28 HARI

1


28 HARI

TENTANG #28HARI

Pada tanggal 1 Februari 2010, seorang perempuan menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai lelakinya. Di hari yang sama, seorang lelaki menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai perempuannya. Catatancatatan mereka meninggalkan jejak yang acak; tetapi nampak saling berhubungan. Tetapi siapa mereka? Apa hubungan di antara keduanya? Dan apa yang terjadi ketika catatan-catatan mereka berakhir tepat pada tanggal 14 Februari?

2


28 HARI

1 FEBRUARI 2010

PADA SENJA INI

Kubangun rumah ini… untukmu: telaga hidupku Dindingnya dari anyaman pelangi Dan atapnya dari rinai hujan Ruang dalamnya terang oleh pendar cahaya bintang Dan dapurnya hangat oleh sinar matahari Kelak, aku mau rumah ini jadi sebuah album Tempat setiap lembaran kenangan tentang dirimu kusimpan Sampai nanti. Sampai mati!

BINTANG

Setiap kali menengadah pada bintang-bintang di langit malam, aku selalu melihat kita di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu. Rasanya sudah lama sekali sejak kita bertemu untuk yang pertama kali. Aku hampir lupa seberapa sering kita bicara hingga dini hari. Atau diam saja memandangi hujan sampai bosan. Dan aku sungguh-sungguh lupa kapan terakhir kali kita tertawa bersama. Kapan terakhir kali kita menangis berdua. Aku tidak suka ini. Kenyataan bahwa aku mulai melupakan banyak hal tentang kita. Detail-detail kecil yang menurutku penting. “Mungkin kamu akan melupakan mereka yang pernah tertawa bersamamu, tetapi kamu tidak akan pernah bisa melupakan mereka yang pernah menangis bersamamu,” begitu katamu—dulu. Ya, aku tidak melupakanmu. Belum. Meskipun aku ingin. Meskipun aku mau. Karena alangkah lebih baiknya jika begitu. Aku tak perlu mengingat betapa kita memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda sama sekali. Sendiri-sendiri. Meninggalkan apa yang pernah kita miliki tanpa pernah memutuskan apakah

3


28 HARI

kita akan kembali, atau apakah kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Sekarang, kita seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Menapaki hidup masing-masing dengan kepala tegak dan pandangan lurus ke depan, agar hati kita yang rapuh dan retak-retak ini luput dari pandangan. Kita memaksa diri untuk tidak menoleh ke belakang. Untuk mengubur semua yang pernah ada. Tetapi kita tahu, bahwa apa yang kita campakkan itu, akan tetap ada selama kita ada. Kita sudah terlalu lama bersama. Tidak secepat itu kita bisa terpisah dari satu sama lain dan menjadi baik-baik saja. Dan bukankah hingga detik ini, kita masih bertanya-tanya, apakah dulu yang kita campakkan itu cinta? Malam ini, ketika aku menengadah memandangi bintang-bintang di langit malam, aku melihat kita di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu. Di mana kamu berada saat ini? Apakah kamu juga tengah memandangi langit malam ini; langit yang biasa kita bagi bersama? Katakan, apa yang kamu lihat ketika kamu memandangi bintang-bintang? Apakah kamu masih melihat aku dan kamu di masa lalu? Ataukah… kamu hanya melihat bintang-bintang?

2 FEBRUARI 2010
PERLAMBANG

Bintang mungkin sebuah perlambang: bahwa yang sudah mati pun bisa terus bersinar dan terlihat indah dari kejauhan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Aku mendapatkan kesan itu setelah nyaris setiap malam menggelandang bersama bintang-bintang—sekian purnama setelah kau pergi di pagi yang basah waktu itu. Oh ya, tentu saja aku masih mengingat dengan sempurna setiap detail adegan yang membuat hatiku seperti dirajam sembilu. Aku ingat kau bertanya, “Kenapa kita mesti berpisah?” Dan aku menjawab, “Kenapa tidak?”

4


28 HARI

“Kita” mungkin bukan gagasan yang bagus ketika aku dan dirimu sesungguhnya memang jalan yang bercabang. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kita adalah dua orang yang berbeda. Dengan kelebihan dan kekurangan, keinginan, harapan, keberanian, juga ketakutan masing-masing. Dan ketika dua yang berbeda itu hendak dijadikan satu, yang terjadi bukan saling melengkapi, melainkan baku menyakiti. Ah, kamu pasti juga masih ingat ketika aku ingin ke utara, sedangkan kamu ingin ke selatan. Kamu mau salju, aku berharap musim panas. Memang ada masa-masa ketika secangkir kopi panas terasa nikmat kita sesap berdua. Sewaktu kita hanya perlu satu payung sebagai pelindung dari tumpahan hujan yang begitu deras. Tapi rupanya gagasan tentang “kita” mudah retak di tengah jalan. Dan aku seperti kupu-kupu dengan sayap yang patah ketika “kita” berubah menjadi belenggu. Maka mengertilah kalau aku kemudian memilih jalan yang sulit—seperti sajak Robert Frost yang pedih itu. Two roads diverged in a yellow wood and sorry I could not travel both… Aku lebih suka jalan yang paling jarang dilalui orang, demi membuat perbedaan. Tapi percayalah, kamu selalu menjadi bintang di hatiku. Kamu tentu tahu bahwa bintang mungkin sebuah perlambang: bahwa yang mati pun masih terlihat indah dari kejauhan, bertahun kemudian. Kelak, jika waktu mempertemukan aku dan dirimu kembali, aku akan bercerita tentang senja yang memerah saga. Tentang warna-warni pelangi dan bidadari yang menari di tepi lazuardi. Sekarang hapuskan dulu air matamu. Aku tak kuasa menanggung pedih dan perihmu. Sedihmu adalah tembang megatruh bagiku. Daun-daun yang luruh, lalu lesap ditelan bumi…

KITA

Selama kita tidak bercakap tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Benarkah begitu? Aku kesepian. Causeway Bay tanpa kamu seperti ribuan bola lampu yang terlalu

5


28 HARI

terang. Menyakitkan untuk dipandang. Sakit yang familiar. Seperti juga sengatan di hatiku ketika kita berpisah. Ketika kamu memutuskan untuk memilihnya pagi itu. Dia—bukan aku. Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya mengapa dia—dan bukan aku. Karena bukankah kita memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama? Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, kita hanya mengada? Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini kita genggam dalam jari-jemari kita yang bertaut? Sehingga di sinilah aku, bertahun-tahun setelah perpisahan itu. Di detik yang merapuh ini. Sendiri. Dulu, kita selalu membicarakan hari ini: Hong Kong di malam hari, gemerlap lampu berwarna-warni dari gedung-gedung tinggi, asap hidangan laut yang dibakar di atas arang, berkotak-kotak makanan Cina dari restoran yang diterangi lampu neon, menyusuri Tsim Sha Tsui sambil menyanyikan I’m Walking on Sunshine yang selalu bisa membuat suasana hati kita berubah ceria itu: I used to think maybe you loved me, now I know that it’s true and I don’t want to spend my whole life just in waiting for you I’m walking on sunshine… and don’t it feel good! Seharusnya ada kamu di sini. Bersamaku. Kita akan berbicara keras-keras dan terbahak pada hal-hal yang kelucuannya hanya bisa dimengerti oleh kita berdua. Orang-orang akan menoleh ke arah kita: sedikit kesal, sedikit iri. Berharap mereka bisa memiliki ketidakpedulian kita ini separuhnya saja. Untuk memekik, tertawa, dan berkejaran di trotoar yang sesak ketika ingin. Seperti pasangan yang tengah kasmaran. Seperti. Dan kita selalu terhenti sampai sejauh ini. Sejauh kata ‘seperti’. Karena kita tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu. Karena selama kita tidak bercakap tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Ini seperti sebuah kesepakatan tidak tertulis, yang tidak seharusnya kita langgar. Dan semua mimpi buruk ini, kesendirian kita, perpisahan pagi itu, keputusanmu memilih dia—semuanya adalah semacam kutukan yang jatuh di atasku. Karena aku bertanya tentang kita. Are we together?

6


28 HARI

Dan kamu membeku seperti mendengar sesuatu yang tabu, yang tidak seharusnya. Mengapa? Mengapa begitu? Mengapa kita tidak bisa memberi nama terhadap rasa yang kita punya dan tetap baik-baik saja? Causeway Bay, hari kedua di bulan Februari. Suhu udara 15 derajat Celcius. Pukul 10.42 malam hari menurut jam digitalku. Detak sepatu kanvasku di atas aspal, bunyi denting samar kancing jaketku yang saling beradu… dan aku berlari menuju entah. Hidupku telah terlalu terbiasa tertuju kepadamu. Ketika kamu tidak di sini, aku kehilangan arah. Aku tersesat. I miss us, and all the things we’ve accidentally missed.

