4.3 Kegiatan Belajar 3 PANCA – SRADHA 4.3.

1 Uraian dan Contoh Panca Sradha adalah lima keyakinan dalam ajaran filsafat ajaran Hindu. Panca Lima Sradha : keyakinan Panca Sradha meliputi : Brahman, Atman, Karman, Samsara, dan Moksa. A. Brahman Keyakinan terhadap adanya Tuhan (Widhi Sraddha). Widhi Berarti Yang Menakdirkan dan Tattwa berarti filsafat. Widhi Tattwa berarti filsafat yang menakdirkan atau filsafat Tuhan. Untuk mencapai kesempurnaan, kebersihan hati, keluruhan hati, Bhaktimarga, yaitu sujud bakti kepada Tuhan adalah jalan yang termudah. Bhaktimarga tidak memerlukan kebijaksanaan (Jnana), oleh karena itu sebagian besar umat manusia dapat melakukannya. Dengan menyembah Icawara sebagai Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang, Pelindung keadilan dengan hati yang tulus, hati kita akan dibersihkan. Kebersihan hati adalah sumber budi dan sila yang luhur (Dharma), kebahagiaan hati dan kebebasan roh dari penjelmaan (Moksa). Innamarga agak berat dan abstrak hingga sukar diterima oleh umat biasa. Dengan mendoa dan memuja Tuhan untuk mohon restu hendaknya Ia menuntut kita untuk mencapai kesempurnaan dan berterima kasih atas perlindungan-Nya, maka Icawara Mahadewa, pelindung sekalian makhluk akan membimbing kita untuk menjadi manusia ber-Dharma (bersila dan berbudi yang berwujud luhur). Untuk menimbulkan rasa sujud bakti kepada Tuhan

Suksma (abstrak), perlu yakin dulu dengan ada-Nya. Andaikata kita tiada percaya dengan adanya Tuhan bagaimana kita dapat sujud bakti kepada Dia. Oleh karena itu perlu Craddha (keyakinan) dulu. Banyak fakta-fakta yang menyebabkan keyakinan terhadap Tuhan itu timbul di dalam diri manusia. Bagi umat kebanyakan keyakinan itu timbul berdasarkan Agama dan berdasarkan ajaran Castra (dogma). Tetapi terdapat juga beberapa orang yang yakin adanya Tuhan karena Anumana. Misalnya sering kita kagum mengenangkan betapakah besar

1

angkasa, andaikata terdapat ribuan matahari dan planit yang lebih besar dari dunia kita sebagai yang diterangkan oleh sarjana ilmu falak. Siapakah yang mengadakan benda-benda angkasa yang demikian besarnya itu ? Ahli tumbuh-tumbuhan mengatakan bahwa maksud bunga berwarna indah tidak lain daripada untuk menarik kumbang, hendaknya kumbang, hendaknya kumbang datang bertengger di atas bunga untuk menghisap madu. Madu adalah upah bagi kumbang karena jasanya dalam memindahkan tepung sari bunga jantan yang melekat pada bulu kaki kumbang jantan itu ke dalam putik bunga betina, sehingga timbul perkawinan bunga, pembuahan dan pembiakan. Konon di Himalaya terdapat tumbuh-tumbuhan yang amat berbisa. Andaikata bisa daun tumbuh-tumbuhan itu mengenai kulit manusia atau binatang mungkin manusia atau binatang itu akan pingsan karena gatal bisanya. Tetapi aneh du mana tumbuh pohon berdaun berbisa itu di sebelahnya tentu tumbuh pohon yang daunnya menjadi obat penawar bisanya, hingga bila manusia atau binatang tersentuh oleh pohon itu segera ia makan atau menggosokkan daun obat yang tumbuh di sebelahnya itu maka gatal bisa itu tidak akan menjadi. Andaikata kita mengenangkan keanehankeanehan alam, maka timbullah keheranan di dalam hati, seolah-olah ada mengadakan dan mengatur alam kekuatan yang bijaksana dan cerdas yang yang mengatakan hukum kebijaksanaan Tuhan. Dengan Anumana atau menarik kesimpulan berdasarkan gejala-gejala keanehan alam kita percata akan adanya Tuhan. Makin banyak kita menemui dan mengalami keanehan alam, berdasarkan pengalaman biasa maupun berdasarkan keanehan-keanehan yang timbul karena penyelidikan ilmu pengetahuan, makin kuat keyakinan kita akan adanya Tuhan Maha Kuasa. Selain daripada itu di antara ribuan juta umat manusia terdapat beberapa orang yang dapat mengenal Tuhan dengan Pratyaksa langsung merasakan atau mengalami ada-Nya, bagaikan menjumpai manusia gaib yang tiada berbadan, tetapi dirasakan ada-Nya dengan pengalam-pengalam gaib yang mengherankan. Kepada mereka itu, Tuhan melimpahkan ajaran suci untuk membimbing umat manusia mencapai batin. Hanya orang beriman yang alat wahyu kesempurnaan hidup lahir

semesta. Apa gerangan kekuatan itu ? Ada yang menyebut hukum alam, tetapi ada

2

(intuisinya) tajam karena amal kebajikan dan kesucian rohaninya dapat bermukamuka (Fratyaksa) dengan Tuhan dengan pengalaman gaib. Para Rsi dan Nabi adalah orang suci yang dapat mengalami dan merasakan adanya Tuhan. Tuhan membuka tabir kebesaran dan keagungan-Nya di hadapan mereka. Bagi para Mahpurusa atau orang suci yang mendapatkan rahmat itu, Tuhan tidak menjadi objek keyakinan lagi, melainkan pengalaman. Ia tidak menjadi objek agama atau Anumana, Tetapi Pratyaksa. Andaikata para Rsi dan Nabi tidak mengalami dan bermuka-muka dengan Tuhan bagaimanakah dapat dikatakan mereka itu menerima wahyu, semua orang dapat mengatakan diri menerima wahyu dan dapat menyusun kitab suci dan menyebut diri pesuruh Tuhan. Petikan 1 : Sasiwimbha aneng ghata mesi banu, ndan asing suci nirmala mesi wulan, iwa mangkana rakwa kiteng kadadin ring angambeki yoga kiteng sakala. (Arjuna Wiwaha 11.1) Arti : Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air di dalam air yang suci jernih terdapatlah bulan, Demikianlah konon dikau pada makhluk, pada orang yang melakukan yoga Engkau menampakkan diri. Petikan 2 : Katemunta marika, sitam katemu kahidepta marika sitan kahidep kawenang ta marika, sitan kawenang paramartha Ciwatwa nirawarana. (Arjuna Wiwaha 11.2) Arti : Dijumpai (Engkau) oleh mereka (Yogi) yang berjiwa suci, yang tidak dijumpai oleh umat biasa. terasa (Engkau) oleh mereka (para Yogi) yang tidak dirasakan oleh umat biasa, tercapai (Engkau) oleh mereka (Yogi) yang tidak dapat dicapai oleh umat biasa.

3

(Karena Dikau), yang bersifat Maha Mulia (Siwatwa) dan tak terbayangkan (Nirawarana), dijadikan tujuan yang tertinggi (Paramartha). Dengan memperhatikan sajak di atas dapat kiranya kita menginsafi bahwa ajaran kerohanian adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui bukan sebagai Karma Phala, Swarga-neraka, Moksa dan sebagainya, tetapi penciptanya, dan alat untuk mengetahuinya bukan kecerdasan akal tetapi budi luhur yang memekarkan alat wahyu (intuisi), yaitu salah satu bagian dari alam pikiran (psycho) yang terdapat dalam diri manusia. 1) Wujud dan Sifat Agung Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Tunggal Dengan memperhatikan keanehan-keanehan dan luas semesta berjutajuta jenis isinya serta seimbang (harmony) jalinan antara yang satu dengan yang lain, maka timbullah kekaguman di dalam hati bagaimana besarnya kekuasaan Pencipta dan pengaturnya, bagaimana agung sifat Pencipta dan Pengatur Yang Maha Kuasa yang kita sebut Tuhan, Hyang Widhi Wasa, Ciwa atau Brahma. Di dalam kitab filsafat kerohanian Hindu sebagai Upanisad dan Tattwa-Tattwa ajaran Ciwa banyaklah tercantum renungan-renungan mengenai wujud dan sifat berbunyi sebagai berikut : “Ekah Sat wipra bahudha wadanti, Agnim, Yman, Matariswanam” “Hanya terdapat satu kebenaran yang mutlak. Orang bijaksana menyebut dengan berbagai-bagai nama Agni, Yama, Matariswan”. Demikian juga Upanishad bagian Weda yang terakhir menyebut suatu rumus : “Ekam Ewa adwityam Brahma” 4 agung Tuhan Hyang Widhi Wasa (Siwa atau

(Tuhan Yang Maha Esa)

Brahma itu). Di dalam Rg. Weda Samhita tercantum suatu sloka yang

Hanya ada satu Tuhan (Brahman) tidak ada yang kedua.

Memperhatikan wahyu yang dilimpahkan kepada para maka Rsi yang terdapat dalam Weda sebagai yang tersebut di atas teranglah bahwa hanya terdapat satu kekuasaan yang mengadakan (Utpati), memelihara (Sthiti) dan mengembalikan kepada asalnya (Pralina) segala yang ada di dalamnya. Tuhan hanya satu, umat Hindu di Bali memberi Dia gelar Sanghyang Widhi Wasa, Widhi artinya takdir dan Wasa, Yang Maha Kuasa. Widhi Wasa berarti Yang Maha Kuasa yang menakdirkan segala yang ada. Dia disebut juga Bhatara Siwa (Pelindung Yang Mulia). Dia diberi gelar juga Sanghyang Mahadewa (Dewa Yang Tertinggal). Banyak gelar lagi yang dipersembahkan oleh umat Hindu di Bali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai Sanghyang Parameswara (Raja Termulia), Parama Wisesa (Maha Kuasa), Jagat Karana (Pencipta Alam) dan lainnya. Sebagai pencipta Ia bergelar Brahma (Utpatti) di dalam aksara Ia disimpulkan dengan huruf “A”. Sebagai pemelihara dan pelindung (Shatiti) Ia disebut Wisnu, sebagai simbolnya ialah huruf “U” dan sebagai Tuhan yang mengembalikan segala isi alam kepada sumber asalnya (Paralina) Ia bernama Siwa Rudra. Siwa Rudra sering juga disebut Iswara, simbolnya dalam aksara ialah “M”. Di dalam perwujudannya sebagai Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara) dan Siwa Rudra (Pengembali ke asalnya) Ia disebut Trimurti. Trimurti adalah tiga perwujudan Tuhan Siwa Yang Maha Tunggal. Tuhan Siwa Mahadewa, Yang Maha Esa dan Maha Kuasa disimbolkan dengan aksara “OM” (AUM) yang disebut juga Omkara atau “Pranawa”. Oleh karena itu tiap-tiap mantera harus dimulai dengan suara OM. Sebagai inti kekuatan doa mantera itu hendaknya dapat menggetarkan dan menggerakkan alam semesta. Tuhan Yang Maha Tunggal, Siwa Mahadewa, adalah Tuhan yang kekal dan abadi tiada berawal dan berakhir (Anandi dan Ananta) tidak ada yang menciptakan atau melahirkan, melainkan mencipta atau melahirkan diri sendiri. Oleh karena itu Ia disebut “Swayambhu”. (Wayam-sendiri dan bhu-lahir). Di dalam perwujud-Nya sebagai sumber

5

kekuatan hukum alam dan sumber hidup segala makhluk Ia disebut Parama Siwa (Nirguna Brahma). Parama Siwa (Nirguna Brahma) adalah Roh (Paramatma) Bhuwana Agung (Cosmos) dan Jitwatma atau Atma (Siwaatma) adalah baginya yang menjadi roh tiap-tiap makhluk. Parama Siwa (Nirguna Brahma) bersenyawa dengan kekuatan hukum kodratnya (Cakti) yang juga disebut Maya Tattwa atau Acetana, hingga menjadi maha kuasa dan bergelar Sada Siwa (Saguna, Brahma) atau Icawara yang mengadakan, memelihara pada alam tercipta (Srsti) dan melenyapkan alam semesta ke dalam kekosongan pada waktu kiamat (Pralaya).

2)

Cadu Sakti dan Astaiswarya Sada Siwa (Hyang Widhi Wasa, Saguna Brahma) tersebut sebagai

Tuhan yang mempunyai empat sifat Maha Kuasa yang disebut Catur atau Cadu Cakti. Adapun keempat sifat Maha Kuasa (Cadu Cakti) Tuhan (Siwa) itu ialah Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Inana Sakti, dan Kriya Sakti. Wibhu Sakti berarti bersifat Maha Ada meresap memenuhi buana. Tiada ada tempat yang tidak dipenuhi oleh Tuhan (Siwa), di mana-mana Dia selalu hadir. Kekosongan ruang angkasa dipenuhi oleh wujud-Nya yang Maha Sukma gaib. Prabhu Sakti artinya sifat Maha Kuasa sebagai Pencipta (Utpatti) Pemelihara Sthiti dan dapat menghilangkan segala isi alam pada hari kiamat (Pralaya atau Pralina). Segala sesuatu terjadi karena kodrat dan kekuasaannya. Jnana Sakti berarti Maha Tahu. Tuhan mengetahui segala kejadian dan segala yang ada di alam yang kelihatan maupun yang gaib (Skala Niskala). Tiada suatu perbuatan dan kerja makhluk yang tidak diketahui-Nya. Oleh karena itu di dalam ajaran kerohanian Agama Dia disebut Sakti Agung yang mengetahui tingkah laku, gerak langkah, amal dan dosa semua makhluk, hingga manusia tidak dapat mengingkari dosa perbuatannya. Kriya Sakti Maha Karya, dapat melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

6

Petikan

: Utpadaka na sadhakah tat tasya anugrahaparah wirocanakaro nityah sarmajana sarwakrdwibhuh Sawyaparah, Bhatara Sada Siwa, hana padmasana pinakapalungguhanira aparan ikang padmasana ngaranya Saktinira, Sakti ngaranya Wibhu sakti, Prabhu Sakti, Jnana Sakti, Kriya Sakti, Nahan Hyang Cadu Sakti. (Wrhaspati tattwa 12)

Terliput (oleh kekuasaan kodrat maha kuasa) Bhatara Sada Siwa (Hyang Widhi Wasa). Ada singgasana teratai (Padmasana) sebagai tempat-Nya, apa gerangan yang dimaksud dengan singgasana teratai (Padmasana) itu tidak lain daripada sakti-Nya/kekuatan kodrat-Nya, Sakti tersebut ialah Wibhu Sakti (Maha Ada), Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Jnana Sakti (Maha Tahu), Kriya – Sakti (Maha Karya), demikianlah Cadu Sakti (Empat Maha Kuasa) itu.

7

Selain dari keempat Sakti itu, Sada Siwa (Saguna Brahma) mempunyai delapan sifat maha kuasa yang disebut Astaiswarya (Asta berarti delapan : aiswarya berarti Maha Kuasa). Adapun Astaiswarya itu ialah : 1) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Anima 2) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Laghima 3) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Mahima 4) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Prapti 5) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Prakarya 6) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Icitwa 7) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Wacitwa 8) Terdapat (kesaktian Tuhan) yang disebut Yatta Kamawasaytwa Petikan : Anima laghima caiwa mahima prapti ewaca prakamyan ca icitwamca wacitwam yatrakamatwam Hana Anima ngaranya hana Mahima ngaranya hana prepti ngaranya hana prakamya ngaranya Hana Icitwa ngaranya hana Wacitwa ngaranya hana Yatrakamawasa yitwa ngaranya. (Wrhaspati Tattwa 14) Kalau dijelaskan secara singkat kedelapan sifat agung Sada Siwa itu, Anima berasal dari kata Anu yang berarti kekuatan “atom” Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehaluan atom yang dimiliki oleh Tuhan. Laghima berasal dari kata laghu berarti ringan. Laghima berarti sifatNya yang amat ringan lebih dari ether. Mahima berasal dari kata Maha yang berarti Maha Besar, di sini berarti Tuhan Sada Siwa meliputi semua tempat,

8

tidak ada tempat yang kosong (vacuum) bagi Tuhan. Semua ruang angkara dipenuhi-Nya. Prapti berasal dari Prapta yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh-Nya, ke mana Ia hendak perti di sana Dia telah ada. Prakamya (Pra Kama) berarti segala kehendak-Nya selalu terlaksana atau terjadi. Isitwa (Isi Raja) merajai segala-galanya dalam segala hal paling utama. Wisitwa artinya paling berkuasa dan Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat-Nya. Kedelapan sifat keagungan Sada Siwa, Tuhan Yang Maha Kuasa, Saguna Brahma (Hyang Widhi Wasa) ini, disimpulkan dengan singgasana teratai (Padmasana) yang berdaun bunga delapan (Astadala). Singgasana teratai (Padmasana) Hyang Widhi Wasa, Sada Siwa adalah lambang simbol kemahakuasaan-Nya dan daun bunga teratai berjumlah delapan helai (Astadala) itu adalah lambang sifat agung kemahakuasaan (Ataicwarya) Sada Siwa, Raja yang menguasai dan mengatur alam semesta dan makhluk semua.

