P. 1
Perdagangan Bebas

Perdagangan Bebas

5.0

|Views: 6,102|Likes:
Published by privace23
http://privace23.blogspot.com/
http://privace23.blogspot.com/

More info:

Published by: privace23 on Jan 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Perekonomian Indonesia pada saat ini dihadapkan dengan sistem perdagangan bebas. Pada hal Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas, sebab nilai-nilai dasar seperti; kejujuran, disiplin, visioner, kerjasama, tanggung jawab, peduli dan adil, belum menjadi landasan para pelaku industri atau ekonomi. Jadi rakyat, para pelaku industri & ekonomi di Indonesia tidak siap untuk menerima perdagangan bebas. Berdasarkan data menurut Pardede 2009 bahwa di Indonesia hanya terdapat 7 % generasi muda yang memiliki mental menjadi pengusaha. Selebihnya lebih suka menjadi budak, hal ini disebabkan kurikulum pendidikan yang telah menjiwai masyarakat sejak duduk di bangku sekolah sampai kuliah. Pada akhimaya pengenalan dunia usaha dan kebijakan dari iklim usaha tidak tertanam sejak dini. Pemerintahan hanya mampu menggerakkan roda ekonomi sekitar 15% saja, selebihnya para pengusaha hitam pelaku economic animal yang menguasai perindustrian & ekonomi negeri ini. Estafet kewirausahaan tidak ada, maka perdagangan bebas akan dengan cepat menaklukkan Indonesia di bawah penjajahan cina nantinya, sebagaimana VOC pada dahulu kala mengembara ke negeri penjajah. Perdagangan bebas berpengaruh pada produk lokal yang harus menghadapi serbuan produk negara lain yang mungkin lebih berkualitas, dan murah. Ketika produk lokal satu negara tidak bernilai tambah, konsekuensinya akan tergilas oleh produk asing. Kondisi semacam inilah yang dicemaskan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Oleh sebab itu, pada pertengahan September 2009 dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kadin Indonesia Bidang Perdagangan dan Distribusi 2008. Lembaga ini mencoba mengusung kembali isu nasionalisme yang dikaitkan dalam era perdagangan bebas. Bagi Kadin, hal itu sangat penting agar Indonesia bisa menghadapi tantangan aktual pada saat ini dan di masa depan. Sejatinya, slogan "cinta produk dalam negeri" sudah sejak lama dikampanyekan. Namun, slogan itu hingga kini masih sebatas "kata manis di bibir" saja. Isu ini pun dianggap penting karena untuk wilayah ASEAN saja, 1 untuk berdagang berubah menjadi

produk Indonesia dianggap belum mampu bersaing. Sebab, bagi negara yang sudah siap pun, kebijakan tersebut merupakan prasyarat utama keberhasilan mereka dalam perdagangan bebas. Mereka terlebih dahulu memproteksi produk dalam negeri, baru kemudian bermain di pasar dunia. Akhirnya banyaknya hambatan dan beban dalam aliran barang dan jasa dalam negeri, hal ini menuntut dilakukannya reformasi birokrasi dan penyediaan infrastruktur pelabuhan, jalan tol, guna memperlancar arus barang. Di samping itu, masih sulitnya pemerintah Indonesia untuk mempercayai pribumi dalam hal memberikan kemudahan pinjaman modal usaha walau hanya setingkat UKM saja, padahal terhadap pengusaha cina, segenap kemudahan diberikan kepada mereka, walau telah berulang kali tertipu, sebagaimana kasus Bank Century belakangan ini, terjadi karena begitu percaya dan cintanya pemerintah negeri ini kepada pengusaha yang berdarah cina. Secara big picturenya perdagangan bebas dengan China adalah pengulangan kembali sejarah penjajahan VOC terhadap negeri ini. maka tunggu akibat dari semua ini, kematian yang semakin cepat, rakyat akan semakin melarat. Para pelaku perdagangan bebas tidak akan dapat mengerti atau bahkan tidak mengerti bahwasanya satu negeri atau kelompok masyarakat dapat seketika bertumbuh menjadi kaya dengan merugikan negeri atau kelompok lain, satu kelas dapat merugikan kelas yang lainnya. Karena dalam perdagangan bebas tidak berlaku lagi kebijakan proteksionis yang bersifat konservatif, sedangkan sistem perdagangan bebas adalah destruktif. Sehingga akan mampu membongkar bangunan kebijakan pro rakyat & negara,pro buruh, sehingga dengan keadaan itu tergiringlah antagonisme kaum miskin. Oleh sebab itu, Karya Ilmiah yang berjudul tentang Peningkat Daya Saing Produk Inonesia merupakan permasalahan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