3 FEBRUARI 2010
EMBUN

Tentu saja aku masih ingat ketika kita masih selalu membicarakan hari ini: Hong Kong menjelang dinihari, kemilau lampu berwarna-warni di dinding gedung-gedung tinggi, kepiting dan udang yang dibakar di atas arang. Aku bahkan belum lupa pada pelukanmu yang hangat ketika kita berdua berada di dalam trem yang mengantar kita menuju The Peak. Gerimis jatuh waktu itu. Airnya meleleh di jendela. Membuatnya berembun. Dan dengan jarimu yang lentik, kau melukis sebuah gambar hati yang retak di jendela kaca itu. Dan hatiku pun ikut tersayat. Pernah aku kembali mengunjungi The Peak tanpa dirimu, bertahun kemudian. Sendirian berdiri di Sky Terrace yang menghadap ke hamparan hutan beton Hong Kong, aku seperti terlempar ke masa silam. Pada tahun-tahun ketika kita sering ke sana di musim panas. Tapi tak ada lagi angin yang menerbangkan rambut hitammu yang panjang dan wangi ke mukaku, seperti tanganmu yang kerap membelai wajahku. Tak ada lagi cekikikan anehmu yang membuat turis-turis itu berpaling dengan wajah

7


28 HARI

seperti ayam bengong. Tanpa dirimu di sampingku, lanskap siang itu mendadak berubah bagaikan lukisan Landscape with Good Samaritan Rembrandt yang kelam. Apakah aku baik-baik saja waktu itu? Kalau yang kamu maksud aku masih bisa berdiri menantang angin yang menerpa di Sky Terrace, tentu saja aku memang baik-baik saja. Jika yang kamu maksud aku masih bisa berjalan menyusuri taman bebatuan di samping museum The Peak itu, tentu saja aku baik-baik saja. Aku jelas tak baik-baik saja jika yang kau maksud apakah aku masih bisa membedakan warna trem itu merah atau biru. Aku sudah tak baik-baik lagi bila yang kamu maksud apakah aku masih bisa merasakan gerimis yang jatuh. Sejak kau ke barat, dan aku ke timur, hidup tak pernah sama lagi—seperti ketika Hong Kong diserahkan dari Inggris ke tangan pemerintah Cina. Bukit-bukit cinta di hatiku pun tentu saja masih ada dan berdiri kokoh seperti perbukitan Tai Mo Shan di New Territories. Tapi tak ada lagi yang membuat rumput menghijau dan kembang bersemi begitu kau pergi. Takdir mungkin telah dinujumkan oleh jari-jarimu di hamparan jendela kaca yang berembun itu. Ketika kau melukis hati yang retak saat itu, aku tahu pada saatnya nanti hati kita benar-benar remuk. Dan saat itulah kita bakal sama-sama meranggas di malam-malam musim panas. Berjuang sendiri-sendiri meringkus sunyi. Lantas ke manakah kelak kita akan pulang? Adakah harapan punya rumah? Sayup-sayup aku seperti mendengar suara Sting bersenandung dengan suaranya yang ngelangut… If blood will flow when flesh and steel are one Drying in the colour of the evening sun Tomorrow’s rain will wash the stains away But something in our minds will always stay …

MIMPI

Cangkir kopiku yang ketiga. Dan satu-satunya hal yang berkecamuk dalam benakku hanyalah: untuk apa aku di sini? Mendamparkan diri di kafe-galeri After School di Causeway Bay, dikelilingi lukisan-lukisan modern dan grafiti, menyesap cangkir demi cangkir kopi… Semua ini seharusnya terasa menghangatkan. Menenangkan. Tetapi sebaliknya, semua ini justru membuatku depresi. Karena seharusnya, ada kamu di sini.

8


28 HARI

Kenangan kita berdua ternyata terlalu sedih ketika hanya dijalani seorang diri. Aku masih ingat, bertahun-tahun yang lalu, ketika kita tengah berada di dalam trem yang melaju menuju The Peak. Di luar gerimis. Udara dingin membuat kaca jendela berembun. Dengan telunjukmu, kamu melukis gambar hati di sana, kemudian menorehkan inisial namaku di dalamnya. “Ini hatiku,” katamu. “Di situ ada kamu…” Waktu itu, kamu terdengar menggemaskan. Gambar hati itu terlihat lucu. Aku memelukmu hangat. Sedetik, dua detik, hingga kurasakan sesuatu bergetar di saku jaketmu. Kamu melepaskan pelukanku, meraih ke dalam saku, dan mengeluarkan telepon genggammu. Dan namanya berkelip-kelip di layar. Seperti sihir yang membuatmu lupa; kamu berbalik memunggungiku, dan berbicara dengan suara rendah agar aku tidak mendengar. Tetapi aku mendengarnya. Kalian berbicara, lama. Kamu mengucapkan akujuga-kangen-kamu dua kali, dan I-love-you satu kali. Aku memalingkan wajahku ke jendela. Masih ada gambar hati yang kau lukis dan inisial namaku di dalamnya. Tetapi tidak ada lagi yang lucu dan menggemaskan dengan semua itu. Yang nampak di mataku hanyalah sebuah kebohongan besar. Pelan-pelan, kulayangkan telunjukku menyentuh jendela yang dingin. Sedingin hatiku. Lalu kugambar retakan di hatimu itu. Seperti retakan di hatiku. Seperti biasa, kita tidak pernah membicarakannya. Karena kita akan baik-baik saja selama kita tidak berbicara tentang ‘kita’. Jadi, kamu mematikan telepon genggammu. Tersenyum kepadaku seakan segalanya sempurna. Kemudian bertanya apakah setelah sampai nanti, kita akan langsung menuju Pearl on The Peak. Menikmati pemandangan Hong Kong di waktu malam dari ketinggian, untuk yang terakhir kali. Dan di sanalah kita menghabiskan malam itu. Berbincang, tertawa, menyesap bergelas-gelas wine berdua… Tentu, saat itu, kita tidak tahu bahwa kita akan berpisah pada suatu pagi yang kelabu. Karena ketika tengah bersamamu, perpisahan terdengar seperti sebuah konsep yang sangat jauh. Begitu jauh sehingga kita tak akan tersentuh.

9


28 HARI

Tetapi, di sinilah aku. Hong Kong, sekali lagi. Sendiri. Tanpamu. Mengejar bayanganmu setelah bertahun-tahun berlalu, tanpa tahu apakah kamu masih menginginkanku. Untuk apa aku di sini? Entahlah. Untuk kita, mungkin. Untuk sebuah kesempatan.

4 FEBRUARI 2010
DINIHARI

Dinihari. Dan aku belum juga memejamkan mata. Kenangan tentang dirimu membuat hatiku semak. Menjadikanku selalu terjaga. Seperti yang lalu-lalu. Kenangan itu tercecer di Hong Kong, kota yang sinarnya terus berkeredep itu. Ontario yang membeku. Moskow yang megah. Swedia yang santun. Singapura yang tertib. Jakarta. Lombok. Bahkan secangkir kopi Kuba di Bongos Cuban Cafe di jantung Orlando, selalu berhasil menyeret kenanganku kepadamu. Oh, ya. Kopi. Cairan kental-pahit ini memang selalu menyatukan aku dan dirimu. Tanpa membuat aku dan dirimu menjadi “kita”. Kopi tak pernah membuat kita bosan pada kehidupan yang menekuk pinggang ini. Kita bahkan selalu punya cara untuk menikmatinya, dengan riang maupun getir. Sesuatu yang mungkin remeh temeh bagi orang lain. Tapi, dengan dirimu di bangku depanku, yang remeh-temeh itu menjadi sesuatu yang membuat semuanya lebih hidup. Sesuatu yang menjadikan dirimu selalu berarti, dan lebih berarti. Sampai nanti. Sampai mati. Aku masih ingat satu fragmen ketika kita berada di pojokan Bongo Cuban Cafe di pinggir 1498 East Buena Vista Drive, Orlando. Musim panas. Pengunjung datang dengan baju seadanya. Dan kamu masih juga cekikikan mentertawakan pasangan manula dari Spanyol yang tak pernah melepaskan gandengan tangan mereka itu. Padahal tanganmu

10


28 HARI

juga selalu menggamit lenganku. Dan kepalamu selalu rebah ke pundakku. Membuat hidungku penuh oleh wangi rambutmu. “Lucu ya, mereka itu bisa mesra terus sampai tua,” begitu komentarmu waktu itu. Aku cuma nyengir, membayangkan kita juga akan terus berdua sampai tua. Selamanya. Sebab, duduk pojok di sebuah kafe bersama dirimu yang cerewet, manja, nanya melulu, dan selalu cekikikan, mungkin bukan ide yang jelek. Kamu adalah gagasan yang selalu baru. Kamu seperti matahari pagi. Selalu menghangatkan embun yang bangun setelah dinihari. Berdua, bersamamu, sepanjang waktu, tentu saja anugerah terindah hidupku. Seperti matahari bagi bumi. Hujan bagi musim panas yang lengas. Kau akan jadi gula bagi kopi pahitku. Topping strawberry bagi secawan Sour Sally-ku. Hanya satu pintaku. Janganlah kau usik telepon-telepon yang berdering di saatsaat tertentu. Usahlah pula bertanya mengapa aku harus berbisik ketika menjawabnya. Itu panggilan dari dunia lain. Sebuah dunia di mana malam tak terasa malam, dan siang begitu menyilaukan. Bukan. Bukan itu yang terpenting dalam hidup ini. Kamu jauh lebih berharga dari apa pun. Dan layak diperjuangkan dengan cara apa pun. Kamu hanya harus lebih menahan diri. Masa depan toh menunggu sabar. Kelak, ketika musim gugur sudah berlalu, dan musim semi dalam hidup kita menumbuhkan kembang-kembang harapan, aku pasti akan duduk di sebelahmu lagi. Aku akan bercerita tentang jalan panjang yang baru saja kulalui menuju rumah. Menuju pulang. Kembali ke hatimu.

