P. 1
MANAJEMEN PERUBAHAN

MANAJEMEN PERUBAHAN

|Views: 894|Likes:
Published by rajautomo

More info:

Published by: rajautomo on Feb 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

MANAJEMEN PERUBAHAN TENTANG PARADIGMA DESENTRALISASI SEBAGAI PENGUATAN DEMOKRASI ARUS LOKAL

Disusun Untuk Memenuhi Nilai Tugas Dalam Mata Kuliah Manajemen Perubahan

Oleh: Nama Nim : DWI UTOMO : 080903071

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

LATAR BELAKANG

Lebih dari dua dekade pembicaraan mengenai desentralisasi telah menjadi perhatian berbgai negara maju maupun negara dunia ketiga. Mulanya upaya sentralisasi dalam perencanaan dan administrasi pembangunan negara dunia ketiga- utamanya di pandang perlu untuk memberikan arah, pengawasan dan pengendalian terhadap pembangunan ekonomi serta mempersatukan bangsa yang sedang tumbuh akibat penjajahan yang cukup lama. Tahun 1950-1960an sentralisasi di yakini sebagai kunci sukses

pembangunan. Namun pada kenyataannya banyak negara yang mengalami kegagalan, utamanya di negara dunia ketiga, walaupun pertumbuhan mengalami kenaikan namun sebagian kecil kelompok masayarakat yang merasakan kenaikan tersebut. Mulai tahun 1970an maraknya pencarian rumusan konsep-konsep

pembangunan yang mampu mengatasi kegagalan sentralisasi. Struktur pasar yang kelihatannya efektif memajukan pembangunan di negara industri ternyata ternyata tidak bekerja di dunia ketiga, kemiskinan tidak serta merta berkurang melalui trickle down effect. Strategi growt with equality, people centreed development adalah tawaran solusi mengatasi kegagalan sentralisasi. Manusialah harus menjadi menjadi sumber dan fokus pembangunan bukan ekonomi dan teknologi. Tahun 1990an gelombang baru paradigma desentralisasi melanda di hampir semua negara seiring dengan slogan good governance, local government, demokrasi, local govenrnance, civil society dan partisipasi.

MODEL YANG DIGUNAKAN

Adapun Model Perubahan yang digunakan adalah Model Perubahan Lewin. Menurut model ini mengasumsikan : 1. Proses perubahan menyangkut mempelajari sesuatu yang baru, seperti tidak melanjutkan sikap,perilaku atau praktik organisasional yang masih berlaku sekarang ini. 2. Perubahan tidak akan terjadi sampai ada motivasi untuk berubah
3. Manusia merupakan pusat dari semua perubahan organisasional.Setiap

perubahan,

baik

dalam

bentuk

struktur,

proses

kelompok,

sistem

pengharapan, atau rancangan kerja Memerlukan individu untuk berubah. 4. Resistensi untuk berubah dapat ditemukan bahkan meskipun tujuan perubahan sangat diinginkan. 5. Perubahan yang efektif memerlukan penguatan perilaku baru, sikap, dan praktik organisasional. Kurt Lewin mengembangkan 3 tahapan model perubahan Terencana yang menjelaskan bagaimana mengambil inisiatif,mengelola dan menstabilisasi proses perubahan.Ketiga tahapan itu dinyatakan sebagai Unfreezing, movement, dan refreezing.

1. Unfreezing Unfreezing atau pencairan merupakan tahapan yang memasang fokus pada penciptaan motivasi untuk berubah Individu didorong untuk mengganti perilaku dan sikap lama dengan yang diinginkan oleh manajemen.proses pencairan ini merupakan adu kekuatan antara factor pendorong dan factor Penghalang dari status quo.Untuk dapat menerima adanya suatu perubahan, diperlukan adanya kesiapan atau readiness individu.Pencairan ini

dimaksudkan

agar

seseorang

tidak

terbelenggu

oleh

keinginan

mempertahankan diri dari status quo dan bersedia membuka diri.

