P. 1
Diktat parasitologi NEW 24022010

Diktat parasitologi NEW 24022010

4.33

|Views: 28,901|Likes:
Published by einney
DIKTAT BIOLOGI MIKROBA
SUB MODUL PARASITOLOGI

Oleh : STAF LABORATORIUM PARASITOLOGI

LABORATORIUM PARASITOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi FKUB 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................. PARASITOLOGI KEDOKTERAN ............................................................................................. PENDA
DIKTAT BIOLOGI MIKROBA
SUB MODUL PARASITOLOGI

Oleh : STAF LABORATORIUM PARASITOLOGI

LABORATORIUM PARASITOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi FKUB 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................. PARASITOLOGI KEDOKTERAN ............................................................................................. PENDA

More info:

Published by: einney on Feb 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2015

pdf

text

original

Penyakitnya disebut: Strongyloidiasis

Strongyloidosis

Distribusi Geografis:

Mula-mula ditemukan di daerah iklim panas tetapi akhirnya ditemukan juga didaerah iklim

sedang dan dingin. Biasanya distribusi dan pertumbuhannya paralel dengan distribusi dan penyebaran

cacing tambang.

Morphologi:

Gambar Free-living adult male S. stercoralis.

Notice the presence of the spicule (red arrow)

Gambar Adult free-living female S. stercoralis.

Notice the row of eggs within the female’s body

Gambar parasiticform dewasa dari Strongyloides stercoralis betina

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

26

Ada dua generasi dari Strongyloides stercoralis, yaitu genarasi parasitik dan free living generasi.

Generasi parasitik mempunyai morphologi yang lebih besar daripada generasi non-parasitik (free

living).

Generasi parasitik:

Cacing betina dewasa berbentuk langsing silinder, panjang kurang lebih 2,5 milimeter dengan

tubuh semi transparans tak berwarna. Oesophagusnya memanjang sepanjang 1/3 sampai 2/5 bagian

anterior tubuh, mirip bentuk oesophagus filariform larva cacing tambang (filariform type of

oesophagus). Ujung posteriornya runcing, dengan anus yang terletak sedikit agak ke ventral dari ujung

posterior. Cacing jantan filariform, panjang 0,7 milimeter tak mempunyai caudal alae, tapi mempunyai

2 spiculae di dekat ujung posteriornya melengkung ke ventral dan runcing. Oesophagus rhabditoid

type.

Generasi yang hidup bebas (free living):

Cacing jantan serupa dengan generasi yang parasitis. Cacing betina mempunyai ukuran tubuh

yang lebih pendek dan relatif lebih gemuk (panjang + 1 milimeter). Cacing yang gravid nampak berisi

telur-telur dalam uterusnya dan vulva yang terbuka dekat pertengahan tubuh. Kadang-kadang nampak

seperti buah petai. Oesophagus rhabditoid type.

Telur :

Bentuknya seperti telur Hookworm, ukuran 50 X 30 mikron dan langsung menetas di dalam

lumen usus menjadi rhabditoid larva.

Larva :

Rhabditiform larva :

Gambar Rhabditiform larva Dari Strongyloides stercoralis

- panjangnya 200 - 250 mikron silindris

- rongga mulut pendek

- oesophagus rhabditiform type yaitu muscular di bagian anterior kemudian ada seperti

sabuk di tengah dan bulbus di bagian posterior,

- genital premordial relative besar terletak di sisi ventral tubuh.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

27

Filariform larva :

Gambar Filariform larva dari Strongyloides
stercoralis

Gambar Ujung Posterior Filariform larva dari
S. stercoralis

- lebih panjang dan langsing

- oesophagus lebih panjang dan muscular (filariform type)

- mulut pendek

- ujung posterior mempunyai lekuk/notch.

Habitat :

Generasi parasitik hidup dalam usus halus manusia terutama di duodenum dan juejunum. Yang

betina hidup dalam mucosa dan yang jantan dalam lumen usus.

