P. 1
Ekonomi Kerakyatan Dalam Era Globalisasi

Ekonomi Kerakyatan Dalam Era Globalisasi

|Views: 4,163|Likes:
Published by mounawasef

More info:

Published by: mounawasef on Feb 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

EKONOMI KERAKYATAN DALAM ERA GLOBALISASI

Jumat, 15/12/2006 - 10:45 - dikirim oleh: zoelveri.

Judul Artikel
EKONOMI KERAKYATAN DALAM ERA GLOBALISASI

Bahasa
Indonesia

Penulis
Mubyarto

Judul Jurnal
Jurnal Ekonomi Rakyat

Nomor
Th. I - No. 7 - September 2002

Bidang Ilmu
Ekonomi

Kata Kunci
Ekonomi, globalisasi

Abstrak
Pada waktu itu (1979) kami ajukan ajaran ekonomi alternatif yang kami sebut Ekonomi Pancasila. Mengapa tidak dipakai konsep Ekonomi Pancasila? Ringkasan dan Implikasi Pakar-pakar ekonomi Indonesia yang memperoleh pendidikan ilmu ekonomi “Mazhab Amerika”, pulang ke negerinya dengan penguasaan peralatan teori ekonomi yang abstrak, dan serta merta merumuskan dan menerapkan kebijakan ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan, yang menurut mereka juga akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Keangkuhan dari pakar-pakar ekonomi dan komitmen mereka pada kebijakan ekonomi gaya Amerika merupakan kemewahan yang tak dapat lagi ditoleransi Indonesia. Praktekpraktek perilaku yang diajarkan paham ekonomi yang demikian, dan upaya mempertahankannya berdasarkan pemahaman yang tidak lengkap dari perekonomian, hukum, dan sejarah bangsa Amerika, mengakibatkan terjadinya praktek-praktek yang keliru secara intelektual yang harus dibayar mahal oleh Indonesia. UGM telah

memutuskan membuka Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) untuk menghidupkan kembali tekadnya mengembangkan sistem Ekonomi Pancasila yang berawal pada tahun 1981 ketika Fakultas Ekonomi UGM mencuatkan dan menggerakkan pemikiranpemikiran mendasar tentang moral dan sistem ekonomi Indonesia. Sistem Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Syarat mutlak berjalannya sistem ekonomi nasional yang berkeadilan sosial adalah berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Moral Pembangunan yang mendasari paradigma pembangunan yang berkeadilan sosial mencakup: penyegaran nasionalisme ekonomi melawan segala bentuk ketidakadilan sistem dan kebijakan ekonomi; pendekatan pembangunan berkelanjutan yang multidisipliner dan multikultural. pengkajian ulang pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu ekonomi dan sosial di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

Keterangan Sumber
http://www.ekonomirakyat.org/edisi_7/artikel_1.htm

Ekonomi kerakyatan
Rabu, 22/11/2006 - 13:06 - dikirim oleh: zoelveri.

Judul Artikel
EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL

Bahasa
Indonesia

Penulis
Fredrik Benu

Judul Jurnal
Jurnal Ekonomi Rakyat

Nomor
No. 10 - Desember 2002

Bidang Ilmu
Ekonomi

Kata Kunci
Ekonomi rakyat, Pemberdayaan

Abstrak
Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat, yaitu ekonomi rakyat yang mana, siapa, di mana dan berapa jumlahnya. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‘ekonomi rakyat’ dengan ‘ekonomi kerakyatan’. Menurutnya, ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Atau dengan kata lain, usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar, bukan ekonomi pasar itu sendiri. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu, 2000). Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT

Keterangan Sumber
www.ekonomirakyat.org

Term of Reference DISKUSI BERSERI COMMUNITY CURRENCY SYSTEM (CCS)
Sebagai

ALTERNATIF SISTEM PEREKONOMIAN MASYARAKAT
Latar Belakang Memburuknya tatanan ekonomi global dan krisis ekonomi yang berkepanjangan yang menerpa beberapa kawasan dunia termasuk beberapa

negara yang sedang berkembang di kawasan Asia Tenggara telah memperbesar keinginan untuk mencari alernatif bentuk dan tatanan perekonomian yang lebih berkeadilan dan lebih mampu melindungi kalangan masyarakat kelas marginal di seluruh dunia. Baru-baru ini beberapa negara sedang melakukan upaya untuk menggali kembali sistem alat pertukaran lokal dengan melihat potensi sumber daya lokal, seperti yang terjadi di Thailand, Meksiko, El Savador , Argentina, Chile, serta Sinegal. Sistem mata uang lokal yang dibangun pada masyarakat di beberapa negara tersebut berjalan paralel dengan tidak menegasikan sistem mata uang nasional pada masing-masing negara. Beberapa tujuan dasar yang melatar belakangi dibangunnya sisitem mata uang lokal di beberapa wilayah belahan dunia adalah sebagai berikut : • • Mengembalikan kontrol ekonomi pada masyarakat. Memberikan pengertian-pengertian pada masyarakat dengan aman dan sederhana mengenai alternatif sistem alat tukar yang aman dan sederhana (terjadinya peningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat tanpa menyebabkan inflasi). Memisahkan fungsi-fungsi yang berlainan antara uang sebagai sebuah standar nilai dan sebagai alat tukar. Mendorong sirkulasi ekonomi dengan meningkatkan kapasitas produksi lokal di masyarakat. Mengidentifikasi aset-aset tiap orang dan aset masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Membuat sistem ekonomi yang stabil dan berkelanjutan berupa nilai uang yang akurat dengan melihat sumber daya/barang-barang yang ada, kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang terpenuhi dengan jalan tidak memaksa penambahan jumlah barang (material) yang masuk.

• • • •

Sedangkan beberapa keuntungan yang dapat dirasakan masyarakat dari penerapan sistem tersebut yang berhasil dihimpun dari pengalaman pelaksanaan di lapangan meliputi : • • • • • • • Meningkatnya jumlah uang di dalam masyarakat tanpa terjadi inflasi. Meningkatnya nilai barang yang dapat diuangkan (likuiditas) dan mempercepat perputaran uang. Lebih lamanya waktu tinggal uang nasional di dalam ekonomi masyarakat. Bertambahnya akses di pasar lokal. Meningkatnya peluang-peluang kerja. Meningkatnya penghargaan atas aktivitas tradisional yang selama ini kurang di hargai. Berkurangya aktivitas-aktivitas (untuk uang) yang merusak lingkungan.

