P. 1
Dampak Embargo Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Kuba Dan Implikasinya Terhadap Hubungan Amerika Serikat Dengan Negaranegara Amerika Latin

Dampak Embargo Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Kuba Dan Implikasinya Terhadap Hubungan Amerika Serikat Dengan Negaranegara Amerika Latin

|Views: 1,392|Likes:
Published by ekopaputungan

More info:

Published by: ekopaputungan on Feb 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/20/2014

pdf

text

original

HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL

: DAMPAK EMBARGO EKONOMI AMERIKA SERIKAT TERHADAP KUBA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HUBUNGAN AMERIKA SERIKAT DENGAN NEGARANEGARA AMERIKA LATIN

NAMA NIM JURUSAN PROGRAM STUDI

: ZUKHAIR BURHAN : E 131 00 019 : ILMU POLITIK DAN PEMERINTAHAN : ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Makassar, 10 Agustus 2005 Menyetujui,

Konsultan I,

Konsultan II,

Drs. Muliadi Sukardi, M.Si NIP. 130 930 186

M. Nasir Badu,S.IP, MA NIP. 132 205 466

Mengetahui, Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Drs. Andi Syamsuddin, MS NIP. 130 785 086

HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI

Telah diterima oleh Tim Evaluasi Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Judul Skripsi: Dampak Embargo Amerika Serikat Terhadap Kuba dan Implikasinya Terhadap Hubungan Amerika Serikat dengan NegaraNegara Amerika Latin, untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana pada Jurusan Politik Pemerintahan, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin.

Makassar, 28 Novemer 2005 Menyetujui :

1. Prof. DR. J. Salusu, M.A 2. Seniwati, S.Sos., M.Hum 3. Drs. M. Imran Hanafi, M.A., M.Ec 4. Drs. Muliadi Sukardi, M.Si 5. Drs. Aspiannor Masrie

(Ketua) (Sekretaris) (Anggota) (Anggota) (Anggota)

1. …………………... 2. …………………... 3. …………………... 4. …………………... 5. …………………...

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ HALAMAN PENERIMAAN ........................................................................ ABSTRAKSI .................................................................................................. KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. BAB I. PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. Latar Belakang Masalah ...................................................................... Batasan dan Rumusan Masalah ............................................................ Tujuan dan Kegunaan Penelitian .......................................................... Kerangka Konseptual ............................................................................ Definisi Operasional ............................................................................. Metode Penelitian ................................................................................. 1 9 11 11 14 15 i ii iii iv vi

BAB II. TELAAH PUSTAKA A. Konsep Neoliberalisme ......................................................................... B. Konsep Kebijakan Politik Luar Negeri ................................................. BAB III. GAMBARAN UMUM A. Sejarah Singkat Kuba ............................................................................ B. Pra dan Pasca Revolusi Kuba ................................................................ C. Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat terhadap Negara-Negara Amerika Latin .............................................................. BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Dampak Embargo Amerika Serikat Terhadap Kuba Setelah Perang Dingin ........................................................................... B. Hubungan Amerika Serikat Dengan Negara-Negara Di Amerika Latin Pasca Embargo ke Kuba Setelah Perang Dingin .......... BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................................... B. Saran ..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 95 97 98 44 49 59 17 38

65 87

vi

ABSTRAKSI Zulkhair Burhan, E 131 00 019, Dampak Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba dan Implikasinya terhadap Hubungan Amerika Serikat dengan Negara-Negara Amerika Latin, dibawah bimbingan Muliadi Sukardi sebagai Konsultan I dan M. Nasir Badu sebagai Konsultan II.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak embargo Amerika Serikat terhadap Kuba serta implikasinya terhadap hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Latin. Metode penulisan yang digunakan penulis adalah tipe penelitian eksplanatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah studi pustaka. Untuk pembahasan masalah penulis menggunakan teknik penulisan deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa embargo yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Kuba di awal tahun 1960-an yang kemudian disusul dengan berbagai rentetan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat lainnya telah mempengaruhi sendi-sendi ekonomi, politik, dan sosial di Kuba. Kebijakan–kebijakan tersebut kemudian memperkecil akses Kuba untuk berhubungan dengan negara-negara lain dan akses untuk terlibat dalam pentas ekonomi politik global. Kondisi tersebut mengharuskan Kuba untuk melakukan pembenahan pembenahan dibidang ekonomi, sosial dan politik untuk menjaga dan mempertahankan capaian-capaian dari Revolusi 1959 yang menjadi gerbang perubahan di negara tersebut, dan usaha tersebut dilakukan dengan melibatkan partisipasi rakyat secara maksimal dalam semua sendi dan lini kehidupan. Meski demikian, dalam upaya untuk mempertahankan dan melanggengkan hegemoni serta dominasi ekonomi politik Amerika Serikat terhadap negara-negara Amerika Latin, maka berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir perlawanan atas kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang marak terjadi pasca revolusi Kuba. Selain itu, Amerika Serikat juga terus berupaya untuk membangun pemerintahanpemerintahan “boneka” sehingga mampu mengintervensi kebijakan dalam dan luar negeri negera-negara di kawasan Amerika Latin. Dan upaya tersebut dilakukan dengan mengupayakan terjadinya proses integrasi pasar dalam kendali Amerika Serikat.

iii

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menganugerahkan begitu banyak karunia dan telah memberikan jaminan untuk mengangkat beberapa derajat bagi orang yang berilmu sehingga penulis termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini. Begitu pula shalawat dan salam terhatur atas Sang Pembebas, Rasulullah SAW beserta ahli baitnya yang suci serta pengikutpengikutnya yang tetap istiqamah mengusung spirit pembebasan. Skripsi ini penulis persembahkan buat Ayahanda tercinta (Alm.) Burhan Angko yang selama hidupnya telah menjadi teman diskusi dan memberi begitu banyak pelajaran berharga tentang arti hidup dan perjuangan. Begitu pula kepada Ibunda tercinta Jernih yang sering ragu dengan keinginanku untuk mengakhiri kuliah, tapi saya yakin demikianlah bentuk cinta yang memanifest. Dan buat adik-adikku yang selalu membuatku khawatir kalau mereka akan lebih awal menyelesaikan kuliah dari pada saya. Penulisan skripsi ini mengalami begitu banyak kendala dan halangan hingga terselesaikan. Oleh karena itu, penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberi bantuan dan motivasi hingga skripsi ini dapat dirampungkan. 1. Bapak Rektor Universitas Hasanuddin beserta jajarannya 2. Bapak Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNHAS beserta jajarannya 3. Bapak Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNHAS 4. Seluruh staf pengajar Program Studi Hubungan Internasional 5. Bapak Alm. Drs. Muliadi Sukardi, MSi sebagai pembimbing I (semoga arwahnya diterima di sisi-Nya) dan Bapak M. Nasir Badu, SIP. Msi sebagai pembimbing II 6. Seluruh kawan-kawanku Diplomat ’00. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk belajar bersama kalian. 7. Seluruh kawan-kawan penghuni “rumah kecil” Himahi Fisip Unhas. Tetap berjuang dan tetap berharap karena harapanlah yang akan membuat kita tetap bertahan 8. Intelligent ’01; Agil (Jangan plin-plan), Jessyca ‘n Shinta (salamnya Erwin), Adi ‘n Donald (ko kerja-kerjami skripsimu kasian), Sukri (Keep cool!), Aprilia (Maafkanmi Erwin), Firman “Bo”(jangan marah! Itu bentuk cintaku kpdmu), Accul (Punk Not Death), Muna (Mata’ tatazawwaj?), Yoram (bagibagi gajimu ces), dan semuanya yg tak tertulis. Kalian “memaksaku” untuk segera mengakhiri mimpi-mimpiku di kampus. 9. Terrorist ’02; Otte’, Arif, Dafri, Acong, Amri (kapan diskusi lagi), Endri (Be A Good Hi-ers), Ruli, Ahmadi, Helmi (I know you’ll make it), (Yeni, Irma, iv

Elly, traktirannya nantipi nah), dan semuanya yg tak tertera. Maaf tak bisa jadi ketua himpunan yang baik! 10. Dictator ’03; Anca (I always proud of you), Andika (nantipi sy kasitau orangnya), Ashadi, Cakke (bisama’ masuk GM to?), Dedy, Ramen, (Dede, Makmur, bagaimana hasil munasnya?), Mimin, Wawan (lembo ade), Ikko, Aldi (kpn maen basket lg?), Rio, Rusdin (ko gagah ka?), Asri (Jadilah HMI sejati), Abi (HI memang perlu diperkenalan!), Isma, Muthe (pintarmi membaca murid2mu?), Ajeng (Viva Milanisti) , Dala (Eh item, putih2 mako itu!), Sari (Hidup Jasbog!), Lulu (salamku sama Sukri), Ety (terima kasih selalu mengingatkan kalo se sdh sarjana), Ika (thanks buburnya), Cucan (Grew Up!), UQ ( doakan se jadi dosenmu nah) 11. Hackers ’04; Mamet (salamnya murni), Ignas (bagemana kabarnya perbatasan nunukan?), Andi, Aswin (C-S.IP), Ridho (keep learning!), Awal (Pijatannya memang heboh), Ijat, Farda dan semuanya yg tak tertera. Terima kasih telah menjadi teman sekelas di semester-semester akhir. 12. Regime ’05; Radis, Alam, Herwin, Ical, Nino, Pute, Murni, Noe dan semuanya yang tak tertera. Terima kasih telah emberikan kesempatan untu menikmati akhir-akhir yang indah menjadi mahasiswa. It’s time to prove many things! 13. Teman-teman angkatan 2000 Fisip Unhas; Rony, Dodol, Yuli, Mamat, Rini, Mail, Saprul, Basri, Abi, Piceng, Ridho, Fajar, dll. 14. To All Ex-Crew of Wesabbe D/33; Joy (kapan biskal lagi?), Aziz (tetap istiqamah yah!), Kasim (I learn much from you ‘n thanks to be my ‘bro), Bahar (Keep Fighting Man!), Udin (Be a Good Dad!), Mas Dodik (Kalo nikah saya diundang yah!) 15. Saudaraku Dudi ‘n Edha, kapan kita ketemu lagi sambil cerita pasangan masing-masing. 16. Seluruh kawan-kawan Pijar Imaji, “thanks for being the part of my long journey” 17. Seluruh kawan-kawan yang masih tetap teguh dan konsisten di garis massa. “When Injustice becomes Law, Resistance becomes Duty”. 18. Buat Komradku yang selalu setia menemani dan terus meyakinkan kalau “The Show Must Go On”. Dan kepada semua pihak yang belum sempat tersebut namanya. Akhirnya penulis menyadari bahwa terdapat begitu banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Kendati demikian penulis berharap bahwa karya ini bisa menjadi bagian dari kekayaan khasanah intelektual, Amin.

v

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berakhirnya perang dingin pada dekade tahun 1990-an menjadi babak baru bagi tata ekonomi politik internasional. Keruntuhan Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur yang menjadi simbol kekuatan blok timur yang bertendensi sosialiskomunis semakin mengukuhkan kekuatan Blok Barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang bertendensi kapitalis-liberal. Bahkan dalam sebuah jurnal The National Interest yang berjudul “The End of History” Francis Fukuyama dengan berani mengatakan bahwa akhirnya demokrasi liberal-lah yang menjadi pemenang dalam pertarungan antara kedua ideologi yang menjadi arus utama sebelum runtuhnya tembok Berlin yang menandai kemenangan liberalisme pasar saat ini. Apa yang sedang kita saksikan bukanlah akhir Perang Dingin, atau periode dari sejarah; yakni, titik akhir dari evolusi ideologi umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final pemerintahan umat manusia.1 Keyakinan Fukuyama tentang berakhirnya sosialisme-komunisme dan tampilnya neo-liberalisme yang diusung oleh para pemikir dan praktisi kanan baru semakin diperkuat oleh pernyataan, Margareth Tatcher, mantan perdana menteri

1

Ian Adams, Ideologi Politik Mutakhir;Konsep, Ragam Kritik, Dan Masa Depannya, Qalam, 2004, Yogyakarta, Hal. 462

Inggris yang terkenal dengan TINA (There Is No Alternatives).2 Pernyataan tersebut pada intinya bermaksud untuk memberikan gambaran bahwa saat sekarang ideologi neo-liberal lah satu-satunya solusi untuk memperbaiki dan menjalankan roda ekonomi politik global yang kerap ditimpa krisis. Kemenangan ideologi neo-liberal menjadikan orientasi ekonomi politik global diarahkan pada kepentingan pasar yang dikuasai tidak hanya oleh negara-negara Dunia Pertama akan tetapi juga oleh para aktor-aktor baru dalam panggung hubungan internasional yaitu lembaga-lembaga keuangan dan perdagangan internasional, perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional serta individu-individu yang ikut memegang kontrol dalam mekanisme pasar global. Dominasi negara-negara Dunia Pertama yang dimotori Amerika Serikat dan sekutunya dan para pelaku pasar internasional lainnya semakin terlihat dalam upaya mereka untuk mengarahkan pasar kedalam blok-blok ekonomi baru yang tunduk pada mekanisme yang telah mereka buat. Dengan kata lain bahwa yang terjadi saat ini adalah proses internasionalisasi modal atau sering dibahasakan sebagai globalisasi. Sejalan dengan hal tersebut pada awal abad 20, Desember 1915, Lenin berpendapat: “…pada akhir abad 19 dan awal abad 20, pertukaran komoditi telah menciptakan sebuah internasionalisasi modal, didukung oleh kenaikan jumlah produksi dalam skala besar, kompetisi bebas akan segera tergantikan oleh sistem monopoli. Dan tipe bisnis yang terjadi tidak lagi dalam bentuk kompetisi diantara sesama korporasi dalam sebuah negara dan antar negara, melainkan dalam bentuk monopoli dari aliansi antar korporasi yang akan membentuk pasar dunia. Dengan demikian, dominasi negara akan segera lenyap karena yang telah
2

Bukan Sekedar Anti Globalisasi, The Institute of Global Justice & Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, 2005, hal. ix

2

terbentuk adalah aliansi korporasi antar negara. Inilah era yang dimaksud dengan globalisasi. “3 Kondisi tersebut mengharuskan para pelaku pasar untuk melakukan ekspansi yang bertujuan untuk membuka pasar seluas-luasnya bagi kepentingan pemilik modal internasional. Sehingga kondisi tersebut melahirkan fenomena munculnya

regionalisme ekonomi yang pada hakikatnya adalah upaya untuk melakukan pembagian terhadap aset-aset ekonomi di kawasan-kawasan tertentu.4 Metode ekspansi yang dilakukan oleh kekuatan modal internasional ini dilakukan dengan berbagai metode yang sekali lagi bertujuan untuk membuka akses ekonomi dan sekaligus menancapkan hegemoni politik pada sebuah negara atau wilayah. Leo Huberman dan Paul Sweezy, dalam buku mereka ABC Socialism, mengatakan bahwa salah satu jalan untuk menyelesaikan krisis yang sering menimpa sistem produksi kapitalisme dan merupakan jalan terampuh dan efektif untuk membuka akses pasar tak lain dengan perang.5 Dengan perang, kelas pemilik modal memperoleh pembenaran untuk membumihanguskan alat produksi dan hasil-hasil produksi yang berlebihan. Penghancuran alat produksi menyebabkan kelangkaan barang di pasar dan menggerakkan ekonomi keluar dari kondisinya yang stagnan. Tapi, perang tak hanya menghasilkan penghancuran alat produksi, perang juga

menjadi lahan basah kelas kapitalis untuk menghasilkan komoditas baru guna

3

Irfan Rahman, Apakah Sebenarnya Imperialisme Itu?, News Letter Gratis Pijar Imaji, Makassar, 2004, hal. 2 4 Coen Husein Pontoh, Akhir Globalisasi; Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa, Penerbit CBooks, Jakarta, 2003, hal. 70 5 Ibid, hal. 41

3

mengisi kelangkaan barang di pasar, sehingga terjadi mobilisasi kapital secara besarbesaran. Perang juga berarti pembagian pasar baru dikalangan kelas pemilik modal, yang akhirnya merefleksikan dominasinya secara ekonomi dan politik. Selain itu, dengan misinya untuk membuka lebar-lebar pasar di seluruh dunia, lembaga-lembaga modal internasional melakukan ekspansinya dengan membawa paketan kebijakan penyesuaian struktural. (Structural Adjusment Programme). Paketan kebijakan ini kemudian didiktekan kepada negara-negara Dunia Ketiga yang mayoritas merupakan negara-negara post-kolonial untuk memperbaiki sendi-sendi kehidupan ekonominya yang ambruk akibat perang yang berkepanjangan atau akibat krisis ekonomi yang sering menimpa sebagian besar negara-negara tersebut. Dan proses tersebut digagas sedemikian rupa sehingga menjadi resensi atau acuan utama bagi mayoritas negara-negara Dunia Ketiga dalam menjalankan proses

pembangunannya. Dalam perjalanannya kemudian, negara-negara Dunia Ketiga yang telah tergantung secara ekonomi kepada negara-negara Dunia Pertama akibat jeratan utang luar negeri harus menjalankan paketan-paketan kebijakan yang didiktekan lembagalembaga donor internasional tersebut. Kebijakan tersebut berupa pencabutan subsidi sosial, deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi perdagangan. Selain itu, untuk semakin memperkuat posisi tawar negara-negara Dunia Pertama dalam pentas politik dalam negeri dan untuk meyakinkan bahwa paket kebijakan tersebut betul-betul dijalankan maka dibentuklah pemerintahan boneka yang tunduk pada kepentingan modal asing. Dan ini terjadi di beberapa negara-negara Dunia Ketiga khususnya di kawasan

4

Amerika Latin, seperti; Batista di Kuba, Somoza di Nikaragua, Trujillo di Republik Dominika, Odrio di Peru, Perez Jimenez di Venezuela, Armas di Guatemala dan banyak lagi. Pemerintahan boneka tersebut yang kemudian membuka akses seluasluasnya bagi pelaksanaan paket kebijakan neoliberal tersebut. Mayoritas pemerintahan boneka tersebut mengambil kebijakan dalam dan luar negeri yang pada intinya berupaya untuk mengakomodasi kepentingan akumulasi modal negara-negara maju, lembaga-lembaga dan keuangan internasional Tata serta

perusahaan-perusahaan

multinasional

transnasional.

pemerintahan

dijalankan secara otoriter dan menutup ruang-ruang demokrasi dalam masyarakat. Cara ini ditempuh untuk menghancurkan potensi-potensi resistensi atau perlawanan dalam masyarakat akibat kebijakan-kebijakan yang memiskinkan dan tidak berpihak kepada mayoritas rakyat. Sejarah telah banyak mencatat bahwa beberapa dari pemerintahan yang diktator kemudian harus tumbang oleh gerakan parlementer ataupun ekstra parlementer. Dan fenomena ini telah terjadi di berbagai negara, tidak kurang demikianlah yang terjadi di Kuba pada tahun 1959 ketika pemerintahan Fulgencio Batista yang mengabdi pada kepentingan Amerika Serikat akhirnya harus tumbang oleh gerakan 26 Juli yang dipimpin oleh Fidel Castro Ruz. Setelah revolusi, Kuba melakukan perubahan mendasar dalam berbagai bidang dan berusaha melepaskan diri dari belenggu kapitalisme dibawah kendali Amerika Serikat. Dan saat ini Kuba merupakan salah satu negara di Amerika Latin yang bebas dari belenggu ekonomi dan politik Amerika Serikat. Meski demikian

5

sampai saat ini Kuba masih terkena embargo ekonomi yang dikenakan Amerika Serikat sejak tahun 1960. Embargo ini dilakukan akibat ulah pemerintahan baru pasca revolusi yang melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing milik Amerika Serikat dan berbagai kebijakan lain termasuk pembaharuan agraria dan tentunya kebijakan tersebut sangat merugikan kepentingan modal asing yang telah lama menguasai aset-aset produktif Kuba. Pasca embargo di tahun 1960-an, Kuba praktis hanya mendapatkan bantuan ekonomi dari Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur yang tergabung dalam COMECON . Akibat runtuhnya Uni Soviet, diawal tahun 1990-an, Kuba terjerembab kedalam krisis ekonomi. Dalam beberapa bulan, Kuba kehilangan 4/5 jalur perdagangan dengan negara luar. Pabrik-pabrik tutup, toko-toko tidak beraktivitas dan transportasi kapal dari perusahaan minyak Soviet sampai perusahaan makanan Hongaria yang mengangkut makanan, bahan bakar, bahan baku dan bahan-bahan pabrik berangsur-angsur berhenti.6 Pasca runtuhnya Uni Soviet, Kuba melakukan reformasi dalam berbagai bidang untuk kembali membangun pondasi struktur ekonominya yang mengalami krisis. Masa ini oleh rakyat Kuba disebut sebagai “Special Period in a Peace of Time”. Masa inilah yang menjadi tonggak kemandirian Kuba untuk membangun infra dan suprastruktur kehidupan ekonomi, politik dan sosial negaranya.

6

Marce Cameron, The Truth About Cuba, Green Left Weekly, 2005

6

Meski hingga kini Kuba masih terkena sanksi embargo oleh Amerika Serikat, rakyat Kuba mampu menyediakan bahan pangan yang memadai serta mengalami kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan. Pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat yang diterapkan oleh Kuba, telah memajukan banyak aspek kehidupan mereka. Kemajuan pada pengembangan teknologi pertanian telah berhasil menyamai sistem pertanian termaju di Amerika Serikat. Seluruh lulusan universitas dimobilisasi untuk membuat penemuan-penemuan mutakhir bagi pengembangan teknologi pertanian, dan kesehatan.7 Dalam sebuah pernyataan pers yang dikeluarkan oleh Economic Commision for Latin America and The Caribbean (ECLAC), The United Nations Development Programme (UNDP) dan Cuba's Nacional Institute for Economic Research (INIE) disebutkan bahwa sejak terjadinya disintegrasi negara-negara sosialis diakhir 1980-an yang berimbas pada hilangnya pasar ekspor, sumber barang-barang dan keuangan, Kuba telah mampu memelihara capaian-capaian kemajuan dalam hal pembangunan ekonomi, sosial dan politik.8 Kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi dan sosial tersebut tentunya harus ditunjang dengan struktur politik yang demokratis. Sistem pemerintahan Kuba dapat dikatakan sebagai salah satu sistem pemerintahan yang paling demokratis saat ini. Hal tersebut dikarenakan oleh tingkat partisipasi politik rakyat Kuba yang sangat

7

Ada Apa dengan Kuba, Sebuah Contoh Pemerintahan Rakyat Miskin, Terbitan Seruan Buruh FNPBI, edisi XIX, hal. 18-19, 2002 8 Cuba Able to Maintain Social Progress during "Special" Period, http://www.eclac.cl, Diakses pada Tanggal 21-6-2005

7

maksimal. Bentuk partisipasi politik tersebut dibangun melalui organisasi-organisasi rakyat yang dibentuk dari tingkatan terbawah sampai tingkat yang teratas dalam levelisasi sistem pemerintahan. Organisasi-organisasi tersebut yang kemudian memasok kesadaran politik rakyat. Keseluruhan organisasi ini mempunyai jumlah keanggotaan yang luar biasa yaitu kira-kira 95 % dari jumlah pemilih potensial mereka.9 Revolusi yang diraih oleh rakyat Kuba tersebut menciptakan suatu kondisi baru yang menjamin seluruh rakyat menjalankan peraturan bagi dirinya sendiri, tidak hanya akses ekonomi, tetapi juga akses politik dan sosial. Hal tersebut yang kemudian menciptakan ruang yang seluas-luasnya bagi sebuah sistem ekonomi politik alternatif yang tidak menghamba pada sistem ekonomi pasar yang eksploitatif akan tetapi menciptakan sistem yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Di tengah upaya untuk mempertahankan dan memajukan apa-apa yang telah menjadi capaian dari revolusi, Kuba pun harus tetap waspada terhadap upaya negaranegara yang pro terhadap modal khususnya Amerika Serikat. Hal ini bukan tidak beralasan, upaya untuk mengintegrasikan blok-blok ekonomi dalam satu mainstream ekonomi global seperti yang dilakukan dibeberapa kawasan yang lain adalah salah satu upaya untuk meminimalisir hambatan-hambatan bagi terwujudnya pasar bebas dari negara-negara yang tidak tunduk pada logika pasar termasuk Kuba.

