P. 1
Artikel Sosieta Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana ini dilakukan di Selat Sunda, Lampung Selatan dan Padeglang, Jawa Barat pada tahun 2006 dan di Pantai Selatan (Kabupaten Cilacap dan Pacitan) pada tahun 2007

Artikel Sosieta Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana ini dilakukan di Selat Sunda, Lampung Selatan dan Padeglang, Jawa Barat pada tahun 2006 dan di Pantai Selatan (Kabupaten Cilacap dan Pacitan) pada tahun 2007

|Views: 1,137|Likes:
Published by ruslandari_dina2758
Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana ini dilakukan di Selat Sunda, Lampung Selatan dan Padeglang, Jawa Barat pada tahun 2006 dan di Pantai Selatan (Kabupaten Cilacap dan Pacitan) pada tahun 2007, Oleh : Dr. Ir. Dina Ruslanjari, MSi
PSBA (Pusat Studi Bencana) UGM
Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana ini dilakukan di Selat Sunda, Lampung Selatan dan Padeglang, Jawa Barat pada tahun 2006 dan di Pantai Selatan (Kabupaten Cilacap dan Pacitan) pada tahun 2007, Oleh : Dr. Ir. Dina Ruslanjari, MSi
PSBA (Pusat Studi Bencana) UGM

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: ruslandari_dina2758 on Feb 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

KEGIATAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA DIREKTORAT BANJAMSOS – BSKBA Oleh : Dr. Ir.

Dina Ruslanjari, MSi PSBA (Pusat Studi Bencana) UGM Doktor Bidang Ilmu Lingkungan Dosen Sekolah Pascasarjana - UGM Dosen Fakultas Geografi - UGM Peneliti Ahli PSBA (Pusat Studi Bencana) - UGM

Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana merupakan pembekalan, pembelajaran dan pendidikan kepada masyarakat mengenai pengetahuan kebencanaan. Kegiatan yang dilakukan mulai tahun 2006 ini merupakan kerjasama BSKBA dengan PSBA – UGM, atas inisiator Bapak Bachtiar Chamzah (mantan Mensos), didukungan bapak Chazali Situmorang (pada saat itu Sekdirjen Banjamsos) serta bapak Purnomo Sidik (pada saat itu Direktur BSKBA). Kegiatan sosialisasi dan mitigasi merupakan kegiatan pengurangan risiko bencana.

Kegiatan ini dilakukan sebelum keluarnya undang-undang tentang penanggulangan bencana (UU No. 24 Tahun 2007), yang mengamanatkan kegiatan sosialisasi mitigasi bencana (pra bencana) sebagai upaya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi Bencana yang setiap saat dapat terjadi. Kegiatan sosialisasi ini antara lain : 1) Perencanaan Partisipatif Penanggulangan Bencana, 2) Pengembangan Budaya Sadar Bencana, 3) Peningkatan Komitmen Terhadap Pelaku Penanggulangan Bencana dan 4) Penerapan Upaya Fisik, Nonfisik, dan Pengaturan PB Dalam kegiatan ini, dibentuk kelompok masyarakat penanggulangan bencana, yang berada dalam satu desa/kelurahan, di berbagai kabupaten/kota yang paling rawan di berbagai provinsi di Indonesia. BSKBA melalui PSBA - UGM menjadi pelopor dalam kegiatan ini, yang kemudian diikuti oleh berbagai Departemen/Institusi Pemerintah. Kegiatan sosialisasi dan mitigasi bencana ini dilakukan di Selat Sunda, Lampung Selatan dan Padeglang, Jawa Barat pada tahun 2006 dan di Pantai Selatan (Kabupaten Cilacap dan Pacitan) pada tahun 2007.

I.

