P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (3)

Materi Kuliah Agama Hindu (3)

|Views: 4,473|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

PENDIDIKAN AGAMA HINDU

OLEH:

Letkol. Inf I Ketut Bantas

Kapten Inf. I Nengah Dana

45

KEMASYARAKATAN HINDU

1. Pengantar

Di dalam modul-modul sebelumnya anda telah mempelajari mengenai
sejarah, sumber, ruang lingkup, tujuan dan filsafat agama hindu. Semuia itu akan
dapat menuntun anda untuk memperjelas pengertian didalam pembahasan
berbagai masalah kehidupan kemasyarakatan/Pranata sosial yang terdapat di
dalam ajaran Hindu, yang akan anda pelajari pada modul 4 ini.

Mempelajari masalah kehidupan kemasyarakatan Hindu tidak dapat
dipisahkan dari sumbernya yaitu ajaran yang dianut, karena ajaran itulah yang
akan menentukan arah tingkah lakunya yang diwujudkan dalam bentuk
kebudayaan, untuk mencapai tujuan hidupnya sebagai umat beragama.

Walaupun kehidupan beragama merupakan persoalan individu namun
untuk mencapai tujuan hidup beragama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, karena itu lalu timbul Pranata Sosial dalam
berbagai bentuk dan coraknya.

Dalam sejarah pertumbuhannya kadang-kadang terjadi penyimpangan dari
yang ditetapkan menurut ajaran agama Hindu, sehingga menimbulkan kesan
negatif sementara pihak terhadap agama Hindu itu sendiri. Seperti misalnya
masalah catur wulan. Yang berubah ke dalam pengertian kasta, kemudian
berpengaruh terhadap sistem kekeluargaan (kula, wamsa) dan lembaga
Perkawinan Hindu, serta status sosial lainnya.

Karena itu di dalam modul ini akan diuraikan berbagai masalah kehidupan
masyarakat Hindu sesuai dengan ajaran yang benar menurut Dharma.

2. Tujuan Instruksional Umum

Dengan mempelajari modul ini anda akan memperoleh pengertian yang
jelas, dan mampu memahami tentang berbagai masalah kehidupan

46

kemasyarakatan sesuai ajaran agam Hindu, sehingga mantap di daloam
melaksanakan tugas dan kewajiban.

3. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah menyelesaikan modul ini, anda diharapkan:

a)Menjelaskan sistem Asrama di dalam agama Hindu.

b)Menjelaskan pengertian Warna yangsebenarnya menurut agama Hindu.

c)Menjelaskan secara singkat tentang Parisada Hindu Dharma dan
kedudukannya sebagai lembaga tertinggi Agama Hindu.

d)Menjelaskan tentang Lembaga Perkawinan Hindu dan kedudukan anggota
keluarga dan kewajibannya.

CATUR ASRAMA

4.1.1 Uraian dan contoh

Di dalam modul 2 andatelah mempelajari mengenai dasar dan tujuan hidup
menurut agama Hindu yang dipisahkan antara tujuan agama dan tujuan hidup
manusia. Tujuan agama adalah Moksartam Jagadhita, yaitu tercapainya
kebahagiaan hidup maupun kesejahteraan masyarakat yang disebut Jagadhita, dan
tercapainya kedamaian abadi atau kebahagiaan hakiki dan sejati, menunggal
dengan asal yang disebut Moksa. Sedangkan tujuan hidup manusia adalah Catur

47

Purusartha, yang mengikat menjadi satu jalinan sebagai dasar hubungan harmonis
di dalam kehidupan ini, yaitu Dharma Artha, Kama, dan Moksa.

Dasar dan tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusartha itu
didasarkan atas tujuan dan segi metafisikanya yaitu di dalam hubungan adanya
manusia dengan adanya yang umum universal. Atma (jiwa) itu kekal sifatnya
sedangkan badan wadag bersifat sementara. Karena itu jiwa yang kekal sifatnya
diharapkan dapat bersatu dengan hakikat kekal yang universal (Paramatha
mencapai Moksa).