2. Changing atau movement atau Cognitive Restructuring

Changing atau Movement merupakan tahap pembelajaran dimana pekerja diberi informasi baru, model perilaku baru, atau cara baru dalam melihat sesuatu.maksudnya adalah membantupekerja belajar konsep atau titik pandang baru.Para pakar merekomendasikan bahwa yang terbaik adalah untuk menyampaikan gagasan kepada para pekerja bahwa perubahan adalah suatu proses pembelajaran bekelanjutan dan bukannya terjadi dalam sesaat. Dengan demikian perlu dibangun kesadaran bahwa pada dasarnya kehidupan adalah suatu proses perubahan terus-menerus. 3. Refreezing Refreezing atau pembekuan kembali merupakan tahapan dimana perubahan yang terjadi distabilisasi dengan membantu pekerja mengintegrasikan perilaku dan sikap yang telah berubah kedalam cara yang normal untuk melakukan sesuatu .Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pekerja menunjukkan sikap baru serta perilaku mereka. Dengan telah terbentuknya perilaku dan sikap baru, maka perlu diperhatikan apakah masih sesuai dengan perkembangan lingkungan yang terus berlangsung.Apabila ternyata diperlukan perubahan kembali maka, proses unfreezing akan dimulai kembali.
Step III : REFREEZING Incorporating the change : creating and maintaining

Step II : CHANGING Attempting to create a new state of affairs

Ne w

st at e

Step I : UNFREEZING the Recognizing need for

Cu st rre at nt e

PEMBAHASAN

Unfreezing ( Tahapan I )
Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. dengan adanya desentralisasi maka muncullah otonomi bagi suatu pemerintahan kewenangan. daerah. Dalam Desentralisasi kaitannya sebenarnya sistem adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana di definisikan sebagai penyerahan dengan pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena dengan adanya desentralisasi sekarang menyebabkan perubahan paradigma pemerintahan di Indonesia. Desentralisasi juga dapat diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab, kewenangan, dan sumber-sumber daya (dana, manusia dll) dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Dasar pemikiran yang melatarbelakanginya adalah keinginan untuk memindahkan pengambilan keputusan untuk lebih dekat dengan mereka yang merasakan langsung pengaruh program dan pelayanan yang dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini akan meningkatkan relevansi antara pelayanan umum dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal, sekaligus tetap mengejar tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah ditingkat daerah dan nasional, dari segi sosial dan ekonomi. Inisiatif peningkatan perencanaan, pelaksanaan, dan keuangan pembangunan sosial ekonomi diharapkan dapat menjamin digunakannya sumber-sumber daya pemerintah secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sentralisasi dan desentralisasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara adalah persoalan pembagian sumber daya dan wewenang. Pembahasan masalah ini sebelum tahun 1980-an terbatas pada titik perimbangan sumber daya dan wewenang yang ada pada pemerintah pusat dan pemerintahan di bawahnya. Dan

tujuan “baik” dari perimbangan ini adalah pelayanan negara terhadap masyarakat. Di Indonesia sejak tahun 1998 hingga baru-baru ini, pandangan politik yang dianggap tepat dalam wacana publik adalah bahwa desentralisasi merupakan jalan yang meyakinkan, yang akan menguntungkan daerah. Pandangan ini diciptakan oleh pengalaman sejarah selama masa Orde Baru di mana sentralisme membawa banyak akibat merugikan bagi daerah. Sayang, situasi ini mengecilkan kesempatan dikembangkannya suatu diskusi yang sehat bagaimana sebaiknya desentralisasi dikembangkan di Indonesia. Jiwa desentralisasi di Indonesia adalah “melepaskan diri sebesarnya-besarnya dari pusat” bukan “membagi tanggung jawab kesejahteraan daerah”. Sentralisasi dan desentralisasi tidak boleh ditetapkan sebagai suatu proses satu arah dengan tujuan pasti. Pertama- tama, kedua “sesi” itu adalah masalah perimbangan. Artinya, peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan selalu merupakan dua hal yang dibutuhkan. Tak ada rumusan ideal perimbangan. Selain proses politik yang sukar ditentukan, seharusnya ukuran yang paling sah adalah argumen mana yang terbaik bagi masyarakat. Masalah sentralisasi dan desentralisasi bukan lagi dipandang sebagai persoalan penyelenggara negara saja. Pada akhirnya kekuatan suatu bangsa harus diletakkan pada masyarakatnya. Saat ini di banyak wilayah, politik lokal dikuasai selain oleh orang-orang partai politik juga kelompok-kelompok yang menjalankan prinsip bertentangan dengan pencapaian tujuan kesejahteraan umum. Kekuatan kelompok pro pembaruan lemah di banyak daerah dan langsung harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik lokal dengan kepentingan sempit. Birokrasi sekali lagi adalah alat pemerintah pusat untuk melakukan perbaikan daerah. Birokrasi, jika dirancang secara sungguh-sungguh, bisa berperan sebagai alat merasionalisasikan masyarakat. Pemerintah pusat, misalnya, membantu pemerintah daerah dalam mendesain pelayanan publik yang akuntabel. Pemerintah daerah sering pada situasi terlalu terpengaruh dengan kepentingan perpolitikan lokal. (sumber acuan http://www.kompas.com .)