Latar Belakang Kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Alam Gempabumi Dan Tsunami 1

Indonesia secara spasial terletak di wilayah yang sangat strategis bagi bernaungnya beranekaragam sumberdaya, baik biotik maupun abiotik. Secara geografis, Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana alam, karena Indonesia terletak pada zona pertemuan tiga lempeng tektonik yang selalu bergerak, yaitu Lempeng Samudra Indo-Australia, Lempeng Benua Eurasia, dan Lempeng Samudra Pasifik, serta lempeng-lempeng lebih kecil yang juga selalu bergerak. Indonesia merupakan daerah yang memiliki jalur gempabumi dan vulkanik aktif. Lokasi ini menyebabkan aktivitas kegempaan tinggi, yang rentetan peristiwanya mengakibatkan terbentuknya struktur geologi baru, rusaknya struktur geologi yang ada sebelumnya, sehingga akan mengakibatkan bencana alam gempabumi, longsoran, dan tsunami. ( Ellen J. Prager dalam Furious Earth, 2006) Setiap orang yang tinggal di wilayah rawan bencana harus menyadari bahwa mereka hidup di lingkungan yang mempunyai potensi terhadap terjadinya bencana. Mereka harus hidup berdampingan secara harmonis dengan lingkungan dalam memanfaatkan sumberdayanya, namun mereka tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat harus mengetahui keberadaan ancaman bencana, tingkat ancaman bencana, serta gejala-gejala alam yang terjadi sebelum ancaman berubah menjadi bencana. Pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan akan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan mitigasi bencana, sehingga meminimalkan dampak negatifnya menjadi sekecil mungkin atau mengurangi korban, baik manusia dan harta benda, melalui kegiatan sosialisasi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mampu melakukan penanggulangan bencana alam gempabumi dan tsunami yang akan terjadi. Secara umum tujuan dilakukan sosialisasi dan mitigasi bencana ini antara lain membangun masyarakat sadar bencana, meningkatkan SDM yang handal dalam penangulangan bencana, serta memberikan informasi kepada masyarakat yang bersifat edukasi dalam upaya meningkatkan peranan DEPSOS terhadap penanganan kebencanaan nasional dengan lingkup konsep “Disaster Management Cycle”. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan di beberapa lokasi antara lain Selat Sunda yang meliputi Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pandeglang serta Pantai Selatan Jawa yang meliputi Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Pacitan. Pemilihan daerah sosialisasi didasarkan pada kondisi daerah yang rawan terhadap bencana khususnya gempabumi dan tsunami.

2

Sosialisasi ditujukan kepada segenap lapisan masyarakat baik individu maupun lembaga serta komunitas yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat. Sasaran kegiatan meliputi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, lembaga pendidikan, lembaga sosial, lembaga swadaya masyarakat, media informasi, karang taruna, ibu-ibu PKK, dan lembaga swasta. Didalam rangkaian kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana, adapun tahapan kegiatan meliputi : a. Analisis sejarah tentang bencana alam Penggalian informasi langsung dari masyarakat dilakukan dengan curah pendapat (sharing idea). Informasi yang diperoleh dari masyarakat didokumentasikan untuk menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan tentang lingkungan sekitar yang berkaitan dengan kejadian-kejadian bencana. b. Diskusi kelompok terarah (Focus Groups Discussion) Diskusi kelompok terarah merupakan kegiatan diskusi yang bertujuan menggali opini masyarakat (peserta diskusi) mengenai bencana. Dalam kegiatan sosialisasi mitigasi bencana, diskusi kelompok terarah dilakukan untuk menggali kearifan budaya lokal dan pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan. c. Tutorial tentang kajian daerah rawan bencana dan risiko yang dihadapi Kegiatan ini dilakukan dengan pemutaran film bencana yang pernah terjadi, penyampaian materi tentang kebencanaan dan diskusi d. Penyusunan Tupoksi Penyusunan kesepakatan peran para pihak (stakeholders) dalam bertindak (comitment to act) menghadapi bencana yang diwujudkan dalam tugas pokok dan fungsi sesuai dengan peran para pihak pemangku kepentingan. e. Simulasi gladi posko Gladi dan simulasi lapangan merupakan media praktek bagi peserta untuk mengkoordinasikan pelaksanaan penanggulangan bencana pada saat terjadi bencana. Kegiatan ini diharapkan menjadi penggerak bagi masyarakat untuk secara mandiri mampu mengenali gejala dan tanda bencana yang ada di daerahnya, tanggap dalam melakukan antisipasi terjadinya bencana. Masyarakat diharap mampu menjalankan mekanisme koordinasi tugas dan tanggungjawab secara otomatis di antara 3

