P. 1
PT-Optimalisasi 011209

PT-Optimalisasi 011209

|Views: 158|Likes:
Published by 050880edu

More info:

Published by: 050880edu on Feb 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2010

pdf

text

original

Daftar Isi

:
I. II. III. IV. V. VI. VII. Latar Belakang Pengertian Maksud Dan Tujuan Ruang Lingkup Strategi dan Implementasi Optimalisasi Pengendalian Penutup Lampiran – Lampiran : 1. Gambar Alur Proses Implementasi Strategi 2. Tabel Proses dan Output Optimalisasi Non Kegiatan SPP 3. Tabel Proses dan Output Optimalisasi Kegiatan SPP 4. Tabel Skenario Implementasi Strategi 5. Formulir Validasi Kategori Usulan Non SPP 6. Kriteria Kategori Usulan Non SPP 7. Formulir Validasi Kategori Usulan SPP 8. Kriteria Kategori Usulan SPP 9. Formulir Rekap Validasi Usulan Lama 10. Kerangka Kegiatan Pengendalian Optimalisasi 11. Daftar Pertanyaan dan Jawaban : Halaman 2 : Halaman 3 : Halaman 3 : Halaman 3 : Halaman 4 : Halaman 10 : Halaman 10 : Halaman 1 : Halaman 12 : Halaman 13 : Halaman 14 : Halaman 15 : Halaman 16 : Halaman 18 : Halaman 19 : Halaman 20 : Halaman 21 : Halaman 22

1

Lampiran 1. Gambar Alur Proses Implementasi Strategi:

1

Petunjuk Teknis Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 2010
I.

Latar Belakang

Penghargaan terhadap pengalaman masyarakat merupakan dasar terbangunnya
perspektif partisipatif dalam program pembangunan desa yang dioperasikan berdasarkan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Konsistensi sikap para pelaku pembangunan terhadap perpektif partisipatif mensyaratkan adanya komitmen serta pengetahuan tentang penghargaan terhadap pengalaman masyarakat. Demikian pula, di tengah dinamika perjalanan suatu program pembangunan dengan cakupan wilayah yang luas seperti halnya PNPM Mandiri Perdesaan pun tetap menuntut ketersediaan perangkat sistem, prosedur dan pelaku yang memadai berdasarkan penghormatan pada pengalaman masyarakat ini. PNPM Mandiri Perdesaan merupakan program pembangunan yang dikelola Pemerintah Indonesia untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam kurun waktu perjalanan program ini, terjadi dinamika dan perkembangan yang pesat, khususnya terkait lokasi dan alokasi program. Saat ini sebagian besar lokasi kecamatan di Indonesia ditetapkan sebagai lokasi PNPM Mandiri Perdesaan. Sementara itu, dalam kurun waktu perjalanan PNPM Mandiri Perdesaan telah pula mendorong terciptanya perangkat sistem sosial yang juga bersifat dinamis. Sistem sosial yang dibangun oleh PNPM Mandiri Perdesaan memungkinkan warga desa memperoleh peningkatan kapasitas tidak hanya dalam bentuk kursus dan pelatihan, tetapi juga pembiasaan cara berpikir dan cara bertindak para pelaku program (di desa, kecamatan, kabupaten) ketika menjalankan peranannya masingmasing di dalam pelaksanaan program. Masyarakat dibiasakan memperoleh pengalaman nyata menjalankan sebuah proses pembangunan desa yang bersifat partisipatif. Namun demikian, dinamika proses sosial sebagai dampak intervensi program ini pun menghadirkan beberapa kendala yang dihadapi masyarakat secara nyata. Pertama, dampak kemajuan partisipasi yang telah menghadirkan tahapan sosial yang memungkinkan warga desa tidak saja mampu merumuskan dan memutuskan usulan sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi juga menghadapkan masyarakat pada persoalan baru yaitu ketersediaan dana pembangunan yang disediakan melalui PNPM Mandiri Perdesaan tidak mencukupi untuk memenuhi usulanusulan yang sudah dirumuskan secara partisipatif. Kedua, konsekuensi logis dari
2

pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan sebagai sebuah proyek pembangunan adalah pada suatu saat program ini akan berakhir. Pengakhiran proyek ini tidak menjamin bahwa pengalaman masyarakat dalam mengelola pembangunan secara partisipatif akan tetap dihargai. Dari dua contoh di atas, terbentuk dasar pemikiran perlunya skema baru tahapan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan yang makin mendekatkan dengan skema perencanaan reguler yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Dasar pemikirannya adalah apabila sistem perencanaan pembangunan yang dikelola Pemerintah Daerah dapat dijamin bersifat partisipatif maka akan terjamin pula bahwa pengalaman masyarakat desa dalam merencanakan dan mengelola pembangunan secara partisipatif tetap dihargai dan diberi tempat utama dalam pelaksanaan pembangunan. Integrasi program merupakan strategi yang dipilih untuk menjadikan PNPM Mandiri Perdesaan sebagai sarana revitalisasi sistem perencanaan pembangunan di Kabupaten/Kota agar bersifat partisipatif. Strategi Integrasi Program ini secara efektif akan diterapkan pada Tahun Anggaran 2011, sedangkan Tahun Anggaran 2010 merupakan tahapan transisi. Pintu masuk penerapan strategi Integrasi Program adalah kebijakan Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan Tahun Anggaran 2010. Selain didesain sebagai tahapan transisi pelaksanaan program menuju tahapan integrasi, Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan ini juga menjadi sarana efektif untuk menjamin serapan dana Bantuan Langsung untuk Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perdesaan Tahun Anggaran 2010 dapat diserap dalam jangka waktu satu tahun anggaran. Sebab, dengan penerapan optimalisasi perencanaan dan pelaksanaan program ini para pelaku program dalam mempersiapkan diri seandainya ada permintaan penyampaian cashflow bulanan yang lebih merata terkait pencairan dana BLM dari KPPN. Optimalisasi perencanaan tahapan kegiatan menuntut adanya dukungan kinerja manajerial yang memadai. Peningkatan kualitas kinerja pembinaan dan pengendalian program ini termasuk di dalamnya peningkatan kinerja fasilitator menjadi prasyarat utama agar Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan dapat berjalan efektif dan efisien tanpa melanggar prinsip-prinsip PNPM Mandiri Perdesaan. Peningkatan kinerja manajemen para pelaku dan fasilitator diharapkan dapat menjamin terciptanya penghargaan para pelaku program terhadap proses perencanaan masyarakat sebelumnya, serta kebutuhan pengembangan program yang makin menjamin keberlanjutan sistem. Pada akhirnya, diharapkan para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan melalui kebijakan Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan benar-benar dapat membela kepentingan masyarakat desa.
II.