LUKISAN

Perpisahan, sedianya melibatkan dua orang: ia yang tinggal, dan ia yang pergi. Seperti pagi itu, ketika kamu memutuskan untuk memilihnya dan meninggalkanku. Jadi bayangkan, betapa sepinya perpisahan yang harus dilalui seorang diri. Seperti berkali-kali; seperti setiap hari, ketika aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kepada kenangan. Kepada kita. Kepada rasa yang pernah kita punya; hanya untuk menemukan diriku kembali terdampar di tepian hatimu. Aku seperti ombak yang hanya surut sebentar, kemudian berdebur kembali

11


28 HARI

dengan kekuatan yang lebih besar untuk memecah tebing yang memagari kita. Hidup di masa lalu itu melelahkan. Tetapi hidup di masa depan tanpamu akan jauh lebih menakutkan. Bahkan hanya untuk kubayangkan. Malam ini, aku memandangi sosokmu dari kejauhan. Kamu—dan dia. Kalian berdiri bersisian, tersenyum, membenturkan gelas-gelas wine kalian, berpelukan, tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberimu ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu ia meremas jemarimu, dan kamu mengecup pipinya. Meski langit Hong Kong di atas Sky Terrace West Deck ini cerah, langit hatiku menurunkan hujan. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak di balik kelopak mataku ini. Kutengadahkan wajahku ke langit, kemudian kutekan-tekan kelopak mataku untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tak mau hilang dan tetap bertahan. Karena rasa itu tak ada di sana. Pedih itu bukan di mata; tetapi di hatiku. Sejenis ketiadaan akan kamu yang meremukkan segalanya. Menyesakkan. Tetapi akulah yang memilih untuk berada di sini. Hanya untuk melihatmu, bersamanya, di atas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu. Di sanalah kamu. Di tengah impianmu. Impian kita. Kamu pernah berbisik kepadaku, dulu. Di sebuah jalan setapak kecil di Ubud, sepulangnya kita dari rumah seorang perempuan Bali yang gemar melukis cahaya bulan. Di depan hamparan sawah, kamu membisikkan sebuah janji. Bahwa kamu akan membagi impianmu ini bersamaku. Bahwa kita akan mengabarkan kepada dunia mengenai perempuan-perempuan pelukis ini. Mereka yang melukis dengan hati dari segenap penjuru negeri. Kita akan mengabadikan mereka melalui feature yang kau tulis; gambar-gambar yang kau ambil dengan Canon EOS 5D Mark II-mu, serta sebait puisi yang kutorehkan di mula, untuk membuka setiap nama, setiap cerita. “Seperti aku mengabadikan kamu, pelukis hatiku, puisi jiwaku… ” Dan bisikmu mendarat di bibirku. Membungkus duniaku dalam sepenuh-penuhnya kamu. Suaramu lesap ke dalam kalbuku seiring senja yang menebar di angkasa kala itu. Tetapi ternyata masa depan memilih untuk melukiskan dirimu, bersamanya. Tertawa di atas impian kita berdua.

12


28 HARI

Kuletakkan seratus lima puluh dolar Hong Kong di atas meja yang memajang impian kita itu. Coffee-table book dengan sampul keras dan halaman-halaman yang berkilauan; dengan namamu dalam tinta keperakan. Aku cukup membukanya satu halaman saja untuk melihat semua: feature yang kau tulis, gambar-gambar para perempuan pelukis… … tanpa puisiku. Ah, kamu benar. Tidak ada lagi ‘kita’, bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak mula kita bangun berdua. Ini impianmu. Hanya kamu. Dan ada dia di sampingmu, yang berbagi malam ini bersama kamu. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bahagia untukmu; atau merasa terluka untuk masa lalu.

5 FEBRUARI 2010
LUKA Dari manakah datangnya luka dan air mata? Aku tak tahu. Tapi dari hidup aku belajar merasakannya. Dan lama-lama aku pun terbiasa menikmatinya. Dari sanalah aku tahu bahwa luka yang paling pedih adalah ketika kita tahu apa yang kita mau tapi tak dapat meraihnya. Tahukah kamu, justru kamulah luka itu bagiku? Aku tahu aku menginginkanmu. Sangat. Tapi bertahun-tahun kemudian terbukti bahwa sungguh susah aku meraihmu. Mendapatkan dirimu. Kamu bayang-bayang yang selalu terbang setiap kali tanganku tinggal sejengkal lagi menggapainya. Kamu dekat, tapi tak tersentuh. Mungkin kamu tak pernah sadar betapa tersiksanya malam-malamku menahan keinginan untuk tak meneleponmu. Mengirim SMS. Dan bagaimana aku susah payah menepis pesonamu yang tiap hari kian menjeratku.

13


28 HARI

Kamu mungkin bahkan tak pernah paham bagaimana hatiku berdarah meski air mataku tak keluar setiap kali mengingatmu. Mengenangmu. Dengan mata setengah terpejam. Padahal tak banyak yang aku mau. Aku cuma ingin kamu menjadi puisiku setiap malam. Baris-baris sajak yang bisa kutulis hingga dinihari berganti pagi. Itu saja. Tidak lebih. Entah kenapa selalu ada ruang, jarak yang membuat kita sulit bertaut. Itu sebabnya aku pernah menuliskan surat untukmu, berpuluh purnama yang lalu. Mungkin kamu masih ingat surat yang berbunyi seperti ini: “Kutulis surat ini setelah berbelas musim aku terbang menuju matahari. Demi ruang, juga jarak. Untuk apa? Kau bertanya. Kujawab demi kita. Tapi ternyata aku kemudian mengerti bahwa kita adalah gagasan yang rumit. Antara ada dan tiada. Pernah ada masanya kau dan aku satu. Tapi tak menjadi kita. Kita mungkin seperti matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi, tapi tak selalu di ranjang yang sama. Kita barangkali sebuah angan yang absurd. Tentang unifikasi sebuah relasi yang menggetarkan, sekaligus memedihkan. Itu sebabnya aku butuh jarak dan ruang. Demi kita. Kita tak sedang hidup di taman yang teduh dengan telaga yang tenang. Hidup kita adalah kereta harapan yang bersicepat dengan waktu. Aku harus mengejarnya sebelum kita menjadi sesuatu yang kedaluwarsa. Aku juga mengerti penantianmu di setiap dini hari—menungguku mengejar matahari, memburu cerah hati—membuatmu ditikam sepisau sepi. Kau boleh sebut diriku Sisipus dari Negeri Dongeng. Kau boleh katakan diriku pecundang tolol dari Bukit Sia-sia. Tapi perlu kau tahu, aku pun melakukannya demi kita. Meskipun itu artinya musim-musim semi yang kulewati dengan sendiri meringkus sepi. Semoga kau mengerti… “ Malam ini, aku ingin kau baca lagi surat itu. Bacalah pelan-pelan dengan hatimu. Kelak kau akan mengertil bahwa hanya satu yang kuinginkan dalam hidupku: melihatmu tidur seraya tersenyum.

14


28 HARI

PULANG

Hong Kong International Airport, pagi hari. Penerbangan pertama menuju Jakarta. Satu jam lagi, dan pesawat ini akan membawaku pergi. Meninggalkanmu untuk yang kesekian kali. Inilah salah satu di antara ratusan episode perpisahan yang kulalui seorang diri. Koper merah mungilku tergeletak di atas pangkuan, berat disesaki sekian kenangan tentangmu. Tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Mungkin kesempatanku sudah habis malam tadi. Bukankah pernah ada saatnya ketika kita begitu dekat sehingga kita bisa merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak ribuan kilometer sekalipun? Kini aku berada di ruang yang sama denganmu, tetapi kau bahkan tidak menyadari keberadaanku. Tahukah kamu, betapa aku berharap kamu akan menoleh ke arahku? Atau mencariku dengan hatimu. Kemudian raut wajahmu akan berubah cerah; sekaligus resah; karena kamu tahu bahwa aku ada. Tetapi tidak. Malam tadi, hanya dia yang ada dalam jarak pandangmu. Aku seperti hantu yang datang dari masa lalu. Sesuatu yang mungkin ingin kau usir pergi untuk tidak pernah kau lihat lagi. Entahlah. Semua ini terlalu rumit untukku. Seperti baris-baris dalam suratmu tentang perpisahan kita pagi itu. Surat yang sudah kubaca berulang kali hingga lipatan kertasnya sudah nyaris hancur dan tinta hitamnya mulai luntur. Kau katakan bahwa kita membutuhkan jarak. Membutuhkan ruang. Demi ‘kita’. Aku tidak mengerti. Kau pernah bilang, bahwa kebersamaan kita menyakitkan. Bahwa semakin lama kita bertahan, semakin perih luka yang akan kita timpakan di atas satu sama lain. Bahwa perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua. Demi kita. Tetapi sekarang, aku tidak yakin. Karena cinta yang melukai, kita berpisah. Hanya untuk menemukan bahwa perpisahan itu melukai kita, jauh lebih dalam. Jika keduanya, kebersamaan dan perpisahan—sama-sama melukai, mengapa kita tidak terluka saja berdua, dan bukan sendiri-sendiri?

15


28 HARI

Ini terlalu berat untukku. Mengapa hanya aku yang mencoba meraihmu? Mengapa hanya aku yang menginginkan ‘kita’? Mengapa hanya ada aku, sendiri, di sini? Karena kamu sudah tidak mencintaiku. Suara itu dingin, seperti es yang menjalari jemariku. Jemariku yang menggenggam surat terakhirmu itu. Semua itu omong kosong. Bahwa kamu pergi meninggalkanku dan memilih dia—‘demi kita’. Agar kita tidak saling menyakiti lebih jauh lagi. Karena kamu terlalu mencintaiku untuk melihatku tersakiti… Tidak, kamu memang sudah tidak menginginkan aku lagi. Sekarang, aku yakin itu. Perjalanan pulang ini, tidak akan mengobati luka. Meninggalkanmu di sini, tidak berarti aku lupa. Aku hanya lelah. Bertahun-tahun aku mengejarmu dengan sayap-sayap patah, menuju tempattempat di mana kamu berada, hanya untuk menemukanmu bersamanya. Tertawa bahagia. Kamu baik-baik saja tanpaku, sementara aku tidak tahu apakah aku masih sanggup terbang menggapaimu. Jadi, begitulah. Hari ini, di sini, sekali lagi, kita berpisah…

6 FEBRUARI 2010

MATA HATI

Kita memang berpisah hari itu. Pada musim panas yang mendidih. Tapi mungkin kau tak tahu. Ketika kau menyeret koper meninggalkan diriku, seluruh hatiku ikut terangkut bersamamu.

