P. 1
Tugas Softskill Mikrobiology Veteriner

Tugas Softskill Mikrobiology Veteriner

|Views: 3,865|Likes:
Published by agung_budianto

More info:

Published by: agung_budianto on Feb 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2013

pdf

text

original

TUGAS MIKROBIOLOGI VETERINER SOFTSKILL SISTEM KLASIFIKASI, NOMENKLATUR dan SIFAT-SIFAT BAKTERI PATOGEN

Oleh:

KELOMPOK II-C

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2009

NAMA-NAMA KELOMPOK MIKROBIOLOGI VETERINER SOFTSKILL

KETUA SEKRETARIS ANGGOTA:

: AGUNG BUDIANTO ACHMAD (060810312) : LUVIANA KRISTIANINGTIAS (060810370)

1.

ALVIN FEBRIANTH (060810303) (060810305)

2. ELSA HAPPYANA

3. AMRULLAH ALHAQ 4. RINA INDRAWATI

(060810306)

(06081030
5. MUH. DEDDY TRIANANTA 6. CHRISNA TEDJA MUKTI

(060810309)

(060810367)
7. WAKHID NUR HIDAYAT

(060810368)
8. NABILA LARYSKA

(060810371)
9. IKE YUNIARNI 10.

(060810372)

LUTHFI ANDIKA F. (060810373) DWI AGITA SARI (060810374) NUR AINI (060810375)

11.

12.

13.

SITI NUR AISYAH (060810376) ROUDLOTUL ANGGRAINI (060810377) TRI YONGKI I (060810378) YUNITA F. OLA (060810379) IKE MARTANIA (060810380) ADE IRMAYANI (060810 FANY PRIMA HARED (060810

14.

15.

16.

17.

18.

19.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan yang maha Esa karena dengan rahmat dan ridho -Nyalah, penyusunan makalah mengenai SISTEM KLASIFIKASI, NOMENKLATUR dan SIFAT-SIFAT BAKTERI PATOGEN ini dapat terselesaikan. Kami menyadari masih sangat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu kami menerima dengan tangan terbuka atas masukan dan kritikan yang membangun sehingga dapat menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian juga dengan makalah ini. Atas masukan, kritik dan saran yang membangun kami ucapkan terima kasih.

Surabaya, 17 Desember 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN NAMA KELOMPOK ........................................................................i KATA PENGANTAR ............................................................................................ii DAFTAR ISI ...........................................................................................................iii DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................iv SINGKATAN DAN ARTI LAMBANG ................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG ..........................................................................2 1.2 TUJUAN ...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3
2.1 BAKTERI COCCUS GRAM POSITIF DAN NEGATIF .............................. 2.2 BAKTERI BATANG GRAM POSITIF BERSPORA ................................... 2.3 BAKTERI BATANG GRAM POSITIF TIDAK BERSPORA ...................... 2.4 BAKTERI GRAM NEGATIF ENTEROBACTERICEAE............................. 2.5 BAKTERI BATANG GRAM NEGATIF NON ENTEROBACTERICEAE .

2.6 BAKTERI BERBENTUK SPIRAL ............................................................... 2.7 BAKTERI LAINYA ......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. LAMPIRAN ............................................................................................................

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Staphylococcus aureus pada Mannitol Salt Agar Gambar 2.2 Morfologi bakteri Staphylococcus aureus dengan pembesaran 10000x

SINGKATAN DAN ARTI LAMBANG

MSA : Mannitol Salt Agar µm °C : Mikro meter : Derajat celcius

BAB 1

PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak jaman dahulu, manusia mempunyai keinginan mengenal dan memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam dunia ilmu, keanekaragaman hayati dipelajari untuk keperluan ilmiah dan sangat bermanfaat untuk pengembangan teknologi guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Bila kita mempelajari keanekaragamn hayati tanpa klasifikasi, sangat mungkin terjadi kerancuan pengertian tentang suatu jenis makhluk hidup. Namun apabila kita mempelajari keanekaragaman dengan klasifikasi maka akn diperoleh kemudahan dan keseragaman dalam menunjuk suatu jenis. Klasifikasi telah dilakukan sejak lama oleh manusia. Klasifikasi (pengelompokan) makhluk hidup dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki makhluk hidup tersebut. Jadi suatu kelompok akan terbentuk dari berbagai jenisyang memiliki kesamaan ciri tubuh, dan yang memiliki ciri-ciri berbeda membentuk kelompok lain. Pengklasifikasian didasarkan pada morfologi dan atau berdasarkan fisiologi. Akan tetapi pada bakteri sulit untuk dilaksanakan. Oleh karena itu pengklasifikasian didasarkan pada sifat-sifat morfologi dan sebagian atas sifat-sifat fisiologi, biokimia, keganasan,sifat-sifat imunologi, antigen, numeric dan komposisi DNA dari bakteri. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dari masa ke masa. Perkembangan ini sering menuntut perubahan dalam klasifikasi. Setiap sistem klasifikasi harus bersifat eksklusif sekaligus inklusif. Taksonomi adalah ilmu pengetahuan penggolongan organisme. Tatanama penggolongan dan identifikasi untuk pengaturan organisme ke dalam kelompok (taxa) didasarkan atas persamaan atau hubungan. Tatanama adalah menyebutkan nama bakteri pada kelompok taxonomic menurut aturan internasional. identifikasi adalah cara yang praktis pengklasifikasian untuk menentukan identitas dari suatu bakteri dan mengisolasi sebagai anggota dari suatu taxon atau sebagai suatu anggota dari jenis yang tidak diketahui. Bakteri dimasukkan dalam suatu golongan prokariotik (bersel tunggal), contoh klasifikasinya adala sebagai berikut: 1. Kingdom (seluruh organism dalam hierarki ini) 2. Filum (sekelompok yang berkerabat) 3. Klas (sekelompok ordo sama) 4. Ordo (sekelompok family yang sama) 5. Famili (sekelompok genus yang sama)

6. Genus (sekelompok spesies yang sama) 7. Spesies (sekelompok organism yang sejenis dan individu-individunya serupa dalam sebagian besar ciri-cirinya . Sedangkan untuk memberikan nama pada bakteri digunakan system binomial nomenklatur, yaitu pemberian nama dengan menggunakan dua kata. Kata yang pertama adalah merupakan genusnya dan kata yang kedua adalah spesiesnya.Huruf pertama pada genusnya ditulis menggunaka huruf besar, namun pada spesiesnya, huruf pertamanya ditulis menggunakan huruf kecil. Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofilkecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah,atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut. Oleh karena itu penyusunan makalah ini untuk mengetahui apa saja sifat dan struktur bakteri patogen yang merugikan tersebut.

1.2 Tujuan Dalam penyusunan makalah ini memiliki beberapa tujuan yaitu:
a.

Untuk mengetahui beberapa macam bakteri yang patogen pada beberapa

genus serta mengetahui klasifikasi dan nomenklaturnya. b. c. d. e. Mengetahui klasifikasi dari spesies patogen yang akan dibahas Morfologi masing-masing spesies yang akan dibahas Mengetahui penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri patogen Mengetahui sifat-sifat kuman patogen melalui identifikasi makroskopis,

mikroskopis, sifat-sifat biokimia, uji biologis, uji serologis

BAB 2 PEMBAHASAN

BAB 2 PEMBAHASAN

Habitat bakteri hampir disetiap tempat, yaitu di tanah, air, udara, dalam makanan, maupun dalam tubuh makhluk hidup. Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan,

suhu,dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfik, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-1,0 µ meter. Bakteri memiliki peranan pada manusia, baik peranan yang merugikan maupun yang menguntungkan. Bakteri tersebut menguntungkan karena dapat membantu, dalam proses industri makanan maupun obat-obatan, dan bakteri tersebut merugikan dikarenakan ada yang bersifat parasit dan patogen. Oleh karena itu, pembahasan kali mengenai bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Adapun genus dari bakteri tersebut yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

2.1 Bakteri Coccus Gram Positif dan Negatif Bakteri ini memiliki morfologi berbentuk bulat dengan beberapa variasi. Bakteri ini juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu bakteri gram positif dan negatif. Adapun perbedaanya adalah sebagai berikut: Perbedaan Struktur dinding sel Komposisi dinding sel Resistensi terhadap alkali (1% KOH) Kepekaan terhadap Yodium Toksin yang dibentuk Resistensi terhadap Tellurit Sifat tahan asam Kepekaan terhadap Penisilin Kepekaan terhadap Streptomycin Lebih peka Eksotoksin Lebih tahan Ada yang tahan asam Lebih peka Tidak peka Kurang peka Endotoksin Lebih peka Tidak ada yang tahan asam Kurang peka Peka Gram Positif - Tebal (15-80nm) - Berlapis tunggal - Kandungan lipid rendah (14%) Tidak larut Gram Negatif - Tipis (10-15nm) - Berlapis tiga (multi) -Kandungan lipid tinggi (1122%) Larut

Oleh karena itu, genus yang akan dibahas adalah 2.1.1 Genus Staphylococcus

Staphylococcus adalah bakteri patogen infeksius yang sering dikaitkan dengan makanan, seperti salad dan roti. Gejala yang disebabkan oleh konsumsi pra-terbentuk enterotoxin dapat muncul hanya dalam 30 menit, dan seringkali terjadi mual, muntah dan kram perut. Bakteri ini termasuk dalam bakteri gram positif. Dengan menggunakan mikroskop bakteri tersebut tampak berbentuk bulat serta bergerombol seperti sekelompok anggur. Genus staphylococcus mencakup kurang lebih 31 spesies. Kebanyakan dari spesies tersebut tidak berbahaya dan hanya sebagai flora normal pada kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Mereka juga menjadi mikroba tanah. Genus ini dapat ditemui di seluruh dunia. Salah satu spesies Staphylococcus yang pathogen adalah Staphylococcus aureus. 2.1.1.1 Staphylococcus aureus. a. Klasifikasi Adapun pengklasifikasian bakteri ini adalah sebagai berikut: Kingdom Phylum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Eubacteria : Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Staphylococcaceae : Staphylococcus : Staphylococcus aureus

b. Morfologi Morfologi makroskopik Staphylococcus aureus mempunyai daya tahan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan bakteri lain yang tidak membentuk spora. Pada agar miring masih dapat bertahan hidup sampai berbulan–bulan baik di dalam lemari es maupun pada suhu kamar. Menurut pada

media PAD Staphylococcus aureus memproduksi pigmen lipochrome yang membuat koloni tampak berwarna kuning keemasan dan kuning jeruk atau putih. Menurut Jawetz et all (1996), Staphylococcus aureus membentuk koloni berwarna abu-abu sampai kuning emas tua. Bakteri mudah tumbuh pada media umum secara aerob dengan suhu 370C, pada media selektif MSA (Mannitol Salt Agar). Pada media MSA koloni yang terbentuk berwarna kuning emas, dengan ukuran 2-4 mm, bulat cembung, mengkilat & keruh.

Gambar 2.1 Staphylococcus aureus pada Mannitol Salt Agar

-

Morfologi Mikroskopik Staphilococcus sp. secara mikroskopis dapat dilihat bakteri ini bergerombol menyerupai buah anggur, pada sifat pewarnaan gram bersifat gram positif, tidak dapat bergerak (non motil), dan tidak memiliki spora. Hanya kadang-kadang yang negatif Gram dapat ditemukan pada bagian tengah gerombolan kuman, pada kuman yang telah difagositosis dan pada biakan tua yang hampir mati.

Gambar 2.2 Morfologi bakteri Staphylococcus aureus dengan pembesaran 10000x

c. Sifat-sifat biokimiawi Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari interaksi metabolitmetabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia. Selain itu dilihat kemampuannya menggunakan senyawa tertentu sebagai sumber karbon dan sumber energi . Adapun sifat-sifat uji biokimiawi bakteri Staphylococcus aureus adalah: I. Uji MR Hasilnya positif, terjadi perubahan warna menjadi merah setelah ditambahkan methyl red. Artinya, bakteri ini mengahasilkan asam campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang terkandung dalam medium MR-VP. Terbentuknya asam campuran pada media akan menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang, oleh karena itu bila indikator metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu maka II. indikator tersebut menjadi merah. Hal ini menandakan bahwa Uji VP bakteri ini peragi asam campuran.

Hasilnya negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada medium setelah ditambahkan α-napthol dan KOH, artinya hasil akhir fermentasi bakteri ini bukan asetil metil karbinol (asetolin). III. Uji Indol Media ini biasanya digunakan dalam indentifikasi yang cepat. Hasil uji indol yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan, artinya bakteri ini tidak membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber carbon, yang dapat diketahui dengan menambahkan larutan kovac. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein,sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. IV. Uji Koagulase Uji koagulase dilakukan dengan menggunakan tabung yang berisi plasma darah kelinci, sesuai metode Brückler et al., (1994). Bakteri ditanam dalam tabung yang berisi plasma darah, diinkubasikan selama 6 sampai 18 jam pada suhu 37ºC. Pengamatan dilakukan pada 6 jam dan dilanjutkan setelah 18 jam.Uji koagulase pada bakteri ini dinyatakan positip karena terjadi gumpalan dalam tabung. Menurut Brückler et al. (1994) S. aureus dapat mengaglutinasi plasma darah, karena mempunyai coagulase reacting factor (Jawetz et al., 1982; Joklik et al.,1992). Menurut Brückler et al. (1994) peran koagulase yang dihasilkan oleh kuman digunakan sebagai penentu spesies S. aureus, karena kuman ini mengandung koagulase yang dapat menggumpalkan plasma darah hospes. Dalam penelitian ini diketahui bahwa semua isolat S. aureus positif pada uji clumping factor dan koagulase, yang menunjukkan bahwa kuman ini mempunyai sifat dapat merusak plasma darah hospes. V. Uji Katalase Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Pengujian katalase merupakan cara identifikasi bakteri dengan cara meneteskan cairan H2O2 pada koloni

bakteri. Pada uji katalase bakteri Staphilococcus aureus menunjukkan katalase positif yang berarti bakteri tersebut bisa menghasilkan gelembung-gelembung sendiri. oksigen karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu

VI. Uji Serologis Uji serologis dilakukan dengan CPT (Coagulation Plasma Test), 1 ose koloni + 1 ose plasma sitrat, campurkan, kemudian diamati dalam 2 menit. Hasil positif dengan indikasi cairan jernih dengan terbentuknya butiran-butiran halus Staphilococcus aureus juga dapat memfermentasi glukosa dalam keadaan anaerobik fakultatif dan membentuk asam dari fermentasi manitol secara anaerobik (Todar, 2005; Foster, 2004). Staphylococcus aureus mempunyai sifat mengasamkan dan mengkoagulasikan susu litmus dan secara perlahan akan membentuk pepton pada beberapa strain. Sifat bakteri ini adalah NH3 positif, Methyl red positif, Voges-Proskauer positif, mereduksi methylene blue, mereduksi nitrat menjadi nitrit, menghasilkan H2S, menghidrolisis gelatin dan mengkoagulasi plasma Staphylococcus aureus menghasilkan asam dari glukosa, maltosa, manitol, laktosa, sukrosa dan gliserol, tetapi tidak memfermentasi salisin, rafinosa ataupun inulin.

d. Patogenitas Bakteri Patogenesis dan virulensi Staphylococcus aureus ditentukan oleh substansi-substansi yang diproduksi antara lain adalah enzim ekstraseluler yang dikenal dengan eksoprotein (Salasia et al., 2005). Staphylococcus aureus menghasilkan berbagai faktor virulen baik yang bersifat seluler maupun ekstraseluler. Sejumlah faktor ini berperan dalam proses kolonisasi dan pertumbuhan pada berbagai organ tubuh. Adanya berbagai faktor ini dapat menjelaskan mengapa bakteri dapat menyebabkan infeksi pada seluruh organ

dari berbagai jenis hewan. Staphylococcus aureus membuat 3 macam metabolisme, yaitu metabolit yang bersifat : I. Nontoksin Yang termasuk metabolit nontoksin ialah antigen permukaan, koagulasa, hialuronidasa, fibrinolisin, gelatinasa, proteasa, lipasa, tributirinasa, fosfatasa dan katalasa. Antigen permukaan/ Protein A Antigen ini berfungsi antara lain mencegah serangan oleh faga, mencegah reaksi koagulosa dan mencegah fagositosis. Koagulasa (Stafilokoagulosa) Koagulase merupakan salah satu protein yang menyerupai enzim dan dapat menggumpalkan plasma oksalat atau sitrat dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalam serum. Faktor reaksi koagulase (coagulase reacting factor, CRF) serum bereaksi dengan koagulase untuk menghasilkan esterase dan aktivitas pembekuan dengan cara yang sama, seperti pengaktifan protrombin menjadi trombin (Jawetz et al., 2001). Proses fagositosis Staphylococcus aureus koagulasi positif dapat dikurangi dengan adanya reaksi penggumpalan darah. Hal ini merupakan mekanisme penghambatan yang mungkin berasal dari fibrin bagian permukaan organisme (Merchant dan Parker, 1961). Enzim koagulase bereaksi terhadap bentuk kompleks yang dapat membelah fibrinogen dan menyebabkan pembentukan bekuan fibrin, fibrin juga tersimpan pada permukaan Staphylococcus aureus, yang mampu melindungi bakteri dari kerusakan sel akibat aksi fagositosis sel. Produksi koagulase terkait dengan potensi patogenitas yang invasive (Prescott dan Langsing, 1999). Hialuronidasa Hialuronidase adalah enzim yang memecahkan asam hialuronat, suatu komponen penting dalam jaringan ikat, merupakan antigen spesifik (Jawetz et al., 1986). Enzim ini terutama dihasilkan oleh jenis Staphylococcus aureus koagulase positif (Warsa, 1994). Hialuronidase merupakan spreading factor dari bakteri Staphylococcus aureus (Merchant dan Parker, 1961). Lebih dari 90% strain Staphylococcus aureus menghasilkan hialuronidase dan diketahui sebagai faktor

penyebar infeksi. Enzim ini mampu menghidrolisis asam hialuronik yang berada pada interseluler, sebagai substansi dasar jaringan penghubung, sehingga mempermudah penyebaran infeksi (Joklik et al., 1992; Prescott dan Langsing, 1999). Enzim ini dihubungkan dengan faktor penyebaran. Hialuronidase menurunkan asam hialuronik, substansi dasar pada jaringan penghubung, dan sebagai sarana penyebaran organisme melalui jaringan (Carter and Wise, 2004). Fibrinolisin atau staphilokinase Fibrinolisin merupakan enzim yang dapat melisiskan bekuan darah dari pembuluh darah yang sedang meradang, sehingga bagianbagian yang penuh kuman terlepas dan menyebabkan terjadinya lesi metastatik di jaringan lain (Warsa, 1994). Stafilokinase merupakan enzim proteolitik yang dihasilkan Staphylococcus. Enzim ini secara antigenik dan enzimatik berbeda dengan streptokinase yang dihasilkan oleh Streptococcus. Stafilokinase banyak dihasilkan oleh strain Staphylococcus aureus. Perbedaan produksi stafilokinase tergantung pada phage genome dan ekspresinya selama lisogeni. Gangguan pembekuan darah oleh enzim ini, merupakan akibat proenzim plasminogen yang diubah menjadi enzim fibrinolitik plasmin (Joklik et al., 1992). Gelatinasa dan proteasa Gelatinasa adalah suatu enzim yang dapat mencairkan gelatin. Protease dapat melunakkan serum yang telah diinspirasikan (diuapkan airnya) dan menyebabkan nekrosis jaringan termasuk jaringan tulang. Lipasa dan tributirinasa Lipase terutama dihasilkan oleh jenis Staphylococcus aureus koagulase positif (Warsa, 1994). Lipase adalah enzim yang menghidrolisis lipid. Aktivitas enzim pada berbagai substrat termasuk lipid yang terdapat dalam plasma, lemak dan minyak yang terakumulasi pada permukaan tubuh. Aktivitas lipase yang demikian sangat membantu Staphylococcus aureus bertahan dan berkoloni dalam darah atau pada daerah kelenjar sebaseous. Lipase sangat penting untuk menembus barier jaringan kutan dan subkutan (Joklik et al., 1992). Tributirinase atau egg-

yolk faktor merupakan suatu lipase-like enzyme yang menyebabkan terbentuknya fatty droplets dalam suatu pembenihan kaldu yang mengandung glukosa dan kuning telur (Warsa, 1994). Fosfatase, lisosin, dan penisilinasa Ada korelasi antara aktivitas asam fosfatase, patogenitas kuman dan pembentukan koagulasa, tetapi pemeriksaan asam fosfatase jauh lebih sulit untuk dilakukan dan kurang khas jika hendak dipakai sebagai petunjuk virulensi. Lisosim dibuat oleh sebagian besar jenis koagulasa positif dan penting untuk menentukan patogenitas kuman. Penisilinasa dibuat oleh beberapa jenis Staphilococcus, terutama dari grup. Katalase Enzim ini dibuat oleh Staphilococcus dan Mikrokokus, sedangkan Pneumokokus dan Streptokokus tidak. Adanya enzim ini dapat diketahui jika koloni Staphilococcus berumur 24 jam dituangi H2O2 3% dan timbul gelembung-gelembung udara. Nuklease Nuklease adalah enzim fosfodiesterase dengan kemampuan endonukleolitik dan eksonukleolitik dan dapat memotong DNA atau RNA. Enzim ini tersusun atas rantai tunggal polipeptida, berbentuk kompak globuler, berada dalam permukaan sel, pada permukaan sel atau dekat permukaan sel Staphylococcus aureus. Enzim ini akan berubah strukturnya pada pemanasan 65ºC, tetapi bersifat reversible, artinya strukturnya akan berubah ke bentuk semula setelah suhu turun kembali dengan cepat (Joklik et al., 1992). Enzim nuklease mempunyai kemampuan untuk memecah asam nukleat (Prescott dan Langsing, 1999). II. Eksotoksin Terdiri dari : Alfa hemolisin Toksin ini terutama dihasilkan oleh jenis Staphylococcus yang berasal dari manusia (Warsa, 1994). Alfa hemolisin merusak makrofag dan trombosit manusia, tetapi monosit resisten terhadap toksin ini. Alfa

hemolisin melarutkan eritrosit dan merusak trombosit kelinci, kambing, domba, dan sapi tetapi tidak melisiskan sel darah merah manusia . Toksin ini juga merusak sistem sirkulasi, jaringan otot dan jaringan korteks ginjal. Meskipun alfa toksin bukan satu-satunya faktor virulensi Staphylococcus, alfa toksin mempunyai peran yang nyata pada patogenitas dengan menimbulkan kerusakan jaringan (Jawetz et al.,1982). Toksin ini dibuat oleh Staphilococcus virulen dari jenis kuman dan bersifat : - Melisiskan darah merah kelinci, kambing, domba, dan sapi. - Tidak melisiskan sel darah merah manusia. - Menyebabkan nekrosis pada kulit manusia dan hewan. - Tidak menghancurkan sel darah putih manusia - Menghancurkan trombosit kelinci - Bersifat sitotoksik terhadap biakan jaringan mammalia - Dalam dosis yang cukup besar dapat membunuh manusia dan hewan. Semua sifat tersebut di atas dapat dinetralkan oleh IgG, tetapi tidak oleh IgA atau IgM. Semua efek tersebut diatas terjadi karena pelepasan anion dengan fospolipid yang terdapat dalam membran sel kuman. Setelah diolah dengan formalin toksin ini dapat dipakai sebagai toksoid. Kemampuan untuk membuat toksin ini dapat dipindahkan dengan bakteriofaga L2043, namun jenis yang menerimanya tidak selalu menghasilkan toksin yang sama kuatnya seperti yang dihasilkan oleh jenis asalnya. - Beta hemolisin Beta hemolisin mempunyai kemampuan untuk menghancurkan eritrosit dan sphingomyelin di sekitar sel saraf (Prescott dan Langsing, 1999). Menurut Joklik et al. (1992), beta toksin adalah enzim dengan substrat spesifik yaitu merusak sphingomyelin (dan lisofosfolipida). Degradasi sphingomyelin akan menyebabkan lesi membran dan akan memacu prose hemolisis jika sel dalam kondisi kedinginan. Eritrosit berbagai spesies hewan mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap toksin ini, tergantung konsentrasi

sphingomyelin yang terkandung dalam eritrosit tersebut (Joklik et al.,1992). Toksin ini dapat dibuat toksoid. - Delta hemolisin Toksin ini mempunyai kandungan asam amino hidrofobik yang tinggi, sehingga jika berada dalam lingkungan cair akan membentuk molekul amfipatik. Delta hemolisin dari berbagai galur Staphylococcus aureus yang telah berhasil diisolasi mempunyai berat molekul antara 68-200 kDa (Wiseman, 1975). Delta toksin mempunyai aktivitas biologik yang luas dan tidak menunjukkan spesifitas sel tertentu. Delta toksin relatif termostabil terhadap bahan yang mampu menurunkan tegangan permukaan yang kuat seperti deterjen. Eritrosit, makrofag, limfosit, netrofil dan trombosit dapat dirusak oleh delta toksin. Delta toksin mempunyai kemampuan menghambat absorbsi air dalam ileum, serta dapat merubah permeabilitas ion pada ileum marmot. Efek lain delta toksin adalah mempengaruhi fungsi leukosit polimorfonuklear dan metabolisme platelet activation factor (PAF) (Joklik et al., 1992). Toksin ini juga dihasilkan oleh Staphylococcus epidermidis. Delta hemolisin merupakan toksin yang dihasilkan dalam jumlah yang relatif sedikit oleh sebagian besar dari jenis Staphylococcus aureus (Todar, 2002). - Leukosidin Leukosidin dihasilkan oleh Staphylococcus aureus, toksin ini hanya menyerang leukosit polimorfonuklear dan makrofag (Joklik et al., 1992). Leukosidin mempunyai kemampuan untuk menghambat fagositosis oleh granulosit dan dapat menghancurkan sel dengan pembentukan pori-pori pada bekas fagosomnya (Prescott dan Langsing, 1999). Antibodi terhadap leukosidin dapat berperan dalam resistensi terhadap infeksi Staphylococcus berulang (Jawetz et al., 1986). Toksin ini dapat merusak sel darah putih beberapa macam binatang dan ada 3 tipe yang berbeda: (1) Alfa hemolisin; (2) Yang identik dengan Delta hemolisin, bersifat termostabil dan menyebabkan perubahan morfologik sel darah putih dari semua tipe kecuali yang berasal dari domba; (3)

Yang terdapat pada 40-50% jenis Staphylococcus dan hanya merusak sel darah putih manusia dan kelinci tanpa aktivitas hemolitik (Warsa, 1994). Leukosidin mengandung dua komponen protein, yaitu S dan F yang bereaksi secara sinergis untuk sitolisis. Komponen S dan F berikatan spesifik pada Gm1-gangliosidase. Pada awal leukositolisis, leukosidin diaktivasi oleh metiltransferase sehingga leukosit berikatan dengan komponen protein S. Selanjutnya ikatan leukosit komponen S akan mengaktivasi fosfolipase dan meningkatkan phosphatidyl binding site sel membran untuk komponen F. Respon khusus leukosit terhadap leukosidin adalah perubahan permeabilitas membran untuk kation dan diikuti perubahan-perubahan lain (Joklik et al., 1992). Enzim ini berfungsi membunuh granulosit dan makrofag yang tersusun atas dua heat-labile protein (Carter and Wise, 2004). - Sitotoksin Toksin ini mempengaruhi arah gerak sel darah putih dan bersifat termostabil. Toksin ini dibuat dalam suasana di mana : • Kompleks antigen zat anti menghasilkan suatu kompleks trimolekuler dari komplemen yang terdiri dari C’5, C’6 dan C’7. • Streptokinase merubah plasminogen menjadi plasmin yang

kemudian bereaksi dengan C’3 sehingga menjadi C’3 yang aktif. Pada penyakit granulomatosa septik kronik yang bersifat herediter sering ditemukan sebagai penyebabnya kuman Staphilococcus dan pada penyakit ini sel darah putih dapat melakukan fagositosis tetapi tidak dapat menghancurkan kumannya. - Toksin eksfoliatif Toksin ini dihasilkan oleh Staphilococcus grup II dan merupakan suatu protein ekstraseluler yang tahan panas tetapi tidak tahan asam. Toksin ini dianggap sebagai penyebab Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSS), yang antara lain meliputi dermatitis eksfoliativa pada neonatus (Ritter’s disease),impetigo bulosa,

Staphylococcal scarlatiniform rash dan toksin epidermal nekrolisis pada orang dewasa. Secara serologis dan biokimiawi, toksin ini dibedakan menjadi dua yaitu eksfoliatif A (ETA) dan eksfoliatif B (ETB). Gen yang menyandi ETA terletak pada kromosom, sedang ETB terletak pada plasmid. Toksin ini mempunyai berat molekul 30.000 dan 39.500. Toksin ini merusak interseluler pada lapisan granuler epidermis, tetapi tidak menimbulkan respon keradangan (Joklik et al., 1992). - Gamma hemolisin Gamma hemolisin merupakan protein yang bersifat antigenik dengan berat molekul 26-45 kDa. Toksin ini mempunyai aktivitas hemolitik pada eritrosit manusia, kelinci dan kambing, tetapi tidak beraktivitas pada eritrosit kuda dan unggas (Wiseman, 1975). Menurut Joklik et al. (1992), gamma toksin mempunyai aktivitas hemolitik yang nyata, tetapi mekanisme yang pasti belum diketahui. Gamma toksin terdiri dari dua komponen protein yang bekerja sinergis untuk aktivitas hemolisis dan toksisitas. Sulfated polimer dan agar menghambat gammahemolisin sehingga tidak efektif pada plat agar darah. Kolesterol dan kapsula menghambat gamma-hemolisin (Morse, 1980). Toxic Shock Syndrome Toxin-1 Gen kasus disfungsi untuk multi TSST-1 organ, ditemukan yang sekitar fatal 20% dari

Staphylococcus aureus yang diisolasi (Jawetz et al, 1996 ). Beberapa biasanya disebabkan Staphylococcus aureus, selalu dihubungkan dengan toxic shock syndrome toxin (TSST). TSST-1 merupakan eksotoksin dengan berat molekul 22 kDa, yang dapat menimbulkan berbagai macam efek imunologik. Efek imunologik yang ditimbulkan adalah induksi ekspresi reseptor interleukin-2, sintesis interleukin, proliferasi limfosit T dan stimuli sintesis interleukin-1 oleh monosit manusia. Tempat utama perlekatan TSST-1 pada sel mononuklear manusia dapat dikenali dengan molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas II (Joklik et al., 1992). Toksin ini penyebab keracunan makanan dengan gejala yang

timbul secara mendadak, yaitu mual, muntah-muntah dan diare, kadangkadang dapat terjadi kolaps (Warsa, 1994). III. Enterotoksin Toksin ini dibuat jika kuman ditanam dalam pembenihan semi solid dengan konsentrasi CO2 30%. Toksin ini terdiri dari protein yang bersifat: - Non hemolitik - Non dermonekrotik - Non paralitik - Termostabil , dalam air mendidih tahan 30 menit - Tahan terhadap pepsin dan tripsin Enterotoksin dihasilkan oleh bakteri pada waktu fase pertumbuhan. Enterotoksin pada umumnya diproduksi oleh Staphylococcus aureus di dalam makanan basah yang sudah pernah dimasak atau dipanaskan. Enterotoksin ini bersifat tahan panas (heat stable) sehingga toksin tidak rusak oleh pemanasan. Enterotoksin menyebabkan toxic shock like syndrome, keracunan pangan, beberapa penyakit alergi dan autoimun (Marrack dan Kappler, 1990). Sampai saat ini telah diidentifikasi ada 19 enterotoksin S. aureus yaitu Staphylococcal enterotoxin A (SEA), B (SEB), C (SEC), D (SED), E (SEE), G (SEG), H (SEH), I (SEI), J (SEJ), K (SEK), L (SEL), M (SEM), N (SEN), O (SEO), P (SEP), Q (SEQ), R (SER), T (SET) dan U (SEU). Enterotoksin dapat diukur melalui tes presipitasi (difusi gel). Domain molekul enterotoksin yang berbeda bertanggung jawab terhadap sindroma syock toksik dan keracunan makanan (Jawetz et al., 2001).

e. Resistensi bakteri Diantara semua kuman yang tidak membentuk spora, maka Staphylococcus aureus termasuk jenis kuman yang paling kuat daya tahannya.

