P. 1
SKRIPSI KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS

SKRIPSI KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS

5.0

|Views: 4,274|Likes:
Published by irvan_adilla482

More info:

Published by: irvan_adilla482 on Feb 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses yang melibatkan berbagai faktor dan merupakan sistem yang melibatkan berbagai masukan berupa masukan mentah peserta didik dengan berbagai karakteristiknya, dan masukan instrumental berupa kurikulum, guru, sarana dan prasarana, dan proses pembelajaran yang merupakan muara dari seluruh kegiatan pendidikan. Proses pembelajaran tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan atau dalam lingkup yang lebih khusus adalah tujuan pengajaran yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam hal ini dari keseluruhan proses tersebut peran guru sangat menentukan. Pengajaran merupakan upaya seorang guru yang secara konkret dilakukan untuk menyampaikan bahan kurikulum agar dapat diserap oleh peserta didik. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri dari berbagai komponen berupa tujuan, bahan ajar, metode mengajar, alat dan media pembelajaran, dan penilaian. Dalam hal ini tujuan menempati posisi kunci. Bahan atau materi pelajaran merupakan isi yang apabila dipelajari peserta didik diharapkan dapat diserap oleh peserta didik sehingga tujuan dikatakan tercapai. Metode dan media pembelajaran berperan sebagai alat bantu untuk mempermudah guru dalam mengajar sehingga peserta didik akan lebih mudah menangkap materi yang diajarkan. Sedangkan penilaian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah mengalami proses pembelajaran yang ditunjukkan

1

dengan perubahan perilakunya. Secara intelektual, indikator perubahan tingkah laku tersebut adalah berupa prestasi belajar akademik. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolahsekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun sikap (afektif). Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri dari murid, guru, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku, modul, lembar kerja siswa, dan lain sebagainya), berbagai sumber belajar dan fasilitas belajar (perpustakaan, laboratorium, radio, televisis, dan lain-lain). Proses

pembelajaran akan berlangsung secara baik juga sangat ditentukan oleh metode serta media yang digunakan. Perhatian utama guru harus ditujukan pada bagaimana menciptakan kondisi yang merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Tugas ini akan dapat terlaksana apabila guru tidak lagi memandang bahwa tugas pokoknya semata-mata sebagai penyaji materi (bahan) ajar. Pengetahuan dan keterampilan dalam merancang (mendesain) pelajaran dalam bentuk Rencana Persiapan Pembelajaran merupakan tuntutan para guru sebagai persiapan dalam proses pembelajaran. Ketika akan terjadi proses pembelajaran dan peserta didik dituntut untuk menguasai kompetensi dari bahan ajar yang dipelajari, maka akan lebih bermakna jika menerapkan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Sehingga perlu persiapan yang matang dalam pelaksanaan proses

2

pembelajaran di kelas, yang biasanya disebut Persiapan Pembelajaran atau Desain Pembelajaran. Agar rancangan (desain) pembelajaran yang dibuat memiliki daya untuk memecahkan masalah belajar secara optimal, perlu terus menerus diadakan evaluasi. Evaluasi sistem instruksional dapat menunjukkan efektivitas suatu program pembelajaran. Hal ini sangat penting artinya bagi guru untuk menindak lanjuti program pembelajaran yang telah disusun. Dengan demikian, efektivitas hasil yang dicapai secara optimal sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini belajar kontekstual akan menjadi model yang paling tepat ketika peserta didik akan menerapkan dan mengalami apa yang telah diajarkan yang berkaitan dengan masalah nyata, dengan peranan dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, warganegara, peserta didik dan pekerja. Dari uraian di atas tampaklah bahwa media merupakan komponen yang memegang peranan sangat penting dalam proses pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan, karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak dengan hakikat matematika. Matematika bagi siswa SD berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk

mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu hitung. B. Identifikasi Masalah Merujuk pada paparan latar belakang di atas, identifikasi masalah yang dapat diajukan antara lain minat atau motivasi belajar matematika

3

yang perlu ditingkatkan sehingga daya seraf atau prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika masih belum optimal. Tahap perkembangan berfikir siswa SD terutama kelas rendah yang belum formal dan relatif masih konkret ditambah dengan intelegensinya serta faktor lainnya perlu menjadi perhatian. Kenyataan lain ditemukan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik masih kurang memuaskan, yang kemungkinan disebabkan oleh minat atau motivasi belajar yang sangat kurang. Faktor penyebabnya sebagai berikut. 1. 2. Faktor tata ruangan yang kurang menarik. Faktor pendukung pembelajaran yang tergolong

kurang bahkan tidak ada. 3. Media pembelajaran sebagai salah satu alat bantu

dalam mencapai tujuan pembelajaran belum digunakan secara baik dalam proses pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah Pada identifikasi masalah di atas telah dikemukakan beberapa

permasalahan dan faktor yang melatar belakangi minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah dan daya seraf atau kompetensi siswa belum sesuai dengan harapan. Agar penelitian ini berjalan lancar, objektif, dan terarah perlu adanya pembatasan masalah

4

yang diteliti, yaitu: “Penggunaan alat peraga untuk meningkatakan minat dan daya seraf bidang studi matematika”. Mata pelajaran matematika memiliki waktu belajar 6 jam pelajaran dalam satu minggu, satu jam pelajaran 30 menit. Objek penelitian ini adalah penggunaan penggunaan alat peraga matematika untuk materi bangun datar sederhana. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN 1 Jenggik tahun pelajaran 2009/2010. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan alat peraga dapat meningkatkan minat belajar dan daya seraf bidang studi matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik tahun pelajaran 2009/2010?” E. Tujuan Penelitian Dengan memperhatikan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini, sebagai berikut. a. Untuk memperoleh gambaran objektif tentang minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010. b. Untuk prestasi hasil belajar atau daya seraf siswa dalam pembelajaran matematika melalui penggunaan alat peraga kelas III SDN 1 Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010.

