MODUL BELAJAR

ME NUL I S UNT UK MAHA S I S WA
da n J URNAL I S PE MUL A
MENULIS
ACEH
DALAM
DAMAI
CCRPS
Center for Confict Resolution
and Peace Studies
IAIN Ar-Raniry
didukung oleh:
Masyarakat Jepang
(From the People of Japan)
MODUL BELAJAR
Menulis untuk Mahasiswa
dan Jurnalis Pemula
Menulis
Aceh
Dalam
Damai
Katahati Institute
2009
IsI
Pokok-Pokok Pelatihan
Materi 1
Sejarah Jurnalistik
Materi 3
Reportase dasar
Materi 6
Teknik Wawancara
Materi 8
Indepth Reporting
Materi 9
Pengantar Investigative Reporting
Materi 11
Menulis Feature
Materi 12
Menulis Opini
Materi 14
Menulis Cerpen
Materi 2
Kode Etik Jurnalistik
laMPIRan
Kode Etik Jurnalistik
Kode Etik aJI
Materi 4
angle liputan
Materi 5
Bahasa dan Penulisan
Materi 7
Menulis Straight news
Materi 10
Merancang TOR liputan
Materi 13
Resensi Buku
005
027
049
073
079
093
103
123
013
035
041
065
085
111
20
24
001
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
G
Sekarang ini, kepandaian menulis bukan lagi hak istimewa
dari seorang penulis dan para jurnalis belaka.. Belakangan
ini semua bidang pekerjaan memerlukan kepandaian
yang satu ini. Tak terkecuali sekretaris, bidang hubungan
masyarakat, dokter, marketing, politisi, musisi bahkan
setingkat keuchik sekalipun. Menulis diperlukan dalam
rangka mendukung aktivitas mereka.
Cukup beralasan, kalau kami berkesimpulan bahwa
menulis penting dipelajari. Kemampuan menulis
merupakan satu dari banyak keahlian berharga yang
tidak bisa dianggap sepele. Apapun karir nantinya, jika
memiliki kemampuan menulis yang baik, anda bisa
mengekspresikan secara jelas kemampuan lewat tulisan.
Setelah itu, akan lebih dihargai orang.
Demi menyebarkan kemampuan menulis itulah, Katahati
Institute mencoba menggelar sebuah pelatihan bertajuk
‘Studi Antropologi dan Jurnalisme Damai’. Pelatihan
ditujukan kepada para generasi muda, di antaranya siswa,
mahasiswa dan para jurnalis junior.
Memilih mereka yang muda bukan tanpa alasan. Ke depan
merekalah yang menulis Aceh lebih bernas dengan segala
kenyataan yang berlaku, dalam damai yang diinginkan
abadi dan dalam tujuan kemakmuran masyarakat Aceh.
Belajar mendengar tak cukup tanpa panduan. Kami
kemudian berusaha mengumpulkan bahan-bahan yang
tercecer untuk disatukan dalam sebuah modul yang
gampang dibaca. Sehingga memudahkan yang belajar
memahami lebih jauh.
Mari Menulis
KATA PENGANTAR
ModUL BElaJaR
h
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Lahirlah modul ini, mungkin dapat sedikit membantu
dalam membimbing pelajar dan siapa saja pembacanya.
Bahan pelajaran memang lebih banyak diarahkan
untuk menulis layaknya jurnalis, dari reportase sampai
bagaimana melahirkan sebuah tulisan panjang dan
menarik. Modul juga berisi bagaimana menulis opini,
resensi buku dan juga menulis cerpen.
Sesuai target, ingin menyebarkan ilmu menulis, modul
diberikan tak hanya kepada mereka yang belajar dalam
kelas menulis Katahati Institute. Modul ini juga diberikan
ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Sebuah harapan,
agar generasi ke depan lebih mampu meneruskan ide-
idenya dan kondisi sosial di sekitarnya dalam sebuah
tulisan.
Akhirnya, ucapan terimakasih dari Katahati Institute
kepada tim pengajar dan penulis modul, CCRPS (Center
for Confict Resolution and Peace Studies) IAIN Ar-Raniry
dan Kedutaan Jepang yang telah mendanai berjalannya
program pelatihan Jurnalisme Damai ini.
Lewat buku ini kami ingin berpesan, bahwa menulis
itu perlu. Untuk siapa saja dengan segala macamnya
profesinya. Selamat membaca dan mencoba.
Banda Aceh, September 2009
FAHRUL RIZHA YUSUF
Direktur Eksekutif Katahati Institute
MODUL BELAJAR
Menulis untuk Mahasiswa
dan Jurnalis Pemula
Menulis
Aceh
Dalam
Damai
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
1
Pokok-Pokok
Pelatihan
Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui bagaimana
menulis laporan dengan baik
Mengetahui kode etik
jurnalistik
Mahasiswa dan Jurnalis Pemula
mampu menulis laporan
dengan metode peace jurnalism
dan mempertajam kemampuan
indepth reporting
Mahasiswa dan Jurnalis Pemula
mampu membuat perubahan
dalam menulis laporan untuk
medianya, yang berperspektif
damai, guna memperkuat
perdamaian Aceh.
Mahasiswa dan Jurnalis Pemula
mampu menulis opini dengan
baik.
Mahasiswa dan Jurnalis Pemula
dapat menulis cerpen dengan
latar belakang perdamaian di
Aceh.
Memberikan kemampuan
peliputan dan menulis laporan
jurnalistik bagi mahasiswa dalam
fase damai di Aceh dan menulis
opini. Harapannya, mahasiswa
dapat membuat laporan jurnalistik
dengan baik dan berperspektif
damai, baik dalam merawat
langgengnya perdamaian Aceh
maupun terkait dengan peliputan
dalam agenda Pemilu 2009,
legislatif dan pemilihan presiden.
Mahasiwa diharapkan dapat
mengetahui bagaimana
mengawal perdamaian di Aceh
sesuai kapasitasnya dengan
mengedepankan profesionalitas
jurnalis. Kemudian juga dapat
memberikan kontrol dan
pemantauan pascapemilu legislatif
serta pemilihan presiden 2009.
HASIL YANG DIHARAPKAN TUJUAN PELATIHAN
ModUL BElaJaR
2
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mampu
menghasilkan laporan sesuai
dengan materi pelatihan
Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula menjadi lebih baik
dalam menulis laporan yang
berperpektif damai di media
kampus dan media lainnya.
INDIKATOR KEBERHASILAN
Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula perguruan tinggi di
Aceh
SASARAN
METODE BELAJAR
N Teori
Diajarkan oleh para
mentor yang telah punya
pengalaman di Aceh.
N Praktek
Menulis feature dan opini
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
3
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Materi-materi yang dipilih adalah
ilmu jurnalistik dasar sampai
menengah dalam melakukan
peliputan dan penulisan laporan.
Kemudian juga penulisan opini,
resensi buku dan pengantar
menulis cerpen. Semua materi
akan diarahkan pada liputan dan
penulisan yang berperspektif damai
dalam konteks kekinian Aceh.
Hal ini mengingat, Aceh baru saja
memasuki fase damai setelah lama
dalam konfik. Setidaknya laporan
yang dihasilkan mahaiswa, mampu
merawat perdamaian di Aceh yang
abadi
Kurikulum
Belajar
Adapun materi yang
diajarkan adalah sebagai
berikut;
N Sejarah Jurnalistik
N Sejarah Jurnalistik
N Kode Etik Jurnalistik
N Reportase dasar
N Menentukan angle
liputan
N Teknik menembus
narasumber/teknik
wawancara
N Membuat Straight News
N Bahasa jurnalistik
N Indepth Reporting
N Pengantar Investigative
reporting
N Teknik menulis feature
(tema perdamaian dan
pemilu)
N Merancang TOR Liputan
(tema perdamaian dan
pemilu)
N Menulis opini
N Menulis resensi buku
N Pengantar membuat
cerita pendek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
5
Materi 1.
sejarah Jurnalistik
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui
sejarah awal jurnalistik
¤ Mengetahui sejarah pers
di Indonesia
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
7
Riwayat Media
Teknologi
Teknologi dapat dikata ‘ibunya’ media massa. Pesatnya
perkembangan media sangat bergantung pada asupan
kecanggihan teknologi. Jenis media, kian waktu terus
bertambah. Kini media tdak hanya cetak, radio dan televisi
tapi juga ada cyber.

Internet bahkan telah mengikis sekat-sekat antara
konsumen berita, pembuat berita dan penyedia jasa berita
(media). Sebutan pemirsa, pendengar dan pembaca yang
membangun jarak, kini telah satu; neter.

Kecanggihan internet, telah memperkaya ’aliran’
dalam jurnalistk. Tentu tak asing bagi kita istlah citzen
BAHAN
ModUL BElaJaR
8
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
journalism, grassroot journalism atau partcipatory
journalism. Kegiatan jurnalistk sepert reportase,
menganalisa dan mempublikasikan tdak lagi menjadi
klaim kerjaannya jurnalis, tapi juga neter.

Di Amerika citzen journalism, berkembang sejak dua
dekade terakhir. Akarnya, community based media.
Mulanya perkara ketdakpuasan warga atas pemberitaan
media massa yang dinilai didominasi kepentngan partai.
Puncaknya, bertebarnya pemberitaan yang dilaporkan
masyarakat jelang pemilu 2004 di negeri pamansam itu.
Lamat-lamat, penguna internet memburu informasi di
weblog.

Sementara di Indonesia berkembang sejak 2005, salah
seorang pelopornya Lily Yuliant Farid, salah seorang ibu
rumah tangga. Ia mengasuh htp://www.panyingkul.com.
Situs yang ‘beriman’ pada citzen journalism, berbasis
Makassar, Sulewesi Selatan.

htp://www.wikimu.com salah satu portal citzen
journalism terkemuka di Indonesia.
“Portal informasi komunitas independen dengan konsep
partsipatf. Bukanlah situs berita, walaupun berisi
aneka ragam informasi,” begitu tulis Bayu Wardhana,
administrator blog itu. ”Siapa saja bisa mendapatkan
dan mengirimkan informasi, termasuk menambahkan,
melengkapi, atau menyanggah informasi yang sudah ada.”

Citzen journalism, mendorong industri media untuk lebih
peka informasi ’arus bawah.’ Pabrik-pabrik informasi,
berlomba turut bersaing di ranah maya. Tak hanya sekedar
membuat website, tapi juga memunculkan tampilan
fsik. Tak terhitung sekarang jumlah media cetak, radio
dan tv yang tayang secara online. Nyaris setap, situs
menyediakan ruang suplai informasi dari masyarakat.

Banyak pakar menilai, riwayat media klasik segera tamat.
Bagaimana tdak, hanya dengan modal handphone,
sekarang siapa saja bisa mengakses dan menyumplai
informasi dimana saja dan kapan saja. Pemimpin Redaksi
situs htp://www.acehkita.com , salah seorang yang lebih
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
9
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
sering mengunakan telepon gengam untuk menyuplai
informasi pada khalayak dari pada komputer jinjing.

Tentulah kemudahan itu tdak dijumpai masyarakat
romawi tahun 60 sebelum masehi. Namun bukan
berart, tak ada arus informasi kala itu. Walau belum ada
handphone sehingga tdak bisa bertukar informasi, warga
mengunakan papan annals.

Di papan yang digantung di serambi rumah itu, berbagai
catatan dicantumkan. Fungsinya, serupa pengumuman
bagi orang yang kebetulan melintas. Papan itulah, ‘nenek
moyangnya’ majalah dinding (mading).

Alkisah, Julius Caesar mencari ahli informasi untuk
menyebarluaskan informasi. Salah seorang budak, lulus
seleksi. Ia dibebaskan dari status budak. Tugasnya, sekedar
mengikut kemana saja Caesar berkunjung, lalu menulis
dan menyebarkan setap ucapannya. Istlah sekarang;
talking news!

Dari pengalaman itu, Caesar lantas mengembangkannya
sampai ke Forum Romanum, stadion romawi yang juga
merupakan pusat kota. Ia tdak lagi sekedar menyebarkan
informasi perjalanan, tapi juga informasi rapat dan sidang
senat romawi. Medianya, tdak lagi papan tapi selembar
kertas. Namanya Acta Diurna, inilah produk jurnalistk yang
diyakini paling tua.

Media dan kekuasaan
Selain teknologi, penentu tumbuh kembangnya pers
tdak lain; kekuasaan. Tak semudah merunut riwayat Acta
Diurna, dalam sejarahnya, pers Indonesia sulit ditemukan
pangkal. Namun begitu, tmbul tengelamnya sudah terasa
sejak kolonial Belanda.

Terlepas mana ‘nenek moyang’ pers Indonesia, yang past
Bataviasche Nouvelles en Politque Raisonnementen, yang
didirikan Jan Erdman Jordens pada 1744, sering dijadikan
awal cerita.

Gara-gara bahasa Belanda, ramai kalangan menolak
ModUL BElaJaR
10
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
menyebutnya; moyang pers Indonesia. Bahasa menjadi
pentng bagi pengusut sejarah, bahasa Melayu dipilih
penentu. Namun lagi-lagi buntu, sebab 1850-an sudah ada
surat kabar mengunakan bahasa itu, baik terbit di Jawa
maupun Sumatera. Dari sisi kepemilikkan, bahkan ramai
warga Tionghoa punya surat kabar.
Almarhum Pramoedya Ananta Toer, justru memilih
dan meyakini pers Indonesia dimulai dari Medan
Prijaji, yang terbit di Bandung pada Januari 1907. Entah
punya keyakinan yang sama dengan Pram atau tdak,
Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono, tga tahun silam,
menobatkan Tirto Adhi Soerjo pelopornya Medan Prijaji
sebagai pahlawan nasional.

Singkatnya, kapan pers Indonesia lahir? Sampai sekarang
masih tak jelas. Debat masih panjang. Setap hari pers,
ramai khalayak melempar argumen. Terpopuler, mengugat
hari pers, yang sangat identk dengan hari lahirnya
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kembali kepokok persoalan; pengaruh kekuasaan
terhadap pers. Era kolonial, jelas bukan lahan subur bagi
media. Sederet koran ‘tewas’ kala itu, sebut saja misalnya
Bataviasche Courant, Slompret Melaju, Bintang Timur,
Bintang Barat, Java Bode atau Medan Prijaji. Jelas bukan
bredel saja sumber petaka, tapi ambruknya modal juga
menjadi perkara.

Tapi era kekuasaan Jepang, ramai sejarawan bersepakat
hanya Djawa Shimbun yang hidup di era prakemerdekaan.
Selebihnya dicekik bredel, tanpa ampun, penerbitan
diberangus.

Selepas itu, Djawa Shinbunkai lembaga sensor serupa
‘departemen penerangan’ era Soeharto, merestui terbitnya
lima penerbitan Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar
Matahari dan Suara Asia. Agar pengaruhnya kerdil, hanya
boleh berbahasa Indonesia.

Begitu kekuasaan Jepang ‘tumbang’, Belanda
menghidupkan kantor berita Aneta. Selain itu,
menerbitkan dua koran; Het Dagblad dan Nieuwgier,
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
11
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
keduanya tak merdeka, isi di bawah kendali penerbitan
Grafsche Raad.

Sesunguhnya, bukan cuma kolonialisme yang paling
berbahaya. Diktator juga tak kalah ‘menyeramkan.’ Kondisi
prakemerdekaan, tak jauh beda dengan masa kejayaan
Soeharto; izin terbit, sensor dan bredel.

Oktober 1999, Presiden Abdurrahman Wahid, memangkas
membredel Departemen Penerangan. Lantang ia
menegaskan, bukan tugas negara mengontrol informasi
tapi masyarakat penentunya.

Sejumlah praktsi bersepakat, walau tak ’merdeka’
benar pers Indonesia sempat merasakan beberapa kali
kebebasan. Pertama, priode 1945-1949 usai bebas dari
Belanda dan Jepang. Lalu, 1966-1972 selepas Soekarno
’jatuh.’

Jurus ’mencekik’ pers sebetulnya warisan kolonial.
Reglement op de Drukwerken in
Nederlandsch-Indie, peraturan yang dikeluarkan jaman
Negara Hindia Belanda
1856, merupakan akar sistem pengawasan preventf.

Pola represif dimulai 1906. Aturannya, setap penerbit
wajib mengirim pracetak sebelum masuk mesin. Bredel
mulai diterapkan 1931. Gubernur Jenderal diberikan
kekuasaan untuk melarang terbit media. Sampai sekarang,
Indonesia masih mengenal Haatzaai Artkelen, yang
diberlakukan ‘penjajah’ sejak 1918.

Kala Jepang berkuasa khusus Jawa dan Madura, setap
media yang memiliki izin terbit wajib pakai shidooin
(penasehat) yang ditentukan pemerintah. Shidooin,
bertugas sensor isi.

Tren bredel tak berlanjut, sampai orde baru. 1972, majalah
sendi terjerat delik pers karena dinilai menghina kepala
negara dan keluarga. Hukumannya, majalah tutup. Giliran
Sinar Harapan, 1973 yang naas. Pemerintah, mengangap
mingguan itu membocorkan rahasia negara dengan
ModUL BElaJaR
12
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
memuat anggaran belanja yang belum dibahas parlemen.

Usai petaka Malari 1974, praktsi media ‘terbakar’ hatnya.
Inilah mula tumbuhnya keyakinan; pemerintah Indonesia
ant kebebasan informasi. Bayangkan, 12 penerbitan pers
dibredel sekaligus.

Surat Izin Terbit (SIT) dicabut, alasannya kala itu jauh
dari rasional; melemahkan sendi kehidupan nasional,
mengobarkan isu modal asing, membeberkan korupsi,
mengrogot dwi fungsi TNI, menghasut rakyat serta
mendorong makar. Laksus Kopkamtb Jaya, bahkan
mencabut Surat Izin Cetak (SIC).

Soeharto emosi benar pada media yang meributkan
pencalonannya menjadi presiden, tahun 1978. Tujuh
penerbitan besar menjadi korban pembekuan sementara,
diantaranya Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The
Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore. Dibekukan
lewat telepon dan diperbolehkan terbit kembali setelah
meminta maaf.

Nyaris setap tahun saat Soeharto berkuasa, ada saja
media yang dilumat. 1982, tempo ditutup sementara
gara-gara memberitakan kerusuhan kampanye Pemilu di
Lapangan Banteng, Jakarta. 1983, Jurnal Ekuin dilarang
terbit setelah mengabarkan penurunan patokan harga
ekspor minyak.

Tahun 1984, giliran majalah Expo hanya karena memuat
serial Seratus Milyader Indonesia.Selang dua bulan
selanjutnya, majalah Topik menuai bencana setelah
menurunkan editorial; Mencari Golongan Miskin.