Pada agar miring dapat tetap hidup sampai berbulan-bulan, baik dalam lemari es maupun pada suhu kamar. Dalam keadaan kering pada benang, kertas, kain, dan dalam nanah dapat tetap hidup selama 6-14 minggu. Dalam berbagai zat kimia daya tahannya adalah sebagai berikut : a. Tinc. jodii 2% ............................................... 1 menit b. H2O2 3% …………………………………3 menit c. HgCl2 1% ...................................................... 10 menit d. Fenol 2% ...................................................... 15 menit e. Alkohol 50-70% ........................................... 1 jam Staphilococcus aureus juga sangat peka terhadap pemanasan dengan suhu diatas 80° C (bakteri tersebut akan mati) dan juga sangat peka terhadap desinfektan. Bakteri ini juga peka terhadap penisillin, meskipun ada beberapa strain tertentu yang telah resisten terhadap penicillin yang biasa digunakan. Akan tetapi adanya sifat resisten dan intermedier terhadap beberapa antibiotika menunjukkan adanya kecenderunga bahwa S. Aureus akan resisten terhadap berbagai antibiotika. f. Manifestasi klinis Kemampuan patogenik strain S aureus tertentu merupakan gabungan faktor-faktor ekstraseluler, toksin-toksin, serta sifat-sifat invasif strain itu. Pada satu akhir spektrum penyakit adalah keracunan makanan oleh stafilokokus, akibat termakannya enterotoksin yang sudah terbentuk; sedangkan bentuk akhir lainnya adalah bakteremia stafilokokus dan abses yang tersebar di seluruh organ. Peran serta potensial berbagai zat ekstraseluler pada patogenesis ternyata dari sifat kerja masing-masing faktor. (Jawetz, 1995) Staphylococcus aureus yang patogen dan invasif cenderung

menghasilkan koagulase dan pigmen kuning, dan bersifat hemolitik. Stafilokokus yang non patogen dan tidak invasif seperti Staphylococcus epidermidis, cenderung bersifat koagulase negatif dan tidak hemolitik. Organisme ini jarang menyebabkan pus tetapi dapat menginfeksi prostesis ortopedik atau kardiovaskuler. (Jawetz, 1995)

Pernanahan foka (abses) adalah sifat khas infeksi stafilokokus. Dari setiap fokus, organisme menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya. Pernanahan dalam vena, yang disertai trombosis, sering terjadi pada penyebaran tersebut. Pada osteomyelitis, fokus primer pertumbuhan S aureus secara khas terjadi di pembuluh-pembuluh darah terminal pada metafisis tulang panjang, mengakibatkan nekrosis tulang dan pernanahan menahun. S aureus dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, empiema, endokarditis atau sepsis dengan pernanahan pada bagian tubuh mana saja. Stafilokokus yang daya invasinya rendah berperan pada banyak infeksi kulit (misalnya acne, epiderma, atau impitigo). Stafilokokus juga menyebabkan penyakit melalui kerja toksin, tanpa memperlihatkan infeksi invasif. Bula eksoliatif—sindroma lepuh kulit—disebabkan oleh pembentukan toksin eksoliatif. Sindroma syok toksin berhubungan dengan toksin sindroma syok toksik-I (TSST-I). Adapun manifestasi penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus aureus adalah Kelainan kulit : luka lepuh, abses, furunkel, karbunkel Tonsilitis, faringitis, sinusitis, pneumonia, abses paru, ginjal, meningitis Keracunan makanan: diare dan muntah (6 jam setelah makan) Pada hewan sapi dapat terjadi mastitis, yaitu pembengkakan pada kelenjar mammae. Pada hewan kuda dapat terjadi botryomycosis, yaitu infeksi ujung saluran epidedimitis. Pada hewan anjing dapat terjadi pyoderma

2.1.2

Genus Streptococcus

Streptococcus ialah bakteri Gram-positif yang memiliki bentuk bulat/bundar dalam bentuk susunan rantai panjang. Bakteri yang pathogen dari genus ini yang akan dibahas adalah spesies Streptococcus pyogenes, Streptococcus zooepidemicus,

Streptococcus agalactiae, Streptococcus dysgalactiae, Streptococcus uberis dan Streptococcus equi. 2.1.2.1 Streptococcus pyogenes Streptococcus pyogenes merupakan bakteri gram positif yang memiliki morfologi bulat dan tidak berspora, tersusun berderet seperti rantai. a. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari bakteri adalah: Kingdom Phylum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Eubacteria : Firmicutes : Bacilli : Lactobacillales : Streptococcaceae : Streptococcus : Streptococcus pyogenes

b.

Morfologi Morfologi makroskopis Pada Media padat: koloni kecil, halus, jernih, licin, seperti tetes-tetes air. Bakteri ini dapat menghemolisis media lempeng agar darah. Bersifat aerob – mikroaerofilik.

Gambar 2.3 Bakteri Streptococcus pyogenes yang dibiakkan pada Blood agar, yang dapat menghemolisis darah

-

Morfologi mikroskopis Secara mikroskopis bakteri ini berbentuk bulat dengan

diameter 0,5 - 1,0 um. Susunan berderet membentuk rantai. Bersifat gram positif dan memiliki kapsul.

Gambar 2.4 Bakteri Streptococcus pyogenes dengan pewarnaan gram positif, terlihat bakteri berwarna biru keunguan

c. Sifat-sifat biokimia

Membentuk asam tanpa gas dari glukosa, laktosa, sukrosa & manitol. Katalase dan uji indol negatif, serta tidak mencairkan gelatin. Uji serologis Uji serologis dilakukan dengan Identifikasi serologi atas organisme itu dengan melibatkan uji ini untuk melihat adanya polisakarida spesifik grup A dalam dinding sel bakteri menggunakan tes Phadebact. d. Manifestasi klinis Streptococcus pyogenes adalah penyebab banyak

penyakit penting pada manusia yang terdiri dari infeksi kulit permukaan yang ringan hingga penyakit sistemik yang membahayakan. Infeksi khasnya bermula pada tenggorokan atau kulit. Infeksi ringan Streptococcus pyogenes termasuk faringitis ("radang kerongkongan") dan infeksi kulit setempat ("impetigo"). Erisipelas dan selulitis dicirikan dengan perbiakan dan penyebaran samping Streptococcus pyogenes di lapisan dalam kulit. Serangan dan perbiakan dari Streptococcus pyogenes di fasia dapat menimbulkan fasitis nekrosis, pada keadaan darurat yang kemungkinan membahayakan mungkin diperlukan penanganan bedah. Infeksi akibat strain tertentu Streptococcus pyogenes bisa dikaitkan dengan pelepasan toksin bakteri. Infeksi kerongkongan yang dihubungkan dengan pelepasan toksin tertentu bisa menimbulkan penyakit jengkering (scarlet fever). Infeksi toksigen Streptococcus pyogenes lainnya bisa menimbulkan sindrom syok toksik streptococcus, yang bisa mengancam hidup. Streptococcus pyogenes juga bisa menyebabkan

penyakit dalam bentuk sindrom "non-pyogenik" (tak

dihubungkan dengan perbiakan bakteri dan pembentukan nanah setempat) pascainfeksi. Komplikasi yang diperantarai autoimun itu mengikuti sejumlah kecil persentase infensi dan termasuk penyakit rematik dan glomerulonefritis pascastreptococcus akut. Kedua keadaan itu muncul beberapa minggu menyusul infeksi awal streptococcus. Penyakit rematik dicirikan dengan peradangan sendi dan/atau jantung menyusul sejumlah faringitis streptococcus. Glomerulonefritis akut, peradangan glomerulus ginjal, bisa mengikuti faringitis streptococcus atau infeksi kulit.

2.1.2.2 Streptococcus zooepidemicus a. Klasifikasi Adapun sistem taxonomi bakteri ini adalah Kingdom Phylum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Eubacteria : Firmicutes : Bacilli : Lactobacillales : Streptococcaceae : Streptococcus : Streptococcus zooepidemicus agalactiae, Streptococcus dysgalactiae,

2.1.2.3 Streptococcus Streptococcus uberis a. Klasifikasi

Adapun sistem taxonomi bakteri ini adalah Kingdom Phylum Kelas Ordo : Eubacteria : Firmicutes : Bacilli : Lactobacillales

Family Genus Spesies

: Streptococcaceae : Streptococcus : Streptococcus zooepidemicus Streptococcus dysgalactiae Streptococcus uberis

b. Morfologi Morfologi makroskopik Tumbuh baik pada media serum, darah, cairan ascites. Bakteri ini bersifat aerob sampai dengan mikroaerophilik, pada pH 7 dan suhu 370C. Koloni kecil, halus dan licin. Morfologi mikroskopik Bakteri ini berbentuk bulat, dengan susunan berantai atau berderet, dengan diameter kira-kira 0,5 – 1,0 µ meter. Bakteri ini gram positif, non motil, dan tidak memiliki spora.

c. Sifat-sifat biokimia Ketiga spesies tersebut pada uji indol negatif, mencairkan gelatin, dan nitrat. St. agalactiae pada uji CAMP (Christie, Atkins&Munch-Peterson), hasilnya positip, hal ini ditandai dengan terbentuknya zona hemolisis seperti mata panah. St. uberis dapat memfermentasi mannitol dan innulin • Penyakit yang di timbulkannya Streptococcus agalactiae à mastitis akut – kronis Streptococcus dysgalactiae à jarang (10%) umumnya bersifat akut Streptococcus uberis à mastitis akut – kronis Sapi & domba (glandula mammarica)

2.1.2.4 Streptococcus equi • Klasifikasi Kingdom: Phylum: Class: Order: Family: Genus: Species: Sifat-sifat biokimia Bacteria Firmicutes Bacilli Lactobacillales Streptococcaceae Streptococcus Streptococcus equi

Asam tanpa gas glukosa, sukrosa, maltosa dan salicin. Lithmus milk negatip dan tidak mencairkan gelatin • Penyakit yang di timbulkannya

Penyebab Strangles/Droes/Adenitis Equorum/Ingus tenang 2.1.3 Genus Diplococcus

Diplococcus adalah bakteri yang termasuk gram positif berbentuk oval atau lancet yang berpasangan. Spesies yang patogen yang akan di bahas adalah Diplococcus pneumoniae. 2.1.3.1 Diplococcus pneumoniae • Klasifikasi Domain: Kingdom: Phylum: Class: Order: Family: Genus: Species: Morfologi Bacteria Eubacteria Firmicutes cocci Bacillales Staphylococcaceae Staphylococcus Staphylococcus aureus

Pemeriksaan mikroskopis

Bentuk oval/lancet (1um) berpasangan. Gram positif. Memiliki kapsul. Non spora.

Sifat-sifat biokimia Fermentasi banyak jenis gula à asam Katalase & oksidase – Asam tanpa gas laktase, sukrose, dan inulin Tidak pada salicin, manit, tidak mencairkan gelatin dan nitrat -

Penyakit yang di timbulkannya

Penyebab pneumonia manusia 2.1.4 Genus Neisseria

Neisseria adalah bakteri yang berbentuk bulat atau coccus yang termasuk dalam bakteri gram negative. Spesies yang dibahas adalah Neisseria gonorrhoeae dan Neisseria meningitides. 2.1.4.1 Neisseria gonorrhoeae • Klasifikasi Domain: Kingdom: Phylum: Class: Order: Family: Genus: Species: Bacteria Eubacteria Proteobacteria Beta Proteobacteria Neisseriales Neisseriaceae Neisseria Neisseria gonorrhoeae

Morfologi  Pemeriksaan makroskopis

Tumbuh baik pd media serum/ cairan ascites, aerob dan suhu 36oC. Serum agar : koloni licin, abu-abu dan mengkilat. Pada media cair : tumbuh pada permukaan, terdapat butir-butir sedimen pada dasar tabung.  Pemeriksaan mikroskopis Bulat berpasangan, tepi yg bersinggungan rata melengkung seperti ginjal, non motil, non spora tidak berkapsul Gram negatip.

Sifat-sifat biokimia

Hanya memfermentasi glukosa à asam • Penyakit yang di timbulkannya Host utama adalah manusia Infeksi bernanah akut alat kelamin Cystitis, proctitis, faringitis, conjunctivitis

2.1.4.2 Neisseria meningitidis

Klasifikasi Domain: Kingdom: Phylum: Class: Order: Family: Genus: Species: Bacteria Eubacteria Proteobacteria Beta Proteobacteria Neisseriales Neisseriaceae Neisseria Neisseria meningitides

Morfologi  Pemeriksaan makroskopis Media serum/ darah à koloni lebih besar dari Streptococcus tetapi lebih kecil dari Staphylococcus. Media cair : tumbuh pada permukaan dan keruh.

Pemeriksaan mikroskopis Bulat berpasangan, tepi yang berhadapan rata. Pewarnaan Neisser terdapat metakromatik granula • Sifat-sifat biokimia Membentuk asam dari glukosa dan matosa, tidak pada sukrosa, manitol dan fruktosa.

Penyakit yang di timbulkannya Pada anak-anak à meningitis Mortalitas tinggi

2.2 Bakteri Batang Positif Berspora

Bakteri ini mempunyai morfologi yang secara umum sama, yaitu bakteri berbentuk batang, memiliki sifat gram negatif, memiliki spora dan tidak mempunyai flagella. Adapun genus-genus yang akan dibahas antara lain: 2.2.1 Genus bacillus Kebanyakan genus Bacillus merupakan kuman berbentuk batabg besar,

panjangnya mencapai 10,0 mikrometer. Hidupnya aerob atau fakultatif anaerob, membentuk spora, bersifat gram positif. Bakteri ini banyak terdapat di alam dan tersebar luas di tanah, udara dan air. Spesies yang patogen dari genus ini adalah Bacillus anthraxis. Spesies lainnya pada umumnya nonpatogen dan ada yang memberi keuntungan dalam bidanmg industri yaitu penting dalam pembuatan alkohol, vitamin dll. Sedangkan Bacillus subtilis bersifat oportunis dan Bacillus cereus dapat menimbulkan keracunan makanan. 2.2.1.2 Bacillus anthracis Pada umumnya terdapat di tanah dalam bentuk spora, dan dapat hidup selama beberapa dekade dalam bentuk ini, dan merupakan penyebab penyakit anthrax. Penyakit anthrax ini sangat ditakuti karena bakteri penyebabnya dapat mematikan, mudah menyebar, sulit dimusnahkan dan bersifat zoonotic. a. Klasifikasi Adapun klasifikasi bakteri ini adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi Kuman ini berbentuk batang lurus membentuk sudut siku-siku pada ujungujungnya dengan panjang 3-8 mikrometer dan lebar 1-1,2 mikrometer, bersifat gram positif : Bacteria : Firmicutes : Bacillia : Bacilliaales : Bacilliaceae : Bacillus : Bacillus anthraxis

dan dalam biakan membentuk rantai yang panjang dan tersusun seperti ruas bambu. Kuman ini tidak bergerak dan di dalam jaringan tubuh berkapsul. Bila cukup oksigen akan membentuk spora yang terletak di central dan besarnya sama dengan lebar badan kuman. c. Sifat pertumbuhan Kuman ini tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius dan pH 7,5-7,8. pada media sederhana mudah tumbuh dengan membentuk koloni putih keabu-abuan bergaris tengah 2-3 mm dengan permukaan seperti serpihan kaca dan tepi tak rata, dengan kaca pembesar terlihat seperti kumpulan berkas dari rambut-rambut panjang. Bila ditumbuhkan dalam 50 % serum agar dengan tekanan CO2 5 % akan tampak koloni dengan permukaan halus dan mukoid, sedangkan kumannya berkapsul serta tidak ada hemolisis pada agar darah. Sedangkan pada media cair membentuk kekeruhan pada permukaan dan tenggelam dalam waktu 24 jam. Dan tusukan pada gelatin tampak gambaran khas pohon natal terbalik disertai pencairan gelatin mulai dari atas. d. Reaksi biokimia Sifat kuman ini yaitu bias meragikan glucose, maltose, sucrose, trehalose, fructose dan dextrin dengan hanya membentuk asam saja. Bias membentuk indol negative, MR positif, VP variable, H2S negative dan NH3 positif. Selain itu juga dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit, mereduksi methylen blue, katalase positif, mencairkan gelatin dan mengkoagulasi likmus milk. e. Resistensi Bentuk vegetatif cepat mati dengan zat-zat kimia atau physis. Pemanasan dengan suhu 60 derahat Celcius akan membunuh kuman dalam waktu 30 menit. Spora tahan terhadap kekeringan untuk jangka waktu yang lama, bahkan dalam tanah dapat tahan sampai berpuluh-puluh tahun. Dalam bangkai hewan tahan hidup sampai 12 tahun. Spora tahan pada pemanasan 100 derajat Celcius selama 5 menit, tetapi dengan menggunakan autoclave pada suhu 120 derajat Celcius spora akan mati dalam waktu 15-20 menit. Spora mati dengan kresol 5 % selama 7 jam. HgCl2 1 % akan mati selama 20 menit dan dengan menggunakan formalin 40 % akan mati selama 5 menit. f. Struktur antigen dan toksin

Terdapat tiga macam antigen yang dihasilkan oleh kuman anthrax, meliputi protectif antigen, berupa protein yang berperan dalam merangsang pembentukan antibodi. Capsuler antigen, yang merupakan polipeptida yang terdiri dari asam D. Glutamat yang berfungsi melindungi kuman terhadap proses fagositosis. Dan yang terakhir adalah somatic antigen, terdiri atas polisakarida dimana antigen initidak memegang peranan penting pada virulensi kuman. Selanjutnya kuman ini mempunyai eksotoksin komplek yang terdiri atas protectif Ag ( PA ), lethal faktor ( LF ) dan edema faktor ( EF ). Dan untuk dapat berfungsi LF dan LE perlu memasuki sel dan tugas ini akan dibantu oleh adanya kerja PA. Antigen protektif berfungsi membantu lethal faktor dan edema faktor dalam mengekspresikan sifat virulensinya. Molekul antigen protektif berperan sebagai pembawa faktor lethal atau faktor edema ke dalam sel inang. Faktor edema menyebabkan peningkatan kadar siklik adonesine monofosfat yang menyebabkan hilangnya cairan tubuh sedangkan faktor lethal menyebabkan pemutusan rantai molekul protein kinase dalam sel. Ketiga komponen tersebut apabila berperan bersama-sama dalam menimbulkan gejala penyakit anthrax akan berakibat edema, nekrosis dan berakhir kematian. g. Patogenitas Kuman ini sangat patogen terhadap sapi, kambing, domba, kerbau dan terkadang juga menyerang kuda. Umumnya menimbulkan kematian dengan disertai darah berwarna hitam yang keluar dari lubang hidung dan dubur. Dapat juga menyerang babi, anjing, kucing dengan adanya orofaringitis. Pada manusia, infeksi dapat terjadi melalui kulit dan menyebabkan terjadinya anthrax kulit, apabila tertelan menyebabkan terjadinya anthrax intestinal atau melalui pernapasan menimbulkan anthrax paru-paru. Penularan juga dapat terjadi melalui vektor penghisap darah yaitu Ornithodorus megnini. h. Diagnosa klinik Diagnosa ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan ditunjang dengan identifikasi kuman dengan pemeriksaan mikroskopis, pemupukan kuman, uji biologis dan uji serologis. Pemeriksaan mikroskopis dan pemupukan kuman bertujuan untuk mengetahui moprfologi serta koloni yang khas dari kuman anthrax. Uji biologis dengan menggunakan hewan percobaan tikus putih atau marmut bertujuan untuk membuktikan Koch postulate, sedangkan uji serologis dengan menggunakan Ascoli test yang bertujuan untuk mendeteksi

adanya antigen kuman anthrax yang ditunjukan dengan terbentuknya presipitasi ( cincin ascoli ) pada batas antara ekstrak jaringan dan antiserum. i. Pengobatan dan imunitas Penisillin masih merupakan antibiotik pilihan pertama dalam terapi anthrax, tetapi siprofloksasin dan doksisiklin direkomendasikan untuk terapi anthrax. Serum juga dapat digunakan pada kasus-kasus berat. Selain itu, imunisasi juga dapat dilakukan dengan suspensi kuman yang dilemahkan atau dengan suspensi spora, tetapi paling efektif jika mengandung komponen dari kompleks toksin yang akan menetralisasikan pengaruh toksin termasuk kerusakan oleh leukosit.

2.2.2 Genus Clostridium Genus Clostridium merupakan golongan mokroorganisme yang secara alami dapat ditemukan di tanah, di dalam saluran usus hewan pemamahbiak, mamalia bahkan pada manusia. Kuman berbentuk batang dengan ujung tumpul dengan penataan tunggal, berantai dan bersifat gram positif, pada umumnya bergerak dan membentuk spora dengan letak sentral, subterminal ataupun terminal. Spora yang dimilikinya berdiameter lebih besar dibanding dengan kumannya.Kuman ini tumbuh secara anaerob atau tidak memerlukan oksigen untuk kehidupannya. 2.2.2.1 Closrridium chaouvei Kuman ini merupakan salah satu penyebab gas gangren yang biasa disebut sebagai penyakit radang paha, boutvuur, blackleg. Penularan penyakitinidisamping melalui luka-luka ( kastrasi, pencukuran, bulu ) juga bisa melalui peroral. a. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari bakteri tersebut adalah sebagai berikut Kingdom Divisi Kelas : Bacteria : Firmicutes : Clostridia

Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi

: Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium chauvoei

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang membulat, berukuran panjang 3-8 mikrometer dan lebar 0,6 mikrometer, tersusun sendiri-sendiri dan kadang-kadang membentuk rantaoi pendek. Bersifat gram positif, mampu membentuk spora oval yang letaknya subterminal dan berukuran memiliki peritrich flagella serta tidak membentuk kapsul. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini dapat tumbuh secara anaerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius. Pada agar darah akan membentuk koloni dengan diameter 2-5 mm berwarna keabu-abuan sampai putih, tidak teratur dan tepi tidak rata dan sedikit membentuk beta hemolisis. Kuman ini lebih mudah tumbuh pada media cair dengan terlihatnya pertumbuhan di bawah dan membentuk gelembung gas. Pada media daging, kuman ini bisa merubah daging menjadi dadu tanpa dicernakan. Dapat juga memecah glukosa, maltosa, laktosa menjadi asam dan gas. Selain itu juga menghasilkan H2S, tidak membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, dapat mencairkan gelatin dan mengasamkan susu. d. Resistensi Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit. e. Struktur antigen dan toksin Mempunyai O Ag, H Ag dan S Ag, Clostridium chauvoei membentuk toksin, baik yang thermostabil maupun yang thermolabil. Yang thermostabil juga mempunyai sifatlebih besar dari kumannya sendiri, sehingga bentuknya seperti buah peer. Kuman ini juga dapar bergerak karena

sifat antigen, bahkan dapat digunakan untuk menimbulkan imunitas. Toksin yang dihasilkan kuman inoi ada empat jenis, yaitu toksin alpha, betha, gamma dan delta. f. Patogenitas Kuman patogen terhadap sapi dan domba umur 3 bulan sampai 2 tahun, jarang terjadi pada kuda, kambing, rusa dan babi. Kuman masuk melalui ingesti atau luka akibat kastrasi dan pencukuran bulu. Eksotoksin yang dihasilkan menyebabkan gangrenous cellulitis dan myositis, biasanya pada kaki belakang sebelah kanan. Jaringan yang diserang mengalami oedematus dan membentuk gas karena glykogen diurai oleh kuman ini menjadi gas.

g. Diagnosa Diagnosa dapat ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris yaitu dengan isolasi kuman pada cooked meat broth dan solid media dan identifikasi kuman dengan pemeriksaan morfologi, reaksi biokomia dan uji gula-gula. Selanjutnya dapat diteruskan menggunmakan marmot untuk uji biologis dan protection test untuk membedakan dengan spesies lainnya. Cara serologis dapat dilakukan yaitu dengan cara pengecatan secara langsung dengan menggunakan fluorescent antibodies.

h. Pengobatan dan imunisasi Kuman ini peka terhadap penicillin, tetracyclin dan chloramphenicol. Serum dari kuda dibuat, disamping untuk melindungi terhadap penyakit blackleg juga untuk pengobatan. Selain itu biakan murni yang dilemahkan dengan formalin dapat juga merangsang pembentukan antibodi pada tubuh hewan sehingga timbul kekebalan yang dapat mengatasi infeksi alami maupun buatan. Sedangkan antitoksin yang terbentuk di dalam tubuh hewan tidak dapat menahan serangan infeksi alami maupun infeksi buatan.

