P. 1
Toleransi Dalam Agama - Khutbah

Toleransi Dalam Agama - Khutbah

|Views: 2,570|Likes:
Published by mursalin

More info:

Published by: mursalin on Feb 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2012

pdf

text

original

‫الحمد للحه رب الكائنحات، المن َحزه عحن الححدود‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ّ‬ ‫والغايحححات والركحححان والعضحححاء والدوات،

ول‬ ‫تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات.‬ ‫والصحلة والسحلم علحى خيحر الكائن حات س حيدنا‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫محمد، وعلحى سحائر إخحوانه النحبيين المؤيحّحدين‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ب حالمعجزات الب حاهرات، فَب ِعَص حا موس حى انفل حق‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫َح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫البحر، وبدعاء نوح نزل المطر، ولمحم حد ش حهد‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫الشجر والحجر وانشق القمر.‬ ‫أمحا بعحد ُ، عبحاد اللحه أوصحيكم وأوصحي نفسحي‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫بتقوى الله العظيم القائل في محكم التنزيل:‬ ‫ْ‬ ‫" يآ أ َي ّها ال ّذين ءامنوا ْ ات ّقوا ْ اللحه ولتنظ ُحر نفحس‬ ‫ُ‬ ‫َ َ َ ح َ‬ ‫ِ َ َ َ ُ‬ ‫َ‬ ‫ٌ‬ ‫َ‬ ‫ما قَحد ّمت ل ِغَحدٍ وات ّقحوا ْ اللحه إ ِن اللحه خبيحر ب ِمحا‬ ‫َ َ ِ ٌ َح‬ ‫ُح‬ ‫َ ّ‬ ‫َ‬ ‫ّ‬ ‫تعم ُ‬ ‫َ َلون"‬ ‫َ‬
‫,‪Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah‬‬ ‫‪Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah khatib‬‬ ‫‪untuk berwasiat, baik bagi diri saya pribadi, maupun bagi‬‬ ‫‪hadirin sekalian, untuk selalu dapat meningkatkan‬‬ ‫,.‪keimanan dan ketakwaan diri kita kepada Allah swt‬‬ ‫‪karena hanya dengan bekal iman dan takwa sajalah, kita‬‬ ‫.‪akan selamat, baik di dunia, maupun di akhirat‬‬

‫1‬

Jauh semenjak 14 abad lalu Rasulullah telah mengenalkan kepada kemanusiaan sebuah konsep toleransi umat beragama melalui bingkai bernama Piagam Madinah. Di Indonesia saat ini, sikap toleransi beragama telah menjadi isu yang akrab dalam keseharian bangsa ini. Walaupun sebagian besar masyarakat Indonesia dengan sekian banyak keragaman adat, etnis dan agamanya telah hidup berdampingan secara harmonis, namun sikap toleransi masih sangat signifikan dan urgen untuk digali lebih dalam, bersamaan dengan gejala masih mengentalnya sentimensentimen keagamaan di sebagian kawasan di negeri kita. Fenomena ini tentunya, merupakan tantangan bagi para cendekia kita untuk segera merumuskan cetak biru toleransi beragama di Indonesia, sekaligus tanggungjawab para ulama untuk memahamkan umatnya akan hakikat toleransi sesuai ajaran agama Islam. Sehingga, hubungan intern dan ekstern antar umat beragama yang lebih baik dapat segera terwujud, bukan lagi hanya dalam awangawang, keinginan dan teori semata, melainkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Hadirin sidang Jumat rahimakumullâh Toleransi yang dalam bahasa Arab disebut at-tasâmuh sesungguhnya merupakan salah satu inti ajaran Islam. Toleransi sejajar dengan ajaran fundamental yang lain, seperti kasih-sayang (rahmah), kebijaksanaan (hikmah), kemaslahatan universal (mashlahah 'âlamiah), dan keadilan ('adl).