Pengertian

Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan adalah sebuah upaya
penciptaan akselerasi waktu tahapan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program dengan memanfaatkan proses dan hasil perencanaan program yang dikelola oleh masyarakat satu tahun sebelumnya.
3

III.

Maksud dan Tujuan

Maksud

dari diadakannya Optimalisasi Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan adalah agar kinerja pengelolaan program menjadi lebih efektif dan efisien sesuai waktu, kebijakan dan kondisi lokal yang ada. Tujuan: 1. Meningkatkan kualitas pendampingan terkait tahapan perencanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan. 2. Meningkatkan kinerja para pelaku program dalam menerapkan strategi implementasi tahapan kegiatan. 3. Meningkatkan serapan dana sesuai peraturan yang ada melalui peningkatan kinerja pendampingan program. 4. Menghargai dan mengakomodasikan proses dan hasil perencanaan yang telah dilakukan oleh masyarakat satu tahun sebelumnya, terutama berupa gagasan dan usulan desa yang belum terdanai. 5. Mempersiapkan titik masuk pertama dari strategi pengintegrasian perencanaan program ke dalam perencanaan reguler.
IV.

Ruang Lingkup

Batasan

optimalisasi tahapan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan ditetapkan berdasarkan pilihan atas strategi perencanaan kegiatan yang terkait dengan proses perencanaan tahun sebelumnya. Pilihan yang tepat atas strategi perencanaan kegiatan ini menjadi titik penentu adanya kesinambungan proses perencanaan melalui pemanfaatan usulan yang belum terdanai dan pencapaian efisiensi waktu. Sebagai gambaran ditampilkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:
Perbandingan Pola Optimalisasi dengan Pola Lama
100 90 80 70

SPC 1 SPC 2 SPC 3 SPC 1-3 POLA LAMA
1 2 3 4 5 6

Persentase

60 50 40 30 20 10 0

Bulan

7

8

9

10

11

12

Gambar grafik di atas menunjukkan perbedaan antara pola baru (optimalisasi) dengan pola lama, dimana pola baru menunjukkan tingkat akselerasi yang lebih baik.

4

V.

Strategi dan Implementasi Optimalisasi

Secara nasional terdapat variasi hasil perencanaan berupa usulan yang belum
terdanai. Misalnya, dalam satu kecamatan tidak semua usulan yang belum terdanai dihasilkan dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) mampu menyerap alokasi BLM Tahun Anggaran 2010, maka masyarakat harus mencari rencana kegiatan di desa berupa rencana kegiatan di Musyawarah Desa (MD) Perencanaan yang tidak diusulkan ke MAD atau gagasan masyarakat tentang kegiatan pembangunan yang dihasilkan dalam penggalian gagasan. Ada enam strategi yang dapat dilakukan dalam rangka optimalisasi tahapan kegiatan. Keenam strategi ini terdiri dari 5 (lima) pemanfaatan usulan tidak terdanai tahun sebelumnya dan 1 (satu) strategi normal. Dari lima strategi pemanfaatan usulan terdiri dari satu strategi optimalisasi kegiatan SPP, dan empat strategi optimalisasi kegiatan Non SPP (open menu). Implementasi keenam strategi yang ada ini mempertimbangkan keadaan dan kualitas proses dan hasil perencanaan di lapangan. Selengkapnya keenam strategi ini adalah sebagai berikut:
1. Strategi Pemanfaatan Hasil MAD Penetapan Usulan

Optimalisasi menjawab kebutuhan akomodasi terhadap usulan masyarakat hasil MAD Penetapan Usulan tetapi belum terdanai. Strategi ini dilakukan dengan cara memanfaatkan usulan-usulan yang berasal dari proses MAD Penetapan Usulan tahun sebelumnya: usulan-usulan yang belum terdanai (BLM, ADD, P2SPP, program lain, musrenbang) akan tetapi telah didukung adanya Desain dan RAB yang telah disetujui Faskab Teknik. Sebelum menetapkan strategi ini, validasi kelayakan proses usulan harus dilakukan terhadap hasil MAD Penetapan Usulan oleh FK melibatkan Tim Verifikasi. Validasi yang dilakukan bersifat teknis dan konfirmatif kepada masyarakat melalui musyawarah desa. Setelah itu rekomendasi hasil validasi diajukan oleh FK kepada Faskab, kemudian review dan rekomendasi dilakukan oleh Faskab. Tahapan yang dilakukan adalah: a. MAD Sosialisasi. b. Musdes Validasi dan Konfirmasi. c. Pelatihan Pelaku. d. Review RAB/Desain. e. MAD Penetapan Usulan f. MD Informasi. Jika sebuah usulan kegiatan terbukti dibiayai program lainnya maka usulan tersebut harus dibatalkan. Apabila usulan dimaksud tidak lulus proses validasi teknis dan konfirmatif karena alasan RAB dan Desain maka usulan tersebut harus dibahas kembali dalam MAD Prioritas Usulan. Jika proposal kegiatan dari usulan dimaksud belum lolos validasi teknis dan konfirmatif maka usulan tersebut harus dibahas dalam MD Perencanaan. Kondisi ini sangat dipengaruhi alasan yang ditemukan hasil validasi teknis dan konfirmatif sebelumnya.

