P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (2)

Materi Kuliah Agama Hindu (2)

|Views: 4,917|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Sections

4.1Kegiatan Belajar 3

DHARMA SIDDHYARTHA

4.1.1Uraian dan Contoh

Dharma Siddhyartha adalah suatu adagium yang ditetapkan dalam kitab
Weda Smerti yang merupakan landasan sistem berpikir dalam penuangan suatu
konsep/ pendekatan atau penentuan alternatif untuk mencapai tujuan agama
(Dharma) yaitu Jagadhita dan Moksa. Pada kegiatan belajar terdahulu anda telah
mempelajari tentang Dharma. Dharma itu mempunyai pengertian yang sangat
luas. Sebagai istilah kerohanian Dharma berarti agama. Dharma juga berarti
hukum yang mengatur dan memlihara serta mengembalikan alam semesta beserta
isinya kepada asalanya.

Ditinjau dari segi hukum yang dikaitkan dengan peredaran alam semesta
beserta segala isinya maka kata Dharma berarti kodrat, sedangkan untuk
kehidupna umat manusia Dharma berarti ajaran suci, kewajiban suci, kebajikan,
peraturan-peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia guna mencapai
kesempurnaan hidup yang tercermin dalam tingkah laku dan budi pekerti luhur,
yang dapat menimbulkan kebahagiaan hidup dan kesejahteraan masyarakat
(Jagadhita), serta ketentraman/kebahagiaan batiniah/rohaniah yang tidak
didasarkan atas kebendaan/keduniawian sehingga Roh/Atman bebas dari
penjelmaan, mencapai kebahagiaan hakiki dan sejati (Moksa). Dengan demikian
secara singkat dapat diterjemahkan bahwa Dharma itu berarti “Kebenaran yang
hakiki” sebagai dasar dan sekaligus sebagai tujuan hidup.

Untuk dapat mencapai kebenaran atau Dharma sebagai dasar dan tujuan
hidup itu maka manusia harus berbuat berdasarkan Dharma karena Dharma itulah
yang mengatur peri-kehidupan manusia, alam semesta, beserta segala isinya.
Setiap langkah atau tindakan yang akan dilakukan, setiap keputusan yang akan
diambil harus dilandasi oleh Dharma atau hukum kebenaran, sehingga tujuan
hidup beragam dapat dicapai.

Dalam kenyataan hidup ini kita menyadari tingkah laku manusia, cita-cita
dan cara melihat lingkungan di mana manusia itu hidup akan sangat dipengaruhi

1

oleh cara pandang kelompok masyarakat atau lingkungannya itu, yang di dalam
agama Hindu kita mengenal istilah “Tattwa” (filsafat hidup beragama). Maju
mundurnya, tinggi rendahnya peradaban atau sifat dan sikap manusia dalam
mengatasi lingkungannya akan dipengaruhi oleh Tattwa itu yang pada umumnya
mempunyai sifat dan nilai dinamik, selalu berubah menurut perkembangan akal
dan kemampuan pikirannya (Budhi dan Manah).

Di samping itu kondisi lingkungan juga bersifat relatif konddisional
sehingga satu kelompok masyarakat akan berbeda tingkat peradaban, adat istiadat
atau tradisinya dengan masyarakat lain.

Demikian pula cara mereka dalam mengamalkan ajaran akan beraneka cara,
berbeda secara fisik antar satu masyarakat dengan masyarakat lain, namun tidak
terlepas dari prinsip cita-cita agamis atau itu, maka di dalam kehidupan
masyarakat Hindu dikenal istilah “”mawa cara” yang artinya setiap desa
(kelompok masyarakat) membawa adat istiadat atau tradisinya masing-masing
yang disebabkan oleh sepenuh waktu, tempat dan keadaan pada masa itu (menurut
Kala, Desa dan Patra). Misalnya suatu kelompok masyarakat Hindu di India akan
berbeda cara pengamalan agamanya ataupun tradisinya dengan kelompok
masyarakat Hindu di Malaysia maupun di Indonesia. Begitu pula kelompok
masyarakat Hindu di Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatra Utara, Maluku dan lain-
lain tampaknya berbeda tetapi sungguhnya tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip agama itu.

Jadi untuk mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa
ataupun tujuan hidup manusia (Catur Purusartha) akan sangat tergantung dari
pelaksanaan ajaran agama (Dharma) dengan baik dan tepat. Pengamalan Dharma
itu harus disesuaikan dengan kondisi yang ada, waktu ataupun tempat
melaksanakan sesuatu menurut Dharma itu sehingga tercapai keharmonisan antara
kemampuan. Lingkungan dan cita-cita yang diharapkan, serta keharmonisan
jasmani dan rohani dalam hidup ini.

Untuk mewujudkan keharmonisan itu dikaitkan dengan Kebhinekaan yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat, maka diperlukan adanya sistem berpikir

2

sebagai dasar pendekatan penuangan konsepsi agar dapat terwujud rasa
kebersamaan, bbaik dalam kehidupan beragama maupun bernegara.

Sehubungan dengan itu maka pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan
bermasyarakat/bernegara tidak boleh bertentangan dengan Hukum Negara
ataupun norma yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat sepanjang tidak
menyimpang dari hukum agama.