Ah sudahlah, terlalu panjang kisah buram pers Indonesia!
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
13
Materi 2.
Kode Etik Jurnalistik
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui kode
etik jurnalistik
¤ Menjadikan kode etik
sebagai panduan dalam
meliput
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
15
Etika
Alkisah sekitar abad ke-5 SM, Hipokrates menanam
pesan pada murid-muridnya. Isinya, agar mendahulukan
kesembuhan orang lain di atas segalanya. Bahkan ‘dokter’
Yunani kuno itu mencatat sebagai sumpah.
Perjanjian yang dikenal dengan sebutan Sumpah
Hipokrates itu, diyakini para pakar sejarah sebagai
kode etk tertua. Kisah tokoh yang digelar bapak ilmu
kedokteran tersebut, melahirkan dua kata subtansi; janji
dan profesi.
Profesi sendiri berart pekerjaan yang dilakukan sebagai
bentuk kegiatan pokok untuk mengumpulkan pendapatan
ekonomi. Tentu yang diandalkan keahlian individu dan
BAHAN
ModUL BElaJaR
16
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
kelompok dengan cita-cita dan nilai bersama.
Cerita lain. Aristoteles, flusuf asal Yunani, sekitar tahun
384 sebelum masehi menetapkan ethos sebagai dasar
flsafat moral. Secara epistemologi, kata yang yang
bermakna watak dan karakter itu, muasal etk.
Bentuk jamak dari ethos yakni ta etha, artnya, adat
kebiasaan. Indonesia membatasi etka; ilmu tentang
beda baik dan buruk prilaku yang diterima atau ditentang
masyarakat.
Sementara kode, tanda atau simbol berupa kata-kata.
Lamat-lamat, kode dipahami sebagai kesepakatan bersama
yang harus ditaat. Dalam konteks ini, kode berupa
kumpulan peraturan yang sistemats.
Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan, kode etk
berfungsi sebagai ’kompas’ penunjuk arah moral suatu
profesi, serta ukuran profesionalitas seseorang. Kode etk
merupakan produk etka terapan.
Sebab itu, kode etk selalu harus dilahirkan dari
musyawarah. Bila tdak, sulit untuk bisa diterapkan.
Menjadi percuma, bila nilai-nilai yang dicantumkan dalam
etk tdak dijiwai dan dicita-citakan personal bersangkutan.
Negara tentu punya peran pentng untuk menegakan etk.
Fungsinya, secara konsisten mengawasi. Indonesia sejak
sepuluh tahun silam, sudah memiliki Dewan Pers. Tugas
pokok lembaga tersebut jelas disebut dalam pasal 15 ayat 1
undang-undang no 40 tahun 1999, bunyinya; ”dalam upaya
mengembangakan kemerdekaan pers dan meningkatkan
kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang
independen.”
Walau Dewan Pers tak lagi berusia ’belia’ untuk ukuran
lembaga negara. Namun angka pelanggaran etk, justru
bergerak naik. Tahun lalu, ’penjaga moral’ pers ini
mencatat 424 kasus pengaduan.
Maret lalu, Abdullah Alamudi, anggota Dewan Pers
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
17
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
mengumumkan pada tahun 2007, kasus pelanggaran etk
mencapai 240 kasus atau 20 pengaduan. Tapi catatan
2008, sunguh menempatkan profesi jurnalis Indonesia
diambang cemar. 34 kasus setap bulan. Kronis!
Apa sebabnya? Catatan dewan juga berpotensi
menyatakan kesadaran warga untuk mengawasi media
menanjak. Tapi Alamudi lebih yakin, disebabkan lemahnya
pengetahuan jurnalis terhadap kode etk. "Berdasarkan
survei, hampir 85 persen wartawan atau jurnalis tdak
pernah membaca kode etk jurnalistk," kata Alamudi.
Tragis !
Alamudi mengatakan, dengan tdak pernah membaca kode
etk jurnalistk maka sulit memahami Undang-undang Pers
dan bagaimana menjalankan tugas jurnalistknya dengan
benar.
Menurut Alamudi, permasalahan kode etk yang sering
dilanggar; tdak melakukan verifkasi pada narasumber.
Seringkali lupa menerapkan asas praduga tak bersalah.
"Tugas wartawan menyampaikan informasi, bukan
menghakimi. Seorang tersangka tdak boleh dianggap
bersalah sampai hakim menyatakan sebaliknya," kata
Alamudi. Padahal verifkasi merupakan esensi jurnalisme.
Uniknya, walau tak memiliki budaya jurnalisme investgasi.
Sekat-sekat hukum acapkali turut dilompat. Padahal,
investgasi memiliki konteks yang jauh beda dari jenis
lainya. Kode etk, seakan takdirnya selalu bertabrakkan
dengan hukum.
Hukum, tdak berpretensi menentukan sebuah tndakan
ets atau tdak, hanya mengenal legal atau ilegal. Sejarah
jurnalisme, mencatat sering media atau jurnalis secara
sadar melawan hukum demi etka.
Kasus “Pentagon Papers” misalnya. The New York
Times memuat dokumen curian itu melanggar hukum.
Tanggungjawab etk, alasan editor-nya waktu itu, sehingga
berani memuatnya. Pemerintah langsung mengugat, Koran
itu dijerat dengan tuduhan membocorkan rahasia negara.
ModUL BElaJaR
18
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
“Tanggungjawab fundamental sebuah media massa
dalam masyarakat demokrats adalah mempublikasi
informasi yang dapat membantu setap warga negara
Amerika Serikat untuk mengert proses yang terjadi dalam
pemerintah.” Tulis Koran tersebut dalam editorialnya
16 Juni 1971, sebagai ‘deklarasi’ menentang pemerintah
meminta Koran tersebut menghentkan publikasi.
Beberapa hal yang sering menjadi bahan debat dalam
setap pertemuan jurnalis. Debat seru biasanya mengalir
saat membicarakan sumber anonim. Kapan dan saat
sepert apa sumber layak ‘ditutup’ identtasnya?
Menarik sejenak mengingat kembali Bob Woodward,
jurnalis The Washington Post. Lebih dari 30 tahun, ia
menjaga kerahasian sumber anonim dari Gedung Puth
yang membocorkan skandal watergate. Sampai Presiden
Richard M Nixon, tumbang, tetap tak terbongkar si “Deep
Throat”.
Selain sumber anonim, penyamaran juga sering
dipertanyakan. Atas nama kepentngan publik, metode
undercover boleh atau tdak? Ada kisah seru ihwal ini.
Chicago Sun-Times, sempat menjadi fnalis Pulitzer,
namun para juri tak bersepakat memilihnya jadi jawara.
Perkaranya, media tersebut membuat sebuah bar. Niatnya,
mengungkap korupsi polisi. Tapi juri mempertanyakan
demi story yang bagus, atau menjebak aparat?
Bukan hanya itu, alat rekam tersembunyi juga acap kali
menjadi bahan debat panjang. Media televisi Indonesia,
sering sekali mengunakan metode ini. Bahkan hanya
sekedar untuk kepentngan buletn info arts. Adakah
kepentngan publik untuk mengetahui hal-hal pribadi
selebrits?
Bagaimana dengan boleh tdak menyergap narasumber
untuk wawancara? Itu juga bisa menyebabkan diskusi
tanpa ujung. Peristwa narasumber ketakutan saat
bersamaan berhadapan dengan mic, tpe atau kamera,
jelas sudah menjadi keseharian jurnalisme Indonesia. Tapi,
bolehkah itu?
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
19
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Terakhir yang selalu ‘panas’ bila dibahas, kisah politsi atau
pejabat negara berselingkuh. Apakah aspek pribadi layak
dipublikasikan? Bukankah itu penyebaran aib? Apakah
prilaku itu mempengaruhi kinerjanya mengurus negara?
Ada baiknya, dibahas dalam diskusi!
ModUL BElaJaR
20
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
LAMPIRAN #1
Kode Etik
Jurnalistik
Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah
hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-
Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat
untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna
memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas
kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers
itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan
bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat,
dan norma-norma agama.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya,
pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers
dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh
masyarakat.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak
publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan
Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi
sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan
publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.
Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati
Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan
berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta
sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan,
paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
21
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai
keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat
kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada
niat secara sengaja dan semata-mata untuk
menimbulkan kerugian pihak lain.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara
yang profesional dalam melaksanakan tugas
jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada
narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas
sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau
penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi
dengan keterangan tentang sumber dan
ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik
narasumber dalam penyajian gambar, foto,
suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk
menyatakan hasil liputan wartawan lain
sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat
dipertimbangkan untuk peliputan berita
investigasi bagi kepentingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji
informasi, memberitakan secara berimbang,
tidak mencampurkan fakta dan opini yang
menghakimi, serta menerapkan asas praduga
tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan
check and recheck tentang kebenaran
informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang
atau waktu pemberitaan kepada masing-
masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat
pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan
opini interpretatif, yaitu pendapat yang
berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip
tidak menghakimi seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita
bohong, ftnah, sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah
diketahui sebelumnya oleh wartawan
sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta
yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang
dilakukan secara sengaja dengan niat
buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal
belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku
secara erotis dengan foto, gambar, suara,
grafs atau tulisan yang semata-mata untuk
membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari
arsip, wartawan mencantumkan waktu
pengambilan gambar dan suara
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan
menyiarkan identitas korban kejahatan susila
dan tidak menyebutkan identitas anak yang
menjadi pelaku kejahatan.
ModUL BElaJaR
22
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi
yang menyangkut diri seseorang yang
memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang
dari 16 tahun dan belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan
profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala
tindakan yang mengambil keuntungan
pribadi atas informasi yang diperoleh
saat bertugas sebelum informasi tersebut
menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam
bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak
lain yang mempengaruhi independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk
melindungi narasumber yang tidak bersedia
diketahui identitas maupun keberadaannya,
menghargai ketentuan embargo, informasi
latar belakang, dan “of the record” sesuai
dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak
mengungkapkan identitas dan keberadaan
narasumber demi keamanan narasumber
dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan
atau penyiaran berita sesuai dengan
permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala
informasi atau data dari narasumber
yang disiarkan atau diberitakan tanpa
menyebutkan narasumbernya.
d. “Of the record” adalah segala informasi
atau data dari narasumber yang tidak
boleh disiarkan atau diberitakan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau
menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau
diskriminasi terhadap seseorang atas dasar
perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis
kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan
martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa
atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang
kurang baik mengenai sesuatu sebelum
mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan
perlakuan.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak
narasumber tentang kehidupan pribadinya,
kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah
sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi
kehidupan seseorang dan keluarganya
selain yang terkait dengan kepentingan
publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut,
meralat, dan memperbaiki berita yang keliru
dan tidak akurat disertai dengan permintaan
maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau
pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu
secepat mungkin, baik karena ada maupun
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
23
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila
kesalahan terkait dengan substansi pokok.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan
hak koreksi secara proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau
sekelompok orang untuk memberikan
tanggapan atau sanggahan terhadap
pemberitaan berupa fakta yang merugikan
nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk
membetulkan kekeliruan informasi yang
diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya
maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian
berita yang perlu diperbaiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik
jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik
dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau
perusahaan pers
Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006
ModUL BElaJaR
24
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
LAMPIRAN #2
Kode Etik AJI
[Aliansi Jurnalis Independen]
1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar.
2. Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip
kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan
pemberitaan serta kritik dan komentar.
3. Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang
memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan
pendapatnya.
4. Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang
jelas sumbernya.
5. Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting
yang perlu diketahui masyarakat.
6. Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk
memperoleh berita, foto dan dokumen.
7. Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi
informasi latar belakang, of the record, dan embargo.
8. Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang
diketahuinya tidak akurat.
9. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi
konfdensial, identitas korban kejahatan seksual, dan
pelaku tindak pidana di bawah umur.
10. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap
merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras,
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
25
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental
atau latar belakang sosial lainnya.
11. Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa
merugikan masyarakat.
12. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar
kecabulan, kekejaman kekerasan fsik dan seksual.
13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang
dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
14. Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan. (Catatan:
yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk
pemberian berupa uang, barang dan atau fasilitas
lain, yang secara langsung atau tidak langsung,
dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja
jurnalistik.)
15. Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
16. Jurnalis menghindari ftnah dan pencemaran nama
baik.
17. Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-
pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-
prinsip di atas.
18. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan
diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
27
Materi 3.
Reportase Dasar
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui apa itu
reportase
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui cara
melakukan liputan
¤ Dapat melaksanakan tugas
dengan benar
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
29
BAHAN
Reportase
PenganTar
Jurnalistk dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
padanannya “kewartawanan”. Demikian juga dalam
Undang-Undang Pokok Pers Indonesia, dikenal dengan
istlah kewartawanan. Kewartawanan adalah kegiatan,
usaha yang sah yang berhubungan dengan pengumpulan,
pengolahan dan penyiaran berita dalam bentuk berita,
pendapat, ulasan, gambar dan sebagainya dalam bidang
komunikasi massa. Sedangkan wartawan maksudnya
adalah orang yang melakukan pekerjaan kewartawanan.
(Undang-Undang Pokok Pers Indonesia; pasal 1 ayat 3 dan
ayat 4)
Hasil kegiatan jurnalistk kemudian disiarkan pada
ModUL BElaJaR
30
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
beberapa sarana media massa sepert:
× Surat kabar harian
× Surat kabar mingguan
× Majalah
× Radio
× Televisi
× Buletn, dsbnya
Di manapun seorang jurnalis bekerja ia harus memiliki
atau menguasai terlebih dahulu dasar-dasar ilmu dan
keterampilan jurnalis yang sama, dan yang sesuai dengan
spesifkasi bidang tugas pada media tempatnya bekerja.
Bahasa tulisan digunakan untuk mengkomunikasikan atau
menyampaikan ide (pikiran), perasaan, ciptaan, informasi
atas kejadian dan peristwa (fakta) dengan berbagai bentuk
tulisan.
Salah satu bentuk tulisan tersebut adalah berbentuk Berita
(news story). Bentuk tulisan ini banyak digunakan jurnalis
untuk disampaikan kepada umum melalui mass media.
Agar mudah dibaca dan dipahami oleh umum, berita
disusun tertulis sedemikian rupa sehingga berita tersebut
dapat diterima, dibaca, dipahami dengan baik oleh seluruh
lapisan masyarakat. Mulai dari dosen di perguruan tnggi
sampai kepada pesuruh di kantor desa, dari seorang
jendral hingga prajurit, harus bisa memahami berita yang
ditulis seorang jurnalis.
Bahasa yang digunakan tentu berbeda dengan bahasa
buku atau bahasa laporan administrasi kantor. Bahasa
seorang jurnalis dalam menulis berita untuk disiarkan di
media massa sepert surat kabar, majalah, radio, televisi
bersifat umum dan tegas serta banyak menggunakan
kalimat aktf. Hal ini karena masyarakat pembaca berita
luas dan umum, sedikit berbeda dengan bahasa buku
untuk penerbitan buku dengan pembaca yang terbatas.
PengerTian rePorTase
Reportase adalah kegiatan meliput, mengumpulkan fakta-
fakta tentang berbagai unsur berita, dari berbagai sumber/
narasumber dan kemudian menuliskannya dalam bentuk
berita (produk) jadi.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
31
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Berdasarkan tahapan atau tngkatannya, sepert
dikemukakan dalam Vademekum Wartawan (1997), ada
tga, yaitu: reportase dasar, reportase madia (menengah),
dan reportase lanjutan. Reportase dasar menghasilkan
berita langsung (straight news), reportase madia
menghasilkan berita-kisah (news feature), dan reportase
lanjutan menghasilkan berita analisis (news analysis).
Berita adalah informasi hangat yang disajikan kepada
umum mengenai apa yang sedang terjadi, informasi yang
sering pentng sekali untuk pria dan wanita yang mencoba
memutuskan tentang apa yang harus dipikirkan dan
bagaimana bertndak. Ini berart, berita adalah laporan
kejadian yang harus tepat pada waktunya, ringkas, cermat,
dan bukan kejadian itu sendiri.
Empat pertanyaan harus dijawab oleh seorang reporter
(syarat reportase), yaitu:
N Apa syarat utama menjadi reporter?
N Apakah berita?
N Bagaimana proses pencarian berita?
N Bagaimana menulis berita
Proses PeMbuaTan beriTa
Mempersiapkan peliputan
1. Mencari informasi awal tentang kejadian yang bernilai
berita
Informasi awal dapat diperoleh dari berbagai sumber.
Media massa (koran harian, internet, radio, televisi)
adalah salah satu sumber informasi yang terus
mengalir tak pernah hent. Bisa pula dari berbagai
sumber personal, sepert pimpinan lembaga, atau
kolega (kenalan) yang bekerja untuk suatu perusahaan
dan memiliki cukup informasi tentang perusahaan/
lembaga tersebut.
Contoh kejadian: rapat anggaran DPRD, wisuda
perguruan tnggi swasta, peresmian cabang baru bank
syari’ah, lomba ilmiah remaja, seminar kebebasan
pers/ berekspresi, peringatan hari bumi, pelathan PR
khusus BUMN.
2. Memastkan kejadian/ peristwa yang akan diliput/
ModUL BElaJaR
32
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
dicari informasinya
Melakukan konfrmasi berart mengecek kepastan;
baik kepastan jadi-tdaknya acara, kepastan
partsipan/ peserta, penyelenggara, pihak/ pejabat
yang akan membuka acara, rangkaian berserta
waktu/ lamanya acara, aturan atau tata tertb
peliputan (jika ada). Dengan demikian, reporter dapat
mempersiapkan segala sesuatu; baik fsik, mental,
peralatan, maupun tm peliput.
3. Mendokumentasikan seluruh informasi yang
didapatkan
Informasi yang didapatkan setelah peliputan perlu
dikumpulkan, disatukan, ‘ditabung’ sehingga siap
untuk diolah lebih lanjut menjadi berita. Informasi
dapat berupa: keterangan tentang 5W+1H, foto-foto
dokumentasi, press release, profl lembaga, pidato,
pernyataan tertulis, komentar (wawancara) dua-tga
narasumber, dan kesaksian saksi mata.
Tahapan-tahapan reportase adalah sebagai berikut:
Þ Menemukan peristwa dan jalan cerita
Þ Cek, ricek, dan tripel cek jalan cerita
Þ Memastkan sudut berita
Þ Menentukan sudut berita
Þ Menentukan lead atau intro
Þ Menulis berita
Menurut keluasan informasi yang diberikan reportase
dibagi menjadi 3 (tga):
¤ Reportase Dasar (straight news)
¤ Reportase Madya (news feature)
¤ Reportase Lanjutan (news analysis)
Tiga kegiatan jurnalistk diatas ibarat sebuah rumah.
Reportase Dasar mutlak dipakai dalam Reportase Madya
serta Reportase Lanjutan. Tetapi tdak demikian sebaliknya.
Banyak teknik-teknik Reportase Lanjutan yang tdak perlu
dipakai dalam Reportase Madya dan Reportase Dasar.
Demikian juga halnya teknik Reportase Madya dalam
Reportase Dasar.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
33
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Perbedaan pokok diantara ketganya adalah cakupan
informasi. Berita tdak lagi sekedar peristwa langsung
(straight) sepert pada Reportase Dasar, tetapi sudah
dilengkapi dengan sosok (featured) sepert dalam
Reportase Madya karena lebih luas informasinya. Atau
akan menjadi Reportase Lanjutan, jika Reportase Madya
tersebut dilengkapi dengan analisa (News analysys).
Dja’far N. Assegaf, memberikan lima pegangan pokok
dalam penerapan bahasa jurnalistk:
Þ Laporan berita harus bersifat menyeluruh.
Þ Ketertban dan keteraturan mengikut gaya menulis
berita.
Þ Tepat dalam penggunaan bahasa dan tata bahasa.
Þ Ekonomi kata harus diterapkan.
Þ Gaya penulisan haruslah hidup, punya makna, warna
dan imajinasi.
Untuk dapat menguasai keterampilan jurnalistk,
diperlukan lathan yang intensif dan terus menerus.
Selamat mencoba.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
35
Materi 4.
Angle Liputan
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula menentukan isu
dalam melakukan liputan
¤ Tajam melihat angle
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
37
BAHAN
Teknik Peliputan
Berbagai cara untuk mencari gagasan peliputan bisa
dilakukan. Mulai dari ide melihat peristwa sampai
dengan gagasan yang melintas di kepala. Tentu saja setap
orang atau setap lembaga media memiliki cara untuk
mengembangkan liputan dari peristwa yang terjadi.
Bisa pula “diciptakan” sebuah gagasan baru untuk
melakukan liputan bidang baru yang sama sekali
tdak diperhatkan media lain. Membuat liputan baru
merupakan tantangan tersendiri dan bisa menguras
banyak energi. Namun peluang sukses yang bisa diikut
oleh media lain juga sangat besar.
Bagi media massa, gagasan tdak boleh kering apalagi
ModUL BElaJaR
38
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
kehabisan. Setap hari selalu harus ada pilihan angle
dan liputan yang bisa diangkat untuk diberitakan atau di
“feature” kan.
Beberapa cara mencari ide liputan antara lain:
1. Mengembangkan liputan yang sudah ada dalam
berbagai media massa. Manakala kita membaca,
mendengar atau melihat media massa maka setap
orang memiliki sudut pandang sendiri. Sudut pandang
yang sifatnya personal inilah yang bisa dibeberkan
lebih luas dan mendalam dengan sebuah liputan cara
baru. Harga kedelai yang melonjak menyebabkan tahu
dan tempe mahal. Mungkinkah menyusuri kacang
kedelai sampai ke industri perkebunan di luar negeri?
2. Diskusi dengan rekan kerja atau kalangan profesional
dan praktsi. Menanyakan sesuatu kepada kaum
profesional dan praktsi bisa melahirkan banyak
gagasan. Dengan cara bertanya apa yang sedang
berlangsung dan mengapa terjadi sepert ini -misalnya
dalam kasus kedelai naik atau minyak mencapai 100
dollar per barel - maka apa implikasinya terhadap
masyarakat bawah bisa melahirkan liputan segar.
Diskusi yang produktf tentu diskusi yang tdak debat
kusir. Pencarian ide dari diskusi merupakan sebuah
cara yang mudah dilakukan.
3. Membaca berita kecil yang tdak menarik tetapi
mengandung potensi besar. Sebuah berita di surat
kabar daerah atau lokal atau sebuah berita kecil di
televisi juga berpotensi untuk mengundang gagasan
baru. Penangkapan pembobol makam mungkin bisa
dikembangkan seberapa luas terjadi pembobolan dan
apa saja barang yang dicuri lalu siapa penadahnya.
Cara ini bisa dilakukan setap hari. Jika terlalu sukar
bisa saja gagasan itu diendapkan dulu.
4. Mengantsipasi peristwa. Sebuah peristwa yang
terjadi tahunan misalnya mudik Lebaran bisa
dijadikan inspirasi dalam penulisan atau liputan.
Bisa dikembangkan angle yang luar biasa banyaknya.
Berbagai peringatan dan upacara rutn bisa dijadikan
bahan liputan baru jika dikaitkan dengan berbagai
peristwa yang berlangsung. Hari Pendidikan Nasional
atau Hari Penerbangan merupakan sumber berita yang
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
39
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
tdak akan ada habisnya.
5. Peristwa di luar negeri. Hukuman bagi koruptor di luar
negeri sepert di Cina antara lain dengan eksekusi akan
memunculkan ide bagaimana membuat jera koruptor.
Tentu tdak sampai dengan hukuman mat namun
banyak hal bisa dikembangkan dari peristwa yang
terjadi di mancanegara. Kita bisa mengembangkan
banyak cerita di dalam negeri jika meminjam berbagai
insiden di luar negeri.
Wilayah liPuTan
Keberhasilan seorang jurnalis, di samping kemampuannya
menulis berita, ditentukan pula oleh keterampilannya
menemukan fakta berita, juga kemampuannya
menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Berdasar kepada situasi dan objek yang diamat, dapat
dibedakan atas wilayah liputan:

