P. 1
Makalah Sosiologi - Pengaruh Sikap Terhadap Prilaku (Disonansi Kognitif)

Makalah Sosiologi - Pengaruh Sikap Terhadap Prilaku (Disonansi Kognitif)

|Views: 2,603|Likes:
Published by Arnadi

More info:

Published by: Arnadi on Feb 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENGARUH SIKAP TERHADAP PRILAKU

PEBDAHULUAN Sikap atau attitude adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi (sosial) hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap kelompok sebagai salah satu bagian pembahasannya. Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap, prose terbentuknya sikap, maupun proses perubahannya. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap untuk mengetahui efek dan perannya baik sebagai variabel bebas maupun sikap sebagai variabel tergantung. Terdapat beberapa teori tentang sikap (Mann, 1969; Secord and Backman, 1964) antara lain adalah teori keseimbangan (balance theory) oleh Heyder; terori kesesuaian (congruity priciple) dari Tannenbaum; terori disonansi kognitif (cognitive dissonance) yang dikemukakan oleh Festinger maupun teori afektif-kognitif dari Rossenberg, serta beberapa teori lain. Di samping teori-teori tersebut di atas, kemudian dikembangkanlah theory of reasoned action yang relatif baru yang dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein (1980). Teori ini lebih menekankan pada proses kognitif serta menganggap bahwa manusia adalah makhluk dengan daya nalar dalam memutuskan perilaku apa yang akan diambilnya, yang secara sistematis memanfaatkan informasi yang tersedia di sekitarnya. 1.1. Kepuasan Kerja 1.1.1. Definisi dari kepuasan kerja Suatu organisasi atau Perusahaan terdiri dari input, proses dan outcomes. Input adalah komponen-komponen yang ada di luar lingkungan organisasi antara lain sumber daya manusia dan peraturan pemerintah. Proses meliputi komponen-komponen antara lain motivasi, persepsi, komunikasi, kepemimpinan dan konflik. Sedangkan komponen outcomes antara lain meliputi kinerja individu dan kelompok, serta efektivitas organisasi.

1

Memahami lebih dalam mengenai salah satu komponen dari organisasi ini, maka kita perlu memahami bahwa setiap individu sebagai sumber daya, manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan memiliki nilai-nilai kerja (work value), yaitu suatu keyakinan pribadi seorang pekerja tentang hasil apa yang diperkirakan dari pekerjaaannya dan bagaimana seharusnya dia berprilaku dalam bekerja. Nilai-nilai kerja dibadi 2 yaitu nilai kerja intrinsik (intrinsic work values) dan nilai kerja ekstrinsik (extrinsic work value). George & Jones memberikan perbandingan antara kedua nilai kerja sebagai berikut dalam Nilai kerja intrinsik ✔ Kerja yang menarik ✔ Kerja yang menantang ✔ Belajar sesuatu yang baru ✔ Membuat penting ✔ Berpotensi tinggi ✔ Tanggung otonomi ✔ Menjadi kreatif tabel: jawab dan konstribusi Nilai kerja ekstrinsik ✔ Gaji tinggi ✔ Keamanan kerja ✔ Keuntungan kerja ✔ Status pada komunitas yang lebih luas ✔ Kontak sosial ✔ Waktu dengan keluarga ✔ Waktu untuk hobi

Menurut para ahli bahwa kepuasan kerja adalah :

2

1.

Newstrom :

mengemukakan

bahwa

“job

satisfaction

is

the

favorableness or unfavorableness with employes view their work”. Kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami (pegawai) dalam bekerja. 2. Wexley dan Yukl : mengartikan kepuasan kerja sebagai “the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan. 3. Handoko : Keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini dampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. 4. Stephen Robins : Kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan Pegawai; merupakan sikap umum yang dimiliki oleh Pegawai yang erat kaitannya dengan imbalanimbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. Apabila dilihat dari pendapat Robin tersebut terkandung dua dimensi, pertama, kepuasan yang dirasakan individu yang titik beratnya individu anggota masyarakat, dimensi lain adalah kepuasan yang merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai makan nasi goreng 1.1.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu :

3

1.

Pekerjaan itu sendiri (Work It self), Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.

2.

Atasan (Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.

3.

Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.

4.

Promosi (Promotion), Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja.

5.

