P. 1
Khutbah Idul Adha 1429 H

Khutbah Idul Adha 1429 H

|Views: 143|Likes:
Published by abuanisah

More info:

Published by: abuanisah on Jan 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2015

pdf

text

original

Khutbah Idul Adha 1429 H: Membangun Kembali Semangat Berqurban

Khutbah Idul Adha 19/11/2008 | 19 Zulqaedah 1429 H | Hits: 18.194 Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA dakwartuna.com - Allahu Akbar- ALLahu Akbar- Allahu Akbar – WaliLlahil Hamd. Jama’ah Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt. Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: “Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27) Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’arsyi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30) Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt. Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam

menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah: evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt. Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLLahil Hamd Icon manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar KhaliluLlah (kekasih Allah) adalah Ibrahim. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27). Ibadah ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh kekhusyu’an dan ketundukkan seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya setelah itu. Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang ini seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syetan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya akan diarahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: “katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al-An’am: 162)Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seseorang akan giat berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan ridha Allah swt dalam bentuk sa’I antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian ibadah haji sarat dengan pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Ibrahim dan keluarganya. Ma’asyiral muslimin rahimakumuLlah. Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama

Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102). Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya. Jama’ah Shalat Idul Adha RahimakumuLlah. Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw. Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il kita yang karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya: “Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24) Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya. Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang berbahagia. Keta’atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah keta’atan Isma’il untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah: kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?. Bagaimanakan Isma’il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdoa: “Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-Shaffat: 100). Maka Allah mengkabukan doanya: “Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim”. (Ash-Shaffat: 101). Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan

antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: : “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku seorang yang tabah hati, insya Allah”. (AshShaffat: 102) Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada pundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah peri pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil lagi, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’. Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLlahil Hamd Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan keberagamaan yang sangat berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati: “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain di bandingkan dirinya, lalu mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya tersebut? Memang secara fithrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun demikian, disamping itu semua, manusia pada dasarnya adalah makhluk zoon politicon, yang cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain, sehingga dari kerjasama tersebut ia dapat mengambil manfaat berupa perwujudan kehormatan dan kepentingannya. Oleh karena itu, beberapa macam pengorbanan dan pendahuluan kepentingan orang lain, menjadi bagian dari keharusan dalam bangunan masyarakat yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan bahagia. Dalam hal ini, tentu kita sepakat bahwa kita sangat berhutang budi dalam setiap kenikmatan hidup material maupun non-material terhadap orang-orang yang telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita berhutang budi dalam bidang kelezatan ilmu pengetahuan kepada para pengarang, seperti sastrawan, ulama, muhadditsin, mufassirin dan filosof yang dengan tekun menghabiskan usia mereka untuk menulis dan memenuhi lembaran-lembaran kertas dengan hikmah dan ilmu pengetahuan. Sementara orang lain sedang nyenyak tidur atau sedang sibuk dengan syahwat mereka. Ungkapan Az Zamakhsyari berikut ini menggambarkan apa yang mereka lakukan untuk ilmu pengetahuan: “Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan, lebih ni`mat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang dengan wanita yang cantik Aku bergerak kesana kemari untuk memecahkan satu masalah ilmu pengetahuan lebih enak dan lebih menarik seleraku dibandingkan hidangan yang lezat”. Hadirin wal Hadirat RahimakumuLlah.

Kita juga sadar bahwa kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini. Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu menghargai makna pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain? Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak luhur seperti ini yang memang telah diperintahkan oleh Allah swt?. “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9) Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.

hutbah Idul Adha oleh Ust. Sigit Pranowo, Lc.
Jumat, 05/12/2008 16:23 WIB Cetak | Kirim | RSS Menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah saw Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Di hari yang agung dan mulia ini, seluruh kaum muslimin baik yang sedang menjalani manasik haji di tanah suci dan yang berada di negeri-negeri mereka mengumandangkan dzikir-dizkirnya mengingat Allah swt. Mereka bertakbir mengagungkan kebesaran Sang Penciptanya, sebagai pernyataan kecilnya mereka dihadapan Yang Maha Besar, hinanya mereka dihadapan Yang Maha Mulia dan rendahnya mereka dihadapan Yang Maha Tinggi.