16


28 HARI

Aku memang tak menoleh waktu itu. Karena aku tahu mata hatiku selalu di belakang langkahmu. Mengikuti dengan takzim ke mana pun kau pergi. Seandainya kamu lebih sabar dan melihat lebih jernih, mungkin kau bakal tahu seberapa dalam luka jiwa yang kau sayat dengan prasangkamu. Luka hati dibawa mati. Luka jiwa, kubawa ke mana? Dan seandainya saja kau sudi tinggal lebih lama dan melihat dengan lebih tenang di ruangan itu, kamu akan tahu bawah gelas-gelas anggur itu berdenting bukan untukku. Pelukan dan kecupan itu hanya hiasan semu. Senyum dan tawa itu bukan untuk kebahagiaanku. Semuanya adalah topeng. Tembok yang dibangun atas dasar kepentingan. Kepentingan siapa? Yang jelas bukan milikku. Mata dan kata hatiku tersimpan rapat-rapat di lubuk sanubariku. Cuma kamu yang punya kunci untuk membuka dan menjenguknya. Tapi mungkin kau telah membuangnya entah ke mana. Barangkali kau memang tak sudi menengoknya barang sejenak. Jika itu benar, aku mungkin akan menjadi orang paling sial di dunia ini. Seperti pungguk yang meminang rembulan ketika ternyata sang bulan telah menjatuhkan pilihan. Tapi aku percaya pada dirimu. Kamulah orang yang selalu percaya bahwa cinta tak membuat kita saling terluka. Seperti yang pernah kau bisikkan di telingaku ketika kita menanti gerimis reda di kafe itu. Bahwa selalu ada setitik harapan di ujung lorong yang gelap. Sometimes, in our lives, we all have pain, we all have sorrow. But, if we are wise, we know that there is always tomorrow. Begitulah kata para bijak bestari yang kukutip dengan semena-mena waktu itu dan kusampaikan sebagai jawaban. Dan kurasa mereka benar. Siapa yang tahu apa yang akan dibawa oleh esok. Kita?

DULU

Untuk menjatuhkan cinta kepada lebih dari satu orang, kau harus memiliki jiwa yang cukup besar untuk menampung dua hati. Ini perlu, agar kedua hati yang kusebutkan tadi tidak bersesakan di dalam jiwamu. Agar mereka tak perlu berusaha merebut sebanyaknya ruang yang ada, mendesak-desak, lalu berontak dan merobek lapisan hatimu hingga isinya

17


28 HARI

luluh-lantak. Jika jiwamu tak cukup besar untuk menampung dua hati, kamu masih bisa menjatuhkan cinta kepada lebih dari satu orang. Kamu bisa memilih dua perempuan dengan takaran cinta yang kecil-kecil. Maka kedua hati mereka akan bersemayam dalam ruang jiwamu tanpa harus bergesekan satu sama lain. Dan kamu masih punya cukup banyak ruang untuk bernapas lega. Perpisahan kita terjadi karena ketiadaan keduanya. Jiwamu tak cukup besar untuk menampung hatiku dan hatinya; sementara cintaku dan cintanya tak cukup kecil untuk bisa menempati satu ruang bersama-sama. Mungkin pada dasarnya, aku memang tak percaya pada hati yang bercabang. Bagiku, selalu hanya ada satu untuk setiap kali. Ketika aku tengah bersamamu, yang ada hanya masa kini. Tidak ada masa lalu atau masa depan yang kuijinkan untuk turut ambil bagian. Karenanya aku tidak bisa mengerti konsep perpisahan yang kau tawarkan pagi itu. Ketika kau memilihnya, sekaligus berkata bahwa kau melakukannya demi ‘kita’. Ada sesuatu yang sangat salah dengan semua ini. Sesuatu yang tidak bisa kupahami. Jika kamu mencintaiku, kamu akan berada di sini, bersamaku. Kita akan tertawa, berselisih paham, berpelukan, menangis, membagi langit yang terlalu luas untuk dipandangi sendirian dan menengadah pada bintang-bintang. Kita akan menyembuhkan setiap perselisihan dengan kecupan, menghapus air mata dengan tawa. Pada masa-masa kita yang paling kelam sekalipun, bukankah selalu kukatakan kepadamu: bahwa aku hanya butuh menangis sehari, untuk kemudian siap menjaga hatimu lagi? Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan pergi meninggalkanku, dan memilih untuk bersamanya. Kamu akan berada di sini, menggenggam tanganku, memandang wajahku yang muram. Kamu akan bertanya apakah aku baik-baik saja. Lantas akan kukatakan padamu bahwa selama ada kamu, tak mengapa. Aku akan baik-baik saja. Dan kamu memandangku, seperti tak percaya. Kemudian kamu bertanya, jika demikian mengapa aku menangis. Aku akan menjawab bahwa aku terluka. Karena hal yang kamu katakan atau hal yang tidak kamu lakukan, atau karena seribu satu alasan. Dan kamu akan meremas jemariku. Permintaan maafmu akan menjelma dalam

18


28 HARI

satu takaran hazelnut latte hangat; genggaman di tanganku yang semakin erat, dan senyuman di matamu yang berkilauan ketika kita memutuskan untuk berlari pulang di bawah guyuran hujan. There’s nothing like the rain, coming down again To come and wash away the pain… There’s nothing like the rain, coming down again To clear the air so we see again… Tetapi, itu dulu.

7 FEBRUARI 2010
VANILA

Dirimu… tak pernah menyadari semua… yang telah kau miliki kau buang aku, tinggalkan diriku kau… hancurkan aku seakan ku tak pernah ada… Aku mendengar Vierra menyanyikan lagu itu dengan perih di Tea Addict di Jalan Gunawarman pagi itu. Sendirian. Hujan jatuh dan membasahi Jakarta. Dan tempat minum di dekat kantormu itu sedang sepi di jam-jam seperti ini. Sempurna. Hujan, sepi, dan secangkir cammomile pesananku sepertinya bersekongkol melemparkan diriku ke masa lalu. Pada waktu kita masih sering ke sini setiap kali aku menjemputmu. Malam-malam berdua saja. Dengan tawamu yang berderai-derai. Aku ingat kamu paling suka ice mint green tea, yang selalu kau pesan setiap kali kita ke sana. Pernah kutanyakan mengapa kau suka minuman itu. “Karena ada es krim vanilanya,” jawabmu.

19


28 HARI

Kelak aku tahu kecupan bibirmu pun ternyata memang selezat es krim vanila. Tapi pagi ini tak ada kecupan untukku lagi. Dan entah kenapa aku nekat ke sini sendiri. Mungkin karena aku tengah merindukanmu, bersama segenap kemesraanmu. Barangkali juga lantaran aku telah lama meranggas—kehilangan pelukan dan kecupanmu yang selezat es krim vanila. Aku masih ingat benar kamu selalu memilih sofa kulit di pojokan itu sebagai tempat kita berdua menghabiskan waktu berdua. Aku tahu, kamu memilihnya karena di situ kakimu bisa berselonjor. Dan kamu bisa melendot ke punggungku sepanjang malam, hingga penjaga kafe itu dengan tersenyum bertanya seraya mengingatkan, “Ada last order, Mbak? Kami mau tutup.” Di sofa itulah biasanya kamu mulai bercerita tentang pekerjaan sehari-hari yang membuat punggung kita seperti ditindih tumpukan besi beton. Perihal temantemanmu yang ajaib. Yang satu suka kucing dan cokelat, tapi galaknya minta ampun. Yang satu lagi pintar membuat ilustrasi, tapi tak mampu membedakan antara Doraemon dan Dora The Explorer. Aku selalu menikmati ceritamu yang mengalir lancar seperti sungai-sungai di kaki Himalaya. Err… Bukan. Maksudku sebenarnya bukan cerita yang kau katakan, tapi bagaimana kamu mengatakannyalah yang membuatku tergila-gila. Aku selalu memperhatikan bagaimana tanganmu selalu ikut bergerak ketika melukiskan sesuatu. Dan sesekali mencubit pinggangku bila aku menguap. Matamu yang menyala-nyala, kadang meredup, mengikuti dramatisasi cerita itu. Dan bibirmu yang selalu terbuka dan merekah setiap kali kau mengambil jeda. Semua gerak tubuhmu itulah yang membuat aku memujamu. Tubuhmu ibarat sebuah pentas. Tempat sebuah pertunjukan dipertontonkan. Kamu tarian. Sendratari. Drama. Konser. Big band. Puisi yang dibacakan oleh para penyair setiap malam. Pagi ini, ketika hujan menderas, aku mengenang lagi semua tentang dirimu. Perihal perpisahan yang absurd itu. Ihwal “kita” yang tak pernah final. Tentang cintaku kepadamu yang selalu kau gugat. Tentang hatimu yang selalu meragukan ketulusanku. Kepingan-kepingan masa lalu bersamamu itu kuhadirkan kembali sebagai menu sarapan pagi, menemani secangkir teh cammomile yang kupesan. Kali ini tanpa cangkir pasangannya, iced mint green tea dengan es krim vanila di atasnya. Aku kan bertahan meski tak kan mungkin

20


28 HARI

menerjang kisahnya walau perih… walau perih…

GREEN TEA

He taught himself how not to lose By never really trying to win That’s how the man in front of you became The boy who never Apakah kamu masih berada di Hong Kong? Untuk berapa lama? Masihkah kamu bersamanya? Pagi itu, dunia berwarna ungu kelabu. Hujan masih belum berhenti sejak dini hari. Membawa dingin sampai ke dalam hati. Hati yang sendiri. Kemacetan membuat taksi yang kutumpangi harus terhenti berkali-kali. iPod-ku tengah memutar The Boy Who Never-nya Landon Pigg ketika dari balik jendela yang berembun, pandanganku tertumbuk pada secangkir masa lalu. I’m afraid of what might happen if Together we build a wall Cause the only kind of love that never gets built Is the only kind of love that never falls Tea Addict Gunawarman; sebuah kedai teh yang biasa kita singgahi untuk melarikan diri dari keramaian. Tempat ini biasanya sepi di pagi hari. Ada sofa di sudut yang tersembunyi tempat kita bisa menghabiskan waktu berdua saja, tanpa perlu kuatir akan terlihat oleh siapa-siapa. Mereka yang mengenal kita hampir tidak bisa ditemui di sini. Dan rasa sakit itu kembali, seperti gelombang hitam yang menggulungku dan hendak menyeretku tenggelam. Mengapa kita selalu harus mempertimbangkan hal-hal seperti ini jika hendak meluangkan waktu bersama? Tidak bisakah kita berpegangan tangan dan membiarkan seluruh dunia melihatnya? Tidak bisakah aku memelukmu dari belakang tanpa perlu mencemaskan kata orang tentang kita? Mungkin, sejarah kita akan mengubahku untuk selamanya. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi percaya pada rasa serupa cinta yang harus dijalani secara sembunyi-sembunyi. Bukankah cinta seharusnya membebaskan, dan bukan