2.2.2.2 Clostridium septicum

Penyebab penyakit yang disebut paraboutvuur atau malignant oedema. Kuman ini banyak ditemukan di tanah dan saluran usus. Penularan dapat melalui luka setelah oprasi, saat pencukuran bulu, pemotongan tanduk ataupun saat kastrasi. a. Klasifikasi

Adapun klasifikai dari bakteri adalah Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. : Bacteria : Firmicutes : Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium septicum Morfologi

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang tumpul, berukuran panjang 2-6 mikrometer dan lebar 0,5 mikrometer. Kuman ini tersusun tunggal, membentuk rantai panjang atau filament. Bersifat gram positif, motil, mampu membentuk spora oval terletak subterminal dengan diameter sedikit lebih besar dari diameter kumannya. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini dapat tumbuh secara anaerob pada suhu optimum 37 derajat celcius. Pada media padat membentuk koloni transparan keabu-abuan dengan pinggiran tidak teratur. Pada agar darah akan membentuk koloni alpha hemolisis dan 2-3 hari kemudian akan menjadi betha hemolisis. Sedangan pada media daging, kuman ini dapat merubah daging menjadi dadu tanpa dicernakan dan membentuk gas. Selein itu, kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa, laktosa dan salicin menjadi asam dan gas serta mampu menghasilkan H2S, tidak mampu membentuk indol, mereduksi nitrat, mencairkan gelatin dan mengasamkan susu. d. Resistensi

Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit. e. Struktur antigen dan toksin Mempunyai O Ag, H Ag dan S Ag, Clostridium chauvoei membentuk toksin, baik yang thermostabil maupun yang thermolabil. Yang thermostabil juga mempunyai sifat-sifat antigen, bahkan dapat digunakan untuk menimbulkan imunitas. Toksin yang dihasilkan kuman inoi ada empat jenis, yaitu toksin alpha, betha, gama dan delta. f. Patogenitas Secara alami kluman ini dapat menimbulkan gas gangraena pada sapi, domba, babi dan manusia, serta acute haemorrhagic abomasitis pada domba yang penyakitnya disebut braxy. g. Diagnosa Diagnosa dapat ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris yaitu dengan isolasi kuman pada cooked meat broth dan solid media dan identifikasi kuman dengan pemeriksaan morfologi, reaksi biokomia dan uji gula-gula. Selanjutnya dapat diteruskan menggunmakan marmot untuk uji biologis dan protection test untuk membedakan dengan spesies lainnya. Cara serologis dapat dilakukan yaitu dengan cara pengecatan secara langsung dengan menggunakan fluorescent antibodies. h. Pengobatan dan diagnosa Kuman ini peka terhadap penicillin atau antibiotika yang broad-spectrum. Selain itu biakan murni yang dilemahkan dengan formalin dapat juga merangsang pembentukan antibodi. Vaksinasi terhadap boutvuur tidak melindungi terhadap infeksi dengan kuman ini.

2.2.2.3 Clostridium novyi Kuman ini terutama ditemukan pada daerah peternakan domba, banyak terdapat di tanah seperti spesies lainnya. Dan kuman ini mempunyai sifat-sifat mikrobiologis dan patogenesitas yang sangat mirip dengan Clostridium septicum a. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari bakteri ini adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi Kuman ini berbentuk batang dengan ujung-ujung yang tumpul, berukuran panjang 5-10 mikrometer dan lebar 0,8-1,5 mikrometer. Merupakan kuman yang paling besar dari semua spesies. Kuman ini mempunyai susunan sendiri-sendiri, berpasangan atau membentuk rantai. Bersifat gram positif, motil dan mampu membentuk spora oval yang terletak subtermminal. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini dapat tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius. Pada media padat membentuk koloni transparan keabu-abuan dengan pinggiran tidak teratur. Pada agar darah akan membentuk koloni betha hemolisis dan kemudian akan menjadi alpha hemolisis dengan pengaruh oksigen. Pada media daging kuman ini dapat merubah daging menjadi dadu tanpa harus dicernakan. Kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa menjadi asam dan gas sedangkan laktosa dan salisin tidak diuraikan. Selain itu juga menghasilkan H2S, tidakk membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, mencairkan gelatin dan mengasamkan susu. : Bacteria : Firmicutes : Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium novyi

d. Resistensi Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit. e. Struktur antigen dan toksin Toksin yang dihasilkan kuman ini meliputi toksin alpha ( necrotizing, lethal ) dan betha ( necrotizing, haemolytic. Lethal, lechitinase ) f. Patogenitas Pada kuman ini telah dikenal terdapat empat tipe meliputi C. Novyi tipe A ( toksin alpha) menimbulkan penyakit kepala besar pada domba jantan. Penyakit ini menimbulkan kebengkakan oedematus pada jaringan subcutan di daerah kepala leher. C. Novyi tipe B (toksin alpha dan betha ) menimbulkan penyakit black disease pada domba dan terkadang hemoglobinuria terutama pada sapi. g. Diagnosa Diagnosa penyakit yang disebabkan kuman ini dapat berupa pengecatab secara langsung dengan menggunakan fluorescent antibodies. Dapat juga dengan cara melihat reaksi Nagler pada biakan kuning telur yaitu terjadi kekeruhan di sekeliling koloni pada tipe A, B dan D karena aktifitas lesitinase toksin alpha. Selain itu juga bisa menggunakan uji biologis dan protection test pada marmot. h. Pengobatan dan imunitas Disamping antibiotika penisillin, dapat juga menggunakan antiserum pada sapi. C. Novyi tipe C menimbulkan osteomielitis pada kerbau. Dan C. Novyi tipe D menimbulkan

secepatnya. Imunitas juga dapat dilakukan dengan imunisasi aktif menggunakan toksoid atau biakan yang telah dimatikan dengan formalin.

2.2.2.4 Clostridium haemolyticum

Bakteri ini sangat dekat hubungannya denga Clostridium novyi yang dikenal sebagai penyakit yang menyerang sapi dengan nama penyakit kemih merah dan red water disease. Karena kesamaan inilah akhirnya penyebabnya dinyatakan sebagai Clostridium novyi type D. Penularan penyakit ini melalui ingesti dan berkembangbiak dalam hati disertai pembentukan toksin. a. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi Kuman ini berbentuk batang dengan diameter 1-1,3 mikrometer dan panjang 3-5 mikrometer. Spora yang dimiliki kuman ini berbentuk oval, terletak subterminal, bersifat gram positif dan motil. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini dapat tumbuh secara aerob pada suhu optimum 37 derajat Celcius, pada media umum akan membentuk koloni bening dan lama-lama seperti wool. Pada plat agar darah kuman ini membentuk zona hemolysis yang cukup besar. Kuman ini juga mampu mencairkan gelatin dalam jangka waktu 2-4 hari. Pada media daging, kuman ini mampu merubah daging menjadi dadu tanpa dicernakan. Selain itu juga bisa memecah glukosa dan fruktosa menjadi asam dan gas. Juga mampu menghasilkan H2S, membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, dapat mencairkan ggelatin dan mampu mengasamkan susu. d. Resistensi Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 : Firmicutes : Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium haemolyticum

derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit. e. Struktur antigen dan toksin Mempunyai O, H antigen dan spora antigen, selain itu juga mampu membentuk dua toksin yang bersifat hemolitik kuat dan toksin penyebab nekrose yaitu lechytinase. f. Patogenitas Kuman ini terutama menyerang pada sapi dan terkadang juga menyerang domba. Terjadinya nekrose karena keberadaan cacing hati yang sangat membantu perkembangan kuman ini. Toksin lesitinase merombak kompleks lesitoprotein yang terdapat pada permukaan eritrosit. Toksin dalam hati akan menyebabkan hemolisis intravaskular dan kerusakan pembuluh kapiler sedangkan hemoglobulin dikeluarkan dalam urin. g. Diagnosa Dengan melihat gejala-gejala klinisnya, isolasi dan identifikasi kuman penyebab, uji biologis pada marmot untuk melihat lesi-lesi pada liver. h. Pengobatan dan imunitas Penisillin dan antiserum digunakan dalam pengobatan, sedangkan imunitas dilakukan dengan imunisasi aktif dengan menggunakan formol toksoid yaitu biakan yang telah dimatikan dengan formalin.

2.2.2.5 Clostridium perferingens Kuman ini merupakan salah satu penyebab dari gangren gas. Dapat juga menyebabkan keracunan makanan oleh enterotoksin yang termolabil atau enteritis nekrotik. Seringkali menyerang manusia tetapi juga pada hewan. a. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Divisi : Firmicutes

Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi

: Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium perfringens

Kuman ini berbentuk batang dengan ujung tumpul dengan diameter 0,3-1,5 mikrometer dan panjang 4-8 mikrometer dengan susunan tunggal, berpasangan atau rantai pendek. Kuman ini tidak dapat bergerak, bercapsul, gram positif, spora oval dan besar serta terletak subterminal dan terkadang terletak di central. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini bersifat anaerob dan dapat tumbuh cepat pada suhu 37 derajat Celcius. Pada agar nutrient tumbuh koloni bulat halus kesbu-abuan dengan tepi rata. Pada agar darah akan membentuk koloni besar licin dengan diameter 2-5 mm dan membentuk zona betha hemolisis yang lebar. Perbenihan pada daging rebus menjadi keruh dalam waktu 24 jam dengan pembentukan gas, dan dagingnya berubah menjadi dadu tanpa dicernakan dengan mengeluarkan bau asam. Selain itu, kuman ini juga mampu mengurai glukosa, maltosa, laktosa menjadi asam dan gas sedangkan salisin tidak diuraikan. Mampu menghasilkan H2S, tidak membentuk indol, tidak mereduksi nitrat, mampu mencairkan gelatin dan mampu mengasamkan susu. d. Resistensi Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap pemanasan atau zat kimia.dalam bentuk spora, lebih tahan terhadap pemanasan, tidak terbunuh pada pemanasan 120 derajat celcius selama 10 menit. Dapat hidup di tanah selama bertahun-tahun. Dalam larutan formalin3 % spora akan mati dalam waktu 15 menit, sedangkan dalam larutan HgCl2 1:500 akan mati dalam waktu 10 menit. e. Struktur antigen dan toksin Kuman ini mempunyai empat tipe toksin penting yang bersifat antigenic ( A, B, C dan D) dan masing-masing mampu mengadakan reaksi silang berdasarkan uji

toksin antitoksin neutralization. Untuk penentuan tipe kuman secara rutin dipakai serum antitoksin. Ada empat jenis toksin utama yaitu, alpha, betha, epsilon dan iota merupakan factor penting untuk patogenesitas kuman. f. Patogenitas Tipe A menyebabkan gangrene gas dan keracunan makanan. Lesitinae merusak dinding sel, serabut otot dan meninggikan permeabilitas kapiler. Edema yang terjadi dapat meningkatkan ketegangan dan anoksia pada otot yang terkena. Dapat pula terjadi anemia akibat lisisnya sel darah merah oleh toksin. Keracunan makanan ditandai dengan sakit pada perut, muntah dan berak-berak. g. Diagnosa Diagnosa ini ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis dan pemeriksaan mikroskopis akan dilihat batang gram positif yang biasanya tanpa spora. Pada pembiakan bahan ditanamkan dalam medium tioglikolat dan agar darah yang dieram secara anaerob. Pertumbuhan pada salah satu medium tersebut akan dipindahkan ke medium susu untuk melihat stormy fermentation setelah 24 jam. Setelah didapatkan kultur murni, dilakukan reaksi biokimia seperti reaksi gulagula pada medium tersebut. h. Pengobatan dan pencegahan Klortetrasiklin yang diberikan dalam makanan dapat mencegah adanya kematian, kekebalan yang didapatkan bisa berasal dari penggunaan vaksin formol toxoid.

2.2.2.6 Clostridium tetani Kuman ini dapat menyebabkan penyakit tetanus, yaitu penyakit akut pada mamalia yang disebabkan oleh toksin Clostridium tetani. Tetanus terjadi akibat pencemaran luka oleh kuman ini. Penyakit ini mempunyai gejala tersifat, yaitu adanya kontraksi spasmodik persisten. Kuman ini banyak terdapat pada usus kuda, terutama pada herbivora. Bersama feses, kuman ini masuk ke dalam tanah kering lalu membentuk spora dan tahan hidup sampai berbulan-bulan. a. Klasifikasi

Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi

: Bacteria : Firmicutes : Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium tetani

Kuman ini berbentuk panjang langsing dengan diameter 0,5 mikrometer dan panjang 2-5 mikrometer. Umumnya tampak sendiri-sendiri, kadang-kadang membentuk rantai pendek. Kuman ini mempunyai peritrich flagella sehingga mampu bergerak. Bersifat gram positif, membentuk spora dengan ukuaran besar. Bahkan diameternya mencapai 2-3 kali dari besar tubuh kuman dan letaknya terminal sehinnga berbentuk seperti batang korek api. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini bersifat anaerob dan dapat tumbuh cepat pada suhu 37 derajat Celcius. Pada agar nutrient tumbuh koloni bulat tak teratur, bergaris tengah 2-5 mm, jernih, kuning kelabu dengan permukaan berbutir dan tepi yang tidak rata. Pada agar darah membentuk zona alpha hemolysis kemudian setelah 2-3 hari terlihat adanya betha hemolysis akibat pembuatan hemolisin. Sedangkan pembenihan pada daging rebus menjadi keruh dalam waktu 24 jam dengan pembentukan gas, dagingnya tidak dicernakan tetapi menjadi hitam jika dieramkan cukup lama. Selain itu kuman ini bersifat tidak meragikan gula apapun dan sedikit proteolitik, membentuk indol dan H2S, tidak mencairkan gelatin, tidak mereduksi nitrat dan tidak menggumpalkan susu. d. Resistensi Bentuk vegetatif kuman ini peka terhadap pemanasan dan tidak dapat hidup dengan adanya oksigen. Berbeda dengan spora, sangat tahan terhadap panas dan antiseptic yang biasa digunakan. Spora tahan terhadap pemanasan 100 derajat Celcius selama 15-90 menit dan terbunuh pada suhu 105 derajat

Celcius selama 3-25 menit. Spora juga akan mati dengan phenol 5 % selam 10-12 jam dan berkurang sampai 2 jam dengan pemberian asam hidroklorit 0,5 %. e. Struktur antigen dan toksin Kuman ini mempunyai 2 jenis toksin, yaitu hemolisin, bersifat termolabil dan tidak tahan terhadap oksigen serta bekerja aktif terhadap sel darah merah dari sebagian besar binatang ( kelinci, kuda, dll ) dan neorutoksin, tahan terhadap oksigen dan diinaktifkan oleh pemanasan 66 derajat Celcius selam 5 menit. Merupakan antigen yang baik dan dapat dinetralkan dengan antitoksin yang khas. f. Patogenitas Tetanus dapat menyerang kuda, sapi, domba, babi, anjing dan manusia. Kuda sangat peka terhadap penyakit ini. Spora kuman ini terdapat dalam tanah dan masuk ke dalam luka hanya akan berkembangbiak jika suasananya menunjang. Infeksi juga dapat terjadi post operasi, pada post partum yaitu melalui tali pusar. Toksin yang dibuat disebarkan melalui aliran darah dan sister limphatik dan sampai ke susunan syaraf pusat. Adanya racun inio mengakibatkan kekuatan otot di seluruh tubuh, terutama otot pengunyah dan otot tubuh, refleks yang berlebihan dan serangan yang berulang. g. Diagnosa Umumnya dari gejala yang tersifat diagnosa sudah dapat

ditegakkan,sehingga jarang dilakukan pemeriksaan laboratorium. Penyuntikan pada hewan percobaan menggunakan marmot atau tikus putih menyebabkan kejang-kejang dan kematian. h. Pengobatan dan pencegahan Pembersihan luka secara bedah terhadap segala jaringan nekrotik yang menyebabkan pertumbuhan kuman harus diminimalisir, pencucian dengan menggunakan hidrogen peroksida bertujuan untuk mendapatkan suasana aerob sehingga diharapkan akan menghambat perkembangbiakan kuman ini pada luka. Sedangkan pemberian penisilin dengan dosis besar yang diberikan secara intramusculer atau intravena akan mampu membunuh kuman ini. Dapat juga

menggunakan vaksinasi secara rutin dengan bahan toksoid.

2. 2.2.7 Clostridium botulinum Kuman ini menyebabkan penyakit botulismus,yaitu suatu tipe keracunan makanan yang diakibatkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum pada makanan yang diawetkan. Penyakit ini menyerang manusia dan hewan dan mempunyai gejala tersifat yaitu adanya kontraksi spasmodik persisten. a. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies b. Morfologi Kuman ini berbentuk batang besar dengan ujung membulat dengan diameter 0,5-1,2 mikrometer dan panjang 4-6 mikrometer. Umumnya tampak sendirisendiri, berpasangan dan kadang-kadang membentuk rantai pendek. Kuman ini motil dan bersifat gram positif serta mampu membentuk spora yang berbentuk oval dengan diameter lebih besar dari kuman dan terletak terminal. c. Sifat pertumbuhan dan biokimia Kuman ini bersifat anaerob dan tumbuh cepat pada suhu 37 derajat Celcius. Kuman ini tumbuh baik pada media yang sedikit alkalis, juga pada kaldu hati yang ditambah 0,5 % glukosa dan 0,5 % KH2PO4. Koloni pada plat agar tumbuh koloni berbentuk tidak rata, kecil, berwarna putih keabu-abuan hingga coklat kekuningan dengan tepi berserabut. Pada media daging, kuman ini mencerna daging dan merubah warnanya menjadi hitam (tipe A dan B) sedangkan tipe C, D dan E tidak mencerna daging. Semua jenis kuman ini mampu meragikan glukosa : Firmicutes : Clostridia : Clostridiales : Clostridiaceae : Clostridium : Clostridium botulinum

dan maltosa sambil membentuk asam dan gas. d. Resistensi Spora kuman ini mati pada pemanasan 100 derajat Celcius selama 5 jam, 105 derajat Celcius selama 2 jam. Pada hal ini, dengan mendidihkan saja belum mampu membunuh spora kuman Clostridium botulinum. e. Struktur antigen dan toksin Berdasarkan toksin yang bersifat antigenik kuman ini mempunyai lima tipe toksin yaitu A, B, C,D dan E. Secara imunologis berbeda dapat dinetralisasi hanya oleh antitoksin yang homolog, jadi antitoksin dihasilkan dari toksin A tidak dapat menetraliser toksin B, demikian pula sebaliknya. Kuman ini membentuk antitoksin kuat yang menimbulkan sifat patogenesitas kuman. Racun ini bersifat neurotoksin yang bekerja perlahan-lahan dengan menghambat pelepasan asetilkolin pada sinaps dan jembatan neuromuskuler, sehingga terjadi paralisa. Toksin bersifat stabil, tahan terhadap pencernaan pada usus dan diserap melalui selaput lendir usus dalam bentuk aktif. Toksin ini dapat dibuat menjadi toxoid. f. Patogenitas Kuman ini bersifat non invasi dan patogenesitasnya berdasarkan pembuatan toksin yang dibuat di dalam makanan yang tercemar. Penyakitnya disebut botulismus dapat terjadi akibat memakan toksin yang sudah lebih dulu dibuat pada makanan. Sumber penularannya ialah makanan dan daging yang diawetkan, sayuran dan ikan dalam kaleng dll. Disamping menyerang manusia, juga menyerang sapi, kuda, kelinci, ayam, itik peka sedangkan anjing dan kucing umumnya tahan terhadap kuman ini. g. Diagnosa Diagnosa secara tepat dapat dilakukan dengan mengidentifikasi toksin yang dicurigai, dengan cara menyuntikkan filtrat dari makanan yang diperiksa pada marmot. Penentuan jenis kuman dilakukan dengan melakukan perlindungan pasif dengan menggunakan antitoksin khusus. h. Pengobatan dan imunitas Imunisasi aktif dengan menggunakan toxoid hasilnya cukup efektif. Perlu diperhatikan bahwa antitoksin tidak berguna untuk pengobatan kerana toksin telah

terikat

pada jaringan syaraf ketika gejala-gejala penyakit mulai tampak.

Meskipun demikian pemberian antitoksin yang kuat secara intravena secara dini ditambah dengan guanidine hidroklorida dapat dianjurkan sebagai tambahan

2.3 Bakteri Batang Gram Positif Tidak Berspora Batang Gram Positif tidak berspora yang pathogen adalah Genus Corynobaterium, Listeria, Lactobacillus, Erysipelothrik, dan Actinobacillus. Namun yang akan kita bahas nanti hanya Genus Corynebacterium dan Genus Listeria. 2.3.1 Genus Listeria Terdapat beberapa spesies dalam genus listeria. Di antaranya L. Monocytogenes, yang berperan sebagai penyebabberbagai penyakit pada binatang dan manusia. Dalam genus Listeria monocytogenes, banyak tersebar dalam alam dan beberapa binatang merupakan reservoir. Pada manusia kuman ini sering menyebabkan meningitis. Adapun spesies dari listeria yang akan dibahas adalah 2.3.1.1 Listeria monocytogenes a. Morfologi Listeria monocytogenes adalah batang kecil dengan ujung bulat, dengan diameter 0.5 μm sampai 1.0μm dengan panjang kurang lebih 2.0 μm. . Bakteri ini merupakan bakteri non-sporeforming dan non-capsule producing.Listeria monocytogenes adalah peritrichous dengan maksimal empat flagela ketika tumbuh pada suhu kamar, tetapi mungkin tidak menghasilkan flagella pada 37 ° C, dengan persentase kecil yang menunjukkan sel-sel mono-flagellated, beberapa bi-flagellated dan tri-flagellated terbentuk. Organisme ini mudah diwarnai dengan semua pewarna anilin dan merupakan gram positif.

b. sifat pertumbuhan - Secara Makroskopis Listeria monocytogenes dapat dibiakkan pada media TSA ( Tryptic Soy Agar ) dengan suhu inkubasi 30 derajat celcius selama 24 - 48 jam. Jika berhasil ditumbuhkan, bakteri ini berwarna violet karena bersifat gram positif. L. monocytogenes tumbuh baik pada perbenihan blood agar dan Tripto agar. Pada perbenihan blood agar koloninya dikelilingi oleh zona hemolisis beta, dan pada perbenihan triptosa agar, koloninya jernih/bening. Suhu optimum pertumbuhannya adalah 37°C, tetapi kuman ini masih sanggup tumbuh pada suhu 2,5°C. Pada perbenihan blood agar, identifikasi pada biakan pertama dilakukan pada agar yang mengandung darah domba, sebab ciri khas terbentuknya zona hemolisis kecil dapat diamati disekeliling dan dibawah koloni. Isolasi dapat ditingkatkan jika jaringan dijaga pada suhu 4°C selama beberapa hari sebelum inokulasi ke media bakteriologis. Organisme ini anaerob fakultatif dan katalase positif serta motil. Listeria menghasilkan asam, tidak menghasilkan gas, pada berbagai macam karbohidrat. Motilitas pada suhu kamar dan produksi hemolisin merupakan penemuan primer yang membantu pembedaan listeria dari bakteri corynebacterium.

-

Secara Mikroskopis Listeria monocytogenes secara mikroskopis, nampak kecil,

berbentuk seperti tangkai yang kadang-kadang membentuk rantai pendek. Sekilas memang bakteri ini nampak coccus, sehingga kadang orang mengira bakteri ini streptococcus. Flagel akan dibentuk pada suhu kamar tetapi bukan pada 37°C. Aktivitas hemolitik pada darah digunakan sebagai indikator yang membedakan Listeria monocytogenes dengan spesies Listeria yang lain, tetapi ini bukan kriteria yang pasti dalam klasifikasi.

c. Resistensi Sebagai bakteri yang tidak membentuk spora, L. monocytogenes sangat kuat dan tahan terhadap efek mematikan dari pembekuan, pengeringan, dan pemanasan. Tetapi beberapa kasus yang disebabkan oleh bakteri L. monogenes dapat diobati dengan pemberian antibiotic seperti penicillin dan tobramicin dan jika menginfeksi mata bisa digunakan antibiotic eritromicin.

d. struktur antigen dan toksin Listeria monocytogenes punya struktur antigen somatic O yang tahan terhadap panas dan antigen L. Listeria monocytogenes tidak memproduksi eksotoksin tetapi dinding sel L. monocygenes dapat merangsang monocyt. e. sifat biokimia - Uji biokimia Menggunakan media semi-solid dalam tabung yang didalamnya terdapat tabung Craigie. Isolate yang diuji dimasukkan dan diinokulasi dalam tabung Craigie. - Uji serologis Ambil koloni yang sekiranya terindikasi Listeria monocytogenes, dan inokulasikan pada media yang mengandung karbohidrat yang sudah disiapkan (glukosa, mannitol, maltose, rhamnosa, dan xylosa ). Inkubasikan papa temperature 37 derajat celcius selama 24 jam. Hasil positif jika warna larutan berubah dari merah menjadi kuning. f. Patogenitas Listeria monocytogenes di alam mampu menginfeksi pada kelinci, kelinci percobaan, garbils, ayam, kalkun, domba, kambing, sapi, rubah, babi, chinchilla, farrets, racoons, sigung, kuda, dan manusia. Pada manusia, listeriosis berupa abses atau granuloma yang menyebar, kelainan – kelainan dijumpai pada hati, limpa, anak ginjal, saluran nafas, saluran pencernaan, sistem syaraf pusat dan kulit. Fetus dapat terinfeksi secara transplasental melalui vena umbilicalis dan menyebabkan septikemi. Infeksi oleh L. Monocytogenes yang khas adalah infeksi saluran genital wanita yang dapat menyebabkan infeksi pada anak yang dikandungnya. Listeriosis pada dewasa umumnya berupa meningitis. Pada permulaan sakit, sel - sel cairan serebrospinal kebanyakan berupa granulosit, tetapi kemudian diganti oleh sel - sel mononukleus. L. monocytogenes masuk ketubuh melalui saluran gastrointestinal setelah ingesti makanan yang terkontaminasi seperti sayuran. Bakteri ini mempunyai protein pada permukaan dinding selnya yang disebut dengan internalin yang berinteraksi dengan Ecadherin, suatu reseptor pada sel epitel, yang meningkatkan fagositosis ke sel epitel. Virulensi L. Monocytogenes agaknya disebabkan baik oleh komponen antifagositosis yang terdapat pada permukaan sel kuman, maupun oleh produk - produk larut (soluble products) yang dihasilkan selama pertumbuhan kuman, seperti hemosilin yang berperan penting dalam patogenesis infeksi karena dapat merusak membran phagocytic vacuole. g. Imunitas

Imunitas terhadap L. Monocytogenes pertama adalah imunitas seluler, seperti ditunjukkan oleh lokasi intraselular infeksi dan oleh adanya hubungan antara infeksi dengan kondisi imunitas tubuh yang terganggu. Listeria monocytogenes merupakan parasit intrasel. Jenis imunitas yang diperoleh akibat infeksi adalah cell mediated dan tergantung pada limfosit-T dan krofaga yang diaktifkan. Selain limfosit-T ternyata limfosit-B juga berperan dalam resistensi terhadap infeksi oleh infeksi. h. pencegahan Listeriosis dapat diobati atau dicegah dengan pemberian antibioticantibiotik tertentu yang memang khusus mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Contohnya : Ampisillin,vankomisin, siprofloksasin, linezolid, azithromisin, dan kotrimoksazol. 2.3.2 Genus Corynebacterium Genus Corynebacterium pada mulanya ditetapkan sesuai dengan basilus L. Mocytogenes terutama pada permulaan

difteri dan kemudian dimasukkan beberapa spesies yang lain dari binatang yang mempunyai morfologi yang sangat mirip. Dan genus ini dogolongkan dalam organisme Coryneform, atau batang yang pleomorf dan positif Gram. Tidak membentuk spora, tidak tahan asam, dan tidak bisa bergerak. Genus Corynebacterium terdiri dari spesies bakteri yang terdapat dalam manusia dan hewan. Banyak dari mereka adalah non-patogenik, yang ditemukan di mocous membran. Beberapa bersifat patogen dan yang terkait dengan kedua akut dan penyakit kronis manusia dan hewan. Dan corynebacterium yang paling penting akan dibahas dalam pembahasan kali ini. 2.3.2.1 Corynebacterium diphteriae Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri patogen yang

menyebabkan difteri. Bakteri ini dikenal juga sebagai basillus Klebs-Löffler karena ditemukan pada 1884 oleh bakteriolog Jerman, Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Löffler (1852-1915). C. diphtheriae adalah satu-satunya spesies yang patogen bagi manusia dan merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan Gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, tak bergerak, dan berbentuk batang dengan ukuran 1 hingga 8 µm dan lebar 0,3 hingga 0,8 µm.

a. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari bakteri ini adalah Kingdom Phylum Class Order Family Genus : : : : : : Bacteria Actinobacteria Bacilli Actinomucetales Corynebacteriaceae Corynebacterium

Struktur dan Metabolisme Corynebacteria kecil, umumnya nonmotile, Gram-positif, non-sporulating (walaupun mereka memiliki klub-seperti berakhir), pleomorphic basil. Karena gertakan mereka jenis pembagian, sel sering terletak pada kelompok-kelompok cina yang menyerupai huruf. Corynebacteria adalah chemoorganotrophic, aerobik, atau facultatively anaerobik, dan mereka memperlihatkan fermentasi metabolisme (karbohidrat menjadi asam laktat) dalam kondisi tertentu. Mereka adalah organisme cerewet, tumbuh perlahan-lahan bahkan media yang kaya.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam isolasi dari organisme adalah mengotori pertumbuhan organisme. Untuk mengatasi ini tunduk, potasium tellure dapat ditambahkan ke media isolasi. Garam ini mencegah pertumbuhan organisme lain sampai batas tertentu, tetapi berharga dalam bahwa koloni C. Diphteriae adalah

hitam kelabu yang memfasilitasi subculturing.