Mereka menggemakan alam ini dengan tahlil mengesakan Yang Maha Tunggal, sebagai pernyataan bahwa tidak ada yang pantas diibadahi kecuali Yang Maha Kuasa, tidak ada yang pantas ditaati aturan-Nya kecuali Yang Maha Adil, dan tidak ada yang pantas ditakuti kecuali Yang Maha Pedih siksa-Nya. Mereka menggemakan alam ini dengan tahmid memuji Yang Maha Sempurna, sebagai pernyataan bahwa tidak ada yang memberikan nikmat kepadanya kecuali Yang Maha Pemberi Rezeki dan sebagai pernyataan tidak ada yang pantas diminta kecuali Yang Maha Kaya. Semua itu diucapkan dengan hati yang ikhlas dengan hanya mengharap ridho’-Nya secara bersama-sama, berjama’ah menggentarkan musuh-musuh Allah swt, menciutkan nyali mereka dan mengkerdilkan pemimpin mereka, iblis laknatullah alaihi. Dan menyatakan kepada mereka bahwa bumi dan alam ini seluruhnya adalah milik Allah swt dan diwariskan kepada kaum mukminin yang selalu mengagungkan dan mengingat-Nya. Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Ibadah haji yang merupakan warisan bapak para Nabi, Ibrahim as sangatlah syarat dengan nilai-nilai ilahiyah yang bisa dijadikan sebagai pegangan bagi kaum muslimin didalam mengarungi kehidupan mereka. Haji sebagaimana ibadah pada umumnya bahwa ia memerlukan dua rukun agar diterima Allah swt dan menjadikannya mabrur. Kedua rukun itu adalah ikhlas semata-mata karena Allah swt dan mengikuti cara-cara yang dicontohkan Rasulullah saw didalam bermanasik. Allah swt berfirman,”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5) Juga hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah berkata,”Aku telah menyaksikan Rasulullah saw melontar jumroh dan beliau saw berada diatas ontanya sambil mengatakan,’Wahai manusia ambillah caracara manasik kalian (dariku). Sesungguhnya aku tidak mengetahui barangkali aku tidak bisa lagi berhaji setelah tahun ini.” (HR Muslim, Nasai dan Ahmad) Dua rukun tersebut haruslah ada secara bersamaan, tidak hanya salah satunya. Suatu ibadah akan rusak manakala ia hanya ikhlas namun dalam pelaksanaannya tidak mencontoh cara-cara Rasulullah saw dalam melakukannya dan ibadah akan sia-sia manakala hanya mencontoh cara-cara Rasulullah saw namun tidak dilaksanakan dengan ikhlas karena-Nya. Firman Allah swt,”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al Mulk : 2) Fudhoil bin Iyadh mengatakan bahwa amal ibadah yang terbaik adalah akhlasu (ikhlas) dan ashwab (meniru Rasulullah saw).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Didalam kesempatan yang mulia ini, mari kita ambil salah satu rukun dari dua rukun ibadah tersebut sebagai pegangan buat kita didalam menjalani kehidupan yang semakin berat ini, yaitu meniru segala sesuatu yang dicontohkan baginda Rasulullah saw, yang bisa kita artikan dengan menghidupkan sunah-sunahnya. Tahun demi tahun telah kita lewati, rezim demi rezim telah kita lalui, namun kehidupan kita kaum muslimin tidaklah ada kemajuan secara significan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Berbagai krisis terus melanda kita kaum muslimin, krisis ekonomi yang tidak pernah berhenti menghantam kaum muslimin sehingga menjadikan kemiskinan seakan-akan menjadi sahabat mereka. Krisis sosial dan moral yang hampir merata diseluruh tempat di negeri ini, mulai dari pelecehan seksual, menampilkan tarian-tarian erotis dihadapan public, perzinahan hingga pergaulan sesama jenis sudah sering dipertontonkan oleh para aktor kemaksiatan tanpa pernah merasa takut akan adzab Allah kepada mereka, bentuk-bentuk perzinahan terus menghiasi berita-berita diberbagai mass media seakan-akan UU Pornografi bukanlah apaapa. Krisis kepemimpinan islam, ini bisa dibuktikan, sepuluh tahun sudah reformasi di negeri ini berjalan namun kaum muslimin masih susah terlepas dari kondisi mengenaskan, baik materil maupun immaterial. Kondisi yang seolah-olah menggambarkan bahwa umat ini bak anak ayam kehilangan induknya, mereka berjuang sendiri mempertahankan eksistensinya, bertarung menghalau serangan yang dilakukan oleh gerombolan musang dan srigala yang bisa datang setiap saat sementara induknya asyik dengan dunianya, menikmati berbagai fasilitas yang sebetulnya kontribusi dari anak-anaknya, sungguh malang nasib anak ayam ini… Allahumma laa tusallith alainaa man laa yarhamunaa walaa yakhoofuka fiinaa Untuk itu bagi kita yang mengimani Allah swt sebagai Tuhannya dan Muhammad saw adalah Rasul dan suri tauladan baginya sudah seharusnya untuk mengembalikan segala prilaku kita kepada yang dicontoh Rasulullah saw dengan menghidupkan sunnahsunnahnya, sehingga kita tidak mengalami kesesatan di dunia dan akherat. Sabda Rasulullah saw,”Telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, selama kalian berpegang teguh dengan keduanya maka kalian tidak akan pernah sesat selama-lamanya, Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnahku.” Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Rasulullah saw bersabda,”..Sesungguhnya islam ini pada awalnya asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang yang asing yang datang setelahku berpegang dengan sunnahku dalam memperbaiki apa-apa yang dirusak manusia.” (HR. Tirmidzi)