Dalam pada itu agama Hindu memberi landasan kuat mengenai aplikasi
metode pendekatan yang merupakan sistem pikir dalam memilih alternatif yang
tepat, baik dan benar (Wiweka) untuk mencapai keharmonisan dan tujuan hidup
beragama (Jagadhita dan Moksa maupun catur Warga). Landasan sistem pikir itu
disebut (Dharma Siddhyarta” tercantum dalam kitab wera Smerti VII.10 yang
berbunyi sebagai berikut :

“Karyan so’weksya saktimea desa kalnca Tattwatah, kurute Dharma
Siddhyartham wiswa rupam punah-punah

Artinya :

Setelah mempertimbangkan maksud dan tujuan (Iksa), kesadaran
kemampuan (sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan ilmu
pengetahuan yang dimiliki (Tattwa) dia lakukan berbagai wujud perbuatan
untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran).

Jadi ada lima aspek yang harus diperhatikan bila hendak mewujudkan sesuatu
atau melakukan kegiatan (amal perbuatan) untuk mencapai suatu tujuan
berdasarkan Dharma, yaitu aspek Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattwa.

4.1.1.1Iksa

Iksa berarti maksud dan tujuan, merupakan aspek utama yang menjadi
kompas/ukuran/garis sasaran/cita-cita yang harus direalisasikan. Misalnya dalam
berorganisasi maka yang pertama harus ditentukan adalah hakikat tujuan dari
organisasi itu, supaya jelas arahnya supaya dapat ditentukan langkah-langkah
kegiatannya. Organisasi “Subak” umpamanya dibentuk dengan tujuan

3

terwujudnya suatu tertib pelaksanaan irigasi pertanian (di Bali) guna mencapai
tingkat kemajuuan produksi pangan yang akhirnya akan dapat menciptakan
kesejahteraan anggota subak pada khususnya dan masyarakat pada umumnya
(tercapainya Jagadhita). Hakikat tujuan itu tidak boleh bertentangan dengan
norma yang hidup dan berkembang di masyarakat, baik itu norma agama maupun
norma hukum.

4.1.1.2Sakti

Sakti berarti kesadaran kemampuan, merupakan aspek jnana sebagai upaya
dalam mewujudkan cita-cita atau tujuan yang telah ditetapkan. Jnana berarti ilmu
pengetahuan atau kemampuan pikir yang dapat menentukan apakah cita-cita atau
tujuan itu akan dapat direalisasikan.

Kemampuan dan kemajuan pikir akan menumbuhkan kesadaran pengabdian
untuk mewujudkan cita-cita itu. Di samping itu Sakti mengandung pengertian
kemampuan daya dukung dalam bentuk kekuatan nyata secara fisik (Bala-Kosha)
sebagai unsur dari aspek kriya. Tanpa daya dukung secara fisik yaitu sarana dan
prasaranan untuk mencapai tujuan maka apa yang akan dikerjakan tidak akan
mencapai hasil seperti yang dicita-citakan. Begitu pula sebaliknya apabila
kemampuan yang dimiliki tidak mencukupi maka kegiatan yang dilakukan harus
menyesuaikan agar suatu cita-cita tidak merupakan khayalan semata-mata.

Anda mungkin telah melihat secara pintas tentang pelaksanaan upacara
keagamaan di Bali yang kadang kala menimbulkan kesan pemborosan, bahkan
mungkin pelaksanaan seperti dipaksakan.

Kalau kita adakan penelitian secara dalam dengan melihat aspek Jnana dan
Kriya di atas maka kesan negatif itu akan hilang, karena sesungguhnya setiap
pelaksanaan upacara keagamaan Hindu didasarkan atas Sakti yaitu kesadaran akan
kemampuan yang dimiliki.

Bagi orang yang mampu akan melaksanakan upacara yang lebih besar,
sedangkan bagi orang yang kurang mampu akan melaksanakan upacara yang
sederhana saja atau melaksanakan upacara yang cukup (Madya) dengan dibiayai

4

secara bersama-sama (bergotong-royong). Hal ini merupakan realisasi dari ajaran
Catur Purusartha dimana penggunaan Artha (harta kekayaan) dibagi atas tiga
pemanfaatan yaitu untuk kepentingan agama, kepentingan pemenuhan keinginan
dan menambah harta kekayaan/berekonomi. Jadi aspek Sakti adalah merupakan
landasan berpikir untuk menentukan alternatif pilihan/tindakan yang tepat guna.

