P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (3)

Materi Kuliah Agama Hindu (3)

|Views: 4,467|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

Sections

Tiada sebab yang tanpa akibat dan tiada karma yang tanpa pahala. Setiap
perbuatan pasti ada pahalanya. Perbuatan baik pasti berakibat baik dan perbuatan
buruk berakibat buruk. Namun demikian, dalam kenyataan hidup sehari-hari
sering kita melihat bahwa orang yang selalu berbuat baik namun ia tetap
menderita yang selalu berlaku curang tetapi nampak hidupnya bahagia. Seperti
misalnya dalam ceritera Pewayangan antara Pandawa dengan Kaurawa. Pandawa
yang terkenal menegakkan dharma namun sepanjang hidupnya penuh dengan
penderitaan dan duka nestapi sebaliknya Kaurawa yang terkenal curang yang
nampak hidupnya bermewah gembira ria. Apakah dalam hal ini hukum karma
tidak berlaku ?

Hal ini terjadi karena demikian. Setiap mengalami masa kehidupan
tertentu, manusia tidak akan henti-hentinya pula menikmati karma phalanya. Ada
yang dapat dinikmati pada masa hidupnya sekarang. Ada pula yang akan

18

dinikmati dalam hidupnya yang akan datang serta ada halnya juga akan dinikmati
kelak. Berdasarkan atas cepat lambatnya untuk menikmati hasil dari karma itu
maka karma phala itu dibedakan atas tiga macam yaitu :
1)Sancita Karma Phala : adalah pahala perbuatan yang terdahuli yang belum
habis dinikmati dan masih merupakan benih untuk menentukan keadaan
kehidupan sekarang. Jadi orang lahir ke dunia ini membawa pahala dari
karmanya yang lampau.
2)Prarabda Karma Phala : karma yang dilakikan pada saat hidup sekarang ini
dan hasilnya pun telah pula dapat dinikmati dalam masa penjelmaan hidup ini
juga.
3)Kriyamana Karma Phala : yaitu perbuatan yang hasilnya belum sempat

dinikmati dalam waktu berbuat dan akan dinikmati kelak pada masa hidul

penjelmaan yang akan datang.

Dengan adanya tiga macam karma phala tersebut maka jelaslah bahwa

orang yang dalam hidupnya itu berbuat baik, berpedoman pada dharma atau

kebajikan akan tetapi hidupnya menderita atau sengsara mungkin akibat dari

Sancita karma yang buruk, yang mau tak mau ia harus merasakan buahnya

sekarang. Dan karma baik yang ia lakukan itu merupakan simpanan untuk dapat

dinikmati kelak. Sedangkan orang yang selalu berbuat buruk namun tampaknya

bahagia berarti hasil dari karma baiknya terdulu namun kelak pastilah mendapat

hukuman.

Tegasnya cepat atau lambat, dalam kehidupan kini atau kemudian segala

pahala dari suatu perbuatan pasti akan diterima karena hal ini sudah merupakan

hukum. Patut diingat di dalam hidup kita ini bahwa disamping kita menikmati

karma yang bersifat Sancita juga sebagian ada yang Prarabda dan sebagian lagi

yang bersifat Kriyamana.

Jadi dengan demikian maka karma dan karma phala yang disebut

hukum karma itu tidak dapat diingkari oleh siapa pun juga oleh makhluk apa

19

pun juga. Karena makhluk yang hidup pasti akan berbuat atau

melakukan bermacam-macam karma, yang sudah tentu pula akan menerima

hasilnya yang disebut Karmaphala. Dan ini akan menentukan untung

malangnya nasib setiap makhluk itu masing-masing. Seseorang yang telah yakin

dan menyadari akan kebenaran hukum karma itu kendatipun

hidupnya menderita di dunia ini, maka ia pun tidak menyesal. Karena hal itu

telah dianggapnya merupakan Sancita karma phalanya sendiri sehingga dia

pun tidak sudi lagi akan berbuat jahat dalam mengulangi penderitaan hidup

yang sedang dialaminya. Justru karena itu maka ia ia pun malah anak lebih bergiat
lagi berusaha melakukan karma yang baik, demi kebaikan daripada Prarabda dan
Kriyamana Karmaphala kelak. Sebab meyakin bahwa hidup ini adalah
merupakan suatu perbuatan yang (suci) (subha karma) dan dengan subha karma
itu sajalah orang

dapat membebaskan dirinya dari belenggu Samsara atau penderitaan rohani
maupun jasmani. Jadi hukum karma itu tidak akan manberi efek negatif juga tidak
membawa akibat fatalistis terhadap umat manusia melainkan akan membentuk
manusia susila dan bermental atau bermoral tinggi.

