P. 1
Materi Kuliah Agama Hindu (3)

Materi Kuliah Agama Hindu (3)

|Views: 4,473|Likes:
Published by adhimastra
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali
Materi kuliah Agama Hindu sebagai latar belakang Arsitektur tradisional Bali

More info:

Published by: adhimastra on Feb 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

Bhakti marga yoga adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan (moksa)
dengan jalan sujud bakti kepada Tuhan. Dengan sujud dan cinta kepada Iswara
Tuhan pelindung dan pemelihara semua makhluk, maka Iswara akan menuntun
seorang bahta, yakni orang yang cinta dan sujud bakti kepadanya untuk mencapai
kesempurnaan. Dengan menyembah dan berdoa mohon perlindungan dan
ampunan atas dosa-dosanya yang pernah dilaksanakannya, serta mengucap syukur
atas perlindungannya, kian hari cinta baktinya kian mendalam, hingga Tuhan
Iswara akan muncul (manifest) dihadapan Bhakta itu. Iswara akan membimbing
dia di dalam segala gerak langkahnya dan memurnikan hatinya hendaknya ia
dapat memiliki sifat dharma (kebijakan) dan budi luhur, dan dapat mencapai
kebahagiaan hidup kini, kebahagiaan akhirat (swarga) dan kebahagiaan dalam

33

penjelmaan yang akan datang (swarga cyuta). Karena rakhmat Tuhan yang
dicintainya seorang Bhakta akan merasakan hidup tenang dan tenteram dan bila
atmanya meninggalkan jasmaninya atmanya itu akan mencapai brahmaloka atau
Sila Loka dan menunggal dengan Brahma atau Siwa. Dengan menyerahkan diri
atau sujud terhadap Tuhan, Tuhan akan menuntun dia ke jalan yang lurus hingga
sempurna sila dan budinya. Orang yang betul-betul cinta dan menyerahkan diri
kepada Tuhan Mahadewa (Tuhan Raja Alam yang Pengasih dan Penyayang) tiada
akan berpaling dari kebenaran kelurusan laksana dan kesucian batin dan tiada
akan jatuh ke lembah dosa dan malapetaka. Iswara akan memelihara dan
melindungi orang yang beriman itu supaya hidupnya tetap tenang dan tenteram.

Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah
Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas. Bila perasaan bakti melekat dan mendalam,
Tuahn akan dijumpai berhadap-hadapan, bagai sahabat Agung yang Maha Murah,
yang menolong di waktu kesusahan. Dia dalam bakti Marga iswara akan dijumpai
tidak sebagai sumber alam yang abstrak tetapi sebagai wujud hidup yang tiada
berbadan kasar tetapi terasa adanya. Alangkah bahagia seseorang dapat berhadap-
hadapan dengan pencipta alam Yang Maha Besar tiu sedangkan dapat berjumpa
dengan tokoh besar saja orang telah merasa bangga. Tetapi seberapakah gerangan
orang yang dapat bertemu dan mengalami (pratyaksa) wujudnya yang suksma dan
amat sukar dialami dan dijumpai itu. Di antara ratusan juta manusia, mungkin
hanya satu dua yang dapat bertemu dengan Dia. Beberapa Rsi-Risi dan nabi-nabi
yang alat wahyu atau instuisinya mekar karena kemuliaan pribadinya dan karena
rahmat Tuhan, dapat mengalami wujud-Nya. Dengan jalan sujud bakti Iswara
akan membuka pintu-Nya, maka umat yang cinta kepada-Nya dapat berjumpa
dengan Dia.

Petikan 1 : Na’han wedair na tapasa na danena cjyaya sakya ewam widhu
drastum drastawan as imam yatha. (Bhagawadgita II. 53)

34

Artinya : tiada karna Weda, tiada karena tapa, tidak sedekah pun tidak karena
pemujaan berupa kurban aku dijumpai berujud sebagai yang kau lihat
itu.

Petikan 2 : Bhaktya twanyaya sakya, aham ewam widho’rjuna, jnatum drastum ca
tattwena, prawestum ca Parantapa (Bg. 11. 54)

Artinya : Hanya dengan sujud bakti, Arjuna, Aku dapat dijumpai berwujud
sebagai ini. Setelah benar-benar mengenal dan melihat wujud-ku akan
kembali bersatu dengan Aku, Parantapa.

Petikan 3 : Sat Kamakrn mat parama, mat bhaktah sanggawarjitah, nir wairah
sarwahutesu, yah sa mameti Pandawa. (Bg. 11. 55)

Artinya : Orang yang bekerja untuk-Ku, memakai Aku sebagai tujuan, dan
sujud bakti kepada-Ku, terlepas dari ikatan duniawi, dan tiada pernah
membeci makhluk apa pun, dia akan mencapai Aku, wakau Pandawa.

Bakti marga adalah jalan yang termudah untuk mencapai kesempurnaan.
Keinsyafan sungguh berat bagi kebanyakan, oleh karena itu Bakti marga
merupakan jalan yang paling biasa ditempuh oleh umat agama untuk mencapai
kesempurnaan itu. Walaupun dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia dapat
dilebur dengan kebijaksanaan (Jnana Marga), tetapi pelebur dosa yang paling
mudah adalah dengan sujud bhakti kepada Tuhan dengan sembah dan doa
memohon ampun dan restu kepada-Nya, niscaya Ia mengampuni umatnya dan
menyalakan kesadarannya (widyajnya) hingga ia tidak jatuh lagi ke jurang dosa.
Tuhan akan mengampuni umatnya yang tobat, yang memuja dia dengan cinta
bakti.

Di dalam kekawin Arjuna Wiwaha tersebut sajak yang mengandung ajaran
Bhakti marga yang menyatakan dengan mencintai Tuhan seseorang dapat
menjupai-Nya.

35

Petikan : OM sembahning anatha, tinghalana de tri loka sarana, wahya dhya
tmika sembahning hulun, I Jengta tan hana waneh, sang iwit Agni
sangken tahen, kadi mihak saking dadhi kita, sakast metu yan hana
wang, amutur tutur pina hayu
.

(Arjuna wiwaha 10.1)

Artinya: OM Tuhan mohon disaksikan sujudku, 0 pelindung tri buana, lahir batin
sembahku kepada Mu, Tiada lain yang bagaikan api di dalam kayu,
bagaikan minyak dalam susu, yang nyata-nyata Muncul (manifest) pada
orang yang beriman yang mengamalkan ajaran suci.

Karma Yoga

Karma yoga atau karma marga adalah jalan untuk mencapai kesempurnaan
(moksa) dengan kelakuan berbuat kebajikan ; namun tidak terikat oleh nafsu
hendak mendapat hasilnya terutama yang berupa kemasyuran, kewibawaan,
keberuntungan dan sebagainya, melainkan melakukan kewajiban demi untuk
mengabdi, berbuat amal dan kebajikan, untuk kesejahteraan umat manusia dan
makkluk lainnya. Selain daripada itu karma marga berhampiran inti ajarannya
dengan bhakti marga, yang manyerahkan segala usaha di tangan Tuhan, dan
memandang segala usaha pengabdian kebajikan, amal dan pengorbanan itu bukan
dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan. Dengan memandang segala usaha
untuk kesejahteraan bersama manusia dan makhluk adalah semua dari Tuhan dan
bukan dari dirinya sendiri dan melakukan kewajiban tanpa ikatan, maka jiwa
karma yogi, orang yang beriman yang menempuh karma marga sebagai jalan akan
dapat menunggal dengan Parama Siwa atau (Brahma). Di dalam kekawin
Ramayana, Rama bernasihat kepada Wibisana bagaimana seharusnya menjadi
abdi, giat melakukan kewajiban untuk melakukan kesejahteraan rakyat tanpa
ikatan nafsu untuk mendapatkan kekayaan, kenikmatan hidup dan kemasyuran,
atau untuk mendapatkan kewibawaan, nasihatnya sebagai berikut:

36

Petikan 1: Prihen temen dharma dumaranang sarat, saraga sang sadhu sireke
tutana, tan artha tan kamaPidonya tan yasa, ya sakti sang sajana dharma
raksaka
. (Ramayana 24081)

Artinya : utamakan benar hukum keadilan dan kebajikan yang melindungi dunia,
hendaknya cita-cita orang budiman itu di turuti, yang tidak hendak
(gelisah ) mendapat harta, nafsu dan kemasyuran, adpun kemuliaan
orang budiman adalah sebagai pelindung dharma ( beramal dan
mengabdi, mempertahankan keadilan )

Petikan 2 : sakan ikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatan
rumaksa ya, ksayan ikang papa nahan prayojana, jana nuraga di tiwin
kapangguha. (
Ramayana 24.28)

Artinya: Dharma sebagai tiang Negara itulah hendaknya Kau turuti,
utamakanlah ajaran Manu untuk mengabdi Negara, lenyapnya
kesengsaraan itu hendaknya menjadi tujuan, kecintaan rakyat, dan lain
– lainnya pasti akan Kau jumpai.

Tidak hanya rakyat yang yang cinta tetapi Tuhan pelindung dharma pun
akan merahmati orang yang berbudi mulia, yang melakukan kewajiban dengan
berpedoman sepi ing pamrih rame ing gawe (pengabdian) untuk masyarakat, dan
umat manusia. Selain daripada itu Tuhan akan membuka pintunya, sehingga
penganit Karma Yoga dapat berhadapan dan menyatu dengan-Nya.

Dengan memakai Karma Marga sebagai pedoman hidup, seorang akan
dapat mencapai ketentraman batin dan kebahaagiaan abadi, karena hidupnya
bagaikan daun talas, walaupun dimasukkan ke dalam lumpur tetapi lumpur tidak
aakn melekat. Seorang Karma Yogi yang menempuh Karma Marga sebagai jalan,
tidak akan diombang – ambingkan oleh pasang surut gelombang hidup yang dapat
melemahkan jiwa perjuangannya untk mengabdi dan untuk mempertahankan
keadilan, prikemanusiaan, melindungi yang lemah dan membasmi yang jahat dan
curang. Seorang Karma Yogi akan tetap tenang menghadapi segala kesulitan yang

37

menghalang dan tiada akan gentar menghadapi pahit getirnya perjuangan hidup
untuk kebenaran, keadilan, dan kesucian.

Petikan: Yad rocalabhasamstutah, dwandwatito winatsarah, samah
sidhawasiddhau ca, krtwapi nanibandhyate
. (Bhagawad gita 4.22)

Artinya: tetap tenang dengan apa yang menimpa, dapat mengatasi pasang surut
perasaan, tiada mementingkan diri dan memandang, dengan perasaan
yang sama, menghasilkan atau tidak usahanya, seseorang tidak akan
terbelenggu oleh Karma.

Petikan: Gatangsangsya muktasya, Jnana wasthita cetasah, yajnaya caracah
karma, samagram prawiliyate
. (Bhagawadgita 4.23)

Artinya: orang terlepas dari ikatan nafsu, bebas, yang di jiwanya tegak dalam
kebijaksanaan, dan melakukan kewajiban demi untuk pengorbanan,
segala karmanya akan mendidih.

Petikan: Karmanaiwa hi samsidhim, astitha janakadayah, lokasanggrahan ewapi,
sampasyam kartum arhasi (Bhagawadgita 3.20)

Artinya: Hanya dengan melakukan Karma Marga, raja Janaka dan lain – lain
(orang yang berjiwa besar) mendapat kesempurnaan, hanya araahkanlah
perhatianterhadap kesejahteraan rakyat (umat manusia) kamu harus
melakukan kewajiban.

Demikianlah nasihat Kresna dalam Bhagawadgita umtuk meneguhkan
imannya, sebagai pelindung keadilan dan pembela kebenaran. Kresna menasihati
hendaknya Arjuna tidak gentar menghadapi manusia yang melakukan kejahatan,
ketidakadilan dan sebagainya walaupun denganmengalami pahit getir perjuangan
hidup dan mengorbankan jiwa untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan itu.

38

Demikianlah untuk mencapai kesempurnaanatau moksa dapat dicapai
dengan kewajiban yang dilaksanakan dengan tanpa ikatan nafsu duniawi.

Jnana Yoga

Jnana Yoga atau Jnana Marga adalah suatu jalan atau usaha untuk
mencapai kesempurnaan (Moksa) dengan mempergunakan kebijaksanaan filsafat.
Di dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan dengan kebijaksanaan itu, terdapat
para arif bijaksana (jnanin) yang berusaha mencapainya dengan keinsyapan,
bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang bersumber pada suatu
sumber alam yang di dalam kitab suci weda disebut purusa atau brahma, dan
didalam ajaran suci siwapaksa disebut siwa. “sarwam idam khalu Brahman”
segala yang ada di alam tidak lain daripada Brahman. Demikianlah disebut
didalam upanisad, bagian weda yang menerangkan Brahman atau purusa, sebagai
sumber unsur-unsur rohani maupun jasmani semua makhluk dan sumber segala
benda yang ada di alam. Brahma (siwa) sebagai sumber segala, mempunyai
kekuatan yang dapat dikatakan hukum kodrat atau sifatnya, yang menyebabkan
brahma (siwa) berubah menjadi serba segala rohaniah maupun jasmaniah (skala
niskala). Kekuatan hukum kodrat atau sifat bharma itu disebut maya atau Prakerti
dan untuk siwa disebut sakti, maya tatwa atau juga acetana. Bila Brahma tidak
dipengaruhi oleh hukum kodrat (sifat )-Nya yang disebut maya atau Prakerti
(Sakti), Maya Tatwa atau Acetana itu, ia disebut nirguna (Parama) dan Brahma
(siwa) dipengaruhi oleh hukum kodrat (sifat)-Nya itu disebut Saguna (Sada).
Nirguna Bharma (Parama Siwa) adalah roh (Paramatma) alam semesta yang
menjadi inti penggerak hukum peredaran alam, dan seguna Brahma (Sada Siwa)
ialah perwujudan Brahma (Siwa) yang disebut Iswara (Raja alam), Sang Hyang
Widhi Wasa penggerak peredaran alam maha kuasa sehingga dapat mencipta
(Utpatti), mengatur (Stiti), dan melebur mengembalikan pada asalnya (Pralina).

39

Denan menginsyafi bahwa segala yang baik jasmani maupun rohani benda
yang berwujud (Sthula) maupun absrak (Sukma) bersumber pada Brahma atau
Siwa, maka bijaksanawan (Jnanin), memandang bahwa benda jasad dan wujud
rohani (alam pikiran dan sebagainya), yang timbul dari Brahman (sanifes) adalah
benda dan wujud sementara (relatif). Hanya sumbernya yaitu Brahma (Siwa) yang
Maha Agung yang sungguh-sungguh ada dan mutlak (absolut). Apalah artinya
serba benda yang terdapat di alam bagi orang yang bijaksana yang mengenal
keabadian, kemutlakan dan keagungan Bharma itu, bagaikan tetesan embun
dengan samudera, demikianlah kecilnya serba benda kalau dibandingkan dengan
Brahma (Siwa). Apalah manfaat dunia yang serba nisbi (relatif) itu bagi orang
bijaksana (Jnanin) yang insyaf dengan keagungan wujud Brahma (Siwa). Hanya
awidya (kurang bijaksana) menyebabkan manusia terikat oleh benda-benda
keduniawian itu. Sedangkan kalau direnungkan justru manusia sering diombang-
ambingkan oleh pasang surut gelombang benda uniawi yang menimbulkan
perasaan duka (Dukna), dengki (Irsya) marah (Krodha, dwesa), gelap (Moha) dan
lain-lainnya. Bagi orang bijaksana (Jnanin) kenikmatan duniawi hanya memberi
kenikmatan dan kebahagiaan sementara, yang sering menimbulkan perasaan duka,
marah, dengki dan sebagainya, andai kata kenikmatan yang berdasar serba benda
itu tiada menjelang lagi. Bagi para Jnanindunia beserta isinya adalah maya,
bayangkan sementara dari yang mutlak dan Yang Maha Agung yaitu Brahma
(Siwa). Oleh karena itu sungguh sia-sia andai kata manusia terikat oleh benda
kenikmatan duniawi yang sering menggoncangkan hidup dan ketentraman
sukmanya.

Selain daripada itu kitab suci Weda mengatakan bahwa atma atau
jiwatman bahwa roh tiap-tiap makhluk sama wujud dan sifatnya dengan Nirguna
Brahma (Paramatma) atau (Parama Siwa). Brahma atma akyam, Brahma dan atma
tunggal. Tunggalnya atma dan Nirguna Brahma bagaikan udara dalam ruangan
dengan udara di angkasa, sedangkan ikatan perasaan dengan benda duniawi
adalah penghalang untuk menunggalkan atama (Siwatma) dengan Nirguna
Brahma (Paramatma atau Parama Siwa) itu. Oleh karena itu, para Jnanin
(bijaksanawan) berusaha menghindarkan diri dari ikatan nafsu (Indriya) terhadap

40

objek keduniawian (Wisaya) yang bersifat nisti (ksanika) itu. Mereka berusaha
mengarahkan pikiran dan perasaannya terhadap Yang Maha Agung dan mutlak
yakni Brahma (Siwa), hingga mereka dapat kebahagiaan abadi dan ketentraman
yang cerah gemilang disebut ananda dan akhirnya Jiwatmanya (roh) manunggal
dengan Nirguna Brahma (Paramatma, Paramasiwa). Para Jnanin (bijaksana)
berdikit dikit dapat melepaskan diri dari belenggu nafsu duniawi hingga jiwanya
murni bagaikan teratai, waalupun tumbuh dalam lumpur tetapi tidak terkena
kotornya. Dengan Jnana (kebijaksanaan) mereka dapat mencapai dharma dan
member kebahgiaan lahir bathin dalam hidupnya sekarang, di akhirat (swarga)
dan dalam penjelmaan yang akan datang. Dalam putaran hidup selanjutnya, pada
akhirnya tentu mereka dapat menginjak alam moksa yaitu kebahagiaanyang kekal
yang menyebabkan roh (atma) bebas dari penjelmaan kembali.

Petikan 1: Na prahrayet priyan prapya, nodwijet prapya cha priyan sthirabudhir
asammudho, Brahmawid brahmani sthitah,

(Bhagawad gita 5.20)

Artinya: Orang bijaksana yang insyaf dengan wujud Brahma selalu
memadukan sukmanya dengan Brahma, tetap tenteram dan tidak
terabui oleh kebodohan, tiada rasa bahagia dapat kenikmatan yang
digemarinya dan tiada bersedih dapat yang tiada yang
menyenanginya.

Petikan 2:Bahyasparses wasak tatma, windat/ yatmaniyat sukham, sa
Brahmayoga yuktatma, sukham akshayam asnute.

(Bhagawad gita 5.2)

Artinya: Orang yang jiwanya tidak terikat oleh sentuhan duniawi, mendapat
kebahagiaan batin, orang yang sukmanya selalu menunggal dengan
Brahma itu, dapat mengenyam kebahagiaan yang abadi.

Petikan 3:Yo’ntah suklo, ntaramas, tat hi antar jyotir ewa yah, sa yogi brahma
nirwanam, Brahmabhuto’dhigacchati
.

41

(Bhagawad gita 5.24)

Artinya:Orang yang menikmati kebahagiaan batin yang kesenangannya
bersumber dalam hatinya dan yang rohaninya cerah bersinar orang
beriman yang selalu menunggalkan sukma dengan brahma mencapai
kesatuan roh dengan brahma.

Dia dalam batin yang cerah tenteram yang disebut ananda itu, Brahma
sumber segala, yang juga disebut sat (kebenaran yang Maha Agung) dapat dialami
dan diketahui langsung (Pratyaksa Pramana). Selain daripada itu, terdapat juga
orang bujaksana (Jnanin) yang tidak memikirkan keagungan Brahma (Siwa)
melainkan menempuh jalan pendek, yaitu dengan memandang bahwa nafsu
adalah musuh yang paling buas, yang menggoncangkan ketentraman batin. Nafsu
memperbudak manusia sehingga terjerumus ke lembah dosa dan malapetaka.
Nafsu timbul karena awidya (kurang bijaksana). Dari nafsu yang disebut raga,
muncullah marah (dwesa) iri hati (matsarya) mabuk atau angkuh (mada) dan
kegelapan pikiran maupun kesusahan (moha). Orang bijaksana (Jnanin)
memandang nafsu, kemarahan, iri hati, angkuh, kegelapan pikiran dan susah itu
sebagai enam musuh di dalam diri yang perlu dibasmi yang disebut sda ripu.

Petikan 4:Ragadi musuh maparo, rihatya tonggwanya, tan madoh ring awak.

(Ramayana sarga 14.1)

Artinya:Nafsu dan sebagainya (kemarahan), iri, dengki, angkuh, dan
kegelapan pikiran, di hatilah tempatnya, tiada jauh dari diri.

Andaikata dapat membasmi keenam musuh dalam diri itu, jiwa (roh) tentu
akan murni (suci) dan dapat mencapai dharma (sila dan budi luhur) dan akhirnya
kebahagiaan abadi dan kebebasan roh dari penjelmaan akan dicapai.

Raja Yoga

42

Raja yogi adalah cara atau jalan untuk dapat mengetahui kerahasiaan dan
berhubungan dengan Sanghyang Widdhi dengan melalui tapa, brata, yoga dan
semadhi. Tapa dan brata dapat dirtikan suatu latihan yang tidak henti-hentinya
untuk mengendlikan indria. Yoga dan Semadhi merupakan latihan untuk
menghubungkan dan menyatukan atma dengan Paramatma.

Dalam Bhagawad gita Kresna menjelaskan tentang raja rahasia dari ilmu
pengetahuan. Kerahasiaan kebenaran brahmaitu tidak dapat dimengerti hanya
dengan berteori atau berargumentasi saja. Hal itu hanya dapat dimengerti hanya
dengan pengalaman atau pengamatan langsung (pratyaksa pramana). Orang yang
dapat menumbuhkan kesadaran diri serta mengabdikan dirinya sepenuhnya
kepada Sanghyang Widdhi akan dapat mengetahui hakikat kebenaran Brahma.
Orang seperti itulah disebut seorang raja yogin.

Setelah menyatakan bahwa ada pengetahuan yang maha tinggi, rahasia
yang maha tinggi, kesucian yang maha tinggi, namun akan dapat diketahui dengan
pengalaman langsung apabila manusia telah tiba pada tingkat kesadaran yang
tinggi, selanjutnya dijelaskan:

Petikan:Maya tatam idam sarwam jagad awyakta murtina, matsthani sarwa
bhutani na cha’ham tesw awasthitah.

(Bhagawad gita IX.4)

Artinya:Aku berada dimana-mana dalam alam semesta ini dengan bentuk Ku
yang tidak terwujud, semua makhluk berada dalam Ku, tetapi Aku
tidak berada di dalam mereka.

Pengetahuan tentang sarwam idam kalu Brahman atau segala yang ada di
alam tidak lain dari Brahman, atau Brahman atman aikyam artinya Brahman dan
atman itu tunggal adalah suatu pengetahuan yang di dapat secara langsung oleh
seorang raja yogin. Pengetahuan itu didapatnya antara lain melalui yoga dan

43

sanadhinya. Dengan demikian orang yang menempuh jalan raja yoga untuk
mendapatkan kebahagiaan yang abadi dalam penunggalan dengan Ida Sanghyang
Widdhi akan melalui suatu disiplin yang keras, baik beberapa tapa brata yoga
ataupun Samadhi.

Setiap orang dapat memilih salah satu jalan yang disediakan dengan
terlebih dahulu menyesuaikan dengan tingkat kemampuan diri sendiri. Perlu pula
diingat bahwa tujuan yang dicari dan akan dicapai adalah sama dan satu yaitu
berupa kebahagiaan abadi diri penunggalan dengan Sanghyang Widdhi.
Pemgetahuan filsafat sebenarnya dapat memberikan kejelasan bagi setiap orang
tentang akekat hidup. Bagi orang-orang yang telah memahami dan menghayati
ajaran-ajaran filsafat kerohanian akan mengerti apa yang mesti dikerjakannya, apa
yang tidak patut dikerjakannya. Selanjutnya ia akan menyadari bahwa tujuan
hidupnya adalah untuyk melepaskan atmanya dari ikatan maya lalu dapat bersatu
kembali kepada sangkan paramnya yaitu Sanghyang Widdhi . Untuk dapat
mencapai kesadaran tentang hakikat ilmu pengetahuan dan filsafat itu tentu mesti
ada usaha belajar yang terus menerus. Dimana dengan ketekunan dan usaha yang
tidak kenal henti pada saatnya tentu akan tercapai tujuan yaitu kebebasan yang
abadi, bebas dari penjelmaan kembali menunggal dengan Brahman, mencapai
moksa.

4.4.3 Rangkuman

Catur narga yoga adalah 4 ajaran yang masing-masing ajaran mempunyai
penekanan di dalam mencapai tujuan yang sama yakni kebebasan abadi. Secara
bhakti yoga menekankan pada kesujudan kepada Tuhan, cara karma marga
menekankan pengabdian yang ikhlas pada etiap kebajikan, cara Jnana
menekankan pada kebijaksanaan penguasaan diri dan cara Raja yoga menekankan
pada pelaksanaan yoga untuk mencapai alam Samadhi, semuanya harus didukung
dengan disiplin dan kesusilaan, barulah tujuan akan tercapai yakni moksa.

44

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->