P. 1
Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

|Views: 4,578|Likes:
Published by ermarahmawati

More info:

Published by: ermarahmawati on Feb 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan

potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal

dan diakui oleh masyarakat. Didukung oleh kemajuan ilmu dan teknologi,

dunia pendidikan secara nyata telah berkembang pesat, terlihat dengan adanya

pendidikan Bahasa Inggris dimulai sejak di Sekolah Dasar. Selama ini,

memang kita akui bahwa siswa tingkat dasar di Indonesia masih lemah dalam

penguasaan Bahasa Inggris, juga tertinggal dalam penguasaan ilmu

pengetahuan lanjutan dibanding siswa negara lain yang bahasa ibunya bukan

Bahasa Inggris juga. Laporan Human Development Report United

Development Program (UNDP) tahun 1997 menyatakan bahwa Indeks

Pembangunan Manusia (HDI) yang meliputi pendidikan, kesehatan dan

perekonomian dari 173 negara, Indonesia berada pada peringkat 102 di tahun

2001 dibandingkan dengan Jepang pada peringkat ke-8, dan Thailand ke-47.

Kasihani K.E. Suyanto (2003), menerangkan tahun 2002 responden

3.404 siswa di sepuluh propinsi (Jatim, Jateng, DIY, Bali, NTT, Sulsel,

Kalteng, Kalsel, Sumbar, dan Sumsel) menunjukkan bahwa siswa dengan

NEM tinggi (66,9%) dan dengan NEM rendah (56,4%) telah belajar Bahasa

Inggris ketika di SD. Mereka merasa senang belajar Bahasa Inggris (89,4%

NEM tinggi dan 85,4% NEM rendah). Walaupun merasa senang, mereka juga

menyatakan bahwa belajar Bahasa Inggris itu sulit. Sayang sekali rasa senang

belajar Bahasa Inggris di SD ini ketika di SMP justru menurun menjadi 63%

dan lebih dari separuh (62,9%) menyatakan mengalami kesulitan dalam

pelajaran Bahasa Inggris.

Hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC)

di Hongkong menyatakan sistem pendidikan di Indonesia menempati peringkat

12 di Asia setelah Vietnam, sehingga Indonesia harus mengejar kemajuan

negara lain dengan memperbaiki kualitas pendidikannya. Kenyataan dan

penelitian diagnostik (Sadtono dkk, 1996) menunjukkan bahwa hasil belajar

Bahasa Inggris di SMP masih jauh dari target yang diharapkan. Sebagai contoh

nilai rata-rata tes untuk mengukur ketrampilan membaca 48 siswa SLTP 2

Boyolali Jawa Tengah adalah 4,2 yang menunjukkkan bahwa lebih dari 75%

siswa memiliki ketrampilan membaca dan penguasaan kosakata yang rendah

(Syamsudin, 2001). Hal tersebut sejalan dengan NEM Bahasa Inggris siswa

tahun 1998/1999 sebesar 4,18 dan tahun 2000/2001 sebesar 4,85 yang

dihubungkan dengan skor TOEFL antara 400-500 yang diperoleh guru

instruktur Bahasa Inggris yang diberikan secara random. Kenyataan di

lapangan juga menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga

kerja wanita (TKW) yang keluar negeri kebanyakan lulusan SD/SMP yang

belum dapat berbicara dalam bahasa asing terutama Bahasa Inggris walaupun

dalam bahasa yang sangat sederhana sehingga mereka sukar untuk

berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara Philipina dan Thailand yang

dapat berbahasa Inggris. (Depdiknas. 2002. Juklak Inggris SLTP)

Mengikuti era globalisasi dan AFTA sejak tahun 2003, tidak dapat

diragukan bahwa bahasa asing merupakan alat komunikasi terpenting sekaligus

merupakan salah satu ketrampilan hidup (life skill) yang harus dikuasai oleh

seseorang, khususnya siswa. Hal itu sesuai dengan Undang – Undang No. 25

Tahun 2000 tentang Propenas 2000 – 2004 dengan tujuan untuk mengantisipasi

era globalisasi dunia pendidikan.