5

F. Manfaat Penelitian 1. anfaat Teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu, khususnya pembelajaran matematika pada siswa SD kelas rendah. 2. Manfaat Praktis a. Mendapatkan informasi penting tentang penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika di kelas III SD. b. Menambah wawasan dalam pengajaran bagi guru kelas dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik dan pengajar. c. Sebagai bahan masukan bagi guru di sekolah tempat pelaksanaan penelitian, sehingga dapat meningkatkan motovasi dan kompetensi siswa di sekolah tempat penelitian. M

6

BAB II KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS A. Deskripsi/Analitis

1. Pengertian Media Kata media berasal dari bahasa Latin mediusI yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (wasaa’il) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah m erupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian di antaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaiakan pesan atau informasi. Di samping sebagai

penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator . 7

Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada pealatan paling canggih, dapat disebut media. Ringkasannya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran (Azhar, 1996:4). 2. Jenis, Fungsi, dan Peranan Media a) Jenis Media Media pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 1. Media Visual Sesuai dengan namanya, media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru-guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (nonprojected visuals) dan media yang diproyeksikan (project visual). Media yang dapat diproyeksikan ini bisa berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion picture). Media yang tidak dapat diproyeksikan adalah gambar yang disajikan secara fotografik misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan/isi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Media yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat

8

proyeksi (proyektor) sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar (screen). 2. Media Audio Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Program kaset suara dan program radio adalah bentuk media audio. Penggunaan media audio dalam pembelajaran pada umumnya adalah untuk menyampaikan materi pelajaran tentang mendengarkan. 3. Media Audio-Visual Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandnag-dengar. Sudah barang tentu apabila menggunakannya akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar kepada para siswa, selain dari itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (teacher) tetapi penyajian materi bisa menjadi

diganti oleh media, maka peran guru bisa beralih

fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Contoh dari media audio-visual di antaranya program video/televisi, video/televisi instruksional, dan program slide suara (soundslide).

9

b) Fungsi Media Apabila dicermati, banyak guru yang menggunakan media dalam proses pembelajarannya menganggap media hanya sebatas sebagai alat bantu semata yang boleh diabaikan manakala media tersebut tidak ada. Tetapi apabila diperhatikan betapa media akan memberi kontribusi/sumbangan yang sangat besar bagi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Beberapa fungsi media adalah sebagai berikut : 1. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memilki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang lebih efektif. 2. Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung

pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen lainnya dalam rangaka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. 3. Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan dan isi pembelajaran. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam

pembelajaran harus selalu melihat kepada tujuan dan bahan ajar. 4. Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa. 10

5.

Media pembelajaran berfungsi mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.

6.

Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memilki nilai tinggi.

7.

Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.

c) Peranan Media Dalam proses pembelajaran, tidak ada lasan bagi guru untuk tidak menggunakan media bila mengin ginkan proses belajar mengajar berhasil. Selain itu perlu juga memahami peranan dari media pembelajarn, seperti berikut : 1. Membuat kongkret konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah, arus listrik, dan sebagainya. 2. membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar seperti binatang-binatang buas, pinguin dari kutub utara dan sebagainya. 3. Menampilkan objek yang terlalu besar, misalnya kapal laut, pesawat udara, pasar, terminal, dan sebagainya. 11

4.

Menampilkan objek yang terlalu kecil yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti bakteri, molekul, atom, amuba, virus, dan sebagainya.

5.

Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat, misalnya lintasan peluru, ledakan dengan slow motion, atau terlalu lambat misalnya pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga.

6.

Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya.

7.

memungkinkan persepsi belajar siswa.

keseragaman

pengamatan

atau

8. 9.

Membangkitkan motivasi belajar. Memberi kesan pehatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.

10.

Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.

11.

Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak mengatasi waktu dan ruang.

12.

Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

3. Teori Belajar Matematika dalam Pembelajaran Metematika di SD Para ahli teori belajar matematika masih belum ada kesepahaman tentang bagaimana anak belajar dan cara-cara pembelajarannya. Karso (2003:1.11) menjelaskan beberapa teori belajar matematika yang dianggap

12

sesuai oleh para guru, pengelola pendidikan, termasuk para penyusun dan pengembang kurikulum adalah sebagai berikut.

a. Teori Belajar Burner Jerome S Burner menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda di dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa atau benda tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau dikenalnya. Menurut Burner (Karso, 2003:1.12), hal-hal tersebut dapat dinyatakan sebagai proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu : 1) (Enactive) Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Pada tahap ini anak masih dalam gerak refleks dan coba-coba, belum harmonis. Ia memanipulasikan, menyusun, menjejrkan, mengutakatik, dan bentuk-bentuk gerak lainnya. 2) Bayangan (Iconic) Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Tahap Enaktif atau tahap Kegiatan

13

Pada tahap ini, anak telah mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental. Dengan kata lain anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialami atau dikenalnya pada tahap enaktif, walaupun peristiwa itu telah berlalu atau benda real itu tidak lagi berada di hadapannya.

3)

Tahap Simbolik (Symbolik) Pada tahap terakhir ini anak dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbul, maka bayangan mental yang ditandai oleh simbul itu akan dikenalnya kembali. Pada tahap ini anak sudah mampu memahami simbul-simbul dan menjelaskan dengan

bahasanya. b. Teori Belajar Dienes Dienes memandang matematika sebagai pelajaran struktur, klsaifikasi struktur. Relasi-relasi dalam stuktur, dan mengklasifikasikan relasi-relasi antara struktur. Konsep matematika akan dipahami dengan baik oleh siswa apabila disajikan dalam bentuk konkret dan beragam. Menurut pengamatan dan pengalaman umumnya anak-anak

menyenangi matematika hanya pada permulaan mereka berkenalan dengan matematika sederhana. Meskipun banyak pula yang tidak dipahaminya, atau banyak konsep yang dipakai secara keliru.

14

Selanjutnya Dienes menggunakan istilah konsep artian struktur matematika yang mempunyai arti lebih luas daripada pengertian konsep menurut Gagne. Menurut Gagne, konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda ke dalam contoh dan bukan contoh, seperti suatu segitiga dengan bukan segitiga, antara bilangan asli dengan yang bukan bilangan asli, dan seterusnya. Sedangkan menurut Dienes, kosep adalah struktur matematika yang mencakup konsep murni, konsep notasi, dan konsep terapan. Dengan prinsipnyanya yang disebut penyajian beragam, bahwa kesiapan siswa mempelajari konsep-konsep matematika itu dipercepat. Menurut Dienes, agar anak bisa memahami konsep-konsep matematika dengan mengerti maka haruslah diajarkan secara berurutan mulai dari konsep murni, konsep notasi, dan berakhir dengan konsep terapan. Konsep murni matematika adalah ide-ide matematika mengenai pengelompokan bialngan dan relasi antara bilangan-bilangan, misalnya enam, 8, XII adalah konsep bilangan genap yang disajikan dengan konsep yang berbeda. Konsep notasi matematika adalah sifat-sifat bilangan sebagai akibat langsung dari cra bilangan itu disajikan, misalnya 249 artinya 2 ratusan, 4 puluhan, di tambah 9 satuan akibat dari notasi posisi yang menentukan besarnya bilangan. Konsep terapan matematika adalah penggunaan konsep murni dan konsep notasi matemtika untuk memecahkan masalah matematika (Karso, 2003:1.18). c. Teori Belajar Brownell dan Van Engen

