P. 1
Module Belajar: Menulis untuk Mahasiswa dan Jurnalis Pemula

Module Belajar: Menulis untuk Mahasiswa dan Jurnalis Pemula

|Views: 3,542|Likes:
Published by Khairul Umami
Kepandaian menulis bukan lagi hak istimewa dari seorang penulis dan para jurnalis belaka.
Demi menyebarkan kemampuan menulis itu, sebuah pelatihan bertajuk ‘Studi Antropologi dan Jurnalisme Damai’ digelar. Pelatihan ditujukan kepada para generasi muda, di antaranya siswa, mahasiswa dan para jurnalis pemula.
Memilih mereka yang muda bukan tanpa alasan. Ke depan merekalah yang menulis Aceh lebih bernas dengan segala kenyataan yang berlaku, dalam damai yang diinginkan abadi dan dalam tujuan kemakmuran masyarakat Aceh.
Menulis Aceh dalam Damai.
Sebuah modul belajar menulis untuk mahasiswa dan jurnalis pemula.
Kepandaian menulis bukan lagi hak istimewa dari seorang penulis dan para jurnalis belaka.
Demi menyebarkan kemampuan menulis itu, sebuah pelatihan bertajuk ‘Studi Antropologi dan Jurnalisme Damai’ digelar. Pelatihan ditujukan kepada para generasi muda, di antaranya siswa, mahasiswa dan para jurnalis pemula.
Memilih mereka yang muda bukan tanpa alasan. Ke depan merekalah yang menulis Aceh lebih bernas dengan segala kenyataan yang berlaku, dalam damai yang diinginkan abadi dan dalam tujuan kemakmuran masyarakat Aceh.
Menulis Aceh dalam Damai.
Sebuah modul belajar menulis untuk mahasiswa dan jurnalis pemula.

More info:

Published by: Khairul Umami on Feb 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/09/2015

TUJUAN

Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula dapat mbelajar
menulis cerpen
Menemukan ide-ide
penulisan karya fksi

KEGIATAN

Teori
Diskusi

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula

125

Menjadi Penulis Cerpen

Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang tergolong

ke dalam fksi. Sebagai fksionaris, kisah dalam cerpen
hanya ada dalam hayalan. Namun, ia dapat beranjak

dari dunia nyata semisal pengalaman pribadi maupun
pengalaman orang lain, kejadian alam, dan segala hal yang
tertangkap pada panca indra.

Bermimpi menjadi penulis cerpen menjadi sebuah
keniscayaan, apalagi bagi remaja. Beberapa remaja yang
saya temui mengaku suka pada cerpen atau novel—
keduanya adalah jenis karya fksi. Namun, sebagian

besar dari mereka mengaku kesulitan menulis cerpen,
meskipun sudah mencobanya. Maka, warkah ini mencoba
‘membongkar kabut kesukaran’ menulis cerpen tersebut.

BAHAN

ModUL BElaJaR

126

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

Sebelumnya, mari mengingat kembali apa yang pernah
diucapkan Arswendo Atmowiloto dua puluh lima tahun
silam. “Mengarang Itu Gampang,” kata dia dalam sebuah

buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta, 1984.

Sangking mudahnya pekerjaan mengarang, Arswendo
membahasakannya dengan sebutan “gampang”. Menulis
cerpen merupakan sebuah kegiatan mengarang yang
dimaksudkan gampang tersebut.

Hal yang perlu diperhatkan bagi seorang penulis cerpen
adalah kreatvitas, baik dalam menyusun kata-kata
(membahasakan) maupun dalam mengotak-atk jalan

cerita dengan bumbu-bumbu yang dapat mempengaruhi
pembaca larut dalam cerita yang dibaca. Tamsilnya
begini, gulai kambing akan berbeda citarasanya tatkala

hanya digulai sederhana (kambing semata). Namun, saat

diberikan sedikit campuran semisal buah nangka, kelapa,
merica, cabai, ditambah penyedap rasa lainnya, gulai
kambing tersebut akan berubah citarasa menjadi tambah

nikmat. Namun demikian, mencampuradukkan segala

bumbu tersebut tanpa kelihaian mengolahnya, sama saja
bohong. Rasa yang diharapka sedap bisa saja menjadi
tambah amburadur. Demikian halnya cerpen, jika hendak

mengisahkan sebuah peristwa semisal kecelakaan dalam

cerita tanpa pengaruh alam dan segala apa yang terdapat

di sekitar peristwa tersebut, ceritanya past biasa saja,
karena kisah kecelakaan nyaris pernah dialami setap

orang. Oleh sebab itu, perlu kelihaian mendeskripsikan

peristwa kecelakaan dimaksud. Kelihaian inilah yang
disebut proses kreatf pencerita dan pencitraan.

