan (iii) penjaminan pemerintah.

Desember 2001. Sementara itu, ketentuan KAP dimaksudkan untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor KUK dan pemulihan kondisi perekonomian daerah tertentu. (ii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam

lingkup prinsip kehati-hatian adalah prinsip kehatihatian dalam rangka pembelian kredit oleh bank dari BPPN (Boks: Pembatasan Pembelian Kredit oleh Bank dari BPPN). 6 Ketentuan ini dimaksudkan agar perbankan dalam melakukan pembelian kredit dari BPPN tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian sehingga tidak menimbulkan risiko yang dapat membahayakan perbankan nasional. Selain itu, terkait dengan tragedi Bali maka BI menerbitkan peraturan tentang perlakuan khusus terhadap kredit bank umum pasca tragedi Bali yang dimaksudkan untuk

3

4

5

Surat Edaran (SE) No. 4/1/DPBPR tanggal 24 Januari 2002 perihal Penetapan Status Bank Perkreditan Rakyat Dalam Pengawasan Khusus dan Pembekuan Kegiatan Usaha. PBI No. 4/1/PBI/2002 tanggal 27 Maret 2002 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional Menjadi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor Bank Berdasarkan Prinsip Syariah Oleh Bank Umum Konvensional. PBI No. 4/6/PBI tanggal 6 September 2002 tentang Perubahan Atas Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif.

6

7

8

PBI No. 4/7/PBI/2002 tanggal 27 September 2002 tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Rangka Pembelian Kredit Oleh Bank Dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. PBI No. 4/11/PBI/2002 tanggal 20 Desember 2002 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Kredit Bank Umum Pasca Tragedi Bali. SE No. 4/9/DPM tanggal 26 Juni 2002 perihal Penetapan Margin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga yang dijamin Pemerintah.

145

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

mendukung pemulihan kondisi perekonomian daerah tersebut.
7

Core Pinciples (BCP) yang secara formal telah menjadi pegangan bagi bank sentral atau lembaga pengawasan bank di seluruh dunia. Mengingat sebagian besar dari 25 BCP tersebut belum dipenuhi, diperlukan berbagai upaya untuk peningkatan sistem pengawasan perbankan di Indonesia. Secara umum dapat dikatakan bahwa sistem pengawasan perbankan di Indonesia masih terbatas kepada compliance (kepatuhan). Sedangkan pendekatan yang sudah diterapkan secara

(iii) Dalam kaitan dengan penjaminan pemerintah ketentuan yang dikeluarkan mencakup penetapan margin suku bunga simpanan pihak ketiga yang dijamin pemerintah. Dalam ketentuan ini antara
8

lain disebutkan bahwa margin suku bunga simpanan pihak ketiga yang dijamin oleh pemerintah dalam rupiah ditetapkan sebesar 200 bp, sedangkan dalam valuta asing ditetapkan sebesar 100 bp di atas rata-rata suku bunga deposito berjangka dari bank-bank anggota Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) yang dipilih oleh BI. Pemantapan Sistem Pengawasan Bank Sebagaimana pada tahun sebelumnya, program pemantapan sistem pengawasan bank tetap berorientasi ke depan (forward looking), dengan berdasarkan pada pengawasan berbasis risiko (risk based supervision) yang mengacu pada 25 Prinsip Dasar Pengawasan Perbankan yang Efektif. Sampai dengan akhir 2002, dari 25 Core Principles (CP) tersebut, Indonesia sudah mematuhi dan melaksanakan (fully compliant) 2 prinsip dasar yaitu CP-1 mengenai Preconditions for Effective Banking Supervision yang mencakup Objectives, Independence and Resources, Legal Protection serta CP-2 mengenai Permissible Activities. Sementara itu, juga terdapat 10 CP lainnya yang sudah Largely Compliant (Boks: Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank).

internasional dan memberikan hasil yang lebih akurat dalam merefleksi kondisi bank adalah menggunakan risk-based approach. Menyikapi hal tersebut, BI telah mengembangkan dan terus menyempurnakan kerangka pengawasan berdasarkan risiko (risk based supervision-RBS). Pada prinsipnya, RBS merupakan suatu proses pemantauan dan penilaian sejauhmana pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern bank dapat diterapkan secara efektif. Implikasi pengawasan berdasarkan risiko ini cukup besar, baik di lingkungan BI sendiri maupun perbankan. BI dituntut untuk merubah kerangka pengawasannya dari compliance approach ke riskbased approach. Uji coba penerapan risk based supervision telah mulai dilakukan pada 2002 dan akan terus diimplementasikan di tahun-tahun mendatang. Selain itu, seiring dengan semakin

terintegrasi–nya pasar keuangan domestik dengan keuangan global dan meningkatnya aktivitas trading yang dilakukan perbankan maka pengaturan mengenai risiko pasar (market risk) dalam permodalan bank

Kebijakan Sistem Pengawasan Bank Dalam meningkatkan pengawasan dan

dipandang sudah saatnya. (Boks: Pengaturan Risiko Pasar (market risk ) dalam Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank). Hal ini selaras pula dengan

pengaturan perbankan, BI mengacu kepada 25 Basel

146

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dokumen Basel Committee tahun 1996 yang merekomendasikan agar perbankan mengalokasikan modalnya untuk mengantisipasi kerugian akibat perubahan harga/indikator pasar. Penyusunan ketentuan dengan muatan materi di atas, secara intensif sedang dilakukan oleh BI dan diharapkan dapat dikeluarkan di 2003.

memiliki Giro Wajib Minimum (GWM) lebih dari 5,0% namun dinilai mengalami permasalahan likuiditas yang mendasar; (vi) memiliki permasalahan profitabilitas mendasar; (vii) memiliki rasio NPLs neto lebih dari 5,0%, dan (viii) berperan cukup signifikan terhadap risiko sistemik dalam sistem perbankan dan memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian nasional. Di samping itu, BI telah melakukan pemeriksaan

Perkembangan Pengawasan Bank Dalam rangka tugas BI selaku otoritas pengawas perbankan, pada 20 Agustus 2002 BI menetapkan status dua bank umum swasta nasional (BUSN) menjadi Bank Dalam Pengawasan Khusus karena memiliki CAR di bawah 8,0%. Namun setelah manajemen dan pemegang saham kedua bank tersebut melakukan beberapa langkah penyehatan sebagaimana yang ditentukan oleh BI, maka sejak 9 Oktober 2002 dan 30 Desember 2002, BI mencabut status Bank dalam Pengawasan Khusus untuk kedua BUSN tersebut. Selain itu, BI juga melakukan pengawasan intensif terhadap bank yang memiliki potensi kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya dengan kriteria: (i) memiliki Tingkat Kesehatan (TKS) tergolong Kurang Sehat atau Tidak Sehat; (ii) memiliki permasalahan aktual dan atau potensial di bidang likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas berdasarkan penilaian risiko keseluruhan; (iii) terdapat pelampauan dan atau pelanggaran BMPK dan langkah penyelesaian yang diusulkan bank berdasarkan penilaian BI tidak dapat diterima atau tidak mungkin dicapai; (iv) terdapat pelanggaran Posisi Devisa Neto (PDN) dan langkah penyelesaian yang diusulkan bank berdasarkan penilaian BI tidak dapat diterima atau tidak mungkin dicapai; (v)

umum terhadap 77 bank dan pemeriksaan khusus terhadap 54 bank. Pemeriksaan khusus yang dilakukan antara lain meliputi pemeriksaan fit and proper, pemeriksaan modal, pemeriksaan terhadap KAP dan penerapan know your customer (KYC). Sementara itu, dalam rangka memperbaiki struktur permodalan bank, pada September 2002 BI mengeluarkan izin merger 5 bank (Bank Bali, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Prima Express dan Bank Artha Media) menjadi Bank Permata Tbk. Peningkatan Fungsi Intermediasi Perbankan Ditengah-tengah masih rendahnya daya serap sektor korporat, upaya peningkatan fungsi intermediasi perbankan dilakukan dengan mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit kepada sektor UMKM. Beberapa upaya yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM meliputi kebijakan kredit UMKM, pengembangan kelembagaan, dan pemberian bantuan teknis.

Kebijakan Kredit UMKM Dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan UMKM, maka pada 22 April 2002 telah ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau kesepakatan bersama antara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan Gubernur BI

147

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

tentang penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan dan pengembangan UMKM. Adapun tugas yang harus dilaksanakan oleh BI adalah: (a) mendorong bank umum dan BPR untuk meningkatkan penyaluran kredit UMKM sesuai dengan business plan masing-masing bank dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian; (b) melakukan pemantauan dan evaluasi penyaluran kredit UMKM dari bank umum dan BPR setiap tiga bulan; (c) menyediakan informasi sektor/subsektor unggulan untuk pengembangan usaha kecil melalui SIPUK; (d) melakukan penelitian; (e) memberikan pelatihan kepada staf bank umum dan BPR, khususnya di bidang pembiayaan UMKM; (f) menyesuaikan ketentuan untuk bank umum dan BPR guna mendorong penyaluran kredit UMKM dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan (g) memperkuat infrastruktur kelembagaan perbankan dalam penyaluran kredit UMKM. Selain mendorong perbankan menyalurkan kredit kepada UMKM, BI juga masih mendukung pembiayaan UMKM melalui penyediaan KLBI relending dalam rangka kredit program oleh BUMN Koordinator pengelola KLBI. Hal ini merupakan tindak lanjut pasal 74 UU No. 23/ 99, yang mengamanatkan pengalihan pengelolaan KLBI dalam rangka kredit program kepada 3 BUMN Koordinator yang ditunjuk pemerintah, yakni BRI, BTN dan PT. Permodalan Nasional Madani (PNM). Tiga BUMN Koordinator tersebut berwenang untuk menyalurkan kembali (relending) angsuran KLBI yang diterima dari bank pelaksana sampai dengan KLBI dimaksud jatuh tempo. Jumlah angsuran KLBI yang dapat di-relending oleh BUMN Koordinator kepada sektor UMKM sampai

dengan posisi akhir Desember 2002 adalah sebesar Rp3,6 triliun, atau meningkat sebesar 140,0% dibandingkan posisi akhir Desember 2001 sebesar Rp1,5 triliun. Angsuran KLBI yang telah di-relending adalah sebesar Rp1,7 triliun atau 48,6% dari jumlah angsuran KLBI yang tersedia. Dibandingkan dengan angsuran KLBI yang di-relending pada akhir Desember 2001, yaitu sebesar Rp1,3 triliun, maka telah terjadi peningkatan sebesar 30,8%. Seperti pada tahun sebelumnya, relending tersebut sebagian besar (76,5%) dilakukan oleh PT. PNM, yaitu sebesar Rp1,3 triliun. Disamping melalui dana relending, BI juga

membantu penyediaan dana untuk kredit program melalui pembelian Surat Utang Pemerintah (SUP) No. 005 dalam rangka kredit program dengan plafon Rp 9,97 triliun. Sampai dengan posisi akhir Desember 2002, dana yang tersedia adalah Rp3,09 triliun, dan telah ditarik oleh pemerintah sebesar Rp850 miliar, sehingga dana yang masih dapat ditarik adalah Rp2,24 triliun. Di samping itu, pembiayaan UMKM juga didukung oleh dana yang berasal dari luar negeri dalam bentuk two-step loan (TSL). Sesuai dengan pasal 74 UU No.23 Tahun 1999, pengelolaan dana tersebut dialihkan dari BI kepada BUMN. Sementara itu, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 335/KM.1/2002 tanggal 29 Juli 2002, telah dibentuk Tim Pengkajian Penyaluran TSL yang terdiri dari dua tim, yaitu Tim Pengarah dan Tim Pelaksana. BI telah ditunjuk untuk menjadi anggota Tim Pengarah, yang diketuai oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan. Tujuan pembentukan tim ini adalah melakukan kajian dalam rangka memberikan

148

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

rekomendasi mengenai lembaga keuangan yang dapat menerima pengalihan pengelolaan TSL dari BI dan selanjutnya berfungsi sebagai lembaga intermediasi dalam penyaluran TSL yang baru.

mengantisipasi terjadinya wanprestasi debitur, peran lembaga penjamin kredit (PT Askrindo dan Perum Sarana Pengembangan Usaha) terus ditingkatkan.

Bantuan Teknis UMKM Pengembangan Kelembagaan UMKM Program pengembangan UMKM, selain dilakukan dengan kebijakan perkreditan, juga dilakukan dengan pengembangan kelembagaan UMKM. Dalam kaitan ini, BI mendorong kerjasama bank umum dengan BPR (linkage program) dalam penyaluran kredit kepada UKM. Sampai dengan Desember 2002, telah terjalin kerjasama antara 8 bank dan PT PNM dengan 727 BPR, dengan plafon kredit Rp310 miliar. Selain itu, BI juga mendorong pembentukan UKM center, yakni lembaga pelayanan dari bank kepada sektor UMKM. Sampai saat in telah terdapat 4 bank yang telah membentuk UKM center tersebut. Disamping itu, BI juga menyelenggarakan bazar intermediasi yang bertujuan untuk mempertemukan bank dengan UKM, yang antara lain telah dilaksanakan di Makassar, Medan, dan Bandung (Boks: Makassar Meeting dan Upaya Pengembangan UKM). Rencana pendirian kredit biro yang merupakan suatu lembaga yang mengumpulkan, mengolah serta menyediakan informasi mengenai kredibilitas individu, yaitu informasi mengenai track record individu tersebut dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Dengan informasi yang utuh dan Dalam upaya pengembangan sektor UMKM, BI tetap memberikan bantuan teknis kepada perbankan, yang dilaksanakan melalui pelatihan, kegiatan penelitian dan pemberian informasi. Dalam tahun laporan, ruang lingkup pemberian bantuan teknis diperluas bukan hanya untuk sektor perbankan tetapi juga untuk pengusaha UMKM. Selama tahun 2002, beberapa kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan oleh BI antara lain, pelatihan untuk bank umum, training of facilitator (ToF) dan training of trainers (ToT), workshop, lokakarya, exposure training program (ETP), dan konsultasi. Di samping itu, BI juga melakukan kegiatan penelitian yang dimaksudkan untuk melakukan pemetaan potensi UMKM melalui baseline economic survey (BLS) dan penelitian pola pembiayaan UMKM. Kebijakan Perbankan Syariah Dalam upaya mewujudkan perbankan syariah yang sehat, yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan berkontribusi dalam mendorong terciptanya ketahanan sistem perbankan dan pembangunan nasional, BI telah melakukan berbagai langkah sesuai dengan fungsi dan perannya sebagai otoritas perbankan. Sejak awal pengembangannya, sejumlah isu penting yang telah diidentifikasi dan perlu menjadi perhatian guna menjamin tercapainya sasaran pengembangan perbankan syariah, antara lain: (i) penyusunan dan penyempurnaan peraturan

º

º

komprehensif akan memberikan kemudahan bagi bank dalam melakukan proses dan analisis pemberian kredit secara hati-hati berdasarkan permohonan debitur-calon debitur sehingga dapat mengurangi potensi kerugian. Selain itu, dalam upaya

149

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dan perundang-undangan yang sesuai dengan karakteristik usaha perbankan syariah, (ii) pengembangan jaringan kantor bank syariah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, (iii) peningkatan pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah, (iv) penyediaan infrastruktur dan lembaga pendukung yang dapat mendorong perkembangan perbankan syariah yang sehat dan istiqomah menjalankan prinsip syariah, (v) peningkatan efisiensi operasi, mutu pelayanan dan daya saing perbankan syariah, (vi) pengembangan pembiayaan sistem bagi hasil dalam proporsi yang memadai dalam portofolio pembiayaan bank syariah, dan (vii) adanya bank syariah yang memiliki kompetensi, profesionalisme dan dapat memenuhi standar internasional. Selama 2002, sejumlah insiatif dan langkah strategis telah dilakukan dengan pendekatan bertahap, berkesinambungan serta memperhatikan urgensi dan prioritas jangka pendek. Langkah penting yang dilakukan selama 2002 adalah: (i) menyusun cetak biru pengembangan perbankan syariah; (ii) menyempurnakan ketentuan; (iii) meningkatkan pemahaman masyarakat; dan (iv) meningkatkan kerjasama internasional di bidang perbankan syariah dalam rangka pengembangan infrastruktur dan lembaga pendukung perbankan syariah.

merupakan bagian integral dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Cetak biru ini meletakkan posisi serta cara pandang BI dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman bagi para stakeholder perbankan syariah. Pandangan filosofis dan strategi pencapaiannya dituangkan dalam kerangka visi, misi, dan sasaran serta inisiatifinisiatif yang akan dilakukan dalam periode sepuluh tahun mendatang. Adapun visi dari kegiatan pengembangan perbankan syariah adalah:

“Terwujudnya sistem perbankan syariah yang kompetitif, efisien, dan memenuhi prinsip kehatihatian serta mampu mendukung sektor riil secara nyata melalui kegiatan pembiayaan berbasis bagi hasil dan transaksi riil dalam kerangka keadilan, tolong menolong dan menuju kebaikan guna mencapai kemaslahatan masyarakat”. Sasaran yang realistis untuk mewujudkan visi yang sudah dicanangkan dibuat dengan

mempertimbangkan kondisi aktual, serta kekuatan dan keterbatasan pelaku industri perbankan syariah dan stakeholders lainnya. Sasaran pengembangan perbankan syariah sampai 2011 dikelompokan dalam empat fokus sasaran yang terdiri dari: (1) terpenuhinya prinsip syariah dalam operasional bank syariah, (2) diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan syariah, (3) terciptanya sistem

Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Untuk mengembangkan sistem perbankan syariah yang sehat dan amanah serta menjawab tantangan yang akan dihadapi oleh sistem perbankan syariah Indonesia, BI telah menyusun “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia”, yang

perbankan syariah yang kompetitif, dan efisien, serta (4) terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan sistem perbankan syariah bagi masyarakat luas. Pada fokus sasaran keempat, ditetapkan target pertumbuhan perbankan syariah nasional yang dapat mencapai pangsa sebesar 5,0%

150

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dari total aset perbankan nasional pada 2011. Dalam upaya untuk mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan, BI telah menetapkan inisiatifinisiatif strategis yang menekankan pada aspek peningkatan kepatuhan pada prinsip syariah, kualitas ketentuan kehati-hatian, efisiensi operasi dan daya saing, serta kestabilan sistem perbankan.

mempertimbangkan masukan dari praktisi perbankan syariah, akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat menghasilkan kesimpulan dan argumentasi tentang manfaat pengembangan perbankan syariah dan perlunya keberadaan UU Perbankan Syariah yang terpisah. Saat ini pokok-pokok hasil kajian tersebut menjadi masukan untuk penyempurnaan aturan perbankan syariah dalam UU Perbankan mengingat perbankan syariah merupakan bagian dari perbankan nasional.

Implementasi inisiatif strategis tersebut dapat dibagi ke dalam tiga tahapan pencapaian. Tahap pertama, inisiatif diprioritaskan untuk meletakkan landasan pengembangan yang kuat bagi pertumbuhan. Kedua, inisiatif difokuskan pada usaha untuk memperkuat struktur industri. Ketiga, inisiatif difokuskan pada pemenuhan standar keuangan dan kualitas pelayanan internasional.

Penyempurnaan Ketentuan Kelembagaan Dalam rangka menyempurnakan ketentuan yang mengatur mengenai kelembagaan perbankan syariah, pada 27 Maret 2002 telah diberlakukan PBI No.4/1/ PBI/2002 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank

Penyusunan dan Penyempurnaan Perundang– Undangan dan Ketentuan Perbankan Syariah Guna mewujudkan sistem perbankan syariah yang sehat dan konsisten menjalankan prinsip syariah maka upaya penyusunan dan penyempurnaan perundang-undangan dan ketentuan yang sesuai dengan karakteristik usaha bank syariah merupakan prioritas penting. Perundang-undangan dan ketentuan yang lengkap diperlukan sebagai dasar pengembangan perbankan syariah nasional.

Umum Konvensional menjadi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank Umum Konvensional. PBI tersebut bertujuan untuk menyempurnakan dan memperjelas ketentuanketentuan yang mengatur mengenai konversi secara penuh kegiatan usaha bank konvensional menjadi bank syariah serta kegiatan usaha perbankan syariah oleh bank umum konvensional. Selain itu, PBI ini juga memberikan alternatif yang lebih luas dalam

Penyusunan Naskah Akademis RUU Perbankan Syariah Selama 2002 telah dilaksanakan penyusunan naskah akademis yang bertujuan mengkaji tentang urgensi penyempurnaan perundang-undangan yang mengatur perbankan syariah, baik dalam bentuk UU Perbankan Syariah atau cukup menjadi bagian dari UU Perbankan. Kajian yang dilakukan dengan

9

Unit Syariah adalah satuan kerja khusus dari kantor cabang atau kantor di bawah kantor cabang bank umum konvensional yang kegiatan usahanya melakukan penghimpunan dana dan pemberian jasa perbankan lainnya berdasarkan Prinsip Syariah. Hal tersebut dalam rangka persiapan bank umum konvensional untuk mengubah kantor cabang atau kantor dibawah kantor cabang konvensional menjadi Kantor Cabang Syariah (KCS). Untuk setiap pembukaan Unit Syariah bank umum konvensional wajib menyisihkan modal kerja tertentu di rekening UUS. Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun Unit Syariah harus diubah menjadi KCS dengan memenuhi persyaratan pembukaan KCS (termasuk persyaratan penyediaan modal KCS). Apabila bank umum konvensional tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut, Bank Indonesia akan mencabut izin usaha kantor cabang atau kantor di bawah kantor cabang bank umum konvensional dimana Unit Syariah bertempat.

151

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

pengembangan jaringan kantor pelayanan perbankan syariah, yang memungkinkan bank konvensional yang telah memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) untuk membuka jaringan kantor bank syariah di kantor bank konvensionalnya. Kantor bank syariah yang berada di kantor bank konvesionalnya tersebut selanjutnya dinamakan Unit Syariah9. Penyusunan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) BI bekerjasama dengan pihak-pihak terkait lainnya telah berhasil menyelesaikan standar akuntansi keuangan yang sesuai dengan prinsipprinsip syariah yang dapat sebagai acuan standar setiap kegiatan operasional perbankan syariah di Indonesia. Standar tersebut diterbitkan dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59 dan diharapkan untuk dapat diberlakukan dalam kegiatan perbankan syariah nasional mulai 1 Januari 2003. Proses penyusunan PSAK No. 59 tersebut melibatkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), BI, dan praktisi perbankan syariah dan mengacu kepada Accounting and Auditing Standard for Islamic Financial Institutions yang diterbitkan oleh AAOIFI, Bahrain. Sebagai tindak lanjut dari PSAK tersebut, pada 2002 telah dilakukan penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) dan Panduan Audit Perbankan Syariah (PAPS). PAPSI telah selesai disusun namun belum disahkan, sedangkan PAPS masih dalam proses penyusunan.

Syariah Pada 2002 telah dihasilkan pedoman pengawasan perbankan syariah yang diperlukan sebagai panduan pelaksanaan pemeriksaan dan pengawasan bank syariah nasional. Selanjutnya panduan tersebut akan disempurnakan dengan mengadopsi 25 prinsip dasar pengawasan perbankan yang efektif serta pengawasan perbankan berbasis risiko.

Penyusunan Ketentuan Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Syariah Berkaitan dengan fungsi BI selaku lender of the last resort bagi perbankan, maka selain untuk perbankan konvensional juga diperlukan adanya FPJP bagi perbankan syariah yang diatur sesuai dengan karakteristik usaha perbankan syariah. Sejalan dengan penyusunan ketentuan FPJP bagi perbankan konvensional, pada 2002 pembahasan substansi ketentuan FPJP bagi perbankan syariah telah dapat diselesaikan dan saat ini masih dalam tahap legal drafting.

Pengkajian Indikator Kinerja BPR Syariah (BPRS) Pada tahun laporan, BI telah melakukan penelitian mengenai indikator kinerja BPRS dengan menggunakan metode Performance Indicators (PI) sebagai alternatif ukuran kinerja konvensional. 10 Penggunaan PI sebagai alat ukur penilaian kinerja BPRS diharapkan dapat memberikan wacana pemikiran atas adanya alternatif metode penilaian kinerja BPRS yang

Penyusunan Pedoman Pengawasan Perbankan

lebih sesuai dengan karakteristik BPRS sebagai lembaga keuangan mikro. Beberapa keunggulan

10

Ukuran kinerja konvensional menggunakan indikator CAMEL (Capital, Asset Quality, Management, Earning & Liquidity)

metode PI dibandingkan CAMEL adalah mampu memberikan gambaran mengenai kemampuan

152

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

finansial, kualitas portofolio, produktivitas dan cakupan operasional yang merupakan karakteristik lembaga keuangan mikro yang dimiliki oleh BPRS. Selain itu, penilaian kinerja dengan metode PI dinilai lebih berhati-hati, sehingga direkomendasikan sebagai alternatif penilaian kinerja BPRS disamping dengan metode CAMEL sebagaimana dilakukan selama ini.

Kerjasama Internasional Perbankan Syariah International Islamic Financial Market (IIFM) Sejak tahun 2000, BI secara aktif terlibat dalam pengembangan IIFM yaitu lembaga yang berfungsi mengembangkan dan mengatur instrumen dan mekanisme pasar keuangan syariah internasional. IIFM didirikan oleh BI bersama otoritas perbankan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Bahrain, Sudan dan IDB. Keikutsertaan BI dalam lembaga tersebut akan

Peningkatan Pemahaman Masyarakat Terhadap Perbankan Syariah Program sosialisasi dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah terus dilaksanakan secara intensif di berbagai daerah selama 2002 melalui kerjasama dengan majelis ulama, perguruan tinggi, Masyarakat Ekonomi Syariah dan lembaga lainnya termasuk organisasi massa seperti NU dan Muhammadiyah. Pelaksanaan kegiatan edukasi publik tersebut dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan termasuk seminar, workshop, liputan dan diskusi melalui media massa cetak dan elektronik, serta penerbitan buku-buku perbankan syariah. Guna lebih mendorong peran serta seluruh stakehoders perbankan syariah perlu dibentuk suatu lembaga koordinasi yang menghimpun dan melibatkan seluruh pelaku perbankan syariah dan pihak terkait untuk melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi publik secara bersama-sama. Upaya peningkatan

bermanfaat untuk perkembangan lembaga keuangan syariah, khususnya untuk kepentingan pengelolaan likuiditas, sehingga efisiensi pengelolaan dana perbankan syariah dapat lebih ditingkatkan. Selama 2002, lembaga IIFM dengan sekretariat di Manama, Bahrain telah melakukan konsolidasi dan penyiapan perangkat organisasi, pengembangan sistem dan prosedur operasional. Diharapkan pada 2003 kegiatan operasional IIFM dapat dimulai.

Islamic Financial Services Board (IFSB) Pertumbuhan yang pesat dari industri keuangan syariah di berbagai negara menimbulkan kebutuhan akan berdirinya suatu lembaga internasional yang berfungsi: (1) menyusun dan menyebarluaskan standar dan prinsip-prinsip dasar di bidang pengawasan dan pengaturan, penerapan prinsip syariah oleh industri keuangan syariah, dan secara sukarela dapat diadopsi oleh negara anggota; (2) menjadi penghubung dan bekerja sama dengan lembaga penetapan standar di bidang moneter dan stabilitas keuangan ; dan (3) mendorong praktek manajemen risiko yang sebaikbaiknya melalui aktivitas riset, pelatihan dan bantuan teknis. Berkaitan dengan hal tersebut, pada November 2001 di Paris dengan dengan diprakarsai oleh

pemahaman masyarakat tersebut penting dilakukan secara berkesinambungan agar masyarakat dapat memiliki pemahaman yang benar tentang perbankan syariah. Pemahaman tersebut pada gilirannya diharapkan dapat mendukung pertumbuhan perbankan syariah.

153

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

sejumlah Gubernur dan Senior Officials bank sentral negara-negara yang telah mengembangkan

Tabel 8.1 Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank
Kelompok Bank Posisi Pertumbuhan (%) Pangsa1) (%)

perbankan/lembaga keuangan syariah yaitu Bahrain, Mesir, Iran, Pakistan, Sudan, Jordan, Malaysia, dan Indonesia, serta perwakilan dari IDB, AAOIFI dan IMF sepakat untuk mendirikan IFSB. Pada 3 November 2002, IFSB resmi didirikan dengan sekretariat di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada sidang pertama 3 November 2002, Gubernur BI dipilih sebagai Chairman IFSB. Keterlibatan aktif BI dalam lembaga ini dinilai penting dalam rangka mempersiapkan regulasi, sistem pengawasan dan panduan best practises yang sesuai dengan standar internasional bagi perbankan syariah. Disamping dapat turut serta berkontribusi dalam lembaga tersebut melalui pendekatan sinergi, BI akan dapat memanfaatkan hasil riset dan pengembangan lembaga tersebut untuk percepatan penyempurnaan regulasi dan pengawasan perbankan syariah di Indonesia .

2000 I. Bank Umum Jumlah Bank Jumlah Kantor2) Bank Persero Jumlah Bank Jumlah Kantor BPD Jumlah Bank Jumlah Kantor BUSN Devisa Jumlah Bank Jumlah Kantor BUSN Nondevisa Jumlah Bank Jumlah Kantor Bank Campuran Jumlah Bank Jumlah Kantor Bank Asing Jumlah Bank Jumlah Kantor

2001

2002

2001

2002*)

151 6.509 5 1.736 26 826 38 3.302 43 535 29 57 10 53 7.764 5.345 2.419

145 6.765 5 1.807 26 857 38 3.432 42 556 24 53 10 60 7.703 5.345 2.358

141 7.001 5 1.885 26 909 36 3.565 40 528 24 53 10 61 7.571 5.345 2.226

-4,0 3,9 0,0 4,1 0,0 3,8 0,0 3,9 -2,3 3,9 -17,2 -7,0 0,0 13,2 -0,8 0,0 -2,5

-2,8 100,00 3,5 100,00 0,0 4,3 0,0 6,1 -5,3 3,9 -4,8 -5,0 0,0 0,0 0,0 1,7 -1,7 0,0 -5,6 3,55 26,92 18,44 12,98 25,53 50,92 28,37 7,54 17,02 0,76 7,09 0,87 -

II.BPR terhadap seluruh bank umum 1) Pangsa 2) Tidak termasuk BRI Unit Desa BKD NonBKD

dengan tujuan BI untuk menyehatkan industri BPR, Kebijakan di Bidang Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sebagai salah satu upaya perbaikan infrastruktur perbankan, kebijakan pengembangan BPR terus dilakukan. Salah satu upaya pengembangan BPR dilakukan melalui kerjasama dengan GTZ dalam proyek ProFI (Promotion of Small Financial Institution) meliputi pelaksanaan training bersertifikasi untuk pengurus BPR dan penyempurnaan sistem pengawasan dan pengaturan BPR. Selain itu sejalan USAID bekerjasama dengan The Asia Foundation (TAF) telah menyampaikan kerangka acuan (Term of Reference) program bantuan teknis penyehatan BPR bermasalah di wilayah Jabotabek, termasuk upaya mempertemukan BPR dengan calon investor apabila BPR tersebut memerlukan tambahan modal baru. Dalam hal ini telah diundang 40 BPR bermasalah di wilayah Jabotabek pada acara presentasi TAF dan USAID pada 24 September 2002 di BI. Dari 40 BPR, 26 diantaranya telah menyatakan minat untuk mengikuti program TAF dimaksud. Selanjutnya juga telah
11

Terdiri dari Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Ekspress, Bank Arthamedia dan Bank Patriot.

dilakukan kerjasama dengan akademisi dalam rangka pelaksanaan penyusunan Blue Print BPR melalui Base

154

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Line Survey untuk BPR di wilayah Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Dalam rangka mempromosikan berbagai inisiatif dan pendekatan keuangan mikro yang bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan dan menggerakkan ekonomi rakyat, BI mendukung terselenggaranya Temu Nasional dan Bazar Keuangan Mikro pada Juli 2002. Sebagai tindak lanjutnya direncanakan akan dibentuk Pusat Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di BI yang akan berfungsi sebagai: (i) pusat informasi keuangan mikro bagi stakeholders yang membutuhkan; (ii) pemberi bantuan teknis bagi LKM; dan (iii) memfasilitasi kerjasama antara lembaga keuangan formal dan LKM (linkage program) untuk meningkatkan outreach LKM dalam melayani usaha mikro. Bank Permata.11 Walaupun jumlah bank mengalami penurunan, namun jumlah kantor bank meningkat dari 6.765 kantor pada akhir 2001 menjadi 7.001 kantor pada akhir 2002. Peningkatan jumlah kantor tersebut terutama terjadi pada kelompok bank swasta devisa Perkembangan Bank Umum Kelembagaan Hingga akhir 2002, jumlah bank yang masih beroperasi menjadi 141 bank, turun sebanyak 4 bank dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena adanya merger 5 BUSN pada September 2002 menjadi
(Triliun Rp)

Grafik 8.1 Pangsa Aset Per Kelompok Bank

dan bank persero (Tabel 8.1). Dari 141 bank tersebut, pemerintah mempunyai kepemilikan terhadap 37 bank (26,24%) yang terdiri dari 5 bank BUMN, 3 eks BTO, 3 bank rekap dan 26 BPD terdiri dari 12 BPD Rekap dan 14 BPD Nonrekap. Sedangkan sisanya sebanyak 69 bank kategori A dan

Tabel 8.2 Indikator Kinerja Bank Umum
Indikator Total Asset Dana Pihak Ketiga Kredit LDR (%) NPL - gross (%) NPL - net (%) Modal CAR Laba (Rugi) Sebelum Pajak Net Interest Income (178,6) (61,2) (75,4) (38,6) 10,5 22,8 13,1 37,8 21,9 42,9 1998 895,5 625,3 545,5 72,4 48,6 34,7 (129,8) (15,7) 1999 1.006,7 617,6 277,3 26,2 32,8 7,3 (41,2) (8,1) 2000 1.030,5 699,1 320,4 33,2 18,8 5,8 53,5 12,5 2001 1.099,7 797,4 358,6 33,0 12,1 3,6 62,3 20,5 2002 1.112,2 835,8 410,3 38,2 8,3 2,9 93,0 22,5

Grafik 8.2 Komposisi Aktiva Produktif

155

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

1 bank Eks BTO yang telah didivestasi (49,64%) dimiliki swasta nasional, 24 bank campuran (17,02%) dimiliki oleh swasta nasional dan asing, dan sebanyak 10 bank asing (7,09%) dimiliki oleh pihak asing.
Giro - Rupiah - Valas Deposito - Rupiah - Valas

Tabel 8.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Perbankan
Keterangan Posisi (Triliun Rp) 2000 161,5 103,6 57,9 384,7 296,7 88,0 152,9 699,1 553,2 145,9 2001 186,2 120,0 66,2 439,9 344,9 95,1 171,3 797,4 636,2 161,2 2002 197,0 130,2 66,8 446,2 364,6 81,6 192,6 835,8 687,4 148,4 Pertumbuhan (%) 2001 15,3 15,8 14,3 14,4 16,2 8,0 12,0 14,1 15,0 10,5 2002 5,8 8,5 0,9 1,4 5,7 (14,1) 12,4 4,8 8,1 (8,0) Pangsa (%) 2001 23,3 64,5 35,5 55,2 78,4 21,6 21,5 100,0 79,8 20,2 2002 23,6 66,1 33,9 53,4 81,7 18,3 23,0 100,0 82,2 17,8

Kegiatan Usaha Bank Umum Secara umum, kinerja bank umum pada tahun laporan menunjukkan kecenderungan yang membaik, walaupun pada beberapa indikator mengalami pertumbuhan yang sedikit melambat. Perbaikan tersebut tercermin pada terus berlangsungnya proses pemulihan fungsi intermediasi perbankan yang ditunjukkan dengan peningkatan penyaluran kredit baru, LDR, rasio kredit terhadap aktiva produktif, dan rasio pendapatan bunga kredit terhadap total pendapatan bunga. Selain itu, perbaikan ini juga terlihat dari meningkatnya permodalan dan profitabilitas, serta membaiknya kualitas kredit. Perbaikan kinerja perbankan tersebut tidak terlepas dari membaiknya kondisi ekonomi makro dan moneter seperti tercermin dari menurunnya suku bunga SBI, terkendalinya laju inflasi dan menguatnya nilai tukar rupiah.

Tabungan Total - Rupiah - Valas

19,4% (Rp216,2 triliun) dan bank Kategori A sebesar 11,1% (Rp123,9 triliun). Seiring dengan meningkatnya portofolio kredit dan jumlah obligasi pemerintah yang diperdagangkan di pasar sekunder serta program asset to bond swap, komposisi aktiva produktif perbankan pada tahun laporan mengalami pergeseran. Bila pada tahun-tahun sebelumnya aktiva produktif didominasi oleh obligasi pemerintah, maka pada tahun laporan mulai beralih ke kredit (Grafik 8.2). Porsi kredit mengalami peningkatan dari sebesar

Total Aset dan Aktiva Produktif Total aset perbankan secara agregat mengalami peningkatan sebesar 1,1% dibandingkan pada 2001 sehingga menjadi Rp1.112,2 triliun. Peningkatan aset tersebut terutama didorong oleh meningkatnya portofolio kredit yang disalurkan dan portofolio SBI (Tabel 8.2). Dari sisi kepemilikan aset per kelompok bank, kelompok bank BUMN memiliki pangsa terbesar dari total aset perbankan yaitu 46,4% (Rp516,6 triliun), diikuti dengan kelompok eks BTO sebesar

34,8% pada Desember 2001 menjadi 40,1% pada akhir tahun laporan, sementara porsi obligasi pemerintah turun dari 38,5% menjadi 35,2%. Kelompok bank yang memiliki porsi kredit terbesar adalah kelompok eks bank campuran (63,0%), diikuti kelompok bank kategori A (55,2%), dan BPD (46,0%). Sementara kelompok bank yang masih memiliki porsi obligasi pemerintah terbesar adalah kelompok bank BUMN (50,4%), diikuti kelompok bank rekap (45,7%) dan kelompok eks BTO (43,3%).

156

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

triliun pada 2001 menjadi Rp835,8 triliun. Penghimpunan Dana Seiring dengan membaiknya kondisi Peningkatan tersebut lebih rendah bila dibandingkan pada 2001 yang mencapai 14,1% atau sebesar Rp98,3 triliun. Jika menggunakan kurs tetap (Desember 2000), maka DPK perbankan pada 2002 mengalami peningkatan sebesar Rp61,8 triliun atau 7,9%, juga lebih rendah dibandingkan pada 2001 yang meningkat sebesar Rp85,8 triliun atau 12,3% (Tabel 8.3). Lebih rendahnya pertumbuhan DPK pada tahun

perekonomian yang tercermin dari peningkatan PDB dan pulihnya kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional, DPK perbankan tercatat menunjukan peningkatan. Secara nominal, DPK perbankan selama 2002 mengalami peningkatan sebesar 4,8% atau sebesar Rp38,5 triliun dari Rp797,4

Tabel 8.4 Perkembangan Posisi Kredit Perbankan
Keterangan 2000 Sektor Ekonomi - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Listrik, Air dan Gas - Konstruksi - Perdagangan - Pengangkutan - Jasa Dunia Usaha - Jasa Sosial - Lainnya Total Jenis Penggunaan - Kredit Investasi - Kredit Konsumsi Total Kelompok Bank - Bank BUMN - Bank Rekap - Eks BTO - Bank Kategori A - BPD - Bank Campuran - Bank Asing Total Jenis Valuta - Rupiah - Valas Total
1) 1)

Posisi (Triliun Rp) 2001 2002

Pertumbuhan (%) 2001 2002 2001

Pangsa (%) 2002

20,0 5,3 110,5 5,1 7,2 46,2 7,3 26,5 2,9 52,0 283,1 174,0 68,8 40,3 283,1 142,7 36,3 21,4 32,4 11,5 29,4 46,9 320,5 178,0 142,4 320,5

21,3 3,1 118,7 5,1 8,2 49,3 7,6 27,7 3,6 71,5 316,0 181,6 75,8 58,6 316,1 159,9 27,7 35,5 44,7 17,1 29,2 44,7 358,6 228,6 130,1 358,6

22,7 3,9 122,7 4,4 9,4 66,3 2,6 31,8 4,6 92,9 371,1 206,6 84,4 80,0 371,1 185,4 21,3 59,7 59,1 23,3 25,1 36,3 410,3 296,9 113,4 410,3

6,5 (41,7) 7,4 (0,6) 14,4 6,6 3,7 4,5 20,8 37,6 11,6 4,4 10,2 45,5 11,6 12,1 (23,6) 65,9 38,0 48,5 (0,6) (4,7) 11,9 28,4 (8,7) 11,9

6,5 27,3 3,4 (14,0) 13,9 34,4 65,6 14,6 28,5 29,8 17,4 13,8 11,3 36,5 17,4 16,0 (23,1) 68,2 32,2 36,8 (13,9) (18,7) 14,4 29,9 (12,8) 14,4

6,7 1,0 37,5 1,6 2,6 15,6 2,4 8,8 1,1 22,6 100,0 57,5 24,0 18,5 100,0 44,6 7,7 9,9 12,5 4,8 8,1 12,5 100,0 63,7 36,3 100,0

6,1 1,1 33,1 1,2 2,5 17,9 3,4 8,6 1,2 25,0 100,0 55,7 22,8 21,6 100,0 45,2 5,2 14,5 14,4 5,7 6,1 8,9 100,0 72,4 27,6 100,0

- Kredit Modal Kerja

Keterangan : 1) Tidak termasuk kredit penerusan (channeling)

157

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

laporan di samping dipengaruhi oleh turunnya suku bunga simpanan sejalan dengan trend penurunan suku bunga SBI, juga adanya alternatif penanaman dana bagi masyarakat yang memberikan return yang lebih tinggi daripada deposito seperti reksa dana. Dilihat dari pangsa komponen DPK, deposito masih tetap mendominasi yaitu sebesar 53,4%, namun mengalami penurunan sebesar 1,8 poin dibandingkan pada 2001. Sedangkan porsi giro sebesar 23,6% atau naik 0,3 poin dibandingkan 2001, dan porsi tabungan sebesar 23,0% atau naik 1,5 poin dibandingkan dengan

2001.

Intermediasi Perbankan Selama tahun laporan, proses pemulihan fungsi intermediasi perbankan terus menunjukkan

perbaikan. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan outstanding kredit dan realisasi penyaluran kredit baru serta terjadinya perubahan struktur aktiva produktif bank. Kredit perbankan terus menunjukkan trend yang meningkat, terutama kredit rupiah, sementara kredit
(Miliar Rp)

Tabel 8.5 Perkembangan Realisasi Kredit Baru
Keterangan 2001 Trw I Trw II 2002 Trw III Trw IV Jumlah Pertumbuhan (%) Porsi (%)

Sektor Ekonomi - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Listrik, Air, dan Gas - Konstruksi - Perdagangan - Pengangkutan - Jasa Dunia Usaha - Jasa Sosial - Lainnya Total Kelompok Bank - Bank BUMN - Bank Rekap - Eks BTO - Bank Kategori A - BPD - Bank Campuran - Bank Asing Total Jenis Penggunaan - Kredit Modal Kerja - Kredit Investasi - Kredit Konsumsi Total

2.579 1.972 18.390 367 1.703 10.785 2.309 6.371 989 11.352 56.817

464 520 3.496 9 286 2.224 569 2.068 85 2.837 12.557

755 63 3.732 13 477 3.725 2.350 2.891 138 3.339 17.484

768 98 11.061 280 2.751 6.488 2.536 2.491 216 3.458 30.146

606 711 5.027 23 869 4.183 1.566 3.251 147 2.845 19.229

2.593 1.392 23.316 325 4.382 16.621 7.022 10.701 586 12.478 79.416

0,5 (29,4) 26,8 (11,5) 157,3 54,1 204,2 68,0 (40,7) 9,9 39,8

3,3 1,8 29,4 0,4 5,5 20,9 8,8 13,5 0,7 15,7 100,0

12.894 2.819 13.069 17.417 1.584 2.655 6.378 56.817

3.129 713 3.761 3.001 308 429 1.217 12.557

5.103 936 4.345 5.852 453 322 474 17.484

10.362 1.905 7.969 7.446 722 992 750 30.146

4.244 1.363 5.028 6.780 485 724 605 19.229

22.838 4.916 21.103 23.079 1.968 2.468 3.045 79.416

77,1 74,4 61,5 32,5 24,2 (7,1) (52,3) 39,8

28,8 6,2 26,6 29,1 2,5 3,1 3,8 100,0

38.230 10.120 8.467 56.817

7.717 2.169 2.672 12.558

10.489 4.108 2.887 17.484

19.890 7.063 3.193 30.146

12.180 4.198 2.850 19.229

50.276 17.538 11.603 79.417

31,5 73,3 37,0 39,8

63,3 22,1 14,6 100,0

158

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain (Miliar Rp)

Tabel 8.6 Perkembangan Kredit UKM (pagu di bawah Rp5 miliar)
Keterangan 2001 Trw I Trw II 2002 Trw III Trw IV Jumlah Pertumbuhan (%) Porsi (%)

Kelompok Bank - Bank BUMN - Bank Rekap - Eks BTO - Bank Kategori A - BPD - Bank Campuran - Bank Asing Total % terhadap Total Kredit Baru

3.887 1.491 7.430 8.909 1.324 322 427 23.790 41,9

981 379 1.945 2.005 270 61 123 5.765 45,9

1.747 452 2.659 3.124 418 120 127 8.647 49,5

1.811 601 3.234 3.709 713 110 102 10.280 34,1

1.817 577 2.214 2.677 382 184 111 7.962 46,3

6.356 2.009 10.053 11.516 1.782 476 462 32.654 41,1

63,5 34,7 35,3 29,3 34,6 47,8 8,4 37,3 -

19,5 6,2 30,8 35,3 5,5 1,5 1,4 100,0 -

valas berfluktuasi karena adanya pengaruh perubahan nilai tukar (Tabel 8.4). Secara nominal, outstanding kredit pada Desember 2002 sebesar Rp410,3 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp51,6 triliun (14,4%), lebih besar dibandingkan dengan peningkatan pada 2001 sebesar Rp38,2 triliun (11,9%). Namun apabila pengaruh perubahan nilai tukar dihilangkan dengan menggunakan kurs tetap (Desember 2000), outstanding kredit selama 2002 mengalami peningkatan sebesar Rp70 triliun (20,1%) atau lebih besar dari peningkatan pada 2001 yang hanya

mencapai Rp28,1 triliun (8,8%). Berdasarkan sektor usahanya, urutan sektor yang memperoleh penyaluran kredit terbesar tidak mengalami perubahan bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Sektor perindustrian mempunyai porsi terbesar (33,1%), diikuti sektor perdagangan (17,9%), sektor jasa-jasa dunia usaha (8,6%) dan sektor pertanian (6,1%). Sektor usaha yang mengalami pertumbuhan kredit terbesar pada 2002 adalah sektor pengangkutan (65,6%), sektor perdagangan (34,4%), sektor jasa sosial (28,5%) dan sektor pertambangan (27,3%). Sementara berdasarkan jenis

penggunaannya, pangsa kredit masih didominasi oleh Kredit Modal Kerja (KMK) yakni sebesar Rp206,6 triliun (55,7%), sementara Kredit Investasi (KI) sebesar Rp84,4 triliun (22,8%) dan Kredit Konsumsi (KK) sebesar Rp80 triliun (21,6%). Namun bila dilihat dari pertumbuhannya, KK yang mengalami pertumbuhan terbesar yakni sebesar 36,5%, diikuti KMK sebesar 13,8% dan KI sebesar 11,3% (Tabel 8.4). Selama tahun laporan, perbankan mampu
Grafik 8.3 Perkembangan DPK, Kredit dan LDR

menyalurkan kredit baru sebesar Rp79,4 triliun atau meningkat Rp22,6 triliun (39,8%) bila dibandingkan

159

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Grafik 8.4 Perkembangan NPLs

Grafik 8.5 Perkembangan Net Interest Income (NII)

dengan penyaluran kredit baru pada 2001 yang hanya mencapai Rp56,8 triliun. Secara rata-rata, penyaluran kredit baru selama 2002 sebesar Rp6,6 triliun perbulan atau meningkat Rp1,9 triliun (38,6%) bila dibandingkan pada 2001 yang hanya sebesar Rp4,7 triliun perbulan (Tabel 8.5). Sama seperti tahun sebelumnya, KMK masih mendominasi realisasi penyaluran kredit baru pada 2002, yakni sebesar Rp50,3 triliun atau 63,3% dari total kredit baru. Sementara KI sebesar Rp17,5 triliun (22,1%) dan KK sebesar Rp11,6 triliun (14,6%). Satu hal yang cukup menggembirakan adalah terjadinya peningkatan pada penyaluran KI sebesar 73,3% dari Rp10,1 triliun pada 2001 menjadi sebesar Rp17,5 triliun pada tahun laporan (Tabel 8.5). Dari total kredit baru yang disalurkan selama 2002 tersebut, sebesar Rp32,7 triliun atau 41,1% merupakan penyaluran kredit kepada debitur dengan pagu kredit di bawah Rp5 miliar yang merupakan kredit mikro, KUK dan Kredit Usaha Menengah. Sementara proporsi setiap bulannya berfluktuasi antara 32,0%-64,3%. Meningkatnya pangsa kredit baru

ke sektor UKM disebabkan beberapa bank melakukan perubahan orientasi dari korporat menjadi retail. Peningkatan penyaluran kredit baru selama periode laporan berhasil mendorong peningkatan LDR yang pada akhir periode laporan mencapai 38,2% atau meningkat bila dibandingkan dengan akhir 2001 yang mencapai 33,0%. Walaupun mengalami peningkatan, namun LDR tersebut masih jauh dibawah target ideal sebesar 70,0%-80,0%. Rendahnya LDR pasca krisis tersebut terjadi karena besarnya komponen obligasi pemerintah dalam aktiva produktif perbankan yang terus terbawa ke periode berikutnya. Dengan membaiknya kondisi perekonomian, penurunan laju inflasi dan suku bunga, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit yang signifikan ke depan (Grafik 8.3).

Kualitas Kredit Perbankan Kualitas kredit perbankan yang tercermin dari nilai nominal NPLs dan rasio NPLs menunjukkan perbaikan. Nilai nominal NPLs perbankan turun dari Rp43,4 triliun pada Desember 2001 menjadi Rp33,2

160

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.7 Perkembangan Jaringan Kantor Perbankan Syariah Uraian
BUS UUS Jumlah Kantor Bank BPR Syariah
1992 1999 2000 2001 2002

1 0 1 9

2 1 40 78

2 3 62 78

2 3 96 81

2 6 127 83

plan-nya.
Grafik 8.6 Perkembangan Modal Perbankan

Profitabilitas Walaupun pada 2002 terjadi trend penurunan suku bunga, baik SBI maupun FASBI, yang juga

triliun pada Desember 2002. Perbaikan tersebut sebagian besar disebabkan oleh upaya-upaya restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh perbankan sendiri maupun penghapusbukuan kredit. Sejalan dengan penurunan nominal NPLs dan meningkatnya outstanding kredit perbankan, maka rasio NPLs-gross perbankan membaik dari 12,1% pada Desember 2001 menjadi 8,3% pada Desember 2002, sementara NPLsnet membaik dari 3,6% menjadi 2,9% (Grafik 8.4). Sampai dengan akhir tahun laporan, jumlah bank yang masih mempunyai rasio net NPLs di atas 5,0% berjumlah 20 bank, berkurang 25 bank bila dibandingkan dengan posisi Desember 2001. Kondisi tersebut menyebabkan target indikatif rasio NPLs neto di bawah 5,0% pada Desember 2002 sulit untuk tercapai, terlebih setelah perbankan juga menghadapi permasalahan adanya potensi memburuknya kualitas kredit sebagai dampak tragedi Bali, sehingga BI memutuskan untuk menunda sampai Juni 2003. Terhadap bank-bank yang belum dapat memenuhi target tersebut, BI meminta untuk menyusun action plan pencapaian NPLs neto di bawah 5,0% dalam business

berdampak pada penerimaan kupon obligasi pemerintah seri Variable Rate Bond (VRB), namun perbankan masih mampu membukukan Net Interest Income (NII) yang positif dan bahkan lebih tinggi dari 2001 ketika terjadi trend peningkatan suku bunga. Selama 2002, perbankan mampu membukukan NII sebesar Rp42,9 triliun, sementara pada 2001 hanya sebesar Rp37,8 triliun. Meningkatnya perolehan NII tersebut disebabkan oleh meningkatnya penyaluran kredit baru dan masih relatif tingginya suku bunga kredit sehingga penerimaan bunga kredit cukup tinggi, dilain pihak suku bunga deposito (cost of fund) mengalami penurunan yang cukup tajam mengikuti penurunan suku bunga SBI. Seiring dengan peningkatan perolehan NII, laba sebelum pajak yang diperoleh perbankan juga meningkat dari Rp13,1 triliun pada 2001 menjadi Rp21,9 triliun pada 2002 (Grafik 8.5).

Permodalan dan CAR Permodalan bank secara keseluruhan mengalami peningkatan dari Rp62,3 triliun pada Desember 2001

161

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Grafik 8.7 Perkembangan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah

Grafik 8.8 Perkembangan Penghimpunan Dana Perbankan Syariah

menjadi Rp93,0 triliun pada akhir periode laporan. Peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari setoran modal sebesar Rp8,3 triliun, pembentukan cadangan modal Rp2,7 triliun, koreksi kerugian tahun sebelumnya Rp12,3 triliun dan laba tahun berjalan Rp7,0 triliun. Peningkatan posisi modal terutama terjadi pada kelompok bank BUMN yang meningkat sebesar Rp14,0 triliun, diikuti kelompok bank asing Rp5,6 triliun dan kelompok eks BTO Rp4,5 triliun (Grafik 8.6). Membaiknya kualitas aktiva perbankan yang diiringi dengan peningkatan permodalan bank, mendorong peningkatan CAR. Pada akhir 2002, CAR untuk keseluruhan bank umum mencapai 22,5% atau meningkat 199 poin bila dibandingkan dengan akhir 2001 sebesar 20,5%. Namun bila dilihat secara individu
(Persen) Tabel 8.8
Perkembangan Pangsa Kegiatan Usaha Perbankan Syariah terhadap Perbankan Nasional

masih terdapat 3 bank yang memiliki CAR di bawah 8,0%.

Perkembangan Perbankan Syariah Sebagai industri keuangan yang relatif baru, perbankan syariah pada 2002 memperlihatkan pertumbuhan yang cukup pesat. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dan cukup tingginya pertumbuhan aset, DPK maupun PYD. Selain itu pasar keuangan syariah juga mulai tumbuh dan semakin berkembang.

Kelembagaan Pada 2002 terdapat peningkatan jaringan kantor perbankan syariah yang ditandai dengan masuknya 3 bank umum Konvensional (BUK) yang membuka UUS serta beroperasinya 2 BPR Syariah baru. Dengan demikian sampai dengan akhir 2002 terdapat 2 bank

Keterangan Aset Dana Pihak Ketiga Pembiayaan

2000 0,17 0,15 0,40

2001 0,25 0,23 0,57

2002 0,37 0,35 0,80

umum Syariah (BUS), 6 UUS, 127 kantor bank, dan 83 BPR Syariah (Tabel 8.7) yang tersebar pada 20 propinsi di Indonesia. Sementara itu pada akhir 2002 terdapat 1 BUK yang mengajukan permohonan pembukaan UUS,

162

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

8 permohonan pembukaan kantor cabang syariah, dan 2 permohonan pendirian BPR Syariah. Seluruh permohonan yang diajukan ini masih dalam proses analisis untuk mendapatkan persetujuan.

Pertumbuhan jaringan kantor bank syariah yang kian pesat tidak terlepas dari dukungan BI baik dalam bentuk ketentuan maupun sosialisasi mengenai perbankan syariah kepada masyarakat.
Grafik 8.9 Perkembangan Pembiayaan Nonlancar (Gross) Bank Syariah

Kegiatan Usaha Total Aset Sejalan dengan bertambahnya jaringan kantor bank, kegiatan usaha perbankan syariah juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat (Grafik 8.7). Pada akhir 2002 total aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp4,1 triliun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar Rp1,4 triliun atau 50,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menyebabkan pangsa total aset perbankan syariah terhadap total aset perbankan nasional meningkat dari 0,3% pada akhir 2001 menjadi 0,4% pada akhir periode laporan (Tabel 8.8).

komponen, yaitu giro sebesar 19,7%, tabungan 38,0% dan deposito 90,4%. Dilihat dari komposisinya tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun

sebelumnya. Deposito masih mendominasi komposisi DPK dengan pangsa yang meningkat dari sebesar 50,7% pada akhir 2001 menjadi 59,8% pada akhir tahun laporan. Pesatnya pertumbuhan DPK perbankan syariah dalam dua tahun terakhir memberikan indikasi adanya respon positif dari masyarakat. Perkembangan tersebut searah dengan hasil penelitian yang dilakukan BI mengenai preferensi masyarakat terhadap

Penghimpunan Dana Secara umum pertumbuhan penghimpunan DPK perbankan syariah pada 2002 tercatat sebesar 61,5%. Tambahan DPK perbankan syariah memberikan kontribusi sebesar 2,9% dari total tambahan DPK perbankan nasional. Sementara itu kontribusi DPK terhadap total aset perbankan syariah meningkat dari 2001 sebesar 66,4% menjadi 71,4% pada 2002 (Grafik 8.8). Peningkatan DPK tersebut terjadi pada semua

perbankan syariah. Semakin banyak dan luasnya jaringan kantor serta peningkatan fasilitas pelayanan, seperti ATM bersama, menjadi faktor pendorong

Tabel 8.9 Realisasi PYD Perbankan Syariah kepada sektor UKM
Jenis 2001 20021) (Miliar Rp) Pertumbuhan (%)

BUS US BPRS
1) untuk BPRS data September 2002

299 114 113

472 149 119

57,9 30,7 5,3

163

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

pertumbuhan DPK. Di samping itu gencarnya kegiatan sosialisasi, edukasi, dan promosi yang dilakukan oleh BI, Perbankan Syariah, dan perguruan tinggi, serta Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (ASBISINDO) juga meningkatkan preferensi masyarakat terhadap perbankan syariah. Pembiayaan dan Kualitas Pembiayaan Pada 2002 pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 59,9% dari sebesar Rp2,1 triliun menjadi sebesar Rp3,3 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang meningkat sebesar 61,3%. Pembiayaan perbankan syariah masih didominasi oleh pembiayaan dengan aqad murabahah (sale with markup) yakni sebesar 70,9%, diikuti mudharabah (profit-loss sharing) 15,2%, dan musyarakah (mutual partnership profit-loss sharing) 1,8%. Sedangkan bentuk-bentuk pembiayaan lainnya seperti salam (advance purchase), istishna'–(commissioned manufacture), ijarah (operational lease), gadai (mortgage) dan hawalah (transfer services) memiliki porsi yang masih kecil. Porsi pembiayaan dengan aqad murabahah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari sebesar 69,3% pada 2001 menjadi 70,9% pada tahun laporan. Dominasi penggunaan aqad murabahah dalam pembiayaan tidak terlepas dari berbagai faktor, antara lain karakteristik pembiayaan murabahah yang returnnya dapat diprakirakan dan mempermudah Asset and Liability Management (ALMA) bank karena sumber DPK sebagian besar berasal dari dana berjangka pendek. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan BI mengenai kinerja industri BPRS di 2002 yang menyatakan bahwa pembiayaan dengan akad murabahah lebih disukai masyarakat karena

perhitungan yang mudah. Peningkatan pembiayaan perbankan syariah juga diikuti dengan upaya mempertahankan kualitas aktiva produktifnya yang tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) perbankan syariah di bawah 5,0% (Grafik 8.9). Sementara itu Financing to Deposit Ratio (FDR) bank syariah, yang diperoleh dengan membandingkan antara PYD dengan DPK, dalam tiga tahun terakhir tetap di atas 100,0%, yaitu berturutturut 123,5% (2000), 113,5% (2001) dan 112,3% (2002). Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan syariah telah berjalan dengan baik. Sejalan kebijakan umum BI untuk mendorong pengembangan sektor UKM, perbankan syariah telah memberikan respon yang cukup baik. Hal tersebut tampak dari peningkatan jumlah pembiayaan yang dialokasikan kepada sektor UKM pada 2002 yaitu 57,9% untuk BUS, 30,7% UUS dan 5,3% BPRS (Tabel 8.9). Untuk BUS portofolio pembiayaan kepada sektor UKM telah mencapai sekitar 20% dari total PYD.

Solvabilitas dan Profitabilitas Secara umum kondisi solvabilitas perbankan syariah dalam dua tahun terakhir cukup baik. Hal tersebut tampak dari CAR yang tetap di atas 8,0%, walaupun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dari 21,5% menjadi 14,8%. Penurunan CAR perbankan syariah tersebut terutama disebabkan ekspansi pembiayaan (59,9%) yang jauh lebih besar dari penambahan modal bank (16,4%). Jika trend tersebut terus berlangsung, dalam jangka pendek perbankan syariah perlu menambah modal disetor agar tetap dapat menjaga CAR di atas 8,0%.

164

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

(Miliar Rp) Tabel 8.10 Perkembangan Usaha BPR Uraian Volume Usaha Dana Pihak Ketiga Kredit Modal Disetor Laba (Rugi) Tahun Berjalan
1) Data September 2002

dialihkan kepada PYD, sehubungan dengan kebutuhan untuk ekspansi ke sektor riil.