Taksonomi Genus Corynebacterium diciptakan oleh Lehmann dan Neumann pada tahun 1896 sebagai sebuah kelompok taksonomi mengandung bakteri batang yang bertanggung jawab atas menyebabkan difteri. Genus didefinisikan berdasarkan karakteristik morfologi. Terima kasih kepada studi 16S-rRNA, mereka telah dikelompokkan ke dalam pembagian Eubacteria Gram-positif dengan tinggi G: C konten, dengan philogenetic dekat hubungan Arthrobacter, Mycobacterium, Nocardia, dan Streptomyces. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani corone ( "melilit batang") dan bacterion ( "batang"). Istilah "diphtheroid" digunakan untuk mewakili Corynebacteria yang non-patogenik misalnya, C. diphtheriae akan dikecualikan. Morfologi Fitur utama dari genus Corynebacterium digambarkan oleh Collins dan Cummins pada tahun 1986. Mereka adalah Gram-positif, katalase positif, tidak bergerak, tidak berspora, bakteri berbentuk batang yang lurus atau sedikit melengkung, salah satu ujungnya menggembung sehingga berbentuk gada, serta tidak tahan asam. Metachromatic butiran biasanya disimpan fosfat hadir mewakili daerah. Ukuran mereka jatuh antara 2-6 mikrometer panjang dan 0,5 mikrometer diameter. Kelompok bakteri bersama-sama dalam cara yang khas, yang telah

digambarkan sebagai bentuk "V,L,Y", "anyaman pagar (palisade)", atau "huruf Cina".

Mereka mungkin juga akan muncul elips. Mereka facultatively aerobik atau anaerobik, chemoorganotrophs, dengan 51-65% genomik G: C konten. Mereka pleomorphic melalui siklus hidup mereka: mereka datang dalam berbagai panjang dan sering memiliki thickenings di kedua ujung, tergantung pada kondisi sekitarnya. Bentuk- bentuk pleomorfik sering dijumpai terutama bila kuman dibiakkan dalam perbenihan suboptimal. Granula metakhromatik Babes-Ernst dapat dilihat dengan perwarnaan menurut Neisser atau biru metilen Loeffler.

Meskipun C. Diphteriae bersifat anaerob fakultatif, pertumbuhan optimal diperoleh dalam suasana aerob. Pada perbenihan Loeffler atau perbenihan blood agar. Pada perbenihan serum, kuman ini tumbuh dengan membentuk koloni-koloni kecil mengkilap berwarna putih keabuabuan.

Patologi Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksin (racun) Corynebacterium diphtheriae. Difteri pertama kali diidentifikasi oleh Hippocrates pada abad ke-4 SM Penyakit menjangkiti Eropa melalui-17, 18, dan 19 abad. Itu menyebar ke Amerika di mana ia mencapai proporsi epidemi di sekitar pertengahan abad ke-18. Corynebacterium diphtheriae adalah diidentifikasi sebagai agen etiologi difteri oleh basillus Klebs pada tahun 1883, dan pertama kali dibudidayakan pada tahun 1884 oleh Loeffler, yang juga mengidentifikasi toksin difteri pada tahun yang sama. Difteri digambarkan sebagai "sebuah penyakit saluran pernapasan bagian atas yang ditandai dengan sakit tenggorokan, demam ringan, dan sebuah membran pemeluk amandel (s), faring, dan / atau hidung," oleh CDC. Respons daripada peradangan membentuk suatu Pseudomembran yang terdiri dari bakteri, sel- sel epitel yang mengalami nekrotik, sel- sel fagosit dan fibrin. Kemampuan patogenesis difteri tergantung pada kemampuannya untuk menjajah nasofaringeal rongga atau kulit dan kemampuannya untuk menghasilkan toksin difteri. C. diphtheriae biasanya menjajah lesi lokal pada saluran pernapasan bagian atas (walaupun kutaneus difteri bisa terjadi juga) di mana toksin yang disekresi oleh bakteri nekrotik kasus cedera pada sel-sel epitel. Akibatnya, kebocoran plasma darah ke daerah dan membentuk jaringan fibrin disebut pseudomembrane, yang penuh C. diphtheriae berkembang pesat sel. Di lokasi lesi difteri toksin yang diserap dan disebarluaskan ke seluruh tubuh melalui saluran getah bening. Daerah yang terkena dampak paling umum termasuk jantung, otot, saraf perifer, kelenjar adrenal, ginjal, hati, dan limpa (bukankomprehensif). Difteri toksin yang bekerja dengan menyebabkan kematian sel-sel eukariotik dan jaringan dengan menghambat sintesis protein dalam sel. Dua faktor utama C. diphtheriae bantuan dalam produksi racun sistemik ini: ekstraselular rendah konsentrasi besi dan kehadiran lisogenik profag (berbicara tentang secara rinci dalam fag bagian bawah). Peranan besi dalam C. diphtheriae budaya sangat dramatis, dan diasumsikan memainkan bagian yang sama di vivo juga. Dalam budaya habis besi C. diphtheriae akan menghasilkan toksin difteri sampai

dengan 5% dari total produksi protein. Telah ditemukan bahwa gen tox diatur oleh kontrol negatif. Sebuah represor molekul, produk dari gen DtxR, diaktifkan oleh besi. Jika diaktifkan, represor mengikat ke gen tox operator dan mencegah transkripsi. Ada tiga strain berbeda dari C. diphtheriae yang dibedakan oleh tingkat keparahan penyakit yang menyebabkan pada manusia. Tiga strain gravis, intermedius, dan mitis (Anda dapat membedakan tingkat keparahan dari setiap regangan didasarkan pada nama). Perbedaan virulensi dari ketiga strain dapat dikaitkan dengan kemampuan relatif mereka memproduksi toksin difteri (baik rate dan kuantitas), dan tingkat pertumbuhan masing-masing. Galur yang mitis memiliki waktu generasi sekitar 180 menit sedangkan gravis generasi galur memiliki waktu sekitar 60 menit. Pertumbuhan yang lebih cepat ini memungkinkan koloni untuk menguras persediaan besi di daerah terjajah lebih cepat, membiarkan mereka menghasilkan racun dalam jumlah yang lebih besar lebih cepat. Diperlukan beberapa hari bagi laboratorium mikrobiologi untuk memastikan toksigenitas kuman difteri yang diasingkan. Laboratorium tidak dapat menentukan diagnosis difteri hanya berdasarkan pemeriksaan mikroskopik saja, karena strain C. Diphteriae baik yang toksigenik maupun yang non-toksigenik tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya secara mikroskopik.

 Corynebacterium pyogenes

Organisme ini telah dianggap pleomorphic dan gram positif oleh sebagian besar penyelidik, namun priewe, pada tahun 1911. Dianggap hal itu terjadi berkaitan dengan basil influenza, bahkan, ia melaporkan bahwa antiserum dari basil pyogenes agglutinated suspensi dari basil influenzae. Organisme pertama kali dimasukkan dalam kelompok dan disebut diphtheroid Corynebacterium pyogenes (glage) oleh eberson pada 1918. Morfologi C. pyogenes adalah kecil, coccoid, basil pleomorphic bervariasi dari 0.2μ ke lebarnya oleh 0.3μ di 0.5μ untuk 2.0μ panjang. Sel dengan bengkak berakhir dan mereka yang ujungujungnya menunjuk umum. Biasanya organisme tunggal namun menunjukkan kecenderungan

memutuskan untuk membentuk rumpun; pengaturan pagar sering diamati. Ini adalah non-yg dpt mengubah tempat dan noncapsuleproducing. Basil ini adalah aerobik dan mikroaerofilik. Pertumbuhan lebih berlimpah dalam suasana oksigen mengurangi ketegangan. Sebuah pH netral lebih kondusif untuk pertumbuhan. Suhu optimum 37°C. On serum agar, C. pyogenes menit bentuk seperti titik embun-koloni yang menyerupai koloni streptocci. Usia Namun, koloni-koloni menjadi buram dan cenderung menjadi kering. Dikategorikan kecil beta hemolisis adalah oberved sekitar koloni pada agar darah dalam empat hari. Dalam serum boullion membentuk organisme ringan, berbedak sedimen di sepanjang dinding dan di dasar tabung tes

Resistensi C. pyogenes adalah organisme sensitif terhadap peniccilin tetapi sifat proses infeksi dan eksudat purulen antibiotik ini tampaknya mencegah dari yang datang dalam kontak dengan organisme. Patogenitas C. pyogenes telah diisolasi dari jaringan numereous babi, sapi, domba, dan kambing. Babi dapat menimbulkan radang paru-paru ditandai oleh pembentukan fokus kecil, dienkapsulasi abces, diikuti oleh caseouspnumonialuas. Organisme ini menghasilkan subkutan abcesses di kelinci dan terlokalisasi pada sendi, menghasilkan deformasi arthritis. Kelinci babi dan tikus yang resisten. Abses terbentuk pada omentum dan di hati tikus intraperioneal berikut inokulasi. Morse dan rekan kerja telah menemukan strain organisme dari radang paru-paru sapi mor patogenik untuk tikus daripada dari sapi mastitis. Biokimia C. pyogenes asam tetapi tidak menghasilkan gas dari glukosa, maltosa, galaktosa, laktosa, fruktosa, mannose, sukrosa, dan dextrin, tetapi tidak ada dari arabinosa, xylose, inulin, salisin, dulcitol, manitol, atau gliserol. C. pyogenes telah menjadi media disesuaikan unenriched, mereka memiliki sifat saccharolytic lebih besar. Tidak organisme dari indol; tidak mengurangi nitrat; tidak membentuk H2S; adalah negatif untuk metilmerah.

Organisme ini adalah antigen homogen oleh Aglutinasi teknik. Sebuah eksotoksin mematikan untuk kelinci dan mampu hemolyzing sel-sel darah merah telah dilaporkan oleh Lovell. Potensi dari eksotoksin dapat ditentukan oleh hemolysin tes. Antitoksin dapat ditemukan pada serum hewan yang terinfeksi dengan organisme ini.

 Corynebacterium renale

Corynebacterium renale adalah hewan patogen bakteri yang menyebabkan sistitis dan pielonefritis pada-ternak.

C. renale adalah facultatively organisme anaerobik Gram positif, ditandai oleh non-enkapsulasi, nonsporulated, bergerak, lurus atau melengkung batang dengan panjang 1-8 μm dan lebar 0,3-0,8 μm, yang membentuk sekumpulan bercabang dalam budaya ( tampak seperti "karakter cina"). Bakteri ini sensitif terhadap sebagian besar antibiotik, seperti penisilin, ampisilin, cephalosporins, quinolones, kloramfenikol, tetrasiklin, cefuroxime dan trimetoprim.

Yang paling lengkap deskripsi awal pielonefritis dan organisme dibuat oleh Ernst pada tahun 1905 dan 1906. Penyelidik ini menunjukkan hubungan antara organisme dengan basil difteri dan mengusulkan nama Corynebacterium renalis.

Morfologi Corynebacterium renale adalah pleomorphic batang, 0.5μ untuk 0.7μ oleh 1.5μ untuk 3.0μ ukuran. Organisme ini lebih seperti basil difteri daripada binatang diptheroids, meskipun sedikit lebih besar. Terjadi satu per satu, tetapi pagar chumps dan formasi adalah umum,

terutama dismear langsung dari ginjal eksudat Ketika smear ginjal eksudat yang bernoda dengan biru methylen organisme yang bernoda tidak merata, dan banyak sel-sel dengan ujung-ujungnya bengkak diamati. Organisme ini gram positif, tetapi butiran lebih sulit untuk membuat tdk berwarna daripada bagian lain dari sel.

Basil ini adalah facultatively aerobik dan anaerobik, dan tumbuh terbaik di media serum disesuaikan dengan pH 7,0-7,2. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 37 ° C. Koloni-koloni yang rinci dan memiliki unevan perbatasan. Walaupun koloni basil ini tidak dapat dianggap mulus dalam arti bakteri gram negatif, beberapa mungkin ditunjuk sebagai contrased halus dengan mereka yang lebih kasar. Dalam kaldu bubuk yang bagus mengumpulkan sedimen di dinding dan di bagian bawah tabung. Beberapa strain membentuk kulit tipis tipis. Resistansi Organisme ini mirip dengan kelompok sehubungan dengan perlawanan. C. Renale sensitif terhadap peniccilin, dan antibiotik ini tampaknya akan menjadi agen yang paling efektif untuk mengobati ternak yang terkena dengan pielonefritis, oleh karena itu dapat dihilangkan melalui sirkulasi ginjal untuk secara cepat. Biokimia C. renale menghasilkan jumlah sedikit asam dalam glukosa, dan beberapa strain dapat menyerang fractose dan mannose. Tidak organisme dari indol; tidak reduuce nitrat; tidak membentuk H2S; adalah negatif untuk metil merah dan Voges-Proskauer tes. Tidak gemolyze sel darah merah. Beberapa strain tidak mengubah susu lakmus, sementara yang lain mampu mencerna kasein dengan informasi dari alkalinitas berikutnya. Hal ini dapat membagi urea. Patogenitas

C. renale menyebabkan pielonefritis pada ternak; itu telah diisolasi dari abcesses ginjal babi. Penyakit ini tidak lazim, dan pertama dimanifestasikan oleh void hemoglobinuria dan pembekuan darah. Infeksi ini terbatas pada kandung kemih, ureter, dan pelvis ginjal. Mungkin unilateral atau bilateral. C. renale untuk kelinci pertama kali dilaporkan oleh Enderlen, tetapi ditandai dan patologi ginjal khas yang dihasilkan dalam hewan sejak itu digambarkan oleh Feenstra, Thorp, dan Gray (1919). Oleh inoculating intravena organisme penyelidik ini diproduksi papillitis dan pyelitis ditandai oleh nekrosis. Bakteri yang ditemukan di puing-puing nekrotik dari lesi dan di panggul ginjal. c. renale belum ditemukan untuk menjadi patogenik bagi babi guinea. Sedikit atau tidak ada pertumbuhan yang diperoleh dalam embrio ayam.

 Corynebacterium pseudotuberculosis

Corynebacterium Pseudotuberculosis Pada 1888 Nocard organisme terisolasi dari farcy sapi yang tak diragukan lagi Corynebacterium pseudotuberculosis. Sejak saat itu telah ditemukan organisme sebagai penyebab limfadenitis caseous domba dan rusa dan ulseratif limfangitis pada kuda, dan berbagai kondisi suppurative sapi, termasuk lesi kulit yang menyerupai tuberkulosis. Pada tahun 1911 basil Buchanan disebut organisme pseudotuberculosis. Eberson diklasifikasikan dengan diphtheroid pada 1918 di bawah nama Corynebacterium pseudotuberculosis. Morfologi Lesi alami adalah organisme terutama pleomorphic, tetapi secara seragam coccoid pada media buatan. Metachromatic butiran yang jelas diamati dalam bentuk bacillary tetapi absen dari coccoid sel. Organisme ini yg dpt mengubah tempat dan non-noncapsuleforming. Hal ternoda mudah tetapi tidak merata oleh pewarna biasa, dan gram positif. c. pseudotuberculosis adalah facultatively aerobik dan an-aerobik. Pertumbuhan lebih banyak diperoleh dengan penambahan serum ke media budaya. Hal ini dapat diisolasi dari lesi primer Desease, tetapi hanya beberapa koloni berkembang pada permukaan agar. Bila ini dioleskan di atas permukaan medium seragam dan berlimpah hasil pertumbuhan. Organisme ini telah ditemukan untuk menjadi penyebab pseudotuberculosis rusa di gunung

sebelah barat negara Amerika Utara. C. pseudotuberculosis didistribusikan secara luas tetapi yang paling umum di daerah seperti Australia, Argentina dan barat Amerika Serikat di mana domba yang dibesarkan dalam kawanan besar. Metode transmisi antara kuda tidak diketahui, meskipun penggunaan mengerok dan kuas untuk sejumlah kuda mungkin dicurigai. Biokimia C. pseudotuberculosis adalah variabel dalam kemampuan fermentasi. Semua strain menghasilkan asam tetapi bukan gas dari glukosa, fruktosa, maltosa, mannose, dan sukrosa. Patogenitas C. pseudotuberculosis menyebabkan limfadenitis cascous domba, penyakit yang ditandai dengan adanya nekrosis caseation dalam kelenjar getah bening. Dalam kuda organisme penyebab limfangitis ulseratif, penyakit yang hanya terbatas pada pembuluh limfe dari ekstremitas, terutama kaki belakangnya. Pembuluh getah bening dan kelenjar getah bening regional memperbesar dan ulserasi terjadi, menghasilkan suatu kondisi yang mirip dengan lesi kulit sakit ingus. Suntikan intravena organisme ke guinea pig menyebabkan kematian dalam empat sampai sepuluh hari, dengan pembentukan abcesses di paru-paru dan hati. Suntikan intraperitoneal basil ini ke babi guinea laki-laki menghasilkan orkitis khas dari basil sakit ingus.

 Corynebacterium bovis

Corynebacterium bovis adalah hewan patogen bakteri yang menyebabkan mastitis dan pielonefritis pada-ternak. C. bovis adalah facultatively organisme anaerobik Gram positif, ditandai oleh nonenkapsulasi, non-sporulated, bergerak, lurus atau melengkung batang dengan panjang 1-8 μm dan lebar 0,3-0,8 μm, yang membentuk sekumpulan bercabang dalam budaya ( tampak seperti "karakter cina"). Dalam infeksi C. mastitic bovis ini menyebar dari sapi ke sapi paling sering melalui teknik memerah susu yang tidak benar. Namun biasanya adalah infeksi ringan yang mengakibatkan

peningkatan jumlah sel somatik (SCC). Bakteri ini sensitif terhadap sebagian besar antibiotik, seperti penisilin, ampisilin, cephalosporins, quinolones, kloramfenikol, tetrasiklin, cefuroxime dan trimetoprim.

 Corynebacterium equi

Corynebacterium equi

Pada tahun 1923 Magnus in swedia, terisolasi organisme ini dari suppurative radang paruparu dari anak kuda. Dia memberinya nama Corynebacterium equi. Dimock dan Edward pada 1931, adalah yang pertama mengisolasi organisme dari kasus pneumonia suppurative dari anak kuda di Amerika Serikat. Sejak saat itu mereka telah menemukan organisme sering di Kentucky.

Morfologi

C. equi adalah tongkat coccoid mengukur 0.8μ untuk 1.5μ. hal ini sangat pleomorphic, bagaimanapun, dan berbagai bentuk yang diamati lebih umum di media yang berbeda. Dalam eksudat dari lesi khas bernanah pneumonia, C. Equi pendek dan gemuk. Media biakan padat itu coccoid, meskipun bentuk bacillary hadir. Dalam media fluida. Besar, bengkak bacillary bentuk yang paling umum. Organisme ini capsuleproducing, nonsporeforming, dan non-yg dpt mengubah tempat. C. Equi ternoda mudah dengan pewarna umum dan gram positif. Butiran Metachromatic ditunjukkan oleh noda yang sesuai, tetapi mereka tidak banyak. Hal ini tidak asam-cepat. Organisme ini dibudidayakan pada salah satu media nutrisi yang digunakan untuk organisme patogen; koloni pada media padat besar, lembab, dan lengket dengan seluruh tepi. Pigmentasi adalah organisme menekankan ketika ditanam pada kuning telur beku menengah dan diinkubasi pada suhu kamar. Ketika organisme yang tumbuh pada agar miring, pertumbuhan begitu lengket itu mengalir dari permukaan atau menengah dan mengumpul di bagian bawah tabung. Transmisi C. Equi tidak cknown; mungkin itu akan mendapatkan pintu masuk melalui saluran

pernapasan pada anak kuda, meskipun asal hematogenous infeksi paru mungkin . Uji Biokimia

C. Equi yang tidak memiliki kemampuan apapun untuk memfermentasi karbohidrat meskipun dapat memanfaatkan glukosa tanpa menghasilkan reaksi asam. Ini berbeda dari anggota lain dari kelompok mampu mengurangi nitrat untuk nitrit. Organisme tidak mencairkan gelatin atau coaguulated serum darah; tidak mengubah susu; tidak membentuk indol. Heterogenity antigenik dari organisme tidak menghasilkan racun.

Patogenitas

c. equi mampu memproduksi bronkopneumonia pada anak kuda. Yang prneumonia disertai dengan pembentukan abcesesses kecil tersebar di seluruh jaringan paru-paru. Pembentukan Abcesses juga diamati dalam kelenjar getah bening mediastinum, dan dalam beberapa kasus, kelenjar getah bening di rongga peritoneum yang terlibat. Suntikan Subcutaneus organisme menghasilkan abcess diisi dengan khas, tebal, kuning nanah. Pembangkitan berangsur-angsur dari organisme ke atas saluran udara dari anak kuda mungkin tidak mereproduksi penyakit. Pada hewan yang terinfeksi enteritis ulseratif luas diamati, dan abcesses hadir di mesenterika kelenjar getah bening. Penulis ini menganggap infeksi primer di saluran pencernaan dengan metastasis ke paru-paru. C. Equi telah terisolasi dari os uteri kuda gersang dan dari janin dari kuda-kuda yang telah dibatalkan.

Dalam babi, C. Equi dikaitkan dengan kecil, lembut, dikemas abcesses yang biasanya ditemukan di submaxillary kelenjar getah bening. Hal ini juga ditemukan dalam penumonia dari babi oleh thal dan rutqvist. Plum telah menekankan bahwa diferensiasi Equi C. infeksi pada babi dari TB ini hanya mungkin dengan pemeriksaan mikroskopis. Percobaan binatang, terutama kelinci dan tikus, tidak rentan. Beberapa strain organisme mampu membunuh tikus dan kelinci percobaan. Menurut laporan oleh thal dan Rutqvist. Embrio ayam dibunuh dalam waktu 4 sampai 6 hari setelah inokulasi. Infeksi yang dihasilkan oleh C. Equi dapat didiagnosis secara akurat hanya oleh terisolasi dan identifikasi organisme. Karakteristik seperti morfologi, pertumbuhan pigmen lengket,

kurangnya fermentasi karbohidrat, dan ditandai pengurangan nitrat dianggap luar biasa dan paling berharga.

Rhodococcus equi adalah Gram-positif coccoid bakteri. Umumnya organisme hidup di tanah kering dan berdebu dan dapat penting untuk penyakit hewan peliharaan (kuda dan kambing). Frekuensi infeksi dapat mencapai hampir 60 persen. R. equi adalah patogen penting pneumonia dari anak kuda. Sejak 2008, ia juga diketahui bahwa R. equi dapat menginfeksi babi hutan di samping babi domestik. Di samping itu, patogen dapat menginfeksi manusia. Kelompok-kelompok yang paling terancam adalah orang immunocompromised dan HIVAIDS pasien. Rhodococcal infeksi pada pasien kelompok ini mirip dengan tanda-tanda klinis dan patologis paru TBC. Taksonomi, R. equi dapat memiliki sinonim Corynebacterium equi, hoagii Bacillus, Corynebacterium purulentus, Mycobacterium equi, Mycobacterium restrictum, Nocardia restricta dan Proactinomyces

Daerah variabel dari plasmid mengandung gen virulensi yang sangat dinyatakan berikut R. equi fagositosis oleh makrofa. Selain itu, penghapusan vapA, sebuah gen di dalam daerah variabel plasmid kuda yang diberikan beban yang dihasilkan avirulent. Oleh karena itu percaya bahwa variabel ini kawasan ini adalah pulau yang berisi pathogenicity gen yang penting untuk virulensi.

Suatu ciri dari pulau pathogenicity adalah bahwa banyak gen di dalamnya tidak memiliki homolog pada spesies lain. Yang paling terkenal ini adalah gen VAP yang merupakan singkatan dari Associated virulensi protein. Semua anak kuda yang terinfeksi dengan R. equi menghasilkan tingkat antibodi tinggi diarahkan untuk VapA, VAP pertama gen yang akan ditandai. Selain vapA, pulau yang pathogenicity encode lagi penuh panjang lima VAP homolog, salah satu gen VAP terpotong dan pseudo VAP dua gen. Pathogenicity babi pulau yang mengandung lima gen VAP penuh panjang termasuk vapA homolog vapB. Selain itu gen yang unik pada pulau pathogencity mengandung gen yang memiliki fungsi yang diketahui, khususnya dua gen pengatur pengkodean tipe yang LysR regulator VirR dan regulator respon Orf8. Kedua protein telah terbukti untuk mengontrol ekspresi beberapa gen termasuk pathogenicity pulau vapA [9]. Gen lain memiliki kesamaan untuk mengangkut protein dan enzim. Namun, fungsi gen ini belum dibentuk, atau bagaimana protein yang dikodekan dalam menumbangkan pulau pathogenicity macrophage.

Rute yang paling umum infeksi pada kuda mungkin melalui menghirup partikel debu yang terkontaminasi oleh anak kuda. Menghirup virulen strain R. equi adalah phagocytosed oleh makrofag alveolar, yang bertujuan untuk melindungi tubuh dari invasi mikro organisme. Setelah fagositosis, bakteri berada di dalam fagosom, yang berfusi dengan lisosom melepaskan nucleases, protease ke fagosom. Selain itu, kompartemen ini adalah diasamkan, menyebabkan aktivasi protease. The macrophage bacteriocidal menghasilkan senyawa (misalnya, oksigen radikal) setelah pernapasan meledak. Namun, seperti halnya kerabat dekat Mycobacterium tuberculosis, R. equi mencegah dari fagosom fusi dengan lisosom, dan peningkatan keasaman dari fagosom dan meledak pernapasan tidak terjadi. Hal ini

memungkinkan untuk melipatgandakan equi R. dalam fagosom, dan dengan demikian terlindung dari sistem kekebalan tubuh oleh sel yang sangat diharapkan untuk membunuh itu. Setelah sekitar 48 jam dengan macrophage dibunuh oleh nekrosis, tidak apoptosis. Nekrosis adalah pro-inflamasi menarik sel fagositik lain ke lokasi infeksi, akhirnya mengakibatkan kerusakan jaringan besar. 2.3 Bakteri Gram Negatif Enterobacteria Enterobacteriaceae adalah suatu famili kuman yang terdiri dari sejumlah besar spesies bakteri yang Sangat erat hubungannya satu dengan yang lainnya. Hidup di usus besar manusia dan hewan, tanah, air dan dapat pula ditemukan pada dekomposisi material karena hidupnya hidupnya yang pada keadaan normal dalam usus besar manusia, kuman ini sering disebut sebagai kuman enterik atau basil enterik. Dalam klasifikasinya famili kuman ini dibagi dalam 6 genus , yaitu:  Escherichia  Klebsiella  Salmonella  Shigella  Proteus  Aerobacter A. Morfologi umum Adapun morfologi secara umum dari bakteri ini adalah: a. b. c. d.
e.