2

Beberapa prinsip ajaran Islam ini merupakan sesuatu yang qath'iy, yang tidak bisa dianulir atau dibantah dengan nalar apa pun. Prinsip ajaran Islam tersebut bersifat universal dengan melintasi rentang waktu dan dimensi tempat (shâlihatun likulli zamânin wa makânin). Pendeknya, prinsip-prinsip ajaran ini bersifat trans-historis, transideologis, bahkan trans-keyakinan-agama. Sebagai suatu ajaran fundamental atau asasi, konsep toleransi telah banyak ditegaskan dalam al-Quran. Di antaranya sebagaimana yang termaktub dalam surat alBaqarah ayat 256, Allah swt. berfirman:

“Tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut (tuhan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar, lagi maha mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 256) Kebebasan untuk memilih agama dalam ayat ini mengandung maksud, bahwa memeluk agama Islam tidak menghendaki adanya paksaan, melainkan melalui kesadaran dan keinginan pribadi yang bersangkutan. Bagi mereka yang berkenan, dipersilahkan, bagi yang tidak,

َ ِ ّ ْ ّ َ ‫ل َ إ ِك ْراهَ في الدين قد ت ّب َي ّن الرشد ُ من ال ْغَي‬ ِ ّ َ ِ َ َ ِ‫فَمن ي َك ْفر بالطاغوت وَي ُؤْمن بالل ّهِ فَقد‬ ِ ُ ّ ِ ْ ُ ِ ِ ْ َ ‫است َمسك بال ْعُروَةِ ال ْوُث ْقى ل َ انفصام ل َها والل ّه‬ ُ َ َ َ َ ِ ْ ِ َ َ ْ ْ َ َ .‫سميعٌ عَليم‬ ِ َ ٌ ِ

3

adalah hak mereka sendiri untuk menolak dengan sepenuh hati. Bahkan ketika ayat ini menggunakan kalimat negatif yang dalam tata bahasa Arab dikenal dengan “lâ nâfiah”, maka ayat ini dapat diartikan sebagai larangan keras bagi kaum muslimin untuk memaksakan ajaran Islam kepada pemeluk agama lain. Namun sebagai konsekuensinya, seseorang yang telah menjatuhkan pilihannya kepada agama Islam, sudah seharunya konsisten di dalam menjalankan ajaran agamanya secara baik dan benar. Inilah bentuk toleransi agama yang begitu nyata yang ditegaskan oleh Islam. Sama halnya dengan Surat Al-Kafirun ayat 1-6:

َ َ َ ُ َ ‫قُل يا أ َي ّها ال ْكافِرون. ل أ َعْب ُد ُ ما ت َعْب ُدون. وَل‬ َ ُ َ ْ َ َ َ َ ‫أنت ُم عاب ِدون ما أ َعْب ُد. وَل أ َنا عاب ِد ٌ ما عَبدت ّم. وَل‬ َ َ َ ُ ْ َ ّ َ َ ُ َ ْ َ . ‫أنت ُم عاب ِدون ما أ َعْب ُد. ل َك ُم دين ُك ُم وَل ِي دين‬ ِ ْ ُ ْ َ َ ُ َ ْ ِ ِ َ

“Katakanlah (hai Muhammad): "Wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu pun tidak menyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu pun tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Karena untukmulah agamu, dan untukkulah agamaku” Melalui ayat ini dapat dipahami, bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum

4

muslimin untuk tidak ikut-ikutan dalam upacara peribadadatan agama lain, karena ajaran Islam mempunyai batasan-batasan tertentu dalam beribadah dan berkeyakinan. Namun tidak juga memaksakan ajaran Islam kepada mereka, karena "bagi mereka (orang kafir) agama mereka, bagiku (orang Islam) agamaku". Nampak di sini adanya keseimbangan, antara tidak turut campur dalam urusan ibadah agama masing-masing dan tidak memaksakan agama kepada mereka. Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah Begitu kuatnya penegasan Islam akan toleransi beragama, hingga Surat Al-Mumtahanah ayat 8 menjelaskan tentang tidak adanya larangan bagi orang Islam untuk berbuat baik, berlaku adil dan menolong orang-orang non-Islam. Allah swt. berfirman:

ُ َ ْ َ ِ ‫ل ي َن ْهاك ُم الل ّه عَن ال ّذين ل َم ي ُقات ِلوك ُم في الدين‬ ِ ْ ُ ُ َ َ ِ ّ ِ َ ‫وَل َم ي ُخرِجوكم من دِيارِك ُم أن ت َب َروهُم‬ َ ْ ْ ّ ُ ُ ْ ْ ّ ُ ِ ْ .‫وَت ُقسطوا إ ِل َي ْهِم إ ِن الل ّه ي ُحب ال ْمقسطين‬ ّ ِ َ ّ ْ َ ِ ِ ْ ُ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” Melalui ayat ini, al-Quran berpandangan, bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk merajut tali persaudaraan

5

antarsesama manusia yang berlainan agama. Selain itu, Tuhan menciptakan bumi ini tidak semata untuk satu golongan agama tertentu. Dengan adanya bermacammacam agama, itu tidak berarti bahwa Tuhan membenarkan diskriminasi atas manusia, melainkan untuk saling mengakui eksistensi masing-masing (lita'ârafû).

َ ُ ‫يا أ َي ّها الناس إ ِنا خل َقناكم من ذ َك َرٍ وَأنثى‬ َ ّ ُ َ ْ َ ّ ُ ّ َ َ ‫وجعل ْناك ُم شعوبا وقَبائ ِل ل ِتعارفوا إن أ‬ ُ َ ََ َ َ َ ً ُ ُ ْ َ َ َ َ ‫ِ ّ ك ْرمك ُم‬ ْ َ َ ‫عند َ الل ّهِ أ َت ْقاك ُم‬ ِ ْ َ

“Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbilang bangsa dan suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian”. (QS. Al-Hujurat: 13). Oleh karena itu, sungguh tidak beralasan bagi seorang muslim untuk tidak bersikap toleran kepada orang lain hanya karena dia bukan penganut agama Islam. Membiarkan orang lain untuk tetap memeluk agamanya selain Islam adalah bagian dari perintah Islam sendiri. Dengan kata lain, pemaksaan dalam perkara agama --di samping bertentangan dengan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang merdeka-- juga berlawanan dengan ajaran Islam itu sendiri. Bahkan, Nabi Saw pernah mendapat teguran dari Allah swt., yang terekam dalam Surat Yunus ayat 99:

6

َ َ َ ‫وَل َوْ شاء رب ّك لمن من في ال َرض ك ُل ّهُم جميعا‬ ِ ً ِ َ ْ َ َ َ ِ ْ َ .‫أ َفَأنت ت ُك ْرِهُ الناس حتى ي َكونوا ْ مؤْمنين‬ ُ ُ ّ َ َ ّ َ َ ِ ِ ُ
"Kalau Tuhanmu mau, tentulah semua orang yang ada di muka bumi ini telah beriman, maka apakah kamu (wahai Muhammad) akan memaksa seluruh manusia hingga mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" Tidak adanya izin teologis dari sang Maha Pencipta untuk melakukan pemaksaan dalam urusan agama ini dapat dimaklumi, ketika kita menyadari bagaimana Tuhan telah memposisikan manusia sebagai makhluk berakal, yang mampu untuk membedakan dan memilih agama yang diyakini dapat mengantarkan dirinya menuju gerbang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Allah sendiri telah berfirman:

َ ‫وَقُل ال ْحقّ من رب ّك ُم فَمن شاء فَل ْي ُؤْمن وَمن‬ ِ َ َ َ ْ ّ ِ ِ َ ‫شاء فَل ْيك ْفر إنا أ َعْتدنا للظال ِمين نارا أ‬ َ َ َ ‫َ ْ َ ِ ّ ِ َ َ ً حاط ب ِهِم‬ ِّ ْ ُ َ ْ ُ َ ُ ِ ْ ‫سرادِقُها وَإن ي َست َغيثوا ي ُغاثوا ب ِماء كال ْمهْل‬ َ ِ ُ َ َ ُ ِ َ ‫ي َشوي ال ْوُجوهَ ب ِئ ْس الشراب وَساءت مرت َفقا‬ ً َ ْ ُ ْ ُ َ ّ ُ َ َ ِ ْ