Sedangkan kalau ditinjau dari segi manusianya sendiri yang selalu
berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan alam lingkungan, menghadapi
persoalan sejak kelahirannya sampai akhir hayatnya, maka agama hindu membagi
tingkat masa kehidupan manusia menjadi empat yang disebut Catur Asrama.

Adapun empat masa kehidupan atau tingkat hidup itu masing-masing

disebut:

a)

Brahmacari asrama;

b)

Grihastha asrama;

c)

Wanaprastha asrama;

d)

Samyasa asrama (Bhiksuka).

Brahmacari Asrama

Kata Brahmacari berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Brahma “ dan
cari “ atau “ carya “, Brahma berarti ilmu pengetahuan tentang Ketuhanan atau
ilmu pengetahuan kerohanian, sedangkan caria artinya gerak atau tingkah laku.
Kata “asrama” berasal dari kata “srama” yang berarti usaha seseorang. Jadi
brahmacari asrama berarti gerak atau tingkah laku dalam mengejar ilmu
pengetahuan kerohanian atau Ketuhanan. Secara umum brahmacari asrama berarti
hidup berguru aguron-guron yaitu masa kehidupan menuntut ilmu pengetahuan
suci keagamaan/kerohanian.

48

Yang di maksud dengan ilmu pengetahuan suci keagamaan adalah weda
dalam arti luas. Di samping Catur Weda, juga diajarkan enem cabang
pengetahuan Weda yang disebut Sadangga Weda terdiri dari:

a)

Siksha (fonetika)

b)

Wyakarana (tata bahasa)

c)

Nirukta (etimologi, ilmu asal kata)

d)

Chanda (ilmu irama)

e)

Kalpa (peraturan tentang yadya, upacara)

f)

Jyotisa (astronomi, ilmu falak)

Sedangga weda merupakan pengetahuan pokok sedangkan pengetahuan
lain yang diberikan pula pada brahmacari asrama adalah:

a)

Itihasa (sejarah)

b)

Kala (berbagai macam keselian)

c)

Bhuta Widya (demologi)

d)

Ayur Weda (ilmu obat-obatan)

e)

Tarka Sastra (ilmu logika)

f)

Wakswakyam (ilmu dialektika)

g)

Ganitam (ilmu hitung)

h)

Ksatria Widya (ilmu kemiliteran, taktik perang)

i)

Dhanur Widya (ilmu memanah)

j)

Nitisastra (ilmu etika dan politik)

k)

Atma Widya (ilmu jiwa)

49

l)

Mantra Wijaya (ilmu mantra – mantra)

Nilai – nilai luhur dan mendasar yang dianut dalam Brahmacari Asrama
adalah nilai moral dan spiritualnya berupa disiplin berguru dengan peraturan-
peraturan yang dilakukan secara ketat.

Setiap Brahmacarin (siswa kerohanian) yang akan memasuki brahmacari
asrama harus diketahui asal-usulnya terlebih dahulu, kemudian baru diterima
sebagai siswa. Penerimaan siswa didahului dengan suatu upacara yang disebut
Upanayana.

Mengenai pelaksanaan upacara upanayana, di dalam kitab Sathapatha
Brahmana disebutkan bahwa apabila seorang guru (Acarya) menerima siswa
(sisya) maka, pada saat upacara upanayana seorang Acarya meletakkan telapak
tangannya di ubun-ubun Sisya sebagai simbul persatuan dan pencurahan seluruh
personalitetnya kepada sisya. Setelah itu kepada para sisya diberikan pelajaran
yang diawali dengan mantram Sawitri oleh Acarya (Guru).

