P. 1
Lingkungan Hidup, Sumber Daya Atau Sumber Petaka

Lingkungan Hidup, Sumber Daya Atau Sumber Petaka

|Views: 866|Likes:
Published by asagichan

More info:

Published by: asagichan on Jan 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

LINGKUNGAN HIDUP, SUMBER DAYA ATAU SUMBER PETAKA ? Oleh : Al.

Susanto *)

I. PENDAHULUAN Pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 23 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah : kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahkluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup termasuk Sumber Daya Alamnya baik secara global, regional maupun nasional dalam sejarah peradaban manusia telah memberikan dua makna bagi manusia. Disatu sisi, makna yang dirasakan adalah meningkatknya kesejahteraan dan kualitas hidup manusia, sedangkan di bagian lain menyebabkan bencana dan sekaligus penurunan kualitas hidup manusia . Jika seseorang ditanya akan memilih yang mana, tentu jawabannya Lingkungan Hidup dan SDA yang bisa meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya. Sekalipun demikian fakta menunjukan bahwa hampir 1/6 penduduk dunia masih dikungkung dalam kemiskinan yang tidak mungkin keluar dari kungkungan tersebut tanpa bantuan pihak lain yang kondisinya berkecukupan baik dari aspek kemampuan IPTEK maupun finansial. Kesenjangan tingkat kesejahteraan yang begitu besar antar negara yang diukur dari pendapatan per kapita semakin nyata dan sulit untuk diatasi. Sebagai contoh ditunjukkan dari data IMF yang diterbitkan April 2007 sbb. : Luxemburg negara peringkat 1 dari segi pendapatan per kapita/th sebesar US$ 87,955, Indonesia menduduki peringkat 115 dengan US$ 1,640 dan Burundi menduduki peringkat 180 dengan US$ 119 (berdasarkan data 2005 , dari 180 anggota IMF). Dari data tersebut terlihat perbandingan antara negara termiskin (Burundi) dan terkaya (Luxemburg) adalah 1 : 739. Suatu kesenjangan yang fantastis. Dalam 2 dekade terakhir ini kesadaran global akan perlunya kebersamaan masyarakat dunia untuk bersatu padu menyelamatkan planit bumi dan mahluk hidup yang berada di dalamnya semakin menguat dan kongkrit dalam implementasinya. Karena kerusakan bumi disadari betul penyebab utamanya ternyata karena kecerobohan dan tidak arifnya manusia di bumi dalam merencanakan dan mengendalikan pemanfaatan lingkungan hidup dan SDA nya bagi kepentingan yang mengatasnamakan “pengembangan wilayah” dan “meningkatkan kesejahteraan rakyat”. Berkurangnya cakupan hutan, diversifikasi penggunaan lahan, meningkatnya hujan asam, meningkatnya kadar CO², penggunaan CFC, penipisan ozon,erosi, banjir, pemanasan global, kemiskinan, epidemi berbagai penyakit seperti AID/HIV, malaria dlsb. ternyata merupakan jalinan yang saling kait-mengkait yang ujung2-nya menyebabkan bencana kronis yang menyengsarakan manusia di planit bumi. Akibat kerusakan Lingkungan Hidup ,sebagai contoh pemanasan global yang antara lain menyebabkan perubahan ilkim, ternyata dampak negatif yang ditimbulkan tidak mengenal apakah negara maju atau negara berkembang, miskin atau kaya, bangsanya/sukunya A atau B, agamanya C atau D dlsb. Semuanya terkena dampaknya. Indonesia sendiri telah cukup banyak mengalami dampak negatif dari kerusakan lingkungan hidup tersebut seperti banjir, kekeringan, badai, pasang naik air laut, erosi, longsor yang berakibat menurunnya produktifitas di berbagai bidang kegiatan dan korban manusia yang tidak sedikit.

