P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (3)

Materi Kuliah Agama Hindu (3)

|Views: 4,468|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

Di dalam kehidupan masyarakat Hindu, kita sreing mendengar adanya
perbedaan status sosial yang didasarkan atas sistem kasta. Sepintas lalu orang
akan membenarkan kenyataan itu, tetapi apakah memang demikia menurut ajaran
Weda? Ataukah hal itu berkembang sebagai pranata sosial yang brsifat kaku dan
ortodoks karena penafsiran yang keliru dari ajaran weda? Inilah yang perlu
dijelaskan agar pengertian yang keliru itu dapat diluruskan sesuai dengan yang
dimaksudkan dalam kitab suci Hindu.

Menurut Bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda)
kata “kasta” (kasta) berarti “kayu”, jadi bukan berarti pembedaan golongan status

61

sosial berdasarkan keturunan seperti pengertian kata “caste” dalam bahasa
Portugis (caste = pemisah, tembok atau batas).

Dalam ajaran agama Hindu yang dapat kita jumpai adalah penjelasan
mengenai warnai, yaitu “catur warna”. Kata “warna” berasal dari bahasa
Sansekerta dari urat kata “wri” yang artinya “memilih” (lapangan kerja) sesuai
dengan bakat dan kualitas yang dimiliki. Kempat warna itu ialah Brahmana,
Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Masing-masing warna itu mempunyai tugas
kewajiban yang berbeda sesuai dengan guna (bahasa dan sifat) serta karmanya
(amal perbuatannya), jadi bukanlah didasarkan atas keturunan semata-mata.

Kitab Suci Bhagawad Gita Adhyaya XVIII sloka 41 sampai dengan sloka
44 menjelaskan mengenai catur warna dan fungsinya, yang berbunyi sebagai
berikut :

“Brahmana ksatriya wisam

Sudranam ca paramtapa

Karmani prawibhaktani

Swabhawa prabhawair gunaih

Samo damas tapah sancam

Ksantir arjawam ewaca

Jnanam wijnanam astikyam

Brahma karma swabhawajam

Sauryam tejo dhritir daksyam

Yuddhe ca’py apalayanam

Danam iswarabhawasca

Ksatram karma swabhawajam.

62

Krisi gauraksya wanijyam

Waisya karma swabhawajam

Paricaryatmakam karma

Saudrays’pi swabhawajam”

Artinya :

Hai Paramtapa, tugas kewajiban brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra
telah dibagi-bagikan menurut guna (bakat dan sifat) serta wataknya.

Tenteram, menguasai indria, suka melakukan pantangan agama, suci lahir
batin, suka mengampuni, lurus hati, bijaksana berilmu, yakin kepada
ajaran Weda adalah karma seorang brahmana menurut bakatnya.

Berani, perkasa, teguh hati, cekatan, tak mundur dalam peperangan,
dermawan, berwibawa dalam memimpin, adalah karma ksatriya menurut
bakatnya.

Bertani, berternak dan berekonomi adalah karma waisya menurut
bakatnya, kegiatan kerja tergolong pelayanan (buruh) adalah karma sudra
menurut bakatnya.

Demikianlah masing-masing warna itu sebagai golongan karya
mempunyai tugas kewajiban yang berbeda menurut bakat dan sifat yang lahir dari
mereka, tetapi bukan didasarkan atas genealogis secara turun-temurun.

Memang kalau ditinjau secara psikologis bakat dan sifat seseorang
cenderung menurun karena manusia dibentuk sejak masa prenatal dan besar dalam
lingkungannya, sehingga anak cucu seorang, brahmana akan cenderung menjadi
brahmana, begitu pula pada keluarga ksatriya, waisya, ataupun sudra. Dari sinilah

63

kemudian timbul istilah brahmana wangsa dengan predikat nama tertentu sebagai
identitas keluarganya. Demikian pula bagi ksatriya terdapat ksatriya wangsa dan
pada waisya ada waisya wangsa.

Brahmana wangsa lebih dihormati daripada wangsa lainnya sebagai akibat
dari sifat dan bakat yang melekat pada dirinya, begitu pula terdapat ksatriya
wangsa dan waisya wangsa secara berturut-turut memperoleh status secara
gradual.

Walaupun demikian perkembangannya, selama peraturan dan kewajiban
bagi masing-masing warna secara ketat dilaksanakan maka pngertian warna itu
masih sesuai menurut weda. Akan tetapi bila kewajibannya dilanggar, sementara
mereka mempertahankan status warna itu secara genealogis (wangsa) maka hal ini
sangat keliru dan menyimpang dari ajaran Weda.

Kitab Manu Smerti I. 157 dan X.65 menyebutkan :

“Yatha kastamayo hasti

Yatha carmamayo mrigah

Yasca wipro nadiyanas

Trayaste nama dharakah”.

“Sudro brahmanatam eti

Brahmanas caiwa sudratam

Ksatriya jatam ewantu

Widyad waisyat tatha iwaca”.

Artinya :

Bagaikana gajah terbuat dari kayu

Bagaikan rusa terbuat dari kulit

Demikianlah seorang brahmana yang tidak terpelajar

Ketiga-tiganya hanya membawa nama saja.

64

Seorang sudra menjadi brahmana

Brahmana menjadi sudra, ketahuilah

Bahwa sama halnya dengan keturunan ksatriya, waisya

Maupun sudra.