21


28 HARI

membebani? Ataukah utopia mengenai cinta yang membebaskan itu hanya ada dalam angan-anganku sendiri? Iced mint green tea dengan es krim vanila di atasnya untukku. Cammomile tea untukmu. Biasanya begitu. Kita selalu bercakap hingga kehabisan waktu; hingga kita harus beranjak pulang dengan terburu. Dan kamu akan bersikeras untuk mengantarku, enam puluh kilometer jauhnya; atau empat puluh lima menit jika perjalanan menuju kota hujan benar-benar bebas hambatan. Kemudian kamu masih harus menempuh jarak yang sama dan kembali lagi ke sini. Kotamu yang kau bilang kau benci ini. Aku jadi ingat, saat pertama kali kamu mengantarku pulang. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Aku sudah memintamu agar tidak perlu menemaniku. Aku sudah terbiasa ke mana-mana sendirian. Dan kamu sendiri pernah bilang, aku ini perempuan urban. Jadi tidak ada yang perlu kamu cemaskan. “Ini bukan karena aku cemas, tetapi karena aku ingin,” katamu. “Aku ingin melihat kebun tempat kamu berkejaran dengan anjingmu setiap pagi; ingin melihat rumah yang membuatmu nyaman untuk rebah setiap malam; aku ingin melihat jendela tempat kamu biasa termenung memandangi hujan.” “Tetapi ini sudah hampir tengah malam, bukankah masih ada esok hari?” “Aku tidak mau berjudi dengan waktu…” Mungkin jawabanmu itu juga sebuah pertanda. Bahwa kita tidak akan bertahan selamanya. Bahwa perpisahan itu tidak sejauh yang kita kira. Mungkin kita memang tidak membutuhkan selamanya. Sebentar yang bermakna itu bisa jauh lebih berharga. Seperti setiap kenangan kita yang diabadikan lewat lensa mata. Dan kita bisa memutar ulang setiap adegan yang pernah kita lewati bersama hingga bosan. Seandainya kita tidak perlu menyembunyikan rasa yang kita punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak kenangan yang bisa kita simpan. Tetapi kita tidak akan pernah tahu. Kamu terlanjur pergi meninggalkanku. I never let my heart speak through my lips I never let my hands rest on your hips I never said ‘I love you’ But a heart never lies I know you heard me say it when I said it with my eyes

22


28 HARI

8 FEBRUARI 2010
VIETOPIA

Mengantarmu pulang, membelah Kota Cahaya menuju Kota Hujan, itu berarti aku bisa menggenggam tanganmu sepanjang 60 kilometer. Itu juga berarti aku bisa mendengar suaramu yang melodius selama 45 menit. Aku tak peduli bila itu membuat kakiku pegal karena terlalu lama menginjak pedal gas. Aku pun tak keberatan bila itu berarti aku harus menembus hujan yang jatuh bergemuruh. Melewati badai yang menyambar-nyambar sepanjang jalan beraspal nan licin. Bersamamu adalah segalanya. Segenap keriangan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Mungkin kau tak pernah menyadari, berdua denganmu itu membuat perutku seperti dihuni oleh puluhan kupu-kupu yang menari-nari. Memandang wajahmu yang berkilau disiram cahaya lampu kendaraan bagaikan menatap telaga yang tenang. Itu sebabnya aku tak pernah bosan mengantarmu pulang. Membawamu kembali ke akal sehat—jauh dari Kota Cahaya yang mengerat tubuh dan waktu kita itu. Seperti malam itu, setelah senja rubuh ditelan gelap. Kau datang menjemputku, lalu mengajakku mampir di Vietopia sebelum pulang. “Aku ingin menikmati segelas iced lemongrass,” katamu waktu itu. Segelas lemongrass dingin dan wangi tubuhmu adalah kombinasi yang tak pernah bisa kutolak. Aku selalu terkapar dalam ekstase keriangan dibuatnya. Adakah kau mengingat sepotong malam di Vietopia itu? Masihkah potret kenangan itu tersimpan dalam album hidupmu? Aku tak tahu. Seperti juga aku masih tak tahu kenapa kau selalu bertanya tentang perpisahan. Bukankah kita selalu berpisah setelah kau sampai di rumah dan aku harus pulang? Pergi dan berpisah darimu tak berarti aku tak mencintaimu. Itu hanya sementara. Fana. Seperti halnya cinta.

23


28 HARI

Cinta adalah ruang dan waktu datang dan menghilang …Maafkan cinta atas kabut jiwa yang menutupi pandangan kalbu… (Dewa 19) Maka, sekali lagi pahamilah, kita hanya berbeda ruang. Tapi masih satu hati. Kita memang berjarak waktu, namun saling dekat di kalbu. Usahlah kau puspas hati. Aku toh selalu ada bila kau butuhkan. Kita masih tetap bisa berpalun-palun di sofa kafe mana pun yang kau suka. Menyesap gelas demi gelas ice lemon grass di Vietopia. Kelak kau pasti bakal mengerti betapa kosongnya rumah hatiku sejak kau tak mau pulang ke sana. Kau akan tahu sungai-sungai kalbuku yang mengalirkan darah setelah kau sayat begitu dalam dengan cinta dan sayangmu. Malam ini, aku ingin kembali mengantarmu pulang. Menuju rumah. Menuju cinta. Biar susah sungguh. Biar hampir muskil. Sebab, ketika aku tengadah, kulihat langit Jakarta sedikit terang oleh cahaya rembulan yang cuma segaris. Mungkin ini perlambang bahwa di tengah hidup yang semakin kelam, selalu ada harapan di kejauhan, meski dia toh tak abadi karena pasti akan digantikan oleh sinar matahari esok pagi.

SURAT

Date: Feb 8, 2010 TO: Perempuanku SUBJECT: Tentang Maaf Perempuanku, Berapa banyak lagi waktu yang kita punya? Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah, seperti sering kau katakan, selamanya tak selalu berakhir bahagia. Sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama. Dan hari ini saja bisa menjelma kekal dalam ingatan yang selalu dapat kita putar ulang. Jadi, jika kita memang hanya memiliki hari ini, detik ini, momen ini pernahkah kau tanyakan kenangan apa yang akan kau tinggalkan ketika esok datang?

24


28 HARI

Akankah kau mengenangnya dengan senyuman, dengan tangis, dengan kesumat yang memuncak ketika langit di atas kepalamu seluruhnya gelap? Tidakkah kau ingin mengkristalkan satu hari ini dalam senyum yang mengembang cantik seperti sayap kupu-kupu yang berkilauan di balik sebuah kotak kaca? Banyak di antara kita yang marah karena masa lalu kita dirusak oleh orang lain. Maaf mungkin memang tak pernah bisa memperbaiki masa lalu, tetapi pasti memperindah masa depan. Bayangkan, hal itulah yang dikatakan Mario Teguh, motivator terkenal itu, di televisi, tepat ketika aku tengah mengetik surat ini. Bukankah semua ini lucu, sekaligus menyentuh, sesuatu yang membuatmu ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan? Ketika kau tahu sulitnya melupakan sebuah kesalahan meskipun kata maaf telah diucapkan, janganlah meninggalkan ingatan pedih pada kenangan. Tetapi, apa boleh buat. Satu episode dalam hidup kita sudah lewat. Terangkum dalam satu masa yang terasa seperti hanya sekejap mata. Maka, yang bisa kulakukan hanyalah mengucapkan satu harapan untukmu. Melangkahlah pada sinar mentari esok pagi dengan hati yang utuh dan bukan cuma separuh. Maafkan aku; dan lepaskanlah semua luka yang telah membuatmu menangis di malam hari. Kemudian, tersenyumlah lagi. Lelakimu. PS: Bisakah kita, setidaknya, kembali menjadi teman? Karena bukankah kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua?

9 FEBRUARI 2010

RUMAH

Suratku kepadamu mungkin memang tak pernah kau duga. Pertanyaanku pun mungkin sesuatu yang sulit kau jawab. Bagaimana mungkin kau dan aku hanya

25


28 HARI

berteman setelah semua yang kita lalui bersama? Bagaimana mungkin kita menafikan perasaan sendiri dan melipat kenangan ke sudut hati? Bagaimana mungkin harapan yang baru menyala langsung kita matikan begitu saja? Mungkin kamu belum lupa harapan itu terbit ketika pagi baru saja pergi dan siang datang membawa panas—waktu itu. Kabut lesap ditelan cahaya. Matahari baru saja memamerkan sinar yang berdenyar-denyar membakar jangat. Aku dan dirimu menggelandang ke timur, menantang matahari. Tanganmu dan jemariku saling bertautan, bergandengan bagaikan bintang dan rembulan dan yang berdekatan di jantung rimba malam. Sejak pertemuan dinihari yang menggetarkan itu, aku dan kamu tak pernah berpisah lagi. Seperti daun dan ranting. Seperti pelangi dan hujan. Seperti kemarau dan lengas. Bila hati saling bertaut, rindu yang ditabalkan berpendarpendar. Udara wangi seruni. “Ceritakanlah kepadaku tentang cinta,” tiba-tiba kau meminta. “Cinta? Aku tak tahu,” jawabku. “Ayolah, kamu pasti bisa,” kau merengek manja seraya merebahkan kepala ke dadaku. Aku terdiam, berusaha mengingat sebuah sajak kecil tentang cinta karya Sapardi. mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjadi jilat mencintai cakrawala harus menebas jarak mencintaiMu(mu) harus menjadi aku…. Cinta mungkin memang relasi yang tak mudah. Barangkali ia juga bukan sesuatu yang final. “Proses?” kamu bertanya lagi. “Mungkin. Aku tak pernah merasa pasti. Maukah kau kupeluk untuk menggambarkan apa itu cinta?” Kamu tersenyum malu-malu. “Nanti saja setelah gelap, aku malu pada matahari,” katamu.

