P. 1
Perbaikan Transparansi Dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara

Perbaikan Transparansi Dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara

|Views: 455|Likes:
Published by maryodiaz

More info:

Published by: maryodiaz on Feb 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2011

pdf

text

original

Perbaikan Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah di Indonesia1

1. Pengantar Perbaikan transparansi dan akuntabilitas fiskal merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan perombakan sistem sosial yang kita lakukan selama era reformasi sejak krisis ekonomi tahun 1997-1998. Di sektor ekonomi, kita ingin beralih dari sistem perencanaan terpusat kepada sistem yang lebih banyak menggunakan mekanisme pasar. Dalam bidang politik, reformasi itu ingin menggantikan sistem politik otoriter masa lalu dengan sistem demokrasi. Dalam sistem pemerintahan, kita ingin merombak sistem pemerintahan sentralistis masa lalu diganti dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah. Perencanaan terpusat pada masa Orde Baru telah menciptakan kolusi, korupsi, dan nepotisme. Privatisasi dan deregulasi masa itu juga digunakan untuk memindahkan hak milik negara kepada kroni penguasa politik. Akibatnya, produktivitas dan efisiensi perekonomian nasional kita menjadi semakin menurun dan berakhir pada krisis tahun 1997-1998. Sistem politik yang demokratris sekarang ini memberikan jaminan kebebasan berserikat dan bersuara termasuk mendirikan partai politik. Dewasa ini, TNI dan Polri tidak lagi memiliki wakil di DPR dan menduduki jabatan sipil. Presiden dan wakil presiden serta kepala daerah kini dipilih langsung oleh rakyat berdasarkan platform atau janji politiknya dan tidak lagi dipilih oleh MPR atau DPRD. Di masa lalu, MPR sekaligus menyusun GBHN. Pada gilirannya, sistem ekonomi pasar hanya dapat berjalan secara efektif dan efisien jika ada perlindungan hak milik individu serta transformasi informasi pasar yang simetris. Yang terakhir ini termasuk transparansi dan akuntabilitas keuangan negara. Sistem politik yang demokratis dan sistem pemerintahan yang didasarkan pada otonomi daerah juga menuntut adanya transparansi serta akuntabilitas keuangan negara. Tanpa itu, rakyat tidak akan mau membayar pajak dan investor tidak mau membeli Surat Utang Negara (SUN) kecuali dengan tingkat suku bunga yang sangat tinggi. Konflik antar daerah dapat dipicu
Ceramah pada Kuliah Pertama Semester Ganjil 2007/2008 Program Magister Akuntansi Universitas Trisakti (8 September 2007); ceramah pada Musyawarah III Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia, Surabaya (910 September 2007) Bahan ceramah di Universitas Andalas, Padang (26 Oktober 2007), Ceramah di Universitas Sebelas Maret, Solo (27 Agustus 2007); Makalah untuk Seminar Antar Semster IPDN (20 Juli 2007); Makalah pada Kuliah Umum di Universitas Nusa Cendana (27 Juli 2007), Keynote speech Seminar Nasional “Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara sebagai Upaya Pemberantasan Korupsi”, Brawijaya Accounting Fair 2006, FE Unbraw, Malang (3 Juni 2006)
1

1

oleh perasaan curiga karena tidak transparan dan tidak akuntabelnya keuangan negara. UUD 1945 dan ketiga UU tentang Keuangan Negara Tahun 2003-20042 serta UU No. 15 Tahun 2006 tentang BPK menugaskan BPK sebagai satu-satunya auditor untuk memeriksa laporan keuangan ketiga lapis pemerintahan di Indonesia: Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Makalah ini menguraikan kemajuan perbaikan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara dan daerah sejak tahun 2005 serta tantangan yang masih dihadapi. Bagian kedua membahas berbagai elemen perbaikan sistem pengelolaan keuangan negara untuk menjadikannya transparan dan akuntabel sesuai dengan tuntutan era reformasi. Bagian ketiga membahas temuan pemeriksaan dan opini pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2004, 2005 dan 2006. Bagian keempat membahas tidak adanya transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. Bagian kelima membahas berbagai aspek institusional daerah. Bagian keenam membahas peranan DPR dan DPRD untuk menindaklanjuti temuan BPK.

