P. 1
BANK INDONESIA: Sejarah dan Peranan BI dalam kedudukannya sebagai Bank Sentral Republik Indonesia

BANK INDONESIA: Sejarah dan Peranan BI dalam kedudukannya sebagai Bank Sentral Republik Indonesia

5.0

|Views: 14,556|Likes:
Published by text
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah EKONOMI MONETER di kampus ABFII PERBANAS
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah EKONOMI MONETER di kampus ABFII PERBANAS

More info:

Published by: text on Feb 17, 2010
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2014

BANK INDONESIA

Sejarah dan Peranan BI dalam kedudukannya sebagai Bank Sental Republik Indonesia

Lyori Pradana 06120042 JAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Bank sentral di suatu negara, pada umumnya adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter di wilayah negara tersebut. Bank sentral/Sirkulasi adalah bank yang mempunyai hak oktroi untuk menciptakan alat pembayaran dan atau memberikan kredit kepada bank-bank berdasarkan UU yang berlaku, institusi yang bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas harga yang dalam hal ini dikenal dengan istilah inflasi. Bank Sentral menjaga agar tingkat inflasi terkendali, dengan mengontrol keseimbangan jumlah uang dan barang. Apabila jumlah uang yang beredar terlalu banyak maka Bank Sentral mencoba menyesuaikan jumlah uang beredar sehingga tidak berlebihan dan cukup untuk menggerakkan roda perekonomian. Berdasarkan UU No.23/1999 tentang Bank Indonesia, BI adalah Bank Sentral yang kedudukannya sebagai lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan lembaga/perorangan. Status Bank Indonesia baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik Bank Indonesia berwenang menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai badan hukum perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan. Sebagai mahasiswa ekonomi, perlu kiranya untuk mengetahui seluk beluk mengenai bank sentral disuatu negara, dalam hal ini Indonesia, sehingga penulis pada akhirnya membuat makalah dengan judul “BANK INDONESIA: Sejarah dan Peranan BI dalam kedudukannya sebagai Bank Sental Republik Indonesia”

I.2

Tujuan

Makalah ini ditujukan untuk memberikan wawasan bagi mahasiswa, khususnya jurusan ekonomi mengenai seluk-beluk BI dalam perekonomian moneter Republik Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN
II. 1 Sejarah Bank Indonesia
“MERDEKA!” kata ini tertanam sangat dalam pada diri setiap putra bangsa Indonesia, dari kaum intelektual hingga rakyat jelata. Indonesia yang memperoleh kemerdekaannya melalui kekerasan, mewarisi sebuah keadaan dengan keterbatasan-keterbatasan yang sangat menentukan bagi pembangunan ekonomi. Dari segi ekonomi, keterbatasan tersebut terlihat dari belum adanya visi atau gagasan pembangunan yang komprehensif, kekurangan sumber daya dan permodalan, serta rusaknya alat-alat produksi akibat Perang Dunia II serta tekanan inflasi. Dari segi politik, di samping masih berlanjutnya eforia revolusi yang menyebabkan munculnya mental “terobosan”, juga diimbangi oleh keanekaragaman kekuatan-kekuatan politik yang berpengaruh negatif terhadap konsistensi pelaksanaan program-program pembangunan ekonomi. Namun Indonesia masih mengalami kesulitan karena Belanda tetap bertahan untuk tidak mengakui kemerdekaan RI, tidak seperti negara bekas penjajah lain yang mengakui kemerdekaan bekas koloninya yaitu Pilipina pada 1946, India pada 1947, Burma dan Srilangka pada 1948. Upaya mempertahankan kedaulatan dari ofensif Belanda dan pergolakan-pergolakan politik tahun 1945-1950, telah menyebabkan langkah-langkah kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi dan moneter tidak optimal. Apa yang bisa dilakukan sepanjang lima tahun pertama masa kemerdekaan hanya merupakan langkahlangkah praktis untuk menunjukkan bahwa pemerintah nasional telah mulai berfungsi. Maka tak mengherankan, jika hal pertama yang dilakukan pemerintah dalam bidang ekonomi adalah pengambilalihan fasilitas umum yang sebelumnya dikuasai pemerintah militer Jepang, seperti transportasi, listrik, perkebunan, logistik dan pertambangan. Tindakan-tindakan ini diikuti juga oleh penetapan mata uang nasional, Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), sebagai ganti uang pendudukan Jepang. Tindakan ini merupakan hal yang strategis baik dari segi ekonomis maupun politis, yaitu untuk mempunyai alat pembayaran sendiri, maupun sebagai simbol sebuah negara yang berdaulat dan merdeka. Usaha pemerintah menciptakan mata uang sebagai pengganti mata uang Jepang (dan juga

