P. 1
Bela Negara.

Bela Negara.

|Views: 6,949|Likes:
Published by naksintink

More info:

Published by: naksintink on Feb 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

A-PDF WORD TO PDF DEMO: Purchase from www.A-PDF.

com to remove the watermark

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 028 TAHUN 1996 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : 1. bahwa Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan di luar sekolah, tidak terlepas dari ketentuan dalam Undangundang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 2. bahwa sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara,serta Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982, maka Gerakan Pramuka merupakan obyek Pendidikan Pendahuluan Bela Negara; 3. bahwa untuk itu, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka perlu menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka. Mengingat : 1. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara, serta Undang - undang RI Nomor 1 Tahun 1988 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 2. Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 3. Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka juncto Keputusan Presiden RI Nomor 057 Tahun 1988 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka; 4. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 103 Tahun 1989 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka; 5. Keputusan Bersama antara Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Menteri Pertahanan Keamanan RI Nomor 153 Tahun 1986 dan Nomor Kep/12/IX/1986 tentang upaya peningkatan PPBN di lingkungan Gerakan Pramuka; 6. Pedoman Bersama antara Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Dirjen Persmanvet Dephankam Nomor 045 Tahun 1988 dan Nomor 006/III/1988, tentang Pokokpokok Pelaksanaan Kesepakatan antara Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka dengan Menteri Pertahanan Keamanan RI;

2 7. Buku Panduan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka, yang dikeluarkan oleh Ditjen Persmanvet, Dephankam Tahun 1996. Memperhatikan : Saran Andalan Nasional dan Staf Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

MEMUTUSKAN
Menetapkan : Pertama : Menerbitkan Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka seperti yang tertera pada lampiran keputusan ini. : Menginstruksikan kepada semua jajaran Gerakan Pramuka untuk melaksanakan isi buku pedoman tersebut di atas : Semua jajaran Gerakan Pramuka diharapkan mengadakan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait dalam pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka. : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan.

Kedua Ketiga

Keempat

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 26 Februari 1996. Ketua,

H. Himawan Soetanto.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan luar sekolah bertujuan untuk mendidik generasi muda agar berwatak dan berbudi pekerti luhur, serta mampu mengembangkan kepribadian, potensi dan jati dirinya, sebagai tunas bangsa yang masih dalam masa transisi, sehingga pada saatnya nanti dapat mencapai proses kedewasaan dalam arti sebenarnya. Sebagai organisasi yang berorientasi pada pembinaan watak, Gerakan Pramuka harus menyesuaikan pola pembinaannya sesuai dengan perkembangan jaman, yaitu era ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba canggih, sehingga diharapkan mampu menyerap dan mengikuti perkembangan jiwa maupun sosial peserta didiknya, dan dapat mencapai tujuan Gerakan Pramuka dengan mewujudkan kegiatan menarik yang mengandung pendidikan, sesuai dengan harapan masyarakat dan keinginan pemerintah, termasuk memantapkan materi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) dalam kegiatan Gerakan Pramuka. Di dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 pasal 19 disebutkan bahwa Pendidikan Pendahuluan Bela Negara diselenggarakan guna memasyarakatkan upaya bela negara, serta menegakkan hak dan kewajiban warga negara dalam upaya bela negara. Hal ini apabila kita kaji mempunyai hubungan yang erat dengan kegiatan Gerakan Pramuka. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara tahap awal dilaksanakan pada pendidikan sekolah tingkat dasar dan menengah serta dalam Gerakan Pramuka. Pada hakikatnya Gerakan Pramuka itu sendiri sudah memberikan dasar-dasar Pendidikan Pendahuluan Bela Negara tersebut, namun demikian disadari perlunya upaya yang lebih sistematis, efisien dan efektif.

b.

c.

2.

Maksud dan tujuan a. Pedoman Pelaksanaan ini dimaksudkan untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di lingkungan Gerakan Pramuka. Tujuan diterbitkannya pedoman pelaksanaan agar ada kesamaan persepsi, visi dan tindakan dalam mencapai sasaran dan tujuan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara.

b.

2 3. Dasar a. b. UUD 1945 pasal 30 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara Republik Indonesia serta Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 1988 tentang Perubahan atas Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 1982. Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka junto Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka. Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 103 Tahun 1983, tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka. Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 63 Tahun 1979, tentang Pola Umum Gerakan Pramuka. Keputusan Bersama antara Ka Kwarnas dengan Menhankam RI Nomor 153 Tahun 1986 dan Nomor Kep/12/IX/1986, tentang upaya peningkatan PPBN di lingkungan Gerakan Pramuka. Pedoman Bersama antara Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Ditjen Persmanvet Dephankam Nomor 045 Tahun 1988 dan 006/III/1988, tentang Pokok-pokok Pelaksanaan Kesepakatan antara Ka Kwarnas Gerakan Pramuka dan Menhankam RI. Buku Panduan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka, yang dikeluarkan oleh Ditjen Persmanvet, Departemen Hankam.

c.

d. e. f.

g.

h.

4.

Ruang lingkup dan tata Urut Pedoman pelaksanaan ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan PPBN dalam Gerakan Pramuka dan disusun dengan tata urut sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. Pendahuluan Gambaran Umum tentang PPBN dalam Gerakan Pramuka Peranan Gerakan Pramuka dlm Pendidikan Pendahuluan Bela Negara Pokok-pokok pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara Pola Pelaksanaan PPBN Tolok Ukur dan tanda-tanda keberhasilan serta evaluasi PPBN dalam Gerakan Pramuka Penutup

5.

Pengertian a. Pertahanan Keamanan Negara adalah pertahanan keamanan negara Republik Indonesia sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara, yang mencakup upaya dalam bidang pertahanan yang ditujukan terhadap segala ancaman dari luar negeri dan upaya dalam bidang keamanan yang ditujukan terhadap ancaman dari dalam negeri.

3 b. Bela negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia serta keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara dan kerelaan untuk berkorban guna meniadakan setiap ancaman baik dariluar negeri maupun dari dalam negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa,keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Upaya bela negara adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap warga negara sebagai penunaian hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pertahanan keamanan negara. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara disingkat PPBN adalah pendidikan dasar bela negara guna menumbuhkan kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, keyakinan akan Kesaktian Pancasila, kerelaan berkorban bagi Negara, serta memberikan kemampuan awal bela negara. Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungan sesuai dengan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, keadaan geografi negara serta sejarah yang dialaminya. Pada dasranya Wawasan Nusantara merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila sebagai kesatuan yang bulat dan utuh di dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri dalam bentuk apapun, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan identitas, keutuhan, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta mencapai tujuan perjuangan nasionalnya. Gerakan Pramuka adalah nama satu-satunya organisasi kepanduan nasional Indonesia, yang merupakan wadah dan boleh menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia dengan menggunakan Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan. Pramuka adalah sebutan bagi peserta didik dalam Gerakan Pramuka, yaitu anggota Gerakan Pramuka berusia antara 7 sampai dengan 25 tahun dan berkedudukan sebagai: 1) 2) 3) 4) Pramuka Pramuka Pramuka Pramuka Siaga (usia 7-10 tahun) disingkat S Penggalang (usia 11-15 tahun) disingkat G Penegak (usia 16-20 tahun) disingkat T Pandega (usia 21-25 tahun) disingkat D

c.

d.

e.

f.

g.

h.

4 i. Pembina Pramuka adalah sebutan bagi anggota dewasa Gerakan Pramuka, yaitu tugasnya membina secara langsung para Pramuka S, G, T, dan D di satuan Pramuka masing-masing yang ada di Gugus depan. Pembina Pramuka Mahir adalah sebutan bagi Pembina Pramuka yang telah selesai kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar dan Lanjutan serta masa pengembangannya, sehingga dinilai oleh para Pelatih dia cukup cakap untuk membina Satuan Pramuka S, G, T, D. Pelatih Pembina Pramuka yang disebut secara singkat Pelatih, adalah sebutan bagi anggota dewasa Gerakan Pramuka yang sudah menjadi Pembina Pramuka Mahir (golongan S, G, T, D) yang telah selesai mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka tingkat Dasar dan/atau tingkat Lanjutan, dan diangkat oleh Kwartir Cabangnya untuk melaksanakan pendidikan dan latihan bagi anggota dewasa Gerakan Pramuka atau orang dewasa lainnya. Tugas Pelatih ini adalah melatih anggota dewasa Gerakan Pramuka agar dapat meningkatkan jumlah dan mutu Pembina Pramuka serta anggota dewasa lainnya. Instruktur adalah sebutan bagi anggota dewasa Gerakan Pramuka atau Pramuka Penegak/Pandega, atau orang dari luar Gerakan Pramuka, yang karena kecakapan atau kemampuannya diminta untuk memberi latihan keterampilan tertentu, misalnya instruktur perkemahan, tali temali, peta dan kompas, gladi tangguh dan halang rintang, dan lain-lain kepada para Pramuka S, G, T, dan D guna mencapai syarat kecakapan Pramuka

j.

k.

l.

BAB II GAMBARAN UMUM PPBN DAN GERAKAN PRAMUKA Upaya Bela Negara merupakan kewajiban setiap warga negara untuk dapat mempertahankan keutuhan Negara Republik Indonesia dalam segala aspek kehidupan. 6. Gambaran Umum PPBN a. Kedudukan PPBN 1) Sesuai dengan Ketetapan MPR No. 11/MPR/1988, tentang Garisgaris Besar Haluan Negara pada Bidang Hankam angka 6 dan 8, dan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 1982 tentang ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI, ditetapkan bahwa hak dan kewajiban warga negara yang diwujudkan dengan keikut sertaan dalam upaya Bela Negara diselenggarakan antara lain melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) sebagai bagian tak terpisah dalam Sistem Pendidikan Nasional.

5 Sebagai bagian tak terpisah dalam Sistem Pendidikan Nasional, maka penyelenggaraan PPBN harus tunduk pada UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang pelaksanaannya melalui pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. 2) Dengan demikian maka PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah salah satu pelaksanaan PPBN di lingkungan Pendidikan Luar Sekolah.

b.

Tujuan PPBN Tujuan PPBN adalah mewujudkan warga negara Indonesia yang memiliki tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut guna meniadakan setiap ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yuridis nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

c.

Sasaran PPBN Sasaran Pendidikan Pendahuluan Bela Negara adalah terwujudnya warga negara Indonesia yang mengerti, menghayati dan sadar serta yakin untuk menunaikan kewajibannya dalam upaya bela negara, dengan ciri-ciri: 1) Cinta tanah air Yaitu mengenal mencintai wilayah nasionalnya sehingga waspada dan siap membela tanah air Indonesia terhadap segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara oleh siapapun dan dari manapun. 2) Sadar berbangsa Indonesia Yaitu selalu membina kerukunan, persatuan, dan kesatuan di lingkungan keluarga, pemukiman, pendidikan, dan pekerjaan serta mencintai budaya bangsa dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan. 3) Sadar bernegara Indonesia Yaitu sadar bertanah air, bernegara dan berbahasa satu yaitu Indonesia, mengakui dan menghormati bendera Merah Putih, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lambang Negara Garuda Pancasila dan Kepala Negara serta mentaati seluruh peraturan perundangundangan yang berlaku.

6 4) Yakin akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi Negara Yaitu yakin akan kebenaran Pancasila sebagai satu - satunya falsafah dan ideologi bangsa dan negara yang telah terbukti kesaktiannya dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara, guna tercapainya tujuan nasional. 5) Rela berkorban untuk bangsa dan negara Yaitu rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta baik benda maupun dana untuk kepentingan umum, sehingga pada saatnya siap mengorbankan jiwa raga bagi kepentingan bangsa dan negara. 6) Memiliki kemampuan awal bela Negara a) Diutamakan secara psikis (mental) memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras, mentaati segala peraturan perundangundangan yang berlaku, percaya akan kemampuan sendiri, tahan uji, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan nasional. Secara fisik (jasmaniah) sangat diharapkan memiliki kondisi kesehatan dan keterampilan jasmani yang tidak bersifat latihan kemiliteran, yang dapat mendukung kemampuan awal bela negara yang bersifat psikis.

b)

6.

Gambaran Umum Gerakan Pramuka a. Tugas Gerakan Pramuka Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 antara lain menyatakan bahwa Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya badan yang ditugaskan Pemerintah RI untuk melaksanakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda, dengan menggunakan Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan. b. Gerakan Pramuka sebagai sub sistem Pendidikan Nasional Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan di luar sekolah menangani pendidikan yang menitik beratkan pada pembentukan kepribadian dan watak, serta pembentukan kader bangsa yang mampu melaksanakan pembangunan yang berjiwa Pancasila, merupakan sub sistem dari pendidikan nasional, yang diatur dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

7 c. Tujuan Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak - anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar : menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta : a) tinggi moral, kuat mental, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b) tinggi kecerdasan dan mutu keterampilan; c) kuat dan sehat fisiknya; 2) menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada NKRI, sehingga menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara. Tujuan tersebut merupakan cita-cita Gerakan Pramuka, karena itu kegiatan yang dilakukan oleh semua unsur dalam Gerakan Pramuka harus mengarah pada pencapaian tujuan tersebut. d. Kegiatan Gerakan Pramuka Usaha untuk mencapai tujuan tersebut melalui penyelenggaraan kegiatan pada : 1) Gugus depan Pramuka 2) Satuan Karya Pramuka (Saka) yang saat ini terdiri atas: a) Saka Bahari b) Saka Bakti Husada c) Saka Bhayangkara d) Saka Dirgantara e) Saka Kencana (Keluarga Berencana) f) Saka Taruna Bumi g) Saka Wanabakti 3) Setiap jajaran kwartir e. Dalam kegiatan Gerakan Pramuka digunakan : 1) 2) Kiasan Dasar Gerakan Pramuka yang diambil dari tahapan sejarah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan yang salah satu unsurnya adalah digunakannya Kode Kehormatan Pramuka yaitu Satya dan Darma Pramuka, atau janji dan ketentuan moral. 1)

8. Kesesuaian antara Gerakan Pramuka dan PPBN a. b. Gerakan Pramuka dan PPBN keduanya merupakan produk peraturan perundang-undangan Kegiatan Gerakan Pramuka selaras dan senada dengan PPBN, sehingga semua kegiatan Gerakan Pramuka dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan PPBN.

8 BAB III PERAN GERAKAN PRAMUKA DALAM PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA 9. Fungsi Gerakan Pramuka Fungsi Gerakan Pramuka adalah: a. Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda Kegiatan menarik dimaksudkan permainan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan, yaitu permainan yang mempunyai tujuan dan aturan permainan, jadi bukan hanya sekedar main-main, yang bersifat hiburan saja, tanpa aturan dan tujuan, dan tidak bernilai pendidikan. b. Pengabdian bagi orang dewasa Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan dan pengabdian. Orang dewasa mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasinya. c. Alat bagi masyarakat dan organisasi Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat saja, dan bukan tujuan pendidikannya. 10. Peranan Gerakan Pramuka Adapun peran Gerakan Pramuka adalah adalah sebagai wadah untuk mendidik dan membina anak dan pemuda Indonesia dengan tujuan agar mereka menjadi manusia yang berkepribadian, berwatak, dan berbudi pekerti luhur dan berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Indonesia, serta sanggup dan mampu melaksanakan pembangunan bangsa dan negara. Peranan Gerakan Pramuka dalam Pendidikan Bela Negara adalah : a. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 1) 2) Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, menurut agama dan kepercayaan masing-masing Memupuk kerukunan hidup antar umat seagama dan antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama lain.

9 b. Menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air dengan cara : 1) 2) Memupuk dan mengembangkan rasa cinta dan setia kepada tanah air dan bangsa Menumbuhkan dan mengembangkan pada para anggota rasa percaya diri pada diri sendiri, sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif, rasa tanggung jawab dan disiplin. Menumbuhkembangkan rasa memiliki dan mencintai produksi dalam negeri.

3) c.

Menumbuh kembangkan sadar berbangsa dan bernegara dengan cara : 1) Menyadari bahwa rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Indonesia mutlak adanya sehubungan dengan kondisi negara dan bangsa Indonesia yang majemuk dalam berbagai dimensi. Mentaati segala peraturan yang berlaku Memupuk dan mengembangkan rasa kesadaran dan kesetia kawanan sosial untuk menumbuhkan sikap gotong royong, senasib sepenanggungan dan suka menolong sesama.

2) 3)

d.

Menumbuh kembangkan keyakinan akan kesaktian Pancasila dengan cara antara lain : 1) Menumbuhkan keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai satusatunya falsafah dan ideologi bangsa dan negara, yang telah terbukti kesaktiannya dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara guna tercapainya tujuan nasional. Memantapkan jiwa Pancasila dan mempertebal kesadaran sebagai warga negara yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dan masa depan bangsa dan negara.

2)

e.

Menumbuh kembangkan rela berkorban untuk negara dan bangsa dengan cara : 1) Melatih panca indera dan pendidikan jasmani, mengolah pikiran, hasta karya serta menyediakan sarana dan prasarana, untuk mempelajari bermacam keterampilan dan kejujuran dalam rangka membina dan mengembangkan kader pembangunan yang sehat, cakap, cerdas, dan terampil. Mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi /golongan merupakan tindakan yang harus dimiliki oleh setiap warga negara dalam sikap hidupnya.

2)

f.

Memberikan kemampuan awal bela negara antara lain dengan cara : 1) Menanamkan sifat disiplin, ulet, kerja keras, mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku, percaya kemampuan sendiri, tahan uji dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan nasional.

10 2) Secara fisik (jasmani) memiliki kondisi kesehatan dan kemampuan keterampilan jasmani yang tidak bersifat latihan kemiliteran yang dapat mendukung kemampuan awal bela negara yang bersifat psikis.

Jelaslah bahwa Gerakan Pramuka harus berperan aktif dalam PPBN, dengan dijiwai semangat Kebangkitan Nasional, berusaha menjadi anggota Gerakan Pramuka sebagai motivator, inovator, penyuluh, memberi contoh dan penggerak masyarakat di bidang PPBN. 11. Peran sebagai Motivator Peran anggota Gerakan Pramuka sebagai motivator adalah : a. Mendorong untuk mencintai tanah airnya, misalnya dengan mengajak para Pramuka melihat keindahan alam, air terjun, pantai laut, memperhatikan berbagai tanaman dan hewan yang hidup di alam sekitarnya, menganalisa berita atau isi majalah tentang keadaan masyarakat dan perkembangan bangsa. Mendorong kesadaran berbangsa dan bernegara, misalnya dengan mempelajari struktur pemerintah, mengetahui nama dan alamat pejabat pemerintah di wilayahnya, nama-nama menteri kabinet pembangunan, mengenal pahlawan nasional, mengikuti lomba kesenian dan kesusasteraan Indonesia, belajar berpidato atau mengarang dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar atau dengan menggunakan bahasa daerahnya, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, lagu-lagu nasional dan daerah, mempelajari tarian atau kesenian daerahnya/nasional dan sebagainya. Mendorong untuk yakin atas kesaktian Pancasila, misalnya dengan mempelajari butir-butir Pancasila, dengan penghayatan dan pengalamannya, sejarah lahirnya Pancasila, peristiwa-peristiwa nasional yang mengarah pada rongrongan terhadap Pancasila dari berbagai segi dan lain-lain. Mendorong untuk rela berkorban demi bangsa dan negara, dengan melakukan kegiatan sosial, kegiatan bakti masyarakat, melaksanakan pembangunan fisik dan non fisik di sekitar tempat tinggalnya. Melakukan kegiatan kebersihan lingkungan yang mengarah pada kerelaan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta benda miliknya untuk kepentingan umum sehingga pada saatnya kelak siap pula mengorbankan jiwa raganya bagi kepentingan bangsa dan negara. Mendorong untuk memiliki kemampuan awal bela negara, secara psikis dengan memberikan banyak latihan untuk membina kedisiplinan, keuletan, kesediaan bekerja keras, mentaati perundangundangan yang berlaku, membina rasa percaya pada diri sendiri, tahan uji, pantang menyerah, berani menghadapi kesulitan.

b.

c.

d.

e.