5

Syarat kondisi usulan yang ada tertuang dalam lampiran tentang instrumen validasi kategori usulan. Jika usulan-usulan itu tidak mampu menyerap keseluruhan BLM yang dialokasikan di kecamatan tersebut, maka harus didapatkan usulan dari tahap perencanaan sebelumnya (di bawah ini).
2. Strategi Pemanfaatan Hasil MAD Prioritas Usulan

Optimalisasi menjawab kebutuhan akomodasi terhadap usulan masyarakat yang telah diprioritaskan MAD sebagai kebutuhan penting tetapi belum dapat terdanai. Strategi ini dilakukan dengan cara memanfaatkan usulan-usulan yang berasal dari proses MAD Prioritas Usulan tahun sebelumnya. Usulan-usulan hasil MAD Prioritas Usulan ini pada umumnya merupakan usulan yang belum dilakukan penyusunan RAB Desain tetapi sudah didukung adanya proposal usulan desa dan verifikasi kelayakan usulan. Sebelum menetapkan strategi ini, validasi kelayakan proses usulan harus dilakukan terhadap hasil MAD Prioritas Usulan oleh FK melibatkan Tim Verifikasi. Validasi yang dilakukan bersifat teknis dan konfirmatif kepada masyarakat melalui musyawarah desa. Setelah itu rekomendasi hasil validasi diajukan oleh FK kepada Faskab, kemudian review dan rekomendasi dilakukan oleh Faskab. Tahapan yang dilakukan adalah: a. MAD Sosialisasi, b. Musdes Validasi dan Konfirmasi, c. Pelatihan Pelaku, d. Penyusunan RAB/Desain, e. MAD Penetapan Usulan, f. MD Informasi. Jika sebuah usulan kegiatan terbukti dibiayai program lainnya maka usulan tersebut harus dibatalkan. Apabila usulan dimaksud tidak lulus proses validasi teknis dan konfirmatif karena alasan proposal kegiatan maka usulan tersebut harus dibahas dalam MD Perencanaan. Kondisi ini sangat dipengaruhi alasan yang ditemukan hasil validasi teknis dan konfirmatif sebelumnya. Syarat kondisi usulan yang ada tertuang dalam lampiran tentang instrumen validasi kategori usulan. Jika usulan-usulan itu tidak mampu menyerap keseluruhan BLM yang dialokasikan di kecamatan tersebut, maka harus didapatkan usulan dari tahap perencanaan sebelumnya (di bawah ini).

6

3. Strategi Pemanfaatan Hasil Musdes Perencanaan

Optimalisasi menjawab kebutuhan akomodasi terhadap gagasan masyarakat tentang usulan kegiatan yang telah dirumuskan dan ditetapkan desa tetapi belum terdanai. Strategi ini dilakukan dengan cara memanfaatkan rencana kegiatan yang berasal dari proses Musdes Perencanaan tahun sebelumnya. Bagi desa-desa yang memiliki daftar rencana kegiatan tetapi belum masuk ke dalam daftar usulan desa yang diajukan ke MAD Prioritas Usulan (di luar 3 usulan desa yang diajukan ke MAD Prioritas Usulan) dapat menerapkan strategi ini. Rencana kegiatan yang disusun masyarakat ini dapat diperoleh dari rekapitulasi rencana pembangunan desa berdasarkan dokumen hasil Menggagas Masa Depan Desa (MMDD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang diproses melalui Musdes Perencanaan Tahun sebelumnya. Sebelum menetapkan strategi ini, validasi kelayakan proses harus dilakukan terhadap hasil MD Perencanaan Usulan oleh FK melibatkan Tim Verifikasi. Validasi yang dilakukan bersifat teknis dan konfirmatif kepada masyarakat melalui musyawarah desa. Setelah itu rekomendasi hasil validasi diajukan oleh FK kepada Faskab, kemudian review dan rekomendasi dilakukan oleh Faskab. Tahapan yang dilakukan adalah: a. MAD Sosialisasi, b. Musdes Validasi dan Konfirmasi, c. Pelatihan Pelaku, d. Penulisan Usulan, e. Verifikasi Usulan, f. MAD Prioritas Usulan, g. Penyusunan RAB/Desain, h. MAD Penetapan Usulan, i. MD Informasi. Jika hasil validasi teknis dan konfirmatif menyimpulkan bahwa usulan ini tidak memungkinkan diterapkan, maka usulan tersebut dibatalkan. Kondisi ini sangat dipengaruhi alasan yang ditemukan hasil validasi teknis dan konfirmatif sebelumnya. Syarat kondisi usulan yang ada tertuang dalam lampiran tentang instrumen validasi kategori usulan. 4. Strategi Pemanfaatan Hasil Musyawarah Penggalian Gagasan Optimalisasi menjawab kebutuhan akomodasi terhadap gagasan-gagasan masyarakat desa yang telah dihasilkan agar dapat dirumuskan dan ditetapkan sebagai usulan desa. Strategi ini dilakukan dengan cara memanfaatkan hasil musyawarah penggalian gagasan. Hasil musyawarah berupa gagasan-gagasan yang terbentuk melalui proses penggalian gagasan dengan menggunakan metode dan alat PRA (peta sosial, kalender musim, diagram venn kelembagaan, pemetaan RTM partisipatif) penting untuk didayagunakan dalam kerangka perencanaan optimalisasi ini.