2000 4.731 3.082 3.619 705 116

2001 6.747 4.280 4.860 936 223

20021) 8.393 5.597 6.420 1.096 294

Sementara itu aktivitas PUAS sepanjang 2002 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dan mencapai puncaknya pada Oktober 2002 dengan volume transaksi senilai Rp14,2 miliar. Peningkatan volume PUAS juga tidak terlepas dari semakin banyaknya peserta PUAS. Sebagai alternatif investasi perbankan syariah,

Pada tahun laporan perbankan syariah berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp54,1 miliar dengan Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing sebesar 1,6% dan 10,1%. Secara industri, pencapaian ROE pada 2002 lebih rendah dari periode sebelumnya yaitu sebesar 17,7%. Hal ini disebabkan masih belum dicapainya titik impas (break event point) UUS yang baru beroperasi pada tahun laporan. Namun demikian, dengan semakin banyaknya bank syariah yang beroperasi, pencapaian skala ekonomis industri perbankan syariah diharapkan akan semakin cepat. Dilain pihak penurunan suku bunga SBI yang diikuti dengan turunnya suku bunga tabungan dan deposito bank konvensional, diharapkan mampu meningkatkan daya saing perbankan syariah pada tahun-tahun mendatang.

pada 2002 untuk pertama kalinya diterbitkan obligasi syariah oleh salah satu BUMN senilai Rp100,0 miliar dari total obligasi Rp1,0 triliun. Penerbitan obligasi syariah tersebut mendapat respon yang positif dari masyarakat sehingga dalam penawaran perdana mengalami oversubscribe mencapai Rp175,0 miliar.

Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat Kelembagaan Dalam tahun laporan, jumlah BPR non BKD yang masih aktif sebanyak 2.141 BPR dan 82 BPR diantaranya beroperasi dengan prinsip syariah. Jumlah tersebut berkurang karena adanya pencabutan izin usaha BPR. Pada periode laporan BI telah mencabut ijin usaha 151 BPR (109 BPR merupakan BPR BBKU dan 42 BPR dicabut langsung), sedangkan jumlah BPR yang

Pasar Keuangan Syariah Instrumen pasar keuangan syariah meliputi Sertifikat Wadiah BI (SWBI), Pasar Uang Antarbank berdasarkan prinsip Syariah (PUAS), dan Obligasi Syariah. Posisi SWBI pada akhir 2002 tercatat sebesar Rp390 miliar, dengan rata-rata outstanding per bulan Rp319 miliar. Pada semester II-2002 terdapat kecenderungan penurunan outstanding SWBI yang

telah dibekukan sebanyak 78 BPR. Dari BPR yang diBBKU, sebanyak 8 BPR telah berhasil diselamatkan melalui proses akuisisi sehingga tidak perlu dicabut izin usahanya.

Kegiatan Usaha Industri BPR mengalami kemajuan yang sangat baik ditunjukkan dengan peningkatan total aset,

165

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.11 Perkembangan Kinerja Perusahaan Pembiayaan Keterangan
Jumlah Perusahaan2) Total Aset Nilai Kegiatan Usaha Sewa guna usaha Pembiayaan anjak piutang Pembiayaan kartu kredit Pembiayaan konsumen Lainnya Pinjaman yang Diterima3) Dalam negeri Luar negeri Obligasi Modal Disetor Laba (Rugi) Tahun Berjalan
1) Posisi sampai November 2002 2) Satuan 3) Termasuk pinjaman subordinasi

Tabel 8.12 Perkembangan Sumber dan Penggunaan Dana Perusahaan Pembiayaan Keterangan
2000 AKTIVA (Sumber Dana) Pinjaman bank - Dalam negeri - Luar negeri Pinjaman lainnya2) - Dalam negeri - Luar negeri Obligasi Modal3) Lain-lain PASIVA (Penggunaan Dana) Pembiayaan Simpanan pada bank Penyertaan Lain-lain 35,8 18,9 11,3 7,6 12,4 6,3 6,2 0,8 (2,2) 5,8 35,8 29,4 3,7 0,1 2,5 Posisi (Triliun Rp) 2001r 37,3 21,1 14,2 7,0 10,0 4,2 5,8 0,7 (0,6) 6,0 37,3 30,8 3,0 0,1 3,4 20021) 40,4 19,6 13,8 5,8 9,8 4,1 5,7 1,7 2,6 6,7 40,4 33,3 3,2 0,1 3,8 Pertumbuhan (%) 2001r 4,4 12,0 25,6 -8,2 -19,6 -33,5 -5,5 -11,2 -73,9 4,1 4,4 4,9 -20,3 -19,2 35,7 20021) 8,1 -7,5 -2,9 -16,8 -1,8 -1,4 -2,1 124,2 551,1 12,1 8,1 7,9 6,9 2,7 11,4

Posisi (Triliun Rp) 2000 245 35,8 29,4 13,7 6,6 0,4 8,5 0,2 31,3 17,6 13,7 0,8 6,1 (2,6) 2001r 246 37,3 30,8 14,1 3,3 0,8 12,4 0,3 31,1 18,4 12,8 0,7 6,8 (0,1) 20021) 247 40,4 33,3 12,8 3,3 1,1 15,4 0,6 29,4 17,9 11,5 1,7 7,6 1,5

Pertumbuhan (%) 2001r 20021) 0,4 4,4 4,9 2,9 50,0 97,3 45,2 47,4 -0,5 4,5 -7,0 -11,2 11,4 0,4 8,1 7,9 -9,1 0,4 37,2 25,0 111,5 -5,7 -2,6 -10,1 124,2 12,7 -

1) Posisi sampai November 2002 2) Termasuk pinjaman subordinasi 3) Modal bersih setelah ditambah/dikurangi laba/rugi tahun berjalan dan tahun sebelumnya serta ditambah dengan laba ditahan dan cadangan

penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Total aset BPR mengalami peningkatan sebesar 24,4% dari Rp6.747 miliar pada posisi akhir 2001 menjadi Rp8.393 miliar pada posisi akhir September 2002. Dari sisi penghimpunan dana yaitu tabungan dan deposito terjadi peningkatan. Jumlah tabungan meningkat sebesar 18,6% dari Rp1.574 miliar pada posisi akhir 2001 menjadi Rp1.867 miliar pada akhir September 2002. Sedangkan jumlah deposito meningkat sebesar 24,2% dari Rp2.706 miliar pada akhir 2001 menjadi Rp3.370 miliar pada akhir September 2002 (Tabel 8.10). Sejalan dengan peningkatan dana yang dihimpun, sisi penyaluran dana yaitu kredit yang diberikan juga mengalami peningkatan sebesar 32,1% dari Rp4.860 miliar pada akhir 2001 menjadi Rp6.420 miliar pada akhir September 2002. Kondisi tersebut

di atas menunjukan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap BPR terus meningkat dan prospeknya terus membaik. Kualitas kredit BPR juga menunjukkan perbaikan terlihat dari menurunnya NPLs dari 12,0% pada akhir 2001 menjadi 9,0% pada tahun laporan. Meningkatnya kualitas kredit tersebut diikuti dengan meningkatnya perolehan laba BPR, tercermin pada laba tahun berjalan BPR yang mengalami peningkatan 170,3% dibanding sebelumnya dari Rp223,0 miliar menjadi Rp294,0 miliar. LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA Seiring dengan membaiknya kinerja perbankan selama 2002, kinerja lembaga keuangan bukan bank seperti perusahaan pembiayaan dan Perum Pegadaian juga mengalami peningkatan, baik dilihat dari total aset, nilai kegiatan usaha maupun laba yang diperoleh.

166

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Secara tidak langsung, peningkatan kinerja perusahaan pembiayaan dan Perum Pegadaian tersebut didorong oleh perbankan. Hal ini terlihat dari meningkatnya sumber pendanaan perusahaan pembiayaan dan perum pegadaian yang bersumber dari perbankan. Di sisi lain, masih belum optimalnya fungsi intermediasi perbankan telah membuka peluang kepada perusahaan pembiayaan dan Perum Pegadaian menjadi alternatif sumber pendanaan, khususnya bagi masyarakat dan pengusaha golongan kecil dan menengah, sehingga peranannya mengalami peningkatan. Perusahaan Pembiayaan Secara umum kinerja perusahaan pembiayaan selama 2002 menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Peningkatan kinerja tersebut tercermin dari meningkatnya total aset, nilai kegiatan usaha dan perolehan laba tahun berjalan. Sampai dengan November 2002, total aset perusahaan pembiayaan mengalami peningkatan sebesar 8,1% dibanding

dengan tahun sebelumnya, dari Rp37,3 triliun menjadi Rp40,4 triliun. Sementara nilai kegiatan usahanya (pembiayaan) meningkat sebesar 7,9% dari Rp30,8 triliun menjadi Rp33,3 triliun. Perkembangan lain yang cukup menggembirakan adalah perolehan laba tahun berjalan sebesar Rp1,5 triliun, setelah beberapa tahun sebelumnya selalu mengalami kerugian (Tabel 8.11). Pada tahun laporan, perkembangan kegiatan usaha perusahaan pembiayaan mengalami sedikit perubahan. Jika pada periode-periode sebelumnya kegiatan sewa guna usaha selalu mendominasi, maka pada tahun laporan bergeser menjadi pembiayaan konsumen yaitu sebesar Rp15,4 triliun (46,4%). Sementara kegiatan sewa guna usaha sebesar Rp12,8 triliun (38,6%), pembiayaan anjak piutang Rp3,3 triliun (9,9%) dan pembiayaan kartu kredit Rp1,1 triliun (3,3%). Jika dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya, hanya jenis kegiatan sewa guna usaha yang mengalami penurunan yaitu sebesar 9,1%, sementara kegiatan lainnya mengalami peningkatan.

Tabel 8.13 Rincian Pembiayaan Menurut Sektor Ekonomi
Keterangan 2000 Nilai Pembiayaan (Triliun Rp) 2001r 20021) 2001r Porsi (%) 20021) Pertumbuhan (%) 2001r 20021)

Pertanian Pertambangan Perindustrian Listrik, Air, dan Gas Konstruksi Perdagangan Pengangkutan Jasa Dunia Usaha Jasa Sosial Lain-Lain Jumlah
1) Sampai November 2002

0,7 0,3 6,3 0,2 2,0 5,1 2,3 0,8 0,6 11,0 29,4

0,6 0,4 6,1 0,1 2,0 4,4 2,4 0,9 0,6 13,3 30,8

0,4 0,7 5,0 0,1 1,7 4,7 2,6 0,9 1,1 16,0 33,3

1,9 1,4 19,8 0,4 6,4 14,2 7,8 3,0 2,1 43,1 100,0

1,3 2,0 15,2 0,2 5,2 14,2 7,9 2,8 3,3 48,0 100,0

-20,9 23,3 -2,5 -34,7 -0,3 -14,7 2,5 16,3 11,0 20,5 4,9

-26,6 57,1 -17,4 -50,4 -13,2 7,9 9,6 -1,2 72,1 20,2 7,9

167

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Peningkatan terbesar terjadi pada kegiatan pembiayaan kartu kredit dan pembiayaan konsumen yaitu masing-masing meningkat sebesar 37,2% dan 25,0%. Hal ini sejalan dengan perkembangan konsumsi domestik yang mengalami peningkatan dibanding dengan tahun sebelumnya dan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi (Tabel 8.11). Sampai dengan November 2002, sumber dana yang berhasil dihimpun perusahaan pembiayaan meningkat sebesar Rp3,0 triliun atau naik 8,1% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya. Peningkatan sumber dana tersebut berasal dari obligasi, setoran modal dan perolehan laba tahun berjalan. Sementara itu, pinjaman yang diterima baik dari dalam negeri maupun luar negeri mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,6% dan 10,1%. Sumber utama pendanaan perusahaan pembiayaan pada tahun laporan masih berasal dari pinjaman bank dalam negeri yakni sebesar 34,2%, sementara
(Persen) Tabel 8.14 Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif Perusahaan Pembiayaan 2000 Aktiva Produktif Pembiayaan : - Sewa guna usaha - Anjak piutang - Kartu kredit - Pembiayaan konsumen Surat Berharga yang Dimiliki Penyertaan Total Aktiva Produktif 70,6 7,1 22,3 78,4 5,3 16,3 82,2 4,2 13,6 88,0 0,2 11,7 85,3 6,1 97,7 2,3 93,1 0,2 8,6 83,3 6,8 96,9 3,6 13,1 3,0 0,1 94,7 1,6 3,7 96,3 1,7 2,1 97,2 1,5 1,4 42,7 4,2 53,1 28,9 6,4 66,8 1,5 31,7 75,7 2,3 64,7 30,6 22,0 94,0 6,3 63,1 3,6 2,4 L D M L 2001r D M L 20021) D M

Grafik 8.10 Perkembangan Kinerja Perum Pegadaian

pinjaman bank luar negeri sebesar 14,3%. Untuk pinjaman selain bank sebesar 24,3%, yang bersumber dari dalam negeri sebesar 10,2% dan luar negeri sebesar 14,1% (Tabel 8.12). Dari sisi penggunaan dana, komposisinya juga tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagian besar dana perusahaan pembiayaan disalurkan dalam bentuk pembiayaan kegiatan usaha, yaitu sebesar Rp33,3 triliun atau 82,4% dari total dana yang dimiliki (Tabel 8.12). Seiring dengan membaiknya perekonomian, aktivitas pembiayaan yang dilakukan perusahaan pembiayaan pada tahun laporan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 4,9% pada 2001 menjadi 7,9% sampai November 2002. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan

69,7 7,4 22,8 78,0 5,3 69,0 12,4 18,6 76,5 7,8

16,7 82,2 15,7 78,8

4,2 13,6 6,6 14,6

penerimaan perusahaan pembiayaan, sehingga pada tahun laporan berhasil mencatat laba sebesar Rp1,5 triliun setelah beberapa tahun sebelumnya selalu mengalami kerugian. Dampak dari perolehan laba tahun berjalan ditambah dengan peningkatan setoran modal menyebabkan modal bersih perusahaan

L = Lancar, D = Diragukan, M = Macet 1) Sampai November 2002

168

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

pembiayaan pada tahun laporan menjadi positif sebesar Rp2,6 triliun. Penyaluran dana perusahaan pembiayaan pada tahun laporan masih bertumpu pada sektor perindustrian dan perdagangan yang masing-masing memperoleh pembiayaan sebesar Rp5,0 triliun (15,2%) dan Rp4,7 triliun (14,2%). Untuk sektor perindustrian, jumlah penyaluran pada tahun laporan mengalami penurunan dibandingkan selama 2001 yang mencapai Rp6,1 triliun. Sementara sektor lain yang memperoleh pembiayaan cukup signifikan adalah sektor pengangkutan sebesar Rp2,6 triliun dan sektor konstruksi sebesar Rp1,7 triliun (Tabel 8.13). Dilihat dari kolektibilitasnya, kualitas aktiva produktif perusahaan pembiayaan yang terdiri dari kegiatan pembiayaan (sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit dan pembiayaan konsumen), surat berharga yang dimiliki dan penyertaan menunjukkan perkembangan yang membaik
Omzet

Kinerja Perum Pegadaian selama 2002 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, sebagaimana tercermin dari peningkatan total aset, pinjaman yang diberikan, pendapatan usaha dan perolehan laba tahun berjalan. Total aset Perum Pegadaian mengalami peningkatan sebesar 31,2%, pinjaman yang diberikan meningkat 31,0%, pendapatan usaha meningkat 40,5% dan laba tahun berjalan meningkat 8,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan kinerja tersebut didukung oleh ekspansi jaringan pelayanan dengan mendirikan kantor cabang baru dan program diversifikasi produk (Grafik 8.10). Terus meningkatnya permintaan masyarakat akan layanan Perum Pegadaian yang terlihat dari trend peningkatan nasabah,
(Juta Rp)

Tabel 8.15 Perkembangan Kinerja Perum Pegadaian
Rincian
Jumlah Kantor Cabang2)

1999
649 3.229.280 449.087 417.370 16 10 25.319 6.372

2000
659 4.230.778 377.162 341.936 16 11 31.270 3.929

2001r
706 5.970.310 552.358 500.562 27 18 47.033 4.718

20021)
737 7.823.704 776.203 699.094 42 28 71.827 5.212

dibanding dengan tahun sebelumnya. Kualitas aktiva produktif dalam kategori lancar meningkat dari 78,4% menjadi 82,2%. Sementara pangsa aktiva produktif yang bermasalah, yaitu kategori diragukan dan macet, juga mengalami perbaikan. Untuk kategori diragukan turun dari 5,3% menjadi 4,2% dan kategori macet turun dari 16,3% menjadi 13,6%. Jika dirinci menurut jenis pembiayaannya, kegiatan anjak piutang memiliki kualitas aktiva yang terburuk yaitu dengan pangsa kategori macet mencapai 63,1%. Sedangkan kualitas aktiva produktif yang terbaik dimiliki oleh pembiayaan konsumen dengan porsi kredit macet hanya sebesar 1,4% (Tabel 8.14).

Pendapatan Usaha - Sewa Modal - Jasa Taksiran - Jasa Titipan - Penyimpanan & Asuransi - Lainnya Posisi Pasiva - Kewajiban Jangka Pendek a. Hutang Bank b. Hutang Promes c. Obligasi Jatuh Tempo d. Lainnya - Obligasi - Kewajiban Jangka Panjang - Ekuitas Laba (Rugi) Tahun Berjalan Jumlah Nasabah3)

454.176 243.612 120.067 60.272 63.272 389.556 100.000 409.553 61.755 12.427.554 2) 157.631 50.000 199.710 46.835 439.486 105.000 415.256 46.838 12.982.306 480.568 252.363 50.000 99.750 78.455 636.672 200.000 475.614 80.851 15.692.229 898.737 600.858 105.000 64.600 128.279 873.060 95.000 486.320 87.505 17.490.235

Perum Pegadaian

1) Berdasarkan laporan operasional Desember 2002 Satuan/unit 3) Orang

169

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

mendorong Perum Pegadaian untuk menambah kantor cabang. Selama 2002, Perum Pegadaian berhasil menambah 31 kantor cabang baru diseluruh Indonesia, sehingga jumlah kantor cabangnya meningkat menjadi 737 kantor cabang pada akhir tahun laporan. Perluasan jaringan kantor tersebut mendorong peningkataan jumlah nasabah yang berhasil dilayani sebesar 11,5% menjadi sebanyak 17,5 juta nasabah. Dilihat dari komposisinya, sebagian besar nasabah Perum Pegadaian adalah pedagang dengan pangsa sebesar 23,2%, disusul petani sebesar 21,6%, karyawan 15,5% dan nelayan 5,8% (Tabel 8.15). Sementara untuk mengantisipasi maraknya persaingan dalam bisnis gadai, Perum Pegadaian selama tahun laporan berhasil meluncurkan dua produk unggulan, yaitu gadai gabah dan gadai syariah. Peluncuran program gadai gabah ini merupakan terobosan Perum Pegadaian untuk memberikan manfaat bagi petani dan menghindarkan petani dari jeratan pengijon. Dalam pelaksanaannya, perum pegadaian bekerja sama dengan agen maupun KUD sebagai pelaksana. Sementara peluncuran produk gadai syariah bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada nasabah yang membutuhkan pinjaman yang bebas dari unsur riba. Produk gadai syariah ini diprakirakan akan cepat berkembang dan memberikan kontribusi yang cukup besar, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dan makin maraknya bisnis yang menggunakan sistem syariah. Penambahan kantor cabang dan diversifikasi produk tersebut berhasil meningkatkan omzet kegiatan usaha (pinjaman yang diberikan) oleh Perum

memberikan pinjaman kepada masyarakat sebesar Rp7,8 triliun atau meningkat 31,0% dibandingkan 2001. Peningkatan jumlah pinjaman yang diberikan tersebut berdampak pada peningkatan pendapatan usaha secara signifikan sehingga mencapai menjadi Rp77,2 miliar atau meningkat 40,5%. Kontribusi peningkatan pendapatan usaha tersebut tetap diberikan oleh kegiatan utamanya yaitu sewa modal yang mencapai 90,1%. Kegiatan usaha lainnya yang memberikan kontribusi cukup besar adalah penyimpanan dan asuransi sebesar 9,3%. Peningkatan pendapatan usaha dan berbagai upaya efisiensi yang dilakukan Perum Pegadaian berhasil meningkatkan perolehan laba tahun berjalan. Selama tahun 2002, Perum Pegadaian memperoleh laba sebesar Rp87,5 miliar atau meningkat sebesar Rp6,7 miliar (8,2%) dibandingkan perolehan laba 2001 (Tabel 8.15). Dari sisi sumber dana, sebagian besar berasal dari penerbitan obligasi, yaitu sebesar Rp873,1 miliar atau 37,1% dari total dana yang dimiliki. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp236,4 miliar atau 37,1% dari posisi tahun sebelumnya. Berdasarkan berbagai indikator kinerja Perum Pegadaian yang mengalami peningkatan, pada tahun laporan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat A+ (stable outlook) untuk obligasi yang diterbitkan oleh Perum Pegadaian. Sementara pinjaman dana dari bank sebesar Rp600,9 miliar atau 25,5% dari total dana. Jumlah tersebut juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp252,4 miliar. Sumber dana lainnya adalah modal sendiri sebesar 20,7%, pinjaman jangka pendek selain bank 12,7% dan pinjaman jangka panjang 4%.

170

Pegadaian. Selama 2002, Perum Pegadaian berhasil

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

b o k s

Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank

Berkembangnya produk dan permasalahan perbankan mengisyaratkan perlunya terus dilakukan upaya penyempurnaan ketentuan dan prosedur pengawasan sehingga dapat diwujudkan suatu format pengawasan bank yang efektif yang selaras dengan standar internasional. Untuk tujuan ini, Basel Committe pada September 1997 telah mengeluarkan dokumen “25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision” yang pada dasarnya memuat prinsip-prinsip pokok yang dapat dijadikan pedoman dalam rangka meningkatkan stabilitas keuangan baik domestik maupun internasional. Dalam rangka restrukturisasi perbankan, Bank Indonesia (BI) telah mengakomodasi upaya di atas dengan melakukan penilaian sendiri (self assessment) tingkat kepatuhannya terhadap prinsip-prinsip pokok (Core Principles/CP) tersebut. Agar lebih objektif, BI telah pula meminta asistensi IMF untuk melakukan penilaian yang sama. Sinergi dari hasil penilaian tersebut diharapkan dapat membantu penetapan urutan prioritas dan arahan dalam penyediaan asistensi IMF untuk penyempurnaan ketentuan dan prosedur pengawasan bank lebih lanjut. Penilaian oleh IMF yang diselesaikan pada bulan September 2002 menunjukkan pemenuhan (fully compliant) BI terhadap 2 CP yaitu CP.1 “preconditions for effective banking supervision” dan CP 2 “permissible .

activities”. Sementara itu, prinsip-prinsip pokok lainnya masih tersebar pada kategori largely compliance, materially non compliance dan non-compliant. Hasil penilaian ini mencerminkan pula perlunya peningkatan efektivitas pelaksanaan beberapa ketentuan perbankan BI. Apalagi beberapa prakondisi untuk pengawasan bank yang efektif berupa (i) kebijakan ekonomi makro yang sehat dan sustainable; (ii) tersedianya

infrastruktur; (iii) disiplin pasar yang efektif; (iv) adanya prosedur penyelesaian masalah bank yang efisien; dan (v) mekanisme perlindungan terhadap risiko sistemik atau jaring pengaman sosial (financial safety net) belum seluruhnya dapat dikontrol oleh BI. Untuk meningkatkan kualitas pemenuhannya, BI telah menyusun suatu master plan Peningkatan Effektivitas Pengawasan Bank yang memuat upayaupaya penyempurnaan ketentuan dan pengawasan bank terhadap prinsip-prinsip pokok yang berada diluar kategori fully compliance. Pelaksanaan master plan ini dilakukan secara terintegrasi dengan interval monitoring secara triwulanan. Sampai dengan akhir 2002, realisasi pelaksanaan master plan ini telah meningkatkan kualitas pemenuhan atas dokumen Basel. Proses ini terus berlanjut dan pada waktunya diharapkan dapat dilakukan penilaian ulang secara independen agar dapat diketahui kualitas pengawasan bank yang dilakukan oleh BI.

171

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Realisasi Pelaksanaan Master Plan
Tingkat Pemenuhan Penilaian Fully Compliance Largely Compliance Materially Non Compliance Non Compliance (September 2000) 2 5 16 2 2002 2 10 12 1 Keterangan CP. 1; CP. 2 CP. 3; CP. 5; CP. 6; CP. 14; CP. 15; CP. 18; CP. 21; CP. 22; CP. 24; CP. 25 CP. 4; CP. 7; CP. 8; CP. 9; CP. 10; CP. 12; CP. 13; CP. 16; CP. 17; CP. 19; CP. 20; CP. 23; CP. 11

172

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

b o k s

Makassar Meeting dan Upaya Pengembangan UKM

Latar Belakang Kondisi geografis wilayah Republik Indonesia yang sangat luas dengan struktur penduduk dan sosial masyarakat yang heterogen telah mendorong timbulnya perbedaan dalam proses dan hasil pembangunan selama ini khususnya antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dilain pihak, pemerataan pembangunan merupakan topik yang selalu menjadi pembicaraan strategis dalam agenda pembangunan pemerintah. Salah satu tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah melalui Menko Perekonomian dan Menteri Negara Percepatan Pembangunan KTI telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk memprakarsai pertemuan dialogis dengan pihak terkait sebagai upaya untuk mempercepat laju pembangunan dan pemulihan ekonomi di KTI. Pihak yang terlibat dalam pertemuan yang diselenggarakan pada 8 – 10 September 2002 tersebut adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha dan tokoh-tokoh masyarakat. Tujuan diselenggarakannya pertemuan tersebut adalah untuk mencari masukan perumusan langkah-langkah konkrit pembangunan KTI melalui peningkatan investasi dan

a.

Menerima laporan kinerja dan masalah yang dihadapi perbankan dalam memberikan dukungan bagi percepatan pembangunan dan pemulihan ekonomi di KTI serta menampung masukan dan usulan pemecahan

permasalahan tersebut. b. Membahas berbagai kemungkinan kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah untuk mempercepat pembangunan ekonomi. c. Mempertemukan berbagai kepentingan, sehingga diharapkan dapat dihasilkan pola kemitraan yang sinergis dan iklim ekonomi yang kondusif bagi perbaikan sektor riil serta peningkatan investasi.

Hasil kesepakatan Makassar Kesepakatan dari temu dialog tersebut dirumuskan dalam tiga Bidang, dengan beberapa kesimpulan antara lain : a. Bidang sumber daya alam, meliputi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, kehutanan, pertambangan dan energi, serta lingkungan hidup. Dengan rincian

kesepakatan antara lain : Mengatur pemanfaatan tata ruang pertanian dengan kehutanan pusat/ daerah,

meningkatkan kerja sama Pemda – pengusaha - perbankan untuk pengembangan komoditi unggulan, menurunkan bea impor produk pendukung sarana dan prasarana pertanian,

pengembangan sektor riil di kawasan tersebut. Secara rinci tujuan tersebut dijabarkan dalam beberapa agenda pertemuan, antara lain :

173

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dan memperluas kewenangan perizinan Pemda untuk pemanfaatan hasil hutan. Memberdayakan masyarakat nelayan pesisir, memberikan kewenangan

meningkatkan fungsi BLK, membentuk kelembagaan sertifikasi pergudangan untuk produk ekspor serta mendirikan pusat-pusat informasi pasar yang terintegrasi ke dalam website BI. · Meningkatkan perbankan, fungsi intermediasi akses

perizinan dan pengawasan laut dalam eksploitasi hasil laut yang lebih luas kepada Pemda. Menyelesaikan tumpang tindih kawasan kehutanan, pertambangan dan

meningkatkan

pembiayaan untuk UKM, memperluas pola kemitraan inti plasma, meningkatkan infrastruktur pendukung UKM dengan memperluas jaringan kantor bank terutama BPR, meningkatkan penyediaan outlet khusus UKM, mendirikan lembaga penjaminan kredit UKM dan

membangun energi listrik pedesaan, dan melestarikan penanggulangan

pencemaran lingkungan, dan pembiayaan pencegahan pencemaran industri. b. Bidang infrastuktur, meliputi sektor

perhubungan darat, perhubungan laut, dan perhubungan udara, dengan kesepakatan antara lain : · Meningkatkan kapasitas dan kualitas jalan pendukung jalan produksi, menyusun rencana induk perkeretaapian di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, dan mengembangkan pelabuhan dengan pola kemitraan. · Mengalihkan pusat distribusi · ·

mengembangkan konsultan dengan memanfaatkan UKM center yang telah ada. Memberikan bantuan teknis, manajemen atau penyaluran dana kepada BPR dan membuat peraturan yang memudahkan pembentukan BPR dan BPRS di daerahdaerah serta melakukan sharing untuk pembinaan BPR dengan BI dan bank umum. Memberikan perlakuan khusus atas

penerbangan ke KTI, membuka bandarabandara perintis baru dan mendorong pendirian perusahaan penerbangan lokal. c. Bidang tenaga kerja dan keuangan, meliputi sektor tenaga kerja, keuangan dan perbankan, dan koperasi. Rumusan yang disepakati, antara lain : · Memberdayakan memanfaatkan eks lahan TKI dengan

pengenaan pajak deposito kepada para nasabah BPR, serta melakukan pengawasan terhadap penerapan Keputusan Presiden No.56/2002 tentang restrukturisasi hutang UKM dan Keputusan Menteri Keuangan No.300/2002 untuk pelaksanaannya. · Melakukan rescheduling usaha-usaha yang potensial berdasarkan kelayakannya serta

perkebunan,

174

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

menghapus peraturan yang tumpang tindih yang memberatkan pelaku usaha serta seluruh pungutan liar yang menyebabkan biaya tinggi. Beberapa Program yang telah ditempuh Bank Indonesia Bagi Bank Indonesia, pertemuan dialogis Makassar ini merupakan upaya sosialisasi kesepakatan bersama (MoU) pada 22 April 2002 antara Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Gubernur BI tentang program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan dan g. f.

petugas di bank umum dan BPR mengenai pembiayaan kepada UKM. Memberikan landasan hukum yang memadai kepada bank umum dan BPR dalam mendorong penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil dan menengah, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Memperkuat infrastruktur kelembagaan perbankan dalam penyaluran kredit UKM. Disamping hal-hal diatas, untuk

pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UKM). Beberapa kegiatan yang telah disepakati dilakukan oleh BI dalam MoU tersebut meliputi : a. Mendorong bank umum dan BPR untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada UKM dalam rangka penanggulangan kemiskinan sesuai dengan business plan masing-masing bank dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. b. Melakukan pemantauan dan evaluasi penyaluran kredit kepada UKM setiap 3 (tiga) bulan. c. Menyediakan informasi sektor, subsektor unggulan untuk pengembangan usaha kecil melalui Sistem Informasi Terpadu

menindaklanjuti pertemuan tersebut, BI juga telah melakukan beberapa upaya sejalan dengan program BI dalam penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan dan pengembangan UKM. Dalam rangka meningkatkan infrastruktur pendukung UKM, maka perluasan jaringan kantor bank khususnya BPR sangat diperlukan. Untuk itu, BI telah melakukan sosialisasi mengenai ketentuan baru tentang BPR di beberapa Kantor Bank Indonesia. Disamping itu, untuk mempercepat proses pendirian BPR, wewenang proses perizinan yang sebelumnya menjadi kewenangan Kantor Pusat sudah dilimpahkan ke Kantor Bank Indonesia (KBI). Selanjutnya untuk mendorong peningkatan minat perbankan dalam menyalurkan kredit kepada pengusaha kecil, Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan baru dengan meningkatkan plafond Kredit Usaha Kecil (KUK) yang mendapatkan perlakuan khusus dari Rp350 juta menjadi Rp500 juta dan untuk daerah tertentu sebesar Rp1 miliar (Propinsi Aceh, Propinsi Maluku, Kabupaten

Pengembangan Usaha Kecil (SIPUK) dengan alamat http://www.bi.go.id. d. Melakukan berbagai penelitian antara lain penelitian Potensi Dasar Ekonomi Daerah/BLS (Baseline Economic Survey) dan penelitian komoditi yang layak dibiayai oleh bank (lending model) untuk pengembangan usaha kecil. e. Memberikan pelatihan kepada pegawai/

175

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Sambas-Kalimantan Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur-Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Poso-Sulawesi Tengah). Perlakuan khusus dalam hal ini, adalah perhitungan kualitas aktiva produktif tidak lagi didasarkan atas 3 faktor yaitu prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar debitur, namun didasarkan hanya pada faktor kemampuan membayar debitur. Selain itu, BI memberikan bantuan dalam bentuk pemberian sistem informasi seperti SIPUK, SIABE, dan SPKUI melalui website http:// www.bi.go.id. Dalam upaya mendorong sektor riil, BI telah memprakarsai pertemuan langsung pejabatpejabat bank yang menangani kredit dengan para pengusaha kecil, seperti yang telah dilakukan di KBI Makassar dan Bandung.

mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini tercermin dari perkembangan beberapa indikator perbankan di KTI. Penghimpunan DPK oleh perbankan di wilayah KTI sampai Juni 2002 adalah sebesar Rp59 triliun atau meningkat 3,0% bila dibandingkan posisi akhir 2001. Sementara itu, jumlah kredit di wilayah KTI mencapai sekitar Rp27 triliun, meningkat 8% bila dibanding posisi Akhir 2001. Apabila dilihat dari perbandingan antara dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan perbankan di wilayah KTI, ternyata LDR untuk KTI 44,83% atau lebih tinggi dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia dan secara nasional yang masing-masing sebesar 38,5% dan 39,4%. Khusus mengenai perkembangan UKM, dapat dikemukakan bahwa sampai dengan September

Hasil yang dicapai Terlepas dari dialog Makassar yang dilakukan baru-baru ini, upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengembangkan KTI selama ini tampaknya

2002, jumlah UKM yang disalurkan menunjukkan

176

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

b o k s

Pembatasan Pembelian Kredit oleh Bank dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

Sebagai bagian dari restrukturisasi perbankan dan pemulihan ekonomi nasional khususnya untuk meringankan beban APBN, BPPN melakukan Program Penjualan Aset Kredit (PPAK). Untuk mendukung program tersebut, pada 2 7 S e p t e m b e r 2 0 0 2 B a n k I n d o n e s i a (BI) mengeluarkan PBI No. 4/7/PBI/2002 tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Rangka Pembelian K r e d i t o l e h B a n k d a r i B a d a n Pe n y e h a t a n Perbankan Nasional (BPPN). Ketentuan ini memberikan insentif bagi bank untuk

kualitas lancar merupakan insentif yang cukup signifikan mengingat kredit seharusnya dinilai berdasarkan prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar debitur. Pemberian insentif ini dilakukan dengan

mempertimbangkan bahwa penjualan aset telah dilakukan melalui mekanisme yang terbuka dan dengan pemberian discount yang cukup besar sehingga kredit telah dibeli sebesar nilai wajarnya yaitu sebesar nilai yang diprakirakan dapat tertagih (sustainable loan). Dengan pemberian insentif

melakukan pembelian kredit dari BPPN dengan tetap dalam kerangka prinsip kehati-hatian. Dengan ketentuan ini diharapkan bank dapat berpartisipasi aktif dalam upaya pemulihan ekonomi namun dengan risiko yang terkendali sehingga tidak mengganggu kinerja bank baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Dari aspek penilaian dan transparansi, PBI juga mencakup serangkaian standar akuntansi dan pengungkapan, termasuk pengumuman dalam laporan publikasi dan laporan tahunan. Salah satu insentif yang diberikan dalam PBI No. 4/7/PBI/2002 adalah penetapan kualitas lancar dalam jangka waktu 1 tahun bagi kredit-kredit yang dibeli dari BPPN. Sedangkan penilaian kualitas selanjutnya didasarkan pada analisis arus kas dan ketepatan pembayaran debitur. Penetapan

tersebut,PPAK yang wajib dibentuk bank hanya sebesar 1,0% dari nilai buku kredit sehingga tidak mengganggu tingkat permodalan bank. Selain insentif, terdapat beberapa batasan yang diberikan dalam PBI. Salah satunya adalah batasan pembelian kredit dari BPPN sebesar maksimum 50% dari modal inti bank. Penetapan batasan ini dilakukan dengan beberapa tujuan, yaitu agar transfer aset tidak terkonsentrasi pada satu bank tertentu (concentration risk), menciptakan fair market value dari kredit yang dijual dan mendorong bank untuk tetap berkonsentrasi pada kredit baru sehingga fungsi intermediasi perbankan dapat terlaksana sepenuhnya. Angka 50,0% ditetapkan berdasarkan kajian dan analisa terhadap kondisi perbankan serta kemampuan untuk menyerap kredit yang

177

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

178

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pengaturan Risiko Pasar (Market Risk) dalam Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank
pasar keuangan domestik dengan pada keuangan global, maka pengaturan mengenai risiko pasar (market risk) dalam permodalan bank dipandang sudah saatnya. Sejak awal 2002, Bank Indonesia (BI) telah melakukan kajian intensif tentang rencana pengaturan ini termasuk melalui diskusi dengan perbankan dan pihak terkait lainnya dengan harapan pengaturan ini telah mulai dapat diterapkan di awal 2004. Materi ketentuan yang akan diatur Lingkup risiko pasar yang diatur dalam Amandemen CA 1996 pada dasarnya meliputi risiko suku bunga (interest rate risk), risiko ekuitas (equity risk), risiko komoditas (commodities risk), risiko nilai tukar (foreign exchange risk) dan risiko perubahan harga option (Option). Namun demikian pengaturan perbankan saat ini menetapkan pembatasan terhadap beberapa transaksi tertentu, karena itu untuk sementara perbankan akan diwajibkan menyediakan sejumlah tertentu modal untuk melindungi dari risiko kerugian nilai tukar maupun suku bunga. Berbeda dengan risiko suku bunga yang akan dihitung terhadap posisi trading book yang dimiliki bank, maka proses perhitungan risiko nilai tukar akan dilakukan terhadap seluruh portofolio bank (trading dan banking book). Implikasi pengaturan terhadap modal bank Dengan berlakunya ketentuan risiko pasar ini, maka perhitungan tambahan modal (capital charge)

b o k s

Latar belakang Sampai dengan saat ini perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank di Indonesia secara substansial masih berdasarkan dokumen Basel Capital Accord (CA) yang diterbitkan pada 1988. Sesuai dengan dokumen ini, maka bank-bank diwajibkan memelihara tingkat permodalan minimum sebesar 8,0% dari aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Seiring dengan perkembangan

kompleksitas transaksi perbankan, pendekatan ini dipandang tidak tepat lagi karena masih sepenuhnya mendasarkan pada antisipasi bank terhadap risiko kredit (credit risk), sementara operasional bank dalam prakteknya harus pula menghadapi berbagai bentuk risiko lainnya antara lain risiko pasar (market risk) dan risiko operasional (operational risk). Sejalan dengan pandangan di atas, sejak Januari 1996 Basel Committee telah mengeluarkan Amandemen CA yang memasukkan unsur risiko pasar (market risk) dalam perhitungan modal bank. Pengaturan ini mulai berlaku efektif sejak akhir Desember 1997 di negara-negara industri anggota G-10. Sementara itu, untuk Indonesia pengaturan ini belum dapat diterapkan sehubungan dengan berbagai permasalahan yang timbul akibat krisis. Namun demikian, seiring dengan perbaikan kinerja perbankan, aktivitas trading perbankan yang terus meningkat dan semakin terintegrasinya

179

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

untuk risiko pasar akan dikalikan dengan angka 12,5 yang akan ditambahkan ke angka ATMR untuk risiko kredit untuk memperoleh penyebut angka ATMR total. Selanjutnya perhitungan rasio modal minimum sebesar 8% akan dilakukan sebagaimana yang telah berlaku saat ini. Disadari bahwa secara teknis, dengan adanya tambahan ATMR di atas berarti bank wajib menambah modal untuk tetap dapat mempertahankan rasio modal minimumnya sesuai dengan ketentuan. Dapat saja terjadi modal minimum bank akan turun, namun hal inipun bergantung pada jenis dan jangka waktu eksposur yang dimiliki bank yang bersangkutan. Menyikapi kebijakan ini, maka perbankan diharapkan mampu mengelola dengan baik risiko pasar yang terkandung pada seluruh eksposur baik yang terdapat pada banking maupun trading book. Lingkup bank yang terkena Dalam pengkajian, disadari pula bahwa tidak semua bank melakukan aktivitas yang langsung terekspos oleh risiko pasar sehingga berkembang pemikiran bahwa penerapan ketentuan risiko pasar ini tidak akan diberlakukan bagi seluruh bank, namun hanya kepada bank-bank tertentu. Dalam hal ini tentu perlu diterapkan kriteria-kritera tertentu sebagaimana dilakukan oleh beberapa negara yang telah lebih dahulu menerapkan pengaturan ini. Berdasarkan hasil kajian, pendekatan yang dapat diterima tampaknya akan mendasarkan pada status sebagai bank devisa, total aset yang relatif besar dan posisi trading yang signifikan bagi bank devisa/nondevisa sebagai kriteria yang dapat diterima.

Penerapan metode Standar BIS Sesuai dokumen CA 1996, pada dasarnya terdapat 2 metode dalam menghitung risiko pasar yaitu metode standar BIS dan metode alternatif (internal model). Berbeda dengan metode alternatif yang umumnya digunakan oleh bank-bank besar yang telah memiliki unit dan proses manajemen risiko yang baik, maka metode standar BIS lebih sederhana. Melalui metode ini, bank dapat langsung menghitung tambahan modal untuk risiko pasar yang terdapat dalam portofolionya. Dengan memperhatikan kondisi perbankan saat ini, BI memilih untuk sementara menerapkan metode standar BIS. Adapun metode internal dapat digunakan oleh perbankan untuk kepentingan internal manajemen bank, sambil menunggu pemenuhan berbagai faktor kuantitatif dan kualitatif yang dipersyaratkan untuk kelancaran penggunaan metode internal oleh bank. Persiapan penerapan Penerapan pengaturan risiko pasar ini disadari merupakan kebijakan yang penting dalam menentukan arah perkembangan perbankan ke depan. Oleh karena itu, penerapannya dipandang perlu dilakukan secara berhati-hati dengan memperhatikan kesiapan perbankan. Untuk mengakomodasi hal ini, diusulkan masa transisi selama satu tahun yang akan memberikan kesempatan bagi perbankan dalam melakukan persiapan sebelum ketentuan dimaksud berlaku efektif. Alokasi masa transisi ini juga dimaksudkan untuk mempersiapkan kelancaran tugas pengawasan BI dan peran dari lembaga lain yang terkait (lembaga rating).

180

Bab 9: Sistem Pembayaran Nasional

Sistem Pembayaran Nasional

BAB

laporan tahunan

9 Sistem Pembayaran Nasional

180

BA B

9

Sistem Pembayaran Nasional

SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL

Kebijakan sistem pembayaran nasional dititikberatkan pada penurunan resiko dan efisiensi serta pemenuhan uang kartal sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.

S

alah satu tugas pokok Bank Indonesia (BI) dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai

aktivitas pembayaran nontunai melalui sistem BIRTGS mengalami peningkatan, sedangkan transaksi kliring menunjukkan penurunan. Di bidang transaksi yang berbasis kartu, seperti kartu kredit, kartu debit, dan penggunaan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) mengalami peningkatan yang antara lain disebabkan oleh makin meluasnya jaringan ATM dan meningkatnya pembiayaan konsumen melalui kartu kredit. KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN TAHUN 2002 Sistem Pembayaran Tunai Dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal, kebijakan utama diarahkan pada penyediaan uang yang layak edar dalam jumlah cukup, baik dari segi nominal maupun jenis pecahan, dan secara tepat waktu. Dari segi nominal, BI berupaya menyediakan kebutuhan uang kartal di masyarakat yang cenderung meningkat terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru. Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang pecahan kecil telah dikembangkan pilot project kerjasama dengan pihak ketiga untuk pendistribusian uang pecahan kecil di wilayah JABOTABEK (Boks : Penukaran Uang Pecahan Kecil Melalui Pihak Ketiga). Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat menukarkan uang pecahan kecil tanpa dipungut biaya melalui loket penukaran yang

rupiah adalah mewujudkan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal yang meliputi sistem pembayaran tunai dan nontunai. Untuk mewujudkan hal tersebut, selama 2002 BI telah menempuh berbagai kebijakan di bidang sistem pembayaran. Di bidang sistem pembayaran tunai, kebijakan yang diambil mencakup tiga aspek pokok yaitu : pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal, menjaga kualitas uang layak edar dan minimalisasi peredaran uang palsu. Di bidang sistem pembayaran nontunai, kebijakan dititikberatkan pada upaya penurunan risiko pembayaran antarbank dan peningkatan efisiensi serta kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran. Secara umum, aktivitas sistem pembayaran pada tahun laporan mengalami peningkatan yang seirama dengan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap alat pembayaran baik tunai maupun nontunai. Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) selama 2002 mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 11,8%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahunan rata-rata tahun sebelumnya sebesar 19,9%. Sementara itu, seiring dengan perluasan implementasi sistem BI–Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan penurunan batas nominal (capping) nota kredit melalui transaksi kliring,

181

Sistem Pembayaran Nasional

disediakan oleh pihak ketiga dimaksud pada pusatpusat keramaian. Di samping itu, untuk menyediakan uang kartal dalam jumlah dan komposisi pecahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, BI telah

yang telah dilakukan adalah penyempurnaan desain dan peningkatan serta penambahan unsur-unsur pengaman untuk penerbitan emisi baru uang kertas rupiah pecahan Rp50.000, Rp20.000 dan Rp10.000. Di samping itu, telah pula dilakukan kajian penggantian bahan uang pecahan Rp100.000 dari bahan plastik-polymer menjadi bahan kertas uang. Peningkatan unsur pengaman tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat sebagai first line of defense, dalam mengenali keaslian uang rupiah secara kasat mata dan kasat raba. Langkah preventif lainnya adalah dengan menyebarluaskan ciri-ciri keaslian uang rupiah dan cara mudah mengenali uang rupiah melalui penyebaran poster dan stiker, kegiatan penataran, serta penayangan iklan layanan masyarakat di media televisi bekerjasama dengan kepolisian RI. Upaya lain yang telah dilakukan adalah dengan meningkatkan koordinasi bersama unsur-unsur terkait yang tergabung dalam Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL). Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait dalam penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang rupiah. Sistem Pembayaran Nontunai Dalam lingkup sistem pembayaran nontunai telah dilakukan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk menurunkan risiko pembayaran serta mengefisienkan sistem pembayaran. Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah perluasan implementasi sistem BIRTGS. Selama 2002, sistem BI-RTGS sebagai sarana penyelesaian akhir transaksi (settlement) secara real time telah diimplementasikan di 15 KBI yaitu

menyempurnakan perhitungan rencana distribusi uang (RDU). Penyempurnaan ini dilakukan dengan menambahkan variabel-variabel yang lebih kompleks dan relevan, antara lain faktor musiman, karakteristik masing-masing daerah, penggunaan data historis dan survei kebutuhan uang. Hasil RDU yang disempurnakan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan yang lebih baik dalam menetapkan rencana cetak uang dan pembelian bahan uang. Sejalan dengan itu, guna memperlancar proses distribusi uang, BI juga berupaya mengoptimalkan fungsi depot kas yang berada di beberapa Kantor BI (KBI). Selain itu, dalam rangka meningkatkan pelayanan perkasan kepada masyarakat, BI telah menerapkan Otomasi Administrasi Perkasan (OAP) dan Sistem Informasi Pengedaran Uang (SIPU) sehingga informasi kegiatan perkasan di BI dapat diperoleh secara on-line. Untuk mendapatkan bahan logam uang yang secara intrinsik lebih rendah dari nilai nominalnya tetapi memiliki masa edar yang relatif lama, pada 2002 mulai dilakukan kajian terhadap alternatif komposisi kandungan bahan logam uang rupiah dan standarisasi ukuran uang logam. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penerbitan uang logam di masa mendatang. Berkenaan dengan pemalsuan uang rupiah, BI telah mengambil langkah preventif maupun represif untuk menanggulanginya. Langkah-langkah preventif

182

Sistem Pembayaran Nasional

Banjarmasin, Makasar, Pontianak, Palangkaraya, Jayapura, Ambon, Palu, Kendari, Bandar Lampung, Bengkulu, Mataram, Kupang, Jambi, Banda Aceh dan Palembang. Dengan demikian, sejak sistem ini mulai diimplementasikan (November 2000) hingga akhir 2002 terdapat 27 KBI yang telah menggunakan sistem BIRTGS. Dengan makin meluasnya cakupan implementasi sistem BI-RTGS, risiko yang terdapat pada sistem pembayaran yaitu risiko kredit (credit risk) dan risiko likuiditas (liquidity risk) dapat diminimalisasi. Sedangkan untuk meminimalkan risiko kegagalan pembayaran yang berasal dari penyelesaian transaksi kliring antarbank, diatur suatu kebijakan penurunan batas nominal (capping) nota kredit yang diproses melalui kliring.1 Dengan diberlakukannya kebijakan tersebut pada 1 Oktober 2002, batas nominal nota kredit yang dapat diproses melalui kliring yang semula di bawah Rp1 miliar diturunkan menjadi di bawah Rp100 juta. Dengan diturunkannya batas nominal tersebut, terjadi pergeseran penyelesaian sebagian transaksi dari Sistem Kliring ke Sistem BI-RTGS. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penyesuaian besarnya biaya baik di sistem kliring maupun di sistem BI-RTGS. Pada sistem BI-RTGS, besarnya biaya transaksi bervariasi sesuai dengan waktu diterimanya instruksi pengiriman dana oleh BI. Semakin mendekati waktu cut off time (pukul 19.00 BBWI) semakin besar biaya yang harus dibayar oleh bank. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan penyelesaian transaksi menjelang batas

cut off time. Dengan diterapkannya sistem biaya BIRTGS yang baru ini, diharapkan transaksi antarbank melalui sistem ini dapat menyebar selama jam operasional sistem BI-RTGS. Penyebaran transaksi pembayaran melalui sistem BI-RTGS yang merata akan memperlancar sistem pembayaran serta

memperlihatkan adanya pengelolaan likuiditas perbankan yang semakin baik. Di lain pihak penyesuaian biaya yang diterapkan pada sistem kliring mencakup kenaikan biaya proses warkat penyerahan dan pengembalian. Sementara itu, dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan kliring, diperlukan suatu standarisasi sistem dan kelengkapan pendukung yang akan bermanfaat untuk mengakomodasi kebutuhan pemeriksaan/ investigasi (audit), kebutuhan data dan informasi hasil kliring secara cepat serta akurat dengan menggunakan fasilitas berbasis web (remote access). Untuk mewujudkan hal tersebut, pada 2002 telah diimplementasikan sistem otomasi kliring berbasis image (Image Clearing System/ICS) di KBI Bandung dan Medan. Otomasi kliring dengan basis image tersebut dilakukan dengan proses otomasi oleh mesin baca pilah warkat kliring (reader sorter) yang merekam data sekaligus image warkat yang dikliringkan. Selain itu, sistem tersebut dilengkapi dengan penyampaian informasi berupa Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh (SIKJJ) serta sistem penyimpanan data image berupa CD Burner. Selanjutnya, untuk mengakomodasi kebutuhan

1

Surat Edaran No. 4/12/DASP Perihal Jadwal Kliring dan Tanggal Valuta Penyelesaian Akhir, Sistem Penyelenggaraan Kliring Lokal serta Jenis dan Batasan Nominal Warkat atau Data Keuangan Elektronik

atas penyelesaian transaksi yang menggunakan cek/ Bilyet Giro antar kota di seluruh wilayah Indonesia, BI telah mengembangkan sistem kliring antar

183

Sistem Pembayaran Nasional

wilayah atau dikenal dengan nama Intercity Clearing. (Boks : Pengembangan Intercity Clearing)
2

serta kegunaannya untuk melakukan penyelesaian (settlement) transaksi pasar keuangan maupun hasil kliring dari sistem lain. Dalam rangka memenuhi core principles tersebut, BI telah melakukan pengkajian untuk menilai kesesuaian penyelenggaraan sistem BI-RTGS dan Sistem Kliring dengan BIS Core Principles for Systemically Important Payment System. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan terhadap Sistem BIRTGS dan Sistem Kliring menunjukan bahwa kedua sistem tersebut telah memenuhi core principles yang terkait dengan kehandalan sistem, prosedur dan kepastian settlement. Sedangkan untuk core principles yang terkait dengan aspek pengaturan dan ketentuan, manajemen risiko dan corporate governance belum seluruhnya terpenuhi. Meskipun demikian, berbagai perbaikan dan penyempurnaan tetap dilakukan secara bertahap melalui kebijakan dan penyempurnaan ketentuan di bidang sistem pembayaran. Sebagai contoh, dalam penyempurnaan di bidang hukum, saat ini sedang disusun Rancangan Undang-Undang Transfer Dana yang mengatur secara rinci mengenai hak, kewajiban, dan kepastian hukum para pihak yang terkait di dalamnya. Semua penyempurnaan yang dilakukan ditujukan agar dalam jangka panjang BI dapat memenuhi seluruh prinsipprinsip dalam BIS Core Principles for Systemically Important Payment System. Berbagai pengembangan di bidang sistem pembayaran yang dilakukan oleh BI sangat terkait dengan pengguna dari sistem pembayaran, terutama pihak perbankan. Hal tersebut didasarkan bahwa setiap

Penyelenggaraan kliring yang semula hanya dapat memproses warkat yang diterbitkan oleh bank di satu wilayah kliring lokal, dengan sistem intercity clearing dapat memproses cek/bilyet giro dari wilayah kliring lokal manapun. Dengan dilakukannya sistem kliring antar wilayah dapat diperoleh peningkatan dalam efisiensi waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam memproses warkat-warkat inkaso yaitu yang semula diselesaikan dalam jangka waktu berkisar antara 2-7 hari menjadi sama dengan jangka waktu penyelesaian kliring lokal. Sistem kliring antar wilayah (intercity clearing) mulai diimplementasi– kan pada 1 November 2002 dan diikuti oleh 35 bank peserta kliring di seluruh wilayah Indonesia. Guna mendukung tercapainya pasar keuangan yang efektif, sistem pembayaran yang dikategorikan Systemically Important Payment System (SIPS) perlu diberikan perlindungan untuk menghindari risiko sistemik, karena gangguan terhadap sistem dapat mengganggu sistem keuangan domestik maupun internasional. Mengacu pada The Core Principles for Systemically Important Payment System yang dikembangkan oleh Bank for International Settlement (BIS), BI menilai bahwa sistem pembayaran di Indonesia yang dikategorikan SIPS adalah Sistem BI-RTGS dan Sistem Kliring. Alasan dipilihnya kedua sistem tersebut didasarkan pada besarnya total nilai transaksi yang diproses, sifat pembayaran beserta dampaknya terhadap pasar keuangan domestik dan internasional

2

SE No. 4/16/DASP Perihal Penyelenggaraan Kliring Lokal atas cek dan bilyet giro yang berasal dari luar wilayah kliring

pengembangan produk sistem pembayaran akan selalu memberikan akibat bagi pihak perbankan sebagai

184

Sistem Pembayaran Nasional

pelaku langsung produk sistem pembayaran. Untuk menyamakan kepentingan dan menampung kebutuhan perbankan dalam setiap pengembangan aplikasi dan produk sistem pembayaran diperlukan media komunikasi dan konsultasi sistem pembayaran nasional yang akan mewakili seluruh perbankan. Berkaitan dengan hal di atas, pada Agustus 2002 telah dibentuk Forum Komunikasi Sistem Pembayaran Nasional (FKSPN) yang terdiri dari lima komite yaitu Komite By-Laws, Komite Legal dan Perlindungan Konsumen, Komite Standar dan Prosedur, Komite Manajemen Risiko dan Komite Teknologi Informasi. Dalam forum ini diharapkan dapat dilakukan identifikasi kebutuhan berbagai pihak terkait terutama perbankan sehingga dapat dilakukan sinkronisasi pengembangan sistem pembayaran di masa mendatang. Dalam kaitannya dengan pengawasan sistem pembayaran, BI memiliki tanggung jawab agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem pembayaran yang efisien, cepat, tepat dan aman. Sehubungan dengan hal tersebut, pada 3 Juni 2002 BI telah membentuk Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran. Bagian ini berwenang untuk memberikan izin operasional terhadap pihak yang menyelenggarakan kegiatan di bidang sistem pembayaran dan melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran baik yang dilakukan oleh BI maupun pihak lain di luar BI. Selain penerapan kebijakan tersebut di atas, berbagai penyempurnaan tengah dilakukan selama 2002 antara lain: · Penyusunan skema untuk mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian kewajiban settlement (failure to settle scheme)

Dalam pasal 16 Undang-Undang No. 23 tahun 1999 disebutkan bahwa salah satu wewenang BI adalah mengatur sistem kliring antarbank. Penyelesaian akhir kegiatan kliring yang diterapkan saat ini dilakukan pada akhir hari (net settlement ), dimana hasil kliring akan dibebankan secara neto ke rekening giro bank peserta kliring. Dengan dilakukannya settlement pada akhir hari, kebutuhan likuiditas akan terakumulasi pada akhir hari sehingga dimungkinkan timbulnya saldo debet pada rekening giro bank. Saldo debet tersebut harus dilunasi selambat-selambatnya pada pukul 09.00 BBWI keesokan harinya, dan apabila bank tidak mampu maka bank tersebut akan diskors dari kegiatan kliring. Berdasarkan UU No. 23 tahun 1999, BI berkewajiban untuk menjaga kelancaran sistem pembayaran. Namun demikian, BI tidak harus bertanggungjawab atas kekurangan dana bank yang dapat mengakibatkan bank tersebut gagal melakukan settlement atas hasil kliringnya. Hal ini juga didukung oleh Core Principles for Systemically Important Payment Systems, yang dikembangkan oleh BIS. Berkaitan dengan hal tersebut, BI akan menerapkan suatu metode yang dikenal dengan istilah failure-to-settle scheme. Bentuk mekanisme failure-to-settle yang dapat diterapkan diantaranya adalah metode cash deposit, pool of collateral dan loss sharing arrangement. · Review terhadap cetak biru sistem pembayaran nasional Dalam melakukan pengembangan sistem pembayaran nasional diperlukan suatu panduan yang berisi kebijakan yang dapat mewujudkan adanya sistem pembayaran yang efektif, efisien, aman dan handal. Rencana dan kebijakan BI di bidang sistem

185

Sistem Pembayaran Nasional

pembayaran pada saat ini, masih didasarkan pada cetak biru sistem pembayaran nasional yang diterbitkan pada 1995. Dalam perkembangannya, terdapat banyak perubahan yang terjadi baik dari sisi kemampuan bank, teknologi maupun kebutuhan masyarakat yang pada akhirnya menuntut peran aktif BI untuk menyesuaikan arah kebijakan dan pengembangan di bidang sistem pembayaran. Di sisi lain adanya kerja sama regional dan internasional antarbank sentral telah memberikan warna baru pada kebijakan bank sentral di bidang sistem pembayaran. Namun demikian, perkembangan tersebut belum seluruhnya terakomodasi dalam Cetak Biru Sistem Pembayaran yang ada, sehingga saat ini sedang dilakukan review atas cetak biru dimaksud yang mencakup aspek hukum, kelembagaan, kepemilikan, keamanan, efisiensi dan penurunan risiko. PERKEMBANGAN ALAT-ALAT PEMBAYARAN Alat Pembayaran Tunai Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) Posisi UYD tahun 2002 cenderung meningkat, namun dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara ratarata, UYD pada tahun laporan tumbuh sebesar 11,8%, lebih rendah dibandingkan dengan 2001 yang tumbuh sebesar 19,9%. Pada akhir Desember 2002, posisi UYD mencapai Rp98,4 triliun atau meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 91,3 triliun (Tabel 9.1) Lebih rendahnya peningkatan UYD di 2002 terutama disebabkan oleh berkurangnya permintaan masyarakat untuk keperluan berjaga-jaga (precautionary motive) seiring dengan membaiknya kondisi sosial
UYD Kertas Logam

Tabel 9.1 Perkembangan Posisi UYD Jumlah 91,27 89,44 1,83 2001 Porsi (%) 100,00 97,99 2,01 2002 Jumlah Porsi (%) 98,42 96,24 2,18 100 97,79 2,21

politik di dalam negeri. Sementara itu, meningkatnya posisi UYD pada tahun laporan berkaitan dengan masih meningkatnya kegiatan ekonomi nasional dan laju inflasi. Secara bulanan, kenaikan terbesar terjadi pada November dan Desember 2002 terutama karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal dalam menghadapi perayaan hari-hari besar keagamaan dan Tahun Baru 2003 yang waktunya saling berdekatan. Berdasarkan jenisnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam terhadap UYD pada 2002 tidak banyak mengalami perubahan. Pada tahun laporan, porsi uang kertas terhadap UYD mencapai 97,8% (Rp96,24 triliun) dan uang logam 2,2% (Rp2,18 triliun).

Pengadaan Uang dan Posisi Kas. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal, pada 2002 BI melakukan rencana pengadaan uang sebanyak 4,7 miliar bilyet uang kertas senilai Rp86,0 triliun dan 1,6 miliar keping uang logam senilai Rp316,9 miliar. Dari total rencana pengadaan tersebut, seluruhnya telah dapat dipenuhi dalam tahun laporan. Sebagian besar dari pengadaan uang ini digunakan untuk mengganti uang lusuh yang dimusnahkan yaitu sekitar Rp 54,1 triliun dan sisanya untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan perekonomian. Sejalan dengan itu, posisi kas BI akhir

186

Sistem Pembayaran Nasional

Grafik 9.1 Perkembangan Posisi Kas

Grafik 9.2 Perkembangan PTTB

2002 masih cukup aman yaitu Rp 61,5 triliun atau mampu memenuhi lebih dari 3,3 bulan rata-rata permintaan masyarakat. Posisi kas BI pada akhir 2002 ini naik 80,4% dibandingkan dengan posisi kas pada akhir 2001 yang tercatat sebesar Rp34,07 triliun (Grafik 9.1).

bilyet (32,0% dari total), kemudian diikuti oleh pecahan Rp50.000 sebanyak 612,8 juta bilyet (16,0%) dan Rp5.000 sebanyak 545,4 juta bilyet (14,0%).