2. Upaya perbaikan sistem pengelolaan keuangan negara Untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, pemerintah dalam era reformasi telah melakukan koreksi secara menyeluruh terhadap sistem keuangan negara yang dipergunakan pada masa Pemerintahan Orde Baru. Koreksi pertama adalah degan mengintegrasikan anggaran negara dengan meniadakan pembedaan antara anggaran rutin dan anggaran pembangunan yang terpisah di masa Orde Baru. Kontrol atas APBN kini sepenuhnya berada di tangan Menteri Keuangan. Tadinya anggaran pembangunan dikendalikan oleh Bappenas. Sementara itu, tahun anggaran kini dirubah sesuai dengan tahun kalender dari yang tadinya berakhir tanggal 31 Maret. Administrasi dan pertanggungjawaban keuangan negara dirubah secara mendasar. Jenis dan format laporan keuangan negara kini memberlakukan sistem pembukuan berpasangan, menggunakan sistem akuntansi terpadu yang dikomputerisasi, serta menerapkan desentralisasi pelaksanaan akuntansi secara berjenjang oleh unit-unit akuntansi baik di kantor pusat maupun di daerah. ICW yang digunakan selama Orde Baru merupakan warisan kolonial yang menggunakan single entry account dan bukan sistem pembukuan berpasangan, terpadu, dan berjenjang. Perubahan mendasar atas struktur APBN dan jenis, format serta cara pelaporannya dimuat dalam ketiga Undang-Undang Keuangan Negara tahun 2003-2004.
2 Ketiga Undang-Undang bidang Keuangan Negara tersebut adalah: (1) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; (2) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan (3) UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

2

Koreksi yang kedua adalah dengan menyosialisasikan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) pada tanggal 13 Juni 20053. SAP ini merupakan yang pertama dikeluarkan oleh pemerintah setelah enam puluh tahun Republik Indonesia berdiri. Koreksi yang ketiga adalah dengan menerbitkan UU No. 15 Tahun 20064 yang memulihkan kebebasan dan kemandirian BPK dan sekaligus memperluas objek pemeriksaannya. Setelah enam puluh tahun kita berbangsa dan bernegara, pertanggungjawaban keuangan negara yang transparan dan akuntabel baru dimulai dalam LKPP Tahun 2004. Walaupun masih jauh dari sempurna, LKPP itu memuat rangkaian perubahan sistem fiskal yang disajikan dalam bentuk neraca, lebih rinci dan lebih sistematis sehingga lebih mudah dipahami dan dicerna oleh masyarakat luas. Penyajian keuangan negara dalam bentuk neraca dan format baru, yang telah diaudit oleh BPK-RI tersebut, merupakan suatu tonggak sejarah kemajuan dan bagian dari perwujudan demokrasi politik yang juga menuntut adanya transparansi serta akuntabilitas keuangan negara. LKPP yang merupakan pertanggungjawaban keuangan negara dalam bentuk baru seperti sekarang ini adalah diatur dalam Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ketentuan peralihan Pasal 36 ayat (2) UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara itu menyatakan bahwa ketentuan mengenai LKPP dalam bentuk sekarang ini akan berlaku mulai APBN Tahun 2006. Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2003 tentang APBN Tahun 2004 telah memajukan awal mulai berlakunya penerapan LKPP format baru tersebut. Undang-Undang APBN Tahun 2004 menyebutkan bahwa laporan pertanggungjawaban APBN oleh Presiden sudah berupa LKPP format baru. LKPP format baru sekarang ini berbeda dengan laporan keuangan Pemerintah Pusat yang disusun berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Sistem Akuntansi Pemerintah dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)5. LKPP yang berlaku sekarang ini terdiri dari Laporan Realisasi APBN (LRA) Pemerintah Pusat yang disusun berdasarkan LRA Kementerian Negara/Lembaga, Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Bagian-bagian LKPP yang lebih rinci, tertib dan sistematis tersebut merupakan hal
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan tanggal 3 Juni 2005. Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan menggantikan UU No. 5 Tahun 1973. 5 Surat Keputusan tersebut adalah SK Menteri Keuangan No.337/KMK/0.12/2003 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dan Peraturan Menteri Keuangan No. 59/KMK.06/2005 tentang hal yang sama. Kedua SK ini menggantikan Surat Keputusan No. 476/KMK.01/191 tentang Sistem Akuntansi Pemerintah dan Keputusan Menteri Keuangan No. 295/KMK.012/2001 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga.
4 3