Kuman enterik berbentuk batang, pendek dengan ukuran 0,5μm-3,0μm Gram negative Tidak berspora Gerak positif dengan flagel peritrikh (Salmonella, Proteus, Escherichia) atau Mempunyai kapsul atau selubung yang jelas seperti pada Klebsiella atau Sebagian besar spesies mempunyai fimbrae atau pili sebagai alat perlekatan

gerak nefatif(Shigella, Klebsiella) hanya berupa selubung tipis pada Escherichia atau tidak berkapsul sama sekali. f. dengan bakteri lain. B. Sifat Fisiologis umum a. Sifat biokimiawi

Adapun sifat biokimiawi kelompok bakteri ini secara umum adalah • • • Pada suasana anaerob atau kadar O2 rendah terjadi reaksi fermentasi. Pada suasana aerob atau kadar O2 cukup terjadi siklus asam Semua kuman enterik meragi glucosa menjadi asam dan dengan atau

trikarboksilat dan transpon electron untuk pembentukan enersi. tanpa disertai pembentukan gas, mereduksi nitrat menjadi nitrit, ada yang membentuk indol dan ada yang membentuk indol tidak ada. b. Sifat biakan Adapun sifat biakan dari kelompok bateri ini adalah • • secara difusi. • Diferensial dan selektif. C. Resistensi kuman Resistensi kuman dari kelompok bakteri secara umum adalah • Kuman enterik tidak membentuk spora, mudah dimatikan dengan Macam-macam perbenihan yang dipakai untuk isolasi kuman enterik adalah Koloni kuman umumnya basah, halus, keabu-abuan , dan permukannya licin helisis ada yaitu tipe beta . Pada pebenihan air tumbuh

disinfektan, konsentrasi rendah zat-zat seperti fenol, formaldehid, Bglutaraldehid, componen halogen bersifat bakterisid. Pemberian zat khlor pada air dapat mencegah penyebaran kuman enterik khususnya kuman penyebab penyakit tifus dan penyakit usus lain. Kuman enterik toleran terhadap garam empedu dan zat warna bakteriostatik, sehingga zat-zat ini dipakai di dalam perbenihan untuk isolasi primer. • Toleran terhadap dingin, hidup berbulan-bulan di dalam es, peka terhadap kekeringan , menyukai suasana yang cukup lembab dan mati pada pasteurisasi. D. Faktor Patogenitas • Endotoksin:

stabil pada pemanasan, dapat diekstrasi dari dinding sel bakteri dengan diamin tetrasetat. • Enterotoksin: adalah substansi yang mempunyai efek toksik pada usus halus, menyebabkan pelepasan cairan pada ke dalam ileum. Produksi enterotoksin oleh kuman E. coli diatur oleh plasmad. • Daya invasi terhadap mikroorganisme: Misalnya kuman Shigella melakukan penetrasi ke dalam lapisan epitel, berkembang biak dan kemudian merusak lapisan epitel. • Permukaan sel kuman: Pada kuman enterik tertentu permukaan sel kuman mempunyai peranan penting . Misalnya adanya kapsul pada K. pneumoniae dapat mencegah fagositosis, antigen vi pada S. typhirum mencegah distruksi intraseluler, antigen permukaan E. coli berfungsi untuk perlekatan kuman pada mukosa usus. • Hemolisis • Enzim-enzim lain. 2.3.1 Genus Escherichia a. Taksonomi Kingdom Klas Ordo Genus Species b. Morfologi Kuman ini berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 u x 0,4 : Bacteria Phylum : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Enterobacteriales : Escherichia : E.coli, E.aurescens, E.freundii, E.intermedium menggunakan fenol air, asam trikhloroasetat dan etilen

Famili : Enterobacteriaceae

sampai 0,7 , gram-negatif, bergerak aktif, tidak berspora dan berkapsul.

c.

Sifat biokimia E.coli menghasilkan tes positif terhadap indol, lisin, dekarboksilase,

dan memfermentasi manitol, menghasilkan gas dari glukosa, dan mereduksi nitrat. d. Struktur antigen E.coli mempunyai struktur antigen K ( pada dinding kuman ), antigen O ( pada badan kuman),antigen H ( pada flagella ). e. patogenitas dan gejala klinis Keganasan dari E. coli menyebabkan penyakit pada pedet ( calf disentir) dan pada ayam menyebabkan Coli granuloma. E.coli juga merupakan flora normal yang terdapat dalam usus Bakteri menjadi

pathogen ketika mencapai jaringan di lura intestinal atau tempat floral normal yang kurang umum.Kebanyakan tempat yang sering mengalami infeksi klinis adalah pada saluran air kemih,system empedu dan juga yang terdapat pada kelenjar prostate yaitu: Infeksi system saluran kencing Gejala-gejalanya meliputi : frekuensi kencing,susah buang air kecil, adanya darah dalam urine, dan ada pus dalam urine. Penyakit diare Perlekatan pada sel epithelial pada usus kecil dan usus besar dipengaruhi oleh gen dalam plasmid.Terjadi peningkatan konsentrasi local dari cylic lama dari air dan klorit serta menghambat penyerapan natrium.Lumen usus digelembungkan dengan cairan dan pergerakan yang cepat sehingga terjadi diare. Bakteri ini dikenal sebagai mikroba indikator kontaminasi fekal dan dibagi dalam dua kelompok yaitu nonpatogenik dan patogenik. Ada empat kelompok patogenik penyebab diare yaitu EPEC (Enteropatogenik Escherichia coli), ETEC (Enterotoksigenik Escherichia coli), EIEC (Enteroinvasif Escherichia coli) dan E. coli penghasil verotoksin (VTEC). Istilah lain juga digunakan untuk VTEC seperti E. coli penghasil toksin mirip-Shiga (SLTEC) dan E. coli penghasil toksin Shiga (STEC). Istilah enterohemoragik E. coli (EHEC) digunakan untuk galurgalur yang menyebabkan diare berdarah. EHEC mempunyai faktor virulen. Sepsis Ketika host dalam tubuh normal, E.coli dapat mencapai aliran darah dan menyebabkan sepsis.Sepsis dapat terjadi setelah infeksi system saluran kencing. f. uji diagnostik laboratorium

Isolasi dari air seni dapat dengan cepat diidentifikasikan sebagi E.coli karena hemolisis dalam agar darah dan mempunyai morfologi yang khas pada media pembeda seperti media agar EMB akan menunjukkan warna hijau metalik.Isolasi dari tinja dapat diidentifikasi pada Mac Conkey agar yang memfermentasi laktosa sehingga koloni tampak berwarna merah. 2.3.2 Genus Klebsiella Klebsiella pertama kali diteliti dan diberi nama oleh bacteriologist Jerman yang bernama Edwin Klebs (1834-1913). Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ini antara lain adalah bronkopneumoniae dan pneumoniabakteri gram negatif. 2.3.2.1 Klebsiella pneumoniae a. Klasifikasi Adapun kalsifikasi dari bakteri tersebut adalah Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Class : Gamma Proteobacteria Order : Enterobacteriales Family : Enterobacteriaceae Genus : Klebsiella Species : Klebsiella pneumoniae b.Morfologi Biasanya Klebsiella simpainya besar dan teratur. Selain itu Klebsiela koloninya besar, sangat mukoid dan cenderung bersatu apabila ditanamkan..Morfologi khas dari Klebsiella dapat dilihat dalam pertumbuhan padat in vitro tetapi morfologinya sangat bervariasi dalam bahan klinik

c. Sifat biokimia Spesies Klebsiella menunjukkan pertumbuhan mukoid,sampai polisakarida yang besar, tidak ada pergerakan dan biasanya memberikan hasil positif uk tes dekarboksilase lisin dan sitrat. Klebsiella memberikan hasil yang positif untuk lisin dekarbosilase dan sitrat. Spesies klebsiella yang penting adalah : o Klebsiella genitallium : infeksi pada saluran genatalia pada kuda betina.Pada reaksi biokimia dapat memfermentasi glukosa, laktosa, sukrosa, xylosa, salicin, glycerol, adonitol menghasilkan asam dan gas, uji indol dan uji citrate positif, uji MR dan VP negatife. Dan mereduksi nitrat menjadi nitrit. o Klebsiella paralytica : Menyebabkan kelumpuhan pada rusa. Pada reaksi biokimia dapat memfermentasi glukosa, laktosa, sukrosa, xylosa, salicin, glycerol, adonitol menghasilkan asam dan gas, mengurai inulin menjadi asam, tidak membentuk indol dan H2S, membentuk beta hemolisis pada darah dan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Klebsiella memberikan hasil yang positif untuk lisin dekarbosilase dan sitrat o Klebsiella pneumonia : Infeksi pada saluran pernapasan manusia. Pada reaksi biokimia dapat memecah karbohidrat menjadi asam dan gas.

d.

Struktur antigen Anggota dari genus Klebsiella memiliki struktur antigen yang

kompleks. Lebih khususnya, amggota genus Klebsiella memiliki 2 tipe antigen pada permukaan sel. Yang pertama adalah antigen O yang merupakan bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel dan terdiri atas unit polisakarida yang berulang. Beberapa polisakarida Ospesifik mengandung gula yang unik. Antigen O tahan terhadap panas dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O terutama adalah IgM. Yang kedua adalah antigen K. Antigen K ini berada di luar antigen O dan merupakan suatu capsular polysacharida. Antigen K dapat mengganggu aglutinasi melalui antiserum O dan berhubungan dengan virulensi. e. Patogenesis Klebsiella pneumoniae merupakan suatu bakteri gram negative yang tidak bergerak (nonmotil), tidak berselubung, dapat melakukan fermentasi laktosa, fakultatif anaerob, ditemukan sebagaiflora normal di mulut, kulit dan usus. Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya hubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran.

f.

Uji laboratorium diagnostik  Spesimen urine, darah, pus, sputum atau hal lain tergantung lokaisi proses penyakit.  Smears adanya kapsul yang besar sangat baik bagi klebsiella  Kultur

Spesimen dibiakan pada agar darah dan media diferensial ( Identifikasi menjadi lebih cepat) . Antibodi spesifik erkembang dalam infeksi yang sistemik,tetapi tidak diketahui apakah imunitas tersebut sesuai untuk organisme lanjutan.

2.3.3

Genus Shigella Shighella spesies adalah kuman pathogen usus yang telah lama dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler. Berada dalam tribe Escherichia karena sifat genetic yang saling berhubungan, tetapi dimasukkan dalam genus tersendiri yaitu Shigella karena gejala klinik yang disebabkannya bersifat khas. a. Klasifikasi Kingdom : Eubacteria Phylum Class Ordo Famili Genus Spesies : Proteobakteria : Gamma Proteobakteria : Enterobakteriales : Enterobakteriaceae : Shigella : Shigella dysenteriae Shigella equirulis b. Morfologi Adapun morfologi dari Shigella antara lain:

Kuman berbentuk batang, ukuran 0,5-,7 μm x2-3 μm Pada pewarnaan gram bersifat negative gram Tidak berflagela

• •

Kekhasan organisme: ♦ Shigellae merupakan bakteri batang gram negative yang tipis, ♦ Bentuk coccobacilli terjadi pada perbenihan muda.

c. Sifat fisiologi dan sifat biokimia Adapun sifat fisiologi dan biokimia dari bakteri tersebut adalah
1.

Sifat biokimia yang khas adalah negatif pada reaksi fermentasi

adonitol, tidak membentuk gas pada fermentasi glucosa, tidak membentuk H2S kecuali S. flexneri, negatif pada sitrat, DNase, lisin, fenilalanin, sucrosa, urease VP, manitol, laktosa kecuali S. sonnei meragi laktosa secara lambat, xylosa dan negatif pada tes motilitas. 2. 3. 4. Sifat pertumbuhan adalah anaerob dan fakultatif anaerob pH pertumbuhan 6,4-7,8 Suhu pertumbuhan optimum 37°C.

d. Sifat koloni Sifat koloni kuman adakah kecil, halus, tidak berwarna bila ditanam pada agar SS, EMB, ENDO dan Mac Conkey. e. Resistensi Adapun resistensi dari bakteri tersebut adalah sebagai berikut: • Kurang tahan terhadap agen fisik dan nimia dibandingkan dengan salmonella . • Tahan dalam ½% fenol selama 5 jam dan dalam 1& fenol dalam ½ jam . • Tahan dalam es selama 2 bulan dan laut selama 2-5 bulan.

• Toleran terhadap suhu rendah dengan kelembaban cukup. • Garam empedu konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan strain tertentu. • Kuman akan mati pada suhu 55°C.

f. Faktor-faktor patogenitas Daya invasi • Kuman menembus masuk ke dalam lapisan sel epitel permukaan mukosa usus di daerah ileum dan terminal dan kolon, pada lapisan epitel tersebut kuman memperbanyak diri . • Sebagai reaksi peradangan diikuti dengan kematian sel dan mengelupasnya lapisan tersebut , terjadilah tukak. • Kuman Shigella yang tidak invasif tidak mampu menimbulkan sakit.  Enterotoksin • Enterotoksin yang dihasilkan Shigella adalah termolabil dan menyebabkan pengumpulan cairan di ileum kelinci. Aktivitas enterotoksin terutama pada usus halus yang berbeda bila dibandingkan disentir basiler klasik dimana yang terkena adalah usus besar.  Patogenisis dan gejala klinik  Salmonella dyesentriae Menyebabkan disentir basiler atau dapat menyebabakan 3 bentuk diare yaitu; o Watery diarrea, o Kombinasi keduanya. Masa inkubasi adalah 2-4 hari atau bisa lebih lama sampai 2 minggu. Kuman masuk dan berad di usus halus menuju Terminal ileum dan kolon, melekat pada permukaan mukosa dan menembus lapisan epitel kemudian berkembang biak di dalam lapisan mukosa . Berikutnaya adalah reaksi peradangan yang menyebabkan terlepasnya sel-sel dan timbulnya tukak pada permukaan mukosa usus. Jarang terjadi Disentri klasik dengan tinja yang konsisten lembek disertai darah, mucus dan pus. shigellosis yaitu

merupakan infeksi usus akut yang dapat sembuh sendiri. Shigellosis

organisme menembus dinding usus dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Reaksi peradangan yang hebat tersebut mungkin mungkin merupakan factor penting yang membatasi penyakit ini hanya pada usus, selain itu juga menyebabakan timbulnya gejala klinik berupa desama, nyeri abdomen dan tenesmus ani. Penyembuhan spontan dapat terjadi dalam waktu 2-7 hari terutama pada penderitadewasa yang sehat sebelumnya, sedangkan pada penderita yang sangat muda atau tua dan juga pada penderita dengan gizi buruk penyakit ini akan berlangsung lama. Pernah ditemukan terjadinya septicemia pada penderita dengan gizi buruk dan berakhir dengan kematian. Shigella equirulis, Kuman patogen pada kuda. Penyakit timbul setelah partus. Infeksi kemungkinan melalui uterus yang nantinya akan menuju ke fetus. Diagnosis laboratorium Bahan pemeriksaan yang paling baik untuk diagnosis etiologic Shigella adalah metode usap dubur atau diambil dari tukak pada mukosa usus pada saat sedang dilakukannya pemeriksaan sigmoidoskopi. Bahan pemeriksaan lainnya adalah tinja segar, dalam hal ini harus diperhatikan bahwa kuman Shigella hidupnya singkat sekali dan peka terhadap asamasam yang ada di dalam tinja, sehingga jarak waktu sejak pengambilan bahan sampai penanaman bahan di laboratorium harus sesingkat mungkin. Kekebalan Infeksi diikuti dengan sebuah reaksi antibody tipe spesifik Suntikan Shigella mati akan merangsang antibodi dalam serum tetapi gagal untuk melindungi manusia melawan infeksi. Antibodi IgA dalam usus penting untuk membatasi infeksi berulang, hal ini dipengaruhi oleh strain yang dilemahkan yang diberikan secara oral sebagai vaksin percobaan. Serum antibodi terhadap somatik antigen shigella adalah Igivi.  Pengobatan dan pencegahan

Penggunaan

antibiotika

mengurangi

beratnya

penyakit

walaupun maupun kematian , walaupun banyak penderita yang tidak merasa perlu untuk pergi ke dokter karena penyakit ini dapat sembuh secara spontan. • Antibioka ampisilin, tetrasiklin dan thropim-sulfametoksasol banyak digunakan dalam pengobatan disentir basiler, tetapi dengan semakin banyaknya ditemikan strain kuman yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotika maka sebaiknya dilakukan terlebih dahulu tes kepekaan kuman terahadap antibiotika sebelum memulai pengobatan. • Pada pencegahan penyakit disentir basiler kebersihan lingkungan , pencarian dan pengobatan carier serta khlorinasi air minum memegang peranan penting. Carrier tidak diperbolehkan bekerja sebagai food handler. g. Uji laboratorium diganostik ♦ Spesimen Tinja, bintik-bintik klendir pada kulit, dan kain penyeka anus untuk kultur. Sejumlah besar leukosit anus dan beberapa sel darah merah sering dilihat dengan mikroskop. Contoh serum bila didinginkan harus diberiakan dalam 10hari untuk melihat reaksi titter aglutinasi dari antibodi yang meningkat. ♦ Kultur Spesimen ditanam diatas media diferencial(misalnya MacConkey’s atau agar EMB) dan di atas media selektif(agar Hektoen enterik atau agar salmonella shigella), yang dapat menekan enterobacteriaceae dan organisme lain. Koloni tak berwarna (laktose negatif) ditanamkan pada triple sugar iron agar. Organismoe yang memproduksi H2S, yang memproduksi asam tetapi tanpa gas di bagian ujung dan di bagian miring alkalin pada medium triple sugar iron agar dan yang nonmotil seharusnya dilakukan slide aglutinasi menggunakan antiserum shigella spesifik.

♦ Serologi Orang normal sering mempunyai agglutinin untuk melawan beberapa spesies shigella. Meskipun begitu beberapa penemuan antibodi titer memperlihatkan sebuah reaksi dalam spesifik antibodi. Serologi tidak digunakan untuk mendiagnose infeksi shigella.

2.3.4

Genus Salmonella Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab

bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan tifoid yang berat disertai bakterimia. a.Klasifikasi umum Phylum : Proteobakteria

Class : Gamma Proteobakteria Ordo : Enterobakteriales Famili : Enterobakteriaceae Genus : Salmonella Spesies : Salmonella typhimirum Salmonella abortio ovis Salmonella pullorum Salmonella gallinarum Salmonella anatis b. • • • Morfologi umum Kuman gram negatif Tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih.

• •

Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan

meragikan sukrosa dan laktosa. manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama.

c. Fisiologi umum • Kuman tumbuh pada suasana anaerob dan fakultatif anaerob • Pada suhu 15-41°C (suhu pertumbuhan optimum 37,5°C) • Ph pertumbuhan 6-8 • Pada umumnya isolat kuman Salmonella dikenal dengan sifat-sifat; gerak positifreaksi fermentasi terhadap manitol dan sorbitol positif dan memberiakan hasil negatif pada reaksi indol, DNase, fenilalanin, deaminase, urease, Voges Proskauer, reaksi fermentasi terhadap sukrose, laktose, adinitol serta tidak tumbuh dalam larutan KCN. • Sebagian besar isolat kuman Salmonella yang berasal dari bahan klinik menghasilkan H2S. d. • • • • Resistensi umum Kuman mati pada suhu 56°C juga pada keadaan kering Dalam air bisa tahan selam 4 minggu Hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu Tahan terhadap zat warna hijau brillian dan senyawa Natrium

tertrationat dan Natrium deoksikholat. Senyawa-senyawa ini menghambat pertumbuhan kuman koliform sehungga senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan di dalam media untuk isolasi kuman Salmonella dari tinja. e. Faktor-faktor patogenitas

Daya invasi

Kuman Salmonella di usus halus melakukan penetrasi ke dalam epitel, kuman terus melalui lapisan epitel masuk ke dalam jaringan subepitel sampai di lamina propria. Pada saat kuman mendekati lapisan epitel, brush border berdegenerasi dan kuman masuk ke dalam sel. Mereka dikelilingi membran sitoplasma yang invertid, seperti vakuola fagositik. Kadang- kadang penetrasi ke dalam epitel terjadi pada intracelluler junction. Setelah penetrasi organisme difagosit oleh makrofag , berkembang biak dan dibawa oleh makrofag ke bagian tubuh yang lain . • Antigen permukaan Kemampuan kuman Salmonella untuk hidup intraseluler mungkin disebabkan adanya antigen permukaan (antigen Vi). • Endotoksin Peranan pasti endotoksin yang mungkin ada di dalam infeksi Salmonella belum jelas diketahui. Lebih jauh lagi endotoksin dapat mengaktivasi kemampuan khemotaktik dari sistem komplemen, yang menyebabkan lokalisasi sel leukosit pada lesi di usus halus. • Enterotoksin Beberapa spesies Salmonella menghasilkan enterotoksin yang serupa dengan enterotoksin yang dihasilkan oleh kuman Enterotoxigenic E. coli baik yang termolabil maupun yang termostabil. S. typhimurium dan S. enteriditis menghasilkan enterotoksin yang termolabil, toksin juga diduga berasal dari dinding sel atau membran luar. f. Patogenitas dan gejala klinis

Salmonella merupakan patogen pada binatang yang merupakan reservoir infeksi pada manusia, unggas, babi, heawan pengerat, ternak, bunatang peliharaan dan banyak lagi. Organisme hampir selalu masuk melalui oral, biasanya dengan mengkontaminasi makanan atau minuman. Diantara faktor tempat yang mempengaruhi ketahanan terhadap infeksi Salmonella adalah keasaman lambung, flora normal dalam usus dan ketahanan usus local. Salmonella menyebabkan 3 tipe penyakit utama pada manusia yaitu:

♦ Demam enterik (demam typhoid) Gejala ini disebabkan oleh Salmonellae, Salmonella typhi ( demam typhi). ♦ Bakterimia dengan luka fokal Gejala ini disebabkan oleh Salmonella cholerasis tetapi mungkun disebabkan oleh serotipe salmonella lain. Menyertai infeksi oral, ada invasi awal pada aliran darah(dengan luka fokal yang mungkin pada paru-paru, tulang, meninges dan lainnya), tetapi manifestasi pada saluran usus sering tidak ada. ♦ Enterokolitis Merupakan manifestasi infeksi Salmonella yang wajar. Luka meradang pada usus besar dan kecil terjadi. Bakterimia jarang terjadi kecuali pada orang yang tidak tahan. g. Imunitas

Infeksi Salmonella typhi memberi sebuah derajat kekebalan tertentu. Infeksi berulang mungkin terjadi namun lebih ringan dibanding infeksi pertama. Perputaran antibodi dari O dan Vi berhubungan dengan ketahanan terhadap infeksi dan penyakit. Meskipun demikian kekambuhan mungkin terjadi dalm 2-3 minggu sesudah sembuh. Pengeluaran antibodi IgA mungkin mencegah penambahan salmonellae pada epithelium intestinal.

h. Pengobatan dan pencegahan Demam enterik dan bakterimia dengan luka fokal membutuhkan pengobatan antimikrobia, sebaliknya kasus enterokolitis tidak membutuhkan. Pengobatan antimikrobial dari Salmonella enteritis pada neonatos penting. Pada enterokolitis gejala klinis dan pengeluaran Salmonella mungkin diperlama dengan terapi antimikrobial. Dalam diare tertentu, penggantian cairan dan elektrolit diperluakan. Terapi antimikrobial dari infeksi Salmonella adalah dengan ampisilin,

trimethoprimasulfanethoxazole atau generis ketiga cephalosporin. i. Uji laboratorium diagnosis

Spesimen Kultur darah harus diambil secepatnya. Demam enterik dan keracunan darah, kultur darh sering sering positif dalam munggu pertama penyakit. Kultur sumsum tulang mungkin dapat digunakan. Kultur urine mungkin positif sesudah minggu kedua. Spesimen tinja juga harus diambil secepatnnya. Dalam demam enterik , tinja menghasilkan hasil positif pada minggu kedua dan ketiga, pada enterokolitis pada minggu bpertama.

Metode bakteriologis untuk pengisolasian Salmonellae ♦ Kultur Differential Médium EMB, Mac-Conkey’S atau medium deoksikholat memungkinkan pendeteksian cepat dari fermenter nonlaktosa (tidak hanya Salmonellae dan Shigellae tetapi juga Proteus, Serratia, Pseudomonas dan lainnya). Organisme gram positif dalam beberapa hal dihambat. Medium bismut sulfit memungkunkan pendeteksian cepat dari S. typhi yng membentuk koloni hitam karena produksi H2S. ♦ Kultur Media Selektif Spesimen ditempatkan diatas agar salmonella-shigella(SS), Hektoen agar enteric, XLD, atau agar deoxycholate citrate yang lebih cocok untuk pertumbuhan Salmonella dan Shigella daripada Enterobacteriaceae. ♦ Identifikasi Akhir Koloni dari media padat diidentifikasikan oleh bentuk reaksi biokomia dan tes aglutinasi mikroskop dengan serum spesifik.

Metode Serologi Tenik serologi digunakan untuk mengidentifikasi kultur yang tidak dikenal dengan serum yang dikenal dan mungkin digunakan untuk mengenali antibodi titer pada pasien dengan penyakit yang tidak dikenal, meskipun kemudian tidak berguan dalam mendiagnosis infeksi Salmonella. ♦ Tes aglutinasi Pada tes ini, serum yang diketahui dan kultur yang tidak diketahui dicampur di atas slide. Akan terjadi gumpalan (dapat dilihat dalam beberapa

menit). Tes ini khususnya berguna untuk pengidentifikasian kultur awal secara cepat. ♦ Tes aglutinsi pengenceran tabung (Widal Tes) Serum antibodi akan meningkat dengan cepat selama minggu kedua dan ketiga pada infeksi Salmonella. Proses pengenceran berurutan dari serum yang tidak diketahui dites terhadap antigen dari Salmonellae yang representatif.
♦ Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada beberapa carrier

(pembawa) penyebab. Hasil tes serologi untuk infeksi Salmonella harus diartiakn secara hati-hati. Adanya kemungkinan reaksi silang antibodi membatasi pengguanaan serologi dalam diagnosis infeksi Salmonella. 2.3.4.1 Salmonella typhimurium • Morfologi Berbentuk batang, motil, gram positif, tidak mempunyai kapsul dan spora.

Sifat biakan Aerobe ataufakultatif anaerobe.


o

Daya tahan Mudah mati pada pemanasan 60°C → 20’. Mudah mati dengan pemakaian disinfektan Sifat biokimia o Dapat memecah karbohidrat o Mereduksi nitrat

o •

o Meningkatkan Ph litmus milk • Penularan Melalui peroral selain itu juga melalui carier dan transovarial biasanya pada unggas. • Keganasan Dapat membentuk endotoksin yang letal dan akut. 2.3.4.2 Salmonella abortus Dapat menyebabkan abortus pada domba. 2.3.4.3 Salmonella pullorum a. Morfologi Bakteri berbentuk batang, motil, gram positif, tidak mempunyai kapsul dan spora. b. Penularan Melalui peroral dan transovarial. c. Keganasan Dapat menyebabkan diare yaitu tinja seperti pasta (terutama pada anak ayam), sedangkan pada ayam dewasa menyebabkan ovaritis yang mengakibatkan produksi telur dapat menurun. 2.3.4.4 Salmonella gallinarum Bakteri berbentuk batang, gram positif, motil, tidak memiliki kapsul dan spora serta tidak berflagela. 2.3.4.5 Salmonella anatis Menyebabkan penyakit pada anak itik dengan gejala seperti lemah, haus, nafsu makan menurun, dan kematian. Penularannya melalui transovarial.