Perkembangan Aliran Uang Masuk (inflow) dan Aliran Uang Keluar (outflow).

Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup, BI juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang dipegang masyarakat terjaga kualitasnya dengan cara melakukan clean money policy yaitu menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak edar atau PTTB serta mengganti uang yang dimusnahkan tersebut. Jumlah PTTB tahun 2002 sebesar Rp 54,1 triliun atau naik 62,33% dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp33,4 triliun (Grafik 9.2). Secara nominal, PTTB terbesar adalah untuk pecahan Rp50.000 dengan nilai Rp30,7 triliun (56,7% dari total PTTB) kemudian diikuti oleh pecahan Rp20.000 senilai Rp10,2 triliun(18,9%). Adapun dilihat dari jumlah lembar (bilyet), PTTB terbesar adalah untuk pecahan Rp1.000 sebanyak 1,2 miliar

Aliran uang masuk (inflow) secara nasional cenderung berfluktuasi. Rata-rata bulanan inflow selama 2002 adalah sebesar Rp17,0 triliun atau naik sebesar 9,9% dibandingkan dengan rata–rata bulanan inflow 2001 yang tercatat sebesar Rp15,4 triliun. Sementara itu, rata-rata bulanan aliran keluar (outflow) pada 2002 mencapai Rp17,6 triliun atau naik sebesar 12,8% dibandingkan rata-rata bulanan outflow 2001 yang mencapai Rp15,6 triliun. Berdasarkan perkembangan inflow-outflow di atas, secara nasional pada 2002 terjadi net outflow sebesar Rp7,3 triliun atau rata-rata per bulan sebesar Rp0,6 triliun. Sementara itu, bila dilihat dari masingmasing KBI hampir seluruh KBI di luar Jawa mengalami net outflow. Sedangkan KBI di Jawa kecuali Jakarta mengalami net inflow. Hal ini terutama disebabkan aktivitas pengeluaran/belanja masyarakat yang

187

Sistem Pembayaran Nasional

sebanyak 2.669 bilyet (0,7 %) dan pecahan Rp5.000 sebanyak 660 bilyet (0,2%) (Tabel 9.2). Dilihat dari sumber laporan temuan uang palsu, jumlah sebesar 370.112 bilyet tersebut terdiri dari temuan perbankan dan BI sebesar 24.647 bilyet (6,7%) dan temuan dari POLRI sebesar 345.465 bilyet (93,3%). Dengan kata lain, jumlah uang palsu yang sempat beredar di masyarakat adalah sebesar 24.647 bilyet
Grafik 9.3 Perkembangan Jumlah Inflow dan Outflow

sedangkan sisanya sebagian besar merupakan uang palsu yang berpotensi untuk diedarkan namun dapat diamankan oleh POLRI.

sebagian besar mengalir ke Jawa (Grafik 9.3). Alat Pembayaran Nontunai Perkembangan Jumlah Temuan Uang Palsu. Perkembangan penemuan uang palsu yang berasal dari laporan bank-bank, POLRI dan BI, dalam periode Januari sampai dengan Desember 2002 adalah sebanyak 370.112 bilyet (Rp9,9 miliar) atau meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sejumlah 98.028 bilyet (Rp3,9 miliar). Dari jumlah uang palsu yang ditemukan tersebut, penemuan terbesar adalah untuk pecahan Rp20.000 sebanyak 288.895 bilyet (78,1%), diikuti pecahan Rp50.000 sebanyak 74.514 bilyet (20,1%), pecahan Rp100.000 sebanyak 3.374 bilyet (0,9%), pecahan Rp10.000 Perkembangan Transaksi RTGS Pada 2002, aktivitas BI-RTGS mengalami peningkatan yang signifikan baik secara volume maupun nominal. Peningkatan tersebut seiring dengan perluasan implementasi sistim BI-RTGS di seluruh Indonesia, yang sampai akhir tahun laporan telah berhasil diimplementasikan di 27 kota di Indonesia. Disamping itu, penurunan batas nominal (capping) nota kredit kliring juga turut mendorong kenaikan aktifitas BI-RTGS tersebut. Nominal rata-rata harian transaksi BI-RTGS pada 2002 mencapai Rp55,7 triliun atau meningkat 21,3% dibandingkan Rp45,9 triliun pada 2001.

Tabel 9.2 Perkembangan Penemuan Uang Palsu per Pecahan (dalam bilyet)
Jenis Pecahan (Rp) 100.000 50.000 20.000 10.000 5.000 Jumlah Triwulan - I Bank 320 4.033 1.814 256 27 6.450 POLRI Jumlah 1.231 56.735 1.551 60.768 Triwulan - II Bank 919 3.164 1.313 426 40 5.862 POLRI Jumlah 368 42 53 463 1.287 3.206 1.366 426 40 6.325 Bank 368 3.024 Temuan Triwulan - III POLRI Jumlah 18 2.736 386 5.760 11.624 454 574 18.798 Triwulan - IV Bank 150 4.651 1.196 1.533 19 7.549 POLRI Jumlah 129 129 150 4.780 1.196 1.533 19 7.678 Bank 1.757 14.872 5.319 2.585 114 24.647 TOTAL POLRI Jumlah 1.617 3.374

59.642 74.514 283.576 288.895 84 546 2.669 660

272.895 274.709 256 27

996 10.628 370 28 84 546

330.861 337.311

4.786 14.012

345.465 370.112

188

Sistem Pembayaran Nasional

Grafik 9.4 Aktivitas Harian BI-RTGS Tahun 2002

Grafik 9.5 Sistem Pembayaran Nontunai

Sementara itu, volume rata-rata harian mencapai 8.725 transaksi atau meningkat 105,8% dibandingkan 4.239 transaksi pada periode yang sama (Grafik 9.4 dan 9.5). Dengan meluasnya implementasi sistem BIRTGS akan memudahkan perbankan di seluruh wilayah Indonesia dalam melakukan transfer dana (bernilai tinggi atau bersifat penting) secara cepat. Hal ini dapat dilaksanakan tanpa melalui kliring lokal atau melakukan interface ke dalam sistem internal masingmasing bank untuk meneruskan perintah transfer tersebut melalui kantor cabangnya yang sudah memiliki fasilitas BI-RTGS. Berdasarkan nilai nominal, BI memiliki pangsa terbesar dalam melakukan transaksi melalui BI-RTGS (Tabel 9.3). Tingginya nilai transaksi yang dilakukan
Tabel 9.3 Pangsa Transaksi BI-RTGS Berdasarkan Pelaku Klasifikasi Bank Asing Bank Campuran Bank Pemerintah Bank Indonesia Bank Pembangunan Daerah Bank Umum Swasta Nasional Pangsa (%) Nominal Volume 13,57 2,91 10,33 55,42 2,14 15,64 10,13 3,59 14,91 29,27 3,08 39,02

oleh BI ini sangat terkait dengan fungsi dan peran BI, baik sebagai pemegang kas negara maupun sebagai otoritas moneter. Sementara itu, berdasarkan volume transaksi, BUSN merupakan pihak yang paling aktif dalam melakukan transaksi. Secara umum, profil aliran dana yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa: (a) BUSN merupakan pelaku paling aktif transfer dana (baik dalam rangka pasar uang maupun untuk untung nasabah); dan (b) BPD memiliki peran yang relatif kecil di dalam sistem transfer dana di Indonesia (Tabel 9.4). Berdasarkan waktu pelaksanaan transaksi dalam sistem BI-RTGS, waktu transaksi teraktif berdasarkan nominal terutama terjadi pada pagi hari (antara pukul 08.00 – 09.00 WIB) yang terutama disebabkan tingginya aktivitas setoran dan penarikan uang kartal oleh perbankan yang dibukukan melalui sistem BI-RTGS. Sementara itu, waktu transaksi teraktif secara volume terjadi pada siang hari (antara pukul 14.00 – 15.00 BBWI) yang terutama disebabkan tingginya transfer dana dari/untuk untung nasabah (Grafik 9.6).

Perkembangan Transaksi Kliring

189

Sistem Pembayaran Nasional (Persen)

Tabel 9.4 Peta Aliran Dana Antar Rekening
Kepada Pangsa Nominal Bank Asing Bank Asing 8,02 1,05 2,10 5,52 0,01 3,11 19,81 Bank Campuran 1,08 0,34 0,29 2,79 0,01 1,19 5,70 Bank Pemerintah 2,22 0,33 1,95 22,16 0,97 2,71 30,34 Kepada Pangsa Volume Bank Asing Bank Asing 2,28 0,66 1,35 1,52 0,02 4,50 10,33 Bank Campuran 0,69 0,39 0,33 1,91 0,01 1,49 4,82 Bank Pemerintah 2,59 0,78 3,26 5,49 1,15 7,47 20,74 Bank Indonesia 0,30 0,24 2,45 0,25 0,62 2,56 6,42 BPD 0,03 0,01 1,34 2,31 0,39 0,28 4,36 BUSN 4,57 1,67 6,16 18,59 0,78 21,55 53,32 Total 10,46 3,75 14,89 30,07 2,97 37,85 100,00 Bank Indonesia 0,29 0,08 1,94 0,13 0,37 0,96 3,77 BPD 0,02 0,01 1,26 3,70 0,37 0,27 5,63 BUSN 2,73 1,06 2,54 21,80 0,33 6,30 34,76 14,36 2,87 10,08 56,10 2,06 14,54 100,00

D a r i

Bank Campuran Bank Pemerintah Bank Indonesia BPD BUSN Total

D a r i

Bank Campuran Bank Pemerintah Bank Indonesia BPD BUSN Total

Selama 2002, total nominal kliring penyerahan secara nasional menunjukkan penurunan sebesar 23,8% dibandingkan tahun sebelumnya dari Rp2.035 triliun menjadi Rp1.550 triliun. Sebaliknya, dari sisi jumlah warkat terjadi peningkatan sebesar 1,9% dari 71.616 ribu lembar menjadi 72.979 ribu lembar. Kedua

kondisi ini terjadi sebagai akibat dari makin meluasnya implementasi sistem BI-RTGS dan penurunan batasan capping kliring. Adapun berdasarkan rata-rata harian, aktivitas kliring secara nominal pada 2002 mengalami penurunan sebesar 23,1% dari Rp8,2 triliun menjadi Rp6,3 triliun.

Grafik 9.6 Waktu Penggunaan BI-RTGS

Grafik 9.7 Nominal Kliring Nasional

190

Sistem Pembayaran Nasional

Grafik 9. 8 Volume Kliring Penyerahan

Grafik 9.10 Jumlah Mesin ATM (unit)

Sebaliknya, rata-rata jumlah warkat yang diproses per hari mengalami peningkatan sebesar 10,9% yaitu dari 267 ribu lembar menjadi 296 ribu lembar pada 2002. Ditinjau dari wilayah kliringnya, wilayah kliring Jakarta memiliki pangsa volume terbesar mencapai 49% dan pangsa nominal sebesar 44% dari total aktivitas kliring secara nasional (Grafik 9.7 dan 9.8). Perkembangan Alat Pembayaran Berbasis Kartu Pada 2002, terjadi peningkatan aktivitas penggunaan alat pembayaran berbasis kartu, baik berupa kartu kredit, kartu debet, maupun kartu ATM. Dari ketiga jenis alat pembayaran berbasis kartu tersebut, kartu

ATM memiliki aktivitas tertinggi yaitu dengan nilai transaksi sebesar Rp 299 triliun atau naik sebanyak 44,4% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp207 triliun. Secara umum, peningkatan aktivitas pembayaran dengan menggunakan kartu ATM tersebut sejalan dengan kenaikan posisi uang kartal diedarkan (Grafik 9.9 dan 9.10). Selain itu, peningkatan ini juga disebabkan oleh makin luasnya jaringan pelayanan ATM, baik berupa penambahan mesin, perluasan jaringan merchant yang dapat menerima pembayaran melalui kartu ATM, maupun penambahan jumlah bank yang menjadi anggota switching ATM. Selanjutnya, penggunaan kartu kredit yang mencapai Rp24,2 triliun (atau meningkat sebesar 26,0% dari tahun sebelumnya) dapat dikaitkan dengan peningkatan pemberian kredit oleh perbankan. Sementara itu, penggunaan kartu debet yang mencapai Rp8,3 triliun atau meningkat sebesar 25,6% dibandingkan aktivitas tahun 2001 menunjukkan bahwa penggunaan alat pembayaran yang memiliki fungsi dan fitur yang mirip dengan ATM diminati oleh masyarakat.

Grafik 9.9 Transaksi Kartu Kredit, Kartu Debit dan ATM

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL

191

Sistem Pembayaran Nasional

Sistem Pembayaran Tunai 1. Meningkatkan efektivitas pengedaran uang melalui pihak ketiga, yang meliputi : a. Pendistribusian uang pecahan kecil. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang pecahan kecil yang layak edar dan mempercepat penarikan uang lusuh/tidak layak edar dari masyarakat, pada 2003 BI akan melanjutkan pelaksanaan penyaluran uang pecahan kecil melalui pihak ketiga dan pilot project melalui BPR di kantor pusat dan di tujuh KBI. b. Evaluasi penyelenggaraan kas titipan. Untuk daerah-daerah yang tidak memiliki KBI, pelaksanaan distribusi uang dilakukan melalui Kas Titipan yang bekerjasama dengan perbankan setempat. Sehubungan dengan itu, pada 2003, BI akan melakukan kajian tentang efektivitas keberadaan kas titipan sebagai ujung tombak dalam pengedaran uang di daerah-daerah yang tidak mempunyai KBI. 2. Memperluas jejaring (networking) penanggulangan uang palsu. Dalam rangka penanggulangan pemalsuan uang baik preventif maupun represif, pada 2003 BI melakukan kerjasama dengan POLRI dalam bentuk pembekalan keterampilan kepada petugas di KBI maupun POLDA dalam penanggulangan pemalsuan uang. Di samping itu, dalam rangka efektivitas sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah asli, pada 2003 BI akan melakukan kerjasama dengan BRI yang mempunyai kantor cabang sampai tingkat pedesaan. Sistem Pembayaran Nontunai 1. Melanjutkan implementasi sistem BI-RTGS Implementasi sistem BI-RTGS yang sampai dengan

akhir 2002 telah dilakukan di 27 KBI, akan diperluas penggunaannya di 10 KBI lainya pada 2003, yaitu KBI Cirebon, Tasikmalaya, Purwokerto, Solo, Jember, Kediri, Malang, Ternate, Sibolga dan Lhokseumawe. Dengan demikian pada 2003 diharapkan seluruh KBI telah terhubung oleh sistem BI-RTGS sehingga rencana program Centralized Settlement Account (CSA) dapat terwujud. Apabila seluruh KBI telah menggunakan sistem ini, maka setiap bank hanya akan memelihara satu rekening giro saja di BI. Hal tersebut akan meningkatkan efisiensi baik bagi bank maupun Bank Indonesia. 2. Penyusunan regulasi bidang sistem pembayaran dalam upaya menurunkan risiko sistem pembayaran a. Penyusunan peraturan mengenai penyelenggaraan kegiatan usaha alat pembayaran berbasis kartu Penggunaan alat pembayaran berbasis kartu yang makin marak di masyarakat dewasa ini perlu didukung oleh pengaturan yang komprehensif, jelas dan mengandung kepastian hukum. Berkaitan dengan hal tersebut, BI tengah menyusun PBI yang mengatur mengenai penyelenggaraan kegiatan usaha alat pembayaran berbasis kartu. Dalam ketentuan tersebut akan diatur penyelenggaraan kegiatan usaha yang bergerak dalam bisnis alat pembayaran berbasis kartu agar dapat memenuhi standar keamanan atas produk yang diberikan dan memberikan informasi secara jelas dan benar mengenai produk serta jasa yang ditawarkan kepada pemegang kartu. b. Penyusunan mekanisme untuk mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian atas settlement (Failure to settle Scheme).

192

Sistem Pembayaran Nasional

Pada 2003 BI merencanakan untuk meminta komitmen dari perbankan berkaitan dengan metode yang akan digunakan dalam mekanisme failure to settle antara lain metoda cash deposit, pool of collateral, loss sharing. c. Penyusunan Rancangan Undang-Undang Transfer Dana (RUU Funds Transfer) Dalam melaksanakan tugas mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran nasional, BI memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengatur dan melaksanakan kegiatan jasa transfer dana serta penyelesaian akhir transaksi pembayaran antarbank. Saat ini, pelaksanaan transfer dana tersebut belum dilengkapi oleh aturan yang mampu melindungi konsumen dari berbagai permasalahan hukum, antara lain mengenai hak dan kewajiban para pihak serta

alat bukti transfer yang dilakukan secara elektronik. Untuk mencegah timbulnya permasalahan hukum tersebut, perlu segera disusun suatu landasan hukum yang kuat dalam bentuk Undang-Undang yang dapat memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang terkait didalamnya. 3. Review cetak biru sistem pembayaran nasional Pelaksanaan review cetak biru sistem pembayaran nasional yang telah dimulai sejak awal 2002 akan tetap dilanjutkan hingga 2003. Dalam hal ini, BI akan melakukan konsultasi dan komunikasi kepada pihak di luar BI yang terkait dalam pengembangan sistem pembayaran guna mendapat masukan yang berkaitan dengan penyempurnaan cetak biru tersebut. Hal tersebut dilakukan agar dalam pengembangan sistem pembayaran di Indonesia terdapat sinkronisasi dari berbagai kepentingan para penyelenggara sistem pembayaran guna terwujudnya suatu sistem pembayaran yang efektif dan efisien.

193

Sistem Pembayaran Nasional

b o k s

Penukaran Uang Pecahan Kecil Melalui Pihak Ketiga
Suatu Solusi Mengatasi Kelangkaan Uang
Tugas utama Bank Indonesia (BI) di bidang Desember 2001 telah dilakukan pilot project program kerja sama penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat melalui pihak ketiga untuk melayani kebutuhan masyarakat di wilayah DKI Jakarta. Saat ini perusahaan yang ditunjuk untuk melayani penukaran dimaksud berjumlah lima perusahaan. Mencermati hasil positif dan sambutan masyarakat yang begitu antusias terhadap program kerja sama ini, maka untuk dapat menjangkau lebih luas lagi masyarakat terutama di pelosok-pelosok, program kerja sama ini diperluas lagi ke wilayah Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang, Depok dan Serang. Perluasan tersebut dimulai sejak 30 September 2002 dengan menunjuk enam puluh sembilan BPR dalam pilot project program kerja sama penukaran uang pecahan kecil. Sampai saat ini pelaksanaan penukaran uang pecahan kecil kepada masyarakat baik melalui perusahaan pihak ketiga maupun BPR masih dinilai baik, karena selain efisien dari segi biaya juga jangkauan yang dapat dicapai lebih luas dari kegiatan kas keliling yang selama ini dilaksanakan oleh BI. Di samping itu, dengan adanya pengalihan tugas penukaran ini, maka satuan kerja kas tidak perlu lagi melakukan kegiatan kas keliling sehingga dapat lebih fokus dalam melakukan kegiatan pelayanan kas lainnya.

pengedaran uang yaitu menjamin tersedianya uang dalam jumlah cukup dengan jenis pecahan yang sesuai dengan kebutuhan, kapan dan dimanapun setiap diperlukan dengan kualitas baik dan kondisi layak edar. Pelaksanaan tugas tersebut saat ini nampaknya masih belum optimal tercermin dari masih berkembangnya persepsi di masyarakat bahwa sulit memperoleh pecahan kecil dan apabila ada tidak layak edar. Kondisi tersebut mengindikasikan mekanisme distribusi uang dari BI ke bank umum dan dari bank umum ke masyarakat masih belum berjalan dengan baik. Bank umum yang diharapkan dapat menjadi lembaga intermediasi dalam melayani kebutuhan uang kartal di masyarakat ternyata mempunyai kecenderungan enggan menarik uang pecahan kecil terutama uang logam karena keterbatasan SDM, kapasitas khazanah dan pengangkutan serta pola pelayanan kepada nasabah (selama ini lebih banyak/cenderung menggunakan pecahan besar). Memperhatikan kendala-kendala yang ada dan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang pecahan kecil, mempercepat proses penarikan uang lusuh dari masyarakat serta menjadikan tugas BI dapat fokus pada pelayanan kepada perbankan (wholesale), maka pada 13

194

Sistem Pembayaran Nasional

b o k s

Pengembangan Intercity Clearing

Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa salah satu tugas BI adalah mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Rencana dan kebijakan BI dibidang sistem pembayaran dirangkum dalam Cetak Biru Sistem Pembayaran Nasional yang diterbitkan pada tahun 1995. Berdasarkan Cetak Biru tersebut, salah satu upaya yang harus dilakukan demi terciptanya sistem pembayaran yang efektif, efisien, aman dan handal khususnya dalam menciptakan kelancaran transaksi perdagangan dan pembayaran antarwilayah adalah terbentuknya penyelengaraan kliring antar wilayah atau dikenal dengan istilah intercity clearing. Sebelum sistem intercity clearing

transfer yang harus ditanggung oleh nasabah, waktu penyelesaian transaksi relatif lama dan ketidakpastian dana yang pada akhirnya akan menyebabkan ketidakefisienan sistem pembayaran nasional. Berkaitan dengan hal tersebut, dikembangkan sistem intercity clearing yang membolehkan bank mengkliringkan warkat-warkatnya pada penyelenggara kliring wilayah manapun. Hal ini dimungkinkan dengan melihat adanya teknologi yang dimiliki oleh perbankan yang sanggup untuk melakukan verifikasi secara on line atas cek/ bilyet giro luar kota. Secara teknis, pendaftaran untuk menjadi peserta intercity clearing dilakukan hanya satu kali oleh kantor pusat bank yang bersangkutan dan akan berlaku bagi seluruh kantor cabang bank tersebut di seluruh Indonesia. Dengan adanya kemungkinan bagi setiap bank untuk mengkliringkan cek/BG luar kota, maka bank peserta intercity clearing perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

diimplementasikan pada 1 Oktober 2002, penyelenggaraan kliring antarbank masih bersifat lokal dimana cek/bilyet giro (BG) yang dapat dikliringkan hanyalah cek/BG yang diterbitkan oleh kantor bank yang menjadi peserta kliring diwilayah kliring yang bersangkutan. Sementara untuk cek/ BG yang diterbitkan oleh bank diluar wilayah kliring lokal yang bersangkutan akan diproses melalui mekanisme inkaso baik melalui bank sendiri ataupun melalui bank lain atau bank korespoden. Kondisi ini membawa dampak yang kurang menguntungkan baik dari sisi perbankan, masyarakat dan BI yaitu diantaranya kurangnya kualitas pelayanan yang dapat diberikan kepada nasabah, tingginya biaya

a. Sistem verifikasi cek/BG Sistem dan prosedur verifikasi atau validasi atas cek/BG merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank peserta khususnya untuk cek/BG yang diterbitkan oleh kantor bank yang berada diwilayah kliring lain. Dalam hal ini bank perlu memperhatikan aspek keamanan, efisiensi dan ketersediaan back up (contingency plan).

195

Sistem Pembayaran Nasional

b. Pencetakan warkat Dengan diterapkannya sistem intercity clearing, maka kantor bank yang menjadi peserta diwilayah kliring otomasi/elekronik harus mengisi field-field: sandi kantor, bank tertarik, nomor rekening, sandi transaksi dan nominal apabila akan mengkliringkan setoran cek/BG luar kota yang berasal dari wilayah nonotomasi dimana kondisi clear band masih dalam keadaan kosong. Oleh karena itu bank perlu memperhatikan pencetakan warkat baik yang dilakukan secara desentralisasi maupun sentralisasi (oleh kantor pusat) agar tetap mengacu pada standar yang telah ditentukan oleh BI.

Sementara dari sisi penyelenggara kliring, dengan diterapkannya sistem intercity clearing menimbulkan kewajiban bagi penyelenggara untuk melakukan updating sandi peserta kliring pada aplikasi yang digunakan sebagai penyelenggara. Proses updating perlu dilakukan setiap kali terdapat pendaftaran, penambahan maupun pengurangan kepesertaan dalam sistem intercity clearing. Pada akhirnya penerapan intercity clearing diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan perbankan khususnya bagi pembayaran cek/BG antar kota.

196

10 : Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

BAB

laporan tahunan

10 Perekonomian Dunia dan

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Kerja Sama Internasional

197

BPerekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional AB PEREKONOMIAN

10

DUNIA DAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

Perekonomian dunia selama 2002 membaik terutama didukung oleh pesatnya laju pertumbuhan negara-negara Asia.

P

erkembangan ekonomi dunia dalam tahun laporan cenderung membaik dibandingkan dengan

keuangan

internasional,

dan

regional

masih

menitikberatkan pada upaya memperkuat arsitektur keuangan internasional sebagai upaya menjaga stabilitas keuangan internasional. Di samping itu, berbagai pertemuan internasional membahas secara intensif mengenai upaya-upaya masing-masing negara dalam rangka anti pencucian uang dan pemberantasan pembiayaan terorisme. Dalam kerjasama di bidang pembangunan, pada tahun laporan telah dicapai komitmen bersama yang dituangkan dalam “Monterrey Consensus” yang menjadi acuan bagi lembaga keuangan dan negara donor dalam program meningkatkan pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan.

tahun sebelumnya, walaupun masih dibayangi dengan ketidakpastian. Hal tersebut ditandai oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang meningkat secara moderat, meningkatnya volume perdagangan dunia dan menurunnya tingkat inflasi di berbagai kawasan. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi dunia tersebut tidak sebesar yang diharapkan sebelumnya karena konsumsi dunia masih lemah yang dipengaruhi oleh tingginya tingkat pengangguran dan

ketidakpastian prospek ekonomi. Disamping itu, kegiatan pasar saham dunia cenderung melemah, terutama pada paro kedua, akibat skandal laporan keuangan perusahaan besar Amerika Serikat (AS). Perkembangan ekonomi dunia pada 2002 juga ditandai dengan meningkatnya geopolitical risk yang pada gilirannya mempengaruhi kepercayaan usaha dan kepercayaan konsumen. Dalam upaya memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, negara-negara utama dunia cenderung menjalankan kebijakan ekonomi longgar sebagaimana tercermin pada tingkat suku bunga yang cenderung turun. Berbagai perkembangan ekonomi dunia tersebut, mendapatkan perhatian dari berbagai forum internasional. Selama tahun laporan, pembahasan dalam berbagai forum kerjasama moneter dan

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA Selama 2002, perekonomian dunia tumbuh 2,8%, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2,2%). Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, volume perdagangan dunia meningkat menjadi 2,1%. Dari sisi harga, tingkat inflasi di berbagai kawasan cenderung menurun sebagaimana tercermin pada inflasi negara maju yang turun dari 2,2% menjadi 1,4% dan di negara berkembang turun dari 5,7% menjadi 5,6%. Sementara itu, suku bunga dalam tahun laporan cenderung menurun (Tabel 10.1) (Grafik 10.1). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun laporan terutama ditopang oleh

198

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Tabel 10.1 Beberapa Indikator Ekonomi Dunia
Indikator Pertumbuhan Ekonomi (%) Dunia Negara-negara industri Negara-negara berkembang Negara-negara dalam transisi Laju Inflasi (%) Negara-negara industri Negara-negara berkembang Volume Perdagangan Dunia (% pertumbuhan) Harga Perdagangan Dunia (% perubahan) Barang manufaktur Minyak mentah Komoditas primer nonmigas Nilai Tukar Utama Yen/$ $/EURO Suku Bunga Negara Industri (rata-rata %) Jangka pendek Jangka panjang 4,5 5 3,2 4,4 2,3 4,2 107,8 0,924 121,5 0,896 124 0,939 -5,2 57 1,8 -2,3 -14 -5,4 2,6 0,5 4,2 12,6 -0,1 2,1 2,3 6,1 2,2 5,7 1,4 5,6 4,7 3,8 5,7 6,6 2,2 0,8 3,9 5 2,8 1,7 4,2 3,9 2000 2001 2002*

Namun demikian perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia tersebut masih disertai dengan pertumbuhan konsumsi yang relatif rendah di semua kawasan, yang terutama disebabkan oleh tingginya angka pengangguran. Jumlah pengangguran yang cenderung meningkat menyebabkan menurunnya ekspektasi pendapatan sehingga mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsinya. Masih lemahnya tingkat konsumsi telah mengurangi tekanan inflasi sebagaimana tercermin pada menurunnya laju inflasi di semua kawasan. Sementara itu investasi cenderung masih lemah seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan AS dan sekutunya ke Irak, skandal akuntansi yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar di AS, serta

kekhawatiran terhadap meningkatnya kegiatan terorisme. Meningkatnya harga minyak hingga sempat mencapai $31,4 per barel dalam tahun laporan, juga

Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002, Bloomberg

membaiknya perekonomian AS, pesatnya laju pertumbuhan negara-negara di kawasan Asia, terutama Cina dan negara industri baru Asia, serta berlanjutnya pemulihan ekonomi di beberapa negara di Asia.

turut memberikan tekanan terhadap konsumsi dan investasi dunia. Kebijakan ekonomi dunia selama 2002 masih melanjutkan kebijakan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung ekspansif baik melalui kebijakan moneter

Grafik 10.1 Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Industri Utama

Grafik 10.2 Perkembangan Inflasi Negara-Negara Industri Utama

199

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

maupun kebijakan fiskal. Kebijakan tersebut ditempuh dalam upaya memberikan stimulus yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, sehubungan dengan kecenderungan melambatnya ekonomi dunia setelah mencapai pertumbuhan yang relatif tinggi pada triwulan pertama. Kebijakan ekonomi longgar terutama ditempuh oleh negaranegara utama yang memiliki inflasi rendah, seperti AS, Jepang dan kawasan Uni Eropa. Dalam pada itu, di beberapa negara lainnya, khususnya negara-negara yang menghadapi ancaman inflasi, baik di negara maju maupun di negara berkembang, kebijakan yang dipilih adalah meningkatkan efektivitas dan kredibilitas kebijakan anti inflasi (grafik 10.3). Sementara itu, perkembangan pasar modal pada semester pertama tahun laporan ditandai dengan optimisme yang kuat terhadap membaiknya ekonomi AS. Namun demikian, memasuki semester berikutnya perkembangan pasar modal mulai menunjukkan arah yang berbeda. Perkembangan tersebut diawali dengan menurunnya bursa saham AS seiring dengan melesunya perekonomian AS, skandal akuntansi yang melibatkan perusahaanperusahaan besar AS serta berubahnya ekspektasi keuntungan perusahaan, sehingga memberikan sentimen bearish terhadap bursa saham. Sentimen bearish tersebut kemudian menjalar ke bursa saham Eropa, Jepang dan bursa-bursa saham lainnya di dunia. Meskipun secara umum kondisi perekonomian dunia membaik, beberapa faktor risiko dan ketidakpastian masih membayangi kesinambungan pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan. Kinerja ekonomi di tiga kekuatan ekonomi dunia yaitu AS, Eropa

Barat dan Jepang masih rentan. Sementara itu proses restrukturisasi di negara-negara emerging market khususnya Asia masih belum sepenuhnya berjalan baik sehingga masih sangat rentan terhadap gangguan eksternal (external shock). Disamping itu, ancaman serangan AS dan sekutunya terhadap Irak telah memperbesar risiko usaha (business risk) karena meningkatnya ketidakpastian.

Amerika Serikat Pada tahun laporan pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan mencapai 2,2%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya (0,3%). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari kebijakan moneter yang cenderung longgar (easing bias) yang diambil pada tahun sebelumnya, antara lain melalui penurunan Fed Fund rate sebanyak 11 kali pada 2001, yaitu dari 6,5% pada akhir 2000 menjadi 1,75% pada akhir 2001. Sebagai akibatnya, pada triwulan pertama tahun laporan, pertumbuhan ekonomi AS meningkat tajam sebesar 5,0% (q-t-q). Sejalan dengan perkembangan yang positif tersebut beberapa indikator

memperlihatkan peningkatan aktivitas ekonomi seperti meningkatnya kegiatan di sektor manufaktur, naiknya konsumsi dan turunnya persediaan. Namun demikian pada triwulan-triwulan selanjutnya perekonomian AS kembali melambat dipicu oleh melemahnya pengeluaran konsumsi swasta dan investasi domestik. Melemahnya kegiatan investasi dan konsumsi tersebut merupakan akibat dari menurunnya kepercayaan dunia usaha dan konsumen terhadap prospek perekonomian. Penurunan kegiatan dunia usaha tercermin pada penurunan jumlah pesanan produksi manufaktur, turunnya tingkat pemakaian kapasitas

200

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

terpasang dan berkurangnya produksi industri. Penurunan kinerja dunia usaha menyebabkan lemahnya penciptaan lapangan kerja bahkan beberapa perusahaan harus mengurangi karyawannya. Sebagai akibatnya, pengangguran meningkat dari 5,7% pada awal tahun menjadi 6,0% pada akhir 2002 sehingga tidak mampu untuk mendorong konsumsi. Penurunan konsumsi juga didukung oleh indikator lain seperti menurunnya consumer confidence dan angka penjualan retail. Masih lemahnya konsumsi masyarakat AS dalam tahun laporan telah menekan inflasi pada level yang rendah. Tingkat inflasi pada 2002 diperkirakan mencapai 1,5%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (2,8%). Tingkat inflasi ini juga lebih rendah dibandingkan dengan target inflasi Federal Reserve sebesar 2,5%. Indikator penurunan kinerja ekonomi AS juga terlihat dari pasar keuangan sebagaimana ditunjukkan oleh indeks pasar modal yang terus menurun seiring dengan depresiasi dolar. cukup besar tersebut diharapkan mampu
7,5 7,0 6,5 6,0 5,5 5,0 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 4/30/1999 6/30/1999 8/31/1999 2/29/2000 4/28/2000 6/30/2000 8/31/2000 2/28/2001 4/30/2001 6/29/2001 8/31/2001 2/28/2002 4/30/2002 6/28/2002 10/29/1999 12/31/1999 10/31/2000 12/30/2000 10/31/2001 12/31/2001 8/30/2002 10/31/2002 12/31/2002

Persen Fed Fund Effective

Fed Fund Target

Grafik 10.3 Suku Bunga Fed Fund

memberikan stimulus bagi kegiatan konsumsi maupun investasi (Grafik 10.3). Di sisi fiskal, Pemerintah AS telah mengeluarkan paket stimulus fiskal senilai $674,0 miliar selama 10 tahun dimulai dari 2001. Selama 2002 telah dikucurkan paket stimulus fiskal sebesar $80,0 miliar. Program stimulus fiskal ini diantaranya berupa percepatan pemotongan pajak bagi investasi baru, penurunan pajak atas deviden, dan peningkatan subsidi bagi pengangguran. Kebijakan tersebut mengakibatkan defisit anggaran pemerintah AS meningkat menjadi $158,0 miliar pada 2002.

Melemahnya indeks pasar modal dan nilai tukar dolar Amerika tersebut terutama disebabkan oleh sentimen negatif pasar akibat terjadinya skandal laporan keuangan di beberapa perusahaan besar AS, kekhawatiran akan serangan AS ke Irak, dan prospek melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Dari sektor eksternal, memburuknya kinerja ekonomi juga terlihat pada semakin besarnya defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Menghadapi perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut, pada 6 November 2002 Federal Reserve telah memotong target suku bunga Fed Fund sebesar 50 bps menjadi 1,25%. Penurunan yang

Negara-negara Euro Pada tahun laporan pertumbuhan ekonomi negaranegara yang tergabung dalam kawasan Eropa mencatat pertumbuhan 1,1%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (1,6%). Meskipun lebih rendah, pergerakan ekonomi kawasan Eropa menunjukkan arah yang sama dengan AS. Setelah mencatat pertumbuhan yang stabil pada triwulan pertama, kinerja ekonomi di kawasan ini menunjukkan perlambatan hingga akhir tahun.

201

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Penurunan kegiatan ekonomi disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor, investasi dan konsumsi. Menurunnya kinerja ekspor diindikasikan oleh turunnya produksi industri dan pesanan pabrikan (factory order) terutama yang ditujukan untuk kegiatan ekspor, akibat melambatnya kinerja ekonomi AS sebagai pasar utama Eropa. Sementara itu turunnya business confidence index menunjukkan pesimisme dunia usaha akan prospek usaha di kawasan Euro. Melemahnya kegiatan usaha telah menyebabkan berkurangnya pendapatan perusahaan. Untuk mengurangi kerugian, banyak perusahaan yang mulai mengurangi tenaga kerjanya, sehingga tingkat pengangguran meningkat hingga 8,3%. Peningkatan pengangguran dan suramnya prospek ekonomi telah menurunkan keyakinan konsumen (consumer confidence) dan menahan konsumen untuk membelanjakan pendapatannya sehingga konsumsi dan penjualan eceran menurun. Menurunnya kinerja ekonomi telah berdampak pada terlampauinya batasan defisit fiskal 3,0% terhadap PDB di beberapa negara utama seperti Jerman, Perancis dan Spanyol. Perlambatan ekonomi yang dialami oleh Jerman khususnya, telah membawa pengaruh yang besar bagi kawasan Uni Eropa secara keseluruhan karena Jerman merupakan negara terbesar dalam Uni Eropa. Melemahnya konsumsi masyarakat merupakan faktor utama penyebab berkurangnya laju inflasi di kawasan ini . Tingkat inflasi pada tahun laporan diperkirakan hanya mencapai 2,1% sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi tahun sebelumnya yang mencapai 2,6%, namun sedikit melebihi target inflasi European Central Bank (ECB) sebesar 2,0%.

Dengan inflasi yang lebih tinggi dari target mendorong ECB untuk mempertahankan suku bunga pada level 3,25% di tengah menurunnya kinerja perekonomian. Penurunan suku bunga dilakukan pada 5 Desember 2002 sebesar 50 bps setelah laju inflasi Jerman menunjukkan penurunan pada November 2002.

Jepang Dalam tahun laporan perekonomian Jepang terlihat makin suram sebagaimana tercermin pada kontraksi ekonomi yang makin besar pada 2002 yaitu – 0,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar – 0,3%. Sumber utama memburuknya kinerja ekonomi Jepang adalah karena masih belum terselesaikannya berbagai permasalahan struktural di dalam negeri. Proses restrukturisasi korporasi dan perbankan yang belum tuntas telah berdampak luas pada seluruh sendi perekonomian melalui credit crunch. Tingginya kredit macet pada sektor perbankan telah memberatkan neraca keuangan perbankan dan perusahaan sehingga menghambat kemampuan bank untuk menyalurkan kredit, maupun kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba. Fenomena credit crunch tersebut telah menyebabkan banyak perusahaan yang bangkrut maupun mengurangi karyawannya, sehingga mendorong tingkat pengangguran Jepang pada 2002 masih bertahan pada level tinggi yaitu 5,5% dan diperkirakan akan semakin meningkat pada 2003. Tingginya angka pengangguran dan suramnya prospek ekonomi semakin mengurangi minat konsumsi masyarakat Jepang. Lemahnya konsumsi juga telah memperburuk inflasi Jepang yang telah negatif sejak beberapa tahun

202

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

terakhir. Deflasi Jepang pada 2002 diperkirakan sebesar 1,0% lebih buruk dibandingkan dengan deflasi 0,7% pada tahun sebelumnya. Penurunan harga-harga tersebut menyebabkan semakin banyaknya perusahaan yang bangkrut terutama perusahaan dengan pangsa konsumen domestik. Lemahnya permintaan domestik merupakan salah satu masalah fundamental dalam perekonomian Jepang. Berbagai upaya untuk meningkatkannya sejauh ini belum memperlihatkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Kebijakan moneter longgar dengan suku bunga yang mendekati nol persen (zero interest rate policy) dan penyediaan dana hingga triliunan yen ke sistem keuangan, tidak mampu mendorong konsumsi. Demikian juga dari sisi fiskal, pemerintah Jepang telah beberapa kali melaksanakan paket stimulus fiskal. Lemahnya permintaan domestik mengakibatkan ekonomi Jepang saat ini sangat tergantung pada ekspor. Dalam posisi ini, perdagangan Jepang menjadi sangat tergantung pada permintaan luar negeri dan nilai tukar mata uang. Dalam hal ini, usaha yang dapat dilakukan pemerintah Jepang untuk mendorong ekspor adalah dengan melakukan kebijakan di bidang nilai tukar. Meskipun perkembangan ekonomi Jepang tidak menggembirakan, sentimen negatif terhadap dolar dalam 2002 telah menyebabkan yen mengalami apresiasi terhadap dolar hingga 9,8%. Apresiasi yen tersebut dipandang terlampau kuat, dan dikhawatirkan akan memperlemah daya saing ekspor Jepang sehingga kurang menguntungkan bagi perekonomian Jepang. Oleh karena itu, Bank of Japan telah melakukan intervensi beberapa kali dan meminta the Fed dan ECB untuk menjual cadangan yen mereka guna menahan laju apresiasi yen.

Asia Non Jepang Membaiknya perkembangan ekonomi dunia pada tahun laporan, banyak ditopang oleh relatif tingginya pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia. Beberapa negara Asia yang mengalami pertumbuhan yang tinggi antara lain ekonomi Cina dan Laos PDR yang diperkirakan tumbuh 7,5% dan 5,5%, lebih tinggi dibandingkan 7,3% dan 5,3% tahun sebelumnya. Sementara itu Korea Selatan mengalami pertumbuhan yang mengesankan, diperkirakan tumbuh 6,3% dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. Demikian juga negara-negara ASEAN mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam pada tahun laporan yaitu masing-masing diperkirakan mencapai 3,0% - 4,0%. Relatif tingginya pertumbuhan ekonomi negaranegara di kawasan Asia tersebut antara lain didukung oleh kebijakan ekonomi yang cenderung longgar (easing bias) baik melalui kebijakan fiskal, moneter maupun perdagangan. Beberapa negara seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Cina bahkan mengalami defisit anggaran pemerintah akibat kebijakan ekspansi fiskal. Di samping itu Cina juga menerapkan kebijakan melonggarkan ketentuan penanaman modal untuk menarik investasi. Kebijakan fiskal yang ditempuh oleh Korea Selatan dan Singapura adalah dengan penurunan tarif pajak. Sementara itu kebijakan penurunan suku bunga diambil oleh Taiwan, Singapura dan Indonesia. Kebijakan yang cenderung longgar tersebut dapat diterapkan karena tingkat inflasi negara-negara Asia pada umumnya bergerak pada kisaran yang rendah dan cenderung menurun. Dalam tahun laporan

203

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

tingkat inflasi negara industri baru Asia turun dari 2,4% menjadi 1,8%, sementara tingkat inflasi negara berkembang Asia turun dari 2,6% menjadi 2,1%. Perlambatan ekonomi dunia dan berkurangnya permintaan dari negara-negara utama dunia telah mengakibatkan persaingan yang semakin ketat dalam perdagangan dunia. Pada umumnya untuk

(2,8%). Ekonomi Brazil diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1,5% sama dengan tahun sebelumnya, sedangkan pertumbuhan ekonomi Meksiko meningkat tajam dari – 0,3% menjadi 1,5%. Di samping dihadapkan pada permasalahan yang spesifik berkembang pada masingmasing negara, penurunan kinerja ekonomi kawasan tersebut terjadi seiring dengan masih belum pulihnya tingkat konsumsi AS yang merupakan mitra dagang utama bagi negara-negara di kawasan Amerika Latin. Penurunan ekspor telah menyebabkan berkurangnya output industri, meningkatnya pengangguran dan selanjutnya

meningkatkan daya saing, kebijakan yang ditempuh adalah dengan mengupayakan agar nilai tukar tetap kompetitif. Selain itu, beberapa negara juga telah melaksanakan kebijakan reorientasi pasar ekspor, dari pasar tradisional (yaitu AS dan Jepang) menuju pasarpasar lain yang potensial, terutama ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara (intra regional trading). Meskipun ekonomi mengalami pertumbuhan yang pesat, namun restrukturisasi korporasi dan perbankan belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Masih relatif tingginya kredit macet menyebabkan kualitas aset di kedua sektor tersebut belum membaik. Di beberapa negara hal ini telah menghambat fungsi intermediasi perbankan sekaligus merupakan tantangan yang masih dihadapi pada 2003.

menurunkan permintaan dalam negeri. Kinerja perekonomian yang memburuk tersebut juga diiringi meningkatnya laju inflasi dari 6,4% pada 2001, menjadi 8,6% pada tahun laporan. Naiknya laju inflasi terutama disumbang oleh Argentina dengan tingkat inflasi yang diperkirakan mencapai 29,0% yang disebabkan oleh turunnya likuiditas perekonomian akibat capital outflow, ketidakstabilan sosial politik dalam negeri, serta depresiasi nilai tukar peso. Nilai tukar peso Argentina pada paro pertama tahun 2002 telah terdepresasi hingga 70,0% dan kembali mengalami apresiasi hingga 14,0% mulai September 2002 karena

Amerika Latin Dalam tahun laporan, ekonomi negara-negara di kawasan Amerika Latin secara umum mengalami kontraksi -0,6%, memburuk dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan positif (0,6%). Kontraksi tersebut terutama disumbang oleh Argentina sebagai negara terbesar di kawasan tersebut yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi hingga -16,0% setelah tahun lalu mengalami kontraksi –4,4%. Penurunan kinerja ekonomi juga dialami oleh Chile yang diperkirakan tumbuh 2,2% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya

didorong oleh sentimen positif bahwa IMF kembali akan memberikan bantuannya. Sementara itu berbeda dengan Argentina, laju inflasi di ketiga negara utama kawasan Amerika Latin lainnya mengalami penurunan. Untuk mengatasi kesulitan ekonomi, Argentina menerapkan reformasi sektor publik dan pemulihan intermediasi perbankan, Brazil menerapkan kebijakan ekonomi pro pertumbuhan termasuk menerapkan kebijakan moneter longgar, sementara Meksiko menerapkan kebijakan fiskal yang berhati-hati sejalan dengan perencanaan bank sentral.

204

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Pasar Keuangan Internasional Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia yang cenderung melambat menjelang akhir tahun laporan, perkembangan di pasar keuangan juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Pasar saham diberbagai bursa utama dunia terlihat menurun terutama pada paro kedua tahun laporan. Menurunnya indeks bursa saham terkait dengan menurunnya minat investor akibat memburuknya prospek usaha dan meningkatnya risiko geopolitik (geopolitical risk). Pergerakan indeks bursa saham diwarnai oleh isu melambatnya ekonomi AS dan Eropa, skandal laporan keuangan yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar di AS, ancaman serangan AS dan sekutunya ke Irak, dan kekhawatiran meningkatnya terorisme internasional. Terpuruknya bursa saham di AS telah mempengaruhi penurunan di bursa saham kawasan Eropa dan Jepang. Selain karena efek penularan dari bursa saham AS, merosotnya indeks harga saham Eropa dan Jepang juga dipicu oleh memburuknya kondisi usaha di kawasan tersebut. Kondisi ekonomi yang sedang lesu telah menyebabkan turunnya permintaan domestik sehingga pendapatan dan keuntungan perusahaanperusahaan mengalami penurunan. Penurunan harga saham terutama untuk perusahan yang bergerak di bidang otomotif dan teknologi informasi seperti komputer dan komponennya. Menurunnya kegiatan ekonomi terutama pada paro kedua tahun laporan yang disertai dengan kecenderungan penurunan tingkat inflasi telah menimbulkan tekanan penurunan suku bunga pasar uang di berbagai kawasan dunia. Suku bunga LIBOR $ berjangka waktu 6 bulan turun dari 1,98% pada Desember 2001 menjadi 1,38% pada bulan Desember

2002. Sedangkan suku bunga LIBOR Euro berjangka waktu 6 bulan turun dari 3,25% menjadi 2,80% untuk periode yang sama. Pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan gejala perlambatan pada paro kedua tahun laporan juga telah memberikan tekanan bagi bank sentral negara utama dunia untuk menurunkan suku bunga benchmark-nya. Pada triwulan empat, Fed Res dan ECB telah menurunkan suku bunga benchmarknya sebesar 50 bps yaitu masing-masing dari 1,75% dan 3,25% menjadi 1,25% dan 2,75%. Sementara itu di kawasan Asia non Jepang, suku bunga cenderung bergerak turun namun dengan besaran yang beragam (Grafik 10.4). Sementara itu, di pasar valas nilai tukar dolar AS mengalami depresiasi terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia terutama euro dan yen. Terpuruknya bursa saham AS akibat ketidakpastian prospek ekonomi AS dan skandal laporan keuangan, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman serangan AS dan sekutunya ke Irak telah menyebabkan penanaman dalam dolar beresiko lebih tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan investor cenderung melepaskan aset dalam denominasi dolar sehingga mengurangi

Grafik 10.4 Perkembangan Suku Bunga LIBOR

205

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

permintaan terhadap dolar. Sejalan dengan apresiasi yen terhadap dolar, nilai tukar mata uang Asia lainnya juga cenderung menguat. Dalam tahun laporan, rupiah tercatat merupakan mata uang yang berkinerja terbaik di Asia.

Harga komoditas nonmigas dalam tahun laporan secara umum juga mengalami peningkatan. Faktor yang melatarbelakangi kenaikan tersebut terutama adalah meningkatnya permintaan seiring dengan membaiknya perkembangan ekonomi dunia. Dari sisi penawaran, pasokan komoditas dalam tahun laporan

Pasar Komoditas Internasional Setelah mencapai level terendah dalam tahun 2001, harga-harga di pasar komoditas internasional kembali naik di 2002. Harga-harga komoditas tersebut secara umum mengalami kenaikan sejalan dengan peningkatan volume perdagangan dunia dan membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia. Meskipun demikian, masing-masing komoditas mengalami pergerakan yang beragam sepanjang tahun laporan. Minyak bumi sebagai salah satu komoditas utama dunia mengalami peningkatan yang tajam dalam tahun laporan. Kecenderungan peningkatan harga minyak dunia tersebut terutama dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: (i) meningkatnya permintaan seiring dengan perkembangan ekonomi dunia yang cenderung membaik; (ii) meningkatnya kekhawatiran terjadinya serangan AS ke Irak yang dapat mengganggu kelancaran pasokan minyak dunia dan; (iii) terjadinya gejolak di Venezuela, yang juga merupakan salah satu produsen utama minyak dunia, pada akhir 2002. Faktor-faktor tersebut menyebabkan harga minyak dunia sepanjang tahun laporan cenderung berada pada level yang tinggi, di atas target OPEC yaitu $22,0-28,0 per barrel, bahkan harga minyak mentah brent sempat mengalami lonjakan hingga mencapai $31,4 per barrel, yang juga merupakan harga tertinggi pada 2002. Secara point to point harga minyak dunia telah meningkat 55,0% yaitu dari $19,3 per barrel menjadi $29,9 per barrel.

cenderung stabil sebagaimana tercermin pada tingkat persediaan dunia yang mencukupi. Sementara itu salah satu komoditas utama nonmigas dunia yaitu emas, mengalami peningkatan harga yang tajam dalam tahun laporan. Kecenderungan meningkatnya harga emas tersebut terjadi seiring dengan melesunya pasar saham internasional dan melemahnya nilai tukar dolar. Kecenderungan melesunya pasar saham telah meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif investasi. Sementara itu, melemahnya dolar menyebabkan harga emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, terlihat semakin murah sehingga mendorong naiknya permintaan terhadap logam mulia ini. Sementara itu meningkatnya suhu di kawasan Teluk juga telah memberikan dorongan peningkatan permintaan terhadap emas karena emas dipandang merupakan investasi yang aman. Harga emas dunia dalam tahun laporan meningkat 25,0% yaitu dari $278,9 per troy oz menjadi $348,1 per troy oz dan sempat mencapai level tertinggi hingga $349,7 per troy oz.

KERJASAMA INTERNASIONAL Selama tahun laporan, pembahasan dalam berbagai forum kerjasama moneter dan keuangan internasional dan regional masih menitikberatkan pada upaya memperkuat arsitektur keuangan internasional. Di samping itu, berbagai pertemuan

206

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

internasional membahas secara intensif mengenai upaya-upaya masing-masing negara dalam rangka anti money laundering dan pemberantasan pembiayaan terorisme. Dalam kerjasama di bidang pembangunan, pada tahun laporan telah dicapai komitmen bersama yang dituangkan dalam “Monterrey Consensus” yang menjadi acuan bagi lembaga keuangan dan negara donor dalam program meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan.

krisis di masa yang akan datang. Selain surveillance rutin yang dilakukan oleh IMF terhadap negara-negara anggotanya setiap tahunnya (Article IV Consultations), beberapa forum internasional seperti G-20 juga memonitor perkembangan pemenuhan suatu negara terhadap Standards dan Codes Internasional sebagaimana dilakukan dalam program IMF “Reports on the Observance on Standards and Codes”. Sebagai hasil review pada April 2002 terhadap program surveillance, IMF memperluas cakupan

Kerjasama di Bidang Moneter, Keuangan dan Perbankan International Financial Architecture Selama tahun laporan, berbagai lembaga keuangan dan forum-forum kerjasama internasional dan regional melanjutkan upaya-upaya memperkuat arsitektur keuangan internasional dan meningkatkan stabilitas keuangan internasional. Upaya tersebut antara lain diwujudkan dengan memperkuat pengawasan (surveillance) untuk mencegah terjadinya krisis, meningkatkan keterlibatan swasta dalam mencegah dan menanggulangi krisis. Sementara itu, di kawasan ASEAN, upaya meningkatkan stabilitas keuangan regional antara lain merupakan penjabaran dari komitmen para pemimpin negara ASEAN untuk mencapai Asian Vision 2020 yang dirumuskan dalam Roadmap for Integration of ASEAN (RIA).

surveillance dari hanya moneter, fiskal, dan nilai tukar menjadi assessment terhadap kerentanan sektor eksternal, analisis sustainability utama pinjaman luar negeri, kerentanan sektor finansial dan kebijakan struktural dan institusi. Perluasan ini sejalan dengan perubahan yang terjadi dalam situasi global serta ekspansi aliran modal internasional. Di tingkat regional, surveillance semakin ditingkatkan dengan diselenggarakannya informal policy dialogue ASEAN+3 di samping upaya bersama di ASEAN bekerjasama dengan ADB untuk membangun Sistem Deteksi Dini (Early Warning System) terhadap kemungkinan timbulnya krisis.

Keterlibatan Sektor Swasta dalam Mencegah dan Menanggulangi Krisis Upaya pencegahan dan penanggulangan krisis, khususnya krisis keuangan mendapatkan perhatian

Surveillance Krisis di Asia dan Amerika Latin telah mendorong berbagai lembaga internasional, seperti IMF, ASEAN, ASEAN+3 dan ADB untuk mengambil langkah-langkah memperkuat efektivitas surveillance dengan pandangan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya

besar tidak hanya dari negara yang mengalami krisis tetapi juga menjadi perhatian dunia. Keterlibatan sektor swasta dalam mencegah dan menanggulangi krisis dimaksudkan untuk membagi beban resolusi krisis secara adil dengan sektor pemerintah, memperkuat disiplin pasar, dan meningkatkan

207

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

kemampuan “emerging market borrower” dalam melindungi dirinya sendiri dari volatilitas dan efek penularan. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain melalui peningkatan transparansi, privatisasi, good corporate governance, penyelesaian utang yang mencakup standstill, dan mekanisme restrukturisasi ULN Pemerintah (Sovereign Debt Restructuring Mechanism - SDRM).

pertumbuhan, tanpa meningkatkan risiko default. Konsep ini telah disetujui International Monetary and Financial Committee pada April 2002 untuk dikembangkan sebagai bagian dari upaya IMF untuk memperbaiki penanganan krisis (crisis management). SDRM dirancang untuk memfasilitasi

restrukturisasi ULN pemerintah dari negara anggota IMF yang menghadapi masalah unsustainable debt melalui kerangka aksi secara kolektif (collective ac-

SDRM Permasalahan beban utang pemerintah yang memberatkan kondisi fiskal banyak dialami oleh negara berkembang seperti di negara Amerika Latin, Turki, dan Rusia. Berulangnya permasalahan krisis utang di beberapa negara telah mendorong perhatian lembagalembaga internasional untuk mencari alternatif solusi. Restrukturisasi ULN pemerintah merupakan salah satu alternatif yang dapat membantu untuk mengatasi krisis utang luar negeri dan memberikan manfaat bagi kreditor, debitor maupun perekonomian negara penerima utang. Dalam pelaksanaannya, proses menuju tercapainya kesepakatan restrukturisasi utang luar negeri seringkali mengalami hambatan dan berlarutlarut. Salah satu problem utamanya adalah kesulitan untuk menjamin aksi bersama (collective action) di antara para kreditor dalam upaya mencapai kesepakatan negosiasi karena masing-masing kreditor mengutamakan kepentingannya dan mencoba free-ride dengan harapan memperoleh pembayaran sesuai dengan kontrak awal. Dengan latar belakang tersebut, IMF mengajukan proposal yang intinya adalah membentuk SDRM sebagai kerangka kerja penjadwalan kembali utang luar negeri secara seimbang untuk memulihkan sustainability dan

tion) di antara para kreditor. SDRM ditujukan agar proses restrukturisasi menjadi lebih teratur, terukur dan dapat cepat terselesaikan. SDRM juga memberikan proteksi nilai aset dan hak-hak kreditor. Konsep ideal dari SDRM dimaksudkan untuk dapat mencapai keseimbangan insentif yang tepat baik bagi pemerintah selaku debitor maupun bagi para kreditornya. Apabila konsep SDRM ini berhasil dirancang dan diimplementasikan secara tepat, diharapkan akan dapat mengurangi biaya

restrukturisasi bagi debitor dan kreditor. Jenis utang yang dapat diikutsertakan dalam inisiatif SDRM adalah ULN pemerintah yang berasal dari kreditor swasta atas dasar perjanjian di bawah hukum internasional, misalnya eurobonds dan syndicated bank loans. SDRM tidak mencakup pinjaman resmi pemerintah yang berasal dari pemerintah negara lain (kini ditangani oleh Paris Club) dan lembaga-lembaga keuangan internasional, instrumen utang pemerintah yang dimiliki oleh lembaga keuangan internasional, utang pemerintah yang diatur oleh hukum domestik (obligasi domestik pemerintah) dan tagihan kepada swasta, termasuk tagihan terhadap sistem perbankan. Konsep SDRM yang dirancang dengan memberikan perhatian lebih kepada kepentingan negara-negara

208

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

berkembang nampaknya masih terus dikaji agar lebih relevan bagi banyak krisis keuangan yang terjadi di negara-negara berkembang, khususnya mengenai kemungkinan perluasan cakupan ULN pemerintah yang dapat ditangani melalui SDRM. Perdebatan di tingkat internasional masih berlangsung dengan alot, seperti terjadi dalam sidang dewan eksekutif IMF, sidang G20, dan pertemuan Manila Framework, antara lain menyangkut formulasi kerangka hukum internasional, penentuan mekanisme voting dan aspek teknis lainnya, mengingat negara-negara kreditur khawatir akan dirugikan kepentingannya.