Penggunaan Paragraf

Dalam menulis cerpen dibutuhkan seni bertutur
(bercerita). Ada beberapa jenis paragraf atau ungkapan
yang dapat digunakan dalam seni bertutur. Ungkapan atau
paragraf tersebut, dalam konteks cerpen, akan menjadi
kuat jika menggunakan ungkapan deskripsi. Ungkapan atau
paragraf deskripsi menjadi kekuatan detail dalam sebuah

cerita (baik cerpen maupun novel) meskipun kedua karya

sastra ini sering disebut sebagai karangan narasi. Saya

misalkan ada paragraf begini:

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula

127

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

“Perempuan itu berkulit kuning langsat.
Wajahnya oval, bulu matanya lentk, alisnya
tebal, hidungnya mancung sekitar lima sent
dan ada tahi lalat di pipi sebelah kiri. Dagunya
sekilas bagai sangkar burung tempua. Sesekali
barisan puth menyembul dari balik bibirnya
saat tersenyum. Ah, bibir yang tpis dan

basah…”

Sekarang coba bandingkan paragraf tersebut dengan
kalimat “Perempuan itu sangat cantk.” Dengan deskripsi

sepert di atas, semua orang dimungkinkan untuk

mengambil kesimpulan bahwa si perempuan memiliki

rupa yang cantk. Cantk sebagai sebuah kata adjektva
(sifat) bisa disimpulkan secara relatf. Cantk bagi seseorang
bisa saja mest memiliki lesung pipit, tetapi bagi yang lain
tdak mest ada lesung pipit asalkan berkulit puth. Maka
kekuatan deskripsi mengaburkan kesimpulan cantk atas

sebuah persepsi. Karena itu, deskripsi sangat dibutuhkan
dalam sebuah kisah cerpen. Pendeskripsian tersebut bisa
pada tokoh (orang atau hewan), bisa pula pada benda-

benda lainnya yang menjadi propert dalam teks cerita.

Selanjutnya, paragraf narasi sering mendominasi
penceritaan, sebab narasi sendiri memiliki makna cerita.
Kelihaian menggunakan kata-kata dalam bernarasi

menjadi kreatvitas tersendiri. Dari sini kemudian kita bisa
menangkap stle (gaya) seorang penulis. Ada yang suka

menggunakan ungkapan-ungkapan metafora misalnya,
ada pula yang suka bermain dengan simbol, tetapi ada
juga bercerita apa adanya. Semua ini sah digunakan, yang

terpentng tdak sampai melakukan pemubaziran kata-kata

(pleonasme).

Mungkin kita pernah mendengar orang mengeluh
terhadap sebuah cerita seseorang dengan sebutan
garing atau terlalu dibuat-dibuat. Hal ini biasanya terjadi
karena pandangan terhadap seni sastra dalam cerpen

mest bermain kata sehingga menimbulkan ‘kejenuhan’
makna yang hendak diungkapkan. Bermain kata yang
mengharapkan seni berkisah bukan berart mest
memperbanyak simbul puits. Ingat, Anda sedang menulis

ModUL BElaJaR

128

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

cerpen, bukan puisi. Jika setap kata dalam sebuah puisi

cenderung mewakili makna ambiguitas, dalam cerpen
usahakan dihindari ambiguitas kata. Cerpen sesungguhnya
mengisahkan apa adanya dengan penguasaan diksi yang

memadai, tdak perlu terlalu muluk dengan simbol,
dan tak bertele-tele. Sebagai sebuah cerita yang dapat

diangkat dari pengalaman nyata, kisah lakon dalam cerpen

ditulis sepert apa adanya di alam nyata, kecuali Anda

sedang menulis cerpen surealis (untuk jenis cerpen ini kita
bicarakan di lain kesempatan jika waktu mengizinkan).