• • • • • • • • •

Meningkatnya dukungan untuk pengembangan usaha kecil. Meningkatnya penguatan hubungan masyarakat dan persaudaraan masyarakat. Adanya kecenderungan ekonomi yang menahan laju pergolakan ekonomi. Mengembalikan potensi yang ada di dalam masyarakat. Terdorongnya percaya diri di daerah dan harga diri pada tiap anggota masyarakat. Meningkatnya tabungan-tabungan masyarakat dan pendapatan yang dikeluarkan. Peluang-Peluang baru usaha. Berkurangnya jarak antara orang kaya dan orang miskin dalam suatu komunitas/masyarakat. Meningkatnya kemungkinan-kemungkinan untuk pekerjaan baru dalam ekonomi daerah, sistem CCS bertindak sebagai langkah awal membantu masyarakat dalam mendidik suatu keahlian pada pekerjaan baru.

Secara umum beberapa perbandingan antara penerapan sistem CCS yang telah dilakukan di 35 negara ( 3200 jenis mata uang masyarakat) dengan Sistem ekonomi Neo-Liberal yaitu : Neo-Liberal • Memaksiumkan efesiensi melalui arus uang dan barang CCS

 Keseimbangan efesiensi dengan
keadilan dan keamanan

 Memusatkan
keuntungan,mendorong investasi dari luar dan adanya spekulasi

 Masyarakat memutuskan apa yang
akan diinvestasi berdasarkan kebutuhan lokal

 Individualistik  Sumberdaya tidak mencukupi, tidak
cukup untuk setiap orang

 Terpusat pada masyarakat  Ada cukup.  Mendorong produk barang-barang
dasar pada tingkat masyarakat

 Hutang  Berdasarkan perbandingan
keuntungan, focus disuatu kegiatan ekonomi yang menyebabkan monocropping, buruh pabrik

 Membantu masyarakat bertahan
terhadap badai (jatuh dan bangun)

Program yang telah dilakukan sebelumnya Kegiatan ini merupakan bagian dari program Community Based Social Economic

Development-Yappika. Dan merupakan salah satu upaya membangun trobosan baru dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan. Sedangkan upaya-paya lain yang menunjang program ini diantaranya riset ekonomi rakyat di desa Giri Sekar Kabupaten Gunung Kidul - Yogyakarta, serta pengembangan Skema kredit di 5 wilayah Kerja Yappika (Aceh, Papua, NTT, Makasar serta Yogyakarta)

Belajar Ekonomi Kerakyatan dari Negeri Lain
Dalam seminar untuk merayakan Milad Nasional ke-43 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mantan menteri di era BJ Habibie, Megawati, dan Gus Dur itu menjelaskan ekonomi sosialis (komunis) dan kapitalis (liberal) telah gagal. "Negara komunis seperti Uni Sovyet, Yugoslavia, Jerman Timur, dan RRC telah mencoba melakukan pemaksaan selera penguasa dalam hal penentuan barang dan jasa yang diproduksi, alokasi sumber daya ekonomi, dan distribusi barang dan jasa kepada rakyat, namun hasilnya justru rakyat miskin dan elit politik yang makmur," tegasnya. Menurut mantan Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya di era mantan Presiden BJ Habibie itu, negara liberalis menyerahkan sepenuhnya proses memakmurkan rakyat kepada mekanisme pasar, namun hasilnya menimbulkan kesenjangan yang besar antara miskin-kaya. "Dari pengalaman itu, peranan pemerintah sebenarnya mutlak diperlukan, namun sifatnya harus terbatas, limited government, atau small government, kemudian wakil rakyat melalui proses demokrasi memberi janji untuk memakmurkan rakyat," paparnya. Di Amerika Serikat (AS) yang merupakan dedengkot negara kapitalis dan persaingan bebas saja, katanya, ada program yang nyata-nyata berpihak kepada sistem ekonomi kerakyatan, seperti bantuan subsidi kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan juga kepada koperasi. Mantan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di era mantan Presiden Megawati itu mengatakan di Taiwan juga disediakan kredit sebesar Rp1,3 miliar kepada setiap petani dengan bunga cuma tiga persen per-tahun. "Finlandia menyediakan kredit murah jangka panjang 100 tahun kepada petani yang menanam pohon hutan. Jadi, sistem ekonomi kerakyatan itu tidak mungkin dapat dicapai kalau sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, namun perlu ada keberpihakan pemerintah dan legislatif," ungkapnya. Namun, kata mantan Menteri Kehutanan di era mantan Presiden Gus Dur itu, ekonomi

kerakyatan di Indonesia masih sebatas bibir, karena bantuan kredit kepada petani diberikan, tapi tidak semurah dan semudah di Taiwan. Deputy Chairman PT Lippo E-Net Tbk itu merinci bantuan yang diberikan kepada rakyat adalah Bimas, Inmas, Insus, KUT, Kredit Candak Kulak, Kredit Investasi Kecil, Kredit Modal kerja Kecil, kredit-kredit melalui koperasi (PIR, PIR koperasi, dan sebagainya), subsidi benih, dan subsidi pupuk. Selain itu, operasi pasar khusus untuk beras, penjaminan kredit melalui Askrindo dan Perum PKK, kredit murah untuk RSS, perbaikan kampung, pembuatan dan perbaikan saluran irigasi, jalan, dan jembatan, Inpres Desa, Inpres Kesehatan, Inpres Pasar, Inpres Penghijauan, Puskesmas, Posyandu, dan sebagainya. "Tapi, keberpihakan kepada golongan mampu (kaya) lebih mencolok seperti pada kasus Kredit Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) yang cuma dikenakan bunga 12 persen setahun dengan plafon tanpa batas," ucapnya. Jadi, proses pemberian kredit akhirnya hanya dinikmati segolongan konglomerat dan bukan berpihak kepada usaha-usaha untuk menyejahterakan rakyat. Usaha untuk memakmurkan rakyat selama ini masih terbatas kepada pangan dan papan saja. "Untuk petani di Jawa yang memiliki lahan harus ada keberpihakan Pemerintah pusat dan daerah untuk memakmurkan mereka melalui bantuan teknologi dan pembiayaan yang murah serta pemasaran hasil produksi petani itu ke dunia," katanya. Untuk petani di Jawa yang tidak memiliki lahan, katanya, perlu disediakan lahan garapan milik pemerintah pusat dan daerah dengan sistem bagi hasil yang memihak kepada pemakmuran petani. "Untuk petani di luar Jawa, lahan bukanlah merupakan masalah, namun perlu budaya kerja keras haruslah ditanam secara rajin, karena itu Balai Latihan Kerja yang telah tersebar di seluruh perlu dimaksimalkan pemanfaatannya," kilahnya. Untuk nelayan Pantura, katanya, perlu dibantu penyediaan sarana untuk penangkapan ikan, pengolahan hasil, dan pemasaran ke dunia, sedangkan untuk para penyedia jasa-jasa di bidang pariwisata, seni dan budaya, agar jelas-jelas dibantu sehingga jasa-jasa mereka dapat dipasarkan ke dunia. Dalam renungan akhir tahun 2003 sekaligus memperingati Setahun Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM (9/12/03), almarhum Prof Dr Mubyarto yang dikenal pejuang ekonomi kerakyatan menegaskan bahwa semangat nasionalisme bangsa Indonesia beberapa tahun terakhir sudah sangat mengendur. "Kendurnya nasionalisme itu karena dibekukan dengan prestasi `keajaiban ekonomi` selama 32 tahun yang konon tumbuh rata-rata 7 persen/tahun, padahal yang terjadi adalah penghisapan oleh pemerintah pusat dan investor asing, sehingga terjadi ketimpangan