26


28 HARI

Aku tergelak, lalu memelukmu. Kuusap-usap rambutmu yang hitam kelam. Kamu malah merengut, dan mencubit pinggangku. “Mengapa kau bertanya tentang cinta?” “Karena aku tenggelam dalam pesonamu. Senyummu hangat. Menenangkanku. Aku jadi takut kehilangan dirimu. Inikah cinta? Aku tak mengerti. Akankah kau meninggalkanku?” “Mana mungkin aku pergi.” “Aku tak tahu. Siapa yang bisa menujum hatimu. Jalan begitu panjang dan tak lempang di depan… Eh, tapi bagaimana seandainya justru aku yang pergi?” kau ganti bertanya. “Akankah kau baik-baik saja?” “Mengapa kau bertanya? Kamu mau meninggalkanku?” aku tergagap. “Tentu saja tidak. Tapi seandainya aku pergi… ” kamu tak meneruskan kalimatmu. Aku menghentikan langkah, menatap mata rembulanmu. “Entah. Siapa yang bisa menebak perasaanku esok, lusa, dan kelak,” jawabku untuk meyakinkanmu.“Mungkin aku tak akan menangis, tapi hatiku berdarahdarah.” “Kalau begitu, aku tak akan pernah meninggalkanmu,” kau berjanji demi matahari. Kita terus berjalan ke timur. Matahari jatuh di barat. Sinarnya menciptakan bayang-bayang. “Tapi sampai kapan kita terus berjalan?” kau kembali bertanya. “Sampai kita lelah dan tak lagi mampu mengangkat kaki.” “Tidakkah kita membutuhkan tempat berteduh? Rumah?” “Rumah macam apa yang kau inginkan?” “Cukup sebuah pondok mungil berhalaman luas. Pohon-pohon berserakan. Rumput hijau basah. Ah, tapi mungkin kau tak akan menyukainya.”

27


28 HARI

“Siapa bilang. Buat aku, rumah tak perlu besar, yang penting cozy, tenang, teduh…” “Huh, kukira rumah buatmu adalah tempat di mana ada aku,” kau merajuk. “Kamu lebih dari sekadar rumah.” “Lalu apa arti diriku buatmu?” “Seluruh sisa hidupku.” Di ujung petang, hujan mendadak jatuh berderai-derai. Angin kencang membuat air keperakan itu berhamburan—seperti sapuan kuas pada lukisan cat air. Dan sayup-sayup aku seperti mendengar Sting bersenandung dengan suara sengau… …I want to see your face in every kind of light In fields of gold and forests of the night And when you stand before the candles on a cake Oh, let me be the one to hear the silent of the wish you make Those tomorrows waiting deep in your eyes In the world of love you keep in your eyes I’ll awaken what’s asleep in your eyes It may take a kiss or two Through all of my life Summer, winter, spring and fall of my life And I ever will recall of my life Is all of my life with you… DRAFT

Date: Feb 9, 2010 TO: Lelakiku SUBJECT: Re: Tentang Maaf Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu. Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu.

28


28 HARI

Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu? Bukan cinta. Atau kecupan lewat kala senja. Tapi waktu. Semakin singkat. Ingatan fotografis semakin tak bisa diandalkan ketika jejakjejak mulai berkarat. Dan kamu tahu karat itu hama seperti binatang pengerat. Aku tidak lagi ingin kamu dalam satu kerat. Tidak cukup kuat. Imajimu tidak bisa menjelma nyata hanya dalam nyala lampu 25 watt. Dan waktu tersaruksaruk di belakang kita dengan langkah-langkah berat. Hanya waktu. Apakah aku meminta terlalu banyak? [Tidak, kamu meminta terlalu sedikit. Kecanduan akan waktu ini seperti penyakit, sementara rentang hidup semakin sempit.] Bisakah kita melahap bintang-bintang dengan mata saja? Pada sebuah ketika di mana akhirnya langit kita berbagi warna serupa. Ketika jendela tak perlu menjelma perantara untuk mengantarkan bingkisan kata-kata. Kedipan bulu mata adalah nyata. Setiap geraknya. Setiap helainya. Tanpa sela. Tanpa cela. Sempurna. Ini tak akan bertahan selamanya. Aku tahu. Cuma sementara. Aku tahu. Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna? Karena aku tidak meminta selalu. Aku cuma minta secukupnya waktu. Hanya waktu. Untuk mencintaimu. Tetapi… waktu kita sudah habis. Perempuanmu (dulu). ————————— Dan aku menekan tombol “save as draft”.

29


28 HARI

10 FEBRUARI 2010

SEPI

Malam ini, aku kembali ke kafe itu. Mencoba memutar kembali kenangan masa silam. Tapi gagal. Kupandang gelas-gelas iced lemongrass yang kosong. Sisasisa aglio olio di piring. Kudengar suara The Titans menyanyikan refrain lagu yang pedih itu: …ku kan pergi jauh bawa cintaku tanpa hadirmu di sisiku kuberharap bintang datang temani langkahku dalam sepi… Malam ini, aku ditikam sepisau sepi. Malam ini, berpuluh purnama setelah aku pergi meninggalkanmu untuk berkelana ke masa depan. Aku cuma bisa terpaku memandang helai-helai aglio olio yang tak kuhabiskan itu karut-marut seperti kisah hidup kita. Kemanakah gerangan kau sekarang berada, perempuanku? Adakah kau di tepi malam? Masihkah kau mengenang diriku? Apakah kamu melihat bintang dan rembulan yang sama dengan yang kutatap di sini, di balkon kafe ini? Dulu kita tak pernah alpa menatap bersama bulan ketika purnama dari balkon kafe ini. Juga ketika kita kedinginan di The Peak, Bandung. Di pinggir pematang sawah di Ubud. Di Pantai Senggigi. Di dermaga Labuan Bajo. Di setiap sudut kenangan. Dan kamu masih saja tak percaya bahwa purnama itu selalu berakhir untuk kemudian datang lagi sebulan kemudian. Mengapa semua itu harus ada awal dan akhir? Begitu kau pernah bertanya, setengah tak percaya. Aku tak mau menjawabnya karena merasa sia-sia meyakinkan dirimu yang selalu saja bertanya. Aku lebih suka memelukmu. Merengkuh pertanyaan dalam kehangatan. Mengganti rasa penasaran dengan kenyamanan.

30


28 HARI

Aku paling suka mencium rambutmu yang hitam bergelombang dan wangi itu. Tapi kamu tak pernah memberi tahu rahasia merek shampo yang kau pakai untuk mencuci rambutmu. Padahal aku pernah ingin membelikannya sebagai kado. Ah, aku bahkan masih terbayang sampai sekarang masih hapal benar bagaimana wangi rambutmu mengisi setiap relung hidungku. Menyergap indera penciumanku dengan sensasi yang nyaman. Malam ini aku mencoba mengais kembali setiap kenangan tentang dirimu di kafe ini. Kucoba mencarinya lewat gelas-gelas ice lemon grass dan sepiring aglio olio. Tapi aku gagal. Dan aku malah terkapar ditikam sepisau sepi…

ESOK

Tidak, tentu saja kita tidak bisa kembali menjadi teman. Ingin sekali rasanya kutuliskan kata-kata ini untuk membalas surat yang kau kirimkan. Kamu pernah memiliki waktu yang tak terhingga, dulu. Untuk duduk bersamaku, menikmati kopi dan teh di kala hujan, menonton DVD film-film pemenang festival sambil berbagi sepiring aglio olio di atas tempat tidur, atau hanya untuk diam memandangi langit yang tidak pernah sepi. Tetapi waktu kita sudah habis. Kamu sudah memilih untuk pergi meninggalkanku dan menghabiskan sisa waktumu bersamanya. Lalu, aku bisa apa? Bukannya aku tidak mencoba. Bukannya aku tidak setia. Selama bertahun-tahun ini, aku lebih memilih untuk sendiri. Untuk hidup hanya dari kenangan-kenangan akan kita. Aku memilih untuk hidup di masa lalu, bersamamu. Aku mencoba menghentikan waktu di tempatku, sehingga selamanya hanya akan ada aku dan kamu. Aku terbang menuju tempat-tempat di mana kamu berada, hanya untuk melihatmu dari kejauhan. Kuikuti apa yang terjadi dalam kehidupanmu, seolaholah aku masih menjadi bagian di dalamnya. Kutuliskan surat-surat untukmu, yang tak pernah kukirimkan, hanya agar aku merasa bahwa kamu masih ada untuk mendengarkan cerita-ceritaku. Tetapi waktu di tempatmu terus berjalan. Kamu dan dia terus bersama-sama. Melewati sekian tahun yang tidak menginginkan aku menjadi bagian di dalamnya. Setidaknya kalian memiliki satu sama lain. Kalian memiliki masa depan.

31


28 HARI

Yang kumiliki hanya masa lalu yang sendirian. Aku lelah. Rasanya aku sudah menunggu terlalu lama untuk melihat gambaran mengenai kamu di masa depan. Kamu yang kembali, kamu yang memutuskan untuk meninggalkannya, kamu yang memilih untuk bersamaku. Tahun-tahun berlalu, dan masa depan itu tidak kunjung datang; sementara masa lalu ini terasa semakin membosankan. Bayanganmu tidak lagi cukup untuk membuatku baikbaik saja. Aku hanya ingin berbalik meninggalkan kemarin dan berlari menuju esok hari.

11 FEBRUARI 2010

WAKTU

Seandainya aku bisa memutar waktu, aku pasti tak hanya hidup bersamamu di masa lalu, tapi juga musim-musim yang hendak kita tuju. Dulu cuma abadi di masa lalu. Terbuat dari batu cadas. Tak bisa diapa-apakan. Masa depan dapat kita bentuk dari sekarang. Untuk apa kita hidup di masa lalu? Dunia toh terus bergegas lekas. Gerimis turun. Panas meranggas. Begitu seterusnya. Menuju masa depan. Tapi ini soal pilihan apakah kau tetap ingin hidup sendirian di masa lalu, atau mencoba peluang bersamaku di masa depan. Masa depan menunggu dengan sabar. Seperti aku menantimu. Di sini. Berteman angin yang berdesir-desir. Usahlah kau takut. Jangan pernah merasa sendirian. Aku toh akan selalu di dekatmu. Mewarnai hidupmu, setiap hari sepanjang waktu. Meski kita berjauhan. Seperti kau dulu juga setia di sebelahku, membacakan puisi-puisi Sara Teasdale menjelang tidur: Let It Be Forgotten.