4.1.1.3Desa

Desa berarti tempat dimana suatu kegiatan akan dilaksanakan. Perbedaan
tempat akan ikut mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama, oleh karena itu
aspek tempat perlu diperhatikan baik segi tradisi, kaidah hukum positifnya yang
menurut ajaran Hindu Dharma tidak sama pada semua tempat. Untuk itulah
diperlukan adanya sistem pendekatan yang akomodatif agar tidak menimbulkan
keresahan sosial. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dalam pembinaan
kehidupan beragama dan tidak boleh bertentangan denggan ketentuan pokok-
pokok ajarana agama Hindu serta hukum positif yang berlaku. Jadi aspek tempat
itu akan memberi warna pula bagi pelaksanaan ajaran agama Hindu. Misalnya
dalam melaksanakan yadnya/korban suci dalam wujud upakara (sesajen), baik
jenis persembahan maupun bentuknya akan berbeda di masing-masing wilayah
(desa) tergantung dari kondisi geografis, ekonomis dan kemampuan penduduk di
suatu wilayah. Dengan demikian maka penerapan ajaran agama tidak kaku agar
menimbulkan kontradiksi dan keresahan sosial, karena agama tidak menghendaki
adanya kontradiksi dan keresahan kehidupan umatnya melainkan hanya bertujuan
untuk terwujudnya kebahagiaan lahir batin, kebahagiaan di dunia dan di akhirat
(Moksatham Jagadhita ya ca iti Dharmah).

4.1.1.4Kala

Kala berarti waktu, merupakan aspek yang penting diperhatikan atau
dijadikan dasar pertimbangan dalam menerapkan ajaran agama dalam arti bahwa
tafsir tata cara pelaksanaan suatu kaidah agama tidak boleh ditetapkan secara
absolut. Dengan demikian maka asas universal dari ajaran agama Hindu akan

5

selalu mendasari setiap langkah-tindak dan cara umatnya dalam berpikir
berbicara, dan berbuat menuju kebenaran Dharma.

4.1.1.5Tattwa

Aspek terakhir dari Dharma Siddhyartha adalah Tattwa yaitu filsafat atau
pengetahuan tentang kebenaran yang menjadi landasan dari ajaran agama yang
dianut/ diterapkan.

Aspek tattwa merupakan landasan sistem pikir terutama dalam hubungannya
dengan usaha-usaha pembudayaan ajaran agama Hindu sehingga ajaran tersebut
dapat memasyarakat. Dalam hal ini agama Hindu mengajarkan “Sad darsana
sebagai sistem yang mencakup aspek Tattwa secara umum dan luas. Sad Darsana
adalah enam pandangan kebenaran atau sistem filsafat yang terdiri dari :

a.Nyaya, mengajarkan tentang logika.

b.Mimamsa, mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Dharma dengan
titik berat pada masalah etika dan ritual.

c.Waisesika, mengajarkan tentang pengetahuan penuntun realisasi
sang diri.

d.Samkhya, mengajarkan tentang proses perkembangan kejadian
alam semesta secara sistematik.

e.Yoga, mengajarkan tentang latihan pengendalian diri (fisik dan
pikiran) untuk mencapai Samadhi, yaitu suatu kondisi di mana pikiran
telah bersatu dengan Yang Sejati, manunggal dengan asalnya dan
mencapai Moksaka.

f.

Wedanta, mengajarkan filsafat hubungan jiwa dengan Sumber
Kehidupan atau hubungan antara Atman dengan Paramatman dan
hubungan Tuhan dengan dunia/alam semesta.

Enam pandangan tentang kebenaranatau Sad Darsana tersebut merupakan
aspek Tattwa yang dikaitkan dengan upaya pembudayaan ajaran agama Hindu

6

agar memasyarakatkan uraian tentang Sad Darsana secara lebih luas akan dibahas
pada modul 3. Aspek Tattwa merupakan asas universal yang dianut dan tidak
bertentangan dengan norma agama, norma hukum, termasuk di dalamnya hukum
negara, dengan pengertian bahwa hukum negara yang dimaksud ialah hukum
yang berlaku pada negara yang mengakui kebenaran agama. Jadi di dalam aspek
Tattwa terkandung pula pengertian ideologi karena Tattwa itu sendiri merupakan
landasan filsafah yang diyakini kebenarannya.

Sehubungan dengan itulah aspek Tattwa selalu dipakai dasar atau landasan sistem
berpikir dalam memilih alternatif yang terbaik dari suatu tindakan atau langkah
yang akan dilaksanakan agar tujuan yang dicita-citakan dapat terwujud. Begitu
pula dalam upaya mencapai tujuan hidup beragama maka aspek Tattwa tidak
boleh ditinggalkan. Misalkan dalam setiap pelaksanaan ibadah agam Hindu, baik
yang menggunakan sarana upacara atau tanpa sarana selalu berpedoman pada
Tattwa (Widhi Tattwa, Atma Tattwa, Karmaphala Tattwa, dan sebagainya).

DARSANA HINDU

1.

Pengantar

7

Modul Darsana Hindu ini berisi pokok bahasan tentang filsafat
(darsana) Hindu yang melatarbelakangi ajaran dan mendasari pola berpikir
Hindu beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara sistematis ajaran agama Hindu dibagi menjadi tiga kerangka
yaitu bagian tentang filsafat (tatwa, darsana), bagian tentang susila (ethica)
dan bagian tentang upacara (yadnya, ritual). Walaupun secara sistematis dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian tetapi pada kenyataannya tetap terjalin
menjadi satu. Ketiga-tiganya di dalam pemahaman dan pengalamannya tidak
berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan yang harus dimiliki. Jika
filsafat agama saja diketahui tanpa memahami ajaran susila dan upacara
tidaklah sempurna, demikian pula sebaliknya bila hanya memahami upacara
tanpa memahami dasar-dasar filsafat dan etika tidak juga sempurna, bahkan
ada kemungkinan dapat memberikan pengetahuan yang menyesatkan.