kemudian uang NICA), harus pula dilihat sebagai tindakan yang sama dengan penerbitan continental money atau greenback, uang yang dikeluarkan negara-negara koloni di Amerika Serikat untuk membiayai perlawanan terhadap negara kolonial Inggris pada periode 17761783. Keperluan untuk mempunyai mata uang yang sah inilah yang mendorong pemerintah dan para patriot Indonesia mendirikan Bank Negara Indonesia yang berhak mengeluarkan dan mengedarkan ORI, yang diresmikan oleh Menteri Keuangan A.A. Maramis pada 30 Oktober 1946. Pada sidang Kabinet pertama 19 September 1945 dengan acara tunggal persiapan rapat umum di Stadion Ikada untuk menenangkan rakyat yang berjalan tegang, RM Margono Djojohadikusumo berhasil mendapatkan surat kuasa Presiden dan Wakil Presiden untuk membentuk bank sirkulasi, yang diberi nama Bank Negara Indonesia melalui sebuah Yayasan Poesat Bank Indonesia, dan sekaligus ia ditunjuk sebagai pelaksana kuasa dan sebagai Presiden Direktur (Feith,1962:370). Modal pertama sebesar Rp.350.000.00 (uang Jepang) diperoleh dari Dr Soeharto -seorang dokter yang terjun kedunia politik- yang mengelola “Fonds Kemerdekaan Indonesia”. Margono yang berpengalaman dalam bidang perkreditan rakyat serta perkoperasian dan terakhir menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung RI, telah lama membicarakan gagasan perlunya bank sirkulasi dan bank-bank nasional untuk memajukan perekonomian rakyat dengan Drs.Mohamad Hatta yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI. Namun ada juga pihak yang tidak menyetujui gagasan itu, misalnya Ir Soerachman Tjokrodisoerjo, belakangan menjadi pengalaman sebagai bank sirkulasi. Karena keadaan politik dan keamanan Jakarta kurang baik menghadapi ancaman serangan Belanda, maka ibu kota dipindahkan ke Jogyakarta pada 1 Desember 1945, dan persiapan pembentukan BNI ikut juga dipindahkan. Pada Mei 1946, pemerintah mengeluarkan Obligasi Nasional RI berjangka waktu 40 tahun, yang dijelaskan oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir sebagai: upaya untuk mengumpulkan dana masyarakat bagi perjuangan.karena uang pendudukan Jepang akan ditarik, dan sekaligus untuk Menteri Kemakmuran yang menganggap akan lebih mudah dengan menasionalisasi De Javasche Bank yang mempunyai

menanamkan kepercayaan rakyat pada pemerintah RI. Yayasan Poesat Bank Indonesia yang telah beroperasi sebagai embrio BNI ditugasi untuk mengeluarkan Obligasi Nasional itu. Masyarakat antusias sekali membeli obligasi itu, dan hasilnya diantaranya dipergunakan BNI