2.3.5

Proteus a. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Phylum Class Order Family Genus Species b. Morfologi Adapun morfologi bakteri ini adalah sebagai berikut: • Batang • Gram negative • Motil (flagella peritrich) • Kebanyakan spesies hidup bebas dalam tanah, air, dan sampah : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteriaceae : Proteus : Proteus sp.

c. Patogenitas Spesies Proteus menyebabkan infeksi pada manusia hanya bila bakteri ini meninggalkan saluran usus. Spesies ini ditemukan pada infeksi saluran kemih dan

menyebabkan bakteremia, pneumonia, dan lesi fokal pada penderita yang lemah atau pada penderita yang menerima infuse intravena. P mirabilis menyebabkan infeksi saluran kemih dan kadang-kadang infeksi lainnya. Proteus vulgaris merupakan pathogen nosokomial yang penting. d. Uji biokimia Bakteri ini mampu memproduksi enzim urease dalam jumlah besar. Enzim urease yang menghidrolisis urea menjadi ammonia (NH3) menyebabkan urin bertambah basa. Jika tidak ditanggulangi, pertambahan kebasaan dapat memicu pembentukan kristal sitruvit (magnesium amonium fosfat), kalsium karbonat, dan atau apatit. Bakteri ini dapat ditemukan pada batu/kristal tersebut, bersembunyi dalam kristal dan dapat kembali menginfeksi setelah pengobatan dengan antibiotik. Semakin banyak batu/kristal terbentuk, pertumbuhan makin cepat dan dapat menyebabkan gagal ginjal. Proteus mirabilis memproduksi endotoksin yang memudahkan induksi ke sistem respon inflamasi dan membentuk hemolisin. Bakteri ini dapat pula menyebabkan pneumonia dan juga prostatitis pada pria. e. Uji serologis Mendeaminasi fenilalanin, dapat bergerak, tumbuh pada perbenihan kalium sianida (KCN), dan meragikan xilosa. Spesies Proteus bergerak sangat aktif dengan memakai flagel peritrika, yang mengakibatkan swarming (pertumbuhan menyebar pada permukaan, membentuk pola menyerupai lingkaran tahun pada pohon) pada perbenuhan padat kecuali kalau ini dihambat oleh zat kimia, misalnya feniletin alcohol atau perbenihan CLED (Cystine-lactose-electrolytedeficient). Spesies proteus bersifat urease positif. Proteus meragikan laktosa secara amat lambat atau tidak sama sekali. Proteus mirabilis lebih peka terhadap obat antimikroba, termasuk penisilin. Proteus tidak meragi laktosa. Proteus menghasilkan urease, yang

menyebabkan hidrolisis cepat dari urea, dengan melepaskan amonia.

2.3.6

Genus Aerobacter a. Klasifikasi

Kingdom : Bacteria Phylum Class Order Family Genus Species b. Morfologi a) Motil b) Berkapsul c) Membentuk koloni bulat konveks, halus dengan pinggir-pinggir yang nyata tetapi sedikit lebih mukoid. : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteriaceae : Aerobacter : Aerobacter aerogenes

c. Patogenesis Menyebabkan infeksi system saluran kencing dan sepsis. d. Uji biokimia • • Mengubah karbohidrat menjadi asam Mengubah nitrat menjadi nitrit

Mengasamkan dan mengkoagulasi susu

e. Uji diagnosa laboratorium Test Coli-Aerogenes pada analisa air ( pemeriksaan kwalitatif ) : Presumptive test : menggunakan air lactose broth denagn indicator dan alat penangkap gas .Test positif menunjukan indicator berubah dan timbul gas. • Partially confirmed test : menggunakan cairan dari Presumptive test

dipupuk pada EMB/ Endo Agar.Test positif menunjukan adanya bakteri coliform. • gas. Pemeriksaan kwantitatif dengan cara menghitung jumlah bakteri dalam 1 ml air. Air diencerkan denagn pengenceran yang berbeda dan ditanam pada plat agar pada suhu 37 derajat celcius selama 24 jam. Completed test : menggunakan koloni dari Partially confirmed test dipupuk pada lakose broth ditambah indicator.Test positif menunjukkan timbulnya asam dan

2.5 Bakteri batang Gram negatif Non Enterobactericeae 2.5.1 Genus Vibrio Klasifikasi genus ini adalah : Kingdom Phylum Class Order Family Genus : Bacteria : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Vibrionales : Vibrionaceae : Vibrio

Vibrio adalah suatu jenis Bakteri Gram-Negatif yang mempunyai suatu tangkai yang bentuknya bengkok dan secara khas ditemukan pada air laut. Vibrio bersifat fakultatif anaerob positif test untuk oxidase dan tidak membentuk spora.

Semua anggota jenis ini adalah motil (bergerak) dan mempunyai kutub flagella dengan sarung pelindung. Sejarah evolusi suatu ras terbaru telah dibangun didasarkan pada suatu deretan gen (analisa urutan multi-locus) Semua kelompok spesies yang hidup dalam air, bakteri berbentuk koma dalam keluarga Vibrionaceae. Beberapa jenis menyebabkan penyakit serius pada manusia dan juga hewan. Bakteri ini termasuk dalam bakteri gram-negatif, bakteri yang mampu bergerak (dengan satu sampai tiga flagella) dan tidak memerlukan oksigen. Sel bakteri dibengkokkan seperti tangkai, tunggal atau meregangkan bersama-sama dalam bentuk S atau berpilin. Dua jenis mengakibatkan penyakit pada manusia: satu penyebab kolera dan diarrhea hasil bakteri akut lain. Adapun beberapa spesies bakteri non enterobacteriaceae yang patogen adalah 2.5.1.1 Vibrio Parahaemolyticus a. Morfologi Merupakan bakteri batang bengkok seperti koma dan hidup pada perairan air tawar. Gerak sangat aktif dengan adanya flagel monotrikh. Tidak membentuk spora. Vibrio Parahaemolyticus adalah oksidase positif, fakultatif aerobik. b. sifat pertumbuhan Kuman ini tumbuh membutuhkan minimal 2% NaCl. Pada agar TCBS membentuk koloni besar, smooth, berwarna hijau. Kuman ini tumbuh optimum pada pH 7,6-9,0. a. Morfologi Merupakan bakteri batang bengkok seperti koma dan hidup pada perairan air tawar. Gerak sangat aktif dengan adanya flagel monotrikh. Tidak membentuk spora. Vibrio Parahaemolyticus adalah oksidase positif, fakultatif aerobik.

b. Sifat pertumbuhan Kuman ini tumbuh membutuhkan minimal 2% NaCl. Pada agar TCBS membentuk koloni besar, smooth, berwarna hijau. Kuman ini tumbuh optimum pada pH 7,6-9,0. c. Struktur antigen Antigen O dan K penting untuk typing secara serologis Terdapat 11 tipe O dan 57 tip K

d. Patogenitas Kuman ini menyerang hasil laut seperti ikan. Belum pernah dapat diisolasi enterotoksin Vibrio parahaemolyticus 95% isolate menunjukkan tes hemolisis kanagawa positif. Tes ini mendeteksi hemolisis yang heat stable, yang meliliskan eritrosit manusia dan kelinci tetapi tidak meliliskan eritrosit kuda. Gejala klinis yang ditimbulkan :  Dapat berupa gastroenteritis yang self limiting sampai yang berat seperti kolera  Diare timbul tiba-tiba dan sangat cair, tanpa darah dan mucus  Kadang-kadang disertai sakit kepala dan panas  Gejala berlangsung sampai 10 hari, rata-rata 72 jam.  Terdapat filtrasi lemak e. Uji laboratorium diagnostik Untuk mengetahui terserang kuman ini atau tidak dapat dilakukan dengan diagnosa laboratorium dengan menggunakan bahan pemeriksaan tinja dan usap dubur. f. Pengobatan Jika terserang kuman ini dapat diberikan antibiotika kloramfenikol, kanamisin, tetrasiklin dan sefalotin. Pada kasus berat perlu rehidrasi dan penambahan elektrolit. 2.5.1.2 Vibrio Cholerae a. Morfologi

Vibrio cholerae termasuk bakteri Gram negatif, berbentuk batang bengkok seperti koma dengan ukuran panjang 2 – 4 µm. Pada isolasi, Koch menamakannya “kommabacillus”, tetapi bila biakan diperpanjang, kuman ini bisa menjadi batang yang lurus. Kuman ini dapat bergerak sangat aktif karena mempunyai 1 buah flagella polar yang halus ( monotrikh ). Kuman ini tidak membentuk spora. Pada kultur dijumpai koloni yang cembung ( convex ), halus dan bulat yang keruh ( opaque ) dan bergranul bila disinari.

b. Sifat pertumbuhan Vibrio cholerae dan sebagian vibrio lainnya tumbuh dengan baik pada suhu 37° C pada berbagai perbenihan. Vibrio cholerae tumbuh dengan baik pada agar tiosulfat – sitrat – empedu – sukrosa ( TCBS ). Selain itu, organisme ini juga mempunyai ciri khas yaitu tumbuh pada pH yang sangat tinggi ( 8,5 – 9,5 ) dan dengan cepat dibunuh oleh asam. c. Struktur antigen V. cholera menghasilkan antigen :  Antigen flagel H : bersifat heat labile. Antibodi terhadap

antigen A tidak bersifat protektif. Pada uji aglutinasi berbentuk awan.  Antigen somatic O : terdiri dari lipopolisakarida. Pada reaksi

aglutinasi berbentuk seperti pasir. d. Patogenitas

Dalam keadaan normal kuman ini hanya pathogen untuk manusia. Tidak bersifat invasive, kuman tidak pernah masuk dalam sirkulasi darah tetapi menetap dalam usus. Kuman ini menghasilkan toksin cholera dan endotoksin. Toksin cholera diserap dipermukaan gangliosida sel epitel dan merangsang hipersekresi air dan klorida dan menghambat absorpsi natrium. Gejala klinis yang ditimbulkan :  Masa inkubasi 1-4 hari  Mual, muntah, diare dan kejang perut  Ricewater stools yang terdiri dari mucus, sel epitel, dan kuman vibrio dalam jumlah besar  Gejala kehilangan cairan dan elektrolit, dehidrasi, kolaps sirkulasi dan anuria. e. Uji laboratorium diagnostik  dari tinja  Kultur : tumbuh cepat pada agar peptone, agar dapat dipilih dalam waktu 18 jam.  Uji spesifik : V. cholera diidentifikasi lebih lanjut dengan uji menggunakan anti O kelompok antiserum O1 dan O139 dan reaksi biokimia f. Pengobatan Jika terserang kuman ini dapat diberi dengan antibiotika tetrasiklin yang dapat mempersingkat masa pemberian cairan atau dehidrasi. Dan untuk pencegahan dapat dilakukan vaksinasi. TCBS dan koloni khas Specimen : untuk kultur terbentuk dari gumpalan mucus

aglutinasi slide

2.5.1.3 Vibrio vulnifricus a. Morfologi dan siklus hidup

Vibrio vulnificus merupakan bakteri basillus gram negatif, motil, memiliki fimbria dan kapsul. Kapsul pada Vibrio vulnificus memegang peranan penting dalam penentuan sifat patogeniknya. Bakteri Vibrio vulnificus yang tidak berkapsul ditemukan tidak bersifat patogen. Munculnya galur Vibrio vulnificus yang berkapsul dan tidak berkapsul tidak diketahui mekanismenya. Adanya fimbria (pilli tipe IV) juga menentukan virulensi Vibrio vulnificus. Pilli tipe IV yaitu N-metilfenilalanin, yang merupakan karakteristik genus Vibrio, diperlukan bakteri untuk melekat pada sel tubuh. Citraan mikroskop elektron dari Vibrio vulnificus. Tanda panah menunjukkan fimbria bakteri. Sebagai bakteri Gram negatif, lipopolisakarida Vibrio vulnificus (endotoksin) memegang peranan penting, terutama dalam mekanisme demam dan shock yang timbul pada infeksi. Daur hidup Vibrio vulnificus belum diketahui.

b. Patologi dan gejala klinis Gejala yang sering timbul pada infeksi Vibrio vulnificus adalah infeksi pada luka terbuka, nekrosis, gastroenteritis (muntah, diare, dan masalah pada perut dan usus) dan septisemia primer (akibat infeksi Vibrio vulnificus pada aliran darah). Septisema primer umumnya terjadi pada penderita gangguan hati.Gejala yang timbul antara lain demam dan badan terasa dingin, penurunan tekanan darah secara mendadak (septic shock), muncul bercak merah bengkak lunak yang meluas pada kulit, dan kematian. Septisima primer adalah gejala paling berbahaya pada infeksi Vibrio vulnificus. Kemungkinan sembuh penderita yang terkena septisema adalah 55%, sedangkan pada kasus infeksi luka terbuka 24%. Munculnya gejala awal infeksi Vibrio vulnificus dapat berkisar antara beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa gastroenteritis umumnya muncul berkisar antara 16 jam sesudah Vibrio vulnificus terkonsumsi. Gejala berupa septisema muncul kira-kira 36 jam sesudah reaksi pertama muncul. Gejala infeksi yang relatif cepat kemunculannya adalah bengkak dan merahnya kulit pada infeksi pada luka terbuka, yaitu sekitar 4 jam setelah infeksi. Serangan oleh baketeri Vibrio vulnificus pada orang sehat tergolong infeksi akut dan

gejala akan muncul tiba-tiba dan segera sesudah infeksi. Pada penderita yang sembuh dari infeksi tidak diperlukan penanganan jangka panjang. c. Diagnosis Penegakan diagnosis infeksi Vibrio vulnificus ditentukan ditemukannya Vibrio vulnificus pada isolasi kultur cairan pada luka, feses diare, maupun darah. Untuk penelitian yang lebih luas, dapat digunakan media khusus untuk sampel-sampel tersebut sehingga dapat diyakinkan adanya pertumbuhan Vibrio vulnificus. d. Pengobatan Penanganan utama pada infeksi Vibrio vulnificus adalah menggunakan antibotik. Pada gejala nekrosis akibat infeksi luka terbuka, diperlukan amputasi bagian tubuh. Penggunaan antibiotik untuk penanganan antara lain: Doxycycline (100 mg PO/IV dua kali sehari untuk 7-14 hari) dan generasi

ketiga cephalosporin ( Misal: ceftazidime 1-2 g IV/IM setiap delapan jam), maupun tetrasiklin. Pada anak-anak, dimana tidak dapat digunakan doxycycline, dapat digunakan trimethoprim-sulfamethoxazole ditambah aminoglycoside.

2.5.2 Genus Pseudomonas a. Klasifikasi Klasifikasi genus ini adalah sebagai berikut Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Bacteria : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Pseudomonadales : Pseudomonadaceae : Pseudomonas : Pseudomonas sp.

Sel berupa batang lurus, kadang-kadang serupa bola. Bergerak dengan flagel yang terdapat pada ujung. Jumlah flagel satu atau lebih. Beberapa spesies tidak bergerak. Gram positif. Habitat tanah atau air tawar dan air laut. Banyak spesies hidup sebagai parasit pada tanaman, tidak begitu banyak pada hewan. Ada yang patogen bagi binatang atau tanaman dan ada yang patogen bagi keduanya. Kebanyakan spesies pseudomonas tidak menyebabkan infeksi pada manusia, tetapi kuman ini penting karena bersifat oportunis patogen dan dapat menyebabkan infeksi pada individu dengan ketahanan yang menurun. b. Morfologi Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 µm. Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan terkadang membentuk rantai yang pendek. P. aeruginosa termasuk bakteri gram negatif. Bakteri ini bersifat aerob, katalase positif, oksidase positif, tidak mampu memfermentasi tetapi dapat mengoksidasi glukosa/karbohidrat lain, tidak berspora, tidak mempunyai selubung (sheat) dan mempunyai flagel monotrika (flagel tunggal pada kutub) sehingga selalu bergerak.

c. Sifat pertumbuhan Bakteri ini dapat tumbuh di air suling dan akan tumbuh dengan baik dengan adanya unsur N dan C. Suhu optimum untuk pertumbuhan P. aeruginosa adalah 42o C. P. aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya sangat sederhana. Di laboratorium, medium paling sederhana untuk pertumbuhannya digunakan asetat (untuk karbon) dan ammonium sulfat (untuk nitrogen). Pembiakan dari spesimen klinik biasanya menghasilkan satu atau dua tipe koloni yang halus: 1. Koloni besar dan halus dengan permukaan rata dan meninggi. 2. Koloni halus dan mukoid sebagai hasil produksi berbahan dari alignat.

Tipe ini sering didapat dari sekresi saluran pernafasan dan saluran kemih. Alignat merupakan suatu eksopolisakarida yang merupakan polimer dari glucoronic acid dan mannuronic acid, berbentuk gel kental disekeliling bakteri. Alignat ini memungkinkan bakteri untuk membentuk biofilm, yaitu kumpulan koloni sel-sel mikroba yang menempel pada suatu permukaan misalnya kateter intravena atau jaringan paru. Alignat dapat melindungi bakteri dari pertahanan tubuh inang, seperti limfosit, fagosit, silia, di saluran pernafasan, antibodi, dan komplemen. P. aeruginosa membentuk biofilm untuk membantu kelangsungan hidupnya saat membentuk koloni pada paru-paru manusia. Terkadang menghasilkan bau yang manis dan menyerupai anggur. Koloni yang dibentuk halus bulat dengan warna fluoresensi yang kehijau-hijauan. Bakteri ini menghasilkan pigmen yang tak berfluoresensi kehijauan (plosianin). Strain P. aeruginosa menghasilkan pigmen yang berfluoresensi antara lain : piooverdin (warna hijau), piorubin (warna merah gelap), piomelanin (hitam). P. aeruginosa yang berasal dari koloni yang berbeda mempunyai aktivitas biokimia, enzimatik dan kepekaan antimikroba yang berbeda pula. d. Patogenitas

Faktor sifat yang memungkinkan organisme mengatasi pertahanan tubuh normal dan menimbulkan penyakit ialah : pili, yang melekat dan merusak membran basalis sel; polisakarida simpai, yang meningkatkan perlekatan pada jaringan tetapi tidak menekan fagositosis; suatu hemolisin yang memiliki aktivitas fosfolipasa; kolagenasa dan elastasa dan flagel untuk membantu pergerakan. Sedangkan faktor yang menentukan daya patogen adalah LPS mirip dengan yang ada pada Enterobacteriaceae; eksotoksin A, suatu transferasa ADPribosa mirip dengan toksin difteri yang menghentikan sintesis protein dan menyebabkan nekrosis di dalam hati; eksotoksin S yang juga merupakan transferasa ADP-ribosa yang mampu menghambat sintesis protein eukariota. Produksi enzim-enzim dan toksin-toksin yang merusak barrier tubuh dan sel-sel inang menentukan kemampuan Pseudomonas aeruginosa menyerang jaringan. Endotoksin P. aeruginosa seperti yang dihasilkan bakteri gram negatif lain menyebabkan gejala sepsis dan syok septik. Eksotoksin A menghambat sintesis protein eukariotik dengan cara kerja yang samadengan cara kerja toksin difteria (walaupun struktur kedua toksin ini tidak sama) yaitu katalisispemindahan sebagian ADP-ribosil dari NAD kepada EF-2.Hasil dari kompleks ADP-ribosil-EF-2 adalah inaktivasi sintesis protein sehingga mengacaukan fungsi fisiologik sel normal. Enzim-enzim ekstraseluler, seperti elastase dan protease mempunyai efek hidrotoksik dan mempermudah invasi organisme ini ke dalam pembuluh darah. Antitoksin

terhadap eksotoksin A ditemukan dalam beberapa serum manusia, termasuk serum penderita yang telah sembuh dari infeksi yang berat. Psiosianin merusak silia dan sel mukosa pada saluran pernafasan. Lipopolisakarida mempunyai peranan penting sebagai penyebab timbulnya demam, syok, oliguria, leukositosis, dan leukopenia, koagulasi intravaskular diseminata, dan sindroma gagal pernafasan pada orang dewasa. Strain Pseudomonas aeruginosa yang punya sistem sekresi tipe III. Secara signifikan lebih virulen dibandingkan dengan yang tidak punya sistem sekresi tersebut. Sistem sekresi tipe III adalah sistem yang dijumpai pada bakteri gram negatif, terdiri dari sekitar 30 protein yang terbentang dari bagian dalam hingga luar membran sel bakteri, berfungsi seperti jarum suntik yang menginjeksi toksin-toksin secara langsung ke dalam sel inang sehingga memungkinkan toksin mencegah netralisasi antibodi. e. Manifestasi klinik Pseudomonas aeruginosa menimbulkan berbagai penyakit diantaranya yaitu: Infeksi pada luka dan luka bakar menimbulkan nanah hijau kebiruan infeksi saluran kemih. Infeksi pada saluran napas mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis. Otitis eksterna ringan pada perenang. f. Penyebaran Pseudomonas aeruginosa dapat dijumpai di banyak tempat di rumah sakit; desinfektan, alat bantu pernafasan, makanan, saluran pembuangan air dan kain pel. Penyebaran Pseudomonas aeruginosa melalui aliran udara, air, tangan tercemar, penanganan dan alat-alat yang tidak steril di rumah sakit. Selain itu, dapat juga lewat hewan (lalat, nyamuk, dsb) yang telah tercemar. Pseudomonas aeruginosa menyebabkan kontaminasi pada perlengkapan anestesi dan terapi pernafasan, cairan intravena, bahkan air hasil proses penyulingan. g. Penularan Pseudomonas aeruginosa akan keluar dari sumbernya, mengalami penyebaran dan mempunyai gerbang masuk bagi inang yang rentan. Pseudomonas aeruginosa akan keluar dari saluran yang telah diinfeksinya. Apabila menginfeksi pada saluran pernapasan maka akan meninggalkan saluran tersebut dan berpindah pada inang rentan yang lain. Mengingat Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen nosokomial, cara pemindahsebarannya dapat melalui penanganan dan penggunaan alat yang tidak steril. Kemudian akan menginfeksi inang lain yang rentan pada bagian tertentu misalnya saluran kencing. Inang rentan ini biasanya pasien bedah, pasien yang terluka atau luka bakar, pasien yang menjalani pengobatan radiasi, juga pasien dengan peralatan yang menembus tubuh.

h.

Gejala

Gejalanya tergantung bagian tubuh yang terkena, tetapi infeksi ini cenderung berat: Infeksi pada luka atau luka bakar, ditandai dengan nanah biru-hijau dan bau manis seperti anggur. Infeksi ini sering menyebabkan daerah ruam berwarna hitam keunguan dengan diameter sekitar 1 cm, dengan koreng di tengahnya yang dikelilingi daerah kemerahan dan pembengkakan. Ruam ini sering timbul di ketiak dan lipat paha. Hal ini dapat juga dialami oleh penderita kanker. Infeksi saluran kemih, biasanya kronis dan terjadi pada orang tua. Pneumonia, pada fibrosis kistik mungkin terjadi kolonisasi kuman strain yang berlendir pada paru-paru. Infeksi paru-paru pada penderita bila menghirup Pseudomonas aeruginosa dalam jumlah besar pada alat bantu pernafasan yang tercemar. Sering menyebabkan gangguan mental, renjatan septik gram negative dan sianosis yang semakin berat. Otitis eksterna maligna, suatu infeksi telinga, bisa menyebabkan nyeri telinga hebat dan kerusakan saraf dan sering terjadi pada penderita kencing manis. Infeksi mata, Pseudomonas aeruginosa bisa menyebabkan koreng pada mata, mencemari lensa mata dan cairan lensa. i. Pencegahan Pseudomonas aeruginosa sering kali merupakan flora normal yang melekat pada tubuh kita dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Karena itu, upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap tinggi. Upaya pencegahan penularan penyakit pada pasien yang dirawat di rumah sakit dilakukan dengan cara kerja steril/ aseptis yang dilakukan oleh setiap personil rumahsakit (medis dan paramedis) dengan penuh rasa tanggung jawab. j. Pengobatan Pseudomonas aeruginosa meningkat secara klinik karena resisten terhadap berbagai antimikroba dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan tingkat Multi Drug Resistance (MDR) yang tinggi. Definisi dari MDR-PA (Multi Drug Resistance-Pseudomonas aeruginosa) adalah resisten paling tidak terhadap 3-antimikroba yaitu kelas ß-laktam, carbapenem, aminoglikosida, dan fluoroquinon. Pseudomonas aeruginosa tidak boleh diobati dengan terapi obat tunggal karena tingkat keberhasilan rendah dan bakteri dengan cepat jadi resisten. Pola kepekaan bakteri ini bervariasi secara geografik. Maka, diperlukan tes kepekaan sebagai pedoman untuk pemilihan terapi antimikroba. Penisillin bekerja aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa antara lain : tikarsilin, mezlosilin, dan pipeasilin digunakan dengan dikombinasikan bersamaaminoglikosida biasanya gentamisin, tobramisin/ amikasin. Obat lain yang aktif terhadap.

Pseudomonas aeruginosa antara lain aztreonam; imipinem; kuinolon baru, termasuk siprofloksasin. Sefalosporin generasi baru, seftazidim dan sefoperakson aktif melawan Pseudomonas aeruginosa. Seftazidin digunakan pada infeksi primer. 2.5.3 Genus Brucella Kingdom Phylum Class Order Family Genus b. Morfologi : Merupakan parasit obligat pada binatang dan manusia. Berbentuk bakteri gram negative coccobacillus berukuran 0,5-0,7x0,6-1,5 um, tidak dapat bergerak, tidak berspora, dan bersifat aerobic. c. Sifat pertumbuhan : Genus ini tumbuhnya lambat dan memerlukan perbenihan yang kompleks terutama pada isolasi primer. Pada perbenihan agar serum dekstrosa atau agar triptikase, kuman ini membentuk koloni smooth, basah, jernih atau sedikit keruh. Brucella sensitive terhadap panas dan keasaman. Bakteri ini mati pada susu yang dipasteurisasi. : Bacteria : Proteobacteria : Alpha Proteobacteria : Rhizobiales : Brucellaceae : Brucella

a. Klasifikasi genus ini adalah :

2.5.3.1 Brucella Canis B.canis berbentuk batang atau cocci, oksidase, katalase dan urease positif. Kuman ini menginfeksi anjing. Penyakit ini ditandai oleh epididimis dan orkitis di anjing laki-laki , endometris, plancetitis dan ab pada wanita, dan sering muncul sebagai infertilitas pada kedua jenis kelamin Gejala lain seperti peradangan di dalam mata dan aksial dan apendikularis kerangka. Manusia dapat juga terinfeksi, namun infeksi yang jarang terjadi. Pengobatan

untuk B. canis sangat sulit dilakukan dan sering sangat mahal. Kombinasi minocycline dan streptomisin dianggap berguna, tetapi sering terjangkau. Tetracyline dapat menjadi pengganti yang lebih murah untuk minocycline, tetapi juga menurunkan efek pengobatan.