akibat keajaiban yang menipu," ujarnya. Pakar ekonomi kerakyatan yang meninggal dunia pada 24 Mei 2005 itu mencontokan penghisapan pada 1996 yakni Provinsi Kaltim, Riau dan Irian Jaya (Papua) dengan derajat penghisapannya masing-masing 87 persen, 80 persen dan 78 persen, sehingga ekonomi Indonesia kembali terjajah oleh ekonomi asing. Walhasil, kalau orang-orang kecil di Taiwan, RRC, Spanyol, Swiss, dan Thailand bisa hidup makmur, maka orang-orang kecil di Indonesia juga harus bisa makmur dengan Sistem Ekonomi Kerakyatan yang benar secara realitas dan bukan hanya mimpi atau "lips service."(*)

EKONOMI KERAKYATAN BUTUH DEMOKRATISASI MODAL
REVRISOND BASWIR

EKONOMI KERAKYATAN BUTUH DEMOKRATISASI MODAL Oleh: Revrisond Baswir*, PESERTA AKTIF MILIS NASIONAL

Secara konstitusional, ekonomi kerakyatan diperkenalkan sejak diundangkannya UUD 1945 lebih dari 56 tahun lalu. Titik tolak yang paling mudah untuk memahami ekonomi kerakyatan adalah dengan menguraikan makna penggalan kalimat pertama dalam penjelasan Pasal 33 UUD 1945. Sebagaimana dikemukakan oleh penggalan kalimat tersebut, "Dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat." Dalam penggalan kalimat itu, ungkapan ekonomi kerakyatan memang tidak digunakan secara eksplisit. Tetapi dengan mengacu pada penggunaan ungkapan kerakyatan sebagaimana digunakan oleh sila keempat Pancasila, akan segera diketahui yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan tidak lain dari demokrasi ekonomi sebagaimana dimaksudkan oleh penjelasan Pasal 33 UUD 1945 tersebut. Berdasarkan bunyi penggalan kalimat dalam penjelasan Pasal 33 UUD 1945 itu, dapat diketahui secara substansial ekonomi kerakyatan sesungguhnya mencakup tiga hal berikut: Pertama, adanya partisipasi penuh seluruh anggota masyarakat dalam proses pembentukan produksi nasional. Partisipasi penuh seluruh masyarakat dalam proses pembentukan produksi nasional ini sangat penting artinya bagi ekonomi kerakyatan. Dengan cara demikian seluruh masyarakat mendapat bagian dari hasil produksi nasional itu. Sebab itu, sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 27 UUD 1945, "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan." Kedua, adanya partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam turut menikmati hasil produksi nasional. Artinya, dalam rangka ekonomi kerakyatan, tidak boleh ada satu orang pun yang tidak ikut menikmati hasil produksi nasional, termasuk fakir miskin dan anak telantar. Hal itu dipertegas oleh Pasal 34 UUD 1945 yang mengatakan, "Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara." Ketiga, pembentukan produksi dan pembagian hasil produksi nasional harus berada di bawah pimpinan atau penilikan anggota masyarakat. Artinya, dalam rangka ekonomi kerakyatan, anggota masyarakat tidak

boleh hanya menjadi objek. Setiap anggota masyarakat harus diupayakan agar menjadi subjek perekonomian. Walaupun misalnya kegiatan pembentukan produksi nasional dilakukan oleh para pemodal asing, kegiatan-kegiatan itu harus tetap berada di bawah pengawasan atau pengendalian masyarakat.

PARTISIPASI MASYARAKAT
Unsur ekonomi kerakyatan yang ketiga itu saya kira perlu digarisbawahi. Sebab unsur ekonomi kerakyatan yang ketiga itulah yang mendasari perlunya partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam kepemilikan modal atau faktor produksi nasional, baik dalam bentuk kepemilikan modal material (material capital), modal intelektual (intelectual capital), maupun modal institusional (institusional capital). Sebagai konsekuensi dari unsur ekonomi kerakyatan yang ketiga itu, negara harus mengupayakan agar kepemilikan ketiga jenis modal tersebut terdistribusi secara relatif merata di tengah masyarakat. Sehubungan dengan modal material, misalnya, negara tidak hanya wajib mengakui dan melindungi hak kepemilikan setiap anggota masyarakat, tetapi juga wajib memastikan bahwa semua anggota masyarakat turut serta memiliki modal material. Sehubungan dengan modal intelektual, negara wajib menyelenggarakan pendidikan cuma-cuma bagi seluruh anggota masyarakat. Artinya, dalam rangka ekonomi kerakyatan, pendidikan bukanlah sebuah kegiatan yang dapat dikomersialkan. Negara tidak mungkin melarang komersialisasi pendidikan oleh pihak swasta, tetapi hal itu harus dilakukan bersamaan dengan disediakannya fasilitas pendidikan bebas biaya oleh sektor negara. Sementara itu, sehubungan dengan modal institusional, saya kira tidak ada keraguan sedikitpun bahwa negara memang wajib melindungi hak setiap anggota masyarakat untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat. Hal itu tentu tidak hanya berlaku sehubungan dengan pembentukan serikatserikat sosial dan politik, tetapi mencakup pula pembentukan serikat-serikat ekonomi. Secara khusus hal itu diatur dalam Pasal 28 UUD 1945. Bertolak dari uraian tersebut, secara keseluruhan dapat disaksikan bahwa tujuan utama ekonomi kerakyatan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian. Artinya, dalam rangka ekonomi kerakyatan, setiap anggota masyarakat harus diupayakan agar menjadi subjek perekonomian. Mereka tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek perekonomian. Bila tujuan ekonomi kerakyatan itu diuraikan lebih lanjut, maka sasaran pokok ekonomi kerakyatan dalam garis besarnya meliputi lima hal berikut:

Pertama, tersedianya peluang kerja dan penghidupan yang layak bagi seluruh anggota masyarakat. Kedua, terselenggaranya sistem jaminan sosial bagi anggota masyarakat yang membutuhkan, khususnya bagi fakir miskin dan anak telantar. Ketiga, terlindungi dan terdistribusinya kepemilikan modal material secara relatif merata di antara anggota masyarakat. Keempat, terselenggaranya pendidikan bebas biaya bagi setiap anggota masyarakat yang memerlukan. Kelima, terjaminnya hak setiap anggota masyarakat untuk mendirikan serikat-serikat ekonomi.

