P. 1
Abstrak Hasil Penelitian Universitas Negeri Malang

Abstrak Hasil Penelitian Universitas Negeri Malang

|Views: 3,137|Likes:
Published by aidilsaputra

More info:

Published by: aidilsaputra on Feb 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

ABSTRAK HASIL PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Edisi ke-28, 2009

DAFTAR JUDUL ABSTRAK HASIL PENELITIAN TAHUN 2008
001 Mustiningsih; Sunarni. 2008. Persepsi Dosen terhadap Program Sertifikasi Kaitannya dengan Profesionalisme di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang 002 Djum Djum Noor Benty; Sunarni; R. Bambang Sumarsono. 2008. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Kepuasan Mahasiswa terhadap Kualitas Layanan Laboratorium Jurusan AP FIP Universitas Negeri 003 Sjafruddin AR.; Yusuf Hanafi. 2008. Bias-bias Dikotomi antara Keilmuan Agama dan Keilmuan Umum dalam Buku Ajar Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Negeri Malang 004 Ibnu Samsul Huda; Ali Ma’sum; Hanik Mahliatussikah. 2008. Pengembangan Mata Kuliah Prosa bagi Mahasiswa Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang 005 Dewa Agung Gede Agung. 2008. Penggunaan Media Compact Disc Interaktif dalam Mata Kuliah Sejarah Indonesia Modern 006 Azizatuz zahro; Dwi Sulistyorini. 2008. Penerimaan Perempuan terhadap Wacana Poligami dalam Film Ayat-ayat Cinta 007 Ali Ma'sum. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Tata Bahasa Arab Melalui Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) Untuk Madrasah Aliyah (MA 008 Hartatiek; Sirwadji; Chusnana Insyaf Yogihati. 2008. Pengembangan Model Asessmen Kinerja Melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I untuk Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) 009 Mahmuddin Yunus; Sriyani Mentari. 2008. Perancangan dan Pembuatan Kamus Elektronik Matematika untuk SMP 010 Imam Bukhori; Heny Kusdiyanti. 2008. Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Locus of Control terhadap Learning Outcome Mahasiswa Jurusan Administrasi Perkantoran 011 Arif Nur Afandi; Sujito; Yuni Rahmawati. 2008. Pengaruh Injeksi Daya terhadap Losses Jaringan Listrik 012 Nunung Nurjanah; Titi Mutiara Kiranawati; Ummi Rohajatien. Analisis Makanan Jajanan (Street Food) di Lingkungan Sekolah Dasar Kota Malang sebagai Kota UKS

013 Titi Mutiara Kiranawati; Roesdiyanto; Lismi Animatul C. 2008. Pemetaan Seni Wisata Kuliner Malang Raya Propinsi Jawa Timur 014 Ilham Ari Elbaith Zaeni; Siti Sendari. 2008. Pemanfaatan Sistem Kendali Logika Fuzzy untuk Pengaturan Temperatur pada Proses Pas-teurisasi Susu 015 Bambang Budi Wiyono. 2008. Hubungan Struktural Tingkat Pendidikan, Golongan Kepangkatan, Masa Kerja, dan Usia Guru dengan Motivasi Kerja dan Keefektifan Kerja Tim Guru Sekolah Dasar 016 Sa’dun Akbar. 2008. Pendidikan Karakter di Pesantren Darut-Tauhid Bandung (Studi dalam Perspektif Pendidikan Umum SD) 017 Nur Mukminatien. 2008. Implementasi Cooperative Learning dengan Collaborative Assessment Untuk Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dalam Mengajar Writing 018 Mardi Wiyono. 2008. Analisis Profesionalisme Dosen dalam Program Penjaminan Mutu 019 F. Danardana Murwani. 2008. Faktor-faktor Penentu Penggunaan Websites sebagai Media Pembelajaran Matakuliah Konsentrasi Pemasaran (Perspektif Theory of Reasoned Action dan Theoly of Technology Acceptance) 020 Ali Imron; Iriaji. 2008. Manajemen Penjaminan Kualitas Layanan Pendidikan dan Pengajaran dalam Latar Institusi Pendidikan Tinggi (Studi Multi Kasus di Jurusan Administrasi Pendidikan, Ilmu Keolahragaan, dan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang 021 Roekhan; Ali Imron. 2008. Model Penanaman Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren 022 Tri Maryami, Evi Susanti. 2008. Uji Efektifitas Limbah cair Tempe sebagai Larvasida Nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue) 023 Muntholib; Elly Hendrik Sanjaya. 2008. Pemanfataan Sampah Organik di Universitas Negeri Malang menjadi Pupuk Organik: Suatu Uji Coba Produksi Kompos dari Kampus Universitas Negeri Malang 024 Lismi Animatul Chisbiyah, Laili Hidayati, Nunung Nurjanah. 2008. Uji Mutu Dendeng Ikan Mujair (Tilapia Mossambica) 025 Laili Hidayati; Lismi Animatul Chisbiyah; Titi Mutiara Kiranawati. 2008. Evaluasi Mutu Organoleptik Bekasam Ikan Wader 026 Surjani Wonorahardjo; Parlan; Sutrisno. 2008. Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Berbasis Pengetahuan dan Konsep Kimia dan yang Berhubungan 027 Susilowati; Mardi Wiyono. 2008. Kondisi Hutan Mangrove dan Daya Tariknya sebagai Obyek Wisata di Kota Probolinggo 028 Marji; Mardi Wiyono. 2008. Model Pengomposan Sampah Organik di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kota Blitar 029 Haris Anwar Syafrudie; Moh. Amin. 2008. Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah

030 Mardianto; Roesdiyanto. 2008. Pemetaan Olahraga Wisata di Malang Raya Tahun 2008 031 Ummi Rohajatien, Lismi Animatul Chisbiyah. 2008. Pemetaan Seni Wisata Kuliner Malang Raya 032 Elfia Nora, Dwi Sulistyorini. 2008. Model Pembelajaran Dosen Universitas Negeri Malang di Tinjau dari Perspektif Gender 033 Sunaryo HS; Dwi Sulistyorini; Azizatuz Zahro. 2008. Implementasi Manajemen di Universitas Negeri Malang dilihat dari Perspektif Gender 034 Khoirul Adib; Ahmad Munjin Nasih. 2008. Peran Buruh tani Perempuan dalam Pemberdayaan Ekonomi Keluarga dan Perencanaan Pendidikan Anak. (Kasus pada Komunitas Buruh Tani Perempuan di Kampung Sememek, Pakisasji, Kabupaten Malang) 035 Sri Prameswari Indriwardhani; Muslihati; A. Yusuf Sobri. 2008. Analisis Gender terhadap Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD/MI di Kota Malang 036 Arafah Husna; Sri Wahyuni. 2008. Kesiapan Jurusan Teknologi Pendidikan dalam Implementasi E-Learning 037 Asep Sunandar; Arafah Husna; Sunarni. 2008. Efektivitas Keberadaan Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah (Studi Kasus di MAN 3 Kota Malang) 038 Hartati Eko Wardani; Supriyadi. 2008. Pengaruh Latihan Aerobik terhadap Respons Proliferasi Limfosit Mencit Balb/C yang Diinfeksi Salmonella 039 Nuruddin Hady; Rusdianto Umar. 2008. Peran Pengawasan DPRD dalam Mewujudkan Akselerasi Pembangunan Demokrasi dan Good Governance di Kabupaten 040 Siti Awaliyah. 2008. Keefektifan pp No.24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dalam Mencegah Terjadinya Konflik Kepemilikan Tanah (Suatu Studi di Kabupaten Ponorogo) 041 Sutoyo; Siti Awaliyah. 2008. Penerapan “Prinsip Tanggung Jawab Mutlak” Kepada Penanggung Jawab Usaha Yang Menimbulkan Dampak Besar dan Penting Terhadap Lingkungan Hidup (Studi Kasus Luapan Lumpur Panas di Porong – Sidoarjo Akibat Eksplorasi yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas) 042 Yerri Soepriyanto; Henry Praherdhiono; Eka Pramono Adi. 2008. Pengembangan Pembelajaran On-Line pada Metode Kelas dengan Teknologi Tayang Tunda Slide Video Conference Terpadu pada Mata Kuliah Komputer Grafis 043 Andi Pramono, Betty Dewi Puspasari. 2008. Aplikasi Dokumentasi Notasi Laban Menggunakan Pemetaan Gambar dan Visualisasi Model 3 Dimensi 044 Didiek Rahmanadji; AAG. Rai Arimbawa. 2008. Kritik Seni terhadap Karikatur Karya Wahyu Kokkang pada Kolom Opini yang Termuat dalam Harian Jawa Pos

045 Dwi Sulistyorini; Karkono. 2008. Integrasi Etnik Tionghoa dengan Pribumi dalam Perkawinan Campur pada Novel Nyai Soemirah Karya Thio Tjin Boen 046 Ike Ratnawati; Lilik Indrawati. 2008. Implementasi Kompetensi Respon Estetik dan Kreasi Estetik pada Mata Pelajaran Seni Budaya dalam KTSP di Sekolah Dasar Negeri dan Disamakan yang Favorit se Kodya Malang 047 Mohamad Sigit; Mistaram; Andi Harisman; Rudi Irawanto. 2008. Makna Simbolik pada Upacara Tebus Mayang Tradisional Masyarakat Pesi 048 Mohammad Ahsanuddin; Hanik Mahliatussikah. 2008. Representasi Nilai Pendidikan Moral dalam Syi‟ir (Puisi) Imam Syafi‟I 049 Noorliana. 2008. Linearitas Kalimat dalam Paragraf Karangan Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Malang 050 Pranti Sayekti; Rudi Irawanto. 2008. Representasi Nilai-nilai Budaya Lokal pada Visualisasi Iklan Rokok Kretek Berskala Nasional (Kajian Tentang Representasi Visualisasi Iklan Rokok Kretek Pada Media Televisi) 051 Rudi Irawanto; Pranti Sayekti. 2008. Kajian Strukturalisme Simbolik Struktur Ragam Hias pada Bangunan Masjid Atap Tumpang di Kawasan Pedalaman Jawa 052 Sisbar Noersya; Windhita Pranawengrum; Najib Jauhari. 2008. Nilai Kearifan Lokal dalam Serat Babad Tengger Versi Tembang 053 Syafaat. 2008. Variasi Fonologis Bahasa Arab Dialek Mesir dan Saudi Arabia 054 Yusuf Hanafi; Moh Ahsanuddin. 2008. Memaknai Eksistensi Pesantren Salafiyah Mamba‟ul Ma‟arif Denanyar Jombang di Tengah Trans-formasi Zaman dari Perspektif Fenomenologi 055 Eli Hendrik Sanjaya; Oktavia Sulistina. 2008. Pengembangan Test Standart Kimia sebagai Alat Penilaian Hasil dan Proses Belajar Siswa SMA Kelas X 056 Satti W, Bagus Setiabudi W, Syamsul B. 2008. Kajian Potensi Wilayah dan Karakteristik Lokal Kawasan Tertinggal di Kabupaten Malang (Studi Kasus di Kecamatan Jabung 057 Aminnudin; Heru Suryanto. 2008. Perbaikan Sifat Mekanik Aluminium Hasil Daur Ulang dengan Inokulasi Titanium 058 Anik Nur Handayani; Ahmad Fahmi. 2008. Desain Otomatisasi Alat Pengolah Susu Kedelai yang Dilengkapi dengan Sistem Kontrol: Motor, Suhu, dan Ketinggian Menggunakan Kendali Fuzzy Berbasis Mikrokontroler 059 Aripriharta; Ahmad Fahmi. 2008. Perancangan Kontrol Pergerakan Indoor Mobile Robot (IMR) Berkamera terhadap Indoor Mobile Robot (IMR) Target yang Dikenal (Visual Servoing) 060 Dyah Lestari; Siti Sendari; Heru Wahyu Herwanto. 2008. Aplikasi Webcam untuk Otomatisasi Pengukuran Tiga Dimensi (X, Y, Z) dengan Stereovision

061 Heru Suryanto; Wahono. 2008. Karakteristik Keausan Abrasif Lapisan Karburasi Baja Karbon Rendah 062 Sukarni. 2008. Pengaruh Modifikasi Camshaft terhadap Peningkatan Daya pada Motor Honda GL200 063 Suprayitno; Suwarno; Aminnudin. 2008. Cepat Rambat Pembakaran dan Struktur Nyala Api Pembakaran LPG pada Berbagai Kondisi Campuran 064 Yuni Astuti; Arbaiyah Prantiasih. 2008. Bentuk Perlindungan Hak Perempuan dan Anak Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Malang 065 Ahmad Munjin Nasih; Khoirul Adib. 2008. Identifikasi Problematika Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Luar Negeri (Pengalaman Para Eks TKW di Kab. Tulungagung) 066 Laily Maziyah; Sya’faat. 2008. Pandangan para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender 067 Moch. Syahri; Pujiyanto. 2008. Konstruksi Feminisme di Media Massa (Studi Tentang Konstruksi Feminisme di Majalah Hidayatullah dengan Pendekatan Analisis Framing) 068 Imam Nawawi; Singgih Susilo. 2008. Tenaga Kerja Industri Rumah Tangga di Jawa Timur: Suatu Kajian Gender pada Industri Rumah Tangga di Wilayah Malang 069 Eko Sri Sulasmi; Harmawati Noor; Siti Astutik. 2008. Penerapan Pembelajar-an Kooperatif TGT Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPABiologi Siswa Kelas VIII SMPN 1 Dau Malang 070 I Wayan Dasna; Kartini; Istri Setyowati. 2008. Penggunaan Model Siklus Belajar-Group Investigation untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa dalam Mempelajari Kimia di SMA Laboratorium Malang 071 Yuli Susetio; Sopiah; Sugeng; Nur Jannah. 2008. Implementasi Metode Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Diklat Ekonomi (Studi pada Siswa Kelas I Program Keahlian Penjualan SMK Sriwedari Malang) 072 Suharmanto; Priyanto; Anang Sujono. 2008. Penerapan Strategi Problem Solving Of Engineering dan Teori Elaborasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar PDTM SMK 073 Hardika; Supriyono. 2008. Peningkatan Kreativitas Belajar Mahasiswa dalam Matakuliah Belajar Pembelajaran Jurusan PLS melalui Strategi Transfer of 074 Nur Anisah Ridwan; Hanik Mahliatussikah; Moh. Ahsanuddin. 2008. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menulis dalam matakuliah DAM melalui Pengembangan Buku Ajar 075 Sri Andreani; Utami Praba Astuti. 2008. Pengembangan Reading Box Matakuliah Reading II untuk Meningkatkan Minat Baca Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, FS-UM

076 Amy Tenzer; Nursasi Handayani. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Perkem-bangan Hewan Mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang 077 Made Wena; Sri Anggrariani Judawati. 2008. Pengembangan Pembelajaran E-Learning Berbasis WBL Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matakuliah Belajar Pembelajaran Pada Prodi PTB 078 Pribadi; Wasis. 2008. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri Pada Prodi S1 PTB 079 Sugiyanto; Pranoto. 2008. Penerapan Metode Pemecahan Masalah dan Motivasional ARCS Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Struktur Baja Prodi PTB 080 Endang Prastuti; Adi Atmoko. 2008. Perilaku Merokok Remaja (Tinjauan Diathesis Stress Model) 081 Mundzir, H.S.; Asmah, Siti. 2008. Dinamika Perilaku Pesanggem dalam Pelestarian Hutan (Kajian: Pengelolaan Wengkon Hutan di Kabupaten Malang dalam Perspektif Teori Mikro Makro Ritzer) 082 Mahmud Yunus. 2008. Pengaruh Metode Pemanduan Bakat terhadap Pembinaan Sepakbola Usia Dini 083 Abd. Syukur Ibrahim. 2008. Konstruksi Identitas Jender dalam Pertarungan Simbolik di Media Massa 084 Wahyudi Siswanto; Muakibatul Hasanah. 2008. Proses Kreatif Sastrawan Indonesia 085 Yuni Pratiwi, 2008. Nilai Budaya Perempuan dalam Sastra Peranakan Tionghoa-Indonesia 086 Martutik; Nurchasanah. 2008. Performansi Pertanyaan-Respon Anak Usia Balita dalam Interaksi Sosial Sebaya (Antisipasi Profil Bahan Ajar di Taman Kanak-Kanak). Universitas Negeri Malang 087 Soedjijono. 2008. Menuju Teori Sastra Indonesia: Membangun Teori Prosa Fiksi Berbasis Novel-novel Kearifan Lokal 088 Mistaram; Pujiyanto; Tjitjik Sri Wardhani. 2008. Batik Pesisiran Jawa Timur, Kajian Estetik, dan Kebudayaan 089 Moh Ainin; Imam Asrori. 2008. Pola Interaksi dalam Alquran yang Tercermin pada Ayat-Ayat Berbentuk Pertanyaan: Kajian Pragmatik 090 Nurul Murtadho; Sisbar Noersya; Dwi Sulistyorini. 2008. Nilai Kearifan Lokal dalam Serat Babad Tengger Versi Arab Terbalik 091 I Wayan Dasna; Pralan. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kom+ + + pleks dart ion-ion logam transisi Bivalen (Mn2 , Fe2 Cc2> Ni2 , dan + Cu2 ) dengan Ligan-Ligan Karboksilat dan Uji Potensinya sebagai Bahan Aditif Pewarna Nyala Lilin

092 Subandi; Muntholib; Evi Susanti. 2008. Uji Interaksi Secara In Vitro antara Protein Mutan eRF1-Y410A dengan eRF3 untuk Mempelajari Mekanisme Interaksi eRF1-eRF3 093 Fatchur Rohman; Bagyo Yanuwiadi. 2008. Keanekaragaman dan Kelimpahan Predator dan Parasitoid di Kebun Teh Wonosari Lawang Kabupaten Malang Serta Preferensinya terhadap Beberapa Tumbuhan Liar 094 Blasius Suprapta; Sonny Wedhanto. 2008. Penggunaan Citra Landsad 7 ETM untuk Rekonstruksi Keraton Masa Hindhu-Budha Studi Kasus Rekontruksi Keraton Singhasari Abad XIII-XIV dengan Citra Landsad 7 ETM) 095 Moh. Amin; Aris Winaya; Sri Rahayu. 2008. Identifikasi Genetik Kerbau Lokal Jawa Berbasis RLFP-DNA (Restriction Length Fragment Polymorphisms DNA): Strategi Awal Konservasi dan Upaya Penyediaan Bibit Unggul 096 Anastasia Widjajantin; Mohammad Efendi; Yerri Supriyanto; Suprijanta. 2008. Pengembangan Media Grafis Bergambar Berbasis Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di Sekolah Dasar Luar Biasa 097 Asim. 2008. Pengembangan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Berbasis Life Skill Bagi Anak-anak Tepi Pantai Di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur 098 Endang Setyo Winarni; Sri Umi Mintarti. 2008. Pengembangan Model Kesehatan Alat Reproduksi Anak Jalanan Perempuan melalui Simulasi Bermain untuk Menanggulangi Terjangkitnya HIV di Jawa Timur 099 Hardika; Supriyono; Sugiharto. 2008. Model Pembelajaran untuk Peningkat-an Kreativitas dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Berwawasan Belajar Sepanjang Hayat 100 Agustina, Ratna, Trieka; Bintartik, Lilik; Yulaikhah, Siti. 2008. Pengembangan Buku Ajar untuk Meningkatkan Keterampilan Bahasa Inggris Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar 101 Supriyono; Hardika. 2008. Model Hipotetis Penerapan Satuan Kredit Kom-petensi (SKK) pada Program Pendidikan Kesetaraan 102 Hanik Mahliatussikah. 2008. Inovasi Model-Model Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis KTSP melalui Teknik Bermain untuk Meningkatkan Kualitas Berbahasa Arab Siswa MI di Jawa Timur 103 Masnur Muslich. 2008. Pengembangan Media Pembelajaran Kosakata Berbasis Audio-Visual untuk Peningkatan Kompetensi Berbahasa Indonesia Anak Usia Dini 104 Nurchasanah; Ida Lestari. 2008. Pengembangan Paket Pendidikan Budi Pekerti melalui Pembelajaran Baca-Tulis Permulaan Anak Usia Prasekolah

105 Sri Rachmajanti; Gunadi H. Sulistyo; Utami Widiati. 2008. Pengembangan Paket Model Pembelajaran Bilingual Berbasis Pendekatan Kon-tekstual Berbentuk Compact Disc (CD) 106 Tjitjik Sriwardhani. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Seni Rupa Melalui Penggunaan Desain Reproduks Grafika Sebagai Media Visual untuk Anak SLB bag B 107 Waskito; Irawan. 2008. Pengembangan Buku Saku Nilai-Nilai Universal dalam Berbagai Agama Melalui Metode Strukturalisme Levi-Strauss 108 Siti Malikhah Towaf; Sri Sumartini; H.M. Zaenuddin; Isnaeni. 2008. Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapus-an Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang 109 Edy Bambang Irawan. 2008. Pengembangan Desain Pelatihan In-Service Berbasis Konstruktivisme [Propin-K] untuk Meningkatkan Kompe-tensi Guru Matematika 110 Supriyono Koes Handayanto; Triastono Imam Prasetyo; Parlan. 2008. Pengembangan Paket IPA terpadu Berbasis Konstruktivisme untuk Menumbuhkan Kompetensi IPA Siswa SMP 111 Abdul Gofur; Iwan Sahrial Hamid; Edy Meiyanto. 2008. Ekspresi CYP1A1 DAN GST pada Tikus Sprague Dawley setelah Induksi 7,12Dimethylbenz(a)antrasen (DMBA) dan Pemberian Ekstrak Daun Dewa (Gynura procumbens) sebagai Antikarsinogenesis 112 Umie Lestari; Aulani’am; Amy Tenzer. 2008. Pengembangan Bahan Imunokontrasepsi melalui Produksi Antibodi Poliklonal Protein non kinase Hasil Isolai dari Membran Spermatozoa Manusia 113 Achmad Fatchan. 2008. Pengembangan dan Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Pemecahan Masalah di Sekolah Daerah Rawan Bencana pada Pembelajaran Materi IPS-Geografi di SLTP 114 Singgih Susilo. 2008. Kajian Karakteristik Remaja Putus Sekolah dalam rangka Pengembangan Life Skill Model 115 Budi Eko Soetjipto; Achmad Samawi; Hakkun Elmunsyah. 2008. Pengembangan E-learning Metode Pembelajaran IPS SD dengan Pende-katan Inkuiri, Jigsaw, PBL, Group Investigation, TGT danSTAD 116 Puji Handayati. 2008. Pengembangan Buku Panduan Pendirian dan Penge-lolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) 117 Sriyani Mentari; Siti Thoyibatun. 2008. Inovasi Model Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer untuk Menunjang Implementasi KTSP SMK 118 Bambang Sugeng; Triadi Agung S. 2008. Pengembangan Model Perencanaan Strategi Lembaga Sekolah Berbasis Balanced Scorecard 119 Sri Pujiningsih. 2008. Pengembangan Buku Ajar dan Media Pembelajaran Akuntansi Perbankan untuk SMK Manajemen dan Bisnis

120 Sunaryanto; Suparti; Yayik Sayekti; Timotius Suwarna. 2008. Pengembangan Bahan Ajar IPS Terpadu dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemecahan Masalah Sosial bagi Siswa SMP/MTs 121 Mardi Wiyono; Sutrisno; Endang Sri Rejeki. 2008. Pengembangan Model Percepatan Pengomposan Sampah Organik dengan Teknologi Rasio Optimum C/N/ dan Agitasi untuk Skala Rumah Tanggal 122 Ahmad Fahmi; I Made Wirawan; Slamet Wibawanto; Fitriana Suhartati. 2008. Pengembangan Alat Otomatisasi Datalogger Pengeringan Pembenihan Jagung (Zea Mays) Menggunakan Sistem Pengendalian Berhirarki Berbasis Kontroler Fuzzy Serta dilengkapi Informasi Short Message Service (SMS) 123 Siti Sendari; Wahyu Sakti Gunawan; Pranoto. 2008. Decision Support System (DSS) Pemilihan Jalan Raya Alternatif Berdasar Informasi Banjir di dalam Kota untuk Menghindari Kemacetan Jalan Terakses Web 124 Slamet Wibawanto; Aripriharta; Dyah Lestari. 2008. Pengembangan Model Smart Building untuk Menuju Era Intelegent System di Masa Depan 125 Andi Mappiare AT; Fachrurrazy; Sudjiono. 2008. Kultur Konsumsi Remaja dan Upaya Bimbingannya: Studi Perspektif Posmodern mengenai Kecakapan Belanja dan Kearifan Kultural pada Pelajar Metropolitan Indonesia untuk Pengembangan Media Bibliokonseling 126 Arbaiyah Prantiasih; Nur Wahyu Rochmadi; Suparlan Al Hakim. 2008. Pengembangan Model Panduan Bekerja di Luar Negeri Bagi Tenaga Kerja Wanita di Wilayah Kabupaten Malang 127 Roesdiyanto; Sulistyorini; Abdul Huda. 2008. Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Menggunakan Pendekatan Kecerdasan Majemuk untuk Anak Usia Dini di Jawa Timur 128 Sa’dun Akbar; Pujiyanto; I Wayan Sutama. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Tematis untuk Kelas 1 dan Kelas 2 Sekolah Dasar 129 Setyo Budiwanto; Winarno; Sapto Adi; Oni Bagus Januarto. 2008. Pengembangan Video Pembelajaran Keterampilan Bulutangkis 130 Djoko Kustono; Solichin; Anny Martiningsih. 2008. Pengembangan Bahan Ajar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Berorientasi Konstru-ktivistik guna Menunjang Pelaksanaan KBK di Sekolah Menengah Kejuruan Teknologi 131 Wasis D. Dwiyogo. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Visioner untuk Meningkatkan Keterampilan Memecahkan Maslaah Masa Depan yang Kreativ dan Inovatif

001 Mustiningsih; Sunarni. 2008. Persepsi Dosen terhadap Program Sertifikasi Kaitannya dengan Profesionalisme di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: sertifikasi dosen, profesionalisme dosen Untuk mewujudkan tujuan pendidikan, sangat diperlukan tenaga pendidik yang profesional. Tenaga pendidik untuk perguruan tinggi disebut dosen. Dosen merupakan salah satu dan sekian unsur yang menentukan keberhasilan pendidikan. Dosen mempunyai tugas mentransfer berbagai ilmu pengetahuan teknologi dan seni, mengembangkan, dan rnenyebarluaskannya ke masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi). Untuk menjalankan peran penting tersebut, seorang dosen perlu secara terus menerus meningkatkan profesionalisme yang berupa kualifikasi akademik dan unjuk kerja, kompetensi, dan kontribusi. Untuk mewujudkan profesionalisme, diperlukan sertifikasi dosen guna meningkatkan mutu pendidikan dalam sistem pendidikan tinggi. Program sertifikasi juga akan meningkatkan kesejahteraan dosen selain tuntutan profesionalisme. Sehingga diharapkan akan menciptakan sistem pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) khususnya dan Universitas Negeri Malang (UM) pada umumnya menjadi lebih berkualitas. Berdasarkan latar belakang penelitian di atas maka peneliti tertarik untuk mengungkap Persepsi Dosen terhadap Program Sertifikasi Kaitannya dengan Profesionalisme di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui persepsi dosen FIP UM terhadap program sertifikasi; (2) mengetahui persepsi dosen FIP UM terhadap tuntutan profesionalisme; dan (3) mengetahui bahwa persepsi dosen terhadap program sertifikasi ada kaitannya dengan profesionalisme di FIP UM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi adalah seluruh dosen FIP UM berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berjumlah 252 orang dan sampel berjumlah 72 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket (kuesioner). Dari hasil analisis data bahwa dosen cenderung menjawab RG atau ragu-ragu yaitu sebesar 31(43,1%) dalam menyikapi program sertifikasi dosen. Hal ini berarti banyak dosen di FIP UM masih mempunyai persepsi yang raguragu terhadap program sertifikasi dosen yang menjadi program pemerintah. Dosen cenderung menjawab RG atau ragu-ragu yaitu sebesar 51 (72,2%) dalam menyikapi profesionalisme dosen. Hal ini berarti masih banyak dosen FIP UM masih mempunyai persepsi yang ragu-ragu juga terhadap program sertifikasi dosen untuk meningkatkan profesionalisme. Hasil analisis korelasi menyatakan ada hubungan yang signifikan antara Persepsi Dosen terhadap

Program Sertifikasi (X) dengan Persepsi Dosen terhadap Profesionalisme (Y) atau Persepsi Dosen terhadap Program Sertifikasi ada Kaitannya dengan Profesionalisme di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. 002 Djum Djum Noor Benty; Sunarni; R. Bambang Sumarsono. 2008. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Kepuasan Mahasiswa terhadap Kualitas Layanan Laboratorium Jurusan AP FIP Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: kepuasan mahasiswa, kualitas layanan laboratorium Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa terhadap layanan laboratorium jurusan AP; (2) mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan laboratorium jurusan AP; dan (3) mengetahui faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan mahasiswa terhadap layanan laboratorium jurusan AP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, berjenis eksploratori. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa terhadap kualitas layanan laboratorium Jurusan AP FIP UM. Populasinya adalah mahasiswa Jurusan AP FIP UM, berjumlah 467 orang, dan sampel 96 mahasiswa. Teknik pengambilan data dengan angket. Sedangkan teknik analisis menggunakan teknik analisis faktor yang selanjutnya dianalisis deskriptif. Hasil penelitian yang dalam teori ada 5 faktor antara lain: Keandalan (Reliability); Ketanggapan (Responsivenes); Keyakinan (Assurance); Empati (Emphaty); dan Berwujud (Tangible). Setelah dianalisis faktor hasilnya menjadi 8 faktor dan diberi nama faktor: (1) Kualitas Layanan Jasa Pegawai Lab. AP FIP UM; (2) Kualitas Produk/Fisik Lab. AP FIP UM; (3) Performansi Pegawai Lab. AP FIP UM; (4) Peralatan Modern; (5) Estitika; (6) Jaminan Pelayanan; (7) Prosedur/Manajemen Layanan; dan (8) Ketepatan Waktu Pelayanan. Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kualitas layanan Laboratorium Jurusan AP FIP UM antara: (1) faktor Kualitas Layanan Jasa Pegawai Lab. AP FIP UM adalah Setuju (S) frekuensi 52 (54,2%); (2) Kualitas Produk/Fisik Lab AP FIP UM adalah ragu (R) sebesar 48 (50%); (3) Performansi Pegawai Lab. AP FIP UM adalah Setuju (S) sebesar 69 (71,9%); (4) Peralatan Modern adalah Setuju (S) sebesar 68 (70,8%); (5) Estitika adalah Setuju (S) sebesar 54 (56,3%); (6) Jaminan Pelayanan adalah Setuju (S) sebesar 59 (61,5%); (7) Prosedur/Manajemen Layanan adalah Setuju (S) sebesar 70 (72,9%); dan (8) Ketepatan Waktu Pelayanan adalah Setuju (S) sebesar 37 (38,5%). Sedangkan Faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan mahasiswa terhadap kualitas layanan Laboratorium Jurusan AP FIP UM adalah faktor

Kualitas Layanan Jasa oleh Pegawai Laboratorium AP FIP UM, yang nilai Extraction Sums of Squared Loadings mencapai 28,416%. Diharapkan mahasiswa menggunakan peralatan Lab. AP FIP UM dengan baik, bijaksana, dan menjaganya, serta mematuhi prosedur yang telah ditetapkan oleh Jurusan AP FIP UM. Bagi pegawai Laboratorium Jurusan AP FIP UM, diharapkan dapat mempertahankan kualitas layanan jasa dan performansi pegawai karena ini merupakan faktor yang sangat dominan. dan dominan bagi mahasiswa dalam penggunaan layanan Lab. AP FIP UM. Sedangkan faktor yang perlu ditingkatkan adalah: estitika, jaminan pelayanan, serta ketepatan waktu pelayanan. Bagi Jurusan AP FIP UM, hendahknya memperhatikan: kualitas produk/fisik Lab, peralatan modern, prosedur/ manajemen layanan, karena faktor ini juga mempengaruhi mahasiswa dalam penggunaan layanan Laboratorium AP FIP UM yang akan mendorong mahasiswa untuk selalu mengunjungi Laboratorium AP FIP UM sebagai salah satu sumber belajar. 003 Sjafruddin AR.; Yusuf Hanafi. 2008. Bias-bias Dikotomi antara Keilmuan Agama dan Keilmuan Umum dalam Buku Ajar Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: bias-bias dikotomi, Islamic Studies, Pendidikan Agama Islam Bukan eranya lagi disiplin ilmu agama (Islam) menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora. Karenanya, kesadaran untuk membenahi dan menyembuhkan ―luka-luka dikotomi‖ keilmuan umum dan keilmuan agama yang makin hari kian menyakitkan merupakan tuntutan yang mendesak. Ironisnya, bangunan epistemologi keilmuan dari text book matakuliah PAI di Universitas Negeri Malang, yakni buku Reorientasi Pendidikan Islam: Menuju Pengembangan Kepribadian Insan Kamil, justru mencerminkan paradigma dikotomis dengan model kajian single entity atau setidaknya isolated entities (padahal idealnya: interconected entities). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan biasbias dikotomi antara keilmuan agama dan keilmuan umum dalam buku ajar tersebut. 004 Ibnu Samsul Huda; Ali Ma’sum; Hanik Mahliatussikah. 2008. Pengembangan Mata Kuliah Prosa bagi Mahasiswa Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: pengembangan mata kuliah, telaah prosa, mahasiswa jurusan Sastra Arab

Tidak adanya bahan ajar secara khusus untuk mata kuliah Telaah Prosa, belum tersedianya buku ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mahasiswa, minimnya pemahaman mahasiswa terhadap teori sastra, ketiadaan buku Telaah Prosa Arab yang berbahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami oleh pebelajar bahasa Indonesia merupakan faktor penting yang menyebabkan penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar Telaah Prosa Arab yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mahasiswa PSPBA jurusan Sastra Arab UM, menyusun silabus dan rencana perkuliahan semester (RPS) yang sesuai hasil studi pendahuluan, dan menyusun buku ajar pada mata kuliah Telaah Prosa Arab sesuai dengan silabus dan RPS. Rancangan penelitian ini adalah rancangan pengembangan. Data penelitian ini terdiri atas data studi pendahuluan dan data uji coba. Instrumen utama adalah peneliti sendiri (human instrumen) dengan dibantu angket dan wawancara. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah teknik dokumentasi dengan prosedur melakukan studi pendahuluan, melakukan perencanaan, uji ahli, revisi I, uji coba keterbacaan dan revisi akhir. Berdasarkan jenis data yang dikumpulkan, penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang meliputi empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Untuk mengetahui validitas hasil temuan, dilakukan metode triangulasi. Pengembangan bahan ajar disusun berdasarkan studi pendahuluan terhadap mahasiswa pengguna. Silabus dan RPS pembelajaran telaah prosa yang juga disusun berdasarkan studi pendahuluan ini memudahkan penyusun bahan ajar dalam menentukan materi berdasarkan kebutuhan, yaitu sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa PSPBA FS UM. Silabus dan RPS ini kemudian menjadi pijakan dalam penyusunan bahan ajar telaah prosa. Bahan ajar yang disusun sesuai dengan kebutuhan pebelajar terdiri atas materi teori dan materi aplikasi dengan bentuk latihan-latihan yang mengarah pada peningkatan kemampuan menganalisis karya sastra Arab. 005 Dewa Agung Gede Agung. 2008. Penggunaan Media Compact Disc Interaktif dalam Mata Kuliah Sejarah Indonesia Modern Kata-kata kunci: media pembelajaran, compact disc interaktif Pengembangan media pembelajaran adalah bagian dari kegiatan belajar mengajar. Komunikasi ilmu yang disampaikan oleh seorang pengajar sangat prinsip dalam proses belajar mengajar sehingga apa yang disampaikan oleh seorang pengajar dapat diterima dengan baik oleh siswa. Perkembangan teknologi mengikuti upaya seorang pengajar dalam pembuatan media

pembelajaran yang lebih menarik dan komunikatif. Begitu juga dalam perkuliahan Sejarah Indonesia Modern di Jurusan Sejarah FS UM. Menggunakan power point dalam bentuk CD interaktif merupakan salah satu media yang sekarang relatif dapat dilakukan dan terjangkau dalam pembuatan media pembelajaran, apalagi di tingkat pergutuan tinggi. Dalam pembuatan power point ini bersifat interaktif yaitu dilengkapi dengan gambargambar sesuai dengan tayangan yang akan diterangkan. Untuk mengupayakan lebih menarik power point ini dilengkapi dengan narasi dan alunan instrumentalia secukupnya. Terdapat kendala dalam pembuatan CD interaktif ini, diantaranya penelusuran gambar-gambar atau foto-foto yang dipakai sebagai ilustrasi. Namun dengan terbuatnya CD interaktif ini diharapkan dapat lebih mengefektifkan proses perkuliahan Sejarah Indonsia Modern sehingga prestasi mahasiswa dapat lebih baik. 006 Azizatuz zahro; Dwi Sulistyorini. 2008. Penerimaan Perempuan terhadap Wacana Poligami dalam Film Ayat-ayat Cinta Kata-kata kunci: wacana poligami, film ayat-ayat cinta Pada tahun 2008, dunia film Indonesia disentakkan oleh hadirnya film Ayat-Ayat Cinta. Film tersebut bukan hanya mampu menghimpun jutaan penonton, tetapi juga ditonton oleh berbagai kalangan, termasuk kelompokkelompok pengajian yang selama ini dikenal jauh dari bioskop. Film bernuansa religius tersebut sebenarnya mengangkat tema yang sensitif, yaitu poligami. Di Indonesia, poligami merupakan perilaku yang dapat diterima oleh sebagian perempuan di Indonesia. Kasus perkawinan antara Fachri yang telah memiliki istri, Aisha, dan Maria dalam film Ayat-Ayat Cinta merupakan salah satu contoh perkawinan poligami yang dapat diterima oleh sebagian perempuan. Alasan menolong perempuan yang malang, Maria, dalam film tersebut menjadi alasan bagi sebagian besar perempuan untuk menerima perkawinan kedua Fachri. Kondisi tersebut merupakan salah satu yang menjadikan diperbolehkannya poligami. Meskipun sebagian besar perempuan menerima perkawinan kedua Fachri, ada juga perempuan yang tidak dapat menerima. Alasan yang dikemukakan adalah perkawinan poligami tidak dapat dibenarkan apapun alasannya. Menurut perempuan yang tidak dapat menerima poligami sebagai salah satu bentuk perkawinan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat karena poligami memiliki dampak lebih buruk daripada perkawinan monogami. Dengan demikian, apapun latar belakangnya, poligami tidak dapat dibenarkan. Matinya tokoh Maria dalam film Ayat-Ayat Cinta dianggap oleh sebagian

perempuan bahwa sutradarapun tidak berani menjamin kelangsungan poligami tokoh Fachri. 007 Ali Ma'sum. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Tata Bahasa Arab Melalui Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) Untuk Madrasah Aliyah (MA) Kata-kata kunci: tata bahasa Arab, Pembelajaran Berbasis Komputer, Madrasah Aliyah Untuk membantu mempelajari bahasa Arab khususnya tata bahasa Arab, maka dapat dibuat suatu perangkat lunak komputer (software) melalui pembelajaran berbasis komputer yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Perangkat lunak komputer mempunyai kelebihan dibandingkan dengan buku, misalnya menampilkan materi dalam bentuk multimedia dan interaktif. Multimedia komputer mencakup teks, gambar diam, suara, gambar bergerak. Pengajaran dapat dilakukan secara interaktif, dimana siswa memberikan masukan atas pertanyaan dan perangkat lunak akan memberikan respon atas jawaban siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) kemampuan tata bahasa Arab bagi siswa MA, serta menguji keefektifan, kemenarikan dan efisiensi Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) bagi siswa MA. Metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah antara lain: (a) rancangan pengembangan dan (b) langkah-langkah pengembangan yang meliputi: memilih topik, merancang dan membuat perangkat lunak/modul pembelajaran, konsultasi dengan tim ahli (pakar), revisi perangkat lunak, uji coba software, revisi perangkat lunak, dan uji coba hasil revisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi untuk kelas 1 meliputi: (a) Pendahuluan; (b) Isi dan macamnya; (c) Fi’il dan macamnya; (d) Huruf dan macamnya; (e) I’rob dan tandanya; (f) Mubtada’ dan Khobar. Materi untuk kelas 2 meliputi: (a) Tasrif fi’il; (b) Fa’il; (c) Maf’ul bih; (d) Na’at/Sifat; (e) Athof; (f) Idhofah. Materi untuk kelas 3 meliputi: (a) Naibul Fail; (b) Kana dan saudaranya; (c) Inna dan saudaranya; dan (d) Bilangan. Selain itu masingmasing materi dilengkapi dengan evaluasi. Dan untuk mempermudah siswa memahami istilah-istilah yang sudah dibahas pada setiap materi, maka media ini dilengkapi dengan kamus bahasa arab. Dari analisis data hasil validasi ahli media, ahli materi dan pengguna, nampak bahwa prosentase telah lebih dari 60% artinya termasuk kriteria cukup valid dan valid, sehingga program ini bisa digunakan.

008 Hartatiek; Sirwadji; Chusnana Insyaf Yogihati. 2008. Pengembangan Model Asessmen Kinerja Melaksanakan Praktikum Fisika Dasar I untuk Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) Kata-kata kunci: model asessmen, praktikum Fisika Dasar I Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model asesmen kinerja untuk mengukur kinerja melaksanakan praktikum Fisika Dasar I untuk mahasiswa Jurusan Fisika EMIPA Universitas Negeri Malang. Pada penelitian ini dikembangkan model asessmen kinerja yang diharapkan dapat membantu pembimbing (dosen) matakuliah praktikum Fisika Dasar I dalam meningkatkan kualitas penyelenggaran praktikum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pengembangan model asesmen dilakukan dengan rancangan penelitian dan pengembangan (Research and Development, R & D,) yang terdiri empat tahap yakni: penyusunan draf awal, judgment, uji coba awal, dan uji coba akhir (validasi produk). Metode penelitian yang digunakan adalah metode evaluatif. Penelitian dilaksanakan di Jurusan Fisika EMIPA UM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model asessmen yang dikembangkan telah memenuhi reliabilitas karena menunjukkan keajegan yang baik untuk mengukur yang ditunjukkan dan beda skor rata-rata antar-pengamat tidak lebih dari 10 poin. Selain itu hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan praktikum Fisika Dasar I sudah sangat baik. Hal ini terjadi karena proses pembimbingan telah dilakukan dengan intensif dan kesiapan mahasiswa dalam melakukan praktikum juga sangat baik. 009 Mahmuddin Yunus; Sriyani Mentari. 2008. Perancangan dan Pembuatan Kamus Elektronik Matematika untuk SMP Kata-kata kunci: kamus elektronik, Matematika SMP Untuk membantu siswa dalam mempelajari matematika, maka perlu dibuat suatu perangkat lunak komputer (software) melalui pembelajaran berbasis komputer dalam bentuk kamus elektronik matematika. Kamus elektronik matematika ini dapat diakses melalui web site Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang, http://mat.um.ac.id/kamus. Kamus elektronik ini dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun melalui akses internet. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Merancang dan mengembangkan kamus elektronik matematika untuk membantu siswa dalam mempelajari materi Matematika, khususnya matematika SMP dan (2) Menguji keefektifan, kemenarikan dan efisiensi kamus elektronik Matematika bagi siswa, khususnya siswa SMP.

