P. 1
Kebijakan Ekonomi Internasional Tarif

Kebijakan Ekonomi Internasional Tarif

|Views: 7,087|Likes:
Published by shashe_chu

More info:

Published by: shashe_chu on Feb 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2015

pdf

text

original

1

Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional
Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilateral antara dua negara. Selama berabad-abad dibawah kepercayaan dalam Merkantilisme kebanyakan negara memiliki tarif tinggi dan banyak pembatasan dalam perdagangan internasional. Pada abad ke 19, terutama di Britania, ada kepercayaan akan perdagangan bebas menjadi yang terpenting dan pandangan ini mendominasi pemikiran di antara negara barat untuk beberapa waktu sejak itu dimana hal tersebut membawa mereka ke kemunduran besar Britania. Pada tahun-tahun sejak Perang Dunia II, perjanjian multilateral kontroversial seperti GATT dan WTO memberikan usaha untuk membuat regulasi global dalam perdagangan internasional. Kesepakatan perdagangan tersebut terkadang berujung pada protes dan ketidakpuasan dengan klaim dari perdagangan yang tidak adil dan tidak menguntungkan secara mutual. Perdagangan bebas biasanya didukung dengan kuat oleh sebagian besar negara yang berekonomi kuat, walaupun mereka terkadang melakukan proteksi selektif untuk industriindustri yang penting secara strategis seperti proteksi tarif untuk agrikultur oleh Amerika Serikat dan Eropa. Belanda dan Inggris Raya keduanya mendukung penuh perdagangan bebas dimana mereka secara ekonomis dominan, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan pendukung terbesarnya. Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan Tiongkok) menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat secara ekonomi. Karena tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha non tarif, termasuk investasi luar negeri langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan. Wujud lain dari biaya transaksi dihubungkan dengan perdagangan pertemuan dan prosedur cukai.

General Agreement on Tariff and Trade
GATT (General Agreement on Tarif and Trade) adalah perjanjian internasional multilateral yang mengatur perdagangan internasional. GATT lahir atau dibentuk setelah Perang Dunia II (tahun 1947) atas dasar “provisional basis“ yaitu bersifat sementara. GATT bukan merupakan suatu organisasi atau lembaga. GATT (sekarang disebut WTO) memiliki lima tujuan utama, yaitu:  Menghapus berbagai hambatan tarif maupun non tarif.  Menciptakan kondisi perdagangan tanpa diskriminasi.  Membentuk dasar perdagangan yang stabil dan mudah diprediksi.  Membentuk suatu forum konsultasi.

2

 Mendorong kesepakatan perdagangan di tingkat regional. Untuk mencapai liberalisasi perdagangan, berbagai perundingan perdagangan multilateral atau sering disebut sebagai “putaran perundingan perdagangan“ telah dilaksanakan di bawah pengawasan GATT. Putaran perundingan yang pertama dilaksanakan pada tahun 1947 di Jenewa Annecy Round (1949), (Geneve Round). Kemudian dilanjutkan dengan Torquay Round (1951), Geneve Round (1956), Dillon Round (1960), Kennedy Round (1964/67), Tokyo Round (1973/79), dan Uruguay Round (1987/93). Perjanjian–perjanjian tersebut dibuat untuk mendorong dan mewujudkan perdagangan bebas antara negara anggota dengan cara penurunan tarif dalam perdagangan barang dan sebagai mekanisme yang lazim dalam menyelesaikan perselisihan dagang, seperti masalah dumping, quota, penolakan barang impor, dan masalah-masalah perdagangan lainnya.

World Trade Organization
WTO adalah organisasi perdagangan dunia yang mengatur dan menerapkan perjanjian multilateral dan plurilateral dibidang perdagangan. WTO lahir karena kebutuhan akan adanya suatu lembaga atau organisasi internasional yang dapat berfungsi atau sebagai wadah untuk membuat suatu aturan permainan dalam perdagangan internasional. WTO lahir dari hasil perundingan multilateral dalam kerangka GATT (General Agreement on Tariff and Trade), yang dikenal dengan “Putaran Uruguay” pada tahun 1994.

