P. 1
44 Kritik Terhadap Gereja Dan Gembala

44 Kritik Terhadap Gereja Dan Gembala

|Views: 1,525|Likes:
Published by dede wijaya
About Church's Critics and Pastor's Doctrine
About Church's Critics and Pastor's Doctrine

More info:

Published by: dede wijaya on Feb 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

http://www.dedewijaya.co.

cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

43 KRITIK TERHADAP GEREJA DAN GEMBALA
1. Baptis Bayi/Anak adalah Tidak Alkitabiah 2. Pendeta/Penatua/Penilik Jemaat/Gembala Wanita dan Diaken/Majelis Wanita adalah Tidak Alkitabiah 3. Sistem Kepausan adalah Tidak Alkitabiah 4. Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah 5. Membaptis secara Percik atau dengan Bendera adalah Tidak Alkitabiah 6. Manusia diselamatkan hanya karena IMAN bukan karena Baptisan, Iman+Perbuatan, Iman+Baptisan, Iman+ ++ lainnya. Baptisan Tidak Menyelamatkan. 7. Arianisme dan Saksi Jehova yang menolak Keilahian Yesus dan Tritunggal adalah Tidak Alkitabiah 8. GSPdI (Gereja Serikat Pantekosta di Indonesia) dengan mode Sabelian (Allah 1 Pribadi dalam 3 wujud) adalah Tidak Alkitabiah 9. Sistem Gereja Universal/Katolik/Am adalah Tidak Alkitabiah. Sistem Gereja Lokal adalah ALKITABIAH 10. Sistem Eskatologi Amilenialisme dan Postmilenialisme adalah Tidak Alkitabiah 11. Menafsirkan 6 hari Penciptaan sebagai bukan 6 hari biasa adalah Tidak Alkitabiah 12. Calvinisme dengan 5 point TULIP adalah Tidak Alkitabiah 13. Predestinasi John Calvin adalah Tidak Alkitabiah 14. Gerakan Ekumene adalah Tidak Alkitabiah, Kesatuan yg Alkitabiah adalah Tidak Mengkompromikan KEBENARAN/DOKTRIN/PENGAJARAN 15. Verbal Plenary Inspiration (VPI) dan Verbal Plenary Preservation (VPP) dalam doktrin Alkitab adalah ALKITABIAH 16. Bayi yg mati PASTI MASUK SURGA karena sudah ditebus oleh Darah Yesus 17. Sekali Selamat Tetap Selamat=SSTS= Once Saved always Save adalah Tidak Alkitabiah. Beriman sampai Mati/Akhir PASTI MASUK SURGA. Jaminan Keselamatan Bersifat Kondisional/Bersyarat. 18. Kerajaan 1000 tahun, Surga dan Neraka adalah benar-benar Nyata. 19. Hanya ada dua Upacara/Ordinansi yang diperintahkan Tuhan yaitu Baptisan Air dan Perjamuan Tuhan 20. Pewahyuan dan Nubuat dan semua karunia yg berhubungan dengan Pewahyuan (Bahasa Roh/berbahasa Lidah, Bernubuat, dan Pengetahuan, 1 Kor 13:8-10) sudah Tidak ada sejak Wahyu 22:21 selesai ditulis. Tidak ada Firman Allah lagi di luar Alkitab yang telah Kanon (Tidak ada ekstra biblical)

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

21. Wanita berkhotbah di Kebaktian Umum/Ibadah Raya/Pertemuan Jemaat yang dihadiri Jemaat Dewasa (keluarga/yang sudah menikah) adalah Tidak Alkitabiah 22. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat pada hukum Sabat, karena itu Gereja Advent yg mempertahankan hari Sabat, makanan dan minuman tertentu, Hukum Sunat adalah Tidak Alkitabiah. Pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yg tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di PL menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan Kebenaran dalam PB atau Ibadah Hakikat. 23. Manusia adalah suatu Pribadi ciptaan Allah yang diberi kemampuan berpikir, kesadaran diri, kehendak bebas, dan ketika jatuh dalam dosa, hanya kehilangan Kemuliaan Allah dan hubungan/komunikasi dengan pencipta. Manusia tetap mempunyai kehendak bebas. 24. Manusia yang belum diselamatkan mampu merespon terhadap berita Injil, sehingga Aktivitas penginjilan adalah KEHARUSAN. Mati secara rohani bukanlah mati seperti mayat yg tidak bisa merespon berita Injil. 25. Gereja Lokal adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK) 26. Tuhan telah menghentikan jabatan IMAM dan praktek keimamatan (pemberkatan oleh “pendeta“ pada akhir kebaktian, pemberkatan nikah, dll) untuk Jemaat perjanjian Baru. 27. Konsep Family Altar adalah Salah karena kita tidak lagi hidup dalam masa Keimamatan Ayah (zaman antara Adam sampai Taurat diturunkan) 28. Istilah yg benar adalah Peneguhan Nikah, bukan pemberkatan nikah. Istilah Pemberkatan nikah dipakai Gereja Roma Katolik karena mereka menempatkan pernikahan sebagai salah satu sakramen (upacara kudus) gereja. Gereja Alkitabiah hanya mengenal dua ordinansi (Upacara yg diperintahkan) yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Dalam Gereja Alkitabiah tidak ada jabatan imam yg berwenang memberkati, itulah sebabnya tidak dibenarkan memakai istilah Pemberkatan Nikah. Upacara yg dilakukan gereja alkitabiah dalam hal pernikahan ialah mengukuhkan atau meneguhkan pernikahan 2 anggota jemaatnya di hadapan Tuhan dan di hadapan sidang jemaatNya serta berdoa memohonkan kasih karunia Tuhan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Berkat Tuhan bagi mereka selanjutnya tentu bergantung pada sikap hati mereka kepada Tuhan, bukan pada penumpangan tangan dari imam atau pendeta yang melakukan praktek keimamatan. 29. Tidak ditemukan Penumpangan Tangan untuk PEMBERKATAN dalam Perjanjian Baru. Penumpangan Tangan untuk Pengukuhan Jabatan (Gembala, Penginjil, Guru Injil dan Diaken) sebegai bentuk Perestuan/Approve atas nama Jemaat
2

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 30. Tidak ada satu orang pun yang BERHAK membaptis seseorang ke

dalam Roh Kudus selain YESUS KRISTUS. Pendeta manapun yang mencoba membaptiskan seseorang ke dalam Roh Kudus adalah SESAT dan DURHAKA (merebut wewenang Yesus) 31. Ajaran Katolik tentang API PENYUCIAN adalah TIDAK ALKITABIAH 32. Nama Pribadi TUHAN adalah YHWH (baca: YAHWEH) bukan ALLAH atau TUHAN 33. Pastor dan suster Katolik menikah adalah ALKITABIAH 34. Jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada/dihentikan karena Pewahyuan sudah berhenti. 35. 2 Kategori ajaran sesat: Keluar dari Alkitab dan Salah Menafsirkan Alkitab 36. Pengajaran MISKIN adalah DOSA, SUNGGUH SESAT, yang Benar: Miskin bisa disebabkan karena dosa (misal: Kemalasan) dan sebaliknya Pengajaran KAYA adalah BERKAT, Sungguh Menyesatkan, karena ada orang Kaya yang mendapatkan kekayaan dengan Cara-cara berdosa, misal: Korupsi, ke dukun/roh2 gunung Kawi, menipu orang lain, dll 37. Tuhan Berdaulat 100% (sepenuhnya) dan Manusia bertanggung Jawab 100% (sepenuhnya) adalah ALKITABIAH 38. Setiap orang yang dilahirkan dari keturunan Adam dan Hawa mewarisi POSISI orang berdosa atau Nature (sifat hati) yang berdosa adalah ALKITABIAH 39. Hanya ada SATU CARA untuk Menyelamatkan manusia dari PENGHUKUMAN, yaitu dengan mengirim JURUSELAMAT untuk dihukumkan sebagai pengganti manusia berdosa adalah ALKITABIAH, tegasnya DOSA hanya dapat diselesaikan melalui PENGHUKUMAN 40. Pengajaran Cyprian (AD 200-258) yang tercatat sebagai orang yang mempromosikan konsep keselamatan oleh Gereja. Ia menasehatkan agar semua gereja menggabungkan diri ke dalam Gereja Universal (KATOLIK) dengan Slogannya yang terkenal DILUAR GEREJA TIDAK ADA KESELAMATAN (EXTRA NULLA SALUS EKKLESIAM). Sejak saat itu dimulai suatu gerakan untuk menggiring semua gereja otonom (independen) ke dalam Gereja Roma Katolik dengan indoktrinasi bahwa TIDAK ADA KESELAMATAN DI LUAR GEREJA ROMA KATOLIK. Tidak cukup dengan itu akhirnya disusunlah Pengakuan Iman Rasuli yang salah satu pointnya Gereja yang Kudus dan Katolik (Am, Universal). Ini Pengajaran yang SUNGGUH MENYESATKAN dan TIDAK ALKITABIAH. 41. Satu Kesalahan Fatal Pengakuan Iman Rasuli adalah adanya pernyataan bahwa GEREJA itu HARUS KATOLIK. Tetapi hingga saat konsili di Nicea (tahun 325 AD) belum muncul pengakuan iman tertentu yang berlaku secara universal, yang tepat
3

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

dengan kata-kata yang sama, dan diperintahkan oleh otoritas universal yang sama. But until the time of the Council of Nicen there does not appear to have been any one particular creed which prevailed universally, in exactly the same words, and commended by the same universal authority (Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, John McClintock & James Strong, Grand rapids: Baker book House, 1981, Vol II, p 559) Kutipan tersebut membuktikan bahwa Pengakuan Iman ”Rasuli” (PIR) yang digembar-gemborkan oleh Gereja Roma Katolik dan dipungut Gereja Protestan, serta di-beo-kan oleh Gereja-gereja Injili sesungguhnya bukanlah Pengakuan Iman yang disampaikan oleh Para Rasul. Jelas sekali bahwa pada zaman Para Rasul belum dikenal istilah THE HOLY CATHOLIC CHURCH atau Gereja Yang Kudus dan Am (KATOLIK), yang terdapat dipengakuan iman tersebut. Bahkan pernyataan gereja Yang Kudus dan Am itu sangat mustahil karena gereja tidak mungkin Kudus jika ia bersifat KATOLIK. Gereja akan Kudus kalau bersifat OTONOM dan LOKAL serta Menerapkan Disiplin Gereja dengan Ketat.
42. Iman yang Menyelamatkan ialah kita percaya bahwa YESUS KRISTUS

telah DISALIBKAN untuk MENANGGUNG semua DOSA kita. Atau seseorang percaya dengan segenap hati bahwa Yesus telah MENGGANTIKANnya disalibkan dan kini ia sedang menggantikanNya hidup, Memahami kondisi diri sebagai orang berdosa yang tidak berdaya, yang akan masuk ke Neraka, serta menyesali dosa-dosanya, dan mengucap syukur atas kasih Yesus kristus yang rela dihukumkan menggantikannya. 43. Kesalahan Terbesar Bapak-Bapak Reformator adalah tidak mereformasi Doktrin Gereja (Ekklesiologi). 44. Ajaran Pdt. Yesaya Pariadji tentang Minyak Urapan TIDAK ALKITABIAH.

Baca semua penjelasan & argumentasi poin-poin di atas di blog-blog saya di bawah. SIKAP TIDAK BERANI MENYATAKAN KEBENARAN DAN KETIDAKBENARAN adalah AKIBAT dari KETIDAKJELASAN. SESEORANG TIDAK MUNGKIN BISA MENJADI ORANG KRISTEN YANG BAIK TANPA MENJADI ANGGOTA JEMAAT YANG BAIK itulah sebabnya setiap orang Kristen yang telah LAHIR
4

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

BARU HARUS ALKITABIAH.

menjadi

anggota

dari

sebuah

jemaat

yang

Membicarakan Persatuan sambil meremehkan perbedaan-perbedaan DOKTRIN adalah mengorbankan KEBENARAN di atas mezbah impian khayal. AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian. Tidak ada Gereja yg Sempurna, itu benar. Ada Gereja Yang Lebih Benar, itu Benar.

Baca Banyak Artikel Alkitabiah lainnya di: http://kristenfundamental.blogspot.com (100 artikel) http://kristen-fundamental.blogspot.com (100 artikel) http://dedewijaya.blogspot.com (Hit Counter 23rb, 240 artikel) http://dedewijaya83.blogspot.com (Hit Counter 23rb, 240 artikel) http://dedewijaya.multiply.com (Hit Counter 4rb, 200 artikel) http://dedewijaya83.multiply.com (Hit Counter 3rb, 200 artikel) http://www.dedewijaya.co.cc (Hit Counter 23rb, 240 artikel) http://www.dedewijaya83.co.cc (Hit Counter 5rb, 180 artikel) http://www.dede-wijaya.co.cc (Hit Counter 2rb, 120 artikel) http://dedewijaya.wordpress.com (Hit Counter 5rb, 180 artikel) http://www.kristenfundamental.co.cc (100 artikel) http://www.sabdaspace.org/blog/dedewijaya (Hit Counter 8rb, 90 artikel) Diskusi/Debat http://www.in-christ.net/blog/dedewijaya (Hit Counter 5rb, 85 artikel) Diskusi/Debat http://dedewijaya.blogs.friendster.com (add saya di FS: dd123id@yahoo.com) http://www.webkristiani.co.cc (berisi 3000 website Kristiani) http://lexlicalife.blogspot.com (Ev. Johan, GBIA Graphe) http://www.graphe-ministry.org (Website GBIA GRAPHE dan GITS, SUHENTO LIAUW, D.R.E., Th.D, dr. STEPHEN EINSTAIN LIAUW, D.R.E., dr. ANDREW LIAUW, M.Th)

5

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

http://www.wayoflife.org (website Fundamental by DR. DAVID CLOUD) Forum Diskusi Alkitab dan Teologi: diskusi-alkitab@googlegroups.com

6

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

PEMBAHASAN POINT-PER POINT
1. Baptis Bayi/Anak adalah Tidak Alkitabiah
Bagaimana Tentang BAPTISAN?
Mungkin Anda telah mendengar orang-orang yang membahas cara membaptis yang tepat.“Jika seseorang dibaptis sampai ke lehernya, apakah ia telah benar-benar dibaptis?” tanya salah seorang yang sedang berbincang-bincang itu. “Tidak, tentu saja tidak,“ jawab yang lain.”Jika ia dibaptis sampai ke dahinya, apakah itu baptisan?” “Tidak,“ kata orang itu lagi dengan tegas. “Nah,“ kata orang tersebut, “itu membuktikan bahwa air yang di atas kepala itulah yang betul-betul penting!“ Baptisan air telah menjadi sumber kontroversi di kalangan Kristen sejak gereja mulai berdiri. Dalam Kisah Para Rasul baptisan air dikaitkan secara erat dengan PENGALAMAN PERTOBATAN. "Bertobatlah dan hendaklah kamu masingmasing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.“ (Kisah 2:38). Ayat-ayat seperti ini telah menimbulkan berbagai perbedaan pendapat yang masih terus diperdebatkan sekarang ini. Tiga pertanyaan kerap kali diajukan: (1) Haruskah baptisan air dibatasi untuk orang-orang dewasa yang secara pribadi telah percaya kepada Kristus? (2) Apakah baptisan itu suatu sarana kasih karunia yang membuat seseorang dilahirkan kembali? (3) Apakah yang menjadi pola baptisan-yaitu, haruskah kita diselamkan?

Munculnya Pembaptisan Anak Kecil
Dalam beberapa kasus teks Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa baptisan diberikan kepada mereka yang menanggapi berita Injil. Misalnya, dalam kasus kepala penjara di Filipi, kita membaca, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.“ (Kisah Para Rasul 16:32). Ini menjelaskan mengapa seisi rumahnya dapat/boleh dibaptis—mereka semua telah cukup usia untuk mendengarkan Firman. Pembaptisan yang dilakukan terhadap orangorang yang tidak dikategorikan seperti ini, bertumpu pada alasan-alasan teologi yang lain.

7

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Dalam PB, Baptisan segera menyusul setelah IMAN PRIBADI kepada Kristus digunakan. Setahu kami, dalam gereja mula-mula, TAK SATUPUN orang percaya yang tidak dibaptis. Semua orang Percaya DIBAPTIS sebagai suatu kesaksian terhadap iman mereka. Jika demikian, darimanakah munculnya pembaptisan yang bukan seperti hal yang disebutkan ini? Kita mungkin berharap akan menemukan berbagai rujukan yang berkenaan dengannya dalam tulisan-tulisan para bapak gereja, yakni, mereka yang mengenal para rasul. Tidak demikian. Misalnya, Ireneus, yang mengenal Polikarpus, seorang murid rasul Yohanes, menuliskan suatu risalah teologi yang terdiri atas 5 Jilid termasuk tentang baptisan. Dalam Surat Barnabas (sekitar tahun 120-130), suatu pasal yang singkat disediakan untuk membicarakan Baptisan Air, tetapi Hanya Baptisan Orang-orang Percaya. ”Kami turun ke dalam air penuh dengan dosa dan kecemaran, dan kami keluar dengan membawa buah dalam hati kami, ketakutan dan pengharapan dalam Yesus di dalam Roh.”1 Yang lebih penting lagi adalah kenyataan bahwa dalam Didache, sebuah buku pedoman awal tentang pelayanan Kristen (sekitar tahun 100-110), terdapat ajaran yang terinci tentang perilaku moral orang yang dibaptis. Ajaran itu menjelaskan bahwa air yang mengalir harus dipakai; jikalau tidak ada, maka pakailah air yang tergenang. Jika tidak ada cukup air untuk membenamkan calon yang akan dibaptis, maka air dituangkan ke atas kepalanya tiga kali dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi pembaptisan yang lain daripada itu tidak disebutkan. Dengan munculnya SAKRAMENTALISME, baik Baptisan maupun Perjamuan kudus dinggap sebagai sarana kasih karunia yang diberikan kepada Gereja. Kalau begitu, tampaknya logis untuk melaksanakannya. Petunjuk pertama yang tegas tentang pembaptisan dating dari Tertullianus, pemimpin gereja Afrika Utara (sekitar tahun 200), yang menandaskan bahwa anak-anak harus datang untuk dibaptis ketika mereka sudah DEWASA supaya mereka mengerti apa yang sedang mereka lakukan.” Oleh karena itu, sesuai dengan keadaan dari watak seseorang, dan juga usianya, maka PENUNDAAN baptisan adalah LEBIH MENGUNTUNGKAN, khususnya dalam hal anak-anak kecil.”2 Keberatannya menunjukkan bahwa pada tahun 200 pembaptisan anak kecil telah dipraktekkan dalam beberapa gereja. Petunjuk kedua tentang baptisan anak kecil dating dari tulisan-tulisan Origenes, yang dilahirkan dalam suatu keluarga Kristen di Alexandria, Mesir. Ia menjadi tenar sebagai guru, kendati pada akhirnya ia terpaksa pindah ke Palestina oleh karena perlawanan dari uskup Alexandria. Dalam sebuah tafsiran Injil Lukas, ia menulis bahwa anak-anak kecil dibaptis ”supaya pencemaran dari kelahiran kita dihapuskan.” Pada hakekatnya ia mengulang pernyataan yang sama dalam sebuah tafsiran tentang Surat Roma. Para sarjana berbeda pendapat mengenai pentingnya bagian-bagian ini. Meskipun Origenes menulis dalam bahasa Yunani, bagian-bagian ini hanya terdapat dalam sebuah terjemahan Latin yang dibuat oleh seorang bernama Rufinus, yang hidup pada periode yang kemudian dan yang terkenal suka menambah-nambahkan pendapatnya sendiri ke dalam terjemahannya. Ada yang menduga bahwa ia menambahkan rujukan-rujukan

8

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI tentang pembaptisan anak kecil untuk menyelaraskan ajaran Origenes dengan kepercayaan gereja Latin pada zamannya. Akan tetapi, jika pernyataan-pernyataan Origenes itu asli, maka itu memberikan kesaksian yang penting tentang fakta pembaptisan anak kecil dan alasannya dalam gereja pada tahun 240. Rujukan ketiga terdapat dalam tulisan-tulisan Cyprianus, juga dari Afrika Utara. Kirakira pada tahun 251, ia bertanya kepada para utusan di suatu konsili gereja apakah pada hemat mereka baptisan harus ditunda sampai pada hari ke-8. ia mencatat bahwa Konsili itu, yang terdiri dari 66 uskup, mengatakan bahwa baptisan tidak boleh ditunda ”jangan sampai oleh perbuatan itu kita membuka jiwa si anak terhadap risiko kebinasaan kekal.” Di sini kita memperoleh petunjuk jelas yang menghubungkan baptisan bahkan terhadap bayi dengan kelahiran baru secara rohani. Dalam sebuah dokumen yang belakangan, Cyprianus juga menyebutkan bahwa anak-anak kecil sekalipun harus diberikan Perjamuan kudus juga. Jika, memang benar, bahwa kasih karunia disalurkan melalui sakramen, maka anak-anak juga harus menerima berkat ini. Agustinus adalah saksi kita yang keempat dari Afrika Utara yang mendukung pembaptisan anak kecil. Seperti telah kita pelajari, ia mempunyai dampak yang kuat atas pemikiran gereja Kristen. Ia mengajar bahwa pembaptisan anak kecil berasal dari zaman para rasul, meskipun ia tidak menyebutkan nama orang yang mengajarkannya lebih awal dari Cyprianus. Sejalan dengan teologi wilayah itu, ia juga mengatakan bahwa kebiasaan memberi perjamuan kudus kepada anak-anak pun dilakukan dengan otoritas para rasul. Kedua sakramen ini diperlukan bagi keselamatan; oleh karena itu, kedua-duanya harus diberikan juga termasuk kepada anak-anak. “Apabila sebagaimana disetujui oleh banyak kesaksian ilahi, keselamatan dan hidup kekal tak dapat diharapkan oleh siapapun, tanpa baptisan serta tubuh dan darah Tuhan kita, maka sia-sialah untuk menjanjikannya kepada siapa pun bahkan kepada anak-anak tanpa kedua sakramen tersebut.“3 Jadi gereja-gereja yang percaya SAKRAMENTALISME, melaksanakan kedua upacara ini untuk anak-anak. Jewett mengomentari, “Tak pernah terpikirkan oleh seorang pun dalam gereja zaman dahulu untuk mempertanyakan hak anak-anak menerima Ekaristi setelah hak untuk mengikutsertakan mereka di dalam gereja telah ditetapkan.“ Jewett mengatakan, teori bahwa anak kecil harus dibaptis tapi tidak diberikan komuni,“bertumpu pada perkembangan dogmatik abad pertengahan dalam gereja Barat yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan pandangan Injili mengenai sakramen-sakreman itu.“4 Dengan berkembangnya pembaptisan anak kecil, timbullah gagasan untuk meminta para orang tua untuk bertindak sebagai orang tua baptis bagi anak yang dibaptis. Tertullianus, yang berbicara menentang pembaptisan anak kecil, mengacu kepada orang tua baptis atau orang tua dari si Anak yang dibaptis sebagai MUDAH SEKALI membuat JanjiJanji yang GEGABAH ketika mereka mengatakan bahwa anak itu akan menjadi orang Kristen dalam kehidupannya kelak. ”Siapakah yang mengetahui apakah hal ini akan terjadi?” ia bertanya. Jadi, praktek pembaptisan anak kecil muncul di Afrika Utara kira-kira pada paruhan akhir dari abad kedua, sebagian besar disebabkan oleh kepercayaan bahwa pengampunan dosa

9

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI datang melalui sakramen-sakramen. Sejalan dengan Sakramentalisme, maka perjamuan kudus juga diberikan kepada anak-anak. Arti Pembaptisan Anak Kecil Dalam Abad Pertengahan Setiap orang yang mengenal sejarah kekristenan mengetahui bahwa gereja mula-mula mengalami perlawanan yang sengit dari Kerajaan Romawi. Gelombang demi gelombang penganiayaan menimpa orang percaya. Bukan karena orang-orang Romawi tidka bertoleransi terhadap agama lain—orang dapat menyembah dewa mana saja yang ia sukai. Ekslusivisme (paham yang cenderung memisahkan diri dari masyarakat) kekristenan itulah yang menjengkelkan kaisar-kaisar Romawi. Orang Kristen dianggap begitu picik pikirannya sehingga mereka tidak mau berkata, ”Kaisar adalah Tuhan!” Kaisar Diokletianus memerintah selama 20 tahun. Sebelum ia wafat, ia melawan orangorang Kristen, mengusir mereka dari kerajaan Romawi. Pada tahun 305, ia turun takhta dan mewariskannya kepada Galerius, yang bahkan lebih bernafsu melawan orang Kristen. Menjelang kematiannya pada tahun 311, Galerius menyadari bahwa orangorang kafir pun merasa muak dengan penganiayaan yang berdarah itu. Karena mengetahui bahwa masyarakat pada umumnya memusuhinya, ia mengeluarkan dekrit toleransi, yang sebagian besar memberikan kelegaan kepada orang-orang Kristen. Setelah ia wafat, pecahlah perebutan kekuasaan dan Konstantinus maju melintasi pegunungan Alpen untuk menggulingkan penguasa Romawi Maxentius (yang berharap untuk menggantikan Galerius) dan merebut kota Roma. Ketika Konstantinus berhadapan dengan lawannya di jembatan Mivian sedikit di luar kota Roma, ia meminta pertolongan kepada Allah orang Kristen. Dalam suatu mimpi ia melihat sebuah salib di langit dengan perkataan, ”Dalam tanda ini taklukkanlah.” Ketika ia meraih keberhasilan militer pada 28 Oktober 312, ia menganggap kemenangannya sebagai bukti dari kebenaran agama Kristen. Apakah pertobatannya sungguh-sungguh atau tidak, ia memberikan kemerdekaan kepada orang-orang Kristen dan akhirnya Kekristenan menjadi agama resmi kerajaan itu. Apakah hubungan semua ini dengan baptisan? Dengan berkuasanya Konstantinus, Kekristenan tidak lagi merupakan suatu sekte di dalam kerajaan itu, tetapi menjadi searti dengan kerajaan itu. Sekarang orang akan menjadi Kristen hanya karena ia lahir dalam kerajaan itu, tidak perlu memiliki iman pribadi pada Kristus. Pembaptisan anak kecil menjadi mata rantai yang mempersatukan gereja dan negara. Meskipun pembaptisan anak kecil dimulai dengan alasan-alasan teologis, yakni, kepercayaan bahwa upacara itu menghapus pencemaran dosa, sekarang pembaptisan menjadi suatu aset politik. Setiap anak yang dibaptis menjadi orang Kristen dan anggota kerajaan Romawi sekaligus. Karena anak-anak kecil dapat menjadi warga negara kerajaan tanpa keputusan apapun pada pihak mereka, demikian pulalah mereka dapat menjadi orang Kristen. Pembaptisan anak kecil menjadi praktik yang hampir universal dalam beberapa dekade. Agustinus menerima keyakinan bahwa gereja dan negara harus bersatu, dengan menandaskan (1) hak gereja untuk menggunakan negara dalam pelaksanaan Kekristenan.

10

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Jadi, “penganut ajaran sesat“ dapat dibunuh dan para pengingkar dibantai; dan (2) pembaptisan anak kecil diharuskan. Pembaptisan anak kecil memainkan peranan penting dalam penggabungan gereja dan negara. Itulah sebabnya golongan Anabaptis (mereka yang telah dibaptis sebagai anak kecil, tetapi dibaptis ulang sebagai orang dewasa, ketika mereka pribadi menjadi percaya kepada Kristus) dianiaya dengan begitu kejam. Perselisihannya bukan sekedar teologis, tetapi politis. Pada masanya Raja Karel Agung (dinobatkan pada tahun 800), orang-orang yang dibaptis setelah secara pribadi percaya kepada Kristus dibunuh. Yang dikhawatirkan adalah jika gereja hanya dianggap sebagai suatu kelompok dalam masyarakat dan bukan sejajar dengan masyarakat, maka seluruh kesatuan gereja dan negara akan terpecah-pecah. Pembaptisan anak kecil adalah ”perekat” yang menyatukan gereja dan negara. Karl Barth, teolog terkenal dari Swiss, mengakui bahwa motivasi sesungguhnya dibalik Baptisan Anak adalah KONSTANTIN-isme, yakni kesatuan gereja dan Negara. Ketika berbicara mengenai para Reformator yang berpegang pada Baptisan Anak Kecil, ia mengatakan, “Orang-orang pada waktu itu tidak mau melepaskan, karena cinta atau uang, keberadaan gereja Injili dalam bentuk Corpus Christianum Konstantinian. Ketika gereja menghentikan pembaptisan anak kecil, gereja Rakyat dalam arti gereja Negara atau gereja Massa berakhir.“ Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa bahkan Luther mengakui tak akan banyak orang yang dibaptis jika seseorang, bukannya dibawa kepada baptisan, tetapi harus datang kepadanya. Barth menjelaskan bahwa Alkitab mengajarkan gereja Kristen merupakan suatu minoritas; bila semua orang diikutsertakan didalamnya, maka akibatnya adalah kesakitan bukan kesehatan. Ia mengakhiri dengan berkata bahwa, ”sudah saatnya untuk mengumumkan bahwa suatu pencarian yang urgen untuk bentuk yang lebih baik dari praktik baptisan kita sudah lama dinanti-nantikan.”5

Para Reformator: Zwingli
Pada mulanya Ulrich Zwingli, pengkhotbah dan reformator dari Zurich, mempunyai KERAGUAN YANG SERIUS tentang Pembaptisan Anak Kecil. Ia Mengaku, ”Tak ada yang lebih menyedihkan saya daripada bahwa saat ini saya harus membaptiskan anak-anak kecil karena SAYA TAHU HAL ITU SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN.”6 Ia menyadari bahwa pembaharuan yang menyeluruh dalam gereja akan berarti menghentikan kebiasaan itu. Ia mengatakan lagi, ”Saya tidak menyinggung hal baptisan, saya tidak menyebutnya benar atau salah; jika kita harus membaptis seperti YANG TELAH DITETAPKAN oleh KRISTUS, maka kita TIDAK AKAN MEMBAPTIS seorang pun sebelum Ia MENCAPAI USIA yang memperlihatkan kebijaksanaan; karena DIMANAPUN TIDAK TERTULIS bahwa Pembaptisan Anak Kecil harus dilakukan.”7 Akan tetapi, Zwingli mengubah pikirannya. Untuk mengerti penyebabnya, kita harus menyegarkan ingatan kita tentang gerakan Anabaptis yang menyebar k eseluruh Eropa selama masa Reformasi 11

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Kata Anabaptis dipakai untuk orang-orang yang telah dibaptis sebagai anak kecil, tetapi dibaptis ulang ketika mereka pribadi menjadi percaya kepada Kristus. Para Anabaptis yang pertama adalah kaum Donatis dari abad ke-4 yang menolak untuk percaya bahwa baptisan yang mencakup setiap orang karena alasan kelahiran adalah sah. Mereka percaya bahwa gereja harus berbeda dari masyarakat dan tidak sejajar dengannya. Akan tetapi, seperti yang telah kita pelajari, ketika negara menjadi satu dengan gereja, maka gereja menggunakan kekuasaan negara untuk melaksanakan agama. Banyak orang Donatis dibunuh karena mereka berpegang pada pembaptisan orang percaya. Kendati Donatisme (dinamakan menurut nama pemimpin mereka Donatus), ditindas, visinya tentang gereja yang terdiri atas orang-orang percaya yang dibaptis tak pernah padam. Ketika kepercayaan itu muncul beberapa abad kemudian, tindakan diambil terhadap ”para penganut bidat” yang hendak menggulingkan kebiasaan pembaptisan anak kecil. Ada banyak catatan tentang orang-orang yang memprotes gereja resmi yang menyambut semua orang. Para penentang ini ingin kembali kepada Pola Perjanjian Baru dimana gereja terdiri atas orang-orang percaya yang dibaptis. Mereka percaya bahwa gereja harus menjaga kekudusannya dengan pengabdian penuh kepada Kristus dan melalui pelaksanaan disiplin gereja. Perilaku mereka begitu baik sehingga Zwingli berkata tentang mereka, ”Pada hubungan pertama, kelakuan mereka kelihatan tak ada celanya, saleh, sederhana, menarik. Bahkan orang-orang yang cenderung mengkritik akan mengatakan bahwa kehidupan mereka baik sekali.”8 Orang-orang Kristen ini tidak dapat menerima gagasan bahwa seorang anak kecil dapat ”dibaptis,” yaitu, dijadikan Kristen dengan cara mengambil bagian dalam suatu upacara agama. Mereka menyebut pembaptisan anak kecil tidak lebih daripada hanya ”dicelupkan ke dalam pemandian Romawi.” Bagi mereka kehidupan yang kudus adalah bukti kelahiran baru. Seorang dari aliran yang lain mengatakan bahwa di dalam mereka ”tak ada dusta, tipu muslihat, sumpah serapah, pertikaian, bahasa yang kasar, tak ada makan dan minum yang melewati batas, tak ada sikap menonjolkan diri, tetapi sebaliknya yang ada ialah kerendahan hati, kesabaran, ketulusan, kelemahlembutan, kejujuran, kesederhanaan, keterusterangan dalam kadar yang sedemikian rupa sehingga orang akan mengira bahwa mereka memiliki Roh Kudus Allah.”9 Akan tetapi, gereja resmi, yang terbenam di dalam konstantinisme, menggunakan kekuasaan negara untuk membunuh ”para penganut ajaran sesat.” dan para Reformator sendiri menjadi fanatik dalam oposisi mereka terhadap orang-orang Anabaptis ketika para penentang ini bersikeras untuk memutuskan hubungan sama sekali dengan gereja resmi kerajaan itu. Dalam persoalan Pembaptisan Anak Kecil, Luther dan Zwingli berpihak pada Gereja Roma. Zwingli, misalnya, mengerti apabila ia sampai berpihak pada para Anabaptis, ia akan membangkitkan ketidaksenangan Negara. Ia berkata, ”Akan tetapi,

12

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI jika saya sampai menghentikan praktik itu (Baptisan Bayi/Anak Kecil), maka saya khawatir saya akan kehilangan gaji tetap saya”10 dari berkhotbah. Tetapi terlebih penting, ia memandang para Anabaptis sebagai pengacau tatanan sosial. Jadi, ia berbalik menentang mereka dengan mengatakan bahwa, kendati pada mulanya perlu untuk menyalahkan pembaptisan anak kecil, waktu sekarang telah berubah; ia mengaku bahwa ia telah tersesat. Ia juga mempelajari kembali Alkitab dan menyimpulkan bahwa pembaptisan anak kecil dapat dibenarkan atas dasar-dasar teologis (nanti kita akan mempertimbangkan sangahan-sanggahan ini dalam pasal ini). Dewan kota Zurich mengatakan padanya bahwa dengan berkhotbah menentang Pembaptisan Anak Kecil, ”gereja yang kudus, para leluhur, Konsili-konsili, paus, para kardinal, dan para uskup, dan lain sebagainya, akan menjadi cemoohan orang, mereka akan diremehkan dan ditiadakan.”11 Apa lagi, konsili selanjutnya mengatakan apabila pembaptisan dibatasi kepada orang-orang percaya, akan terjadi ”ketidaktaatan terhadap dewan hakim, perpecahan, ajaran sesat, dan iman Kristen menjadi lebih lemah dan kecil.” Jadi, pada tanggal 17 Januari 1525, dewan kota Zurich memberi tahu rakyat bahwa semua orang-tua harus menyerahkan anaknya untuk dibaptis atau mereka akan dibuang. 4 tahun kemudian, dekrit Speier memutuskan, ”Setiap Anabaptis atau orang yang dibaptis ulang, pria maupun wanita, harus dibunuh dengan api atau dengan pedang, atau dengan cara lainnya.”12 Anak-anak dibaptis bertentangan dengan kehendak orang-tuanya. Mereka yang tetap berpegang pada keyakinannya dan menolak untuk tunduk kepada dewan, ditenggelamkan atau dihukum mati. Zwingli secara sarkastis membuat pernyataan tentang Felix Manz penganut Anabaptis, ”Jika ia ingin diselamkan dalam air, biarlah ia diselamkan.” Demikianlah, Manz dengan paksa ditenggelamkan dalam air yang dalam dan dingin di Sungai Limmat hanya beberapa ratus meter dari gereja Zwingli. Banyak yang mati dengan mengatakan bahwa Zwingli telah mengkhianati mereka. Ia telah menjual jiwanya kepada kekristenan yang palsu yang menolak untuk membedakan antara gereja yang benar dan masyarakat. Memang mudah mengkritik Zwingli karena bagi kita perpisahan antara gereja dan negara dianggap sudah semesetinya. Tetapi Zwingli hidup pada suatu masa di mana negara bertujuan untuk memastikan bahwa kehendak Allah dilaksanakan dalam kehidupan orang-orang yang tinggal dalam perbatasannya. Patut disayangkan bahwa penganiayaan menyebabkan beberapa orang Anabaptis menjadi fanatik. Orang-orang radikal seperti itu memberikan nama yang buruk kepada gerakan Anabaptis, yang hanya menyebabkan lebih banyak penganiayaan. Namun pembunuhan massal para Anabaptis benar-benar adalah salah satu halaman yang TERGELAP dalam sejarah gereja. Para Reformator: Luther Dan bagaimanakah pandangan Luther tentang pembaptisan anak kecil? Perkataan Luther agak tidak masuk akal ketika ia mengetengahkan,”Tidak ada cukup bukti dari Alkitab hingga seseorang dapat membenarkan bahwa pembaptisan anak kecil diperkenalkan pada masa orang Kristen mula-mula sesudah masa para rasul....tetapi jelas sekali bahwa tak seorang pun dengan hati nurani yang baik dapat menolak atau