7

Sebelum menetapkan strategi ini, validasi kelayakan proses harus dilakukan terhadap hasil Musyawarah Penggalian Gagasan oleh FK melibatkan Tim Verifikasi. Validasi yang dilakukan bersifat teknis dan konfirmatif kepada masyarakat melalui musyawarah desa. Setelah itu rekomendasi hasil validasi diajukan oleh FK kepada Faskab, kemudian review dan rekomendasi dilakukan oleh Faskab. Tahapan yang dilakukan adalah: a. MAD Sosialisasi, b. Musdes Validasi dan Konfirmasi, c. Pelatihan Pelaku, d. Penulisan Usulan, e. Verifikasi Usulan, f. MAD Prioritas Usulan, g. Penyusunan RAB/Desain, h. MAD Penetapan Usulan, i. MD Informasi. Jika hasil validasi teknis dan konfirmatif menyimpulkan bahwa gagasan ini tidak memungkinkan diakomodasikan, maka proses ini dibatalkan. Kondisi ini sangat dipengaruhi alasan yang ditemukan hasil validasi teknis dan konfirmatif sebelumnya. Syarat kondisi usulan yang ada tertuang dalam lampiran tentang instrumen validasi kategori usulan. Jika usulan-usulan itu tidak mampu menyerap keseluruhan BLM yang dialokasikan di kecamatan tersebut, maka harus didapatkan usulan dari tahap perencanaan normal (di bawah ini). 5. Strategi Normal Optimalisasi menjawab kebutuhan perencanaan dan penyerapan dana lebih awal. Adalah strategi perencanaan sesuai dengan tahapan normal. Tahapan yang dijalani mulai MAD Sosialisasi sampai dengan MD Musdes Informasi dijalankan secara serial akan tetapi dengan jadwal waktu dan pengendalian yang ketat. Walaupun demikian, strategi ini memerlukan waktu yang paling lama. Lokasi kecamatan yang memberlakukan penuh strategi ini adalah lokasi yang tidak mempunyai usulan tidak terdanai dan gagasan serta lokasi dimana hasil validasi serta Musdes Konfirmasi ternyata tidak memenuhi syarat yang ada. Strategi tahapan normal juga dilakukan terkait dengan penyiapan usulan untuk pelaksanaan tahun berikutnya (tahun n+1). Oleh karena itu tahapan normal juga harus dilakukan meskipun kecamatan tersebut memanfaatkan usulan tidak terdanai untuk penyerapan dana tahun ini. Perencanaan kegiatan untuk tahun n+1 adalah pintu masuk pengintegrasian yang mulai dilakukan tahun 2011.

8

Desa yang tidak perlu melakukan tahapan normal adalah desa yang mempunyai usulan tidak terdanai hasil perencanaan tahun sebelumnya dan telah menyerap alokasi BLM tahun ini selain itu desa tersebut haruslah telah mempunyai RPJMDes (yang layak) hasil perencanaan tahun sebelumnya. Syarat kelayakan RPJMDes yang dimaksudkan diatur dalam Panduan Pengintegrasian. 6. Strategi Optimalisasi Pendanaan Kegiatan SPP Optimalisasi menjawab kebutuhan akomodasi terhadap usulan tidak terdanai serta gagasan kegiatan SPP. Strategi Optimalisasi Pendanaan Kegiatan SPP adalah upaya untuk memanfaatkan usulan tidak terdanai hasil MAD Penetapan Usulan, MAD Prioritas Usulan, MD Perencanaan, serta hasil Musyawarah Khusus Perempuan. Optimalisasi pendanaan kegiatan SPP juga diterapkan terhadap lokasi dimana terdapat usulan kegiatan SPP kelompok daftar tunggu hasil MAD perguliran. Sebelum menetapkan strategi ini, validasi kelayakan proses harus dilakukan terhadap kegiatan SPP yang belum terdanai oleh FK melibatkan Tim Verifikasi. Validasi yang dilakukan bersifat teknis dan konfirmatif kepada masyarakat melalui musyawarah desa. Setelah itu rekomendasi hasil validasi diajukan FK kepada Faskab, kemudian review dan rekomendasi dilakukan oleh Faskab. Dengan demikian, tahapan kegiatan SPP optimalisasi diambil usulan yang dihasilkan dari keputusan yang paling akhir. Urutan prioritas usulan SPP tidak terdanai dari proses perencanaan sebelumnya adalah sebagai berikut: a. Hasil MAD Penetapan dan Prioritas Usulan. Jika belum menyerap keseluruhan quota 25% dari BLM yang ada, maka diambil usulan SPP dari: b. Hasil MAD Perguliran. Jika belum menyerap keseluruhan quota 25% dari BLM yang ada, maka diambil usulan SPP dari: c. Hasil Musdes Perencanaan. Jika belum menyerap keseluruhan quota 25% dari BLM yang ada, maka diambil gagasan SPP dari: d. Hasil M-Pegas. Jika belum menyerap keseluruhan quota 25% dari BLM yang ada, maka diambil gagasan SPP dari: e. Hasil Perencanaan Normal. Tahapan kegiatan SPP hasil usulan tidak terdanai di MAD Penetapan Usulan, Prioritas Usulan, dan MAD Perguliran adalah: a. MAD Sosialisasi. b. Musdes Validasi dan Konfirmasi. c. MAD Perangkingan dan Pendanaan.

9

Tahapan kegiatan SPP hasil usulan tidak terdanai di MD Perencanaan tahun sebelumnya adalah: a. MAD Sosialisasi. b. Musdes Validasi dan Konfirmasi. c. Penulisan Usulan. d. Verifikasi Usulan. e. MAD Perangkingan dan Pendanaan. Tahapan kegiatan SPP hasil usulan di Musyawarah Khusus Perempuan tahun sebelumnya adalah: a. MAD Sosialisasi. b. Musdes Validasi dan Konfirmasi. c. MD Perencanaan. d. Penulisan Usulan. e. Verifikasi Usulan f. MAD Perangkingan dan Pendanaan. MAD dan MD kegiatan SPP sebaiknya dilakukan bersamaan dengan MAD dan MD untuk jenis kegiatan non SPP, hal itu untuk mengoptimalkan musyawarah yang dilakukan. Jika hasil validasi kelayakan proses dan konfirmasi menyimpulkan bahwa usulan ini tidak memungkinkan diterapkan, maka usulan tersebut dibatalkan. Kondisi ini sangat dipengaruhi alasan yang ditemukan hasil validasi teknis dan konfirmatif sebelumnya. Syarat kondisi usulan yang ada tertuang dalam lampiran tentang instrumen validasi kategori usulan. Demikianlah strategi implementasi optimalisasi itu dijalankan. Yang perlu . diperhatikan adalah bahwa optimalisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai dimanfaatkannya usulan tidak terdanai sebelumnya dengan mengabaikan kualitas usulan tersebut dan proses sebelumnya. Oleh karena itu saat MAD dan MD (mulai sosialisasi) harus sekaligus disampaikan pemaparan evaluasi proses dan hasil perencanaan serta pelaksanaan tahun sebelumnya. FK dan Faskab harus memastikan adanya fasilitasi untuk proses ini.