1. Manusia dan situasinya
a. Alam terbuka; pasar, perjalanan, tempat kerja,
tempat hiburan, tempat upacara, dan lain-lain.
b. Ruang tertutup; upacara, rapat, pengadilan, rumah
sakit, tahanan, kantor, dan lain-lain.
2. Alam dan gejalanya Indah, subur, gersang, gunung,
banjir, longsor dan sebagainya.
3. Binatang
Binatang peliharaan, sumber penyakit menular, kebun
binatang, dan sebagainya.
Setelah mengetahui wilayah dan sudut berita langkah
selanjutnya kita siapkan rencana, antara lain; jenis berita
dan dampak yang diharapkan, tempat atau sumber berita
dan jumlah sumber yang berkaitan/berelasi menentukan
alat-alat yang dibutuhkan menghitung jumlah biaya yang
harus disediakan memperkirakan jumlah waktu yang
disediakan.
Rencana-rencana diatas akan sangat membantu
menggambarkan secara keseluruhan tentang hasil,
situasi dan keadaan yang bakal dihadapi di lapangan,
membayangkan kendala-kendala yang mungkin ditemukan
ModUL BElaJaR
40
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
dan cara-cara mengatasinya.
liPuTan laPangan
Ketka berada di lapangan mengadakan observasi, jurnalis
akan merekam peristwa atau fakta yang ditemukan
tersebut secara teratur, sesuai dengan rencana berita. Di
sini kita dituntut untuk menggunakan seluruh alat indera;
mata, telinga, hidung, kulit, lidah serta intuisi. Seluruh
fakta tersebut disimpan dan diendapkan untuk kemudian
direproduksi kembali dalam bentuk tulisan (berita).
Ketelitan sangat dibutuhkan untuk menangkap fakta.
Ketdaktelitan akan menimbulkan efek yang buruk, baik
ketka menyusun berita ataupun setelah berita disiarkan.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
41
Materi 5.
Bahasa dan Penulisan
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula dapat menulis
laporan dengan bahasa
yang baik
¤ Mengetahui metode
penulisan yang baik
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
43
Bahasa dan Penulisan
akurasi Penulisan
Akurasi dalam penulisan berita sangat pentng artnya.
Salah satu krediilitas tulisan sangat dipengaruhi ini.
Kesalahan kita dalam detail-detail kecil bisa merusak selera
orang untuk membaca dan membuat kepercayaan orang
kepada tulisan itu berkurang. Beberapa detail itu antara
lain; nama, jabatan, tempat dan kutpan.
Penggunaan isTilah asing
Tulisan di media diharapkan menjangkau sebanyak
mungkin pembaca. Oleh karena itu, istlah dan idiom
yang digunakan, juga sebisa mungkin harus yang mudah
dimengert. Kalau ada istlah asing, terjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Begitu juga dengan bahasa daerah.
BAHAN
ModUL BElaJaR
44
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Kecuali terpaksa.
hindari singkaTan aTau akroniM yang berlebihan
Penggunaan singkatan memang tdak dilarang sepanjang
proporsional. Namun, kalau bisa, hindari pemakaiannya.
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi
singkatan adalah dengan membuat kata gant yang berasal
dari kata depan lembaga.
Lembaga Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kata gant Departemen Tenaga Kerja
Perusahaan PT Angin Kencang Sehari Semalam
Kata gant PT Angin
Mengurangi Pengulangan
Pengulangan dalam tulisan terjadi dalam banyak bentuk.
Entah itu nama orang, kata kerja mauapun kata sifat.
Pengulangan ini mengurangi rasa bahasa dari sebuah
tulisan. Salah satu cara menguranginya adalah dengan
menyediakan kata gant sebanyak-banyaknya.
Untuk kata gant orang bisa dengan menyebutkan identtas
lain atau informasi tambahan tentang nara sumber.
Misal, asal sekolah, istri, anak, penghargaan, karya dan
semacamnya. Identtas-identtas itu bisa menjadi kata
gant yang memberi warna pada tulisan.
Untuk mencegah pengulangan kata kerja dan kata sifat
bisa dengan memperkaya kosa kata. Tentu saja tetap harus
akurat.
uTaMakan deskriPsi
Tulisan yang kuat dan bagus sangat kaya dengan fakta.
Entah itu fakta obyektf maupun fakta psikologis. Fakta
psikologis itu bisa berupa pernyataan atau pandangan-
pandangan pribadi seseorang. Sedang fakta obyektf
adalah peristwa. Dalam tataran fakta obyektf
inilah deskripsi itu pentng dipakai. Dan, ini juga bisa
memperkuat argumentasi kita dalam tulisan bahwa kita
memang mengetahui kejadian itu. Salah satu caranya
adalah dengan deskripsi yang kuat. Misal, kita menuliskan
bahwa ada pertemuan yang membahas soal pembahasan
tentang suatu masalah. Dalam deskripsi, harus tergambar
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
45
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
suasana rapatnya. Kapan pelaksanaanya, siapa saja yang
datang, apa saja perdebatannya. Siapa ngomong apa. Ada
yang berdebat, nggak. Dan deail-detail lainnya.
Deskripsi yang bagus tak hanya mendapatkan argumentasi
meyakinkan tentang rangkaian fakta yang membangun
hipotesa kita. Selain itu juga memamerkan kepada
pembaca bahwa penulis tahu banyak soal kasus tersebut.
Termasuk detail sepert itu.
PeMakaian kuTiPan
Pemakaian kutpan disarankan untuk proporsional. Untuk
pernyataan yang sifatnya pentng dan kontroversial,
gunakanlah kutpan langsung. “Saya menolak keputusan
itu,” kata salah seorang pejabat. Begitu juga sebaliknya.
Kalau pernyataan itu sifatnya umum, jadikan saja jadi
kutpan tdak langsung. Apalagi jika kutpan itu brupa
petunjuk dan data. Karena disampaikan dalam bahasa
lisan, biasanya kutpan sepert itu agak susah dicerna kalau
dikutp langsung.
saTu Tulisan, saTu fokus
Saat membuat berita kita dianjurkan untuk menulis satu
ide dalam satu kalimat. Ini membuat kalimat itu mudah
dicerna. Begitu juga dengan tulisan. Dalam tulisan panjang,
pemisahan tulisan dalam beberapa bagian adalah salah
satu cara yang lazim dipakai.
Dalam Tempo Edisi NO. 28/XXX/10 - 16 September 2001,
tulisan tentang amplop dan sogok di DPR itu dipecah
menjadi 7 tulisan. Judulnya:
⇒ Tiga Lembar Cek dari Senayan (tulisan utama)
⇒ Antara Senayan dan Gresik
⇒ Indira Damayant Sugondo: "Amplop-Amplop itu
Berseliweran"
⇒ Gaji Besar, tapi Hibah Lebih Besar
⇒ Pundi yang Tiba-Tiba Membengkak
⇒ Yang Tersembunyi di Laci Komisi
⇒ Dewan untuk Ke(tdak)hormatan Anggota
Hati-Hati penggunaan anak kalimat
Penggunaan anak kalimat selama ini dipakai untuk
ModUL BElaJaR
46
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
menyisipkan informasi ke dalam suatu kalimat. Namun,
penggunaan anak kalimat yang panjang dan rumit bisa
membuat kalimat itu tak bisa langsung dipahami.
Salah satu contoh sederhananya begini:
Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Menteri Koordinator
bidang Politk dan Keamanan, dipastkan mengikut Pemilu
Presiden putaran kedua.
Kalimat itu bisa dipecah dengan cara begini:
Susilo Bambang Yudhoyono dipastkan mengikut Pemilu
Presiden putaran kedua. Mantan Menteri Koordinator
bidang Politk dan Keamanan itu...
pemiliHan kata (Diksi)
“Mulutmu, Harimaumu.” Kalimat ini deskripsi tepat
tentang bahayanya lidah dan kata. Dalam salah satu aksi
demonstrasi, misalnya terjadi bentrok yang berujung pada
pemukulan terhadap mahasiswa. Kita bisa telit, apa yang
ditulis media keesokan harinya untuk medeskripsikan
peristwa itu? Polisi memukuli mahasiswa? Polisi
menggebuki mahasiswa? Polisi menghajar mahasiswa?
Atau apa? Manakah kata yang paling tepat?
Tentu saja kita harus merujuknya kepada peristwa
di lapangan. Carilah kosa kata yang paling mendekat
kebenaran. Untuk itu, pengujian silang sangat diperlukan.
Begitulah dalam kita memilih kata untuk mendeskripsikan
masalah-masalah lainnya.
ekonoMi kaTa
Salah satu penyakit dari penulis pemula adalah kurang
hemat dalam kata-kata. Mungkin karena banyak data yang
didapat sehingga merasa perlu memasukkan semuanya
dalam berita. Atau, karena anglenya kurang tajam.
Padahal, space media terbatas. Karena itulah, prinsip
ekonomi kata itu juga pentng.
Memang tak semata-mata soal ketersediaan tempat. Yang
juga tdak bisa diabaikan adalah rasa bahasa dari tulisan.
Tulisan yang tdak ekonomis akan terlihat bertele-tele.
Sebab, ada kalimat yang sebenarnya tak memiliki makna
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
47
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
banyak tapi tetap dimasukkan. Padahal, kalau dibuang, itu
tak mengganggu makna kalimat.
Ekonomi kata bisa dilakukan atas kata atau kalimat. Kata
yang bisa dihemat antara lain; tetapi jadi tapi, daripada
jadi dari, dan sebagainya. Untuk kalimat, harus dilakukan
dengan membaca kalimat secara utuh. Setelah itu dilacak
kata-kata yang tak memberi art kepada kalimat
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
49
Materi 6.
Teknik Wawancara
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mengetahui
bagaimana melakukan
wawancara
¤ Bentuk-bentuk wawancara
¤ Menembus narasumber
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
51
Teknik Wawancara
Wawancara barangkali merupakan salah suatu bentuk
kagiatan jurnalistk yang paling pentng dan paling
sulit. Wawancara menuntut sejumlah keterampilan;
pengetahuan yang cukup, diplomasi, energi, keterampilan
manusiawi, ketekunan dan keberanian.
Wawancara yang bagus seringkali kedengaran sepert
orang bercakap-cakap, namun orang bercakap-cakap
bukanlah wawancara. Percakapan biasa cenderung tdak
tersusun dengan baik; dan tdak selalu bertujuan jelas.
Sedangkan wawancara mengikut rencana tertentu. Suatu
wawancara dirancang untuk memperoleh informasi atau
untuk menguji kebenaran suatu argument. Jadi, sangat
pentng untuk itu dan persisnya apa yang ingin anda
BAHAN
ModUL BElaJaR
52
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
peroleh dari wawancara itu.
benTuk WaWancara
Berdasarkan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan,
wawancara dapat dibedakan atas tujuh macam:
N Man in the street interview
N Casual interview
N Personality interview
N News interview
N Telephone interview
N Prepared queston interview
N Group interview
Man in The sTreeT inTervieW
Menanyai orang-orang di jalanan, untuk mengetahui
tanggapan dan pendapat khalayak terhadap peristwa
tertentu. Orang-orang yang ditanyai/tanggapan tdak
ditentukan, tetapi dipilih secara acak. Kelemahan dari
wawancara jalanan ini adalah sempitnya waktu untk
mengajukan pertanyaan serta untuk memberikan
kejelasan. Dengan demikian reaksi yang diwawancarai
akan dangkal pula, karena keterbatasan waktu.
Untuk lebih amannya dari tuduhan mengada-ada
sebaiknya menggunakan recorder waktu wawancara serta
kamera, sebab yang diwawancarai sulit ditemukan kembali
untuk re-checking.
casual inTervieW
Adalah wawancara yang dilakukan secara mendadak
atau mendesak, atau wawancara yang dilakukan lantaran
kebetulan bertemu dengan nara sumber yang relevan
dengan masalah yang tengah aktual.
PersonaliTy inTervieW
Atau wawancara mengenai pribadi seseorang yang
ditokohkan. Biasanya dimuat dalam bentuk profl,
tokoh siapa dan mengapa yang menonjolkan sikap dan
pandangannya yang patut dijadikan contoh yang baik oleh
khalayak. Wawancara pribadi juga bisadilakukan terhadap
orang yang menunjukkan keluarbiasaan, aneh dan
bertngkah eksklusif.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
53
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
neWs inTervieW
Adalah satu bentuk wawancara yanbg paling banyak
digunakan jurnalis dalam mengumpulkan fakta yang akan
disiarkan, baik sebagai sumber berita, maupun untuk
mendapatkan suatu konfrmasi atas fakta lainnya.
Biasanya, wawancara berita ini dilakukan untuk
mendapatkan bahan berita langsung (straight news) sesuai
dengan penetapan jadwal berita (news schedule).
TelePohone inTervieW
Telephone interview adalah wawancara yang dilakukan
dengan menggunakan telepon, sering digunakan untuk
berita-berita yang sangat mendesak deadline. Atau yang
sering kita lihat akhir-akhir ini di televisi wawancara
dengan nara sumber langsung dilakukan pada saat
siaran berlangsung. Kelemahan interview ini, tdak bisa
mengetahui reaksi dan mimik air muka yang diwawancarai.
PrePared quesTion inTervieW
Adalah wawancara yang sering digunakan mass media
untuk memperoleh tanggapan dan pendapat terhadap hal-
hal yang rumit, menyangkut data-data, dan menyangkut
disiplin keilmuan.
Untuk jenis ini, dafar pertanyaan dipersiapkan dan ditulis
terlebih dahulu kepada nara sumber atau dikirimkan
melalui pos atau kurir. Saat nara sumber menjawab
pertanyaan yang mewawancarai tdak perlu hadir.
Wawancara tertulis ini akan memberikan waktu yang
cukup kepada nara sumber guna mempertmbangkan dan
memberikan jawabannya.
grouP inTervieW
Group interview adalah wawancara antara serombongan
jurnalis dengan sekelompok nara sumber, bisa juga disebut
symposium.
Wawancara sepert ini biasanya dimulai dengan sejenis
konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan
menghadirkan sekelompok sumber (ahli) dan jurnalis juga
ModUL BElaJaR
54
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
terdiri atas beberapa media.
Wawancara (interview) adalah salah satu cara wartawan
untuk mendapatkan berita besar secara eksklusif,
yakni berita yang tdak bisa dimiliki oleh media lain.
Sebelum melakukan wawancara, seorang jurnalis harus
mempersiapkan diri sebaik-baiknya, agar wawancara
berlangsung dengan baik sebagaimana yang diharapkan
antara lain:
O Tentukan sasaran/topik yang akan ditanyakan. pelajari
juga latar belakang dari nara sumber.
O Pelajari sebanyak mungkin segala sesuatu yang
menyangkut topic yang hendak diajukan kepada nara
sumber.
O Siapkan semua alat bantu yang dibutuhkan (buku
catatan, pena, kamera, dan sebagainya).
O Setelah menetapkan topik atau masalah yang
hendak ditanyakan, kita sebaiknya menuliskan dafar
pertanyaan, fakta-fakta, atau pandangan yang akan
dikorek dari nara sumber.
Suatu wawancara dapat bersifat ringan, sepert obrolan,
bahkan menghibur. Ada juga wawancara yang semata
berisi fakta. Wawancara berusaha menjawab pertanyaan
dasar sepert siapa? Apa? di mana? dan kapan? Inilah
pertanyaan mudah dan dalam beberapa hal memang
itulah yang diperlukan. Namun kita bisa menambahkan
pertanyaan analisa sepert apa? dan mengapa?
Tentu ada banyak cara untuk melakukan wawancara bagi
suratkabar, radio atau televisi, namun secara umum ada
beberapa aturan yang berlaku apapun medianya.
 Putuskan apa yang menjadi fokus wawancara dan
apa yang dapat diliput secara realists mengingat
pertmbangan waktu yang tersedia. Fokus ini harus
tdak terlalu sempit dan tdak terlalu luas.
 Buatlah persiapan. Cek nama, terutama nama orang
yang akan Anda wawancara, fakta-fakta dan angka-
angka. Ketegasan anda dan kerjasama dari orang
yang anda wawancara akan berpengaruh bila anda
membuat kesalahan dan bodoh atas kesalahan fakta.
 Buatlah garis besar apa persisnya yang Anda inginkan
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
55
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
dari wawancara itu (anda bisa menulisnya dalam
secarik kertas atau membayangkan dalam kepala
anda). Anda bisa juga menulis pertanyaan-pertanyaan
anda di kertas sebagai panduan, namun jangan pernah
mengikut pertanyaan itu sepenuhnya. Anda bisa lupa
pokok persoalan yang sangat pentng untuk ditanyakan
jika anda hanya berkonsentrasi pada urutan-urutan
pertanyaan tertulis yang sudah anda biat tanpa
menghiraukan jawaban yang mengalir dari orang yang
anda wawancara.
 Bicarakan topik wawancara dengan orang yang anda
wawancara. Dia harus mengetahui hasil apa yang anda
inginkan dari wawancara itu, sehingga dia dapat siap
dengan jawaban yang layak untuk dibaca didengar
atau dilihat oleh khalayak.
 Lebih baik wawancara dilakukan sendiri saja.
Wawancara di depan banyak orang lain dapat berubah
menjadi sepert pertunjukkan.
 Dengarkan selalu apa yang dikatakan oleh orang yang
anda wawancara dan berikan respon selayaknya.
 Selama wawancara itu anda harus tetap independen.
Bersikaplah tegas, otoritatf dan menantang, namun
anda harus tetap sopan dan bersikap adil.
 Jangan biarkan orang yang anda wawancara
mengendalikan jalanya wawancara dan malah
mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan harus pendek dan tepat, langsung
ke permasalahan. Dengan mengajukan pertanyaan yang
panjang dan rumit, anda hanya akan membingungkan
orang yang anda wawancara dan audiens.
Berikut beberapa saran yang mungkin membantu:
1. Tanyakan apa yang kira-kira juga ingin ditanyakan oleh
pembaca/pendengar anda
2. Hindari pertanyaan ‘tertutup’ yang bisa dijawab
dengan ‘ya’ atau ‘tdak’. Orang yang sulit mungkin
akan memberikan jawaban sepert itu. Lebih banyak
anda memulai pertanyaan dengan kata Apa. Siapa.
Mengapa, Bagaimana, Kapan dan Di mana?
3. Ajukan pertanyaan satu demi satu. Orang yang anda
wawancarai (dan anda sendiri) mungkin lupa atau
ModUL BElaJaR
56
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
dengan sengaja menghindari pertanyaan yang kedua
atau ketga
4. Jangan membuat asumsi. Seseorang yang
berpengalaman mungkin akan mengatakan sesuatu
untuk membelokkan wawancara. Dia juga mungkin
juga dapat menunjukkan bahwa anda tdak paham
akan apa yang sedang anda bicarakan.
5. Jangan mengajak bertengkar! Kalau anda kehilangan
kesabaran atau mengambil sikap memihak, orang
yang anda wawancarai mungkin akan memanfaatkan
kesempatan tersebut untuk menentang anda secara
langsung dan mengambil alih kendali jalannya
wawancara.
6. Jangan pernah mencoba mencakup topik yang terlalu
luas.
7. Buatlah pertanyaan akhir untuk membungkus
pertanyaan anda.
Dalam proses wawancara, si pewawancara memantau
semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang
yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana
santai dan tdak-mengancam, yakni suasana yang kondusif
bagi berlangsungnya wawancara.
Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si
pewawancara ketka wawancara sedang berlangsung.
Sepert: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana
nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh
dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau
mencoba menyembunyikan sesuatu?
Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan
berbagai hal: mendengarkan, mengamat, menyelidiki,
menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia sepert
seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam
ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-
kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia
mengklarifkasi, kadang-kadang pula ia sepert pasif atau
menjadi pendengar yang baik. Seberapa sukses suatu
wawancara tergantung pada kemampuan melakukan
kombinasi berbagai keterampilan yang ini secara
pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
57
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
diwawancarai.
Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari
informasi apa yang diinginkan si pewawancara dan
bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang
diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari
yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistk. Dari yang
mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat
defensif dan menutup diri.
Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat
pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya,
tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik
dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba
mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh
pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersikat
defensif bahkan tertutup.
Wartawan yang baik harus mengert bagaimana cara
“memegang” orang yang diwawancarai dan menangani
situasi. Wartawan harus bisa merasakan, apa yang harus
dilakukan pada momen tertentu ketka berlangsung
wawancara –kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus
ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan
tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan
pertanyaan-pertanyaan tajam.
PersiaPan WaWancara
Persiapan-persiapan tersebut pentng untuk mendapat
perhatan, karena jangan sampai mempermalukan diri
sendiri, lebih-lebih lembaga yang menjadi induk dari
kegiatan wawancara ini. Dengan persiapan yang matang
insya Allah mampu menggali sumber berita atau informasi
yang diperlukan untuk mengembangkan berita dan sekali
lagi sebelum bertemu dengan nara sumber cek ulang
peralatan jurnalistk.
Untuk mendapatkan hasil yang baik maka harus mampu
menemukan orang yang, sesuai dengan bidang dan
keahlian, atau bisa juga karena hobi terkait dengan
permasalahan yang akan menjadi topik wawancara.
Misalnya, soal kerusakan lingkungan tentunya wawancara
ModUL BElaJaR
58
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
di arahkan kepada orang-orang menguasai masalah
tersebut, sehingga pembicaraan ‘nyambung’.
Kalau sudah ada janji mau wawancara dan waktu sudah
ditentukan maka sudah selayaknya menepat waktu
yang sudah disepakat bersama. Namun wawancara itu
bisa dilakukan di manadan kapan saja, asal sama-sama
dalam kondisi yang memang sifatnya serba mendadak,
tetapi penguasan masalah tetap harus dipegang, supaya
informasi yang didapatkan sesuai dan memberi nilai
tambah pada berita yang diharapkan.
Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, sepert di
depan pintu, ketka nara sumber sedang masuk mobil asal
nara sumber memberi kesempatan sepert itu. Namun
itu diperlukan persiapan matang dari wartawan yang
bersangkutan, terutama pengenalan lebih dulu pewancara
dengan nara sumber.
Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan
dengan langkah-langklah sebagai berikut:
Pertama, sebelum melakukan wawancara harus
menguasai persoalan yang akan dipercakapkan, kalau
perlu membuat dafar pertanyaan dari yang bersifat
umum sampai detail.
Kedua, tahapan berikutnya menentukan arah
permasalahan yang digali dengan dilengkapi berbagai
berita berkaitan dengan bahan yang akan dijadikan
bahan wawancara.
Ketga, setelah menentukan permasalahan,
menetapkan siapa-siapa saja yang akan menjadi nara
sumber untuk diwawancarai. Dalam hal ini harus
jelas kriterianya mengapa dalam masalah ini harus
mewawancarai nara sumber tersebut.
Keempat, mengenali sifat-sifatnya yang akan menjadi
nara sumber sebelum terjadi wawancara. Untuk
mengenali lebih dekat nara sumber, bertanya kepada
oranglain yang tahu atau dekat dengan nara sumber,
atau membaca tulisan dan riwayat hidup termasuk
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
59
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.
Kelima, sebelum bertatap muka membuat janji dulu
sebelum melakukan wawancara, untuk meminta dan
m,enentukan kapan waktu yang luang dan tepat tepat
untuk melakukan wawancara, karena biasanya sumber
berita person yang sibuk, sehingga pengaturan waktu
cukup ketat.
Keenam, yang tak kalah pentngnya persiapan
mental untuk mengadakan wawancara, karena
masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda,
sehingga diperlukan membaca karakter calon nara
sumber. Persiapan lainnya, peralatan yang diperlukan
antara lain, bloknote, ballpoint, tape recorder atau
kamera kalau memang diperlukan. Dianjurkan untuk
berpakaian rapi dan menghindari penampilan yang
kurang sopan.
Pelaksanaan WaWancara
Dalam wawancara yang perlu mendapat perhatan adalahh
hal-hal sebagai berikut:
Menjaga Suasana
Ini sangat pentng dalam pelaksanaan wawancara
dibuat lebih rileks, sehingga berjalan dengan santai
tdak terlalu formal meskipun membahas masalah
yang serius. Untuk menciptakan suasana yang nyaman
dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum
memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak
kalau dibuka dengan hal-hal yang umum. Misalnya,
soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan,
hobi dan sebagainya yang mungkin menyetuh hat.
Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik
simpat supaya nara sumber sehibngga tdak terlalu
pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali
kalau pewawancara sudah sangat dekat basa-basi
itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang waktu
untuk wawancara sangat terbatas, pewawancara
harus tanggap. Itupun juga kita dibicarakan sebelum
melangsungkan wawancara.
ModUL BElaJaR
60
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya
dilakukan, antara lain jangan membuat nara sumber
marah atau tersinggung, sehingga percakapan
langsung diputus. Jangan marah-marah atau
memojokkan nara sumber.
Bersikap Wajar
Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara
sumber yang benar-benar pakar, tetapi tdak jarang
yang dihadapi tdak menguasai persoalan. Namun
demikian tdak perlu rendah diri atau merasa lebih
tnggi dari nara sumber, seharusnya bisa mengimbangi
atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa
mencegah supaya nara sumber tdak berceramah,
karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini
sangat diperlukan.
Karena itu dalam persiapan wawancara ini
diperlukan,menguasai materi, selain menguasai nara
sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar
tdak direndahkan. Apabila menghadapi nara sumber
yang tdak menguasai masalah bisa mengarahkan
tetapi tanpa harus menggurui, sehingga bisa
memahami persoalan yang akan digali.
Memelihara Situasi
Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa
sedang menghadapi nara sumber, karena itu dalam
wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi
supaya mendapat informasi yang dibutuhkan dan
jangan sampai terjebak ke dalam situasiperdebatan
dengan nara sumber yang diwawancarai. Juga perlu
dihindari situasi diskusi yang berkepanjangan atau
bertndak berlebihan sampai menjurus ke arah
interograsi apalagi menghakimi.
Misalnya, wawancara dengan seorang direktur rumah
sakit terkait dengan kasus fu burung, karena etka
kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan.
Namun pewawancara memaksakan kehendak,
sehingga menimbulkan ketegangan dan menghakimi
direktur tersebut, bukan mendapat informasi malah
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
61
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
tdak mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dalam
menghadapi kasus sepert itu pewawancara harus
mampu mencari celah untuk kembali pada situasi,
agar mendapatkan informasi yang lebih jelas.
Tangkas Menarik Kesimpulan
Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk
secara seta mengikut setap jawaban yang diberikan
nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan
tangkas. Dengan kesimpulan yang tepat wawancara
terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang
sering dilakukan wartawan pada saat mengambil
kesimpulan kurang tangkas, sehingga nara sumber
harus mengulang kembali apa yang telah disampaikan.
Kalau itu terjadi berulangkali maka akan membuat
nara sumber bosan, sehingga wawancara tdak
berkembang, membuat pintu informasi menjadi
tertutup. Akibat yang paling parah kehilangan sumber
berita, karena nara sumber takut salah kutp. Bagi
nara sumber yang telit dan krits, satu persatu kalimat
akan menjadi pengamatan. Salah kutp ini harus
dihindari dalam setap wawancara, Jangan takut minta
pernyataan diulang atau bahkan ada kata yang kurang
jelas sepert ucapan bahasa Inggris harus selalu dicek
kebenaran art dan ejaannya.
Menjaga Pokok Persoalan
Menjaga pokok persoalan sangat pentng dalam
setap wawancara agar dalam menggali informasi
mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil
yang memuaskan. Seringkali dalam menjaga pokok
persoalan ini diliput perasaan rikuh kalau kebetulan
ayng diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas
dalam hal tertentu. Serngkali untuk menjaga situasi
ini ada anjuran pewawancara mengikut apa yang
dikatakan nara sumber.
Meski harus mengikut pembicaraan nara sumber
diharapkan tdak lari dari pokok persoalan bahkan
berusaha mempertajam pokok masalah, agar tetap
mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Contohnya,
ModUL BElaJaR
62
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang
kerusakan lingkungan, pada awalnya memang
bercerita tentang lingkungan tetapi di tengah-tengah
pembicaraan membelok ke arah lain dan menyimpang
dari pokok persoalan. Kalau sudah demikian maka
yang dilakukan segera mengembalikan int persoalan.
Krits
Sikap krits perlu dikembangkan dalam wawancara
agar mendapat informasi yang lebih terinci dan
selengkap-lengkapnya. Untuk itu diperlukan kejelian
dalam menangkap persoalan yang berkaitan dengan