Dengan mempelajari modul Darsana Hindu ini, anda akan dapat
memahami ajaran sembilan filsafat Hindu (Nawa Darsana) yang meliputi
kelompok Astika dan kelompok Nastika, disamping Panca Sraddha yang
meliputi, hakikat Ketuhanan (Theologi Hindu Dharma), hakikat atman (roh)
hukum karmaphala, masalah penjelmaan kembali (samsara) dan pencapaian
kebahagiaan yang kekal abadi (moksa). Di samping itu juga anda dapat
memahami tentang Catur Marga Yoga dan Raja Yoga Marga. Hal ini tentu
akan dapat menggugah diri Anda sendiri untuk dapat berpikir dan bertindak
pada perbuatan yang lebih sesuai.

Konsep Darsana Hindu yang dibahas dalam modul ini merupakan
lanjutan konsep modul dua tentang kerangka agama Hindu dan berkaitan
langsung dengan konsep yang dibahas pada modul-modul ajaran agama
Hindu, terutama pada modul empat. Dengan demikian Anda perlu memahami
konsep Darsana Hindu ini.

2.

Tujuan Instruksional Umum

8

Dengan mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu memahami
ajaran filsafat Hindu, sebagai filsafat yang mendasari ajaran Agama Hindu
dan pola berpikir umat Hindu, di dalam mencapai tujuan agamanya.

3.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah menyelesaikan modul ini, Anda diharapkan mampu :

a)Memahami pandangan masing-masing filsafat kelompok Astika dan
kelompok Nastika.

b)Menjelaskan hakikat ajaran Ketuhanan dan Agama Hindu (Theologi
Hindu Dharma)

c)Menjelaskan hakikat pengertian Atman (roh)

d)Menjelaskan pengertian dan hakikat hukum Karmapala

e)Menjelaskan hakikat keyakinan pada penjelmaan (Samsara)

f)Menjelaskan pengertian tentang moksa (terbebas dari penderitaan)

g)Menjelaskan tentang Bhakti Marga

h)Menjelaskan tentang Karma Marga

i)Menjelaskan tentang Jnayana Marga

j)Menjelaskan tentang Raja Yoga Marga

4.

Kegiatan Belajar

4.1Kegiatan Belajar 1

ASTIKA

Sistem filsafat Hindu yang tergolong pada klasifikasi Astika ialah
sistem / aliran yang percaya kepada kesucian Weda (Authority of the Veda).

9

Menurut klasifikasi ini ada enam aliran yang disebut Sad Darsana (Sad =
enam, Darsana = pandangan, filsafat) yang termasuk Astika yaitu Samkhya,
Yoga Niaya, Waisasika, Mimamsa dan Wedanta.

Dalam pengertian lain di samping percaya kepada kesucian Weda,
percaya pula pada reinkarnasi (kelahiran kembali) maka yang tergolong
Astika tidak hanya enam aliran filsafat tadi termasuk juga aliran Buddha dan
Jaina. Tetapi yang umum disebut Astika adalah Sad Darsana tadi.

Filsafat Samkhya

Perkataan Samkhya terjadi dari dua kata yaitu sam dan khya, sam
artinya bersama-sama dan khya berarti bilangan. Samkhya, berarti bilangan
bersama-sama, atau susunan berukuran bilangan. Dalam Samkhya bilangan
mempunyai fungsi-fungsi penting, sebagaimana pula peranan bilangan pada
filsafat Yunani. Walaupun ada juga bilangan yang tidak termasuk ukuran
bilangan dalam Samkhya. Inti pembahasan filsafat Samkhya adalah
penciptaan alam semesta dengan segala isinya 25 satwa.

Fungsi Bilangan

1)Bilangan satu : adalah simbul dari Yang Maha Ada yaitu Tunggal (Parama
Siwa Sanghyang Widhi). Dalam agama Hindu Yang Maha Ada itu tunggal
(Satu) digambarkan dengan satu huruf disebut Omkara yang pada
dasarnya adalah sepuluh aksara (dasaksara), setelah disarikan menjadi
lima aksara (pancaksara), disarikan lagi menjadi tiga aksara (tryaksara),
akhirnya kembali pada intinya semula pada angka satu yaitu Omkara
(aksara tunggal).

2)Bilangan dua : menunjukkan yang saling berbeda yaitu Rwabhineda,
Purusa pradana, centana acetana, adwaya adwayadnyana. Prinsip dua pada
Samkhya menimbulkan evolusi setelah adanya pertemuan dalam prinsip
itu sendiri, membawa perubahan pada keseimbangan semula.

