P. 1
Management Public Relation: Presentasi Penanganan Krisis Kasus Teluk Buyat Indonesia

Management Public Relation: Presentasi Penanganan Krisis Kasus Teluk Buyat Indonesia

|Views: 4,137|Likes:
Published by Eric
Berikut ini merupakan Powerpoint Mata Kuliah management PR, terkait Penanganan Kasus Teluk Buyat Indonesia
Berikut ini merupakan Powerpoint Mata Kuliah management PR, terkait Penanganan Kasus Teluk Buyat Indonesia

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Eric on Feb 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

PERANAN PUBLIC RELATIONS DALAM MENANGANI KRISIS LINGKUNGAN (STUDY KASUS: PENCEMARAN TELUK BUYAT) PE PRESENTASI KELOMPOK 4: DAMPAK

LINGKUNGAN

Ulul Azmi Zaini Shofari Tresnawati Bahar Husni Anggoro M. Eric Harramain Hermi Pujiyani Halimatusa’diah Yusiatie Ulviah Muallivah
DOSEN:

200822310004 200822310005 200921310033 200822320005 200822320003 200822310002 200822320004 200822320006 200822310003

Prof. Dr. Harsono Suwardi, MA MAGISTER ILMU KOMUNIKASI SEKOLAH PASCASARJANA ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS SAHID JAKARTA 2009

PENDAHULUAN
Oleh: Ulul Azmi

KASUS TELUK BUYAT (2004) Kasus pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, merupakan ''wadah'' pembuangan limbah perusahaan tambang PT. Newmont Minahasa Raya (NMR). HASIL KAJIAN WALHI Dari kajian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), setiap hari PT NMR membuang sekitar 2.000 metrik ton limbah tambang ke perairan Teluk Buyat sejak tahun 1996.

DAMPAK PENCEMARAN PT. NMR Limbah mencemari biota laut dan lingkungan di sekitar Teluk Buyat. Bahkan, empat dari enam sumur milik warga Buyat mengandung arsen sebesar 0,07 mikrogram. Kandungan ini dinilai lebih dari standar baku mutu air minum sesuai ketetapan Departemen Kesehatan, yaitu 0,01 mikrogram. WALHI MENGUGAT PT. NMR Dengan tuduhan telah melakukan perbuatan melawan hukum atas pasal 41 (1) junto pasal 45,46,47 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pencemaran Lingkungan, dan Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

INDIKATOR
• Prosedur dan lokasi Sistem Pembuangan Tailing Dasar Laut (SPDTL) yang berada di lapisan awal zona termoklin yaitu pada kedalaman 82 (delapan puluh dua) meter. Padahal sesuai analisa dampak lingkungan, lokasi pembuangan limbah harus sedalam 150 meter di bawah termoklin. 2. Pembuangan tailing yang salah, menyebabkan kerusakan ekosistem laut berupa: (a) kekeruhan yaitu pada zona euphotic, di mana pada zona tersebut terdapat lingkungan fitoplankton (produsen) yang butuh sinar matahari sebagai proses fotosintesis; (b) Penurunan jumlah dan kualitas keberadaan terumbu karang di Teluk Buyat; (c) Bioakumulasi (penumpukan terus menerus di dalam tubuh mahkluk hidup) dari sedimen pada biota laut di daerah euphotic; (d) Penurunan kandungan bentos dan plankton (fitoplankton dan zooplankton) akibat tingginya kadar Arsen (As) pada sedimen di Teluk Buyat; dan (e) Kematian ikan dalam jumlah lebih dari 100 (seratus) ekor di sekitar pipa pembuangan tailing di Teluk Buyat maupun terdampar di pantai.

INDIKATOR
3. Kesehatan masyarakat Buyat yang menurun dan berbagai macam penyakit menyerang tubuh mereka, akibat konsumsi air minum dan ikan yang mengandung logam berat (As dan Mn). 4. Tidak adanya surat ijin dari Kementerian Lingkungan HIdup dalam pembuangan limbah ke laut maupun pengolahan limbah (B3).

UNIKNYA
Dalam proses persidangan, tepatnya pada tanggal 12 Juni 2007, PT. NMR justru menggugat balik Walhi senilai US$ 100.000 (sekitar Rp 9 Miliar, dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000). Menanggapi gugatan balik PT NMR, Walhi menyatakan bahwa gugatan legal standing-nya merupakan ikhtiar konkret penegakan hukum demi melindungi warga dari kerusakan lingkungan.

TINJAUAN PUSTAKA
Oleh: Zaini Shofari

Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya (Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup Ps 1 angka 12).