pokok pembicaraan yang sedang dikembangkan. Jeli
dan krits merupakan kaitan dengan kemampuan
menangkap setap kata dan kalimat yang disampaikan
oleh nara sumber.
Kekritsan tersebut tdak hanya menyangkut pokok
persoalan, tetapi juga menangkap gerakan-gerakan
yang diwawancarai. Berkait dengan pokok persoalan
kalau krits menangkapnya maka bisa meluruskan
data bila nara sumber salah mengungkapkannya. Baik
itu tentang angka, tempat kejadian dan sebagainya.
Ini pentng sebagai bahan untuk menuliskan laporan,
sehingga benar-benar utuh dan penuh warna.
Kalau perlu ketka nara sumber sedang memberikan
keterangan dalam keadaan gelisah, terus menerus
mengepulkan asap rokok dan sebagainya, hal ini
harus ditangkap sebagai isyarat yang bisa dituangkan
dalam tulisan. Dengan demikian pembaca mendapat
gambaran utuh dan laporan tdak kering.
Sopan Santun
Dalam wawancara sopan santun perlu dijaga, karena
ini menyangkut etkat pergaulan di dalam masyarakat
yang harus mendapat perhatan dan dipegang teguh.
Dalam menghadapi nara sumber kendali sudah
mengkenal betul, tdak bisa bersikap sembarangan,
sombong atau perilaku yang tdak simpatk lainnya.
Bila akan merokok, sementara nara sumber tdak
merokok harus minta izin. Apalagi kalau ruangan
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
63
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
tempat wawancara ber-AC maka sopan santun perlu
dijaga.
Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa
mengucapkan rasa terima kasih kepada nara
sumber,. Karena telah memberikan kesempatan
dan mendapatkan informas dari hasil wawancara.
Pada akhir wawancara pesan kepada nara sumber
untuk tdak keberatan dihubungi bila ada data yang
diperlukan ternyata masih kurang.
Hal-hal prakts yang perlu mendapat perhatan dalam
mengadakan wawancara berkaitan dengan sopan
santun:
Tidak perlu gusar bila nara sumber yang menjadi target
wawancara menolak dengan alasan sibuk. Mencoba
dan mencoba lagi, agar diberi waktu untuk wawancara
merupakan suatu upaya, sampai mendapat
kesempatan untuk membuat perjanjian waktu.
Untuk mendapat perjanjian bisa melalui telepon
atau mendatangi langsung kantor atau rumahnya.
Dihindari datang terlambat pada saat akan melakukan
wawancara dan lebih baik datang lebih awal. Jangan
sampai salah mengeja nama orang yang diwawancarai
dan lebih baik minta kartu nama atau paling tdak
ketka nama nara sumber itu sulit dieja diminta dengan
hormat untuk menuliskan di bloknote yang digunakan
untuk mencatat hasil wawancara.
Cek kembali peralatan tulis apakah sudah lengkap,
karena kalau sampai ada peralatan tdak terbawa
bisa membuat suasana awal dari wawancara menjadi
kurang berkesan. Sebutkan alasan melakukan
wawancara dengan tempat kerja, sehingga nara
sumber yang diwawancarai mengert benar maksud
wawancara.
Tidak perlu menjanjikan kepada nara sumber hasil
wawancara past dimuat, namun bisa meberikan
keyakinan kegunaan dari hasil wawancara tersebut.
ModUL BElaJaR
64
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Penulisan WaWancara
Hasil wawancara bisa dituangkan dalam beberapa bentuk
penulisan sesuai dengan tujuan wawancara yang telah
dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan
hasil wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain
dengan bentuk penulisan yang didasarkan pada satu
wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk
bahan penulisan berita atau straight news, laporan atau
tulisan khusus wawancara.
Dengan demikian berita yang disajikan merupakan
perpaduan antara fakta (fact news) dan opini atau
pendapat atau omongan (talk news). Untuk menggali
keterangan atau informasi atau keterangan dari seseorang,
wawancara yang diperlukan tdak sekadar sambil lalu,
tetapi memerlukan kekhususan. Dalam dunia jurnalistk
wawancara khusus opini mempunyai nilai tambah, lebih-
lebih kalau yang menjadi sumber wawancara memiliki
nama atau keistmewaan dan opini yang dikemukakan
merupakan suatu yang sama sekali baru dan belum pernah
dikemukakaan kepada media lain.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
65
Materi 7.
Menulis straight News
TUJUAN
¤ Peserta dapat menulis
berita pendek dengan
baik
¤ Membuat lead berita
¤ Megetahui nilai-nilai
berita
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
¤ Praktek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
67
Menulis Berita Pendek
peg (suDut Berita)
Menulis berita dengan baik hanya mungkin setelah lebih
dahulu memastkan sudut berita. Dan prasyarat liputan
yang terarah ialah memastkan sudut berita sejak kita
berada di lapangan.
leaD (intro)
Setelah sudut berita, kegiatan selanjutnya adalah
menentukan Lead atau Intro. Dalam beberapa buku, lead
diartkan dalam banyak art, sepert Amerika menyebutnya
lead atau nose; Inggris menyebutnya intro.
Lead sangat pentng. Ingat, lead adalah awal cerita,
suatu janji kepada pembaca mengenai apa yang terjadi
BAHAN
ModUL BElaJaR
68
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
mendatang. “Tiga detk dan pembaca akan menentukan
untuk membaca atau pindah ke cerita lain. Itulah seluruh
waktu yang ada bagi kita untuk menangkap pandangan
selintas pembaca dan menahannya,” kata Donal Muras
dalam bukunya Writng for your readers.
Waktu sangat berharga bagi pembaca. Mereka akan
memutuskan untuk mulai membaca atau pindah. Bila
mereka mulai membaca, banyak diantaranya hanya
sepintas. Dua sampai empat paragraf.
Selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis lead atau
intro, termasuk lead peg, yang biasa digunakan dalam
Reportase Dasar atau Straight News. Patut diingat, bahwa
kita tak mungkin menentukan Lead atau Intro, tanpa
lebih dulu memastkan Sudut Berita. Sama halnya dengan
tak mungkin memastkan Sudut Berita tanpa lebih dulu
mencek Jalan Cerita, dan seterusnya.
Lead, atau dalam bahasa Indonesia bias diterjemahkan
menjadi teras berita, terletak di alinea atau paragraph
pertama. Lead merupakan bagian dari komposisi atau
susunan berita, yakni setelah judul berita (head) dan
sebelum badan berita (news body).
Lead umumnya disusun dalam bentuk;
• Summary lead atau conclusion lead (teras berita yang
menyimpulkan dan dipadatkan). Contoh: Gubernur
Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (2/4), mengunjungi
korban kebakaran di ruang gawat darurat Rumah Sakit
Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.
• Statement lead (teras berita berupa pernyataan).
Contoh: Kepala Negara menegaskan, pemerintah akan
bertndak tegas terhadap pelaku peledakan Bom II di
Bali yang mengakibatkan tewasnya beberapa warga.
• Quotaton lead (teras berita kutpan). Contoh: “Kami
akan menampilkan aksi panggung yang berbeda dalam
pergelaran nant malam,” demikian dikatakan Rafi,
vokalis Kande Group kemarin, menjawab keluahan
fansnya yang menganggap penampilan mereka
monoton.
• Contrast lead (teras berita kontras). Contoh: “Wali Kota
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
69
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
mencanangkan Banda Aceh, sebagai Bandar Wisata
Islami, yang bersih rapai dan indah. Tapi, dibeberapa
pojok pasar sampah berserakan.
• Exclamaton lead (teras berita yang menjerit). Contoh:
“ Tidak…!” demikian teriak histeris terdakwa AP,
mendengar putusan hakim yang memvonisnya dengan
hukuman mat.
Ada sepuluh pedoman mengenai penulisan teras berita:
 Teras berita yang menempat alinea pertama harus
mencerminkan pokok terpentng berita. Alinea
pertama dapat terdiri dari satu kalimat atau lebih,
akan tetapi sebaiknya jangan sampai melebihi tga
kalimat.
 Teras berita jangan mengandung lebih dari 30-45 kata.
 Teras berita harus ditulis semenarik mungkin dan
sebaik-baiknya, sehingga: mudah ditangkap dan cepat
dipahami. kalimatnya singkat, sederhana, susunan
bahasanya memenuhi prinsip ekonomi bahasa, dan
menjauhkan kata mubazir. satu gagasan dalam satu
kalimat. dibolehkan memuat lebih dari satu unsur
5W+1H.
 Hal yang tdak mendesak, berfungsi sebagai
pelengkap, hendaknya dimuat dalam badan berita.
 Teras berita lebih baik mengutamakan unsure “apa”
(what).
 Teras berita juga dapat dimulai dengan unsure “siapa”
(who). Tetapi, bila unsur siapa itu kurang menonjol,
sebaiknya dimuat pada badan berita.
 Teras berita jarang menonjolkan unsur “kapan/
bilamana” (when), kecuali bila unsure itu punya makna
khusus dalam berita itu.
 Bila harus memilih dari dua unsure, yakni unsur
tempat (where) dan waktu (when), maka pilihlah
unsure tempat dulu, baru waktu.
 Unsur lainnya, yakni bilamana dan mengapa, diuraikan
dalam badan berita, tdak dalam teras berita.
 Teras berita dapat dengan kutpan pernyataan
seseorang (quotaton lead), asalkan kutpan itu tdak
berupa kalimat panjang. Pada alinea berikutnya, tulis
nama orang itu, tempat, serta waktu dia membuat
pernyataan itu.
ModUL BElaJaR
70
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
nilai beriTa
Literatur jurnalistk di barat merumuskan nilai berita
ini sebagai: besar kecilnya dampak peristwa pada
masyarakat; menarik atau tdak dari segi ragam cara hidup
manusia; besar kecilnay ketokohan orang yang terlibat
peristwa; jauh dekatnya lokasi peristwa dari orang yang
mengetahui beritanya; dan baru-tdaknya atau pentng
tdaknya saat peristwa itu terjadi.
Dalam bahasa Inggris berturut-turut disebut;
Consequences; Human interest; Prominence; Proximity;
Timeless. Atau disingkat CHOPPT.
consequences (akibat); yaitu jika kejadian yang
berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak,
atau kejadian yang memiliki kepentngan terhadap
kehidupan pembaca. human interest (manusiawi);
yaitu kejadian yang memberikan sentuhan perasaan
bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa
dalam situasi luar biasa, atau orang besar dalam situasi
biasa. Prominence (tenar); yaitu yang menyangkut hal-
hal yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca.
Proximity (dekat); yaitu kejadian yang dekat dari pembaca,
kedekatan ini bersifat geografs maupun emosional.
Timeless (waktu); yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal
baru terjadi atau baru ditemukan.
Hal-hal diatas kita perlukan untuk menakar nilai berita.
Singkatnya, dalam berita terdapat dua masalah pentng
yang harus selalu menjadi patokan dalam menulis, yaitu
6 Unsur Berita (apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana,
mengapa) dan 5 Nilai Berita (Consequences; Human
interest; Prominence; Proximity; Timeless).
Seorang jurnalis begitu di lapangan, harus segera
menemukan peristwa, menguasai jalan ceritanya, mencek,
mericek, dan kalau perlu tripel cek. Setelah itu menakar
nilai beritanya, melakukan cek dan ricek lagi.
BaDan Berita (BoDy)
Setelah menentukan Lead, kita menginventarisasi jenis-
jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
71
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Jalan Cerita dari Peristwa yang hendak kita laporkan.
Lead dan badan berita dipisahkan oleh sebuah jembatan,
yakni kalimat peralihan yang mempermanis bergesernya
pokok pikiran dari int berita ke jalan cerita. Dengan lead
yang baik, pembaca sudah tertarik perhatannya, bukan
oleh kepala beritanya saja, tetapi juga oleh kata-kata
pertama dari kalimat pertama dalam lead itu.
Pilihan kata tdak bias sembarangan. Jangan sekali-kali
memulai lead dengan kalimat: “sebagaimana pernah kita
kabarkan..” Sebab sesuatu hal yang pernah dikabarkan
bukanlah hal baru lagi. Juga bila kita memulai lead dengan
kalimat: “ Menyambung berita tentang..”. Sebaiknya,
mulailah segera dengan beritanya baru kemudian
jelaskan bahwa berita itu adalah sambungan dari berita
sebelumnya. Lead yang paling buruk adalah yang didahului
dengan kalimat: “ Sebagaimana diketahui..”. Sesuatu yang
sudah diketahui, tdak perlu diberitakan lagi.
Tahapan berikutnya adalah menata Badan berita. Yang
harus diingat bahwa kita sebaiknya menempatkan hasil
inventarisasi yang kurang pentng di bagian belakan berita.
Mulailah dengan berita yang pentng dan akhiri dengan
berita yang kurang pentng. Ini disebut dengan model
Piramida terbalik.
PenuTuP beriTa
Setelah menyelesaikan bagian tubuh berita, akan
terlihat rangkaian fakta yang rinci dan terang yang
hendak disampaikan. Namun bentuk berita akan terlihat
sepenuhnya, jika penutupnya telah ditulis.
Paragraf terakhir dari sebuah tulisan, sekaligus akan
menjadi penutup. Kalau dalam penulisan berita umumnya
berbentuk piramida terbalik, isi alinea terakhir adalah hal-
hal yang tdak begitu pentng, kalau dipotong oleh redaktur
tdak akan mengganggu berita secara keseluruhan.
note : Mahasiswa dan Jurnalis Pemula diberikan tugas
membuat berita pendek dan kemudian diberikan penilaian
oleh pengajar.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
73
Materi 8.
Indepth Reporting
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mampu
melakukan peliputan
mendalam
¤ Mengetahui proses
perencanaan liputan
mendalam
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
75
Indepth Reporting
Jauh beda dengan jenis laporan straight news, dalam
‘kasta’ ragam berita indepth reportng berada persis di
bawah laporan investgasi. Untuk melaporkan jenis Indepth
reportng (laporan mendalam), tentu butuh energi,
waktu, dana dan berhadapan dengan resiko yang lebih
menantang.
Investgasi dan indepth punya garis beda yang jelas. Garis
start, investgasi selalu hipotesis. Sementara indepth lebih
lentur, modal awalnya bisa saja newspage berita harian
atau straight news.
Tujuan utama reportase keduanya juga tak serupa. Indepth
sekedar melaporkan peristwa secara lebih dalam dengan
BAHAN
ModUL BElaJaR
76
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
detail, memapar sebab akibat serta mempertegas posisi
‘sosok’ dalam sebuah peristwa.
Walau juga ‘bermain’ dalam lingkup kasus atau sesuatu
yang ditutupi, indepthh tdak membongkar peristwa
hingga pembaca mengetahui pelaku kejahatan. Kasus,
bukan pijakan dasar indepth. Sebab itu, isu-isu ringan juga
layak dilaporkan. Dalam jenis ini manipulasi bukan unsure
utama.
Sementara investgasi, selalu mengabdi pada
pembongkaran perkara. Tujuannya tegas, menemukan
pelaku, modus dan menunjuk bukt. Hanya kasus
merugikan publik yang layak disebut tema investgasi.
Bukan investgasi, bila peristwa yang diulas tdak
ditutup-tutupi. Arts bercerai atau pejabat berselingkuh,
bukan ranah jenis laporan ini. Tapi korupsi, jelas pantas
diinvestgasi.
Sebagai ilustrasi, melaporkan adanya money politk
saat Pemilu itu straight news. Memberitakan adanya
partai politk yang melakukan money politk, lengkap
dengan bukt-bukt dan skenario itu sudah indepth.
Nah, membocorkan ada konspirasi para legislator untuk
memanipulasi data APBD dan mengunakan uang negara
untuk money politk, itu tentu temanya investgasi.
Dari sisi pola memaparkan masalah, indepth punya ciri
khas mengali akar, mendeskripsikan trigger (pemicu),
mengurai stakeholders (para pihak), menjelaskan eskalasi
serta mengambarkan resolusi.
Selain itu mereportase secara komprehensif, mengungkap
fakta di balik peristwa (story behind the news), juga
menegaskan background. Dengan begitu, maka jelas
sangat mencolok indepth sudah past laporan panjang dari
sebuah peristwa. Biasanya, sajian juga diperkaya dengan
grafk, animasi atau diagram.
Piramida terbalik, tentu bukan gayanya jenis laporan ini.
Tema-tema yang diangkat ’berat’, maka indepth berwatak
feature (berita kisah). Sedapat mungkin membuat
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
77
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
pembaca hadir dalam peristwa. Deskripsi menjadi
andalan. Beda dengan straight news, dua hal menjadi
kewajiban indepth; riset dan observasi.
Sebagai bagian dari jenis berita. Indepth tentu berumuskan
5W+1H. Namun, kedalaman diukur dari unsur seberapa
luas eksplorasi why (mengapa), how (bagaimana) serta
what (apa). Bukan berart unsur lain tak pentng.
Sedapat mungkin keterangan atau informasi yang
diperoleh datang dari narasumber utama. Jangan
membuat laporan mendalam bila tdak mengamat
langsung ke lapangan (frst hand observaton). Ada
baiknya, sebelum turjun ke medan liputan terlebih dahulu
mengorganisir fle dasar serta sedikit menganalisa.
Sebelum laporan dipublikasikan, jangan lupa baca kembali.
Lantas lakukan pengecekan fakta (fact checking) kembali.
Ingat, setap laporan indepth berdaya ledak tnggi.
Sehingga potensi munculnya gugatan hukum juga terbuka
lebar. Bukan hanya fakta yang perlu dipastkan, tapi juga
ketepatan. Termasuk nama sumber, jangan pandang
remeh. Jurnalis sering dijerat pencemaran nama baik,
sebab itu pentng (libel check).
Sudahkah mengorganisir potensi masalah dalam pemilu?
Daerah mana yang berkemungkinan bermasalah?
Siapa bakal menjadi korban dalam Pemilu? Sudah
mengumpulkan data-data di surat kabar harian? Jika
semua terjawab. Berart anda sudah siap untuk mencoba
menulis indepth reportng Pemilu. Selamat mencoba.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
79
Materi 9.
Pengantar
Investigative Reporting
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mampu
membedakan dengan
indepth reporting
¤ Mengetahui dasar
peliputan investigasi
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
81
Pengantar
Liputan Investigasi
sejarah
Kata Investgatve berasal dari bahasa latn, Vestgium yang
berart jejak kaki. Kemudian Reportng, bahasa latnnya
Reportare yang artnya membawa sesuatu dari suatu
tempat.
Reportase Investgasi sudah lama populer di dunia. Sejarah
reportase tersebut sudah ada sejak 1902 di Amerika Serikat
(AS). Awal populernya saat seorang wartawan masa itu,
Joseph Pulitzer mengungkap kasus suap Presiden Theodore
Roosevelt.
Pulitzer yang pendiri Columbia Universuty School of
Jurnalism, membongkar kasus dalam pembelian tanah
BAHAN
ModUL BElaJaR
82
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
untuk membangun Kanal Panama, yang diduga berkaitan
dengan Roosevelt.
Pulitzer yang meninggal pada 1911, namanya diabadikan
sebagai penghargaan karya jurnalistk paling prestsius bagi
jurnalis berprestasi di dunia.
Reportase Investgasi kemudian makin populer pada 1974,
lewat laporan investgasi dua wartawan The Washington
Post; Carl Bernstein dan Bob Woodward. Mereka berhasil
membongkar penyelewengan dana pemilu partai demokrat
yang menjagokan Richard Nixon sebagai Presiden AS.
Karya mereka kemudian diterbitkan dalam buku berjudul
All The President’s Men, yang kemudian diflm-kan. Karya
itu pula yang mengilhami didirikannya perkumpulan
reporter dan editor reportase investgasi, Investgatve
Reporters and Editors Inc (IRE) di Columbia, AS, tahun 1975.
Di Indonesia, sejarah reportase investgasi sangat kelam.
Masa orde baru dan orde lama, sama saja. Laporan
investgasi lebih banyak dianggap sebagai buah terlarang,
sehingga banyak media yang dibredel saat itu.
Beberapa media yang pernah dibredel adalah harian
Indonesia Raya, Sinar Harapan, Prioritas, Tabloid Detk,
Editor dan Tempo. Tiga yang terakhir karena laporan
investgasi tentang pembelian kapal-kapal perang eks
Jerman Timur yang melibatkan pejabat pemerintah. Tempo
dibredel pada 21 Juni 1994.
Setelah orde baru lewat, kebebasan pers di Indonesia
membaik. Hal ini membuka peluang kepada media untuk
terus mempopulerkan liputan investgasi dan terus
memberikan informasi berharga kepada publik.
Ciri-Ciri reportase investigasi
Sering sulit membedakan antara reportase investgasi
dengan indepth reportng. Bahkan media pun sering salah
menempatkan defnisi tersebut. Kerap laporan indepth
reportng diklaim sebagai investgasi.
Indepth reportng adalah penulisan berita secara
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
83
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
mendalam dan tdak menuntut fakta yang detail. Kasusnya
juga sudah pernah diketahui publik atau tdak lagi
tersembunyi. Tidak mest eklusif, berdampak luas dan
berskala besar. Paragrafnya tak sebanyak laporan investgasi
dan biasanya bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat.
Sementara Reportase Investgasi dapat dicirikan sebagai
berikut;
· Pencarian berita dengan penelusuran dan peyelidikan
Gunanya mengungkap informasi yang tersembunyi
atau ditutupi baik oleh individu maupun insttusi.
· Kasusnya masih misterius dan tertutup
Hanya bagian kecil dari sebuah masalah yang tampak
ke permukaan dan tak diketahui masyarakat banyak.
· Memerlukan data dan fakta yang cukup
· Penulisan laporannya detail, sehingga laporannya akan
panjang. Biasanya dibagi dalam beberapa bagian atau
judul.
· Mengungkap penyelewengan atau penyimpangan
secara total
· Punya target perubahan
Artnya dengan membaca laporan, objek akan tergugah
dan mengatasi persoalan yang sedang terjadi. Perlu
semangat bagi penulis bahwa hasil investgasi akan
membawa perubahan bagi publik.
· Masalah yang diinvestgasi mengandung eksklusiftas,
kontroversi, berdampak luas, unsur ketokohan,
berskala besar.
Lainnya adalah jumlah paragraf yang banyak dan gaya
penulisan yang disampaikan teramat bebas. Ditulis detail
untuk menyampaikan hal-hal kecil sekalipun yang dianggap
mendukung keseluruhan bangun laporan.
Melakukan liPuTan
Umumnya sebuah liputan investgasi memerlukan waktu
yang lama dan menghabiskan cukup banyak uang. Dana
kadang dibutuhkan juga untuk membangun jaringan,
membeli dokumen-dokumen yang mendukung laporan.
Liputan biasanya akan bagus dikerjakan tm, kendat
banyak juga yang dapat dilakukan sendiri. Tidak jarang
ModUL BElaJaR
84
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
membutuhkan penyamaran-penyamaran saat terjun ke
lapangan.
Target yang ditentukan harus tegas, jangan sekali-sekali
terpengaruh oleh hal-hal yang subjektf. Karena ini akan
mengurangi bobot investgasi itu sendiri. Misalnya hanya
karena ingin membela masyarakat kecil pada sebuah
jejaring praktek penyimpangan, maka kita hilangkan fakta
itu.
Tahapannya awalnya adalah menangkap informasi awal.
Biasanya diperoleh dari jaringan, kadangkala memperoleh
dokumen dari pejabat yang kebetulan mempercayai kita.
Data itu dikembangkan untuk mencari data sekunder.
Dapat diperoleh dari sumber-sumber yang dekat dengan
dokumen atau isu awal yang kita peroleh.
Sumber pendukung akan semakin bagus kalau semakin
banyak. Perlu juga mencari riset literatur sebagai
pembanding. Kadang ada juga kasus serupa yang pernah
terjadi sebelumnya. Ini amat membantu menulis laporan.
Instng juga diperlukan di sini serta militansi peliput
yang tdak gampang menyerah. Perlu juga observasi
untuk memetakan masalah yang akan diliput. Ini sangat
membantu mengetahui dulu awal masalahnya, sebelum
terjum ke lapangan.
Menulis hasil invesTigasi
· Perlu diperhatkan, jangan sekali-sekali memanipulasi
data
· Perlu merapikan dokumen pendukung yang didapat
dan menyimpannya untuk sementara waktu
· Kadang diperlukan infografs dan menampilkan
dokumen ke publik
· Memikirkan dampak tulisan
Pentng untuk kesiapan kemungkinan akan digugat oleh
pihak yang dirugikan karena laporan yang diturunkan
· Cek kembali hasil tulisan dengan memperhatkan
kesesuaian data dan menghindari kemungkinan adanya
berita-berita ftnah
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
85
Materi 10.
Merancang
TOR Liputan
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mampu
merancang liputan untuk
melakukan indepth
reporting
¤ Membiasakan membuat
TOR dalam liputan
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
¤ Praktek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
87
Teknik Membuat TOR
TOR adalah kependekan dari Term of Reference.
Sebuah acuan kerangka kerja yang kerap dipakai untuk
memudahkan penyusunan laporan bagi siapa saja; aktvis,
penulis, pegawai negeri, pejabat pemerintahan, TNI/Polri
dan juga jurnalis. Jadi membuat TOR bukan hanya hak veto
para jurnalis saja.
Kerangka ini pentng, agar menulis tdak lari dari pokok
permasalahan yang ingin dilaporkan atau disampaikan
kepada siapa saja. Di dunia pers, TOR adalah pekerjaan
yang wajib, sebelum membuat sebuah laporan atau berita.
Umumnya dipakai pada berita yang ditulis dalam format
yang lengkap dan panjang. Sebut saja misalnya bentuk
Feature.
BAHAN
ModUL BElaJaR
88
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
langkah Merancang Tor
1. Tentukan tema
Bukan berart judul, tapi sebuah acuan umum, ke arah
mana tulisan atau laporan akan dibawa.
2. Tentukan Agle-nya atau sudut pandang.
Ini lebih khusus dari tema. Dari sisi mana peliputan
akan dilakukan untuk ditulis sesuai dengan keinginan.
Misal :
Tema tulisan : Pemilu 2009 di Aceh
Angle : Intmidasi dalam pemilu 2009 di Aceh
3. Buat latar belakang masalah.
Memuat alasan kenapa itu menarik ditulis. Juga
memudahkan rekan-rekan kita dalam melakukan
peliputan, jika liputan dilakukan oleh tm.
Mengetahui masalah, sangat pentng, selain
memudahkan kita juga agar kita punya modal sebelum
terjun ke lapangan.
4. Mengumpulkan bahan
Wawancara
- Tentukan nara sumber yang sesuai dengan tulisan
- Buat dafar pertanyaan untuk para narasumber
- Pertanyaan harus fokus pada masalah yang akan
dituliskan.
Riset data
- Artkel
- Buku-buku
5. Pahami TOR yang telah dibuat
6. Siap melakukan peliputan.
 Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula diberikan tugas
membuat TOR dan
kemudian diberikan
penilaian oleh
pengajar.
±
NOTE
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
89
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
perhatkan contoh berikut :
Term of reference (Tor)
Tema : Pemilu 2009 di Aceh
Deadline : 17 Mei 2009
Untuk : Redaktur
Angle : Adakah Intmidasi Pemilu 2009 di Aceh
Disetujui : Rapat redaksi
Masalah :
Silang sengkarut pendirian partai politk lokal di Aceh
yang pernah terjadi sepanjang 2008 usai sudah. Sebanyak
enam partai lokal telah lolos verifkasi Komisi Pemilihan
Umum: Partai Aceh, Partai Rakyat Aceh, Partai Aceh Aman
Sejahtera, Partai Bersatu Aceh, Partai Suara Independen
Rakyat Aceh dan Partai Daulat Aceh. Ke-enamnya
sebentar lagi, pada 9 April nant, akan menemui panggung
kompetsinya yang pertama untuk merebut suara 3 juta
pemilik hak pilih dari populasi 4,4 juta jiwa penduduk
Aceh.
Sejak Irwandi Yusuf – eks kombatan – terpilih sebagai
Gubernur pada November 2007, situasi di politk di Aceh
bisa dibilang tenang. Insiden politk tak banyak terdengar,
demikian pula insiden keamanan. Ada sejumlah insiden
yang muncul belakangan, meski belum cukup dinilai
sebagai sebuah pola yang membahayakan keamanan
provinsi.
Tapi situasi mulai menghangat. Pemilu 2009 telah
dilaksanakan dan Partai Lokal menguasai parlemen Aceh,
anggota. Tentunya menjadi insttusi legislatf paling unik di
Indonesia –satu-satunya yang memiliki suara lokal-
Penelit Aceh Insttute Fajran Zain menulis, awal tahun
2009 Aceh diwarnai dengan beberapa insiden kriminal
yang belum pernah terungkap motfnya. Insiden itu terkait
langsung dengan ikhwal pemilu, sepert konfik akibat
atribut partai, intmidasi dan teror verbal, pemboman
dan pelemparan granat pada kantor partai hingga
pengrusakan. Tapi tak ada satu partai pun yang konsisten
menjadi target. “Bila dulu yang menjadi target adalah
Partai Aceh (bekas Gerakan), kini Partai Rakyat Aceh dan
partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA) juga menjadi
target. Bahkan, juga partai nasional,” ia menulis.
Situs Internatonal Crisis Group mengungkap hawa
ModUL BElaJaR
90
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
kecemasan itu dengan menarik pada September 2008 lalu:
“Militer Indonesia cemas terhadap Partai Aceh – bentuk
baru dari Gerakan Aceh Merdeka – yang bisa menang,
meraih dominasi kursi parlemen lokal dan menantang
kekuasaan pusat. Partai Aceh justru cemas terhadap
intervensi dari Jakarta. Partai- partai kecil cemas mendapat
intmidasi dari Partai Aceh, yang anggotanya kebanyakan
terdiri dari eks kombatan. Banyak orang Aceh yang cemas
terhadap maraknya kejahatan kriminal, yang banyak
melibatkan bekas anggota Gerakan.
Lalu kita ingin membidik bagaimana sebenarnya proses
pemilu 2009 di Aceh, adakah intmidasi-intmidasi kepada
pemilih? Siapa yang melakukan? Apakah kemenangan
partai lokal diperoleh dengan intmidasi pemilih?
Hal ini untuk memberikan gambaran kepada pembaca
sekalian, dan yang perlu diingat, mengusung jurnalisme
damai, sangat pentng untuk tetap menjaga perdamaian
yang abadi di Aceh.