Gambar 1 WTO Agreement

WTO AGREEMENT

Intellectual Property Rights

Rules of Origin

Preshipment Inspection

Anti dumping & subsidi

Keterangan: perjanjian WTO yang memuat ketentuan-ketentuan dan prinsip-prinsip WTO.

3

Kebijakan Ekonomi Internasional
Kebijakan Ekonomi internasional adalah tindakan/kebijakan ekonomi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi perdagangan dan pembayaran internasional. I. Instrumen kebijakan ekonomi internasional meliputi:

1. Kebijakan perdagangan internasional mancakup tindakan/kebiijakan pemerintah terhadap perdagangan luar negerinya, khususnya mengenai ekspor dan impor barang/jasa,misalnya pengenaan tariff terhadap barang impor, bilateral, trade agreement,pengenaan quota impor dan ekspor dll. 2. Kebijakan pembayaran internasional adalah mencakup tindakan pemerintah terhadap pembayaran internasional, misalnya pengawasan terhadap lalu lintas devisa, pengaturan lalu lintas modal jangka panjang. 3. Kebijakan bantuan luar negeri adalah tindakan pemerintah yang berhubungan dengan bantuan (grants), pinjaman/hutang (loans), bantuan untuk rehabilitasi serta pembangunan, dll.

II. Tujuan kebijakan ekonomi internasional 1. Autarki: tujuan ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip perdagangan

internasional. Tujuan autarki bermaksud untuk menghindarkan dari pengaruhpengaruh Negara lain baik pengaruh ekonomi,politik atau militer. 2. Kesejahteraan (welfare): tujuan ini bertentangan dengan autarki di atas. Dengan mengadakan perdagangan internasional suatu Negara akan memperoleh keuntungan dari adanya spesialisasi dan kesejahteraan meningkat. Maka untuk mendorong perdagangan internasional, hambatan/ restriksi dalam perdagangan internasional seperti tariff, quota, dsb akan dihilangkan atau paling tidak dikurangi. Hal ini berati mengarah ke perdagangan bebas. 3. Proteksi : tujuannya untuk melindungi industry dalam negeri dari persaingan barang impor. Kebijakan dapat berupa tariff atau quota impor. 4. Keseimbangan neraca pembayaran: terutama bagi Negara yang mengalami defisit dalam neraca pembayarannya, posisi cadangan valuta asingnya lemah. Maka diperlukan kebijakan ekonomi internasional guna menyeimbangkan neraca

pembayaran internasionalnya. Kebijakan ini ummnya berbentuk pengawasan devisa

4

(exchange control). Pengawasan devisa tidak hanya mengatur/mengawasi lalu lintas tapi juga modal. 5. Pembangunan ekonomi: untuk menunjang pembangunan ekonomi suatu Negara pemerintah dapat mengarahkan perdagangan internasionalnya dengan kebijakan seperti: - perlindungan terhadap industri dalam negeri yang baru tumbuh (infant industries) - mengurangi impor barang-barang yang nonessensial dan mendorong impor barang-barang yang lebih esensial. -mendorong ekpor

Restriksi/Pembatasan Perdagangan Tariff
A. Definisi tariff Tariff dapat difenisikan sebagai pajak atu cukai yang dikenakan pada suatu komoditi yanf diperdagangkan dalam hal ini yang diimpor dan diekspor. Pembebanan pajak ini diberlakukan terhadap produk-produk yang melewati batas-batas Negara. B. Alasan- alasan pembebanan tariff Beberapa alasan yang dikemukakan mengenai pembebanan tariff ini untuk: 1. Melindungi tenaga kerja dan produsen dalam negeri 2. Stabilitasi harga barang 3. Mengurangi penganggguran dalam negeri. 4. Menghilangkan deficit neraca pembayarn nasional 5. Memperbaiki kesejahteraan nasional 6. Mendorong sector industry dalam negeri untuk bersaing denganprodusen luar negeri. 7. Melindungi industry penting nasional.

Dari alasan di atas,dapat kita lihat betapa bagusnya tujuan dari pemberlakuan restriksi tariff ini. Namun pada kenyataannya hal tersebut lebih bertolak pada kepentingan invidu atau kelompok-kelompok tertentu. Hanya sekelompok oranglah yang mengalami kejumlah besar keuntungan.