Pembentukan Mata Uang Tunggal ASEAN Salah satu bentuk persiapan ke arah integrasi keuangan ASEAN adalah dengan melakukan studi mengenai kesesuaian dan prakondisi pembentukan mata uang tunggal. ASEAN Currency and Exchange Rate Mechanism Task Force telah memulai studi tersebut pada pertengahan 2001 dan telah menyelesaikan dan melaporkan hasil studi tersebut pada ASEAN Central Bank Forum Oktober 2002. Hasil analisis menunjukkan bahwa ide pembentukan mata tunggal ASEAN belum dapat diwujudkan dalam waktu dekat mengingat perbedaan kesenjangan ekonomi yang begitu besar antara negara-negara ASEAN. Rendahnya tingkat

Roadmap for Integration of ASEAN (RIA) Dalam KTT ASEAN November 2001 di Brunei, para pemimpin negara-negara ASEAN mengeluarkan the RIA yang menjadi payung bagi kesepakatan-kesepakatan ekonomi dan inisiatif ASEAN untuk menuju integrasi ASEAN 2020. RIA memiliki tiga pilar utama yaitu: (i) menjembatani kesenjangan pembangunan; (ii) memperdalam kerjasama ekonomi; (iii) meningkatkan integrasi ekonomi. RIA di bidang keuangan dan moneter dijabarkan dalam 4 isu utama yaitu: (i) mengembangkan pasar modal ASEAN; (ii) liberalisasi sektor jasa; (iii) liberalisasi neraca modal (capital account); (iv) pembentukan mata uang dan sistem nilai tukar ASEAN. Selama tahun laporan beberapa inisiatif telah dikemukakan dan beberapa studi telah dilakukan untuk mendukung proses liberalisasi dimaksud, misalnya studi mengenai kesesuaian dan prakondisi pembentukan mata uang tunggal ASEAN (ASEAN common currency) dan prakarsa untuk mengembangkan pasar obligasi Asia (Asian Bond Market).

konvergensi ekonomi negara-negara ASEAN dapat menyebabkan dampak shocks yang berbeda. ASEAN juga belum memiliki lead country yang tepat yang mata uangnya dapat digunakan sebagai jangkar (anchor) bagi mekanisme nilai tukar regional. Tingkat perdagangan intraregional ASEAN masih relatif rendah terhadap total perdagangan internasional negara-negara ASEAN. Di samping itu, komitmen politik ASEAN masih didominasi oleh kepentingan nasional masing-masing negara anggota. Negara-negara ASEAN perlu memiliki komitmen politik yang kuat serta waktu yang cukup untuk mencapai setidaknya mendekati konvergensi ekonomi agar tidak ada kepentingan yang saling bertentangan dalam merespons suatu kebijakan regional apabila integrasi moneter berlangsung. Pasar obligasi Asia selama ini tidak populer di kalangan para manajer investasi, karena preferensi lebih diarahkan pada obligasi yang memiliki peringkat yang tinggi. Dalam perkembangan terakhir, ruang untuk mengembangkan pasar obligasi Asia tampak terbuka dengan meningkatnya cadangan devisa negara-negara

209

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Asia, disamping tumbuhnya keinginan untuk memperoleh yield yang lebih tinggi dan diversifikasi portfolio. Inisiatif untuk mengembangkan pasar obligasi Asia mengemuka dalam pertemuan informal pejabat bank sentral dan departemen keuangan negara-negara ASEAN+3 di Chiang Mai, Thailand pada Desember 2002. Tujuan dari inisiatif tersebut adalah untuk mendorong perkembangan pasar obligasi Asia yang efisien dan likuid sehingga sektor swasta dan publik di Asia dapat meningkatkan dan menanamkan modal jangka panjang tanpa risiko currency dan maturity mismatch. Pasar obligasi Asia diharapkan dapat menggantikan pinjaman luar negeri, sehingga pada gilirannya dapat: (i) menyediakan pembiayaan jangka panjang yang stabil bagi sektor swasta dan publik dengan memanfaatkan tabungan negara-negara Asia; (ii) memperkuat sistem keuangan regional dengan menyediakan berbagai alternatif untuk mentransfer tabungan menjadi investasi modal dalam kawasan; (iii) mempersiapkan dasar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan meningkatkan sektor keuangan regional. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu diciptakan lingkungan yang kondusif untuk membangun pasar regional melalui pendekatan yang komprehensif, antara lain dengan: (i) memperbaiki infrastruktur untuk pasar obligasi Asia dengan memperkuat sistem pemeringkat regional, menyempurnakan mekanisme penyelesaian (settlement) regional, menciptakan proses due diligence dan menciptakan regional financial arrangements jangka pendek; (ii) Menyediakan credit enhancement dengan memanfaatkan teknik keuangan yang terstruktur untuk membantu SME memperoleh akses terhadap pasar obligasi Asia, serta

meningkatkan efisiensi dan likuiditas pasar dengan membuat tersedianya market making arrangements dan menerbitkan obligasi pemerintah sebagai benchmark di pasar; (iii) Memfasilitasi perkembangan pasar dengan bantuan teknis dari negara maju dan diseminasi informasi mengenai profil keuangan highperforming companies di kawasan serta situasi ekonomi dan kondisi lainnya seputar pasar obligasi regional. Untuk meningkatkan yield sekaligus mendorong perkembangan pasar obligasi Asia, Hongkong Monetary Authority (HKMA) dalam pertemuan EMEAP Working Group on Financial Market pada Juni 2002 mengemukakan ide pembentukan Asian Bond Fund (ABF)1 . Para Deputi EMEAP dalam sidang November 2002 pada dasarnya mendukung ide dasar dari pebentukan ABF, namun masih diperlukan berbagai penyempurnaan dan kesepakatan mengenai berbagai aspek dari ABF. Indonesia mengapresiasi upaya pembentukan ABF ini dan percaya bahwa investasi dalam ABF akan menguntungkan bagi perkembangan Asian Bond Market. Walaupun demikian, terdapat beberapa hal yang masih perlu didiskusikan mengingat Bank Indonesia memiliki investment guidelines yang konservatif yang tidak memperkenankan penanaman yang melibatkan sektor korporasi. Disamping itu, penanaman ABF akan mencakup investasi pada obligasi negara yang bersangkutan, padahal investasi pada own country securities tidak masuk ke dalam perhitungan NIR (Net International Reserves), sehingga penanaman pada ABF
1

Asian Bond Fund akan berbentuk investment pool ( terdiri dari kombinasi obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara Asia) yang akan dikelola oleh suatu manajer investasi. Setiap bank sentral yang akan berpartisipasi akan mengalokasikan sebagian kecil dari cadangan devisanya untuk tujuan ini. Keikutsertaan bank-bank sentral negara EMEAP dalam ABF adalah berdasarkan prinsip sukarela.

210

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

nantinya dapat menurunkan jumlah NIR. Bilateral Swap Arrangement Dalam sidang ASEAN Finance Ministers Meeting (AFMM) ke-4 di Brunei Darussalam pada tanggal 24-25 Maret 2000, para Menteri Keuangan negara-negara ASEAN telah sepakat untuk menjajagi kemungkinan memperluas keanggotaan ASEAN Swap Arrangement (ASA) sehingga mencakup seluruh negara ASEAN serta memasukkan negara regional yaitu Cina, Jepang dan Korea. Sebagai tindak lanjut keputusan tersebut dalam sidang Special ASEAN Finance and Central Bank Deputies Meeting (AFDM) pada 6 Mei 2000 di Chiang Mai, Thailand, usulan perluasan ASA tersebut direalisasikan melalui kesepakatan yang dikenal dengan Chiang Mai Initiative. Salah satu kesepakatan tersebut adalah Bilateral Swap Arrangement (BSA) diantara negara-negara ASEAN+3 (Cina, Jepang dan Korea).BSA bertujuan untuk menyediakan short term financial assistance dalam bentuk swap kepada negara anggota Chiang Mai Initiative. Fasilitas swap ini merupakan supplement dari financing facility yang disediakan oleh IMF dan ASA dalam rangka mengatasi kesulitan Balance of Payment (BOP) negara anggotanya. Beberapa manfaat yang diperoleh dari BSA antara lain adalah: (i) mempererat kerjasama di bidang keuangan antara negara-negara ASEAN dan negara+3 (Korea, Jepang, Cina); (ii) Fasilitas BSA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung neraca pembayaran; (iii) Tidak ada commitment fee pada saat penandatanganan perjanjian BSA, sehingga tidak ada biaya yang dikeluarkan sebelum penarikan pinjaman dilakukan. Setelah main principles disetujui dalam sidang AFMM ke-5 di Kuala Lumpur pada 8 April 2001, masingmasing negara ASEAN bernegosiasi secara bilateral

dengan negara +3. Sampai dengan pertemuan AFMM +3 di Shanghai pada 10 Mei 2002, negara-negara yang telah menandatangani BSA adalah Jepang-Korea, Jepang-Thailand, Jepang-Philippina, Jepang-Malaysia, Cina-Thailand dan Cina-Jepang. Sementara itu proses perundingan masih berjalan antara Cina-Korea dan Korea-Thailand (tahap akhir); Korea-Malaysia dan Korea-Philippine (telah mencapai kesepakatan); JepangSingapore, Cina-Malaysia, Cina-Filipina dan Indonesia-Jepang (negosiasi). Perjanjian BSA antara Indonesia dan Jepang direncanakan akan ditandatangani pada Februari 2003. THE NEW BASEL CAPITAL ACCORD Dalam tahun laporan, forum kerjasama bank sentral seperti EMEAP (Executive Meeting of East Asia Pacific), SEACEN (South-East Asia Central Bank) serta Forum kerjasama kementrian keuangan “Manila Framework” secara intensif membahas proposal The New Basel Capital Accord2 , terutama menyangkut konsep dan kesiapan bank-bank negara berkembang di Asia Tenggara mengikuti jadwal implementasi ketentuan baru tersebut. The New Basel Capital Accord pada intinya meningkatkan sensitivitas risiko perbankan dalam menjalankan kegiatan usaha. Capital Accord baru tersebut memuat tiga inovasi mendasar yaitu: (i) melengkapi

2

3

Proposal Basel Accord II diajukan oleh Bank for International Settlements pada Juni 2001 untuk menggantikan Basel Capital Accord yang pertama kali dipublikasikan 1988 dan telah diamandemen pada 1996. The New Basel Accord terdiri dari 3 pilar utama untuk memperkokoh dan menyehatkan sistem perbankan. Pilar pertama adalah persyaratan modal minimum. Pilar kedua adalah supervisory review process dimana proses pengawasan membutuhkan pengawas untuk memastikan bahwa setiap bank menjalankan proses internal yang baik untuk menilai kecukupan modalnya berdasarkan evaluasi resiko secara cermat. Pilar ketiga adalah mendorong market discipline melalui peningkatan transparansi manajemen bank.

211

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

standar kuantitatif yang berlaku saat ini dengan dua pilar tambahan yang berkaitan dengan supervisory review dan market discipline3 ; (ii) mengijinkan bank-bank yang memiliki kemampuan manajemen risiko yang baik untuk menggunakan sistem internalnya sendiri dalam melakukan evaluasi risiko kredit yang dikenal dengan internal rating based; (iii) memungkinkan bank-bank untuk menggunakan sistem grading dari lembagalembaga pemeringkat swasta dengan

tersebut. Di lain pihak, memaksakan pemenuhan ketentuan tersebut sementara perbankan negaranegara berkembang termasuk Indonesia belum siap dan belum mampu, akan beresiko terhambatnya proses restrukturisasi perbankan, bahkan berisiko pada penutupan bank yang pada gilirannya membahayakan perekonomian nasional.

Anti Money Laundering dan Pembiayaan Terorisme Anti Money Laundering Dunia internasional, terutama negara-negara maju, telah menetapkan bahwa pemberantasan money laundering harus menjadi komitmen seluruh negara di dunia karena money laundering berdampak negatif bagi perekonomian dunia. Perhatian yang besar diberikan oleh lembaga internasional seperti IMF dan World Bank serta dengan terbentuknya forum kerja sama internasional dalam rangka meningkatkan upaya pemberantasan money laundering, seperti: (i) Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) dibentuk oleh negara-negara OECD; (ii) Asia Pacific Group on Money Laundering (APG) dibentuk oleh negara-negara di kawasan Asia Pacific. Adapun langkah-langkah upaya pemberantasan money laundering yang telah dilaksanakan oleh forum internasional adalah dengan telah ditetapkannya standar internasional sistem pencegahan dan pemberantasan money laundering oleh FATF dengan mengeluarkan 40 rekomendasi. FATF juga melakukan review terhadap negara-negara yang dipandang rawan kegiatan money laundering dengan berpedoman pada 25 kriteria Non Cooperative Countries and Territories

mengklasifikasikan tagihan-tagihan luar negerinya menjadi lima kelompok risiko dan tagihan-tagihan kepada sektor korporasi dan bank menjadi tiga kelompok risiko. Perhitungan risiko dalam konsep yang baru diperluas tidak hanya mencakup risiko kredit dan risiko pasar sebagaimana dalam Basel Capital Accord I, tetapi juga akan mencakup risiko operasional. Pada 2002, proposal tersebut telah mengalami beberapa modifikasi setelah menerima masukanmasukan dari berbagai pihak termasuk pandanganpandangan dari bank-bank sentral dan departemen keuangan khususnya dari negara-negara berkembang. Capital Accord baru dijadwalkan untuk diterbitkan pada Oktober 2003 dan diimplementasikan pada akhir 2006. Pemberlakuan the New Basel Accord tersebut hanya mengikat bagi anggota Bank for International Settlements (BIS)4 . Pemberlakuan ketentuan baru tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian negara-negara berkembang. Di satu sisi, jika seluruh perbankan dapat mengaplikasikan ketentuan baru tersebut, maka kepercayaan terhadap sistem perbankan akan meningkat dan perekonomian mendapat manfaat nyata dari pemenuhan ketentuan

4

Indonesia belum menjadi anggota BIS

(NCCT’s). APG melakukan assessment terhadap sistem

212

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

penanganan money laundering di negara-negara anggota dan menyelenggarakan kerja sama penanganan money laundering di kawasan Asia Pacific, termasuk mengupayakan capacity building. Sedangkan lembaga internasional seperti World Bank dan Asian Development Bank mengkaitkan masalah penanganan money laundering dengan persyaratan pencairan pinjaman. Upaya-upaya internasional melalui lembagalembaga tersebut semakin diintensifkan dan dikaitkan dengan upaya pemberantasan pembiayaan terorisme internasional (combating financing of terrorism). Dalam perspektif tertentu upaya-upaya negara maju melalui forum-forum internasional tersebut menjadi tekanan terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia.

bersama dengan negara ASEAN lainnya dalam ARF telah menandatangani traktat mengenai

pemberantasan terorisme dengan AS. Sementara itu pada bulan yang sama, Indonesia bersama-sama Philipina dan Thailand membentuk trilateral agreement untuk pemberantasan terorisme. Dalam pertemuan APEC di Los Cabos pada Oktober 2002 para pemimpin ekonomi APEC mendiskusikan dampak ekonomi akibat terorisme, upaya APEC memerangi terorisme dan rencana aksi, konsep pengamanan perdagangan di wilayah APEC (STAR), dan strategi keamanan dunia maya (cyber security strategy). Sejalan dengan hal tersebut, KTT ASEAN ke-8 pada November 2002 di Phnom-Penh menegaskan kembali pendiriannya untuk melaksanakan the ASEAN Declaration on Joint Action to Counter Terrorism, sebagaimana telah diadopsi dalam pertemuan ASEAN

Pemberantasan Pembiayaan Terorisme Setelah tragedi WTC pada 11 September 2001 dan berbagai aksi terorisme di dunia, banyak forum internasional berusaha menangani berbagai isu yang terkait dengan terorime. Menindaklanjuti KTT G-20 di Ottawa 2001, negara anggota G-20 berjanji untuk bekerjasama dengan lembaga keuangan internasional, FATF, Financial Stability Forum (FSF), dan lembaga internasional terkait lainnya untuk mencegah penyalahgunaan sistem keuangan serta ancaman terhadap integritas sistem keuangan dengan cara meningkatkan standar internasional yang terkait dengan pendanaan terorisme, money laundering dan ketentuan serta pengawasan sektor keuangan. Pada lingkup kerjasama ASEAN dan APEC, masalah terorisme juga menjadi agenda pembahasan di antara negara-negara anggota. Pada Juli 2002, Indonesia

di Brunei Darussalam pada November 2001. Negaranegara ASEAN bertekad meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme secara sendiri-sendiri maupun bersama dengan rencana kerja sebagaimana disepakati dalam Special Ministerial Meeting on Terrorism di Kuala Lumpur, Mei 2002. Berkenaan dengan tragedi WTC, pemerintah Indonesia menyambut baik dikeluarkannya Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1373 28 September 2001 dan menegaskan sikap untuk melaksanakan isi resolusi tersebut sebagai prioritas kebijakan nasional. Terhadap tragedi Bali, pemerintah dan aparat penegak hukum Indonesia bekerjasama dengan negara lain berupaya sekuat tenaga mengungkap pelaku pemboman tersebut. Sebagai pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1373 tersebut, pemerintah dibawah koordinasi Departemen Luar Negeri telah membentuk forum

213

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

koordinasi antar departemen teknis terkait untuk membahas langkah-langkah bersama pemerintah Indonesia. Pemerintah telah menyusun dan menyampaikan dua laporan resmi kepada the Counter Terrorism Committee (CTC) – Dewan Keamanan PBB pada November 2001 dan Juni 2002 yang memuat penjelasan atas ketentuan dan langkah-langkah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah juga menyampaikan laporan secara spesifik yang memuat uraian mengenai penerapan Know Your Customer Principles pada perbankan Indonesia sebagaimana diatur dalam PBI No.3/10/PBI/2001 dan PBI No.3/23/PBI/2001 tentang Prinsip Mengenai Nasabah. Disamping itu, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 tahun 2002 tanggal 18 Oktober 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Peraturan ini merupakan kebijakan dan langkah strategis untuk memperkuat ketertiban masyarakat dan keselamatan masyarakat dengan menjunjung tinggi hukum dan hak azasi manusia, serta tidak bersifat diskriminatif.

dilaksanakan

program-program

pengurangan

kemiskinan seperti prakarsa highly indebted poor countries (HIPC) dan program Poverty Reduction and Growth Facility (PRGF).

Monterrey Consensus Pada 18-22 Maret 2002 di Monterrey, Mexico diselenggarakan pertemuan internasional yang bertujuan untuk menghimpun kesepakatan dunia dalam menghapus kemiskinan, mencapai

pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam upaya mencapai sistem ekonomi global yang adil dan menyeluruh. Dalam pertemuan tersebut para pemimpin dunia menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kerjasama dan bersatu memerangi kemiskinan dengan target penurunan tingkat kemiskinan di dunia menjadi setengahnya pada 2015. Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut disebut dengan “Monterrey Consensus” yang pada intinya berisi pentingnya peningkatan kerjasama dan kemitraan antara negara-negara maju dan negaranegara berkembang untuk mendukung upaya

Kerjasama di Bidang Pembangunan Pengurangan kemiskinan tetap menjadi prioritas bagi negara-negara berkembang. Oleh karena itu, IMF, dan Bank Dunia bersama masyarakat internasional lainnya memiliki tanggung jawab untuk membantu negara-negara berkembang tidak saja dalam mengembangkan kerangka untuk pembangunan ekonomi, tetapi juga membangun kapasitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk implementasi program pembangunannya. Dalam kaitan ini, pada tahun laporan telah dicapai kesepakatan bersama “Monterrey Consensus”, disamping sebelumnya telah dan sedang

pembangunan dalam era globalisasi dan semakin kuatnya saling ketergantungan antar negara. Sebagai dasar peningkatan kerjasama dan kemitraan tersebut, di satu sisi negara-negara berkembang perlu melakukan pembenahan dalam pengelolaan pembangunan, memperkuat upaya penegakan hukum dan

pemerintahan yang bersih, demokratis dan akuntabel. Di sisi lain, negara-negara maju memberikan komitmen untuk meningkatkan jumlah bantuan pembangunan kepada negara-negara berkembang. Dalam hal ini diperlukan sinergi antara bantuan pembangunan yang diberikan dengan peningkatan akses negara tersebut

214

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

dalam

perdagangan

dunia.

AS

berencana

peningkatan kemampuan negara-negara tersebut dalam memanfaatkan bantuan yang diberikan Bank Dunia melalui capacity building serta peningkatan corporate & public governance. Para pemimpin dunia dalam sidang, mendorong Bank Dunia meningkatkan bantuannya kepada negara-negara miskin guna meningkatkan infrastruktur dalam memanfaatkan peluang dari perdagangan global. Sejalan dengan Monterey Consensus, konstituen Southeast Asia Group di IMF dalam sidang tahunan IMF di Washington September 2002 menegaskan pentingnya bagi negara industri untuk membuka pasarnya bagi negara-negara berkembang.

menganggarkan dana sebesar $5,0 milyar untuk 3 tahun ke depan. Uni Eropa (UE) menganggarkan sekitar $8,0 – $10,0 milyar per tahun dalam jangka waktu 3 tahun. Dalam kaitannya dengan masalah utang luar negeri negara berkembang, telah disepakati untuk meningkatkan upaya penyelesaiannya dengan melalui penerapan prinsip burden sharing antara kreditor dan debitor, baik antar pemerintah maupun antar pemerintah dengan swasta. Beberapa mekanisme penyelesaian utang luar negeri yang dapat ditempuh antara lain melalui skema debt swaps maupun debt relief, seraya mengkaji kemungkinan memanfaatkan ketersediaan SDR (Special Drawing Right) guna membantu keperluan pembiayaan pembangunan di negara-negara berkembang. Telah disepakati pula untuk meningkatkan koordinasi dan koherensi kebijakan di antara lembaga-lembaga internasional yang menangani bidang moneter, keuangan, perdagangan dan pembangunan. Dalam kaitan ini juga ditekankan perlunya meningkatkan partisipasi negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan di berbagai lembaga internasional khususnya IMF dan World Bank. Berlandaskan kepada kesepakatan dalam “Monterrey consensus” tersebut, Bank Dunia melakukan upaya peningkatan kemitraan antara sektor pemerintah, swasta dan NGO dalam pembangunan serta harmonisasi berbagai langkah guna mendorong efektifitas bantuan yang diberikan Bank Dunia serta lembaga-lembaga yang menaunginya. Perhatian khusus diberikan kepada upaya mendorong pertumbuhan di negara-negara berpenghasilan rendah serta

Pembangunan infrastruktur ekonomi dengan berdasarkan bantuan keuangan akan berkurang manfaatnya jika negara-negara berkembang tidak memiliki saluran untuk ekspor dan jalan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Berkaitan dengan implementasi Monterrey Consensus, pertemuan para Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan G-20 pada November 2002 di New Delhi, India, menekankan bahwa kualitas bantuan sama pentingnya dengan kecukupan jumlah bantuan. Alokasi bantuan keuangan seringkali tidak optimal akibat tidak efektifnya desain dan strategi implementasi dari program bantuan tersebut yang antara lain disebabkan oleh banyaknya kepentingan dari pemberian bantuan keuangan yang beberapa diantaranya merupakan alasan nonekonomi (misalnya pemberlakuan ad-hoc conditionalities). Oleh sebab itu, agar pemanfaatan bantuan menjadi efektif, negara penerima bantuan hendaknya diberikan fleksibilitas dan otonomi kebijakan. Dalam kaitan ini bantuan yang tidak mengikat dan kombinasi yang

215

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

sehat antara investasi dan bantuan program (programme assistance) dengan fokus sektoral nampaknya menjadi pilihan yang baik bagi negara berkembang. Bagi Indonesia kiranya “Monterrey consensus” ini dapat dijadikan sebagai rujukan bagi perumusan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan nasional yang lebih terpadu dan berkelanjutan, antara lain yang berkaitan dengan peningkatan langkah-langkah pembenahan tata pemerintahan, penegakan hukum, penguatan kelembagaan dan peningkatan efektifitas bantuan asing, sehingga dapat memulihkan kepercayaan masyarakat internasional khususnya negara dan lembaga kreditur dan kalangan investor. Namun demikian, diperlukan komitmen yang tegas dan usaha yang keras bagi pemerintah RI dalam mewujudkan hal tersebut di atas, terutama peningkatan koordinasi di dalam negeri, yakni antara pemerintah pusat-daerah, antar instansi/lembaga pemerintahan, dan antara pemerintah dengan lembaga legistatif (DPR).

memperoleh

manfaat

dari

program

HIPC.

Permasalahan khusus dihadapi dalam menangani utang negara-negara miskin yang dianggap sudah tidak sustainable. Dalam kaitan ini diperlukan adanya pengkajian mengenai debt sustainability sebagai dasar penilaian negara maupun lembaga donor dalam memberikan pinjaman konsesional. Isu-isu penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membantu negara-negara miskin dalam jangka panjang setelah berhasil melaksanakan program HIPC. Selama ini negara-negara tersebut banyak tergantung pada beberapa komoditas tertentu sehingga rentan terhadap perubahan harga komoditas di pasar internasional. Penurunan harga dapat mengakibatkan negara-negara tersebut kembali menjadi penghutang berat. Negara-negara berkembang kembali

menekankan perlunya akses pasar yang lebih besar dari negara-negara maju. Mengenai PRSP, program tersebut telah berhasil membantu meningkatkan pembangunan di negara-negara miskin, terutama post-conflict countries. Agar bantuan lebih efektif, negara-negara

Program HIPC, PRSP dan PRGF Upaya yang telah dilakukan IMF bekerjasama dengan Bank Dunia untuk membantu negara-negara miskin meliputi (i) Program Highly Indebted Poor Countries (HIPC), (ii) Poverty Reduction Strategy Papers (PRSP), dan (iii) Poverty Reduction and Growh Facility (PRGF). Mengenai HIPC, dalam tahun laporan, kemajuan yang dicapai dalam inisiatif penyelesaian utang negara miskin melalui skim HIPC cukup menggembirakan. Dalam sidang tahunan IMF/WB September 2002 diungkapkan bahwa 2/3 negara-negara miskin telah

tersebut

harus

meningkatkan

kemampuan

institusional, termasuk koordinasi. Mengenai PRGF, program ini merupakan salah satu sumber pertumbuhan bagi negara-negara miskin. Di satu sisi, negara-negara miskin perlu memperbaiki berbagai permasalahan di dalam negeri seperti penyesuaian struktural dan kebijakan makro yang sehat. Di sisi lain, negara-negara miskin perlu juga memperoleh peluang akses pasar terutama untuk produk hasil pertanian bagi negaranegara tersebut. IMF dan Bank Dunia tampaknya perlu merampingkan desain country-owned pro-

216

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

grams untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. PRGF juga perlu dibuat fleksibel agar dapat mudah disesuaikan dengan kondisi negara yang spesifik. Di luar program-program tersebut di atas, dalam tahunan laporan Bank Dunia juga menekankan upaya meningkatkan pendidikan guna mengurangi kemiskinan dan ketimpangan serta merupakan dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang mantap. Bank Dunia

bekerjasama dengan pemerintah Belanda berupaya untuk meningkatkan kesempatan memperoleh pendidikan melalui program “ Education for The World’s Children”. Dalam kaitan ini telah disusun langkah kerja dalam mencapai konsensus

internasional untuk menciptakan sistem pendidikan dasar yang dapat dijangkau seluruh anak-anak pada 2015. Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Dunia juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga multilateral PBB seperti UNESCO.

217

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

BAB

laporan tahunan

11 Prospek Ekonomi

Bab 11: Prospek Ekonomi Dan ArahKebijakan

dan Arah Kebijakan

218

B A B

11

PROSPEKEKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

Perekonomian 2003 diprakirakan tumbuh sebesar 3,5%-4% seiring dengan meningkatnya kinerja investasi dan ekspor. Sementara itu, dengan mempertimbangkan prospek inflasi yang cenderung menurun dan kondisi perbankan yang masih likuid, kebijakan moneter diarahkan untuk secara bertahap menurunkan suku bunga guna memperkuat sinyal positif bagi proses pemulihan ekonomi.

P

rospek pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan membaik meskipun masih akan sangat

pertumbuhan ekonomi pada 2003 diprakirakan akan mencapai 3,5% – 4,0%. Dari sisi permintaan, sumber utama pertumbuhan ekonomi masih akan banyak ditopang oleh kegiatan konsumsi. Sementara itu, mengingat kondisi global yang belum terlalu kondusif pertumbuhan ekspor dan investasi –meskipun diprakirakan akan membaik- diprakirakan belum akan mengalami peningkatan yang cukup berarti. Dari sisi penawaran, seluruh sektor kegiatan ekonomi diprakirakan akan mencatat pertumbuhan positif. Pertumbuhan yang cukup tinggi diperkirakan akan terjadi pada sektor listrik, gas dan air bersih, sektor angkutan dan telekomunikasi, dan sektor bangunan. Meski demikian, dampak tragedi Bali diprakirakan masih terasa pada beberapa sektor terutama pada sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata dan perhotelan. Menurunnya kinerja sektor tersebut selanjutnya akan berpengaruh pula pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia. Secara keseluruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2003 diprakirakan akan sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh menurunnya surplus transaksi berjalan akibat meningkatnya defisit

tergantung keberhasilan penanganan berbagai faktor risiko dan permasalahan yang mendasar, baik yang bersumber dari sisi eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, relatif lambatnya pertumbuhan sebagian besar negara maju serta meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah dapat berpotensi memperburuk iklim investasi global yang sementara ini belum pulih. Disamping itu, terjadinya berbagai skandal keuangan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan internasional semakin mengurangi minat investor untuk menanamkan modal di negara-negara berkembang. Dari sisi domestik, disamping berbagai permasalahan fundamental ekonomi seperti belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan risiko likuiditas keuangan pemerintah, berbagai faktor sosial politik seperti masih maraknya konflik perburuhan, persepsi masyarakat yang kurang kondusif terhadap supremasi hukum serta

perkembangan suhu sosial, politik dan keamanan menjelang Pemilu 2004 juga perlu terus dicermati. Apabila dampak buruk berbagai faktor risiko dan ketidak-pastian di atas dapat diminimalkan,

219

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

transaksi jasa dan menurunnya surplus transaksi barang. Sementara itu, neraca lalu lintas modal diprakirakan akan sedikit memburuk yang terutama disebabkan oleh meningkatnya defisit lalu lintas modal swasta. Secara umum, perkembangan nilai tukar rupiah pada 2003 diprakirakan membaik. Prakiraan ini sejalan dengan survei pasar yang mengindikasikan perkembangan nilai tukar rupiah akan cenderung menguat dan relatif stabil. Meskipun perkembangan berbagai faktor sentimen pasar masih perlu dicermati, stabilitas nilai tukar tersebut akan didukung oleh perkembangan faktor fundamental yang membaik termasuk ketersediaan pasokan valas yang cukup, yang bersumber dari perolehan devisa hasil ekspor, aliran modal masuk baik dalam bentuk pinjaman luar negeri, pembelian aset BPPN, keberhasilan program privatisasi BUMN dan divestasi bank-bank rekap, serta aliran modal masuk portfolio. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat dan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat dan stabil, perkembangan inflasi IHK di 2003 diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Disamping itu, penurunan inflasi juga disebabkan oleh lebih rendahnya dampak penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, dan menurunnya ekspektasi inflasi masyarakat. Seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi makro di atas, kondisi perbankan Indonesia di 2003 diprakirakan akan semakin membaik. Perbaikan tersebut antara lain tercermin dari meningkatnya penghimpunan DPK dan pertumbuhan kredit yang diberikan, rasio NPL yang relatif rendah serta

terpeliharanya kecukupan modal. PROSPEK EKONOMI GLOBAL Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Dunia Pertumbuhan ekonomi dunia di 2003 diprakirakan sedikit menguat. Berdasarkan prakiraan IMF
1

perekonomian dunia akan tumbuh 3,7%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 2,8% . Meskipun cenderung menguat, prakiraan tersebut perlu lebih dicermati mengingat peningkatannya lebih banyak disumbang oleh

tingginya pertumbuhan ekonomi negara berkembang seperti Cina dan ASEAN. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi berbagai negara maju yang menjadi mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Uni Eropa (UE) diprakirakan masih berada pada kisaran yang rendah. Di sisi lain, prospek pertumbuhan tersebut juga masih menghadapi berbagai risiko seperti meningkatnya geopolitical risk
(Persen)

Tabel 11.1 Pertumbuhan Ekonomi di Berbagai Kawasan Dunia
Rincian Pertumbuhan Ekonomi Dunia Negara-Negara Industri Amerika Serikat Jepang Uni Eropa Negara Industri Baru Asia Negara-Negara Berkembang Afrika Asia Cina ASEAN-4 ** Amerika Latin Negara-Negara dalam Transisi 2,2 0,8 0,3 -0,3 1,6 0,8 3,9 3,5 5,6 5,6 2,6 0,6 5,0 2,8 1,7 2,2 -0,5 1,1 4,7 4,2 3,1 6,1 7,5 3,6 -0,6 3,9 3,7 2,5 2,6 1,1 2,3 4,9 5,2 4,2 6,3 7,2 4,2 3,0 4,5 2001 2002* 2003*

Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002 * Angka prakiraan ** Terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand

1

World Economic Outlook, September 2002

220

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

dan masih besarnya ketergantungan ekonomi dunia terhadap perekonomian AS. Meskipun prospek pemulihan ekonomi dunia diprakirakan masih membaik, pertumbuhan ekonomi di berbagai negara maju diprakirakan masih relatif lemah. Pertumbuhan ekonomi AS, Jepang dan Zona Euro masing-masing diprakirakan tumbuh 2,6%, 1,1% dan 2,3% . Prakiraan

kontribusi yang besar terhadap perekonomian, dengan ditunjang oleh kebijakan ekonomi yang masih akan cenderung longgar, terutama negara-negara dengan tingkat inflasi yang masih terkendali. Inflasi dan Suku Bunga Internasional Seiring dengan menguatnya permintaan agregat, perkembangan inflasi dunia di 2003 diprakirakan akan sedikit meningkat terutama di negara-negara berkembang. Sementara itu, perkembangan inflasi negara maju seperti AS, Jepang dan UE –meskipun cenderung meningkat- diprakirakan masih relatif rendah akibat masih lemahnya permintaan. Disamping itu, masuknya barang impor yang harganya relatif lebih murah diprakirakan juga memberikan kontribusi

pertumbuhan ekonomi AS yang masih rendah tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan konsumsi akibat anjloknya harga saham dan masih tingginya tingkat pengangguran. Sementara itu,

pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa diharapkan dapat didorong oleh pulihnya konsumsi karena meningkatnya pendapatan dan rendahnya inflasi. Selain itu investasi diharapkan dapat meningkat sehubungan persediaan, dengan meningkatnya perusahaan siklus dan

terhadap perkembangan harga yang relatif rendah (Tabel 11.2). Meskipun perkembangan ekonomi dunia

pendapatan

diprakirakan meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pertumbuhan ekonomi tersebut dipandang masih lamban dan memerlukan stimulus lebih lanjut. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi longgar (easing bias economic policy) masih akan

pemanfaatan kapasitas produksi. Perekonomian Jepang diprakirakan masih rentan dan memiliki

ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor sehingga dikhawatirkan akan dapat mengalami pertumbuhan yang lebih rendah apabila nilai tukar yen cenderung menguat. Pertumbuhan berkembang ekonomi negara-negara lebih tinggi

dipertahankan pada 2003. Sebagai akibatnya, suku bunga diprakirakan masih akan cenderung berada
(Persen)

diprakirakan masih

Tabel 11.2 Perkembangan Inflasi dan Suku Bunga Internasional
Rincian Tingkat Inflasi Negara-Negara Industri Negara-Negara Berkembang Negara-Negara Transisi Suku Bunga Jangka Pendek Amerika Serikat Jepang Uni Eropa 3.7 0.2 4.1 2.1 0.1 3.4 3.2 0.1 3.8 2.2 5.7 15.9 1.4 5.6 11.3 1.7 6 8.8 2001 2002* 2003*

dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara maju. Dalam tahun 2003 pertumbuhan ekonomi

negara-negara berkembang di kawasan Afrika, Asia, ASEAN-4 dan Amerika Latin akan cenderung meningkat masing-masing sebesar 4,2%, 6,3%, 4,2% dan 3,0%. Membaiknya pertumbuhan ekonomi di negara berkembang tersebut terutama didorong oleh permintaan domestik yang umumnya memiliki

Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002 * Angka prakiraan

221

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

peningkatan persediaan minyak negara maju diprakirakan menjadi faktor koreksi terhadap perkembangan harga minyak yang cukup tinggi menyusul terjadinya ketegangan politik di Timur Tengah serta memburuknya situasi di Venezuela. Kecenderungan meningkatnya harga komoditi nonmigas pada 2002 diprakirakan masih berlanjut pada
Grafik 11.1 Perkembangan Harga Komoditas Pertanian

2003,

seiring

dengan

membaiknya

perkembangan ekonomi dunia. Meningkatnya harga komoditi nonmigas di pasar dunia terutama bersumber dari komoditas pertanian dan bahan baku

dalam kisaran yang rendah. Prospek Harga Komoditas Pasar Internasional Secara umum, perkembangan harga komoditas di pasar internasional diprakirakan sedikit meningkat yang didorong oleh meningkatnya harga-harga komoditas nonmigas. Sementara itu, harga komoditas minyak diprakirakan kembali turun dibandingkan dengan harga pada akhir 2002. Meningkatnya produksi minyak mentah yang disertai dengan

industri. Beberapa komoditas pertanian dan bahan baku industri yang diprakirakan mencatat kenaikan cukup tinggi tersebut adalah komoditas minyak kelapa minyak sawit, coklat, dan kayu gergajian. Sementara itu, harga komoditas kopi dan gula diprakirakan cenderung masih rendah, sedangkan perkembangan harga komoditas mineral dan logam diprakirakan cenderung stabil mengingat persediaan dunia yang relatif masih cukup serta peningkatan produksi
(Juta Barrel Per Hari)

Tabel 11.3 Proyeksi Produksi Permintaan Minyak Dunia Aktiva Produktif Tabel Permintaan OECD Amerika Serikat Lainnya Non OECD Total Produksi OECD Non OECD OPEC Lainnya Perubahan Stock 2002
I II III IV I II

2003
III IV

76,6 47,9 19,4 28,5 11,7 75,3 23,6 51,7 27,9 23,8 -1,3

74,8 46,2 19,6 26,6 12,0 75,0 23,6 51,4 27,4 24,0 0,2

76,2 47,8 19,9 27,9 12,0 75,6 23,1 52,5 28,2 24,3 -0,6

77,5 48,8 20,0 28,8 11,9 77,9 24,0 53,9 29,3 24,6 0,4

78,2 49,1 20,3 28,8 11,8 77,6 24,0 53,6 29,2 24,4 -0,6

76,1 46,8 20,1 26,7 12,1 77,4 23,6 53,8 29,1 24,7 1,3

77,3 48,4 20,5 27,9 12,2 78,2 23,9 54,3 29,1 25,2 0,9

79,1 49,8 20,8 29,0 12,1 78,7 24,2 54,5 29,1 25,4 -0,4

Sumber : Energy Information Agency, Short Term Energy Outlook, November 2002

222

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

yang relatif lemah. Sementara itu, perkembangan harga minyak yang cenderung meningkat tajam sejak paro kedua 2002 diprakirakan kembali turun ke rentang harga yang telah ditetapkan OPEC ($22 – $28 per barel) di 2003. Beberapa faktor yang mendorong penurunan harga minyak tersebut antara lain adalah berkurangnya sentimen negatif pasar terhadap rencana serangan AS terhadap Irak, relatif stabilnya persediaan minyak dunia serta rencana penambahan kuota produksi minyak negara OPEC (Tabel 11.3). menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2002 berada PROSPEK EKONOMI INDONESIA Secara keseluruhan ekonomi Indonesia di 2003 akan tumbuh pada kisaran 3,5% - 4,0% atau sedikit membaik dibandingkan 2002. Prakiraan pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan semula (sebelum terjadinya tragedi Bali). Dari sisi permintaan, sumber pertumbuhan utama masih berasal dari konsumsi. Meskipun masih terbatas, peran ekspor barang dan jasa terhadap pertumbuhan ekonomi akan kembali meningkat dalam kisaran 2,9% s.d. 4,2% dengan rata-rata 3,6%. Dampak tragedi Bali menyebabkan beberapa institusi ekonomi merevisi ke bawah prakiraan pertumbuhan ekonominya sebesar 0,7%-1,0% dari prakiraan semula sehubungan dengan meningkatnya risk premium dan turunnya investor-confidence dan consumer confidence. Prospek Permintaan Dari sisi permintaan, komponen utama penggerak pertumbuhan ekonomi masih akan berasal dari konsumsi swasta. Pertumbuhan konsumsi yang positif tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan gaji dan UMP serta
(Persen)

Grafik 11.2 Leading Indikator Ekonomi

seiring dengan kemungkinan membaiknya kondisi ekonomi internasional. Sementara dari sisi penawaran, seluruh sektor perekonomian akan

tumbuh positif dengan sumbangan terbesar masih berasal dari sektor industri pengolahan. Prakiraan pertumbuhan yang moderat ini sejalan dengan kecenderungan pergerakan Leading Indikator Ekonomi (LIE)2 yang relatif flat (Grafik 11.2). Sementara itu, consensus forecast dari lembagalembaga ekonomi dan keuangan (Desember 2002)

Tabel 11.4 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran Komponen Pengeluaran Konsumsi Swasta Konsumsi Pemerintah Total Konsumsi Total investasi Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Produk Domestik Bruto 2002* 4,7 12,8 5,5 -0,2 -1,2 -8,3 3,7 2003** 4,3 - 4,8 12,8 - 13,3 5,2 - 5,7 0,8 - 1,3 1,0 - 1,5 1,7 - 2,2 3,5 - 4,0

2

Indeks merupakan komposit dari beberapa indikator ekonomi seperti IHK, M2 Rill, Volume Kliring, IHSG, dan SKDU.

* Angka Prakiraan Bank Indonesia ** Angka Proyeksi Bank Indonesia

223

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

perkembangan harga yang

akan relatif stabil.

Sementara itu, kegiatan ekspor dan investasi masih akan tumbuh positif meskipun kontribusinya terhadap pertumbuhan relatif terbatas. Rendahnya

pertumbuhan ekspor dan investasi disamping akibat problem struktural yang dihadapi juga terkait dengan rendahnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap perekonomian Indonesia. Pada 2003, konsumsi swasta tumbuh pada kisaran 4,3% - 4,8%. Meskipun masih mampu tumbuh dalam kisaran yang cukup tinggi, laju pertumbuhan konsumsi swasta tersebut lebih lambat dibandingkan dengan 2002 (Grafik 11.3). Perlambatan tersebut ditengarai seiring dengan menurunnya daya beli masyarakat yang disebabkan oleh tingginya angka pengangguran, menurunnya transfer pendapatan TKI serta berkurangnya subsidi pemerintah kepada masyarakat. Perlambatan pertumbuhan konsumsi swasta juga diindikasikan dari sisi pembiayaan. Kecenderungan perlambatan kredit konsumsi dan pembiayaan konsumen selama 2002 diprakirakan masih akan terjadi di 2003. Disamping itu, perkembangan alat pembayaran berbasis kartu juga mengindikasikan melambatnya kegiatan konsumsi sebagaimana tercermin dari nilai transaksi per individu pemegang kartu yang menurun. Indikasi melemahnya kegiatan konsumsi juga tercermin pada indeks ekspektasi konsumen yang masih berada dalam level pesimis (Grafik 11.4). Pesimisme konsumen dalam 6 hingga 12 bulan yang akan datang terutama didorong oleh prospek jumlah pengangguran yang masih tinggi, sementara ekspektasi terhadap prospek ekonomi mengalami peningkatan meskipun masih pesimis pada Desember
Grafik 11.4 Komponen Indeks Ekspektasi Konsumen

Grafik 11.3 Indeks Survei Konsumen

Grafik 11.5 Rencana Konsumsi dalam 6-12 Bulan yang Akan Datang

224

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

2002. Disamping itu, konsumen masih pesimis untuk melakukan rencana pembelian barang-barang tahan lama dalam 6-12 bulan. Optimisme rencana konsumsi responden hanya terjadi pada kelompok sandang dan rekreasi/tamasya(Grafik 11.5). Konsumsi pemerintah akan tumbuh sebesar 12,8% – 13,3% atau meningkat dibandingkan dengan tahun lalu karena meningkatnya pengeluaran rutin pemerintah, khususnya dalam bentuk belanja pegawai, belanja barang, dan meningkatnya anggaran belanja daerah dalam bentuk dana perimbangan. Meningkatnya anggaran belanja daerah diharapkan dapat lebih meningkatkan konsumsi di daerah sehingga fungsi pemerataan pendapatan dapat lebih ditingkatkan. Sementara itu, pengeluaran investasi akan tumbuh pada kisaran 0,8% – 1,3% di 2003. Meskipun mampu tumbuh positif, pertumbuhan investasi di tahun mendatang secara umum masih belum menggembirakan mengingat pertumbuhan positif tersebut lebih banyak disumbang oleh berbagai proyek pemerintah pusat maupun proyek-proyek yang dilakukan oleh BUMN. Sementara itu, kegiatan investasi yang dilakukan oleh swasta murni diprakirakan masih akan terbatas. Berbagai proyek pemerintah yang memberikan sumbangan terhadap pengeluaran investasi sebagian besar merupakan proyek-proyek yang tertunda pelaksanaannya pada periode sebelumnya antara lain proyek jalan tol, kelistrikan, telekomunikasi dan petrokimia. Dari sisi pembiayaan, disamping dibiayai melalui penarikan utang luar negeri, pertumbuhan investasi pemerintah juga didukung dana yang dihimpun melalui penerbitan obligasi oleh berbagai

badan usaha pemerintah. Pertumbuhan investasi swasta masih akan

cenderung pesimis. Dari sisi pembiayaan, berbagai kemajuan dalam melakukan restrukturisasi utang telah dicapai oleh beberapa kelompok perusahaan besar serta membaiknya kondisi perbankan dalam negeri merupakan faktor positif yang dapat menjadi pendongkrak investasi. Namun demikian, upaya untuk kembali menggiatkan kegiatan investasi diprakirakan masih menghadapi kendala yang tidak ringan karena upaya untuk memobilisasi dana yang lebih besar relatif sulit. Beberapa investor swasta yang merencanakan untuk melakukan kegiatan investasi yang cukup besar sebagian merupakan perusahaan yang sudah cukup lama berkecimpung di Indonesia. Perkembangan persepsi investor internasional terhadap iklim investasi Indonesia perlu terus dicermati mengingat sebagian lembaga rating maupun investasi masih menilai bahwa iklim investasi di dalam negeri masih berisiko tinggi. Selain disebabkan oleh perkembangan berbagai faktor domestik, berbagai faktor eksternal seperti risiko keamanan global dan rendahnya pertumbuhan ekonomi negara maju telah memicu terjadinya pesimisme investor secara global sehingga mendorong para investor untuk cenderung menghindari investasi pada aset yang berisiko tinggi. Hal ini antara lain tercermin dari turunnya pangsa investasi AS dan Eropa di kawasan Asia kendati pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia relatif tinggi. Terkait dengan hal itu, kecenderungan turunnya Foreign Direct Investment dunia ( sebesar 27% di 2002) diprakirakan masih akan berlangsung di tahun mendatang. Memperhatikan kecenderungan tersebut upaya

225

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

mobilisasi pembiayaan investasi nampaknya harus disertai pula dengan penajaman strategi kebijakan serta penyusunan skala prioritas yang tepat guna pengembangan industri dalam negeri. Dalam skenario yang lebih buruk, banyaknya relokasi usaha ke luar negeri dapat kembali terjadi mengingat keterkaitan bisnis yang relatif kecil, khususnya terhadap PMA yang berorientasi pasar ekspor namun tidak banyak tergantung pada pasokan bahan baku domestik. Sementara itu, pertumbuhan ekspor akan
Grafik 11.6 Perkembangan Harga Komoditas Mineral

meningkat sebesar 1,0% – 1,5% seiring dengan membaiknya prospek pertumbuhan berbagai negara mitra dagang Indonesia. Berbagai kebijakan pemerintah untuk mencari terobosan pasar baru seperti pasar Timur Tengah dan Amerika Latin, penerapan skema imbal beli serta upaya pemulihan kepercayaan internasional melalui road show dan eksebisi dagang diprakirakan juga akan berdampak positif terhadap perkembangan ekspor di tahun mendatang. Permintaan beberapa komoditas ekspor utama yang diprakirakan membaik antara lain komoditas tembaga, aluminium, dan nikel (Grafik 11.6). Prakiraan ini sejalan dengan berbagai hasil riset lembaga independen yang menengarai adanya peningkatan permintaan bahan tambang terkait dengan ekspektasi meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Indikasi menguatnya permintaan juga nampak dari hasil Pameran Produk Ekspor di akhir 2002 yang mencatat nilai transaksi lebih tinggi dibandingkan pameran pada periode sebelumnya. Peluang peningkatan ekspor juga didukung oleh perkembangan harga beberapa perkebunan seperti minyak sawit, coklat, karet dan produk agribisnis lainnya yang diprakirakan cenderung meningkat. Perkembangan harga yang membaik tersebut diharapkan dapat lebih mendorong produsen untuk lebih meningkatkan produksinya sekaligus membantu penciptaan lapangan kerja. Di sisi lain, berbagai permasalahan yang berpotensi untuk menahan perkembangan positif ekspor tersebut masih perlu dicermati. Semakin tingginya biaya produksi, masalah keamanan, serta masih maraknya aksi demonstrasi buruh ditengarai telah menyebabkan beberapa mitra luar negeri mengalihkan pesanannya ke negara lain yang lebih kompetitif dan lebih dapat menjamin kelangsungan pasokan barangnya. Sementara itu, impor di 2003 akan tumbuh pada kisaran 1,9% – 2,2%, sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya seiring dengan membaiknya kegiatan ekspor, konsumsi maupun investasi. Selain itu, diberlakukannya AFTA pada awal 2003 diprakirakan mendorong penurunan tarif impor beberapa barang, seperti plastik dan bahan kimia, yang pada akhirnya mendorong kegiatan impor. Namun

226

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

demikian, perlu pula dicermati dampak berbagai kebijakan pembatasan impor yang bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri seperti tekstil (dibatasi hanya dapat dilakukan oleh produsen dan digunakan sebagai bahan baku), gula, dan produk baja gulungan canai panas dan dingin (hot dan cold rolled steel). Prospek Penawaran Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi terjadi di semua sektor ekonomi. Pertumbunan yang cukup tinggi diprakirakan terjadi pada sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor angkutan dan telekomunikasi, dan sektor bangunan. Sementara itu, sektor industri pengolahan yang merupakan pangsa terbesar dalam pembentukan PDB juga akan meningkat

tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kinerja sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan

diprakirakan tumbuh positif meskipun lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya (Tabel 11.5). Pertumbuhan yang melambat ini terjadi karena adanya keterlambatan khususnya untuk subsektor pertanian yang terkait dengan panjangnya musim kemarau pada akhir tahun 2002. Kondisi ini diperparah oleh banjir yang melanda beberapa sentra produksi seiring dengan masuknya musim hujan. Meski demikian, subsektor ini tetap dapat mempertahankan pertumbuhan yang positif melalui upaya-upaya antara lain adanya program pemerintah yang meliputi program intensifikasi, ekstensifikasi, penetapan harga dasar gabah, peningkatan tarif impor beras, dan pemberian subsidi pupuk. Sementara itu, kinerja subsektor kehutanan masih belum dapat memberikan sumbangan yang berarti mengingat belum adanya upaya pemerintah yang serius untuk menyelamatkan pelestarian dan pelindungan sumber daya alam hutan. Program intensifikasi tanaman pangan dilakukan dengan mengoptimalisasi lahan kering dan lahan pasang-surut, dan peningkatan kualitas irigasi (terutama di luar pulau Jawa), peningkatan produktivitas, pengamanan produksi, pengelolaan, dan pemasaran hasil. Sementara program

pertumbuhannya dibanding tahun sebelumnya. Prospek ekonomi yang positif tersebut antara lain didukung oleh adanya komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi melalui penerusan beberapa proyek infrastruktur. Pembangunan proyekproyek infrastruktur ini diprakirakan akan memiliki dampak multiplier yang besar terhadap beberapa sektor usaha lainnya, meningkatkan penyerapan
(Persen)

Tabel 11.5 Prediksi Pertumbuhan PDB Sektoral Tahun 2002 – 2003 Sektor Pertanian Pertambangan Industri Listrk Bangunan Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa Total PDB 2002 1,7 2,3 4,0 6,2 4,1 3,6 7,8 5,6 2,0 3,6 2003 1,1 - 1,6 2,3 - 2,8 4,4 - 4,9 7,0 - 7,5 5,4 - 5,9 3,0 - 3,5 7,8 - 8,3 5,8 - 6,3 0,9 - 1,4 3,5 - 4,0

ekstensifikasi meliputi perluasan areal tanam dan konversi lahan (terutama dipulau Jawa). Berbagai program tersebut dicanangkan dalam bentuk Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi Mantap) yang dilakukan di 200 kabupaten/kota.

227

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

Sementara itu, pemerintah memberikan subsidi pupuk secara langsung sehingga harganya lebih terjangkau oleh petani. Untuk menjaga ketersediaan pupuk, pemerintah dan para distributor pupuk akan melakukan monitoring distribusi pupuk. Insentif lain yang diberikan pemerintah kepada petani adalah menaikkan harga pembelian gabah dan menaikkan bea masuk beras impor. Namun demikian, patut diwaspadai adanya penurunan debit air di sejumlah bendungan dan daerah aliran sungai akibat musim kemarau pada musim tanam periode Oktober-Desember 2002 yang dapat berpotensi menurunkan hasil panen periode Maret-Mei 2003. Persediaan benih padi, jagung dan kedelai untuk musim tanam 2002-2003 ditengarai mengalami krisis, dimana sampai dengan bulan Oktober 2002 persediaan benih baru mencapai 15% dari kebutuhan. Sektor Pertambangan dan Penggalian

penambangan batubara di Parambahan, Sawahlunto/ Sumbar oleh Camco International dari Cina, dan pengembangan kegiatan eksplorasi minyak oleh Pertamina bekerja sama dengan Malaysia, Irak, dan Vietnam. Selain itu, terdapat rencana pelaksanaan 22 proyek pertambangan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan adanya beberapa penemuan tambang minyak dan gas baru, seperti sumur minyak di Cepu, di laut dalam Makasar, dan di sejumlah wilayah Indonesia yang belum dieksplorasi. Seperti halnya penjualan LNG dari Tangguh ke Fujian tahun 2002, mulai 2003 Pertamina akan memasok LNG sebanyak 2,6 juta ton per tahun ke provinsi Jiangshu, Cina, dari kilang Badak Bontang dengan kontrak selama 20 tahun. Sementara itu, produksi batu bara diproyeksikan naik tipis dari sekitar 9,6 juta ton di 2002 menjadi 9,8 juta ton di 2003. Sektor industri pengolahan masih menjadi

motor penggerak perekonomian. Sektor ini diprakirakan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2002, terutama untuk memenuhi permintaan domestik yang didukung dengan berbagai paket kebijakan dalam menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. Untuk mempercepat pembangunan bidang industri dan perdagangan, mulai 2003 pemerintah akan merevitalisasi industri untuk mengembalikan utilitas industri seperti sebelum krisis. Program revitalisasi industri ini akan meliputi empat cabang industri, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronika, alas kaki, dan pengolahan kayu dan bubur kertas (pulp).

diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, namun masih relatif rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan sebelum krisis. Faktor keamanan dan kepastian hukum masih menjadi problema yang melingkupi sektor ini. Selain itu, kendala lain yang juga dihadapi adalah belum jelasnya kontrak karya pertambangan, tumpang tindih lahan, dan otonomi daerah, terutama masalah pajak, retribusi, dan iuran daerah lainnya. Eksplorasi tambang di daerah hutan lindung nampaknya akan terhambat dengan adanya UU no. 41/1999 tentang kehutanan yang melarang eksplorasi tambang di kawasan hutan lindung. Namun pertambangan demikian, investasi di bidang

Kinerja industri konstruksi baja

meningkat

masih tetap berlangsung, seperti

seiring dengan maraknya pembangunan gedung, tol,

228

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

dan sarana infrastruktur lainnya, serta adanya kebijakan pemerintah menaikkan bea masuk pipa baja jenis hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil (CRC) sebesar 20,0% dan 25,0% dari tarif bea masuk sebelumnya 5,0%-15,0%. Begitu pula halnya dengan industri semen yang mengalami peningkatan sejalan dengan konsumsi domestik yang tumbuh 8,0%-10,0%. Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan, beberapa produsen semen akan melakukan ekspansi

operasional, adanya persoalan ketenagakerjaan dan keamanan sehingga menyebabkan margin keuntungan yang menurun. Sementara itu, industri TPT diprakirakan masih menghadapi masalah daya saing mengingat mesin-mesin yang digunakan sudah berumur tua dan adanya produk-produk impor yang harganya lebih murah. Sektor listrik, gas, dan air bersih diprakirakan tumbuh relatif tinggi sejalan dengan kebutuhan akan listrik yang selalu meningkat dengan rata-rata 9,0% per tahun. Peningkatan permintaan ini akan direspon dengan mengoptimalkan pembangkit yang sudah ada dan membangun pembangkit baru melalui kerja sama dengan pemasok listrik swasta (Independent Power Producers/IPP). Beberapa proyek yang akan menambah pasokan listrik di 2003 antara lain adalah : a. Tanjung Jati B di Jepara: PLTP Dieng (Unit 4) b. Paiton: PLTP Cibuni c. Tanjung Jati A: PLTP Sarulla d. PLTU Serang: PLTGU Palembang Timur e. PLTP Bedugul (Unit 1,2,3,4): Transmisi tegangan tinggi di Klaten. f. PLTP Patuha (Unit 1,2,3,4): Transmisi tegangan tinggi di Sulawesi Utara. g. PLTP Kamojang: Transmisi tegangan tinggi Sulawesi Selatan. h. PLTP Sibayak : PLTD (Diesel) di NTB. Sektor bangunan diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibanding 2002. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung oleh pembangunan jalan tol yang diyakini akan berdampak besar terhadap dunia usaha, penyerapan tenaga kerja, masuknya investor asing, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Dalam di

pembangunan pabrik, terutama di luar pulau Jawa. Beberapa industri lainnya diprakirakan

mengalami peningkatan kapasitas sehubungan dengan telah dihidupkannya kembali beberapa mega proyek. Peningkatan kapasitas produksi juga akan terjadi pada industri petrokimia dengan rencana peremajaan (revamping) unit-unit pabrik amoniaknya. Industri di bidang makanan dan minuman diprakirakan masih tumbuh mengingat masih relatif tingginya permintaan dalam negeri. Konsumsi air minum dalam kemasan di dalam negeri diproyeksikan tumbuh 20,0% per tahun hingga 2005. Industri otomotif juga diprakirakan meningkat sejalan dengan permintaan mobil yang naik sekitar 10,0%-12,0% dibanding 2002 dan penjualan sepeda motor diprakirakan meningkat sebesar 15,0%. Sejalan dengan hal tersebut, produksi ban sepeda motor naik sebesar 10,0%-25,0%. Sementara itu, sentra industri di KTI akan dibangun dimana salah satunya adalah sentra industri kelapa yang akan memproduksi oleum chemical dan coco butter. Kinerja industri elektonika dan industri sepatu diprakirakan akan menurun menyusul adanya rencana penutupan pabrik dan relokasi pabrik ke luar negeri. Penutupan pabrik-pabrik tersebut di atas disebabkan oleh berkurangnya order, meningkatnya biaya

229

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

tahun 2003, akan dilaksanakan pembangunan infrastruktur antara lain pembangunan beberapa luas jalan tol. Selain itu, beberapa pemda berencana membangun sejumlah infrastruktur, seperti jalan raya, terminal bis, dan jembatan. Pembangunan infrastruktur juga meliputi pembangunan rel kereta api jalur ganda di beberapa lokasi di pulau Jawa. Sementara itu, pembangunan perumahan tipe RS/ RSS oleh pemerintah diprakirakan meningkat menjadi 180 ribu unit di 2003 dan pembangunan irigasi akan naik 10,0%. Pembangunan perumahan real estate oleh pihak swasta dan pusat perbelanjaan diprakirakan mengalami kenaikan masing-masing 10,0%. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran diprakirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan 2002. Subsektor Perdagangan (retail) naik tetapi dengan pertumbuhan melambat (yaitu sekitar 3%,0) karena konsumsi melambat. Masih tumbuhnya subsektor ini diindikasikan oleh pembangunan beberapa gerai di berbagai kota. Khusus di Bali, perdagangan retail terutama untuk barang-barang kerajinan dan souvenir diprakirakan menurun sebagai dampak dari menurunnya jumlah kunjungan wisman. Subsektor hotel akan mengalami penurunan mengingat wisman diprakirakan turun sekitar 1 juta orang (25,0%) akibat masih belum pulihnya dampak tragedi Bali. Untuk memulihkan citra pariwisata terutama di Bali, pemerintah bersama-sama pihak swasta sedang membuat program pemulihan dengan 4 tahap, yaitu tahap rescue, tahap rehabilitasi, tahap normalisasi, dan tahap ekspansi. Sementara itu, subsektor restoran akan mengalami peningkatan seiring dengan rencana pembukaan beberapa international chained restaurant.