10

3)Bilangan tiga : adalah bilangan untuk api, sifat api adalah menerangi dan
dharmanya api adalah membayar 3 x 7 = 21. Merupakan bilangan api
terbesar yaitu matahari. Angka 21 sama nilainya dengan 2 + 1 = 3,
kembali bilangan api. Dalam hubungan upacara agama Hindu terutama di
Bali bilangan 3 hampir tidak pernah ketinggalan, sejak bayi lahir sampai
tua dan meninggal, yang jelas maksudnya untuk mensucikan (memari
sudha) mala (kotoran jasmaniah rohaniah) membakar segala noda dan
dukha (penderitaan).

4)Bilangan empat : adalah bilangan menunjukkan penjuru / mata angin
(catur desa) dengan di masing-masing penjuru bersthana dewa tertentu.
Kata dewa berasal dari kata div yang berarti bersinar. Dewa adalah sinar
dari Sanghyang Widhi :

Utara

sthana

Wisnu

Timur

sthana

Iswara

Selatan

sthana

Brahma

Barat

sthana

Mahadewa

5)Bilangan lima : adalah bilangan dunia dengan keempat penjuru ditambah
zenit. Kuadrat bilangan 5 adalah 25 merupakan bilangan untuk melukiskan
penciptaan dunia sebagai makro kosmos (bhuwana agung) dan sebagai
mikro kosmos (bhuwana alit) dalam ajaran 25 tatwa.

6)Bilangan delapan : adalah menunjukkan delapan mata angin dan simbol
kekuatan Sang Hyang Widhi yang digambarkan dengan padma anglayang,
yaitu gambaran bumi berputar melayang-layang di angksa mengitari
matahari (surya sewana).

7)Bilangan sembilan : adalah menunjukkan 9 lubang pada badan manusia,
dan juga berarti pintu. Bila dihubungkan dengan meru maka angka
sembilan menunjukkan bilangan delapan arah mata angin dan ditambah
dengan satu yaitu tengah, jumlah tingkat daripada meru, tempat
menghormati roh para raja-raja penguasa alam dunia.

11

Bilangan-bilangan selanjutnya adalah pengadaan dari bilangan satu
sampai dengan sembilan atau kelipatan dari bilangan-bilangan itu, dan
nilainya adalah jumlah dari masing-masing bilangan.

Contoh :

Di candi Borobudur terdapat 504 patung Buddha. Angka 504 nilainya
adalah 5 + 0 + 4 = 9. Bilangan sembilan menunjukkan Yang Maha
Ada atau Adi Buddha dalam ajaran Buddha.

Cetana dan Acetana

Filsafat Samkhya pada dasarnya memulai dari pembahasan Cetana dan
Acetana yaitu hakikat dua unsur yang mempunyai kesamaan keutamaannya,
gaib tiada terkena dari suka dan duka duniawi. Ia ada tanpa diciptakan atau
tanpa sebab, dinamai Cetana dan Acetana di dalam Sastra. Dua unsur inilah
yang menjadi awal daripada penciptaan. Cetana dan Acetana itu adalah duau
nsur yang saling bertentangan, Cetana adalah unsur kesadaran yang kekal.
Sedangkan Acetana adalah kebingungan atau ketidaksadaran yang bersifat
awidya. Pertemuan Cetana dan Acetana itu, menimbulkan sesuatu yang
bersifat jasmaniah. Tetapi jika kedua Cetana dengan Acetana tidak
mengadakan pertemuan, maka dunia dengan segala isinya tak akan ada.
Cetana dengan Acetana itu juga disebut Siwa Tattwa dengan Majatatwa, atau
sekala dengan niskala. Cetana itu terbagi lagi menjadi tiga bagian yaitu
masing-masing sebagai berikut :

a)Paramasiwa

b)Sadasiwa

c)Siwa

a)Paramasiwa-Tattwa

Yang pertama ini disebut Parama – Siwa yaitu yang masih suci
nirguna, adalah yang kekal selama-lamanya, tidak tunduk oleh ruang tempat

12

dan waktu, hidup tak mengenal mati, ingat tak mengenal lupa, ialah yang
disebut dengan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).

b)Sadasiwa-Tattwa

Yang kedua disebut Sada-Siwa yaitu bertingkatan di bawah Parama
Siswa tersebut di atas adalah juka kekal, tidak hidup tidak mati. Tidak ingat
dan tak lupa (Saguna Brahma), tersebut sebagai Ida Sang Hyang Widhi yang
mempunyai sifat-sifat kemahakuasaan-Nya yang disebut Padmasana yaitu
simbol daripada segala macam kemahakuasaan bersusun-susun bagaikana
kelopak daunnya bunga teratai. Karena dia menempati yaitu yang bagaikan
bunga teratai terus dinamai Padmasana. Padmasana (tempat kedudukan yang
menyerupai bunga teratai) dinamai Cadu Sakti (catur sakti) yaitu :

1)Jnana sakti

2)Wibhu sakti

3)Prabhu sakti

4)Kriya sakti

1)Jnana Sakti

Berarti maha tahu. Segala kejadian di dunia skala niskala diketahui
semuanya, dilihat, didengar, dipikirkan. Karena itu Jnana sakti ini berisikan
tiga unsur yaitu :

a.Duradarsana : melihat segala sesuatu yang tak mungkin dilihat oleh orang.

b.Durasrawa : mendengar apa yang tak mungkin, didengar oleh orang.

c.Durajnana : memikirkan apa yang tak dapat dipikirkan oleh orang.

