P. 1
medisina EDISI KE 6

medisina EDISI KE 6

|Views: 637|Likes:
Published by mamangdani
majalah organisasi ISFI sekarang jadi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)
majalah organisasi ISFI sekarang jadi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)

More info:

Published by: mamangdani on Feb 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

pdf

text

original

Publisher : PT.

ISFI PENERBITAN

Edisi 6/Vol. IV/Januari - April 2009 Rp. 20.000,-

Penerapan CPOB Dokumentasi

Profesi Farmasi Menanggapi Perubahan
Antara Ant tara S Seven even Star Pharmacist dan Fi d Five St Star D Doctors t
Dra. Kustantinah, MApp.Sc, Apt

Arah Perkembangan Pelayanan Kefarmasian

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan RI.

MAJALAH MEDISINA EDISI KEENAM JANUARI - APRIL 2009
EDITORIAL
Pelayanan Kefarmasian 3 ASUHAN KEFARMASIAN Prof. Dr. H. Haryanto Dhanutirto, DEA, Apt., Kemana Masa Depan Kita 4 INFO KHUSUS Antara Seven Star Pharmacists dan Five Star Doctors

DAFTAR ISI
INFO ORGANISASI
Pelaksanaan Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker selama tahun 2008 32

SAJIAN KHUSUS

Dokter Dispensing; Quo Vadis Sistem Pelayanan Kesehatan 22

5

GALERI

HUT ISFI Ke- 53

24

6 10 20 27
2

COVER STORY

SPESIAL TOPIK

Arah Perkembangan Pelayanan Kefarmasian Dra. Kustantinah, MApp.Sc, Apt Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 6

Mari menjadi Seorang PharmacyPreneur !! 34

INFO KEGIATAN

Seminar Konseling Obat-Obatan Kardiovaskular dan Diabetes 37

SAJIAN UTAMA

Kongres Internasional FIP ke-68 di Basel Profesi Farmasi Menanggapi Perubahan Oleh : Yulia Trisna 10

SPESIAL TOPIK KAJIAN SEHAT

Etika, (Akhlak, Kepribadian)

41

Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi 44

SAJIAN KHUSUS

Jasa Profesi Kefarmasian di Apotek (II) Oleh : Yusmainita 14

INFO ALAMI

Serial Tanaman Obat

51 53

SPESIAL TOPIK

Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit Oleh. Drs. abdul Muchid, Apt 20 No Pharmacist No Services Oleh : Endang Kumalawati 24

INFO AKTUAL

Public Warning 2008

INFO PROFESI

Penerapan CPOB Dokumentasi

57

INFO AKTUAL

INFO REGULASI

Melamin, Antara Perkakas dapur dan Susu Formula 27

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1010/Menkes/Per/XI/2008 Tentang Registrasi Obat 58

GALERI

ISFI 2008

30

Bagi anggota ISFI yang berminat untuk mendapatkan Majalah MEDISINA dapat memesan langsung ke PT. ISFI Penerbitan melalui fax. 021-56943842 atau e-mail :ptisfipenerbitan@ yahoo.com, dengan mengirimkan bukti pembayaran + ongkos kirim, atau bisa juga melalui Pengurus Daerah ISFI masing-masing secara kolektif.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

EDITORIAL

Majalah MEDISINA Media Informasi Farmasi Indonesia merupakan media komunikasi yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia) melalui PT. ISFI Penerbitan. MEDISINA terbit setiap tiga bulan sekali pada minggu pertama. Pelindung : Prof. Dr. H. Haryanto Dhanutirto, DEA, Apt., Redaktur Kehormatan: Prof. Dr. Ibnu Gholib Ganjar, DEA, Apt., Drs. Chazali H. Situmorang, MSc, Apt., Dra. Hj. Azizah Nuraini, MM, Apt., Drs. Zurbandi, Apt., Drs. Anung B. Mahatma, MSc, Apt Drs. M. Dani Pratomo, Apt., Dr. Faiq Bahfen, SH Pemimpin Umum: Drs. Arel St. Iskandar, MM, Apt. Pemimpin Redaksi: Azwar Daris, Sidang Redaksi: Rizal, Adeng S. Hanafi, Staf Redaksi: Evita Fitriani,S Farm, Apt., Mittha Lusianti, S Farm, Apt. Pemimpin Perusahaan: Drs. Suhatsjah Syamsuddin, MBA, Apt Keuangan: Dra. Eddyningsih,Apt., Staf Khusus: Drs. Husni Junus, Apt. Layout & Desain: Dani Rachadian. Alamat Redaksi : Jl. Wijaya Kusuma No. 17 Tomang Jakarta Barat, Telp./Fax.: 021-56943842, e-mail: ptisfipenerbitan@yahoo.com. No. Rekening: a/n. PT. ISFI Penerbitan, BCA KC. Tomang : 310 300 9860.

S

Pelayanan Kefarmasian

elamat elamat e a Tahun Baru Hijriah 1 Muhar Muharram rram 1430 H, Selamat Tahun Baru Masehi 1 Januari J 2009 dan Selamat Tahun Baru Imlek , 2500 . Semoga di tahun y ya ang ng akan datang ini kehidupan k ita sekalian lebih baik yang kita baik, lebih tentram d an damai. Pada kesem patan ini ju dan juga kami menyampaikan permintaan m aaf kepada pembaca dan pelanggan pelang maaf Medisina, atas keterlambatan kami datang kembali kehadapan anda s sekalian. Fokus kita pada penerbitan ini adalah pad pada pelayanan kefarmasian. Seperti kita berha baik jika dilaksanakan pula secara ketahui semua, suatu pengobatan akan berhasil tena dokter dan dokter gigi yang ahli baik. Diagnosa dan terapi dilakukan oleh tenaga d l bid d b t yang b k li dan pelayanan kefarmasian yang dalam bidangnya, dengan obat berkualitas trampil dan berkompeten. Medisina kali ini lebih banyak membahas tentang pelayanan kefarmasian. Walaupun standar pelayanan kefarmasian di apotik dan rumah sakit telah ditetapkan dengan surat keputusan Menteri Kesehatan, tapi masih perlu didukung dengan cara pelayanan kefarmasian yang baik ( GPP ) yang harus dilaksanakan secara konsisten. Saat ini cara pelayanan kefarmasian yang baik masih dalam tahap penyelesaian, mudah-mudahan dapat keluar berbarengan dengan regulasi pekerjaan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang baik adalah suatu proses. Sutau proses akan berjalan dengan baik jika didukung oleh manajemen yang baik, yaitu perencanaan yang baik, pengorganisasian yang baik, pelaksanaan yang baik dan pengawasan yang baik. Hal ini bisa berjalan jika semua pihak mendukung proses ini baik dikalangan farmasi khususnya dan kesehatan serta masyarakat pada umumnya, tidak ada yang menghalangi apalagi menjegal didalam perjalanannya. Kami tampilkan Medisina kali ini dengan perkembangan pelayanan kefarmasian dimasa yang akan datang, oleh-oleh dari Kongres FIP ke – 68 di Basel, Swiss, berupa pengalaman pelayanan kefarmasian di beberapa negara secara ringkas,hal-hal yang mendukung pelayanan kefarmasian, berupa jasa profesi pelayanan kefarmasian di apotik yang wajar, pelayanan informasi obat di beberapa rumah sakit Pemerintah di Indonesia dan perlunya kehadiran apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian. Karena profesi pelayanan kefarmasian bukanlah profesional murni, tapi tidak juga bisnis murni, ada barang yang dijual, pendapatan yang diperoleh tidak dari jasa profesi saja, apalagi apotik terlaksana dengan jumlah modal yang cukup besar serta terbatasnya umur barang ( ED ) maka perlu dimiliki keberanian dan jiwa kewiraswastaan (enterpreneurship ) bagi yang akan mengelola dan memiliki apotik sendiri dan juga tampilan ringkasan makalah kiat membuka apotik yang berhasil. Sudah menjadi tanggung jawab apoteker di Indonesia sejak tahun 1993, bahwa informasi tentang obat yang diserahkan harus diberikan kepada pasien yang dilayani di apotik dan ditambah lagi konseling obat-obatan di rumah sakit, maka kali ini kami tampilkan ringkasan seminar tentang konseling obat-obatan kardiovaskular dan diabetes melitus serta pharmaceutical care untuk penyakit hipertensi. Selain mematuhi Undang-undang dan peraturan yang berlaku, seorang tenaga profesi harus melaksanakan etika profesi, dan awalnya ini kami mulai dengan etika saja yang dikutip dari sebuah buku . Pada kolom regulasi kami tampilkan regulasi tentang registrasi obat yang terbaru dari Menteri Kesehatan R.I. Hal-hal lain yang menarik adalah temuan-temuan dari konsultan tentang pelaksanaan CPOB dan serial tanaman obat secara bersambung. Dan terakhir klipping pendek yang menarik dan segar bisa anda nikmati. Selamat menghadapi tahun baru yang penuh tantangan dan harapan.

Redaksi menyediakan ruang untuk para pembaca untuk menymbangkan tulisan baik itu artikel, berita, kolom, dan sebagainya untuk dimuat di majalah MEDISINA. Tulisan yang dimuat tetap selaras dengan visi dan misi majalah MEDISINA, sehingga kami dari redaksi berhak untuk melakukan pengeditan seandainya dianggap perlu. Naskah dikirim via e-mail ke alamat ptisfipenerbitan@yahoo.com. untuk informasi hubungi Redaksi MEDISINA telepon: 021-56943842, Untuk setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan yang pantas dari Redaksi. Selamat berkarya dan terima kasih.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

3

KEMANA MASA DEPAN KITA ?
Prof. Dr. Haryanto Dhanutirto, DEA., Apt

Asuhan Kefarmasian

R

ekan-rekan sejawat yang ekan-rekan e saya s aya cintai, marilah kita b be rgembira dengan bergembira datang d atang nya dua tahun baru, Islam dan masehi, mudah-mudahan membawa berkah kepada kita para apoteker se indonesia. Berbagai program telah kita canangkan dan kerjakan bersama, telah 17.882 sertifikat telah kita bagikan kepada para apoteker di seluruh Indonesia dari 28.000 apoteker yang ada di Indonesia, ini adalah prestasi yang cukup bagus dari kerja sama Pengurus Pusat ISFI, Pengurus Daerah ISFI, APTFI (Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia) dan Perguruan Tinggi Farmasi di Indonesia.

bersama, karena akan menyangkut harkat dan martabat apoteker Indonesia di mata para rekan tenaga kesehatan lainnya dan tentunya masyarakat pada umumnya. Kepekaan para apoteker yang telah memiliki sertifikat, haruslah menjadi suatu contoh yang bergulir diantara kita sehingga makna dari sertifikat yang diarahkan oleh FIP ( Federation of International Pharmaceutical) dengan segala paradigmanya menjadi terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi pelayanan kefarmasian kepada masyarakat. Marilah kita kerjakan paradigmaparadigma yang baru sehingga penghargaan dari masyarakat kepada profesi kita makin bertambah. Selamat bekerja !!!

Makna yang dipetik dari sertifikasi ini, adalah persamaan persepsi dari kompetensi profesi apoteker di Indonesia. Persamaan persepsi ini harus kita semua para apoteker di Indonesia menindaklanjutinya dengan program-program nyata baik yang dilakukan secara perorangan dalam melaksanakan kompetensi profesi apotekernya maupun secara institusi organisasi pengurus daerah maupun pengurus cabang. Hal ini adalah tanggung jawab kita

4

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

Info Khusus

ANTARA SEVEN STAR PHARMACISTS DAN FIVE STAR DOCTORS
WHO menetapkan t k “ Five Fi Star St D Doctors t “sebagai pedoman untuk dokter agar bisa lebih efektif menjadi Dokter Keluarga , sedang WHO juga memperkenalkan “ Seven Star Pharmacists “ sebagai pedoman untuk apoteker agar bisa lebih efektif menjadi anggota Tim Kesehatan di sarana pelayanan kesehatan. Berikut ini kami muat mengenai Five Star Doctors yang kami kutip dari majalah Pharma Magazine dan Seven Star Pharmacists dari laporan WHO tahun 2006. ) dan informasi d i f i secara efektif. f ktif Mereka M k juga harus senang dipimpin oleh orang lain, apakah pegawai atau pimpinan tim kesehatan. Lebih-lebih lagi teknologi informasi akan merupakan tantangan ketika apoteker melaksanakan tanggung jawab yang lebih besar untuk bertukar informasi tentang obat dan produk yang berhubungan dengan obat serta kualitasnya. Star -5 : “Life-long learner. “. Adalah tak mungkin memperoleh semua ilmu pengetahuan di sekolah farmasi dan masih dibutuhkan pengalaman seorang apoteker dalam karir yang lama. Konsep-konsep, prinsipprinsip , komitmen untuk pembelajaran jangka panjang harus dimulai disamping yang diperoleh di sekolah dan selama bekerja. Apoteker harus belajar bagaimana menjaga ilmu penegtahuan dan ketrampilan mereka tetap “ up to date “. Star -6 : “ Teacher “. Apoteker mempunyai tanggung jawab untuk membantu pendidikan dan pelatihan generasi berikutnya dan masyarakat. Sumbangan sebagai guru tidak hanya membagi ilmu pengetahuan pada yang lainnya, tapi juga memberi peluang pada praktisi lainnya untuk memperoleh pengetahuan dan menyesuaikan ketrampilan yang telah dimilikinya. Star -7. “ Leader “ Dalam situasi pelayanan multi disiplin atau dalam wilayah dimana pemberi pelayanan kesehatan lainnya ada dalam jumlah yang sedikit, apoteker diberi tanggung jawab untuk menjadi pemimpin dalam semua hal yang menyangkut kesejahteraan pasien dan masyarakat. Kepemimpinan apoteker melibatkan rasa empati dan kemampuan membuat keputusan, berkomunikasi dan memimpin secara efektif. Seorang apoteker yang memegang peranan sebagaipemimpin harus mempunyai visi dan kemampuan memimpin. Dimanapun pelayanan kedokteran selalu diikuti dengan pelayanan kefarmasian, masing-masing k f i karena k i i memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kewenangan yang berbeda tapi samasama dalam pelayanan kesehatan untuk kesembuhan pasien. WHO menghimbau agar keterlibatan apoteker lebih besar dalam sistem pelayanan kesehatan umum dan penggunaan obat, sesuai dengan latar belakang pendidikan akademisnya. Inilah saatnya menyambut himbauan WHO tersebut dimana perubahan besar akan terjadi dalam pelayanan kesehatan dan profesi apoteker. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai dan sejarah baru profesi kefarmasian harus dimunculkan dengan penuh tantangan dan peluang.

SEVEN STAR PHARMACISTS
Star -1 : “ Care Giver “ . Dalam memberikan pelayanan, apoteker harus memandang pekerjaan mereka sebagai bagian dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan dan profesi lainnya. Pelayanannya harus dengan kualitas yang tinggi. Star -2 : “ Decision-maker “. Penggunaan sumber daya yang tepat, bermanfaat, aman, dan tepat guna seperti SDM, obat-obatan, bahan kimia, perlengkapan, prosedur dan pelayanan harus merupakan dasar kerja dari apoteker. Pada tingkat lokal dan nasional , apoteker harus memainkan peran dalam penyusunan obat-obatan. Pencapaian tujuan ini memerlukan kemampuan untuk mengevaluasi, mensintesa informasi dan data serta memutuskan kegiatan yang paling tepat. Star -3 : “ Communicator “. Apoteker merupakan posisi ideal dalam mendukung hubungan antara dokter dan pasien untuk memberikan informasi kesehatan dan obat-obatan pada masyarakat. Dia harus memiliki ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri dalam berintegrasi dengan profesi lain dan masyarakat. Komunikasi ini dapat dilakukan secara verbal ( langsung) dan non verbal, mendengarkan dan kemampuan menulis. Star -4 : “ Manager “ . Apoteker harus dapat mengelola sumber daya ( SDM, fisik dan keuangan

FIVE STAR DOCTORS
Star 1 : “ Care Provider “ Sebagai bagian dari keluarga, dokter melaksanakan pelayanan kedokteran yang komprehensif, terpadu, berkesinambungan pada pelayanan kedokteran tingkat pertama, sebagai penapis menuju ke pelayanan kedokteran tingkat kedua. Star 2 : “ Decision Maker “ Dokter sebagai penentu pada setiap tindakan kedokteran, dengan memperhatikan semua kondisi yang ikut mempengaruhinya. Star 3 : “ Community Leader “ Dokter membantu mengambil keputusan dalam ikhwal kemasyarakatan, utamanya kesehatan dan kedokteran keluarga, penelaah ikhwal kesehatan dan kedokteran keluarga. Star 4 : “ Communicator “ Dokter sebagai pendidik , penyuluh, teman, mediator dan sebagai penasehat keluarga dalam banyak hal dan masalah gizi, narkoba, keluarga berencana, sex, HIV/AIDS , Stress, Kebersihan, Pola Hidup Sehat, Olah Raga, Olah Jiwa, Kesehatan Lingkungan. Star 5 : “ Manager “ Dokter harus mampu untuk berkolaborasi, dalam kemitraan, dalam ikhwal penangan an kesehatan dan kedokteran keluarga. ( A-1 ).

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

5

cover story

ARAH PERKEMBANGAN PELAYANAN KEFARMASIAN
Dra. Kustantinah, MApp.Sc, Apt Di j Bi f i d tK h t Dirjen Bina K Kefarmasian dan Al Alat Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Tujuan akhir dari arah pembangunan di bidang kesehatan adalah mudahnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, termasuk didalamnya adalah pelayanan kefarmasian yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut melalui Sistem Kesehatan Nasional tahun 2004 telah ditetapkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan dibidang obat dan perbekalan kesehatan adalah: “Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu dan bermanfaat/ khasiat, serta terjangkau oleh masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan sehingga masyarakat mempunyai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya”. Oleh karena itu untuk menyatakan komitmen yang tinggi dari pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan cq. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menetapkan tujuan

6

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

cover story
dan sasaran nasional dibidang obat beserta prioritas, strategi dan peran berbagai pihak dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan khususnya di bidang obat/ kefarmasian, maka ditetapkanlah Kebijakan Obat Nasional (KONAS) yang bertujuan antara lain: menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat terutama obat esensial; menjamin keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta melindungi masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat serta menjamin penggunaan obat yang rasional. UU. No. 23 tentang Kesehatan menyatakan bahwa pekerjaan kefarmasian meliputi: Pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Menurut WHO 1997 ada 4 elemen penting dari pekerjaan kefarmasian yaitu : • Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit untuk mencapai tujuan di pasien dan masyarakat mendapatkan keuntungan utama dari aktivitas apoteker tersebut. Pelayanan kefarmasian yang komprehensif meliputi semua aktivitas antara lain : menjaga keamanan untuk hidup sehat dan mencegah penyakit dalam masyarakat. Apabila pengobatan telah • pelayanan kefarmasian yang merata, terjangkau dan berkualitas belum optimal Standar dan pedoman di bidang kefarmasian kurang memadai serta dukungan dana dari Departemen Kesehatan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan masih terbatas.
Orientasi pd kualitas hidup pasien Penggunaan Obat yang Rasional (POR) Pelayanan Informasi Obat
FARMASI KLINIK -Spesialisasi, CPD -Jejaring Kerja Nas & Internasional -Pusat Informasi Obat PEMERINTAH PERG TINGGI ASOSIASI/ PROFESI -Regulator & Fasilitator -Perlindungan Kes masy -Yanfar yg berkualitas Ketersediaan, pemeratan dan keterjangkauan,obat -Standar Profesi -Kode etik Profesi -Blue print yanfar berbasis klinik -Continuing Professional Development (CPD) -Pusat Informasi Obat

N DI MASA DATANG
bidang kesehatan, • • • Suplai dan penggunaan obat resep dan produk kesehatan lainnya. Advokasi dan atau suplai obat untuk pengobatan sendiri (Self care) Mempengaruhi peresepan dan penggunaan obat yang rasional. Saat ini telah terjadi perluasan pelayanan kefarmasian yang dulunya hanya berfokus pada obat (drug orientied ) sekarang bertambah ke arah pelayanan yang berfokus pada pasien ( patient orientied ) yang dikenal dengan azas Pharmaceutical care dan menjadi philosofi dalam praktik apoteker, dimana • • • dilakukan sangat penting dilakukan quality assurance dalam proses penggunaan obat untuk memaksimalkan efek terapi dan menghindari efek samping yang tidak diinginkan. Apoteker bersama dengan tenaga kesehatan lain serta pasien berbagi tanggung jawab dalam mencapai tujuan terapi. Sementara itu beberapa isu strategis bidang kesehatan di Indonesia antara lain: Derajat kesehatan telah meningkat namun disparietasnya masih tinggi. Pemberdayaan masyarakat masih terbatas Pelayanan kesehatan, termasuk Isu strategis yang demikian banyak dan dihadapkan dengan tantangan nasional maupun internasional dalam membangun bidang kefarmasian merupakan pekerjaan rumah kita yang harus kita selesaikan tepat pada waktunya bahkan kalau memungkinkan kita dapat mengantisipasi hal-hal yang belum terjadi. Dengan adanya AFTA (Asean Free Trade Area tahun 2010) mau tidak mau perdagangan bebas untuk barang dan jasa tidak dapat dihindari, demikian juga dengan adanya harmonisasi di tingkat ASEAN yang semuanya merupakan tantangan internasional yang harus

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

7

cover story
d dalam mengantisipasi perubahan global d dan kesiapan Apoteker sendiri baik dari s sisi kompetensi dan integritasnya dalam m mewujudkan profesionalisme untuk m menghadapi persaingan global masih m menjadi pekerjaan rumah kita bersama. U Untuk itu dengan dana yang terbatas p pemerintah juga sedang membangun k kerjasama/ pembelajaran Apoteker antar n negara dilingkungan ASEAN. Sebagai Negara yang berpenduduk t tidak kurang dari 220 juta dan jumlah p perguruan tinggi farmasi yang tidak k kurang dari 63 perguruan tinggi, I Indonesia mempunyai daya saing yang dengan serta merta kita jawab ja ab dengan menyiapkan berbagai regulasi, standar dan pedoman serta sumber dayanya sehingga selain dapat melindungi
19

pemerintah mengenai pekerjaan kefarmasian yang diharapkan dapat menjawab tantangan yang perlu segera kita selesaikan.

c cukup tinggi apabila didukung dengan standar atau pedoman yang mengacu kepada standar/ pedoman internasional, sehingga Indonesia dapat berkiprah dilingkup nasional, regional maupun global. Untuk mencapai tujuan tersebut

20 15
Jumlah

13 10

pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan kerjasama dengan semua pihak (stake holder) baik dari
6 5

10 5 0 PIO Konseling Visite Edukasi Seminar

kalangan profesi/ asosiasi, akademisi, praktisi bahkan masyarakat sendiri sebagai penerima layanan. Harus kita akui bahwa regulasi di bidang pelayanan kefarmasian sudah

Contoh : Realisasi Aktifitas Farmasi Klinik Pasca PP-PIO di Rumah Sakit Aktifitas No Prov RS Apt 9 3 5 2 PIO Aktif √ √ √ √ Pasif √ √ U U Konseling RJ U U U √ RI √ U √ √ Visitae Mandiri √ U U √ Team U U √ U Edukasi √ √ U √ Dok √ √ √ √

1 2 3 4

BANTEN NTB Bengkulu Jawa Barat Ket : √ U

Tangerang Praya Curup Ujung Berung

: di kerjakan : dalam proses persiapan
Tidak kalah pentingnya dalam mengahadapi tantangan nasional yang justru masih jauh dari harapan adalah kesiapan infrastruktur: pemerintah, asosiasi, stake holder lain dan masyarakat cukup memadai untuk melakukan banyak hal, akan tetapi dengan pemahaman yang multi tafsir berbagai pihak, maka masih dirasa perlu adanya regulasi yang dapat sekaligus diterapkan sebagai

masyarakat juga diharapkan dapat melindungi tenaga kefarmasiannya. Untuk itulah pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan pihak terkait lainnya telah menyusun rancangan peraturan

8

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

cover story
petunjuk maupun penegakan hukum (law enforcement). Saat ini pemerintah bersama organisasi profesi, perguruan tinggi farmasi dan pihak terkait lainnya sedang menyusun pedoman Cara Praktik/ Pelayanan Kefarmasian yang Baik, yang saat ini sedang dalam proses finalisasi. Pedoman ini nantinya diharapkan dapat digunakan oleh Apoteker sebagai acuan dalam menjalankan pelayanan kefarmasian sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien/ masyarakat dan juga sebagai acuan bagi pemerintah, profesi dan pihak terkait lainnya dalam melakukan pembinaan maupun pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian. Kebijakan dan strategi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Untuk mendukung kebijakan dan strategi, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyusun kegiatan yang berupa : 1. Pengembangan Standar Pelayanan Kefarmasian (GPP) terharmonisasi dan Regulasi (a.l. RPP-Pekerjaan Kefarmasian) 2. 3. Penerapan standar dan regulasi yang terharmonisasi Peningkatan kapabilitas, integritas dan profesionalisme Apoteker 4. Revitalisasi penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang berkualitas antara lain :

Harus kita akui bahwa regulasi di bi bidang kefarmasian bid dang pelayanan pelayanan l kefarma f sian i sudah cukup memadai untuk melakukan banyak hal, akan tetapi dengan pemahaman yang multi tafsir berbagai pihak, maka masih dirasa perlu adanya regulasi yang dapat sekaligus diterapkan sebagai petunjuk maupun penegakan hukum (law enforcement).
Melakukan mapping (pemetaan) dengan prioritas Pembuatan buku untuk pelayanan kefarmasian untuk beberapa penyakit. Peningkatan upaya dalam interaksi antar Profesi Pembuatan soft ware Pelayanan Informasi Obat (PIO) Pilot Project PIO di Rumah Sakit dan di Apotek Pembentukan Pusat Pelayanan Kefarmasian (mis; Jantung, Diabetes Melitus, Hipertensi dll)

anan Informasi Hasil Penerapan Pela Pelayanan Obat dari 19 Rumah Sakit yang dimonitor sampai dengan 15 Desember 2008 (Gambar 3). Akhirnya dengan kerjasama dan komitmen semua pihak yang berkepentingan (Dinkes, ISFI, APTFI dan stakeholder lain) diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat.***

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

9

sajian utama

Kongres Internasional FIP ke- 68 di Basel,
Dra. Yulia Trisna, MPharm, Apt*

Profesi Farmasi Menang
sektor pelayanan kesehatan. Kongres FIP di Basel dihadiri tidak kurang dari 3000 peserta dari 109 negara. Peserta dari Indonesia yang tercatat dalam buku daftar peserta ada 8 orang yaitu: Ahaditomo, Darodjatun, Zurbandi Daud, Haryanto Dhanutirto, Ita Hutagalung, Arel St. S. Iskandar, Karimah Muhammad dan saya sendiri. Seperti biasanya, upacara pembukaan diisi dengan berbagai kata sambutan mulai dari Ketua Panitia penyelenggara lokal sampai dengan Presiden FIP, Mr. Kamal Midha, diikuti dengan pemberian penghargaan kepada orang-orang yang dinilai telah berprestasi atau berjasa untuk profesi farmasi. Selain itu, Ketua Dewan Direktur FIP Foundation for Education and Research, Prof. L.Z. Benet, mengumumkan bantuan dana yang telah diberikan oleh FIP Foundation ke beberapa farmasis untuk melakukan penelitian maupun menghadiri Kongres FIP pada tahun ini. Untuk tahun ini ada 6 orang yang diberi kesempatan untuk menghadiri Kongres FIP di Basel dengan Travel Grant dari FIP Foundation, dan saya termasuk orang yang beruntung menjadi salah satu di antaranya. Di tengah acara, ditampilkan kesenian tradisional Swiss “Yodel” yang dibawakan oleh kelompok vokal satu keluarga turun temurun yang menekuni cara bernyanyi dengan lidah digetarkan

K

ongres o ngres tahunan FIP (International P Pharmaceutical diselenggarakan di kota Basel, Federation) yang ke-68 diselengga September 2008. Swiss pada tanggal 29 Agustus-4 S Menghadiri akbar profesi farmasi M Me nghadiri suatu pertemuan akba tingkat dunia, tingk tin ti ngka ng kat du d uni nia, sekaligus menikmati keindahan alam negeri Swiss nia merupakan suatu pengalaman yang sangat be berkesan baik dari aspek profesional maupun sosial budaya. Berbeda dengan Berb dua kongres FIP yang saya ikuti sebelumnya di Vancouver, Kanada (2001), pada K d (1997) dan d Singapura Si (2001) d tahun h ini FIP juga menyelenggarakan suatu Konferensi Global Farmasi Rumah Sakit yang berlangsung selama 2 hari sebelum kongres. Konferensi ini dapat dikatakan merupakan suatu tonggak bersejarah bagi dunia farmasi rumah sakit, dimana farmasis rumah sakit dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk membahas dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan hasil kesepakatan bersama tentang praktik farmasi rumah sakit di masa yang akan datang. Hasil dari konferensi tentang Farmasi Rumah Sakit mudah-mudahan dapat dibaca pada artikel saya dalam Medisina edisi berikutnya, sementara itu semoga laporan berikut tentang Kongres FIP ke68 bisa memberikan gambaran bagaimana profesi farmasi di berbagai belahan dunia menanggapi perubahan yang terjadi di

10

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

sajian utama
k komunitas dengan jumlah anggota yang terbanyak, farmasi rumah sakit, farmasi t industri, farmasi akademik sampai dengan i farmasi kegawatdaruratan dan militer. f Bukanlah suatu hal yang mudah untuk B memilih sessi mana yang akan diikuti m karena hampir semua topik yang disajikan k secara paralel sama menariknya, namun s setelah mempertimbangkan relevansinya s dengan bidang pekerjaan saya saat ini, d maka sebagian besar sessi yang saya hadiri m berkaitan dengan farmasi rumah sakit. b Pada pagi hari pertama kongres dalam sessi “Healthcare Systems in d Change” ditampilkan beberapa pembicara C yang membahas bagaimana kita bisa y bertahan menghadapi perubahan b sistem kesehatan yang terjadi saat s ini, caranya adalah dengan membuat i inovasi atau menggunakan ide-ide i baru dalam praktik kita. Peter Maag dari b Novartis Jerman membahas konsep N “Diffusion of Innovation”-nya Everett “ Roger. Dikatakannya bahwa agar suatu R harus berbeda. Hal ini disebabkan adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang profesional dari farmasis. Namun menurutnya akan lebih baik lagi jika perubahan itu didasari oleh kesadaran dan kemauan yang timbul dari hati nurani farmasis sendiri untuk memberikan pelayanan yang profesional kepada masyarakat. Sementara itu, Charlie Benrimoj dari University of Sydney Australia menyajikan hasil penelitian terbarunya di bidang farmasi komunitas. Upaya inovasi yang dilakukan farmasi komunitas di Australia untuk bergeser dari product-oriented ke patient-oriented ternyata menghadapi tantangan dari aspek perubahan manajemen. Charlie berkesimpulan bahwa perubahan manajemen akan efektif jika ada komitmen dari semua pihak yaitu farmasis sendiri, universitas dan pemerintah. Pembicara terakhir pada sessi ini adalah Gary Kaplan dari Virginia Mason Hospital, AS yang menceritakan pengalamannya

ggapi Perubahan
Switzerland 2008
ini. Mendengarkan kelompok vokal ini bernyanyi, saya jadi teringat lagu “Si Gembala Sapi” yang di ujung nyanyiannya ada teriakan…..ole-ole-ole-ole-ooooo…. Kesenian lain yang ditampilkan adalah marching band khas Swiss. Tema utama kongres FIP tahun ini adalah “Reengineering Pharmacy Practice in A Changing World” dengan maksud bahwa perubahan global yang terjadi dalam pelayanan kesehatan, demografi, epidemi dan teknologi harus disikapi oleh kita dengan melakukan reformasi dan penyesuaian dalam berpraktik agar farmasis tetap diakui eksistensinya. Mungkin benar apa yang dikatakan Bapak Evolusi Charles Darwin: “It’s not the strongest species that survives, nor the most intelligent, but the ones most responsive to change” . Program-program acara yang ditawarkan penyelenggara sangat luas cakupannya. Hal ini tentu saja tidak mengherankan karena FIP merupakan organisasi profesi farmasi sedunia yang mewadahi berbagai spesialisasi praktik profesi farmasi, mulai dari farmasi inovasi dapat berdifusi dengan efektif dalam suatu masyarakat, maka inovasi tersebut haruslah sesuai dengan nilainilai, keyakinan dan pengalaman masa lampau masyarakat tersebut. Proses difusi merupakan proses sosial, sehingga jaringan yang interpersonal sangat penting dalam mendorong kecepatan diadopsinya suatu inovasi. Peter memberikan contoh kasus difusi inovasi setelah 6 tahun terakhir mengadopsi metode manajemen sistem produksi Toyota di rumah sakit yang dipimpinnya. Metode barunya itu dinamakan VMPS (The Virginia Mason Production System) yang bertujuan untuk memberikan pelayanan dengan kualitas tertinggi, mengutamakan keselamatan pasien dan petugas, kepuasan pegawai yang tinggi dan secara ekonomi menjadikan rumah

Kongres FIP di Basel dihadiri tidak kurang dari 3000 peserta dari 109 negara. Peserta dari Indonesia yang tercatat dalam buku daftar peserta ada 8 orang yaitu: Ahaditomo, Darodjatun, Zurbandi Daud, Haryanto Dhanutirto, Ita Hutagalung, Arel St. S. Iskandar, Karimah Muhammad dan saya sendiri.
suatu industri farmasi di Jerman dimana keinginan untuk berorientasi kepada kepentingan pasien dalam memberikan terapi terbaik dihalangi oleh adanya keterbatasan dana, sehingga diperlukan strategi untuk menyeimbangkannya. Pembicara berikutnya adalah William Zellmer dari ASHP (American Society of Health-System Pharmacists) yang menyampaikan bahwa di masa yang akan datang mau tidak mau praktik farmasi sakit sebagai bisnis yang menguntungkan. Beberapa perubahan manajemen yang dilakukannya antara lain menghilangkan “pemborosan” seperti pemeriksaan uji laboratorium, prosedur yang tidak perlu, stok obat, kinerja pegawai yang di bawah standar, dan penggunaan mesin-mesin. Untuk meningkatkan keselamatan pasien, upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode “poka yoke” (anti kesalahan / error proofing) antara lain