dan Bank Rakyat untuk membiayai sektor pertanian dan kerajinan rakyat Upaya itu juga telah berhasil menurunkan laju inflasi. Baru pada 5 Juli 1946 BNI disahkan dengan Keputusan Presiden No.2 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus tahun itu. Margono diangkat menjadi Presiden Direktur BNI, dengan dibantu oleh beberapa staf yang berasal dari De Javasche Bank, Nederlandsche Handelsbank, Syomin Ginko dan Jawatan Koperasi. Merekalah orang-orang yang mengerti mengenai perbankan, karena dalam perjalanannya, kebanyakan pegawai BNI berasal dari berbagai instansi yang bukan bank. Namun karena keadaan politik dan keamanan dengan akibat terpecah-pecahnya kawasan RI menjadi daerah RI dan daerah pendudukan pemerintah menjadikan ORI tidak berbeda dengan ORI. Namun demikian, peran BNI pada masa 1946-1949 cukup besar,dalam membantu pemerintah menggalang dana perjuangan melawan Belanda dan memberikan kredit untuk petani. Pemberian kredit tanpa agunan kepada nasabah pertama Tambang Emas Cikotok adalah salah satu contohnya, dimana bullion hasil tambang yang dikirim ke kantor pusat BNI di Jogyakarta kemudian berhasil diselundupkan dan dijual ke Macau untuk membeli senjata dan pesawat terbang dan membiayai perjuangan diluar negeri. Contoh-contoh lain adalah pemberian kredit untuk Komando Pertempuran VII untuk pertahanan rakyat, kepada Divisi VII Malang, dan kepada Bupati Malang untuk musim tanam karena Bank Rakyat tidak dapat segera membiayainya. BNI juga harus membiayai perjalanan delegasi RI ke PBB dibawah pimpinan Perdana Menteri Sjahrir dan Haji Agoes Salim. Mungkin satu-satunya pelaksanaan tugas pencetakan uang yang tercatat adalah ketika terjadi Agresi Militer II pada Desember 1948 yang menyebabkan pemerintah RI lumpuh dan perlu dibentuk Pemerintah Daroerat RI di Sumatera. Saat itu, dimana banyak cabang BNI yang ditutup,cabang Kutaradja (sekarang Banda Aceh) yang masih beroperasi diberi tugas khusus oleh Pemerintah Daroerat RI untuk mencetak dan mengedarkan ORIDA (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Aceh) bagi rakyat Indonesia di daerah Sumatera. Karena keadaan darurat itu maka ORIDA tidak ditandatangani oleh Presiden Direktur BNI, melainkan oleh Pemimpin BNI Kutaradja bersama dengan Kepala Bendahara Negara setempat. Belanda, maka usaha keras satu-satunya mata uang nasional tak tercapai. Karena itu,

mengherankan jika beberapa daerah mengeluarkan mata uang tersendiri, yang

II. 2 Status dan Kedudukan Bank Indonesia
II.2.1 Sebagai Lembaga Negara yang Independen Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dimulai ketika sebuah undang-undang baru, yaitu UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999. Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai suatu lembaga negara yang independen dan bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak lainnya. Sebagai suatu lembaga negara yang independen, Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut.Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia, dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Untuk lebih menjamin independensi tersebut, undang-undang ini telah memberikan kedudukan khusus kepada Bank Indonesia dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia. Sebagai Lembaga negara yang independen kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan Lembaga Tinggi Negara. Disamping itu, kedudukan Bank Indonesia juga tidak sama dengan Departemen, karena kedudukan Bank Indonesia berada diluar Pemerintah. Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien. II.2.2 Sebagai Badan Hukum Status Bank Indonesia baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik Bank Indonesia berwenang menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai badan hukum perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan.

II. 3 Tujuan dan Tugas Bank Indonesia
II.3.1 Tujuan Tunggal Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan

tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah. II.3.2 Tiga Pilar Utama Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.

II.4

Pengaturan dan Pengawasan Bank
Dalam rangka tugas mengatur dan mengawasi perbankan, Bank Indonesia

menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan atau kegiatan usaha tertentu dari bank, melaksanakan pengawasan atas bank, dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pelaksanaan tugas ini, Bank Indonesia berwenang menetapkan ketentuanketentuan perbankan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian. Berkaitan dengan kewenangan di bidang perizinan, selain memberikan dan mencabut izin usaha bank, Bank Indonesia juga dapat memberikan izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank, memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank, serta memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu.

Di bidang pengawasan, Bank Indonesia melakukan pengawasan langsung maupun tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan baik dalam bentuk pemeriksaan secara berkala maupun sewaktu-waktu bila diperlukan. Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui penelitian, analisis dan evaluasi terhadap laporan yang disampaikan oleh bank.