*) Anggota IGEGAMA

Bencana akibat kecerobohan dan sekedar mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek sebetulnya telah terjadi sejak lama dan bahkan sejak awal peradaban manusia. Sebagai contoh: punahnya manusia purba di Mesopotamia diyakini oleh para ahli karena lingkungan hidup yang rusak , penyakit minamata dan itai-itai di Jepang tahun 1950 an akibat pencemaran air di teluk Minamata karena limbah industri/pertambangan yang mengandung air raksa (Hg) dan cadmium (Cd), meluasnya penyakit malaria seiring meluasnya penggunaan pestisida. Pada awalnya kesadaran untuk menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup hanya terbatas pada negara-negara industri yang di satu sisi menghasilkan keuntungan ekonomi tetapi di sisi lain ternyata industri juga menghasilkan limbah yang sangat merugikan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Limbah yang merugikan bagi kehidupan manusia tidak hanya berasal dari industri tetapi juga dari rumah tangga. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk potensi pencemaran akibat limbah rumah tangga semakin tinggi. II. KOMITMEN GLOBAL MENGATASI KERUSAKAN LINGKUNGAN a. Konferensi Stockholm, 1972 Kesadaran global untuk memperhitungkan aspek lingkungan selain aspek ekonomi dan kelayakan teknik dalam pembangunan mencuat tahun 1972. Hal tersebut ditandai dengan Konferensi Stockholm tahun 1972. Konferensi ini atas prakarsa negara-negara maju dan diterima oleh Majelis Umum PBB. Hari pembukaan konferensi akhirnya ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia yaitu 5 Juni. Dari Konferensi ini menghasilkan resolusi-2 yang pada dasarnya merupakan kesepakatan untuk menanggulangi masalah lingkungan yang sedang melanda dunia. Selain itu diusulkan berdirinya sebuah badan PBB khusus untuk masalah lingkungan dengan nama : United Nations Environmental Programme (UNEP). Dalam Konferensi juga berkembang konsep ecodevelopment atau pembangunan berwawasan ekologi. Sejalan dengan hal tersebut Indonesia mulai menggagas konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Namun dalam perjalanan, ternyata kesepakatankesepakatan Stockholm tidak bisa menghentikan masalah lingkungan yang dihadapi dunia. Negara-negara maju masih meneruskan pola hidup yang mewah dan boros dalam menggunakan energi. Laju pertumbuhan industri, pemakaian kendaraan bermotor, konsumsi energi meningkat sehingga limbah yang dihasilkan juga meningkat pula. Sementara negara-negara berkembang meningkatkan exploatasi Sumber Daya Alamnya untuk meningkatkan pembangunan dan sekaligus untuk membayar utang luar negerinya. Keterbatasan kemampuan ekonomi dan teknologi serta kesadaran lingkungan yang masih rendah, menyebabkan peningkatan pembangunan yang dilakukan tidak disertai dengan melindungi lingkungan yang memadai. Maka kerusakan sumber daya alam dan Lingkungan Hidup di negara berkembang juga semakin parah. b. United Nations On Environment and Development (UNCED), 1992 Lingkungan hidup dunia yang semakin baik yang menjadi harapan Konferensi Stockholm ternyata tidak terwujud. Kerusakan lingkungan global semakin parah. Penipisan lapisan ozon yang berakibat semakin meningkatnya penitrasi sinar ultra violet ke bumi yang merugikan kehidupan manusia, semakin banyaknya spesies flora dan fauna yang punah, pemanasan global dan perubahan iklim semakin nyata dan betul-betul sudah di depan mata. Oleh karena itu masyarakat global memperbaharui kembali tekadnya untuk menanggulangi kerusakan lingkungan global dengan mengadakan KTT Bumi di Rio de Jeneiro pada bulan Juni 1992 dengan tema Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). KTT ini kita kenal dengan
2