Sebagai butki bahwa seseorang dari keluarga sudra berubah menjadi
brahmana atau dari ksatriya menjadi brahmana karena bakat, sifat dan karmanya
dapat kita jumpai nama-nama para Resi/Maharesi terkenal pada zaman dahulu,
seperti antara lain :

1.Resi SatyaKama Jabala disebutkan dalam Chandogya Umpanisad, berasal dari
anak seorang buruh miskin.

2.Resi Kawasa dan Resi Aitareya adalah pengarang kitab Brahmana dan
Upanisa berasal dari ibu sudra.

3.Bhagawan Parasara ayah Maharesi Wyasa yang terkenal sebagai penghimpun
kitab suci Catur Weda, lahir dari keluarga candala.

4.Resi Wasistha sendiri berasal dari anaks eorang pelacur.

5.Resi Wiswamitra, Dewapi, Sindhudwipa berasal dari keluarga ksatriya.

Kemudian secara lebih tegas dan jelas kitab Maha Bharata III. XL.
XXX.21, 25, 26 menyebutkan :

“Satyam danam ksama silam

Anrisamsya tapo ghrina

Drisyanti yatra nagendra

Sa brahmana iti smritah”.

“Sudra ta yadbawel laksyam

65

Dwiji tasya na widyate

Naiwa sudre baweccudro

Brahmana na ca brahmana”

“Yatra itallaksyate sarpa

Writtam sa brahmanah smritah

Yabra naitat bhawet sarpa

Tam sudram iti nirdiset”.

Artinya :

Pada siapa jujur, dermawan, suka mengampuni,

bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan

agama, dan pemurah. Dialah hendaknya dipandang

brahmana, hai Nagendra.

Bila sifat ini terdapat pada sudra dan tidak

pada brahmana, maka sudra itu bukanlah sudra

dan brahmana itu bukanlah brahmana.

Pada siapa sifat ini terdapat hai Sarpa;

dialah harus dipandang brahmana, dan

bila sifat ini tidak terdapat padanya

maka dia dipandang sebagai sudra

Dari seluruh uraian yang terdapat pada kitab-kitab atau sastra suci agama
Hindu yang telah dikemukakan itu, maka jelaslah bahwa Catur warna merupakan

66

pembagian tugas dalam hidup bermasyarakat sesuai dengan bakat dan sifat serta
watak seseorang yang ditunjukkan dalam sikap perbuatannya.

Maka di dalam kitab Upadesa kita jumpa pada uraian tentang catur warna

itu sebagai berikut :

a.Brahmana ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu
pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk menyejahterakan
masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu
pengetahuannya, dan dapat memimpin upacara keagamaan (krya widhi yoga
dan krya aroana). Contoh : Guru, rohaniwan dan sebagainya.

b.Ksatriya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan,
cinta tanah air, berbakat memimpin dan mempertahankan kesejahteraan
masyarakat, negara dan umat manusia berdasarkan dharma. Contoh :
pimpinan negara, angkatan bersenjata dan sebagainya.

c.Waisya ialah golongan karya yang setiap orang memiliki watak tekun,
terampil, hemat, cermat, memiliki keahlian dan bakat kelahiran untuk
menyelenggarakan kemakmuran masyarakat, negara dan kemanusiaan.
Contoh : Usahawan, ekonom dan sebagainya.

d.Sudra ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan
jasmaniah, ketaatan, dan bakat kelahiran sebagai pelaku utama dalam tugas-
tugas memakmurkan masyarakat, negara dan umat manusia atas petunjuk
golongan karya lainnya. Contoh : pekerja kasar, buruh, dan sebagainya.

Keempat golongan karya itu saling memerlukan dalam menunaikan tugas
atau swadharmanya. Mereka besar di dalam tugas kewajibannya masing-masing
(menurut swadarmanya/karena sesungguhnya setiap manusia mempunyai hakikat
yang sama). Jadi di hadapan Sanghyang Widhi manusia itu sama, keempat warna
itu pun sama. Mereka akan dihargai dan dihormati kalau memiliki sifat, sikap dan
perbuatan yang mulia.

Kitab Sarasamuscaya sloka 161 mengatakan :

67

“Yadyapi brahmana tuha tuwi, yan

dussila, tan yogya katwangana, mon sudra

tuwi, dharmika susila, pujan katwangana

jugea ling Sanghyang aji.

Artinya :

Meski keturunan brahmana yang berusia

lanjut, jika perilakunya tidak susila,

tidak patut disegani. Walaupun keturunan

sudra, jika perilakunya berpegang pada

Dharma dan kesusilaan, patutlah ia

dihormati dan disegani. Demikian kata

sastra suci

Selanjutnya pada sloka 63 dari kitab Sarasamuscaya disebutkan perilaku
yang patut dilaksanakan oleh keempat golongan atau warna itu, yang dsebut Catur
Prawri yaitu :

a.Arjawa berarti jujur dan berterus terang

b.Anrisangsya artinya tidak mementingkan diri sendiri

c.Dama artinya dapat menasihati dirinya sendiri.

d.Indriyanigraha artinya dapat mengendalikan hawa nafsu, itulah perilaku yang
harus dibiasakan oleh catur warna.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->