P. 1
tugas ginekologi n obstetri

tugas ginekologi n obstetri

|Views: 611|Likes:
Published by hendrasukmana
TUGAS M.K GINEKOLOGI DAN OBSTETRI DASAR
PENYAKIT KELAHIRAN








OLEH :
NAMA : LALU HENDRA SUKMANA
NIM : B0D 007 029
PRODI : D3 KESEHATAN HEWAN






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2009
TORSIO UTERI
Torsio uteri adalah perputaran uterus pada porosnya
Causa
• Rongga abdomen yang luas
• Ujung ovarial cornua uterus bunting tidak stabil karna tidak di dukung oleh kornua yang satunya yang tidak ikut membesar
• Kekurangan cairan foetal
• Musibah karena jatuh atau terguling tiba – tiba
• Kekurangan tonus uterus
Gejala klinis
• Kolik
• Nafas meningkat
• Pulsus meningkat
Pada torsio yang berlanjut disertai komplikasi gangrena uteri, emfisema foetal,ruptura uteri:
• Lemah
• Depresi
• Suhu badan rendah
• Ujung – ujung kaki dingin
• Diarrhea berbau
Diagnosa
Pemeriksaan vaginal atau rectal
• Fetus sering sulit di raba
• Arteria uterina media tertarik dan tegang
• Pada torsio ke kanan
Ligamentum lata kanan tertarik kebawah corpus uteri atau vagina atau ligamentum lata kiri tertarik keatas cervix, corpus uteri dan vagina
• Pada torsio ke kiri
Lokasi dan arah ligamentum lata terbalik, dengan ligamenntum lata kanan bertumpu diatas saluran kelamin
Pertolongan
• Sectio caesaria
• Penggulingan hewan
Badan sapi diguling dalam arah yang sama dengan arah torsio lebih cepat daripada uterus yang statis
• Pemutaran fetus dan uterus melalui saluran kelahiran
• Insisi leparatomi



PROLAPSUS UTERI
Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada pula yang sebagian.
Causa
• pertautan mesometrial yang panjang,
• uterus yang lemah, atonik dan mengendur,
• retensi plasenta pada apek uterus bunting dan
• Relaksasi daerah pelvis yang berlebihan
Gejala klinis
• Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula berdiri dengan uterus menggantung ke belakang.
• Selaput fetus dan atau selaput mukosa uterus terbuka dan biasanya terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran atau gumpalan darah.
• Uterus biasanya membesar dan udematus terutamabila kondisi ini telah berlangsung 4-6 jam atau lebih
Diagnosa
• Jika prolapsus hanya sebagian saja maka besarnya penonjolan mukosa uterus mungkin hanya sebesar tinju, mungkin sebesar kepala atau dapat pula lebih besar lagi.
• Bila prolapsus ini total maka sampai servik pun ikut tertarik keluar oleh beratnya uterus yang telah keluar dan memberikan pandangan yang sangat mengejutkan seolah-olah ada sekarung beras 20-30 kg, tergantung di belakang sapi, berwarna merah tua dan kotor karena sekundinae yang masih melekat pada karunkula
Pertolongan
• Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah.
• Uterus dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan.
• Uterus dicuci bersih dengan air yang dibubuhi antiseptika sedikit
• Uterus direposisi.
• Sesudah uterus kembali secara sempurna ketempatnya, injeksi oksitosin 30-50 ml intramuskuler.
• Kedalam uterus dimasukkan larutan tardomisol (TM) atau terramisin.
• Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa atau Buhner.
• Jahitan vulva dibuka dalam waktu 24 jam.
• Dalam waktu tersebut servik sudah menutup rapat dan tidak memungkinkan terjadinya prolapsus.
• Penyuntikan antibiotik secara intramuskuler diperlukan untuk membantu pencegahan infeksi uterus.



TOXOPLASMOSIS
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoon ( bersel satu ) yang disebut toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan.
Etiologi
Siklus hidup dari Toxoplasma gondii pertama kali dikemukakan pada tahun 1970 dan sebagai inang definitif ( penjamu ) adalah kelompok familia Felidae termasuk kucing – kucing yang sudah terdomestikasi. Hewan berdarah panas, manusia, dan unggas sebagai inang perantara. Kucing yang terdomestikasi merupakan golongan yang sangat penting untuk penularan terjadinya toksoplasmosis pada hewan lain ataupun manusia. Parasit ini ditularkan dengan tiga cara yaitu dengan cara kongenital yaitu melalui plasenta, mengkonsumsi daging ya
TUGAS M.K GINEKOLOGI DAN OBSTETRI DASAR
PENYAKIT KELAHIRAN








