P. 1
Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

|Views: 4,578|Likes:
Published by ermarahmawati

More info:

Published by: ermarahmawati on Feb 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

a. Hipotesis Kesamaan Antara Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

Hipotesis ini menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar

bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Kesamaan itu terletak pada urutan

pemerolehan struktur bahasa. Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh

terlebih dahulu, sementara unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian.

b. Hipotesis Kontrastif

Hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar

bahasa kedua adalah karena adanya perbedaan antara bahasa pertama dan

bahasa kedua. Sedangkan kemudahan dalam belajar bahasa kedua disebabkan

oleh adanya kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Jadi, adanya

perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menimbulkan

kesulitan dalam belajar bahasa kedua, yang mungkin juga akan menimbulkan

kesalahan, sedangkan adanya persamaan antara bahasa pertama dan bahasa

kedua akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar bahasa kedua.

c. Hipotesis Krashen

Stephen Krashen mengajukan sembilan buah hipotesis yang saling

berkaitan, antara lain :

1). Hipotesis Pemerolehan (acquisition) dan Belajar (learning)

Penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan dan belajar.

Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau

alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terancang. Proses pemerolehan tidak

melalui usaha belajar yang formal dan eksplisit. Belajar adalah usaha sadar

untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama

yang berkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa.

2). Hipotesis Urutan Alamiah

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pemerolehan unsur-unsur yang

relatif stabil untuk bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing.

3. Hipotesis Monitor

Menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan

bahasa. Kita dapat berbicara dalam bahasa tertentu adalah karena sistem yang

kita miliki sebagai hasi dari pemerolehan, dan bukan dari hasil belajar. Semua

kaidah tata bahasa yang kita hafalkan tidak selalu membantu kelancaran

dalam berbicara. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi

sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performansi) berbahasa.

4. Hipotesis Masukan

Seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami

yaitu dengan memusatkan perhatian pada pesan atau isi, dan bukan pada

bentuk.

5. Hipotesis Afektif (Sikap)

Orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa

kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap

yang lain. Seseorang dengan kepribadian terbuka dan hangat akan lebih

berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan dengan orang yang

kepribadiannya agak tertutup.

6. Hipotesis Bakat

Bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar

bahasa kedua. Sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan

bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar. Mereka yang

mendapat nilai tinggi dalam tes bakat bahasa, pada umunya berhasil baik

dalam tes tata bahasa.

7. Hipotesis Filter Afektif

Sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan masukan sehingga

seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh

bahasa kedua. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi

yang menegangkan, sikap defensif, dan sebagainya, yang dapat mengurangi

kesempatan bagi masukan untuk masuk ke dalam sistem bahasa yang dimiliki

seseorang.

8. Hipotesis bahasa Pertama

Bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa

kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seorang anak

pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau

bebicara bahasa kedua, maka dia akan menggunakan kosakata dan aturan tata

bahasa pertamanya.

9. Hipotesis Variasi Indivuidual dalam Penggunaan Monitor

Cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata

bervariasi. Ada yang terus-menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi

ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Namun, diantara keduanya ada

pula yang menggunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau

kesempatan untuk menggunakannya.

d. Hipotesis Bahasa Antara

Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa atau ujaran yang

digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap

tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna

bahasa kedua itu. Bahasa antara memiliki ciri bahasa pertama dan bahasa

kedua.

e. Hipotesis Pijinisasi

Menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar bisa saja selain

terbentuknya bahasa antara juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yaitu

sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah

tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan

untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki

bahasa sendiri. Jadi, bisa dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli

(Chaer dan Agustina, 1995).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->