Untuk itu, anak usia dini lebih baik telah diajarkan bahasa asing.

Ditinjau dari kondisi psikologis anak, saat anak berumur 4 tahun,

perkembangan kapasitas otak hanya 50%. Namun, akan melaju cukup pesat

ketika ia di atas 4 tahun menjelang 8 tahun. Saat itu, perkembangan otaknya

bisa mencapai 80%. Memang, tak salah bila pakar linguistik yang

menyebutkan usia 6-12 tahun merupakan masa emas atau paling ideal untuk

belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Pada masa ini anak lebih

berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) bahasa Inggris. Sedangkan pada

anak lebih tua 6-15 tahun lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan

bentuk bahasa terkecil) dan sintaksisnya (susunan tata kalimat). ( Kompas, 14

September 2002 )

Alva Handayani ( 14 September 2002 ), dosen Fakultas Psikologi

Unisba yang sedang menyelesaikan S-II di program Pasca Sarjana Unpad

mengungkapkan otak anak usia 6-15 tahun masih plastis dan lentur sehingga

proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagipula daya penyerapan bahasa pada

anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self exposure)

pada bahasa tertentu. Masa emas itu tidak dimiliki oleh orang dewasa.

Pengajaran Bahasa Inggris pada anak harus memakai cara seperti kalau kita

membawa anak ke dunia yang berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Anak

dihadapkan langsung dengan lingkungan yang berbahasa Inggris. Dengan

begitu, anak akan secara otomatis menyerapnya.

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa Sekolah

Menengah Pertama seringkali masih merasa sulit belajar Bahasa Inggris

bahkan cenderung bosan mengikuti proses belajar mengajar di kelas karena

strategi pelajaran yang digunakan oleh guru kurang variatif dan

menyenangkan. Pada saat sedang belajar di kelas, mereka sering bermain atau

minta izin keluar dengan berbagai alasan. Tentunya sistem pembelajaran yang

dilakukan di kelas bagi sekolah dengan sistem full day, tentu bisa menimbulkan

kejenuhan. Bila dibiarkan dapat berakibat fatal yaitu anak menjadi malas

belajar bahkan mogok sekolah.

Untuk menjawab kebutuhan terhadap penguasaan Bahasa Inggris,

kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan (Dardjowidjojo,

2000). Dimulai dengan pendekatan tata bahasa dan terjemahan (1945), oral

(1968), audio-lingual (1975), komunikatif (1984) dan kebermaknaan (1994).

Perubahan drastis dalam tahap perumusan kurikulum standar terjadi di tahun

1984 saat pengajaran bahasa asing bergeser dari behaviorism menuju

konstruktivisme. Bahasa dipandang sebagai suatu fenomena sosial, dan

pengajaran bahasa seharusnya lebih menekankan pada penggunaan, bukan

pada struktur bahasa. Mengacu paradigma baru ini, kurikulum 1984 dan 1994

bercita-cita membangun kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa

Inggris secara aktif. Akan tetapi, cita-cita dalam kurikulum 1984 dan 1994

sama sekali tidak mendarat dan terlaksana. Sebagian besar guru Bahasa Inggris

di Indonesia belum kompeten dan lancar berbahasa Inggris. Kesulitan dalam

ujian listening Bahasa Inggris bukan hanya disebabkan oleh alasan teknis tetapi

juga mismatch (ketidakterkaitan) antara apa yang diajarkan dengan apa yang

diujikan.

Menurut Adji Esa ( 7 Oktober 2003 ), di masa silam ada ungkapan

bijak seperti “bawalah kelas ke bawah pohon yang rindang”. Yang terjadi

justru anak-anak sekolah menghadapi suasana belajar yang tidak

menyenangkan seperti penegakan disiplin belajar yang keras dan kaku. Siswa

tidak ditumbuhkan minat belajar, tetapi dipaksa mau belajar. Akibatnya hari

libur sekolah dianggap siswa sebagai hari kebebasan yang ditunggu-tunggu.