OLEH :
NAMA : LALU HENDRA SUKMANA
NIM : B0D 007 029
PRODI : D3 KESEHATAN HEWAN






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2009
TORSIO UTERI
Torsio uteri adalah perputaran uterus pada porosnya
Causa
• Rongga abdomen yang luas
• Ujung ovarial cornua uterus bunting tidak stabil karna tidak di dukung oleh kornua yang satunya yang tidak ikut membesar
• Kekurangan cairan foetal
• Musibah karena jatuh atau terguling tiba – tiba
• Kekurangan tonus uterus
Gejala klinis
• Kolik
• Nafas meningkat
• Pulsus meningkat
Pada torsio yang berlanjut disertai komplikasi gangrena uteri, emfisema foetal,ruptura uteri:
• Lemah
• Depresi
• Suhu badan rendah
• Ujung – ujung kaki dingin
• Diarrhea berbau
Diagnosa
Pemeriksaan vaginal atau rectal
• Fetus sering sulit di raba
• Arteria uterina media tertarik dan tegang
• Pada torsio ke kanan
Ligamentum lata kanan tertarik kebawah corpus uteri atau vagina atau ligamentum lata kiri tertarik keatas cervix, corpus uteri dan vagina
• Pada torsio ke kiri
Lokasi dan arah ligamentum lata terbalik, dengan ligamenntum lata kanan bertumpu diatas saluran kelamin
Pertolongan
• Sectio caesaria
• Penggulingan hewan
Badan sapi diguling dalam arah yang sama dengan arah torsio lebih cepat daripada uterus yang statis
• Pemutaran fetus dan uterus melalui saluran kelahiran
• Insisi leparatomi



PROLAPSUS UTERI
Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada pula yang sebagian.
Causa
• pertautan mesometrial yang panjang,
• uterus yang lemah, atonik dan mengendur,
• retensi plasenta pada apek uterus bunting dan
• Relaksasi daerah pelvis yang berlebihan
Gejala klinis
• Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula berdiri dengan uterus menggantung ke belakang.
• Selaput fetus dan atau selaput mukosa uterus terbuka dan biasanya terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran atau gumpalan darah.
• Uterus biasanya membesar dan udematus terutamabila kondisi ini telah berlangsung 4-6 jam atau lebih
Diagnosa
• Jika prolapsus hanya sebagian saja maka besarnya penonjolan mukosa uterus mungkin hanya sebesar tinju, mungkin sebesar kepala atau dapat pula lebih besar lagi.
• Bila prolapsus ini total maka sampai servik pun ikut tertarik keluar oleh beratnya uterus yang telah keluar dan memberikan pandangan yang sangat mengejutkan seolah-olah ada sekarung beras 20-30 kg, tergantung di belakang sapi, berwarna merah tua dan kotor karena sekundinae yang masih melekat pada karunkula
Pertolongan
• Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah.
• Uterus dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan.
• Uterus dicuci bersih dengan air yang dibubuhi antiseptika sedikit
• Uterus direposisi.
• Sesudah uterus kembali secara sempurna ketempatnya, injeksi oksitosin 30-50 ml intramuskuler.
• Kedalam uterus dimasukkan larutan tardomisol (TM) atau terramisin.
• Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa atau Buhner.
• Jahitan vulva dibuka dalam waktu 24 jam.
• Dalam waktu tersebut servik sudah menutup rapat dan tidak memungkinkan terjadinya prolapsus.
• Penyuntikan antibiotik secara intramuskuler diperlukan untuk membantu pencegahan infeksi uterus.



TOXOPLASMOSIS
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoon ( bersel satu ) yang disebut toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan.
Etiologi
Siklus hidup dari Toxoplasma gondii pertama kali dikemukakan pada tahun 1970 dan sebagai inang definitif ( penjamu ) adalah kelompok familia Felidae termasuk kucing – kucing yang sudah terdomestikasi. Hewan berdarah panas, manusia, dan unggas sebagai inang perantara. Kucing yang terdomestikasi merupakan golongan yang sangat penting untuk penularan terjadinya toksoplasmosis pada hewan lain ataupun manusia. Parasit ini ditularkan dengan tiga cara yaitu dengan cara kongenital yaitu melalui plasenta, mengkonsumsi daging ya

More info:

Published by: hendrasukmana on Feb 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

TUGAS M.