2)Wibhu Sakti

13

Berarti sifat Maha Ada meresap memenuhi bhuwana, tiada tempat
yang tiada dipenuhi oleh-Nya di mana-mana Dia selalu ada (wyapi-wyapaka).
Kekosongan ruang angkasa dipenuhi oleh wujudnya yang Maha Sukma itu.

3)Prabhu Sakti

Berarti sifatnya Maha Kuasa sebagai pencipta (Utpeti), pemelihara
(Sthiti) dan dapat menghilangkan atau menghancurkan segala isi alam
(Bralina).

4)Krya Sakti

Berarti Maha Karya, dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.
Ini berisikan delapan unsur yaitu yang dikenal dengan nama ”Asta Eswarya”.

a)Anima : kekuatan untuk mengubah diri sekecil atom dan dapat
berhubungan dengan barang-barang yang terkecil sekalipun.

b)Lagima : kekuatan mengubah badan menjadi ringan sehingga dapat
terbang sebagai kapas terbawa oleh angin, demikian juga ia berat seberat-
beratnya.

c)Mahima : kekuatan untuk menjadikan diri-Nya tujuan umat, di mana-

mana.

d)Prapti : kekuatan untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Tidak tunduk
kepada tempat, ruang dan waktu ia seketika ada.

e)Prakamia : kemauan untuk menginginkan segala sesuatu ia serba jenis,
tidak tunduk oleh umur tua muda besar kecil.

f)Isitwa : kekuatan menguasai dan menciptakan, menguasai alam surga dan

neraka.

g)Wastwa : kekuatan memerintah segala sesuatu, tidak tunduk oleh kodrat
lahir-hidup-mati pendeknya ia ada di bumi, air, cahaya, angin, dan langit
tidak terbakar oleh api. Tidak basah oleh air karena ia adalah air.

14

h)Yatrakamawasayitwa : kekuatan untuk menentukan, tidak ada yang dapat
menentang kehendak dan kodrat-Nya, segala yang telah ditakdirkan
berlaku, dengan tak ada sesuatu kekuatan apa pun yang mungkin
menghalangi-Nya.

Demikianlah delapan sifat keagungan Ida Sanghyang Widhi Wasa,
Sada Siwa (saguna Brahma) disimpulkan dengan singasana teratai
(padmasana) yang berdaun kelopak delapan (astadala) merupakan lambang
daripada kemahakuasaan-Nya menguasai dan mengatur alam semesta beserta
makhluk –makhluk di dalamnya.

c)Siwa (Siwatma – Tattwa)

Yang ketiga setelah Sadasiwa yaitu tingkatan di bawahnya dinamai
Siwadma atau disebut juga Sanghyang Mahasiratatwa, Sanghyang Darma,
Sanghyang Jagatkarana, Sanghyan Icana, dan Sanghyang Rudra. Mulai
disinilah pengaruh dunia yiatu seperti lupa, bingung dan lain sebagainya yang
disebut Acecana, timbul sebagai pengaruh sifat-sifat tattwa-tattwa berikutnya.
Tattwa-tattwa berikutnya yang dimaksudkan di sini ialah Purusattwa yang
ditimbulkan oleh pertemuan antara Siwa dan Maya.

Purusa dan Pradana Tattwa

Sesudah selesai pertemuannya Siwa dengan Maya maka muncullah
dari pada-Nya apa yang disebut Purusa dan Pradana Tattwa yang tampaknya
terwujud tunggal memenuhi seluruh ruangan alam ini bersifat Rwabhineda.
Purusa itu adalah Atman yang selalu hidup kekal abadi tidak pernah
mengalami mati. Pradhana (Prakrti) itu merupakan badannya Purusa yang
mempunyai sifat mati atau berganti. Antara Purusa dan Pradhana terdapat
kekuatan saling tari-menarik (magnitisme) yang memang telah ada pada setiap
prakrti, yaitu bagaikan hubungan antara elektron dan proton pada aliran listrik.
Pertemuan elektron dengan ploton menimbulkan api listrik, demikian pula
pertemuannya Purusa dengan Prakrti menimbulkan sesuatu wujud.

15

Citta dan Triguna

Telah disebut bahwa Purusa adalah Jnana swabhawa wruh tan keneng
lupa atau dengan kata lain. purusa adalah Maha Tahu (sadar). Dalam bentuk
kejiwaan ia adalah spiritual dan segala gejal psikis yang termasuk benda
pengalaman ilmu jiwa. Jadi organ-organ atau alat-alat materi (prakrti)
mendapatkan gejala-gejala psikis ini dari dalam dan mengadakan citta.

Maka yang terlahir dari spiritual dan material membawa pula sifat-
sifatnya yaitu kebendaan dan kejiwaan yang menurut Samkhya sudah ada
pada sebab (satkaryavada) yaitu kenyataan-peristiwa dan anggapan. Tiga
faktor sifat-sifat itu adalah :

1)Yang menjadi sebab adanya anggapan (sebutan), misalnya api menjilat
rumah penduduk. Hal yang demikian, kebakaran.