Siklus Hidup:

The Strongyloides life cycle is complex among helminths with its alternation between free-living and parasitic cycles, and its
potential for autoinfection and multiplication within the host. Two types of cycles exist:
Free-living cycle: The rhabditiform larvae passed in the stool (see "Parasitic cycle" below) can either molt twice and become
infective filariform larvae (direct development) or molt four times and become free living adult males and females that mate

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

28

and produce eggs from which rhabditiform larvae hatch . The latter in turn can either develop into a new generation of
free-living adults (as represented in), or into infective filariform larvae . The filariform larvae penetrate the human host skin to
initiate the parasitic cycle (see below) .
Parasitic cycle: Filariform larvae in contaminated soil penetrate the human skin , and are transported to the lungs where they
penetrate the alveolar spaces; they are carried through the bronchial tree to the pharynx, are swallowed and then reach the small
intestine . In the small intestine they molt twice and become adult female worms . The females live threaded in the
epithelium of the small intestine and by parthenogenesis produce eggs , which yield rhabditiform larvae. The rhabditiform
larvae can either be passed in the stool (see "Free-living cycle" above), or can cause autoinfection

Gambar Siklus Hidup Dari Strongyloides stercoralis

Siklus hidup yang lengkap dapat terdiri satu atau lebih dari fase-fase di bawah ini pada saat yang

sama atau tidak.

1. Indirect development (pertumbuhan tak langsung)

Berdasarkan atas pertumbuhan bentuk bebas (free living) di atas tanah dan baru mengadakan

perubahan menjadi bentuk parasitik bila keadaan tak memungkinkan lagi untuk hidup bebas

(rhabditoid larva- dewasa- telur- rhabditoid larva - dewasa dan seterusnya).

2. Direct development :

Terjadi dalam tubuh manusia, yang dimulai dari masuknya filariform larva ke dalam tubuh

manusia yang siklusnya sesuai dengan siklus hidup hidup cacing tambang. Filariform larva

yang masuk menembus kulit akan mengikuti aliran darah dan sampai di paru-paru (lung

migration) dan seterusnya seperti cacing tambang dan akan menjadi dewasa di dalam usus

halus. Baik bentuk yang parasitik mau pun yang free living setelah kawin dan yang betina

menghasilkan telur, telur tersebut dengan segera menetas menjadi rhabditiform larva dalam

beberapa jam sehingga jarang kita temukan telurnya dalam faeces penderita. Larva akan

dikeluarkan bersama faeces ke dunia luar untuk mengikuti kehidupan yang free living atau

parasitik lagi bila keadaan tersebut tak memungkinkan.

3. Auto infection :

Dalam keadaan tertentu mungkin terjadi pembentukan filariform larva dalam lumen usus,

sehingga terjadi autoinfection secara internal dimana filariform larva menemukan dinding usus

atau pun melalui perianal dari penderita yang sama. Pada auto-infection dapat terjadi reinfeksi

yang persistent atau hyper-infeksi.

Gejala Klinis :

Gejala klinis yang timbul mirip dengan gejala klinis oleh karena hookworm infection, di kulit,

paru-paru, perut dan sebagainya juga adanya eosinophilia dan anaemia yang tidak khas.

Diagnose :

Diagnose pasti dapat ditegakkan dengan menemukan larva pda tinja penderita. Mungkin juga

ditemukan larva dalam sputum penderita. Diagnosa dengan aspirasi cairan duodenum memberi hasil

yang lebih akurat, tetapi menyakitkan bagi penderita.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

29

The route of infection of Strongyloides stercoralis :

1. Percutaneous infection

2. Peroral infection

- filariform larva hanya dapat hidup sebentar dalam cairan lambung.

- 50% larva mati dalam 2-3 jam dan 100% dalam 5-6 jam.

3. Perianal infection

4. Internal migration

5. Auto infection - dapat terjadi dengan cara :

a. Invasi filariform larva dari perianal

b. Dari invasi filariform larva ke mucosa usus bagian bawah/yang lebih distal dari tempat

infeksi.

c. Dari penetrasi oleh filariform larva ke lapisan usus yang lebih dalam pada level yang

sama dari tempat infeksi.

d. Dari metamorphosed rhabditiform larva yang menembus muscularis mucosa ke lapisan

yang lebih dalam dari dinding usus. Keadaan ini terjadi pada keadaan dimana daya

tahan tubuh penderita sangat rendah (penderita penyakit berat, pengobatan dengan

corticosteroid).

