P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (3)

Materi Kuliah Agama Hindu (3)

|Views: 4,474|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

Kedudukan wanita dalam masyarakat Hindu pada dasarnya mendapat
tempat yang sejajar dengan kaum pria, hanya saja hal ini tidak hanya dikenal
karena jumlah wanita yang terkenal atau populer dalam masyarakat Hindu tidak
sebanyak kaum pria.

Sejak zaman Weda kedudukan wanita dan pria itu sejajar hal itu dapat kita
lihat dalam kitab suci Reg Weda yang menyatakan bahwa istri menempati atau
menduduki tempat yang sama dalam setiap Yadnya begitu pula dalam rumah
tangga maka mereka disebut dampati. Disebut pula bahwa Wiswawaca wanita
dari keluarga Atri sangat terkenal sebagai filsuf (brahma wadini), mahir dalam
mantra-mantra dan merupakan salah seorang penggubah lagu pujaan yang
terdapat dalam kitab Reg Weda. Namun demikian diakui pula dalam Kitab
Satapata Brahmana bahwa wanita memiliki sifat yang lemah-lembut dan lebih
emosional dari kaum pada umumnya.

Di dalam kitab Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) kita jumpai nama-
nama wanita terkenal seperti Dewi Sita yang teguh iman, Dropadi, dan lain-lain.

76

Begitu pula dalam ktab Anuasana Parwa dikatakan Bhisma telah menjelaskan
kepada Yudhistira agar terhadap wanita diberikan pujian dengan penuh kecintaan.

Lebih tegas lagi dinyatakan dalam kitab Santi Parwa bahwa apabila
seseorang raja gugur di medan prang maka anak perempuannya dapat dinobatkan
sebagai Ratu (Raja Putri) apaila raja itu tidak mempunyai anak laki-laki, dan
wanita tidak boleh dipaksa kawin dengan pria bukan pilihannya.

Setelah anda mempelajari uraian di depan mengenai perkawinan tentu
anda akan menanyakan bagaimana suatu perceraian bisa terjadi menurut ajaran
Hindu. Pertanyaan seperti itu memang agak sulit dijawab karena pada dasarnya
agama Hindu tidak menghendaki suatu perceraian itu terjadi. Hal ini dapat kita
analisis berdasarkan ketatnya syarat-syarat wanita yang boleh dikawini. Namun
demikian bukan berarti perceraian itu tidak boleh sama sekali melainkan kalau
ada hal-hal luar biasa di luar kemampuannya maka perceraian dapat dilakukan
dan pada umumnya tidak rujuk lagi.

Perceraian itu dapat terjadi karena ;

1.Istri tidak bisa punya anak sedangkan suami istri menghendaki adanya
keturunan.

2.Suami meninggalkan istri lebih dua tahun tanpa berita.

3.Suami meninggal dunia atau menjadi pertapa sedangkan istri menghendaki
kawin lagi.

4.Suami cacat yang sebelumnya tidak diketahui oleh istri, misalnya impoten.

5.Cacat istri yang baru diketahui setelah kawin dan sebelumnya dirahasiakan,
misalnya berpenyakit menular.

6.Suami mempunyai tabiat buruk yang membahayakan nyawa istrinya.

7.Salah satu meninggalkan dharmanya sebagai istri atau suami dan tidak dapat
diluruskan kembali.

Dengan dibenarkan adanya perceraian maka perkawinan jnda juga
dibenarkan tetapi bukan kawin kembali dengan bekas suaminya. Lebih lanjut di

77

dalam kitab Weda Smerti III, 55-57 dapat dijumpai tentang kedudukan wanita,
sebagai berikut :

“Pitribhir bhratribiscaitah

patibhir dewaraistatha

pujya bhuksayita wyasca

bahu kalyan nipsublih

yatra naryastu pujyante

ramante tatra dewatah

yatraitastu na pujyante

sarwas tatra phalah kriyah

sosanti jamoyo yatra

winasya tyacu tat kulam

na sosanti tu yatraita

wardhate taddhi sarwada”

Artinya :

Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suaminya
dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan.

Di mana wanita dihormati, di sanalah dewata merasa senang.

Tetapi bila mereka tidak dihormati maka tiada kerja yang mendatangkan
pahala.

78

Di mana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan
hancur. Tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu
bahagia.

Demikianlah kedudukan wanita dalam masyarakat Hindu yang mendapat
penghormatan dan kedudukan yang sejajar dengan kaum pria, tanpa mengurangi
swadarmanya sebagai wanita secara kodrati.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->