010 Imam Bukhori; Heny Kusdiyanti. 2008. Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Locus of Control terhadap Learning Outcome Mahasiswa Jurusan Administrasi Perkantoran Kata-kata kunci: motivasi berprestasi, Locus of Control Motivasi berprestasi adalah dorongan yang ada dalam diri mahasiswa untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan meraih prestasi yang diinginkan. Motivasi berprestasi menurut Winkel (1984:29) adalah achievement motivation yaitu daya penggerak pada siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin untuk penghargaan kepada dirinya sendiri‖. Locus of Control (LOC) adalah merupakan perilaku dan penguatan yang diterima oleh seseorang untuk berperilaku di bawah kontrol diri sendiri atau ditentukan oleh orang atau sesuatu di luar dirinya (MacDonald, 1993). Dari hasil pengujian hipotesis I diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi dan bermotivasi rendah. Berdasar hasil pengujian hipotesis kedua dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang bertipe LOC internal dan eksternal. Hasil temuan penelitian ini tidak mendukung teori tentang locus of control yang menyatakan bahwa tipe locus of control seseorang akan mempengaruhi usaha dan keberhasilannya. Berdasar kesimpulan hasil pengujian hipotesis ke tiga diketahui bahwa tidak ada pengaruh motivasi berprestasi dan tipe LOC mahasiswa terhadap hasil belajar. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menetapkan variabel hasil belajar pada mata kuliah tertentu saja sehingga proses pembelajaran dalam hal ini strategi, metode, kualitas tugas, tingkat kesulitan soal ujian dapat lebih dikontrol. Dengan demikian akan dapat dibedakan hasil belajar mahasiswa berdasar aspek motivasi berprestasi dan tipe LOC. 011 Arif Nur Afandi; Sujito; Yuni Rahmawati. 2008. Pengaruh Injeksi Daya terhadap Losses Jaringan Listrik Kata-kata kunci: injeksi listrik, losses jaringan listrik Pemenuhan kebutuhan energi listrik dapat dilaksanakan dengan baik, bila didukung oleh infrastruktur yang cukup. Sistem interkoneksi harus diterapkan dengan benar untuk mencukupi pasokan daya listrik yanag sesuai. Untuk melayani seluruh daerah beban perlu dilakukan pemerataan pemakaian energi listrik secara tepat, agar kondisi seluruh sistem dapat terjaga keseimbangan-

nya. Selain itu, kondisi operasional juga harus mampu mengimbangi kondisi dinamis perubahan beban yang setiap seat dan terus meningkat. Kondisi dinamis pada penyaluran energi dapat mengalami peinadaman total apabila kekurangan pasokan daya dan mengalami losses (rugi daya) yang besar. Hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik dipihak penyedia energi listrik ataupun konsumen yang terganggu aktifitasnya karena terhentinya pasokan daya listrik. Oleh karena itu injeksi daya pada sistem akan memberikan tambahan kecukupan daya untuk melayani semua beban, hal ini untuk mengatasi kekurangan daya yang dikirim ke pusat-pusat beban listik. Sehingga penyaluran daya listrik berjalan dengan jaminan kwalitas yang baik dan stok daya yang cukup. Dengan metode kontingensi menggunakan pusat beban yang tersebar, maka injeksi dapat diprioritaskan pada tempat yang bebannya besar dengan pertimbangan operasional. Injeksi di Malang Raya, dapat diberikan hingga 200MW, hal ini mampu mempertahankan interkoneksi dengan sistem induk yang mensuplai. Tetapi losses sistem tenaga listrik secara umum menurun dengan adanya injeksi daya, sampai pada kondisi normal sistem Malang Raya menyerap daya. Pada bates injeksi daya maksimum, maka kondisi pola aliran daya sistem tenaga listrik hampir tetap, yaitu mengarah pada pusat beban yang dilayani. Namun pads kondisi Sistem Malang Raya mampu mensuplai jaringan luar melalui interkoneksi induk, maka beberapa saluran mengalami perubahan arah aliran daya, sebagai bentuk kiriman ke sistem interkoneksi yang tersambung ke Malang Raya. 012 Nunung Nurjanah; Titi Mutiara Kiranawati; Ummi Rohajatien. Analisis Makanan Jajanan (Street Food) di Lingkungan Sekolah Dasar Kota Malang sebagai Kota UKS Kata-kata kunci: makanan jajanan, Sekolah Dasar Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi riil jenis dan karakteristik fisik, karakteristik bahan utama dan bahan tambahan, serta teknik pengolahan makanan jajanan yang diperjualbelikan di lingkungan sekolah dasar kota Malang. Adapun sub-variabel dalam penelitian ini adalah: rasa, warna, bentuk, penyajian, dan temperatur makanan; bahan utama dan bahan tambahan; proses persiapan, pengolahan, penyajian sebelum dan saat dijual. Hasil penelitian hanya sebagian kecil makanan yang dijual dengan rasa asli tanpa bahan lain, penambah rasa yang paling dominan adalah rasa gurih dan MSG, rasa pedas, rasa coklat dan strawberi, dan perasa manis. Warna makanan yang alami hanya 25% dari jumlah makanan jajanan, sebagian besar makanan jajanan menggunakan pewarna sintetis merah, coklat dan strawberi, hijau dan putih. Bentuk makanan dominan bulat, konsistensi semi basah dan berkuah, tektur padat. Temperatur makanan dijual dominan dalam keadaan

panas sisanya dingin. Sedangkan penyajian makanan sebagian besar menggunakan kantong plastik baik untuk makanan panas maupun dingin. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan kemasan khusus untuk makanan. Bahan utama yang digunakan sangat bervariasi, sementara itu penggunaan bahan tambahan sangat dominan. Sedangkan teknik pengolahan pada umumnya direbus, dikukus, digoreng dan pembekuan. 013 Titi Mutiara Kiranawati; Roesdiyanto; Lismi Animatul C. 2008. Pemetaan Seni Wisata Kuliner Malang Raya Propinsi Jawa Timur Kata-kata kunci: pemetaan seni kuliner, wisata kuliner Salah satu kekayaan bangsa yang belum digali sepenuhnya adalah seni kuliner Indonesia berupa makanan, jajanan dan minuman serta segala sesuatu yang berhubungan dengan pengadaan hidangan-hidangan tradisional. Seni kuliner tersebut terdapat pada hidangan-hidangan tradisional yang masih tersebar diberbagai pelosok nusantara dengan ciri khas yang spesifik dan unik. Seni kuliner Malang merupakan salah satu kekayaan bangsa yang perlu di tata dan dilestarikan kembali melalui arsip yang jelas mengenai keberadaan resepresep tradisional tersebut. Bukanlah suatu hal yang mudah mencari data tersebut karena harus mencari sumber-sumber yang dapat dipercaya, bahkan sampai ke pelosok daerah yang ada di Malang. Dengan demikian diharapkan dapat memperoleh data mengenai makanan dan minuman khas yang masih tradisional dengan resep-resep aslinya untuk didata kembali. Hidangan-hidangan tradisional Malang sangat beraneka ragam keunikannya yang merupakan khas hidangan Malang, meliputi, makanan dan minuman tradisional dengan perbedaan-perbedaan pada bahan pokoknya, bumbu-bumbunya, cara pengolahan, dan cara penyajiannya dengan tata cara makan dan waktu yang berbeda pula. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi: Bagaimana gambaran mengenai hidangan tradisional dalam seni kuliner Malang? Bagaiman cara penyajian hidangan tradisional yang digunakan dalam pola makan dalam seni kuliner Malang. Sesuai dengan latar belakang masalah, rumusan masalah dan teori-teori yang sudah diungkapkan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini sebagai berikut: Memperoleh gambaran yang jelas mengenai hidangan tradisional dalam seni kuliner Malang. Mengetahui cara penyajian hidangan tradisional yang digunakan dalam pola makan dalam seni kuliner Malang.. Seni kuliner Malang Raya yang meliputi ragam hidangan tradisional Malang yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk hewani, lauk pauk nabati, sayuran, makanan sepinggan, makanan pelengkap (sambal-sambalan), jajanan dan minuman. Makanan pokok yang banyak dikonsumsi adalah nasi putih dan nasi empok. Lauk pauk terdiri dari lauk pauk hewani dan lauk pauk nabati

yang berasal dari kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu, dan menjes). Sayuran disebut juga dengan ―Jangan‖ seperti jangan bening, jangan manisah, urap, kuluban, lodeh. Pelengkap berupa sambal mentah dan sambal matang serta kerupuk. Jajanan yang dikonsumsi sebagian besar berbahan dasar sumber karbohidrat, sedangkan minuman sehari-hari lebih sering teh manis dan kopi atau sesekali es degan, dawet, dll Bahan dan bumbu yang digunakan nerupakan hasil bumi yang banyak diperoleh di daerah setempat. Bahan makanan yang banyak digunakan antara lain, beras, singkong, jagung, berbagai sayuran seperti wortel, kubis, daun bayam, kangkung, berbagai bahan hewani yaitu sapi, ayam, ikan, itik, dan berbagai bahan bumbu kering dan bumbu basah. Penyajian hidangan seharihari bersifat sederhana sesuai dengan waktu makan. 014 Ilham Ari Elbaith Zaeni; Siti Sendari. 2008. Pemanfaatan Sistem Kendali Logika Fuzzy untuk Pengaturan Temperatur pada Proses Pasteurisasi Susu Kata-kata kunci: system kendali logika fuzzy, pasteurisasi susu Susu merupakan sumber gizi terbaik bagi manusia. Kerusakan pada susu disebabkan oleh terbentuknya asam laktat sebagai hasil fermentasi laktosa oleh koli. Untuk meminimalkan kontaminasi oleh mikroorganisme dan menghambat pertumbuhan bakteri pada susu agar dapat disimpan lebih lama maka penanganan sesudah pemerahan hendaknya menjadi perhatian utama peternak. Telah tersedianya listrik hingga pelosok desa akan menopang penggunaan pengolahan susu pasteurisasi. Dari data hasil pengujian per-bagian sistem maupun keseluruhan sistem di atas dapat diketahui bahwa secara umum sistem menghasilkan error kurang dari 5%. Suhu yang dihasilkan oleh sistem memiliki kesalahan antara 0% sampai dengan 0,47% dengan rata-rata persentase kesalahan dari pengujian ini adalah 0,23%. Sedangkan waktu yang dihasilkan oleh sistem memiliki kesalahan 4%. Persentase kesalahan ini masih lebih rendah dari persentase kesalahan yang dapat diterima yaitu sebesar 5%. Kesalahan sistem pemanas sebesar 0,23% terjadi karena kurang presisinya sistem dalam mengatur suhu. Hal ini terjadi karena beberapa hal, misalnya karena penggunaan membership function masukan atau membership function masukan yang sedikit. 015 Bambang Budi Wiyono. 2008. Hubungan Struktural Tingkat Pendidikan, Golongan Kepangkatan, Masa Kerja, dan Usia Guru dengan Motivasi Kerja dan Keefektifan Kerja Tim Guru Sekolah Dasar

Kata-kata kunci: motivasi kerja guru, keefektifan kerja tim guru Salah satu faktor yang sangat menentukan dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah guru. Tinggi rendahnya mutu hasil belajar siswa banyak tergantung pada kemampuan guru. Apabila guru memiliki kemampuan yang baik dalam melaksanakan tugas, maka akan bisa membawa dampak peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui koefisien hubungan tingkat pendidikan, golongan kepangkatan, masa kerja, dan usia guru dengan motivasi kerja dan keefektifan kerja tim guru sekolah dasar negeri dalam melaksanakan tugas, baik secara langsung atau tidak langsung. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menemukan faktorfaktor yang berpengaruh terhadap motivasi kerja dan keefektifan kerja guru sekolah dasar. Penelitiaan ini dilakukan di sekolah dasar negeri kabupaten Malang. Sampel penelitian diambil sebesar 438 guru. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional cluster random sampling. Desain penelitian menggunakan rancangan penelitian eksplanasi bentuk causal modelling. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumentasi. Model instrumen yang dikembangkan adalah kuesioner tipe summated rating. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif, dan analiais structural equation modelling. Pengolahannya menggunakan program SPSS, Microsoft Excell, dan Lisrel (Linier Structural Relation). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa: (1) ada hubungan positif langsung antara tingkat pendidikan dengan motivasi kerja guru dalam melaksanakan tugas; (2) ada hubungan tidak langsung antara tingkat pendidikan dengan keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas; (3) tidak ada hubungan antara golongan kepangkatan guru dengan motivasi kerja guru dan keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas, baik secara langsung atau tidak langsung; (4) tidak ada hubungan antara masa kerja guru dengan motivasi kerja guru dan keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas, baik secara langsung maupun tidak langsung; (5) ada hubungan negatif langsung antara usia guru dengan motivasi kerja guru dalam melaksanakan tugas; (6) ada hubungan negatif tidak langsung antara usia guru dengan keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas; dan (7) ada hubungan positif langsung yang sangat kuat antara motivasi kerja guru dengan keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas. Semakin tinggi motivasi kerja guru, semakin tinggi pula keefektifan kerja tim guru dalam melaksanakan tugas. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan mempertimbangkan faktor tingkat pendidikan dan usia dalam sistem pengelolaan sumber daya manusia di sekolah, baik dalam seleksi, pembinaan karier, atau pengembangan sumber daya manusia. Dalam rangka meningkatkan keefektifan kerja tim guru, maka langkah pertama yang harus dilakukan kepala sekolah atau pejabat dinas pendidikan perlu meningkatkan motivasi kerjanya. Faktor-

faktor yang mendorong motivasi kerja guru, baik secara internal maupun eksternal, perlu ditingkatkan secara optimal. 016 Sa’dun Akbar. 2008. Pendidikan Karakter di Pesantren Darut-Tauhid Bandung (Studi dalam Perspektif Pendidikan Umum SD) Kata-kata kunci: pendidikan karakter, pesantren Darut-Tauhid Penelitian Hibah Bersaing tahun ketiga ini bertujuan: (1) menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD yang teruji secara valid menurut praktisi; (2) menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD yang efektif dapat mencapai tujuan pembelajaran bagi kelas-1 dan kelas-2 SD; dan (3) menghasilkan CD interaktif untuk pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian pengembangan. Ujicoba model di lakukan dalam skala luas di SD Kelas-1 dan Kelas-2 SD di Jawa Timur. Yang menjadi responden penelitian ini adalah guru-guru kelas-1 dan kelas-2 SD di beberapa sekolah di Jatim untuk uji keterterapan model, dan siswa-siswa kelas-1 dan kelas-2 SD di Jatim untuk uji keefektifan model. Data dikumpulkan dengan angket. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Untuk menentukan kelayakan/validitas model yang dihasilkan dilakukan analisis gabungan antara keterterapan model, validitas bahan ajar, dan keefektifan model dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: penelitian ini telah menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 SD pada tema: Diri sendiri, Keluarga, Lingkungan, Pengalaman, Kebersihan-Keindahan-Keamanan, dan Kegemaran pada kriteria yang layak/valid; disamping itu juga menghasilkan model-model pembelajaran tematik tema: Diri-Sendiri dan Lingkungan untuk kelas-2 SD dengan kriteria sangat layak/sangat valid; model lainnya yang dihasilkan adalah model-model tematik untuk tema: Keluarga, Pengalaman, dan Kegemaran untuk kelas-2 SD dengan hasil yang layak/valid. Untuk model pembelajaran yang dinyatakan sangat layak/sangat valid dapat langsung digunakan tanpa revisi, sedangkan yang termasuk layak/valid dapat digunakan dengan revisi kecil. Secara umum, model yang dihasilkan melalui penelitian ini cukup baik dan layak digunakan dalam pembelajaran di kelas-1 dan kelas-2 SD.

017 Nur Mukminatien. 2008. Implementasi Cooperative Learning dengan Collaborative Assessment Untuk Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dalam Mengajar Writing Kata-kata kunci: cooperative learning, collaborative assessment, writing Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa pendidikan bahasa Inggris program Magister (S2) PPs Universitas Negeri Malang dalam mengajar Writing melalui Cooperative Learning (CL) dan Collaborative Assessment (CA). CL adalah belajar dalam kelompok untuk mengerjakan tugas dan memecahkan masalah secara bersama-sama, sedangkan CA adalah penilaian kolaboratif atas proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh dosen (teacher assessment), sesama pembelajar (peer assessment), dan penilaian diri (self assessment). PTK dilaksanakan dalam mata kuliah The Teaching of Writing selama satu semester dalam 2 siklus. Siklus 1 berfokus pada peningkatan pengetahuan tentang pembelajaran Writing, sedangkan siklus 2 berfokus pada peningkatan keterampilan mengajar Writing. Instrumen dan teknik yang digunakan adalah ceklis komponen pembelajaran Writing, penugasan, dan rubrik penilaian RPP dan rubrik praktek mengajar. Kegiatan belajar dengan CL dan CA selama siklus 1 dalam 6 pertemuan telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu 86% (kriteria minimal 70%) mahasiswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis teks dengan benar serta dapat mendeskripsikan struktur generik dari teks yang diberikan. Selain itu mereka mampu membuat latihan-latihan struktur bahasa yang terkait dengan fitur linguistik yang gayut dengan teks yang diberikan. Namun karena tujuan akhir pembelajaran adalah kemampuan untuk mengajar Writing, maka tindakan dilanjutkan dengan pada Siklus 2. Tindakan pada selama 8 pertemuan pada Siklus 2 menunjukkan keberhasilannya, yaitu mahasiswa mampu mengembangkan RPP dengan minimal 5 komponen yang mendeskripsikan skenario pembelajaran, yaitu terdiri atas tujuan, materi pokok, metode (termasuk langkah-langkah pembelajaran), sumber belajar/media, dan penilaian. Selain itu mereka mampu mendemonstrasikan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dan mengacu pada pembelajaran inkuiri dengan hasil skor 89 untuk pembelajaran kelas X, 86 kelas XI, dan 91 kelas XII. Hasil tersebut melampaui kriteria keberhasilan yang telah ditentukan dengan skor minimal 80. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran writing dengan mengimplementasikan CL dengan CA berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam mengajar writing. Diskusi kelompok dalam implementasi CL terbukti efektif, dan CA memberikan gambaran yang lebih sempurna tentang keberhasilan pembelajar dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Selain itu, dalam praktek mengajar sejawat

(peer teaching), penilaian kolaboratif mampu memberikan umpan balik yang lebih banyak sehingga dapat dijadikan input untuk perbaikan. 018 Mardi Wiyono. 2008. Analisis Profesionalisme Dosen dalam Program Penjaminan Mutu Kata-kata kunci: profesionalisme, penjaminan mutu Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profesionalisme dalam penjaminan mutu. Dosen memiliki aktivitas pokok tri dharma perguruan tinggi, yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan bersifat studi kasus di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin FT UM. Berdasarkan hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk ditingkatkan, yaitu: tingkat pendidikan dosen yang masih banyak berijasah S1, peran dosen dalam penelitian rendah, penulisan karya ilmiah dan penulisan buku masih rendah, aktivitas pengabdian kepada masyarakat, dan aktivitas dalam seminar dan lokakarya yang juga rendah Di samping itu, dosen belum banyak memanfaatkan ICT dalam karya akademiknya. Aktivitas dosen dalam kegiatan akademik perlu dimotivasi dan diarahkan oleh Ketua Jurusan, agar dosen dapat meningkatkan kinerjanya dalam meningkatkan profesionalismenya. 019 F. Danardana Murwani. 2008. Faktor-faktor Penentu Penggunaan Websites sebagai Media Pembelajaran Matakuliah Konsentrasi Pemasaran (Perspektif Theory of Reasoned Action dan Theory of Technology Acceptance) Kata-kata kunci: theory of reasoned action, theory of technology acceptance, structural equation modeling, penggunaan websites, media pembelajaran, pendidikan ekonomi Penelitian ini berupaya menjelaskan perilaku mahasiswa yang menggunakan websitas (www.emeraldinsiaht.com dan www.amsreview.org) sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran berdasarkan perspektif Theory of Reasoned Action (TRA) dan Theory of Technology Acceptance (TTA). Perspektif TRA dan TTA dipilih karena ketua perspektif tersebut mengkaji aspek manusia dalam penggunaan (pengadopsian) websites. Dalam hal ini ingin mengetahui sejauhmana kedua websites telah digunakan oleh mahasiswa sebagai sarana peningkatan kualitas tugas-tugas matakuliah konsentrasi pemasaran. Kedua websites itu tidak akan berfungsi sebagai sarana peningkatan kualitas tugas-tugas matakuliah konsentrasi

pemasaran manakala mahasiswa enggan atau bahkan menolak untuk menggunakannya. Eksplanasi perilaku mahasiswa tersebut melahirkan dua masalah penelitian, yakni (1) masalah penelitian mengenai hubungan pengukuran setiap konstruk, atau hubungan antara setiap konstruk dengan sejumlah indikator yang merefleksikan konstruk tersebut dan (2) masalah penelitian mengenai hubungan kausal antar konstruk. IRA mencakup juga konstruk, yaitu sikap terhadap perilaku menggunakan websites sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran (A), norma subjektif mengejar perilaku menggunakan websites sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran (SN), dan niat untuk menggunakan websites sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran (31). Sedangkan TTA mencakup empat konstruk, yaitu dua konstruk TRA, yakni A dan B, ditambah dua konstruk, yakni kemanfaatan websites sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran (U), dan kemudahan penggunaan websites sebagai media pembelajaran matakuliah konsentrasi pemasaran (EOU). Penelitian ini menggunakan rancangan confirmatory survey. Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang menempuh matakuliah konsentrasi pemasaran pada semester genap 2007/2008 yang berjumlah 344 mahasiswa. Pengambilan sampel pembeli dilakukan menggunakan teknik random sampling, dengan sampel sebesar 183 yang ditentukan berdasarkan formula Davis dan Cosenza. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian, yakni kuesioner Skala Likert. Instrumen penelitian divalidasi dengan berpedoman tiga properti psikometrika, yang mencakup uniclimensionalitas (unidimansionality), reliabilitas koraposit (composite reliability), dan vaIiditas konstruk (construct validity). Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan structural equation modeling (SEM) dengan LISREL release 8 sebagai statistical software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unidimensionalitas, reliabilitas komposit, dan validitas konstruk berhasil terkonfirmasi pada hubungan pengukuran setiap konstruk (model pengukuran). Hasil itu mengindikasikan bahwa indikator-indikator teruji merefleksikan konstruknya. Hubungan kausal antar konstruk (model struktural) yang dihasilkan oleh penelitian ini berhasil mengkonlirrnasi TRA sebagaimana yang dihipotesiskan. Sedangkan dalam perspektif TTA, hubungan kausal itu baru berhasil dikonfirmasi setelah dilakukan penyesuaian terhadap model pengukurannya. Hasil ini menunjukkan konsistensi TRA dalam berbagai setting, khususnya setting pendidikan. Menindaklanjuti hasil analisis data sebagai temuan penelitian, melalui penelitian ini disampaikan sejumlah saran seperti berikut. Adopsi temuan penelitian sebagal tindak lanjut penelitian ini perlu dilakukan oleh pimpinan baik fakultas maupun universitas, khususnya di UM. Aspek sikap terhadap perilaku menggunakan websites dan norma subjektif yang berkontribusi positif

kepada niat dan perilaku sebagaimana dalam IRA, serta kerelevanan kumudahan penggunaan websites dan kemanfaatan websites sebagaimana dalam TTA, dapat dijadikan fokus adopsi. Program pelatihan pemanfaatan websites dan pendampingan kepada mahasiswa secara intensif yang mengarah pada penumbuhan sikap positif, peningkatan keterampilan, dan peran norma subjektif disarankan untuk dilakukan. Selain itu, penelitian ini mempunyai keterbatasan dalam generalisasi temuan penelitian, yakni keberlakuan TRA dan HA pada setting pendidikan. Oleh karena itu, validasi ulang IRA dan HA pada setting pendidikan yang menjangkau populasi yang lebih luas menjadi agenda bagi penelitian di waktu yang akan datang. 020 Ali Imron; Iriaji. 2008. Manajemen Penjaminan Kualitas Layanan Pendidikan dan Pengajaran dalam Latar Institusi Pendidikan Tinggi (Studi Multi Kasus di Jurusan Administrasi Pendidikan, Ilmu Keolahragaan, dan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: layanan pendidikan, layanan pengajaran Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: manajemen penjaminan kualitas masukan (student intake) jurusan AP, IK dan PLS FIP Universitas Negeri Malang, manajemen penjaminan kualitas proses perkuliahan jurusan AP, IK dan PLS FIP Universitas Negeri Malang, manajemen penjaminan kualitas sarana prasarana PBM jurusan AP, IK dan PLS FIP Universitas Negeri Malang, dan manajemen penjaminan kualitas lulusan jurusan AP, IK dan PLS FIP Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixing, ialah gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian ini adalah studi multi kasus. Sasaran penelitian ini adalah tiga jurusan di lingkungan Fakulas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, masing-masing: jurusan Administrasi Pendidikan (AP), Jurusan Ilmu Keolahragaan (IK) dan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), karena ketiganya mempunyai karakteristik yang berbeda dan menonjol. Teknik pengumpulan data adalah akses dokumentasi, wawancara mendalam, observasi peran serta dan focuss group discussion. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif tendensi sentral adalah persentase, rerata, dan mode. Sedangkan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan proses interaktif yang ditawarkan oleh Miles dan Hubermen (1994), yang meliputi: data collection, data reduction, data display dan conclussion drawing/verifying. Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, didapatkan temuan penelitian yang terkait dengan: (1) manajemen penjaminan kualitas student intake; (2)

manajemen penjaminan kualitas proses PBM; (3) manajemen penjaminan kualitas sarana PBM; dan (4) manajemen penjaminan kualitas lulusan. Berdasarkan keseluruhan temuan, direkomendasikan sebagai berikut. Pertama, guna meningkatkan kualitas input, jurusan AP, IK, dan PLS perlu membidik secara khusus kandidat mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang mempunyai passing grade tinggi, seraya memberikan kesempatan khusus kepada 3 lulusan terbaik dari masing-masing SMA. Dalam rangka meningkatkan kualitas input perlu memperluas jaringan informasi penerimaan mahasiswa baru ke berbagai daerah. Guna tetap menjaga kualitas input, proses dan ouput lulusan, pembatasan daya tampung untuk disesuaikan dengan ketersediaan SDM harus dilakukan. Guna mendapatkan input yang tidak hanya unggul dari kapabilitas akademik, tetapi juga mendapatkan pribadi yang cocok sesuai dengan tugas yang akan diemban oleh lulusan, sangat bagus jika materi seleksi tambahan sebagaimana yang dilakukan oleh jurusan IK juga perlu dilakukan oleh jurusan AP dan PLS. Kedua, aspek kehadiran dosen dan mahasiswa yang tidak kurang dari standar perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Perlu memantau penggunaan silabus oleh dosen, apakah benar-benar silabus yang sudah dibakukan oleh jurusan ataukah tidak (silabus buatan sendiri). Pemantauan terhadap sistem perkuliahan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap dosen pengampu matakuliah, dan ditindaklanjuti dengan pembuatan laporan secara sistematis, Diagnosis kesulitan belajar mahasiswa perlu dilakukan secara sistematis, karena umumnya yang dilakukan selama ini baru sebatas secara insidental. Monitoring perkuliahan dan student achievement perlu dilanjutkan, dan diperluas terutama pada aspek kesamaan topik per minggu dengan silabus yang sudah dibakukan di tingkat jurusan. Guna meningkatkan profesionalitas dosen pengampu matakuliah, diberikan kesempatan untuk mendalami spesialisasi matakuliah yang diajar pada pendidikan degre dan non degre, sehingga matakuliah yang diampu benar-benar berbasis pada konsep dan teori yang jelas. Ketiga, ke depan perlu pengalokasian anggaran pemeliharaan sarana PBM. Guna lebih dapat mengoptimalkan ruangan, maka sepatutnya terdapat rancangan penggunaan ruangan yang fleksibel, sehingga ruangan tersebut dapat dipergunakan untuk berbagai jenis keperluan. Model-model perkuliahan yang tidak terpaku di suatu ruangan patut dikembangkan. Mengingat kebanyakan koleksi bahan pustaka terbitan 5 tahun yang lalu atau lebih, maka pengadaan pustaka yang terbit dua tahun terakhir, dan terutama cetakan pertama patut dilakukan. Berbagai projek block grand yang dimenangkan oleh ketiga jurusan tersebut, sepatutnya banyak dialokasikan untuk pengadaan pustaka terbitan dua tahun terakhir, yang meliputi: buku, jurnal, CD dan sebagainya. Sarana dan peralatan laboratorium yang tersedia patut ditingkatkan jumlah dan kualitasnya

Keempat, guna memperpendek waktu masa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama kali, maka perlu pembekalan kepada mahasiswa life skills dan kemampuan kewirausahaan, sehingga ketika lulus dapat memilih di antara dua alternatif yang relevan dengan kompetensi dan pilihannya, adalah bekerja pada sektor formal atau melakukan wirausaha sesuai dengan bidang keahliannya. Untuk menaikkan nilai tawar lulusan, selain dengan menaikkan kualitas lulusan, juga sekaligus mempertajam ciri khas lulusan. 021 Roekhan; Ali Imron. 2008. Model Penanaman Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Kata-kata kunci: model, pendidikan karakter, pondok pesantren Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, maka secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model penanaman pendidikan karakter di pondok pesantren. Sedangkan secara khusus yaitu untuk (1) mendeskripsikan model penanaman karakter di pondok pesantren ditinjau dari keteladanan pendidiknya; (2) mendeskripsikan bentuk kegiatan rutin atau terprogram untuk menanamkan sikap dan perilaku positif pada siswa di pondok pesantren; dan (3) mendeskripsikan bentuk kegiatan ekstrakurikuler di pondok pesantren. 022 Tri Maryami, Evi Susanti. 2008. Uji Efektifitas Limbah cair Tempe sebagai Larvasida Nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue) Kata-kata kunci: limbah, tempe, larvasida dan nyamuk Nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan vektor utama penularan penyakit demam berdarah antar manusia. Salah satu metoda pengendalian nyamuk DBD yang efektif dan sederhana adalah dengan menggunakan larvasida yang mampu membunuh larva nyamuk pada genangan air yang menjadi sarang nyamuk tersebut. Penggunaan larvasida sintetik secara terus-menerus dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Dampak yang paling utama adalah munculnya efek resistensi, sehingga diperlukan larvasida alamiah sebagai insektisida alternatif untuk pengendali larva nyamuk DBD. Limbah cair industri pembuatan tempe diduga memiliki potensi yang baik sebagai insektisida alternatif tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pengaruh konsentrasi limbah cair tempe terhadap mortalitas larva nyamuk DBD; (2) menentukan nilai LC50 limbah cair tempe terhadap larva nyamuk DBD; (3) mengetahui pengaruh waktu dan suhu penyimpanan terhadap aktivitas larvasidanya; dan (4)

mengetahui sifat larvasida asam fitat. Tahapan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut (1) persiapan sampel yaitu limbah cair tempe yang berasal dari proses perendaman biji kedelai selama 1 hari dan inositolheksafosfat (asam fitat) sebagai pembanding serta larva nyamuk sebagai hewan uji yang digunakan; (2) uji aktivitas inositolheksafosfat (asam fitat) dan limbah cair tempe sebagai larvasida nyamuk; dan (3) penentuan pengaruh waktu dan suhu penyimpanan limbah tempe terhadap aktivitas larvasidanya, dan (4) pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) semakin tinggi konsentrasi limbah cair tempe mengakibatkan semakin besar kematian larva nyamuk DBD. Limbah cair tempe dapat membunuh 100% larva nyamuk DBD pada konsentrasi ≥ 80% dan selama 48 jam; (2) analisis regresi probit dengan program SPSS 13 terhadap data hasil uji sifat larvasida limbah cair tempe pada berbagai konsentrasi terhadap larva nyamuk Aedes aegypty, menunjukkan bahwa selama waktu pengujian 24 jam menghasilkan LC50 pada konsentrasi 35% dan selama waktu pengujian 48 jam menghasilkan LC50 pada konsentrasi 20,4%; (3) waktu penyimpanan sampai hari ke-7 relatif tidak mempengaruhi sifat larvasida limbah cair tempe, sedangkan perlakuan pendinginan selama penyimpanan dan autoklaf sebelum digunakan sebagai larvasida mengakibatkan turunnya aktivitas limbah cair tempe sebagai larvasida; dan (4) sifat larvasida natrium fitat pada konsentrasi 25 mg/mL atau 2,5% dapat menyebabkan kematian rata-rata 75% larva nyamuk DBD Aedes aegypti sehingga diduga asam fitat merupakan salah satu senyawa aktif yang menyebabkan limbah cair tempe bersifat larvasida. 023 Muntholib; Elly Hendrik Sanjaya. 2008. Pemanfataan Sampah Organik di Universitas Negeri Malang menjadi Pupuk Organik: Suatu Uji Coba Produksi Kompos dari Kampus Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: kompos, EM5, sampah organik Sampah merupakan material sisa yang tidak diperlukan setelah berakhirnya suatu proses. Oleh karena itu keberadaan sampah sering menimbulkan masalah, tidak terkecuali di Universitas Negeri Malang (UM). 2 Kampus UM dengan luas 413.730 m dan dikelilingi oleh berbagai macam 3 pohon dan tanaman, setiap hari menghasilkan sekitar 5,5 m sampah, dan hampir seluruhnya adalah sampah organik. Meskipun menghasilkan banyak sampah, sampai saat ini UM belum mempunyai sarana pengolah sampah. Padahal sampah organik sangat potensial untuk dijadikan pupuk organik atau kompos yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Melalui penelitian ini telah dilakukan uji coba pengolahan sampah di kampus UM menjadi kompos serta menganalisis kualitas kompos yang dihasilkan atas dasar Standar

Nasional Indonesia (SNI) untuk kompos serta dibandingkan dengan kualitas salah satu pupuk organik yang ada di pasaran. Fermentasi sampah menggunakan mikroba Superdegra (EM5) dilakukan di kampus Universitas Negeri Malang pada bulan Mei sampai Desember 2008, sedangkan analisis kualitas pupuk dilakukan di Laboratorium Kimia Tanah, Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bantuan mikroba EM5, sampah organik dari sampah UM dapat diuraikan menjadi kompos dalam waktu empat hari. Kompos yang dihasilkan mempunyai warna coklat kehitaman, bahan organik 23,8%; pH 6,8; N total 2,2%; C organik 13,8%; P total 0,35%; rasio C/N 6; K total 1,1 dan KTK 46,7 me/100g. Secara umum kompos yang dihasilkan sudah memenuhi untuk kompos dan setara dengan kualitas kompos yang dijual di pasaran. 024 Lismi Animatul Chisbiyah, Laili Hidayati, Nunung Nurjanah. 2008. Uji Mutu Dendeng Ikan Mujair (Tilapia Mossambica) Kata-kata kunci: uji mutu, dendeng ikan mujair Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis perbedaan warna pada dendeng mujair yang menggunakan gula aren, gula kelapa, dan gula tebu; (2) Menganalisis perbedaan tekstur pada dendeng mujair yang menggunakan gula aren, gula kelapa dan gula tebu; (3) Menganalisis perbedaan aroma pada dendeng mujair yang menggunakan gula aren, gula kelapa dan gula tebu; dan (4) Menganalisis perbedaan rasa pada dendeng mujair yang menggunakan gula aren, gula kelapa dan gula tebu. Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008 di Laboratorium Bakery & Pastry Tata Boga Gedung H4 Lt. 2 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data uji mutu hedonik dendeng mujair masak dilakukan dengan mengisi format penilaian. Setiap panelis memperoleh lembar penilaian uji mutu hedonik dendeng mujair masak. Lembar tersebut diisi berdasarkan hasil uji panelis terhadap sifat-sifat sensoris dendeng ikan mujair dengan perlakuan berbeda. Panelis yang digunakan adalah agak terlatih yaitu panelis yang terbiasa dengan produk yang diuji dan mengetahui hal apa saja yang menentukan kualitas baik dalam suatu produk. Banyaknya panelis yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 orang dengan tiga kali pengulangan. Panelis diambil secara acak dari mahasiswa DIII Tata Boga tahun angkatan 2006-2007 Teknologi Industri Universitas Negeri Malang.

025 Laili Hidayati; Lismi Animatul Chisbiyah; Titi Mutiara Kiranawati. 2008. Evaluasi Mutu Organoleptik Bekasam Ikan Wader Kata-kata kunci: organoleptik, bekasam, ikan wader Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis perbedaan jumlah protein terlarut pada bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam; (2) Menganalisis perbedaan rasa bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam; (3) Menganalisis perbedaan aroma bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam; dan (4) Menganalisis perbedaan tekstur bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam. Penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dan dilakukan tiga kali pengulangan dengan persentase jenis tape yang berbeda. Data dikumpulkan dari format uji hedonik yang diisi oleh panelis. Panelis yang dipilih adalah panelis agak terlatih yaitu panelis yang terbiasa dengan produk yang diujikan dan mengetahui hal apa saja yang menentukan kualitas yang baik suatu produk sesuai dengan kriteria tersebut panelis digunakan adalah mahasiswa angkatan 2007-2008 Jurusan Tata Boga yang ditentukan secara acak. Jumlah panelis sebanyak 20 orang. Data yang terkumpul adalah perbedaan dari bekasam dengan menggunakan beras sangrai (samu) yang ditambahkan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam yang berbeda terhadap sifat-sifat organoleptik yang meliputi aroma, warna, tekstur, dan rasa. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisi sidik ragam untuk menggambarkan perbedaan aroma, warna, tekstur, dan rasa bekasam. Apabila dari analisis sidik ragam terdapat perbedaan nyata (Fhitung > Ftabel), maka analisis dilanjutkan dengan Duncan‟s Multiple Range Test (DMRT). (1) Hasil analisis sidik ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada rasa bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 5 % yaitu F hitung (1,88) <Ftabel (2,6); (2) Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata pada aroma bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 1 % yaitu Fhitung (18,78) > Ftabel (3,78); (3) Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata pada warna bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 1 % yaitu Fhitung (50,88) > Ftabel (3,78); (4) Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan rasa bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa penggunaan tape ketan putih kurang dari setengah jumlah panelis (42,5%) menyatakan suka, penggunaan tape beras lebih dari setengah jumlah panelis (52,5%) menyatakan kurang suka dan penggunaan tape ketan hitam lebih dari setengah jumlah panelis (58%) menyatakan suka; (5) Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan aroma bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa

penggunaan tape ketan putih lebih dari setengah jumlah panelis (55%) menyatakan kurang suka, penggunaan tape beras setengah jumlah panelis (50%) menyatakan agak suka dan penggunaan tape ketan hitam kurangdari setengah jumlah panelis (42,50%) menyatakan agak suka; dan (6) Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan warna bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa penggunaan tape ketan putih kurang dari setengah jumlah panelis (37,50%) menyatakan suka, penggunaan tape beras kurang dari setengah jumlah panelis (47,50%) menyatakan suka dan penggunaan tape ketan hitam kurang dari setengah jumlah panelis (47,50%) menyatakan suka. 026 Surjani Wonorahardjo; Parlan; Sutrisno. 2008. Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Berbasis Pengetahuan dan Konsep Kimia dan yang Berhubungan Kata-kata kunci: bahan ajar, pendidikan lingkungan hidup, konsep kimia Paradigma pembelajaran pendidikan lingkungan hidup di sekolah dalam kurun waktu dekade terakhir ini telah mengalami pergeseran. Pergeseran paradigma yang dimaksud adalah dari aliran behaviorisme menuju ke konstruktivisme. Perubahan paradigma ini juga mencakup pada isi, struktur, pedagogi, dan aspek-aspek lain dalam pembelajaran kimia. Perubahan bukan saja dalam hal isi atau konten/materi tetapi juga pada materi mana yang dipilih dan bagaimana cara menyajikannya. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu sistem pembelajaran yang dapat mengembangkan kompetensi siswa. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dikembangkan perangkat pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Menengah Berbasis Pengetahuan dan konsep Kimia dan yang Berhubungan untuk mendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan di sekolah. Desain penelitian pengembangan perangkat pembelajaran ini mengadopsi model desain yang diidekan dan dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk. (1974), yakni 4D-Model (Define, Design, Develop, and Disseminate). Namun pada rancangan penelitian ini akan diadopsi sampai pada D yang ketiga, yakni hingga tahap develop (pengembangan). Hasil dari penelitian ini berupa bahan ajar yang telah dilakukan revisi sesuai dengan hasil penilaian dari validator. Pengembangan bahan ajar mengadopsi sampai pada D yang ketiga yaitu define, design dan develop. Berdasarkan hasil penilaian secara keseluruhan dari semua validator (guru kimia SMA dan dosen kimia) diperoleh kriteria cukup valid dengan nilai sebesar 76,7% dan rata-rata 3,1.