9

Apakah Kuba Demokratis ? diterjemahkan oleh Mohammad Rozak, http://www.poptel.org.uk/cubasolidarity/index.html

8

Setelah kurang lebih empat dekade pasca embargo ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Kuba telah memberikan contoh kepada dunia internasional bahwa kendati berada dibawah tekanan ekonomi politik negara-negara maju khususnya Amerika Serikat akan tetapi negara tersebut mampu bertahan dengan mempraktekkan kebijakan ekonomi politik alternatif tanpa harus menjalankan platform yang dipaksakan oleh negara-negara maju terhadap negara-negara Dunia Ketiga. Sehingga apa yang menjadi cita-cita Gerakan Sosial Baru/GSB (New Social Movement/NSM) yaitu “There Are Many Alternatives” bukanlah suatu hal yang tidak dapat diwujudkan. B. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH Revolusi sosialis 1959 yang telah menggulingkan kediktatoran Batista telah banyak merubah tatanan kehidupan rakyat Kuba. Revolusi tersebut menyebabkan transformasi fundamental dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi Kuba karena tergulingnya struktur kekuasaan yang mapan. Dan tentunya sedikit banyak juga memberi implikasi terhadap kehidupan ekonomi politik di kawasan Amerika Latin, baik secara domestik maupun internasional. Selama hampir lebih empat dekade pasca embargo ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Kuba menjadikan negara itu harus secara mandiri membangun tatanan kehidupan yang baru tanpa intervensi kekuatan politik manapun. Dalam kondisi demikian Kuba menerapkan pola kebijakan ekonomi politik alternatif yang tentunya tidak mengadopsi pola-pola neoliberal yang notabene dipraktekkan oleh mayoritas negara-negara Dunia Ketiga.

9

Upaya untuk mempertahankan dan menjaga revolusi yang telah menjadi jargon kebijakan politik dalam dan luar negeri Kuba mengharuskan negara tersebut berhadapan vis a vis dengan salah satu kekuatan politik dominan saat ini yaitu Amerika Serikat yang terus berusaha untuk menghancurkan kekuatan politik yang tidak mengabdi pada kepentingan negara adikuasa itu. Selain dengan melancarkan propaganda yang mendiskreditkan pola pemerintahan di Kuba yang dianggap tidak demokratis, Amerika Serikat juga terus membangun hubungan dengan negara-negara di Amerika Latin yang selama ini telah menjadi sekutunya melalui pembangunan blok ekonomi antar negara-negara Amerika yang bermuara pada upaya untuk terus memarginalkan Kuba di kawasan tersebut. Berkaitan dengan upaya Amerika Serikat untuk terus menguatkan hegemoni dan dominasinya di kawasan Amerika Latin dan dalam kaitannya dengan upaya untuk memarginalisasi posisi negara-negara yang melakukan resistensi tehadap kebijakan ekonomi politik Amerika Serikat, maka penulisan ini juga akan membahas tentang FTAA (Free Trade Area of Americas) sebagai upaya Amerika Serikat untuk mengitegrasikan potensi-potensi ekonomi di kawasan tersebut dalam satu blok utama. Berdasarkan batasan-batasan masalah diatas, penulis merumuskan masalah dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana dampak embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan politik di Kuba setelah perang dingin ? 2. Bagaimana hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Amerika Latin pasca embargo ke Kuba setelah perang dingin?

10

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN 1. Tujuan penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan : a. Untuk mengetahui dampak embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan politik di Kuba b. Untuk mengetahui hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Amerika Latin pasca embargo terhadap Kuba 2. Kegunaan penelitian a. Diharapkan dapat memberikan analisa terhadap proses pembangunan ekonomi dan politik paska embargo Amerika Serikat terhadap Kuba dan implikasinya terhadap hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Amerika Latin. b. Diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah dan sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam studi hubungan internasional khususnya kajian kawasan Amerika Latin. D. KERANGKA KONSEPTUAL Dalam melakukan suatu penelitian yang bersifat ilmiah, diperlukan seperangkat teori maupun konsep sebagai pijakan dasar untuk memulainya. Tentu saja teori dan konsep disini harus relevan dengan penelitian yang dilakukan. Dewasa ini kehidupan ekonomi politik setiap bangsa akan sangat dipengaruhi oleh konstalasi ekonomi politik global. Hal ini terjadi akibat adanya relasi antarnegara dalam bingkai sistem ekonomi politik dominan. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari proses liberalisasi ekonomi atau sering kita menyebutnya

11

sebagai globalisasi yang memiliki ideologi neoliberalisme. Konsep tentang neoliberalisme atau juga biasa disebut dengan istilah “kanan baru”10 mengacu pada konsep liberalisme klasik yang beranggapan bahwa negara harus meminimalisir perannya dalam menjalankan mekanisme pasar sehingga memicu terjadinya persaingan sempurna dalam proses perdagangan bebas.11 Mengenai neoliberalisme, Mansour Fakih menjelaskan : Pada pokoknya paham ini memperjuangkan leissez feire (persaingan bebas) yakni paham yang memperjuangkan hak-hak atas pemilikan dan kebebasan individual. Mereka lebih percaya pada kekuatan pasar untuk menyelesaikan masalah sosial ketimbang melalui metode regulasi negara.12 Selanjutnya, untuk memuluskan jalannya program-program neoliberalisme maka dibuatlah blok-blok ekonomi yang pada dasarnya bertujuan untuk membuka pasar seluas-luasnya bagi kepentingan pemodal internasional.13 Hal tersebut kemudian yang memunculkan fenomena regionalisme ataupun integrasi ekonomi yang pada dasarnya adalah upaya untuk memaksimalkan potensi-potensi ekonomi dari berbagai kawasan untuk kepentingan pemodal. Konsep integrasi khususnya dalam bidang ekonomi pada dasarnya adalah upaya antar elit negara dalam hal ini para pemilik modal baik nasional maupun internasional untuk memperluas atau dalam kerangka proses penetrasi pasar yang

10 11

Ian Adams, Op.Cit., hal. 325 Coen Husein Pontoh, Akhir Globalisasi; Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa, C-BOOKS, Jakarta, 2003, hal. 36 12 Mansour Fakih, Bebas Dari Neoliberalisme, Insist Press, Jogjakarta, 2003, hal. 54 13 Coen Husein Pontoh, Op.Cit, hal. 70

12

lebih besar cakupannya sehingga kekuasaan-kekuasaan negara-bangsa beralih kepada blok-blok ekonomi yang telah terbangun baik secara de facto maupun de jure. Dalam hal ini, Ernest B. Haas mengatakan bahwa integrasi adalah : Proses dimana aktor-aktor politik nasional dari berbagai negara diminta mengarahkan loyalitas, harapan, dan kegiatan politik mereka ke institusi pusat baru dan lebih besar; yang lembaga-lembaganya memiliki atau mengambil alih yurisdiksi yang semula berada di tangan negara-bangsa.14 Untuk merespon kondisi dalam maupun luar negeri dalam kaitannya dengan ekonomi politik global, maka sebuah negara atau wilayah harus menentukan garis kebijakan dalam dan luar negerinya secara jelas dan terarah. Kebijakan tersebut tentunya harus memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan apresiasi dan kebutuhan masyarakat secara dominan yang merupakan bagian terpenting dari kepentingan nasional. Kepentingan nasional (national interest) dipahami sebagai konsep kunci dalam politik luar negeri. Konsep tersebut dapat diorientasikan pada ideologi suatu negara ataupun pada sistem nilai sebagai pedoman prilaku negara tersebut. Artinya bahwa keputusan dan tindakan politik luar negeri bisa didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ideologis ataupun dapat terjadi atas dasar pertimbangan kepentingan. Namun bisa juga terjadi interplay antara ideologi dengan kepentingan sehingga terjalin hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara pertimbangan-pertimbangan ideologis dengan pertimbanganpertimbangan kepentingan yang tidak menutup kemungkinan terciptanya formulasi kebijaksanaan politik luar negeri yang lain atau baru.15

14

15

Ernest B. Haas, The Unity of Europe: Political, Social and Economic Forces 1950-1957, Stanford, California: Stanford University Press, 1958, hal. 16. Sumpena Prawira Saputra, Politik Luar Negeri Indonesia, Remaja Karya Offset, Jakarta, 1985, hal. 24

13

Kepentingan nasional (national interest) idealnya harus merupakan cerminan dari kehendak rakyat dari sebuah negara dalam artian sebenarnya. Tidak hanya menjadi keputusan sepihak dari elit yang mendominasi ruang-ruang ekonomi politik tanpa membuka space kontrol yang lebih demokratis. Ketika rumusan kepentingan nasional yang lebih objektif telah disepakati oleh semua elemen rakyat, maka hal tersebut yang kemudian menjadi rumusan kebijakan luar negeri. Politik luar negeri merupakan pencerminan dari kepentingan nasional yang ditujukan ke luar negeri, yang tidak terpisah dari keseluruhan tujuan nasional, dan tetap merupakan komponen atau unsur dari kondisi dalam negeri.16

E. DEFINISI OPERASIONAL 1. Embargo adalah upaya untuk meniadakan barang-barang negara lain dengan melarang perusahaan dalam negeri untuk mengadakan transaksi dengan organisasi-organisasi dagang negara yang dikenakan embargo.17 2. Yang dimaksud dengan implikasi disini adalah ekses yang ditimbulkan akibat embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba. 3. Amerika Latin merupakan daerah yang termasuk di benua Amerika yang terbentang dari sebelah selatan perbatasan Mexico dengan Amerika Serikat. Yang dimaksud dengan negara-negara Amerika Latin adalah negara-negara bekas koloni bangsa-bangsa rumpun kebudayaan Romawi, terutama Spanyol

16 17

J. Frankel, Hubungan Internasional, ANS Sungguh Barsaudara, Jakarta, 1990, Hal. 55 K.J Holsti, Politik Internasional, Kerangka Untuk Analisis, 1983, hal. 171

14

dan Portugis. Namun secara luas juga memasukkan negar-negara merdeka bekas jajahan Inggris. F. METODE PENELITIAN 1. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatif. Analisis eksplanatif saya gunakan untuk menjelaskan dampak embargo Amerika Serikat terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan politik di Kuba serta implikasinya terhadap hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Amerika Latin. 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah telaah pustaka, yaitu cara pengumpulan data dengan menelaah sejumlah literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti baik berupa buku, jurnal, dokumen, makalah, laporan, majalah, surat kabar dan artikel yang berhubungan dengan masalah ini. Data diperoleh melalui kunjungan penulis ke beberapa tempat seperti perpustakaan maupun lembaga-lembaga yang terkait yaitu : 1. Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin di Makassar; 2. Perpustakaan Daerah Makassar di Makassar 3. Perpustakaan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UNHAS di Makassar; 4. CSIS (Centre for Strategic and International Studies) di Jakarta; 5. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta; 6. Departemen Luar Negeri Indonesia di Jakarta

15

7. Kedutaan Besar Kuba di Jakarta 3. Jenis Data Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian adalah data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur. 4. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data kualitatif, dimana penulis akan menjelaskan permasalahan berdasarkan fakta-fakta dan data yang diperoleh. Angka-angka statistik hanya digunakan sebagai penunjang dari fakta-fakta yang dipaparkan. 5. Metode penulisan Metode penulisan yang digunakan penulis adalah metode deduktif, dimana penulis terlebih dahulu akan menggambarkan masalah secara umum, lalu kemudian memaparkan secara khusus pengaruh dari masalah yang terlebih dahulu digambarkan.

16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Neoliberalisme Konstalasi ekonomi politik global saat ini bukanlah sesuatu yang terjadi dengan alamiah atau merupakan sesuatu yang terberi. Kondisi yang kemudian memposisikan Utara dan Selatan dalam posisi yang tidak setara, menciptakan jurang ketidakadilan global antara negara-negara Dunia Pertama dan negara-negara Dunia Ketiga. Akan tetapi kondisi tersebut berada dalam satu bingkai sistem yang saat ini telah menjadi acuan dalam sistem ekonomi politik global yaitu neoliberalisme yang merupakan varian dari sistem kapitalisme. Membahas neoliberalisme, akan menjadi sulit jika kita tidak menyinggung apa itu liberalisme. Paham liberalisme berkonotasi luas, sebagaimana yang disimpulkan oleh Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia: Liberalisme mengacu pada ide-ide politik, ekonomi, bahkan agama. Dalam sistem politik Amerika Serikat, liberalisasi politik dipergunakan sebagai strategi untuk menghindari konflik sosial. Yakni dengan menyuguhkan (liberalisme) pada si miskin dan kaum pekerja sebagai hal yang progresif ketimbang kaum konservatif atau Kaum Kanan. Liberalisme ekonomi berbeda lagi. Politisi-politisi konservatif, yang mengatakan bahwa mereka membenci kata “liberal” –dalam arti tipe politik- tak memiliki keberatan apapun dengan liberalisme ekonomi, termasuk neoliberalisme.1 Liberalisme dengan demikian mempunyai makna yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Liberalisme asal mulanya merupakan bentuk perjuangan kaum borjuasi
1

Elizabeth Martinez & Arnoldo Garcia, What is “Neoliberalism”?, National Network for Immigrant and Refugees Rights, Januari, 1997

menghadapi kaum konservatif. Sehingga boleh dikatakan bahwa liberalisme tadinya merupakan ideologi kaum borjuis kota. Dalam arti luas, liberalisme adalah paham yang mempertahankan otonomi individu melawan intervensi komunitas. Tapi memang ada liberalisme ekonomi juga “civic liberalism” atau liberalisme otonomi individual. Teori yang kemudian menjadi acuan terhadap doktrin pasar bebas ini lahir pada saat borjuasi di Inggris pada abad ke-19 berhasil merebut kekuasaan dari tangan bangsawan penguasa masyarakat feodal yang disimbolkan melalui Revolusi Industri. Doktrin ini pulalah yang menjadi pengabsah bagi para borjuasi tersebut dalam melapangkan jalannya untuk menguasai dunia. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia: Sistem perdagangan bebas, perusahaan bebas dan ekonomi yang berbasiskan pasar, sebenarnya telah muncul sejak 200 tahun yang lalu, sebagai satu mesin penggerak utama dalam pembangunan Revolusi Industri. Namun, pada akarnya dalah merkantilisme yang terbentuk selama Abad Pertengahan dan Zaman Kegelapan Eropa, beberapa ratus tahun sebelumnya. Dan juga memiliki akar serta paralel dengan berbagai metode yang digunakan imperium sepanjang sejarahnya (dan saat ini masih digunakan) untuk menguasai tempat-tempat yang lebih lemah disekitarnya serta untuk merampas kekayaannya. Sebenarnya, bisa diyakini bahwa neoliberalisme (sekarang ini) tak lain merupakan merkantilisme yang didandani oleh retorika yang bersahabat, mengingat realitasnya tetap sama dengan proses merkantilis yang telah berlangsung selama ratusan tahun yang lalu.2 Kata “neo” dalam neoliberalisme sesungguhnya merujuk pada bangkitnya kembali bentuk baru aliran ekonomi liberalisme klasik yang mulanya dibangkitkan oleh ekonom Inggris Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations (1776). Adam Smith yang
2

Ibid

18

dianggap beberapa orang sebagai bapak kapitalisme pasar bebas, menganjurkan bahwa untuk mencapai efisiensi maksimum, semua bentuk campur tangan pemerintah dalam masalah ekonomi sebaiknya ditanggalkan, dan seharusnya tak ada pembatasan atau tarif dalam manufaktur serta perdagangan satu bangsa agar bangsa tersebut bisa berkembang. Lahirnya sistem neoliberalisme merupakan bagian dari upaya untuk menyelesaikan krisis yang inheren dalam tubuh kapitalisme yang secara historis terjadi secara periodik. Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Manifesto Komunis berpendapat bahwa: Krisis yang terjadi dalam tubuh kapitalisme merupakan bagian dari pertentangan yang tak terdamaikan antara tenaga-tenaga produktif (teknologi, ilmu pengetahuan, alat-alat kerja, skill) dengan hubungan produksi yang karena kepemilikan pribadi atas alat produksi-menindas dan eksploitatif; sebuah krisis inheren (dalam dirinya sendiri) yang menunggu ledakan penentuan-berikut syarat-syarat objektif maupun subyektifnya. Pemulihan krisis yang selalu dengan memotong tingkat kesejahteraan hidup rakyat (miskin), kaum buruh, bahkan kemakmuran para kapitalis dan fungsi pelayanan negara, tidak lain merupakan penundaan akan akumulasi krisis yang menghancurkan. Dalam sejarah perekonomian kapitalis, perubahan kebijakan krisis merupakan usaha konsolidasi dan penundaan krisis yang lebih parah.3 Sepanjang sejarahnya, sistem ekonomi kapitalisme telah mengalami krisis yang mengharuskan para penganutnya untuk menemukan solusi untuk menyelesaikan krisiskrisis tersebut. Lahirnya liberalisme pun merupakan evolusi dalam sistem kapitalisme untuk menjawab krisis yang menimpanya.4

Karl Marx dan Friedrich Engels, The Manifesto of Communist Party 1848, http://www.anu.edu.au/polsci/marx/classics/manifesto.html 4 David Yaffe, et.al., Mcglobal gombal Globalisasi dalam Perspektif Sosialis, Cubuc, Jakarta, 2001, hal. 2

3

19

Akan tetapi sejarah liberalisme pasar ala Adam Smith pun harus berujung pada krisis ekonomi. Mengapa? Dipandu oleh doktrin liberal, komoditas diproduksi tidak untuk memenuhi kebutuhan pasar yang abstrak. Akibatnya jumlah komoditas yang diproduksi menjadi tak terbatas jumlahnya, tergantung pada fluktuasi (naik turunnya) permintaan pasar yang tidak bisa diramalkan sehingga terjadi produksi massal. Tapi, bagaimana memasarkan produksi massal itu? Inilah yang tak sanggup dipecahkan oleh sistem kapitalisme, sehingga terjadi kelebihan produksi (over production). Karena kelebihan produksi, tingkat konsumsi dalam negeri menurun sehingga menyebabkan terjadinya stagnasi ekonomi. Kondisi stagnan ini bisa dipecahkan dengan jalan memotong upah buruh bahkan melakukan pemecatan. Tapi jika gerakan buruh kuat, satu-atunya jalan yang harus ditempuh oleh kaum kapitalis adalah memperebutkan pasar dan membagi paar dunia dikalangan mereka. Perebutan pasar dunia itulah yang memicu pecahnya Perang Dunia I ditahun 1918. Dengan perang pasar dikavling-kavling oleh negara-negara industri maju. Pasca-Perang Dunia I, produksi ekonomi yang dituntun liberalisme pasar terus berjalan tanpa kendali sehingga Perang Dunia I tak sanggup mengatasi krisis kelebihan produksi itu, yang akhirnya meledak dalam wujud Depresi Besar (Great Depression) pada dekade 1930-an. Disaat malaise itu, keadaan ekonomi mengalami kontraksi (pengetatan) yang sangat hebat di semua sektor (pertanian dan industri) sehingga terjadi pengangguran massal dimana-mana. Kapasitas produksi terpasang menjadi mubazir karena sebagian besar tak bia dimanfaatkan.

20

Karena “Depresi Besar” pada tahun 1930-an tersebut, seorang ekonom, John Maynard Keynes, menganjurkan bahwa regulasi dan campur tangan pemerintah sebenarnya dibutuhkan untuk memberi keadilan yang lebih besar dalam pembangunan. Selain itu, tugas Keynes edalah bagaimana memacu kembali dinamika kapitalisme tanpa memotong sepeser pun keuntungan kelas pemilik modal. Keynes berteori, liberalisme bukanlah cara terbaik bagi pertumbuhan kapitalisme. Inti pendapatnya, full employment (keadaan tanpa pengangguran) adalah hal yang mutlak perlu untuk pertumbuhan kapitalisme. Dalam bukunya yang terkenal ditahun 1926, berjudul The End of Laissez Faire, Keynes mengatakan, Sama sekali tidak akurat untuk menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip ekonomi politik, bahwa kepentingan perorangan yang paling pintar sekalipun akan selalu berkesesuaian dengan kepentingan umum.5 Keadaan tanpa pengangguran hanya bisa dicapai jika negara dan bank sentral campur tangan dalam menurunkan tingkat pengangguran. Disini Keynes berpendapat, negara tidak hanya diharapkan menjaga ketertiban umum berdasarkan perangkat hukum, menyediakan prasarana ekonomi dan sosial yang memadai, melaksanakan program pemberantasan kemiskinan dan ketimpangan sosial, tetapi juga secara aktif terlibat langsung dalam investasi di bidang perhotelan dan barang-barang konsumsi seperti tekstil, tepung terigu, dan minyak goreng. Kata Keynes: Dalam perekonomian yang sedang menurun, pemerintah sebaiknya memberlakukan deficit spending dalam waktu singkat untuk menciptakan
5

Bonnie Setiawan, Menggugat Globalisasi, INFID & IGJ, Jakarta, 2001, hal. 2

21

lapangan kerja guna menghambat pelarian modal-modal ke luar negari dan memperketat kontrol terhadap pertukaran mata uang.6 Jadi, dalam konsepsi Keynes, negara tidak hanya menjadi parasit tapi investor sekaligus. Dengan campur tangan negara, diasumsikan sirkulasi ekonomi kembali bergerak keluar dari jebakan krisis. Kepercayaan bahwa negara harus memajukan kesejahteraan bersama akhirnya diterima dimana-mana. Ide tersebut mempengaruhi presiden AS, Roosevelt, untuk membuat program New Deal di tahun 1935, program yang ditujukan untuk “meningkatkan kesejahteraan banyak orang”, meningkatkan daya beli. Presiden Roosevelt kemudian mendorong administrasinya campur tangan lebih besar dalam kehidupan ekonomi dengan memusatkan perhatiannya dalam menciptakan lapangan kerja secara massal. Pada musim dingin 1933-1934 saja sudah 4 juta orang bisa mendapat lapangan pekerjaan dalam program-program pekerjaan umum, di atas basis anggaran belanja defisit dan Social Security Act of 1935. Apa yang dilakukan oleh Roosevelt dengan New Deal-nya merupakan suatu pengakuan bahwa dalam perusahaan-perusahaan monopolistik dan dominasi modal uang, ekonomi kapitalis membutuhkan intervensi negara, bila hanya mengandalkan mekanisme pasar semata, maka ia akan hancur. Hanya negara yang sanggup melanggengkan kapitalisme. Karena krisis tahun 1930-an itu dipicu oleh kelebihan produksi, maka salah satu wujud intervensi negara adalah membuka pasar negara lain bagi produksi komoditas negara industri maju jalan terampuh dan efektif untuk membuka pasar tak lain dengan perang.
6

Doug Lorimer, Welfare Capitalism http://jinx.sistm.unsw.edu.au/greenleft/2000/397/397p16.htm.

and

Neoliberal

Globalization,

22

Persis, seperti yang dikatakan Keynes dalam tulisannya The General Theory of Employment, Interest, and Money bahwa perang telah menjadi satu-satunya bentuk pembelanjaan dalam skala besar (berbentuk hutang pemerintah) yang harus disetujui, diabsahkan, oleh negarawan.7 Pasca Perang Dunia II, pertumbuhan ekonomi sangat luar biasa. Periode pascaperang hingga pertengahan tahun 1970-an disebut sebagai “Zaman Keemasan Kapitalisme” (Capitalist Golden Age), yang ditandai dengan berkembangnya negara-negara kesejahteraan dan berkembangnya pertumbuhan ekonomi ssat itu. Meski demikian kondisi ini tidak terjadi akibat pengadopsian kebijakan Keynesian akan tetapi restorasi tingkat keuntungan (dalam investasi produksi) lah yang menyelamatkannya, yaitu melalui : 1. rendahnya upah riil (karena tingkat pengangguran tahun 1930-an) 2. hancurnya kompetisi bisnis, dan terjadinya konsentrasi modal secara massif 3. anggaran defisit negara yang dibelanjakan untuk membeli barang-barang kebutuhan perang sejak awal 1940-an.8 Karena tetap berjalan diatas fondasi hukum ekonomi kapitalis, pertumbuhan ekonomi yang begitu mengagumkan saat itu juga tak bertahan lama. Menjelang akhir tahun 1960-an dan dekade 1970-an kapitalisme kembali jatuh dalam krisis. Tingkat pertumbuhan dan investasi mulai jatuh di awal masa tersebut (sampai setengah dari tingkat sebelumnya).
7

Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik, Kejahatan Badan-Badan Keuangan/ Perdagangan Dunia dan Agen-Agen Lokalnya, 2002, hal. 3 8 Ibid

23

Pengangguran merajalela, sementara eksploitasi terhadap sumber-sumber daya semakin tak terkendali.9 Krisis kelebihan produksi secara periodik terjadi kembali. Diawali pada tahun 19731975 dengan indikasi stagnasi panjang dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Ukuran stagnasi panjang tersebut adalah lambatnya perkembangan produktivitas kerja.