multistakeholders lokal dalam penanggulangan bencana serta membudayakan proses transfer pengetahuan bencana lintas generasi secara berkelanjutan. II. Hasil Kegiatan II.1. Selat Sunda Wilayah Provinsi Banten dan Provinsi Lampung yang terletak di sekitar Selat Sunda merupakan wilayah tidak jauh dari zone tunjaman antar lempeng. Wilayah tersebut juga dilewati oleh banyak sesar aktif (antara lain Sesar Semangko dan Sesar Meramang), dan terletak pada jalur gunungapi aktif yang membentang sepanjang 7000 km dari Aceh sampai ke Kepulauan Banda di Maluku (ESDM, 2006) Gunung Krakatau merupakan salah satu gunungapi yang aktif di dunia. Erupsi Gunung tersebut pada tahun 1883 menimbulkan bencana besar selain letusan gunungapi seperti gempa bumi dan tsunami. Selat Sunda mempunyai potensi bencana yang disebabkan oleh adanya sesar yang memotong Selat Sunda dan Gunungapi Krakatau pada sesar tersebut. Program sosialisasi sebagai media edukasi bencana sangat penting dilakukan untuk membekali kesiapsiagaan masyarakat dalam berperikehidupan di kawasan rawan bencana. Kondisi anak gunungapi Krakatau yang aktif merupakan kawasan yang rawan terhadap terjadinya bencana alam yang mengancam kehidupan masyarakat sekitarnya sehingga sangat penting artinya membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana. Adapun kerangka pikir dan skenario mitigasi bencana Selat Sunda dapat dilihat pada gambar 1.1 berikut,

4

Gambar 2.1 Alur Kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Tahun 2006 Kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Selat Sunda dilaksanakan di dua kabupaten, yakni Kabupaten lampung Selatan dan Kabupaten Pandeglang.

Para stakeholder melakukan FGD tentang bencana

5

Tim Reaksi Cepat Kabupaten

Evakuasi Korban

Situasi di Barak pengungsian Gambar 2.1. Pelaksanaan Gladi Posko

Penanganan Korban

II.1.1. Kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bancana Kabupaten Lampung Selatan Kegiatan mitigasi bencana di Kabupaten Lampung Selatan dilaksanakan di Kecamatan Sidomulyo, Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa. Hasil Diskusi Terfokus/Focus Group Discussion (FGD) di ketiga kecamatan tersebut walaupun ada sedikit perbedaan, namun secara garis besar hampir sama. Yaitu: 1. Permasalahan yang dapat dirumuskan oleh warga Kecamatan Sidomulyo terkait dengan penanggulangan bencana antara lain, kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung dalam menghadapi tanggap bencana, kurangnya informasi, komunikasi, dan kerjasama antara petugas dengan petugas dan petugas dengan masyarakat, kurangnya informasi dan sosialisasi oleh pemerintah setempat kepada masyarakat, kurangnya persediaan logistik dan peralatan darurat. 2. Permasalahan yang ditemukan di Kecamatan Kalianda adalah masalah penanggung jawab pemegang kendali informasi, kurangnya ketersediaan alat 6