Changing ( Tahapan II )
Carolie Bryant dan Lousse G white (1987, Hal 123-124) mengatakan bahwa desentralisasi adalah transfer kekuasaan kewenangan yang dapat dibedakan ke dalam desentralisasi administratif maupun desentralisasi politik. Desentralisasi administratif adalah pendelegasian wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas-batas yang telah ditentukan baik dalam rencana maupun biaya tetapi memliki sedikit kewenangan dan kekuasaan yang bervariasi dari yang membuat peraturanperaturan yang bersifat program sampai ke lebih yang substansial. Sedangkan desentralisasi politik adalah pemberian kewenangan dalam membuat keputusan dan pengawasaan tertentu terhadap sumber daya yang diberikan kepada badan pemerintah regional atau lokal. Selanjutnya Carolie Bryant mengatakan, Konsekuensi dari penyerahan wewenang dalam pengambilan keputusan dan pengawasan kepada badan otonomi daerah untuk memberdayakan kemampuan lokal (empowernment local capacity),mengembangkan otoritas lokal, meningkatkan partisipasi elite politik lokal dan warga masyarakat yang akan menyebakan pemerintah pusat memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek-proyek dan dan sumbersumber daya, dan demikian akan meningkatkan pengaruh dan legitimasinya. Untuk menjalankan konsepsi tersebut, birokrasi pemerintah harus

menjalankan perubahan manajemen (management of change) yang meliputi perubahan visi, peningkatan profesionalisme birokrasi dalam semua aspek pekerjaan, melakukan efisiensi dengan selalu memperhitungkan rasio biaya dan hasil (cost and benefit rasio), memanfaatkan semua sumber daya (resources) yang tersedia secara efektif, dan menyusun rencana tindakan (action plan) yang sistematis. Perlu juga dilakukan redefinisi dan reposisi terhadap instansi vertikal yang sekarang menjadi perangkat daerah. Artinya Pemerintah Daerah mempertimbangkan untuk pemekaran (proliferation), penyatuan

(amalgamation/merger) serta penghapusan struktur yang tidak efisien (downsizing

organizational structure), juga melaksanakan redefinisi tugas pokok dan fungsi unit organisasi agar tidak terjadi tumpang tindih (overlapping) didalam pelaksanaan kewenangan dan fungsi antar Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam rangka mewujudkannya sebagaimana diungkapkan oleh Selazar (dalam Seymour Martin Lipset, 1995). Diantara berbagai argumentasi dalam memilih desentralisasi/otonomi, yang sangat banyak diungkapkan adalah antara lain :

1. Efisiensi dan Efektifitas Penyelenggaraan Pemerintahan. Organisasi Negara merupakan sebuah entitas yang sangat kompleks. Pemerintah Negara mengelola berbagai dimensi kehidupan, sepertinya misalnya bidang sosial, kesejahteraan masyarakat, ekonomi, keuangan, politik, integrasi sosial, pertahanan keamanan dalam negeri, dan lain-lainnya. Memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat, menjaga keutuhan Negara – bangsa, serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari Negara lain, merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. Oleh karena itu, tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik, karena kalau sampai hal itu terjadi maka akan menimbulkan implikasi yang negatif, yaitu pemerintahan Negara akan menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan demikian, “ pembagian tugas “ serta “ pemberian kewenangan “ merupakan suatu hal yang sama sekali tidak mungkin dihindarkan dalam sebuah Negara modern. Pemberian kewenangan (devolution of authority) kepada unit-unit atau satuan pemerintahan yang lebih rendah dan lebih kecil merupakan sesuatu kebutuhan yang mutlak dan tidak dapat dapat dihindari. Mengingat begitu tinggi tingkat fragmentasi sosial dalam sebuah Negara, maka ada hal-hal tertentu yang harus diselenggarakan secara lokal dimana Pemerintah Daerah akan lebih baik menyelenggarakannya ketimbang dilakukan secara nasional dan sentralistik. Pemerintah pusat dalam hal ini akan berfungsi menyiapkan pedoman-pedoman umum yang akan dijadikan parameter bagi penyelenggaraan pemerintahan agar Pemerintah Daerah tidak menyimpang dari prinsip-prinsip Negara Kesatuan.