Secara umum, krisis lingkungan hidup didorong oleh dua hal berikut ini, yakni : (1) Pertambahan penduduk yang begitu pesat yang menuntut pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas (bahan makanan, bahan bakar, energi, dsb). (2) Kemajuan di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Jika dipandang dalam persfektif sosil, krisis lingkungan akan menimbulkan hal-hal seperti berikut : 1. Intensitas permasalahan akan bertambah. 2. Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut ke mulut. 3. Korban adalah masyarakat yang di sekitar lingkungan 4. Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan perusahaan secara keseluruhan. 5. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi.

Permasalahan Pencemaran Lingkungan PT. NMR OLEH: Tresnawati Bahar

DAMPAK BAGI MANUSIA & EKOSISTEM LAUT

Adanya penelitian LBH Kesehatan pimpinan Iskandar Sitorus, Agustus 2004 kepada 10 warga Teluk Buyat. Ditemukan dua unsur logam berat yaitu Arsen dan Merkuri. Berdasarkan data-data sbb:

• Meneg Lingkungan Hidup Nabil Lakarim (31-07-2004), mengatakan kepada publik, Teluk Buyat tercemar limbah logam berat berbahaya (B3).

• Banyak penduduk menderita gatal-gatal, akibat konsumsi ikan laut. Tercemarnya air sungai akibat bahan-bahan kimia dan keluar dari cerobong pabrik, dipakai mengairi sawah. Sekitar 3000 lebih warga Buyat Kampung yang tinggal 1 km ke darat dari Buyat Pante, diduga menderita penyakit yang sama. Sampai saat ini lebih dari 100 orang telah terdeteksi.

• Empat orang dewasa meninggal dengan ciri-ciri sekarat yang sama, yaitu dada kepanasan dan sulit bernafas.

• Empat bayi meninggal (4-5 April 2005, meninggal dengan sekujurnya mengelupas. Kasus ini dibawa oleh Yayasan Nurani. Dua bayi lagi meninggal karena kesulitan bernafas dan satu bayi meninggal karena hydrosepalus.

DAMPAK BAGI MANUSIA & EKOSISTEM LAUT
• Sebanyak 80% warga menderita penyakit aneh, seperti benjolan, sakit kepala, kelumpuhan. Benjolan yang keluar dari tubuh warga, yang telah dioperasi tetapi tetap muncul, dan penyakit lain yang tidak dapat sembuh total, tidak dapat hilang selama 10 generasi. • Beberapa perempuan mengalami keguguran berulang, di usia kehamilan 5-6 bulan. • Kadar arsen total rata-rata pada ikan (1,37 mg/kg) sudah melampaui baku mutu kadar total arsen yang ditetapkan oleh Dirjen POM sebesar 1mg/kg. Dari fakta-fakta yang terkumpul telah terjadi perubahan kualitas air sumur gali, air sumur bor, sedimen bentos, plankton, phitoplankton. Kondisi ini telah menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. • Telah adanya penanganan dari Pemerintah, hingga dibentuk, ”Tim Penanganan Kasus Pencemaran Dan Atau Perusakan Lingkungan Hidup di Desa Buyat Pantai Dan Desa Ratotok Kecamatan Totok Timur Kabupaten Minahasa Selatan Propinsi Sulawesi Utara”, melalui Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup Nomor 97 Tahun 2004 akan kasusu pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Didukung juga LBH Kesehatan Pimpinan Iskandar Sitorus, LBH Kesehatan ICEL, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Tim Pembela Aktivis Lingkungan (Tapal), FMIPA UI juga IPCS (International Programme oc Chemical Safety).