15

Menurut William Brownell (Karso, 2003:1.22), bahwa belajar itu pada ahkikatnya merupakan suatu peoses yang bermakna. Ia mengemukakan bahwa matematika itu harus merupakan belajar bermakna dan pengertian. Khusus dalam pembelajaran matematiak di SD, Brownell mengemukakan apa yang disebut “Meaning Theori (Teori Makna)” sebagai alternatif dari “Drill Theori (Teori Latihan Hafal/Ulangan). Teori Drill dalam pengajaran matematika berdasarkan kepada teori belajar asosiasi yang lebih dikenal dengan sebutan teori belajar stimulus respon yang dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949). Teori belajar ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Menurut hukum belajar adalah lebih berhasil bila respon siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau puas bisa timbul sebagai akibat siswa mendapat pujian atau ganjaran, sehingga ia merasa puas dari sukses yang diraihnya dan sebagai akibatnya akan mengantarkan dirinya ke jenjang kesuksesan berikutnya. d. Teori Belajar Gagne Menurut Gagne yang dikutip Karso (2003:1.28), bahwa dalam belajar matematika ada dua objek, yaitu objek langsung belajar matematika dan objek tidak langsung dari belajar matematika. Objek langsung meliputi fakta, operasi, konsep, dan prinsip. Objek tidak

16

langsung mencakup kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah, disiplin diri, bersikap positif, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Gagne menentukan dan membedakan delapan tipe belajar yang terurut kesukarannya dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks. Urutan ke-8 tipe belajar itu adalah belajar isyarat (signal Learning), belajar stimulus respon (Stimulus Learning), rangkaian gerak (motor chaining), belajar konsep (Concept Learning), belajar aturan (Rule Learning), dan pemecahan masalah (Problem Solving). Tahap 1. Belajar Isyarat, atau signal ialah belajar sesuatu yang tidak disengaja sebagai akibat adanya rangsangan. Misalnya sikap positif dari siswa dalam belajar matematika karena sikap atau ucapan guru yang menyenangkan. Tahap 2. Belajar Stimulus Respon, pada tahap ini sudah disengaja dan responnya adalah jasmaniah. Misalnya siswa menyebutkan atau menuliskan beberapa contoh bilangan bulat yang negatif setelah guru memberikan penjelasan tentang bilangan bulat negatif. Tahap 3. Rangkaian Gerak, belajar dalam bentuk perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Misalnya seorang anak yang menggambar ruas garis melalui dua titik yang diketahui diawali dengan mengambil mistar, meletakkan mistar melalui dua titik, mengambil pensil (kapur tulis), dan akhirnya menarik ruas garis.

17

Tahap 4. Rangkaian Verbal, belajar yang berupa perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Misalnya menyatakan atau mengemukakan pendapat tentang simbul, definisi, aksioma, dalil, dan semacamnya. Tahap 5. Belajar Membedakan, belajar memisah-misahkan rangkaian bervariasi. Ada dua macam belajar membeda-bedakan, yaitu belajar membedakan tunggal berupa pengertian siswa terhadap suatu lambang, misalnya menarik akar kuadrat:√. Sedangkan membedakan jamak adalah membedakan beberapa lambang tertentu misalnya lambang-lambang ruas garis, sinar, dan garis. Tahap 6. Belajar Konsep, tipe belajar ini disebut pula tipe belajar pengelompokan, yaitu belajar mengenal atau melihat sifat bersama suatu benda atau peristiwa. Misalnya untuk memahami konsep lingkaranan, siswa mengamati cincin, gelang, permukaan drum, permukaan gelas, dan semacamnya. Tahap 7. Belajar Aturan, pada tipe ini siswa diharap mampu memberi respon terhadap stimulus dengan segala macam perbuatan, misalnya siswa yang mampu menyebutkansifat penyebaran perkalian terhadap penjumlahan, tetapi belum mampu menggunakannya atau sebaliknya. Tahap 8. Pemecahan Masalah, adalah tipe belajar paling tinggi. Sesuatu merupakan masalah bagi siswa bila sesuatu itu baru dikenalnya, tetapi siswa telah memiliki persyaratan, hanya belum tahu

18

proses alogaritmanya (hitungnya/penyelesaiannya). Sesuatu masalah bagi siswa tetapi bukan bagi guru.

4. Motivasi Belajar Masnur (2003:42) menjelaskan, motivasi adalah daya atau perbuatan yang mendorong seseorang; tindakan atau perbuatan merupakan gejala sebagai akibat dari adanya motivasi tersebut. Seorang siswa dapat belajar dengan giat karena motivasi dari luar dirinya, misalnya adanya dorongan dari orang tua atau gurunya, janji-jani yang diberikan apabila ia berhasil dan sebagainya. Tetapi, akan lebih baik lagi apabila motivasi belajar itu datang dari dalam dirinya sendiri, siswa akan terdorong secara terus menerus, tidak tergantung pada situasi luar. Motivasi atau minat belajar merupakan hasrat untuk belajar dari seseorang individu. Seorang siswa sdapat belajar secara lebih efesien apabila ia berusaha untuk belajar secara maksimal, artinya siswa memotivasi dirinya sendiri. Motivasi belajar dapat datang dari dalam diri siswa yang rajin membaca buku dan adanya rasa ingin tahu terhadap suatu masalah. Motivasi dalam diri seorang individu untuk belajar dapat dibangkitkan, ditingkatkan, dan dipelihara oleh kondisi-kondisi luar, seperti penyajian pelajaran oleh guru dengan media bervariasi, metode yang tepat, komunikasi yang dinamis dan sebagainya.

19

5. Macam-macam Motivasi Bila ditinjau dari sudut operasionalnya, motivasi ada beberapa macam bentuk, sebagai berikut.

a.

Motif Bila seorang siswa bewlajar dsiasumsikan di dalam diri siswa adsa dorongan untuk memulai, melaksanakan, dsan mengatur aktivitasnya. Dorongan tersebut bergantung pada masing-masing individu siswa. Dalam hubungan ini dapat dilihat dari dua macam motif, yaitu (1) motif biogenis; dan (2) motif sosiogenis. 1) Motif biogenis Motif biogenis adalah motif yang berasal dari masalah bilogis, yaitu motif yang sifatnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis (“physical needs”). Kebutuhan biologis ini merupakan kebutuhan yang paling fundamental. Ini bewrarti bahwa sebelum kebutuhankebutuhan lain yang perlu dipenuhi oleh setiap manusia, kebutuhan biologis yang pertama harus dipenuhi. Yang termasuk di dalam kebutuhan biologis ini adalah makan, minum, pakaian, dan sebagainya. Khususnya untuk memotivasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, sekolah pwerlu menyediakan kebutuhan fisik yang cukup memadai, misalnya WC yang bersih, kantin yang sehat, ruang kelas yang sesuai dengan ventilasi yang memadai, tempat duduk

20

yang nyaman dan aman, halaman sekolah yang rindang, dan sebagainya. 2) Motif Sosiogenis Motif sosiogenis adalah motif yang berasal dari segi sosial. Motif ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan hidup seseorang. Guru perlu mengetahui adanya motif ini dalam diri setiap siswa, untuk dimanfaatkan dalam pencapaian belajar. Motif-motif yang termasuk ke dalam sosiogenis ini

dikelompokkan menjadi : a) Motif pencapaian, yaitu motif yang berbentuk keinginan untuk keinginan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang. b) Motif untuk bergabung, yaitu motif yang berbentuk keinginan untuk bergabung menjadi anggota suatu kelompok. c) Motif keterlibatan pribadi, yaitu motif yang berbentuk keinginan untuk mendapat perhatian, pengaruh, prestasi, dan sukses. d) 1) 2) 3) 4) Motif-motif lain, diantaranya berbentuk : Motif kebutuhan rasa aman; Motif kebutuhan akan cinta dan kasih sayang; Motif kebutuhan harga diri; dan Motif pen ingkatan diri

21

Motif-motif di atas merupakan motif yang kuat, yang dapat berpengaruh terhadap tingkah laku siswa. Guru harus memanfaatkan motif-motif tersebut untuk membangkitkan atau memelihara motivasi siswa untuk belajar. Guru dapat memanfaatkan motif pencapaian dengan memberikan soal-soal bahasa Indonesia terutama yang memerlukan pemecahan masalah. Motif untuk bergabung dimanfaatkan dengan cara diskusi kelompok untuk menemukan suatu konsep tertentu. Motif terhadap kebutuhan harga diri, guru bisa memanfaatkannya dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berkompetisi secara sehat. Guru bersifat wajar, menerima, menghargai pendapat siswa, dan menghargai eksistensi siswa secara manusiawi yang merupakan kebutuhan siswa terhadap rasa aman, tenteram, kebutuhan cinta dan kasih sayang, serta kebutuhan harga diri. b. Minat Minat mempengaruhi proses hasil belajar yang juga berpengaruh terhadap motivasi. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya kalau seseorang

mempelajari sesuatu sesuai dengan minatnya maka dapat diharapkan hasilnya akan lebih baik. Minat seseorang terhadap sesuatu hal dapat dilihat dari keinginannya untuk mengetahui atau belajar lebih banyak. Oleh karena itu, guru perlu mengetahui minat siswa terhadap suatu

22

mata pelajaran dan mengetahui bagaimana menarik perhatian siswa terhadap pelajaran. 6. Fungsi Motivasi Guru sebagai petugas pendidikan, haruslah menguasai materi pelajaran yang disajikannya, metode penyampaian yang cocok dengan materi, dan mampu mengelola lingkungan belajar. Salah satu hal yang sangat penting adalah membangkitkan dan mengembangkan motivasi siswa untuk belajar. Fungsi motivasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar, antara lain : 1) Fungsi penggerak dalam motivasi Penggerak motivasi belajar untuk siswa dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain : a) Metode Penemuan (Bruner)

Meteode ini dimaksudkan agar siswa memberi stimulan terhadap dirinya sendiri, sehingga siswa itu sendiri melakukan fungsi penggerak motivasinya. b) Motivasi Motivasi Kompetensi (Robert White) kompetensi menggerakkan tindakan-tindakan, seperti

menyelidiki, memperhatikan, berbicara, penalaran, dan memanipulasi. c) Belajar Terprogram (Bert Kersh)

Kelompok belajar secara terbimbing berisikan serangkaian pertanyaan dan jawaban, yang disusun secara bertahap sampai pada penyelesaian masalah. Cara belajar seperti ini menurut siswa untuk membuat

23

inferensi dan mengingat aturan-aturan tanpa bantuan atau penjelasan dari guru. d) Prosedur Brainstrorming (Torrance)

Prosedur ini dimaksudkan agar siswa mampu memproduksi ide-ide yang berbobot tinggi, melalui diskusi dan kritik. Istilah lain dari prosedur ini adalah prosedur urun pendapat. Beberapa keuntungan dari prosedur ini adalah bisa menghasilkan ide-ide lebih banyak dibandingkan dengan cara lain, seperti pengarahan janji, ataupun hadiah. 2) Fungsi harapan Guru memberi harapan-harapan tersebut untuk menggugah motivasi belajar. Cara-cara yang harapan ini antara lain : a) Merumuskan tujuan instruksional sekhusus mungkin. dapat dilaksanakan untuk memenuhi fungsi

Tujuan-tujuannya spesifik, operasional, dan dapat diamati akan lebih mendorong siswa untuk mencapainya. Dalam hubungan ini telah terkandung harapan-harapan yang diinginkan siswa. b) Tujuan instruksional hendaknya terbagi atas tiga

kategori, yaitu tujuan instruksional yang langsung “intermediate” , dan jangka panjang. Jauh dekatnya tujuan instruksional yang ditetapkan memberikan pengaruh terhadap kepercayaan siswa untuk

mencapainya, yang bertalian erat dengan pengerahan energi.

24

c)

Perubahan-perubahan harapan. Harapan adalah produk

dari pengalaman masa lampau. Keberhasilan atau kegagalan pada masa lampau merupakan unsur utama untuk meramalkan keberhasilan dan kegagalan yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. d) Tingkat aspirasi. Tingkat aspirasi dimaksudkan

pembangkit motivasi dengan berpedoman bahwa keberhasilan masa lampau mengondisi siswa untuk menambah harapan-harapan mereka. Kegagalan masa lampau menyebabkan siswa memperendah

harapannya, untuk menjaga jangan sampai kegagalan yang sama terulang. 7. Teknik-teknik Motivasi Keberhasilan belajar pada dasarnya terletak di tangan siswa sendiri. Dengan demikian, faktor motivasi belajar memegang peranan penting dsi dalam menciptakan efektivitas kegiatan belajar-mengajar. Guru perlu memotivasi siswa agar mereka aktif belajar, terlibat, dan berperan serta dalam setiap pelaksanaan proses belajar-mengajar di kelas. Karena itu, guru perlu memikirkan sebaik-baiknya usaha-usaha apa yang patut dilakukan untuk membangkitkan motivasi para siswa yang dikelolanya agar mereka melaksanakan kegiatan belajar secara aktif. Beberapa teknik/pendekatan untuk memotivasi siswa agar memiliki gairah dalam belajar, antara lain : 1) lanjut. 25 Berikan kepada siswa rasa puas untuk keberhasilan lebih

2) 3) 4)

Ciptakanlah suasana kelas yang menyenangkan. Aturlah tempat duduk siswa secara bervariasi. Pakailah metode penyampaian yang bervariasi sesuai dengan materi yang disajikan.

5) 6)

Kembangkan pengertian para siswa secara wajar. Berikan komentar terhadap pekerjaan siswa.

B.

Penelitian yang Relevan Penelitian ini ada relevansinya dengan penelitian sebelumnya.

Penggunaan alat peraga sebagai alat yang dapat membangkitkan minat dan daya seraf pelajaran matematika diangkat dalam penelitian sebelumnya oleh beberapa orang, sebeagai berikut. 1. Bulqairi, tahun 2009 menggunakan judul “Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran kubus dan balok untuk meneingkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII A MTs NW Ketangga (SKIP Hamzanwadi Selong). 2. Hesti Purwati, tahun 204 dengan judul “Pembelajaran dengan

menggunakan alat peraga manipulatif untuk meningkatkan pemahamn konsep pengukuran bangun datar di SDN 1 Pendem (Universitas MUhammadiyah Malang). 3. Ery Kurniawan, tahun 2008 dengan judul “Upaya meningkatkan prestasi belajar dengan menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran

26

matematika pokok bahsan bangun ruang sisi lengkung siswa kelas IX D MTsN Ngemplak-Semarang (UIN Sunan Kalijaga). C. Kerangka Befikir Sebagai langkah awal penelitian tentang “Penggunaan alat peraga untuk meningkatkan minat dan daya seraf bidang studi matematika pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik tahun pelajaran 2009/2010, perlu ada kerangka berpikir. Adapun langkah-langkah berpikir yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Materi Matematika

Tarap Seraf

Media/Alat Bantu

Proses

Materi matematika adalah materi yang sesuai dengan kurikulum dan sedang dipelajari oleh siswa kelas III SDN, dalam hal ini menyangkut letak bilangan dalam garis bilangan. Media atau alat bantu pelajaran adalah sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu alat peraga yang dimaksudkan

27

dalam penelitian ini adalah benda yang dipergunakan sebagai alat bantu, berupa garis bilangan yang terbuat dari kartun, triplek, atau plastik. Proses merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan desain pembelajaran atau RPP. Pada kegiatan ini, siswa dengan guru atau siswa dengan siswa melakukan interkasi dalam bentuk diskusi. Kegiatan diarahkan oleh guru, sehingga siswa tidak hanya sebagai subjek, tetapi langsung menemukan sendiri konsep dari materi yang dipelajari. Tarap seraf merupakan hasil dari kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Tarap seraf diketahui dari nilai rata-rata siswa setelah dilakukan evaluasi pembelajaran. D. Hipotesis Tindakan Dalam menjawab tantangan tentang pengaruh alat peraga terhadap peningkatan minat dan tarap seraf bidang studi matematika pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik akan dilakukan pembelajaran melalui siklus-siklus. Penggunaan alat peraga matematika pada siswa kelas IIIakan menjadi lebih menarik dan membangkitkan gairah belajar siswa, terlebih jika dilakukan dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Kegiatan pembelajaran yang menggunakan alat peraga sudah tentu akan menjadi suasana baru bagi siswa kelas III yang selama ini belum pernah dilakukan. Hal ini tentunya akan menambah gairah dan minat belajar yang pada akhirnya bermuara pada meningkatnya tarap seraf mata pelajaran matematika. Karena itu, hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Penggunaan alat peraga dapat meningkatkan minat dan daya 28

serap pada bidang studi matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik dalam hingga 70%.

29

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang biasa juga disebut Classroom Action Research. Pendekatan yang digunakan dalam pemecahan masalah adalah pendekatan kualitatif. Disebut penelitian eksperimen karena peneliti sengaja memberikan perlakuan untuk

menimbulkan gejala yang diinginkan. B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian akan diadakan pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik, mulai dari bulan Juli 2009 sampai dengan Oktober 2009. C. Subjek Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN 1 Jenggik tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 20yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Peneliti mengambil kelas III dengan alasan karena peneliti menganggap bahwa kelas III memiliki minat dan daya serap mata pelajaran matematika masih kurang, dan untuk mengaplikasikan penggunaan alat peraga dapat meningkatkan minat dan daya serap siswa.

30

D. Faktor-faktor yang Akan Diteliti Faktor-faktor yang akan diteliti kaitannya dengan upaya meningkatkan minat dan daya seraf bidang studi matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik adalah sebagai berikut. 1. Proses pembelajaran matematika oleh guru kelas. 2. Penggunaan alat perga (media belajar). 3. Daya seraf bidang studi matematika. E. Teknik Pengumpulan Data Agar tujuan sebuah penelitian tercapai sesuai harapan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Diperlukan teknik

pengumpulan data yang tepat. Dengan ketepatan teknik pengumpulan data ini maka data yang dihasilkan dapat dijamin objektifitasnya. Sehubungan dengan itu dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode yang berkaitan langsung dengan sumber data. Metode-medode yang dimaksud adalah metode dokumentasi, metode observasi dan metode eksperimen. 1. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrif, buku, surat kabar, majalah, prestasi, notulen rapat, agenda, dan sebagainya. (Suharsimi, 2006:202). Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data dengan cara mencatat hal-hal penting yang terjadi di masa yang telah lewat dan telah

31

tertulis di dalam buku catatan, buku induk, raport dan sebagainya. Data penting yang bisa diperoleh melalui metode dokementasi ini adalah mengenai data siswa, seperti nama, kelas, dan nomor induk. Di samping data tentang siswa, peneliti juga bisa memperoleh data tentang kurikulum yang digunakan, termasuk di sini adalah silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta data-data pendukung lainnya yang dibutuhkan oleh peneliti. 2. Metode Observasi Penggunaan metode observasi juga sangat penting dalam

pengumpulan data. Metode observasi yang digunakan dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah observasi sistimatik. Artinya peneliti

mempersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan sistimatis segala objek yang masuk ke dalam kategori yang hendak diobservasi. Dengan demikian proses pemantauan terhadap proses pembelajaran oleh guru kelas tuga dalam menggunakan alat peraga (media) saat menyampaikan pelajaran matematika. 3. Metode Wawancara Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang

dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Dalam metode wawancara ini peneliti sudah mempersiapkan panduan wawancara (intervied guide) yaitu butir-butir itemnya terdiri dari hal-hal yang dipandang perlu, guna mengungkap kebiasaan

32

belajar sehari-hari dari siswa, hal-hal yang disukai dan tidak disukai dalam belajar matematika, dan hal-hal yang menyebabkan daya serap masih rendah. F. Teknik Analisis Data Setelah data diperoleh, selanjutnya diklasifikasikan dan disajikan kembali untuk diidentifikasi. Hasil identifikasi, diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang relevan secara deskriptif. Harus diakui bahwa data yang diperoleh dari suatu penelitian hanyalah merupakan bahan mentah belaka. Data itu tidak berarti apa-apa bila tidak diolah sedemikian rupa. Pengolahan data itu menggunakan metode tertentu yang disebut metode analisis data. Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang penggunaan alat peraga untuk meningkatkan minat dan daya seraf bidang studi matematika pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik tahun pelajaran 2009/2010, maka untuk pengolahan data, metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah riset yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hai ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu (Suharsimi Arikunto, 2006 : 245). Dalam proses pengolahan data terdapat bagian analisis data. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode analisis deskriptif kuantitatif. Metode analisis deskriftif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari 33

penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki (Nazir, 1999:63) Metode ini digunakan mengingat data perolehan lebih dominan dalam bentuk uraian. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam upaya menganalisis data penelitian ini tediri atas tiga tahap, yaitu : 1. Tahap Identifikasi Bila kita buka kembali Kamus Besar Bahasa Indonesa karangan Poerwadarminta, maka kita dapat temukan makna kata identifikasi sebagai berikut : 1) tanda kenal diri; bukti diri; 2) penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dsb; 3) Psicologi; proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang karena secara tidak sadar membayangkan dirinya seperti orang lain yang dikaguminya, lalu dia meniru tingkah laku orang yang dikagminya itu; mengidentifikasi; menentukan atau menetapkan identitas (orang, benda, dsab); korban-korban kecelakaan pesawat terbang (Poerwadarminta, 1997:632) Mengacu kepada kedua makna di atas, maka yang dimaksud dengan identifikasi dalam penelitian ini adalah memilih, menyaring, mencocokkan data. Data hasil dokumentasi, observasi, dan eksperimen digolongkan berdasarkan jenis data. 2. Tahap Klasifikasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah klasifikasi bermakna penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut standar yang ditetapkan (Poerwadarminta, 1997:507). Dari makna tersebut, maka

34

alur analisis data selanjutnya adalah tahap penyusunan data perolehan. Data yang berupa kumpulan kumpulan metode yang diterapkan tersebut kemudian diklasifikasikan. Juga dikelompokkan berdasarkan proses dan hasilnya. 3. Tahap Interpretasi Interpretasi bermakna tafsiran; memberi kesan pendapat atau pandangan teoritis terhadap sesuatu (Poerwadarminta, 1997:385). Dalam penelitian ini data yang telah dikelompokkan dan diurutkan berdasarkan kriteria yang ditetapkan selanjutnya dikaji berulang-ulang untuk

mendapatkan satu kepastian hasil. Artinya dari data perolehan tersebut akan ditemukan fakata tentang penggunaan alat peraga dalam

pembelajaran matematika akan meningkatkan minat dan daya seraf pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik.

35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian a. Guru Kelas 1. Data Proses Pembelajaran Berupa Aktivitas Guru dan Siswa di Dalam Kelas Dalam proses pembelajaran berupa aktivitas guru dan siswa di dalam kelas yaitu lebih banyak menggunakan metode ceramah. Metode ceramah adalah cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran. Pada kenyataannya metode yang digunakan dalam proses pembelajaran dikelas masih memiliki kekurangan sehingga kurang dari apa yang menjadi harapan yang sebenarnya. Karena dengan metode ceramah guru lebih banyak aktif dari pada siswa sedangkan untuk mencapai indikator pembelajaran siswa itu lebih aktif dari pada guru. 2. Data Hasil Belajar Siswa yang di Peroleh dari tes Sebelum Dilakukan Tindakan (pree test) Data hasil belajar sisiwa yang diperoleh dari tes sebelum dilakukan tindakan atau pree tes belum tuntas dan hasilnya tidak maksimal dan tidak sesuai harapan. Nilai siswa sangat kurang dan tidak bisa mencapai ktriteria ketuntasan belajar. Dengan demikian keterlakasanaan proses belajar mengajar belum mencapai ketuntasan 36 Proses Pembelajaran Matematika oleh

karena

pelaksanaan

tindakan

belum

sesuai

dengan

sknario

pembelajaran. Oleh karena itu perlu dilakukan refleksi dan penelitian lebih lanjut dari siklus pertama serta di teruskan ke siklus ke II. Data Tindakan Siklus I a. Kegiatan Guru Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan Alat Praga untuk Hasil Penelitian Pelaksanaan

meningkatkan minat dan daya serap siswa pada siklus I sebesar 80%. Pada siklus I persentase keterlaksanaan pembelajaran tercapai sebesar 80%, hal ini disebabkan ada beberapa skenario pembelajaran yang belum disampaikan oleh guru yaitu guru tidak memfokuskan pada pemaknaan dan pemahaman murid melalui penjelasan yang

hidup/demonstrasi, guru tidak mengakses murid dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan proses dan produk serta menggunakan praktek terkontrol. Dengan demikian keterlaksanaan proses belajar mengajar belum mencapai ketuntasan karena pelaksanaan tindakan belum sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dirancang oleh guru. Oleh karena itu perlu dilakukan refleksi dan penelitian lebih lanjut dari siklus I serta diteruskan ke siklus II. Untuk lebih jelasnya diuraikan pada tabel berikut ini:

37

Tabel 1. Refleksi Tindakan Siklus I Untuk kegiatan Guru Hasil Observasi - Guru tidak memfokuskan pada pemaknaan dan pemahaman murid melalui penjelasan yang hidup/demonstrasi - Guru tidak mengakses murid dengan menggunakan pertanyaanpertanyaan proses dan produk serta menggunakan praktek terkontrol - Guru tidak memeperkenalkan siswa terhadap alat praga yang dipakai dalam proses pembelajaran. Rencana Tindakan(Refleksi) Siklus I - Guru harus memfokuskan pada pemaknaan dan pemahaman murid melalui penjelasan yang hidup/demonstrasi dengan menggunakan Alat Praga. - Guru harus mengakses murid dengan menggunakan pertanyaanpertanyaan proses dan produk serta menggunakan praktek terkontrol - Guru juga harus memperkenalkan terlebih dahulu alat praga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. b. Minat Belajar Siswa Hal yang diamati pada tahap ini adalah minat belajar siswa. Pada siklus I minat belajar siswa dikategorikan cukup tinggi. Hal ini dapat dijabarkan pada data minat belajar siswa yaitu total skor pada siklus I adalah 15, dipersentasekan menjadi 75% dapat dikategorikan cukup antusias. Berdasarkan penjabaran di atas, data hasil minat belajar siswa yang diperoleh pada siklus I menunjukkan minat belajar siswa sudah cukup baik dengan kategori cukup tinggi, hal itu ditentukan dari skor

38

minat belajar yang diperoleh siswa yaitu 15 skor dengan persentase 75%. Dari hasil ini ketuntasan yang diharapkan belum tercapai sehingga penelitian dilanjutkan ke siklus II guna mencapai skor minat belajar yang maksimal. Penggunaan Alat Praga (media belajar) Menurut observasi dan pengamatan guru-guru yang menggunakan media dalam proses pembelajaran menganggap media hanya sebatas sebagai alat bantu semata yang boleh diabaikan manakala media tersebut tidak ada. Tetapi apabila diperhatikan betapa besar tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Langkah-langkah penggunaan alat praga (media) adalah sebagai berikut: 1. Membuat kongkret konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah, arus listrik, dan sebagainya. 2. membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar seperti binatang-binatang buas, pinguin dari kutub utara dan sebagainya. 3. Menampilkan objek yang terlalu besar, misalnya kapal laut, pesawat udara, pasar, terminal, dan sebagainya. 4. Menampilkan objek yang terlalu kecil yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti bakteri, molekul, atom, amuba, virus, dan sebagainya.

39

5. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat, misalnya lintasan peluru, ledakan dengan slow motion, atau terlalu lambat misalnya pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga. 6. Memungkinkan lingkungannya. 7. memungkinkan keseragaman pengamatan atau persepsi belajar siswa. 8. Membangkitkan motivasi belajar. 9. Memberi kesan pehatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar. 10. konsisten kebutuhan. 11. Menyajikan pesan atau informasi dan dapat Menyajikan informasi belajar secara diulang maupun disimpan menurut siswa berinteraksi langsung dengan

belajar secara serempak mengatasi waktu dan ruang. 12. belajar siswa. d. Daya Seraf Bidang Studi Matematika Siswa Hasil Evaluasi Belajar siswa pada siklus I yaitu pada pelajaran matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik terlihat pada tabel berikut ini: Tabel 3. Hasil Evaluasi Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN 1 Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010. Siklus Jumlah Siswa Tuntas Tidak Tuntas Mengontrol arah maupun kecepatan

40

I Jumlah Persentase

20

8 8 40%

12 12 60%

Berdasarkan data diatas hasil evaluasi belajar Matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik yang terlihat pada tabel berikut menujukkan bahwa pada siklus I dari jumlah siswa 20 orang yang mengikuti tes hanya terdapat 8 orang siswa yang tuntas yaitu mencapai nilai minimal 60 ke atas dan diperoleh nilai rata-rata kelas 6,9 dan mencapai ketuntasan klasikal sebesar 40%, maka dengan ini siswa dinyatakan belum tuntas. Dari pengamatan diketahui bahwa sebagian siswa masih ada yang tidak memperhatikan pelajaran atau penjelasan guru dengan baik pada saat proses pembelajaran berlangsung, hal itu disebabkan karena guru masih kurang bisa mengendalikan kelas dengan baik. Oleh karena itu direncanakan langkah perbaikan ke siklus II. Data Tindakan Siklus II a. Kegiatan Guru Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan alat praga untuk meningkatkan minat dan daya seraf siswa pada siklus II sebesar 100%. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran dimana keterlaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus II semua langkah pembelajaran terlaksana yaitu dengan persentase 100%. 41 Hasil Penelitian Pelaksanaan

Pada siklus II semua indikator keterlaksanaan pembelajaran sudah menunjukkan kesesuaian antara tindakan yang diinginkan dengan pelaksanaan penelitian, karena semua kegiatan proses belajar mengajar berjalan lancar dan siswa sudah terlihat antusias dalam belajar sehingga persentase keterlaksanaan pembelajaran sudah mecapai 100%. Dengan demikian maka proses pembelajaran sudah dinyatakan tuntas. b. Minat Belajar Siswa Hal yang diamati pada tahap ini adalah minat belajar siswa. Pada siklus II minat belajar siswa dikategorikan sangat tinggi. Hal ini dapat dijabarkan pada data minat belajar siswa ialah sebagai berikut total skor sebanyak 20, persentase 100% dan kategori sangat tinggi. Setelah dilakukan penelitian pada siklus II, skor minat belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 20 skor dengan persentase 100%, maka dengan ini minat belajar siswa dikategorikan sangat tinggi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Perolehan skor pada siklus I mencapai 15 skor dengan pesentase 75%, sedangkan pada siklus II mencapai 20 skor dengan persentase 100%, jadi jenjang peningkatan dari siklus 1 ke siklus II mencapai 5 skor dengan persentase 25%. c. Daya Seraf Bidang Studi Matematika Siswa

42

Hasil Evaluasi Belajar siswa pada siklus I yaitu pada pelajaran matematika siswa kelas III SDN 1 Jenggik terlihat pada tabel berikut ini: Tabel 3. Hasil Evaluasi Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN 1 Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010. Siklus I Jumlah Siswa 20 Jumlah Persentase Tuntas 17 17 85% Tidak Tuntas 3 3 15%

Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus II, diantara 20 orang siswa yang mengikuti tes hanya terdapat 17 orang siswa yang tuntas yaitu mencapai nilai 60 keatas dan diperoleh nilai rata-rata kelas 7,85 sedangkan ketentuan klasikal yang dicapai sebesar 85%, dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 3 orang dengan persentase 13,33%. Ini berarti persentase belajar siswa meningkat sebesar 45%. Menurut Sudjana (2003), suatu kelas dinyatakan tuntas belajarnya jika di kelas tersebut terdapat ≥ 85% siswa telah mencapai ketuntasan individu. Lebih diperjelas lagi menurut Djamarah (2002) ketuntasan individu setiap siswa dalam proses belajar mengajar dinyatakan tuntas secara individu terhadap materi pelajaran yang disajikan apabila siswa mampu memperoleh nilai ≥ 6,5. Karena presentase hasil penelitian ini telah menunjukkan ketercapaian ketuntasan individu sebesar 85% pada siklus II maka penelitian ini telah menunjukkan ketercapaian ketuntasan klasikal. 43

Skor tertinggi pada siklus I mencapai nilai rata-rata 6,9 sebanyak 8 orang siswa sedangkan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 7,75 sebanyak 17 orang siswa. Pembahasan 1. Hasil Observasi Pada penelitian yang dilakukan di lapangan diperoleh data sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus diawali dengan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tahap perencanaan pada siklus I dilakukan persiapan seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan lembar observasi, sampai menyiapkan tes evaluasi. Penelitian dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan alat praga. Dengan ini, dari hasil analisis data dari siklus per siklus,observasi dari kegiatan belajar mengajar serta hasil evaluasi belajar siswa menjadi meningkat. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, pelaksanaan tindakan belum maksimal karena belum menunjukkan kesesuaian antara tindakan yang diinginkan dangan pelaksanaan penelitian, masih adanya bagian dari skenario pembelajaran yang belum dilaksanakan oleh guru dan siswa yaitu guru tidak memfokuskan pada pemaknaan dan pemahaman murid melalui penjelasan yang hidup / demonstrasi, tidak mengakses murid dengan menggunakan pertanyaan proes dan

44

produk serta menggunakan praktek terkontrol, dan memperkenalkan siswa terlebih dahulu terhadap alat praga (media) yang dipakai dalam penyampaian materi sehingga pada siklus I ini persentase

keterlaksanaan pembelajaran hanya tercapai 80%, dan minat belajar siswa sudah cukup tinggi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari analisis darn observasi minat belajar siswa tergolong dalam kriteria cukup tinggi dengan skor 15 persentase 75%. Sedangkan pada siklus II kekurangan yang ada pada siklus I dilakukan tindakan perbaikan pada siklus II mencapai titik maksimal. Hal ini karena semua langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mencapai 100%. Demikian juga dengan minat belajar siswa berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa minat belajar siswa sudah tergolong dalam kriteria sangat tinggi dengan skor 20 dan persentasenya 100%. Peningkatan minat belajar siswa dan daya seraf dari siklus I ke siklus II disebabkan karena terjadinya interaksi yang baik antara guru dan siswa, sehingga siswa tidak merasa takut lagi untuk bertanya dan melakukan aktivitas pembelajaran lainnya dan guru menggunakan alat praga yang sesuai dengan materi pembelajaran. 2. Hasil Evaluasi Belajar Siswa Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi belajar siswa sebagaimana diuraikan pada tabel menunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 12 orang yang belum mencapai ketuntasan individu dari 20

45

orang siswa, sedangkan yang tuntas sebanyak 8 orang, persentase ketuntasan belajar yang diperoleh sebesar 40% dan nilai rata-rata 6,9. Ketuntasan hasil belajar klasikal masih jauh dari harapan yaitu minimal harus mencapai 85%. Oleh sebab itu diadakan perbaikan pada siklus II sehingga pada siklus II ini terlihat peningkatan prestasi belajar siswa yaitu hanya 3 orang siswa yang belum tuntas sehingga nilai ratarata yang diperoleh sebesar 7,75 dan persentase ketuntasan secara klasikal adalah 85%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa dan telah tercapainya ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh setelah

digunakannya alat praga (media) ternyata dapat meningkatkan minat dan daya seraf bidang studi Matimatika pada siswa kelas III SDN 1 Jenggik. Hal ini diketahui dari hasil tes masing-masing siswa yang mengalami peningkatan, sebab disini guru lebih aktif dan sangat

berperan sentral dalam mengusung isi pelajaran kepada muridmuridnya dengan cara mengajari seluruh kelas. Karena tujuan dan harapan dari penelitian yang dilakukan telah tercapai dan kegiatan pembelajaran telah sesuai dengan rencana pelaksanaan maka penelitian ini diakhiri. Jadi penggunaan alat praga dapat meningkatkan minat dan daya seraf bidang studi Matematika pada siswa kelas III Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010.

46

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

47

Penggunaan alat praga (media) dapat meningkatkan minat dan daya seraf Matematika bagi siswa kelas III SDN 1 Jenggik Tahun Pelajaran 2009/2010. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil observasi minat belajar dan hasil evaluasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Minat belajar siswa pada siklus I tergolong cukup tinggi dengan perentase 75% dan persentase ketuntasan hasil evaluasi sebesar 40%, sedangkan pada siklus II minat belajar siswa mengalami peningkatan yang tergolong menjadi sangat aktif dengan persentase 100% dan persentase ketuntasan hasil evaluasi belajar sebesar 85%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa pada setiap siklusnya, maka dengan ini pembelajaran dinyatakan tuntas karena sudah mencapai ketuntasan klasikal.

Saran Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: a. Bagi peneliti diharapakan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan menerapkan dalam proses belajar mengajar. b. Penggunaan alat praga (media) sebaiknya lebih ditingkatkan agar minat dan daya seraf siswa dapat terelisasikan dalam proses pembelajaran. c. Hendaknya guru menggunakan alat praga (media) agar siswa lebih tertarik daam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan minat dan daya seraf siswa.

48

d. Untuk lebih mengetahui efekteivitas penggunaan alat praga (media), diharapkan bagi peneliti yang akan datang dapat melakukan penelitian pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. .

49

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->