K GINEKOLOGI DAN OBSTETRI DASAR PENYAKIT KELAHIRAN

OLEH : NAMA : LALU HENDRA SUKMANA NIM : B0D 007 029 PRODI : D3 KESEHATAN HEWAN

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2009 TORSIO UTERI Torsio uteri adalah perputaran uterus pada porosnya Causa • Rongga abdomen yang luas • Ujung ovarial cornua uterus bunting tidak stabil karna tidak di dukung o leh kornua yang satunya yang tidak ikut membesar • Kekurangan cairan foetal • Musibah karena jatuh atau terguling tiba – tiba • Kekurangan tonus uterus Gejala klinis • Kolik • Nafas meningkat • Pulsus meningkat Pada torsio yang berlanjut disertai komplikasi gangrena uteri, emfisema foetal,r uptura uteri: • Lemah • Depresi • Suhu badan rendah • Ujung – ujung kaki dingin • Diarrhea berbau Diagnosa Pemeriksaan vaginal atau rectal • Fetus sering sulit di raba • Arteria uterina media tertarik dan tegang • Pada torsio ke kanan Ligamentum lata kanan tertarik kebawah corpus uteri atau vagina atau ligamentum lata kiri tertarik keatas cervix, corpus uteri dan vagina • Pada torsio ke kiri Lokasi dan arah ligamentum lata terbalik, dengan ligamenntum lata kanan bertumpu diatas saluran kelamin Pertolongan • Sectio caesaria • Penggulingan hewan Badan sapi diguling dalam arah yang sama dengan arah torsio lebih cepat daripada uterus yang statis • Pemutaran fetus dan uterus melalui saluran kelahiran

Insisi leparatomi

PROLAPSUS UTERI Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara tot al ada pula yang sebagian. Causa • pertautan mesometrial yang panjang, • uterus yang lemah, atonik dan mengendur, • retensi plasenta pada apek uterus bunting dan • Relaksasi daerah pelvis yang berlebihan Gejala klinis • Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula berdiri dengan uterus menggan tung ke belakang. • Selaput fetus dan atau selaput mukosa uterus terbuka dan biasanya terkon taminasi dengan feses, jerami, kotoran atau gumpalan darah. • Uterus biasanya membesar dan udematus terutamabila kondisi ini telah ber langsung 4-6 jam atau lebih Diagnosa • Jika prolapsus hanya sebagian saja maka besarnya penonjolan mukosa uteru s mungkin hanya sebesar tinju, mungkin sebesar kepala atau dapat pula lebih besa r lagi. • Bila prolapsus ini total maka sampai servik pun ikut tertarik keluar ole h beratnya uterus yang telah keluar dan memberikan pandangan yang sangat mengeju tkan seolah-olah ada sekarung beras 20-30 kg, tergantung di belakang sapi, berwa rna merah tua dan kotor karena sekundinae yang masih melekat pada karunkula Pertolongan • Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah. • Uterus dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan. • Uterus dicuci bersih dengan air yang dibubuhi antiseptika sedikit • Uterus direposisi. • Sesudah uterus kembali secara sempurna ketempatnya, injeksi oksitosin 30 -50 ml intramuskuler. • Kedalam uterus dimasukkan larutan tardomisol (TM) atau terramisin. • Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa atau Buhner. • Jahitan vulva dibuka dalam waktu 24 jam. • Dalam waktu tersebut servik sudah menutup rapat dan tidak memungkinkan t erjadinya prolapsus. • Penyuntikan antibiotik secara intramuskuler diperlukan untuk membantu pe ncegahan infeksi uterus.

TOXOPLASMOSIS Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoon ( bersel satu ) yan g disebut toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinf eksi pada manusia dan hewan peliharaan. Etiologi Siklus hidup dari Toxoplasma gondii pertama kali dikemukakan pada tahun 1970 dan sebagai inang definitif ( penjamu ) adalah kelompok familia Felidae termasuk ku cing – kucing yang sudah terdomestikasi. Hewan berdarah panas, manusia, dan ungg as sebagai inang perantara. Kucing yang terdomestikasi merupakan golongan yang s angat penting untuk penularan terjadinya toksoplasmosis pada hewan lain ataupun manusia. Parasit ini ditularkan dengan tiga cara yaitu dengan cara kongenital ya itu melalui plasenta, mengkonsumsi daging yang terkontaminasi oleh kista dan mel alui kotoran asal kucing yang mengandung ookista. Dalam silkus hidupnya pada phy lum Amplicomplexa mengenal 3 stadium yaitu stadium takizoit, stadium takizoid, d an stadium bradizoid. Patogenesis