5

Alasan lain diberlakukannya pembebanan tariff adalah: a. Secara ekonomis: 1). Memperbaiki nilai tukar. 2). Infant-industri, dalam hal ini merupakan perlindungan bagi industry-industri terhadap persaingan luar negeri. 3).Diversivikasi, penitikberatan produksi Negara pada satu atau bebrapa barang saja. 4). Employment, pembebanan tariff akan menurunkan import dan menaikkan produksi dalam negeri sehingga akan terbuka banyak lapangan kerja di dalam negeri. 5). Anti dumping atau penjualan produk keluar negeri dengan harga murah daripada di dalam negeri. b. Secara non ekonomis: 1). Pertahanan nasional. 2). Cita-cita membangun suatu perekonomin nasional yang tangguh dan mandiri. 3). Perlindungan terhadap kegiatan- kegiatan tertentu yang mempunyai nilai social budaya yang ingin dilestarikan. 4). Menunjang tujuan politik luar negeri tertentu. C . Penggolongan tariff Penggolongan tariff dapat dilakukan ke dalam kategori. 1. Menurut aspek komoditi dibagi atas: a. Bea ekspor, adalah bea yang dikenakan terhadap barang yang diangkut menuju Negara lain. b. Bea transito, adalah bea yang dikenakan terhadap barang-barang yang melalui wilayah suatu Negara dengan tujuan lain. c. Bea impor, adalah bea yang dikenakan terhadap barang- barang yang masuk ke dalam suatu Negara, di mana Negara tersebut adalah tujuan akhirnya. 2. Menurut mekanisme perhitungannya, dibagi atas:

6

a. Ad valorem duties, yakni biaya pabean yang tingginya dinyatakan dalam presentasi dari nilai barang yang dikenakan bea tersebut. b. Specific duties, yakni biaya pabean yang tingginya dinyatakan untuk setiap ukuran fisik dari barang yang dikenakan bea tersebut. c. Compound duties, yakni biaya pabean yang tingginya adlah hasil kombinasi dari ad valorem dan specific duties. D. Sistem tariff Ada beberapa system tariff: 1. Single – column tariffs. System di mana untuk masing-masing barang hanya mempunyai 1 macam tariff atau sifatnya autonomous tariffs. 2. Double- column tariffs. System di mana untuk masing-masing barang mempunyai dua tariff. Kedua tariff ini ditentukan sendri oleh undang-undang. Namanya bentuk maksimum dan minimum. 3. Triple- column tariffs System ini digunakan oleh suatu Negara yang menjajah Negara lain. System ini merupakan perluasan dari sistem double- column tariffs. Di sini ditambah dengan satu macam tariff preference.

E. Efek tariff Pembebanan tariff atas suatu barang dapat mempunyai efek terhadap perekonomian suatu Negara. Khususnya di dalam pasar barang tersebut. Beberapa efek yang terjadi karena diberlakukannya tariff dalam perdagangan. 1. Efek terhdap harga, dapat menyebabkan naik turunyya harga suatu barang di dalam negeri. 2. Efffek terhadap konsumsi, dapat menyebabkan naik turunnya jumlah konsumsi atas suatu barang di dalam negeri. 3. Efek terhadap produk, dapat menyebabkan naik turunnya jumlah produksi suatu barang dalam negeri. 4. Efek terhadap distribusi pendapatan, dapat menyebabkan perubahan pola dalam pendapatan masyarakat di dalam negeri.