Di samping itu, dengan diberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah maka tugas-tugas pemerintahan akan dijalankan dengan lebih baik karena masyarakat di daerah sudah sangat memahami konteks kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang ada di sekitar lingkungannya. Mereka memahami betul kebutuhan masyarakatnya serta bagaimana memobilisasi semua sumber daya dalam rangka mendukung fungsi dan pelaksanaan tugas pemerintahan.

2. Pendidikan Politik. Banyak kalangan ilmu politik berargumentasi bahwa pemerintahan daerah (lokal) merupakan kancah pelatihan (training ground) atau pendidikan politik baik bagi para politisi maupun kaum awam dan pengembangan demokrasi dalam sebuah Negara. Alexis de Tocqueville (1956:30) menekankan bahwa pemerintahan lokal memiliki pengaturan yang unik tidak hanya pada pemahaman politik tetapi juga persaudaraan. Individu diperbolehkan lebih mementingkan kepentingan sendiri dan mengembangkan diri sebagai warganegara dengan keuntugan “pembangunan” (yang berhubungan dengan pertumbuhan) untuk semangat public. John Stuart Mill dalam tulisannya “ Representative Government “ menyatakan bahwa dengan adanya pemerintahan daerah maka hal itu akan menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat berpartisipasi politik, baik dalam rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Semua hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan politik masyarakat. Dengan demikian, pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya.

3. Pemerintahan Daerah sebagai persiapan untuk karir politik lanjutan. Banyak kalangan ilmu politik sepakat bahwa pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan, terutama karier di bidang politik dan pemerintahan di tingkat nasional. Keberadaan institusi lokal, terutama pemerintahan daerah (Eksekutif dan Legislatif local), merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan seseorang guna menapak karier politik yang lebih tinggi,

misalnya menjadi Gubernur, Anggota DPR, Menteri, ataupun Presiden dan Wakil Presiden. Peranan Pemerintah Daerah sebagai ajang untuk pembentukan jati diri, pencarian pengalaman, serta pemahaman awal tentang penyelenggaraan pemerintahan merupakan suatu kenyataan yang sangat sulit untuk dimatikan. B. C Smith menyatakan dengan tegas antara lain “ Lokal Government may provide experience of party systems, legislative roles, methods of policy formulation, legislative – executive – administrative relationships and executive accountability that are vastly different from what obtain at the national level. “ ( B.C.Smith, 1985, p.23).

4. Stabilitas Politik. Kalangan ilmuwan politik / pemerintahan hampir semuanya sepakat bahwa salah satu manfaat dari desentralisasi Sharpe – otonomi misalnya dalam penyelenggaraan bahwa pemerintahan adalah penciptaan politik yang stabil, dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. (1981), beragumentasi stabilitas politik nasional mestinya berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. Kenyataan membuktikan bahwa banyak Negara yang mengalami gangguan politik dikarenakan adanya kecendurungan untuk memperlakukan daerah dengan tidak tepat, bahkan lebih cenderung bersifat sentralistik. Oleh karena itu, pemberian kewenangan kepada pemerintahan di daerah akan menciptakan suasana politik yang stabil karena daerah memiliki ikatan dan tanggung jawab yang kuat guna mendukung pemerintahan nasional.

5. Kesetaraan Politik ( Political Equality ). Dengan dibentuknya pemerintahan daerah maka kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat akan terwujud. Masyarakat di tingkat lokal, sebagaimana halnya dengan masyarakat di pusat pemerintahan, akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik, apakah itu dengan melalui

pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa, Bupati, Walikota, dan bahkan Gubernur. Di samping itu, warga masyarakat baik secara sendiri-sendiri ataupun secara berkelompok akan ikut terlibat dalam mempengaruhi pemerintahannya untuk membuat kebijaksanaan, terutama yang menyangkut kepentingan mereka. Dengan demikian, partisipasi politik yang meluas mengandung makna

kesetaraan yang meluas pula di antara warga masyarakat dalam sebuah Negara. Dan pemerintahan daerah memberikan peluang terciptanya kesetaraan politik, karena biasanya, pemerintahan nasional kurang begitu antusias memperhatikan posisi politik dari kalangan masyarakat yang ada di daerah. Robert Dahl (1981), seorang ilmuwan politik yang banyak mencurahkan perhatiannya dalam mengembangkan teori demokrasi secara empiric, menyatakan “ bahwa dengan adanya demokrasi lokal pada tingkat Pemerintahan Kota dan Kabupaten mendorong masyarakat di sekitar pemerintahan tersebut untuk ikut serta secara rasional terlibat dalam kehidupan politik.