11 Secara fisik/jasmaniahdilakukan dengan memberikan latihan untuk membina kondisi jasmani yang sehat, tangkas dan terampil, misalnya dengan latihan olah raga, pencak silat, halang rintang, latihan tali temali, panjat tebing, peluncuran, dan lain-lain. 12. Peran sebagai Inovator Peran anggota Gerakan Pramuka sebagai inovator antara lain melalui kegiatan yang menggugah para anggota Gerakan Pramuka untuk berkreasi, menciptakan sesuatu atau menampilkan gagasan-gagasannya yang baru dalam berbagai hal. Kegiatan itu antara lain lomba melukis, mengarang puisi/prosa, mencipta lagu dan tarian, membuat desain perangko/hiasan dinding/motif batik, membuat permainan yang berkaitan dengan Pancasila/kesadaran berbangsa dan bernegara, wawasan nusantara, membuat berbagai macam hasta karya/seni ukir atau patung dari kayu, bambu, tempurung, dan tulang, serta lomba kaligrafi, dan lain-lain. Tegasnya anggota Gerakan Pramuka diharapkan dapat menjadi pembaharu, penemu gagasan baru, dalam menanamkan rasa cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, keyakinan akan kesaktian Pancasila, kerelaan berkorban demi bangsa dan negara, serta kemampuan awal bela negara. 13. Peran sebagai Penyuluh Anggota Gerakan Pramuka diharapkan dapat menjadi penyuluh, baik bagi anggota Gerakan Pramuka lainnya, maupun bagi anggota masyarakat sekitarnya. Peran sebagai penyuluh ini tidak harus dilaksanakan secara formal, artinya mengadakan penyuluhan, namun dapat dilaksanakan pula dengan berbincang-bincang dengan teman-teman, sanak keluarga, handai taulan, dengan menulis di surat kabar, majalah, buletin, dan lain-lainnya. Bahan penyuluhannya diambilkan baik dari materi PPBN tahap awal maupun tahap lanjutan (kewiraan) yang penyajiannya disesuaikan dengan kemampuan dan pengetahuan penerimanya. Materi tersebut juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat itu, misalnya menjelang peringatan hari Proklamasi disampaikan materi yang berkaitan dengan pengibaran Sang Merah Putih, kegiatan peringatan hari Proklamasi itu sendiri, seperti lomba olah raga, pentas seni budaya, lomba deklamasi atau baca puisi, dan sebagainya. Dalam rangka Hari Pendidikan, dibuatkan acara yang berkaitan dengan pendidikan, seperti lomba membaca, menulis, menyanyi dan sebagainya. Peringatan Hari Pancasila, diadakan lomba mengarang tentang pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup dibuatkan acara penghijauan, atau penanaman pohon perindang jalan, pembuatan warung hidup dan apotik hidup, dan lain-lain. Dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan Gerakan Pramuka, banyak kesempatan yang digunakan untuk memberikan penyuluhan, baik secara langsung atau secara tidak langsung.

12 Secara langsung artinya secara tegas menyampaikan materi PPBN kepada orang lain, sedang secara tidak langsung artinya para anggota Gerakan Pramuka menyampaikan pelaksanaan materi PPBN yang praktis diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. 14. Peran sebagai Pemberi Contoh Masyarakat mengenal para anggota Gerakan Pramuka yang tinggal di wilayahnya. Mereka tidak hanya kenal namanya, tetapi juga mengenal kehidupan sehari-hari. Oleh kerena para anggota Gerakan Pramuka secara langsung atau tidak langsung sudah mendapatkan pembinaan mengenai pengalaman materi PPBN dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pengamalan Pancasila, Satya dan Darma Pramuka, maka diharapkan semua anggota Gerakan Pramuka dapat memberikan contoh teladan pelaksanaan kehidupan warga negara yang berjiwa Pancasila, warga negara yang setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, warga negara yang taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, warga negara yang bersedia berkorban untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Para Pramuka kita dapat menjadi contoh sebagai pelajar atau mahasiswa yang rajin dan tekun belajar, para Pembina Pramuka dapat memperlihatkan sifat jujur dan disiplinnya, para anggota dewasa Gerakan Pramuka lainnya dapat memberi contoh bagi rekan-rekannya sebagai karyawan atau pimpinan yang bertanggung jawab, disiplin, dan bekerja dengan rasa penuh tanggung jawab dan kesadaran untuk membangun bangsa dan negara. 15. Peran sebagai Penggerak Masyarakat Anggota Gerakan Pramuka hendaknya menyadari bahwa dirinya mempunyai kewajiban menjadi penggerak untuk melaksanakan PPBN: a. Penggerak masyarakat untuk mencintai tanah airnya, dengan mengadakan berbagai kegiatan seperti kegiatan untuk ikut melestarikan alam Indonesia, menjadi hutan dan lingkungannya, memanfaatkan alam untuk kesejahteraan hidupnya, tanpa merusak dan mengotorinya dengan limbah yang merusak alam. Penggerak masyarakat untuk memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara dengan mengajak masyarakat mentaati peraturan perudangundangan yang berlaku, dengan mendukung usaha Pemerintah dalam berbagai bidang, seperti Keluarga Berencana, Swa Sembada Pangan, memasyarakatkan keaneka ragaman makanan pokok, membantu pelaksanaan pemberantasan buta aksara, angka dan bahasa, mensukseskan Pemilu, dan berbagai kegiatan lainnya. Penggerak masyarakat untuk meyakini akan kesaktian Pancasila dengan menggalakkan permainan simulasi P-4, menggairahkan kegiatan agama dan kegiatan remaja masjid atau gereja dan tempat ibadah lainnya, membantu badan sosial, panti asuhan, panti jompo, dan lain-lainnya.

b.

c.

13 d. Penggerak masyarakat untuk rela berkorban demi bangsa dan negara dengan mengadakan berbagai kegiatan bakti sosial, bakti masyarakat. Menggalakkan kegiatan perkemahan Wirakarya atau perkemahan bakti Pramuka, dan sebagainya. Penggerak masyarakat untuk memiliki kemampuan awal bela negara, dengan membawa masyarakat memiliki sikap disiplin, tertib waktu, memiliki kesadaran untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, peka terhadap keadaan dan perubahan di lingkungannya. Menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kegemaran berolah raga, meningkatkan keterampilan berwiraswasta dan membuka lapangan kerja, pada prinsipnya anggota Gerakan Pramuka harus menjadi dinamisator masyarakat, untuk memajukan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan masyarakat.

e.

BAB IV POKOK-POKOK PELAKSANAAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA 16. Umum Pada dasarnya materi PPBN sudah termasuk ke dalam materi pendidikan kepramukaan, hanya intensitasnya berbeda, sehingga dengan demikian PPBN disampaikan terintegrasi dengan materi pendidikan kepramukaan, dan mengupayakan agar pendidikan kepramukaan tersebut dilaksanakan dengan lebih intensif, sehingga para Pramuka menyadari bahwa kegiatan yang diberikan kepada para Pramuka tersebut sebenarnya adalah PPBN. Dengan demikian maka tujuan dan sasaran PPBN dapat tercapai. 17. Pengembangan kepramukaan Dalam upaya mencapai tujuannya Gerakan Pramuka melaksanakan kegiatan yang intensif dalam rangka pembinaan pribadi, yang dititik beratkan pada pembinaan watak, untuk memupuk dan mengembangkan : a. b. ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; rasa persahabatan/persaudaraan dan jiwa sosial, baik antar anggota Gerakan Pramuka sendiri, maupun dengan anggota masyarakat, dan ikut serta mewujudkan Ketahanan Nasional dan perdamaian dunia; rasa cinta dan kesediaan untuk memelihara lingungan hidup, serta melestarikannya dalam upaya menumbuhkan rasa cinta pada tanah air; persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta kesadaran berbangsa dan bernegara; pengetahuan dan keterampilan anggota Gerakan Pramuka, untuk menumbuhkan rasa percaya diri sendiri dan kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri, dengan mengembangkan sifat ulet, tahan uji, dan pantang menyerah;

c.

d. e.

14 f. g. h. i. keprasahajaan hidup dan swadaya (hidup mandiri); rasa kesetiakawanan yang mencerminkan atas musyawarah dan mufakat; kerelaan berkorban untuk kepentingan lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara; jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta Tuhan Yang Maha Esa.

18. Peningkatan PPBN a. Seperti tersebut di atas, peningkatan PPBN di dalam Gerakan Pramuka tidaklah menambah materi dan beban bagi Gerakan Pramuka, tetapi cukup dengan meningkatkan kegiatan/latihan dalam Gerakan Pramuka, yang meliputi pematangan perencanaan dan pemantapan pelaksanaan sehingga tercapai tujuan PPBN, yaitu memasyarakatkan upaya bela negara melalui kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara. Pemantapan PPBN dalam Gerakan Pramuka mengarah pada peningkatan daya tahan masyarakat dan Ketahanan Nasional yang mempunyai sasaran : 1) meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama masing-masing, memelihara kerukunan hidup intern umat beragama, antara umat beragama, dan antara umat beragama dengan pemerintah; meningkatkan rasa persahabatan dan persaudaraan, serta jiwa sosial dalam rangka membangun persatuan dan kesatuan bangsa serta perdamaian dunia; menumbuhkan kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, disertai kesanggupan dan kemampuan untuk melaksanakan pembangunan nasional, baik di bidang kesejahteraan maupun di bidang pertahanan dan keamanan; menumbuhkan keyakinan akan kesaktian Panscasila sebagai ideologi, falsafah hidup bangsa dan dasar negara, disertai pengamalan Pancasila dalam kehiduoan sehari-hari. menumbuhkan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara, disertai kesadaran untuk mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan; memberikan kemampuan awal bela negara yaitu tertanamnya motivasi yang kuat untuk pembelaan negara yang didasari keyakinan kekuatan sendiri, tanggap menghadapi berbagai situasi, yakin akan dapat mencapai tujuan/kemenangan dan pantang menyerah dalam mengatasi tantangan serta memiliki badan yang sehat, tangkas dan terampil.

b.

2)

3)

4)

5)

6)

c.

Para Pembina Pramuka dan anggota dewasa lainnya mempunyai kewajiban untuk memberi motivasi PPBN pada kegiatan Gerakan Pramuka.

15 19. Materi PPBN dalam Gerakan Pramuka a. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Materi yang berkaitan dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, diambil dari ajaran agama masing-masing anggota Gerakan Pramuka, yang diharapkan dapat menimbulkan kesadaran untuk menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya sesuai ajaran agama masing-masing. 1) Materi yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. a) Penanaman keyakinan akan adanya Tuhan, ke-Esa-anNya, kekuasaanNya, dan sifat-sifat Tuhan lainnya. Penjelasan tentang ajaran agama yang berkaitan dengan hal tersebut. - Menunjukkan bukti-bukti yang ada di alam raya ini, seperti adanya bumi dan benda langit, adanya keindahan alam, adanya keaneka ragaman makhluk Tuhan (manusia, tumbuhan, hewan) dari yang besar ujudnya sampai bakteri yang sekecil-kecilnya, dan sebagainya. Penanaman akan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, misalnya: - Kewajiban melakukan sembahyang, kebaktian, dan lainlainnya sesuai dengan ajaran agamanya. - Kewajiban berpuasa, membayar zakat, dan kewajiban lainnya. - Kewajiban untuk mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Esa, dengan memanfaatkan, memelihara, dan melestarikan kenikmatan yang diperolehnya. dan berbagai hal lainnya -

b)

c) 2)

Materi yang berkaitan dengan hubungan antar manusia a) Penjelasan tentang ajaran agama yang berhubungan dengan saling menghargai, saling menyayangi, saling tolong menolong antar sesama manusia, dan menjauhi perbuatan yang merusak hubungan antar manusia. Penanaman kesadaran akan pentingnya menghormati orang yang lebih tua usianya, pimpinan, guru, dan lain-lain dan menghargai orang lain yang membantu atau ada di bawah pimpinannya. Memelihara hubungan baik antara anggota keluarga, tetangga, masyarakat di sekitarnya, intern umat beragama, antar umat beragama, dan antar umat beragama dengan pemerintah. dan berbagai hal lainnya.

b)

c)

d)

16 3) Materi yang berkaitan dengan alam sekitarnya a) Penjelasan tentang ajaran agama yang berhubungan dengan tersedianya alam luas dengan segala isinya, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kepentingan hidupnya. Pemanfaatan dan pemeliharaan alam sekitarnya, agar dapat lestari digunakan manusia untuk hidupnya, dengan contohcontoh seperti : (1) penggunaan bintang, bulan, matahari untuk petunjuk arah mata angin (2) pemanfaatan tumbuhan tertentu untuk obat.

b)

b.

Kecintaan kepada tanah air 1) Materi yang berkaitan dengan pengetahuan, seperti : a) Wawasan Nusantara Kesadaran akan luasnya tanah air Indonesia, dengan banyaknya pulau, keaneka ragaman suku bangsa, bahasa, agama, dan budayanya, tetapi kesemuanya merupakan satu kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan secara utuh. b) Kesadaran akan keindahan dan kekayaan alam Indonesia Hal ini dapat dilakukan dengan melihat keindahan alam di pantai, di gunung, dan di obyek wisata alam lainnya, meninjau perusahaan-perusahaan yang mengolah kekayaan alam Indonesia, seperti pembakaran batu kapur, penambangan timah, perusahaan minyak bumi, perusahaan batu bata (bata merah), marmer, kayu lapis, karet, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. c) Sejarah dan budaya bangsa Indonesia Pemahaman akan kejayaan dan tingginya budaya bangsa Indonesia dapat dilakukan antara lain dengan : meninjau obyek-obyek bersejarah, seperti museum, candi, makam raja/tokoh bangsa, dan sebagainya; mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan sejarah kejayaan dan perjuangan bangsa Indonesia di masa lampau, biografi para pahlawan bangsa; mempelajari ceritera-ceritera rakyat, lagu, tarian yang khas daerahnya, yang dapat membangkitkan kesadaran akan tingginya budaya bangsa; mempelajari sejarah wilayah/kota tempat tinggalnya, dan sebagainya.

17 2) Materi yang berkaitran dengan keterampilan a) Kesenian Bangsa Indonesia memiliki berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian Indonesia, yang dapat diajarkan dan dilatihkan kepada para Pramuka, seperti : Seni tari (setiap daerah memiliki seni tarinya sendiri). Nyanyian, yang setiap daerah memiliki lagu-lagu khas daerahnya, termasuk paduan suara, dan lain-lain. Seni musik, yang di Indonesia terdapat berbagai macam keterampilannya, seperti angklun, seruling bambu, gamelan, kulintang, terompet bambu, alat musik kerang, dan lain-lainnya. Seni pahat, ukir dan patung dari kayu, tempurung, tulang, dan lain-lain. Seni lukis dengan pensil, cat air, mozaik, dengan barang tempelan. Dengan barang bekas, dan lain-lain. b) Seni Beladiri Banyak daerah memiliki keterampilan seni bela diri antara lain pencak silat, yang dapat dipelajari dalam rangka pelestarian budaya. c) Penggunaan bahasa Indonesia memiliki beratus-ratus bahasa daerah, satu bahasa nasional Indonesia yang menjadi kebanggaan nasional kita. Karena itu dapat dilatihkan: Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar Melalui latihan berbicara atau berpidato, menulis karangan prosa atau puisi, membuat berbagai macam naskah (untuk ceramah, sambutan. Karya ilmiah, dan lain-lain) Membuat naskah ceritera atau berceritera tentang pengalaman, pengetahuan, dan sesuatu yang diketahuinya. d) Pembuatan hasta karya Berbagai macam hasta karya yang dapat dibuat dari bahan yang ada disekitarnya, seperti kain perca, sabut, tempurung kelapa, kerang, biji-bijian, kayu, jerami, kulit binatang, karton, barang bekas, dan lain-lainnya. e) Permainan tradisisonal Banyak sekali permainan yang bersifat tradisional di Indonesia, yang perlu dilatihkan dalam rangka pelestarian budaya nasional, seperti dakon, macanan (permainan harimau dan manusia), permainan egrang bambu,

18 gobag sodor, petak umpet (junjang umpet), permainan melompati empat batang bambu, panjat batang nipah, dan masih banyak lagi lainnya. f) Kegiatan bakti Kegiatan bakti perlu diperbanyak dalam program latihan kepramukaan, baik berupa : Kegiatan bakti masyarakat yang dilakukan oleh para Pramuka sendiri, maupun Kegiatan perkemahan wirakarya yang dilakukan oleh para Pramuka bersama masyarakat. Kegiatan bakti itu dapat dilaksanakan sesuai dengan keadaan dan kepentingan masyarakat setempat, misalnya : Pembersihan halaman sekolah, rumah ibadat, lapangan olah raga, penanaman tanaman hias di tepi jalan. Pembersihan saluran air hujan dan kebersihan lingkungan Penghijauan: penanaman tanaman perindang, pohon di tanah kosong, pohon buah-buahan di halaman rumah. Pembuatan warung hidup dan apotik hidup Pembangunan tempat ibadat, pasar, terminal, jamban, tempat mandi-cuci-kakus (mck), jalan, jembatan, bangunan gedung, dan lain-lain. g) Kerajinan tangan Banyak kerajinan tangan dapat dilatihkan kepada para Pramuka sesuai dengan keadaan dan kebiasaan rakyat setempat, misalnya: Kerajinan menjahit, bordir/sulam, tusuk silang (kruisstek) Bongkar pasang sepeda Kerajinan kulit, perak, payung Pembuatan barang-barang cenderamata, dan lain-lain h) Masakan daerah Berbagai jenis masakan dan penganan (kue) yang khas sesuai dengan daerahnya, banyak didapat di Indonesia. Hal inipun perlu dilatihkan dalam rangka pelestarian budaya bangsa. i) Obat-obatan tradisional Indonesia sangat kaya dengan tanaman obat-obatan dan oleh karena itu perlu dipelajari penggunaan tanaman obat, pembuatan tanaman jamu, dan lain-lain.

19 c. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara Kesadaran berbangsa dan bernegara dapat ditanamkan melalui berbagai materi. 1) Materi yang berkaitan dengan pengetahuan : a) b) c) mendalami isi pasal-pasal UUD 45 dengan falsafah yang terkandung di dalamnya mempelajari isi Garis-garis Besar Haluan Negara dan kaitannya dengan Pembangunan Jangka Panjang. mendalami : - Wawasan Nusantara - Ketahanan Nasional - Undang-undang RI No. 1 dan No. 2 Tahun 1988 tentang perubahan atas UU RI No. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara - Undang-undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kesadaran Hukum Wawasan lingkungan Sejarah perjuangan bangsa dan tokoh-tokoh bangsa yang terkait, seperti perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, dan lain-lain. Pengetahuan tentang obat terlarang dan narkotika Memahami sejarah tentang wilayah tempat tinggalnya, daerah atau kota-kota di sekitarnya. Memahami sejarah, makna dan peraturan/ketentuan tentang penggunaan Lambang Negara RI (Garuda Pancasila) dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

d) e) f)

g) h) i)

2)

Materi yang berkaitan dengan keterampilan a) b) c) d) Menguasai upacara adat setempat, dan dapat membantu pelaksanaannya. Dapat menjadi pembawa acara atau pemberi sambutan pada upacara adat setempat. Dapat mengelola koperasi Dapat membantu pengelolaan organisasi pemuda di kampung/desanya, seperti kelompok olah raga, kesenian, remaja masjid/gereja, karang taruna, dan lain-lain. Dapat membantu usaha pemerintah, seperti Klompencapir, PKK, Posyandu, dan lain-lain. Dapat melaksanakan upacara bendera, peringatan Hari Besar Nasional, dan Agama Selalu mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ketaatannya pada ketentuan organisasi atau badan tempat kerjanya. Gerak jalan napak tilas pejuang

e) f) g)

h)

20 Mempraktekkan tata sopan Indonesia. Keyakinan akan kebenaran Pancasila 1) i) santun pergaulan bangsa

d.

Materi yang berkaitan dengan pengetahuan a) b) c) d) Memahami butir-butir yang ada dalam Pancasila Memahami pedoman, penghayatan dan pengamalan Pancasila (P-4) atau Eka Prasetya Panca Karsa Memahami Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, ideologi negara dan dasar negara Mengetahui sejarah lahirnya Pancasila, serta usaha-usaha negatif untuk merubahnya, termasuk pemberontakan G30S/PKI dan kemenangan golongan Pancasila. Memahami latar belakang berdirinya Gerakan Pramuka sebagai kemenangan golongan Pancasila. Memahami keunggulan falsafah Pancasila dibanding dengan falsafah negara lain.

e) f)

2)

Materi yang berkaitan dengan pembekalan keterampilan a) b) c) d) Mampu melaksanakan permainan simulasi P-4. Mampu mengamalkan butir-butir Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari. Mampu memimpin sidang, pertemuan atau rapat. Dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan bakti masyarakat, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti pemberantasan buta huruf, penerangan tentang kesehatan dan KB, pembentukan warung hidup dan apotik hidup, kegiatan PKK, Posyandu, Usaha Peningkatan Gizi Keluarga, dan kegiatan lain yang mewujudkan peran Gerakan Pramuka dalam pembangunan nasional. Dapat mengisi kegiatan pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

e)

e.