2.5.3.1 Brucella melitensis a. Morfologis  Termasuk bakteri gram negatif  Berbentuk coccobabacili  Ukuran panjang 0,6-1,2μm lebar 0,5-0,7μm  Bakteri aerob  Tidak memiliki alat gerak ( non motile )  Tidak berspora  Di selubungi oleh kapsula.

b. patogenitas Brucella melitensis menyerang hewan ternak dan liar terutama kambing,

domba dan sapi. Pada hewan infeksi Brucella melitensis ini dapat menyebabkan keguguran atau aborsi pada bakal calon anak. Brucella Melitensis juga dapat menginfeksi manusia apabila terjadi kontak secara langsung dengan hewan yang terinfeksi oleh bakteri itu. Penyakit yang disebabkan adalah Brucellosis d. identifikasi Penyakit bakteri sistemik dengan gejala akut atau insidius, ditandai dengan demam terus menerus, intermiten atau tidak tentu dengan jangka waktu yang bervariasi. Gejala yang timbul berupa sakit kepala, lemah, berkeringat, menggigil, arthralgia, depresi, kehilangan berat badan dan sakit seluruh tubuh. Infeksi supuratif terlokalisir dari organ-organ termasuk hati dan ginjal bisa terjadi; gejala sub klinis dan infeksi kronis yang terlokalisir juga bisa terjadi. Penyakit ini bisa berlangsung beberapa hari, beberapa bulan atau kadang-kadang bertahun-tahun jika tidak diobati dengan tepat. Komplikasi osteoartikuler bisa di temukan pada 20 – 60 % kasus. Manifestasi pada sendi yang paling sering adalah sakroiliitis. Infeksi saluran kemih dilaporkan terjadi pada 2 – 20 % kasus dan yang paling umum adalah orkitis dan epididimitis. Biasanya terjadi penyembuhan tetapi bisa juga terjadi kecacatan. “Case Fatality Rate” dari bruselosis sekitar 2 % atau kurang dan biasanya sebagai akibat dari endokarditis oleh infeksi Brucella melitensis. Kompleks gejala neurosis kadang-kadang dikelirukan dengan bruselosis kronis. e. Penularan Penularan terjadi karena kontak dengan jaringan, darah, urin, sekrit vagina, janin yang digugurkan, dan terutama plasenta (melalui luka di kulit) dan karena mengkonsumsi susu mentah dan produk susu (keju yang tidak di pasturisasi) dari binatang yang terinfeksi. Penularan melalui udara oleh binatang terjadi di kandang, dan pada manusia terjadi di laboratorium dan tempat pemotongan hewan. Beberapa kasus penularan terjadi karena kecelakaan karena tertusuk jarum suntik pada saat menangani vaksin brusella strain 19, risiko yang sama dapat terjadi pada waktu menangani vaksin Rev-1. Bakteri Brucella Melitensis ini dapat masuk ke tubuh manusia dengan banyak jalur. Karena infeksi bakteri ini bersifat sistemik maka dimungkinkan untuk masuk melalui banyak cara. Cara yang paling umum adalah melalui mulut. Hal ini dapat terjadi apabila manusia memakan produk dari hewan yang terkontaminasi (misalnya susu) atau mungkin melalui tangan yang kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan jari itu dimasukan ke mulut. Cara lain adalah melalui saluran pernafasan atau hidung. Udara yang sudah terkontaminasi oleh bakteri dapat masuk ke tubuh melalui hidung atau juga dapat terjadi di laboratorium. Brucella juga dapat masuk

ketubuh melalui mulut dan kulit. Brucella melitensis berkembangbiak infraselular di dalam makrofag sistem retrikuloendotelial, pemaparan pertama menyebabkan terjadinya fagositosis oleh PMN yang membawa bakteri ke kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang dan hati serta menyebabkan infeksi pada jaringan-jaringan ini. f. Diagnosis Diagnosa laboratorium dibuat dengan mengisolasi bakteri penyebab infeksi dari spesimen darah, sumsum tulang atau jaringan lain, atau juga dari discharge penderita. Pemeriksaan serologis perlu dilakukan di laboratorium yang berpengalaman, untuk menunjukkan adanya kenaikan titer antibodi pair sera. Interpretasi hasil pemeriksaan serologis pada pasien kambuh dan kronis sangat sulit karena titer antibodi biasanya rendah. Pemeriksaan untuk mengukur antibodi IgG mungkin membantu untuk penegakan diagnosa pada kasus kronis, karena pada infeksi aktif ada kenaikan titer IgG. Teknik pemeriksaan serologis spesifik diperlukan untuk deteksi antibodi Brucellosis canis yang tidak bereaksi silang dengan spesies lain. 2.5.3.2 Brucella Suis Menyebabkan penyakit pada babi. Penyakit menyebar di air mani selama perkembangbiakan dan melalui penelanan, inhalasi, atau mata kontak dengan bakteri dalam susu, cairan reproduksi, plasenta. Penyakit ini terutama terjadi pada babi dewasa yang tidak spesifik menunjukkan infertilitas atau tidak adanya dorongan seksual. Celeng dapat menunjukkan tanda-tanda orkitis, kepincangan dan radang sendi.

a. Struktur antigen : Untuk membedakan antara spesies brucella dapat dilakukan dengan reaksi absorbsi aglutinin, sifat kepekaan terhadap bahan warna, dan produksi H2S. Genus ini memiliki beberapa macam antigen yaitu : • Antigen A (abortus) • Antigen M (melitensis) • Antigen O

b. Patogenitas : Manusia dapat terinfeksi kuman ini karena kontak langsung dengan bahanbahan yang tercemar, misalnya pada pemotongan hewan. Kuman ini dapat masuk melalui kulit yang rusak, terus ke saluran limfe dan nodus limfatikus. Kuman ini juga dapat masuk ke dalam darah.

c. Uji laboratorium diagnostic : • Specimen Bahan pemeriksaan dapat digunakan darah, cairan

serebrospinal, sumsum tulang, jaringan seperti nodulus limfatikus, hati, serta serum untuk reaksi serologic • Kultur Darah atau jaringan diinkubasi pada cairan trypticase soy dan agarthioninetryptose. Pada interval beberapa hari, subkultur dibuat pada media padatdari komposisi yang serupa. Semua kultur diinkubasi pada 10% CO2 • Serologi Kadar antibody IgM meningkat selama minggu pertama fase akut penyakit, memuncak pada tiga bulan dan bertahan selama masa penyakit kronis. Meskipun dengan terapi antibiotic yang sesuai tingkat IgM yang tinggi dapat bertahan selama lebih dari 2 tahun. Kadar antibody igG meningkat selama 3 minggu setelah dimulainya penyakit akut, memuncak

pada 6-8 minggu dan tetap tinggi selama penyakit kronis. Kadar IgA sejajar dengan IgG. • Uji aglutinasi Hal ini perlu dilakukan dengan antigen brucella standar halus yang ditambahkan fenol. Titer IgG agglutinin di atas 1:80 menunjukkan infeksi aktif. • Uji 2-Mercaptoethanol Penambahan 2-Mercaptoethanol menghancurkan IgM dan membiarkan IgG untuk reaksi aglutinasi. Tes ini tidak sesensitif tes aglutinasi standar, tetapi hasilnya lebih berkorelasi dengan penyakit aktif kronis. • “Blocking” antibody Antibody IgA-lah yang berpengaruh pada aglutinasi IgG serta IgM dan menyebabkan uji serologi menjadi negative dalam pengenceran serum yang rendah walaupun positif terhadap pengenceran yang lebih tinggi. Antibody ini cenderung tidak tergantung pada aktifitas infeksi dan terdeteksi dengan metode antiglobulin coombs. d. Pengobatan : Hingga kini tetrasiklin masih merupakan obat pilihan terhadap brucellosis. Streptomisin dapat juga diberikan dalam kombinasi dengan tetrasiklin. Pencegahan terhadap brucellosis terutama dilakukan pada binatang sebagai sumber infeksi dengan pemberian vaksinasi.

2.5.4 Genus Haemophilus Klasifikasi ilmiah genus ini adalah sebagai berikut : Kerajaan Phylum Class Order : Bakteri : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Pasteurellales

Family Genus

: Pasteurellaceae : Haemophilus

a. Morfologi : Genus ini merupakan parasit-parasit sejati. Kuman ini berbentuk batang kecil gram negative, tidak dapat bergerak, dan untuk pertumbuhannya memerlukan media kaya yang biasanya mengandung darah. Kuman ini bersifat aerob dan fakultatif anaerob. Pada kuman ini dijumpai 2 macam koloni yaitu : • • Koloni R yang dibentuk oleh kuman-kuman tak bersimpai berasal dari saluran pernafasan Koloni S yang dibentuk oleh kuman-kuman bersimpai berasal dari penyakit-penyakit invasive lainnya

b. Sifat pertumbuhan : Untuk membiakkan haemophillus diperlukan perbenihan yang diperkaya seperti perbenihan agar coklat, perbenihan levinthal dan fildes. Kuman ini tumbuh optimum pada suhu 7,4-7,8. Pengeraman dengan suasana CO2 10% dapat meningkatkan pertumbuhan.

2.5.4.1 Haemophilus influenza Berbentuk coccobacillus kecil berukuran 0,2-0,3x0,5-0,8 um dan bersimpai yang dapat diketahui dengan reaksi quelling memakai serum anti khas tipe. Dalam media agar BHI (brain heart infusion) yang ditambah darah, koloni kecil, bulat, dan cembung dengan perubahan warna yang kuat terbentuk selama 24 jam. H.influenza tipe b menyebabkan meningitis, pneumonia dan empiema, epiglotitis, selulitis. H.influenza tak bertipe umumnya menyebabkan bronchitis kronis, otitis media, sinusitis yang terjadi akibat menurunnya daya tahan tubuh. H.influenza tipe b peka terhadap ampisilin, khloramfenikol, dan sefalosporin.

2.5.4.2 Haemophilus Ducreyi Berbentuk batang halus yang susunannya berjajar. Merupakan penyebab penyakit venerik, bersifat obligat parasit yang penyebarannya terjadi melalui kontak langsung dan sangat peka terhadap pengeringan. Spesies ini terletak di ekstra atau intra sel dan dapat dibiakkan pada perbenihan agar darah dengan suasana CO2nya ditinggikan. Kuman ini umumnya peka terhadap tetrasiklin dan sulfanomida.

2.5.4.3 Haemophilus Aegyptius Merupakan penyebab penyakit demam purpurik Brazil yaitu suatu penyakit pada anak-anak yang ditandai dengan demam, purpura, syok, dan kematian.

a. Patogenitas :

H.influenza menyebabkan sejumlah infeksi pada saluran pencernaan bagian atas seperti faringitis, etitis media, dan sinusitis. Tapi penyakit paling penting yang disebabkan kuman ini adalah meningitis bacterial akut. Penyakit ini jarang terjadi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan tidak umum dijumpai pada anak-anak diatas umur 6 tahun.

b. Uji laboratorium diagnostic : Sebagai bahan pemeriksaan dapat digunakan cairan serebrospinal, sputum, dan cairan telinga. Dari bahan ini dibuat preparat gram dan ditanam pada perbenihan agar coklat yang dieramkan pada suasana CO2 10%. c. Pengobatan : Dalam menggunakan antibiotika perlu dilakukan tes secara in vitro. Kuman ini peka terhadap ampisilin, tetrasiklin, sulfanomida, dan kotrimoksasol.

2.5.4

Genus Pasteurella

Klasifikasi ilmiah genus ini adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Class Order Family Genus :Bakcteria :Proteobacteria :GammaProteobacteria :Pasteurellales : Pasteurellaceae : Pasteurella

Salah satu kelompok bakteri gram negative. Secara umum bakteri ini mempunyai morfologi kecil, batang pendek atau coccobacillus. Merupakan bakteri non motile, fakultatif anaerob, dan juga dapat memfermentasi karbohidrat dalam jumlah besar dalam kondisi anaerobik. Pasteurella adalah kuman pathogen yang dapat menyerang manusia karena gigitan hewan. Spesies dari genus ini yang terkenal adalah pasteurella multocida.

Pasteurella multocida pertama kali ditemukan pada tahun 1878 pada unggas yang terinfeksi kolera burung. Kuman ini menyerang pada sapi,kerbau, dan babi. Pasteurella multocida akan tumbuh baik pada suhu 37 derajat Celsius pada media blood agar dan dan tetracycline. Pasteurellosis adalah suatu infeksi yang disebabkan dari bakteri genus pasteurella yang ditemukan pada manusia dan hewan. Pasteurella multocida dapat menyebabkan zoonosis pada manusia karena gigitan atau goresan hewan peliharaan. Gejala pada manusia meliputi pembengkakan, selulitis dan berdarah pada lokasi luka. Infeksi dapat berlanjut ke dekat sendi di tempat yang dapat menyebabkan pembengkakan dan arthritis. P. multocida juga dikenal penyebab morbiditas dan mortalitas pada kelinci, dan sindrom dominan. P. multocida dapat endemik di antara koloni kelinci dan sering ditularkan melalui sekresi hidung. Ada beberapa bentuk infeksi dari pasteurella sp :

agar-agar cokelat, tetapi tidak akan tumbuh pada media agar

MacConkey. Pasteurella umumnya rentan terhadap kloramfapenikol, yang penisilin

Kulit : ini adalah septik phlegmon klasik yang berkembang di tangan dan lengan bawah setelah gigitan kucing. Tanda-tanda inflamasi sangat cepat berkembang dalam 1 atau 2 jam, edema, Demam tinggi dapat dilihat bersama dengan muntah-muntah, sakit kepala dan diare. Limfangitis adalah biasa.

Sepsis : sangat jarang, tetapi dapat menjadi fulminan sebagai septicaemic wabah, dengan demam tinggi, Rigor (obat) dan muntah-muntah diikuti oleh syok dan koagulopati.

Penyakit pneumonia : ini juga jarang muncul pada pasien kronis patologi paru. Biasanya muncul sebagai konsolidasi billateral pneumonia, kadang-kadang sangat berat. Lokasi lain yang memungkinkan, seperti septik artritis, meningitis dan akut endokarditis tetapi sangat jarang. Bakteri ini dapat secara efektif diobati dengan antibiotik beta-lactam, yang menghambat sintesis dinding sel. Juga dapat diobati dengan fluoroquinolones atau tetrasiklin. Fluoroquinolones bakteri menghambat sintesis DNA dan tetrasiklin mengganggu sintesis protein dengan cara mengikat bakteri 30S ribosomalsubunit. Karena pasteurella multocida yang paling sering

diperoleh sebagai hasil dari gigitan (terutama anjing). Sebagai hasilnya, amoxicillinclavulanate (beta-laktamase inhibitor / penisilin kombinasi) dipandang sebagai pengobatan pilihan.

2.6 Bakteri Berbentuk Spiral Spirochetes secara umum merujuk pada bakteri yang memiliki morfologi spiral mulai dari yang berbentuk panjang langsing (hellically coiled), berbentuk spiral atau seperti pembuka botol dan mempunyai sifat gram negatif. MORFOLOGY DAN STRUKTUR SPIROCHAETA Morfologi spiral dari Spirochaeta membuat bakteri ini menjadi fleksibel, dinding sel yang mengandung peptidoglikan sepanjang dari beberapa axial fibril yang dapat berputar. Fibril-fibril ini memiliki struktur dari flagella dan disebut endoflagella. Dinding sel dan endoflagella sepenuhnya dilindungi oleh membran outer bilayer yang serupa dengan membran pada bakteri gram negatif lainya. Pada beberapa spesies, asam hyaluronic slime layer terbentuk sepanjang eksterior dari organisme dan mungkin memiliki kontribusi terhadap virulensi mikroorganisme itu sendiri. Spirocheta dapat bergerak, pergerakan ini disebabkan dari hasil pergerakan filamen endoflagellar. Banyak bakteri dari genus spirochetes yang susah untuk dilihat dan diamati dengan menggunakan mikroskop biasa. Walupun bakteri ini adalah gram negatif, banyak diantara bakteri menghasilkan pewarnaan yang buruk, dikarenakan bakteri ini terlalu tipis (0.15 µm kurang) untuk dilihat dengan kekuatan resolusi dari mikroskop cahaya. Hanya mikroskop daerah gelap (darkfield), immunofluorescence atau dengan menggunakan tehknik pewarnaan khusus tertentu.

PERTUMBUHAN DAN KLASIFIKASI Spirochetes tumbuh sangat lambat secara invitro daripada bakteri patogen lainya. Beberapa spesies termasuk agen penyebab sifilis, tidak dapat tumbuh melebihi beberapa generasi, pada kultur sel. Beberapa spesies dari spirochaeta adalah anaerob, namun beberapa spesies membutuhkan konsentrasi oksigen yang rendah, namun ada beberapa juga yang aerob. Dibandingkan dengan grup taxonomy dari bakteri lain, grup dari spirochaeta kurang maju. Hal ini disebabkan oleh spirocheta sulit untuk ditumbuhkan, sehingga susah untuk dipelajari lebih lanjut. Spirochaeta secara umum dibagi menjadi delapan genus berdasarkan habitat, pathogenitas, urutan ribosomal RNA karakteristik morfologi dan fisiologi. Genus yang penting dalam kedokteran yang terpenting antara lain adalah Treponema, Borelia, leptospira. PENYAKIT YANG DITIMBULKAN GENUS SPIROCHAETA Beberapa spirocheta hidup bebas, namun ada beberapa anggota yang flora normal terhadap manusia dan hewan. Pada kondisi yang tidak biasa spirocheta ini bersama-sama dengan normal flora anaerob dapat menyebabkan nekrosis 2.6.1 Genus Treponema 2.6.1.1 Treponema pallidum Treponema pallidum adalah agen yang menyebabkan penyakit sifilis, sebuah penyakit kelamin yang pertama kali dikenal pada abad 16 sebagai “great pox” yang secara cepat menyebar di benua eropa. Penyebab dari penyakit sifilis sebenarnya adalah

subspesies dari Treponema pallidum subs. pallidum yang memiliki hubungan dekat dengan yang lainya. a. Klasifikasi Adapun klasifikasi bakteri tersebut adalah: Kingdom Filum Class Ordo Family Genus b. Morfologi Spiral langsing berukuran kira – kira 0,2 µm lebar dan 5 – 15 µm panjang. Spiral melilit teratur berjarak 1 µm satu sama lain. Organisme bergerak secara aktif, terus menerus berputar mengelilingi sumbu panjangnya. Sumbu panjang spiral biasanya lurus tetapi kadang – kadang dapat membengkok, sehingga pada suatu saat organisme membentuk lingkaran yang lengkap, kemudian kembali ke posisi lurus yang normal. : Eubacteria : Spirochaetes : Spirochaetes : Spirochaetales : Spirochaetaceae : Treponema pallidum

Spiral demikian tipis sehingga tidak jelas terlihat kecuali dipakai penerangan cara lapangan gelap atau pewarnaan imunofluoresen. Kuman ini tidak terwarnai dengan baik

bila menggunakan zat warna anilin, tetapi dapat mereduksi perak nitrat menjadi logam perak yang diendapkan pada permukaan, sehingga treponema dapat terlihat dalam jaringan ( impregnasi perak Levaditi ). Treponema biasanya berkembangbiak dengan pembelahan transversal, dan organisme yang membelah dapat melekat satu sama lain untuk beberapa saat. a. Biakan Treponema pallidum yang patogen untuk manusia dengan pasti belum pernah dibiakan pada perbenihan buatan, pada telur berembrio, atau dalam biakan jaringan. Strain – strain yang dianggap Treponema pallidum ( misalnya, Reiter ) dibiak secara aerobik in vitro mungkin semata – mata saprofit tetapi rupanya masih serumpun dengan Treponema pallidum. b. Sifat Pertumbuhan Karena Treponema pallidum tidak dapat dibiakan, tidak ada penyelidikan sifat – sifat fisiologi yang telah dibuat. Akan tetapi telah ditetapkan kebutuhan pertumbuhan untuk satu biakan yang mungkin merupakan strain saprofitik ( Reiter ). Suatu perbenihan tetap dari 11 asam amino, vitamin, garam, mineral, dan albumin serum menunjang pertumbuhannya. Pada cairan suspensi yang cocok dan dengan adanya zat pereduksi Treponema pallidum dapat tetap bergerak selama 3 – 6 hari pada 25° C. Dalam darah atau plasma yang disimpan pada 4° C, paling seidkit 24 jam, sesuatu yang hakekatnya pentin pada transfusi darah. c. Reaksi terhadap pengaruh Fisika dan Kimia Pengeringan membunuh spriroketa dengan cepat, demikian pula peningkatan suhu sampai 42° C. Treponema pallidum dengan cepat kehilangan gerak dan terbunuh oleh arsen trivalen, air raksa, dan bismut. Efek membunuh ini dipercepat dengan suhu tinggi dan sebagian dapat dipulihkan dan organisme diaktifkan kembali oleh senyawa yang mengandung SH ( misalnya, sistein, BAL ). Penisilin bersifat treponemisidal dalam konsentrasi kecil, tetapi kecepatan membunuhnya lambat, diduga karena mengalami inaktivasi metabolik dan kecepatan pembiakan organisme yang lambat ( periraan waktu

pembelahannya adalah 39 jam ). Resistensi terhadap penisilin belum pernah ditemukan pada sifilis. d. Variasi Siklus hidup telah dikemukakan untuk Treponema pallidum, termasuk stadium granuler dan badan sferis menyerupai kista, selain bentuk spirokheta. Kadang – kadang kemampuan Treponema pallidum untuk lewat jaringan bakteriologik dikaitkan dengan kemampuan stadium granuler untuk melewati jaringan. Struktur Antigenik Antigenik Treponema pallidum tidak diketahui. Pada manusia spirokheta merangsang timbulnya antibodi yang mampu mewarnai Treponema pallidum dengan imunofluoresensi tidak langsung, imobilisasi dan kematian Treponema pallidum, hidup yang bergerak, dan mengikat komplemen dengan adanya suspensi Treponema pallidum atau spirokheta yang sejenis. Spirokheta menyebabkan juga pembentukan zat yang jelas menyerupai antibodi, reagin, yang memberikan tes ikatan komplemen dan flokulasi positif dengan suspensi airlipid yang diekstrak dari jaringan mamalia normal. Reagin dan antibodi antitreponema keduanya dapat berguna untuk diagnosa serologik sifilis. Patogenesis, Patologi, dan Gambaran Klinik
a.

Sifilis didapat : Infeksi alam dengan Treponema pallidum terbatas pada manusia. Infeksi manusia biasanya disebarkan melalui kontak seksual, dan lesi penyebab infeksi terdapat pada kulit atau selaput lendir alat kelamin. Pada kira – kira 10 % kasus, lesi primer terdapat ekstragenital ( biasanya oral ). Treponema pallidum mungkin dapat menembus selaput lendir utuh, atau dapat masuk melalui epidermis yang rusak. Sprikheta berkembangbiak pada tempat masuk, dan sebagian menyebar ke dalam kelenjar getah bening yang terdekat kemudian mencapai pembuluh darah. Dalam 2 - 10 minggu setelah infeksi timbul papula pada tempat infeksi dan pecah membentuk ulkus dengan dasar yang bersih, keras ( “hard chancre = ulkus durum” ). Peradangan ditandai terutama oleh limfosit dan sel – sel plasma. “Lesi primer” ini selalu sembuh spontan, tetapi 2 – 10 minggu kemudian timbul lesi – lesi “sekunder”. Ini terdiri atas ruang makulipapuler merah di seluruh tubuh, dan papula pucat basah ( kondiloma ) pada daerah anogenital, ketiak, dan mulut. Juga dapat terjadi meningitis, khorioretinitis, hepatitis,

nefritis ( tipe kompleks imun ), atau periostitis sifilitik. Lesi sekunder juga mereda secara spontan. Lesi primer dan sekunder keduanya mengandung banyak spirokheta dan sangat menular. Lesi – lesi yang menular dapat timbul ladi dalam 3 – 5 tahun setelah infeksi, tetapi sesudah itu orang tersebut tidak dapat menularkan penyakit lagi. Infeksi sifilis dapat tetap subklinik, dan penderita dapat melewati stadium primer atau sekunder ( atau keduanya ) tanpa gejala – gejala atau tanda – tanda namun timbul lesi – lesi tersier. Pada kira – kira 30 % kasus, infeksi dini sifilis berkembang secara spontan sampai sembuh sempurna tanpa pengobatan. Pada 30 % lainnya infeksi yang tidak diobati tetap laten( terutama dibuktikan dengan tes serologik yang positif ). Sisanya penyakit berkembang menjadi “stadium tersier”, ditandai dengan timbulnya lesi – lesi granulomatosa ( gumma ) pada kulit, tulang, dan hati, perubahan degenrasi susunan saraf pusat ( parasis, tabes ), atau lesi sifilis kardiovaskuler, terutama aortis ( kadang – kadang dengan pembentukan aneurisma ) dan insufisiensi katup aorta. Pada semua lesi tersier treponema sangat jarang, dan respon jaringan yang berlebihan harus dihubungkan dengan beberapa bentuk hipersensitivitas terhadap organisme. Namun, treponema kadang – kadang dapat ditemukan dalam mata atau susunan saraf pusat pada sifilis yang lanjut.
b. Sifilis Konigenital : Wanita hamil penderita sifilis dapat menularkan Treponema

pallidum pada janin melalui plasenta mulai kira – kira pekan kesepuluh kehamilan. Beberapa janin yang terinfeksi mati dan mengakibatkan keguguran; lainnya lahir mati aterm. Lainnya lahir hidup tetapi menunjukan tanda – tanda sifilis konigenital pada anak – anak : keratitis interstisial, gigi hutchinson, “saddle nose”, susunan saraf pusat. Pengobatan adekwat pada ibu selama masa kehamilan mencegah sifilis kogenital. Titer reagen dalam darah anak meningkat dengan infeksi aktif tetapi makin menurun bila antibodi secara pasif dipindahkan dari ibu. Pada infeksi kogenital anak membuat antibodi antitreponema IgM.
c.

Penyakit percobaan. Kelinci secara percobaan dapat diinfeksikan pada kulit, testis, dan mata dengan Treponema pallidum. Bintang membentuk kanker yang banyak mengandung spirokheta, dan organisme menetap dalam kelenjar getah bening, limpa, dan sumsum tulang selama binatang hidup, walaupun tidak ada penyakit yang progresif. Tes Laboratorium Diagnostik

1. Bahan : Cairan jaringan yang dikeluarkan dari permukaan lesi dini, untuk

memperlihatkan spirokheta; serum darah, untuk tes serologik.
2. Pemeriksaan Lapangan Gelap : Setetes cairan jaringan atau eksudat diletakkan

pada gelas alas dan penutup ditekankan di atasnya untuk membuat lapisan yang tipis. Preparat kemudian diperiksa di bawah pembesaran 100 x dengan penerangan lapangan gelap, untuk melihat ciri khas pergerakan spirokheta. Treponema menghilang dari lesi dalam beberapa jam setelah permulaan pengobatan antibiotika
3. Imunofluoresensi : Cairan jaringan atau eksudat dioleskan pada gelas alas,

dikeringkan di udara, dan kirimkan ke laboratorium. Sediaan direkatkan, diwarnai dengan serum anti treponema bertanda fluoresein, dan diperiksa dengan mikroskop imunofluoresensu untuk melihat spirokheta berfluoresensi yang khas.
4. Tes serologik untuk sifilis ( STS = Serologic Test for Syphilis ) : Test ini memakai

antigen treponema atau bukan treponema.
 Tes antigen bukan – Treponema – Antigen yang dipergunakan adalah lipid

yang diekstrak dari jaringan mamalia normal. Kardiolipin murni dari jantung sapi adalah suatu difosfatidigliserol. Zat ini memerlukan tambahan lesitin dan kolesterol atau “sensitizer” lainnya untuk bereaksi dengan “reagin” sifilis. “Reagin” adalah canpuran antibodi IgM dan IgA terhadap beberapa antigen yang banyak terdapat pada jaringan normal. Reagin ditemukan dalam serum penderita setelah 2 – 3 minggu infeksi sifilis yang tidak diobati dan dalam cairan spinal setelah 4 – 8 minggu infeksi. Dua jenis tes menentukan adanya reagin. Tes flokulasi ( VDRL – Venereal Disease Research Laboratories ) berdasarkan pada kenyataan bahwa partikel – partikel antigen lipid ( kardiolipin jantung sapi ) tetap tersebar dalam serum normal tetapi bergabung dengan reagin untuk membentuk gumpalan yang terlihat dalam beberapa menit, terutama bila larutan digerakkan. Tes “rapid plasma reagin” ( RPR ) adalh suatu modifikasi yang memuaskan untuk pemeriksaan yang cepat. Tes VDRL positif kembali menjadi negatif 6 – 24 bulan setelah pengobatan sifilif dini yang efektif.