United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Dalam UNCED disegarkan kembali suatu pengertian bersama bahwa pembangunan berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan sekarang dan generasi mendatang. Untuk mencapai hal tersebut dalam setiap proses pembangunan harus memadukan 3 aspek sekaligus yaitu : ekonomi, ekologi dan sosbud. Secara garis besar ada 5 hal pokok yang dihasilkan oleh KTT Bumi di Rio de Jeneiro yaitu : 1. Deklarasi Rio , mengembangkan kemitraan global baru yang adil. 2. Konvensi tentang perubahan iklim, diperlukan payung hukum guna menangani masalah pemanasan global dan perubahan iklim. 3. Konvensi tentang keanekaragaman hayati, diperlukan payung hukum untuk mencegah merosotnya keanekaragaman hayati. 4. Prinsip pengelolaan hutan, hutan mempunyai multi fungsi : sosial, ekonomi, ekologi, kultural dan spiritual untuk generasi. 5. Agenda 21, menyusun program untuk terwujudnya pembangunan berkelanjutan : biogeofisik, sosekbud, kelembagaan, LSM. c. World Summit On Sustainable Development (WSSD), 2002 Setelah 10 tahun KTT bumi, masyarakat global menilai bahwa operasionalisasi prinsip-2 Rio dan agenda 21 masih jauh dari harapan. Masih banyak kendala dalam pelaksanaan agenda 21. Sekalipun demikian masyarakat global masih mengganggap bahwa prinsip-2 agenda 21 masih relevan. Kelemahan terletak pada aspek implementasinya. Oleh karena itu Majelis Umum PBB memutuskan adanya World Summit On Sustainable Development (WSSD). Ada 3 tujuan utama diselenggarakannya WSSD yaitu : 1. Mengevaluasi 10 tahun pelaksanaan agenda 21 dan memperkuat komitmen politik dalam pelaksanaan agenda 21 di masa datang 2. Menyusun program aksi pelaksanaan agenda 21 untuk 10 tahun ke depan 3. Mengembangkan kerjasama bilateral dan multilateral Dokumen yang dihasilkan dalam WSSD adalah : 1. Program aksi tentang pelaksanaan Agenda 21 sepuluh tahun mendatang 2. Deklarasi Politik 3. Komitmen berupa inisiatip kemitraan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan WSSD diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada bulan September 2002 d. Millenium Development Goals, 2000 Konferensi Stockholm tahun 1972, konferensi Bumi (UNCED) di Rio de Jeneiro tahun 1992, dan pertemuan puncak pembangunan berkelanjutan (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg merupakan upaya masyarakat global untuk meletakkan landasan dan strategi yang bersifat mondial dalam mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup yang semakin parah dan memprihatinkan. Kesadaran global juga mengemuka karena ternyata upaya-upaya penanggulangan kemerosotan lingkungan hidup tidak mudah dan bahkan semakin rumit dan saling kait mengkait berbagai apek kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik budaya, kemiskinan, ketimpangan antar negara dlsb. Selain 3 konferensi/pertemuan puncak para kepala negara/pemerintahan tersebut kiranya perlu dicatat pula suatu komitmen global yang tidak secara khusus membahas dan merumuskan masalah lingkungan hidup, namun kaitannya sangat erat dengan masalah lingkungan hidup yaitu Millenium Development Goals (MDG’s). MDG’s awalnya dikembangkan oleh OECD dan kemudian diadopsi dalam United Nations Millenium Declaration yang ditandatangani September 2000 oleh 189 negara maju dan berkembang. Komitmen yang mencakup 8 sasaran tersebut harus dicapai