serta prasarana, kurangnya sarana komunikasi dan kurangnya informasi serta sosialisasi kesadaran masyarakat. 3.Permasalahan di Kecamatan Rajabasa antara lain kurangnya peralatan, komunikasi, sosialisasi, dana, letak desa yang jauh, tugas struktur desa yang kurang efektif serta isu-isu yang terjadi. Solusi yang disampaikan secara umum dari hasil FGD di Kabupaten Lampung ini antara lain, penyediaan sarana prasarana dan alat yang mendukung penanggulangan bencana (rambu-rambu, sirine, megaphone, kendaraan), melakukan sosialisasi kepada masyarakat, menyiapkan dana dan logistik, memaksimalkan fungsi kelembagaan dan aparat serta pembuatan jalur evakuasi. II.1.2. Kegiatan Sosialisasi Barat) Hasil FGD yang dilaksanakan di Kabupaten Pandeglang dapat ditunjukkan pada tabel 2.1. berikut. Tabel 2.1. Acuan Kerja Penanggulangan Bencana Hasil FGD di Kabupaten Pandeglangan.
No IDENTIFIKASI MASALAH Sarana dan Prasarana a. Jaringan Jalan/ Transportasi - Penambahan alat - Beberapa ruas transportasi jalan ada yang - Pembuatan jalan rusak alternatif - Kemampuan dana - Perbaikan sarana transportasi dengan meminta sumbangan masyarakat setempat 1. Dinas/Instansi/ Muspika Kecamatan 2. Pemerintahan Desa 3. Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, LSM TUJUAN KENDALA SOLUSI BERSAMA PENANGGUNG JAWAB REKOMENDASI

dan Mitigasi Bencana Kabupaten Pandeglang (Jawa

1.

b. Permukiman Penduduk

- Pendirian Posko - Tempat evakuasi - Penyediaan tempat darurat jauh pengungsian - Pembuatan/ pembangunan tempat evakuasi yang aman dan mudah diakses oleh korban - Penambahan alat - Belum memiliki komunikasi alat deteksi dini - Penyediaan alat bencana (terkait deteksi dini dengan dana) bencana alam - Penyediaan alat deteksi dini bencana dan alat penunjang evakuasi bencana: perahu karet, pelampung, radio

c. Fasilitas Umum

7

komunikasi, kentongan

2.

EKONOMI a. Penghasilan Masyarakat Rendah - Distribusi logistik - Distribusi logistik - Pembentukan tim PBA berjalan dg baik lambat dan tidak (Penanganan Bencana merata Alam) tingkat - Distribusi logistik Kecamatan yang tidak tepat sasaran bertanggung jawab penuh dalam distribusi logistik - Menghimpun dana dari masyarakat - Membuat Kas Desa - Kurang adanya - Sosialiasasi mengenai kepedulian kepada kepedulian kepada sesama sesama - Kurang adanya - Sosialiasasi mengenai kepedulian kepada kepedulian kepada sesama sesama 1. Dinas/Instansi/ Muspika Kecamatan 2. Pemerintahan Desa 3. Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, LSM

3.

SOSIAL DAN BUDAYA a. Pendidikan - Meningkatkan Masyarakat Rendah kualitas SDM dalam kegiatan PBA b. Situasi Keamanan Terganggu - Pembentukan relawan yang bertugas menjaga keamanan daerah yg terkena gempa - Peningkatan Kegiatan Siskamling - Pembentukan relawan yang bertugas menenangkan kepanikan masyarakat - SDM masih rendah - Diklat PBA minimal 3 bulan sekali - Membentuk tim PBA di tiap tingkat kecamatan

- Kesulitan mencari - Diklat untuk relawan relawan yang memang di bentuk - Siskamling baru untuk tanggap dalam di fokuskan pada kegiatan PBA keamanan - Peningkatan kegiatan lingkungan di luar siskamling dengan kejadian bencana manajemen berbasis PBA Keahlian tim PBA - Pelatihan tim PBA (misal: tim medis) yg masih terbatas

c. Kepanikan Masyarakat

d. Kehilangan Anggota - Pengumpulan Keluarga informasi/data masyarakat tiap kecamatan

- Belum lengkapnya pendataan dan lemahnya koordinasi

- Melengkapi pendataan - Meningkatkan koordinasi tim PBA per tiap kecamatan

Kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana ini selain menghasilkan beberapa perumusan permasalahan dan alternatif solusi dari FGD. Masyarakat secara bersama-sama menyusun jalur evakuasi sebagai antisipasi ketika terjadi bencana.