Toxoplasma gondii merupakan suatu parasit intraseluler dan reproduksi terjadi di dalam sel. Kebanyakan kasus toxoplasmosis pada manusia didapat karena mengkonsu msi jaringan yang mengandung kista yang ada pada daging yang proses pemasakannya kurang sempurna atau daging mentah. Selain itu, kontak langsung dengan tanah at au air yang terkontaminasi. (3) Gambaran klinis akan tampak segera setelah beber apa waktu jaringan mengalami kerusakan khususnya organ mata, jantug, dan kelenja r adrenal. Parasit ini juga dipengaruhi oleh keadaan temperatur dan kelembaban. Dengan adanya kelembaban dan temperatur yang sesuai ookista akan mampu bertahan beberapa bulan sampai lebih dari satu tahun. Lalat, cacing, kecoak, dan serangga lain mungkin dianggap sebagai agen mekanis dalam penyebaran parasit ini. Tingka t mortalitas dan morbiditas dari parasit ini cukup tinggi pada pasien yang mempu nyai tingkat kekebalan tubuh rendah dan pada anak-anak yang tertular melalui ibu nya. Diagnosis Diagnosa terhadap penyakit toxoplasmosis dapat dilakukan dengan cara serologi ma upun pemeriksaan hispatologi. Pemeriksaan langsung dapat dilakukan dengan cara m elihat adanya dark spot pada retina, melakukan pemeriksaan darah untuk melihat a pakah parasit sudah menyebar melalui darah dengan melihat perubahan yang terjadi pada gambaran darahnya, Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan biopsi dan dari sample biopsi tersebut bisa dilakukan pengujian dengan menggunakan PCR, isolasi pada hewan percobaan ataupun pembuatan preparat hispatology. Metode diagnosa lai n yang sering digunakan adalah dengan menggunakan Indirect haemaglutination ( IH A ), Immunoflourrescence ( IFTA ), ataupun dengan Enzym Immunoassay (Elisa). Dap at juga dengan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan antibodi spesifik tox oplasma dengan IgM, IgG, dan IgG affinity Pertolongan Pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine.Dosis pyrimethamine ialah 25-50 mg per h ari selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000-6.000 mg sehari seb ulan. Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka d ianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama pengobatan. Spiramycin. Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4 kali pemberian. Dianjurkan pengobatan wanita hamil trimester pertama dengan s piramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau 3 minggu kemudian disusul 2 mingg u tanpa obat. Demikian berselang seling sampai sembuh. BOVINE VIRAL DIARRHEA AND MUCOSAL DISEASE BVD-MD dikenal sebagai penyebab diare sejak tahun 1940. Penyakit ini disebabkan oleh simple virus yang menyebabkan diareVirus ini merupakan RNA virus kecil bera mplop yang diklasifikasikan sebagai Pestiviruses bersama dengan Border Disease V irus, yang juga menginfeksi biri-biri, serta Classical Swine Fever Ada dua spesi es berbeda dari virus BVD/MD yang telah ditemukan; BVD-1 dan BVD-2. irus i Gejala Klinis: Gejala klinis yang berhubungan dengan infeksi virus BVD bervariasi secara luas t ergantung pada masing-masing individu dan strain virus yang menginfeksi, ketika seekor hewan yang tidak bunting terinfeksi, penyakit yang muncul tidaklah parah dan muncul hanya dalam waktu yang singkat. Secara khas hewan yang terinfeksi men galami kenaikan temperatur, diare dan penurunan produksi susu. Gejala ini pada u mumnya hanya muncul beberapa hari dan seringkali tidak begitu tinggi sehingga ti dak teramati. Yang lebih penting barangkali adalah periode immunosupresi yang me ngikuti infeksi virus BVD. Ini memudahkan infeksi oleh pathogen lain yang menyeb abkan insiden kejadian penyakit yang lebih tinggi, misalnya diare pada anak sapi atau radang paru paru (pneumonia) ataupun mastitis pada sapi perah. Jika hewan yang terinfeksi adalah sapi bunting, selain efek infeksi pada indukny a, efek infeksi terhadap fetus haruslah dipertimbangkan. Namun lagi-lagi, ini be rvariasi tergantung pada strain virus yang menginfeksi dan, terutama, terhadap u mur dari fetus. Pada hampir semua stadium kebuntingan, dan terutama selama trime ster I dan II, infeksi pada fetus dapat kematian fetus. Ini mungkin dimanifestas ikan sebagai kegagalan konsepsi, kematian embrio dini dengan estrus kembali yang tertunda, mumifikasi fetus ataupun abortus. Jika infeksi BVD tidak mengakibatka n kematian fetus, mungkin saja akan bertanggung jawab dalam menyebabkan berbagai abnormalitas fetus yang biasanya mempengaruhi CNS, terutama otak besar (cerebel