Paragraf lainnya yang dapat dipakai dalam menulis

cerpen adalah argumentasi (pendapat). Namun, dalam
pengungkapan argumen, penulis cerpen mest dapat

memilah dirinya sebagai tokoh atau sebagai narator.
Kencenderungan ini bisanya menimbulkan cerpen yang
menggurui. Sebagai sebuah karya sastra, cerpen bukanlah

teks pidato yang tdak mest memberikan nasihat

menggurui. Memberikan kebebasan kepada pembaca
dalam memberi penafsiran terhadap kisah dalam cerpen
akan membuat cerpen itu berdikari. Sebagai sebuah

karya yang ditujukan kepada publik, ini menjadi pentng.

Memang diakui banyak penulis cerpen (cerpenis) sulit
memilah diri sebagai narator atau sebagai tokoh. Apalagi,
terhadap cerita yang menggunakan tokoh “Aku” lirik.

Namun, di sinilah letak kreatvitas tersebut sehingga cerita
dapat berjalan mengalir sepert keinginan tokoh dalam

cerita, bukan keinginan penulis.

Dalam kaitan tersebut, ungkapan/paragraf persuasif
sebanyak mungkin mest dihindari. Lebih baik

menggunakan paragraf eksposisi daripada persuasif yang

akan menjebak penulis menjadi ‘khatb’ dalam karya.

mengenali Bagian-Bagian Cerpen

Sebagai sebuah cerita pendek yang kemudian dinamakan
cerpen, kisah di dalamnya sangat singkat, habis dibaca
sekali duduk sehingga cerpen disebut juga sebagai karya

fksi yang hanya menceritakan satu pokok masalah atau

persoalan. Maksud “satu pokok masalah” adalah punya

satu konfik.

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula

129

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

Yang dimaksud dengan konfik adalah persoalan. Konfik
dalam cerpen dapat terjadi secara lahir atau secara batn.
Konfik lahir merupakan persoalan yang terjadi di luar diri

si tokoh, biasanya dengan menghadirkan tokoh lainnya.

Konfik batn adalah persoalan yang terjadi dan dialami
dalam diri si tokoh. Konfik dimaksud bisa berupa tekanan
batn, kegelisahan, duka mendalam, dan sejenisnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagian

terpentng dalam sebuah cerpen adalah tokoh, disusul
konfik. Tak mungkin sebuah cerita dapat terjadi tanpa ada
yang mengalami. Pengalaman yang tdak melalui masalah
tdak akan menarik pendengar atau pembaca. Karenanya,
dua hal ini (tokoh dan konfik) menjadi bagian terpentng
dalam sebuah cerpen, yang dalam novel konfik tersebut

bisa lebih dari satu.

Bagian lainnya yang terdapat dalam cerpen adalah alur
atau jalan cerita. Alur dapat terjadi dari dua sisi—alur
maju atau alur mundur. Alur maju berart cerita bergerak

ke depan terus. Sedangkan alur mundur kisah berupa
fashback, mengingat kejadian yang telah pernah

dilewat si tokoh. Misalkan si tokoh yang sudah dewasa

menceritakan kejadian saat dirinya masih kanak-kanak.

Bagian selanjutnya yang akan mendukung cerita dalam

cerpen adalah setng atau tempat kejadian atau lokasi
berlangsungnya cerita dalam cerpen tersebut. Tempat

kejadian ini bisa digambarkan atau disebutkan sepert

nama-nama tempat sungguhan (benar-benar ada), biasa
pula hanya sekedar tempat rekaan, yang hanya ada dalam
cerpen yang diceritakan.

Hal berikutnya yang biasa ada dalam cerpen adalah

tema dan amanat/nasihat. Dua hal ini biasanya menjadi
wilayah kerja pembaca/penikmat/pengkrits karya sastra.
Bagi penulis, tdak usah dulu berpikir tema, amanat, atau

nasihat apa yang akan disampaikan melalui cerpen yang
akan ditulis, kecuali memang permintaan yang biasanya
ada dalam lomba. Penulis cukup menulis saja cerita

sepert adanya. Kemudian, serahkan kepada pembaca

yang akan menangkap dan memberi penilaian terhadap

tema, amanat, dan pesan dalam cerpen dimaksud. Artnya,

ModUL BElaJaR

130

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

melakukan pemetaan pemikiran akan menulis cerpen
tentang apa, cukup sampai di situ. Langkah selanjutnya
adalah tuliskan apa yang ada dalam pikiran Anda, jangan
pikirkan apa yang akan Anda tuliskan. Biarkan cerita

mengalir apa adanya.