2

b. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya terdapat berbagai masalah yang berkaitan dengan perdagangan bebas dan peningkatan daya saing yaitu sebagai berikut; 1. 2. Bagaimana pengendalian produk luar negeri agar produk Indonesia bisa laku dipasaran daripada produk luar negeri ? Apa yang harus di upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing ?

c. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan karya tulis ini untuk mengetahui dasar ekonomi perdagangan Indonesia yang terkait terhadap; kualitas produk Indonesia, hal yang harus dilakukan untuk melakukan pengendalian terhadap produk luar negeri yang datang agar produk Indonesia bisa laku daripada produk luar negeri, dan upaya pemerintah yang harus dilakukan mengingat perdagangan bebas bisa merusak ekonomi suatu negara jika kurang adanya penanganan secara baik. Manfaat penulisan karya ini secara umum adalah; karya ini diharapkan dapat berguna bagi pembuat kebijakan, membangun kembali pikiran terhadap ekonomi Indonesia dan perdagangan bebas. Secara spesifik manfaat karya ini sebagai berikut: (1) Karya tulis tentang perdagangan bebas global ini kiranya dapat di sumbangkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan saing perdagangan. (2) Karya tulis ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan pemerintah agar Indonesia siap dan dapat menghadapi persaingan perdagangan bebas global, peningkatan kualitas produk, dan mensosialisasikan produk dalam negeri terhadap masyarakat dalam menghadapi persaingan perdagangan bebas global ini. khususnya pada peningkatan daya

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA a. Ekonomi Indonesia Indonesia memiliki potensi alam yang sangat banyak. Kegiatan ekonomi Indonesia sangat berpengaruh terhadap pendapatan nasional, akan tetapi kebijakan yang ada saat ini belum sepenuhnya dapat mengatur keseimbangan ekonomi di Indonesia. Sistem ekonomi yang dipakai Indonesia sekarang adalah sistem ekonomi campuran, yang artinya suatu sistem organisasi ekonomi yang ditandai dengan keikutsertaan pemerintah dalam hal penentuan cara-cara mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dengan kata lain pemerintah ikut secara langsung dalam kegiatan ekonomi. Pemerintah juga menetapkan berbagai peraturan dan undang-undang agar mekanisme pasar dapat berfungsi dengan lebih sempurna, dan persaingan kurang sehat dapat diatasi. Tetapi sistem ekonomi ini malah membuat Indonesia tidak bisa memfokuskan perekonomian rakyat. Ketidakmerataan pemilikan faktor-faktor strategis, khususnya sumberdaya alam sebagai tantangan bersama, akan tetapi yang menjadi perhatian adalah apabila ketidakmerataan tersebut merupakan salah satu kelemahan yang diakibatkan oleh sistem pembangunan ekonomi yang terpusat yang dianut di masa lalu. Terjadinya ketidakseimbangan alokasi dan distribusi anggaran per masingmasing sektor dan sub-sektor ini mengakibatkan eksploitasi yang kurang seimbang terhadap sumber-sumber alam. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak rentan terhadap gejolak pertumbuhan ekonomi dunia yang memang memiliki konjungtur naik-turun. Kita selalu direpotkan dengan terjadinya gejolak harga pasar dunia atas bahan bakar minyak (Migas) yang semenjak masa merdeka sampai akhir pemerintahan Orde Baru devisa kita menggantungkan diri pada hasil migas. Pemusatan harapan pada sektor ini mengakibatkan tertinggalnya sektor non migas. Juga terjadinya pemusatan pembangunan industri skala besar dan berteknologi tinggi secara umum, mengakibatkan tertinggalnya sub-sektor industri kecil dan kerajinan, sektor pertanian dan perikanan.