Pengobatan :

Beberapa jenis obat telah dicobakan tapi belum menunjukkan hasil yang baik.

Obat-obat yang pernah dicobakan antara lain :

* Gentian violet

* Dithiazarin jodide 200 mg 3 X /hari selama 21 hari. Obat ini cukup efektif, tapi kurang dapat

ditolerir penderita.

* Pyrvinium pamoate (Bovan)

* Stibazium jodide (Monopar)

* Thiabendazole

Sampai saat ini masih merupakan obat yang terpilih untuk pengobatan Strongyloidiasis dengan

dosis 50 mg/kg berat badan per hari selama 2 hari berturut-turut. Side efek yang sering timbul

adalah nausea, vertigo, bau yang tak sedap pada urine dan keringat.

Pencegahan :

Pada dasarnya sama dengan pencegahan terhadap infeksi Hookworm yaitu mencegah kontak

langsung antara :

- Kulit manusia dengan tanah atau tinja yang terkontaminir oleh parasit.

- Untuk mencegah autoinfection bagi penderita dianjurkan hendaknya dihindari jangan

sampai terjadi obstipasi.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

30

- Pengobatan terhadap penderita tetap diperlukan dalam rngka memberantas sumber infeksi.

- Health education.

D. TRICHURIS TRICHIURA / TRICHOCEPHALUS TRICHURA (CACING

CAMBUK)

Penyakitnya: Trichuriasis / Trichocephaliasis.

Distribusi Geografis: Cosmopolitan, terutama di daerah tropis.

Morfologi

Cacing dewasa:

Gambar Trichuris trichiura betina Gambar Trichuris trichiura Jantan

Berbentuk seperti cambuk dengan 2/5 bagian posterior tubuhnya tebal seperti tangkai cambuk

dan 3/5 bagian anterior yang kecil seperti rambut. Cacing jantan panjangnya + 3-4 centimeter dengan

ujung posterior yang melengkung ke ventral dan mempunyai spikula dan sheath yang retraktil. Cacing

betina lebih panjang daripada yang jantan; berukuran 3,5-5 centimeter dengan ujung posterior yang

tumpul dan membulat. Baik jantan maupun betinya mempunyai oesophagus yang ramping, sepanjang

+ 3/5 bagian anterior tubuhnya. Bentuk oesophagus khas dan disebut dengan type"stichosoma

oesophagus" (Perhatikan pada praktikum nanti !).

Telur :

Gambar Telur Trichuris trichiura fertil

Gambar Telur Trichuris trichiura infektif

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

31

Khas, berbentuk lonjong seperti tong (barrel shape) dengan dua mucoid plug pada kedua

ujungnya dan dindingnya terdiri dari 3 lapis ukuran 50X25 µ (Perhatikan pada waktu praktikum).

Seekor cacing betina dewasa dapat memproduksi telur kurang lebih 3000-10.000 per hari.

Habitat: Cacing dewasanya hidup dalam lumen usus besar manusia terutama caecum dan appendix.

Ditempat habitatnya ia menancapkan mulutnya pada dinding usus.

Siklus Hidup dan Epidemiologi

The unembryonated eggs are passed with the stool . In the soil, the eggs develop into a 2-cell stage , an advanced cleavage
stage , and then they embryonate ; eggs become infective in 15 to 30 days. After ingestion (soil-contaminated hands or
food), the eggs hatch in the small intestine, and release larvae that mature and establish themselves as adults in the colon .
The adult worms (approximately 4 cm in length) live in the cecum and ascending colon. The adult worms are fixed in that location,
with the anterior portions threaded into the mucosa. The females begin to oviposit 60 to 70 days after infection. Female worms in
the cecum shed between 3,000 and 20,000 eggs per day. The life span of the adults is about 1 year