Apakah saat ini termasuk zaman yang disebutkan Rasulullah saw didalam hadits ini, wallahu a’lam. Namun jika kita lihat ternyata tidak jarang berbagai sunnah Rasulullah saw tampak seperti sesuatu yang aneh dikalangan kaum muslimin sendiri, misalnya : Pernikahan yang jauh dari ikhtilath (tidak bercampurnya antara para undangan laki-laki dan perempuan) menjadi suatu yang akhir-akhir ini sulit didapat meskipun pernah ramai pada beberapa tahun lalu, berjabat-tangan antara yang bukan mahramnya sudah dianggap biasa oleh kaum muslimin dan para pejabatnya, berbagai jenis musik dari yang slow hingga yang hingar bingar sudah menjadi asesoris kehidupan kaum muslimin, busana muslim hanya sebatas pemanis bukan sebagai suatu ciri khas yang membedakannya dari wanita non muslim dan banyak lagi yang lainnya Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Betulbetul islam sudah menjadi asing ditengah umatnya sendiri. Sebagai pengimplementasian daripada syahadatnya (persaksian) bahwa Muhammad adalah Rasulnya maka diharuskan bagi setiap muslim untuk mentaati beliau saw, dalam bentuk menghidupkan sunnah-sunnahnya yang sudah banyak ditinggalkan orang. Karena menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw adalah indikator dari : Pertama : Kecintaannya kepada Allah swt. Firman Allah swt,”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Imron : 31 – 32) Kecintaan didalam bahasa arab disebut juga dengan mahabbah yang bisa juga berarti suci dan tulus. Dari makna etimologi ini bisa diartikan bahwa kecintaan seorang muslim kepada Allah swt haruslah bersih dan suci. Tidak diperbolehkan dalam mencintai Allah swt ia menyertakan yang lainnya, jika ini terjadi maka berarti ia telah melakukan sebuah kesyirikan. Hal ini bisa kita lihat didalam pelaksanaan ibadah haji, mereka para hujjaj rela meninggalkan keluarganya dan jauh dari tanah airnya serta melakukan berbagai manasik haji di tanah suci dikarenakan mereka mencitai Allah swt ketimbang yang lainnya. Demikianlah seharusnya seorang muslim, ia lebih mencintai Allah daripada istri, anakanak, orang tua, teman seperjuangan bahkan dari dirinya sendiri. Ia lebih mencintai Allah swt daripada jabatan, hata benda, kendaraan atau investasi duniawinya. Seorang mukmin tidak rela manakala itu semua menghambatnya dari mendapatkan cinta Allah swt. Pada awal-awal dakwah Rasulullah saw sempat ditawari oleh tokoh-tokoh Quraisy harta, wanita, tahta bahkan beliau saw akan dijadikan raja asalkan mau meninggalkan da’wah ini. Namun beliau saw bukanlah tipe manusia yang bisa diperdaya oleh dunia dan seisinya sehingga harus meninggalkan idealismenya. Beliau saw menolak itu semua dengan tegas dan mengatakan,”Wahai pamanku seandainya engkau letakan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan da’wah ini maka aku tidak akan pernah meninggalkannya walaupun aku harus binasa karenanya.”