lum), dan mata. Hasil dari hal ini akan diturunkan pada anaknya dan menyebabkan antara lain kesulitan untuk berdiri serta menjaga keseimbangannya ataupun katara k lensa okular (ataupun keduanya). Jika infeksi fetus terjadi pada trimester I k ebuntingan, sebelum pembentukan sistem imun fetus, kemungkinan lebih lanjutnya a dalah anak sapi yang terinfeksi secara persisten (PI = Persistently Infected). Hewan PI, seperti namanya, tetap terinfeksi dan infeksius dengan BVD untuk seumu r hidup mereka. Sedemikian, mereka menjadi salah satu sumber infeksi terbesar da lam suatu kelompok ternak yang terinfeksi secara endemis. Sering kali hewan ini dapat dengan mudah diidentifikasi. Mereka cenderung kecil, penampilan yang jelek , dan menjadi individu yang sakit-sakitan. Mereka mungkin, bagaimanapun, menjadi terlihat normal dan tidak dapat dibedakan dari hewan lainnya dengan umur dan br eed yang sama. Semua hewan PI, dan hanya hewan PI, akan mati karena penyakit pad a mucosal, biasanya pada umur antara enam bulan sampai dua tahun. Penyakit pada mucosal, bagaimanapun, terlihat dapat menginfeksi anak sapi pada umur beberapa m inggu dan beberapa hewan PI dapat bertahan hidup dengan kesehatan yang nampaknya baik selama bertahun-tahun. Penyakit mucosal, ketika muncul, dikarakteristikkan oleh adanya ulserasi pada saluran gastrointestinal yang mengakibatkan diare, ya ng pada umumnya timbul sebagai suatu serangan yang cepat, yang tidak bisa dipred iksi dan selalu fatal (Cutler, 2002). Efek BVD-MD pada organ reproduksi sangat bervariasi : (1) Veneral Infection sapi betina dan sapi dara dapat terinfeksi oleh sapi janta n yang menderita infeksi persisten melalui udara atau perkawinan alam. Hewn akan gagal untuk meningkatkan antibody terhadap virus dan menyebabkan rata-rata S/C menjadi 2,3. (2) Transplacental Infection. Efek yang nyata pada organ reproduksi merupakan ha sil dari infeksi secara transplacental. Jika sapi yang hamil terinfeksi oleh vir us BVD-MD terdapat kemungkinan yang cukup besar bahwa fetus akan terinfeksi, hal ini dapat menyebabkan aborsi, kelahiran lemah dan fetus yang berukuran dibawah normal atau malformasi congenital, anak pedet yang sehat juga dapat dilahirkan ( Arthur, 2001). Patogenesis: Walaupun BVD dapat menyebar diantara individu dengan immunocompetent sebagai sua tu infeksi akut, hewan PI bertindak sebagai reservoir utama dan sumber utama inf eksi. Mereka menyebarkan konsentrasi virus yang lebih tinggi dibanding hewan yan g terinfeksi secara akut dan mereka tetap menyebarkan virus seumur hidup mereka. Biri-Biri juga perlu diwaspadai sebagai sumber infeksi yang potensial. Hewan yang terinfeksi mengeluarkan (mengekskresikan) virus dalam berbagai sekres i cairan. Yang paling penting adalah penyebaran penyakit peroral serta leleran h idung. Penyebaran lewan fese relatif tidak penting dalam pathogenesis BVD. Virus BVD dapat juga ditularkan lewat semen dan transfer (Cutler,2002). Infeksi oleh strain non cytopatic pada uterus selama 30-120 hari kebuntingan men yebabkan anak sapi yang dilahirkan mengalami infeksi virus secara persisten, ped et akan mengalami imunotoleran. Jika terjadi infeksi oleh strain cytopatic BVD d apat menyebabkan peningkatan penyakit mucosal disease. Hewan yang mengalami infe ksi persisten akan menyebarkan virus selama hidupnya. Kejadian infeksi persisite n pada pedet (carier) memiliki perbandingan 1 kejadian untuk setiap 100-1000 kel ahiran. Hewan yang mengalami infeksi persisten perlu mendapatkan perawatan yang khusus sehingga tidak mencemari lingkungan disekitarnya. Infeksi persisten pada sapi dapat ditularkan secara vertical melalui infeksi secara transplacental dari induk ke pedetnya. Hewan dengan infeksi persisten atau mengalami infeksi akut a kan menyebarkan virus ini melalui leleran hidung, mata, saliva, urin dan feces. Infeksi yang terjadi pada sapi dalam stadium kebuntingan dapat menyebabkan kemat ian fetus dini, aborsi, fetus yang mengalami abnormalitas pada sistim syaraf pus at dan system ocular. Infeksi pada trisemester kebuntingan akhir tidak mengakiba tkan imunotoleran pada induk, tetapi dapat menyebabkan gangguan imunitas pada pe det yang dilahirkan. Infeksi pada hewan dewasa tidak akan menyebabkan imunotoleran, gejala klinis yan g menciri adalah adanya periode demam yang disertai leucopenia viremia yang berl angsung selama lebih dari 15 hari. Pada sekelompok hewan yang peka, akan ditemuk an gejala diare dengan morbiditas yang tinggi tetapi rata-rata mortalitasnya ren