Siswa Sekolah Menengah Pertama sekarang tampaknya dipaksakan untuk

mempelajari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa

Daerah. Bahkan, terkadang ada sekolah yang mengajarkan juga bahasa Arab

atau Mandarin. Dengan kenyataan itu, bisa dibayangkan bagaimana beratnya

beban siswa. Padahal, mantan Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hassan pernah

membuat pernyataan yang patut direnungkan yaitu kualitas pendidikan

sesungguhnya tidak ditentukan oleh banyaknya mata pelajaran, melainkan

daya serap yang maksimal atas pelajaran yang diterimanya di sekolah. (http

://www.Pikiran Rakyat.com/cetak/1003/07/0303.htm – 17k)

Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah lebih banyak berfokus pada

pengajaran tata bahasa dan kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk

berlatih berbicara dalam Bahasa Inggris. Akibatnya muncul keluhan siswa

bahwa Bahasa Inggris merupakan bahasa kebatinan karena hanya dibatin saja

dan tidak dapat berbicara, mengapa siswa SMP tidak dapat berbicara Bahasa

Inggris sebaik lulusan kursus dan mengapa tidak dapat berbicara dalam Bahasa

Inggris seperti orang asing yang sedang berbicara dalam Bahasa Indonesia

walaupun terpatah-patah. Sehingga konsep yang harus diusahakan antara lain

meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyajikan pembelajaran Bahasa

Inggris dengan mengikutsertakan siswa secara aktif, interaktif dan komunikatif

melalui berbagai alat bantu kegiatan atau tugas yang dapat mendorong siswa

untuk berlatih menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Akan tetapi

pemahaman yang kurang sempurna atas konsep-konsep tersebut membuat

tujuan pengajaran kurang berhasil. Selain itu, perlunya sarana atau buku yang

bervariasi, bergambar dapat menarik siswa untuk memiliki minat baca yang

tinggi.

Dalam proses belajar aktif di sekolah, siswa tidak hanya menerima

materi pelajaran semata melainkan diberikan kesempatan seluas-luasnya

mengembangkan olah pikir dan wawasannya sehingga mereka tidak lagi

merasa malu-malu dan berani mengambil inisiatif dalam proses belajar

mengajar. “Yang terpenting bagaimana membuat anak didik senang, ibaratnya

belajar sambil bermain, sehingga anak didik bisa leluasa belajar,” kata Agnes,

Pembantu dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Katolik Widya Mandala Surabaya ( Kompas, 18 Agustus 2001 ). Agnes lebih

lanjut mengatakan, pengalaman selama ini, keberanian siswa dalam proses

belajar aktif masih kurang dan mereka cenderung malu-malu untuk berperan

aktif. Dengan demikian peran guru sangat menentukan proses belajar yang

menekankan pada belajar aktif siswa, sehingga akan terbangun interaksi, dalam

proses belajar khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris.

Misalnya mencoba menerapkan pendekatan kontekstual

(Contextual Teaching and Learning). Merupakan konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Kelebihan konsep belajar ini yaitu

hasil pembelajaran diharapkan alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja

dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi

pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Sesuai dengan teori di atas maka dapat dicari berbagai macam

kesulitan belajar Bahasa Inggris bagi anak Sekolah Menengah Pertama, yang

kemudian akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang diberikan

oleh guru. Dengan mengetahui kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris dapat

membantu guru dalam memberikan pelajaran dan menerapkan strategi belajar

yang akan dipakai. Sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal.

Berdasar latar belakang masalah tersebut maka pembelajaran

dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Bahasa

Inggris bagi anak usia Sekolah Menengah Pertama, diangkat menjadi

permasalahan penelitian ini.

Sehingga penulis terdorong untuk melakukan penelitian mengenai

Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris pada Siswa Kelas II

Semester I SMP Negeri 1 Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->