2)Yang menjadi sebab adanya peristiwa itu misalnya keluarga itu karena
lengah menaruh pelita di dalam rumah.

3)Kenyataan : adalah akibat dari 1 dan 2.

Hal yang terurai di atas ini dipandang dari segi kebendaannya.
Selanjutnya jika ada tiga faktor sifat tersebut di atas tentu ada asalnya. Inilah
prakerti si pemberi sifat khas kepada citta.

Jadi tiap-tiap kejadian hanya pernyataan dari ada sebab digambarkan
oleh citta yang terlahir dari spiritual dan material itu.

Citta dapat digambarkan, mengambil macam-macam rupa, sehingga
rupa-rupa yang terjadi itu menyusun vrittis (gerakan-gerakan pikiran).
Gerakan-gerakan pikiran itu dapat diubah, perubahan-perubaan itu disebut
gelombang-gelombang pikiran atau kisaran-kisaran pikiran. Kalau citta
memikirkan tentang kebakaran maka gelombang pikiran (vrittis) hal
kebakaran terbentuklah dalam lautan citta itu. Gelombang pikiran hal
kebakaran itu akan berangsur-angsur surut, jika citta telah memikirkan hal-hal
yang lain sehingga muncul vrittis yang baru.

16

Hal ini mungkin dapat dibandingkan dengan pita tape rekorder yang
jika hendak merekam suara baru, maka suara yang lama hilang saja dengan
sendirinya. Sebagaimana di atas telah diuraikan, bahwa citta terlahir dari
Samyoganya purusan dan prakrti yang bagaikan hubungan positif dengan
negatif mempunyai kekuatan daya tahan menarik. Pertemuannya inilah yang
disebut Samyoga.

Evolusi dimulai setelah adanya Samyoga yang dengan sendirinya
mengubah keseimbangan semula dan berubahlah menjadi gerak. Untuk
terjadinya Samyoga itu berlakulah asas salingu berhubungan yang berdasarkan
hukum sifat tarik-menarik. Pemberi sifat tarik-menarik (magnit) itu telah ada
pula pada setiap prakrti (materi) yang selalu bekerja berputar berbeda arah
satu sama lain sesuai dengan asas kontradiksi, itulah Triguna.

Tri guna adalah yaitu :

Sattwam (satwika), Rajas (Rajasika) dan Tamas (Tamasika)

1)Sattwam (Satwika) : berasal dari kata sat dengan twa. Sat berarti benar dan
twa berarti mempunyai sifat. Sattwa berarti sifat benar. Disini berarti sifat
ringan bagi benda dan sifat baik bagi makluk hidup.

2)Rajas (Rajasika) : berasal dari kata Raj yang berarti mengendalikan (kata
raja bahasa Indonesia berasal dari kata Raj tersebut, di atas berarti yang
mengendalikan.

Disini Rajas berarti sifat yang menjadi penggerak dari segala benda yang
ada dalam alam semesta, dan bagi makhluk hidup berarti sifat yang
memberi kekuatan untuk mengerjakan sesuatu atau kekuatan yang
menyebabkan makhluk atif dalam hidupnya. Sifat-sifat Rajas bergerak,
bekerja sangat dibutuhkan dewasa ini bagi kepentingan pembangunan
negara, karena dengan banyak omong dan hanya teori di atas meja tak
akan dapat menyelesaikan cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur
(no great work can be sachieved by humbug).

3)Tamas (Tamasika) : berasal dari kata Sanskerta Tam yang berarti susah
atau gelap. Tamas, artinya sifat yang menyebabkan segala makhluk di

17

dalam kegelapan atau kemalasan, bagi benda mati Thamas berarti sifat,
yang menyebabkan benda itu lamban (statis atau tak bergerak). Jadi
jelaslah bahwa Tamas bersifat amerih sukaning awak tan ton laraning len
(menghendaki kesenangan diri sendiri tanpa melihat kesusahan orang
lain).

Rajas dan Tamas lebih menguasai Ksipta (kegusaran dan kecemasan).
Karenanya jika Sattwam ketenteraman disimbolkan dengan warna putih, maka
Rajas disimbolkan dengan warna merah dan Tamas disimbolkan dengan
warna hitam (Kegelapan).

Mahat Buddhi

Hasil dari gerak pertama yang kita sebut evolusi, karena rwabhineda
tadi menimbulkan suatu benih maha besar (mahat) yang membawa suatu
unsur kesadaran. Setelah mahat (buddhi) mendapatkan sifat-sifatnya saling
mempengaruhi satu dengan yang lain bagaikan kabel, bohlam, dan aliran
listrik yang ketiga-tiganya adalah memegang peranan penting, baik, bohlam,
kabel, maupun aliran listirk, jika satu di antaranya rusak maka ia tak dapat
menyala. Demikianlah Buddhi mempunyai sifat wikerta, rejasa, dan butadi
yang kegunaannya sama dengan Sattwam, Rajas dan Tamas tersebut di atas.
Karena ia memberi kesadaran, maka ia disebut : Buddhi di mana Satwam
menduduki tempat yang terbesar. Mahat (Buddhi), dapat diumpamakan air
laut yang ditiup angin bergelombang. Matahari di atas kelihatan bayangannya
berombak juga pada hal matahari itu tetap tidak bergoyang sebagai
bayangannya di air.