dah, leleran dari mata dan hidung dan ulcer di mulut. Pada sapi perah yang terin feksi akan mengalami penurunan produksi. Virus bersifat imunosupresif, sehingga menyebabkan hospes menjadi rentan terhadap infeksi penyakit yang lain. Gejala kl inis yang ringan dari penyakit ini akan menimbulkan efek yang besar pada fungsi reproduksi sejak timbulnya gejala berupa demam ringan dan adanya lesi pada mulut yang umumnya tidak terdeteksi. Sapi jantan yang mengalami infeksi kronis/ persisten akan mengekskresiksn virus dalam semen yang dihasilkan. Pada pengamatan selanjutnya virus akan disebarkan s etelah terjadi viremia, dimana glandula vesikuler dan prostate merupakan tempat virus ini melakukan replikasi. Mucosal disease biasanya terlihat pada hewan muda (6-24 bulan). Penyakit ini dic irikan dengan adanya anorexia, diare berair, lelerahn hidung, ulcerasi pada mulu t dan lameness. Tetapi efek pada hewan yang terinfeksi mortalitasnya tinggi. Efek pada Performance Reproduksi Efek dari virus BVD pada reproduksi tergantung pada stadium kebuntingan saat ter jadi infeksi. Infeksi akut dengan salah satu biotipe, dapat berakibat fatal pada embrio/ fetus selama bulan pertama kebuntingan. Infeksi dapat mengakibatkan kem atian dan penyerapan sebagian tubuh embrio. Satu-satunya gejala reproduksi yang timbul pada sapi betina adalah kembalinya estrus dengan interval yang normal ata u diperpanjang. Rata-rata kebuntingan akan berkurang pada hewan yang terinfeksi. Rata-rata kebuntingan yang rendah juga merupakan hasil dari inseminasi semen yan g terkontaminasi oleh virus BVD, walaupun penularan dapat melalui udara dan perk awinan alami. Penelitian yang dilakukan inseminasi dengan menggunakan semen yang terkontaminasi virus, sapi dengan seronegatif memiliki rata-rata S/C pada IB ya ng pertama sebesar 22,2% sedangkan seropositif sebesar 78,6% (Virakula et al., 1 993). Meskipun demikian Wintik et al (1989) menunjukan rata-rata kebuntingan yan g normal pada sekelompok kecil sapi setelah dilakukan perkawinan dengan sapi jan tan yang mengalami infeksi persisten. Pada bulan ke 2-4 kebuntingan, infeksi dapat diikuti dengan aborsi, kematian den gan mumufikasi, penghambatan pertumbuhan, abnormalitas perkembangan CNS dan alop ecia, beberapa sapi yang terinfeksi akan menyebabkan kematian pada pedet tetapi dapat juga menyebabkan infeksi persisten. Infeksi sebelum 128 hari penting untuk stadium carier pada pedet. Pada usia kebuntingan 5-6 bulan, akan menyebabkan aborsi atau kelahian pedet den gan abnormalitas congenital pada CNS dan mata. Terdapat interval antara beberapa hari hingga 2 bulan diantara terjadinya infeksi virus hingga menyebabkan aborsi . Infeksi pad afetus pada masa kebuntingan akhrir akan berperan penting dalam syst em imun pedet, sejak fetus dapat meningkatkan respon antibodinya terhadap mikroo rganisme pada usia kebuntingan 5-6 bulan (Bolin, 1990). Walaupun demikian infeks i pada fetus dapat juga diikuti kelahiran premature, still birth atau pedet yang kurus dan abnormalitas kebuntingan (Arthur, 2001). Diagnosis: Sebagai tambahan pada gejala klinis dan postmortem dari infeksi BVD, berbagai me todologi laboratorium dapat membantu mendiagnosa penyakit ini. Ini meliputi demo nstrasi antigen atau antibodi spesifik dalam darah atau susu serta isolasi virus dari jaringan. Konfirmasi hasil diagnosa BVD pada kasus akut tergantung pada adanya demonstrasi seroconversion di dalam sampel serum. Konfirmasi BVD sebagai penyebab aborsi ad alah lebih sulit. Demonstrasi seroconversion maternal maupun fetal serta isolasi virus dari jaringan fetus dapat menjadi bukti yang sempurna. Dalam banyak kasus dimana pengujian laboratorium dilaksanakan, tujuannya tidakla h diagnostik tetapi lebih pada screening exercise untuk mengidentifikasi hewan P I sebagai bagian dari progam pengendalian penyakit. Dalam kondisi ini keakuratan hasil pengujian laboratorium adalah sangat penting. Walaupun sensitivitas (kepe kaan) dan spesifitas (ketegasan) dari pengujian yang saat ini tersedia adalah ba ik, sensitivita dapat lebih ditingkatkan, dari segi biaya, dengan lebih dulu men guji untuk adanya seroconversion dan kemudian dengan pengujian lebih lanjut dari hewan yang seronegative ( hewan PI tidak menghasilkan antibodi dalam merespon b aik infeksi ataupun vaksinasi) atau mempunyai titer antibodi yang rendah terhada