Sektor

angkutan

dan

telekomunikasi

diprakirakan tumbuh relatif tinggi di 2003 dibandingkan dengan 2002. Dampak tragedi Bali terhadap kinerja subsektor pengangkutan terutama angkutan udara diprakirakan tidak akan berlangsung lama. Sementara itu, angkutan kereta api diprakirakan meningkat sejalan dengan rencana pemerintah untuk membeli rangkaian KRL dari Jerman dan rencana pembangunan rel ganda di pulau Jawa. Sementara itu, subsektor telekomunikasi tumbuh tinggi. Hal ini sejalan dengan rencana p e m b a n g u n a n Te l k o m m e r e n c a n a k a n a k a n membangun jaringan telepon baru yang dibagi menjadi enam paket, yaitu dua paket jaringan Code Division Multy Access (CDMA), dua paket penunjang, serta dua paket Public Switched Telephon Network (PSTN). Sebagai upaya untuk mendukung pesatnya kenaikan permintaan bandwith saat ini, di 2003 PT Telkom akan bekerja sama dengan dua perusahaan asing akan membangun jaringan kabel bawah laut. Sementara itu, selain telepon tetap, pengembangan juga akan dilakukan untuk telepon seluler di kedua perusahaan perusahaannya. Kinerja Sektor Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya di 2003 akan lebih baik dibandingkan 2002. Kecenderungan perbaikan kondisi perbankan diprakirakan akan terus berlanjut seiring dengan membaiknya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Beberapa indikator perbankan diprakirakan akan meningkat, seperti pendanaan, kredit, permodalan, dan profitabilitas. Perbaikan kondisi perbankan ini sejalan dengan prakiraan tersebut melalui anak

230

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) yang tercermin dari direvisinya prospek (outlook) peringkat perbankan dari sebelumnya “negatif”, menjadi “stabil”. Perbaikan prospek ini
(Miliar $)

mengindikasikan membaiknya stabilitas perbankan, meskipun masih jauh dari posisi ‘aman’ dan masih dihadapkan pada risiko ekonomi dan risiko industri yang tinggi. Sejalan dengan masih tumbuhnya konsumsi, pembiayaan konsumsi oleh perbankan (consumer banking) diprakirakan masih meningkat. Trend peningkatan kredit pada segmen retail, seperti pembiayaan rumah dan kendaraan bermotor diprakirakan terus berlangsung di 2003. Peningkatan penyaluran pinjaman kepada masyarakat juga terjadi pada Perum Pegadaian yang dananya berasal dari penerbitan obligasi. Sektor jasa-jasa diprakirakan tumbuh relatif rendah. Dampak tragedi Bali diprakirakan masih terasa disepanjang 2003 terutama pada subsektor jasa swasta. Di beberapa lokasi pariwisata, terutama di Bali, jasa hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan dan rumah tangga, misalnya jasa pemandu wisata, diprakirakan mengalami

Tabel 11.6 Tabel 11.7 Proyeksi Neraca Pembayaran Indonesia Proyeksi Neraca
Rincian
A. Transaksi Berjalan 1. Neraca Barang a. Ekspor (fob) Nonmigas Migas Minyak LNG LPG b. Impor (fob) Nonmigas Migas Minyak Gas 2. Jasa a. Nonmigas b. Migas Minyak Gas B. Lalu Lintas Modal 1. Lalu Lintas Modal Pemerintah (Bersih) a. Penerimaan pinjaman dan bantuan - Bantuan program - Bantuan pangan - IGGI/CGI - Di luar IGGI/CGI b. Pelunasan pinjaman1) 2. Lalu Lintas Modal Swasta (Bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih) C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu lintas Moneter2) Catatan : 1. Aktiva Luar Negeri (GFA)3) Setara Impor Nonmigas dan pembayaran utang luar negeri pemerintah (bulan) 2. Transaksi Berjalan/PDB (%) 6,6 3,9 6,7 2,2 31,6 32,6

2002*
7,3 23,1 58,0 45,3 12,7 6,7 5,7 0,3 -34,8 -28,3 -6,6 -6,3 -0,3 -15,9 -11,6 -4,2 -2,1 -2,1 -3,6 -0,6 1,3 0,8 0,0 1,4 -0,9 -1,8 -3,0 -6,9 3,9 3,7 -0,1 -3,6

2003*
4,7 22,9 58,7 46,6 12,1 6,1 5,6 0,3 -35,8 -29,7 -6,1 -5,8 -0,3 -18,2 -13,8 -4,4 -2,2 -2,2 -3,7 1,8 3,8 1,2 0,0 2,1 0,5 -1,9 -5,6 -1,3 -4,2 1,0 0,0 -1,0

penurunan. Prospek Neraca Pembayaran Tahun 2003 Dalam tahun 2003, secara keseluruhan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan belum sebaik kinerja dalam tahun sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada menurunnya surplus NPI dari $3,6 miliar menjadi $1,0 miliar (Tabel 11.6). Transaksi berjalan diprakirakan mengalami surplus sebesar $4,7 miliar, menurun dari surplus tahun sebelumnya sebesar $7,3 miliar. Penurunan surplus tersebut bersumber dari peningkatan defisit transaksi jasa, sementara transaksi barang justru diprakirakan mengalami penurunan surplus dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor dan impor pada 2003 diprakirakan mencapai masing-masing

1) Setelah diperhitungkan rescheduling 2) Minus (-) : Suplus, dan sebaliknya 3) Sejak 2000 menggunakan konsep IRFCl menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

231

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

sebesar 1,3% dan 2,8%. Prakiraan pertumbuhan ekspor tersebut lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor 2002 yang mencatat pertumbuhan sebesar 1,1%. Pertumbuhan ekspor terutama didukung oleh ekspor nonmigas yang diprakirakan tumbuh sebesar 3,0%, sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia pada 2003 yang diprediksikan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut terjadi pada semua sektor, baik pada Sektor Pertanian, Pertambangan maupun Industri. Pertumbuhan tertinggi diprakirakan terjadi pada Sektor Pertanian dan Pertambangan dengan tingkat pertumbuhan yang sama yaitu sebesar 3,4%, diikuti oleh Sektor Industri sebesar 2,9%. Sementara itu, nilai ekspor migas diprakirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun

dibandingkan dengan defisit pada sebelumnya. Peningkatan defisit tersebut antara lain berasal dari menurunnya penerimaan dari Sektor Pariwisata berkaitan dengan turunnya jumlah kunjungan turis mancanegara yang masuk sebagai dampak tragedi Bali. Jumlah kunjungan turis asing pada 2003 diprakirakan turun menjadi 4,1 juta orang, menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4,7 juta orang. Penurunan jumlah turis asing tersebut menyebabkan perolehan devisa turun sekitar $0,6 miliar. Di sisi lalu lintas modal (LLM), kinerja LLM diprakirakan akan sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang terlihat dari meningkatnya defisit LLM dari $3,6 miliar menjadi $3,7 miliar. Menurunnya kinerja LLM tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan defisit LLM swasta, sedangkan LLM pemerintah mengalami peningkatan surplus setelah mengalami defisit pada tahun sebelumnya. LLM swasta dalam tahun 2003 diprakirakan masih mencatat defisit sebesar $5,6 miliar, lebih tinggi dari defisit dalam tahun sebelumnya sebesar $3,0 miliar. Dalam tahun 2003, surplus LLM pemerintah diprakirakan mencapai $1,8 miliar, membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat defisit $0,6 miliar. Surplus LLM pemerintah tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya kewajiban pembayaran pinjaman kepada IMF (IMF repurchases) dan meningkatnya penarikan pinjaman
3

sebelumnya. Kenaikan harga minyak yang terus berlangsung sampai dengan akhir 2002 diprakirakan tidak berlanjut selama 2003, sehingga penerimaan ekspor minyak menjadi lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya. Impor pada 2003 diprakirakan tumbuh 2,8%, membaik dibandingkan dengan pertumbuhan impor di 2002 yang mengalami penurunan sebesar 0,5%. Prakiraan pertumbuhan impor tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan lebih baik pada 2003. Dilihat berdasarkan kelompok barang, diprakirakan pertumbuhan impor barang-barang konsumsi masih yang terbesar, diikuti dengan pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal. Perkembangan yang kurang menggembirakan akan terjadi pada transaksi jasa yang diprakirakan mengalami defisit $18,2 miliar atau meningkat 14,5%

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada Desember 2002, sebagian besar responden memprakirakan nilai tukar rupiah ratarata di 2003 akan menguat dibandingkan rata-rata nilai tukar 2002, meskipun dengan pergerakan yang cenderung melemah menjelang akhir semester I-2003 mendekati sidang tahunan MPR 2003. Membaiknya persepsi responden terhadap nilai tukar 2003 juga tercermin pada path prakiraan nilai tukar dengan level rata-rata yang lebih rendah menurut hasil survei Desember 2002 ke rata-rata Rp9.000 per dolar dibandingkan rata-rata nilai tukar Rp9.052 per dolar menurut hasil survei November 2002.

232

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

luar negeri pemerintah, baik dalam bentuk pinjaman program dan pinjaman proyek. Dengan perkembangan tersebut di atas, posisi cadangan devisa pada akhir 2003 diprakirakan mencapai sebesar $32,6 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Prospek Nilai Tukar Pada 2003 rata-rata nilai tukar rupiah diprakirakan membaik dibandingkan 2002. Dengan menggunakan pendekatan model “Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER)” nilai tukar rupiah

piah akan didukung oleh relatif seimbangnya pasar valas di dalam negeri. Potensi pasokan valuta asing murni (genuine supply) di Indonesia akan bersumber dari perolehan devisa hasil ekspor, aliran masuk modal asing baik dalam bentuk utang luar negeri dan investasi, serta pembelian aset atau surat berharga perusahaan domestik oleh investor asing yang di antaranya akan bersumber dari kelanjutan program privatisasi BUMN, divestasi bank rekap, penjualan aset BPPN, dan penjualan obligasi valas perusahaan di Indonesia. Sementara itu, potensi permintaan murni valuta asing (genuine demand) dari sektor swasta dan berbagai institusi pemerintah termasuk BUMN terutama untuk keperluan pembayaran utang luar negeri dan pembiayaan impor. Namun dengan disetujuinya restrukturisasi utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta melalui forum Paris Club, London Club, dan Jakarta Initiative Task Force (JITF), maka tekanan permintaan valas akan berkurang di 2003. Dari sisi sentimen, berbagai faktor positif dan negatif diprakirakan mewarnai pasar. Sentimen positif pasar diharapkan berlanjut menyusul keberhasilan pemerintah dalam menangani dampak

diprakirakan akan bergerak dalam kisaran Rp8.800 – Rp9.200 per dolar. Prakiraan tersebut juga telah mempertimbangkan dampak tragedi Bali, sentimen/ isu yang berkembang di dalam maupun luar negeri, pasokan/permintaan valas di pasar domestik, hasil survei3 , dan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah melalui kebijakan sterilisasi valas. Dengan menggunakan formula Bilateral Real Effective Exchange Rate (BRER), nilai tukar ini diprakirakan masih cukup kompetitif untuk mendorong kegiatan ekspor Indonesia. Ditinjau dari berbagai faktor yang

tragedi Bali. Hal ini diharapkan membantu memulihkan kepercayaan internasional terhadap Indonesia dan selanjutnya menambah penerimaan valas dari pariwisata dan portfolio investment yang sempat merosot tidak lama setelah tragedi Bali berlangsung. Sejumlah faktor positif lainnya juga akan mewarnai perkembangan rupiah ke arah yang lebih baik. Faktor tersebut di antaranya adalah prakiraan penguatan nilai tukar regional terutama berkaitan dengan besarnya defisit neraca

mempengaruhinya, perkembangan nilai tukar yang membaik tersebut antara lain didukung oleh faktor fundamental yang cukup kondusif serta beberapa sentimen positif pasar. Sementara itu, beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya sentimen negatif diprakirakan dapat diredam dengan berbagai kebijakan baik oleh Bank Indonesia maupun pemerintah. Di sisi fundamental, perbaikan nilai tukar ru-

233

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

perdagangan AS, multiplier effect atas kelanjutan pelaksanaan 14 mega proyek pemerintah dan berlanjutnya program privatisasi/divestasi. Beberapa sentimen negatif yang berpotensi timbul di 2003 juga perlu terus diwaspadai mengingat hal itu akan meningkatkan faktor risiko maupun ketidakpastian, sehingga berpotensi mendorong terjadinya peningkatan permintaan valas untuk kegiatan spekulasi. Faktor-faktor ketidakpastian tersebut antara lain ketidakpastian hukum dan keamanan dalam negeri, biaya ekonomi yang lebih tinggi sebagai dampak proses pelaksanaan otonomi daerah, aturan perburuhan baru yang kurang kondusif bagi investasi, intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih, serta besarnya beban keuangan negara. Di sisi lain, perilaku pasar valas juga akan dipengaruhi oleh eskalasi politik pada bulan JuliAgustus 2003 menjelang dan pada saat

intermediasi sektor perbankan. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong bank-bank untuk mengurangi penempatan dana valas ke luar negeri dan meningkatkan minat eksportir untuk menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri.4 Sementara itu, dalam rangka meminimalkan fluktuasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia tetap memegang komitmennya untuk melakukan kebijakan sterilisasi di pasar valuta asing. Langkah tersebut diharapkan mampu memelihara stabilitas nilai tukar. Prospek Inflasi Perkembangan inflasi di Indonesia dipengaruhi oleh faktor fundamental yang lebih terkait dengan kondisi ekonomi makro dan faktor nonfundamental yang berupa gangguan (shocks). Faktor fundamental dimaksud terutama adalah perkembangan permintaan dan penawaran agregat, perkembangan faktor eksternal yang memiliki pengaruh langsung terhadap inflasi (pass through effect) dan perkembangan inflasi yang diekspektasikan oleh masyarakat. Sementara itu, faktor shock terutama bersumber dari penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, faktor alam, serta masalah yang terkait dengan distribusi (supply). Dengan mempertim-bangkan berbagai faktor prakiraan tersebut,

berlangsungnya sidang tahunan MPR dan persiapan pemilu 2004. Disamping itu, memanasnya suhu politik global akibat isu terorisme dan

kemungkinan terjadinya perang di Timur Tengah. Di sisi kebijakan, potensi fluktuasi nilai tukar yang berlebihan diharapkan dapat diredam dengan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan struktur mikro pasar valuta asing di Indonesia dan mengoptimalkan
4

perkembangan

perkembangan inflasi di 2003 maupun dalam jangka
Penempatan valuta asing di pasar uang valas (PUAB valas) dalam negeri dipandang masih berisiko tinggi karena tingkat kesehatan sebagian besar bank nasional yang masih rentan (fragile) terhadap terjadinya risiko sistemik, yang tercermin dari hilangnya “credit line” sebagian besar bank nasional untuk memperoleh akses ke pasar uang valas (PUAB valas). Apabila hal ini terus berlangsung maka dikhawatirkan akan semakin memperdalam “segmentasi pasar” dan membuat pasar keuangan domestik menjadi semakin tidak efisien dan illiquid (market imperfection). Sementara itu, penempatan valuta asing dalam bentuk penyaluran kredit —terutama kredit investasi— juga diprakirakan masih akan terbatas apabila bank-bank yang mengalami surplus likuiditas tetap mengalami kesulitan untuk mendapatkan sektor usaha yang berprospek cukup baik.

menengah diprakirakan cenderung mengalami penurunan. Prospek Inflasi Tahun 2003 Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, potensi tekanan inflasi pada 2003 diprakirakan mengalami penurunan dibandingkan dangan tahun

234

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

sebelumnya. Hal ini didasarkan pada perkembangan faktor fundamental dan nonfundamental yang mengalami penurunan dalam memberikan tekanan terhadap perkembangan inflasi di 2003. Faktor fundamental yang diantaranya adalah kondisi permintaan yang realtif belum terlalu kuat dalam memberikan tekanan inflasi, ekspektasi masyarakat mengalami sedikit penurunan, serta nilai tukar rupiah juga diprakirakan sedikit mengalami penguatan. Sementara dampak penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan ternyata masih memberikan sumbangan inflasi yang signifikan walaupun masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Interaksi perkembangan permintaan dan penawaran pada 2003 diprakirakan tidak memberikan tekanan yang berarti terhadap perkembangan inflasi. Hal ini terutama didasarkan atas perkembangan berbagai indikator sisi permintaan yang menunjukkan pertumbuhan yang rendah. Tekanan permintaan yang tidak terlalu kuat terutama disebabkan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang diprakirakan melambat. Sementara itu, peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah tidak berdampak signifikan dalam menimbulkan tekanan permintaan karena porsinya yang relatif kecil. Di sisi lain, permintaan luar negeri diprakirakan relatif masih lemah sehingga belum menimbulkan tekanan inflasi yang cukup berarti. Dari sisi penawaran, rendahnya pertumbuhan investasi dalam dua tahun terakhir, dikhawatirkan akan sulit mengimbangi permintaan yang meningkat pada periode mendatang sehingga tekanan inflasi dapat timbul akibat keterbatasan penawaran. Secara sektoral, potensi tekanan inflasi dapat muncul dari
Grafik 11.8 Ekspektasi Inflasi Berdasarkan Consensus Forecast Grafik 11.7 Perkembangan Komposit Inflasi Beberapa Negara Mitra Dagang

melemahnya pertumbuhan di sektor pertanian yang berpotensi mengurangi pasokan bahan makanan. Sementara itu, prakiraan melemahnya pertumbuhan di Sektor Perdagangan diprakirakan tidak akan menimbulkan tekanan inflasi mengingat penurunan pertumbuhan sektor ini justru bersumber dari melambatnya permintaan terutama untuk subsektor perdagangan, retail dan perhotelan. Tekanan inflasi dari sisi eksternal pada 2003 diprakirakan tidak signifikan sejalan dengan

235

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan (Persen)

prakiraan adanya penguatan nilai tukar rupiah dan relatif lambannya peningkatan inflasi di negara mitra dagang. Perkembangan nilai tukar rupiah di 2003 secara rata-rata diprakirakan mengalami penguatan dibandingkan dengan 2002. Pada 2003 perkembangan nilai tukar rupiah diprakirakan mencapai Rp9.000 per dolar dengan pergerakan yang menunjukkan penguatan di awal tahun yang kemudian melemah di akhir tahun. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan hanya sedikit mengalami percepatan di 2003 sehingga tidak menimbulkan tekanan yang berarti terhadap perkembangan inflasi dunia. Sejalan dengan itu, tingkat inflasi di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia secara rata-rata diprakirakan hanya meningkat dari 0,90% menjadi 0,96% (y-o-y). Beberapa negara mitra dagang yang dimaksud adalah negara yang merupakan kontributor sumber barang impor terbesar bagi Indonesia yaitu Jepang, AS, Korea, Singapura, Cina, Thailand, Kanada dan Malaysia. Ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan

Tabel 11.7 Rencana dan Prakiraan Penerapan Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Kenaikan Pendapatan TahunPeriode 2003 Kebijakan Pemerintah TDL BBM Cukai (HJE) Rokok Tarif Telepon UMR/UMP Tarif Tol Harga/Tarif 24 21 12 15 7 50 Penerapan Setiap triwulan Trw I Trw IV Trw I Trw I Trw I

inflasi yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi perkembangan inflasi diprakirakan menurun pada 2003. Faktor ekspektasi inflasi ini dipengaruhi oleh perkembangan inflasi pada periode lalu (adaptive expectation) dan perkembangan kondisi perekonomian terutama variabel-variabel yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan inflasi, yaitu perkembangan nilai tukar dan kebijakan pemerintah dibidang harga dan pendapatan. Untuk tahun 2003 inflasi yang diekspektasikan oleh masyarakat terlihat sedikit menurun dibandingkan dengan inflasi 2002. Hal ini tercermin pada angka rata-rata consensus forecast dan survei ekspektasi pedagang mengenai perkembangan harga ke depan yang menunjukkan kecenderungan menurun. Angka consensus forecast perkembangan inflasi Indonesia
(Rp/Liter)

Tabel 11.8
Perbandingan Harga Jual BBM 2002 dan Prakiraan Harga Jual BBM 2003

2002 Jenis BBM Premium Solar Minyak Tanah Industri Grafik 11.9 Ekspektasi harga Penjual Eceran Minyak Diesel Minyak Bakar
Harga Terendah Harga Tertinggi

2003
Harga Terendah Harga Tertinggi

1.450 900 900 900 800

1.750 1.550 1.650 1.520 1.150

1.600 1.650 1.800 1.600 1.150

2.100 2.100 2.200 2.050 1.600

236

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

di 2003 secara umum lebih rendah dibandingkan dengan inflasi 2002 meskipun pada pertengahan tahun memperlihatkan pergerakan yang meningkat (Grafik 11.8). Sementara itu, hasil Survei Pedagang Eceran memperlihatkan bahwa responden yang menyatakan terjadinya peningkatan harga pada periode enam bulan ke depan semakin berkurang. Hal ini dapat mengindikasikan ekspektasi penurunan inflasi pada periode enam bulan mendatang (Grafik 11.9). Dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan pada 2003 diprakirakan memberikan sumbangan terhadap inflasi IHK yang cukup tinggi yaitu sebesar 3,02%. Hal ini berkaitan dengan beberapa rencana kenaikan tarif/harga administered prices dan pendapatan seperti kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), potensi kenaikan Harga Jual Eceran (HJE) rokok, kenaikan harga BBM, kenaikan tarif telepon, dan kenaikan Upah Minimum Regional (UMP) (Tabel 11.7 dan 11.8). TDL direncanakan naik sebesar 6% setiap triwulan mulai awal 2003 sehingga dalam satu tahun akan mengalami kenaikan sekitar 24%. Kenaikan TDL yang masih tetap berlanjut pada tahun ini antara lain diperlukan untuk mengatasi krisis keuangan yang dialami PLN. Rencana pemerintah meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari cukai menjadi Rp 27,7 triliun dari Rp 22,5 triliun pada tahun sebelumnya berpotensi menaikkan HJE rokok sekitar 12,0%. Potensi tersebut bersumber dari prakiraan lesunya pertumbuhan volume

penjualan rokok di 2003 sehingga target penerimaan cukai tersebut tampaknya akan sulit untuk dicapai dengan hanya mengandalkan volume penjualan rokok. Oleh karena itu, kenaikan HJE dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengkompensasi volume penjualan rokok yang tidak kondusif. Selain itu terdapat pula rencana perubahan tarif cukai dari ad valorem menjadi semi specific5 yang diprakirakan juga berpotensi dalam mengakibatkan kenaikan harga rokok. Hampir seluruh jenis BBM kecuali solar dan minyak tanah telah disesuaikan menjadi 100,0% harga pasar. Penyesuaian tersebut

mengakibatkan harga BBM untuk seluruh jenis penggunaan akan mengalami kenaikan ratarata sebesar 21,0%. Presentase kenaikan harga BBM tersebut didasarkan pada prakiraan ratarata harga BBM yang akan berada pada nilai tengah dari kisaran batas bawah dan batas atas harga BBM yang akan ditetapkan di 2003 yang selanjutnya dibandingkan dengan harga BBM di akhir 2002. Dampak inflasi dari kenaikan BBM ini sangat besar karena akan berpengaruh terhadap meningkatnya harga-harga barang lainnya terutama di sektor angkutan. Pemerintah berencana menaikkan tarif telepon sekitar 15,0%. Kenaikan tersebut merupakan bagian dari rencana yang telah disepakati antara pemerintah dan DPR untuk menaikan tarif telepon selama tiga tahun dari 2002 hingga 2004 sebesar 45,5% sehingga secara rata-rata akan ada kenaikan tarif sekitar 15,0% per tahun. Namun demikian berdasarkan rencana kenaikan

5

Merubah sistem perhitungan cukai dari persentase menjadi nilai rupiah tertentu.

perkomponennya, tarif telepon tersebut

237

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

diprakirakan mengalami kenaikan sekitar 30%. Kenaikan paling besar terjadi pada tarif pulsa lokal (33,3%) dan abodemen (31%) sementara tarif pulsa sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) akan mengalami penurunan sebesar 3,9%. Kenaikan yang cukup besar juga akan diberlakukan untuk tarif jalan tol, yaitu sekitar 25%-75%. Namun dengan bobot yang sangat kecil dalam perhitungan IHK (0,01%), dampak kenaikan tarif Tol tersebut terhadap inflasi tidak signifikan. Dampak kebijakan pemerintah terhadap inflasi IHK pada 2003 diprakirakan juga akan berasal dari kenaikan upah minimum propinsi (UMP) yang diprakirakan meningkat sebesar 7,0%. Kenaikan UMP tersebut akan berdampak langsung terhadap kenaikan biaya operasional perusahaan yang pada akhirnya akan sangat berpotensi besar terhadap kenaikan harga output dalam rangka

kebijakan pemerintah dibidang harga dan pendapatan diprakirakan semakin menurun berkaitan dengan penurunan intensitas dari penerapan kebijakan ini di tahun-tahun mendatang. Potensi ini terutama bersumber dari upaya pemerintah dalam mengurangi defisit anggaran melalui pengurangan subsidi dan peningkatan penerimaan pajak. Adanya prakiraan stabilnya perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah mengindikasikan tidak adanya tekanan inflasi yang ditimbulkan oleh pergerakan nilai tukar dalam beberapa tahun mendatang. Sementara itu, perkembangan harga komoditas internasional diprakirakan tidak mengalami peningkatan yang berarti dan bahkan pelaksanaan AFTA cukup berpotensi bagi terjadinya penurunan harga di dalam negeri. Pada akhirnya perkembangan positif berbagai faktor penyebab inflasi tersebut akan berdampak pada turunnya tingkat inflasi yang diekspektasikan oleh masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, upaya Bank Indonesia dalam mengendalikan laju inflasi diharapkan dapat lebih mengarahkan ekspektasi masyarakat pada perkembangan inflasi yang menurun pada tahun-tahun mendatang. Prospek Perbankan Tantangan perbankan ke depan adalah bagaimana mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, perbankan juga harus mempersiapkan diri dalam pencapaian target NonPerforming Loans(NPLs) neto 5,0% pada Juni 2003,

mempertahankan margin keuntungan. Sementara itu, kenaikan gaji PNS dan tunjangan guru masingmasing sebesar 10% dan 50% yang akan diterapkan pada 2003 diprakirakan tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga-harga.

Prospek Inflasi Jangka Menengah Dalam jangka menengah, perkembangan inflasi diprakirakan terus mengalami penurunan. Prakiraan tersebut didasari oleh beberapa faktor penyebab inflasi yang diprakirakan memberikan tekanan menurun dalam beberapa tahun mendatang serta didukung pula oleh komitmen Bank Indonesia dalam mengupayakan penurunan inflasi. Potensi dampak inflasi dari penerapan

6

7

Hasil survei Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) terhadap 14 bank SIB pada 27 Desember 2002 mengenai rencana ekspansi kredit baru untuk 2003. Hasil survei DPNP terhadap 83 bank pada 11 Desember 2002.

238

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

persiapan penerapan risiko pasar (market risk) dalam perhitungan Capital Adequacy Ratio (CAR) pada awal 2004, dan rencana pengurangan cakupan program penjaminan sebelum terbentuknya Lembaga Penjamin Simpanan. Meskipun masih banyak tantangan yang dihadapi, namun intermediasi perbankan diprakirakan akan terus meningkat, khususnya untuk sektor Unit usaha kecil dan menengah (UKM). Hasil survei 6 terhadap 14 bank Systemically Important Banks (SIBs) menunjukkan bahwa ekspansi kredit baru untuk bankbank yang tergabung dalam kelompok pada 2003 diprakirakan mencapai Rp83,0 triliun. Hasil survei lainnya7 menunjukkan bahwa 40 bank akan menaikkan ekspansi kreditnya secara rata-rata diatas 5,0% dibandingkan dengan 2002. Survei yang sama juga mengindikasikan bahwa dari sisi penggunaannya di 2003 diprakirakan sebagian besar masih disalurkan untuk modal kerja dan konsumsi, dan kredit investasi diprakirakan masih belum banyak mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sementara itu, sektor usaha memiliki daya serap tinggi terhadap sektor kredit perbankan pada 2003 adalah perdagangan, industri dan jasa-jasa lainnya. Penyaluran kredit untuk sektor UKM diprakirakan meningkat porsinya pada 2003 mengingat sebagian besar bank-bank telah melakukan “reposisi” kebijakan pemberian kreditnya dari corporate lending ke retail lending. Proyeksi kredit untuk sektor UKM diprakirakan mencapai Rp42,3 triliun pada 2003. Hal ini sejalan dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa pemberian kredit di 2003 akan diprioritaskan pada kredit dengan plafond sampai dengan Rp1,0 milyar dan Rp5,0 milyar.

Corporate lending diprakirakan masih tetap berjalan namun porsinya masih kecil. Kecilnya pangsa corporate lending tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain masih banyaknya debitur-debitur besar yang berada di BPPN, perbankan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadikan debitur kecil dan menengah menjadi debitur besar serta trauma beberapa bank kreditnya menjadi macet. Dari sisi permodalan, CAR perbankan secara industri diprakirakan akan sedikit mengalami penurunan walaupun masih di atas 8%. Penurunan tersebut disebabkan oleh semakin besarnya risiko aktiva produktif perbankan dalam rangka ekspansi kredit yang semakin meningkat. Sementara itu, secara individu diprakirakan masih terdapat beberapa bank yang memiliki CAR dibawah 8%, khususnya bagi bank-bank yang memiliki exposures cukup besar terhadap perubahan suku bunga dan nilai tukar maupun penurunan kualitas aktiva produktif. Dengan semakin menyatunya produk perbankan dan lembaga keuangan lainnya serta keinginan nasabah bank untuk memperoleh pelayanan keuangan dalam satu atap, maka diprakirakan semakin banyak bank-bank yang akan menjadi selling agent perusahaan asuransi dan reksa dana maupun menerbitkan produk-produk dan jasa perbankan baru seperti misalnya dual currency deposits, internet banking, dan mobile banking. Faktor Risiko Dan Ketidakpastian Meskipun prospek pemulihan perekonomian Indonesia di 2003 secara umum diprakirakan membaik namun berbagai faktor risiko dan ketidakpastian terutama pasca terjadinya tragedi Bali masih perlu dicermati. Berbagai faktor risiko tersebut, apabila

239

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

tidak tertangani dengan baik dapat berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Indonesia ke depan. Namun sebaliknya, apabila risiko tersebut dapat diredam maka hal tersebut justru dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi yang saat ini terus diupayakan. Berbagai risiko yang diprakirakan dapat membawa dampak negatif terhadap prospek perekonomian Indonesia antara lain memburuknya kondisi perekonomian sebagian besar negara maju dan persepsi investor global yang belum membaik. Dari sisi domestik, disamping belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan, masih maraknya berbagai konflik perburuhan serta relatif rendahnya kepercayaan dunia usaha terhadap penegakan hukum serta potensi meningkatnya suhu politik menjelang pelaksanaan Pemilu 2004 dapat menjadi faktor penghambat upaya pemulihan ekonomi yang sedang dilakukan. Dari sisi eksternal, meskipun perekonomian dunia secara keseluruhan diprakirakan membaik namun peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut lebih banyak didukung oleh kinerja ekonomi berbagai negara berkembang di kawasan Asia. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara maju yang menjadi pasar tradisional ekspor Indonesia, seperti AS dan Jepang , diprakirakan belum tumbuh secara berarti. Relatif lemahnya pertumbuhan ekonomi tersebut bahkan dapat semakin memburuk apabila meningkatnya ketegangan politik di timur tengah berlangsung lama sehingga secara signifikan mempengaruhi arus perdagangan dunia. Meningkatnya ketidakpastian akibat

diprakirakan juga akan berdampak negatif terhadap iklim investasi global yang sementara ini belum pulih. Perkembangan kondisi politik global yang kurang menguntungkan tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk persepsi investor dan mitra dagang luar negeri terhadap prospek perekonomian Indonesia. Tendensi memburuknya kepercayaan masyarakat internasional tersebut antara lain nampak dari pengenaan “war premium” terhadap kegiatan perdagangan luar negeri Indonesia. Premi tersebut meningkatkan biaya transaksi dagang dengan mitra luar negeri serta semakin memperkuat keengganan investor internasional untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dari sisi domestik, secara khusus perlu dicermati perkembangan situasi politik dan keamanan menjelang dilangsungkannya Pemilu 2004. Meskipun cenderung terus membaik, perkembangan faktor tersebut masih mengandung banyak ketidakpastian sehingga berpotensi meningkatkan ketegangan politik. Dalam jangka pendek, berbagai variabel indikator seperti nilai tukar dan inflasi dapat terpengaruh oleh sentimen negatif yang timbul. Sementara dalam jangka panjang, sentimen negatif yang persisten akan berdampak buruk terhadap kepercayaan masyarakat sehingga mempengaruhi konsumsi dan investasi. Maraknya berbagai konflik perburuhan diyakini dapat mengganggu ketenangan dan kepastian usaha dan berpotensi mengurangi produktifitas. Berlarutnya penyelesaian masalah tersebut berpotensi

mengakibatkan tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK), semakin mengurangi daya beli masyarakat dan dapat mendorong terjadinya berbagai konflik sosial

ketegangan politik di Timur Tengah tersebut

240

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan (Persen)

lainnya. Di sisi lain, tuntutan kenaikan upah yang tidak dibarengi dengan peningkatan produktifitas akan meningkatkan biaya produksi per unit (unit cost) sehingga mengurangi daya saing produk Indonesia. Disamping itu, mencuatnya berbagai

Tabel 11.9 Lintasan Indikatif Sasaran Inflasi IHK Jangka Menengah Sasaran Inflasi IHK Periode
2003 2004 2005 2006

9

8

7

6

defisit fiskal dan neraca pembayaran baik melalui mobilisasi sumber dana luar negeri (penarikan pinjaman baru dan penjadwalan kembali

ketidakpuasan atas proses dan penyelesaian beberapa kasus hukum yang relatif besar menimbulkan persepsi masyarakat yang kurang kondusif terhadap penegakan supremasi hukum. Selain mengurangi kredibilitas pemerintah dalam penyelenggaraan tata kelola negara (public governance), hal tersebut juga mengurangi minat investor untuk menanam modal ke Indonesia. Di sisi lain, faktor risiko yang juga akan menentukan prospek ekonomi ke depan adalah fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya berjalan normal. Meskipun ekspansi kredit di 2002 relatif membaik, peningkatannya dirasakan masih jauh dari yang dibutuhkan oleh sektor riil. Selain berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, keengganan bank untuk menyalurkan kredit juga akan mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter akibat mekanisme transmisi kebijakan moneter yang tidak berjalan optimal. Sementara itu, berkenaan dengan rencana diakhirinya program IMF pada akhir 2003 diperlukan suatu strategi yang tepat guna meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi terutama terhadap kondisi fiskal dan neraca pembayaran. Terkait dengan hal itu, diperlukan kebijakan yang tepat terutama untuk menutup
8

pembayaran utang luar negeri) maupun melalui mobilisasi pembiayaan dari sumber domestik. (Boks : Konsekuensi dan Persiapan Indonesia Menghadapi Berakhirnya Program IMF pada Akhir 2003) SASARAN INFLASI DAN ARAH KEBIJAKAN Sasaran Inflasi Sejak awal 2002 Bank Indonesia telah menetapkan sasaran inflasi jangka menengah 6,0%7,0% yang akan dicapai pada 2006. Sasaran yang ditetapkan dalam bentuk angka inflasi yang disertai dengan periode pencapaiannya tersebut merupakan sasaran inflasi yang optimum, dimana sasaran inflasi dapat ditujukan pada tingkat inflasi yang cukup rendah dan proses pencapaiannya diprakirakan tidak menghambat proses pemulihan ekonomi Indonesia8 . Adapun asumsi-asumsi yang mendasari penetapan sasaran inflasi jangka menengah tersebut adalah: terkendalinya tingkat permintaan masyarakat, adanya penurunan intensitas penerapan kebijakan inflatoir pemerintah di bidang harga dan pendapatan, dan adanya kestabilan perkembangan nilai tukar rupiah. Pencapaian sasaran inflasi tersebut perlu diupayakan melalui proses disinflasi dengan penetapan sasaran inflasi yang terus menurun mencapai level yang dituju pada periode jangka menengah. Secara sederhana, proses

Lihat Boks Penetapan Sasaran Inflasi Bank Indonesia, Laporan Tahunan Bank Indonesia tahun 2001.

241

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

disinflasi dapat ditunjukkan dengan angka sasaran inflasi yang menurun secara linier yang diharapkan dapat mendukung proses pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka lintasan indikatif sasaran inflasi sejak 2003 sampai dengan 2006 adalah sebagai mana disajikan pada tabel 11.9. Mengingat tingginya tingkat ketidakpastian dalam mencapai sasaran tersebut serta dengan mempertimbangan efektifitas kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi dalam jangka pendek, penetapan sasaran inflasi jangka pendek (tahunan) dapat lebih rendah atau lebih tinggi dari lintasan indikatif sasaran inflasi yang ditetapkan. Penetapan sasaran inflasi jangka pendek perlu disesuaikan dengan prakiraan perkembangan faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dalam tahun yang bersangkutan. Berdasarkan faktor-faktor yang menjadi sumber tekanan inflasi pada 2003, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk melakukan berbagai upaya dalam mengarahkan perkembangan inflasi pada lintasan indikatif sasaran inflasi 2003 tanpa menghambat proses pemulihan ekonomi, yaitu pada angka 9,0%. Namun demikian, dalam menghadapi faktor ketidakpastian dalam upaya pencapaian sasaran inflasi tersebut perlu disertakan angka deviasi yang paling reliable dan acceptable pada angka sasaran yang ditetapkan, yaitu ±1,0%. Dengan demikian sasaran inflasi IHK untuk tahun 2003 adalah 9,0% (±1,0%). c. Arah Kebijakan Moneter a. Kebijakan moneter secara konsisten tetap diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi IHK b.

sebesar 9,0% pada 2003 serta dengan menjaga komitmen pencapaian sasaran inflasi jangka menengah. Secara operasional, pencapaian uang primer tetap diupayakan agar konsisten dengan sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun momentum positif yang telah dicapai melalui penurunan suku bunga SBI perlu tetap dijaga. Untuk itu, uang primer perlu diarahkan untuk secara bertahap mencapai pertumbuhan rata-rata sekitar 13%, sesuai dengan

kebutuhan riil perekonomian. Di tengah kondisi perbankan yang mengalami kelebihan likuditas, pencapaian sasaran uang primer tersebut diprakirakan masih dapat membawa suku bunga instrumen moneter yang cenderung menurun. Dengan memperhatikan sejumlah variabel-variabel informasi lainnya seperti masih tingginya rigiditas suku bunga kredit perbankan serta adanya kecenderungan menurunnya inflasi inti secara signifikan, tekanan inflasi yang dapat ditimbulkan oleh penurunan suku bunga diprakirakan belum terlalu kuat. Penurunan suku bunga tersebut diharapkan tetap dapat memberikan sinyal positif kepada para pelaku usaha akan prospek pemulihan perekonomian. Di samping mempengaruhi suku bunga kredit perbankan, penurunan suku bunga ini diharapkan dapat mendorong sektor korporat untuk menerbitkan obligasi sebagai alternatif pembiayaan investasinya. Secara operasional, optimalisasi penggunaan instrumen moneter seperti yang dilakukan pada 2002 tetap perlu dipertahankan, termasuk upaya untuk tetap menggunakan kebijakan

242

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

sterilisasi valas dalam membantu penyerapan likuditas perbankan serta meminimalkan fluktuasi nilai tukar yang berlebihan. Disamping optimalisasi infrastruktur SBI, dalam jangka panjang penggunaan Surat Perbendaharaan Negara dan Obligasi Negara tetap perlu dipertimbangkan sebagai alternatif instrumen (Boks : SBI Scripless dan Automatic Bidding System (ABS). Namun demikian, strategi ini tetap harus memperhatikan timing dan magnitude yang tepat sesuai dengan kondisi pasar. Penggunaan surat utang pemerintah sebagai instrumen moneter di pasar sekunder juga menuntut adanya kesiapan infrastuktur/aturanaturan mengenai sistem lelang baik outright maupun repo. Kesiapan infrastruktur

b.

Mendorong bank-bank untuk terus meningkatkan pemberian kredit ke sektor UKM mengingat potensi pengembangannya masih sangat besar dan memiliki prospek usaha yang

menggembirakan. c. Menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang merupakan policy direction bagi industri perbankan nasional sebagai antisipasi dalam menghadapi segala perubahan-perubahan yang terjadi dalam jangka panjang. (Boks : Arsitektur Perbankan Indonesia) d. Mempersiapkan cetak biru stabilitas sistem keuangan dengan cakupan aspek monitoring dan surveilance stabilitas keuangan, prosedur penanganan krisis (crisis resolution) dan aspek organisasinya. (Boks : Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) di Indonesia). e. Walaupun CAR perbankan belum memasukkan unsur market risk dalam perhitungannya, namun perbankan tetap diminta untuk melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan secara bertahap di 2003 sebelum penerapan market risk dalam perhitungan CAR diberlakukan pada 2004.

diharapkan dapat menjamin kelancaran transaksi di pasar sekunder yang selanjutnya dapat meningkatkan efektivitas penggunaan surat utang pemerintah sebagai alternatif instrumen moneter. (Boks : On Line Scripless Securities Settlement System (SSSS) Arah Kebijakan Perbankan a. Kebijakan di bidang perbankan masih meneruskan program penyehatan perbankan. Terkait dengan hal tersebut, target pencapaian NPLs neto maksimum 5,0% pada akhir Juni 2003 diharapkan dapat tercapai. Bagi bank-bank yang masih memiliki NPLs neto diatas 5,0% perlu membuat rencana yang jelas dan konkrit di dalam business plan mereka mengenai upaya-upaya dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai target NPLs neto maksimum 5,0%. f.

Perhitungan CAR yang baru dengan memasukkan unsur market risk tidak akan mengubah ketentuan batas minimum CAR 8% yang sudah ada selama ini. Mengeluarkan pedoman pelaksanaan

manajemen risiko untuk bank-bank sehingga diharapkan bank-bank dapat membuat

pedoman pelaksanaan manajemen risiko di banknya masing-masing sesuai dengan standar yang telah ditentukan dalam rangka

memperkuat internal control.

243

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

g.

Menyiapkan materi pengaturan LPS dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti proses restrukturisasi perbankan, kerangka pengawasan perbankan yang efektif, prosedur penyelesaian bank bermasalah dan adanya elemen lender of the last resort.

Arah Kebijakan Sistem Pembayaran a. Di bidang sistem pembayaran tunai, kebijakan diarahkan untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan uang kartal melalui peningkatan efektivitas pengedaran uang. Pola penyaluran uang pecahan kecil kepada masyarakat yang dilakukan di kantor pusat, melalui perusahaan pihak ketiga dan BPR akan dilanjutkan ditujuh Kantor Bank Indonesia (KBI). Disamping itu, untuk daerah-daerah yang tidak memiliki KBI, pelaksanaan distribusi uang dilakukan melalui Kas Titipan yang bekerjasama dengan perbankan setempat. Untuk

h.

Di bidang perbankan syariah, arah kebijakan di 2003 akan diprioritaskan pada upaya penyempurnaan ketentuan dan infrastruktur pendukung bagi pengembangan perbankan syariah. Di sisi ketentuan, penyempurnaan tersebut antara lain mencakup penyusunan ketentuan pengawasan perbankan syariah berbasis risiko (risk-based supervision), prudential regulation, penilaian tingkat syariah, serta

meningkatkan efektivitas keberadaan kas titipan tersebut, Bank Indonesia akan

kesehatan

perbankan

melakukan evaluasi dan penyempurnaan fungsi kas titipan sebagai ujung tombak dalam pengedaran uang di daerah. Kebijakan lain dibidang sistem pembayaran tunai adalah memperluas jejaring penanggulangan uang palsu. Perluasan jejaring ini dilakukan melalui peningkatan kerjasama dengan POLRI dalam bentuk pembekalan keterampilan kepada petugas di KBI maupun POLDA dalam

penyempurnaan sistem pelaporan

pedoman akuntansi dan audit perbankan syariah. Sementara itu, penyempurnaan infrastruktur akan meliputi pemetaan wilayah-wilayah potensial bagi pengembangan dan pembukaan kantor-kantor bank syariah baru guna mendorong pengembangan

jaringan kantor bank syariah. Disamping itu, kegiatan sosialisasi perbankan syariah akan dilaksanakan secara lebih intensif untuk meningkatkan pemahaman m a s y a rakat

penanggulangan pemalsuan uang. Disamping itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah asli, pada 2003 Bank Indonesia akan melakukan kerjasama dengan perbankan yang mempunyai jaringan sampai tingkat pedesaan. b. Dibidang sistem pembayaran nontunai, kebijakan tetap diarahkan untuk memperluas implementasi sistem Real Time Gross Settlement (RTGS), mengurangi risiko sistem pembayaran, dan mengkaji ulang blue print

terhadap perbankan syariah.

244

sistem pembayaran nasional. Perluasan implementasi sistem BI-RTGS pada 2003 akan dilakukan di 10 KBI yaitu KBI Cirebon, Tasikmalaya, Purwokerto, Solo, Jember, Kediri,

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

b o k s

SBI Scripless dan Automatic Bidding System (ABS)

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sampai saat ini masih merupakan piranti utama dalam pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi pasar terbuka (OPT). Pada dasarnya, SBI merupakan surat utang jangka pendek dalam rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia secara diskonto dan penerbitannya ditujukan untuk kepentingan operasi kebijakan moneter. SBI diterbitkan pertama kali pada tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden No. 5 tahun 1984 tentang Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia dan SK Direksi Bank Indonesia No. 16/55/Kep/Dir tanggal 21 Januari 1984 tentang SBI. Perkembangan yang sangat cepat di pasar keuangan, menuntut perlunya inovasi bukan hanya dalam hal tersedianya instrumen secara memadai dan berkesinambungan tetapi juga adanya infrastruktur pendukung untuk memfasilitasi kegiatan transaksi secara akurat, cepat dan aman. Dengan memperhatikan hal tersebut serta untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan OPT, Bank Indonesia melakukan penyempurnaan cara penerbitan dan mekanisme transaksi SBI yang didukung dengan sistem penatausahaan secara elektronis. Sebelumnya, setiap penerbitan SBI selalu disertai dengan pencetakan warkat (fisik) surat berharga dan warkat tersebut pada umumnya disimpan di Bank Indonesia. Kepada pemilik diberikan ‘bukti depo simpanan’ (BDS) sebagai bukti kepemilikan SBI yang ditatausahakan di Bank Indonesia.

Penyempurnaan ketentuan SBI tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI), yaitu PBI No. 4/10/ PBI/2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia. Selain itu Bank Indonesia juga menyempurnakan ketentuan pelaksanaan kebijakan moneter yang tertuang dalam PBI No. 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. Kedua ketentuan tersebut dikeluarkan pada 18 November 2002 dan mulai berlaku sejak 25 November 2002. Kedua ketentuan tersebut sekaligus dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum yang lebih jelas mengenai kedudukan dan fungsi SBI dalam kaitan dengan kebijakan moneter di Indonesia, mengingat kedua ketentuan yang menjadi dasar penerbitan SBI selama ini sudah tidak memadai bila dikaitkan dengan tuntutan perubahan pasar keuangan yang sangat dinamis. Materi penyempuraan tersebut terutama meliputi penerbitan SBI secara scripless, yaitu penerbitan SBI tanpa disertai dengan pencetakan warkat (fisik) dari surat berharga. Dalam hal ini, pencatatan atas kepemilikan SBI dilakukan secara elektronis dalam suatu sistem penatausahaan secara elektronis yang ada di Bank Indonesia. Sistem penatausahaan secara elektronis tersebut dikenal dengan Book Entry Registry (BER) yang selama ini juga digunakan untuk

menatausahakan perdagangan obligasi pemerintah. Dalam hal ini, Bank Indonesia bertindak sebagai central registry (CR) yang menatausahakan kepemilikan SBI oleh perbankan. Selain itu, di Bank

245

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

Indonesia terdapat pula rekening atas nama sub-registry (SR) yang menatausahakan kepemilikan SBI oleh pihak lain di luar bank. Saat ini, terdapat sebelas bank yang ditunjuk sebagai SR. Penunjukkan tersebut dilakukan melalui proses seleksi yang ketat berdasarkan kriteria yang ditetapkan Bank Indonesia, untuk menjamin bahwa bank-bank yang ditunjuk sebagai SR mampu melaksanakan fungsi sebagai penatausaha SBI scripless sesuai dengan standar yang diinginkan Bank Indonesia. Kriteria dimaksud antara lain, memiliki pengalaman dalam penatausahaan surat berharga minimal tigatahun, nominal surat berharga yang ditatausahakan dalam enam bulan terakhir rata-rata sebesar 1,0 triliun, memiliki sistem pencatatan surat berharga secara scripless yang aspek keamanannya telah diaudit dan memiliki jaringan usaha yang luas. Kesebelas SR dimaksud meliputi Bank Niaga, Deutsche Bank AG, Citibank NA, BII, ABN AMRO Bank N.V., BNI, HSBC, BCA, BRI dan Standard Chartered Bank. Dengan adanya penyempurnaan mekanisme penerbitan SBI tersebut, transaksi SBI, khususnya di pasar sekunder diharapkan dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain itu, transaksi repo surat berharga, termasuk SBI, diharapkan juga dapat berkembang untuk mengurangi volatilitas tingkat bunga dan mengurangi segmentasi yang terjadi di pasar uang. Dapat dikemukakan bahwa di pasar sekunder SBI dapat diperdagangkan baik secara repo maupun outright serta dapat dijadikan agunan. SBI Scripless memiliki satuan unit sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Namun, jumlah transaksi terkecil di pasar perdana (pada saat penerbitan

melalui lelang) ditetapkan sebesar 1.000 unit atau Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan selebihnya dengan kelipatan 100 unit atau Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Sedangkan penawaran tingkat diskonto diajukan dengan kelipatan 0,0625%. Penerbitan SBI oleh Bank Indonesia dapat dilakukan dengan mekanisme lelang maupun nonlelang. Pembeli SBI pada saat penerbitan (pasar perdana) adalah bank dan pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Untuk saat ini, hanya bank yang dapat membeli SBI di pasar perdana melalui mekanisme lelang. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menunjukkan fungsi SBI sebagai instrumen moneter yang ditujukan untuk mempengaruhi jumlah likuiditas di pasar uang melalui perubahan jumlah saldo giro bank di Bank Indonesia. Transaksi di pasar perdana ini hanya dapat dilakukan melalui sarana automatic bidding system (ABS) dari Bloomberg yang bersifat on-line dan realtime. Sebelumnya, penyampaian penawaran lelang SBI dapat dilakukan melalui telepon, faksimili maupun reuter’s monitor dealing system (RMDS). Dengan sarana ABS, baik penyampaian penawaran (bidding), proses penentuan pemenang lelang, pengumuman maupun konfirmasi hasil lelang kepada peserta lelang dilakukan secara elektronis sehingga lebih cepat dan aman (mengurangi unsur human error). Penyampaian penawaran lelang SBI bagi bank yang tidak memiliki sarana ABS dapat dilakukan baik melalui bank lain ataupun pialang pasar uang yang telah memiliki sarana ABS. Saat ini terdapat 40 bank dan 7 pialang pasar uang memiliki sarana ABS.

246

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

b o k s

On-line Scripless Securities Settlement System (SSSS)

Pendahuluan Sejak diterbitkannya Obligasi Pemerintah dalam rangka program rekapitalisasi Perbankan yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Utang Negara (SUN) dengan dikeluarkannya UU No. 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, Bank Indonesia ditugasi untuk menatausahakan surat utang tersebut. Hal ini sesuai dengan pasal 55 ayat 3 dalam UU No. 23 tahun 1999 yang menyatakan bahwa Bank Indonesia membantu Pemerintah dalam penerbitan SUN. Pada awalnya, peran Bank Indonesia sebagai penatausaha SUN tercantum dalam Persetujuan Bersama Departemen Keuangan dan Bank Indonesia 28 Mei 1999. Dalam Persetujuan Bersama tersebut disepakati bahwa Bank Indonesia bertindak sebagai agen penatausaha SUN yang tugasnya antara lain untuk mencatat kepemilikan semua SUN dalam daftar pemegang SUN dan semua perpindahan kepemilikan SUN yang dibuktikan dengan konfirmasi pencatatan SUN serta melakukan pembayaran bunga dan pokok SUN pada saat jatuh waktu. Selanjutnya tugas Bank Indonesia sebagai penatausaha SUN yang mencakup central registry, kliring dan settlement serta agen pembayar ditegaskan dalam pasal 12 ayat 1 UU No. 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. Untuk menatausahakan SUN, Bank Indonesia menggunakan sistem yang disebut BI-SKRIP yaitu Bank Indonesia-Sistem Kliring, Registrasi dan Dalam rangka pencatatan kepemilikan, Bank Indonesia sebagai CR menggunakan sistem Book Entry Registry (BER) untuk settlement SUN yang diperdagangkan secara scripless (tanpa warkat).
Sub-Registry x 11 Perusahaan sekuritas Perusahaan Central Registry - Clearing/ Settlement Primary Dealers Market Makers (akan ditunjuk)

Penatausahaan Obligasi Pemerintah. BI-SKRIP terdiri dari CR yang terdapat di Bank Indonesia dan sebelas SR yang memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia. Karena pencatatan dalam BI-SKRIP menggunakan two-tier system maka yang dapat menjadi nasabah dari CR adalah SR, Bank dan market maker, serta pihak lain yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. Sementara itu, peserta perusahaan maupun perorangan tidak dapat menjadi nasabah di CR dan hanya menjadi nasabah di SR. Struktur BI-SKRIP dapat digambarkan sebagai berikut :

Struktur Pencatatan Surat Berharga dalam BI-SKRIP

Bank x 145

Individu

Pihak Asing

247

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

Sistem BER sejak 17 November 2000 telah terkoneksi dengan sistem Real Time Gross Settlement Bank Indonesia (BI-RTGS) sehingga pelaksanaan settlement dana transaksi SUN di pasar primer dan sekunder maupun pembayaran kupon obligasi pemerintah pada saat jatuh waktu dapat dilakukan secara on-line. Sistem BER dalam pengembangannya juga telah digunakan untuk menangani setllement SBI yang diperdagangkan secara scripless maupun untuk settlement instrumen OPT ataupun nantinya digunakan untuk menangani settlement SUN yang mungkin akan diterbitkan Hubungan sistem BER dengan peserta dalam CR saat ini masih dilakukan secara manual. Dalam hal terjadi perdagangan/perpindahan surat berharga, penyerahan formulir surat permohonan perpindahan register (SPPR) untuk pemindahan kepemilikan surat berharga dan formulir Surat perintah penyelesaian pembayaran (SPPP) ke Bank Indonesia masih dilakukan dengan penyampaian hard copy oleh kurir. Demikian pula penyampaian laporan kepemilikan masih dilakukan secara manual. Selain itu SR maupun bank juga tidak dapat melihat secara on-line posisi kepemilikan surat berharga dalam rekeningnya. Kepemilikan surat berharga hanya diketahui berdasarkan konfirmasi pencatatan surat berharga (KPS) harian ataupun bulanan yang disampaikan oleh CR atau SR. Hubungan manual antara Bank Indonesia sebagai CR dengan Bank, SR maupun dengan pelaku pasar domestik lainnya sebagai nasabah

langsung CR yang telah disebutkan di atas ternyata dapat menimbulkan berbagai permasalahan seperti keterlambatan pencatatan transaksi akibat keterlambatan pengiriman instruksi pemindahan kepemilikan surat berharga, tidak

terselesaikannya transaksi sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan akibat kesalahan pengisian formulir maupun kesalahan surat berharga yang ditransaksikan serta keterlambatan penyampaian laporan kepemilikan surat berharga di sub-registry. Dengan pemikiran tersebut maka disadari perlunya suatu interkoneksi yang terintegrasi antara CR dengan SR maupun dengan nasabah langsung CR lainnya dalam suatu sistem yang pada saat ini sedang dikembangkan oleh Bank Indonesia yang disebut On-line Scripless Securities Settlement System (SSSS). Bank Indonesia merencanakan untuk mengimplementasikan SSSS baik untuk SUN maupun untuk SBI pada September 2003.

Grand Design SSSS Dalam grand design direncanakan bahwa SSSS sebagai sistem setllement surat berharga akan terhubung dengan sistem BI-RTGS yang merupakan sistem untuk settlement dana, sehingga SSSS nantinya akan dapat melakukan settlement berbagai jenis transaksi maupun melakukan pembayaran bunga dan pokok surat berharga yang jatuh waktu. SSSS juga akan

terintegrasi dengan sistem ABS yang merupakan sistem yang melakukan proses lelang surat

248

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

berharga mulai dari pengumuman, pengajuan penawaran, penentuan dan pengumuman hasil lelang sehingga lelang oleh Bank Indonesia dapat diselesaikan secara lebih cepat dan akurat. Untuk mendukung transparansi pasar, hasil settlement

dalam SSSS tersebut akan langsung diteruskan ke berbagai sistem informasi yang ada seperti dalam website Bank Indonesia, PIPU, Bloomberg, Bridge Systems, Reuters maupun penyedia informasi lainnya.

Infrastruktur Penerbitan dan Penatausahaan Surat Berharga

Keuntungan Penggunaan SSSS Penggunaan On-line SSSS ini memiliki beberapa keuntungan bagi pasar sekunder surat berharga, yaitu : 1. Mengurangi waktu, biaya dan Sumber Daya manusia dalam penyelesaian transaksi. Dengan menggunakan sistem SSSS, transaksi dapat dilakukan secara on-line dan tidak perlu dilakukan secara manual.

ABS
Pengumuman dan proses Lelang

RTGS

Penyelesaian a. Obligasi Pemerintah Pencatatan Pembayaran b. T-Bills Penatausahaan
c. SBI

Surat Berharga

SSSS

www.bi.go.id / PIPU/ Bloomberg/ BES/ Sistem informasi lainnya

Tugas Bank Indonesia sebagai CR sebagai pengelola sistem SSSS tidak perlu lagi

249

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

dilakukan penyelesaian secara manual, pembayaran dapat langsung diteruskan ke sistem RTGS. 2. Mengurangi risiko penyelesaian transaksi surat berharga di pasar sekunder dengan prinsip Delivery Versus Payment (DVP). Bank for International Settlement (BIS) telah merekomendasikan bahwa setiap settlement transaksi pasar uang yang berkaitan dengan bank hendaknya

3.

Meningkatkan transaksi pasar sekunder surat berharga. Keuntungan ini tidak terlepas dari keuntungan pertama dan kedua karena penghematan waktu dan biaya penyelesaian transaksi dengan Bank Indonesia serta keyakinan akan keamanan transaksi akan mendorong peserta pasar untuk lebih meningkatkan transaksi sekunder surat berharga. Peningkatan pasar sekunder SUN maupun SBI akan membuat pasar semakin likuid. Peningkatan likuiditas ini juga terjadi karena SSSS akan terhubung dengan Indonesian Government Securities Trading System (IGSTS) yang merupakan sistem perdagangan SUN yang digunakan oleh Asosiasi Pedagang Surat Utang Negara (APSUN) dan dioperasikan oleh Bursa Efek Surabaya (BES). APSUN ini merupakan asosiasi yang beranggotakan 15 bank yang aktif memperdagangkan SUN sehingga proses settlement transaksi yang cepat akan semakin meningkat perdagangan yang dilakukan antar anggota APSUN ini.

menggunakan prinsip DVP, mengingat kegagalan settlment surat berharga dapat mempengaruhi kestabilan sistem

keuangan. Transaksi dengan prinsip DVP dalam sistem on-line akan mengurangi atau menghilangkan terjadinya resiko transaksi yaitu di mana penjual surat berharga telah menyampaikan surat berharganya tapi tidak menerima pembayaran atau

sebaliknya pembeli telah menyelesaikan pembayaran tapi tidak menerima surat

berharga yang dibelinya.

250

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

b o k s

Konsekuensi dan Persiapan Indonesia Menghadapi Berakhirnya Program IMF pada Akhir Tahun 2003
Di tengah-tengah situasi krisis yang memburuk dalam butir-butir Letter of Intent (LoI)-selanjutnya disebut dengan Program IMF. Selain berfungsi sebagai dasar pertimbangan (review) IMF sebelum mencairkan bantuan keuangannya secara bertahap, kemajuan negara peminjam dalam pemenuhan butir-butir LoI dalam prakteknya dijadikan rujukan (reference) oleh pelaku pasar dan masyarakat internasional, termasuk lembaga Consultative Group on Indonesia dan Paris Club, untuk mengukur kesungguhan negara tersebut dalam menjalankan program pemulihan ekonominya. Dengan adanya rencana pemerintah Indonesia untuk tidak melanjutkan Program IMF di Indonesia setelah 2003, pertanyaan penting pertama yang muncul adalah bagaimana Indonesia pada akhir 2003 nanti dapat memperoleh persetujuan dari Dewan Eksekutif IMF untuk mengakhiri Program IMF seperti halnya Korea Selatan dan Thailand. Pertanyaan kedua adalah konsekuensi apa saja yang harus dihadapi Indonesia dari diakhirinya program IMF tersebut. Sementara itu, pertanyaan ketiga terkait dengan langkah persiapan apa saja yang sebaiknya dilakukan Indonesia agar proses berakhirnya program IMF ini dapat berlangsung dengan sesedikit mungkin menimbulkan gejolak. Menurut ketentuan IMF yang berlaku,

dengan cepat di paro kedua 1997, pemerintah Indonesia pada 31 Oktober 1997 mengajukan permohonan bantuan keuangan dari IMF untuk mendukung neraca pembayaran (balance of payment support), memulihkan kepercayaan pasar, dan akhirnya menstabilkan rupiah. Permohonan ini dipenuhi oleh Dewan Eksekutif IMF pada 5 November 1997 dengan pemberian fasilitas Stand-by-Arrangement (SBA), yang kemudian diubah menjadi Extended Fund Facilities (EFF) pada Agustus 1998 dan terakhir New EFF pada Februari 2000 seiring dengan krisis yang semakin dalam dan luas. 1 Komitmen pinjaman yang diperoleh Indonesia dari IMF hingga akhir 2002 berjumlah $15,1 miliar, di mana $13,2 miliar diantaranya telah dicairkan dan yang telah dibayar kembali berjumlah $4,4 miliar.2 Dengan perkembangan ini, posisi pinjaman Indonesia dari IMF per akhir 2002 tercatat sebesar $8,9 miliar. Sebagai skim terakhir, komitmen New EFF akan berakhir pada 31 Desember 2003 mendatang. Sebagai konsekuensi dari pemanfaatan bantuan keuangan IMF tersebut, Indonesia berkewajiban untuk memenuhi sejumlah

persyaratan (conditionality) IMF yang dituangkan

1

2

EFF adalah sebuah fasilitas IMF yang diberikan kepada negara anggota yang mengalami ketidakseimbangan neraca pembayaran yang serius sehingga memerlukan external financing dengan jangka waktu pengembalian pinjaman yang relatif panjang untuk memungkinkan dilakukannya reformasi ekonomi secara struktural. Perhitungan menggunakan nilai tukar IMF pada 31 Desember 2002 sebesar $1,35952 per Special Drawing Rights (SDR)

persetujuan apakah sebuah negara dapat mengakhiri program IMF dengan resmi berada di tangan Dewan Eksekutif IMF. Keputusan dewan tersebut didasarkan pada penilaian apakah kebijakan dan kondisi

251

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

ekonomi, khususnya posisi cadangan devisa, negara tersebut telah menunjukkan perbaikan yang signifikan. Sebagai informasi, Korea Selatan dan Thailand disetujui keluar dari program IMF masingmasing pada 3 Desember 2000 dan 19 Juni 2001. Meski telah dinyatakan lulus, kedua negara tersebut menempuh skim yang berbeda. Korea Selatan telah melunasi semua pinjaman IMF jauh lebih cepat dari jadwal awal, sementara Thailand sampai saat ini masih melunasi pinjamannya sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya. Dengan menimbang bahwa menurut ketentuan IMF, percepatan pembayaran kembali hanya bisa dilakukan oleh negara yang mempunyai kondisi neraca pembayaran dan cadangan devisa yang demikian kuat, skim keluarnya Indonesia dari program IMF kemungkinan besar akan mirip dengan skim yang dijalani Thailand. Meski skim ini tidak mensyaratkan pemenuhan conditionality seperti dalam program IMF, perekonomian Indonesia masih akan di-review oleh Dewan Eksekutif IMF sebanyak dua kali dalam setahun (Post Program Monitoring atau PPM).3 Apa konsekuensi-konsekuensi yang perlu kita cermati dari diakhirinya program IMF di Indonesia pada akhir 2003 nanti? Konsekuensi pertama terkait dengan hilangnya kesempatan Indonesia untuk memperoleh penjadwalan utang luar negeri pemerintah di bawah Paris Club. Hanya negara yang terkait dengan suatu program IMF, entah itu dalam
3

bentuk SBA ataupun EFF, dapat memperoleh penjadwalan utang Paris Club. Selain itu, dengan menimbang bahwa penjadwalan utang dalam Paris Club juga menganut prinsip comparability of treatment untuk semua kreditor Indonesia, kemungkinan penjadwalan utang dengan London Club kemungkinan besar juga akan tertutup seiring dengan berakhirnya program IMF. Sementara itu, data menunjukkan bahwa pinjaman program bilateral maupun multilateral yang policy matrix-nya terkait langsung dengan program IMF di Indonesia memiliki tingkat realisasi penarikan di 2001 yang jauh lebih tinggi daripada jenis pinjaman-pinjaman program jenis lainnya.4 Kenyataan ini berpotensi melahirkan keragu-raguan di kalangan negara donor terhadap kemampuan Indonesia dalam memenuhi policy matrix pinjamanpinjaman program tanpa keberadaan program IMF, yang pada gilirannya dapat mengganggu realisasi penarikan pinjaman program. Munculnya financing gap dalam keuangan pemerintah sebagai dampak hilangnya kesempatan memperoleh penjadwalan utang Paris Club merupakan konsekuensi kedua dari berakhirnya program IMF. Hilangnya kesempatan memperoleh penjadwalan utang Paris Club di 2004 saja akan memaksa pemerintah untuk mencari sumber dana alternatif sampai dengan Rp30,0 triliun untuk pembayaran utang luar negeri di tahun tersebut.
4

Dengan asumsi bahwa Indonesia masih akan menarik sisa pinjaman IMF selama tahun 2003 dan melunasinya sesuai jadwal, review berkala IMF di bawah skim PPM ini diprakirakan masih akan berlangsung paling lama sampai dengan akhir 2008, kecuali bila Dewan Eksekutif IMF memutuskan lain.