10

VI. Pengendalian

optimalisasi sebagaimana dijelaskan di atas wajib diperhatikan dan dipahami serta dijalankan dengan sebaiknya-baiknya oleh Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan. Langkah-langkah operasional dalam menjalankan dan mengendalikan kebijakan ini adalah sebagai berikut: 1. Tahapan Sosialisasi dan Diseminasi. 2. Tahapan Implementasi Optimalisasi. 3. Tahapan Pelaporan dan Evaluasi. 4. Tahapan Supermonev. Rancangan kegiatan pengendalian sebagimana tersebut di atas diuraikan dalam tabel pengendalian dalam lampiran 10.
VII. Penutup

Kebijakan

Kebijakan optimalisasi dikeluarkan mengacu pada Pedum PNPM Mandiri dan
PTO PNPM Mandiri Perdesaan. Aturan lain yang tidak diatur dalam Petunjuk Teknis ini tetap mengacu pada PTO PNPM Mandiri Perdesaan. Kebijakan optimalisasi tahapan kegiatan dimaksudkan agar terjadi peningkatan pengelolaan program menjadi lebih efektif dan efisien sesuai waktu, peraturan dan kondisi lokasi yang ada. Kebijakan optimalisasi berkaitan dengan strategi yang diterapkan pada tahapan perencanaan kegiatan agar ada keterkaitan dengan proses perencanaan tahun-tahun sebelumnya sehingga ada kesinambungan proses perencanaan dan efisiensi waktu yang dijalani. Kebijakan optimalisasi menuntut adanya kualitas kinerja para pelaku di semua level mulai pusat sampai desa terutama dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan. Keseimbangan antara kualitas proses kegiatan dan ketepatan waktu perencanaan serta pelaksanaan kegiatan menjadi tolok ukur evaluasi kinerja para pelaku di semua level manajemen. (LW/RG-09)

11

Lampiran-Lampiran: Lampiran 2. Tabel Proses dan Output Optimalisasi Non Kegiatan SPP: No 1. Hasil Tahun Proses Tahun Ini Output Sebelumnya Usulan tidak a. MAD Sosialisasi a. Daftar Usulan terdanai hasil b. MD Validasi dan Terdanai, MAD Konfirmasi Usulan b. SPC Penetapan c. Pelatihan Masyarakat Usulan Dengan d. Revieuw RAB Desain RAB Desain e. MAD Penetapan Usulan Jika tidak ada ataupun belum menyerap alokasi BLM maka menggunakan: Usulan tidak a. MAD Sosialisasi a. RAB Desain terdanai hasil b. MD Validasi dan b. Daftar Usulan MAD Prioritas Konfirmasi Usulan terdanai Usulan c. Pelatihan Masyarakat c. SPC d. Penyusunan RAB/Desain e. MAD Penetapan Usulan Jika tidak ada ataupun belum menyerap alokasi BLM maka menggunakan: Usulan tidak a. MAD Sosialisasi a. Proposal Usulan Desa terdanai hasil b. MD Validasi dan b. Laporan hasil MD Konfirmasi Usulan Verifikasi Usulan Perencanaan c. Pelatihan Masyarakat c. Hasil Perangkingan d. Penulisan Usulan Desa Usulan e. Verifikasi Kelayakan d. RAB Desain Usulan e. Daftar Usulan f. MAD Prioritas Usulan Terdanai g. RAB/Desain f. SPC h. MAD Penetapan Usulan Jika tidak ada ataupun belum menyerap alokasi BLM maka menggunakan: Rekapitulasi a. MAD Sosialisasi a. Daftar Usulan gagasan hasil b. MD Validasi dan b. Proposal Usulan Desa Musyawarah Konfirmasi Gagasan c. Laporan hasil Penggalian c. Pelatihan Verifikasi Usulan Gagasan d. MD Perencanaan d. Hasil Perangkingan e. Proposal Usulan Desa Usulan f. Verifikasi Kelayakan e. RAB Desain Usulan f. Daftar Usulan g. MAD Prioritas Usulan Terdanai h. RAB/Desain g. SPC i. MAD Penetapan Usulan Tahapan Normal Mulai MAD Sosialisasi dst

2.

3.

4.

5.

12

Lampiran 3. Tabel Proses dan Output Optimalisasi Kegiatan SPP: No 1. Hasil Tahun Sebelumnya Usulan tidak terdanai hasil MAD Penetapan Usulan, Prioritas Usulan, serta MAD Perguliran (Sudah Verifikasi Usulan) Usulan tidak terdanai hasil MD Perencanaan (Belum Penulisan Usulan, Verifikasi Usulan) Proses Tahun Ini a. c. a. c. MAD Sosialisasi Konfirmasi Usulan MAD Penetapan Usulan MAD Sosialisasi
b. MD Validasi dan

Output Tahun Berikutnya a. Daftar Usulan Kegiatan SPP Terdanai (Berita Acara) b. SPC a.
b. c.

2.

b. MD Validasi dan

Konfirmasi Usulan Penulisan Usulan d. Verifikasi Kelayakan Usulan e. MAD Perangkingan dan Pendanaan a. c. d. MAD Sosialisasi

d. e. a. b.
c.

3.