027 Susilowati; Mardi Wiyono. 2008. Kondisi Hutan Mangrove dan Daya Tariknya sebagai Obyek Wisata di Kota Probolinggo Kata-kata kunci: hutan mangrove, obyek wisata Hutan mangrove keberadaannya makin terdesak oleh kebutuhan manusia lain sehingga hutan mangrove sering dibabat bahkan sampai punah. Jika hal ini terus dilakukan ke depan akan terjadi abrasi, hilangnya satwa atau biota laut yang habitatnya memerlukan dukungan dari hutan mangrove. Untuk itu perlu segera dikaji bagaimana kondisi hutan mangrove yang ada di wilayah Kota Probolinggo dan apakah sudah ada upaya-upaya dari masyarakat dan pemerintah untuk mengkonservasi keberadaan hutan mangrove. Di samping itu juga perlunya dilakukan analisis tentang potensi hutan mangrove sebagai potensi wisata di Kota Probolinggo. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian terutama di kawasan hutan mangrove Kota Probolinggo. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik deskriptif berupa tabel dan analisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini selanjutnya dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Kota Probolinggo memiliki mangrove seluas 74,68 Ha yang terdiri dari 6,13 Ha mangrove di Kelurahan Ketapang; 19,34 Ha mangrove di Kelurahan Mangunharjo; 12,30 Ha mangrove di Kelurahan Mayangan; 20,09 Ha mangrove di Kelurahan Pilang dan 16,82 Ha mangrove di Kelurahan Sukabumi. Hutan mangrove di Kota Probolinggo telah mengalami degradasi yang disebabkan oleh berbagai tekanan manusia seperti dikonversi menjadi lahan tambak, perumahan, kawasan industri dan eksploitasi berlebihan; (2) Upaya konservasi hutan mangrove di Kota Probolinggo belum dilakukan secara intensif, DKLH Kota Probolinggo hanya melakukan pemantauan dan belum ada upaya riil melakukan pencegahan kerusakan hutan mangrove, dan (3) analisis daya tarik potensi wisata hutan mangrove Kota Probolinggo meliputi tiga faktor yaitu something to see (sesuatu yang dapat dilihat), something to do (sesuatu yang dapat dilakukan) dan something to buy (sesuatu yang dapat dibeli). 028 Marji; Mardi Wiyono. 2008. Model Pengomposan Sampah Organik di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kota Blitar Kata-kata kunci: kompos, sampah organik, TPA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengomposan yang dilakukan dalam proses pengomposan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah

(TPA) Kota Blitar. TPA Kota Blitar telah mengembangkan model pengomposan dengan sistem mekanis, yaitu dengan melibatkan mesin-mesin pemroses (pemilah, penghancur, penyaring, dan conveyor). Sejauh mana penggunaan mesin-mesin tersebut digunakan dalam proses pengomposan, selanjutnya akan dikaji dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil yang diperoleh dari panelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pengelolaan sampah di Kota Blitar dilakukan dengan pola pengumpulan dari sumbernya (rumah tangga, sekolahan, kantor, pasar, dll) menuju depo, dan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir di Desa Gedog, Kecamatan Sanan Wetan. Jika dilihat cari catatan yang ada di TPA, volume sampah yang 3 terkumpul di TPA rata-rata per hari 70 m . Dari volume tersebut 82% sampah organik, 18% sampah anorganik; (2) Peralatan yang digunakan untuk mengangkut sampah yang tidak dikomposkan di tempat (sumbernya) digunakan peralatan dengan komposisi: 46 gerobak, truck biasa 8 buah, dum truck sebanyak 6 buah, dan gerobak motor 8 buah; (3) Jenis dan komponen mesin yang digunakan dalam proses pengomposan terdiri dari: mesin pemanas, msin pemisah sampah, mesin penyaring, dan mesin pembangkit tenaga; (4) Sampah yang diangkut dari sumbernya dikumpulkan di TPA untuk difermentasi (open dumping model). Sampah yang tertimbun kemudian dilakukan pemisahan antara sampah organik dan anorganik; (5) Keefektifan model pengomposan di TPA Kota Blitar dapat dikatakan cukup efektif, karena dapat mengatasi masalah sampah secara cepat. Efisiensi dari model TPA Blitar jika ditinjau dari biaya keseluruhan dibanding dengan model konvensional dapat dikatakan sangat efisien. Namun biaya investasi lebih mahal untuk pengadaan mesinmesin yang dibutuhkan. 029 Haris Anwar Syafrudie; Moh. Amin. 2008. Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Kata-kata kunci: kurikulum, materi pendidikan lingkungan Pengajaran ilmu pengetahuan adalah penyajian konsep dan masalah secara bertahap dalam bentuk yang mudah dipahami. Konsep lingkungan hidup dipelajari dengan mendengar, mendiskusikan, atau melihat berbagai contoh secara visual. Keberhasilan penguasaan konsep lingkungan hidup menunjuk pada penguasaan konsep lingkungan sebagai kemampuan kognitif yang diperoleh seseorang dari kemampuan belajarnya. Kurikulum adalah unsur dalam sistem persekolahan yang dapat direncanakan yang meliputi unsur materi kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan manajemen kurikulum. Ditinjau dari tingkatan, kurikulum dimaknai juga sebagai kerangka materi yang memberikan gambaran tentang bidang-bidang pelajaran yang

perlu dipelajari para pelajar untuk menguasai serangkaian kemampuan, nilai dan sikap untuk menunjang terjadinya proses belajar mengajar. Materi yang disusun mendapat apresiasi positif dari para guru. Secara umum dari hasil analisis data materi pendidikan lingkungan dipandang baik dan memadai, materi pendidikan lingkungan yang dikembangkan sesuai untuk setingkat SMP dan mudah dimengerti, gambar-gambar yang ada pada seluruh naskah fungsional dan benar-benar menjelaskan konsep yang sedang dibahas. Secara umum huruf untuk wacana yang dicetak masih terlalu kecil. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup dapat diterapkan di SMP di kota dan kabupaten Malang, materi dianggap cukup menarik dan berdaya guna. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup telah berhasil disusun dan relevan dipakai, sehingga patut untuk di ujicobakan. Disarankan agar materi menggunakan bahasa dengan ilustrasi yang sederhana dan ditambahkan kegiatan interaktif, seperti soal-soal latihan, tugas-tugas. Materi perlu ditambah dengan glosarium kata kata sulit dan juga daftar kepustakaan. Karena kebiasaan siswa untuk membaca rendah, sangat mendesak tersedianya materi pendidikan lingkungan dengan susunan yang praktis dengan banyak gambar. 030 Mardianto; Roesdiyanto. 2008. Pemetaan Olahraga Wisata di Malang Raya Tahun 2008 Kata-kata kunci: olah raga, Wisata Malang Raya Wilayah Malang Raya menjadi tujuan olahraga wisata dari berbagai warga masyarakat baik lokal Jawa Timur, nasional dari berbagai propinsi di Indonesia, dan bahkan internasional. Pada musim liburan sekolah banyak para siswa, guru, orangtua, dan warga masyarakat pada umumnya dari berbagai wilayah Jawa Timur yang berolahraga wisata/rekreasi ke Malang Raya. Potensi alam yang penuh pesona belum ditangani secara baik. Infrastruktur, promosi, pendanaan, dan pengemasan atau festival olahraga wisata masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura maupun Malaysia. 031 Ummi Rohajatien, Lismi Animatul Chisbiyah. 2008. Pemetaan Seni Wisata Kuliner Malang Raya Kata-kata kunci: seni wisata, kuliner Perhatian terhadap ikan berharga murah dan pemprosesannya menjadi bahan makanan yang berharga lebih mahal (value added product) merupakan hal yang diperlukan oleh negara-negara yang mempunyai sumber perikanan

yang besar. Seperti telah dikemukakan, penolakan penggunaan ikan berharga murah berasal daripada ciri-ciri alami yang tidak disukai seperti jenis ikan, ukuran, citarasa dan rupa bentuk. Oleh itu, kebanyakan metode pengoptimuman penggunaan ikan berharga murah dilakukan dengan menghilangkan ciri-ciri alami jenis ikan tersebut. Beberapa ahli teknologi pangan telah mengusulkan beberapa metode pengembangan produk bernilai tambah yang dapat digunakan mengoptimumkan penggunaan ikan berharga murah. Salah satu metode pengasinan ikan yaitu dibuat bekasam atau pekasam. Menurut Adawyah (2007) bekasam merupakan produk olahan ikan dengan cara fermentasi menggunakan kadar garam tinggi dan bakteri asam laktat. Proses pembuatan bekasan di daerah Kalimantan Selatan umumnya dikenal dengan nama samu. Bahan baku pembuatan bakasam adalah ikan gabus dengan penambahan garam 15%--20% dan beras sangrai (samu) 15%. Bahan tersebut difermentasi selama satu minggu sampai menghasilkan aroma dan rasa yang khas bekasam. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Adakah perbedaan rasa, aroma, tekstur bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: Menganalisis perbedaan rasa, aroma dan tekstur bekasam ikan wader dengan penambahan tape beras, tape ketan putih, tape ketan hitam. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada rasa bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 5% yaitu Fhitung (1,88) <Ftabel (2,6). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata pada aroma bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 1 % yaitu F hitung (18,78) > Ftabel (3,78), Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata pada warna bekasam ikan wader. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi 1 % yaitu F hitung (50,88) > Ftabel (3,78). Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan rasa bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa penggunaan tape ketan putih kurang dari setengah jumlah panelis (42,5%) menyatakan suka, penggunaan tape beras lebih dari setengah jumlah panelis (52,5%) menyatakan kurang suka dan penggunaan tape ketan hitam lebih dari setengah jumlah panelis (58%) menyatakan suka. Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan aroma bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa penggunaan tape ketan putih lebih dari setengah jumlah panelis (55%) menyatakan kurang suka, penggunaan tape beras setengah jumlah panelis (50%) menyatakan agak suka dan penggunaan tape ketan hitam kurangdari setengah jumlah panelis (42,50%) menyatakan agak suka. Berdasarkan grafik persentase tingkat kesukaan warna bekasam ikan wader diperoleh hasil bahwa penggunaan tape ketan putih kurang dari setengah jumlah panelis (37,50%) menyatakan suka, penggunaan tape beras kurang dari setengah jumlah panelis (47,50%)

menyatakan suka dan penggunaan tape ketan hitam kurang dari setengah jumlah panelis (47,50%) menyatakan suka. 032 Elfia Nora, Dwi Sulistyorini. 2008. Model Pembelajaran Dosen Universitas Negeri Malang di Tinjau dari Perspektif Gender Kata-kata kunci: model pembelajaran, inklusif gender Pemahaman mengenai gender dunia pendidikan masih merupakan hal yang awam untuk dimengerti secara lebih detail dan mendalam. Pada umumnya hampir seluruh elemen masyarakat menganggap gender sebagai konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dari konsep ini muncul anggapan adanya keinginan untuk memposisikan sama dan sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah isu signifikan bagi perempuan pada masa sekarang, karena mereka makin banyak terlibat dalam sejumlah tingkatan dan aneka ragam lingkungan, mulai dari pendidikan prasekolah dan taman kanak-kanak, hingga sekolah menengah, dan barangkali perguruan tinggi, dengan bergerak melalui struktur yang sama seperti lakilaki. Dalam setiap situasi pendidikan di sekolah, murid-murid perempuan dan laki-laki terbuka pada buku-buku teks, bahan-bahan, dan sikap guru atau dosen secara halus dapat mempengaruhi pemikiran mereka tentang diri mereka sendiri serta masyarakat mereka. Pembelajaran yang menjamin bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh hak yang sama dibidang pendidikan telah memiliki dasar hukum yang kuat karena telah diatur dalam undang-undang, salah satunya UURI No. 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Mengajar merupakan suatu aktivitas yang didominasi laki-laki. Ketika perempuan memasuki profesi pengajaran, sering dipandang hanya untuk memenuhi harapan-harapan masyarakat serta takdir keibuan mereka dalam pengasuhan dan pelayanan sosial. Kompetensi (kemampuan) tenaga pengajar perempuan dalam melaksanakan proses belajar-mengajar masih sering dianggap belum seefektif tenaga pengajar lakilaki, khususnya dalam hal menggunakan sarana dan lingkungan sebagai sumber belajar. Anggapan seperti ini memang harus digali lebih dalam, apakah benar dosen perempuan khususnya dosen perempuan di Universitas Negeri Malang belum mampu seefektif dosen laki-laki dalam melaksanakan proses belajar-mengajar? Kemudian apakah ada perbedaan perlakuan atau pemberian respon dari dosen laki-laki dan dosen perempuan terhadap mahasiswa lakilaki dan mahasiswa perempuan? Inilah beberapa pertanyaan yang kiranya membutuhkan jawaban melalui penelitian ini. Untuk mengetahui bagaimana metode pembelajaran yang diterapkan dosen laki-laki dan dosen perempuan Universitas Negeri Malang, disediakan

17 butir pernyataan dan sebagai respondennya adalah 50 mahasiswa Universitas Negeri malang, serta 11 butir pernyataan dan sebagai respondennya adalah 40 dosen Universitas Negeri Malang. Beberapa pernyataan didalamnya mengacu pada bagaimanakah metode pembelajaran yang diterapkan oleh dosen laki-laki dan dosen perempuan Universitas Negeri Malang. Metode pembelajaran yang ditemukan di lapangan antara lain; (a) metode yang sering diterapkan oleh dosen laki-laki maupun dosen perempuan adalah metode diskusi dan ceramah serta tidak ada perbedaan dalam hal metode pembelajaran yang diterapkan dosen laki-laki dan dosen perempuan, (2) dosen laki-laki dan dosen perempuan sama-sama mampu dan terampil dalam menghadapi mahasiswa, terampil dalam mengoperasikan alat bantu sebagai media pembelajaran dan sama-sama mampu memberikan Feedback kepada mahasiswa, (3) dosen laki-laki dan dosen perempuan tidak membedabedakan dalam hal berinteraksi dengan mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Atas dasar temuan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan antara tenaga pengajar perempuan dan laki-laki, keduanya sama-sama mempunyai kompetensi, metode pembelajaran dan proses interaksi yang tidak jauh berbeda dan sama-sama mampu menghadapi mahasiswa dengan baik, oleh karena itu disarankan agar pada kegiatankegiatan yang ada dalam lingkungan kampus dalam hal kepanitiaan atau kegiatan-kegiatan yang penting dosen perempuanpun bisa diikutsertakan. 033 Sunaryo HS; Dwi Sulistyorini; Azizatuz Zahro. 2008. Implementasi Manajemen di Universitas Negeri Malang dilihat dari Perspektif Gender Kata-kata kunci: manajemen, gender Sistem organisasi di Universitas Negeri Malang memberikan kesempatan yang sama kepada semua kelompok jenis kelamin untuk terlibat secara aktif untuk mengembangan Lembaga. Pembagian kerja didasarkan pada kemampuan yang dimiliki. Secara faktual, kompisisi dosen dan karyawan lakilaki lebih dominan hampir pada semua jurusan, kecuali pada jurusan teknik industri yang lebih dari 90% dosennya perempuan. Hampir semuajabatan strategis dipegang oleh laki-laki. Jabatan Rektor, Pembantu Rektor, Dekan, hingga kepala lembaga tidak satu pun yang dipegang perempuan. Keterlibatn perempuan sebagai ketua baru pada pimpinan unit dan jurusan. Demikian pula perbandingan jumlahi dosen laki-laki dan perempuan (31%:69%) tidak sejajar dengan perbandingan jumlah dosen dengan jabatan akademik tertinggi (7.4%:92,6%).

Sarana dan prasarana di Universitas Negeri Malang nyaman untuk semua kelompok jenis kelamin. UM memiliki fasilitas untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran mulai gedung bertingkat dengan tangga yang nyaman untuk semua jenis kelamin dan semua kelompok umur, laboratoriurn, perpustakaan, aula, gedung teater yang diperuntukkan untuk semua mahasiswa dan dosen tanpa memandang jenis kelamin, fasilitas kesehatan berupa poliklinik kesehatan, dan tempat penitipan anak. Dalam pemanfaatan fasilitas tersebut tidak ada dominasi dan salah satu kelompok jenis kelamin. Apabila secara faktual teriadi dominasi, hal tersebut disebabkan keengganan salah satu pihak untuk memanfaatkan sarana prasarana yang ada. 034 Khoirul Adib; Ahmad Munjin Nasih. 2008. Peran Buruh tani Perempuan dalam Pemberdayaan Ekonomi Keluarga dan Perencanaan Pendidikan Anak. (Kasus pada Komunitas Buruh Tani Perempuan di Kampung Sememek, Pakisasji, Kabupaten Malang) Kata-kata kunci: buruh tani perempuan, pemberdayaan ekonomi, perencanaan pendidikan Peranan perempuan di pedesaan dalam kegiatan ekonomi produktif dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yakni tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka. Sebagai ibu rumah tangga, perempuan bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangga, baik menyangkut kesehatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan pengaturan pengeluaran biaya hidup keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak tercukupi, perempuanlah yang pertama merasakan dampaknya,sehingga mereka terpanggil untuk turut aktif menopang ekonomi keluarga kendatipun harus sebagai buruh tani. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) karakteristik buruh tani perempuan pada komunitas buruh tani perempuan (KBTP) di Kampung Sememek, Pakisaji, Kabupaten Malang, dan (2) Peranan buruh tani perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga miskin dan perencanaan (visi) pendidikan bagi anak-anaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dimana studi kasus ini disesuaikan dengan bentuk pertanyaan berupa ―bagaimana atau ―mengapa‖ dan diarahkan serangkaian peristiwa kontemporer, dimana penelitinya hanya memiliki peluang yang kecil atau tak mempunyai peluang sama sekali untuk melakukan kontrol terhadap peristiwa tersebut. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data dan gambaran mengenai karakteristik dan peranan buruh tani perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga (miskin) dan merancang masa depan pendidikan putra-putrinya. Temuan penelitian ini berhasil menjelaskan bahwa karakteristik KBTP di Dusun Sememek, Pakisasji, Kabupaten Malang umumnya berusia relatif muda

dan termasuk dalam rentang usia produktif yaitu yaitu rata-rata berusia 36-55 tahun, sehingga cukup memiliki potensi untuk dikembangkan. Tingkat pendidikannya mayoritas berpendidikan rendah atau bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. Agama yang dianut informan utama semuanya beragama Islam yang cukup taat. Status perkawinannya umumnya berkeluarga (sebagai istri), hanya 1 yang janda, dan 1 belum menikah. Peranan perempuan tani buruh tani pada KBTP di Dusun Sememek, sangat besar baik dalam tugasnya sebagai ibu rumah tangga maupun dalam penopang dan pemberdayaan ekonomi keluarga dan merancang masa depan pendidikan anak-anaknya. Multi peran tersebut, yaitu: (a) Menjadi buruh tani (tandur penanaman, matun/penyiangan, sampai pemanenan. Pendapatannya sebagai buruh tani maupun pekerja serabutan lainnya (biasanya menjadi tukang cuci, tukang masak, mencari sayuran di sawah untuk dijual dan sebagainya) memberikan andil besar dalam menunjang pendapatan dan mencukupi segala kebutuhan ekonomi keluarga; (b) Perempuan buruh tani pada KBTP di Dusun Sememek, ikut serta secara aktif bahkan terbilang dominan dalam proses persiapan dan perencanaan masa depan pendidikan anak-anaknya, bahkan meski perekonomiannya pas-pasan, motivasi merancang pendidikan anak-anaknya cukup tinggi; dan (c) Para perempuan buruh tani pada KBTP di Dusun Sememek juga masih harus melakukan tugas sehari-hari sebagi ibu rumah tangga, mengurus rumah tangga, anak-anak dan suami serta juga bekerja di luar pertanian jika masa pertanian sedang masa menunggu (jeda). 035 Sri Prameswari Indriwardhani; Muslihati; A. Yusuf Sobri. 2008. Analisis Gender terhadap Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD/MI di Kota Malang Kata-kata kunci: gender, manajemen berbasis sekolah Tujuan utama dari penelitian ini adalah menghasilkan seperangkat materi pembelajaran Deutsch 1 berbasis digital melalui E-Mail Projek das Bild. Materi pembelajaran dirancang untuk memberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya kepada pembelajar untuk berpartisipasi aktif dalam projek ini. Sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan bahasa Jerman dan dapat belajar budaya secara langsung dengan penutur asli bahasa yang mereka pelajari. Model yang digunakan dalam pengembangan materi matakuliah Deutsch 1 melalui Projektarbeit das Bild di Internet adalah model Elaborasi oleh Charles, M. Reigeluth (1999), yaitu sebuah model preskripsi untuk menata, mensintesis, dan merangkum isi pembelajaran. Model ini dipilih karena memiliki urutan organisasi isi bahan pelajaran yang sistematis dari umum ke khusus atau dari sederhana ke kompleks. Tujuan utama dari model

ini adalah untuk menyeleksi dan mengurutkan isi atau materi pembelajaran dengan maksud untuk mengoptimalkan ketercapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil pengembangan materi perkuliahan deutsch 1 berbasis digital melalui E-mail projek das Bild dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak semua materi yang ada di matakuliah Deutsch 1 dapat terakomodasi dalam projek ini. Dari 12 tema atau pokok bahasan ada 4 tema atau pokok bahasan yang tidak dapat dielaborasikan dalam projek ini. Karena tidak adanya kesesuaian isi antara pokok bahasa di projek das Bild dengan bahan ajar Studio D. Sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan produk ini, maka pengembang menyarankan hal-hal sebagai berikut (1) Materi pengembangan yang disiapkan disesuaikan dengan tujuan dan materi perkuliahan Deutsch 1. Pengguna dapat menggunakan materi ini dengan melihat rangkuman tematemanya dan (2) Materi ini dapat diadaptasi langsung ataupun dilakukan adaptasi-adaptasi seperlunya sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan. 036 Arafah Husna; Sri Wahyuni. 2008. Kesiapan Jurusan Teknologi Pendidikan dalam Implementasi E-Learning Key words: SDM, E-Learning Abstract: The aim of this research is to know the lecturers and technician’s readiness and competency levels also for TEP’s students for ELearning Implementation. In another purpose is also for descripting how big facilities support, funds, and TEP’s Centre Services which has been given by TEP ICT Centre in the E-Learning implementation. TEP’s lectures, technicians, and student’s who applied E-Learning are the target of this research. The design of this Research is qualitative descriptive. Data collecting technique which applied are enquette, interview and observation. For data analytical technique that applied is technique percentage. Based on the result has shown that readiness and ability in ICT which owned by all E-Learning organizers are about general knowledge of computer, internetworking, application software, E-Learning and multimedia. In software application of All organizer E-Learning in TEP ICT Centre were expert in the application of word processing program and graphic design, middle skilled in programming language and web design. and for TEP’s students they were ready and motivated in operating computer and accessing internet, but still be required for further tuition and training programm about study bases on electronic (ELearning). Beside of Human Resource readiness, this research is also to analize factors of facility support, fund and service given by team work TEP ICT Centre in E-Learning, and result of research indicates that available facility is good enough and capable but still hardly required for addition of

facility/infrastructure and improvement of quality and quantity Human resource to get competence in ICT, especially E-Learning. 037 Asep Sunandar; Arafah Husna; Sunarni. 2008. Efektivitas Keberadaan Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah (Studi Kasus di MAN 3 Kota Malang) Kata-kata kunci: efektifitas komite sekolah, mutu layanan sekolah Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui peran komite sekolah dalam upaya meningkatkan mutu layanan sekolah; (2) mendeskripsikan langkah-langkah yang telah diambil oleh komite sekolah dengan pihak lain dalam upaya meningkatkan mutu layanan sekolah; dan (3) mengetahui pandangan pihak sekolah dan masyarakat terhadap peran yang telah dilakukan komite sekolah. Tempat penelitian di MAN 3 Kota Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus. Pengambilan data dengan teknik wawancara dan observasi. Dari hasil temuan didapat peran pengurus komite: advisory agency, supporting agency, controlling agency dan mediator diantara pemerintah dan masyarakat. Adanya hubungan yang harmonis diantara pengurus komite dan pengelola sekolah. Langkah yang dijalankan komite sekolah dan pengelola sekolah adalah melakukan evaluasi terhadap program yang sudah dijalankan dan mengkaji program yang akan dilaksanakan sekolah di tahun mendatang, mejalin hubungan baik diantara sekolah dan pengurus komite sekolah secara formal maupun informal. Dan menjalin kerjasama dengan instansi lain yang menaungi sekolah seperti departemen agama dan departemen pendidikan nasional atau instansi pengguna sekolah. Dewan Pendidikan atau sering disebut pula Komite Sekolah adalah sebuah lembaga yang dapat diartikan sebagai suatu badan atau lembaga nonpolitis dan non-profit. Komite sekolah dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholders pendidikan di tingkat sekolah sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan (Tim pokja SBM Dinas Pendidikan Jabar 2001). Pembentukan komite sekolah diatur dalam Keputusan Mentri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002. Sebagai pendorong utama dari pembentukan komite sekolah ini adalah UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000--2004 yang memberikan amanat kepada Pemerintah untuk membentuk Komite Sekolah di setiap kabupaten/kota dan Komite Sekolah di setiap sekolah. Keanggotaan komite sekolah merupakan representatif dari berbagai komponen masyarakat, maka komposisi angotanya harus merata seperti yang dikemukakan Suparlan (2002) bahwa anggota komite sekolah harus terdiri dari

(1) kepala sekolah; (2) paling sedikit seorang guru di sekolah yang bersangkutan, yang dipilih oleh para guru; (3) jika di sekolah itu terdapat jenjang pendidikan menengah, paling tidak ada seorang siswa, yang dipilih oleh siswa di sekolah menengah itu; (4) orangtua-orangtua atau wali siswa, dipilih oleh orangtua-orangtua yang hadir dalam pertemuan pembentukan komite sekolah; dan (5) selain itu dapat dipilih beberapa orang anggota masyarakat yang bukan orangtua siswa yang memiliki kepedulian terhadap sekolah. 038 Hartati Eko Wardani; Supriyadi. 2008. Pengaruh Latihan Aerobik terhadap Respons Proliferasi Limfosit Mencit Balb/C yang Diinfeksi Salmonella typhimurium Kata-kata kunci: latihan aerobik, proliferasi limfosit, Salmonella typhimurium Sistem imunitas seluler merupakan sistem imunitas yang efektif dalam membunuh bakteri intraseluler seperti Salmonella typhii yang merupakan kuman penyebab demam tifoid pada manusia. Limfosit adalah salah satu sel yang berperan dalam sistem imunitas seluler. Peningkatan proliferasi limfosit akan dapat mengaktifkan makrofag yang akan membunuh Salmonella typhii. Dari beberapa penelitian pada manusia maupun hewan coba, latihan aerobik diketahui dapat meningkatkan respons proliferasi limfosit. Namun hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan adanya peningkatan respons proliferasi limfosit pada mencit yang telah diberikan latihan aerobik yang diinfeksi kuman Salmonella typhimurium. Penelitian pada hewan coba tidak menggunakan Salmonella typhii karena kuman tersebut hanya dapat hidup dalam tubuh manusia. Namun gejala dan perjalanan penyakit mencit yang terinfeksi Salmonella typhimurium, analog dengan demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhii pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh latihan aerobik 1 kali, 3 kali, dan 5 kali seminggu terhadap peningkatan respons proliferasi limfosit yang dinilai dari berat lien dan jumlah relatif limfoblast pada mencit Balb/C yang diinfeksi Salmonella typhimurium. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan pendekatan The Post Test-Only Control Group Design. Subyek penelitian, 32 ekor mencit jantan umur 8 – 10 minggu, berat badan 20 –40 gram, dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol / tanpa latihan (K), latihan renang 1 kali seminggu (P1), 3 kali seminggu (P2), dan 5 kali seminggu (P3). Latihan renang diberikan selama 8 minggu di siang hari tanpa adanya peningkatan beban latihan. Dua hari setelah program 6 latihan berakhir, mencit disuntik kuman Salmonella typhimurium dosis 10 secara intraperitoneal. Hari ke-7 setelah infeksi kuman, mencit dibunuh dan

diambil sampelnya berupa organ lien untuk dihitung berat lien dan jumlah relatif limfoblast. Hasil penelitian membuktikan bahwa berat lien kelompok kontrol justru lebih tinggi dibandingkan kelompok P1, P2, dan P3 lain secara bermakna. Kelompok kontrol juga mempunyai rata-rata jumlah relatif limfoblast yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok P1. Sedangkan kelompok K, P2, dan P3 mempunyai rata-rata jumlah relatif limfoblast yang tidak berbeda bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa latihan aerobik baik 1 kali, 3 kali maupun 5 kali seminggu justru menurunkan respons proliferasi limfosit mencit Balb/C yang diinfeksi Salmonella typhimurium secara bermakna. 039 Nuruddin Hady; Rusdianto Umar. 2008. Peran Pengawasan DPRD dalam Mewujudkan Akselerasi Pembangunan Demokrasi dan Good Governance di Kabupaten Malang Kata-kata kunci: pengawasan, DPRD, Good Governance Otonomi daerah adalah suatu instrumen politik dan instrumen administrasi/manejemen yang digunakan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan masyarakat didaerah terutama menghadapi tantangan global, mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta masyarakat dan untuk mengembangkan demokrasi ditingkat lokal. Di era otonomi Daerah ini, DPRD sebagai lembaga perwakilan memiliki peran sentral untuk secara optimal mewujudkan apa yang menjadi harapan masyarakat atau paling tidak memperjuangkan aspirasi rakyatnya (konstituen). Dalam konteks ini, perlu tercipta kedekatan hubungan antar konstituen --- baik dalam arti pemilih maupun dalam arti penduduk wilayah yang diwakili --dengan wakil-wakilnya di DPRD. Dalam lain perkataan, apa yang dilakukan DPRD semestinya dalam rangka menuju apa yang menjadi harapan masyarakat dan tentu saja kesemuanya harus mampu dipertanggungjawabkan pada rakyat (accountable). Sehingga harapan untuk mewujudkan akselerasi Pembangunan Demokrasi dan Good Governance di daerah menjadi sebuah kenyataan. Peran pengawasan DPRD Kabupaten Malang belum dijalankan secara optimal karena banyak hak-hak konstitusional anggota dewan maupun DPRD yang belum banyak digunakan. Belum digunakannya secara optimal hak-hak dewan dalam fungsi pengawasan itu selain disebabkan oleh lemahnya pemahaman terhadap instrumen pengawasan oleh anggota dewan, juga disebabkan faktor-faktor politik dimana penyelesaian persoalan-persoalan

yang melibatkan DPRD dengan bupati/kepala daerah lebih menggunakan jalur-jalur lobi. Pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu peraturan perundang-undangan yang dalam beberapa hal kurang memadai serta faktor internal berupa kemampuan anggota dewan sendiri. Di DPRD Kabupaten Malang faktor yang lebih menonjol adalah belum memadainya pemahaman anggota dewan dalam menjalankan fungsi pengawasan terutama dalam pengawasan pengelolaan keuangan daerah. Bagi pemerintah daerah, diperlukan dukungan agar setidaknya di setiap komisi dilengkapi dengan staf ahi yang diangkat sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing guna mendukung peningkatan kinerja DPRD dalam menjalankan fungsi konstitusionalnya. 040 Siti Awaliyah. 2008. Keefektifan pp No.24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dalam Mencegah Terjadinya Konflik Kepemilikan Tanah (Suatu Studi di Kabupaten Ponorogo) Kata-kata kunci: pendaftaran tanah, konflik, hak milik tanah Masalah pertanahan adalah sangat rawan, mudah sekali mendatangkan konflik. Untuk mengantisipasi terjadinya berbagai masalah pemerintah telah mengeluarkan UU No.5 tahun 1960 tentag UUPA. Dalam peraturan tersebut diatur mengenai pendaftaran tanah yang selanjutnya sebagai peraturan pelaksananya adalah PP No.10 Tahun 1961 tentang pendaftaran tanab dan diganti dengan PP No.24 tahun 1997. Pendaftaran tanah bertujuan untuk kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak, untuk menyediakan informasi kepada pihak yang berkepentingan, dan untuk tertib administrasi pertanahan. Pendaftaran tanah meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pendaftaran tanah, pelaksanaan pendaftaran tanah, bentuk konflik yang terjadi akibat pendaftaran tanah dan keefektivan PP No.24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah dalam mencegah terjadinya konflik kepemilikan tanah di Desa Ngunut Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Untuk mencapal tujuan tersebut, peneliti memperoleh data dan perangkat desa, pegawai BPN dan masyarakat Desa Ngunut. Menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan/perekaman data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menganalisis data menggunakan analisis interaktif dan dilanjutkan dengan analisis domain dan analisis taksonomi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, prosedur pendaftaran tanah di desa Ngunut semuanya harus melalui

kantor desa yang nantinya akan diuruskan oleh perangkat desa. Jika ada ketidaklengkapan data atau lainnya, perangkat desa akan memberitahu pihak yang bersangkutan. Untuk prosedur di BPN sama dengan pendaftaran pada umumnya. Kedua, pelaksanaan pendaftaran tanah pernah dilaksanakan menggunakan cara sistematis dan sporadik. Pendaftaran sistematis, pengusul pemerintah, dilakukan secara bersama-sama, waktu tertentu, dan biaya lebih murah. Tetapi dalam pelaksanaannya biaya membengkak dan waktunya lama. Pendaftaran sporadik dilakukan atas usul pemegang hak, dapat dilakukan sewaktu-waktu, dan biayanya lebih mahal. Pelaksanaan pendaftaran tanah belum maksimal karena dan jumlah pemegang hak baru 45% yang mendaftarkan tanahnya. Pendaftaran tanah yang telah dilakukan cukup efektif mencegah konflik, akan tetapi dalam prosedur pendaftarannya yang banyak terjadi masalah. Utamanya karena pihak pendaftar tidak memberitahu pemilik tanah batas (tetangga) sehingga sering menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan. Hal inilah yang melahirkan konflik. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan tujuan pendaftaran tanah dapat terlaksana akan tetapi dalam pelaksanaannya terdapat prosedur yang tidak dilakukan sehingga melahirkan masalah (konflik). Dengan demikian disarankan kepada pejabat yang berwenang Iebih memperhatikan peraturan yang berlaku sehingga prosedur yang penting tidak terlewatkan. Apalagi di daerah pedesaan masih banyak tanah yang belum terdaftar sehingga belum memiliki batasbatas yang jelas. Jadi untuk kepastian batas harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak. 041 Sutoyo; Siti Awaliyah. 2008. Penerapan “Prinsip Tanggung Jawab Mutlak” Kepada Penanggung Jawab Usaha Yang Menimbulkan Dampak Besar dan Penting Terhadap Lingkungan Hidup (Studi Kasus Luapan Lumpur Panas di Porong – Sidoarjo Akibat Eksplorasi yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas) Kata-kata kunci: lingkungan hidup, lumpur Lapindo Luapan lumpur panas Sidoarjo telah berlangsung 800 hari lebih, namun sampai sekarang belum berhasil dihentikan. Luapan lumpur panas tersebut telah menimbulkan kerugian materiil dan spirituil yang tak ternilai jumlahnya. Kerugian materiil sampai saat ini ditaksir mencapai Rp.11,1 Trilliun lebih, belum lagi kerugian imateriil yang diderita oleh para korban, yang pada hakekatnya merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pihak-pihak yang menjadi korban luapan lumpur panas Sidoarjo, mengetahui bentuk dan nilai kerugian yang diderita korban, serta mengkaji sejauh mana tanggung jawab pihak PT.

Lapindo Brantas dan Group Usaha Bakrie yang diduga kuat sebagi penyebab timbulnya luapan lumpur panas tersebut. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Sidoarjo. Sampel ditentukan menggunakan teknik snowball sampling. Data yang berhasil dikumpulkan dianalisis secara deskriptif sehingga dapat diidentifikasi hal-hal yang sesuai tujuan penelitian. Temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah (1) Korban langsung luapan lumpur panas Sidoarjo utamanya meliputi sebagian besar masyarakat kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon. Sedangkan korban tidak langsungnya adalah seluruh masyarakat yang memanfaatkan akses jalan Gempol- Porong; (2) Bentuk kerugian korban luapan lumpur berupa kerugian materiil dan immateriil. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp. 11,1 Trilliun; (3) Luapan lumpur panas Sidoarjo telah melanggar hak asasi antara lain: hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak atas pendidikan, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, serta melanggar hak milik warga Sidoarjo; dan (4) Luapan lumpur panas Sidoarjo terjadi akibat pengeboran sumur Banjarpanji I yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas. Maka PT Lapindo Brantas dan Group perusahaan Bakrie harus bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut. Hal ini sebagai bentuk pelaksanaan asas tanggung jawab mutlak sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan pelaksanaan prinsip Pierching The Corporate Veil sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 042 Yerri Soepriyanto; Henry Praherdhiono; Eka Pramono Adi. 2008. Pengembangan Pembelajaran On-Line pada Metode Kelas dengan Teknologi Tayang Tunda Slide Video Conference Terpadu pada Mata Kuliah Komputer Grafis

Kata-kata kunci: komputer grafis, pembelajaran on-line, video conference Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran matakuliah komputer grafis melalui video tayang tunda on-line berbasis distance learning. Media pembelajaran berupa web yang memiliki karakteristik web dinamis, sehingga web ini dapat diakses melalui sistem level akses. Hasil validasi tergambarkan bahwasanya sistem jaringan pada tahap pengembangan dapat memberikan kontribusi model pembelajaran dan dapat direspon positif oleh mahasiswa.

043 Andi Pramono, Betty Dewi Puspasari. 2008. Aplikasi Dokumentasi Notasi Laban Menggunakan Pemetaan Gambar dan Visualisasi Model 3 Dimensi Kata-kata kunci: model 3 dimensi, notasi laban, transformasi, direct kinematic Selama ini dalam bidang koreografi, penggunaan notasi laban sebagai media penulisan karya masih sedikit. Hal ini disebabkan ragam dan bentuk notasi laban yang sangat banyak. Penelitian ini bertujuan membuat sistem yang mampu merepresentasikan notasi laban dalam bentuk model 3 dimensi berdasarkan sudut gerakan ergonomik manusia. Walaupun terdapat dokumentasi suatu karya tari namun apabila diimplementasikan kembali, hasil yang diperoleh tidak sama dengan karya tari yang sebenarnya. Ini dikarenakan penulisan karya tari dalam notasi laban masih manual, sehingga tidak diketahui apakah notasi yang telah dibuat sudah sesuai dengan karya tari sebenarya. Dengan melihat hal tersebut diatas pada akhirnya banyak karya cipta koreografi baik di Indonesia maupun dunia yang tidak didokumentasikan dengan menggunakan notasi Laban. Penelitian ini dilakukan dengan cara, pada sistem input berupa data konversi notasi laban. Proses selanjutnya proses transfer kode transformasi. Proses ini dilakukan perbagian data konversi notasi laban kemudian digabungkan berdasar tiap penghitungan waktu. Selanjutnya proses transfer data gerakan dilakukan transfer kode transformasi untuk mendapatkan data gerakan yang berisi data perputaran maupun perpindahan. Dilanjutkan proses matrik gerakan berdasarkan pada data matrik gerakan titik 3 dimensi dengan direct kinematic dan animasi parameter keyframe mengacu dari jumlah frame yang terbentuk berdasarkan waktu ketukan yang ditransfer untuk dijadikan jumlah frame pada model pembentukan gerakan animasi dari tarian untuk model 3 dimensi. 044 Didiek Rahmanadji; AAG. Rai Arimbawa. 2008. Kritik Seni Terhadap Karikatur Karya Wahyu Kokkang pada Kolom Opini yang Termuat dalam Harian Jawa Pos Kata-kata kunci: kritik seni, karikatur, Wahyu Kokkang Penelitian ini dilakukan untuk meneliti Karikatur karya Wahyu Kokkang yang terdapat dalam harian Jawa Pos pada Kolom Opini dengan judul Clekit. Karya karikatur Wahyu yang sangat menarik, simpel, unik dan sarat kritik. Metodelogi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kritik holistik yang mengarah pada usaha pemecahan masalah yang berkaitan dengan kerancuan

penelitian sebagai hasil kajian(kritik) karya seni. Sehingga struktur sajiannya dikelompokkan menjadi tiga antara lain: seniman sebagai sumber faktor genetik, karya seni sebagai sumber informasi objektif dan penghayat sebagai sumber informasi afektif. Sehingga penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui: Faktor genetik Wahyu Kokkang, faktor objektif dan karyakaryanya, faktor afektif dari peneliti terhadap karya karikatur dan hubungan antara ketiga faktor pada keputusan nilai dan kreativitas Wahyu Kokkang. Penelitian ini menggunakan 5 gambar sampel kanyakanikatun Wahyu Kokkang yang termuat dalam harian Jawa Pos. Objek dalam karikatur ini juga diambil secara acak dengan pertimbangan bahwa karya ini menarik peneliti untuk digunakan dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data menggunakan wawancana, pengamatan dan penghayatan karya, observasi, studi kepustakaan. Analisis data menggunakan pendekatan kritik holistik dengan kerangka kerja yang menggunakan tiga komponen kehidupan seni sebagai sumber informasi, dan dari ketiga informasi tersebut berisi deskripsi latar belakang, analisa formal dan interpretasi yang kemudian dihubungkan untuk mendapatkan sintesis tentang keputusan nilai dan kreativitas seorang seniman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sintesa dan informasi genetik Wahyu Kokkang, informasi objektif dan karya karikaturya, informasi afeksi dari peneliti sebagai penghayat karya. Adalah bahwa karya-karya Wahyu Kokkang menupakan hasil pengamatannya yang dilakukannya sebagai seorang kanikatunis yang bekenja dalam sebuah harian Jawa Pos dari hasil pengamatannya inilah nilai-nilai yang tercantum dalam visualisasi karyakaryanya antana lain pada kanikatur 1 Wahyu ingin mengungkapkan kesedihan seluruh dunia saat Paus meninggal. Ungkapan ini juga sebagai ucapan selamat tinggal kepada Paus. Karikatur 11 merupakan ungkapan kegetiran yang dirasakan Wahyu melihat situasi yang sangat ironi yakni pada saat kita berperang dengan korupsi, suap malah para hakim tipikor yang bertugas di bidang penindakan korupsi ini tidak digaji selama tiga bulan masa tugasnya. Karikatur Ill adalah kenyataan pahit seorang Mulyana W. Kusumah anggota KPU yang melakukan suap, padahal ia adalah seorang pakar masalah kriminologi. Karikatur IV mengangkat kasus suap dan korupsi yang terjadi di KPU yang sebelumnya anggotanya dikenal sebagai orang-orang yang bersih. Dan Wahyu ingin menyampaikan bahwa budaya korupsi sudah melanda semua sisi kehidupan bangsa kita. Karikatur V ini mengangkat tema tentang seorang auditor BPK yang membongkar kasus suap KPU, tetapi ia masih dikenai sangsi oleh atasannya. Ternyata perbuatan baik malah bisa berakibat buruk.