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

11

sajian utama
dari Amerika Serikat juga memaparkan d hasil surveinya terhadap kepuasan lulusan h baru farmasis terhadap pekerjaannya b sebagai farmasis di rumah sakit. Dengan s makin meningkatnya jenjang pendidikan m farmasis, maka tanggung jawab kerja f seorang farmasis harus diubah agar sesuai s dengan harapannya, jika tidak maka d akan terjadi “ketidakpuasan” terhadap a pekerjaannya. Mereka akan merasa p . “underutilized” Di hari terakhir, sessi yang saya ikuti adalah “Medication Reviews- Collaboration a between Pharmacists, Physicians and b Patients” . Yang menarik dari sessi ini adalah P selain pemaparan oleh para pembicara, s juga ada diskusi dan simulasi kasus yang j diperagakan oleh panitia bersama-sama d dengan peserta. Seluruh peserta dibagi d

Sementara i S itu, Ch Charlie li B Benrimoj i jd dari iU University i i of fS Sydney d A Australia li menyajikan hasil penelitian terbarunya di bidang farmasi komunitas. Upaya inovasi yang dilakukan farmasi komunitas di Australia untuk bergeser dari product-oriented ke patient-oriented ternyata menghadapi tantangan dari aspek perubahan manajemen. Charlie berkesimpulan bahwa perubahan manajemen akan efektif jika ada komitmen dari semua pihak yaitu farmasis sendiri, universitas dan pemerintah.
menata letak peralatan dan obat-obat yang akan digunakan untuk operasi serapih mungkin yang dilengkapi dengan label identifikasi untuk tiap barang. Sementara itu kabel-kabel yang berbeda diberi warna berbeda dan bentuknya dibuat unik sehingga tidak mungkin dapat berfungsi jika dipasang pada tempat yang salah. Menurut Gary, tantangan yang terberat dalam mengimplementasikan metode ini adalah merubah budaya kerja. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dan konsisten untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Di siang harinya, sessi yang saya ikuti adalah ICT (Information Communication Technology) showcase yang diselenggarakan oleh Pharmacy Information Section, dimana saya menjadi anggota section ini sejak beberapa tahun yang lalu. Dalam sessi ini disajikan perkembangan teknologi informasi yang menunjang praktik dan pendidikan farmasi. Pembicara dari perusahaan Belanda “Pharmapartners” menyajikan suatu teknologi yang baru dikembangkannya, yaitu rekam medis pasien yang bisa diakses langsung oleh si pasien sendiri melalui internet. Sementara itu, dalam sessi yang lain, yaitu “Patients in Control of Their Records” diketahui bahwa berbagi informasi tentang rekam medis pasien di satu sisi bisa merupakan peluang yang dapat menunjang praktik kefarmasian, tetapi di lain sisi bisa juga merupakan ancaman, misalnya kemungkinan terjadinya tuntutan oleh pihak yang merasa dirugikan. Sesi gabungan antara Hospital Pharmacy Section (HPS) dan International Pharmaceutical Students’ Federation (IPSF) bertajuk “Clinical Hospital Pharmacy Practice – from Dreams to Reality and Beyond” . Pembicara dari Serbia menyampaikan hasil surveinya yang sangat menarik tentang harapan dari para farmasis lulusan baru terhadap dunia kerja di rumah sakit. Ternyata dari hasil surveinya terungkap bahwa lulusan baru tidak banyak mengetahui tantangan sebenarnya yang akan dihadapi jika mereka bekerja di rumah sakit. Dirasakan oleh para responden bahwa tidak ada kerja sama yang baik antara akademisi dan praktisi. Materi yang diajarkan selama pendidikan lebih bersifat product-oriented ketimbang patient-oriented, dan hanya sedikit farmasis praktisi yang dilibatkan dalam pendidikan. Sebanyak 63% responden menyatakan bahwa untuk bisa bekerja di rumah sakit, setidaknya mereka harus berpendidikan master (S2). Mereka merasa kurang mendapat bekal selama pendidikan terutama dalam berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain. Kenyataan bahwa adanya jurang antara harapan para farmasis lulusan baru dan kenyataan praktik farmasi rumah sakit di Serbia tampaknya tidak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Pembicara berikutnya dalam kelompok diskusi dan diberi waktu 15 menit untuk mengemukakan pendapatnya atas suatu kasus. Sebagian besar peserta sangat antusias dalam berdiskusi kelompok, contohnya dalam kelompok saya, peserta dari Bahrain, Belanda dan Costa Rica sangat bersemangat mewawancarai “pasien”nya untuk menggali informasi mengenai penyakit, keluhan serta obat-obat yang digunakan pasien. Selain sessi ilmiah, Kongres FIP tidak lupa menyelenggarakan acara-acara yang bersifat social seperti “Welcome reception” yang diadakan di Kebun Binatang Basel pada sore menjelang maghrib. Kebetulan saat itu sudah masuk bulan Ramadhan sehingga saat makan malam sekitar pukul 19.30, saya dan beberapa sejawat muslim dari Mesir harus bersabar menunggu sampai pukul 20.20 saat jam berbuka puasa tiba. Lumayan menu berbuka puasanya adalah jagung rebus, roti dan es krim. Acara makan malam lain yang saya hadiri adalah “Pharmacy Information Section Dinner” . Beruntung kali ini makan malamnya dimulai tepat saat jam buka puasa. Keikutsertaan dalam acara Kongres FIP tahun ini saya lengkapi dengan berpartisipasi menyajikan makalah dalam bentuk poster. Tidak kurang dari 573 poster dari berbagai spesialisasi ditampilkan. Karena begitu banyaknya poster, maka pemasangan poster dibagi

12

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

sajian utama
menjadi dua gelombang dimana setiap gelombang diberi waktu dua hari. Poster yang saya tampilkan termasuk dalam bidang farmasi rumah sakit dengan judul “Prevalence and the Causal Factors of Patient Non-adherence to Medication Therapy at Geriatric Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta Indonesia” . Pesan dari makalah ini adalah bahwa petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien geriatri (usia lanjut) hendaknya mewaspadai faktorfaktor penyebab tidak patuhnya pasien dalam pengobatan, dan berupaya menemukan strategi yang sesuai untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan. Tanpa terasa enam hari sudah saya berada di Basel, kota terbesar kedua di

Pembicara dari Serbia menyampaikan kan h hasil asil il survei surveinya inya yang sang sangat at t menarik ik t tentang ent tang h harapan arapan d dari ari i para farmasis lulusan baru terhadap dunia kerja di rumah sakit. Ternyata dari hasil surveinya terungkap bahwa lulusan baru tidak banyak mengetahui tantangan sebenarnya yang akan dihadapi jika mereka bekerja di rumah sakit. Dirasakan oleh para responden bahwa tidak ada kerja sama yang baik antara akademisi dan praktisi. Materi yang diajarkan selama pendidikan lebih bersifat product-oriented ketimbang patient-oriented, dan hanya sedikit farmasis praktisi yang dilibatkan dalam pendidikan
Swiss, negeri yang sangat terkenal akan coklat dan jam tangannya. Ketepatan waktu jam tangan produksi Swiss tidak berbeda dengan ketepatan waktu jadwal tremnya. Tentu saja keadaan ini sangat memudahkan saya mengatur jadwal kegiatan selama mengikuti kongres. Alhamdulillah semua kegiatan dapat terlaksana dengan baik sesuai rencana. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang didapat dari Kongres FIP tahun ini dapat menjadi pencerah dan inspirasi bagi saya dalam berkarya selanjutnya. Dukungan yang diberikan FIP Foundation for Education and Research sangat berarti dan saya sangat berterima kasih karenanya. Saya berharap di tahun-tahun mendatang makin banyak farmasis dari Indonesia yang berkesempatan mengikuti kongres akbar semacam ini untuk mendapatkan pengalaman berharga baik dalam aspek profesional maupun sosial dimana kita bisa bertemu serta berbagi informasi dan pengalaman dengan sejawat dari seluruh dunia. *(Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta)

Turut Berduka Cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rahmatullah

Bapak Drs. H. Imam Hidayat, Apt
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia Periode 1993 - 1997 dan Wakil Ketua Majelis Pembina Etik Apoteker Pusat Periode 2005 - 2009 Semoga Amal Bhakti Almarhum diterima oleh Allah SWT dan Keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Amien

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

13

sajian khusus

JASA PROFESI FARMASI DI
(Sambungan dari Medisina 5) Oleh : Yusmainita*
E. PEMBAYARAN JASA PROFESI FARMASI DI INDONESIA Banyak hal yang membedakan diantaranya di negara maju seperti USA dan Canada dimana Undang – Undang Praktek Farmasi telah diberlakukan dan pola tarif/ honor tiap pelayanan Apoteker / Farmasis telah ditetapkan sehingga para apoteker dapat berkerja secara profesional dibidang farmasi sebagaimana yang dituntut oleh masyarakat dan dapat hidup sejahtera. Kondisi yang dinikmati saat ini oleh apoteker/farmasis di negara maju itu merupakan hasil kerja keras berpuluh tahun dari Asosiasi Profesi Apoteker/ Farmasis dengan Peguruan Tinggi Farmasi yang telah melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan asuhan kefarmasian kepada masyarakat serta sosialisasinya, sampai pelayanan ini dikenal dimasyarakat, sehingga Pemerintah dalam penyusunan Undang – Undang Praktek Farmasi tinggal menyesuaikannya dengan penelitian Pola Tarip yang tepat untuk pelayanan kefarmasian, baik di Apotek maupun di Rumah Sakit . Di negara maju penghargaan ( reward ) atas jasa profesi farmasi terdiri dari 2 aspek yaitu : 1. Reimbursement : biaya harga obat + biaya administrasi 2. Compensation : Biaya jasa profesi atas tanggung jawab keilmuan dan layanan kefarmasian yang diberikan pada pasien dalam penggunaan dan pemilihan obat, aman, efektif, ekonomis dan sampai ke pemantauan yang perlu dilakukan seperti : penggunaan empat atau lebih obat kronis dan pemantauan penyakit kronis ( Misalnya CHF, penyakit jantung iskemik, diabetes, hipertensi, hiperlipedemia, asma, depressi, fibrilasi artial, ostheoarthritis, arthritis rhematoid, penyakit refluks gastroesofagus, penyakit ulcer peptic atau penyakit paru obstruktif kronis dll ) Realita yang dihadapi oleh Apoteker di Indonesia sangat berbeda dengan apa yang telah diterapkan dinegara maju. Jasa pelayanan farmasi hanya dihitung sekitar 2,5 kali upah minimum regional ( UMR ). Rata – rata Apoteker Pengelola Apotek di Indonesia saat ini menerima honor antara Rp 600.000 – Rp 2.100.000,- perbulan. Disamping jasa profesi kefarmasian yang diterima berbeda, perilaku dari Apoteker Indonesia dengan negara maju juga berbeda. Akibatnya pola ini menjadi alasan pada Apoteker untuk tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang Apoteker Pengelola Apotek. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi secara umum kinerja Apoteker Indonesia antara lain : A. Penelitian Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional Badan Litbang Depkes RI tahun 2003 tentang Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek DKI Jakarta Bila data kehadiran APA yang bekerja tidak penuh waktu dihitung setiap kehadirannya rata-rata dihitung 3 jam maka dari honor terendah APA adalah Rp 600.000 per bulan dan tertinggi RP 2.100.000,- perbulan diperoleh : Data diatas menunjukan tingkat kehadiran Apoteker dan honor yang diterima dengan jumlah jam kehadiran yang sangat variatif . Semakin rendah tingkat kehadiran maka semakin tinggi honornya. Apakah ini yang tetap harus

14

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

sajian khusus
dipertahankan ? . Kondisi ini seolah-olah tak lebih seperti ” Sewa Ijazah Apoteker oleh PSA agar dapat berbisnis obat ” . B. Penelitian Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional Badan Litbang Depkes RI tahun 2005 tentang Eksplorasi Pelayanan Informasi yang dibutuhkan konsumen apotek dan kesiapan Apoteker memberi informasi terutama untuk penyakit kronik dan degeneratif Dari data diatas terlihat bahwa tingkat kinerja Apoteker di Apotek sangat rendah. Banyak kegiatan yang diambil alih oleh orang lain terutama Apotek di Jakarta. Bagaimana upaya yang dilakukan agar dapat meningkatkan kinerja Apoteker yang akan berdampak pada peningkatan jasa profesi ? F. BEBERAPA FAKTOR PENDUKUNG DALAM MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN FARMASI & JASA PROFESI DI kan pada pelaksanaan pekerjaan sesuai standar profesi yang mencakup standar kompetensi dan etika profesi. Kompetensi adalah rumusan kewenangan berdasarkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diakui secara resmi oleh lembaga yang berwenang, yang ditinjau secara berkala. Standar kompetensi adalah bakuan kemampuan minimal seorang Apoteker dan kewenangan untuk menjalankan tugasnya sebagai farmasis/apoteker profesional yang memuat pernyataan yang menguraikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang harus dimiliki saat bekerja serta penerapannya, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh lapangan pekerjaan kefarmasian. Kompetensi ini seharusnya mengikuti perkembangan zaman, perkembangan ipteks dan pelayanan kefarmasian, sehingga jika seseorang yang tidak pernah mengikuti perkembangan iptek dan pelayanan kefarmasian, dengan sendirinya akan mengalami kelunturan kompetensi yang diberikan pada pasien dalam penggunaan dan pemilihan obat yang aman, efektif, ekonomis, diperhitungkan melalui pelayanan pengkajian regimen terapi, pelayanan pendidikan pasien, konsultasi peningkatan kesadaran kesehatan, pelayanan manajemen penyakit, konsultasi penggunaan obat tanpa resep atau layanan tambahan seperti imunisasi, klinik antikoagulasi atau monitoring dan pemantauan penyakit kronis pasien ( CHF, penyakit jantung iskemik, diabetes, hipertensi, hiperlipedemia, asma, depressi, fibrilasi artial, ostheoarthritis, arthritis rhematoid, penyakit refluks gastroesofagus, penyakit ulcer peptic atau penyakit paru obstruktif kronis ) dan pola penghitungan jasa apakah berdasarkan fee for service, per kapita dll. Pada hakekatnya pekerjaan profesional, khususnya dalam kefarmasian mempunyai tanggung jawab yang tinggi maka sudah seharusnya ada imbalan/honor/jasa profesi yang memadai seperti lazimnya layadilakukan profesi lain. nan profesi yang d dihadapi oleh farmasis di Realita yang dihada berbeda dengan apa Indonesia sangat be dikemukakan diatas. Jasa yang telah dikemu hanya diperhitungkan pelayanan farmasi h minimum regional ( UMR ). 2,5 kali upah minimu Rata – rata Apoteker Pengelola Apotek di Indonesia ini banyak yang menerima d i saat i ib honor antara Rp 600.000 – Rp 2.100.000,perbulan. Misalnya: Bila diberlakukan biaya pelayanan asuhan kefarmasian di Apotek Rp 5000,- untuk 15 menit (fee for service ), maka jika satu Apotek melaksanakan pelayanan ini akan mendapat pemasukan per bulan (1 kali konseling : 15 menit, 1 hari buka : 14 jam, 1 bulan : 25 hari)

I APOTEK (II)
APOTEK Jasa profesi farmasi sangat dipengaruhi profesionalisme para apoteker / farmasis dan kebutuhan dari masyarakat akan pelayanan kefarmasian. Agar dapat tercapai maka perlu didukung antara lain oleh : 1. Regulasi/ act ( Undang – Undang Praktek Kefarmasian ) yang akan mengikat dan memberikan landasan hukum untuk Apoteker ” berotonomi profesional” dalam dispensing obat. Dengan demikian bila para dibandingkan pada saat mereka lulus. Sebagian apoteker / farmasis telah meng “upgrade” diri, namun bagaimana dengan Apoteker lain?. Kita juga mengetahui, bahwa program pendidikan berkelanjutan baik berupa pelatihan, seminar atau bentuk lain sangat jarang dilakukan di Indonesia, sehingga peluang mengembangkan diri juga terbatas. Mungkin kedepan dalam rangka meningkatkan kompetensi apoteker perlu dibentuk kelompok – kelompok

Profesionalisme mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam bekerja, termasuk melayani masyarakat. Profesionalisme Farmasis / Apoteker didasarkan pada pelaksanaan pekerjaan sesuai standar profesi yang mencakup standar kompetensi kerja dan etika profesi. Kompetensi adalah rumusan kewenangan berdasarkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diakui secara resmi oleh lembaga yang berwenang, yang ditinjau secara berkala.
praktisi farmasis dengan pertimbangan profesionalisme perlu mengantikan obat yang sama dari suatu produk ke produk lain untuk mengatasi problem terkait dengan obat ada kekuatan / dasar hukum peraturan yang mendukung dan pihak terkait dapat menerimanya. 2. Pengembangan Profesi Apoteker Berkelanjutan Profesionalisme mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam bekerja, termasuk melayani masyarakat. Profesionalisme Apoteker/Farmasis didasarilmiah kecil di cabang – cabang ISFI sesuai dengan bidang profesinya seperti rumah sakit dengan anggota 75 – 100 orang Apoteker dari beberapa rumah sakit atau Apotek terdekat untuk melaksanakan Pendidikan Farmasi Berkelanjutan (continuing education) agar dapat meng up date ilmunya sesuai perkembangan iptek dan pelayanan farmasi. 3. Tarif Jasa profesi Kefarmasian (Asuhan Kefarmasian) Imbalan yang diterima atas tanggung jawab keilmuan dan layanan kefarmasian Penerimaan Jasa Asuhan Kefarmasian di Apotek : = 14 x 60 x 25 x Rp 5000 15 = Rp 7.000.000,- per bulan Mungkin hal ini akan meningkatkan harkat dan martabat para apoteker dimata masyarakat dan profesional lainnya dibanding pola selama ini yang diberlakukan . Artinya mereka bekerja dahulu baru mendapat jasa profesi asuhan kefarmasian disamping jasa penjualan perbekalan farmasi yang sudah diterima selama ini. Apa yang diharapkan

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

15

sajian khusus
masyarakat bahwa apoteker harus ada selama Apotek buka untuk memberikan pelayanan obat dan informasi kepada pasien dapat terealisasi.. 4. Praktek Kerja Profesi Apoteker Sejak tahun 1990-an mulai diperkenalkan ”pelayanan kefarmasian” , na-mun pendekatan pendidikan profesi apoteker (farmasi) masih dengan bobot akademik, ketimbang profesional. Dalam pelaksanaannya walaupun perguruan tinggi farmasi sesama akreditasi A atau B, perguruan tinggi tersebut memiliki sumber daya dan proses pendidikan yang berbeda / bervariasi, termasuk proses praktek kerja lapangan yang bervariasi pula. Misalnya ada calon apoteker yang ”praktek kerja” yang hanya melihat- lihat proses industri dari balik kaca, atau belajar proses pelayanan Apotek dari Asisten Apoteker, karena Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker pendamping tidak ada ditempat. Ada peguruan tinggi yang mewajibkan untuk magang di Apotek swasta atau BUMN yang lebih cenderung pada manajemen administrasi barang & keuangan dan penjualan non resep sedang penjualan per resep sangat minim sehingga ada mahasiswa praktek kerja profesi di Apotek yang melayani < 20 lembar resep per hari. Bagaimana mereka dapat belajar asuhan kefarmasian? Akibatnya, kemampuan, apalagi kompetensi Apoteker yang dihasilkan sangat bervariasi, dan banyak sekali yang dapat dikatakan kurang kompeten. Mungkin ini salah satu yang menyebabkan, Apoteker ”tidak berada di Apotek” pada saat Apotek buka karena Apoteker tersebut “ miskin pengalaman” , “ miskin ilmu” dan “miskin keterampilan”akibatnya “ kurang Tabel 1. Hasil Survei Apotek & Kinerja Apoteker di Jakarta
No. I Survei 68 Apotek di Jakarta Tahun 2003 Kepemilikan Apotek • Milik PSA • Milik APA • Milik Gabungan PSA – APA • Milik PT Kimia Farma • Milik Koperasi RS Jam Buka • Perhari 10 – 14 jam perhari • Perhari 24 jam • Perminggu 6 hari kerja • Perminggu 7 hari kerja Omzet • Dibawah Rp 2 juta perhari • Antara Rp 2 – 6,5 juta perhari • Lebih dari Rp 6,5 juta Apoteker Pengelola Apotek ( APA ) • Pengalaman Kerja APA dibawah 4 tahun • Pengalaman Kerja antara 4 – 12 tahun • Pengalaman Kerja diatas 12 tahun • Tidak pernah mengikuti pelatihan • Mengikuti sebanyak 1-2 kali pelatihan • Mengikuti lebih dari 2 kali pelatihan • Bekerja kurang dari 40 jam perminggu tanpa Apoteker pendamping • Bekerja kurang dari 40 jam perminggu dengan Apoteker pendamping • Bekerja penuh waktu • Bekerja tidak penuh waktu • Selain di Apotek, APA juga bekerja sebagai PNS Depkes/PNS non Depkes / TNI/ Polri Komunikasi, Informasi dan Edukasi • Apoteker mendelegasikan komunikasi dengan dokter ke Asisten Apoteker • Apotek komunikasi dengan dokter bila ada resep yang dosis tidak tepat • Apoteker mendelegasikan komunikasi dengan dokter ke Asisten Apoteker masalah dosis tidak tepat • Apotek komunikasi dengan dokter bila ada resep yang tidak jelas • Apotek komunikasi dengan dokter oleh Apoteker • Pemberian Informasi 1. Cara Penggunaan Obat oleh Asisten Apoteker pada 14,7 % Apotek 2. Khasiat Obat oleh Asisten Apoteker pada 36,8 % Apotek 3. Dosis dan Pemakaian oleh Asisten Apoteker pada semua Apotek 4. Penjelasan kemungkinan efek samping obat oleh Apoteker pada 14,7 % Apotek 5. Penyimpanan Obat oleh Asisten Apoteker pada 50,5 % Apotek • Apotek yang menyediakan Ruang Konseling & Jam Konseling 1.Melaksanakan konsultasi TBC oleh apoteker 2. Melaksanakan konsultasi Asma oleh Apoteker 3. Melaksanakan Konsultasi KB oleh Asisten Apoteker 4. Melaksanakan konsultasi pasien Kardiovaskuler dan Diabetes Jml 52 10 2 2 2 64 4 34 34 28 24 16 14 36 16 35 15 16 47 5 6 37 33 (%) 73,4 14,7 2,94 2,94 2,94 94,1 5,9 50 50 41,2 35,5 23,5 20,5 56 23,5 54.4 22,1 23,5 69,1 7,4 12,8 57,4 64,4

II

III

IV

V

89,7 11,8 92 100 5,9 85,3 60 75 100 75 1,5 7,4 4,4 93,3 0

Sumber: Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi di Apotek DKI Jakarta tahun 2003

Misalnya ada calon apoteker yang ”praktek kerja” yang hanya melihat lihat proses industri dari balik kaca, atau belajar proses pelayanan Apotek dari Asisten Apoteker, karena Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker pendamping tidak ada ditempat. Ada peguruan tinggi yang mewajibkan untuk magang di Apotek swasta atau BUMN yang lebih cenderung pada administrasi barang & keuangan dan penjualan non resep sedang penjualan per resep sangat minim sehingga ada mahasiswa praktek kerja profesi di Apotek yang melayani < 20 lembar resep per hari. Bagaimana mereka dapat belajar Asuhan Kefarmasian ?
percaya diri “ untuk mengaktualisasikan diri melakukan pelayanan farmasi. Tidak heran bila ada anggapan masyarakat bahwa farmasis bukan lagi apoteker tetapi “ opiater “ yaitu tanggung jawabnya hanya menandatangani laporan obat bius (opiat) yang dilaksanakan 1 bulan sekali. Sasaran pendidikan profesi Apoteker (khusus Farmasi Komunitas dan Farmasi Rumah Sakit) secara umum ada-lah apoteker/farmasis yang mampu melaksanakan Informasi Obat dan Konseling Obat (Drug Informan dan Drug Counselor). Seorang apoteker harus penuh percaya diri membantu pasien menyelesaikan masalahnya yang terkait dengan penggunaan obat sehingga pasien mendapat obat yang efektif, rasional, aman dan murah. Bila dievaluasi pelaksanaan praktek kerja profesi mahasiswa program apoteker yang dilaksanakan selama ini baik di Apotek ( Swasta dan BUMN ) maupun Rumah Sakit ( misalnya : RS Jantung Harapan Kita Jakarta, RS Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr Pirngadi Medan, RS Adam Malik Medan), rata-rata selama 1 bulan, RSUD Soetomo Surabaya (selama 9 minggu) cenderung mempunyai standar yang berbeda demikian juga antar peguruan tinggi farmasi. Berangkat dari keinginan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Apoteker yang akan berdampak pada peningkatan jasa

16

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

sajian khusus
Tabel 2. Perbandingan jam kerja dengan honor APA
No Apoteker Pengelola Apotek Bekerja tidak penuh waktu Hadir 2 kali perminggu Hadir 1 kali perminggu Hadir 2 kali per bulan Hadir 1 kali per bulan Hadir 1 kali per dua bulan Jumlah jam kehadiran (1kali = 3 jam) Per bulan 24 12 6 3 1.5 Honor APA Terendah Rp 600.000 per bulan 25.000 50.000 100.000 200.000 400.000 Standar Honor APA (ISFI) Rp 2.100.000,per bulan (1 bulan : 25 hari dan 1 hari : 14 jam) 87.500 175.000 350.000 700.000 1.400.000

KETERANGAN Honor rata – rata Apoteker perhari berdasarkan Standar Honor ISFI : Rp 2.100.000 = Rp. 60.000,350 jam

profesi farmasi, maka perlu ada suatu standar yang sama materinya untuk praktek kerja profesi di rumah sakit / apotek dan terkait secara nasional serta berorientasi profesionalis me. Pelayanan farmasi di Apotek mempunyai banyak kesamaan dengan pelayanan Depo Farmasi Rawat Jalan yang merupakan bagian dari pelayanan farmasi di Rumah Sakit . Melihat kondisi praktek kerja profesi Apoteker di Apotek selama ini yang sangat minim dengan praktek asuhan kefarmasian , sudah perlu untuk dipertimbangkan praktek kerja profesi yang lebih banyak waktunya di rumah sakit disamping praktek kerja profesi di Apotek tetap dilaksanakan. Sama seperti pendidikan para dokter dan perawat, sekalipun mereka belum tentu setelah tamat bekerja di Rumah Sakit kelas A atau B tapi Tabel 3. Sumber Informasi di Apotek
NO A 1 2 3 4 5. 6 7. SUMBER INFORMASI B Apoteker Asisten Apoteker Kasir Pemilik Sarana Apotek Karyawan Apotek lainnya Tidak Tahu Tidak diberi penjelasan Makasar Jlm C 45 53 1 17 9 1 1 % D 72.6 85.5 1.6 27.4 14.5 1.6 1.6

paling memungkinkan untuk mendapat pengalaman melaksanakan asuhan kefarmasian adalah dengan melaksanakan praktek kerja profesi di Rumah Sakit dan membuat standar berapa kegiatan yang harus dilaksanakan, misalnya berapa resep yang harus ditangani / selesaikan?, berapa pasien yang harus diberikan informasi obat? dan berapa pasien yang harus dikonseling terkait dengan kepatuhan pasien ?, berapa pengkajian regimen terapi ?, berapa konsultasi peningkatan kesadaran kesehatan?, pelayanan manajemen

program Dirjen Bina Kefarmasian Depkes .RI yang telah menerbitkan 16 jenis buku saku, antara lain : • Pharmaceutical Care untuk Pasien Gangguan Depresif • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit Hipertensi • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit Artritis Rematik • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit Jantung Koroner • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit HIV / AID

Melihat kondisi praktek kerja profesi Apoteker di Apotek selama ini yang sangat minim dengan praktek asuhan kefarmasian sudah perlu dipertimbangkan untuk praktek kerja profesi lebih banyak waktunya di rumah sakit disamping praktek kerja profesi di Apotek tetap dilaksanakan. Sama seperti pendidikan para dokter dan perawat, sekalipun mereka belum tentu setelah tamat bekerja di Rumah Sakit kelas A atau B.
Yogyakarta Jlm E 53 48 5 6 21 0 3 % F 72.6 65.8 6.8 8.2 28.8 0 4.1 Jakarta Jlm G 12 50 6 7 34 12 3 % H 13.4 56.2 6.7 7.9 38.2 13.5 3.4 TOTAL Jlm I 110 151 12 30 64 13 7 % J 49.1 67.4 5.3 13.4 28.6 5.6 3.1

Catt: Sumber:Ekspolorasi Pelayanan Informasi yang Dibutuhkan Konsumen Apotek dan Kesiapan Apoteker Memberi Informasi Terutama Untuk Penyakit Kronik dan Degeneratip

kedua profesi tersebut memfokuskan magangnya di Rumah Sakit kelas A dan B dan membuat standar seorang calon dokter harus melewati 17 stage / bagian pelayanan medis selama 2 tahun dan berapa jumlah / jenis kasus – kasus yang dilayani di rumah sakit. Demikian juga profesi perawat dengan pelatihan keterampilan misalnya : pasang infus, membuka jahitan luka atau memasang I.V catheter pasien. Demikian pula hendaknya para apoteker yang akan bekerja di Apotek atau Rumah Sakit kelak, karena akan menjadi mitra kerja dokter dan perawat yang akan menangani resep yang diresepkan dokter umum, dokter spesialis hingga professor, tempat praktek yang

penya-kit, konsultasi penggunaan obat tanpa resep atau layanan tambahan seperti imunisasi, klinik antikoagulasi atau monitoring dan pemantauan penyakit kronis (Misalnya : Cardiac heart failure, penyakit jantung iskemik, diabetes, hipertensi, hiperlipedemia, asma, depressi, fibrilasi artial, ostheoarthritis, arthritis rhematoid, penyakit refluks gastroesofagus, penyakit ulcer peptic atau penyakit paru obstruktif kronis ). Praktek kerja profesi ini akan lebih banyak memberikan manfaat bagi apoteker karena akan membangun rasa percaya dirinya dan tahu bagaimana apoteker bertindak di bangsal (ward) rumah sakit atau Apotek dan ini juga sejalan dengan

• Pelayanan kefarmasian untuk Ibu Hamil dan menyusui • Pelayanan kefarmasian untuk Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan • Pelayanan kefarmasian untuk Penyakit Tuberkulosis • Paharmaceutical Care untuk Penyakit Asma • Pharmaceutical Care Untuk penyakit Hati • Pharmaceutical Care untuk Pasien Flu Burung • dll Sayangnya buku tersebut belum dimanfaatkan dan diaplikasikan pada praktek kerja profesi apoteker karena pendekatan pendidikan profesi apoteker masih dengan bobot akademik, ketimbang profesional dan singkatnya waktu praktek kerja profesi Apoteker di rumah sakit atau bila di Apotek tidak ada yang membimbing karena Apoteker Pengelola Apoteknya cenderung tidak hadir. Berapa lama waktu idealnya waktu praktek kerja profesi Apoteker di Rumah Sakit ???. Sejalan dengan program Dirjen Bina

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

17

sajian khusus
Kefarmasian Depkes RI dalam peningkatan kompetensi Apoteker Indonesia melalui penerbitan buku – buku panduan diatas dan Rekomendasi Hasil Konprensi Nasional 1. HISFARSI Indonesia Kepada Direktur Jendral Bina Pelayanan Medik DEPKES RI, 1 - 3 Maret 2007 ) dan Rekomendasi Hasil Konprensi Nasional 1 HISFARSI Indonesia di Bali pada Tahun 2007 bahwa praktek magang Apoteker di Rumah Sakit selama 1500 jam atau 20 SKS ( 10 bulan ) yang dapat dibagi dalam lama magang dan kuliah lapangan (Catatan: 1 SKS untuk Praktek Kerja Profesi Apoteker : 75 jam dan 1 SKS untuk materi kuliah lapangan : 50 menit. ). Dalam rangka peningkatan kompetensi Apoteker perlu ada kerjasama yang baik antara Ikatan Sarjana Farmasi ( ISFI ), Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI), Pendidikan Tinggi Farmasi dan Rumah Sakit Pendidikan kelas A/B yang terlibat melaksanakan Praktek Kerja Profesi untuk merumuskan dan standarisasi Materi Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit dan Apotek yang menitik beratkan pelatihan keterampilan/ profesionalisme apoteker untuk mahasiswa peminat bidang Farmasi Komunitas dan Farmasi Rumah Sakit ( merujuk pada Standar Pelayanan Farmasi di Apotek dan Standar Pelayanan Rumah Sakit yang ditetapkan Menkes ). Tidak kalah pentingnya penyiapan RS pendidikan kelas A dan B dengan membentuk SMF Farmasi dan mencukupkan jumlah farmasi ( 1 Apoteker : 30 orang ) Adapun Materi Praktek Kerja Profesi, antara lain : Melalui Praktek Kerja Profesi yang melibatkan para klinisi, minimal dapat mengurangi ketinggalan 30 tahun apoteker / farmasis Indonesia dari perkembangan iptek farmasi dan para apoteker akan belajar menyamakan langkah dengan perawat dan dokter yang akan menjadi mitra kerja apoteker khususnya yang menerjunkan diri dalam bidang farmasi rumah sakit dan farmasi komunitas. Mungkin ketidakseimbangan keilmuan para apoteker dengan dokter lambat laun akan dapat dijembatani sehingga dapat menjadi mitra kerja. Kolaborasi apoteker, perawat dan dokter yang terjadi selama pendidikan akan sangat menolong apoteker untuk mengembangkan kerjasama yang baik dalam tim kesehatan, berkomunikasi