9

3)

Kegaiban dan keajaiban sifat Tuhan (Widhi Suksma) Hyang Widhi Wasa (Brahma) Tuhan seru sekalian alam, walaupun ada

dan Mahakuasa, dapat mencipta, mengatur alam beserta isinya dengan kodrat kekuasaan-Nya sukar dibayangkan karena gaib (abstrak) dan ajaib wujud-Nya. Sedangkan alam pikiran kita sebagai perasaan cinta, sedih, gembira yang kita rasakan sehari-hari sukar dibayangkan apalagi wujud Tuhan yang amat abstrak itu. Bila kita bayangkan wujud perasaan cinta, marah, gembira, dengki, yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sungguh mengherankan. Walaupun unsu-unsur pikiran itu ada namun seolah-olah tidak ada, dan sukar dibayangkan karena suksma wujudnya. Demikian juga wujud Tuhan Hyang Widhi Wasa, Siswa (Brahma) Dia sering disebut wujud “hana tan hana” yaitu wujud yang ada tetapi tidak ada, karena gaibnya sering di dalam sastra-sastra atau tattwa-tattwa, wujud-Nya itu dipersoalkan sebagai teka-teki belaka. Walaupun tidak bertubuh, tidak berdarah, tidak pernah makan, tidak pernah bernafas namun Tuhan hidup. Tuhan Siwa (Brahma) tidak berotak tetapi dapat berpikirm tidak beralat perasaan atau berurat saraf namun dapat tidak bertelinga dapat merasakan, tidak bertangan tetapi dapat melakukan pekerjaan, tidak bermata dapat melihat, tidak berhidung dapat mencium, mendengar walaupun kata hati segala makhluk sekalipun dapat didengarnya Ia bermata, bertelinga, berhidung, beralat perasaan gaib di segala tempat.

Petikan 1 : Siwas sarwagata suksmah bhutanan antarikswat acintyam maharyanta naindriyam parigrhyate Bhatara Siswa sira wyapaka Sira suksma tar kneng – agen-agen Kadyangganing aksara sira 10

tan kagrahita dening manah mwang indriya (Bhuwanokosa)

11

Arti

: Bhatara Siwa, Dia ada di mana-mana Dia gaib sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether) Dia itu, tidak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indra

Petikan 2 : Ya iku sungguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngaranika. Nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang Manon, mur tan pahelar, melesat tan pasikara, manon ndatan pamata, mangrengo tan patalingan, mengambu tan pagrana, magamelan tan pantangan, lumaku tan pasuku, rumasa-rasa tan paidep, tan pagurus ya jana-prawarti, tantan panak yaya wriddhi tan paweteng yaya mambekan tatan pasangkem yaya amangan, tanpailat, yaya mangrasa ni. (Dangdang Bang Bungalan) Arti : Ya itulah anakku disebutlah Ia yang menunggalkan buana. Adapun perumpamaannya, jelaslah lagi, Yang Maha Tahu (Tuhan) bagaikan burung, terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar tiada dengan bertelinga, membau dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tidak bertanda (jantan atau betina) tiada beranak namun membiak, tiada berperut tetapi hidup, tiada bermulut namun Ia dapat menikmati, tidak berlidah tetapi dapat nerasakan. Petikan 3 : Ndan sira sang malekasing rat kabeh pinangan sari-sari awaknira, sira pinaka doning sang wiku, sira ta luputing taya,

12

luputing bayu, apan bayunira ikang bayu, luputing cabba apan cabbanira ikang cabba. luputing idep apan idepira ikang idep luputing tutur sira, apan tutur ira ikang tutur (Dangdang Bang Bungalan)

Arti

: Maka Dia yang mengodratkan alam semesta, yang dimakanNya ialah sari-sari wujudnya, Dialah yang menjadi tujuan orang beriman. Ia tiada terkena (memerlukan) hawa, oleh karena (Ia) hawa dari hawa, tiada memerlukan suara, karena (Ia) suara dari suara, tiada berperasaan, karena (Ia) perasaan dari perasaan, tidak memerlukan kesadaran, karena (Ia) sumber kesadaran. Demikianlah kegaiban dan keajaiban Hyang Widhi karena abstrak

(Suksma) wujud-Nya sukar dibayangkan dan sangat mengherankan.

B. Keyakinan Terhadap Atma Atma adalah merupakan percikan-percikan kecil dari parama Atma yaitu Sanghyang Widhi Wasa yang berada di dalam makhluk hidup. Atma badan manusia disebut : Jitman yang menghidupkan manusia. Atma dengan badan ini adalah sebagai kusir dengan kereta api. Kusir adalah atman yang mengemudikan dan kereta adalah badan. Demikianlah atma itu menghidupkan sarwa prani (makhluk) di dalam alam semesta ini. Indria tak dapat bekerja bila tak ada Atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada Atmannya, mata tak dapat melihat bila tak ada Atmannya kulit tak dapat merasakan bila tak ada Atmannya dan seterusnya. Jadi kiranya sudah jelas bahwa Atman itu berasal dari Sanghyang Wdhi sebagai Sang Matahari dengan sinar-sinarnya yang terpancar memasuki dalam 13

hidupnya semua makhluk. Atau dapat diumpamakan Widhi atau Brahma itu sebagai sumber tenaga listrik yang dapat menghidupkan setiap bola lampu besar atau kecil di mana pun ia berada. Dalam hal ini bola lampu dapat diumpamakan sebagai tubuh setiap makhluk dan aliran listriknya adalah atman. Jika maish tetap. Adapun sifat-sifat Atman itu, antara lain menurut Bhagawadgita (II.24.25) Achodya (tak terlukai oleh senjata) Adahya (tak terbakar oleh api) Akeldya (tak terkeringkan oleh angin) Acesyah (tak terbasahkan oleh air) Nitya (abadi) Sarwagatah (di mana-mana ada) Sthanu (tak berpindah-pindah) Acala (tak bergerak) Sanatana (selalu sama) Awyakta (tak dilahirkan) Achintya (tak terpikirkan) Awikara (tak berubah dan sempurna tidak laki-laki dan perempuan) Memang Atma itu sempurna tetapi manusia itu tidaklah sempurna, bola lampunya rusak, lampu tidak akan menyala (mati) walaupun aliran listriknya

walaupun yang menghidupi Atma. Ketidaksempurnaan manusia disebabkan persatuan atma dengan badan jasmani menimbulkan awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya yang menyebabkan ketidaksempurnaannya. Atman tetap sempurna tetapi manusia tidaklah sempurna, bahkan bisa mati. Walaupun manusia mati, atma tetap tidak bisa mati, hanya badan yang mati dan hancur sedangkan atman kekal. Badan berpisah dengan atmannya waktu mati, sedangkan atma yang tidak mati itu mengalami surga atau neraka sesuai dengan perbuatan baik atau buruknya. Tetapi atma (Jiwatma) itu tidak menetap di sana untuk selama-lamanya, ia akan punarbhawa atau lahir kembali mengambil wujud

14

baru sesuai dengan karma phalanya. Dan bukan sekali saja, tetapi lahir berulang kali. Penjelmaan terus lanjut sampai manunggal dengan Sanghyang Widhi. C. Karman, Keyakinan Terhadap Hukum Karma Phala Karena bersatunya Atma dengan badan manusia menyebabkan manusia itu hidup. Di dalam melangsungkan hidupnya itu, maka manusia ini senantiasa melakukan bermacam-macam gerak dan aktivitas yang dilaksanakan itu pada umumnya diperlukan adalah untuk dapat memenuhi segala kepuasan dan kenikmatan hidupnya lahir batin, sesuai dengan ide dan dasar pandangan dan kebutuhan hidupnya masing-masing. Adapun segala gerak dan aktivitas yang dilakukan itu baik, yang disengaja ataupun tidak, yang disadari maupun di luar kesadaran itu dalam ajaran agama Hindu disebut “Karma”. Kata Karma adalah kata dalam bahasa Sansekerta berasal dari urat kata kera “Kr” yang berarti berbuat atau bertingkah laku. Kemudian menjadi kata “Karma” artinya adalah perbuatan atau tingkah laku baik jasmani maupun rohani. Menurut hukum sebab dan akibat maka sebab pastilah akan menimbulkan suatu akibat. Demikian pula halnya suatu sebab yang berupa perbuatan pasti akan menimbulkan akibat atau hasil perbuatan pula. Hukum rantai sebab akibat atau hasil perbuatan itu disebut “karma phala”. Adapun akibat atau hasil perbuatan itu disebut “Karma Phala” Karma phala ngaranika phalaning gawe hala hayu (Slokantara 68) Karma phala itu namanya hasil perbuatan baik buruk. Karma phala ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan kehidupan seseorang, karena karma phala, itulah yang menentukan kebahagiaan atau penderitaan hidupnya, baik dalam masa hidup di dunia ini, di akirat maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Nasib manusia tergantung kepada perbuatannya, kepada karmanya. Barang siapa yang berbuat baik akan mengalami

15

yang baik yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Apa saja yang dibuatnya, begitulah hasilnya. Bagaimana dicetak begitulah hasilnya. Apa yang ditanam begitulah tumbuhnya, menanam jagung tentu tumbuh jagung, menanam ketela tumbuhlah ketela dan sebagainya. Siapa karitan temunghayu sarwa hayu Nyata katemuaning hala masadhana sarwa hala Twasillisih menang saya purakrata tapa tinut Sakeharipan kasidan maka darsana Pandhu suta (Arjuna Wiwaha) Siapakah masih tertinggal belum menemukan kebahagiaan bagi yang memerlukan kebaikan, Nyata akan menemukan kesengsaraan bila berdasarkan keburukan. Pikiran yang ragu-ragu akan keadaan Si Karma Phala yang baiklah dilaksanakan segala kehendak akan tercapai sebagaimana halnya Sang Arjuna. Pengaruh hukum karma itu pulalah yang menentukan corak serta nilai daripada watak manusia. Oleh karena itu karma bermacam-macam jenisnya dan tak terhitung banyaknya, maka watak manusianya beraneka macam pula ragamnya. Karma yang baik menciptakan watak yang baik dan karma yang buruk akan mewujudkan watak yang buruk pula. Segala macam karma yang dilakukan oleh makhluk, terutama manusia akan tercatat selalu dalam alam pikirannya yang kemudian akan menjadi watak dan berpengaruh terhadap atma atau rohnya. Hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja diterimanya sendiri, akan tetapi juga akan diwarisi oleh anak cucu atau keturunan. Banyak kita melihat contoh-contoh di dunia ini mengenai hal tersebut, misalnya ada seseorang yang dapat hidup mewah karena mendapatkan kekayaan yang berlimpah dengan jalan yang tidak halal atau dengan jalan kejahatan seperti menipu, mencuri, mengolok-olok atau memeras orang lain. Namun setelah orang itu mati kekayaan itu lalu diwarisi oleh anak cucunya. Maka tidak jarang anak cucunya ini mempunyai watak tidak yang baik atau tidak waras. Misalnya ada yang gila, atau menghamburkan kekayaannya itu dengan sesuka hatinya. Lambat laun harta warisnya itu bisa habis sehingga yang mewarisi menjadi miskin melarat serta

16

selalu menderita tekanan batin. Ini adalah disebabkan oleh pengaruh karma dari leluhurnya yang langsung dapat mempengaruhi keturunannya. Sarwesam anyatha rupam jnanam anyatprawartate matru Jnananubhawena prajawai wasubhasubha (Agastia Parwa. 382.4) Semua makhluk berbeda-beda rupa dan wataknya karena watak dan keadaan hidup ibunya (leluhurnya), maka makhluk itu memenuhi bahagia dan penderitaan (baik dan buruk). Papam karma hrtam kimeid waditasmin na drasyatetastya pasresu patreswapi ca naptran (Santi Parwa 129-31) Walaupun pahala kejahatan perbuatan seseorang tiada terlihat pada orang itu sendiri, meskipun raja, namun pasti terlihat pada anak cucu sampai buyutnya juga. Jadi dengan demikian hukum karma itu tidak saja memberi pengaruh pada orang yang bersangkutan baik dalam hidup di dunia ini, di akhirat maupun dalam penjelmaannya yang akan datang, namun juga berpengaruh besar terhadap keturunan. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa seseorang harus tinggal diam atau tidak berbuat atau berkarma. Karma Bhagawad Gita menegaskan bahwa orang tidak akan mencapai kebebasan karena diam tidak bekerja juga ia tidak mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja. Oleh karena itu ajaran agama menekankan benar hendaknya manusia berlaku tidak menyimpang dari petunjuk kerohanian atau Dharma. Karena akibat perbuatan jahat atau dosa itu sangat berat hukumannya dan hukum itu akan dijatuhkan dari pengadilan yang tidak tampak oleh manusia yang dapat menjerumuskan orang jahat itu ke dalam api nereka di akhirat. Demikianlah juga penderitaan batin atau tekanan hidup yang datangnya tidak disadari dan datangnya

17

perlahan-lahan, kalau tidak pada waktu hidup ini, mungkin di akirat dan dalam perjalanan yang datang atau akan diterima oleh anak cucunya. Namun orang yang mempergunakan dharma sebagai tujuan hidupnya yang utama, dan mengabdi terhadap sesama makhluk dan beramal saleh untuk kesejahteraan sesama makhluk serta menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, maka orang itu akan mendapat berkah dari, Ida Sanghyang Widhi yakni kebahagiaan akhirat (surga). Jika roh (atma) itu akan menjelma kembali maka ia akan dapat mengenyam kebahagiaan hidup di dunia. Banyak terdapat orang yang walaupun hidupnya nampaknya sederhana tetapi ia mempunyai jiwa yang tenang dan bahagia. Di samping itu banyak pula orang yang nampaknya dari pandangan luar sangat bahagia karena Ia memiliki timbunan harta kekayaan yang banyak serta menghambur-hamburkan nafsu duniawi, namun hatinya penuh dengan penderitaan dan kedukaan yang berjenisjenis misalnya pikiran tidak tenang, selalu merasa was-was lantaran berbuat kurang baik dalam mencari kepuasan duniawi itu dan sebagainya. Karena hal tersebut itu adalah disebabkan oleh buruk perbuatannya masing-masing. Macam-macam Karma Phala Tiada sebab yang tanpa akibat dan tiada karma yang tanpa pahala. Setiap perbuatan pasti ada pahalanya. Perbuatan baik pasti berakibat baik dan perbuatan buruk berakibat buruk. Namun demikian, dalam kenyataan hidup sehari-hari sering kita melihat bahwa orang yang selalu berbuat baik namun ia tetap menderita yang selalu berlaku curang tetapi nampak hidupnya bahagia. Seperti misalnya dalam ceritera Pewayangan antara Pandawa dengan Kaurawa. Pandawa yang terkenal menegakkan dharma namun sepanjang hidupnya penuh dengan penderitaan dan duka nestapi sebaliknya Kaurawa yang terkenal curang yang nampak hidupnya bermewah gembira ria. Apakah dalam hal ini hukum karma tidak berlaku ? Hal ini terjadi karena demikian. Setiap mengalami masa kehidupan tertentu, manusia tidak akan henti-hentinya pula menikmati karma phalanya. Ada yang dapat dinikmati pada masa hidupnya sekarang. Ada pula yang akan

18

dinikmati dalam hidupnya yang akan datang serta ada halnya juga akan dinikmati kelak. Berdasarkan atas cepat lambatnya untuk menikmati hasil dari karma itu maka karma phala itu dibedakan atas tiga macam yaitu : 1) Sancita Karma Phala : adalah pahala perbuatan yang terdahuli yang belum habis dinikmati dan masih karmanya yang lampau. 2) Prarabda Karma Phala : karma yang dilakikan pada saat hidup sekarang ini dan hasilnya pun telah pula dapat dinikmati dalam masa penjelmaan hidup ini juga. 3) Kriyamana Karma Phala : yaitu perbuatan yang hasilnya belum sempat dinikmati dalam waktu berbuat dan akan dinikmati kelak pada masa hidul penjelmaan yang akan datang. Dengan adanya tiga macam karma phala tersebut maka jelaslah bahwa orang yang dalam hidupnya itu berbuat baik, berpedoman pada dharma atau kebajikan akan tetapi hidupnya menderita atau sengsara mungkin akibat dari Sancita karma yang buruk, yang mau tak mau ia harus merasakan buahnya sekarang. Dan karma baik yang ia lakukan itu merupakan simpanan untuk dapat dinikmati kelak. Sedangkan orang yang selalu berbuat buruk namun tampaknya bahagia berarti hasil dari karma baiknya terdulu namun kelak pastilah mendapat hukuman. Tegasnya cepat atau lambat, dalam kehidupan kini atau kemudian segala pahala dari suatu perbuatan pasti akan diterima karena hal ini sudah merupakan hukum. Patut diingat di dalam hidup kita ini bahwa disamping kita menikmati karma yang bersifat Sancita juga sebagian ada yang Prarabda dan sebagian lagi yang bersifat Kriyamana. Jadi dengan demikian maka karma dan karma phala yang disebut hukum karma itu tidak dapat diingkari oleh siapa pun juga oleh makhluk apa 19 merupakan benih untuk menentukan keadaan kehidupan sekarang. Jadi orang lahir ke dunia ini membawa pahala dari

pun juga. Karena makhluk yang

hidup pasti akan

berbuat atau

melakukan bermacam-macam karma, yang sudah tentu pula akan menerima hasilnya yang disebut Karmaphala. Dan ini akan menentukan untung

malangnya nasib setiap makhluk itu masing-masing. Seseorang yang telah yakin dan menyadari akan kebenaran hukum karma itu kendatipun

hidupnya menderita di dunia ini, maka ia pun tidak menyesal. Karena hal itu telah dianggapnya merupakan Sancita karma phalanya sendiri sehingga dia

pun tidak sudi lagi akan berbuat jahat dalam mengulangi penderitaan hidup yang sedang dialaminya. Justru karena itu maka ia ia pun malah anak lebih bergiat lagi berusaha melakukan karma yang baik, demi kebaikan daripada Prarabda dan Kriyamana Karmaphala kelak. Sebab meyakin bahwa hidup ini adalah merupakan suatu perbuatan yang (suci) (subha karma) dan dengan subha karma itu sajalah orang dapat membebaskan dirinya dari belenggu Samsara atau penderitaan rohani maupun jasmani. Jadi hukum karma itu tidak akan manberi efek negatif juga tidak membawa akibat fatalistis terhadap umat manusia melainkan akan membentuk manusia susila dan bermental atau bermoral tinggi.