Usulan tidak terdanai hasil Musyawarah Khusus Perempuan (Belum Penetapan MD, Penulisan Usulan, Verifikasi Usulan)

b. MD Validasi dan

Konfirmasi Usulan MD Perencanaan Penulisan Usulan e. Verifikasi Kelayakan Usulan f. MAD Perangkingan dan Pendanaan

d.

e. f.

Proposal Usulan Laporan Hasil Verifikasi Hasil Perangkingan Usulan (Berita Acara) Daftar Usulan Kegiatan SPP Terdanai SPC Berita Acara MD Perencanaan Proposal Usulan Laporan Hasil Verifikasi Hasil Perangkingan Usulan (Berita Acara) Daftar Usulan Kegiatan SPP Terdanai SPC

13

Lampiran 4. Tabel Skenario Jadwal Implementasi Strategi: Pemanfaatan Usulan Tidak Terdanai (UTD) Hasil Bulan MAD MAD Pn-U Pr-U 1 MD V-K PP 2 MD V-K PP MD Prc 3 MD V-K PP PU Feb RR/D PR/D VU MPG 4 Normal UTD-SPP Dari
MAD Pr-U, MAD Pn-U, MAD Perguliran

MD Prc 6 b MD V-K PU

MKP

Strategi

5

a

c MD V-K MD Prc PU

Jan

MAD Sosialisasi MD MD-S V-K PP MD PP MD Prc V-K PU M-PG VU MKP

VU VU

Mar

MAD MAD Pn-U Pn-U MAD SPC SPC Pr-U P-R/D MAD Pn-U SPC

MAD Pr-U P-R/D MAD Pn-U SPC

MD Prc

MAD Pr-U &MAD Pn-U (SPC)

Apr

PU VU MAD Pr-U P-R/D MAD Pn-U SPC

Mei Juni

Juli

MD V-K MAD S PP PU VU MAD Pn-U MAD Pr-U MD Prc

= Musy Desa Validasi dan Konfirmasi = Musy Antar Desa Sosialisasi = Pelatihan Pelaku = Penulisan Usulan = Verifikasi Usulan = Musy Antar Desa Penetapan Usulan = Musy Antar Desa Prioritas Usulan = Musyawarah Desa Perencanaan

M-PG P-Normal MKP R R/D P R/D SPC

= Musy Penggalian Gagasan = Perencanaan Normal = Musy Khusus Perempuan = Review RAB/Desain = Penyusunan RAB/Desain = Surat Penetapan Camat

14

Lampiran 5. Formulir Validasi Kategori Usulan Non SPP
Kecamatan:
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Disusun oleh FK dan FT: Nama jelas Disetujui oleh Tim Faskab: Nama jelas Jika salah satu dari kriteria tidak ada maka usulan tersebut dibatalkan atau diturunkan prosesnya sebagaimana dijelaskan dalam Petunjuk Teknis Optimalisasi 14 Usulan yang Sudah Ada Jenis Desa Kriteria Kriteria Pr- Kriteria MD Kriteria MMAD Pn-U U Prc Pegas Memenuhi kriteria sebagai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 kategori

Lampiran 6. Kriteria Kategori Usulan Non SPP MAD Pn-U 1 2 3 4 5

Masih merupakan prioritas masyarakat yang terbukti melalui MD Konfirmasi Gambar desain sudah disiapkan dan telah lulus pemeriksaan supervisor perancang RAB ada dan masyarakat sanggup menggunakannya tanpa menambah dana BLM Proses penggalian usulan dan verifikasi dilakukan sesuai dengan aturan PNPM Proses seleksi dan pembuatan prioritas sesuai aturan PNPM Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila RAB perlu direvisi karena kenaikan harga, usulan dianggap lulus MAD Pr-U saja Bila proses PNPM tidak dilakukan sesuai aturan, usulan masuk kategori normal Masih merupakan prioritas masyarakat yang terbukti melalui MD Konfirmasi Sudah tercantum dalam MAD Pr-U perangkingan tahun sebelumnya Proses verifikasi usulan dilakukan sesuai aturan PNPM Proses pengusulan dan pembuatan prioritas sesuai aturan PNPM Melalui proses MAD Pn-U setelah desain dan RAB selesai Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila belum tercantum dalam MAD Pn-U tahun lalu, menjadi kategori MD Prc atau normal Bila proses PNPM tidak dilakukan sesuai aturan, usulan masuk kategori normal Sudah merupakan prioritas masyarakat yang terbukti melalui MD Konfirmasi Usulan sudah tercantum dalam rekapitulasi usulan yang disusun oleh desa pada MD Prc Usulan sudah tercantum dalam MMDD atau RPJMDes Usulan diverifikasi, kemudian proses MAD Prioritas Usulan dilakukan Jika ranking belum melebihi jatah biaya, desain & RAB dibuat, dan proses MAD Pn-U dilakukan Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila belum masuk rekapitulasi usulan desa, masuk kategori normal Bila belum masuk pada MMDD atau RPJMDes, masuk kategori normal Bila tidak lulus verifikasi dengan baik, usulan dicoret atau masuk kategori normal Bila jumlah jatah biaya diperkirakan akan habis dengan membiayai usulan rangking lebih tinggi, usulan ini belum dibuat RAB dan gambar desain

MAD Pr-U 1 2 3 4 5

MD Prc-U 1 2 3 4 5

16

M-Pegas 1 2 3 4 5

Sudah mendapatkan persetujuan masyarakat dalam MD Konfirmasi Gagasan masyarakat melalui penggalian gagasan sesuai PTO Sudah dalam bentuk rekap gagasan hasil musyawarah penggalian gagasan Gagasan setelah diverifikasi dan dikonfirmasi diproses menjadi usulan dalam MD Prc Gagasan tidak dibatasi adanya negatif list Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, masuk kategori normal (proses ini dilewati) Bila belum masuk rekapitulasi gagasan, masuk kategori normal Bila tidak lulus verifikasi dengan baik, usulan dicoret atau masuk kategori normal