045 Dwi Sulistyorini; Karkono. 2008. Integrasi Etnik Tionghoa dengan Pribumi dalam Perkawinan Campur pada Novel Nyai Soemirah Karya Thio Tjin Boen Kata-kata Kunci: integrasi etnik Tionghoa, perkawinan campur, novel Nyai Soemirah Kesusastraan Melayu Tionghoa adalah kesusastraan yang ditulis oleh pengarang peranakan Indonesia – Tionghoa, dan memiliki rentang waktu penulisan dari abad XX sampai dengan pertengahan abad XX, yaitu sekitar tahun 1960. Kesusastraan ini menggunakan bahasa pergaulan mereka, yaitu bahasa Melayu Rendah. Bahasa tersebut dinamakan bahasa Melayu Rendah karena pada saat itu dianggap tidak sebanding dengan bahasa Melayu resmi yang digunakan oleh kesusastraan Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka. Novel Melayu Tionghoa mengangkat tema mengenai kehidupan masyarakat saat itu. Para pengarang mengangkat tentang fenomena yang sering muncul di masyarakat pada saat itu, baik masyarakat pribumi maupun etnik Tionghoa. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti novel Nyai Soemirah karya Thio Tjin Boen. Novel tersebut ditulis pada tahun 1917. Dalam sejarah Indonesia pada masa itu adalah masa konflik antara pedagang pribumi muslim dengan etnik Tionghoa, sehingga latar waktu pada novel ini mempengaruhi latar maupun tema yang diceritakan oleh pengarang. Adanya perkawinan campur pada novel tersebut menyebabkan munculnya konflik budaya termasuk masalah perbedaan agama dipermasalahkan. Etnik Tionghoa yang beragama Konghucu dengan golongan pribumi yang beragama Islam. Perkawinan campur antara Bi Liang dan Soemirah pun tidak terlepas dengan masalah agama tersebut. Konflik yang muncul pada novel tersebut merupakan proses integrasi antar etnik. Selain itu juga disajikan solusi yang integratif bagi hubungan antar etnik tersebut. Adapun kajian dalam penelitian ini adalah kajian sosiokultural, yaitu kajian terhadap masalah integrasi antar etnik, pendidikan moral masyarakat, dan kedudukan perempuan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah sosiokultural, karena suatu karya sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat pada saat itu. Hasil penelitian ini diperoleh adanya bentuk integrasi etnik Tionghoa dengan pribumi. Bentuk integrasi tersebut tercermin dalam perkawinan campur antar etnik. Mereka berusaha memahami norma maupun budaya pasangannya. Selain itu ditemukan adanya nilai-nilai sosial yang terkandung dalam novel tersebut. Nilai-nilai sosial tersebut dapat dilihat dari adanya asimilasi, integrasi, multikultural, konflik Sosial. Aspek-aspek tersebut

disebabkan adanya pertemuan dua masyarakat dengan budaya berbeda yang saling mempengaruhi dan saling melebur, sehingga mengakibatkan adanya perubahan mendasar pada kebudayaan mereka. 046 Ike Ratnawati; Lilik Indrawati. 2008. Implementasi Kompetensi Respon Estetik dan Kreasi Estetik pada Mata Pelajaran Seni Budaya dalam KTSP di Sekolah Dasar Negeri dan Disamakan yang Favorit se Kodya Malang Kata-kata kunci: respon estetik, kreasi estetik, seni budaya, KTSP Penelitian ini dilatar belakangi oleh beberapa rasional (1) KTSP harus dilaksanakan di lapangan sejak tahun ajaran 2007/2008. Diawali dengan pembuatan kurikulum masing- masing sekolah yang antara lain, pada setingkat guru harus menyusun Silabus dan RPP (Rencana Pelaksana Pembelajaran) yang berkarakter sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah masing- masing; (2) pembelajaran seni budaya mempunyai dua kompetensi yaitu kompetensi terhadap respon estetik dan kompetensi terhadap kreasi estetik. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah 1). Mengetahui Implementasi kompetensi respon estetik dan kreasi estetik pada silabus dan RPP dalam mata pelajaran Seni Budaya di Sekolah Dasar Negeri dan Disamakan yang Favorit se Kodya Malang; (3) Mengetahui pelaksanaannya dikelas pada matapelajaran Seni Budaya; dan (4) Mengetahui evaluasi pembelajaran pada matapelajaran Seni Budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang memanfaatkan sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling, sehingga sumber data utama dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar matapelajaran Seni Budaya dan dokumen berupa Silabus dan RPP. Sasaran penelitiannya adalah SD Santa Maria II, SD Negeri Kauman I dan MIN 1 Malang. Data dijaring dengan teknik observasi terhadap sumber data dokumen dan pada saat kegiatan pembelajaran dikelas serta teknik wawancara sebagai pendukung.Validitas data diukur dengan pemanfaatan teknik trianggulasi sumber, dimana kemudian pada tahap analisis data digunakan model analisa interaktif. Penerapan respon estetik dan kreasi estetik dalam Silabus masih belum sesuai untuk masing-masing sekolah.Karena dalam Silabus penerapan respon estetik dan kreasi estetiknya seimbang sedangkan pada kenyataannya dilapangan dalam pembelajarannya guru belum menyeimbangkan pembelajarannya, yaitu kreasi estetik lebih diutamakan dan diterapkan lebih sering alasannya siswa lebih menyukai kegiatan berkreasi estetik dari pada kegiatan respon estetik.Dari hasil yang kami jaring melalui silabus dan RPP, hampir semua guru belum membuat RPP, dan untuk perangkat pembelajaran

yang berupa silabus guru sudah membuatnya tapi formatnya beragam. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan penilaian hasil kreasi estetik yaitu berupa karya seni pada akhir kegiatan pembelajaran dan pada kegiatan respon estetik jarang ada penilaian. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepala sekolah secara terus menerus menfasilitas dan memberi bimbingan pada guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa silabus dan RPP terutama guru mata pelajaran Seni Budaya dan diharapkan pula guru matapelajaran Seni Budaya dapat menambah wawasan tentang pembuatan silabus dan RPP. 047 Mohamad Sigit; Mistaram; Andi Harisman; Rudi Irawanto. 2008. Makna Simbolik pada Upacara Tebus Mayang Tradisional Masyarakat Pesisiran Kata-kata kunci: makna simbolik, tebus, kembar mayang Desain janur tebus kembar mayang adalah property ceremonial pengantin jawa pesisiran sebagai icon tradisional pada upacara pengantin. Melalui style rangkaian janur sejumlah sepasang pada upacara pengantin, Dengan tinjauan paradikma prinsip komunikasi visual tanpa sadar merupakan strategi berkomunikasi dengan metode sign‖ atau penanda yang menjelaskan secara deskriptif verbal dalam persepsi jawa. ―Makna simbolik Terob ( kembar mayang ) dan tebus ( mengkomunikasikan dengan ucapan ritual oleh pemangku adat ) merupakan kajian pemaknaan (system tanda yang dapat interaksi atau komunikasi visi yang menterjemahkan; harmonis atau keselarasan menjadi satu kesatuan melalui realita rancangan visual tradisional dengan jumlah sepasang (kembar mayang) yang terbuat dari rangkaian janur sebagai icon jawa ataupun indexial yang mewakili adanya seremonial kepada khalayak,sebagai penandaan/tanda, ditandainya ada upacara ritual pengantin, Dengan pendekatan melalui paradikma Edukasi semiotica perupaan/seni rupa kerajinan masyarakat sebagai lambang pertanda sejoli atau sudah jodoh, Paradikma Desain dapat tangkap sebagai Visual pictographic dengan referensi, persepsi dan interpretasi ISOTYPE (International Sign Of Typhographic and Pictograpic Educations) sebagai visual yang dapat berkomunikasi kepada khalayak dengan icon yang dimaksud pada kegiatan upacara pengantin yang berlangsung diwilayah dusun Sumber, desa Prigi, kecamatan Watulimo, kabupaten Trenggalek Jawa Timur‖. 048 Mohammad Ahsanuddin; Hanik Mahliatussikah. 2008. Representasi Nilai Pendidikan Moral dalam Syi’ir (Puisi) Imam Syafi’i

Kata-kata kunci: representasi, nilai pendidikan moral, syi’ir Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi nilai pendidikan moral dalam syi’ir Imam Syafi’i. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dan menggunakan analisis hermeneutika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa representasi nilai pendidikan moral kepada Tuhan ditunjukkan dengan akhlak yang terpuji. Nilai pendidikan moral manusia kepada lingkup sosial juga ditunjukkan dengan akhlak yang terpuji, akhlak yang tidak terpuji, etika kepada orang bodoh, etika profesi dan etika mencari ilmu sedangkan nilai pendidikan moral manusia kepada alam semesta digambarkan dengan pencarian mutiara di lautan. 049 Noorliana. 2008. Linearitas Kalimat dalam Paragraf Karangan Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Malang Key words: sentence linearity, paragraph, scientific writing The study is aimed at revealing the sentence linearity of paragraph developed by college students, whether they show good or poor linearity. Also to describe the factors of poor linearity, as well as the order of pattern available in each pair of linear sentences. In general, the study applies the descriptivequalitative method, and to analyze the relation between sentences it uses the micro-structural method. The research result shows that most paragraphs contain sentences of poor linearity. The causal factors are the ideas of: bias, skip, accumulation, repetition, as well as false choice. Also, missing sentence constituents, and inconsistent use of lexicon (words and terminologies). 050 Pranti Sayekti; Rudi Irawanto. 2008. Representasi Nilai-nilai Budaya Lokal pada Visualisasi Iklan Rokok Kretek Berskala Nasional (Kajian Tentang Representasi Visualisasi Iklan Rokok Kretek Pada Media Televisi) Kata-kata kunci: budaya lokal, iklan rokok kretek Iklan merupakan upaya pemasaran untuk mempengaruhi audiens. Iklan rokok merupakan salah satu iklan yang dibatasi penanyangan dan ekseskusi visualnya. Berkaitan dengan hal tersebut iklan rokok menampilkan dirinya dalam bentuk representasi citra-citra tertentu. Penelitian ini berupaya mengungkapkan nilai-nilai budaya tradisional dalam iklan rokok kretek di media televisi nasional yang ditayangkan sepanjang tahun 2006 – 2007. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sudut padang semiotika visual. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa representasi yang

muncul pada iklan rokok didapat dipilah dalam representasi 3 bentuk kebudayaan, yaitu representasi budaya idiil, budaya fisik dan aktivitas budaya yang rutin. Ungkapan nilai-nilai budaya idiil dalam iklan rokok diwujudkan dalam ungkapan kepasrahan, kesabaran, kebersamaan dan keakraban. Ungkapan kebudayaan fisik yang merepresentasikan nilai-nilai tradisional divisualkan melalui busana tradisional, atribut tradisional, perumahan tradisional, dan alam yang mencitrakan tentang Indonesia. Aktivitas budaya yang merepresentasikan nilai-nilai tradisional divisualkan melalui aktivitas persahabatan, kedisiplinan, dan pencitraan keluarga. 051 Rudi Irawanto; Pranti Sayekti. 2008. Kajian Strukturalisme Simbolik Struktur Ragam Hias pada Bangunan Masjid Atap Tumpang di Kawasan Pedalaman Jawa Kata-kata kunci: ragain hias, masjid Ragam hias pada masjid atap tumpang merupakan ragam hias yang dipengaruhi konsep estetika Islam dan estetika pra Islam. Struktur bangunan masijid dan elemen ostetis didalamnya menyerupai struktur bangunan tradisional. Ragam hias yang digunakanpun mendapat pengaruh dari ragam hias pada bangunan tradisoinal. Penelitian ini bermaksud mengungkap struktur simbol pada raga hias masjid atap tumpang di kawasan pedalaman. Penelitian berlokasi di wilayah kabupaten Blitar, Madiun, dan Magetan, dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan kesenirupaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur symbol dalam ragam hias masjid atap tumpang dibangun dari konsep estetika Islam yang menonjolkan aspek infitas (ketidakterbatasan), menampilkan struktur modular yang suksesif serta merupakan abstraksi dari bentuk-bentuk riil. Konsep estetika tersebut dikompromiskan dengan konsep estetika Jawa yang mengedepankan konsep keselarasan, sehingga simbolitas dalam ragam hias masjid atap tumpang dalam dikategorikan sebagai symbol ekspresif dan symbol konstitutif. Symbol konstitutif merupakan symbol sacral yang diturunkan dari pemahaman keagamaan, sedangkan symbol ekspresif merupakan symbol profane yang tidak bermakna isoteris dan kontempelatif. Keberadaan symbol tersebut merupakan manifestasi kompromis antara fungsi masjid yang bersifat vertical (ketuhanan) dan horizontal (kemasyarakatan).

052 Sisbar Noersya; Windhita Pranawengrum; Najib Jauhari. 2008. Nilai Kearifan Lokal dalam Serat Babad Tengger Versi Tembang Kata-kata kunci: nilai kearifan, babad Tengger, tembang Masyarakat Tengger menghuni kawasan pegunungan sekitar gunung Bromo dan Semeru. Secara administratif, masyarakat Tengger berada di empat wilayah kabupaten di Jawa Timur, yaitu; Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Khususnya masyarakat Tengger Malang masih menganggap pesan-pesan leluhur sebagai salah satu referensi pola pikir, sikap, dan perilaku terhadap lingkungan fisik dan sosialnya. Pesan leluhur itu secara tersurat atau tersirat berisi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh generasi Tengger. Bentuk fisik pesan leluhur tersebut terdapat dalam naskah-naskah kuno tinggalan leluhur mereka. Salah satu naskah kuno yang memuat berbagai siratan pesan leluhur adalah Serat Babad Tengger versi Tembang. Beberapa keunikan naskah Serat Babad Tengger versi Tembang, yaitu; Pertama, naskah ini merupakan satu-satunya yang ada di kawasan Tengger yang masih sering dilantunkan di tengah masyarakat oleh juru kidung naskah. Kedua, isi naskah bercerita tentang riwayat kehidupan masyarakat Tengger sejak jaman awal sampai masuk jaman legenda. Ketiga, penulis aslinya belum diketahui, namun dapat dipastikan sebagai orang Tengger asli. yang konon menurut beberapa informan masih memeluk agama setempat (bukan Islam). Ceritanya menyiratkan banyak sekali butiran nilai kearifan lokal yang kalau diperhatikan sebagian besar masih digunakan sebagai referensi pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat Tengger Malang sampai sekarang. Namun demikian, juga tidak sedikit kearifan lokal yang tersirat yang kurang mendapat dukungan dari generasi sekarang. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu; Pertama, deskripsi naskah babad Tengger versi Tembang memang cukup unik karena sangat digemari oleh masyarakat pecinta Maca Pat. Kedua, isi naskah atau cerita dalam naskah tampaknya lebih lengkap bila dibandingkan dengan cerita yang ada dalam babad Tengger versiArab Terbalik. Ketiga, terdapat banyak sekali butiran nilai kearifan lokal yang tersirat dalam setiap kalimat dalam naskah serat babad Tengger Versi Tembang. 053 Syafaat. 2008. Variasi Fonologis Bahasa Arab Dialek Mesir dan Saudi Arabia Kata-kata kunci: fonologis bahasa Arab, dialek Mesir, Saudi Arabia

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk variasi fonologis bahasa Arab lisan dialek Mesir dan Saudi Arabia yang berupa penggantian bunyi, penambahan bunyi, pelesapan bunyi, dan metatesis. Korpus data dalam penelitian ini berupa kata-kata dalam tuturan bahasa Arab dialek Mesir dan Saudi Arabia yang secara fonologis mengandung penyimpangan jika dibandingkan dengan bahasa baku. Sumber data penelitian ini adalah bahasa Arab ragam lisan yang dituturkan oleh penutur asli bahasa Arab dari Mesir dan Saudi Arabia yang terekam dalam CD interaktif pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik representatif. Prosedur pemerolehan data meliputi transkripsi data, pembacaan data secara seksama, klasifiasi data, dan reduksi data. Setelah diklasifikasi, data dianalisis melalui (1) inventarisasi; (2) penentuan karakteristik kemunculan; (3) pembuatan tabel deskriptif; (4) penentuan jenis-jenis dan bentuk penyimpangan berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan; (5) verifikasi; dan (6) perumusan akhir (penyimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa amiyah dialek Mesir dan Saudi Arabia mempunyai banyak variasi fonologis yang berbeda dengan bahasa fusha. Variasi fonologis itu dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yakni (a) penggantian bunyi; (b) penambahan bunyi; (c) pelesapan bunyi; dan (d) metatesis (penukaran tempat). Dalam Bahasa Arab dialek Mesir (BADM) penggantian bunyi meliputi penggantian konsonan dengan konsonan dan vokal dengan vokal. Penambahan bunyi meliputi penambahan bunyi di awal kata, di tengah, dan di akhir. Pelesapan bunyi ada yang di awal kata, di tengah dan di akhir. Metatesis jarang terjadi dalam BADM. Dalam Bahasa Arab Dialek Saudi (BADS), penggantian bunyi meliputi penggantian konsonan dengan konsonan dan vokal dengan vokal. penambahan bunyi hanya ada di awal dan di akhir kata, sedangkan penambahan di tengah kata tidak ditemukan. Pelesapan bunyi meliputi pelesapan bunyi di awal, di tengah, dan di akhir kata. Dalam BADS tidak ditemukan variasi fonologis yang berupa metatesis. Jika diadakan perbandingan antara variasi fonologis yang ada pada BADM dan BADS, maka BADM lebih kaya variasi daripada BADS, baik dalam penggantian bunyi, pelesapan, maupun metatesis. 054 Yusuf Hanafi; Moh Ahsanuddin. 2008. Memaknai Eksistensi Pesantren Salafiyah Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang di Tengah Transformasi Zaman dari Perspektif Fenomenologi Kata-kata kunci: eksistensi pesantren salafiyah, transformasi zaman, fakta sosial Banyak pakar meyakini bahwa dunia ini tanpa terkecuali sedang mengalami the grand process of modernization, dimana proses sekularisasi

niscaya terjadi. Pesantren sebagai institusi berbasis religi yang mengemban misi penyemaian ideologi-ideologi transenden-keagamaan seolah berada di bawah tekanan. Teori konvensional mengatakan bahwa ada dikotomi yang sangat kentara antara agama dan modernitas, di mana keduanya mengandaikan implikasi hubungan zero sum (saling menafikan). Artinya, munculnya modernitas dalam masyarakat akan melunturkan dan kemudian melenyapkan institusi-institusi keagamaan (termasuk di antaranya pesantren). Namun belakangan, teori konvensional mulai menuai kritik tajam. Kritik-kritik itu, antara lain, menyatakan bahwa agama dan modernitas bukanlah konsepkonsep yang bersifat asimetris. Agama mungkin dapat didefinisikan secara jelas. Akan tetapi proses modernisasi bersifat sangat kompleks, sehingga dikotomi agama dan modernitas secara analitis tidak dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti dengan berpijak pada asumsi dasar teori konvensional perihal dikotomi agama dan modernitas, ingin menguji kembali apakah memang jalinan hubungan di antara keduanya bersifat antagonistis dan saling menafikan? Ataukah sebaliknya, hubungan di antara keduanya bersifat saling menguntungkan, sebagaimana dilontarkan oleh para pengkritiknya? Apakah pesantren salafiyah sebagai salah satu perwujudan dari institusi religiotradisional tetap compatible dan berprospek exist di era modernisasi? Apa sesungguhnya makna di balik fenomena eksistensi pesantren-pesantren tua, salah satunya Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, yang terbukti mampu bertahan selama puluhan tahun? Secara teoritis, kemampuan pesantren salafiyah mempertahankan eksistensinya adalah karena dukungan dan kepercayaan masyarakat pengguna (stakeholders) yang diaktualisasikan dalam tindakan memasukkan anak-anak mereka di lembaga tersebut. Dalam perspektif teori fakta sosial, fenomena tersebut mengandaikan makna yang dapat diungkapkan. Penelitian ini ingin menjawab permasalahan (1) Bagaimanakah kondisi konteks Pesantren Salafiyah Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang yang melatarbelakangi kepercayaan dan dukungan masyarakat sekitar terhadapnya dan (2) Proses transformasi bagaimanakah yang terjadi di Pesantren Salafiyah Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang sehingga tetap mampu melayani kebutuhan pendidikan masyarakat modern? Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dalam perspektif fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan peranserta (participant observation), dan wawancara mendalam (indepth interview), dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan melalui tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, dalam menghadapi era modernisasi dan globalisasi, pada awalnya terlihat enggan dan rikuh dalam menerima perubahan sehingga tercipta kesenjangan antara pesantren dengan dunia luar. Tetapi

secara gradual Pesantren Mamba’ul Ma’arif kemudian melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk kemudian menemukan pola yang dipandangnya tepat guna menghadapi perubahan yang kian cepat dan berdampak luas. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari beragam inovasi layanan pendidikan yang ditawarkan Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun perlu digarisbawahi, perubahan tersebut hanya pada aspek artikulasi lahiriah saja, sementara aspek instrinsik (ruh, semangat, pemahaman keagamaan, dan nilai-nilai) tetap dipertahankan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan perlunya peningkatan kepercayaan masyarakat melalui penyempurnaan sarana dan prasarana, serta layanan pendidikan pesantren. Juga, perlunya penelitian lanjutan yang terfokus pada inovasi layanan pendidikan sebagai wujud respon pesantren terhadap transformasi zaman yang hasilnya digunakan sebagai bahan updating program-program pesantren. 055 Eli Hendrik Sanjaya; Oktavia Sulistina. 2008. Pengembangan Test Standart Kimia sebagai Alat Penilaian Hasil dan Proses Belajar Siswa SMA Kelas X Kata-kata kunci: pengembangan tes, proses belajar siswa SMA Aspek yang menentukan dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa adalah aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Authentic assessment sebagai suatu bentuk penilaian memberikan penilaian yang holistik dan obyektif, karena menilai secara keseluruhan hasil dan proses belajar siswa. Tes standar kimia yang berbasis authentic assessment perlu dikembangkan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengembangkan Tes Standar Kimia I; dan (2) Mengetahui validitas Tes Standar Kimia I yang dikembangkan. Dengan harapan dapat dimanfaatkan oleh para praktisi pendidikan khususnya guru, siswa dan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang didasarkan atas model pengembangan Dick & Carey. Produk dari pengembangan adalah (a) Format dan Kisi-kisi Penilaian Kognitif; (b) Format dan Rubrik Penilaian Psikomotorik; (c) Format dan Rubrik Penilaian Laporan Praktikum; (d) Format dan Rubrik Penilaian Poster; (e) Format dan Rubrik Penilaian Diskusi Siswa; dan (f) Format dan Rubrik Penilaian Sikap Siswa. Untuk mengetahui validitas produk yang dikembangkan dilakukan uji validasi isi. Dari analisis hasil uji validasi didapatkan kesimpulan bahwa produk yang dikembangkan adalah valid untuk dapat digunakan dalam upaya mengukur atau menilai proses dan hasil belajar kimia pada siswa SMA Kelas X.

056 Satti W, Bagus Setiabudi W, Syamsul B. 2008. Kajian Potensi Wilayah dan Karakteristik Lokal Kawasan Tertinggal di Kabupaten Malang (Studi Kasus di Kecamatan Jabung) Kata-kata kunci: potensi wilayah, karakteristik local, kawasan tertinggal Wilayah Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II, III, dan IV Kabupaten Malang mempunyai pola perkembangan yang hampir serupa, yaitu walaupun untuk saat ini di SWP-Il dan SWP-IV masih didominasi oleh sektor pertanian namun perannya lambat-laun akan berkurang. Hal ini disebabkan oleh pengaruh aktivitas pusat perkotaan di Kota Malang yaitu pergeseran lahan pertanian menjadi kawasan permukiman baru untuk wilayah penyangga kebutuhan perkotaan, sedangkan SWP-Ill secara sektoral dalam struktur PDRB memberikan kontribusi paling besar terhadap sektor industri pengolahan. SWP II dan Ill dikategorikan sebagai kawasan cepat tumbuh dan cepat maju, adapun SWP IV dikategorikan sebagai kawasan tertinggal. Mengacu pada hasil analisis scalogram oleh Sutikno (2005), bahwa dan empat kecarnatan di SWP IV (Kecarnatan Poncokusumo, Wajak, Tumpang dan Jabung). Kecamatan Jabung merupakan kecamatan yang memiliki fasilitas fisik dan non fisik paling minim. OIeh karena itu, dipandang perlu untuk melakukan kajian akademik terkait dengan potensi wilayah serta karakteristik lokal yang berperan penting dalam pengembangan wilayah di kawasan tertinggal Kabupaten Malang. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk melakukan identifikasi, kajian dan pernetaan potensi wilayah di SWP lV, yakni Kecamatan Jabung; (2) Untuk melakukan identifikasi dan kajian tentang karakteristik lokal di Kecamatan Jabung (SWP IV) yang mampu meningkatkan daya saing kawasan tertinggal sehingga menjadi setara dengan SWP lainnya di Kabupaten Malang; dan (3) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan Kecamatan Jabung (SWP IV) bertipologi sebagai kawasan tertinggal di Kabupaten Malang. Lebih lanjut adalah pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini diarahkan pada suatu bentuk pengkajian, observasi, dan interview mendalam terhadap potensi wilayah di kawasan tertinggal Kabupaten Malang, sehingga diharapkan penelitian ini akan menghasilkan output yang bermanfaat bagi pengembangan kawasan tertinggal di Kabupaten Malang. Untuk menentukan desa yang terpilih sebagai daerah penelitian maka digunakan teknik skoring, sehingga terpilih Desa Argosari dan Ngadirejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, potensi wilayah di Desa Ngadirejo dan Argosari relatif marginal. Namun demikian Desa Argosari potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan sentra produksi tebu dan Desa Ngadirejo sebagal kawasan sentra produksi durian dan kopi. Faktor penentu kawasan

tertinggal di dua desa yakni: (a) secara geografis Desa Argosari dan Ngadirejo terletak di perbukitan; (b) faktor sumberdaya alam yang marginal; (c) faktor sumberdaya manusia yang relatif rendah; dan (d) faktor kebijakan karena keterbatasan keuangan pemerintah dalam mengalokasikan dana pembangunan. 057 Aminnudin; Heru Suryanto. 2008. Perbaikan Sifat Mekanik Aluminium Hasil Daur Ulang dengan Inokulasi Titanium Kata-kata kunci: inokulan, TiO, kekerasan, kekuatan tarik Aluminium dapat diperbaiki sifat mekaniknya dengan penambahan inokulan. Penambahan inokan pada proses pelebutan aluminium bekas dapat meningkat kekuatan tarik dan kekerasannya. Inokulan yang digunakan adalah Titanium Oksida (TiO). Penambahan inulan TiO dilakukan dengan kadar 0,5; 1,0; 1,5 dan 2%. Proses pengecoran dilakukan pada temperatur 850C. Aluminium yang digunakan adalah aluminium bekas yang diperoleh dari pasaran. Kekerasan dan kekuatan tarik paling tinggi terdapat pada aluminium dengan penambahan TiO 2%. Pada penambahan ikulan 1,5 dan 2 % kenaikan kekerasan dan kekuatan tariknya mulai melandai. 058 Anik Nur Handayani; Ahmad Fahmi. 2008. Desain Otomatisasi Alat Pengolah Susu Kedelai yang Dilengkapi dengan Sistem Kontrol: Motor, Suhu, dan Ketinggian Menggunakan Kendali Fuzzy Berbasis Mikrokontroler Kata-kata kunci: susu kedelai, kendali Fuzzy, mikrokontroler Pengolahan susu kedelai adalah proses pemanasan dengan o o menggunakan suhu antara 90 C-100 C. Proses ini untuk memberikan perlindungan maksimum terhadap penyakit yang dibawa oleh kedelai dengan mengurangi seminimal mungkin kehilangan zat gizinya dan cita rasa susu kedelai serta untuk mematikan dan merusak kadar protein yang ada. Hasil penelitian adalah pengaturan level pada tabung I dan III dapat dikontrol dengan menggunakan sensor level, pengaturan level pada tabung II dapat dikontrol dengan menggunakan sensor level II sesuai dengan set point. Pengaturan suhu pada prototipe alat pasteurisasi susu dapat dikontrol o menggunakan driver pemanas dan alat pemanas dengan set point suhu 95 C. o Dengan kondisi awal suhu 27 C didapat (a) Waktu tunda (td) sebesar 110 detik; (b) Waktu mencapai mencapai steady state (ts) sebesar 220detik; (c)

Kesalahan keadaan mantap ess (°C) suhu kedelai adalah sebesar 0,6°C; (d) Rangkaian mikrokontroler AT89S52 dapat mengendalikan alat susu kedelai; dan (e) Rangkaian sensor suhu yang digunakan untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran elektrik mempunyai prosentase kesalahan pendektesian sebesar 0,39%. 059 Aripriharta; Ahmad Fahmi. 2008. Perancangan Kontrol Pergerakan Indoor Mobile Robot (IMR) Berkamera terhadap Indoor Mobile Robot (IMR) Target yang Dikenal (Visual Servoing) Key word: Mobile Robot, Dynamic Programming Algorithm Algorithm to solve mobile robot optimation from initial point of motion until the end, with information of map and environment condition completely. There is a problem if environment condition is unknown partly or totally, therefore mobile robot should have ability to find all points in certain area. Mapping method of environment situation around the robot in this research use dynamic programming algorithm with sensor information at robot. The result shows decreasing effectivity of exploration navigation, that is decreasing about 50%, when exploration area has reached 20% from total 2 workspace area. For 609,6 m there is decreasing from 39% to 16%, for 2 2 116,64 m there is decreasing from 15% to 7.5%, for 47,61 m there is decreasing from 9.3% to 2.6%. It is caused by limited robot perception to identify the environment. Robot manuver able to move forward, pivot to the 0 right and left of 90 revolution, it causes the robot fragile to the ―tie” or ―deadlock‖condition. It can be seen from the path formed when simulation process is running, where a state that robot only move in a little area. 060 Dyah Lestari; Siti Sendari; Heru Wahyu Herwanto. 2008. Aplikasi Webcam untuk Otomatisasi Pengukuran Tiga Dimensi (X, Y, Z) dengan Stereovision Kata-kata kunci: aplikasi Webcam, pengukuran tiga dimensi, stereovision Beberapa tahun terakhir, pengukuran 3D menggunakan sepasang foto (photogrammetry) telah membuat kemajuan yang signifikan dalam bidang industri dan manufaktur, khususnya dalam produksi dan fabrikasi mesin. Stereovision dapat digunakan untuk mengekstraksi koordinat 3D dari sebuah objek yang ada dalam sepasang gambar. Software yang dibuat digunakan untuk otomatisasi proses stereophotogrammetry dengan cara mengambil foto dari dua webcam, memroses kedua gambar tersebut untuk memperoleh

koordinat 2D setiap gambar, menghitung koordinat 3D dengan rumus stereovision, dan mengukur jarak antara dua titik. Beberapa eksperimen dilakukan untuk mengetahui ketelitian dan sensitivitas sistem pengukuran 3D terhadap parameter sistem dan faktor-faktor lain. Sebagai hasilnya diperoleh bahwa ketelitian sistem sepanjang sumbu x adalah 1,824 mm, sepanjang sumbu y 1,448 mm, dan sepanjang sumbu z 1,903 mm. Sistem yang dibuat juga tidak sensistif terhadap titik tengah gambar (image center), jarak antara kedua kamera (baseline length) atau focal length kamera. Meskipun begitu, pencahayaan dan threshold sangat mempengaruhi perhitungan koordinat 3D. Untuk meningkatkan ketelitian dan mengurangi tingkat sensitivitas, disarankan untuk menggunakan algoritme lain untuk medeteksi target dan melakukan pengesetan eksperimen yang lebih baik. Selain itu juga disarankan untuk menggunakan kamera digital yang mempunyai ketelitian lebih baik seperti kamera CCD. 061 Heru Suryanto; Wahono. 2008. Karakteristik Keausan Abrasif Lapisan Karburasi Baja Karbon Rendah Kata-kata kunci: karburasi, kekerasan, keausan abrasif, penambahan barium karbonat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media karburasi serbuk arang kayu dan barium karbonat terhadap kekerasan dan keausan baja karbon rendah dan pengaruh variasi temperatur karburasi terhadap kekerasan dan keausan baja karbon rendah pada berbagai variasi komposisi serbuk arang kayu dan barium karbonat. Penelitian dilakukan pada spesimen baja karbon rendah (C=0,158%) dengan dimensi 18x20x2,3mm. Variabel bebas: temperatur karburasi, yaitu: 850C, 900C dan 950C, dan penambahan serbuk Barium Karbonat (BaCO3) sebesar 0%, 20%, 25% dan 30% berat. Pengujian kekerasan menggunakan metode Vickers dengan beban 1 kg, sedangkan uji keausan abrasif menggunakan kertas abrasif silicon karbida no.800. dengan beban pengausan 200g. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan bahwa pada penambahan barium karbonat sebesar 20% berat memberikan kekerasan permukaan yang tertinggi. Untuk karburasi suhu 850C, 900C dan 950C dengan perlakuan hardening berturut-turut memberikan kekerasan sebesar 593, 867, dan 861 2 kg/mm dengan peningkatan kekerasan dibandingkan dengan raw material sebesar 456%, 667%, dan 662%. Peningkatan temperatur karburasi menyebabkan tebal efektif lapisan karburasi bertambah berturut-turut 250m, 300m,dan 650m untuk temperatur karburasi 850C, 900C dan 950C. Ketebalan lapisan karburasi tampak pula melalui foto mikrostruktur, dengan

perbedaan warna yang gelap pada permukaan berangsur-angsur menjadi terang pada kedalaman tertentu dari permukaan logam. Hasil pengujian keausan menunjukkan bahwa ketahanan aus terbaik diperoleh dengan penambahan barium karbonat sebesar 20% berat. Laju keausan terendah untuk temperatur karburasi 850C, 900C dan 950C berturut-turut adalah 21,2 mg/menit, 18,3 mg/menit dan 7,5 mg/menit atau ketahanan terhadap keausan meningkat sebesar 289%, 334%, dan 816%. Bila dikaitkan dengan kekerasan lapisan karburasi yang dihasilkan pada kondisi yang sama menunjukkan bahwa peningkatan kekerasan lapisan karburasi menghasilkan ketahanan aus yang lebih baik. 062 Sukarni. 2008. Pengaruh Modifikasi Camshaft terhadap Peningkatan Daya pada Motor Honda GL200 Kata-kata kunci: modifikasi Camshaft, motor Honda GL200 Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah: (1) Mengetahui peningkatan daya pada Honda GL 200 antara sebelum menggunakan camshaft modifikasi dengan setelah menggunakan camshaft modifikasi 1 dan camshaft modifikasi 2. (2) Mengetahui hubungan antara valve lift (jarak katup mengangkat), valve lift duration (lama katup mengangkat), valve lift timing (waktu katup mengangkat), lobe separation angle (LSA), overlap, tekanan kompresi dengan torsi dan daya pada Honda GL 200 setelah dilakukan modifikasi. Objek penelitian yang dipakai adalah camshaft Honda GL 200, tiga macam camshaft yang dipakai dalam penelitian ini yang memiliki perbedaan ukuran. Proses modifikasi camshaft dimulai dari pengelasan/penambalan profil tonjolan camshaft, kemudian digerinda ulang untuk menghasilkan profil tonjolan camshaft yang diinginkan. Variabel dalam penelitian ini terbagi atas 2 kelompok yaitu: dependent variabel (variabel terikat) dan independent variabel (variabel bebas). Dependent variabel dalam penelitian ini adalah (1) Torsi dan (2) Daya. Independent variabel adalah (1) Valve lift; (2) Valve lift duration; (3) Valve lift timing; (4) LSA/LCA; (5) Overlap; (6) Tekanan kompresi; dan (7) RPM. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Mesin Honda GL 200; (2) Dyno tester/dynamometers; (3) Jangka sorong; (4) Dial indicator; (5) Busur derajat; (6) Compression tester. Data penelitian ini diperoleh dengan cara mengukur valve lift, valve lift duration, valve lift timing, LSA/LCA, overlap, dan tekanan kompresi, kemudian mengukur torsi dan daya yang dihasilkan mesin Honda GL 200 dengan menggunakan camshaft standar, camshaft modifikasi 1, camshaft modifikasi 2. Pengukuran torsi dan daya dilakukan dengan menggunakan dyno tester.

Dari penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Penggunaan camshaft standar menghasilkan torsi dan daya yang lebih besar pada putaran bawah (4000rpm--8000rpm) jika dibandingkan dengan penggunaan camshaft modifikasi 1 dan camshaft modifiksi 2. Pada putaran atas (8000rpm--11500rpm) penggunaan camshaft modifikasi 1 menghasilkan torsi dan daya lebih besar jika dibandingkan dengan penggunaan camshaft standar dan camshaft modifikasi 2. Dengan menggunakan camshaft modifikasi 1 terjadi peningkatan daya maksimal 23,4% dan terjadi peningkatan daya masimal 0,56% dengan menggunakan camshaft modifikasi 2, jika dibandingkan menggunakan camshaft standar. (2) Ada hubungan antara valve lift (jarak angkat katup), valve lift duration (lama angkat katup), valve lift timing (waktu angkat katup), lobe separation angle (LSA), overlap, tekanan kompresi dengan torsi dan daya pada Honda GL 200. 063 Suprayitno; Suwarno; Aminnudin. 2008. Cepat Rambat Pembakaran dan Struktur Nyala Api Pembakaran LPG pada Berbagai Kondisi Campuran Kata-kata kunci: pembakaran, api, LPG LPG (Liqufied Petroleum Gas) adalah bahan bakar gas yang terdiri dari campuran 30% propana (C3H8) dan 70% (C4H10). LPG sejak diperkenalkan 1968 oleh pertamina dengan merek elpiji, merupakan salah satu produk pemanfaatan hasil samping minyak bumi dan hasil pengolahan gas alam, sebagai bahan bakar pengganti dan juga merupakan pengurang konsumsi dan subsidi minyak tanah (Bulletin Pertamina, 2 Mei 2005). Peluang LPG untuk menggantikan minyak konvensional cukup besar mengingat dari potensi 3,2 Mton, baru 1,2 Mton (37,5%) yang termanfaatkan sampai saat ini. Sebanyak 75% dikonsumsi rumah tangga, dan 25% dikonsumsi industri dan komersial (Buletin Pertamina, 2 Mei 2005). Namun, walaupun saat ini cadangan LPG masih berlimpah dan pemerintah sedang mendorong peningkatan penggunaan LPG ini sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak konvensional (terutama minyak tanah), tentunya harus diimbangi dengan penggunaan LPG yang efektif dan efesien. Efisiensi dapat dilakukan salah satunya dengan kesempurnaan proses pembakaran, sehingga lebih banyak lagi energi potensial kimia yang dapat diambil menjadi energi yang dapat dimanfaatkan. Beberapa faktor yang dapat diamati untuk menginvestigasi efisiensi proses pembakaran adalah bentuk nyala api dan cepat rambat pembakaran. Alat yang digunakan terdiri dari sebuah tabung mika (Hele-shaw Cells) dengan ukuran volume 58,5cm x 18,5cm x 1cm, tabung dan LPG berat 15 kg, pompa injak, penyala kompor gas, handycam sony dan komputer. Penelitian

dilakukan dengan metode eksperimen, dimana data-data diperoleh dari hasil pengamatan pada setiap perbandingan campuran yang dinyalakan dari atas dan dari bawah.Variabel bebasnya adalah variasi perbandingan campuran LPG/udara dan variabel terikat adalah kecepatan rambat api dan bentuk api. Pada campuran gemuk kecepatan rambat api saat penyalaan dari atas lebih tinggi jika dibandingkan saat penyalaan dari bawah. Sedangkan pada campuran kurus, kecepatan rambat api dengan penyalaan dari bawah lebih tinggi dibandingkan dengan cepat rambat api saat penyalaan dari atas. Kecepatan tertinggi terjadi pada campuran 1:20 terutama saat penyalaan dari bawah. Campuran 1:20 diduga sebagai campuran volume ideal pembakaran LPG-udara secara premik. 064 Yuni Astuti; Arbaiyah Prantiasih. 2008. Bentuk Perlindungan Hak Perempuan dan Anak Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Malang

Kata-kata kunci: perlindungan hak, tindak kekerasan Bentuk perlindungan hak yang telah ditetapkan pemerintah terhadap tindak kekerasan pada perempuan dan anak dalam rumah tangga telah ditetapkan beberapa instrumen hukum dalam upaya melindungi perempuan dan anak, disamping itu telah dibentuknya dan berfungsinya lembaga-lembaga terkait dapat membantu dan memberikan perannya seperti Komnas Perempuan; Komnas Anak disamping Komnas HAM. Bentuk perlindungan yang telah dilakukan di masyarakat terhadap tindak kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak melalui sosialisasi, pelatihan, workshop dan pendampingan yang terus menerus dilakukan oleh Women Crisis Center, Dian Mutiara Malang dan bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana Kota Malang. Layanan pendampingan dapat berbentuk pendampingan hukum, medis, psikhologis, agama. Sedangkan upaya perlindungan dalam keluarga terhadap tindak kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, bahwa setiap orang dalam keluarga yang mendengar, melihat atau mengetahui terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga maka wajib melakukan upaya-upaya untuk: (1) mencegah berlangsungnya tindak pidana; (2) memberikan perlindungan kepada korban; (3) memberikan pertolongan darurat; dan (4) membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. Permohonan untuk perlindungan untuk memperoleh surat perintah perlindungan dapat diajukan oleh: (1) keluarga korban; (2) teman korban; (3) Kepolisian; (4) relawan pendamping; dan (5) pembimbing rohani

065 Ahmad Munjin Nasih; Khoirul Adib. 2008. Identifikasi Problematika Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Luar Negeri (Pengalaman Para Eks TKW di Kab. Tulungagung) Kata-kata kunci: identifikasi, problematika, tenaga kerja wanita Persoalan yang dihadapi TKW muncul sejak pemberangkatan, di negara tempat kerja bahkan saat pulang dari negara tempat kerja. Untuk mengurai persoalan rumit yang dihadapi TKW terutama di negara tempat tujuan kerja, perlu diadakan kajian mendalam untuk mengungkap persoalan-persoalan yang dialami para eks TKW selama bekerja di luar negeri. Ini sebagai upaya untuk mencari dasar yang akurat dalam mengambil kebijakan seputar upaya-upaya perlindungan TKW di luar negeri sekaligus sebagai upaya memutus kekerasan terhadap tenaga kerja wanita di negara tujuan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi persoalan-persoalan yang dialami para eks TKW selama bekerja di negara tujuan dan mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadapi persoalanpersoalan yang dialami selama bekerja di negara tujuan kerja serta dan (2) Mengetahui harapan-harapan atau keinginan-keinginan (needs) para eks TKW tentang bekal kompetensi yang seharusnya dikuasai oleh para calon TKW ke luar negeri sebagai upaya mengeliminasi tindak kekerasan terhadap diri mereka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang berperspektif gender, berlangsung dalam latar yang wajar dengan menggunakan pendekatan fenomenologis karena berupaya memahami fenomena-fenomena yang terjadi dalam subyek penelitian. Fokus penelitian ini adalah pengalaman-pengalaman nyata yang pernah di alami para eks TKW di luar negeri asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan teknik snowball sampling, yaitu informan kunci akan menunjuk orang lain yang mengetahui masalah-masalah yang akan diteliti untuk melengkapi keterangan-keterangan, begitu seterusnya. Analisis dengan memakai analisis gender dengan metode analisis Longwe untuk menganalisis proses pemberdayaan perempuan yang mencakup lima butir kriteria pembangunan perempuan untuk mencapai pemerataan gender dalam (1) control; (2) partisipasi; (3) penyadaran; (4) akses; dan (5) kesejahteraan. Berbagai permasalahan yang kompleks baik dari persoalan-persoalan yang tingkatnya ringan hingga persoalan-persoalan berat itu bermula sejak perektrutan TKW, pembekalan mereka dalam penampungan, proses pemberangkatannya, perlakuan selama di tempat kerja, dan bahkan hingga proses pemulangan ke tanah air. Dalam penelitian ini identifikasi problematika difokuskan pada munculnya persoalan-persoalan selama TKW bekerja di negara tujuan kerja di Timur Tengah. Diantara persoalan-persoalan yang

sering dihadapi TKW di Timur Tengah antara lain adalah: persoalan komunikasi (lemahnya penguasaan kompetensi kebahasaan dan aspek budaya), perlakukan kasar majikan, kekerasan baik fisik (seperti pemukulan, pengurungan dan penyiksaan) maupun psikis (seperti hinaan, ancaman, dan bentuk intimidasi/teror yang lain) dari majikan maupun keluarga majikan, volume kerja yang melebihi kemampuan (eksploitasi tenaga), jenis kerja yang tidak sesuai dengan kontrak, jumlah gaji yang tidak sesuai dengan jumlah yang tertera dalam kontrak kerja, bahkan ada lagi yang tidak mendapatkan gaji sama sekali, pelecehan seksual baik berupa godaan-godaan yang mengarah ke tindakan seksual hingga terjadinya kasus pemerkosaan. Sedangkan upaya yang dilakukan para TKW dalam mengatasi persoalan yang dihadapi tersebut umumnya dengan melakukan upaya jalan pintas yaitu kabur dari rumah majikan dengan berbagai cara, sebagian eks TKW mengatakan melaporkan kejadian tersebut kepada majikan, mencari perlindungan ke sesama tenaga kerja, dan sebagian kecil saja yang melaporkan kasus yang menimpanya ke KBRI atau KJRI. Bekal yang harus dipenuhi oleh TKW yang akan bekerja di luar negeri utamanya ke Timur Tengah selain bekal skill individu (kompetensi) juga mutlak diperlukan adanya kompetensi lain yang meliputi, bekal seputar kebahasaan dan pengenalan/pemahaman sosial budaya dan penguasaan bidang kerja. Hal ini akan memberikan modal berharga bagi TKW untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, demikian juga untuk menghindari dari berbagai hal yang tidak diinginkan. Para TKW asal Indonesia dalam menjalankan tugasnya juga tidak bisa maksimal karena adanya miskomunikasi antara mereka dengan para majikan. 066 Laily Maziyah; Sya’faat. 2008. Pandangan para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Kata-kata kunci: mufassir, konsep poligami, kesetaraan gender Berabad-abad sebelum Islam datang, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, bahkan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceritakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan sampai ratusan. Dalam realitasnya, poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Laporan Rifka Annisa (2001:5-8), menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5,1% poligami secara rahasia, 2,5% dipoligami resmi, 36,3% korban selingkuh,

2,5% ditinggal suami, 4,2% dicerai, 0,4% sebagai istri kedua, dan 0,4% lainnya sebagai teman kencan. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29,4%; kekerasan fisik 18,9%; kekerasan seksual 5,6%; dan kekerasan psikis 46,1%. Menurut Subhan (2004), diantara faktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual dan kurang kontekstual, cenderung dipahami parsial dan kurang holistik. Jadi, untuk meminimalisir ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami, diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif, kontekstual, dan holistik. Namun, sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan, penelaahan buku-buku tafsir mutlak harus dilakukan. Oleh karena itu, penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar. Tafsir yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini adalah lima tafsir, yaitu: (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi, , (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari, (3), AlMishbah karya M. Quraish Syihab (4). Tafsir Al-Quran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas. Peneliti memilih tafsir-tafsir ini untuk mengungkap gambaran mengenai konsep, syarat, hukum poligami, juga kaitannya dengan kesetaraan gender dalam karyannya. Melalui pendekatan holistik, yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus, dalam kerangka pelacakan asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender, maka kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan beberapa hal, yaitu: secara konsep, konsep poligami para mufassir di atas tidak berbeda dengan konsep mayoritas ulama, yakni poligami (ta'addud az-zawjah) adalah pernikahan satu suami dengan dua, tiga atau empat istri, dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan dalam agama. Hanya saja, Ar-Razi membolehkan seorang laki-laki berpoligami lebih dari empat istri. Adapun syarat-syarat poligami para mufassir, yaitu memiliki kemampuan memberi nafkah, memiliki kayakinan bisa berbuat adil, hanya saja Quraish Shihab setuju dengan pendapatnya Al-Maragy yang mensyaratkan bolehnya poligami jika istri mengalami kemandulan, Jumlah wanita lebih banyak, dan kondisi fisik sang istri tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan seksual. Mengenai hukum poligami, para mufassir memandang hal itu mubah (boleh). Dipersyaratkan dalam poligami adanya keadilan suami dalam memberikan nafkah lahir kepada semua istrinya dan keadilan memberikan giliran tidur atau menemani istri-istrinya. Namun, tidak dipersyaratkan, menurut para mufassir itu keadilan batin yang menyangkut perasaan atau kadar cinta antara istri satu dengan istri yang lain.

Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi, kekerasan, subordinasi, streotipisasi, pembebanan ganda), hanya ada satu yaitu streotifikasi terhadap wanita, yakni pendapat yang longgar dari Ar-Razi yang membolehkan poligami dalam jumlah yang tak terbatas dan dengan syarat yang relatif longgar. 067 Moch. Syahri; Pujiyanto. 2008. Konstruksi Feminisme di Media Massa (Studi Tentang Konstruksi Feminisme di Majalah Hidayatullah dengan Pendekatan Analisis Framing) Kata-kata kunci: framing, media massa, feminisme Penelitian ini bertujuan untuk melihat Framing berita feminisme di media massa. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan framing model Kosicki de Zhongdang. Yang menjadi objeknya berita-berita poligami di majalah Hidayatullah versi on-line edisi 2005--2007. Penelitian ini menemukan dua tema besar tentang feminisme di Majalah Hidayatullah , yaitu masalah poligami dan konsep pemikiran feminisme. Berkaitan dengan ide poligami, Hidayatullah secara konsisten mendukung poligami. Sementara itu, berkenaan feminisme, redaksi mengambil sikap kritis. Bagi redaksi, keberadaan feminisme perlu diwaspadai, karena berpotensi merusak akidah umat Islam Gerakan feminis di Barat, tidak dapat dipungkiri, merupakan reaksi terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat di sana. Penyebab utamanya adalah pandangan ―sebelah-mata‖ terhadap perempuan (misogyny), bermacam-macam anggapan buruk (stereotype) yang dilekatkan kepada perempuan serta aneka citra negatif yang mengejawantah dalam tata-nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik (Aris, 2006). Sebagaimana konsep pemikiran pada umumnya, dalam waktu yang tidak lama ide-ide feminisme diadopsi dan dijadikan perdebatan oleh pemikirpemikir di belahan benua lain. Jika pada awalnya gerakan ini banyak berkutat di benua Eropa, maka lambat laun mulai merambah ke kawasan Amerika dan kemudian menyebar ke negara-negara lain termasuk ke negara-negara dunia ketiga Yang menarik untuk dicermati, perdebatan-perdebatan tersebut tidak hanya pada ranah ilmiah, dalam arti perdebatan konsep feminisme dan titik tekan perjuangannya, tetapi juga masuk ke ranah agama, khususnya Islam. Sebagai konsep yang datang kemudian, feminisme bagi sebagian ahli Islam tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan sejak datangnya Nabi Muhammad, nasib kaum perempuan justru menjadi lebih terhormat. Akan tetapi, beberapa ahli yang lain Islam berpendapat bahwa feminisme sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Feminisme dianggap sebagai

produk barat yang bertentangan sendi-sendi ajaran Islam. Kedua kelompok ini mendasarkan argumennya kepada Al-Quran dan Hadis. Jika dirunut ke belakang, perbedaan pandangan tersebut berujung pada persoalan penafsiran atas teks Al-Quran dan Al-Hadis. Meski Al-Quran merupakan kebenaran abadi, namun penafsirannya tidak bisa terhindar dari sesuatu yang bersifat relatif. Perkembangan historis berbagai mazhab kalam, fikih, dan tasawuf merupakan bukti positif tentang kerelatifan penghayatan keagamaan umat Islam (Munawar, 2000). Perbedaan penafsiran teks Al-Quran dan Al-Hadis atas sebuah persoalan pada akhirnya berpengaruh pada aplikasi ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, beragamnya praktik ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari merupakan konsekuensi dari adanya perbedaan penafsiran tersebut. Begitu juga dengan konsep feminisme yanng muncul belakangan. Yang menarik bagi peneliti adalah bagaimana konsep-konsep feminisme tersebut jika diamati di media massa. Seperti diketahui, media massa merupakan institusi yang tidak bebas nilai dan kepentingan. Setiap media mempunyai visi dan misi lembaga yang akan diperjuangakan. Fakta yang sama, bisa jadi akan diungkap dengan cara berbeda-beda oleh media. Dalam teknik jurnalistik, cara menulis fakta tersebut dinamakan dengan ―sudut pandang berita‖ (angle). Peristiwa yang sama, bisa ditulis dari berbagai angle. Pengambilan angle ini ditentukan oleh visi media massa. 068 Imam Nawawi; Singgih Susilo. 2008. Tenaga Kerja Industri Rumah Tangga di Jawa Timur: Suatu Kajian Gender pada Industri Rumah Tangga di Wilayah Malang Kata-kata kunci: industri rumah tangga, kajian gender Pekerjaan industri rumah tangga adalah suatu bentuk kerja yang banyak disukai kaum wanita terutama yang sudah berkeluarga. Faktor penyebabnya adalah karena tidak memerlukan keahlian dan tingkat pendidikan formal yang tinggi, serta jam kerja yang luwes. Saat ini semakin banyak pekerja pria yang memasuki industry rumah tangga. Penelitian ini mencoba memahami secara lebih dalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan masuknya tenaga kerja pria dan wanita pada kerja industri rumah tangga, khususnya pengerajin keripik tempe, tas dan kopyah dari perspektif gender. Penelitian dilakukan di Jawa Timur khususnya wilayah Malang, Sidoarjo dan Gresik sebagai salah satu sentra industri rumah tangga. Populasi penelitian ini adalah wanita dan pria baik yang sudah maupun yang belum berkeluarga yang bekerja dibidang industri rumah tangga. Sampel ditetapkan 120 responden dengan menggunakan teknik sample random

sampling. Data dianalisis dengan perhitungan statistik non-parametrik yakni deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa karaktenistik pekerja industri rumah tangga yaitu bahwa tingkat pendidikan pekerja industri rumah tangga tergolong berpendidikan rendah, namun pekerja pria mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi dan pada pekerja wanita. Umur mereka tergolong berusia muda. Dari segi pendapatan keluarga, sebagian besar relatif tergolong rendah dan jenis pekerjaan ini sangat fluktuatif, ada saat musim sepi dan musim ramai. Musim sepi terjadi sebagian besar saat setelah hari raya Idul Fitri. Penelitian inl juga menunjukkan adanya ketimpangan gender pada bidang dan ststus pekerjaan, sehingga ada perbedaan pula dalam besarnya upah dan sistem pengupahan. Akan tetapi dalam hal jaminan tidak menunjukkan adanya perbedaan antar pekerja pria dan wanita, namun meskipun demikian pekerja wanita berpendapat bahwa keberadaan pekerja pria pada industri rumah tangga tidak merebut lahan pekerjaan wanita. 069 Eko Sri Sulasmi; Harmawati Noor; Siti Astutik. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif TGT Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA-Biologi Siswa Kelas VIII SMPN 1 Dau Malang Kata-kata kunci: pembelajaran kooperatif TGT, hasil belajar, IPA-Biologi Penelitian bertolak dari hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA yang telah dilakukan ditemukan permasalahan mengenai rendahnya motivasi, aktivitas dan hasil belajar IPA-Biologi siswa kelas VIII di SMPN 1 Dau Malang. Pembelajaran pada umumnya masih berpusat pada guru dengan metode ceramah, jarang praktikum maupun demonstrasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar IPA-Biologi siswa kelas VIII SPMN 1 Dau Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif TGT. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen yang digunakan berupa panduan wawancara, perangkat pembelajaran, lembar observasi motivasi, aktivitas dan kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif TGT, catatan lapangan, soal tes, lembar evaluasi diri siswa terhadap pembelajaran TGT. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-A SPMN 1 Dau Malang semester gasal 2008/2009 yang berjumlah 35 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar IPABiologi siswa kelas VIII-A SPMN 1 Dau Malang. Mengingat di sekolah tersebut ada beberapa kelas untuk siswa kelas VIII, dan guru sangat antusias dalam

menerapkan pembelajaran ini, maka disarankan kepada guru IPA di SMPN 1 Dau Malang untuk menerapkan pembelajaran kooperatif TGT ini di kelas-kelas yang lain. 070 I Wayan Dasna; Kartini; Istri Setyowati. 2008. Penggunaan Model Siklus Belajar-Group Investigation untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa dalam Mempelajari Kimia di SMA Laboratorium Malang Kata-kata kunci: model siklus belajar, kompetensi siswa, pembelajaran Kimia Pembelajaran kimia di SMA Laboratorium UM khususnya materi struktur atom dan ikatan kimia dan tahun ke tahun mengalami kesulitan. Konsepkonsep yang abstrak pada pada materi tersebut tidak mudah dipahami oleh siswa . Indikator adanya masalah diketahui dan hasil belajar siswa pada tahun sebelumnya yang cukup rendah dimana sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar (SKM=75). Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan tindakan model siklus belajar-group investigation (LC-GI) yang diterapkan di kelas X-3 SMA Laboratorium UM. Tujuan penelitian adalah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran kimia materi pokok Struktur Atom, SPU. dan Ikatan Kimia dengan penerapan model LC-GI. Kualitas pembelajaran tersebut diukur dan kualitas prasos dan basil belajar siswa. Penelitian dilakukan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang mencakup dua siklus. Tiap-tiap sikius terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas X3 SMA Laboratonium UM yang berjumlah 38 orang. Pengajar adalah gura kelas didampingi oleh dosen. Instrumen penelitian terdiri atas rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar observasi, tes penguasaan materi. Data yang dikumpulkan diperoleh dari hasil pengamatan, penyelesaian tugas, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model siklus belajargroup investigation dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang ditunjukkan dan kearifan siswa, ketepatan mengumpulkan tugas, kualitas diskasi/interaksi, dan kemampuan memecahkan masalah kelompok. Hasil belajar siswa mencapai menunjukkan peningkatan, rata-rata pada siklus I (67,7) meningkat menjadi 75,0 pada sikias II. Jumlah siswa yang mencapai skor minimal 75 pada sikius I sebanyak 44,7% naiL menjadi 68% pada siklus II. Dengan demikian penerapan model LC-GI untuk memecahkan masalah rendahnya pemahaman siswa dapat dilakukan. Namun pada kelas besar yang heterogen optimalisasi pengelolaan kelas perlu ditingkatkan agar hasil belajar siswa lebih baik.

071 Yuli Susetio; Sopiah; Pembelajaran Meningkatkan Siswa Kelas Malang) Sugeng; Nur Jannah. 2008. Implementasi Metode Kooperatif Model Group Investigation untuk Hasil Belajar Mata Diklat Ekonomi (Studi pada I Program Keahlian Penjualan SMK Sriwedari

Kata-kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Group Investigation, hasil belajar Pendidikan memiliki peranan dalam menyiapkan siswa menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidang masing-masing. Maka upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai secara optimal, dengan pengembangan dan perbaikan terhadap komponen pendidikan perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Salah satunya pada peranan guru yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah, upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah memilih model pembelajaran yang dapat menghidupkan suasana keias menjadi lebih efektif dan produktif. Pendekatan dalam proses pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam menguasai suatu kompetensi, maka guru harus dapat mengubah paradigma pembelajaran dan orientasi terhadap terselesaikannya materi ke paradigma pembelajaran sebagai proses yang mengedepankan keefektifan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Guru diharapkan depat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan banyak melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan dan aktivitas belajar Untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat Ekonomi perlu diciptakan suatu kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif sehingga dapat memahami materi secara bermakna, cara yang dianggap tepat adalah melalui metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation gada mata diklat Ekonomi yang dalam penerapannya di dalam kelas akan tercipta suasana belajar siswa aktif yang saling komunikasi, saling mendengar, saling berbagi, sering memberi dan menerima, yang mana keadaan tersebut selain dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi juga menargetkan interaksi sosial siswa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata diklat Ekonomi. Penelitien ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat Ekonomi; (2) mendeskripsikan respon siswa dalam pembelejaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat Ekonomi; (3) mengetahui hasil belajar mata diklat Ekonomi setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model group investigation; dan

(4) mengetahui hambatan-hambatan yang muncul selame diterapkannya pembelajaran kooperatif model group investigation. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (P1K). Subjek penelitian adalah siswa kelas I program keahlian Penjualan (PJ) di SMK Sriwedari Malang. Data penelitian dikumpulkan melalui: (1) observasi; (2) wawancara; (3) tes; (4) catatan lapangan; dan (5) angket. Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi, dalam pelaksanaan tindakan melalui 3 tahap yaitu: (1) tahap awal: menjelaskan kompetensi dasar dan indikator hasil belajar, memotivasi siswa, membentuk kelompok belajar, mengembangkan pengetahuan awal dan menjelaskan aturan main pembelajaran kooperatif model group investigation termasuk pemilihan materi tugas dan pembagian tugas tiap kelompok; (2) tahap inti diskusi kelompok dengan cara rnenginvestigasi materi tugas dan presentasi; dan (3) tahap akhir membuat kesimpulan bersama-sama den pemantapan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon siswa dalam pembelajaran kooperatif model group investigation pada mata diklat Ekonomi sangat positif, hasil belajar mata diklat Ekonomi setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model group investigation mengalami peningkatan. Terdapat hambatan yang ditemui peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran, hambatan tersulit adalah rasa percaya diri yang rendah siswa dalam mengemukakan pendapatnya secara lisan, diatasi peneliti dengan memberi dorongan atau motivasi kepada siswa supaya berani mengemukakan pendapatnya. Data hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan dimana pada pre test hasil belajar siswa diperoleh rata-rata 49,83 sedangkan pada post test siklus I diperoleh rata-rata 62,72 (mengalami peningkatan 25,87%), pada post test siklus 2 terdapat kenaikan nilai rata-rata yaitu 7978 peningkatan 27,20%. Sedangkan penilaian pada pengamatan sikap siswa dalam keterampilan proses kelompok (group process skills) pada siklus 1 mendapatkan rata-rata 67,3 dan pada siklus 2 mendapatkan rata-rata 80,27 atau mengalami peningkatan sebesar 19,27%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat Ekonomi. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu: (1) bagi guru dianjurkan menggunakan pembelajaran kooperatif model group investigation sebagal alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa; (2) pengelolaan pembelajaran di kelas guru harus lebih intensif dalam memberi arahan dan motivasi kepada seluruh siswa terutama yang memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lain; (3) guru dapat mengupayakan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi sehingga membuat siswa

tertarik dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar; (4) siswa diharapkan mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum kegiatan belajar di kelas, sehingga akan memudahkan guru dalarn memulai pelajaran; dan (5) bagi peneliti berikutnya disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model group investigation pada pengajaran mata diklat lainnva di tempat yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran kooperatif model group investigation dalam proses pembelajaran. 072 Suharmanto; Priyanto; Anang Sujono. 2008. Penerapan Strategi Problem Solving Of Engineering dan Teori Elaborasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar PDTM SMK Kata-kata kunci: problem solving of engineering, teori elaborasi, SMK Berdasarkan pengamatan dan pengalaman tim peneliti (dosen LPTK dan guru SMK) pengajar matadiklat PDTM pada program keahlian Mekanik Otomotif di SMK Darut Taqwa Purwosari Pasuruan, menunjukkan hasil belajar siswa rendah. Rendahnya hasil belajar siswa secara umum diakibatkan oleh dua permasalahan pokok, yaitu permasalahan guru dan permasalahan siswa. Berdasarkan penelusuran pustaka metode yang sesuai untuk memecahkan masalah belajar pada matadiklat PDTM adalah strategi pembelajaran pemecahan masalah yang disebut dengan Problem Solving of Engineering, sedangkan strategi pengurutan/pengorganisasian isi pembelajaran yang sesuai adalah teori Elaborasi. Berpijak pada permasalahan di atas maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas I program keahlian Mekanik Otomoti? SMK Darut Taqwa dalam matadikiat PDTM melalui penerapan Strategi Pembelajaran Problem Solving of Engineering dan teori Elaborasi dan (b) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran siswa kelas 1 program keahlian Mekanik Otomotif SMK Darut Taqwa dalam matadiklat PDTM melalui penerapan Strategi Pembelajaran Problem Solving of Engineering dan teori Elaborasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Dengan pendekatan penelitian tindakan kelas, siklus alur penelitian dilakukan sebagai berikut: perencanaan - pelaksanaan - observasi - refleksi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) Penerapan metode Problem Solving of Engineering dan pengorganisasian isi dengan teori Elaborasi dalam matadiklat PDTM dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMK Darut Taqwa Purwosari Pasuruan dan (b) Penerapan metode Problem Solving of Engineering dan pengorganisasian dengan teori Elaborasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yaitu

mengubah proses pembelajaran dari guru yang dominan aktif menjadi siswa yang aktif 073 Hardika; Supriyono. 2008. Peningkatan Kreativitas Belajar Mahasiswa dalam Matakuliah Belajar Pembelajaran Jurusan PLS melalui Strategi Transfer of Learning Kata-kata kunci: kreativitas belajar, transfer of learning Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas belajar mahasiswa peserta Matakuliah Belajar Pembelajaran Jurusan Pendidikan Luar Sekolah dengan menggunakan strategi pembelajaran transfer of learning. Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini berpedoman pada strategi analisis data penelitian kualitatif. Data yang masuk diolah melalui proses pengkategorian dan pengklasifikasian berdasarkan masalah yang diteliti. Hasil analisis data diketahui bahwa mahasiswa memiliki semangat dan kemampuan belajar kelompok dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tugas kelompok yang berhasil diselesaikan mahasiswa, keinginan untuk melakukan belajar kelompok, kualitas hasil belajar kelompok, ketepatan dalam menyelesaikan belajar kelompok, dan kualitas pemahaman atas hasil kerja kelompok telah menghasilkan peningkatan yang signifikan. Secara umurn hash belajar dengan menggunakan pendekatan transfer of learning memberikan keleluasaan mahasiswa untuk berekspresi dan membangkitkan pemahaman belajar yang lebih mengakar dengan gaya dan karakteristik mahasiswa. Transfer of learning mampu memberikan peluang kepada mahasiswa untuk beraktualisasi tentang potensi dirinya dan mendorong mahasiswa bertindak secara kreatif, mandiri dan tidak tergantung pada prinsipprinsip baku dan dosen pembina yang secara akademik belum tentu cocok dengan karakter mahasiswa. Berkaitan dengan pemahaman terhadap substansi perkuliahan, model pembelajaran dengan pninsip transfer of learning mampu memberikan sumbangan ganda terhadap pencapajan hasil belajar, yaitu pemahaman terhadap bahan perkuliahan jauh lebih meningkat dan sekaligus memahami strategi belajar yang Iebih efektif dan efisien sesuai dengan karakter mahasiswa yang bersangkutan. Untuk meningkatan pencapaian pembelajaran yang efektif dan efisien, diperlukari model pembelajaran transfer of learning dengan melalui uji penerapan terhadap berbagai matakuliah di tingkat jurusan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh pemahaman menyeluruh tentang model pembelajaran transfer of learning oleh mahasiswa maupun dosen pembina dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik matakuliah

masing-masing. Peranan dosen dan mahasiswa harus dipahami secara jelas sehingga masing-masing memiliki tanggungjawab dan kewajiban yang harus dilakukan dalam aktivitas pembelajaran. Segala persoalan yalg muncul dan masing-masing dasar dan mahasiswa harus direkam dan selanjutnya dilakukan diskusi dalam suatu forum akademik untuk membahas persoalan dan mencari pemecahan untuk memperoleh penyempurnaan model. Hasil pembelajaran ini belum mencerminkan keutuhan model pembelajaran yang sempurna dan masih memerlukan perangkat pendukung atau pendamping yang mampu memberikan bantuan belajar kepada mahasiswa secara mandiri. Beierapa perangkat pembelajaran yang dianggap mampu memberikan bantuan belajar antara lain meliputi panduan belajar mandiri, kartu belajar yang berisi tentang prinsip belajar transfer of learning, dan strategi implementasi model belajar berbasis transfer of learning. Model pembelajaran ini perlu dilakukan secara berulang-ulang dalam berbagai matakuliah dengan terus melakukan perubahan dan improvisasi langkah dan strategi sesuai dengan yang terjadi di lapangan atau medan pembelajaran. Penyempurnaan model pembelajaran dilakukan dengan metode pembelajaran yang terbebas dan prinsip indoktrinasi yang kurang menghargai prestasi dan kreativitas mahasiswa. SaIah satu prinsip yang harus dipahami oleh fasilitator belajar adalah penciptaan pemahaman mahasiswa terhadap konsep dan bukan penghafalan terhadap deskripsi bahan perkuliahan. 074 Nur Anisah Ridwan; Hanik Mahliatussikah; Moh. Ahsanuddin. 2008. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menulis dalam matakuliah DAM melalui Pengembangan Buku Ajar Kata-kata kunci: menulis, DAM (Durus Arabiyyah Mukatstsafah), bahan ajar Bahan ajar yang disusun berdasarkan silabus dan RPS (Rencana Perkuliahan Semester) serta sesuai dengan kebutuhan mahasiswa merupakan aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar menulis dalam mata kuliah DAM (Durus 'Arabiyyah Mukatstsafah) yang sesuai dengan kurikulum PSPBA dan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mahasiswa PSPBA UM. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan dengan menggunakan data studi pendahuluan dan data uji coba. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang meliputi empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar DAM yang disusun berdasarkan kebutuhan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Bahan ajar yang disusun secara sistematis berdasarkan tingkat gradasi kesulitan dan latihan-latihan yang mengarah pada

pengembangan kemampuan menulis membuat bahan ajar ini cocok diaplikasikan dalam pembelajaran menulis dalam matakuliah DAM. 075 Sri Andreani; Utami Praba Astuti. 2008. Pengembangan Reading Box Matakuliah Reading II untuk Meningkatkan Minat Baca Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, FS-UM Kata-kata kunci: reading box, minat baca, Reading II Masalah penelitian ini adalah belum adanya materi berupa reading box matakuliah Reading II untuk meningkatkan minat baca mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, FS-UM. Sesuai dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi reading box dalam bentuk kumpulan bacaan sepanjang 400--500 kata sejumlah 80 set, di mana tiap setnya terdiri dari pendahuluan, pertanyaan, bacaan, kunci jawaban, refleksi, serta buku pantauan yang merupakan kelengkapannya. Materi ini memungkinkan mahasiswa berlatih membaca ekstensif secara mandiri serta melakukan evaluasi diri. Materi dikembangkan melalui tahap perencanaan, studi eksplorasi, pengembangan bentuk awal produk, validasi produk, dan laminasi. Dalam proses validasi, sejumlah materi direvisi pada bagian pertanyaan, bacaan, kunci jawaban, refleksi, ilustrasi, tata letak, dan warna judul. Isi buku pantauan dikurangi salah satu kolomnya. Hasil angket saat proses validasi menunjukkan bahwa materi tersebut sudah memadai dalam hal jumlah pilihan bacaan, kandungan informasi, kesesuaian tipe dan topik bacaan dengan minat mahasiswa, kesesuaian isi dengan tingkat kematangan intelektual mahasiswa, panjang bacaan, keragaman tipe wacana, tingkat kesulitan kosakata dan tata bahasa, ilustrasi, tata letak, serta jenis dan ukuran huruf. Dalam bentuk akhirnya, materi reading box dicetak pada kertas concord berwarna dengan judul dan ilustrasi berwarna serta dilaminasi. Buku pantauan dicetak pada kertas berukuran A5 dan dijilid dengan sampul berwarna. 076 Amy Tenzer; Nursasi Handayani. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Perkembangan Hewan Mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang Kata-kata kunci: pembelajaran kooperatif jigsaw, motivasi hasil belajar Selama tiga tahun terakhir, hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Non Reguler Kelas BB dalam matakuliah Perkembangan + Hewan (BIC 419) tergolong rendah, dengan rerata C (57,5-67,5), karena

metode pembelajaran yang digunakan kurang dapat mengaktifkan mahasiswa. Untuk mengatasi kondisi tersebut, diperlukan inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa. Pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Perkembangan Hewan mahasiswa kelas BB melalui penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Rancangan pengembangan yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dalam dua siklus, masing-masing dilaksanakan dalam lima dan enam kali pertemuan pada semester genap 2007/2008. Motivasi belajar mahasiswa diobservasi dengan melihat minat, keaktifan, usaha, konsentrasi, dan efisiensi kerja mahasiswa selama pembelajaran, sedangkan hasil belajar dilihat dari skor tes akhir siklus I dan II. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa motivasi belajar klasikal dengan kategori baik dari 60,74% pada siklus I meningkat menjadi 77,78% pada siklus II, dan keberhasilan belajar klasikal dari 62,96% pada siklus I meningkat menjadi 85,19% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa. 077 Made Wena; Sri Anggrariani Judawati. 2008. Pengembangan Pembelajaran E-Learning Berbasis WBL Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matakuliah Belajar Pembelajaran Pada Prodi PTB Kata-kata kunci: e-learning, belajar pembelajaran, web bases learning Tujuan pengembangan pembelajaran e-learning berbasis WBL ini adalah: (a) Menghasilkan perangkat pembelajaran e-learning berbasis WBL dalam matakuliah Belajar Pembelajaran, dan (b) Mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran e-learning berbasis WBL pada matakuliah Belajar Pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Metode/prosedur pengembangan pembelajaran matakuliah Belajar Pembelajaran dilakuakan dengan (1) Menentukan matakuliah yang akan dikembangkan; (2) Mengidentifikasi Silabus Matakuliah; (3) Mengembangkan Web Based Learning; (4) Memproduksi Web Based Learning; (5) Memproduksi Web Based Learning; dan (6) Menyusun Petunjuk Penggunaan Program. Berdasarkan atas hasil analisis data dapat disimpulkan sebagai berikut (1) Penelitian ini menghasilkan produk pembelajaran e-learning ber-basis WBL matakuliah Belajar Pembelajaran; (2) Pembelajaran konvensional e-learning memberikan prestasi hasil belajar yang lebih baik dari pada metode ceramah; dan (3) Mahasiswa memiliki persepsi sangat baik terhadap pembe-lajaran konvensional e-learning

078 Pribadi; Wasis. 2008. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri Pada Prodi S1 PTB Key word: project based learning, industrial practical, building education This Research aim to to (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning. This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM. This Research use of class action research (CAR), having the collaborative character. Based on the data obtained through observation and questionaires, the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject 079 Sugiyanto; Pranoto. 2008. Penerapan Metode Pemecahan Masalah dan Motivasional ARCS Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Struktur Baja Prodi PTB Kata-kata kunci: metode, motivasional ARCS, baja Penelitian ini bertujuan (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Struktur Baja 2 melalui pendekatan strategi pembelajaran pemecahan Masalah dan strategi pengelolaan motivasional ARCS dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Struktur Baja 2, melalui pendekatan Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah dan strategi pengelolaan motivasional ARCS. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa (1) Penerapan metode Pemecahan Masalah dan strategi pengelolaan motivasional ARCS dalam pembelajaran matakuliah struktur Baja 2, dapat meningkatkan hasil pembelajaran dan motivasi belajar mahasiswa dan (2) Penerapan metode Pemecahan Masalah dan strategi pengelolaan motivasional ARCS dalam matakuliah struktur Baja 2, mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran Struktur Baja 2.

080 Endang Prastuti; Adi Atmoko. 2008. Perilaku Merokok Remaja (Tinjauan Diathesis Stress Model) Kata-kata kunci: diathesis stres model, merokok, remaja Usia remaja merupakan usia penuh masalah (problem age), yang merupakan usia penuh stres dan tekanan, namun satu sisi pada periode ini remaja dituntut untuk mampu membuat keputusan dan komitmen. Realitas menunjukkan fenomena mengkonsumsi zat psikotropik, termasuk alkohol dan perilaku merokok semakin meningkat. Selain berdampak pada kesehatan, perilaku merokok merupakan first step menuju perilaku negatif lain. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui apakah diathesis, berupa trait kepribadian: coping stres, asertivitas dan conformitas, serta stres yang dialami remaja berpengaruh terhadap perilaku remaja. Penelitian dilakukan pada 835 remaja di kota Malang (di tiga kecamatan; berusia 15--18 tahun). Setelah diklasifikasi dengan kriteria utama berperilaku merokok, akhirnya diperoleh remaja sejumlah 213 yang dijadikan sampel penelitian. Instrument Penelitian berupa skala psikologis yang terdiri dari: skala stres, skala coping stres, skala asertivitas, skala konformitas, skala perilaku dikembangkan oleh peneliti. Sebelumnya diuji cobakan pada 42 siswa SMA LAB Malang, terbukti telah memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, sedang untuk teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diathesis stres model yang diajukan belum cukup terbukti secara empiris menjelaskan perilaku merokok pada remaja, meskipun secara bersama-sama (1) ada pengaruh coping stres, asertivitas, konformitas dan stres terhadap perilaku merokok pada remaja (R = 0,235; sig F = 0,019 < 0,05); (2) Ada pengaruh coping stres terhadap perilaku merokok pada remaja (R = 0,208; Sig F = 0,002 < 0,05); (3) Tidak ada pengaruh asertivitas terhadap perilaku merokok pada remaja (R = 0,22; F = 0, 753 > 0,05); (4) Tidak ada pengaruh konformitas terhadap perilaku merokok pada remaja (R = 0,02, sig F = 0,720 > 0,05); (5) Tidak ada pengaruh stres terhadap perilaku merokok pada remaja (R = 0,078, Sig F = 0,256 > 0,05); (6) Ada pengaruh coping stres dan stres terhadap perilaku merokok remaja (R = 0,229; Sig F = 0,004 < 0,05; (7) Tidak ada pengaruh asertivitas dan stres terhadap perilaku merokok pada remaja (0,080; sig = 0,512 > 0,05; (8) Tidak ada pengaruh conformitas dan stres terhadap perilaku merokok pada remaja. Saran (1) untuk remaja, perlu melakukan coping stres secara adaftif, karena coping stres berpengaruh pada perilaku merokok pada remaja; (2) Orangtua, perlu memberikan bimbingan tentang cara adaftif, ketika menghadapi stres; (3) Konselor, perlu mengembangkan atau memberikan pelatihan coping stres yang adaftif, agar dapat digunakan sebagai upaya pencegahan atau treatment pada perilaku merokok pada remaja; dan (4)

Peneliti, perlu menyempurnakan diathesis stress model yang diajukan agar dapat diterapkan untuk menjelaskan perilaku merokok pada remaja, yakni dengan cara memfokuskan pada aspek diathesis, berupa trait-trait kepribadian yang lain yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini seperti self esteem, self efficacy, dan lainnya. 081 Mundzir, H.S.; Asmah, Siti. 2008. Dinamika Perilaku Pesanggem dalam Pelestarian Hutan (Kajian: Pengelolaan Wengkon Hutan di Kabupaten Malang dalam Perspektif Teori Mikro Makro Ritzer) Kata-kata kunci: dinamika perilaku, perhutanan sosial, pelestarian hutan Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perilaku pesanggem berdasarkan latar belakang kependudukan, sosial ekonomi, status dan luas lahan wengkon, serta kelembagaan organisasi LKPDH. Penelitian juga bertujuan untuk menemukan hubungan antara tingkat partisipasi dengan usia pesanggem, tingkat pendidikan, pendapatan, luas lahan wengkon, status lahan wengkon, status kepengurusan organisasi LKPDH dan masa keanggotaan dalam organisasi LKPDH. Metode penelitian ini menggunakan rancangan dengan pendekatan kuantitatif . lokasi penelitian di desa Sumberagung Kecamatan Ngantang dan desa Benjor Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Populasi penelitian adalah seluruh anggota LKPDH Wono Mulyo di desa Sumberagung dan LKPDH Sari Wono di desa Benjor Kecamatan Tumpang kabupaten malang dengan sampel penelitian sebanyak 150 orang yang diambil dari masingmasing kelompok kerja (Pokja). Penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut (1) hutan merupakan sumberdaya alam untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik lokal maupun nasional memiliki makna ganda tergantung kacamata yang digunakan dalam melihat hutan menurut persepsi masing-masing, baik secara individual, kelompok maupun institusional; (2) Perilaku pesanggem memanfaatkan lahan di dalam hutan disebabkan oleh niat baik untuk melestarikan hutan, selain itu juga ada sebagian pesanggem yang mencari lahan untuk pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup yang disebabkan oleh tekanan sosial; (3) Rendahnya kondisi sosial masyarakat desa Sumberagung dan desa Benjor berakibat pada rendahnya tingkat pendidikaan dan sulitnya mendapatkan lapangan kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup; (4) Perilaku pesanggem dalam bentuk partisipasi terhadap pengelolaan hutan memiliki hubungan sangat signifikan antara tingkat partisipasi dengan usia, status lahan wengkon, status keanggotaan dalam kelompok dan masa keanggotaan dalam kelompok, sedangkan hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat pendidikan cukup signifikan.

Adapun korelasi tingkat partisipasi dengan tingkat pendapatan pesanggem dan status lahan wengkon ternyata tidak ada hubungan secara signifikan; dan (5) Dinamika partisipasi pesanggem masyarakat desa Sumberagung dan desa Benjor memiliki dimensi individual, kelompok, kelembagaan (institusional) dan dimensi budaya. Dimensi individual merupakan merupakan gambaran individu sebagai anggota masyarakat desa menghadapi tekanan yang tidak terlepas dari realitas sosial di mana individu hidup di pinggiran hutan yang penuh dengan peraturan yang harus dipatuhi. Di pihak lain terdapat kumpulan orang yang tergabung dalam suatu kelompok sosial yang memiliki norma kelompok yang mengikat individu sebagai anggota kelompok, walaupun terdapat sebagian orang yang tidak mau terikat dengan kelompok tersebut akhirnya juga ber-kelompok untuk mempertahankan keyakinan yang dianggap benar dalam kelompok barunya. 082 Mahmud Yunus. 2008. Pengaruh Metode Pemanduan Bakat terhadap Pembinaan Sepakbola Usia Dini Kata-kata kunci: metode pemanduan bakat, keterampilan dasar, sepak bola Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh metode pemanduan bakat terhadap pembinaan sepakbola usia dini, melalui seleksi alamiah dan seleksi ilmiah, interaksi antar-keduanya terhadap keterampilan dasar bermain sepakbola. Variabel penelitian ini adalah model-model pemanduan bakat dan keterampilan dasar bermain sepakbola. Dalam penelitian ini digunakan percobaan faktorial 2x2 pada siswa-siswa (N=80 ) dari Sekolah Sepakbola Hayam Wuruk dan Poras Trenggalek, Jawa Timur. Sampel diambil dengan teknik Simple Random Sampling acak sederhana. Hasil-hasil dianalisis dengan teknik ANAVA dengan program komputer SPSS Versi 14. Hasil analisis (1) Tes Antropometri menunjukkan bahwa memiliki nilai rata-rata 35.36 dan memiliki standard deviasi sebesar 5.59 Nilai rata-rata pada tes tinggi badan dan berat badan. Hal ini berarti terdapat peningkatan hasil dan kemungkinan dikarenakan hasil dari treatment yang diberikan kepada testi; (2). Tes Kelincahan menunjukkan bahwa memiliki nilai rata-rata 10.95 dan memiliki standard deviasi sebesar 74; (3) Tes Kecepatan menunjukkan bahwa memiliki nilai rata-rata 7.13 dan memiliki standard deviasi sebesar .62 Nilai rata-rata pada tes kecepatan. Hal ini berarti terdapat peningkatan hasil dan kemungkinan dikarenakan hasil dari treatment yang diberikan kepada testi; (4) Tes Lompat tanpa Awalan menunjukkan bahwa memiliki nilai rata-rata 166.13 dan memiliki standard deviasi sebesar 30.61. Hal ini berarti terdapat peningkatan hasil dari treatment yang diberikan kepada testi; (5) Tes VO2Max menunjukkan bahwa memiliki nilai rata-rata 33.52 dan memiliki standard

deviasi sebesar 5.63. Hal ini berarti terdapat peningkatan hasil dan kemungkinan dikarenakan hasil dari treatment yang diberikan kepada testi; dan (6) Tes Keterampilan Dasar Bermain Sepakbola (a) menunjukkan analisis data tes awal menunjukkan kelompok alamiah tinggi memiliki nilai rata-rata lebih rendah (30.74) dibandingkan dengan kelompok alamiah rendah (34.23). Hal ini terbukti bahwa nilai rerata tes keterampilan awal yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok alamiah dengan bakat rendah dan (b) Bahwa kelompok alamiah tinggi memiliki nilai rata-rata yang lebih rendah (34.64) dibandingkan dengan kelompok alamiah rendah (41.35). Hal ini terbukti bahwa nilai rerata tes keterampilan awal yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok alamiah dengan bakat rendah. 083 Abd. Syukur Ibrahim. 2008. Konstruksi Identitas Jender dalam Pertarungan Simbolik di Media Massa Kata-kata kunci: konstruksi, identitas jender, pertarungan simbolik, media massa Berkembangnya gerakan feminisme direspon perempuan dalam bentuk konstruksi identitas baru perempuan di Indonesia. Banyak perempuan yang menginternalisasi nilai-nilai feminisme dalam diri mereka. Nilai-nilai feminisme dalam diri perempuan tersebut selanjutnya dieksternalisasi menjadi struktur sosial. Agar tidak diketahui tujuannya, eksternalisasi nilai-nilai feminisme dilakukan perempuan dengan menggunakan bahasa di media massa. Perempuan merespon budaya patriarki dan menstimulasi budaya kesetaraan. Mekanisme perempuan tersebut berdampak pada disahkannya Undangundang, Peraturan Pemerintah, Surat Keputusan, dan Surat Edaran yang memperhatikan pengarusutaman jender. Konstruksi identitas perempuan tersebut diserang laki-laki yang berusaha melestarikan budaya patriarki. Lakilaki merespon budaya kesetaraan dan menstimulasi budaya patriarki. Fakta sosial tersebut sampai saat ini belum dikaji secara komprehensif. Karena itu, penelitian yang berjudul Konstruksi Identitas Jender dalam Pertarungan Simbolik di Media Massa dipandang layak untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh eksplanasi tentang konstruksi identitas jender dalam pertarungan simbolik di media massa yang dirinci menjadi (a) bentuk konstruksi identitas jender dalam pertarungan simbolik di media massa; (b) mekanisme individu konstruksi identitas jender dalam pertarungan simbolik di media massa; dan (c) mekanisme struktur sosial konstruksi identitas jender dalam perta-rungan simbolik di media massa.

084 Wahyudi Siswanto; Muakibatul Hasanah. 2008. Proses Kreatif Sastrawan Indonesia Kata-kata kunci: sastrawan Indonesia Karya sastra digubah oleh sastrawan. Tentu saja ini atas izin dan karunia Tuhan yang telah memberikan daya kreatif kepada sastrawan. Oleh karena itu, kalau kita ingin memahami karya sastra, pemahaman kita akan semakin baik bila disertai dengan pemahaman terhadap diri sastrawan. Bila kita telah mengenal sastrawan, kita juga bisa memahami lebih baik karya sastranya. Bagi Coleridge (dalam Aminuddin, 2001:5) kualitas karya sastra ditentukan oleh sejumlah aspek yang akhirnya juga ke arah kemampuan seniman, yaitu (1) daya spontanitas, (2) kekuatan emosi, (3) orisinilitas, (4) daya kontemplasi, (5) kedalaman nilai kehidupan, dan (6) harmoni. Longinus menekankan kualitas yang memberi keluhuran kepada seniman, diantaranya (1) jenius yang kreatif: daya wawasan yang agung dan emosi serta (2) retorik: majas dan keagungan diksi (Teeuw, 1984:155—156). Pada abad ke-18, pada masa Romantik, perhatian terhadap sastrawan sebagai pencipta karya sastra menjadi dominan. Karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang (Selden, 1985:52). Menyimak hal-hal semacam ini menyebabkan pentingnya peranan sastrawan dalam kajian sastra (Junus, 1985; Eneste, 1984). Apa saja yang bisa diteliti dari diri sastrawan? Hal yang bisa diteliti pada diri sastrawan bisa meliputi hidup sastrawan, perkembangan moral, mental, dan intelektual, selain tentang psikologi sastrawan dan proses kreatif (Wellek dan Warren, 1976). Sampai saat ini masih sedikit penelitian yang mencoba mengkaji diri sastrawan. Beberapa penelitian semacam ini, misalnya, dilakukan oleh (1) Arief Budiman berjudul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan dengan Pribadi Chairil Anwar; (2) Aris Purwanto (1988) berjudul Pendekatan Struktural-genetik terhadap Novel Kubah Karya Ahmad Tohari; (3) Wahyudi Siswanto (1991) berjudul Kajian Novel Rafilus: Sebuah Tinjauan Sosio-psiko-struktural (Tesis); serta (4) Wahyudi Siswanto (2003) berjudul Memahami Budi Darma dan Karya Sastranya (Disertasi). 085 Yuni Pratiwi, 2008. Nilai Budaya Perempuan dalam Sastra Peranakan Tionghoa-Indonesia Kata-kata kunci: nilai budaya, sastra peranakan Tionghoa-Indonesia, nilai ketuhanan, nilai sosial, nilai persoanal

Wacana sastra Indonesia selalu merepresentasikan model duniakehidupan manusia tertentu. Salah satu khazanah sastra di Indonesia yang merepresentasikan model dunia kehidupan manusia tertentu ialah wacana sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Nilai budaya perempuan etnis Tionghoa [mungkin] berbeda dengan nilai perempuan Indonesia (baca: Jawa). Karena itu, nilai budaya perempuan etnis Tionghoa dalam Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia perlu dikaji lebih komprehensif. Masalah nilai-nilai budaya perempuan meliputi (1) nilai yang berkenaan dengan kehidupan ketuhanan yang dihayati dan diikuti perempuan (nilai religious); (2) nilai yang berkenaan dengan kehidupan sosial yang dihayati dan diikuti perempuan [nilai sosial); dan (3) nilai yang berkenaan dengan kehidupan pribadi [nilai personal] yang dihayati dan diikuti perempuan yang direpresentasikan di dalam sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Berdasarkan paradigmanya, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang historis hermeneutis karena secara kualitatif dan interpretatif mendeskripsikan bangunan nilai budaya perempuan di dalarn wacana sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Lebib jauh lagi, sebagaimana Iazimnya dalam penelitian hermeneutis, data penelitian ini merupakan data penghayatan secara langsung dan pengamatan secara rasional (erleben dan verstehen)bukan penghitungan atau penjelasan matematis (erklaren) - yang diambil secara bolak-balik dan berulang-ulang menurut kebutuhan dan keperluan. Mengingat luas dan banyaknya wacana sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, tidak semua sastra Peranakan Tionghoa Indonesia dijadikan sumber data. Sesuai dengan teknik penyampelan internal, internal sampling, yaitu penyampelan yang menyandarkan diri pada terwakilinya informasi yang secara kualitatif mendalam, memadai, dan menyeluruh tentang model duniakehidupan perempuan yang direpresentasikan dalam wacana sastra peranakan Tionghoa Indonesia, sumber data yang dipilih untuk dianalisis berupa 42 cerita pendek karya penulis peranakan Tionghoa-Indonesia. Data penelitian ini meliputi (1) nilai religious; (2) nilai social; dan (3) nilai personal yang dihayati dan dilkuti perempuan yang direpresentasikan di dalam sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Pada dasannya analisis data penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan prinsip (a) pemahaman arti secara mendalam (sinverstehen) menurut asas-asas hermeneutika Dilthey, Gadamer, dan Ricoun; (b) analisis isi (content analysis) khususnya analisis domain kultural menurut SpradJy; dan (c) analisis interaktif-dialektis. Artinya, analisis data dilakukan secara melingkar, berulang-ulang, timbal-balik, dan bolak-balik (menurut kepenluan) dengan fokus wacana novel Indonesia dalam rangka memperoleh penghayatan dan pemahaman arti yang mendalam terhadap nilai budaya perempuan yang direpresentasikan oleh wacana sastra Peranakan Tionghoa Indonesia tersebut.