13

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI meninggalkan pembaptisan anak kecil yang telah dipraktikkan untuk waktu yang begitu lama.”13 Luther juga menyetujui pemusnahan para Anabaptis. Ia tidak mau mengakui bahwa gereja yang benar seharusnya merupakan suatu kelompok yang terpisah dari masyarakat pada umumnya. Sahabatnya Melanchton mengatakan tentang para Anabaptis,”Biarlah sekarang setiap orang yang saleh mempertimbangkan betapa besarnya kekacauan yang akan timbul jika di antara kita berkembang dua golongan, orang yang dibaptis dan orang yang tidak dibaptis!”14 Ia khawatir bahwa gereja pada akhirnya akan benar-benar berbeda dari dunia. Para Anabaptis percaya bahwa pembaptisan anak kecil adalah batu penjuru sistem kepausan; jika itu tidak dihapuskan maka tak akan ada jemaat Kristen. Jadi, Luther tidak menghentikan Praktik pembaptisan anak kecil. Ketika para ”nabi” dari Zwickau mendesak supaya diadakan pembaharuan-pembaharuan yang lebih radikal, termasuk pembaptisan orang-orang percaya, Luther tak mau berkompromi dengan semua orang Anabaptis, serta menegaskan bahwa mereka dihasut oleh Iblis. Ia bereaksi dengan keras terhadap orang-orang radikal seperti Muentzer yang percaya bahwa ia dan para pengikutnya dapat mendirikan Yerusalem Baru di bumi. Karena terjepit di tengah-tengah topik tentang pembaptisn anak kecil, Luther hendak mendukung kedua pandangan itu. Ia ingin berpegang pada dua doktrin yang bertentangan, yakni pembenaran oleh iman dan kepercayaan bahwa anak-anak kecil dilahirbarukan oleh Baptisan. Dalam tafsirannya tentang Surat Galatia, ia bahkan menyarankan bahwa anak kecil dapat mendengar dan percaya Injil; bahkan, lebih mudah bagi seorang anak untuk percaya daripada seorang dewasa karena anak itu lebih terbuka. Dalam suatu khotbah ia mengemukakan jika seseorang menganggap bahwa anak-anak kecil yang telah dibaptis itu tidak percaya, ia harus menghentikan perbuatan itu ”supaya kita tidak lagi menghina dan menghujat kemuliaaan Allah yang mahatinggi dnegan tindakan gila-gilaan dan ketololan yang tidak beralasan.” Kita harus mengerti Dilema yang dihadapi Luther. Ia menentang pandangan bahwa sakramen bermanfaat untuk menghapuskan dosa tanpa menghiraukan apakah orang yang menerima sakaramen itu memiliki iman. Luther menekankan bahwa imanlah yang menyelamatkan jiwa. Jadi, satu-satunya cara supaya pembaptisan anak kecil mempunyai validitas adalah bahwa anak itu harus percaya. Tetapi di lain tempat ia menentang gagasan bahwa iman harus ada supaya sakramen baptisan ada manfaatnya. Ia menulis, dalam apa yang Verdium sebutkan sebagai salah satu hari ketika ia bingung. Bagaimanakah baptisan dapat lebih dicerca dan dihina daripada jika kita mengatakan bahwa baptisan yang diberikan kepada orang yang tidak percaya bukanlah baptisan yang baik dan sejati!... Apakah baptisan dianggap tidak efektif karena saya tidak percaya?...Adakah doktrin yang lebih menghujat dan menentang yang dapat diciptakan dan dikhotbahkan oleh Iblis sendiri? Namun, para Anabaptis...begitu dipenuhi pengajaran ini. Saya mengemukakan yang berikut: Ada seorang Yahudi yang menerima baptisan, seperti yang sering terjadi, tetapi ia tidak percaya, apakah Anda akan mengatakan bahwa ini bukan baptisan seperti yang sesungguhnya, karena ia tidak

14

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI percaya? Itu berarti tidak hanya berpikir seperti orang bodoh, tetapi terlebih lagi menghujat dan menghina Allah.15 Dewasa ini ada gereja-gereja yang mengajarkan bahwa anak-anak kecil harus dibaptiskan agar dapat dilahirkan kembali. Liturgi baptisan berbunyi, ”Kami dilahirkan sebagai anak dari umat manusia yang sudah jatuh; dalam air baptisan kami dilahirkan kembali sebagai anak Allah dan pewaris hidup kekal.” Beberapa orang membaptis anak-anak yang tidak ada harapan untuk hidup, sambil percaya bahwa tindakan ini memberi jaminan keselamatan kekal. Akan tetapi, meskipun anak kecil itu menjadi anak Tuhan melalui baptisan, kelompok PAEDOBAPTIS (yang pro/melakukan praktik Baptisan Anak Kecil) mempunyai masalah. Beberapa anak ini ketika dewasa tidak memeluk iman Kristen, tetapi menjadi berandal. Untuk menghadapi dilema ini, upacara“masuk sidi“ ditetapkan supaya seorang anak dapat meneguhkan keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya. Paul K. Jewett menjelaskan bahwa perlunya praktik ini hanya dapat berarti salah satu dari dua hal: mujizat lahir baru yang dikerjakan lewat baptisan anak kecil itu DIBATALKAN ketika anak itu Dewasa/Akil Balik, atau Upacara “masuk sidi“ itu adalah Pengakuan secara diam-diam bahwa anak itu sebenarnya TIDAK PERNAH DILAHIRBARUKAN. Para Reformator: Calvin Dan Bagaimana dengan John Calvin? Seperti Zwingli, ia menemukan hubungan analogis antara tanda sunat dari Perjanjian Lama dan Tanda Baptisan dari Perjanjian Baru. Upacara penyunatan membuktikan bahwa berkat Allah diberikan kepada anak-anak seperti juga kepada orang-tuanya. Karena perjanjian itu tidak berubah, mengapa anakanak harus dilarang mendapat berkat ini? Calvin mengakui bahwa Alkitab tidak pernah mencatat pembaptisan seorang anak kecil, tetapi ini, kata Calvin, sebenarnya tidak berbeda dari fakta bahwa Alkitab tidak mencatat bahwa ada wanita yang menerima Perjamuan Tuhan. Ia mencela pendapat bahwa gereja mula-mula tidak membaptis anakanak kecil. Ia tidak dapat berpikir tentang ”satu pun penulis, betapapun kunonya, yang tidak menganggap asal-usul upacara pembaptisan anak kecil di dalam Zaman para rasul sebagai suatu kepastian.” Seperti Luther, Calvin bergumul dengan masalah bagaimana baptisan dapat berguna bagi seorang anak kecil yang tak dapat percaya. Ia mengatakan bahwa mungkin Allah sebelumnya telah melahirbarukan anak-anak kecil yang akan diselamatkan. Para kritikus mengatakan, jika hal ini benar, maka anak-anak tak akan dilahirkan “di dalam Adam“ melainkan “di dalam Kristus.“ Kesimpulan ini tidak diterima secara luas. Calvin mempunyai pendapat yang lebih masuk akal. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran kembali anak-anak kecil tetapi hanya berarti bahwa “benih-benih pertobatan terdapat di dalam anak-anak melalui pekerjaan yang rahasia dari Roh Kudus.“ Mereka dibaptis dalam iman dan pertobatan yang akan datang. Ini tidak berarti bahwa anak-anak yang tidak dibaptis harus diserahkan untuk kematian kekal jika mereka mati pada masa anak-anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran baru, tapi hanya berarti bahwa “benih-benih pertobatan“ itu ada.

15

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Calvin juga memiliki argumen bagi mereka yang mengatakan jika anak-anak kecil dibaptis mereka juga harus diberikan Perjamuan Kudus. Ia mengatakan bahwa air, tanda kelahiran baru, adalah pantas untuk anak-anak kecil, tetapi substansi yang padat tidak. Juga, penyelidikan diri khususnya dituntut untuk Perjamuan Kudus tetapi tidak untuk baptisan. MENELITI LEBIH SEKSAMA Pada permulaan pasal ini, telah disebut sebuah buku yang ditulis oleh Geoffrey Bromiley, Children of Promise, sebagai pembelaan tentang pembaptisan anak kecil. Buku itu berkisar pada dasar pemikiran yang diajukan oleh Calvin, bahwa pembaptisan anak kecil adalah tanda dari Perjanjian Baru sama seperti sunat adalah tanda dari Perjanjian Lama. Paulus menulis: Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (Kolose 2:11-12) Bromiley menulis bahwa baptisan bukan tanda bagi mereka yang hadir pada upacara itu, tetapi menjadi tanda bagi nama dan perbuatan Allah yang mengangkat kita dalam iman. Tanda itu menyatakan ”bukan apa yang saya lakukan, tetapi apa yang telah Allah lakukan.” Ini menjelaskan mengapa baptisan dapat diberikan kepada orang yang belum percaya. Ini bukan tanda dari iman mereka tetapi tanda tentang apa yang telah Allah lakukan (atau akan lakukan bagi orang yang dibaptis). Bromiley memandang baptisan sebagai tanda bahwa Allah telah memilih anak kecil itu, sebuah pandangan yang disebut ”Pemilihan Berdasarkan Dugaan” oleh orang-orang dari gereja Calvinis di Swiss yang menganutnya. Akan tetapi, masalahnya adalah beberapa orang yang diduga telah terpilih, tidak percaya ketika mereka sudah cukup umur. Banyak yang mati sebagai orang-orang murtad. Para kritikus dengan cepat menunjukkan bahwa ”Pemilihan Berdasarkan Dugaan” itu benar-benar merupakan dugaan belaka! Tidakkah terlalu gegabah untuk memberikan tanda pemilihan sebelum kita mengetahui apakah anak itu dipilih? Mengapa tidak menanti sampai anak itu sudah cukup usia untuk membuktikan pemilihannya melalui iman dan perbuatan-perbuatan baik? Bromiley menjawab keberatan ini dalam dua cara: (1) Meskipun segenap bangsa Israel diplih oleh Allah, tidak tiap-tiap orang Israel diselamatkan. Dengan kata lain, semua pria disunat, tetapi tidak semuanya diselamatkan. Demikian juga, semua anak dapat dibaptis meskipun tidak semuanya akan diselamatkan. (2) Bahkan mereka yang mempraktikkan pembaptisan orang percaya menghadapi risiko membaptiskan orang yang kemudian menjadi murtad. Karena itu tanda air tak pernah secara langsung dapat disamakan dengan pemilihan untuk hidup kekal.

16

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Keuntungan-keuntungan apakah yang diterima oleh anak-anak melalui baptisan jika keselamatan mereka tidak dijamin olehnya? Bromiley mengakui bahwa anak-anak itu tidak diselamatkan oleh baptisan dan juga baptisan bukan jaminan bahwa mereka akan diselamatkan. Mereka berada di bawah janji ilahi dan ikut serta dalam pemilihan secara kelompok. Mereka bertumbuh dibawah ”suasana panggilan ilahi.” Baptisan adalah tanda lahiriah, dari kasih karunia yang akan diterima seorang anak jika ia percaya ketika ia cukup umur. Tetapi masih ada lagi. Kendati Bromiley mengatakan bahwa pembaptisan anak kecil tidak mengakibatkan pembaharuan (di sini ia sepakat dengan Calvin menentang Luther), menjelang akhir bukunya ia mengatakan ada hubungan antara pembaptisan anak kecil dan keselamatan anak kecil. Karena semua anak dilahirkan dibawah hukuman dosa Adam, Allah harus membuat persediaan yang khusus bagi mereka jika mereka akan diselamatkan. Apa yang ingin dianjurkan oleh Bromiley ialah bahwa baptisan adalah sarana yang olehnya anak-anak orang percaya ”memasuki pendamaian yang dikerjakan Anak Allah menurut penilaian Bapa.” Ia juga sependapat dengan Luther bahwa karena iman meskipun ”biasanya ia tidak menyadarinya.” Bagaimana mengenai anak-anak yang tidak dibaptis? Bromiley tidak berteori, tetapi berharap bahwa mereka juga akan diselamatkan. Tetapi di sini, pembaca buku Bromiley mencapai jalan buntu. Apabila semua yang meninggal dunia sebagai bayi diselamatkan, maka baptisan sama sekali bukan sarana keselamatan. Di pihak lain, jika anak-anak kecil yang sudah dibaptis saja yang selamat pada saat kematian, maka, bertentangan dengan pernyataan yang dibuat Bromiley dalam pasal-pasal pertama dari bukunya, baptisan adalah sarana kelahiran kembali. Masalahnya belum dipecahkan: apakah melalui baptisan anak-anak kecil dilahirkan kembali atau tidak? Bagaimanakah pendapat kita mengenai penjelasan ini? Pertama-tama, orang yang mengajarkan pembaptisan orang percaya dengan cepat menunjukkan bahwa perbandingan Bromiley antara sunat dan baptisan kurang baik karena Perjanjian yang Baru berbeda sekali dengan perjanjian yang lama. Memang benar bahwa sunat secara rutin dijalankan dalam Perjanjian Lama, baik yang beriman atau tidak. Sunat merupakan tanda dari berkat-berkat perjanjian yang hanya dapat diterima sepenuhnya oleh seorang anak apabila ia memiliki iman pribadi setelah ia cukup umur. Dibawah perjanjian yang baru, baptisan memainkan peranan yang berbeda. Hanya benih Abraham yang rohani yang menerima tanda baptisan. Artinya, tanda itu dibatasi bagi mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan. Seorang anak kecil belum menjadi anggota dari kelompok rohani yang sisa ini. Baptisan adalah tanda, bukan dari iman yang akan datang, tetapi dari iman yang sudah ada. Para reformator sendiri mengetahui hal ini; itulah sebabnya mereka berpendapat bahwa anak-anak kecil dapat percaya, atau 17

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI berpegang pada pandangan yang sama-sama tidak masuk akal bahwa orang tua atau wali dapat percaya ganti mereka. Sunat adalah tanda dari berkat duniawi yang bersifat sementara yang diberikan Allah kepada keturunan Abraham. Tanda ini juga menunjuk kepada keuntungan-keuntungan rohani yang pokok bagi mereka yang mau percaya. Sebagai perbandingan, di dalam gereja, daftar silsilah seorang tidak menjamin berkat yang khusus. Itulah sebabnya baptisan dibatasi bagi mereka yang percaya dan oleh karena itu menjadi pewaris hidup kekal. Kedua, ketika Bromiley mengatakan bahwa penyelamatan dan pembaptisan anak kecil saling berkaitan, agaknya ia secara diam-diam sependapat dengan Luther bahwa anak-anak dilahirkan kembali melalui baptisan. Inilah sebabnya ia menegaskan bahwa anak-anak dapat percaya. Ini bertentangan dengan pernyataanpernyataannya yang sebelumnya bahwa baptisan tidak menyebabkan seorang anak kecil dilahirkan kembali. Pada satu pihak, ia mengemukakan bahwa baptisan hanyalah suatu tanda dari keselamatan yang akan datang. Pada pihak lain, ia ingin menegaskan bahwa baptisan mengajarkan kelahiran kembali karena anak-anak kecil memiliki iman. Karl Barth mengatakan, ”Fakta itu tak dapat dielakkan; dalam setiap usaha untuk memikirkan dalam-dalam hubungan antara baptisan dan iman untuk doktrin tertentu mengenai pembaptisan anak kecil, maka kita akan memasuki jalan buntu yang paling menyedihkan, karena dalam pertanyaan ini, satu ketidakjelasan dan kebingungan menimbulkan ketidakjelasan yang lain; satu mengikuti yang lain dan itu terjadi karena memang perlu.”16 (Bagaikan TAMBAL SULAM-dede) Pertentangan di Inggris Pengkhotbah terkenal Charles Haddon Spurgeon memulai suatu badai kontroversi ketika pada 5 Juni 1864, ia menyampaikan khotbah yang menentang pembaptisan anak kecil dari Markus 16:15-16. karena ia dengan begitu terus terang mengkritik Gereja Inggris, ia menyangka bahwa ini akan menghancurkan pelayanan khotbah tertulisnya. Justru sebaliknya yang terjadi. Ia menjual lebih dari seperempat juta kopi dari khotbahnya. Spurgeon mengutip dari Katekismus Gereja Inggris, untuk membuktikan ajaran gereja itu bahwa melalui pembaptisan anak kecil maka anak itu menjadi anggota Kristus, anak Tuhan, dan pewaris kerajaan Sorga. Ia mengutip dari liturgi upacara itu sendiri untuk membuktikan lebih lanjut bahwa gereja benar-benar mengajarkan anak-anak dilahirkan kembali melalui baptisan. Spurgeon menjelaskan bahwa TAK ADA UPACARA LAHIRIAH YANG DAPAT MENYELAMATKAN SESEORANG. Ini dengan mudah dapat dibuktikan oleh faktafakta; beribu-ribu orang yang dibaptis sebagai anak kecil sedang menjalani hidup yang asusila dan fasik, yang membuktikan bahwa mereka tak pernah menjadi anak Tuhan. 18

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Alkitab juga TIDAK MENGAJARKAN BAHWA SESEORANG DAPAT BERIMAN GANTI ORANG LAIN; orang-tua tak dapat percaya ganti anak-anaknya. Lebih runyam lagi, bahkan orang tua itu sendiri belum dilahirkan kembali. Jadi Spurgeon menulis, ”orang-orang berdosa yang belum lahir baru berjanji untuk seorang bayi yang malang bahwa ia akan memelihara semua perintah kudus Allah, yang mereka sendiri langgar secara ceroboh setiap hari! Berapa lamakah Allah yang panjang sabar akan membiarkan hal ini terus?”17 Supaya jangan ada orang yang mengatakan bahwa penyalahgunaan praktik itu tidak merupakan alasan untuk menentangnya, Spurgeon akan berkata bahwa praktik itu sendiri adalah suatu penyalahgunaan. Itu menempatkan keselamatan pada dasar yang salah, ”karena dari semua dusta yang telah mnyeret berjuta-juta orang ke Neraka, saya memandang ini sebagai yang PALING KEJAM—bahwa dalam gereja ada orang-orang yang bersumpah bahwa baptisan menyelamatkan jiwa.”18 Ia mendorong mereka yang mungkin menyandarkan keselamatan mereka pada upacara ini supaya ”melemparkan iman yang beracun ini ke dalam api seperti yang diperbuat Paulus dengan ular yang memagut tangannya.” Para kritikus menanggapi dengan mengingatkan Spurgeon bahwa anak-anak kecil dibawa kepada Kristus supaya Ia memberkati mereka. Maka Spurgeon menyampaikan suatu khotbah yang lain untuk membuktikan adanya perbedaan besar antara membawa anak-anak kepada Kristus dan membawa mereka ke tempat baptisan. ”Usahakanlah untuk membaca Firman itu (tentang pemberkatan anak-anak) sebagaimana itu ditulis, dan Anda takkan menemukan air di dalam ayat-ayat itu, tetapi hanya Yesus. Apakah air dan Kristus itu hal yang sama? Tidak, di sini terdapat perbedaan yang luas, seluas jarak antara Roma dan Yerusalem.... antara DOKTRIN PALSU dan INJIL Tuhan Kita Yesus Kristus.”19 Sejauh yang diketahuinya, Spurgeon percaya bahwa semua anak kecil yang mati akan masuk Sorga. Tetapi hal ini terjadi, bukan karena mereka dilahirkan tanpa salah atau karena baptisan telah menghapus dosa mereka, tetapi karena Allah dengan penuh rakhmat telah menanggungkan dosa mereka kepada Kristus. Bagaimanapun juga, keselamatan semua anak berada dalam tangan Allah, bukan dalam tangan manusia yang menjalankan upacara gereja

Apakah Baptisan Menyelamatkan orang?
Apakah Alkitab mengharuskan orang dibaptis untuk menerima keselamatan? Ada yang mengatakan bahwa orang dewasa yang telah percaya belum diselamatkan sampai mereka juga dibaptis. Ada suatu aliran yang mengajarkan bahwa Allah bekerja melalui upacara ini untuk menyalurkan keselamatan dan kasih karunia-Nya. Tiga ayat Alkitab yang utama digunakan untuk mengajarkan doktrin ini. Yang pertama adalah perkataan Kristus kepada Nikodemus, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah” (Yoh 3:5).

19

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Apakah maksud Kristus? Satu kaidah penafsiran yang pokok ialah supaya kita menempatkan diri kita di tempat orang yang kepadanya perkataan ini ditujukan, dalam hal ini Nikodemus. Apakah ia akan menafsirkan kata air sebagai rujukan kepada baptisan? Dengan latar belakang Yahudinya, rasanya tak mungkin ia melakukan hal itu. Sebagai seorang ahli Perjanjian Lama, ia akan berpikir tentang Yehezkiel 36:25, ”Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.” Di ayat ini air mengacu kepada Roh Kudus sebagai sarana penyucian, seperti yang ditunjukkan oleh ayat berikutnya, ”Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu.” Para ahli bahasa Yunani mengemukakan bahwa Kristus mungkin sedang menggunakan permainan kata. Kata Yunani pneuma (diterjemahkan ”roh”) sebenarnya adalah kata untuk ”angin”, bergantung konteksnya. Jadi, mungkin yang dikatakan Kristus adalah, ”Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan angin, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.” Beberapa ayat kemudian, dengan menggunakan kata yang sama Kristus berkata, ”angin bertiup ke mana ia mau.” Kedua kekuatan alam yaitu air dan angin adalah lambang Roh Kudus. Bagaimanapun juga, sering kali air menggambarkan pekerjaan Roh Kudus (seperti dalam ayat di atas). Sangat tidak masuk akal bahwa Kristus akan menambahkan persyaratan baptisan sebagai jalan masuk ke dalam kerajaan Sorga ketika berbicara dengan Nikodemus, tetapi tidak menyebutkannya dalam bagian lain. Jika baptisan diperlukan untuk keselamatan, seharusnya ini dinyatakan dengan jelas di bagian lain. Tetapi berkalikali, hanya iman yang disebutkan sebagai satu-satunya syarat. Bahkan, dalam pasal yang sama, percaya disebutkan sebagai satu-satunya dasar keselamatan. Bagian Alkitab berikutnya adalah Kisah Para Rasul 2:38, ketika Petrus berbicara pada hari Pentakosta, ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Penyebutan pertobatan dan baptisan sekaligus tidaklah berarti bahwa kedua-duanya dibutuhkan untuk mendapat pengampunan dosa. Saya dapat mengatakan,”Ambillah kuncimu dan jasmu dan hidupkan mesin mobil.” itu tidaklah berarti bahwa mengambil jas seorang diperlukan untuk menghidupkan mesin mobil meskipun disebut bersamasama dengan mengambil kunci. Pertobatan, bukan baptisan, yang perlu untuk pengampunan dosa. Tata bahasa Yunani menguatkan penafsiran ini. Frase ”dan hendaklah kamu masingmasing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan 20

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI dosamu” sebenarnya ditulis dalam tanda kurung. Perintah untuk bertobat adalah jamak, ”bertobatlah kamu,” dan demikian juga kalimat ”untuk pengampunan dosamu (jamak).” Ini berarti bahwa perintah untuk bertobat menurut tata bahasa sesuai dengan pengampunan dosa. Perintah untuk dibaptiskan adalah tunggal, ”hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis,” yang memisahkannya dari kalimat lainnya. ”Bertobatlah...untuk pengampunan dosamu” adalah pokok utamanya. Perhatikan bahwa dalam Kisah Para Rasul 10:43, Petrus menyebutkan iman sebagai satu-satunya persyaratan untuk menerima pengampunan dosa. Bagian ketiga terdapat dalam I Petrus 3:21 dimana Petrus menuliskan, ”Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan.” Tetapi frase ini harus ditafsirkan dengan mengingat konteksnya. Dikatakan bahwa, baptisan menyelamatkan kita, seperti air menyelamatkan Nuh. Bagaimanakah caranya air menyelamatkan Nuh? Air sama sekali tidak menyelamatkannya; air adalah alat hukuman. Sebenarnya behteralah yang menyelamatkan dia dengan membawanya mengarungi air. Nuh membangun dan memasuki bahtera itu dengan iman. Selanjutnya Petrus menjelaskan bahwa air juga tidak menyelamatkan kita. Baptisan menyelamatkan, ia mengatakan, tetapi bukan tindakan pembasuhan jasmaniah yang mengerjakannya, ”bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus.” Air tidak menyelamatkan Nuh, dan air baptisan juga tidak menyelamatkan kita. Apakah yang menyelamatkan? Permohonan hati nurani yang baik kepada Allah. Kata permohonan dapat diterjemahkan ”jawaban.” Orang-orang pada waktu itu dituntut untuk membuat pernyataan iman sebelum baptisan. Iman yang mereka ungkapkan itulah yang menyelamatkan. Tetapi tunggu dulu. Kita tahu bahwa Allah menganugerahkan keselamatan kepada orangorang yang percaya. Bagaimanakah pernyataan iman yang diberikan pada saat baptisan dapat menyelamatkan orang? Bukankah kesaksian seperti itu adalah akibat dari iman yang menyelamatkan dan bukannya tindakan dari iman yang menyelamatkan? Meneliti ayat ini dengan lebih seksama akan mengemukakan bahwa yang dipikirkan Petrus adalah kesediaan untuk mengakui Kristus di dalam baptisan itulah yang menyelamatkan seorang dari hati nurani yang bersalah. Perhatikan nasihatnya yang terdahulu, ”dengan hati nurani yang murni” (ayat 16). Konteksnya adalah bersedia untuk menderita karena Kristus, tanpa menghiraukan harganya. Baptisan meneguhkan di depan umum bahwa kita telah bersatu dengan Kristus; itu menyelamatkan seseorang dari pencobaan untuk berdiam diri tentang imannya. Petrus mengatakan bahwa itu adalah, ”memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah.” Kita merangkum persamaannya, air tidak menyelamatkan Nuh, tetapi ia dibawa dengan selamat melaluinya karena imannya kepada Allah. Demikian pula, air tidak menyelamatkan orang yang dibaptis; tetapi ia juga dibawa dengan selamat melaluinya— 21

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI itulah kiasan tentang kematian dan penghukuman. Ia diselamkan ke dalamnya dan kemudian dikeluarkan lagi untuk melambangkan kematian terhadap kehidupannya yang lama dan kebangkitan kepada hidup yang baru. Meskipun penganiayaan dapat datang, ia mempunyai hati nurani yang baik di hadapan Allah. Jika seseorang berpikir bahwa baptisan dibutuhkan untuk keselamatan dari dosa, biarlah ia merenungkan perkataan Paulus kepada jemaat di Korintus. Dalam ayat itu Paulus menyebutkan semua orang yang seingatnya telah dibaptiskannya—hanya Krispus dan gayus dan keluarga Stefanus, kemudian ia menambahkan, ”Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil” (I Kor 1:17). Jika baptisan dibutuhkan untuk keselamatan, Paulus tentu sudah memastikan bahwa semua orang yang percaya dibaptis. Akan tetapi ia membedakan Injil daripada tindakan baptisan. Jika baptisan diperlukan untuk keselamatan, penyamun disalib tak dapat diselamatkan, karen aia tidak dibaptis setelah ia percaya kepada Kristus. Namun ia memiliki jaminan dari Tuhan sendiri, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43). Peraturan-peraturan dalam Perjanjian Baru seumpama cincin kawin. Orang dapat saja menikah tanpa memiliki cincin kawin; demikian juga, orang bisa memakai cincin kawin tanpa menikah. Meskipun baptisan mendapatkan prioritas tinggi di dalam Perjanjian Baru, upacara itu tidak pernah dianggap sebagai sarana keselamatan.

Cara Baptisan?
Apakah yang harus menjadi cara baptisan? Tak perlu diragukan bahwa Perjanjian Baru agaknya mengajarkan bahwa orang-orang percaya benar-benar dibenamkan, yakni dimasukkan ke dalam air dan dikeluarkan lagi. Apakah itu Yohanes Pembaptis yang membaptis di Sungai Yordan, ataupun Filipus yang membaptis sida-sida Ethiopia, teks Alkitab memberitahu kita bahwa mereka turun ke dalam air dan kemudian kelaur dari air. Cara inilah yang paling baik melukiskan penjelasan Paulus tentang baptisan Roh sebagai kematian, penguburan, dan kebangkitan (Roma 6:1-4). (Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39, 8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan

Injil Yesus kepadanya.

22

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 8:37 Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah." 8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Perhatikan yang diBold/dicetak tebal, ada prinsip: BERITAKAN INJIL, PERCAYA, TEMPAT YG ADA AIR untuk BAPTIS, Cara Baptis: TURUN KE DALAM AIR, KELUAR DARI AIR, Dampak: SUKACITA-- Penekanan Dede) Di katakombe-katakombe di Roma terdapat gambar-gambar yang memperlihatkan air yang dituangkan ke atas kepala seseorang dalam tindakan baptisan. Seperti yang disebutkan, Diadache, suatu buku pedoman tentang pemerintahan gereja yang diterbitkan pada abad kedua, mengajarkan bahwa jika seseorang tak dapat dibaptis dalam air yang mengalir (seperti sungai), air harus disiramkan ke atas kepalanya. Jelaslah, dibutuhkan air dalam jumlah yang banyak untuk membenamkan seorang dewasa, jadi cara ini tidak selalu dapat dikerjakan dengan mudah. Menuangkan air ke atas kepala kadangkala (mungkin sering kali) diperlukan. Beberapa bagian gereja telah menjalankan pemercikan air ke atas kepala, kemungkinan untuk mengelakkan beberapa hal yang kurang menyenangkan karena menjadi basah dari kepala sampai ke kaki. Akan tetapi, acara apapun yang disepakati tidaklah sepenting dengan pertanyaanpertanyaan sebelumnya tentang baptisan anak kecil dan apakah baptisan sebenarnya dapat menjadi sarana penyaluran kasih karunia. Dalam perkara seperti ini kejelasan berita Injil secara langsung dipengaruhi. Sayangnya, hampir tidak ada harapan bahwa kekristenan akan sependapat mengenai peraturan yang penting ini. Kembali pertanyaan dasarnya adalah apakah keselamatan diperoleh dengan IMAN saja atau apakah sakramen-sakramen adalah bagian dari pengalaman pertobatan. Sumber: “Bagaimana Tentang Baptisan?” dari buku Teologi Kontemporer (ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?), Erwin W. Lutzer, Gandum Mas, cetakan ketiga, 2005. Halaman 99-122.

23

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Catatan Kaki: 1. Paul K. Jewett, Infant Baptist and the Covenant of Grace (Grand Rapids, Eerdmans, 1978), 40 2. ibid, 20 3. ibid, 17-18 4. ibid, 42 5. ibid, 111 6. Leonard verdium, The Reformers and Their Stepchildren (Grand Rapids, Eerdmans, 1964), 198 7. ibid, 199 8. Roland H, Bainton, The Reformation of the Sixteenth century (Boston: Beacon Press, 1952), 97. 9. Ibid. 10.Verdium, 199 11.ibid, 201 12.ibid 13.ibid, 204 14.ibid, 209 15.ibid, 201 16.ibid, 185 17.Charles H. Spurgeon, “Baptismal Regeneration,” in Sermons (New York: Funk and Wagnalls, n.d.), 8:23. 18.ibid 19.Spurgeon, “Children Brought to Christ, Not to the Font,” in Sermons, 8:41

Apa kata Harold Lindsell tentang Erwin W. Lutzer dalam prakata bukunya? Erwin W. Lutzer, pendeta gereja Moody Memorial Church di Chicago, disebut sebagai seorang pembela tradisi Reformasi yang kuat. Lutzer menjelaskan bahwa kaum Injili (evangelikalisme) adalah rumah tangga yang terpecah-pecah dan banyak orang dalam kelompok ini sama sekali tidak konsekuen karena mereka mempunyai pandangan-pandangan yang TIDAK BENAR jika dipandang secara LOGIS dan ALKITABIAH.

24

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Lutzer menyangkal bahwa baptisan air amat diperlukan untuk KESELAMATAN. Ketika beliau membicarakan Perjamuan Tuhan dan soal yang sulit tentang kehadiran Kristus di dalam unsur-unsur perjamuan itu, beliau mencakup doktrin satu aliran tentang TRANSUBSTANSIASI, pandangan Luther tentang KONSUBSTANSIASI, pandangan CALVIN tentang Kehadiran Rohani, dan pandangan Zwingli tentang Kehadiran Simbolis. Implikasi yang terkandung dalam posisi-posisi ini amatlah penting, pembaca dapat yakin bahwa banyak YANG TIDAK BERSEDIA untuk mengubah pandangan mereka, TAK PEDULI penjelasan-penjelasan apa pun yang dikemukakan. Dalam kesemuanya ini, dibalik karya Lutzer ini terdapat maksud yang tak diutarakan namun sangat nyata bahwa fungsi terpenting dari pikiran orang-orang yang menyebut dirinya kristen adalah untuk berpikir secara Kristen. Dan ini merupakan hal yang jarang sekali terdapat di antara kaum Injili. Dengan gamblang beliau mengatakan bahwa KITA HARUS ALKITABIAH, dan UNTUK MENJADI ALKITABIAH, KITA HARUS BERPIKIR SECARA KRISTEN. Lutzer adalah seorang pendeta yang sabar dan meyakinkan dan tak pernah mengatangatai atau menyalahkan mereka yang mempunyai segi pendapat yang berbeda. Memang Lutzer bersikeras bahwa BEBERAPA AJARAN TIDAK ALKITABIAH, namun ia menyatakan perhatian yang penuh kasih terhadap mereka yang menganut ajaran yang ia anggap TIDAK ALKITABIAH. Sebaiknya Anda berusaha untuk membeli buku ini! --------------------------------------------Erwin W. Lutzer menyarankan Baca juga buku Paul K Jewett, Infant Baptism and the Covenant of Grace, Grand Rapids: Eerdmans, 1977. Karya ini memuat sejarah yang rinci tentang doktrin baptisan anak kecil dan menyimpulkan bahwa BAPTISAN ANAK KECIL, BERTENTANGAN dengan ajaran Perjanjian Baru. Buku ini sangat ilmiah. Buku ini menarik karena ditulis oleh seorang teolog perjanjian (Covenant Teolog), yang dididik untuk menerima Baptisan Anak Kecil. Ini merupakan bacaan yang perlu dibaca oleh barangsiapa yang menaruh minat pada doktrin yang kontroversial ini. Baptisan Anak tidak dibenarkan karena syarat orang dibaptis adalah percaya dengan segenap hati, dan tidak boleh diwakilkan. Tertullian, Bapak Gereja Abad II adalah orang pertama yang menentang Praktek Baptisan Bayi. Namun ia tidak sanggup membendung arus yang begitu deras seorang diri. Praktek ini semakin berkembang. Penyebab lain baptisan bayi ialah penyimpangan doktrin tentang GEREJA LOKAL. Gereja waktu itu mentolerir ide penyatuan gereja dan negara. Konsep negera Kristen melahirkan konsep masyarakat suci. Setiap warga negara adalah warga gereja dan sebaliknya. Penyatuan gereja dan negara mensyaratkan setiap bayi yang lahir segera dibaptis untuk memasuki masyakarat suci (Sacral Society) agar mendapat kepastian keselamatan. Karena ada kebutuhan membaptis bayi maka cara yg lebih aman adalah cara memercik atau meneteskan air ke atas 25

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI kepala sang bayi. Ini (Baptiso=BAPTISM) disebut Rantisan (Rantiso) dan bukan baptisan

KESIMPULAN:
1 Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa BAPTISAN diberikan kepada mereka yang menanggapi/PERCAYA berita INJIL dan TIDAK BOLEH DIWAKILKAN. 2. Dalam PB, Baptisan segera menyusul setelah IMAN PRIBADI kepada Kristus digunakan. Dalam gereja mula-mula, TAK SATUPUN orang percaya yang tidak dibaptis. Semua orang Percaya DIBAPTIS sebagai suatu kesaksian terhadap iman mereka. 3. Karl Barth menyimpulkan dengan benar bahwa Pembaptisan Anak Kecil/bayi bagaikan Tambal Sulam yang tidak ada habis-habisnya. 4. Upacara“masuk sidi“ ditetapkan supaya seorang anak dapat meneguhkan keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya. Paul K. Jewett menjelaskan bahwa perlunya praktik ini hanya dapat berarti salah satu dari dua hal: mujizat lahir baru yang dikerjakan lewat baptisan anak kecil itu DIBATALKAN ketika anak itu Dewasa/Akil Balik, atau Upacara “masuk sidi“ itu adalah Pengakuan secara diam-diam bahwa anak itu sebenarnya TIDAK PERNAH DILAHIRBARUKAN. 5. Perbandingan Tanda SUNAT dan Tanda BAPTISAN, TIDAK TEPAT 6. Mengubah Tradisi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Kebenaran dan Ajaran Alkitab adalah PERLU dan HARUS dilakukan. 7. Baptisan bukan syarat memperoleh Keselamatan, HANYA IMAN SAJA. 8. Baptisan Bayi/Anak Kecil TIDAK ALKITABIAH dan Sungguh Menyesatkan. 9. Kesalahan Doktrin Gereja Universal waktu itu menjadi penyebab bersatunya gereja dan negara sehingga memunculkan Baptisan Anak Kecil. 10. Kaum Anabaptis, Charles Haddon Spurgeon, Karl Barth, John Piper, Paul K Jewett, Erwin W. Lutzer MENYATAKAN BAPTISAN ANAK/BAYI BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ALKITAB. 11. Para Reformator (Luther, Zwingli, Calvin) semasa kecil menjalankan praktik BAPTISAN ANAK KECIL/BAYI, hal ini membuat Dilema dalam diri mereka, dan mereka belum pernah dibaptis semasa dewasa. Mereka tidak tegas Menentang Baptisan Bayi/Anak Kecil, bagaikan buah simalakama bagi diri mereka sehingga dalam teori2 mereka menjadi TIDAK KONSISTEN hubungan Baptisan Anak kecil dan pembenaranm hanya karena IMAN.

26

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 12. Mereka yang praktekkan Baptisan Anak Kecil/Bayi tidak punya JAWABAN yang TEPAT dan Meyakinkan mengenai apakah setiap/semua BAYI YANG MATI PASTI MASUK SORGA. 13. Dalam cara Baptisan dan hal yang dilambangkan dari Baptisan, Lutzer mengakui TANPA RAGU bahwa cara SELAM (BAPTISO) paling sesuai dengan AJARAN ALKITAB, namun beliau tidak terlalu permasalahkan cara baptisan (dalam bukunya-terlihat singkat sekali pembahasannya). 14. KITA HARUS ALKITABIAH, dan UNTUK MENJADI ALKITABIAH, KITA HARUS BERPIKIR SECARA KRISTEN.

ARTI, JENIS, SUBJEK, SAAT, CARA, PENTINGNYA, FORMULA BAPTISAN
8 JENIS BAPTISAN
Secara Teologis, baptisan bisa didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk bersatu atau berkenalan dengan seseorang, kelompok tertentu, pesan tertentu, atau kejadian tertentu. Baptisan dalam agama misteri Yunani menghubungkan para calon penganut dengan agama tersebut. Baptisan dalam agama Yahudi menghubungkan pemeluk agama baru itu dengan Yudaisme. Baptisan Yohanes Pembaptis menghubungkan para pengikut Kristus dengan BeritaNya tentang kebenaran (secara kebetulan, Yohanes Pembaptis nampaknya merupakan orang pertama yang pernah membaptiskan orang lain—biasanya baptisan dilakukan sendiri). Karena Yakobus dan Yohanes dibaptis dengan Baptisan Kristus, maka berarti Baptisan Kristus dihubungkan dengan penderitaanNya (Markus 10:38-39). Dibaptis dengan Roh Kudus menghubungkan seseorang dengan tubuh Kristus (1 Kor 12:13) dan dengan kehidupan baru di dalam Kristus (Rm 6:1-10). Dibaptis di dalam Musa berarti mengakui kepemimpinanannya dalam membawa orang Israel keluar dari Mesir (1 Kor 10:2). Dibaptis bagi orang mati berarti berada di pihak kelompok Kristen dan mengambil tempat sebagai orang Percaya yang telah meninggal (1 Kor 15:29). Baptisan Kristen berarti pengenalan terhadap berita Injil, pribadi Juruselamat, dan kelompok orang-orang percaya. Beberapa baptisan yang disebutkan tadi tidak menggunakan air. Bayangkan betapa menyedihkannya kita jika tidak mempunyai pengertian yang tepat tentang arti dan macam-macam baptisan.

27

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Subjek Baptisan
Apakah hanya orang percaya saja yang dibaptis atau haruskah bayi (dari orang tua yang percaya) juga dibaptis? Pendapat yang menyetujui Baptisan anak/bayi antara lain sebagai berikut: 1. pendapat Sunat. Kolose 2:11,12 dengan jelas menghubungkan sunat dengan baptisan. Karena menurut Perjanjian Lama setiap bayi disunat, maka menurut Perjanjian Baru mereka harus dibaptiskan. Pendapat ini berdasarkan Teologi Perjanjian (Covenant Theology) yang mengandung arti bahwa sunat sebagai langkah awal untuk menerima janji keselamatan dalam Perjanjian Lama dan baptisan dalam Perjanjian Baru. Upacara ini menunjukkan keanggotaan dalam perjanjian itu, tidak perlu iman pribadi (bacalah James Buswell, A Systematic Theology of The Christian Religion [Grand Rapids: Zondervan, 1962], 2:262) 2. pendapat Historis. Sejak semula gereja mempraktikkan baptisan anak; karena itu baptisan tersebut diperbolehkan. Bapa-Bapa gereja sangat mendukung baptisan anak, seringkali menghubungkannya dengan sunat, namun fakta bahwa gereja mula-mula melakukan atau mempercayai sesuatu tidak dengan sendirinya membenarkan hal itu (membuat hal itu ALKITABIAH-sesuai ajaran Alkitab—penekanan Dede). Beberapa orang dalam gereja mula-mula mengajarkan Kelahiran Kembali melalui Baptisan, dan hal itu merupakan pengajaran BIDAT. 3. pendapat seisi rumah. Seisi rumah dibaptiskan dalam zaman Perjanjian Baru. Mungkin sekali bahwa beberapa bayi setidak-tidaknya termasuk dalam seisi rumah tersebut (Kis 11:14, 16:15,31, 18:18, 1 Kor 1:16). Beberapa orang juga mengatakan bahwa menurut 1 Kor 7:14 bukan saja mengizinkan, namun bahkan mengharapkan baptisan bayi dalam suatu rumah tangga di mana salah satu orang tuanya telah menjadi percaya. Pihak yang menentang Baptisan bayi/anak kecil dan karena itu mendukung Baptisan untuk orang yang percaya menyatakan: 1. Bahwa Alkitab selalu mengajarkan percaya dahulu, dan kemudian baru dibaptiskan (Mat 3:2-6; 28:19; Kis 2:37,38; 16:14,15,34). 2. Bahwa Baptisan merupakan upacara yang harus dijalani orang yang hendak masuk ke dalam suatu kelompok orang percaya, gereja; karena itu, baptisan hanya boleh dilakukan bagi orang percaya. Sebaliknya, sunat memasukkan oarng (termasuk bayi) ke dalam suatu teokrasi yang di dalamnya juga terdapat orang yang tidak percaya. 3. Bahwa usia anak tidak pernah disebutkan dibagian manapun yang menyebutkan tentang baptisan seisi rumah. Tapi dikatakan bahwa semua

28

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI yang dibaptis di dalam rumah itu menjadi percaya. Jadi hal ini tidak mungkin memasukkan bayi dalam baptisan tersebut. 4. Jika 1 Kor 7:14 mengizinkan atau mengharuskan baptisan anak-anak dalam satu rumah tangga/keluarga dimana salah satu orang tuanya telah percaya, maka hal itu juga akan mengizinkan atau mengharuskan baptisan bagi orang dewasa yang belum percaya.

ORANG-ORANG YANG DIBAPTIS
”Baptisan diperuntukkan bagi orang-orang yang secara pribadi dan sukarela bersedia menanggapi panggilan keselamatan. Dalam Perjanjian Baru, calon baptisan adalah orang yang akan diajar (Matius 28:20), yang telah menerima Firman Allah (Kisah 2:41), dan yang telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15,33;18:8; I Kor 1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti bayi-bayi juga dibaptis. Telah dianjurkan bahwa baptisan bayi semacam ini sama dengan upacara sunat dalam Perjanjian Lama. Untuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa ”seisi rumah” seperti dipakai di atas belum tentu berarti bahwa BAYI; dan selanjutnya, dalam kasus-kasus tersebut maka mereka yang dibaptis itu adalah orangorang yang sudah mendengar pemberitaan Firman Allah (Kisah 10:44) dan percaya (kisah 16:31,34). Tidak pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi harus dibaptis. Penyerahan anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan cara yang lebih dapat dipertanggungjwabkan daripada baptisan bayi.” (Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, Gandum Mas)

Baptisan Ulang
Hanya ada satu contoh yang jelas tentang orang yang dibaptis 2 kali (Kis 19:1-5). Ke-12 orang ini, yang telah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dibaptis kembali oleh Paulus setelah mereka mepercayai berita tentang Kristus. Hal ini memberikan suatu contoh tentang perlunya konseling bagi mereka yang telah dibaptis entah sebagai bayi, remaja, atau orang dewasa yang belum percaya kepada Kristus. Hal ini juga merupakan pendapat yang menentang baptisan bayi, karena mengapa membaptis bayi, jika kemudian, setelah ia secara pribadi menerima Kristus, ia harus dibaptiskan kembali? (Tambahan dari Dede: Jika seorang Dibaptis Percik, kemudian diBaptis Selam alias dibaptis ulang, apakah SALAH? Jelas Tidak salah, karena ketika diBaptis Selam, masih tetap dibaptis dalam Nama yang SAMA entah itu hanya dalam nama Yesus, atau dalam nama Bapa, Anak/Putra,dan Roh Kudus. Keyakinan bahwa Baptis Percik tidak SAH dan Tidak ALKITABIAH/tidak sesuai dengan Ajaran Alkitablah yang membuat seseorang mau dibaptis ulang atau 29

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI dibaptis SELAM, atau karena meyakini cara Baptisnya TIDAK BENAR menurut Alkitab, makanya ia ingin dibaptis ulang dengan CARA YANG BENAR)

SAAT BAPTISAN
Contoh-contoh dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang percaya dibaptiskan segera setelah mereka percaya. Tidak ada petunjuk tentang masa percobaan/katekisasi, walaupun hal semacam itu mungkin dibenarkan untuk membuktikan kemurnian iman.

CARA BAPTISAN
1. dengan cara dipercik. Argumen dan Bukti yang diajukan (1) beberapa upacara untuk pengudusan dalam Perjanjian Lama termasuk pemercikan (Kel 24:6,7; Im 14:7; Bil 19:4,8), dan semua ini digolongkan sebagai ”baptisan” dalam Ibrani 9;10 pemercikan dengan jelas menggambarkan penyucian yang dilakukan oleh Roh Allah seperti tercatat dalam Yeh 36:25 baptisan mempunyai arti tambahan (sekunder) sebagai ”membawa ke dalam pengaruh”, dan pemercikan dengan mudah dapat menggambarkan hal itu. Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan dalam keadaankeadaan tertentu (Kis 2:41, terlalu banyak orang; 8:38, terlalu sedikit air di padang gurun; 16:33, terlalu sedikit air di dalam rumah) Mayoritas terbesar dari gereja yang kelihatan mempraktikkan baptisan dengan cara bukan selam

(2) (3)

(4)

(5)

2. dengan cara dituangkan atau dicurahkan Argumen dan Bukti yang diajukan (1) penuangan dengan baik sekali menggambarkan pelayanan Roh yang datang dan msuk ke dalam kehidupan orang percaya (Yl 2:28,29; Kis 2:17,18). (2) Ungkapan ”ke dalam air” dan ”keluar dari air” dengan cara yang sama baiknya bisa diterjemahkan dengan ”menuju ke air” dan ”menjauhi” air. Dengan kata lain, orang yang akan dibaptis itu menuju ke air, mungkin bahkan masuk ke dalam air, tetapi tidak di bawah permukaan air seluruhnya. (3) Lukisan-lukisan di katakombe menunjukkan orang yang sedang dibaptis sedang berdiri kira-kira setinggi pinggang di dalam air, sedangkan orang yang

30

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI sedang membaptiskan menuangkan air ke atas kepala orang tadi dari sebuah bejana yang dipegangnya. 3. dengan cara SELAM Argumen dan Bukti yang diajukan (1) Penyelaman memang merupakan arti utama dari kata BAPTIZO. Bahasa Yunani memiliki kosakata yang berarti pemercikan (rantiso) dan penuangan yang tidak pernah digunakan untuk menjelaskan tentang baptisan Penyelaman menggambarkan dengan tepat sekali arti tentang baptisan, yaitu mati terhadap kehidupan yang lama dan bangkit dalam kehidupan baru (Rm 6:1-4) Penyelaman sangat mungkin telah dilakukan dalam setiap keadaan. Cukup tersedia banyak kolam di Yerusalem sehingga memungkinkan 3000 orang yang bertobat dibaptis (SELAM) pada Hari Pentakosta. Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tak ada air. Rumah-rumah seringkali memiliki kolam-kolam di luar rumah dimana, misalnya, keluarga kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam sebuah tangki air. Cara baptisan seperti inilah yang mungkin biasa dilakukan dalam gereja Kristen Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian pertama terhadap penyelaman dan diizinkan dalam kasus untuk penderita sakit. Hal ini disebut ”baptisan klinis”. Cyprian (pada 248-258 SM) merupakan orang pertama yang menyetujui cara pemercikan. Bahkan mereka yang tidak menganut Baptis Selam menyatakan bahwa penyelaman merupakan Praktik yang umum (universal) dalam gereja pada zaman para rasul (Bacalah Calvin, Institutes, 4:15:19).

(2)

(3)

(4)

(5)

Sebuah pengamatan: Mereka yang ingin membenarkan cara pemercikan nampaknya memiliki jalan pemikiran sebagai berikut: Jika Anda dapat menunjukkan bahwa cara lain dari penyelaman (seperti penuangan/pencurahan) dipraktikkan pada awalnya, maka secara sah Anda dapat mempraktikkan pemercikan, walaupun hal itu terbukti tidak dilakukan dalam gereja pada zaman para rasul. Dengan kata lain, jika Penuangan dapat menjadi suatu alternatif lain dari cara penyelaman yang universal, maka pemercikan juga dapat. Akan tetapi, seandainya ada, bukti yang ada hanya menunjukkan bahwa penuangan (jika hal itu pernah dilakukan) dapat dianggap sama dengan penyelaman, tetapi pemercikan TIDAK DAPAT dianggap SAH sebagai BAPTISAN.

31

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI PENYELAMAN sebanyak 3 Kali: dengan cara ini orang yang dibaptiskan diselamkan sebanyak 3 kali (biasanya ke depan) untuk melambangkan hubungan dengan Tuhan Trinitas/Tritunggal. Didache menyatakan bahwa apabila baptisan dengan cara SELAM TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN, maka air harus dituangkan sebanyak 3 kali di atas kepala (pasal 7). Perhatikan cara ini mula-mula tidak berarti untuk menyelamkan sebanyak 3 kali, namun hanya menuangkan sebanyak 3 kali. Para pendukung cara ini menunjukkan bahwa beberapa leksikon mengatakan, BAPTIZO berarti menyelamkan ke dalam air berulang-kali (tapi beberapa leksikon tidak menyebutkan demikian). Bukti terhadap pandangan ini tidak kuat.

PENTINGNYA BAPTISAN
1. Kristus dibaptis (Mat 3:16). Walaupun arti baptisanNya berbeda sama sekali dari arti baptisan orang Kristen, namun hal itu mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuhan apabila kita dibaptis. Harus disadari, kita tidak akan pernah mampu meniru pribadi yang tidak berdosa; namun kita harus mengikuti langkah-langkahNya, dan baptisan merupakan salah satu langkahNya (1 Petrus 2:21). 2. Tuhan menyetujui murid-muridNya untuk membaptiskan (Yoh 4:1-2). 3. Kristus memerintahkan supaya orang percaya dibaptiskan pada zaman ini (Mat 28:19). Perintah ini jelas bukan hanya untuk para rasul yang mendengarnya, namun untuk para pengikutnya di sepanjang zaman, karena Ia berjanji akan menyertai mereka senantiasa sampai pada kesudahan zaman. 4. Gereja mula-mula sangat mementingkan Baptisan (Kisah 2:38,41; 8:12,13,36,38; 9:18; 10:47,48; 16:15,33; 18:8; 19:5). Gereja mula-mula sama sekali tidak menerima orang percaya yang tetap tidak dibaptiskan. 5. Perjanjian Baru menggunakan ordonansi (upacara yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan Gereja) itu untuk menggambarkan atau melambangkan kebenaran teologis yang PENTING (Rm 6:1-10; Gal 3:27; 1 Ptr 3:21). 6. Penulis surat Ibrani mengatakan Baptisan merupakan suatu Kebenaran yang Mendasar (Ibr 6:1-2). Baptisan bukan lagi merupakan pilihan atau kurang penting bila dibandingkan dengan pengajaran tentang pertobatan, kebangkitan, dan penghakiman. Sumber: Teologi Dasar 2, Charles Caldwell Ryrie, PBMR ANDI, hal 223-228

BAPTISAN MENYELAMATKAN?

32

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Apakah Baptisan menyelamatkan? Tidak cukupkah hanya karena Iman saja (Sola Fide)? Apakah Keselamatan perlu ditambah dengan syarat baptisan, ordonansi/peraturan yang diperintahkan Tuhan atau istilah yg terlanjur salah kaprah “Sakramen”. Bila sepintas membaca bagian Alkitab, seakan-akan ada ayat-ayat yang mengajarkan bahwa Baptisan dapat menyelamatkan. 4 Ayat utama semacam itu ialah, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk 16:16); "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” (Kis 2:38); “Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!” (Kis 22:16); dan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan” (I Ptr 3:21). Ayat-ayat di atas dari Terjemahan Baru-2 dari PB LAI. Tetapi dalam semua hal ini, iman harus ada terlebih dulu. Urutannya menurut Alkitab ialah pertobatan, kepercayaan, baptisan. Pernyataan Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan perkataan Petrus, “…memberi dirimu dibaptis… untuk pengampunan dosamu” (Kis 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengampunan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kis 15:9; I Yoh 1:9), tetapi bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat sekali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkapkan sebagai satu tindakan. Saucy mengatakan,
Berkat-berkat Injil diterima oleh iman. Sekalipun demikian, ketika iman yang menyelamatkan tersebut dilanjutkan secara objektif melalui baptisan, maka Tuhan memakai tindakan tersebut untuk memperkuat kenyataan keselamatan yang telah diterima oleh iman sebelumnya. Iman seseorang dikuatkan pada saat itu diungkapkan secara terang-terangan, dan tindakan-tindakan penyelamatan itu dimeteraikan dan disahkan secara lebih mendalam lagi di dalam hati orang percaya itu. (Saucy, The Church in God’s Program, p 198)

Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang bertobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus, ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Perjanjian Baru, ia harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen (Kis 2:41). Sumber: Teologi Sistematika, Henry Clarence Thiessen, Gandum Mas, p 499-500, cet II, 1993

33

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Kis 16:31 berkata “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Dan Paulus bukan berkata: “Percayalah dan Baptislah… maka engkau akan selamat” seandainya Baptisan menyelamatkan, Paulus pasti akan mengatakan dengan tegas dan jelas.

FORMULA BAPTISAN
Yang dimaksud dengan 'formula baptisan' adalah kata-kata yang diucapkan oleh pendeta pada waktu membaptis. Dalam Kitab Suci formula baptisan ini hanya ada di satu tempat yaitu Mat 28:19 - 'dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus'. Karena itu pada waktu pendeta membaptis, ia berkata: 'Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin'. Ada banyak orang yang berdasarkan ayat-ayat seperti Kis 2:38 Kis 8:16 Kis 10:48 Kis 19:5 ('dibaptis dalam nama Yesus Kristus / dalam nama Tuhan Yesus') lalu mengubah formula baptisan, sehingga pada waktu membaptis mereka mengucapkan kata-kata: 'Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Amin'. Ini salah karena: a) Kis 2:38 Kis 8:16 Kis 10:48 Kis 19:5 itu bukanlah formula baptisan. Betul-betul tak masuk akal, kalau Yesus sudah memberikan formula baptisan dalam Mat 28:19, lalu rasul-rasul berani mengubahnya. Kata-kata 'dibaptis dalam nama Tuhan Yesus / Yesus Kristus' hanya berarti: · dibaptis berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus. · dibaptis atas otoritas Tuhan Yesus.

b) 'Bapa, Anak dan Roh Kudus' tidak sama dengan 'Tuhan Yesus Kristus'!

34

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Tanggapan saya: Dibaptis paling gampang ikut perkataan langsung Tuhan Yesus yang ditulis dengan jelas oleh Matius/Lewi dalam Matius 28:19 dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pengakuan Iman GBI, dan Pantekosta, biasanya membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Terhadap hal ini saya juga tidak keberatan. Kedua-duanya sah, dibaptis dalam "nama Yesus (banyak macamnya bisa dibaptis dalam nama TUHAN YESUS atau YESUS KRISTUS, atau TUHAN YESUS KRISTUS, TUHAN YESUS, KRISTUS YESUS, sama saja)", atau dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, atau juga sesuai dg Pengakuam Iman GBI dan Pantekosta: membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Jadi orang-orang Kristen tidak perlu bingung,ikuti saja yang paling sederhana yaitu ikuti

FORMULA BAPTISAN dalam Matius 28:19, dalam nama BAPA, ANAK dan ROH KUDUS. Ini jelas sesuai dengan perkataan Yesus, karena
kutipan langsung kata-kata Yesus. Sedangkan dalam Kisah Rasul, itu tidak ada yang kutipan langsung perkataan Rasul. Demikian, jadi jangan bingung mana yang sah, dalam nama siapa. Kasihan jika orang Kristen dari zaman Para Rasul sampai hari ini dibingungkan dengan Formula Baptisan. Ada yang menggunakan ketiga macam cara penyebutan nama dibaptis dalam nama Yesus yaitu Aliran Jesus Only. Aliran Jesus only pasti bingung, mau pake nama YESUS saja, TUHAN YESUS saja, atau TUHAN YESUS KRISTUS saja, atau KRISTUS YESUS saja, dll, Sebaliknya orang Kristen tidak perlu ragu dan bingung, pakai saja ayat Matius 28:19.

35

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

2. Membaptis secara Percik atau dengan Bendera adalah Tidak Alkitabiah

CARA BAPTIS PERCIK ATAU SELAM?
Apakah yang harus menjadi cara baptisan? Tak perlu diragukan bahwa Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang percaya benar-benar dibenamkan, yakni dimasukkan ke dalam air dan dikeluarkan lagi. Apakah itu Yohanes Pembaptis yang membaptis di Sungai Yordan, ataupun Filipus yang membaptis sida-sida Ethiopia, teks Alkitab memberitahu kita bahwa mereka turun ke dalam air dan kemudian keluar dari air. Cara inilah yang paling baik melukiskan penjelasan Paulus tentang baptisan Roh sebagai kematian, penguburan, dan kebangkitan (Roma 6:1-4). (Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39, 8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 8:37 Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah." 8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Perhatikan yang diBold/dicetak tebal, ada prinsip: BERITAKAN INJIL, PERCAYA, TEMPAT YG ADA AIR untuk BAPTIS, Cara Baptis: TURUN KE DALAM AIR, KELUAR DARI AIR, Dampak: SUKACITA-- Penekanan Dede) Di katakombe-katakombe di Roma terdapat gambar-gambar yang memperlihatkan air yang dituangkan ke atas kepala seseorang dalam tindakan baptisan. Seperti yang disebutkan, Didache, suatu buku pedoman tentang pemerintahan gereja yang

36

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

diterbitkan pada abad kedua, mengajarkan bahwa jika seseorang tak dapat dibaptis dalam air yang mengalir (seperti sungai), air harus disiramkan ke atas kepalanya. Jelaslah, dibutuhkan air dalam jumlah yang banyak untuk membenamkan seorang dewasa, jadi cara SELAM.
Hari ini umumnya gereja hanya mempraktekkan dua cara pembaptisan yaitu Percik dan Selam? Mana yang Alkitabiah (sesuai dengan ajaran Alkitab)?

Ada banyak alasan yang bisa kita pelajari dari Alkitab tentang BAPTIS SELAM:
1. Adalah sangat jelas dari Alkitab bahwa Baptis dilakukan dengan cara Selam dan bukan Percik bahkan saat Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus sendiri dibaptis dengan cara Selam. Itulah sebabnya Alkitab berkata: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, (Matius 3:16, Markus 1:10). Gereja HH Pope Shenouda III menamakan hari dimana Yesus dibaptis dengan sebutan “Hari Penyelaman” untuk mengingatkan arti ini dalam pikiran jemaatnya. 2. Arti yang sama dari pernyataan “Came Up Immediately from the water = segera keluar dari air” digunakan dalam Peristiwa Filipus membaptis SidaSida dari Ethiopia. Alkitab berkata, “Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (Kis 8:38-39). Ini membuktikan bahwa Sida-Sida dibaptis dengan cara Selam. Jika hanya Percik, maka cukuplah bagi Filipus memercikkan air ke atas kepala sida-sida Ethiopia itu ketika berada di keretanya tanpa perlu mereka berdua (pembaptis dan yang dibaptis) harus bersusah-susah menuju dan turun ke dalam air. 3. Kata Baptisma berarti celup. Pencelupan tidak bisa dilakukan tanpa penyelaman 4. Pembaptisan adalah tindakan dari dikuburkan bersama Kristus dan merasakan kematian bersamaNya, seperti Rasul katakan: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:4) dan kita “dikuburkan dengan Dia dalam baptisan” (Kolose 2:12). Tindakan penguburan tidak dapat dicapai kecuali dengan penyelaman. Keluar dari Bak/Kolam menyatakan bangkit bersama Kristus setelah mati dan dikuburkan bersama Dia, yang mana Percik tidak mungkin menyimbolkan tindakan mati dan bangkit. 5. Pembaptisan simbol Kelahiran Baru. Ini menyatakan dalam Baptisan ketika tubuh yang dibaptis keluar dari kolam, yang mana Percik tidak menyatakan tindakan Lahir Baru secara keseluruhan.

37

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 6. Pembaptisan simbol pengudusan dari dosa-dosa seperti dikatakan Rasul Paulus dalam Kis 22:16, dan seperti Paulus katakan dalam surat kepada Titus, “Dia menyelamatkan kita melalui permandian kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus” (Titus 3:5). Tindakan permandian/Pencucian butuh dimasukkan dalam air yang dengan tepat disimbolkan dengan Penyelaman bukan dengan Pemercikan 7. Siapapun yang melihat bangunan dari gereja mula-mula akan mengingatkan adanya kolam-kolam penyelaman sebagai bukti pembaptisan dengan cara SELAM dan bukan PERCIK karena tindakan Pemercikan tidak butuh sebuah Kolam yang dalam. 8. Penyelaman memang merupakan arti utama dari kata BAPTIZO. Bahasa Yunani memiliki kosakata yang berarti pemercikan (rantiso) dan penuangan yang tidak pernah digunakan untuk menjelaskan tentang baptisan 9. Penyelaman sangat mungkin telah dilakukan dalam setiap keadaan. Cukup tersedia banyak kolam di Yerusalem sehingga memungkinkan 3000 orang yang bertobat dibaptis (SELAM) pada Hari Pentakosta. Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tak ada air. Rumah-rumah seringkali memiliki kolam-kolam di luar rumah dimana, misalnya, keluarga kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam 10. Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam sebuah tangki air. Cara baptisan seperti inilah yang mungkin biasa dilakukan dalam gereja Kristen Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian pertama terhadap penyelaman dan diizinkan dalam kasus untuk penderita sakit. Hal ini disebut ”baptisan klinis”. Cyprian (pada 248-258 SM) merupakan orang pertama yang menyetujui cara pemercikan. Bahkan mereka yang tidak menganut Baptis Selam menyatakan bahwa penyelaman merupakan Praktik yang umum (universal) dalam gereja pada zaman para rasul (Bacalah Calvin, Institutes, 4:15:19). Sebuah pengamatan: Mereka yang ingin membenarkan cara pemercikan nampaknya memiliki jalan pemikiran sebagai berikut: Jika Anda dapat menunjukkan bahwa cara lain dari penyelaman (seperti penuangan/pencurahan) dipraktikkan pada awalnya, maka secara sah Anda dapat mempraktikkan pemercikan, walaupun hal itu terbukti tidak dilakukan dalam gereja pada zaman para rasul. Dengan kata lain, jika Penuangan dapat menjadi suatu alternatif lain dari cara penyelaman yang universal, maka pemercikan juga dapat. Akan tetapi, seandainya ada, bukti yang ada hanya menunjukkan bahwa penuangan (jika hal itu pernah dilakukan) dapat dianggap sama dengan penyelaman, tetapi pemercikan TIDAK DAPAT dianggap SAH sebagai BAPTISAN.

3. Sistem Kepausan adalah Tidak Alkitabiah

38

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

APAKAH PETRUS PAUS YG PERTAMA?
Perkataan Yesus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” telah menyebabkan badai perdebatan yang belum mereda selama berabad-abad. Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa kata-kata ini membuktikan Petrus telah dijadikan lebih unggul daripada rasul-rasul lainnya dan penghormatan ini telah dialihkan kepada paus-paus Gereja Katolik Roma. Dan kesimpulannya, ketika berbicara tentang takhta Petrus, yaitu ex cathedra, maka ia tidak mungkin bersalah. Kewenangan Paus tidak lagi diterima secara serius oleh umat Katolik seperti dulu. Ketika ia berbicara mengenai keburukan Keluarga Berencana atau dosa perceraian, perkataannya sering kali tidak dihiraukan oleh banyak orang Katolik, khususnya di Amerika Serikat. Dewasa ini banyak orang yang menganggap dirinya orang-orang Katolik yang baik tidak sependapat dengan paus mengenai peran wanita di dalam gereja dan bahkan mengenai aborsi. Namun ajaran resmi Katolik Roma yang menyangkut kewenangan gereja dalam persoalan-persoalan seperti itu masih tetap berlaku. Bagaimanakah gagasan kepausan ini muncul dan mengapa? Suatu Permulaan Tahun 452 SM, ketika Attila, orang Hun, memimpin pasukan berkudanya menuju Sungai Donau dengan maksud menguasai bagian barat dari Kerajaan Romawi. Serangan yang mendadak melintasi pegunungan Alpen membawanya ke Italia bagian utara. Ia bergerak terus menuju Roma sampai ia berjumpa dengan suatu delegasi Romawi, yang memohonnya untuk meninggalkan daerah itu. Ia baru saja hendak mengabaikan mereka ketika ia mendengar bahwa Leo, uskup Roma, ada diantara rombongan itu, sebagai Kerajaan Romawi. Mereka saling berhadapan, seorang raja asing dan seorang pemimpin gereja yang memerintah. Menurut beberapa sejarawan, Attila sudah memutuskan bahwa ia tak dapat meneruskan usaha penaklukannya karena memburuknya keadaan pasukannya disebabkan perjalanan kaki yang jauh. Bagaimanapun juga, ia menyetujui permintaan Leo untuk menyelamatkan ibu kota. Hal ini menjadikan Leo lebih ulung, bukan saja sebagai seorang pemimpin agama, tetapi juga sebagai seorang politikus. Apakah sangkut-pautnya dengan perkembangan kepausan? Leo, yang dikenal dalam sejarah sebagai Leo Agung, memanfaatkan kepercayaan yang makin kuat bahwa perkataan Kristus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ dapat dipakai untuk para uskup Roma. Ini memberinya keunggulan dan wewenang yang ia butuhkan untuk memerintah. Akan tetapi, mengapakah kehormatan ini harus diberikan kepada uskup Roma? Betapapun, gereja dimulai di Yerusalem, dan jemaat-jemaat penting lainnya terdapat di tempat-tempat seperti Antiokhia di Siria dan Efesus. Namun, ingatlah bahwa Roma adalah ibukota Kerajaan Romawi. Kota ini mempunyai kekuatan dan pengaruh politik, sebuah kota tempat orang-orang percaya mula-mula mendirikan sebuah gereja Kristen 39

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI yang kuat. Beberapa perkiraan menetapkan jumlah orang-orang percaya di Roma sekitar 30 ribu orang. Di barat, baik gereja maupun kotanya tidak mempunyai saingan. Lagi pula, para penulis Kristen yang mula-mula mengatakan bahwa Petrus dan Paulus telah mendirikan gereja di Roma. Lalu timbullah pemikiran bahwa uskup Roma menjadi calon pengganti rasul-rasul tersebut. Lalu kita harus memahami sesuatu tentang struktur gereja. Uskup-uskup bermunculan diberbagai bagian yang berbeda dari negeri itu, tetapi kadangkala mereka berkumpul bersama untuk bersidang dan mendiskusikan masalah-masalah gereja. Seperti yang dapat diduga, uskup dari gereja-gereja yang lebih penting mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Jadi beberapa uskup mulai menjalankan kekuasaan atas daerah-daerah geografis tertentu. Gerejka-gereja yaang lebih kecil mempunyai imam yang memberi laporan kepada uskup. Dengan demikian, Roma bertambah besar kewenangan dan kekuasaannya. Akhirnya, semua ini mencapai puncaknya. Setelah Konstantinus menjadi kaisar pada tahun 312, ia memutuskan untuk memindahkan ibukota Kerajaan Romawi ke Roma Baru, yaitu Konstantinopel, sebuah kota yang ia namakan menurut namanya sendiri. Jadi, kekuatan politik beralih dari barat ke timur (Yunani ada di Timur dan melambangkan suatu garis pemisah di antara barat dan timur). Ketika Konstantinus mengatur Konsili yang terkenal pada tahun 325, maka itu diselenggarakan di Nicea, hanya beberapa mil dari Konstantinopel. Persaingan di antara kedua kota itu berkembang. Suatu hari Kaisar dari Konstantinopel mengadakan sidang umum, seperti yang telah dilakukan oleh Konstantinus. Akan tetapi, ia mengundang uskup-uskup dari bagian timur kerajaan sedangkan uskup Roma diabaikan. Konsili ini menyelesaikan beberapa persoalan teologis, tetapi juga menyatakan bahwa wewenang uskup Konstantinopel berada pada peringkat kedua setelah uskup Roma karena Konstantinopel adalah “Roma Baru“. Sementara itu, di “Roma Lama“, pernyataan ini ditafsirkan sebagai suatu tantangan terhadap wewenang uskup Roma. Maka pada suatu sinode pada tahun berikutnya di Roma, uskup-uskup barat menandaskan, “Gereja Roma yang kudus harus lebih diutamakan daripada gereja-gereja lainnya, bukan berdasarkan keputusan sinode, tetapi karena kepadanya telah diberi keunggulan oleh perkataan Tuhan dan Penebus kita di dalam kitab Injil ketika Ia berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Demikianlah, suasana teologis ketika Leo menjadi uskup. Secara politik, kekuasaan Roma mulai berkurang dan karena itu alasan lama mengenai keunggulan gereja Roma oleh sebab kekuasaan dan pengaruh Roma kurang berpengaruh. Tetapi ini tak menjadi soal. Sekarang Roma dapat menuntut keunggulannya berdasarkan keunggulan Petrus. Dan karena kemerosotan politis kota itu, maka uskup sanggup menjalankan kekuasaan yang lebih besar. Leo benar-benar menyadari kedudukan tinggi yang telah ia warisi. Jadi, pada hari pelantikannya ia menegaskan bahwa jabatannya yang baru meninggikan “kemuliaan Rasul Petrus yang kudus... dalam takhtanya, kuasanya dilangsungkan dan kewenangannya bersinar.“ Kristus berjanji untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, dan inilah penggenapan perkataan-Nya. Leo adalah seorang pengkhotbah dan organisator 40

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI yang baik. Ia mengambil banyak prinsip pemerintahan Romawi dan menerapkannya kepada gereja. Organisasi gereja dibakukan di seluruh kerajaan. Meskipun Leo telah berhasil mencegah serangan Attila orang Hun, ia tidak sanggup mencegah kaum Vandal yang menyerang Roma pada tahun 455. Di pintu gerbang kota Roma, Leo bertemu dengan Gaiseric, raja orang Vandal, yang telah membawa pasukannya sampai ke sebelah utara sungai Tiber. Leo memohon belas kasihan, tetapi kaum Vandal menjarah Roma selama 14 hari. Mereka menjarah istana-istana, menahan tawanan politik dan bahkan anggota-anggota dari kaum aristokrat sebagai sandera politik. Dengan kapal-kapal yang sarat dengan harta benda dan manusia, kaum Vandal berlayar menuju Kartago. Uskup Leo menghibur penduduk dan menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Oleh karena ia menjadi penengah kepada raja Vandal, suatu pembunuhan masal telah dihindari dan sebagian gereja-gereja terlindungi. Ia mengajak rakyat Roma untuk mengakui bahwa Allah telah melembutkan hati kaum barbar itu. Bruce Shelley dalam penelitiannya tentang sejarah gereja mengatakan bahwa Leo tidak menyebut dirinya dan ia tidak perlu melakukannya, meskipun ia telah menyelamatkan Roma untuk kedua kalinya. “Ia telah memakai gelar kafir yang kuno Pontifex Maximus, imam besar keagamaan di seluruh kerajaan, dan semua orang mengerti bahwa Leo-lah, bukan Kaisar, yang telah memikul tanggung jawab atas kota yang kekal itu. Petrus telah mulai berkuasa.“1 Setelah melompat beberapa abad ke depan, kita kembali melihat persaingan yang terjadi antara uskup Roma dan uskup Konstantinopel. Kedua bagian gereja ini berpisah semakin jauh. Berabad-abad telah berlalu sampai suatu hari pada tahun 1054, ketika suatu kebaktian akan dimulai di gereja Himat Kudus di Konstantinopel, dua orang wakil dari gereja Roma muncul dan meletakkan suatu bula paus (suatu pengumuman resmi dari paus) di atas Altar. Uskup Roma, secara resmi mengucilkan uskup Konstantinopel. Akan tetapi, uskup Konstantinopel tidak gentar. Bula itu akhirnya dibuang di jalan ketika seorang diaken gereja itu mendesak utusan dari Roma untuk membawanya kembali. Jadi blok timur dari Kekristenan memisahkan dirinya dari Roma. Peristiwa ini menjelaskan adanya Gereja Ortodoks Timur, yang menguatkan banyak ajaran agama (meskipun dengan berbagai perbedaan yang penting), tetapi menolak untuk menerima kekuasaan Paus. Para Paus dan Kekuasaan Politik Seperti yang telah kita simak, Leo Agung adalah uskup Roma pertama yang menjalankan kekuasaan politik dan kekuasaan rohani. Tetapi ia bukan yang terkahir. Untuk memahami kepausan kita harus menyadari bahwa agama menjadi kekuatan yang begitu besar selama Abad-Abad Pertengahan sehingga para paus sanggup menguasai baik dunia politik maupun dunia rohani. Dan dalam usaha untuk menyatukan keduanya para paus mengambil kepemimpinan. Dengan bangkitnya Paus Gregorius Agung (tahun 540-606) kepausan memimpin di dalam pembakuan ibadah dan liturgi. Gregorius melepaskan kekayaan besar dan melayani umat dengan rendah hati. Ia menyebut dirinya ”hamba dari para hamba Allah.”