Pinjaman program merupakan jenis pinjaman terbesar dalam utang luar negeri pemerintah Indonesia.

252

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

Sumber-sumber dana alternatif tersebut harus digali lebih dalam bilamana berakhirnya program IMF ternyata juga mengganggu penarikan pinjaman program bilateral maupun multilateral. Sebagai konsekuensi ketiga, berakhirnya program IMF memaksa pelaku pasar dan masyarakat internasional untuk mencari alternatif rujukan (reference) dalam menilai perekonomian Indonesia. Menjadi pertanyaan krusial adalah apakah pemerintah Indonesia-bersama dengan DPR dan Bank Indonesia-mampu merumuskan kebijakan pemulihan ekonomi yang koheren dan

pembayaran dan cadangan devisa kita dapat menghadapi tahun-tahun yang sulit dalam beberapa tahun kedepan. Menyimak konsekuensi-konsekuensi di atas, sejumlah hal perlu dipersiapkan bersama agar proses berakhirnya program IMF pada akhir 2003 nanti dapat berjalan mulus (exit strategy). Persiapan pertama dan utama yang harus dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan sadar dan sistematis memupuk kemampuan dalam merancang kebijakan yang koheren sekaligus konsisten melaksanakannya. Dalam kaitan ini, langkah awal yang sebaiknya dilakukan pemerintah adalah berupaya memenuhi komitmen-komitmen yang telah tertuang dalam butir-butir LoI dalam sisa 2003 secara konsisten dan tepat waktu. Persiapan kedua, pemerintah Indonesia dituntut untuk bekerja keras mengeksplorasi sumber-sumber pembiayaan sebagai kompensasi hilangnya kesempatan memperoleh penjadwalan utang Paris Club dan kemungkinan turunnya tingkat penarikan pinjaman program bilateral dan multilateral seiring dengan berakhirnya program IMF. Peningkatan pendapatan pajak melalui perluasan basis pajak (tax base), efisiensi pengeluaran melalui peralihan dari price subsidies menjadi targeted subsidies, reprofiling obligasi pemerintah, dan penerbitan surat utang di pasar domestik khususnya untuk refinancing merupakan sumber-sumber alternatif yang telah banyak dibicarakan untuk dieksplorasi lebih jauh. Satu kemungkinan langkah terobosan dapat dilakukan dalam bentuk upaya

melaksanakannya secara konsisten. Bilamana hal ini dapat diwujudkan, kredibilitas pemerintah yang terbangun kokoh diprakirakan dapat menggantikan fungsi rujukan program IMF bagi pelaku pasar dan masyarakat internasional. Sebaliknya, merosotnya kepercayaan (confidence) mereka terhadap perekonomian Indonesia akan menjadi taruhannya. Konsekuensi keempat terkait dengan kondisi neraca pembayaran dan cadangan devisa kita pasca berakhirnya program IMF. Pembayaran kembali pinjaman IMF sesuai dengan jadwal semula diperkirakan tidak akan membahayakan kinerja keduanya. Justru yang menjadi kekuatiran adalah bilamana berakhirnya program IMF diikuti oleh peningkatan capital outflows seiring dengan menurunnya kepercayaan (confidence) pelaku pasar dan masyarakat internasional terhadap

perekonomian Indonesia. Dalam kondisi ini dan dengan asumsi kinerja ekspor belum akan mengalami perbaikan yang berarti, neraca

253

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

memperoleh penjadwalan utang luar negeri secara bilateral dengan sejumlah negara di luar kerangka Paris Club . Persiapan ketiga yang sebaiknya dilakukan pemerintah adalah peningkatan upaya

pembayaran kembali utang IMF dan tertutupnya peluang penjadwalan utang Paris Club. Hal keempat dan terakhir yang harus diupayakan pemerintah adalah membangun komitmen politik yang kokoh dan luas untuk pulih dari krisis dan kepemimpinan yang kuat dan memiliki kemampuan mengkoordinir proses berakhirnya program IMF. Pengalaman Korea Selatan dan Thailand mengajarkan kepada Indonesia bahwa keberadaan kedua hal tersebut, selain kestabilan politik dan keamanan, memainkan peran yang tidak dapat diabaikan di balik cerita

pengembangan pasar domestik bagi surat utang negara. Selain sangat kondusif bagi peningkatan daya serap penerbitan surat utang negara guna pembiayaan keuangan pemerintah, pasar surat utang negara yang telah berkembang diharapkan dapat membantu menarik investasi portfolio oleh pelaku pasar asing. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengkompensasi financing gap dalam neraca pembayaran sebagai akibat

keberhasilan kedua negara tersebut keluar dari program IMF.

254

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

b o k s

Arsitektur Perbankan Indonesia

Krisis perbankan yang terjadi pada tahun 1997 telah memberikan pelajaran pentingnya menciptakan industri perbankan nasional yang memiliki ketahanan dan kemampuan yang memadai untuk menghadapi berbagai macam gejolak eksternal (external shocks). Sementara itu, saat ini

arah yang hendak dicapai oleh perbankan nasional di masa yang akan datang. Kerangka acuan tersebut diwujudkan dalam bentuk cetak biru arsitektur perbankan nasional yang bersifat

menyeluruh dan dapat dipakai sebagai acuan bagi semua pihak yang terlibat di dalam industri perbankan. Sehubungan dengan hal tersebut, saat ini Bank Indonesia sedang menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang dapat dipakai sebagai kerangka kebijakan perbankan di masa yang akan datang. Direncanakan penyusunan API tersebut dapat diselesaikan pada akhir tahun 2003 sehingga implementasinya dapat dilakukan secara bertahap dari tahun 2004 sampai dengan 2014. Dengan demikian perbankan nasional memiliki waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan berbagai kebijakan perbankan yang telah direkomendasikan di dalam API tersebut. Visi dari pada API itu sendiri adalah terciptanya sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien untuk mencapai stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembangunan ekonomi nasional. Visi tersebut dijabarkan dalam beberapa tujuan sebagai berikut: 1. Terciptanya struktur perbankan domestik yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan. 2. Terciptanya industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko.

perkembangan produk dan jasa perbankan mengalami perubahan yang lebih kompleks disertai dengan risiko yang lebih besar sebagai akibat dari tuntutan nasabah yang menginginkan produk dan jasa bank yang lebih bervariasi. Dengan munculnya produk-produk baru yang semakin inovatif tersebut, perbankan nasional harus siap menghadapi segala macam risko yang kemungkinan berpotensi untuk muncul di kemudian hari. Disamping itu, perkembangan teknologi informasi menyebabkan distribusi produk dan jasa yang ditawarkan oleh lembaga keuangan termasuk perbankan semakin meluas dan cepat sehingga sifatnya menjadi global dan universal. Dalam rangka menghadapi segala perubahan dan tantangan tersebut, perbankan nasional perlu mempersiapkan segala sesuatunya agar memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi berbagai macam perubahan serta mampu berkompetisi secara sehat dan wajar di pasar nasional maupun memiliki daya saing di pasar intenasional. Dalam kondisi demikian, industri perbankan nasional memerlukan adanya suatu kerangka acuan bagaimana perbankan nasional mampu mengatasi segala perubahan dan tantangan tersebut serta

255

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

3. Terciptanya good corporate governance dalam rangka memperkuat kondisi internal perbankan nasional. 4. Terciptanya sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan mengacu pada standar internasional. 5. Terwujudnya infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankanyang sehat. 6. Terwujudnya pemberdayaan dan perlindungan konsumen pengguna jasa perbankan. Secara garis besar, kerangka dasar (grand design) dari pada API itu terdiri dari 6 (enam) pilar yaitu yang satu sama lain saling berhubungan dan

saling menunjang. Keenam pilar di dalam API tersebut tertuang di dalam diagram di bawah ini. Dari keenam pilar API diatas, pilar yang berada ditengah yaitu mengenai struktur perbankan ke depan merupakan pilar yang paling penting diantara pilar-pilar lainnya. Pilar tersebut mencerminkan fondasi kelembagaan perbankan kedepan yang diharapkan mampu menciptakan lembaga perbankan yang kokoh dan berdaya saing internasional. Sedangkan pilar-pilar lainnya merupakan pilar pendukung yang juga memiliki peran dan kontribusi yang sangat penting dalam rangka mewujudkan sistem perbankan yang sehat dan stabil.

Bagan : Enam Pilar Arsitektur Perbankan Indonesia

256

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

b o k s

Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Di Indonesia

Pendahuluan Krisis perbankan tahun 1997 menunjukkan bahwa faktor-faktor yang secara potensial dapat mengancam stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh, bukan terbatas pada individu institusi keuangan, sangat diperlukan oleh otoritas yang menjaga sistem keuangan, termasuk bank sentral. Krisis tersebut juga memberikan pelajaran bahwa mekanisme pemeliharaan stabilitas sistem keuangan dan penanganan krisis belum berjalan secara efektif. Peran pemeliharaan stabilitas sistem keuangan nasional secara umum dapat dikatakan ada pada Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan otoritas pengawas bank, sementara Departemen Keuangan berperan sebagai otoritas fiskal dan otoritas pengawas lembaga keuangan non-bank. Berdasarkan pengalaman di waktu krisis, belum efektifnya upaya pemeliharaan stabilitas sistem keuangan di Indonesia antara lain disebabkan belum adanya kerangka kerja formal dalam menjaga upaya stabilitas sistem keuangan termasuk belum tersedianya infrastruktur keuangan, mekanisme koordinasi yang efektif, kerangka kerja pengaturan yang kondusif, serta mekanisme penyelesaian krisis yang komprehensif. Oleh sebab itu, ke depan diperlukan suatu mekanisme yang efektif dan menyeluruh dalam menjaga stabilitas sistem keuangan yang mencakup elemen-elemen tersebut. Hal ini mendorong Bank Indonesia untuk menyempurnakan langkah-langkah

yang menyeluruh dalam menjalankan fungsinya untuk mendorong stabilitas sistem keuangan. Langkah-langkah ini dituangkan dalam Cetak Biru Stabilitas Sistem Keuangan, yang antara lain mencakup persiapan organisasi, mempersiapkan peran monitong dan surveilance, dan penyelesaian krisis.

Alasan-Alasan Perlunya Fungsi SSK Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa stabilitas sistem keuangan menjadi prioritas Bank Indonesia. Pertama, krisis dalam sistem keuangan selalu membawa dampak negatif terhadap kinerja perekonomian dan menghabiskan biaya fiskal yang tidak sedikit. Krisis yang terjadi sejak 1997 tidak saja berdampak terhadap sektor riil, namun bahkan berkembang jauh lebih buruk menjadi krisis multidimensi termasuk krisis di bidang sosial dan politik. Kedua, bagi kebijakan moneter, ketidakstabilan sistem keuangan telah menyebabkan Bank Indonesia dihadapkan ada persoalan yang sangat mendasar bagi berlangsungnya manajemen moneter. Tidak berfungsinya intermediasi perbankan telah menyebabkan proses transmisi kebijakan moneter menjadi tidak berjalan dengan baik dan kebijakan moneter dalam mempengaruhi sasaran akhir inflasi menjadi kurang efektif. Ketiga, bank sentral juga memiliki peranan penting dalam menciptakan sistem pembayaran yang lancar dan aman, yang menjadi salah satu prasyarat terciptanya stabilitas sistem

257

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

keuangan. Keempat, peran bank sentral sebagai lender of the last resort, yaitu peranan bank sentral sebagai penyedia likuditas sementara untuk mencegah terjadinya risiko sistemik mengharuskan bank sentral untuk memonitor risiko-risiko yang dapat menyebabkan terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan secara menyeluruh.

lembaga-lembaga yang saat ini masih dalam proses pembentukan seperti otoritas jasa keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan, untuk dapat memberikan kontribusinya dalam upaya penciptaan stabilitas sistem keuangan. Peran masing-masing lembaga dan hubungannya antara satu dengan yang lain dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nantinya perlu diatur secara formal. Disamping itu,

Ruang Lingkup Kerja SSK Secara umum, suatu sistem keuangan dikatakan stabil jika institusi-institusi keuangan berada dalam kondisi sehat baik dari sisi keuangannya maupun sisi risiko yang dihadapinya. Dalam kondisi demikian, terdapat tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap institusi keuangan secara umum bahwa mereka dapat memenuhi kewajiban keuangannya dengan baik. Kedua, sistem keuangan yang stabil terjadi jika pasar-pasar keuangan berada dalam kondisi stabil, yaitu pasar keuangan tidak diwarnai oleh gejolak harga yang tinggi sehingga tidak mencerminkan kondisi fundamental pasar tersebut. Sekalipun memiliki peran dominan, namun apabila mengacu pada karateristik diatas, jelas terlihat bahwa Bank Indonesia tidak akan mampu mewujudkan kondisi kestabilan system keuangan dimaksud tanpa peran aktif dari lembaga-lembaga otoritas lain terkait, yang merupakan bagian utama dari suatu kerangka infrastruktur sistem keuangan secara keseluruhan. Untuk itu, kedepan diperlukan adanya pembagian peran dan tanggung jawab dari masing-masing lembaga yang ada, termasuk

kerangka koordinasi dan kerjasama yang intensif dan harmonis antar lembaga dimaksud mutlak harus disusun dan dilaksanakan secara efektif agar tujuan memelihara stabilitas sistem keuangan dapat tercapai.

Peran dan Fungsi Bank Indonesia dalam SSK Berdasarkan praktek yang dilakukan di negaranegara lain, secara umum peran bank sentral dalam stabilitas sistem keuangan mencakup area sebagai berikut: • Melakukan pemantauan terhadap stabilitas sistem keuangan (financial system surveillance) • Memberikan rekomendasi kebijakan stabilitas sistem keuangan, misalnya kepada otoritas lain (Pemerintah). Peran ini dilakukan bersama-sama dengan lembaga lain yang mempunyai otoritas dalam pengawasan lembaga dan pasar keuangan. • Memberikan bantuan untuk penyelesaian krisis antara lain melalui mekanisme lender of the last resort. • Menciptakan safe and robust payment system antara lain melalui pengawasan terhadap system pembayaran (payment system oversight).

258

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

• Melakukan kerjasama dan koordinasi dengan otoritas lain, mengingat stabilitas system keuangan bukan hanya tanggung jawab bank sentral semata melainkan otoritas lain pun memberikan kontribusi yang signifikan. • Mendorong penciptaan kebijakan moneter yang kondusif. Guna melaksanakan peran tersebut diatas, BI dalam waktu dekat akan mengambil inisiatif akan melaksanakan beberapa fungsi stabilitas sistem keuangan yang akan dicerminkan dalam internal organisasi BI. Fungsi-fungsi dimaksud antara lain fungsi riset, fungsi monitoring, fungsi pengaturan dan fungsi pencegahan dan penyelesaian krisis. Fungsi riset merupakan salah satu komponen terpenting yang direncanakan menjadi tugas utama Bank Indonesia pada tahap awal implementasi fungsi stabilitas sistem keuangan di lembaga ini. Obyek riset antara lain mencakup lembaga keuangan, pasar uang dan modal, kebijakan makro ekonomi, kebijakan fiskal, sektor korporat, sektor rumah tangga, sistim pembayaran, hutang luar negeri, hutang dalam negeri, dan pasar keuangan international. Fungsi surveillance ditujukan untuk melakukan monitoring terhadap semua indikator yang dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan, yang secara umum dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu indikator mikro-agregat dan indikator makro. Obyek monitoring meliputi lembaga keuangan, pasar modal, sektor riil, international market, kebijakan fiskal pemerintah, kebijakan

moneter, hutang luar negari, hutang dalam negeri, dan sistem pembayaran. Fungsi pengaturan berkaitan dengan penyusunan kerangka kerja pengaturan, ketentuan, standar dan guidelines sebagai rambu-rambu baik bagi bank maupun lembaga keuangan lain agar beroperasi berdasarkan aturan prudensial. Peranan Bank Indonesia dalam pengaturan dan penyusunan standard akan berkaitan dengan aspek

macroprudential, moneter, dan sistem pembayaran. Secara prinsip unit stabilitas system keuangan merupakan satuan kerja yang akan mendukung satuan kerja lain internal maupun external dengan memberikan rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan dalam penyusunan kebijakan sektor terkait. Peran bank sentral dalam stabilitas sistem keuangan terkait erat dengan fungsi pencegahan dan penyelesaian krisis keuangan mengingat

kedudukannya sebagai lender of the last resort. Sebagai acuan pencegahan krisis (crisis prevention), dalam berbagai forum telah disepakati untuk menerapkan standar regulasi yang diterapkan secara internasional yang dimotori oleh lembaga internasional, seperti IMF, BIS maupun oleh asosiasi praktisi (lihat Gambar). Standar dan regulasi seperti itu juga akan dijadikan acuan oleh Bank Indonesia dalam menyusun kerangka kerja bagi pencapaian kestabilan sistem keuangan di Indonesia. Dalam hal penanganan krisis (crisis resolution), pengalaman menunjukkan bahwa diperlukan adanya suatu prosedur penanganan disertai kejelasan peran

259

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

FINANCIAL STABILITY FORUM
12 Key Standards for Sound Financial Systems
Macroeconomic Policies & Data Transparency Institutional & Market Infrastructure Prudential Financial Regulation & Supervision

1. Code of Good Practice of Transparency in Monetary and Financial Policies 2. Code of Good Practice in Fiscal Transparency 3. Data Dissemination Standard

1. Principles of Corporate Governance 2. Core Principles for Systemically Important Payment System 3. Market Integrity (Financial Action Task Force/FATF on Anti Money Laundering) 4. Insolvency 5. International Accounting Standard (IAS) 6. International Standard on Auditing (ISA)

1. Core Principles for Effective Banking Supervision 2. Principles of Securities Regulation 3. Core Principles for Insurance Supervision

dan tanggung jawab dari masing-masing lembaga. Dalam hal krisis tersebut disebabkan karena adanya permasalahan pada satu bank/lembaga keuangan, maka perlu kiranya kejelasan hal-hal sebagai berikut: Wewenang dari lembaga terkait dalam menentukan suatu lembaga keuangan/bank termasuk dalam kategori yang dapat

Di berbagai negara, antara lain Inggris dan Australia, dibentuk standing committee yang terdiri atas Bank Sentral, Otoritas Pengawas Bank dan pemerintah untuk membahas solusi permasalahan untuk diputus oleh lembaga yang berwenang seperti pemerintah. Aspek lain yang tak kalah pentingnya adalah koordinasi dari berbagai otoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan menangani krisis yang terjadi. Mengingat bahwa unsur-unsur yang ada dalam stabilitas sistem keuangan ini berada di berbagai otoritas, yaitu otoritas kebijakan moneter, otoritas pengawasan lembaga keuangan dan pasar modal, lembaga penjamin simpanan dan Pemerintah selaku otoritas kebijakan fiskal,

menimbulkan kegagalan sistemik. Prosedur penyelamatan lembaga keuangan/bank yang terkena kirisis dalam UU dalam hal penggunaan dana masyarakat. Peran bank sentral, otoritas pengawas maupun pemerintah dalam menanggulangi krisis di sektor keuangan yang masih perlu diperjelas.

260

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan

diperlukan koordinasi di antara otoritas-otoritas dimaksud. Berbagai isu akan muncul berkaitan dengan koordinasi dan kerjasama antara otoritas ini, antara lain pembagian informasi mengenai kinerja individual bank yang berpotensi menimbulkan permasalahan sistemik, dan aggregasi berbagai indikator dari industri keuangan seperti, kondisi solvabilitas, likuiditas, dan NPL. Salah satu pendekatan atas koordinasi adalah dengan

melakukan interlocking management antara Bank Sentral dan Otoritas Jasa Keuangan. Di samping itu dapat pula dibentuk Financial Stability Standing Committee yang beranggotakan Bank Sentral, Otoritas Jasa Keuangan dan Pemerintah, untuk memaksimalkan frekuensi koordinasi antarlembaga secara rutin. Koordinasi dan kerjasama antar lembaga tersebut seyogyanya tertuang dalam suatu Undang-Undang, atau paling tidak dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU).

261

Lampiran

laporan tahunan

Lampiran

262

A Kantor Pusat, Kantor Perwakilan dan Kantor-Kantor Bank Indonesia

Lampiran

Lampiran A

BANK INDONESIA
Kantor Pusat
Jakarta

Kantor Perwakilan
London New York Singapura Tokyo

Kantor-Kantor Bank Indonesia
Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Cirebon Denpasar, Jambi, Jayapura, Jember, Kediri, Kendari, Kupang, Lhokseumawe, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Palu, Pekanbaru, Pontianak, Purwokerto, Samarinda, Semarang, Sibolga, Solo, Surabaya, Tasikmalaya, Ternate, Yogyakarta

263

B Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 31 Desember 2002

Lampiran

Lampiran B

Dewan Gubernur Bank Indonesia
per tanggal 31 Desember 2002

Gubernur
Syahril Sabirin

Deputi Gubernur Senior
Anwar Nasution

Deputi Gubernur
Miranda S. Goeltom Aulia Pohan Bun Bunan E.J. Hutapea Maulana Ibrahim Maman H. Somantri Aslim Tadjuddin

264

C.1 Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Lampiran

Lampiran C.1

Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Selama 2002, Bank Indonesia telah dalam Tim Pengaturan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Nasional dialihkan kepada satuan kerja baru di lingkungan Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran, yaitu Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran. Dalam rangka melakukan perubahan secara mendasar dan bersifat menyeluruh, saat ini Bank Indonesia sedang melaksanakan Program Transformasi Bank Indonesia. Program ini dilakukan secara bertahap dan telah memasuki tahap implementasi dengan pelaksanaan 7 (tujuh) program strategis yaitu Proyek Perencanaan, Anggaran dan Manajemen Kinerja; Proyek Manajemen Sumber Daya Manusia; Proyek Perbankan; Proyek Manajemen Informasi; Proyek Teknologi Informasi; Proyek Moneter; dan Proyek Logistik. Implementasi masing-masing proyek dimaksud dilaksanakan di bawah organisasi Unit Khusus Program Transformasi (UKPT) sebagai tindak lanjut atas hasil diagnostic study yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Sebagai wujud implementasi pertama dari beberapa program strategis adalah Proyek Manajemen Sumber Daya Manusia, yaitu dengan

melaksanakan beberapa penyempurnaan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penyempurnaan organisasi dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan internal dan eksternal Bank Indonesia serta dalam rangka mewujudkan misi Bank Indonesia. Sehubungan dengan upaya menunjang pengembangan pasar surat berharga Pemerintah, telah dilakukan pengembangan penatausahaan surat berharga melalui On Line Scripless Security Settlement System (SSSS). Pengembangan ini akan menghasilkan system penatausahaan surat berharga yang terintegrasi dengan sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan system pelaku pasar sehingga tercipta Centralized Depository and Settlement di bank Indonesia. Oleh karena itu telah dilakukan penyempurnaan organisasi Direktorat Pengelolaan Moneter (DPM) dengan melakukan perubahan pada struktur organisasi dan tugas pokok Direktorat dimaksud, yaitu dengan membentuk Tim Pengembangan Penatausahaan Surat Berharga. Di bidang Sistem Pembayaran, dengan memperhatikan Core Principles for Systemically Important Payment System (CPSIPS) dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, maka obyek pengawasan system pembayaran menjadi lebih luas dan bervariasi. Agar pengawasan dapat dilakukan dengan lebih terfokus, tugas pengawasan yang semula tergabung

disempurnakannya pola pengelolaan sumber daya manusia. Penyempurnaan ini dilakukan dengan mengubah kewenangan dan tanggung jawab Manajemen Sumber Daya Manusia, yaitu dengan lebih meningkatkan peran Line Manager dalam pengelolaan sumber daya manusia di satuan kerjanya. Dengan

265

Lampiran

adanya perubahan tersebut, telah dilakukan penyempurnaan organisasi Direktorat Sumber Daya Manusia dengan peran baru sebagai mitra strategis dan agen perubahan di Bank Indonesia. Dalam rangka mewujudkan misi Bank Indonesia, sekaligus sebagai hasil implementasi Proyek Manajemen Informasi, telah dibentuk Unit Khusus Manajemen Informasi (UKMI) yang mempunyai misi untuk mempersiapkan strategi dan implementasi Manajemen Informasi Bank Indonesia yang efektif dan efisien yang didasarkan pada kebutuhan stakeholders. UKMI berperan sebagai perumus dan pengarah Manajemen Informasi bank Indonesia, penasihat dan pengelola informasi pada tingkatan operasional dan sebagai koordinator factor-faktor pendukung kinerja manajemen informasi. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki nilai-nilai strategis dan mempunyai motivasi serta kinerja yang tinggi dalam rangka mewujudkan misi Bank Indonesia, secara terusmenerus telah dilakukan penyempurnaan Sistem manajemen Sumber Daya Manusia. Selama 2002 telah diimplementasikan ketentuan mengenai Peningkatan Mutu dan Ketrampilan Luar Negeri dengan tujuan untuk meningkatkan

tujuan organisasi, dengan ruang lingkup penerimaan untuk seluruh golongan pegawai. Prinsip dasar penerimaan pegawai adalah penggunaan proses seleksi penerimaan yang transparan dan jaminan objektivitas hasil seleksi penerimaan. Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia lain yang telah disempurnakan adalah sistem Promosi Pegawai. Tujuan promosi adalah untuk mengisi lowongan jabatan pada satu tingkat golongan di atasnya dengan pegawai pada golongan satu tingkat di bawahnya yang memenuhi persyaratan promosi guna menjaga kesinambungan pemenuhan sumber daya manusia, untuk meningkatkan motivasi pegawai, untuk menghargai pegawai yang mempunyai prestasi, potensi dan kemampuan sesuai dengan persyaratan jabatan, dan untuk mendorong pengembangan karir pegawai yang berprestasi dan berpotensi tinggi untuk menjadi calon pimpinan organisasi. Promosi pegawai dilaksanakan dengan mengacu pada perencanaan sumber daya manusia. Dalam rangka mewujudkan visi Bank Indonesia menjadi lembaga yang terpercaya secara nasional dan internasional, pegawai dituntut untuk melaksanakan tugas berdasarkan nilai-nilai strategis meliputi kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas dan kebersamaan. Oleh karena itu telah diatur ketentuan tentang pemberian honorarium di Bank Indonesia. Ketentuan ini mengatur bahwa satuan kerja dilarang memberikan honorarium kepada pegawai Bank Indonesia yang melaksanakan tugas kedinasan Bank Indonesia yang dananya bersumber dari anggaran Bank Indonesia. Di samping itu, pegawai dilarang menerima honorarium dari pihak ketiga yang sumber dananya berasal dari

kemampuan pegawai sesuai dengan tugas dan jabatan sehingga dapat memperlancar pelaksanaan tugas, memperluas wawasan pegawai guna peningkatan produktivitas kerja organisasi dan meningkatkan motivasi kerja pegawai. Di samping itu, telah disempurnakan pula ketentuan mengenai penerimaan pegawai dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten guna mendukung pencapaian

266

Lampiran

Jumlah Pegawai
No.

Akhir Tahun Anggaran
1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000/2001 Jan. 2002 Jan. 2003

Kantor Pusat
3.341 3.299 3.068 3.123 3.119 2.971

Kantor Bank Indonesia di daerah
2.882 2.852 2.601 2.615 2.556 2.480

Kantor Perwakilan
67 21 17 18 18 14
1)

Jumlah
6.290 6.172 5.686 5.756 5.693 5.465

1 2 3 4 5 6
1)

Termasuk petugas belajar jangka panjang

anggaran Bank Indonesia atas pelaksanaan tugas kedinasan Bank Indonesia. Untuk melaksanakan tugas dan wewenang secara bersih dan bebas dari unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme, kepada Pimpinan (Anggota Dewan Gubernur) diwajibkan melakukan pelaporan harta kekayaannya kepada Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara sesuai dengan Undang-Undang

yang berlaku. Secara internal, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang menegaskan kewajiban pelaporan dimaksud kepada Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara negara serta mewajibkan pula setiap Pejabat Bank Indonesia sampai dengan tingkat tertentu untuk melaporkan kekayaan dan kewajiban/ pinjamannya kepada Gubernur Bank Indonesia.

267

Lampiran

Kantor Pusat
Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa Direktorat Luar Negeri Biro Kredit Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pemeriksaan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pemeriksaan Bank 2 Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat Direktorat Pengedaran Uang Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Logistik dan Pengamanan Direktorat Teknologi Informasi Direktorat Sumber Daya Manusia Direktorat Keuangan Intern Direktorat Hukum Direktorat Pengawasan Intern Biro Gubernur Biro Sekretariat Unit Khusus Investigasi Perbankan Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Biro Perbankan Syariah Unit Khusus Program Transformasi Unit Khusus Manajemen Informasi : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Hartadi A. Sarwono Tarmiden Sitorus Made Sukada Ny. Veronica W.S.P. Roswita Roza Nelson Tampubolon M. Ashadi Aris Anwari Baridjussalam Hadi Ny. Siti Ch. Fadjrijah Ardhayadi M. Abdul Salam Budiman Kostaman Mohamad Ishak Dede Ariffin S. Bambang Sindu W. Abdul Azis Sumantri Supono Harmain Salim Rusli Simanjuntak Djarot Sumartono Mohammad Ali Said K. Halim Alamsyah Harisman Romeo Rissal Dibyo Raharjo

Kantor Perwakilan
Perwakilan Singapore Perwakilan Tokyo Perwakilan London Perwakilan New York : : : : Ilham Ikhsan Rasmo Samiun Maman Hendarman

268

Lampiran

Kantor Bank Indonesia
Kelas I
Kantor Bank Indonesia Bandung Kantor Bank Indonesia Medan Kantor Bank Indonesia Semarang Kantor Bank Indonesia Surabaya : : : : Djoko Sarwono Bambang Setijoprodjo Bachri Ansjori Nana Supriana

Kelas II
Kantor Bank Indonesia Bandar Lampung Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kantor Bank Indonesia Denpasar Kantor Bank Indonesia Manado Kantor Bank Indonesia Padang Kantor Bank Indonesia Palembang Kantor Bank Indonesia Makassar Kantor Bank Indonesia Yogyakarta : : : : : : : : Imrandani M. Zaeni Aboe Amin Lukman Boenjamin Hadi Hassim M. Djaelani Soegiarto Irman Djaja Dalimi Djoko Sutrisno Amril Arief

Kelas III
Kantor Bank Indonesia Ambon Kantor Bank Indonesia Banda Aceh Kantor Bank Indonesia Cirebon Kantor Bank Indonesia Jambi Kantor Bank Indonesia Jayapura Kantor Bank Indonesia Malang Kantor Bank Indonesia Mataram Kantor Bank Indonesia Pekanbaru Kantor Bank Indonesia Pontianak Kantor Bank Indonesia Samarinda Kantor Bank Indonesia Solo : : : : : : : : : : : Rachman Abdulkadir Yusmanazir Katin Tjahjo Oetomo K. Erman Kurnandi Sahat Tampubolon Sentot Purnomo Satria Mulya Mahmud Rusli Sembiring Prabowo Adiastopo Joko Purnomo

269

Lampiran

Kelas IV
Kantor Bank Indonesia Balikpapan Kantor Bank Indonesia Kupang Kantor Bank Indonesia Jember Kantor Bank Indonesia Kediri Kantor Bank Indonesia Purwokerto Kantor Bank Indonesia Tasikmalaya Kantor Bank Indonesia Palangkaraya Kantor Bank Indonesia Bengkulu Kantor Bank Indonesia Kendari Kantor Bank Indonesia Palu : : : : : : : : : : Matsisno Dikan Sutikno Imbang Setiamihardja Wiyono Moch. Zaenal Alim Bramono Sidik Joko Wardoyo Mokhammad Dakhlan J. Wiwoho

Kelas V
Kantor Bank Indonesia Batam Kantor Bank Indonesia Sibolga Kantor Bank Indonesia Lhokseumawe Kantor Bank Indonesia Ternate : : : : I Made Sudja Yasin Effendi Fachrurrazi Muh. Abdul Fadlil

270

C.2 Struktur Organisasi Bank

Lampiran

Lampiran C.2

271

Lampiran

Daftar Satuan Kerja di Bank Indonesia
No.
I.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT RISET EKONOMI DAN KEBIJAKAN MONETER 1. Bagian Analisis dan Perencanaan Kebijakan 2. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan 3. Bagian Studi Ekonomi Makro 4. Bagian Studi Sektor Riil 5. Bagian Studi Ekonomi dan Lembaga Internasional 6. Bagian Perpustakaan Riset dan Administrasi DIREKTORAT STATISTIK EKONOMI DAN MONETER 1. Bagian Statistik Moneter 2. Bagian Statistik Neraca Pembayaran 3. Bagian Statistik Sektor Riil dan Keuangan Pemerintah 4. Bagian Pengelolaan Data dan Informasi Ekonomi dan Moneter 5. Bagian Administrasi DIREKTORAT PENGELOLAAN MONETER 1. Bagian Operasi Pasar Uang 2. Bagian Pengembangan Pasar Uang 3. Bagian Penyelesaian Transaksi Pasar Uang 4. Tim Pengembangan Penataan Surat Berharga 5. Bagian Administrasi Pasar Uang DIREKTORAT PENGELOLAAN DEVISA 1. Dealing Room 2. Tim Pengelolaan Risiko 3. Tim Analisis Ekonomi dan Peraturan Devisa 4. Bagian Penyelesaian Transaksi Devisa 5. Bagian Administrasi dan Pemeliharaan Sistem Tresuri DIREKTORAT LUAR NEGERI 1. Bagian Administrasi dan Analisis Pinjaman Luar Negeri 2. Bagian Pinjaman Luar Negeri 3. Bagian Ekspor dan Impor 4. Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Internasional 5. Bagian Administrasi BIRO KREDIT 1. Bagian Pengelolaan dan Administrasi Kredit 2. Tim Penelitian dan Pengembangan DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGATURAN PERBANKAN 1. Tim-tim a.Tim Pengaturan Bank b.Tim Pengembangan Pengawasan Bank 2. Biro Penelitian Perbankan 3. Bagian Informasi dan Dokumentasi Penelitian dan Pengaturan Perbankan

Singkatan
DKM APK SPPK SEM SSR SEI PRAd DSM SMon SNP SRKP PDIE Adms DPM OPU PPU PTPU Admp DPD DR PTD AdPS DLN APLN PLN EXIM KEPI Adml BKr PAdk DPNP PNPB IDPnP

II.

III.

IV.

V .

VI.

VII.

272

Lampiran

No.
VIII.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT PERIZINAN DAN INFORMASI PERBANKAN 1. Tim Bank Dalam Likuidasi 2. Bagian Data Perbankan 3. Bagian Perizinan 4. Bagian Informasi dan Pengembangan Sistem Informasi Perbankan DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 1 1. Bagian Pengawasan Bank 11 2. Bagian Pengawasan Bank 12 3. Bagian Pengawasan Bank 13 4. Bagian Pengawasan Bank 14 5. Bagian Pengawasan Bank 15 6. Bagian Pengawasan Bank 16 7. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 1 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 2 1. Bagian Pengawasan Bank 21 2. Bagian Pengawasan Bank 22 3. Bagian Pengawasan Bank 23 4. Bagian Pengawasan Bank 24 5. Bagian Pengawasan Bank 25 6. Bagian Pengawasan Bank 26 7. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 2 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 1 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 1 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 2 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 2 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK PERKREDITAN RAKYAT 1. Tim-tim a.Tim Pengawasan b.Tim Penjaminan & Likuidasi BPR 2. Bagian Perizinan, Penelitian dan Pengaturan BPR 3. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan BPR UNIT KHUSUS INVESTIGASI PERBANKAN 1. Tim-tim Investigasi 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Investigasi Perbankan BIRO PERBANKAN SYARIAH 1. Tim-Tim a. Tim Penelitian dan Pengaturan Perbankan Syariah b. Tim Pengawasan Bank Syariah c. Tim Perizinan dan Administrasi Perbankan Syariah DIREKTORAT PENGEDARAN UANG 1. Bagian Pengelolaan Uang Masuk 2. Bagian Pengelolaan Uang Keluar 3. Bagian Distribusi Uang

Singkatan
DPIP DtB Prz IPSiP DPwB1 PwB11 PwB12 PwB13 PwB14 PwB15 PwB16 IDWB1 DPwB2 PwB21 PwB22 PwB23 PwB24 PwB25 PwB26 IDWB2 DPmB1 IDMB1 DPmB2 IDMB2 DPBPR P3BPR IDBPR UKIP IDIP BPS -

IX.

X.

XI.

XII.

XIII.

XIV.

XV.

XVI.

DPU BPUM BPUK DU

273

Lampiran

No.

Nama Satuan Kerja
4. Bagian Pelaksanaan Pengadaan Uang 5. Tim Penelitian, Perencanaan dan Pengaturan Pengedaran Uang

Singkatan
PPgU DASP PSPN AkDv KlJ PTR PwSP DLP PrLJ PgL- I PgL -II PgJ Pam DTI PPTI PmTI PDE DSDM DKI PPKI LKeu PGKI Ang DHk -

XVII.

DIREKTORAT AKUNTING DAN SISTEM PEMBAYARAN 1. Biro Pengembangan Sistem Pembayaran Nasional 2. Bagian Akunting Devisa 3. Bagian Kliring Jakarta 4. Bagian Penyelesaian Transaksi Rupiah 5. Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran DIREKTORAT LOGISTIK DAN PENGAMANAN 1. Bagian Perencanaan Logistik dan Jasa 2. Bagian Pengelolaan Logistik I 3. Bagian Pengelolaan Logistik II 4. Bagian Pengelolaan Jasa 5. Bagian Pengamanan DIREKTORAT TEKNOLOGI INFORMASI 1. Biro Penelitian dan Pengembangan Teknologi Informasi 2. Bagian Pemeliharaan Teknologi Informasi 3. Bagian Pemrosesan Data Elektronis DIREKTORAT SUMBER DAYA MANUSIA 1. Tim Perencanaan Strategis SDM 2. Tim Konsultansi SDM 3. Tim Pelaksanaan SDM DIREKTORAT KEUANGAN INTERN 1. Biro Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Intern 2. Bagian Laporan Keuangan 3. Bagian Pelaksanaan Gaji dan Keuangan Intern 4. Bagian Anggaran DIREKTORAT HUKUM 1. Tim-Tim a. Tim Penasehat Hukum b. Tim Dokumentasi dan Informasi Hukum c. Tim Enquiry Point DIREKTORAT PENGAWASAN INTERN 1. Tim-Tim a.Tim Pengembangan Pengawasan Intern b.Tim Analisis Ketentuan c.Tim Pengawasan Intern 2. Bagian Administrasi dan Informasi PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN Kelompok Peneliti UNIT KHUSUS PROGRAM TRANSFORMASI 1. Proyek-Proyek 2. Tim Pengendalian Program

XVIII.

XIX.

XX.

XXI.

XXII.

XXIII

DPI AdPI

XXIV.

PPSK UKPT -

XXV.

274

Lampiran

No.
XXVI. XXVII.

Nama Satuan Kerja
UNIT KHUSUS MANAJEMEN INFORMASI BIRO GUBERNUR 1. Tim-Tim a.Tim Perencanaan dan Pemantauan b.Tim Hubungan Masyarakat c.Staf Gubernur BIRO SEKRETARIAT 1. Bagian Protokol 2. Bagian Arsip

Singkatan
UKMI BGub -

BSk Pro Ars

275

Lampiran

Nama Satuan Kerja
Kantor Perwakilan Bank Indonesia 1. New York 2. London 3. Tokyo 4. Singapura Kantor Bank Indonesia 1. Ambon 2. Balikpapan 3. Banda Aceh 4. Bandar Lampung 5. Bandung 6. Banjarmasin 7. Batam 8. Bengkulu 9. Cirebon 10. Denpasar 11. Jayapura 12. Jambi 13. Jember 14. Kediri 15. Kendari 16. Kupang 17. Lhokseumawe 18. Makassar 19. Malang 20. Mataram 21. Medan 22. Manado 23. Padang 24. Palangkaraya 25. Palembang 26. Palu 27. Pekanbaru 28. Pontianak 29. Purwokerto 30. Samarinda 31. Semarang 32. Sibolga 33. Solo 34. Surabaya 35. Tasikmalaya 36. Ternate 37. Yogyakarta

Singkatan
NY Lnd Tky Sn

Ab Bpp Bna Bdl Bd Bjm Btm Bn Cn Dpr Jap Jb Jr Kd Kdi Kpa Lsm Mks Ml Mtr Mdn Mo Pdg Plk Pg Pal Pbr Ptk Pwt Smr Sm Sbg Slo Sb Tsm Tt Yk

276

D.1 Neraca Bank Indonesia

Lampiran

Lampiran D.1
Bank Indonesia Neraca per 31 Desember 2002 dan Desember 2001 1) (Jutaan Rupiah) Aktiva 31 Des. 2002
Unaudited

31 Des.2001
Audited

Pasiva

31 Des. 2002
Unaudited

31 Des.2001
Audited

1. 2. 3.

Emas Uang asing Hak tarik khusus

9.506.255 13.770 146.425 4.399.928 2.915.790 1.484.138 53.837.138 225.395.171 0 225.395.171

8.933.494 450.286 165.030 11.235.351 8.382.950 2.852.401 69.063.460 209.867.886 0 209.867.886

A. 1. 2. 2.1

4. Giro 4.1 Bank Sentral 4.2 Bank Koresponden 5. Deposito pada Bank Koresponden

6. Surat berharga 6.1 Dalam rupiah 6.2 Dalam valuta asing 7. Tagihan 7.1 Kepada pemerintah 7.1.1 Dalam rupiah 7.1.2 Dalam valuta asing 7.2 Kepada bank 7.2.1 Dalam rupiah 7.2.2 Dalam valuta asing 7.3 Kepada lainnya 7.3.1 Dalam rupiah 7.3.2 Dalam valuta asing 8. 9. Penyisihan kerugian aktiva Penyertaan

351.069.970 351.043.888 26.082 17.954.492 16.894.621 1.059.871 8.001.652 8.001.652 0 (48.837.112) 229.474 9.835.639

315.927.999 315.897.657 30.342 19.182.702 17.949.743 1.232.959 7.537.529 7.537.529 0 (49.753.871) 229.474 9.357.393

Kewajiban Uang dalam peredaran Giro Pemerintah 2.1.1 Dalam rupiah 2.1.2 Dalam valuta asing 2.2 Bank 2.2.1 Dalam rupiah 2.2.2 Dalam valuta asing 2.3 Pihak swasta lainnya 2.3.1 Dalam rupiah 2.3.2 Dalam valuta asing 2.4 Lembaga keuangan internasional 2.4.1 Dalam rupiah 2.4.2 Dalam valuta asing 3. Surat berharga yang diterbitkan 3.1 Dalam rupiah 3.2 Dalam valuta asing 4. Pinjaman dari pemerintah 4.1 Dalam rupiah 4.2 Dalam valuta asing 4.3 Surat Utang Bank Indonesia 5. Pinjaman luar negeri 6. Kewajiban lain-lain Jumlah Kewajiban B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ekuitas Modal Cadangan umum Cadangan tujuan Hasil revaluasi aktiva tetap Hasil revaluasi kurs dan SSB Hasil indeksasi SUP Hasil indeksasi SUBI Surplus (defisit) tahun sebelumnya Surplus (defisit) tahun berjalan

98.418.806 103.244.759 61.813.103 41.431.656 44.983.701 38.326.357 6.657.344 924.775 795.363 129.412 79.990.532 79.990.532 0 112.801.184 112.801.184 0 34.327.302 278.055 2.322.720 31.726.527 16.972.012 6.120.818 497.783.889

91.275.606 85.651.638 48.684.295 36.967.343 41.887.382 34.668.559 7.218.823 798.236 671.321 126.915 95.791.501 95.791.501 0 102.143.747 102.143.747 0 31.476.677 350.007 2.679.045 28.447.625 19.776.825 999.211 469.800.823

10. Aktiva lain-lain

2.948.029 20.584.751 8.822.036 4.865.933 26.338.170 75.334.510 (6.428.782) 0 1.304.264 133.768.913 631.552.802

2.948.029 8.233.006 3.528.431 4.871.249 50.204.504 48.575.749 (3.610.407) 0 17.645.349 132.395.910 602.196.733

Jumlah Ekuitas Jumlah Aktiva 631.552.802 602.196.733 Jumlah Kewajiban dan Ekuitas

1) a. Laporan Keuangan Bank Indonesia tahun 2001 telah diaudit oleh BPK-RI sesuai laporan No.01/01/Auditama II/GA/V/2002 tanggal 8 Mei 2002 dengan dengan pendapat Wajar dengan Pengecualian karena adanya pengaruh Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) b. Laporan Keuangan Bank Indonesia tahun 2002 yang lengkap telah disampaikan kepada BPK-RI melalui surat No.5/1/GBI/DKI tanggal 31 Januari 2003 untuk dimulai pemeriksaan. c. Kurs Neraca tanggal 31 Desember 2002: $1 = Rp8.940,00 dan pada tanggal 31 Desember 2001: $1 = Rp10.400,00.

277

D.2 Laporan Surplus Defisit Bank Indonesia

Lampiran

Lampiran D.2
Bank Indonesia Laporan Surplus Defisit Periode 1 Januari – 31 Desember 2002 dan 2001 (Jutaan Rupiah) 2002
Unaudited

2001
Audited

PENERIMAAN 1. Pengelolaan Moneter 1.1 Pengelolaan Devisa 1.2 Kegiatan Pasar Uang 1.3 Pemberian Kredit dan Pembiayaan 2. 3. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Pengaturan Perbankan

30.749.171 21.583.762 3.879 9.161.530 58.455 24.743 639.925 92.625 547.300 31.472.294

63.462.682 55.040.311 3.889 8.418.482 42.163 46.811 178.461 178.461 0 63.730.117

4. Lainnya 4.1 Penerimaan Lainnya 4.2 Pemulihan Penyisihan Aktiva Jumlah Penerimaan PENGELUARAN 1. Beban Pengendalian Moneter 1.1 Beban Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Moneter 1.2 Beban Pengelolaan Devisa 2. Beban Sistem Pembayaran 2.1 Beban Pengedaran Uang 2.2 Beban Penyelenggaraan Sistem Pembayaran 3. 4. 4.1 4.2 4.3 4.4 Beban Pengaturan dan Pengawasan Bank Beban Umum, Administrasi, dan Lainnya Beban Penyusutan Aktiva Tetap Beban Amortisasi Aktiva tak berwujud Beban Penambahan Penyisihan Aktiva Produktif Beban Umum, Administrasi dan lainnya Jumlah Pengeluaran Surplus Sebelum Pos Luar Biasa Beban karena Pos Luar Biasa SURPLUS

(26.891.306) (18.384.897) (8.506.409) (1.038.354) (992.027) (46.327) (69.768) (2.168.602) (153.387) (2.542) 0 (2.012.673) (30.168.029) 1.304.264 0 1.304.264

(21.075.424) (15.407.479) (5.667.945) (718.498) (679.537) (38.961) (52.505) (24.238.341) (138.339) (2.542) (22.068.133) (2.029.327) (46.084.768) 17.645.349 0 17.645.349

278

E.1 Daftar Peraturan Bank Indonesia 2002

Lampiran

Lampiran E.1
No. Urut No. PBI Tanggal Lembaran Negara Keterangan

Daftar Peraturan Bank Indonesia Tahun 2002
No. Urut
1

No. PBI

Tanggal

Lembaran Negara

Keterangan

4/1/PBI/2002 27-03-2002 LN Thn 2002 No. 14 TLN No. 4177

Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa pelayanan perbankan syariah yang semakin meningkat, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang perubahan kegiatan usaha bank umum konvensional menjadi bank umum berdasarkan prinsip syariah dan pembukaan kantor bank berdasarkan prinsip syariah oleh bank umum konvensional.

2

4/2/PBI/2002 28-03-2002 LN Thn 2002 No. 15 TLN No. 4178

Pemantauan kegiatan lalu lintas devisa (LLD) sangat diperlukan dalam rangka mendukung penerapan sistem devisa bebas. Pemantauan tersebut dapat dilakukan melalui angka statistik kegiatan LLD terutama statistik neraca pembayaran dan posisi investasi internasional Indonesia. Sehubungan dengan itu Bank Indonesia mengeluarkan PBI yang mengatur tentang pemantauan kegiatan LLD perusahaan bukan lembaga keuangan. Kewajiban penyampaian laporan tentang kegiatan LLD tersebut diberlakukan bagi perusahan bukan lembaga keuangan yang memiliki total aset/aktiva sekurang-kurangnya Rp100.000.000.000,00 atau memiliki omset penjualan selama satu tahun sekurang-kurangnya Rp100.000.000.000,00. PBI ini juga mengatur sanksi bagi perusahaan yang menyampaikan laporan secara tidak lengkap dan atau tidak benar, dan juga bagi perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan tersebut.

3

4/3/PBI/2002 06-06-2002 LN Thn 2002 No. 65

PBI ini menetapkan pencabutan dan penarikan dari peredaran uang logam pecahan Rp5 tahun emisi 1970 dan 1974, Rp25 tahun emisi 1971, Rp50 tahun emisi 1971, serta Rp100 tahun emisi 1973 dan 1978.

279

Lampiran

No. Urut
4

No. PBI
4/4/PBI/2002

Tanggal

Lembaran Negara

Keterangan
PBI berisi pencabutan SK Direksi Bank Indonesia No. 31/ 201/KEP/DIR tanggal 29 Januari 1999 sebagaimana tertuang dalam SKB antara Menteri Keuangan RI dan Gubernur Bank Indonesia No. KEP-046/KM.17/1999 dan No. 31/201/KEP/DIR tentang Program Penjaminan Ekspor Dalam Rangka Penggerakan Sektor Riil. Ketika itu keadaan perekonomian Indonesia tidak kondusif, sehingga mempengaruhi kinerja sektor perbankan. Seiring dengan semakin membaiknya perekonomian nasional, perbankan nasional mulai dapat menjalankan kembali fungsi intermediasinya tanpa program penjaminan pemerintah. Sehubungan dengan itu pemerintah dan Bank Indonesia memutuskan untuk menghentikan program penjaminan ekspor, kecuali untuk L/C impor dan Kredit Modal Kerja (KMK) yang dijamin dalam Program Penjaminan Ekspor sebagaimana diatur dalam SKB tersebut yang masih berjalan dan belum jatuh tempo dan yang sudah jatuh tempo namun belum diselesaikan pembayarannya. Bagi kedua jenis kredit tersebut, SKB tersebut dinyatakan tidak berlaku sejak berakhirnya proses penyelesaian pembayaran L/C impor dan KMK dimaksud.

10-06-2002 LN Thn 2002 No. 68

5

4/5PBI/2002

08-08-2002 LN Thn 2002 No. 86

PBI ini menetapkan pengeluaran dan pengedaran uang rupiah khusus pecahan 500.000 dan pecahan 25.000 seri “Peringatan Satu Abad Bung Hatta” tahun emisi 2002.

6

4/6/PBI/2002

06-09-2002 LN Thn 2002 No. 91 TLN No. 4223

PBI ini mengatur perubahan SK Direksi Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif. Perubahan ini terutama untuk membantu pemulihan kondisi perekonomian daerah-daerah tertentu yang mengalami gejolak yang berpengaruh kepada kondisi ekonomi. Daerah-daerah tersebut adalah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Propinsi Maluku, Propinsi Papua, Kabupaten Sambas di Propinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur di Propinsi Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Poso di Propinsi Sulawesi Tengah.

280

Lampiran

No. Urut
7

No. PBI

Tanggal

Lembaran Negara

Keterangan
PBI ini mengatur bahwa bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam pembelian kredit dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pembelian kredit oleh bank dari BPPN wajib dilakukan dengan nilai wajar. PBI ini juga mengatur tentang sanksi yang dikenakan terhadap bank yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam PBI ini. Bank yang telah melakukan pembelian kredit dari BPPN dalam tahun 2002 sebelum dikeluarkannya PBI ini wajib menyesuaikan dengan ketentuan yang diatur dalam PBI ini.

4/7/PBI/2002 27-09-2002 LN Thn 2002 No. 97 TLN No. 4228

8

4/8/PBI/2002 10-10-2002 LN Thn 2002 No. 104 TLN No. 4231

Sehubungan dengan dikeluarkannya UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, peraturan tentang persyaratan dan tata cara membawa uang rupiah keluar atau masuk wilayah Republik Indonesia perlu disesuaikan. PBI ini mencabut PBI No. 3/18/PBI/2001 dan mengatur bahwa setiap orang yang membawa uang rupiah sebesar Rp100.000.000,00 atau lebih keluar wilayah pabean Republik Indonesia wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari Bank Indonesia. Sebaliknya, setiap orang yang membawa uang rupiah sebesar Rp100.000.000,00 atau lebih masuk wilayah pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu memeriksakan keaslian uang tersebut kepada petugas Bea dan Cukai di tempat kedatangan. PBI ini juga mengenakan sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam PBI dimaksud.

9

4/9/PBI/2002 18-11-2002 LN Thn 2002 No. 126 TLN No. 4243

PBI ini mencabut 2 (dua) SK Direksi Bank Indonesia, yaitu No. 21/53/KEP/DIR tanggal 27 Oktober 1988 tentang Perdagangan Surat Berharga Pasar Uang, dan No. 23/84/ KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Tata Cara Penggunaan Diskonto I, dengan tujuan menyempurnakan pengaturan tentang Operasi Pasar Terbuka (OPT) dalam rangka mendukung tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang dilakukan melalui

281

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lembaran Negara

Keterangan
pengendalian moneter terutama melalui OPT. OPT bertujuan mencapai target operasional kebijakan moneter yang dapat berupa target kuantitas uang primer atau komponennya, atau target suku bunga pasar jangka pendek. OPT dilakukan melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI); jual beli surat berharga dalam rupiah yang meliputi SBI, Surat Utang Negara dan surat berharga lainnya yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan; penyediaan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia dalam rupiah (FASBI); dan jual beli valuta asing terhadap rupiah. PBI ini juga mengatur tentang sanksi atas pelanggaran terhadap beberapa ketentuan dalam PBI dimaksud.

10

4/10/PBI/2002 18-11-2002

LN Thn No. 127 TLN No. 4244

Dalam rangka melaksanakan kebijakan moneter melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT), Bank Indonesia mengeluarkan PBI tentang Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang dalam hal ini ditatausahakan secara elektronis oleh Bank Indonesia guna mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan OPT. SBI memiliki beberapa karakteristik, antara lain mempunyai satuan unit sebesar Rp1.000.000,00 dan berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan yang dinyatakan dalam jumlah hari dan dihitung dari tanggal penyelesaian transaksi sampai dengan tanggal jatuh waktu. PBI ini juga mengenakan sanksi atas pelanggaran terhadap ketentuan PBI dimaksud.

11

4/11/PBI/2002 20-12-2002

LN Thn 2002 No. 135 TLN No. 4248

Tragedi Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 diperkirakan akan memberikan dampak pada perekonomian Indonesia khususnya di Propinsi Bali. Nasabah debitur yang terkena dampak tragedi Bali diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam melunasi kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia memandang perlu melakukan upaya-upaya untuk mendukung pemulihan kondisi perekonomian, antara lain

282

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lembaran Negara

Keterangan
dengan memberikan perlakuan khusus terhadap kredit bank umum yang diberikan kepada nasabah debitur usaha kecil yang dibiayai oleh bank umum dan memiliki usaha produktif dengan lokasi proyek atau lokasi usaha di Propinsi Bali.