7

Hubungan Kerjasama Internasional
ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) Pembentukan ASEAN Free Trade Area - AFTA tujuan utamanya adalah untuk: a. meningkatkan perdagangan intra ASEAN dengan cara mengurangi hambatan tarif dan non tarif, sehingga sektor-sektor manufaktur ASEAN akan lebih efisien dan lebih kompetitif b. untuk meningkatkan investasi di negara-negara anggota ASEAN; c. dengan pasar yang lebih luas, investasi langsung dari luar akan masuk dalam kawasan regional. Hal ini akan merangsang pertumbuhan industri di kawasan. Pada mulanya ada 6 negara anggota AFTA, yaitu Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filippina, Singapore, dan Thailand. Kemudian negara anggotanya bertambah, dan sekarang ada 10 negara anggota AFTA termasuk 4 negara baru yaitu Vietnam (tahun 1995), Laos dan Myanmar (tahun 1997), serta Kamboja (tahun 1999). Untuk mencapai AFTA, negara-negara ASEAN sepakat untuk menyusun skedul penurunan tarif Bea Masuk terhadap barang-barang yang diimpor dari negara anggota. Skedul penurunan tersebut dikenal dengan sebutan CEPT for AFTA (Common Effective Prefential Tariff) yaitu skema yang berisi pemberian konsesi tarif yang efektif dan sama untuk pasar ASEAN terhadap produk-produk yang sama yang dihasilkan oleh negara ASEAN. Konsepnya adalah penurunan tarif dan hambatan non tarif dalam kurun waktu 15 tahun yang dimulai dari 1 Januari 1993. Namun pada tahun 1994 negara-negara anggota sepakat untuk mempercepat realisasi dari AFTA dari 15 tahun menjadi 10 tahun. Bahkan dengan adanya kecenderungan penurunan tarif bea masuk sesuai kesepakatan antar negara (misalnya perjanjian dalam GATT, ASEAN, APEC) untuk menuju ke perdagangan bebas, kebijakan non tarif cenderung digunakan oleh negara-negara untuk melindungi industri dalam negerinya, termasuk produk-produk pertanian. Hal ini terjadi oleh karena kebijakan tarif tidak bisa dilaksanakan karena terikat dengan perjanjian internasional, sehingga untuk menaikkan tarif bea masuk atas suatu komoditi menjadi tidak dapat dilakukan.

Kasus 1 Sebagai salah satu komoditas strategis di Indonesia, Industri gula nasional kini mendapat perlindungan dan dukungan yang cukup memadai dari pemerintah Indonesia. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain mencakup kebijakan tarif impor, kebijakan tataniaga impor, dan dukungan terhadap program akselerasi pergulaan nasional. Untuk tarif impor,

8

pemerintah tetap mempertahankan kebijakan tarif impor gula sebesar Rp 700/kg. Kebijakan tataniaga impor membatasi membatasi jumlah importir yaitu hanya importir produsen dan importir terdaftar. Untuk program akselerasi, pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 65 miliar untuk tahun 2003. Dari tiga kebijakan tersebut, kebijakan tataniaga impor yang tertuang dalam Kepmenperindag No. 43/MPP/Kep/9/2002, tertanggal 23 September 2002 merupakan kebijakan yang paling mendapat sorotan. Esensi dari kebijakan ini, disamping membatasi pelaku importir yaitu hanya importir produsen dan importir terdaftar impor dapat dilakukan bila harga di tingkat petani adalah minimal Rp 3100/kg. Kebijakan yang pada dasarnya membatasi penawaran gula impor diharapkan dapat memberi dorongan pertumbuhan industri gula serta peningkatan dan sekaligus stabilitas pendapatan petani tebu. Evaluasi sementara menunjukkan bahwa kebijakan tersebut cukup efektif dalam mencapai sasarannya. Kebijakan tersebut secara langsung telah meningkatkan harga gula di tingkat petani. Kalau sebelum kebijakan tersebut diterapkan harga di tingkat petani jarang diatas Rp 3100/kg; setelah kebijakan tersebut diterapkan harga di tingkat petani umumnya diatas nilai tersebut, bahkan sering sudah mendekati Rp 3500/kg. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kebijakan tersebut akan mendorong perluasan areal tebu secara nasional sekitar 8.21% lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa kebijakan tersebut. Hal yang sama berlaku juga terhadap produksi yang diperkirakan akan menjadi sekitar 7.23% lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut diperkirakan menyebabkan impor menjadi lebih rendah sekitar 7.35%. Di balik dampak positifnya, kebijakan tersebut mempunyai sisi-sisi kelemahan. Seperti disebutkan oleh Erwidodo (2003), kebijakan tersebut dapat menciptakan strukur pasar yang mengarah pada pasar monopolistik bila terbentuk sejenis kartel, mengingat jumlah importir terdaftar sampai saat ini hanya empat importir. Oleh beberapa kalangan, situsi ini dinilai telah melanggar UU Persaingan Usaha. Kedua, kebijakan ini akan menyuburkan prilaku pemburu rente ekonomi. Lonjakan harga gula di dalam negeri yang pernah terjadi pada periode Januari-April 2003, merupakan indiaktor dari kelemahan kebijakan tersebut. Salah satu alterantif kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mencari alternatif kebijakan impor gula yang lebih tepat. Terkait dengan upaya ini, tariff-rate quota (TRQ) dapat menjadi salah satu alternatif untuk di pertimbangkan. Kebijakan TRQ pada dasarnya mengenakan tarif rendah sampai dengan volume impor tertentu. Di atas volume impor tesebut, tarif impor yang dikenakan biasanya jauh lebih tinggi (tarif tinggi). Beberapa negara telah menerapkan kebijakan tersebut sebagai bentuk kompromi untuk melindungi