Menurut kitab Grihya Sutra dan Manu Smerti dikatakan bahwa setelah
upacara upanayana para sisya diberikan Mekhala yaitu semacam ikat pinggang.
Di Bali tradisi seperti itu kita jumpai juga di mana seorang Guru (Nabe)
memberikan Yadnyapawitra (pepetan) kepada sisyanya.

Selanjutnya setelah upacara itu selesai maka para sisya mengucapkan janji
untuk menaati peraturan-peraturan Brahmacari asrama. Kemudian barulah mereka
resmi menjadi Dwijati.

Dwijati berarti lahir yang kedua kali. Lahir yang pertama kali dari perut
Ibu, sedangkan lahir yang kedua lahir dari Dharma (ilmu pengetahuan suci) atau
lahir sevara rohaniah.

Sebagai seorang Dwijati para sisya harus taat pada peraturan-peraturan
yang berlaku baginya dan memahami kewajibannya sebagai sisya (Brahmacarin).
Adapun peraturan-peraturan yang yang harus ditaati dan kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh Brahmacarin manyangkut dua hal pokok yaitu:

50

a)

Kewajiban yang dilakukan sisya terhadap gurunya

b)

Kewajiban dan peraturan sehari-hari yang menyangkut diri sisya itu
sendiri.

Mengenai kewajiban ataupun etika sisya terhadap guru (acarya) dijelaskan
dalam lontar Silakrama sebagai berikut:

“Nihun ta silakramaning aguron-guron, haywa tan akti ring guru, haywa
himaniman, haywa tan sakti ring sang guru, haywa tan sadhu tuhwa,
haywa nikelana sapatuduhing sang guru, haywa angideki wayangan sang
guru, haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.

Artinya:

Beginilah tata tertib berguru, jangan tidak hormat terhadap guru, jangan
mencaci maki, jangan segan kepada guru, jangan tidak percaya dan tulus,
jangan menentang perintah guru, jngan menginjak bayangan guru, jangna
mendudukintempat duduk guru.

Pengertian kalimat “jangan segan kepada guru” dimaksudkan adalah
bahwa sisya harus berani menanyakan sesuatu yang ia belum mengerti ataupun
bertanya ilmu kepada gurunya agar sisya menjadi kritis.

Sedangkan kalimat “jangan menginjak bayangan guru” dimaksudkan
sebagai pernyataan hormat sisya kepada gurunya. Apabila kita perhatikan etiket
yang masih tampak dalam masyarakat dewasa ini dalam hal berdiri, berjalan,
duduk dan sebagainya maka seorang siswa akan berada di sebelah kiri gurunya;
begitu pula kebiasaan dalam kehidupan kemiliteran misalnya, yang lebih
tua/senior selalu berada di sebelah kanan yuniornya apalagi terhadap
dosen/gurunya. Jadi secara normal secrangsisya harus selalu patuh, hormat, dan
menghargai gurunya.

51

Selain peraturan dan kewajiban tersebut masih adfa lagi aturan yang harus
dilakukan/ditaati sisya, antara lain:

1)

Hidup sederhana;

2)

Tidak boleh lengah di hadapan guru;

3)

Tidur belakangan dan bangun duluan dari guru;

4)

Tidak mau mendengar bila ada orang yang menghina gurunya (pariwada
ninda wadi);

5)

Menunggu guru (upasita) sebelum pelajaran mulai;

6)

Dan sebagainya.

Di dalam kitab Manu Smerti IV.162 disebutkan pula tentang bagaimana
sikap seorang sisya terhadap guru dan orang-orang yang patut dihormati, seperti
dinyatakan dalam slokanya yang berbunyi sebagai berikut:

Acaryam ca prawaktaram,

Pitaram mataram guru,

Na himsyad brahmananggasca,

Sarwamscaiwa tapaswinah”.

Artinya:

Hendaklah ia tidak menentang guru yang menasbihkan, yang
menerangkan Weda, ibu bapaknya, tidak juga guru lainnya, para brahmana, dan
para pertapa.