3

yang sangat penting bagi transparansi fiskal dan peningkatan akuntabilitas publik. Anggaran nonbujeter, yang sangat menonjol dalam masa Orde Baru, kini semakin ditertibkan dan diintegrasikan dengan APBN/APBD. Kini tidak boleh lagi menghimpun penerimaan nonbujeter dari mark-up pengadaan barang dan jasa. Instansi negara tidak boleh lagi mendirikan badan usaha, yayasan dan koperasi yang marak pada masa Orde Baru dan pada hakikatnya merongrong instansi induknya. Sementara itu, pemungutan Penerimaan Bukan Pajak semakin ditertibkan.

3. Temuan pemeriksaan atas LKPP dan opini pemeriksaan BPK Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) oleh BPK selama periode 2004-2006 menemukan bahwa pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN pada tingkat kementerian negara/lembaga belum seluruhnya direviu oleh aparat pengawasan internal, sebagaimana diharapkan oleh UU. Padahal dewasa ini pengawasan internal pemerintah di Indonesia merupakan yang terumit di dunia dan terdiri dari empat lapis, yakni: BPKP, Irjen/SPI, Bawasda Provinsi dan Bawasda Kabupaten/Kota6. Keempat pengawas internal pemerintah itu, terutama BPKP, memiliki jumlah sumber daya manusia, jaringan kantor, peralatan maupun anggaran yang jauh lebih besar daripada BPK-RI. Seharusnya BPKP itu dapat digunakan oleh pemerintah untuk membangun sistem akuntansi dan

pertanggungjawaban keuangan negara serta mengatasi kelangkaan tenaga akuntan pada instansi teknis dan Bawasda agar dapat mengimplementasikan Paket Ketiga UU tentang Keuangan Negara Tahun 2003-2004. Dari segi teknis, setidaknya ada delapan kelemahan sistem pengendalian internal keuangan negara yang ditemukan oleh pemeriksaan BPK atas LKPP pada tahun anggaran 2004, 2005, dan 2006. Kelemahan tersebut yang pertama adalah masih perlunya perbaikan mendasar tentang sistem akuntansi keuangan negara agar dapat diseragamkan sesuai dengan sistem yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan pada tahun 2003 dan 2005. Kedua, perlunya sinkronisasi sistem komputer instansi pemerintah agar menjadi terintegrasi dan kompatibel antara satu dengan lainnya. Sebagaimana telah disebut di muka, dewasa ini sistem komputer pemerintah belum dapat menyamai sistem komputer perbankan. Ketiga, perlunya mengimplementasikan sistem perbendaharaan tunggal agar uang negara tidak lagi tersebar di berbagai rekening, termasuk rekening individu pejabat negara yang sudah lama meninggal dunia. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 mengamanatkan
Di samping keempat aparat pengawas internal pemerintah di atas, pada masa Orde Baru, juga ada Irjenbang (Inspektur Jenderal Pembangunan) yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada presiden.
6