Temuan pertama dalam penelitian ini yakni, nilai ketuhanan yang dihafal dan diikuti perempuan dalam sastra peranakan Tionghoa Indonesia meliputi tiga hal. Pertama, tokoh perempuan dalam cerita pendek peranakan TionghoaIndonesia mengakui keberadaan Tuhan yang mencakup pengakuan yang ditandai dengan keyakinan bahwa Tuhan adalah pengatur kehidupan manusia dan Tuhan menghukum dan memberi peringatan kepada manusia yang bersalah atau melakukan tindakan berdosa. Kedua, mengakui kekuasaan Tuhan yang menunjukkan dengan memperlihatkan usaha meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Tuhan yang ikhlas agar menjadi perempuan yang mulia. Ketiga, nilai ketuhanan yang berhubungan dengan penghargaan kaum perempuan terhadap ciptaan Tuhan yang meliputi: (1) perempuan yang mulia bertanggung-jawab dalam memelihara anak dan keturunan dan (2) perempuan yang mulia berusaha memelihara dan menjaga kehormatan diri. Temuan kedua dalam penelitian ini adalah nilai sosial yang dihayati dan diikuti perempuan dalam sastra peranakan Tionghoa Indonesia meliptiti: (1) perempuan berkewajiban menjalin hubungan sosial dengan keluarga berdasarkan garis keturunan untuk meningkatkan ikatan persaudaraan; (2) Perempuan berkewajiban menjalin hubungan dengan keluarga lain karena ikatan perkawinan untuk menjaga harmoni keluarga besar; (3) perempuan berkewajiban menjaga hubungan dengan keluarga lain di lingkungan tempat tinggal; (4) perempuan berkewajiban menjalin hubungan dengan keluarga lain di lingkungan tempat tinggal untuk memperluas pergaulan atau mendapatkan jodoh; (5) perempuan berkewajiban menjalin hubungan dengan orang lain untuk memperluas pergaulan; (6) perempuan berusaha menjaga ikatan perkawinan dan membangun citra sebagai pribadi yang mulia dan setia di tengahtengah masyarakat; dan (7) perempuan yang mulia berusaha menunjukkan rasa nasionalisme yang tinggi. Temuan ketiga yang dapat dilaporkan dalam penelitian ini yaitu, nilai personal yang dihayati dan diikuti perempuan dalam sastra peranakan Tionghoa-Indonesia meliputi: (1) perempuan membangun citra diri sebagai pribadi yang bermartabat, yang mencakup: (a) menjalani kehidupan pribadi berdasarkan prinsip-prinsip moral yang berlaku dalam masyarakat; (b) menggunakan busana dan rias wajah yang sesuai dengan kelas sosial; (c) menempuh pendidikan dan keterampilan yang bisa dibanggakan; (d) membangun citra diri sebagai pribadi yang cerdas dengan belajar bahasa asing; dan (e) menempuh pendidikan atau kursus-kursus yang dikenal bergengsi; (2) perempuan membangun citra diri sebagai pekerja keras, yang mencakup: (a) memiliki status pekerjaan yang jelas; (b) mengembangkan suatu bidang pekerjaan untuk menopang ekonomi keluarga; dan (c) memelihara perasaan cinta dan kuat menahan godaan. Beberapa saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil kesimpulan tersebut yakni, (1) penelitian lain disarankan melakukan penelitian dengan fokus-fokus kajian yang benbeda dengan harapan dapat melengkapi informasi

yang telah didapatkan dalam penelitian ini; (2) penelitian lanjutan dapat diperluas jangkauan sumber datanya dengan pertimbangan jumlah dan kurun waktu penulisannya; dan (3) penelitian lanjutan disarankan mempertimbangkan aspek-aspek perubahan konstelasi politik, sosial, dan budaya agar kajian terhadap teks sastra menjadi lebih utuh dan dapat merepresentasikan semangat zaman yang terus berubah dan berpengaruh terhadap nilai-nilai dalam kehidupan perempauan peranakan Tionghoa Indonesia. 086 Martutik; Nurchasanah. 2008. Performansi Pertanyaan-Respon Anak Usia Balita dalam Interaksi Sosial Sebaya (Antisipasi Profil Bahan Ajar di Taman Kanak-Kanak) Kata-kata kunci: pertanyaan, respon, interaksi sosial, balita Pertanyaan respon memiliki produktivitas pakai yang cukup tinggi bagi anak usia balita. Ini terjadi karena masa balita adalah masa ingin tahu. Untuk mengekspresikan keingintahuan mereka, salah satu sarana yang bisa diungkapkan berupa pertanyaan. Sebuah pertanyaan diungkapkan dengan tujuan untuk memperoleh respon. Karena itu, pertanyaan respon perlu dideskripsikan. Pendeskripsian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan penentuan profil bahan ajar di TK. Dengan pertimbangan tersebut, secara rinci tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan performansi pertanyaan dilihat dari bentuk formal, fungsi, strategi, dan tindak pemerannya serta (2) mendeskripsikan performansi respon dilihat dari bentuk formal, fungsi, dan strateginya. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan data tuturan lisan dalam interaksi sosial antarbalita (di lingkungan Malang). Data diambil dengan teknik observasi langsung dengan instrumen kunci peneliti dibantu dengan tape recorder dan tabel. Data tersebut dianalisis dengan prosedur: (1) penyajian data; (2) reduksi data: Identifikasi, klasifikasi, dan penyimpulan sementara hasil penelitian; (3) verifikasi; dan (4) penentuan hasil akhir. Dengan prosedur di atas hasil penelitian ini dideskripsikan sebagai berikut. Performansi pertanyaan dilihat dari bentuk formalnya memiliki variasi (1) pertanyaan berintonasi tanya; (2) pertanyaan berkata tanya: mana, apa, siapa, di mana, dan berapa; serta (3) pertanyaan pembalikan urutan. Dilihat dari fungsinya, pertanyaan memiliki variasi (1) pertanyaan informatif dan (2) pertanyaan ya/tidak yang memiliki variasi: sudah/belum, boleh/tidak boleh, bisa/tidak bisa, ya/bukan, dan ya/tidak. Dilihat dari strateginya, pertanyaan yang digunakan balita termasuk pertanyaan langsung yang memiliki variasi: (1) meminta informasi dan (2) meminta konfirmasi. Dilihat dari tindak pemerannya, pertanyaan memiliki variasi (1) direktif; (2) ekspresif; dan (3) representatif. Sementara itu, performansi respon dilihat dari bentuk formalnya memiliki

variasi (1) respon berup kata-kata atau respon verbal; (2) respon nonverbal; dan (3) respon gabungan verbal-nonverbal. Dilihat dari fungsinya, respon memiliki variasi (1) respon jawaban dan (2) respon bukan jawaban. Responrespon tersebut diungkapkan balita dengan menggunakan strategi langsung. 087 Soedjijono. 2008. Menuju Teori Sastra Indonesia: Membangun Teori Prosa Fiksi Berbasis Novel-novel Kearifan Lokal Kata-kata kunci: sastra Indonesia, prosa, novel Penelitian fundamental ini bertujuan untuk memberikan sumbangan bagi penyusunan teori sastra Indonesia, khususnya teori prosa fiksi, dengan objek penelitian 4 (empat) novel kearifan lokal. Keempat novel tersebut adalah: Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi), Pasar (Kuntowijoyo), Para Priyayi (Umar Kayam), dan Ibu Sinder (Pandir Kelana). Pendekatan analisis yang dipakai adalah pendekatan strukturalisme dinamik sehingga memungkinkan analisis data secara intrinsik, ekstrinsik, dan historis sekaligus. Hasil penelitian ini ada 3 (tiga): (1) ciri tipikal novel kearifan lokal; (2) ciri spesifik unsur struktur novel kearifan lokal; dan (3) teori prosa fiksi berdasarkan kajian struktur novel kearifan lokal. 088 Mistaram; Pujiyanto; Tjitjik Sri Wardhani. 2008. Batik Pesisiran Jawa Timur, Kajian Estetik, dan Kebudayaan Kata-kata kunci: batik pesisiran, estetik, kebudayaan Batik pesisiran merupakan produk kebudayaan daerah yang juga merupakan kearifan lokal. Batik mmpunyai nilai estetik, dan simbolik, yang merupakan produk kebudayaan. Nilai kedaerahannya dapat ditunjukkan dari ciri ragam hiasnya, dan di setiap daerah mempunyai motif hias yang berbeda antara daerah satu dengan lainnya. Motif hias batik merupakan hasil stilasi dari apa yang dihayati oleh perajin daerah, dan diungkapkan dalam motif hias batik pesisiran. Motif hias dapat dianalisa dengan kajian estetik dan kebudayaan untuk memaknai setiap motif hias batik pesisiran. 089 Moh Ainin; Imam Asrori. 2008. Pola Interaksi dalam Alquran yang Tercermin pada Ayat-Ayat Berbentuk Pertanyaan: Kajian Pragmatik Kata-kata kunci: pola interaksi, Alquran, pertanyaan, dan pragmatik

Alquran merupakan media interaksi antara Tuhan dengan hamba-Nya (Qardhawi, 1997). Alat yang digunakan sebagai media interaksi adalah bahasa (bahasa Arab). Dalam melakukan interaksi, Alquran menggunakan beragam kalimat. Interaksi dalam Alquran akan lebih kentara pada ayat-ayat Alquran yang berbentuk pertanyaan. Dalam ayat-ayat yang berbentuk pertanyaan ini, komunikasi timbal balik antara komunikator dan komunikan tampak terformansikan secara jelas dengan berbagai variasi, baik dari aspek pihak yang terlibat dalam interaksi maupun dari aspek fungsi (semantik maupun pragmatik) dari interaksi itu sendiri. Penelitian ini adalah mendeskripsikan ayat-ayat dalam Alquran berbentuk pertanyaan dari aspek (1) topik atau Tema interaksi; (2) pelibat dalam interaksi; (3) bentuk respon dalam interaksi; (4) motif interaksi; (5) latar interaksi; dan (6) pola interaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dan analisis isi. Instrumen penelitian berupa human instrumen. Data penelitian berupa ayatayat Alquran berbentuk pertanyaan yang difokuskan pada kajian terhadap tujuh surah terpanjang (sab‟u thiwal). Teknik analisis data meliputi observasi mentah, unitisasi, recording, reduksi data, menyusun inferensi. Validasi hasil temuan dilakukan melalui: Observasi terus-menerus (persistent observation), mengkaji secara teliti, cermat, dan komprehensif berbagai sumber data lainnya yang relevan, triangulation, dan mendiskusikan dengan teman sejawat dan atau pihak lain yang dipandang ahli (member cheks). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema-tema interaksi dalam Alquran yang tercermin pada ayat-ayat berbentuk pertanyaan meliputi: golongan manusia dan sikap hidupnya, golongan ahli kitab, golongan Bani Israel, golongan munafik, penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi, hidup sesudah mati, kemahakuasaan Allah, peperangan dan jihad, infaq, shadaqah, dan zakat, rahmat luar biasa, dan kehancuran umat-umat terdahulu. Pelibat interaksi dalam Alquran yang tercermin pada ayat-ayat berbentuk pertanyaan meliputi: Tuhan-Nabi, Tuhan-umat/kaum, malaikatTuhan, Nabi-umat/kaum, Nabi-tokoh, umat/kaum-Tuhan, umat/kaum-Nabi, umat/kaum-umat yang lain, dan Individu-Tuhan. Respon dalam interaksi pada ayat-ayat Alquran yang berbentuk pertanyaan dapat dikatagorikan menjadi (a) respon berdasarkan asal respon dan (b) respon berdasarkan hubungan isi pertanyaan-respon. Respon berdasarkan asal respon meliputi: respon mitra tutur, respon penutur, dan respon gaib. Sementara itu, respon berdasarkan hubungan isi pertanyaanrespon meliputi: respon sebagai jawaban, respon sebagai penegas, respon sebagai pertanyaan lanjutan, dan respon kosong. Motif interaksi dalam ayat-ayat Alquran berbentuk pertanyaan meliputi: menganggap bodoh pihak lain, menutupi ketidakmampuan, meragukan kemampuan pihak lain, kemustahilan keimanan pihak lain, meminta percepatan pertolongan, mengelak dari kesalahan, menunjukkan kekaguman,

permintaan menjadi pengikut, menolak tugas berperang, memperoleh keuntungan pribadi, menyatukan sikap dan persepsi, menunjukkan kekuatan (kekuasaan), menegakkan keadilan, menunjukkan penyimpangan akidah, meminta diberi hidangan (ma’idah), menunjukkan penyesalan atas ketidakmampuan, menafikan, menunjukkan diri-Nya sebagai penolong tunggal, meluruskan persepsi, menyangkal tuduhan, mengingatkan kembali, membuktikan kebenaran pesan yang disampaikan, meminta pendapat (diberi pendapat), meminta untuk tidak disiksa, memastikan adanya ujian, dan meremehkan. Latar interaksi dalam ayat-ayat Alquran berbentuk pertanyaan adalah sebagai berikut: sikap superioritas orang-orang munafik, penciptaan nyamuk sebagai perumpamaan, penciptaan khalifah di muka bumi, peristiwa kriminal, harapan yang berlebihan, kerasulan Muhammad dalam Kitab Taurat, klaim Yahudi dan Nasrani atas Nabi Ibrahim dan anak cucunya, perubahan arah kiblat, peperangan, perselisihan ahli kitab, keberadaan makanan di mihrab, kelahiran seorang anak, keingkaran Bani Israel, forum pertemuan, kekalahan pada perang Uhud, meminta kembali mahar yang diberikan, hari pertanggungjawaban, perbedaan sikap internal umat Islam, ketidakstabilan akidah, harta rampasan perang, konflik antarsuku, pengingkaran kepada rasul Tuhan, padang mahsyar, hidangan (ma‟idah), hari kiamat, sikap materialistik, penyembahan berhala, tuduhan Tuhan beranak, permusuhan terhadap Nabi Muhammad, memakan buah terlarang, isu pengusiran, musibah gempa bumi, keberadaan ruh manusia di dalam lembaga Adam, dan forum keagamaan (majlis Nabi Muhammad). Pola interaksi dalam ayat-ayat Alquran berbentuk pertanyaan dapat dikatagorikan menjadi alur interaksi dan strategi interaksi. Dari alur interaksi, interaksi dalam Alquran ada yang bersifat satu arah dan dua arah. Interaksi satu arah meliputi: interaksi Tuhan kepada manusia, hamba Tuhan (manusia) kepada sesamanya, dan interaksi interpersonal. Interaksi dua arah meliputi: interaksi antaraTuhan dengan hamba-Nya (manusia), manusia/malaikat (hamba) dengan Tuhan, dan interaksi antar sesama hamba (manusia). Sementara itu, dari aspek strategi interaksi dapat dikemukakan, bahwa strategi interaksi dalam ayat-ayat Alquran berbentuk pertanyaan ada yang langsung dan tidak langsung. Strategi langsung adalah strategi interaksi yang mkitra tuturnya langsung orang kedua, sedangkan strategi tidak langsung adalah strategi interaksi yang mitra tuturnya adalah orang ketiga, sementara itu orang kedua hanya sebagai mitra tutur antara. Berdasarkan hasil analisis disarankan bahwa untuk memahami dan pembelajaran ayat-ayat Alquran hendaknya menggunakan konteks yang menyertai ayat-ayat tersebut. Melalui cara ini, ayat-ayat Alquran dipahami secara komprehensif, tidak parsial-literal, dan tidak dogmatid. Selain itu, pola interaksi yang terdapat dalam Alquran juga dapat dijadikan acuan dalam membangun komunikasi dalam kehidupan sosial dan dunia pendidikan.

090 Nurul Murtadho; Sisbar Noersya; Dwi Sulistyorini. 2008. Nilai Kearifan Lokal dalam Serat Babad Tengger Versi Arab Terbalik Kata-kata kunci: nilai kearifan lokal, serat Babad Tengger, Arab terbalik Tengger merupakan suatu istilah untuk menunjuk suatu komunitas masyarakat yang hidup di sekitar gunung Bromo dan memiliki budaya khas yang menurut para ahli sebagai warisan budaya Majapahit. Secara harfiah, istilah Tengger merupakan penggabungan dari suku kata Teng dan Ger di mana dua suku kata ini menurut orang Tengger sebagai potongan kata Rara Anteng dan Jaka Seger. Cerita tentang Rara Anteng dan Jaka Seger merupakan cerita yang sangat popular dan dikenal masyarakat secara umum. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa legenda Tengger di atas bukan satu-satunya legenda yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Legenda Tengger di atas merupakan versi lisan yang sangat popular di kalangan masyarakat. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih ada versi lain yang juga dikenal oleh sebagian masyarakat Tengger, khususnya masyarakat TenggerMalang. Di kalangan masyarakat Tengger Malang terdapat dua versi, yaitu Babad Tengger versi Maca Pat yang beredar pada masyarakat di sekitar komunitas Tengger-Malang, dan Babad Tengger versi Arab Terbalik. Naskah itu ditulis dengan menggunakan huruf Arab terbalik. Lazimnya huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri, namun naskah Babad Tengger ini tulis Arabnya ditulis dari kiri ke kanan. Isinya tentang cerita munculnya tokoh Rara Anteng dan Jaka Seger, namun kemunculannya sangat berbeda dengan cerita yang ada pada versi lisan, lebih menarik lagi, di dalamnya juga menceritakan kondisi wilayah Tengger sebelum munculnya tokoh Rara Anteng dan Jaka Seger. Dalam penelitian ini digunakan rancangan deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengandalkan naskah tunggal (Codexs unicus), yaitu naskah Serat Babad Tengger versi Arab terbalik. Oleh karena itu untuk keperluan kritik teks naskah, penelitian ini menggunakan metode diplomatik, yaitu teks disunting dengan keadaan apa adanya. Atas dasar metode di atas, maka pertama yang dilakukan adalah melakukan penyalinan huruf dari Arab terbalik ke huruf latin (transliterasi). Hasil penelitian ini adalah wujud naskah Babad Tengger versi Arab Terbalik, yang meliputi: sejarah naskah, fisik naskah, tulisan naskah, bahasa naskah, dan bentuk naskah. Isi teks naskah Babad Tengger versi Arab Terbalik dapat dibagi menjadi dua, yaitu; Tengger pada jaman purba (sebelum ada manusia), dan Tengger pada jaman setelah ada manusia. Kearifan Lokal dalam Serat Babad Tengger Versi Arab Terbalik, meliputi; nilai kepemimpinan, nilai keikhlasan, nilai kejujuran, nilai kesabaran, nilai kesetiaan, dan sebagainya.

091 I Wayan Dasna; Pralan. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kom+ + + pleks dart ion-ion logam transisi Bivalen (Mn2 , Fe2 Cc2> Ni2 , + dan Cu2 ) dengan Ligan-Ligan Karboksilat dan Uji Potensinya sebagai Bahan Aditif Pewarna Nyala Lilin Kata-kata kunci: senyawa kompleks, ion-ion logam, ligan-ligan karboksilat, aditif pewarna Sintesis senyawa kompleks yang bersifat magnetik telah menghasilkan senyawasenyawa dengan struktur yang menarik (walau masih mempunyai temperatur kritik rendah) seperti senyawa kompleks antara ion-ion logam transisi bivalen (Mn2+ dan Cu2+) dengan ligan radikal organik nitronil nitroksida (NITpPy) dan [N(CN)2] yaitu Mn(NITpPy)4[N(CN)2]2 (Dasna et al., 2000) Mn(NITpPy)2[N(CN)2]2(H20)2 (Dasna et al., 2001b), Mn(NITpPy)2 [7N(CN)2]2. 3CH3CN (Dasna, et al., 2001c) dan senyawa Mn(NITpPy) 2 [Ag(CN)2]2 (Dasna, et al., 2001d). Penelitian lanjutan yang telah dilakukan adalah sintesis senyawa kompleks sebagai prekursor baru menggunakan ion2+ 2+ 2+ 2+ 2+ ion logam transisi bivalen: Mn , Fe , Co , Ni , dan Cu dengan ligan-ligan heterosiklik: quinolina, isoqunilina, dan 8-hidroksiquinolina dan ligan jembatan [N(CN)2] atau N3 (Dasna, 2006). Penggunaan ligan [N(CN)2] atau N3 mengalami hambatan karena ligan tersebut sulit diperoleh di Indonesia dan tidak boleh diimpor dari luar negeri karena alasan keamanan dan berbahaya terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan reorientasi sintesis senyawa kompleks tanpa menggunakan ligan-ligan sianida tetapi menggunakan ligan-ligan yang berasal dari bahan-bahan alami Indonesia. Pada penelitian ini akan digunakan ion-ion logam transisi dan ligan-ligan karboksilat yang diperoleh dan hidrolisis minyak kelapa produksi Indonesia. Rancangan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksperimen laboratorium. Tahap-tahap penelitian meliputi (1) hidrolisis minyak kelapa untuk memperoleh asam-asam karboksilat; (2) mereaksikan asam-asam karboksilat dengan basa alkali melalui reaksi safonifikasi; (3) sintesis kompleks dan ion transisi bivalen dengan garam karboksilat melalui reaksi transsafonifikasi; (4) karakterisasi hasil sintesis yang meliputi; titik lebur, penentuan bilangan koordinasi dengan metode Jobs, penentuan perubahan gugus fungsi 1 dergan TR, penentuan kelarutan kompleks, penentuan iarga lODq kompleks dengan UV; dan (5) uji nyala kompleks sebagai bahan aditif pada lilin. Hasil penelitian tahun I (2008) adalah telah diperoleh senyawa kompleks menggunakan ion pusat Cu(II), Co(II), Ni(II), dan Zn(II) dengan ligan-ligan asetilasetonat, kurkumin, dan risinoleat.Kompleks yang diperoleh adalah [Cu(acac)Lx]NO3 (L=H20, CH3OH; x=2 atau 4), [Co(Kur)2(ONO2)2], [Co(Kur)2(Cl)2], [Ni(kur)2], dan [Zni(kur)2] .Kompleks yang dihasilkan larut dalam alkohol, metanol, dan oktanol namun sedikit larut dalam parafin. Kompleks

larut dalam parafin-oktanol sehingga dapat memberikan warna nyala yang berbeda bila dibakar. Warna nyala lilin setelah ditambahkan senyawa kompleks yang paling baik diperoleh pada penambahan kompleks Cu-acac. Perubahan warna juga dapat terjadi pada penambahan kompleks pada minyak kepala. Variasi warna nyala lilin setelah ditambahkan kompleks Cu-acac rnenyebabkan warna hijau, penambahan kompleks Cu-kurkumin menyebabkan warna ungu-kuning, Ni-kurkumin memberikan warna nyala hijau. Kompleks-kompleks yang lain tidak memberikan perubahan warna nyala lilin ketika dibakar. 092 Subandi; Muntholib; Evi Susanti. 2008. Uji Interaksi Secara In Vitro antara Protein Mutan eRF1-Y410A dengan eRF3 untuk Mempelajari Mekanisme Interaksi eRF1-eRF3 Kata-kata kunci: uji interaksi, in vitro, protein mutan Protein eRF1 yang dikode oleh gen SUP45, bersama dengan protein eRF3 berperan penting pada tahap terminasi biosintesis protein. Meskipun demikian mekanisme interaksi antara keduanya masih belum jelas. Oleh karena itu, telah dihasilkan mutant eRF1 dengan nama Y410A, yang dimutasi pada posisi ke-410 dari tyrosin menjadi alanin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kemampuan interaksi secara in vitro protein mutan eRF1-Y410A dengan protein eRF3, relatif terhadap protein eRF1 wild type. Kedua jenis protein, eRF1-Y410A dan eRF1 wild type yang telah ditambahi ekor (His)6 dimurnikan dengan resin IMAC kemudian direaksikan dengan protein eRF3 tanpa ekor (His)6 (dalam bentuk PMS= Post Mitochondria Supernatant). Produk mutan yang diperoleh dicuci, dielusi, dan dielektroforesis. Selanjutnya pita eRF1 dan eRF3 dianalisis menggunakan metode densitometri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan interaksi mutan eRF1-Y410A berkurang 81,16% relatif terhadap protein eRF1 wild type. Meskipun mutasi residu Y-A lebih besar dibandingkan Y-S, berdasarkan studi ini perubahan interaksi protein mutan eRF1-Y410A terhadap eRF3 ternyata lebih kecil. Dengan menggunakan program SpdbV telah diprediksi bahwa mutasi Y410S menyebabkan perubahan struktur pada residuresidu lain eRF1 pada posisi 413-420 dari coil menjadi α-helix, sementara mutasi Y410A tidak. 093 Fatchur Rohman; Bagyo Yanuwiadi. 2008. Keanekaragaman dan Kelimpahan Predator dan Parasitoid di Kebun Teh Wonosari Lawang Kabu-

paten Malang Serta Preferensinya Terhadap Beberapa Tumbuhan Liar Kata-kata kunci: predator, parasitoid, tumbuhan liar Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan menggunakan pestisida sintetik menimbulkan dampak negatif terhadap agroekosistem kebun teh. Beberapa dampak tersebut antara lain pencemaran lingkungan, timbulnya ‖biotipe‖ yang resisten dan resurjensi, populasi musuh alami menurun dan kurang berdayaguna, hilangnya beberapa jenis tumbuhan yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai tumbuhan refugia, biaya pengendalian mahal, dan penurunan kuantitas dan kualitas produksi teh. Dalam hal ini perlu dilakukan tindakan yang dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah serangan hama wereng Empoasca sp. di kebun teh. Tumbuhan liar berpotensi sebagai refugia bagi predator serangga hama. Tumbuhan refugia adalah jenis tumbuh-tumbuhan disekitar pertanaman yang dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan tambahan, tempat istirahat, dan tempat bereproduksi (Nentwig, 1998; Wratten et al., 1998; Sosromarsono dan Untung, 2000). Tumbuhan refugia dalam bidang pertanian umumnya mengacu pada jenis tumbuh-tumbuhan penyerta tanaman budidaya yang memiliki peran sebagai habitat kelompok biota tingkat tropik-tiga (Murphy, et al., 1998; Wratten, et al., 1998). Habitat adalah tempat suatu organisme hidup atau dapat juga menunjukkan tempat yang diduduki oleh seluruh komunitas (Odum, 1993). Begon et al. (1986) mengemukakan bahwa area sebagai habitat (habitable area) adalah area bagi masing-masing jenis yang ada di dalamnya, dapat mempertahankan keberadaan populasinya karena (1) memiliki kesempatan untuk berkoloni, dan (2) tidak dikalahkan oleh kompetitor. Sementara ini potensi berbagai jenis tumbuhan liar/gulma sebagai tanaman refugia bagi beberapa musuh alami hama di area perkebunan teh masih terbatas informasinya. Demikian juga halnya informasi berbagai jenis musuh alami hama utama tanaman teh masih terbatas. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap (1) keanekaragaman dan kelimpahan predator serta parasitoid di area kebun teh Wonosari Lawang Kabupaten Malang dan (2) daya preferensi predator dan parasitoid terhadap beberapa tumbuhan liar yang ditemukan di area kebun teh Wonosari Lawang Kabupaten Malang sebagai tumbuhan refugia. Pengamatan dan pengumpulan data keanekaragaman dan kelimpahan hewan predator dan parasitoid dengan cara sebagai berikut: penentuan titik pencuplikan (pengambilan sampel) hewan predator dan parasitoid ditentukan dengan sengaja (purposive sampling) mengikuti garis diagonal yang telah ditetapkan terlebih dahulu di petak kebun teh, hewan predator dan parasitoid contoh (spesimen) di kanopi tanaman teh dikoleksi dengan menggunakan cara perangkap ―jaring ayun‖ berdiameter 15 cm dengan 5 kali ayunan secara bolak-balik, hewan Arthropoda koleksi (spesimen) disimpan pada larutan

alkohol 70% dalam botol plakon (bekas rol film) yang telah dikode dan waktu pengambilan untuk keperluan identifikasi takson 094 Blasius Suprapta; Sonny Wedhanto. 2008. Penggunaan Citra Landsad 7 ETM untuk Rekonstruksi Keraton Masa Hindhu-Budha Studi Kasus Rekontruksi Keraton Singhasari Abad XIII-XIV dengan Citra Landsad 7 ETM) Kata-kata kunci: Citra Landsad 7 ETM, Keraton Singhasari, desa Singosari Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni dalam ekstraksi informasi mengenal suatu obyek, wilayah, atau fenomena termasuk obyek arkeologi, melalui analisis data yang diperoleh tanpa melalui kontak langsung dengan obyek, wilayah atau fenomena yang dikaji (Lillesand,Thomas M, dkk, 2004: 13). Metode ini digunakan apabila peneliti harus mengamati areal yang sangat luas seperti struktur geologi suatu kawasan, pemantauan lahan hutan, evaluasi daerah genangan banjir, dan termasuk penelitian situs pemukiman dalam arkeologi. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk mengamati kawasan yang luas terbukti dapat mengurangi biaya penelitian dalam jumlah besar dan mempercepat pekerjaan, sebab dalam satu kali penyiaman, satelit mampu merekam luasan 185x185km2 (Lillesand,Thomas lvi, dkk, 2004: 13-14). Sehubungan dengan hal ini, untuk mengamati daerah yang luas seperti halnya situs pemukiman dalam arkeologi tidak perlu lagi melakukan penelitian ekskavasi secara menyeluruh (total ekskavasi), sehingga biaya pelaksanaan penelitian menjadi lebih murah. Secara teoritis teknik penginderaan jauh dapat digunakan untuk penyelidikan situs-situs pemukiman arkeologi (Lillesand,Thomas lvi, dkk, 2004: 286-287). Kendati demikian cara ini, khususnya penggunaan citra satelit belum pernah dilakukan di Indonesia. Salah satu situs arkeologi yang mencakup kawasan luas adalah situs bekas ibu kota Kerajaan Singhasari yang keletakan situsnya, diperkirakan di daerah Pagentan, Singosari, Malang, Jawa Timur. Berdasarkan data kitab Kakawin Nagarakertagama, pada tahun saka rasa gunung bulan atau 1176C (1254M) Kerajaan Singhasari di bawah pemerintahan raja Kertanagara putra mahkota Wisnuwardhana, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Kotaraja ke Singhasari (Slametmulyana., 1979: 294-295) yakni daerah Singosari sekarang yang sekarang masuk daerah Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, Jawa Timur Karena perubahan jaman, saat ini Singhasari hanya dikenal sebagai sebuah wilayah kecamatan kecil di pinggiran Kota Malang, Propinsi Jawa Timur. Sebagian besar daerahnya berupa area persawahan yang subur. Namun bila melihat perkembangan rumah pemukiman yang begitu cepat seperti sekarang ini maka, cepat atau lambat lahan-lahan di Kecamatan

Singosari tersebut akan dijual oleh penduduk. Beralihnya tata guna lahan dan sawah menjadi areal permukiman membawa implikasi hilangnya tanda keberadaan suatu situs kuno. Gejala pelenyapan situs arkeologi di daerah Singosari sudah mulai nampak. Hal ini salah satunya antara lain disebabkan adanya perkembangan kota Malang sebagai kota kedua terbesar di Jawa Timur. Para pengamat perkotaan di Malang meramalkan, tidak sampai 10 tahun lagi sawah-sawah di seputar Kecamatan Singosari sekarang, akan hilang dan menjadi komplek perumahan. Atas dasar permasalahan tersebut di atas penelitian ini bermaksud mencoba untuk menggunakan Citra Landsat-7 Enchanced Thematic Mapper (ETM) untuk rekonstruksi situs keraton masa Hindhu-Budha yakni bekas ibu kota Singhasari di wilayah kecamatan Singosari, kabupaten Malang, Jawa Timur. Areal studi yang dipilih adalah situs yang diduga sebagai bekas ibu kota yakni situs Keraton Kerajaan Singhasari abad XIII-XIV, sebab situs keraton tersebut diambang kepunahan akibat maraknya pengembangan komplek perumahan, di samping itu sebagian besar areal situs masih berupa sawah (tidak tertutup bangunan) sehingga fenomena-fenomena keberadaan suatu bekas bangunan dapat ditangkap menggunakan citra satelit. Hasil pengolahan data Citra dan Peta menunjukkan bahwa (a) Hasil pengolahan data peta menunjukkan bahwa daerah penelitian terletak di kaki Gunung Arjuno; (b) Hasil pengolahan data citra menunjukkan bahwa secara umum orientasi aliran sungai dan bangunan pada daerah yang diamati adalah arah Barat Laut menuju Tenggara; (c) Terdapat anomali arah bangunan dan pola sungai di sekitar Desa Singosari dan Pagentan; (d) Anomali arah bangunan disebabkan karena anomali aliran sungai; (e) Anomali aliran sungai merupakan hasil rekayasa manusia untuk pembuatan saluran irigasi; (f) Pembuatan saluran irigasi dilakukan pada jaman Kerajaan Singhasari; (g) Di daerah penelitian ditemukan sejumlah situs purbakala, jumlah situs yang paling banyak terdapat di dekitar desa Singosari serta Pagetan; dan (h) Berdasarkan peta topografi yang dibuat Tahun 1811, temuan situs hasil groundtruth, dan referensi peta-peta kuno, dapat dibuat rekonstruksi kondisi Desa Singosari dan Pagetan sekitar Awal Abad XVIII sampai awal Abad XX. Rekonstruksi situasi dan lokasi sekitar Singosari. Hasil kesimpulan didapat bahwa (a) Letak Keraton Singhasari berada di kaki Gunung Arjuno; (b) Pada jaman kerajan Singhasari, orang telah mampu membuat saluran irigasi; (c) Kerajaan Singhasari diperkirakan berada di desa Singosari dan Pagentan sekarang ini; dan (d) Desa Pagentan diperkirakan merupakan komplek percandian dan sepanjang jalan mulai dari Candi Singosari menuju ke Barat Laut, sampai ke makam di Desa Kadipaten diperkirakan merupakan pusat hunian dan pemerintahan jaman Singhasari. Rekonstruksi tata ruang Keraton Singhasari terdiri atas ruang permukiman utama, permukiman II, ruang pintu gerbang dan tembok, ruang tanah lapang atau alon-alon, ruang kompleks percandian dan ruang untuk tata cara

perawatan mayat (situs Gondo Mayit). Kondisi ibu kota terdiri jalan utama, saluran air, patirtan, dan ruang permukiman. Semuan ini berada di daerah Singosari, Kabupaten Malang. 095 Moh. Amin; Aris Winaya; Sri Rahayu. 2008. Identifikasi Genetik Kerbau Lokal Jawa Berbasis RLFP-DNA (Restriction Length Fragment Polymorphisms DNA): Strategi Awal Konservasi dan Upaya Penyediaan Bibit Unggul Kata-kata kunci: genetik kerbau lokal, RLFP-DNA, konservasi, bibit unggul Kerbau lumpur (bubalus bubalis) lokal merupakan salah satu plasma nutfah dan jenis ternak yang memberikan kontribusi besar dalam penyediaan daging nasional untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dan keunggulan lain adalah tahan terhadap serangan penyakit. Seleksi negatif di tingkat peternak dan upaya pembibitan yang kurang diperhatikan mengakibatkan kerbau lokal yang tersisa adalah ternak-ternak yang kualitasnya kurang bagus yang kemudian terpaksa menjadi kerbau bibit. Dengan keadaan tersebut, diduga telah terjadi inbreeding di dalam populasi kerbau yang apabila berlangsung terus menerus akan meningkatkan jumlah individu homosigot di dalam populasi tersebut sehingga dapat menyebabkan menurunnya performansi fenotif misalnya ukuran tubuh, fertilitas dan daya tahan tubuhnya. Untuk menunjang keberhasilan upaya pelestarian dan konservasi serta pembibitan kerbau lumpur lokal, maka sangat perlu segera dilakukan identifikasi variasi fenotif dan variasi genetik berbasis molekuler dengan metode RFLP pada genom DNA dengan pertimbangan efisiensi waktu dan efektifitas pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi fenotip kerbau lokal yang terdapat di beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat menunjukkan adanya keragaman fenotif untuk panjang badan, tinggi badan, panjang lingkar dada dan warna tubuh. Namun, berdasarkan analisis dengan metode RFLP menunjukkan tidak ada hubungan variasi fenotif dan genotif dari seluruh sampel yang diamati dari 3 wilayah sampling. Polimorfisme untuk sampel dari wilayah Jatim dan Jabar relatif seimbang, namun sebaran heterozigosity cukup berbeda secara signifikan. Dengan demikian, sampel Jatim memiliki keragaman genetik yang cukup bagus karena polimorfisme cukup tinggi dan heterozigosity antar lokus cukup seimbang (40% polimorfisme dengan komposisi lokus 30% dan 10%), sedangkan sampel wilayah Jateng nilai keragaman cukup rendah karena tidak menunjukkan adanya keragaman lokus, semua sampel memiliki pola sama walaupun polimorfik. Hal ini dimungkinkan karena pemotongan dengan enzim restriksi pada genom maka perlu optimasi susu anneling PCR sehingga dapat dihasilkan keragaman yang

lebih spesifik yang berhubungan langsung sifat dan karakter yang dikendalikan oleh gen growth hormon tersebut. 096 Anastasia Widjajantin; Mohammad Efendi; Yerri Supriyanto; Suprijanta. 2008. Pengembangan Media Grafis Bergambar Berbasis Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di Sekolah Dasar Luar Biasa Kata-kata kunci: pengembangan media grafis, bahasa tunarungu, SDLB Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media grafis berbasis komunikasi total yang teruji dan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak tunarungu kelas rendah di SDLB. Untuk itu, penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama melalui ekskplorasi dan pengembangan prototype media grafis, sedangkan tahap kedua mengeksperimenkan prototype media grafis yang dikembangkan sebelumnya. Responden penelitian ini adalah guru yang mengajar kelas rendah SDLB di wilayah Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek, Pacitan, Madiun, Nganjuk, Surabaya, Probolinggo, Lumajang, Jember, Lamongan, Bojonegoro dan Tuban. Berdasarkan hasil penelitian tahap pertama, media grafis dalam hal ini buku rujukan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak tunarungu selama ini menurut mereka tidak sesuai dengan karakteristik anak tunarungu kelas rendah di SDLB. Atas dasar itulah disarankan perlu dikembangkan bahan pembelajaran grafis berbasis komunikasi total, yang dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak tunarungu kelas rendah. Hasil validasi terbatas terhadap prototype bahan pembelajaran grafis yang dikembangkan tersebut menurut peneliti cukup memadai. 097 Asim. 2008. Pengembangan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Berbasis Life Skill Bagi Anak-anak Tepi Pantai Di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur Kata-kata kunci: pendidikan jasmani, olahraga, life skill Pendidikan jasmani dan olahraga adalah suatu proses kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui aktivitas fisik. Tujuan pendidikan jasmani difokuskan pada proses mendidik, mengajar dan memecahkan masalah gerak, sedangkan tujuan olahraga tergantung pada jenis olahraga. Yang dimaksud jenis olahraga di sini bukan cabang olahraga, tetapi jenis kegiatan olahraga, seperti, olahraga rekreasi, olahraga waktu luang, olahraga prestasi dan sebagainya. Pendidikan jasmani dan olahraga berbasis life skill

merupakan kegiatan membekali siswa tentang kecakapan gerak sesuai dengan kebutuhan hidup. Kecakapan untuk hidup bukan saja berhubungan dengan dunia kerja (vocational), tetapi juga berhubungan dengan keterampilan mempertahankan hidup dalam menghadapi tantangan alam. Masalah dalam penelitian ini adalah: (a) Perlu adanya pengembangan bahan ajar pendidikan jasmani dan olahraga berbasis life skill yang berhubungan dengan keterampilan menyelamatkan diri terhadap gelombang pasang dan atau tsunami, untuk anak-anak yang tinggal di tepi pantai. (b) Perlu pengembangan metode pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga berbasis life skill yang berhubungan dengan keterampilan menyelamatkan diri terhadap gelombang pasang dan atau tsunami, untuk anak-anak yang tinggal di tepi pantai dan (c) Perlu pengembangan buku petunjuk tentang metode pembelajaran pendidikan jasmani dan materi pembelajaran olahraga berbasis life skill yang berhubungan dengan keterampilan menyelamatkan diri terhadap gelombang pasang dan atau tsunami, untuk anak-anak yang tinggal di tepi pantai Metode penelitian menggunakan metode riset dan pengembangan (reaseach and depelopment). Produk penelitian adalah metode/gaya mengajar dan materi pendidikan jasmani dan olahraga berbasis life skill bagi anak-anak pesisir pantai. Berdasarkan hasil studi lapangan dan kajian tim peneliti, guru pendidikan jasmani SD, dan ahli pendidikan jasmani (staf pengajar IK FIP UM), diperoleh hasil sebagai berikut: (a) gaya mengajar yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran di pantai adalah, gaya komando terbimbing, gaya latihan terbimbing dan simulasi; (b) Materi pendidikan jasmani dan olahraga berbasis life skill untuk menghadapi kemungkinan terjadinya gelombang pasang dan atau tsunami adalah mengapung dan berenang menggunakan berbagai alat apung; dan (c) alat-alat mengapung berupa: jerigen isi 5 liter, ban dalam sepeda motor, ban dalam mobil dengan ring 13 inc, dan 17 inc. batang pisang ukuran diameter 10 s/d 20 cm, panjang 1,5 m s/d 2,5 m, batang bambu dengan diameter minimal 10 cm, botol air mineral ukuran 1,5 liter. 098 Endang Setyo Winarni; Sri Umi Mintarti. 2008. Pengembangan Model Kesehatan Alat Reproduksi Anak Jalanan Perempuan melalui Simulasi Bermain untuk Menanggulangi Terjangkitnya HIV di Jawa Timur Kata-kata kunci: model, alat reproduksi, anak jalanan, HIV Berdasarkan penelitian terdahulu yang dibiayai oleh DP3M tentang kesehatan alat reproduksi dan pengetahuan tentang HIV lalu disusunlah rencana tindakan untuk mensosialisasikan model kesehatan alat reproduksi

anak jalanan perempuan melalui simulasi bermain untuk menanggulangi terjangkitnya HIV di Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan pada waktu peneliti membuat persentase jawaban anak jalanan perempuan di Jatim berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi dan HIV pada penelitian pendahuluan (tes awal). Pendekatan kualitatif digunakan waktu peneliti memberikan pengalaman melalui permainan simulasi tentang kesehatan alat reproduksi dan HIV pada anak jalanan perempuan di Jawa Timur. Peneliti mencatat data tentang: (1) Jalannya simulasi; (2) ekspresi anak-anak jalanan waktu menjawab soalsoal(pertanyaan) yang ada pada beberan yang disimulasikan serta; dan (3) hasil wawancara. Selanjutnya data dari catatan lapangan tersebut diolah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna. Dari penelitian ini dapat dihasilkan: (1) belum semua anak jalanan perempuan di Jatim mengetahui tentang kesehatan alat reproduksi dan kegunaannya; (2) belum semua anak jalanan perempuan di Jatim mengetahui tentang cara perawatan (cara menjaga) kesehatan alat reproduksi secara benar; (3) semua anak jalanan perempuan tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS; (4) semua anak jalanan perempuan tidak mengetahui pencegahan penyakit HIV/AIDS; (5) semua anak jalanan perempuan tidak mengetahui tentang hubungan antara kesehatan alat reproduksi dengan HIV; dan (6) rancangan buku saku tentang kesehatan alat reproduksi anak jalanan perempuan untuk menanggulangi terjangkitnya (HIV). Di sarankan untuk semua anak jalanan perempuan di Jawa Timur: (1) pada waktu bekerja apabila hendak buang air kecil hendaknya mencari tempat seperti wc umum, jadi jangan buang air kecil di sembarang tempat; (2) sebelum buang air kecil di tempat tersebut hendaknya disiram dahulu; (3) sesudah buang air kecil sebaiknya alat kelamin dibersihkan dengan air (membasuh alat kelamin) dan di keringkan memakai handuk atau kain yang halus dengan arah depan ke belakang supaya kotoran di anus tidak masuk ke alat kelamin; (4) sebelum dan sesudah membasuh alat kelamin sebaiknya tangan dibersihkan dengan sabun; dan (5) membaca informasi tentang HIV yang ada di buku-buku atau surat kabar. 099 Hardika; Supriyono; Sugiharto. 2008. Model Pembelajaran untuk Peningkatan Kreativitas dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Berwawasan Belajar Sepanjang Hayat Kata-kata kunci: transfer of learning, kreativitas belajar, fasilitator belajar Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kinerja dosen dan mahasiswa dalam proses perkuliahan. Titik fokus penelitian ini adalah peran dosen

dalam mengembangkan kreativitas dan kemandirian belajar mahasiswa berbasis belajar sepanjang hayat. Dengan menggunakan metode pengembangan, diketahui bahwa kreativitas dan kemandirian belajar mahasiswa belum terinternalisasi dalam kehidupan belajar, sehingga aktivitas mahasiswa masih tergantung pada instruksi dosen. Demikian juga sebaliknya dosen belum memerankan dirinya sebagai fasilitator belajar sehingga interaksinya dengan mahasiswa cenderung bersifat instruktif. 100 Agustina, Ratna, Trieka; Bintartik, Lilik; Yulaikhah, Siti. 2008. Pengembangan Buku Ajar untuk Meningkatkan Keterampilan Bahasa Inggris Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar Kata-kata kunci: buku ajar, bahasa Inggris, Siswa SD Buku ajar bahasa Inggris merupakan salah satu sarana pembelajaran yang saat ini mendominasi kegiatan belajar mengajar bahasa Inggris di Sekolah Dasar, khususnya di Sekolah Dasar kota Blitar. Bahkan dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan transfer dari kegiatan belajar yang tercantum dalam buku ajar. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan telaah untuk mendapatkan informasi apakah buku ajar tersebut sudah disusun sesuai dengan tingkat perkembagan anak usia Sekolah Dasar, memiliki tujuan pembelajaran yang memadai, terjamin dapat meningkatkan keterampilan bahasa Inggris (reading, writing, listening and speaking) anak usia Sekolah Dasar. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Tahap I: mendeskripsikan (1) pendekatan; (2) tujuan pembelajaran; (3) area isi; dan (4) model bahan ajar yang sesuai dengan usia anak kelas 3 SD. Penelitian kualitatif dengan sampel penelitian yang ditentukan berdasarkan jumlah area sebagai lokasi SD kota Blitar yang terdiri dari tiga kecamatan dan masing-masing kecamatan diambil dua buku ajar yang persentase pemakaiannya di SD paling banyak. Tahap II mengembangkan model buku ajar yang dapat meningkatkan keterampilan bahasa Inggris anak usia Sekolah Dasar dengan desain penelitian pengembangan. Hasil penelitian tahap I (2007) menunjukkan bahwa buku ajar bahasa Inggris yang merupakan salah satu sarana pembelajaran yang saat ini mendominasi kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar khususnya di Sekolah Dasar kota Blitar masih belum menunjukkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat siswa untuk menyenangi bahasa Inggris. Ditinjau dari pendekatan pembelajaran bahasa, yakni pendekatan komunikatif menunjukkan bahwa intensitas kekomunikatifan belum optimal karena sajian aktifitas pembelajaran tidak sepenuhnya berada dalam konteks komunikasi tetapi tersaji dalam tataran kata-kata yang terlepas dari konteks.