3

pada tahun 2015 dan sebagai angka dasar masing-masing sasaran adalah data tahun 1999. Komitmen dalam MDG’s yang dicetuskan dalam Sidang Umum PBB tahun 2000 mencakup : 1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan ,dengan mengurangi setengahnya jumlah penduduk yang berpendapatan kurang US$ 1 per hari. Mengurangi setengahnya jumlah penduduk yang menderita kelaparan. 2. Pemenuhan pendidikan dasar untuk semua, dengan menjamin semua anak dapat menyelesaikan sekolah dasar. Hal tersebut disertai dengan upaya agar anak-2 tetap mengikuti pendidikan di sekolah dengan kulitas pendidikan yang baik. 3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, dengan menghilangkan perbedaan gender baik pada tingkat sekolah dasar maupun sekolah lanjutan tingkat pertama pada tahun 2005 dan tahun 2015 untuk semua tingkat. 4. Menurunkan angka kematian anak usia di bawah 5 tahun, dengan sasaran menjadi 2/3 nya. 5. Meningkatkan kesehatan ibu, dengan mengurangi ratio kematian ibu menjadi 3/4 nya. 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, dengan menghentikan dan mulai menurunkan peyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya. 7. Memberikan jaminan akan kelestarian lingkungan hidup, dengan memadukan prinsip-2 pembangunan berkelanjutan ke dalam program dan kebijakan masing-2 negara, menurunkan hilangnya sumber daya alam, mengurangi hingga 1/2 nya penduduk yg selama ini tidak bisa mengakses air bersih secara berkelanjutan, perbaikan secara signifikan terhadap tempat tinggal paling tidak 100 juta tempat tinggal kumuh (slum dwellers) sampai 2020. 8. Mengembangkan kerjasama global dalam pembangunan, antara lain dengan pengembangan sistem perdagangan dan keuangan yang transparan, kepemerintahan yang baik, memperhatikan kebutuhan-2 negara berkembang seperti : memberikan kuota export, penghapusan/penundaan pembayaran hutang , bantuan untuk pengentasan kemiskinan, bantuan untuk peningkatan produktivitas kaum muda, akses untuk memperoleh obat-2 an yang penting bagi negara berkembang. MDG’s saat ini menjadi begitu penting karena hampir 1/6 penduduk dunia atau sekitar 1,1 milyar, dalam kondisi miskin yang akut dan ekstrim dengan pendapatan kurang dari US$ 1 per hari. Kemiskinan menjadi peyebab utama dan akar dari ketidak adilan dan keamanan global. Demikian juga kemiskinan menjadi salah satu sumber utama laju kerusakan lingkungan hidup yang semakin sulit untuk ditanggulangi.Kewajiban masing2 negara yang berkomitmen dengan MDG’s untuk melaporkan kemajuannya dalam melaksanakan program secara periodik dengan indikator yang jelas dan terukur. Wajar jika kita berharap sasaran MDG’s akan tercapai pada tahun 2015. III. PEMBANGUNAN DOOMSDAY” a. Pengertian Pemabangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) Setelah Konferensi Stockholm dan melihat masalah lingkungan hidup semakin memprihatinkan, PBB membentuk sebuah komisi khusus untuk menelaah masalah lingkungan. Komisi tersebut bernama World Commission on Environment and Development (WCED). Komisi ini yang diketuai oleh Ny. Gro Brundtland (waktu itu PM
4