4

perlunya kesatuan rekening Kas Umum Negara dan Kas Umum Daerah. LKPP tahun 2004 melaporkan bahwa sebanyak 957 dari rekening-rekening pemerintah pada bank-bank senilai Rp20,55 triliun dicatat atas nama pribadi pejabat negara, termasuk yang sudah lama meninggal dunia. LKPP tahun 2005 dan 2006 melaporkan adanya peningkatan jumlah rekening seperti itu dengan jumlah uang yang lebih besar pula. Karena tersebarnya penyimpanan uang negara yang tidak terintegrasi pada rekening Bendahara Umum Negara (BUN), Menteri Keuangan tidak mengetahui posisi keuangan negara dan dana-dana yang tersebar itu tidak segera dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengatasi kesulitan likuiditasnya. Juga tidak jelas siapa yang menikmati balas jasa bunga rekening tersebut. Setidaknya alokasi sebagian dari Rekening Dana Investasi (RDI) merupakan praktik KKN. RDI menjadi alternatif bagi kredit bank dan diberikan kepada badan usaha yang sebenarnya mampu meminjam dari industri perbankan (bankable). Alokasi RDI, yang berbunga rendah dan risiko yang hampir tidak ada dibuat oleh pejabat Depkeu dengan cara yang kurang transparan dan penagihannya kembali pun hampir tidak pernah dilakukan secara serius. Besarnya RDI per 31 Desember 2005 adalah Rp60,5 triliun. Keempat, perlunya inventarisasi aset negara, baik ditingkat pusat maupun daerah. Kelima, perlunya penyediaan tenaga administrasi pembukuan pada setiap unit instansi pemerintahan, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Tenaga-tenaga BPKP dapat digunakan untuk pembangunan sistem dan mengatasi kekurangan tenaga administrasi pembukuan itu. Keenam, perlunya transparansi dan akuntabilitas pemungutan pajak dan penyimpanannya sebelum ditransfer ke kas negara. Ketujuh, perlunya perbaikan pembukuan BP Migas7 (Badan Pengelola Migas) serta sinkronisasi penerimaan dan pengeluaran di sektor perminyakan. Sementara itu, perincian ongkos produksi penambangan migas oleh kontraktor swasta harus dirasionalisasi dalam perhitungan cost recover agar dapat mengoptimalkan penerimaan negara. Kedelapan, perlunya penertiban dasar pemungutan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), penyimpanan dan penggunaannya. Kesembilan, terbatasnya informasi tentang penerimaan negara. Bagian berikut akan membahas larangan Undang-Undang Pajak untuk melakukan pemeriksaan penerimaan negara dari pajak. Kesembilan, temuan pemeriksaan di atas telah menyebabkan BPK memberikan opini disclaimer pada LKPP selama tiga tahun berturut-turut. Yakni pada tahun 2004, 2005, dan 2006. Pemberian pendapat BPK atas pemeriksaan LKPP ketiga tahun anggaran itu adalah didasarkan pada ketentuan Pasal 16, Ayat (1), UU No. 15 Tahun 2004 BPK. Opini
BP Migas didirikan untuk sebagai instasi pemerintah untuk mengatur konsesi penambangan migas di Indonesia guna mengoptimalkan penerimaan negara.
7

5

pemeriksaan BPK diberikan berdasarkan tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan negara berdasarkan kesesuaiannya dengan Standar Akuntansi

Pemerintahan (SAP), kecukupan pengungkapan, efektifitas sistem pengendalian internal dan kepatuhan kepada perundang-undangan yang berlaku. Pemeriksaan terhadap LKPP selama tiga tahun terakhir ini belum ditujukan untuk menilai kinerja pemerintahan yang meliputi aspek ekonomi, efisiensi dan efektifitas. Karena disusun berbasis kas, LKPP tidak memperhitungkan kewajiban kontijensi pemerintah. LKPP juga tidak mengungkapkan strategi pemerintah untuk menunda pembayaran kepada kreditur maupun kontraktornya sebagai cara untuk mengurangi defisit anggaran berbasis kas itu. Perbaikan kesembilan, kelemahan mendasar administrasi pengendalian keuangan di atas merupakan upaya preventip bagi penanggulangan KKN. Hanya orang yang tidak mengerti tata negara dan tidak memahami ilmu akuntansi serta keuangan negara yang mengatakan bahwa temuan pemeriksaan BPK itu bernuansa politik. Dengan opini LKPP seperti ini, sulit kiranya bagi pemerintah untuk meningkatkan peringkat SUN (Surat Utang Negara) yang dijualnya di pasar dunia sehingga mencapai investment grade agar dapat menurunkan kupon atau tingkat suku bunganya. Sungguh menggembirakan bahwa mulai tahun 2007 pemerintah sudah mulai menertibkan penyimpanan uang negara dalam berbagai rekening instansi pemerintah dan individu pejabat negara tersebut. Namun demikian, konsolidasi keuangan negara masih jauh dari harapan karena belum kompatibelnya sistem komputer pemerintah dan belum adanya konsolidasi berbagai rekening instansi pemerintah yang tersebar luas tersebut.