MENDAPATKAN PERLAWANAN
Sebagai sebuah paham dan sistem ekonomi yang bermaksud mendemokratisasikan penguasaan modal, tentu sangat wajar bila ekonomi kerakyatan cenderung mendapat perlawanan dari sejumlah kalangan. Bagi para penganut ekonomi neoliberal, gagasan ini tidak hanya dipandang tidak sejalan dengan teori-teori ekonomi yang mereka yakini, tetapi juga cenderung merupakan ancaman terhadap kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Perlawanan terhadap ekonomi kerakyatan itu tentu sah-sah saja. Sebagai sebuah paham dan sistem ekonomi, ekonomi kerakyatan memang tidak membahagiakan semua pihak. Sehubungan dengan itu, mungkin ada baiknya bila di sini dikemukakan secara singkat argumentasi yang melatarbelakangi pentingnya penyelenggaraan demokratisasi modal dalam ekonomi kerakyatan. Selain didasarkan pada motivasi untuk menciptakan keadilan ekonomi, demokratisasi modal merupakan tonggak yang sangat penting bagi ekonomi kerakyatan untuk menjamin terselenggaranya proses demokrasi dalam arti yang sesungguhnya. Dalam pandangan ekonomi kerakyatan, demokrasi politik saja tidak mencukupi bagi rakyat kebanyakan untuk mengendalikan jalannya roda perekonomian. Sebab, sebagaimana berbagai bidang kehidupan lainnya, persaingan politik yang sangat demokratis sekali pun, faktor modal akan tetap memainkan peranan penting dalam mempengaruhi pilihan-pilihan politik masyarakat. Sebagaimana dikemukakan Gramsci, para pemodal besar sesungguhnya tidak hanya cenderung memanfaatkan negara sebagai sarana untuk membela kepentingan-kepentingan mereka. Melalui kekuatan modal yang mereka miliki, mereka juga cenderung memakai demokrasi sebagai sarana untuk melestarikan posisi dominan yang

dimilikinya. Untuk menghadapi kelicikan para pemodal besar tersebut, maka tidak ada pilihan lain bagi rakyat kebanyakan, kecuali dengan mempersenjatai diri mereka dengan modal material yang cukup, modal institusional yang kuat, dan kemampuan intelektual yang memadai. Upaya untuk mempersenjatai diri dengan ketiga jenis modal tersebut tentu diperoleh secara cuma-cuma. Ia memerlukan perjuangan. Bertolak dari tujuan dan sasaran ekonomi kerakyatan sebagaimana dikemukakan tersebut, beberapa hal mudah-mudahan kini menjadi lebih jelas, terutama bagi mereka yang selama ini masih ragu-ragu terhadap prospek ekonomi kerakyatan. Pertama, ekonomi kerakyatan bukan paham dan sistem ekonomi apolitis. Ekonomi kerakyatan adalah gerakan perlawanan atas kesewenangan penguasa negara dan pemodal besar, termasuk terhadap kekuatan modal internasional dan lembaga keuangan dan perdagangan multilateral seperti Bank Dunia, IMF, dan WTO. Kedua, jika dilihat dari segi konstituennya, konstituen utama ekonomi kerakyatan adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam sistem ekonomi neoliberal. Dalam garis besarnya mereka terdiri dari kaum buruh, kaum tani, kaum nelayan, kelompok pengusaha kecil, kaum miskin kota, dan kaum mustad'afi. Ketiga, jika dilihat dari musuh strategisnya, musuh utama ekonomi kerakyatan terdiri dari para penguasa negara yang membela kepentingan para pemodal besar, para pemodal besar domestik, perusahaan-perusahaan transnasional, pemerintah negara-negara industri pemberi utang, dan lembaga-lembaga keuangan dan perdagangan multilateral yang menjadi kepanjangan tangan neoliberal. Orientasi ekonomi kerakyatan pada penciptaan kondisi ekonomi dan politik yang demokratis tersebut tentu sangat bertentangan dengan kepentingan kelompok-kelompok masyarakat yang diuntungkan oleh sistem ekonomi neoliberal. Sebab itu, penolakan mereka terhadap ekonomi kerakyatan bukanlah karena ekonomi kerakyatan tidak ditemukan dalam teksbook, atau karena ekonomi kerakyatan merupakan jargon politik, tetapi karena penyelenggaraan ekonomi kerakyatan dapat menyebabkan berkurangnya dominasi mereka dalam mengendalikan roda perekonomian.

*Drs. Revrisond Baswir, MBA adalah pemerhati ekonomi-politik UGM dan direktur IDEA, Yogyakarta

EENET Asia Newsletter Edisi KeempatJuni 2007

Tags: spasial Prev: Kilas Balik Perang Salib Next: Kapan Matahari terbit dari Barat?