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman silahkan beriman dan barangsiapa yang ingin kafir silahkan ia kafir. Sesungguhnya kami telah menyediakan untuk orang-orang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, mereka akan diberi minum dengan air yang seperti besi mendidih menghanguskan

7

muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al-Kahfi: 29) Karenanya, marilah kita wujudkan Islam yang rahmat bagi semua, melalui toleransi umat beragama sebagai sebuah sarana (washîlah), apalagi ketika Islam telah mempunyai konsep yang jelas, mudah, aplikatif, rasional dan telah terbukti oleh sejarah, bahkan sebagai sebuah ajaran yang qath’iy yang mesti dijalankan. Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah Swt... Di dalam sejarah Islam dikenal sebuah dokumen penting dan strategis, bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi umat manusia secara keseluruhan. Dokumen ini berkaitan dengan H.A.M. dan toleransi antar umat beragama. Piagam Madinah, dokumen yang lahir 14 abad lalu ini merupakan sebuah kesepakatan lintas agama dan ras yang diprakarsai oleh Rasulullah saw. dalam mengatur kehidupan beragama dan bermasyarakat di Madinah, berdasarkan prinsip keadilan, persamaan, kebebasan, toleransi, kerukunan, persamaan dan persaudaraan. Hal ini berlaku baik bagi penduduk asli maupun pendatang yang berasal dari berbagai daerah di semenanjung Arab Saudi, terutama Mekah, Madinah, dan kota-kota sekitarnya. Pencerahan yang diprakarsai Rasulullah Saw ini menjadikan kota Madinah dikenal sebagai Madînat `ul Munawwarah atau kota yang bercahaya. Seorang orientalis Barat bernama Robert N. Bellah dalam bukunya Beyond Belief

8

menggambarkan keadaan sosial saat itu: “suatu masyarakat yang untuk zaman dan tempatnya sangat modern (bahkan terlalu modern)... bahkan Timur Tengah dan umat manusia saat itu belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti pernah dirintis Nabi saw." Hadirin sidang Jumat rahimakumullâh Inti dari piagam Madinah berisi tentang hal-hal berikut; Pertama: pengakuan kaum muslimin tentang segmen masyarakat Madinah yang plural, namun merupakan satu kesatuan yang disebut ummat. Kedua, hubungan anggota masyarakat antara yang beragama Islam dan non-Islam didasarkan pada prinsip bertetangga yang baik, saling membantu, membela yang teraniaya, menasehati dan menghormati kebebasan beragama. Ketiga, mekanisme penegakkan hal-hal yang baik, seperti melindungi harta dan jiwa, sistem keamanan, musyawarah, penegakkan hukum, keadilan, dan menghadapi bahaya. Keempat, segala persoalan akan diselesaikan secara musyawarah dan jika terjadi perselisihan antar kabilah yang tidak dapat diselesaikan, akan diserahkan pada kebijakan Nabi Muhammad saw. Sebab kejujurannyalah, orang Yahudi dan Nasrani mengakui kemampuan Nabi dalam menyelesaikannya secara arif dan bijaksana.