17

Lampiran 7. Formulir Validasi Kategori Usulan SPP
Kecamatan:
No. Usulan yang Sudah Ada Jenis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Disusun oleh FK dan FT: Nama jelas Disetujui oleh Tim Faskab: Nama jelas Desa Kriteria Kriteria MD Kriteria MMAD Prc Pegas Perguli ran 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Kriteria MAD PnU Kriteria MAD Pr-U Memenuhi kriteria sebagai kategori

18

Lampiran 8. Kriteria Kategori Usulan Kegiatan SPP MAD Pn-U 1 Masih menjadi kebutuhan yang terbukti melalui MD Konfirmasi 2 Proses penggalian usulan dan verifikasi dilakukan sesuai dengan aturan PNPM 3 Proses perangkingan sesuai aturan PNPM 4 Nantinya diproses melalui MAD Perangkingan dan Pendanaan Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila proposal pinjaman perlu direvisi, usulan dianggap lulus MAD Pr-U saja Bila proses PNPM tidak dilakukan sesuai aturan, usulan masuk kategori normal MAD Pr-U 1 Masih menjadi kebutuhan yang terbukti melalui MD Konfirmasi 2 Sudah tercantum dalam MAD Pr-U perangkingan tahun sebelumnya 3 Proses verifikasi usulan dilakukan sesuai aturan PNPM 4 Proses perangkingan sesuai aturan PNPM 5 Melalui proses MAD Perangkingan dan Pendanaan setelah verifikasi selesai Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila belum tercantum dalam MAD Pn-U tahun lalu, menjadi kategori MD Prc atau normal Bila proses PNPM tidak dilakukan sesuai aturan, usulan masuk kategori normal MAD Perguliran 1 Masih menjadi kebutuhan yang terbukti melalui MD Konfirmasi 2 Proses perangkingan sesuai aturan PNPM 3 Proses verifikasi usulan dilakukan sesuai aturan PNPM Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila proses PNPM tidak dilakukan sesuai aturan, usulan masuk kategori normal MD Prc-U 1 Masih menjadi kebutuhan yang terbukti melalui MD Konfirmasi 2 Usulan sudah tercantum dalam rekapitulasi usulan yang disusun oleh desa pada MD Prc 3 Usulan sudah tercantum dalam MMDD atau RPJMDes 4 Usulan nantinya melalui proses verifikasi kelayakan 5 Usulan setelah lolos verifikasi diproses melalui MAD Perangkingan dan Pendanaan Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, usulan ini dicoret atau masuk kategori normal Bila belum masuk rekapitulasi usulan desa, masuk kategori normal Bila belum masuk pada MMDD atau RPJMDes, masuk kategori normal Bila tidak lulus verifikasi dengan baik, usulan dicoret atau masuk kategori normal M-Pegas (MKP) 1 Sudah mendapatkan persetujuan masyarakat dalam MD Konfirmasi 2 Gagasan masyarakat melalui penggalian gagasan sesuai PTO 3 Sudah dalam bentuk rekap gagasan hasil musyawarah penggalian gagasan 4 Gagasan setelah diverifikasi dan dikonfirmasi diproses menjadi usulan dalam MD Prc 5 Gagasan tidak dibatasi adanya negatif list Bila masyarakat tidak memberi konfirmasi, masuk kategori normal (proses ini dilewati) Bila belum masuk rekapitulasi gagasan, masuk kategori normal Bila tidak lulus verifikasi dengan baik, usulan dicoret atau masuk kategori normal

19

Lampiran 9. Formulir Rekap Validasi Usulan Lama Kabupaten: No Kecamata . n
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Non SPP
MAD PnU MAD PrU MD Prc M-PG MAD PnU&Pr-U

SPP
MD Prc MKP

Jumla h

20

Lampiran 10. Kerangka Kegiatan Pengendalian Optimalisasi Kegiatan A 1 2 3 B 1 2 Sosialisasi Kebijakan dan Petunjuk Teknis Sosialisasi dan Action Plan Kabupaten Tahapan Implementasi Optimalisasi MD Validasi dan Konfirmasi Tahapan Kegiatan Optimalisasi Tahapan Sosialisasi dan Diseminasi Media Rapat Koordinasi Rapimnas Rakorprov Rakorkab Kegiatan Bersama Masyarakat Musyawarah Desa Kegiatan Bersama Masyarakat Pelaporan Khusus dan Berkala Pelaporan Khusus Pelaporan Khusus Pelaporan Berkala Waktu Minggu IV NopMinggu II Des Minggu IV November Minggu I Desember Minggu II Desember Mulai Awal Januari Tahun Ini Minggu I dan II Januari Tahun Ini Minggu I dan II Januari Tahun Ini Output

RKTL Nas RKTL Prov RKTL Kec dan Kab

Berita Acara (lihat tabel proses&output serta tabel implementasi skedul di atas)

C 1

Tahapan Pelaporan dan Evaluasi Pengiriman laporan hasil rekap rekomendasi oleh Faskab kepada Korprov Pengiriman laporan hasil rekap rekomendasi dari Korprov kepada NMC Pelaporan Progress Kegiatan Berkala Secara Berjenjang Evaluasi Pelaksanaan Lapangan Oleh Faskab Tahapan Supermonev Supervisi kegiatan oleh RMC dan NMC.

Mulai Minggu I Januari Tahun Ini Minggu II dan III Januari Tahun Ini Minggu III dan IV Januari Tahun Ini

Laporan

2

Laporan

3 4 D 1

Setiap Minggu dan Bulan Sesuai PTO dan SOP Evaluasi Setiap 2 Minggu Berkala Sekali Supermonev Mulai Minggu III Lapangan Jan Tahun Ini Minimal 5% Mulai Minggu III (RMC) dan Januari Tahun Ini 1% (NMC)

Laporan Laporan Laporan Supermonev Laporan

21

Lampiran 11. Daftar Pertanyaan dan Jawaban:
a.

