P. 1
Diktat parasitologi NEW 24022010

Diktat parasitologi NEW 24022010

4.33

|Views: 28,889|Likes:
Published by einney
DIKTAT BIOLOGI MIKROBA
SUB MODUL PARASITOLOGI

Oleh : STAF LABORATORIUM PARASITOLOGI

LABORATORIUM PARASITOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi FKUB 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................. PARASITOLOGI KEDOKTERAN ............................................................................................. PENDA
DIKTAT BIOLOGI MIKROBA
SUB MODUL PARASITOLOGI

Oleh : STAF LABORATORIUM PARASITOLOGI

LABORATORIUM PARASITOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi FKUB 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................. PARASITOLOGI KEDOKTERAN ............................................................................................. PENDA

More info:

Published by: einney on Feb 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2015

pdf

text

original

Superfamily : Schistosomatidae

Genus : Schistosoma

Superfamily ini mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda dengan Trematoda yang lain, yaitu:

- Jenis sex terpisah (Dicieous), jadi ada cacing jantan dan cacing betina.

- Cacing jantan berbentuk pipih, lebih lebar dan pendek dibanding cacing betina. Tepi lateral

tubuh melekuk ke ventral sehingga terbentuk semacam selokan di bagian ventral tubuh,

disebut "Gynaecophoric canal".Testis pada cacing jantan berjumlah 4-8 buah.

- Cacing betina berbentuk langsing dan memanjang (silindris). Sejak berkopulasi cacing betina

akan tetap berada di dalam canalis gynaecophoric dari cacing jantan.

- Batil isap perut (ventral sucker) dan batil isap mulut (oral sucker)mempunyai tangkai.

- Usus bercabang menjadi dua caeca dan bergabung kembali menjadi satu saluran buntu

(reunite intestine). Lokasi dan panjang reunite intestine berbeda pada tiap-tiap species,

sehingga dapat dijadikan pedoman untuk identifikasi spesies.

- Telurnya tidak beroperculum dan ketika dikeluarkan oleh cacing betina, telur tersebut sudah

berisi miracidium (embrionated)

- Cercarianya khas, ekornya bercabang dua (Forked tail = furcocercus cercaria). Cercaria ini

merupakan bentuk infektif untuk hospes definitif, masuk ke tubuh hospes dengan cara

menembus kulit secara aktif.

- Siklus hidup lebih pendek dari trematoda yang lain (tidak mempunyai bentuk redia dan

metacercaria.)

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

92

Tiga species yang parasitik untuk manusia adalah :

- Schistosoma haematobium: habitatnya di plexus venosus sekitar vesica urinalia.

- Schistosoma japonicum: habitatnya di plexus venosus mesentericus superior.

- Schistosoma mansoni: habitatnya di plexus venosus mesentericus interior.

Beberapa species lain dikenal hidup parasitik untuk bangsa burung dan mamalia lain (non human

Schistosomes) seperti:

- Schistosoma incognitum, Schistosoma spindale,Trichobilharzia maegrethi, Orientabilharzia

harinasutai dan sebagainya.

Siklus hidup:

Eggs are eliminated with feces or urine . Under optimal conditions the eggs hatch and release miracidia , which swim and
penetrate specific snail intermediate hosts . The stages in the snail include 2 generations of sporocysts and the production
of cercariae . Upon release from the snail, the infective cercariae swim, penetrate the skin of the human host , and shed
their forked tail, becoming schistosomulae . The schistosomulae migrate through several tissues and stages to their residence
in the veins (, ). Adult worms in humans reside in the mesenteric venules in various locations, which at times seem to be
specific for each species . For instance, S. japonicum is more frequently found in the superior mesenteric veins draining the
small intestine , and S. mansoni occurs more often in the superior mesenteric veins draining the large intestine . However,
both species can occupy either location, and they are capable of moving between sites, so it is not possible to state unequivocally
that one species only occurs in one location. S. haematobium most often occurs in the venous plexus of bladder , but it can
also be found in the rectal venules. The females (size 7 to 20 mm; males slightly smaller) deposit eggs in the small venules of the
portal and perivesical systems. The eggs are moved progressively toward the lumen of the intestine (S. mansoni and S.
japonicum) and of the bladder and ureters (S. haematobium), and are eliminated with feces or urine, respectively . Pathology of
S. mansoni and S. japonicum schistosomiasis includes: Katayama fever, hepatic perisinusoidal egg granulomas, Symmers’ pipe
stem periportal fibrosis, portal hypertension, and occasional embolic egg granulomas in brain or spinal cord. Pathology of S.
haematobium schistosomiasis includes: hematuria, scarring, calcification, squamous cell carcinoma, and occasional embolic egg
granulomas in brain or spinal cord.

Gambar siklus hidup dari Schistosoma

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

93

1. Telur-telur dari tubuh hospes mamalia dikeluarkan bersama urine/faeces (tergantung

spesiesnya), ke air dalam keadaan sudah embryonated.

2. Di dalam air telur menetas, larva yang bercilia (miracidium) keluar dan berenang bebas di

dalam air, mencari keong yang cocok sebagai intermediate hostnya.

3. Setelah ketemu keong yang sesuai, miracidium menembus jaringan lunak keong

4. Di dalam tubuh keong miracidium berkembang menjadi sporocyst (larva stadium-1) dan terus

tumbuh hingga menjadi daughter sporocyst.

5. Setelah 4-7 minggu sporocyst pecah, larva stadium-2 (cercaria) keluar dari tubuh snail dan

berenang bebas dalam air (tidak ada stadium redia). Dalam waktu 48-72 jam cercaria harus

menemukan hospes mamalia yang baru dan bila tidak mereka akan mati.

6. Infeksi terjadi melalui kontak antara kulit hospes definitif dengan air yang mengandung

cercaria, misalnya pada waktu mandi atau mencuci di sungai/danau.

7. Cercaria menembus kulit secara aktif, dan dalam beberapa menit melepaskan ekornya menjadi

schistosomulae, memasuki vena-vena perifer dan mengikuti aliran darah, sampai ke jantung

kanan dan jaringan paru

8. Sebagian schistosomulae ikut aliran darah ke jantung kiri lalu ke sirkulasi sistemik, aorta

abdomalis, lalu ke arteria mesenterica, kapiler usus kembali ke sistim vena porta.

9. Sebagian lagi ada yang menembus diafragma dan tiba di hepar dan sistem portal. Pertumbuhan

menjadi dewasa terjadi di dalam hepar, dan cacing yang berpasangan sudah bisa ditemukan

setelah 26 hari.

10. Kebanyakan cacing meninggalkan hepar bila sudah dewasa dan kawin lalu bermigrasi ke

plexus vesicalis (Schistosoma haematobium) atau plexus mesentericus (Schistosoma

japonicum, Schistosoma mansoni). Waktu yang diperlukan sejak masuknya cercaria hingga

ditemukannya telur di urine atau faeses adalah 30-40 hari atau lebih.

Untuk memudahkan pemahaman, dibuat skema sebagai berikut:

Schistosoma haematobium Schistosoma mansoni

Schistosoma japonicum

Definitif
host

Manusia

Manusia

Manusia dan binatang
domestik

Distribusi
geografis

Afrika,Timur Tengah

Afrika, Amerika Selatan Tiongkok, Thailand, Indo-
nesia (Danau Lindu,
Lembah Napu), Jepang

Penyakitnya
disebut

Urinary Schistosomiasis
Endemic hematuria

Manson's

Intestinal

Schisto-somiasis

Schistosomiasis japonica ;
Oriental Schistosomiasis

Habitat

- Plexus venosus vesicalis Plexus

venosus

sigmoido-rectal,
mesentericus inferior

Plexus venosus ileocaecal,
Mesentericus superior

Morfologi:
Jantan

Ukuran 1-1,5 cm X 1 mm
kutikula : bertuberkel
halus
testis : 4-5 buah
berkelompok

Ukuran 1 cm X 1 mm
bertuberkel kasar
8-9 buah berderet zigzag

Ukuran 2-2 cm X 0,5 mm
tidak bertuberkel
6-7 buah dalam satu
kelompok

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

94

Betina
Ovarium
Uterus

Ukuran : 2 cm X 0,25 mm
- di belakang pertengahan
tubuh
berisi 20-30 telur

Ukuran 4 cm X 0,25 mm
- di anterior pertengahan
tubuh
berisi 1-3 telur (biasanya
1)

Ukuran 2,6 cm X 0,3 mm
- ± di pertengahan tubuh
berisi lebih dari 50 butir
telur

Reunited
intestine

Panjang (± setengah
panjang tubuh)

Paling panjang (lebih
dari setengah panjang
tubuh)

Pendek. (± setengah
panjang tubuh)

Telur

Bentuk lonjong; 150 X 50
mikron, punya terminal
spine

bentuk lonjong ; 150 X
50 mikron punya lateral
spine

bentuk agak bulat; 100 X
65 mikron punya lateral
knob

Cercaria

Bentuknya sama, yaitu kepala di depan mempunyai kelenjar untuk penetrasi. Ekor
bercabang dua, sehingga berbentuk seperti garpu ( forked tail = furcocercus
cercaria)

Intermediat
e

host:

Keong

Planorbarius,Bulinus

Biomphalaria
,Australorbis

Oncomelania,

Tricura

aperta

Periode
pre-patent

4 - 12 minggu

7 - 8 minggu

5 - 6 minggu

Galur
sejenis

Schistosoma
intercalatum

S. mekongi, S. linduensis

Gambar Telur S. hematobium

Gambar Telur S. mansoni

Gambar Telur S. japonicum

Gambar Telur Furcocercus cercaria

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

95

Patologi dan Simptomatologi

Proses patologi pada schistosomaiasis terjadi sesuai dengan tahapan siklus hidup parasit, yaitu tahap

invasi, maturasi dan timbulnya infeksi akut sampai pada tahap kronik.

1. Tahap invasi

Pada tahap ini, dengan kemampuan yang dimiliki (cercarial muscular action and glandular

secretion) cercaria menembus kulit/mukosa secara aktif dalam waktu kurang dari 15 menit. Setelah

itu cercaria melepas ekornya dan menjadi schistosomulae yang mampu bertahan di tempat hingga

4-5 hari. Di sini mereka dapat menimbulkan kelainan kulit berupa dermatitis/gatal yang bersifat

sementara dan disebut "swimmer itch = Clam-diggers itch, atau cercarial dermatitis". Kelainan ini

biasanya lebih nyata bila invasi disebabkan oleh non Human Schistosomes.

2. Tahap maturasi,

Tahap ini terjadi 2-8 minggu setelah infeksi, akibat invasi hepar dan jaringan lain oleh cacing yang

belum dewasa. Proses ini bisa disertai infiltrasi sel radang dan leukosit serta bisa menimbulkan

reaksi toksik dan allergi. Gejalanya berupa uticaria, odema subcutan dan mungkin serangan seperti

asthma. Berakhirnya masa tunas dimulai dengan adanya pembesaran hepar, nyeri dan rasa tidak

enak di perut.

3. Tahap infeksi akut

Secara umum dapat dikatakan bahwa agent utama yang menyebabkan proses patologis adalah telur,

maka semakin berat infeksinya, semakin berat pula proses patologinya. Tahap akut dimulai sejak

terjadinya produksi telur (10-12 minggu setelah infeksi) diikuti dengan penyebarannya ke organ-

organ usus, hati, paru, kandung kencing dan jaringan lain-lain.

Gejala-gejala yang khas dapat terjadi tergantung jenis dan habitat dari cacingnya, misalnya :

- Schistosoma haematobium: Gejala utama berupa terminal haematuria tanpa rasa nyeri. Pada ginjal

dapat berupa pyelonefritis, hidronefrosis, sindroma nefrotik sampai dengan gagal ginjal. Pada

stadium akhir dapat terjadi keradangan kandung kencing yang terus menerus dan berakhir

dengan pengapuran dinding buli-buli (calcified bladder), pembentukan batu, bahkan keganasan

kandung kemih.

- Schistosoma mansoni : gejala utama berupa berupa berak darah dan lendir (dysentry) yang dapat

menyerupai Crohn’s disease, amoebiasis, tuberkulosis usus, polip dan ulcerative colitis.

Hepatosplenomegali pada schistosmiasis harus dapat dibedakan dengan penyebab yang lain

seperti hipertensi portal, Kala Azar, thalasemia dan tropical splenomegali.

- Schistosoma japonicum :

Gejala dysentry mirip Schistosoma mansoni tetapi lebih berat karena produksi telurnya lebih

banyak. Lesi-lesi ektopik juga lebih hebat berupa periportal cirrhosis, hypertensi portal, spleno

megali, varices oesophagus, kelainan di paru dan jantung.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

96

Gejala-gejala lain

Katayama disease/ Katayama fever

Adalah manifestasi patologik yang spesisfik terjadi pada schistosomiasis, berupa reaksi febris

akut disertai eosinofilia, yang berlangsung selama beberapa hari atau minggu, terutama pada infeksi

Schistosoma japonicum, jarang pada Schistosoma mansoni dan hampir tidak pernah dijumpai pada

infeksi Schistosoma haematobium. Demam Katayama terjadi akibat reaksi silang antara antigen cacing

dan telur dengan antibodi yang kadarnya meningkat dengan tajam. Gejala ini secara klinik bisa

dikacaukan dengan demam tifoid, tetapi pada tifoid tidak ditemukan eosinofilia. Penyakit cacing lain

yang invasif termasuk tropical eosinophilia, visceral larva migrans, trichinosis dan infeksi cacing hati

dapat memberikan gejala yang sama. Penelusuran anamnesis, asal penderita, pemeriksaan faeses dan

urine untuk menemukan telur dan pemeriksaan serologis sangat membantu diagnosis Katayama fever.

Meningkatnya kadar IgM sedangkan kadar IgA, IgG dan IgD menunjukkan adanya stimulasi aktif dari

sistem imun.

Diagnosis

Diagnosis pasti atas dasar ditemukannya telur pada pemeriksaan sedimen urine atau faeces pen-

derita. Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan dengan metode khusus untuk pemeriksaan tinja

(Kato thick’s smear, konsentrasi formol ether, metode Bell atau Stoll)

Pemeriksaan Rectal snips digunakan untuk diagnosis Schistosoma japonicum dan Schistosoma

mansoni. Melalui metoda proctoscopy, dilakukan pengerokan mukosa usus lalu dioleskan ke

object glass kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Bila ditemukan eosinophil yang meninggi

pada pemeriksaan darah rutin, dapat membantu diagnosis.

Pemeriksaan serologis dapat juga dilakukan, seperti Complement Fixation Test (CFT),

Intradermal Test, Circum Oral Precipitin Test (COPT), Fluorescent Antibody Test.(FAT) dan

beberapa jenis tes lain.

Pengobatan:

1. Praziquantel (Biltricide, Droncit)

Merupakan obat yang cukup efektif untuk semua jenis Schistosoma (S. haematobium, S.

mansoni, S. japonicum, S. mekongi, dan S. intercalatum). Dosis yang diberikan adalah 40 mg/kg

dosis tunggal, diminum setelah makan malam untuk menghindari pusing. Dosis bisa

dimodifikasi menjadi 2 X 20 mg, selisih waktu 4-6 jam, ternyata memberikan efek terapeutik

yang sama. Pada infeksi Schistosoma japonicum dosis bisa ditingkatkan sampai 2 X 60 mg,

tetapi hati-hati dengan efek sampingnya.

2. Oxamniquine(Vansil, Mansil)

Oxamniquine hanya efektif untuk S. mansoni. Dosis yang dianjurkan adalah 60 mg/kg dibagi

dalam 3 atau 4 dosis, setiap 15 mg/kg harus diberikan dalam 2-3 hari.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

97

3. Metriphonate (Bilarcil, trichlorpon)

Obat ini efektif untuk S. haematobium, dosis 10 mg/kg 3 dosis dalam interval 2 minggu

Pencegahan:

Pencegahan dapat dilakukan melalui:

1. pengobatan penderita sebagai sumber infeksi,

2. memperbaiki sarana pembuangan excreta

3. pemberantasan keong yang menjadi intermediate host didaerah endemis.

4. Jangan mandi berenang di sungai/danau di daerah endemis.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

98

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->