9

Secara lebih jelasnya, toleransi beragama dalam Piagam Madinah disinggung pada pasal 25 yang bunyinya: "Kaum Yahudi dari Banu Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum mukminin agama mereka. (kebebasan ini berlaku) Juga bagi sekutusekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi orang yang berbuat kezhaliman dan kejahatan, merusak diri dan keluarga mereka”. Dalam pasal 25 ini sangat jelas, bahwa agama tidak menjadi pemisah dan penghalang untuk dapat hidup berdampingan dalam sebuah negara. Kaum Yahudi dan Musyrikin tidak ditempatkan di lokasi yang diperangi (dar al-harb) dan kaum muslimin di lokasi aman (dar al-Islam). Tapi mereka hidup di satu tempat sebagai satu umat. Satu dengan yang lainnya merupakan bagian yang tak terpisahkan, hidup dengan penuh kedamaian (musâlamah). Tidak dikenal istilah warga kelas satu atau kelas dua, hanya karena perbedaan agama. Kebebasan di sini bukan saja agama tetapi juga mencakup kebebasan berfikir, berpendapat dan berkumpul. Hadirin sidang Jumat yang Allah muliakan Kebebasan beragama ini benar-benar diterapkan Nabi saw. Beliau melarang sahabat Hushayn dari Banu Salim Ibn 'Auf yang memaksa kedua anaknya yang Nasrani agar memeluk Islam, karena Nabi melihat bahwa beragama adalah hak setiap manusia.

10

Begitu juga ketika Kabilah Aus memaksa anak-anaknya yang beragama Yahudi untuk masuk agama Islam dan segera bergabung dengan pasukan Rasulullah, beliau pun melarangnya. Karena memeluk suatu agama atau keyakinan adalah hak asasi manusia, selain efek dari keterpaksaan malah akan menimbulkan kebencian dan tidak melahirkan keyakinan yang mantap bagi pemeluk bersangkutan. Begitu besarnya perhatian Nabi kepada kaum non-muslim semisal Yahudi dan Nasrani, sampai-sampai beliau pernah mengingatkan umatnya agar tidak memusuhi mereka. Sebab keselamatan dan keamanan mereka menjadi tanggung jawab Rasulullah. Sampai-sampai Nabi saw. pernah bersabda: "Siapa yang memusuhi orang kafir dzimmi, berarti akulah lawannya, dan siapa yang aku telah menjadi lawannya, kelak di hari kiamat akulah lawannya.'' Di bidang hukum orang-orang non-Islam sebagai golongan minoritas memiliki kedudukan hukum yang sama dengan umat Islam, tidak ada diskriminasi, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Mereka bagian dari penduduk sipil, tidak boleh diganggu dan harus dilindungi. Dalam hal kewajiban dan upaya mempertahankan masyarakat Madinah dari serangan pihak luar, golongan minoritas non-muslim dibebani tugas yang sama, kecuali alasan tertentu mereka dibolehkan dengan syarat membayar pajak perlindungan. Demikian juga hak-hak mereka yang lain, seperti jiwa, harta, keluarga, fasilitas peribadatan dan jabatan keagamaan. Seperti pendeta dan

11

rahib tetap dilindungi dan tidak boleh diambil alih atau diisi orang lain atau orang Islam. Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh... Melalui Piagam Madinah ini kita mengetahui, bahwa telah hadir 14 abad yang lalu suatu masyarakat maju (civil society) atas dasar wawasan kebebasan beragama, toleransi, kerukunan, persamaan dan persaudaraan antar sesama warga, yang terdiri atas berbagai suku, ras dan agama. Dalam konteks kini, nilai-nilai positif dalam Piagam Madinah dapat kita aktualisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari kita dalam berinteraksi antar sesama dengan mengedepankan sikap toleransi. Inti ajaran Piagam Madinah menjadi sangat penting artinya untuk dipahami sehubungan dengan munculnya berbagai konflik bernuansa suku, agama dan ras yang kerap terjadi saat ini. Bercermin dari Piagam Madinah dan konsep Islam dalam bertoleransi, hendaknya setiap dari kita harus menyadari, bahwa Islam memerintahkan kepada umatnya untuk saling tenggang rasa dan toleransi dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Allah swt. sengaja menciptakan manusia berbagai bangsa dan suku hanya untuk menguji, mampukah manusia untuk hidup rukun dan damai penuh kasih sayang di dalam mencari kebenaran di sisinya.