Tes Ikatan Komplemen ( CF = Complement Fixation ) ( Wassermann, Kolmer ) berdasarkan pada kenyataan bahwa serum yang mengandung reagin mengikat komplemen dengan adanya “antigen” kardiolipin. Penting untuk memastikan bahwa serum bukan bersifat “antikomplemen” ( yaitu, tidak merusak komplemen dengan tidak adannya antigen ). Kedua tes diatas dapat memberikan hasil kwantitatif. Suatu perkiraan jumlah reagin yang terdapat dalam serum dapat dibuat dengan melakukan kedua percobaan diatas dengan pengenceran serum dua kali dan menggambarkan titer sebagai pengenceran tertinggi yang memberikan hasil positif. Hasil kwantitatif bermanfaat untuk menetukan diagnosa dan menilai efek dari pengobatan. Tes Treponema memberikan hasil positif palsu. Ini disebabkan karena kesulitan – kesulitan teknis atau positif palsu “biologik” yang diakibatkan oleh adanya reagin pada berbagai kelainan manusia. Diantara yang terakhir yang menonjol adalah infeksi – infeksi lain ( malaria, lepra, campak, mononukleosis infeksiosa, dsb ), vaksinasi, penyakit – penyakit kolagen vaskuler ( sistemik lupus eritematosus, poliarteritis nodosa, kelainan – kelainan rheumatik ), dan keadaan lainnya.  Tes antibodi Treponema “Fluorescent treponemal antibody ( FTA – ABS ) Test” suatu test yang mempergunakan imunofluoresensi tidak langsung ( Treponema pallidum mati + serum penderita + anti gama globulin manusia bertanda ) menunjukan kakhususan dan kepekaan terhadap antibodi sifilis yang memuaskan bila serum penderita, sebelum test FTA, telah diabsorpsi dengan spirokheta Reiter yang telah di”sonicated”. Test FTA – ABS adalah test yang pertama kali menjadi positif bertahun – tahun setelah pengobatan efektif sifilis dini. Test ini tidak dapat dipakai untuk menilai kemanjuran pengobatan. Adanya IgM FTA dalam darah bayi yang baru lahir adalah bukti yang baik akan adanya infeksi in uteri ( sifilis kongenital ) Test TPI – Demonstrasi imobolisasi Treponema pallidum ( TPI = Treponema pallidum Immobilitization ) oleh antibodi spesifik dalam serum penderita setelah minggu kedua infeksi. Serum yang diencerkan dicampur dengan komplemen dan dengan Treponema pallidum hidup yang bergerak aktif, yang diekstrasi dari

kanker testis kelinci, dan campuran ini dilihat di bawah mikroskop. Bila terdapat antibodi spesifik; spirokheta tidak bergerak; dalam serum normal, gerakan yang aktif terus berlangsung. Test ini memerlukan Treponema pallidum hidup dari binatang yang terinfeksi dan sulit dikerjakan. Test Treponema pallidum Ikatan Komplemen – Spirokheta yang diekstrasi dari sifiloma kelinci membentuk antigen spesifik untuk test ikatan komplemen yang mungkin mengukur antibodi yang sama seperti Test TPI diatas. Suspensi spirokheta seperti itu sulit disediakan. Antigen yang disediakan dari biakan spirokheta Reiter kadang – kadanga dipakai pada Test Ikatan Komplemen Reiter. Test Treponema pallidum Hemaglutinasi ( TPHA = Treponema pallidum Hemaglutination ) Sel darh merah diolah untuk dapat menyerap Treponema pada permukaan. Bila sel darah merah demikian tercampur dengan serum yang mengandung antibodi treponema, sel darah merah akan menggumpal. Test ini sama dalam kekhususan dan kepekaan dengan test FTA – ABS, tetapii menjadi lebih lambat positif dalam masa sakit. Test VDRL dan FTA – ABS dapat juga dilakukan pada cairan serebrospinal dari aliran darah tetapi mungkin dibentuk dalam susunan saraf pusat sebagai respon terhadap infeksi sifilis. Kekebalan Orang dengan sifilis atau patek aktif tampaknya resisten terhadap superinfeksi dengan Treponema pallidum. Namun bila siflis atau patek dini diobati secara adekwat dan infeksi terbasmi, orang itu kembali menjadi peka terhadap rangsang infeksi terbaru. Pengobatan Penisilin dalam konsentrasi 0,0003 satuan/ml mempunyai aktifitas Treponemisial yang nyata, dan penisilin merupakan pengobatan pilihan. Pada sifilis dini, kadar penisilin dipertahankan selama 2 minggu ( misalnya, penyuntikan tunggal benzatin penisilin G 2,4 juta satuan intramuskuler ): pada sifilis laten dosis yang sama diberikan tiga kali dengan interval satu minggu. Pada neurosifilis, pengobatan yang sama dapat dipakai tetapi kadang – kadang dianjurkan jumlah penisilin lebih banyak ( misal, penisilin G air, 20 juta satuan secara intravena setiap hari, selama 2 – 3 minggu). Kadang – kadang dapat digantikan dengan

antibiotika lain. Mengamati terus dari dekat dalam waktu yang lama penting. Pada neurofilis, kadang – kadang Treponema dapat hidup terus dengan pengobatan seoerti ini. Reaksi khas Jarisch Herxheimer dapat terjadi dalam beberapa jam setelah pengobatan dimulai. Hal ini mungkin disebabkan pelepasan endotoksin secara tiba – tiba dari spirokheta.

Epidemiologi, Pencegahan Saat ini, insiden sifilis ( dan lain – lian penyakit yang disebarkan secara seksual ) meningkat pada sebagian besar dunia. Dengan mengecualikan sifiliss kongenital dan kadang – kadang sifilis tenaga medis karena kedudukannya, sifilis diperolah melalui hubungan seksual. Orang yang terinfeksi dapat tetap menular selama 3 – 5 tahun sifilis “dini”. Sifilis “lanjut”, yang lamnya lebih dari 5 tahun, biasanya tidak menular. Akibatnya tindakan pengawasan tergantung pada (1) cepat dan cukupnya pengobatan pada semua kasus yang ditemukan (2) pengawasan dari dekat sumber – sumber infeksi dan kontak sehingga mereka dapat diobati (3) higiene – seks; dan (4) tindakan pencegahan pada saat kontak. Pencegahan mekanik ( kondom ) dan khemoprofilaksis ( misalnya penisilin setelah kontak ) keduanya mempunyai keterbatasan yang besar. Pencucian alat kelamin setelah kontak dapat memberikan perlindungan bagi laki – laki. Beberapa penyakit kelamin dapat disebarkan secara merentak. Oleh karena itu, penting untuk menyadari kemungfkinan sifilis bila pada seseorang ditemukan salah satu penyakit yang ditrularkan secara seksual

Penyakit – penyakit Penyakit – penyakit ini semuanya disebabkan oleh Treponema yang tidak dapat dibedakan dari Treponema pallidum. Semua memberikan tes serologik positif biologik untuk sifilis, dan beberapa kekebalan silang dapat ditemukan pada binatang percobaan dan mungkin pada manusia. Semuanya merupakan penyakit nonverenik dan sering disebarkan dengan kontak langsung. Tidak ada organisme penyebabnya yang dapat dibiakkan pada perbenihan buatan. a. Bejel Bejel terutama terdapat di Afrika tetai juga di Timur tengah, di Asia tenggara, dan dimana – mana, terutama pada anak – anak, dan menyebabkan infeksi kulit yang sangat menular; komplikasi viseral lanjut jarang terjadi. Penisilin adalah obat pilihan.

b. Patek Patek bersifat endemik, terutama di anak – anak, pada banyak daerah tropis yang panas dan lembab. Patek disebabkan oleh Treponema pertenue. Lesi primer, suatu papula berulkus, biasa terjadi pada lengan atau tungkai. Penyebaran pada anak di bawah 15 tahun melalui kontak orang ke orang. Infeksi transplasental, kongenital, tidak terjadi. Pembentukan parut dari lesi – lesi kulit dan destru8ksi tulang sering terjadi, tetapi komplikasi viseral atau sistem saraf sangat jarang. Telah menjadi perdebatan apakah patek merupakan varian sifilis yang beradaptasi pada penyebaran nonvenerik di daerah panas. Terdapat kekebalan silang antara patek dengan sifilis. Cara – cara diagnosa dan pengobatan sama seperti pada sifilis. Respon terhadap pengobatan penisilin sangat baik. c. Pinta Pinta disebabkan oleh Treponema carateum dan terdapat secara endemikpada semua kelompok umur di Meksiko, Amerika tengah dan selatan, Philipina, dan beberapa daerah di Pasifik. Penyakit ini sepertinya terbatas pada ras berkulit hitam. Lesi primer, papula tak berulkus, terdapat pada daerah terbuka. Beberapa bulan kemudian, lesi – lesi gepeng dan hiperpigmentasi dan hiperkeratosis berlangsung bertahun – tahun setelahnya. Penyakit yang lanjut mungkin dapat mengenai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf. Penyebaran addalah nonvernik, baik secara kontak langsung atau melalui bantuan lalat ( Hipperlates ). Diagnosa dan pengobatan sama seperti pada sifilis. d. Sifilis Kelinci Sifilis Kelinci Treponema cuniculi adalah infeksi verenik alam pada kelinci yang menghasilkan lesi – lesi kecil pada genitalia. Organisme penyebab secara morfologik tidak dapat dibedakan dengan Treponema pallidum dan dapat cenderung membingungkan pada percobaan laboratorium.

2.6.2

Genus Leptospira 2.6.2.1 Leptospira interrogans

a. Taksonomi

Genus leptospira dalam Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies non patogen yaitu Leptospira biflexa. Spesies ini telah dipisah-pisahkan menjadi sedikitnya 218 serovar dari Leptospira interrogans dan lebih dari 60 serovar dari leptospira biflexa. Sistem klasifikasi yang kedua didasarkan pada studi hibridisasi DNA, yang menunjukkan derajat heterogenitas yang tinggi dalam 2 spesies dari klasifikasi DNA yang berhubungan yaitu leptospira dan 2 genus yang non patogen dimana masing-masing mengandung satu spesies. Klasifikasi serologi tradisional memiliki keterbatasan dalam hal tingkat molekularnya, tetapi berguna secara epidemilogi. Bagaimanapun, identifikasi serologi tidak akan dapat digunakan untuk menduga identifikas molekular. Sehingga untuk pembahasan kali ini spesies yang akan dibahas adalah Leptospira interrogans yang patogen pada manusia dan hewan bertulang belakang lainya (vertebrata). Adapun sistem klasifikasinya adalah sebagai berikut: Kingdom: Bacteria Phylum: Spirochaetes Class: Spirochaetes Order: Spirochaetales Family: Leptospiraceae Genus : Leptospira Species: Leptospira interrogans

b. Ciri-ciri organisme/ morfologi organisme Spesies ini merupakan bakteri spirochaeta yang berbentuk ramping (kira-kira 0,15-2 µ meter) dengan panjang 5 sampai 15 µ meter. Ujungnya melengkung membentuk kait. Bakteri ini adalah bakteri motil yang aktif, yang dapat dilihat menggunakan mikroskop mikrograf elektron yang memperlihatkan filamen tipis dengan membran yang lunak. Bakteri ini sulit diwarnai dengan metode pewarnaan yang biasa dilakukan, tetapi dapat diwarnai dengan menggunakan tekhnik pewarnaan

impregnasi perak. Tetapi untuk pengamatan terhadap bakteri ini lebih baik dengan menggunakan mikroskop medan gelap.

c. Perbenihan Leptospira dapat ditumbuhkan pada media butan semisolid (Fletcher, Stuart,dll) yang mengandung albumin bovi dan serum kelinci steril . Bakteri ini tumbuh baik pada kondisi anaerob pada suhu 28-30 °C. Setelah 1-2 minggu, leptospira menghasilkan zona pertumah difus dekat bagian atas tabung sebagai respon terhadap kadar optimal tekanan oksigen untuk organisme. Medium biakkan dapat dibuat selektif untuk leptospira dengan menambahkan neomisin atau 5 fluorourasil leptospira mendapatkan energi dari oksidasi rantai panjang asam lemak dan tidak dapat menggunakan asam amino atau karbohidrat sebagai sumber energi utama. Garam amonium adalah sumber nitrogen utama. Leptospira dapat hidup selama berminggu – minggu dalam air. Terutama yang mempunyai pH basa. Leptospira bersifat aerob abligat. Kuman ini bergerak aktif yang paling baik dilihat dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap. Mikrograf elektron menunjukkan filamen aksial yang tipis dan membran yang lembut spiroketa bentuknya juga halus sehingga pada pandangan lapangan gelap tampak hanya sebagai kokus yang kecil.

d. Struktur antigen Strain utama dari Leptospira Interrogans yang diisolasi dari manusia atau hewan pada berbagai belahan dunia memiliki perbedaan, secara serologi semuanya berhubungan dan menunjukkan reaksi silang pada test serologi. Ini mengindikasikan adanya tumpang tindih pada struktur antigenya dan test kuantitatif. Studi tentang penyerapan antibodi diperlukan untuk diagnosa serologi yang spesifik, bakteri ini pada selubung luarnya mengandung lipopolisakarida dari struktur antigen dalam jumlah banyak, yang bervariasi antara satu strain dengan strain yang lainya. e. Pemeriksaan Makroskopis Bentuk : spiral halus, ujung sel kuman bengkok membentuk seperti pancingan Ukuran Warna : panjang 5 – 15 µm, lebar 0,1 – 0,2 µm : morfologi leptospira dapat dilihat setelah diberikan pewarnaan

Burri, Fontana Tribondeau, Becker Krantz atau dengan impregnasi perak Konsistensi : Spiral halus

Giemsa dan juga dapat diwarnai

f. Pemeriksaan Mikroskopis Pemeriksaan lapangan gelap atau sediaan apus yang diwarnai dengan teknik Giemsa kadang – kadang menunjukkan leptospira pada darah segar dari infeksi dini. Pemeriksaan lapangan gelap dari urin yang disentrifugasi juga dapat memberikan hasil yang positif. Antibodi konjugasi – fluoresensi atau teknik imunohistokimia lainnya juga dapat digunakan.

g. Mengamati Sifat – Sifat Biokimia Darah segar lengkap atau urine dapat dibiakkan pada medium semisolid Fletcher atau mecium lainnya.Medium selektif dan non selektif harus digunakan.Karena adanya substansi inhibitor dalam darah,sebanyak 1 atau 2 tetes saja diteteskan ke dalam setiap lima tabung yang berisi medium 5ml.Sampai sebanyak 0,5ml cairan serebrospinal dapat digunakan setelah diteteskan sebanyak 1 tetes pada setiap urine yang diencerkan sepuluh kali secara serial-untuk total sebanyak empat tabung.Jaringan bediameter kira-kira 5mm harus dihancurkan dan digunakan sebagai inokulum.Pertumbuhannya lambat,dan biakan harus disimpan selama minimal 8 minggu. h. Uji Biologis Teknik yang sensitif untuk isolasi leptospira terdiri dari inokulasi intraperitoneum hamster muda atau marmot dengan plasma segar atau urine. Dalam waktu beberapa hari spiroketa menjadi terlihat dalam rongga peritoneum, pada binatang yang mati ( 8 – 14 hari ). Lesi hemoragik dengan spiroketa ditemukan pada banyak organ. i. Uji Serologis Antibodi yang mengalami aglutinasi dengan titer yang sangat tinggi ( 1 : 10.000

atau lebih tinggi ) terbentuk perlahan – lahan pada infeksi leptospira, mencapai puncaknya pada 5 – 8 minggu setelah infeksi. Laboratorium standar rujukan menggunakan aglutinasi yang hidup untuk mendeteksi adanya antibodi leptospira. j. Epidemiology Leptospirosis merupakan penyakit yang terdapat diseluruh belahan dunia. Penyakit ini dibawa oleh hewan liar dan hewan peliharaan terutama oleh hewan pengerat, sapi dan anjing. Penyakit ini biasanya ditularkan kepada manusia melalui air yang telah terkontaminasi oleh urin hewan yang terinfeksi bakteri ini. Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Seseorang yang keseharianya berhubungan dengan hewan seperti peternak, dokter hewan, dan pegawai pada rumah potong hewan memiliki resiko yang lebih besar.

k. Patogenitas dan imunitas

Organisme ini dapat masuk pada jaringan melalui kulit yang rusak, konjungtiva atau secara umum melalui proses pencernaan dan saluran mukosa bagian atas. Pergerakan aktif dari bakteri ini disebabkan bagian dasar yang begkok dari bakteri dikendalikan oleh periplasmic flagella yang menyebabkan dapat bakteri dapat masuk ke dalam jaringan. Bakteri ini dapat menyebar kemana-kemana melalui aliran darah keseluruh bagian tubuh termasuk CFS. Pada hewan koloni bakteri tersebut diatas dari tubulus proximal ginjal yang mana natinya akan dikeluarkan melalui urin, sehingga memudahkan penyebaran terhadap host baru. Ginjal merupakn organ target pada penyakit manusia yang menyebabkan infeksi tubular dan nefritis intersititial. Antibodi akan meningkat pada pada saat fase kedua dari penyakit

l. Aspek klinis Manifestasi Kebanyakan infeksi dari bakteri ini subklinis dan dideteksi hanya melalui test serologis. Setelah masa inkubasi selama 7 sampai 13 hari, terjadi tanda-tanda yang memiliki karakteristik seperti penyakit influenza yaitu timbulya demam, menggigil, sakit kepala, takut cahaya dan sakit disekujur tubuh yang mana penderita nantinya akan menjadi sakit. Demam biasanya akan hilang setelah kirakira satu minggu bersamaan dengan hilangnya organisme dari darah dan mungkin juga akan terjadi perbedaan dalam bentuk klinis tergantung dari jenis serogroup dari bakteri tersebut. Fase kedua biasanya baru terjadi setelah 3 minggu atau lebih. Satu serovar, ichterohemorrhagie, menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit weil, yang dapat menyebabkan kematian sampai sebanyak 25 %. Pencegahan Vaksinasi diberikan pada sapi dan hewan piaraan untuk melindungi dari penyakit ini, dan ini akan mengurangi tertularnya bakteri ini pada manusia. Doxycyline, diberikan seminggu sekali untuk melindungi seseorang dari penyakit leptospirosis yang bekerja pada lingkungan yang berisiko tinggi menularkan penyakit tersebut. Tindakan yang lain juga dilakukanya kontrol terhadap hewan carier/ pembawa bakteri ini seperti tikus dan hewan rhodensia lainya.

m. Pengobatan Penicillin, ampicillin dan eritromycin sangat efektif terhadap bentuk leptospirosis. Tetracycline termasuk doxycycline juga direkomendasikan untuk penyakit yang lebih ringan. Generasi ketiga cephalosporin dan anti mikroba lainya aktif bekerja pada keadaan in vitro tetapi belum cukup didukung oleh pengalaman penggunaan dalam aspek klinis.

2. 7 Bakteri Lainya 2.7.1 Genus Mycobacterium

a. Taksonomi : Mycobacterium dalam taksonominya dikelopokkan sebagai berikut :
• Kingdom • Phylum • Class • Order • Family • Genus

: : : : : :

Procaryotae Bacteria Schizomycetes Actinomycetales Mycobacteriaceae Mycobacterium

b. Klasifikasi : Sedangkan klasifikasi mycobacterum sangat kompleks. Spesiesnya dikelompokkan ke dalam 3 bagian, meliputi : A. Spesies yang Patogen pada Manusia dan Hewan 1) Mycobacterium tuberculosis

2) Mycobacterium bovis 3) Mycobacterium avium 4) Mycobacterium paratuberculosis 5) Mycobacterium leprae 6) Mycobacterium lepraemurium 7) Mycobacterium muris B. Spesies Parasit dan Patogen pada Hewan Berdarah Dingin 1) Mycobacterium piscium 2) Mycobacterium marinum 3) Mycobacterium ranae 4) Mycobacterium cheloni 5) Mycobacterium thamnopheos C. Spesies yang Saprofit 1) Mycobacterium lacticola 2) Mycobacterium phlei

Disini kita akan membahas spesies yang patogen dan penting serta tidak asing di dunia kedokteran hewan. c. Morfologi : Mycobacterium sp. merupakan aerob obligat yang berbentuk basil tuberkel dan bergerombol. Bentuk saprofit cenderung lebih cepat dan berkembang biak baik pada suhu (22-23)° C. selain itu bersifat kurang tahan asam.

d. Sifat-sifat biokimia :

Mycobacterium sp. resisten terhadap faktor kimia karena memiliki sifat hidrofobik pada permukaan selnya dan pertumbuhannya yang bergerombol.

e. Uji biologis : Uji biologis pada mycobacterium dapat dilakukan dengan melalui penelitian menggunakan hewan coba di laboratorium. Misal uji biologis in vitro Radiofarmaka yang menggunakan 99mTc-etambutol untuk mendeteksi infeksi TBC.

f. Uji serologis : Terbentuknya antibody terhadap berbagai usul sel basil tuberkel. Adanya antibody dapat diterapkan dengan berbagai tes serologik. Tak satupun dari reaksi serologic ini yang mempunyai hubungan langsung dengan tingkat resistensi inang, tetapi tinginya titer antibody IgG terhadap PPD, yang terdeteksi melalui tes ELISA atau reaksi presipitin dengan polisakarida, ditemui pada banyak penderita tuberculosis paru-paru yang aktif.

2.7.1.1 Mycobacterium tuberculosis Bakteri ini selain menyerang manusia juga menyerang 2 spesies pada hewan yaitu mamalia dan burung.
 Morfologi

:

Merupakan batang langsing yang berdiameter 0.2-0.6 µ dan panjangnya 1.5-4 µ.bakteri ini mempunyai lapisan lilin pada permukaan selnya yang membuat kebal pada pewarnaan Gram. Bakteri ini bersifat Tahan Asam. Sealian itu memiliki dinding sel gram positif, tetapi dinding sel peptidoglikan merupakan lapisan yang tebal yang mengandung komplek glikolipid. Pada jaringan berbentuk batang, lurus, dan tipis dengan ukuran 0,4- 3 µm. Pada artifial media, berbentuk coccus dan filament.

 Karateristik

:

Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan  Pemeriksaan makroskopik

: :

Tuberculosis M.tuberculosis muncul sebagai granular, kasar dan koloni kasar.

 Pemeriksaan mikroskopik

:

Bakteri ini berbentuk batang langsing, lurus, bercabang membentuk huruf XYZ atau

berbentuk filament.

2.7.1.2 Mycobacterium bovis Spesies ini patogen pada kelompok sapi.

 Morfologi

:

lebih pendek dan lebih tebal,batang panjang, bergerombol, bersifat Gram Negative dan Tahan Asam.

 Karateristik

:

Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan

: :

Tuberculosis pada sapi

 Pemeriksaan mikroskopik

2.7.1.3 Mycobacterium avium Bakteri ini menyerang pada organisme seperti ayam dan hewan
 Morfologi

:

Batang panjang dengan susunan bergerombol. Mempunyai spora pada terminal sel. Bersifat Gram Negatif dan Tahan Asam.

 Karateristik

:

Cepat mati jika terkena sinar matahari, cepat mati dalam air mendidih, mati dalam 24 jam jika terkena cairan karbol 5%, dapat tumbuh dengan baik pada suhu 37° C.

 Penyakit yang ditimbulkan  Pemeriksaan makroskopik

: :

MAC (Mycobacterium Avium Complex ) M.avium muncul sebagai koloni halus dan berwarna.

 Pemeriksaan mikroskopik

:

2.7.1.4 Mycobacterium paratuberculosis Mycobacterium paratuberculosis berasal dari kota yang terdapat di pusat Eropa, yaitu dari British Isles dan pulau Neighboring.
 Morfologi

:

Batang pendek, tebal dengan ukuran diameter 0.5 µ dan panjang mencapai 1-2 µ.

 Karateristik

:

merupakan bacillus aerobic dan tumbuh baik pada suhu 39° C. sedangkan media yang digunakan untuk mengisolasi harus mencapai pH 6.6.

 Penyakit yang ditimbulkan

: :

Diare

 Pemeriksaan mikroskopik

2.7.1.5 Mycobacterium leprae Mycobacterium leprae pertama kali diteliti oleh Hansen pada tahun 1874 dan didukung oleh Neisser tahun 1879.bakteri ini menyebabkan lepra.

 Morfologi  Penyakit yang ditimbulkan

: : :

Berbentuk batang panjang dan bergerombol. Lepra

 Pemeriksaan mikroskopik

2.7.2 Genus Mycoplasma

I.

Taksonomi : Bakteri mycoplasma digolongkan ke dalam taksonomi sebagai berikut :
• Kingdom • Phylum • Class • Order • Family • Genus

: : : : : :

Bacteria Firmicutes Mollicutes Mycoplasmatales Mycoplasmataceae Mycoplasma

II. Klasifikasi : Adapun klasifikasinya meliputi diantaranya : 1) Mycoplasma mycoides

2) Mycoplasma agalactiae 3) Mycoplasma iners 4) Mycoplasma gallinarum 5) Mycoplasma gallicepticum 6) Mycoplasma hyorhinis 7) Mycoplasma bovigenitalium 8) Mycoplasma spumans 9) Mycoplasma canis 10) Mycoplasma maculosum 11) Mycoplasma pulmonis 12) Mycoplasma neurolyticum 13) Mycoplasma arthritidis 14) Mycoplasma laidlawii 15) Mycoplasma hominis 16) Mycoplasma fermentans 17) Mycoplasma salivarium

III. Morfologi : Mycoplasma sp. merupakan bakteri Gram Negatif yang bersifat fakultatif anaerob. Berbentuk coccus dengan susunan soliter dan memiliki inti yang jelas pada bagian central sel.

IV. Sifat-sifat biokimia :

Mycoplasma sp. sangat sensitive terhadap perubahan tekanan osmotic.

V. Uji biologis : Uji biologis bakteri ini dilakukan isolasi banyak spesies mycoplasma yang secara antigenic berbeda dari beberapa hewan diantaranya tikus, ayam dan kalkun. Pada manusia paling sedikit dapat ditentukan 11 spesies.

VI. Uji serologis : uji serologis pada mycoplasma dilakukan dengan tujuan untuk melihat titer antibody, selain itu dapat digunakan untuk mendeteksi suatu penyakit. Uji ini dapat dilakukan melalui HI test atau ELISA test. Selain itu, Tes pengikatan komplemen (CF) dapat dilakukan dengan antigen gflikolipid yang di ektrak dari biakan mikoplasma dengan kloroform methanol. Tes hemaglutinasi hambatan dapat digunakan pada sel darah merah yang mengapsopsi antigen Mycoplasma .

Spesies yang akan dibahas diantaranya tercantum di bawah ini. Tentunya yang patogen dan penting dalam dunia kedoktera hewan.

2.7.2.1 Mycoplasma mycoides Organisme penyebab pleuropneumonia pada kambing.
 Morfologi

:

bentuk coccus dengan susunan soliter. Bersifat Gram Positif.

 Penyakit yang ditimbulkan

:

pleuropneumonia atau radang paru-paru pada Kambing

 Pemeriksaan makroskopik

:

 Pemeriksaan mikroskopik

:

3

Mycoplasma agalactiae Organisme penyebab penyakit menular agalactia pada kambing dan domba.
 Morfologi

:

Memiliki struktur seperti cincin, globules, bersifat Gram Negatif.

 Penyakit yang ditimbulkan  Pemeriksaan makroskopik

: :

agalactia

 Pemeriksaan mikroskopik

:

BAB 3 KESIMPULAN

LAMPIRAN

LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 1

1. ALVIN FEBRIANTH Judul: 2. ELSA HAPPYANA Judul: “Evaluation of Gram-Positive rod surveillance for early anthrax detection” 3. AMRULLAH ALHAQ Judul: ” Six-Color Segmentation of Multicolor Images In the infection Studies 0f Listeria Monocytogenes” 4. RINA INDRAWATI Judul: “Effects of water activity in Model Systems on HighPressure inActivation of Escherichia coli” 5. MUH. DEDDY TRIANANTA Judul: “Haemonphillus paraphorophilus, a rare cause of intracerebral abscess in childreen”
6. AGUNG BUDIANTO ACHMAD

Judul: “Association of Treponema sp. with canine periodontitis” 7. CHRISNA TEDJA MUKTI

Judul: “ Biofilm formation by Mycoplasma fermetans on intraurine devices”

LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 2

1. WAKHID NUR HIDAYAT Judul : “Effect of linezolid and teicoplanin on skin Staphylococci” 2. LUVIANA KRISTIANINGTYAS Judul : “ Botulism” 3. NABILA LARYSKA Judul : “The Effect of pH and temperature on Motility of Listeria spesies” 4. IKE YUNIARNI Judul: “ A fatal case of necrotizing fasciitis due to bacterial translocation of Klebsiella oxytoca” 5. LUTHFI ANDIKA F. Judul : “ Haemophylus influinzae colonization and risk of factors in childreen aged < 2 years in northern India” 6. DWI AGITA SARI Judul : “ 7. NUR AINI Judul : “ Detection of Mycoplasma pneumoniae and Chlamydia pneumoniae in ruptured atherosclerotic plaques”

LAMPIRAN JURNAL KELOMPOK HOME GRUP 3

1. SITI NUR AISYAH Judul : “

2. ROUDLOTUL ANGGRAINI Judul : “ Identification and characterization of Clostridium perferingens using single target DNA microarray chip” 3. TRI YONGKI I Judul : “

4. YUNITA F. OLA

Judul : “ Wild blak-headed gull ( Larus ridibundus) as an enviromental reservoir of salmonella strain resistant to anti microbial drugs” 5. IKE MARTANIA Judul : “Effectivenes of Rose bengal test and fluoroscence polarization assay in the diagnosis of Brucella spp.” 6. ADE IRMAYANI Judul : “

7. FANY PRIMA HARED Judul : “

DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, E. Melnic,J.L et all., Mikrobiologi kedokteran, 2001, Penerbit Salemba medika, Jakarta 2001. Jawetz, E. Melnic,J.L et all., Mikrobiologi untuk kesehatan, 1993, Edisi 16, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta. Brooks et all., Mikrobiologi kedokteran, 2005, Penerbit Salemba medika, Jakarta. Hardy, et all., Human Microbiology, 2002, Taylor and Francise library, USA and Canada. Kenneth J. Ryan et all., Sherris Medical Microbiology, 2004, Medical Publishing division, USA. Madigan et all, Brock Biology of Microorganisme, 2000, Prentice hall-inc, USA. www.wikipedia.com www.wikipedia.co.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->