P. 1
Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan

Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan

|Views: 6,311|Likes:
Published by lightalzen

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: lightalzen on Feb 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang terletak di bagian timur dunia, negara yang bagian pulau-pulaunya termasuk dalam garis khatulistiwa berbatasan dengan dua benua dan juga dua samudra dikatakan oleh dunia sebagai tempat yang strategis untuk melakukan kegiatan agraris dan maritim sehingga tumbuhan-tumbuhan yang dapat memakmurkan dapat tumbuh subur disana. Karena terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki beragam corak kebudayaan yang dimiliki oleh para penduduknya mulai dari bagia timur sampai dengan bagian barat. Beragam kebudayaan tersebut semakin bercorak lagi dengan kedatangan para pedagang-pedagang asing yang datang dari Asia dan Eropa, adanya kemungkinan perubahan sosial dapat terjadi di Indonesia, baik secara paksa ataupun kebudayaan tersebut dapat diterima oleh masyarakat.

1. KONSEP-KONSEP MENGENAI KEBUDAYAAN

DAN

KONSEPSI-KONSEPSI MASYARAKAT

KHUSUS DAN

PERGESERAN

Semua konsep yang kita perlukan untuk menganalisa proses-proses pergerakan masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian yang diteliti oleh ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika sosial. Konsep yang terpenting adalah mengenai proses belajar kebudayaan itu sendiri, yakni internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi. Selain itu ada proses perkembangan kebudayaan umat manusia (evolusi kebudayaan) dari bentuk-bentuk kebudayaan yang sederahana hingga yang makin lama makin kompleks yang melalui beberapa tahapan-tahapan. Proses lainnya adalah proses pengenalan unsur-unsur kebudayaan asing yang disebut proses akulturasi dan asimilasi. Ada proses pembaruan (inovasi) yang berkaitan erat dengan penemuan baru (discovery) dan invention (pengembangan penemuan yang telah ada).

2. PROSES BELAJAR KEBUDAYAAN SENDIRI

Proses internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai saaat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tak puas, yang menyebabkan ia menangis. Proses sosialisasi, semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai kedudukan dalam masyarakatnya yang dikumpai seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sejak ia dilahirkan. Para individu dalam masyarakat yang berbeda-beda juga mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda, karena proses itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkutan. Penelitian dilapangan telah dapat menghasilkan pengumpulan bahan mengenai adat istiadat pengasuhan anak, kebiasaankebiasaan dalam kehidupan seksual, dan riwayat hidup yang rinci dari sejumlah individu.individu-individu yang mengalami berbagai hambatan dalam proses internalisasi, sosialisasi atau enkulturasinya, sehingga individu seperti itu mengalami kesukaran dalam menyesuaikan kepribadiannya dengan lingkungan sosial sekitarnya.

3. PROSES EVOLUSI SOSIAL
Proses Mikroskopik dan Makroskopik Dalam Evolusi Sosial. Proses evolusi dapat dianalisa secara mendetail(makroskopik) tetapi dapat dilihat secara keseluruhan, dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi(makroskopik). Proses evolusi social budaya secara makroskopik yang terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut ”Proses-proses pemberi arah”, atau directional proses. Proses-proses berulang dalam evolusi social budaya. Dalam antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat. Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu
a. kebudayaan sebagai kompleks dari komsep norma-norma, pandangan-pandangan,

dan sebagainya, yang bersifat abstrak (yaitu system budaya), dan

b. kebudayaan sebagai serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial). Kedua sistem tersebut sering saling bertentangan, dan dengan mempelajari konflik-konfliks yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.

1. PROSES DIFUSI
Penyebaran manusia. Ilmu paleoantropologi memperkirakan bahwa makhluk manusia yang pertama hidup didaerah sabana beriklim tropis di Afrika Timur. Manusia sekarang telah menduduki hampir seluruh muka bumi dengan berbagai jenis lingkungan iklim yang berbedabeda. Hal itu hanya mungkin terjadi dengan proses pengembangbiakan, migrasi, serta adaptasi fisik dan social budaya, yang berlangsung beratus ratus ribu tahun lamanya. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Bersama dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia, turut tersebar pula berbagai unsur kebudayaan. Sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang disebut proses difusi itu merupakan salah satu objek penelitian ilmu antropologi, terutama sub ilmu antropologi diakronik. Proses difusi dari unsur-unsur kebudayaan antara lain diakibatkan oleh migrasi bangsa-bangsa yang berpindah dari suatu tempat ketempat lajn dimuka bumi. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dapat juga terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa, tetapi karena unsur-unsur kebudayaan itu memang sengaja dibawa oleh individu-individu tertentu, seperti para pedagang dan pelaut. Bentuk difusi yang terutama mendapat perhatian antropologi adalah penyebaran unsurunsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu-individu dari berbagai kelompok yang berbeda.
2.

AKULTURASI DAN ASIMILASI

Akulturasi. Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Jika dalam permasalahannya dapat diringkas, maka dapat dibagi menjadi 5 golongan masalah, yaitu :

1. Masalah tentang metode-metode untuk mengobservasi, mencatat, dan melukiskan suatu proses akulturasi dalam suatu masyarakat. 2. Masalah tentang unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah dan tidak mudah diterima oleh suatu masyarakat. 3. Masalah tentang unsur-unsur kebudayaan yang mudah dan tidak mudah diganti atau diubah oleh unsur-unsur kebudayaan asing.
4. Masalah mengenai jenis-jenis individu yang tidak menemui kesukaran dan cepat

diterima unsur kebudayaan asing, dan jenis-jenis individu yang sukar dan lamban dalam menerimanya. 5. Masalah mengenai ketegangan-ketegangan serta krisis-krisis sosial yang muncul akibat akulturasi.

Dalam meneliti jalannya suatu proses akulturasi, seorang peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa hal, yaitu : • • • • • Keadaan sebelum proses akulturasi dimulai. Para individu pembawa unsur-unsur kebudayaan asing. Saluran-saluran yang dilalui oleh unsusr-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima. Bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh. Reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.

Asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Dari berbagai proses asimilasi pernah diteliti, diketehui bahwa pergaulan intensif saja belum tentu mengakibatkan terjadinya suatu proses asimilasi, tanpa adanya toleransi dan simpati antara kedua golongan.

1. PEMBARUAN (INOVASI)
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga

terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invention. Pendorong penemuan baru. Faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi seorang individu untuk memulai serta mengembangkan penemuan baru adalah a) kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan; b) mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan;
c) sistem perangsang bagi kegiatan mencipta. Penemuan baru sering kali terjadi saat

ada suatu krisis masyarakat, dan suatu krisis terjadi karena banyak orang merasa tidak puas karena mereka melihat kekurangan-kekurangan yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian proses inovasi itu merupakan suatu proses evolulusi juga. Bedanya ialah bahwa dalam proses inovasi para individu berperan secara aktif, sedangkan dalam proses evolusi para individu itu pasif, bahkan seringkali negatif.

Pada makalah ini, saya sebagai penulis akan membahas asimilasi. Sebagai salah satu bagian dari dinamika masyarakat dan kebudayaan yang juga berperan penting dalam perubahan sosial yang ada dalam masyarakat. Dapat dilihat bahwa Indonesia merupakan negara yang bisa dikatakan berhasil dalam melakukan asimilasi dari beberapa kebudayaan. Dari bagian barat Indonesia sampai dengan bagian timur kita dapat melihat berbagai aneka suku bangsa (etnik) yang tersebar dari sabang sampai dengan merauke. Di beberapa pulau Indonesia, dapat ditemukan kelompok-kelompok atau

perkampungan masyarakat tionghoa, arab, dan bangsa-bangsa lain, yang pada masa lalu Indonesia mengalami kejayaan dalam bidang perdagangan antar bangsa sebagai tempat berlabuhnya para pedagang-pedagang asing. Sebagian dari pedagang tersebut ada yang tetap tinggal di Indonesia dan memulai hidup baru mereka dengan menjadikan wanita-wanita pribumi sebagai istri, sehingga terjadilah proses asimilasi dengan kebudayaan pribumi Indonesia. Asimilasi yang lain juga dapat dilihat pada pakaian adat bangsa Indonesia dari beragam suku dan budaya, sebenarnya budaya pakaian Indonesia yang sebenarnya adalah apa yang tergambarkan pada relief candi borobudur. Dimana pada masa itu seseorang hanya

menggunakan kain yang dilitkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan sebagai pakaian, barulah ketika jalur perdagangan Indonesia mulai dibuka para pedagangpedagang yang menjual kain membawa serta alat untuk menjahit mereka, yaitu berupa jarum dan benang sulam. Hal ini yang kemudian diajarkan kemudian ditularkan kepada masyarakat Indonesia pribumi sehingga menjadi penggabungan antara kedua budaya yang bisa disebut sebagai asimilasi, karena dalam proses pembuatan pakaian tersebut berasal dari negara lain, namun corak dan model pakaiannya disesuaikan dengan keadaan yang ada di Indonesia maka munculah sebuah kebudayaan baru yaitu pakaian yang dijahit dan menggunakan pola.

PEMBAHASAN
Asimilasi merupakan proses sosial tingakat lanjut pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Proses asimilasi itu ditandai oleh pengembangan sikap-sikap yang sama, yang walaupun terkadang bersifat emosional, bertujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling sedikit untuk mencapai integrasi dalam organisasi dan tindakan. Secara matematis proses asimilasi dapat

ditulis : Aa + Bb + Cc = Dd yang berarti bahwa kelompok etnik A, B, dan C karena faktorfaktor pendorong asimilasi terpenuhi, mengalami peleburan unsur-unsur kebudayaan kelompok etnik a + b + c menghasilkan kebudayaan baru d, yang tidak ada dalam kebudayaan sebelumnya.

Jenis-jenis asimilasi
a. Asimilasi budaya : proses mengadopsi nilai, kepercayaan, dogma, ideologi bahasa dan sistem simbol dari suatu kelompok etnik atau beragam kelompok bagi terbentuknya sebuah kandungan nilai, kepercayaan, dogma, ideologi bahasa maupun sistem simbol dari kelompok etnik baru. b. Asimilasi struktural : proses penetrasi kebudayaan dari suatu kelompok etnik ke dalam ke dalam kebudayaan etnik lain melalui kelompok primer seperti keluarga, teman dekat,DLL
c. Asimilasi perkawinan, atau sering disebut asimilasi fisik yang terjadi karena

perkawinan antar etnik atau antar ras untuk melahirkan etnik atau ras baru

Syarat asimilasi
Asimilasi dapat terbentuk apabila terdapat tiga persyaratan berikut. •

terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda. terjadi pergaulan antarindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama. Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.

Faktor pendorong
Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut. • Toleransi antar kelompok yang berbeda kebudayaan

• • • • • •

Kesempatan yang seimbang dalam bidang sosial atau ekonomi Sikap menghargai orang asing dan kebudayaan mereka Sikap terbuka dari golongan etnik dominan terhadap kelompok etnik minoritas Persamaan unsur kebudayaan Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya Adanya musuh yang sama

Faktor penghalang
Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain sebagai berikut. • • • • Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas) Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya • • • Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti tinggi badan, warna kulit atau rambut Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

ASIMILASI GOLONGAN ETNIS ARAB

Pendahuluan
Studi mengenai asimilasi golongan etnis keturunan asing di beberapa negara sudah merupakan suatu fenomena yang lahir dari adanya perpindahan dan menetapnya suatu bangsa bermukim di negara yang bukan merupakan tanah leluhur nenek moyang mereka. Keturunan asing tersebut disebut sebagai tamu negara, dimana mereka datang setelah negara tersebut telah berpenghuni dan ditetapkan sebagai sebuah negara, disebut sebagai bangsa asing karena dalam konsepsinya mereka sering dipertentangkan dengan penduduk pribumi negara tersebut.

Apabila dibandingkan dengan keturunan bangsa Tiongha di Indonesia yang sudah umum diteliti terletak perbedaan peranan ekonomi, kehidupan sosialnya, dan hubungan dengan tanah air. Di Indonesia konsep asimilasi pada umumnya dihubungkan dengan masalah perkawinan antar golongan etnis, proses asimilasi orang keturunan Arab di Indonesia sesungguhnya merupakan proses sosialisasi yang digunakan untuk mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari satu bangsa Indonesia dengan menggabungkan kedua golongan yang mempunyai sikap mental, adat kebiasaan dan pertanyaan kebudayaan yang berbeda-beda menjadi satu keutuhan yang harmonis dan bermakna satu yaitu satu nama bangsa Indonesia. Suku Arab-Indonesia adalah penduduk Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya tinggal di perkampungan Arab yang tersebar di berbagai kota di Indonesia -- misalnya di Jakarta (Pekojan), Bogor (Empang), Surakarta (Pasar Kliwon), Surabaya (Ampel), Gresik (Gapura), Malang (Jagalan), Cirebon (Kauman), Mojokerto (Kauman), Yogyakarta (Kauman) dan Probolinggo (Diponegoro),dan Bondowoso -- serta masih banyak lagi yang tersebar di kota-kota seperti Palembang, Banda Aceh, Sigli, Medan, Banjarmasin (Kampung Arab), Makasar, Gorontalo, Ambon, Mataram, Ampenan, Sumbawa, Dompu, Bima, Kupang, Papua dan bahkan di Timor Leste. Pada zaman penjajahan Belanda, mereka dianggap sebagai bangsa Timur Asing bersama dengan suku Tionghoa-Indonesia dan suku India-Indonesia, tapi seperti kaum etnis Tionghoa dan India, tidaklah sedikit yang berjuang membantu kemerdekaan Indonesia.

Kedatangan Golongan Etnis Arab
Masa awal kedatangan orang arab di Indonesia tidak dapat diketahui secara pasti, namun ada sumber yang mengemukakan bahwa kedatangan mereka di Indonesia sudah berlangsung sebelum agama islam lahir. Bahkan dikemukakan juga di dalam Al-Qur’an bahwa mereka (orang Arab) mengadakan perjalanan di musim dingin dan musim panas, pada musim dingin mereka menjelajah ke selatan yaitu Yaman dan sekitarnya atau bahkan lebih jauh lagi, sedangkan pada musim panas mereka pergi ke utara yaitu daerah Syria bahkan sampai Eropa. Setelah terjadinya perpecahan besar diantara umat Islam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, mulailah terjadi perpindahan (hijrah) besar-besaran dari kaum keturunannya ke berbagai penjuru dunia. Ketika Imam Ahmad AlMuhajir hijrah dari Irak ke daerah Hadramaut di Yaman kira-kira seribu tahun yang lalu,

keturunan Ali bin Abi Thalib ini membawa serta 70 orang keluarga dan pengikutnya. Sejak itu berkembanglah keturunannya hingga menjadi kabilah terbesar di Hadramaut, dan dari kota Hadramaut inilah asal-mula utama dari berbagai koloni Arab yang menetap dan bercampur menjadi warganegara di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Selain di Indonesia, warga Hadramaut ini juga banyak terdapat di Oman, India, Pakistan, Filipina Selatan, Malaysia, dan Singapura. Terdapat pula warga keturunan Arab yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika lainnya di Indonesia, misalnya dari Mesir, Arab Saudi, Sudan atau Maroko; akan tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang berasal dari Hadramaut.

Perkembangan di Indonesia
Kedatangan koloni Arab dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13), dan hampir semuanya adalah pria. Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Berdasarkan taksiran pada 1366 H (atau sekitar 57 tahun lalu), jumlah mereka tidak kurang dari 70 ribu jiwa. Ini terdiri dari kurang lebih 200 marga. Marga-marga ini hingga sekarang mempunyai pemimpin turuntemurun yang bergelar "munsib". Para munsib tinggal di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat tinggal asal keluarganya. Semua munsib diakui sebagai pemimpin oleh suku-suku yang berdiam di sekitar mereka. Di samping itu, mereka juga dipandang sebagai penguasa daerah tempat tinggal mereka. Di antara munsib yang paling menonjol adalah munsib Alatas, munsib Binsechbubakar serta munsib Al Bawazier. Saat ini diperkirakan jumlah keturunan Arab Hadramaut di Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di tempat leluhurnya sendiri. Penduduk Hadramaut sendiri hanya sekitar 1,8 juta jiwa. Bahkan sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah - seperti Basyeiban dan Haneman - di Indonesia jumlahnya masih cukup banyak. Keturunan Arab Hadramaut di Indonesia, seperti negara asalnya Yaman, terdiri 2 kelompok besar yaitu kelompok Alawi dan kelompok Qabili, yaitu kelompok diluar kaum Sayyid. Di Indonesia, terkadang ada yang membedakan antara kelompok Sayyidi yang umumnya pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, dengan kelompok Syekh (Masyaikh) yang biasa pula disebut "Irsyadi" atau pengikut organisasi al-Irsyad.

PENUTUP

Kesimpulan
Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Berbagai macam tradisi dan adat-istiadat yang dimiliki Indonesia seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia menjadi kaya karena budayanya. Kekayaan budaya itu ditambah lagi dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan asing ke dalam Indonesia melalui proses difusi, akulturasi, dan asimilasi. Difusi adalah proses persebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain. Difusi dapat terjadi dalam dua proses, proses langsung dan tak langsung. Akulturasi adalah bergabungnya dua kebudayaan atau lebih sehingga menciptakan suatu kebudayaan baru, tanpa menghilangkan kepribadian dari kebudayaan asli. Sedangkan asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga menghasilkan suatu kebudayaan baru, yang berbeda dengan kebudayaan aslinya. Asimilasi ini biasa terjadi pada golongan minoritas dan golongan mayoritas pada

suatu tempat. Di Indonesia tidak sedikit asimilasi yang terjadi, sehingga banyaknya kebudayaan-kebudayaan baru di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002. Bambang Pranowo, M dkk. Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial. Jakarta : PT Pustaka Grafika Kita. 1988.

http://asimilasi-sosiologi.blogspot.com/ http://iccsg.wordpress.com/2006/09/17/cerita-tentang-bangsa-perantau-1-asimilasipencinaan-kembali-dan-pengakuan/ http://webersis.com/2008/03/31/antropologi-asimilasi-bergurulah-ke-indonesia/ http://id.wikipedia.org/wiki/Arab-Indonesia

http://www.scribd.com/doc/24673301/Difusi-Akulturasi-Dan-Asimilasi-KonsepContoh-Dan-ya

Aditya Tirta N Pend. Sosiologi Non-Regular 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->