6. Akuntabilitas Publik. Demokrasi politik akan menciptakan kebebasan bagi warga masyarakat. Salah satu elemen yang tidak dapat dinafikan dalam demokrasi dan desentralisasi adalah akuntabilitas publik. Si pemegang jabatan publik harus mampu mempertanggungjawabkan segala bentuk pilihan kebijaksanaan dan politiknya kepada warga masyarakat yang mempercayakan kepadanya jabatan politik tersebut. Bagaimana kaitan antara desentralisasi dengan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan tidaklah terlampau sulit untuk dijawab karena dengan demokrasi maka akan memberikan peluang kepada masyarakat, termasuk masyarakat di daerah, untuk berpartisipasi dalam segala bentuk penyelenggaraan pemerintahan. Partisipasi dapat diwujudkan dalam tahap awal pembuatan kebijaksanaan publik, terutama dalam rangka pembentukan agenda pemerintahan di tingkat lokal. Dengan demikian, kebijaksanaan yang dibentuk sangat dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki legitimasi yang tinggi karena masyarakat mulai terlibat sejak awal sehingga kebijaksanaan tersebut akan sulit dipertanyakan.

Dengan demikian, otonomi daerah atau desentralisasi akan membawa sejumlah manfaat bagi masyarakat di daerah maupun pemerintah pusat. Pada level daerah terjadinya sensitifitas lebih tinggi pada masalah yang terjadi di daerahnya, memacu daerah lebih kreatif, inovatif dan resposif, meningkatkan partisipasi politik, sosial, ekonomi masyarakat. Sedangkan pada level pemerintah pusat terjadinya kpercayaan dan legitimasi yang kuat. ( www.hotlinkfiles.com/files/2107676_btho9/ )

REFREEZING ( Tahapan III)
Jika kita tinjau lebih jauh penerapan kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi sekarang ini, cukup memberikan dampak positif bagi perkembangan bangsa Indonesia. Dengan adanya sistem desentralisasi ini pemerintahan daerah diberi wewenang dan tanggung jawab untuk mengatur daerahnya, karena dinilai pemerintahan daerah lebih mengetahui kondisi daerahnya masing-masing. Disamping itu dengan diterapkannya sistem desentralisasi diharapkan biaya birokrasi yang lebih efisien. Hal ini merupakan beberapa pertimbangan mengapa otonomi daerah harus dilakukan. Dalam setiap kebijakan atau keputusan yang diambil pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Begitu juga dengan penerapan sistem desentaralisasi ini, memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan. Secara terperinci mengenai dampak dampak positif dan negatif dari desentarlisasi dapat di uraikan sebagai berikut : a. Segi Ekonomi Dari segi ekonomi banyak sekali keutungan dari penerapan sistem desentralisasi ini dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila suber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat. Seperti yang diberitakan pada majalah Tempo Januari 2003 “Desentralisasi: Menuju Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Berbasis Komunitas Lokal” disebutkan :

“Sebagaimana telah diamanatkan oleh Deklarasi Rio dan Agenda 21, pengelolaan sumberdaya alam berbasis komunitas merupakan salah satu strategi pengelolaan