9

industri gula dalam negeri dan konsemen, termasuk industri yang menggunakan gula sebagai bahan baku (Tabel 1). Kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan yang paling banyak diterapkan oleh negara-negara yang berperan penting dalam perdagangan gula, seperti Eropa Barat, Amerika, dan China. Di samping itu, kebijakan ini masih sejalan dengan komitmen yang berkaitan dengan WTO. Sebagai ilustrasi dapat dilihat bagaimana Amerika menggunakan TRQ untuk mengandalikan pasokan gula di pasar domestik. Untuk volume impor sampai dengan 1.3 juta ton pada tahun 2003 (berubah-ubah tiap tahun), Amerika mengenakan tarif impor sebesar US$c 0.625/pound. Di atas volume tersebut, tarif impor yang dikenakan adalah US$c 15.36/pound. Implikasi dari kebijakan ini adalah bahwa Amerika secara tidak langsung membatasi impor hanya sampai dengan 1.3 juta ton untuk tahun 2003. Kebijakan ini terbukti efektif untuk mengendalikan pasokan gula di pasar dalam negeri Amerika. Salah satu kelebihan TRQ dibandingkan dengan kebijakan tata niaga impor adalah bahwa TRQ tidak perlu membatasi pelaku impor, sehingga TRQ diharapkan dapat menciptakan persiangan yang sehat dan tidak menyalahi UU Persaingan Usaha. Yang perlu dibatasi atau dihitung secara cermat adalah adalah batas volume impor yang dikenakan tarif rendah. Untuk Indonesia, volume TRQ dapat ditentukan dengan memperhatikan

kemampauan produksi gula secara nasional dan ditetapkan setiap tahun. Sebagai contoh, Untuk 3-5 tahun mendatang, TRQ sekitar 1.5 jua ton dapat menjadi salah satu pilihan. Tingkat tarif impor rendah dan tarif impor tinggi perlu mempertimbangkan beberapa aspek/faktor pergulaan nasional, terutama yang berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi. Untuk tarif rendah, beberapa faktor penting yang perlu dipetimbangkan antara lain target harga yang wajar untuk petani dan konsumen dan kecendrungan perkembangan harga di pasar internasional. Makin tinggi target harga di tingkat petani, makin tinggi tingkat tarif rendah. Di sisi lain, tarif impor tinggi seyogyanya mampu melindungi pasar domestik dari lonjakan impor sebagai akibat harga gula di pasar internasional yang sangat distortif. Untuk Indonesia, tarif impor tngigi yang dapat diterapka adalah 95%, sesuai dengan komitmen yang tertuang dalam Putaran Uruguay. Sebagai pembahasannya dapat disimpulkan bahwa bebagai kebijakan pergulan nasional yang diterapkan pemerintah sudah cukup memberi perlindungan dan kondisi yang kondusif untuk perkembangan pergulaan nasional. Namun demikian, kebijakan tersebut masih memiliki sisi-sisi kelemahan yag harus diperbaiki. Dalam hal ini, TRQ merupakan salah satu alternatif kebijakan yang perlu dipertimbangkan. Untuk dapat diterapkan, kebijakan TRQ tentu memerlukan pengkajian/analisis yang komprehensif baik pada sisi