Bahan / wawancara :
Nara sumber
- Pengamat Politk Aceh
Tanyakan:
Bagaimana pandangannya tentang pemilu 2009 di
Aceh? apakah sudah berlangsung demokrats? Ada
banyak laporan intmidasi, bagaimana pandangannya?
Siapa menurutnya yang melakukan? Dll kembangkan.
- Kepolisian
Tanyakan:
Menjelang pemilihan, banyak terjadi teror, kenapa
polisi belum berhasil membongkar kasusnya? Siapa
menurut mereka yang melakukan? Bagaimana
dengan pelaksanaan Pemilu di Aceh? adakah laporan
kekerasan? Dll kembangkan
- Komisi Independen Pemilihan
Tanyakan:
Bagaimana pandangannya terhadap Pemilu 2009 di
Aceh? ada banyak laporan intmidasi, apakah benar
adanya? Apakah pemilu sukses menurut mereka? Dll
kembangkan
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
91
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
- Panwaslu Aceh
Buat pertanyaan ....
- Masyarakat
Buat petanyaan ...
- Unsur partai pemenang dan yang tdak menang
Buat pertanyaan ....
- Unsur partai lokal dan partai nasional
Buat pertanyaan ...
Bahan : buku-buku dan artkel
- Tentang awal pendirian partai lokal dan dasar
hukumnya
- Proses pemilu di Aceh sejak merdeka
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
93
Materi 11.
Menulis Feature
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula mampu
menulis laporan feature
berdasarkan liputan
¤ Mampu merangkai kata
dengan baik
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
¤ Praktek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
95
Menulis Feature
Pernah makan bakso diberapa tempat? Kenapa walau
sama-sama bernama bakso, namun cita rasa satu warung
dengan lainnya berbeda. Yup, cara mengolahnya tak
sama. Andai bakso diracik dengan cara sama, apa citarasa
serupa? Jelas beda. Sebab, bahan menentukan rasa. Bakso
ikan dan bakso daging benar-benar beda.