4. Tidak transparan dan akuntabelnya Ditjen Pajak Sebagaimana disebut di atas, salah satu alasan mengapa BPK memberikan opini disclaimer pada LKPP adalah karena tidak adanya transparansi dan akuntabilitas penerimaan pajak yang merupakan porsi terbesar dari penerimaan negara. UU No. 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 6 Tahun 1983 dan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyebutkan bahwa pemeriksaan pajak oleh BPK hanya boleh dilakukan dengan ijin tertulis dari Menteri Keuangan. Dalam realita, hampir tidak pernah Menteri Keuangan memberikan ijin untuk melakukan pemeriksaan pajak. Dengan demikian, Ditjen Pajak merupakan satusatunya instansi negara yang berada di luar jangkauan pemeriksaan BPK. Dengan demikian BPK merupakan satu-satunya lembaga pemeriksa keuangan di dunia yang tidak boleh memeriksa Ditjen Pajak negaranya sendiri.
6

Walaupun sudah menghabiskan biaya yang sangat besar untuk pembangunannya, data base Ditjen Pajak sangat buruk. Sementara itu statistik perpajakan pun hampir tidak ada. Tidak ada informasi mengenai jumlah wajib pajak yang telah memiliki NPWP dan berapa jumlah yang benar-benar membayar pajak. Pada tahun 2006, Ditjen Pajak menyebut adanya kenaikan jumlah pemiliki NPWP sebesar 5 kali lipat dalam masa satu bulan, tapi yang diberikan nomornya langsung oleh presiden di Istana Negara adalah anggota TNI, PNS maupun karyawan perusahaan swasta skala besar. Dalam sistem withholding yang digunakan dewasa ini, pajak mereka itu dipotong langsung oleh kantor di mana mereka bekerja untuk disetorkan pada Ditjen Pajak. Akibatnya, kenaikan jumlah pemilik NPWP tersebut belum dapat meningkatkan tax ratio dari tingkat 13,5% dari PDB dewasa ini Tidak ada informasi distribusi wajib pajak menurut lapis tarif pajak, sektor ekonomi, skala usaha maupun daerah. Tidak ada informasi mengenai kepatuhan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pembayaran pajaknya dan apa upaya Ditjen Pajak untuk menerapkan berlakunya undang-undang pajak untuk meningkatkan tax ratio tersebut. Pengenaan pajak atas dasar kesadaran sukarela dari wajib pajak untuk menghitung sendiri kewajibannya (self assessment) merupakan lisensi untuk penggelapan pajak jika tidak disertai dengan penegakan hukum dan audit oleh auditor independen. Lebih dari 70% konsultan pajak sekarang ini merupakan pensiunan karyawan Ditjen Pajak sendiri yang tidak pernah diawasi dan direviu pekerjaannya. Sebagaimana yang berlaku secara universal, BPK tidak akan melakukan pemeriksaan atas wajib pajak. Fokus pemeriksaan BPK adalah pada ketertiban petugas pajak untuk melaksanakan tugasnya melaksanakan Undang-Undang Perpajakan. Pemeriksaan oleh BPK pun akan dilakukan dengan mengambil sampel yang dipilih secara acak. Setidaknya ada lima aspek perpajakan yang akan diperiksa oleh BPK. Pertama, pelaporan mengenai penerimaan pajak menurut daerah, sektor ekonomi, skala usaha. Kedua, menilai kewajaran penetapan perhitungan kewajaran penetapan perhitungan pajak PPh, PPN, dan Wajib Pajak oleh petugas pajak. Ketiga, menguji dan menilai penyelesaian keberatan dan peninjauan kembali penetapan pajak yang dilakukan oleh petugas pajak. Keempat, administrasi tunggakan dan penagihan pajak termasuk kewajaran penghapusan tunggakan pajak. Kelima, dasar pemberian restitusi pajak yang dilakukan oleh petugas pajak. Pada gilirannya, hasil pemeriksaan BPK itu wajib untuk dilaporkannya kepada DPR sebagai pemegang hak bujet.