Gambar Siklus Hidup dari Trichuris trichiura

Manusia adalah satu-satunya hospes bagi Trichuris trichiura. Telur yang keluar bersama faeces

penderita biasanya masih unembryonated. Kondisi yang paling sesuai untuk pertumbuhan telur ialah di

atas tanah yang hangat dan teduh dan basah/lembab. Pertumbuhan menjadi telur yang infektif

membutuhkan waktu 15-21 hari, dimana akan dapat ditemui telur yang berisi larva stadium III yang

melingkar didalam telur. Dibandingkan dengan telur Ascaris, Telur Trichuris kurang resistant terhadap

kekeringan dan panas, dan biasanya tak dapat tumbuh menjadi stadium infektif bila berada di atas

lumpur kering atau abu dan tak tahan bila terkena sinar matahari langsung.

Manusia terkena infeksi apabila termakan olehnya telur yang infektif. Dinding telur akan pecah

di dalam usus halus dan larvanya keluar melalui kripte usus halus kemudian menuju ke caecum. Larva

ini akan tumbuh menjadi dewasa dan melekat pada dinding usus besar, appendix (caecum dan colon

sampai ke rectum), sebagai habitatnya dalam waktu 10-12 minggu tanpa melalui lung migration.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

32

Telur-telur sudah dapat ditemukan dalam faeces manusia yang terinfektif ini dalam waktu 10-13

minggu setelah masuknya telur (periode prepatent).

Gejala Klinis:

Pada infeksi yang berat dan khronis gejalanya mirip dengan infestasi cacing tambang, dapat juga

seperti appendicitis atau amoebic dysentry. Beberapa penulis mengatakan adanya korelasi positip

antara infeksi cacing cambuk ini dengan Entamoeba histolytica.

Gejala klinis yang timbul terutama adalah akibat pengaruh :

- Traumatik/mekanik disebabkan karena pengaruh perlekatan cacing pada dinding mucosa:

* irritasi dan peradangan lokal

* penyumbatan / blok pada appendix

* anaemia karena perdarahan khronis.

- Reaksi allergi:

Biasanya sangat kecil, tapi dapat menyebabkan colitis, proctitis dan secondary anaemia.

Seperti pada infeksi cacing usus yang lain, manifestasi klinis yang tidak khas lainnya dapat

pula timbul, seperti gelisah, tak bisa tidur, kehilangan appetite dengan sedikit eosinophili,

kadang-kadang urticaria. Pada kasus yang berat dapat disertai diarhoea yang khronis disertai

darah, tensmus, penurunan berat badan. Pernah pula dilaporkan terjadinya prolapsus recti dan

nampak adanya cacing yang masih melekat pada dinding rectum.

Diagnosa:

Diagnose pasti ditegakkan dengan menemukan telur yang khas pada pemeriksaan faeces

penderita. Bila pada pemeriksaan langsung tak ditemukan, mungkin diperlukan pemeriksaan faeces

lebih teliti yaitu dengan metode konsentrasi.

Terapi:

Pada infeksi cacing cambuk biasanya sulit untuk membrantas seluruh cacing pada penderita.

- Thiabendazole, kurang effektif bila digunakan dalam waktu pendek. Dapat memberi efektifitas

tinggi bila diberikan dalam dosis agak rendah (25mg/kg bb) dalam waktu 11-30 hari.

- Pyrantel pamoate, bila digunakan dalam dosis tunggal kurang efektif bila dibandingkan terhadap

Ascaris.

- Mebendazole, obat baru yang cukup efektif.

- Obat-obat lain adalah: Albendazole, Levamizol dll.

Pencegahan:

Dari "mode of infection" cacing ini yang serupa dengan Ascaris lumbricoides, pencegahannya dapat

dilakukan terutama dengan :

1. Memperbaiki cara dan sarana pembuangan tinja.

2. Mencegah kontaminasi tangan dan juga makanan dengan tanah, cuci bersih sebelum makan.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

33

3. Memasak sayur-sayuran dan mencucinya sebelum dimasak.

4. Menghindari pemakaian tinja manusia sebagai pupuk.

5. Mengobati penderita.

Diktat Parasitologi

Laboratorium Parasitologi
FKUB 2010

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->