p adanya vir Faktor konfonding, bagaimanapun, masih tetap ada. Adalah mungkin un tuk hewan non-PI memiliki antibodi negative-antigen positif jika, kebetulan, pen gambilan sampel dilakukan pada fase infeksi akut. Juga memungkinkan untuk hewan PI memilki antibodi positif. Biasanya ini terjadi sebagai hasil transfer pasif a ntibodi dalam kolostrum dari induk non-PI kepada anak sapi PI nya segera setelah . Antibodi maternal ini akan menurun pada saat anak sapi itu berumur sekitar 4 bulan dan akan kembali menjadi antibodi negatif-antigen positif.us BVD. Adakalan ya, bagaimanapun, seekor hewan PI akan menghasilkan antibodi spesifik BVD dengan sendirinya yang mana, walaupun jarang, adalah suatu kemungkinan yang harusnya t idak dilewatkan. Suatu kemungkinan yang serupa namun jarang adalah hewan PI nonviraemic. Barangkali, bagaimanapun, alasan yang paling umum dari kegagalan untuk mengidentifikasi hewan PI adalah kegagalan untuk mengetahui status dari fetus k etika menguji hewan yang bunting. Haruslah aman untuk berasumsi bahwa induk deng an antibodi negative-antigen negatif akan menghasilkan anak sapi non-PI (tergant ung pada stadium kebuntingan saat sampel yang akan diuji dikumpulkan dan kemungk inan dari sapi betina tersebut menjadi terinfeksi setelah diambil sebagai sampel ). Juga suatu hal yang biasa bahwa induk PI akan menghasilkan keturunan yang jug a PI. Status dari anak sapi yang dilahirkan oleh induk dengan antibodi positif-a ntigen negatif, bagaimanapun, bervariasi dan akan tergantung pada stadium kebunt ingan saat induk tersebut terinfeksi. Jika induk terinfeksi sebelum konsepsi ana knya haruslah antibody negatif-antigen negatif. Jika infeksi terjadi selama stad ium akhir kebuntingan anaknya haruslah antibody positif-antigen negatif. Jika, b agaimanapun, induk terinfeksi selama kebuntingan awal mungkin, atau bahkan mungk in tergantung pada waktu yang tepat terjadinya infeksi, anaknya akan terinfeksi BVD secara persisten. Dalam rangka menentukan dengan derajat ketelitian berapapu n apakah ini adalah atau bukanlah kasus, sampale dikoleksi dari anak sapi baik s ebelum menyusu kolostrum apapun maupun sekali ketika mencapai usia 6 bulan perlu untuk diuji (Cutler, 2002). Diagnosis dapat dilihat dari gejala klinis yang terlihat. Fetus yang dikeluarkan juga akan menujukan lesi yang menciri pada kasus ini. Virus dapat di isolasi da ri fetus, yaitu pada jaringan limfoit seperti lien. Identifikasi monocytocemical protein virus BVD pada jaringan fetus, khususnya ginjal, paru-paru atau jaringa n limfoid kadang-kadang dapat terdeteksi. Kenaikan substansi neutralizing antibo dy pada sekelompok ternak yang mengalami aborsi dan menunjukan antibodi dalam se rum pada pedet yang baru saja dilahirkan atau cairan thorak fetus yang diaborsik an dapat digunakan sebagai bahan diagnosis infeksi. Pad kasus pedet yang dapat d ilahirkan, serum harus diambil setelah pedet mengkonsumsi colostrum (Arthur, 200 1). BRUCELLOSIS PADA SAPI Penyebab/Causa Brucellosis atau penyakit Bang disebabkan suatu kuman kecil berbentuk batang dan bersifat gram negatif, Brucella abortus, yang tumbuh di dalam sel. Bakteri ini pertama kali diuraikan oleh Bang di Denmark tahun 1897. Brucellosis terjangkit p ada sapi di seluruh dunia, kecuali di negara-negara yang telah mengendalikan pen yakit tersebut dengan vaksinasi atau dengan cara-cara lainnya Cara penularan Penularan dapat terjadi karena pembelian dan pemasukan satu betina yang tertular ke dalam suatu kelompok ternak. Materi yang tertular dapat terbawa dari suatu p eternakan ke peternakan lain oleh anjing atau manusia. Infeksi sering terjadi karena ingesti kotoran dari alat kelamin hewan yang menga lami abortus yang mengkontaminasi makanan dan air. Penularan dapat pula terjadi melalui selaput lender mata dan intrauterin setelah inseminasi dengan semen yang tertular. Gejala Klinis Brucella abortus menyebabkan keguguran pada trimester terakhir masa kebuntingan dan diikuti oleh suatu periode infertilitas. Brucella abortus menyebabkan demam “undulans” atau brucellosis pada manusia yang meminum susu mentah yang belum dip asteurisasi atau bersentuhan dengan kotoran atau tenunan yang tertular. Keluron karena Brucella abortus umumnya terjadi dari bulan keenam sampai kesembi