yang dapat meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam. Selain itu strategi ini dapat membawa efek positif secara ekologi dan dan sosial. Pengelolaan sumberdaya alam khususnya sumberdaya kelautan berbasis komunitas lokal sangatlah tepat diterapkan di indonesia, selain karena efeknya yang positif juga mengingat komunitas lokal di Indonesia memiliki keterikatan yang kuat dengan daerahnya sehingga pengelolaan yang dilakukan akan diusahakan demi kebaikan daerahnya dan tidak sebaliknya……………………dsb Namun demikian, sejak dicapainya kemerdekaan Indonesia, kecenderungan yang terjadi adalah sentralisasi kekuasaan. Sejak orde lama sampai berakhirnya orde baru, pemerintah pusat begitu dominan dalam menggerakkan seluruh aktivitas negara. Dominasi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah telah menghilangkan eksistensi daerah sebagai tatanan pemerintahan lokal yang memiliki keunikan dinamika sosial budaya tersendiri, keadaan ini dalam jangka waktu yang panjang mengakibatkan ketergantungan kepada pemerintah pusat yang pada akhirnya mematikan kreasi dan inisiatif lokal untuk membangun lokalitasnya………… dsb Pelaksanaan desentralisasi mempunyai dua efek yang sangat berlawanan terhadap pengelolaan sumber daya kelautan tergantung dari pendekatan dan penerapannya. Desentralisasi akan mengarah pada over eksploitasi dan kerusakan tanpa adanya pendekatan sumberdaya yang baik, namun sebaliknya dapat memaksimalkan aspek potensi dan kelautan dengan tetap mengindahkan kelestarian

kelangsungan. prasyarat diperlukan demi tercapainya pengelolaan sumberdaya kelautan berbasis komunitas lokal. Kewenangan pemerintah daerah untuk melakukan pengelolaan sumberdaya kelautan dan terdapatnya akuntabilitas otoritas lokal merupakan prasyarat utama demi tercapainya pengelolaan sumberdaya kelautan dalam kerangka pelaksanaan desentralisasi (Ribbot 2002)……………” Dari artikel diatas telah jelas betapa perlunya suatu otonomi daerah dilakukan, masyarakat merindukan adanya suatu kemandirian yang diberikan kepada mereka untuk merusaha mengembangkan suber daya alam yang mereka miliki, karena mereka lebih mengetahui hal-hal apa saja yang terbaik bagi mereka.

Artikel diatas cukup memberikan gambaran betapa pentingnya otonomi daerah, tetapi disamping itu dengan tidak menutup mata ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dengan adanya penerapan sistem ini membukan peluang yang sebesar-besarnya bagi pejabat daerah (pejabat yang tidak benar) untuk melalukan praktek KKN. Seperti yang dimuat pada majalah Tempo Kamis 4 November 2004 (www.tempointeraktif.com) “Desentralisasi Korupsi Melalui Otonomi Daerah” “Setelah Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, resmi menjadi tersangka korupsi pembelian genset senilai Rp 30 miliar, lalu giliran Gubernur Sumatera Barat Zainal Bakar resmi sebagai tersangka kasus korupsi anggaran dewan dalam APBD 2002 sebesar Rp 6,4 miliar, oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat. Dua kasus korupsi menyangkut gubernur ini, masih ditambah hujan kasus korupsi yang menyangkut puluhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di berbagai wilayah di Indonesia, dengan modus mirip: menyelewengkan APBD. ……………………… Sehingga ada ketidak jelasan akuntabilitas kepala daerah terhadap masyarakat setempat, yang membuat bentuk-bentuk tanggung jawab kepala daerah ke publik pun menjadi belum jelas. ?Karena posisi masyarakat dalam proses penegakan prinsip akuntabilitas dan transparansi pemerintah daerah, belum jelas, publik tidak pernah tahu bagaimana kinerja birokrasi di daerah,? ujarnya. ………………………. Untuk itu Andrinof mengusulkan, selain dicantumkan prosedur administrasi dalam pertanggung jawaban anggota Dewan, juga perlu ada prosedur politik yang melibatkan masyarakat dalam mengawasi proyeksi dan pelaksanaan APBD. Misalnya, dengan adanya rapat terbuka atau laporan rutin ke masyarakat melalui media massa. Berikut ini beberapa modus korupsi di daerah: 1. Korupsi Pengadaan Barang. Modus : (a). Penggelembungan (mark up) nilai barang dan jasa dari harga pasar. (b). Kolusi dengan kontraktor dalam proses tender.