Tabel 4. Materi Pendidikan & Kemampuan Ilmiah
No A MATERI PENDIDIKAN Manajemen Farmasi Rumah Sakit - Manajemen Umum 1. Undang Undang & Kode Etik Kefarmasian 2. Dasar-dasar Pengelolaan Farmasi Rumah Sakit (Manajemen Persediaan Barang, Manajemen Distribusi, Produksi, Pengawasan Mutu & Evaluasi Obat 3. Pelayanan & Pusat Informasi Obat Farmasetika Lanjutan - Analisa Farmasetika Biofarmasetika & Farmakokinetika Klinik (Bioavaibilitas, Monitoring Kadar Obat) Farmakoterapi - Farmakologi Klinik & Toksikologi - Interaksi & Efek Samping Obat - Evaluasi Obat Patofisiologi (ZDiberikan Dokter Ahli) - Penyakit infeksi - Penyakit Psikiatri - Penyakit Hipertensi - Penyakit Kardiovaskuler - Penyakit Paru - Penyakit Ashtma - Penyakit Renal - Kontrasepsi - Penyakit Pediatrik - Penyakit Diabetika - Penyakit Epilepsi - Panyakit Pain - Penyakit Gangguan - Penyakit Imunologi Rematik - Penyakit Kulit - Penyakit Mata Ilmu Kesehatan Masyarakat ( Diberikan Dokter ) - Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat& Ilmu Kedokteran Pencegahan - Ilmu Kesehatan Keluarga & Aspek Sosial penyakit - Epidemilogi - Ilmu Gizi - Keluarga Berencana Praktek Kerja Lapangan /PKL(Magang) di RS pendidikan Tujuan : 1. Mengembangkan dan menerapkan kemampuan teori yang diperoleh ke praktek yang sebenarnya dilapangan dan mengambil sebanyak- banyaknya dari pengalaman realita yang ada mengenai manajemen farmasi rumah sakit dan farmasi klinik 2. Para calon Apoteker dapat mengenal dan mengetahui lebih dekat mengenai penyakit dan pengobatannya, berinteraksi dengan penderita, dokter dan paramedis lainnya. Kegiatan : a. ( Ilmu penyakit Dalam & Kesehatan Anak, Obgyn, Bedah ) • Visite Farmasi • Pengambilan Sejarah Pengobatan Penderita • Konseling Farmasi ( Penyakit – penyakit kronis: Cardiac heart failure, penyakit jantung iskemik, diabetes, hipertensi, hiperlipedemia, asma, depressi, fibrilasi • artial, ostheoarthritis, arthritis rhematoid, penyakit refluks gastroesofagus, penyakit ulcer peptic atau penyakit paru obstruktif kronis ) • PKMRS • Informasi Obat • Pemantauan Penggunaan Obat • Pengkajian Penggunaan Obat Secara Rational • Monitoring Efek Samping Obat b. Magang di Komite Farmasi dan Terapi *Mengenal dari dekat sistem pengelolaan Farmasi Rumah Sakit terutama pengawasan mutu, pengadaan, produksi dan distribusi obat, juga system dan cara kerja Panitia Farmasi dan Terapi *Dapat mensupervisi dan mengelola semua kegiatan distribusi obat, termasuk pengawasan penggunaan obat dan keselamatan penderita *Dapat menseleksi dan mengevaluasi produk obat, jika mungkin memberikan alternatif pemilihan obat yang tepat *Membuat dan meracik sediaan obat tertentu untuk memenuhi kebutuhan spesifik penderita *Menginformasikan kepada penderita bagaimana memilih obat-obat bebas terbatas di Apotik/Depo Farmasi *Mengiventarisasikan & mengevaluasi literature obat untuk keperluan Pusat Informasi Obat *Kemitraan Interaksi antara apoteker, dokter, perawat dan penderita dapat berupa, mencatat untuk didiskusikan mengenai pathofisiologi penyakit dalam hubungan dengan etiologi penyakit, gejala-gejala, test laboratorium dan prognosenya serta pemakaian obat menyangkut antara lain : 1. Menetapkan dosis regiman obat kepada pasien secara individual. Dosis lazim, perlu tidaknya “loading dose” . Dosis pemeliharaan, cara dan jangka waktu pemakaian obat. 2. Total Clearance, waktu paruh biologik, lama kerja dan kadar optimal terapetik obat 3. Penetuan bioavaibilitas & Monitoring kadar obat untuk obatobat tertentu 4. Mendata profil pengobatan pasien (overuse, alergi, kontraindikasi, kemungkinan interaksi obat - obat, obat – makanan, obat – hasil tes laboratorium 5. Faktor-faktor yang menungkinkan perubahan dalam bentuk sediaan obat atau dosis regimen jika dianggap perlu 6. Mendiskusikan bentuk rasional suatu terapi dan pemilihan obat, kalau perlu dapat mengajukan alternatif lain 7. Membantu konseling pada pasien untuk membantu dokter ikut meyakinkan pasien agar patuh mengikuti cara pemakaian obat yang telah dianjurkan , KEMAMPUAN ILMIAH & KETRAMPILAN KLINIK

B

C

D

E

F

G

Hubeis AA. Pendidikan Farmasi Klinik praktis Dalam Usaha Meningkatkan Profesi Apoteker. PERSI Jakarta 1982

18

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

sajian khusus
yang baik antara sesama tenaga kesehatan juga setelah selesai pendidikan dan masuk dalam dunia kerja, karena dokter dan perawat sudah tahu kemampuan dan manfaat kehadiran apoteker / farmasis dalam Asuhan Terpadu di Rumah Sakit untuk meningkatkan out come klinik Disamping itu menambah rasa percaya diri dari Apoteker untuk berkomunikasi dengan dokter ketika terjadi permasalahan dalam peresepan di Apotek • Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker (PUKA) Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker atau disingkat PUKA, adalah suatu kegiatan penataran yang dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi Farmasi yang memiliki Akreditasi A dan B bekerja sama dengan Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia setempat. Pelaksanaan PUKA dimaksudkan un-tuk meningkatkan dan sekaligus menyesuaikan kemampuan Apoteker sehingga menguasai pengetahuan, sikap dan perilaku/keterampilan secara seimbang dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan terbaru. Materi PUKA yang dibahas meliputi perkembangan PerUU-an, kode etik dan standar kompetensi /

Kedepan pelaksanaan PUKA perlu dikelompokan sesuai dengan bidang profesi yang ditekuni (Farmasi Komunitas, Farmasi Rumah Sakit dan Farmasi Industri ) sehingga materi PUKA disampaikan dapat terfokus ke satu bidang profesi dan lebih berkualitas, diberikan dalam bentuk workshop. Khusus materi PUKA bagi yang bekerja di Apotek dan Rumah Sakit akan lebih bermanfaat bila dalam dilaksanakan bentuk workshop di rumah sakit dengan mengambil sebagian materinya dari buku pedoman yang di terbitkan oleh Dirjen Bina Kefarmasian Depkes RI.
pelayanan (10%), keanggotaan / program kerja ISFI (10%), perkembangan iptek produk dan pelayanan kefarmasian ( 40 %), dan perkembangan pelayanan dan praktik profesi kefarmasian (40%) selama 3 hari. Regulasi tenaga kesehatan meliputi sertifikasi, registrasi, dan lisensi, yang didalamnya terdapat ketentuan tentang standar profesi/kompetensi, standar pendidikan profesi, standar pelayanan, uji kompetensi, kode etik profesi dan akuntabilitas profesi serta aspek hukum yang menyangkut perdata dan pidana. Sertifikasi adalah suatu proses pengakuan terhadap kompetensi (pengetahuan , keterampilan dan sikap) seorang Apoteker setelah memenuhi persyaratan untuk menjalankan profesi Apoteker sesuai dengan tuntutan bidang pekerjaannya, ditandai dengan diberikannya Sertifikat Kompetensi Apoteker ( SKA). Namun PUKA yang telah dilaksanakan ini baru merupakan bentuk workshop di Rumah Sakit dengan mengambil sebagian materinya dari buku pedoman yang di terbitkan oleh Dirjen Bina Kefarmasian Depkes RI. Akhirnya akan ada sinkronisasi antara program kerja ISFI melalui PUKA yang melaksanakan pelatihan keterampilannya / profesionalisme dengan Pemerintah melalui Dirjen Kefarmasian yang menyiapkan materi melalui penerbitan buku tersebut, tentu hal ini akan mempercepat proses sosialisasi asuhan kefarmasian kemasyarakat. 5. PENUTUP Jasa profesi farmasi adalah hal yang sangat penting untuk suksesnya pelayanan kefarmasian dan sama dengan profesi farmasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi sukses mendapatkan bayaran adalah kepercayaan diri apoteker dalam memberikan layanan, adanya jadwal pembayaran, mencari pihak pembayar

proses awal dalam meningkatkan kompetensi para Apoteker dengan materi yang disampaikan belum sesuai Standar Kompetensi Apoteker Indonesia dan masih jauh dari tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut. Kedepan pelaksanaan PUKA perlu dikelompokan sesuai dengan bidang profesi yang ditekuni ( Farmasi Komunitas, Farmasi Rumah Sakit dan Farmasi Industri ) sehingga materi PUKA disampaikan dapat terfokus ke satu bidang profesi dan lebih berkualitas, dan diberikan dalam bentuk workshop. Khusus materi PUKA bagi yang bekerja di Apotek dan Rumah Sakit akan lebih bermanfaat bila dilaksanakan dalam

yang potensial, dan mengajukan formulir pembayaran, membentuk hubungan positif dengan sesama apoteker, pembayar, dan dokter, juga dapat menolong apoteker mendapatkan bayaran penuh untuk pelayanan kefarmasian. Jika apoteker dapat mengingkatkan profesionalismenya, mengubah perilaku dan kinerjanya selama ini serta meningkatkan pemahaman dan penghargaan pada pasien maka pihak pembayar akan mendapat keuntungan dari pelayanan kefarmasian, akhirnya jasa profesi farmasi akan dapat ditingkatkan. Pasar dunia kerja hanya akan memakai profesional yang benar benar ahli

dalam bidangnya, untuk itu diperlukan pendidikan yang berkualitas yang menghasilkan sumber daya manusia yang profesional. Kurikulum pendidikan yang beradaptasi mengikuti persaingan global jasa pendidikan dan dunia kerja, akan menghasilkan lulusan yang bermutu dan mampu bersaing untuk memperoleh kesempatan kerja termasuk pendidikan farmasi dalam menyiapkan para apoteker / farmasis di tingkat Program Pendidikan Profesi Apoteker (khusus farmasi komunitas dan farmasi rumah sakit). Tanpa apoteker yang profesional sangat sulit bagi apoteker meningkatkan kesejahteraannya. Disamping itu perlu fondasi hukum yang kuat didalam melaksanakan pelayanan asuhan kefarmasian tersebut yaitu Undang – Undang atau Peraturan Pemerintah tentang Praktek Kefarmasian yang sampai hari ini masih dalam proses. ****

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

19

spesial topik

Pelayanan P el layanan Kefarmasian e armas an P Paska as a P Pilot ilot tP Proyek royek k

Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit
Drs. Abdul Muchid, Apt, Direktur Bina Farmasi Komunitas dan Klinik
DM, Hipertensi,TB), geriatri maupun pediatri, pelayanan visite mandiri maupun bersama team medis ( diutamakan pada pasien rawat inap yang akan pulang dari rumah sakit), Monitoring Efek Samping Obat (MESO), Drug Use Study (DUS), Drug Use Review (DUR). Berdasarkan beberapa penelitian ternyata tingkat kepatuhan dan terjadinya medication error di rumah sakit sangat memprihatinkan. Sebagai contoh : Sherbourne et al (1992) dalam Budiono Santoso et al “ Drug Benefit and Risk “ 2004 dalam studinya tentang tingkat kepatuhan pasien menyimpulkan sebagai berikut : 20% pasien yang menerima pengobatan jangka pendek mis : ISPA tidak patuh meminum obat yang diberikan. 50% pasien yang menerima pengobatan pengobatan jangka

Peningkatan kualitas pelayanan di rumah sakit sangat tergantung kepada kontribusi komponennya yang terdiri dari : pelayanan medis, pelayanan keperawatan, pelayanan kefarmasian, pelayanan gizi. Pelayanan kefarmasian harus memberikan sumbangan positif terhadap mutu pelayanan rumah sakit mengingat komponen farmasi menyerap sekitar 40-60 persen pembiayaan di rumah sakit maupun dari sisi pembayaran yang dikeluarkan oleh pasien. Selain itu kontak terakhir pasien di rumah sakit adalah pelayanan farmasi. Jika pelayanan farmasi buruk maka akan memberi citra tidak baik terhadap rumah sakit. Untuk mendukung pelayanan yang berkualitas di rumah sakit, maka pelayanan farmasi klinik dapat di implementasikan dalam bentuk : Pemantauan terapi obat, Pelayanan informasi obat, Konseling bagi pasien dengan penyakit tertentu (misal,

menengah misal TB, tidak patuh meminum obat yang diberikan. 70% pasien yang menerima pengobatan jangka panjang ◊ DM, Hipertensi , HIV/AIDs tidak patuh meminum obat yang diberikan. Lebih dari 70 % pasien geriatri tidak patuh meminum obat yang diberikan. Penelitian yang dilakukan oleh Johnson JA. Arch dalam Intern Med 1995; menunjukkan data sebagai berikut : Masalah terkait obat karena kesalahan utama dalam pemberian obat : Peresepan (39%) : salah dosis, polifarmasi, alergi, salah frekuensi pemberian, interaksi obat dengan obat. Transkripsi resep (12%) : kesalahan dalam transkripsi resep ke dalam kartu pengobatan yaitu; salah

20

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

spesial topik
frekuensi, salah dosis. Dispensing (11%) : salah waktu pemberian, salah obat dan salah dosis. Pemberian (38%) : salah dosis,salah dosis, salah cara pemakaian, lupa meminum obat dan salah waktu pemberian obat. Dari data di atas, apoteker seharusnya dapat ikut menghindarkan kasus yang terjadi pada medication error. Bila apoteker dapat melaksanakan kegiatan farmasi klinik seperti pemantauan terapi obat, maka drug related problem (DRPs) dapat dihindar dan bila apoteker melaksanakan PIO baik kepada pasien maupun kepada tenaga medis dan paramedis, maka kemungkinan terjadi kesalahan penulisan dosis maupun penggunaan obat dapat di minimalisir. Berdasarkan kondisi yang ada, maka perlu dilakukan suatu intervensi untuk meningkatkan peran apoteker yang bekerja di RS. Dimana Departemen Kesehatan dalam hal ini Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina kefarmasian dan Alat apoteker untuk melangkah menuju pelayanan farmasi klinik. Pelayanan informasi obat hanyalah pra-kondisi bagi apoteker supaya lebih termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan melalui kebiasaan membaca literatur. Pelayanan Informasi Obat merupakan langkah awal untuk menjalin kemitraan antara apoteker dengan pasien dan tenaga kesehatan lain. 2. Input dan Proses Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik menyediakan input bagi masingmasing rumah sakit berupa : Fasilitator, Sarana dan Materi Pelatihan. Untuk meningkatkan ketrampilan tenaga kesehatan di rumah sakit yang menjadi lokasi PP-PIO, dilakukan workshop yang berlangsung 2 hari. Pada workshop ini disampaikan teori dan praktek, adapun materi yang disampaikan sebagai berikut: Kebijakan Farmasi Klinik, PIO/FAQ, Sumber Informasi, Pembuatan leaflet/

Gambar 1. Realisasi PP-PIO di Rumah Sakit

Realisasi PPIO di RS B dan RS C

Jumlah Rumah sakit

40 30 20 10 0

33

36 RS RS RS RS C C B B Rencana Realisasi Rencana Realisasi

7

10

Rumah Sakit

Dari data di atas, apoteker seharusnya dapat ikut menghindarkan kasus yang terjadi pada medication error. Bila apoteker dapat melaksanakan kegiatan farmasi klinik seperti pemantauan terapi obat, maka drug related problem (DRPs) dapat dihindar dan bila apoteker melaksanakan PIO baik kepada pasien maupun kepada tenaga medis dan paramedis, maka kemungkinan terjadi kesalahan penulisan dosis maupun penggunaan obat dapat di minimalisir.
Tabel 1: Rencana VS Realisasi Cakupan Nakes terlatih dalam PP-PIO
No 1 2 3 4 Tenaga terlatih Apoteker Dokter Asisten Apoteker Perawat Total Rencana RS Kelas B RS Kelas C 28 66 66 28 132 Realisasi RS Kelas B RS Kelas C 53 100 8 7 26 100 17 87 224

Kesehatan pada tahun 2005 mulai melakukan pengembangan pelayanan informasi obat di tiga RS (RSU Kariadi, RSUD.M.Yunus, RSUD.Prof.Yohanes). Berdasarkan pengalaman di ketiga RS maka dilakukan pengembangan lebih lanjut melalui Pilot Project PIO pada 40 RS ( Klas B dan C) di 33 Propinsi tahun 2008, dengan pertimbangan sebagai berikut : Pelayanan informasi obat selama ini sudah dilakukan oleh tenaga apoteker walaupun secara pasif dan belum didokumentasikan dengan baik. Pelayanan informasi obat hanya merupakan “Entry point” bagi

Hasil PP-PIO
1. Pre Assesment PP-PIO DI RS Berdasarkan pre- assesment yang dilakukan di 46 RS baik klas C dan B 95% RS hanya melaksanakan PIO Pasif itupun tanpa adanya pendokumentasian. PIO Pasif adalah pelayanan informasi obat yang dilakukan oleh apoteker bila ada pasien atau tenaga medis mengajukan pertanyaan. Sedangkan PIO aktif adalah pelayan informasi obat yang diberikan apoteker tanpa menunggu permintaan dan pembuatan leaflet/brosur, poster, newsletter dan lain sebagainya.

brosure/ Newsletter/ poster, Dokumentasi, penyusunan ruang kerja,Farmasi Klinik (Konseling, Visite) dan Rencana Tindak Lanjut 3. Output Target dari PP-PIO dilaksanakan di 33 Propinsi yang meliputi : 33 rumah sakit kelas C dan 7 rumah sakit kelas B. Realisasi yang diperoleh adalah 36 Rumah Sakit Kelas C dan 10 RS kelas B atau masingmasing pencapaian 104.1% dan 142.85% dari target semula. Hal ini tercapai karena adanya dukungan dana dari WHO ( 1 RS Tipe B), JICA ( 1 RS kelas B dan 3 RS Kelas C) dan AusAID ( 1 RS Kelas C). Detail dari realisasi dapat dilihat pada grafik di Gambar 1. Realisasi tenaga yang tercakup pada PP-PIO ini melebihi dari target yang direncanakan. Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras dan sosialisasi yang telah dilakukan oleh Ka Instalasi Farmasi dimana pilot proyek dilaksanakan. Kredit point dan apresiasi yang tinggi kami sampaikan kepada seluruh Kepala IFRS dan Direktur

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

21

spesial topik
Tabel 2. Kegiatan Farmasi Klinik Paska-PP-PIO di Rumah Sakit Kelas B
Kegiatan Farmasi Klinik Paska PP-PIO No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Rumah Sakit Dr. Pirngadi-Medan Achmad Mochtar-Bukittinggi Tangerang-Banten Gunung Jati-Cirebon Mataram-Lombok Haullusy-Ambon Muwardi-Solo Jumlah Apoteker Aktif 8 4 9 3 6 4 9 + + + + + + + + + PIO Pasif + + + + + + + + + + + + + + + + Konseling RJ + RI + + + + + + + + + + + Visite Mandiri Team Se minar Edu kasi + Dok + Lit Eva luasi + PKM RS

Tabel 3. Kegiatan Farmasi Klinik Paska-PP-PIO di Rumah Sakit Kelas C
Kegiatan Farmasi Klinik Paska PP-PIO No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Rumah Sakit Meuraxa-NAD Muara Bulian-Jambi Dr. Ibnu Sutowo-OKI Kepahiang-Bengkulu A. Yani Metro Lampung Batuaji-Kepri Cengkareng-DKI Ujung Berung-Bdg Ungaran-Smrg Sudjono-Lotim Ratu Zalecha Martapura-Kalsel AM Parikesit-Kaltim Unaaha-Sulteng Abepura-Papua Sele Be Solu-Irjabar Praya-Loteng Manna-Bengkulu Selatan Curup-Rejanglebong Atambua-NTT Jumlah Apoteker Aktif 2 4 3 1 1 3 5 2 3 3 4 4 5 3 1 3 3 5 1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PIO Pasif + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Konseling RJ + + RI + + + Visite Mandiri Medis + + Se minar + Edu + + + + Dok + + Lit Eva luasi PKM RS +

Ket : RI = Rawat Inap, RJ = Rawat Jalan

RS yang terlibat dalam pilot proyek ini. Detail realisasi dapat dilihat pada Tabel 1. Dari total 46 Rumah Sakit yang terlibat dalam kegiatan PP-PIO sampai dengan bulan Desember 2008 sudah 26 Rumah sakit yang telah melapor atau 56.52%. Detail kegiatan yang telah dilakukan sebagai berikut : • 26 RS melakukan Pelayanan Informasi Obat baik pasif maupun aktif • 18 RS melakukan Konseling baik untuk rawat inap maupun rawat jalan • 7 RS melakukan visite baik mandiri maupun bersama team medis • 12 RS telah melakukan kegiatan edukasi seperti di klub Jantung, klub Diabetes dan lain sebagainya • 7 RS melakukan seminar,kegiatan

ini merupakan salah satu media untuk meningkatkan pengetahuan apoteker. Detail kegiatan dari ke 26 rumah sakit dapat dilihat pada grafik di Gambar 2. Bersama ini kami sampaikan pula detail kegiatan farmasi klinik masing rumah sakit kelas B dan C paska PP-PIO. Hasil di atas menunjukkan bahwa bila intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan disertai adanya rencana tindak lanjut yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam bekerja, maka apoteker di rumah sakit dapat melakukan kegiatan farmasi klinik (PIO aktif/pasif, Konseling rawat jalan/rawat inap, Visite mandiri/ gabungan) dengan baik. Dua puluh enam Rumah sakit yang telah melaporkan

kegiatan farmasi klinik paska PP-PIO adalah pada Tabel 2 dan Tabel 3:

ANALISIS
Kekuatan • Peningkatan jumlah cakupan institusi merupakan hasil kerja sama dan adanya kepercayaan pihak donor. • Peningkatan jumlah peserta baik tenaga apoteker , asisten apoteker, perawat bahkan dokter merupakan hasil komunikasi yang baik dari pihak IFRS. • Aktivitas paska PP-PIO meliputi Pelayanan Informasi obat dan juga farmasi klinik seperti : Konseling (rawat Jalan dan Inap), Visite (mandiri dan bersama tim medis) dapat

22

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

spesial topik
• dilaksanakan. Motivasi yang tinggi dari Apoteker IFRS dan dukungan Direktur RS untuk melaksanakan Pelayanan Farmasi Klinik. 3. Rumah Sakit • Harus mensosialisasikan program ini secara berkesinambungan kepada manajemen rumah sakit maupun tenaga kesehatan lainnya. • Inovatif dan kreatif dalam mengatasi kekurangan sumber informasi obat contoh : memanfaatkan brosur, leaflet dari industri farmasi. • Keterbatasan tenaga jangan dijadikan halangan untuk tidak melaksanakan kegiatan ini. Karena dengan rencana 2. Kegiatan ini turut memberikan sumbangan positif dalam peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Kegiatan ini mendapat respon yang baik dari tenaga kesehatan lain serta memberi pemahaman tentang peran apoteker yang sebenarnya di rumah sakit

3.

Kelemahan • Keterbatasan Apoteker di IFRS • Keterbatasan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan PIO di RS • Belum optimalnya keterlibatan Dinkes Propinsi untuk memonitor paska PP-PIO Peluang • Tingginya Komitmen dan motivasi tenaga Apoteker yang mengikuti workshop PP-PIO di RS • Adanya komitmen dari dinkes propinsi untuk mengembangkan Pilot Project PIO Tantangan • Dengan tingginya beban kerja jika tanpa disertai penambahan tenaga akan mengurangi fokus IFRS pada pelayanan farmasi klinik • Belum seluruh direksi RS yang terlibat dalam PP-PIO ini memberikan dukungan finansial.

Rekomendasi
Mengingat manfaat yang diperoleh, maka kegiatan Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Hasil di atas menunjukkan bahwa bila intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan disertai adanya rencana tindak lanjut yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam bekerja, maka apoteker di rumah sakit dapat melakukan kegiatan farmasi klinik (PIO aktif/pasif, Konseling rawat jalan/rawat inap, Visite mandiri/ gabungan) dengan baik.
tindak lanjut yang telah disepakati, maka program akan dapat berjalan dengan baik. hendaknya dapat : 1. Dikembangkan oleh masing-masing Dinkes propinsi ke seluruh RS. 2. Diterapkan oleh Manajemen RS non pilot proyek Untuk mengetahui lebih detail kegiatan PP-PIO silahkan bergabung di mailing list : farmasi_klinik@yahoogroups.com

Kesimpulan PP-PIO
1. Intervensi dalam bentuk pilot proyek berhasil meningkatkan motivasi apoteker di rumah sakit kelas C dan B untuk menerapkan pelayanan farmasi klinik.

Pembelajaran
Penerapan pilot proyek ini memberikan pembelajaran kepada semua pihak seperti : Depkes, Dinas Kesehatan Propinsi, rumah sakit terpilih sebagai pilot proyek maupun nara sumber. 1. Depkes memperoleh pelajaran antara lain : • Kerjasama antara Depkes dan Dinkes propinsi serta komunikasi awal dengan RS terpilih sebagai PP-PIO merupakan kunci sukses kegiatan ini. • Adanya Role Model dari Fasilitator menjadi motivator bagi RS terpilih sebagai PP-PIO 2. Pembelajaran bagi Dinkes Propinsi dan Rumah Sakit Propinsi • Keterlibatan Dinkes Propinsi lebih optimal dalam membina dan memonitor aktivitas RS yang terpilih sebagai PP-PIO • Pemberdayaan staf yang telah mengikuti TOT PIO untuk menjadi fasilitator dalam kegiatan sejenis di masa mendatang

NAH KAMU KATAHUAN
Romo Gunnar Svenson benarbenar tak punya pilihan lain kecuali berhenti bertugas melayani jemaah Gereja Strangnas di Swedia. Maklum, Romo tak kuasa mengendalikan hasrat kelelakiannya. Dia rupanya selama ini secara diam-diam gemar menyelinap ke sejumlah situs web porno jenis hardcore. Dia telah menyampaikan pengunduran diri, kata Suster Charlotta Novoel, juru bicara Gereja Swedia. Sumber di gereja mengatakan ” hobi “ Romo Svenson terbongkar gara-gara semua komputer di gereja lumpuh akibat diserang virus mematikan. Petugas servis komputer yang sedang memeriksa , mendapati di hard disk komputer Svenson terdapat situs-situs porno ekstreem yang sering dikunjunginya. Bukan cuma itu, jumlah situs yang disambanginya lebih dari seribu. Akhirnya Svenson pun angkat tangan dan kaki, lalu mengatakan keluar dari gereja. Namun pihak yang berwewenang belum dapat memberikan keputusan.(A-1 KT)

TULI AKIBAT DICIUM PACAR
Boleh percaya boleh tidak. Surat kabar China Daily Desember yang lalu melaporkan adanya seorang perempuan muda Cina yang tibatiba kehilangan sebagian daya pendengarannya setelah berciuman dengan pacarnya. Seperti dikutip Shanghay Daily, sang cowok mencium pacarnya yang berumur 20 tahun itu dengan teramat hot. Ciuman kuat mungkin menyebabkan ketidakseimbangan dalam tekanan udara di antara kedua bagian dalam telinga ,dan gendang telinga menjadi pecah, ujar dokter Li yang memeriksa gadis itu di Rumah Sakit Umum Daerah Zhuhai, Guandong, Cina. Diperkirakan pendengarannya akan pulih lagi setelah dua bulan. (A-1, KT)

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

23

spesial topik

NO PHARMACIST NO SERVICES
Endang Kumalawati
“Apoteker tidak selalu ada di apotek.” “Biasanya datang sebulan sekali (untuk menandatangani laporan narkotik dan mengambil honor)”. “Kalau pasien memerlukan apoteker, sering tidak ada di tempat. Kalau dokter perlu apoteker, sama saja (tidak ada di tempat, pen.)”. “Asisten apoteker harus berupaya, bekerja, dan berfikir keras sendiri terhadap semua pekerjaan perapotekan”. Mungkin itulah yang dipikirkan masyarakat. Masih banyak komentar tentang peran apoteker di apotek. Mengapa sampai terjadi persepsi demikian ? Diskusi tentang apotek dan apoteker yang pernah diselenggarakan BPD-ISFI (Badan Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi) Propinsi Jawa Barat banyak mengungkap hal tersebut. Bahkan dalam upaya mengembalikan peranan apoteker di apotek, masalah ini pernah dibahas pada pertemuan GP-Farmasi Bandung. ISFI lewat edarannya yang maksudnya adalah sama dengan ”no pharmacist no services” mendorong agar para apoteker hendaknya lebih banyak hadir di apotek. Bahkan diperlukan apoteker pendamping bagi Apoteker Pengelola Apotek yang pekerjaannya merangkap, para PNS misalnya. Apotek tidak dapat berkembang Nasib apoteker memang sangat menyedihkan. Kerja keras menempuh pendidikan selama bertahun-tahun hampir tidak ada artinya. Imbalan dan penghargaan yang diterima sangatlah minim. Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, kebanyakan apotek adalah “milik” pihak lain, sedang apoteker hanyalah orang bayaran. Akibatnya, segala kebijakan apotek menjadi “monopoli” wewenang PSA (Pemilik Sarana Apotek), termasuk pengadaan obat-obatan. Kedua, adalah pandangan Pemilik Sarana Apotek (PSA) yang kurang positif terhadap apoteker, sehingga karena dianggap sebagai orang bayaran sehingga tidak memiliki kuasa apa-apa. Implikasinya: imbalan tidak layak, pembagian pendapatan juga tidak layak, lebih jauh bahkan peranannya dianggap “sepele”. Ironis memang. Mengapa sampai apotek di Indonesia tidak dapat berkembang (sebagai ajang karya apoteker dan juga sebagai entitas bisnis) ? Dari pengamatan penulis ada 4 (empat) hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, daya beli masyarakat menurun akibat tingkat pendapatan yang rendah, sehingga mereka mencari sehat dengan murah lewat pengobatan alternatif. Kedua, tingkat pendidikan masyarakat meningkat sehingga cenderung mengobati sendiri (self medication) dengan langsung ke toko obat atau toko-toko obat alternatif ; (3) Merebaknya dispensing, yakni satu paket pemeriksaan kesehatan sekaligus dengan

24

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

spesial topik
pemberian obat. Sebenarnya hal ini tidak dibenarkan, namun demikian tidak pernah ada upaya penegakan hukum atas pratek semacam ini. Dan keempat, pihak industri tidak menjadikan apotek sebagai saluran distribusi utama, tetapi lebih mengutamakan profesi kesehatan lain (non-apoteker) sebagai pemilih/ penentu obat. Seharusnya bisnis obat adalah etikal (bisnis yang etis), tetapi pada kenyataannya tidak dilaksanakan demikian. Apotek sebagai sarana pelaksanaan profesi apoteker Berkaitan dengan carut-marutnya peran apoteker di apotek, maka menurut penulis yang menjadi sumber masalah adalah cara pandang “apotek sebagai sarana bisnis” dan “apoteker sebagai orang bayaran”. Hal demikian tentu tidak benar, sehingga diperlukan penataanulang peran apoteker di apotek. Coba simak tempat praktek dokter sebagai tempat pelaksanaan profesi dokter. Untuk hal tersebut tersedia banyak kemudahan, seperti: persyaratan dan pengurusan izin praktek yang sangat mudah, serta sarana pendukung yang tidak terlalu rumit. Berbeda halnya dengan apotek. Sarana yang diperlukan “cukup berat”, antara lain: gedung harus dengan luas tertentu dan dalam posisi lokasi yang layak, milik sendiri atau bila Ketika PP-25 akan dilaksanakan, pernah dinyatakan bahwa apoteker dapat melaksanakan profesi meskipun di garasi rumahnya. Tetapi pada kenyataannya tidak bisa demikian, sehingga banyak terungkap fakta seperti tergambar di atas. Apotek adalah tempat pelaksanaan profesi apoteker. Namun karena dianggap sebagai “tempat dagang” akhirnya harus dilengkapi dengan berbagai syarat seperti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan). Padahal apotek bukan tempat ”dagang” melainkan tempat pelaksanaan profesi apoteker, yang semestinya diperlakukan sama dengan tempat praktek dokter. Karena banyak apoteker yang baru lulus masuk dalam kategori “tidak mampu”, akhirnya apotek menjadi ajang bisnis orang-orang berduit dan “menyewa” apoteker untuk mendapatkan izinnya. Selayaknya perizinan apotek ditata kembali, dan hendaknya mirip dengan tempat praktek dokter. No pharmacist no sevices Untuk keluar dari carut-marut tersebut maka langkah pertama yang dapat ditempuh adalah menjadikan “apotek sebagai wahana pelaksanaan profesi apoteker, dengan konsekuensi: “ada apotek harus ada apotekernya”. Apotek melekat dalam diri apoteker, no pharmacist no sevices. Kalau apoteker tidak ada di tempat, maka pelaksanaan terhadap sesama tenaga medis. Hal terakhir ini tentu sesuai dengan bekal dan kemampuan yang telah dimiliki seorang apoteker yang lulus dari Perguruan Tinggi Farmasi, serta sudah dilantik dan disumpah oleh pejabat yang berwenang untuk hal tersebut. Sebagai tambahan, seorang apoteker harus memantau penggunaan obat oleh pasien sebagai wujud layanannya kepada pasien. Ini merupakan luasan pelaksanaan profesi apoteker. Di rumah sakit seorang apoteker biasa memantau pemakaian obat para pasien rawat inap. Menurut penulis, alangkah baiknya kalau hal tersebut juga dilaksanakan oleh apotek/ apoteker terhadap pasiennya. Dengan demikian sudah selayaknya apabila no pharmacist no sevices adalah: tepat sasaran dan tepat pemakaian obatnya serta mampu menjadi konsultan obat secara profesional. Jaringan apotek profesi: ilusi atau kenyataan Dalam mewujudkan idealisme apotek sebagai tempat pelaksanaan profesi apoteker dapat dicapai melalui dua langkah: (1) penataan-ulang registrasi dan perizinan apotek, dengan implementasi apotek adalah milik apoteker, meski sarana dan prasarananya sangatlah sederhana; (2) dibangunnya jaringan apotek profesi. Seperti layaknya