Pertumbuhan produktivitas kerja AS, misalnya, selama 25 tahun belakangan adalah ratarata 1 % per tahun, padahal 25 tahun sebelumnya rata-rata 2 %. Indikasi lain bahwa resesi makin dalam adalah statistik ekonomi dunia. Antara 1970-1990 rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5 %. Selama dasawarsa 70-an ada 8 tahun pertumbuhan di atas rata-rata tersebut dan 2 tahun di bawah rata-rata, selama dasawarsa 80-an ada 5 tahun di atas ratarata, 4 tahun di bawah rata-rata.10 Berbeda dengan krisis 1930-an, yang dianggap lahir karena pendewaan terhadap pasar, krisis kali ini dianggap sebagai akibat intervensi negara terhadap pasar. Keynesian dipersalahkan, karena intervensi negara telah menyebabkan kelas kapitalis gagal dalam melipatgandakan akumulasi kapital. Secara teoretis, ada dua penjelasan mengapa Keynesian gagal dalam

mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Pertama, kebijakan intervensi negara yang dianjurkan Keynes guna merangsang dan menggerakkan roda perekonomian yang macet akibat “Depresi Besar”, sekaligus mencegah berulang kembalinya krisis ekonomi, hanya bisa dipenuhi jika terjadi pertumbuhan ekonomi tinggi terus menerus
9 10

Samir Amin, Ekonomi Politik Abad ke-20, Bulletin Diponegoro 74, No. 9/2001, hlm. 42 LINKS, No. 12, Mei-Agustus, 1999

24

dan berkesinambungan. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi tinggi pascamalaise terjadi karena dikobarkannya Perang Dunia II yang dimenangkan oleh negara-negara imperialis. Dengan kualitas hasil pertumbuhan ekonomi yang dicapai diatas bangkai jutaan manusia itu, negara-negara imperialis sanggup memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Kedua, pertumbuhan tinggi hanya bisa terjadi jika kebebasan pasar dan upah buruh murah. Disini letak kegagalan teori Keynes, karena ia menderita kontradiksi didalam dirinya sendiri. Di satu sisi ia menganjurkan intervensi negara secara aktif dalam pasar, tapi disisi lain, intervensi itu menyebabkan pasar terdistorsi sehingga momentum pertumbuhan ekonomi, sebagai sumber pendapatan negara dalam negara kesejahteraan, mengalami perlambatan. Bagaimana mungkin mewujudkan distribusi kemakmuran tanpa menggerogoti keuntungan kelas kapitalis?.11 Cara-cara Keynes hanya akan mendorong suatu inflasi harga barang-barang dan jasa-jasa saja bila para investor yang menguasai bisnis (oligarki finasial) tidak bisa memperluas pasar bagi peningkatan produksinya. Selama Depresi Besar tersebut tak ada perluasan pasar seperti yang diharapkan, itulah mengapa keampuhan kebijakan Keynesian sangat terbatas. Krisis yang terjadi pada dekade 1970-an menjadi babak akhir dari sistem Keynesian dan menjadi gerbang dimulainya pembaruan ide-ide klasik liberalisme melalui neoliberalisme. Dalam bukunya Bebas Dari Neoliberalisme, Mansour Fakih menjelaskan bahwa: Pada pokoknya paham ini memperjuangkan leissez feire (persaingan bebas) yakni paham yang memperjuangkan hak-hak atas pemilikan dan kebebasan individual. Mereka lebih percaya pada kekuatan pasar untuk menyelesaikan masalah sosial ketimbang melalui metode regulasi negara.12

11 12

Coen Husain Pontoh, Op.Cit., Hal. 48-49 Dr. Mansour Fakih, Op.Cit., hal. 54

25

Untuk mewujudkan pasar bebas dan memberikan solusi atas krisis yang sering dialami oleh kapitalisme, maka dijalankanlah berbagai kebijakan-kebijakan neoliberalisme. Adapun poin-poin utama neoliberalisme menurut Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia antara lain: 1. Hukum pasar, kebebasan bagi modal, barang dan jasa, sehingga pasar bisa mengatur dirinya sendiri agar gagasan “tetesan ke bawah” dapat

mendistribusikan kekayaan. Juga mencakup upaya agar tenaga kerja tak diwakili serikat buruh, dan menyingkirkan semua hambatan yang menghalangi mobilitas modal, seperti peraturan-peraturannya. Kebebasan tersebut harus diberikan oleh negara atau pemerintah. 2. Mengurangi pembelanjaan publik bagi pelayanan-pelayanan sosial, seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan yang disediakan oleh pemerintah. 3. Deregulasi, agar kekuatan pasar bisa bekerja menurut mekanisme aturannya sendiri. 4. Swastanisasi perusahaan-perusahaan milik publik (seperti perusahaan-yang mengelola kebutuhan air, dsb) 5. Mengubah persepsi baik tentang publik dan komunitas menjadi individualisme dan tanggung jawab individual.13 Sama halnya juga dengan Richard Robinson yang meringkas prinsip-prinsip utama di balik ideologi neoliberalisme ini:
13

Elizabeth Martinez & Arnoldo Garcia, Op.Cit.

26

1. Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebagai cara untuk memajukan manusia. 2. Pasar bebas tanpa “campur tangan” pemerintah adalah yang paling ampuh dan secara sosial bisa mengoptimalkan alokasi sumber daya. 3. Globalisasi ekonomi akan menguntungkan semua orang 4. Swastanisasi akan menghilangkan pemborosan dalam sektor publik 5. Fungsi utama pemerintah seharusnya adalah menyediakan infrastruktur untuk memajukan kepatuhan akan hukum, yang berkaitan dengan hak-hak pemilikan dan kontrak.14 Agar tujuan tersebut bisa dipenuhi maka berbagai kontrol harus disingkirkan. Atau satu-satunya jalan untuk memaksimalkan itu semua adalah dengan menanggalkan berbagai kontrol; menghapuskan hal-hal yang dianggap membatasi perdagangan bebas, seperti: 1. tarif 2. peraturan-peraturan 3. standar-standar tertentu, legislasi, ukuran-ukuran yang diregulasi 4. pembatasan-pembatasan terhadap aliran kapital dan investasi.15 Tujuannya agar mampu melepaskan pasar bebas mencari keseimbangannya keseimbangannya sendiri secara alamiah melalui tekanan permintaan-permintaan pasar, yang merupakan kunci bagi keberhasilan ekonomi yang berbasiskan pasar.

14 15

Richard Robinson, Global Problems and the Culture of Capitalism, Allyn Bacon, 1999, hal. 100 Anup Shah, Kepentingan Utama Globalisasi, The Institute of Global Justice & Lembaga Pembebasan, Media Dan Ilmu Sosial, Jakarta, 2004. Hal. 18-19

27

Dalam Manifesto Partai Komunis, Karl Marx dan Friedrich Engels menjelaskan bahwa kapitalisme tidak dapat hidup dalam satu negeri. Hanya dengan berada dimana-mana bertempat dimana-mana dan menjalin hubungan dimana-mana, barulah sistem

perekonomian yang baru ini bisa eksis, tapi, berbeda dengan perspektif Adam Smith, yang percaya bahwa keberadaan borjuasi dimana-mana itu hanya mungkin jika hadir sitem pasar bebas, Marx justru berpendapat watak universal dari kapitalisme adalah sebuah keniscayaan: ada atau tidak ada pasar bebas. Borjuasi, dengan perbaikan cepat dari segala alat produksi, dengan semakin mudahnya kesempatan untuk menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala bangsa, sampai yang paling biadab pun, ke dalam peradaban. Hargaharga murah dari barang dagangannya merupakan artileri berat yang dengannya ia memporakporandakan tembok-tembok Tiongkok, yang dengannya ia menaklukkan kebencian berkepala batu dari kaum biadab terhadap orang-orang asing. Ia memaksa semua bangsa, dengan ancaman akan musnah, cara produksi borjuis; ia memaksa mereka mengemukakan apa yang disebutnya peradaban itu ke tengah-tengah lingkungan mereka, yaitu supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.16 Bahkan, dalam perkembangannya kapitalisme malah mengingkari hukum-hukum yang diformulasikan Smith. Pasar bebas tak pernah benar-benar ada, karena sesungguhnya secara historis menurut Walter S. Jones bahwapersagangan sangat terkait dengan penaklukan wilayah.17 Hukum perkembangan kapitalisme yang menjauh dari konsep persaingan bebas itu mendapat penegasan dari Lenin. Ketika menganalisis perkembangan kapitalisme pada akhir abad ke-20, Lenin menulis:
16 17

Ibid Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional kekuasaan, Ekonomi Politik Internasional dan Tatanan Dunia 2, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993, hal. 249

28

Persaingan telah berubah menjadi monopoli. Akibatnya terjadi kemajuan yang luar biasa dalam sosialisasi produksi, khususnya, proses penemuan teknis dan perbaikan. Ini adalah suatu hal yang sama sekali berbeda dengan persaingan bebas masa lalu antar kelompok pengusahayang terpencarpencar, yang tidak berhubungan sama sekali, dan berproduksi untuk pasar yang tidak dikenal. Konsentrasi telah menjadi titik dimana ia mampu membuat perkiraan yang mendekati kebenaran akan sumber bahan mentah, sebuah negeri dan malahan beberapa negeri dan dunia.18 Selanjutnya Lenin juga menulis bahwa: Produksi menjdi bersifat sosial, tetapi kepemilikan tetap bersifat individual. Alat-alat produksi sosial tetap dikuasai oleh segelintir orang. Kerangka umum mengenai persaingan bebas secara formal tetap diakui, tetapi penindasan kaum monopolis terhadap penduduk seratus kali lebih berat, lebih menyusahkan dan tak tertahankan.19 Perkembangan baru dari kapitalismeini oleh Lenin disebut nya imperialisme. Menurut Lenin bahwa ciri mendasar dari kapitalisme adalah adanya perdagangan bebas. Sedangkan ciri mendasar dari imperialisme adalah adalah monopoli.20 Atau dalam bahasa Alexander Kulikov bahwa monopoli kekuasaan ekonomi adalah basis dari imperialisme.21 Perbedaan ini tidak lantas menggiring kita pada kesimpulan, monopoli adalah bentuk menyimpang dari kapitalisme. Justru sebaliknya, monopoli adalah hasil dari persaingan bebas. Lenin membahasakan bahwa persaingan bebas menghasilkan konsentrasi produksi, dan gilirannya, pada suatu tingkat perkembangan tertentu, menjurus kearah monopoli.22

18 19

Vladimir Ilych Ulyanov (Lenin), Imperialism, The Highest Stage of Capitalism, http://www.marxist.org. Ibid 20 Ibid 21 Alexander Kulikov, Political Economy, Progres Publishers, Moskwa, 1986, hal. 78 22 Ibid

29

Dari sini kita akan membahas tentang dominasi perusahaan multinasional MNCs) dan transnasional (TNCs) yang menjadi aktor pokok dalam neoliberalisme. Lenin menjelaskan bahwa akibat monopoli, perusahaan yang besar akan menjadi semakin besar karena tidak saja mampu memaksimalkan profit tapi juga karena mencaplok perusahaanperusahaan kecil yang tidak efisien. Kulikov mencontohkan pada awal abad ke-20, terdapat lebih dari 1.600 perusahaan di Amerika Serikat yang bergerak di bidang industri otomotif, tapi dalam perkembangannya, pada awal 1980-an, tinggal tersisa empat perusahaan. Tiga diantaranya, General Motors, Ford, dan Chrysler, saat ini menguasai 97,8 persen seluruh produksi otomotif dalam negeri. Demikian juga dengan industri minyak di dunia kapitalis ini dikuasai oleh tujuh perusahaan monopoli, dengan dua yang terbesar yakni, US Exxon dan Anglo Dutch Royal-Dutch Shell.23 Kini, perusahaan-perusahaan monopolis tidak hanya menempati kunci di sektor industri dan perbankan, tapi juga pertanian, konstruksi, transportasi, pertahanan keamanan, komunikasi, serta perdagangan dan jasa. Lebih dari itu, kaum monopolis juga mendikte kehidupan sosial, melalui media televisi, radio, dan koran. Mereka telah berkembang biak menjadi apa yang disebut Gustav Hilferding, ekonom sosialis Austria, sebagai finance capital yakni, Suatu bagian yang senantiasa membesar dari kapital di dalam industri, tidak lagi menjadi milik kaum industrialis yang menggunakannya. Mereka dapat memanfaatkannya hanya melalui perantara perbankan, yang dalam kaitan dengan mereka, mewakili pemilik kapital. Dipihak lain, bank terpaksa harus menaruh bagian yang makin besardari kapitalnya, ke dalam industri. Dengan
23

Ibid. Hal. 79

30

demikian, dalam derajat yang makin meningkat, bankir berubah menjadi kapitalis industri. Kapital bank ini, yaitu kapital dalam bentuk uang, yang kemudian hakikatnya berubah menjadi kapital industri, saya sebut finance capital. Jadi, finance capital adalah kapital yang dikuasai oleh bank-bank dan digunakan oleh industrialis-industrialis.24 Selanjutnya, lenin mengingatkan bahwa definisi yang yang dikemukakan Hilferding itu tidak akan berarti apa-apa, jika kita tidak memahami wataknya yang monopolistis. Disini, ia bicara soal finance oligarchy. Yakni, konsentrasi finance capital di tangan beberapa gelintir elit borjuis, yang menjalankan perusahaan-perusahaan dengan tujuan mengakumulasi laba yang sebesar-besarnya melalui perusahaan-perusahaan, pengeluaran surat-surat berharga, dan pinjaman-pinjaman negara. Seluruh aktivitas ekonomi ini pada akhirnya hanya menguntungkan dan mengukuhkan dominasi finance oligarchy atas masyarakat. Kulikov menyatakan, pada saat sekarang ini, contoh terbaik dari finance oligarchy itu adalah Rockfellers, Morgans, Du Ponts, Gianninis, Fords, Mellons dan Hunts di Amerika Serikat. Di Inggris kita mengenal Rotschilds, lazards, Barings, dan Schroeders, atau Flicks, Hoeschs, dan Hanils di Jerman.25 Pasca Perang Dunia II, finance oligarchy juga mewujud dengan kekuasaan yang sangat besar, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO. Perusahaan-perusahaan multinasional adalah perusahaan yang kegiatan bisnisnya bersifat internasional dan lokasi produksinya terletak dibeberapa negara. Dengan jangkauannya yang mendunia, para pebisnis dan ekonom zaman ini percaya hanya

24 25

Ibid Ibid, Hal. 82

31

perusahaan-perusahaan multinasional yang mampu mendefinisikan dua kebutuhan dasar dari aktivitas ekonomi saat ini; pertama, pertumbuhan aset-aset; dan kedua, pertumbuhan tingkat keuntungan. Dalam pandangan perusahaan-perusahaan multinasional, dunia ini adalah adalah sebuah pasar bebas yang besar:hubungan sosial diartikan sebagai hubungan antara penjual dan pembeli, sehingga seluruh aktivitas manusia disederhanakan menjadi perjuangan untuk memperoleh keuntungan. Disamping itu, secara organisasional, struktur hierarki dari perusahaan-perusahaan multinasional sangat sempurna. Kontrol dan komando dari Board of Directors dan hief Executive Officer menjangkau kebawah hingga kelapisan buruh yang paling rendah. Dengan demikian, kedudukan seseorang dalam hierarki menunjukkan kekuasaan, penghargaan, dan keistimewaan orang tersebut. Kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan multinasional dan

transnasional berbasis pada kepemilikannya yang monopolis atas kapital sebagai akibat perkembangan maju kapitalisme. Dimana ekspor barang yang merupakan ciri khas kapitalisme lama, sudah digantikan oleh ekspor kapital yang merupakan ciri khas kapitalisme baru. Meningkatnya ekspor kapital adalah konsekuensi logis dari finance capital. Akibat dominasi finance capital, negara-negara kapitalis maju berhasil mengakumulasi kapital hingga mencapai ukuran raksasa, yang terbukti tidak dapat ditampung oleh pasar domestik yang semakin sempit. Jika situasi ini dipertahankan, akumulasi kapital yang berlebih itu akan memicu terjadinya krisis ekonomi sehingga kebutuhan untuk ekspor kapital menjadi

32

tak terelakkan. Itu sebabnya, ekspor kapital oleh Kulikov disebutnya sebagai metode yang efektif bagi ekspansi kekuasaan monopolis dan untuk meningkatkan porsi keuntungan mereka.26 Dengan kedudukan yang monopolis, kekuasaan perusahaan-perusahaan

multinasional dan transnasional mengatasi kekuasaan sebuah negara-bangsa. Untuk mempertahankan tingkat keuntungannya yang maksimal, perusahaan-perusahaan

multinasional melakukan trategi umumnya yaitu, memaksa sebuah negara-bangsa untuk melaksanakan tiga hal yaitu: menjamin kebebasan berinvestasi, kebebasan aliran modal, menjamin terjadinya perdagangan bebas terhadap semua barang dan jasa termasuk hak atas kekayaan intelektual. Dengan doktrin trinitasnya ini, perusahaan-perusahaan multinasional makin leluasa dalam mengakumulasi kapitalnya di seluruh penjuru bumi. Hal tersebut sejalan dengan yang dibahasakan oleh William I Robonson bahwa: Mobilitas modal secara global memungkinkan terjadinya sentralisasi dan integrasi fungsional seluruh bagian dunia dalam rantai produksi dan distribusi, perubahan nilai uang yang sangat cepat dengan pemusatan manajemen, kontrol dalam pembuatan sebuah keputusan arus modal antar bangsa. Institusi-institusi ini termasuk didalamnya, perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional yang menguasai dan mengatur sumber ekonomi dunia dan kesejahteraan umat manusia, serta lembaga keuangan internasional (seperti IMF dan Bank Dunia). Lembaga-lembaga tersebut telah mendorong terselenggaranya kondisi yang dibutuhkan bagi terwujudnya akumulasi modal secara global. Pembagian dunia kedalam negera-negara Utara dan mitra juniornya di Selatan telah menciptakan politik -baik lokal maupun global- tata adminstrasi, dan hukum internasional yang memungkinkan berfungsinya sistem ini. Begitu juga dengan forum nasional antarbangsa baik yang bersifat formal maupun informal, seperti negara (Group of Seven), Komisi Trilateral (Trilateral Commission), dan
26

Ibid, Hal. 84

33

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) yang membangun strategistrategi untuk mempertahankan dan mereproduksi sistem, sertamengawasi keseluruhan operasi.27 Karena konsekuensi dari ekspor kapital adalah bertumbuhnya perusahaanperusahaan multinasional yang bersifat monopolis, mereka kemudian membagi dunia dikalangan mereka sendiri. Pembagian dunia itu, kadang terjadi dalam wujud perang militer, seperti Perang Dunia Pertama dan Kedua dan perang-perang kecil lainnya. Bentuk lain dari pembagian dunia itu adalah perang ekonomi, seperti adanya kelompok G7 dan blok-blok ekonomi. Tujuan utamanya adalah membuka pasar seluas-luasnya bagi kepentingan kaum kapitalis. Dari sini, fenomena munculnya regionalisme ekonomi harus dilihat sebagai perwujudan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional. Fenomena munculnya tren regionalisasi menjadi arena baru bagi penganut pasar bebas untuk memperdalam, mempercepat, dan memperkukuh prinsip-prinsip perdagangan bebas. Hal tersebut dapat dilihat pada klausa-klausa yang telah disepakatioleh masingmasing blok ekonomi tersebut. Kerja-kerja perusahaan-perusahaan multinasional makin efektif karena disokong organisasi atau rezim internasional yang berfungsi sebagai surveillance system. Untuk menjamin bahwa negara-negara di seluruh dunia patuh menjalankan doktrin neoliberal. Tiga institusi yang terpenting tersebut adalah IMF, WTO, dan Bank Dunia.

27

William I. Robinson, Neoliberalisme, Elit Global, dan Transisi Guatemala:Seuah Analisis Makrostruktural, C-Books, Jakarta, 2003, Hal. 3

34

Kebutuhan utama didirikannya lembaga-lembaga keuangan internasional ini, lebih didorong untuk mempromosikan kebijakan-kebijakan kapitalis dan memperkuat kekuasaan sektor swasta. Seperti dikemukakan oleh Michael Camdessus, dalam papernya, “Reflection on the IMF and Internasional Monetary System”, bahwa gagasan utama pembentukan IMF agar negara-negara anggota mengadopsi kebijakan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan, dan keterbukaan ekonomi bagi perdagangan internasional.28 Fokus kerja Bank Dunia adalah “membantu pembangunan dan rekonstruksi teritori para anggota dengan memfasilitasi investasi kapital untuk tujuan produksi”. Bidang garapnya, misalnya, pembangunan jalan-jalan kereta api, jalan raya, jembatan, pelabuhan dan infrastruktur lainnya, yakni kegiatan ekonomi yang tidak menguntungkan jika dibangunoleh perusahaan-perusahaan swasta. Setelah Eropa, fokus kerja Bank Dunia berpindah ke Dunia Ketiga. Dalam bingkai itu, IMF didirikan untuk melicinkan jalan bagi perdgangan dunia melalui pengurangan pembatasan lalu lintas devisa dan penggunaan dana-dana cadangan untuk dipinjamkan kepda negara-negara yang mengalami masalah keseimbangan neraca pembayaran sementara sehingga perdagangannya terus berlanjut tanpa diinterupsi, pemberian dana-dana ini ditujukan agar seluruh negara memperoleh keuntungan dari pasar dunia, khusunya negara-negara induk imperialis seperti Amerika Serikat dan Inggris.