5. Masalah insitusional daerah Kesembilan temuan BPK yang merupakan kelemahan LKPP yang disebut di atas juga
7

berlaku bagi kedua lapis pemerintahan daerah. Selama periode 2000-2007, jumlah provinsi di Indonesia telah bertambah dari 27 menjadi 33 sedangkan jumlah kabupaten/kota meningkat dari 292 menjadi 4838. Kondisi daerah menjadi semakin parah karena dua hal. Pertama karena tidak adanya desain yang jelas tentang otonomi daerah sehingga peraturan sering berubah selama periode 1999-2007. Alasan kedua adalah karena sebagian dari pemekaran daerah itu bukan didasarkan atas pertimbangan kelayakan ekonomi yang rasional, tapi lebih karena ambisi elit politik daerah untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan. Tabel 1 dan Gambar 1 menggambarkan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2006. Perlu diingat bahwa pada umumnya LKPD itu belum melampirkan laporan keuangan BUMD. Pada tahun itu BPK sudah dapat memeriksa LKPD seluruh provinsi dan 306 kabupaten/kota. BPK memberikan 4 opini “wajar tanpa pengecualian” (WTP), 269 “wajar dengan pengecualian” (WDP), 47 “tidak memberikan pendapat” (TMP) dan 19 LKPD “tidak wajar” (TW) pada LKPD. Dari total temuan sebesar 4.352, sebanyak 831 temuan (dengan nilai Rp5,6 triliun) berindikasi adanya kerugian negara sehingga perlu dilaporkan untuk disidik oleh penegak hukum. Sebanyak 523 temuan (senilai Rp2,3 triliun) merupakan kekurangan penerimaan, kesalahan administratif sebesar 660 temuan (senilai Rp17 triliun), kekurangpatuhan kepada peraturan sebanyak 2.014 temuan (senilai Rp25,9 triluin) dan ketidakhematan sebanyak 884 temuan (senilai Rp16,1 triliun). Di negara-negara lain, otonomi daerah diberikan kepada pemerintah provinsi. Sebaliknya di Indonesia diberikan langsung kepada kabupaten/kota. Padahal, kabupaten/kota belum memiliki perangkat kelembagaan maupun personil untuk mewujudkan pelimpahan wewenang dan dana bagi peningkatan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya sesuai dengan tujuan otonomi itu. Lemahnya institusi Pemda tercermin dalam tiga hal. Pertama, lemahnya kemampuan untuk merumuskan kebijakan untuk dapat memanfaatkan potensi daerah bagi sebesar-besarnya kemajuan daerah serta bagi peningkatan kemakmuran maupun kesejahteraan rakyat di daerahnya. Kedua, lemahnya kemampuan aparat daerah untuk mengimplementasikan kebijakan yang diperlukan bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat itu. Ketiga, kurang tersedianya personil dalam bidang keuangan, teknik, kesehatan, pendidikan maupun dalam bidang lainnya seperti pertanian dan perikanan. Ahli keuangan diperlukan untuk dapat mengelola keuangan daerah, meningkatkan penerimaan, menghemat dan mengefektifkan pengeluaran anggaran serta mengelola hutang. Diperlukan
Pada tahun 2000, Provinsi Timor Timur memisahkan diri dari Republik Indonesia untuk menjadi negara yang berdiri sendiri.
8