Berkaitan dengan carut-marutnya peran apoteker di apotek, maka menurut penulis yang menjadi sumber masalah adalah cara pandang “apotek sebagai sarana bisnis” dan “apoteker sebagai orang bayaran”. Hal demikian tentu tidak benar, sehingga diperlukan penataan-ulang peran apoteker di apotek. Coba simak tempat praktek dokter sebagai tempat pelaksanaan profesi dokter. Untuk hal tersebut tersedia banyak kemudahan, seperti: persyaratan dan pengurusan izin praktek yang sangat mudah, serta sarana pendukung yang tidak terlalu rumit.
kontrak minimal harus 5 tahun, serta sarana penunjang harus lengkap, antara lain: etalase, lemari obat, lemari narkotik, lemari pendingin, timbangan analitis, sampai dengan buku-buku rujukan. Dengan memperbandingkan kedua hal tersebut, nyata sekali beda perlakuan yang harus diterima apoteker. Karena tidak semua apoteker mampu memenuhi syarat mengajukan izin apotek, maka kemudian dimungkinkan adanya pihak lain, yaitu Pemilik Sarana Apotek (PSA). Pada kenyataan yang terjadi kemudian, pemilik izin “seolah-olah” adalah PSA dan bukan lagi apoteker. Meskipun legalitas pemilik izin adalah apoteker, namun pada pelaksanaannya kemudian tidaklah demikian. layanan harus dihentikan, dengan kata lain “apotek tutup”. Seperti halnya tempat praktek dokter, kecuali ada dokter pengganti. Kalau diterima ketentuan tersebut, maka dengan sendirinya proses pengurusan izin sebuah apotek tidak (boleh) sulit. Apotek adalah tempat pelaksanaan profesi bukan ajang bisnis. Oleh karenanya apotek tidak harus megah, mewah, ber-AC dan lain sebagainya. Tetapi lebih diutamakan pada: “mampu memberikan layanan kesehatan yang terkait dengan obatobatan dengan baik, rasional, tepat sasaran, sesuai daya-beli pasien, serta mampu memberikan konsultasi secara profesional, baik terhadap pasien maupun jaringan komputer tentu harus ada sever, kabel jaringan, software (protokol), operator, dan yang paling penting adalah “inspirator (pemikirnya)” yang akan memelihara jalannya sistem sehingga dapat berjalan dengan baik, seperti “redaksi” di media massa. Lontaran ide pembentukan jaringan apotek profesi yang pernah disampaikan BPD ISFI JABAR memang menarik dan mudah-mudahan benar-benar dapat segera terwujud, sehingga menjadi model bagi BPC-ISFI se-Indonesia. Sehingga kemandirian apoteker dengan pendekatan holistik dapat segera terwujud. Dengan pengakuan atas eksistensi para apoteker tersebut, maka apoteker akan menjadi pelaksana profesi

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

25

spesial topik
yang mandiri dan profesional. Akibatnya pelayanan kesehatan di bidang obat-obatan dan konseling pengobatan akan meningkat dengan kualitas yang bermutu dan profesional. Seperti terwujudnya kebersamaan sejawat kita para dokter, mereka bersumpah akan membantu sejawatnya para dokter dan keluarganya. Kalau masalah pribadi saja para dokter dapat menjadikan kebersamaan, mengapa dalam melayani masyarakat para apoteker tidak dapat bersama-sama membangun jejaring yang solid dan profesional. Ketika seseorang memilih suatu cabang ilmu, farmasi misalnya, tentu yang bersangkutan (dan keluarga) sudah membayangkan masa depan kehidupan yang baik. Oleh sebab itu mereka bersedia mengeluarkan biaya dan serta pencurahan waktu dan sumberdaya yang tidak sedikit. Namun demikian dalam kenyataannya, ketika sudah lulus dan menjadi apoteker, ternyata hanya memperoleh imbalan yang sangat kecil --- bahkan mungkin lebih rendah dari UMR --- tentunya akan berpikir lain. Apakah dengan imbalan yang minim ia akan terus memaksakan diri ”mengabdi” dengan imbalan yang mungkin tidak cukup untuk biaya transport. Jadinya, apakah slogan no pharmacist no services dapat dijalankan dengan sistem (pendapatan / perolehan) seperti sekarang ini. Menghadapi keadaan demikian, apakah ISFI selaku organisasi profesi farmasi mampu memperjuangkan hal tersebut, dan memperjuangkan regulasi dengan keharusan uji kompetensi apoteker, keharusan adanya apoteker pendamping bagi apoteker PNS, pelayanan kefarmasian dilaksanakan oleh tenaga yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk itu, serta perbaikan dalam perizinan apotek dan sebagainya? Semoga! (Dr. Endang Kumalawati, MSc. adalah apoteker pemegang apotek di Bandung serta staf peneliti pada Puslitbang Teknik Nuklir BATAN)

PERBEDAAN TIGA BINATANG SERANGGA
Tiga surat dari 114 surat dalam Al-Quran diberi nama binatang serangga (Arthropoda) yaitu surat An-Nahm (semut), Al-‘Ankabut (laba-laba) dan An-Nahl (lebah). Kita lihat sifat dari ketiga binatang ada perbedaan walau sama-sama berasal dari fami li Artropoda. Semut senangnya menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa hentihentinya. Konon semut dapat menghimpun makanan untuk simpanan bertahun-tahun padahal umur harapan hidupnya tidak lebih dari setahun. Keserakahannya demikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil, membawa makanan yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Semboyannya, besok membawa makanan berapa ? Labah-labah dimanapun ia tinggal membuat sarangnya dari air ludahnya berupa jaring Apapun yang tersangkut kejaring akan disergapnya. Dan apapun jenis serangga yang tertangkap jaring akan dibunuh dan dihisap,termasuk sang pejantan setelah melakukan hubungan sex akan jadi santapan betina-betinanya.Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga kadang-kadang saling memusnahkan. Ada dari golongan laba-laba yang buas/sangat beracun sengatannya , hingga manusiapun bisa mati kena sengatan itu dan oleh manusia diberi nama si janda hitam (black widow) mungkin karena pejantannya telah dibunuh setelah puas berhubungan sex. Semboyannya, besok makan siapa? Serangga yang ketiga adalah lebah. Ia tinggal di puncak pohon. Sarangnya dibuat segi enam seperti “ring benzena” , lambangnya ISFI, bukan segi lima atau segi empat, agar tercipta penghematan tempat bagi bayi-bayinya. Makanannya adalah tepung sari dari bunga, tidak merusak bunga tapi malah membantu penyerbukan (perkawinan) dari tumbuhan itu sendiri. Makanannya kemudian diolah menjadi madu dan lilin yang sangat bermanfaat bagi manusia sebagai obat dan makanan. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian tugas dan yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu , tapi kalau diganggu dia akan menyengat. Bisa (racun) sengatannya pun bisa dijadikan obat (rematik). Pemimpinnya adalah betina (Ratu). Semboyannya, besok makan dimana? Terserah anda senang memilih model mana, An-Naml yang serakah, Al-Ankabut yang buas atau An-Nahl yang berguna. (A-1, Lentera Al-Quran)

JIKA LEBAH PUNAH, PRODUKSI PANGAN DUNIA TERANCAM
Apa yang anda ketahui tentang lebah? Ia berdengung saat lewat danbisa menyengat kalau diganggu. Lebah juga menghasilkan madu dan yang tak kalah pentingnya, ia termasuk agen penyerbukan bunga dimuka bumi ini. Dibeberapa bagian dunia , jasa lebah sebagai agen penyerbukan malah bisa dikomersialkan.Para petani sering menyewa koloni lebah madu dengan cara menggiringnya kelahan-lahan pertanian sehingga bisa membantu penyerbukan tanaman di ladang mereka. Baru-baru ini tersiar kabar dari Departemen Pertanian A.S. bahwa jumlah koloni lebah madu yang bisa dikomersialkan telah merosot hingga 31 % sepanjang tahun lalu. Menurut Laurie Davies Adams, Direktur Eksekutif Pollinator Partnership, penurunan populasi ini sebagai sinyal ambruknya pertanian. Kepada para partisipan dalam konperensi“ North American Pollinator Protection Campaign“, 22-24 Oktober 08 yang lalu, Adams menyerukan agar kepedulian publik harus dibangun untuk mencegah krisis pollinator. Jika satu dari 3 ekor sapi mati, kita pasti sudah akan melakukan sesuatu“ Kenapa tidak pada seribu ekor lebah? Sebuah studi yang dipublikasikan dalam majalah Science setahun lalu menemukan korelasi antara matinya banyak koloni lebah madu dengan infeksi virus dari Israel yang bisa menyebabkan kelumpuhan akut. Sebagian ilmuwan ada yang mengatakan bahwa kutu pengisap darah varvoa dari Australia yang menjadi biang keladinya. Sebagian lagi berpendapat kombinasi banyak faktorlah yang bisa menyebabkan kollapsnya koloni lebah tersebut, yaitu nutrizi yang buruk, paparan pestisida serta infeksi kutu dan virus. Para ilmuwan dan pejabat pertanian menyatakan bahwa selain lebah, populasi burung-burung dan hewan penyerbuk lainnya juga terus menurun. Mereka khawatir survival ribuan jenis tanaman penghasil pangan, serat dan obatobatan akan terancam. Ancaman itu sangat jelas karena semua tanaman berbunga sangat membutuhkan penyerbukan, yaitu proses pemindahan serbuk sari dari satu bunga ke bunga yang lain yang sejenis untuk proses reproduksi dan akhirnya terjadilah biji-bijian. Beberapa jenis tanaman memang bisa menyerbuki diri sendiri (abiotik), atau cukup memanfaatkan angin. Diperkirakan sepertiga dari makanan yang kita makan setiap hari berasal dari benih, biji, ataupun buah yang di produksi lewat penyerbukan silang (oleh lebah / serangga lain)(A-1KT).

26

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info aktual

ANTARA PERKAKAS DAPUR DAN SUSU FORMULA
Setelah sebelumnya Indonesia di hantui oleh formalin , boraks dan rhodamin, kali ini ibu rumah tangga kembali dibuat cemas dengan munculnya isu melamin. Sejauh apakah dampak kehadiran melamin dalam produk susu China membuat takut para ibu rumah tangga untuk membelikan susu pada anak mereka?
Heboh penggunaan melamin pada susu oleh beberapa produsen susu di China sempat membuat Badan POM RI melakukan pengujian ulang pada beberapa produk susu yang sebelumnya sudah beredar lama di Indonesia. Kenakalan para produsen susu di China juga berdampak besar pada kepercayaan masyarakat Indonesia pada produksi susu dalam negeri. Tak hanya produk susu import yang menjadi perhatian Badan POM RI, produk lokal maupun lisensi yang beredar di Indonesia turut terkena jaring public warning. Merebaknya formula susu yang salah sebenarnya bukan pertama kali terjadi di China. Pada tahun 2004 kasus yang sama pernah menyerang sekitar 200 bayi karena penggunaan formula yang salah pada susu, bahkan 13 di antaranya meninggal dunia. Penggunaan melamin pada makanan hewan pada tahun 2007 juga telah membuat ratusan hewan mati. Kasus-kasus serupa pun terjadi lagi di China, mulai dari telur bebek, kosmetik (lipstik), makanan kaleng pernah meninggalkan riwayat kematian di China. Keinginan produsen untuk membuat kandungan protein pada susu lebih tinggi membuat mereka mengambil jalur praktis yaitu dengan menambahkan melamin pada susu yang diproduksi. Penambahan melamin ini telah membuat setidaknya 4 bayi meninggal dunia. Walaupun sejauh ini penampilan produk buatan China terbilang bagus dan mewah secara fisik, namun kenyataannya, kandungan di dalamnya banyak membawa masalah kesehatan. Hal inilah yang menyebabkan produk makanan hewan dan susu formula mulai banyak ditarik dari peredaran Krisis produk susu di China memang membuat dunia harus menelan pahit akibatnya. Kasus ini menjadi salah satu tolak ukur bahwasannya pengawasan produk makanan belum berjalan baik, selain dari standarisasi yang juga masih jauh dari yang seharusnya. Semua Badan

MELAMIN!!

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

27

info aktual
pengawasan makanan yang ada di dunia harus introspeksi diri dan mulai menyoroti pentingnya peningkatan standar untu mendeteksi penggunaan senyawa kimiawi pada makanan dan minuman, tak terkecuali obat-obatan yang beredar. Dari kasus ini pula, masyarakat mulai harus mencermati tentang penggunaan bahan berbahaya seperti melamin, rhodamin, dan formalin, karena merekalah yang nantinya akan bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman tersebut. Apakah melamin itu? Awal mula penemuan Melamin yaitu pada tahun 1907 yang diawali dari penemuan bahan kimia buatan atau sintetis yang sekarang ini disebut plastik.
KADAR MELAMIN PRODUK IMPOR ASAL CINA YANG MENGANDUNG SUSU
No. 1 2 3 4 5 Nama Sampel Guozhen Pine Pollen Calcium Milk Oreo Wafer Sticks Oreo Wafer Sticks M&M’s Minis Milk Chocolate M&M’s Minis Milk Chocolate Kadar Melamin (mg/kg) Yantai New Era Health Industry Co.,Ltd., China 38.03 PT. Nabisco Food ( Suzhou ) Co. Ltd., China 366.08 PT. Nabisco Food ( Suzhou ) Co. Ltd., China 361.69 Mars Food Co. Ltd Beijing/China 167.50 Mars Food Co. Ltd Beijing/China 252. 89 PT. Effem Foods ( Beijing ) Co. Ltd Yanggi 116.47 Industry & Development Zone Nama Pabrik/Negara Asal PT. Effem Foods ( Beijing ) Co. Ltd Yanggi Industry & Development Zone PT. Effem Foods ( Beijing ) Co. Ltd Yanggi Industry & Development Zone Mars Food Co. Ltd Beijing/China Mars Food Co/ China Shanghai Guan Sheng Yuan/China Shanghai Guan Sheng Yuan/China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding China ttd 262.82 856.30 322.22 24.44 456.04 945.86 93.25 8.51 23.49 (< 0,62)

6 M&M’s Peanuts Chocolate Candies 7 M&M’s Peanuts Chocolate Candies 8 M&M’s Milk Chocolate 9 M&M’s Milk Chocolate Snickers, Kacang Sangrai Segar dalam Karamel dan 10 Nougat Lembut dalam Lapisan Coklat Tebal 11 Kembang Gula White Rabbit (Kemasan Biru) 12 Kembang Gula White Rabbit (Kemasan Merah) 13 Soybean Drink With Milk (Kemasan Hijau) 14 Soybean Drink With Milk (Kemasan Kuning) 15 Soyspring Instant Milk Cereal 16 Soyspring Instant Peanut Milk

Melamin yang heboh dibicarakan saat ini adalah melamin dengan rumus Kimia C3H6N6, yaitu sebuah basa organik yang merupakan trimer dari cyanida. Kandungan nitrogen dalam melamin sampai dengan 66%. Bersama dengan formaldehid, melamin digunakan untuk membuat resin melamin yang dalam aplikasinya sering digunakan dalam pembuatan plastik tahan panas, lem, pupuk dan berbagai polimer. Karena sifat tahan panas ini juga, melamin digunakan sebagai bahan pembuatan perkakas dapur seperti piring, gelas dsb.
Pada abad 20 penemuan plastik ini merupakan penemuan yang bersejarah karena dianggap sebagai barang mewah yang tidak mudah rusak dan pecah. Lalu, apakah melamin yang digunakan dalam makanan adalah melamin yang sama dengan yang digunakan untuk pembuatan perkakas? Melamin yang heboh dibicarakan saat ini adalah melamin dengan rumus Kimia C3H6N6, yaitu sebuah basa organik yang merupakan trimer dari cyanida. Kandungan nitrogen dalam melamin sampai dengan 66%. Bersama dengan formaldehid, melamin digunakan untuk membuat resin melamin yang dalam aplikasinya sering digunakan dalam pembuatan plastik tahan panas, lem, pupuk dan berbagai polimer. Karena sifat tahan panas ini juga, melamin digunakan sebagai bahan pembuatan perkakas dapur seperti piring, gelas dsb. Amankan melamin tersebut? Semua Badan Pengawas Makanan negara manapun tidak ada yang mengizinkan penggunaan Melamin pada makanan ataupun minuman. Walaupun belum ada data kongkrit
PRODUK CINA MENGANDUNG MELAMIN (Diumumkan oleh Agri-Food & Veterinary Authority (AVA) Singapura) No. Merk Dagang Jenis Pangan Yogurt Flavoured Ice Bar with Real Fruit Matcha Red Bean Ice Bar Red Bean Ice Bar Dark Chocolate Bar Red Bean Chestnut Ice Bar Susu UHT (UHT Pure Milk 1 L (Catering)) Susu (Low Fat Milk Beverage) Minuman susu (Milk Beverage) Susu (Pure Milk) Susu (Pure Milk) Susu (Strawberry Flavoured Milk) (Ex. Cina, Hongkong, Singapura) Kembang Gula berbasis Susu (Creamy candy) – Berbagai Rasa Dairy Frozen Yoghurt Bar with real peach and pineapple fruit pieces Keterangan Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina Produk asal Cina

1. Natural Choice 2. Yili Bean Club 3. Yili Bean Club 4. Yili Prestige Chocliz 5. Yili Super Bean 6. Nestle Dairy Farm 7. Yili High Calcium 8. Yili High Calcium 9. Yili (250 ml) 10. Yili (1L) 11. Dutch Lady 12. White Rabbit 13. Yili Choice

mengenai efek penggunaan melamin pada manusia, namun hasil penelitian dengan menggunakan hewan sudah dapat memperkirakan efek yang mungkin akan terjadi pada manusia. Terlebih kasus penggunaan melamin pada makanan hewan telah membuat ratusan hewan mati seketika. Bergabungnya melamin dengan

pengotor melaminlah yang menyebabkan munculnya kristal yang dapat berefek pada pembentukan batu ginjal. Pada hewan-hewan yang mati, ditemukan adanya batu ginjal yang menyumbat saluran urin dan memghentikan produksi urin dengan cepat sehingga menimbulkan kematian yang cepat. Dari data tersebut, penelitian melamin pada hewanpun mulai

28

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info aktual
dikembangkan, dan kemudian ditemukan bahwa melamin merupakan zat yang karsinogen pada hewan. Melamin tidak hanya menghentikan produksi urin tapi juga menyebabkan infeksi pada ginjal dan tekanan darah tinggi pada hewan. Asupan melamin murni yang tinggi pada hewan menyebabkan inflamasi kandung kemih. Badan Pengawasan Makanan dan Obat Amerika Serikat atau biasa disebut Food and Drug Administration (FDA) telah merekomendasikan penggunaan harian melamin yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh adalah 0,63 mg per kg BB. Bahkan, pada masyarakat Eropa standar ini dijadikan lebih rendah lagi yaitu 0,5 mg per Kg BB. Di China sendiri, dari inspeksi yang di lakukan oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat China, telah ditemukan 69 batch yang mengandung melamin danri 491 batch (kelompok yang ditest). Kandungan melamin di dalamnya berkisar dari 0,09 mg per Kg susu sampai 619 mg per kg susu. Tampak jelas bahwa penggunaan melamin sudah melebihi batas kewajaran. Menurut ahli biokimia China, Fang Shimin, kampanye bebas melamin sudah sering dilakukan di China. Bahkan perusahaan-perusahaan susu di China telah lama menggunakan mesin HPLC untuk pendeteksian kadar melamin. Pendeteksian melamin dengan cara yang paling mudah pun telah dikembangkan di China, hanya saja otoritas kemanan makanan di China tidak pernah menganggap hal ini penting untuk di
PRODUK SUSU ASAL CINA YANG TERDAFTAR DI BADAN POM No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Merk Dagang Jinwei Yougoo Jinwei Yougoo Jinwei Yougoo Guozhen Meiji Indoeskrim Gold Monas Meiji Indoeskrim Gold Monas Oreo Oreo Oreo M & M’S M & M’S Snickers Dove Choc Dove Choc Dove Choc Jenis Pangan Susu Fermentasi Susu fermentasi Susu Fermentasi Susu Bubuk Full Cream Es Krim Es Krim Stick wafer Stick wafer Chocolate Sandwich Cookie Kembang Gula Kembang Gula Biskuit Kembang Gula Kembang Gula Kembang Gula Kembang Gula Kembang Gula Makanan Ibu Hamil dan Menyusui Selai Susu Keterangan

Ditemukan

Ditemukan Ditemukan Ditemukan Ditemukan Ditemukan

16. Merry X-Mas 17. Penguin 18. Nestle Nesvita Materna 19. Nestle Milkmaid

PRODUK SUSU ASAL CINA YANG TIDAK TERDAFTAR (ILEGAL) No. Merk Dagang Jenis Pangan Shanghai Guan Sheng Yuan/China Shanghai Guan Sheng Yuan/China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding Co., Ltd. China Wuzhou Bingquan Industrial Shareholding China Keterangan Ditemukan Ditemukan Ditemukan

1 Kembang Gula White Rabbit (Kemasan Biru) 2 Kembang Gula White Rabbit (Kemasan Merah) 3 Soybean Drink With Milk (Kemasan Hijau)

4 Soybean Drink With Milk (Kemasan Kuning)

Ditemukan

5 Soyspring Instant Milk Cereal

Ditemukan

6 Soyspring Instant Peanut Milk

Ditemukan

Bergabungnya melamin dengan pengotor melaminlah yang menyebabkan munculnya kristal yang dapat berefek pada pembentukan batu ginjal. Pada hewan-hewan yang mati, ditemukan adanya batu ginjal yang menyumbat saluran urin dan menghentikan produksi urin dengan cepat sehingga menimbulkan kematian yang cepat.
deteksi lebih lanjut, dan mereka juga tidak berfikir untuk menggunakan metode pendeteksian melamin tersebut. Di Indonesia sendiri, kebobolan kasus penggunan senyawa kimia berbahaya sudah cukup sering terjadi. Setelah beberapa waktu lalu kasus boraks dan formalin merebak dan diikuti dengan penggunaan Rhodamin yang sulit dihentikan. Kasus penggunaan Mercury pada kosmetik dan melamin pada produk makanan kini mulai diperbincangkan. Badan POM RI sendiri telah melakukan banyak pemantauan pada peredaran makanan di Indonesia, tapi sayang sekali pemantauan saat ini sering sekali terbatas pada aspek gizi pada makanan, sedangkan hal-hal yang menyangkut penggunaan bahan kimiawi berbahaya sering luput dari perhatian. Susu Indonesia Bebas Melamin Pada jumpa persnya tanggal 27 September 2008 di Departemen Kesehatan Indonesia Rasuna Said, Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadilah Supari yang didampingin oleh Ketua BPOM RI, Husniah Rubiana Thamrin memberitahukan bahwa produk susu di Indonesia bebas melamin. Menurut Siti Fadilah Supari, para ibu rumah tangga tidak perlu khawatir lagi mengenai hal tersebut. Namun sampai berita itu disebutkan, BPOM RI tetap melakukan penyisiran terhadap susu asal China yang beredar di Indonesia.
Bersambung ke hal. 32

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

29

1

2

3
Keterangan Gambar :
1. Lokakarya “Pengembangan Pendidikan, Akreditasi dan Sertifikasi Profesi Apoteker, Hotel Bumi Karsa 2-4 Desember 2008 2. Pembukaan Kongres Ilmiah ISFI Ke-XVI Hotel Inna Garuda Yogyakarta 11-12 Agustus 2008 3. Buka Puasa Bersama Pengurus Pusat ISFI 4. Salah Satu Peserta Pameran di Kongres Ilmiah ISFI Ke- XVI Yogyakarta 5. Stand PT. ISFI Penerbitan dipadati oleh pembeli buku -buku dari PT. ISFI Penerbitan 6. Perkenalan Buku ISO Farmakoterapi di Stand PT. ISFI Penerbitan pada acar Kongres Ilmiah ISFI Ke- XVI, Yogyakarta

30

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

4

5

6

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

31

info aktual
Sambungan dari hal. 29

Sedangkan menurut BPOM sendiri, sejauh ini tidak ada negara selain China yang mengoplos melamin dalam produk susunya, hal ini tentunya turut menenangkan masyarakat yang selama ini dilanda kecemasan. Selain itu, para produsen susu Indonesia pun bisa menarik nafas lega karena produk mereka yang terkena publik warning mengandung melamin ternyata tidak terbukti kebenarannya. Namun, semua kasus dan isu baik yang berhembus di Indonesia ataupun di negara lain harusnya mendorong BPOM RI untuk lebih meningkatkan pengawasannya. Tidak hanya pengawasan

pada saat produk sudah dilempar ke pasar atau disebut inspeksi pasar, namun juga sebelum produk tersebut dilempar ke masyarakat atau pengawasan pra market. Dalam kasus melamin ini, BPOM harus lebih waspada dalam pengawasan pra market, karena ternyata pendeteksian protein ini bisa dikelabui dengan bahan lain yang kandungan nitrogennya tinggi. Selain dari pengawasan langsung pada produk, lagi-lagi masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan diri pada bahan-bahan berbahaya yang mungkin ada dalam makanan. Masyarakat harus bisa membantu tugas BPOM dalam melakukan pengawasan langsung di pasar, yaitu dengan memberikan laporan jika

ditemukan keluhan pada produk. Hal ini dapat mempercepat BPOM menemukan produk-produk yang dianggap tidak aman ataupun produk-produk illegal. Punishment yang jelas dan tegas tentunya harus dibuat bagi produsen nakal yang masih menggunakan bahan kimia berbahaya pada makanan mereka, karena apapun yang terjadi ”keuntungan yang mereka terima dari penambahan bahan berbahaya tersebut tidak akan sebanding dengan kerugian yang diterima masyarakan yang telah mengkonsumsi makanan tersebut, terlebih jika produk mereka menyebabkan munculnya kematian (vita, dari berbagai sumber)

Pelaksanaan Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker selama tahun 2008
NO 1 GELOMBANG XI XII XIII XIV XV XVI XVII VI VII VIII IX X XI XII X XI XII XIII XIV XV XVI II PD ISFI JAWA BARAT PELAKSNA UNPAD ITB ITB UNPAD UNPAD ITB ITB ISTN UHAMKA UP UI UNTAG UHAMKA UP UNAIR UNAIR UBAYA UWM UNAIR UBAYA UBAYA UI TANGGAL 10-12 APRIL 2008 23-24 MEI 2008 6-7 JUNI 2008 22-24 AGUSTUS 2008 30 OKT-1NOV 2008 29-30 OKT 2008 11-13 DESEMBER 2008 11-13 JANUARI 2008 22-24 FEBRUARI 2008 30 MEI-1 JUNI 2008 22-24 AGUSTUS 2008 24-26 OKTOBER 2008 28-30 NOVEMBER 2008 19-21 DESEMBER 2008 4-6 JANUARI 2008 1-3 FEBRUARI 2008 13-15 MARET 2008 11-13 APRIL 2008 16-18 MEI 2008 25-27 JULI 2008 17-19 OKTOBER 2008 25-27 APRIL 2008 JUMLAH 154 64 75 95 139 63 59 86 126 127 98 114 73 167 78 121 125 96 114 53 122 37

2

DKI JAKARTA

3

JAWA TIMUR

4

SUMATERA SELATAN

32

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info organisasi
5 II III IV I V VI VII VIII IX X XI XII II I II III II III II III IV V VI I I I I I I I BANTEN UI UI UI UNAIR USB UMS STIFAR STIFAR UMS STIFAR USB UMP UI ITB UNAND UNAND USU USU SANATA DHARMA UAD UII UGM UGM UI UBAYA UNAND UBAYA UGM UNPAD USU 8-9 FEBRUARI 2008 5-7 JUNI 2008 22-24 DESEMBER 2008 22-24 FEBRUARI 2008 100 63 24 168

6 7

BALI JAWA TENGAH

31 JANUARI-2 FEBRUARI 2008 150 15-17 FEBRUARI 2008 196 28 FEBRUARI-1 MARET 2008 128 10-12 APRIL 2008 141 17-19 JULI 2008 143 30 OKTOBER-1 NOVEMBER 2008 175 13-15 NOVEMBER 2008 100 11-13 DESEMBER 2008 120 4-6 APRIL 2008 11-12 APRIL 2008 29 FEBRUARI-2 MARET 2008 10-12 JULI 2008 3-5 APRIL 2008 21-23 AGUSTUS 2008 7-9 JANUARI 2008 17-19 MARET 2008 9-11 JUNI 2008 28-29 JULI 2008 22-24 DESEMBER 2008 27-29 MARET 2008 1-3 APRIL 2008 8-10 MEI 2008 31 JULI-2 AGUSTUS 2008 12-13 SEPTEMBER 2008 29-30 NOVEMBER 2008 15-16 DESEMBER 2008 JUMLAH 139 108 125 155 166 143 85 50 50 55 94 87 171 120 72 112 150 149 5725

8 9 10

KALTIM KALBAR SUMBAR

11

SUMUT

12

DIY

13 14 15 16 17 18 19

KEPRI PAPUA JAMBI MALUKU NTT LAMPUNG RIAU

Jumlah apoteker baru yang telah diberikan setifikat selama 2008 adalah 3539 apoteker dari 24 Perguruan Tinggi Farmasi
MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

33

spesial topik

MARI MENJADI SEORANG PHARMACYPRENEUR !!
Oleh Ryeska Fajar Respaty,S.Farm.,Apt.
Sudah b bukan k zamannya l lagi i sebagai b i seorang f farmasis i (baca: apoteker), kita berkutat pada masalah “penegasan” posisi dihadapan dokter ataupun jatuh - bangun mencoba melaksanakan Pharmaceutical Care di komunitas yang nampaknya masih jauh dari realitas agar profesi ini menjadi lebih di kenal luas. Ada peluang lebih besar yang juga bisa kita manfaatkan untuk tujuan besar tersebut yaitu agar dikenal masyarakat luas dan diakui keberadaan profesi farmasis ini sehingga tidak dikenal hanya sebatas sebagai penjual obat saja. Misalnya dengan menjadi seorang pharmacy-preneur. Apa itu? Sebenarnya pharmacy-preuneur hanyalah istilah tambalan penulis yang dilandasi oleh semangat kewirausahaan dengan asas bidang kefarmasian. Istilah preneur diambil dari istilah yang sedang trend saat ini yaitu entrepreneur yang artinya adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang berguna bagi diri sendiri (dan orang lain). Kata Entre sendiri berasal dari kata entrependere (bahasa perancis), artinya sebuah usaha yang berani dan penuh resiko (sulit). Bila di telaah lebih lanjut, pharmacy-preneur dapat dikatakan sebagai cabang dari Technopreneur yang berasal dari penggabungan kata teknologi dan Entrepreneur. Dimana pengertian Technopreneur adalah para pelaku usaha yang mengembangkan bisnisnya dengan cara mengandalkan kemampuannya di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Layaklah kalau yang notabene adalah L kl h k l seorang entrepreneur t t b d l h farmasis dan bergerak dibidang farmasi disebut sebagai seorang pharmacy-preneur. Contoh nyata seorang pharmacy-preuneur mungkin adalah pendiri perusahaan Pusaka tradisi Ibu yang terkenal dengan kosmetik muslimah Wardah, Ibu Nurhayati Subakat. Beliau adalah salah satu bukti hidup bahwa seorang farmasis ternyata bisa juga menjadi seorang pengusaha yang sukses menjadi penyedia lapangan kerja bagi orang banyak termasuk para sejawat farmasisnya. Produknya punya pasar tersendiri (kosmetik halal) dan karyawannya sekarang mencapai 400 orang yang awalnya hanya satu orang karyawan saja. Varian produknya pun beragam, dan sekarang perusahaannya sudah meluncurkan merek baru yaitu Zahra Cosmetic. Bisa diperkirakan berapa tenaga farmasis yang beliau kini libatkan dalam perusahaannya itu. Saat keadaan serba krisis seperti sekarang, inilah kesempatan kita untuk menjadi sebuah solusi sempitnya ketersediaan lapangan kerja di Indonesia. Penganggguran di Indonesia mencapai angka 10,55 juta jiwa pada tahun 2007. dan angka pengangguran ini menjangkau semua lini profesi, bahkan farmasis, apalagi diperkirakan bahwa saat ini supply tenaga farmasis telah melebihi demand yang ada. Belum lagi isu globalisasi yang membuka peluang bagi farmasis luar negeri