Bagaimana memahami formulir 1,2,3,4 di atas? Berdasarkan gambar tabel di atas, ada delapan model tahapan yang dapat diterapkan dalam implementasi kebijakan optimalisasi. Delapan tahapan ini dilakukan melalui lima strategi pemanfaatan usulan tidak terdanai dan satu strategi optimalisasi menggunakan tahapan normal. Lima strategi pemanfaatan usulan tidak terdanai terdiri dari usulan tidak terdanai MAD Penetapan Usulan, usulan tidak terdanai MAD Prioritas Usulan, usulan tidak terdanai MD Perencanaan, rekap gagasan hasil musyawarah Penggalian Gagasan, dan usulan tidak terdanai SPP ( tiga kategori, lihat tabel di atas). Satu strategi optimalisasi menggunakan tahapan normal berupa penyusunan kerangka waktu perencanaan tahun ini sampai terbitnya SPC untuk didanai tahun ini juga maupun sebagai bahan usulan untuk didanai tahun berikutnya. Hal yang harus diperhatikan juga adalah kerangka waktu pelaksanaan. Misalnya pada bulan Januari, Musdes Validasi dan Konfirmasi tidak boleh terlalu lama atau ditunda pelaksanaannya. Hal ini penting diperhatikan, karena dalam satu bulan terdapat beberapa kegiatan lain. Setiap penundaan akan menyebabkan tertundanya rencana penerbitan SPC. Dasar ketentuan rangking penetapan usulan jika MAD Penetapan Usulan bersifat paralel (SPP dan non SPP), usulan SPP diprioritaskan lebih dahulu baru kemudian usulan non SPP berdasarkan urutan bagaimana usulan itu dihasilkan.

b. Apakah kecamatan dapat memiliki tahapan lebih dari satu?

Ya. Dari tabel di atas, dalam satu kecamatan, dimungkinkan tahapan lebih dari satu. Hal ini disebabkan perbedaan status usulan yang telah dihasilkan sebelumnya (dari hasil MAD, MD dan seterusnya). Dalam tabel di atas misalnya, tahapan kecamatan x terdiri dari strategi nomor 1,2,3,4,5 dan 6a. Kecamatan y, mungkin menggunakan strategi nomor 1,3 dan 6b. Kecamatan lainnya lagi menggunakan strategi nomor 1,2,5 dan 6a. Demikian seterusnya tergantung hasil validasi dan konfirmasi serta kemampuan jumlah usulan dalam menyerap jumlah BLM yang dialokasikan kecamatan tersebut sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
c.

Apakah strategi 5 atau normal harus tetap dijalankan? Ya. Strategi 5 tetap dijalankan meskipun seandainya usulan tidak terdanai hasil perencanaan lalu sudah dapat menyerap BLM tahun ini. Hal ini disebabkan strategi 5 yang dilakukan tahun ini merupakan kegiatan perencanaan untuk pengintegrasian tahun depan. Kecamatan yang tidak melakukan strategi normal di tahun ini akan tertinggal dalam hal implementasi pengintegrasian perencanaan reguler.

22

d. Apakah desa yang telah memiliki usulan tidak terdanai di tahun sebelumnya diprioritaskan? Ya. Pada saat MAD Prioritas Usulan dan MAD Penetapan Usulan, prioritas diberikan terhadap usulan desa tidak terdanai tahun sebelumnya (melalui validasi dan konfirmasi), baru setelah itu dilakukan terhadap usulan baru, jika usulan tidak terdanai tahun sebelumnya tidak menyerap keseluruhan BLM tahun ini. Hal ini juga berlaku bagi desa pada lokasi kecamatan hasil pemekaran. Jika desa tersebut mempunyai usulan tidak terdanai tahun sebelumnya, maka usulan desa tersebut tetap diprioritaskan. e. Bisakah melakukan MAD pada tahapan berbeda secara paralel? Bisa. Sesuai tabel di atas, jika salah satu strategi tahapan telah sampai MAD Penetapan Usulan maka MAD tersebut sekaligus MAD Penetapan Usulan strategi tahapan lain (nomor strategi yang berbeda) atau bahkan MAD Prioritas Usulan bagi strategi tahapan lainnya. Dari uraian di atas dapat diberikan contoh, pada strategi 1, MAD Penetapan Usulan dilaksanakan bersamaan dengan strategi 2 dan 6 yakni pada bulan Maret tahun ini, dan pada MAD tersebut sekaligus dapat dilaksanakan MAD Prioritas Usulan untuk strategi 3 dan 4. Diharapkan musyawarah baik di desa maupun di kecamatan dapat dilakukan secara optimal, salah satunya dengan cara paralel.
f.

Dengan delapan model tahapan di atas, bagaimana mekanisme penerbitan SPC? SPC diterbitkan maksimal 3 kali, dengan ancar-ancar bulan Maret, bulan Mei dan bulan Juli tahun ini. Dengan strategi optimalisasi kombinasi/gabungan beberapa tahapan, maka penerbitan SPC dapat dilakukan melalui MAD Penetapan Usulan secara paralel. Artinya dalam sekali MAD Penetapan Usulan bisa sekaligus diterbitkan SPC untuk tahapan kegiatan yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena pelaksanaan MAD Penetapan Usulan berada pada bulan yang sama. Misalnya MAD Penetapan Usulan strategi 1 yang dilakukan pada bulan Maret bersamaan dengan MAD Penetapan Usulan strategi 2 dan 6. MAD Penetapan Usulan strategi 3 dilaksanakan bersamaan dengan MAD Penetapan Usulan strategi 4 pada bulan Mei. Ancar-ancar penerbitan SPC ada dalam tabel ancar-ancar SPC sebagai berikut: Maret SPC-1 Mei SPC-2 Hasil MAD Pn-U (Str 1) Hasil MD Prc (Str 3) Hasil MAD Pr-U (Str 2) Hasil M-Pegas (Str 4) P-SPP (Str 6) Juli SPC-3 P-Normal (Str 5)

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->