8

ahli teknik untuk memelihara dan membangun prasana ekonomi. Diperlukan dokter dan perawat untuk mengelola Puskesmas dan rumah sakit. Guru yang bermutu diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebaliknya dari pihak Pemerintah Pusat, ada keengganan untuk melimpahkan urusan dan kewenangan kepada Pemda. Walaupun kewenangan sudah dilimpahkan kepada Pemda (seperti pendidikan, kesehatan dan pemeliharaan serta pembangunan infrastruktur), dana dekonsentrasi masih dikuasai oleh departemen/kementerian pusat dan belum dilimpahkan kepada Pemda dalam bentuk Dana Alokasi Khusus. Padahal kontrol penggunaan anggaran Dana Dekonsentrasi dan Dana Alokasi Khusus itu sudah ditetapkan melalui penetapan SPM (Standar Pelayanan Minimum). Kekuasaan untuk memungut pajak di Indonesia adalah terutama berada pada Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, penerimaan negara dari sumber terpenting (pajak pendapatan, pajak pertambahan nilai, royalti dari eksploitasi sumber daya alam serta pajak atas bumi dan bangunan) dipungut oleh Pemerintah Pusat. Sebagian dari penerimaan pajak tersebut (seperti PBB dan royalti dari eksploitasi SDA) dikembalikan kepada daerah asal pemungutannya. Akibatnya, sumber pendapatan Pemda sangat tergantung kepada transfer dari Pemerintah Pusat dan peranan Pendapatan Asli Daerah sangat terbatas. Untuk mengatasi berbagai masalah yang masih dihadapi oleh Pemda diperlukan kerjasama yang erat antara Pemerintah Pusat, Pemda serta DPR/DPRD. Pemerintah Pusat (khususnya Departemen Dalam Negeri dan Depkeu) perlu menetapkan enam langkah kebijakan. Pertama, menyusun pedoman pelaksanaan sistem akuntansi yang sesuai dengan Paket UU Keuangan Negara Tahun 2003-2004 dan Standar Akuntansi Pemerintahan Tahun 2005. Kedua, menyusun petunjuk pembuatan APBD bagi Pemda untuk merasionalisasi pembelanjaan dan menghindarkan pemborosan dan pembangunan proyek-proyek mercusuar yang tidak ada manfaatnya bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi rakyat. Ketiga, membantu Pemda untuk membangun dan meningkatkan kapasitasnya dalam pembuatan rencana pembangunan dan melaksanakannya. Keempat, memanfaatkan satelit komunikasi Palapa untuk menciptakan sistem teknologi informasi yang terpadu dan kompatibel antara satu dengan lainnya. Keempat, memindahkan tenaga akuntan terdidik dari BPKP ke Pemda untuk dapat mengatasi kelangkaan tenaga pembukuan. Keenam, memperlancar realisasi anggaran, baik Dana Perimbangan (Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus) maupun Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Dalam kaitan ini, departemen/kementerian negara seyogyanya segera menyerahkan penggunaan Dana Alokasi Khusus kepada Pemda.
9

Pemerintah Daerah sendiri perlu mengambil setidaknya empat tindakan bagi peningkatkan kemampuan institusionalnya. Pertama, meningkatkan kualitas pejabat daerah agar mampu mengidentifikasikan potensi daerah dan menyusun perencanaan serta menetapkan kebijakan pembangunan maupun dalam melaksanakan kebijakan serta rencana pembangunan tersebut. Universitas daerah dapat dimanfaatkan untuk keperluan itu. Kedua, peningkatan SDM bukan saja mendirikan bangunan fisik gedung sekolah dan rumah sakit. Peningkatan SDM juga termasuk penyuluhan bagi petani, pengrajin, nelayan, dan UKM agar mampu memanfaatkan globalisasi perekonomian. Pemda harus dapat menyediakan pelayanan umum sesuai dengan SPM yang telah ditetapkan. Ketiga, meningkatkan kualitas governance dan iklim usaha di daerah agar dapat merangsang penanaman modal swasta untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produksi serta ekspor, maupun alih teknologi. Keempat, meningkatkan infrastruktur perekonomian daerah, khususnya di pedesaan untuk memperlancar pemasaran produksi rakyat.