2. Penghapusan barang inventaris dan aset negara (tanah). Modus :a. Memboyong inventaris kantor untuk kepentingan pribadi. b. Menjual inventaris kantor untuk kepentingan pribadi. 3. Pungli penerimaan pegawai, pembayaran gaji, keniakan pangkat,

pengurusan pensiun dan sebagainya. Modus : Memungut biaya tambahan di luar ketentuan resmi. 4. Pemotongan uang bantuan sosial dan subsidi (sekolah, rumah ibadah, panti asuhan dan jompo). Modus : a. Pemotongan dana bantuan sosial b. Biasanya dilakukan secara bertingkat (setiap meja). 5. Bantuan fiktif. Modus : Membuat surat permohonan fiktif seolah-olah ada bantuan dari pemerintah ke pihak luar. 6. Penyelewengan dana proyek. Modus :a. Mengambil dana proyek pemerintah di luar ketentuan resmi. b. Memotong dana proyek tanpa sepengtahuan orang lain. 7. Proyek fiktif fisik. Modus : Dana dialokasikan dalam laporan resmi, tetapi secara fisik proyek itu nihil. 8. Manipulasi hasil penerimaan penjualan, penerimaan pajak, retribusi dan iuran. Modus :a. Jumlah riil penerimaan penjualan, pajak tidak dilaporkan. b. Penetapan target penerimaan …………………………………” Sumber : The Habibie Center Berdasarkan artikel diatas dapat disimpulkan bahwa disamping memiliki dampak positif otonomi daerah juga memiliki dampak negatif, bahkan dampak yang ditimbulkan sangatlah besar, dan apabila hal ini terus terjadi bukan kemakmuran dan kemandirian yang di peroleh malahan kesengsaraan dan kemiskinan yang akan kita peroleh. Oleh sebab itu peranan masyarakat dalam melakukan kontrol sangantlah penting dan yang lebih penting adalah dari pejabat itu sendiri. Bagaimana ahklak pribadi pejabat tersebut.

b. Segi Sosial Budaya Mengenai sosial budaya ini saya belum menemukan artikel yang secara penuh membahas mengenai dampak sosial budaya. Tetapi menurut analisis saya dengan diadakannya akan memperkuat ikatan sosial budaya pada suatu daerah. Karena dengan diterapkannya sistem desentralisasi ini pemerintahan daerah akan dengan mudah untuk mengembangkan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah tersebut. Bahkan kebudayaan tersebut dapat dikembangkan dan di perkenalkan kepada daerah lain. Yang nantinya merupakan salah satu potensi daerah tersebut.

c. Segi Keamanan dan Politik Dalam segi politik ini saya masih kurang begitu paham. Menurut pendapat saya dengan diadakannya desentralisasi merupakan suatu upaya untuk mempertahankan kesatuan Negara Indonesia, karena dengan diterapkannya kebijakna ini akan bisa meredam daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dengan NKRI, (daerah-daerah yang merasa kurang puas dengan sistem atau apa saja yang menyangkut NKRI). Tetapi disatu sisi otonomi daerah berpotensi menyulut konflik antar daerah. Sebagaimana pada artiket Asian Report 18 juli 2003 ”Mengatur Desentralisasi Dan Konflik Disulawesi Selatan” ” ”……………..Indonesia memindahkan kekuasaannya yang luas ke kabupatenkabupaten dan kota-kota – tingkat kedua pemerintahan daerah sesudah provinsi – diikuti dengan pemindahan fiskal cukup banyak dari pusat. Peraturan yang mendasari desentralisasi juga memperbolehkan penciptaan kawasan baru dengan cara pemekaran atau penggabungan unit-unit administratif yang eksis. Prakteknya, proses yang dikenal sebagai pemekaran tersebut berarti tidak bergabung tetapi merupakan pemecahan secara administratif dan penciptaan beberapa provinsi baru serta hampir 100 kabupaten baru. Dengan beberapa dari kabupaten itu menggambarkan garis etnis dan meningkatnya ekonomi yang cepat bagi politik daerah, ada ketakutan akan terjadi konflik baru dalam soal tanah, sumber daya atau perbatasan dan adanya politisi lokal yang memanipulasi ketegangan untuk kepentingan personal. Namun begitu, proses desentralisasi juga telah meningkatkan prospek pencegahan dan manajemen