8

Gambar 2.2. Jalur Evakuasi yang Dibuat Masyarakat di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan. Selain pembuatan jalur evakuasi, masyarakat juga mampu membuat rambu-rambu bencana sebagai salah satu sosialisasi bahaya bencana terhadap masyarakat.

Gambar 2.3. Rambu-rambu yang telah dibuat warga masyarakat peserta sosialisasi.

II.2. Pantai Selatan Jawa Pada Wilayah Pulau Jawa bagian selatan rawan terhadap bencana alam gempa bumi tektonik dan tsunami. Daerah yang dipilih pada Pantai Selatan jawa ini adalah Kabupaten Cilacap dan Pacitan. Kedua kabupaten tersebut dianggap telah mewakili daerah lain di Pantai Selatan Jawa yang rawan terhadap ancaman bencanaDalam hal ini Perlunya membangun komunitas masyarakat sadar bencana (yang adaptif dan adoptif), disesuaikan dengan kearifan 9

lokal masyarakat setempat. Program sosialisasi sebagai media edukasi bencana sangat penting dilakukan sebagai bekal kesiapsiagaan masyarakat dalam berperikehidupan di kawasan rawan bencana. Adapun diagram alur kegiatan sosialisasi dan mitigasi bancana untuk wilayah pantai selatan jawa yang meliputi Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Pacitan dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3. Alur Kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Tahun 2007 II.2.1. Kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Kabupaten Pacitan Pacitan merupakan teluk yang diapit oleh perbukitan berbatuan vulkanik di bagian barat dan perbukitan gamping di bagian timur. Wilayah Pacitan dilewati oleh Sungai Grindulu dan sesar besar yang terbentang ke arah utara dan sesar lainnya. Sesar Grindulu dapat merupakan faktor pemicu terjadinya gempa atau dapat pula merupakan pemicu terjadinya longsor. Pacitan terletak pada lembah Sungai Grindulu yang bila terjadi tsunami, maka daerah Pacitan akan mengalami kerusakan yang sangat besar. (BPM Pemerintah Kabupaten Pacitan, 2006) Beberapa daerah yang menjadi tujuan sosialisasi di Pacitan, dilakukan di Kecamatan Pacitan di :  Desa Kayen merupakan desa ring dua yang merupakan desa evakuasi atau tempat penampungan apabila terjadi bencana tsunami dan gempa bumi. 10

Desa Kembang merupakan desa yang rawan bencana dan merupakan desa ring satu yang berada dekat dengan muara sungai Grindulu yang belum pernah dilaksanakan sosialisasi.

Gambar 2.3. Citra Teluk Pacitan Pada kegiatan Workshop diikuti oleh perwakilan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten (Kesbanglinmas, Dinas Kesehatan, Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan, Lingkungan Hidup), DPRD, Lembaga Swadaya Masyarakat dalam dan luar negeri, Media, BMG, Tokoh Masyarakat, Satkorlak dan Satlak, Tagana, dan PMI. Para peserta mendiskusikan solusi dari kendala atau persoalan yang dihadapi, sehingga dapat diidentifikasi & dirumuskan konsep penguatan kelembagaan lokal untuk melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana ditingkat daerah. Hasil workshop yaitu kesepakatan pemerintah daerah mengantisipasi terjadinya bencana dengan membentuk sistem manajemen yang baru antara lain : a. menjalin kerjasama dengan BMG berupa pengadaan alat Early Warning System. Polres dan Kodim telah siaga dan melakukan koordinasi dengan pengusaha dalam pengadaan kendaraan besar yang dimiliki untuk evakuasi. b. Komando Distrik Militer (Kodim) berperan dalam proses evakuasi korban, menolong dan mengamankan wilayah dan sebagian aparat secara khusus memberikan bantuan medis. c. Masing-masing Kepala Desa sudah dibekali pengetahuan kebencanaan beserta jalur evakuasinya. 11