4

Ekspor dan impor juga menjadi utama bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi ekspor. Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam antar berbagai produk. Dalam hal demikian, perlu adanya keseimbangan pasar.

b. Perdagangan bebas global
Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. Penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individualindividual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda. Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar. c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan

Perdagangan Bebas
Pertama, Industri sangat mempengaruhi dalam perdagangan bebas global. Kalangan industri telah berulang kali mengemukakan bahwa rendahnya daya saing industri disebabkan oleh permasalahan seperti keterbatasan suplai energi dan biaya yang tidak bersaing, sistem dan aturan ketenagakerjaan tidak terkait produktivitas, infrastruktur jalan dan pelabuhan, prosedur kepabeanan serta kinerja birokrasi yang 5

menghambat arus barang, akses pendanaan terbatas dan bunga kredit yang tidak bersaing, hingga persaingan di pasar yang tidak fair. Dengan belum adanya perbaikan yang berarti di sisi kebijakan pemerintah, pelaku industri, terutama industri manufaktur, jauh-jauh hari telah merekomendasikan peninjauan ulang semua FTA yang telah diteken pemerintah. Kedua, merek ternama masih menjadi gantungan karena membuat merek sendiri tidak mudah, dibutuhkan banyak promosi yang memakan biaya besar. Pasar lokal sepatu Indonesia nilainya mencapai Rp 25 triliun. Merek lokal menguasai sekitar 60 persennya melalui merek-merek Carvil, Bata, Ardiles, dan Homyped. Porsi itu turun menjadi hanya sekitar 40 persen setelah masuknya barang China, Taiwan, Thailand, dan Malaysia (Yanuar 2008). Sedangkan menurut M. Porter. Thn. 1997. Porter dalam Sihaan (2009) menawarkan kata kunci dalam memengkan persaingan global yaitu; Factor Condition. Yaitu sumber daya (resources) yang dimiliki oleh suatu negara meliputi: Sumber Daya Manusia (human resources), Sumber Daya Alam (physical resources), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (knowledge resources), Permodalan (capital resources) dan Prasarana (infrastructure resources) Demand Condition. Permintaan sebagai salah satu faktor penting dalam menunjang keunggulan daya saing, dan kondisi permintaan dimaksud meliputi : Konsumsi dalam negeri, Skala dan jumlah permintaan dalam negeri, pertumbuhan pasar, dan trend permintaan pasar internasional. Related & Supporting Industry, yaitu menjaga hubungan antara produsen dan pemasok (supplier) dengan menjaga dan mempertahankan nilai-nilai hubungan yang saling menguntungkan (value chain). Firm Strategy, yaitu strategi yang menyangkut struktur kelembagaan dan pemodalan serta kondisi persaingan termasuk persaingan persaingan dalam negeri.

6

BAB III PEMBAHASAN

a. Faktor Keberhasilan
3.1.1. Kualitas Sumber Daya Alam Kualitas pengelolaan usaha oleh sumber daya manusia yang berkiprah dalam dunia usaha kecil menurut hasil survey yang dikemukakan oleh Tim Lembaga Penelitian IPB dalam Lokakarya Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Lokal dalam Rangka Otonomi Daerah, di Jakarta pasca bulan Pebruari 2001 dinyatakan dalam kategori baik. Yang perlu mendapat perhatian adalah tentang adanya perilaku bisnis yang kurang mendukung. Tentunya solusi untuk itu adalah perlunya lembaga pelatihan yang dapat merubah dan mengarahkan perilaku agar sesuai dengan tuntutan bisnis. Bagaimana pemerintah daerah dapat menyikapi fenomena ini tentu termasuk juga mempengaruhi kesiapannya dalam menjalankan peningkatan ekonomi wilayah. Sebagai bahan pembanding boleh kita melihat bagaimana kemajuan industri padat karya yang dilakukan oleh negara China, dimana menurut realita bahwa produk-produk (tekstil, elektronik dan sepeda motor) yang membanjiri pasar Indonesia saat ini adalah merupakan hasil industri padat karya. Sumber daya alam Indonesia pada umumnya masih berupa sumber daya alam murni yang masih harus memerlukan olahan lebih lanjut untuk mendapatkan dan menambah nilai ekonomis. Sumberdaya alam mumi selama ini lebih banyak digunakan sebagai input produksi bagi industri-industri besar termasuk logam dan kimia, yang selama ini Indonesia mengekspornya dalam bentuk murni sedangkan pengolahan selanjutnya dilakukan di negara lain. Sebagai contoh, Sumber Daya Alam Migas, Kimia dan hasil tambang lainnya seperti yang dilakukan oleh Freeport, Pertamina dan sebagian usaha perikanan. Akibatnya kita kurang dan bahkan tidak mendapatkan nilai tambah dan nilai garda (multyflier effect) atas olahan tersebut. Sedangkan Sumber Daya yang selama ini dikelola oleh industri kecil dan menengah lebih banyak Sumber Daya yang bersifat hasil ikutan dari industri besar (Sihaan (2009). Hal lain yang berhubungan dengan sumber daya alam ini yaitu terjadinya keragaman pemilikan Sumber Daya Alam di masing-masing wilayah (daerah), sehingga diperlukan kejelian dalam menetapkan usaha strategis atau produk unggulan di masing-