Rela berkorban untuk bangsa dan negara Berbagai materi baik yang bersifat pengetahuan maupun pembekalan keterampilan yang sudah diuraikan di atas, perlu disajikan oleh para Pembina Pramuka dan para Pelatih Pembina Pramuka dengan disertai pemberian motivasi yang jelas dan tegas, latihan yang berulang-ulang bervariasi dan menarik, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan rasa cinta kepada tanah air Indonesia (jiwa patriotisme). Apabila cinta tanah air tumbuh dengan subur di dalam hati sanubari anggota Gerakan Pramuka, maka akan timbul sikap dan tekad untuk rela berkorban demi bangsa dan negara. Mereka akan rela mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, harta, dan segala miliknya, bahkan mengorbankan jiwa raganya sekalipun. Kegiatan praktek yang dapat dilaksanakan antara lain melalui :

21 1) 2) 3) Pertolongan pada kecelakaan atau bencana alam Pengumpulan dana bantuan (bumbung kemanusiaan), bahan makanan, pakaian, dan sebagainya. Membantu Palang Merah Indonesia, petugas keamanan ketertiban, panitia bencana alam, atau badan-badan penolong lainnya

f.

Kemampuan awal bela negara Kemampuan awal bela negara ini secara fisik dilatihkan melalui berbagai kegiatan, seperti : 1) 2) 3) Berbagai macam kegiatan olah raga termasuk pencak silat Kegiatan halang rintang (obstacle training) dan gladi tangguh (survival training) Kegiatan latihan indera a) Latih panca indera: mata, telinga, hidung, lidah dan alat raba. b) Latihan bergerak pada siang hari dan malam hari c) Latihan induksi dan deduksi d) Latihan penyamaran Kegiatan di perkemahan, seperti : a) Kegiatan keagamaan, pembinaan mental dan moral b) Kegiatan ketangkasan dan keterampilan, seperti kegiatan bongkar pasang tenda, memasak darurat, dan lain-lain. c) Mempelajari lingkungan hidup, tanaman dan hewan. d) Mengenal keindahan dan kekayaan alam. e) Mempelajari kehidupan dan adat istiadat penduduk sekitar, dan lain-lain. Latihan baris berbaris, senam tongkat Tata upacara dan tata penghormatan Pramuka Kegiatan penjelajahan (wide game) dan pengembaraan (hiking) Latihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (PPPK) Latihan SAR (mencari dan menyelamatkan) Kegiatan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) Kegiatan di air, seperti berenang, mendayung, menggunakan perahu karet, menyelam, menolong orang tenggelam. Pemadam Kebakaran Mengenal bentuk-bentuk kapal dan pesawat terbang Latihan kecermatan, kecerdasan, dan daya ingatan

4)

5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14)

20. Pembinaan kepribadian dan watak Pendidikan pendahuluan bela negara dalam Gerakan Pramuka diarahkan selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta keterampilan, lebih diutamakan untuk membentuk sikap dan membina watak, sehingga dapat mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang berjiwa Pancasila.

22 a. Pembentukan sikap lahiriah, yaitu 1) 2) 3) b. Bentuk tubuh/jasmani yang sehat dan kuat Berpakaian rapih, bersih, tertib, dan sopan Cekatan, tangkas dan terampil

Pembentukan sikap batiniah, yaitu 1) 2) 3) Sikap yang mencerminkan pengalaman Pancasila dan manusia yang religius Sikap yang mewujudkan Satya dan Darma Pramuka Sikap khas bangsa Indonesia yang sopan, ramah, toleransi, saling menghargai, suka bermusyawarah dan bergotong royong.

c.

Pembinaan watak seperti : 1) 2) 3) 4) 5) Ulet, pantang putus asa Cerdas, cermat, dan kreatif Jujur Berani menghadapi masalah dan tantangan dan lain-lain BAB V POLA PELAKSANAAN PPBN

21. Umum Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan di luar sekolah mempunyai tujuan, materi dan metode latihan tertentu. Dengan demikian maka pelaksanaan PPBN di dalam Gerakan Pramuka juga menggunakan pola pembinaan yang digunakan di dalam Gerakan Pramuka. 22. Obyek Pembinaan Obyek pembinaan PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah semua anggota Gerakan Pramuka yang terdiri atas: a. Pramuka (peserta didik) yaitu : 1) 2) 3) 4) b. Pramuka Pramuka Pramuka Pramuka Siaga (usia 7-10 tahun) Penggalang (usia 11-15 tahun) Penegak (usia 16-21 tahun) Pandega (usia 22-25 tahun)

Anggota Dewasa Gerakan Pramuka, yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pembina Pramuka Pelatih Pembina Pramuka Instruktur dan Pamong Satuan Karya Pramuka Pimpinan Satuan Karya Pramuka Andalan Majelis Pembimbing

23 23. Subyek Pembinaan Subyek pembinaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka adalah para Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka, serta anggota dewasa lainnya, terutama yang sudah pernah mengikuti penataran atau pelatihan yang berkaitan dengan PPBN. 24. Organisasi a. Kegiatan PPBN dilaksanakan di semua jajaran Gerakan Pramuka, terutama di gugusdepan dan satuan karya Pramuka sebagai satuan gerak, tempat pembinaan peserta didik dengan kegiatan berkala (rutin) Kegiatan pembinaan PPBN juga dilaksanakan di semua jajaran kwartir, baik dalam bentuk: 1) untuk peserta didik a) Kegiatan monopolitik berupa: - Pelatihan PPBN bagi peserta didik - Penataran PPBN bagi anggota dewasa Kegiatan integrasi dalam berbagai kegiatan (1) Berbagai pertemuan Pramuka - Pesta Siaga - Jambore Penggalang - Lomba Tingkat Regu Penggalang - Raimuna Pramuka Penegak Pandega - Perkemahan Wirakarya Pramuka Penegak dan Pandega - Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka - Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka (2) Berbagai gladian dan pelatihan - Gladian Pimpinan Regu Penggalang - Gladian Pimpinan Satuan Pramuka Penegak dan Pandega - Latihan Pengembangan Kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pandega - Kursus Pengelola Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega - Berbagai seminar dan loka karya, musyawarah Pramuka Penegak dan Pandega - Kursus instruktur dan berbagai kursus keterampilan

b.

b)

2)

untuk anggota dewasa a) Pertemuan anggota dewasa - Karang Pamitran (Pertemuan Pembina Pramuka) - Pitaran Pelatih Pembina Pramuka - Berbagai kegiatan, seperti diskusi, musyawarah. Seminar, lokakarya, simposium, dan lain-lain.

24 b) Pendidikan bagi anggota dewasa - Kursus Pembina Pramuka tingkat Mahir dan tingkat Lanjutan - Kursus Pelatih Pembina Pramuka tingkat Dasar dan Lanjutan - Penyegaran Pelatih - Kursus Pengelola Kwartir - Kursus Orientasi Gerakan Pramuka - Kursus Keterampilan:

25. Koordinasi dengan instansi terkait Dalam pelaksanaan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, terutama yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan monotik perlu adanya keterpaduan antara penyegaran dan pelaksanaan, serta kerjasama dengan unsur-unsur yang terkait dengan PPBN, sesuai dengan Keputusan Bersama antara Menhankam RI dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 153 Tahun 1986 tentang Upaya Peningkatan PPBN di lingkungan Gerakan Pramuka dengan Ditjen Persmanvet, Dephankam No. 045 Tahun 1988 tentang Pokok-pokok Pelaksanaan Kesepakatan Bersama Menhankam RI dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. 26. Dukungan Fasilitas Dukungan untuk penyelenggaraan PPBN, baik di pusat maupun di daerah, diusahakan untuk dapat menggunakan sarana dan fasilitas yang ada dan dimiliki oleh : a. Satuan dan jajaran Gerakan Pramuka b. Organisasi TNI / POLRI c. Instansi/badan lain yang terkait dan dapat diprogramkan melalui koordinasi dengan Dephankam dalam hal ini Ditjen Persmanvet di tingkat pusat, serta jajaran TNI / POLRI di tingkat daerah. 27. Pengamatan obyek PPBN Untuk mengkondisikan kesiapan obyek PPBN agar pelaksanaan PPBN berjalan intensif perlu diadakan pengamatan terhadap obyek pembinaan PPBN, baik peserta didik, anggota dewasa, maupun masyarakat. a. Pengamatan terhadap peserta didik antara lain mengenai: 1) Keadaan dan kemapuan jasmani dan rohani peserta didik, misalnya : a) kekuatan, kesehatan. Ketangkasan, dan keterampilan jasmani; b) kecerdasan, daya ingat, dan kemampuan inderanya; c) pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan PPBN; d) sikap pribadinya seperti kedisiplinan, ketaatan, kesetiaan, sikap sosial, dan sebagainya.

25 2) Bakat, minat dan kebutuhan peserta didik, sehingga dapat diusahakan untuk mengembangkan bakat-bakat positif peserta didik dan menekan hal-hal yang negatif, dapat menyajikan kegiatan yang sesuai dengan minat peserta didik, dan memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan keadaan dan kemampuannya tersebut di atas.

b.

Pengamatan terhadap anggota dewasa, antara lain: 1) 2) 3) 4) pemahaman tentang PPBN; penguasaan materi PPBN; kemampuan, keterampilan dan metode penyajian materi PPBN; kemampuan untuk menjadi panutan dan teladan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

c.

Pengamatan terhadap masyarakat, dengan dasar pemikiran bahwa pembinaan kepribadian peserta didik sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Pengamatan ini diarahkan pada : 1) 2) Keadaan dan kepentingan hidup masyarakat Sikap dan pengetahuan masyarakat yang berkaitan dengan PPBN.

28. Perencanaan kegiatan Melihat hasil pengamatan obyek PPBN, maka disusunlah perencanaan kegiatan pembinaan PPBN dalam Gerakan Pramuka. Perencanaan ini meliputi : a. Memasukkan acara PPBN dalam Rencana Kerja dan Program Kerja Kwartir dan Satuan Pramuka Membuat perencanaan kegiatan meliputi : 1) Latar belaksang diadakannya kegiatan itu, berdasarkan hasil pengamatan obyek PPBN 2) Dasar hukum pelaksanaan kegiatan 3) Nama, tempat, dan waktu kegiatan 4) Tujuan dan sasaran kegiatan 5) Orhanisasi pelaksanaan kegiatan dan pembagian tugas 6) Peserta dan syarat-syaratnya 7) Pokok-pokok materi dan rincian serta jadwal kegiatan 8) Metode penyajian 9) Perlengkapan, sarana, dan prasarana yang diperlukan 10) Dana pembiayaan 11) Pengawasan, evaluasi, dan laporan 12) Tahapan kerja

b.

26 29. Persiapan kegiatan a. Agar pelaksanaan PPBN mencapai tujuan dan sasarannya, maka sesudah disusun perencanaan secara seksama dan cermat, perlu dilaksanakan persiapan dalam jangka waktu yang cukup memadai. Persiapan itu meliputi: 1) Tempat 2) Peserta (mental dan fisik) 3) Materi 4) Petugas dan personil yang terlibat, seperti penceramah, instruktur, dan lain-lain 5) Perlengkapan 6) Biaya 7) Acara 8) Keperluan administrasi Dalam rangka persiapan ini perlu diadakan survei berkali-kali, terutama mengenai lokasi dan fasilitas yang akan digunakan, guna menghindari berbagai gangguan dan hambatan, serta kemungkinan terjadinya musibah, serta kemungkinan pemanfaatan dukungan dari berbagai pihak. Pengecekan atas persiapan perlu berkali-kali diselenggarakan, agar pada saatnya nanti, segala sesuatu telah siap dipunakan.

b.

c.

30. Sarana Sarana, prasarana dan perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan PPBN disesuaikan dengan : a. Jenis kegiatan: kegiatan agama, latihan panca indera, baris berbaris, latihan keterampilan memasak, memotret, kegiatan kesenian, dan lainlain Bentuk kegiatan: perkemahan, pentas seni, bazar Siaga, wisata, gerak jalan napak tilas, penjelajahan, dan lain-lain Jumlah peserta: banyak atau sedikit, bagaimana pengelompokannya, dan lain-lain Jarak lokasi kegiatan dari tempat kediaman peserta: perlu kendaraan apa, berapa jumlahnya, dan lain-lain Fasilitas yang tersedia, sedang kekurangan perlu diusahakan dengan meminjam, menyewa atau membeli.

b. c. d. e.

31. Metode a. Dalam melaksanakan penyelenggaraan PPBN di lingkungan Gerakan Pramuka digunakan metode pokok sebagai berikut : 1) 2) Edukatif atau metode pendidikan yaitu dengan memberikan arahan melalui proses belajar mengajar Persuatif, atau ajakan, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta ikut aktif dalam pelaksanaan kegiatan

27 3) 4) Pragmatis, yaitu dapat dilaksanakan secara praktis dengan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan Andragogi atau metode materi untuk orang dewasa Dasar pemikirannya dalam hal ini adalah : a) Orang dewasa mau belajar apabila dia merasa mempunyai kepentingan atau kebutuhan terhadap suatu kegiatan b) Orang dewasa telah mempunyai pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan bahkan disiplin ilmu sesuai dengan bakat dan minat masing-masing c) Sehingga dengan demikian orang dewasa tidak mau digurui.

b.

Bagi peserta didik dalam kegiatan Pramuka digunakan: 1) Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan, yaitu : a) Kesukarelaan Dengan metode persuasif, peserta didik diajak melakukan kegiatan sesuai bakat dan minatnya, dan diberi motivasi, maka peserta didik akan melakukannya secara suka rela b) Kode Kehormatan Kode kehormatan dalam bentuk janji (Dwi Satya dan Tri Satya) dan ketentuan moral (Dwi Darma dan Dasa Darma) dapat dijadikan sasaran dan ketentuan yang melandasi kegiatan kepramukaan dan PPBN c) Sistem Beregu Pengelompokan peserta dalam kelompok kecil/regu dan pasukan/satuan yang lebih besar akan mempermudah proses belajar mengajar (small unit system) d) Sistem Tanda Kecakapan Dengan pemberian Tanda Kecakapan kepada peserta didik yang berprestasi, akan menggairahkan peserta didik untuk maju. e) Sistem satuan terpisah untuk putera dan puteri Dalam beberapa hal tertentu, perlu ada pemisahan antara satuan putera dan satuan puteri, misalnya dalam hal berkemah, pembinaan moril dan etika, dan lain-lain f) Penyesuaian perkembangan jasmani dan rohani Materi tersebut dalam Bab III diberikan kepada peserta didik dengan perbedaan volume (banyaknya) materi dan bobot (kualitas) materi sesuai perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Misalnya uraian dan penjelasan tentang Pancasila kepada Pramuka Siaga, akan berbeda dengan penyajian materi Pancasila untuk Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. Kegiatan halang rintang untuk Pramuka Penggalang Putera berbeda dengan untuk Pramuka Penggalang Puteri. g) Kegiatan menarik yang mengandung pendidikan. Semua kegiatan kepramukaan harus disajikan dalam bentuk kegiatan menarik mengandung pendidikan, misalnya dengan :

28 (1) Memberi “ceritera pembungkus” sehingga dengan bermain sesuai ceritera tersebut, peserta didik tidak merasa mendapatkan pendidikan atau pembinaan. (2) Menggunakan nyanyian, tarian, tepuk tangan, dan lainlain. (3) Membuat berbagai variasi penyajian, sehingga walaupun materinya sama, namun diterima dengan senang hati, sehingga tidak membosankan. Prinsip swadaya Swadaya atau kemampuan sendiri, melatih peserta didik untuk hidup mandiri. Prinsip keprasahajaan hidup Keprasahajaan hidup atau sederhana, yang berarti hidup wajar sesuai dengan kemampuannya, dan menggugah peserta didik untuk hidup layak tidak “ngoyo” dan memforsir diri, dan mampu berkreasi memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

h)

i)

2)

Beberapa metode latihan lainnya seperti : a) metode lomba (competition) Menggunakan prinsip lomba untuk berprestasi yanpa merugikan atau menghalangi perkembangan orang lain (berlomba bukan bertanding) b) metode pangkalan Menggunakan beberapa pangkalan kegiatan dalam satu lingkaran besar, dan di tiap pangkalan diberi kegiatan tertentu, dalam jangka waktu tertentu. Kemudian peserta pindah dari pangkalan satu ke pangkalan berikutnya, seuai arah jarum jam. c) metode bermain peran (role playing) Peserta didik diharapkan memainkan peran seseorang sesuai ceritera yang akan disajikan. d) metode peragaan (demonstrasi) Peserta didik menyaksikan peragaan sesuatu keterampilan atau suatu proses, e) metode kerja kelompok Memberikan tugas/pekerjaan tertentu kepada kelompokkelompok peserta didik. Sistem Among Dengan sikap laku Pembina Pramuka yang menggunakan Sistem Among diharapkan akan lebih mudah memotivasi peserta didik. Sikap laku sesuai dengan Sistem Among yaitu: - Ing ngarso sung tulodo (di depan menjadi teladan) - Ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat) - Tut wuri handayani (di belakang memberi semangat)

3)

29 c. Bagi anggota dewasa dapat digunakan berbagai metode pendidikan, antara lain : 1) Metode ceramah 2) Berbagai macam metode diskusi 3) Metode peragaan (demonstrasi) 4) Metode pangkalan (base method) 5) Metode bermain peran (role playing) 6) Metode layihan kepekaan (sensitive training) 7) Metode pemecahan masalah (problem solving) 8) Metode pembahasan peristiwa (case study) 9) Metode simulasi 10) Metode talang kerja (in try exercuse) 11) Metode tak terduga (surprise( 12) Metode kerja kelompok (group work) 13) Metode pembahasan dokumentasi 14) Metode studi banding

32. Bentuk kegiatan Selain metode tersebut di atas, beberapa bentuk kegiatan yang dapat dimanfaatkan antara lain : a. b. c. d. e. f. Nyanyian, tarian, ceritera Kunjungan ke tempat bersejarah, musium, perpustakaan, makam pahlawan, dan anjangsana Gerak jalan napak tilas para pahlawan dan pejuang kemerdekaan Permainan dan nyanyian yang mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa serta semangat membangun. Wisata dan kunjungan untuk mengenal keindahan alam, keajaiban alam, kebudayaan, dan adat istiadat daerah. Penjelajahan (wide game) dan pengembaraan (haiking) untuk mengenal lingkungan, meliputi wilayah, kehidupan masyarakat, sejarah setempat, dan lain-lain. Pentas seni budaya dan api unggun. Berbagai macam lomba baris berbaris, memasak, PPPK, cerdas cermat, MTQ, kaligrafi, upacara bendera, pidato dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah, menyanyikan lagu nasional/daerah, dan lain-lain. Latihan halang rintang (abstrack training) dan gladi tangguh (survival training). Berbagai macam perkemahan, seperti : 1) Perkemahan Satu Hari (Persari Siaga) 2) Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) 3) Perkemahan Besar (Jambore, Raimuna) 4) Perkemahan Bakti 5) Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka 6) Perkemahan Wirakarya Berbagai latihan indera dan daya ingat 1) latihan panca indera 2) latihan induksi dan deduksi

g. h.

i. j.

k.

30 l. m. n. o. Latihan kecerdasan dan keterampilan. Musyawarah Seminar, lokakarya, dan simposium. Penyusunan karya tulis dan karya ilmiah.

33. Pelaksanaan a. b. Diusahakan pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan Perlu diperhatikan adanya : - pengarahan dari pimpinan - koordinasi antara semua pihak - penanggung jawab dari tiap kegiatan/bagian Setiap perubahan dan/atau penyimpangan dari rencana yang telah ditentukan, perlu dibicarakan, dibahas atau diumumkan pada pertemuan pelaksanaan yang diusahakan secara berkala (rutin) Masalah keamanan dan ketertiban hendaknya menjadi faktor yang harus diperhatikan, guna menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan Agar segala sesuatunya terlaksana dengan baik dan mencapai sasaran, maka untuk kegiatan yang tidak rutin perlu disusun petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis).

c.

d.

e.

34. Pengawasan Agar kegiatan mencapai tujuan dan sasarannya maka perlu ada pengawasan. Pengawasan bukan berarti mencari kesalahan, namun melihat apakah pelaksanaan sesuai dengan rencana. Untuk itu pengawasan dimulai sejak dibuatnya perencanaan, diteruskan ke persiapan, sampai pada pelaksanaan dan penyelesaian kegiatan. Pengawasan dilaksanakan dalam bentuk: - Pemantauan (monitoring), yaitu mengikuti perkembangan suatu kegiatan, mulai dari perencanaan sampai tahap penyelesaian. - Penyeliaan (supervisi) yaitu pemberian petunjuk atau pengarahan atas hal-hal yang mengalami penyimpangan atau kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu rencana kegiatan, sebagai hasil pemantauan. - Penilaian yaitu membandingkan antara hasil atau pelaksanaan dengan rencana atau tolok ukur yang sudah ditentukan. 35. Pelaporan Pelaporan yang dimaksud disini adalah pelaporan tertulis, yang merupakan catatan keseluruhan kegiatan dari awal perencanaan sampai pada akhir penyelesaian. Untuk kegiatan rutin, pelaporan ini cukup bersifat catatan keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, namun untuk kegiatan yang tidak rutin, akan lebih baik bila dibuat pelaporan yang lengkap. Apabila dalam akhir laporan dituliskan tentang penilaian dari hasil pengawasan dan evaluasi, kesimpulan dan saran, maka laporan tersebut akan sangat berguna untuk penyusunan rencana kegiatan berikutnya pada masa yang akan datang.