d. Kantor dinas sosial atau kesejahteraan sosial sudah siap dengan perahu karet untuk penanggulangan bencana banjir. e. Bidang Kesejahteraan Sosial berfungsi dalam menyiapkan peralatan dapur, transportasi untuk mengangkut bantuan pangan dan sandang, dan peralatan lain seperti genset untuk penerangan. f. BAPPEDA dalam proses bencana berperan saat pra bencana, yakni dalam rencana pembangunan yang mengikuti aturan kesesuaian lahan dan tata ruang. g. Kesbanglinmas bertindak sesuai dengan SK Bupati mengadakan pertemuan antar bidang secara rutin setiap dua bulan sekali. h. Pemerintah desa telah dapat memetakan jalur dan tempat evakuasi menuju desa Kayen dan desa Jelok, sedangkan masyarakatnya telah menindaklanjuti penyuluhan kebencanaan. i. j. TNI dan POLRI pernah menyelenggarakan gladi yang diikuti oleh lembaga-lembaga di tingkat kecamatan dan desa yang akan dilakukan secara berkesinambungan. PMI melakukan kordinasi dengan Kodim untuk evakuasi dan menolong korban. Puskesmas bila memungkinkan berfungsi sebagai pos penanggulangan darurat dan evakuasi. k. Penggalangan partisipasi kelompok wanita (Pembinaan Kesejateraan Keluarga) dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana dilakukan dengan menyampaikan pengetahuan tentang kebencanaan, menampung bantuan logistik serta mendukung penyediaan konsumsi di dapur umum. l. Tokoh masyarakat berfungsi sebagai pemberi informasi kepada masyarakatnya, dan menggerakannya agar masyarakat mengetahui tindakan yang dilakukan ketika terjadi bencana. m. Karang taruna menjadi ujung tombak pemerintah desa dalam penanggulangan bencana. Kelompok ini membutuhkan pelatihan dan pendampingan tentang simulasi penangulangan bencana secara berkesinambungan. n. Tagana belum banyak diketahui perannya di tingkat desa karena keberadaanya diatur dan dikordinasi oleh propinsi dan fihak kabupaten. o. RAPI dan ORARI sebagai kelompok yang bertugas di jalur komunikasi, berfungsi memonitor melalui radio, yang terhubung ke lembaga-lembaga terkait dengan penanggulangan bencana. p. INFOKOM dalam hal ini berperan dalam klarifikasi kebenaran berita dan mempublikasikan melalui media-media yang aktif, seperti radio. Baywatch sebagai 12

suatu organisasi penyelamatan daerah pantai masih perlu dukungan, mungkin karena kurang koordinasi dengan pihak yang terkait, sehingga kurang fasilitas dan biaya, serta kewenangan masih belum jelas. q. Kegiatan yang berkaitan dengan bencana alam menjadi tanggung jawab pokok pemerintah Kabupaten Pacitan, sehingga harapan yang disampaikan dengan pelaksanaan sosialisasi ini dapat melengkapi sistem yang sudah berjalan. II.2.2. Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap merupakan kabupaten yang terletak di pesisir selatan Samudera Hindia. Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Cilacap terletak di sebelah utara lempeng tektonik, dan rawan terhadap terjadinya bencana. Kabupaten Cilacap berhadapan langsung dengan zona subduksi antara Lempeng Hindia-Australia & Eurasia (Asia Tenggara) dan terdapat jalur Sesar Serayu dan Sesar Citandui. Program sosialisasi sebagai media edukasi bencana sangat penting dilakukan untuk membekali kesiapsiagaan masyarakat dalam berperikehidupan di kawasan rawan bencana. Daerah sosialisasi mitigasi bencana di Cilacap dilaksanakan : 1. Di Kecamatan Binangun adalah salah satu kecamatan yang rawan

bencana tsunami dan gempabumi. Desa Binangun merupakan Desa ring dua atau desa evakuasi yang pada saat terjadi tsunami pada tanggal 17 Juli 2006 merupakan desa yang menampung pengungsi dari Desa Widarapayung Wetan. 2. Desa Widarapayung Wetan yang merupakan desa ring satu, yaitu desa

yang terkena bencana tsunami pada tanggal 17 Juli 2006 dan menimbulkan banyak korban jiwa. Alasan lain dilaksanakan sosialisasi di daerah tersebut karena kegiatan sosialisasi mitigasi bencana belum pernah dilaksanakan di kedua desa tersebut. Hasil dari sosialisasi, workshop dan pembahasan mengenai solusi atas kendala atas persoalan yang dihadapi, maka pembagiaan tanggung jawab para stakeholder yang ada, adalah sebagai berikut. a. Kodim melakukan tindakan dengan menggerakkan pasukan untuk terjun membantu masyarakat, meskipun dari pusat belum ada perintah. 13

b.