7

masing wilayah, agar tercipta kondisi kompetisi yang saling menguntungkan, karena masing-masing wilayah memproduksi barang yang ekonomis. Dengan kata lain masingmasing wilayah harus menyadari apakah lebih baik memproduksi atau membeli tentunya dengan dasar pertimbangan yang disebut di atas. 3.2.2. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) mengandung makna yang tidak terpisahkan, karena teknologi merupakan hasil penerapan ilmu pengetahuan. Harus kita terima bahwa faktor Iptek masih memerlukan perjuangan yang sangat panjang. Kelemahan yang ada selama ini, adalah pembangunan Iptek dilakukan hanya untuk mengejar prestige di mata Internasional. Terjadinya pengerahan dana yang sangat besar untuk pemilikan peralatan, modal tidak rnendukung input produksi industri kecil. Sehingga produk-produk yang kita miliki yang tadinya memiliki keunggulan komparative tidak tereksploitir seperti argo industri pertanian dan perkebunan, perikanan dan peternakan, juga industri kerajinan. Persoalan lain juga sama seperti pemilikan Surnber Daya Alam yang dikemukakan di atas, yaitu penyebaran atau distribusi Iptek di wilayah-wilayah juga bervariasi menurut kuantitas dan frekuensi aktivitas pembangunan yang telah berjalan di masing-masing wilayah. 3.3.3. Permodalan Untuk menghindari rasa apriori tentang permasalahan permodalan ini, maka penulis lebih memfokuskan uraian mengenai kondisi permodalan yang ada di daerah nota bene pemerintah daerah. Sumber kapital yang dimiliki oleh pemerintah daerah selama ini lebih banyak bersumber dari pemerintah pusat, yang jumlahnya dilakukan atas dasar pendekatan aktivitas pembangunan daerah. Data yang diperoleh dari pusat ini secara rational tidak akan mungkin dapat menghasilkan simpanan karena penetapan besamaya dilakukan melalui pendekatan biaya. Artinya bahwa jumlah dana yang diterima tersebut akan dialokasikan untuk membiayai aktivitas yang telalh ditetapkan prinsip berimbang. Rasionalnya bahwa penghasilan pemerintah daerah bersumber dari pendapatan daerah yang diperoleh atas penyediaan