Optimalisasi pendekatan integratif yang bertumpu pada pandangan Wlole language juga belum terimplementasi pada aktivitas pembelajaran. Hal ini disebabkan belum tersajinya paparan bahasa secara utuh dan bermakna. Gagasan paparan konteks percakapan tidak berkaitan satu dengan yang lain sehingga tidak mencerminkan keutuhan. Butir pendekatan integratif yang terkait dengan unsur permainan, nyanyian dan cerita yang secara umum sangat diminati peserta didik usia sekolah dasar sama sekali tidak tersaji dalam aktivitas pembelajaran. Intensitas pendekatan proses yang melibatkan orientasi pembelajaran terpusat pada siswa juga masih belum optimal karena bentuk kreativitas pembelajaran yang rata-rata belum mengoptimalkan keterlibatan siswa. Ditinjau dari tujuan pembelajaran yang terkait dengan aspek keterampilan berbahasa; reading, writing, listening, dan speaking, secara eksplisit tercantum dalam buku ajar, tetapi ditinjau dari penerapan pembelajaran, keempat aspek keterampilan tersebut tidak tersaji secara utuh dan terpadu karena ketidak hadiran konteks wacana yang utuh dalam bentuk, misalnya narasi, deskripsi ataupun konteks percakan yang padu. Kelemahan sajian buku ajar ditinjau dari area isi pembelajaran karena paparan bahasa yang tersaji belum sepenuhnya mencerminkan keutuhan, keterpaduan, kealamiahan, kebermaknaan, relevan dan fungsional dalam konteks pemakaian yang sesungguhnya. Materi tidak menimbulkan rasa senang karena ilustrasi gambar yang tidak menarik dan tidak berwarna serta tidak sesuai dengan karakter siswa usia sekolah dasar yang menyenangi ilustrasi gambar warna-warni dan mendorong anak untuk menyukai bahasa Inggris. Mengacu pada hasil penelitian di atas, maka diperlukan pengembangan buku ajar bahasa Inggris yang diminati siswa kelas 3 Sekolah Dasar. Pengembangan buku ajar tahun ke 2 meliputi (1) pengembangan dan penyempurnaan buku ajar yang diminati siswa usia sekolah dasar (finishing); (2) mevalidasi buku ajar hasil pengembangan dengan pakar (Validasi ahli); dan (3) menguji cobakan buku ajar hasil pengembangan dengan latar tebatas. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pengembangan dengan tahapan; tahun pertama mendeskripsikan tentang pendekatan pembelajaran, tujuan pembelajaran dan area isi pembelajaran dalam buku ajar bahasa Inggris kelas 3SD, tahun kedua pengembangan dan penyempurnaan (finishing) buku ajar bahasa Inggris kelas 3 SD, melaksanakan validasi dengan para ahli, dan uji coba buku ajar hasil pengembangan dalam latar terbatas. 101 Supriyono; Hardika. 2008. Model Hipotetis Penerapan Satuan Kredit Kompetensi (SKK) pada Program Pendidikan Kesetaraan

Kata-kata kunci: pendidikan kesetaraansatuan kredit kompetensi, ujian nasional pendidikan kesetaraan Keinginan untuk menerapkan sistem kredit pada pendidikan nonformal segera terwujud pada program pendidikan kesetaraan. Melalui Permendiknas nomor 14 tahun 2007 tentang Standar Isi untuk Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C telah diatur penghargaan pencapaian kompetensi hasil belajar dengan sebutan satuan kredit kompetensi (SKK). Sistem SKK dalam pendidikan kesetaraan berbeda dengan sistem kredit semester (SKS) di perguruan tinggi. Salah satu model implementasi SKK dapat dilakukan dengan cara membagi beban belajar pada setiap unit satuan/pecahan kompetensi menjadi satuan SKK. Dengan menerapkan sistem SKK, maka berbagai potensi keluwesan dan keunggulan pendidikan nonformal akan mudah untuk diimplementasikan. Berbagai moda layanan belajar pendidikan nonformal akan dapat dipertemukan dalam sebuah sistem yang bersifat interkoneksi, yakni SKK dan ujian nasional pendidikan kesetaraan. 102 Hanik Mahliatussikah. 2008. Inovasi Model-Model Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis KTSP melalui Teknik Bermain untuk Meningkatkan Kualitas Berbahasa Arab Siswa MI di Jawa Timur Kata-kata kunci: model, bahasa Arab, KTSP, Madrasah Ibtidaiyah Terlaksananya proses pembelajaran BAR di lembaga MI dengan teknik bermain mendukung implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Pembelajaran dengan teknik bermain sesuai dengan prinsip CTL (contextual teaching and learning), PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), dan AJEL (active, joyfull, and effektive learning). Inilah yang mendorong pelaksanaan penelitian yang berjudul" Inovasi Model-Model Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis KTSP melalui Teknik Bermain untuk Meningkatkan Kualitas Berbahasa Arab Siswa MI di Jawa Timur" Penelitian tahun I ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) karakteristik model-model pembelajaran yang telah diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis KTSP di Jawa Timur selama ini; (2) karakteristik permainan yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Arab untuk siswa MI di Jawa Timur selama ini; (3) persepsi guru bahasa Arab di MI Jawa Timur tentang integrasi permainan dalam pembelajaran bahasa Arab; dan (4) persepsi siswa MI Jawa Timur tentang integrasi permainan dalam pembelajaran bahasa Arab. Model-model pembelajaran bahasa Arab MI di Jawa Timur memiliki karakteristik sebagaimana model pembelajaran CTL yang menganut prinsip

constructivism, modeling, learning community, inquiry, questioning, authentic assesement dan reflection. Pembelajaran juga berpusat kepada siswa, memiliki karakteristik model pembelajaran sebagaimana model pembelajaran langsung, pembelajaran berbasis masalah, berbasis portofolio, pembelajaran demokrasi dengan menerapkan 4 pilar pendidikan, yaitu how to do, how to know, how to be, how tolive together. Karakteristik permainan yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran BAR MI di Jawa Timur adalah permainan yang menggunakan media kartu kata, gambar, boneka, karton bergambar, dadu, kelereng, model permainan peran, berhitung, tebak-tebakan, adu cepat menjawab soal dan kuis, ular tangga, permainan berkelompok, permainan individu, dan kombinasi antara kelompok dan individu. Siswa dan guru BAR MI Jawa Timur memiliki persepsi yang positip tentang integrasi permainan dalam pembelajaran. Semua guru memandang perlunya inovasi model pembelajaran bahasa Arab dengan teknik bermain. Mayoritas siswa menyatakan senang jika guru mengajar bahasa Arab dengan cara bermain. Data lapangan ini mendukung rencana penyusunan model yang akan dibuat peneliti karena draft yang akan disusun berdasarkan analisis kebutuhan lapangan bahwa guru sudah menerapkan teknik bermain. Modelmodel pembelajaran yang akan disusun, bukan sesuatu yang baru sama sekali, tetapi terdapat embrio yang sudah dimiliki oleh sasaran, yaitu teknik bermain yang telah dilaksanakan. Hanya saja, mereka belum memiliki model pembelajaran dengan teknik permainan yang tersusun secara jelas dan sistematis. Inilah pentingnya penelitian tahap I dilanjutkan ke penelitian tahap II, yaitu agar penelitian ini benar-benar menghasilkan produk yang dapat dirasakan oleh masyarakat pengguna. 103 Masnur Muslich. 2008. Pengembangan Media Pembelajaran Kosakata Berbasis Audio-Visual untuk Peningkatan Kompetensi Berbahasa Indonesia Anak Usia Dini Kata-kata kunci: media pembelajaran kosa kata, kompetensi berbahasa anak usia dini Media pembelajaran mempunyai peranan penting untuk membantu anak usia dini belajar berbahasa Indonesia Dengan menggunakan desain penelitian pengembangan, dihasilkan media pembelajaran kosakata berbasis audiovisual yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia anak usia dini. Media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan setiap guru pada lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD).

104 Nurchasanah; Ida Lestari. 2008. Pengembangan Paket Pendidikan Budi Pekerti melalui Pembelajaran Baca-Tulis Permulaan Anak Usia Prasekolah Kata-kata kunci: budi pekerti, baca-tulis, anak usia prasekolah Penanaman pendidikan budi pekerti sejak dini (prasekolah) sangat diperlukan karena masa prasekolah adalah masa keemasan dan masa peka akan lingkungan. Untuk kepentingan itu, salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah mengembangkan paket pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti dapat direalisasikan dengan berbagai media dan strategi pembelajaran, diantaranya adalah dengan mengitegrasikannya dengan baca-tulis permulaan mengingat baca-tulis permulaan mulai digalakkan di Taman Kanak-Kanak. Bahkan untuk bisa masuk ke Sekolah Dasar sering dilakukan tes bacatulis. Karena itu, pengembangan pendidikan budi pekerti terintegarasi dengan baca-tulis diasumsikan sangat relevan. Berkaitan dengan penelitian ini, tujuan pengembangan paket pendidikan tersebut dapat dijelaskan berikut ini. Tahun I: (1) mendeskripsikan (a) hasil telaah kurikulum bidang pengembangan pembiasaan dan pengembangan kemampuan dasar berbahasa; (b) pelaksanaan pembelajaran budi pekerti dan baca-tulis permulaan; dan (c) saran dan pertimbangan dari guru TK tentang pembelajaran budi pekerti yang ideal; (2) mengembangkan prototipe model paket pendidikan budi pekerti berdasarkan hasil deskripsi di atas; (3) menguji prototipe model (uji pakar); dan (4) merevisi prototipe model berdasarkan hasil uji pakar. Tahun II: (1) menguji prototipe model di kelas; (2) memberi kesempatan kepada guru TK untuk memberikan saran perbaikan; dan (3) merevisi model berdasarkan hasil uji kelas berdasarkan saran serta pertimbangan dari guru TK. Untuk merealisasikan tujuan itu digunakan desain penelitian pengembangan yang hasilnya berupa prototipe paket pendidikan budi pekerti berbentuk bahan ajar untuk siswa dilengkapi dengan pedoman guru (hasil tahun I) dan selanjutnya prototipe tersebut akan di uji dilapangan (tahun II). Uji lapangan dilakukan dengan desain penelitian tindakan kelas yang prosedurnya digambarkan sebagai berikut: (1) persiapan tindakan: observasi kelas, pembuatan perencanaan pretes, dan pelaksanaan pretes; (2) implementasi tindakan; (3) observasi dan evaluasi; serta (4) analisis dan refleksi. Analisis dan regleksi dilakukan oleh peneliti dan guru TK. Hasil analisis dan refleksi akan dimanfaatkan sebagai pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya dengan penekanan pada penyempurnaan paket yang dikembangkan setelah diketahui kekurangannya berdasarkan hasil refleksi di atas. Penyempurnaan paket yang dikembangkan dapat dilakukan berulang-ulang (tidak dibatasi siklusnya) sampai mencapai hasil sesuai dengan target yang ditentukan. Implementasi tindakan dilakukan di TK Kota Malang.

105 Sri Rachmajanti; Gunadi H. Sulistyo; Utami Widiati. 2008. Pengembangan Paket Model Pembelajaran Bilingual Berbasis Pendekatan Kontekstual Berbentuk Compact Disc (CD) Kata-kata kunci: model, pembelajaran bilingual, compact disc Di lingkungan SMP RSBI, kemampuan berbahasa Inggris para guru pada umumnya belum memadai. Dalam pelaksanaan prose pembelajaran bilingual siswa kesulitan menangkap maksud guru, guru sendiri merasa bingung dalam menyiasati strategi pembelajarannya dalam bahasa Inggris. Selain itu, metode pembelajaran yang dipilih belum mencerminkan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Hal ini mengakibatkan pembelajaran kurang efektif dan efisien. Penelitin ini bertujuan untuk: (1) memperoleh gambaran tentang kemampuan bahasa Inggris guru; (2) mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi guru matapelajaran MIPA di SMP RSBI; (3) merancang secara konseptual model pembelajaran bilingual atau partial English immersion program yang efektif dan efisien dan berbasis pendekatan pembelajaran kontekstual; (4) mengembangkan skenario model pembelajaran bilingual berbasis pendekatan kontekstual; dan (5) mengembangkan paket model pembelajaran bilingual berbasis kontekstual dalam bentuk CD. Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, penelitian ini akan dirancang dengan menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan atau R&D. Penelitian ini akan dilakukan dalam 3 (tiga) tahap: survei, perancangan model pembelajaran dalam bentuk CD, dan perekaman model pembelajaran dalam bentuk CD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan bahasa Inggris para guru dalam menyampaikan materi pelajaran dalam program pembelajaran bilingual atau partial English; (2) gambaran yang lebih akurat tentang kendala-kendala teknis yang dihadapi guru bidang studi dalam menggunakan bahasa Inggris saat penyajian materi pelajaran dalam program pembelajaran bilingual atau partial English; (3) rancangan model pembelajaran bilingual atau partial English immersion program yang dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien; (4) rekaman paket pembelajaran multimedia dalam CD yang berisi model pembelajaran bilingual atau partial English immersion program; dan (5) paket pembelajaran bilingual atau partial English immersion program berbentuk CD untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran bilingual.

106 Tjitjik Sriwardhani. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Seni Rupa Melalui Penggunaan Desain Reproduksi Grafika Sebagai Media Visual untuk Anak SLB bag B Kata-kata kunci: model pembelajaran, desain Reproduksi Grafika, SLB bag B Penelitian ini dirancang berdasarkan permasalahan yang dihadapi guruguru di SLB bagian B dalam pembelajaran seni rupa, dengan menggunakan desain penelitian pengembangan yang tahap pertama ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan masalah-masalah pembelajaran dalam strategi penyampaian materi pembelajaran seni rupa di beberapa SLB bagian B, dan (2) Rancangan konseptual model pembelajaran seni rupa melalui penggunaan desain Reproduksi Grafika sebagai media visual untuk anak-anak SLB bagian B, yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut, melalui lokakarya terbatas. Untuk itu digunakan rancangan penelitian deskriptif di 10 SLB bagian B Jawa Timur dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dideskripsikan, dianalisis dengan teknik induksi, meliputi identifikasi, dan klasifikasi, penyaringan dan penganalisisan data, serta penyimpulan hasil berdasarkan karakteristik data yang tercermin dalam rumusan dan tujuan penelitian. Hasil penelitian secara umum tingkat kesulitan penerapan pembelajaran seni rupa untuk anak-anak SLB bagian B cukup tinggi, tercermin pada strategi penyampaian materi pembelajaran yang cenderung kurang mengaktifkan siswa, kurang kreatif dan kurang menyenangkan yang disebabkan karena keterbatasan sumber belajar, media dan metode yang dipergunakan. Draf model pembelajaran seni rupa yang disusun secara kolaboratif masih perlu disempurnakan lagi, agar lebih mudah dipahami siswa, sedang penyempurnaan model, validasi ahli dan ujicoba secara terbatas akan dilakukan pada tahun berikutnya. 107 Waskito; Irawan. 2008. Pengembangan Buku Saku Nilai-Nilai Universal dalam Berbagai Agama Melalui Metode Strukturalisme LeviStrauss Kata-kata kunci: buku saku, agama, metode strukturalisme Penelitian ini bertujuan untuk menyusun buku saku yang memuat nilainilai universal atau prinsip-prinsip persamaan ajaran yang terdapat dalam Al Qur’an dan Injil. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplorasi teks kitab suci Al Qur’an dan Injil dengan metode strukturalisme Levi-Strauss. Eksplorasi terhadap teks Al Qur’an dan Injil dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema yang terdapat dalam kedua kitab suci ini. Hasil ekplorasi yang dituangkan

dalam draft buku saku ini divalidasi melalui dua tahap, yakni cross check terhadap tokoh agama dan uji coba terhadap berbagai kelompok agama Islam dan Kritsten. Berdasarkan proses vlidasi tersebut disusun buku saku final. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya Al Qur’an dan Injil secara struktural tersusun atas berbagai relasi oposisi biner (missal, ganjaran: hukuman; surga; neraka; dll).Berdasarkan eksplorasi tematik melalui metode strukturalisme Levi-Strauss dapat diketahui bahwa Al Qur’an dan Injil memiliki struktur luar yang tampak berbeda, tetapi pada hakekatnya (struktur dalam) memuat prinsip ajaran yang sama. Penuangan nilai-nilai universal dalam Al Qur’an dan Injil dalam buku saku akan memudahkan umat Islam dan Kristen untuk melihat prinsip persamaan ajaran dari kedua agama ini. Melalui buku saku ini umat Islam dan Kristen dapat melihat high light pertautan antara Al Qur’an dan Injil. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun buku saku yang memuat nilai-nilai universal atau prinsip-prinsip persamaan ajaran yang terdapat dalam Al Qur’an dan Injil. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplorasi teks kitab suci Al Qur’an dan Injil dengan metode strukturalisme Levi-Strauss. Eksplorasi terhadap teks Al Qur’an dan Injil dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema yang terdapat dalam kedua kitab suci ini. Hasil ekplorasi yang dituangkan dalam draft buku saku ini divalidasi melalui dua tahap, yakni cross check terhadap tokoh agama dan uji coba terhadap berbagai kelompok agama Islam dan Kristen. Berdasarkan proses validasi tersebut disusun buku saku final. 108 Siti Malikhah Towaf; Sri Sumartini; H.M. Zaenuddin; Isnaeni. 2008. Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Kata-kata kunci: Undang-Undang RI no 23 tahun 2004, KDRT Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP). Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004, diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. Namun upaya sosialisasi dan edukasi undang-undang tersebut masih lambat dan minim, bahkan banyak aparat penegak hukum yang masih enggan untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus berikut: Tahap I: Eksplorasi kinerja/implementasi Undang-undang PKDRT (1) Mengetahui profil dan peran lembaga Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten

Malang, BP-4 Kota dan Kabupaten Malang dan Unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten Malang dalam menangani kasus-kasus KDRT; (2) Mengetahui kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi selama 3 tahun terakhir di PA, BP-4, unit PPA Kota dan Kabupaten Malang dari segi jumlah dan kekerasan; fisik, psikis, seksual maupun ekonomi; (3) Mengetahui faktor-faktor penyebab dan pemicu terjadinya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di PA, BP-4, unit PPA Kota dan Kabupaten Malang; (4) Mengetahui Penyelesaian kasus-kasus KDRT di di PA, BP-4, unit PPA Kota dan Kabupaten Malang; dan (5) Mengetahui faktor pendukung dan penghambat kinerja Undang-undang PKDRT di di PA, BP-4, unit PPA Kota dan Kabupaten Malang. Tahap II: Pengembangan Strategi Sosialisasi UU PKDRT ke aparat terkait (1) Mengetahui kebutuhan terhadap strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT kepada aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (2) Mengembangkan prototipe strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT kepada aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (3) Melakukan ujicoba prototipe strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk mengetahui efektifitas, efisiensi dan daya tarik prototype strategi sosialisasi untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (4) Memperoleh masukan bagi perbaikan strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; dan (5) Menghasilkan strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang. Tahap III: Pengembangkan Strategi Edukasi UU PKDRT kepada masyarakat (1) Mengetahui Kebutuhan strategi edukasi Undang-undang PKDRT pada berbagai kelompok masyarakat di Kota dan Kabupaten Malang; (2) Mengetahui prototype strategi edukasi Undang-undang PKDRT pada berbagai kelompok masyarakat di Kota dan Kabupaten Malang; (3) Mengetahui efektifitas, efisiensi, daya tarik prototype strategi edukasi Undangundang PKDRT untuk berbagai kelompok masyarakat di Kota dan Kabupaten Malang; (4) Memperoleh masukan bagi perbaikan edukasi Undang-undang PKDRT untuk berbagai kelompok masyarakat di Kota dan Kabupaten Malang; dan (5) Menghasilkan strategi edukasi Undang-undang PKDRT untuk berbagai kelompok masyarakat di Kota dan Kabupaten Malang. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengungkap bagaimana kinerja UU RI no, 23 tahun 2004 tentang PKDRT, data statistik di Kepolisian, Pengadilan Agama, BP-4 Departemen Agama dicacah dan diidentifikasi faktorfaktor penyebabnya. Dihitung jumlah kasus yang terselesaikan dan yang belum/tidak terselesaikan; dan bagaimana bentuk penyelesaiannya. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui kinerja UU PKDRT, kesiapan lembaga, lembaga mana yang paling berperan, faktor pendukung dan penghambatnya; menjaring kebutuhan pada strategi sosialisasi & edukasi agar UU tersebut dapat berfungsi secara optimal bagi masyarakat. Hasil penelitian tahap I tahun 2008 adalah (1) Di Pengadilan Agama baik Kota

maupun Kabupaten, hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT, namun ditangani secara perdata. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan; penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk; (2) Di Badan Penasehatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten, kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya; penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali, penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama; (3) Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja UU PKDRT. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya, yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya. Penanganan kasus bersifat konseling masih sangat ditonjolkan, ditambah dengan penyadaran hukum kepada tersangka dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya; dan (4) Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai, atau dicabut kemudian memproses perceraian. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). Ada beberapa kasus masuk kategori P21, diberkas untuk dilimpahkan ke Kejaksaan, Pengadilan Negeri dan tersangka benarbenar dijatuhi hukuman (1) Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT, 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya, mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalitasnya; (2) Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan, Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter, ruang konseling masih campur dengan ruang tamu, bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus; (3) Dalam hal sosialisasi kepada aparat, fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan ke kecamatan, kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang, terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi atau pendidikan khusus tentang UU PKDRT; dan (4) Oleh karena itu Kepala Unit PPA sangat menghargai jika dalam penelitian ini dikembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat grass roots dengan prioritas para lurah dan staf tingkat desa. Demikian juga strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru, siswa/remaja, kelompok PKK, jamaah Majlis Ta’lim dll. Proposal tahap II tahun 2009 fokus pada pengembangan Strategi Sosialisasi UU PKDRT ke aparat terkait dengan rumusan tujuan sebagai

berikut (1) Mengetahui kebutuhan terhadap strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT kepada aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (2) Mengembangkan prototipe strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT kepada aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (3) Melakukan ujicoba prototipe strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk mengetahui efektifitas, efisiensi dan daya tarik prototype strategi sosialisasi untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; (4) Memperoleh masukan bagi perbaikan strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang; dan (5) Menghasilkan strategi sosialisasi Undang-undang PKDRT untuk aparat terkait di Kota dan Kabupaten Malang. Hasil penelitian berguna sebagai masukan untuk berbagai fihak. Untuk Perguruan Tingg, sebagai masukan bagi pengembangan berbagai bidang ilmu: sosiologi tentang kekerasan, psikologi, kesehatan, agama dan kebijakan publik. Bagi Lembaga penelitian agar bisa dikembangkan program penelitian terkait secara lebih mendalam bagi Pengabdian kepada masyarakat agar dapat dikembangkan program pengabdian yang ikut menopang upaya Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan pemerintah; demikian juga Kantor pemerintahan terkait bisa meningkatkan kinerjanya dan masyarakat luas menjadi bagian penting yang mendukungnya. 109 Edy Bambang Irawan. 2008. Pengembangan Desain Pelatihan In-Service Berbasis Konstruktivisme [Propin-K] untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Matematika Kata-kata kunci: in-service, guru, Matematika Penelitian ini bermaksud menghasilkan suatu desain pelatihan in-service berbasis konstruktivisme yang memenuhi kriteria validitas, sebagai upaya meningkatkan kompetensi profesional guru sesuai tuntutan program sertifikasi guru. Program pelatihan in-service berbasis konstruktivisme (Propin-K) ini sengaja dipilih dengan memperhatikan adanya pergeseran paradigma pembelajaran Matematika. Pembelajaran matematika yang semula berfokus pada penguasaan subject matter, bergeser kearah pengembangan kreatifitas berpikir. Program pelatihan in-service berbasis konstruktivisme pada bidang matematika menunjuk pada kemampuan guru dalam hal: (i) membuat representasi konsep; (ii) mengidentifikasi konsep; dan (iii) menyusun peta konsep. Istilah membuat representasi konsep berhubungan dengan kemampuan dalam membuat gambar dan memberi penjelasan terhadap gambar tersebut. Kiranya ada pandangan bahwa membuat gambar dan memberi penjelasan terhadap gambar bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, membuat gambar dan memberi penjelasan sebagai kegiatan yang berorientasi

pada menyusun peta konsep memerlukan ketelitian. Pada Propin-K, penjelasan terhadap gambar bermanfaat menyusun ciri-ciri konsep. Pengertian mengidentifikasi konsep terdiri dari: menyusun ciri-ciri konsep dan menyusun definisi. Seseorang yang mengenal ciri-ciri konsep, tidak berarti dapat menuliskan ciri-ciri tersebut, serta menyusun definisi. Sebagai bekal mempersiapkan proses pmbelajaran, seorang guru matematika tidak sekedar perlu mengenal ciri-ciri konsep, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menuliskan ciri-ciri konsep dan menyusun definisi. Kemampuan tersebut mendasari kemampuan menyusun peta konsep. Analisis desain pelatihan pada penelitian ini dikembangkan dengan diuraikan pada bagian ini, dikembangkan melalui penelaahan komponen model pembelajaran, yang memuat: sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, serta dampak instruksional dan dampak pengiring. Pengembangan desain Propin-K pada penelitian ini berpijak pada fase-fase pengembangan menurut Plomp, dengan melakukan beberapa modifikasi. Fase-fase pengembangan pada penelitian ini terdiri dari: (i) fase investigasi awal, (ii) fase desain, (iii) fase realisasi, dan (iv) fase tes, evaluasi dan revisi. Komponen pengembangan desain merujuk pada komponen pengembangan desain pembelajaran dari Joice & Weil. Ketercapaian tujuan penelitian memuat kriteria kualitas yang diperlukan sesuai jenis pengembangan yang dilakukan dalam penelitian. Ketercapaian tujuan penelitian pada setiap jenis pengembangan ditunjukkan sebagai berikut.Melalui validasi ahli, perangkat pelatihan yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan . Perangkat pelatihan yang dimaksud adalah: Rencana Program Pelatihan (RPP), Lembar Kerja Peserta (LKP), Lembar Tes, dan Buku Instruktur Pelatihan in-service (BIPI). Melalui validasi ahli, desain pelatihan yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan . Temuan yang diperoleh dalam penelitian ini berupa desain Pelatihan inservice sebagai produk pengembangan. Pengembangan desain pelatihan inservice berpijak pada pengembangan model pembelajaran, serta memenuhi kriteria kevalidan. Komponen desain pelatihan tersebut terdiri dari hasil pelatihan yang diharapkan, sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, serta sistem pendukung. 110 Supriyono Koes Handayanto; Triastono Imam Prasetyo; Parlan. 2008. Pengembangan Paket IPA terpadu Berbasis Konstruktivisme untuk Menumbuhkan Kompetensi IPA Siswa SMP Kata-kata kunci: IPA terpadu, konstruktivisme, kompetensi IPA, siswa SMP Salah satu dari empat masalah pendidikan IPA di SLTP adalah kurang adanya konsep yang terintegrasi dan menyatu antara berbagai disiplin ilmu

yang diajarkan (Blazely,1997). Padahal substansi mata pelajaran IPA pada SMP/MTs seharusnya merupakan IPA Terpadu (Permen Diknas no 22, 2006). Sedangkan sebagian besar guru IPA SMP/MTs mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan standar isi dan di pasaran belum ada buku IPA SMP yang dirancang secara terpadu. Oleh karena itu perlu dikernbangkan paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme untuk menumbuhkan kompetensi IPA siswa SMP/MTs dan panduan pelaksanaannya. Dalam jangka panjang penelitian ini akan memberi sumbangan pada peningkatan mutu pendidikan IPA di SMP/MTs dengan dihasilkannya (1) paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme untuk menumbuhkan kompetensi IPA siswa SMP, dan (2) panduan pelaksanaannya bagi guru IPA. Untuk mencapai hasil tersebut, pada tahun pertama dilakukan survei tentang kebutuhan pengembangan paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dan panduan pelaksanaannya, karakteristik pelaksanaan pembelajaran IPA SMP, dan profil kompetens; IPA siswa SMP di wilayah Malang Raya. Sampel penelitian ini adalah 15% populasi SLTP Negeri di Malang Raya, sehingga 18,15 (dibulatkan menjadi 19) SLTP Negeri di Malang Raya dijadikan sebagai sampel penelitian. dengan 37 guru IPA dan 1028 siswa. Hasil survei menunjukkan bahwa guru IPA SMP di Malang Raya sangat membutuhkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisrne dan panduan pelaksanaannya untuk menumbuhkan kompetensi IPA siswa SMP. Selain itu, karakteristik pelaksanaan pembelajaran IPA SMP di wilayah Malang Raya cenderung belum sesuai dengan tuntutan standar isi mata pelajaran IPA SMP. Pembelajaran IPA SMP belum dilaksanakan secara terpadu dan belum mengintegrasikan kerja ilmiah di dalamnya. Secara keseluruhan, kompetensi IPA siswa SMP di wilayah Malang Raya cenderung rendah, terlebih lagi kemampuan kerja ilmiah siswa SMP cenderung sangat rendah. Untuk itu disarankan agar paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme beserta panduan pelaksanaannya segera dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan guru-guru IPA SMP. Paket tersebut disarankan seoptimal mungkin memuat tuntutan standar isi sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kompetensi IPA siswa SMP. Saran lainnya adalah pelaksanaan pembelajaran IPA SMP di wilayah Malang Raya segera diperbaiki agar sesuai dengan tuntutan standar isi mata pelajaran IPA SMP. Perbaikan ini dapat dilakukan dengan cara melaksanakan paket IPA Terpadu yang dikembangkan. Kompetensi IPA siswa SMP di wilayah Malang Raya segera ditingkatkan dengan cara memperbaiki mutu pelaksanaan pembelajaran IPA. Perbaikan mutu pelaksanaan pembelajaran IPA SMP dapat dilakukan salah satunya dengan menerapkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme.

111 Abdul Gofur; Iwan Sahrial Hamid; Edy Meiyanto. 2008. Ekspresi CYP1A1 DAN GST pada Tikus Sprague Dawley setelah Induksi 7,12Dimethylbenz(a)antrasen (DMBA) dan Pemberian Ekstrak Daun Dewa (Gynura procumbens) sebagai Antikarsinogenesis Key word: Gynura procumbens, breast Cancer, chemopreventive, CYP1A1, GSTμ Gynura procumbens leafs has been used as a traditional cancer medicine since a long time ago, but the so far researches performed on the pharmacological mechanism especially on chemopreventive were lacking. This research has been done to determine the effect of ethanolic extract of G. procumbens leafs on the cytochrome P-450 (CYP) and glutathione Stransferase (GST) enzyme systems may influence the biological effects of carcinogens. As such, these enzymes may predict the developmental risk of breast cancer, as well as be potential targets for chemoprevention. Expression of CYP1A1 and GST-mu was quantified in liver tissue from 40 female Sprague Dawley rats aged 40 days, which divided into five groups. Two groups were given 300 and 750 mg/kg.bw extract and DMBA 20 mg/kg.bw , a group was given DMBA 20 mg/kg.bw as DMBA positive control and another two groups was given extract only with dose 300 and 750 mg/kg.bw as extract negative control. The ingestion of the extract was carried for 13 days and the th ingestion of DMBA was performed third time to begin 8 days. The trial was th finished to 14 days. expression CYP1A1 and GST-mu was quantified by immunohistochemistry and histopathology change was descripted. CYP1A1 expression was significantly higher (P<0.05) in cancer group (DMBA) as compared with other groups. On the other hand, GST-mu expression was lower in cancer group (P<0.05). Result of this study demonstrated that etanolic extract of G. procumbens in 300 and 750mg/kg bw dose could highly inhibit CYP1A1 and induce GSTµ level. Nothing significant different all group to mammary histopathologycal describe. It can be concluded that ethanolic extract of G. procumbens leafs are capable to play role as blocking agent in preventing initiation stage of carsinogenesis. 112 Umie Lestari; Aulani’am; Amy Tenzer. 2008. Pengembangan Bahan Imunokontrasepsi melalui Produksi Antibodi Poliklonal Protein non kinase Hasil Isolai dari Membran Spermatozoa Manusia Kata-kata kunci: imunokontrasepsi, antibodi poliklonal non kinase, membran spermatozoa

Protein membran spermatozoa yang dipergunakan sebagai kandidat bahan imunokontrasepsi, memiliki suatu kriteria penting yaitu merupakan suatu protein spesifik yang hanya diekspresikan oleh spermatozoa, tidak terdapat pada jaringan lain, bersifat imunogenik serta terlibat dalam fertilisasi. Protein yang memiliki ciri protein non kinase yang terdapat pada membran spermatozoa, diyakini spesifik hanya terdapat pada spermatozoa, tidak terdapat pada jaringan lain. Protein tersebut imunogenik, dan terlibat dalam fertilisasi, sehingga dapat dikembangkan sebagai kandidat bahan imunokontrasepsi. Hasil isolasi protein membran spermatozoa manusia menghasilkan protein sebanyak 11 macam, yaitu 201, 163, 116, 97, 72, 56, 48, 32, 27, 20 dan 17kDa. Protein membran yang didapatkan ini perlu dikarakterisasi dan dispesifikasi untuk diketahui karakter biokimianya terutama aktivitas kinasenya. Penelitian ini merupakan studi eksplorasi untuk mendapat karakter protein non kinase yang bersifat spesifik, imunogenik dan berperan dalam fertilisasi. Sehingga dalam pengembangan selanjutnya, dapat dipergunakan sebagai kandidat bahan imunokontrasepsi yang efektif, efisien, aman. dan reversibel. Pada penelitian ini, telah berhasil dikarakterisasi 11 protein membran spermatozoa dengan memiliki kadar protein yang berkisar 840 3360 µg/mL. Protein membran dengan berat molekul 97, 32 and 27 kDa secara berurutan mengandung glikoprotein 25,52; 28,91; 26,17 mg/ml, karbohidrat of 10,84; 11,97 and 10,57 mg/ml and protein 14.96; 16,94 and 15.34 mg/ml. Protein 116 kDa dan 163 kDa yang memilikii aktivitas fosforilasi rendah dan merupakan protein non kinase karena menampakkan aktivitas fosforilasi yang cenderung stabil, tidak berfluktuasi dan merupakan ciri-ciri yang dimiliki oleh protein non kinase. Dengan demikian protein 116 kDa dan 163 kDa merupakan protein yang dapat dipergunakan untuk induksi produksi antibodi. 113 Achmad Fatchan. 2008. Pengembangan dan Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Pemecahan Masalah di Sekolah Daerah Rawan Bencana pada Pembelajaran Materi IPS-Geografi di SLTP Kata-kata kunci: pembelajaran kontekstual, daerah rawan bencana, IPSGeografi Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan perangkat pembelajaran kontekstual melalui metode pemecahan masalah pada pelajaran IPS-Geografi di SLTP dan melakukan ujicoba terbatas untuk pengembangan perangkat pembelajaran kontekstual melalui metode pemecahan masalah pada pelajaran IPS-Geografi di SLTP. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang diharapkan dapat menemukan atau menyempurnakan pengetahuan, konsep, proposisi,

metode, model, dan atau cara baru dalam bidang pembelajaran IPS-Geografi di SLTP dengan pendekatan pembelajaran kontekstual melalui metode pembelajaran pemecahan masalah. Dalam pelaksanaannya masing-masing lokasi penelitian dilakukan perancangan pembelajaran berdasarkan atas permasalahan (bencana alam yang sering terjadi) di daerah/lokasi sekolah yang bersangkutan. Tempat atau lokasi penelitian ditentukan secara sengaja berdasarkan kejadian bencana yang sering terjadi (menjadi langganan) di daerah di mana SLTP tersebut berada. Dengan demikian, maka lokasi penelitian tersebut sebagai berikut (1) SMPN-1 Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo dengan permasalahan banjir lumpur; (2) SMPN Ngantang Malang dengan permasalahan banjir dan longsor di Daerah Aliran Sungai Brantas Malang; (3) MTsN Gandusari Blitar permasalahan bencana letusan gunung api; dan (4) SMPN-1 Candipuro Kabupaten Lumajang dengan permasalahan langganan longsor dan banjir lahar dingin gunung Semeru. Subjek penelitian ini adalah para guru IPS-Geografi di SLTP, para siswa SLTP yang mengikuti pembelajaran materi IPS-Geografi, dan SLTP yang daerahnya rawan/ menjadi langganan bencana alam atau bencana akibat ulah manusia yang ada di wilayah Jawa Timur. Lokasi SLTP/daerah tersebut, yaitu: (1) SMPN-1 Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo dengan permasalahan banjir lumpur; (2) SMPN Ngantang Malang dengan permasalahan banjir dan longsor di Daerah Aliran Sungai Brantas Malang; (3) MTsN Gandusari Blitar permasalahan bencana letusan gunung api; dan (4) SMPN-1 Candipuro Kabupaten Lumajang dengan permasalahan langganan longsor dan banjir lahar dingin gunung Semeru. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: (1) Observasi dengan menggunakan checklis, observasi dilakukan oleh tim peneliti, guru, dan atau pembantu penelitian di masing-masing lokasi penelitian pada saat melakukan ujicoba, perbaikan/penyempurnaan, dan penerapan PTK. Hal-hal yang diamati adalah berkaitan dengan data aktivitas siswa, reatifitas siswa, keberanian siswa dalam berbicara dan berpendapat, kebenaran dan keberanian dalam berargumentasi; (2) Wawancara dan dialog dilakukan oleh tim peneliti dengan guru yang melaksanakan pembelajaran dan pembantu penelitian di masingmasing lokasi penelitian. Data yang dikumpulkan berupa bahan untuk perbaikan/revisi perangkat pembelajaran; (3) Penelaahan dokumen, dilakukan di masing-masing sekolah subyek penelitian dan Kantor Kecamatan. Dari pencatatan dokumen diharapkan didapatkan data tentang kondisi sekolah subjek, wilayah daerah penelitian, dan lokasi yang sering terkena bencana; dan (4) Perangkat pre-test dan post-test digunakan untuk mengumpulkan data skor perolehan hasil belajar siswa pada waktu dilaksanakannya PTK. Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan: (1) Tabel persentase yang disertai dengan narasi yang bermakna; (2) Analisis kecenderungan (Chi Kuadrat) untuk mencari/mengetahui arah

kecenderungan yang terjadi selama dilaksanakan PTK pada saat putaran pertama, kedua, ketiga, dan begitu seterusnya; dan (3) Analisis gain score, analisis ini ditujukan untuk mengetahui kenaikan/perubahan yang terjadi selama dilaksanakan PTK pada saat putaran pertama, kedua, ketiga, dan begitu seterusnya. Guna mendapatkan signifikasi hubungan asosiasi antar beberapa variabel dalam penelitian ini digunakan teknik analisis uji statistutik yang menggunakan rumus Chi Kuadrat (Chi Square). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Penerapan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah pada siswa SMP dapat meningkatkan aktivitas siswa mencapai nilai tuntas di masing-masing sekolah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa meningkat dari berbagai antar siklus yang dilakukan dengan menggunakan pembelajaran kontekstual berbasis masalah; Hasil belajar sebelum menerapkan pembelajaran kontekstual berbasis masalah juga dapat mencapai nilai ketuntasan pada masing-masing sekolah di lokasi ujiterapan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah. Adapun saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut: (1) Bagi guru IPS-Geografi, disarankan untuk mencoba menerapkan kegiatan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah pada pokok bahasan yang berbeda agar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa; (2) Kegiatan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah ternyata juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa; dan (3) Karena kegiatan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah bertujuan memecahkan suatu masalah hendaknya permasalahan yang diberikan pada siswa adalah permasalahanpermasalahan yang dialami oleh siswa itu sendiri atau permasalahan-permasalahan yang terjadi pada daerah masing-masing. 114 Singgih Susilo. 2008. Kajian Karakteristik Remaja Putus Sekolah dalam rangka Pengembangan Life Skill Model Kata-kata kunci: karakteristik, remaja putus sekolah, Chain of Response (CoR),life skill model Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik remaja putus sekolah, pemetaaan remaja putus sekolah dan pengembangan model keterampilan hidup yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan Chain of Response (CoR). Penelitian didesain dengan pendekatan ―Research and Development‖ yang didasarkan pada teori induktif. Penelitian dilakukan di Kota Malang, dengan jumlah sampel sebanyak