32


28 HARI

Let it be forgotten, as a flower is forgotten, Forgotten as a fire that once was singing gold. Let it be forgotten forever and ever, Time is a kind friend, he will make us old. If anyone asks, say it was forgotten Long and long ago, As a flower, as a fire, as a hushed footfall In a long-forgotten snow. Marilah kita lupakan masa lalu yang biru dan membuat bibirmu kelu. Biarlah perih dan luka disembuhkan oleh waktu. Waktu adalah teman yang baik. Membuat kita dewasa. Membikin kita lebih kuat. Dan kuat. Lupakan saja yang dahulu. Seperti kabut meninggalkan tanah, kupu-kupu melepas kepompong, dan pelangi meninggalkan hujan. Musim semi sudah menunggumu. Hari-hari warni-warni ada di depanmu. Hidup tak pernah sama lagi buatmu. Untukku. Kita.

BAHAGIA

Malam tadi, aku bermimpi. Dini Hari datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku. “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” katanya. Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkan Dini Hari kepadaku. “Entahlah,” Dini Hari mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…” Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu: Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia? Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…

33


28 HARI

Jadi? Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari. “Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya Dini Hari. “Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?” “Karena dulu kamu memilikinya,” Dini Hari menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?” “Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap Dini Hari tepat di matanya. Dini Hari tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku. Time After Time-nya Cindy Lauper. after my picture fades and darkness has turned to gray watching through windows—you’re wondering if I’m OK secrets stolen from deep inside the drum beats out of time… “Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.” Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihanpilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya. “Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar Dini Hari. “Apa?” tanyaku. Dini Hari tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”

34


28 HARI

Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa. “Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan. “Kita semua menginginkannya,” Dini Hari mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”


 


12 FEBRUARI 2010

SEDERHANA

Apakah artinya bahagia buat kamu? Untukku? Kebahagiaan untukmu mungkin jauh berbeda bagiku. Aku hanya lelaki sederhana yang merasakan bahagia justru ketika tak memiliki apa-apa. Aku pun baik-baik saja meski setiap hari mencoba bertahan dengan keudikanku di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar. Aku tak pernah menyentuh gendul-gendul Chivas Regal, Chardonnay, Dry Gin, dan seterusnya itu. Sesekali memang aku mendatangi kedai-kedai moncer dengan cangkir-cangkir kertas putih berlogo hijau isi kopi panas yang mengepul itu. Tapi toh akhirnya aku lebih sering setia pada gelas butut berisi seduhan kopi dari dapur rumahmu. Dapur yang selalu memanaskan cintamu kepadaku. Bagiku hidup adalah sesuatu yang tenang tapi pada dasarnya riang di dalam hati. Aku ingin seperti kembang mawar yang tidak mentereng, tapi segar. Rumput hijau yang tidak mahal, tapi bersih. Di masa ketika kita—karena iklan atau pun keserakahan—dipanasi hasrat untuk punya lebih banyak barang, atau punya yang lebih baru, aku lebih suka menatap wajahmu yang tenang, adem. Sejuk. Sederhana.

35


28 HARI

Mengapa kamu? Karena kukira dalam dirimu telah terbentuk sikap yang sejati, untuk tidak menganggap bahwa makna kata “berada” adalah berpunya. Ber-ada adalah hadir, hidup. Ber-punya hanyalah memperluas kemungkinan, suatu jalan, bukan tujuan. “Aku dulu diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajariku untuk menahan keinginan, untuk mengetahui sampai di mana aku dapat mengatur kekuatan,” begitu kau pernah berkata padaku. Terus terang aku terpana mendengar kata-katamu waktu itu. Kamu mengenalkanku pada sebuah cakrawala baru tentang iman dan keyakinan. Tentang kesederhanaan dan kebahagiaan. Kesederhanaanmu bukan suatu pengertian yang menggugat, yang membingungkan, penuh hipokrisi. Kamu bahkan tak pernah dengan suara keras menghardik kemewahan yang kini bergelombang menghantam kita setiap hari. Tapi mengapa pula mesti menghardik? Kamu orang yang sudah berbahagia. Kesederhanaan bagimu adalah suatu ketenteraman yang mengasyikkan. Sebuah kebun mawar. Sebidang rumput hijau. Suatu berkah. Karena itu, aku iri kepadamu. Sangat. Aku selalu mengimpikan tertular virus bahagia darimu. Tapi itu dulu, sebelum kau memutuskan pergi. Aku tak tahu apakah dengan kepergianmu itu kamu masih bahagia dan memiliki keriangan di dalam hati. Mungkin waktu itu untuk pertama kalinya kau tak bahagia. Entah, aku tak tahu. Aku hanya yakin bahwa kehidupan tak akan berakhir dengan bahagia yang lengkap. Manusia tak akan pernah jadi tanpa cacat. Praktis sajalah. Kalaupun kita memiliki rencana, jangan terlalu muluk, kecewa bisa terlalu pahit. Hidup adalah pilihan. Dan di antara pelbagai pilihan ke masa depan, kita telah memilih satu yang paling kurang brengsek. Mungkin kita akan tetap bahagia karena pilihan itu. Kalaupun pilihan itu salah, setidaknya aku pernah merasa bahagia karena sempat memilikimu. Meski hanya sementara. Sebentar saja….

36


28 HARI

PUDAR

One’s fairy tale is always somebody else’s nightmare. Ketika seseorang diam-diam menyimpan rasa, ada seseorang yang tengah berupaya menepiskannya. Ketika sekeping cinta dilepaskan ke udara, ada seseorang yang berlari untuk menangkap jatuhnya, sementara seorang lagi bersembunyi agar tak terkena serpihannya. Setiap kali ada orang yang jatuh cinta, pada saat itu pula selalu ada orang yang patah hati. Mungkin perpisahan kita menjelma dongeng terindah untukmu; tetapi merupa mimpi buruk untukku. Dan percayalah, tidak ada seorangpun yang hendak tertidur selamanya ketika tengah terperangkap dalam sebuah mimpi buruk. Sama halnya dengan aku. Setelah bertahun-tahun ini hidup dalam kenanganmu, aku menyadari sesuatu yang pelan-pelan naik ke permukaan. Betapa aku telah begitu terbiasa hidup tanpa kehadiranmu. Betapa ternyata aku telah baik-baik saja tanpa kamu di sisiku. Memang, aku masih sering memutar kenanganmu di masa lalu untuk melepaskan kerinduanku akan waktu-waktu yang tak sempat lagi kita habiskan berdua. Tetapi ternyata kenangan tentangmu sudah cukup untuk membantuku melewati hidup yang tak pernah menjadi lebih ramah. Frekuensi pemutaran kenangan-kenanganmu pun semakin jarang. Tidak setiap rintik hujan mengingatkanku pada kita; pada trem yang akan membawa kita ke The Peak di HongKong waktu itu; atau pada sekian malam yang kita habiskan menghirup cangkir demi cangkir teh di Tea Addict. Semakin kerap rasanya ketika hujan hanyalah menjadi hujan. Yang indah dipandangi dari balik jendela, dengan selintasan pemikiran acak di benakku: hazelnut latte hangat, pekerjaan yang harus kuselesaikan besok pagi, wangi samar Love dari koleksi parfum Harajuku Lover-ku, bait-bait Viva La Vida-nya Coldplay, film romantis New York, I Love You… semua hal yang tak lagi berhubungan dengan kamu. Dari balik jendela taksi yang berembun di malam hari, kupandangi lampulampu yang menyala, gedung-gedung tinggi, menara listrik dengan kilatankilatan yang nampak mengerikan… dan di bingkai jendela, hanya terpantul wajahku. Tidak ada lagi kamu yang mendesak-desak di sana dan membuatku hanyut dalam malam-malam yang sendirian. Apakah aku sudah mulai begitu terbiasa tanpamu?

37


28 HARI

Perasaan ini mulai terasa ringan. Menyenangkan. Membebaskan. Bisa jadi, memang terlalu berat untukku jika harus kemana-mana membawa-bawa beban dua orang. Melepaskanmu mungkin bukan hal terburuk yang bisa kulakukan— setidaknya untuk diriku sendiri. Karena aku juga ingin cepat terbangun dari mimpi buruk ini dan tersenyum kembali pada matahari.

13 FEBRUARI 2010

KUPU-KUPU

Kamu kupu-kupu yang menari di taman hatiku. Begitulah kamu sejak kita pertama kali bertemu. Lalu tiba-tiba saja kamu ada di perutku. Di dadaku. Di kepalaku. Hatiku tertambat padamu sejak dulu. Kamulah yang mewarnai musim semiku. Menghangatkan musim saljuku. Dan meneduhkan musim panasku. Di dalam taman hatiku, hanya ada satu kupu-kupu: kamu. Tak ada kupu-kupu lain. Bahkan yang masih berupa kepompong sekalipun di sana. Itu sebabnya aku selalu heran. Mengapa kamu mencemaskan burung-burung yang cuma singgah sebentar di taman? Burung-burung itu toh tak menghisap nektar atau menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan. Mereka hanya sejenak menumpang teduh untuk kemudian terbang lagi entah ke mana. Usahlah kamu cemas pada yang sementara. Pada mereka yang hanya mampir dan tak benar-benar tinggal. Seperti halnya terminal, aku toh bisa saja sesekali menjadi tempat bagi bus-bus dan angkutan kota itu datang mengambil penumpang. Toh aku tak pernah mengikuti bus-bus itu memburu calon penumpang di jalan-jalan yang sesak dan berdebu. Yang singgah, menumpang berteduh, atau mengambil penumpang itu tentu bukan kupu-kupu. Mereka bukan pemilik, paduka duli, penghuni sejati taman