Satu hal mest dicoba saat menuliskan apa yang ada

dalam pikiran Anda adalah jangan berusaha mengedit
cerita atau bahasa atau pengungkapan sebelum cerita

tuntas dituliskan. Bagian pengeditan letakkan tersendiri

setelah Anda merasa tulisan (cerpen) selesai dituliskan.
Setelah usai, baca kembali cerpen tersebut, saat itulah
baru lakukan pengeditan. Seusai Anda mengedit, diamkan
sebentar untuk beberapa saat atau beberapa jam, boleh
juga unuk sehari semalam. Setelah itu, baru baca kembali
sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang disebut
dengan pemolesan.

sebeluM dikiriMkan ke Media

Jika cerpen tersebut Anda maksudkan untuk dikirim ke
media semisal koran atau majalah, alangkah lebih baik
memperlihatkan terlebih dahulu kepada orang sekitar
cerpen yang Anda tulis tersebut. Orang sekitar dimaksud

boleh jadi teman, kakak/abang atau adik, guru, atau

kepada siapa saja yang Anda harapkan dapat memberikan

komentar terhadap cerpen Anda. Ya, Anda mest meminta

komentar dari orang-orang tersebut, karena bisa jadi
komentarnya dapat dijadikan tambahan dalam cerpen
tersebut sehingga akan dimuat saat dikirimkan ke media
cetak.

Jika kurang puas dengan komentar orang-orang tersebut,
Anda dapat pula meminta komentar dari orang yang
Anda anggap paham tentang sebuah cerpen. Persoalan

komentar tersebut mau digunakan atau tdak, kembali
kepada pribadi Anda. Karena itu, menyaring setap

komentar yang diterima adalah sebuah keniscayaan.

Intnya, jangan takut dikomentari, meskipun komentar
itu barangkali tdak Anda sukai. Perlu diingat bahwa Anda

menulis cerpen untuk dibaca oleh orang lain, bukan

untuk diri sendiri. Maka komentar orang menjadi pentng

didengarkan.

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula

131

[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]

Hal lainnya yang mest diperhatkan sebelum megirim

cerpen ke media adalah melihat media apa yang menjadi

tujuan Anda. Penyesuaian tema cerita dengan visi-misi
media mest diperhatkan. Selera koran dan redaktur

dipelajari sehingga kemungkinan untuk karya dimuat lebih
besar. Misalkan saja, cerpen berbau remaja dan agama,
tentu akan lebih layak dikirimkan ke Majalah Annida

daripada koran harian sepert Kompas atau Tempo.

Baik koran lokal maupun koran nasional, masing-masing

memiliki stle tersendiri. Misalkan Harian Republika;
mengarah kepada cerpen agamis. Sebagai sebuah koran
nasional, Republika tak ubahnya sepert Harian Kompas,
Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia,

dan lainnya, setap cerpennya cenderung tdak terlalu

keremajaan. Kompas sendiri biasanya lebih memilih
cerpen-cerpen yang memiliki informasi berita, berkaitan

dengan apa yang sedang hangat terjadi/dibicarakan.

Begitulah sekilas catatan untuk melakukan proses kreatf
penulisan cerpen. Anda dapat pula memotvasi diri
menulis cerpen dengan embel-embel bahwa setap karya
yang dimuat akan diberikan imbalan honor. Namun,

pemikiran ke arah sana jangan terlalu besar. Jadikah saja ia

sebagai motvasi, tapi bukan untuk dikejar. Yang terpentng

adalah menulis terlebih dahulu. Masalah honor, akan

datang dengan sendirinya saat Anda telah menjadi. Nah,

sekarang tunggu apa lagi? Lekas ambil kertas dan pulpen,

lalu menulis. Bagi yang sudah biasa menulis langsung

di komputer (laptop), nyalakan segera laptop Anda dan
langsung mencoba. Sesungguhnya, “yang bisa hanya
orang-orang yang mau dan berani mencoba”. Salam!!!

Jl. Lamreung No-17 Ulee Kareng
Telp.(0651) 7410466
Fax. (0651) 636947
Email: info@katahati.or.id
Website: www.katahati.or.id
Banda Aceh 23117,
Nanggroe Aceh Darussalam
Indonesia

M

E

N

U

L

I

S

A

C

E

H

D

A

L

A

M

D

A

M

A

I

CCRPS

Center for Confict Resolution
and Peace Studies

IAIN Ar-Raniry

didukung oleh:

Masyarakat Jepang

(From the People of Japan)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->