12

‫َ َ َ‬ ‫بارك الله ل ِي ول َك ُم في ال ْقرآن ال ْعظِي ْم،‬ ‫ْ ِ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ُ ْ ِ‬ ‫ْ َ‬ ‫ِ‬ ‫ون َفعن ِي وإ ِياك ُم ب ِما في ْه من اليات والذّك ْر‬ ‫َ َ َ ْ َ ّ‬ ‫ْ َ ِ ِ ِ َ ْ َ ِ َ‬ ‫ِ‬ ‫ال ْحك ِي ْم ِ. أ َقول قول ِي هذا وأ َست َغفر الله‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُ ْ ُ َ ْ ْ َ َ َ ْ ْ ِ ُ‬ ‫ال ْعظِي ْم ل ِي ول َك ُم ول ِسائ ِر ال ْمسل ِمي ْن،‬ ‫َ‬ ‫ُ ْ ِ َ‬ ‫َ‬ ‫ْ َ‬ ‫ْ َ َ ِ‬ ‫فاست َغفروهُ إ ِن ّه هو ال ْغفور الرحي ْم.‬ ‫ّ ِ ُ‬ ‫َ ُ ْ ُ‬ ‫ُ ُ َ‬ ‫َ ْ ْ ِ ُ ْ‬