Subba dan Asubha Karma

Suhha asubha karma artinya perbuatan baik atau buruk atau amal dosa
perbuatan. Jika ditinjau dari segi nilainya, maka segala perbuatan karma dan tiap-
tiap makhluk itu ada baik dan buruknya. Tidak yang seluruhnya baik atau tidak
ada pula yang buruk semuanya. ‘Tan hana wang wasta mulus” dada gading yang
retak. Kendatipur dernikian kita sebagai umat beragama. sebagai makhluk
termulia yang berbudi berakal dan sebagainya, hendaknya selalu berusaha dapat
berbuah baik serta mengurangi bahkan melenyapkan segala perbuatan yang tidak

20

baik atau subha karma. Kita perlu berbuat baik, sebenarnya adalah untuk
menolong diri kita sendiri, sebab perbuatan baik dan perbuatan atau subba asub
karma
itulah yang menjadi penentuan dan buruk atau kemalangan nasib kita lahir
batin, Subha dan asubha karma itu yang merupakan tema hidup yang tersedia dan
yang erat serta pernah berpissah. Hal ini dengan jelas diuraikan dalam Sarasamuci
sebagai berikut:

Apanikang kadang warga rakwa ring tunwam

hingan ikang pnagteraken, kiriang ikang tumut

sahayan ikang dadi hyang dening para gawenya

subhastbha juga, matangnyan pihen tiking gae

hayu sahayan ta anuntunakene ri pona dlaha

(Sarasamccaya 32)

Sebab kaum kerabat dan keluarga itu hanya sampaipada tempat
pembakaran mayat batasnya mengantarkan sedangkan yang terus ikut sebagai.
teman sewaktu menjadi hyang di akhirat adalah perbuatan buruk itu juga. Oleh
karena itu usahakanlah berbuat baik untuk teman penuntun di akhirat kelak. Pada
bagian lain dari kitab Sarasamuccaya itu menyebutkan sebagai berikut

Apa ikang jadma mangke, pagawayan subha-subha

Karma juga ya, kalingnya, ikang subhasubha karma

Mangke ri pona ikag kabhukti pahanya,

ring karmapala , ya tinit rin pribahasa, swarga cyuta

neraka, cyuta, kunang ikang subha karma ri pona

tan paphala ikang matangyan mangke juga pengponga subha-subha
karma

(Sarasamuccaya 18).

21

Maksudnya :

sebab menjadi manusia sekarang ini adalah merupakan hasil pelaksanaan
karma yang baik dan buruk itu juga. Tegasaya petbuatan yang baik. buruk
sekarang ini, di alam akhiratakan dinikmati phalanya. Setelah selesai
dinikmatinya, menjelmalah ia kembali, menuruti karma phalanya itu. Wasana
artinya bekas, seperti bau samar-samar. Itulah yang menentukan keadaannya
dialam lain. (akhirat) itu, tidak berphala. Oleh karena itu maka pada. saat ini
juga harus diperhatikan baik buruknya perbuatan kita. Jika perbuatan baik
yang dilakukan, maka phalanya atau akibatnya adalah baikjuga. Demikian
pula sebaliknya, jika perbuatan buruk yang diperbuat, maka kasil atau
pahalanya pun adalah buruk juga

Karma Wasana

Sebagaimana biasanya, bahwa segala sesuatu yang telah pernah ada,
pastilah meninggalkan bekas, seperti misalnya sehabis memasak makanan paras
masih berbekas pada panci, kendatipun api itu sudah dipadamkan, temperatur
dingin pada waktu malam, masin berbekas juga pada logam sampai besok
paginya, walaupun walaupun matahari wsudah mulai terbit, demikian halnya air
akan meninggalkan bekas pada dan sebagainya. Begitu tiap-tiap karma atau gerak
yang dilakukan sadar atau tidak sadaranya akan berbekas di dalam pikiran. Inilah
yang menyebthkan tiap-tiap makhluk terutama manusa tidak dapat menghindari
dan mengingkari snuba shuba karma atau phala daripada baik buruknya perbuatan
itu,