BERKELANJUTAN

VERSUS

”ENVIRONMENT

Norwegia) mengumumkan laporannya yang berjudul “Our Common Future”. Laporan ini dikemudian hari dikenal dengan Laporan Brundtland. Laporan bertemakan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Menurut komisi tersebut definisi pembangunan berkelanjutan adalah ”pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan hari kini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Selain pengertian Pembangunan Berkelanjutan yang dikeluarkan oleh WCED ada berbagai pengertian atau esensi pembangunan berkelanjutan yang dicetuskan oleh para ahli, organisasi/kelompok. Pengertian atau esensi tersebut antara lain : Pembangunan Berkelanjutan merupakan lebih sebagai suatu perjalanan (proses) dari pada sebuah tujuan (David Buzzelli, President of Dow Chemical Canada Inc.). Pembangunan Berkelanjutan merupakan pertumbuhan yang harmonis dengan lingkungan hidup kita, melindungi sumber daya alam untuk pembangunan ekonomi dan perencanaan anak-2 kita di masa datang (Gary Filmon, PM Manitoba). Pembangunan Berkelanjutan adalah pembangunan tanpa perusakan (Maurice Strong, Sekretaris Jendral KTT Bumi 1992). Pembangunan Berkelanjutan membutuhkan kesehatan lingkungan hidup, kemakmuran ekonomi dan kesetaraan sosial (Earth Council). Pembangunan Berkelanjutan adalah pencapaian pembangunan ekonomi dan sosial secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan dan sumber daya alam. Kualitas aktifitas manusia di masa mendatang dan pembangunan saling tergantung dan perlu dijaga keseimbangannya (European Foundation For Improvement of Living and Working Condition). b. “Environment Doomsday” Sekalipun komitmen , kebijakan, arah, strategi, program aksi, kerjasama global untuk menanggulangi kerusakan lingkungan telah dirumuskan dan disepakati untuk diimplementasikan namun dari penelitian dan fakta alami yang terjadi, ternyata ancaman kerusakan lingkungan yang berdampak pada kehidupan semakin mengerikan dan semakin rumit untuk diurai dan diselesaikan. Contoh mutakhir yang begitu menyentak adalah fenomena perubahan iklim akibat adanya global warming yang menyebabkan banjir, badai, kekeringan, suhu udara yang tidak menentu di berbagai belahan dunia yang begitu ekstrim, gelombang laut yang besar dll. Negara kaya maupun negara miskin terkena dampaknya. Namun bagaimanapun juga pada akhirnya yang paling menderita adalah negara-negara miskin . Karena untuk tanggap darurat, mitigasi, konstruksi dan rehabilitasi akibat bencana dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akibat kerusakan lingkungan global planit bumi terancam berbagai dampak negatif yang jika tidak segera ditanggulangi dan dihentikan penyebab kerusakan tersebut akan memusnahkan mahkluk hidup di bumi. Sehingga tidak mustahil terjadi ”kiamat akibat kerusakan lingkungan” atau ”environment doomsday”. Beberapa atau kombinasi hal-hal berikut ini bisa menjadi pintu masuk bagi sumber petaka dunia antara lain : perubahan iklim, pemanasan dan pendinginan global; epedemi penyakit menular seperti : HIV/AIDS, malaria, SARS, sapi gila; punahnya sumber energi yang tidak terbarukan; hujan asam; menipisnya lapisan ozon dll. Sumber petaka tersebut belum memperhitunkan bencana yang diakibatkan oleh dinamika kulit dan isi bumi seperti gempa tektonik, gempa vulkanik, tsunami. Untuk ancaman dari dinamika kulit dan isi bumi secara langsung kita tidak bisa mencegah, namun sebagai manusia yang diberikan akal budi oleh Tuhan Sang Pencipta, seharusnya bisa mengupayakan langkah-2 antisipasi dan mengurangi dampak negatif seminimal mungkin dan tidak menyerah pada nasib. Menurut Frans Doorman dari Global Development, walaupun ada kemajuan di negaranegara kaya dalam mengendalikan polusi dan melindungi ekosistem, namun di
5

belahan bumi lainnya kondisinya sangat memprihatinkan. Negara kaya menilai bahwa hanya 20 % dari daratan bumi yang betul-2 aman dari dampak negatif kerusakan lingkungan, selebihnya dalam kondisi beresiko terhadap kerusakan dan dampak negatif. Beberapa kondisi di bawah ini merupakan contoh betapa kerusakan lingkungan mengancam planit bumi kita : 1. Ekosistem alami hilang secara cepat. Jika hal ini terjadi terus maka dalam 2030 tahun hutan tropis dan hutan pegunungan akan habis. Demikian juga lahan basah akan musnah atau setidaknya terkena polusi berat. 2. Polusi udara dan air akan menimpa jutaan orang setiap tahun, sehingga menyebabkan infeksi akut dan permasalahan kesehatan yang kronis dan berujung pada kematian prematur. Polusi tanah akan meningkat dan akan menurunkan kualitas air tanah. 3. Pemanasan global akan menaikkan permukaan laut dalam beberapa feet dan akan mengancam ½ penduduk yang bermukim di pesisir. Pemanasan global juga menyebabkan badai dan banjir yang bersifat merusak. Spesies flora dan fauna terancam existensinya, di daerah yang kering gurun bertambah luas. 4. Menurunnya kualitas dan kuantitas hasil pertanian karena meningkatnya salinasi air irigasi. Hal ini terutama pada daerah-2 yang padat penduduk. 5. Diperkirakan tahun 2050 baik negara kaya maupun miskin akan menghadapi permasalahan serius dalam penyediaan air bersih. Para ahli dan komitmen global telah mengingatkan kita semua di planit bumi ini bahwa lingkungan hidup dengan sumber dayanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia secara berkelanjutan, namun dengan syarat kita harus mengelola lingkungan hidup secara berkelanjutan pula. Harus ada keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosbud dan pengelolaan lingkungan hidup. Masalahnya adalah memutuskan untuk memilih : lingkungan hidup dengan sumber alamnya akan kita jadikan sebagai sumber daya atau sumber bencana ? Masing-2 mempunyai konsekwensinya. IV. ARAH KEBIJAKAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RPJP INDONESIA 2005-2025 Undang-undang no. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 merupakan rencana pembangunan nasional dalam 20 tahun ke depan dalam berbagai aspek/sektor pembangunan sebagai upaya menyabarkan dan mencapai tujuan nasional sebagaimana tersebut dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam RPJP tersebut memuat : visi, misi, kondisi umum, arah, tahapan, dan prioritas Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025. Visi dan Misi Pembangunan Nasional 2005-2025 adalah sbb. : VISI : ” INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU DAN MAKMUR” Adapun misi RPJ P 2005-2025 adalah : 1. Mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafat Pancasila 2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing. 3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum. 4. Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu. 5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan. 6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari. 7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional. 8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