PERTANIAN KERAKYATAN YANG BERKELANJUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Pengertian Menurut Mubyarto (2001) sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat, dan ekonomi rakyat adalah sektor ekonomi yang mencakup usaha-usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional. Dalam TAP MPR IV/1999 disebutkan pengertian ekonomi kerakyatan sbb: Misi : Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional terutama pengusaha kecil, menengah, dan koperasi dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan, berbasis pada sumber daya alam dan sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan. Arah kebijakan ekonomi : Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai-nilai keadilan,kepentingan sosial, kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, sehingga terjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak-hak konsumen, serta perlakuan yang adil bagi seluruh masyarakat. Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa Pertanian Kerakyatan merupakan pertanian yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan petani yang merupakan kelompok terbesar rakyat Indonesia . Pertanian yang berasal dan berakar pada rakyat untuk rakyat, sesuai dengan kondisi dan kemampuan rakyat serta daya dukung lingkungannya. Pertanian yang bertumpu pada kemampuan dan

kemandirian rakyat dalam mengambil keputusan pengelolaan sistem usaha taninya yang sesuai dan dinamis. Pertanian Kerakyatan yang mengembangkan sistem ekonomi pertanian rakyat yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan, berbasis pada sumber daya alam dan sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju berdaya saing, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Pertanian kerakyatan merupakan pertanian yang berkelanjutan yang tidak membawa dampak samping bagi kesehatan dan kesejahteraan hidup rakyat dan lingkungan hidup di pedesaan. Pertanian kerakyatan merupakan kegiatan pertanian yang dilaksanakan sendiri oleh rakyat secara profesional, berdaya saing dengan memanfaatkan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pilar utama atau kekuatan utama pelaksana pertanian kerakyatan adalah usaha kecil, menengah dan koperasi. Pertanian Berkelanjutan Dari pengertian ekonomi kerakyatan menurut TAP VI/ 1999 dinyatakan antara lain bahwa: “sistem ekonomi kerakyatan…… yang berbasis pada sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan“. SDM yang berdaya saing, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan berarti bahwa SDM yang memahami dan melaksanakan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan. Demikian juga pada sektor pertanian SDM yang akan menjadi pelaksana pertanian kerakyatan harus memahami prinsip, falsafah dan praktek pertanian berkelanjutan. Pada konsideran UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman butir (b) dinyatakan bahwa:“sistem pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan perlu ditumbuhkembangkan dalam pembangunan pertanian secara menyeluruh dan terpadu “ Pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan sumber daya alam dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilaksanakan sedemikian rupa dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang (FAO, 1989). Pembangunan di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan sumber genetik binatang, tidak merusak lingkungan, secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak dan secara sosial dapat diterima. Visi Pertanian Berkelanjutan: Pendekatan dan teknologi pertanian yang LAYAK EKONOMI, DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN SECARA EKOLOGI, SECARA SOSIAL DAPAT DITERIMA dan BERKEADILAN , SECARA BUDAYA SESUAI dan berdasarkan Pendekatan HOLISTIK . Misi Pertanian Berkelanjutan: 1. Peningkatan produksi 2. Peningkatan penghasilan dan kesejahteraan rakyat 3. Pengentasan kemiskinan

4. Peningkatan pemerataan dan keadilan sosial 5. Penciptaan lapangan kerja bagi petani di pedesaan 6. Penggunaan sumber daya alam setempat secara efisien yang meliputi sumber daya hayati, sumber daya manusia, kearifan dan pengetahuan tradisional 7. Memberdayakan petani sebagai pengambil keputusan yang profesional di lahannya sendiri 8. Peningkatan peran petani sebagai pengelola dan pelaksana utama pembangunan pertanian 9. Pemberdayaan kelompok tani dalam unit-unit usaha tani berskala kecil, menengah dan koperasi 10. Pelestarian kualitas lingkungan hidup lokal, nasional, global Dari pengertian-pengertian dasar tersebut dapat disimpulkan di sini bahwa pertanian kerakyatan merupakan implementasi dari pertanian berkelanjutan pada kondisi ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik di Indonesia. Teknologi Pertanian Konvensional Teknologi pertanian yang diterapkan dan dikembangkan oleh Pemerintah dan peneliti sekarang merupakan teknologi cetak biru (blue print) cenderung seragam, boros energi, boros sumber daya hayati, eksploitatif, orientasi peningkatan produksi, serta tidak mengikutsertakan petani/rakyat dalam pengembangan, perencanaan dan penerapannya. Aspek-aspek ekologi, keadilan dan pemerataan pendapatan, demokrasi dalam pengambilan keputusan serta kesesuaian dengan kondisi lokal kurang dipertimbangkan. Dampak Negatif Teknologi Boros Energi: · Petani selalu memerlukan saprodi (sarana produksi) yang semakin lama semakin meningkat sehingga semakin mahal · Menurunkan daya dukung lingkungan karena peningkatan erosi, pemiskinan unsur hara tanah, kerusakan struktur tanah, peningkatan residu bahan kimia berbahaya, membunuh organisme penyubur tanah · Penggunaan saprodi semakin tidak efisien, untuk peningkatan satu unit produksi yang sama diperlukan lebih banyak sapordi daripada sebelumnya · Ketergantungan petani pada penggunaan saprodi dan pihak industri saprodi semakin meningkat · Pemiskinan keanekaragaman hayati lingkungan pertanian Keadaan di pedesaan dewasa ini Pembangunan Pertanian yang dilaksanakan selama ini lebih didominansi oleh Pemerintah

dengan para pejabat dan petugas baik di tingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa maupun di tingkat lapangan. Petani dan kelompok tani lebih dalam posisi sebagai pelaksana kebijaksanaan Pemerintah. Petani lebih diperankan sebagai obyek pembangunan dan bukan sebagai subyek pembangunan. Pembangunan pertanian konvensional yang didominansi oleh Pemerintah tidak menjamin keberlanjutan program pembangunan pertanian serta tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pertanian kerakyatan yang lebih bertumpu pada kemampuan dan kemandirian petani. Setelah kita lebih dari 30 tahun menerapkan pembangunan pertanian nasional kita hadapi beberapa indikator keberhasilan pembangunan yang memprihatinkan: · Tingkat produktivitas lahan menurun · Tingkat kesuburan lahan merosot · Konversi lahan pertanian semakin meningkat · Luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas · Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian meningkat · Daya dukung lingkungan merosot · Tingkat pengangguran di pedesaan semakin meningkat · Daya tukar petani semakin berkurang · Penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani semakin menurun · Kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat meningkat Pendekatan pembangunan pertanian perlu diubah dari pembangunan pertanian beror0ientasi produksi menjadi pembangunan pertanian kerakyatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Peran Fakultas Pertanian UGM Sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi Fakultas Pertanian UGM pada khususnya dan UGM pada umumnya perlu menempatkan dan mewarnakan jati dirinya sebagai pendorong pelaksanaan pertanian kerakyatan dari tataran kebijakan nasional sampai ke pelaksanaan di lapangan. Hal ini berarti bahwa semua kegiatan Tri Dharma pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan sivitas akademika Fakultas Pertanian UGM harus diarahkan pada pengembangan dan penerapan pertanian kerakyatan dalam kerangka sistem ekonomi kerakyatan. Berbagai paradigma dan praktek pembangunan pertanian konvensional yang berorientasi pada produksi, pertumbuhan ekonomi perlu disesuaikan menjadi paradigma ekonomi kerakyatan. Dalam hal itu diusulkan agar Pertanian Berkelanjutan Berwawasan Kerakyatan atau Pertanian Kerakyatan yang Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan dijadikan visi pembangunan Fakultas Pertanian UGM. Salah satu implikasi visi tersebut adalah dalam pengembangan dan penyediaan teknologi