Demikianlah dalam Samkhya Yoga bahwa Yoga itu bertujuan
menghilangkan gelombang-gelombang itu. Tahap yang harus dilalui dalam
berusaha menghilangkan gejolak budhi itu dalam hal ini ada lima tingkatan
yang disebut Citta Bhumi yaitu :

1.Ksipta : (gusar) di mana pikiran tidak tetap, karena alamnya dikuasai
oleh kedua-duanya baik rajas maupun tamas.

18

2.Mudha : (bodoH0 di mana segala sesuatu tak dapat ditangkap oleh
pikiran, sering linglung, bagaikan seorang yang amat bodoh karena
alamnya dikuasai sendiri oleh Tamas.

3.Viksipta : (kacau) karena alamnya dikuasai oleh Rajas sendiri yang
berlaku sebagai pengemudi bergerak maju tetapi tak menentu tujuan.

4.Ekagra : konsentrasi pikiran dapat terpusat serta telah dapat menguasai
suka duka di dunia ini, karena telah dikuasai oleh Sattwam.

5.Niruddha : (ketenangan) kekuasaan Satwam yang mutlak dimana pada
tingkatan ini manusia misalnya dapat membedakan dirinya dengan subjek-
subjeknya.

1)Dasa Indria

Dalam proses penciptaan setelah timbul unsur-unsur di atas kemudian
barulah timbul Dasa Indria yaitu sepuluh sumber Indria yang terbadi dua
menjadi Panca Budhi Indria dan Panca Karma Indria.

1)Panca Budhi Indria

a.Srota indria

= Rangsang pendengar

b.Twak indria

= Rangsang perasa

c.Caksu indria

= Rangsang pelihat

d.Jihwa indria

= Rangsang pengecap

e.Grana indria

= Rangsang pencium

2)Panca Karma Indria

a.Wak indria

= Penggerak mulut

b.Pani indria

= Penggerak tangan

c.Pada indria

= Penggerak kaki

d.Payu indria

= Penggerak dubur / pelepasan

e.Upasatha indria= Penggerak kemaluan

19

Setelah timbul indria-indria kemudian timbul : Panca Tan Matra yaitu

lima benih alam :

a.Sabda tan matra

= Benih suara

b.Sparsa tan matra

= Benih rasa sentuhan

c.Rupa tan matra

= Benih penglihatan

d.Rasa tan matra

= Benih rasa

e.Gandha tan matra = Benih penciuman

Dari unsur-unsur Panca tan Matra inilah kemudian timbul unsur-unsur
benda materi yang nyata yang dinamai Panca Maha Bhuta.

a.Akasa

= Ether

b.Bayu

= Gas, udara

c.Teja

= Sinar, panas

d.Apah

= Zat cair

e.Pratiwi = Zat padat

Dari kelima unsur-unsur alam inilah kemudian terbentuk parama anu
(atom) yang mengalami evolusi sampai kemudian terbentuk alam semesta
yang terdiri dari Brahmanda. Brahmanda yaitu planet-planet seperti matahari,
bulan, bumi, dan bintang-bintang lainnya. Panca Maha Butha ini pula yang
menjadikan unsur badan manusia (mikrokosmos = bhuwana alit). Dalam
filsafat Samkhya ini Tuhan tidak begitu dibahas karena dinilai tidak perlu,
sehingga filsafat Samkhya disebut juga ajaran Micro Iswara Samkhya.

Filsafat Yoga

Yoga berasal dari kata Yuj artinya menghubungkan diri. Yoga berarti
jalan atau proses, cara manusia menghubungkan jiwa atau atmannya yang suci
dengan Parama atma (Tuhan). Sehingga bersatu kepada-Nya. Filsafat Yoga

20

disponsori oleh Patanjali. Dalam hal ini methafisika dan evolusi kejadian
dunia ini Yoga sama dengan ajaran Samkhya, dengan menambah kepercayaan
bahwa ada Tuhan yang menciptakan Purusa dan Prakrti. Hal penting dalam
sistem filsafat Yoga adalah tentang praktek yoga dilakukan untuk mencapai
Wiweka Jnyana yaitu pengetahuan untuk membedakan jiwa dengan bukan
jiwa. Yoga mempunyai praktek tingkat-tingkat pelaksanaan mental (citta urtti
niroddha), untuk mencapai keadaan moksa ada lima tingkat mental disebut
Citta Bhumi yaitu :

1)Ksipta

2)Mudha

3)Viksipta

4)Ekagra

5)Nirudha

Ksipta, Mudha, dan Viksipta adalah masih dalam keadaan konsentrasi
pikiran pada sesuatu objek, sedangkan Ekagra dan Nirudha adalah konsentrasi
yang telah sempurna. Tiga daripada yang disebut pertama dinamai.
Samprajnata dan dua dari yang lainnya disebut belakangan dinamai
Asamprajanata.

Di samping lima tahap tersebut di atas, yoga juga mengajarkan delapan
jalan untuk melakukan yoga yang disebut Astangga Yoga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->