‫31‬

‫إ ِن ال ْحمدَ ل ِل ّه ن َحمدُهُ ون َست َعي ْن ُه ون َست َغفره‬ ‫ّ‬ ‫َ ْ ِ ُ َ ْ ْ ِ ُ ْ‬ ‫ِ ْ َ‬ ‫َ ْ‬ ‫ون َست ًهديه ون َعوذُ بالله من شرور أ َ‬ ‫ِ ِ ْ ُ ُ ْ ِ ن ْفسنا ومن‬ ‫َ ْ ْ ِ ْ ِ َ ُ‬ ‫ُ ِ َ َ ِ ْ‬ ‫ِ‬ ‫ُ َ‬ ‫سي ّئات أ َعمال ِنا، من ي َهده الله فل َ مضل ل َه ومن‬ ‫ْ َ َ‬ ‫َ ْ ْ ِ ِ‬ ‫َ َ ِ‬ ‫ُ ِ ّ ُ َ َ ْ‬ ‫يضل ِل ْه فل َ هادي ل َه. أ َشهد أ َ‬ ‫ُ ْ ُ َ‬ ‫ْ َ ُ ن ل َ إ ِل َه إ ِل ّ الله‬ ‫ْ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ِ َ ُ‬ ‫وحدَهُ ل َ شري ْك ل َه وأ َشهدُ أ َن محمدا عب ْدُه‬ ‫ّ ُ َ ّ ً َ‬ ‫َ ْ‬ ‫َ ِ َ ُ َ ْ َ‬ ‫ُ‬ ‫ورسول ُه. الل ّهم صل وسل ّم ع َ‬ ‫َ َ ُ ْ ُ َ‬ ‫ُ ّ َ ّ َ َ ْ َلى ن َب ِي ّنا محمد‬ ‫َ ُ َ ّ ٍ‬ ‫ْ َ ٍ َ‬ ‫َ َ َ‬ ‫ِ َ َ ْ ِ َ َ ْ‬ ‫َ ُ ْ‬ ‫ْ‬ ‫وعلى آل ِه وصحب ِه ومن ت َب ِعهم ب ِإ ِحسان إ ِلى ي َوم ِ‬ ‫ال ْقيامة. أ َما ب َعد؛‬ ‫ِ َ َ ِ‬ ‫ْ ُ‬ ‫ّ‬ ‫إ ِن الله ومل َئ ِك َت َه ي ُصل ّون على الن ّب ِي، يا أ َيها َ‬ ‫َ ْ َ َ َ‬ ‫ّ‬ ‫ّ َ ّ‬ ‫ُ‬ ‫َ َ َ‬ ‫ال ّذي ْن ءامن ُوا صل ّوا عل َي ْه وسل ّموا ت َسل ِي ْما. الل ّهم‬ ‫ْ‬ ‫َ ُ ّ‬ ‫ً‬ ‫َ ْ َ ِ َ َ ُ ْ‬ ‫ِ َ َ َ ْ‬ ‫َ ِ َ ُ َ ّ ٍ َ َ َ‬ ‫َ ّ َ َ ْ َ َ ِ ْ َ َ‬ ‫صل وسل ّم وبارك على سي ّدنا محمد وعلى آل‬ ‫ِ‬ ‫ْ َ ِ َ ُ ْ َ‬ ‫سي ّدنا محمد وارض عن سادات ِنا أ َصحاب رسول ِك‬ ‫َ ِ َ ُ َ ّ ٍ َ ْ َ َ ْ َ َ َ‬ ‫ْ َ ٍ َ‬ ‫َ ّ‬ ‫صلي الله عل َي ْه وسل ّم ومن ت َب ِعهم ب ِإ ِحسان ا ِلي‬ ‫ُ َ ِ َ َ َ َ َ ْ‬ ‫َ ُ ْ‬ ‫ي َوم ِ الدّي ْن. الل ّهم اغفر ل ِل ْمسل ِمي ْن وال ْمسل ِمات‬ ‫ُ ْ ِ َ َ ُ ْ َ ِ‬ ‫ِ َ ُ ّ‬ ‫ْ ِ ْ‬ ‫ْ‬ ‫وال ْمؤمن ِي ْن وال ْمؤمنات ا ْل َحياء من ْهم وا ْل َ‬ ‫ْ َ ِ ِ ُ ْ َ موات.‬ ‫ْ َ ِ‬ ‫َ َ ُ ْ ِ َ ِ‬ ‫َ ُ ْ ِ‬ ‫الل ّهم إ ِنا ن َسأ َل ُك من ال ْخي ْر ك ُل ّه ما عل ِمنا من ْه‬ ‫َ ُ ّ ّ‬ ‫ْ‬ ‫َ ِ َ‬ ‫ِ َ َ ْ َ ِ ُ‬ ‫َ ِ‬ ‫ْ ْ ْ َ َ‬ ‫وما ل َم ن َعل َم. الل ّهم أ َصل ِح أ َحوال ال ْمسل ِمي ْن‬ ‫ُ ْ ِ َ‬ ‫ْ ْ ْ َ ُ َ‬ ‫َ َ‬ ‫وآمن ْهم في أ َ‬ ‫َ ِ ُ ْ ِ ْ وطان ِهم. رب ّنا آت ِنا في الدّن ْيا حسن َة‬ ‫َ َ َ ً‬ ‫َ ِ‬ ‫ْ َ ِ ْ َ َ‬ ‫وفي الخرة حسن َة وقنا عذاب النار.‬ ‫َ ِ‬ ‫ِ َ ِ َ َ ً َ ِ َ َ َ َ‬ ‫ّ ِ‬ ‫عبادَ الله، إ ِن الله ي َأ ْمرك ُم بال ْعدْل وا ْل ِحسان‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫ِ َ‬ ‫َ‬ ‫ْ َ ِ‬ ‫ُ ُ ْ ِ َ ِ َ‬ ‫وإيتآئ ذي ال ْقربى وي َن ْهى عن ال ْفحشآء‬ ‫َ ْ َ ِ‬ ‫َ ِ َ ِ ِ‬ ‫ُ ْ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ِ‬ ‫وال ْمنك َر وال ْب َغي ي َعظُك ُم ل َعل ّك ُم ت َذَك ّرون.‬ ‫ْ ِ ِ‬ ‫ُ ْ َ‬ ‫ْ َ‬ ‫ْ‬ ‫َ ُ‬ ‫ِ َ‬
‫41‬

‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫َ‬ ‫فاذْك ُروا الله ال ْعظِي ْم ي َذْك ُرك ُم واسأ َل ُوهُ من‬ ‫َ‬ ‫ِ ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ ْ َ ْ ْ‬ ‫ُ‬ ‫فضل ِه ي ُعطِك ُم ول َذك ْر الله أ َك ْب َر.وأ َقم ِ الصل َة‬ ‫ُ َ ِ‬ ‫ّ ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ ْ ِ ْ‬ ‫ْ َ ِ ُ‬

‫51‬

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->