8

barang dun jasa. Akan tetapi sesuai dengan sistem yang dianaut, bila penerimaan daerah yang bersumber dari barang dan jasa ini tersentralisir dan didistribusik lagi ke daerah melalui aktivitas riel dalam pelayanan masyarakat berupa penyediaan infrastruktur dalam dana lainnya seperti fasilitas umum dan sosial. Dengan demikian sudah dapat diperkirakan kondisi capital daerah secara umum saat ini, apabila dihubungkan dengan tuntutan pembangunan ekonomi daerah. Sehingga peranan lembaga keuangan dan perbankan dapat menjadi tumpuan dalam maengatasi kendala permodalan ini, akan tetapi kondisi lembaga keuangan dan perbankan saat ini sama halnya dengan yang dialami oleh sektor riel. Akhimaya bahwa untuk menjadikan fungsinya sebagai lembaga penarik dan penyalurkan dana akan bertindak sangat selektif dengan prinsip nyaman dan cepat kembali. Altematif lain yang menjadi harapan untuk mendapatkan dana penyanggah (revolving fund) dalam penggerak (starting fttnd) bagi aktivitas ekonomi di daerah adalah masing-masing daerah harus menciptakan kondisi ekonomi menjadi menarik (favorable) bagi investor/penanam modal asing (H. Hady. 1996 dalam (Pardede 2009). Menarik berarti bukan hanya dari segi substansi bisnis akan tetapi lebih menyangkut kenyamanan menyeluruh sebagaimana yang tersebut dalam indikator Country Risk sebagai salah satu pertimabangan bagi investor asing. 3.3.4. Prasarana Penyiapan prasarana merupakan partisipasi pemerintah dalam upaya mendorong lancamaya aktivitas ekonomi terutama menyangkut pembukaan jalan-jalan ke sentrasentra produksi pasar. Kemudahan akses yang ditunjang oleh ketersediaan jalan dan alat transportasi akan memperlancar penyaluran dan distribusi bahan dan hasil- basil olahan. Untuk kedua fasilitas ini kerjasama antar pemerintah dan swasta sangat dibutuhkan. Penyediaan jalan lebih diharapkan kepada pemerintah sedangkan transportasi biasanya ditangani oleh swasta. Pembukaan jalan penghubung antar sentra produksi dan pasar hendaknya dapat memperhatikan manfaat ganda terhadap munculnya aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang Lintas jalan tersebut, yang berarti memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam peningkatan ekonomi sesuai dengan batas kemampuan masing-masing. Hasil survei menunjukkan bahwa pada

9

umumnya kondisi prasarana jalan dan alat komunikasi sudah memadai terutama antar kota/propinsi, akan tetapi perlu ditingkatkan mengingat pertambahan jumlah alat transportasi yang kurang seimbang dengan kapasitas jalan yang tersedia. b. Pengendalian terhadap Impor Barang Luar Negeri Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus, sebab menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masingmasing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99 persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 17,58 persen menjadi 19,12 persen (Pardede, 2009). Pengendalian terhadap impor barang luar negeri dapat dilakukan dengan mengajak masyarakat agar membeli barang Indonesia karena akan mendukung laju peningkatan daya saing, karena barang-barang impor dari luar negeri banyak yang kualitasnya bagus dan murah dibanding produk Indonesia. Hal itu dapat menyebabkan Indonesia kehilangan daya saing. Maka diperlukannya iklan-iklan dan sosialisasi terhadap masyarakat akan cinta produk asli Indonesia. Peningkatan industri lokal diperlukan agar kualitas produk Indonesia dapat bersaing di dalam maupun di luar.

c. Upaya pemerintah
Upaya yang dilakukan pemerintah; Pertama, tentu saja Pemerintah harus peka terhadap kondisi ini. Pemerintah jangan hanya menunggu dan baru bertindak ketika industri kita mulai mati atau bangkrut. Sudah saatnya Pemerintah memberlakukan safeguard (perlindungan pasar) terhadap barang khususnya produk China, yaitu dengan cara menaikkan tarif bea masuk khusus untuk produk Cina. Hal itu bukan tindakan tabu karena Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa pun melakukan tindakan tersebut. Bahkan tindakan safeguard ini diperbolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kedua, Pemerintah juga bisa melindungi produk dalam negeri yaitu dengan melakukan pengawasan mutu. Artinya produk dari luar yang tidak sesuai dengan standar mutu Indonesia yang telah ditetapkan, dilarang masuk ke pasar domestik. Ini dapat