pertanian yang sesuai. Berikut disampaikan beberapa prinsip dan strategi teknologi pertanian berkelanjutan yang perlu kita kembangkan melalui kegiatan Tridharma Fakultas. 1. Teknologi yang dapat memanfaatkan semaksimal mungkin berbagai proses alami ke dalam proses produksi pertanian/budidaya pertanian seperti daur unsur dan daur ulang, fiksasi nitrogen, interaksi antar komponen ekosistem, hubungan predator dan mangsa, dan yang lain. 2. Teknologi yang dapat meminimalkan penggunaan masukan produksi yang memiliki potensi besar membahayakan lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat, petani, dan konsumen. Penggunaan pestisida, pupuk buatan, dan kimia pertanian lainnya perlu dibatasi sampai pada tingkat ketetapan baku minimal yang diijinkan. 3. Teknologi yang memanfaatkan secara lebih produktif, efektif dan efisien potensi hayati dan genetik spesies tanaman dan binatang seperti ilmu pemuliaan tanaman dan bioteknologi. Perlu diingat kepentingan dan hak petani agar mereka secara bebas melakukan akses terhadap suber daya genetik yang mereka telah kuasai selama ini, serta mereka memperoleh pembagian yang adil terhadap keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan SDG yang telah dikembangkan oleh petani. 4. P enyesuaian yang lebih baik antara pola tanam, potensi produksi serta keterbatasan fisik lahan pertanian agar dapat dijamin keberlanjutan tingkat produksi untuk masa sekarang dan mendatang. Sistem budidaya pertanian seperti pergiliran tanaman, tanaman tumpang sari, tanaman lorong, penanaman pupuk hijau dan penutup tanah, dan yang lain merupakan teknik budidaya yang dianjurkan. 5. Peningkatan efisiensi produksi dengan cara memberikan penekanan pada perbaikan kualitas pengelolaan usaha tani, serta konservasi tanah, air, energi, dan sumber daya hayati. 6. Teknologi yang digunakan adalah khas ekosistem, tidak statis dan seragam, serta sesuai dengan keadaan dan kemandirian masyarakat setempat. 7. Untuk itu perlu dikembangkan suasana kemitraan kerja yang dialogis antara peneliti, petugas lapangan, dan petani yang dapat mendorong kreatifitas, aktifitas, dan kemandirian pada petani setempat. 8. Teknologi yang digunakan merupakan perpaduan yang optimal antara teknologi atas dasar pengetahuan modern dengan pengetahuan dan kearifan masyarakat tradisional. Pengetahuan tradisional mempunyai keunggulan karena kekhasannya dengan ekosistem dan budaya setempat sehingga dapat dijamin keberlanjutannya, namun untuk meningkatkan produktifitasnya perlu didukung dengan kegiatan-kegiatan penelitian yang relevan. 9. Teknologi pertanian tidak hanya berorientasi pada pencapaian sasaran produksi, tetapi juga pada pemasaran produk di pasar domestik dan global serta pelestarian fungsi lingkungan hidup. Apabila petani dapat bekerja bersama dalam kelompok usaha kecil atau menengah, mereka dapat mengelola usaha tani mereka secara profesional dalam

bentuk usaha agroindustri yang berorientasi pada pasar nasional dan global. Program Pemberdayaan Petani Untuk membuat petani dan kelompok tani menjadi pelaku pertanian kerakyatan dan sumberdaya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan diperlukan program pemberdayaan petani di tingkat lapangan yang terpadu, lintas disiplin dan berencana jangka panjang. Metode pelatihan dan pendidikan petani yang sesuai perlu dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan kondisi khas petani di lokasi lahan dan ekosistem. Metode pendidikan orang dewasa seperti yang diterapkan di Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Tanaman Pangan (1989-1998) dan Perkebunan (1997-2005) merupakan pendekatan yang tepat untuk mendukung pertanian kerakyatan yang berkelanjutan. Acuan:
• •

Food and Agricultural Organization of the United Nations. 1989. The State of Food and Agriculture 1989. FAO. Rome, Italy. Mubyarto, 2001. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat & Peranan Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta . 83 hal. LinkBack Thread Tools Display Modes

#1 07-02-07, 16:07

nurcahyo Rakyat Senior Join Date: Jan 2007 Posts: 3,516

Ekonomi Kerakyatan Dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat: EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL

Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Mubyarto tentang “Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah”, saya mencoba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‘rakyat’ secara utuh. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‘ditangkap’ untuk diamati secara visual, khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di’tangkap’ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy’arie, 2001). Ibarat kata ‘binatang’, kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus, kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus, kucing, ular, dll.), sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat, yaitu ekonomi rakyat yang mana, siapa, di mana dan berapa jumlahnya. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‘rakyat’. Buruh tani, konglomerat, koruptor pun berhak menyandang predikat ‘rakyat’. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang, maka semuanya disebut binatang. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Mubyarto. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. Selanjutnya, bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. Dalam konteks ilmu sosial, kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi, maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‘ekonomi rakyat’ dengan ‘ekonomi kerakyatan’. Menurutnya, ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat, yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. Dalam ruang Indonesia, maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya, sarana teknologi produksi yang sederhana, menejemen usaha yang belum bersistem, dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun, atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah

aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Memiliki modal yang besar, mempunyai akses pasar yang luas, menguasai usaha dari hulu ke hilir, menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat (price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar, bukan ekonomi pasar itu sendiri. Dalam pemahaman seperti ini, saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar, lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Bagi saya dunia “pasar” Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Karena konsep “pasar” yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan, keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme “pasar”nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya, minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah, adil, dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar “ekonomi pasar” untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional, yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik, khusunya sejak masa orde baru. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri, intervensi pemerintah yang tidak benar, tidak efektifnya pasar tersebut berjalan, dan adanya pengaruh eksternal. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998, dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi, yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru, di mana bangun ekonomi

yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat), perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri, demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al., 1987). Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. Sekali lagi, komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional, kita masih ragu-ragu, karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya), dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata, bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri, dimana demokrasi ekonomi nasional tidak sematamata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi, tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Bagi saya, sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi, jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional, tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional, ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi “lokomotif “ yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya, pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya, menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan “bayi”, karena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi.

Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. Buktinya negara-negara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik, mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang, seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia, namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan, karena kurang mantapnya perencanaan, terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi, serta lemahnya pengawasan. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar, jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan, instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan, sistem jaminan sosial, sistem perburuhan, dsb. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu, 2000). Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar, tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil), bukan sebaliknya pada konglomerat. Kalau begitu logikanya, maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Ini sama artinya dengan “sakit di kaki, kepala yang dipenggal”. Bagi saya, harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Pada saat yang sama, rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan, untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. Perlu dicatat, bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat, pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi, demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecil-menengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi, kepercayaan diri dan kesetaraan, meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan, partisipatif, adanya persaingan yang sehat, keterbukaan/demokratis, dan pemerataan yang berkeadilan. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo, 2001). Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan

di bawah ini. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para konglomerat. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik (political will), tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS), adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun, termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden, 2000). Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar, menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat, bukan cash money/cash material. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal, maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive, karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun, atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. Selanjutnya, pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya, untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Oleh karena itu, diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri, karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud, yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. Kalau tidak, maka sekali lagi kita akan mengulangi

kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan, keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi, keterbatasan akses pasar, keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy’arie, 2001). Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah, bukan sekedar jargon-jargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. Hal ini perlu ditegaskan, agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‘binatang’ di atas), tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). Pada era otonomisasi saat ini, konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‘regionalisasi’ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi, keunggulan, peluang, dan karakter sosial budaya. Pada tingkat regional NTT, masih terdapat persoalan mendasar yang ‘mengurung’ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs), tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy’arie, 2001). Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35, 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26,1 milyar (Laporan Gubernur NTT, 2002). Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. Selanjutnya, data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan

Koperasi di Indonesia, jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. Persoalan mendasar yang mengurung ini, mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT, termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha, cara pandang tentang tingkat keuntungan, cara pengelolaan keuangan, sikap terhadap mitra dan kompetitor, strategei menghadapi resiko, dsb. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat, khususnya di NTT, sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach).

Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Kupang

Trackback, Pingback atau Refback untuk blog anda :
http://w w w .indonesiaindonesia.com/f/8521-ekonomi-kerakyatan-pemberdayaa

Secara an sich tidak ada yang salah dengan Pancasila. Pemaknaan yang keliru selama ini adalah buah kebijakan dan bukan sesuatu yang melekat, karena nilai-nilai Pancasila sendiri adalah sesuatu yang universal, yang pada dasarnya merupakan penjelmaan dari suara nurani tentang kewajiban ber-Tuhan sebagai sesuatu hak yang paling asasi, penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, indahnya kebersamaan dengan persatuan, menghargai dan mendahulukan atau pro-kerakyatan dan hikmah serta mendeklarasikan pula penghargaan, penghormatan dan perjuangan untuk keadilan yang egalitarian. Nilainilai seperti ini sangat berharga untuk membangun suatu komunitas sosial bersama. Pancasila dalam Sistem Ekonomi ditengah terjangan dan jeratan sistem liberaliskapitalistik saat ini, ketika kita kembali terjajah secara ekonomi, nilai-nilai suatu sistem seperti apa sih yang mampu menjatidirikan negara-bangsa ini. Sejatinya, sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi yang mestinya berbasis kerakyatan, bukan sistem yang cenderung melegalisasi liberalisme dan kapitalisme global. Meskipun pasca reformasi terkadang kita enggan untuk mengenali kembali atau memaknai kembali sistem ekonomi kerakyatan yang berbasis Pancasila sebagai idea moral. Namun jika diletakkan Pancasila sebagai spirit dasar ekonomi kerakyatan, toh tak ada yang salah. Seperti yang dijelaskan oleh Sri Edi Swasono, bahwa…sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi yang berorientasi kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, sistem ekonomi yang harus memuat dan berlandaskan pada berlakunya etik dan moral agama, bukan materialisme. Kemanusiaan yang adil dan beradab, artinya sistem ekonomi yang tidak mengenal pemerasan atau eksploitasi. Persatuan Indonesia, berarti sistem ekonomi ini mengedepankan kebersamaan, asas

kekeluargaan, sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi dalam ekonomi. Kerakyatan, yang tentulah maksudnya untuk mengutamakan kehidupan ekonomi rakyat dan hajat hidup orang banyak. Serta Keadilan Sosial, sebuah sistem ekonomi yang mesti menjamin adanya persamaan/emansipasi, kemakmuran masyarakat yang utama, bukan kemakmuran orang-seorang. Pancasila dalam Konteks Sosial Politik Akhir-akhir ini diskusi tentang kebhinekaan pun menjadi semakin asyik, karena sedang terjadi ketegangan sosial dan perdebatan tentang berbagai masalah terutama tentang pluralisme dan kebijakan yang berkenaan atau menyentil rasa kebhinekaan. Polemik berkenaan tentang RUU APP misalnya, dan konsistensi menjadikan Pancasila sebagai falsafah/ideologi Negara, telah mengemuka di ruang publik. Pro dan kontra di ikuti dengan ketegangan-ketegangan malah show of force semakin sering terjadi. Ada yang merasa benar, ada yang merasa unggul, ada yang merasa terdiskriminasikan dan adapula yang merasa terancam Koran » Analisis Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini BERITA LAIN

Senin, 27 Agustus 2001 Ekonomi Kerakyatan Oleh: Revrisond Baswir telah diperkenalkan kepada bangsa ini sejak diundangkannya Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 lebih Perjuangan untuk menyelenggarakan ekonomi kerakyatan tampaknya bukan perjuangan yang mudah. Selain menghadapi resistensi dari para penganut paham neoliberal, perjuangan untuk menyelenggarakan ekonomi kerakyatan juga cenderung mengalami politisasi dari para petinggi negara. Akibatnya, pemahaman masyarakat mengenai ekonomi kerakyatan cenderung kacau balau. Sebagian anggota masyarakat cenderung mengasosiasikan ekonomi kerakyatan dengan usaha kecil menengah (UKM). Sementara sebagian yang lain cenderung mengasosiasikannya dengan program kredit berbunga murah.