Subba dan Asubha Karma

Suhha asubha karma artinya perbuatan baik atau buruk atau amal dosa perbuatan. Jika ditinjau dari segi nilainya, maka segala perbuatan karma dan tiaptiap makhluk itu ada baik dan buruknya. Tidak yang seluruhnya baik atau tidak ada pula yang buruk semuanya. ‘Tan hana wang wasta mulus” dada gading yang retak. Kendatipur dernikian kita sebagai umat beragama. sebagai makhluk termulia yang berbudi berakal dan sebagainya, hendaknya selalu berusaha dapat berbuah baik serta mengurangi bahkan melenyapkan segala perbuatan yang tidak

20

baik atau subha karma. Kita perlu berbuat baik, sebenarnya adalah untuk menolong diri kita sendiri, sebab perbuatan baik dan perbuatan atau subba asub karma itulah yang menjadi penentuan dan buruk atau kemalangan nasib kita lahir batin, Subha dan asubha karma itu yang merupakan tema hidup yang tersedia dan yang erat serta pernah berpissah. Hal ini dengan jelas diuraikan dalam Sarasamuci sebagai berikut:

Apanikang kadang warga rakwa ring tunwam hingan ikang pnagteraken, kiriang ikang tumut sahayan ikang dadi hyang dening para gawenya subhastbha juga, matangnyan pihen tiking gae hayu sahayan ta anuntunakene ri pona dlaha (Sarasamccaya 32)

Sebab kaum kerabat dan keluarga itu hanya sampaipada tempat pembakaran mayat batasnya mengantarkan sedangkan yang terus ikut sebagai. teman sewaktu menjadi hyang di akhirat adalah perbuatan buruk itu juga. Oleh karena itu usahakanlah berbuat baik untuk teman penuntun di akhirat kelak. Pada bagian lain dari kitab Sarasamuccaya itu menyebutkan sebagai berikut

Apa ikang jadma mangke, pagawayan subha-subha Karma juga ya, kalingnya, ikang subhasubha karma Mangke ri pona ikag kabhukti pahanya, ring karmapala , ya tinit rin pribahasa, swarga cyuta neraka, cyuta, kunang ikang subha karma ri pona tan paphala ikang matangyan mangke juga pengponga subha-subha karma (Sarasamuccaya 18).

21

Maksudnya : sebab menjadi manusia sekarang ini adalah merupakan hasil pelaksanaan karma yang baik dan buruk itu juga. Tegasaya petbuatan yang baik. buruk sekarang ini, di alam akhiratakan dinikmati phalanya. Setelah selesai dinikmatinya, menjelmalah ia kembali, menuruti karma phalanya itu. Wasana artinya bekas, seperti bau samar-samar. Itulah yang menentukan keadaannya dialam lain. (akhirat) itu, tidak berphala. Oleh karena itu maka pada. saat ini juga harus diperhatikan baik buruknya perbuatan kita. Jika perbuatan baik yang dilakukan, maka phalanya atau akibatnya adalah baikjuga. Demikian pula sebaliknya, jika perbuatan buruk yang diperbuat, maka kasil atau pahalanya pun adalah buruk juga

Karma Wasana Sebagaimana biasanya, bahwa segala sesuatu yang telah pernah ada, pastilah meninggalkan bekas, seperti misalnya sehabis memasak makanan paras masih berbekas pada panci, kendatipun api itu sudah dipadamkan, temperatur dingin pada waktu malam, masin berbekas juga pada logam sampai besok paginya, walaupun walaupun matahari wsudah mulai terbit, demikian halnya air akan meninggalkan bekas pada dan sebagainya. Begitu tiap-tiap karma atau gerak yang dilakukan sadar atau tidak sadaranya akan berbekas di dalam pikiran. Inilah yang menyebthkan tiap-tiap makhluk terutama manusa tidak dapat menghindari dan mengingkari snuba shuba karma atau phala daripada baik buruknya perbuatan itu, Ilmu pengetahuan juga mengatakan bahwa walaupun gerak tubuh yang tidak disadari pun berpusat pula dalam suatu bagian dalan pikiran apalagi. perbuatan (aktivitas) yang dilakukan dengan sadar dengan sendirinya melekat dalam alam pikiran dan banyak di antaranya yang teringat sampai ajal menjelang tiba. Pada saat makhluk terutama manusia itu meninggal maka yang hancur adalah hanya sthula Sarira (badan vadag)nya sedangkan Atma tetap hidup dan dari dalam pikiran atau cita (budi, manas, aharnakara indria) panca tanmatra dan prana.

22

Dengan Sadirinya pula segala bekas-bekas dan gerak atau perbuatan-perbuatan yang melekat pada alan pikiran semasih manusia ini hidup, turut menjadi Suksama samranya bila manusia meninggal. Adapun segala bekas-bekas atau kesan-kesan dari gerak atau perbuatan yang tercatat atau melekat pada susma sarira atau alam pikiran itu disebut “Karma Wasana” karma berarti perbuatan dan wasana berarrti bekas – belas atau sisa – sisa perbuatan yang masih melekat sebagai diuraikan dalam wrahaspati Tattwa sebagai berikut. Kandayangganing dyun wawadah ring hinggu huwus hilang hinggunta pinahalilang kawekas ta ya ambonya gandhanya rumaket iringkang dyun samangkana tekang karma wasana hana ring atam rumaket ikang karma wasana negaranya ya tika umuparengga irikang atma (Waraspati tattwa 35)

Maksudnya :

Bagaikan

tempayan

tempat

kemenyan

setelah

habis

kemenyanya

dihidangkan. maka masih berbekas jugalah baunya, wanginya melekat pada tempayan begitulah umpamanya yang disebut was Demikianlah halnya karena wasana berada pada Atma yakni melekat jugalah keadaannya karma wasana itu jugalah menghiasu atma

23

Di atas telah dikatakan bahwa segala gerak dan perbuatas bersumber pada dalan, pikiran (cita) dan segala bakas gerak-gerak atau segala catatan – catatan di alam pikiran di dalam alam pikiran itu. Maka roh itu akan mendapat neraka dan kesengsaraan. Tetapi jika catatan – catatan yang terdapat di dalam alam pikiran itu penuh dengan buha karma roh itu pikirannya mendapatkan kebahagiaan akhirat atau kebahagiaan dalam penjelmaannya yang akan dating. Akan tetapi bila alam pikiran itu dapat terlepas dari ikatan keduniawian serta penuh dengan sifat – sifat kebajikan atau dharma maka alam pikiran dan panca tanmtra itu tidak lagi membalut atma sehingga atma bebas kembali ke asalnya yaitu paramat,a inilah yang dinamakan moksa.

D. Samsara, Keyakinan pada kelahiran kembali punarbhawa

Menurut pandangan dilsafat Hindu bahwa atma yang masih dibungkus oleh sarira atma masih tetap dipengaruhi dipengaruhi oleh unsure maya. Dengan adanya pengaruh maya ini menyebabkan atma itu menjadi awidya serta masih tetap pula terkait oleh pengaruh hukuman karma. Hukuman karma itu tidak saja mempengaruhi keadaan kehidupan semasa hidup di dunia sekarang ini, tetapi juga keadaan di akhirat, bahkan tidak terbatas sampai di mana saja melainkan masih ada kelanjutannya lagi. Seperti kita ketahui bahwa macam dan jenis daripada karma itu adalah sangat banyak sekali. Demikian pula pahala yang akan diniati oleh subjeknya adalah banya pula ragamnya. Ada yang patut dinikmati di akhirat serta ada pula yang patut dinikmati di dunia ini. Setelah selesai batas waktu mengalami sorga ataupun neraka sesuai degan ketentuan jenis karma phala yang patut dinikmati di akhirat maka atma akan menjelma kembali ke dunia. Proses kelahiran bentuk kehidupan berikutnya dalam ajaran filsafat Hindu di sebut “punaribhan”. Dan rangkaian dari semua Punarbhawa itu disebut “samsara”. Dalam bhagawad Gita disebutkan sebagai berikut:

24

a. Bahuni me wyatini Jarmanitawa ca arjuna Tam aham weda sarwani Ne twan wettha paramitapa (Bhagawad Gita IV.5)

Artinya : Banyak kehidupan yang ku-telah jalani dan demikian pula engkau arjuna. Semua kelahiran itu aku ketahui tetapi engkau tidak dapat mengetahuinya arjuna.

b. Ajo pi sannawyayatma Bhutanam iswaro pi san Prakthim syam adhisthaya Sambhawany atmamayaya (Bhagawad Gita IV.6)

Artiya : Meskipun aku tidak terlahir dan sikap-ku kekal serta menjadi iswara dari segala mahluk akan tetapi aku, dengan memegang teguh pada sifat-ku sendiri. Ak dating menjelma dengan jalan maya-ku

Berdasarkan penjelasan seperti tersebut di atas berkali – kali menjalani kelahiran atau punarbhawa, akan tetapi manusia tidak mengetahui hal tersebut. Hanya tuhanlah yang maha mengetahui. Apabila kita menginta kembali mengenai sifat-sifat atma seperti tersebut dalam Bab di depan yang antara lain ditingkatkan bahwa atma tidak pernah lahir pun juga tidak pernah mati, kekal abadi. Maka seolah – olah tampak adanya 25

pertentangan sifat-sifat atma itu dengan teori kelahiran kembali atau penjelmaan kembali yang disebut punarbhawa itu. Dalam hubungan ini patut diingat bahwa yang dimaksud dengan kelahiran atau npenjelmaan kembali dalam pengertian punarbhawa adalah suatu peristiwa atau keadaan di mana jiwatma yang kekal itu bertemu kembali dengan badan baru setelah meninggalkan badan yang lama sebagaimana seorang melepaskan bajunya yang sudah robek dan memakai yang baru demikian juga keadaan yang sejati, jiwatma, membuang yang telah hancur dan engambil yang lainnya adalah pengalanan karma itu sendiri yang langka dapat dialihya oleh jiwatma.

Bukti-bukti yang dapat meyakinkan adanya punabhawa Untuk dapat meyakinkan tentang kebenaran adanya Punarbhawa itu di bawah ini dikemukakan beberapa bukti sebagat berikut. Kilau kita perhatikan keadaan kehidupan manusia dalam masyarakat maka akan terlihat bermacam-macam keadaan yang berbeda-beda dalam manusia yang satu dengan lainnya. Misalnya, ada orang yang di tempat yang mewah, tak kurang suatu apa pun, bertata saila, dalam berbagai bidang, keadaan jasmani yang sempurna sehat walau berpribadi mulia. Sentara yang lainnya lahir di dalam kemiskinan panuh derita kurang berbakat dalam berbagai pentuk Kejahatan, sakit-sakitan, berhati kolot dan bercacat tubuh. Ada orang yang mempunyai kemampuan batin luar biasa sedangkan yang lainnya bodoh dan idiot. Ada orang berbakat untuk menjadi orang suci atau Yogi, sedangkan yang lainnya berbakat dalam bidang judi, pemabuk, perampok, dan sejenisnya. Ada pula orang yang sejak kanak-kanak sudah tampak mempunyai baka-bakat seperti kesenian, bahasa, ilmu pasti, kesusastraan, musik, pertukangan. lain-lain. Berdasarkan adanya kenyataan kehidupan tersebut timbullah pertanyaan. Faktor apakah yang menyebabkan perbedaan itu mungkin dapat timbul bermacam-macam jawaban antara Lain.

26

1. Perbedann keadann kehidupan tersebut terjadi karena suatu kebetulan saja. Tentu jawaban ini tidak dapat diterima kebenarannya, sebab menurut hukum karma ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau tampa sebab. 2. Perbedaan keadaan tersebut disebabkan oleh takdir atau kehendak Tuhan. Kalau ini benar maka orang-orang miskin, sengsara, menderita cacat atau lahir buta dan lain-lain, atau keadaan yang tidak menyenangkan hatinya berhak mengeluh dan menyesali Tuhan sebagai pencipta. Karena dianggap kurang adil memberikan takdir. Dan dalam ajaran agama dikatakan bahwa proses penciptaan itu adalah secara umum atau “menyeluruh sangat netral dan universal, yang penuh dengan suasana kesucian dan keadilan cinta kasih yang meilputi semua alam. 3. Perbedaan keadaan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor keturunan jasmani pengaruh lingkungan, pendidikan yang berbeda. Andaika perbedaan keadaan kehidupan tersebut disebabkan hanya karena faktor-faktor tersebut, maka bagaimanakah halnya dengan Orang kembar. Mereka dari keturunan yang sama, lingkungan pendidikan juga sama. Tetapi nyatanya mereka punya bakat kesenangan yang berbeda. hal ini karena pengaruh keadaan jasmani mengenal berat tinggi, warna, kesuburan, atau umur, bentuk, dan sebagainya diatur oleh suatu genes. Ada pula yang menyebabkan carakerja genes berbeda. Apakah juga masalah peringai yang diatur oleh genes? jawabannya tidak dapat dipastikan.

Di balik jawaban tersebut maka yang jelas bahwa perbedaan-perbdaan keadaan kehidupan itu bukan karena kebetulan, bahkan bukan karena Tuhan dan juga tidak semata-mata karena faktor keturunan, pendidikkan dan. karena faktor “karma di masa hidup yanglampau. Bakat atau pembawaan adalah suatu pengalaman yang dibawa dari kelahirany di masa lampau. ini berarti pula ada kelahiran sebelum sekarang selanjutnya secara logika itu berarti jula ada kelahiran yang akan datang. Karena yang lampau itu berasal dari sekarang yang telah lalu

27

atau sekarang ini akan menjadi lampau di masa ujian. Dengan kata lain hal itu berarti jelas ada Punarbhawa.

Purnabhawa dengan Karma pala Sebenarnya antara punarbhawa dengan Karma phala rnerupakan suatu ikatan yang terjalin erat satu dengan lainnya. Punarohawa sangat ditentukan oleh subhasubha karma dalam masa hidupnya yang lain. Dapat pula dikatakan bahwa puaarbhawa itu adalah perwujudan dari subhasubha phala itu sendiri. Setiap karma yang dilakukan atas dasa hanya untuk pemuas dorongan kenafsuan/indera belaka, adalah bersifat asubha karma, yang akibatnya menimbulkan dosa, serta atma itu akan menjadi neraka dan selanjutnya akan megalami Punarbhawa dalan tingkatan yang lebih rendah. demikian pula sebaliknya, bahwa karma yang dilakukan atas dosa budhi satwam adalah besifat subba karma, yang mengakibatkan akan dapat mencapai Sorga pun jika menjelma kembali maka akan mengalami tingkat penjelmaan yang lebih sempurna. Atma yang menjelma dari surga akan menjadi manusia hidupnya berbahagia lahir di dunia. Kebahagiaan yang dialami dalam penjelmaan ini disebut “Swarga cyuta’. sedangkan atma yang menjelma dari neraka akan menjadi makhluk yang maha kuasa dan akan mengalami bermacam-macam penderitaan hidup ini disebut neraka “Cuta”. Dengan demikian maka jelaslah bagi kita bahwa keadaan serta macam-macam tingkatnya penjelmaan itu adalah berleda-beda tergantung daripada jenisnya penilaian subha karma phala yang patut diterima oleh atma bersangkutan sesuai dengan takdir yang ditentukan oleh Tuhan yang maha Kuasa. Dalam hubungan ini Slokantara menyebutkan sebagai berikut,

dewanam naraka jantur jantunam naraka pasuh, pasunan neraka mrgo mrgahan eraka khagah.

28

Paskinam narakam wyalo wyamlam nerakah damstri Damstruam narakam wisiwesinam maramarane. (Slokantara 13.14).

Artinya: Dewa neraka mijelma menjadi manusia, manusia sengsara menjadi ternak, ternak itu neraka menjadi binatang, binatang buas itu neraka manjadi burung, burung neraka menjadi ular, ular itu neraka menjadi Cacing, serta taring yang jahat menjadi bisa, yang menyakiti/membunuh manusia.

Demikian merosotnya, tingkat penjelmaan yang dialami oleh atma neraka, sebagai akibat daripada sutha karmanya. Jika sudah sampai limit penjelmaan yang terhina akibat dari dosanya maka ia tetap menjadi dasar terbawah dari kawah neraka. Sedangkan makhluk nyata sekalipun jika telah dapat melakukan subha karma maka kelak penjepenjelmaannya akan bisa meningkat lebih tinggi lagi, dengan yang sebaliknya daripada apa yang tersebut dalam sloka tersebut di atas tadi. Jika direnungkan alangkah niscanya dan betapa pula berati pendenitaan, yang dalami dalam. situasi penjelmaan yang diakibatkan asubha karma tersebut. Kita yang telah dapat menjadi manusia dalam penjelmaan ini patutlah merasa bersukur karna tingkat penjelmaan yang kita alami ini adalah tingkat penjelmaan yang tentinggi demikian jalan yang kita tempuh untuk mencapai tingkatan berakhirnya penjelmaan itu adalah lebih pendek, jika dibandingkan dengan tingkat penjelmaan daripada menjadi makhluk yang lebih rendah lainnya. Apan ikang dadi mwang, uttama juga ya,

29

nimittaning mangkana, wenang yang tumulung awaknya sangkeng angsara maka sadhanang subha-karma, hingning kottasaning dadi mwang ika (Sarasanuacaya 10).

Arttnya: Sebab menjelima menjadi manusia ini adalah utama juga sebabnya demikian, karena itu dapat menolong dirinya dari sengsara dengan jalan berbuat baikk. Demikian balasan keutamaan menjadi makhluk.