283

E.2 Daftar Surat Edaran (Ekstern) Bank Indonesia 2002

Lampiran

Lampiran E.2
No. Urut No. SE BI Tanggal Perihal Keterangan

Daftar Surat Edaran (Ekstern) Bank Indonesia Tahun 2002
No. Urut
1

No. SE BI
4/1/DPBR

Tanggal
24-01-2002

Perihal
Penetapan Status Bank Perkreditan Rakyat Dalam Pengawasan Khusus Dan Pembekuan Kegiatan Usaha

Keterangan

2 3

4/2/DASP 4/3/DASP

11-02-2002 11-02-2002

Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh Perubahan SE No. 2/9/DASP Tanggal 8 Juni 2000 Perihal Biaya Kliring

4

4/4/DASP

01-03-2002

Perubahan Atas SE No. 2/25/DASP Tanggal 17 November 2000 Perihal Biaya Dalam Penggunaan Sistem BI RTGS

5

4/5/DASP

28-03-2002

Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan

6

4/6/DPM

25-04-2002

Pentapan Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga Yang Dijamin Pemerintah

7 8

4/7/DASP 4/8/DASP

07-05-2002 13-05-2002

Penyelenggara Kliring Lokal Secara Otomasi Perubahan SE BI No. 3/28/DASP Tanggal 12 Desember 2001 Perihal Penggunaan Jasa Kurir Dan Tanda Pengenal Petugas Kliring (PTTK) Dalam Penyelenggaraan Kliring Yang Menggunakan Sistem Otomasi Dan Eletronik

9

4/9/DPM

26-06-2002

Penetapan Marjin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga Yang dijamin Pemerintah

10

4/10/DASP

26-06-2002

Perubahan Kedua Atas Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/24/ DASP Tanggal 17 November 2000 Perihal Bank Indonesia Real Time Gross Settlement

284

Lampiran

No. Urut
11

No. SE BI
4/11/DASP

Tanggal
13-08-2002

Perihal
Hubungan Rekening Giro Antara Bank Indonesia Dengan Pihak Ekstern

Keterangan

12

4/12/DASP

24-09-2002

Jadwal Kliring Dan Tanggal Valuta Penyelesaian Akhir, Sistem Penyelenggaraan Kliring Lokal Serta Jenis Dan Batasan Nominal Warkat atau Data Keuangan Elektronik

13 14

4/13/DASP 4/14/DASP

24-09-2002 24-09-2002

Biaya Kliring Biaya Dalam Penggunaan Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement

15 16

4/15/DASP 4/16/DASP

30-09-2002 21-10-2002

Penyelenggaraan Kliring Lokal Secara Elektronik Penyelenggaraan Kliring Lokal Atas Cek Dan Bilyet Giro Yang Berasal Dari Luar Wilayah Kliring

17

4/17/DASP

07-11-2002

Perubahan Surat Edaran Nomor 2/10/DASP Tanggal 8 Juni 2000 Perihal Tata Usaha Penarikan Cek/Bilyet Giro Kosong

18

4/18/DPM

18-11-2002

Pelaksanaan Dan Penyelesaian Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Dalam Rupiah (FASBI) Dalam Rangka Operasi Pasar Terbuka

20

4/20/DPM

18-11-2002

Tata Cara Penerbitan, Perdagang Dan Penatausahaan Sertifikat Bank Indonesia

21 22

4/2/DASP 4/22/DPM

02-12-2002 17-12-2002

Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 27/17/ UPG Tanggal 10 Mei 1994 Perihal Pusat Informasi Pasar Uang

285

E.3 Berbagai Ketentuan dan Kebijakan Penting di Bidang Ekonomi dan Keuangan 2002

Lampiran

Lampiran E.3
Tanggal

Berbagai Ketentuan dan Kebijakan Penting di Bidang Ekonomi dan Keuangan Tahun 2002
Ketentuan/Kebijakan Keterangan

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

Tanggal
Januari 15

Perubahan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-63/BC/1997 tentang Tatacara Pendirian dan Tatalaksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Kawasan Berikat Perubahan

Keputusan Direktur Jenderal Bea Cukai No. KEP-03/BC/ 2002

16

Pemerintah Menetapkan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) Dalam Negeri Kebijakan Penyehatan Perbankan dan Restrukturisasi Utang Perusahaan Berdasarkan Hasil Rapat Komite Kebijakan Sektor Keuangan

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2002 Keputusan Komite Kebijakan Sektor Keuangan No. KEP.01/ K.KKSK/01/2002 Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.12 Tahun 2002

29

Penyempurnaan Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi No. 79/PR.301/MPPT-95 Tentang Tata Cara Penyesuaian Tarif Dasar Jasa Telekomunikasi Dalam Negeri

31

Perubahan Atas Lampiran Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 558/MPP/Kep/12/1998 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor Sebagaimana Telah Diubah Beberapa Kali Terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 294/MPP/Kep/10/2001

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 57/MPP/ Kep/1/2002

Februari 1 Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri Kelas Ekonomi Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 8 Tahun 2002

286

Lampiran

Tanggal
6

Ketentuan/Kebijakan
Tata Cara dan Persyaratan Ekspor Biji Timah

Keterangan
Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 02/ DJPLN/KP/II/2002

18

Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Pemakaian Sendiri dan atau Pemberian Cuma-Cuma Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak SE-04/ PJ.51/2002 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 62/KMK.03/ 2002

26

Dasar Penghitungan, Pemungutan, dan Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Hasi; Tembakau

28

Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Hasil Tembakau

Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP103/PJ.51/2002

Pemberian dan Penatausahaan Pajak Pertambahan Nilai Dibebaskan atas Impor dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu dan atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Maret 23 Pajak Penghasilan atas Bunga dan Diskonto Obligasi yang Diperdagangkan dan/atau Dilaporakan Perdagangannya di Bursa Efek 28 Perlakuan Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu Bentuk Usaha Tetap

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-07/ PJ.51/2002 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 2002 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 113/ KMK.03/2002

April 3 Pengambilalihan Perusahaan Terbuka Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-05/PM/2002

287

Lampiran

Tanggal
9

Ketentuan/Kebijakan
Pedoman Dasar Perhitungan Tarif Pelayanan Jasa Bongkar Muat Barang Dari dan Ke Kapal di Pelabuhan

Keterangan
Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.25 Tahun 2002

17

Tindak Pidana Pencucian Uang

Undang-Undang Republik Indonesia No. 15 Tahun 2002

23

Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan No. 448/KMK.017/ 2000 tentang Perusahaan Pembiayaan

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 172/KMK.06/2002

Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia III 30 Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2002 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri Mei 6 Divestasi Saham Negara Dalam Rangka Penyertaan Modal Negara pada Bank Pembangunan Daerah Peserta Program Rekapitalisasi 7 Penetapan Perkiraan Dana Bagian Daerah Dari Sumber Daya Alam, Minyak Bumi dan Gas Alam, Pertambangan, Umum serta Perikanan. 13 Penetapan Besarnya Nilai Jual Kena Pajak untuk Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 17 Tahun 2002 Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 27 Tahun 2002

Keputusan Menteri Keuangan No. 211/KMK.06/ 2002 Keputusan Menteri Keuangan No. 214/KMK.06/2002

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 Tahun 2002

Perubahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Merpati Nusantara Airlines

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 29 Tahun 2002

288

Lampiran

Tanggal
16

Ketentuan/Kebijakan
Penjualan Saham Milik Negara Republik Indonesia Pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Indosat, Tbk

Keterangan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 30 Tahun 2002

23

Ketentuan Ekspor Pasir Laut

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 441/MPP/ Kep/5/2002

24

Konversi Saham Preferen Milik Negara Dalam Rangka Pelaksanaan Program Rekapitalisasi Bank Umum pada PT Bank Bukopin Menjadi Saham Biasa

Keputusan Menteri Keuangan No. 249/KMK.06/ 2002 Keputusan Menteri Keuangan No. 274/KMK.06/2002 PBI No. 4/4/PBI/2002

Juni 5 Tata Cara Penghitungan dan Pembayaran Subsidi Bahan Bakar Minyak 6 Pencabutan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/ 201/KEP/DIR tanggal 29 Januari 1999 Sebagai Tertuang Dalam Surat Keputusan Bersama Antara Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia No. KEP-046/KM.17/ 1999 dan No. 31/201/KEP/DIR tentang Program Penjaminan Ekspor Dalam Rangka Penggerakan Sektor Riil 10 Tata Niaga Impor Gula Kasar (Raw Sugar) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 456/MPP/ Kep/6/2002 13 Pengurusan Piutang Negara Kredit Perumahan Bank Tabungan Negara Keputusan Menteri Keuangan No. 301/KMK.01/ 2002 Pemberian Pertimbangan Atas Usul Penghapusan Piutang Negara Yang Berasal Dari Instansi Pemerintah atau Lembaga Negara Keputusan Menteri Keuangan No. 302/KMK.01/ 2002

289

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan
Pencabutan Keputusan Menteri Keuangan No. 335/KMK.01/ 2000 tentang Crash Program Pengurusan Piutang Negara Perbankan Sebagaimana Telah Di Ubah Dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 505/KMK.01/2000 Penurunan Tarif Bea Masuk atas Impor Beberapa Produk Tertentu

Keterangan
Keputusan Menteri Keuangan No. 303/ KMK.01/2002

Keputusan Menteri Keuangan No. 307/ KMK.06/2002

Juli 5 Ketentuan Impor Cengkeh Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 528/ MPP/Kep/7/2002 16 Pedoman Alokasi Biaya Pemungutan Pajak Daerah Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 35 Tahun 2002 23 Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 54 Tahun 2002 24 Pembentukan Bea Masuk Anti Dumping Terhadap Impor Tepung Terigu Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 546/ MPP/Kep/7/2002 29 Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 56 Tahun 2002 Agustus 7 Jasa Bidang Angkutan Umum Di Darat dan Di Air Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP307/PJ./2002

290

Lampiran

Tanggal
11

Ketentuan/Kebijakan
Rekomendasi Kebijakan Untuk Mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional

Keterangan
TAP MPR Republik Indonesia No. 11/MPR/2002 Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-14/PM/2002

14

Pedoman Kontrak Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Perseroan

Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Investasi Kolektif

Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-15/PM/2002

Pedoman Kontrak Reksa Dana Berbentuk Investasi Kolektif

Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-16/PM/2002

Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala

Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-17/PM/2002

Pedoman Pengelolaan Reksadana Berbentuk Perseroan

Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-13/PM/2002

22

Perlakuan Pajak Atas Dana Jaminan Penyelesaian Transaksi Bursa

Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-390/PJ./2002 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 598/MPP/ Kep/7/2002

23

Penetapan Volume Pasir Laut Yang Dapat Diekspor Tahun 2002

September 6 Perubahan Atas Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No, 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif PBI No. 4/6/PBI/2002

291

Lampiran

Tanggal
27

Ketentuan/Kebijakan
Prinsip Kehati-hatian Dalam Rangka Pembelian Kredit Oleh Bank Dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional

Keterangan
PBI No. 4/7/PBI/2002

Oktober 18 Perubahan Nama PT Bank Bali Tbk Menjadi PT Bank Permata Keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia No. 4/162/ KEP/DpG/2002 21 Tata Cara Penghitungan dan Pembayaran Subsidi Listrik Keputusan Menteri Keuangan No. 431/KMK.06/2002 22 Surat Utang Negara Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2002 Tata Niaga Impor Tekstil Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 732/MPP/ Kep/10/2002 30 Perpanjangan Jangka Waktu Impor Mesin, Barang, dan Bahan Yang Mendapatkan Fasilitas Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 135/KMK.01/2002 tentang Keringanan Bea Masuk Atas Impor Mesin, Barang, dan Bahan Dalam Rangka Pembangunan/Pengembangan Industri/ Industri Jasa November 12 Obligasi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 59 Tahun 2002 18 Pelaksanaan dan Penyelesaian Fasilitas Bank Indonesia dalam Rupiah (Fasbi) Dalam Rangka Operasi Pasar Terbuka 19 Pemberian, Pembebasan Bea Masuk atas Impor Bahan Baku Komponen untuk Pembuatan Peralatan dan jaringan Telekomunikasi oleh Industri Telekomunikasi Surat Edaran Bank Indonesia No. 4/18/DPM Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 474/MPP/Kep/01/2002 Keputusan Menteri Keuangan No. 456/KMK.04/2002

292

Lampiran

Tanggal
Desember 12

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

Pusat Penyelesaian Masalah Usaha (Business Solution Center)

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 802/ MPP/Kep/12/2002

24

Penawaran Umum Efek Bersifat Utang Dalam Denominasi Mata Uang Selain Rupiah

Keputusan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal No. KEP-23/PM/2002

30

Pemberian Jaminan Kepastian Hukum Kepada Debitur Yang Telah Menyelesaikan Kewajibannya Atau Tindakan Hukum Kepada Debitur Yang Tidak Menyelesaikan Kewajiban Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham

Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 8 Tahun 2002

31

Tertib Administrasi Importir

Keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 527/KMK.04/2002 dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 819/ MPP/Kep/12/2002

Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 90 Tahun 2002

293

Lampiran

Lampiran F

Tabel Statistik
........................................................................................................................... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Produk Domestik Bruto menurut Jenis Penggunaan .......................................................... Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha ............................................................. Pengaruh Nilai Tukar Dagang terhadap Produk Domestik Bruto ............................................ Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertanian ................................................................ Produksi, Luas Panen, dan Produksi Rata-rata padi serta Palawija ........................................ Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertambangan dan Penggalian ....................................... Penjualan Tenaga Listrik ............................................................................................ Perkembangan Upah Minimum Harian Regional per Propinsi ................................................ Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor ................ Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I .. Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor .......................... Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I ............ Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Negara Asal ................... Indeks Harga Konsumen Indonesia ................................................................................ Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia ..................................................................... Perkembangan Laju Inflasi di 43 Kota ............................................................................. Neraca Pembayaran Indonesia ..................................................................................... Nilai Ekspor Nonmigas menurut Komoditas ...................................................................... Volume Ekspor Nonmigas menurut Komoditas .................................................................. Nilai Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan ................................................................ Nilai Impor Nonmigas Menurut Negara Tujuan (C&F) .......................................................... Ekspor Migas ........................................................................................................... Uang Beredar .......................................................................................................... Perubahan Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya ..................................... Suku Bunga Deposito dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank ......................... Pasar Uang Antarbank di Jakarta .................................................................................. Tingkat Diskonto Sertifikat Deposito Rupiah menurut Kelompok Bank .................................... Hal. 296 297 298 299 300 301 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321

294

Lampiran

28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50.

Penerbitan, Pelunasan, dan Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ......................................... Tingkat Diskonto SBI ................................................................................................. Transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) antara Bank Indonesia dan Bank-bank ................... Pendapatan dan Belanja Negara .................................................................................. Pembiayaan ............................................................................................................ Penghimpunan Dana oleh Bank Umum ............................................................................ Giro dalam Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Kelompok Bank ........................ Simpanan Berjangka Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Jangka Waktu .............. Simpanan Berjangka Rupiah pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik ................................ Sertifikat Deposito ................................................................................................... Tabungan menurut Jenis pada Bank Umum ..................................................................... Suku Bunga Kredit Rupiah Menurut Kelompok Bank .......................................................... Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Sektor Ekonomi ............................ Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis Penggunaan dan Sektor Ekonomi Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi .... Perkembangan Jumlah Aliran Uang Kertas di Jakarta dan KKBI ............................................. Pangsa Aliran Uang Keluar per Jenis Pecahan di Jakarta dan KKBI Tahun 2002 ......................... Perkembangan Jumlah Aliran Uang Logam di Jakarta dan KKBI ............................................. Pertumbuhan Ekonomi Dunia ....................................................................................... Inflasi Dunia ............................................................................................................ Suku Bunga (%) dan Nilai Tukar .................................................................................... Perkembangan Volume Perdagangan Barang dan Harga Dunia .............................................. Transaksi Berjalan di Negara Industri dan Negara Sedang Berkembang ...................................

322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 337 338 339 340 341 341 342

295

F.1 Tabel Statistik I

Lampiran

Tabel 1 Produk Domestik Bruto menurut Jenis Penggunaan (Miliar rupiah)

Jenis penggunaan

1998

1999

2000 Harga konstan 1993

2001 *

2002**

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung neto dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional

286.850,6 260.022,7 26.827,9 93.604,7 -6.386,9 134.707,2 132.400,7 376.374,7 -27.965,4 348.409,5 1.858,9 18.818,8 327.731,8

299.084,5 272.070,2 27.014,3 76.572,9 -9.622,1 91.863,6 78.546,4 379.352,5 -22.145,1 357.207,4 6.181,9 18.967,6 332.057,9

305.145,0 276.377,2 28.767,8 89.389,1 -13.794,2 116.193,6 98.916,6 398.016,9 -25.391,1 372.625,8 -11.746,1 19.900,8 364.471,1 Harga berlaku

319.861,8 288.510,2 31.351,6 96.243,8 -15.908,0 118.377,0 106.883,6 411.691,0 -17.399,1 394.291,9 8.979,3 20.584,6 364.728,0

337.501,6 302.139,3 35.362,3 96.058,0 -25.741,1 116.907,1 97.985,1 426.740,5 -22.217,8 404.522,7 18.896,3 21.337,1 364.289,3

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung neto dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional Memorandum item: Produk Domestik Bruto per kapita 1) dalam ribuan rupiah dalam $ Produk Nasional Bruto per kapita 1) dalam ribuan rupiah dalam $ Pendapatan Nasional per kapita 1) dalam ribuan rupiah dalam $

702.239,5 647.823,6 54.415,9 243.043,4 -82.716,1 506.244,8 413.058,1 955.753,5 -53.893,7 901.859,8 6.480,5 47.787,7 847.591,6

885.814,6 813.183,3 72.631,3 221.472,3 -96.461,4 390.560,1 301.654,0 1.099.731,6 -83.764,2 1.015.967,4 17.950,1 54.986,6 943.030,7

941.598,4 850.818,7 90.779,7 275.881,3 -72.235,5 542.992,4 423.317,9 1.264.918,7 -92.161,8 1.172.756,9 -37.820,3 63.245,9 1.147.331,3

1.089.146,9 975.730,8 113.416,1 316.178,5 -63.281,8 612.482,2 505.127,7 1.449.398,1 -58.079,0 1.391.319,1 31.425,7 72.469,8 1.287.423,6

1.269.981,2 1.137.762,5 132.218,7 325.333,9 -95.614,3 569.941,9 459.631,1 1.610.011,6 -77.815,7 1.532.195,9 71.186,5 80.500,6 1.380.508,8

4.814,7 491,1 4.543,2 463,4 4.269,8 435,5

5.489,7 696,5 5.071,5 643,5 4.707,5 597,3

6.145,1 732,1 5.697,3 678,8 5.573,8 664,0

6.938,2 677,7 6.660,2 650,6 6.162,8 602,0

7.594,3 810,8 7.227,2 771,6 6.511,7 695,2

1) Menurut harga berlaku Sumber : Badan Pusat Statistik

296

Lampiran

Tabel 2 Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha (Miliar rupiah)

Harga konstan 1993 Lapangan usaha 1998 Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan Tanaman bahan makanan Tanaman perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertambangan dan penggalian Minyak dan gas bumi Pertambangan tanpa migas Penggalian Industri pengolahan Industri migas Pengilangan minyak bumi Gas alam cair Industri tanpa migas Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Perdagangan besar dan eceran Hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Pengangkutan Komunikasi Bank 1) Sewa bangunan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Pemerintahan umum Swasta PRODUK DOMESTIK BRUTO Nonmigas Migas 1) 63.609,5 33.350,4 10.501,8 6.439,7 6.580,7 6.736,9 37.474,0 23.340,1 9.678,0 4.455,9 95.320,6 11.042,2 6.310,0 4.732,3 84.278,4 5.646,1 22.465,3 60.130,7 47.845,9 12.284,8 26.975,1 20.503,8 6.471,3 13.173,0 15.105,7 36.475,0 21.887,5 14.587,5 376.374,9 341.992,5 34.382,4 64.985,3 34.012,4 10.702,0 6.836,9 6.288,1 7.145,8 36.865,8 22.136,8 10.357,7 4.371,2 99.058,5 11.797,2 6.606,6 5.190,6 87.261,3 6.112,9 22.035,6 60.093,7 47.574,5 12.519,2 26.772,1 19.737,6 7.034,5 26.244,6 11.861,8 14.382,8 37.184,0 22.250,6 14.933,4 379.352,5 345.418,5 33.934,0 66.208,9 34.533,0 10.722,0 7.061,3 6.388,9 7.502,9 38.896,4 22.658,3 11.619,2 4.618,9 104.986,9 11.599,9 6.843,1 4.756,9 93.387,0 6.574,8 23.278,7 63.498,3 50.333,8 13.164,5 29.072,1 21.176,3 7.895,8 27.449,4 12.467,5 14.981,8 38.051,5 22.555,1 15.496,4 398.016,9 363.758,7 34.258,2 66.858,2 34.260,2 10.979,5 7.312,7 6.522,5 7.783,3 38.894,6 21.537,3 12.502,5 4.855,0 109.290,2 11.196,5 6.958,0 4.238,5 98.093,7 7.078,0 24.259,1 66.888,1 53.055,3 13.832,8 31.207,1 22.319,8 8.887,3 28.388,6 13.071,4 15.317,2 38.826,9 22.795,4 16.031,5 411.691,0 378.957,2 32.733,8 68.018,4 34.442,1 11.327,9 7.537,0 6.651,3 8.060,0 39.768,1 21.574,4 13.082,2 5.111,5 113.671,7 11.434,0 6.917,4 4.516,6 102.237,7 7.514,6 25.255,3 69.303,2 54.827,3 14.475,8 33.649,5 23.364,1 10.285,4 29.963,2 13.831,8 16.131,4 39.596,6 22.887,0 16.709,6 426.740,5 393.732,1 33.008,4 172.827,6 91.346,0 33.289,6 15.743,6 11.700,5 20.747,9 120.328,5 74.883,7 35.459,9 9.984,9 238.897,1 33.172,4 15.092,2 18.080,2 205.724,7 11.283,1 61.761,6 146.740,1 116.688,5 30.051,6 51.937,2 41.837,2 10.100,0 69.891,7 31.710,2 38.181,5 82.102,5 40.641,0 41.445,8 847.697,4 108.056,1 215.686,7 116.222,5 35.966,5 23.761,2 13.803,8 25.932,8 109.925,4 72.424,9 27.696,1 9.804,3 285.873,9 35.127,6 16.320,8 18.806,8 250.746,3 13.429,0 67.616,2 175.835,4 140.588,7 35.246,7 55.189,6 42.735,7 12.453,9 71.220,2 31.088,6 40.131,6 104.955,3 56.745,0 48.210,3 1999 2000 2001* 2002** 1998 1999

Harga berlaku 2000 2001* 2002**

217.897,9 112.661,2 33.744,7 27.034,6 14.947,8 29.509,7 175.262,5 129.220,9 34.495,7 11.545,9 314.918,4 54.279,9 22.602,9 31.676,9 260.638,5 16.519,3 76.573,4 199.110,4 159.384,7 39.725,7 62.305,6 47.911,3 14.394,3 80.459,9 36.317,3 44.142,6 121.871,4 69.460,2 52.411,3

246.298,2 126.065,2 37.491,2 30.438,2 15.648,7 36.654,8 191.762,4 131.877,8 45.691,9 14.192,7 362.031,2 56.137,0 26.477,6 29.659,5 305.894,2 21.183,9 85.263,2 234.262,6 187.996,0 46.266,6 75.795,9 59.462,8 16.333,1 91.438,4 42.232,0 49.206,4 141.362,2 81.850,9 59.511,3

281.325,0 141.137,4 41.919,5 34.808,9 16.848,9 46.610,3 191.827,2 131.656,7 43.480,4 16.690,0 402.601,1 56.678,5 32.389,1 24.289,5 345.922,6 29.100,5 92.366,3 258.869,2 205.791,7 53.077,5 97.343,5 72.234,5 25.109,0 105.621,7 49.949,0 55.672,7 150.957,2 83.293,5 67.663,7

Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 28.278,7

955.753,5 1.099.731,6 1.264.918,7 1.449.398,1 1.610.011,6 992.179,1 1.081.417,9 1.261.383,3 1.421.676,4 107.552,5 163.500,8 188.014,8 188.335,2

Termasuk lembaga keuangan di luar bank dan jasa penunjang keuangan

Sumber : Badan Pusat Statistik

297

Lampiran

Tabel 3 Pengaruh Nilai Tukar Dagang terhadap Produk Domestik Bruto (Miliar rupiah)

Rincian

1998

1999

2000

2001 *

2002**

1. Ekspor barang dan jasa atas dasar harga berlaku 2. Ekspor barang dan jasa atas dasar harga konstan 3. Deflator ekspor (1:2) x 100) 4. Impor barang dan jasa atas dasar harga berlaku 5. Impor barang dan jasa atas dasar harga konstan 6. Deflator impor (4:5) x 100) 7. Indeks nilai tukar dagang (3:6) x 100) 8. Perubahan indeks nilai tukar dagang (%) 9. Kapasitas impor riil dari ekspor (1:6) x 100) 10. Pengaruh nilai tukar dagang (9 - 2) 11. Perubahan nilai tukar dagang (%) 12. PDB atas dasar harga konstan 1993 13. Perubahan PDB atas dasar harga konstan (%) 14. Pendapatan Domestik Bruto (PnDB) (10 - 12) 15. Pertumbuhan PnDB (%) -16,15 5,94 4,82 3,39 -5,41 -13,13 -348.811,5 0,79 -369.519,8 4,92 -387.329,6 3,44 -400.468,5 3,66 -422.146,2 162.270,6 27.563,4 59,60 376.374,7 101.696,3 9.832,7 -64,33 379.352,5 126.880,9 10.687,3 8,69 398.016,9 129.599,5 11.222,5 5,01 411.691,0 121.501,4 4.594,3 -59,06 426.740,5 5,43 -8,10 -1,36 0,26 -5,07 132.400,7 312,0 120,5 78.546,4 384,0 110,7 98.916,6 428,0 109,2 106.883,6 472,6 109,5 97.985,1 469,1 103,9 413.058,1 301.654,0 423.3117,9 505.127,7 459.631,1 134.707,2 375,8 91.863,6 425,2 116.193,6 467,3 118.377,0 517,4 116.907,1 487,5 506.244,8 390.560,1 542.992,4 612.482,2 569.941,9

1) Data s.d. triwulan III-2002 Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

298

Lampiran

Tabel 4 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertanian (Ribu ton)

Rincian Tanaman pangan Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Tanaman perkebunan Karet Kering Minyak Sawit Biji Sawit Coklat Kopi Teh Kulit Kina Gula Tebu Tembakau Kehutanan Kayu Bulat 3) Kayu Gergajian Kayu Lapis 3) Peternakan Daging Telur Susu (juta liter) Perikanan Laut Darat
1) 2) 3) Angka Perkiraan Triwulan III-2002 Data sampai dengan bulan Juni 2002 Tahun fiskal dalam ribu m3 Sumber : - Departemen Pertanian - Departemen Kehutanan - Badan Pusat Statistik

1998

1999

2000

2001

2002

49.236,7 10.169,4 14.696,2 1.935,0 692,4 1.305,6 306,1

50.866,4 9204,04 16.458,5 1.665,6 659,6 1.382,8 265,1

51.898,9 9676,9 16.089,0 1.827,7 736,5 1.017,6 289,9

50.460,8 9347,19 17.054,6 1.749,1 709,8 826,9 286,5

51.604,0 1) 9.747,0 1) 16.665,0 1) 1.742,0 1) 713,0 1) 742,0 1) …

332,6 4.013,1 912,1 60,9 28,5 132,7 0,4 1.928,7 7,7

293,7 4.454,5 1.012,4 58,9 27,5 126,4 0,9 1.801,4 5,8

336,2 4.094,0 930,6 60,5 29,5 127,8 0,6 1.896,3 14,8

309,0 3.863,6 878,2 60,5 29,4 117,1 0,6 1.896,2 14,8

163,9 2) 1.861,7 2) 423,2 2) 27,6 2) 8,3 2) 67,5 2) 0,3 2) 672,1 2) 1,7 2)

3)

19.026,9 2.707,2 7.154,7

20.619,9 2.060,2 4.611,9

… … …

… … …

… … …

1.228,5 529,8 375,4

1.193,5 640,4 436,0

1.445,2 783,3 495,7

1.450,7 793,8 505,0

... ... ...

3.837,0 1.000,0

3.950,0 1.020,0

… …

… …

… …

299

Lampiran

Tabel 5 Produksi, Luas Panen, dan Produksi Rata-rata Padi serta Palawija

Rincian Produksi (ribu ton) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Luas panen (ribu hektar) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Produktivitas (kuintal/hektar) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau

1998

1999

2000

2001

2002

49.236,7 10.169,4 14.696,2 1.935,0 692,4 1.305,6 306,1

50.866,4 9204,04 16.458,5 1.665,6 659,6 1.382,8 265,1

51.898,9 9676,9 16.089,0 1.827,7 736,5 1.017,6 289,9

50.460,8 9347,19 17.054,6 1.749,1 709,8 826,9 286,5

51.604,01) 9.747,01) 16.665,01) 1.742,01) 713,01) 742,01) …1)

11.730,3 3.847,8 1.205,4 202,1 651,1 1.095,1 339,2

11.963,2 3.456,4 1.350,0 172,2 625,0 1.151,1 298,1

11.793,5 3.500,3 1.284,0 194,3 683,6 824,5 131,3

11.412,0 3.305,1 1.279,9 167,1 650,7 723,0 319,6

… … … … … … …

42,0 26,4 121,9 95,8 10,6 11,9 9,0

42,5 26,6 121,9 96,7 10,6 12,0 8,9

44,0 27,6 125,3 94,1 10,8 12,3 22,1

43,9 27,6 … … 10,7 11,9 9,0

… … … … … … …

1)

Angka Perkiraan Triwulan IV-2002 Sumber : Departemen Pertanian

300

Lampiran

Tabel 6 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertambangan dan Penggalian

Rincian Pertambangan Migas Minyak Mentah 1) LNG LPG Pertambangan Non Migas Batubara Nikel Tembaga 1) Timah Bauksit Pasir Besi Emas Perak

Satuan

1998

1999

2000

2001

2002

Juta Barel Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton

569,2 27.179,9 2.312,2

545,7 29.812,4 2.249,8

507,3 27.203,0 2.047,3

489,9 24.343,7 2.417,5

420,6 10.804,9 566,0

2) 3) 3)

Ribu Ribu Ribu Ribu Ribu Ribu Ribu Ribu

Metric Metric Metric Metric Metric Metric Kg Kg

Ton Ton Ton Ton Ton Ton

60.320,8 2.734,0 2.640,0 54,0 1.055,6 561,0 124,0 350,0

69.357,6 3.245,3 2.645,2 47,8 1.142,5 562,3 129,0 292,3

76.820,2 3.349,3 3.193,5 50,2 1.175,4 538,9 117,6 334,6

90.253,8 3.635,4 3.289,5 61,9 1.275,6 490,1 166,1 348,3

43.937,8 1.863,6 1.556,5 38,4 610,9 205,1 44,1 108,6

4) 4) 4) 4) 4) 4) 4) 4)

1) 2) 3) 4)

Termasuk Kondensat Data sampai dengan bulan November 2002 Data sampai dengan bulan Mei 2002 Data sampai dengan bulan Juni 2002 Sumber : Departemen Pertambangan dan Energi

Tabel 7 Penjualan Tenaga Listrik (Juta KWH)

Tahun
Total Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri Publik Multiguna

1998
64.383,3 1.425,8 24.391,0 8.507,5 27.779,1 2.280,0 -

1999
71.337,7 1.488,7 26.859,2 9.332,2 31.338,5 1.341,6 977,3

2000
79.050,3 1.667,1 30.506,0 10.224,4 33.994,4 2.096,7 561,7

2001
84.029,4 1.809,3 27.381,8 10.914,3 35.518,7 2.396,3 252,3

2002
86.503,7 1.848,6 33.798,7 11.207,5 36.752,7 2.547,1 205,4

Sumber : PT. Perusahaan Listrik Negara

301

Lampiran

Tabel 8 Perkembangan Upah Minimum Regional per Bulan per Propinsi (dalam rupiah)

Rincian Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat• Riau a. Luar Batam b. Batam Jambi Sumatera Selatan a. Daratan b. Kepulauan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat a. Wilayah I b. Wilayah II c. Wilayah III d. Wilayah IV Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur a. Wilayah I b. Wilayah II c. Wilayah III d. Wilayah IV Bali a. Kabupaten Badung, Denpasar b. Lainnya Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Gorontalo Irian Jaya
Sumber : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (diolah)

1998 147.000 174.000 137.000 174.000 270.000 137.500 146.500 155.500 145.000 146.500 198.500 198.500 181.000 167.500 160.000 130.000 122.500 152.500 146.500 139.000 134.000 162.500 n.a. n.a. 124.000 122.500 158.500 145.500 158.500 144.000 176.000 135.500 122.500 129.500 139.000 156.500

1999 171.000 210.000 160.000 218.000 290.000 150.000 170.000 181.000 150.000 160.000 231.000 230.000 210.000 200.000 195.000 153.000 130.000 182.000 174.000 166.000 160.000 187.000 166.000 145.000 143.000 183.000 175.000 195.000 166.000 194.000 155.000 150.000 148.000 160.000 180.000

2000 265.000 254.000 200.000 329.000 350.000 173.000 196.000 209.000 173.000 192.000 245.000 270.000 245.000 230.000 225.000 185.000 194.500 236.000 212.000 208.000 202.000 214.300 190.000 180.000 184.000 n.a. 228.000 285.000 200.000 233.000 186.000 203.000 200.000 210.000 180.000

2001 300.000 340.500 250.000 329.000 n.a. n.a. 245.000 255.000 n.a. n.a. 240.000 240.000 426.250 245.000 n.a. n.a. n.a. n.a. 245.000 237.500 220.000 n.a. n.a. n.a. n.a. 309.750 n.a. n.a. 240.000 275.000 n.a. 304.500 362.000 295.000 300.000 372.000 245.000 300.000 275.000 230.000 230.000 400.000

2002 330.000 464.000 385.000 394.000 n.a. n.a. 304.000 331.500 n.a. n.a. 295.000 310.000 591.266 280.779 n.a. n.a. n.a. n.a. 314.500 321.750 245.000 n.a. n.a. n.a. n.a. 341.000 n.a. n.a. 320.000 330.000 n.a. ,,, ,,, ,,, 500.000 ,,, 350.000 375.000 325.000 285.000 322.000 375.000 530.000

195.500

225.000

315.000

302

Lampiran

Tabel 9 Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor (Miliar rupiah)

Sektor
Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah
1) Data s.d. akhir Desember 2002

1998
5.315,1 4.757,9 542,9 14,3 116,3 44.908,0 6.711,8 1.137,6 1.971,9 12.754,1 15.583,2 3.469,0 1.786,3 960,9 533,2 1.992,0 1.150,4 3.260,5 1.547,5 2.459,5 60.749,3

1999
2.408,3 1.614,8 749,3 44,2 174,0 46.747,5 12.729,9 2.561,5 1.229,0 20.244,1 2.480,9 70,4 6.354,2 1.070,7 6,8 395,1 1.380,0 225,3 995,5 1.226,3 53.552,0

2000
4.137,8 3.351,4 16,1 770,3 36,4 83.059,5 9.220,9 2.312,0 180,7 8.672,4 56.408,7 3.522,9 274,7 2.444,7 22,5 843,4 186,3 1.992,8 225,6 1.845,9 92.327,7

2001
1.378,1 777,6 445,9 154,6 1.198,2 43.966,6 11.108,6 2.222,9 553,0 4.771,1 22.336,9 596,5 375,1 0,0 2.002,5 2.006,9 2.459,1 1.489,0 4.540,9 1.635,2 58.674,0

20021)
1.453,7 1.452,2 0,0 1,5 786,7 15.853,5 4.967,6 440,0 409,1 150,1 1.953,1 217,1 7.179,2 0,0 537,3 1.499,8 683,2 3.117,7 255,1 1.612,6 25.262,3

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

303

Lampiran

Tabel 10 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (Miliar rupiah)

Daerah Tingkat I
Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi

1998
18.871,5 4.289,7 8.117,1 2.574,9 6,0 3.883,8 10.669,4 1.297,3 1.101,5 336,8 4.925,1 1.429,4 882,7 4,0 692,6 11.966,6 416,9 9.093,4 640,6 1.815,7 13.022,9 1.132,4 630,7 11.168,7 91,1 1.289,0 638,5 650,5 804,6 2.802,6 44,5 1.278,7 60.749,8

1999
22.126,8 1.260,5 18.393,9 849,6 34,6 1.588,2 14.746,3 94,2 1.079,4 597,6 9.091,5 3.001,7 149,3 121,4 611,2 5.359,5 222,6 3.561,4 410,5 1.165,0 1.795,8 51,8 543,9 696,2 503,9 35,2 14,9 20,3 1.002,7 47,8 20,0 8.416,0 53.550,1

2000
17.554,8 3.474,9 9.601,9 1.486,9 119,9 2.871,2 37.576,8 981,3 612,0 524,3 33.814,3 1.162,9 67,7 116,5 297,8 4.483,4 21,1 331,5 3.117,5 1.013,3 31.806,8 1.487,5 271,4 29.881,0 166,9 805,1 803,5 1,6 58,4 0,0 0,0 42,5 92.327,8

2001
20.283,8 7.845,7 7.024,8 2.184,8 105,9 3.122,6 9.023,1 64,4 1.192,9 7,5 5.705,5 771,5 625,6 0,0 655,7 3.776,8 10,0 164,3 188,4 3.414,1 20.265,0 1.174,7 1.068,3 16.653,7 1.368,3 1.647,5 566,5 1.081,0 540,2 0,0 0,0 3.137,5 58.673,9

2002 1)
12.780,9 4.013,7 5.587,3 1.462,9 43,4 1.673,6 4.946,2 1,2 1.275,6 0,0 1.474,2 447,4 12,0 55,2 1.680,6 2.722,9 23,7 491,8 149,4 2.058,0 3.545,9 127,8 94,8 141,3 3.182,0 15,4 0,4 15,0 28,8 0,0 68,0 154,1 24.262,2

Utara Tengah Selatan Tenggara

Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah

1)

Data s.d. akhir Desember 2002

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

304

Lampiran

Tabel 11 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor (Juta $)

Sektor
Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah
1) Data s.d. akhir Desember 2002

1998
998,2 965,2 0,0 33,0 0,3 8.388,2 342,0 216,9 70,8 40,8 6.178,8 237,1 394,4 890,5 16,9 197,8 451,1 79,0 1.270,9 2.177,6 13.563,1

1999
491,2 412,7 8,8 69,7 14,2 6.929,2 680,9 240,2 113,2 1.411,8 3.268,2 110,4 501,3 593,0 10,2 153,4 228,6 102,7 171,1 2.800,2 10.890,6

2000
443,4 388,9 5,0 49,5 2,4 10.703,0 701,3 401,3 155,2 87,9 7.481,7 9,7 824,0 1.005,4 36,5 225,2 259,8 1.218,7 301,6 2.259,4 15.413,5

2001
391,7 284,2 100,6 6,9 118,7 5.145,4 289,2 330,0 22,4 742,3 2.309,9 107,9 652,1 0,0 691,6 47,6 6.891,6 373,3 177,5 1.899,1 15.044,9

20021)
458,9 446,3 8,9 3,7 49,2 3.208,3 267,3 89,9 30,4 10,0 1.872,7 32,6 348,9 0,0 556,5 287,7 254,6 3.713,2 7,4 1.764,8 9.744,1

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

305

Lampiran

Tabel 12 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (Juta $)

Daerah Tingkat I
Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jamb Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi

1998
10.840,4 1.700,1 5.504,1 3.066,7 6,0 563,5 1.415,7 6,2 229,6 175,8 537,1 201,9 129,3 37,7 98,1 722,7 251,2 0,4 73,4 397,7 192,7 157,4 6,9 27,8 0,6 57,2 34,6 22,6 308,5 12,4 4,9 8,6 13.563,1

1999
2.635,9 783,8 1.498,2 69,7 10,5 273,7 7.652,6 51,8 102,7 344,9 6.956,9 42,0 39,7 18,4 96,2 226,8 102,0 50,3 30,3 44,2 141,8 24,1 2,7 12,5 102,5 15,0 13,6 1,4 193,8 0,0 1,7 23,2 10.890,8

2000
10.612,5 3.273,0 3.137,5 3.082,4 3,9 1.115,7 2.998,7 1.811,1 193,4 19,2 409,5 252,7 215,5 0,2 97,1 136,8 3,3 74,5 3,1 55,9 69,2 22,9 1,7 36,6 8,0 1.413,4 1.408,4 5,0 129,9 0,0 0,1 52,4 15.413,0

2001
5.738,5 1.152,3 2.780,0 117,1 10,1 1.679,0 2.352,2 6,0 106,5 38,2 2.095,4 5,7 44,6 1,9 53,9 242,6 21,8 11,8 9,8 199,2 81,1 1,2 0,5 78,9 0,5 5,9 4,7 1,2 519,0 0,0 9,3 6.095,6 15.044,2

2002 1)
4.780,9 3.373,4 1.053,6 71,6 19,8 262,5 2.078,2 0,0 44,5 10,0 1.152,4 21,6 732,8 0,0 85,7 2.236,6 1,3 8,9 34,0 2.192,4 380,2 1,3 0,3 373,6 5,0 121,9 119,4 2,5 86,6 0,0 0,0 59,7 9.744,1

Utara Tengah Selatan Tenggara

Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah
1) Data s.d. akhir Desember 2002

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

306

Lampiran

Tabel 13 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Negara Asal (Juta $)

Sektor
Eropa Belanda Belgia Inggris Jerman Perancis Swiss Lainnya Amerika Amerika Serikat Kanada Lainnya Asia Hongkong Jepang Korea Selatan Malaysia Filipina Singapura Taiwan Thailand Lainnya Australia Afrika Gabungan negara Jumlah

1998
5.311,9 411,8 11,5 4.745,3 71,0 7,5 35,1 29,7 699,6 568,3 8,1 123,2 4.677,4 549,0 1.330,7 202,4 1.060,2 62,5 1.267,4 165,4 2,8 37,0 85,1 75,3 2.718,4 13.567,7

1999
730,2 48,7 9,8 506,9 87,1 22,7 42,1 12,9 144,2 136,7 3,2 4,3 6.486,1 76,9 644,3 263,0 186,1 4,9 731,1 1.489,3 8,4 3.082,1 2.458,5 65,6 1.006,0 10.890,6

2000
5.938,5 1.159,2 5,9 3.645,5 959,5 64,7 42,2 61,5 253,5 242,1 2,4 9,0 3.820,8 105,4 1.954,4 688,3 168,2 7,4 536,4 131,2 6,7 222,8 59,9 564,0 4.776,4 15.413,1

2001
923,4 88,9 0,2 722,9 42,8 14,3 11,7 42,6 81,5 72,7 8,5 0,3 12.205,8 39,7 772,1 369,5 2.240,4 2,0 1.140,6 72,3 3,0 7.566,2 255,4 560,4 1.018,6 15.045,1

20021)
1.358,3 244,1 7,1 720,0 35,7 262,6 74,3 14,5 480,9 467,4 7,2 6,3 6.138,1 1.712,0 510,4 369,7 71,6 63,2 3.328,0 37,7 4,7 40,8 233,0 875,5 658,3 9.744,1

1)

Data s.d. akhir Desember 2002

Sumber : - Badan Koordinasi Penanaman Modal

307

Lampiran

Tabel 14 Indeks Harga Konsumen Indonesia
Bahan Makanan Akhir periode 1) Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 211.58 142.23 167.92 207.21 211.58 213.80 216.87 216.34 215.52 215.20 215.16 214.87 215.33 216.26 216.13 216.51 219.20 220.00 220.17 219.97 225.28 225.07 227.25 229.45 231.43 232.73 237.42 241.62 243.49 245.87 247.59 250.49 252.77 255.28 261.35 266.46 267.54 269.14 270.38 272.38 278.75 286.47 288.76 289.27 289.94 290.15 290.17 291.93 292.36 293.30 296.33 301.30 304.35 Perumahan Kesehatan Pendidikan, Rekreasi & Olahraga Transpor dan Komunikasi Perubahan Indeks Umum

Sandang

Umum

1994 2) 1995 1996 1997 1998 Januari - Maret April - Juni 3) Juli - September Oktober - Desember 1999 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober 4) November Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1) 2) 3) 4)

156.97 179.14 189.99 227.88 263.22 166.71 196.39 261.00 163.22 281.09 287.60 281.65 275.09 271.38 268.25 258.96 248.54 239.06 237.24 240.00 249.54 256.85 256.00 250.16 246.16 246.08 246.47 251.39 246.68 240.76 241.37 246.96 259.53 258.68 263.04 265.51 262.89 266.84 270.43 274.88 268.42 266.45 269.53 282.50 290.74 298.72 308.00 299.31 293.58 295.29 294.47 293.99 292.43 293.48 294.96 309.80 317.29

178.57 188.93 198.00 210.36 159.03 128.61 139.17 155.92 159.03 160.62 162.06 162.92 164.04 164.91 165.34 166.06 165.87 166.12 166.45 165.93 166.77 167.56 168.34 169.05 171.03 174.18 174.87 176.06 176.71 177.93 180.60 182.93 183.61 184.74 185.96 188.19 190.09 191.63 194.72 197.93 199.69 203.04 203.89 206.05 208.57 213.58 217.15 219.02 219.96 221.68 223.80 225.83 227.64 230.07 231.00 232.64 235.08

147.53 157.42 166.76 179.96 219.71 161.39 195.29 225.22 219.71 232.11 234.23 234.71 233.58 231.18 228.32 224.69 226.56 229.63 232.23 228.38 233.21 237.47 239.79 240.09 240.50 242.55 244.54 248.54 247.01 247.12 248.68 249.95 256.98 259.03 258.88 260.70 264.85 270.08 271.94 272.10 264.80 266.57 271.77 274.81 277.90 278.74 279.69 279.34 279.08 278.95 278.28 279.15 279.64 280.15 281.18 283.72 285.38

161.69 173.33 190.72 206.72 212.54 155.88 171.97 204.49 212.54 214.07 214.12 215.80 216.57 217.60 218.22 219.48 220.98 220.00 220.06 219.97 220.37 220.87 221.85 222.43 224.87 225.76 226.50 229.42 230.43 236.19 238.16 240.47 241.46 242.26 244.77 247.97 252.17 254.79 257.03 259.74 260.26 260.62 261.32 262.26 262.99 264.94 266.50 268.06 269.41 271.22 272.37 273.77 275.18 275.96 276.62 277.03 277.79

161.84 134.74 140.84 162.17 161.84 161.40 161.89 162.05 162.04 162.59 163.06 163.87 166.48 169.52 170.17 170.42 170.44 170.43 170.23 171.83 173.50 174.91 175.41 178.51 195.70 198.02 199.24 199.50 200.28 200.61 201.38 202.17 203.41 203.89 204.61 209.40 218.08 222.74 223.38 223.57 224.12 224.60 225.50 226.25 226.30 226.93 226.57 236.77 242.78 247.43 247.99 248.15 248.43

163.70 119.74 150.38 163.18 163.70 164.95 164.29 169.16 169.07 170.06 170.23 169.94 169.68 169.94 171.31 171.56 172.20 173.68 173.45 174.01 176.83 181.19 182.54 183.37 184.69 186.65 191.19 191.78 194.00 193.21 194.29 195.00 196.06 197.42 204.14 218.09 218.12 219.75 219.99 220.14 221.47 223.18 225.78 235.88 237.96 246.06 251.21 253.42 253.19 252.19 253.77 254.21 255.85

163.17 177.83 189.62 211.62 198.64 142.15 163.89 196.23 198.64 204.54 207.12 206.75 205.34 204.76 204.07 201.93 200.05 198.68 198.79 199.00 202.45 205.12 205.27 204.34 205.48 207.21 208.24 210.91 211.99 211.87 214.33 217.15 221.37 222.10 224.04 226.04 227.07 229.63 233.46 238.52 237.92 239.44 241.06 245.18 249.15 254.12 257.93 257.87 257.26 259.31 260.25 262.38 263.13 264.53 265.95 270.87 274.13

9.24 8.64 6.47 11.05 1.23 27.11 15.29 19.73 1.23 2.01 2.97 1.26 -0.18 -0.68 -0.28 -0.34 -1.05 -0.93 -0.68 0.06 0.25 1.73 9.35 1.32 0.07 -0.45 0.56 0.84 0.50 1.28 0.51 -0.06 1.16 1.32 1.94 12.55 0.33 0.87 0.89 0.46 1.13 1.67 2.12 -0.21 0.64 0.68 1.71 1.62 10.03 1.99 1.50 -0.02 -0.24 0.80 0.36 0.82 0.29 0.53 0.54 1.85 1.20

Angka tahunan/triwulanan adalah angka akhir periode yang bersangkutan Berdasarkan April 1988 - Maret 1989 = 100 dengan 4 kelompok: kolom (2) adalah kelompok Makanan; kolom (6) adalah kelompok Aneka Barang dan Jasa Berdasarkan Januari 1996 - Desember 1996 = 100, IHK dihitung di 44 kota dan dibagi menjadi 7 kelompok Sejak Oktober 1999, IHK dihitung di 43 kota (minus kota Dili)

308

Sumber : Badan Pusat Statistik

Lampiran

Tabel 15 Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia 1)

Perubahan 2002 Kelompok 1998 1999 2000 2001 2002 terhadap 2001 (%) Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Impor Ekspor Migas Nonmigas Indeks Umum 750 396 455 598 592 474 994 568 410 214 268 289 366 355 370 314 459 236 278 316 461 634 393 353 567 275 309 356 521 669 462 403 614 308 339 345 497 615 450 414 34 30 22 9 8 -3 14 17

1)

Angka tahunan merupakan rata-rata Indeks selama satu tahun yang bersangkutan Tahun 1996 - 1998, perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1983 (1983=100) Tahun 1999 - 2001, perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1993 (1993=100)

Sumber : Badan Pusat Statistik

309

Lampiran

Tabel 16 Perkembangan Laju Inflasi di 43 Kota (Persen)

Kota Lhokseumawe Banda Aceh Padang Sidempuan Sibolga Pematang Siantar Medan Padang Pekanbaru Batam Jambi Palembang Bengkulu Bandar Lampung Jakarta Tasikmalaya Serang/Cilegon Bandung Cirebon Purwokerto Surakarta Semarang Tegal Yogyakarta Jember Kediri Malang Surabaya Denpasar Mataram Kupang Pontianak Sampit Palangkaraya Banjarmasin Balikpapan Samarinda Manado Palu Makasar Kendari Ternate Ambon Jayapura Inflasi Nasional

1998 1) 79.66 79.01 85.72 85.01 80.23 83.81 87.20 75.86 52.89 72.31 89.18 84.10 85.22 74.42 73.55 65.43 72.59 62.23 80.93 66.38 67.19 67.73 77.46 84.95 77.08 93.16 95.21 75.11 90.50 62.58 78.85 75.94 74.65 74.43 75.10 68.31 74.24 95.18 80.86 97.79 72.98 75.82 61.83 77.63

1999 2) 6.61 5.57 -0.14 1.65 -0.54 1.68 4.23 4.35 -0.28 0.49 -1.01 0.47 3.34 1.77 1.58 -0.04 4.29 4.75 0.99 0.46 1.51 1.11 2.51 3.16 -0.64 1.49 0.24 4.39 0.59 10.65 4.49 -4.98 -0.13 1.47 3.01 3.69 7.41 3.58 1.64 1.29 0.38 8.26 3.49 2.01

2000 8.73 10.57 3.95 6.95 4.67 5.90 10.99 10.34 9.00 8.40 8.49 8.21 10.18 10.29 4.57 7.03 8.52 6.52 10.02 7.89 8.73 7.85 7.32 10.35 7.05 10.62 10.46 9.81 5.19 10.62 8.34 11.87 8.57 7.57 10.67 11.91 11.41 8.41 9.73 11.25 14.51 8.52 10.23 9.35

2001 11.67 16.60 9.84 8.66 13.55 15.50 9.86 14.65 12.64 10.11 15.15 10.58 12.94 11.52 16.71 12.75 11.91 12.93 11.76 15.58 13.98 11.26 12.56 13.92 15.91 12.45 14.13 11.52 14.76 12.34 10.60 14.69 13.35 8.36 10.82 10.21 13.30 18.73 11.77 12.56 13.71 14.12 14.00 12.55

2002 10.99 10.14 10.18 11.58 9.41 9.49 10.22 11.66 9.14 12.62 12.25 10.11 10.32 9.08 10.29 9.68 11.97 10.53 8.77 8.64 13.56 11.27 12.01 9.75 8.87 9.74 9.15 12.49 7.96 9.77 8.61 7.59 9.18 9.18 11.38 10.26 15.22 13.36 8.25 10.35 6.40 9.47 13.91 10.03

Keterangan 1) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 44 kota dan terbagi menjadi tujuh kelompok 2) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 43 kota (minus kota Dili) dan terbagi menjadi tujuh kelompok Sumber : Badan Pusat Statistik

310

Lampiran

Tabel 17 Neraca Pembayaran Indonesia (Juta $)

Rincian

1998

1999

2000

2001

2002*

A . Transaksi Berjalan 1. Barang a. Ekspor fob - Nonmigas - Migas b. Impor fob - Nonmigas - Migas 2. Jasa-jasa (bersih) - Nonmigas - Migas B. Lalu Lintas Modal 1. Lalu Lintas Modal Pemerintah (bersih) a. Penerimaan - Bantuan program - Bantuan pangan - IGGI/CGI - Diluar IGGI/CGI b. Pelunasan pinjaman 1/ 2. Lalu Lintas Modal Swasta (bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih)

4.097 18.429 50.370 42.951 7.419 -31.942 -29.087 -2.855 -14.332 -11.420 -2.911 -3.876 9.970 13.174 1.821 160 2.787 8.406 -3.204 -13.846 -356 -13.490 221 2.123 -2.344

5.783 20.644 51.242 40.988 10.255 -30.598 -26.631 -3.967 -14.861 -11.660 -3.201 -4.571 5.352 7.932 3.870 273 2.408 1.381 -2.581 -9.923 -2.745 -7.178 1.213 2.079 -3.292

7.991 25.042 65.407 50.341 15.066 -40.365 -34.378 -5.988 -17.051 -12.500 -4.551 -6.772 3.217 4.986 1.361 76 2.420 1.130 -1.769 -9.989 -4.550 -5.439 1.219 3.823 -5.042

6.901 22.696 57.365 44.805 12.560 -34.668 -28.961 -5.707 -15.795 -11.501 -4.294 -8.992 -741 1.107 507 0 1.963 -1.363 -1.847 -8.252 -5.876 -2.375 -2.091 713 1.378

7.262 23.147 57.970 45.253 12.717 -34.823 -28.259 -6.564 -15.885 -11.641 -4.244 -3.592 -556 1.266 773 0 1.358 -865 -1.823 -3.035 -6.940 3.905 3.670 -115 -3.555

C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu-lintas Moneter
2/

1/ Setelah diperhitungkan rescheduling 2/ Minus (-) : Surplus, dan sebaliknya

311

Lampiran

Tabel 18 Nilai Ekspor Nonmigas menurut Komoditas (Juta $)

Rincian Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan & hasilnya - Udang Kulit Lainnya Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu bara Lainnya Industri Tekstil & produk tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & psw. mekanik Lainnya

1998 42.951 5.091 53 1.006 602 169 195 139 21 1.779 1.041 72 1.056 4.703 260 1.792 165 202 1.669 614 33.157 7.034 3.769 2.089 4.245 2.328 39 888 51 2.098 1.387 2.813 87 2.471 415 269 1.583 935 1.478 5.275

1999 40.987 4.179 86 854 465 102 183 108 23 1.574 886 74 710 4.130 242 1.441 219 138 1.665 425 32.678 6.291 3.450 569 4.526 2.259 255 1.369 47 1.835 1.078 3.365 143 2.645 374 279 1.519 860 1.853 5.670

2000 50.341 4.152 97 883 327 115 227 80 11 1.622 971 94 695 5.566 234 2.272 360 260 1.635 805 40.623 7.317 4.067 548 4.495 1.996 296 1.265 62 2.259 1.217 6.366 141 3.046 440 349 1.620 1.216 3.783 6.205

2001 44.805 3.557 105 810 161 97 105 95 12 1.499 864 81 592 5.620 245 2.416 299 212 1.945 503 35.628 6.752 3.821 532 3.962 1.725 272 1.343 49 2.146 1.131 6.115 170 2.677 429 306 1.433 1.024 3.054 4.233

2002* 45.253 3.921 58 963 220 114 77 74 4 1.467 772 68 875 5.370 287 2.224 47 233 2.144 436 35.962 6.116 3.256 501 3.783 1.515 280 2.068 64 2.242 1.043 6.562 113 2.500 520 309 1.349 1.053 3.128 4.329

312

Lampiran

Tabel 19 Volume Ekspor Nonmigas menurut Komoditas (Ribu ton)

Rincian

1998

1999

2000

2001

2002*

Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%)
199.771 5.936 489 1.584 411 113 45 114 211 949 165 13 2.007 154.226 49 2.946 1.409 1.076 52.411 96.335 39.609 1.635 414 223 7.302 5.157 14 1.700 984 6.883 3.391 381 3.736 5.585 203 957 173 1.244 763 4.435 100,0 3,0 0,2 0,8 0,2 0,1 0,0 0,1 0,1 0,5 0,1 0,0 1,0 77,2 0,0 1,5 0,7 0,5 26,2 48,2 19,8 0,8 0,2 0,1 3,7 2,6 0,0 0,9 0,5 3,4 1,7 0,2 1,9 2,8 0,1 0,5 0,1 0,6 0,4 2,2 175.610 5.395 679 1.544 362 107 35 78 300 819 164 38 1.433 116.809 47 2.261 2.008 1.125 53.899 57.469 49.307 1.525 333 196 6.791 4.302 114 3.600 983 5.378 3.191 437 7.383 9.048 209 1.555 165 1.045 166 7.156 100,0 3,1 0,4 0,9 0,2 0,1 0,0 0,0 0,2 0,5 0,1 0,0 0,8 66,5 0,0 1,3 1,1 0,6 30,7 32,7 28,1 0,9 0,2 0,1 3,9 2,4 0,1 2,0 0,6 3,1 1,8 0,2 4,2 5,2 0,1 0,9 0,1 0,6 0,1 4,1 172.032 4.467 685 1.410 363 109 67 32 161 664 182 11 965 125.015 46 3.144 1.918 1.204 59.742 58.961 42.550 1.677 351 205 6.770 3.970 130 4.521 1.225 5.916 1.515 692 7.292 5.048 279 960 157 1.195 288 4.680 100,0 2,6 0,4 0,8 0,2 0,1 0,0 0,0 0,1 0,4 0,1 0,0 0,6 72,7 0,0 1,8 1,1 0,7 34,7 34,3 24,7 1,0 0,2 0,1 3,9 2,3 0,1 2,6 0,7 3,4 0,9 0,4 4,2 2,9 0,2 0,6 0,1 0,7 0,2 2,7 226.385 4.579 849 1.554 270 96 54 46 173 567 147 10 960 174.330 70 3.110 2.414 1.318 68.496 98.922 47.476 1.685 347 246 6.242 3.668 110 5.728 1.309 5.604 1.667 689 10.190 4.626 264 807 148 1.006 278 6.877 100,0 2,0 0,4 0,7 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,3 0,1 0,0 0,4 77,0 0,0 1,4 1,1 0,6 30,3 43,7 21,0 0,7 0,2 0,1 2,8 1,6 0,0 2,5 0,6 2,5 0,7 0,3 4,5 2,0 0,1 0,4 0,1 0,4 0,1 3,0 195.480 4.220 952 1.288 222 91 64 57 109 649 180 11 777 142.392 74 3.492 18.003 1.471 69.021 50.331 48.868 1.950 379 248 6.660 3.792 126 4.153 854 5.914 2.042 753 12.268 5.560 246 1.580 142 1.356 330 4.686 100,0 2,2 0,5 0,7 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,3 0,1 0,0 0,4 72,8 0,0 1,8 9,2 0,8 35,3 25,7 25,0 1,0 0,2 0,1 3,4 1,9 0,1 2,1 0,4 3,0 1,0 0,4 6,3 2,8 0,1 0,8 0,1 0,7 0,2 2,4

Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan & hasilnya - Udang Kulit Lainnya Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu bara Lainnya Industri Tekstil & produk tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & psw. mekanik Lainnya

313

Lampiran

Tabel 20 Nilai Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan (Juta $)

Benua/negara
Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia ASEAN Brunei Malaysia Filipina Singapura Thailand Hongkong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Arab Saudi Taiwan Lain-lain Australia/Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lainnya Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain Lain-lain

1998 Nilai
904 7.815 6.383 459 409 564 24.831 8.723 43 1.358 608 5.798 916 2.037 782 45 5.964 1.166 175 152 1.320 476 1.288 2.702 910 8.491 7.474 1.488 773 1.120 729 1.458 545 1.360 67 310 640

1999 Nilai
1.032 7.679 6.297 429 346 607 23.573 7.982 26 1.388 646 4.998 923 1.400 807 63 5.791 1.287 101 151 1.486 428 1.234 2.846 1.058 7.645 6.744 1.464 687 1.175 605 1.217 506 1.090 49 232 621

2000

2001

2002* Nilai Pangsa (%)
1.085 8.637 7.319 554 369 395 25.718 8.811 32 1.887 783 5.123 986 1.186 1.166 26 6.256 1.795 54 241 2.060 464 1.177 2.483 1.365 8.448 7.363 1.469 776 1.454 598 1.235 611 1.220 67 301 717 2,4 19,1 16,2 1,2 0,8 0,9 56,8 19,5 0,1 4,2 1,7 11,3 2,2 2,6 2,6 0,1 13,8 4,0 0,1 0,5 4,6 1,0 2,6 5,5 3,0 18,7 16,3 3,2 1,7 3,2 1,3 2,7 1,3 2,7 0,1 0,7 1,6

Pangsa (%)
2,1 18,2 14,9 1,1 1,0 1,3 57,8 20,3 0,1 3,2 1,4 13,5 2,1 4,7 1,8 0,1 13,9 2,7 0,4 0,4 3,1 1,1 3,0 6,3 2,1 19,8 17,4 3,5 1,8 2,6 1,7 3,4 1,3 3,2 0,2 0,7 1,5

Pangsa (%)
2,5 18,7 15,4 1,0 0,8 1,5 57,5 19,5 0,1 3,4 1,6 12,2 2,3 3,4 2,0 0,2 14,1 3,1 0,2 0,4 3,6 1,0 3,0 6,9 2,6 18,7 16,5 3,6 1,7 2,9 1,5 3,0 1,2 2,7 0,1 0,6 1,5

Nilai Pangsa (%) Nilai Pangsa (%)
1.157 9.993 8.463 626 446 458 28.579 9.748 24 1.861 861 6.073 928 1.574 1.088 95 7.844 1.710 64 148 1.828 535 1.487 2.458 1.080 9.532 8.774 1.895 892 1.575 708 1.435 730 1.540 81 243 433 2,3 19,9 16,8 1,2 0,9 0,9 56,8 19,4 0,0 3,7 1,7 12,1 1,8 3,1 2,2 0,2 15,6 3,4 0,1 0,3 3,6 1,1 3,0 4,9 2,1 18,9 17,4 3,8 1,8 3,1 1,4 2,9 1,5 3,1 0,2 0,5 0,9 1.120 8.753 7.385 557 405 406 25.219 8.555 29 1.706 807 5.058 955 1.267 981 89 6.934 1.634 66 182 1.573 477 1.228 2.232 1.029 8.683 7.719 1.639 730 1.594 605 1.277 598 1.275 60 237 667 2,5 19,5 16,5 1,2 0,9 0,9 56,3 19,1 0,1 3,8 1,8 11,3 2,1 2,8 2,2 0,2 15,5 3,6 0,1 0,4 3,5 1,1 2,7 5,0 2,3 19,4 17,2 3,7 1,6 3,6 1,3 2,9 1,3 2,8 0,1 0,5 1,5

TOTAL

42.951

100,0

40.987

100,0

50.341

100,0

44.805

100,0

45.253

100,0

314

Lampiran

Tabel 21 Nilai Impor Nonmigas Menurut Negara Tujuan (C&F) (Juta $)

Benua/negara

1998 Nilai
399 5.841 3.482 462 468 1.428 15.857 2.646 2 380 77 1.320 867 260 286 3 4.641 1.356 10 140 981 117 974 4.443 1.785 8.256 5.456 349 256 861 528 2.652 564 246 166 74 2.560

1999 Nilai
458 5.213 3.817 726 601 70 15.459 4.194 2 679 91 2.189 1.233 349 403 0 4.472 1.753 26 125 1.712 203 1.170 1.053 2.139 5.727 4.561 489 251 769 362 1.758 513 418 188 64 914

2000

2001

2002* Nilai Pangsa (%)
390 4.340 3.229 557 512 42 17.916 4.693 2 948 142 2.221 1.380 293 794 0 5.500 1.790 46 61 2.600 211 1.283 644 2.114 5.628 4.281 446 247 526 566 1.648 523 324 226 92 1.030 1,3 14,3 10,6 1,8 1,7 0,1 59,0 15,4 0,0 3,1 0,5 7,3 4,5 1,0 2,6 0,0 18,1 5,9 0,2 0,2 8,6 0,7 4,2 2,1 7,0 18,5 14,1 1,5 0,8 1,7 1,9 5,4 1,7 1,1 0,7 0,3 3,4

Pangsa (%)
1,2 18,2 10,8 1,4 1,5 4,4 49,3 8,2 0,0 1,2 0,2 4,1 2,7 0,8 0,9 0,0 14,4 4,2 0,0 0,4 3,1 0,4 3,0 13,8 5,6 25,7 17,0 1,1 0,8 2,7 1,6 8,3 1,8 0,8 0,5 0,2 8

Pangsa (%)
1,6 18,0 13,2 2,5 2,1 0,2 53,3 14,5 0,0 2,3 0,3 7,6 4,3 1,2 1,4 0,0 15,4 6,0 0,1 0,4 5,9 0,7 4,0 3,6 7,4 19,8 15,7 1,7 0,9 2,7 1,3 6,1 1,8 1,4 0,6 0,2 3,2

Nilai Pangsa (%) Nilai Pangsa (%)
496 6.086 4.362 722 868 133 20.996 5.077 2 906 159 2.613 1.397 488 627 0 7.094 2.474 29 73 2.414 301 1.718 700 2.558 6.950 5.255 611 395 934 455 1.727 648 485 319 65 1.312,4 1,3 16,4 11,8 1,9 2,3 0,4 56,6 13,7 0,0 2,4 0,4 7,0 3,8 1,3 1,7 0,0 19,1 6,7 0,1 0,2 6,5 0,8 4,6 1,9 6,9 18,7 14,2 1,6 1,1 2,5 1,2 4,7 1,7 1,3 0,9 0,2 3,5 540 4.943 3.926 469 486 61 17.657 4.675 2 882 122 2.414 1.255 326 638 3 5.298 2.264 26 89 2.086 264 1.430 557 2.386 5.803 4.543 440 270 757 522 1.644 517 392 210 57 992,6 1,7 15,8 12,5 1,5 1,6 0,2 56,4 14,9 0,0 2,8 0,4 7,7 4,0 1,0 2,0 0,0 16,9 7,2 0,1 0,3 6,7 0,8 4,6 1,8 7,6 18,5 14,5 1,4 0,9 2,4 1,7 5,2 1,6 1,3 0,7 0,2 3,2

Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia ASEAN Brunei Malaysia Filipina Singapura Thailand Hongkong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Arab Saudi Taiwan Lain-lain Australia/Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lainnya Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain Lain-lain

TOTAL

32.137

100

28.997

100

37.087

100

31.328

100

30.388

100,0

315

Lampiran

Tabel 22 Ekspor Migas 1)

Negara

1998

1999

2000

2001

20021)

Nilai Ekspor2) Minyak Bumi dan hasilnya Gas - LNG - LPG 3.046 233 4.207 369 6.756 356 5.270 369 5.728 310 4.141 5.680 7.954 6.921 6.679

Total Volume Ekspor Minyak Bumi dan hasilnya (juta barel) Gas - LNG (juta MMBTU)3) - LPG (ribuan Mton)

7.420

10.256

15.066

12.560

12.717

340

336

291

297

275

1.384 1.620

1.511 1.865

1.400 1.215

1.222 1.458

1.377 1.297

1) 2) 3)

Nilai fob Sistem klasifikasi barang berubah dari sistem CCN ke HS sehingga beberapa barang ekspor mengalami pergeseran dalam pengelompokannya Terdiri atas minyak mentah dan hasil-hasil minyak dalam juta $ MMBTU : Million British Thermal Unit

316

Lampiran

Tabel 23 Uang Beredar (Miliar rupiah)

M1 1) Akhir Periode Posisi Pangsa (%) 17,5 17,5 19,3 21,7 19,3 20,1 21,0 21,1 19,9 20,1 20,0 20,4 20,2 20,8 20,3 20,5 21,1 21,1 22,6 21,7

Uang Kuasi 2) Posisi Pangsa (%) 82,5 82,5 80,7 78,3 80,7 79,9 79,0 78,9 80,1 79,9 80,0 79,6 79,8 79,2 79,7 79,5 78,9 78,9 77,4 78,3 Posisi

M2 3) Perubahan (%) Tahunan Triwulanan 62,3 34,1 11,9 15,6 16,8 16,4 14,1 13,0 13,4 10,8 8,4 4,6 5,7 5,3 10,6 10,7 9,8 6,7 5,9 4,7 4,9 4,5 -0,9 8,8 2,6 3,9 -1,7 7,8

1998 1998/1999 1999 4) 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

101.197 105.705 124.633 162.186 148.375 160.142 164.237 177.731 166.769 168.643 166.173 169.002 168.257 174.017 173.524 175.966 181.791 181.667 196.537 191.939

476.184 497.620 521.572 584.842 618.437 636.298 618.867 666.323 671.253 668.517 665.238 659.276 664.827 664.618 679.194 680.869 677.915 681.343 673.509 691.969

577.381 603.325 646.205 747.028 766.812 796.440 783.104 844.053 838.022 837.160 831.411 828.278 833.084 838.635 852.718 856.835 859.706 863.010 870.046 883.908

-1,5

0,9

2,5

2,8

1) Terdiri atas uang kartal dan uang giral 2) Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan, dalam rupiah dan valuta asing serta giro valuta asing milik penduduk 3) Terdiri atas uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi 4) Data statistik Bank Beku Operasional telah dikeluarkan (7 Bank sejak April 1998, 3 bank sejak Agustus 1998, dan 38 bank sejak Maret 1999)

317

Lampiran

Tabel 24 Perubahan Uang Beredar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Miliar rupiah)

2002 Rincian 1998 1999 2000 2001 2002 I Uang Beredar M2 M1 Kartal Giral Kuasi 1) Faktor yang Mempengaruhi Aktiva Luar Negeri Bersih Tagihan Kepada Pemerintah Bersih Tagihan Bersih kepada BPPN Tagihan Kepada Sektor Swasta Tagihan Kepada Lembaga/ Perusahaan Pemerintah Tagihan Kepada Perusahaan Swasta dan Perorangan Aktiva Lainnya Bersih II III IV

221.738 22.854 12.970 9.884 198.884

68.824 100.823 23.436 37.553 16.959 14.018 6.477 23.535 45.388 63.270

97.026 15.545 3.971 11.574 81.481

39.854 14.208 4.344 9.864 25.646

-12.642 -11.558 -6.626 -4.932 -1.085

7.224 7.844 2.259 5.585 -620

21.071 7.774 782 6.992 13.297

24.202 10.148 7.929 2.219 14.054

73.692 17.513 29.693 99.421 6.389 93.032 1.419

-12.581 425.287 -29.693 -299.689 -8.139

81.637 123.060 42.347 -4.505

23.242 9.389 34.233 3.910 30.323 30.162

16.721 -19.355 60.143 4.689 55.454 -17.655

-12.740 14.950 -5.614 -1.521 -4.093 -9.238

-14.875 -4.954 9.567 3.485 6.082 17.487

32.500 -10.052 30.547 1.987 28.560 -31.924

11.836 -19.300 25.643 738 24.905 6.023

-291.550 46.852 -14.500 -146.221

1) Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan dalam rupiah maupun valuta asing serta giro valuta asing milik penduduk

318

Lampiran

Tabel 25 Suku Bunga Deposito dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank (Persen per tahun)

1)

Desember 1998 Jangka Waktu Rupiah Bank Persero 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Swasta Nasional 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Pemerintah Daerah 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Asing & Campuran 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Umum 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Valas

Desember 1999 Rupiah Valas

Desember 2000 Rupiah Valas

Desember 2001 Rupiah Valas

Desember 2002 Rupiah Valas

41,24 48,69 35,17 28,75 16,01

13,23 13,70 8,14 12,61 14,87

12,52 13,19 14,44 23,14 18,53

5,44 5,45 7,94 8,91 14,87

12,05 13,33 13,42 12,48 14,32

6,37 6,59 6,17 6,24 10,23

16,59 17,47 16,55 15,81 18,06

4,95 5,36 5,67 5,95 6,34

12,84 13,65 13,86 15,67 18,05

2,63 2,73 2,71 3,32 5,57

41,88 50,24 33,34 26,16 22,85

12,72 10,64 10,21 11,49 14,91

12,14 12,66 13,55 17,07 17,59

5,34 5,68 7,98 16,63 8,02

12,05 13,20 13,16 11,50 14,22

6,07 6,43 6,23 11,39 8,14

15,83 16,94 15,58 14,74 17,22

4,05 4,90 5,32 5,70 6,27

12,90 13,77 13,91 14,73 17,18

2,32 2,67 2,73 3,25 6,23

42,05 45,35 29,46 23,91 14,03

12,99 10,99 10,43 12,94 ...