Lalu apa yang paling menentukan agar bisa membuat
bakso yang nikmat? Tak lain; bahan, cara mengolah dan
keteguhan hat saat mengerjakan. Syarat tersebut mutlak
hukumnya, tak bisa lepas satu sama lainnya.

Serupa dengan membuat bakso,menulis feature sangat
mengandalkan keseriusan penulisnya. Yakinlah, tak ada
BAHAN
ModUL BElaJaR
96
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
pemalas yang bisa menulis jenis ini. Kenapa? Sebab, jauh
sebelum penulisnya duduk di depan komputer untuk
menulis, ia harus mengumpulkan bahan lebih komplit dan
tak sebanding straight news. Itulah sebab, dalam industri
media harga laporan jenis ini lebih mahal dari berita
lempang.

Apa saja bahan menulis feature? Potongan gambar.
Pengambaran atau sering disebut deskripsi, merupakan
‘ruh’ tulisan. Gambar apa? Apa saja asalkan fakta. Sebab
feature merupakan jenis berita, sama sekali bukan sastra.
Kondisi sekitar peristwa dan ekspresi narasumber, juga
pentng dilukiskan.

Contoh:
Saban ayam berkokok sahut-sahutan, Putri selalu
menangis histeris. Ia kembali terlelap, bila ibunya
mengant pembalutnya di balik celana dalam. “Kalau
subuh dia harus gant popok,” jelas Rahmi, sambil
melipat pakaian bayinya yang baru berumur tga bulan
itu.
Catatan: Suara ayam, juga harus benar-benar fakta.
Sebab, berfungsi sebagai penunjuk waktu (kapan).

Jangan lupa, feature bertumpu pada pengambaran
realitas yang terperinci. Selalu berusaha menarik imajinasi
pembaca ke peristwa. Membuka selubung yang tertutup.
Serta mengaduk emosi pembaca seakan bagian dalam
kejadian.

Empat hal yang sangat identk dengan berita kisah.
Pertama, saat menuliskannya menuntut penulis kreatf.
Termasuk berfkir ulang, apakah pembaca sudah betah
pada laporannya. Kedua, kadar informasi lebih dalam dan
awet. Art awet, enak dan perlu dibaca kapanpun. Ketga,
gaya penulisannya menarik tak kaku sepert straight news.
Terakhir, mengizinkan penulis mengisahkan dengan cara
subjektf.

Keunikkan lainnya, hanya berita kisah yang memiliki
banyak jenis. Kembali perkara awal, soal bahan. Bakso
ikan disebut demikian karena berbahan dasar ikan. Begitu
 Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula diberikan tugas
menulis feature dan
kemudian diberikan
penilaian oleh pengajar.
±
NOTE
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
97
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
feature, jenisnya bergantung bahan apa yang hendak
diolah.

Bila anda menulis tentang peliknya Pemilu tahun ini,
dengan mengungkapkan segala keharuan, kegembiraan,
simpat dan kehebatan, maka laporan anda termasuk
feature human interest. Selain itu, juga ada feature
profl yang menceritakan tentang keunikkan, prestasi,
kemalangan atau jalan hidup seseorang.

Pengalaman liburan anda juga menarik dituliskan, jenis
laporan ini bisa disebut feature perjalanan. Selain itu,
juga ada laporan sejarah. Bahkan kemampuan seseorang
mengerjakan setap profesinya, juga menarik ditularkan
pada yang lain. Umumnya, disebut feature tps atau
petunjuk prakts.

Berbeda dengan straight news, unsur pentng dari
rumusan 5 w + 1 H berada di awal tulisan, tapi, feature
tak mengunakan hirarki piramida terbalik. Sebab disemua
bagian merupakan hal pentng.

Walau bukan sastra, jenis tulisan ini lazimnya mengunakan
pola cerpen atau novel. Agar pembaca betah melahap
laporan, pentng ‘memainkan’ plot, karakter bahkan dialog.
Sehingga muncul istlah baru dalam dunia pemberitaan
yang disebut jurnalisme sastrawi.

Bahkan pada judul juga bergaya sastra. Tak sedikit bahkan
yang berstruktur ‘sajak’ misalnya, Cahaya Bersalin Cemas.
Atau plesetan flm, contohnya; Kejar Daku Kau Kutangkap.
Tapi feature, sunguh tak kaku. Jadi pilihlah judul, sesuai
keinginan anda.

Namun pentng diperhatkan, judul yang baik selain hanya
mengunakan maksimal lima kata juga harus menarik.
Tentunya juga mengambarkan isi laporan. Berbeda dengan
judul straight news yang kaku.

Struktur selanjutnya, lead. Ini bagian pentng, serupa
‘mantra’ yang bermuatan sihir agar pembaca bersedia
masuk sampai akhir cerita. Ada banyak sekali jenisnya.
ModUL BElaJaR
98
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Tidak pentng diafal, cukup sekedar paham dan sesekali
mencoba.

lead
Berikut beberapa contoh lead;
Lead ringkasan: Walaupun dengan tangan buntung, Pak
Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai
tukang parkir di depan kampus itu.

1. Lead Bercerita: Anggota Reserse itu melihat dengan
tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat
kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata
lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor...
Preman itu tergeletak sementara banyak orang
tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang
sekejap itu.
2. Lead Deskriptf: Keringat mengucur di muka lelaki
tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik
kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya
dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh
saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil
dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang
bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani .....
3. Lead Kutpan: "Saya lebih baik tetap tnggal di penjara,
dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya
yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah," kata
Sri Bintang Pamungkas ketka akan dibebaskan dari
LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga
keluar penjara dijemput anak-istri....
4. Lead Pertanyaan: Untuk apa mahasiswa dilath
jurnalistk?Memang ada yang sinis dengan Pekan
Jurnalistk Mahasiswa dan Jurnalis Pemula yang
diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini
tak bisa lagi mengikut kaidah-kaidah jurnalistk karena
terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan ....
5. Lead Gabungan: "Saya tak pernah mempersoalkan
kedudukan. Kalau memang mau digant, ya, digant,"
kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya
serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum
cerah sambil menolak menjawab pertanyaan
wartawan. Ketka hendak menutup pintu mobilnya,
Menteri berkata pendek: "Bapak saya sehat kok,
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
99
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
keluarga kami semua sehat...."Ini gabungan lead
kutpan dan deskriptf. Dan lead apa pun bisa
digabung-gabungkan.
6. Lead Stakato:Wus, wus, wus! Lima mobil balap
serentak meraung. Kuning-merah-hijau-puth-hitam.
Hayo, hayo, hayo! Penonton serentak berteriak dan
berjingkrak. Laki-perempuan-tua-muda. Urutan
warna tdak berubah. Finish! Mobil kuning sudah past
menang setelah tkungan maut itu, kemarin sore di
sirkuit Sentul.
7. Lead Ledakan: Seorang lelaki keriput bagai buah
markisa tua tertath-tath di tengah peserta seminar
parapsikologi kemarin di Jakarta. Tiba-tba sidang
gempar. Lelaki itu menghamburkan serbuk merica ke
seluruh ruangan, menyebabkan orang ramai bersin.
Dengan itulah seminar resmi dibuka.
8. Lead Epigram (Ungkapan khas): Sudah diberi hat
minta jantung pula. Seorang suami diancam cerai oleh
istrinya di PN Jakarta Pusat kemarin pagi. Suami itu
dituduh memperkosa anak trinya, anak si istri dari
perkawinan terdahulu, sementara istri membantng
tulang dengan berjualan di pasar. Si suami menolak
tuduhan. Katanya malah dirinya yang dipaksa oleh
anak trinya.
9. Lead Literer: Kisah Si Kabayan terulang di Ciputat
kemarin sore. Seorang lelaki muda dituduh oleh
penduduk mencuri sapi. Lelaki itu membantah.
Alasannya, dia hanya memungut tali jerami yang
melintang di jalan. Bukan salahnya, kata lelaki itu, jika
di ujung tali tersebut terikat seekor sapi.
10. Lead Parodi: Gara-gara terlalu bersemangat
mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatan
olahraga, rumah pun disatroni maling. Itulah yang
menimpa keluarga X ketka seisi rumahnya, termasuk
pembantu, meninggalkan rumah untuk lari di Monas
Minggu pagi.
11. Lead Kutpan:“Akan saya gebuk,” kata Presiden
Soeharto kemarin di Boyolali, mereka yang mencoba
menggant presiden dengan cara-cara yang tdak
konsttusional.
12. Lead Dialog: “Betulkah Saudara mencuri sapi?”
“Tidak Pak Hakim. Saya hanya menarik tali. Eh, tahu-
ModUL BElaJaR
100
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
tahu ada anak sapi di ujungnya.” Begitulah dialog
hakim dan tersangka kemarin siang di PN Jakarta
Selatan.
13. Lead Kumulatf:Polisi menerima laporan seorang
gadis di Menteng, Jakarta Pusat kemarin sore. Konon
di rumahnya ada cairan nitrogliserin, bahan pokok
pembuat bom. Sepasukan polisi segera datang
menggeledah kulkas, tempat cairan itu. Si gadis
mengatakan, ia panik saat menerima botol itu dari
temannya dan disuruh untuk melemparkannya pada
siapa pun yang berani mengganggu. Ketka polisi
menemukan dan memeriksanya, benda itu ternyata
cuma lem.
Tubuh beriTa
Usai lead, tentulah isi atau tubuh berita. Baiknya, pada
paragraf tga pembaca sudah diberitahukan konteks
ceritanya. Artnya, pembaca sudah paham penulis hendak
bercerita apa. Aspek dekoratf dalam peristwa bisa saja
ditempatkan di awal.
Penulis feature yang ramah hatnya selalu berusaha
menunjukkan gambar. Bukan pendapatnya atas apa yang
dilihatnya. Jadi, “show not tell!”
Contoh kalimat telling: “ Kasihan Priandy tak punya pacar”
Lalu diubah jadi showing:
Teman sekantor, memangilnya “Priandy.” Ia selalu
memakai kemeja puth dengan stelan dasi kupu-kupu
berwarna pink. Walau penampilannya trendy, pria yang
baru saja berusia 25 tahun itu, selalu buang wajah bila
disapa wanita sekantornya. Eva Nurlina , mantan pacarnya
sendiri yang membuka kedok Priandy. Ternyata namanya
akronim, disemat sejak masih di pesantren. Singkatan dari,
“Putra Aceh Kelahiran Idi”.

Bila akhir straight news, berisikan informasi yang tak
pentng. Berbeda dengan feature, bagian akhirnya justru
tak kalah pentngnya dengan lead. Fungsinya menanam
kesan bahkan berupaya agar pembaca mengenang
ceritanya.

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
101
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Tak jarang, pemula sering macet ditahap ini serupa
kebuntuan saat memulai tulisan. Beberapa jenis ending,
yang sering digunakan yakni ringkasan (merangkum
kembali cerita dan kembali ke lead), Penyengat (membuat
pembaca kaget), Klimaks dan ant klimaks. Serupa flm,
feature juga mengenal ending yang mengambang.