E. Moksa, keyakinan anak kebahagiaan yang abadi bebas dari kelahiran kembali Tujuan hidup umat Hindu adalah untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin moksartham jagathita. Kebahagiaan batin yang terdalam ialah bersatunya atman dangan Brahman, yang disebut Moksa. Moksa inilah juan terakhir dan tertinggi dari umat Itindu. Moksa berarti kebebasan atau kelepasan. Moksa dalam istilah lainnya sering pula disebut Mukti atau Nirwana. adapun yang dimaksud dengan “Kebebasan atau Kelepasan” dalam arti kata Moksa itu adalah bebasnya atau terlepasnya Atma dari segala ikatan, bebas atau terlepas dari belenggu ikatan maya, bebas dari ikatan hukum karma dan Samsara atau Punarbhawa, sehingga atma dapat kembali degan asalnya yaitu Ida Sanghyang Widli Wasa serta dapat pula mencapai kebenaran tertinggi, mergalami keteneraman dan kebahagiaan yang kekal dan abadi yang disebut Sat= kebenaran Cit= kesadaran (Sat= kthenaraman, Cit= kesadaran, ananda=kebahagiaan). Kebahagiaan dalam Moksa adalah sukha tari pawali dukha yaitu suatu keadaan kebahagtaan yang tiada disusul oleh

30

kedukaan. dalam hidup kita sehari-hari maka setiap kebahagiaan atau kegenbiraan senantiasa diikuti oleh kedukaan atau suka duka itu selalu bergan dengan tangan. Hal inilah yang perlu Seperti kita ketahui bahwa pada hakikatnya semua makhluk ingin untuk membebaskan dirinya dari kurugan untuk bersatu kembali dengan asalnya. Seekor burung yang dikurung dalam sangkar senantiasa ia mengais-ngaiskan cakarhya pada dinding sangkar karena ingin lepas dari kurungan itu. Seekor kera yang diikat sebagai kegemaran senantiasa pula ingin bebas dari ikantan itu. Bahkan beda sekalipun juga rupa-rupanya ingin bebas dari bentuk kurungan. Misalnya api yang dikurung dengan Lapisan gunung berapi ia mendesak-desak atau menekan lapisan tanah tersebut dan suatu saat dalam bentuk letusan. Air yang dikurung dangan gelas senantiasa ia mendesak dinding gelas itu karena ingin bebas dan kembali bersatu dengan asalnya yaitu:

Tingkatan – tingkatan Moksa 1) Samipya adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai terutana oleh para Maha Rsi. Pada waktu sedang melakukan samdh,. segala unsure-unsur maya sperti, emosi, pikiran jasmani itu telah dapat dikendalikannya dan disertai kemekaran intuisinya, sehingga beliau dapat langsung kembali keadaan demkian itu Atma dapat berdek intimacy dengan Tuhan. Sedangkan setelah selesai renungan spiritual atau samadhi itu maka keadaan beliau lagu. sebagai biasa di mana emosi, pikiran dan organ jasmani aktif kembali. Jadi kebebasan yang dapat dicapat bersifat mementara 2) Sarupya/Sadharnya adalah suatu kebebasan di dunia di mana atma telah dapat mengatasi pengaruhnya unsur-unsur maya itu, karena dalam hal ini atma merupakan pancaran/refleksi dari kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya Sri Kresna yang tersebut Bhagawad Gita. Dalam keadaan seperti ini kendatipun atma mgambil suatu perwujudan tertentu, nanun tidak akan terikat oleh sesuatu.

31

3) Salokya dalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh atma di atma itu sendiri telah berada dalam posisi dan kesadaran yang dengan Tuhan, akan tetapi belum dapat bersatu padu dengan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu dapat dikatakan bahwa atma itu mencapai tingkatan yang merupakan manifestasi dari sinarNya Tuhan 4) Sayujya adalah suatu tingkat kebebasan yang tertinggi, di mana telah dapat bersatu padu atau bersemayam dengan secara ide dengan Tuhan dan tidak terbebaskan ole siapa pun juga, sehingga benar-benar telah mencapai “Braknna Atma aikyam” yakni Atma dengan Tuhan betul-betul telah menjadi tunggal.

Lain daripada yang telah tersebut di atas maka ada lagi istilah lain yang untuk membedakan tingkat kebebasan atau moksa yang dibedakan atas tiga tingkatan yaitu 1) Jiwa mukti ialah satu kebebasan yang dapat dicapai semasa hidup, di mana atma terengaruh oleh indriya dan unsur-unsur maya lainnya. Dengan demikian maka jiwa mukti sifatnya sama dengan samapya dan sarupya/ sadharnya. 2) Weidaha-mukti/ Karma ialah suatu kebebasan yang dapat di capai setelah mati, di mana atma telah pergi dari sthula-sarira, tetapi wasana maya atau bekas-bekas unsur maya itu tidak kuat mengingat atma itu. Dalam keadaan ini tingkat keaadaan yang oleh atma sudah setarap dengan Tuhan, tetapi belum dapat bersatu dengan Parama Siwa karena masih ada imbas: dari unsure maya. Dengan demikian maka Wideha Mukti/Karma mukti ini dapat disamakan dengan sakya. 3) Purna-Mukti ialah suatu kebebasan yang paling sempurna dan tinggi, di mana atma telah dapat bersatupadu dengan Parama. Jadi Purna-Mukti sama dengaan sifatnya Sayujya.

32

Demikian tingkatan-tingkatan kebebasan atau moksa yang dialami oleh atma dari tahap permulaan sampai dengan tahap terakhir/tertinggi sesuai dengan keadaan dan posisi. atma itu sendiri.

CATUR MARGA Uraian dan Contoh Catur marga yog adalah empat jalan atau cara untuk mencapai kebebasan atau untuk menuju bersatunya atman dengan Paramata. Catur Marga yang meliputi 1. Bhakti yoga 2. Karma yoga 3. Jnana Yoga 4. Raja yoga

Bhakti marga yoga

Bhakti marga yoga adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan (moksa) dengan jalan sujud bakti kepada Tuhan. Dengan sujud dan cinta kepada Iswara Tuhan pelindung dan pemelihara semua makhluk, maka Iswara akan menuntun seorang bahta, yakni orang yang cinta dan sujud bakti kepadanya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan menyembah dan berdoa mohon perlindungan dan ampunan atas dosa-dosanya yang pernah dilaksanakannya, serta mengucap syukur atas perlindungannya, kian hari cinta baktinya kian mendalam, hingga Tuhan Iswara akan muncul (manifest) dihadapan Bhakta itu. Iswara akan membimbing dia di dalam segala gerak langkahnya dan memurnikan hatinya hendaknya ia dapat memiliki sifat dharma (kebijakan) dan budi luhur, dan dapat mencapai kebahagiaan hidup kini, kebahagiaan akhirat (swarga) dan kebahagiaan dalam

33

penjelmaan yang akan datang (swarga cyuta). Karena rakhmat Tuhan yang dicintainya seorang Bhakta akan merasakan hidup tenang dan tenteram dan bila atmanya meninggalkan jasmaninya atmanya itu akan mencapai brahmaloka atau Sila Loka dan menunggal dengan Brahma atau Siwa. Dengan menyerahkan diri atau sujud terhadap Tuhan, Tuhan akan menuntun dia ke jalan yang lurus hingga sempurna sila dan budinya. Orang yang betul-betul cinta dan menyerahkan diri kepada Tuhan Mahadewa (Tuhan Raja Alam yang Pengasih dan Penyayang) tiada akan berpaling dari kebenaran kelurusan laksana dan kesucian batin dan tiada akan jatuh ke lembah dosa dan malapetaka. Iswara akan memelihara dan melindungi orang yang beriman itu supaya hidupnya tetap tenang dan tenteram. Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas. Bila perasaan bakti melekat dan mendalam, Tuahn akan dijumpai berhadap-hadapan, bagai sahabat Agung yang Maha Murah, yang menolong di waktu kesusahan. Dia dalam bakti Marga iswara akan dijumpai tidak sebagai sumber alam yang abstrak tetapi sebagai wujud hidup yang tiada berbadan kasar tetapi terasa adanya. Alangkah bahagia seseorang dapat berhadaphadapan dengan pencipta alam Yang Maha Besar tiu sedangkan dapat berjumpa dengan tokoh besar saja orang telah merasa bangga. Tetapi seberapakah gerangan orang yang dapat bertemu dan mengalami (pratyaksa) wujudnya yang suksma dan amat sukar dialami dan dijumpai itu. Di antara ratusan juta manusia, mungkin hanya satu dua yang dapat bertemu dengan Dia. Beberapa Rsi-Risi dan nabi-nabi yang alat wahyu atau instuisinya mekar karena kemuliaan pribadinya dan karena rahmat Tuhan, dapat mengalami wujud-Nya. Dengan jalan sujud bakti Iswara akan membuka pintu-Nya, maka umat yang cinta kepada-Nya dapat berjumpa dengan Dia.

Petikan 1 : Na’han wedair na tapasa na danena cjyaya sakya ewam widhu drastum drastawan as imam yatha. (Bhagawadgita II. 53)

34

Artinya

: tiada karna Weda, tiada karena tapa, tidak sedekah pun tidak karena pemujaan berupa kurban aku dijumpai berujud sebagai yang kau lihat itu.

Petikan 2 : Bhaktya twanyaya sakya, aham ewam widho’rjuna, jnatum drastum ca tattwena, prawestum ca Parantapa (Bg. 11. 54) Artinya : Hanya dengan sujud bakti, Arjuna, Aku dapat dijumpai berwujud sebagai ini. Setelah benar-benar mengenal dan melihat wujud-ku akan kembali bersatu dengan Aku, Parantapa.

Petikan 3 : Sat Kamakrn mat parama, mat bhaktah sanggawarjitah, nir wairah sarwahutesu, yah sa mameti Pandawa. (Bg. 11. 55) Artinya : Orang yang bekerja untuk-Ku, memakai Aku sebagai tujuan, dan sujud bakti kepada-Ku, terlepas dari ikatan duniawi, dan tiada pernah membeci makhluk apa pun, dia akan mencapai Aku, wakau Pandawa.

Bakti marga adalah jalan yang termudah untuk mencapai kesempurnaan. Keinsyafan sungguh berat bagi kebanyakan, oleh karena itu Bakti marga merupakan jalan yang paling biasa ditempuh oleh umat agama untuk mencapai kesempurnaan itu. Walaupun dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia dapat dilebur dengan kebijaksanaan (Jnana Marga), tetapi pelebur dosa yang paling mudah adalah dengan sujud bhakti kepada Tuhan dengan sembah dan doa memohon ampun dan restu kepada-Nya, niscaya Ia mengampuni umatnya dan menyalakan kesadarannya (widyajnya) hingga ia tidak jatuh lagi ke jurang dosa. Tuhan akan mengampuni umatnya yang tobat, yang memuja dia dengan cinta bakti. Di dalam kekawin Arjuna Wiwaha tersebut sajak yang mengandung ajaran Bhakti marga yang menyatakan dengan mencintai Tuhan seseorang dapat menjupai-Nya.

35

Petikan : OM sembahning anatha, tinghalana de tri loka sarana, wahya dhya tmika sembahning hulun, I Jengta tan hana waneh, sang iwit Agni sangken tahen, kadi mihak saking dadhi kita, sakast metu yan hana wang, amutur tutur pina hayu. (Arjuna wiwaha 10.1) Artinya: OM Tuhan mohon disaksikan sujudku, 0 pelindung tri buana, lahir batin sembahku kepada Mu, Tiada lain yang bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak dalam susu, yang nyata-nyata Muncul (manifest) pada orang yang beriman yang mengamalkan ajaran suci.

Karma Yoga

Karma yoga atau karma marga adalah jalan untuk mencapai kesempurnaan (moksa) dengan kelakuan berbuat kebajikan ; namun tidak terikat oleh nafsu hendak mendapat hasilnya terutama yang berupa kemasyuran, kewibawaan, keberuntungan dan sebagainya, melainkan melakukan kewajiban demi untuk mengabdi, berbuat amal dan kebajikan, untuk kesejahteraan umat manusia dan makkluk lainnya. Selain daripada itu karma marga berhampiran inti ajarannya dengan bhakti marga, yang manyerahkan segala usaha di tangan Tuhan, dan memandang segala usaha pengabdian kebajikan, amal dan pengorbanan itu bukan dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan. Dengan memandang segala usaha untuk kesejahteraan bersama manusia dan makhluk adalah semua dari Tuhan dan bukan dari dirinya sendiri dan melakukan kewajiban tanpa ikatan, maka jiwa karma yogi, orang yang beriman yang menempuh karma marga sebagai jalan akan dapat menunggal dengan Parama Siwa atau (Brahma). Di dalam kekawin Ramayana, Rama bernasihat kepada Wibisana bagaimana seharusnya menjadi abdi, giat melakukan kewajiban untuk melakukan kesejahteraan rakyat tanpa ikatan nafsu untuk mendapatkan kekayaan, kenikmatan hidup dan kemasyuran, atau untuk mendapatkan kewibawaan, nasihatnya sebagai berikut: 36

Petikan 1: Prihen temen dharma dumaranang sarat, saraga sang sadhu sireke tutana, tan artha tan kamaPidonya tan yasa, ya sakti sang sajana dharma raksaka. (Ramayana 24081) Artinya : utamakan benar hukum keadilan dan kebajikan yang melindungi dunia, hendaknya cita-cita orang budiman itu di turuti, yang tidak hendak (gelisah ) mendapat harta, nafsu dan kemasyuran, adpun kemuliaan orang budiman adalah sebagai pelindung dharma ( beramal dan mengabdi, mempertahankan keadilan ) Petikan 2 : sakan ikang rat kita yan wenang manut, manupadesa kapangguha. (Ramayana 24.28) Artinya : Dharma sebagai tiang Negara itulah hendaknya Kau turuti, utamakanlah ajaran Manu untuk mengabdi Negara, lenyapnya kesengsaraan itu hendaknya menjadi tujuan, kecintaan rakyat, dan lain – lainnya pasti akan Kau jumpai. prihatan

rumaksa ya, ksayan ikang papa nahan prayojana, jana nuraga di tiwin

Tidak hanya rakyat yang yang cinta tetapi Tuhan pelindung dharma pun akan merahmati orang yang berbudi mulia, yang melakukan kewajiban dengan berpedoman sepi ing pamrih rame ing gawe (pengabdian) untuk masyarakat, dan umat manusia. Selain daripada itu Tuhan akan membuka pintunya, sehingga penganit Karma Yoga dapat berhadapan dan menyatu dengan-Nya. Dengan memakai Karma Marga sebagai pedoman hidup, seorang akan dapat mencapai ketentraman batin dan kebahaagiaan abadi, karena hidupnya bagaikan daun talas, walaupun dimasukkan ke dalam lumpur tetapi lumpur tidak aakn melekat. Seorang Karma Yogi yang menempuh Karma Marga sebagai jalan, tidak akan diombang – ambingkan oleh pasang surut gelombang hidup yang dapat melemahkan jiwa perjuangannya untk mengabdi dan untuk mempertahankan keadilan, prikemanusiaan, melindungi yang lemah dan membasmi yang jahat dan curang. Seorang Karma Yogi akan tetap tenang menghadapi segala kesulitan yang

37

menghalang dan tiada akan gentar menghadapi pahit getirnya perjuangan hidup untuk kebenaran, keadilan, dan kesucian.

Petikan :

Yad

rocalabhasamstutah,

dwandwatito

winatsarah,

samah

sidhawasiddhau ca, krtwapi nanibandhyate. (Bhagawad gita 4.22) Artinya: tetap tenang dengan apa yang menimpa, dapat mengatasi pasang surut perasaan, tiada mementingkan diri dan memandang, dengan perasaan yang sama, menghasilkan atau tidak usahanya, seseorang tidak akan terbelenggu oleh Karma.

Petikan: Gatangsangsya muktasya, Jnana wasthita cetasah, yajnaya caracah karma, samagram prawiliyate. (Bhagawadgita 4.23) Artinya: orang terlepas dari ikatan nafsu, bebas, yang di jiwanya tegak dalam kebijaksanaan, dan melakukan kewajiban demi untuk pengorbanan, segala karmanya akan mendidih.

Petikan: Karmanaiwa hi samsidhim, astitha janakadayah, lokasanggrahan ewapi, sampasyam kartum arhasi (Bhagawadgita 3.20) Artinya: Hanya dengan melakukan Karma Marga, raja Janaka dan lain – lain (orang yang berjiwa besar) mendapat kesempurnaan, hanya araahkanlah perhatianterhadap kesejahteraan rakyat (umat manusia) kamu harus melakukan kewajiban.

Demikianlah nasihat Kresna dalam Bhagawadgita umtuk meneguhkan imannya, sebagai pelindung keadilan dan pembela kebenaran. Kresna menasihati hendaknya Arjuna tidak gentar menghadapi manusia yang melakukan kejahatan, ketidakadilan dan sebagainya walaupun denganmengalami pahit getir perjuangan hidup dan mengorbankan jiwa untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan itu.

38

Demikianlah untuk mencapai kesempurnaanatau moksa dapat dicapai dengan kewajiban yang dilaksanakan dengan tanpa ikatan nafsu duniawi.

Jnana Yoga

Jnana Yoga atau Jnana Marga adalah suatu jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan (Moksa) dengan mempergunakan kebijaksanaan filsafat. Di dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan dengan kebijaksanaan itu, terdapat para arif bijaksana (jnanin) yang berusaha mencapainya dengan keinsyapan, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang bersumber pada suatu sumber alam yang di dalam kitab suci weda disebut purusa atau brahma, dan didalam ajaran suci siwapaksa disebut siwa. “sarwam idam khalu Brahman” segala yang ada di alam tidak lain daripada Brahman. Demikianlah disebut didalam upanisad, bagian weda yang menerangkan Brahman atau purusa, sebagai sumber unsur-unsur rohani maupun jasmani semua makhluk dan sumber segala benda yang ada di alam. Brahma (siwa) sebagai sumber segala, mempunyai kekuatan yang dapat dikatakan hukum kodrat atau sifatnya, yang menyebabkan brahma (siwa) berubah menjadi serba segala rohaniah maupun jasmaniah (skala niskala). Kekuatan hukum kodrat atau sifat bharma itu disebut maya atau Prakerti dan untuk siwa disebut sakti, maya tatwa atau juga acetana. Bila Brahma tidak dipengaruhi oleh hukum kodrat (sifat )-Nya yang disebut maya atau Prakerti (Sakti), Maya Tatwa atau Acetana itu, ia disebut nirguna (Parama) dan Brahma (siwa) dipengaruhi oleh hukum kodrat (sifat)-Nya itu disebut Saguna (Sada). Nirguna Bharma (Parama Siwa) adalah roh (Paramatma) alam semesta yang menjadi inti penggerak hukum peredaran alam, dan seguna Brahma (Sada Siwa) ialah perwujudan Brahma (Siwa) yang disebut Iswara (Raja alam), Sang Hyang Widhi Wasa penggerak peredaran alam maha kuasa sehingga dapat mencipta (Utpatti), mengatur (Stiti), dan melebur mengembalikan pada asalnya (Pralina). 39

Denan menginsyafi bahwa segala yang baik jasmani maupun rohani benda yang berwujud (Sthula) maupun absrak (Sukma) bersumber pada Brahma atau Siwa, maka bijaksanawan (Jnanin), memandang bahwa benda jasad dan wujud rohani (alam pikiran dan sebagainya), yang timbul dari Brahman (sanifes) adalah benda dan wujud sementara (relatif). Hanya sumbernya yaitu Brahma (Siwa) yang Maha Agung yang sungguh-sungguh ada dan mutlak (absolut). Apalah artinya serba benda yang terdapat di alam bagi orang yang bijaksana yang mengenal keabadian, kemutlakan dan keagungan Bharma itu, bagaikan tetesan embun dengan samudera, demikianlah kecilnya serba benda kalau dibandingkan dengan Brahma (Siwa). Apalah manfaat dunia yang serba nisbi (relatif) itu bagi orang bijaksana (Jnanin) yang insyaf dengan keagungan wujud Brahma (Siwa). Hanya awidya (kurang bijaksana) menyebabkan manusia terikat oleh benda-benda keduniawian itu. Sedangkan kalau direnungkan justru manusia sering diombangambingkan oleh pasang surut gelombang benda uniawi yang menimbulkan perasaan duka (Dukna), dengki (Irsya) marah (Krodha, dwesa), gelap (Moha) dan lain-lainnya. Bagi orang bijaksana (Jnanin) kenikmatan duniawi hanya memberi kenikmatan dan kebahagiaan sementara, yang sering menimbulkan perasaan duka, marah, dengki dan sebagainya, andai kata kenikmatan yang berdasar serba benda itu tiada menjelang lagi. Bagi para Jnanindunia beserta isinya adalah maya, bayangkan sementara dari yang mutlak dan Yang Maha Agung yaitu Brahma (Siwa). Oleh karena itu sungguh sia-sia andai kata manusia terikat oleh benda kenikmatan duniawi yang sering menggoncangkan hidup dan ketentraman sukmanya. Selain daripada itu kitab suci Weda mengatakan bahwa atma atau jiwatman bahwa roh tiap-tiap makhluk sama wujud dan sifatnya dengan Nirguna Brahma (Paramatma) atau (Parama Siwa). Brahma atma akyam, Brahma dan atma tunggal. Tunggalnya atma dan Nirguna Brahma bagaikan udara dalam ruangan dengan udara di angkasa, sedangkan ikatan perasaan dengan benda duniawi adalah penghalang untuk menunggalkan atama (Siwatma) dengan Nirguna Brahma (Paramatma atau Parama Siwa) itu. Oleh karena itu, para Jnanin (bijaksanawan) berusaha menghindarkan diri dari ikatan nafsu (Indriya) terhadap 40

objek keduniawian (Wisaya) yang bersifat nisti (ksanika) itu. Mereka berusaha mengarahkan pikiran dan perasaannya terhadap Yang Maha Agung dan mutlak yakni Brahma (Siwa), hingga mereka dapat kebahagiaan abadi dan ketentraman yang cerah gemilang disebut ananda dan akhirnya Jiwatmanya (roh) manunggal dengan Nirguna Brahma (Paramatma, Paramasiwa). Para Jnanin (bijaksana) berdikit dikit dapat melepaskan diri dari belenggu nafsu duniawi hingga jiwanya murni bagaikan teratai, waalupun tumbuh dalam lumpur tetapi tidak terkena kotornya. Dengan Jnana (kebijaksanaan) mereka dapat mencapai dharma dan member kebahgiaan lahir bathin dalam hidupnya sekarang, di akhirat (swarga) dan dalam penjelmaan yang akan datang. Dalam putaran hidup selanjutnya, pada akhirnya tentu mereka dapat menginjak alam moksa yaitu kebahagiaanyang kekal yang menyebabkan roh (atma) bebas dari penjelmaan kembali.

Petikan 1: Na prahrayet priyan prapya, nodwijet prapya cha priyan sthirabudhir asammudho, Brahmawid brahmani sthitah, (Bhagawad gita 5.20) Artinya: Orang bijaksana yang insyaf dengan wujud Brahma selalu memadukan sukmanya dengan Brahma, tetap tenteram dan tidak terabui oleh kebodohan, tiada rasa bahagia dapat kenikmatan yang digemarinya dan tiada bersedih dapat yang tiada yang menyenanginya. Petikan 2: Bahyasparses wasak tatma, windat/ yatmaniyat sukham, sa

Brahmayoga yuktatma, sukham akshayam asnute. (Bhagawad gita 5.2) Artinya: Orang yang jiwanya tidak terikat oleh sentuhan duniawi, mendapat kebahagiaan batin, orang yang sukmanya selalu menunggal dengan Brahma itu, dapat mengenyam kebahagiaan yang abadi. Petikan 3: Yo’ntah suklo, ntaramas, tat hi antar jyotir ewa yah, sa yogi brahma nirwanam, Brahmabhuto’dhigacchati.

41

(Bhagawad gita 5.24) Artinya: Orang yang menikmati kebahagiaan batin yang kesenangannya bersumber dalam hatinya dan yang rohaninya cerah bersinar orang beriman yang selalu menunggalkan sukma dengan brahma mencapai kesatuan roh dengan brahma.

Dia dalam batin yang cerah tenteram yang disebut ananda itu, Brahma sumber segala, yang juga disebut sat (kebenaran yang Maha Agung) dapat dialami dan diketahui langsung (Pratyaksa Pramana). Selain daripada itu, terdapat juga orang bujaksana (Jnanin) yang tidak memikirkan keagungan Brahma (Siwa) melainkan menempuh jalan pendek, yaitu dengan memandang bahwa nafsu adalah musuh yang paling buas, yang menggoncangkan ketentraman batin. Nafsu memperbudak manusia sehingga terjerumus ke lembah dosa dan malapetaka. Nafsu timbul karena awidya (kurang bijaksana). Dari nafsu yang disebut raga, muncullah marah (dwesa) iri hati (matsarya) mabuk atau angkuh (mada) dan kegelapan pikiran maupun kesusahan (moha). Orang bijaksana (Jnanin) memandang nafsu, kemarahan, iri hati, angkuh, kegelapan pikiran dan susah itu sebagai enam musuh di dalam diri yang perlu dibasmi yang disebut sda ripu.

Petikan 4: Ragadi musuh maparo, rihatya tonggwanya, tan madoh ring awak. (Ramayana sarga 14.1) Artinya: Nafsu dan sebagainya (kemarahan), iri, dengki, angkuh, dan kegelapan pikiran, di hatilah tempatnya, tiada jauh dari diri.

Andaikata dapat membasmi keenam musuh dalam diri itu, jiwa (roh) tentu akan murni (suci) dan dapat mencapai dharma (sila dan budi luhur) dan akhirnya kebahagiaan abadi dan kebebasan roh dari penjelmaan akan dicapai.

Raja Yoga

42

Raja yogi adalah cara atau jalan untuk dapat mengetahui kerahasiaan dan berhubungan dengan Sanghyang Widdhi dengan melalui tapa, brata, yoga dan semadhi. Tapa dan brata dapat dirtikan suatu latihan yang tidak henti-hentinya untuk mengendlikan indria. Yoga dan Semadhi merupakan latihan untuk menghubungkan dan menyatukan atma dengan Paramatma. Dalam Bhagawad gita Kresna menjelaskan tentang raja rahasia dari ilmu pengetahuan. Kerahasiaan kebenaran brahmaitu tidak dapat dimengerti hanya dengan berteori atau berargumentasi saja. Hal itu hanya dapat dimengerti hanya dengan pengalaman atau pengamatan langsung (pratyaksa pramana). Orang yang dapat menumbuhkan kesadaran diri serta mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Sanghyang Widdhi akan dapat mengetahui hakikat kebenaran Brahma. Orang seperti itulah disebut seorang raja yogin. Setelah menyatakan bahwa ada pengetahuan yang maha tinggi, rahasia yang maha tinggi, kesucian yang maha tinggi, namun akan dapat diketahui dengan pengalaman langsung apabila manusia telah tiba pada tingkat kesadaran yang tinggi, selanjutnya dijelaskan:

Petikan:

Maya tatam idam sarwam jagad awyakta murtina, matsthani sarwa bhutani na cha’ham tesw awasthitah.

(Bhagawad gita IX.4) Artinya: Aku berada dimana-mana dalam alam semesta ini dengan bentuk Ku yang tidak terwujud, semua makhluk berada dalam Ku, tetapi Aku tidak berada di dalam mereka.

Pengetahuan tentang sarwam idam kalu Brahman atau segala yang ada di alam tidak lain dari Brahman, atau Brahman atman aikyam artinya Brahman dan atman itu tunggal adalah suatu pengetahuan yang di dapat secara langsung oleh seorang raja yogin. Pengetahuan itu didapatnya antara lain melalui yoga dan

43

sanadhinya. Dengan demikian orang yang menempuh jalan raja yoga untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi dalam penunggalan dengan Ida Sanghyang Widdhi akan melalui suatu disiplin yang keras, baik beberapa tapa brata yoga ataupun Samadhi. Setiap orang dapat memilih salah satu jalan yang disediakan dengan terlebih dahulu menyesuaikan dengan tingkat kemampuan diri sendiri. Perlu pula diingat bahwa tujuan yang dicari dan akan dicapai adalah sama dan satu yaitu berupa kebahagiaan abadi diri penunggalan dengan Sanghyang Widdhi. Pemgetahuan filsafat sebenarnya dapat memberikan kejelasan bagi setiap orang tentang akekat hidup. Bagi orang-orang yang telah memahami dan menghayati ajaran-ajaran filsafat kerohanian akan mengerti apa yang mesti dikerjakannya, apa yang tidak patut dikerjakannya. Selanjutnya ia akan menyadari bahwa tujuan hidupnya adalah untuyk melepaskan atmanya dari ikatan maya lalu dapat bersatu kembali kepada sangkan paramnya yaitu Sanghyang Widdhi . Untuk dapat mencapai kesadaran tentang hakikat ilmu pengetahuan dan filsafat itu tentu mesti ada usaha belajar yang terus menerus. Dimana dengan ketekunan dan usaha yang tidak kenal henti pada saatnya tentu akan tercapai tujuan yaitu kebebasan yang abadi, bebas dari penjelmaan kembali menunggal dengan Brahman, mencapai moksa.

4.4.3 Rangkuman

Catur narga yoga adalah 4 ajaran yang masing-masing ajaran mempunyai penekanan di dalam mencapai tujuan yang sama yakni kebebasan abadi. Secara bhakti yoga menekankan pada kesujudan kepada Tuhan, cara karma marga menekankan pengabdian yang ikhlas pada etiap kebajikan, cara Jnana menekankan pada kebijaksanaan penguasaan diri dan cara Raja yoga menekankan pada pelaksanaan yoga untuk mencapai alam Samadhi, semuanya harus didukung dengan disiplin dan kesusilaan, barulah tujuan akan tercapai yakni moksa.

44

BUKU MATERI POKOK 4

KEMASYARAKATAN HINDU MKDU4204/2SKS/04

PENDIDIKAN AGAMA HINDU

OLEH: Letkol. Inf I Ketut Bantas Kapten Inf. I Nengah Dana

45

KEMASYARAKATAN HINDU

1. Pengantar Di dalam modul-modul sebelumnya anda telah mempelajari mengenai sejarah, sumber, ruang lingkup, tujuan dan filsafat agama hindu. Semuia itu akan dapat menuntun anda untuk memperjelas pengertian didalam pembahasan berbagai masalah kehidupan kemasyarakatan/Pranata sosial yang terdapat di dalam ajaran Hindu, yang akan anda pelajari pada modul 4 ini. Mempelajari masalah kehidupan kemasyarakatan Hindu tidak dapat dipisahkan dari sumbernya yaitu ajaran yang dianut, karena ajaran itulah yang akan menentukan arah tingkah lakunya yang diwujudkan dalam bentuk kebudayaan, untuk mencapai tujuan hidupnya sebagai umat beragama. Walaupun kehidupan beragama merupakan persoalan individu namun untuk mencapai tujuan hidup beragama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena itu lalu timbul Pranata Sosial dalam berbagai bentuk dan coraknya. Dalam sejarah pertumbuhannya kadang-kadang terjadi penyimpangan dari yang ditetapkan menurut ajaran agama Hindu, sehingga menimbulkan kesan negatif sementara pihak terhadap agama Hindu itu sendiri. Seperti misalnya masalah catur wulan. Yang berubah ke dalam pengertian kasta, kemudian berpengaruh terhadap sistem kekeluargaan (kula, wamsa) dan lembaga Perkawinan Hindu, serta status sosial lainnya. Karena itu di dalam modul ini akan diuraikan berbagai masalah kehidupan masyarakat Hindu sesuai dengan ajaran yang benar menurut Dharma.

2. Tujuan Instruksional Umum Dengan mempelajari modul ini anda akan memperoleh pengertian yang jelas, dan mampu memahami tentang berbagai masalah kehidupan

46

kemasyarakatan sesuai ajaran agam Hindu, sehingga mantap di daloam melaksanakan tugas dan kewajiban.

3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah menyelesaikan modul ini, anda diharapkan: a) Menjelaskan sistem Asrama di dalam agama Hindu.

b) Menjelaskan pengertian Warna yangsebenarnya menurut agama Hindu. c) Menjelaskan secara singkat tentang Parisada Hindu Dharma dan kedudukannya sebagai lembaga tertinggi Agama Hindu. d) Menjelaskan tentang Lembaga Perkawinan Hindu dan kedudukan anggota keluarga dan kewajibannya.

CATUR ASRAMA

4.1.1 Uraian dan contoh

Di dalam modul 2 andatelah mempelajari mengenai dasar dan tujuan hidup menurut agama Hindu yang dipisahkan antara tujuan agama dan tujuan hidup manusia. Tujuan agama adalah Moksartam Jagadhita, yaitu tercapainya kebahagiaan hidup maupun kesejahteraan masyarakat yang disebut Jagadhita, dan tercapainya kedamaian abadi atau kebahagiaan hakiki dan sejati, menunggal dengan asal yang disebut Moksa. Sedangkan tujuan hidup manusia adalah Catur 47

Purusartha, yang mengikat menjadi satu jalinan sebagai dasar hubungan harmonis di dalam kehidupan ini, yaitu Dharma Artha, Kama, dan Moksa. Dasar dan tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusartha itu didasarkan atas tujuan dan segi metafisikanya yaitu di dalam hubungan adanya manusia dengan adanya yang umum universal. Atma (jiwa) itu kekal sifatnya sedangkan badan wadag bersifat sementara. Karena itu jiwa yang kekal sifatnya diharapkan dapat bersatu dengan hakikat kekal yang universal (Paramatha mencapai Moksa). Sedangkan kalau ditinjau dari segi manusianya sendiri yang selalu berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan alam lingkungan, menghadapi persoalan sejak kelahirannya sampai akhir hayatnya, maka agama hindu membagi tingkat masa kehidupan manusia menjadi empat yang disebut Catur Asrama. Adapun empat masa kehidupan atau tingkat hidup itu masing-masing disebut: a) b) c) d) Brahmacari asrama; Grihastha asrama; Wanaprastha asrama; Samyasa asrama (Bhiksuka).

Brahmacari Asrama Kata Brahmacari berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Brahma “ dan cari “ atau “ carya “, Brahma berarti ilmu pengetahuan tentang Ketuhanan atau ilmu pengetahuan kerohanian, sedangkan caria artinya gerak atau tingkah laku. Kata “asrama” berasal dari kata “srama” yang berarti usaha seseorang. Jadi brahmacari asrama berarti gerak atau tingkah laku dalam mengejar ilmu pengetahuan kerohanian atau Ketuhanan. Secara umum brahmacari asrama berarti hidup berguru aguron-guron yaitu masa kehidupan menuntut ilmu pengetahuan suci keagamaan/kerohanian.

48

Yang di maksud dengan ilmu pengetahuan suci keagamaan adalah weda dalam arti luas. Di samping Catur Weda, juga diajarkan enem cabang pengetahuan Weda yang disebut Sadangga Weda terdiri dari: a) b) c) d) e) f) Siksha (fonetika) Wyakarana (tata bahasa) Nirukta (etimologi, ilmu asal kata) Chanda (ilmu irama) Kalpa (peraturan tentang yadya, upacara) Jyotisa (astronomi, ilmu falak)

Sedangga weda merupakan pengetahuan pokok sedangkan pengetahuan lain yang diberikan pula pada brahmacari asrama adalah: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) Itihasa (sejarah) Kala (berbagai macam keselian) Bhuta Widya (demologi) Ayur Weda (ilmu obat-obatan) Tarka Sastra (ilmu logika) Wakswakyam (ilmu dialektika) Ganitam (ilmu hitung) Ksatria Widya (ilmu kemiliteran, taktik perang) Dhanur Widya (ilmu memanah) Nitisastra (ilmu etika dan politik) Atma Widya (ilmu jiwa)

49

l)

Mantra Wijaya (ilmu mantra – mantra)

Nilai – nilai luhur dan mendasar yang dianut dalam Brahmacari Asrama adalah nilai moral dan spiritualnya berupa disiplin berguru dengan peraturanperaturan yang dilakukan secara ketat. Setiap Brahmacarin (siswa kerohanian) yang akan memasuki brahmacari asrama harus diketahui asal-usulnya terlebih dahulu, kemudian baru diterima sebagai siswa. Penerimaan siswa didahului dengan suatu upacara yang disebut Upanayana. Mengenai pelaksanaan upacara upanayana, di dalam kitab Sathapatha Brahmana disebutkan bahwa apabila seorang guru (Acarya) menerima siswa (sisya) maka, pada saat upacara upanayana seorang Acarya meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Sisya sebagai simbul persatuan dan pencurahan seluruh personalitetnya kepada sisya. Setelah itu kepada para sisya diberikan pelajaran yang diawali dengan mantram Sawitri oleh Acarya (Guru). Menurut kitab Grihya Sutra dan Manu Smerti dikatakan bahwa setelah upacara upanayana para sisya diberikan Mekhala yaitu semacam ikat pinggang. Di Bali tradisi seperti itu kita jumpai juga di mana seorang Guru (Nabe) memberikan Yadnyapawitra (pepetan) kepada sisyanya. Selanjutnya setelah upacara itu selesai maka para sisya mengucapkan janji untuk menaati peraturan-peraturan Brahmacari asrama. Kemudian barulah mereka resmi menjadi Dwijati. Dwijati berarti lahir yang kedua kali. Lahir yang pertama kali dari perut Ibu, sedangkan lahir yang kedua lahir dari Dharma (ilmu pengetahuan suci) atau lahir sevara rohaniah. Sebagai seorang Dwijati para sisya harus taat pada peraturan-peraturan yang berlaku baginya dan memahami kewajibannya sebagai sisya (Brahmacarin). Adapun peraturan-peraturan yang yang harus ditaati dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Brahmacarin manyangkut dua hal pokok yaitu:

50

a) b)

Kewajiban yang dilakukan sisya terhadap gurunya Kewajiban dan peraturan sehari-hari yang menyangkut diri sisya itu sendiri.

Mengenai kewajiban ataupun etika sisya terhadap guru (acarya) dijelaskan dalam lontar Silakrama sebagai berikut: “Nihun ta silakramaning aguron-guron, haywa tan akti ring guru, haywa himaniman, haywa tan sakti ring sang guru, haywa tan sadhu tuhwa, haywa nikelana sapatuduhing sang guru, haywa angideki wayangan sang guru, haywa anglungguhi palungguhaning sang guru.

Artinya: Beginilah tata tertib berguru, jangan tidak hormat terhadap guru, jangan mencaci maki, jangan segan kepada guru, jangan tidak percaya dan tulus, jangan menentang perintah guru, jngan menginjak bayangan guru, jangna mendudukintempat duduk guru.

Pengertian kalimat “jangan segan kepada guru” dimaksudkan adalah bahwa sisya harus berani menanyakan sesuatu yang ia belum mengerti ataupun bertanya ilmu kepada gurunya agar sisya menjadi kritis. Sedangkan kalimat “jangan menginjak bayangan guru” dimaksudkan sebagai pernyataan hormat sisya kepada gurunya. Apabila kita perhatikan etiket yang masih tampak dalam masyarakat dewasa ini dalam hal berdiri, berjalan, duduk dan sebagainya maka seorang siswa akan berada di sebelah kiri gurunya; begitu pula kebiasaan dalam kehidupan kemiliteran misalnya, yang lebih tua/senior selalu berada di sebelah kanan yuniornya apalagi terhadap dosen/gurunya. Jadi secara normal secrangsisya harus selalu patuh, hormat, dan menghargai gurunya.

51

Selain peraturan dan kewajiban tersebut masih adfa lagi aturan yang harus dilakukan/ditaati sisya, antara lain: 1) 2) 3) 4) Hidup sederhana; Tidak boleh lengah di hadapan guru; Tidur belakangan dan bangun duluan dari guru; Tidak mau mendengar bila ada orang yang menghina gurunya (pariwada ninda wadi); 5) 6) Menunggu guru (upasita) sebelum pelajaran mulai; Dan sebagainya.

Di dalam kitab Manu Smerti IV.162 disebutkan pula tentang bagaimana sikap seorang sisya terhadap guru dan orang-orang yang patut dihormati, seperti dinyatakan dalam slokanya yang berbunyi sebagai berikut: “Acaryam ca prawaktaram, Pitaram mataram guru, Na himsyad brahmananggasca, Sarwamscaiwa tapaswinah”.

Artinya: Hendaklah ia tidak menentang guru yang menasbihkan, yang menerangkan Weda, ibu bapaknya, tidak juga guru lainnya, para brahmana, dan para pertapa.

Di samping peraturan mangenai kewajiban sisya terhadap guru terdapat pula kewajiban yang berlaku bagi sisya sendiri merupakan pengendalian diri yang harus ditaati, guna mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin. Pengendalian diri itu dilakukan dengan mengamalkan Yama Brata dan Niyama Brata, sebagaimana dinyatakan di dalam kitab Wrihaspati Tattwa sebagai berikut:

52

“Ahimsa brahmacaryanaca, Satyam awyawaharikam, Astainyam iti pancaite, Yama rudrena bhasicah.

Akrodho guru susrusa, Sancam aharalaghawan, Apramadasca pancaite, Niyamah parikirtitah”.

Artinya: Yang disebut Yama Brata ialah Ahimsa, Brahmacarya, Satya, Awyawaharika dan Astainya, ini lima jumlahnya. Yang dinamakan Niyama Brata ialah Akroda, Gurususrusa, Sanca,Aharalaghawa, dan Apramada, ini lima jumlahnya.

a. Panca Yama Brata : 1) Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyiksa segala makhluk. 2) Brahmacarya artinya tekun menuntut ilmu pengetahuan suci dan tidak melakukan hubungan seksual. 3) Satya artinya tidak dusta, baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan. 4) Awyawahara artinya tidak suka bertengkar, tidak berjual beli, dan tidak sombong.

53

5) Astainya artinya tidak mengambil milik orang lain tanpa persetujuan kedua pihak (tidak mencuri), tidak berhasrat jahat kepada orang lain dan terhadap binatang sekalipun.

b. Panca Nyama Brata : 1) Akrodha artinya tidak suka marah karena pemarah itu merupakan sumber derita. 2) Guru susrusa artinya hormat dan dekat dengan guru guna dapat menerima ilmu pengetahuan dengan sempurna, sebagai jalan utama menuju kebahagian (Adhaya) ataupun kebebasan abadi (Nisaya). 3) Sauca artinya bersih lahir batin seorang sisya setiap hari harus membersihkan dirinya secara fisik dan tubuh dibersihkan dengan air, dibersihkan dengan kejujuran, juga dibersihkan dengan ilmu pengetahuan pengendalian nafsu, sedangkan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. 4) Aharalaghawa artinya makanan tidak sembarang makan, makan hanya makanan yang bermanfaat bagi diri tidak boleh melebihi batas kemampuan pencernaan (Atibhojanam). 5) Apramada artinya tidak melakukan/meninggalkan kewajiban yang ditetapkan dalam agama guna mencapai kesempurnaan.

Demikianlah kewajiban-kewajiban atau peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh para sisya (Brahmacari) di dalam masa Brahmacari Asrama atau hidup berguru sebagai dasar pendidikan moral. Apabila moral baik maka penerimaan pelajaran berupa ilmu pengetahuan (Jnana) akan mudah karena seseorang sisya benar-benar patuh dan yakin kepada gurunya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh di Asrama dan moral yang dimiliki sebagai hasil latihan pengendalian diri akan membawa Brahmacari kepada kematangan rohani, menjadi manusia cerdas dan bijaksana.

54

Setelah para sisya lulus mengikuti pelajaran maka dilakukanlah upacara wisudha yang disebut Samawartana, kemudian kepada mereka masing-masing diberi gelar Snataka. Kepada mereka diberikan istirahat selama 3 hari kmudian melanjutkan kegiatannya sehari-hari sebagai snataka, dengan menjalankan Dharma, hidup suci, demikian dinyatakan did alam kitab Manu Smerti IV.119. Dengan berakhirnya masa Brahmacari asrama maka seorang Snataka boleh terus hidup menyendiri (tidak kawin), atau dapat melanjutkan ke tingkat kehidupan berikutnya yaitu hidup berumah-tangga, yang disebut Grihastha Asrama.

Grihastha Asrama

Kata “grihastha” berasal dari bahasa Sanskerta dari kata griha dan stha. “Griha berarti rumah tempat tinggal atau griyo bahasa Jawa, griya bahasa Bali, graha bahasa kawi/Jawa Kuno. “Stha” berarti berdiri, mendirikan. Jadi kata grihastha berarti mendirikn tempat tinggal atau rumah. Menurut Hindu Dharma setiap orang yang berkeluarga harus berpisah dari orang tuanya, bertanggung jawab sendiri. Oleh karena itu pengertian mendirikan tempat tinggal berkaitan dengan membentuk rumah tangga baru. Maka dengan demikian grihastha asrama berarti mengalami masa hidup berumah tangga, dan mulai mengadakan sanggama karma atau hubungan seksual, guna melanjutkan keturunan. Masa grihastha asrama didahului dengan Wiwaha yaitu upacara perkawinan yang merupakan peristiwa penting dan bersifat sakral. Perkawinan bukanlah semata-mata ditujukan untuk pemenuhan kama atau nafsu melainkan untuk memenuhi kewajiban suci (Dharma). Di dalam masa grihasta asrama inilah seorang grihasthin dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna apabila semua ketentuan hidup berkeluarga dipatuhi.

55

Melalui kehidupan grihasta setiap keluarga dapat melaksanakan Tri Rnam secara lengkap. Tri Rnam adalah tiga hutang manusia yang harus dibayar/ditebus dalam tiga kehidupan ini, yaitu : a. Dewa Rnam adalah hutang jiwa (hidup kepada Sanghyang Widhi Wasa). b. Resi Rnam adalah hutang ilmu pengetahuan kepada para Maharesi. c. Pitra Rnam adalah hutang jasa kepada para leluhur dan orang tua.

Ketiga hutang itu dapat ditebus melalui pelaksanaan atau amalan Panca Yadnya, yang telah anda pelajari pada modul dua, dan akan diuraikan secara mendalam pada modul.... Hidup berumah tangga dinyatakan amat penting menurut ajaran agama Hindu, oleh karena seluruh lapisan atau golongan dapat hidup dengan menerima bantuan dari kepala rumah tangga (Grihastha). Hal ini disebutkan di dalam kitab Manawa Dharma Sastra III.77 dan 88 yang berbunyi sebagai berikut : “Yatha wayum samasritya, Wartante sarwa jantawah, Tatha grihastam asrama sritya, Wartante sarwa asramah. Rsayah pitaro dewah, Bhutani atithayastatha, Acasate kutumbibhi Astebhyah karyam wijanata”

Artinya : Semua makhluk menerima bantuan dari Wahyu (kekuatan hidup), maka demikianlah semua golongan dapat hidup dengan menerima bantuan dari kepala rumah tangga.

56

Para Rsi, leluhur, dewa, butha, dan para tamu menerima persembahan dari kepala rumah tangga, karena itu ia yang tahu hukumnya akan memberikan persembahan yang sesuai kepadanya.

Selanjutnya hal yang penting dalam kehidupan grihastha asrama ialah melanjutkan keturunan. Anda tentu mengetahui bahwa setiap orang yang melaksanakan perkawinan dan hidup berumah tangga pasti ingin mempunyai putra (keturunan). Suatu keluarga yang tanpa anak akan terasa sepi. Dalam hal ini agama Hindu mengajarkan bahwa setiap keluarga (grihasthin) yang dikarunia putra hendaknya mendidik putranya menjadi orang yang berguna dalam masyarakat, dan menjadi putra sejati, yaitu seorang putra yang sadhu gunawan (Gagah bijaksana dan berpengetahuan), serta dapat menjadi pelita di tengah-tengah keluarga; demikian dinyatakan dalam kitab Nitisastra. Begitu pula di dalam kitab Mahabharata dikatakan bahwa putra yang saleh akan menyeberangkan orang tuanya dari kesengsaraan, ini sesuai dengan arti “putra” itu sediri. Masih banyak, lagi kewajiban grihasthin yang ditentukan dalam ajaran agama Hindu yang harus dipatuhi. Kemudian dinyatakan pula bahwa melalui kehidupan berumah tangga seseorang akan mencapai kebajikan jagadhita dan moksa.

Wanaprastha Asrama

Kata “Wana” berarti hutan dan kata “prastha” berarti menetap, tinggal. Wanaprastha berarti hidup di hutan, hidup di tempat sunyi. Hal ini dimaksudkan hidup mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan duniawi menyepi diri, guna mencari hikmah hidup yang paling dalam atau bertapa, melakukan pengekangan dan pengendalian nafsu, mencari hakikat kebenaran, serta melakukan hidup suci.

57

Di dalam masa Wanaprastha asrama ini peranan Dharma sebagai bagian dari Catur Purusartha sangat dominan, sedangkan Artha dan Kama mulai dikesampingkan. Walaupun demikian seorang wanaprasthin masih tetap berkewajiban melakukan Panca Maha Yadnya (Panca Karma) secara spiritual. Kitab Agastya Parwa menguraikan secara singkat tentang Wanaprastha ini sebagai berikut : “...ri telas nira grihasthadharma ginawayaken ira wanaprastha ta sira, mur sakeng grama mwang munggwing suci desa, makadi wukir, magawe patapan sthananira, gumawayaken panca karma, mwang malwangi wisaya, mwang mangdesanaken dharma...”.

Artinya : Setelah ia melewati masa hidup berumah tangga, dilakukannya kehidupan Wanaprastha, pergi dari desa dan menetap di tempat yang bersih suci terutama di gunung, membangun tempat bertapa, melakukan Panca Karma, mengurangi nafsu keduniawian serta mengamalkan kewajiban suci agama.

Pada masa Wanaprastha asrama ini seorang wanaprasthin mengajarkan ajaran-ajaran suci kerohanian kepada sisya (murid-muridnya). Sesuai kedudukannya sebagai seorang Dwijati ia harus memiliki sifat-sifat arif yang disebtu Dasa Dharma, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Manu Smerti IV.92 yang berbunyi sebagai berikut :

“Dhritih ksama damo, steyam Sancam indriyanigrahah, Dhirwidya satyam akrodha Dasakam dharma laksanam”.

58

Artinya : Dhriti, ksama, dama, asteyam, Sancam, indriyanigraha, dhira, widya Satyam, akrodha, adalah sepuluh Kewajiban suci yang menjadi prilaku/sifatnya.

Adapun arti dari kesepuluh dharma itu ialah a. Dhriti artinya memiliki keseimbangan jiwa, teguh hat b. Ksama artinya suka mengampuni, tahan uji c. Dama artinya rendah hati, dapat menasihati diri sendiri d. Asteyam artinya tidak curang, tidak berdusta e. Sancam artinya taat pada peraturan suci, kesucian lahir batin. f. Indriyamigraha artinya mampu mengendalikan hawa nafsu g. Dhira artinya berani dan bijaksana h. Widya artinya memiliki pengetahuan yang luas i. Satya artinya jujur, berpegang teguh pada kebenaran j. Akrodha artinya menjauhi atau tidak pemarah.

Kesepuluh kewajiban tersebut harus ditaati dan diamalkan dalam kehidupannya sebagai Wanaprasthin. Dengan memenuhi dan menaati kewajiban itu maka ia akan mencapai kebajikan tertinggi. Dalam kehidupan wanaprastha asrama ini telah diletakkan landasan dharma sebagai dasar mencapai cita-cita Moksa. Selanjutnya di dalam kitab Manu Smerti ini pula (pada bab VI sloka 94) dinyatakan bahwa setelah memenuhi sepuluh kewajiban suci yang bersifat rohaniah seorang wanaprasthin dapat melanjutkan kehidupannya sebagai pertapa pengembara yang disebut Sanyasa asrama.

59

Sanyasa Asrama

Menurut kitab Manu Smerti, Sanyasa merupakan tingkatan hidup kerohanian yang keempat setelah Brahmacari, Grihastha dan Wanaprastha. Dalam kehidupan sebagai Sanyasin mereka tidak terikat oleh duniawi, melainkan hidup bebas, tidak ingin lagi memiliki sesuatu yang dapat mengikat pikirannya dalam mencapai cita-cita terakhir yang disebut Moksa. Seorang Sanyasin telah pasrah dengan segala yang dialaminya pikirannya hanya tertuju kepada Sanghyang Wwidhi Wasa. Dengan pendirian yang teguh jiwanya diserahkan kepada Sang Pecipta untuk mencapai kemanunggalan Atman dengan Paramatman (Hakikat hidup dengan Pencipta). Kehidupan Sanyasin hanya berpedoman pada Dharma dan selalu memusatkan pikiran dan jiwanya pada satu tujuan hidup yang tertinggi yaitu Moksa, bebas dari rasa suka-duka, mencapai kebahagian abadi yang hakiki dan sejati, di mana Atman manunggal dengan Paramatman.

Rangkuman

Manusia di dalam hidupnya menghadapi berbagai persoalan baik bersifat jasmani maupun rohani. Menurut agama Hindu manusia sebagai individu tidak dapat melepaskan diri dari alam lingkungannya atau dalam kehidupan bermasyarakat, namun setiap umat Hindu harus berusaha mencapai tujuan

60

hidupnya yang disebut Catur Purusartha yaitu dharma, artha, kama, dan moksa, atau untuk mencapai tujuan agama “moksartham jagadhirtyaca iti dharmah” (tercapainya kesejahteraan hidup bermasyarakat dan kebahagiaan yang hakiki dan sejati atau moksa). Sehubungan dengan itu agama Hindu membagi membagi tingkat kehidupan manusia ke dalam sistem asrama yang disebut “Catur Asrama”. a. Brahmacari asrama ialah masa hidup berguru atau menuntut ilmu pengetahuan. b. Grihastha asrama ialah masa hidup berumah tangga. c. Wanaprastha asrama ialah masa hidup menjauhkan diri dari hiruk pikuk keduniawian menyepi diri, bertapa dan melakukan hidup suci. d. Sanyasa asrama ialah masa hidup sebagai pertapa pengembara, hanya berpedoman pada Dharma, selalu memusatkan pikiran dan jiwanya pada satu tujuan hidup yang tertinggi yang disebut Moksa, bebas dari rasa suka-duka, mencapai kebahagiaan abadi yang hakiki dan sejati, di mana Atman Manunggal dengan Paramatman.

CATUR WARNA

Di dalam kehidupan masyarakat Hindu, kita sreing mendengar adanya perbedaan status sosial yang didasarkan atas sistem kasta. Sepintas lalu orang akan membenarkan kenyataan itu, tetapi apakah memang demikia menurut ajaran Weda? Ataukah hal itu berkembang sebagai pranata sosial yang brsifat kaku dan ortodoks karena penafsiran yang keliru dari ajaran weda? Inilah yang perlu dijelaskan agar pengertian yang keliru itu dapat diluruskan sesuai dengan yang dimaksudkan dalam kitab suci Hindu. Menurut Bahasa Sansekerta (bahasa yang dipakai dalam kitab suci weda) kata “kasta” (kasta) berarti “kayu”, jadi bukan berarti pembedaan golongan status

61

sosial berdasarkan keturunan seperti pengertian kata “caste” dalam bahasa Portugis (caste = pemisah, tembok atau batas). Dalam ajaran agama Hindu yang dapat kita jumpai adalah penjelasan mengenai warnai, yaitu “catur warna”. Kata “warna” berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “wri” yang artinya “memilih” (lapangan kerja) sesuai dengan bakat dan kualitas yang dimiliki. Kempat warna itu ialah Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Masing-masing warna itu mempunyai tugas kewajiban yang berbeda sesuai dengan guna (bahasa dan sifat) serta karmanya (amal perbuatannya), jadi bukanlah didasarkan atas keturunan semata-mata. Kitab Suci Bhagawad Gita Adhyaya XVIII sloka 41 sampai dengan sloka 44 menjelaskan mengenai catur warna dan fungsinya, yang berbunyi sebagai berikut :

“Brahmana ksatriya wisam Sudranam ca paramtapa Karmani prawibhaktani Swabhawa prabhawair gunaih

Samo damas tapah sancam Ksantir arjawam ewaca Jnanam wijnanam astikyam Brahma karma swabhawajam

Sauryam tejo dhritir daksyam Yuddhe ca’py apalayanam Danam iswarabhawasca Ksatram karma swabhawajam.

62

Krisi gauraksya wanijyam Waisya karma swabhawajam Paricaryatmakam karma Saudrays’pi swabhawajam”

Artinya : Hai Paramtapa, tugas kewajiban brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra telah dibagi-bagikan menurut guna (bakat dan sifat) serta wataknya.

Tenteram, menguasai indria, suka melakukan pantangan agama, suci lahir batin, suka mengampuni, lurus hati, bijaksana berilmu, yakin kepada ajaran Weda adalah karma seorang brahmana menurut bakatnya.

Berani, perkasa, teguh hati, cekatan, tak mundur dalam peperangan, dermawan, berwibawa dalam memimpin, adalah karma ksatriya menurut bakatnya.

Bertani, berternak dan berekonomi adalah karma waisya menurut bakatnya, kegiatan kerja tergolong pelayanan (buruh) adalah karma sudra menurut bakatnya.

Demikianlah

masing-masing

warna

itu

sebagai

golongan

karya

mempunyai tugas kewajiban yang berbeda menurut bakat dan sifat yang lahir dari mereka, tetapi bukan didasarkan atas genealogis secara turun-temurun. Memang kalau ditinjau secara psikologis bakat dan sifat seseorang cenderung menurun karena manusia dibentuk sejak masa prenatal dan besar dalam lingkungannya, sehingga anak cucu seorang, brahmana akan cenderung menjadi brahmana, begitu pula pada keluarga ksatriya, waisya, ataupun sudra. Dari sinilah

63

kemudian timbul istilah brahmana wangsa dengan predikat nama tertentu sebagai identitas keluarganya. Demikian pula bagi ksatriya terdapat ksatriya wangsa dan pada waisya ada waisya wangsa. Brahmana wangsa lebih dihormati daripada wangsa lainnya sebagai akibat dari sifat dan bakat yang melekat pada dirinya, begitu pula terdapat ksatriya wangsa dan waisya wangsa secara berturut-turut memperoleh status secara gradual. Walaupun demikian perkembangannya, selama peraturan dan kewajiban bagi masing-masing warna secara ketat dilaksanakan maka pngertian warna itu masih sesuai menurut weda. Akan tetapi bila kewajibannya dilanggar, sementara mereka mempertahankan status warna itu secara genealogis (wangsa) maka hal ini sangat keliru dan menyimpang dari ajaran Weda. Kitab Manu Smerti I. 157 dan X.65 menyebutkan : “Yatha kastamayo hasti Yatha carmamayo mrigah Yasca wipro nadiyanas Trayaste nama dharakah”.

“Sudro brahmanatam eti Brahmanas caiwa sudratam Ksatriya jatam ewantu Widyad waisyat tatha iwaca”.

Artinya : Bagaikana gajah terbuat dari kayu Bagaikan rusa terbuat dari kulit Demikianlah seorang brahmana yang tidak terpelajar Ketiga-tiganya hanya membawa nama saja. 64

Seorang sudra menjadi brahmana Brahmana menjadi sudra, ketahuilah Bahwa sama halnya dengan keturunan ksatriya, waisya Maupun sudra.

Sebagai butki bahwa seseorang dari keluarga sudra berubah menjadi brahmana atau dari ksatriya menjadi brahmana karena bakat, sifat dan karmanya dapat kita jumpai nama-nama para Resi/Maharesi terkenal pada zaman dahulu, seperti antara lain : 1. Resi SatyaKama Jabala disebutkan dalam Chandogya Umpanisad, berasal dari anak seorang buruh miskin. 2. Resi Kawasa dan Resi Aitareya adalah pengarang kitab Brahmana dan Upanisa berasal dari ibu sudra. 3. Bhagawan Parasara ayah Maharesi Wyasa yang terkenal sebagai penghimpun kitab suci Catur Weda, lahir dari keluarga candala. 4. Resi Wasistha sendiri berasal dari anaks eorang pelacur. 5. Resi Wiswamitra, Dewapi, Sindhudwipa berasal dari keluarga ksatriya.

Kemudian secara lebih tegas dan jelas kitab Maha Bharata III. XL. XXX.21, 25, 26 menyebutkan : “Satyam danam ksama silam Anrisamsya tapo ghrina Drisyanti yatra nagendra Sa brahmana iti smritah”.

“Sudra ta yadbawel laksyam

65

Dwiji tasya na widyate Naiwa sudre baweccudro Brahmana na ca brahmana”

“Yatra itallaksyate sarpa Writtam sa brahmanah smritah Yabra naitat bhawet sarpa Tam sudram iti nirdiset”.

Artinya : Pada siapa jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama, dan pemurah. Dialah hendaknya dipandang brahmana, hai Nagendra.

Bila sifat ini terdapat pada sudra dan tidak pada brahmana, maka sudra itu bukanlah sudra dan brahmana itu bukanlah brahmana.

Pada siapa sifat ini terdapat hai Sarpa; dialah harus dipandang brahmana, dan bila sifat ini tidak terdapat padanya maka dia dipandang sebagai sudra

Dari seluruh uraian yang terdapat pada kitab-kitab atau sastra suci agama Hindu yang telah dikemukakan itu, maka jelaslah bahwa Catur warna merupakan

66

pembagian tugas dalam hidup bermasyarakat sesuai dengan bakat dan sifat serta watak seseorang yang ditunjukkan dalam sikap perbuatannya. Maka di dalam kitab Upadesa kita jumpa pada uraian tentang catur warna itu sebagai berikut : a. Brahmana ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk menyejahterakan masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya, dan dapat memimpin upacara keagamaan (krya widhi yoga dan krya aroana). Contoh : Guru, rohaniwan dan sebagainya. b. Ksatriya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan, cinta tanah air, berbakat memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, negara dan umat manusia berdasarkan dharma. Contoh : pimpinan negara, angkatan bersenjata dan sebagainya. c. Waisya ialah golongan karya yang setiap orang memiliki watak tekun, terampil, hemat, cermat, memiliki keahlian dan bakat kelahiran untuk menyelenggarakan kemakmuran masyarakat, negara dan kemanusiaan. Contoh : Usahawan, ekonom dan sebagainya. d. Sudra ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan, dan bakat kelahiran sebagai pelaku utama dalam tugastugas memakmurkan masyarakat, negara dan umat manusia atas petunjuk golongan karya lainnya. Contoh : pekerja kasar, buruh, dan sebagainya.

Keempat golongan karya itu saling memerlukan dalam menunaikan tugas atau swadharmanya. Mereka besar di dalam tugas kewajibannya masing-masing (menurut swadarmanya/karena sesungguhnya setiap manusia mempunyai hakikat yang sama). Jadi di hadapan Sanghyang Widhi manusia itu sama, keempat warna itu pun sama. Mereka akan dihargai dan dihormati kalau memiliki sifat, sikap dan perbuatan yang mulia. Kitab Sarasamuscaya sloka 161 mengatakan :

67

“Yadyapi brahmana tuha tuwi, yan dussila, tan yogya katwangana, mon sudra tuwi, dharmika susila, pujan katwangana jugea ling Sanghyang aji.

Artinya : Meski keturunan brahmana yang berusia lanjut, jika perilakunya tidak susila, tidak patut disegani. Walaupun keturunan sudra, jika perilakunya berpegang pada Dharma dan kesusilaan, patutlah ia dihormati dan disegani. Demikian kata sastra suci

Selanjutnya pada sloka 63 dari kitab Sarasamuscaya disebutkan perilaku yang patut dilaksanakan oleh keempat golongan atau warna itu, yang dsebut Catur Prawri yaitu : a. Arjawa berarti jujur dan berterus terang b. Anrisangsya artinya tidak mementingkan diri sendiri c. Dama artinya dapat menasihati dirinya sendiri. d. Indriyanigraha artinya dapat mengendalikan hawa nafsu, itulah perilaku yang harus dibiasakan oleh catur warna.

RANGKUMAN

Catur warna adalah pembagian kewajiban dalam berkarya (swadharma) dalam kehidupan masyarakat Hindu sesuai dengan guna (bakat dan sifat) serta

68

karma (amal perbuatannya) menjadi empat golongan karya, yaitu Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Brahmana ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk menyejahterakan masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya, dan dapat memimpin upacara keagamaan (kryawidhi yoga dan krya arcani). Ksatriya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki

kewibawaan, cinta tanah air, berbakat memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, negara, umat manusia berdasarkan dharmanya. Waisya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak tekun, terampil, hemat, dan cermat memiliki keahlian dan bakat kelahiran untuk menyelenggarakan kemkmuran masyarakat negara, dan kemanusiaan. Sudra ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan dan bakat kelahiran sebagai pelaku utama dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat, negara dan umat manusia atas petunjuk golongan karya lainnya. Keempat warna itu statusnya sama sedangkan penghormatan kepadanya tergantung dari sifat dan sikap perbuatannya. Seseorang brahmana dalam arti genealogis dapat berubah menjadi ksatriya, waisya, atau sudra tergantung dari bakat dan sifat serta perilaku hidupnya.

LEMBAGA SOSIAL

Dalam kehidupan beragama Hindu anda akan menjumpai berbagai lembaga sosial, baik berupa lembaga adat, lembaga pendidikan, dan sebagainya. Lembaga dibentuk sebagai upaya menjaga harmonisasi antarhubungan kehidupan

69

manusiawi di tengah masyarakat, atau dengan kata lain untuk megatur dan menjagab tertib kehidupan masyarakat dalam pengamalan ajaran agama Hindu. Lembaga-lembaga sosial itu memperoleh pengakuan kuat dari anggota masyarakat sehingga semua aturan yang berlaku pada kelembagaan itu benarbenar dipatuhi. Lembaga itu dibentuk bersama secara musyawarah mufakat berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianutnya. Lembaga tersebut memegang peranan penting dalam rangka menjaga stabilitasi dan sosialisasi kehidupan masyarakat, mengingat tata cara pengamalan ajaran agama Hindu berbeda-beda atau beraneka ragam menurut desa (tempat), kala (waktu), patra (kondisi lokal), dan hal ini dibenarkan menurut hukum agama Hindu (Manu Smerti VII.10). Misalnya lembaga adat di Bali akan berbeda dengan lembaga adat di Jawa, walaupun hakikat tujuan dan landasan filosofinya (tattwa) sama. Begitu pula mengenai lembaga pendidikan yang secara sepintas telah disinggung dalam uraian catur warna, khususnya dalam uraian brahmacari asrama. Adapun lembaga lainnya yang perlu diketahui dan memegang peranan penting dalam kehidupan beragama Hindu ialah lembaga “Parisada”. Dalam agama Hindu lembaga Parisada merupakan badan legislatif yaitu Majelis Ulama atau Majelis Wipra yang menurut kitab Manu Smerti lembaga ini berfungsi mengatasi pertikaian-pertikaian bila ada dua peraturan yang bertentangan satu dengan yang lain. Lembaga ini juga diterapkan ada zaman Majapahit. Jadi kalau dibandingkan dengan tata negara modern Parisada adalah lembaga legislatif agama Hindu yang membantu Raja (Pemerintah) dalam menemukan kebenaran kaidah-kaidah yang bertentangan secara intern. Selain itu Parisada dapat menentukan tentang apa yang harus dilakukan berkenaan dengan pelaksanaan keagamaan bila untuk sesuatu hal tertentu tidak terdapat ayat-ayat yang mengaturnya. Sehubungan dengan itu maka di dalam Kitab Manu Smerti XII. 111 dan 112 disebutkan mengenai keanggotaan dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi anggota Parisada. Keanggotaan Parisada minimal sepuluh orang

70

yang terdiri dari para ahli Weda yang tidak diragukan kemampuannya baik dari segi pengetahuan maupun psiko-spiritualnya. Mengenai lembaga Parisada yang ada di Negara Republik Indonesia disebut “Parisada Hindu Dharma” sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu Parisada Hindu Dharma secara resmi telah berdiri pada tanggal 23 Februari 1959. Sebelum bernama Parisada Hindu Dharma Majelis ini bernama Parisada Dharma Hindu Bali. Lembaga Parisada ini bertugas mengatur, memupuk, mengembangkan dan membina kehidupan umat yang memeluk agama Hindu dalam lapangan keagamaan menurut ajaran sastra-sastranya. Lembaga Parisada Hindu Dharma adalah satu-satunya majelis tertinggi agama Hindu di Indonesia, dan untuk tiap daerah yang banyak umat Hindunya didirikan Parisada Hindu Dharma Tingkat Propinsi, Kabupaten/Kotamadya, sampai tingkat kecamatan. Apabila di suatu daerah terjadi suatu masalah menyangkut bidang keagamaan Hindu, maka Parisada Hindu Dharma setempat berkewajiban menangani masalah tersebut. Kalau tidak teratasi barulah diteruskan ke Parisada tingkat yang lebih tinggi. Misalnya masalah tempat ibadah (Pura), kuburan, kremasi, dan masalah-masalah lain yang menyangkut bidang keagamaan.

RANGKUMAN

Lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat Hindu dibentuk berdasarkan musyawarah mufakat berdasarkan ajaran agama Hindu. Lembaga tersebut pada umumnya bertujuan untuk menjaga stabilisasi dan dinamisasi kehidupan masyarakat, guna mencapai tujuan hidup menurut agama Hindu. Parisada Hindu Dharma adalah majelis tertinggi agama Hindu yang bertugas kewajiban mengatur, memupuk, mengembangan dan membina kehidupan umat yang beragama Hindu berdasarkan ajaran sastra-sastranya.

71

Lembaga Pendidikan Hindu menganut sistem asrama.

KULA DHARMA

Anda tentu sering mendengar istilah atau kata kula maupun kata dharma dalam buku-buku agama Hindu. Kata kula dapat diterjemahkan keluarga atau family, walaupun istilah family yang digunakan oleh orang-orang Barat berbeda pengertian dengan keluarga/kula dalam masyarakat Hindu kalau ditinjau dari segi tujuannya. Misalnya E.W. Burgers dan H.J. Locke dalam bukunya “The Family” mengatakan bahwa famili adalah kelompok orang-orang yang mempunyai hubungan perkawinan, darah keturunan, adopsi, dan lain-lain untuk kebudayaan mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa tujuan famili itu adalah untuk mengesahkan atau membenarkan adanya hubungan seks berdasarkan hukum. Sedangkan dalam masyarakat Hindu, untuk mewujudkan lahirnya suatu famili harus terlebih dahulu melakukan Agni homa (mendirikan Sanggar Kawitan bagi orang Bali). Sebelum melakukan agni homa walaupun seseorang telah kawin masih tetap dianggap sebagai anggota keluarga orang tuanya; jadi belum berdiri sendiri. Di dalam agama Hindu tujuan berkeluarga adalah untuk melanjutkan garis keturunan sehingga terpenuhi segala tugas dan kewajiban kemanusiaan dengan sempurna di mana kehadiran seseorang putra dianggap sebagai penyelamat bagi orang tuanya. Kata “Putra” itu sendiri berarti penolong atau penuntun dari kesengsaraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah pengertian dan tujuan kula atau famili dalam masyarakat Hindu. Kemudian kata “dharma” adalah seperti anda terpelajari pada modul 2, yang berarti kewajiban. Jadi kula dharma berarti kewajiban famili dalam kehidupan berkeluarga berdasarkan ajaran agama Hindu.

72

Sehubungan dengan itu berikut ini anda dapat ikuti uraian mengenai perkawinan Hindu (wiwaha), kedudukan/kewajiban wanita, suami, istri, anak dan orang tua dalam famili.

Perkawinan

Menurut ajaran agama Hindu perkawinan itu suci sifatnya karena hal itu merupakan dharma atau kewajiban suci yang dinyatakan di dalam Weda. Kawin dan mempunyai anak adalah merupakan perintah agama yang dimuliakan, sehingga setiap perkawinan harus dilaksanakan dengan keyakinan sebagai bagian dari pengabdian kepada Sanghyang Widhi Wasa. Setiap perkawinan harus melalui upacara keagamaan yang disebut ‘wiwaha samskara” dan barulah mereka diakui sebagai seorang Grihastin (Grihastha Asrama). Mengenai cara memperoleh istri disebutkan dalam kitab Manu Smerti Adhyaya III Sloka 21 sebagai berikut : Brahmo daiwastatha iwarsah Prajapatyastathasurah Gandharwo raksascaiwa Paisacasca astamo ‘dharmah’.

Artinya : Ada delapan macam cara perkawinan ialah Brahma wiwaha, Daiwa wiwaha, arsa wiwaha, Prajapatya wiwaha, gandharwa wiwaha, asura, Wiwaha, raksasa wiwaha dan Paisaca wiwaha.

Kedelapan cara itu digolongkan lagi ke dalam dua golongan yaitu yang dibenarkan dan yang disalahkan atau tidak boleh dilakukan. Golongan yang

73

dibenarkan ialah Brahma Wiwaha, Daiwa Wiwaha, Arsa Wiwaha, Prajapatya Wiwaha, dan Gandharwa Wiwaha, dan Asura Wiwaha. Sedangkan yang disalahkan adalah Raksasa Wiwaha, dan Paisaca Wiwaha. Adapun yang dimaksudkan dengan cara-cara perkawinan itu dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Brahma wiwaha ialah suatu cara terhormat yang dilakukan oleh pihak keluarga wanita dengan mengawinkan anaknya kepada seorang pria yang berpendidikan dan berbudi luhur. 2. Daiwa wiwaha ialah memperoleh istri dengan jalan menerima seorang gadis dari suatu keluarga yang menyerahkan anaknya sebagai pemberian karena jasa yang dilakukan oleh pemuda itu. Biasanya pemberian ini dilakukan kepada pendeta yang berjasa menyelesaikan upacara di rumah keluarga wanita. Pemberian ini disebut “kanya dana”. 3. Arsa wiwaha ialah suatu perkawinan yang terjadi atas kehendak timbal-balik kedua belah pihak, baik pihak wanita maupun pihak pria. 4. Prajapatya wiwaha ialah suatu perkawinan yang dilakukan dengan cara pihak wanita melepaskan anak gadisnya untuk dikawinkan dengan pemuda yang disetujuinya, dengan diiringi doa restu. 5. Gandharwa wiwaha ialah suatu bentuk perkawinan berdasarkan cinta di mana pihak orang tua tidak ikut campur walaupun orang tuanya mengetahui sebelumnya hubungan cinta mereka. Di Bali perkawinan semacam ini disebut ngerorod, di Lombok disebut merangka di Sulawesi Selatan disebut selarian. 6. Asura wiwaha ialaha suatu perkawinan dengan syarat pihak pria harus memberikan sejumlah uang yang diminta oleh pihak wanita. 7. Raksasa wiwaha ialah suatu bentuk perkawinan yang dilakukan secara paksa oleh pria terhadap wanita. Di Bali perkawinan semacam ini disebut melegandang dan dianggap tidak terpuji sehingga dilarang oleh adat. 8. Paisaca wiwaha ialah suatu bentuk perkawinan yang dilakukan dengan memaksa wanita secara halus, misalnya dengan memberi obat tidur, minuman

74

yang memabukkan atau dengan kelicikan sehingga wanita itu dapat diperdayakan. Perkawinan semacam ini sangat dilarang dan dinyatakan sebagai dosa besar.

Di dalam agama Hindu ditentukan pula mengenai wanita yang tidak boleh dikawini, yaitu antara lain : 1. Wanita yang melalaikan dharma 2. Wanita yang tidak mengakui Weda 3. Wanita cacat rohani 4. Wanita cacat jasmani seperti berpenyakit menular (lepra, epilepsy, tidak pernah menstruasi, dan sebagainya). 5. Wanita yang mempunyai nama jelek 6. Wanita yang lama disembunyikan dan dirahasiakan 7. Wanita yang telah dipertunangkan 8. Wanita yang kesuciannya ternoda 9. Wanita yang mengandung 10. Wanita dari hubungan genealogis secara vertikal (ibu kandung, ibu tiri, saudara perempuan dari ayah atau ibu, anak, dan sebagainya). 11. Wanita dari hubungan genealogis secara horisontal (kakak kandung, kakak riti, dan sebagainya).

Mengenai perkawinan antarwangsa atau warna dibenarkan menrutu ajaran agama Hindu walaupun masih mendapatkan tantangan dan hambatan dari masayrakat Hindu ortodoks. Untuk itu baik pemerintah India maupun Parisada Hindu Dharma pusat telah mengeluarkan keputusan yang membenarkan dan membolehkam perkawinan antar waysa atau warna.

75

Suatu perkawinan dinyatakan sah apabila telah diresmikan melalui Sakramen (pembersihan) yang disebut “wiwaha samskara”. Upacara perkawinan atau wiwaha samskara ini pelaksanaannya tidak sama untuk semua daerah. Perbedaan itu diakui sah sesuai prinsip desa-kala-patra dan desa-mawa-cara (disesuaikan dengan tempat, waktu, keadaan dan tradisi tiap-tiap daerah). Namun demikian ada hal-hal yang umum yang menjadikan ikatan perkawinan itu abadi, yaitu : 1. Persaksian atau perwalian 2. Dana (maskawin) 3. Wiwaha homa (upacara perkawinan) disertai mantra-mantra Weda Bali upacara ini disebut widhi widhana.

Kedudukan Wanita

Kedudukan wanita dalam masyarakat Hindu pada dasarnya mendapat tempat yang sejajar dengan kaum pria, hanya saja hal ini tidak hanya dikenal karena jumlah wanita yang terkenal atau populer dalam masyarakat Hindu tidak sebanyak kaum pria. Sejak zaman Weda kedudukan wanita dan pria itu sejajar hal itu dapat kita lihat dalam kitab suci Reg Weda yang menyatakan bahwa istri menempati atau menduduki tempat yang sama dalam setiap Yadnya begitu pula dalam rumah tangga maka mereka disebut dampati. Disebut pula bahwa Wiswawaca wanita dari keluarga Atri sangat terkenal sebagai filsuf (brahma wadini), mahir dalam mantra-mantra dan merupakan salah seorang penggubah lagu pujaan yang terdapat dalam kitab Reg Weda. Namun demikian diakui pula dalam Kitab Satapata Brahmana bahwa wanita memiliki sifat yang lemah-lembut dan lebih emosional dari kaum pada umumnya. Di dalam kitab Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) kita jumpai namanama wanita terkenal seperti Dewi Sita yang teguh iman, Dropadi, dan lain-lain.

76

Begitu pula dalam ktab Anuasana Parwa dikatakan Bhisma telah menjelaskan kepada Yudhistira agar terhadap wanita diberikan pujian dengan penuh kecintaan. Lebih tegas lagi dinyatakan dalam kitab Santi Parwa bahwa apabila seseorang raja gugur di medan prang maka anak perempuannya dapat dinobatkan sebagai Ratu (Raja Putri) apaila raja itu tidak mempunyai anak laki-laki, dan wanita tidak boleh dipaksa kawin dengan pria bukan pilihannya. Setelah anda mempelajari uraian di depan mengenai perkawinan tentu anda akan menanyakan bagaimana suatu perceraian bisa terjadi menurut ajaran Hindu. Pertanyaan seperti itu memang agak sulit dijawab karena pada dasarnya agama Hindu tidak menghendaki suatu perceraian itu terjadi. Hal ini dapat kita analisis berdasarkan ketatnya syarat-syarat wanita yang boleh dikawini. Namun demikian bukan berarti perceraian itu tidak boleh sama sekali melainkan kalau ada hal-hal luar biasa di luar kemampuannya maka perceraian dapat dilakukan dan pada umumnya tidak rujuk lagi. Perceraian itu dapat terjadi karena ; 1. Istri tidak bisa punya anak sedangkan suami istri menghendaki adanya keturunan. 2. Suami meninggalkan istri lebih dua tahun tanpa berita. 3. Suami meninggal dunia atau menjadi pertapa sedangkan istri menghendaki kawin lagi. 4. Suami cacat yang sebelumnya tidak diketahui oleh istri, misalnya impoten. 5. Cacat istri yang baru diketahui setelah kawin dan sebelumnya dirahasiakan, misalnya berpenyakit menular. 6. Suami mempunyai tabiat buruk yang membahayakan nyawa istrinya. 7. Salah satu meninggalkan dharmanya sebagai istri atau suami dan tidak dapat diluruskan kembali.

Dengan dibenarkan adanya perceraian maka perkawinan jnda juga dibenarkan tetapi bukan kawin kembali dengan bekas suaminya. Lebih lanjut di 77

dalam kitab Weda Smerti III, 55-57 dapat dijumpai tentang kedudukan wanita, sebagai berikut :

“Pitribhir bhratribiscaitah patibhir dewaraistatha pujya bhuksayita wyasca bahu kalyan nipsublih

yatra naryastu pujyante ramante tatra dewatah yatraitastu na pujyante sarwas tatra phalah kriyah

sosanti jamoyo yatra winasya tyacu tat kulam na sosanti tu yatraita wardhate taddhi sarwada” Artinya : Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suaminya dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan.

Di mana wanita dihormati, di sanalah dewata merasa senang.

Tetapi bila mereka tidak dihormati maka tiada kerja yang mendatangkan pahala.

78

Di mana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur. Tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.

Demikianlah kedudukan wanita dalam masyarakat Hindu yang mendapat penghormatan dan kedudukan yang sejajar dengan kaum pria, tanpa mengurangi swadarmanya sebagai wanita secara kodrati.

Kedudukan dan Kewajiban Suami

Menurut kitab Weda Smerti dan Mahabharata bahwa suami istri dalam rumah tangga harus hidup untuk dharma. Segala yadnya yang harus dilakukan sebagai kewajiban harus dikerjakan bersama-sama dan dengan istrinya. Ini menunjukkan bahwa kedudukan suami sederajat dengan istrinya. Namun demikian dalam swadharmanya (secara krodati) peranan suami dalam hal tertentu lebih menonjol. Suami adalah sebagai bapak dan sebagai raja karena itu ia berkedudukan sebagai kepala keluarga yang harus dihormati. Di samping itu suami mempunyai kewajiban yang berat pula, sebagaimana dinyatakan dalam Weda Smerti IX sloka 3 – 7,11 74, 101 dan 102 yang intinya sebagai berikut : 1. Seorang suami harus melidungi istri dan anak-anaknya, serta mengawinkan anaknya bila saatnya tiba. 2. Ia harus menyerahkan harta dan mempercayakan kepada istri untuk mengurus rumah tangga. 3. Menjamin hidup dengan memberi nafkah istrinya bila karena sesuatu urusan penting (tugas) harus meninggalkan istri keluar daerah.

79

4. Memelihara hubungan kesuciannya dengan istri saling mempercayai sehingga terjamin keharmonisan rumah tangga. 5. Menggauli istri, dan berusaha menjaga kelestarian rumah tangga dengan jalan tidak melanggar kesuciannya masing-masing.

Keharmonisan rumah tangga (suami-istri) digambarkan oleh Yajnawalkya (kulit kerang yang tak boleh berpisah satu sama lain, karena perpisahan itu akan mengakibatkan kehancuran.

Kedudukan dan Kewajiban Istri

Kehadiran seorang istri adalah merupakan warga baru dalam keluarga laki-laki, karena itu ia harus cepat dan pandai menyesuaikan diri. Kalau tidak demikian maka suatu perkawinan tidak akan ada artinya. Di samping itu kehadiran seorang istri dikatakan sebagai penyejuk yang menghilangkan kesepian rumah tangga. Dengan demikian maka istri harus memegang peranan dalam membina rumah tangga sehingga kedudukannya amat penting, tanpa istri pengabdian suami takkan sempurna dan tujuan hidup (purusartha) sulit tercapai. Di dalam Weda telah ditentukan kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang istri, yaitu : 1. Seorang istri tidak boleh bertindak sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan suami. 2. Ia harus pandai membawa diri, mengatur dan memelihara rumah tangga harmonis. 3. Ia harus setia kepada suami dengan berusaha tidak melanggar hukum suci. 4. Seorang istri harus selalu mengendalikan pikiran, perkataan, dan tindakannya dengan selalu mengingat Sanghyang Widhi Wasa, merenungkan kebenaran

80

dan mengingat suaminya. Istri yang demikian kelak setelah mati ia akan mencapai sorga. 5. Seorang istri wajib menegur atau menasihati suaminya bila ia berbuat keliru yang mengakibatkan dosa dan kehancuran rumah tangga.

Demikianlah kewajiban istri di samping kedudukannya sebagai wanita seperti yang telah diuraikan.

Kedudukan Anak Laki-laki

Kelahiran seorang anak laki-laki di dalam keluarga Hindu merupakan kebahagian, karena mempunyai anak laki-laki adalah tujuan utama dari setiap keluarga Hindu. Anak laki-laki disebut putra dan dipandang sebagai juru selamat nenek moyangnya yang telah meningga, menyelamatkannya dari neraka. Demikian dijelaskan dalam kitab Adiparwa. Walaupun memperoleh anak laki-laki merupakan anugerah utama bagi keluarga, tetapi tentang kedudukan anak laki-laki berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Dikatakan bahwa yang berhak melaksanakan upacara Sraddha (upacara ulang tahun kematian nenek moyangnya) adalah anak laki-laki yang sulung. Putra sulung itulah yang dapat menebus hutang ayahnya yang disebut Pitra Rinam. Apabila ayahnya meninggal maka saudara-saudaranya dapat hidup bawah asuhannya. Ia harus membimbing adik-adiknya, memberi pandangan dan pertimbangan bila diminta. Jadi keselamatan keluarga tergantung dari baik buruknya sifat anak laki-laki tertua itu. Maka kedudukan putra sulung menempati posisi yang utama dalam suatu keluarga Hindu.

81

Kedudukan Anak Perempuan

Berbeda halnya dengan kedudukan anak laki-laki maka kedudukan perempuan dianggap sebagai kesayangan. Orang tua tidak boleh bertengkar dengan anaknya yang perempuan karena dianggap sebagai tempat dewi kemakmuran bertahta. Apabila dalam satu keluarga tidak terdapat anak laki-laki maka orang tuanya berhak menunjuk anak perempuannya untuk melakukan upacara sraddha, dan selanjutnya bertindak sebagai ahli waris yang berhak mewarisi semua harta peninggalan orang tuanya. Sedangkan bila mempunyai saudara laki-laki maka ia berhak pula mewarisi setengah dari yang diterima oleh laki-laki. Jadi dalam keluarga Hindu kedudukan anak perempuan mendapat tempat yang istimewa pula.

Kedudukan orang tua dalam keluarga

Di samping

kedudukannya sebagai seorang suami atau seorang istri

seperti telah diuraikan di depan namun secara umum orang tua mempunyai kedudukan sebagia pelindung keluarga (Pitri), karena itu seseorang anak berhutang hidup kepada kedua orang tuanya. Selain itu orang tua juga dianggap sebagai guru, karena itu mereka dihormati. Di dalam agama Hindu dikenal ajaran Catur Guru yang harus dihormati dan ditaati segala perintahnya, yaitu : 1. Guru Swadhyaya adalah guru yang memberi kehidupan dan mengatur alam semesta, yaitu Sanghyang Widhi Wasa. 2. Guru Wisesa adalah guru yang mengatur kemakmuran negara, yaitu Pemerintah. 82

3. Guru Pengajian adalah guru yang mengajar ilmu pengetahuan, yaitu Nabe/guru spiritual. 4. Guru Rupaka adalah guru yang memberikan hidup atau yang

membesarkannya sejak kecil, yaitu kedua orang tuanya.

Bagi keluarga Hindu rasa bakti kepada orang tua dilakukan dengan penuh kesadaran tanpa memandang status sosial orang tuanya, karena orang tua itu sesungguhnya adalah guru dan mediator penciptaan manusia. Dalam hal ini suatu keluarga/rumah tangga/grihastha merupakan tempat pemeliharaan keharmonisan hidup atau sebagai tempat seseorang untuk memperoleh kesempurnaan hidupnya, atau dengan kata iain tempat mencapai purusartha. Dalam keluarga itulah dharma, artha dan kama dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian maka jalan menuju moksa akan terbuka bagi setiap keluarga Hindu, apabila kula dharma atau kewajiban keluarga telah dapat dilaksanakan dengan penuh disiplin.

83

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful