P. 1
Kesenian Tradisional

Kesenian Tradisional

|Views: 4,794|Likes:
Published by Ki Demang Sokowaten
kesenian tradisional jawa
kesenian tradisional jawa

More info:

Published by: Ki Demang Sokowaten on Feb 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

Jatilan adalah salah satu jenis tarian rakyat yang bila ditelusur latar belakang sejarahnya
termasuk tarian yang paling tua di Jawa.
Tari yang selalu dilengkapi dengan property berupa kuda kepang ini lazimnya
dipertunjukkan sampai klimaksnya, yaitu keadaan tidak sadar diri pada salah seorang
penarinya.
Penari jatilan dahulu hanya berjumlah 2 orang tetapi sekarang bisa dilakukan oleh lebih
banyak orang lagi dalam formasi yang berpasangan. Tarian jatilan menggambarkan
peperangan dengan naik kuda dan bersenjatakan pedang.
Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai topeng.
Di antaranya adalah penthul, bejer, cepet, gendruwo dan barongan.
Reog dan jatilan ini fungsinya hanya sebagai tontonan/hiburan, ini agak berbeda
dengan fungsi reog pada zaman dahulu yang selain untuk tontonan juga berfungsi
sebagai pengawal yang memeriahkan iring-iringan temanten atau anak yang dikhitan
serta untuk kepentingan pelepas nadzar atau midhang kepasar.
Perbedaan antara Jatilan dan Reog antara lain adalah pertama, dalam permainan Jatilan
penari kadang-kadang bisa rnencapai trance, sedangkan pada Reog penari tidak bisa
mengalami hal ini.
Kedua, pada Jatilan selama permainan berlangsung digunakan tempat / arena yang
tetap.
Pada Reog selain permainannya tidak menggunakan arena atau tempat yang tetap, juga
sering diadakan untuk mengiringi suatu perjalanan ataupun upacara.
Mengenai kapan dan dimana lahirnya dua jenis kesenian ini orang tidak tahu. Para
pemain Jatilan dan Reog hanya mewarisi kesenian tersebut dari nenek moyang mereka.
Orang-orang umumnya menyatakan bahwa Jatilan dan Reog sudah ada sejak dulu kala.
Pendukung permainan ini tidak tentu jumlahnya tergantung pada banyak sedikitnya
anggota.
Meskipun demikian biasanya pendukung tersebut sekitar 35 orang dan terdiri dari laki-
laki dengan perincian: penari 20 orang; penabuh instrumen 10 orang; 4 orang penjaga

http://ki-demang.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=34&Itemid=654 15

keamanan/ pembantu umum untuk kalau ada pemain yang mengalami trance; dan 1
orang sebagai koordinator pertunjukan (pawang).
Para penari menggunakan property pedang yang dibuat dari bambu dan menunggang
kuda lumping.
Di antara para penari ada yang memakai topeng hitam dan putih, bernama Bancak
(Penthul) untuk yang putih, dan Doyok (Bejer/Tembem) untuk yang hitam.
Kedua tokoh ini berfungsi sebagai pelawak, penari dan penyanyi untuk menghibur
prajurit berkuda yang sedang beristirahat sesudah perang-perangan.
Ketika menari para pemain mengenakan kostum dan tata rias muka yang realistis.
Ada juga group yang kostumnya non-realistis terutama pada tutup kepala; karena group
ini memakai irah-irahan wayang orang.
Pada kostum yang realistis, tutup kepala berupa blangkon atau iket (udeng) dan para
pemain berkacamata gelap, umumnya hitam.
Selama itu ada juga baju/kaos rompi, celana panji, kain, dan stagen dengan timangnya.
Puncak tarian Jatilan ini kadang-kadang diikuti dengan keadaan mencapai trance (tak
sadarkan diri tetapi tetap menari) pada para pemainnya.
Sebelum pertunjukan Jatilan dimulai biasanya ada pra-tontonan berupa tetabuhan dan
kadang-kadang berupa dagelan/ lawakan.
Kini keduanya sudah jarang sekali ditemui.
Pertunjukan ini bisa dilakukan pada malam hari, tetapi umumnya diadakan pada siang
hari.
Pertunjukan akan berlangsung selama satu hari apabila pertunjukannya memerlukan
waktu 2 jam per babaknya, dan pertunjukan ini terdiri dari 3 babak.
Bagi group yang untuk 1 babak memerlukan waktu 3 jam maka dalam sehari dia hanya
akan main 2 babak.
Pada umumnya permainan ini berlangsung dari jam 09.00 sampai jam 17.00, termasuk
waktu istirahat.
Jika pertunjukan berlangsung pada malam hari, maka pertunjukan akan dimulai pada
jam 20.00 dan berakhir pada jam 01.00 dengan menggunakan lampu petromak.
Tempat pertunjukan berbentuk arena dengan lantai berupa lingkaran dan lurus.
Vokal hanya diucapkan oleh Pentul dan Bejer dalam bentuk dialog dan tembang,
sedangkan instrumen yang dipakai adalah angklung 3 buah, bendhe 3 buah, kepyak
setangkep dan sebuah kendang.
Peralatan musik ini diletakkan berdekatan dengan arena pertunjukan.

Jatilan Gaya Baru.
Dewasa ini ada kemajuan dalam kesenian tan Jatilan dengan munculnya Jatilan Gaya
Baru di desa Jiapan, Tempel dan Sleman.
Instrumen yang dipakai adalah kendang, bendhe, gong, gender dan saron. Jadi jenis
Jatilan ini sudah tidak memakai angklung lagi.
Yang menarik pada Jatilan ini adalah apabila pemain berada dalam keadaan trance dia
bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dan kalau diperbolehkan dia bisa menunjuk
orang yang telah mengganggu pertunjukan, seandainya gangguan ini memang terjadi.
Sering pula dalam keadaan trance ini pemain meminta sebuah lagu dan ketika lagu itu
dinyanyikan oleh pemain musik ataupun oleh Pentul dan Bejer, penari yang trance
tersebut berjoged mengikuti irama lagu tersebut.

http://ki-demang.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=34&Itemid=654 16

Dalarn keadaan trance mata si penari tidak selalu tertutup, ada juga penari yang
matanya terbuka seperti dalam keadaan biasa.
Kuda lumping di sini tidak hanya 6 tetapi 10 buah.
Dua kuda pasangan terdepan berwarna putih, sedangkan yang 8 buah berwarna hitam.
Dua kuda pasangan yang ada di baris belakang adalah kuda kecil atau anak kuda (belo -
Jawa).
Anak kuda ini dibentuk sedemikian rupa sehingga memberi kesan kekanak-kanakan.
Kepala kuda yang kecil memandang lurus ke depan, sedang kepala kuda yang lain
tertunduk.
Perbedaan sikap kepala kuda lumping itu bukan hanya model atau variasi, tetapi
memang digunakan untuk menunjukkan atau memberi kesan bahwa peran kuda
tersebut berbeda dengan kuda-kuda yang lain dan gaya tarian orang yang menunggang
anak kuda agak berlainan, yaitu harus lebih lincah dan leluasa dalam bergerak/bergaya,
dan memberi kesan kekanak-kanakan.
Di samping itu masih banyak keunikan-keunikan yang menambah kemeriahan
pertunjukan Jatilan Gaya Baru ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->