Beliau saw lakukan itu semua karena lebih mencintai Allah dan kehidupan akherat ketimbang dunia dan tarikan-tarikannya yang banyak mencelakakan manusia. Kalaulah saja seluruh penduduk negeri ini lebih mencintai Allah daripada yang lainnya pastilah keberkahan akan dapat dirasakan oleh mereka. Tapi sayang kebanyakan dari kita justru sebaliknya. Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Kedua : Kecintaannya kepada Rasulullah saw Bagaikan dua keping mata uang, bukti kecintaan seorang muslim kepada Allah swt adalah ia juga harus mencintai Rasul-Nya saw. Sebagaimana bentuk kecintaannya kepada Allah maka demikianlah pula kecintaannya kepada Rasulullah saw. Ia harus mencintainya melebihi segala sesuatunya, melebihi istri, anak-anak, harta benda, jabatan bahkan atas dirinya sendiri. Suatu ketika Umar bin Khottob pernah mengatakan kepada Rasulullah saw,”Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada keluargaku, anak-anakku, seluruh manusia kecuali dari diriku.’ Kemudian Rasulullah saw berkata,’Bukan begitu wahai Umar.” Umar menjawab,”melebihi diriku sendiri wahai Rasulullah.” Rasul menjawab,”Sekarang telah sempurna keimananmu wahai Umar.” Sikap yang ditunjukkan Umar kepada Rasulullah adalah sikap yang juga pada umumnya ada didalam diri para sahabat. Disaat kaum muslimin terdesak pada fase pertama perang uhud dan mereka sempat kocar-kacir panic sehingga gigi Rasulullah saw patah pada saat itu maka ada seorang sahabat yang dengan berani menjadikan dengan badannya sebagai tameng buat diri Rasulullah saw, dia melindungi Rasulullah saw dari hujan panah yang diarahkan ke beliau oleh pasukan musyrikin, sehingga digambarkan badan sahabat itu seperti seekor landak. Disebutkan didalam sejarah ada seorang shohabiyat yang ditinggalkan oleh anak dan saudara laki-lakinya berperang, dan ketika pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah maka yang ditanyakan pertama kali kepada mereka bukanlah anaknya atau saudara lakilakinya tetapi Rasulullah saw, bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Subhanallah Dimanakah kita dibandingkan mereka semua?? Badan mereka di bumi namun fikiran mereka sudah di akherat, badan mereka menyatu dengan masyarakat namun jiwa dan hati mereka menyatu dengan Allah dan Rasul-Nya, mereka memegang dunia namun tidak mencintainya. Mereka bukanlah sebatas beriman namun mereka adalah orang yang sudah bisa merasakan lezatnya iman. Sabda Rasulullah saw,”Tiga golongan yang merasakan lezatnya iman : Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari segalamya. Orang yang tidak mencintai saudaranya kecuali karena Allah. Orang yang tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan kedalam api neraka.” (HR. Bukhori)

Kecintaan mereka kepada Rasulullah saw yang demikian dikarenakan mereka tidak hanya bersama Rasulullah saw di dunia saja namun mereka menginginkan kelak bersama beliau saw di surga-Nya. Didalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Barangsiapa yang mecintai sunnahku sesunguhnya ia telah mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.” Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt Ketiga : Kecintaannya kepada umat Hadits yang diawal-awal khutbah ini telah disingung, yaitu”..Sesungguhnya islam ini pada awalnya asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang yang asing yang datang setelahku berpegang dengan sunnahku dalam memperbaiki apa-apa yang dirusak manusia.” (HR. Tirmidzi) adalah bukti kecintaan seorang yang menhidupkan sunnah Rasul saw kepada umatnya. Mereka tidak ingin umatnya binasa karena kemaksiatannya kepada Allah, mereka tidak ingin umatnya mengalami kerusakan di berbagai sisis kehidupannya baik disadari atau tidak. Untuk itu mereka selalu melakukan perbaikan terhadap masyarakatnya, baik perbaikan materil maupun moril. Mereka bukanlah orang-orang yang disebut dengan imma’ah, artinya dia akan selalu bersama arus. Ketika masyarakat sekelilingnya baik maka ia pun baik namun jika masyarakat sekelilingnya buruk maka ia ikut buruk, bagai orang yang tidak memiliki prinsip. Jika keadaan seorang mukmin ataupun alim seperti ini maka sampai kapan pun ia tidak akan bisa mewarnai dan mengajak manusia kepada islam yang hakiki namun yang terjadi bisa sebaliknya ia akan terwarnai oleh kemauan dan idealisme masyarakat yang jauh dari nilai-nilai islam. Orang-orang yang menghidupkan sunnah Rasul ini adalah mereka yang mencintai umatnya melebihi dirinya sendiri. Mereka berikan segala yang dimiliki untuk kepentingan dan kemajuan umatnya. Mereka bukanlah orang-orang yang mengeksploitir umat untuk kepentingannya sendiri, atau dijadikan barang dagangan untuk kekayaannya sendiri. Merekalah yang berbuat untuk umat bukan umat yang berbuat untuk mereka. Dan hal yang seperti ini sudah banyak dicontohkan didalam kepemimpinan para salafush sholeh terdahulu, mulai dari Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali hingga Umar bin Abdul Aziz, mereka adalah contoh-contoh nyata yang pernah menghiasi sejarah kepemimpinan umat. Allahu Akbar 3X Walillahilhamd Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt

Demikianlah nilai dan urgensi menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw didalam prespektif umat ini. Marilah kita jadikan berbagai amalan didalam ibadah haji sebagai momentum untuk kita kembali menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya, agar kita bisa menjadi penyelamat bagi umat ini menuju kebaikan dan keredhoan Allah swt dan semoga kita semakin mencintai Allah san Rasul-Nya dan berharap kepada Allah swt agar menyatukan kita semua dengan kekasih kita Rasulullah saw di surga-Nya kelak. Amin ya robbal alamin. KHUTBAH ‘IDUL ADHA 1429 H: Bersikap Memerlukan Pengorbanan Dec 1, '08 12:06 AM for everyone

Bersikap Memerlukan Pengorbanan
Oleh KH.Yusuf Supendi,Lc Mesjid Baitussalam, Perumahan Permata Puri Laguna, Radar AURI, Mekar Sari Cimanggis, Depok Jakarta, 10 Dzulhijah 1429 H Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd Hadirin yang dirahmati Allah swt. Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah, Pada hari yang mulia ini, 10 Dzulhijah 1429 H seluruh umat Islam di seantero dunia memperingati hari raya Idul Adha atau hari raya qurban. Sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah 1429 H, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah, berkumpul di Arafah dengan memakai ihram putih sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya kecuali takwa kepada Allah.

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujaraat (49):13 Peringatan hari raya ini tak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah ribuan tahun silam ketika Nabi Ibrahim as, dengan penuh ketaqwaan, memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayanginya, Nabi Ismail as. Atas kekuasaan Allah, secara tiba-tiba yang justru disembelih oleh

Nabi Ibrahim as telah berganti menjadi seekor kibas (sejenis domba). Peristiwa itulah yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah swt. Ketaqwaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt diwujudkan dengan sikap dan pengorbanan secara totalitas, menyerahkan sepenuhnya kepada sang Pencipta dari apa yang ia percaya sebagai sebuah keyakinan. Allah swt berfirman dalam Qur’an Surat 12 ayat 111,’ Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuatbuat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Betapa beratnya ujian dan cobaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah swt Nabi Ibrahim AS akhirnya mengambil keputusan untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau memanggil putranya dengan pangilan yang diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat (37) ayat 102,

“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirlah apa pendapatmu?” “ Ia menjawab:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “ Ismail sebagai anak shaleh, senantiasa patuh kepada orang tua, tidak pernah membantah perintah orang tua, setia membantu orang tua di antaranya membangun Ka’bah Baitullah di Makkah. Ibrah atau pelajaran 1. Sebagai orang tua atau pimpinan tidak bertindak otoriter atau sewenangwenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan contoh dan ketauladanan. Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh perilaku yang baik. Seorang pemimpin tidak diikuti ucapannya, tetapi perilaku atau tindak tanduknya. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi rakyatnya. 2. Peran sang Ibu dalam mendidik sehingga melahirkan anak yang sholeh. Peran Ibu sbg madrasah/sekolah utama dan pertama bagi anak sangat penting.

Pendidikan anak sholeh dimulai dari saat pertemuan benih dan sel telur, diawali do'a mohon perlindungan dari syetan. Mulai dari kandungan banyak dibacakan ayat2 Qur'an. Dari peran Ibulah, karakter anak sholeh dapat terbentuk. Intensitas pertemuan yang cukup, memungkinkan penanaman dan sosialisasi nilai-nilai normatif, akhlak, dan perilaku terpuji lainnya dapat terinternalisasi pada diri anak. 3. Pembentukkan anak sholeh tergantung dari orang tua Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya di rumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan di rumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan. Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd, Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah, Kata kurban dalam bahasa arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqh Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah, sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,

“ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah “ Akan tetapi, pengertian korban bukan sekadar menyembelih binatang korban dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis, makna korban meliputi aspek yang lebih luas. Dalam konteks sejarah, dimana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam di Mekkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir quraisy. Rasulullah pernah ditimpuki dengan batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh ibnu Muith, ketika leher beliau dicekik dengan usus onta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas ditengah sengatan terik matahari siang, Yasir dibantai, dan seorang ibu yang bernama Sumayyah,ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.