31 BAB VI TOLOK UKUR KEBERHASILAN, TANDA-TANDA KEBERHASILAN DAN EVALUASI PPBN DALAM GERAKAN PRAMUKA 36. Tolok Ukur keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka Keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka dapat dilihat dari indikasi antara lain sebagai berikut: a. Pembina Gerakan Pramuka 1) memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari 2) mentaati peraturan yang berlaku 3) Mendidik dan membina ke arah yang baik 4) meningkatkan rasa kesatuan, persatuan dan persaudaraan 5) hidup sederhana Anggota Gerakan Pramuka 1) mengikuti kegiatan kepramukaan dengan sukarela 2) saling membantu dan menasehati sesama teman 3) menjaga kesatuan dan persatuan 4) menjaga kebersihan lingkungan 5) berdisiplin 6) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

b.

37. Tanda-tanda keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka a. Umum Penilaian terhadap keberhasilan kegiatan penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara yaitu: 1) mencintai tanah air tercermin dalam sikap dan perilaku seharihari 2) kesadaran berbangsa dan bernegara dapat dicerminkan dalam sikap dan perbuatan 3) mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari 4) rela berkorban untuk bangsa dan negara tercermin dalam sikap dan perbuatannya 5) memiliki kemampuan awal bela negara b. Khusus Secara khusus tanda-tanda keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka dapat tercermin antara lain: 1) Pembinaan dan anggota Gerakan Pramuka selalu mengutamakan kesatuan dan persatuan bangsa 2) Memiliki disiplin yang tinggi 3) Menghargai pendapat orang lain 4) Menerapkan pola hidup sederhana 5) Menciptakan lingkungan yang tertib, bersih, dan aman 6) Memberikan motivasi positif bagi rekan-tekannya.

32 38. Evaluasi PPBN Gerakan Pramuka Evaluasi PPBN dalam Gerakan Pramuka dilakukan guna memperoleh informasi penyelenggaraan PPBN, meliputi: a. Penyelenggaraan Untuk mengetahui hasil yang dapat dicapai dengan metode, prosedur, dan sarana b. Sasaran 1) Obyek : para peserta dapat memahami dan melaksanakan PPBN dalam Gerakan Pramuka, dengan memperhatikan terhadap sikap dan tingkah laku sehari-hari, antara lain meliputi ketaatan, disiplin, kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan peran sertanya. Subyek : para penyelenggara dan pembina sumber daya manusia dalam Gerakan Pramuka telah dapat menyelenggarakan PPBN dalam melakukan pembinaan terhadap anggota Gerakan Pramuka dengan menggunakan prasarana, sarana, dan materi yang tersedia. Teknik : metoda yang digunakan untuk menyampaikan materi PPBN yang disesuaikan dengan para pesertanya, sehingga dapat diterima, diserap, dan dipahami. Sarana : alat peralatan (alins dan alongins) yang digunakan untuk menyelenggarakan PPBN sesuai dengan situasi dan kondisi Gerakan Pramuka.

2)

3)

4)

c.

Cara evaluasi Untuk melaksanakan evaluasi perlu digunakan suatu cara yang baik antara lain : 1) Dengan mengisi angket yang dilakukan oleh para peserta dan para pembina (tanpa menunjukkan identitas diri) 2) Cerdas cermat: yaitu kegiatan untuk mengadu ketangkasan berpikir tentang PPBN, sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman PPBN. 3) Karya tulis, yaitu dengan membuat tulisan tentang Bela Negara bagi peserta sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman PPBN. 4) Pengamatan yang dilaksanakan oleh Pembina Gerakan Pramuka di masing-masing kwarda, kwarcab, kwarran.

33 BAB VII BERBAGAI CONTOH KEGIATAN 39. Kegiatan Pramuka Siaga a. Pengetahuan Judul : Permainan menyusun gambar dan memberi warna gambar Garuda Pancasila Tujuan : Mengenal Lambang Negara Republik Indonesia dan Pancasila Sasaran : 1) Dapat menyusun gambar dan memberi warna Lambang Negara RI, Garuda Pancasila 2) Dapat memberi warna gambar Lambang Negara RI 3) Dapat Menulis naskah Pancasila sesuai dengan Lambang Negara RI. Metode : Lomba Barung Perlengkapan : 1) Gambar Garuda Pancasila tanpa warna, yang dipotong-potong 2) Kertas manila untuk tempat menempel potongan gambar 3) Lem 4) Pensil berwarna atau spidol warna (merah, hitam, hijau, kuning) Pelaksanaan : 1) Pembina Siaga menceritakan bahwa para Siaga sudah mempunyai Barung masing-masing (Barung artinya barak, bedeng, tempat kerja). Di dalam barung itu sudah cukup banyak perabot yang ada, ada bangku, meja, lemari, dan sebagainya. Yang masih kurang adalah Gambar Lambang Negara RI. Ditanyakan kepada Siaga apa nama gambar itu, bagaimana bentuknya, dan sebagainya. 2) Pembantu Pembina Siaga sudah menyiapkan perlengkapan di beberapa tempat, yang dianggap barung-barung Siaga. 3) Pembina Siaga kemudian memberi instruksi agar para Siaga mempersiapkan gambar Lambang Negara RI dengan sebaikbaiknya, dan diberi warna sesuai dengan ketentuannya, serta menuliskan dibawahnya. Penilaian : Barung yang tercepat menyelesaikan tugas dan dapat menyusun gambar dan memberi warna dengan baik, serta menulis naskah Pancasila dengan benar dianggap Barung yang menang.

34 b. Keterampilan Judul : Membuat pesawat layang-layang Tujuan : Menarik perhatian terhadap kedirgantaraan Sasaran : Dapatmembuat pesawat terbang mainan Metode : Kerja perorangan didahului dengan demonstrasi Perlengkapan : Kertas Pelaksanaan : 1) Pembina Siaga berceritera tentang adanya berbagai macam pesawat terbang. Para Pramuka Siaga dapat menjadi penerbang, baik pesawat sipil maupun militer. Untuk mengenaljenis pesawat terbang, Pramuka Siaga diajak untuk membuat pesawat terbang dari kertas. 2) Pembina Siaga membagikan kertas yang sudah disiapkan, dan memperlihatkan contoh hasil pembuatan pesawat terbang kertas yang sudah jadi, dan meragakan cara pembuatannya, langkah demi langkah. 3) Para Pramuka Siaga mencoba menirukan membuat pesawat terbang tersebut. Pembantu Pembina Siaga berkeliling, membantu para Pramuka Siaga yang mengalami kesulitan. Penilaian : 1) Sejauh mana Pramuka Siaga mampu membuat pesawat terbang kertas. 2) Apakah pesawat terbang kertas terebut dapat diterbangkan oleh pembuatnya. c. Sikap Judul : Permainan Salam dan Jabat Tangan Tujuan : Menanamkan rasa persaudaraan dan persahabat dalam rangka pengenalan ajaran agama Sasaran : Dapat melaksanakan pemberian salam dan jabat tangan yang baik Metode : permainan beregu dalam Perindukan Siaga Pelaksanaan : 1) Perindukan Siaga membentuk barisan lingkaran besar sesuai barungnya.

35 2) Pembina Siaga menceriterakan pentingnya membina rasa persahabatan dan persaudaraan diantara sesama manusia, dihubungkan dengan agama. Sebagai salah satu perwujudannya adalah pemberian salam dan jabat tangan disertai senyum manis. Salam Pramuka ada aturannya, dan Pembina Siaga memberi contoh pemberian salam dengan baik, dengan sikap sempurna. Apabilapeluit Pembina Siaga dibunyikan, maka anggota nomor 1 dari Barung I dan III berlari melingkari di luar lingkaran dengan arah berlawanan, sehingga pada suatu saat akan bertemu di suatu titik. Pada saat bertemu, keduanya harus berhenti, bersikap salam, lalu berjabat tangan, kemudian kembali ke tempat semula, dan menepuk teman di samping kirinya. Teman di samping kirinya harus lari seperti yang dilakukan peserta nomor 1 tadi.

3)

4)

5)

Penilaian : Barung yang tercepat selesai melaksanakan dengan baik, dianggap menang. Untuk itu Pembantu Pembina Siaga harus selalu cermat mengamati jalannya permainan. 40. Kegiatan Pramuka Penggalang a. Pengetahuan

Judul Tujuan Sasaran

: Menyanyikan lagu daerah : Mencintai kebudayaan nasional Indonesia : 1) Dapat menyanyikan lagu daerah 2) Mengerti arti atau isi lagu daerah tersebut 3) Dapat menikmati indahnya lagu daerah Indonesia. Metode :Perlengkapan : Tidak diperlukan Pelaksanaan : 1) Pembina Penggalang menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ratusan suku bangsa dengan adat budayanya, termauk lagu-lagu daerah. Setiap Pramuka harus tahu sedikitnya lagu-lagu daerah tempat tinggalnya, dan mengetahui arti lagu itu, bila ada dengan tarian atau permainan yang bersangkutan. Akan lebih baik bila juga mengetahui lagu daerah lain di Indonesia. 2) Tiap regu Penggalang diminta menyanyikan sebuah lagu daerah, dan menjelaskan artifikasi lagu tersebut. 3) Bila regu tidak dapat menjelaskan artifikasi lagu tersebut, maka Pembina Penggalang perlu juga memberi contoh bagaimana permainan atau tarian yang berkaitan dengan lagu tersebut. Penilaian : Pembina memperlihatkan apakah ada kesalahan nada, katakata, atau arti/isi lagu tersebut. Kalau ada kesalahan perlu segera diperbaiki

36 Catatan : Sebelum diadakan jadwal kegiatan lagu daerah, akan lebih baik bila diadakan latihan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, yang meliputi kemampuan menyanyikan lagu Indonesia Raya. 1) dengan nada dasar yang tepat tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. 2) dengan irama yang tepat (mars, seperti irama langkah pada baris berbaris). 3) dari bait I sampai bait III

b.

Keterampilan Judul : Lomba memasak Tujuan : Mengenal masakan Indonesia Sasaran : 1) Mampu memasak a) nasi b) sayur dan lauk c) minuman untuk satu regu Pramuka Penggalang 2) Mampu menyajikan hasil masakan dengan baik dan menarik Metode : Lomba regu Perlengkapan : 1) Alat masak secukupnya 2) Kompor atau kayu bakar 3) Bahan makanan untuk dimasak secukupnya Pelaksanaan : 1) Pembina Pramuka menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak sekali jenis masakan, dan para Pramuka harus dapat memasak dan menyajikan masakan khas Indonesia tersebut. 2) Para Regu Penggalang diberi waktu kira-kira dua jam untuk memasak : a) nasi b) satu jenis sayur c) lauk kering, seperti tempe, atau tahu goreng, kerupuk, bakwan, perkedel, dan sejenisnya. d) satu jenis minuman, seperti teh, kopi, atau coklat susu, dan sejenisnya. 3) Sesudah semuanya selesai memasak, lalu dilanjutkan lomba menyajikan dengan baik dan menarik, untuk kemudian diajak makan bersama seluruh Pasukan Penggalang, dan dibenarkan saling menikmati hasil karya regu lain. Penilaian : 1) Penilaian dilakukan sejak para Pramuka mulai bekerja/memasak, dilihat kerjasama anggota Regu, cara memasak, kebersihan tempat dan alat dan dilihat cara menyajikannya (rapi, bersih, menarik) walaupun dengan perlengkapan yang sederhana

37 2) Penilaian dapat dilakukan oleh para Pembina atau orang dewasa lainnya, misalnya orang tua Pramuka, atau oleh para Pemimpin Regu, tidak dibenarkan menilai regunya sendiri.

Catatan : Lomba memasak ini dapat dijadikan acara perkemahan atau acara peringatan Hari Kesehatan, dan lain-lainnya. Acara ini juga dapat dilaksanakan oleh Pramuka Putera atau Puteri. c. Sikap Judul : Kegiatan penanaman tanaman buah-buahan Tujuan : Menanamkan kesadaran lingkungan hidup Sasaran : Mampu memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam tanaman produktif. Perlengkapan : 1) Perlengkapan pertanian, seperti cangkul, sekop, pupuk, dan lainlain. 2) Lahan tanah kosong, halaman rumah, halaman sekolah, atau lahan lainnya 3) Bibit tanaman Pelaksanaan : 1) Pembina Penggalang menjelaskan kepada para Pramuka Penggalang pentingnya memanfaatkan lahan yang ada, untuk kepentingan usaha produktif. Salah satu diantaranya adalah menanam pohon buah-buahan atau tanaman langka. 2) Pembina Penggalang memberi penjelasan teknik penanaman pohon buah-buahan dengan metode peragaan (demonstrasi) 3) Para Pramuka melaksanakan penanaman tanaman buah-buahan di tempat-tempat yang telah ditentukan. Penilaian : Para Pembina Pramuka mengamati cara penanaman tanaman buahbuahan, agar sesuai dengan cara penanaman yang benar. 41. Kegiatan Pramuka Penegak a. Pengetahuan Judul : Membuat karya tulis tentang Pengamalan Pancasila Tujuan : Menghayati dan mengamalkan Pancasila. Sasaran : 1) Para Pramuka Penegak mampu membuat naskah tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 2) Para Pramuka Penegak mampu menulis tentang pengamalan salah satu sila atau butir sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Metode : Pembuatan karya tulis Perlengkapan : Tidak ada, kecuali ATK untuk keperluan administrasi lomba.

38 Pelaksanaan : 1) Pembina Penegak memberi penjelasan bahwa sebagai seorang Pramuka kita harus melaksanakan Eka Prasetya Panca Karsa sebagai perwujudan P-4. Kita wajib memasyarakatkan P-4 di masyarakat, dimulai dari lingkungannya sendiri, baik lingkungan organisasi, sekolah, keluarga, dan lain-lainnya. Karena itu setiap Pramuka diharapkan membuat suatu naskah tulisan dalam rangka peringatan Hari Pramuka dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, tentang bagaimana pelaksanaanP-4 dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya. 2) Para Pramuka dapat menuliskan tentang hal-hal yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya, seperti yang berkaitan dengan: - Kehidupan sehari-hari - Pelaksanaan Bumbung Kemanusiaan atau Dompet Bencana Alam - Musyawarah untuk mufakat 3) Diberi batas waktupenulisan, dan jumlah lembar tulisan (baik dengan tulisan tangan, mesinketik, atau komputer) Penilaian : 1) Penilaian dilakukan oleh suatu tim, yang bilamungkin diambilkan dari tenaga yang dianggap menguasai bahasa Indonesia (misalnya guru bahasa Indonesia) dan masalah Pancasila (misalnya guru Pendidikan Moral Pancasila, penataran P-4), dan lain-lain. 2) Akan lebih baik lagi bila penyusun naskah juga menguraikan di depan pertemuan Pramuka Penegak, dan memberi kesempatan tanya jawab dengan para undangan. b. Keterampilan Judul : Pengelolaan tanaman produktif Tujuan : Menguasai cara peningkatan produksi tanaman Sasaran : 1) Para Pramuka Penegak memahami cara penanaman dan pemeliharaan tanaman produktif. 2) Para Pramuka Penegak mampu melaksanakan penanaman dan pemeliharaan tanaman produktif. Perlengkapan : 1) Alat pertanian yang diperlukan 2) Tanaman produktif, seperti jeruk, apel, tomat, cabe, kopi, vanili, dan lain-lain. 3) Lahan untuk penanaman Pelaksanaan : 1) Pembina Pramuka mendatangkan para ahli di bidang tanaman produktif, untuk menjelaskan teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman produktif. 2) Pembina Pramuka menjelaskan bahwa dengan meningkatkannya produksi tanaman, akan meningkatpula penghasilan penduduk/petani, dan ini berarti melaksanakan peningkatan kesejahteraan masyarakat atau Pancasila.

39 3) Para Pramuka mempraktekkan cara penanaman atau pemeliharaan tanaman produktif. Penilaian : Pengamatan atas pelaksanaan kegiatan penanaman atau pemeliharaan tanaman produktif. c. Sikap Judul : Kunjungan ke musium daerah Tujuan : Menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara Sasaran : Para Pramuka Penegak mengetahui dan memahami perkembangan budaya daerah. Perlengkapan : Tidak ada Pelaksanaan : 1) Pembina memberi pengarahan tentang tujuan dan sasaran kunjungan ke musium, dan tugas apa yang diberikan kepada para Pramuka Penegak. 2) Para Pramuka Penegak melaksanakan peninjauan musium, lalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh Pembina Penegak. Tugas yang diberikan misalnya: - menelaah perkembangan budaya di daerah (misalnya dari jaman batu, perunggu, sampai masa perjuangan kemerdekaan dan pembangunan - mempelajari ciri khas budaya daerah. Penilaian : Dilakukan dengan pembahasan hasil pelaksanaan tugas dari Pembina Penegak di dalam Ambalan Penegak yang bersangkutan. BAB VIII PENUTUP 42. Lain-lain Hal-hal yang belum diatur di dalam pedoman pelaksanaan ini, akan diatur kemudian oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Jakarta, 26 Februari 1996. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Ketua,

Letjen TNI (Purn) H. Himawan Soetanto

BUKU PANDUAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA

BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun1993 bahwa Pendidikan Nasional harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan, serta berorientasi masa depan. b. Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan serta cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan Negara. c. Anggota Gerakan Pramuka sebagai bagian generasi muda merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan merupakan salah satu sumber insani bagi pembangunan nasional baik pembangunan kesejahteraan maupun pembangunan pertahanan keamanan. Oleh karena itu perlu ditingkatkan upaya pembinaan dan pengembangan pendidikan kepramukaan secara terus menerus dalam rangka sistem pendidikan nasional yang sekaligus mencakup Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. d. Gerakan Pramuka merupakan suatu lembaga pendidikan luar sekolah menunjang pendidikan di lingkungan keluarga dan di lingkungan sekolah yang mempunyai tujuan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. 2. Maksud dan tujuan Buku panduan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terkait dalam penyelenggaran PPBN dalam Gerakan Pramuka, dengan tujuan agar diperoleh kesatuan pengertian, sikap dan tindakan sehingga pelaksanaan PPBN dalam Gerakan Pramuka berjalan secara efektif dan efisien. 3. Tata Urut Tata urut pembahasan dalam buku pedoman ini meliputi: a. Pendahuluan b. Pokok-pokok PPBN dalam Gerakan Pramuka c. Penyelenggaraan PPBN dalam Gerakan Pramuka d. Tolok ukur keberhasilan, tanda-tanda keberhasilan, pembiayaan, pengendalian dan evaluasi PPBN e. Penutup 4. Pengertian

a. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang b. Gerakan Pramuka adalah gerakan pendidikan kepramukaan Nasional Indonesia, merupakan satu-satunya badan yang melaksanakan pendidikan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia dalam rangka membantu pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk membentuk kader pembangunan yang siap melaksanakan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. c. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara adalah pendidikan dasar bela negara guna menumbuhkan kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi Negara, kerelaan berkorban untuk Negara serta memberikan kemampuan awal bela negara. d. Bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, serta berkeyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi Negara dan kerelaan berkorban guna meniadakan setiap ancaman, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri, yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. 5. Dasar a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 b. Ketetapan MPR No. II/MPR/1993, tentang Garis-garis Besar Haluan Negara c. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 yang telah disempurnakan melalui Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. d. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional. e. Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka junto Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka. f. Kesepakatan Bersama antara Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Menhankam RI Nomor 153 Tahun 1986 dan Kep/12/IX/1986 tanggal 15 September 1986, tentang upaya peningkatan PPBN di lingkungan Gerakan Pramuka. g. Pedoman Bersama antara Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Dirjen Persmanvet Dephankam Nomor 045 Tahun 1988 dan 006/III/1988, tentang Pokok-pokok Pelaksanaan Kesepakatan antara Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka dan Menhankam. h. Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 103 Tahun 1983, tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka. i. Surat Edaran Menteri Pertahanan Keamanan RI Nomor SE/007/M/III/1988 tanggal 1 Maret 1988, tentang Pokok-pokok Upaya Penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. j. Surat Keputusan Dirjen Persmanvet Dephankam Nomor Skep/08/IV/1990 tanggal 2 April 1990, tentang Pengesahan Buku Petunjuk Penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara.