Di samping peraturan mangenai kewajiban sisya terhadap guru terdapat
pula kewajiban yang berlaku bagi sisya sendiri merupakan pengendalian diri yang
harus ditaati, guna mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin.
Pengendalian diri itu dilakukan dengan mengamalkan Yama Brata dan Niyama
Brata, sebagaimana dinyatakan di dalam kitab Wrihaspati Tattwa sebagai berikut:

52

“Ahimsa brahmacaryanaca,

Satyam awyawaharikam,

Astainyam iti pancaite,

Yama rudrena bhasicah.

Akrodho guru susrusa,

Sancam aharalaghawan,

Apramadasca pancaite,

Niyamah parikirtitah”.

Artinya:

Yang disebut Yama Brata ialah Ahimsa, Brahmacarya, Satya,
Awyawaharika dan Astainya, ini lima jumlahnya. Yang dinamakan Niyama Brata
ialah Akroda, Gurususrusa, Sanca,Aharalaghawa, dan Apramada, ini lima
jumlahnya.

a.Panca Yama Brata :

1)Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyiksa segala makhluk.

2)Brahmacarya artinya tekun menuntut ilmu pengetahuan suci dan tidak
melakukan hubungan seksual.

3)Satya artinya tidak dusta, baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan.

4)Awyawahara artinya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, dan tidak
sombong.

53

5)Astainya artinya tidak mengambil milik orang lain tanpa persetujuan
kedua pihak (tidak mencuri), tidak berhasrat jahat kepada orang lain dan
terhadap binatang sekalipun.

b.Panca Nyama Brata :

1)Akrodha artinya tidak suka marah karena pemarah itu merupakan sumber

derita.

2)Guru susrusa artinya hormat dan dekat dengan guru guna dapat menerima
ilmu pengetahuan dengan sempurna, sebagai jalan utama menuju
kebahagian (Adhaya) ataupun kebebasan abadi (Nisaya).

3)Sauca artinya bersih lahir batin seorang sisya setiap hari harus
membersihkan dirinya secara fisik dan tubuh dibersihkan dengan air,
dibersihkan dengan kejujuran, juga dibersihkan dengan ilmu pengetahuan
pengendalian nafsu, sedangkan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.

4)Aharalaghawa artinya makanan tidak sembarang makan, makan hanya
makanan yang bermanfaat bagi diri tidak boleh melebihi batas
kemampuan pencernaan (Atibhojanam).

5)Apramada artinya tidak melakukan/meninggalkan kewajiban yang
ditetapkan dalam agama guna mencapai kesempurnaan.

Demikianlah kewajiban-kewajiban atau peraturan-peraturan yang harus
ditaati oleh para sisya (Brahmacari) di dalam masa Brahmacari Asrama atau hidup
berguru sebagai dasar pendidikan moral. Apabila moral baik maka penerimaan
pelajaran berupa ilmu pengetahuan (Jnana) akan mudah karena seseorang sisya
benar-benar patuh dan yakin kepada gurunya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh di
Asrama dan moral yang dimiliki sebagai hasil latihan pengendalian diri akan
membawa Brahmacari kepada kematangan rohani, menjadi manusia cerdas dan
bijaksana.

54

Setelah para sisya lulus mengikuti pelajaran maka dilakukanlah upacara
wisudha yang disebut Samawartana, kemudian kepada mereka masing-masing
diberi gelar Snataka.

Kepada mereka diberikan istirahat selama 3 hari kmudian melanjutkan
kegiatannya sehari-hari sebagai snataka, dengan menjalankan Dharma, hidup suci,
demikian dinyatakan did alam kitab Manu Smerti IV.119.

Dengan berakhirnya masa Brahmacari asrama maka seorang Snataka
boleh terus hidup menyendiri (tidak kawin), atau dapat melanjutkan ke tingkat
kehidupan berikutnya yaitu hidup berumah-tangga, yang disebut Grihastha
Asrama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->