Tak hanya itu, umat Islam di Mekkah ketika itu juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW. saat-saat diboikot oleh musyrikin Quraisy, hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulitkulit sepatu bekas. Sejarah nabi Yusuf as yang disiksa dan dibuang ke sebuah sumur tua oleh para saudaranya sendiri adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran. Sejarah nabi Musa as yang mengalami tekanan, tidak hanya dari Fir’aun, tetapi juga kaumnya, adalah juga wujud dari pengorbanan beliau. Pengorbanan Nabi Suaib juga dikisahkan dalam QS Al-A’raf, ayat 88, ”Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: ”Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: ”Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS AL-A’raf ayat 88) Qur’an Surat Ibrahim Ibrahim (14) ayat 12-13, (12) Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. (13) Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: ”Kami sungguhsungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: ”Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu. Dalam konteks kekinian, pengorbanan umat Islam di berbagai belahan dunia terlihat nyata di Palestina, Kashmir, Thailand Selatan, dan Philipina Selatan. Dengan sikap dan keyakinan mereka terhadap Islam, mereka harus mengalami berbagai penyiksaan dan penindasan oleh penguasa. Umat Islam di Palestina menjadi gambaran betapa pengorbanan yang dipikul sangat berat. Mereka mengalami penyiksaan, penganiayaan, dan bahkan blokade di kawasan Jalur Gaza oleh Israel laknatullah. Akan tetapi, umat Islam di Palestina tidak ada kata menyerah. Mereka terus berjuang membela martabat dan kehormatan bangsa dan agamanya. Sama halnya dengan yang terjadi di kawasan lain dunia. Dalam sejarah perjuangan bangsa, para pahlawan mengorbankan jiwa raga, harta benda untuk kemerdekaan bangsanya. Jenderal Sudirman harus keluar masuk hutan memimpin tentara Indonesia berjuang melawan Belanda. Sikap

para tokoh bangsa yang dipenjara, dibuang, dan disiksa adalah sebagai wujud dari keyakinan mereka akan kebenaran. Ribuan nyawa yang mati adalah pengorbanan mereka terhadap negeri ini. Tentu saja, mereka berkorban atas dasar sikap yang mereka percaya sebagai sebuah kebenaran. Pengorbanan para pemuda di berbagai tempat di Indonesia menghadapi penjajah, adalah sebagai wujud dari sikap mereka mempertahankan kemerdekaan bangsa. Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah, Dalam konteks keseharian kita, pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorbanan seorang pemimpin yang berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, pengorbanan seorang isteri terhadap suami dan anak-anaknya, serta sebaliknya, anak terhadap kedua orang tuanya. Seorang pemimpin yang adil terhadap rakyatnya dan berusaha memberikan kontribusinya bagi negaranya adalah wujud pengorbanan. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga berjuang membanting tulang demi menafkahi dan membahagiakan keluarganya. Seorang istri mengabdi setia kepada suaminya juga sebagai wujud pengorbanan. Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi berhasil, adalah juga wujud pengorbanan. Dengan demikian, pengorbanan bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangan demi sebuah kebenaran. ”Dan mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami." Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS 28 ayat 57) Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilaahilhamd Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin jama’ah shalat Idul Adha Rahimakumullah, Sekedar merenungi kembali momentum Idul Qurban, Kesanggupan Nabi Ibrahim menyembelih anak kandungnya sendiri Nabi Ismail, bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta (taqlid), tetapi meyakini bahwa perintah Allah s.w.t. itu harus dipatuhi. Bahkan, Allah Taala memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah. Dan adakah mereka juga sanggup memikul amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi? Hidup adalah satu perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan.

Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan. Justeru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang satu rupiah, tenaga dan waktu, akan benar-benar menguji keimanan seseorang. Peristiwa berkorban Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail merupakan satu noktah kejadian yang dapat direnungi oleh semua manusia dari semua level usia dan latar belakang tingkat pendidikan. Dengan kata lain, semangat berkorban adalah tuntutan paling besar yang ada dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun, agama bangsa dan negara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->