41

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan dan wilayah gereja makin meluas. Ketika suku Lombard menyerang Roma, Gregoriuslah yang mengerahkan bala tentara untuk mempertahankan Roma. Sekali lagi, kekuasaan rohani dan politik bersatu di dalam satu orang. Gregorius paling dikenal karena nyanyiannya yang membakukan ibadah dalam gerejagereja. Ia juga mendorong kecenderungan yang sedang berkembang untuk menganggap Misa sebagai pengorbanan tubuh dan darah Kristus. Pada zamannya, ia dicintai karena khotbah-khotbahnya yang relevan dan tafsirannya tentang kitab Ayub. Buku pedomannya tentang teologi pastoral yang berjudul The Book of Pastoral Rule mempunyai dampak yang besar di seluruh kerajaan. Ia percaya pada api penyucian sebagai suatu tempat dimana jiwa-jiwa disucikan sebelum mereka masuk sorga. Teologinya tidak hanya diperoleh dari pengajaran Perjanjian baru dan para bapa gereja, tetapi juga dari takhyul yang sedang berlaku berkaitan dengan peninggalan dan doa kepada orang-orang suci. Ia percaya bahwa Misa bermanfaat baik bagi orang mati maupun bagi orang hidup. Ia mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh baik dengan iman maupun dengan perbuatan baik. Pada umumnya, Gregorius dinggap sebagai paus yang pertama dari abad pertengahan. Karyanya menetukan arah gereja secara teologis, litugis, dan politis untuk tahun-tahun mendatang. Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 799, Paus Leo III sedang memimpin suatu prosesi melaui jalan-jalan di Roma ketika ia ditarik dari kudanya dan dibawa ke suatu biara Yunani. Para pendukung Paus yang sebelumnya menuduh dia telah melakukan sumpah palsu dan perzinaan. Akan tetapi, pendukungnya sendiri menyelamatkannya dan membawanya kembali ke Basilika Santo Petrus. Leo III menyadari bahwa apabila ia hendak memerintah, ia harus mengisi suatu kekosongan politik dengan memahkotai seorang kaisar yang dapat memberikannya perlindungan. Maka ia memohon bantuan kepada raja dari Frank, Karel Agung. Pada hari Natal tahun 800, Karel datang ke Basilika Santo Petrus untuk beribadah. Pada kesempatan itu paus mendekati Karel dengan sebuah mahkota di tangannya dan menaruh di kepalanya. Akhirnya, Kerajaan Roma yang sedang hancur akan dipersatukan kembali. Fakta bahwa kaisar telah dimahkotai oleh paus menunjukkan betapa kuatnya kekuasaan paus. Karel Agung mempunyai kekuatan militer untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Ia melihat kekristenan menjadi pengaruh keagamaan yang dominan di dalam kerajaan. Ia percaya bahwa jiwa manusia cocok dengan gereja dan tubuh manusia cocok dengan negara. Demikianlah, gereja memerintah atas jiwa manusia dan negara atas tubuh mereka. Paus dan kaisar harus saling mendukung dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan Allah kepada mereka sementara mereka memperluas kekuasaannya bagi kebaikan umat manusia. Karel Agung yang memegang pimpinan. Ia memperluas kekristenan di seluruh Kerajaan Romawi dan memulihkan hukum dan tata tertib. Ia memimpin kira-kira 50 kampanye untuk mengakhiri anarki di dalam kerajaannya dan memperluas perbatasannya. Ia juga memajukan kebudayaan dan pendidikan.

42

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Perselisihan Antara Paus dan Kaisar Adakalanya paus gagal dalam usahanya untuk mengendalikan pemimpinpemimpin politik. Pada abad XI timbul perdebatan mengenai apakah para penguasa politik mempunyai kuasa untuk mengangkat pejabat-pejabat gereja. Di Jerman para bangsawan dan raja feodal telah mencengkeram cukup banyak kekuasaan sehingga mengendalikan gereja. Ketika Paus Gregorius VII mulai berkuasa pada tahun 1073, ia bersikeras bahwa kekuasaan rohani lebih tinggi daripada para pemimpin politik. Ia mengancam akan mengucilkan setiap orang yang mendapatkan wewenangnya untuk melayani di dalam gereja dari para penguasa sipil. Hal ini mengakibatkan timbulnya pertikaian yang tajam antara dia dan kaisar, Henry IV. Paus menuduh Raja Henry melakukan simoni (menjualbelikan jabatan gereja). Jadi, Henry diperintahkan untuk menghadap paus. Sebaliknya Henry mengadakan suatu sinode untuk menyatakan bahwa paus tidak layak untuk memangku jabatannya. Sebagai pembalasan, Paus Gregorius mengucilkan Henry dan membebaskan seluruh rakyatnya dari kesetiaannya kepada kaisar. Henry memutuskan bahwa sebaiknya ia mengubah sikapnya agar tidak kehilangan kekuasaannya; jadi ia datang menghadap Paus pada bulan Januari 1077 di Canossa, sebuah istana di pegunungan Italia. Kaisar mengenakan pakaian pertobatan, namun dipaksa untuk berdiri selama 3 hari di dalam salju dengan bertelanjang kaki, sambil memohon pengampunan. Akhirnya, kami mengutip perkataan Gregorius, ”Kami melepaskan belenggu anatema (kutuk) dan pada akhirnya menerimanya ke dalam pangkuan Gereja Bunda Kudus.” Sekali lagi keunggulan paus diteguhkan. Kemudian Henry memperteguh kekuatannya dan kembali, kali ini ia menawan Gregorius. Sementara abad demi abad berlalu, kekuasaan paus sebagian besar semakin bertambah, diperkuat karena kepemimpinan politik yang lemah di Eropa. Kemuliaan kaisar pada masa silam digantikan oleh kepemimpinan agama para paus. Mereka tidak hanya diakui sebagai kepala para raja dan pangeran. Orang percaya bahwa gereja memiliki 2 buah pedang, Firman Tuhan dan pedang baja. Kekuasaan politik yang bersifat sementara akan digunakan untuk memenuhi kehendak gereja yang Am. Dengan demikian negara akan membantu dalam penyelamatan manusia. Pemikiran bahwa kesatuan politik dapat seiring dengan anekaragam agama sama sekali belum timbul dalam pikiran para penguasa abad pertengahan. Perang Salib Pada tahun 1095, Paus Urbanus II memproklamasikan perang salib yang pertama untuk memerdekakan Tanah Suci yang diduduki oleh orang asing. Ia mendorong orang-orang Kristen untuk mengangkat salib dan memperoleh baik berkat-berkat rohani maupun wilayah bagi diri mereka sendiri. Ia berjanji bahwa barangsiapa yang pergi akan diberikan pengampunan untuk semua dosa mereka pada masa lalu. Jika seorang tak dapat pergi, ia dapat memberikan sumbangan keuangan dan mengutus seorang pengganti. Ia juga akan diampuni dosa-dosanya pada masa lalu.

43

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Lebih dari 5000 orang mengadakan perjalanan itu dan merebut Kota Suci Yerusalem. Seorang saksi, yang merangkum semua itu dari perspektif teologis, menulis, ”Sungguh ini merupakan hukuman yang adil dan baik sekali dari Allah bahwa tempat ini harus dipenuhi dengan darah orang-orang yang tiak percaya, karena kota ini telah demikian lama menderita oleh karena perbuatan mereka yang menghujat Allah.” Tak pelak lagi, pauslah dan bukan kaisar, yang menyatukan kerajaan untuk melawan ancaman kekuatan dari orang-orang yang menjajahnya. Paus Innocentius III (1198-1216) adalah seorang administrator yang cakap. Ia mengatakan bahwa vikaris Kristus lebih rendah daripada Allah, namun melebihi manusia. Ia memberi tahu para pangeran Eropa bahwa kepausan itu seperti matahari, sedangkan para raja seperti bulan, yang memperoleh kekuatannya dari matahari. Dibawah kepemimpinannya kekuasaan paus mencapai puncaknya. Paus sanggup menjaga agar para pangeran tetap patuh kepadanya dengan ancaman pengucilan. Dalam hal demikian orang yang dikucilkan secara langsung dilepaskan dari semua jabatan dan bahkan tidak akan dimakamkan secara Kristen. Apabila raja dari suatu negara tidak menaati Paus, seluruh wilayahnya akan ditempatkan di bawah interdict (larangan). Semua kebaktian umum di wilayah itu dihentikan kecuali baptisan dan perminyakan orang yang mau meninggal. Jadi, kekuasaan politik harus taat, kalau tidak akan dipecat dari kekuasaan. Kekacauan di dalam Kepausan Bagaimanapun juga, kekuasaan paus menghadapi perlawanan keras pada abad ke-14. Paus Bonifacius menentang Edward I dari Inggris dan Philip dari Prancis karena mereka mulai mengenakan pajak kepada para pejabat gereja di wilayahnya. Bonifacius mengeluarkan unamsanctam, pernyataan tegas yang paling ekstrem dari kekuasaan paus. Ia menyatakan bahwa setiap manusia harus tunduk kepada paus dari Roma. Philip menanggapi dengan mencoba menghadapkan paus ke pengadilan di Prancis dan menyuruh orang-orangnya menangkap paus ketika ia sedang berlibur di sebuah tempat kediaman musim panas. Paus dipenjarakan selama beberapa hari dan beberapa minggu kemudian mati karena merasa terhina. Tak pelak lagi, Philip mendapat kemenangan. Dan ketika pengganti Bonifacius mati setelah pemerintahan yang singkat, maka pada tahun 1305 para kardinal memilih seorang Prancis, Klemen V, sebagai paus. Tetapi ia tidak pernah datang ke Roma, karena lebih suka memerintah dari Avignon di Prancis Selatan. Dengan demikian mulailah suatu periode 72 tahun dimana 6 paus, semuanya berkebangsaan Prancis, secara berturut-turut memerintah dari Prancis dan bukannya dari Kota yang dianggap Kekal. Para sejarawan menjuluki masa ini ”Tawanan di Babel” dari gereja. Perpindahan ini menimbulkan kemarahan besar, terutama di Jerman dan Italia. Negaranegara ini menolak untuk memberi sokongan kepada kepausan dan karena itu paus-paus Prancis itu mengumpulkan uang dengan meminta bayaran dan pajak untuk memperoleh hak-hak istimewa gerejani. Bilamana seorang uskup diangkat, upahnya pada tahun pertama harus diberikan kepada paus. Surat-surat penghapusan siksa dijual. Surat-surat 44

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI ini menganugerahkan keuntungan-keuntungan rohani yang mencakup dari pengampunan dosa sampai perlindungan dalam perang. Akhirnya, ketika kepausan pindah kembali ke Roma pada tahun 1377, para kardinal, yang kebanyakannya orang Prancis, mengalah kepada tekanan dan memilih seorang paus berkebangsaan Italia, Urbannus VI. Akan tetapi, kurang dari 6 bulan kemudian, mereka menyesali keputusan mereka karena Urbanus VI meremehkan mereka. Mereka membalas dengan mengatakan bahwa mereka terpaksa memilih dia karena tekanan Roma. Dengan demikian mereka menyatakan bahwa tindakan mereka sendiri tidak sah. Mereka memilih seorang paus baru, Klemens VII. Ia memutuskan bahwa ia akan pindah ke Avignon. Dalam pada itu, paus yang telah diturunkan dari takhtanya, menanggapi dengan mengangkat suatu dewan kardinal yang baru dan melanjutkan pemerintahannya dari Roma. Inilah awal dari apa yang dalam sejarah dikenal sebagai ”Skisma besar”, yang bertahan selama 39 tahun. 2 Paus memerintah secara serempak, masing-masing menyatakan berhak untuk mengucilkan yang lain. Umat harus memilih siapa yang akan mereka anut. Italia utara, sebagian besar Jerman, Skandinavia, dan Inggris mengikuti paus di Roma; Prancis, Spanyol, Skotlandia dan Italia Selatan setia kepada paus di Avignon. Pada tahun 1409, sekelompok kardinal dari kedua golongan yang bersaingan ini berkumpul untuk menyelesaikan pertentangan itu. Mereka memberhentikan kedua paus yang ada dan mengangkat seorang paus yang baru, Aleksander V. Akan tetapi, kedua paus yang lain itu tidak mau menerima keputusan konsili tersebut. Pada waktu itu gereja mempunyai 3 Paus, yang masing-masing menyatakan menjadi pengganti Petrus yang sah, serta menyebut saingannya itu Antikristus. Masing-masing menjual surat penghapusan siksa untuk mendapatkan cukup uang untuk memerangi saingannya. Pada tahun 1414, kaisar mengadakan suatu persidangan di kota Kontans. Para utusan hadir berdasarkan perwakilan geografis dan mereka mempunyai kekuasaan cukup untuk menyuruh salah seorang dari ketiga paus itu mengundurkan diri dan memberhentikan keuda paus yang lain. Mereka memilih seorang paus baru, Martin V, dan akhirnya kedua paus itu menerima realitas keadaan itu dan melepaskan kekuasaan mereka sebagai paus. Perpecahan telah berakhir, tetapi suatu masalah baru timbul, Paus Martin V tidak mengakui semua tindakan konsili yang telah memilih dia kecuali satu—yaitu keputusan mereka untuk memilih dia sebagai paus. Alasannya: dengan memilih seorang paus baru dan memberhentikan yang lain, sebenarnya Konsili di Kontans itu menegaskan bahwa sebuah konsili mempunyai kekuasaan atas Paus. Hal ini tidak dapat dibiarkan oleh Paus yang baru itu. Jadi, sekali lagi paus dianggap yang tertinggi. Seperti yang dikatakan oleh Shelley, sekali lagi paus tidak dapat memutuskan apakah ia pengganti Petrus atau pengganti Kaisar. Paus Tidak Mungkin Bersalah Sementara pengaruh kepausan bertambah besar, demikian pula pengabdian yang diharapkan kepada ajaran-ajarannya. Sebagaimana Petrus adalah yang pertama di antara para rasul, demikianlah uskup Roma menjadi yang pertama di antara para uskup. Pada tahun 1647, Paus Innocentius X menolak gagasan bahwa Petrus dan Paulus bersama45

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI sama menjadi kepala gereja sebagai suatu ajaran sesat. Kenyataan bahwa Paulus “berterang-terangan menentang“ Petrus (Gal 2:11) tidak meniadakan posisi Petrus yang tertinggi; bahkan, Roma menganggap bahwa Paulus menegur Petrus justru karena kekuasaan Petrus yang tinggi di dalam gereja mengahruskan ia ditegur. Pernyataan bahwa Paus tidak mungkin bersalah diulang pada Konsili Vatikan yang pertama tahun 1870. ditandaskan bahwa “jikalau seorang menyangkal bahwa...Petrus yang kudus mempunyai pengganti-pengganti yang abadi dalam Keunggulannya atas gereja yang Am, biarlah ia terkutuk.“2 Selanjutnya konsili ini menegaskan bahwa paus mempunyai yuridiksi penuh dan tertinggi atas seluruh gereja, bukan saja dalam iman dan moral, tetapi juga dalam disiplin gereja dan dalam pemerintahan gereja. Khususnya, ini berarti bahwa paus lebih berkuasa daripada semua uskup bersama-sama. Kami mengutip perkataan Ludwig Ott, seorang teolog Roma Katolik, yang mengatakan bahwa paus memiliki “kekuasaan tertinggi di dalam Gereja, artinya, tak ada yuridiksi yang memiliki kekuasaan yang lebih besar atau sama besar. Kekuasaan paus melebihi kekuasaan tiap uskup tersendiri dan juga semua uskup lain bersama-sama. Oleh karena itu, para uskup secara kolektif (terlepas dari paus), tidak sederajat atau tidak lebih tinggi daipada paus.“ Kami mengutip Ott kembali, “Jadi, paus dapat memutuskan secara mandiri setiap persoalan yang berada di bawah ruang lingkup yuridiksi gereja tanpa persetujuan uskup-uskup yang lain atau bagian-bagian lain dari gereja.“3 Doktrin ini mendapat perlawanan keras dari dalam gereja sendiri. Seorang teolog terkemuka, Dollinger, yang telah mengajar teologi selama 47 tahun, dikucilkan pada tahun 1871 karena perlawanannya terhadap dogma ini. Secara tepat ia mengomentari bahwa kepercayaan seperti itu meniadakan kebutuhanakan konsili dan uskup, karena mereka tak dapat menolak keputusan paus. Ia menulis mengenai para uskup,“Jika mereka ingin mengukuhkan keputusan paus...ini bagaikan membawa lentera-lentera untuk membantu matahari pada tengah hari.“ Demikianlah, dengan memberikan yuridiksi penuh dan karunia tak mungkin bersalah kepada paus, konsili telah menutup kemungkinan untuk menilai pengajaran-pengajarannya menurut Alkitab. Bila Paus berbicara ex cathedra, ia dapat mengganti Alkitab. Semua protes dibungkamkan. Meskipun tidak ada bukti sejarah langsung bahwa Petrus pernah berada di Roma, gereja percaya bahwa ia mati di sana dan bahwa Basilika Santo Petrus yang asli telah dibangun di atas makamnya. Bagaimana tentang keunggulan Petrus, pemindahan wewenangnya kepada uskup Roma, dan ajaran bahwa paus tak mungkin bersalah? Apakah ini merupakan ajaran Perjanjian Baru? Ataukah ada alasan-alasan lain yang absah untuk mempercayai doktrin-doktrin ini?

46

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Kepausan dan Perjanjian Baru Ketika Kristus berkata kepada Petrus,“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ jelaslah Ia bermaksud mengemukakan suatu permainan kata—kata Petrus berarti batu. Tetapi kita harus memperhatikan bahwa ada dua kata Yunani yang berbeda yang digunakan di sini.“Engkau adalah Petrus [Petros] dan di atas batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.“ Karena petra adalah sebongkah batu, kemungkinan Kristus sedang memikirkan dirinya sendiri. Di bagian lain dari Perjanjian Baru, Ia disebut sebagai dasar gereja. Akan tetapi, bagi kepentingan diskusi ini marilah kita mengatakan bahwa memang Petruslah yang Ia maksudkan. Para teolog Katolik Roma akan menguatkan bahwa gereja didirikan di atas dasar Kristus dan Petrus. Tetapi meskipun hal ini diterima selaku benar, 3 pertanyaan muncul. Pertama, adakah bukti dalam Alkitab bahwa wewenang Petrus dapat dipindahkan? Kedua, adakah sesuatu yang mengemukakan bahwa wewenang ini telah dipindahkan kepada uskup-uskup Roma? Dan ketiga, adakah sesuatu dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa Petrus tak mungkin bersalah dalam pernyataan-pernyataannya dan bahwa karunia itu juga telah dilimpahkan pada uskupuskup Roma? Ludwig Ott, teolog Katolik sekali lagi berada dalam posisi yang tidak menguntungkan karena harus mengakui bahwa keunggulan Petrus tidak terungkap dengan jelas di dalam perkataan Kristus, tetapi bahwa kesimpulan itu dapat diambil dari sifat dan tujuan kepausan. Sedangkan untuk kepercayaan bahwa wewenang Petrus dapat dipindahkan atau bahwa itu telah dilimpahkan kepada para uskup Roma, ia tak mengutip ayat Alkitab sama sekali. Dan bagaimana tentang ketidakmungkinan berbuat salah? Ott mengakui bahwa para bapak gereja tidak mengatakan bahwa paus tidak mungkin bersalah namun hal itu tersirat dalam beberapa pernyataan mereka. Sedangkan sebagai bukti dari Kitab Suci, ia mengacu kepada fakta bahwa Kristus telah memberikan wewenang kepada Petrus untuk mengikat dan melepaskan (Mat 16:18-20). Bagaimanapun juga, kita harus memperhatikan bahwa hal ini tidak hanya diberikan kepada Petrus, melainkan kepada semua rasul dalam mat 18:18 dan Yoh 20:23. Petrus diberikan Kunci Kerajaan Sorga karena ia dipilih untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Kis 2, 10, 15). Namun, ayat itu tidak menyebutkan bahwa hak istimewa ini dapat dipindahkan/diteruskan kepada orang lain. Bahwa Petrus dapat berbuat salah cukup jelas dalam Surat Galatia, di mana Paulus berkata bahwa ia menegur Petrus di depan umum karena mencemarkan kemurnian Injil. Di bawah tekanan beberapa orang Yahudi, Petrus kembali kepada kebiasaan makan dari Perjanjian Lama. Paulus mengnggap hal ini tidak sesuai dengan Injil yang menolak perbedaan-perbedaan seperti itu dan menawarkan keselamatan baik bagi orang bukan Yahudi maupun orang Yahudi. Paulus menulis, “Aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah“ (Galatia 2:11).

47

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Di dalam Perjanjian Baru posisi kepemimpinan yang tertinggi adalah penatua atau penilik jemaat (uskup/bishop). Kata-kata ini dipertukartempatkan di banyak bagian Alkitab. Tetapi tak disebut sama sekali bahwa seorang uskup menjalankan wewenang atas gereja-gereja lain, apalagi bahwa seseorang menuntut kekuasaan atas seluruh kekristenan. Para penatua (uskup) dari tiap gereja lokal hanya bertanggung jawab atas jemaatnya sendiri. Bahaya dari melimpahkan otoritas yang berlebihan kepada satu orang adalah jika ia melakukan kesalahan, gereja-gereja lain turut berbuat salah bersamanya. Kendati suatu konsili dapat diadakan, tetapi konsili itu tidak mengikat gereja-gereja lain. Misalnya, konsili gereja yang pertama bersidang di Yerusalem dan dipimpin oleh Yakobus (bukan Petrus, meskipun ia hadir); namun kesimpulan-kesimpulannya dipersembahkan kepada gereja-gereja lain sebagai sesuatu yang “berkenan“ bukan sebagai sesuatu yang harus diikuti tanpa mempedulikan apakah gereja-gereja yang lain sependapat atau tidak. Yang jelas ialah bahwa kesimpulan setiap konsili haruslah diuji dengan Kitab Suci sebelum suatu keputusan diambil untuk mengikutinya (Kis 15:22-29). Dapatkah kesatuan terpelihara tanpa adanya seseorang sebagai kepala? Umat Kristen mengatakan bahwa Kristus adalah Satu-satunya Kepala gereja dan kesatuan harus didasarkan pada doktrin-doktrin Kitab Suci saja. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang berbicara dengan paling jelas tentang kepemimpinan Kristus dan wewenang yang sejajar dari semua orang percaya di hadapan Allah telah ditulis oleh Petrus. Ia memperkenalkan Kristus sebagai batu penjuru (I Pet 2:6). Dengan kejelasan yang sama ia mengajarkan bahwa setiap orang percaya adalah imam di hadapan Allah (I Pet 2:4-7). Sedangkan untuk jabatan penatua atau uskup, ia menasihatkan supaya mereka “Gembalakanlah kawanan domba Allah... jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolaholah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu“ (I Pet 5:2-3). Ia tidak mengharapkan bahwa seorang penatua atau uskup akan memperluas wewenangnya atas satu gereja, apalagi atas semua gereja. Hanya Kristus yang mempunyai wewenang seperti itu. Tuntutan paus harus dinilai dengan mengingat pernyataan Petrus sendiri. Catatan kaki: 1. Bruce Shelley, Church History in Plain Language (Waco, Texas: Word Books, 1982), 158 2. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (St. Louis: B. Herder Books Co., 1954), 282 3. Ibid., 285.

48

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Sumber Pustaka: Erwin W. Lutzer, Teologi Kontemporer, Malang: Gandum Mas, cetakan ke-3, 2005, page 49-63. (www.gandummas.com)

4. Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah
KRISTEN KANIBAL MEMAKAN DARAH DAN DAGING YESUS Perdebatan Transubstansiasi, Konsubstansiasi, dan Peringatan (Simbolis)
Adalah sesuatu yang lebih menyedihkan, lebih patut ditangisi daripada kenyataan bahwa hal itu (Perjamuan Tuhan) harus dipergunakan sebagai pokok perselisihan dan perpecahan?“ Philip Melanchton mengajukan pertanyaan ini pada Agustus 1544. ia mempunyai cukup alasan untuk bersedih. Beberapa tahun sebelumnya, Martin Luther dan Ulrich Zwingli memperdebatkan Perjamuan Tuhan di Puri Marburg di Jerman. Diapit oleh beberapa kawan, Luther dan Zwingli duduk di ujung-ujung yang berlawanan dari sebuah meja yang panjang dikelilingi oleh para pengamat. Luther menghadiri dengan berat hati dibawah tekanan yang semakin kuat untuk mempersatukan gerakan reformasi di Jerman dan Swiss. Kebijaksanaan menuntut suatu front bersama melawan oposisi yang semakin bertambah dari gereja. Jika Luther dan Zwingli dapat sepakat mengenai Perjamuan Tuhan, maka persatuan teologis dan politis di antara kedua Negara dapat tercapai. Ternyata tidak demikian. Luther berpegang teguh pada keyakinannya dan bahkan berpendapat bahwa orang-orang Swiss bukan saudara-saudara di dalam Kristus. Menurut sejarawan gereja, Philip Schaff, seusai perdebatan, Zwingli mendekati Luther dengan air mata berlinang-linang dan mengulurkan persaudaraan, tetapi Luther menolaknya. Konsili yang pertama berakhir tanpa membawa hasil. Bila kembali pada permulaannya, kita dapat melihat bagaimana pelaksanaan Perjamuan Tuhan berkembang dalam sejarah pemikiran Kristen. Barulah kita akan mengerti dengan lebih jelas mengapa Luther dan Zwingli berbeda pendapat dengan gereja dan satu sama lain. Perjamuan Tuhan di Perjanjian Baru

49

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Bacalah kisah Perjamuan Tuhan (bukan Perjamuan Kudus, istilah YANG BENAR: PERJAMUAN TUHAN, karena Perjamuan tidak menguduskan) dalam PB dan Anda akan segera kagum dengan kesederhanaan peristiwa yang khusus ini: 26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." 26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 26:26-28) Upacara ini kelihatannya tidak rumit dan tujuannya pun jelas. Tetapi Kristus memang berkata,“Inilah tubuh-Ku“ dan“Inilah darah-Ku.“ Jadi, sudah pasti timbul pertanyaan tentang arti dari perkataan ini. Gereja mula-mula, yang mengikuti pola Kristus, mempunyai kebaktian yang sederhana. Yustinus Martir (sekitar tahun 100-165 M) di dalam Apologia, sebuah buku yang ditulis untuk membela kekeristenan, menuliskan bahwa uskup atau pemimpin gereja memulai kebaktian perjamuan Tuhan dengan doa pujian dan ucapan syukur yang diucapkan atas unsur-unsur perjamuan itu. Jemaat menjawab“Amin“, dan dilanjutkan dengan ciuman kasih persaudaraan, yang menunjukkan hati yang rukun kembali. Sudah sepantasnya para bapa rasuli mulai menganggap tindakan Tuhan ini sangat penting. Dan karena Kristus melangsungkan upacara ini sesudah Ia dan murid-murid memakan jamuan Paskah, adalah wajar bagi gereja mula-mula untuk memperingati kematian Kristus sesudah makan bersama. Doa ucapan syukur (euchristia) akhirnya dikaitkan dengan Perjamuan itu sendiri. Kemudian itu diubah dari sebuah doa ucapan syukur yang sederhana menjadi doa penahbisan roti dan anggur. Tetapi bagaimanakah pengertian orang mengenai unsur-unsur ini? Kutipan dari para bapa gereja akan menunjukkan bahwa Kristus dianggap hadir di dalam unsur-unsur itu. Ignatius dari Antiokhia (sekitar 115 M) mengatakan,“Ekaristi adalah daging Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang menderita karena dosa kita yang oleh kebaikan Bapa dibangkitkan dari antara orang mati.“ Dengan mendasarkan kesimpulannya pada Yohanes 6:54-58, Ignatius berbicara tentang Perjamuan Tuhan sebagai obat keabadian. Dengan memakan dan meminumnya kita menjadi pewaris hidup kekal.

50

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Yustinus Martir mengatakan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dianggap sebagai roti dan anggur biasa,“tetapi sebagaimana Penebus kita, Yesus Kristus, dijelmakan oleh Firman Allah... demikian juga (unsur-unsur itu) adalah daging dan darah dari Yesus yang sama yang telah menjelma itu.“ Pada abad ketiga muncullah pemikiran bahwa Perjamuan Tuhan adalah sumber makanan rohani bagi mereka yang mengambil bagian dari Perjamuan itu. Tertulianus mengatakan,“Tubuh kita disegarkan dengan tubuh dan darah Kristus supaya jiwa juga dapat diberi makan oleh Allah.“ Bagaimanakah kita akan merangkum pengajaran tentang Perjamuan Tuhan selama abad kedua dan ketiga? Jaroslav Pelikan, dalam bukunya The Christian Tradition, terbitan University of Chicago Press, menuliskan bahwa Tak Seorang pun dari para bapa ortodox yang tercatat mengatakan bahwa kehadiran tubuh dan darah Kristus di dalam Ekaristi Hanyalah Simbolis (meskipun Klemens dan Origenes hampir melakukannya), juga tak seorang pun menetapkan bahwa substansi unsur-unsur itu telah diubah (meskipun Igantius dan Yustinus hampir mengatakan begitu). Kemudian ia menambahkan,“Dalam batas-batas dari kedua pandangan yang ekstrem inilah terdapat doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya.“ Doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya berarti bahwa tubuh dan darah Kristus entah bagaimana telah menyatu dengan unsur-unsur itu. Ketika Kristus diperingati dalam Perjamuan Tuhan, Ia hadir di antara umat-Nya yang mengambil bagian dalam penebusan. Sebagian menganggapnya sebagai memberi makan kepada tubuh; yang lainnya percaya bahwa itu adalah SIMBOLIS. Misalnya, Agustinus, berbicara tentang roti dan nggur sebagai tubuh dan darah Kristus, tetapi pada saat yang sama dengan jelas ia membedakan antara lambang dan hal yang dilambangkan. Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa substansi itu sendiri tidak berubah. Baginya, memakan tubuh Kristus adalah Tindakan yang Simbolis. Berkhof menuliskan,“Ia menekankan aspek peringatan dari upacara tersebut dan menegaskan bahwa orang fasik, kendati mereka mungkin menerima unsur-unsur itu, tidak mengambil bagian dari tubuh. Ia bahkan menentang penghormatan yang bersifat takhayul/mistik yang diberikan terhadap upacara tersebut oleh banyak orang pada zamannya.“ Pada abad keempat, Ekaristi mulai dikenal sebagai MISA, dari bahasa Latin Misa, artinya“Membubarkan“. Kata ini menunjukkan kepada perkataan yang diucapkan oleh imam pada akhir perjamuan itu dan belakangan kepada seluruh upacara tersebut.

51

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Ringkasnya, selama 8 abad pertama dari gereja, persetujuan umum mengarah pada pandangan yang realistis tentang unsur-unsur Perjamuan Tuhan itu: Kristus secara rohani hadir di dalam roti dan anggur. Mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan ialah memakan tubuh dan darah Kristus, tetapi bukan dalam arti harfiah/literal. Transubstansiasi Pada tahun 818 seorang rahib dari biara terkenal di sebelah utara kota Paris di Corbie, bernama Paschasius Radbertus, menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa unsur-unsur itu diubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Meskipun wujud unsur-unsur itu tidak berubah, suatu mujizat terjadi ketika imam-imam mengucapkan berkat-anggur dan roti betul-betul menjadi tubuh dan darah Kristus yang historis. Ia menegaskan bahwa wujud luar hanyalah selubung dan menipu pancaindera manusia. Ajaran ini mendapatkan tantangan. Para teolog seperti Rabanus Maurus menjelaskan bahwa kepercayaan seperti itu mengacaukan lambang dengan hal yang dilambangkan. Pada tahun 1050 Berenger dari Tours menguraikan pandangan bahwa tubuh dan darah Kristus itu hadir tetapi bukan secara hakiki, melainkan dalam kuasa. Substansinya tetap tidak berubah; iman pada pihak orang yang menerima unsur itu diperlukan untuk mengaktifkan kuasa itu. Filsuf John Scotus sependapat dengan Agustinus bahwa unsur-unsur itu SIMBOLIS, dan bahwa mereka tetap TIDAK BERUBAH. Ketika Martin Luther dan Ulrich Zwingli bertemu di Marburg, suatu diskusi yang sengit tak dapat dielakkan. Sebelumnya, Zwingli telah menulis bahwa Kristus tak mungkin hadir secara fisik di dalam Perjamuan Tuhan karena tubuh-Nya hanya dapat ada dalam salah satu dari tiga cara, sebagai tubuh jasmani, tubuh yang dibangkitkan, atau tubuh mistik. Kristus tak dapat hadir secara jasmani dalam unsur-unsur itu karena “daging sama sekali tak berguna“ (Yoh 6:63). Juga tubuh Kristus yang dibangkitkan tak dapat hadir karena perkataaan-Nya, “inilah tubuh-Ku“ diucapkan kepada para murid sebelum kebangkitan-Nya. Dan Kristus tak dapat hadir secara mistik karena tubuh mistiknya adalah gereja, yang tidak disebut sebagai sudah diserahkan kepada kematian. Melalui proses eliminasi ini, Zwingli menyimpulkan bahwa unsur-unsur itu hanya bersifat simbolis. Sebagai jawaban, Luther telah menuliskan sebuah pamflet yang menjelaskan pandangannya tentang kehadiran Kristus yang sesungguhnya dalam sakramen. Ia berpendapat bahwa “tiap-tiap tabiat Kristus saling meresap dan kemanusiaanNya berpartisipasi dalam sifat-sifat keilahian-Nya“ Jika Allah hadir dimana-mana, Luther kemukakan, maka tubuh dan darah Kristus juga hadir dimana-mana dan mungkin hadir dalam sakramen. Ia ingin supaya perkataan Kristus diterima secara harfiah, meskipun ia menolak bahwa terjadi perubahan dalam unsur-unsur itu.

52

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Selama perdebatan, tidak dikemukakan argumen yang baru, tetapi pertukaran pikiran itu memang menjelaskan pokok-pokok perdebatan itu. Luther membentak, “Anggapan-anggapan dasar Anda adalah ini: pada hakikatnya Anda hendak membuktikan bahwa suatu tubuh tidak dapat berada di dua tempat sekaligus... Saya tidak mempersoalkan bagaimana Kristus dapat menjadi Allah dan manusia dan bagaimana kedua tabiat itu dipersatukan. Karena Allah lebih berkuasa dari semua akal kita, dan kita harus tunduk kepada FirmanNya. Buktikanlah bahwa tubuh Kristus tidak berada di tempat dimana Ia berada menurut Kitab Suci ketika Kristus mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku” “Saya takkan mendengarkan bukti-bukti rasional. Bukti2 jasmaniah, alasan2 yang didasarkan pada prinsip2 geometris saya tolak sepenuhnya. Tuhan melampaui segala matematika, dan perkataan Tuhan harus dihormati dan dijalankan dengan khidmat. Tuhan sendiri yang memerintahkan, “Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku.“ Oleh karena itu saya meminta, bukti-bukti Alkitabiah yang sah yang bertentangan dengan ini.” Pada saat ini, Luther menuliskan kata-kata, “Inilah tubuh-Ku“ di meja dengan kapur menutupinya dengan selembar kain beludru. Zwingli membalas, ”itu prasangka, suatu praduga, yang mencegah Dr. Luther melepaskan pendiriannya. Ia menolak untuk mengalah sebelum suatu bagian Alkitab dikutip yang membuktikan bahwa tubuh dalam Perjamuan Tuhan itu bersifat kiasan.“ “Perbandingan bagian-bagian Alkitab selalu perlu. Meskipun tidak ada bagian Alkitab yang mengatakan, ‘inilah lambang tubuh itu’ kita masih memiliki bukti bahwa Kristus menolak gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Dalam Yohanes 6, Kristus menjauh dari gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Atas dasar ini jelaslah bahwa Kristus tidak memberikan diri-Nya dalam Perjamuan Tuhan dalam pengertian jasmaniah.” Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yohanes 6:53-56)

53

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Kanibalisme tidak sesuai dengan ajaran umum Alkitab, maka tak mungkin Kristus memberi arti yang harfiah/literal pada perkataan ini.
Lagi pula, dalam PL dengan jelas melarang minum darah (Im 17:10). Konsili gereja yg pertama di Yerusalem mengesahkan larangan ini (Kis 15:29). 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. 6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selamalamanya." Bagaimanakah kita akan memakan Kristus? Sama seperti ia hidup oleh hubungan-Nya dengan Bapa, demikian juga kita harus hidup oleh Dia. Kristus adalah makanan bagi jiwa. Ia adalah roti dan air bagi orang yang miskin secara rohani. Supaya kita tidak salah mengerti maksud-Nya, satu paragraf kemudian Kristus berkata, “rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna“ (ayat 63). Perjamuan Tuhan seharusnya terutama menjadi saat perenungan dan penyembahan. Kendati kita dengan teguh harus menolak setiap tradisi yang menyesatkan. Kita harus memperingati kematian Yesus kita menurut cara yang telah ditetapkanNya. Dalam banyak gereja, Perjamuan Tuhan harus dikembalikan ke tempatnya yang penting. Jangan sekali-kali kita kehilangan rasa terpesona dan misteri perayaan ini pada masa yang penuh dengan khotbah-khotbah singkat dan agama populer. Hak istimewa untuk ikut serta dalam Perjamuan Tuhan jangan sekali-kali dianggap sebagai sudah semestinya. Kita dapat membayangkan kegembiraan di Wittenberg pada hari Natal tahun 1521, ketika 2 ribu orang berkumpul di gereja Istana, dan Carlstadt, seorang rekan Luther, membagi-bagikan roti dan anggur kepada jemaat. Hak istimewa yang tidak dapat dinikmati orang-orang percaya selama beratus-ratus tahun telah dipulihkan kembali. Para Reformator menamakannya keimanan orang percaya. Jika Melanchton hidup sekarang ini, ia mungkin tidak menangis karena pertentangan2 yang terjadi di sekitar Perjamuan Tuhan, tetapi ia mungkin berdukacita karena ketidakacuhan kita terhadap makna dan kepentingannya. Ini, juga, pantas ditangisi. Sumber Pustaka: Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005. (ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?) Buku ini Membahas Perdebatan: 54

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Adalah Kristus itu Allah sejati? Benarkah Kristus itu Manusia Sejati? Benarkan Petrus itu Paus yang Pertama? Pembanaran: Oleh Iman, Sakramen, atau kedua-duanya? Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Perjamuan Tuhan? Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Baptisan? Berapa Kitab dalam Alkitab? Predestinasi atau Kehendak bebas: Agustinus vs Pelagius, Calvin vs Arminius, Whitefield vc Wesley? Dapatkah Seorang yg sudah Selamat Terhilang?

PERJAMUAN TUHAN
Transubstansiasi = Pandangan bahwa roti dan anggur dalam Perjamuan Tuhan adalah benar-benar menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Beberapa orang dengan ceroboh menumpahkan anggur di lantai gereja yang tidak terlampau bersih, padahal menurut Teori Transubstansiasi, anggur adalah Darah Kristus. Jelas Transubstansiasi Tidak Alkitabiah karena ketika Kristus berkata INILAH TUBUHKU (Matius 26:26 hoc est corpus meum), berarti Kristus menunjuk kepada diriNya sendiri. Kata ADALAH benar-benar merupakan suatu bentuk ucapan retoris (dikenal dengan alloiosis) yang sebenarnya berarti “menandakan“ atau “mewakili“ dan tidak dimengerti secara harfiah. Juga menandakan cara yg Ia harapkan untuk diperingati oleh gerejaNya. Zwingli menulis bahwa seolah-olah Kristus mau berkata, “Aku mempercayakan kepada kamu suatu simbol penyerahan diri dan wasiat saya, untuk membangkitkan di dalam kamu pengingatan akan Aku dan kebaikanKu kepadamu sehingga ketika kamu melihat roti dan cawan ini, berbicara di dalam perjamuan malam peringatan ini, kamu boleh mengingat Aku yang diserahkan untuk kamu, seakan-akan kamu melihat Aku dihadapanmu seperti kamu melihat Aku sekarang makan bersama kamu.“ Perjamuan Tuhan adalah suatu peringatan akan penderitaan Kristus dan bukan suatu pengorbanan. Dalam surat Cornelius Hoen yang sampai juga ke Martin Luther dan Zwingli, Hoen mengemukakan bahwa kata est dalam hoc est corpus meum tidak boleh diterjemahkan secara harfiah sebagai “adalah“ atau “identik dengan“, tetapi sebagai significat, “menandakan.“ Contoh, ketika Kristus berkata, “Akulah Roti Hidup“ (Yohanes 6:48). Kristus dengan jelas tidak mengidentifikasikan diri-Nya dengan

55

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI sepotong roti atau roti secara umum. Kata “adalah“ disini harus dipahami dalam arti metaforis atau in tropice. Nabi-Nabi Perjanjian Lama memang telah menubuatkan bahwa Kristus akan “menjadi daging (incarnatus)“—tetapi ini akan terjadi sekali, dan hanya sekali.“Tidak ada alasan nabi-nabi menubuatkan atau rasul-rasul mengkhotbahkan bahwa Kristus akan “menjadi roti (impanatus)“ setiap hari melalui perbuatan-perbuatan pendeta manapun yang menawarkan pengurbanan misa.“ Perhatikan dua hal berikut ini: Pertama, Ide tentang Perjamuan Tuhan yang seperti sebuah cincin yang diberikan oleh seorang mempelai laki-laki kepada sang mempelai perempuan untuk meyakinkan kepadanya akan cintanya. Itu adalah suatu Jaminan—suatu ide yang menggema di seluruh tulisan Zwingli mengenai pokok itu. Tuhan kita Yesus Kristus, yang berjanji berkali-kali untuk mengampuni dosa umatNya dan menguatkan jiwa mereka melalui Perjamuan Malam terkahir, menambahkan suatu jaminan untuk janji itu sekiranya masih terdapat ketidakpastian dari pihak mereka—sama halnya seperti seorang mempelai lakilaki, yang ingin meyakinkan sang mempelai perempuan (bila ia ragu-ragu), memberikan kepadanya sebuah cincin dengan mengatakan,“Ambillah ini, aku memberikan diri-Ku kepadamu.“ Dan ia, yang menerima cincin itu, percaya bahwa mempelai laki-laki itu adalah miliknya dan mempelai perempuan itu mengalihkan hatinya dari semua orang lain yang mencintainya, untuk menyenangkan suaminya, melekatkan dirinya kepada sang suami, dan hanya kepadanya saja. Kedua, Tentang Peringatan akan Kristus di dalam ketidakhadiran-Nya. Dengan memperhatikan bahwa ungkapan Kristus “inilah tubuh-Ku“ secara langsung diikuti dengan kata-kata “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku,“ Hoen berpendapat bahwa rangkaian kata yang kedua itu dengan jelas menunjuk pada peringatan akan “seseorang yang tidak hadir (setidak-tidaknya tidak hadir secara fisik).“ Zwingli berpendapat bahwa Kitab Suci mempergunakan banyak kata kiasan. Jadi kata “adalah“ mungkin pada satu hal berarti “secara mutlak identik dengan,“ dan pada pokok yang lain berarti “mewakilkan“ atau “menandakan.“ Contoh, di seluruh Alkitab, kita menemukan kata-kata kiasan, yang dalam bahasa Yunani disebut Tropos, yaitu sesuatu yang bersifat metafora atau dipahami dalam pengertia yang lain, misal Yohanes 15 Yesus berkata “Aku adalah pokok anggur.“ Ini berarti bahwa Kristus adalah seperti sebatang pokok anggur ketika dipikirkan dalam hubungan dengan kita, yang terus-menerus melekat dan bertumbuh di dalam Dia dalam arti yang sama seperti cabang-cabang yang bertumbuh pada sebatang pokok anggur...Hal yang seupa dalam Yohanes 1 kita membaca, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang mengangkut dosa seisi dunia.“ Bagian pertama dari ayat ini adalah suatu kiasan karena Kristus bukanlah secara harfiah seekor domba.

56

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Setelah membuktikan pemaparan teks demi teks dalam Alkitab, Zwingli menyimpulkan bahwa “Terdapat banyak sekali bagian dalam Kitab Suci dimana kata “adalah“ mempunyai arti “menandakan.“ Pertanyaan yang harus diajukan sehubungan dengan ini adalah Apakah kata-kata Kristus dalam Matius 26,“inilah tubuh-Ku“ dapat juga dipahami secara metaforis atau intropice. Sudah cukup jelas bahwa di dalam konteks ini kata “adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah. Sebab itu, berikutnya adalah bahwa kata ini harus dipahami secara metaforis atau figuratif. Di dalam kata-kata “inilah tubuh-Ku,“ kata “ini“ berarti roti, dan kata “tubuh“ berarti tubuh yang telah dikurbankan sampai mati bagi kita. Karena itu, kata“adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah sebab roti bukanlah tubuh. Dirangkum dari buku Sejarah Pemikiran Reformasi, Alister E.McGrath, BPK Gunung Mulia, cetakan ketiga, 2000, halaman 206-243 Konsubstansiasi = Pandangan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir dalam unsur Roti dan Anggur, tetapi unsur-unsur itu tidak berubah. Kesungguhan Kehadiran Kristus tanpa perubahan unsur-unsur.

16 & 38 Bayi yg mati PASTI MASUK SURGA karena sudah ditebus oleh Darah Yesus) NASIB AKHIR BAYI, CACAT MENTAL dan MEREKA YANG TERPENCIL
Kematian Kristus di kayu salib adalah penebusan (atonement) untuk seluruh umat manusia (Ibrani 2:9, I Yoh 2:2). Artinya dosa seluruh umat manusia (dari Adam hingga manusia terakhir), ditaruh ke dalam diri Yesus dan Ia dijatuhi hukuman. Itulah sebabnya hukuman atas diri Yesus adalah hukuman terberat (capital punishment), karena itu untuk dosa seisi dunia. Seseorang membunuh beberapa orang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan membunuh separuh penduduk dunia pun tetap hanya dijatuhi hukuman mati. Yesus Kristus menerima hukuman mati atas dosa yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 5 bahwa oleh pelanggaran Adam semua manusia menjadi manusia berdosa, dan oleh ketaatan satu orang semua orang beroleh pembenaran

57

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI (Roma 5:18-19). Karena koneksi kita dengan Adam, yaitu melalui kelahiran jasmani kita, maka kita menjadi orang berdosa dan siap menerima hukuman. Oleh Adam, semua umat manusia jatuh ke posisi orang berdosa. Yesus Kristus datang, dan Ia menempatkan diri ke posisi umat manusia yang berdosa dan menerima penghukuman. Sehingga oleh Yesus Kristus, apa yang diakibatkan oleh Adam terhadap seluruh umat manusia diselesaikan, yaitu dijatuhi penghukuman. Sehingga karena koneksi kita dengan Adam, bapa leluhur jasmani kita, semua manusia menjadi orang berdosa. Tetapi oleh koneksi kita dengan Kristus, yaitu melalui kelahiran kembali di dalam air dan roh, maka kita menjadi orang benar dan siap menerima pembenaran. Kematian Kristus di kayu salib adalah tindakan pemusnahan kuasa dosa. Dosa selalu menuntut penghukuman, dan ia tidak berhenti menuntut sebelum hukuman dijatuhkan. Iblis akan selalu mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak benar jika Allah tidak melaksanakan hukuman atas umat manusia yang berdosa. Ia akan menuduh Allah tidak menerapkan hukum, atau lebih buruk lagi menuduh Allah hanya omong kosong ketika mengumumkan undang-undang pertamaNya di taman Eden. Setelah pelaksanaan hukuman, terlebih lagi setelah kebangkitan, sebagaimana Paulus mengatakan bahwa maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah sengatmu? (I Kor 15:54-55). Jadi, status manusia berdosa yang diperoleh dari hubungan kita dengan Adam telah dibereskan melalui penghukuman atas dosa yang ditanggung Yesus Kristus. Saya lebih memilih istilah“status orang berdosa“ daripada istilah“dosa asal atau dosa keturunan“ karena istilah yang lebih tepat adalah kita terima status orang berdosa dari Adam dan Hawa. Nasib Bayi Yang Meninggal Karena status orang berdosa yang diperoleh sebagai anak-cucu Adam bagi semua manusia berakhir sejak kematian dan kebangkitan Kristus, maka tidak ada alasan seorang bayi yang mati akan masuk neraka. Sebagaimana dalam Roma 5, status bayi sebagai orang berdosa disandang karena kejatuhan nenek moyangnya, yaitu Adam, an status bayi sebagai orang benar disandangnya karena kebenaran Sang Juruselamat, yaitu Kristus (Roma 5:18-19), 5:18 Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran banyak orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, banyak orang beroleh pembenaran untuk hidup. 5:19 Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar. Jadi, bayi orang Kristen, orang Islam, Budha, atau bayi siapapun adalah orang berdosa karena ketidaktaatan Adam, kemudian mendapat pembenaran melalui ketaatan Kristus. Orang yang telah dibenarkan melalui ketaatan Kristus tidak ada alasan akan berada di 58

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Neraka. Orang yang akan berada di Neraka adalah orang yang mengandalkan kebenaran dirinya yang semua, atau kebenaran bohongan yang dibisikkan iblis kepadanya. Dalam Roma 3:10,12,23 dikatakan bahwa semua orang TELAH BERBUAT dosa, pernah menyebabkan pertanyaan, dosa apakah yang DIBUAT oleh seorang bayi yang baru lahir beberapa jam? Jawabannya ialah, pertama sesungguhnya seorang bayi adalah orang berdosa, yaitu berada dalam status atau posisi orang berdosa, dan dalam hati atau nature yang berdosa. Kedua, segera setelah ia menjadi akil-balik maka ia akan segera aktif melakukan dosa sehingga akan membentuk karakter orang berdosa. Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa untuk menggambarkan bahwa semua manusia telah berstatus orang berdosa dan memiliki nature yang berdosa dan segera mencapai akil balik akan segera melakukan tindakan dosa sehingga mulai membentuk karakter orang berdosa. Status bayi yang berdosa dan nature-nya yang berdosa dihukumkan pada diri Kristus di kayu salib. Itulah sebabnya bayi tanpa perlu bertobat dan beriman, karena memang mereka belum bisa bertobat dan beriman, secara otomatis menerima anugerah yang diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Tetapi jika seorang bayi bertumbuh menjadi dewasa dan mencapai umur akil balik, lantas ia berdosa atas kesadaran dirinya, maka mulai saat itu, ia mulai menyandang status orang berdosa, bukan lagi karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, melainkan karena pelanggaran dirinya sendiri. Ia berstatus orang berdosa, dan mengotori hatinya dengan dosa sehingga nature-nya menjadi nature yang berdosa, serta membangun karakter orang berdosa, bukan karena pihak lain melainkan karena dirinya sendiri. Orang demikian baru akan dihitungkan sebagai orang benar jika ia memutuskan dengan kesadarannya untuk bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Ketika ia bertobat (menyesali dosa dan bertekad meninggalkannya) dan percaya dengan segenap hatinya bahwa Yesus telah dihukumkan untuk menanggung seluruh dosanya, maka ia akan dihitungkan Allah yang maha kudus sebagai yang tak berdosa (orang kudus) di hadapan Allah Bapa. Kepada orang berdosa yang telah akil-balik, pertobatan dan iman adalah syarat utama dan satu-satunya untuk dihitungkan sebagai orang benar di hadapan Allah. Status orang berdosa yang disandangnya berakhir ketika ia dilahirkan kembali di dalam Yesus Kristus. Tuhan memperkenalkan istilah dilahirkan kembali ketika berbincang-bincang dengan Nikodemus (Yohanes 3:3-5) bukan tanpa makna. Manusia menerima status orang berdosa dari kelahiran jasmaniah dan akan menerima status orang benar juga melalui kelahiran namun secara rohaniah. Ketika seseorang masih bayi, dalam kondisi belum bisa bertobat, dan tentu belum berdosa atas kesadaran dirinya, melainkan berstatus orang berdosa hanya karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, kematian Kristus telah membenarkannya di hadapan Allah Bapa, tanpa perlu bertobat dan percaya yang belum bisa dilakukannya. Itulah sebabnya Doktrin Keselamatan (Soteriology) yang alkitabiah memberi kepastian keselamatan bayi di hadapan Allah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa 59

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 19:14). Perkataan Tuhan Yesus adalah pernyataan kesimpulan teologi alkitabiah karena baik bayi yang meninggal di zaman Perjanjian Lama maupun yang meninggal di zaman Perjanjian Baru, semuanya akan mewarisi Kerajaan Sorga oleh ketaatan Kristus. Lagi pula dalam Perjanjian Lama, I Raja-raja 14:13, terhadap Yerobeam, raja yang paling jahat di mata Tuhan, bayinya yang segera akan mati dikatakan oleh Tuhan ia tidak jahat, Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel. Yerobeam adalah seorang yang sangat jahat di mata Tuhan, karena ia memimpin bangsa Israel menjauh dari Allah dan mengajak mereka menyembah patung. Semua nggota keluarga Yerobeam yang telah mencapai umur akil-balik dihitung turut bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan oleh Yerobeam kecuali bayinya yang belum akil balik. Sehingga pendapat Calvin bahwa bayi orang baik akan masuk Sorga sedang bayi orang jahat akan masuk Neraka dapat dipatahkan oleh pernyataan Allah terhadap bayi Yerobeam. Yerobeam jahat di mata Tuhan, bayinya adalah satu-satunya dalam keluarga Yerobeam yang baik di mata Tuhan. Karena allah calvinis memang kejam, dimana ia dikatakan memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Sorga serta memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Neraka tanpa kondisi (unconditional-election), maka tidak heran jika allah yang sama juga akan memasukkan bayi yang tidak tahu apa-apa atas dasar dosa orang tuanya. Contoh kasus Daud yang menghamili Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Anak itu ditulahi Tuhan untuk mati karena dilahirkan dari perbuatan jahat Daud. Penulahan itu sama sekali bukan untuk nasib akhir bayi tersebut melainkan agar ia mati secara jasmani sebagai sebuah penghukuman kepada Daud. Anak itu akan masuk Sorga sebagaimana kata Daud bahwa ia yang akan pergi kepada anak itu. Daud yakin bahwa suatu hari nanti dialah yang akan menyusul anak itu, dan tentu maksudnya ke Sorga. Jadi penulahan Allah terhadap bayi itu adalah sebagai hajaran Allah kepada Daud.

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 12:22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (II Samuel) Dari peristiwa ini bahkan bisa kita simpulkan bahwa bayi yang dilahirkan secara tidak sah, bahkan dihasilkan dari perbuatan dosa pun akan masuk Sorga. Sama seperti

60

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI bayi-bayi kota Betlehem yang dibunuh oleh Herodes. Mereka semua telah masuk Sorga. Peristiwa pembunuhan bayi-bayi itu adalah sebuah peristiwa yang diizinkan Allah untuk menghukum para orang tua yang mengabaikan kehadiran Sang Mesias di kota mereka. Allah yang maha adil dan maha kasih tidak mungkin membinasakan bayi-bayi di kota Betlehem yang tidak tahu apa-apa. Semua bayi yang terbunuh di Betlehem telah masuk Sorga karena sang Juruselamat mereka yang telah lahir di kota mereka akan dihukumkan untuk membereskan posisi mereka sebagai keturunan Adam yang berdosa. Sesungguhnya demi sifat Allah yang maha adil dan maha benar, tidak mungkin ada satu orang pun yang akan dimasukkan ke Neraka oleh karena perbuatan orang lain (Adam dan Hawa), dan tidak ada satu orang pun yang akan berada di Sorga tanpa melalui penebusan Yesus Kristus. Dan tentu tidak ada seorang pun yang akan berada di Sorga oleh jasa seorang manusia lain selain jasa Kristus yang mati di kayu salib. Sehubungan dengan kebenaran ini maka tidak dibenarkan untuk membaptiskan bayi. Bayi tidak perlu dibaptis karena bayi siapapun yang meninggal akan segera masuk Sorga tanpa melalui baptisan. Gereja Reform, Presbyterian, Lutheran, apalagi Katolik, telah membuat kesalahan yang amat besar. Tindakan mereka dalam membaptis bayi membuktikan pemahaman mereka tentang Injil Kristus tidak tepat. Gereja-gereja tersebut di atas ketika keluar dari Gereja Roma Katolik tidak memprotes Doktrin Gereja (ecclesiology) dari Gereja Roma Katolik yang sesat melainkan hanya memprotes Doktrin Keselamatannya (soteriology) saja. Tindakan kepalang tanggung tersebut telah menyebabkan pembaptisan bayi yang sangat bertentangan dengan Injil yang benar. Dan daripada bertobat dari kesalahan tersebut mereka malah mencari-cari pembenaran atas tindakan mereka yang salah itu. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa semua gereja yang mempraktekkan baptisan bayi sesungguhnya memiliki masalah pada Doktrin Keselamatan mereka. Pasti ada yang bertanya, pada umur berapakah seseorang dihitung telah akil-balik? Jawabannya, tidak ada kepastian umur karena sangat tergantung pada banyak faktor, antara lain: kematangan mental, kecerdasan berpikir dan lain sebagainya. Masa akil balik tiap-tiap orang tidak sama. Pada zaman PL, zaman ibadah simbolik lahiriah, Allah menetapkan seorang laki-laki Yahudi mulai umur 12 tahun ke atas harus menghadiri ibadah ritual simbolik di Yerusalem. Dan Yesus di bawa orang tuanya ke Yerusalem pada saat berumur 12 tahun (Luk 2:42). Belum pasti umur 12 tahun adalah umur seseorang menjadi akil balik, tetapi berhubung pada zaman itu adalah zaman ibadah simbolik lahiriah, maka harus ada suatu ketetapan yang bersifat lahiriah yang membatasi saat seseorang diikutsertakan dalam ibadah lahiriah. Menurut pertimbangan pemimpin Yahudi dan mungkin telah melalui perjalanan ribuan tahun, mulai umur 12-lah seorang laki-laki diikutsertakan dalam ibadah. Tentu kini ketika kita berada dalam zaman ibadah roh dan kebenaran, seseorang bisa bertobat dan memahami kebenaran Injil lebih awal dari umur 12 tahun. Intinya, masa akil-balik adalah masa seseorang mulai memahami kebenaran rohani dan mulai mampu memikirkan dan membedakan antara benar

61

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI dan salah, masa seseorang mulai bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Nasib Orang Yang Sakit Jiwa (orang Gila) Jika pembaca sekalian telah paham jalan logika alasan bayi yang meninggal pasti akan masuk Sorga, pasti tidak akan sulit untuk memahami bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik, dan meninggal dalam keadaan demikian, juga pasti akan masuk Sorga. Walaupun di dalam Alkitab tidak kita temukan ayat yang secara teknis menyatakan bahwa orang gila akan masuk Sorga, tetapi melalui pemahaman secara inferensial terhadap beberapa kebenaran yang saling menopang menuntun kita kepada kesimpulan bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik pasti akan masuk Sorga. Pertama bahwa dosa seisi dunia sudah ditanggung Yesus Kristus, yang berarti semua orang telah menjadi benar di hadapan Allah, kecuali seorang yang setelah memiliki kesadaran diri dan kemampuan untuk memutuskan perkara rohani dengan kesadaran dirinya kembali berbuat dosa. Seseorang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil balik tidak tergolong ke dalam orang yang telah memiliki kesadaran diri melakukan dosa karena ia belum pernah memiliki kesadaran diri. Kondisi orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik adalah seperti seorang bayi. Jika bayi perlu dibaptiskan agar bisa masuk Sorga maka sepatutnya gereja demikian juga membaptiskan orang yang telah hilang ingatan agar ia diselamatkan melalui baptisan. Tetapi jelas itu bertentangan dengan kebenaran karena firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa oleh ketaatan seorang (Kristus) semua orang telah menjadi orang benar. Kedua, syarat utama dan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan adalah melalui pertobatan dan iman yang benar. Rasul Paulus mengargumentasikan mata rantai proses penyelamatan dari pengutusan hingga orang tersebut percaya dan berseru kepada nama Tuhan (Roma 10:10-15). Dan pada ayat ke-2 dalam pasal yang sama Rasul Paulus menekankan iman yang berpengertian. Di dalam ibadah simbolik lahiriah tidak membutuhkan iman yang berpengertian. Seseorang hanya perlu mengikuti seluruh rancangan tata-ibadah lahiriah yang telah ditetapkan. Ibadah di dalam roh dan kebenaran menuntut pengertian, karena dalam ibadah tersebut kita menyembah secara rohani dan secara kebenaran. Menyembah secara Kebenaran menuntut pemahaman, bukan sekedar ikut-ikutan. Orang yang telah hilang ingatan tidak bisa beriman secara rohani dan dalam kebenaran. Orang yang telah hilang ingatan adalah orang yang dikecualikan dalam tuntutan iman yang disertai pengertian. Tetapi jika seseorang kehilangan ingatan pada umur sesudah menjadi akil-balik, maka jika ia meninggal ia akan masuk Neraka. Peristiwa kehilangan ingatan sesudah akil-balik adalah peristiwa berakhirnya anugerah baginya. Dapat dikatakan bahwa saat itu adalah 62

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI saat ia meninggal secara rohani. Ketika kerohaniannya meninggal, jasmaninya ternyata masih berfungsi. Perbedaannya dengan orang normal adalah, orang normal meninggal sekaligus rohani dan jasmani, namun orang yang kehilangan kesadaran diri telah meninggal secara rohani namun masih tetap hidup secara jasmani. Terhadap orang-orang yang kehilangan ingatan atau gila kita perlu berdoa atau berusaha secara medis agar ia bisa ingat kembali. Pada saat ia memiliki ingatan kembali, secepatnya ia diberitakan Injil yang benar agar ia bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Jika seseorang setelah bertobat dan beriman dengan benar, dan oleh satu dan lain hal ia hilang ingatan, maka kondisi barunya tidak akan mempengaruhi jaminan keselamatan yang telah diperolehnya. Misalnya seseorang yang pada masa mudanya telah bertobat dan percaya dengan segenap hati, bahkan sangat giat melayani, setelah tua menjadi pikun, bahkan mungkin dalam kepikunannya ia menyangkali Tuhan. Tindakannya yang dilakukan dengan tanpa memiliki kesadaran diri tentu tidak mempengaruhi pertobatan dan imannya yang telah dimilikinya pada saat ia dalam keadaan sadar penuh. Orang Yang Hidup Terpencil Berbeda dengan bayi dan orang yang hilang ingatan, mereka yang hidup di daerah terpencil tidak memiliki pemaafan atas keberadaan mereka yang sulit dijangkau Injil. Jika bayi-bayi mereka meninggal sebelum menginjak usai akil-balik, tentu bayi-bayi mereka akan masuk Sorga. Tetapi jika mereka bertumbuh hingga usia akil-balik dan melakukan dosa atas kesadaran mereka, maka mereka adalah orang berdosa bukan karena hubungan mereka dengan Adam dan Hawa, melainkan karena perbuatan mereka sendiri. Mereka adalah orang berdosa secara posisi maupun hati nurani, bahkan sedang membentuk karakter orang berdosa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebagaimana ketentuan undang-undang yang telah diumumkan Allah bahwa orang berdosa hukumannya adalah hukuman mati dan akan terpisah dari Allah yang mahasuci, maka tidak ada pilihan lagi bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil selain secepat mungkin memberitakan Injil kepada mereka. Mereka sangat membutuhkan Injil agar secepat mungkin menyelamatkan mereka dari kebinasaan kekal. Rasul Paulus menyadari akan kebutuhan Injil yang urgen dari manusia-manusia yang tinggal di daerah terpencil sehingga ia bekerja segiat-giatnya (I Kor 15:10). Paham bahwa manusia yang tidak terjangkau oleh Injil akan mendapat pemaafan adalah tipu-muslihat iblis. Karena jika orang-orang yang tidak terjangkau Injil akan mendapat pemaafan maka lebih baik tidak pergi memberitakan Injil daripada pergi memberitakan Injil dan menyebabkan penolakan. Bukankah akan lebih aman membiarkan mereka tak terjangkau Injil agar mereka mendapat pemaafan? Kalau begitu untuk apakah Kristus perintahkan Amanat AgungNya, dan untuk apakah para Rasul bersusah payah memberitakan Injil hingga mengorbankan nyawa mereka? Kristus menyerahkan nyawaNya untuk menebus

63

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI dosa seisi dunia, dan para Rasul menyerahkan nyawa mereka untuk menyebarkan berita penebusan tersebut. Para rasul telah berjuang sedemikian rupa, mereka telah mengorbankan segala-galanya agar berita Injil sampai pada orang-orang yang hidup di zaman mereka. Mereka telah pergi ke tempat yang berpenduduk dimana saja yang diketahui mereka. Motivasi untuk melakukan itu hanyalah karena jika Injil tidak didengar orang-orang sezaman mereka maka orang-orang tersebut akan binasa. Tentu para Rasul tidak perlu sedemikian bergegas jika karena tidak mendengar Injil orang-orang tersebut bisa mendapat pemaafan. Keselamatan telah tersedia bagi semua manusia, mulai dari Adam dan Hawa hingga manusia terakhir yang akan lahir. Adam dan Hawa beserta orang-orang sezaman mereka bahkan yang lahir jauh sesudah mereka akan diselamatkan jika mereka beriman pada janji Allah untuk mengirim Sang Juruselamat. Sementara menunggu Sang Juruselamat, Allah perintahkan mereka melakukan ibadah simbolik sederhana yaitu menyembelih seekor domba di atas mezbah. Siapapun yang tidak antusias menjalankan dan mengajarkan ibadah simbolik ini kepada anak-cucunya, pasti akan menyebabkan mereka kehilangan jejak kebenaran. Tentu anakcucu mereka akan melupakan janji Allah tentang pengiriman Juruselamat. Dan kalau anak-cucu mereka, misalnya anak-cucu Kain, tidak percaya pada janji Allah, dan mereka binasa, tentu tidak bisa menyalahkan Allah. Nenek-moyang mereka telah lalai memelihara dan meneruskan kebenaran keselamatan kepada mereka. Jika seseorang tidak melakukan ibadah simbolik yang ditetapkan Allah untuk menggambarkan Sang Juruselamat serta proses penyelamatannya, sudah tentu ia tidak beriman pada janji penyelamatan Allah. Mereka binasa bukan karena Allah tidak berusaha menyelamatkan mereka tetapi nenek moyang mereka telah berdiri di depan pintu Sorga untuk menghalangi mereka. Kemurahan kasih karunia Allah telah ditunjukkanNya melalui membentuk sebuah bangsa dan mendirikan ibadah simbolik yang lebih besar melalui bangsa tersebut. Dengan ibadah simbolik yang besar dan dijaga oleh sebuah bangsa yang ditunjuknya, serta melalui berbagai fenomena misalnya mujizat-mujizat dan perkataan nabi-nabi untuk menunjukkan bahwa pada bangsa itu ada kebenaran penyelamatan yang diperlukan oleh semua bangsa. Harapan Allah agar umat manusia sekalipun berpencar, harus tetap ingat akan janji penyelamatan dari Allah dan mereka harus tetap berjaga-jaga menantikan berita kedatangan Sang Penyelamat ditengah-tengah bangsa Israel. Tetapi bangsa-bangsa semakin hari semakin melupakan janji Allah. Sementara itu patut diakui bahwa bangsa Israel tidak berperan sebagai pengingat yang baik bagi bangsabangsa lain. Tercatat dalam Alkitab PL hanya sedikit sekali orang yang datang ke Israel

64

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI untuk mengejar kebenaran rohani. Pada saat sang Juruselamat tiba, serombongan orang Majus datang dari Timur (Mat 2:1-16), dan Sida-sida dari Ethiopia (Kis 8:26-40). Sisa sebagian yang sangat besar tidak lagi mengingat akan janji Allah untuk mengirim Juruselamat. Pada zaman PB Sang Juruselamat telah tiba dan telah melaksanakan proses penebusan, bahkan maut telah dikalahkan. Kalau pada zaman PL berita ibadah simbolik dipercayakan pada ayah dan bangsa Israel, pada zaman PB, Injil Keselamatan dipercayakan pada jemaat-jemaat lokal. Jemaat lokal adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengutus orang pergi memberitakan Injil. Tentu harus ada anggota jemaat lokal yang terpanggil sehingga ingin pergi memberitakan Injil. Keinginan hatinya disampaikan kepada jemaat dan melalui pendidikan serta berbagai kualifikasi yang harus dipenuhi, jemaat bisa mengutusnya pergi memberitakan Injil. Dalam argumentasi Paulus tentang jenjang-jenjang proses penyelamatan, penanggung jawab agar Injil diberitakan sehingga orang percaya dn diselamatkan ialah pihak yang mengutus (Rom 10:15). Pihak pengutus memegang peran inti dan utama, dalam hal ini tentu yang dimaksudkannya adalah gereja lokal sebagaimana pengalamannya ketika Roh Kudus memakai jemaat Antiokhia mengutus mereka untuk memberitakan Injil. Dapat dikatakan bahwa kebinasaan orang-orang PL yang tidak melakukan ibadah simbolik dan semakin jauh dari kebenaran, pertama adalah kelalaian nenek moyang mereka untuk tetap memelihara bahkan memandang dengan penuh harap terus-menerus akan janji Allah. Mereka makin hari makin jauh dari tiang kebenaran. Kedua adalah kelalaian bangsa Israel dalam tugasnya sebagai penegak dan pemberita kebenaran untuk mengingatkan manusia pada janji penyelamatan dari Allah. Kelihatannya mereka terlalu memfokuskan diri pada penegakan kebenaran dan lalai sama sekali pada tugas pemberitaan kebenaran. Sedangkan orang-orang zaman PB yang hidup di daerah terpencil binasa, pertama karena nenek moyang mereka, tidak tahu lagi mulai pada keturunan ke berapa, sama sekali tidak peduli pada kebenaran rohani, dan sama sekali tidak mengingat bahwa Allah akan menurunkan Juruselamat di Yerusalem. Mereka pergi jauh seolah-olah ingin menjauh dari Tuhan agar kehidupan mereka yang penuh dosa tidak terjangkau oleh kuasa Tuhan. Dalam kebudayaan berbagai bangsa telah dirasuki iblis sehingga penuh dengan unsur magis yang sangat menusuk hati Tuhan. Kedua, gereja-gereja sebagaimana bangsa Israel pada zaman PL telah gagal bertugas, bahkan ada banyak gereja yang tidak tahu tugas uatamanya lagi. Tugas utama gereja ialah menegakkan kebenaran dan memberitakan kebenaran. Penegakan kebenaran agar kebenaran akan lestari untuk generasi demi generasi, sedangkan pemberitaan kebenaran agar orang-orang zaman kontemporer bisa diselamatkan. Yayasan-yayasan penginjilan dan berbagai para-church yang didirikan untuk memberitakan Injil hanya memahami tugas pemberitaan injil. Mudah-mudahan mereka 65

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI juga paham akan tugas memelihara kebenaran Injil. Karena jika orang Kristen zaman sekarang tidak memelihara kebenaran Injil dengan pembangunan jemaat dan mengajarkan kebenaran doctrinal dengan setia, melainkan hanya memberitakan Injil sja, maka bukan hanya orang-orang hidup di daerah terpencil yang akan kehilangan kesempatan untuk mendengarkan Injil, bahkan setelah berjalannya waktu orang-orang yang tinggal di kota pun sudah tidak dapat mendengar injil yang benar lagi. Pendirian gereja-gereja lokal dengan sistem penggembalaan yang alkitabiah adalah langkah pertama dan utama untuk mempertahankan kebenaran. Selanjutnya gereja lokal yang alkitabiah harus selalu memperhatikan doktrin daripada hal-hal yang bersifat perasaan. Jika sebuah gereja gagal menjaga kebenaran doktrinyang alkitabiah, maka gereja tersebut sekalipun hadir di tengah kota ataupun di tengah hutan tetap tidak ada faedahnya. Setelah sebuah gereja dengan teguh mempertahankan kebenaran Injil yang diberitakannya, hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah aktivitas pengutusan penginjil untuk mendirikan jemaat lokal di mana saja. Gereja lokal adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim 3:15). Satu-persatu gereja lokal alkitabiah didirikan dengan sistem pelipatgandaan (multiple) sehingga akhirnya muka bumi terpenuhi oleh gerejagereja local yang alkitabiah. Orang-orang yang kebetulan tinggal di daerah terpencil atau bahkan yang tinggal di kota besar, ditengah-tengah hutan beton, yang tidak pernah mendengar Injil Keselamatan, tidak memiliki alasan pemaafan atas ketidaktahuan mereka. Kebinasaan mereka adalah sesautu yang patut disayangkan. Itulah sepatutnya setiap orang Kristen lahir baru yang mengerti doktrin keselamatan yang alkitabiah tidak boleh tinggal diam membiarkan orang-orang yang tidak tahu tersebut binasa hanya karena orang-orang Kristen lahir baru bersikap egois dan apatis. Sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang lebih indah dan lebih mulia daripada pergi memberitakan Injil. Roma 10:15 mengatakan, ”betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kata ”kedatangan” itu sesungguhnya tidak tepat, karena bahsa yunani dibalik kata itu ialah reges adalah kata benda, nominatif, maskulin, plural dari akar kata regel yang artinya adalah kaki. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1968 menerjemahkannya dengan benar, ”Alangkah eloknya segala tapak kaki orang yang membawa kabar kesukaan dari hal yang baik.” Saking tidak ada caranya lagi Rasul Paulus menggambarkan indahnya pekerjaan pemberitaan injil sehingga ia mengutip Yesaya 52:7 dan menyatakan bahwa ”telapak kaki” mereka lebih indah dari wajah bintang film Hollywood. LAI menerjemahkan kata bahasa ibrani Regel dengan kata kedatangan padahal seharusnya kaki.

66

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Orang yang tidak mendengar Injil tidak bisa dimaafkan, mereka akan masuk neraka, dan kalau anda seorang Kristen lahir baru, engkau turut bertanggungjawab atas tiap-tiap jiwa yang masuk ke Neraka. Dan jika anda menunaikan tanggung jawab itu, yaitu memberitakan Injil Keselamatan kepada mereka, maka dihadapan Tuhan telapak kaki anda lebih indah daripada wajah bintang tercantik di Hollywood.*** Sumber: Doktrin Keselamatan Alkitabiah, halaman 81-89, DR. Suhento Liauw, Jakarta: Graphe International Theological Seminary (GITS), 2007.

34.Jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada/dihentikan karena Pewahyuan sudah berhenti. JABATAN NABI DAN RASUL SUDAH TIDAK ADA!
Banyak orang Kristen mempertanyakan pertanyaan topik di atas dan jawaban yang mereka peroleh biasanya tidak tegas sehingga bukannya memberi kejelasan malahan menambah kebingungan. Akhirnya ketidakjelasan akan hal yang sangat penting ini mempengaruhi konsep kekristenan dan tentu tindak-tanduk kehidupan ibadah mereka. Kita tahu bahwa Nabi dan Rasul menempati posisi yang sangat penting dalam proses perkembangan wahyu Allah. Melalui merekalah Alkitab ditulis, sehingga kini ada di tangan kita serta menjadi patokan doktrin kekristenan kita. Tugas utama Nabi dan Rasul itu bukan mengadakan mujizat, melainkan sebagai dasar jemaat (Ef. 2:20). Mereka membangun jemaat melalui firman yang mereka ucapkan maupun tuliskan. Tanda dan mujizat yang mereka pertunjukkan itu sesungguhnya dimaksudkan untuk meneguhkan firman yang mereka ucapkan (Mrk.16: 20). Mereka adalah penyalur wahyu Allah kepada manusia. Di dalam proses perkembangan wahyu, Allah pernah memakai undian, urim dan tumim, mimpi, penglihatan (visi), malaikat, Kristofani, dan nabi. Khusus untuk Nabi, selain menyampaikan firman secara lisan (bernubuat), sebagian mereka digerakkan untuk menulis (Yer. 36). Allah pernah memakai sarana-sarana tersebut di atas untuk menyampaikan firmanNya. Tetapi firman atau pendapat Allah yang disampaikan melalui undian, urim- tumim, mimpi, visi, malaikat, bahkan nabi, yang bersifat lisan itu tidak bisa dijadikan dasar doktrin. Semua itu hanya bisa dijadikan petunjuk praktis kehidupan sehari- hari. Tanpa adanya firman tertulis yang lengkap dan sempurna, tidak mungkin ada doktrin yang benar dan sempurna karena mustahil untuk mendirikan doktrin di atas mimpi maupun nubuatan lisan. Itulah sebabnya sementara para nabi bernubuat secara lisan, Allah menggerakkan sebagian mereka untuk menuliskan wahyu yang akan dipakaiNya sebagai standar doktrin bagi jemaatNya sepanjang masa.

67

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Sedangkan para Rasul adalah orang yang dipilih langsung oleh Tuhan. Syarat kerasulan mereka ialah melihat Tuhan (I Kor. 9:1) dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Kis. 1:21-22). Untuk syarat yang satu ini, dibaptis Yohanes, bahkan Paulus tidak memenuhinya. Hal ini sempat menimbulkan keraguan sebagian jemaat terhadap kerasulan Paulus. Tetapi Paulus dengan gigih membela jabatan kerasulannya (I Kor.9:1, II Kor.12:12, Gal.2:8). Memang Paulus tidak ikut rombongan Yesus sejak pembaptisan Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata bahwa kerasulannya itu bagaikan anak yang lahir sebelum waktunya (I Kor.15:8). Namun Tuhan Yesus sendiri menampakkan diri kepadanya dan memilihnya (Kis. 9:15-16, 26:16) serta memberinya kuasa yang sama dengan rasul lain. Perhatikan hal-hal yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul. Sekali pun Barnabas lebih dahulu menjadi Kristen, bahkan dialah yang mengajak Paulus, namun Allah memakai Paulus untuk mengadakan mujizat, bukan Barnabas (Kis. 13:9-10, 14:8 dsb.). Hal ini menunjukkan bahwa Allah memilih Paulus untuk jabatan Rasul bukan Barnabas. Karena persyaratan yang jelas itu maka tidak ada orang yang berani menyebut dirinya Rasul selain dua belas orang yang Tuhan pilih langsung dan Paulus. Pembaca harus dapat membedakan kata rasul ketika dipakai untuk jabatan dan ketika itu dipakai sebagaimana arti kata itu secara umum. Barnabas pernah disebut rasul namun bukan dalam arti kata jabatan Rasul, melainkan dalam arti kata bahwa ia adalah seorang yang diutus (Kis. 14:1,4,6,18 dll.). Dengan tegas dapat disimpulkan bahwa Tuhan tidak menambah jabatan Rasul untuk bangsa Israel, karena sebagaimana mereka terdiri dari 12 suku, Tuhan telah menetapkan 12 Rasul bagi mereka. Dan juga tidak akan ada orang yang akan dibaptis Yohanes Pembaptis karena Yohanes telah lama mati. Sedangkan Rasul untuk bangsa non-Yahudi juga telah Tuhan pilih langsung dengan penampakan diri kepadanya bagaikan bayi yang lahir sebelum waktunya. Selain menampakkan diri kepadanya, Tuhan juga melengkapinya dengan kuasa yang setara dengan Rasul-rasul lain (II Kor.12:12, Gal.2:8). Akhirnya dengan tegas dapat kita katakan bahwa jabatan Rasul telah Tuhan hentikan hanya pada 12 orang Rasul untuk bangsa Israel dan satu Rasul yaitu Paulus untuk bangsa non-Yahudi. Selanjutnya siapapun yang menyebut dirinya Rasul, kita dapat pastikan bahwa itu bukan yang diangkat Tuhan. 68

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Selanjutnya kita melihat bahwa dihentikannya jabatan nabi itu bersamaan dengan dihentikannya proses pewahyuan atau fenomena supranatural (nubuatan, bahasa roh) sebagaimana dinubuatkan Rasul Paulus (I Kor. 13:8-10). Pada ayat-ayat tersebut Paulus menubuatkan bahwa nubuatan akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap dengan menyebut metode jika yang sempurna tiba maka yang tidak sempurna akan lenyap. Sebelum menafsirkan kapan penggenapan nubuatan tersebut, harus diselesaikan dulu batu sandungannya, yaitu tentang 'pengetahuan' yang dimaksudkan Paulus. Kata 'pengetahuan' di situ itu bukan pengetahuan 2 + 2 = 4, melainkan karunia pengetahuan seperti yang dimaksud dalam 12:8, yaitu karunia berkata-kata dengan pengetahuan atau hikmat. Sebab kalau suatu hari kelak kita akan kehilangan pengetahuan 2 +2 = 4, maka itu sama artinya bahwa suatu hari nanti kita akan jadi orang bego. Tidak saudara, Paulus tidak memaksudkan bahwa suatu hari kita akan kehilangan akal sehat. Bahkan ketika kita sampai di Surga nanti, pengetahuan kita justru akan disempurnakan, bukan dilenyapkan. Selanjutnya kita patut merenungkan tentang kapan nubuat, bahasa roh, dan karunia pengetahuan itu akan digantikan dengan sesuatu yang lebih sempurna. Mendapatkan kepastian melalui penafsiran yang tepat akan menolong orang Kristen memiliki konsep yang tepat dan tindakan yang tepat. Secara umum kita lihat ada dua kemungkinan penggenapan nubuatan Rasul Paulus, yaitu setelah hari pengangkatan (Rapture) atau setelah Wahyu 22:21 ditulis. Selain dua kemungkinan tersebut saya tidak melihat ada kemungkinan lain lagi. Setelah hari pengangkatan. Sebagian orang percaya bahwa nubuatan, bahasa roh, dan karunia pengetahuan akan berakhir pada saat Tuhan datang. Jadi bagi mereka karunia bernubuat dan berbahasa roh itu masih berlangsung sekarang sehingga mereka berusaha mengejarnya. Konsekuensi dari penafsiran ini ialah mempercayai bahwa jabatan nabi masih tetap ada karena bernubuat itu adalah karunia utama nabi. Selanjutnya mereka akan tetap mengusahakan bahasa roh sebagai sarana penguat iman (I Kor.14:22), bukan memakai firman tertulis (Alkitab). Dan tanpa mereka sadari bahwa mempercayai penafsiran demikian itu berarti mempercayai bahwa Alkitab bukan satu-satunya firman Allah, melainkan salah satu firman Allah.

69

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Karena masih ada nubuatan dari Allah, maka itu berarti Allah masih menurunkan wahyu, dan kalau wahyu berikut yang dari Allah itu dituliskan maka konsekuensinya tulisan itu akan setara dengan Alkitab. Bisakah anda lihat bahwa mempercayai karunia bernubuat dihentikan pada saat kedatangan Tuhan itu sama dengan mempercayai bahwa Alkitab adalah salah satu firman Allah? Setelah Wahyu 22:21 dituliskan. Kelompok lain menafsirkan bahwa karunia bernubuat, berbahasa roh, dan berkata-kata dengan pengetahuan itu telah Tuhan hentikan sejak kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Setelah wahyu tertulis (written word) sempurna, maka selanjutnya Allah tidak memberi wahyu tambahan lagi. Allah tidak memberikan karunia berbahasa roh karena Allah tidak memakai bahasa roh untuk meneguhkan iman lagi, melainkan dengan firman yang tertulis, yaitu Alkitab. Alkitab, dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21, adalah satu-satunya firman Allah. Ingat, satu-satunya, artinya di luar Alkitab tidak ada firman Allah baik lisan maupun tertulis. Alkitab adalah sarana yang sempurna sebagaimana yang dimaksudkan Rasul Paulus dalam I Korintus 13:9-10. Seturut dengan dihentikannya proses pewahyuan, maka jabatan Nabi dan Rasul, yaitu jabatan yang berfungsi menyalurkan wahyu, pun dihentikan pula. Selanjutnya tinggallah 3 jabatan yang bertanggung jawab mengajar kan firman Tuhan yang telah mereka tuliskan, yaitu Gembala, Penginjil dan Guru (Ef. 4:11). Gembala menggembalakan jemaat, dibantu oleh Penginjil untuk menginjili yang belum percaya dan guru untuk mengajar yang telah percaya. Penatua dan Penilik adalah nama lain dari Gembala (Lihat Kis. 20:17,28, Fil. 1:1, Titus 1:5,7). Berarti kalau sudah ada jabatan Gembala, jangan lagi ada jabatan Penilik atau Penatua. Pilih saja salah satunya agar tidak terjadi tumpang tindih jabatan yang tidak jelas tugas dan fungsinya. Wah. 22:21 Rapture

-----------------------|-------------------------------|--------------

1. Alkitab adalah salah satu firman Allah 2. Alkitab berisi firman Allah. 3. Alkitab adalah satu-satunya firman Allah

70

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Orang "Kristen" yang mengakui adanya firman Allah di dalam kitab-kitab lain pasti memegang statemen pertama. Orang Kristen Neo Orthodox memegang statemen kedua. Bagi mereka, tidak seluruh isi alkitab itu firman Allah, melainkan hanya yang menyentuh hati mereka ketika dibaca (yang terjadi encounter dengan mereka). Sedangkan orang Kristen Alkitabiah pasti memegang statemen ketiga. Ketahuilah, pemegang statemen pertama adalah orang yang percaya bahwa nubuatan masih tetap berlangsung. Allah masih tetap menurunkan wahyu sampai hari pengangkatan. Sedangkan pemegang statemen ketiga adalah orang yang percaya bahwa wahyu dari Allah telah dihentikan sejak wahyu terakhir, kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa pengakuan iman mereka itu kontradiksi jika mereka percaya pada statemen ketiga sementara itu mereka percaya juga pada nubuatan, mimpi, visi dan lain sebagainya. Sekali lagi, itu kontradiksi. Memang Allah pernah menubuatkan bahwa Ia akan mencurahkan RohNya ke atas manusia, dan anak-anak laki-laki dan perempuan akan bernubuat (Yoel 2:28). Namun terhadap nubuatan ini Petrus menyatakan bahwa itu telah digenapi pada hari Pentakosta. Sebagian, yaitu yang matahari menjadi gelap, akan digenapi nanti. Sangat disayangkan dimana sebagian orang Kristen tidak menyadari bahwa Allah telah berusaha membimbing manusia dari firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu yang disampaikan melalui undian, urim-tumim, mimpi, visi, malaikat, ucapan lisan Nabi dan Rasul, sampai kita memiliki firman yang pasti (definite), yaitu Alkitab, firman tertulis, namun masih ingin kembali kepada yang tidak pasti. Pada zaman sekarang iblis berusaha habis-habisan mengalihkan perhatian manusia dari firman yang pasti (definite), tertulis, ke firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu fenomena supranatural. Jika pada hari ini kita tidak memiliki firman tertulis yang pasti, melainkan hanya mengandalkan mimpi, visi dan lain sebagainya, maka kekristenan tidak memiliki doktrin yang pasti (definite). Pengajaran (doktrin) yang bagaimanakah yang dapat didasarkan pada mimpi dan nubuatan lisan? Bahkan kita patut bersyukur atas dihentikannya karunia bernubuat, penyampaian wahyu melalui mimpi dan lain sebagainya karena Alkitab telah lengkap. Seandainya Alkitab belum lengkap, artinya masih ada manuver nubuatan dan lain sebagainya, maka doktrin yang diajarkan di gereja itu bukanlah yang final, melainkan yang masih bisa direvisi melalui nubuatan berikut. Sesungguhnya jika anda mengerti kebenaran dengan baik, anda pasti mengerti mengapa jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada, dan mengapa karunia bernubuat, karunia berbahasa roh dan karunia berkata-kata dalam pengetahuan sudah ditiadakan. Allah telah 71

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI meniadakannya karena telah ada firman tertulis yang sempurna di tangan kita, yang darinya dapat didirikan doktrin serta yang menjadi patokan kebenaran jemaat sepanjang masa. Siapapun yang mengatakan bahwa ia adalah rasul atau nabi, atau mendapat karunia bernubuat, atau berbahasa roh, dapat dipastikan bahwa itu bukan dari Tuhan.*** Dr. Suhento Liauw, Rektor STT Graphe/GITS dan Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) Graphe

15. Verbal Plenary Inspiration (VPI) dan Verbal Plenary Preservation (VPP) dalam doktrin Alkitab adalah ALKITABIAH DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH
ALKITAB BAHASA ASLI Tiap-tiap orang Kristen pasti mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) tentang Alkitab bahasa asli. Terlebih ketika Alkitab terjemahan tidak menyelesaikan persoalan, maka timbul pikiran untuk melihat Alkitab dalam bahasa aslinya. Alkitab bahasa asli adalah otoritas puncak (final Authority) untuk menyelesaikan segala macam perdebatan teologia maupun percekcokan doctrinal. Semua Alkitab terjemahan hanya memuat kebenaran secara konsep (conceptual) bukan kebenaran secara arti kata dan tata bahasa (literal and grammatical). Oleh sebab itu jika melakukan pembahasan Alkitab secara etimologi, maka harus kembali ke Alkitab bahas asli karena peralihan bahasa menyebabkan perubahan bentuk kata dan juga susunan kalimat. Patut disadari bahwa ada perbedaan antara satu bahasa dengan yang lain. Ada bahasa yang banyak vocabularynya dan ada bahasa yang sedikit. Kita tidak mengatakan bahwa Alkitab hasil terjemahan akan salah atau kurang bermutu, tetapi hanya ada kekurangan dalam menyampaikan semua ide penulis. Misalnya (agape) dan (fileo) dalam bahasa Indonesia kedua-duanya tetap diterjemahkan dengan kata “kasih” saja. Karena Allah mengilhamkan kebenaranNya dengan bahasa manusia, maka pemakaian tiap-tiap kata dalam wahyu tertulisNya pasti adalah yang dipilihNya secara khusus. Bahkan tata-bahasa yang dipergunakanNya juga pasti yang sesuai dengan aturan tatabahasa manusia pemakai bahasa itu agar tidak menyebabkan kebingungan bagi penerima wahyu. Selanjutnya karena Allah memakai bahasa Ibrani untuk penulisan kitab PL dan bahasa Yunani untuk penulisan kitab PB, maka kitab PL yang bahasa Ibrani serta kitab PB yang bahasa Yunani itu sangat penting setidaknya untuk dikenal oleh setiap orang Kristen, apalagi seorang penyampai firman Tuhan. Alkitab Bahasa Asli PL

72

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kitab PL orang Kristen itu berasal dari kitab suci orang Yahudi. Dalam bab mengenai kanon telah kita bahas tentang jumlah kitab dan alasan kitab-kitab itu dimasukkan ke dalam kanon. Jumlah kitab PL bertambah sesuai dengan berjalannya waktu sampai nabi Maleakhi menuliskan pasal 4 ayat 6 yang jatuh pada kira-kira 400 tahun sebelum kedatangan Kristus. Pada waktu kejatuhan Yerusalem ke tangan Babilon, kelihatannya kitab-kitab PL yang sudah ada pada saat itu diselamatkan oleh nabi Yeremia. Nabi Yeremia yang tahu persis apa yang akan terjadi menyadari bahwa kitab suci jauh lebih berharga dari apapun. Nebukadnezar yang tahu bahwa Yeremia menubuatkan kejatuhan Yerusalem sangat menghormati Yeremia. Bahkan ia membiarkan Yeremia memilih apakah ia mau tinggal di Yerusalem atau mau ikut ke Babel, dan akhirnya Yeremia memilih tinggal di Yerusalem (Yer 39:11-14, 40:4-5). Sekembali dari pembuangan, orang Yahudi mengalami kebangunan rohani. Mereka bukan hanya pergi ke Yerusalem 3x setahun, bahkan mendirikan sinagoge di seluruh Israel. Keberadaan sinagoge itu bukan hanya untuk kegiatan keagamaan, bahkan bermanfaat sebagai sekolahan membaca bagi anak-anak. Keadaan ini menyebabkan dibutuhkannya kitab-kitab PL karena itu adalah bahan bacaan satu-satunya. Keadaan ini juga sekaligus melestarikan kanon kitab PL karena jumlahnya menjadi semakin banyak sehingga kalau yang satu rusak, masih ada yang lain. Kini terkumpul sekitar 200 ribu naskah kuno dalam bentuk fragment dalam bahasa Ibrani dan Aramik. Dengan cara demikian Allah memelihara firmanNya, yaitu agar orang-orang di kemudian hari dapat memperbandingkannya. Ada yang bertanya, “apakah kitab PL yang ada di tangan kita masih asli?” Jawabannya, “tentu, karena ada kurang lebih 200 ribu fragment yang terkumpul dan dibanding-bandingkan. Ketika Alexander Agung mengalahkan dunia pada abad ketiga sebelum kedatangan Kristus, bahasa Yunani menjadi bahasa internasional. Satu abad kemudian, yaitu abad kedua sebelum kedatangan Kristus, generasi muda Yahudi perantauan menjadi lebih fasih berbahasa Yunani sehingga penerjemahan kitab PL ke dalam bahasa Yunani dirasakan sangat diperlukan. Kemudian sebuah kitab terjemahan dihasilkan oleh 72 orang penerjemah, dan disebut Septuaginta yang artinya 70, yaitu angka genap (dibulatkan) dari jumlah penerjemahnya. Akhirnya pada masa kehadiran Tuhan Yesus, kitab PL yang beredar ada 2 macam, yaitu yang berbahasa Ibrani dan berbahasa Yunani (Septuaginta). Selain terdiri dari 2 macam bahasa, juga ada versi yang dipakai di sinagoge dan versi yang dipakai oleh pribadi di rumah. Versi sinagoge disalin ulang dengan sangat teliti. Jika ditemukan 4 kesalahan, maka dinggap rusak dan segera dimusnahkan. Mereka tidak menghendaki kehadiran salinan yang ada kesalahan agar jangn sampai makin hari makin banyak salinan yang salah.

73

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Kemudian pada tahun A.D. 70 Sesudah Masehi, terjadi penghancuran kota Yerusalem beserta Bait Allah. Orang Israel terkocar-kacir dan tersebar ke mana-mana. Mereka kehilangan identitas sebagai bangsa. Setelah melalui sebuah periode waktu yang agak panjang sebagian orang Israel menyadari bahwa mereka perlu berbuat sesuatu agar identitas bangsa mereka tidak terhilang sama sekali. Mereka menyadari bahwa kitab PL yang terus-menerus dibacakan di sinagoge dan dalam keluarga masing-masing, maka keyahudian mereka pasti tidak akan hilang. Pada periode AD 70-900, sekelompok orang Yahudi yang disebut Baly ha-masoret (master of tradition atau guru adapt-istiadat) berusaha mengumpulkan salinan-salinan untuk memantapkan eksistensi kitab PL. Perlu diketahui bahwa yang terbakar adalah yang ada di kota Yerusalem, tetapi masih ada banyak salinan yang tersimpan di sinagogesinagoge yang bisa dijadikan patokan. Alasan yang mendorong mereka melakukan pekerjaan itu ialah karena salinan yang ada hanya tertulis dengan huruf mati sedangkan generasi muda Yahudi yang sudah tersebar mengalami kesulitan untuk membaca tanpa huruf hidup. Bagi yang lancar berbahasa Ibrani, ia tidak membutuhkan huruf hidup, melainkan cukup dengan huruf mati (konsonan) saja sudah bisa membaca dan mengerti artinya. Jadi kalau kalimatnya, “Musa turun dari gunung Sinai” itu hanya ditulis “Ms trn dr gnng sn” Jadi Baly ha Masoret itu berusaha mengumpulkan salinan-salinan dan berusaha membubuhkan huruf hidup (vokal) agar generasi yang kurang fasih berbahasa Ibrani bisa belajar membaca. Hasilnya bukan saja iman Yudaisme mereka tetap terpelihara, bahkan bahasa Ibrani tetap lestari sementara bahasa Mesir, Persia dan lain-lain musnah terkikis waktu. Dengan demikian jati diri mereka sebagai orang Yahudi tetap terpelihara sekalipun mereka tersebar ke segala penjuru dunia. Dalam melaksanakan tugas yang sangat berat itu para Baly ha masiret dibantu oleh ahli tata-bahasa (grammar) yang dalam bahasa Ibrani disebut nag danim. Karena kita PL asli yang ditulis Musa, Daud, Samuel, dll tidak memakai huruf hidup (vokal) dan juga tanpa tanda baca, maka sulit dimengerti oleh generasi muda Yahudi maupun bangsa lain yang mempelajari bahasa asli kitab PL. Para Baly ha masoret dan nag danim, orang-orang Yahudi yang masih sangat fasih bahkan ahli dalam bahasa Ibrani itu, menolong memasang huruf hidup dan tanda baca ke dalam teks yang tadinya hanya terdiri dari huruf mati dan tanpa tanda baca. Kesederhanaan teks yang ditulis jauh sebelum Masehi itu tentu bukanlah suatu kesalahan karena perkembangan pengetahuan bahasa pada saat itu Cuma hanya sampai pada tahap itu. Penambahan huruf hidup dan tana baca itu sama sekali bukan menambahi firman Tuhan, melainkan hanya menjadikan bunyi yang sudah ada ke dalam tanda baca. Misalnya, makan kalau dulu ditulis mkn saja, maka sekarang ditambahkan dua huruf ’a’ sehingga menjadi makan. Bahkan bahasa Indonesia pernah mengalami beberapa kali

74

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI penyempurnaan. Dulu Soekarno sekarang menjadi Sukarno. Dulu djangan sekarang menjadi jangan, dan dulu tjepat sekarang menjadi cepat. Para Baly ha Masoret dan nag danim yang hidup sesduah AD 70 yang mengkuatirkan keimanan anak cucu bangsa Israel telah dipakai Allah untuk memelihara kitab PL yang sangat dibutuhkan jemaat Perjanjian Baru. Hasil karya mereka disebut Masoretic Text (Teks Masoretik) dipakai oleh baik kaum Yahudi maupun orang-orang Kristen. Gulungan di Laut Mati (Dead Sea Scroll) Pada tahun 1947 dunia kekristenan dikejutkan dengan ditemukannya Dead Sea Scroll (DSS). Seorang bocah Baduin yang berusaha mencari dombanya yang hilang tanpa sengaja memasuki gua di Wadi Qumran, sebelah Barat Daya laut Mati. Di dalam gua yang gelap, ia tersandung pada gulungan benda yang panjangnya 2 kaki dan tebalnya 10 inci. Para gembala itu menjualnya ke toko antik di Bethlehem yang membeli beberapa gulung, dan seorang Archbishop dari gereja Orthodox Syria membeli sisanya. Beberapa orang ahli menelitinya dan menyimpulkan bahwa itu tidak ada nilainya. Tetapi E.L Sukenik, dari Hebrew University di Yerusalem, mengenal keunikan gulungan itu dan membeli tiga gulungan. Gulungan lain dibawa ke American School of Oriental Research, diteliti oleh J.C Trever dan W.F. Albright, seorang arkeolog Alkitab, akhirnya pada tahun 1948 menyadari bahwa itu adalah gulungan kitab-kitab PL. Pada akhir tahun 1951 kembali di sekitar gua-gua laut Mati, yaitu di gua Wadi Murabba’at ditemukan lagi gulungan-gulungan lain diantaranya juga terdapat gulungan Teks masoretik. Pada tahun 1952 dilakukan eksplorasi yang lebih intensif dan di gua yang terletak di sebelah Barat Khirbet Qumran ditemukan hampir keseluruhan kitab PL kecuali kitab Ester. Adapun isi dari manuscripts (MSS) yang ditemukan di Qumran itu ada sebagian yang berbeda dari Teks masoretik namun sama dengan Septuaginta (LXX). Tetapi lebih banyak kesamaannya dengan Teks Masoretik daripada LXX. Kelihatannya MSS yang ditemukan di Qumran itu adalah teks yang dipergunakan oleh pribadi, bukan yang dipergunakan di Sinagoge, karena ada banyak catatan pinggir, dan naskah tua yang diperkirakan sebelum Kristus, ternyata ada tambahan huruf hidup (vokal). Kita tahu bahwa naskah bahasa Ibrani sebelum para Baly ha-Masoret memasangkan huruf hidup (vokal) naskah resmi yang dipakai di Bait Allah dan sinagoge itu hanya terdiri dari huruf mati (konsonan) saja. Jadi kalau ada naskah sebelumnya yang terdapat selipan huruf hidup adalah naskah pribadi yang dipakai di keluarga. Biasanya karena anak-anak mereka belum terbiasa membaca tanpa huruf hidup, maka orang tua mereka membantu dengan menambahi huruf hidup bagi mereka. Kalangan Liberal menjadi kalang kabut dengan ditemukannya Dead Sea Scroll (DSS), namun sebagian mereka menjadikannya dasar untuk membangun Critical Texts (Teks 75

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Pengritik) untuk mendiskreditkan Teks Masoretik. Tetapi kalangan Fundamental tetap yakin bahwa Teks Masoretik (MT) adalah teks terpercaya karena bukan hanya telah dikerjakan dengan sangat hati-hati, bahkan sumber landasannya adalah naskah resmi yang dipakai di sinagoge-sinagoge, bukan naskah pribadi yang telah banyak penambahan dan pengurangan. Kita bisa memahami kalau sesuatu itu milik pribadi maka bisa ditambah dan dikurangi seperti yang kita lakukan terhadap Alkitab kita hari ini, dimana kita membuat catatan di pinggir dan menandainya dan lain sebagainya. Alkitab Bahasa Asli PB Di dunia ini tidak ada tulisan yang lebih terpelihara daripada naskah-naskah kitab PB. Allah memelihara naskah-naskah itu melalui orang-orang percaya yang menyayangi naskah itu sehingga mereka berusaha memilikinya dengan memperbanyaknya. Dengan cara diperbanyak, maka Iblis tidak dapat memusnahkannya, dan sekaligus untuk menjaga keotentikannya karena di kemudian hari kita dapat membanding-bandingkannya. Kini telah tersimpan kurang lebih 3 ribu copy naskah PB tulisan tangan dalam bahasa Yunani dalam bentuk fragment dan 2 ribu copy dalam bentuk penjelasan (telah ditambahkan berbagai penjelasan) untuk kebutuhan pembacaan tiap hari, 8 ribu manuscript dalam bahasa Latin, dan sekitar 2 ribu terjemahan versi kuno. Tersedianya naskah-naskah kuno itu telah menjamin sehingga pekerjaan mengedit sebuah kitab PB ke dalam bentuk buku setelah kertas dan alat cetak ditemukan itu dapat dilakukan. Allah telah memeliharanya dengan cara memperbanyak dan menyimpannya hingga manusia dapat menjilidnya menjadi sebuah kitab pada saat manusia telah menemukan alat cetak dan kertas. Sesungguhnya naskah-naskah PB dalam bahasa Yunani telah tersebar kemana-mana. Sesudah abad ketiga kelihatannya bahasa Latin menjadi bahasa yang cukup penting, terutama disebabkan karena pemerintahan Roma telah berlangsung cukup lama. Pada saat itu menurut Agustinus, hampir setiap orang yang tahu 2 bahasa, yaitu Yunani dan Latin, berusaha menerjemahkan kitab-kitab PB walaupun tidak lengkap. Itulah sebabnya kini terdapat sekitar 8 ribu naskah kuno kitab PB dalam bahasa Latin. Secara resmi pada tahun 382, Paus Damasus menunjuk Jerome untuk menerjemahkan atau sebenarnya mengedit terjemahan-terjemahan tidak resmi terhadap 4 Injil. Hasil revisi yang dikerjakan oleh Jerome itu kemudian dikenal dengan Vulgate yang dalam bahasa Latin itu berarti ‘umum,’ mungkin maksudnya dipakai untuk umum. Versi Vulgate dipakai secara resmi oleh Gereja Katolik ratusan bahkan ribuan tahun. Buku tertua dalam cetakan ialah buku dalam tulisan Tionghoa Diamond Sutra, yang dicetak pada tahun 868 dengan alat cetak kayu. Pada abad ke-11 orang Tionghoa meningkatkan penciptaan alat cetak bergerak dengan tanah liat. Namun apa yang telah dicapai di China tidak ada hubungannya dengan penemuan alat cetak di Eropa. Johannes Gutenberg adalah orang pertama yang menemukan alat cetak pada tahun 1440 di benua Eropa. 76

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Buku pertama yang dicetak oleh percetakan Gutenberg ialah Alkitab versi Vulgate yang cakap dalam ukuran folio, yang selesai pada tahun 1456, yang terkenal dengan sebutan Gutenberg Bible. Pada tahun 1502, persiapan pencetakan Alkitab bahasa Yunani dimulai dibawah pimpinan Kardinal Ximenes dari Spanyol. Kitab PB dicetak paralel 3 bahasa, yaitu Latin, Ibrani, dan Yunani LXX. Proyek ini dilakukan di kota Alcala yang dalam bahasa Latin disebut Complutum sehingga Alkitab itu disebut Complutensian Polyglot. PB selesai pada tahun 1514 dan PL selesai 1517, namun belum pernah beredar karena pada tahun 1520 baru diterima oleh Paus dan pada tahun 1522 baru dipublikasikan. Sementara itu pada tahun 1515 seorang ahli bahasa yang bernama Desiderius Erasmus berusaha mengedit kitab PB dalam bahasa Yunani dengan mendasarkannya pada lima manuscript tradisional yang tersimpan di Basel dan menerbitkannya pada bulan Maret tahun 1516. Dengan demikian maka kitab PB bahasa Yunani yang pertama dicetak adalah Complutension Polyglots sedangkan yang pertama terbit dan beredar di masyarakat adalah edisi Desiderius Erasmus. Tidak dapat dipungkiri bahwa kitab PB ini telah memungkinkan Martin Luther menyadari kesalahan Gereja Katolik, demikian juga dengan Bapak-bapak Reformasi yang lain. Sangat disayangkan karena naskah yang dimiliki oleh Erasmus itu ternyata 6 ayat terakhir dari kitab Wahyu telah hilang sehingga ia menerjemahkannya sendiri dari Vulgate ke bahasa Yunani. Namun kemudian setelah ia mendapatkan naskah yang memiliki 6 ayat terakhir kitab Wahyu masih utuh, ia memperbaikinya pada edisi ke-2. Kemudian setelah melihat Manuscript Codex 61 Erasmus memasukkan 1 Yoh 5:7,8 yang dikalangan teolog disebut Johannen Coma. Dan Luther menerjemahkan edisi ke-2 yang terbit 1519 dan yang telah disempurnakan ini ke dalam bahasa Jerman. Penyempurnaan demi penyempurnaan dilakukan setelah melihat naskah-naskah kuno dan membandingbandingkannya dengan Polyglot sehingga keseluruhannya Erasmus menerbitkan 5 edisi. Ingat, dalam tiap perbaikan itu tidak ada penambahan atau pengurangan firman Tuhan, melainkan memeriksa hasil karyanya dan membandingkannya dengan naskah-naskah yang jumlahnya sekitar 3 ribu naskah kuno. Rupanya menurut Robert Estienne (yang lebih dikenal dengan Stephanus), hasil kerja Erasmus masih perlu diperbagus lagi. Ia menerbitkan 4 edisi berturut-turut tahun 1546, 1549, 1550, 1551, yang tiap edisinya terdapat perbaikan-perbaikan yang tidak terlalu berarti, seperti penambahan judul perikop dan lain-lain. Edisi ke-3 (1550) dari Stephanus ini dikenal dengan sebutan Royal Edition (Edition Regia). Edisi ke-4 terbit tahun 1551 dengan dilengkapi pasal dan ayat sebagaimana kita pakai hari ini. Kita patut berterima kasih kepada Stephanus yang telah menolong kita agar lebih gampang mencari bagian firman Tuhan yang kita inginkan. Bayangkan kalau tidak ada pasal dan ayat, pasti kita akan mengalami banyak kesulitan. 77