Maaf, Muhammad

Samak Mendadak Pecat Kepala Kepolisian

Yang paling kacau adalah yang menyamakan ekonomi kerakyatan dengan ekonomi Dua Mantan Presiden rakyat. Bahwa, ekonomi kerakyatan memiliki komitmen untuk memperkuat UKM, tidak Filipina Ikut Demo perlu ada keraguan mengenai hal itu. Demikian halnya dengan komitmen untuk menyediakan peluang kerja dan menanggulangi kemiskinan. Tetapi, menyamakan ekonomi kerakyatan dengan ekonomi rakyat adalah suatu kekekeliruan yang fatal. Pangkal soalnya saya kira terletak pada berlangsungnya pembangkangan sistematis terhadap berbagai dokumen negara serta terhadap lembaga-lembaga negara yang menghasilkan dokumen-dokumen tersebut. Saya katakan demikian, sebab secara

Indonesia dan Libya Ancam Abstain Soal

konsepsional ekonomi kerakyatan bukanlah hal baru bagi Indonesia. Setidak-tidaknya ia Sanksi Iran dari 56 tahun lalu. Sebagaimana dikemukakan oleh penjelasan Pasal 33 UUD 1945, "Dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi."

Indonesia dan Libya Ancam Abstain Soal Sanksi Iran

Dalam rangkaian kalimat tersebut, ungkapan ekonomi kerakyatan memang ditemukan secara eksplisit. Tetapi dengan mengacu pada pembukaan UUD 1945 yang antara lain berisi butir-butir Pancasila, akan segera diketahui bahwa yang dimasud dengan demokrasi • dalam rangkaian kalimat itu tidak lain dari kerakyatan sebagai digunakan oleh sila Obama Serang keempat Pancasila. Dengan demikian, ekonomi kerakyatan sesungguhnya hanyalah nama Republik, Abaikan lain dari demokrasi ekonomi sebagaimana dikemukakan oleh penjelasan Pasal 33 UUD Hillary 1945. Komitmen utama ekonomi kerakyatan adalah pada peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian. Sebab itu, partisipasi masyarakat dalam perekonomian tidak terbatas hanya pada melakukan produksi dan menikmati hasil- • hasil produksi, tetapi harus meliputi pula kemampuan untuk mengawasi berlangsungnya Obama Serang proses produksi dan distribusi tersebut. Republik, Abaikan Hillary Sehubungan dengan itu, tidak dapat tidak, perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Artinya, dalam perekonomian Indonesia yang bersifat kerakyatan atau demokratis, persaingan usaha harus berlangsung secara sehat. Persaingan usaha yang bersifat saling mematikan ala ekonomi neoliberal, harus segera • dicegah. Umat Diharap Pahami Posisi RI Soal Kosovo Sebab itu pula, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Demikian halnya dengan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya, harus dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perlu diperhatikan, yang mendapat mandat sebagai penguasa cabang-cabang produksi Umat Diharap Pahami yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, serta bumi, air, Posisi RI Soal Kosovo dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya itu adalah negara sebagai suatu kesatuan lembaga yang utuh. Bukan pemerintah, bukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan bukan pula Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Keterlibatan pemerintah dalam menyelenggarakan cabang-cabang produksi tertentu • melalui pendirian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tidak dapat ditafsirkan sebagai Israel Ancam Serbu pengejawantahan amanat Pasal 33 Ayat 2. Keterlibatan pemerintah dalam mengusahakan Gaza cabang-cabang produksi tertentu sepenuhnya tergantung pada kemauan rakyat.

Jika rakyat menghendaki agar pemerintah mengusahakan suatu cabang produksi tertentu, maka saya kira tidak seorang pun dapat menghalangi hal tersebut. Demikian halnya jika rakyat tidak menghendaki diselenggarakannya suatu cabang produksi tertentu oleh usaha perseorangan. Pendek kata, dalam rangka ekonomi kerakyatan, tidak ada larangan untuk melakukan privatisasi, dan tidak ada pula kewajiban untuk melakukannya. Dengan memahami ekonomi kerakyatan sebagaimana diuraikan tersebut, dapat disaksikan betapa kelirunya bila ekonomi kerakyatan disamakan dengan ekonomi rakyat. Sebagai sebuah aliran pemikiran dan sistem ekonomi, ekonomi kerakyatan berbicara mengenai pentingnya peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian. Sedangkan ekonomi rakyat berbicara mengenai sektor ekonomi yang dihuni oleh para pelaku ekonomi berukuran kecil. Agenda-agenda ekonomi kerakyatan mencakup semua bidang dan aspek perekonomian. Pada sektor fiskal, misalnya, ia dapat diterjemahkan dengan melakukan pembagian pendapatan (revenue sharing) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada sektor perbankan, ia dapat diterjemahkan melalui penyelenggaraan sistem perbankan regional (regional banking system), yaitu sebagai pengganti sistem perbankan yang tersentralisasi (centralized banking system). Sedangkan pada pembuatan utang luar negeri, ia dapat diterjemahkan melalui penyelenggaraan referendum terhadap setiap rencana proyek pembangunan yang hendak dibiayai dengan utang luar negeri. Adapun komitmen ekonomi kerakyatan terhadap penguatan ekonomi rakyat, diterjemahkan melalui pelaksanaan demokratisasi modal atau demokratisasi penguasaan faktor-faktor produksi. Yang dimaksud dengan modal dalam hal ini mencakup baik modal material (material capital), modal intelektual (intelectual capital), maupun modal institusional (institusional capital). Program demokratisasi modal material, antara lain, dapat dilakukan dengan melaksanakan program land reform pada sektor pertanian, atau program kepemilikan saham oleh karyawan (employee stock ownership program) pada sektor dunia usaha. Program demokratisasi modal intelektual, antara lain, dapat dilakukan dengan melaksanakan program wajib belajar pada sektor pendidikan. Sedangkan program demokratisasi modal institusional, antara lain, dapat dilakukan dengan melindungi hak petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin kota, untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat secara bebas. Demikianlah, kendala penyelenggaraan ekonomi kerakyatan sama sekali tidak terletak pada ketidakjelasan konsep dan agenda-agendanya. Sebagai sebuah aliran pemikiran dan sistem ekonomi yang sudah dipertegas keberadaannya oleh Ketetapan MPR No. IV/1999, konsep ekonomi kerakyatan sudah sangat jelas. Persoalannya, sebagaimana saya katakan tadi, terletak pada berlangsungnya pembangkangan sistematis terhadap dokumen-dokumen negara serta terhadap lembaga-lembaga negara yang

menghasilkan dokumen-dokumen tersebut. Di balik pembangkangan itu tentu bersemayam berbagai kepentingan kelompok dan pribadi yang sangat banyak ragamnya. ()

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=41871&kat_id=15&kat_id1=&kat_id2=

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->