34

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

spesial topik
untuk ikut “bermain” di wilayah Indonesia. Namun pelaksanaannya tidak akan semudah yang kita bayangkan. Salah satu persoalannya adalah kurikulum farmasi di banyak universitas di Indonesia sendiri yang belum banyak mengakomodir semangat kewirausahaan. Tergantung bagaimana kebijakan masing-masing Universitas. Padahal sebagaimana kita ketahui, Kurikulum Farmasi di Indonesia mencangkup 4-6 tahun program sarjana strata satu dan satu tahun program profesi. Untuk program profesi apoteker memang diajarkan mata kuliah yang bersinggungan dengan entrepreneurship namun hanya sebatas mengenai segi teknis pengelolaan/ manajemen apotek/ rumah sakit saja. Tidak menyentuh aspek mendasar mengenai semangat kewirausahaan seperti materi dalam kuliah yang dapat meningkatkan minat berwirausaha atau bagaimana farmasis meningkatkan posisi tawar sebagai APA di hadapan PSA ataupun bagaimana cara membangun sebuah bisnis secara umum dari nol dan semacamnya. Padahal semangat wirausaha semacam itu bisa diajarkan dan dipelajari. Alangkah disayangkan lagi pada program sarjana farmasi bila bahasan mengenai kewirausahaan hanya di ajarkan sekilas pada satu semester saja, tanpa ada mata kuliah praktek kewirausahaan, apalagi bila ternyata pada beberapa universitas materi tentang kewirausahaan tidak masuk kurikulum sama sekali. Mereka akhirnya tidak terdidik dan terdorong untuk menjual hasil penelitiannya (skripsi sarjana) lewat komersialisasi penelitiannya. gaji perbulan saja, bahkan seharusnya kita juga menerima profit sharing dari sang pemodal, oleh karena kita terlibat langsung dalam proses pembuatan apotek, modalnya dikelola oleh farmasis dan tanggung jawab terbesar ada di tangan farmasis. Bagaimana mungkin dengan sistem penggajian yang “minim” seperti itu seorang farmasis dituntut untuk terus berada di apotek? Tapi kebanyakan kita tidak tahu atau pasrah saja terhadap kenyataan ini, yang penting sudah bisa kerja sebagai prasyarat untuk memperoleh surat penugasan ataupun surat izin kerja. Kita harus berubah kawan! Berpikir bisnis bukan berarti tidak mengindahkan aspek pelayanan profesi (Pharmaceutical Care, seperti, misalnya, dengan cara menaikkan harga jual obat di apotek seenaknya, tidak mengindahkan kualitas produk obat yang dijual (murah tapi aspal), mendekati dokter secara financial agar menggunakan produk kita dalam resep dan sebagainya. Bukan itu. Berpikir bisnis disini adalah untuk kemanusiaan juga, dengan tujuan agar dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi sejawat kita dan orang lain. Disinilah seorang farmasis dapat mencuri ruang pula di hati masyarakat banyak. Saatnya berpikir besar dan menjadi besar, sungguh miris bila kita mengecilkan potensi diri sendiri dengan hanya mempersiapkan diri kita untuk bekerja pada orang lain saja dan menutup mata untuk membuka usaha mandiri. Walaupun memang tidak bisa disalahkan bila ada sebagian orang yang suka bermain di zona aman saja. Tapi tidak terpikirkankah dalam bahwa 5% sektor lain adalah wirausaha, maka dapat dipastikan bahwa sejumlah 95% farmasis memilih untuk menjadi karyawan orang lain. Kenapa profesi wirausaha ini jarang dilirik farmasis? Banyak yang mengatakan kalau menjadi wirausahawan resikonya terlalu besar dan berbahaya. Padahal sebagai karyawan, sebenarnya kita sudah mengambil resiko juga. Tanpa sadar, kita juga sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk keluar dari tempat kerja, baik itu lewat pensiun ataupun di pecat. Selepas itu, kita akan pusing bagaimana cara mencari pekerjaan yang baru lagi, apalagi kalau usia sudah lanjut, tempat kerja mana lagi yang mau menerima? Lain halnya dengan berwirausaha, dimana kita bisa bekerja menghasilkan uang seumur hidup, tidak terbatas usia pensiun apalagi di pecat! Pilihannya hanyalah merugi atau mendapatkan untung usaha. Sebagian orang mungkin akan berargumen, bukankah dengan menjadi karyawan kita bisa menabung? Ada fakta menarik yang terdapat dalam sebuah makalah kewirausahaan oleh Ibu Naniek Ratni jAR. Disana disebutkan bahwa dalam USA TODAY tanggal 16 Agustus 2000 terdapat artikel yang dibuat oleh Danny Sheridan mengenai perhitungan kemungkinan seseorang mendapatkan $ I JUTA, dimana kemungkinan terbesar untuk mendapatkan itu adalah dengan memiliki bisnis kecil yaitu 1000 : 1, sedangkan kemungkinan seseorang untuk mendapatkan $ I Juta dengan cara menabung $ 800/bulan selama 30 tahun adalah 1.500.000 : 1. Memang faktual,

Seharusnya sebagai penanggung jawab yang memperoleh kepercayaan modal apotek, posisi kita bukan hanya sebatas pekerja yang mendapatkan gaji perbulan saja, bahkan seharusnya kita juga menerima profit sharing dari sang pemodal, oleh karena kita terlibat langsung dalam proses pembuatan apotek, modalnya dikelola oleh farmasis dan tanggung jawab terbesar ada di tangan farmasis.
Sehingga kebanyakan hasil penelitian hanya menjadi literatur mentah yang terbengkalai di perpustakaan, menunggu untuk diolah lebih lanjut yang kreatif secara bisnis, entah oleh siapa. Masalah lainnya adalah bahwa satusatunya peluang bisnis kita hanyalah sebagai Apoteker Pengelola (APA), tapi sayangnya posisi tawar seorang farmasis di bidang ini sangat lemah. Bagaimana tidak? Seharusnya sebagai penanggung jawab yang memperoleh kepercayaan modal apotek, posisi kita bukan hanya sebatas pekerja yang mendapatkan benak kita untuk menciptakan lapangan kerja dan menjadi solusi bagi orang lain? Padahal kita punya dan mengerti ilmu farmasi yang cukup untuk itu. Dalam makalah seminar pada tahun 2005 tentang Pengembangan Pendidikan Tinggi Farmasi Menghadapi era globalisasi oleh Bapak Maksum Radji disebutkan bahwa penyebaran SDM Farmasis sebanyak 40% adalah di sektor pemerintahan (ABRI, POM, DINKES, BPOM, RS), 50% di sektor swasta (APOTIK, RS, PABRIK, PBF), 5% di sektor pendidikan dan 5% di sektor lain. Bila kita asumsikan apalagi kebanyakan orang Indonesia bermental konsumtif dan hobi kredit sehingga sulit untuk menabung. Tapi pertanyaan besarnya hanyalah beranikah kita mengambil resiko berwirausaha? Karena cita-cita dan mimpi saja tidak cukup untuk mencapai tujuan besar itu, maka segeralah mulai dan jangan menunda. Bagi yang sudah tertarik untuk mulai menjadi seorang pharmacy-preneur mungkin akan bertanya, di sektor mana kita bisa mulai bergerak? Ada berbagai alternatif yang bisa dipilih, kita

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

35

spesial topik
bisa membuat industri kecil kosmetik, membuat usaha kosmetik dan obat tradisional, usaha ekstraksi tumbuhan obat, usaha surveyor kesehatan dan obat-obatan, event organizer kegiatan kefarmasian, dan banyak lagi tergantung dari kreatifitas masing-masing untuk membaca peluang. Bagi yang sedang menjadi karyawan dan bercita-cita profesi untuk membantu rekan sejawatnya lewat program pinjaman modal, bahkan kalau bisa tanpa bunga. Sehingga yang ada hanyalah profit sharing ataupun sharing kerugian. Di Sumatera Utara pada tahun 2007, telah diadakan proyek pemberian modal kepada para apoteker sumatera utara senilai satu milyar untuk membuka usaha sendiri, walaupun masih salah satu bidang sumber pencarian dana yang menguntungkan bagi universitas yang bersangkutan. Dan akan mendukung lagi, bila secara hukum farmasis yang memilih menjadi seorang pharmacy-preneur bisa mendapatkan surat penugasan/ surat izin kerja sebagai “imbalan” atas masa bakti yang mereka lakukan sebagai seorang pharmacy-

Banyak yang mengatakan kalau menjadi wirausahawan resikonya terlalu besar dan berbahaya. Padahal sebagai karyawan, sebenarnya kita sudah mengambil resiko juga. Tanpa sadar, kita juga sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk keluar dari tempat kerja, baik itu lewat pensiun ataupun di pecat. Selepas itu, kita akan pusing bagaimana cara mencari pekerjaan yang baru lagi, apalagi kalau usia sudah lanjut, tempat kerja mana lagi yang mau menerima? Lain halnya dengan berwirausaha, dimana kita bisa bekerja menghasilkan uang seumur hidup, tidak terbatas usia pensiun apalagi di pecat!
menjadi wirausaha sembari saat ini mengumpulkan modal, hati-hatilah agar tidak selamanya terjebak dalam zona aman anda. Pertanyaan lainnya adalah kalau mau langsung memulai usaha sebagai pharmacy-preneur, modalnya darimana? Disinilah fungsi krusial dari organisasi terbatas dengan usaha apotek rakyat. Proyek semacam itu seharusnya bisa diadakan serentak di seluruh Indonesia dengan bidang usaha yang tidak terbatas pada apotek rakyat saja. Ataupun modal bisa lewat kerjasama dengan universitas almamater dimana universitas sebagai pemodal. Kerjasama ini dapat menjadi preneur. Sehingga akan banyak lulusan baru yang tertarik berkecimpung sebagai pharmacy-preneur. Karena adakah dharma bakti yang lebih baik selain menjadi salah satu solusi bagi permasalahan bangsa? Mari sama-sama kita mulai membuka mata.****

K EM E M I RI R I PAN PA N P E RI R I S T I WA S E TE T E L A H 1 0 0 TA H U N
Peristiwa ini dialami oleh dua Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan John F Kennedy. Lincoln menjadi presiden pada tahun 1860 dan Kennedy menjadi presiden pada tahun 1960. Pengganti Lincoln menjadi presiden bernama akhir Johnson (Andre), lahir pada tahun 1808, sedangkan pengganti Kennedy juga bernama akhir Johnson (Lyndon) dan lahir pada tahun 1908. Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy mati terbunuh sewaktu menjadi presiden. Pembunuh Lincoln lahir pada tahun 1839, sedangkan pembunuh Kennedy lahir pada 1939. Kedua pembunuh presiden ini terbunuh lagi sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy dan sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Kedua sekretaris pernah menyarankan kepada presiden masing- masing agar tidak pergi ketempat dimana kemudian terjadi pembunuhan , namun keduanya menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan dan pembunuh Kennedy melakukan pembunuhan dari pasar swalayan dan bersembunyi di teater. Apakah semua itu kebetulan atau ada penafsiran lain? Menurut orang awam itu suatu kebetulan, tapi disisi Allah SWT. tidak ada yang kebetulan. Semua atas Qudrat dan Iradat Nya. (A-1).

KEMIRIPAN OBAMA DAN LINCOLN
Barrack Husein Obama Jr. (akan) menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-44, sedang Lincoln adalah Presiden Amerika yang ke -16 . Hari pelantikan Obama nanti 20 Januari

2009, dimana 200 tahun yang lalu Lincoln lahir (12 Februari 1809). Keduanya sama-sama wakil rakyat (Senator) dari negara bagian Illinois. Keduanya sama-sama terpilih saat-saat krusial dalam sejarah Amerika. Lincoln memproklamirkan Persamaan Hak /Warna Kulit dan mengakhiri perbudakan di Amerika Serikat yang hasilnya membolehkan orang kulit hitam bersekolah dan selanjutnya dibolehkan menjadi Senator. Saat ini sudah ada 5 orang Senator dari ras kulit hitam dan satu orang telah terpilh menjadi Presiden. Semboyan Obama adalah Perubahan dan Harapan. Tantangan terbesar Lincoln adalah Perang Saudara dan dampaknya. Tantangan Obama adalah Pendudukan Irak dan Afganistan serta keuangan Amerika yang telah babak belur karena krisis ekonomi dan biaya perang. Lincoln berjuang untuk persatuan bangsa dan berhasil membawa Amerika keluar dari krisis. Obama setidaknya pada awalnya telah berhasil merubah salah satu sinisme paling mengakar dalam sejarah Amerika bahwa betapa pun gagasan kesetaraan, anti diskriminasi dan hak azasi manusia yang dikhotbahkan setiap saat di Amerika, tetapi rasialisme tetaplah wajah Amerika yang sejati. Paling tidak sudah bisa menghapus rasialisme di Amerika. Akankah nasib yang mirip dengan Lincoln akan diikuti oleh Obama? Seperti halnya Lincoln , terbunuh saat menjadi Presiden pada 15 April 1865. Sesudah itu tiga Presiden lagi terbunuh yaitu James A Garfield (19 September 1881), William Mc Kinley (14 September 190l), dan John F Kennedy (22 November 1963) Kekhawatiran akan keselamatan lelaki 47 tahun itu sangatlah wajar, karena saat ini lebih dari 200 juta orang Amerika memiliki senjata api secara sah dengan angka kematian karena senjata api sekitar 30 ribu per tahun. Beda Lincoln dengan Obama adalah Lincoln adalah kulit putih dari partai Republik sedang Obama adalah kulit hitam campuran dari partai Demokrat. (A-1).

36

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info kegiatan
adalah vasodilatasi (pelebaran) pembuluh a darah perifer dan koroner. Efek terhadap d jantung mengurangi kebutuhan oksigen j otot jantung. Indikasi (efek utama) adalah o angina, gagal jantung. Efek samping terjadi a sakit kepala, pusing, muka merah. Kontra s indikasi : sildenafil (viagra). Pemakaian : i sublingual, tidak boleh dibelah / digerus. s Dosis sesuai dengan anjuran dokter. Jika 15 D (lima belas) menit setelah menggunakan ( obat sublingual tidak ada efek, maka pasien o harus segera dikirim ke rumah sakit. h b. Obat golongan penyekat beta (B-bloker). ( Cara kerja mengurangi konsumsi oksigen miokard, mengurangi kontraktilitas s miokard mengurangi denyut jantung m dan menurunkan tekanan darah sistolik. d Indikasi untuk anti angina , hipertensi, I

SEMINAR KONSELING
Pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus 2008 ISFI Cabang Jakarta Barat melaksanakan seminar sehari konseling obat-obatan kardiovaskular dan diabetes untuk apoteker bertempat di auditorium RS Kanker Dharmais Jakarta . Sebagai pembicara adalah: Drs. Oriza Satifa , Sp.FRS,Apt, Kepala Instalasi Farmasi RS. Jantung Harapan Kita dengan judul Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner focus pada Pasien Sindrom Koroner Akut, Dra. Azizahwati, Msi, Apt, Dosen Departemen Farmasi Iniversitas Indonesia dengan judul Drug Related Problem dalam Diabetes Melitus, dan DR. H. Masruchin, MM,Apt, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Pancasila dengan judul Kiat Membuka Apotik yang Berhasil. A. PASIEN DENGAN SINDROMA KORONER AKUT (Drs. Oriza Satifa, SpFRS, Apt) Sindroma koroner akut (SKA) adalah keadaan atau kumpulan proses penyakit yang meliputi angina pektoris (nyeri berkala didaerah jantung) tidak stabil, miokard tanpa elevasi dan miokard dengan elevasi. Patofisiologi sindrom koroner akut adalah timbulnya plak atherosklerotik yang berubah menjadi atherothrombotik. Plak atherosklerotik terbentuk akibat akumulasi beberapa bahan seperti pembentukan sel basa, pembentukan lemak pada ekstra sel, pembentukan fibrosis ( jaringan ikat ) yang mengandung sel otot polos dan kolagen. Atherothrombotik adalah pembentukan thrombus (darah beku) didalam pembuluh darah atau kavitas (rongga) jantung. Sindroma koroner akut terjadi karena proses pengurangan pasokan oksigen secara akut atau subakut pada otot jantung (miokard). Dipicu oleh adanya robekan plak atherosklerotik, adanya inflamasi (radang), thrombus (penyumbatan pembuluh darah ), vasokonstriksi dan mikroembolisasi. Gejalanya adalah nyeri didada/ dibelakang tulang dada yang menjalar ke leher, lengan kiri, rahang bawah, dan punggung serta kadang-kadang lengan kanan. Terapi SKA adalah : 1. Obat + balon. 2. Obat + by pass. 3. Obat saja. Obat ( farmakoterapi) terdiri dari : a. Obat antiangina (golongan nitrat). Isosorbid mono nitrat, isosorbid di nitrat, dan gliseril trinitrat. Cara kerja obat golongan nitrat

OBAT-OBATAN KARDIOVASKULAR DAN DIABETES
gagal jantung. Kontra indikasi : memblok AV derajat-2 dan 3, asma, gagal jantung, penyakit arteri perifer berat. Efek samping obat; nausea, muntah, diarhe, konstipasi, mimpi buruk, insomnia,, halusinasi, lelah, rash, demam. c. Golongan antagonis kalsium. Cara kerja menghambat kontraksi miokard dan otot polos pembuluh darah, melambatkan kontraksi AV, vasodilatasi. Indikasi untuk anti angina, anti hipertensi. Efek mengurangi konsumsi oksigean jantung, memperbaiki pasien angina pektoris. Efek samping terjadi hipotensi, sakit kepala, muka merah. d. Anti thrombotik, digolongkan jadi obat untuk mencegah koagulasi/aggregasi/ penggumpalan darah atau melarutkan gumpalan darah. Penggolongan obat : Anti platelet (mencegah aggregasi trombosit) terdiri dari aspirin, dipiridamol, clopidograf, cilostazol Anti koagulan (mencegah penggumpalan darah) terdiri dari golongan coumarin, heparin, Thrombolitik (kerja melarutkan throm-bus yang menggumpal) seperti streptokinese, urokinese.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

37

info kegiatan
e. ACE Inhibitor (nama generik berakhiran – pril ). Captopril ( capoten,farmoten,captensin, locap, praten dll). Fisinopril (acenor-M, monopril). Lisinipril (interpril, noperten, zestril ). Ramipril ( triatec, triatec plus ). Kerja menurunkan after load / beban jantung, menurunkan stimulasi simpatis, menurunkan noradrenalin. f. Golongan statin.(simvastatin = cholestat, zocor, zovast, simbado,simchol,simcor, Atorvastatin=Lipitor, Lovastatin=lofacol, livopas, cholestra, Flufastatin=leschol, Rosuva statin = crestor) Indikasi menurunkan kadar kolesterol. Efek samping pada hati, nyeri otot, dll. Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah melaksanakan pengelolaan obat

Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah melaksanakan pengelolaan obat dan penggunaan perbekalan kesehatan berupa komponen barang ( ketersediaan, kelengkap an dan keterjangkauan) serta komponen sehat / sakit ( tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemakaian, tepat interval, tepat kualitas, tepat khasiat, aman dari efek samping obat, tersedia dan terjangkau) yang akhirnya bermuara pada pharmaceutical care.
dan penggunaan perbekalan kesehatan berupa komponen barang ( ketersediaan, kelengkap an dan keterjangkauan ) serta komponen sehat / sakit ( tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemakaian, tepat interval, tepat kualitas, tepat khasiat, aman dari efek samping obat, tersedia dan terjangkau ) yang akhirnya bermuara pada pharmaceutical care. Prinsip dasar Pharmaceutical care di rumah sakit adalah melaksanakan manajemen drug related problem (DRP) yaitu suatu prinsip yang meliputi semua fungsi yang perlu untuk menjamin terapi obat kepada pasien yang aman, efektif dan ekonomis yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan. Fungsi utama DRP adalah mengidentifikasi masalah, mengatasi masalah dan mencegah masalah. Rencana Asuhan Kefarmasian Sindroma Koroner Akut . a. Sebelum ke Rumah Sakit. • Berikan Nitrat sublingual. • Berikan asetil salisilat 300 mg dikunyah. • Kirim ke fasilitas yang memungkinkan. b. Di Rumah Sakit. (IGD, UGD, ICCU/ CVC) • Menjamin ketersediaan perbekalan farmasi. • Menjamin dan memastikan kerasionalan terapi. Rencana asuhan kefarmasian adalah mengurangi berkembangnya Iskemia (pengurangan darah pada jantung) menjadi miokardial infark ( MI) dan kematian. Faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain : Memastikan IV heparin dan GTN digunakan secepat dan setepat mungkin untuk meningkatkan suplai oksigen ke jantung pasien, mengurangi frekuensi serangan angina, mengurangi iskemia jantung, untuk mencegah iskemia menjadi miokardial infark ( MI ). Memonitor ketepatan dan keberhasilan infus yang diberikan dengan melihat pada pengurangan rasa sakit dan resolusi pada depresi ST pada EKG pasien dan yakinkan dosis dinitrat dengan benar sehingga pasientidak mengalami/terkena efek samping dari infusan. • c. Di Rawat Inap • Optimalkan regimen obat anti angina. • Monitor setiap penambahan dan atau penggantian regimen obat. • Berikan konsultasi pada pasien untuk memastikan bahwa pasien mengerti • Tujuan pengobatannya, dan menggunakan obat dengan benar. • Jelaskan pada pasien hubungan antara obat yang digunakan dengan keluhan atau gejala yang dirasakan. Berikan konsul pada pasien tentang perihal pola hidup sertaa cara memodifikasi semua faktor resiko. Pastikan bahwa pasien mendapatkan obat-obatan secara lengkap dan kontinyu ketika keluar rumah sakit. Sebelum pulang, pasien harus mendapatkan penjelasan yang lengkap dan jelas mengenai pengobatannya.

• •

d. Rawat Jalan (Apotik) • Memeriksa atau menilai ulang resep dan menyerahkan pada pasien. • Menjelaskan atau menerangkan cara penggunaan obat yang benar dan tepat kepada pasien. • Menjelaskan hubungan antara gejala, keluhan, dengan obat yang digunakan. • Memberikan pengetahuan tentang mekanisme dasar penyakit jantung koroner (PJK) dan rasionalitas pengobatannya. • Menjelaskan makna klinis hasil tes lab dengan penyakit jantung koroner yang diderita pasien. • Untuk mendukung dan memper-

38

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info kegiatan
tahankan gaya hidup sehat dan untuk mendorong pasien untuk memodifikasi faktor resiko serta memiliki rasa percaya diri dan optimisme. Rawat jalan ( Apotik – Obat ). - Nama obat, yang ditulis pada resep/ label dan jumlahnya. Beritahukan golongan obat tsb, apakah termasuk obat bebas atau obat keras. - Untuk indikasi apa obat tersebut digunakan, jelaskan secara umum indikasi kegunaan obat, jangan melakukan diagnosa. - Kapan obat tersebut digunakan, jelaskan kapan dan frekuensi penggunaan obat sesuai label. Jelaskan juga apakah obat digunakan sebelum, sewaktu atau setelah makan. - Apa yang harus dilakukan bila lupa menggunakan obat. - ESO dan bagaimana menyikapinya. - Bagaimana cara menyimpan obat. - Hal-hal lain yang harus diperhatikan selama menggunakan suatu obat. Sampaikan pada pasien untuk memB. FARMAKOTERAPI dan DRP DIABETES MELITUS (DM) (Dra. Azizahwati , MSi, Apt) Diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia karena defisiensi absolut insulin atau karena resistensi reseptor insulin bersamaan dengan defisiensi relatif insulin. Gejala-gejalanya adalah glukosauria adanya glukosa dalam urine, poliuria (banyak kencing), polidipsia (haus, banyak minum) , polifagi (lapar, banyak makan ), penurunan berat badan, luka yang sukar sembuh, rasa kesemutan/ kebal, dan keto asidosis (jaringan bereaksi asam dan adanya keton ). Klasifikasi Etiologis DM : 1. DM tipe – 1 Terjadi karena kerusakan sel beta, menjurus kepada defisiensi insulin, melalui proses imunologik dan idiopatik ( bawaan / primair ). Biasanya timbul pada usia kurang dari 40 tahun dan merupakan 10-20 % DM. 2. DM tipe-2 . Terjadi karena resistensi insulin (defisiensi relatif/gangguan sekresi insulin target pengendalian glukosa darah. Jangka panjang , untuh mencegah dan menghambat progressivitas penyulit mikroangiopati, makroangiopati, dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya angka morbiditas dan mortalitas dini DM. Interfensi farmakologis dilakukan bila sasaran glukosa darah belum tercapai dengan Diet dan latihan jasmani., yaitu dengan : 1. Antidiabetik oral ( ADO ). - Pemicu sekresi insulin ; sulfonil urea dan glinid . - Penambah sesitivitas terhadap insulin dengan metformin dan tiazolidin. - Penghambat glukoneogenesis dengan metformin. - Penghambat absorbsi glukosa dengan menghambat alfa glukosidase. 2. Insulin ( parenteral ). Preparat dalam bentuk kerja ultra short acting, short acting, intermediate dan long acting. Cara pemberian ADO : Mulai dengan dosis kecil, ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa, dapat diberikan sampai dosis maksimal. Obat golongan sulfonilurea (chlorpropamid, tolbutamid, glibenklamid dsb) generasi I dan II (kerja meningkatkan sekresi insulin oleh beta pankreas diminum 15-30 menit sebelum makan. ESO ; berat badan naik, hipoglikemik. Obat golongan gilmeperide kerja meningkatkan sekresi insulin insulin diminum sebelum sesaat sebelum makan. ESO sama sulfonilurea. Metformin kerja menghambat glukoneogenesis dengan mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki ambilan glukosa perifer diminum sebelum / pada saat / sesudah makan karbohidrat. ESO diarhe, dispepsia, asidosis laktat. Penghambat glukosidase kerja menghambat secara kompetitif kerja enzim alfa glukosidase di saluran cerna diminum bersama makan. ESO flatulens, tinja lembek. Tiazolidin kerja menambah sensitivitas terhadap insulin diminum tidak tergantung pada jadwal makan. ESO nya adalah edema.

Gejala-gejalanya adalah glukosauria adanya glukosa dalam urine, poliuria ( banyak kencing ), polidipsia ( haus, banyak minum ) , polifagi ( lapar, banyak makan ), penurunan berat badan, luka yang sukar sembuh, rasa kesemutan/ kebal, dan keto asidosis ( jaringan bereaksi asam dan adanya keton )
beritahukan kondisinya kepada dokter termasuk hal-hal seperti alergi obat, sedang hamil/menyusui, gangguan lambung, dll. Rawat Jalan ( Apotik – Cara penggunaan Obat ). - Bagaimana cara menggunakan obat. Jelaskan bentuk sediaan obat ( tablet, kaplet, suspensi/sirup dsb) dan bagaimana cara menggunakannya, apakah ditelan, disisipkan dibawah lidah, dioles, dimasukkan kelubang anus, dsb. Misal, ISDN sublingual, diletakkan dibawah lidah. - Hal penting yang seharusnya diperhatikan selama menggunakan obat, misal nya hal-hal spesifik yang perlu diperhatikan terutama dalam penggunaan warfarin, ISDN sublingual. Informasikan pula bahwa bila tidak terjadi perubah an pada penyakitnya, pasien dianjurkan kembali ke dokternya. Jangan biarkan pasien memperpanjang sendiri pengobatannya. (sekunder). Biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun dan merupakan 80 – 90% DM. 3. DM tipe lain. 4. DM Gestasional ( kehamilan. Komplikasi DM. - Komplikasi akut berupa hipoglikemia / hiperglikemia. - Komplikasi kronis berupa kelainan pembuluh darah jantung, kelainan diabetes pada ginjal (nefropati), kelainan diabetes pada retina (retinopati diabetik), kelainan diabetes pada syaraf (neuropati). Penatalaksanaan DM. Edukasi. Terapi Gizi Medis ( TGM = Diet ). Latihan Jasmani ( olahraga ). Interfensi Farmakologis ( obat ). Tujuan penatalaksanaan DM : Jangka pendek , untuk menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahan kan rasa nyaman dan tercapainya

-

-

-

-

-

-

-

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

39

info kegiatan
Terapi kombinasi ADO + Insulin dapat diberikan mulai dosis rendah ,kemudian dosis bisa dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah dan mekanisme kerja obat harus berbeda. Berdasarkan hasil diet dan kegiatan jasmani bila diperlukan dapat diberikan kombinasi ADO sejak dini dan dipilih 2 kelompok dengan mekanisme kerja yang berbeda. Bila sasaran kadar glukosa belum tercapai juga maka diberika kombinasi 3 ADO dengan kelompok berbeda atau kombinasi ADO dan insulin. Dosis awal insulin (kerja menengah/ panjang adalah 10 unit dan diberikan malam hari. Daftar golongan obat yang dapat meningkatkan kadar gula darah ; 1. Diuretik : khlortiazik, diazoksida, furosemida. 2. Hormonal : ACTH, kontrasepsi oral, medroksi progesteron, glukagon. 3. Obat psikotropik : lithium, haloperidol, fenotiazin. 4. Katekolamin : adrenalin, isoprenalin, levodopa, fenitoin, propanolol. 5. Analgesik dan anti inflamasi : aspirin, parasetamol, indomethasin. 6. Lain-lain : Simetidin, heparin, siklofosfamid, asam nikotinat. Golongan obat yang dapat menurunkan kadar gula darah ; 1. Antihipertensi : beta-bloker, alfa-bloker, klonidin, guanetidin, reserpin,. 2. Lain-lain : alkohol, aminofilin, anabolik, klofibrat, probenesid. Pengarahan dalam memelihara kaki pada seseorang penderita diabetes melitus atau gangguan vascular. 1. Cuci kaki pagi dengan sabun lembut dan air hangat, keringkan diantara ujung kaki dengan menekan, jangan menggosoknya dengan kencang 2. Ketika menggosok kaki , selalu menggosoknya dengan arah menarik dari bagian ujung kaki, jika terlihat nadi urut kaki dengan sangat perlahan, jangan pernah mengurut bagian mata kakinya. 3. Jika kuku jari kaki sudah rapuh dan kering, lembutkan dengan merendamnya dalam air hangat mengandung 1 sendok makan sodium borat (borax ) per 100 ml selama 1,5 jam tiap malam. Ini juga biasa digunakan untuk menggosok kuku secara merata dengan minyak sayur. Gunakan sepatu dengan hak yang rendah agar kulit dibawah tumit tetap lembut, sepatu sebaiknya mempunyai bagian ujung kaki yang lebar untuk menghindari dari penekanan, gunakan kaus kaki yang tebal dan hangat. Jangan duduk dengan posisi kaki menyilang. Ini mungkin akan menyebabkan arteri kaku dan suplai darah ke kaki tertutup. Jangan mempergunakan panas dalam bentuk air panas, botol air panas atau pemanasan alas tanpa izin dokter, panas dapat melukai kulit jika sirkulasinya buruk. Jika kaki sering lembab, ganti sepatu dan kaus kaki sedikitnya setiap hari atau lebih sering. bakat konsep bisnis. Konsep bisnis adalah sebagai jembatan yang menghubungkan antara keadaan masa kini dengan harapan masa depan. Masalah yang umum dihadapi oleh apoteker adalah rendahnya kemampuan mengamati fenomena pasar (lapangan) sehingga sulit untuk mengembangkan ide bisnis. Apoteker harus tahu dan mampu mengembangkan manfaat apotik bagi diri sendiri, bagi pasien yang dilayani dan bagi masyarakat sekitarnya serta bisa menyediakan kebutuhan mereka. Ide bisnis adalah bagaimana memanfaatkan sesuatu barang menjadi banyak manfaat dan lebih bagus lagi bisa membuat banyak manfaat atas semua sumber daya yang tersedia . Seorang apoteker harus mampu juga melihat peluang bisnis dengan melakukan analisa lingkungan meliputi demografi, sosial, ekonomi dan politiko legal. Analisa demografi harus bisa melihat

4.

5.

6.