28

Rizal Ramli, Malpraktek dan Mitos IMF di Indonesia, Makalah yang disampaikan dalam seminar yang dilakukan oleh Aliansi Anti IMF (ANTI) di Jakarta, 2002

35

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program di Bank Dunia dan IMF ini, maka program neo-Liberal, mengambil bentuk sebagai berikut: 1. Paket kebijakan Structural Adjustment (Penyesuaian Struktural), terdiri dari komponen-komponen: (a) Liberalisasi impor dan pelaksanaan aliran uang yang bebas; (b) Devaluasi; (c) Kebijakan moneter dan fiskal dalam bentuk: pembatasan kredit, peningkatan suku bunga kredit, penghapusan subsidi, peningkatan pajak, kenaikan harga public utilities, dan penekanan untuk tidak menaikkan upah dan gaji. 2. Paket kebijakan deregulasi, yaitu: (a) intervensi pemerintah harus dihilangkan atau diminimumkan karena dianggap telah mendistorsi pasar; (b) privatisasi yang seluas-luasnya dalam ekonomi sehingga mencakup bidang-bidang yang selama ini dikuasai negara; (c) liberalisasi seluruh kegiatan ekonomi termasuk penghapusan segala jenis proteksi; (d) memperbesar dan memperlancar arus masuk investasi asing dengan fasilitas-fasilitas yang lebih luas dan longgar. 3. Paket kebijakan yang direkomendasikan kepada beberapa negara Asia dalam menghadapi krisis ekonomi akibat anjloknya nilai tukar mata uang terhadap dollar AS, yang merupakan gabungan dua paket di atas ditambah tuntutantuntutan spesifik.29 Sementara itu, proyek politik para kaum neoliberal adalah mempromosikan “demokrasi”, atau lebih tepat disebut poliarki. Sebuah sistem yang merujuk pada adanya
29

Sritua Arif, Teori Dan Kebijaksanaan Pembangunan, CIDES, 1998, hal. 360-367

36

sekelompok kecil yang benar-benar memiliki kekuasaan dan terlibat langsung dalam pembuatan kebijakan, sembari hanya memberi kesempatan kelompok mayoritas memilih mereka yang bersaing dalam sistem pemilihan umum yang diawasi secara ketat. Tipe “demokrasi pura-pura” ini sama sekali tidak melibatkan kekuasaan dari massa rakyat, kekuasaannya berakhir setelah kelompok elit yang berkuasa dan menyebabkan semakin menganganya kesenjangan akibat ekonomi global. Krisis yang berkembang diseluruh Negara Dunia Ketiga semenjak tahun 1970-an sampai 1980-an, dalam konteks neoliberalisasi, ternyata diselesaikan oleh transisi poliarkis. Dari transisi kita membongkar adanya upaya dari kelompok dominantransnasional untuk kembali menegaskan dominasi politik. Dominasi ini dilakukan dari cara-cara yang paling memaksa (koersif) dengan bantuan rezim diktator hingga cara-cara konsensus dengan kelompok poliarkis. Taruhan dari pentaan sosial seperti ini apalagi ditunjang dengan kemunculan kekuasaan kapitalis global adalah bangkitnya otoritarianisme. Desakan yang sangat kuat dari dalam untuk melakukan demokratisasi yang lebih serius, ditambah elit-elit transnasional yang memiliki kekuatan struktural ekonomi global dan pengaruh politik ideologis yang besar didalamnya, sering membuat negara, seperti Amerika Serikat, melakukan intervensi politik bahkan militer secara langsung untuk mengukuhkan kembali hegemoninya.

37

B. Konsep Kebijakan Politik Luar Negeri Interaksi antarnegara dalam paradigma hubungan internasional banyak ditentukan oleh politik luar negeri negara tersebut. Politik luar negeri tersebut merupakan kebijakasanaan suatu negara untuk mengatur hubungan luar negeri. Ia merupakan bagian dari keijaksanaan nasional negara tersebut dan semata-mata dimaksudkan untuk mengabdi kepada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk kurun waktu yang sedang dihadapi, dan hal tersebut lazimnya diseut kepentingan naional. Tujuan politik luar negeri adalah mewujudkan kepentingan nasional negaranya. Tujuan tersebut memuat gambaran atas keadaan negara di masa mendatang dan kondisi masa depan yang diinginkan. Kepentingan nasional (national interest) dipahami sebagai konsep kunci dalam politik luar negeri. Konsep tersebut dapat diorientasikan pada ideologi suatu negara ataupun pada sistem nilai sebagai pedoman prilaku negara tersebut. Artinya bahwa keputusan dan tindakan politik luar negeri bisa didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ideologis ataupun dapat terjadi atas dasar pertimbangan kepentingan. Namun bisa juga terjadi interplay antara ideologi dengan kepentingan sehingga terjalin hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara pertimbangan-pertimbangan ideologis dengan pertimbangan-pertimbangan kepentingan yang tidak menutup kemungkinan terciptanya formulasi kebijaksanaan politik luar negeri yang lain atau baru.30

Dalam pelaksanaan tentang politik luar negeri terdapat tiga determinan yang harus diperhatikan. Pertama adalah kepentingan nasional, dimana politik luar negeri adalah pencerminan dari kepentingan nasional suatu negara terhadap lingkungan luarnya. Politik luar negeri sebagai pencerminan dari kepentingan nasional dikemukakan oleh J. Frankel :
30

Sumpena Prawira Saputra, Politik Luar Negeri Indonesia, Remaja Karya Offset, Jakarta, 1985, hal. 24

38

Politik luar negeri merupakan pencerminan dari kepentingan nasional yang ditujukan ke luar negeri, yang tidak terpisah dari keseluruhan tujuan nasional, dan tetap merupakan komponen atau unsur dari kondisi dalam negeri.31 Yang perlu diperhatikan dalam keterkaitan kepentingan nasional dan politik luar negeri adalah bahwa pelaksanaan politik luar negeri tersebut semaksimal mungkin dapat menguntungkan bagi kepentingan nasional, baik diukur dari kepentingan keselamatan dan keamanan nasional, maupun diukur dari peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan nasional. Determinan kedua yang berhubungan dengan politik luar negeri dan politik internasional adalah kemampuan nasioanal. Kemampuan naional adalah kemampuan yang dimiliki suatu bangsa, baik secara aktual maupun bersifat potensial. Dengan kemampuannya, segenap daya bangsa baik yang manifest maupun latent yang meliputi segala sumber daya yang yang melekat pada bangsa yang bersangkutan. Strategi politik luar negeri adalah output. Sedangakan input berasal dari kondisi-kondisi lingkungan ekstern dan dan intern yang dikonversi menjadi input, melalui proses pemahaman situasi yang dikaitkan dengan penentuan tujuan yang akan dicapai, mobilisasi untuk mencapai tujuan tersebut dan upaya-upaya nyata dalam merealisasikan tujuan yang sudah ditetapkan.32 Politik luar negeri sebagai serangkaian atau sekumpulan komitmen, mengacu kepada strategi, kepentingan dan tujuan-tujuan khusus (spesificgoals) serta sarana-sarana (means) untuk pencapaiannya. Komitmen dan rencana tindakan ini dapat ditelaah dari

31 32

J. Frankel, Hubungan Internasional, ANS Sungguh Barsaudara, Jakarta, 1990, Hal. 55 K.J. Holsti, Politik Internasional:Kerangka Analisis Pedoman Ilmu, Jakarta, 1987, Hal. 88

39

kondisi riil dan situasi nyata yang sedang berlangsung, sehinnga dapat lebih mudah diamati dan dianalisa. Determinan ketiga adalah kondisi internasional dengan sifatny yang dinamis. Setiap negara merumuskan kebijaksanaan politik luar negeri,tetapi tidak akan mungkin mengatur dan menetapkan proses dinamika internasional sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara bangsa-bangsa di dunia. Politik luar negeri berhubungan dengan semua usaha dari sistem politik nasional untuk beradaptasi dengan lingkungan geopolitiknya dan untuk menetapkan tindakan pengendaliaan terhadap lingkungannya agar dapat memenuhi nilai-nilai (goal values) yang terdapat dalam sistemnya.33 Sufri Yusuf memberikan sebuah definisi standar menyatakan bahwa politik luar negeri itu adalah politik untuk mencapai tujuan nasional dengan menggunakan segala kekuasaan dan kemampuan yang ada.34 Karena situasi dan kondisi dunia yang tidak statis, tetapi mengalami dinamika yang terus berkembang, maka kebijaksanaan politik suatu negara selalu mengalami penyusunan atau mengalami penyesuaian dengan kondisi politik luar negeri, karena politik luar negeri merupakan perpanjangan tangan dari politik dalam negeri. Oleh sebab itu, kebijaksanaan politik luar negeri sangat ditentukan oleh kondisi obyektif politik dalam negeri. Apa yang dirumuskan pada politik dalam negeri, akan menjadi acuan untuk perumusan politik luar negeri yang ditujukan pada dunia internasional.

33 34

Ibid, Hal. 133 Sufri Yusuf, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri, Sebuah Analisis Teoritis dan Uraian Pelaksanaannya, Pustaka Sinar, Jakarta, 1989, Hal.110

40

Politik luar negeri sebagai topik kajian ilmiah merupakan suatu bidang studi yang kompleks dan luas yang mencakup tidak kurang dari kehidupan intern dan kebutuhan ekstern dari sekelompok besar masyarakat dan berusaha memelihara identitas geografis, hukum, dan sosial sebagai negara bangsa (nation state). Politik luar negeri merupakan sintesa dari tujuan masyarakat (national interest) dan saran yang berupa kekuasaan dan kapabilitas negara-negara dalam interaksinya dengan negara lain. Definisi standar dari politik luar negeri diturunkan dari unsur-unsur yang sangat fundamen, dimana politik luar negeri terdiri dari dua elemen utama, yakni tujuan nasional yang akan dicapai dan sumber daya untuk mencapainya. Theodore A. Columbus menunjukkan bahwa interaksi antara tujuan-tujuan nasional dan sumber dayanya merupakan subyek keahlian sebagai negara yang abadi. Dalam unsur-unsurnya, politik luar negeri dan semua bangsa, besar dan kecil adalah sama.35 Sasaran politik luar negeri pada hakekatnya adalah mewakili, menegakkan, membela, memperjuangkan, dan memenuhi kepentingan nasionalnya dalam forum hubungan internasional yang tak lain adalah forum interaksi masyarakat internasional. Suatu pemerintah pada umumnya berusaha mewujudkan tujuan nasionalnya melalui berbagai cara yang bervariasi antara satu negar dengan negara lain, yang drefleksikan antara lain melalui perumusan kebijaksanaan politik luar negeri. Hal ini dipertegas oleh pendapat Holsti yang merumuskan bahwa:

35

Theodore A. Coulombis, International Relations:Powers and Justice, Terjemahan, Drs. Marsedes Marbun, CV. Abardin, 1990, Hal. 125

41

Kebijakan, sikap atau tindakan suatu negara merupakan output politik luar negeri dengan berlandaskan pemikiran serta pola tindakan yang disusun oleh para pembuat keputusan untuk; (1) menanggulangi permasalahan, dan (2) mengusahakan perubahan dalam lingkungan internasional.36 Disparitas antara pernyataan-pernyataan tentang nilai dan prinsip yang dianut oleh satu pihak dengan kepentingan politik praktis di pihak lain memang kadang terjadi dalam pengambilan keputusan atau tindakan politik luar negeri. Merujuk pada pendapat Frankel yang mengatakan bahwa kepentingan nasional pada hakikatnya merupakan keseluruhan nilai yang hendak ditegakkan oleh bangsa.37 Terhadap nilai tersrsebut Dr. Budiono berpendapat bahwa apabila dirumuskan akan mencerminkan pandangan hidup dari suatu bangsa, dan pandangan hidup tersebut baru menjadi relevan bagi politik luar negeri setelah dijabarkan ke dalam struktur sasaran yang pragmatis. Politik luar negeri adalah keseluruhan proses keputusan pemerintah untuk mengatur semua hubungannya dengan ‘kalangan luar’, semua bentuk ‘hubungan luar negeri yang dikontrol pemerintah merupakan bagian dari politik luar negeri.38 Definisi politik luar negeri yang menekankan pada strategi dikemukakan oleh Jack C. Plano dan Roy Olton: Politik luar negeri merupakan strategi atau rencana yang dibentuk oleh para pembuat keputusan suatu negara dalam menghadapi negara lain atau unti politik internasional lainnya dan dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional.39
36 37

K.J. Holsti, Op.Cit. Hal. 131 J. Frankel, Op.Cit., Hal. 56 38 Budiono Kusumuhamidjojo, Hubungan Internasional:Kerangka Studi Analisis, Bina Cipta, Jakarta, 1987, Hal. 35 39 Roy Olton dan Jack C. Plano, Kamus Hubungan Internasional, Terjemahan, Wawan, CV. Aardin, Bandung, 1990, Hal. 5

42

Pendapat tersebut diperkuat oleh Moechtar Mas’oed yang memberikan dasar bagi analisis strategi politik luar negeri pada asumsi sebagai berikut: 1. Prilaku politik luar negeri suatu negara pasti diarahkan untuk mencapai satu atau beberapa tujuan pada ruang lingkup internasional. 2. Para pembuat keputusan selalu berusaha memaksimalkan perolehan bagi negaranya. 3. Para pembuat keputusan harus memperhitungkan juga tujuan dan strategi berbagai negara lain.40

40

Moechtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional:Disiplin dan Metodologi, PT. Pustaka LP3S, Jakarta, 1994, hal. 90

43

BAB III GAMBARAN UMUM A. Sejarah Singkat Kuba Letak geografis Kuba sangat menentukan sejarah politik dan sosial ekonomi negara tersebut. Tidak ada satu entitas politik yang lain di belahan bumi bagian Barat yang sedinamis Kuba, dan tak ada negara yang telah berulang kali mengubah status negara mulai dari kolonial, republik sampai sosialis paling tidak pada seratus tahun terakhir. Daratan yang terluas dan yang paling barat dari Kepulauan Antilles, Kuba secara terpusat berlokasi diantara Utara dan Selatan Amerika, dan sebagai gerbang Laut Karibia. Selama beratus-ratus tahun, posisinya yang strategis, kekayaan lahan, pelabuhan yang berlimpah, cadangan mineral telah memikat kekuatan-kekuatan asing, yang pertama Spanyol, Amerika Serikat, dan kemudian Uni Soviet.1 Kuba berada pada 90 mil sebelah selatan dari pulau-pulau rendah di Barat, dan terletak di pintu masuk Teluk Mexico antara Florida dan Amerika Tengah. Kuba adalah pulau terluas di Hindia Barat. Secara geografis Kuba memiliki kondisi yang berbeda, mayoritas daratan di Kuba adalah dataran rendah, dan dikelilingi oleh perbukitan. Ujung Timur pulau tersebut adalah pegunungan. Bagian Selatan pulau sangat datar dan sering terkena tsunami yang didahului dengan angin topan. Puncak tertinggi Kuba adalah Pico Turquino di bagian Selatan pulau dengan ketinggian 6560 kaki.2

1 2

Microsoft Encarta, Cuban History Brief History of Cuba, www.thehistoryofcuba.com

Penduduk pertama Kuba adalah suku Ciboney yang tiba melalui jalan laut, mengikuti angin pasat menuju ke barat dari pantai Venezuela sepanjang daratan Karibia. Arawakan adalah suku selanjutnya mendarat di pulau ini dengan dua gelombang. Dimulai dengan sub-Tainos yang tiba sekitar 900 tahun masehi, secara perlahan-lahan mendesak suku Ciboney ke bagian barat pulau. Gelombang migrasi yang kedua, Suku Tainos, didesak ke arah timur lokasi pantai Kuba yang

bersebelahan dengan pulau Hispaniola pada abad ke-15, sesaat sebelum penaklukan oleh Spanyol.3 Ketika Christopher Colombus tiba di pulau tersebut pada tanggal 27 oktober 1492, jumlah populasi suku asli Kuba kurang lebih 112.000, dengan 92.000 subTainos, 10.000 Tainos, dan 10.000 Ciboney. Colombus mengklaim pulau tersebut dikuasai Spanyol, bangsa yang telah mendukung perjalanannya. Pada tahun 1508 Sebastian de Ocampo membuat peta keseluruhan garis pantai dan menentukan bahwa daratan tersebut adalah Kuba.4 Sejak tahun 1500-an , Kuba telah menjadi daerah jajahan Spanyol. Hal ini dapat dilihat dengan upaya untuk menyingkirkan suku-suku asli yang telah lama menetap di Kuba. ...masyarakat Kuba merupakan suatu produk penaklukan belahan bumi Barat Spanyol, diawali dengan penemuan Christopher Colombus pada tahun 1492. orang-orang Indian asli yang berbahasa Arawak disapu bersih atau terserap ke dalam budaya pendatang.5

3 4

Microsoft Encarta, Op.Cit. Ibid 5 Eric R. Wolf, Perang Petani, INSIST Press, Yogyakarta, 2004, hal. 132

45

Selain itu, karena letaknya yang strategis Spanyol membangun pelabuhanpelabuhan dan menjadikannya sebagai basis militer. Pelabuhan-pelabuhan tersebut juga digunakan untuk kepentingan ekonomi Spanyol dengan melakukan transaksi dagang. Pelabuhan-pelabuhan tersebut dijadikan sebagai basis untuk mengangkut kekayaan alam benua Amerika yang akan dibawa ke Eropa. Selama berabad-abad pendudukan Spanyol, pulau itu terutama menjadi basis strategis, menjaga garis laut yang menghubungkan pelabuhan Cadiz di Spanyol dengan pelabuhan-pelabuhan Amerika di Panama dan Meksiko. Havana tumbuh dalam respon langsung terhadap kebutuhan organisasionalarmada perak Spanyol dan usaha Spanyol untuk memasuki koloni-koloni Amerika dengan barang-barang Eropa. Sejak awal, Havana menghadapkan wajahnya ke laut, ke arah kontakkontak dengan dunia luar yang mengurung pulau tersebut.6 Gula adalah produk andalan dari negara ini dan kemudian menjadi incaran dari negara-negara kolonial. Pada tahun 1740, Kuba menghasilkan keuntungan yang besar dari produkasi gula. Akan tetapi, keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh segelintir elit Spanyol yang memonopoli produksi gula Kuba. Monopoli tersebut terjadi akibat lahan serta pabrik penyulingan tebu yang tadinya dimiliki oleh para petani diambil alih kepemilikannya oleh Spanyol. Berkembangnya produksi gula diikuti dengan peningkatan impor budak dari benua Afrika yang menggantikan para penduduk asli yang terus berkurang akibat penindasan yang dilakukan oleh Spanyol. Selama abad ke-19, perbudakan menjadi hal yang fundamental dalam produksi gula di Kuba.

6

Ibid, hal. 132

46

Sistem perbudakan yang dilakukan oleh Spanyol semakin menampakkan watak aslinya sebagai penjajah dan hal tersebut memicu perlawanan tidak hanya dari para budak yang kemudian melarikan diri dan mengorganisir warga berkulit hitam akan tetapi perlawanan juga muncul dari para petani yang hak-haknya dirampas oleh Spanyol. Selama pendudukan Spanyol, tercatat beberapa kali terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok dengan membawa tuntutan-tuntutan yang berbeda-beda akan tetapi pada umumnya mereka meminta diwujudkannya kesetaraan ras dan sosial ekonomi. Pada tahun 1868, Carlos Manuel de Cespedes, mengoarkan sebuah pemberontakan yang kemudian dikenal dengan Perang Sepuluh Tahun. Pada tahun 1895, Jose Marti bersama Partai Revolusioner Kuba (PRC) yang merupakan gabungan dari kelompok-kelompok revolusioner di Kuba, mengobarkan perang kemerdekaan terhadap Spanyol. Perang ini berakhir dengan kematian Jose Marti yang kemudian menjadi simbol perlawanan rakyat Kuba. Dan yang terakhir yaitu Perang Spanyol-Amerika yang terjadi pada tahun 1898, perang ini pada awalnya dipelopori oleh PRC yang kembali melakukan pengorganisiran setelah kalah dalam perang sebelumnya. Akan tetapi pemberontakan rakyat Kuba ini berubah menjadi kemenangan Amerika Serikat setelah negara itu melakukan intervensi terhadap persoalan yang terjadi di Kuba. Intervensi Amerika Serikat terhadap Kuba telah lama dimulai ketika negara tersebut membuka pasar seluas-luasnya untuk produksi gula Kuba. Kemenangan

47

Amerika Serikat terhadap Spanyol semakin mengukuhkan dominasi ekonomi politiknya terhadap Kuba. Untuk menjamin bahwa arah pemerintahan baru Kuba mengikuti kebijakan Amerika Serikat, maka dilakukan proses “Amerikanisasi” terhadap pemimpinpemimpin baru Kuba sebelum mengakhiri pendudukannya. Sejak saat itu, para elit Kuba mulai tunduk terhadap pengaruh Amerika Serikat. Pada tahun 1900, dibentuk Dewan Konstitusional yang akan merumuskan konstitusi baru Kuba. Untuk meyakinkan bahwa dewan tersebut tidak menolak pengaruh Amerika Serikat, pemerintah Amerika Serikat meminta dengan tegas bahwa konstitusi baru harus memasukkan sejumlah syarat yang menjelaskan hubungan antara kedua bangsa. Syarat-syarat ini, yang kemudian dikenal dengan Platt Amandemen yang diambil dari nama penginisiatifnya, senator Amerika Serikat Orville Platt. Amandemen itu menetapkan bahwa Kuba tak akan membuat perjanjian untuk mengurangi kedaulatannya; tak ada kontak hutang luar negeri tanpa jaminan dimana bunga dapat diperoleh dari pajak biasa; menjamin Amerika Serikat berhak untuk campur tangan dalam melindungi kedaulatan Kuba; dan adanya suatu pemerintahan yang mampu melindungi kehidupan, kemerdekaan dan hak milik; serta mengijinkan Amerika Serikat membeli atau menyewa tanah untuk stasiun-stasiun batu bara dan laut.7 Amerika Serikat juga meminta agar pendudukan militer tidak berakhir sampai Kuba menerima Platt Amandemen sebagai bagian dari konstitusi baru. Sebagai balasan penerimaan amandemen tersebut, Amerika Serikat mensahkan suatu beban

7

Ibid. hal. 136

48

pajak yang memperluas peluang pasar tebu Kuba di Amerika Serikat dan kebebasan untuk menyeleksi produk-produk Amerika di pasar Kuba. Tindakan Amerika

menyebabkan produksi gula mendominasi ekonomi Kuba sementara konsumsi domestik Kuba diintegrasikan ke dalam pasar Amerika Serikat yang lebih luas. Tak mengherankan jika para nasionalis Kuba memandang Amerika Serikat dengan kegetiran dan kebencian. Sejarawan Kuba Herminio Portell Vila menulis bahwa, Revolusi Kuba tahun 1868-1898 menyelesaikan cita-citanya menghancurkan dasar-dasar struktur politik, ekonomi, dan sosial negeri tersebut dalam rangka merekonstruksinya untuk keuntungan nasional. Obor pembakar perjuangan, kamp-kamp rekonsentrasi, kekalahan Partai Spanyol sedang menyediakan masa depan Kuba yang baru ketika intervensi Amerika Utara mendirikan kembali dan mengkonsolidasikan aspek-aspek ekonomi dan sosial rezim yang dihancurkan dengan seluruh implikasi politik mereka.8 Mayoritas rakyat kuba menolak dengan tegas terhadap pemberlakuan Platt Amandemen. Anggota-anggota perwakilan dan rakyat Kuba melakukan protes. Mayoritas rakyat Kuba melihat bahwa Platt Amandemen sebagai pelanggaran terhadap keadaulatan Kuba dan sebagai usaha Amerika Serikat untuk melanggengkan kontrolnya. Kondisi tersebut membangun semangat anti Amerika yang sangat kuat diantara rakyat Kuba. B. Pra dan Pasca Revolusi Kuba 1959 Dibawah dominasi Amerika Serikat sejak tahun 1900-an, Kuba telah melakukan pergantian kekuasan yang pada intinya semakin memperlihatkan betapa kuatnya dominasi Amerika Serikat secara ekonomi maupun politik. Pengaruh
Herminio Portel Vila, The Nasionalism of Cuban Intellectuals, dalam Robert F. Smith, ed., Background to Revolution: The Development of Modern Cuba,Knopf, New York, 1966, hal. 68-73
8