BAB II POKOK-POKOK PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA 6. Kedudukan PPBN a. Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 1989 dan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1988, tentang Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan bahwa hak dan kewajiban warganegara yang diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya bela negara diselenggarakan antara lain melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara sebagai bagian tidak terpisahkan dalam Sistem Pendidikan Nasional yang pelaksanaannya melalui jalur pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. b. Dengan demikian maka PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah salah satu pelaksanaan PPBN di lingkungan pendidikan luar sekolah. 7. Hakikat PPBN Hakikat PPBN adalah upaya bangsa agar sedini mungkin setiap warga negara memiliki nasionalisme dan patriotisme yang tangguh guna menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta terpeliharanya kelangsungan dan kesinambungan Pembangunan Nasional mencapai Tujuan Nasional. 8. Tujuan PPBN a. Tujuan Umum PPBN adalah mewujudkan warga negara Indonesia yang memiliki tekad, sikap, dan tindakan yang teratur,menyeluruh, terpadu dan berlanjut guna meniadakan setiap ancaman baik dariluar maupun dari dalam negeri yang membahayakan Kemerdekaan dan Kedaulatan Negara,kesatuan dan Persatuan Bangsa,keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. b. Tujuan Khusus PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah agar para Pelatih dan Pembina Pramuka dapat meningkatkan upaya pembinaan secara lebih efektif dan efisien dengan sasaran yang lebih kongkrit demi terciptanya generasi muda yang sehat, cerdas dan berkarakter. 9. Sasaran Sasaran Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka adalah terwujudnya warga Pramuka yang mengerti,menghayati dan yakin untuk menunaikan kewajibannya dalam upaya bela negara, dengan ciri-ciri: a. Cinta Tanah Air Yaitu mengenal dan mencintai wilayah Nasionalnya sehingga selalu waspada dan siap membela Tanah Air Indonesia terhadap segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara oleh siapapun dan dari manapun dengan menanamkan dan menumbuhkan kecintaan kepada tanah air sehingga diharapkan setiap warga Pramuka akan mengenal dan memahami: 1) Wilayah Nusantara dengan baik 2) Memelihara, melestarikan, dan mencintai lingkungannya 3) Senantiasa menjaga nama baik dan mengharumkan negara Indonesia di mata dunia.

b. Sadar berbangsa dan bernegara Indonesia Sadar berbangsa dan bernegara Indonesia dalam bentuk tingkah laku, sikap dan kehidupan secara pribadi dalamkehidupan sesuai dengan keribadian bangsa selalu mengkaitkan dirinya dengan pencapaian cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia, membina kesadaran, kesatuan dan persatuan, mencintai budaya bangsa dan selalu mengutamakankepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. c. Yakin akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi Negara Yakin akan kesaktian Pancasila sebagai satu-satunya falsafah dan Ideologi bangsa dan negara, yang telah terbukti kesaktiannya dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara, guna tercapainya tujuan nasional. Terwujudnya rasa yakin akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi negara dapat dicapai dengan menumbuhkan: 1) Kesadaran bahwa tanpa Pancasila keberadaan negara kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 dengan sendirinya akan terancam. 2) Kesadaran bahwa dengan mengamalkan Pancasila dalamkehidupan sehari-hari negara dan bangsa Indonesia akan tetap terpelihara keutuhannya dan terjaga keamanannya. 3) Kesadaran bahwa setiap pertentangan dalamkehidupan berbangsa dan bernegara dapat diselesaikan dengan musyawarah/mufakat sesuai demokrasi Pancasila. 4) Kesadaran bahwa Pancasila sebagai Ideologi negara dapat meniadakan setiap ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan baik dari dalam maupun dariluar negeri. d. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara Rela berkorban untuk bangsa yaitu rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta benda untuk kepentingan umum sehingga pada saatnya siap mengorbankan jiwa dan raga bagi kepentingan bangsa. Rela berkorban untuk negara adalah rela berbakti tanpapamrih yang diberikan oleh seorang warga negara terhadap tanah airnya dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan tanggung jawab utnuk mempertahankan kelangsungan hidup Bangsa dan Negara Republik Indonesia. e. Memilikikemampuan awal untuk Bela Negara Secara psikis (mental) memiliki sifat-sifat disiplin, ulet,kerja keras, percaya akan kemampuan sendiri, jujur, dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan nasional. Secra fisik (jasmaniah) memiliki kondisi kesehatan dan keterampilan yang dapat mendukung kemampuan awal bela negara yang bersifat psikis. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA DALAM GERAKAN PRAMUKA 10. Subyek

Subyek pembinaan PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah Pembinaan Pramuka 11. Obyek Obyek pembinaan PPBN dalam Gerakan Pramuka adalah seluruh anggota Gerakan Pramuka 12. Materi PPBN dalam Gerakan Pramuka a. Kecintaan pada tanah air Setiap anggota Gerakan Pramuka yang mencitai tanah airnya minimal akan diwujudkan dalam kecintaan terhadap lingkungan sendiri, selalu waspada dan gigih membela lingungannya terhadap segala bentuk ancaman yang pada akhirnya akan mempengaruhi/membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara Untuk mewujudkan hal tersebut diberikan materi-materi antara lain: 1) Lingkungan hidup Diarahkan untuk memperoleh kesadaran guna melestarikan lingkungan hidup, mencegah pencemaran lingkungan,bahaya kebakaran, menggalakkan penghijauan, penghematan energi dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab. 2) Kewaspadaan nasional Diarahkan kepada penangkalan terhadap segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan, antara lain: bahaya laten PKI, ekstrim kiri/kanan dan ekstrim lainnya, bahaya narkotika, pengaruh buruk minuman keras dan lain-lain. 3) Pengenalan tanah air Diarahkan kepada pengetahuan tentang letak dan luas tanah air Indonesia (Nusantara) beserta kekayaan sumber daya alamnya. b. Kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia Kesadaran berbangsa Indonesia dapat dilihat adanya rasa persatuan dan kesatuan di lingkungan Gerakan Pramuka, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan, hilangnya fanatisme kesukuan/kedaerahan serta mencintai budaya Indonesia. Kesadaran bernegara Indonesia dapat terlihat adanya rasa bertanah air satu yaitu Indonesia, menghormati Bendera Merah Putih, Lagu Kebangsaan Indonesia, Lambang Negara Garuda Pancasila dan lembaga pemerintah serta mematuhi setiap Peraturan/Perundang-undangan. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut diberikan materi-materi antara lain: 1) Kerukunan hidup Diarahkan pada rasa kebersamaan tanpa membeda-bedakan status social, agama, suku dan ras/golongan 2) Kelestarian dan pembinaan budaya bangsa Diarahkan pada pembinaan seni budaya setempat serta menghargai budaya daerah lain 3) Mencintai produksi dalam negeri Diarahkan untuk mencintai kerajinan tangan dan produksi dalam negeri 4) Pengenalan ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa Diarahkan pada pemahaman tentang kemajemukan bangsa Indonesia dengan berbagai ragam suku bangsa, agama, adapt istiadat, dan bahasa daerah

5) Pembaruan bangsa Diarahkan pada terwujudnya rasa kebangsaan baik secara fisik maupun psikis 6) Perlakuan terhadap Bendera Merah Putih, Lagu Kebangsaan dan Lembang Negara Indonesia serta Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. 7) Bahasa Indonesia Diarahkan pada kesadaran akan kebesaran peran bahasa Indonesia dalam menjaga keutuhan bangsa dan upaya menumbuhkan kecintaan pada bahasa Indonesia serta berusaha menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. 8) Kesatuan dan persatuan Indonesia Diarahkan pada pemahaman bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara kesatuan seperti diamanatkan UUD 1945 pasal 1 dan Sumpah Pemuda (1928) 9) Sadar hukum Diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran mentaati setiap ketentuan hokum yang berlaku 10) Koperasi Diarahkan untuk memahami Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992, tentang Perkoperasian guna menumbuhkan kesadaran bahwa koperasi merupakan salah satu soko guru perekonomian Indonesia sesuai dengan budaya bangsa. c. Keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi Negara Keyakinan akan kesaktian Pancasila terlihat pada sikap untuk mengamalkan Pancasila sebagai ideology bangsa dan Negara yang telah terbukti kesaktiannya dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk mewukudkan hal tersebut diberikan materi-materi antara lain: 1) Pancasila sebagai dasar Negara (Pembukaan UUD 1945) 2) Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3) Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (TAP MPR No. II/MPR/1978) 4) Pengenalan tentang bukti-bukti kesaktian Pancasila 5) Contoh teladan dalam kehidupan sehari-hari d. Kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara Kerelaan berkorban untuk bangsa dan Negara dapat dilihat dengan adanya aktifitas dan partisipasi secara aktif dalam mendukung semua kegiatan dalam Gerakan Pramuka, siap berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara bahkan pada saatnya siap mengorbankan jiwa dan raganya demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut diberikan materi antara lain: 1) Pengenalan tentang komponen-komponen Hankamneg Diarahkan mempelajari Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 yo Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 dan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1988. 2) Pola hidup sederhana Diarahkan pada pengendalian diri bagi setiap anggota Gerakan Pramuka maupun sebagai anggota masyarakat.

3) Kesetiakawanan Sosial Sikap solidaritas atas kesulitan/penderitaan orang lain yang diwujudkan dalam bentuk uluran tangan untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain, sesuai dengan kemampuannya. e. Memiliki kemampuan awal bela Negara Kemampuan awal bela negara bersifat psikis yaitu memiliki sifat disiplin, ulet, kerja keras, percaya akan kemampuan sendiri, jujur, dan bertanggung jawab. Yang bersifat fisik yaitu memiliki kondisi kesehatan dan kemampuan keterampilan jasmani yang bukan bersifat latihan kemiliteran yang dapat mendukung kemampuan awal bela Negara. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut diberikan materi antara lain: 1) Psikis Membina sikap mental sejak dini, dimulai di lingkungan keluarga dilanjutkan di sekolah dan pergaulan dengan materi ajaran yang berkaitan dengan budi pekerti. 2) Fisik a) Olah raga b) Hidup sehat dan bersih c) Keterampilan dalam melaksanakan system keamanan. f. Materi PPBN dalam Gerakan Pramuka menggunakan bahan-bahan ceramah yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan Keamanan cq Ditjen Prsmanvet Dephankam dan yang dikeluarkan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka. BAB IV TOLOK UKUR KEBERHASILAN, TANDA-TANDA KEBERHASILAN, PEMBIAYAAN, PENGENDALIAN, PENGAWASAN DAN EVALUASI PPBN DALAM GERAKAN PRAMUKA 13. Tolok Ukur keberhasilan Keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka dapat dilihat dari indikasi antara lain sebagai berikut : a. Pembinaan Gerakan Pramuka 1) Memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari 2) Mentaati peraturan yang berlaku 3) Mendidik dan membina kearah yang baik 4) Meningkatkan rasa kesatuan, persatuan, dan persaudaraan 5) Hidup sederhana b) Anggota Gerakan Pramuka 1) Mengikuti kegiatan kepramukaan dengan sukarela 2) Saling membantu dan menasehati sesama teman 3) Menjaga kesatuan dan persatuan 4) Menjaga kebersihan lingkungan 5) Disiplin 6) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan 7) Berbudi pekerti baik

14. Tanda-tanda keberhasilan a. Umum Penilaian terhadap keberhasilan kegiatan penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara yaitu: 1) Mencintai tanah air tercantum dalam sikap dan perbuatannya seharihari 2) Kesadaran berbangsa dan bernegara dapat dicerminkan dalam sikap dan perilakunya sehari-hari 3) Mengamalkan Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari 4) Rela berkorban untuk bangsa dan Negara tercermin dalam sikap dan perbuatannya 5) Memiliki kemampuan awal bela Negara b. Khusus Secara khusus tanda-tanda keberhasilan PPBN dalam Gerakan Pramuka dapat tercermin antara lain: 1) Pembinaan dan anggota Gerakan Pramuka selalu mengutamakan kesatuan dan persatuan bangsa 2) Memiliki disiplin yang tinggi 3) Menghargai pendapat orang lain 4) Menerapkan pola hidup sederhana 5) Menciptakan lingkungan yang tertib, bersih dan aman 6) Memberikan motivasi positif bagi rekan-rekannya. 15. Pembiayaan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka membiayai sendiri pelaksanaan kegiatan berkala di semua jajarannya sesuai dengan Rencana Kerja dan Program Kerja masing-masing. 16. Pengendalian dan Pengawasan a. Gerakan Pramuka Kwartir Nasional Gerakan Pramuka melaksanakan pengendalian dan pengawasan kegiatan PPBN dalam Gerakan Pramuka, sesuai dengan jalur dan tata kerja yang berlaku dalam Gerakan Pramuka b. Dephankam dan Mabes ABRI 1) Dephankam (Ditjen Persmanvet) dan Mabes ABRI (Ster Mabes ABRI) memberikan bantuan teknis pada penyelenggaraan PPBN dalam Gerakan Pramuka apabila dibutuhkan (atas permintaan Kwarnas/Kwarda). 2) Pemberian bantuan teknis dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Komando Teritorial setempat 3) Melalui jalur ABRI, Ditjen Persmanvet dan Ster ABRI akan menerima laporan dari Kodam yang menjadi koordinator bantuan teknis PPBN bagi Gerakan Pramuka di wilayahnya 4) Ditjen Persmanvet akan mendapatkan informasi dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengenai perkembangan kegiatan Gerakan Pramuka pada umumnya, pemantapan PPBN dalam Gerakan Pramuka pada khususnya terutama yang menyangkut bantuan teknis ABRI (Angkatan dan Polri) di daerah.

17. Evaluasi Evaluasi PPBN dalam Gerakan Pramuka dilakukan guna memperoleh informasi penyelenggaraan PPBN meliputi: a. Penyelenggaraan Untuk mengetahui hasil yang dapat dicapai dengan metode, prosedur, dan sarana yang digunakan. b. Sasaran 1) Obyek: Para peserta dapat memahami dan melaksanakan PPBN dalam Gerakan Pramuka, dengan memperhatikan terhadap sikap dan tingkah laku sehari-hari antara lain meliputi keuletan, disiplin, kesungguhan dalam melaksanakan tugasnya dan peran sertanya. 2) Subyek: Para Pembina dan pelatih dalam Gerakan Pramuka telah dapat menyelenggarakan PPBN secara efektif dan efisien dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia. 3) Teknik: Metode yang digunakan untuk menyampaikan materi PPBN yang disesuaikan dengan strata pesertanya, sehingga dapat diterima, diserap, dan dipahami oleh para peserta. 4) Sarana: Alat peralatan (alins dan alongins) yang digunakan untuk menyelenggarakan PPBN sesuai dengan situasi dan kondisi Gerakan Pramuka. c. Cara Untuk melaksanakan evaluasi perlu digunakan suatu cara yang baik, antara lain: 1) Dengan mengisi angket yang dilakukan oleh para peserta dan angket yang diisi oleh para pembina (tanpa menunjukkan identitas diri). 2) Cerdas Cernat, yaitu kegiatan untuk mengadu ketangkasan berpikir PPBN, sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman PPBN. 3) Karya tulis, yaitu dengan membuat tulisan tentang Bela Negara bagi para peserta sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman terhadap materi PPBN yang telah diberikan. 4) Pengamatan yang dilaksanakan oleh Pembina Gerakan Pramuka di masing-masing Kwarda, Kwarcab, Kwarran BAB V PENUTUP 18. Dengan diterbitkannya Buku Panduan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dalam Gerakan Pramuka, maka penyelenggaraan PPBN dalam Gerakan Pramuka diharapkan dapat dilaksanakan secara konsepsional, efektif, dan efisien.

Demikian Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara untuk dikembangkan dan disebarluaskan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditentukan, dan apabila dalam pelaksanaannya dijumpai kesulitan dapat koordinasi serta konsultasi dengan Dephankam cq Ditjen Persmanvet Dephankam guna mendapatkan penjelasan, sehingga dengan memasyarakatnya Pendidikan Pendahuluan Bela Negara hasilnya dapat

memperkuat upaya peningkatan disiplin nasional dan produktivitas nasional dalam rangka memantapkan Ketahanan Nasional.

Jakarta, 30 Januari 1996 Direktur Jenderal Personil, Tenaga Manusia dan Veteran

Rusmadi Sidik PERMAINAN SIMULASI PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Pada dasarnya Pendidikan Pendahuluan Bela Negara diselenggarakan guna memasyarakatkan upaya bela negara dengan cara menyadarkan segenap warga negara akan hak dan kewajiban dalam upaya bela negara.Manyadari akan hal tersebut di atas, maka pembinaan kesadaran bela negara akan dapat berhasil dengan baik apabila dilaksanakan dengan memperhitungkan tingkat kesiapan dan tingkat perkembangan dari peserta didik. Dalam rangka proses internalisasi kesadaran bela negara seyogyanya peserta didik diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan kepribadian sebaik-baiknya atas dasar pengalaman pribadi yang diperolehnya melalui interaksi dengan lingkungan. b. Permainan Simulasi PPBN sebagai salah satu metode pemasyarakatan PPBN, merupakan salah satu usaha mengoptimalkan hasil yang ingin dicapai, yang dalam penyelenggaraanmya sangat tergantung pada kemampuan dan kesungguhan para penyelenggara dan peserta permainan simulasi.Oleh karena itu terlebih dahulu para penyelenggara harus dapat memahami tentang PPBN secara tepat dan mendalam. Untuk itu para penyelenggara perlu mendapatkan penataran/ceramah PPBN serta pembinaan secara meningkat dan berlanjut. c. Mengingat PPBN merupakan upaya nasional yang terpadu, maka penyelenggara Permainan Simulasi PPBN sebagai salah satu metode penyebarluasan PPBN, di lingkungan pendidikan, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan pemukiman, secara terus menerus diupayakan adanya suatu bentuk penyelenggaraan yang konsepsional terpadu, Penulisan konsep penyelenggaraan Permainan Simulasi PPBN ke dalam buku panduan penyelenggaraan Simulasi PPBN, diharapkan dapat memenuhi maksud di atas. 2. Maksud dan tujuan

Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan pemukiman, dengan tujuan agar Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dapat dilaksanakan secara konsepsional dan mencapai sasaran sebagaimana diharapkan. 3. Ruang lingkup dan tata urut Ruang lingkup panduan ini meliputi ketentuan-ketentuan tentang penyelenggaraan Permainan Simulasi PPBN di lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan pemukiman di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, dengan tata urut sebagai berikut: a. Pendahuluan b. Perencanaan Permainan Simulasi PPBN c. Pelaksanaan Permainan Similasi PPBN d. Membentuk dan membina kelompok e. Pelaksanaan diskusi f. Pengendalian dan pengawasan, evaluasi, laporan g. Penutup 4. Pengertian a. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang b. Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. c. Sistem Pendidikan Nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional. d. Bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, serta berkeyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai Ideologi Negara dan kerelaan berkorban guna meniadakan setiap ancaman, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri, yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. e. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara adalah pendidikan dasar bela negara guna menumbuhkan kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi Negara, kerelaan berkorban untuk Negara serta memberikan kemampuan awal bela negara. f. Lingkungan Pendidikan adalah lingkungan seseorang warga negara bersekolah atau menuntut ilmu atau yang kehidupannya bertalian erat dengan tempat pendidikan atau pendidikannya. g. Lingkungan Pekerjaan adalah lingkungan seseorang warga negara yang bekerja mencari nafkah dan kehidupannya bertalian erat dengan tempat bekerja atau pekerjaannya.

h. Lingkungan pemukiman adalah lingkungan seseorang warga negara bertempat tinggal dan menyelenggarakan kehidupannya. i. Simulasi berasal dari kata “Simulate” artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Simulasi juga berarti tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja. Simulasi sebagai metode penyajian adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman atau hakikat suatu prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan (tidak sesungguhnya). j. Permainan simulasi PPBN adalah permainan yang merupakan gabungan dari permainan peranan dengan kegiatan diskusi, yang selalu dikaitkan/diwarnai oleh ciri-ciri PPBN. Permainan simulasi PPBN ini merupakan salah satu upaya pemasyarakatan unsur-unsur pesan yang didiskusikan, seperangkat alat perlengkapan, serta cara atau aturan bermain yang direncanakan. Peranan Permainan Simulasi PPBN dalam usaha pemasyarakatan PPBN adalah sangat besar, karena merupakan proses belajar-membelajarkan yang dilakukan oleh sekelompok warga, dengan jalan dialog dan diskusi mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam PPBN dan pembangunan dalam suasana kekeluargaan, sehingga dapat menumbuhkan motivasi dan kegiatan belajar yang tinggi dan berkesinambungan. BAB II PERENCANAAN PERMAINAN SIMULASI PPBN 5. Metode Dalam menyelenggarakan PPBN dapat digunakan metode edukatif, persiasif atau pragmatis. Metode pragmatis digunakan untuk pembekalan secara taktis dengan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan secara bertahap sesuai dengan situasi dan kondisi. Salah satu teknik pragmatis dapat digunakan adalah “permainan simulasi”. Adapun pertimbangan-pertimbangan penggunaan permainan simulasi untuk PPBN adalah sebagai berikut: a. Merupakan media yang menarik dan mudah digunakan tanpa menuntut tingkat yang tinggi dari masyarakat yang memainkannya. b. Memiliki kesederhanaan dalam hal perangkat alat yang dipergunakan maupun tata cara memainkannya. c. Memiliki kelenturan dalam hal membuat dan memainkannya. d. Murah, dalam arti perangkat dan bahan-bahan belajar simulasi mudah didapatkan di setiap tempat dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. e. Pimpinan Permainan Simulasi (Fasilitator) tidak memerlukan digunakannya tenaga yang profesional.

f. Mengandung kegembiraan, dalam makna bahwa proses belajar melalui permainan Simulasi ini terjadi dalam situasi yang non formal dengan cukup menggairahkan. g. Dilakukan dalam suasana belajar berkelompok, sehingga terjadilah proses transformasi nilai secara optimal. h. Terjadinya proses permusyawaratan, dalam arti hak dan kewajiban serta kesempatan bagi peserta yang berpartisipasi terjamin untuk menyatakan perasaan, pikiran, dan persoalan yang dihadapinya. i. Terjadinya kewajaran dalam dialog yang tidak dibuat-buat sehingga menimbulkan keberanian berbicara bagi peserta sesuai dengan pendapatnya. j. Menggairahkan dan mengasyikkan, artinya dalam setiap proses belajar berlangsung di kalangan peserta permainan, terjadi senda gurau tanpa ada perasaan tertekan dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya. 6. Faktor yang berpengaruh Beberapa faktor yang ikut mempengaruhi penggunaan Permainan Simulasi yaitu: a. Faktor yang menunjang 1) Tidak bertentangan dengan hakikat manusia sebagai mahluk bermain (Homo Luden), dimana manusia cenderung untuk memperoleh kesegaran moril dengan menikmati permainan yang ada. Kesegaran ini diproleh dari karakteristik yang ada dalam setiap permainan, termasuk permainan simulasi, yaitu menarik, memikat, penuh variasi, dan menggairahkan. Dalam praktek diketemukan gejala yang berupa kecenderungan untuk bermain simulasi dan bermain lagi tanpa ada rasa bosan yang menyelubungi. 2) Praktis: permainan simulasi sangat mudah dilaksanakan karena peraturan-peraturan permainannya dapat dicerna oleh masyarakat tua, muda, pria maupun wanita. Disamping itu Permainan Simulasi dapat dilaksanakan setiap saat,pada waktu senggang, misal pagi, siang, sore, malam, tergantung kemauan kelompok. 3) Ekonomis: sarana untuk menyelenggarakan Permainan Simulasi sangat murah dan mudah didapat, misalnya papan bermain dapat dibuat dari bahan kertas atau kalau tidak ada kertas, permainan dapat dilaksanakan di atas lantai. Untuk tanda permainan (gaco) dapat digunakan pecahan genting dan sejenisnya. Kubus angka dalam fungsinya, dapat diganti dengan sarana lain di sekeliling kita, misalnya gulungan kertas bernomor, biji sawo, dan sebagainya. 4) Tepat guna: permainan simulasi dapat menyampaikan informasi mengenai kesadaran bela negara maupun pesan-pesan pembangunan, disamping itu dapat mengungkapkan aspirasi perasaan dan pendapat masyarakat yang berkaitan dengan unsur-unsur bela negara terpadu dengan pesan-pesan pembangunan. b. Faktor yang menghambat

Disamping beberapa faktor penunjang tersebut di atas terdapat juga hambatan-hambatan yang perlu mendapat perhatian cara pemecahannya. Hambatan tersebut adalah: 1) Terdapatnya ketidak samaan latar belakang dan tingkat pengetahuan fasilitator tentang bela negara dan pesan-pesan pembangunan ditambah kurang memadainya keterampilan fasilitator dalam menumbuhkan gairah untuk berdiskusi. Untuk ini perlu dilakukan bimbingan dan penyegaran fasilitator secara terencana. 2) Perbuatan yang tidak terpuji dari sementara pejabat setempat dapat menghambat kegairahan bermain kelompok simulasi. 3) Masih adanya koordinasi sektoral yang kurang mantap. Masih adanya suasana yang kurang menunjang dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun budaya di sementara daerah. c. Hasil yang diharapkan 1) Perubahan sikap mental orang-orang yang terlibat di dalamnya lebih terbuka, berani menyatakan pendapat, berargumentasi, berani menjawab dan dapat menerima gagasan baru yang berupa kebijaksan pembangunan dan lain sebagainya. 2) Permainan Simulasi PPBN dapat meningkatkan tekad, sikap, dan tindakan warga negara Republik Indonesia lewat diskusi dan dialog. 3) Dari pengalaman berdiskusi dan berdialog dapat tumbuh rasa ingin tahu, yang pada gilirannnya dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan berpikir serta terjadi perubahan sikap dan perilaku. 4) Adanya sikap terbuka dan berkembangnya sikap bermusyawarah sebagai awal perwujudan sikap kesadaran bela negara untuk mau menerima gagasan-gagasan pembangunan yang telah didiskusikan, sehingga dapat menimbulkan rasa ikut memiliki dan rasa bertanggung jawab warga masyarakat, untuk ikut serta mewujudkan gagasan pembangunan tersebut. 7. Menentukan bidang topik serta merumuskan tujuan a. Menentukan bidang Yang dimaksud dengan bidang pada Permainan Simulasi PPBN adalah pengelompokan permasalahan yang disesuaikan dengan jalur-jalur pemasyarakatan PPBN. Dengan demikian, maka bidang dalam Permainan Simulasi PPBN ada 3 bidang,yaitu: 1) Bidang Lingkungan Pendidikan 2) Bidang Lingkungan Pekerjaan 3) Bidang Lingkungan Pemukiman b. Menentukan topik Yang dimaksud dengan topik permainan simulasi adalah pokok pembicaraan atau pokok bahasan yang dapat dijadikan bahan diskusi. Topik tersebut diambil dari unsur-unsur PPBN dengan demikian maka dalam permainan simulasi ini topik terdiri atas: 1) Topik tentang Cinta Tanah Air 2) Topik tentang Sadar Berbangsa dan Bernegara 3) Topik tentang Yakin Kesaktian Pancasila 4) Topik tentang Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara

5) Topik tentang Kemampuan Awal Bela Negara c. Perumusan tujuan Yang dimaksud perumusan tujuan adalah merumuskan tujuan dari setiap topik, yang ingin dicapai diwujudkan dalam Permainan Simulasi PPBN. 8. Menentukan Masalah Pokok dan Sub Masalah Pokok Yang dimaksud dengan masalah pokok dan sub masalah pokok adalah halhal yang perlu didiskusikan yang berfungsi sebagai bahan belajar dan diskusi bagi peserta permainan simulasi. a. Masalah pokok adalah masalah yang timbul dan berkaitan dengan topik yang perlu mendapat pemecahan. b. Sub masalah pokok adalah penjabaran dari masalah pokok. Contoh: Topik : Cinta Tanah Air Masalah Pokok : Kurang diminatinya produk Dalam Negeri Sub Masalah Pokok : Buruknya kualitas produk dalam Negeri

9. Menyusun Pesan Permainan Simulasi PPBN dan Arahan a. Kedudukan, fungsi, dan tujuan pesan Kedudukan pesan dalam permainan simulasi adalah sebagai inti diskusi, sedang fungsi pesan adalah sebagai bahan belajar bagi peserta. Tujuan pesan adalah: 1) Memahami atau memperoleh pengetahuan tentang apa yang tersebut dalampesan. 2) Memiliki sikap seperti yang diharapkan dalam pesan 3) Terampil melaksanakan apa yang ditimbulkan, apa yang disebut dalam pesan. 4) Melalui diskusi tentang pesan yang dijabarkan dari masalah yang dihadapi, dan yang tersusun secara baik, peserta permainan akan: a) mengetahui sebab timbulnya masalah; b) mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh masalah; c) dapat mencari alternatif/kemungkinan pemecahannya. Jadi peserta permainan dirangsang dan dilatih untuk berpikir dan bertindak secara kritis dan kreatif b. Ciri-ciri pesan Pesan permainan simulasi harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tingkat pengetahuan peserta, artinya bahwa keluasan dan kedalaman materi (yang terkandung dalam pesan), disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta dan tempat serta waktu penyelenggaraan permainan simulasi. Pesan permainan yang baik adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Mengandung kejadian sehari-hari 2) Menarik bagi peserta permainan untuk didiskusikan secara mendalam 3) Mengandung unsur-unsur bela negara

4) Mendorong peserta berdiskusi dalam kesempatan bermain maupun di luar permainan 5) Bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti. c. Bentuk pesan 1) Bentuk daripada pesan permainan simulasi adalah: a) Pernyataan b) Suruhan dan anjuran c) Larangan d) Pertanyaan 2) Contoh: Pesan terpadu untuk beberan dan kartu merah putih: a) (Pernyataan) : - Pak Parto tidak pernah mau datang pada rapat desa, kalau hanya berkumpul untuk mendengarkan omongan petugas Bimas saja. b) (Suruhan) : - Harap saudara menghubungi pak Lurah dan menanyakan kepadanya, apakah pengusaha pabrik yang baru tidak lagi sembarangan membuang sampah pabriknya, setelah ia mau menghadiri musyawarahmusyawarah kelurahan. c) (Larangan) : - Janganlah saudara diam saja, kalau saudara mengetahui ada orang yang ingin menangnya sendiri saja, yaitu menggunakan aliran listrik tanpa batas dari pembangkit listrik mini milik desa. d) Pertanyaan) : - Pak Nata sering bertengkar dengan tetangga dalam musim tanam padi kali ini, dia sudah beberapa kali mengalirkan air irigasi ke sawahnya, meskipun ia mengetahui bahwa belum gilirannya untuk mengalirkan air tersebut. Bagaimana pendapat anda? d. Sifat uraian pesan 1) Uraian pesan dapat membuat hal-hal yang diinginkan maupun sebaliknya, yaitu hal-hal yang tidak diinginkan. Pilihlah uraian yang lebih mudah penyusunannya. Contoh: Bidang : Lingkungan Pemukiman Topik : Cinta Tanah Air Tujuan : Menimbulkan rasa mengenal dan mencintai wilayah masyarakat. Masalah pokok : Kurang dikenalnya wilayah nasional Sub Masalah pokok : Kurang diketahuinya lingkungan wilayah Indonesia 2) Pesan: a) Negara Indonesia dikelilingi oleh samudera luas dan terdiri dari beriburibu pulau, sebutkan 5 pulau besar yang anda ketahui. b) Indonesia adalah negara kepulauan, karena keadaan itu kita mengenal lagu Dari Sabang sampai Merauke, nyanyijkan bersama lagu itu. c) Pulau-pulau di Indonesia pada umumnya bergunung, berlembah maupun berbatas tinggi. Sebutkan beberapa manfaat dari keadaan serupa ini, selain untuk pariwisata.

10. Petunjuk cara membuat alat permainan simulasi PPBN a. Yang dimaksud dengan cara membuat alat permainan simulasi adalah cara merencanakan, menyusun dan menerangkan pesan-pesan ke dalam merah putih. b. Langkah-langkah membuat alat permainan simulasi adalah sebagai berikut: 1) Menentukan bidang dengan memilih salah satu dari 3 bidang yang ada, yaitu bidang lingkungan pendidikan, bidang lingkungan pekerjaan, dan bidang lingkungan pemukiman. 2) Menentukan topik dengan memilih salah satu dari 5 unsur PPBN. 3) Menentukan tujuan permainan berupa peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan akan dapat dimiliki oleh pesarta setelah selesai bermain. 4) Menentukan masalah pokok Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan bidang dan topik 5) Menentukan sub masalah Menjabarkan masalah yang berkaitan dengan masalah pokok 6) Menyusun pesan Menyusun pesan yang berkaitan dengan sub masalah pokok 7) Menyusun arahan Menyusun salah satu jawaban yang benar dari persoalan yang ditimbulkan dalam pesan-pesan. 8) Contoh-contoh lembar matriks penyusunan pesan sebagai berikut: Penyusunan pesan simulai PPBN Bidang : Peserta: No. 1 TOPIK 2 TUJUAN 3 MASALAH POKOK 4 PESAN PESAN 5 ARAHAN JAWABAN 6

11. Perlengkapan permainan simulasi PPBN a. Beberapa permainan/lembaran permainan Alat ini dapat terbuat dari kertas/karton yang memuat sejumlah gambar dan kolom yang berisi pesan pembangunan maupun pesan-pesan PPBN. Pesanpesan pembangunan dan pesan-pesan PPBN ini berupa kejadian sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat, dan menyangkut pelaksanaan program pembangunan maupun penghayatan dan pengamalan nilai-nilai bela negara. b. Kartu merah putih dan kolom pesan Berisi pesan-pesan terpadu sesuai dengan bidang/topik yang diinginkan. c. Alat penentu langkah Dapat berupa kubus angka yang tiap kubus bertuliskan angka 1 s/d 6 atau kartu yang berisi angka 1 s/d 6.Pilihan terhadap alat penentu langkah dapat dimusyawarahkan sesuai dengan kemauan daerah atau kelompoknya masing-masing.

d. Tanda Pemain/Gaco Tanda pemain adalah alat untuk membedakan pemain dengan pemain lain, misalnya dapat berbentuk: - Kancing baju, dengan mengambil 6 warna atau yang besarnya berbeda - Batu kerikil, kapur tulis, dan sebagainya. e. Buku Catatan Fasilitator Yakni buku untuk mencatat hal-hal yang penting oleh fasilitator. Teknis pencatatan dapat dilakukan sendiri atau menugaskan kepada penulis. f. Buku Pegangan Fasilitator Yakni buku-buku yang perlu dimiliki oleh fasilitator yang ada hubungannya dengan permainan simulasi, antara lain: 1) UUD 1945, GBHN. UU No. 20/1982, Peraturan perundang-undangan lain yang berkaitandengan bela negara. 2) Buku tentang P-4 3) Panduan Penyelenggaraan Permainan Simulasi PPBN 12. Peserta Permainan Simulasi PPBN a. Peserta Permainan Simulasi PPBN ialah mereka yang terlibat dalam permainan simulasi. Mereka terdiri atas: 1) Fasilitator 2) Pemegang peran 3) Pemain 4) Penulis 5) Penonton b. Batasan/penjelasan 1) Fasilitator a) Pengertian Fasilitator adalah orang yang bertugas memimpin permainan simulasi b) Tugas fasilitator secara lengkap sebagai berikut: (1) Memimpin diskusi/permainan (2) Menjelaskan aturan permainan (3) Menentukan dengan musyawarah siapa-siapa daripartisipan yang akan bertindak sebagai pemimpin, pemegang peran, dan penulis. (4) Merangsang peserta untuk aktif berdiskusi (5) Mengarahkan diskusi (6) Menjawab/menjelaskan pesan/masalah yang timbul dalam diskusi (7) Menetralkan perasaan negatif akibat diskusi (8) Menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh peserta permainan lainnya (9) Memberikan kesimpulan setiap pesan setelah didiskusikan (10) Menugaskan kepada penulis untuk mencatat maslah yang tidak terpecahkan (11) Menanyakan masalah yang tidak terpecahkan kepada Instansi/Dinas/Jawatan/ Nara Sumber

(12) Menjelaskan kembali setiap masalah yang telah ditanyakan tersebut di atas pada permainan berikutnya. c) Kewajiban fasilitator (1) Menyusun program (2) Menyiapkan alat permainan (3) Menyusun jadwal (4) Menyusun pesan (5) Menghubungi/koordinasi dengan instansi terkait setempat (6) Kerja sama dengan pamong desa/instansi dan tokoh masyarakat dalam pengamanannya (7) Membuat laporan kepada Koordinator Pelaksanaan Permainan Simulasi (KP2S) atau instansinya masing-masing d) Syarat-syarat menjadi fasilitator (1) Telah mengikuti pelatihan fasilitator simulasi (2) Telah mengikuti penataran/ceramah PPBN (3) Ia adalah anggota masyarakat setempat (4) Dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat setempat (5) Pandai bergaul, kreatif, dan dinamis (6) Bebas tiga buta (aksara latin, bahasa Indonesia, pengetahuan dasar) (7) Bersikap terbuka terhadap pendapat orang lain (8) Tanggap terhadap masalah-masalah sekitar (9) Mampu memahami proses-proses alamiah dalam lingkungannya (10) Berdedikasi/penuh pengabdian untuk pembangunan lingkungannya. 2) Pemegang Peran Penegang Peran adalah mereka yang seolah-olah mempunyai profesi tertentu dalam masyarakat, misalnya Juru Penerang, Kepala Desa, Dokter, PPL, dan sebagainya disesuaikan dengan bidang topik. Fungsi Pemegang Peran adalah: a) Memberi penjelasan, menjawab pertanyaan sesuai dengan perannya b) Memecahkan masalah yang ada kaitannya dengan peran yang diembannya. c) Memberi nasehat dan anjuran Catatan: Pemegang peran adalah warga yang sedang belajar berperan sebagai salah satu tokoh masyarakat. Oleh karenanya ucapan atau nasehatnya bisa saja salah/tidak benar. Jadi tidak harus selalu dianggap benar. 3) Pemain Yang dimaksud dengan Pemain adalah: pemegang tanda pemain/gaco. Pemegang tanda pemain/gaco tugasnya adalah: a) Berhak mengambil alat penentu langkah b) Memberi jawaban pertama terhadap pesan sesuai dengan jatuhnya alat penentu langkah. c) Mengambil salah satu kartu merah putih serta menjawab bila alat penentu langkah jatuh pada kolom merah putih d) melaksanakan keputusan yang sesuai dengan hasil musyawarah bila alat penentu langkah jatuh pada kolom kosong. e) Menyetujui, menyanggah pendapat/jawaban peserta lain. f) Menanyakan pesan yang mungkin kurang jelas kepada Fasilitator. 4) Penulis

Penulis adalah mereka yang bertugas mencatat segala sesuatu yang terjadi selama Permainan Simulasi PPBN berlangsung, yang meliputi hal-hal sebagai berikut: a) Topik permainan b) Tanggal permainan c) Nama Fasilitatornya d) Nama Pemain e) Nama Pemegang Peran f) Aturan main g) Masalah-masalah yang tak dapat dipecahkan selama permainan. 5) Penonton Penonton adalah mereka yang datang menyaksikan permainan simulasi Penonton berhak (setelah mendapat ijin dari Fasilitatornya) antara lain: a) Mengemukakan pendapat b) Menyanggah/menyetujui jawaban peserta/pemain yang lain. c) Menanyakan kepada Pemain. BAB III PELAKSANAAN PERMAINAN SIMULASI PPBN, 13. Persiapan a. Menentukan tempat dan waktu Tempat dan waktu untuk permainan dimulai dapat ditentukan dimana saja dan kapan saja Misalnya: di rumah warga, di balai desa pada pagi, siang, atau sore hari. b. Menyediakan alat permainan Pada waktu akan melaksanakan permainan, Fasilitator menyediakan alatalat permainan yang berupa beberan, katu merah putih, alat penentu langkah, Tanda Pemain (gaco), buku catatan dan buku pegangan (Juklak Simulasi, Tap MPR No. II/MPR/1993, dan buku materi pelengkap lainnya) c. Pemilihan Fasilitator Jika belum ditentukan siapa fasilitatornya, maka diadakan pemilihan fasilitator diantara anggota kelompok belajar yang telah lulus penataran fasilitator. Tetapi kalau fasilitator hanya satu orang dalam kelompok itu, pemilihan fasilitator tidak perlu lagi diadakan. d. Memilih topik permainan Pemilihan topik permainan ini dilakukan kalau memang topik beberan yang tersedia lebih dari satu. Apabila hanya tersedia satu beberan, maka fasilitator cukup memberitahukan kepada kelompok, bahwa kita akan melaksanakan Permainan Simulasi PPBN dengan topik “anu” (topik beberan yang tersedia) e. Memilih Penulis, Pemain dan Pemegang Peran. Mula-mula fasilitator memusyawarahkan dengan warga belajar untuk memilih penulis (ini kalau belum ada penentuan sebelumnya) kemudian baru memilih pemegang peran (kalau belum ditentukan) dan akhirnya memilih pemain. Jumlah pemain disesuaikan dengan anggota kelompok yang hadir. Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang pemain. Selebihnya menjadi peserta penonton. Dalam hal terpaksa, penulis atau pemegang peran dapat dirangkap oleh pemain.

f. Membicarakan aturan permainan Langkah berikutnya setelah menentukan penulis, pemegang peran dan pemain adalah membicarakan aturan permainan. Pada prinsipnya 3 (tiga) hal yang dimusyawarahkan. 1) Lamanya permainan Mengenai lamanya permainan dapat dipilih: a) Menurut waktu yaitu 1 jam atau 2 jam (permainan dikatakan telah selesai bila waktu yang disepakati telah habis). b) Menurut ronde atau babak permainan. Misalnya satu ronde atau 2 ronde (permainan dikatakan telah berjalan 1 ronde/babak apabila seluruh pemain telah pernah melangkah gaconya) c) Menurut putaran Ini berarti permainan berlangsung terus hingga ada seorang pemain yang gaconya jatuh pada kolom STOP. 2) Gaco jatuh di kolom kosong Apabila gaco jatuh di kolom kosong, maka pemain yang bersangkutan dapat disuruh: a) Menyanyi (menyanyi bersama-sama) lagu-lagunya boleh dipilih lagu perjuangan atau lagu daerah. b) Berceritera (tentang pahlawan atau peristiwa yang sangat mengesankan) c) Menari (menari bersama-sama) d) Bebas (tidak disuruh apa-apa) e) Dan lain-lain yang disepakati oleh peserta permainan. 3) Gaco jatuh pada kolom yang telah didiskusikan, Apabila gaco jatuh pada kolom yang telah didiskusikan, maka pemain yang bersangkutan dapat disuruh: a) Melangkah gaconya maju atau mundur satu langkah atau dua langkah dan seterusnya. b) Mengulang sekali lagi mengocok alat penentu langkah dan langkah dilanjutkan 14, Pelaksanaan Bermain a. Mengucapkan salam Sebelum memimpin Permainan Simulasi PPBN, Fasilitator mengucapkan salam dahulu kepada kelompok belajar. Salamnya dapat berupa ucapan “Assalamu’alaikum Wr. Wb.; Selamat Sejahtera (Siang/Malam)” atau ucapan lain yang sejiwa, sesuai dengan lingkungan setempat. b. Berdoa Sebelum Permainan Simulasi PPBN dimulai, maka sebagai bangsa yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa, perlu memanjatkan doa agar Permainan Simulasi PPBN berjalan lancar, tidak ada halangan suatu apa dan diberi hilkmat dan manfaat bagi kita semua. Doa dipimpin oleh fasilitator. Caranya yaitu Fasilitator mengajak semua hadirin (peserta permainan) untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar permainan simulasi yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancer diberi hikmat dan sebagainya. Pada saat berdoa hendaknya peserta permainan dalam sikap (berdiri/duduk) yang sempurna

c. Cara bermain Mula-mula pemain pertama mengambil alat penentu langkah, kemudian melangkahkan gaconya sesuai dengan nomor yang terdapat pada alat penentu langkah. Bila gaco berhenti pada kolom yang ada pesannya, maka pesan itulah yang dibaca dan kemudian didiskusikan. Pertama-tama pemain yang melangkahkan gaconya itulah yang menanggapi pesan dimaksud. Selanjutnya fasilitator menawarkan pada pemain lain atau penonton yang ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila dalam diskusi tidak terdapat perbedaan pendapat dan menurut fasilitator memang benar, maka fasilitator tinggal menggaris bawahi (menyimpulkan) saja, sedapatdapatnya dikaitkan dengan unsur-unsur PPBN. Tetapi apabila ada perbedaan pendapat, maka fasilitator dapat meminta pemegang peran untuk memberikan penjelasan seperlunya. Demikian seterusnya bagi pemain kedua atau ketiga. Sebaliknya untuk satu pesan jangan didiskusikan terlalu lama dan fasilitator dalam hal ini dapat memperkirakannya. Dalam diskusi, fasilitator harus dapat mengaktifkan kelompok, mengembangkan, mengatur lalu lintas diskusi dan mengarahkan agar diskusi dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 15. Penutup Bermain Jika permainan sudah berakhir, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam musyawarah, maka perlu diadakan: a. Pembacaan kesimpulan permainan oleh fasilitator atau penulis. Kesimpulan dapat juga disampaikan oleh pemain atau penonton permainan. Kalau suatu pesan belum bias dipecahkan (disepakati) karena pesan yang didiskusikan mengandung permasalahan yang perlu pemecahannya lebih teliti, maka dapat ditangguhkan pada permainan berikutnya, setelah fasilitator meminta pendapat dari nara sumber atau pemimpin setempat. b. Penetapan permainan yang akan dating. Fasilitator menawarkan kepada peserta permainan, kapan akan bermain lagi, dimana dan jam berapa. c. Doa penutup Selanjutnya sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas bimbingan dalam Permainan Simulasi PPBN, fasilitator mengajak peserta untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. d. Salam perpisahan Akhirnya fasilitator mengucapkan salam seperti salam pada saat persiapan permainan simulasi. Catatan untuk perhatian a. Apabila permainan simulasi yang dimainkan oleh enam pemain selesai bermain satu babak/ronde, maka kita dapat melihat bahwa gaco-gaco para pemain telah berada masing-masing pada kolom 1, 2, 3, 4, 5, dan 6.

Apabila permainan akan dilanjutkan pada babak/ronde ke dua baik oleh pemain yang tetap maupun pemain pengganti, maka pada ronde ini akan terjadi beberapa gaco akan jatuh pada kolom yang sudah didiskusikan, ini disebabkan karena alat penentu langkah dibatasi hanya sampai angka enam saja. Apabila terjadi seperti hal tersebut di atas, maka berlaku ketentuan yang disepakati sebelum bermain, yaitu bisa: 1) Maju satu langkah atau mundur satu langkah 2) Mengulang kembali mengambil alat penentu langkah (kocok kembali) Apabila dalam permainan ini digunakan ketentuan 1) maka gaco dari tempatnya itu dilangkahkan maju satu langkah. Apabila maju satu langkah ini gaco masih jatuh pada kolom yang sudah didiskusikan, maka gaco melangkah satu langkah lagi sampai akhirnya ketemu pada kolom 7 (tujuh) yang belum didiskusikan. Adalah salah satu apabila langkah pertama dari babak/ronde ke dua ini langsung melangkah dimulai dari kolom 7 (tujuh). Melangkah selalu dimulai dari mana gaco pada saat itu berada. Apabila ketentuan bermain digunakan ketentuan 2) yaitu mengulang mengocok dan mengambol alat penentu langkah lagi, maka gaco dilangkahkan dari tempat gaco semula berada sampai sekian langkah menurut alat penentu langkah yang terambil. Bila langkah gaco itu jatuh pada kolom yang sudah didiskusikan, maka pemain mengambil alat penentu langkah lagi dan melangkahkan gaconya lagi dimulai dimana tadinya gaco berada, yaitu pada kolom yang sudah didiskusikan tadi. Contoh: Semua gaco berada di kolom dua, setelah mengambil alat penentu langkah. Maka gaco jatuh pada kolom 5 (lima) Dalam ronde/babak pertama kolom lima sudah didiskusikan, maka harus diambil alat penentu langkah lagi, misalnya dapat angka empat. Dengan demikian maka gaco yang tadi sudah berada di kolom lima dilanjutkan langkahnya empat langkah lagi sehingga jatuh pada kolom kesembilan, ini didiskusikan dalam babak kedua) b. Pada saat bermain simulasi yaitu pada babak/ronde pertama, maka semua gaco pemain harus diletakkan pada kolom mulai. Tidak dibenarkan gaco itu dipegang para pemain Hal ini untuk menjaga keakraban dan memaksa pemain untuk selalu berada dekat pada beberan. Apabila kita bermain dengan 6 (enam) pemain, maka pada kolom mulai akan terkumpul 6 (enam) gaco, dan apabila bermain dengan 4 (empat) pemain, maka pada kolom mulai akan terkumpul hanya 4 (empat) gaco. Sesuai dengan giliran bermain, maka gaco tersebut satu persatu akan meninggalkan kolom mulai. Pada permainan babak/ronde kedua mulai, maka gaco-gaco berada pada kolom-kolom dimana tadinya (berhenti), dan dilangkahkan dari tempat dimana dia berada pada waktu itu. Jadi pada ronde/babak kedua kolom mulai sudah kosong, dan akan tetap kosong dari gaco sampai permainan selesai dan bubar.

Tidak dibenarkan mengumpulkan gaco di kolom mulai pada saat permainan babak kedua ini dimulai, lebih-lebih pada babak ketiga dan seterusnya. Tegasnya gaco-gaco hanya dikumpulkan di kolom mulai pada saat permainan ronde/babak pertama saja. Pada ronde/babak berikutnya gacogaco telah tersebar di beberapa kolom, dan melangkah dimulai dari tempat dimana gaco-gaco itu berada. c. Alat penentu langkah jumlahnya hanya enam angka. Enam angka itu harus selalu kompak menjadi satu. Apabila seorang pemain telah mengambil satu alat penentu langkah, dan telah mengetahui nomornya, maka alat itu harus dikembalikan lagi pada tempatnya. Dengan demikian maka pemain berikutnya akan tetap memilih satu nomor dari 6 (enam) nomor yang tersedia. Jadi tidak dibenarkan alat penentu langkah itu yang berupa mungkin kaleng, mungkin gelas dan sebagainya, berisi kurang dari 6 (enam) angka. Setiap pemain mengambil salah satu angka dari 6 (enam) angka dan kemudian dikembalikan pada tempatnya setelah angka diketahui. BAB IV MEMBENTUK DAN MEMBINA KELOMPOK 16. Pembentukan Kelompok a. Ketentuan 1) Kelompok Permainan Simulasi PPBN adalah sekelompok warga yang pada waktu-waktu tertentu berkumpul di suatu tempat untuk melangsungkan Permainan Simulasi PPBN 2) Yang menjadi warga Permainan Simulasi PPBN adalah siapa saja dari anggota masyarakat setempat atau anggota perkumpulan/organisasi yang berminat. 3) Jumlah anggota Kelompok Permainan Simulasi PPBN minimal 5 (lima) orang dan maksimal 12 (dua belas orang). Kelompok yang ideal ialah 10 (sepuluh) orang dengan perincian sebagai berikut: - Penulis 1 orang - Pemain 6 orang - Pemegang Peran 3 orang - Penonton sebanyak-banyaknya 4) Yang bertugas membentuk kelompok permainan simulasi adalah fasilitator atau pejabat/warga yang ditunjuk. b. Cara membentuk Kelompok Permainan Simulasi PPBN Pembentukan Kelompok Permainan Simulasi PPBN dapat dilakukan dengan dua cara: 1) Bila sudah ada Kelompok Perkumpulan atau organisasinya. a) Fasilitator atau pejabat/warga yang ditunjuk menghubungi Ketua atau Pengurus perkumpulan atau organisasi yang telah ada, untuk

menanyakan keinginannya ikut serta membina kelompok atau organisasinya dengan jalan mengadakan latihan Permainan Simulasi PPBN bagi para anggotanya. b) Langkah berikutnya ialah mendaftar calon anggota Kelompok Permainan Simulasi PPBN dalam buku, mengenai: (1) Nama (2) Tempat dan tanggal lahir (3) Jenis kelamin (4) Agama (5) Pendidikan tertinggi (6) Pekerjaan (7) Alamat rumah c) Mengelompokkan anggota sesuai dengan data sebagaimana tersebut di atas, serta menentukan ketua dan sekretaris kelompok. d) Apabila telah terbentuk kelompok, dan ternyata lebih dari satu kelompok Permainan Simulasi PPBN, masing-masing kelompok diberi nomor atau nama sesuai dengan selera kelompok, misalnya namanama burung, atau nama-nama bunga. e) Menentukan jadwal latihan, misalnya seminggu tiga kali, dua kali, atau satu kali. Tentang tempat latihan sebaiknya adalah secara bergiliran di rumahrumah anggota kelompok. 2) Bila belum ada Kelompok Perkumpulan atau organisasinya, misalnya di pelosok-pelosok desa. a) Fasilitator atau pejabat/warga yang ditunjuk menghubungi Ketua RT/RW atau Lurah setempat, untuk menyatakan maksudnya membentuk Kelompok Permainan Simulasi PPBN dengan memberikan keterangan-keterangan seperlunya. b) Bila telah mendapat persetujuan, langkah berikutnya ialah mengadakan pendaftaran calon anggota Kelompok Permainan Simulasi PPBN. Dalam buku catatan ditulis mengenai: (1) Nama (2) Tempat dan tanggal lahir (3) Jenis kelamin (4) Agama (5) Pendidikan tertinggi (6) Pekerjaan (7) Alamat rumah c) Menentukan ketua dan sekretaris kelompok. d) Menentukan nama kelompok e) Menentukan jadwal latihan 17. Cara Membina Kelompok Permainan Simulasi PPBN. Pembinaan suatu kelompok tidak dapat dipisahkan dari pembinaan masingmasing anggota kelompok secara individual. Karena itu pembinaan Kelomok Permainan Simulasi PPBN harus dilaksanakan secara simultan dengan pembinaan warga Permainan Simulasi PPBN itu sendiri. Adapun cara pembinaan seperti yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan Kelompok Permainan Simulasi PPBN 1) Mengadakan latihan secara terus menerus sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan 2) Mengadakan tukar menukar topik permainan silulasi dengan kelompok lain 3) Mengadakan latihan bersama dengan kelompok-kelompok yang lain 4) Mengadakan perlombaan antar kelompok 5) Pemberian penghargaan atau insentif bagi kelompok yang rajin. b. Pembinaan Kelompok Permainan Simulasi PPBN 1) Kehadiran/kegiatan anggota dicatat dalam kartu anggota masing-masing Contoh Kartu anggota Nama : Alamat/tempat tinggal: Kelompok : Tgl Tidak hadir No. Tempat Hadir Keterangan Latihan Sakit Ijin TK

2) Bagi anggota kelompok yang jarang hadir hendaknya sering dijemput oleh anggota kelompok lain terdekat atau oleh fasilitator pada waktu akan mengadakan latihan 3) Bagi anggota kelompok yang sedang menderita sakit, hendaknya dikunjungi oleh kelompoknya (termasuk fasilitator) 4) Bagi anggota kelompok yang sedang mengalami kesulitan, fasilitator hendaknya membantu dengan memberikan nasehat atau saran-saran pemecahan. Bila perlu diberi bantuan materi (uang) yang dikumpulkan dari para anggota kelompok. 5) Permainan Simulasi PPBN seyogyanya dilaksanakan secara bergiliran di rumah-rumah anggota kelompok. BAB V PELAKSANAAN DISKUSI 18. Pengertian Diskusi adalah suatu pertukaran pikiran secara teratur dengan tujuan menghasilkan suatu pengertian yang lebih nyata, lebih benar dan lebih luas. Jadi dalam diskusi ada 2 (dua) unsur yang perlu kita perhatikan. a. Berpikir Berarti menelaah sungguh-sungguh suatu persoalan dengan akal budi dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri mengenai suatu persoalan.

b. Bersama Yang mendorong agar orang bergabung dalam berpikir bersama adalah usaha untuk mengetahui realitas tidaknya pemikirannya sendiri, apabila dikaji dengan pengalaman sesamanya.Bergabung dalam berpikir berarti saling tukar menukar pandangan, saling memperbandingkan dua jenis rangkaian pengalaman yang berbeda dalam rangka usaha bersama untuk mencapai realitas. Dengan demikian para peserta diskusi masing-masing aktif mencari dan memberi fakta, pandangan, dan pendapat yang dapat mereka pertahankan dengan alasan dan bukti-bukti. Mereka tidak berjuang untuk melawan atau mengalahkan ide peserta lain, tetapi berusaha bersama-sama mencari hasil yang lebih nyata dan benar. Mereka saling melengkapi demi kemajuan. Diskusi yang dipimpin secara baik selain memberi pengetahuan dan pengertian yang lebih luas dan dalam serta nyata, juga membentuk pesertapeserta diskusi yang baik. Mereka belajar berpikir tepat, logis, obyektif, dan dapat mengutarakan buah pikirannya dengan bahasa yang mudah diterima oleh pihak lain. 19. Kegunaan diskusi Secara singkat kegunaan diskusi dapat diutarakan sebagai berikut: a. Melatih untuk berani mengemukakan pendapat sendiri dan berpikir secara kritis, tepat, logis, dan obyektif. b. Belajar menghargai pendapat orang lain untuk mencari kesimpulan yang benar c. Diskusi mampu membentuk diri peserta, sebab tidak hanya menambah pengetahuan dan pengalaman serta kecakapan, tetapi juga semangat demokratis dan toleransi berkembang. d. Dengan diskusi kita terbuka akan kenyataan di sekeliling kita. Keadaan ini menggugah kita untuk memperkembangkannya menurut prinsip yang benar dan mendorong kita untuk segera bertindak. 20. Tujuan Diskusi Dalam hidup bermasyarakat banyak persoalan sosial yang terasa perlu dipecahkan bersama, karena secara individual orang tak akan mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan dengan baik. Pemecahan bersama dan pemikiran bersama mutlak perlu. Untuk itu membutuhkan kerjasama. Tujuan yang sama dalam hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Dapat menyelami dengan lebih baik dunia sekitarnya, terutama manusiamanusianya, hubungan dengan mereka dan juga dirinya sendiri. b. Merencanakan tindakan atau langkah supaya dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi. c. Dapat bertindak bersama sesuai dengan rencana, sehingga dapat turut serta membina lingkungan yang lebih baik keadaannya dari semula. 21. Pedoman untuk peserta diskusi Diskusi pada umumnya bertujuan untuk membuka pengertian kita pada keadaan yang konkrit, memberi alasan-alasan yang kuat, yang mendorong kita untuk segera bertindak.

Dalam diskusi semua peserta harus berkerja sama secara aktif menyumbangkan buah pikirannya masing-masing. Soal mutu, soal menarik tidaknya, dan soal suksesnya suatu diskusi sangat tergantung pada pesertapeserta sendiri, bukan dari pimpinan. Oleh karena itu untuk setiap peserta diskusi diharapkan: a. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya Hal ini akan melancarkan jalannya diskusi dan memuaskan para peserta. Persiapan bisa dilakukan dengan mencari bahan-bahan dari membaca buku-buku, artikel-artikel, dengan bertanya-tanya, dan pikiran sendiri, dan sebagainya. b. Berani berbicara mengemukakan buah pikirannya, sumbangan ide-ide, pertanyaan dan kritik-kritik. Jangan menyimpan segalanya itu hanya dalam otak dan kata-kata sendiri. Karena, dalam diskusi peserta saling memberi dan menerima gagasan, buah pikiran dan semangat. c. Jangan saling berbisik Berbisik-bisik dengan peserta lain, berarti tidak menghargai peserta yang sedang bicara. Kalau hendak angkat bicara, salurkan pendapat melalui fasilitator. d. Berbicara jelas dan obyektif Pergunakanlah bahasa yang mudah dan sederhana, serta jelas sehingga semua peserta dapat jelas mendengar. Bersikap wajar, tidak dibuat-buat untuk mencaripujian atau kehormatan diri sendiri. e. Tenang menghadapi kritik Jangan putus asa, lekas marah, sakit hati, bila dikritik orang lain. Dengarkan pendapatnya dengan sabar, tetapi pertahankan ide yang benar bila kritik itu salah. f. Cari kebaikan dan kebenaran Kalau ada langkah atau keputusan yang jelek dan menyimpang, harus disanggah. Sanggahan harus dikemukakan secara tenang, obyektif, jujur/sportif dan wajar, tanpa mencari kehormatan dan pujian bagi diri sendiri. g. Tetap pada topik Jangan memasukkan ide-ide di luar topik, walaupun ini baik. Simpan ideide itu yang berhubungan dengan topik, untuk lain kesempatan. h. Tanyakan hal-hal yang masih kabur Jangan takut-takut, malu-malu menanyakan dan meminta keterangan halhal baru yang belum dimengerti, yang mungkin timbul di dalam pembicaraan. i. Mengadakan latihan diskusi Mulai dengan kelompok kecil dahulu agar nanti tidak takut membela kebenaran di muka umum.

j. Memperdalam bahan-bahan diskusi yang lalu Sebenarnya diskusi tidak berhenti pada akhir pertemuan, seluruh kehidupan ini adalah “dialog”. Perlu dicatat; Dalam diskusi berlaku rumusan: “Satu untuk semua dan semua untuk satu” Diskusi dapat berhasil dan memuaskan para anggota, kalau mereka sendiri aktif, berdisiplin, dan bekerjasama. 22. Ciri-ciri diskusi yang baik a. Dia berusaha melihat persoalan 1) Dari sudut yang berguna bagi seluruh kelompok. 2) Dari sudut dan pandangan orang lain pula. b. Tahu membatasi bicara, tetapi berani mengemukakan pendapatnya, bila yang lain masih diam tanpa reaksi, karena malumemulainya. c. Idenya akan menjadi milik bersama, rela dikritik, diperbaiki dan diubah. 23. Pemimpin disduksi a. Sifat-sifat dan peranannya 1) Pimpinan diskusi dipegang oleh fasilitator dan diharapkan dapat berjalan teratur dan enak dan tetap pada topik (pokok pembicaraan). Untuk ini fasilitator harus berusaha dapat membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting. Apa yang berisi, apa yang dapat memajukan diskusi, dan memberikan sumbangan berharga untuk menjelaskan persoalan haruslah diberi jalan. Sebaliknya hal-hal yang menyimpang, yang hanya menyangkut kepentingan satu dua anggota, hal-hal yang menyebabkan diskusi menemui jalan buntu, atau yang menimbulkan sakit hati harus segera dicegah dan diteliti asal mulanya. 2) Sangat berguna, apabila fasilitator dapat memberikan analisa tentang sesuatu hal yang agak kompleks, sebab dengan demikian para peserta dapat melihat pokok persoalannya atau inti masalahnya. 3) Disamping sikap tegas, diperlukan pula sikap ramah untuk menarik keberanian semua peserta ikut aktif. 4) Fasilitator harus tetap obyektif dan tidak boleh memimpin diskusi menurut perasaan dan prasangka, melainkan sebagai seorang wasit yang tidak berpihak. 5) Tidak berat sebelah, dapat menerima, memahami dan mengatasi pandangan-pandangan yang sempit, keras kepala, kurang dapat menahan diri, mudah salah faham, dan sebagainya. 6) Fasilitator tidaklah harus ahli dalam segala hal yang diperbincangkan, tetapi hanya sebagai wasit dan pendorong bukan sebagai seorang guru yang maha tahu. Fasilitator adalah jiwa seluruh diskusi. Dialah yang menghidupkan, mengaktifkan, dan mendorong para peserta. Dialah yang mengatur yang menjaga kelancaran sehingga diskusi sampai pada tujuannya. 7) Penulis yang ideal adalah pita perekam dari pada diskusi; pokok-pokok persoalan dan pendapat yang didiskusikan dicatat untuk memudahkan mengingat, mengikuti perkembangan, dan merumuskan kesimpulankesimpulan. Penulis bersama fasilitator membuat rumusan kesimpulan.

8) Permasalahan yang tidak terjawab atau tidak terselesaikan dalam diskusi diteruskan kepada nara sumber untuk dimintakan penjelasan/pemecahannya. b. Beberapa catatan Setiap diskusi yang baik menuju ke suatu hasil dan kesimpulan. Bagian akhir diskusi (pembahasan dan kesimpulan) amat penting. Para peserta setelah bermain memperoleh manfaat dan kesadaran baru. Dalam menarik kesimpulan terakhir dan dalam merumuskan ikhtiarikhtiar atau dalam meringkaskan pendapat seseorang, perlu sekali fasilitator dan penulis berpegang pada apa yang telah dikemukakan anggota. BAB VI PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN, EVALUASI, LAPORAN 24. Pengendalian dan Pengawasan Guna mencapai tujuan penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara diperlukan adanya pengendalian dan pengawasan meliputi: a. Mekanisme Dilaksanakan secara bertingkat: 1) Di Tingkat Pusat Oleh Dephankam, Dedikbud, Depnaker, Depdagri, dan masing-masing instansi pembina sumber daya manusia. 2) Di Tingkat Daerah Oleh Kodam/Korem/Kodim dan Kanwil/Kandep Depdikbud, Depnaker, Depdagri, semua instansi daerah pembina sumber daya manusia. b. Pelaksanaan Dilakukan baik dari tempat maupun dengan kunjungan-kunjungan menggunakan sarana antara lain perangkat lunak,hasil kunjungan dan laporan pelaksanaan. 25. Evaluasi a. Tujuan b. Evaluasi diadakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara untuk dipakai sebagai umpan balik 2) Sejauhmana tujuan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dapat dicapai. b. Sasaran 1) Obyek Para peserta dengan memperhatikan sikap dan tingkah laku antara lain ketaatan/ disiplin, kesungguhan, peranserta peserta. 2) Subyek Para fasilitator dengan memperhatikan materi yang diberikan dan cara penyajian.

3) Metode Memperhatikan cara penyampaian materi Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara apakah sudah tepat sehingga dapat diserap dan dipahami peserta. 4) Sarana Memperhatikan segala peralatan bantu yang digunakan dalam penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara sesuai dengan keadaan dan kondisi setempat. c. Teknik Evaluasi dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Angket, yaitu daftar pertanyaan yang harus diisi. Angket terdiri atas dua macam: a) Angket yang harus diidioleh peserta dan diberikan oleh pimpinan/koordinator penyelenggara. b) Angket yang harus diisi oleh fasilitator dan diberikan oleh pimpinan/koordinator penyelenggara. 2) Peragaan, aplikasi dan kemampuan menyerap tujuan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, baik dalam ruangan kelas maupun di lapangan, untuk mengetahui sampai sejauh mana peserta mengerti dan menghayati tujuan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. 3) Cerdas cermat, berupa kegiatan adu ketangkasan berpikir tentang makna Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. 26. Laporan a. Materi laporan mencakup tentang perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. b. Laporan harus memuat persoalan atau hambatan yang dihadapi dan upaya mengatasinya, disamping hasil evaluasi Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara yang telah diadakan. c. Penyusunan laporan dibuat segera mungkin, setelah selesai penyelenggaraan. d. Laporan ditujukan kepada atasan langsung dengan memberi tembusan paling tidak kepada satuan dimana Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara itu dilaksanakan. BAB VII PENUTUP Dengan terbitnya buku panduan penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara maka penyelenggaraan Permainan Simulasi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di lingkungan pendidikan, pekerjaan dan pemukiman sebagai upaya pemasyarakatan PPBN dapat berjalan lancar dan mencapai sasaran yang diharapkan.

Jakarta, 11 September 1996 Direktur Jenderal

Personil, Tenaga Manusia dan Veteran

Rusmadi Siddik

LAMPIRAN PESAN-PESAN SIMULASI PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA BIDANG: TOPIK TUJUAN POKOK MASALAH SUB POKOK MASALAH 3 PESAN-PESAN ARAHAN

1

2

4 Sering terjadi barang-barang milik umum dirusak atau dijahili oleh sekelompok pelajar, misal: menulisi bis-bis dengan kata-kata

5 Barang-barang milik umum adalah untuk kesejahteraan bersama,jadi harus dijaga agar kegunaannya terus dapat dinikmati.

C I N T A T A

Menumbuhkan 1. Kurangnya keinginan kemaunan untuk untuk melestarikan menjaga lingkungan barang-barang milik umum (al. Bis, stasiun, shelter bis,

N A H A I R

telepon umum, dsb)

Penghematan dan peningkatan produksi melalui penggunaan bahan dan sarana/alat kerja yang baik akan meningkatkan keuntungan usaha. Pihak Direksi Meningkatkan sudah sering keuntungan usaha menekankan agar dapat penggunaan meningkatkan bahan dan kemampuan usaha sarana/alat kerja untuk memenuhi digunakan secara kewajibanhemat, tetapi pak kewajibannya Koko, pekerja di terhadap pekerja, 3. Mewujudkan sebuah pemerintah, lingkungan perusahaan maupun yang aman. kurang peduli, ia mengembangkan membiarkan saja usaha sekaligus Meningkatka keran iar kesempatan kerja. n kesadaran mengalir dengan Tindakan pekerja untuk ikut deras,padahal ia yang tidak peduli serta bisa dan sengaja boros berpartisipasi mematikannya. atau bagi Apakah pendapat perilaku/tindakan keamanan anda tentang tidak terpuji lingkunganny perilaku pak merugikan a Koko yang perusahaan yang tidakpeduli tadi? berarti merugikan kepentingan pekerja. 2. Pemborosan penggunaan bahan dan sarana/alat kerja - Keamanan lingkungan adalah tanggung Seorang Ketua RT jawab seluruh di suatu daerah anggota pemukiman masyarakat. (golongan - Setiap anggota menengah) di masyarakat harus suatu kota besar, ikut bertanggung karena berbagai jawab meskipun pertimbangan tidak dalam mengorganisir wujud ikut serta

yang tidak baik,merusak telepon umum, menulisi dinding rumah orang dengan pylox, menimpuki buahbuahan di kebun orang, dsb. Bagaimana pendapat anda dengan perbuatan ini?

Satpam beserta segala sarana keamanannya untuk menjaga keamanan di daerah tanggung jawabnya. Seluruh biaya dipikul bersama oleh para penghuni RT tersebut. Bagaimana pendapat anda,apakah hal itu benar?

meronda pada malam hari.

PESAN-PESAN PADA KARTU MERAH PUTIH 1. Laut/selat apa yang menghubungkan pulau Kalimantan dengan pulau Sumatera? 2. Berapa jumlah provinsi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebutkan semua! 3. Ada berapa daerah pembagian waktu di Indonesia. Sebutkan dengan daerahdaerahnya! 4. Sebutkan beberapa upaya dalam memelihara kebersihan lingkungan kerja! 5. Salah satu tindakan berbahaya yang menyebabkan kecelakaan kerja adalah memakai peralatan yang tidak aman. Sebutkan tindakan-tindakan berbahaya lainnya. 6. Berapa luas wilayah Tanah Air Indonesia! Bagaimana perbandingan luas laut dan luas daratannya? 7. Sebutkan wilayah terluas di utara, selatan, timur, dan barat Negara Kepulauan Indonesia!

TOPIK

TUJUAN

1
K E S A

2

POKOK MASALAH SUB POKOK MASALAH 3

PESAN-PESAN

ARAHAN

4 Ponti berasal dari

5 Indonesia kaya

Mewujudkan Kurangnya

pembinaan dan pelestarian budaya bangsa

pembinaan dan pelestarian budaya bangsa - Kurangnya menghargai budaya daerah lain

Menghormati sesama - Kurang menghargai peran orang lain

suatu daerah di Indonesia, ia dilahirkan dan dibesarkan di sana. Pada suatu ketika orang tuanya harus bertransmigrasi ke daerah lain dan iapun turut serta. Di daerah itu ia berteman dengan orang daerah tersebut, tetapi si Ponti tak mau bahkan mengejek tarian daerah tersebut. Bagaiman tindakan anda selaku orang tua si Ponti? Suatu saat peselisihan antar pekerja timbul, karena pekerja senior kurang menghargai pekerja yunior. Bagaimana pendapat anda?

dengan bermacam tarian daerah, seluruh tarian maupun kebudayaan daerah yang ada di Indonesia harus kita hargai dan hormati keberadaannya dan kita junjung tinggi nilai eksistensinya.

- Kurang memahami arti Bhinneka Tunggal Ika

Salah satu kebutuhan manusia adalah dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Setiap orang/pekerja ingin dihargai secara wajar. Oleh karena itu pekerja senior dan yunior harus saling menghargai. Saling menghargai adalah syarat adanya harmonisasi dalam lingkungan kerja.

Pak Nursan tidak Bangsa Indonesia mengerti arti meskipun terdiri Bhinneka Tunggal Ika dari suku, agama, yang tertulis pada adat istiadat yang Lambang Negara. berbeda-beda, Jelaskan! tetapi merupakan suatu kesatuan yakni Negara Republik Indonesia. Kita harus mampu menciptakan rasa persatuan. PESAN-PESAN PADA KARTU MERAH PUTIH. 1. Sebutkan agama yang diakui keberadaannya di Negara RI 2. Sebutkan provinsi RI yang termuda. Kapan?

3. Sebutkan nama 10 suku bangsa Indonesia! 4. Pak B berangkat kerja pukul lima pagi naik sepeda motor,meskipun lampu merah ia terus melaju dengan anggapan belum ada petugas/polisi yang jaga. Bagaimana sikap pak B tersebut? 5. Pak X tidak memasang bendera pada tanggal 17 Agustus dengan alasan bendera yang ia miliki hilang. Bagaimana pendapat anda?

TOPI K

TUJUAN

1

2

POKOK MASALAH SUB POKOK MASALAH 3

PESANPESAN

ARAHAN

4 Si Pulan remaja RT yang beragama Islam, pada bulan puasa tidak berpuasa, malahan merokok di depan umum. Bagaiman pendapat anda tentang sikap si Pulan tersebut?

5 Perlunya menanamkan kesadaran dalam melaksanakan ibadah (syari’at) agama

Y A K I N A K A N K E S A K T I A N P A N C A S I L A

Menumbuhka 1. Ketakwaan n keyakinan terhadap akan Pancasila Tuhan Yang sebagai satuMaha Esa satunya a. Kurang falsafah dan melaksanak ideologi an ibadah bangsa dan agama yang negara diyakininya

b. Kurang memahami tentang hormat

Pentingnya pembinaan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut. Perbedaan agama

menghormat i antara pemeluk agama

2. Masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami arti Hari Kesaktian Pancasila.

Ibu Herry melarang pembantunya yang beragama Islam menjalankan ibadah,karen a akan menghambat pekerjaannya saja. Bagaimana pendapat anda?

hendaknya jangan dijadikan penghalang dalam pergaulan. Karena hal yang demikian mudah ditunggangi oleh unsur-unsur yang tidak senang terhadap Pancasila. Setiap rumah penduduk wajib mengibarkan Bendera Merah Putih setengah tiang setiap tanggal 30 September, sebab hari tersebut merupakan hari berkabung nasional sehubungan gugurnya Pahlawan Revolusi. Sedang tanggal 1 Oktober merupakan hari kemenangan/kesaktia n Pancasila dalam menumpas Pemberontakan PKI yang ingin menggantikan Pancasila dengan faham komunis.

Pada tanggal 30 September, pak Ali mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang, dan pada tanggal 1 Oktober menjadi satu tiang penuh. Mengapa dalam dua hari terjadi perubahan cara pengibaran bendera tersebut? PESAN-PESAN PADA KARTU MERAH PUTIH

1. Kapan Lambang Garuda Pancasila ditetapkan secara resmi sebagai lambang negara kesatuan RI? 2. Sebutkan sila-sila Pancasila lengkap dengan simbol gambarnya yang ada pada tameng lambang negara Garuda Pancasila?

3. Apa artyinya Bhinneka Tunggal Ika dan mengapa semboyan itu dianut oleh Bangsa Indonesia? 4. Sebutkan nama pahlawan revolusi dalam peristiwa G.30.S/PKI 5. Tanggal, bulan, dan tahun berapa terjadinya pemberontakan G.30.S/PKI? Siapa Ketua PKI pada waktu itu? 6. Siapa yang memimpin bangsa Indonesia dalam menumpas pemberontakan G.30.S/PKI? 7. Melestarikan Pancasila merupakan salah satu kewajiban dalam Bela Negara. Bagaimana kewajiban tersebut saudara laksanakan agar negara kita semakin bertambah jaya?

TOPI K 1

TUJUAN

2

POKOK MASALAH SUB POKOK MASALAH 3

PESAN-PESAN

ARAHAN

4 Pada saat Kepala Kampung/Desa bermusyawarah dengan warga kampung untuk mengatasi genagan air yang selalumelanda kampung mereka, bapak A tak mau turut bermusyawarah,ap alagi turun tangan ataupun membantu dana.

5 Untuk menjadi warga masyarakat yang baik, berguna bagi kemajuan dan kesejahteraan umum perlu ikut serta dalam segala gerak dan dinamika masyarakat dimana kita tinggal. Dalam pelaksanaannya tidak sedikit pengorbanan yang harus diberikan, baik tenaga,pikiran, dan finansial, serta pembauran diri yang

R E L A B E R K O R B A N U N T U K

B A N G S A D A N N E G A R A

Menumbuh 1. kan jiwa Pengorbana rela n waktu, berkorban tenaga, untuk pikiran dan kepentingan untuk ikut bangsa dan memajukan negara, kesejahtera kepentingan an warga di umum, tempat dengan dimana kita mengorbank tinggal an waktu, - Tidak mau pikiran dan sama tenaga,

harta benda, bila perlu berkorban jiwa raga dengan tanpa pamrih/ imbalan, bergotong royong dan kesetia kawanan sosial

sekali menyediak an waktu, tenaga, ataupun saran pendapat untuk ikut memajuka n kesejahter aan/ kemajuan kampung dimana kita tinggal.

Padahal bapak A adalah seorang pejabat yang terpandang di kampung itu. Bagaimana pendapat anda atas perilaku bapak A?

ikhlas kepada masyarakat dimana kita tinggal. Kedudukan seseorang hendaknya tidak menjadi penghalang dalam mewujudkan rasa solidaritas dan pengorbanan demi ikut memajukan masyarakat dan kesejahteraan umum dimana kita berdomisili, bahkan justru sebagai pemacu untuk memberikan keteladanan. Untuk melaksanakan/bersedia melaksanakan pola hidup sederhana maka penerapannya dapat dilaksanakannya menyeluruh pada semua lapisan masyarakat, baik pejabat maupun rakyat biasa. Hingga pengendalian diri untuk tidak pamer, dapat dihayati bersama. Akibatnya tidak menimbulkan gejolak kecemburuan,menghila ngkan garis batas antara yang merasa kaya dan berkuasa dengan yang sederhana atau bawahan. Untuk melaksanakan kesetiakawanan sosial diperlukan keikhlasan berkorban. Keikhlasan berkorban untuk meringankan penderitaan orang lain adalah salah satu cermin rela berkorban. Marilah kesediaan rela berkorban kita terapkan dalam kehidupan kita

a. Ibu D adalah 2. Hidup isteri seorang sederhana pejabat. Pada serta acara-acara yang mempunyai dihadiri oleh sikap segenap isterikesetiakawa isteri bawahan nan sosial. pak D, ibu D selalu memakai a. Tidak perhiasanmemberi perhiasan yang contoh/tel menyolok, bicara adan pakai bahasa dalam asing dengan ibumelaksana ibu pejabat yang kan pola lain, dan lain-lain hidup tindakan yang sederhana tidak mencerminkan teladan hidup sederhana bagi isteri-isteri karyawan bapak D. Bagaimana menurut pendapat anda b. Kurang seharusnya bersikap tindakan ibu D solider/set tersebut. ia kawan atas penderitaa n/ b. Sebagai Ketua kesulitan

orang lain.

PKK di suatu kecamatan, ibu S akan meninjau lokasi bencana alam yang terjadi di daerahnya sambil membawa sekedar bantuan obat-obatan dan makanan. Sebelum berangkat ibu S mengajak ibu-ibu pengurus yang lain untuk ikut serta. Ibu P menolak ikut serta karena hari itu sudah ada rencana akan pergi ke salon. Bagaimana pendapat anda tentang sikap ibu P tersebut?

sebagai bangsa yang berbudaya dan menjunjung nilai-nilai gotong royong

PESAN-PESAN PADA KARTU MERAH PUTIH 1. Apa tindakan anda bila melihat ada musibah kebakaran/banjir/bencana alam yang terjadi di daerah anda? 2. Salah satu tindakan rela berkorban adalah menerapkan pola hidup sederhana, ceritakan dan beri contoh! 3. Berikan contoh-contoh rela berkorban untuk bangsa dan Negara 4. Silahkan nyanyikan lagu Bagimu Negeri.

TOPI K 1

TUJUAN

2 Menumbuhka n ketahanan individu

POKOK MASALAH SUB POKOK MASALAH 3 1. Jiwa patriotik - Partisipasi pelajar/mahasis

PESAN-PESAN

ARAHAN

4

5

M E M I L

Si Baco sebagai Sikap dan pelajar/mahasisw semangat a selalu berbuat pengabdian

dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia

wa dalam memenuhi hak dan kewajiban

2. Ulet

onar dan tidak mau bekerjasama/ partisipasi pada saat menyelesaikan tugas kelompok maupun kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Bagaimana pendapat anda dan apa penilaian anda terhadap sikap si Baco?

3. Tanggapan pada lingkungan

a. Banyak orang yang memintaminta dengan berbagai cara, padahal ia masih mampu berusaha. Ibu Siti tidak pernah memberikan kepada orang tersebut, karena beranggapan pemberian itu tidak mandiri. Bagaimana pendapat anda? b. Udin berasal dari kalangan keluarga mampu tapi gagal sekolah, sedang Ujang yang berasal dari keluarga kurang mampu berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Pak Simin yang

kepada Negara dan Bangsa harus ditumbuhkan melalui semangat pengabdian pelajar/mahasisw a dalam kehidupan dan prosesbelajar di sekolah/kampus. Bentuk pengabdian secara perorangan tidak harus sama, tergantung berbagai factor yang ada pada diri masingmasing. Mendidik kemandirian dalam berusaha (ulet berusaha)

Dalam mewujudkan cita-cita tiap individu, ditentukan oleh keuletan dan ketekunan masing-masing.

Setiap warga Negara wajib dapat melipat bendera merah putih sesuai dengan ketentuan (contohkan caranya), dan disimpan baik-

bertempat tinggal baik di Kampung Baru menyimpan bendera sembarangan, sehingga jadi mainan dan diinjak-injak oleh anaknya yang masih kecil. Apa komentar anda?

PESAN-PESAN PADA KARTU MERAH PUTIH 1. Sebutkan beberapa upaya menegakkan disiplin! 2. Salah satu bantuan kita dalam pengamanan adalah mengikuti Siskamling (ronda)! Sebutkan tindakan berbahaya yang mungkin timbul bila masyarakat tidak berpartisipasi pada keamanan lingkungan (ronda)! 3. Tidak main hakim sendiri adalah salah satu wujud kemampuan awal bela Negara. Tandakan apa yang anda akan lakukan bila ada yang main hakim sendiri? 4. Tunjukkan atau perlihatkan seni bela diri asli milik bangsa Indonesia! 5. Bagaimana cirri-ciri warga Negara yang telah memiliki kemampuan awal bela Negara? 6. Apa maksud dan tujuan kita membela Negara?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->