lan (setelah bulan kelima) periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% dalam suatu kelompok ternak, tergantung dari jumlah hewan bunting yang te rtular, daya penularan, virulensi organisme dan faktor lain. Diagnosa Diagnosa terhadap brucellosis diperlukan untuk dua tujuan, pertama untuk menetap kan sebab abortus pada satu individu ternak, dan kedua untuk mengidentifikasi te rnak dalam rangka program pengendalian penyakit tersebut. Sejarah kelompok ternak sangat bermanfaat dalam mendiagnosa penyebab abortus. Di agnosa perbandingan antara penyebab abortus cukup sulit dan tidak mungkin tanpa bantuan pemeriksaan laboratoris. Lesio placental pada brucellosis, vibriosis dan penularan jamur pada sapi nampak sama. Identifikasi Organisme Brucella abortus dapat diidentifikasi pada preparat ulas dari bahan pa ru-paru. Media tersebut umumnya diisolasi dalam media kultur atau pada marmut. Pencegahan dan Pengendalian Pencegahan brucellosis pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan pengujian serta penyingkiran sapi reaktor. Tindakan higienik sangat penting dalam program pencegahan brucellosis pada suatu kelompok ternak. Sapi yang tertular sebaiknya dijual atau dipisahkan dari kelom poknya Fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang te rkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejeni s Program vaksinasi dilakukan pada anak sapi umur 3-7 bulan dengan vaksin Brucella Strain 19. Tapi penggunaan Strain 19 harus hati-hati karena dapat menyebabkan b rucellosis atau demam undulan pada manusia. Metode pengendalian lainnya ialah vaksinasi dengan 45/20 terhadap semua ternak, uji serologik secara teratur dengan SAT atau BRT dan CFT, monitoring dengan MRT dan isolasi atau penyingkiran reaktor. Pengobatan Pengobatan brucellosis dengan berbagai antiseptik dan antibiotik telah dicoba ta npa hasil. Pengobatan yang efektif dapat dilakukan dengan antibiotik seperti kombinasi peni silin dan streptomisin, tapi dapat pula dengan metritin atau oestrilan yang dibe rikan intrauterina.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->