12,20 12,51 13,46 16,17 13,73

5,09 6,19 5,18 5,67 ...

11,39 12,92 12,94 11,43 13,44

4,97 4,56 5,13 5,05 ...

15,04 15,98 15,61 14,99 17,42

5,05 4,71 5,48 5,37 ...

12,81 13,56 14,14 14,44 17,72

2,48 2,65 4,17 3,50 …

33,07 40,84 44,42 31,74 15,57

4,71 4,71 5,15 5,17 3,59

9,46 9,24 9,05 13,46 11,67

4,08 4,03 4,31 4,67 4,00

9,73 11,21 8,13 8,51 13,00

4,61 4,81 4,12 5,09 6,05

12,96 12,35 11,63 12,99 8,72

1,92 2,00 2,58 3,40 2,53

10,50 9,89 9,66 11,68 15,97

1,86 1,92 2,39 2,40 3,21

41,42 49,23 36,78 28,29 16,61

12,11 10,73 8,22 11,66 14,71

12,24 12,95 14,25 22,35 18,38

5,15 5,24 7,85 9,11 14,63

11,96 13,24 13,31 12,17 14,32

5,94 6,11 5,72 7,86 9,47

16,07 17,24 16,18 15,48 18,05

4,18 4,35 5,12 5,62 6,32

12,81 13,63 13,79 15,28 18,02

2,44 2,65 2,70 3,24 5,28

1) Rata-rata tertimbang pada akhir periode

319

Lampiran

Tabel 26 Pasar Uang Antarbank di Jakarta (Rata-rata Volume Transaksi PUAB Pagi & Sore Berbagai Tenor)

1)

Akhir periode

Nilai Transaksi (Miliar Rupiah) 13.624 4.411 2.272 3.194 14.309 15.148 15.884 9.154 5.165 5.254 3.393 3.831 1.806 1.916 2.488 2.877 3.071 3.106 3.335 3.264 3.168 4.234 3.816 3.739 3.825 3.838 3.969 3.878 3.437 3.921 4.060 3.806 4.005 3.386 3.332 3.574

Suku Bunga Rata-Rata Tertimbang (Persen per Tahun) 63,14 23,79 10,46 14,56 57,36 66,38 74,13 54,68 39,57 29,70 13,44 12,43 9,50 10,03 10,89 11,43 12,71 14,45 15,15 15,93 15,67 17,18 15,70 16,18 15,69 15,05 14,83 15,19 14,51 13,73 12,43 13,56 12,80 11,46 11,31 11,86

1998 1999 2000 2001 1998

Januari Januari Januari Januari

-

Desember Desember Desember Desember

Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember
1)

1999

2000

2001

2002

Januari Februari Maret Januari - Maret April Mei Juni April - Juni Juli Agustus September Juli - September Oktober November Desember Oktober - Desember

1)

Angka rata-rata harian

320

Lampiran

Tabel 27 Tingkat Diskonto Sertifikat Deposito Rupiah menurut Kelompok Bank (Persen per tahun) 1999 Jangka Waktu Desember 2000 Desember Maret Juni 2001 September Desember Maret Juni

1)

2002 September Desember

Bank 1 3 6 12 24 Bank 1 3 6 12 24 Bank 1 3 6 12 24 Bank 1 3 6 12 24 Bank 1 3 6 12 24
1)

Persero Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Swasta Nasional Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Pemerintah Daerah Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Asing & Campuran Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Umum Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan

37,96 36,94 28,13 23,60 14,22

12,04 12,95 11,62 11,66 11,50

13,26 13,05 11,36 12,04 13,70

15,33 14,99 14,84 14,89 16,30

16,22 16,26 15,15 15,88 16,28

16,48 17,51 14,25 16,03 16,28

16,19 17,19 17,49 16,18 16,29

13,99 16,58 17,12 16,16 16,33

13,29 14,34 15,30 15,81 16,83

12,91 13,26 15,06 14,72 15,05

38,77 39,53 32,62 52,40 30,00

12,59 11,81 13,24 12,12 -

14,20 12,93 14,16 12,73 -

14,50 14,35 14,81 12,81 -

16,76 15,49 15,34 17,19 -

17,28 16,81 15,77 17,62 -

17,11 17,07 16,69 17,44 -

15,85 16,28 17,01 17,45 -

14,52 15,25 16,08 13,97 -

13,76 13,75 15,24 14,65 -

31,90 35,48 26,26 25,21 14,50

11,26 13,88 12,00 13,81 -

11,98 15,62 12,00 13,83 -

13,95 15,78 12,49 14,60 -

14,69 17,24 12,50 14,54 -

15,85 18,19 13,00 -

16,38 18,09 15,46 -

14,98 16,92 15,92 -

14,00 15,03 15,00 14,77 -

12,16 14,23 15,00 15,68 -

48,41 34,00 35,50 -

9,43 9,70 8,28 7,90 -

10,05 10,06 8,64 8,20 -

10,63 11,43 8,70 8,33 -

10,93 12,43 9,00 8,38 -

11,90 13,78 10,24 8,40 -

-

-

-

-

39,57 38,68 30,89 28,77 14,53

12,47 11,83 12,00 12,11 11,50

14,09 12,89 12,00 12,65 13,70

14,60 14,40 14,81 13,97 16,30

16,55 15,58 15,18 16,39 16,28

16,81 16,97 14,65 16,50 16,28

16,75 17,12 17,39 16,52 16,29

15,73 16,41 17,09 16,49 16,33

14,45 14,99 15,39 15,68 16,33

13,57 13,67 15,07 14,72 15,05

Rata-rata tertimbang pada akhir periode

321

Lampiran

Tabel 28 Penerbitan, Pelunasan, dan Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) (Miliar rupiah)

Akhir Periode

Penerbitan

Pelunasan

Posisi1)

Januari - Desember 1998 Januari - Desember 1999 Januari - Desember 2000 Januari - Desember 2001 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

735.844 711.542 928.944 970.380

700.182 691.408 937.212 974.669

42.765 62.899 59.781 900.128

115.374 95.005 84.089 84.146 100.496 83.004 81.778 97.668 73.122 93.556 63.425 53.157

66.731 95.621 87.670 89.451 93.673 82.129 84.520 98.751 74.101 97.423 71.617 60.000

104.385 103.769 100.188 94.883 101.706 102.581 99.839 98.756 97.777 93.910 85.718 78.484

Keterangan : Penerbitan SBI dimulai pada bulan Februari 1984, dan sejak Juli 1998 penjualan SBI dilakukan melalui lelang dengan sistem SOR (Stop Out Rate) 1) Angka rata-rata harian

322

Lampiran

Tabel 29 Tingkat Diskonto SBI1) (Persen per tahun)

Periode
1998 Maret Juni September Desember 1999 Maret Juni September Desember 2000 Maret Juni September Desember 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

7 hari

14 hari

28 hari

90 hari

180 hari

360 hari

29,24 -

52,81 -

27,75 58,00 68,76 38,44

39,00

-

-

-

-

37,84 22,05 13,02 12,51 11,03 11,74 13,62 14,53

38,00 23,75 13,25 12,75 11,00 11,09 13,32 14,31

-

-

15,16 16,52 17,65 17,62

14,94 16,28 17,56 17,63

-

-

17,09 16,86 16,76 16,61 15,51 15,11 14,93 14,35 13,22 13,10 13,06 13,02

17,43 17,01 16,89 16,75 16,29 15,18 15,00 14,93 14,11 13,12 13,12 13,12

-

-

1) Rata-rata tertimbang

323

Lampiran

Tabel 30 Transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) antara Bank Indonesia dan Bank-bank (Miliar rupiah)

Periode

Pembelian

Pelunasan

Posisi

1998 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 1999 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 2000 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 2001 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

257.109 42.929 24.136 1.342

256.474 46.873 24.057 550

4.090 146 227 1.018

1.018 0 0 644

1.018 0 0 1.662

1.018 1.018 1.018 0

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

112 22 0 8

112 22 0 8

0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

324

Lampiran

Tabel 31 Pendapatan dan Belanja Negara
(Miliar rupiah)

Rincian

1998/99

1)

1999/00 1)

2000 1)

2001 1) APBN 2)

2002 Realisasi 3)
300.188 299.887 210.954 200.325 101.675 84.460 17.215 65.853 7.524 1.629 23.341 1.470 10.629 10.399 230 88.933 65.222 47.689 12.325 5.208 1.850 3.155 203 9.760 13.951 301 327.863 229.341 189.069 39.687

2003 APBN
336.156 336.156 254.140 241.742 120.925 106.149 14.776 80.790 2.402 27.946 2.157 12.398 11.960 438 82.015 59.396 39.911 16.285 3.201 1.483 1.268 450 10.414 12.206 370.591 253.714 188.584 50.240 41.437 1.575 3.460 2.230 1.539 15.427 14.236 1.191 81.975 55.180 26.795 25.465 13.210 12.255 15.476 65.130 46.230 18.900 116.878 107.491 27.896 76.978 2.617 9.387

2)

Pendapatan Negara dan Hibah Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan Perpajakan Pajak dalam negeri PPh Nonmigas Migas PPN PBB Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan• Cukai Pajak lainnya Pajak perdagangan internasional Bea masuk Pajak ekspor Penerimaan bukan pajak Penerimaan Sumber Daya Alam Minyak bumi Gas alam SDA lainnya Pertambangan umum Kehutanan Perikanan Bagian laba BUMN• PNBP Hibah Belanja Negara Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Pengeluaran Rutin Belanja Pegawai Gaji dan pensiun Tunjangan beras Uang makan/lauk-pauk Lain-lain belanja pegawai dalam negeri Belanja pegawai luar negeri Belanja barang Belanja barang dalam negeri Belanja barang luar negeri Pembayaran bunga utang Utang dalam negeri Utang luar negeri Subsidi Subsidi BBM Subsidi non BBM Pengeluaran rutin lainnya Pengeluaran Pembangunan Pembiayaan rupiah Pembiayaan proyek Anggaran Belanja untuk Daerah Dana Perimbangan Dana bagi hasil Dana alokasi umum 4) Dana alokasi khusus Dana otonomi khusus dan penyeimbang

156.470 156.409 102.395 95.459 55.944 55.944 27.803 3.504 523 7.733 413 6.936 2.306 4.630 54.014 41.368 25.957 15.411 3.428 9.217 62 172.669 146.020 103.261 23.216 18.657 1.245 1.547 1.073 695 9.862 8.888 974 32.864 8.385 24.480 34.614 28.607 6.008 2.703 42.759 16.578 26.181 26.650 26.650 3.703 22.947 -

187.819 187.819 125.951 120.915 72.729 59.683 13.046 33.087 3.525 604 10.381 611 5.036 4.177 859 61.868 45.435 5.430 11.002 231.879 201.943 156.756 32.719 27.010 1.822 2.567 1.294 25 10.765 9.784 980 42.910 22.230 20.679 65.916 40.923 24.993 4.446 45.187 20.804 24.383 29.936 29.936 3.993 25.943 -

205.334 205.334 115.912 108.884 57.073 38.421 18.652 35.232 5.246 931 11.287 837 7.028 6.697 331 89.422 76.290 50.953 15.708 9.629 857 8.719 53 4.018 9.114 221.467 188.392 162.577 29.613 25.005 1.521 2.606 443 38 9.605 9.500 104 50.068 31.238 18.830 62.745 53.810 8.936 10.546 25.815 8.845 16.970 33.075 33.075 4.268 28.807 -

301.078 300.600 185.541 175.974 94.576 71.474 23.102 55.957 5.924 1.417 17.394 1.384 9.567 9.026 541 115.059 85.672 58.950 22.091 4.631 2.320 2.243 68 8.837 20.550 478 341.563 260.508 218.923 38.713

9.931 87.142 58.197 28.945 77.443 68.381 9.063 5.694 41.585 21.371 20.214 81.054 81.054 20.008 60.346 701 -

301.874 301.874 219.627 207.029 104.497 88.815 15.682 70.100 6.357 2.205 22.353 1.950 12.599 12.249 350 82.247 63.195 44.013 14.524 4.658 1.340 3.026 292 10.351 8.700 344.009 246.040 193.741 41.298 34.003 1.412 2.832 1.550 1.502 12.863 11.707 1.156 88.500 59.525 28.975 41.586 30.377 11.209 9.494 52.299 26.469 25.830 97.969 94.532 24.600 69.114 817 3.437

12.433 89.868 64.461 25.406 40.006 31.162 8.845 7.076 40.271 27.639 12.632 98.522 94.763 24.992 69.135 636 3.759

1) Perhitungan Anggaran Negara (PAN) 2) APBN yang telah disetujui DPR 3) Realisasi sementara periode 1 Januari sd 31 Desember 2002 (belum diaudit) 4) s.d. TA.2000 terdiri atas Dana Rutin Daerah dan Dana Pembangunan Daerah Sumber: Departemen Keuangan

325

Lampiran

Tabel 32 Tabel 32 Pengeluaran Pemerintah Pembiayaan
(miliar rupiah) (Miliar rupiah)

Rincian

1998/99

1)

1999/00 1)

2000 1)

2001 1) APBN
2)

2002 Realisasi
3)

2003 APBN
2)

I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan dalam negeri (SILPA/SIKPA) 4) 2. Non perbankan dalam negeri a. Privatisasi b. Penjualan aset program restrukturisasi c . Obligasi negara, neto i. Penerbitan obligasi pemerintah ii. Pembayaran cicilan pokok utang/obligasi DN II. Pembiayaan Luar Negeri, neto 1. Penarikan pinjaman luar negeri, bruto Pinjaman program Pinjaman proyek 2. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri (amortisasi) Pembiayaan Bersih

-4.799 -6.433 1.634 1.634 20.998 51.045 24.926 26.119 -30.047 16.199

14.672 -1.941 16.613 3.727 12.886 29.388 49.584 25.201 24.383 -20.196 44.060

5.937 -12.964 18.900 18.900 10.196 17.818 849 16.970 -7.623 16.132

30.218 -1.227 31.445 3.465 27.980 0 0 10.267 26.152 6.416 19.736 -15.885 40.485

23.501 23.501 3.952 19.549 3.931 -3.931 18.630 35.360 9.530 25.830 -16.730 42.131

20.561 -4.713 25.274 7.665 19.549 -1.939 1.991 -3.931 7.116 19.374 7.042 12.332 -12.259 29.162

22.450 8.500 13.950 8.000 18.000 -12.050 7.700 -19.750 11.986 29.250 10.350 18.900 -17.264 34.436

1) Perhitungan Anggaran Negara (PAN) 2) APBN yang telah disetujui DPR 3) Realisasi sementara periode 1 Januari sd 31 Desember 2002 4) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) / Sisa Kurang Pembiayaan Anggaran (SIKPA) Sumber: Departemen Keuangan

326

Lampiran

Tabel 33 Penghimpunan Dana oleh Bank Umum 1)
(Miliar rupiah)

Giro Akhir periode Dalam Rupiah 58.067 60.002 68.456 104.539 102.113 107.089 109.021 123.840 Dalam Valas 39.351 47.244 47.110 70.969 64.116 68.126 56.781 66.478 Sub Jumlah 97.418 107.246 115.566 175.508 166.228 175.214 165.802 190.318 Dalam Rupiah 2) 303.016 303.022 301.431 296.885 321.209 315.199 323.337 348.257

Deposito Tabungan Dalam Valas 103.782 109.778 85.640 93.658 99.132 111.614 92.225 97.940 Sub Valas 406.798 412.800 387.071 390.543 420.340 426.814 415.562 446.196 69.308 79.453 122.981 154.328 153.385 160.826 163.278 172.613 573.524 599.499 625.618 720.379 739.953 762.854 744.642 809.127 Jumlah

1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

114.802 115.750 113.974 117.676 115.753 119.612 119.958 120.498 125.567 125.866 127.769 130.877

66.363 65.139 63.419 63.329 58.554 60.044 67.033 63.362 69.470 73.988 74.226 73.189

181.165 180.888 177.393 181.004 174.307 179.657 186.991 183.860 195.037 199.854 201.995 204.067

357.143 355.693 358.238 357.400 360.883 362.710 364.857 371.503 368.091 366.324 361.057 365.771

96.687 96.706 94.198 89.547 90.242 82.686 85.873 87.820 86.441 86.436 81.450 81.710

453.830 452.399 452.436 446.947 451.125 445.395 450.730 459.323 454.532 452.760 442.507 447.480

167.888 166.387 165.022 166.227 166.992 171.507 174.299 172.205 174.814 178.503 180.767 193.468

802.883 799.675 794.851 794.178 792.424 796.559 812.019 815.388 824.384 831.117 825.269 845.015

1) Termasuk dana milik pemerintah dan bukan penduduk 2) Termasuk sertifikat deposito

327

Lampiran

Tabel 34 Giro dalam Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Kelompok Bank
(Miliar rupiah)

Bank Persero

Bank Swasta Nasional
Dalam Valas Sub Jumlah

Bank Pemerintah Daerah
Dalam Rupiah 4.895 4.374 7.055 10.806 Dalam Sub Valas Jumlah 13 12 15 17 4.908 4.386 7.070 10.823

Bank Asing & Campuran
Dalam Dalam Sub Dalam Rupiah Valas Jumlah Rupiah

Jumlah
Dalam Valas 39.351 47.244 47.110 70.969 Jumlah 97.418 107.246 115.566 175.508

Akhir periode

Dalam Dalam Rupiah Valas 24.751 28.271 25.407 49.205 8.476 11.624 12.483 24.284

Sub Dalam Jumlah Rupiah 33.227 39.895 37.890 73.489

1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

23.151 13.447 36.598 21.921 14.255 36.176 26.866 15.792 42.658 34.123 18.973 53.096

5.270 5.436 9.128 10.405

17.415 22.685 21.353 26.789 18.820 27.948 27.695 38.100

58.067 60.002 68.456 104.539

43.822 44.526 45.145 54.256

12.893 12.442 10.539 14.430

56.715 56.968 55.684 68.686

34.133 20.914 55.048 34.728 25.398 60.126 34.546 20.872 55.418 38.099 24.270 62.369

15.083 19.539 20.810 22.775

23 15 15 21

15.106 19.554 20.825 22.797

9.074 8.296 8.520 8.710

30.286 39.360 30.269 38.565 25.355 33.875 27.756 36.466

102.113 107.088 109.021 123.840

64.116 68.125 56.781 66.478

166.229 175.213 165.802 190.318

48.288 49.514 47.801 49.120 47.475 49.322 45.746 45.463 48.067 49.411 51.304 51.320

14.010 12.580 12.807 14.467 12.808 12.964 13.392 13.844 21.328 24.463 24.068 22.413

62.298 62.093 60.608 63.587 60.283 62.286 59.138 59.307 69.396 73.875 75.372 73.733

36.938 24.370 61.308 35.567 24.877 60.444 34.332 24.026 58.358 35.651 23.933 59.585 33.651 22.508 56.160 34.952 23.872 58.823 37.449 25.393 62.841 37.177 24.865 62.042 39.622 23.651 63.273 40.111 23.890 64.001 40.841 23.676 64.516 44.238 24.922 69.160

21.342 22.483 23.647 24.273 26.842 27.260 27.347 28.674 28.848 27.435 25.579 25.758

29 28 25 27 27 24 30 27 31 34 34 23

21.371 22.511 23.672 24.299 26.870 27.284 27.377 28.701 28.879 27.468 25.614 25.781

8.234 8.186 8.194 8.632 7.784 8.080 9.416 9.184 9.030 8.909 10.045 9.561

27.954 36.188 27.654 35.840 26.561 34.755 24.902 33.533 23.211 30.995 23.184 31.264 28.218 37.634 24.626 33.810 24.460 33.490 25.601 34.510 26.448 36.493 25.831 35.392

114.802 115.750 113.974 117.676 115.753 119.612 119.958 120.498 125.567 125.866 127.769 130.877

66.363 65.139 63.419 63.329 58.554 60.044 67.033 63.362 69.470 73.988 74.226 73.189

181.165 180.888 177.393 181.004 174.307 179.657 186.991 183.860 195.037 199.854 201.995 204.067

328

Lampiran

Tabel 35 Simpanan Berjangka Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Jangka Waktu
(Miliar rupiah)

Akhir periode

24 bulan

12 bulan

6 bulan

3 bulan

1 bulan1)

Lain-lain

Jumlah

1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

610 502 436 14.061 14.038 14.395 14.847 18.882

21.039 15.449 14.742 6.920 7.767 9.451 10.553 13.533

17.151 19.414 35.244 23.503 23.174 23.644 20.258 17.903

50.352 24.840 42.125 68.877 75.696 66.928 75.042 77.768

266.585 307.610 243.645 215.532 236.772 249.025 231.910 242.685

51.061 44.984 50.879 61.649 62.894 63.371 62.953 75.425

406.798 412.799 387.071 390.542 420.340 426.814 415.562 446.196

19.099 18.784 20.509 21.118 21.469 21.625 20.918 21.973 21.275 21.399 21.411 21.447

14.126 15.834 17.506 19.407 20.009 21.108 20.760 22.180 22.740 22.322 22.337 23.161

18.396 17.065 16.292 15.439 16.426 19.071 20.230 20.347 21.277 21.187 20.992 20.131

84.858 84.759 84.209 79.286 80.742 78.357 77.512 74.992 73.443 72.427 76.459 77.078

248.073 256.853 240.515 245.535 246.039 240.985 245.492 246.882 250.739 247.573 239.382 248.834

69.279 59.104 73.405 66.162 66.439 64.250 65.818 72.949 65.059 67.851 61.926 56.830

453.830 452.399 452.436 446.947 451.125 445.395 450.730 459.323 454.532 452.760 442.507 447.480

1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu

329

Lampiran

Tabel 36 Simpanan Berjangka Rupiah pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik
(Miliar rupiah) Penduduk

Akhir periode

Bukan Badan/ Perusahaan Perusahaan Perusahaan Yayasan Sub- penduduk Pemerintah lembaga asuransi negara swasta dan badan Koperasi Perorangan Lainnya jumlah pemerintah sosial
8.805 8.150 11.268 4.408 3.626 3.320 4.713 5.162 8.399 7.963 11.916 24.412 18.241 16.755 20.463 18.595 46.408 47.583 46.883 39.653 20.041 17.970 20.188 22.864 768 726 953 941 182.561 188.258 173.785 172.917 13.555 11.487 10.165 6.274 302.404 302.212 300.334 295.226 612 810 1.097 1.659

Jumlah

1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

303.016 303.022 301.431 296.885

6.343 6.559 7.622 7.729

5.320 6.017 5.783 8.761

26.722 25.154 23.028 23.547

21.707 16.746 14.275 13.331

40.385 40.117 39.665 50.718

26.143 30.118 28.616 28.255

2.244 1.755 1.715 893

187.611 184.916 198.439 208.994

3.758 2.575 2.769 2.586

320.233 313.958 321.914 344.812

975 1.243 1.424 3.444

321.209 315.200 323.338 348.257

8.561 9.228 8.721 9.135 9.779 10.879 10.765 11.304 11.102 10.956 10.571 7.869

7.954 7.404 8.520 7.329 8.535 9.617 8.547 15.239 10.747 9.799 10.254 8.998

24.264 23.846 24.531 24.522 24.446 24.519 24.297 26.024 26.746 26.793 26.997 27.469

14.761 15.305 17.444 16.464 15.498 15.687 17.577 15.864 17.299 15.263 13.236 14.434

52.882 52.107 50.670 50.880 53.748 53.550 54.920 54.554 54.181 55.645 51.647 54.461

28.871 29.295 29.634 29.575 30.352 31.206 30.833 30.526 30.845 30.754 30.713 31.126

1.014 858 965 1.052 1.046 967 789 1.252 1.204 1.172 1.125 1.204

213.896 213.373 212.536 213.427 212.179 211.798 211.722 212.022 211.397 210.920 211.676 215.591

2.888 2.364 2.526 2.293 2.886 2.157 3.195 2.287 2.113 2.443 2.194 2.094

355.090 353.780 355.547 354.676 358.469 360.380 362.645 369.072 365.635 363.744 358.414 363.248

2.053 1.913 2.690 2.724 2.414 2.330 2.212 2.431 2.456 2.580 2.644 2.523

357.143 355.693 358.238 357.400 360.883 362.710 364.857 371.503 368.091 366.324 361.057 365.771

330

Lampiran

Tabel 37 Sertifikat Deposito
(Miliar rupiah)

Akhir periode 1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Bank Persero 1.792 829 491 410 441 1.574 1.945 2.719 3.266 3.151 3.322 2.986 2.626 2.067 2.383 2.063 1.960 2.047 1.786 1.768

Selain Bank Persero 5.004 2.825 2.156 3.215 3.297 4.001 3.855 2.882 2.796 2.526 2.549 2.403 2.275 1.826 1.636 1.541 1.574 1.375 1.362 1.397

Jumlah 6.796 3.654 2.647 3.625 3.739 5.575 5.799 5.601 6.062 5.678 5.871 5.389 4.901 3.894 4.020 3.604 3.534 3.422 3.148 3.165

331

Lampiran

Tabel 38 Tabungan menurut Jenis pada Bank Umum

Akhir periode

Tabungan yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp)

Tabungan berjangka Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 307 222 161 355 1.908 2.047 855 755

Tabungan lainnya Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 18.890 18.549 17.437 1.298 4.894 5.078 6.181 1.185

Jumlah Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 65.489 64.213 84.524 66.694 69.308 79.453 122.981 154.328

1998 1998/1999 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

46.292 45.442 66.926 65.041

62.506 72.328 115.945 152.388

86.571 67.422 67.007 68.138 67.752 68.020 68.247 68.062 69.120 69.333 68.733 69.381 69.804 69.771 69.132 68.010

151.593 157.535 161.323 170.783 165.930 164.460 163.003 164.072 164.564 168.475 170.457 170.139 172.856 176.441 178.861 191.177

564 787 963 510 490 513 445 629 562 519 722 777 559 692 605 750

984 1.960 1.022 995 767 918 949 1.224 1.491 1.916 2.643 1.077 933 1.066 893 1.116

626 650 752 823 858 852 985 845 1020 1229 1184 1235 1232 1120 1068 1028

806 1.330 933 834 1.190 1.008 1.070 931 937 1.116 1.199 989 1.025 996 1.013 1.175

87.761 68.859 68.722 69.470 69.100 69.385 69.677 69.535 70.702 71.081 70.639 71.394 71.595 71.583 70.805 69.789

153.383 160.825 163.278 172.613 167.888 166.387 165.022 166.227 166.992 171.507 174.299 172.205 174.814 178.503 180.767 193.468

332

Lampiran

Tabel 39 Suku Bunga Kredit Rupiah menurut Kelompok Bank 1)
(Persen)

Akhir Periode

Bank Pemerintah Modal Investasi Kerja 29,03 21,61 18,40 22,35 17,48 16,53 16,31 16,41 16,44 17,11 17,22 17,24 17,31 17,39 17,41 17,47 17,50 17,59 17,72 17,65 17,66 17,50

Bank Pemerintah Daerah Modal Investasi Kerja 30,20 21,81 21,11 20,87 20,84 20,84 20,48 20,46 20,42 20,49 20,34 20,38 20,29 20,28 20,25 20,21 20,13 20,04 19,93 15,83 13,43 18,11 18,02 18,07 17,73 17,76 17,76 17,72 17,68 17,67 17,75 17,84 17,82 17,79 17,73 17,71 17,77 17,89

Bank Swata Nasional Modal Investasi Kerja 38,70 19,57 17,55 17,84 18,28 18,96 19,16 19,45 19,48 19,51 19,54 19,38 19,25 19,09 18,95 18,80 18,66 18,46 18,21 40,32 20,61 17,59 17,95 17,94 18,22 19,02 19,12 19,15 19,11 19,12 19,08 19,00 18,94 18,88 18,73 18,52 18,49 18,30

Bank Asing & Campuran Modal Investasi Kerja 42,89 18,28 15,42 16,28 18,05 19,24 19,09 18,98 19,34 19,43 18,62 18,76 17,89 17,97 17,58 17,06 16,20 15,99 15,71 35,53 22,70 15,49 16,30 16,69 17,98 18,55 18,54 18,36 18,31 18,70 18,33 18,16 17,73 17,69 17,30 17,03 17,05 16,09

Bank Umum Modal Investasi Kerja 34,75 20,68 17,65 17,90 18,45 19,06 19,19 19,27 19,33 19,35 19,25 19,20 19,08 19,00 18,86 18,74 18,57 18,44 18,25 26,23 17,80 16,86 16,86 17,04 17,22 17,90 17,99 18,01 18,03 18,09 18,11 18,11 18,09 18,10 18,11 18,00 18,00 17,82

1998 1999 2000 2001 Maret Juni September Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

18,47 18,64 18,91 19,15 19,08 19,05 18,99 18,99 19,02 19,12 19,07 19,02 19,01 18,97 18,98 18,85

1) Rata-rata tertimbang

333

Lampiran

Tabel 40 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Sektor Ekonomi 1)
(Miliar rupiah)

Rincian

1998

1999

2000

2001

2002 Mar.
204.639 17.226 3.990 48.338 38.782 31.189 65.114 98.137 3.964 3.191 61.612 9.247 17.714 2.409 302.776 21.190 7.181 109.950 48.029 48.903 67.523

Jun.
224.864 18.844 1.694 48.852 46.968 34.970 73.536 87.154 3.653 2.629 54.878 8.214 16.153 1.627 312.018 22.497 4.323 103.730 55.182 51.123 75.163

Sep.
250.162 19.279 1.559 57.218 53.240 40.780 78.086 91.010 3.940 3.021 55.470 8.635 18.323 1.621 341.172 23.219 4.580 112.688 61.875 59.103 79.707

Des.
271.851 19.121 2.441 64.986 56.854 44.581 83.868 95.559 3.211 3.654 58.049 9.124 16.402 5.119 365.410 22.332 6.095 121.035 65.978 60.983 88.987

Kredit dalam Rupiah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Kredit dalam Valuta Asing Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain
1)

313.118 29.430 2.729 85.594 59.830 101.129 34.406 174.308 9.878 3.180 86.074 36.534 37.995 647 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

140.527 21.139 879 35.561 29.687 26.332 26.929 84.606 2.638 2.818 48.698 13.601 16.829 22 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

152.482 15.028 2.879 35.697 30.601 23.784 44.493 116.518 4.475 3.801 71.085 13.498 20.532 3.127 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

202.618 16.851 890 50.434 38.491 30.696 65.256 104.977 4.012 3.764 66.091 9.959 18.365 2.785 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

334

Lampiran

Tabel 41 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis Penggunaan dan Sektor Ekonomi 1)
(Miliar rupiah)

Rincian

1998

1999

2000

2001

2002 Mar.
232.816 9.177 2.656 82.267 40.450 30.743 67.523 69.960 12.013 4.525 27.683 7.579 18.160 302.776 21.190 7.181 109.950 48.029 48.903 67.523

Jun.
241.499 9.715 2.504 76.132 46.661 31.324 75.163 70.519 12.782 1.819 27.598 8.521 19.799 312.018 22.497 4.323 103.730 55.182 51.123 75.163

Sep.
264.003 10.421 2.621 82.950 52.895 35.409 79.707 77.169 12.798 1.959 29.738 8.980 23.694 341.172 23.219 4.580 112.688 61.875 59.103 79.707

Des.
282.486 10.336 2.498 89.555 55.804 35.306 88.987 82.924 11.996 3.598 31.480 10.174 25.676 365.410 22.332 6.095 121.035 65.978 60.983 88.987

Kredit Modal Kerja Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Kredit Investasi Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain

345.962 22.058 3.880 121.867 72.065 91.039 35.053 141.464 17.250 2.029 49.801 24.299 48.085 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

167.442 12.162 2.368 61.278 36.181 28.502 26.951 57.691 11.615 1.329 22.981 7.107 14.659 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

203.724 8.693 3.796 80.572 36.318 26.725 47.620 65.276 10.810 2.884 26.210 7.781 17.591 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

234.128 8.748 1.197 88.208 40.360 30.360 65.255 73.466 12.115 6.243 28.317 8.090 18.701 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

1)

Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

335

Lampiran

Tabel 42 Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi 1)
(Miliar rupiah)

Rincian

1998

1999

2000

2001

2002 Mar.
115.687 12.151 5.212 39.523 17.489 14.531 26.781 103.272 6.034 914 27.328 24.013 22.609 22.374 16.846 627 276 258 2.452 1.509 11.724 66.971 2.378 779 42.841 4.075 10.254 6.644 302.776 21.190 7.181 109.950 48.029 48.903 67.523

Jun.
122.495 13.319 3.106 39.564 20.453 15.577 30.476 111.064 6.219 488 26.546 27.930 24.710 25.171 19.090 784 101 288 3.004 2.030 12.883 59.369 2.175 628 37.332 3.795 8.806 6.633 312.018 22.497 4.323 103.730 55.182 51.123 75.163

Sep.
133.345 13.588 3.107 43.832 22.956 18.248 31.614 125.114 6.505 713 30.373 31.494 28.150 27.879 21.076 939 170 325 3.443 2.752 13.447 61.637 2.187 590 38.158 3.982 9.953 6.767 341.172 23.219 4.580 112.688 61.875 59.103 79.707

Des.
145.984 13.632 4.040 48.155 24.144 19.835 36.178 136.981 6.383 1.209 34.192 33.869 30.541 30.787 21.518 969 121 325 3.693 2.562 13.848 60.927 1.348 725 38.363 4.272 8.045 8.174 365.410 22.332 6.095 121.035 65.978 60.983 88.987

1. Bank Persero Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 2. Bank Swasta Nasional Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 3. Bank Pemerintah Daerah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 4. Bank Asing & Campuran Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 5. Jumlah (1 s.d. 4) Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain

220.747 17.012 1.989 84.510 43.601 55.792 17.843 193.361 20.272 2.414 45.416 40.687 72.058 12.514 6.570 354 19 409 1.053 1.820 2.915 66.748 1.670 1.487 41.333 11.023 9.454 1.781 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

112.288 15.516 1.360 38.489 21.958 19.945 15.020 56.012 5.740 371 14.421 13.307 15.605 6.568 6.793 853 18 190 816 1.376 3.540 50.040 1.668 1.948 31.159 7.207 6.235 1.823 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

102.061 11.209 2.522 34.878 16.431 16.370 20.651 82.425 4.987 863 22.914 21.656 17.500 14.505 10.106 527 65 249 1.182 1.260 6.823 74.408 2.780 3.230 48.741 4.830 9.186 5.641 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

117.104 12.034 5.554 40.099 17.973 15.537 25.907 101.872 6.049 838 28.237 23.401 22.162 21.185 15.419 536 188 257 2.108 1.410 10.920 73.199 2.244 860 47.932 4.968 9.952 7.243 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

1) Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

336

Lampiran

Tabel 43 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Kertas di Jakarta dan Koordinator KBI (KKBI)
(Triliun rupiah)

Kantor

1998 Masuk Keluar 24,2 17,9 14,5 18,8 9,4 5,8 7,3 4,8 39,9 14,7 9,3 18,5 10,3 8,7 8,8 7,2

Masuk 24,4 22,2 17,8 23,4 11,4 6,5 8,7 6,1

1999 Keluar 47,2 17,1 13,6 23,9 12,8 11,7 10,0 9,0

Masuk 33,2 28,0 20,2 28,8 11,5 7,8 10,4 7,8

2000 Keluar 51,4 20,4 15,1 28,6 11,9 13,1 12,4 11,2

2001 Masuk 34,9 37,6 25,5 37,9 15,1 10,1 13,8 10,1 Keluar 53,7 23,7 17,4 33,5 15,3 14,9 14,9 13,4

2002 Masuk Keluar 37,7 40,6 27,4 40,4 16,7 12,1 15,1 11,4 62,3 26,2 19,1 36,8 17,7 16,4 16,8 15,4

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

Jumlah

102,7

117,4

120,5

145,3

147,7

164,1

185,0

186,8

201,4

210,7

Tabel 44 Pangsa Aliran Uang Keluar per Jenis Pecahan di Jakarta dan KKBI Tahun 2002
(Persen)

Kantor Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

Rp100.000,00 42 51 50 49 47 43 44 47

Rp50.000,00 38 33 33 38 36 34 35 34

Rp20.000,00 12 11 11 7 10 13 14 12

Rp10.000,00 5 3 4 4 4 8 4 5

Rp5.000,00 2 1 1 1 2 2 2 2

<= Rp1.000,00 1 1 0 1 1 1 1 1

Total 100 100 100 100 100 100 100 100

337

Lampiran

Tabel 45 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Logam di Jakarta dan KKBI
(Miliar rupiah)

Kantor

1998 Masuk 4,4 10,8 13,9 1,2 3,3 0,3 0,5 0,7 Keluar 105,5 12,9 8,3 32,8 11,2 14,1 12,6 15,5

1999 Masuk 2,2 11,1 12,2 2,2 1,1 0,3 0,6 0,6 Keluar 117,7 14,8 13,2 29,7 13,1 9,7 11,2 11,4

2000 Masuk 4,1 15,2 14,3 1,8 0,4 0,3 1,1 1,4 Keluar 184,5 21,0 14,4 33,5 14,0 12,3 10,9 11,0

2001 Masuk 0,1 16,5 17,0 4,0 0,7 0,5 0,5 0,8 Keluar 196,9 28,5 15,6 44,2 24,1 21,8 20,8 15,6 Masuk 0,6 24,9 20,5 2,5 1,0 0,5 0,8 0,6

2002 Keluar 187,7 25,6 12,9 50,0 24,9 24,8 16,5 19,6

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

Jumlah

35,1

212,9

30,3

220,8

38,6

301,6

40,1

367,5

51,4

362,0

338

Lampiran

Tabel 46 Pertumbuhan Ekonomi Dunia
(Persen)

Negara

1998

1999

2000

2001

2002*

Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-Lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah, Malta, dan Turki Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-Negara Transisi 1) Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah

2,8 2,7 2,8 4,3 -1,2 2,0 3,5 1,8 2,9 4,1 2,2 3,5 3,4 3,6 2,3 4,0 -3,5 7,8 -13,1 -0,1 -7,4 -10,5 -3,8 3,5 -0,8 2,4 -4,9 2,5

3,6 3,4 3,0 4,1 0,8 2,0 3,2 1,6 2,4 5,4 5,0 4,0 2,8 1,2 0,2 6,1 6,9 7,1 0,8 6,9 6,1 4,4 7,6 4,2 3,6 2,2 5,4 4,6

4,7 3,8 3,4 3,8 2,4 2,9 4,2 2,9 3,1 4,5 5,3 5,7 3,0 6,1 4,0 6,7 7,5 8,0 4,8 10,3 8,3 4,6 -0,8 5,5 6,6 3,8 9,0 5,3

2,2 0,8 0,6 0,3 -0,3 0,6 1,8 1,8 1,9 1,5 1,6 3,9 3,5 1,5 0,6 5,6 -0,1 7,3 3,3 -2,0 0,5 1,8 -3,4 5,0 5,0 3,0 5,8 -

2,8 1,7 1,4 2,2 -0,5 0,5 1,2 0,7 1,7 3,4 2,6 4,2 3,1 3,6 -0,6 6,1 3,8 7,5 3,5 3,6 3,5 3,5 1,2 5,3 3,9 2,7 4,4 -

1) Tidak termasuk Belarusia dan Ukraina Sumber: – IMF, World Economic Outlook, December 2001 – Bank Indonesia

339

Lampiran

Tabel 47 Inflasi Dunia
(Persen)

Negara
Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-Lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah, Malta, dan Turki Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-Negara Transisi 1) Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah
1) Tidak termasuk Belarusia dan Ukraina Sumber : – – – – IMF, World Economic Outlook, September 2002 Bank Indonesia BPS The Economist

1998
2,5 1,5 1,3 1,6 0,6 0,6 0,7 1,7 2,7 1,0 2,5 10,5 10,9 27,6 9,8 7,7 4,4 -0,8 58,0 -0,3 5,3 8,1 9,7 7,7 20,9 17,2 27,8 15,3

1999
3,0 1,4 1,4 2,2 -0,3 0,7 0,6 1,7 2,3 1,7 1,3 6,9 12,3 23,6 8,9 2,5 0,3 -1,4 20,70 0,2 3,0 0,5 8,5 7,6 43,9 20,6 85,9 15,4

2000
2,3 3,4 -0,6 2,1 1,8 2,6 2,1 2,7 2,4 6,1 14,3 19,6 8,1 1,9 1,1 0,4 3,8 1,1 1,6 1,6 4,3 -1,7 20,2 12,8 20,8 14,8

2001
2,2 2,1 2,8 -0,7 2,4 1,8 2,7 2,1 2,5 2,9 5,7 13,1 17,2 6,4 2,6 1,9 0,7 11,5 1,0 1,4 1,7 6,1 0,1 15,9 9,6 20,7 -

2002*
1,4 1,2 1,5 -1,0 1,4 1,8 2,4 1,9 1,8 2,3 5,6 9,6 17,1 8,6 2,1 1,1 -0,4 11,9 1,8 0,7 4,0 4,1 11,3 6,1 15,8 -

340

Lampiran

Tabel 48 Suku Bunga (%) dan Nilai Tukar

Rincian
Suku Bunga di Negara-negara Industri Jangka Pendek Jangka Panjang LIBOR 6 bulan USD Yen Euro Nilai Tukar Yen/USD DM/USD USD/GBP
Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002

1998
4,00 4,50 0,20 130,91 1,76 1,66

1999
3,50 4,60 5,50 0,30 3,00 113,90 1,83 1,62

2000
4,50 5,00 6,60 0,20 4,60 107,80 2,12 1,52

2001
3,20 4,40 3,70 0,10 4,10 121,50 2,18 1,44

2002*
2,30 4,20 2,10 3,40 124,00 1,49

Tabel 49 Perkembangan Volume Perdagangan Barang dan Harga Dunia
(persen)

Rincian Volume Perdagangan Barang Harga Barang-barang Industri Komoditas Primer Nonmigas Minyak

1998 4,3

1999 5,5

2000 12,6

2001 -0,1

2002* 2,1

-1,8 -14,7 -32,1

-2,0 -7,0 37,5

-5,2 1,8 57,0

-2,3 -5,4 -14,0

2,6 4,2 0,5

Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002

341

Lampiran

Tabel 50 Transaksi Berjalan di Negara Industri dan Negara Sedang Berkembang
(Persen PDB)

Negara

1998

1999

2000

2001

2002*

7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Negara Berkembang RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina 3,4 4,3 20,9 12,9 12,8 2,0 1,6 4,10 21,1 15,9 10,2 10,0 1,9 5,3 16,7 9,4 7,6 11,3 1,5 4,7 20,4 8 5,4 6,3 1,5 2,7 2,7 7 3,5 3,3 -2,5 3,2 -0,2 2,7 1,7 -1,8 -3,5 2,4 -0,9 2,6 0,5 -1,1 0,2 -4,2 2,5 -1,1 1,5 -0,5 -2,0 2,6 -3,9 2,1 0,1 1,8 0,1 -2,1 2,8 -4,6 3,0 1,9 1,9 0,2 -2,1 1,7

Sumber : IMF, World Economic Outlook, September 2002

342

G Specimen Pecahan Uang Kartal yang Ditebitkan Pada 2002

Lampiran

Lampiran G

Specimen Pecahan Uang Kartal Yang Diterbitkan Pada Tahun 2002
Uang Logam Khusus
Seri Peringatan Satu Abad Bung Hatta Pecahan Rp500.000 Dan Rp25.000 Tanggal 12 Agustus 2002

Ciri Ciri Uang
No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Bahan Kadar Warna Bentuk Diameter Berat Kualitas Rp500.000 Logam Emas 0,9990 Kuning Emas Bulat (lingkaran) 28,00 mm 15,00 gram Proof Rp25.000 Logam Perak 0,9990 Putih Perak Bulat (lingkaran) 38,61 mm 28,29 gram Proof

Emas

Perak

343

H Daftar Singkatan

Daftar Singkatan

Daftar Singkatan
a/d AAOIFI ABF ABS ADB AFDM AFMM AFTA Agt ALMA APBN APBN-P APBN-PAN APEC APG API Apr APSUN APU ARBC ARMA AS ASA ASBISINDO ASEAN ATM ATMR BAPEPAM BBKU BBM bbwi BCA BCP BEJ BER BES atas dasar Accounting and Auditing Standard for Islamic Financial Instutions Asian Bond Fund Automatic Bidding System Asian Development Bank ASEAN Finance and Central Bank Deputies Meeting ASEAN Finance Ministers Meeting Asian Free Trade Area Agustus Asset and Liability Management Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN Perubahan APBN Perhitungan Anggaran Negara Asia-Pacific Economic Cooperation Asia Pacific Group on Money Laundering Arsitektur Perbankan Indonesia April Asosiasi Pedagang Surat Utang Negara Angka Pengganda Uang Asean Rubber Business Club Auto Regressive Moving Average Amerika Serikat ASEAN Swap Arrangements Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia Association of Southeast Asian Nations Anjungan Tunai Mandiri Aktiva Tertimbang Menurut Risiko Badan Pengawas Pasar Modal Bank Beku Kegiatan Usaha Bahan Bakar Minyak bagian barat waktu Indonesia Bank Central Asia Basel Core Principles Bursa Efek Jakarta Book Entry Registry Bursa Efek Surabaya

311

Daftar Singkatan

BI BI-RTGS BIES BII BIS BKD BKPM BLK BLS BMPK BNI BNM BOE BOP BOTASUPAL bp BPD BPEN BPHTB BPKP BPPN BPR BPRS BPS BRER BRI BSA BTN BTO BUK BULOG BUMN BUS BUSD BUSN BUSND C&F CAMEL CAR

Bank Indonesia Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement Bulletin of Indonesian Economic Studies Bank Internasional Indonesia Bank for International Settlement Badan Kredit Desa Badan Koordinasi Penanaman Modal Balai Latihan Kerja Baseline Economic Survey Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Negara Indonesia Bank Negara Malaysia Bank of England Balance of Payment Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu basis point Bank Pembangunan Daerah Badan Pengembangan Ekspor Nasional Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Badan Penyehatan Perbankan Nasional Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat Syariah Badan Pusat Statistik Bilateral Real Exchange Rate Bank Rakyat Indonesia Bilateral Swap Arrangement Bank Tabungan Negara Bank Take Over Bank Umum Konvensional Badan Urusan Logistik Badan Usaha Milik Negara Bank Umum Syariah Bank Umum Swasta Devisa Bank Umum Swasta Nasional Bank Umum Swasta Non Devisa Cost and Freight Capital Asset Management Earning Liabilities Capital Adequacy Ratio

312

Daftar Singkatan

CBS CCI CGI CP CPO CR CSA CTC DAK DASP DAU DBH Des DJIA DKM DN doc DPK DPM DPNP DPR DRI DSM DSR ECB EFF EMEAP EO EUR FAASM FASBI FATF FDI FDR Feb FKE FKSPN fob FoP

Claims on Business Sector Consumer Confidence Index Consultative Group on Indonesia Core Principles Crude Palm Oil Central Registry Centralized Settlement Account Counter Terrorism Committee Dana Alokasi Khusus Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil Desember Dow Jones Industrial Average Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Dalam Negeri dokumen Dana Pihak Ketiga Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Penelitian dan Pengembangan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat Danareksa Research Institute Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Debt Service Ratio European Central Bank Extended Fund Facility Executive Meeting of East Asia and Pacific Central Bankers Exchange Offer Euro Fixed Asset Accounting Simulation Model Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Financial Action Task Force on Money Laundering Foreign Direct Investment Financing to Deposit Ratio Februari Fasilitas Kredit Ekspor Forum Komunikasi Sistem Pembayaran Nasional Free on Board Free of Payment

313

Daftar Singkatan

FPJP FR FSF GARCH GBHN GBI GBP GFA GTZ GWM HAM HB HIPC HJE HKMA HPE HSBC IAI IBRD ICA ICOR ICS IDB IDR IFSB IFSO IGGI IHA IHK IHPB IHSG IIFM IMF IPO IRFCL ITRCo JABOTABEK Jan JIBOR

Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek Fixed Rate Financial Stability Forum General Auto-regresive Conditional Heteroscidasticity Garis-Garis Besar Haluan Negara Gubernur Bank Indonesia Great Britain Poundsterling Gross Foreign Assets Gesselschaft fur Technische Zusammenarbeit GmbH Giro Wajib Minimum Hak Asasi Manusia Hedge Bond Highly Indebted Poor Countries Harga Jual Eceran Hongkong Monetary Authority Harga Penjual Eceran Hongkong Shanghai Banking Corporation Ikatan Akuntan Indonesia International Bank for Reconstruction and Development Inter Company/Office Account Incremental Capital Output Ratio Image Clearing System Islamic Development Bank Indonesia Rupiah Islamic Financial Services Board Islamic Financial Services Organization Inter-Governmental Group on Indonesia Indeks Harga Aset Indeks Harga Konsumen Indeks Harga Perdagangan Besar Indeks Harga Saham Gabungan International Islamic Financial Market International Monetary Fund Initial Public Offering International Reserve and Foreign Currency Liquidity International Tripartite Rubber Company Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Januari Jakarta Interbank Offered Rate

314

Daftar Singkatan

JITF JPY Jul Jun KAP KBI KCS KI KLBI KK KMK KP KPMM KPR KTI KTT KUK KYC LDKP LDR LIBOR LIE LKM LKNB LLD LLM LLR LN LNG LoI LPG LPJK LPS m-t-d m-t-m Mar Migas MMBTU MoU

Jakarta Initiative Task Force Japanese Yen Juli Juni Kualitas Aktiva Produktif Kantor Bank Indonesia Kantor Cabang Syariah Kredit Investasi Kredit Likuiditas Bank Indonesia Kredit Konsumsi Kredit Modal Kerja Kantor Pusat Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Kredit Pemilikan Rumah Kawasan Timur Indonesia Konferensi Tingkat Tinggi Kredit Usaha Kecil Know Your Customer Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan Loan to Deposit Ratio London Interbank Offered Rate Leading Indikator Ekonomi Lembaga Keuangan Mikro Lembaga Keuangan Non Bank Lalu Lintas Devisa Lalu Lintas Modal Lender of the Last Resort Luar Negeri Liquefied Natural Gas Letter of Intent Liquefied Petroleum Gas Lembaga Pengawas Jasa Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan month to date month to month Maret Minyak dan Gas Mille Mille British Thermal Unit Memorandum of Understanding

315

Daftar Singkatan

MPR MTon NAB NBER NCCT’s NCG NCS NDA NFA NGO NII NIM NIR NJKP NOI Nov NPF NPI NPLs NPV O/N OAP OCA ODA OECD Okt OPEC OPT PAM PAPS PAPSI PBB PBI PC PDB Pemda PERC Perum PHK

Majelis Permusyawaratan Rakyat Million Ton Nilai Aktiva Bersih National Bureau for Economic Research Non Cooperative Countries and Territories Net Claims on Government Net Capital Stock Net Domestic Assets Net Foreign Assets Non Government Organization Net Interest Income Net Interest Margin Net International Reserve Nilai Jual Kena Pajak Net Other Items November Non Performing Financing Neraca Pembayaran Indonesia Non Performing Loans Net Present Value Overnight Otomasi Administrasi Perkasan Overseas Current Account Official Development Assistance Organization for Economic Cooperation and Development Oktober Organization of Petroleum Exporting Countries Operasi Pasar Terbuka Perusahaan Air Minum Panduan Audit Perbankan Syariah Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia Pajak Bumi dan Bangunan Peraturan Bank Indonesia Paris Club Produk Domestik Bruto Pemerintah Daerah Political and Economic Risk Consultancy Ltd. Perusahaan Umum Pemutusan Hubungan Kerja

316

Daftar Singkatan

PI PIPU PKLN PKPD PKPS PMA PMDN PMON PNB PNBP PNM PNS Polri PPAK PPAP PPATK PPE PPh PPN PPn-BM PRGF ProFI PRSP PSAK PSAKS PTTB PUAB PUAS PUKM PYD RDU REER RI RIA RKAT ROA ROE Rp RRC

Performance Indicators Pusat Informasi Pasar Uang Pinjaman Komersial Luar Negeri Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham Penanaman Modal Asing Penanaman Modal Dalam Negeri Pusat Manajemen Obligasi Negara Pendapatan Nasional Bruto Penerimaan Negara Bukan Pajak Permodalan Nasional Madani Pegawai Negeri Sipil Kepolisian Republik Indonesia Program Penjualan Aset Kredit Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Pameran Produk Ekspor Pajak Penghasilan Pajak Pertambahan Nilai Pajak Penjualan Barang Mewah Poverty Reduction and Growth Facility Promotion of Small Financial Institution Poverty Reduction Strategy Paper Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan Syariah Pemberian Tanda Tidak Berharga Pasar Uang Antar Bank Pasar Uang Antar Bank berdasarkan prinsip Syariah Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro Pembiayaan yang Diberikan Rencana Distribusi Uang Real Effective Exchange Rate Republik Indonesia Roadmap for Integration of ASEAN Rencana Kerja Anggaran Tahunan Return on Asset Return on Equity Rupiah Republik Rakyat China

317

Daftar Singkatan

RTGS RUU S&P s.d. SAL SBA SBI SBT SD SDA SDM SDR SDRM SE SEACEN SEG Sep SI-PUK SIABE SIB SIBOR SIBs SID SIKJJ SILM SILPA SIPMK SIPS SIPU SK SKDU SKEJ SNA SPE SPKUI SPN SR SSK SSSS STB

Real Time Gross Settlement Rancangan Undang-Undang Standard and Poor’s sampai dengan Sisa Anggaran Lebih Stand By Arrangement Sertifikat Bank Indonesia Saldo Bersih Tertimbang Selective Default Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia Special Drawing Rights Sovereign Debt Restructuring Mechanism Surat Edaran South East Asia Central Bank SEACEN Expert Group September Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor Sistem Informasi Baseline Economic Survey Singapore Interbank Offered Rate Systemically Important Banks Sistem Informasi Debitur Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Sistem Informasi Prosedur Memperoleh Kredit Systematically Important Payment System Sistem Informasi Pengedaran Uang Surat Keputusan Survei Kegiatan Dunia Usaha Sistem Kliring Elektronik Jakarta Standardized National Account Survei Penjualan Eceran Sistem Informasi Penunjang Keputusan untuk Investasi Sistem Pembayaran Nasional Sub Registry Stabilitas Sistem Keuangan Scripless Securities Settlement System Survei Tendensi Bisnis

318

Daftar Singkatan

STK SUN SUP SWBI TAF TDL THB thd TI TKI TKS TPT Trw TSL UE UK UKIP UKM UKPT ULN UMKM UMP UMR UN UNDP UNESCO US USAID USD UU UUS UYD Valas VR VRB WEO WP WTC WTO y-o-y

Survei Tendensi Konsumen Surat Utang Negara Surat Utang Pemerintah Sertifikat Wadiah Bank Indonesia The Asia Foundation Tarif Dasar Listrik Thailand Baht terhadap Teknologi Informasi Tenaga Kerja Indonesia Tingkat Kesehatan Tekstil dan Produk Tekstil Triwulan Two Step Loan Uni Eropa United Kingdom Unit Khusus Investigasi Perbankan Usaha Kecil dan Menengah Unit Khusus Program Transformasi Utang Luar Negeri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Upah Minimum Propinsi Upah Minimum Regional United Nation United Nation Development Program United Nation Education Scientific and Cultural Organization United States United States Agencies for International Development United States Dollar Undang-Undang Unit Usaha Syariah Uang yang Diedarkan Valuta Asing Variable Rate Variable Rate Bond World Economic Outlook Wajib Pajak World Trade Centre World Trade Organization year on year

319

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->