Terakhir, bayangkan semangkuk bakso di hadapan anda.
Semoga nikmat hidangannya. Selamat belajar!
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
103
Materi 12.
Menulis Opini
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula dapat menulis
opini dengan baik
¤ Mengetahui isu-isu yang
layak diangkat untuk
menulis opini
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
¤ Praktek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
105
Menulis Opini
Banyak orang yang mendefnisikan opini dengan sangat
bebas. Segala prasangka, sentmen, tuduhan, dan segala
jenis omongan yang tanpa dasar seringkali disebut sebagai
sebuah opini. Namun, opini yang ingin disampaikan di sini
adalah sebuah esai atau kerap disebut Artkel Opini.
Opini adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan
pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih,
namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau
mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang
dipikirkan seseorang; penilaian.
Opini juga dibangun dari fakta dari sebuah topik. Misalnya:
BAHAN
ModUL BElaJaR
106
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk
negara kita tahun ini adalah sekian ratus juta. Untuk
mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini,
tugas Anda sekarang adalah menilainya. Anda bisa
menilai bahwa budaya negara kita berubah karena
pertambahan penduduk yang demikian cepat; atau
perlunya perubahan kebijakan ekonomi yang dapat
menjamin setap warga bisa mencukupi kebutuhannya,
dll.
Dengan membuat sebuah penilaian/tanggapan, maka
Anda telah mengubah fakta menjadi sebuah opini. Dengan
demikian, Anda telah memiliki topik esai yang baik.
arTikel oPini
Jenis tulisan/karangan yang berisi gagasan, ulasan, atau
kritk terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang
di masyarakat, dan ditulis dengan bahasa ilmiah-populer.
Oleh karena itu, seorang penulis artkel opini harus jeli
dalam memandang aktualitas persoalan yang ditulisnya.
Tentu saja, hal itu berkorelasi positf dengan sifat media
cetak (baca koran).
Paling sedikit, ada dua hal yang setali tga uang dengan
aktualitas Artkel Opini.
 Aktual karena berkaitan dengan kejadian yang
ada di masyarakat, sepert demam berdarah, fu
burung, pilkada, Pemilu 2004, unjuk rasa mahasiswa
dan buruh, demo RUU PP, kongres partai politk,
pertemuan tokoh bangsa, dsb.
 Aktual karena adanya hari-hari besar nasional (Hari
Pendidikan Nasional, Hari Pers), hari besar agama
(Idul Fitri, Natal, Waisak), hari internasional (Hari
Perempuan lntemasional, Hari Kesehatan), obituan (in
memoriam), dsb
Dari situlah, kita pun dituntut untuk mengetahui data
tentang tanggal-tanggal pentng. Misalnya, pada bulan Mei
ini, ada enam momentum yang bisa kita tuliskan sebagai
ide dari artkel opini.
 1 Mei Hari Buruh Sedunia
 2 Mei Hari Pendidikan Nasional
 Contoh-contoh opini
dapat dilihat pada
media massa
 Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula diberikan tugas
menulis opini dan
kemudian diberikan
penilaian oleh pengajar.
±
NOTE
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
107
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
 4 Mei Hari Pers Dunia
 17 Mei Hari Buku Nasional
 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional
 21 Mei Hari Reformasi
Proses Penulisan Artkel Opini
Kendat dalam penulisan artkel opini ini semua persoalan
dapat ditulis, namun perlu diperhatkan beberapa hal
berikut.
N Hendaknya topik yang akan ditulis berkaitan erat
dengan masalah aktual.
N Masalah yang ditulis tdak menghasut, mengadu
domba, memftnah, dan sejenisnya. Ketga, isi tulisan
ada baiknya lebih berupa suatu solusi/jalan keluar atas
persoalan yang ada.
Oleh karena itu, proses penulisan artkel opini dimulai
dengan kalimat-kalimat pembuka (lead). Isinya merupakan
pengantar awal terhadap apa yang dibahas dan disajikan.
Lantas dilanjutkan dengan uraian/ulasan yang berisi
pemaparan data, pembahasan yang boleh jadi berupa
pengungkapan teori, analisis, dan ditutup dengan bagian
kesimpulan yang berisikan saran/masukan.
Bahasa yang digunakan ialah bahasa jurnalistk, bersifat
ilmiah-populer, yaitu pemakaian bahasa yang tetap
menggunakan kaidah-kaidah bahasa baku, komunikatf,
dan mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai tngkatan.
Prinsip ini perlu mendapat perhatan khusus, mengingat
sasaran pembaca cetak umumnya sangat beragam.
Tulisan artkel opini ialah jenis tulisan yang memiliki
peluang besar untuk dimuat di media cetak. Namun, ia
juga paling banyak saingannya. Oleh karena itu, hanya
jenis-jenis tulisan yang paling aktual dan berkualitas saja
yang dapat lolos dari tangan redaksi untuk dimuat. Hal
itu pentng, mengingat ada koran yang justru memiliki
kelebihan dalam hal menyajikan opini yang cerdas dan
bermutu.
Proses penulisan opini mirip dengan proses penulisan
artkel. Menurut Syafi lewat Suroso (2001), paling sedikit
ModUL BElaJaR
108
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
ada tga tahap yang harus dilalui, yakni (1) kegiatan
sebelum menulis (pre-writng), (2) kegiatan menulis
(writng), dan (3) kegiatan pasca-menulis (revision). Mari
kita bahas tahap demi tahap tersebut.
Tahapan Menulis Artkel Opini
 Mencari pokok persoalan yang akan ditulis, mencari
referensi dan sumber rujukan, menulis outline.
 Penulis artkel opini dituntut harus lincah
menggunakan idiom-idiom segar, simpel, dan
komunikatf Selain itu, hal kelugasan, obyektf, serta
bahasa tetap terjaga selama menjalani tahap menulis.
Usahakan Anda menulis dengan konsentrasi tnggi,
dan tdak memikirkan hal lain yang kiranya bisa
mengganggu konsentrasi Anda.
 Penulis artkel opini harus mampu bertndak sebagai
penyuntng berkaitan dengan keamanan tulisan,
pemakaian kalimat, bentukan kata, pemakaian tanda
baca, pemilihan kata/diksi, sampai pada pembetulan
hal-hal yang salah/keliru dalam ejaan. Selain itu,
penggunaan kata serapa juga patut dijadikan perhatan
khusus.
Selain itu, penulis artkel opini dituntut untuk mau terns
belajar membaca artkel opini penulis lain yang dianggap
bermutu dan cerdas. Hampir di semua media massa
penulis artkel opini berasal dari dunia akademik.
sumBer-sumBer artikel opini
Guna melengkapi data-data dan pemaparan fakta, seorang
penulis artkel opini harus melengkapi tulisannya dengan
memburu sumber-sumber sepert di bawah ini.
 Wawancara. --- Bila kita ingin menulis tentang
pendidikan, mungkin kita bisa mewawancarai guru-
guru di sekolah, pengamat pendidikan, dsb. Dari situ,
kita bisa mendapat banyak informasi untuk kemudian
dituangkan ke dalam tulisan.
 Penelitan/Riset. Pengumpulan data di lapangan
sangat membantu penulis artkel opini, apalagi penulis
mampu mempraktkkan metode penelitan sesuai
dengan masalah yang akan ditulisnya.
 Sumber Pustaka. Mulai dari buku, referensi, kamus,
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
109
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
novel, ensiklopedi, biograf tokoh, karya penelitan,
jumal, koran, majalah, hingga ungkapan bijak seorang
tokoh patut dijadikan referensi seorang penulis artkel
opini.
 Perpustakaan Pribadi. Ide/informasi pentng yang
akan dituangkan dalam tulisan akan lengkap jika ada
referensi yang pas. Oleh karena itu, di sinilah betapa
pentngnya keberadaan perpustakaan pribadi/keluarga
 Biasakan Membaca --- untuk mendukung penulisan.

note :
• Contoh-contoh opini dapat dilihat pada media massa
• Mahasiswa dan Jurnalis Pemula diberikan tugas
menulis opini dan kemudian diberikan penilaian oleh
pengajar.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
111
Materi 13.
Resensi Buku
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula dapat menulis
resensi buku
¤ Menulis resensi yang
menarik
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
¤ Praktek
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
113
Meresensi
Buku dan Film
bagi seorang kutu buku atau yang gemar membaca,
alangkah indahnya dan berguna bila hobbynya itu bisa
dinikmat oleh orang lain. alangkah bagusnya, jika buku-
buku, novel-novel maupun cerita-cerita lain yang anda
baca, anda pahami dan anda singkatkan menjadi sebuah
resensi.
Menjadi perensi bukan hal yang susah, apalagi bila
punya kegemaran melahap bacaan. Hanya saja, kadang
melelahkan tapi sungguh asyik. Lelah, karena harus susah
payah memahami isinya, bukan hanya sekedar baca. Asyik,
karena kita bisa berbagi cerita dengan orang lain dan
bermanfaat. Artnya, sebuah pekerjaan mulia.
BAHAN
ModUL BElaJaR
114
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Kalau ada yang mengatakan meresensi buku itu sulit,
anggap saja sebagai berita bohong. Kecuali anda memang
malas melakukannya. Kalau Anda bisa membaca dan
menulis, yakinlah...Anda juga bisa menulis resensi buku,
asalkan ada kemauaan, itu kata kuncinya.
Untuk menjadi seorang peresensi, sudah tentu kita harus
doyan membaca terlebih dahulu. Dari aktvitas membaca
itulah kita berbagi cerita tentang isi buku kepada orang
lain. Tujuannya, membantu orang lain memahami sepintas
tentang sebuah buku terkait dengan kekurangan dan
kelebihannya. Maka dari itu, seorang peresensi, dia perlu
menjadi seorang pembaca yang baik
Untuk menjadi pembaca yang baik, mari kita berguru
pada Mortmer J. Adler dan Charles Van Doren. Di dalam
bukunya yang berjudul How Read A Book, kedua orang ini
memperkenalkan bagaimana prosedur membaca buku
yang baik;
Membaca Permulaan :
Kemampuan untuk mengenal huruf, kata dan kalimat.
Misalnya ketka kita membaca buku berbahasa Indonesia,
kita tdak terlalu kesulitan dalam memahaminya isinya,
lain ketka buku berbahasa Inggris, kita harus sedikit
berjuang memahaminya dengan sesekali melihat kamus.
Anggap saja buku yang kita hadapai berbahasa Indonesia,
prosedur pertama itu bisa kita lalui karena huruf, kata dan
kalimatnya mudah kita kenali dan pahami.
Membaca Inspeksional :
Kemampuan membaca sekilas. Membaca sinopsisnya,
kata pengantarnya, dafar isi, judul per-bab yang dirasa
menarik serta lampiran yang ada didalamnya. Langkah ini
memudahkan kita untuk memahami garis besar isi buku
Membaca Analits :
Kemampuan untuk menilai buku. Mulai dari memetakan
apakah buku yang kita baca itu buku teori atau praktek.
Kemudian, setelah membaca keseluruhan isi buku, bisa
menyarikan isi buku dengan beberapa kalimat, mencatat
hal-hal pentng dalam buku tersebut, termasuk informasi
 Contoh-contoh resensi
dapat dilihat pada
media massa
 Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula diberikan tugas
menulis resensi buku
dan flm, kemudian
diberikan penilaian
oleh pengajar.
±
NOTE
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
115
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
penulisnya. Semua ini sebagai bekal dan amunisi untuk
membuat resensi nantnya.
***
Teknik Meresensi
Empat Cara
Ada empat cara yang bisa digunakan untuk bisa
membuat karya resensi buku. Masing-masing mempunyai
kekurangan dan kelebihannya;
Catatan Buku (The Book Notce)
Adalah meresensi yang paling mudah. Kita tdak perlu
membaca isi buku secara keseluruhan atau mendalam. Kita
hanya melaporkan yang tampak tanpa menganalisis isinya.
Tujuan dari merensi buku dengan cara ini, hanya sekedar
memperkenalkan buku secara sekilas kepada pembaca.
Tapi, tetap saja perlu dilihat mengenai kekurangan dan
kelebihannya agar tdak dianggap hanya sekedar “Iklan
Buku”.
Tinjauan Buku (intsai buku/ The Book Digest).
Dengan cara ini, pembaca bisa memahami buku lebih
menyeluruh karena peresensi telah membuat catatan
tentang intsari sebuah buku, membuat ringkasan buku,
serta memberikan catatan kelemahan dan kekurangannya.
Dengan cara ini, perensensi harus bisa membaca dengan
analits dan bisa memahami betul isi buku agar bisa
membuat penilaian secara tepat terhadap isi buku
tersebut. Petkan-petkan langsung isi buku diperlukan
untuk meyakinkan pembaca. Cara ini sangat tepat
digunakan dalam meresensi buku-buku ilmiah (non fksi)
Kritk Buku (The Book Critsm).
Tujuan utama cara ini adalah menilai suatu buku.
Membuat penilaian dengan sungguh-sunguh tentang
isi buku. Membuat penilaian sejara jujur dan “objektf”
terhadap sebuah buku, menganalisis tujuan penulisan
buku, kualifkasi penulisnya serta membandingkannnya
dengan buku-buku lain.
ModUL BElaJaR
116
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Tinjauan Ficton (The Ficton Review)
Ini adalah cara meresensi yang biasa digunakan dalam
buku-bukum fksi. Selain harus menguasai isi buku.
Mencari perimbangan antara jalan cerita (plot, sinopsis)
dan tema cerita. Kadang dipaparkan juga tentang
proses kreatf pembuatakan karya oleh penulis buku itu
sementara isi buku sendiri hanya dipaparkan sekilas saja.
Keempat cara tersebut bebas kita pilih, disesuaikan dengan
kebutuhan saja.
Perlu dilihat :
Secara garis besar ada dua aspek yang perlu dilihat dalam
meresensi buku; aspek luar (penampilan) dan aspek dalam
(isi).
Aspek luar, misalnya:
Perwajahan/kulit muka
Apakah kulit mukanya enak dipandang dan menarik?
Berat dan ketebalan
Apakah ukuran buku ini terlalu besar, atau justru terlalu
kecil? Apakah terlalu berat, terlalu tebal, atau terlalu
ringan dan tpis?
Desain halaman dalam
Apakah desainnya menarik sehingga enak dipandang, atau
malah membosankan?
Jenis kertas yang digunakan
Apakah jenis kertasnya (kertas koran, HVS, art paper, kertas
daur ulang, dan sebagainya) berwarna terang atau suram?
Apakah terlalu berat atau ringan? Apakah kuat atau rapuh.
Jenis huruf/tpograf yang digunakan
Apakah tpograf yang digunakan terlalu kecil, sehingga
menyulitkan pembaca? Atau justru terlalu besar, sehingga
boros halaman? Apakah tpografnya terkesan terlalu kaku?
Foto, gambar, sketsa, grafk, tabel yang digunakan
Apakah foto dan gambar yang dipasang itu jelas
dipandang? Apakah grafk dan tabel yang dipasang mudah
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
117
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
dipahami dan efektf?
Harga buku. Apakah terlalu mahal?
Dan lain-lain.

Aspek isi, misalnya:
Pokok pikiran yang diajukan penulis?
Data dan argumen apa saja yang ia ajukan untuk
mendukung pokok pikiran tersebut? Apakah pokok pikiran,
argumen, data dan ide-ide yang tertuang di dalam buku itu
cukup orisinil?
Pendekatan atau metodologi
Adakah unsur, pendekatan, perspektf atau pengetahuan
baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku ini?
Ataukah isinya sama saja dengan buku-buku lain yang
sudah lebih dulu beredar? Apakah isinya relevan dengan
konteks situasi yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa
ini? Apa kontribusi buku ini dalam memperkaya khasanah
ilmu pengetahuan tertentu, yang terkait dengan tema
buku ini?
Susunan buku
Apakah buku disusun secara cermat, telit, mendalam, atau
terkesan ceroboh dan tergesa-gesa? Apakah sistematka
pembahasan dalam buku ini bersifat logis, teratur dan
memudahkan pembaca untuk memahami, atau justru
sebaliknya rumit, berbelit-belit dan membingungkan?
Adakah kesalahan fakta, data, atau analisis, dalam buku
ini? Apakah datanya valid? Adakah bias dari si penulis
dalam melihat permasalahan?
Tujuan pengarang menulis buku ini?
Apakah tujuan itu tercapai dengan terbitnya buku ini?
Apakah si pengarang memiliki kompetensi yang cukup
untuk menulis buku ini? Seorang sosiolog tentu akan
dipertanyakan kredibilitasnya jika ia menulis buku tentang
Ilmu Bedah Kedokteran.
Kategori pembaca
Siapa yang layak membaca buku itu? Apakah isi buku ini
bersifat terlalu mendalam, sehingga lebih tepat untuk
ModUL BElaJaR
118
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
pembaca tertentu yang memang memiliki kualifkasi
khusus (kalangan akademis atau profesional), atau buku ini
cocok juga untuk kalangan pembaca yang lebih awam?
Dan lain-lain.
***
sTrukTur karya resensi
Tidak ada pedoman baku dalam penulisan resensi. Namun
secara kasar, penulisan resensi untuk media massa
mengikut konvensi umum sepert dalam penulisan artkel
lain. Unsur-unsurnya sebagai berikut:
Judul...
Judul resensi harus menarik. Ini perlu dan mutlak
untuk menarik pembaca.
Selanjutnya dituliskan sebagai berikut;
1. Judul Buku :
2. Penulis :
3. Penerbit :
4. Cetakan :
5. Tebal :
6. Peresensi :
Isi...
Alinea pembuka (dalam teknik penulisan berita, disebut
sebagai Lead). Alinea pembuka atau Lead ini bersifat
sebagai pemancing agar pembaca mau membaca resensi,
maka Lead ini harus dibuat semenarik mungkin. Dalam
membuat Lead, peresensi, misalnya, bisa mengaitkan isi
buku ini dengan konteks situasi yang sedang hangat di
masyarakat.
Deskripsi atau rangkuman tentang isi buku. Di sini
peresensi merangkum isi atau esensi buku secara ringkas.
Tentu saja, pembaca tdak bisa menilai suatu buku jika
bahkan gambaran ringkas isinya pun ia belum tahu. Dalam
merangkum isi buku ini, peresensi boleh mengutp satu
atau dua kalimat atau alinea yang menarik dari buku
tersebut, yang bisa makin memperjelas gambaran isinya.

MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
119
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Komentar, evaluasi dan penilaian. Inilah esensi dari suatu
resensi, yakni si peresensi mengomentari dan menilai
suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan aspek isi.
Karena keterbatasan ruang di media cetak, tentu tdak
perlu seluruh aspek ini dibahas secara rinci. Peresensi
boleh memilih aspek-aspek mana yang menurutnya paling
pentng untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.
Kalimat penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat
penutup ini, peresensi kadang-kadang secara tegas
merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang
layak atau tdak-layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi
tegas semacam itu tdak diungkapkan, karena pembaca
dianggap sudah bisa menyimpulkan sendiri berdasarkan
ulasan panjang sebelumnya.
***
Merensensi filM
Melakukan resensi flm tdak ada bedanya dengan buku,
hanya objeknya saja yang berbeda. Menonton flm
menjadi syarat utamanya, kemudian mempelajari alur dan
hal-hal teknis lainnya, layaknya meresensi buku. Selamat
mencoba.
Contoh :
sisi lain ke helsinki
Sebuah pengalaman yang tak lazim. Sisi lain dalam
meretas perdamaian di Aceh, dari sebuah amanah Yusuf
Kalla sampai hawa dingin Helsinki singgah di hutan-hutan
bumi serambi. Lewat ‘To See the Unseen’, Farid Husain
mengisahkan pengalamannya.
judul : To See the Unseen
Penulis : Farid Husain
editor : Salim Shahab dan EE Siadari
Penerbit : Health & Hospital Indonesia
Tebal : xxviii + 291 halaman
Menulis Helsinki adalah sejarah. Perlu sebuah kerja keras
berbagai tokoh, Aceh dan Indonesia untuk mengukirnya
ModUL BElaJaR
120
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
pada selembar MoU yang lahir pada 15 Agustus 2005
silam. Setelah gempa besar dan tsunami menggada Aceh.
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia
sepakat; hentkan konfik.
Tak sepert membalikkan badan, perang yang berakar
sejak lama itu dihentkan. Ada beragam kisah, harapan dan
perjuangan ke arah sana. Ada kepercayaan yang dibangun
hingga jalan ke kota di Filandia tercapai, kendat ada beribu
lobang menghadang.
Satu di antara sekian banyak perints jalur itu adalah Farid
Husain, dokter yang bekerja sebagai Direktur Jenderal
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Indonesia,
Jakarta. Punya pengalaman dalam merints upaya
perdamaian di Poso dan Ambon, membuatnya dipanggil
sang karib, Jusuf Kalla, Wakil Presiden.
Saat itu, Juni 2003, Kalla masih sebagai Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam kabinet
Presiden Megawat, memanggil Farid. Dia diperintahkan
untuk menjajaki upaya perdamaian di Aceh. Farid tak
menolak dan mulailah dia berusaha membangun jaringan
mengupayakan perdamaian. Belajar karakter orang Aceh,
naik ke gunung menjumpai pasukan GAM, menyakinkan
pejabat-pejabat gerakan sampai berusaha berjumpa Hasan
Tiro, Wali Nanggroe Aceh.
Pengalaman Farid itulah yang ditulis kembali dalam buku
ini, detail sampai hal-hal kecil yang tak bisa didapat dari
buku-buku lain yang menulis umum tentang jalan menuju
damai Aceh. Maklum, Farid adalah pemain utama
Misalnya saja bagian yang paling mendebarkan, cerita
tentang bagaimana Farid menuju ke hutan menjumpai juru
bicara GAM, Sofyan Dawood, dua bulan sebelum damai
lahir. Ini tak diketahui publik, super rahasia. Perjalanan
diatur dari Jakarta, lalu mendaki bukit dan menyamar
dengan ditemani Mahyuddin, orang yang dekat dengan
GAM.
Tujuan ke sana untuk menanyakan bagaimana tanggapan
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
121
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
para awak gerilyawan di lapangan, kalau perunding RI dan
GAM sepakat damai, dalam bingkai Indonesia. “Apapun
yang disepakat di Helsinki, akan kami dukung,” begitu kira-
kira Sofyan menjawab.
Sebelumnya, ada cerita bagaimana Farid dan Juha
Cristensen berusaha bertemu untuk menyakinkan para
petnggi GAM semisal Malek Mahmud, Zaini Abdullah
di luar negeri dan para perunding GAM yang ditahan di
penjara pulau Jawa.
Banyak lainnya yang bercerita tentang bagaimana
komunikasi dibangun dan kepercayaan diraih. Banyak
cerita belakang layar yang disodorkan sampai kemudian
perdamaian itu ada.
Begitulah pengalaman Farid tertuang dengan racikan dua
editornya. Alurnya gampang dipahami dan tak berbelit-
belit. Juga tertuang secara lengkap siapa sebenarnya Farid,
tokoh utama dalam lakon itu. Buku juga dilengkapi dengan
foto-foto pertemuan Farid dengan para tokoh perdamaian
lainnya.
Kelemahannya adalah pada berulang-ulangnya jalan cerita.
Kadang pada satu bab awal, kisah telah tertuang, tapi
kemudian disampaikan lagi pada bab-bab selanjutnya.
Sepertnya penulis buru-buru menyelesaikan buku ini.
Andai saja, semua cerita dituangkan tdak bertele-tele,
sepert narasi, maka buku ini akan semakin baik dan
menarik.
Tapi apapun, Farid telah menuliskan idenya dengan
sempurna. Banyak kisah yang bisa dijadikan pelajaran
untuk penyelesaian konfik. Sangat layak dijadikan referensi
dalam melihat sisi lain perdamaian Aceh. Karena menulis
Helsinki adalah sejarah untuk peradaban Aceh. ***
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
123
Materi 14.
Menulis Cerpen
TUJUAN
¤ Mahasiswa dan Jurnalis
Pemula dapat mbelajar
menulis cerpen
¤ Menemukan ide-ide
penulisan karya fksi
KEGIATAN
¤ Teori
¤ Diskusi
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
125
Menjadi Penulis Cerpen
Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang tergolong
ke dalam fksi. Sebagai fksionaris, kisah dalam cerpen
hanya ada dalam hayalan. Namun, ia dapat beranjak
dari dunia nyata semisal pengalaman pribadi maupun
pengalaman orang lain, kejadian alam, dan segala hal yang
tertangkap pada panca indra.
Bermimpi menjadi penulis cerpen menjadi sebuah
keniscayaan, apalagi bagi remaja. Beberapa remaja yang
saya temui mengaku suka pada cerpen atau novel—
keduanya adalah jenis karya fksi. Namun, sebagian
besar dari mereka mengaku kesulitan menulis cerpen,
meskipun sudah mencobanya. Maka, warkah ini mencoba
‘membongkar kabut kesukaran’ menulis cerpen tersebut.
BAHAN
ModUL BElaJaR
126
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Sebelumnya, mari mengingat kembali apa yang pernah
diucapkan Arswendo Atmowiloto dua puluh lima tahun
silam. “Mengarang Itu Gampang,” kata dia dalam sebuah
buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta, 1984.
Sangking mudahnya pekerjaan mengarang, Arswendo
membahasakannya dengan sebutan “gampang”. Menulis
cerpen merupakan sebuah kegiatan mengarang yang
dimaksudkan gampang tersebut.
Hal yang perlu diperhatkan bagi seorang penulis cerpen
adalah kreatvitas, baik dalam menyusun kata-kata
(membahasakan) maupun dalam mengotak-atk jalan
cerita dengan bumbu-bumbu yang dapat mempengaruhi
pembaca larut dalam cerita yang dibaca. Tamsilnya
begini, gulai kambing akan berbeda citarasanya tatkala
hanya digulai sederhana (kambing semata). Namun, saat
diberikan sedikit campuran semisal buah nangka, kelapa,
merica, cabai, ditambah penyedap rasa lainnya, gulai
kambing tersebut akan berubah citarasa menjadi tambah
nikmat. Namun demikian, mencampuradukkan segala
bumbu tersebut tanpa kelihaian mengolahnya, sama saja
bohong. Rasa yang diharapka sedap bisa saja menjadi
tambah amburadur. Demikian halnya cerpen, jika hendak
mengisahkan sebuah peristwa semisal kecelakaan dalam
cerita tanpa pengaruh alam dan segala apa yang terdapat
di sekitar peristwa tersebut, ceritanya past biasa saja,
karena kisah kecelakaan nyaris pernah dialami setap
orang. Oleh sebab itu, perlu kelihaian mendeskripsikan
peristwa kecelakaan dimaksud. Kelihaian inilah yang
disebut proses kreatf pencerita dan pencitraan.
Penggunaan Paragraf
Dalam menulis cerpen dibutuhkan seni bertutur
(bercerita). Ada beberapa jenis paragraf atau ungkapan
yang dapat digunakan dalam seni bertutur. Ungkapan atau
paragraf tersebut, dalam konteks cerpen, akan menjadi
kuat jika menggunakan ungkapan deskripsi. Ungkapan atau
paragraf deskripsi menjadi kekuatan detail dalam sebuah
cerita (baik cerpen maupun novel) meskipun kedua karya
sastra ini sering disebut sebagai karangan narasi. Saya
misalkan ada paragraf begini:
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
127
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
“Perempuan itu berkulit kuning langsat.
Wajahnya oval, bulu matanya lentk, alisnya
tebal, hidungnya mancung sekitar lima sent
dan ada tahi lalat di pipi sebelah kiri. Dagunya
sekilas bagai sangkar burung tempua. Sesekali
barisan puth menyembul dari balik bibirnya
saat tersenyum. Ah, bibir yang tpis dan
basah…”
Sekarang coba bandingkan paragraf tersebut dengan
kalimat “Perempuan itu sangat cantk.” Dengan deskripsi
sepert di atas, semua orang dimungkinkan untuk
mengambil kesimpulan bahwa si perempuan memiliki
rupa yang cantk. Cantk sebagai sebuah kata adjektva
(sifat) bisa disimpulkan secara relatf. Cantk bagi seseorang
bisa saja mest memiliki lesung pipit, tetapi bagi yang lain
tdak mest ada lesung pipit asalkan berkulit puth. Maka
kekuatan deskripsi mengaburkan kesimpulan cantk atas
sebuah persepsi. Karena itu, deskripsi sangat dibutuhkan
dalam sebuah kisah cerpen. Pendeskripsian tersebut bisa
pada tokoh (orang atau hewan), bisa pula pada benda-
benda lainnya yang menjadi propert dalam teks cerita.
Selanjutnya, paragraf narasi sering mendominasi
penceritaan, sebab narasi sendiri memiliki makna cerita.
Kelihaian menggunakan kata-kata dalam bernarasi
menjadi kreatvitas tersendiri. Dari sini kemudian kita bisa
menangkap stle (gaya) seorang penulis. Ada yang suka
menggunakan ungkapan-ungkapan metafora misalnya,
ada pula yang suka bermain dengan simbol, tetapi ada
juga bercerita apa adanya. Semua ini sah digunakan, yang
terpentng tdak sampai melakukan pemubaziran kata-kata
(pleonasme).
Mungkin kita pernah mendengar orang mengeluh
terhadap sebuah cerita seseorang dengan sebutan
garing atau terlalu dibuat-dibuat. Hal ini biasanya terjadi
karena pandangan terhadap seni sastra dalam cerpen
mest bermain kata sehingga menimbulkan ‘kejenuhan’
makna yang hendak diungkapkan. Bermain kata yang
mengharapkan seni berkisah bukan berart mest
memperbanyak simbul puits. Ingat, Anda sedang menulis
ModUL BElaJaR
128
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
cerpen, bukan puisi. Jika setap kata dalam sebuah puisi
cenderung mewakili makna ambiguitas, dalam cerpen
usahakan dihindari ambiguitas kata. Cerpen sesungguhnya
mengisahkan apa adanya dengan penguasaan diksi yang
memadai, tdak perlu terlalu muluk dengan simbol,
dan tak bertele-tele. Sebagai sebuah cerita yang dapat
diangkat dari pengalaman nyata, kisah lakon dalam cerpen
ditulis sepert apa adanya di alam nyata, kecuali Anda
sedang menulis cerpen surealis (untuk jenis cerpen ini kita
bicarakan di lain kesempatan jika waktu mengizinkan).
Paragraf lainnya yang dapat dipakai dalam menulis
cerpen adalah argumentasi (pendapat). Namun, dalam
pengungkapan argumen, penulis cerpen mest dapat
memilah dirinya sebagai tokoh atau sebagai narator.
Kencenderungan ini bisanya menimbulkan cerpen yang
menggurui. Sebagai sebuah karya sastra, cerpen bukanlah
teks pidato yang tdak mest memberikan nasihat
menggurui. Memberikan kebebasan kepada pembaca
dalam memberi penafsiran terhadap kisah dalam cerpen
akan membuat cerpen itu berdikari. Sebagai sebuah
karya yang ditujukan kepada publik, ini menjadi pentng.
Memang diakui banyak penulis cerpen (cerpenis) sulit
memilah diri sebagai narator atau sebagai tokoh. Apalagi,
terhadap cerita yang menggunakan tokoh “Aku” lirik.
Namun, di sinilah letak kreatvitas tersebut sehingga cerita
dapat berjalan mengalir sepert keinginan tokoh dalam
cerita, bukan keinginan penulis.
Dalam kaitan tersebut, ungkapan/paragraf persuasif
sebanyak mungkin mest dihindari. Lebih baik
menggunakan paragraf eksposisi daripada persuasif yang
akan menjebak penulis menjadi ‘khatb’ dalam karya.
mengenali Bagian-Bagian Cerpen
Sebagai sebuah cerita pendek yang kemudian dinamakan
cerpen, kisah di dalamnya sangat singkat, habis dibaca
sekali duduk sehingga cerpen disebut juga sebagai karya
fksi yang hanya menceritakan satu pokok masalah atau
persoalan. Maksud “satu pokok masalah” adalah punya
satu konfik.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
129
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Yang dimaksud dengan konfik adalah persoalan. Konfik
dalam cerpen dapat terjadi secara lahir atau secara batn.
Konfik lahir merupakan persoalan yang terjadi di luar diri
si tokoh, biasanya dengan menghadirkan tokoh lainnya.
Konfik batn adalah persoalan yang terjadi dan dialami
dalam diri si tokoh. Konfik dimaksud bisa berupa tekanan
batn, kegelisahan, duka mendalam, dan sejenisnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagian
terpentng dalam sebuah cerpen adalah tokoh, disusul
konfik. Tak mungkin sebuah cerita dapat terjadi tanpa ada
yang mengalami. Pengalaman yang tdak melalui masalah
tdak akan menarik pendengar atau pembaca. Karenanya,
dua hal ini (tokoh dan konfik) menjadi bagian terpentng
dalam sebuah cerpen, yang dalam novel konfik tersebut
bisa lebih dari satu.
Bagian lainnya yang terdapat dalam cerpen adalah alur
atau jalan cerita. Alur dapat terjadi dari dua sisi—alur
maju atau alur mundur. Alur maju berart cerita bergerak
ke depan terus. Sedangkan alur mundur kisah berupa
fashback, mengingat kejadian yang telah pernah
dilewat si tokoh. Misalkan si tokoh yang sudah dewasa
menceritakan kejadian saat dirinya masih kanak-kanak.
Bagian selanjutnya yang akan mendukung cerita dalam
cerpen adalah setng atau tempat kejadian atau lokasi
berlangsungnya cerita dalam cerpen tersebut. Tempat
kejadian ini bisa digambarkan atau disebutkan sepert
nama-nama tempat sungguhan (benar-benar ada), biasa
pula hanya sekedar tempat rekaan, yang hanya ada dalam
cerpen yang diceritakan.
Hal berikutnya yang biasa ada dalam cerpen adalah
tema dan amanat/nasihat. Dua hal ini biasanya menjadi
wilayah kerja pembaca/penikmat/pengkrits karya sastra.
Bagi penulis, tdak usah dulu berpikir tema, amanat, atau
nasihat apa yang akan disampaikan melalui cerpen yang
akan ditulis, kecuali memang permintaan yang biasanya
ada dalam lomba. Penulis cukup menulis saja cerita
sepert adanya. Kemudian, serahkan kepada pembaca
yang akan menangkap dan memberi penilaian terhadap
tema, amanat, dan pesan dalam cerpen dimaksud. Artnya,
ModUL BElaJaR
130
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
melakukan pemetaan pemikiran akan menulis cerpen
tentang apa, cukup sampai di situ. Langkah selanjutnya
adalah tuliskan apa yang ada dalam pikiran Anda, jangan
pikirkan apa yang akan Anda tuliskan. Biarkan cerita
mengalir apa adanya.
Satu hal mest dicoba saat menuliskan apa yang ada
dalam pikiran Anda adalah jangan berusaha mengedit
cerita atau bahasa atau pengungkapan sebelum cerita
tuntas dituliskan. Bagian pengeditan letakkan tersendiri
setelah Anda merasa tulisan (cerpen) selesai dituliskan.
Setelah usai, baca kembali cerpen tersebut, saat itulah
baru lakukan pengeditan. Seusai Anda mengedit, diamkan
sebentar untuk beberapa saat atau beberapa jam, boleh
juga unuk sehari semalam. Setelah itu, baru baca kembali
sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang disebut
dengan pemolesan.
sebeluM dikiriMkan ke Media
Jika cerpen tersebut Anda maksudkan untuk dikirim ke
media semisal koran atau majalah, alangkah lebih baik
memperlihatkan terlebih dahulu kepada orang sekitar
cerpen yang Anda tulis tersebut. Orang sekitar dimaksud
boleh jadi teman, kakak/abang atau adik, guru, atau
kepada siapa saja yang Anda harapkan dapat memberikan
komentar terhadap cerpen Anda. Ya, Anda mest meminta
komentar dari orang-orang tersebut, karena bisa jadi
komentarnya dapat dijadikan tambahan dalam cerpen
tersebut sehingga akan dimuat saat dikirimkan ke media
cetak.
Jika kurang puas dengan komentar orang-orang tersebut,
Anda dapat pula meminta komentar dari orang yang
Anda anggap paham tentang sebuah cerpen. Persoalan
komentar tersebut mau digunakan atau tdak, kembali
kepada pribadi Anda. Karena itu, menyaring setap
komentar yang diterima adalah sebuah keniscayaan.
Intnya, jangan takut dikomentari, meskipun komentar
itu barangkali tdak Anda sukai. Perlu diingat bahwa Anda
menulis cerpen untuk dibaca oleh orang lain, bukan
untuk diri sendiri. Maka komentar orang menjadi pentng
didengarkan.
MENULIS unTuK MahaSISWa
& JuRnalIS PEMula
131
[ MEnulIS aCEh dalaM daMaI ]
Hal lainnya yang mest diperhatkan sebelum megirim
cerpen ke media adalah melihat media apa yang menjadi
tujuan Anda. Penyesuaian tema cerita dengan visi-misi
media mest diperhatkan. Selera koran dan redaktur
dipelajari sehingga kemungkinan untuk karya dimuat lebih
besar. Misalkan saja, cerpen berbau remaja dan agama,
tentu akan lebih layak dikirimkan ke Majalah Annida
daripada koran harian sepert Kompas atau Tempo.
Baik koran lokal maupun koran nasional, masing-masing
memiliki stle tersendiri. Misalkan Harian Republika;
mengarah kepada cerpen agamis. Sebagai sebuah koran
nasional, Republika tak ubahnya sepert Harian Kompas,
Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia,
dan lainnya, setap cerpennya cenderung tdak terlalu
keremajaan. Kompas sendiri biasanya lebih memilih
cerpen-cerpen yang memiliki informasi berita, berkaitan
dengan apa yang sedang hangat terjadi/dibicarakan.
Begitulah sekilas catatan untuk melakukan proses kreatf
penulisan cerpen. Anda dapat pula memotvasi diri
menulis cerpen dengan embel-embel bahwa setap karya
yang dimuat akan diberikan imbalan honor. Namun,
pemikiran ke arah sana jangan terlalu besar. Jadikah saja ia
sebagai motvasi, tapi bukan untuk dikejar. Yang terpentng
adalah menulis terlebih dahulu. Masalah honor, akan
datang dengan sendirinya saat Anda telah menjadi. Nah,
sekarang tunggu apa lagi? Lekas ambil kertas dan pulpen,
lalu menulis. Bagi yang sudah biasa menulis langsung
di komputer (laptop), nyalakan segera laptop Anda dan
langsung mencoba. Sesungguhnya, “yang bisa hanya
orang-orang yang mau dan berani mencoba”. Salam!!!
Jl. Lamreung No-17 Ulee Kareng
Telp.(0651) 7410466
Fax. (0651) 636947
Email: info@katahati.or.id
Website: www.katahati.or.id
Banda Aceh 23117,
Nanggroe Aceh Darussalam
Indonesia
M E N U L I S
A C E H
D A L A M
D A M A I
CCRPS
Center for Confict Resolution
and Peace Studies
IAIN Ar-Raniry
didukung oleh:
Masyarakat Jepang
(From the People of Japan)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful