P. 1
Kesalahan Dalam Pemakaian Kata

Kesalahan Dalam Pemakaian Kata

1.5

|Views: 4,723|Likes:
Published by Dahlia Gani
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan Republik Indonesia. Namun demikian, dalam penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun terulis masih dijumpai banyak permasalahan. Kita sebut ini sebagai problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Salah satu problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah kesalahan dalam pemilihan atau pemakaian kata, baik dalam sebuah karangan ataupun dalam percakapan sehari-hari.
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan Republik Indonesia. Namun demikian, dalam penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun terulis masih dijumpai banyak permasalahan. Kita sebut ini sebagai problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Salah satu problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah kesalahan dalam pemilihan atau pemakaian kata, baik dalam sebuah karangan ataupun dalam percakapan sehari-hari.

More info:

Published by: Dahlia Gani on Feb 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2014

pdf

text

original

Problematika dalam Penerapan Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah

–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– BY DAHLIA GANI UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 16 Februari 2009 PENDAHULUAN Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan Republik Indonesia. Peranan penting bahasa Indonesia, antara lain bersumber pada ikrar ketiga Sumpah pemuda 1928 yang berbunyi :” kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dan pada undang-undang dasar kita yang di dalamnya tercantum pada pasal khusus yang menyatakan bahwa “ bahasa Negara ialah bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya, sedangkan bahasa Indonesia yang benar ialah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Namun demikian, dalam penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun terulis masih dijumpai banyak permasalahan. Kita sebut ini sebagai problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Salah satu problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah kesalahan dalam pemilihan atau pemakaian kata, baik dalam sebuah karangan ataupun dalam percakapan sehari-hari. Kata merupakan unsur yang paling penting di dalam bahasa. Tanpa kata mungkin tidak ada bahasa sebab kata itulah yang merupakan perwujudan bahasa. Setiap kata mengandung konsep makna dan mempunyai peran di dalam pelaksanaan bahasa. Konsep dan peran apa yang dimiliki tergantung dari jenis kata-kata itu, serta penggunaannya di dalam kalimat. Apalagi sebuah kata mengemban peran yang

penting dalam sebuah kalimat atau tuturan karena arti atau makna sebuah kalimat dapat dibangun dengan pemilihan kata yang tepat. Apabila terjadi kesalahan pemilihan kata maka akan terjadi pergeseran arti atau makna kalimat. Bagi pembaca, kesalahan tersebut akan menimbulkan salah paham atas arti atau makna yang dimaksudkan penulis. Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan, terutama melalui tulisan, merupakan suatu pekerjaan yang cukup sulit. Bahkan menganggapnya bagian tersulit dalam proses penulisan. Jadi, sangat perlu kita mengetahui bagaimana penggunaan sebuah kata dan mengetahui kesalahan-kesalahan apa saja yang sering kita hadapi. Kesalahan pemakaian kata yang terkait dengan bidang tersebut antara lain kesalahan pemakaian kata penghubung, kesalahan penggunaan kata yang mubazir, kesalahan penggunaan bentuk kata, penyengauan bunyi awal kata dasar dan masih banyak lagi kesalahan pemakaian kata yang sering kita jumpai. PEMBAHASAN Dalam membahas kesalahan dalam pemakaian kata. Sebelumnya, perlu kita ketahui pengertian kata itu sendiri. Menurut Akhadiah (1995 : 84), bahwa kata merupakan lambang obyek, pengertian atau konsep. Hubungan suatu kata sebagai lambang dengan obyek, konsep atau makna yang didukung dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambaran yang ditimbulkan oleh kata tersebut (referensi)

Kata (simbol)

benda/konsep yang didukung (referen)

Kata adalah apa yang kita ucapkan atau kita dengar. Kalau kita mendengar atau membaca suatu kata, dalam benak kita timbul gambaran. Bagi kita gambaran itu merupakan makna kata tersebut. Menurut Chaer (2006 : 86), dilihat dari konsep makna yang dimiliki atau peran yang harus dilakukan, kata-kata dibedakan atas beberapa jenis : 1. Kata benda 2. Kata ganti 3. Kata kerja 4. Kata sifat 5. Kata sapaan 6. Kata penunjuk 7. Kata bilangan 8. Kata penyangkal 9. Kata depan 10. Kata penghubung 13. 14. 15. 11. Kata keterangan 12. Kata tanya Kata seru Kata sandang Kata partikel

Kata – kata tersebut memiliki kaidah penggunaannya. Dari kelompok kata tersebut, sering terJadi kesalahan dalam penggunaannya, antara lain kesalahan pemakaian kata penghubung, kesalahan penggunaan kata yang mubazir, kesalahan penggunaan bentuk kata, dan penyengauan bunyi awal kata dasar Kesalahan dalam Penggunaan Kata Penghubung Ungkapan atau kata penghubung dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Ungkapan atau kata penghubung intrakalimat adalah kata dalam sebuah kalimat yang berfungsi menghubungkan unsur-unsur kalimat. Kata penghubung intrakalimat tidak pernah digunakan pada awal sebuah kalimat, kecuali jika kata itu digunakan pada anak kalimat yang mendahului induk kalimat, seperti karena. Oleh karena itu, kata-kata yang tergolong ke dalam ungkapan atau kata penghubung itu tidak pernah atau tidak boleh ditulis dengan huruf kapital. Contoh kata penghubung itu adalah: ...dan ... … yang…. ...bahwa...agar.... Sehingga … …karena....

Selain itu, dalam bahasa Indonesia terdapat kata penghubung intrakalimat yang penulisannya selalui didahului oleh tanda koma, seperti ... sedangkan... dan ....tetapi... Ungkapan penghubung antarkalimat berfungsi menghubungkan sebuah kalimat dengan kalimat lain. Oleh karena itu, kata/ungkapan penghubung jenis ini harus ditulis dengan huruf kapital dan diiringi tanda koma. Posisinya dalam kalimat selalu berada pada awal kalimat yang dihubungkan dengan kalimat sebelumnya. Kata penghubung jenis ini, antara lain sebagai berikut: .... Akan tetapi,... .... Berkaitan dengan hal itu,... .... Meskipun demikian,... .... Oleh karena itu,... .... Sebaliknya, ... .... Sehubungan dengan hal itu,... .... Sesuai dengan itu,... .... Sesuai dengan uraian tersebut,... .... Walaupun demikian, ... Para wartawan dalam menulis di media cetak tidak jarang mengggunakan kata penghubung atau konjungsi ini secara tidak tepat. Ketidaktepatan menggunaaan konjungsi dapat dilihat pada penggunaan berikut. 1. Karena Binuang dan sekitarnya, seperti Sungkai, Pengaron dan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar merupakan kantong produksi pisang Kalsel dengan pangsa pasarnya selain ke Banjarmasin (Banjarmasin post, 15 April 2008) 2. Meski hari ini, Rabu masih jadwal kampanye, Namun KPUD Tanah Laut menetapkan agenda di hari terakhir ini dengan agenda istigosah oleh masingmasing pasangan calon (Radar, 15 April 2008) 3. Meski namanya kembali terserat dalam kasus pemberian izin pengelolaan hutan di Kabupaten Pelalawan, Riau, Menteri Kehutan malam sambut membantah terlibat (Metro, 15 April 2008)

Penggunaan konjungsi karena kurang tepat sebagaimana di jelaskan sebelumnya, bahwa Konjungsi karena hanya berfungsi sebagai penggubung intrakalimat yang tidak pernah digunakan pada awal kalimat dan bukan dengan huruf kapital. Oleh karena itu, untuk membuat jadi gramatikal, konjungsi karena harus dihilangkan. Penggunaan konjungsi antarkalimat secara bersamaan pada kalimat (2) merupakan suatu kesalahan yang sering terjadi. Kata namun mengandung arti ’walaupun demikian’ atau ’meskipun demikian’. Kata namun seharusnya tidak digunakan sebagai konjungsi intrakalimat, sedangkan konjungsi meski seharusnya diganti meskipun atau meskipun demikian dan tidak boleh dipakai bersamaan dengan namun. Dengan demikian, Perbaikan kalimat (1), (2), (3) dan (4) di atas adalah sebagai berikut: 1. Binuang dan sekitarnya, seperti Sungkai, Pengaron, dan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar merupakan kantong produksi pangsa pasar selain ke Banjarmasin. 2. Meskipun hari ini, Rabu masih jadwal Kampanye, KPUD Tanah Laut menetapkan di hari terakhir ini dengan agenda istiqosah oleh masing-masing pasangan. 3. Meskipun namanya kembali terserat dalam kasus pemberian izin pengelolaan hutan di Kabupaten Pelalawan, Riau, Menteri Kehutan malam sambut membantah terlibat. Kesalahan dalam Penggunaan kata yang mubazir 1. Memang ujarnya, hasil try out lalu hasilnya tidak begitu menggembirakan. Di mana angka kelulusan yang dicapai hanya 15%.(Radar, 15 April 2008) 2. Pun begitu, pemkot dalam tahun anggaran 2008 ini telah menyiapkan dana sebesarnya Rp900 juta untuk kembali membangun struktur tugu. (Radar, 15 April 2008)

3. Semua Masyarakat harus dapat menahan emosi dan siapapun pemimpin yang terpilih nantinya harus dihormati karena adalah pilihan masyarakat, tegasnya sambil penuh harap ( Radar Senin, 28 April 2008) Pemakaian kata di mana seperti pada pada kalimat (1) merupakan yang sangat lazim. Hal ini cukup memperihatinkan, bahkan semua lapisan masyrakat sering menggunakan kata tersebut. Kata di mana di pakai untuk menanyakan tempat. Jadi pemakaian kata di mana tersebut adalah tidak tepat. Kata di mana pada kalimat (1) diganti dengan kata karena . Perbaikan kalimat di atas sebagai berikut: • Memang ujarnya, hasil try out lalu hasilnya tidak begitu menggembirakan. Pemakaian kata pun begitu pada kalimat (2) tidak tepat karena mengakibat kalimat menjadi rancu. Sebaiknya Frasa pun begitu dihilangkan. Perbaikan kalimat di atas sebagai berikut: • Pemkot dalam tahun anggaran 2008 ini telah menyiapkan dana sebesarnya Pemakaian kata karena adalah pada kalimat (3) suatu kerancuan karena kata itu bisa digunakan secara bersamaan. Sebaiknya kata adalah dihilangkan. Perbaikan kalimat (3) adalah sebagai berikut: • Semua Masyarakat harus dapat menahan emosi dan siapapun pemimpin yang terpilih nantinya harus dihormati karena pilihan masyarakat, tegasnya sambil penuh harap ( Radar Senin, 28 April 2008). Penyengauan Bunyi Awal Kata Dasar 1. 2008) 2. Setelah tertangkap tangan nyabu di ruang kerja, Kapolsekta Bogor Utara AKP Endang Rudianes langsung di copot dari jabatannya. ( Radar, 28 April 2008) Saya ngisi Jumatan di sana hari ini. Kebetulan setelah itu juga ada pengajian wisata hati. Jadi, sebelum ke biskop kita ke sana dulu.(Radar,23 April Rp900 juta untuk kembali membangun struktur tugu. Karena angka kelulusan yang dicapai hanya 15%.

Gegala penyenggauan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam bahasa lisan yang dipakai dalam ragam tulis yang mengakibatkan terjadinya pencampuradukan ragam lisan dan tulis yang menghasilkan satu bentuk yang salah dalam pemakaian. Bentuk-bentuk tersebut harus di tulis secara lengkap, yaitu dengan menambahkan awal meng-, sehingga menjadi mengisi dan menyabu. Perbaikannya adalah sebagai berikut: 1. Saya mengisi Jumatan di sana hari ini. Kebetulan setelah itu juga ada pengajian wisata hati. Jadi, sebelum ke biskop kita ke sana dulu. 2. Setelah tertangkap tangan menyabu di ruang kerja, Kapolsekta Bogor Utara AKP Endang Rudianes langsung di copot dari jabatannya. (Jahdiah, 2008 :
http://www. pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?info = artikel & infocmd = show&infoid = 79 &row=5).

Pemilihan Kata Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan, terutama melalui tulisan, merupakan suatu pekerjaan yang cukup sulit. Bahkan menganggapnya bagian tersulit dalam proses penulisan. Terkadang kita menemukan kata-kata yang memiliki kesamaan atau kita menggunakan suatu kata dan kata mengubah makna atau arti suatu gagasan. Seperti dalam penggunaan kohesi antarkalimat yang mempengaruhi koherensi sebuah tulisan. salah satu cara untuk menciptakan kohesi antarkalimat adalah menggunakan sinonim maupun antonim. Terkadang penulis melakukan kesalahan dalam pemilihan kata sinonim maupun antonim itu sendiri. Hal ini sering terjadi pada penulis yang menulis teks dengan bahasa diluar bahasa nasional ataupun lokalnya sendiri. Misalnya, kata besar; agung; gede (bahasa gaul); dan megah saling bersinonim. Tapi, tentu saja penggunaan dari kata tersebut memiliki kontek kalimat tersendiri. Seorang penulis yang sejak kecil hidup di Indonesia dan mempelajari serta menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya mungkin tidak akan melakukan kesalahan dalam pemilihan penggunaan kata besar, agung, gede, dan megah ini.

Akan berbeda jika penulis Inggris yang menulis dengan Bahasa Indonesia, penulis tersebut mungkin akan melakukan kesalahan dalam pemilihan kata, misalnya : “ Tanggal 14 Oktober 2008 terjadi gelombang besar di Pantai Parangtritis yang menenggelamkan 2 kapal nelayan yang sedang berlayar. Gelombang agung ini menelan 2 korban, yaitu Suparji dan Suparlan. “ Terkadang teknologi, selain mengubah pola hidup manusia tenyata dapat mempengaruhi bahasa, seperti mengubah arti dan pemakaian bahasa, bahkan menciptakan bahasa baru. kini banyak kata-kata yang akhirnya mengalami perubahan pemakaian, bahkan perubahan arti. Misalnya, kata-kata seperti email, website, sms bisa dibayangkan sepuluh tahun lalu kata email, website, sms, mungkin masih merupakan kata antah-berantah yang membuat dahi kita berkerut. Masih banyak kata-kata yang jika dulu itu diucapkan, merupakan kata aneh, sekarang malah jadi aneh jika kita sehari saja tidak bersentuhan dengan kata, benda, atau aktivitasnya. Menurut Akhadiah (1995 : 85-91), ada beberapa pilihan kata serta defenisinya yang dapat digunakan untuk menghindari kesalahan makna Sinonim, Homofoni dan Homograf Jika di dalam bahasa setiap kata hanya melambangkan tepat satu obyek atau konsep, akan berkuranglah kesulitan dalam berkomunikasi. Kenyataannya tidak demikian. Hubungan antara kata dengan maknanya sering menjadi rumit. ada beberapa kata yang mempunyai makna yang sama atau mirip, seperti kata-kata : hasil, produksi, prestasi ; wajah, muka ; kabar, berita, warta ; buku, kitab ; dan lain-lain. Masih ada lagi kelompok kata yang sama bunyi atau tulisannya yang mempunyai arti yang sama sekali tidak berhubungan (homofoni = sama bunyi ; homograf = sama tulisan). Contoh : sedu, buku, tampang, redam (homofoni) ; sedan, teras (homograf). Denotasi dan konotasi Suatu kata kerap kali tidak hanya mendukung suatu konsep atau obyek (referen) saja, melainkan juga menimbulkan asosiasi dengan sesuatu.

Contoh : Ayahnya pekerja di kantor itu Ayahnya pegawai kantor itu Baik kata pekerja maupun pegawai menunjuk kepada seseorang yang bekerja untuk suatu kantor, perusahaan, dan sebagainya. Tetapi, dalam pemakaiannya kata pegawai mengandung nilai lebih terhormat daripada kata pekerja. Konsep dasar yang didukung oleh suatu kata (makna konseptual, referen) disebut denotasi, sedangkan nilai, rasa atau gambaran tambahan yang ada di samping denotasi tersebut adalah konotasi Kata Abstrak dan Konkret Kata-kata abstrak ialah kata-kata yang mempunyai referen berupa konsep, seperti kata penyesalan, ketahanan nasional, kecerdasn dan sebagainya. Sedangkan kata-kata konkret mempunyai referen berupa obyek yang dapat dilihat, didengar, diraba, atau dirasakan seperti kata bunga, pohon, kucing dan lain-lain. Kata Umum dan Khusus Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umumnya sifatnya. Sebaliknya , makin sempit ruang lingkupnaya makin khusus sifatnya. Kata-kata abstrak biasanya merupakan kata umum, tetapi kata umum tidak selalu abstrak. Kata konkret lebih khusus daripada kata abstrak. Tingkat keumunan kata itu dapat digambarkan sebagai suatu piramida terbalik
Keadaan Abstrak Umum Luas Keadaan Kesehatan Penyakit Malaria Konkret Khusus Tropika

Sempit

Makin umum suatu kata makin banyak kemungkinan salah paham atau perbedaan tafsiran. Sebaliknya makin khsusus suatu kata, makin sempit ruang lingkupnya dan makin sedikit kemungkinan terjadi salah paham. Namun demikian, suatu kata khusus/konkret masih juga menimbulkan gambaran yang berbeda-beda pada beberapa individu, yaitu sesuai dengan pengalaman atau pegetahuan masingmasing. Kata Populer dan Kata Kajian Kata-kata seperti besar, pindah, kecil, batu, dan lain- lain lebih dikenal oleh masyarakat luas daripada kata-kata makro, transfer, minor, batuan. Kelompok kata –kata yang pertama termasuk kata-kata popular. Kata-kata ini dipergunakan pada berbagai kesempatan dalam komunikasi sehari-hari. Kelompok kata kajian hanya dikenal dan dipergunakan secara terbatas, kata-kata tersebut biasanya dipergunakan oleh para ilmuwan dalam makalah atau perbincangan ilmiah. Banyak di antara kata-kata jenis ini merupakan kata serapan atau kata asing. Kata Percakapan dan Selang Dalam percakapan informal, kaum terpelajar biasa menggunakan kata-kata percakapan. Kelompok kata ini mencakup kata-kata populer, kata-kata kajian, dan selang yang hanya dipakai oleh kaum terpelajar. Contoh : Sikon (situasi dan kondisi), pro dan kon (pro dan kontra), dok (dokter), dan sebagainya. Pada waktu tertentu banyak terdengar slang yaitu kata-kata nonbaku yang dibentuk secara khas sebagai cetusan keinginan akan suatu yang baru. Kata-kata ini bersifat sementara, kalau sudah terasa usang akan menjadi kata-kata biasa (asoy, mana tahan, selangit, dan sebagainya). Perubahan Makna Dalam memilih kata-kata, kita juga harus waspada karena makna kata itu kerap kali berubah atau bergeser. Perubahan ini dapat meluas atau menyempit, kadang-kadang berubah sama sekali. Contoh kata ibu dulu hanya mengandung arti

“wanita yang melahirkan”, sekarang menjadi kata umum untuk wanita yang sudah dewasa. Sebaliknya kata pala dulu berarti semua macam buah, sekarang hanya diperhunakan untuk semacam buah saja. Kata Serapan dan Kata Asing Contoh : Kontroversi pertama menyangkut persoalan apakah perlu mempergunakan unsur-unsur estetika dalam pidato-pidato. Kita perlu berhati-hati dalam menggunakan unsur-unsur serapan, lebih-lebih kata asing. Perlu memahami makna dan cara penulisannya secara tepat. PENUTUP Dalam penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun terulis masih dijumpai banyak problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Salah satu problematika dalam penerapan bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah kesalahan dalam pemilihan atau pemakaian kata, baik dalam sebuah karangan ataupun dalam percakapan sehari-hari. kelompok kata tersebut, yang sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya, antara lain kesalahan pemakaian kata penghubung, kesalahan penggunaan kata yang mubazir, kesalahan penggunaan bentuk kata, dan penyengauan bunyi awal kata dasar. Selain itu, teknologi yang dapat mengubah pola hidup manusia tenyata dapat mempengaruhi bahasa, seperti mengubah arti dan pemakaian bahasa. Bahkan menciptakan bahasa baru. kini banyak kata-kata yang akhirnya mengalami perubahan pemakaian, bahkan perubahan arti. Ada beberapa pilihan kata serta defenisinya yang dapat digunakan untuk menghindari kesalahan makna, seperti sinonim, homofoni dan homograf, denotasi dan konotasi, kata umum dan khusus, kata abstrak dan konkret, kata populer dan kata kajian, kata percakapan dan selang, kata serapan dan kata asing, serta perubahan makna. Kesalahan-kesalahan tersebut diharapkan dapat tereduksi dengan beberapa langkah pembelajaran, berupa pemberian informasi tentang kesalahan-kesalahan

pemakaian kata yang dilakukan pembelajar, koreksi secara berpasangan dan koreksi individual, pemberian contoh-contoh yang benar atas kesalahan-kesalahan yang terjadi, serta diskusi bersama pembelajar tentang penyebab kesalahan berbahasa yang sering terjadi. RUJUKAN Akhadiah, Sabarti, dkk. 1995. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta. Jahdiah. 2008. Analisis Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Media Cetak. http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?info=artikel& infocmd=how&infoid=79&row=5. Diperoleh pada tanggal 11 Pebruari 2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->