49

Amerika Serikat yang begitu kuat membuat tiap penguasa Kuba harus menjalankan agenda ekonomi politik pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh Amerika Serikat mengontrol sembilan dari sepuluh central terbesar dan dua belas dari dua puluh central di kelas yang erukuran lebih rendah. Central-central dibawah kontrol Amerika Serikat menghasilkan sekitar 40% hasil gula Kuba dan mengontrol 54% kapasitas penggilingannya. Karenanya, tidaklah sulit untuk melihat pabrik-pabrik penggilingan sebagai benteng-benteng asing “dimana suatu proconsul eksekutif memegang kekuasaan sebagai perwakilan suatu kekuasaan jarak jauh yang imperial”.9 Pergantian kekuasaan yang kerap kali terjadi juga tidak menjawab persoalanpersoalan yang telah dihadapi oleh rakyat Kuba hingga telah merdeka dari penjajahan Spanyol. Berbagai persoalan masih dihadapi oleh rakyat Kuba, seperti, di bidang ekonomi; dominasi elit penguasa dalam produksi gula yang mengakibatkan rendahnya kualitas hidup rakyat, sementara upah yang diberikan kepada para petani tebu sangatlah minim sehingga kemiskinan masih menjadi persoalan mendasar. Di bidang politik; masih dipraktekkannya politik korupsi, jalur birokrasi yang begitu kompleks, praktek hukum yang membuka peluang terjadinya kecurangan di pemilu dan belum adanya perlakuan yang setara antar ras kelompok masyarakat tertentu semakin menambah masalah di bidang sosial. Kondisi tersebut semakin memajukan kesadaran politik rakyat Kuba untuk membangun organisasi, partai, asosiasi dan perkumpulan lainnya sebagai tempat

9

Fernando Ortiz, Cuban Counterpoint:Tobacco and Sugar, Knopf, New York, 1947, hal. 63

50

mengorganisir diri dan menuntut kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah dan bersebrangan dengan kehendak rakyat. Pada tahun 1920 politik korupsi, kejatuhan ekonomi, dan masalah keuangan menyebabkan banyak kelompok membentuk organisasiorganisasi politik baru. Pekerja industri dan pertanian membentuk persatuan dagang, yang berdiri di bawah Federasi Pekerja Nasional Kuba. Pekerja lainnya membentuk Partai Sosialis Radikal. Para perempuan berjuang untuk mendapatkan hak hukum dan sosial dengan membentuk organisasi Hak Asasi Perempuan. Pada tahun 1925 kelompok-kelompok Komunis bersatu membentuk Partai Komunis Kuba. Kelompok intelektual yang menentang pemerintah membentuk Grupo Minorista, yang menuntut reformasi politik dan budaya. Generasi baru Kuba memproklamirkan sebuah nasionalisme idealis yang bertujuan menegakkan keadilan sosial di Kuba.10 Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat mayoritas mendapatkan perlawanan bahkan pemberontakan. Hal ini terjadi hampir di tiap periode jabatan kepresidenan mulai dari Tomas Estrada yang menjadi presiden pertama Kuba, disusul prsiden-presiden selanjutnya hingga berakhir pada Revolusi 1959 yang menumbangkan rezim diktator Batista. Resistensi tersebut tidak jarang berujung pada tindakan kekerasan yang dilakukan para penguasa akibat sistem politik otoritarian yang diterapkan untuk menutup ruang-ruang demokrasi. Ditengah maraknya penjarahan politik dan oportunisme elektoral, suara-suara yang menuntut keadilan sosial kembali muncul. Antara tahun 1908 dan 1912 sejumlah kelompok politik kulit hitam, seperti Asosiasi Warna Independen dan Partai Warna Independen mengorganisir perlawanan terhadap diskriminasi ras dalam politik Kuba. Khawatir akan berkembangnya isu ras menjadi isu nasional, Kongres Kuba meloloskan hukum Morua, yang melarang organisasi politik yang bertendensi rasial. Partai Warna Independen menjawabnya dengan sebuah pemberontakan bersenjata pada tahun 1912, dan pemerintahan Amerika Serikat mendaratkan Angkatan Laut
10

Microsoft Encarta, Op.Cit.

51

di Guantanamo, Havana, dan Manzanillo. Presiden Kuba Jose Miguel Gomez manindak para pemberontak tanpa ampun dan untuk menjalankan itu pemerintahannya akan mencegah kerusuhan sipil. Pemerintah melakukan eksekusi terhadap ratusan dan bahkan ribuan aktivis kulit hitam dan simpatisannya, mengakhiri organisasi politik yang berdasarkan ras.11 Pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak bersepakat terhadap kebijakan-keijakan pemerintah yang cenderung lebih

mengakomodasi kepentingan modal Amerika Serikat dan struktur pemerintahan yang semakin tidak efektif untuk menjalankan agenda-agenda perubahan beberapa kali selalu mampu dipatahkan. Puluhan tahun berada dalam kondisi yang tertindas oleh kebijakan ekonomi politik yang tidak adil dan spirit perlawanan yang telah demikian mengakar serta harapan akan perubahan menjadikan rakyat Kuba terus mengobarkan perlawanan terhadap rezim yang tiran dan despotik. Tepatnya, 26 Juli 1953, yang kemudian dikenal dengan gerakan 26 Juli, Fidel Castro memobilisasi bersama 150 tentara pengikutnya melakukan penyerangan terhadap barak militer Moncada di Santiago de Cuba. Penyerangan ini berakhir dengan ditangkapnya Fidel Castro serta beberapa pengikutnya dan selebihnya dibunuh oleh tentara rezim diktator Batista. Meski gagal, penyerangan tersebut menyisakan mesiu bagi rezim diktator Batista yang menjalankan sistem politiknya secara otoriter dan lebih tunduk kepada kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun menjelang Revolusi, investasi Amerika Serikat di Kuba lebih dari 11% dari total investasi AS di Amerika Latin dan
11

Ibid, Microsoft Encarta

52

Karibia. Pada tahun 1959, perusahaan Amerika Serikat mengontrol 40% produksi gula dan 75% tanah yang dapat ditanami; mereka juga menguasai lebih dari 90% fasilitas listrik dan telekomunikasi, 50% kereta api, 90 % pertambangan, 100 % pemurnian minyak dan 90% lahan-lahan peternakan. Mereka mendominasi sektor transportasi, manufaktur dan turis. Terlebih lagi, bank-bank Amerika Serikat memegang lebih dari seperempat deposit bank (Barry, Wood dan Preusch 1984: 268; Greene 1970: 139; Patterson 1994: 35-54). Organisasi kriminal berdatang dari Amerika Serikat --khususnya Mafia--sangat memperngaruhi ekonomi dan politik. Akibatnya, korupsi berkembang apakah dalam bentuk penggelapan dana publik dan juga pembayaran dari Mafia.12 Selama beberapa tahun, Amerika Serikat mengintervensi militer atau memanipulasi kebijakan domestik Kuba memastikan bahwa pemerintahan yang ada tunduk kepada AS. Belenggu ini diputuskan pada 1 Januari 1959, ketika sebuah perjuangan dua tahun, Gerakan 26 Juli, sebuah gerakan revolusioner yang dipimpin oleh Fidel Castro memobilisasi buruh, petani dan sektor rakyat lainnya menjatuhkan pemerintahan Fulgencio Batista yang didukung oleh Amerika Serikat. Gerakan ini lahir dari kegagalan penyerangan terhadap barak militer pada 26 Juli 1953, yang bertujuan mengakhiri kediktatoran Batista. Didalam manifestonya, Sejarah Akan Membebaskan Ku (History will absolve me), berdasarkan pembelaan Fidel Castro di pengadilan--membuat garis besar tujuan-tujuan pembebasan nasional, keadilan sosial dan menjadi program dasar yang menuntun gerakan pada tahun-tahun awal revolusi. Dengan kemenangan Revolusi Kuba, periode lama kekuasaan Amerika Serikat atas Kuba segera berlalu, memasuki tahap yang baru, yakni permusuhan dari Amerika Serikat yang tidak bisa didamaikan; puncaknya pada awal tahun 1960, saat

12

Isaac Saney, Cuba: Revolution in Motion, Fernwood, Kanada, 2003. hal. 23

53

perusahaan minyak milik Amerika Serikat menolak melakukan penyulingan minyak yang dibeli dari Uni Soviet. Sebagai balasan, Amerika Serikat memperkecil kuota pembelian gula dari Kuba. Rusia mendekatinya melalui Wakil Perdana Menteri Anastas Mikoyan, yang datang di Havana (Januari 1960) dan menyanggupi membeli gula Kuba. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, termasuk Amerika Serikat, dilanjutkan. Pada tanggal 19 Oktoiber 1960, diumumkan embargo setiap bahan ke Kuba kecuali beberapa bahan makanan dan obat-obatan. Kebijakan tersebut dialas Castro dengan m,menasionalisasi semua perusahaan Amerika Serikat (beberapa perusahaan gula, 2 perusahaan Cuban Electric Co dan cuban Telephone Co, 3 buah bank).13 Selanjutnya, Amerika Serikat melakukan pengorganisiran dan pendanaan invasi yang terjadi pada tahun 1961 dan kemudian dikenal dengan Bay of Pig Invasion (Invasi Pulau Babi). Pada tahun 1962, Amerika Serikat menemukan indikasi bahwa Kuba memiliki instalasi persenjataan nuklir yang dibangun atas kerjasama dengan Uni Soviet, sehingga terjadi krisis persenjataan di Kuba (Cuban Missile Crisis). Hal ini kemudian memicu ketegangan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet karena ditengarai akan memicu perang nuklir. Amerika Serikat kemudian mengeluarkan kebijakan untuk melancarkan embargo laut terhadap Kuba. Pada pertengahan tahun 1960-an, sebagai upaya untuk melakukan tekanan terhadap Amerika Serikat yang melakukan invasi ke Vietnam, Kuba membangun Front Anti

13

Hidayat Mukmin, Pergolakan Di Amerika Latin Dalam Dasawarsa Ini, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981, hal. 138

54

Imperialisme melalui perjuangan bersenjata di Benua Amerika. Che Guevara memimpin sebuah perang gerilya di Bolivia yang berakhir pada penangkapannya dan akhirnya dia dieksekusi pada Oktober 1967. Peristiwa tersebut menjadi evaluasi utama Kuba terhadap bentuk penggalangan solidaritas internasional. Selain merespon persoalan-persoalan internasional, revolusi 1959 juga mensyaratkan upaya untuk mempertahankan revolusi dengan menjalankan programprogram yang menjadi kebutuhan pokok rakyat Kuba. Pengaruh internal dan eksternal begitu mempengaruhi tiap fase pembangunan di Kuba. Pada dekade awal setelah 1959, pembangunan ekonomi Kuba didominasi dengan kebijakan reformasi agraria yang pertama kali dilakukan pada tahun 1962, yang mengalihkan status 40% tanah pribadi menjadi milik negara, Tambahan, 40% tanah telah didistribusikan kepada produser-produser (petani skala kecil) desa skala kecil mencakup 120.000 petani dan menyisakan 20% untuk pemilik tanah yang berukuran menengah dan luas. Distribusi tanah ini membuka lapangan kerja yang begitu luas bagi para petani yang selama beberapa abad tidak berhak atas tanah mereka sendiri. Sektor industri dan perbankan utama dinasionalisasi. Sistem partisipasi buruh yang demokratis diperkenalkan dan didasarkan pada sistem pemilihan delegasi tempat bekerja. Selama tahun 1960-an, ekonomi Kuba menerapkan sistem penganggaran keuangan yang dirang oleh Che Guevara yang saat itu menjabat sebagai Kepala Perbankan dan Menteri Perindustrian. Sistem tersebut menekankan

55

pada insentif moral dan materil, kerja sukarela dan upaya untuk meningkatkan kesadaran buruh. Di awal tahun 1970-an, ekonomi Kuba diperhadapkan dengan semakin kuatnya blokade Amerika Serikat dan gagalnya panen tebu sebesar 10 juta ton. Kondisi ini mengharuskan Kuba untuk menjalin kerjasama dengan Uni Soviet, dan ikut serta dalam COMECON (blok ekonomi negara-negara Eropa Timur) pada tahun 1972. COMECON adalah kontributor vital bagi Kuba lewat investasi dan bantuanbantuan material sementara, juga teknologi untuk pembangunan secara umum maupun pada proyek-poyek yang penting. Integrasi ekonomi menghasilkan pasar yang stabil dan spesialisasi produksi. Sebanyak 85% perdagangan Kuba—81% ekspor dan 88% impor--adalah dengan COMECON. Sebanyak 95% persen minyak Kuba diimpor dari Uni Soviet. Pasar utama gula dan buah sitrus Kuba, juga adalah Uni Soviet dan negeri-negeri Eropa Timur. Hubugan perdagangan didasarkan kepada pemberian prioritas kepada Kuba dengan pertimbangan negeri yang masih sedikit terbangun. Hubungan dibawah CMEA ini mendukung hubungan yang relatif stabil dan sanling menguntungkan. Dari tahun 1971 hingga tahun 1989, ekonomi tumbuh rata-rata 6 persen setiap tahunnya. Pertumbuhan rata-rata negeri Amerika Latin pada periode tersebut adalah 3,6%. Dalam rentang waktu 1980-an, Kuba memiliki "tingkat kualitas pembangunan yang lebih tinggi dibanding negeri manapun di Karibia". Sebenarnya, dalam periode ini dibandingkan dengan keseluruhan negeri yang terdapat di regional, penampilan ekonomi Kuba adalah “sebuah negeri yang sehat dan stabil”. Bertentangan dengan hubungan ekonomi negeri berkembang lainnya dengan

56

Barat, hubungan ekonomi Kuba dengan CMEA memberikannya dapat memperoleh “kontrol yang makin penting terhadap pembangunan ekonomi dan otonomi yang lebih efektif”. Jadi, “apa saja yang mungkin menjadi motiv intrinsik Uni Soviet, struktur dan cara bantuan yang diberikan di dalam Kasus Kuba lebih banyak membantu daripada menghambat jalannya revololusi”. Maka, jika Kuba menjadi terngantung kepada Uni Soviet, hubungan ini secara kualitas berbeda dengan hubungan negeri-negeri berkembang lainnya--khususnya di Amerika Latin dan Karibia--yang melakukan hubungan dengan Barat.14 Meskipun kerjasama ekonomi secara umum menguntungkan bagi

perekonomian Kuba, hal tersebut telah menciptakan distorsi dalam struktur ekonomi, dan hal tersebut tidak diakui hingga tahun 1980-an. Pada tahun 1970-an dan di awal tahun 1980-an, Kuba memperkuat pembangunan ekonomi dan memperkenalkan organisasi-organisasi kekuatan rakyat, yang bertujuan untuk mendemokratiskan pengambilan kebijakan. Peneliti ekonomi Carlos Tablada mencatat, anatara tahun 1960-1970 dan 1981-1985 rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi nasional tahunan meningkat dari 3.6% menjadi 6.7%. pada periode yang sama nilai investasi dasar meningkat dua kali lipat dan pertumbuhan produktivitas kerja tahunan meningkat dari 0.4% menjadi 5.2% per tahun. Angka pertumbuhan hasil industri adalah 4.8% pada tahun 1962 1970; namun pada tahun 1981 - 1985 meningkat mencapai 8.8%.15

14 15

Isaac Saney, Op.Cit., hal. 47 Carlos Tablada, Cuba: New Economic Actors in a Socialist Society, Links, No. 9, 1997-1998

57

Tablada juga mencatat, Antara tahun 1958 dan 1989 angka harapan hidup meningkat dari 62 tahun menjadi 74 tahun. Pada tahun 1990 meningkat menjadi 75.2 tahun yang melampaui angka harapan hidup negara-negara maju lainnya (74.5 tahun). Jumlah penduduk yang mendapat layanan dokter menurun dari 303 orang pada tahun 1832 pada periode yang sama menjadi 274 orang pada tahun 1990, dibandingkan dengan negara-negara maju mencapai angka rata-rata 460 orang dan sebesar 4590 orang di negara terkebelakang. Angka kematian bayi adalah 10.2 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 1990 melampaui angka 15 per 1000 kelahiran bayi di negara-negara maju, 52 per 1000 kelahiran bayi di negara-negara Amerika Latin dan 76 per 1000 kelahiran bayi di negara terkebelakang. Angka buta huruf menurun dari 23.6 % menjadi 1.9% antara tahun 1958 dan 1989. Pada periode yang sama, jumlah anak yang masuk sekolah bertambah dari 12.2 kali dan angka yang masuk perguruan tinggi menjadi 9.2 kali. Persentase penduduk yang mendapat jaminan sosial meningkat dari 53 menjadi 100%.16 Pada pertengahan tahun 1980-an, besar situasi bagi ekonomi revolusi politik Kuba. mulai Kondisi

memperlihatkan

tantangan-tantangan

perekonomian mulai memperlihatkan tanda-tanda akan terjadinya stagnasi dan meningkatnya praktek-praktek birokrasi. Runtuhnya Uni Soviet pada akhir tahun 1980-an dan bubarnya COMECON berakibat pada hancurnya fondasi ekonomi Kuba dan berimplikasi pada sektor-sektor lainnya. Tantangan ekonomi dan politik yang paling utama bagi Kuba setelah
16

Ibid

58

runtuhnya Uni Soviet yang menjadi sandaran kekuatan ekonominya adalah bagaimana untuk tetap bertahan sambil tetap memelihara prinsip-prinsip revolusi.

C. Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Terhadap Negara-Negara di Amerika Latin Sejak awal abad ke-19, sasaran utama dari kebijakan Amerika Serikat terhadap Amerika Latin bertumpu pada upaya untuk tetap memelihara belahan bumi bagian barat tersebut agar tetap menjadi wilayah dominasi Amerika Serikat. Upaya dominasi terhadap Amerika Latin tidak hanya karena motivasi imperialisme atau eksploitasi ekonomi, akan tetapi lebih jauh karena keyakinan yang kuat, ketentuan dari para pendiri bangsa, mitos kritis yang masih tersisa dari politik Amerika Serikat bahwa keamanan dan kemakmuran Amerika Serikat sangat tergantung pada kebijakan ideologi politik luar negeri dan pergerakan dari belahan bumi bagian barat tersebut. Upaya untuk mendominasi Amerika Latin telah dilakukan oleh beberapa blok kekuatan yang dimulai sejak masa kemerdekaan, kolonialisme Eropa pada abad ke-19 dan di awal abad ke-20, fasisme dan nazisme pada tahun 1930-an, dan komunisme sejak berakhirnya Perang Dunia II.17 Margareth Daly Hayes dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat tiga hal utama yang menjadi kepentingan Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin, yaitu: 1. Kontribusi kawasan tersebut terhadap kepentingan keamanan Amerika Serikat.
17

Jerome Slater & Jan Knippers Black, United States Policy In Latin America dalam Latin America, Its Problems And Its Promise,United States, Westview Press, 1991, hal. 234

59

2. Prospek dan kemampuan ekonomi Amerika Latin dalam menyediakan pasar bagi Amerika Serikat 3. Amerika Latin juga juga memiliki arti penting secara politik bagi Amerika Serikat. Dan hal ini semakin terlihat ketika terjadi serangkaian proses transisi melalui revolusi nasional.18 Selain itu, juga terdapat dimensi ideologi yang sangat penting dalam kebijakan Amerika Serikat yaitu keyakinan bahwa “Dunia Baru” harus didominasi, dipimpin dan dilindungi oleh Amerika Serikat tidak hanya secara geografis, tetapi juga secara politik, budaya, dan moral. Hal tersebut yang kemudian menjadi alasan Amerika Serikat untuk mengisolasi, dan memproteksi seluruh belahan bumi bagian barat tersebut dari pengaruh kelompk lain khususnya Eropa. Kebijakan luar negeri yang dikeluarkan Amerika Serikat terhadap Amerika Latin adalah Doktrin Monroe. Doktrin tersebut dikeluarkan pada tanggal 2 Desember 1823 oleh Presiden Amerika Serikat, James Monroe, pada pidato tahunan yang ke-7 di depan Kongres Amerika Serikat. Doktrin ini meliputi dimensi strategis dan ideologis dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat, doktrin ini kemudian sangat memiliki arti penting dalam perumusan kebiajakn luar negeri terhadap Amerika Latin. Doktrin Monroe secara substansial berisi tentang larangan campur tangan Eropa terhadap urusan-urusan politik domestik Amerika Latin. Pada abad ke-19,

18

Margareth Daly Hayes, Latin America and the U.S. National Interest:A Basis for U.S. Foreign Policy, United States, WestView Press, 1984, hal. 4-5

60

Doktrin ini terkesan tidak memiliki kekuatan apa-apa ketika negara-negara Eropa (Spanyol, Inggris dan Prancis) melanjutkan upaya campur tangan terhadap Amerika Latin menindas pergerakan-pergerakan kemerdekaan. Di akhir tahun 1890-an sampai awal 1920-an, Amerika Serikat kembali menempatkan kekuatan militer dan kembali mengambil alih kuasa atas Amerika Latin. Imperialisme Amerika Serikat di wilayah Karibia dimulai ketika terjadi Perang Spanyol-Amerika dan Presiden Amerika serikat mengirim pasukan ke Kuba. Setelah menyingkirkan Spanyol, Amerika Serikat tidak meninggalkan Kuba akan tetapi semakin mengokohkan dominasi ekonomi politiknya. Di awal tahun 1920-an, Franklin Roosevelt mengeluarkan “Good Neighbour Policy” , sebuah kebijakan yang kemudian mengurangi semangat Anti Amerika yang muncul akibat berbagai campur tangan Amerika Serikat dalam persoalan-persoalan dalam negeri beberapa negara; seperti, kasus Terusan Panama dan Pemberontakan yang terjadi di Nikaragua (1912) dan Haiti (1916). Kebijakan ini relatif memperbaiki hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Amerika Latin. Dan ini terbukti ketika Perang Dunia II terjadi, mayoritas negara-negara Amerika Latin menyediakan basis militer bagi Amerika Serikat. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Latin berada dalam kondisi yang tidak stabil secara ekonomi, politik dan sosial akibat terjadinya konflik internal kelompok-kelompok populis reformis dengan kekuatan status quo yang memegang struktur oligarki ekonomi dan sosial dan kelompok ini didominasi oleh para tuan tanah, pengusaha besar dan gereja, sektor-sektor kelas menengah baru dan yang

61

paling penting adalah kekuatan militer. Kelompok populis reformis ini cenderung bertendensi “kiri” yang telah berkonfrontasi dengan kelompok elit konservatif yang mendominasi politik dan ekonomi Amerika Latin sejak pendudukan Spanyol. Dalam hal ini, Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang lebih memilih untuk mendukung kelompok status quo dengan mengatasnamakan ketentraman, stabilitas, dukungan terhadap kelompok perubahan, dan tentunya tujuan dari Amerika Serikat yang khawatir dengan kekerasan, chaos, dan radikalisme.19 Untuk menjamin berjalannya kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Amerika Latin, maka kebijakan yang diambil adalah dengan menempatkan rezimrezim diktator seperti; Trujillo, Somoza, Perez Jimenez di Venezuela, Rojas Pinilla di Kolombia yang akan membuka pasar bagi kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan sekaligus untuk memerangi komunisme yang saat itu mulai tumbuh. Pada tahun 1961, Presiden Kennedy membantu pembangunan dan modernisasi negara-negara Amerika Latin, dan program ini dinamakan Alliance for Progress. Kebijakan ini sekaligus untuk membendung komunisme yang semakin kuat setelah kemenangan revolusi Kuba.20 Selain kebijakan-kebijakan tersebut, Amerika Serikat juga membentuk organisasi ataupun kelompok yang akan menguatkan dominasi Amerika Serikat. Pasca Perang Dunia II, dibentuk organisasi negara-negara Amerika, yang melibatkan negara-negara Amerika Latin (OAS, Organization of American States). Organisasi ini
19 20

Ibid, Jerome Slater & Jan Knippers Black, hal. 237-238 Ernest Rossi dan Jack Plano, The latin American Political Dictionary, Oxford:ABC, Clio, 1980, hal. 221-222

62

terbentuk melalui Konfrensi Internasional Negara-Negara Amerika ke-9, yang berlangsung di Bogota pada tahun 1948. Tertariknya negara-negara Amerika Latin kedalam organisasi ini salah satu sebabnya adalah bahwa prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh negara-negara Amerika Latin selama ini, yaitu prinsip nonintervensi, prinsip kesamaan derajat negara, dan kedaulatan, disetujui menjadi prinsip OAS.21 Selain itu, juga dibentuk beberapa kelompok-kelompok ekonomi; seperti: CACM (Central American Common Market), LAFTA (Latin American Free Trade Association), IDB (Inter-American Development Bank). Semua organisasi ini dimaksudkan untuk memperkuat kemajuan ekonomi negara-negara Amerika Latin. Pada tahun 1981, Amerika Serikat yang saat itu dipmpin oleh Ronald Reagen mengajukan kebijakan yang menentang ekspansi Uni Soviet melalui Kuba. Kebijakan ini dinamakan Caribbean Basin Initiative (CBI), yang intinya: 1. melanjutkan penentangan secara agresif terhadap ekspansionisme Soviet. 2. menganggap kemiskinan sebagai penyebab ketidakstabilan 3. membentuk suatu program perdagangan terpilih dan bantuan ekonomi bagi pemerintah negara-negara karibia yang bersahabat dengan Amerika.22 Pada paruh kedua dekade 1980-an, banyak negara-negara Amerika latin yang bergabung dengan blok-blok ekonomi yang dimotori oleh Amerika Serikat seperti NAFTA (North American Free Trade Area). Dalam dekade-dekade selanjutnya
21 22

Ibid, hal. 210-211 Howard J. Wiarda, Europe’s Ambiguous Relation with Latin America:Blowing Hot and Cold in Western Hemisphere, The Washington Quarterly Vol.13 No.2, 1990, hal. 46

63

kebijakan Amerika Serikat terhadap Amerika Latin tetap dalam kerangka mempertahankan hegemoninya di Amerika Latin yang diupayakan melalui integrasi blok-blok ekonomi kedalam kuasa Amerika Serikat.

64

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Dampak Embargo Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Kuba Setelah Perang Dingin Berakhirnya Perang Dingin di akhir tahun 1980-an dan hancurnya Uni Soviet serta negara-negara Eropa Timur yang merupakan aliansi ketat Kuba kemudian membawa perubahan yang sangat drastis bagi negara sosialis tersebut. Kuba dengan segera melakukan perbaikan ekonomi yang mengalami stagnasi akibat 70 % impor negara tersebut berasal dari wilayah Eropa Timur praktis terhenti. Berhentinya proses dagang dengan Uni Soviet secara tiba-tiba mengakibatkan penurunan pemasukan nasional sebesar 55% dari tahun 1989-1992. Kondisi sosial ekonomi yang tidak menentu tersebut semakin diperparah dengan pengetatan embargo oleh Amerika Serikat. Bahkan pada tahun 1992, Amerika Serikat semakin mengintensifkan tekanan ekonominya, yang paling menonjol yaitu dengan dikeluarkannya Cuba Democracy Act pada tahun 1992 (secara umum dikenal dengan sebutan Toricelli Act) dan Cuban Liberty and Democratic Solidarity (Libertad) Act (juga disebut dengan Helms-Burton Bill) pada tahun 1996. Legislasi ini merupakan merupakan sebuah coup de grace, yang melemaskan Kuba dari sumber-sumber kapital, peluang komersial dan hubungan dagang yang tersisa (diperkirakan, akibat blokade ekonomi, Kuba harus membayar lebih $60 milyar AS). Sebuah studi yang dilakukan menyatakan jika dilakukan pelonggaran terhadap

blokade ekonomi yang ketat akan menambah secara signifikan kemampuan impor Kuba, dan pendapatan nasional akan bertambah seperempatnya. Krisis ekonomi yang semakin parah saat itu, memaksa pemerintah Kuba untuk mengimplementasikan program pembenahan di segala bidang. Pada masa ini pemerintah mengumukan “ A Special Period In The Time Of Peace” (Periode Khusus Dalam Masa Damai) yang dasarnya meletakkan negara pada sikap penghematan “ekonomi masa perang”. Pada periode ini, Kuba harus melakukan pengurangan produksi dan melakukan reformasi untuk mendapatkan kembali keseimbangan makro ekonomi dan dengan demikian dimulailah pembenahan tanpa mereduksi kemajuankemajuan sosial yang telah didapatkan sebelumnya. Untuk tetap mempertahankan capaian-capaian dari Revolusi 1959 dan tetap menjalankan pola-pola pembangunan yang tidak bertumpu pada kehendak negaranegara Dunia Pertama dan pemilik modal internasional, maka serangkaian kebijakankebijakan pembangunan alternatif dalam berbagai aspek dijalankan.

A.1. Pembangunan Ekonomi Salah satu faktor utama dalam hal peningkatan kualitas hidup rakyat Kuba adalah fakta bahwa sumber-sumber ekonomi tidak dikuasai oleh minoritas kecil yang memiliki modal seperti di kebanyakan negara. Di negara-negara kapitalis, seluruh proses produksi berada dalam kerangka proses akumulasi para kapitalis. Logikanya bahwa selama proses tersebut dapat menciptakan keuntungan, maka kepuasan rakyat kemudian tidak menjadi arah proses

66

pembangunan bahkan yang terjadi justru proses tersebut berakibat pada rusaknya alam dan masyarakat. Di Kuba, keputusan tentang alokasi investasi atau pengadaan lapangan pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh para pemilik modal. Itulah mengapa saat ini ketika hampir semua negara melakukan pemotongan subsidi terhadap pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, Kuba justru menyediakan dan disediakan secara gratis buat rakyat. Pokok yang menjadi awal pembenahan dan peningkatan ekonomi dalam masa pembenahan adalah menjalankan tindakan-tindakan yang bertujuan secara internal mereorganisasi ekonomi dan memasukkan Kuba ke dalam ekonomi dunia. Tindakantindakan ini yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan efisiensi, utamanya dirancang untuk melindungi dan menjaga pencapaian-pencapaian sosial dan Revolusi--tertulis di dalam Pasal 8 dan Bab VI Konsititusi Kuba sebagai hak

mendasar dari rakyat Kuba, terutama pekerjaan, perawatan kesehatan, pendidikan, dan program-program jaminan sosial. Sebagai konsekuensi hak -hak ini, Kuba lebih baik dalam beberapa indikator jika dibandingkan dengan negeri yang

terindustrialisasi. Dan lebih jauh, walaupun ekonomi menurun dengan tajam pada awal tahun 1990-an, tidak ada kebijakan-kebijakan pasar “yang mengejutkan”. Pemerintahan Kuba menolak: untuk mengopy model-model deregulasi, kontraksi negara, privatisasi dan pengurangan program-program sosial dan mengadobsi praktekpraktek neoliberal yang dijalankan olen negeri-negeri Eropa Timur, Amerika Latin dan banyak negeri di belakan dunia ini…negeri ini menolak untuk mengikuti apa yang disebut dengan "transisi" yang

67

dibela-bela oleh pendukung pasar bebas dan menerapkannya tanpa ampun kepada negeri-negeri blok sosialis sebelumnya. 1 Kuba menghadapi yang tidak bisa dihindarkan dengan memasukkan dirinya kembali ke dalam ekonomi kapitalis. Negeri ini mengatur untuk beroperasi kedalam sistem ekonomi internasional yang berbasikan pada prinsip-prinsip dan praktek yang berbeda -setelah selama tiga puluh lima tahun terintegarasi secara struktur kedalam COMECON yang sebelumnya diandalkan dan menjadi basis pembangungan ekonomi. Keharusan untuk menentukan kembali arah strategi pembangunan dan sejumlah tindakan ekonomi yang implementasinya untuk mengaktifkan kembali ekonomi dintaranya:2 1) Rasionalisasi produksi yang bertujuan untuk lebih mengefisienkan penggunaan sumber-sumber yang ada Ini sering berarti adalah penggunaan teknologi lama dan manual, (misalnya menggunakan kembali sapi untuk membajak). Subsidi negara dikurangi 70% bersamaan dengan pengurangan belanja negara secara umum. Kebijakan ini disertai dengan penguatan rejim substitusi impor yang telah ada 2) Pendirian pekerjaan mandiri dan perusahaan-perusahaan kecil Pada tahun 1993 dikeluarkan undang-undang yang mengesahkan pendirian usaha-usaha mandiri terhadap ratusan pekerjaan, sebagian besar usaha yang berorientasi kepada jasa, seperti restoran, toko-toko perbaikan sepeda, lemari
1

Roberto Jorquera, Cuba’s Path Out of Underdevelopment:A Historical Look at Cuba’s Economic Development, dalam Cuba as Alternative:An Introduction to Cuba’s Socialist Revolution, Resistence Book, 2000, Australia, Hal. 22 2 Isaac Saney, Op.Cit., Hal. 103-105

68

pendingin, dan televisi. Ukuran dari usaha mandiri ini bervariasi dari tahun ke tahun. Bagaimanapun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi, jenis usaha mandiri ini berkurang: dari jumlah yang cukup tinggi pada tahun 1996, 205.000 menjadi 160.000 pada tahun 1998. 3) Legislasi kepemilikan mata uang luar negeri, khsususnya dollar AS, agar menambah pasokan domestik dan dapat menstabilkan dan menaikkan nilai peso Ditengah-tengah krisis, bersamaan dengan produksi dan distribusi yang menurun dengan tajam, ekonomi bawah tanah berkembang. Uang yang digunakan adalah dollar AS, yang hanya bisa diperoleh di pasar gelap dengan nilai 150 peso per dollar AS pada tahun 1993. Pengaruhnya sangat menghancurkan kehidupan mayoritas rakyat Kuba yang perbulannya rata-rata berpenghasilan dibawah 200 peso pada awal tahun 1990-an. Daya beli peso makin terpangkas. Barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh rakyat makin langka, karena penurunan produksi, dan hanya bisa dibeli dengan peso. Tujuan untuk melegalisasi kepemilikan mata uang luar negeri adalah agar rakyat makin memperoleh akses terhadap dollar AS dan membuat negara bisa memperoleh langsung yang menjadi sumber domestik pertukuran luar negeri. Kebijakan ini bersamaan dengan penambahan jumlah produksi dan mengontrol persediaan peso, yang hasilnya yaitu menurunnya secara drastis tingkat pertukaran peso-dollar. Sebenarnya, nilai peso terapresiasi tujuh kali lipat dengan tingkat pertukuran yang telah ditetapkan selama bertahun-tahun dengan 20 peso per dollar AS. Pada saat sekarang ini, sebagai konsekuensi langsung dari menurunnya

69

ekonomi dunia-khususnya industri wisata pada tahun 2001- tingkat pertukaran sekarang adalah 26 peso terhadap 1 dollar AS. 4) Menginstitusikan penetapan harga dan kebijakan-kebijakan yang lainnya untuk dapat mengurangi defisit dan jumlah uang yang beredar Bersamaan dengan tindakan tindakan yang lain yang dijalankan adalah

penghapusan bebarapa pelayanan jasa yang gratis dan penciptaan pajak, hal yang telah dihapuskan pada masa awal revolusi. Pajak tidak dikenakan terhadap upah, namun kepada keuntungan dan pendapatan investasi. Tindakan ini sangat berdampak terhadap keuangan di dalam negeri. Dari tahun 1994 hingga 1998, sebanyak 2,5 milyar dollar ditarik dari sirkulasi, dan defisit anggaran berkurang dari 33,5 % menjadi 2%. Pemangkasan persediaan peso ini merupakan faktor utama untuk menaikkan nilai peso. 5) Transformasi struktur kepemilikan tanah Ini dapat disebut dengan sebuah reformasi agraria yang ketiga, pertanianpertanian negara digantikan dengan koperasi, pasar pertanian swasta dibuka untuk menstimulasi bahan produksi bahan pangan. Pertanian-pertanian negara sebelumnya menjadi Satuan Basis Koperasi Produksi (Basics Unit of Cooperative Production, UPBC), bekerja diatatas tanah dengan mendapatkan hak guna. Koperasi-koperasi produksi menjual dengan kuota yang telah ditetapkan kepada negara, selebihnya bisa disimpan sendiri atau dijual ke pasar pertanian swasta. Pada saat sekarang ini, pertanian negara hanya terdiri dari sepertiga dari tanah pertanian. Sebanyak 44% tanah pertanian dikelola oleh berbagai UPBC, 10 % oleh bentuk koperasi lainnya,

70

dan 15% oleh oleh pertanian swasta. Ini sangat bertentangan tajam jika dibandingkan dengan sebelum Periode Khusus, sebanyak 75% dari tanah dikuasai oleh pertanian negara. Pemerintah Kuba memperhitungkan dengan perubahan ini, sebanyak 316.000 hektar tanah telah ditangan petani, yang kini memegang 25% tanah yang dapat ditanami. Sekarang, Asosiasi Nasional Petani Kecil memiliki anggota lebih dari 300.000 dengan 57.000 orang bergabung dalam asosiasi-asosiasi sejak perubahan struktur pegolahan tanah ini. Tingkat produksi bahan pangan, khsususnya sayursayuran telah meningkat dengan signifikan. Disamping itu, metode taman perkotaan dan pertanian organik didorong dan telah dikerjakan dengan luas. UPBC sekarang menghasilkan 53% sayuran umbi-umbian, 56% sayuran segar, 90% tembakau, 75% jagung, 76 % buncis, 73 % buah-buahan, 73% kelapa, 58% kopi, 63% kokoa, 61% madu dan 18% gula. 6) Reorganisasi dan penyederhanaan struktur negara Otonomi yang lebih besar diberikan kepada perusahaan-perusahaan negara dan desentralisasi administrasi diperluas. Ini disertai dengan jurisdiksi yang lebih luas kepada kekuatan pengambil keputusan yang lebih kuat. Perusahaan-perusahaan negara diijinkan untuk beroperasi dalam mata uang luar negeri menuju kepada kemampuan membiayai sendiri. Jumlah menteri pemerintahan dikurangi dari lima puluh lima pada tahun 1993 menjadi tigapuluh tiga pada tahun 1998. Sistem perencanaan ditransformasikan dari produksi material ke pada yang berbasiskan finansial. Kini, biaya produksi ditentukan oleh masing-masing perusahaan negara, bagian dari mempromosikan efesiensi yang lebih besar di dalam ekonomi negara.

71

Bagian dari kebijakan ini, angkatan bersenjata mengimplementasikan programprogram untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, sebagai contoh dalam penyediaan bahan makanan. Baik anggaran angkatan bersenjata Kuba dan keseluruhan anggaran militer berkurang sangat jauh. 7) Pembangunan Sektor Pariwisata skala besar Sebagaimana negeri ini kesulitan untuk memperoleh mata uang luar negeri sebagai pembayaran, usaha penambahan jumlah turis yang datang dipacu, telah mencatat hasil yang penting. Pendapatan turisme pada tahun 1996, 50% lebih besar dari pendapatan tahun 1995. Pada waktu itu, untuk pertama kalinya pendapatan dari turis menggeser peran gula sebagai sebagai sumber pendapatan utama, dengan perolehan $1,38 milyar dollar AS, disamping itu juga terjadi investasi sebesar $ 300 juta AS dalam turisme. Pada tahun 1994, sebanyak 1,14 juta turis mendatangi Kuba membawa pendapatan ke negeri tersebut sebesar $ 1,5 milyar AS, pada tahun 1999 menghasilkan $ 2 milyar AS. Pada tahun 2000 dan 2001, hampir dua juta turis mendatangi Kuba. Sektor ini mengalamai pertumbuhan 15-20 % per tahun. Menteri Pariwisata mengatakan margin keuntungan buat negara sebanyak 20%. Dengan berbagai cara, sektor pariwisata telah menjadi motor ekonomi, secara signifikan menyumbangkan pertumbuhan industri ringan dan pasar kerajinan. 8) Mendukung dan mengejar investasi dari luar negeri terhadap semua sektor ekonomi Investasi luar negeri dicari untuk semua sektor, kecuali kesehatan, pendidikan dan pertahanan. Proses ini diawasi dan diarahkan langsung oleh negara ke bidang-

72

bidang ekonomi yang diperhitungkan, investasi luar negeri tersebut tidak akan mengkompromikan kemerdekaan Kuba, kedaulatannya, atau masa depan sumbersumber dayanyanya. Investasi yang signifikan telah terjadi di dalam pariwisata, petrolium, nikel, telekomunikasi, bioteknologi, dan industri-industri manufaktur lainnya. Investasi luar negeri memainkan peran yang signifikan didalam ekonomi Kuba saat ini, terhitung pada tahun 1998 mencatat 3 % dari GDP. Pada saat sekarang ini tercatat 397 buah usaha patungan dengan modal internasional. pada tahun 1999, terdapat 36 persetujuan promosi dan proteksi dengan 36 negara. Pada tahun 2001, usahan patungan Kuba paling besar dilakukan dengan negeri Spanyol (99), Kanada (74) dan Itali (57). Ratusan proyek lainnya sekarang sedang dipelajari. Sejak dibukanya investasi dengan modal Barat, paling tidak kesepakatan yang telah dibuat mencapai $5,5 milyar AS dan yang sudah diinvestasikan sebanyak $3 milyar AS. Investasi rata-rata tahunan dari 1996 hingga 2001 diperkirakan sebanyak $ 288 juta AS. Hal ini menandaskan, Kuba dapat mencapai tingkat yang telah digambarkan diatas walaupun AS memberlakukan Toricelli Act dan Helms-Burton Bill yang

dirancang untuk melumpuhkan dan memundurkan proses investasi dari luar negeri. Sebenarnya, lebih dari 40% investasi luar negeri terjadi setelah Maret 1996 ketika Helms-Burton Bill diberlakukan. Namun, bagaimanapun, pemerintahan setelah pemerintahan Bush mengintensifkan tekanan ekonomi, telah menciptakan dampak yang besar terhadap investasi luar negeri. Pada tahun 2001 investasi menurun menjadi $ 38.9 juta AS dari $ 488 juta AS pada tahun.

73

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, gula memainkan peran utama di dalam ekonomi Kuba. Sebelum dilampaui oleh pendapatan yang diperoleh dari turisme, ekspor Kuba merupakan bagian yang besar untuk memperoleh uang pertukaran luar negeri. Maka pemulihan produksi gula dan merevitalisasi industri telah menjadi perhatian utama. Sektor gula telah mulai kembali pulih setelah mencapai titik nadirnya pada awal tahun 1990-an, tumbuh 24,3 persen pada tahun 1999 dan 18 persen dalam enam bulan tahun 2000. Walaupun telah dilakukan pemulihan yang cukup baik, restrukturisasi yang dramatis dalam industri gula dimulai pada tahun 2002, merespon berlanjutnya dan makin tidak menguntungkan, karena harga gula yang rendah di pasar dunia; harga dibawah biaya produksi menghadapi kompetisi dari gula Eropa. Harga gula jatuh dari 8,5 sen per pon pada Januari 1999 menjadi 5,99 sen per pon pada kuartal pertama tahun 2000 dan naik sedikit menjadi 6,5 sen per pon pada kwartal terakhir tahun 2001. Nilai ekspor pada tahun 1999 menurun 4 persen akibat kejatuhan harga gula. Sebanyak tujuh puluh satu buah dari 156 pabrik gula ditutup, membuat 100.000 orang kehilangan pekerjaan dalam sektor gula. Restrukturisasi mendesakkan efesiensi dan diversifikasi yang lebih besar, dibarengi dengan rencana memperkerjakan mereka dalam bidang bioteknologi untuk menciptakan sebuah fruktosa--berlawanan dengan sukrosa yang dihasilkan oleh gula tebu. Buruh-buruh yang dipindahkan tidak mengalami pemotongan upah demikian juga dengan harus mencari pekerjaan baru, mereka dilatih atau kembali disekolahkan. Bagian dari tanah yang kini tidak lagi digunakan untuk perkebunan tebu sekarang dipakai untuk menghasilkan bahan pangan dan meningkatkan cadangan pangan.

74

Sekali lagi yang perlu dipahami bahwa rangkaian kebijakan-kebijakan yang diambil dalam rangka mengefektifkan mesin-mesin perekonomian Kuba setelah embargo dan pada masa krisis tidak mengikuti format yang digunakan oleh mayoritas negara-negara Dunia Ketiga yang mengikuti arahan lembaga-lembaga keuangan internasional. A.2. Pembangunan Sosial Krisis ekonomi pada tahun 1990-an memaksa Kuba untuk

mengimplementasikan sebuah program untuk menciptakan stabilisasi dan beberapa tindakan yang menurut mekanisme pasar, kebijakan-kebijakan yang dilakukan ini berbeda tajam dengan kebijakan IMF yang telah banyak menipu negeri Selatan. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, tidak ada terapi “kejutan” yang dilakukan. Walaupun terjadi penurunan ekonomi secara tajam, pendanaan terhadap kesehatan, pendidikan, jaminan sosial dan olahraga bertambah. Sebenarnya, 65 % pendapatan dari gula pada tahun 2002 dialokasikan demi perawatan kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial. Terlebih lagi, pendidikan, kesehatan terus berlanjut gratis, hak-hak rakyat Kuba yang telah tertulis di dalam Konstitusi Kuba (Constitution of Republic of Cuba 1993). Tidak ada satupun sekolah, rumah sakit, poliklinik dan perawatan sehari-hari ditutup. Konsekuensinya, Kuba tidak hanya mampu mempertahankan indikator-indikator sosialnya, namun juga memperoleh perbaikan yang lumayan cukup. Meskipun terjadi krisis pada tahun 1990-an, Kuba telah mulai memperbaiki kerusakan dalam sistem kesehatan pada tahun 1996. Pemerintah mempertahankan

75

investasi yang tinggi didalam bidang ini, yakni sebesar 9,1 % GDP , sebuah rasio yang sama dengan dilakukan oleh Kanada (IBRD). Salah satu hasil yang paling mengagumkan dari target investasi ini adalah keberhasilan negeri ini menciptakan sekitar 67.500 dokter medis dan memiliki perdandingan dokter yang tertinggi di dunia, dengan lebih dari lima orang dokter per seribu penduduk. Perawatan kesehatan hampir mencakup universal, sistem perawatan kesehatan mencakup 99% dari rakyat Kuba. Angka harapan hidup di Kuba --dengan batas 75 tahun--adalah tertinggi diantara negeri dunia ketiga. Standar ukuran baru Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, Tingkat Harapan Hidup Sehat (Healthy Life Expectancy), mengukur usia orang hidup dengan kesehatan penuh. Kuba, seperti yang dicatat oleh WHO, " memiliki harapan hidup sehat yang tertinggi di regional (Amerika Latin dan Karibia), 68,4 tahun, mendekati angka yang dicapai oleh Amerika Serikat pada tahun 2000. Pada ulang tahunnya yang ke-50, WHO memberikan penghargaan kepada Presiden Castro “Medali Emas demi Kesehatan bagi Semua”, menghargai pekerjaan yang telah dilakukan oleh Kuba. WHO menyatakan bahwa Kuba dalam banyak jalan menjadi sebuah model bagi negeri berkembang lainnya didalam melakukan pencerahan dan kemajuan kesehatannya.3 Kuba dengan konsisten memiliki catatan yang baik dalam laporan tahunan Perserikatan Bangsa Bangsa dalam laporan perkembangan manusia. Laporan tingkat pada basis Indeks Perkembangan Manusia, Human Development Index (HDI) membuat tiga kategori negara: pengembangan manusia yang tinggi, pengembangan
3

Healthy Life Expectancy, www.who.int/en/, 2002, Diakses tanggal 21 Juli 2005

76

manusia yang menengah dan pengembangan manusia yang rendah. Dalam laporan pada tahun 2002, Kuba berada dalam peringkat 55 dari 173 negara dan tempatnya ini merupakan diujung paling atas tingkat perkembangan manusia yang menengah,

dengan HDI 0,795; hanya 0,005 persen diluar 0,008 nilai yang diperoleh negeri yang dikategorikan status pengembangan manusianya yang tinggi. Namun, bagaimanapun tujuan HDI yang tertujuan mengkalibrasi penampilan sebuah bangsa diluar pendapatan perkapita, pendapatan rata-rata nasional terus berperan pentin didalam pembuatan perhitungan dan evaluasi. Jadi, dengan penilaian yang rendah pendapatan per kapita Kuba, berlawanan dengan dukungan sosial yang ekstensif, menghasilkan HDI yang rendah dalam rangking dunia dibanding dengan apa yang telah dibuktikannya. Antara tahun 1990 hingga 2000, Kuba mengurangi tingkat kematian bayi dari 11 per seribu kelahiran menjadi 6,2. Dibandingkan dengan negeri Barat, ini merupakan urutan ke enam dan paling tinggi di Amerika. Kontras dengan rata-rata tingkat angka kematian bayi di Amerika Latin dan Karibia sebesar 30% pada tahun 1999. Pada waktu tersebut, Argentina tercatat 18, Chili 10, dan Kosta Rika 12. Disamping itu, angka kematian anak dibawah 5 tahun telah berkurang dari 13 menjadi 8 per seribu pada tahun 1990-an. Sedangkan untuk rata-rata Amerika Latin pada tahun 1999 adalah 38. Angka kematian bayi di Kuba lebih rendah 50% dari Chili yang berada di posisi kedua di Amerika Latin. Di Kuba, 90 persen anak-anak divaksin penuh terhadap penyakit utama yang bisa dicegah yang bisa menimpa anak, seperti tubercolosis, polio, dan campak.

77

Investasi didalam pendidikan 6,7 persen dari GDP. Ini adalah dua kali lipat dari yang dialokasikan oleh rata-rata kawasan. Tingkat rata-rata pendidikan yang dicapai oleh Kuba adalah sepuluh tahun, melampaui rata-rata pendidikan regional tersebut, yang hanya lima tahun. Pada tahun 1998 dan 2001, UNESCO mempelajari pendidikan di Amerika Latin, dan dalam evaluasinya menyatakan sistem pendidikan di Kuba adalah yang terbaik di regional. Angka buta huruf di Amerika Latin bagi anak yang berusia lima belas hingga dua puluh empat tahun adalah 7%, sedangkan Kuba adalah nol. Dari tahun 1990 hingga 1997, anak-anak Kuba laki-laki dan perempuan yang menamatkan pendidikan dasar naik dari 92% menjadi 100%. Angka ini tidak hanya melewati angka dikawasan (80-90%), namun juga melampaui Amerika Serikat. Pada tahun 1997, perbandingan antara pengajar dan murid adalah 1 berbanding 12, setara dengan Swedia. Rata-rata bagi Amerika Latin dan Asia adalah 1 banding 25. Kuba terus yang terdepan di kawasan dalam kualitas pendidikan dasarnya.4 Hak ini dibarengi dengan perhatian yang cukup terhadap pendidikan yang lebih tinggi dan penelitian, sehingga jumlah orang yang tamat dari peguruan tinggi juga terus bertambah. Pada tahun 1999, Kuba menghasilkan lebih dari 700.000 tamatan universitas. Saat ini diperkirakan 24.000 orang profesor universitas mengajar 130.000 mahasiswa. Investasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi ini tercermin dalam bidang penelitian ilmiah, dimana di kawasan para peneliti hanya berjumlah 2%

4

Education In Latin America, http//portal.unesco.org, Diakses tanggal 21 Juli 2005

78

dari penduduk, sedangkan Kuba mencapai 11%. Infrastruktur penelitian juga mengagumkan, dengan lebih dari dua ratus pusat penelitian dan institut. Jaringan keamanan sosial juga tidak diabaikan. Sebagian besar para pekerja yang menganggur dipindahkan ke tempat kerja yang baru, sedangkan yang memasuki pelatihan kembali tetap mendapatkan gaji 60%. Banyak dari penganggur ini bekerja mandiri. Dengan membaiknya sektor negara, jumlah mereka ini kemudian terserap kembali. Pada tahun 1999, lebih dari 60% pekerja, khsususnya bidang kesehatan, pendidikan dan polisi mengalami kenaikan upah yang lumayan besar antara 12 hingga 40%. Jaminan pengamanan sosial dan program-program kesejahteraan diperluas. Pada tahun 2002, alokasi anggaran jaminan pengaman sosial ini naik 342 juta peso dibanding dengan tahun sebelumnya. Lebih dari 17 juta peso dibayarkan dalam bentuk pensiun sejak permulaan masa Periode Khsusus.5 Pada saat bebarapa harga barang dan pelayanan mengalami kenaikan, seperti sekolah, tembakau, angkutan antar propinsi dan penerbangan, kebutuhan pokok; sebagai contoh makanan pokok, ongkos transit lokal, namun harganya tetap bisa terjangkau dan dapat dibeli dengan peso. Pemerintahan Kuba mengalokasikan $ 700 juta AS untuk subsidi pangan. Sewa-sewa tidak bertambah, membutuhkan alokasi 68% dari upah. Dan lebih dari 85% penduduk Kuba memiliki rumah yang ditinggalinya. Para komentator sering berargumentasi, menggunakan angka pertukaran pesodollar AS 26 berbanding 1, bahwa Kuba telah mengalami privatisasi yang ekstrim. Ini
5

Development in Cuba, http://www.radiohc.org, diakses tanggal 21 Juli 2005

79

adalah distorsi yang keji terhadap kenyataan sosial dan ekonomi Kuba. Pengeluaran rata-rata bulanan sebuah keluarga di Kuba adalah sebagai berikut: Sewa : 26,6 peso($1,02 AS. (Catat, 85% rakyat memiliki rumah sendiri jadi tidak perlu membayar sewa) Listrik Telepone : 13,60 peso ($0,52 AS) : 6,25 peso ($0,24 AS)

Gas memasak :7,63 peso ($ 0,29 AS) Air Makanan : 1,30 peso ($0,05 AS) :45,56 peso ($1,75 AS). (Sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang. Ini sudah mencakup harga beras, telur, kentang dan susu bubuk untuk anak dibawah tujuh tahun).6 Total biaya bulanan adalah 100,98 peso. Dengan rata-rata upah bulanan 249 peso ($9,58 AS). Dengan dua orang tua didalam sebuah keluarga, dan perlu dicatat, upah laki-laki dan perempuan di Kuba adalah setara, maka pendapatan sebuah keluarga adalah 498 peso. Dengan demikian, belanja bulanan yang sebesar 100,98 peso menghabiskan 20,23 persen pendapatan bulanan sebuah keluarga. Harus dicatat, walapun bahan makanan yang dijatah oleh negara tidak mencukupi sepanjang bulan, namun barang-barang ini tersedia di pasar pertanian dan industri swasta dan pemerintah. Terlebih lagi, penjatahan tiap bulanan disertai dengan aspek-aspek tunjangan sosial yang diberikan oleh negara, disamping subsidi rumah, makanan,

6

Ibid

80

peralatan termasuk perawatan kesehatan dan pendidikan yang gratis, dan subsidi pakaian. Dengan demikian, walaupun negeri ini mengalami krisis ekonomi yang parah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Kuba terhindar dari permasalahan sosial dan keguncancangan politik yang melanda keseluruhan negeri Amerika Latin. Sudah dijelaskan sebelumnya, ECLAC dalam studinya menyatakan, bertentangan dengan dengan apa yang terjadi di Amerika Latin, liberalisasi pasar dalam lingkungan sosial telah mengurangi berbagai distorsi kemunduran akibat naiknya harga pada masa yang disebut dengan periode khusus.7 Studi yang lebih jauh menyimpulkan, dalam menghadapi kegoncangan eksternal yang besar, kebijakan harga untuk stabilitas relatif rendah dan didistribusikan lebih setara dibanding dengan ekonomi negeri Amerika Latin lainnya, berkat kebijakan yang menjamin pekerjaan dan pendapatan bagi semua populasi. Lebih lagi, bertentangan dengan “pengalaman negeri yang lain yang menerapkan pasar, privatisasi, dan desentralisasi yang telah memperdalam kemiskinan dan kehancuran, kelas pekerja Kuba dan petani telah diuntungkan dengan perubahan. Jadi, bila di sepanjang Amerika Latin kemiskinan di pedesaan, dan pengangguran bertambah, ketidaksetaraan yang makin tumbuh, kebijakan-kebijakan dan tindakan pemerintah Kuba telah menambah produksi dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi “namun tidak untuk segelitir orang yang makmur dengan dibiayai oleh mayoritas rakyat yang menderita”.

7

Cuba Able To Maintain Social During “Special Period”, http://www.eclac.cl/mexico/

81

A.3. Pembangunan Politik Embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba yang diberlakukan pada tahun 1960-an dan berbagai tekanan-tekanan ekonomi dan politik lainnya telah menghancurkan berbagai sendi kehidupan di negara tersebut. Di berbagai negara yang juga terkena embargo harus berhadapan dengan rentannya konflik dan pertikaian horizontal akibat ketidakmampuan pemerintah menyediakan kebutuhan pokok rakyat. Keputusan untuk mengakhiri hubungan ekonomi dan politik Amerika Serikat di Kuba dan memilih untuk tidak mengadopsi pola kebijakan ekonomi politik yang didiktekan oleh negara-negara maju melalui agen-agennya adalah bacaan objektif yang menjadi kehendak rakyat Kuba. Ratusan tahun berada dalam dominasi negara-negara imperialis telah menguatkan komitmen rakyat Kuba untuk membentuk tatanan yang betul-betul baru meski harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang tidak menghendaki hal tersebut. Hal ini tentunya tidak terjadi dengan begitu saja, akan tetapi membutuhkan waktu untuk menginjeksikan kesadaran politik ke rakyat bahwa mereka adalah bagian yang terpenting dalam pengambilan kebijakan. Pembangunan ekonomi dan sosial di Kuba bertumpu pada partisipasi aktif dari rakyat Kuba. Kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi dan sosial harus didukung oleh struktur dan mekanisme politik yang demokratis. Keputusankeputusan politik yang diambil merupakan manifestasi dari kepentingan pokok rakyat Kuba, dalam artian bahwa keterwakilan rakyat dalam pengambilan kebijakan bukan hanya diwujudkan dalam sistem elektoral dan pembagian kekuasaan ala Montesque, akan tetapi lebih jauh terwujud melalui sistem dan mekanisme politik sehari-hari

82

dalam berbagai aktivitas kehidupan yang diterapkan di negara tersebut. Sehingga, pemerintahan dari, oleh, untuk rakyat bukan hal yang utopis di negara tersebut. Untuk memudahkan kita menganalisis sistem politik alternatif yang diterapkan di Kuba, maka kita akan melihat sistem pemilihan yang diterapkan di negara tersebut. Dengan demikian, kita dapat menganalisis apakah sistem pemilihan yang diterapkan demokrasi yang artifisial atau dalam makna yang lebih partisipatif. Sistem pemilihan umum di Kuba berbentuk struktur piramid. Delegasi dipilih di kota-kota lokal, provinsi (terdiri dari 10-15 kota lokal), dan majelis nasional. Semua delegasi nasionaldapat dipertanggungjawabkan dan dapat di re-call atau diganti oleh rakyat yang memilihnya. Banyak delegasi yang tak menerima upah dan tetap melanjutkan profesinya semula. Delegasi yang menerima upah, sama dengan rata-rata upah pekerja. Karena itu, tak ada penumpukan kekayaan hasil dari korupsi ketika menjadi delegasi. Siapa saja yang berumur 16 tahun, tidak sedang ditahan atau pun sakit jiwa, dapat memilih dan dipilih sebagai delegasi. Semua pemilihan dilakukan secara sukarela. Pemilihan majelis kota (lokal) diselenggarakan dua setengah tahun sekali; delegasi untuk majelis provinsi dan nasional dipilih untuk jangka waktu 5 tahun. Semua delegasi di tiap tingkatdipilih langsung; seelum 1992, hanya delegasi kota yang dipilih langsung. Majelis kota (lokal) mengurus perumahan, makanan, kesehatan, dan pendidikan; dan memiliki fungsi politk penting; melibatkan rakyat hari per hari dalam menjalankan sistem mereka..

83

Majelis kota (lokal) dibagi berdasarkan jumlah pemberian suara (konstituen) dalam pemilihan. Rata-rata konstituen di Havana meliputi enam blok kecil. Pemilihan terjadi di tempat pemilihan yang cukup dekat untuk didatangi rakyat, mendaftar dan melihat daftar siapa yang akan dipilih. Rata-rata terdapat 300 rakyat untuk setiap tempat pemungutan suara. Untuk penentuan nominasi pada pemilihan lokal, konstituen dibagi lagi ke dalam daerah yang lebih kecil, terdiri dari sekitar 100 orang. Kandidat diusulkan dari bawah. Pertemuan untuk menentukan nominasi dilakukan dimana rakyat tinggal, di jalan raya, taman, atau tempat pertemuan. Siapa saja dapat hadir, tapi hanya orang yang terdaftar yang dapat dipilih. Paling sedikit 2 orang harus dicalonkan. Pemilih dapat mencalonkan orang yang tak berada di daerah konstituennya. Dengan Undang-Undang yang ada, motivasi politik akan mengikuti para kandidat yang dicalonkan. Para kandidat membuat satu halaman riwayat hidup, termasuk pandangannya tentang fungsi mereka sebagai delegasi, yang ditempatkan di tempat pemilihan, dimana semua orang dapat melihatnya. Kebanyakan rakyat telah mengenal kandiadat mereka, dan riwayat hidup berperan untuk mengingatkan. Tak banyak anggaran yang dihabiskan untuk pemilihan, dan tak ada kegentingan selama proses pra seleksi. Bertentangan dengan propaganda Amerika Serikat, siapa saja dapat dipilih menjadi anggota parlemen Kuba. Rakyat memilih kandidat yang mereka kenal, yang mereka tanyai. Kandidat dipilih dari basis dimana mereka berperan dalam komunitas dan telah bekerja untuk masyarakat.

84

Pada hari pemilihan, rakyat Kuba menunjukkan identitas mereka di tempat pemilihan dan pemilihan diawasi oleh anak-anak sekolah dasar. Pada Oktober, 1997, jumlah pemilih berjumlah 97, 59% dari jumlah penduduk. Hanya 3,98% surat suara yang kosong. Dan hanya 47,65% anggota delegasi terpilih kembali. Majelis Propinsi mengatur pembangunan jalan raya, fasilitas untuk anak-anak, dan fasilitas kesehatan rakyat. Majelis Nasional (AN) terdiri dari 601 delegasi, bertemu 2 kali dalam setahun, dan memiliki badan yang bekerja permanen, yang dapat bertemu setiap hari atau mingguan. Majelis Nasional memilih 31 anggota Dewan Negara, yang bertemu ketika Majelis Nasional tidak sidang. Delegasi majelis propinsi dan nasional sering adalah pemimpin dalam bidangnya; olahragawan, jurnalis, paramedis, hingga politik. Mereka yang dicalonkan umumnya bukan dari pertemuan lokal, tetapi melalui pertemuan organisasi massa, tempat kerja dan sekitarnya. Prosesnya diatur oleh komisi pencalonan di setiap tingkat kota lokal, propinsi, dan nasional. Komisi Pencalonan Nasonal sebelum tahun 1992 dipimpin oleh Partai Komunis Kuba. Sekarang dipimpin oleh Federasi Serikat Buruh Kuba. Setiap anggota komisi tidak diperbolehkan untuk menjadi kandidat. Organisasi massa, khususnya Badan pertahanan Revolusi (CDR), menunjuk siapa yang menjdi aktivis komisi pencalonan. Komisi dibutuhkan untuk berkonsultasi dengan rakyat sebanyak mungkin. Pada tahun 1997, terdapat 60.000 kandidat yang berasal dari proses konsultasi. Sebuah daftar yang terdiri dari 300 orang yang paling banyak mendapat dukungan di

85

serahkan kepada organisasi massa, pemukiman, dan tempat kerja untuk melihat dukungan yang mereka berikan. Ketika proses itu berakhir, daftar tersebut akan diserahkan kepada majelis kota baru yang terpilih untuk memilih di antara nama yang termuat dalam daftar tersebut. Majelis Kota Lokal dapat menolak sebagian atau keseluruhan calon tersebut, dan dapat mencalonkan orang lain. Semua bakal calon harus memperoleh minimal 50% suara; jika jumlah ini tak tercapai, komisi pencalonan kota lokal harus menawarkan calon lainnya. Setelah pemilihan, calon ditempatkan di distrik. Pemilihan distrik diatur oleh komisi pencalonan kota lokal; dan tidak semua anggota delegasi tinggal di distrik dimana mereka ditunjuk. Beberapa calon sudah dikenal, tapi walaupun demikian, mereka harus bertemu buruh, pelajar, pergi ke tempat kerja, dan menghadiri pertemuan di pemukiman. Jadi, rakyat memiliki kesempatan untuk bertemu dan menanyai mereka. Riwayat hidup calon ditempatkan di tempat pemungutan suara, memungkinkan rakyat dapat membaca di waktu senggangnya. Setelah hampir 2 bulan, para calon bertemu dengan massa rakyat, pada saat pemilihan suara. Terdapat dua kotak suara; untuk delegasi Majelis Nasional dan untuk majelis propinsi. Pada Januari 1998, 98,5% pemilih menggunakan hak pilihnya. Dari 601 delegasi yang dipilih, 166 adalah perempuan, 189 delegasi berumur antara 18-40 tahun, 374 berumur 41-60 tahun, 38 utusan berusia lebih dari 60 tahun.

86

Sukses Revolusi Kuba berlandaskan pada partisipasi massa dalam mendiskusikan problem-problem ekonomi politik negara. Walaupun dibawah kepungan embargo ekonomi dan politik Amerika Serikat, yang telah membatasi kemungkinan demokrasi sosialis Kuba mencapai potensi penuhnya, perolehan kekuatan politik dan legitimasi rakyat telah menunjukkan kemampuannya, karena melibatkan mayoritas rakyat di dalam bidang ekonomi dan politik.8

B. Hubungan Amerika Serikat dengan Negara-Negara di Amerika Latin Pasca Embargo ke Kuba Setelah Perang Dingin Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Amerika Serikat memiliki kepentingan yang sangat besar untuk tetap mendominasi negara-negara di kawasan Amerika Latin. Hal ini disebabkan potensi ekonomi politik negara-negara di Amerika Latin yang begitu besar hingga akan cukup berpengaruh terhadap kepentingan Amerika Serikat. Oleh karena itu, maka kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat tentunya tetap diarahkan untuk tetap memegang kontrol ekonomi dan politik terhadap kawasan tersebut. Kebijakan luar negeri Amerika bertumpu pada upaya untuk membuka pasar ekonomi seluas-luasnya dengan menggunakan pola-pola neoliberal dan semakin diperkuat dengan dominasi politik melalui rezim-rezim militer maupun sipil yang menjadi pengabsah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin. Yang perlu menjadi catatan bahwa sejak tumbangnya rezim Batista di Kuba pada
8

Data dirangkum dari Pemerintahan Rakyat Miskin adalah Keharusan Obyekltif Sejarah, Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik, 2002, Hal. 14-15

87

akhir tahun 1950-an, rezim-rezim yang pro Amerika Serikat mendapat perlawanan yang kuat akibat kebijakan-kebijakan neoliberal yang diterapkan dan semakin memiskinkan rakyat serta hanya menguntungkan segelintir elit. James Petras mencatat bahwa terdapat empat masa gelombang perlawanan rakyat pada paruh abad terakhir; Gelombang pertama, meliputi periode antara tahun 1959 sampai awal 1970-an yang dimulai dengan suksesnya Revolusi Kuba dan diakhiri dengan kekalahan kaum populis sosialis dan berkuasanya kediktatoran militer di ujung selatan kawasan tersebut. Gelombang kedua, terpusat di Amerika Tengah yang dimulaidengan Revolusi Sandinista pada tahun 1979 dan berakhir dengan kemenangan Sandinista pada pemilihan umum di tahun 1990 serta konsolidasi rezim-rezim pendukung Amerika Serikat di Nikaragua, El Salvador, dan Guatemala. Gelomang ketiga dimulai pada akhir tahun 1990-an dan berakhir pada tahun 2002, perlawanan dilakukan oleh organisasi-organisasi pergerakan massa rakyat yang bercampur dengan indivudi atau partai moderat yang mengikuti pemilu. Gelombang keempat, perlawanan-perlawanan sebelumnya telah mengkonsolidasikan kelompok-kelompok sosial politik di hampir seluruh negara-negara Amerika Latin. Kelompok-kelompok tersebut termasuk petani (MST, Gerakan Petani Tanpa Lahan di Brazil yang melakukan perlawanan akibat kebijakan neoliberal yang diterapkan Da Silva berupa pemotongan subsidi publik dan menggunakan cara-cara represif terhadap gerakan petani), suku indian (Masyarakat adat Indian di Bolivia pada tahun 2005 menggulingkan Presiden Carlos Mesa yang menolak menasionalisasi perusahaan minyak negara yang dikuasai Amerika Serikat dan mempraktekkan

88

kebijakan neoliberal berupa privatisasi air, Suku Indian Mexico yang tergabung dalam gerakan Zapatista yang menolak penerapan kebijakan-kebijakan neoliberal) , pengangguran kota (kaum miskin kota di Argentina antara tahun 2002 dan 2003 pengurangan pembayaran hutang luar negeri, di Venezuela ribuan kaum miskin kota dan militer konstitusional bekerjasama menggagalkan kudeta yang didukung Amerika Serikat terhadap Hugo Chavez yang menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat), koalisi klas pekerja yang bersatu dalam aktivitas-aktivitas ekstra parlementer.9 Berbagai perlawanan yang terjadi di hampir seluruh negara-negara Amerika Latin akibat dominasi Amerika Serikat dan rezim-rezim klien, mengharuskan Amerika Serikat mengambil kebijakan ekonomi politik yang bertujuan untuk tetap menyatukan negara-negara Amerika Latin dalam dominasi Amerika Serikat dan menjaga serta kembali meluaskan area invasi ekonominya. FTAA adalah kesepakatan antara 34 kepala negara di Benua Amerika pada Konfrensi Tingkat Tinggi Amerika di Quebec, Kanada pada tahun 2001. Pada kesepakatan ini disetujui untuk membuka kawasan pasar bebas dan pemicaraannya kan dilanjutkan pada tahun 2005 dan dilankan pada kahir tahun tersebut. Menurut Petras, Amerika Serikat saat ini berupaya untuk mempercepat rekolonisasi melalui FTAA (Free Trade Area of America). Terdapat beberapa alasan mengapa Bush dan klik politiknya berkepentingan mendorong FTAA. Di satu sisi, rezim klien pendukung Amerika Serikat sudah sangat lemah, sementara, kedua,
9

James Petras, Imperialism and Resistance in Latin America, 2003, www.resistance.org, hal. 4

89

perlawanan massa sedang meningkat. Ketiga, proteksi gaya merkantilisme yang diberlakukan Amerika Serikat memancing kemarahandari para pengusaha eksportir Amerika Latin. Keempat, Amerika Serikat bermaksud mengambil alih perusahaanperusahaan eropa terutama Spanyol. Pada gelombang privatisasi sebelumnya pada 1990-an, Spanyol berhasil mengambil keuntungan dari proses tersebut. Kelima, elit politik militer lokal yang mendukung Amerika Serikat mulai berkurang dan juga tidak sekuat sebelumnya. Keenam, keberhasilan militer politik di Asia membuat Amerika Serikat leluasa memaksakan kehendaknya kepada elit politik Amerika Latin.10 FTAA adalah usulan Amerika Serikat untuk merespon kegagalan beberapa negara dalam menerapkan neoliberalisme dan tentunya mengurangi surplus selama ini. FTAA bermaksud untuk “memindahkan kedaulatan” negara-negara Amerika kepada Komisi FTAA yang didominasi Amerika Serikat. Komisi tersebut akan menyusun langgam kerja hukum, ekonomi, politik dalam jangka waktu yang lama serta dalam skala yang luas bagi implementasi kepentingan imperial Amerika Serikat. FTAA akan mematikan fungsi legislatif dan eksekutif negara-negara Amerika Latin dan memposisikan mereka sebagai subordinasi Amerika Serikat dibawah kontrol FTAA. Salah satu target FTAA saat ini adalah melakukan privatisasi terhadap beberapa potensi-potensi ekonomi yang menguntungkan dan masih dikuasai oleh negara seperti; Petrolium dan telekomunikasi milik Venezuela, Ekuador dan Meksiko, selain itu juga akan dilakukan privatisasi terhadap fasilitas kesehatan
10

James Petras, Empire Buiding and Rule:US and Latin America, 2004, www.resistance.org

90

rakyat, pendidikan dan layanan-layanan sosial lainnya. FTAA juga bermasud untuk melanjutkan protekasi terhadap sektor pertanian dan manufaktur Amerika Serikat yang tidak kompetitif, melanjutkan subsidi terhadap eksportir Amerika Serikat, dan memonopoli perdagangan yang akan memberikan privelege terhadap eksportir Amerika Serikat terhadap produsen Asia atau Eropa.11 FTAA adalah proyek pasar bebas yang telah dipraktekkan di beberapa kawasan di berbagai belahan dunia yang disponsori oleh Amerika Serikat. Dan seperti yang dikhawatirkan berbagai kelompok bahwa proyek tersebut hanya akan menguntungkan negara-negara maju melalui perusahaan-perusahaan multi dan transnasional yang sekarang telah menguasai mayoritas aset-aset ekonomi dunia khususnya negara-negara Dunia Ketiga. Dalam sebuah pernyataan sikapnya, Global Change, sebuah LSM Internasional yang bergerak dalam issu-issu keadilan sosial global mengungkapkan sepuluh alasan menolak FTAA, yaitu: 1. FTAA akan memperluas bencana yang telah terjadi, FTAA sebenarnya adalah ekspansi dari NAFTA. Di Amerika Serikat, lebih dari 879.280 orang telah kehilangan pekerjaan akibat proyek pasar bebas NAFTA. Di Meksiko, kemiskinan semakin meningkat sejak NAFTA diterapkan. NAFTA harus diakhiri bukan diperluas 2. Persetujuan tersebut ditandatangani tanpa masukan dari masyarakat, persetujuan mengenai FTAA dibuat tanpa mendengar aspirasi masyarakat sementara
11

dilain

pihak

perusahaan-perusahaan

multinasional

dan

James Petras, Op.Cit., Hal.6-7

91

transnasional seperti Monsanto, Pfizer Pharmaceuticals, Citigroup, Worldcom, Raytheon dan Shell ikut menyepakati aturan-aturan dalam FTAA. 3. Persetujuan tersebut akan mengikis hak-hak buruh dan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan, pengalaman dari NAFTA memperlihatkan bahwa korporasi-korporasi internasional sangat tidak memperhatikan hakhak buruh dengan mempraktekkan politik upah murah 4. Persetujuan tersebut akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, dengan model berkelanjutan (sustainable) yang merupakan model yang diterapkan dalam pasar bebas, banyak negara-negara di selatan yang menggunduli hutan dan mengeksploitasi simber daya alam untuk membayar hutang luar negeri mereka. 5. Persetujuan tersebut akan menyengsarakan petani, seperti yang diterapkan NAFTA bahwa produksi pertanian kemudian hanya akan menguntungkan korporasi-korporasi internasional yang berbgerak dibidang agrikultur. 6. Persetujuan tersebut berisis kesepakatan tentang program privatisasi terhadap pelayanan-pelayanan vital, FTAA akan memaksa negara-negara anggotanya untuk memprivatisasi layanan publik seperti; pendidikan, kesehatan, energi dan air. 7. Persetujuan tersebut akan mengikis demokrasi demi kepentingan korporasi, dalam Bab 11 kesepakatan NAFTA tertulis bahwa korporasikorporasi diizinkan untuk menggugat pemerintah dan meminta

92

kompensasi apabila mereka merasa bahwa tindakan pemerintah termasuk pemberdayaan kesehatan masyarakat dapat mengurangi keuntungan yang akan didapatkan. Dan para negosiator akan memasukkan aturan-aturan tersebut dalam FTAA 8. Persetujuan tersebut akan memperluas penggunaan GMOs, Negosiator perdagangan Amerika Serikat berusaha untuk menggunakan FTAA untuk memaksa negara-negara anggota untuk menerima penggunaan organisme genetis yang termodifikasi (geneticallymodified organism). Akan tetapi beberapa kelompok-kelompok lingkungan memperingatkan bahwa

teknologi tersebut belum cukup diuji dan para ahli makanan mengatakan ahwa GMOs akan meningkatkan kelaparan di negara-negara miskin. 9. Persetujuan tersebut akan meningkatkan kemiskinan dan ketidaksetaraan, perdagangan bebas yang telah dijalankan sejak tahun 1960 sampai sekarang hanya menguntungkan negara-negara maju dan sistem perdagangan didominasi oleh mereka sementara akibat kebijakankebijakan pasar bebas mayoritas rakyat di negara-negara selatan semakin miskin 10. Masih banyak alternatif-alternatif yang lain dan telah terbukti, altenatif yang lain pasti ada dan telah terbukti. Kuba tanpa mempraktekkan

93

kebijakan-kebijakan neoliberal tetap mampu bertahan dan menyediakan kehidupan yang layak untuk rakyatnya.12 Selain itu, proyek FTAA ini juga mendapat perlawanan dari Fidel Castro yang melakukan kerjasama dengan Hugo Chavez presiden Venezuela yang membentuk ALBA (Application of The Bolivarian Alternativefor the Americas), sebuah blok ekonomi alternatif untuk membendung FTAA. Kesepakatan tersebut ditandatangani di havana, Kuba melalui pertemuan antar delegasi pada tanggal 27-28 April 2005. Hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi rencana Amerika Serikat untuk mengaplikasikan proyek FTAA dan ini sekaligus membuktikan bahwa Another World is Possible (Dunia Yang Lain adalah Mungkin).

12

Top Ten Reasons to Oppose the free Trade Area of Americas, www.globalexchange.org, diakses tanggal 16 Juni 2005

94

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Revolusi Kuba 1959 telah menghantarkan negara tersebut menjadi lebih berdaulat dan mandiri dari intervensi ekonomi maupun politik negara-negara imperialis khususnya Amerika Serikat. Pasca revolusi, Kuba mengakhiri dominasi Amerika Serikat yang sebelumnya dijalankan melalui pemerintahan yang merupakan perpanjangan tangan dari Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan melalui distribusi aset-aset ekonomi kepada rakyat yang sebelumnya hanya dimiliki oleh segelintir pemilik modal dan kemudian membuka akses-akses terhadap infrastruktur politik kepada rakyat sehingga kebijakan yang diterapkan betul-betul mewakili aspirasi rakyat mayoritas. Upaya perubahan yang dilakukan pemerintahan baru pasca revolusi Kuba tentunya berseberangan dengan kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat yang terus berupaya untuk menguasai potensi-potensi ekonomi dan menancapkan hegemoni politik di Kuba pada khususnya dan di kawasan Amerika Latin pada umumnya. Dengan demikian, Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan luar negeri dengan menerapkan embargo ekonomi terhadap Kuba untuk meminimalisir aksesibilitas Kuba terhadap kehidupan ekonomi politik global. Dari kondisi tersebut dapat disimpulkan beberapa hal : 1. Embargo yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Kuba telah mempengaruhi pembangunan ekonomi, sosial dan politik di Kuba yang kemudian berimplikasi

pada lambannya proses pembangunan di negara tersebut khususnya pasca runtuhnya Blok Timur yang sebelumnya menjadi sandaran pembangunan Kuba. 2. Embargo tersebut mengharuskan Kuba untuk memformat dan menjalankan alternatif-alternatif dalam menjalankan pembangunan ekonomi, sosial dan politik dengan tidak merujuk pada pola yang diajukan oleh negara-negara maju sehingga negara tersebut tetap mampu menjalankan pembangunannya tanpa mesti bergantung terhadap negara-negara maju khususnya Amerika Serikat seperti yang dialami oleh kebanyakan negara-negara Dunia Ketiga. 3. Meski berada dalam kepungan embargo dan semakin massifnya penerapan kebijakan-kebijakan neo-liberal di negara-negara Amerika Latin melalui proses integrasi ekonomi yang disponsori oleh Amerika Serikat, Kuba masih dapat bertahan dengan sistem alternatif yang diterapkan dan mampu memperlihatkan kemajuan-kemajuan di berbagai bidang seperti pendidikan dan kesehatan. 4. Revolusi Kuba yang berujung pada embargo yang diberlakukan Amerika Serikat telah turut mempengaruhi perlawanan-perlawanan di negara-negara Amerika Latin lainnya yang juga menentang dominasi ekonomi dan politik Amerika Serikat. Sehingga kondisi tersebut mengharuskan Amerika Serikat untuk melakukan integrasi ekonomi melalui FTAA (Free Trade Area of Americas) yang betujuan untuk tetap memperkuat dominasi ekonomi dan hegemoni politik atas negara-negara Amerika Latin.

96

B. Saran-saran 1. Amerika Serikat seharusnya mengakhiri embargo yang diberlakukan terhadap Kuba karena kebijakan-kebijakan politik dalam dan luar negeri yang diterapkan oleh pemerintah Kuba yang kemudian dianggap mengganggu kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat, merupakan otoritas Kuba sebagai negara yang berdaulat. 2. Negara-negara Amerika Latin seharusnya berupaya untuk membentuk blok ekonomi alternatif yang diharapkan mampu mengimbangi dominasi Amerika Serikat. Sehingga hubungan yang terjadi antara negara-negara Amerika Latin dengan negara-negara maju khususnya Amerika Serikat bisa lebih egaliter.

97

DAFTAR PUSTAKA

Buku Adams, Ian, Ideologi Politik Mutakhir: Konsep, Ragam, Kritik, dan Masa Depannya, Penerbit Qalam, Yogjakarta, 2004. Arif, Sritua, Teori Dan Kebijaksanaan Pembangunan, CIDES, 1998. Bukan Sekedar Anti Globalisasi, The Institute of Global Justice & Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta, 2005 Coulombis, Theodore A., International Relations:Powers and Justice, Terjemahan, Drs. Marsedes Marbun, CV. Abardin, 1990. Fakih, Mansour, Bebas dari Neoliberalisme, INSIST Press, Yogyakarta, 2004, Frankel, J., Hubungan Internasional, ANS Sungguh Barsaudara, Jakarta, 1990 Haas, Ernest B., The Unity of Europe: Political, Social and Economic Forces 19501957: Stanford University Press, Stanford, California, 1958. Hayes, Margareth Daly, Latin America and the U.S. National Interest:A Basis for U.S. Foreign Policy, United States, WestView Press, 1984. Holsti, K.J., Politik Internasional:Kerangka Analisis, Pedoman Ilmu, Jakarta, 1987. Jones, Walter S., Logika Hubungan Internasional kekuasaan, Ekonomi Politik Internasional dan Tatanan Dunia 2, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993. Jorquera, Roberto, Cuba’s Path Out of Underdevelopment:A Historical Look at Cuba’s Economic Development, dalam Cuba as Alternative:An Introduction to Cuba’s Socialist Revolution, Resistence Book, Australia, 2000, Kulikov, Alexander, Political Economy, Progres Publishers, Moskwa, 1986. Kusumuhamidjojo, Budiono, Hubungan Internasional:Kerangka Studi Analisis, Bina Cipta, Jakarta, 1987 Mas’oed, Moechtar, Ilmu Hubungan Internasional:Disiplin dan Metodologi, PT. Pustaka LP3S, Jakarta, 1994.

Mukmin, Hidayat, Pergolakan Di Amerika Latin Dalam Dasawarsa Ini, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981. Olton, Roy dan Jack C. Plano, Kamus Hubungan Internasional, Terjemahan, Wawan, CV. Aardin, Bandung, 1990, Ortiz, Fernando, Cuban Counterpoint:Tobacco and Sugar, Knopf, New York, 1947 Pontoh, Coen Husein, Akhir Globalisasi; Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa, C-BOOKS, Jakarta, 2003. Robinson, Richard, Global Problems and the Culture of Capitalism, Allyn Bacon, 1999. Robinson, William I., Neoliberalisme, Elit Global, dan Transisi Guatemala:Seuah Analisis Makrostruktural, C-Books, Jakarta, 2003 Rossi, Ernest dan Jack Plano, The Latin American Political Dictionary, Oxford:ABC, Clio, 1980. Saney, Isaac, Cuba: Revolution in Motion, Fernwood, Kanada, 2003. Saputra, Sumpena Prawira, Politik Luar Negeri Indonesia, Remaja Karya Offset, Jakarta, 1985. Setiawan, Bonnie, Menggugat Globalisasi, INFID & IGJ, Jakarta, 2001. Shah, Anup, Kepentingan Utama Globalisasi diterjemahkan dari Free Trade and Globalization, The Institute Of Global Justice & Lembaga Pembebasan, Media dan Ilmu Sosial, Jakarta, 2004. Vila, Herminio Portel, The Nasionalism of Cuban Intellectuals, dalam Robert F. Smith, ed., Background to Revolution: The Development of Modern Cuba,Knopf, New York, 1966. Wolf, Eric R., Perang Petani, INSIST Press, Yogyakarta, 2004. Yaffe, David et.al., Mcglobal gombal Globalisasi dalam Perspektif Sosialis, Cubuc, Jakarta, 2001. Yusuf, Sufri, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri, Sebuah Analisis Teoritis dan Uraian Pelaksanaannya, Pustaka Sinar, Jakarta, 1989.

99

Slater, Jerome & Jan Knippers Black, United States Policy In Latin America dalam Latin America, Its Problems And Its Promise, United States, Westview Press, 1991.

Wiarda, Howard J., Europe’s Ambiguous Relation with Latin America:Blowing Hot and Cold in Western Hemisphere, The Washington Quarterly, 1990.

Martinez, Elizabeth & Arnoldo Garcia, What is “Neoliberalism”?, National Network for Immigrant and Refugees Rights, Januari, 1997

Terbitan : Terbitan Seruan Buruh FNPBI, edisi X IX, Jakarta, 2002 News Letter Gratis Pijar Imaji, Makassar, 2004 Green Left Weekly, Australia, 2005 Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik, Jakarta, 2002. Diponegoro 74, Jurnal Hukum dan Demokrasi, YLBHI, Jakarta, 2001. LINKS, No. 12, Mei-Agustus, Australia, 1999

Makalah Malpraktek dan Mitos IMF di Indonesia, Makalah yang disampaikan dalam seminar yang dilakukan oleh Aliansi Anti IMF (ANTI) di Jakarta, 2002

Internet Brief History of Cuba, www.thehistoryofcuba.com Cuba Able to Maintain http://www.eclac.cl, Social Progress during "Special" Period,

Development in Cuba, http://www.radiohc.org

100

Education In Latin America, http//portal.unesco.org Healthy Life Expectancy, www.who.int/en/, 2002. Lorimer, Doug, Welfare Capitalism and Neoliberal Globalization, http://jinx.sistm.unsw.edu.au/greenleft/2000/397/397p16.htm. Marx, Karl dan Friedrich Engels, The Manifesto of Communist Party 1848, http://www.anu.edu.au/polsci/marx/classics/manifesto.html Microsoft Encarta, Cuban History Petras, James, Empire Buiding and Rule:US and Latin America, 2004, www.resistance.org _______ Imperialism and Resistance in Latin America, www.resistance.org Rozak, Mohammad, Apakah Kuba Demokratis ? http://www.poptel.org.uk/cubasolidarity/index.html Top Ten Reasons to Oppose www.globalexchange.org the free Trade Area of Americas,

Ulyanov, Vladimir Ilych (Lenin), Imperialism, The Highest Stage of Capitalism, http://www.marxist.org.

101

UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DAFTAR

:

MATA KULIAH DAN JUMLAH SATUAN KREDIT (SKS ) YANG SUDAH LULUS

NAMA MAHASISWA JURUSAN PROGRAM STUDI TEMPAT/ TGL. LAHIR ALAMAT SEKARANG

: : : : :

ZULKHAIR BURHAN ILMU POLITIK DAN ILMU PEMERINTAHAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL PONGKALAERO, 3 APRIL 1981 BTN WESABBE D/33 MAKASSAR

NO. POKOK: E131 00 019

NO.

KODE MK

MATA KULIAH

SKS

NILAI

KN

WAKTU LULUS

I. 1. 2. 3. 4. 5. 6 7.

MATA KULIAH DASAR UMUM (MKDU) = 12 SKS 001UU2 002UU2 008UU2 001UU2 013UU2 011UU2 010UU2 Pancasila Agama Islam Kewiraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Budaya Dasar 2 2 2 2 2 2 2 A A B A A B A 8,0 8,0 6,0 8,0 8,0 6,0 8,0 Awal Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2000-2001 Akhir Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2000-2001 Akhir Tahun/ 2004-2005 Akhir Tahun/ 2003-2004

II. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

MATA KULIAH DASAR KEAHLIAN (MKDK) = 30 SKS 100SA3 101E113 101SP3 100SS3 101SS3 152SG3 200SS3 204SS3 201SP3 205SS3 150SS3 Pengantar Antropologi Sosial Pengantar Ilmu Adm. & Manajemen Pengantar Ilmu Politik Pengantar Sosiologi Dasar-Dasar Logika Sistem Hukum Indonesia Sistem Sosial Indonesia Pengantar Statistik Sosial Sistem Politik Indonesia Metode Penelitian Sosial Sistem Ekonomi Indonesia 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 B B B B B C B B B C B 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 6,0 9,0 9,0 9,0 6,0 9,0 Awal Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2004-2005 Awal Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2000-2001 Akhir Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2001-2002 Awal Tahun/ 2001-2002 Awal Tahun/ 2001-2002 Awal Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2003-2004

III. 1. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

MATA KULIAH KEAHLIAN (MKK) = 30 SKS 151SI3 201SI3 257SI3 251SI3 352SI3 352SP3 358HI3 258HI3 302SI3 302SI3 451SI3 Pengantar Ilmu Hubungan Internasional Teori-Teori Hubungan Internasional Ekonomi Politik Internasional Politik Luar Negeri Indonesia Diplomasi ( Teori Dan Praktek ) Teori Perbandingan Politik Hukum Internasional Politik Internasional Studi Kawasan Pasifik Organisasi & Administrasi Internasional Seminar (Pilihan) Masalah Internasional 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 A A B A B B A B C B B 12,0 12,0 9,0 12,0 9,0 9,0 12,0 9,0 6,0 9,0 9,0 Akhir Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2001-2002 Awal Tahun/ 2002-2003 Akhir Tahun/ 2004-2005 Akhir Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2002-2003 Semester Pendek 2005 Awal Tahun/ 2002-2003 Awal Tahun/ 2003-2004 Awal Tahun/ 2002-2003 Akhir Tahun/ 2003-2004

IV.

MATA KULIAH PILIHAN (MKP)

A. 1. 2. 3. 4.

PILIHAN WAJIB 150BE3 203SI3 404SI3 351SI3 Bahasa Inggris II Geografi Politik Politik Luar Negeri Amerika Serikat Met. Ilmu Hubungan Internasional 3 3 3 3 A B B C 12,0 9,0 9,0 6,0 Akhir Tahun/ 2000-2001 Awal Tahun/ 2002-2003 Awal Tahun/ 2003-2004 Akhir Tahun/ 2002-2003

NAMA MAHASISWA NO. KODE MK

: ZULKHAIR BURHAN MATA KULIAH SKS NILAI KN

NO. POKOK: E131 00 019 WAKTU LULUS

I. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9, 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. II. 1. 2. 3.

PILIHAN BEBAS = 42 – 52 SKS 252SI3 Politik Regional Asia Tenggara 253SI3 Politik Regional Timur Tengah 254SI3 Politik Regional Pasifik Selatan 259HI3 Hukum Diplomatik 354SI3 Sistem Politik Amerika Serikat 151SS3 Geografi Dan Kependudukan 303SI3 Sistem Politik Australia 302SP3 Pemikiran Politik Dunia Ketiga 401SI3 Komunikasi Politik Internasional 403SI3 Politik Luar Negeri Jepang 252SI3 Politik Regional Eropa 401SP3 Pemikiran Politik Islam 402SP3 Pemikiran Politik Barat 305SG3 Kajian Ketahanan Nasional 403SI3 Politik Luar Negeri Cina 252SP3 Pemikiran Politik Indonesia MATA KULIAH PELENGKAP (MKP) = 15 SKS 101EK1 161EK1 461KK4 Ekstra Kurikuler I Ekstra Kurikuler II Kuliah Kerja Nyata (KKN)

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

A B B A B B B B A A B B B B B B

12,0 9,0 9,0 12,0 9,0 9,0 9,0 9,0 12,0 12,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0

Akhir Tahun/ 2002-2003 Akhir Tahun/ 2002-2003 Akhir Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2004-2005 Awal Tahun/ 2002-2003 Awal Tahun/ 2002-2003 Awal Tahun/ 2003-2004 Awal Tahun / 2003-2004 Akhir Tahun/ 2002-2003 Awal Tahun/ 2003-2004 Awal Tahun/ 2003-2004 Awal Tahun/ 2004-2005 Awal Tahun/ 2003-2004 Akhir Tahun/ 2003-2004

1 1 4

A A A

4,0 4,0 16,0

Awal Tahun/ 2001-2002 Akhir Tahun/ 2001-2002 Semester Pendek 2004

JUMLAH SATUAN KREDIT YANG LULUS K.N ______ SKS 468 = ______ 146

INDEKS PRESTASI KUMULATIF

=

=

3,20

JUDUL SKRIPSI: DAMPAK EMBARGO AMERIKA SERIKAT TERHADAP KUBA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HUBUNGAN AMERIKA SERIKAT DENGAN NEGARA-NEGARA AMERIKA LATIN

Diketahui : Dekan u.b. Pembantu Dekan I

Makassar, 1 Agustus 2005 Telah diperiksa oleh Ketua / Sekretaris Jurusan,

Dr. H. Mahmud Tang MA. NIP. 131 416 682

Drs. A. Syamsuddin, MS NIP. 131 876 814

CATATAN : 1. TRANSKRIP INI DIGUNAKAN UNTUK : UJIAN SKRIPSI 2. Diisi sesuai mata kuliah yang telah ditetapkan dalam buku kajian / kurikulum 3. Diisi sesuai dengan mata kuliah / SKS yang telah diambil/ditempuh 4. Untuk Ujian Skripsi, dicopy dalam rangkap 6 (enam), sesudah diperiksa oleh Bag. Adm. Akademik dan sebelum ditandatangani oleh Ketua Jurusan dan Pembantu Dekan I

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->