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Theodore Beza, seorang yang tersohor di kalangan Prostestan, juga menerbitkan kitab PB bahasa asli dalam ukuran folio dengan memakai teks Stephanus sebagai dasar. Ketenaran Theodore Beza turut mempopulerkan teks Erasmus dan Stephanus yang dipakainya sebagai dasar sehingga kalangan reformasi memakai teks mereka sedangkan kalangan Katolik memakai Polyglot. Keluarga Elzevir, pemilik penerbit berbagai buku klasik, ikut juga meramaikan penerbitan kitab PB bahasa asli yang sangat digemari masyarakat yang baru mengalami reformasi itu. Pada edisi ke-2 terbitannya tercantum tulisan ”Kini anda memiliki teks yang telah diterima oleh semua kalangan, yang didalamnya tidak ada penambahan maupun kesalahan.” Akhirnya ungkapan Received Text atau Textum Receptum yang biasa disingkat TR, menjadi nama dari teks yang pertama diedit oleh Desiderius Erasmus, diperlengkapi dan diperindah oleh Stephanus, dipromosikan Theodore Beza dan keluarga Elzevir, diberikan kepada teks yang diterima dan dipakai di kalangan orang-orang percaya yang telah dilahirbarukan di dalam Tuhan. Teks ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk ke dalam bahasa Inggris, King James Version (KJV), yang diterjemahkan pada tahun 1611 atas perintah raja Inggris yang bernama James dan dikerjakan oleh lebih dari 50 ahli bahasa. Teks yang mereka pakai sebagai dasar ialah Teks Stephanus edisi 3 dan 4 dan edisi Beza terbitan 1598. Masyarakat, terutama orang-orang yang telah lahir baru, sangat bersukcaita atas tersedianya kitab suci dalam bentuk cetakan bahkan dalam bahasa mereka yang dapat mereka miliki secara pribadi dengan harga yang relatif lebih murah dari sebelumnya. Sebelumnya harga sebuah Alkitab tulisan tangan yang rapi itu sama dengan harga sebuah gedung berlantai dua di dekat London Bridge. Terkutuklah orang yang tidak menghargai firman Tuhan yang ada ditangannya hari ini. Serangan Iblis Textum Receptum (TR) adalah naskah PB yang dipakai oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa oleh misionaris modern yang dipelopori oleh misionaris Baptis, William Carey, ke India dan akhirnya banyak misionaris ke seluruh penjuru dunia. Selama kurang lebih 380 tahun, Iblis tidak menemukan cara untuk menghalangi tersebarnya firman Tuhan ke seluruh dunia walaupun dilakukannya juga serangan kecil-kecilan yang tidak membawa efek terhadap TR. Karl Lachmann dari Jerman tercatat adalah orang pertama yang menerbitkan edisi PB yang sifatnya menyerang TR pada tahun 1831. Setelah dua edisi teks pengritik/Critical

78

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Texts (CT) diterbitkannya ternyata tidak ada yang menggubrisnya. Pada tahun 1857 Samuel Prideaux Tregelles di Inggris juga menerbitkan Critical Text untuk menyerang TR. Kemudian Constanstin Tischendorf seorang yang menemukan naskah Codex Sinaiticus turut menerbitkan teks PB yang bersifat menyerang keakuratan TR. Serangan yang kelihatannya memakan banyak korban adalah yang dilakukan Iblis melalui dua orang, yaitu Brooke Foss Westcott seorang Bishop gereja Anglikan, dan Fenton John Anthony Hort seorang dosen dari Cambridge University. Untuk mempersingkat nama mereka, biasanya hanya ditulis Westcott-Hort (WH). Mereka menerbitkan Critical Text (CT) untuk menyerang Textum Receptum (TR) pada tahun 1881. Mereka mendasarkan edisi yang mereka terbitkan pada naskah yang diberi nama (aleph) yang ditemukan di Sinai yang juga disebut Sinaiticus dan naskah yang diberi nama B yang kata mereka tersimpan di perpustakaan Vatikan. Menurut Dr. D. A. Waite, antara CT hasil WH dibandingkan dengan TR yang sudah dipakai lebih dari 300 tahun terdapat 5604 perbedaan yang terdiri dari 1952 penghilangan (35%), 467 penambahan (8%) dan 3185 perubahan 57%. Dengan perubahan yang besarbesaran ini kelihatannya serangan terhadap firman Tuhan semakin serius dan intensif. Gelombang pertama yang tumbang berjatuhan adalah teolog-teolog Liberal di Jerman. Keraguan mereka terhadap firman Tuhan mulai muncul bahkan akhirnya mereka melihat Alkitab hanya sekedar buku sejarah. Mereka tidak percaya kepada kesanggupan Allah untuk memelihara firmanNya. Padahal Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Lukas 21:33). Kalau Tuhan berjanji bahwa perkataanNya tidak akan berlalu, maka jelas sekali bahwa Ia akan memeliharanya. Setelah teolog Jerman tumbang, kemudian angin pukulan CT melanda Eropa sehingga muncul berbagai kritik terhadap Alkitab (buku yang telah berjasa merubah orang-orang Eropa menjadi manusia bermoral). Akhirnya angin serangan terhadap Alkitab itu sampai juga ke Amerika. Bersama dengan itu muncul berbagai Alkitab bahasa Inggris terjemahan modern yang didasarkan pada naskah PB dari teks CT. Antara lain: English Revised Version=ERV (1881), American Standard Version=ASV (1901), New American Standard Version=NASV (1960), New English Version=NEV (1961), New International Version=NIV (1969). Bagaimana dengan Alkitab bahasa Indonesia? Dulu Alkitab bahasa Indonesia (LAI-TL) diterjemahkan dari TR. Kelihatannya Alkitab Terjemahan Baru (LAI-TB) sedikit terpengaruh oleh CT dari WH. Banyak pembaca tidak menyadari maksud dibalik banyak ayat dalam Alkitab Terjemahan Baru yang diberi tanda kurung siku, contoh [...]. Sebagian dosen STT di Indonesia yang sudah terhembus angin Liberalisme mengatakan kepada murid-murid mereka bahwa ayat itu tidak ada dalam Alkitab bahasa aslinya. Penjelasan demikian tentu akan mengundang banyak pertanyaan susulan, yaitu siapa yang menambahkan dan mengapa ditambahkan? Contoh Kisah Para Rasul 8:37, I Yohanes 5:7,8 dan lain-lain.

79

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Ternyata Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi tanda kurung siku pada ayat-ayat yang ada dalam teks TR namun tidak ada dalam teks CT. Tindakan demikian masih baik daripada menghilangkan ayat itu sama sekali. Namun sebenarnya tidak perlu diberi tanda kurung siku [...] karena itu adalah firman Tuhan. Jangan kita menganaktirikan ayat-ayat tertentu, karena itu adalah firman Tuhan yang telah Tuhan janjikan akan dipelihara sehingga tidak akan lenyap sekalipun langit dan bumi telah lenyap. Teks Mana Yang Dipelihara Tuhan? Karena adanya dua teks Alkitab bahasa asli yang berbeda, maka wajar sekali kalau orang bertanya, teks mana yang dipelihara Tuhan? Atau teks mana yang dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang? Kiranya Tuhan memberi kita hikmat untuk menilai agar hasil penilaian kita tidak menjerumuskan orang-orang yang mencintai kebenaran. Menilai Isinya Sesungguhnya sama sekali tidak sulit untuk mengetahui teks mana antara TR dan CT yang dipelihara Tuhan untuk menjadi standar kebenaran bagi umatNya. Kita tahu bahwa kalau Tuhan memelihara teks itu, maka tentu tidak akan ada kesalahan-kesalahan yang konyol yang justru mengisyaratkan keterlibatan Tuhan di dalam prosesnya, melainkan Iblis. Sejak edisi ke-3 dari Stephanus tahun 1550 dan edisi ke-4 yang terbit satu tahun kemudian dengan penambahan nomor pasal dan ayat, maka TR telah sempurna sampai hari ini. Ia diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa serta menjangkau banyak jiwa yang hilang. Berbagai pihak yang tidak beriman berusaha menyerangnya, namun mereka tidak menemukan kesalahan di dalamnya. Sebaliknya CT yang diedit oleh Westcott dan Hort, dan yang kemudian diedit oleh Nestle dan Aland itu terdapat kesalahan yang sangat fundamental dan fatal. Misalnya dalam Injil Matius 1:7, di TR tertulis ”Abia memperanakkan Asa dan Asa memperanakkan Yosafat”. Tetapi dalam CT tertulis ”Abia memperanakkan Asaf dan Asaf memperanakkan Yosafat”. Kalau dicocokkan dengan PL jelas sekali bahwa anak Abia itu Asa bukan Asaf. Dan juga jelas sekali bahwa ayah Yosafat itu bukan Asaf melainkan Asa. Asaf itu bukan seorang raja melainkan seorang pemazmur. Ketika fakta ini dikemukakan kepada para pendukung CT, dan mengatakan kepada mereka bahwa naskah yang mereka jadikan dasar sesungguhnya adalah naskah yang telah terkontaminasi, ternyata mereka tidak mau terima. Bukan hanya tidak mau menerima kritikan, malahan mereka menyalahkan Matius, dengan argumentasi bahwa naskah mereka tidak rusak, yang bikin kesalahan itu bukan penyalin naskah, melainkan Matius 80

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI yang memang salah tulis. Mereka mengatakan bahwa ketika Matius menulis silsilah itu ia tidak mencocokkannya dengan catatan yang ada di Bait Allah. Bayangkan, mereka lebih membela penyalin naskah dan menyalahkan Matius. Di sinilah iblis beraksi dan mengambil keuntungan dengan mengatakan bahwa Matius yang salah tulis bukan naskah mereka yang terkontaminasi, mengapa? Sebab, kalau Matius salah tulis, itu sama dengan Matius tidak diilhami Roh kudus, atau dengan kata lain bahwa para penulis Alkitab sebenarnya tidk diilhami Roh Kudus. Oleh sebab itu mereka bisa melakukan kesalahan dan salah satu contohnya adalah Matius. Masihkah kita perlu baca Alkitab kalau para penulisnya tidak diilhami. Untuk apa kita membaca nasehat orang-orang kuno yang tidak tahu tentang komputer dan pesawat ulang-alik? Tidakkah lebih baik kita membaca Novel dan cerita fiksi tulisan orang-orang modern? Lihatkah anda misi yang akan dicapai oleh Iblis dengan memunculkan Alkitab Bahasa Asli versi Critical Text model Westcott dan Hort? Ia sangat-sangat licik. Selain kesalahan itu masih ada kesalahan-kesalahan lain. Contoh lain ialah catatan Injil Lukas 23:45 dimana TR mencatat matahari menjadi gelap (kai eskotiste ho helios) sedangkan CT mencatat gerhana matahari (tou helio ekleipontes eskiste). Perhatikan, TR mencatat matahari menjadi gelap eskotiste/skoti sedangkan CT mencatat gerhana ekleip. Apa yang dicatat CT itu adalah sesuatu yang dapat ditertawakan oleh setiap orang karena pada sekitar bulan April itu tidak mungkin ada gerhana matahari di wilayah itu, dan tidak ada gerhana matahari yang berjangka waktu tiga jam, yaitu dari jam 12.00 hingga jam 15.00. Kita tahu bahwa Yohanes 1:18 berbunyi, ”Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Menurut Textum Receptum (TR): John 1:18 qeo.n ouvdei.j e`w,raken pw,pote\ o` monogenh.j ui`o,j (Anak yang Tunggal=Monogenes Huios) o` w'n eivj to.n ko,lpon tou/ patro.j evkei/noj evxhgh,sato Menurut Critical Text (CT): John 1:18 qeo.n ouvdei.j e`w,raken pw,pote\ monogenh.j qeo.j (Allah yang Tunggal=Monogenes Theos) o` w'n eivj to.n ko,lpon tou/ patro.j evkei/noj evxhgh,sato Kedua ayat dalam bahasa Yunani di atas persis sama kecuali kata ui`o,j (anak) dalam TR diganti dengan kata qeo.j (Allah) dalam CT. Jadi menurut Critical Text (CT) Yohanes 1:18 itu bunyinya, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Allah yang Tunggal, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Untuk hal yang sangat sepele ini, tanpa perlu belajar sampai tingkat doktor, bahkan cukup memiliki akal sehat saja sudah bisa menyadari bahwa yang benar itu bukan yang di Critical Text, melainkan yang di Textum Receptum. 81

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Kisah Para Rasul 8:37 itu ternyata tidak ada di dalam Critical Text, melainkan ada di dalam Textum Receptum. Jadi menurut CT bunyi Kis 8:36-38 itu demikian, 8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. CT tanpa ayat 37 [Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."] ada di TR Acts 8:37 ei=pen de. o` Fi,lippoj Eiv pisteu,eij evx o[lhj th.j kardi,aj( e;xestinÅ avpokriqei.j de. ei=pen Pisteu,w to.n u`io.n tou/ Qeou/ evinai to.n VIhsou/n Cristo,nÅ Diperkirakan ayat 37 dari manuscript (Aleph) yang ditemukan di Sinai itu sengaja dihilangkan oleh para penyalin yang mempersiapkan naskah pertemuan Nicea yang akan dipimpin oleh Konstantin. Masalahnya karena gereja Katolik dibawah pimpinan Konstantin waktu itu sedang gencar-gencarnya mempromosikan baptisan bayi. Ayat 37 dari Kisah Para Rasul ini ternyata mengajarkan dengan tegas bahwa baptisan itu harus didahului pengakuan percaya, dan hal ini sangat bertentangan dengan praktek pembaptisan bayi. Demi menyenangkan Konstantin, oknum yang memerintahkan persidangan Nicea (Philip Schaff, History of the Christian Church (Grand Rapids: WM.B.Errdmans Publishing company, 1994), Vol III. p.349.), maka mereka menghilangkan Kisah 8:37. Bayangkan betapa beraninya mereka. Pasti apa yang Tuhan ucapkan atas mereka dalam Wahyu 22:19 akan menimpa mereka. Celakanya, ternyata para editor Critical Text lebih percaya bahwa ayat itu tidak ada daripada editor TR yang percaya bahwa ayat itu, yang terdapat di banyak manuscript lain adalah orisinil. Untunglah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) masih percaya bahwa ayat itu ada, namun sayang diberi kurung siku. Pembaca sekalian, tentu tidak diperlukan ratusan atau puluhan kesalahan untuk menyadari bahwa teks Alkitab PB bahasa asli CT itu bukan yang dipelihara Tuhan. Sehebat apapun usaha Iblis untuk menyembunyikan kesalahannya, toh kecolongan juga. Allah membiarkan satu dua kesalahan yang nyata dan telak agar orang-orang yang mencintai kebenaran bisa menjadikannya sebagai terang yang memberi hikmat untuk mengetahui Alkitab bahasa asli yang sungguh-sungguh dipelihara dan dipimpin Tuhan proses pengeditannya. Jika seorang yang tersesat di hutan sungguh berhikmat, setitik

82

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI terang saja cukup baginya untuk menemukan jalan kembali ke kota, namun bagi yang akan binasa, dicari dengan lampu sorot sekalipun ia malah memilih bersembunyi. Para Editornya Westcott adalah seorang Bishop gereja Anglikan, gereja yang Doktrin Gereja (ecclesiology) nya hampir sama dengan Gereja Roma Katolik. Perbedaannya hanya Gereja Roma Katolik berpusat di Roma sedangkan gereja Anglikan berpusat di London. Dan Gereja Roma Katolik dikepalai Paus sedangkan gereja Anglikan dikepalai Raja atau Ratu Inggris. Sedangkan Hort adalah seorang dosen Universitas Cambridge. Dr. D.A. Waite yang meneliti buku-buku yang ditulis mereka menyimpulkan bahwa sesungguhnya mereka bukan seorang yang telah lahir baru. In this study, I quote from their writings extensively and show form five of their books that they are apostates, liberals, and unbelievers. (Dr. D.A. Waite, Defending the King James Bible, Collingswood: The Bible for Today Press, 1992) Selain Westcott dan Hort, siapa lagi di balik CT yang makin hari makin dominan itu? Critical Text yang hari ini banyak dipakai di Sekolah Teologi adalah edisi ke-26 yang disebut Nestle/Aland Greek New Testament, 26th edition. Eberhard Nestle dan Kurt Aland, kedua-duanya orang Jerman yang membentuk sebuah komisi yang terdiri dari Kurt Aland sendiri, Matthew Black seorang yang imannya diragukan, Carlo M. Martini seorang Kardinal gereja Katolik, Bruce Metzger dari Princeton, universitas yang sangat liberal, dan Alan Wigren dari Chicago. Mereka inilah yang mengatakan bahwa rasul Matius salah tulis karena tidak melihat catatan di Bait Allah sehingga yang seharusnya Asa namun ditulis Asaf, demi untuk membela konsep mereka bahwa naskah kuno yang mereka pakai adalah yang terbaik, yang tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil. Sebaliknya orang-orang yang mengedit TR adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Desiderius Erasmus, yang sering dikritik karena humanis, adalah humanis abad pertengahan yang berusaha melepaskan diri dari kungkungan universalisme gereja Roma. Ia bukan humanis masa kini yang filosofinya berpusatkan pada manusia dan mengagungkan manusia. Sedangkan Stephanus adalah orang Protestan yang sangat mengasihi Tuhan, orang yang rela mengorbankan nyawa demi membela kebenaran. Apalagi Theodore Beza, teman dekat John Calvin, adalah tokoh reformasi yang sangat terhormat dan mengasihi Tuhan. Edisi Stephanus dan Beza-lah yang secara umum diterima oleh orang-orang percaya yang baru mendapat kebangunan rohani melalui gerakan reformasi. Edisi ke-4 Stephanus tahun 1551 yang telah dilengkapi pasal dan ayat telah menjadi berkat bagi jutaan orang, terlebih setelah dijadikan dasar untuk penerjemahan ke berbagai bahasa termasuk King James Version. Tujuan Para Editor Baik Erasmus, Stephanus, maupun Beza, mereka berusaha mewujudkan kitab PB bahasa asli hanya agar orang-orang percaya memiliki firman Tuhan di tangan mereka yang 83

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI praktis, agar mereka dapat mempelajarinya dan memberitakannya. Mereka tidak memikirkan masalah hak cipta dan lain sebagainya. Hasil karya mereka menyebabkan banyak orang melihat terang Tuhan dan orang-orang itu diselamatkan. Masyarakat Eropa berubah total setelah reformasi dan tersedianya Alkitab dalam cetakan telah memungkinkan mereka membaca dan mempelajarinya. Tingkat moral masyarakat menjadi semakin tinggi demikian juga dengan tingkat kepatuhan mereka terhadap hukum. Setiap kali orang menyebut firman Tuhan, tentu yang dimaksud adalah TR atau terjemahannya pada masing-masing bahasa. Namun setelah Westcott dan Hort menerbitkan edisi mereka, kebingungan mulai melanda, pertama-tama di kalangan intelektual karena mereka terpaksa harus memilih teks mana yang harus mereka jadikan patokan, dan akhirnya juga melanda seluruh kekristenan. Di Indonesia hal ini tidak terasa karena kita hanya memiliki satu versi Alkitab yaitu terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Tetapi bagi masyarakat yang berbahasa Inggris, dengan tersedianya berbagai versi Alkitab, maka agak kerepotan juga. Pukulan yang paling menyakitkan ialah tertawaan dari pihak luar, misalnya pihak Islam, yang mengatakan bahwa Injil asli orang Kristen sudah tidak ada, yang ada sekarang adalah yang palsu. Adanya kesalahan pada teks Westcott dan Hort biasanya mereka jadikan bukti untuk statemen mereka. Mereka dapat mengatakan, ”lihat, nama silsilah saja salah catat, tidak salah toh kalau itu adalah yang palsu?” Kehadiran CT telah menyebabkan perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Iblis mencatat sukses karena ia berhasil menggoncang dasar iman orang Kristen dan meletakkan batu sandungan terhadap sebagian orang yang belum percaya. Sebagian orang yang tidak memahami masalah ini sempat tersandung karena mereka dipaksa untuk mempertanyakan aspek human error dari teks bahasa asli yang ada pada saat ini. Tentu karena mereka tidak diberi informasi bahwa usaha pengeditan yang teliti telah dilakukan oleh Erasmus, Stephanus, Beza dengan membanding-bandingkan naskah demi naskah hingga akhirnya tidak ditemukan lagi kesalahan dan orang-orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus pun secara universal telah menerimanya. Teks Yang Manakah Yang Adalah Otoritas Final? Pada saat Alkitab terjemahan tidak jelas terhadap suatu masalah atau terdapat perbedaan antara satu terjemahan dengan terjemahan yang lain, kemanakah kita akan mencari otoritas final untuk menjelaskannya? Mau atau tidak mau, Alkitab bahasa asli adalah otoritas final untuk menyelesaikan masalah baik yang praktis maupun yang bersifat doktrinal. Jika dunia kekristenan hanya memiliki satu versi Alkitab bahasa asli seperti keadaan abad 16, 17, dan 18, maka dengan gampang dan dengan kebulatan hati semua orang Kristen akan mengacu kepada Alkitab bahasa asli yang hanya satu itu. Kini setidaknya tersedia dua Alkitab bahasa asli yang didalamnya terdapat + 5604 perbedaan, maka dengan

84

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI terpaksa setiap orang Kristen harus menetapkan versi manakah yang akan diakuinya sebagai Alkitab bahasa asli yang benar, atau otoritas yang final (The Final Authority). Telah diuraikan di atas bahwa teks yang diakui, Received Text atau Textum Receptum (TR) yang diedit pertama kali oleh Erasmus dan diperlengkapi oleh Stephanus dan Beza adalah yang telah diperiksa dan ternyata tidak ditemukan kesalahan serta telah membawa berkat bagi penduduk dunia lebih dari 3 abad. Sedangkan Critical Text (CT) yang diedit oleh Westcott dan Hort serta diedit ulang oleh komite yang dipimpin oleh Nestle dan Aland ternyata terdapat kesalahan yang sangat konyol, yaitu Asa ditulis dengan Asaf. Masih ada banyak kesalahan lain lagi yang mereka akui, namun pada umumnya kesalahan itu mereka lemparkan kepada sang penulis untuk membangun asumsi bahwa penulis Alkitab tidak diilhami, atau bahwa Alkitab itu bukan buku istimewa melainkan sama seperti catatan sejarah lain. Untuk membangun doktrin yang benar kita membutuhkan dasar yang benar. Doktrin alkitabiah adalah doktrin yang didasarkan hanya pada Alkitab saja. Lalu kalau diperhadapkan dua versi naskah PB Alkitab bahasa asli, yang manakah yang anda akan pilih? Kini banyak teolog telah kemasukan angin Liberalisme, demikian juga sekolahsekolah teologia. Masalah Alkitab bahasa asli bisa menjadi salah satu faktor untuk mengenal aliran sebuah sekolah teologia. Rata-rata sekolah teologia aliran Liberal lebih senang memakai Critical Text (CT) karena ketika dosen di sekolah tersebut belajar ke luar negeri, ia sudah terlanjur masuk ke sekolah liberal dan yang memakai CT. Namun sekolah teologia aliran Fundamental tetap bertahan pada Received Text atau Textum Receptum yang tidak ada kesalahan dan telah mendatangkan banyak manfaat bagi umat manusia. Anda di pihak mana? Sumber: Artikel 1-3 Seluruhnya ditulis dari Bab 8 buku DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH, Pdt. Suhento Liauw, DRE, D.Th, GBIA GRAPHE, cetakan 2, 2001, Jakarta, halaman 109-132 Tambahan dari Saya: Mulai Oktober tahun 2007 sudah tercetak Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) terbitan Yayasan Lentera Bangsa (www.yalensa.org), yang bersumber pada naskah MT (naskah sumber berbahasa Ibrani untuk PL) dan TR (naskah sumber berbahasa Yunani untuk PB) serta The Interlinear Bible (Jay P. Green).

2. Pendeta/Penatua/Penilik Jemaat/Gembala Wanita Diaken/Majelis Wanita adalah Tidak Alkitabiah

dan

85

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

21.Wanita berkhotbah di Kebaktian Umum/Ibadah Raya/Pertemuan Jemaat yang dihadiri Jemaat Dewasa (keluarga/yang sudah menikah) adalah Tidak Alkitabiah KEPEMIMPINAN ALKITABIAH dalam Gereja dan Keluarga
Alkitab dengan sangat jelas menyatakan bahwa pria adalah pemimpin di dalam rumah tangga dan gereja lokal sedangkan peran wanita adalah tunduk pada kepemimpinan pria. Tetapi sekarang penentangan terhadap prinsip Allah ini sudah begitu meluas dengan banyaknya wanita yang ditahbiskan dalam posisi kepemimpinan di gereja. Fakta pemutarbalikan prinsip Allah adalah bukti penyesatan di zaman ini. Pria dan wanita menolak kebenaran Alkitab dan menjadi bingung dengan prinsip-prinsip dasar Alkitab. Banyak pria yang mencoba menjadi seperti wanita dalam hal berpakaian dan bertingkah laku dan banyak wanita yang cenderung ingin menjadi pria; berpakaian seperti pria, melakukan pekerjaan pria, melakukan olahraga pria, menjadi tentara, wanita ingin mendapat gaji lebih untuk pekerjaan yang sama dan menjadi pemimpin di gereja, rumah tangga atau negara. Sedihnya gereja selalu dipengaruhi oleh dunia. Kesalahan yang terjadi di dunia diulangi di gereja dan kita mendapati wanita menjadi pemimpin di banyak gereja atau kelompok Kristen. Alkitab sangat jelas mengenai hal ini dan tidak ada polemik untuk hal ini. Masalahnya adalah gereja terlalu banyak mencari sumber lain di luar Alkitab. Allah mengasihi baik pria maupun wanita. Wanita sangat penting bagi rumah tangga, gereja dan masyarakat. Di dalam Kristus Yesus, wanita mempunyai posisi sama dan menerima berkat yang sama seperti yang dialami pria. Tetapi tidak berarti tidak ada perbedaan peran dan otoritas antara pria dan wanita. Kebenarannya adalah wanita dan pria itu sangat berbeda. PB menulis bahwa pria adalah pemimpin di rumah tangga dan gereja. Wanita tidak dirancang Allah untuk memerintah lembaga-lembaga ini. Nabi Yesaya memperingatkan Israel ketika ia berkata bahwa wanita memerintah atas mereka (Yesaya 3:12). Menurut Alkitab, di gereja, tidak ada wanita yang boleh menjadi gembala atau diaken atau posisi kepemimpinan lain di atas pria. Siapa yang mengatakan ini? Allah. "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda,

86

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa." (I Tim 2:11-14) "Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan" (I Kor 14:34-37) Bagaimana mungkin wanita boleh menjadi gembala jika ia dilarang untuk mengajar atau memiliki otoritas atas pria? Wanita boleh menjadi gembala hanya jika mereka secara terang-terangan menentang pengajaran Alkitab. Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mentahbiskan rasul wanita. Semua rasul Yesus adalah pria. Standar untuk gembala diterapkan dengan ketat pada pria. Hanya pria yang dapat menjadi "suami dari satu istri" dan "memerintah rumah tangganya dengan baik" (I Tim 3:2,4. Titus 1:6) Apakah Pengajaran Paulus Berlaku Untuk Semua Gereja Di Segala Abad? Sebagian orang berkata bahwa pengajaran Paulus hanya ditujukan kepada orang Kristen di abad pertama atau hanya kepada situasi khusus di gereja Korintus. Alasan ini tidak benar: 1. Paulus berkata bahwa pengajaran dalam I Korintus 14 adalah perintah Tuhan (ayat 37). Semua orang Kristen dan semua gereja harus taat pada perintah ini. 2. Paulus berkata bahwa pengajaran dalam I Korintus 14 adalah tes kerohanian. Paulus berkata seharusnya mereka yang sungguh-sungguh rohani harus mengakui bahwa pengajaran ini adalah perintah Tuhan. "If any man think himself to be a prophet, or spiritual, let him acknowledge that the things that I write unto you are the commandments of the Lord" (1 Cor. 14:37). Mereka yang menolak pengajaran I Korintus 14 mengenai peran wanita dalam gereja membuktikan diri mereka belum rohani 3. Dalam I Timotius, Paulus memberikan petunjuk yang sama mengenai wanita dan dalam surat ini dikatakan, ditulis untuk memberikan aturan yang baik bagi gereja. "Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai

87

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran." (I Tim 3:15) 4. Dalam memberi petunjuk mengenai peran wanita dalam gereja, Roh Kudus mengacu pada urutan penciptaan-Adam yang pertama kemudian Hawa. 5. Paulus mengacu pada peristiwa kejatuhan manusia (I Tim 2:14) 6. Paulus mengacu pada sifat alami manusia (I Tim 2:14). Wanita dirancang untuk peran yang berbeda dengan pria dalam kehidupan yaitu sebagai ibu dan istri. Emosi, aspek psikologis dan rasio begitu dekat dengan wanita tetapi wanita tidak dirancang untuk menjadi pemimpin. Di taman Eden Setan menipu wanita. Tetapi tidak dengan Adam. Adam berdosa tetapi dia tidak tertipu. Hawa mengijinkan dirinya dalam posisi membuat keputusan yang seharusnya tidak ia lakukan. 7. Paulus mengatakan bahwa prinsip ini harus dipelihara sampai kedatangan Kristus yang kedua kali. Surat Paulus kepada jemaat Korintus yang berbicara mengenai wanita harus tunduk dibawah otoritas pria ditujukan untuk semua orang Kristen. (1 Kor. 1:2). BUKANKAH ALLAH MEMAKAI WANITA UNTUK MEMIMPIN PRIA DALAM PL? Mengapa Allah memakai Debora sebagai Hakim di Israel (Hakim 4:4-5)? Jawabannya mudah. Kehendak Allah yang sempurna adalah pria sebagai pemimpin. Hal yang sangat jelas. Tidak boleh disalahtafsirkan. Tetapi ketika pria tidak mengambil tanggungjawab mereka maka Allah memakai wanita. Pria-pria di zaman Deborah begitu lemah dan pengecut. Faktanya adalah Barak, panglima perang Israel menolak pergi berperang kecuali Deborah pergi bersamanya (Hak 4:8) Deborah secara jelas menyatakan bahwa ini tidak benar atau tidak lumrah dan ia memberitahu Barak bahwa Barak tidak akan mendapat kehormatan (Hakim 4:9). Dalam masa itu Allah tidak mendapati seorang pria yang melakukan kehendakNya maka Ia memakai wanita seperti Deborah yang bersedia maju ketika para pria menjadi lemah. Ini sering terjadi baik dalam sejarah gereja maupun di dunia sekuler. Bagaimana dengan anak dara Filipus? Mereka dikenal sebagai prophetesses (Kis 21:8-9). Bukankah ini juga contoh wanita dapat berkhotbah kepada pria dalam usaha untuk melepaskan karunia bernubuat? Fakta bahwa Allah memberikan karunia bernubuat kepada wanita tidak berarti mereka bebas untuk mengambil otoritas atas pria di dalam 88

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI gereja. Anak dara Filipus bernubuat kepada para wanita. Ketika Allah ingin berbicara kepada Paulus, Allah memakai pria untuk melakukannya (Kis 21:8-11). Allah memberikan karuniaNya dengan melimpah kepada wanita tetapi itu harus dipakai dalam area yang tepat. Tidak tercatat dalam Alkitab mereka bernubuat dalam pertemuan jemaat. Pelayanan wanita difokuskan pada wanita dan anak-anak ( I Tim 2:15; II Tim 1:5; 3:15; Titus 2:3-5). Oleh karena tidak ada rasul wanita maka standard ilahi juga menetapkan gembala hanya ditetapkan untuk pria (I Tim 3:2-4; Titus 1:5-9). 1 Timotius 3:1-7 Syarat-syarat bagi Penilik Jemaat/Penatua/Gembala/Pendeta/Pastor 3:1 Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3:3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, 3:4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. 3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. Alkitab KJV

89

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 3:1 This is a true saying, If a man desire the office of a bishop, he desireth a good work. 3:2 A bishop then must be blameless, the husband of one wife, vigilant, sober, of good behaviour, given to hospitality, apt to teach; 3:3 Not given to wine, no striker, not greedy of filthy lucre; but patient, not a brawler, not covetous; 3:4 One that ruleth well his own house, having his children in subjection with all gravity; 3:5 (For if a man know not how to rule his own house, how shall he take care of the church of God?) 3:6 Not a novice, lest being lifted up with pride he fall into the condemnation of the devil. 3:7 Moreover he must have a good report of them which are without; lest he fall into reproach and the snare of the devil. Titus 1:6-9 1:6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. 1:7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 1:8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 1:9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.

90

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Jelas bahwa jabatan Penilik Jemaat/Penatua/Gembala/Pendeta/Pastor harus Pria yang sudah berkeluarga (sudah menikah), dan sangat tidak boleh wanita. Perhatikan ayat 2, 4, ada syarat SUAMI dari SATU ISTRI, dan KEPALA KELUARGA yang baik. Jadi Pendeta Wanita sangat tidak Alkitabiah. Kata pendeta=penilik jemaat=gembala=penatua=pastor adalah sama saja. Kata "pendeta" dalam bahasa Indonesia diadopsi dan muncul karena Orang Kristen Protestan ingin membedakan dengan PASTOR di Katolik. 1 Timotius 3:8-13 Syarat-syarat bagi Diaken/Majelis 3:8 Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, 3:9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. 3:10 Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. 3:11 Demikian pula isteri-isteri [dari para Diaken—ditambahkan Penulis-KJV] hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. 3:12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. 3:13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

3:8 Likewise must the deacons be grave, not doubletongued, not given to much wine, not greedy of filthy lucre; 3:9 Holding the mystery of the faith in a pure conscience.

91

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 3:10 And let these also first be proved; then let them use the office of a deacon, being found blameless. 3:11 Even so must their wives be grave, not slanderers, sober, faithful in all things. 3:12 Let the deacons be the husbands of one wife, ruling their children and their own houses well. 3:13 For they that have used the office of a deacon well purchase to themselves a good degree, and great boldness in the faith which is in Christ Jesus. Ayat 12 sangat menekankan DIAKEN HARUSLAH SUAMI DARI SATU ISTRI, dan perhatikan ayat 11 di KJV kata "THEIR WIVES" yaitu istri-istri dari para Diaken. Jadi kiranya SANGAT JELAS, dalam Alkitab hanya PRIA yang sudah Beristri/berkeluarga/yang sudah menikah yang boleh menjabat Diaken/Majelis dari suatu Jemaat/Gereja. Wanita tidak diperkenankan. Jadi Para Suami (Pria yang sudah menikah), jika sampai di gerejamu ada Pendeta Wanita dan Diaken Wanita, satu hal yang SANGAT PERLU DISERUKAN "Dimana engkau Para Pria berada?" seperti kata Allah dalam Kejadian 3:9, "Dimanakah engkau (ADAMPria)?" Para wanita tidak perlu berkecil hati dan merasa tidak adil, ini PERINTAH ALLAH dan Berlaku sepanjang Masa disepanjang Abad. Kita perlu ketaatan dalam hal ini. Wanita ada porsinya sendiri dalam pelayanan di Gereja dan Keluarga. Ingat Alkitab sangat ketat mengatur peran Pria dan wanita dalam Keluarga dan Gereja. Sedangkan peran Wanita di luar gereja dan Keluarga, Alkitab memberi kebebasan dan persamaan bagi Para Wanita untuk jadi Pemimpin/Bos/Manager/Direktur di Perusahaan, Parlemen/DPR/MPR, Negara, Kepresidenan, Dunia Kerja, dll. Ini SANGAT ALKITABIAH. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. 1 Timotius 2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.