167 remaja putus sekolah yang tersebra di lima kecamatan di Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif prosentase, analisis kasus per kasus dan analisis antar kasus. Hasl penelitian menunjukkan sebagian besar remaja putus sekolah berusia 19--21 tahun, dengan pendidikan tamat SLTP. Alasan putus sekolah adalah karena faktor ekonomi dan putus sekolah 1-2 tahun yang lalu. Pengembangan model pendidikan keterampilan hidup yang diinginkan adalah keterampilan otomotif, elektro, tata boga, menjahit dan pertukangan. Penyebaran remaja putus sekolah sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Kedung Kandang. Pekerjaan orang mereka sebagian besar bekerja di sektor swasta, dengan penghasilan relatif tergolong rendah yakni Rp 600.000,- per bulan. 115 Budi Eko Soetjipto; Achmad Samawi; Hakkun Elmunsyah. 2008. Pengembangan E-learning Metode Pembelajaran IPS SD dengan Pendekatan Inkuiri, Jigsaw, PBL, Group Investigation, TGT danSTAD Kata-kata kunci: pengembangan e-learning, metode pembelajaran Hasil dari beberapa pengamatan kelas, wawancara dengan mahasiswa PGSD dan beberapa guru SD yang mengajar IPS di Jawa Timur menunjukkan bahwa pemahaman mereka dalam mengimplementasikan berbagai pendekatan yang berorientasi pada siswa masih kurang memadai. Untuk itu mereka perlu disiapkan dan dibekali dengan berbagai metode pembelajaran yang inovatif agar siap menjadi guru yang kompeten ketika menjadi guru di kelas. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis model-model pembelajaran cooperative learning yang dibutuhkan oleh para guru IPS kelas 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar yang ada di Kota Kabupaten Blitar. (2) Menginventarisasi topiktopik IPS yang ingin dibuat VCD model pembelajarannya oleh guru. (3) Menganalisis pemahaman guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk matapelajaran IPS yang dibinanya. (4) Mengidentifikasi berbagai kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan pembelajaran IPS di kelas. (5) Menyusun dua macam contoh VCD pembelajaran STAD dan JIGSAW untuk matapelajaran IPS. (6) Melakukan sosialisasi terbatas terhadap penyusunan VCD pembelajaran kepada guru-guru IPS SD. Sebanyak 22 informan guru SD yang tersebar di Kabupaten Blitar berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model-model Pembelajaran yang dibutuhkan guru adalah: Inkuiri, JIGSAW, Problem-Based learning (PBL), Group Investigation (GI), Team-games-Tournament (TGT), Student-TeamAchievement Division (STAD), serta beberapa metode cooperative lainnya seperti Numbered Head Together (NHT), Think-Pair-Share (TPS). Selanjutnya,

topik-topik yang ingin dibuat VCD model pembelajarannya untuk kelas 3 silsilah keluarga, lingkungan sekitar, kerjasama lingkungan sekitar, dan mengenal uang. Kelas 4 adalah: keanekaragaman budaya, transportasi dan komunikasi, sumberdaya alam, sejarah hindu, budha dan islam, koperasi, penampakan alam, globalisasi, masalah sosial. Kelas 5 adalah: perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan, dan peranan para tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Disamping itu ada dua orang guru yang menyatakan bahwa semua topik kelas 4 dan 5 dapat dilaksanakan dengan model-model cooperative learning. Selanjutnya, secara umum menurut peneliti RPP yang dibuat oleh guru-guru sudah baik dan dapat diterapkan untuk kelas IPS yang dibinanya. Berikutnya, cara yang digunakan guru dalam mengembangkan RPP IPS sebelum mengajar adalah dengan menentukan metode yang tepat untuk mengajar, disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar SD, dikembangkan sesuai dengan sumber belajar yang tersedia dan mudah diperoleh, mempertimbangkan langkah-langkah pembelajaran dan alat evaluasi, mengembangkan RPP IPS dengan menyesuaikan model pembelajaran apa yang sesuai dengan materi dan disesuaikan dengan karakteristik lingkungan dan kondisi sosial siswa, serta mengutamakan model pembelajaran yang variatif dan kooperatif, serta berpedoman pada silabus hasil kerja dari KKG. Yang terakhir, kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS di kelas dapat dikategorisasikan pada hal-hal berikut ini: kesulitan dalam memotivasi siswa, memahamkan konsep kepada siswa, meningkatkan hasil belajar, sumber belajar masih kurang, termasuk bukubuku, peta, kurangnya media, kadang-kadang ada guru lain yang merasa terganggu dengan model pembelajaran kooperatif, karakteristik anak yang beragam, dan mengatur alokasi waktu. 116 Puji Handayati. 2008. Pengembangan Buku Panduan Pendirian dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Kata-kata kunci: buku panduan, BUMDesa Tujuan umum penelitian ini adalah menghasilkan buku panduan Pendirian dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMOesa). Buku Panduan ini dibuat berdasarkan pada UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 72 (pasal 78-81) Tahun 2005 tentang Desa, sehingga diharapkan dengan adanya buku panduan ini implementasi Pendirian dan Pengelolaan BUMDesa dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Diperlukan Iangkah strategis dan taktis dimana perlu mengintegrasikan potensi, kebutuhan dan pengembangan desain lembaga tersebut dalam perencanaan perubahan perlu memperhatikan potensi lokalistik serta dukungan kebijakan (good will) dan pemerintahan diatasnya (supra desa)

untuk mengeliminir rendahnya surplus dan kegiatan ekonomi desa karena tidak berkembangnya sektor ekonomi di wilayah perdesaan. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 213 ayat (1) tersebutkan bahwa ―Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa‖. Substansi UU mi menegaskan tentang janji pemenuhan demand (demand compilence scenario) dalam konteks pembangunan tingkat desa. Logika p?mbentukan BUMDesa didasarkan atas kebutuhan dan potensi desa, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal perencanaan dan pembentukannya, BUMDes dibangun atas prakarsa (inisiasi) masyarakat, serta mendasarkan pada prinsipprinsip kooperatif, partisipatif dan emansipatif („user-owned, user-benefited, and user-controlled) dengan mekanisme member-base dan self-help. Berdasarkan pada metodenya, penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan (Action Research). Sedangkan bila dilihat dan tujuannya maka penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh desa yang ada di seluruh kabupaten di Jawa Timur. Sedangkan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Dan kriteria tersebut diperoleh lima kabupaten yang dijadikan sampling yaitu: Kabupaten Sidoarjo, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek dengan masing-masing satu desa percontohan. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah: (1) Pandangan para akademisi terkait dengan penguatan ekonomi desa membutuhkan suatu pola sistem yang akan menjadi daya dorong (steam engine) untuk menggerakkan partisipasi masyarakat, kesepahaman antar kelompok kepentingan dan sustainability usaha. Pada poros ini, lembaga BUMDes dengan cakupan yang integral antar lini-lini usaha produktif didesa yang dipadukan sebagai perekat antar susunan masyarakat dengan kandungan nilai-nilai cooperativness, member-base, dan self helt Sehingga dalam upaya implementasi tentu membutuhkan kaidah kelembagaan (tata aturan) yang kuat, baik secara formal maupun in-formal dan kelompok-kelompok kepentingan dalam upaya inisiasi BUMDes; (2) Masih rendahnya pemahaman tim pembina BUMDesa dan masyarakat tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi desa; (3) Kondisi pemerintahan desa dalam tema mutakhir, banyak yang sudah mampu melakukan inisiasi-inisiasi dalam upaya mengembangkan kapasitas ekonomi desanya. Walaupun tidak menutup mata, bahwa masih banyak tata kelola pemerintahan didesanya masih dengan mindset lama; (4) Heterogenitas potensi desa dan kebutuhan masyarakat desa dengan berbagai kendala yang ada, maka perlu adanya buku panduan sebagai acuan pelaksanaan pendirian dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Saran yang direkomendasikan adalah (1) Tindak lanjut dan hasil penelitian mi perlu disosialisasikan buku panduan yang telah dihasilkan sehingga diperoleh pemahaman yang luas tentang definisi, peran dan tata kelola BUMDesa yang

ideal dan (2) Perlu dibentuk timwork antara para akademisi, pemerintah daerah dan masyarakat dalam upaya implementasi pendirian dan pengeloloan BUMDesa. 117 Sriyani Mentari; Siti Thoyibatun. 2008. Inovasi Model Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer untuk Menunjang Implementasi KTSP SMK Kata-kata kunci: pembelajaran interaktif, computer, KTSP SMK Tujuan dan penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran interaktif dengan menggunakan media compact disk (CD) pada mata diklat Sikius Akuntansi Perusahaan Dagang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penelitian didasarkan pada hasil temuan di lapangan bahwa kondisi pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen masih mengalami banyak kendala dalam berbagai aspek yaitu (1) pengembangan bahan ajar; (2) metode pembelajaran; (3) media pembelajaran; (4) rendahnya motivasi belajar siswa; dan (5) kurangnya tingkat hasil belajar siswa. Dan hasil studi pendahuluan yang dilakukan menunjukkan bahwa para guru merasa kesulitan untuk mengembangkan bahan ajar dan materi yang disampaikan tidak representative dengan tuntutan kurikulum. Dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan penugasan. Demikian pula penggunaan media pembelajaran terbatas pada satu atau dua referensi serta papan tulis saja. Kondisi mi berdampak pada rendahnya tingkat motivasi belajar siswa (pasif) dan hasil belajar siswa rata-rata tujuh. Penelitian ini dilakukan selama dua tahun/tahap. Penelitian tahap pertama telah menghasilkan model pembelajaran interaktif dengan media CD. Penelitian tahap ke satu mencakup aktivitas: survei lapangan dan pengembangan media CD interaktif. Adapun penelitian tahap ke dua mencakup kegiatan: uji coba model dan revisi model. Penelitian ini menggunakan sampel 5 SMK Bisnis dan Manajemen di Kota Malang. Model dikembangkan berdasarkan model Dick and Carey (1990) yang terdiri dan sembilan tahap. Komponen media CD interaktif terdiri dari: (1) petunjuk penggunaan dan pemeliharaan media; (2) tujuan pembelajaran; (3) materi; (4) ringkasan pembelajaran; (5) uji kompetensi; dan (6) kunci jawahan/respon terhadap jawaban. Model pembelajaran yang dihasilkan divaIidasi oleh tiga orang akademisi yaitu dosen dan guru. Penelitian tahap ke satu ini telah menghasilkan model pembelajaran interaktif dengan media CD untuk guru dan siswa untuk mata diklat Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang. Materi pembelajaran mencakup tiga standar kompetensi (SK) dengan jumlah total 15 kompetensi dasar (KD). Media dikembangkan untuk setiap kompetensi dasar masing-masing dengan enam komponen seperti tersebut diatas. Tiga standar kompetensi meliputi: (1)

Mengelola buku jumal; (2) Mengelola buku besar; dan (3) Menyelesaikan siklus akuntansi perusahaan dagang. Model yang telah dihasilkan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran akuntansi sehingga dapat menunjang implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mana selama proses pembelajaran terhambat oleh keterbatasan guru dalam mengembangkan bahan ajar serta minimnya penggunaan variasi metode dan media pembelajaran. 118 Bambang Sugeng; Triadi Agung S. 2008. Pengembangan Model Perencanaan Strategi Lembaga Sekolah Berbasis Balanced Scorecard Kata-kata kunci: model perencanaan, lembaga sekolah, balanced scorecard Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah model perencanaan strategik lembaga sekolah yang komprehensif dan sistematis berbasis pendekatan Balanced Scorecard. Tujuan dari penelitian ini didasarkan kepada kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa program pemerintah untuk menerapkan konsep manajemen berbasis sekolah sebagai upaya perwujudan dari amanat otonomi bidang pendidikan (UU No. 34/ 2004) mengalami kedala pada level lembaga sekolah. Survey pendahuluan menunjukkan tentang adanya keterbatasan kemampuan perangkat manajemen lembaga sekolah di bawah kepemimpinan kepala sekolah dalam merancang sendiri perencanaan strategik komprehensif lembaga yang representatif dan feasible. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap/ tahun pertama mencakup kegiatan penelitian lapangan, kajian literatur dan konstruksi model awal. Tahap kedua mencakup kegiatan uji coba model, revisi model, dan diseminasi model akhir. Informasi yang diperoleh dari penlitian telaah literatur digunakan untuk memberikan landasan konseptual dari model yang dikembangkan sedangkan hasil informasi yang diperoleh dari lapangan digunakan sebagai dasar untuk menentukan skope model dan pengembangan contoh-contoh ilustrasi dalam model yang relevan dengan konteks lapangan. Penelitian lapangan dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan subyek penelitian sebuah lembaga sekolah menengah di Jawa Timur. Penelitian yang dilakukan pada tahun pertama ini telah menghasilkan sebuah prototipe model yang dituangkan dalam bentuk buku pedoman tentang pengembangan dan penjabaran rencana strategik lembaga sekolah berbasis balanced scorecard. Keunikan dari model formulasi perencanaan strategik ini adalah digunakannya balanced scorecard sebagai pendekatan penjabaran perencanaan strategik. Dengan pendekatan ini rencana strategik lembaga dijabarkan berdasarkan empat perspektif kinerja lembaga secara berkeseimbangan. Keempat perspektif tersebut mencakup stakeholder

(stakeholder/ customer perspective), proses internal (business internal proces perspective), belajar dan pertumbuhan (learning and growth perspective), dan keuangan (financial perspective). Penggunaan pendekatan balanced scorecard ini dimaksudkan untuk menjamin agar pencapaian visi dan misi lembaga lebih bersifat langgeng (sustainable). Prototipe model yang dihasilkan ini direncanakan akan diujicobakan dan dilakukan penyempurnaan pada tahun kedua sehingga dihasilkan model final yang siap diimplementasikan secara luas. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat nyata terutama bagi kelancaran pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang merupakan salah satu program pemerintah dalam upaya mewujudkan amanat otonomi bidang pendidikan. 119 Sri Pujiningsih. 2008. Pengembangan Buku Ajar dan Media Pembelajaran Akuntansi Perbankan untuk SMK Manajemen dan Bisnis Kata-kata kunci: buku ajar, pembelajaran akuntansi, SMK, manajemen, bisnis Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai keterbatasan sumber belajar yang berupa buku akuntansi perbankan serta rendahnya motivasi siswa selama mengikuti proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengembankan buku ajar, guna mengatasi keterbatasan sumber belajar yang selama ini dialami oleh para guru maupun siswa SMK Manajemen dan Bisnis serta mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer guna meningkatkan motivasi siswa. Adapun metode yang digunakan untuk mengembangkan buku ajar maupun media pembelajaran tersebut meliputi: (1) analisis kebutuhan; (2) pengembangan awal produk; (3) validasi; dan (4) revisi. Berdasarkan hasil uji validasi produk yang berupa buku ajar, dapat disimpulkan bahwa buku ajar yang dihasilkan dalam dalam kategori valid dari segi kelayakan isi dan kebahasaan, serta cukup valid untuk teknik penyajian. Berdasarkan hasil validasi tersebut telah dilakukan beberapa revisi. Sedangkan hasil uji validasi untuk produk yang berupa media telah mendapatkan hasil valid serta telah dilakukan beberapa revisi sehingga juga layak untuk dimplementasikan. Berdasarkan hasil tersebut, rencana penelitian berikutnya pada tahun kedua adalah mengimplementasikan produk tersebut ke sekolah-sekolah di wilayah Malang. 120 Sunaryanto; Suparti; Yayik Sayekti; Timotius Suwarna. 2008. Pengembangan Bahan Ajar IPS Terpadu dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemecahan Masalah Sosial bagi Siswa SMP/MTs Kata-kata kunci: bahan ajar IPS, masalah sosial, SMP/MTS

Berdasarkan sosialisasi KTSP (Dirjen PMPTK, 2007), pembelajaran IPS hendaknya dilaksanakan secara terpadu. Pembelajaran IPS terpadu tidak bisa ditunda-tunda lagi, perlu segera disosialisasikan dalam rangka melaksanakan kebijakan Depdiknas. Kenyataan di lapangan pembelajaran IPS SMP saat ini masih banyak masalah, sebagan besar SMP di Indonesia masih belum melaksanakan pembelajaran IPS terpadu sesuai dengan aturan dan konsep yang ditentukan oleh Depdiknas. Salah satu solusi untuk mengantisipasi terlaksananya pembelajaran IPS yang ideal, perlu pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu dengan pengembangan bahan ajar yang berfokus pemecahan masalah. Dengan mengaplikasikan pembelajaran ini siswa dibiasakan untuk berlatih memecahkan masalah dengan rnengkontruksi pengalarnan sendiri. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS, yakni menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah sosial dan memiliki sikap sosial. Sasaran penelitian tahun pertama adalah menghasilkan produk bahan ajar IPS terpadu SMP/MTs. Rencana sasaran Tahun kedua adalah uji coba bahan ajar IPS terpadu di lapangan, agar dihasilkan bahan ajar yang dapat diimplementasikan di SMP/MTs di Kota Malang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Dalam kegiatan pengembangan Bahan Ajar IPS Terpadit di SMP/MTs peneliti menggunakan model pengembangan Dick W. & Carey L. Populasi dan penelitian ini adalah guru IPS di SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kota Malang berasal dan 35 sekolah, sedang sampelnya diambil berdasarkan purposive sampling yaitu guru yang aktif dalarn kegiatan MGMP IPS SMP/MTs di Kota Malang berjumlah 12 orang guru Data Dikumpulkan dengan cara Wawancara. dokumentasi, observasi, dan angket. Teknik analisis data dengan menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif. Hasil penelitian pada tahun pertama adalah dihasilkan bahan ajar IPS Terpadu SMP/MTs kelas VII, VIII, dan IX berjumlah 6 buah Tema, dan telah divalidasi oleh tenaga ahli dan P4TK PKn dan IPS bersama dosen PPS UM. Dihasilkannya bahan Ajar IPS Terpadu SMP/MTs ini melalui kegiatan Workshop. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti sampaikan beberapa saran berikut: (1) Bahan ajar IPS terpadu yang telah dikembangkan sudah saatnya segera diimplementasikan di sekolah daIam upaya meningkatkan kemampuan berpikir memecahkan masalah sosial bagi siswa SMP/MTs; (2) MGMP IPS SMP/MTs merupakan wadah yang potensial, sehingga perlu meningkatkan upayanya dalam rangka mensosialisasikan model Pembelajaran IPS Terpadu.

121 Mardi Wiyono; Sutrisno; Endang Sri Rejeki. 2008. Pengembangan Model Percepatan Pengomposan Sampah Organik dengan Teknologi Rasio Optimum C/N/ dan Agitasi untuk Skala Rumah Tangga Kata-kata kunci: sampah organik, rasio C/N, agitasi Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal. Penelitian ini diharapkan menghasilkan (1) rancangan teknologi pengomposan pada skala rumah tangga; (2) komposisi C/N dan agitasi (putaran) bak pengomos yang tepat; dan (3) model sosialisasi teknologi dan manajemen penggunaan teknologi pengomposan. Penelitian ini dengan metode Research and Development (R & D) dirancang dilakukan secara bertahap, yaitu: Tahap I, rancang bangun mesin pencacah sampah dan bak putar pengompos. Pada tahap ini, peneliti akan mengembangkan rancangan mesin pencacah sampah untuk menghasilkan ukuran sampah organik yang besar dan bercampur menjadi lebih seragam sebesar 3--5 cm. Tahap II, eksperimentasi variasi rasio C/N dan waktu agitasi. Komposisi rasio C/N atau carbon dan nitrogen sangat menentukan hasil kompos dan waktu yang diperlukan terjadinya pengomposan. Demikian pula aerasi atau penambahan oksigen ke dalam bak kompos. Tahap III: sosialisasi teknologi pengomposan. Sosialisasi ini dilakukan dengan mengembangkan model pemberdayaan masyarakat. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa diperoleh gambaran bahwa dalam 20 KK (satu RT) sampah organik yang dihasilkan rata-rata sebanyak 8,40 kg/hari, terendah sebanyak 7,89 kg dan tertinggi 8,70 kg. Jika ditinjau dari satuan KK, rata-rata jumlah sampah organik yang dihasilkan sebesar 0,42, terendah 0,39 kg dan tertinggi 0,44 kg. Dalam penelitian ini juga telah dihasilkan rancangan mesin pencacah dengan kapasitas 2kg/menit. 122 Ahmad Fahmi; I Made Wirawan; Slamet Wibawanto; Fitriana Suhartati. 2008. Pengembangan Alat Otomatisasi Datalogger Pengeringan Pembenihan Jagung (Zea Mays) Menggunakan Sistem Pengendalian Berhirarki Berbasis Kontroler Fuzzy Serta dilengkapi Informasi Short Message Service (SMS) Kata-kata kunci: datalogger, jagung, kontroler fuzzy, SMS Benih tanaman J. Curcas L dapat digunakan untuk dua fungsi, yaitu diambil minyaknya untuk dijadikan sebagai bahan baku minyak mentah Jatropha (Crude Jatropha Oil/CJO) atau diambil bijinya untuk benih.

Pemanfaatan biji J.curcas digunakan sebagai benih berbeda dengan J.curcas sebagai sumber minyak, karena proses pasca panen hasil J.curcas menjadi benih membutuhkan perlakuan khusus sampai benih mempunyai kualitas yang tinggi dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Tujuan utama penelitian ini untuk menghasilkan prototipe sensor suhu dan kelembaban pada tanaman jarak pagar (Jathropa curcas L.). Berdasarkan pada pengujian, menghasilkan: (1) Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perubahan suhu per 0 1 C sekitar 160 detik (2,67 menit); (2) Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perubahan kelembaban per 1% RH sekitar 140 detik (2,34 menit). Setelah diberi gangguan, berdasarkan percobaan, menghasilkan: (1) Rata-rata waktu 0 yang dibutuhkan untuk perubahan suhu per 1 C sekitar 240 detik (4 menit); (2) Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perubahan kelembaban per 1% RH sekitar 230 detik (3,84 menit). Kernel Fuzzy Inference System menunjukkan performansi yang baik sesuai dengan target sistem, dengan kesalahan keadaan mantap <5%. Semua data informasi tentang suhu dan kelembaban dapat dikirimkan melalui SMS. Kernel Fuzzy Inference System dapat berjalan dengan baik sesuai dengan system yang diharapkan dengan tingkat kesalahan keadaan mantap < 5%. Semua data informasi suhu dan kelembaban dapat dikirim melalui SMS. 123 Siti Sendari; Wahyu Sakti Gunawan; Pranoto. 2008. Decision Support System (DSS) Pemilihan Jalan Raya Alternatif Berdasar Informasi Banjir di dalam Kota untuk Menghindari Kemacetan Jalan Terakses Web Kata-kata kunci: banjir, informasi, simulasi, SMS Banyak daerah sebagai tempat penyerapan air berubah fungsi menjadi perumahan, ruko (rumah toko), bahkan menjadi mal-mal. Efek samping yang terjadi adalah pada saat hujan turun, kota-kota besar di Jawa pada saat ini tidak luput dari banjir. Genangan-genangan air banyak terjadi di jalan raya, sehingga terjadi kemacetan di jalan raya. Dengan topografi yang tidak rata dan fenomena hujan lokal, maka pada saat hujan turun, daerah-daerah tertentu akan mengalami banjir, sehingga kemacetan terjadi di daerah-daerah yang mengalami banjir. Untuk menghindari kemacetan tersebut diperlukan suatu sistem yang memberikan informasi tentang jalan yang mengalami banjir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen, yaitu dengan mendesain dan mengujicobakan sistem warning yang memberikan informasi ketinggian level banjir di suatu jalan melalui media SMS ke komputer server. Komputer server akan membaca data yang dikirim oleh warning system dan memberikan gambaran visual jalan-jalan yang mengalami banjir. Penelitian ini menghasilkan simulasi sistem yang dapat

menginformasikan lokasi banjir di suatu jaringan jalan raya secara visual, dengan informasi level banjir yang terjadi. Level banjir yang dideteksi adalah 16 level banjir dengan tiap level mewakili 3 cm ketinggian banjir, sehingga banjir yang dapat dideteksi adalah 48cm. Setiap ada perubahan ketinggian level banjir, maka sistem warning akan mengirimkan informasi banjir ke server dan server merespon dengan menampilkan data pada layar monitor komputer, sehingga user dapat mengetahui informasi banjir dengan mudah. 124 Slamet Wibawanto; Aripriharta; Dyah Lestari. 2008. Pengembangan Model Smart Building untuk Menuju Era Intelegent System di Masa Depan Kata-kata kunci: smart building, intelligent building, energi saving, automation, lifesafety Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah membuat model general smart building yang dapat dijadikan standar di Indonesia. Smart building merupakan salah satu teknik otomatasi secara terpusat untuk mengendalikan peralatan listrik dan elektronik termasuk central security system dalam suatu bangunan. Smart building dikembangkan sebagai salah satu upaya penghematan energi elektrik. Target tahun pertama adalah mengembangkan model manajemen fasilitas. Teknologi smart building masih belum banyak diterapkan di Indonesia, terbukti dengan sedikitnya jumlah bangunan berkelas yang memakai teknologi ini. Pada studi kasus bangunan Mall berkelas Hipermart di Kota Malang, yakni Malang Town Square (Matos), penerapan smart building terbatas pada pintu masuk. Masih terdapat pemborosan energi pada beberapa sistemnya, antara lain escalator, sistem penerangan, sistem pendingin dan cental security belum memadai. Sementara itu pemborosan energi listrik pada rumah tangga antara lain terjadi pada: (1) Tidak menggunakan lampu jenis hemat energi; (2) pemilihan besarnya watt lampu tidak sesuai dengan peruntukan; dan (3) pengontrolan secara manual, sehingga peralatan listrik rumah tangga tetap aktif meskipun sedang tidak diperlukan. Metodologi pengembangan model manajemen fasilitas dilakukan dengan beberapa prosedur sebagai berikut: (1) Analisis kebutuhan energi per tahun berdasar pola EMS (energy management system) yang digunakan; (2) Pendataan potensi penghematan energi listrik menggunakan software analisis energi pada bangunan publik; dan (3) Mengembangkan model manajemen fasilitas terkait dengan metode EMS untuk salah satu fasilitas yang digunakan, yakni escalator on-demand. Analisis hasil audit energi pada bangunan publik menunjukkan bahwa terdapat peluang besar untuk meningkatkan penghematan energi, mengingat

sistem manajemen energinya masih menggunakan sistem konvensional. Metode manajemen fasilitas penerangan menggunakan sistem konvensional, berdasarkan teknik manual dan time-based. Belum digunakan sistem manajemen closled loop standar seperti yang akan dikembangkan dalam riset ini. 125 Andi Mappiare AT; Fachrurrazy; Sudjiono. 2008. Kultur Konsumsi Remaja dan Upaya Bimbingannya: Studi Perspektif Posmodern mengenai Kecakapan Belanja dan Kearifan Kultural pada Pelajar Metropolitan Indonesia untuk Pengembangan Media Bibliokonseling Kata-kata kunci: kecerdasan belanja, siswa, kearifan budaya, bibliokonseling, cergam Penelitian ini berupaya menghasilkan produk berupa cergam sebagai media tandingan (bermuatan counter culture), upaya pembentukan pola pikir dan internalisasi kultur bangsa. Itu merupakan bacaan lepas yang diperlukan untuk memberi bekal pribadi dan kultur kepada para remaja metropolitan dalam menghadapi ―godaan‖ gaya-hidup konsumtif dan apa yang disebut ―politik identitas‖ dari ―kapitalisme global‖ oleh Kellner (2003). Untuk itu, melalui penelitian kualitatif varian interaksionisme-simbolik berpadu fenomenologi, atas subjek siswa SMA di Banda Aceh, telah ditemukan adanya kemampuan adaptasi, kecakapan hidup, keterampilan komunikasi, dan soft-skills, yang diaplikasikan subjek dalam melampaui prahara kehidupan mulai dari konflik bersenjata, bencana Tsunami, dan tekanan-tekanan sosial lain termasuk media massa dan iklan. Penelitian menghasilkan pula sejumlah saran kepada pengambil keputusan dan praktisi bidang pendidikan untuk memandirikan dan mengembangkan pribadi siswa. 126 Arbaiyah Prantiasih; Nur Wahyu Rochmadi; Suparlan Al Hakim. 2008. Pengembangan Model Panduan Bekerja di Luar Negeri Bagi Tenaga Kerja Wanita di Wilayah Kabupaten Malang Kata-kata kunci: model panduan bekerja, Tenaga Kerja Wanita (TKW) Penelitian ini didasarkan pada realita bahwa fenomena buruh migran khususnya tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri ternyata syarat dengan problematik, mulai dari lemahnya perlindungan, korban penipuan calo, Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), pemerasan bahkan sampai pelanggaran HAM acapkali mewarnai fenomena buruh migran khususnya tenaga kerja wanita mulai proses perekrutan, pelatihan,

pengurusan dokumen, saat pemberangkatan, sesampainya di negara tujuan bahkan sampai pada saat kedatangan kembali ke tanah air. Penelitian pengembangan tentang Model Panduan Bekerja di Luar Negeri bagi Tenaga Kerja Wanita diharapkan untuk memberikan informasi yang benar terhadap proses rekrutmen calon tenaga kerja wanita yang akan bekerja ke luar negeri, termasuk juga pihak PJTKI sebagai tempat TKW direkrut diperlukan strategi dan program pemasaran tenaga kerja wanita ke luar negeri yang benar. Bagaimana syarat-syarat yang harus dipenuhi, apa saja yang termasuk dalam dokumen jatidiri, bagaimana memahami yang benar penandatanganan kontrak kerja, bagaimana menandatangani perjanjian penempatan, apa isi atau materinya, apa hak dan kewajibannya sebagai TKW. Dengan pemahaman yang benar diharapkan akan membantu calon TKW tidak mudah ditipu oleh pihak-pihak yang berusaha untuk mencari keuntungan akan tetapi sebaliknya calon TKW akan memiliki keinginan untuk membela dirinya sendiri apabila mengalami masalah yang terjadi baik itu yang berhubungan dengan PJTKI pengirim maupun di negara penempatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana penyusunan Panduan Bekerja bagi TKW yang akan bekerja di luar negeri di Wilayah Kabupaten Malang; (2) apakah kelebihan dan kekurangan berkaitan dengan Panduan Bekerja bagi TKW yang akan bekerja di luar negeri. Beberapa hal yang dikembangkan dalam Panduan Bekerja bagi TKW ini: (1) proses rekrutmen; (2) kelengkapan dokumen TKW yang akan bekerja ke luar negeri: pada saat pra penempatan, pada saat di asrama PJTKI, pada saat keberangkatan, pada saat di negara penempatan, pada saat kepulangannya ke Indonesia; (3) Hak dan kewajiban Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri; dan (4) Perlindungan Tenaga Kerja Wanita yang meliputi: perlindungan terhadap TKW pada saat pra penempatan, perlindungan terhadap TKW pada saat penempatan dan perlindungan TKW pada saat pasca penempatan. Desain penelitian lanjutan pengembangan (research and development). Rancangan penelitian tahun kedua ini adalah rancangan penelitian pengembangan dengan menyusun Panduan Bekerja di luar negeri bagi tenaga kerja wanita. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang. Pakar sebanyak 20 orang, sedangkan praktisi 10 orang, sehingga subyek penelitian secara keseluruhan berjumlah 30 orang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan tentang kelebihan dan kelemahan Panduan Bekerja di luar negeri bagi Tenaga Kerja Wanita. Kelebihan Panduan Bekerja, sistematika penulisannya sangat mudah dipahami, penggunaan bahasa mudah dipahami secara teknis terutama terdapat pada bagian materi proses rekrutmen dan kelengkapan dokumen jati diri yang harus dilengkapi bagi Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di luar negeri pada pra penempatan, pada saat di asrama PJTKI, pada saat keberangkatan, pada saat di negara penempatan dan pada saat pulang ke tanah air. Sehingga

Tenaga Kerja Wanita akan memiliki pemahaman yang benar. Sedangkan kelemahannya terutama pada materi surat perjanjian kontrak kerja dan perjajian penempatan bahasa yang digunakan adalah bahasa hukum, karena rata-rata pendidikan TKW adalah SLTP ke bawah maka kemungkinan TKW kurang memahami isi dan materinya yang tertera dalam kontrak perjanjian tersebut. Oleh sebab itu Panduan Bekerja ini untuk ditindaklanjuti dengan mengembangkan lagi penelitian eksperimen, penelitian tentang model sosialisasinya. 127 Roesdiyanto; Sulistyorini; Abdul Huda. 2008. Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Menggunakan Pendekatan Kecerdasan Majemuk untuk Anak Usia Dini di Jawa Timur Kata-kata kunci: pendidikan jasmani, kecerdasan majemuk Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kecerdasan majemuk terhadap hasil belajar siswa usia dini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pra eksperimen the static group comparison design, dilakukan di TK, pada bulan Juni-Agustus 2008, populasi adalah TK di kota Pasuruhan, Kediri, Blitar, Malang, Batu, Kabupaten Malang, terdiri dari 36 sekolah TK, sampel diambil sebanyak 12 TK di 3 kota, yaitu Malang, Batu dan Blitar sebanyak 240 orang, Analisis menggunakan anava satu jalur (one way anova), dengan uji F pada taraf signifikansi  = 0.05. Hasil penelitian, Fhit.=3.718 < Ftabel= 3.872, tidak ada pengaruh model pembelajaran menggunakan pendekatan kecerdasan majemuk terhadap hasil belajar siswa. Akan tetapi ada pengaruh pada unsur di dalam penilaian hasil belajar pada bidang pengembangan kemasyarakatan dan lingkungan dengan Fhit.=60.636 > Ftabel=3.871, daya cipta dengan Fhit.=50.957 > Ftabel = 3.871 dan pengembangan jasmani dan kesehatan Fhit.=51.979 > Ftabel = 3.871 128 Sa’dun Akbar; Pujiyanto; I Wayan Sutama. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Tematis untuk Kelas 1 dan Kelas 2 Sekolah Dasar Kata-kata kunci: model pembelajaran tematis, sekolah dasar Penelitian Hibah Bersaing tahun ketiga ini bertujuan: (1) menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD yang teruji secara valid menurut praktisi, (2) menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD yang efektif dapat mencapai tujuan

pembelajaran bagi kelas-1 dan kelas-2 SD, dan (3) menghasilkan CD interaktif untuk pembelajaran tematik untuk kelas-1 dan kelas-2 SD. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian pengembangan. Ujicoba model di lakukan dalam skala luas di SD Kelas-1 dan Kelas-2 SD di Jawa Timur. Yang menjadi responden penelitian ini adalah guru-guru kelas-1 dan kelas-2 SD di beberapa sekolah di Jatim untuk uji keterterapan model, dan siswa-siswa kelas-1 dan kelas-2 SD di Jatim untuk uji keefektifan model. Data dikumpulkan dengan angket. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Untuk menentukan kelayakan/validitas model yang dihasilkan dilakukan analisis gabungan antara keterterapan model, validitas bahan ajar, dan keefektifan model dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: penelitian ini telah menghasilkan model-model pembelajaran tematik untuk kelas-1 SD pada tema: Diri sendiri, Keluarga, Lingkungan, Pengalaman, Kebersihan-Keindahan-Keamanan, dan Kegemaran pada kriteria yang layak/valid; disamping itu juga menghasilkan model-model pembelajaran tematik tema: Diri-Sendiri dan Lingkungan untuk kelas-2 SD dengan kriteria sangat layak/sangat valid; model lainnya yang dihasilkan adalah model-model tematik untuk tema: Keluarga, Pengalaman, dan Kegemaran untuk kelas-2 SD dengan hasil yang layak/valid. Untuk model pembelajaran yang dinyatakan sangat layak/sangat valid dapat langsung digunakan tanpa revisi, sedangkan yang termasuk layak/valid dapat digunakan dengan revisi kecil. Secara umum, model yang dihasilkan melalui penelitian ini cukup baik dan layak digunakan dalam pembelajaran di kelas-1 dan kelas-2 SD.Disamping itu, penelitian ini juga menghasilkan CD interaktif untuk pembelajaran Tematik. Disarankan bahwa, model-model tematik yang dihasilkan penelitian ini disosialisasikan kepada guru-guru kelas-1 dan kelas-2 SD dan diterapkannya dalam praktik pembelajaran sehari-hari di SD. 129 Setyo Budiwanto; Winarno; Sapto Adi; Oni Bagus Januarto. 2008. Pengembangan Video Pembelajaran Keterampilan Bulutangkis Kata-kata kunci: video pembelajaran, bulutangkis Keterampilan teknik dasar bulutangkis merupakan tujuan bagi pebelajar atau pebulutangkis yang sedang tekun berlatih bulutangkis. Bagi mahasiswa, menguasai keterampilan teknik dasar bulutangkis adalah tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran mata kuliah bulutangkis. Bagi pebulutangkis (atlet), berprestasi dan menjadi juara bulutangkis adalah tujuan pelatihan.

Untuk dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran tersebut secara maksimal diperlukan kegiatan belajar mengajar atau kegiatan latihan yang efektif. Salah satu pembelajaran yang efektif adalah memanfaatkan sumber belajar yang tepat. Salah satu sumber belajar yang penting dan tepat dimanfaatkan dalam pembelajaran atau pelatihan keterampilan teknik bulutangkis video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis. Pemecahan masalah pembelajaran yang ditawarkan ini berupa penyediaan sumber belajar, baik yang sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan Media merupakan sumber belajar dan sarana untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran. Setiap media mempunyai karakteristik, maka dalam memilih dan menentukan media yang akan digunakan harus dipertimbangkan dengan cermat berdasarkan kriteria tertentu. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih media yang digunakan, yaitu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, ketepatgunaan media sesuai dengan materi belajar, kemampuan dan kesiapan pebelajar, tersedianya media yang paling cocok, kualitas media yang ada, biaya untuk pengadaan dan untuk mengoperasikan. Pembelajaran keterampilan bulutangkis mempunyai sifat dan karakteristik khusus dan unik. Materi belajar terutama berkaitan dengan keterampilan gerak berupa teknik-teknik bulutangkis. Tujuan pembelajaran keterampilan bulutangkis adalah pebelajar mempunyai keterampilan sejumlah teknik yang menjadi tuntutan untuk diterapkan dalam situasi bermain. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu proses kegiatan pembelajaran keterampilan bulutangkis yang khusus. Sehingga media yang digunakan harus dipilih sesuai dengan materi, tujuan dan kegiatan pembelajaran keterampilan bulutangkis. Salah satu media tersebut adalah video pembelajaran keterampilan bulutangkis. Masalah penelitian yang akan dipecahkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan ini adalah bahwa proses pembelajaran keterampilan bulutangkis dalam matakuliah keterampilan bulutangkis bagi mahasiswa dan proses pelatihan bulutangkis bagi pebulutangkis diperlukan media pembelajaran atau media pelatihan yang efektif. Diharapkan dengan menggunakan media pembelajaran yang efektif dapat membantu mahasiswa, pebulutangkis, dosen, dan pelatih dalam kegiatan mengajar belajar dan melatih berlatih. Sehingga tujuan pembelajaran atau pelatihan keterampilan teknik bulutangkis yang telah ditetapkan dapat dicapai. Media pembelajaran yang dianggap paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran keterampilan teknik bulutangkis adalah video pembelajaran keterampilan teknik bulutangkis. Produk utama yang ingin dihasilkan dalam pengembangan ini adalah video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis. Spesifikasi produk yang dihasilkan adalah video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis yang mencakup seluruh materi keterampilan teknik dasar bulutangkis. Sasaran pengguna produk adalah pebulutangkis pemula atau yang mem-

punyai tingkat keterampilan teknik dasar dan sedang belajar keterampilan teknik dasar bulutangkis. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dirancang melalui tiga tahap. Tahap pertama: kegiatan penelitian pada tahun pertama yaitu melakukan analisis kebutuhan untuk memperoleh prototipe dan menyusun skenario video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis. Tahap kedua: dilaksanakan pada tahun kedua yaitu mengembangkan video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis dengan melakukan proses pengambilan gambar video, uji coba produk dan revisi. Tahap ketiga: adalah melaksanakan eksperimen untuk menguji efektivitas produk video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis dengan melaksanakan penelitian eksperimen. Spesifikasi produk yang dihasilkan pada penelitian tahap kedua adalah video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis yang mencakup seluruh materi keterampilan teknik dasar permainan bulutangkis. Spesifikasi produk video pembelajaran keterampilan teknik dasar bulutangkis sesuai dengan sasaran pengguna produk. Sasaran pengguna produk adalah pebulutangkis pemula atau yang mempunyai tingkat keterampilan teknik dasar dan sedang belajar keterampilan teknik dasar bulutangkis 130 Djoko Kustono; Solichin; Anny Martiningsih. 2008. Pengembangan Bahan Ajar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Berorientasi Konstruktivistik guna Menunjang Pelaksanaan KBK di Sekolah Menengah Kejuruan Teknologi Kata-kata kunci: bahan ajar; K3; konstruktivistik; Sekolah Menengah Kejuruan Bahan ajar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berorientasi konstruktivistik guna menunjang pelaksanaan kbk di sekolah menengah kejuruan teknologi telah selesai dikembangkan. Bahan ajar ini terdiri dari (1) Buku Siswa; (2) Lembar Kegiatan Siswa; dan (3) Buku Guru. Materi ajar terdiri dari enam modul yaitu (1) Undang-undang K3;(2) Mencegah dan Menanggulangi Kebakaran; (3) Bahan Beracun dan Berbahaya; (4) Mencegah Kecelakaan Kerja; (5) AlatPelindung Diri; dan (6) Pelindung Mesin. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan karena mengembangkan bahan ajar. Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mendapatkan bahan ajar K3 yang valid menurut kriteria responden. Sedangkan penelitian Tahap 2 uji coba di lapangan terkait dengan pembelajaran K3 di Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Teknologi. Responden penelitian Tahap kedua adalah (1) kelompok guru pengajar K3 di SMK Teknologi sebagai pengajar dan (2) kelompok siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang terdiri dari SMK Pekerjaan Umum Malang, SMK Negeri I Kediri dan SMK Negeri I, Trenggalek. Hasil penelitian tahap kedua

menunjukkan (1) modul Undang-undang K3; (2) modul Mencegah dan Menanggulangi Kebakaran; (3) modul Bahan Beracun dan Berbahaya; (4) modul Mencegah Kecelakaan Kerja; (5) modul Alat Pelindung Diri; dan (6) modul Pelindung Mesin dapat dipakai dalam matadiklat K3 karena ketuntasan belajar yang dicapai lebih dari 80%. Sikap para siswa dan guru pengajar positif dan dari siklus pembelajaran menunjukkan ketuntasan dan keaktifan belajar siswa meningkat. 131 Wasis D. Dwiyogo. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Visioner untuk Meningkatkan Keterampilan Memecahkan Masalah Masa Depan yang Kreatif dan Inovatif Kata-kata kunci: pembelajaran visioner, pemecahan masalah masa depan, kreatif, inovatif Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Pembelajaran Visioner yang berpeluang meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan inovatif dan pemecahan masalah secara individual dan kolaborasi. Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan model pembelajaran yang digunakan di perguruan tinggi, (dan 2) memperoleh data analisis kebutuhan perlunya pembelajaran visioner. Subjek penelitian untuk memproleh data model Rancangan Pembelajaran, analisis kebutuhan, dan spesifikasi model adalah dosen-dosen perguruan tinggi di empat pulai yaitu Sumatera (Universitas Lampung), Jawa (Universitas Negeri Malang dan IKIP PGRI Semarang), Kalimantan (Universitas Lambung Mangkurat), dan Sulawesi (Universitas Negeri Manado). Tersusunnya Rancangan Pembelajaran Visioner ini akan membangun jembatan antara konteks pembelajaran yang bersifat teaching-based, instructor-mediated ke arah pembelajaran bersifat learningbased. Keuntungan yang akan diperoleh melalui penelitian ini terutama untuk menyediakan sumber-sumber belajar bagi mahasiswa yang berpeluang untuk mengembangkan setiap individu mencapai kemampuan optimal dalam memecahkan masalah masa depan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->