Satpol PP mengatur pengungsi yang berada di pendopo kabupaten selama beberapa malam dikarenakan banyaknya warga masyarakat yang mengungsi ke pendopo kabupaten. Satpol PP turut meredam kepanikan warga yang mengungsi ke Banyumas atau yang mengungsi ke masjid, sekolah, dan kantor-kantor. Setelah pengungsi merasa aman, satpol PP membantu mengatur pengungsi kembali ke desa masing-masing dengan kendaraan dari kabupaten.

c.

Tokoh masyarakat membantu dalam proses evakuasi setelah berkoordinasi dengan TNI AD, mengamankan wilayah yang terkena musibah dan ditinggalkan warga sehingga kejadian kehilangan harta benda akibat ditinggal mengungsi tidak ada.

d.

Para nelayan memberikan informasi laporan pandangan mata atas kondisi lingkungan termasuk fenomena alam sehingga sebelum tsunami terjadi para nelayan sudah menambatkan perahunya.

e.

Staf kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.Cilacap juga turun tangan untuk membantu evakuasi, mendata korban, mendirikan dapur umum, dan mendirikan tenda bagi pengungsi di daerah aman.

f.

Lembaga pendidikan anak (LSM di Cilacap) membantu proses evakuasi korban, rehabilitasi korban, dan juga koordinasi sektoral.

g.

Pimpinan Cabang NU Cilacap mengirim informasi bencana dari tingkat cabang (kabupaten) hingga ranting kelurahan, dan membentuk serta menghimpun relawan bencana.

h.

SAR Wijaya Kusuma juga segera terjun ke lapangan, segera mengevakuasi korban serta mengungsikan warga ke tempat yang lebih tinggi, serta mengadakan pengawasan di wilayah yang ditinggalkan.

i.

Di tingkat desa, tokoh masyarakat membantu membawa orang-orang dengan kendaraan roda empat mengungsi menuju ke arah utara (ke Kroya), serta menugaskan satgaslimnas untuk menjaga keamanan desa yang kosong dan mencari logistik untuk pengungsi.

j.

Karang taruna melakukan proses evakuasi , menyiapkan logistik untuk anakanak, menyediakan tempat untuk posko relawan, posko parpol, hingga dapur 14

umum, serta menenangkan warga yang panik dan trauma yang mengungsi di Sodong maupun di G.Selok. k. Tagana Kabupaten Cilacap pada saat tsunami membantu penyiapan dan pengiriman makanan untuk pengungsi ke selok dan pengirimannya yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial l. Dinas Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap Aparat pemerintah desa

melakukan pendataan warga yang mengungsi di pendopo dan masjid agung, membuat data perahu yang hilang, dan beberapa awak kapal yang hilang, serta membuat data perahu yang rusak dan terlempar dari bibir pantai. m. POLRES (Polisi Resort) berperan dalam penggulangan bencana tsunami dengan melakukan pertolongan korban dan mengamankan masyarakat, harta benda milik masyarakat, mengatur para pengungsi, mengevakuasi korban dengan sarana dan prasarana yang ada serta membantu menyebarkan berita tanda bahaya dan menyebarkannya melalui polres-polres. n. RAPI membantu komunikasi dan informasi permasalahan kejadian bencana secara berkala tentang perkembangan/ perubahan yang terjadi kepada instansi dan masyarakat, mengevakuasi dan mendata korban untuk dilaporkan ke dinas terkait. o. DKLH (Dinas Kota Lingkungan Hidup) melakukan identifikasi kerusakan lingkungan pasca bencana). p. UPT Dinas Sosial Keluarga Berencana Kec.Adipala turut berperan dalam penanganan korban secara langsung ditempat pengungsian (Gunung Selok), mengidentifikasi korban dan pendataan para pengungsi, bantuan dan konsumsi. (pendataan