Untuk berhasil membuka dan mengelola apotik seseorang harus memiliki konsep bisnis,bisa menganalisa pasar dan mampu melakukan pengelolaan keuangan. Memiliki konsep bisnis ditunjukkan dengan memiliki sikap sebagai wira usaha, mampu mengembangkan ide bisnis dan mampu melihat peluang bisnis.
PENGELOLAAN DIABETES MELITUS MEMBUTUHKAN KERJASAMA PENDERITA DENGAN DOKTER, APOTEKER DAN DIETISIEN, AGAR TERCAPAI KUALITAS HIDUP YANG NORMAL BAGI PENYANDANG DM. C. KIAT MEMBUKA APOTIK YANG BERHASIL. (DR. Masruchin, MM, Apt) Untuk berhasil membuka dan mengelola apotik seseorang harus memiliki konsep bisnis,bisa menganalisa pasar dan mampu melakukan pengelolaan keuangan. Memiliki konsep bisnis ditunjukkan dengan memiliki sikap sebagai wira usaha, mampu mengembangkan ide bisnis dan mampu melihat peluang bisnis. Sikap sebagai seorang wirausaha ditunjukkan dengan kemandirian, tidak mudah menyerah, smart/cerdas, kemampuan membangun jaringan usaha (net working), mau bekerka keras ( memiliki etos kerja ), memiliki semangat bersaing, memiliki sikap positif terhadap masa depan, suka terlibat dalam kegiatan kerja, suka mem pelopori sesuatu dan menyukai resiko moderat. Suatu bisnis tumbuh dan berkembang karena adanya ide bisnis sebagai cikal mengembangkan usaha pada golongan menengah atau golongan bawah. Analisa sosial harus bisa melihat bahwa selain obat untuk menyembuhkan penyakit , saat ini orang perlu mempertahankan agar selalu dalam keadaan fit (bugar), karena itu kebutuhan akan suplemen juga meningkat. Analisa ekonomi jika pendapatan menurun, harga naik maka permintaan (demand) turun. Fungsi demand obat merupakan fungsi dari income, harga (price) dan preferensi. Demand obat lebih banyak ditentukan oleh pre ferensi dan di Indonesia preferensi lebih ditentukan oleh dokter. Peluang obat tidak tergantung pada kondisi sosial ekonomi. Suatu fenomena , makin kecil pendapatan maka peluang untuk sakit makin besar. Pasar apotik menjanjikan apabila dapat menawarkan harga yang murah. Kemampuan ketiga yang harus dimiliki adalah mampu membuat perencanaan keuangan.( bussiness feasibility study ) yang terdiri dari technical feasibility study, social feasibility, economic feasibility, operational feasibility dan analisa kelayakan investasi ( net present value ). (A-1)

40

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

(AKHLAK,KEPRIBADIAN)
Salah satu tuntutan ntutan akal dan hikmah adalah bahwa seorang manusia harus berakhlak. erakhlak. Akhlak adalah tindakan dan perilaku tengah-tengah, tidak kurang, contohnya dak berlebihan dan tidak juga kurang menjadikan sifat pemberani sebagai sifat pertengahan diantara sifat nekat dan sifat pengecut. Akhlak adalah alat yang dapat membahagiakan manusia didalam kehidupan dunia dan akhirat. Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yang bersifat sementara, melainkan sikap yang terus menerus. Bentuklah diri dengan akhlak yang mulia, yaitu berbuat kebajikan dengan sesama manusia. Etika / Akhlak seseorang tidak dapat dinilai tatkala dia sedang sendirian , jauh dari manusia dan tidak ada kontak dengan mereka. Etika seseorang hanya bisa dinilai ketika dia melakukan hubungan dengan manusia lain dalam realita kehidupan. Dibawah ini dicantumkan perbuatan baik dalam berhubungan dengan orang lain. 1. Jadilah orang yang adil yaitu orang yang meletakkan sesuatu pada tempatnya, memberikaan kepada yang berhak hakhak mereka. Berbuatlah semaksimal mungkin atas dasar nilai-nilai keadilan pada semua aspek kehidupan. 2. Mulailah dengan dirimu. Sebelum mengubah / mengoreksi orang lain, mulailah terlebih dulu dengan diri sendiri. Adalah keliru ketika seseorang berpikir bahwa orang lain dituntut melaksanakan sesuatu , sementara dia sendiri yang menganjurkan tidak dituntut hal yang sama. 3. Ambillah panutan. Dalam hal mengambil panutan pilihlah orang yang pakar dalam ilmu, amal dan akhlak. Dan berusahalah juga menjadi panutan bagi orang lain. Ketahuilah bahwa manusia tidak akan mengikuti orang yang suka berpura-pura, yang tampilan luarnya bagus, namun batinnya buruk / busuk. 4. Milikilah sifat sabar. Kesabaran itu ada dua macam , yaitu sabar atas hal-hal yang dibenci dan sabar atas hal-hal yang dicintai. Seekor ayam betina dengan sabar mengerami telurnya sampai menetas. Seorang pilot akan menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya dengan sabar. Seorang pencinta tanaman akan akan memelihara tanamannya dengan sabar hingga mengeluarkan bunga yang indah. Hendaknya seseorang mukmin mempunyai delapan sifat : tenang pada saat terjadi peperangan, sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur disaat lapang, merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tidak berbuat zalim terhadap musuh ( apalagi teman ), tidak menyusahkan teman, tubuhnya senantiasa lelah, sementara manusia senang padanya . ( Imam Jakfar ash Shadiq ) Orang yang tertimpa musibah akan sabar menghadapinya , sehingga Tuhan akan memudahkan urusannya. 5. Milikilah kejujuran. Jujur artinya yang dilakukan sesuai dengan yang dikatakan, sesuai pula dengan yang ada dalam hatimu. Kejujuran adalah pilar utama keimanan. Kejujuran adalah kesempurnaan kemulyaan, saudaranya keadilan, rohnya pembicaraan, lisannya kebenaran, sebaik-baiknya ucapan, hiasannya perkataan, sebenar-benarnya pembica raan dan kebaikan segala sesuatu. 6. Kerjakanlah amalan-amalan sunah ( tambahan ). Sebelum memulai sesuatu lakukanlah tuntunan adab pada setiap tindakan. Sebelum makan, minum, masuk toilet dst ada tuntunanya dan kerjakanlah. 7. Balaskanlah keburukan dengan kebaikan.

ETIKA

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

41

spesial topik
Marilah membiasakan diri untuk membalas keburukan dengan kebaikan, berusaha melawan desakan-desakan hawa nafsu dan bersikap merendah. 8. Jadilah orang yang bersyukur. Bersyukurlah kepada Tuhanmu atas setiap nikmat dan keadaan, baik ketika suka maupun duka, ketika lapang maupun sempit. Ketahuilah bahwa bersyukur kepada Allah akan melahirkan sifat Qana’ah ( merasa cukup ), sedangkan tidak mensyukuri ( kufur ) melahirkan sifat tamak dan rakus. 9. Jadilah orang dermawan. Jadilah orang dermawan, tetapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hemat , tetapi jangan menjadi orang yang kikir. ( Ali bin Abi Thalib r.a ).z 10. Janganlah menjadi pemalu. Malu yang bersumberkan iman adalah malu yang disebabkan watak iman, yang menjadikan manusia senantiasa teguh kepada Allah swt. Orang yang tidak mempunyai malu akan mengerjakan apa saja yang dia inginkan. Sifat malu yang berlebihan adalah salah satu penyakit kejiwaan yang harus disembuhkan, karena akan menyebabkan kefakiran. 11. Jadilah orang yang berbuat kebajikan. Kesempatan berbuat kebajikan terbuka luas, seluas muka bumi. Semua langkah yang diayunkan di jalan Allah dan semua amal/perbuatan yang dilakukan untuk mencari keredaanNya , merupakan kebajikan yang akan mendapatkan ganjaran. 14. Tepatilah janji dan sumpahmu. Salah satu sifat orang mukmin yang arif adalah menepati janji dan sumpahnya dan mengingkarinya adalah sifat orang munafik. Jangan mengajukan alasan agama untuk tidak menepati janji. Tidak menepati janji berarti telah melakukan kesalahan: a. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah untuk ber pegang teguh kepada nilai-nilai akhlak ( etika / kepribadian ) , dimana salah satunya adalah menghormati dan menepati janji. b. Menghilangkan waktu orang lain yang diberi janji. c. Tidak menghargai orang lain, karena menepati janji berarti menghargai orang lain. d. Jika anda telah berjanji kepada Allah, atau berjanji kepada diri sendiri atau berjanji kepada orang lain, maka anda harus menepati janji itu selama janji itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal atau melanggar undang-undang / peraturan yang berlaku. 15. Jangan suka bergunjing. Perbuatan menggunjing adalah termasuk dosa besar, karena itu hindarilah pada setiap kesempatan. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” Al Hujarat (12 ). 16. Jangan suka mengadu-domba.

Akhlak adalah tindakan dan perilaku tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak juga kurang, contohnya menjadikan sifat pemberani sebagai sifat pertengahan diantara sifat nekat dan sifat pengecut. Akhlak adalah alat yang dapat membahagiakan manusia didalam kehidupan dunia dan akhirat. Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yang bersifat sementara, melainkan sikap yang terus menerus.
Menyingkirkan sebongkah batu atau duri dari jalan supaya tidak menyusahkan orang lain merupakan suatu kebajikan yang akan mendapatkan ganjaran. Jadilah manusia yang suka berkhidmat kepada orang lain. 12. Bersegeralah dalam kebaikan. Tergesa-gesa dalam arti terburu-buru sehingga menimbulkan kesalahan dalam berpikir / bertindak tidak dianjurkan, namun tergesa-gesa dalam arti bersegera dalam kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam. Kompetisi didalam semua medan kehidupan, tidak boleh berubah menjadi perseteru an dan mesti berlangsung dengan jujur. 13. Jangan berburuk sangka kepada orang lain. Anda tidak dianjurkan berbaik sangka kepada semua manusia secara mutlak karena dalam hidup ini manusia terbagi menjadi dua kelompok; teman dan musuh. Berbaik sangka kepada orang lain adalah sumber untuk menumbuhkan hubungan baik dengan manusia, sedangkan berburuk sangka menciptakan ketegangan dalam hubungan sosial, bahkan bisa mendorong kepada kedengkian, pemutusan hubungan dan permusuhan. Jangan cepat-cepat menaruh prasangka kepada perkataan sese- orang karena maksud ucapannya mungkin tidak seperti yang anda bayangkan. Sese orang tidak diperbolehkan berburuk sangka kepada orang lain, sebaliknya tidak diperbolehkan meletakkan dirinya pada kondisi dan tempat yang akan menyebab kan orang lain berburuk sangka kepadanya. Mengadu-domba adalah menyebarkan sesuatu yang tidak disukai pihak lain atau tidak dikatakan oleh pihak lain. Jauhilah perbuatan adu-domba karena akan menumbuhkan dendam dan retaknya hubungan dan menimbulkan kedengkian. 17. Jangan berbuat lalim ( zhalim ). Perbuatan zhalim adalah perbuatan menganiaya atau perbuatan sewenang-wenang atau tidak adil terhadap orang lain. Perbuatan ini akan melukai dan menyakiti pihak yang dizhalimi. 18. Berbuatlah kebajikan walaupun tidak dibalas dengan ucapan terima kasih. Manusia dalam berbuat kebajikan terbagi dua, yaitu ada yang mengharapkan terima kasih dan ada pula yang tidak mengharapkan terima kasih dari pihak lain. Dari sisi yang menerima kebaikan ada dua pula yaitu yang menyampaikan terima ksih atas perbuatan baik orang lain dan ada pula yang tidak menyampaikan terima kasih atas perbuatan baik orang lain.” Berterima kasihlah kepada orang yang telah memberi kan kebaikan kepadamu. Sesungguhnya kenikmatan itu tidak akan hilang jika kamu berterima kasih dan tidak akan langgeng jika kamu mengingkari. Berterima kasih itu akan memperbanyak kenikmatan dan menghindarkan kefakiran” (Jakfar as Sidik). 19. Jangan merendah diri kepada orang lain karena kekayaannya. Sebanyak apapun harta dan kekayaan yang dimiliki seseorang, dia tetap seorang manusia yang memiliki berbagai hak dan kewajiban. Harta dan kekayaan yang dia miliki tidak menjadikannya mempunyai kelebihan atas orang lain. 20. Bersikap positif terhadap anggapan orang lain.

42

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

spesial topik
Janganlah bersikap negatif atas semua anggapan orang lain terhadap anda. 21. Luruskanlah niat anda. Niat yang ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal. Niat adalah motivasi seseorang melakukan perbuatan. 22. Perbaikilah batinmu. Janganlah anda menjadi orang yang pada lahirnya baik, tapi pada batinya tidak lebih dari makhluk buas yang rakus. Sesungguhnya Allah memasukkan manusia kedalam sorga karena kelurusan niatnya dan kebersihan bathinnya. 23. Jangan merasa bangga dengan dirimu.( Ujub ). Janganlah merasa bangga dengan dirimu, walaupun kamu mempunyai ilmu, fisik akhlak dan harta yang banyak, karena ujub ini akanmenurunkan grafik prestasimu. 24. Janganlah sombong. Ketahuilah bahwa manusia membenci orang yang bersikap sombong kepadanya dan mencintai orang yang bersikap tawaduk kepadanya. Tidak ada yang dapat disombongkan manusia dari dirinya. Awalnya dia berupa sperma dan ovum, akhirnya menjadi bangkai, tidak bisa memberi rezeki bagi dirinya dan tidak bisa menolak kematiannya. ( Ali bin Abi Thalib ). 25. Tumbuhlah bersama cita-citamu. Dalam mengarungi hidup dan mengerjakan amal kebajikan jadilah orang yang mempunyai semangat dan cita-cita, gesit dan cekatan, serta tidak malas dan lamban. Ketahuilah bahwa imanmu bukan sebagai pengganti kerja keras, tapi iman sebagai penggerak dan menjadi motor yang mendorong untuk berusaha dan bekerja keras. Barangsiapa lamban, pasti dia menyia-nyikan kesempatan. 26. Jadilah orang yang mempunyai kehormatan diri. Kehormatan diri adalah memiliki semangat, kesatria dan kejantanan. 27. Jadilah pemberani. Keberanian adalah bersikap tegar dan keras hati tatkala berada dalam bahaya. Keberanian bukan hanya terbatas di medan perang, tapi banyak medan kehidupan yang menuntut keberanian. 28. Jadilah orang yang menjaga kesucian diri. Menjaga kesucian diri artinya menahan diri dari hal-hal yang haram dan hal-hal yang tidak layak. Tidak ada yang lebih disukai Allah setelah makrifat kepada-Nya daripada menjaga kesucian perut dan kemaluan ( Husein bin Ali ). 29. Sebarkanlah salam. Salam artinya selamat. Ucapkanlah salam sebelum bicara. Dengan ucapan salam artinya seseorang mengumumkan kedamaian dan keselamatan kepada orang yang berjumpa dengannya. Salah satu tindakan yang patut menyertai ucapan salam adalah berjabat tangan. Berjabat tangan akan membersihkan hati dari sisa-sisa kedengkian dan permusuhan. 30. Jadilah orang yang hati-hati. Yang dimaksud hati-hati ialah membuat perencanaan dan persiapan dengan benar- benar memperhitungkan tujuan , hasil dan akibat ( dampak ) dari setiap pekerjaan atau program. ( Dikutip dari buku Kaifa Tabni Syakhshiyyarah oleh Khalil al Mussawi , terjemah an Ahmad Subandi )

TIPS MENGOPTIMALKAN FUNGSSI KOMPUTER
1. Lakukan defragmenting 6 bulan / kali. Hal ini karena seringkali memasukkan dan menghapus dokumen dari komputer yang menyebabkan hard disk akan terpecah-pecah (fragmented) sehingga akses jadi lambat dan sulit untuk diperbaiki jika ada kesalahan. Untuk menyatukan kembali ( defragmented ) digunakan program disk defragmenter dalam menu komputer. Jika menyalakan komputer dalam waktu yang lama , atur komputer dalam keadaan “ sleep mode “ atau “ screen shaver “, agar layar monitor tetap awet dan tampilannya sempurna. Jika terhubung dengan internet lakukan “ install fire–wall “ untuk menghindari orang masuk komputer anda lewat internet. Bersih cache ketika akan mengakhiri down load. Cache menyimpan semua file internet sementara ( temporary ) pada

5. 6.

komputer Lakukan scandisk untuk memeriksa kesalahan / mendeteksi adanya virus. Bersihkan bagian dalam komputer dari debu yang bisa menghambat kinerja komputer.

2.

3.

TIPS MEMAKAI LAPTOP / NOTEBOOK
1. 1. Pastikan layar pada posisi yang tidak banyak menggerakkan leher, apalagi bahu. Bila perlu ganjal dengan buku. 2. Jika menggunakan laptop lebih dari 2 jam gunakan key-board. Usahakan siku ditekuk 90 derajat saat menggunkan komputer. 3. Gunakan tetikus terpisah yang lebih nyaman. 4. Istirahatkan mata setiap ½ jam. Setiap beberapa jam berdiri dan berjalan-jalan sebentar. 4. 5.

2. 3. 4.

6. 7.

2.

digunakan. Jangan biarkan baterai berada dalam waktu yang cukup lama misalnya lebih dari 1 bulan, tanpa menghubungkannya ke adaptor. Notebook yang tak digunakan dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya baterainya dilepas. Baterai yang tidak dipakai dalam jangka waktu 2 bulan sebaiknya diisi ulang. Jangan meletakkan baterai pada suhu tinggi ( > 60o C ). Jangan biarkan baterai berada ditempat dengan suhu panas > 1-2 hari. Waktu mengganti baterai maka notebook dimatikan. Simpan baterai ditempat kering.

TIPS MERAWAT PONSEL
1. 2. Jaga dari air / udara lembab. Gunakan sarung ponsel kedap air. Jaga dari goresan (layar dan badan) , gunakan sarung dan bersihkan debu didalamnya. Jaga jangan sampai jatuh. Hindarkan dari terik matahari. Jika baterai N1MH, biarkan hingga benar-benar habis , baru di charge.

3.

5.

4.

TIPS MERAWAT BATERAI NOTE BOOK
1. Tidak membiarkan notebook tersambung dengan listrik atau menyala selama beberapa jam tanpa

3. 4. 5.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

43

kajian sehat
(Dikutip dari buku saku Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan R.I. untuk ikut menyebarluaskan serial Pharmaceutical care) Hipertensi (tekanan darah tinggi) dikenal secara luas sebagai penyakit kardio vaskular yaitu penderita memiliki tekanan darah > 140 / 90 mm Hg dan merupakan salah satu faktor resiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat pula mengakibatkan gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular (pecahnya pembuluh darah otak). Penyakit ini bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan karena tingginya angka kunjungan ke dokter, perawatan di rumah sakit dan atau penggunaan obat jangka panjang. Pada kebanyakan kasus seseorang tahu telah menderita hipertensi pada saat pemeriksaan fisik sehingga hipertensi sering disebut sebagai “silent killer “. Tanpa disadari selanjutnya penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal. Gejala-gejala akibat hipertensi seperti pusing, gangguan penglihatan dan sakit kepala seringkali dirasakan pada saat hipertensi sudah lanjut dan tekanan darah sudah mencapai angka tertentu yang bermakna. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (seperti stroke, serangan jantung ringan), angina, gagal ginjal, demensia dan atrial fibrilasi (denyut jantung tak teratur). Healthy People 2010 for Hypertension menganjurkan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan intensif guna mencapai pengontrolan tekanan secara optimal.Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan antara lain partisipasi aktif para sejawat Apoteker yang melaksanakan praktek profesinya pada setiap tempat pelayanan kesehatan. Apoteker dapat bekerjasama dengan dokter dalam memberikan edukasi kepada pasien mengenai hipertensi, memonitor respons pasien melalui farmasi komunitas,membantu terapi obat dan non obat, mendeteksi dan mengenali secara dini reaksi efek samping dan mencegah dan atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan pemberian obat. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi praktis bagi Apoteker dalam rangka meningkatkan kemampuan

PHARMACEUTICA UNTUK PENYAKIT
Apoteker untuk memecahkan masalah tentang hipertensi ketika menjalankan Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care). Tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit degeneratif. Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur.Resiko untuk menderita hipertensi pada populasi > 55 tahun yang tadinya tekanan darahnya normal adalah 90%. Sampai dengan umur 55 tahun, laki-laki lebih banyak menderita hipertensi, dibanding perempuan. Tapi diatas 55 sampai dengan 74 tahun, perempuan sedikit lebih banyak yang kena dari laki-laki. Pada lansia (umur> 60 tahun) prevalensi hipertensi sebesar 65,4%. Di Amerika Serikat diperkirakan 30 % dari penduduknya menderita hipertensi. Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis beragam. Pada kebanyakan pasien etiologi-patofisiologi nya tidak diketahui dan dikenal dengan hipertensi essesial atau hiperteni primer dan lebih dari 90% pasien hipertensi adalah hipertensi essensial atau hipertensi primer. Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tapi dapat dikontrol. Yang 10 % termasuk hipertensi khusus dan dikenal dengan sebutan hipertensi sekunder. Bila penyebab hipertensi sekunder diketahui maka pasien itu dapat disembuhkan secara potensial. Penyakit hipertensi sering merupakan penyakit menurun pada keluarga , hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada patogenesis hipertensi primer. Kurang dari 10 % dari hipertensi merupakan hipertensi sekunder dari penyakit komorbid atau karena pengaruh

44

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

kajian sehat
4. 4 5. 5 Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium. Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi angiotensin II dan aldosteron. Defisiensi vasodilatator seperti prostasiklin, nitrik oksida dan peptida natriuretik Abnormalitas tahanan pembuluh darah. Diabetes melitus. Resistensi insulin. Obesitas.( kegemukan ). Meningkatnya aktifitas vascular growth factors . Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung, karakteristik ionotropik jantung dan tonus vascular. Berubahnya transpor ion dalam sel. darah meningkat ekstrim disertai dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan dengan segera ( dalam hitungan menit-jam) untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan organ target. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi . Tekanan darah tinggi dalam waktu cukup lama akan merusak endothel ( lapisan sebelah dalam ) arteri dan mempercepat terjadinya atherosklerosis (terbentuknya penumpukan kolesterol pada endothel yang rusak tadi dan bisa terjadi penyumbatan). Komplikasi hipertensi adalah rusaknya organ tubuh seperti jantung (hipertropi ventrikel kiri, infark miokard), ginjal ( penyakit ginjal khronis ), otak (stroke, demensia) , mata (retinopati = kerusakan retina) dan pembuluh darah (kerusakan endotel / dinding pembuluh darah). Untuk diagnose, anamnese dan terapi harus ditangani oleh dokter yang berkompeten. Pengobatan hipertensi bertujuan untuk penurunan morbiditas (kerusakan organ target) dan mortalitas (kematian). Mengurangi resiko merupakan tujuan utama terapi hipertensi, dan pilihan terapi obat dipengaruhi secara bermakna oleh bukti yang menunjukkan pengurangan resiko. Target nilai tekanan darah yang direkomendasikan dalam JNC VII adalah pada pasien dengan tekanan darah < 140 /90 mm Hg, khusus pasien diabetes dengan tekanan < 130/80 mm Hg dan untuk pasien dengan penyakit ginjal kronis tekanan darahnya < 130/80 mm Hg. Penatalaksanaan hipertensi dilakukan dengan terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi nonfarmakologi sangat penting untuk mencegah dan mengurangi berlanjutnya tekanan darah tinggi dengan cara memperbaiki / merubah gaya hidup. Modifikasi gaya hidup yang penting dalam menurunkan tekanan darah adalah menurunkan berat badan bagi yang obesitas, mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yaitu diet yang kaya Kalium dan Kalsium serta rendah Natrium (Sodium) dengan buah , sayur dan produk susu non lemak , melakukan aktifitas fisik berupa olah raga dan aerobik , menghentikan merokok

6. 6

7. 7 8. 8 9. 9 10. 1 11. 1 12. 1

13. 1

Tekanan darah normal adalah tekanan darah yang tekanan sistole < 120 mm Hg d dan tekanan diastole < 80 mm Hg. Tekanan d darah dimana sistole antara 120-139 mm d Hg dan tekanan diastole antara 80 – 89 H

AL CARE T HIPERTENSI
obat-obatan tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Yang paling sering adalah karena penyakit ginjal khronis atau penyakit renovaskular. Obatobatan tertentu baik secara langsung maupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperparah hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Obat-obatan tersebut antara lain dari kotikosteroid, estrogen kadar tinggi, phenilpropanol amin dan analognya, NSAID dsb. Faktor-faktor yang berkontribusi terbentuknya hipertensi : 1. Meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik karena stres. 2. Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor. 3. Asupan garam natrium berlebihan. mm Hg disebut tekanan prehipertensi. Prehipertensi tidak dianggap sebagai penyakit tapi tekanan ini cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi pada masa yang akan datang. Ada dua tingkat hipertensi yaitu hipertensi stage 1 dengan tekanan 140 – 159 mm Hg/ 90 – 99 mm Hg dan hipertensi stage 2 dengan tekanan > 160 /100 dan pada kedua stage ini pasien harus diberi terapi obat. Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi biasanya tekanan darah > 180 / 120 mm Hg dan kemungkinan atau telah terjadi kerusakan organ target, dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi. Hipertensi emergensi adalah tekanan

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

45

kajian sehat

dan mengurangi minum alkohol. Terapi farmakologi adalah dengan obat.Dengan mempertimbangkan pengobatan dengan bukti ilmiah dalam seleksi obat antihipertensi, obat yang paling berguna Diuretik dan atau ACE Inhibitor, Beta-bloker, AR-bloker dan Antagonis Kalsium. Untuk masing-masing golongan, obat generik dan obat nama dagangnya dapat dilihat pada buku ISO Indonesia dan buku lainnya. Untuk indikasi khusus dalam bentuk disfungsi ventrikuler sistolik atau diastolik pilihan obatnya dalam bentuk kombinasi dengan atau diuretik. Pada gagal jantung sistolik dimana kontraktilitas jantung berkurang , pilihan utama obatnya adalah ACE Inhibitor dimulai dengan dosis rendah. Pemakaian Beta-bloker digunakan untuk untuk mengobati gagal jantung sistolik untuk pasien yang sudah mendapat terapi dengan ACE Inhibitor dan Furosemik (diuretik). AR bloker dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi ACE Inhibitor. Pada pasca infark myokard, pengontrolan tekanan darah sangat penting sebagi pencegahan sekunder untuk kejadian berikutnya. Amercan College of Cardiology merekomendasikan terapi dengan Beta-bloker dan ACE Inhibitor. Beta-bloker menurunkan stimulasi adrenergik jantung dan pada uji klinis menunjukkan penurunan resiko infark jantung berikutnya atau kematian jantung tiba-tiba. ACE Inhibitor dapat memperbaiki fungsi jantung dan menurunkan kejadian kardiovaskular setelah infark jantung. Pada penyakit jantung iskemi terjadi kerusakan organ jantung, terapi dengan Beta-bloker lebih menguntungkan.sebagai terapi lini pertama dan sebagai alternatif dapat digunakan Kalsium antagonis. Pada penyakit gagal ginjal khronis yaitu ditunjukkan dengan fungsi

ekskresi berkurang (kadar kreatinin > 1,5) atau adanya albuminuria (> 300 mg / hari) tujuan terapinya adalah untuk memperlambat parahnya fungsi ginjal dan mencegah penyakit kardiovaskular. ACE Inhibitor dan AR-bloker mempunyai efek melindungi ginjal dalam penyakit ginjal diabetes dan non diabetes digunakan untuk hipertensi, lini pertama untuk mengontrol tekanan darah dan memelihara fungsi ginjal. Diuretik tiazid dapat digunakan tapi tidak seselektif diuretik furosemid. Pada penyakit serebrovaskular penurunan tekanan darah sewaktu stroke akut masih belum jelas, pengontrolan tekanan darah sampai kira-kira 160/100 mm Hg memadai sampai kondisi pasien stabil atau membaik. Kekambuhan berkurang dengan penggunaan kombinasi ACE Inhibitor dan diuretik tiazid. Pada lansia (> 65 tahun) dosis awal yang lebih rendah disarankan untuk menghindari simpton. Demensia yang terjadi pada pasien hipertensi dapat dikurangi dengan terapi antihipertensi yang efektif. Pada wanita yang menggunakan kontra sepsi oral sebagian ada yang mengalami hipertensi, dapat dipertimbangkan untuk mengganti obat kontrasepsinya. Pada wanita hamil dengan hipertensi penggunaan obat antihipertensi beresiko pada fetusnya. Penggunaan metildopa, Beta-bloker dan vasodilatator adalah yang aman. ACE Inhibitor dan AR-bloker tidak boleh digunakan selama kehamilan karena berpotensi untuk bayi cacat dan harus dihindari pada perempuan yang diduga hamil atau berencana hamil. Pertimbangan lain dalam pemilihan obat antihipertensi adalah : Diuretik tipe thiazid berguna untuk memperlambat demineralisasi pada osteoporosis. Beta-bloker berguna untuk fibrilasi

-

-

/ aritmia denyut jantung kacau, migraine, tremor , tapi menurut Merck 2005 dapat menyebabkan syndroma Raynaud. (Syndroma Raynaud adalah terhambat nya aliran darah kejari tangan dan kaki) Kalsium antagonis berguna untuk pengobatan sindrom Raynaud dan aritmia. Alfa-bloker dapat berguna untuk pasien dengan gangguan prostat.

Efek yang berpotensi tidak menguntungkan adalah : Diuretik tipe tiazid ( HCT ) harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan diagnosa pirai ( asam urat ) yang mempunyai sejarah medis hiponatremia yang bermakna. Hindari penggunaan B-bloker pada pasien asma, penyakit reaksi penerbangan, dan heart blok derajat kedua atau ketiga. Antagonis aldosteron dan diuretik penahan kalium dapat menyebabkan hiperkalemia, sehingga jangan diberikan kepada pasien dengan kalium serum > 5,0 mEq/L ( tanpa minum obat apa-apa ). PERAN DAN TANGGUNG JAWAB APOTEKER DALAM PHARMACEUTICAL CARE I. Assesmen. (Penyusunan data base) Informasi dikumpulkan dan digunakan sebagai data base pada pasien tertentu untuk mencegah, mendeteksi, memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan untuk membuat rekomendasi terapi obat. Database yang dikumpulkan adalah : • Demografi: nama, alamat, kelamin, tanggal lahir, pekerjaan, agama. • Riwayat medis: berat dan tinggi badan, masalah medis akut dan khronis, simptom, vital signs,

46

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

kajian sehat
• alergi, sejarah medis terdahulu, hasil lab. Terapi obat : obat yang diresepkan, obat bebas, obatobat yang digunakan sebelum dirawat, kepatuhan dengan terapi obat, alergi, asessmen pengertian tentang terapi obat Sosial: diet, olah raga, merokok/ tidak, minum alkohol atau pencandu obat. mencegah reaksi hipotensi. Pasien alergi dengan obat yang diresepkan. Harus dilihat apakah pasien dapat mentoleransi reaksi efek samping atau obat harus diganti. Misalnya batuk yang disebabkan oleh pemberian ACE Inhibitor atau edema perifer dengan antagonis kalsium golongan dihidropiridin. Adanya interaksi : obat-obat, obatpenyakit, obat-nutrien, obat-tes laboratori um, yang potensial dan aktual serta bermakna secara klinis. Pasien kurang mengerti terapi obat. Paien gagal memenuhi regimen obat. 2. 3. 4. adherence dengan terapi obatnya. Mengidentifikasi kondisi medis yang memerlukan terapi obat. Memecahkan masalah terapi obat, tujuan, alternatif dan intervensi. Mencegah masalah terapi obat.

-

Menentukan adanya masalah yang berkaitan dengan obat (DRP) Database pasien harus dinilai untuk melihat adanya masalah yang berkaitan dengan obat seperti : Adanya obat-obat tanpa indikasi. Adanya kondisi medis tetapi tidak ada obat yang diresepkan. Pilihan obat tidak cocok untuk kondisi medis tertentu. Pilihan obat antihipertensi harus disesuaikan apakah hipertensi tanpa komplikasi atau ada indikasi khusus. Dosis , bentuk sediaan, jadwal minum obat, rute pemberian, atau

-

II. Penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian. Penyusunan rencana pelayanan kefarmasian melibatkan identifikasi kebutuhan pasien yang berhubungan dengan obat, dan memecahkan masalah terapi obat melalui proses

Dalam rencana pelayanan kefarmasian, apoteker memberikan saran tentang pemilihan obat, penggantian atau obat alternatif, perubahan dosis, regimen obat (Jadwal, rute dan lama pemberian). Rekomendasi apoteker dalam pemilihan obat untuk pasien hipertensi sbb : 1. Sarankan terapi antihipertensi untuk pasien-pasien pada klasifikasi tahap I hipertensi ( TDS 140-159 mm Hg ) dan tahap II hipertensi ( TDS = 160 mm Hg) 2. Sangat disarankan terapi antihipertensi pada pasien-pasien

Dalam rencana pelayanan kefarmasian, apoteker memberikan saran tentang pemilihan obat, penggantian atau obat alternatif, perubahan dosis, regimen obat (Jadwal, rute dan lama pemberian).
dengan kerusakan target organ atau dengan faktor resiko kardiovaskular lainnya bila TDS > 140 mm Hg atau TDD = 90 mm Hg. Bila layak, sarankan pilihan awal untuk terapi antihipertensi. Pilihan awal untuk dewasa tanpa indikasi khusus : a. Diuretik golongan tiazid ( untuk kebanyakan pasien ). b. Penghambat Beta. c. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACE Inhibitor). d. Antagonis kalsium (long-acting). e. Penyeket reseptor angiotensin (AR Bloker). f. Rekomendasikan terapi kombinasi apabila cuma ada respon parsial dengan standar dosis monoterapi. Kombinasi yang efektif melibatkan diuretik tiazid atau antagonis kalsium dengan ACE Inhibitor, AR bloker atau B-bloker. g. Untuk isolated systolic hypertension pada pasien-pasien dengan TDS > 160 mm Hg terapi awal dengan diuretik tiazid. Sarankan terapi dislipidemia dengan statin untuk semua pasien dengan hipertensi dan 3 atau lebih faktor resiko kardiovaskular, atau pada psien dengan penyakit aterosklerosis atau

3.

-

metoda pemberian kurang cocok. Diuretik 1 X / hari dan harus diminum pagi hari. Obat antihipertensi dan jadwal mminum obat harus mempertimbangkan sirkadian ritme . Obat yang dipilih haruslah mempunyai efikasi disaat tekanan darah tinggi di pagi hari untuk mencegah kejadian kardiovaskular. Duplikasi terapeutik dan polifarmasi. Pasien dengan hipertensi sering berobat kebeberapa poli seperti poli ginjal dan poli kardio. Kedua poli sering meresepkan obat yang sama dengan nama paten yang berbeda, atau golongan yang berbeda. Intervensi perlu dilakukan untuk

yang terorganisir dan diprioritaskan berdasatkan kondisi medis pasien dari segi resiko dan kepatuhan. Rencana kefarmasian dapat berupa : 1. Menentukan tujuan terapi. Untuk penyakit hipertensi tujuan dari terapi adalah : a. Mencegah atau memperlambat komplikasi dari hipertensi dengan membantu pasien mematuhi regimen obatnya untuk memelihara tekanan darah < 140 /90 mm Hg atau < 130/80 mm Hg untuk pasien hipertensi dengan diabetes dan gangguan ginjal. b. Pasien mengerti pentingnya

4.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

47

kajian sehat

penyakit arteri perifer. Skrining semua pasien hipertensi untuk interaksi obat yang bermakna (dengan obat, nutrien ) III. Implementasi Kegiatan ini merupakan upaya melaksanakan rencana pelayanan kefarmasian yang sudah disusun. Kegiatan ini berupa menghubungi dokter untuk mengklarifikasi atau memodifikasi resep, memulai terapi obat, memberi edukasi kepada pasien atau keluarganya, dll. Apoteker bekerja sama dengan pasien untuk memaksimalkan pengertian dan keterlibatan pasien dalam rencana kefarmasian, yakinkan monitoring terapi obat (misalnya tekanan darah, evaluasi hasil lab dll) agar dimengerti oleh pasien dan pasien mengerti menggunakan semua obat dan peralatan. Apoteker mencatat tahap-tahap yang diambil untuk mengimplementasikan rencana kefarmasian termasuk parameter baseline monitoring dan hambatan5.

klinik tetap merupakan standar untuk pengobatan hipertensi. Respon terhadap tekanan darah harus di evaluasi 2 sampai 4 minggu setelah terapi dimulai atau setelah adanya perubahan terapi. Pada kebanyakan pasien target tekanan darah < 140/90 mm Hg dan pada pasien diabetes dan pasien dengan gagal ginjal kronik < 130/80 mm Hg. Monitoring kerusakan target organ; jantung, ginjal, mata, otak Pasien hipertensi harus di monitor secara berkala untuk melihat tandatanda dan gejala adanya penyakit target organ yang berlanjut. Sejarah sakit dada, palpitasi, pusing, dyspnea, orthopnea, sakit kepala, penglihatan tiba-tiba berubah, lemah sebelah, bicara terbatabata, dan hilang keseimbangan harus diamati dengan seksama untuk menilai kemungkinan komplikasi kardiovaskular dan serebrovaskular. Parameter klinis lainnya yang harus dimonitor untuk

samping obat. Untuk melihat toksisitas dari terapi, efek samping dan interaksi obat harus dinilai secara teratur. Efek samping bisa muncul 2 sampai 4 minggu setelah memulai obat baru atau setelah menaikkan dosis ( lihat tabel ). Kejadian efek samping mungkin memerlukan penurunan dosis atau substitusi dengan obat antihipertensi yang lain. Adapun interaksi obat antihipertensi dengan obat lain dapat dilihat pada tabel berikut. Monitoring yang intensif diperlukan bila terlihat ada interaksi obat, misalnya apabila pasien mendapat diuretik tiazid atau loop dan pasien mendapat digoksin, yakinkan pasien juga mendapat suplemen kalium atau ada obat-obat lain menahan kalium dan yakinkan kalium diperiksa secara berkala. Monitoring tambahan mungkin diperlukan untuk penyakit lain yang menyertai bila ada ( misalnya diabetes, dislipidemia dan gout ).

Kegiatan implementasi berupa menghubungi dokter untuk mengklarifikasi atau memodifikasi resep, memulai terapi obat, memberi edukasi kepada pasien atau keluarganya, dll, Apoteker bekerja sama dengan pasien untuk memaksimalkan pengertian dan keterlibatan pasien dalam rencana kefarmasian, yakinkan monitoring terapi obat (misalnya tekanan darah, evaluasi hasil lab dll) agar dimengerti oleh pasien dan pasien mengerti menggunakan semua obat dan peralatan.
hambatan apa yang perlu diperbaiki. IV. Monitoring Untuk mengukur efektifitas terapi, hal-hal berikut harus di monitor : 1. Tekanan darah. 2. Kerusakan target organ ; jantung, ginjal, mata, otak. 3. Interaksi obat dan efek samping. 4. Kepatuhan ( adherence ). Monitoring tekanan darah Memonitor tekanan darah di menilai penyakit target organ termasuk perubahan finduskopik, regresei LVH pada elektrokardiogram, proteinuria, dan perubahan fungsi ginjal. Parameter laboratorium untuk masingmasing obat dan asuhan kefarmasian dapat dilihat pada tabel berikut. Tes laboratorium harus diulangi setiap 6 sampai 12 bulan pada pasien yang stabil. Tabel monitoring obat antihipertensi sesuai dengan kelasnya. Monitoring interaksi obat dan efek

Monitoring kepatuhan / Medication Adherence dan konseling ke pasien Diperlukan upaya yang cukup besar untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Paling sedikit 50% pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminumnya sesuai dengan yang direkomendasikan. Satu studi yang dimuat dalam JAMA , 2002 menyatakan bahwa pasien yang menghentikan terapi anti hipertensinya

48

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

kajian sehat
kemungkinan terkena stroke lima kali lebih besar. Kurangnya kepatuhan mungkin disengaja atau tidak disengaja. Strategi yang paling efektif dalam menghadapi kepatuhan pasien adalah dengan kombinasi beberapa strategi seperti edukasi, modifikasi sikap, dan sistem yang mendukung. Strategi konseling untuk meningkatkan kepatuhan terapi obat antihipertensi adalah sebagai berikut : a. Lakukan penilaian kepatuhan pada setiap kunjungan. b. Diskusikan dengan pasien motivasi dan pendapatnya. c. Libatkan pasien dengan penanganan masalah kesehatannya. d. Gunakan keahlian mendengarkan secara aktif sewaktu pasien menjelaskan masalahnya. e. Bicarakan keluhan pasien dengan terapi. f. Bantu pasien dengan cara tertentu untuk tidak lupa meminum obatnya. g. Sederhanakan regimen obat ( seperti

Edukasi kepada pasien Beberapa hal penting untuk edukasi ke pasien tentang penanganan hipertensi:

Teknik mengukur tekanan darah Sewaktu mengukur tekanan darah yang benar pasien harus :

Mendiskusikan dengan pasien keuntungan terapi hipertensi sama pentingnya dengan mendiskusikan mengenai efek sampingnya. Apabila pasien mengerti keuntungan yang potensial dari penggunaan obat untuk hipertensi, pasien akan lebih cenderung untuk mematuhi terapinya. Sewaktu diskusi untuk efek samping obat, apoteker harus membicarakan bagaimana mencegah atau menagani efekefek samping bila muncul agar pasien meneruskan terapi obatnya.
mengurangi frekuensi minum, produk kombinasi ). h. Meminum obat disesuaikan dengan kebiasaan pasien sehari-hari. i. Berikan informasi tentang keuntungan pengontrolan tekanan darah. j. Beritahukan perkiraan efek samping obat yang mungkin terjadi. k. Berikan informasi tertulis mengenai hipertensi dan obatnya bila memungkinkan. l. Pertimbangkan penggunaan alat pengukur tekanan darah di rumah supaya supaya pasien dapat terlibat dalam penanganan hipertensinya. m. Bikan pendidikan kepada keluarga pasien tentang penyakit dan regimen obatnya. n. Libatkan keluarga dan kerabatnya tentang kepatuhan minum obat dan terhadap gaya hidup sehat. o. Yakinkan regimen obat dapat dijangkau biayanya oleh pasien. p. Bila memungkinkan telepon pasien untuk meyakinkan pasien mengikuti rencana pengobatannya. a. b. c. d. e. f. Pasien mengetahui target nilai tekanan darah yang diinginkan. Pasien mengetahui nilai tekanan darahnya sendiri. Sadarkan kalau tekanan darah tinggi sering tanpa gejala ( asimpto matik). Konsekuensi yang serius dari tekanan darah yang tidak terkontrol. Pentingnya kontrol yang teratur. Peranan obat dalam mengontrol tekanan darah, bukan menyembuh kannya. Pentingnya obat untuk mencegah outcome ( dampak ) klinis yang tidak diinginkan. Efek samping obat dan penanganannya. Kombinasi terapi obat dan non obat dalam mencapai pengontrolan tekanan darah. Pentingnya peranan terapi non farmakologi. Obat-obat bebas yang harus dihindari ( seperti obat-obat yang mengandung ginseng, nasal decongstan, dll ). a. Duduk tenang selama paling sedikit 5 menit sebelum tekanan darah diukur. Bagian punggung / belakang bersandar dan lengan sejajar dengan jantung. Telapak kaki menyentuh lantai dan kaki tidak boleh disilangkan. b. Gunakan pakaian yang nyaman, tanpa ada hambatan pada lengan. c. Bebas dari anxietas, stress, atau kesakitan. d. Berada diruangan dengan temperatur nyaman. e. Pasien tidak boleh meminum kopi selama sekitar 1 jam sebelum pengukuran. f. Pasien tidak boleh merokok selama 15-30 menit sebelum pengukuran. g. Pasien tidak boleh menggunakan obat atau zat yang mengandung stimulan adrenergik seperti fenilefrin atau pseudoefedrin. Metode palpatory ( perabaan ) harus digunakan dalan mengukur tekanan darah. V. Peran dan peluang buat Apoteker Selain melakukan asuhan kefarmasian

g.

h. i.

j. k.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

49

kajian sehat
seperti yang diuraikan diatas, dalam membantu penatalaksanaan hipertensi selain berinteraksi dengan pasien, apoteker berinteraksi dengan profesi kesehatan lainnya terutama dokter. Apoteker dapat menjadi perantara antara pasien dan dokter. Kebanyakan pasien terutama kalau sudah kenal baik dengan apotekernya selalu membeli obat di apotik yang sama. Selain dokter, apoteker adalah anggota tim kesehatan yang mempunyai akses kepada informasi tentang semua obat yang dikonsumsi pasien. Seringnya dokter tidak menyadari terapi atau obat-obat lain yang diresepkan oleh dokter lain kepada pasien. Dokter dan apoteker dapat bekerjasama sehingga target yang diinginkan dokter tercapai. Apoteker dapat membantu dalam hal : a. Memberi edukasi ke pasien mengenai hipertensi. b. Memonitor respon pasien di farmasi komunitas. c. Menyokong kepatuhan terhadap terapi obat dan non obat. d. Mendeteksi dan mengurangi reaksi efek samping, dan e. Merujuk pasien ke dokter bila diperlukan. Mendiskusikan dengan pasien keuntungan terapi hipertensi sama pentingnya dengan mendiskusikan mengenai efek sampingnya. Apabila pasien mengerti keuntungan yang potensial dari penggunaan obat untuk hipertensi, pasien akan lebih cenderung untuk mematuhi terapinya. Sewaktu diskusi untuk efek samping obat, apoteker harus membicarakan bagaimana mencegah atau menagani efek-efek samping bila muncul agar pasien meneruskan terapi obatnya. Beberapa studi di Amerika menurut American Journal of Health 2000, telah menunjukkan kalau apoteker yang bekerja di klinik hipertensi atau yang berkolaborasi dengan dokter sanggup memperbaiki penanganan pasien dengan hipertensi. Terapi non farmakologi memerlukan perhatian yang cukup besar oleh profesi kesehatan agar berhasil. Terapi nonfarmakologi memerlukan perubahan sikap, dorongan dan nasehat yang terus menerus. Dengan membantu pasien bagaimana melakukan perubahan / modifikasi kedalam gaya hidupnya dapat membantu pasien mencapai tujuan ini. Misalnya apoteker dapat mendiskusi kan mengenai olah raga, menurunkan berat badan dan berhenti merokok. (A-1)

KOLESTEROL TINGGI KUATKAN INGATAN
Banyak orang khawatir jika kolesterol mereka tinggi karena bisa memicu penyakit jantung. Para dokter pun banyak menganjurkan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Namun, menurut hasil penelitian berjudul “Arterioscleros , Thrombosis and Vascular Biology”, tidak selamanya kolesterol tinggi berefek merugikan. Justru bisa sebaliknya, bermanfaat menjaga daya ingat sehingga bisa mencegah kepikunan. Para peneliti melakukan pemeriksaan kadar kolesterol lebih dari 3500 pegawai negeri Inggris dan memberikan mereka uji memori dengan usia rata-rata 55 – 61 tahun. Untuk tes tersebut, sukarelawan dibacakan daftar 20 kata dan diminta untuk menuliskannya kembali sebanyak yang mereka ingat. Mereka diberi batas waktu 2 menit. Hasil pengujian itu menunjukkan sukarelawan yang memiliki kadar kolesterol tinggi mengerjakan tes tersebut dengan lebih baik. Sebaliknya , kinerja peserta dengan tingkat kolesterol rendah menurun. (MI/A-1)

SINDROMA METABOLIK
Sindroma metabolik ditandai dengan kelebihan lemak pada bagian perut, tingginya kolesterol dalam darah, tingginya tekanan darah dan tingginya kadar glukosa dalam darah. Bagi seorang lanjut usia ( lansia ) yang beresiko terkena penyakit jantung, me milih menu ala Mediterania ditambah dengan sajian kacangkacangan bisa membantu mengurangi sindroma metabolik. Inilah hasil penelitian Tim Universitas Rovira I Virgill, Sepanyol. Diet Mediterania meliputi sereal, sayuran, buah-buahan dan minyak zaitun serta ikan dan alkohol dalam jumlah moderat, susu rendah kolesterol serta mengurangi makanan yang serba manis. (A-1, KT)

Sebuah temuan yang dimuat dalam Journal of Clinical Hypertension menyebutkan bahwa menu yang tinggi Potasium ( K ) bisa memperkecil resiko seseorang menderita tekanan darah tinggi serta ada kemungkinan dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Sebaliknya makanan tinggi sodium ( Na ) dapat menyumbang meningkatnya prevalensi tekanan darah tinggi. Masukan potasium juga merupakan salah satu faktor pemicu kalangan vegetarian memiliki kondisi rendah terserang penyakit jantung. Makanan tinggi potasium banyak terdapat pada tomat, apprikot, pisang,dsb sedangkan makanan tinggi sodium ( Na ) terdapat makanan yang banyak garamnya ( NaCl ) dan mono sodium glutamat seperti jajanan mie bakso , jajanan anak-anak dan “ junkfood “lainnya. ( A-1 ).

HIPERTENSI

50

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info alami

SERIAL TANAMAN OBAT
Dikutip dari buku kecil Direktorat Obat Asli Indonesia , Deputi II Badan Pengawas Obat dan Makanan
vulgarae dan di disebut bitter f fennel, l d b bi l sedang d yang manis dihasilkan dari varietas dulce disebut sweet fennel atau roman fennel . Kedua varietas itu digunakan dalam industri obat-obatan. Selain sebagai obat, adas juga dipakai sebagai bumbu masak, pewangi sabun, deterjen, krim, parfum dan sebagai corrigens saporis ( memperbaiki rasa ) dan mengharumkan ramuan obat. Daun adas bisa dimakan sebagai sayuran. Kandungan kimia utama dari tanaman adas adalah minyak atsiri (Oleum Foeniculi). Komponen utama minyak atsiri adalah trans-anetol dan limonen. Komponen lainnya adalah estragol, fenkon, terpinen, senyawa kumarin dan xanthotoxin, beta-sitosterol, alfa-amirin, asam klorogenat, dan quercetin-3-Obeta glukoronida, serposterin, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat dan minyak lemak. Kadar minyak atsiri dalam buah adas adalah 1-6 % yang terdiri dari 50-60% anethol, 20 % terdiri dari fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat dan 12 % minyak lemak. Aroma yang khas berasal dari anethol dan berkhasiat sebagai karminatif (mengeluarkan angin dari kembung. Komposisi minyak adas yang A . ADAS Adas ( Foeniculum vulgarae Mill atau Foeniculum officinale All. Atau Anethum foeniculum L ) merupakan salah satu tanaman famili Apiaceae, dapat tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Tinggi berkisar 0,5 – 3 meter dan tumbuh merumpun 3-5 batang. Merupakan yang banyak digunakan dalam pembuatan jamu atau obat tradisional. Jumlah pemakaian pada tahun 2003 saja mencapai 61,6 ton, suatu peluang yang cukup baik buat usaha tani. Di Thailand namanya Phong karee, di Malaysia disebut jinten manis, di Aceh namanya das padas, adas pedas (Melayu), adeh manih (Minang), hades (Sunda) , adas landi (Jawa), adhas (Madura) , paampang, paampas (Manado), rempasu (Makassar), adase (Bugis) , adas (Bali) dan wala wunga (Sumba). Mengingat banyak manfaatnya , tanaman ini banyak dibudidayakan di berbagai negara. Minyak adas diperoleh dengan penyulingan buah adas yang sudah masak. Yang menimbulkan rasa khas dan menyegarkan pada adas adalah anethol, sehingga kadar anethol merupakan penentu kualitas minyak adas. Ada dua macam rasa minyak adas yaitu yang pahit dihasilkan dari varietas berasal dari vulgare ( pahit b ld i varietas i l hi ) terdiri di i dari trans-anetol (50-75%) , fenkon (12-33 %), estragolr (2-5%), sedang varietas dulce (manis) terdiri dari trans-anethol (80-90%), fenkon (1-10%), estragole (3-10%). Penyimpanan biji dalam 2 bulan akan menurunkan kadar anethol sampai 54,4 %. Kegunaan secara empiris (pengalaman dan pengamatan). Berkhasiat menghilangkan dingin, melancarkan peredaran darah, penghilang nyeri (analgesik ), menyehatkan lambung (karminatif ) dan meningkatkan nafsu makan, peluruh dahak (ekspektorans), peluruh kentut (karminatif ), dan perangsang produksi ASI (laktagogum). Minyak bijinya (fennel oil) berkhasiat sebagai stimulan, karminatif, anti bakteri dan antelmintik. Daun adas berbau aromatik dan berkhasiat sebagai stimulan, peluruh kencing (diuretik), laktagogum, stomakik dan menerangkan penglihatan. Herba berkhasiat sebagai anti emetik dan akar sebagai pencahar dan diuretik. Efek secara farmakologis Minyak atsiri yang berasal dari buah berefek pada penghambatan kontraksi trakeal marmot yang diakibatkan

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

51

info alami
oleh histamin. Juga mempunyai daya antibakteri terhadap bakteri yang resisten antibiotik sebesar 0,16 %. Infus buah Foeniculum vulgare dapat berefek pada penghambatan masa subur. Efek analgesik terjadi pada mencit jantan yang diberi infus buah dengan dosis 910 mg/kg BB. Ekstrak biji adas yang diperoleh dengan cara perkolasi dengan etanol 50% dan diberikan pada mencit dengan dosis 1000 mg / kg BB selama 3 hari mempunyai efek estrogenik. B. BAWANG SABRANG Bawang Sabrang (Eleutherine americana (Aubl.) Merr) dari famili Liliaceae. Bawang yang bentuk dan warna umbinya mirip bawang merah ini tumbuh hampir di seluruh wilayah , di Sumatera disebut bawang kapal, di Kalimantan disebut bawang tiwai, dan di Jawa Tengah disebut bawang seberang. Dapat tumbuh pada ketinggian 600 – 1500 m di atas permukaan laut. Kandungan kimia bawang sabrang adalah senyawa elekanisin, eleuterol, eieuterin, iso eleuterin (Hara et al.,1997). Penggunaan secara tradisional, bawang sabrang berkhasiat sebagai obat sakit perut dan peradangan poros usus. Umbinya juga digunakan sebagai diuretik , pencahar, peluruh muntah, obat penyakit kuning, penyakit kelamin dan mencret darah. Daunnya digunakan sebagai minuman pada waktu nifas.. Penggunaan lain secara tradisional untuk disuria, radang usus, disentri, penawar racun ikan, luka dan bisul, sedangkan daunnya berguna untuk demam nifas dan emetik. Penelitian farmakologi Eleutrin mampu mengimbibisi enzim topoisomerase II, sedangkan isoeleuterin dan isoeleuterol menunjukkan aktifitas inhibisi terhadap replikasi HIV. Senyawa 9,9’ dihidroksi-8,8’ dimetoksi-1- dimetil-1H, 1H’-( 4,4’)bis(nafta(2,3-c)funanil)-3,3’dion; 6,8-dihidroksi-3,4-dimetoksi-1metil-antrakuin-on-2-metil karboksilat; dan 2-asetil-3,6,8-trihidroksi-1-metil antrakuinon mampu menghambat pertumbuhan Pyricularia oryzea, selain itu 2-asetil 3,6,8,- trihidroksi-metil antrakuinon juga menginhibisi profliferasi lini sel kanker eritroleukemia. C. BROTOWALI Brotowali ( Tinospora crispa L. Atau Cocculus crispus L.DC famili Menispermaceae merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat banyak untuk kesehatan manusia. Digunakan sebagai obat penyakit diabetes melitus, sakit perut, sakit kuning dan malaria. Umumnya tumbuh liar , belum dibudidayakan secara intensif. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan bitter grape, di Cina dikenal dengan nama Shen jin teng. Nama lain Andawali ( Sunda ), Antawali ( Bali ), Daun gadel, Bratawali, putrawali (Jawa), Putarwali ( Malaysia ), Makabuhay ( Filipina ), Akar Putarwali (Singapore ) , Boraphet ( Thailand ). Tanaman perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 m, berbintil-bintil rapat dan tidak beraturan, kulit batangnya mudah terkelupas dan berasa sangat pahit. Kandungan kimia batang brotowali mengandung zat pahit , yaitu pikroretin dan senyawa lainnya seperti berberin, tinokrisposid, saponin, tannin, kolumbin, palmatin, kaempferol dan pati. Menurut peneliti lain batangnya mengandung tinosporin, tinospordine, picroretine, N-trans-feruloyl tryamine, N-cis-feruloyl tyramine, tinobuberide borapetoside A, borapetol A ceryl alkohol, beta-sitosterol, stigmasterol dan phytosterol. Daunnya mengandung alkaloida dan suatu zat yang belum jelas dan mempunyai rasa yang manis.. Akarnya mengandung berberine dan columbine. Ekstrak kloroform yang diperoleh dari batang segar dapat diisolasi suatu senyawa alakloid, berupa kristal putih berbentuk jarum, berasa sangat pahit dengan titik lebur 124-125 C. Efek Farmakologi Pada percobaan dengan mencit menunjukkan pada pemberian dengan dosis 30 mg / kg berat badan efektif menurunkan kadar gula darah. Namun penurunan kadar gula tidak berbanding lurus dengan peningkatan dosis yang diberikan. Pemberian ekstrak secara oral dengan dosis 5 gram/kg berat badan terhadap tikus pada hari ke 1-5 kehamilan menyebabkan pengurangan implantasi yang bermakna, namun kalau diberikan pada hari ke 6 – 9 tidak terjadi efek anti implantasi. Brotowali memiliki efek analgesik ( mengurangi rasa sakit ), antipiretik (menurunkan demam), anti inflamasi (anti radang), hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah). Secara tradisional brotowali digunakan untuk mengobati nyeri perut, demam, kencing manis, dan kudis. D. CABE JAWA Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl atau Piper officinarum D.C.) termasuk 10 besar simplisia nabati yang banyak digunakan oleh indutri obat tradisional dan menmpati urutan keenam. Kebutuhan cabe Jawa sangat besar baik di pasar domestik maupun ekspor. Prospek pengembangan cabe Jawa cukup cerah sejalan dengan perkembangan industri obat herbal. Cabe Jawa atau lada panjang banyak terdapat di Jawa dan Sumatera dengan nama cabe Jawa,cabe jamu, cabe solah (Madura ), cabia ( Sulawesi). Termasuk famili Piperaceae, merupakan tanaman semak yang menjalar sampai 12 meter. Batang berbentuk bulat, berkayu, membelit, beralur, berruas dan berwarna hijau. Berakar tunggang dengan warna putih pucat. Daun tunggal berbentuk lonjong. Buah berbentu lonjong dengan panjang 2-7 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau, keras dan pedas. Warna buah yang tua berangsur-angsur menjadi kuning gading dan akhirnya menjadi merah, lunak dan manis. Biji cabe jawa berbentuk bulat pipih dan keras dengan warna coklat kehitaman. Tanaman ini tahan terhadap naungan dan mudah dalam pemeliharannya dan dapat ditanam sebagai pengisi lahan ataupun sebagai tanaman pagar. Buah cabe mengandung zat pedas piperine 4-6 %, metilpiperat, steroid dengan komponen beta-sitosterol, beta D-glukopirenosida, chavicine, palmetic acid, tetrahydropiperic acids, 1undecylenyl-3,4-metil enedioky benzena, piperidin, minyak atsiri, N- isobutil dekatrans-4-dienamide, resin dan sesamin. Mempunyai efek antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan syaraf pusat. Secara tradisional digunakan untuk mengobati sakit kembung, mulas, muntah, memperbaiki pencernaan, merangsang nafsu makan, mengobati encok , mengobati tekanan darah rendah, demam, sakit kepala, sakit gigi, batuk, hidung berlendir, lemah syahwat, sukar melahirkan, neurastenia, peluruh keringat ( diaforetik ) dan karminatif ( peluruh kentut ) , stimulan dan afrodisiak.

52

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info aktual

Public Warning 2008
Selama tahun 2008 Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengeluarkan 3 Peringatan Publik (Public Warning), yaitu : 1. PUBLIC WARNING / PERINGATAN Nomor : KH.00.01.43.2773 Tanggal : 2 Juni 2008 TENTANG OBAT TRADISIONAL MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT 2. PUBLIC WARNING/PERINGATAN Nomor : KH.00.01.43.5847 Tanggal : 14 November 2008 TENTANG OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN MAKANAN BERKHASIAT PENAMBAH STAMINA PRIA MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT 3. PUBLIC WARNING/PERINGATAN Nomor KH.00.01.432.6147 Tanggal 26 November 2008 Tentang KOSMETIK MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN ZAT WARNA YANG DILARANG Untuk itu diharapkan kerjasama masyarakat seluruh Indonesia agar tidak membeli dan mengkonsumsi produkproduk yang disebutkan di dalam public warning tersebut. Walaupun efek yang disebutkan belum terlihat atau berefek ditubuh pengkonsumsi akan tetapi pemakaian semua produk tersebut harus dihentikan. Kepada masyarakat / konsumen yang memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM RI di Jakarta, nomor telepon : 021 – 4263333 atau Balai Besar / Balai POM di seluruh Indonesia. OBAT TRADISIONAL MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT Berdasarkan hasil pengawasan obat tradisional melalui sampling dan pengujian laboratorium Tahun 2007, Badan POM telah memerintahkan untuk menarik dari peredaran pada Tahun 2007 sebanyak 54 (lima puluh empat) item produk obat tradisional yang dicampur dengan Bahan Kimia Obat Keras yaitu Sibutramin Hidroklorida, Sildenafil Sitrat, Siproheptadin, Fenilbutason, Asam Mefenamat, prednison, Metampiron, Teofilin, dan obat Parasetamol. Berbagai resiko dan efek yang tidak diinginkan dari penggunaan Bahan Kimia Obat tanpa pengawasan dokter sebagai berikut: a. Sibutramin Hidroklorida merupakan obat pelangsing dengan mekanisme kerja menghambat pengambilan kembali serotonin dan norepinefrin diberikan dengan atau tanpa makanan (Stimulant central). Efek samping dari obat ini dapat meningkatkan tekanan darah (hipertensi), denyut jantung serta sulit tidur. Obat ini tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner, gagal jantung kongestif, aritmia atau stroke. b. Sildenafil Sitrat oleh masyarakat dikenal dengan nama Viagra, Revatio, dan berbagai nama lain, merupakan obat yang digunakan untuk terapi disfungsi ereksi (impotensi) dan hipertensi arteri paru-paru efek samping dari penggunaan obat ini dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, dispepsia, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, rinitis (radang hidung), infark miokard, nyeri dada, palpitasi (denyut jantung cepat) dan kematian. • Siproheptadin pada umumnya diindikasikan untuk Manifestasi alergi di kulit atau pada urtikaria dan angioedema, Cold urticaria , Alergi rhinitis, Vasomotor rhinitis dapat menyebabkan mual, muntah, mulut kering, diare, anemia hemolitik, leukopenia, agranulositosis dan trombositopenia. • Fenilbutason merupakan salah satu obat turunan pirazol (fenazon) yang bekerja sebagai analgetika, antipiretik dan antiinflamasi. Efek samping dari obat ini dapat menyebabkan mual, muntah, ruam kulit, retensi cairan dan elektrolit (edema), pendarahan lambung, nyeri lambung, dengan pendarahan atau perforasi, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, nefritis, gagal ginjal, leukopenia, anemia aplastik, agranulositosis dan lain-lain. Karena efek

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

53

info aktual
Berikut nama obat tradisonal yang ditarik peredarannya
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. Nama Obat Tradisional / No.Pendaftaran Pacegin Kapsul Alami TR.043336341 Neo Gemuk Sehat Merk F. Munir TR.993202281, TR.993202282, TR.993202283 Ganoderma Capsule Factory Mencantumkan Sela kapsul Hemacare Bima Kudra Tablet Ajib Kapsul Kamasutra kapsul Asam Urat Flu tulang Cap onta kapsul Akar baru cina tablet Ramuan cina kapsul Jasa agung 2 sebuk Sesak nafas serbuk Sari bunga segar bugar sebuk Jawa dwipa cap daun sambiroto cairan obat dalam Pria dewasa ocema kapsul TR. 053348331 Golden Herbal capsules TI. 054316541 Obat kuat dan Tahan Lama Ratu Madul Plus Kapsul Pegal linu + asam urat cap burung glatik serbuk Akar sakti asam urat flu tulang stroke tablet Asam urat flu tulang cikunguya tablet Asam urat flu tulang karisma sehat serbuk Sinar manjur SMR serbuk Runrat (asam urat) tablet TR. 001507961 Ramuan Shin She Kapsul Sehat sentosa gemuk sehat serbuk Serbuk dewa Sumber sehat perempuan serbuk Sumber sehat ambeien sehat serbuk Cakra sehat sesak nafas serbuk Sebuk halus asam urat Kharisma sehat pria dan wanita serbuk Sumber urip pegal linu serbuk Serbuk segar asam Super abad 21 asam urat flu tulang (wallet) serbuk Flu tulang Pegal linu puspita surya serbuk Cap sarang lawet serbuk Asam urat (flu tulang) akar sewu Asam urat flu tulang cakra wijaya serbuk 26 sakit pinggang kapsul Zestos kapsul TR.043338931 Sari Jagad Manjur Asam Urat Kapsul Sari Jagad Manjur Rheumatik Kapsul Dewa ampuh serbuk Serbuk asrema Purba sentosa pegal linu/rheumatik serbuk Asam Urat pegal linu serbuk Ramuan manjur pas flu tulang reumatik serbuk Dua Putri bayan (asam urat) kapsul Fong se wan kapsul Asam urat-flu tulang cap onta mas kapsul Obat kuat dan tahan lama bulan madu kapsul Langsing ayu sing ayu kapsul (TR. 053353501) Chuifong Toukuwan Pil Jaka Suna Gewmuk Sehat Serbuk Nama Produsen /Importir yang Tercantum pada Penandaan Akar Pinang. PJ, Kuningan F. Munir. PJ, Tangerang Hangzhou Chinese Drug PT Sibutramin Bima Putra. PJ Garda Kanoman. PJ Solo Putra Jawa. PT, Surabaya Serambi Super. PJ, Cilacap Bayu Segeratama. PJ, Jateng Ramuan Cina. PJ, Cilacap Jasa Agung., PJ, Cilacap Surya Sehat., PJ, Cilacap Sari bunga., PJ, Cilacap Sambiroto. UD, Banyuwangi Sumber makmur Mandiri. PJ, Semarang Beijing Kowloon Pharmaceutical Factory Beijing, China/Pacific Republika Internastional, PT, Jakarta Ratu Lebah. PJ, Jakarta Sinar Glatik PD, Jateng Putra Bayutama Sakti. PJ, Jateng Lestari Alam. PJ, Jateng Kuda Laut. PJ, Jateng Candi Guna Jaya. PJ, Cilacap Serbuk Manjur Jaya. PJ, Cilacap Alam Tiongkok. PJ, Cilacap Sehat Sempurna. PJ, Cilacap Putra Sanjoyo Perkasa. PJ, Banyumas Sumber Sehat. PJ, Cilacap Sumber Sehat. PJ, Cilacap Kopja Aneka Sari, Cilacap Asuh Raga, PJ. Cilacap Kharisma. PJ, Cilacap Sumber Urip. PJ, Cilacap Kurnia Alam. PJ, Cilacap Jasa Sejati. PJ, Cilacap Lawet Langgeng. PJ, Cilacap Lawet Langgeng. PJ, Cilacap Awujos. PJ, Banyumas Kopja Sabuk Kuning, Banyumas Hari Fatma. PT, Jakarta Sari Bumi. PJ, Jakarta Sari Bumi. PJ, Jakarta Sari Sejahtera. PJ, Bogor Pakar Lawang. PJ, Cilacap Maju Jaya. PJ, Cilacap Purba Sentosa. PJ, Cilacap Kumbang Mas. PJ Silanba Jaya. PJ, Cilacap Sehat Mujarab. PJ, Cilacap China Serambi Super. PJ, Cilacap Air Madu. PJ, Magelang Madura Sakti. PJ, Semarang Nanlien Utama Pharmindo. PT, Tangerang Jasa Suna. PJ, Cilacap Positif Mengandung Fenilbutason Siproheptadin Siproheptadin Hidroklorida Sildenafil Sitrat Sildenafil Sitrat Sildenafil Sitrat Sildenafil Sitrat Sildenafil sitrat Parasetamol Fenilbutason Teofilin Parasetamol fenilbutason Sildenafil sitrat Sildenafil sitrat Sildenafil sitrat Fenilbutason dan metampiron Parasetamol Fenilbutason dan parasetamol Parasetamol Fenilbutason Fenilbutason Fenilbutason Parasetamol metampiron Fenilbutason Fenilbutason Teofilin Parasetamol Metampiron Metampiron Parasetamol Parasetamol Parasetamol Parasetamol Parasetamol Metampiron Parasetamol Sildenafil sitrat Parasetamol Prednison Fenilbutason dan parasetamol parasetamol Fenilbutason dan parasetamol Fenilbutason dan parasetamol Fenilbutason parasetamol Fenilbutason dan parasetamol Fenilbutason dan parasetamol Sildenafil sitrat Sibutramin Hidroklorida Asam mefenamat Metampiron Keterangan No. Reg dibatalkan No. Reg dibatalkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif No. Reg Dibatalkan No. Reg Dibatalkan Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif No. Reg dibatalkan Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Tidak terdaftar Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif No. Reg dibatalkan Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif No. Reg dibatalkan Mencantumkan No. Reg Fiktif Mencantumkan No. Reg Fiktif

samping yang sering terjadi dan sebagian parah dengan kadang-kadang proses yang mematikan maka indikasi untuk fenilbutazon sangat dibatasi. Senyawa ini hanya masih boleh diberikan pada serangan pirai akut sebesar 400-800 mg sehari selama tiga hari, pada morbus Bechterew 400-600 mg, dengan jangka waktu pengobatan satu minggu tidak

boleh dilewati • Asam Mefenamat merupakan salah satu obat golongan NSAID (Nonsteroidal Anti- Inflammatory) yang biasa digunakan sebagai obat nyeri dan radang pada rheumatoid atritis dan gangguan otot skelet. Obat ini dapat menyebabkan mengantuk, diare, ruam kulit, trombositopenia, anemia hemolitik

dan kejang serta dikontraindikasikan bagi penderita tukak lambung/usus, asma dan ginjal. • Prednison termasuk obat golongan steroid ( kortikosteroid ) yang dapat digunakan untuk terapi pada reumatoid artritis, alergi berat, multipel sklerosis, lupus, asma, meningitis, beberapa jenis kanker, dan berbagai jenis penyakit mata