38


28 HARI

hatiku—seperti dirimu. Kamulah ibu dari segala ibu bumi. Perempuan dari semua perempuan penguasa hati. Usahlah kamu cemburu pada bayang-bayang. Sesuatu yang tak nyata. Gambaran bahwa aku seolah-olah menikmati pelukan, juga kecupan, perempuan itu ilusi. Pemandangan tentang senyum yang lebar dan tawa yang membahana di setiap pesta itu pun fatamorgana belaka. Semuanya tak lebih dari perasaanmu yang terbawa arus sesat semata. Bayangkan saja. Bagaimana mungkin aku mampu menolak pesonamu ketika setiap malam aku justru meranggas menanti teleponmu? Mana mungkin aku menafikan kehadiranmu saat dirimu justru seluruh inspirasiku? Kamu puisiku. Bait-bait yang tak pernah jemu kutulis. Sajak-sajak yang tertanam di benakku. Prosa yang menjerat hatiku. Duhai kupu-kupuku, teruslah menari untukku. Teruslah mewarnai hidupku. Temani aku melewatkan musim semi, musim gugur, musim dingin, dan musim panas. Apa adanya. Selamanya…

LEPAS

Aku melepaskanmu. Aku menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayanganmu melekat di kaca jendela yang tengah kupandangi. Melesak ke dalam benakku dan membuat huru-hara di sana; tetapi hatiku tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika kamu menampakkan wujudmu dalam setiap benda-benda transparan yang kulewati, aku akan menghabiskan sisa hari dengan melamunkan kamu dan mengasihani diri sendiri, seperti yang selalu terjadi selama ribuan hari belakangan ini. Dengan gundah, aku pun mulai membongkar kembali lembaran buku-buku harianku, dan kembali ke masa lalu. Tidak ada rasa dingin itu, yang menjalari jari-jemariku setiap kali aku menelusuri namamu di atas halaman-halaman itu. Aku seperti mati rasa, dan yang terlintas dalam pikiranku hanyalah betapa buku-buku harianku selalu terlalu cepat habis karena aku terlalu banyak menulis tentang kamu.

39


28 HARI

Foto-fotomu terselip dalam setumpuk kenangan lama yang kuabadikan dalam sebuah kotak kayu berwarna coklat–bersama sosok-sosok lain yang pernah singgah dan tersingkir seiring berlalunya waktu. Teronggok di samping bukubuku harianku, kotak itu membukakan pintu bagiku untuk melihat kamu lagi. Kamu ketika dulu, yang pernah membuatku merasa begitu istimewa. Tetapi hari itu, pandanganku pada siluetmu tidak lagi meledakkan utopia tentang aku dan kamu di masa depan. Ini ganjil. Karena biasanya semua ritual menyedihkan itu akan membuat hatiku berantakan dan ribut sendiri. Tapi kali ini aku melewatinya seperti rasa cukup yang menerpa ketika aku mulai terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang benar-benar aku sukai. Ketika frekuensi santapan itu telah mengintens menjadi sekali seminggu, tiba-tiba saja kenikmatannya menjadi tidak terasa lagi. Meraih telepon genggam yang berkedip-kedip, kusadari bahwa sebaris peringatan telah lama berpendar di sana. Inbox-ku sudah terlalu penuh. Tanpa rasa sayang dan pikir panjang, tiba-tiba saja aku sudah menghapus semua smsmu yang selama ini sengaja kusimpan, untuk diintip kembali tiap kali aku merasa bosan. Kali ini tidak ada sesal. Sudah terlalu banyak sampah yang berlama-lama kutumpuk di dalam telepon genggamku. Membuang sampah-sampah itu seperti memberi kebebasan bagi si telepon genggam untuk bernapas lega. Ia menjadi sehat dan hidup kembali, sehingga mampu mengantarkan pesan-pesan baru dengan kecepatan yang luar biasa. Tengok ponselku sekarang. Dan namamu tak ada lagi di urutan paling depan maupun paling belakang. Kehadiranmu tak akan terlacak dalam jajaran inbox, outbox, maupun draft. Dalam satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, aku berdiri di depan setumpuk kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap jatuh lagi. Kupandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali. Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri. Kemudian aku berbalik pergi. Meninggalkan semuanya. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya secangkir kopi, sepotong bakpao ayam, serta buku The Melancholy Death of The Oyster Boynya Tim Burton. Aku pun terjaga sampai pukul 4 dini hari. Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.

40


28 HARI

Aku jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang langit-langit kamar dan mematikan weker yang baru satu menit lagi akan berbunyi. Hujan masih belum berhenti. Dan aku masih memutuskan untuk tidak kembali. Karena penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milikku. Aku melepaskanmu. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang aku rasakan bukan lagi tentang kamu.

14 FEBRUARI 2010

VALENTINE

Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua. Ada saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa aku tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa kamu, suatu hari, akan memutuskan untuk memilihku dan menjadikanku satu-satunya. Memang, ada masanya ketika aku meyakini bahwa menjadi prioritas kedua adalah sesuatu yang harus kuterima dengan lapang dada. Ini demi kamu. Demi kita. Yang perlu kulakukan hanya bersabar dan tetap berada di sisimu. Tetapi tahun demi tahun berlalu, dan aku tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu kuyakini sepenuh hati. Kesendirian atau kebersamaan tidak menggangguku. Tetapi kenyataan bahwa aku tak pernah tahu apakah sesungguhnya aku sendiri atau bersamamu adalah sebuah kutukan yang menghantui hari-hariku. Ketidaktahuan apakah aku adalah milikmu atau apakah kamu adalah milikku, menjadikan dunia buram di mataku.

41


28 HARI

Aku terantuk, tersandung, terjatuh, tanpa pernah tahu di mana aku sesungguhnya berada: di relung atau palung hatimu? Dan waktu berjalan. Ribuan hari terlewati. Kemudian di penghujung malam, aku hanya punya kenangan. Kenangan yang sudah usang, sehingga begitu rapuh untuk disentuh. Jika aku mencoba merabanya, semua hanya akan meluruh menjadi serpih-serpih yang tak akan lagi bisa kusulam utuh. Aku bosan dengan mendung di langitku. Aku menginginkan matahari. Aku kedinginan karena hujan, dan mengharapkan musim panas. Aku tak lagi nyaman dengan langit yang melulu ungu dan kelabu. Aku ingin harum manis merah jambu dan balon-balon berwarna lucu. Menangis tidak lagi romantis. Aku ingin berbagi tawa dan tersenyum kepada dunia. Jadi, ijinkan aku untuk jatuh cinta dengan yang lain selain kamu. Dengan seseorang yang akan membuatku tertawa, bukan menitikkan air mata. Dengan seseorang yang akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ia menginginkanku kepada dunia, bukan menyembunyikannya. Dengan seseorang yang akan berbisik di telingaku bahwa aku adalah satu-satunya, dan sungguhsungguh memaksudkannya. Mungkin, bersamamu, aku sudah lupa apa artinya cinta. Kamu terlanjur membuatku percaya bahwa cinta adalah penerimaan diri ketika dijadikan orang ketiga. Dan aku bodoh karena meyakininya. Hari ini, aku menyadari betapa aku sudah terlalu lama menyakiti diriku sendiri; demi kita. Kita yang mungkin bagimu tidak pernah ada. Aku juga ingin berbahagia. Seperti kamu, dan dia. Dan jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu, tak mengapa. Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan memastikan bahwa hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.

SELAMANYA

Perempuanku. Tentu saja kita tidak pernah merayakan yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu. Kita tak pernah mengatur waktu, lalu pergi ke

42


28 HARI

suatu tempat khusus, berdua saja. Tak pernah ada makan malam berdua dengan lilin yang menyala syahdu. Tidak. Itu semua tidak pernah ada. Buat aku, setiap hari adalah kasih dan sayang. Untukmu. Selalu. Selamanya. Bersamamu, setiap hari adalah istimewa. Dengan atau tanpa makan malam. Dengan atau tanpa lilin. Bukan. Itu bukan karena kamu adalah nomor dua, tiga, empat atau yang kesekian. Ini bukan tentang siapa nomor berapa. Hidup toh bukan matematika dan statistik. Apalagi sekadar ranking. Dan ketika tahun demi tahun berlalu, kamu toh tetap segalanya bagiku. Jika kau bilang, sesekali kau terantuk, aku pun demikian. Bahkan berkali-kali. Tapi toh ini bukan sebuah relasi berdasarkan keseimbangan semata. Cinta bukan untuk ditakar dan ditimbang berdasarkan keuntungan. Bukan kutuk gelap yang menghantui setiap detik yang kita lalui. Ketidaktahuan, juga ketidakpastian, memang membuat kita gamang. Tapi bukankah hidup selalu demikian. Pada akhirnya toh kita semua kalah di ujung hari. Hidup hanya menunda waktu kita—untuk kalah. Mendung dan matahari datang silih berganti. Begitu juga pasang dan surut. Siang dan malam. Selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Maka nikmatilah rasa bosanmu sama riangnya dengan rasa senangmu. Sadari saja bahwa cinta kita bukan dari sejenis yang biasa. Sesuatu yang dipahami orang-orang sebagai sebagai kebersamaan. Matahari dan bulan toh tak pernah bersama dalam satu langit—di waktu yang sama. Tapi hidup ini membutuhkan mereka. Sebagaimana hidup kita memerlukan hujan dan panas. Musim gugur dan musim semi. Usahlah kamu semak hati. Sebab siapakah yang dalam hidup ini tak ingin bahagia. Aku? Kamu? Rasanya kita semua mendamba bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia. Proses atau tujuan? Bahagiaku mungkin tak sama dengan bahagiamu. Tapi aku tak hendak memaksa. Kalau bahagiamu adalah melepasku, tak akan kusesali takdirku. Sebab aku pun tahu. Bagaimana kau akan melepaskanku kalau kamu tak pernah benar-benar memilikiku? Maka, di hari yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu, aku hanya ingin menegaskan sekali lagi bahwa harapan selalu punya tempat. Seperti lagu yang dilantunkan oleh Enya dengan sendu itu…

43


28 HARI

One look at love and you may see it weaves a web over mystery, all ravelled threads can rend apart for hope has a place in the lover’s heart. Hope has a place in a lover’s heart … Selamat jalan. Semoga kau bahagia. Selalu. Selamanya …

___

44


Sign up to vote on this title
UsefulNot useful