konflik yang lebih baik melalui munculnya pemerintahan lokal yang lebih dipercaya……..” ……………………… Disisi lain ada pendapat yang berbeda, malahan GADJAH MADA UNIVERSITY akan mengadakan ”Pelatihan Penanganan Konflik dalam Konteks Desentralisasi” yang latar belakan dan tujuan pelatihan ini adalah: ”Desentralisasi merupakan sebuah terobosan besar dalam pengelolaan politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia. Dengan desentralisasi daerah memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan potensi diri masing-masing. Pada saat yang sama, desentralisasi juga menuntut kesiapan daerah untuk lebih mandiri, termasuk mengelola konflik-konflik yang berkembang baik setelah proses desentralisasi ataupun konflik-konflik yang selama ini dikelola dengan mengandalkan pemerintah pusat. Banyak daerah saat ini menyimpan potensi konflik yang sangat besar. Hubungan sosial antar anggota masyarakat yang tidak harmonis, kesenjangan sosial, serta kebijakan pemerintah yang tidak sensitif terhadap konflik merupakan faktor-faktor yang sangat potensial bagi munculnya konflik di daerah…………

d. Segi Pelayanan Pemerintah Mengenai pelayanan ini saya mengutip dari internet (www.deliveri.org) ”Memberikan Pelayanan yang Bermutu” (tanggal dan tahun lupa dicatat). Yang menyatakan: ……….Disamping Sampai pada pertengahan tahun 1999, perencanaan dan pemberian pelayanan pemerintah masih diatur oleh Undang-undang No.5 tahun 1974 (juga dikenal dengan nama P5D). UU ini menggambarkan dua “struktur” utama: top-down dan bottom-up. Di dalam struktur top-down, pemerintah pusat mengembangkan dan membiayai berbagai program dan proyek yang dilaksanakan dengan mengikuti instruksi yang rinci oleh badan-badan pemerintah di daerah, dengan sedikit atau bahkan tanpa keterlibatan pelanggan yang hanya berperan sebagai “penerima” pelayanan. Sementara di bawah struktur bottom-up, pemerintah daerah diharapkan untuk dapat membuat perencanaan dan melaksanakan program.

Program ini diidentifikasi dan diprioritaskan menurut kebutuhan daerah dengan berkonsultasi pada pemerintah tingkat bawah dan anggota masyarakat. Walaupun terdapat keseimbangan yang jelas antara struktur top-down dan bottom-up pada P5D, namun karena aparat daerah kurang memiliki keahlian dalam mengembangkan dan melaksanakan program-program lokal, dan kebanyakan dana datang dari pusat, serta perencanaan proyek yang sangat terikat oleh pemerintah pusat, maka struktur top-down berlaku secara umum………….. ……………………… Berdasarkan wacana diatas dapat dipahami dengan adanya otonomi daerah, maka setiap daerah akan diberi kebebasan dalam menyusun program dan mengajukannya kepada pemerintahan pusat. Hal ini sangat akan berdampak positif dan bisa memajukan daerah tersebut apabila Orang/badan yang menyusun memiliki kemampuan yang baik dalam merencanan suatu program serta memiliki analisis mengenai hal-hal apa saja yang akan terjadi dikemudia hari. Tetapi sebaliknya akan berdamapak kurang baik apabila orang /badan yang menyusun program tersebut kurang memahami atau kurang mengetahui mengenai bagaimana cara menyusus perencanaan yang baik serta analisis dampak yang akan terjadi. http://majidbsz.wordpress.com/2008/06/30/dampak-positif-dan-negatif-otonomidaerah-terhadap-kemajuan-bangsa-indonesia-dilihat/

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rozali, H, Prof, S. H., Pelaksanaan Otonomi Luas & Isu Federalisma sebagai suatu alternatif, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003 Cheenema, G. Shabbir and A. Rondenelli(Eds), Desentralization and Development Policy Implementation in developing countries, Sage publication, 1983. (Chapter 1) MacAndrews, Collin, Dr., Amal, Ichlasul, Prof. Dr., Hubugan Pusat – Daerah dalam Pembangunan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003. Syaukani, H, Drs., Gaffar, Afan, Prof, Dr., Rasyid, Ryaas, M, Prof, Dr., Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002 Smit, B.C.. Decentralization: The Teritorial Dimension of The State,1985 Sudantoko, Djoko, H, S. Sos, MM., Dilema Otonomi Daerah, Andi, Yogyakarta, 2003. Wibowo, Dr, S.E, M. Phil., Manajemen Perubahan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006.

http://majidbsz.wordpress.com/2008/06/30/dampak-positif-dan-negatifotonomi-daerah-terhadap-kemajuan-bangsa-indonesia-dilihat/

• •

www.hotlinkfiles.com/files/2107676_btho9/ http://www.kompas.com

** diakses jam:12.27 hari/tanggal: rabu/18 maret 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->