54

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info aktual
dan kulit. Juga digunakan pada kasus peradangan berat dan gejala kekurangan kortikosteroid dan adrenalin dalam tubuh. Efek samping dari obat ini adalah dapat menyebabkan moon face; gangguan saluran cerna seperti mual dan tukak lambung; gangguan muskuloskeletal seperti osteoporosis; gangguan endokrin seperti gangguan haid; gangguan neuropsikiatri seperti ketergantungan psikis, depresi dan insomnia; gangguan penglihatan seperti glaukoma; dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. • Metampiron adalah suatu derivat Pirazolon yang mempunyai efek analgetika-antipiretika yang kuat. Pada pemakaian yang teratur dan untuk jangka waktu yang lama, penggunaan obatobat yang mengandung Metampiron kadang-kadang dapat menimbulkan kasus agranulositosis selain itu juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, pendarahan lambung, rasa terbakar serta gangguan sisten saraf seperti tinnitus (telinga berdenging) dan neuropati, gangguan darah, pembentukan sel darah dihambat (anemia aplastik), gangguan ginjal, syok, kematian dan lainlain • Teofilin merupakan derivat xanthin yang paling kuat efek bronkodilatornya dibandingkan derivat xanthin yang lainnya. Teofilin digunakan sebagai terapi penyakit asma dengan mekanisme kerja menurunkan bronkospasme akibat beban kerja, mengurangi hiperaktivitas bronkus non spesifik. Teofilin juga menghambat degranulasi sel mast dengan akibat mencegah penglepasan mediator yang dapat menimbulkan bronkospasme dan inflamasi saluran napas. Efek samping dari teofilin ini antara lain takikardi, aritmia, palpitasi, mual, gangguan saluran cerna, sakit kepala dan insomnia. • Parasetamol (Asetaminofen) merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan sehari-hari. Obat ini berfungsi sebagai pereda nyeri dan penurun panas. Penggunaan jangka panjang obat ini dapat menyebabkan gangguan kerusakan hati. Berikut nama obat tradisonal yang ditarik peredarannya : OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN MAKANAN BERKHASIAT PENAMBAH STAMINA PRIA MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT Penarikan 22 merek yang terdiri atas obat impor maupun lokal, jamu, dan suplemen. obat kuat dilakukan setelah BPOM menerima hasil pengujian laboratorium dan laporan masyarakat. Uji laboratorium ini dilakukan sejak Januari 2008. Hasil uji laboratorium tersebut menunjukkan, 22 obat kuat mengandung bahan kimia berbahaya bagi manusia. Sebagian merek mengandung Slidenafil sitrat sedangkan sisanya mengandung Tadalafil bahkan ada pula yang mengandung kedua bahan kimia itu sekaligus. Sildenafil sitrat bagi manusia adalah dapat menyebabkan sakit kepala, mual, gangguan penglihatan, radang hidung, nyeri dada, palpitasi (denyut jantung menjadi lebih cepat), maupun kematian. Sedangkan Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, pusing, mual, diare, muka memerah, hidung tersumbat, dan potensi seks hilang secara permanen. Tadalafil bersifat melebarkan pembuluh darah yang menyebabkan penurunan tekanan darah maupun pasokan ke darah. Dua zat kimia ini seharusnya dikonsumsi atas petunjuk atau resep dokter. Kandungan kimia tersebut bisa menyebabkan kematian jika dikonsumsi dalam porsi yang banyak. Oleh karena itu, warga masyarakat harus berhati-hati ketika mengkonsumi obat kuat tradisional maupun suplemen. Daftar Obat Kuat Pria yang Ditarik: 1. Blue Moon - PT Pasific Helathcare Indonesia, Jakarta 2. Tripoten - PT Dexa Medica, Palembang 3. Caligula - Pabrik Jamu Air Madu, Magelang 4. Cobra X - Pabrik Jamu PI Ragil Sentosa, Cilacap 5. Kuat Tahan Lama - PD Jamu Moro Sehat, Banjarnegara 6. Lak Gao 69 - Pabrik Jamu Jaya Sakti Mandiri, Semarang 7. Lavaria - PT Rama Farma, Jakarta 8. Maca Gold - PT Paramitra Media Perkasa, Jakarta 9. Okura - PT Herbalindo Sukses Makmur, Tangerang 10. Otot Madu, PT Rama Farma, Jakarta 11. Rama Stamina - PT Rama Farma, Jakarta 12. Sanomale - PT Pyridam Farma, Cianjur 13. Sari Madu - Pabrik Jamu Sari Madu Murni 14. Sunni Jang Wang Xeong Ying (kapsul) - PT Cahaya Pil Teknologi Farmasi, Jakarta 15. Teraza - Produksi PT Rama Farma, Jakarta 16. Top One - Pabrik Jamu Paladiva, Solo 17. Urat Perkasa - Pabrik Jamu SM Jaya, Cilacap 18. Ju-mex - CV Mega Maju Mekar, Jakarta Obat/jamu Impor 1. Hwang Di Shen Dan - PT Multi Usaha Sentosa 2. Manovel - PT Sari Sehat Q Capung Indah Abadi, Magelang. 3. Stanson - PT Rajawali Sukses, Jakarta. 4. Sunni Jang Wang Xeong Ying Dan (pil) - PT Cahaya Pil Teknologi Farmasi, Jakarta

KOSMETIK MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN ZAT WARNA YANG DILARANG Pada tanggal 26 November 2008 Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI di Jakarta, Husniah Rubiana Thamrin Akib mengumumkan daftar penarikan 27 merek kosmetik yang berbahaya karena positif mengandung bahan berbahaya dan zat warna yang dilarang digunakan dalam kosmetik. bahan berbahaya dan zat berwarna yang dimaksud adalah Merkuri (Hg), Asam Retinoat, zat warna Rhodamin (warna merah K.10 dan merah K.3). Penggunaan bahan tersebut dalam sediaan kosmetik dapat membahayakan kesehatan dan dilarang digunakan sesuai dengan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.445/MENKES/PER/V/1998 tentang Bahan, Zat Warna, Substratum, Zat Pengawet dan Tabir Surya dalam Kosmetik dan Keputusan Kepala BPOM No. HK.00.05.4.1745 tentang Kosmetik yang ditetapkan pada tanggal 23 September 2008. Berdasarkan sumber produk, dari total 27 merek yang dilarang peredaran oleh Badan POM, 11 merupakan produk impor dari China dan Jepang, 8 dari produsen lokal (Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Bandung) dan 8 tidak jelas produsen serta asal usulnya. Berikut adalah ke-27 produk yang disebutkan dalam Surat Peringatan Kepala BPOM No. KH.00.01.432.6147 :

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

55

info aktual
Untuk melindungi masyarakat/ konsumen dari resiko bahan berbahaya berdasarkan Ordonansi Bahan Berbahaya Badan POM telah menginstruksikan kepada produsen/importir/distributor untuk melakukan penarikan produk tersebut dari peredaran dan memusnahkannya. Kegiatan memproduksi, mengimpor dan atau mengedarkan produk yang tidak memenuhi standar adalah melanggar UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan kegiatan tersebut juga melanggar UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta Ordonansi Bahan Berbahaya, Stb tahun 1949 No. 377. Bahan Berbahaya yang terkandung di dalam Kosmetik : 1. Merkuri Merkuri inorganik dalam krim pemutih (yang mungkin tak mencantumkannya pada labelnya) bisa menimbulkan keracunan bila digunakan untuk waktu lama. Walau tidak seburuk efek merkuri gugusan yang tertelan (yang dari makan ikan tercemar), tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Walaupun cuma dioleskan ke permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk kedalam darah, lalu memasuki sistem saraf tubuh. Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai gangguan sistem saraf, seperti tremor, insomnia, kepikunan, gangguan penglihatan, gerakan tangan abnormal (ataxia), gangguan emosi, selain depresi. Oleh karena umumnya tak terduga kalau itu penyakitnya, kasus keracunan merkuri, sering salah didiagnosis sebagai kasus Alzheimer, Parkinson, atau penyakit gangguan otak. 2. Tretinoin/Asam Retinoat Asam retinoat atau retinoic acid dapat menyebabkan kulit kering, atau kulit/ wajah serasa terbakar, dan cacat pada janin (teratogenik). 3. Pewarna Merah K.10 ( Rhodamin B ) dan Merah K.3 Pewarna Merah K.10 ( Rhodamin B ) dan Merah K.3 (CI Pigment Red 53 : D&C Red No. 8 : 15585) merupakan zat warna sintetis yang pada umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan

1.

2.

3.

4.

5. 6. 7.

8.

9.

10.

11. 12. 13. 14. 15.

Doctor Kayama (Whitening Day Cream) diproduksi oleh CV. Estetika Karya Pratama, Jakarta mengandung merkuri. Doctor Kayama (Whitening Night Cream) diproduksi oleh CV. Estetika Karya Pratama, Jakarta mengandung merkuri. MRC Putri Salju Cream diproduksi oleh CV. Ngongoh Cosmetic, Bekasi mengandung retinoic acid. MRC PS Crystal Cream diproduksi oleh CV. Ngongoh Cosmetic, Bekasi mengandung retinoic acid. Blossom Day Cream, tak diketahui produsennya, mengandung Merkuri. lossom Night Cream, tak diketahui produsennya, mengandung Merkuri. Cream Malam, distributor Lily Cosmetics, Yogyakarta mengandung Merkuri. Day Cream Vitamin E Herbal diproduksi PT. Locos, Bandung mengandung Merkuri. Locos Anti Flek Vit.E dan Herbal diproduksi PT. Locos, Bandung mengandung Merkuri. Night Cream Vitamin E Herbal diproduksi PT. Locos, Bandung mengandung Merkuri. Kosmetik Ibu Sari Krim Siang, tidak ada produsennya, mengandung Merkuri. Krim Malam, tidak ada produsennya, mengandung Merkuri. Meei Yung (putih) diimpor dari Huang Zhou mengandung Merkuri. Meei Yung (kuning) diimpor dari Huang Zhou mengandung Merkuri. New Rody Special (putih) diimpor

16.

17. 18.

19.

20.

21.

22. 23.

24.

25. 26.

dari Shenzhen, China mengandung Merkuri. New Rody Special (kuning) diimpor dari Shenzen, China mengandung Merkuri. Shee Na Whitening Pearl Cream dari Atlie Cosmetic mengandung Merkuri Aily Cake 2 in 1 Eye Shadow “01” , tidak ada produsennya, mengandung merah K.3. Baolishi Eye Shadow diproduksi dari Baolishi Group Hongkong mengandung Rhodamin B (merah K.10). Cameo Make Up Kit 3 in 1 Two Way Cake dan Multi Eye Shadow dan Blush dari Tailamei Cosmetic Industrial Company mengandung Rhodamin B. Cressida Eye Shadow, tak ada produsennya, mengandung Rhodamin B. KAI Eye Shadow dan Blush On mengandung Rhodamin B. Meixue Yizu Eye Shadow diproduksi oleh Meixue Cosmetic Co.Ltd mengandung Merah K.10 (Rhodamin B). Noubeier Blusher diproduksi oleh Taizhou Xhongcun Tianyuan mengandung Merah K 3. Noubeier Blush On mengandung merah K 3 dan Rhodamin B. Noubeier Pro-make up Blusher No.5 diproduksi oleh Taizhou Zhongcun Tianyuan Daily-Use Chemivals Co Ltd mengandung merah K3.Sutsyu Eye Shadow diproduksi oleh Sutsyu Corp Tokyo mengandung Merah K3.

56

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

kanker) serta Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. 4. Hidroquinon, Selain ketiga bahan tersebut, hidroquinon juga merupakan bahan yang sering digunakan sebagian produsen kosmetik pemutih karena hidroquinon mampu mengelupas kulit bagian luar dan menghambat pembentukan melanin yang membuat kulit tampak hitam. Namun, penggunaan hidroquinon dalam kosmetika bebas tak boleh lebih dari 2 persen. Jika kandungannya diatas 2 % harus di bawah kontrol dokter dan dapat dikategorikan sebagai bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan hidroquinon yang berlebihan bisa menyebabkan oochronosis terhadap orang berkulit gelap. Oochronosis adalah kulit berbintil seperti pasir dan berwarna coklat kebiruan. Penderita oochronosis akan merasa kulit seperti terbakar dan gatal. Dengan demikian Hidroquinon ini dapat digolongkan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy), kanker darah (leukemia) dan kanker sel hati ( hepatocelluler adenoma). Ini menjadi peringatan keras bagi kaum perempuan yang sering menggunakan kosmetik. Ternyata banyak beredar kosmetik berbahaya di Indonesia. Ingin tampil cantik dengan polesan kosmetik bolehboleh saja, tapi harus diingat, jangan sembarangan menggunakan kosmetik. Dalam memilih produk kosmetik harus diperhatikan kosmetik yang dijamin sehat, tidak ada efek sampingnya dan tidak berbahaya. Tempat membelinya pun harus berhati-hati karena banyak juga kosmetik palsu yang beredar di pasaran. Jadi saat inilah wanita dituntut untuk lebih cerdas dan berhati-hati atas apa yang digunakannya.(Mittha dari berbagai sumber)

Penerapan CPOB
Oleh : Joga Rahardjo*

info profesi

Dokumentasi
Dokumentasi yang baik merupakan bagian yang sangat penting dari sistem pemastian mutu pada pembuatan obat. Pada setiap pabrik obat, dokumentasi hendaklah ada / tersedia pada semua aspek Cara Pembuatan Obat yang Baik. Pada program Pemetaan Industri Farmasi yang dilaksanakan oleh Badan POM, hampir 60% pertanyaan yang diajukan adalah tentang ada tidaknya dokumen, dilaksanakan atau tidaknya prosedur, tersedianya laporan dan catatan hasil suatu kegiatan, benar tidaknya suatu penandaan / label dsb. Diperkirakan jika suatu pabrik obat pada saat mapping tersebut telah memiliki dokumentasi lengkap, melaksanakan dengan benar dan konsisten, maka setidaknya perusahaan tersebut akan masuk kelompok B karena kelompok B minimal memerlukan bobot akhir 50% dari total nilai 100%. Dokumentasi adalah aspek termurah dari program penerapan CPOB dibandingkan aspek-aspek lainnya seperti peralat an , bangunan, sarana peninjang, penanganan dan penyimpanan bahan awal, sanitasi dan kebersihan, laboratorium pengawasan mutu dan lain-lainnya. Sayangnya hal ini masih banyak yang belum dipenuhi oleh pabrik-pabrik yang tergolong dalam kelompok C dan kelompok D. Ada prosedur tetapi tidak pernah dilaksanakan/ diterapkan. Ada laporan tetapi isi dan data yang dilaporkan tidak sesuai dengan pelaksana annya. Ada prosedur tapi pelaksanaannya tidak konsisten. Ada prosedur tetapi tidak up to date lagi, sudah bertahuntahun tidak pernah direvisi. Banyak apoteker yang masih belum mampu atau bahkan enggan membuat prosedur atau dokumen-dokumen lainnya, apalagi dokumentasi berat seperti pembuatan Rencana Induk Validasi, Protokol Uji Stabilitas, Laporan Kualifikasi peralatan dan sebagainya. Pada suatu perusahaan yang cukup dikenal, seorang, seorang kepala pabrik baru terpaksa menyiapkan dokumen-dokumen dan prosedur-prosedur sendiri agar dokumen pabrik selengkap mungkin. Pada suatu pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan, seorang dokter senior yang memimpin pemeriksaan menegur dan mengingatkan kepala bagian produksi karena dokumen tentang penaganan limbah umumnya dibuat oleh kepala pabrik dan pada kolom “ diperiksa oleh “ dilakukan oleh kepala bagian produksi, sesuatu yang kurang pada tempatnya. Apoteker kepala ini tinggal tersipu-sipu saja. Banyak apoteker kurang memahami bahwa suatu dokumen dapat dibuat oleh siapa saja yang memahami kegiatan pelaksanaan proses dalam dokumen tersebut. Misalnya prosedur tentang menjalankan mesin tablet dapat dibuat oleh operator mesin tablet, prosedur membersihkan gudang dibuat oleh petugas gudang dsb. Masih ada apoteker yang beranggapan bahwa dokumen harus dibuat oleh apoteker produksi dan diperiksa oleh apoteker pengawasan mutu dtau sebaliknya. Maka ada dokumen yang pada kolom “ dibuat oleh “ ditandatangani oleh apoteker walaupun ia sendiri tidak pernah memahami maksud pelaksanaan dokumen tersebut, karena apoteker ini baru 2 ( dua ) bulan bekerja di pabrik tersebut dan dokumen ini dibuat berdasar interview dengan operator mesin yang dibuat prosedurnya. Apoteker kedua ini malah belum pernah melihat mesin yang dibuat prosedurnya. Demikian pula apoteker yang menandatangani kolom “ diperiksa oleh “ ternyata bahkan tidak tahu lokasi mesin bersangkutan. Isi dokumen tersebut tentu saja tidak sesuai dengankenyataan dalam pelaksanaan menjalankan mesin tersebut, tetapi petugas POM memberi nilai 100 % pada waktu pemeriksaan karena prosedur ini dikemas dengan bagus, dilaminasi dan digantungkan dekat mesin bersangkutan dengan rapi dan menarik. Petugas POM tidak pernah memeriksa kebenaran isi dokumen tersebut karena beliau sendiri tidak pernah mengetahui hal-hal tentang mesin tersebut, terutama cara menjalankannya.

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

57

info profesi
Ada lagi apoteker yang dengan entengnya men-scan protap-protap pada buku Petunjuk Operasional CPOB kemudian memodifikasikannya sebagai Protap perusahaan yang mereka buat sendiri tanpa mengkajinya apakah isinya sesuai dengan apa yang terjadi atau dilaksanakan di perusahaan. Yang penting kalau diperiksa POM prosedur tersebut tersedia dengan baik. Banyak apoteker yang menganggap bahwa isi Buku Petunjuk Operasional CPOB merupakan keharusan untuk diterapkan, mereka bahkan tidak memahami bahwa Buku Pedoman CPOB lah yang harus diterapkan sepenuhnya. Lucunya ada perusahaan yang memiliki Buku Petunjuk Operasional CPOB tetapi tidak memiliki Buku Pedoman CPOB. Disarankan jika melakukan pemeriksaan dokumentasi, petugas POM hendaknya meminta petugas yang menangani mesin atau jika perlu apoteker yang menandatangani kolom “ dibuat oleh “ menguraikan atau menceritakan cara menjalankan mesin tersebut tanpa melihat dokumen. Dari sini dapat diketahui apakah prosedur ini benar atau tidak, petugas memahami atau tidak, petugas memahami atau tidak prosedur tersebut dan sebagainya. Ketentuan tentang bagaimana melakukan perubahan/revisi atas suatu dokumen, penarikan kembali dokumen lama yang sudah beredar dan tak berlaku lagi, bagaimana menyimpan dokumen dan lain-lain, masih kurang dipahami oleh pihak perusahaan. Sehinga ada dokumen yang sudah bertahun-tahun ketinggalan zaman, masih digunakan di perusahaan sehingga memungkinkan dapat menyebabkan keslahan, penyimpangan dan lain-lainya dalam kegiatan seharihari di pabrik. Belum lagi kalau ada pemeriksaan dari POM , sangat ribut mencari dokumen yang tidak diketahui tempat menyimpannya. Dengan adanya Program Pemetaan Industri Farmasi, mulailah pabrikpabrik tergugah untuk mengadakan dan menerapkan dokumentasi secara benar, lengkap dan konsisten karena adanya kewajiban melaporkan CAP ( Corective Action Plan ) setiap enam bulan. Untunglah saat ini mulai banyak apoteker muda yang bekerja di pabrik obat, mereka baru lulus dari perguruan tinggi langsung bekerja tanpa terkena peraturan wajib kerja. Umumnya mereka masih bersemangat tinggi, mapu membuat dokumen yang benar dengan cepat serta sesuai ketentuan seperti protokol dan laporan validasi, protokol dan laopran uji stabilitas dan sebagainya yang selama ini banyak kurang dipahami oleh para apoteker senior di perusahaan menengah dan kecil. Diharapkan keadaan ini akan lebih memajukan industri farmasi agar dapat memenuhi ketentuan Cara Pembuatan Obat yang Baik. * Drs. Joga Rahardjo, MBA, Apt dari JOGA RAHARDJO CONSULTANTS.

info regulasi
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1010/Menkes/Per/XI/2008 Tentang REGISTRASI OBAT Menimbang : a. Bahwa dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran obat yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan kemanfaatan perlu dilakukan penilaian melalui mekanisme regiatrasi obat; b. Bahwa ketentuan registrasi obat yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/ Menkes/Per/V/2000 perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan perkembangan globalisasi dan kebijakan Pemerintah. c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu mengatur kembali registrasi obat dengan Peraturan Menteri Kesehatan. : 1. Ordonansi Obat Keras (Stbl. Tahun 1949 No. 419). 2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495) 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10 Tambahan Lembaran Negara No.3693 ). 4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Nomor 67 . Tambahan Lembaran Negara No. 3893) 5. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821). 6. Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3778). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahum 2007 Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737). 8. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas , Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali dirubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun2006. 9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/ Per/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1295/ Menkes/Per/XII/2007. MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG REGISTRASI OBAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Izin edar adalah bentuk persetujuan registrasi obat untuk dapat diedarkan di wilayah Indonesia. 2. Obat adalah obat jadi yang merupakan sediaan atau paduan bahanbahan termasuk produk biologi dan kontrasepsi, yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan. 3. Produk biologi adalah vaksin, imunopsera, antigen, hormon, enzim, produk darah dan produk hasil fermentasi lainnya ( termasuk antibodi monoklonal dan produk yang berasal dari teknologi rekombinan DNA ) yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan. 4. Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapatkan izin edar. 5. Obat kontrak adalah obat yang pembuatannya dilimpahkan kepada industri farmasi lain. 6. Pemberi kontrak adalah industri farmasi yang melimpahkan pekerjaan pembuatan obat berdasarkan kontrak. 7. Penerima kontrak adalah industri farmasi yang menerima pekerjaan pembuatan obat berdasarkan kontrak. 8. Obat impor adalah obat hasil produksi industri farmasi luar negeri. 9. Penandaan adalah keterangan yang lengkap mengenai khasiat , keamanan, cara penggunaannya serta informasi lain yang dianggap

Menimbang

58

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

info regulasi
10. perlu yang dicantumkan pada etiket, brosur dan kemasan primer dan sekunder yang disertakan pada obat. Obat palsu adalah obat yang diproduksi oleh yang tidak berhak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau produksi obat dengan penandaan yang meniru identitas obat lain yang telah memiliki izin edar. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran , hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Peredaran adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan obat, baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan atau pemindahtanganan. Produk yang dilindungi paten adalah produk yang mendapatkan per lindungan paten berdasarkan Undang-undang Paten yang berlaku di Indonesia. Menteri adalah Menteri yang bertanggung di Bidang Kesehatan. Kepala Badan adalah Kepala Badan yang bertanggung jawab dibidang Pengawasan Obat dan Makanan. (2) Industri farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan CPOB. (3) Pemenuhan persyaratan CPOB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibukti kan dengan sertifikat CPOB yang dikeluarkan oleh Kepala Badan. Bagian Kedua Registrasi Obat Narkotika Pasal 7 (1) Khusus untuk registrasi obat narkotika hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi yang memiliki izin khusus untuk memproduksi narkotika dari Menteri. (2) Industri farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan CPOB. (3) Pemenuhan persyaratan CPOB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuktikan dengan sertifikat CPOB yang dikeluarkan oleh Kepala Badan. Bagian Ketiga Registrasi Obat Kontrak Pasal 8 Registrasi obat kontrak hanya dapat dilakukan oleh pemberi kontrak , dengan melampirkan dokumen kontrak. Pemberi kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah industri farmasi. Industri farmasi pemberi kontrak sebagaimana dimaksud dimaksud pada ayat (2) wajib memiliki izin industri farmasi dan sekurangkurangnya memiliki 1 (satu) fasilitas produksi sediaan lain yang telah memenuhi persyaratan CPOB. Industri farmasi pemberi kontrak bertanggung jawab atas mutu obat jadi yang diproduksi berdasarkan kontrak. Penerima kontrak adalah industri farmasi dalam negeri yang wajib memiliki izin industri farmasi dan telah menerapkan CPOB untuk sediaan yang dikontrakkan.

11.

12.

13. 14. 15. 16.

(1) (2) (3)

Pasal 2 (1) Obat yang diedarkan diwilayah Indonesia, sebelumnya harus dilakukan registrasi untuk memperoleh izin edar. (2) Izin Edar diberikan oleh Menteri. (3) Menteri melimpahkan pemberian izin edar kepada Kepala Badan. (4) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk : a. Obat penggunaan khusus atas permintaan dokter; b. Obat Donasi; c. Obat untuk uji klinik; d. Obat Sampel untuk Registrasi. Pasal 3 (1) Obat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dapat dimasukkan ke wilayah Indonesia melalui Mekanisme Jalur Khusus. (2) Ketentuan tentang Mekanisme Jalur Khusus ditetapkan oleh Menteri. BAB II KRITERIA Pasal 4 Obat yang memiliki izin edar harus memenuhi kriteria berikut : a. Khasiat yang meyakinkan dan keamanan yang memadai dibuktikan melalui percobaan hewan dan uji klinis atau bukti-bukti lain sesuai dengan status perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan; b. Mutu yang memenuhi syarat yang dinilai dari proses produksi sesuai Cara Pembuatan Obat Yang Baik ( CPOB), spesifikasi dan metoda pengujian terhadap semua bahan yang digunakan serta produk jadi dengan bukti yang sahih; c. Penandaan berisi informasi yang lengkap dan obyektif yang dapat menjamin penggunaan obat secara tepat, rasional dan aman; d. Sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat; e. Kriteria lain adalah khusus untuk psikotropika harus memiliki keunggulan kemanfaatan dan keamanan dibandingkan dengan obat standar dan obat yang telah disetujui beredar di Indonesia untuk indikasi yang diklaim; f. Khusus kontrasepsi untuk program nasional dan obat program lainnya yang akan ditentukan kemudian, harus dilakukan uji klinik di Indonesia; Pasal 5 (1) Obat untuk uji klinik harus dapat dibuktikan bahwa obat tersebut aman penggunaannya pada manusia; (2) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan uji klinik ditetapkan oleh Kepala Badan. BAB III PERSYARATAN REGISTRASI Bagian pertama Registrasi Obat Produksi Dalam Negeri Pasal 6 (1) Registrasi obat produksi dalam negeri hanya dilakukan oleh industri farmasi yang memiliki izin industri farmasi yang dikeluarkan oleh Menteri.

(4) (5)

Bagian Keempat Registrasi Obat Impor Pasal 9 Obat Impor diutamakan untuk obat program kesehatan masyarakat, obat penemuan baru dan obat yang dibutuhkan tapi tidak dapat diproduksi di dalam negeri. Pasal 10 (1) Registrasi Obat Impor dilakukan oleh industri farmasi dalam negeri yang mendapat persetujuan tertulis dari industri farmasi diluar negeri. (2) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mencakup alih teknologi dengan ketentuan paling lambat dalam jangka waktu 5 (lima) tahun harus sudah dapat diproduksi di dalam negeri. (3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) obat yang masih dilindungi paten. (4) Industri farmasi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan CPOB. (5) Pemenuhan persyaratan CPOB bagi industri farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuktikan dengan dokumen yang sesuai atau jika diperlukan dilakukan pemeriksaan setempat oleh petugas yang berwenang. (6) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dilengkapi dengan data inspeksi terakhir paling lama 2 (dua) tahun yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang setempat. (7) Ketentuan tentang tata cara pemeriksaan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh Kepala Badan. Bagian Kelima Registrasi Obat Khusus Ekspor Pasal 11 (1) Registrasi obat khusus untuk ekspor hanya dilakukan oleh industri farmasi. (2) Obat khusus untuk ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuh kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf a dan huruf b. (3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bila ada persetujuan tertulis dari negara tujuan. Bagian Keenam Registrasi Obat Yang Dilindungi Paten Pasal 12 (1) Registrasi obat dengan zat berkhasiat yang dilindungi paten di Indonesia hanya dilakukan oleh industri farmasi dalam negeri

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

59

info regulasi
pemegang hak paten atau industri farmasi lain yang ditunjuk oleh pemegang hak paten. (2) Hak paten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuktikan dengan sertifikat paten. Pasal 13 (1) Registrasi obat dengan zat berkhasiat yang dilindungi paten di Indonesia dapat dilakukan oleh industri farmasi dalam negeri bukan pemegang hak paten. (2) Registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan mulai 2 (dua) tahun sebelum berakhirnya perlindungan hak paten. (3) Dalam hal registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disetujui, obat yang bersangkutan hanya boleh diedarkan setelah habis masa perlindungan paten obat inovator. BAB IV TATA CARA MEMPEROLEH IZIN EDAR Bagian Pertama Registrasi Pasal 14 (1) Registrasi diajukan kepada Kepala Badan. (2) Kriteria dan tata laksana registrasi ditetapkan oleh Kepala Badan. (3) Dokumen registrasi merupakan dokumen rahasia yang dipergunakan terbatas hanya untuk keperluan evaluasi oleh yang berwenang. Bagian Kedua Biaya Pasal 15 (1) Terhadap registrasi dikenakan biaya. (2) Ketentuan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Evaluasi Pasal 16 Terhadap dokumen registrasi yang telah memenuhi ketentuan dilakukan evaluasi sesuai kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 17 (1) Untuk melakukan evaluasi dibentuk : a. Komite Nasional Penilai Obat. b. Panitia Penilai Khasiat-Keamanan. c. Panitia Penilai Mutu, Teknologi, Penandaan dan Kerasionalan Obat. (2) Pembentukan , Tugas dan Fungsi Komite Nasional Penilai Obat dan Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Badan. Bagian Keempat Pemberian Izin Edar Pasal 18 Kepala Badan memberikan persetujuan atau penolakan izin edar berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh Komisi Nasional Penilai Obat, Panitia Penilai Khasiat-Keamanan dan Panitia Penilai Mutu, Teknologi, Penandaan da Kerasionalan Obat. Kepala Badan melaporkan izin edar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri satu tahun sekali. Dalam hal permohonan registrasi obat ditolak, biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) tidak dapat ditarik kembali. Bagian Kelima Peninjauan Kembali Pasal 19 Dalam hal registrasi ditolak, pendaftar dapat mengajukan keberatan melalui tata cara peninjauan kembali. Tata cara pengajuan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Badan. setelah tanggal persetujuan dikeluarkan. (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Kepala Badan. BAB VI EVALUASI KEMBALI Pasal 22 Terhadap obat yang telah diberikan izin edar dapat dilakukan evaluasi kembali. Evaluasi kembali obat yang sudah beredar dilakukan terhadap : a. Obat dengan resiko efek samping lebih besar dibandingkan dengan efektifitasnya yang terungkap sesudah obat dipasarkan. b. Obat dengan efektifitas tidak lebih baik dari plasebo. c. Obat yang tidak memenuhi persyaratan ketersediaan hayati / bioekivalensi. Terhadap obat yang dilakukan evaluasi kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , Industri farmasi / pendaftar wajib menarik obat tersebut dari peredaran. Evaluasi kembali juga dilakukan untuk perbaikan komposisi dan formula obat.

(1) (2)

(3) (4)

BAB VII SANKSI Pasal 23 Dengan tidak mengurangi ancaman pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Kepala Badan dapat memberikan sanksi administratif berupa pembatalan izin edar apabila terjadi salah satu dari hal-hal berikut: a. Tidak memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada pasal 4 berdasarkan data terkini. b. Penandaan dan promosi menyimpang dari persetujuan edar. c. Tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 21. d. Selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut obat yang bersangkutan tidak dipro duksi, diimpor atau diedarkan. e. Izin Industri Farmasi, yang mendaftarkan, memproduksi atau mengedarkan dicabut. f. Pemilik izin edar melakukan pelanggaran di bidang produksi dan / atau perdaran obat. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 24 (1) Bagi yang telah mengajukan permohonan dan melengkapi dokumen registrasi sebelum diberlakukannya peraturan ini tetap akan diproses sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/Menkes/Per/ VI/2000 tentang Registrasi Obat Jadi. (2) Obat yang telah mendapat izin edar berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/Menkes/Per/VI/2000 tentang Registrasi Obat Jadi yang telah habis masa berlakunya setelah ditetapkannya Peraturan ini dapat diperpanjang untuk paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak ditetapkannya Peraturan ini. Pasal 25 Semua ketentuan tentang tata cara registrasi obat jadi yang telah dikeluarkan sebelum ditetapkannya peraturan ini, masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan ini. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 26 Dengan berlakunya Peraturan ini, maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/Menkes/Per/VI/2000 tentang Registrasi Obat Jadi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 27 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di JAKARTA , Pada tanggal 3 November 2008 MENTERI KESEHATAN , Dr.dr.SITI FADILAH SUPARI,Sp.JP (K)

(1)

(2) (3)

(1) (2)

Bagian Keenam Masa Berlaku Izin Edar Pasal 20 Izin edar berlaku 5 ( lima ) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi ketentuan yang berlaku. BAB V PELAKSANAAN IZIN EDAR Pasal 21 (1) Pendaftar yang telah mendapat izin edar wajib memproduksi atau mengimpor dan mengedarkan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun

60

MEDIA INFORMASI FARMASI INDONESIA/EDISI 6/JANUARI-APRIL 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->