6

Dari misi tersebut yang terkait lansung dengan sektor lingkungan hidup adalah misi ke 6 yaitu : mewujudkan Indonesia asri dan lestari. Dalam mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari sasaran dan arah pembangunan Lingkungan Hidup yang digariskan dalam RPJP 2005-2025 adalah sbb. : a. Sasaran RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup 1. Membaiknya pengelolaan dan penggunaan SDA dan pelestarian fungsi LH yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi daya dukung dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi, seimbang dan lestari. 2. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan SDA untuk mewujudkan nilai tambah, daya saing bangsa, serta modal pembangunan. 3. Meningkatnya kesadaran, sikap mental dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi LH untuk menjaga kenyamanan dan kualitas kehidupan. b. Arah RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup 1. Mendayagunakan SDA yang terbarukan SDA terbarukan dimanfaatkan secara rasional, optimal, efisien dan bertanggung jawab dengan menggunakan seluruh fungsi dan manfaat secara seimbang. 2. Mengelola SDA yang tidak terbarukan Pengelolaan SDA tak terbarukan, seperti bahan tambang, mineral, dan sumber energi diarahkan untuk tidak dikonsumsi secara langsung, melainkan diperlakukanan sebagai masukan, baik bahan baku maupun bahan bakar, untuk proses produksi yang dapat menghasilkan nilai tambah optimal di dalam negeri. 3. Menjaga keamanan ketersediaan energi Menjaga keamanan ketersediaan energi diarahkan untuk menyediakan energi dalam waktu yang terukur antara tingkat ketersediaan sumber-2 energi dan tingkat kebutuhan masyarakat. 4. Menjaga dan melestarikan sumber daya air Pengelolaan diarahkan menjamin keberlanjutan daya dukungnya dengan menjaga kelestarian fungsi daerah tangkapan air dan keberadaan air tanah. 5. Mengembangkan sumber daya kelautan Pembangunan ke depan perlu memperhatikan pendayagunaan dan pengawasan wilayah laut yang sangat luas.Pemanfaatan sumber daya tersebut melalui pendekatan multisektor, integratif dan komprehensif untuk meminimalkan konflik dan tetap menjaga kelestariannya. 6. Meningkatkan nilai tambah atas pemanfaatan SDA tropis yang unik dan khas Deversifikasi produk dan inovasi pengolahan hasil SDA terus dikembangkan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai tambah tinggi. 7. Memperhatikan dan mengelola keragaman jenis SDA yang ada di setiap wilayah Pengelolaan SDA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, mengembangkan wilayah strategis dan cepat tumbuh serta memperkuat daerah dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. 8. Mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi geologi Indonesia Mengembangkan kemampuan sistem deteksi dini, sosialisasi dan desiminasi informasi terhadap ancaman kerawanan bencana alam kepada masyarakat. 9. Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan
7