II.5

Upaya Restrukturisasi Perbankan
Sebagai upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap sistem

keuangan dan perekonomian Indonesia, Bank Indonesia telah menempuh langkah restrukturisasi perbankan yang komprehensif. Langkah ini mutlak diperlukan guna memfungsikan kembali perbankan sebagai lembaga perantara yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, disamping sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter. Restrukturisasi perbankan tersebut dilakukan melalui upaya memulihkan kepercayaan masyarakat, program rekapitalisasi, program restrukturisasi kredit, penyempurnaan ketentuan perbankan, dan peningkatan fungsi pengawasan bank.

II. 6 Sistem Pembayaran
Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah tujuan Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Untuk menjaga stabilitas rupiah itu perlu disokong pengaturan dan pengelolaan akan kelancaran Sistem Pembayaran Nasional (SPN). Kelancaran SPN ini juga perlu didukung oleh infrastruktur yang handal (robust). Jadi, semakin lancar dan hadal SPN, maka akan semakin lancar pula transmisi kebijakan moneter yang bersifat time critical. Bila kebijakan moneter berjalan lancar maka muaranya adalah stabilitas nilai tukar. BI adalah lembaga yang mengatur dan menjaga kelancaran SPN. Sebagai otoritas moneter, bank sentral berhak menetapkan dan memberlakukan kebijakan SPN. Selain itu, BI juga memiliki kewenangan memeberikan persetujuan dan perizinan serta melakukan pengawasan (oversight) atas SPN. Menyadari kelancaran SPN yang bersifat penting secara sistem (systemically important), bank sentral memandang perlu menyelenggarakan sistem settlement antar bank melalui infrastruktur BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Selain itu masih ada tugas BI dalam SPN, misalnya, peran sebagai penyelenggara

sistem kliring antarbank untuk jenis alat-alat pembayaran tertentu. Bank sentral juga adalah satu-satunya lembaga yang berhak mengeluarkan dan mengedarkan alat pembayaran tunai seperti uang rupiah. BI juga berhak mencabut, menarik hingga memusnahkan uang rupiah yang sudah tak berlaku dari peredaran. Berbekal kewenangan itu, BI pun menetapkan sejumlah kebijakan dari komponen SPN ini. Misalnya, alat pembayaran apa yang boleh dipergunakan di Indonesia. BI juga menentukan standar alat-alat pembayaran tadi serta pihak-pihak yang dapat menerbitkan dan/atau memproses alat-alat pembayaran tersebut. BI juga berhak menetapkan lembaga-lembaga yang dapat menyelenggarakan sistem pembayaran. Ambil contoh, sistem kliring atau transfer dana, baik suatu sistem utuh atau hanya bagian dari sistem saja. Bank sentral juga memiliki kewenangan menunjuk lembaga yang bisa menyelenggarakan sistem settlement. Pada akhirnya BI juga mesti menetapkan kebijakan terkait pengendalian risiko, efisiensi serta tata kelola (governance) SPN. Di sisi alat pembayaran tunai, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Terkait dengan peran BI dalam mengeluarkan dan mengedarkan uang, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Untuk mewujudkan clean money policy tersebut, pengelolaan pengedaran uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dilakukan mulai dari pengeluaran uang, pengedaran uang, pencabutan dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan uang. Sebelum masyarakat melakukan terjaga. pengeluaran Perencanaan uang yang Rupiah, dilakukan terlebih Bank dahulu Indonesia dilakukan meliputi perencanaan agar uang yang dikeluarkan memiliki kualitas yang baik sehingga kepercayaan tetap perencanaan pengeluaran emisi baru dengan mempertimbangkan tingkat pemalsuan, nilai intrinsik serta masa edar uang. Selain itu dilakukan pula perencanaan terhadap jumlah serta komposisi pecahan uang yang akan dicetak selama satu tahun kedepan. Berdasarkan perencanaan tersebut kemudian dilakukan pengadaan uang baik untuk pengeluaran uang emisi baru maupun pencetakan rutin terhadap uang emisi lama yang telah dikeluarkan. Uang Rupiah yang telah dikeluarkan tadi kemudian didistribusikan atau diedarkan di