10

teoritis, emperis, maupun praktis. Yang terpenting, upaya-upaya untuk mencari kebijakan terbaik bagi perkembangan pergulaan nasional harus terus-menerus dilakukan, sehingga Industri gula nasional dapat berkembang secara dinamis dan antisipatif bagi ksejahteraan masyarakatan pergulaan dan mampu memeberi kontribusi dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional

Kasus 2 RI Menangkan Sengketa Anti Dumping Kertas di WTO Kapanlagi.com - Indonesia memenangkan sengketa anti dumping produk kertas yang digugat Korea di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), kata Menteri Perdagangan Mari Pangestu dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (31/10). "Dispute Settlement Body WTO secara resmi telah menerbitkan laporan panel mengenai sengketa dagang Indonesia-Korea menyangkut pengenaan bea masuk anti dumping atas produk kertas di Korsel," katanya. Menurut dia, dalam laporan tersebut, panel DSB mengabulkan dan menyetujui gugatan Indonesia bahwa pemerintah Korsel melakukan berbagai pelanggaran terhadap ketentuan agreement on anti dumping WTO dalam mengenakan tindakan anti dumping terhadap produk kertas Indonesia. "Korsel telah melakukan kesalahan dalam pembuktian dan menentukan kerugian yang dialami industri domestik Korsel akibat praktek dumping produk kertas Indonesia," katanya. Pada Mei 2003 Korsel memberlakukan BM (bea masuk) anti dumping atas produk kertas Indonesia, namun pada November 2003 mereka menurunkan BM anti dumping terhadap produk kertas Indonesia ke Korsel. BM anti dumping pada November 2003 yang diberlakukan pada tiga eksportir produk kertas yaitu PT Tjiwi Kimia, PT Pindo Deli, PT Indah Kiat, PT April Pine. PT Pindo Deli, PT Tjiwi Kimia dan PT Indah Kiat dikenakan BM dumping 8,22%, sedangkan PT April Pine dan perusahaan lainnya 2,8%. Sedangkan pada Mei 2003, BM dumping pada Tjiwi Kimia dan Pindo Deli masing-masing sebelumnya sebesar 51,61% dan 11,56%. Industri kertas Korsel melakukan petisi anti dumping terhadap produk kertas Indonesi pada tanggal 30 September 2002. Sementara itu, Dirjen Kerjasam Perdagangan Internasional Deperdag Harry Soetanto mengatakan bahwa Korsel bisa saja melakukan banding atas keputusan WTO tersebut, namun mereka harus segera mencabut penerapan BM anti dumping terhadap produk kertas Indonesia.

11

Menurut dia, nilai ekspor produk kertas Indonesia ke Korsel pada 2002 mencapai US$139,1 juta. "Kerugian atas BM anti dumping yang dikumpulkan oleh Pemerintah Korsel mencapai US$500 ribu per bulan," katanya. Pada kesempatan Managing Director Sinar Mas Group yang menangungi Indah Kiat, Pindo, dan Tjiwi Kimia, Sulistiyanto menjelaskan sebelum adanya penerapan BM anti dumping ekspor perusahaannya ke Korsel mencapai US$100 juta per tahun, namun kemudian turun menjadi sekitar US$60 juta per tahun sejak ada penerapan BM anti dumping itu. "Dengan kemenangan ini diharapkan ekspor kami bisa kembali meningkat hingga mencapai US$120 juta per tahun," katanya. Adapun produk Indonesia yang terkena BM dumping ada 16 jenis antara lain yang tergolong dalam uncoated paper and paperboard used for writing dan printing or other grafic purpose. (*/lpk)

Pembahasan Dalam persetujuan anti dumping pemerintah diperbolehkan untuk mengambil tindakan sebagai reaksi terhadap dumping jika benar – benar terbukti terjadi kerugian (material injury) terhadap industri domestik. Untuk melakukan hal ini, pemerintah harus dapat membuktikan terjadinya dumping dengan memperhitungkan tingkat dumping, yaitu membandingkannya terhadap tingkat harga ekspor suatu produk dengan harga jual produk tersebut di negara asalnya. Praktek dumping merupakan praktek dagang yang tidak fair, karena bagi negara pengimpor, praktek dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia usaha atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang-barang dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah daripada barang dalam negeri akan mengakibatkan barang sejenis kalah bersaing, sehingga pada akhirnya akan mematikan pasar barang sejenis dalam negeri, yang diikuti munculnya dampak ikutannya seperti pemutusan hubungan kerja massal, pengganguran dan bangkrutnya industri barang sejenis dalam negeri. Sebagai negara yang telah menjadi anggota WTO yaitu dengan meratifikasinya Agreement Establishing the WTO melalui Undang – Undang Nomor. 7 Tahun 1994 tentang Pembentukan WTO, maka Indonesia juga harus melaksanakan prinsip - prinsip pokok yang dikandung dalam General Agreement on Tariff and Trade/GATT 1947 (Persetujuan Umum

12

mengenai Tarif dan Perdagangan Tahun 1947), berikut persetujuan susulan yang telah dihasilkan sebelum perundingan Putaran Uruguay. GATT dimaksudkan sebagai upaya untuk memperjuangkan terciptanya perdagangan bebas, adil dan menstabilkan sistem perdagangan internasional, dan memperjuangkan penurunan tarif bea masuk serta meniadakan hambatan-hambatan perdagangan lainnya. Pada tanggal 4 Juni 2004, Indonesia membawa Korea Selatan untuk melakukan konsultasi penyelesaian sengketa atas pengenaan tindakan anti-dumping Korea Selatan terhadap impor produk kertas asal Indonesia. Hasil konsultasi tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Indonesia kemudian mengajukan permintaan ke DSB WTO agar Korea Selatan mencabut tindakan anti dumpingnya yang melanggar kewajibannya di WTO dan menyalahi beberapa pasal dalam ketentuan Anti-Dumping. Pada tanggal 28 Oktober 2005, DSB WTO menyampaikan Panel Report ke seluruh anggota dan menyatakan bahwa tindakan anti-dumping Korea Selatan tidak konsisten dan telah menyalahi ketentuan Persetujuan Anti-Dumping. Kedua belah pihak yang bersengketa pada akhirnya mencapai kesepakatan bahwa Korea harus mengimplementasikan rekomendasi DSB dan menentukan jadwal waktu bagi pelaksanaan rekomendasi DSB tersebut (reason- able period of time/RPT).

Penutup
Dapat dibaca pada kasus-kasus tersebut bahwa dalam melakukan hubungan perdagangan (khususnya bilateral) sangat rentan akan berbagai masalah yang ujungnya akan merugikan negara kita. Pihak-pihak terkait dengan hal-hal semacam itu harus jeli dalam melihat apa yang terjadi dan dapat melakukan negosiasi dengan baik, dengan maksud agar hubungan luar negeri yang terbina tetap berjalan dengan baik. Dengan keikutsertaan Indonesia pada WTO, maka siap atau tidak siap stakeholders harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Dan pemerintahpun dituntut untuk dapat menyusun dan menerapkan sistem perekonomian khususnya dalam hal perdagangan dengan sebaik mungkin agar industri kecil dan UKM dapat terus bernafas dan tidak tersapu gelombang pasar bebas yang telah memutuskan penerapan tariff 0%.

13

Sumber/Referensi
Rafianti, Laina, 2005. Unpad Journal of International Law : Tindakan Anti Dumping Dalam ………Kegiatan Perdagangan Internasional. Bandung. Kartadjoemena, H.S. 1996. “GATT dan WTO” Sistem, Forum dan Lembaga Internasional di ………Bidang Perdagangan. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. … Modul Kebijakan Ekonomi Internasional … Data indikator dari International Trade Center (ITC) … Modul Kepabeanan Internasional … http://buletinbisnis.wordpress.com … www.wikipedia.com … www.kapanlagi.com … www.kontan.co.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->