Ilmu pengetahuan juga mengatakan bahwa walaupun gerak tubuh yang
tidak disadari pun berpusat pula dalam suatu bagian dalan pikiran apalagi.
perbuatan (aktivitas) yang dilakukan dengan sadar dengan sendirinya melekat
dalam alam pikiran dan banyak di antaranya yang teringat sampai ajal menjelang
tiba. Pada saat makhluk terutama manusia itu meninggal maka yang hancur adalah
hanya sthula Sarira (badan vadag)nya sedangkan Atma tetap hidup dan dari dalam
pikiran atau cita (budi, manas, aharnakara indria) panca tanmatra dan prana.

22

Dengan Sadirinya pula segala bekas-bekas dan gerak atau perbuatan-perbuatan
yang melekat pada alan pikiran semasih manusia ini hidup, turut menjadi
Suksama samranya bila manusia meninggal.

Adapun segala bekas-bekas atau kesan-kesan dari gerak atau perbuatan
yang tercatat atau melekat pada susma sarira atau alam pikiran itu disebut “Karma
Wasana” karma berarti perbuatan dan wasana berarrti bekas – belas atau sisa –
sisa perbuatan yang masih melekat sebagai diuraikan dalam wrahaspati Tattwa
sebagai berikut.

Kandayangganing dyun wawadah ring hinggu

huwus hilang hinggunta pinahalilang

kawekas ta ya ambonya

gandhanya rumaket iringkang dyun

samangkana tekang karma wasana hana ring atam

rumaket ikang karma wasana negaranya

ya tika umuparengga irikang atma

(Waraspati tattwa 35)

Maksudnya :

Bagaikan tempayan tempat kemenyan setelah habis kemenyanya
dihidangkan. maka masih berbekas jugalah baunya, wanginya melekat pada
tempayan begitulah umpamanya yang disebut was Demikianlah halnya
karena wasana berada pada Atma yakni melekat jugalah keadaannya karma
wasana itu jugalah menghiasu atma

23

Di atas telah dikatakan bahwa segala gerak dan perbuatas bersumber pada
dalan, pikiran (cita) dan segala bakas gerak-gerak atau segala catatan – catatan di
alam pikiran di dalam alam pikiran itu. Maka roh itu akan mendapat neraka dan
kesengsaraan. Tetapi jika catatan – catatan yang terdapat di dalam alam pikiran itu
penuh dengan buha karma roh itu pikirannya mendapatkan kebahagiaan akhirat
atau kebahagiaan dalam penjelmaannya yang akan dating. Akan tetapi bila alam
pikiran itu dapat terlepas dari ikatan keduniawian serta penuh dengan sifat – sifat
kebajikan atau dharma maka alam pikiran dan panca tanmtra itu tidak lagi
membalut atma sehingga atma bebas kembali ke asalnya yaitu paramat,a inilah
yang dinamakan moksa.

D. Samsara, Keyakinan pada kelahiran kembali punarbhawa

Menurut pandangan dilsafat Hindu bahwa atma yang masih dibungkus
oleh sarira atma masih tetap dipengaruhi dipengaruhi oleh unsure maya. Dengan
adanya pengaruh maya ini menyebabkan atma itu menjadi awidya serta masih
tetap pula terkait oleh pengaruh hukuman karma. Hukuman karma itu tidak saja
mempengaruhi keadaan kehidupan semasa hidup di dunia sekarang ini, tetapi juga
keadaan di akhirat, bahkan tidak terbatas sampai di mana saja melainkan masih
ada kelanjutannya lagi. Seperti kita ketahui bahwa macam dan jenis daripada
karma itu adalah sangat banyak sekali. Demikian pula pahala yang akan diniati
oleh subjeknya adalah banya pula ragamnya. Ada yang patut dinikmati di akhirat
serta ada pula yang patut dinikmati di dunia ini.

Setelah selesai batas waktu mengalami sorga ataupun neraka sesuai degan
ketentuan jenis karma phala yang patut dinikmati di akhirat maka atma akan
menjelma kembali ke dunia. Proses kelahiran bentuk kehidupan berikutnya dalam
ajaran filsafat Hindu di sebut “punaribhan”. Dan rangkaian dari semua
Punarbhawa itu disebut “samsara”. Dalam bhagawad Gita disebutkan sebagai
berikut:

24

a.Bahuni me wyatini

Jarmanitawa ca arjuna

Tam aham weda sarwani

Ne twan wettha paramitapa

(Bhagawad Gita IV.5)

Artinya :

Banyak kehidupan yang ku-telah jalani dan demikian pula engkau arjuna.
Semua kelahiran itu aku ketahui tetapi engkau tidak dapat mengetahuinya
arjuna.

b.Ajo pi sannawyayatma

Bhutanam iswaro pi san

Prakthim syam adhisthaya

Sambhawany atmamayaya

(Bhagawad Gita IV.6)

Artiya :

Meskipun aku tidak terlahir dan sikap-ku kekal serta menjadi iswara dari
segala mahluk akan tetapi aku, dengan memegang teguh pada sifat-ku sendiri.
Ak dating menjelma dengan jalan maya-ku

Berdasarkan penjelasan seperti tersebut di atas berkali – kali menjalani
kelahiran atau punarbhawa, akan tetapi manusia tidak mengetahui hal tersebut.
Hanya tuhanlah yang maha mengetahui.

Apabila kita menginta kembali mengenai sifat-sifat atma seperti tersebut
dalam Bab di depan yang antara lain ditingkatkan bahwa atma tidak pernah lahir
pun juga tidak pernah mati, kekal abadi. Maka seolah – olah tampak adanya

25

pertentangan sifat-sifat atma itu dengan teori kelahiran kembali atau penjelmaan
kembali yang disebut punarbhawa itu.

Dalam hubungan ini patut diingat bahwa yang dimaksud dengan kelahiran
atau npenjelmaan kembali dalam pengertian punarbhawa adalah suatu peristiwa
atau keadaan di mana jiwatma yang kekal itu bertemu kembali dengan badan baru
setelah meninggalkan badan yang lama sebagaimana seorang melepaskan bajunya
yang sudah robek dan memakai yang baru demikian juga keadaan yang sejati,
jiwatma, membuang yang telah hancur dan engambil yang lainnya adalah
pengalanan karma itu sendiri yang langka dapat dialihya oleh jiwatma.

Bukti-bukti yang dapat meyakinkan adanya punabhawa

Untuk dapat meyakinkan tentang kebenaran adanya Punarbhawa itu di bawah
ini dikemukakan beberapa bukti sebagat berikut.

Kilau kita perhatikan keadaan kehidupan manusia dalam masyarakat maka
akan terlihat bermacam-macam keadaan yang berbeda-beda dalam manusia yang
satu dengan lainnya. Misalnya, ada orang yang di tempat yang mewah, tak kurang
suatu apa pun, bertata saila, dalam berbagai bidang, keadaan jasmani yang
sempurna sehat walau berpribadi mulia.

Sentara yang lainnya lahir di dalam kemiskinan panuh derita kurang berbakat
dalam berbagai pentuk Kejahatan, sakit-sakitan, berhati kolot dan bercacat tubuh.
Ada orang yang mempunyai kemampuan batin luar biasa sedangkan yang lainnya
bodoh dan idiot. Ada orang berbakat untuk menjadi orang suci atau Yogi,
sedangkan yang lainnya berbakat dalam bidang judi, pemabuk, perampok, dan
sejenisnya. Ada pula orang yang sejak kanak-kanak sudah tampak mempunyai
baka-bakat seperti kesenian, bahasa, ilmu pasti, kesusastraan, musik, pertukangan.
lain-lain. Berdasarkan adanya kenyataan kehidupan tersebut timbullah pertanyaan.
Faktor apakah yang menyebabkan perbedaan itu mungkin dapat timbul
bermacam-macam jawaban antara Lain.

26

1.Perbedann keadann kehidupan tersebut terjadi karena suatu kebetulan saja.
Tentu jawaban ini tidak dapat diterima kebenarannya, sebab menurut hukum
karma ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau tampa sebab.

2.Perbedaan keadaan tersebut disebabkan oleh takdir atau kehendak Tuhan.
Kalau ini benar maka orang-orang miskin, sengsara, menderita cacat atau lahir
buta dan lain-lain, atau keadaan yang tidak menyenangkan hatinya berhak
mengeluh dan menyesali Tuhan sebagai pencipta. Karena dianggap kurang
adil memberikan takdir. Dan dalam ajaran agama dikatakan bahwa proses
penciptaan itu adalah secara umum atau “menyeluruh sangat netral dan
universal, yang penuh dengan suasana kesucian dan keadilan cinta kasih yang
meilputi semua alam.

3.Perbedaan keadaan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor keturunan
jasmani pengaruh lingkungan, pendidikan yang berbeda. Andaika perbedaan
keadaan kehidupan tersebut disebabkan hanya karena faktor-faktor tersebut,
maka bagaimanakah halnya dengan Orang kembar. Mereka dari keturunan
yang sama, lingkungan pendidikan juga sama. Tetapi nyatanya mereka punya
bakat kesenangan yang berbeda. hal ini karena pengaruh keadaan jasmani
mengenal berat tinggi, warna, kesuburan, atau umur, bentuk, dan sebagainya
diatur oleh suatu genes. Ada pula yang menyebabkan carakerja genes berbeda.
Apakah juga masalah peringai yang diatur oleh genes? jawabannya tidak dapat
dipastikan.

Di balik jawaban tersebut maka yang jelas bahwa perbedaan-perbdaan
keadaan kehidupan itu bukan karena kebetulan, bahkan bukan karena Tuhan dan
juga tidak semata-mata karena faktor keturunan, pendidikkan dan. karena faktor
“karma di masa hidup yanglampau. Bakat atau pembawaan adalah suatu
pengalaman yang dibawa dari kelahirany di masa lampau. ini berarti pula ada
kelahiran sebelum sekarang selanjutnya secara logika itu berarti jula ada kelahiran
yang akan datang. Karena yang lampau itu berasal dari sekarang yang telah lalu

27

atau sekarang ini akan menjadi lampau di masa ujian. Dengan kata lain hal itu
berarti jelas ada Punarbhawa.

Purnabhawa dengan Karma pala

Sebenarnya antara punarbhawa dengan Karma phala rnerupakan suatu ikatan
yang terjalin erat satu dengan lainnya. Punarohawa sangat ditentukan oleh
subhasubha karma dalam masa hidupnya yang lain. Dapat pula dikatakan bahwa
puaarbhawa itu adalah perwujudan dari subhasubha phala itu sendiri.

Setiap karma yang dilakukan atas dasa hanya untuk pemuas dorongan
kenafsuan/indera belaka, adalah bersifat asubha karma, yang akibatnya
menimbulkan dosa, serta atma itu akan menjadi neraka dan selanjutnya akan
megalami Punarbhawa dalan tingkatan yang lebih rendah. demikian pula
sebaliknya, bahwa karma yang dilakukan atas dosa budhi satwam adalah besifat
subba karma, yang mengakibatkan akan dapat mencapai Sorga pun jika menjelma
kembali maka akan mengalami tingkat penjelmaan yang lebih sempurna.

Atma yang menjelma dari surga akan menjadi manusia hidupnya berbahagia
lahir di dunia. Kebahagiaan yang dialami dalam penjelmaan ini disebut “Swarga
cyuta’. sedangkan atma yang menjelma dari neraka akan menjadi makhluk yang
maha kuasa dan akan mengalami bermacam-macam penderitaan hidup ini disebut
neraka “Cuta”.

Dengan demikian maka jelaslah bagi kita bahwa keadaan serta macam-macam
tingkatnya penjelmaan itu adalah berleda-beda tergantung daripada jenisnya
penilaian subha karma phala yang patut diterima oleh atma bersangkutan sesuai
dengan takdir yang ditentukan oleh Tuhan yang maha Kuasa. Dalam hubungan ini
Slokantara menyebutkan sebagai berikut,

dewanam naraka jantur jantunam naraka pasuh,

pasunan neraka mrgo mrgahan eraka khagah.

28

Paskinam narakam wyalo wyamlam nerakah damstri

Damstruam narakam wisiwesinam maramarane.

(Slokantara 13.14).

Artinya:

Dewa neraka mijelma menjadi manusia,

manusia sengsara menjadi ternak,

ternak itu neraka menjadi binatang,

binatang buas itu neraka manjadi burung,

burung neraka menjadi ular,

ular itu neraka menjadi Cacing,

serta taring yang jahat menjadi bisa, yang menyakiti/membunuh manusia.

Demikian merosotnya, tingkat penjelmaan yang dialami oleh atma neraka,
sebagai akibat daripada sutha karmanya. Jika sudah sampai limit penjelmaan yang
terhina akibat dari dosanya maka ia tetap menjadi dasar terbawah dari kawah
neraka. Sedangkan makhluk nyata sekalipun jika telah dapat melakukan subha
karma maka kelak penjepenjelmaannya akan bisa meningkat lebih tinggi lagi,
dengan yang sebaliknya daripada apa yang tersebut dalam sloka tersebut di atas
tadi.

Jika direnungkan alangkah niscanya dan betapa pula berati pendenitaan, yang
dalami dalam. situasi penjelmaan yang diakibatkan asubha karma tersebut. Kita
yang telah dapat menjadi manusia dalam penjelmaan ini patutlah merasa bersukur
karna tingkat penjelmaan yang kita alami ini adalah tingkat penjelmaan yang
tentinggi demikian jalan yang kita tempuh untuk mencapai tingkatan berakhirnya
penjelmaan itu adalah lebih pendek, jika dibandingkan dengan tingkat penjelmaan
daripada menjadi makhluk yang lebih rendah lainnya.

Apan ikang dadi mwang, uttama juga ya,

29

nimittaning mangkana, wenang yang tumulung

awaknya sangkeng angsara maka sadhanang

subha-karma, hingning kottasaning dadi mwang ika

(Sarasanuacaya 10).

Arttnya:

Sebab menjelima menjadi manusia ini adalah utama juga

sebabnya demikian, karena itu dapat menolong dirinya

dari sengsara dengan jalan berbuat baikk.

Demikian balasan keutamaan menjadi makhluk.

E. Moksa, keyakinan anak kebahagiaan yang abadi bebas dari kelahiran kembali

Tujuan hidup umat Hindu adalah untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin
moksartham jagathita. Kebahagiaan batin yang terdalam ialah bersatunya atman
dangan Brahman, yang disebut Moksa. Moksa inilah juan terakhir dan tertinggi
dari umat Itindu. Moksa berarti kebebasan atau kelepasan. Moksa dalam istilah
lainnya sering pula disebut Mukti atau Nirwana. adapun yang dimaksud dengan
“Kebebasan atau Kelepasan” dalam arti kata Moksa itu adalah bebasnya atau
terlepasnya Atma dari segala ikatan, bebas atau terlepas dari belenggu ikatan
maya, bebas dari ikatan hukum karma dan Samsara atau Punarbhawa, sehingga
atma dapat kembali degan asalnya yaitu Ida Sanghyang Widli Wasa serta dapat
pula mencapai kebenaran tertinggi, mergalami keteneraman dan kebahagiaan yang
kekal dan abadi yang disebut Sat= kebenaran Cit= kesadaran (Sat= kthenaraman,
Cit= kesadaran, ananda=kebahagiaan). Kebahagiaan dalam Moksa adalah sukha
tari pawali dukha yaitu suatu keadaan kebahagtaan yang tiada disusul oleh

30

kedukaan. dalam hidup kita sehari-hari maka setiap kebahagiaan atau kegenbiraan
senantiasa diikuti oleh kedukaan atau suka duka itu selalu bergan dengan tangan.
Hal inilah yang perlu

Seperti kita ketahui bahwa pada hakikatnya semua makhluk ingin untuk
membebaskan dirinya dari kurugan untuk bersatu kembali dengan asalnya. Seekor
burung yang dikurung dalam sangkar senantiasa ia mengais-ngaiskan cakarhya
pada dinding sangkar karena ingin lepas dari kurungan itu. Seekor kera yang
diikat sebagai kegemaran senantiasa pula ingin bebas dari ikantan itu. Bahkan
beda sekalipun juga rupa-rupanya ingin bebas dari bentuk kurungan. Misalnya api
yang dikurung dengan Lapisan gunung berapi ia mendesak-desak atau menekan
lapisan tanah tersebut dan suatu saat dalam bentuk letusan. Air yang dikurung
dangan gelas senantiasa ia mendesak dinding gelas itu karena ingin bebas dan
kembali bersatu dengan asalnya yaitu:

Tingkatan – tingkatan Moksa

1) Samipya adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai terutana oleh para Maha
Rsi. Pada waktu sedang melakukan samdh,. segala unsure-unsur maya sperti,
emosi, pikiran jasmani itu telah dapat dikendalikannya dan disertai kemekaran
intuisinya, sehingga beliau dapat langsung kembali keadaan demkian itu Atma
dapat berdek intimacy dengan Tuhan. Sedangkan setelah selesai renungan
spiritual atau samadhi itu maka keadaan beliau lagu. sebagai biasa di mana
emosi, pikiran dan organ jasmani aktif kembali. Jadi kebebasan yang dapat
dicapat bersifat mementara

2) Sarupya/Sadharnya adalah suatu kebebasan di dunia di mana atma telah dapat
mengatasi pengaruhnya unsur-unsur maya itu, karena dalam hal ini atma
merupakan pancaran/refleksi dari kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya Sri
Kresna yang tersebut Bhagawad Gita. Dalam keadaan seperti ini kendatipun
atma mgambil suatu perwujudan tertentu, nanun tidak akan terikat oleh
sesuatu.

31

3) Salokya dalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh atma di atma itu
sendiri telah berada dalam posisi dan kesadaran yang dengan Tuhan, akan
tetapi belum dapat bersatu padu dengan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu
dapat dikatakan bahwa atma itu mencapai tingkatan yang merupakan
manifestasi dari sinarNya Tuhan

4) Sayujya adalah suatu tingkat kebebasan yang tertinggi, di mana telah dapat
bersatu padu atau bersemayam dengan secara ide dengan Tuhan dan tidak
terbebaskan ole siapa pun juga, sehingga benar-benar telah mencapai
“Braknna Atma aikyam” yakni Atma dengan Tuhan betul-betul telah menjadi
tunggal.

Lain daripada yang telah tersebut di atas maka ada lagi istilah lain yang untuk
membedakan tingkat kebebasan atau moksa yang dibedakan atas tiga tingkatan
yaitu

1)Jiwa mukti ialah satu kebebasan yang dapat dicapai semasa hidup, di mana
atma terengaruh oleh indriya dan unsur-unsur maya lainnya. Dengan demikian
maka jiwa mukti sifatnya sama dengan samapya dan sarupya/ sadharnya.

2)Weidaha-mukti/ Karma ialah suatu kebebasan yang dapat di capai setelah
mati, di mana atma telah pergi dari sthula-sarira, tetapi wasana maya atau
bekas-bekas unsur maya itu tidak kuat mengingat atma itu. Dalam keadaan ini
tingkat keaadaan yang oleh atma sudah setarap dengan Tuhan, tetapi belum
dapat bersatu dengan Parama Siwa karena masih ada imbas: dari unsure maya.
Dengan demikian maka Wideha Mukti/Karma mukti ini dapat disamakan
dengan sakya.

3)Purna-Mukti ialah suatu kebebasan yang paling sempurna dan tinggi, di
mana atma telah dapat bersatupadu dengan Parama. Jadi Purna-Mukti sama
dengaan sifatnya Sayujya.

32

Demikian tingkatan-tingkatan kebebasan atau moksa yang dialami oleh atma
dari tahap permulaan sampai dengan tahap terakhir/tertinggi sesuai dengan
keadaan dan posisi. atma itu sendiri.

CATUR MARGA

Uraian dan Contoh

Catur marga yog adalah empat jalan atau cara untuk mencapai kebebasan atau
untuk menuju bersatunya atman dengan Paramata. Catur Marga yang meliputi

1.Bhakti yoga

2.Karma yoga

3.Jnana Yoga

4.Raja yoga

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->