Pembangunan ekonomi diarahkan pada pemanfaatan jasa lingkungan yang ramah lingkungan. Pemulihan kondisi lingkungan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan. 10. Meningkatkan kapasitas pengelolaan SDA dan LH Meliputi : peningkatan kelembagaan, penegakan hukum, SDM yang berkualitas, penerapan etika lingkungan, internalisasi etika lingkungan dalam kegiatan produksi, konsumsi, pendidikan formal dan kehidupan sehari-hari. 11. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan. c. Beberapa kelemahan strategis dalam pencegahan kerusakan lingkungan di Indonesia Beberapa kelemahan yang sifatnya mendasar selama ini dalam mengelola lingkungan hidup dan memerlukan tekad kuat untuk diperbaiki menurut kami adalah : 1. Energi nasional dalam kurun 10 tahun terakhir tercurah habis untuk pengembangan proses demokrasi yang kurang sehat, sehingga hal-2 yang strategis dan berdampak luas dan menjangkau llintas generasi kurang mendapat perhatian dan dukungan politis. Sebagai contoh : masalah lingkungan hidup, pendidikan warga negara yang cinta tanah air, dan peningkatan kualitas SDM sangat kurang mendapat perhatian. 2. Kebijakan dan regulasi tentang pengelolaan hidup yang sudah cukup baik dalam formulasinya ternyata tidak dibarengi dengan implementasi yang baik. Sebagai contoh : illegal logging tetap berlangsung, polusi udara,air dan tanah tidak teratasi dan bahkan meningkat. 3. Penegakan hukum terhadap pelanggaran perusakkan dan pencemaran lingkungan hampir tidak ada sangsinya. Hal ini mendorong usaha rehablitasi lingkungan dan konservasinya tidak punya arti. 4. Otonomi daerah yang berorientasi menaikkan PAD menyebabkan exploatasi sumber daya yang membabi buta. Seolah-2 Lingkungan Hidup dan SDA nya adalah sapi perah yang tidaka akan habis susunya. 5. Anggaran sektor LH yang sangat kecil (kurang 1% dari APBN ?), sementara kontribusi hasil SDA mencapai sekitar 25-30% APBN, sangatlah tidak seimbang. 6. Sementara SDM yang menyadari pentingnya peran Lingkungan Hidup sebagai modal pembangunan dan sekaligus tabungan untuk anak cucu kita di masa depan tidak banyak, sekalipun itu di tingkat pengambil keputusan baik di Pusat maupun Daerah. 7. Minimnya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan implementasi mengenai Lingkungan Hidup antara Pemerintah Pusat dan Daerah. V. PENUTUP Masalah lingkungan hidup Indonesia yang dikelola secara ceroboh dan pembangunan/pengembangan wilayah yang tidak berorentasi pada pemenuhan kepentingan jangka pendek dan jangka panjang secara seimbang menyebabkan kerusakan- kerusakan hasil investasi, harta benda, manusia dan keanekaragaman hayati yang cenderung meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Sementara alokasi anggaran rehabilitasi kerusakan lingkungan semakin tidak seimbang dengan kerusakan dan penurunan kualitas/ kuantitas lingkungan hidup dan SDA yang diexploitir. Sementara kesadaran dan keseriusan para pengambil keputusan dalam memperhatikan dan mengimplementasikan kebijakan dan komitmen dalam sektor lingkungan hidup sangatlah tidak memadai. Banyak komitmen nasional dan global di bidang lingkungan hidup yang sasarannya jelas tidak tercapai. Ada gap yang besar antara rumusan kebijakan dengan operasionalisasinya.
8

Diperlukan kemauan yang keras , tidak kenal lelah, dan mendasar untuk menempatkan perhatian dan kebijakan yang pro lingkungan hidup khususnya para elit yang berada di legislatif, eksekutif maupun judikatif. Jika tidak, barangkali Indonesia akan mengalami ”environment doomsday” dalam waktu kurang dari 50 tahun .

Referensi : 1. Doorman Frans, ”The environmant : present and prospects for the future”, 2006 2. Henk Van Zon, Summary History and Sustainable Development, 2006 3. Presiden RI, “ UU no 27 tahun 2007 tentang RPJP 2005-2025”, Setneg RI 2007. 4. Soemarwoto Otto, “Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global” 1991, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2001 5. UNDP,” Millinium Development Goals”, 2007

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->