Kegiatan sosialisasi bencana di Kabupaten Pacitan dan Cilacap selain menghasilkan kesepakatan yang dirumuskan saat workshop juga telah membuat berbagai kesepakatan dan pencapaian. Hal tersebut antara lain, terbentuknya komunitas masyarakat saadar bencana, terbentuknya kelompok masyarakat penanggulangan bencana, tersedia dan dibuatnya infrastruktur penanggulangan bencana serta terbangunya sistem koordinasi dan fasilitasi penanggulangan bencana. 15

Gambar 2.4. Simulasi Gempabumi Dan Tsunami

Gambar 2.5. Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana : komunitas masyarakat sadar bencana 16

Gambar 2.6. Infrastruktur (Rambu-rambu) Penanggulangan Bencana.

Gambar 2.7.. Sistem kordinasi dan fasilitasi penanggulangan bencana 17

III. Kesimpulan dan Rekomendasi III.1. Kesimpulan Dari serangkaian kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di berbagai daerah baik di Selat Sunda maupun Pantai Selatan Jawa dapat disImpulkan : 1. Kegiatan sosialisasi menjadi media yang sangat penting untuk mempersiapkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir dalam menghadapi bencana gempabumi dan tsunami. 2. Model sosialisasi yang dihasilkan dapat menjadi sumber inovasi Depsos RI untuk diadopsi dan diadaptasikan di daerah-daerah lain secara nasional. 3. Pelatihan terhadap fasilitator daerah dilakukan dalam rangka menyiapkan agen di daerah menjadi motivator dalam membentuk komunitas masyarakat sadar bencana, dan di masa selanjutnya berkembangnya innovator daerah menjadi modal dasar yang sangat strategik untuk menjamin keberlanjutan penyelenggaraan penanggulangan bencana partisipatif di tingkat daerah. Serta kegiatan sosialisasi yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan kebencanaan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, serta penyelenggaraan gladi penanggulangan bencana untuk meningkatkan sikap tanggap (ketrampilan masyarakat) dalam menghadapi bencana gempabumi dan tsunami, diharapkan dapat menjadi media edukasi kebencanaan menuju perubahan perilaku masyarakat untuk lebih sadar dan tanggap terhadap ancaman bencana yang setiap saat dapat terjadi.

3.2.

Rekomendasi Berdasarkan beberapa kesimpulan, dapat dirumuskan rekomendasi sebagai berikut. 1. pemda harus meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan pelatihan

dan sosialisasi secara berkelanjutan. 2. Masyarakat pesisir Selat Sunda dapat memahami pengetahuan

kebencanaan dan mampu membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan tsunami yang akan terjadi, sehingga dapat meminimalkan risiko bencana. 18

3.

Perlu melakukan kegiatan serupa di daerah rawan tinggi terhadap

bencana. Pemda harus memelihara dan membentuk kelompok masyarakat sadar bencana dengan edukasi masyarakat tanggap bencana. 4. Pemda agar melakukan gladi lapang secara periodik, guna meningkatkan

SDM lokal yang handal, sehingga mampu melakukan penanggulangan bencana.

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, E.P. 1986. Indonesia. Southeast Aia Association on Seismology and Earthquake Engineering.Series on Seismology volume V. BPM Pemerintah Kabupaten Pacitan, 2006, Daftar Isian Profil Desa dan Kelurahan Tahun 2006, Kabupaten Pacitan. ESDM, 2006, Gempabumi dan Tsunami, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung Prager. Ellen J. 2006. Furious Earth : The Science and Nature of Earthquakes, Volcanoes, and Tsunamis. Bandung : Penerbit Buku Pakar Raya UNDANG-UNDANG Nomor. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->