seluruh wilayah melalui Kantor Bank Indonesia. Kebutuhan uang Rupiah di setiap kantor Bank Indonesia didasarkan pada jumlah persediaan, keperluan pembayaran, penukaran dan penggantian uang selama jangka waktu tertentu. Kegitan distribusi dilakukan melalui sarana angkutan darat, laut dan udara. Untuk menjamin keamanan jalur distribusi senantiasa dilakukan baik melalui pengawalan yang memadai maupun dengan peningkatan sarana sistem monitoring. Kegiatan pengedaran uang juga dilakukan melalui pelayanan kas kepada bank umum maupun masyarakat umum. Layanan kas kepada bank umum dilakukan melalui penerimaan setoran dan pembayaran uang Rupiah. Sedangkan kepada masyarakat dilakukan melalui penukaran secara langsung melalui loket-loket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia atau melalui kerjasama dengan perusahaan yang menyediakan jasa penukaran uang kecil. Lebih lanjut, kegiatan pengelolaan uang Rupiah yang dilakukan Bank Indonesia adalah pencabutan uang terhadap suatu pecahan dengan tahun emisi tertentu yang tidak lagi berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Pencabutan uang dari peredaran dimaksudkan untuk mencegah dan meminimalisasi peredaran uang palsu serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan. Uang Rupiah yang dicabut tersebut dapat ditarik dengan cara menukarkan ke Bank Indonesia atau pihak lain yang telah ditunjuk oleh Bank Indonesia. Sementara itu untuk menjaga menjaga kualitas uang Rupiah dalam kondisi yang layak edar di masyarakat, Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang. Uang yang dimusnahkan tersebut adalah uang yang sudah dicabut dan ditarik dari peredaran, uang hasil cetak kurang sempurna dan uang yang sudah tidak layak edar. Kegiatan pemusnahan uang diatur melalui prosedur dan dilaksanakan oleh jasa pihak ketiga yang dengan pengawasan oleh tim Bank Indonesia (BI).

II.7

Dewan Gubernur BI
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan

Gubernur. Dewan ini terdiri atas seorang Gubernur sebagai pemimpin, dibantu oleh seorang Deputi Gubernur Senior sebagai wakil, dan sekurang-kurangnya empat atau sebanyakbanyaknya tujuh Deputi Gubernur. Masa jabatan Gubernur dan Deputi Gubernur selamalamanya lima tahun, dan mereka hanya dapat dipilih untuk sebanyak-banyaknya dua kali masa tugas.

II.7.1 Pengangkatan dan Pemberhentian Dewan Gubernur Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Sementara Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak dapat diberhentikan oleh Presiden, kecuali bila mengundurkan diri, berhalangan tetap, atau melakukan tindak pidana kejahatan. II.7.2 Pengambilan Keputusan Sebagai suatu forum pengambilan keputusan tertinggi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter, serta sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan moneter atau menetapkan kebijakan lain yang bersifat prinsipil dan strategis. Pengambilan keputusan dilakukan dalam Rapat Dewan Gubernur, atas dasar prinsip musyawarah demi mufakat. Apabila mufakat tidak tercapai, Gubernur menetapkan keputusan akhir.

BAB III KESIMPULAN
Sejarah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia berjuang untuk mempertahankan kedaulatannya diberbagai bidang, termasuk diantraranya ekonomi. Nasionalisasi De Javanche Bank oleh pemerintah, merupakan langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk menunjukkan eksistensi pemerintahan Indonesia sebagai satu negara yang baru lahir dan berdaulat secara ekonomi. De Javanche Bank yang pada akhirnya menjadi Bank Indonesia kini menjadi Bank Sentral atau Bank Sirkulasi yang bertanggung jawab dalam bidang moneter di negeri ini. Reformasi ekonomi Indonesia, merupakan babak baru perbankan Indonesia. UU No. 23/ 1999 membawa Bank Indonesia kepada era baru perbankan yang Independen dan bebas dari campur tangan politisi. Langkah ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan BI yang profesional sehingga mampu membawa perekonomian moneter Indonesia kearah yang lebih baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->