92

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Wanita Sangat Tidak boleh Berkhotbah di Pertemuan Jemaat (Dewasa)/Ibadah Raya/Kebaktian Umum, atau apapun nama/istilahnya di gereja anda. Suatu revolusi yang total sedang terjadi dalam denominasi-denominasi dan gereja-gereja di seluruh masyarakat Barat. Sebagai bagian yang lebih besar dari pergolakan sosial itu yang ditimbulkan oleh gerakan pejuang hak-hak wanita, revolusi tersebut menyebabkan tidak berlakunya pembagian peranan antara pria-wanita yang tradisional di dalam rumah tangga maupun gereja. Revolusi itu telah berhasil dalam menumbangkan kepemimpinan yang dikuasai oleh kaum pria di ribuan gereja. Revolusi itu telah berhasil dalam menumbangkan kepemimpinan yang dikuasai oleh kaum pria di ribuan gereja. Revolusi tersebut telah menimbulkan banyaknya bahan bacaan baru dan membangkitkan perdebatan yang amat sengit. Revolusi ini bahkan telah menimbulkan terjemahan Alkitab yang baru dan tidak membedakan jenis kelamin. Sebagai akibatnya, pengajaran kristen yang tradisional mengenai kepemimpinan pria dan penundukan (subordinasi) wanita mengahadapi tantangan terbesar semenjak kekristenan muncul 2000 tahun yang lalu. A. Duane Litfin mengungkapkan pandangannya tentang arti revolusi ini sebagai berikut: Fase atau era gerakan pejuang hak-hak wanita yang muncul baru-baru ini, yang munculnya biasnaya dinggap sama dengan karya Betty Friedan berjudul The Feminine Mystique pada tahun 1964, merupakan gelombang pasang yang terjadi sekarang. Gerakan ini telah melampaui batas kekuasaan kaum pria yang sudah ada selama lebih dari 2 abad. Namun, gelombang yang terjadi sekarang itu lebih luas dan lebih kuat pengaruhnya daripada pelopornya yang mana saja. Dan gelombang itu tampaknya menjadi bagian dari kecenderungan di seluruh dunia yang mungkin kini tak dapat ditawar-tawar lagi. Pandangan Egalitarian membuktikan bahwa tak ada alasan yang Alkitabiah bagi kaum wanita untuk tidak sama-sama mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan di gereja, atau tidak berperan serta dalam suatu hubungan pernikahan yang didasarkan atas prinsip saling menundukkan diri dan saling mengasihi. Penekanan pandangan Egalitarian adalah saling menundukkan diri—bukan penundukan diri dari satu pihak kepada pihak yang lain, melainkan masing-masing pihak menundukkan diri satu sama lain—baik dalam gereja maupun dalam rumah tangga. Sebaliknya, pandangan tradisional tentang hubungan peranan pria-wanita tetap berpendapat bahwa ada alasan yang kuat, memaksakan, dan Alkitabiah untuk menguatkan kekepalaan/kepemimpinan pria dan penundukan kaum wanita di dalam gereja maupun dalam rumah tangga. Meskipun pandangan ini mengakui penundukan diri satu sama lain sebagai suatu prinsip yang Alkitabiah, namun penundukan diri satu sama lain tidak mengesampingkan tatanan tentang otoritas dan penundukan diri yang terdapat di bagian-bagian lainnya. Tidak sama dengan

93

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI pandangan egalitarian, pandangan tradisional tidak membuat berlawanan bagian-bagian yang membicarakan mengenai persamaan hak maupun penundukan kaum wanita. KALAU BEGITU APAKAH WANITA TIDAK BOLEH MELAYANI? Melarang wanita masuk dalam pelayanan sama artinya mengatakan bahwa wanita tidak berharga dalam pelayanan Yesus Kristus. Paulus mempunyai rekan sekerja wanita (Fil 4:3). Febe adalah contoh (Roma 16:1-2). Priskila disebutkan bersama suaminya Akwila (Roma 16:3). Mereka adalah penanam gereja (Roma 16:5). Dalam Luk 2:36, Mengapa Hana disebut nabi, tidak ada yang tahu. Alasan yang mungkin adalah Hana adalah istri seorang nabi atau alasan lain karena ia menjadi pemuji di bait Allah (I Taw 25:1,2,4; I Sam 10:5) atau karena ia sendiri menubuatkan kejadian masa depan. Kata nabiah dalam PB hanya ada di sini dan Wahyu 2:20. Dalam bahasa Yunani kuno kata ini berarti wanita yang menafsirkan tulisan firman Tuhan. Hai Para pengajar Alkitab, padamu dituntut tanggung jawab yang sangat besar karena engkau mengajarkan Firman kepada Jemaat. Jika salah mengajar dan bahkan menyesatkan jemaat, upahmu kecil di Surga meski engkau masuk surga. Saran & ajakan bagi Gereja yang melanggar Prinsip Kepemimpinan Alkitabiah ini, segeralah beritahukan gembala/pendeta anda. Dan berubahlah. Jangan sampai berkat Tuhan bagi jemaat terhalang karena pelanggaran-pelanggaran aturan Jabatan dalam Gereja. Sangat tidak mudah merubah kesalahan-kesalahan praktek bergereja, namun perlu dimulai dari hal-hal kecil dan mendasar (terutama yang menyangkut pengajaran/doktrinal). Perhatikan 1 Timotius 4 sambungan dari pasal 2 dan 3, Nasehat Paulus kepada Pemuda Timotius Tugas Timotius dalam menghadapi pengajar sesat 4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 94

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. 4:6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini. 4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. 4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya. 4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. 4:11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. 4:12 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. 4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

95

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI 4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

22.Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat pada hukum Sabat, karena itu Gereja Advent yg mempertahankan hari Sabat, makanan dan minuman tertentu, Hukum Sunat adalah Tidak Alkitabiah. Pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yg tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di PL menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan Kebenaran dalam PB atau Ibadah Hakikat.

Gereja Advent dan Sabat
Bahan dasar berasal dari Avoiding the Snare of Seventh Day Adventism, DR. David Cloud (www.wayoflife.org) Salah satu hal yang membedakan gerakan Advent dari kekristenan lainnya adalah pengajaran mereka bahwa orang Kristen harus memelihara hari Sabtu sebagai hari Sabat, sama seperti di zaman Perjanjian Lama. Hal ini perlu dinilai secara Alkitabiah, oleh karena itu, marilah kita menyelidiki apa yang diajarkan oleh gereja Advent tentang hari Sabat, lalu kita bandingkan dengan ayat-ayat Firman Tuhan. Berikut ini adalah poin demi poin pengajaran mereka yang diambil dari publikasi mereka sendiri. ADVENT MENGAJARKAN: Bahwa hari Sabat mengikat bagi semua manusia sejak penciptaan hingga selamalamanya. Advent mengatakan bahwa hari Sabat adalah bagi manusia secara umum dan diberikan pertama kali kepada Adam di taman Eden. Oleh karena itu, memelihara hari Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah, sang Pencipta. “Allah menginstitusikan Sabat di Eden; dan selama Dia adalah Pencipta dan itu alasan kita menyembah Dia, maka

96

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI demikian juga Sabat akan terus berlanjut sebagai tanda dan pengingat.... Memelihara Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 386). “Sabat dipelihara oleh Adam dalam kondisinya yang tidak berdosa di Eden yang kudus; [juga dipelihara] oleh Adam yang sudah jatuh tetapi telah bertobat ketika ia diusir dari tempatnya yang senang. Ia [Sabat] dipelihara oleh semua bapa leluhur, mulai dari Habel sampai kepada Nuh yang benar, ke Abraham, ke Yakub.” (Ibid., hal. 398). ALKITAB MENGAJARKAN: 1. Walaupun Sabat disinggung dalam Kejadian 2:2-3, peraturan Sabat tidak diberikan kepada manusia hingga diperintahkan kepada Israel di padang gurun (Neh. 9:13-14). 2. Sabat diberikan bukan kepada manusia secara umum, tetapi kepada Israel saja sebagai tanda perjanjian yang khusus antara dia dengan Allah (Kel. 31:12-17). 3. Ellen White menambahi informasi Alkitab ketika dia mengajarkan bahwa Adam dan para bapa leluhur memelihara Sabat. Alkitab sama sekali tidak menyinggung masalah ini. Bahkan, hal ini tidak mungkin benar. Jika Sabat telah dipelihara oleh manusia secara umum sejak penciptaan, maka tidak mungkin hari Sabat diberikan kepada Israel sebagai suatu tanda khusus. ADVENT MENGAJARKAN: Hari Sabat tetap mengikat bagi orang percaya Perjanjian Baru. “...dari sini terlihat jelas bahwa semua dari Sepuluh Hukum masih mengikat dalam dispensasi Kristen, dan bahwa Kristus tidak berpikiran mengubahnya. Salah satu perintah ini adalah pemeliharaan hari ketujuh sebagai Sabat...” (Bible Footlights, hal. 37). ALKITAB MENGAJARKAN: 1. Perjanjian Baru adalah satu-satunya pembimbing tanpa salah mengenai bagian mana dari Hukum Musa yang masih mengikat bagi orang percaya zaman gereja. Perjanjian Baru dengan jelas mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat kepada hukum Sabat! “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16-17). 2. Menurut surat-surat Perjanjian Baru, masalah Sabat sama sekali tidak relevan bagi gereja. Dalam semua instruksi yang Allah berikan kepada jemaat-jemaat dalam suratsurat, hanya ada satu bagian yang menyinggung tentang Sabat – yaitu Kolose 2:16 – dan satu-satunya bagian tersebut hanyalah untuk menunjukkan pada kita bahwa Sabat tidak mengikat orang percaya Perjanjian Baru. Aneh sekali bahwa Surat-Surat PB hanya menyinggung “Sabat” satu kali, dan itupun menunjukkan bahwa Sabat tidak berlaku lagi, tetapi Advent begitu menekankan pemeliharaan hari Sabat. Jelas bahwa pemahaman Advent berbeda dengan para Rasul. 3. Sabat adalah tipologi atau simbolik akan hari keselamatan. “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:9-10). Dalam Ibrani 4 ini, Sabat dipresentasikan

97

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI sebagai simbolik hari keselamatan. Sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaan PenciptaanNya, orang percaya hari ini akan beristirahat dalam pekerjaaan Keselamatan Yesus Kristus yang sempurna. Agar masuk ke peristirahatan Allah, seseorang harus dengan tenang menerima pekerjaan Allah dan berhenti dari usahanya sendiri. Keselamatan adalah anugerah Allah. ADVENT MENGAJARKAN: Hukum Sabat telah diubah, dan tuntutan yang sangat menekan dalam sistem Musa tidak berlaku lagi. Namun orang Advent tidak memelihara Sabat sama seperti tertera dalam Perjanjian Lama, tetapi mereka mengklaim bahwa itu tidak perlu karena persyaratan tentang Sabat “telah diubah.” Yang dijadikan bukti akan hal ini adalah salah satu penglihatan Ellen White. “Dalam tempat yang mahakudus, dia [Ellen White] melihat tabut yang berisikan Hukum itu, dan sangat terkejut ketika memperhatikan bahwa ‘yang keempat, perintah tentang Sabat, bersinar melebihi semuanya; karena Sabat harus dikuduskan untuk penghormatan bagi nama Allah yang kudus...’ Juga ditunjukkan kepadanya perubahan Sabat, pentingnya pemeliharaan Sabat...” (Messenger to the Remnant, hal. 34). ALKITAB MENGAJARKAN: 1. Hukum Sabat sangatlah ketat dan keras. (1) Tidak boleh ada pekerjaan, Kel. 20:10, 31:14-15; (2) tidak boleh mengangkut barang, Yer. 17:21; (3) tidak boleh menyalakan api, Kel. 35:3. Peraturan ini hanya dapat diikuti di daerah yang beriklim lumayan hangat. Hukum tentang Sabat sedemikian kerasnya sehingga Allah memerintahkan agar seseorang yang mengumpulkan kayu untuk api dilontari batu karena ia melanggar hukum Sabat (Bil. 15:32-36). Yakobus 2:10 memberitahu kita bahwa Hukum tidak bisa dipisahpisahkan. Jika orang Advent hendak memelihara Sabatnya Hukum Musa, maka mereka harus memeliharanya persis seperti yang Allah perintahkan dalam Hukum Taurat. Pada kenyataannya, Gereja Advent tidak memelihara Sabat seperti yang tertera di Perjanjian Lama. Advent kehilangan suatu kebenaran rohani, di mana perintah-perintah yang berat dalam PL justru seharusnya membuat kita sadar akan kelemahan kita, dan memacu kita kepada seorang Juruselamat, Yesus Kristus. 2. Sama sekali tidak ada otoritas Alkitab bagi Advent untuk mengubah peraturan Sabat. Tuhan Yesus tidak mengubah Hukum. Ia mencerca berbagai tradisi Farisi yang telah ditambahkan kepada Hukum Taurat. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:17-18). 3. Ini adalah suatu contoh Advent bersandar pada salah satu “penglihatan” Ellen White, yang adalah praktek menambahkan “otoritas luar Alkitab,” padahal proses pewahyuan sudah Tuhan tutup sejak Alkitab selesai ditulis. ADVENT MENGAJARKAN:

98

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Karena Yesus dan para Rasul memelihara Sabat, orang Kristen juga harus melakukan demikian. “Teladan Yesus adalah jelas dan konsisten. KebiasaanNya adalah kebiasaan memelihara Sabat... Tetapi, walaupun demikian, kita menemukan situasi yang aneh hari ini karena walaupun ada Kristus sebagai teladan kita, dan Alkitab sebagai pembimbing kita, tetapi kita menemukan dua hari Sabat dipelihara oleh orang Kristen...” (George Vandeman, Planet in Rebellion, hal. 277). ALKITAB MENGAJARKAN: 1. Yesus memelihara Sabat karena Dia lahir di bawah Hukum untuk memenuhi tuntutan Hukum. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan hari takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5). Tuhan Yesus dengan rela menjadikan diriNya sendiri hamba, lahir di bawah Hukum Musa, agar Ia dapat menyelamatkan orang berdosa dari kutuk dan belenggu Hukum menuju kebebasan kekal seorang anak. Yesus hidup di bawah Hukum Taurat agar orang percaya tidak perlu hidup di bawah Hukum Taurat. Hukum Taurat berhenti sampai saat Yohanes tampil (Mat. 11:13). 2. Tidak dapat dibuktikan bahwa Rasul Paulus dan gereja-gereja abad pertama memelihara Sabat. Advent mengajarkan hal ini, tetapi ini hanyalah tebakan mereka. Benar bahwa Paulus sering hadir di Sinagog pada hari Sabat untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi yang berkumpul di sana. Tetapi ini tidak berarti Paulus memelihara Sabat. Paulus sendiri telah memberikan pendapatnya tentang Sabat dalam Kolose 2:16, bahwa Sabat tidak mengikat bagi orang percaya PB. Paulus mengunjungi sinagog pada hari Sabat karena dia ingin menginjili orang Yahudi yang berkumpul di sana. Sama seperti jika ada seorang yang masuk ke Mesjid hari Jumat untuk menginjil, tidak berarti dia menguduskan hari Jumat. ADVENT MENGAJARKAN: Gereja Roma mengubah hari kebaktian, dari Sabat menjadi Minggu pada abad keempat. Advent bersikukuh bahwa hukum Sabat tetap dipelihara oleh orang-orang Kristen hingga Konstantine, Kaisar Roma, mengharuskan semua orang untuk merayakan hari Minggu. Para pemimpin Advent melihat Konstantin sebagai tipologi anti-Kristus yang akan datang, yang menurut mereka telah membuat penyembahan hari Minggu suatu keharusan bagi semua orang. “Konstantin adalah Kaisar Roma. Dia adalah penyembah matahari, tetapi juga seorang politikus ulung. Dia ingin menyenangkan semua orang. Ketika masih penyembah berhala, ia memerintahkan bahwa semua institusi negara harus tutup pada hari pertama – “hari matahari.” Gereja, yang telah berdiri di Roma, dengan cepat melihat keuntungannya jika berkompromi dengan penyembahan berhala...jadi dalam beberapa tahun saja, hari Minggu telah mendapatkan dukungan, gereja Roma dalam Konsili Laodikia menyingkirkan perintah Allah yang jelas dan mendekritkan perubahan dari hari ketujuh ke hari pertama suatu minggu” (Planet in Rebellion, hal. 290). ALKITAB MENGAJARKAN: Ada banyak bukti dalam Alkitab maupun sumber lain bahwa orang Kristen awal, sejak zaman Rasul-rasul, bertemu dan berbakti pada pertama minggu, bukan pada hari Sabat.

99

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

Bukti Alkitab tentang hari pertama: 1. Yesus Kristus bangkit pada hari pertama (Mar. 16:9) 2. Yesus menampakkan diri kepada murid-murid pada hari pertama (Mar. 16:9; Mat. 28:8-10, Luk. 24:34; Mar. 16:12-13; Yoh. 20:19-23). 3. Pentakosta terjadi pada hari Minggu, hari pertama (Pentakosta adalah hari ke-50 sejak Sabat persembahan unjukan, lihat Im. 23:15-16, jadi Pentakosta selalu hari minggu). 4. Orang-orang Kristen berkumpul dan bertemu untuk berbakti pada hari pertama (Kis. 20:6-7; 1 Kor. 16:2). Hari Minggu disebut oleh orang Kristen sebagai “hari Tuhan” (Wah. 1:10). Sejak itu, sebagian besar orang Kristen selalu berbakti pada hari Tuhan (Minggu), hari pertama. Mereka melakukan ini untuk menghormati kebangkitan Juruselamat mereka. Kristus berada dalam kubur pada hari Sabat, dan bangkit pada hari pertama. Sabat menggambarkan hari terakhir ciptaan yang lama. Minggu adalah hari pertama ciptaan baru. Bukti Sejarah bahwa Orang Kristen Mula-Mula Berbakti Pada Hari Minggu: Epistle of Barnabas (sekitar 100 AD): “Jadi kita juga memelihara hari kedelapan dengan sukacita, hari yang sama dengan kebangkitan Yesus dari orang mati. Epistle of Ignatius (sekitar 107 AD): “Jangan tertipu dengan doktrin-doktrin aneh, ataupun dengan dongeng tua, yang tidak bermanfaat. Sebab jika kita masih hidup menurut hukum Yahudi, kita mengakui bahwa kita belum menerima kasih karunia.... Oleh karena itu, jika mereka yang dibesarkan di bawah peraturan lama itu, lalu mendapatkan pengharapan baru, tidak lagi memelihara Sabat, tetapi memelihara hari Tuhan, pada hari mana kehidupan kita bangkit oleh Dia dan kematianNya.” Justin Martyr (sekitar 140 AD): “Dan pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di pedesaan berkumpul pada satu tempat, dan tulisan-tulisan para Rasul atau para Nabi dibacakan terlebih dahulu...Tetapi hari Minggu adalah hari di mana kita mengadakan pertemuan umum, karena itu adalah hari pertama Allah....menjadikan dunia; dan Yesus Kristus Juruselamat kita bangkit dari kematian pada hari yang sama.” Berdesanes, Edessa (180 AD): “Pada satu hari, yang pertama dari satu minggu, kami berkumpul bersama.” Tertullian (200 AD): “ Kami mengkhusyukkan hari setelah Sabtu, berlawanan dengan mereka semua yang menyebut hari ini sebagai Sabat mereka.” Irenaeus (155-202 AD): “Misteri kebangkitan Tuhan tidak boleh dirayakan pada hari lain selain Hari Tuhan, dan hal ini saja sudah mengharuskan kita merayakan Paskah pada hari itu.” Jelas sekali bahwa orang-orang Kristen telah berbakti pada hari Minggu jauh sebelum Konstantin atau abad keempat. ADVENT MENGAJARKAN:

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI Gereja telah mengubah Sabat menjadi Minggu, tanpa otoritas Alkitab. “Orang-orang Kristen dari generasi-generasi yang lalu memelihara hari Minggu, sambil mengira bahwa dengan demikian mereka memelihara Sabat dalam Alkitab....” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 394). ALKITAB MENGAJARKAN: Hari Minggu bukanlah Sabat; bahkan bukan hari suci. Orang Kristen tidaklah memelihara Sabat dengan cara kebaktian pada hari Minggu. Orang percaya Perjanjian Baru, yang telah diselamatkan dari keharusan Hukum Musa, bebas untuk memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu, sebagaimana dia inginkan. (Tentu tidak ada orang Kristen yang bebas menjauhkan diri dari pertemuan kebaktian pada hari Minggu atau hari-hari lain, tetapi setiap orang Kristen bebas untuk ‘menghormati’ atau ‘tidak menghormati’ hari-hari tertentu). Roma 14:1-13 dan Kolose 2:16 menyatakan bahwa tidak ada hari tertentu yang harus dianggap suci atau kudus oleh orang Kristen. Bahkan Rasul Paulus sempat mengkhawatirkan keselamatan orang-orang Galatia, karena mereka masih memelihara hari-hari “kudus” tertentu! “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia” (Gal. 4:10-11). “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kol. 2:16). “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Rom. 14:4-5). Sebagai kesimpulan, pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab, dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yang tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di Perjanjian Lama menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan kebenaran dalam Perjanjian Baru atau ibadah hakekat. Yang paling berbahaya dari sistem pengajaran demikian adalah pengajaran keselamatan yang menggabungkan anugerah dengan usaha manusia melakukan Hukum Taurat untuk masuk Surga. Pembaca yang budiman kiranya anda dapat memihak kepada kebenaran Alkitab.***

17.Sekali Selamat Tetap Selamat=SSTS= Once Saved always Save adalah Tidak Alkitabiah. Beriman sampai Mati/Akhir PASTI MASUK SURGA. Jaminan Keselamatan Bersifat Kondisional/Bersyarat.

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI

ARGUMENTASI TENTANG PEMELIHARAAN KESELAMATAN YANG ALKITABIAH

Oleh: Dr. Suhento Liauw
BAGIAN DUA

Lalu seseorang bertanya, "kalau begitu ada kemungkinan Pak Suhento akan menyangkal?" Jawabannya, setiap orang yang masih bebas berpikir dan bebas memutuskan sesuatu dengan pikirannya bisa saja menyangkal. Tetapi tiap-tiap orang bisa memastikan dirinya untuk tidak mau menyangkal. Saya hanya bisa memastikan diri saya untuk tidak menyangkal, tetapi tidak bisa memastikan orang lain tidak akan menyangkal, bahkan saya tidak bisa memastikan istri saya tidak akan menyangkal. Ia harus memastikan dirinya sendiri. Agar orang yang menjadi murid tidak menyangkal, Tuhan berkata bahwa orang yang akan menjadi muridnya harus memikul salibnya. Ada yang menafsir istilah memikul salibnya itu artinya menderita. Tetapi jelas sekali bahwa memikul salibnya itu bukan sekedar menderita, melainkan siap mati, karena setiap orang yang diberi salib untuk dipikul pastilah orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Jadi, seorang murid yang sudah siap mati untuk gurunya adalah seorang yang telah memastikan diri untuk tidak menyangkali Sang Guru. Tetapi seorang murid yang mencari kesenangan dan ketentraman apalagi yang tidak berani menderita, sangat mungkin akan menyangkal kalau penganiayaan datang menimpanya. Seorang murid Tuhan yang berusaha memastikan diri untuk tidak akan menyangkal adalah seorang yang memutuskan bahwa sekalipun semua uang yang ada di Bank Central di seluruh dunia diberikan kepadanya, itu tidak dapat menggodanya untuk menyangkali Juruselamatnya. Pastikan dirimu, dan kuatkan orang lain, jangan mencemooh mereka. Dalam Lukas 8:13, dalam perumpamaan penabur, Tuhan mengatakan bahwa "yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka PERCAYA sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad." Kata Yunani di balik kata murtad ialah apistantai yang berarti mundur dari iman. Tuhan mengatakan bahwa orang itu telah percaya, sekali lagi TELAH PERCAYA (pisteuousi) walaupun sebentar. Kemudian orang itu mundur dari iman ketika menghadapi pencobaan. Mudah-mudahan tidak ada yang berkata begini, Ah...Tuhan, Engkau tidak tahu, sebenarnya orang itu belum percaya, engkau sembarangan ngomong, karena menurut dosen saya kalau seseorang murtad berarti memang sejak semula ia belum percaya. Dan lagi Tuhan, sekalipun engkau berkata bahwa mereka yang telah percaya bisa murtad, saya tetap lebih percaya kepada dosen saya, dan lagi saya sudah berhutang budi, dan juga telah terlanjur ada di dalam sinode itu dan menikmati semua fasilitas sinode itu dan lagi dalam satu sinode kami tidak boleh berbeda pendapat. Ketika Paulus menulis I Tim.4:1 ia berkata, "tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI roh penyesat dan ajaran-setan-setan." Kata Yunani di balik kata murtad di sini kalau diterjemahkan secara langsung apostesontai tines tes pisteos maka berarti BERPISAH DARI IMAN sebagaimana di dalam King James Version diterjemahkan depart from the faith. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa orang tersebut sebelumnya telah memiliki iman (faith / pisteos) dan kemudian berpisah dari iman yang semula diyakininya. Sesungguhnya tugas penggembalaan itu ialah mengajar jemaat agar mereka benar-benar berakar agar ketika pencobaan datang mereka tidak mundur dari iman dan juga menguatkan jemaat agar mereka tidak menyimpang dari iman yang bisa menyebabkan mereka tidak percaya lagi atau menyangkal Juruselamat mereka. Ingat, semua dosa kita telah ditanggung Tuhan. Tetapi penanggungan itu tidak bisa diperhitungkan kepada kita jika kita menyangkaliNya atau menyimpang dari iman yang benar kepadaNya. Kelihatannya teman kita yang percaya bahwa orang yang telah diselamatkan tidak akan murtad itu karena mereka mencampuradukan dosa perbuatan dengan dosa doktrinal. Sikap mereka itu muncul sebagai reaksi terhadap pandangan yang mengajarkan bahwa kalau seorang beriman jatuh ke dalam dosa maka orang itu akan terhilang dari hadapan Tuhan. Padahal seorang beriman menjadi murtad dan binasa itu jelas bukan karena jatuh ke dalam dosa melainkan karena disesatkan oleh pengajaran lain. Pandangan bahwa seorang beriman tidak akan murtad itu salah. Mereka percaya bahwa seseorang yang telah diselamatkan masih bisa jatuh ke dalam dosa. Sedangkan murtad (tidak percaya lagi atau menyangkal) itu adalah salah satu dosa. Kalau jatuh ke dalam dosa biasa, artinya yang selain menyangkali iman, dosa itu telah ditanggung Tuhan di kayu salib. Tetapi jelas sekali penyaliban Tuhan tidak mungkin menanggung jenis dosa doktrinal (tidak mempercayaiNya lagi atau penyangkalan terhadap Dia). Itulah sebabnya dalam keadaan apapun, atau jatuh ke dalam dosa yang bagaimanapun, seorang beriman harus tetap di dalam kasih karunia Tuhan, artinya tetap percaya kepadaNya. Jangan menyangkal Tuhan atau meninggalkan Tuhan, melainkan mengaku dosa itu kepada Tuhan karena Ia setia dan adil (I Yoh.1:8-9) dan Ia akan mengampuni. Kematian Kristus itu menanggung dosa isi dunia (Ibr.2:9, I Yoh.2:2, Yoh.1:29), berarti telah menanggung semua dosa saya, baik yang dulu, yang sekarang, bahkan yang saya belum buat. Ketika saya percaya kepadaNya, maka saya DIPERHITUNGKAN telah dihukumkan di dalam Dia. Semua dosa saya telah diambil alih dan Ia memberikan kepada saya kebenaran dan kesucianNya. SEJAK SAYA DISELAMATKAN, TIDAK ADA DOSA YANG DAPAT MEMISAHKAN SAYA DARI KRISTUS KARENA SEMUA DOSA SAYA TELAH DITANGGUNGNYA. Saya tidak tahu bisa atau tidak seseorang menolak Roh Kudus, atau menyangkal Allah, yang jelas Alkitab saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya harus teguh berpegang pada Injil, kalau tidak saya akan menjadi sia-sia dalam percaya (I Kor.15:2). Dan Alkitab saya dalam Rom.11:22 juga mengatakan bahwa saya harus TETAP DALAM KEMURAHANNYA dan jika tidak SAYA PUN AKAN DIPOTONGNYA. Dan dalam II Yoh.9, saya dinasehatkan untuk tetap tinggal di dalam ajaran Kristus, kalau saya keluar maka saya tidak memiliki Allah. Yoh.15:6

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI memberitahukan saya bahwa saya harus tinggal di dalam Kristus, kalau tidak saya akan dibuang ke luar dan dibakar. JADI, JIKA DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ALLAH, MAKA KITA MELIHAT PEMELIHARAAN ALLAH. SEBALIKNYA JIKA KITA MELIHAT DARI SUDUT PANDANG MANUSIA, MAKA KITA MELIHAT TANGGUNG JAWAB MANUSIA. Ayat-ayat tersebut akan ditafsirkan lain kalau seseorang terlebih dulu memiliki sebuah obsesi yang diajarkan sejak anak-anak dan menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan obsesinya. Dulu saya pernah mempunyai konsep atau obsesi seperti Calvinis, mempercayai bahwa sekali seorang diselamatkan maka apapun yang terjadi ia pasti selamat. Setiap orang yang menyimpang dari iman saya katakan bahwa orang itu tadinya memang belum percaya. Tetapi kini saya mengerti dengan lebih baik bahwa di dalam rahasia penyelamatan Allah, Ia bertindak, namun Ia juga mau manusia turut bertanggung jawab untuk bertobat dan percaya dan kemudian bertekun di dalam iman. Ketika seseorang mau memasuki sebuah ruangan "keselamatan", sebelum membuka pintu, ia dihadapkan dengan tulisan di pintu bagian luar "bertobatlah dan percayalah." Sesudah ia bertobat dan percaya maka ia masuk ke dalam ruangan keselamatan, tetapi ia belum masuk ke dalam ruangan kekekalan. Di sebelah luar pintu ruangan kekekalan ia dihadapkan dengan tulisan "bertekun di dalam iman" atau "setia sampai mati" atau "tetap di dalam ajaran Kristus." Setelah dia bertekun hingga akhir, maka ia masuk ke dalam kekekalan. Kemudian ia menoleh untuk melihat masa lalu dan ia pasti mendapatkan bahwa Allah yang memeliharanya dan memegangnya dan memberinya kekuatan untuk bertekun di dalam iman sampai akhir sama seperti ketika ia melewati pintu ruangan keselamatan ia menoleh dan melihat bahwa ia telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan. Kita harus mengambil keputusan untuk bertobat dan percaya, itu benar, dan kita telah dipilih sebelum dunia dijadikan juga benar karena kedua-duanya ada ayat pendukungnya. Hal yang bersamaan dengan itu ialah kita harus bertekun dan setia dan tetap tinggal di dalam ajaran Tuhan, itu benar (Kis.14:22, Kol.1:23), dan kita dipegang, dipelihara, juga benar karena kedua-duanya juga ada ayat pendukungnya. Inilah yang disebut oleh Paulus rahasia iman atau misteri iman (I Kor. 4:1, Ef.3:4, 6:19, Kol.1:26, I Tim 3:9, 16). Masalah bertobat dan dipilih, bertekun dan dipegang adalah masalah satu koin dengan kedua sisinya atau satu daun pintu dengan kedua belah pihaknya. JIKA DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ALLAH, MAKA ALLAHLAH YANG MELAKUKAN SEGALANYA, DAN KALAU DILIHAT DARI SUDUT PANDANG MANUSIA, MAKA MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS SIKAP DAN PERBUATANNYA. Kalau kita tidak berhati-hati, maka kita akan jatuh ke jurang Calvin atau ke jurang Arminius. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu saya dapatkan suatu prinsip yang bekerja, yaitu otoritas Allah berjalan seiring dengan tanggung jawab manusia. Contoh yang paling awal, Allah yang mengijinkan kejatuhan Adam dan Hawa atau kesalahan Adam dan Hawa sendiri ketika mereka makan buah terlarang, mengingat ucapan Tuhan bahwa seekor burung pipit pun tidak akan jatuh tanpa seijin Bapa? Jawabnya, Allah memang

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI mengijinkan kejatuhan manusia, dan manusia juga bertanggung jawab atas kejatuhannya. Kalau kita ditanya lagi, "Yudas ditetapkan untuk menjual gurunya atau ia sendiri yang berinisiatif untuk menjual gurunya?" Jawabnya adalah, kalau dilihat dari sudut pandang Allah maka Yudas dipilih untuk menggenapkan nubuatan Zak 11:12. Tuhan tahu persis keadaan Yudas dan Tuhan tetap memilihnya (Yoh.13:11), bahkan Tuhan memberinya roti sambil berkata, "apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Tetapi di satu pihak kita juga melihat bahwa Yudas dituntut bertanggung jawab atas tindakannya sehingga Tuhan berkata bahwa lebih baik kalau ia tidak dilahirkan (Mat.26:24). Jadi kalau dilihat dari sudut pandang Allah yang maha kuasa, yang berotoritas absolut, maka Yudas seperti terperangkap dalam sebuah nubuatan yang baginya tidak ada pilihan. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang manusia yang diberi akal budi dan kebebasan untuk berpikir serta memutuskan, maka Yudas telah berpikir dan telah memutuskan sebagaimana layaknya seorang manusia yang berakal sehat dan bebas dan ia harus menanggung resiko dari keputusannya dan perbuatannya. Prinsip tanggung jawab manusia dan otoritas Allah yang berjalan seiring ternyata bukan hanya teori belaka, bahkan kita temukan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah pesawat menabrak gunung di dekat bandara Medan dan menurut kabar burung bahwa itu akibat kesalahan manusia (human error) yang memberi pengarahan dari bawah, seorang ibu bertanya kepada saya, "pak pendeta, kalau menurut pak pendeta, itu kehendak Tuhan atau kesalahan manusia dalam peristiwa kejatuhan pesawat itu?" Saya menjawab, "itu tergantung kita melihat dari mana. Kalau kita melihat dari sudut pandang Allah yang maha tahu dan maha kuasa, jika Tuhan tidak mengijinkan, maka pesawat itu tidak akan jatuh. Tetapi kalau kita lihat dari sudut pandang manusia, maka itu adalah akibat kesalahan orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan itu, dan mereka harus bertanggung jawab." Jika ada seseorang mati ditembak oleh seorang penjahat, kita tahu bahwa kematian orang tersebut adalah akibat perbuatan penjahat yang pantas dihukum, dan penjahat itu harus dicari dan dihukum. Tetapi kita juga tahu bahwa tanpa diijinkan Allah yang maha kuasa maka tidak ada satu peluru pun akan menyentuh tubuh orang tersebut. Jika seseorang percaya bahwa keselamatan (salvation) diperoleh bukan karena pemilihan saja, melainkan juga oleh pertobatan dan iman orang yang bersangkutan, artinya ada unsur tanggung jawab manusia yang berjalan seiring dengan otoritas Allah, maka ia seharusnya juga percaya bahwa pemeliharaan keselamatan yang telah diperoleh itu juga oleh unsur tanggung jawab manusia dan otoritas Allah. Doktrin Keselamatannya akan bersifat kontradiktif jika ia menolak pemilihan mutlak (unconditional election) gaya Calvinis sementara itu menerima pemeliharaan (perseverance) mutlak yang bersifat Calvinis. Namun argumentasi apapun dari pihak arminianis ia tetap harus mempertimbangkan dan menanggapi ayat-ayat berikut; Yoh.6:37, 44, 10:27-28, I Yoh.2:19 dll.. Demikian juga dengan calvinis, ia tidak boleh ngotot dengan ayat-ayat tersebut di atas melainkan juga harus mempertimbangkan dan berusaha memberi jawab atas ayat-ayat berikut dengan akal sehat dan kontekstual, yaitu; Mat.10:33, Rom.11:22, I Kor.15:2, II Tim.2:12, Ibr.6:3-8, I Yoh.5:16, Yak.5:19-20 dll.. Setelah pandangan arminius dan pandangan calvinis diselidiki dengan seksama, maka pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa

1

http://www.dedewijaya.co.cc, 31 Oktober 2008, HARI REFORMASI arminianis melihat dari sudut pandang manusia dan calvinis melihat dari sudut pandang Allah. Akhirnya, yang menjadi tanggung jawab manusia ialah bertobat dan percaya, memegang teguh kebenaran, setia sampai mati, tetap di dalam anugerah Tuhan dan lain sebagainya. Sedangkan dari pihak Allah kita diberitahukan bahwa Ia memilih kita sejak dunia belum dijadikan oleh kemahatahuanNya (foreknowledge) dan Ia juga memberi kekuatan pada kita dalam menjalani kehidupan kekristenan kita. Bahkan ia memegang kita sehingga tidak ada yang dapat merampas kita dari tanganNya. Kedua pandangan tersebut benar, tetapi tentu lebih benar lagi kalau kita bisa melihat kebenaran secara menyeluruh bahwa ada misteri kedaulatan Allah yang berjalan seiring dengan tanggung jawab manusia. Sebagai seorang yang cinta kebenaran, anna baptis sejati, yaitu yang berjuang demi kebenaran sekalipun perlu mengorbankan kepala, kalau ada argumentasi yang lebih alkitabiah, saya siap mengikuti argumentasi yang lebih alkitabiah itu. Saya selalu memegang prinsip bahwa kebenaran dicapai melalui argumentasi dari otak yang dingin bukan dari hati yang panas. Kiranya kemuliaan hanya untuk Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib untuk menebus semua dosaku.

1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->