Gaji atau Upah (Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak. Dari aspek-aspek diatas terdapat pula aspek-aspek lain yang dapat

mempengaruhi kepuasan kerja seseorang yang biasanya setiang orang akan merasakannya berbeda-beda. Diantaranya adalah : 1. Kerja yang secara mental menantang, Kebanyakan Karyawan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan. Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi terlalu banyak menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan. 2. Ganjaran yang pantas, Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil,dan segaris dengan pengharapan mereka. Pemberian upah yang baik didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu,

4

dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka. 3. Kondisi kerja yang mendukung, Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur (suhu), cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain seharusnya tidak esktrem (terlalu banyak atau sedikit). 4. Rekan kerja yang mendukung, Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu bila mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenagkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang meningkat. Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan. 5. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan, Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka.

5

1.1. Produktivitas 1.1.1. Devinisi Kata Produktivitas merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris yaitu Productivity. Productivity = Product + Activity yang berarti kegiatan untuk menghasilkan sesuatu (Barang atau Jasa). Definisi dari produktivitas menurut para ahli, yaitu : 1. Menurut J. Ravianto, bahwa: ”Produktivitas adalah suatu konsep yang menunjang adanya keterkaitan hasil kerja dengan sesuatu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari tenaga kerja”. 2. Sedangkan menurut Muchdarsyah Sinungan, bahwa: ”Produktivitas adalah hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang atau jasa) dengan masuknya yang sebenarnya, misalnya produktivitas ukuran efisien produktif suatu hasil perbandingan antara hasil keluaran dan hasil masukan”. 3. Mengenai produktivitas Payaman J. Simanjuntak, menjelaskan ”Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang terdiri dari beberapa faktor seperti tanah, gedung, mesin, peralatan, dan sumber daya manusia yang merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas tergantung pada kemampuan tenaga manusia.” Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil keluaran dengan hasil masukan. keefektifan ini dilihat dari beberapa faktor masukan yang dipakai dibandingkan dengan hasil yang dicapai. Sedangkan produktivitas kerja yaitu jumlah produksi yang dapat dihasilkan dalam Waktu tertentu. Konsep Siklus produktivitas adalah suatu proses yang kontinyu (berkelanjutan), yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari 4 tahap

6

utama untuk dipergunakan sebagai peningkatan produktivitas tersu menerus, antara lain : a. b. c. d. Pengukuran produktivitas Evaluasi produktivitas Perencanaan produktivitas Peningkatan produktivitas Manfaat-manfaat yang dapat diambil dari pengkuran produktivitas antara lain : a. Perusahaan dapat menilai efisiensi sumber dayanya, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya melalui efisiensi penggunaan smber daya tersebut. b. c. Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif melalui pengukuran produktifitas, baik perencanaan jangka panjang/pendek. Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu dipandang dari sudut produktivitas. d. Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali berdasarkan informasi pengkuran tingkat produktivitas sekarang. e. Strategi peningkatan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan tingkat perbedaan (gap) antara tingkat produktivitas yang direncanakan dengan tingkat produktivitas yang diukur/aktual. f. g. Memberikan informasi berupa tingkat produktivitas diantara organisasi perusahaan/industri sejenis. Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat menjadi informasi yang berguna dalam merencanakan tingkat keuntungan perusahaan. h. i. Akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif berupa upaya-upaya peningkatan produktivitas secara terus menerus. Aktivitas perundingan bisnis (tawar menawar) secara kolektif dapat diselesaikan secara rasional, apabila telah tersedia ukuran-ukuran produktivitas.

7

1.1.1. Model Pengukuran Produktivitas Ada 2 model pengukuran produktivitas, yaitu : a. Pendekatan rasio output/input Model Pengukuran Produktivitas ini akan menghasilkan 3 jenis ukuran produktivitas, yaitu : 1. Produktivitas parsial/faktor tunggal Adalah rasio dari output terhadap salah satu jenis input. Contoh : a. Produktivitas tenaga kerja merupakan ukuran produktivitas bagi input tenaga kerja, yang diukur berdasarkan rasio output terhadap input tenaga kerja. b. c. 1. Produktivitas modal diukur berdasarkan rasio output terhadap input modal. Produktivitas material diukur berdasarkan rasio outpu terhadap inout material, dll. Produktivitas faktor total Adalah rasio dari output bersih terhadap banyaknya input tenaga kerja dan modal yang digunakan. Output bersih (net output) adalah output total dikurangi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Jadi jenis input yang digunakan dalam pengukuran produktivitas factor total hanya faktor tenaga kerja dan modal. 2. Produktivitas total Adalah rasio dari output total terhadap input total (semua input yang digunakan dalam proses produksi). Pengukuran produktifitas parsial, produktivitas faktor total dapat menggunakan satuan fisik dari output dan input (ukuran berat, panjang, isi, dll) atau satuan moneter dari output dan input (dolar, rupiah,dll). a. Pendekatan angka indeks Angka indeks adalah suatu besaran yang menunjukkan variasi perubahan dalam waktu atau ruang mengenai suatu hal tertentu. Penggunaan angka indeks secara umun dalam bidang ekonomi

8

adalah indeks harga dan indeks produksi biasanya dipergunakan untuk mengukur perubahan harga atau perubahan produksi. Dengan demikian angka indeksyang diperoleh dapat dibandinngkan dewngan periode dasar, dari angka indeks akan terlihat apakan perubahannya naik, tetap, atau turun. Model dalam pendekatan angka indeks : 1. 2. 3. Model Mundel Model APC (The American Productivity Center) Model Kendrick dan D. Creamer, dll

1.1. Cognitive Dissonance (Disonansi kognitif) Disonansi kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh memegang dua ide yang saling bertentangan secara bersamaan. "ide" atau "kognisi" yang dimaksud mungkin termasuk sikap dan keyakinan, kesadaran perilaku seseorang, dan fakta. Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa orangorang yang memiliki motivasi dorongan untuk mengurangi disonansi dengan mengubah sikap mereka, keyakinan, dan perilaku, atau dengan mencari pembenaran atau rasionalisasi sikap mereka, keyakinan, dan perilaku. Teori disonansi Kognitif adalah salah satu yang paling berpengaruh dan ekstensif mempelajari teori-teori dalam psikologi sosial. Disonansi biasanya terjadi ketika seseorang merasakan adanya inkonsistensi logis di antara kognisi nya. Hal ini terjadi ketika satu ide menyiratkan kebalikan dari yang lain. Sebagai contoh, sebuah keyakinan dalam hak-hak binatang dapat ditafsirkan sebagai tidak konsisten dengan makan daging atau memakai bulu. Melihat kontradiksi akan mengakibatkan disonansi, yang dapat dialami sebagai kegelisahan, rasa bersalah, malu, marah, malu, stres, dan emosi negatif lainnya. Ketika ide-ide orang yang konsisten dengan satu sama lain, mereka berada dalam keadaan harmoni, atau harmoni. Jika kognisi tidak berhubungan, mereka dikategorikan sebagai tidak relevan satu sama lain dan tidak mengarah ke disonansi. Sebuah penyebab kuat disonansi adalah sebuah ide dalam konflik dengan elemen mendasar dari konsep-diri, seperti "Saya orang yang baik" atau "Saya membuat keputusan yang tepat." Kecemasan yang datang dengan kemungkinan telah membuat keputusan yang buruk dapat mengakibatkan rasionalisasi,

9

kecenderungan untuk menciptakan alasan tambahan atau pembenaran untuk mendukung salah satu pilihan. Seseorang yang hanya menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli mobil baru mungkin memutuskan bahwa kendaraan baru jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mendobrak daripada-nya mobil tua. Kepercayaan ini mungkin atau mungkin tidak benar, tapi kemungkinan akan mengurangi disonansi dan membuat orang merasa lebih baik. Ketidaksesuaian dapat juga menyebabkan bias konfirmasi, penolakan disconfirming bukti, dan mekanisme pertahanan ego. Contoh : Versi klasik dari gagasan ini diungkapkan dalam fabel Aesop, The Fox dan Anggur, di mana rubah melihat beberapa buah anggur yang menggantung tinggi dan keinginan untuk memakannya. Namun, tidak dapat memikirkan cara untuk mencapai mereka, ia surmises bahwa anggur mungkin tidak layak makan pula (bahwa mereka belum matang atau bahwa mereka terlalu asam). Dalam cerita, disonansi dari keinginan untuk sesuatu yang tak terjangkau (keinginan versus unfulfillment) dikurangi dengan kesanggupan merasa - dengan tidak rasional memutuskan apa yang harus diinginkan cacat (asam buah anggur). Kasus yang paling terkenal dalam studi awal disonansi kognitif digambarkan oleh Leon Festinger dan lain-lain dalam buku Ketika Nubuatan Gagal. Para penulis disusupi kelompok yang dekat mengharapkan akhir dunia pada tanggal tertentu. Ketika itu prediksi gagal, gerakan itu tidak hancur, tetapi tumbuh sebaliknya, sebagai anggota bersaing untuk membuktikan ortodoksi dengan merekrut mereka bertobat (lihat diskusi lebih lanjut di bawah). Merokok sering dipostulatkan sebagai contoh disonansi kognitif karena diterima secara luas bahwa rokok menyebabkan kanker paru-paru, namun hampir semua orang ingin hidup yang panjang dan hidup sehat. Dari segi teori, keinginan untuk hidup lama adalah disonan dengan kegiatan melakukan sesuatu yang kemungkinan besar akan memperpendek hidup seseorang. Ketegangan yang dihasilkan oleh ide-ide yang saling bertentangan ini dapat dikurangi dengan berhenti merokok, menyangkal bukti kanker paru-paru, atau membenarkan seseorang merokok. Sebagai contoh, perokok bisa merasionalisasikan perilaku mereka dengan menyimpulkan bahwa hanya beberapa perokok menjadi sakit, bahwa ia hanya terjadi pada perokok sangat berat, atau bahwa jika tidak merokok

10

membunuh mereka, sesuatu yang lain akan. Sementara kecanduan kimia dapat beroperasi selain disonansi kognitif para perokok yang ada, perokok baru dapat memperlihatkan kasus sederhana yang kedua. Disonansi kasus ini juga bisa ditafsirkan dalam bentuk ancaman terhadap konsep-diri. berpikir, "Aku meningkatkan resiko saya kanker paru-paru" adalah disonan dengan kepercayaan diri yang terkait, "Aku yang pintar, akal orang yang membuat keputusan yang baik. " Karena sering lebih mudah untuk membuat alasan daripada untuk mengubah perilaku, teori disonansi membawa kita pada kesimpulan bahwa manusia adalah rasionalisasi dan tidak selalu makhluk rasional.

BAB II PENUTUP

2.1. Kesimpulan

11

Kepuasan Kerja adalah keadaan psikis yg menyenangkan yg dirasakan oleh pekerja dl suatu lingkungan pekerjaan krn terpenuhinya semua kebutuhan secara memadai. Lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Teman sekerja (Workers), Atasan (Supervision), Pekerjaan itu sendiri (Work It self), Promosi (Promotion), Gaji atau Upah (Pay), Dari aspek-aspek diatas terdapat pula aspek-aspek lain yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang yang biasanya setiang orang akan merasakannya berbeda-beda. Diantaranya adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Kerja yang secara mental menantang, Ganjaran yang pantas, Kondisi kerja yang mendukung, Rekan kerja yang mendukung, Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan, Kata Produktivitas merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris yaitu Productivity. Productivity = Product + Activity yang berarti kegiatan untuk menghasilkan sesuatu (Barang atau Jasa). Konsep Siklus produktivitas adalah suatu proses yang kontinyu (berkelanjutan), yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari 4 tahap utama untuk dipergunakan sebagai peningkatan produktivitas tersu menerus, antara lain : a. b. c. d. Pengukuran produktivitas Evaluasi produktivitas Perencanaan produktivitas Peningkatan produktivitas

Ada 2 model pengukuran produktivitas, yaitu : a. Pendekatan rasio output/input 1. Produktivitas parsial /faktor tunggal Adalah rasio dari output terhadap salah satu jenis input.

12

2. 3. a.

Produktivitas faktor total Adalah rasio dari output bersih terhadap banyaknya input tenaga kerja dan modal yang digunakan Produktivitas total Adalah rasio dari output total terhadap input total (semua input yang digunakan dalam proses produksi).

Pendekatan angka indeks Model dalam pendekatan angka indeks : 1. 2. 3. Model Mundel Model APC (The American Productivity Center) Model Kendrick dan D. Creamer, dll

Disonansi kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh memegang dua ide yang saling bertentangan secara bersamaan. "ide" atau "kognisi" yang dimaksud mungkin termasuk sikap dan keyakinan, kesadaran perilaku seseorang, dan fakta. Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa orangorang yang memiliki motivasi dorongan untuk mengurangi disonansi dengan mengubah sikap mereka, keyakinan, dan perilaku, atau dengan mencari pembenaran atau rasionalisasi sikap mereka, keyakinan, dan perilaku. Teori disonansi Kognitif adalah salah satu yang paling berpengaruh dan ekstensif mempelajari teori-teori dalam psikologi sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Yuri. Angelina. 2009 : Analisis Teori Kepuasan Kerja. Makalah. Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada: 2007 : Jakarta www.wikipedia.org/kepuasan kerja dan produktifitas. www.scribd.com//kepuasan kerja.

13

one.indokripsi.com/cognitive dissonance.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->