6. Peranan DPR dan DPRD untuk menindaklajuti temuan BPK Peranan DPR dan DPRD perlu ditingkatkan untuk dapat mewujudkan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara maupun untuk membangun kemampuan institusional Pemda. Peranan DPR itu, disatu pihak, dapat dilakukan dengan melakukan sinkronisasi undang-undang agar jangan bertentangan antara satu dengan lainnya. Contoh pertentangan antara undang-undang itu adalah UU Perpajakan yang bertentangan dengan UUD 1945 dan Paket tiga UU Keuangan Negara Tahun 2003-2004. Di lain pihak, peranan DPR dan DPRD dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas fiskal juga dapat diwujudkan melalui tindak lanjut temuan BPK untuk menyempurnakan sistem pengendalian internal keuangan negara. Untuk dapat menindaklanjuti perbaikan kelemahan mendasar administrasi keuangan negara dan daerah tersebut, BPK telah menyarankan kepada DPR dan DPRD untuk dapat membentuk suatu Panitia Akuntabilitas Publik (PAP). Di parlemen negara asing PAP itu disebut sebagai Public Account Committee (PAC). Di negara lain itu, PAP diketuai oleh anggota DPR dan DPRD dari partai oposisi untuk menjaga check and balance. PAP merupakan perwujudan dari kekuasaan DPR dan DPRD sebagai pemegang hak bujet. DPR dan DPRD di Indonesia sudah memiliki Panitia Anggaran untuk membahas rencana anggaran negara tingkat pusat dan daerah. DPR dan DPRD juga sudah memiliki komisi-komisi yang mengawasi penggunaan anggaran dan kinerja sektoral departemen teknis. Namun, DPR dan DPRD kita belum memiliki PAP yang memantau pelaksanaan RAPBN dan RAPBD secara
10

keseluruhan. Misalnya, tidak pernah dilakukan pengecekan oleh DPR dan DPRD bagaimana suatu instansi negara membelanjai dirinya, berapa dari sumber APBN/APBD dan berapa dari sumber lainnya. DPR, DPRD dan pemerintah seyogyanya dapat melakukan restrukturalisasi berbagai organisasi badan layanan umum setelah era reformasi. Otonomi daerah yang menyerahkan pengurusan sekolah dasar dan menengah, rumah sakit, dan sebagian dari infrastruktur kepada daerah menuntut cara pengorganisasian dan pembelanjaan yang berbeda daripada pada masa pemerintahan yang sentralistis di masa lalu. Sementara itu, dasar pemungutan PNBP dari segi tarifnya, cara penyimpanan serta penggunaannya perlu diatur dan diawasi oleh DPR dan DPRD agar tidak menjadi liar seperti Pungutan Departemen Kelautan dan Perikanan serta pungutan Mahkamah Agung yang terjadi dewasa ini. Pada hakikatnya, PNBP merupakan user charge atau pungutan biaya penggunaan jasa publik yang jelas dapat diidentikasikan konsumennya.

11

Tabel 1. DAFTAR REKAPITULASI OPINI LKPD 2006 ENTITAS YANG SEHARUSNYA DIPERIKSA Provinsi Kab/Kota Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Bangka Belitung Sumatera Selatan Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 22 25 19 11 6 7 14 10 9 10 0 6 25 35 5 38 9 9 16 12 13 14 14 23 26 20 12 7 8 15 11 10 11 1 7 26 36 6 39 10 10 17 13 14 15 15 OPINI LHP SELESAI WTP WDP TMP TW TOTAL 21 4 6 6 7 7 11 5 4 11 1 7 26 36 6 37 10 6 5 13 12 12 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 1 0 0 19 1 4 6 4 7 11 5 3 11 1 7 26 35 4 31 10 6 4 7 8 0 6 2 3 2 0 3 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 3 1 11 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 0 0 1 2 1 1 21 4 6 6 7 7 11 5 4 11 1 7 26 36 6 37 10 6 5 13 12 12 8

NO

PROVINSI

23

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat Jumlah

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 33

23 10 11 9 5 5 8 8 20 9 437

24 11 12 10 6 6 9 9 21 10 470

20 6 11 10 3 6 3 9 7 3 339

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4

19 5 10 4 2 6 1 4 0 2 269

1 1 1 5 1 0 2 5 1 1 47

0 0 0 1 0 0 0 0 6 0 19

20 6 11 10 3 6 3 9 7 3 339

WTP WDP TMP TW TOTAL 4 269 47 19 339 1% 79% 14% 19% 100%

24

LKPD Gambar 1

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->