10

mencegah produk-produk yang tidak berkualitas masuk ke Indonesia, seperti yang sekarang ini kerap terjadi. Ketiga, praktek KKN dan berbagai pungutan liar yang dilakukan Pemerintah di semua lapisan harus dibersihkan. Kalau tidak maka hal ini akan menyebabkan biaya ekonomi tinggi yang berpengaruh terhadap daya saing produk dalam pasar intemasional. Keempat, yang tidak kalah pentingnya, Pemerintah harus memperbaiki infrastruktur yang ada dan meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia (SDM) agar dapat mendukung industri dalam negeri dalam menghadapi persaingan pasar bebas. SDM yang berkualitas dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan serta menjamin biaya pendidikan yang murah. Yang terakhir, kita sebagai bangsa Indonesia, harus lebih mencintai produk lokal ketimbang produk asing. Bagaimanapun juga, kebebasan itu jatuh pada kita sebagai konsumen untuk memilih, apakah produk luar yang kebarat-baratan atau dengan harga yang sangat murah namun dengan kualitas yang tidak jelas ataukah produk sendiri yang merupakan hasil karya anak bangsa sendiri. Kalau kita memilih produk lokal, berarti kita ikut membantu memajukan industri dalam negeri, yang secara tidak langsung ikut mensejahterahkan masyarakat. Bila kelima hal tersebut dilakukan maka niscaya di era globalisasi dan perdagangan bebas ini, Indonesia akan mampu bangkit dan bersaing di pasar domestik maupun di pasar global sehingga diakui dimata dunia dan pada gilirannya dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran yang diharapkan seluruh rakyat Indonesia.

11

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan
Globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas antar negara dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran suatu negara yang ikut dalam perdagangan bebas, dengan mengandalkan komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Hal ini dapat dicapai dengan cara menghilangkan berbagai hambatan perdagangan baik hambatan tarif maupun hambatan bukan tarif sehingga tercipta aliran perdagangan yang semakin cepat dan meningkatnya volume perdagangan antar negara. Dampaknya jelas akan memakan korban yaitu industri-industri yang tidak siap menghadapi persaingan global terutama industri kecil, industri ini akan mati pelan-pelan, kemudian meminta korban berikutnya yakni jutaan pengangguran. Fenomena ini sudah terjadi namun kita menyaksikan Pemerintah cenderung menutup mata, melihat keadaan yang tidak sehat ini. Kunci keberhasilan dalam menghadapi perdagangan bebas adalah terletak pada kesiapan dari negara itu sendiri. Kesiapan suatu negara dapat dilihat dari kesiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM). Berdasarkan survei dan pendapat para pengamat, bahwa infrastruktur di tanah air belum mendukung untuk menghadapi perdagangan bebas, ditambah lagi kualitas Sumber Daya Manusia SDM kita masih rendah. Pemerintah dalam meningkatkan persaingan menghadapi perdagangan bebas global sangat berperan penting. Mengingat produk Indonesia yang kualitasnya minim, sehingga bisa terjadinya pembelian besar-besaran terhadap barang impor yang masuk. Perlunya juga peran aktif dari masyarakat agar tidak terlalu tertarik oleh produk impor yang masuk, agar terjadinya keseimbangan pasar.

b. Saran
Langkah yang diharapkan dapat direalisasikan adalah meningkatkan kualitas produk lokal dengan bimbingan dari pemerintah, memberi perlindungan pasar dengan menaikkan tarif bea masuk agar tidak terjadi banjir impor, menghilangkan praktek KKN yang merajalela, memperbaiki infrastruktur dan prasarana, dan kita sebagai bangsa Indonesia, harus lebih mencintai produk lokal ketimbang produk asing dengan mensosialisasikan terhadap masyarakat.

12

DAFTAR PUSTAKA Fakih, Mansour. 2003.”Bebas dari Neoliberalisme”.Insist Pers. Yogyakarta Jhamtani, Hira. 2005.”WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga” Insist Pers. Yogyakarta M. Porter. Thn. 1997. Porter dalam Sihaan (2009), Harapan dan Tantangan Ekonomi Lokal Menuju Perdagangan Bebas Nugoho, Yanuar. 2005. ”Bisnis Pun Ada di Simpang Jalan”. Opini, Kompas 22 September2005 cetak/0509/22/opini/2068215.htm) Pardede Muhammad Tamim, 2009, Perdagangan Bebas dengan Cina 2010, Membentuk Kebangkrutan Indonesia Menuju Kebangkitan Komunis 2 (http://www.kompas.com/kompas-

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->