PELANGGARAN IZIN
• PT. NMR melanggar standar baku mutu lingkungan dan limbah berdasarkan laporan Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Khususnya pada parameter arsenic, mercury dan sianida. Yang dilakukan PT. NMR adalah memberikan informasi tidak benar mengenai Thermocline tidak sesuai dengan dokumen AMDAL . Sehingga mengakibatkan pencemaran/pengrusakan lingkungan hidup yang dikategorikan sebagai tindak pidana, sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 42 (1) dan ayat (2) UU No 23 tahun 1997. Pemberian informasi juga tersandung pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU no.23 tahun 1997. • PT. NMR tidak melakukan pengelolaan B3 dan Pembuangan/Dumpling Tailing ke laut sejak tahun 1996-2004 tidak memiliki izin. Melanggar pasal 20 ayat (1) UU no 23 tahun 1997, pasal 9 ayat (1) PP No.19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut. Terkena pasal 40 ayat (1) huruf (a) PP No.18 tahun 1999 Jo.PP No.85 tahun 1999. • Kasus lain di luar pencemaran lingkungan, PT. NMR menurut LSM Manado, terkena kasus penggelapan pajak. Gugatan perdata ini dilakukkan oleh Bupati Minahasa, bahwa pajak yang dihasilkan PTNMR tidak sesuai dnegan yang dilaporkan ke negara. • Meneg Lingkungan Hidup Nabil Lakarim (31-07-2004), mengatakan kepada publik, Teluk Buyat tercemar limbah logam berat berbahaya (B3). • Banyak penduduk menderita gatal-gatal, akibat konsumsi ikan laut. Tercemarnya air sungai akibat bahan-bahan kimia dan keluar dari cerobong pabrik, dipakai mengairi sawah. Sekitar 3000 lebih warga Buyat Kampung yang tinggal 1 km ke darat dari Buyat Pante, diduga menderita penyakit yang sama. Sampai saat ini lebih dari 100 orang telah terdeteksi. • Empat orang dewasa meninggal dengan ciri-ciri sekarat yang sama, yaitu dada kepanasan dan sulit bernafas. • Empat bayi meninggal (4-5 April 2005, meninggal dengan sekujurnya mengelupas. Kasus ini dibawa oleh Yayasan Nurani. Dua bayi lagi meninggal karena kesulitan bernafas dan satu bayi meninggal karena hydrosepalus.

FOKUS PERMASALAHAN
• Bagaimana peran Public Relation PT. NMR menghadapi krisis manajeman yang dihadapi perusahaan? • Selain memenuhi semua tuntutan hukum yang telah negara tetapkan, bagaimana tanggung jawab selanjutnya kepada para stakeholder, khususnya masyarakat? Apalagi pada tahun 2004 perusahaan telah tidak lagi beroperasi di Indonesia? • Hal-hal apa saja yang seharusnya Pemerintah lakukan dan bagaimana seharusnya kewajiban dan tanggung jawab perusahaan-perusahaan yang beroperasi, ’merauk’ sumber daya untuk kepentingan bisnisnya? Juga menghadapi kasus penggelapan pajak PT. NMR yang baru diketahui setelah perusahaan tidak lagi beroperasi di Indonesia?

STRATEGI MANAGEMENT KRISIS:
ANATOMI KRISIS
Oleh: Husni Anggoro

ANATOMI KRISIS
Steven Fink, pakar dan konsultan krisis dari Amerika Serikat mengembangkan konsep anatomi krisis menggunakan terminologi kedokteran yang biasa dipakai untuk melihat stadium suatu krisis yang menyerang manusia. Empat tahap perkembangannya adalah sebagai berikut (Kasali, 2005:225-230): 1. Tahap Prodromal 2. Tahap Akut 3. Tahap Kronik 4. Tahap Resolusi (penyembuhan)

Periode Krisis Akut (Acute Crisis)
Tahap ini sering disebut the point of no return. Artinya, jika sinyal-sinyal yang muncul pada tahap prodromal tidak digubris, maka ia akan masuk ke tahap akut dan tidak bisa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, issue menyebar luas. Tahap akut adalah tahap antara yang paling pendek waktunya dibanding dengan tahap-tahap lainnya, tetapi merupakan masa yang cukup menegangkan dan paling melelahkan bagi tim yang menangani masalah krisis tersebut. Bila ia lewat, maka umumnya akan segera memasuki tahap kronis.

PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).
Hal ini terjadi pada PT. Newmont Minahasa Raya (NMR). Periode Krisis Akut benar-benar sudah terjadi, Komunikasi adanya krisis yang ditempuh PT Newmont Minahasa Raya dalam menangani kasus pencemaran di Teluk Buyat tidak mengindahkan konsep-konsep komunikasi yang baik sehingga dapat dikatakan komunikasi korporat perusahaan pertambangan emas ini tidak berhasil. Adanya keterlambatan dalam mengambil keputusan yang dilakukan PT. NMR dalam menerapkan komunikasi sejak awal, yaitu ketika media memberitakan masalah dugaan pencemaran Teluk Buyat oleh PT. NMR pada Juli 2004. Komunikasi tentang krisis yang semestinya ditempuh harus bersifat proaktif dan tidak defensif.

Cara penyelesaian yang ditempuh PT. NMR pun tidak ditemukan dalam teori komunikasi krisis, yang semestinya ditempuh adalah pendekatan komunikasi organisasi. Selanjutnya, petugas public relation juga harus digunakan dalam mencapai solusi dan juga harus melakukan pendekatan community relation. Selain itu penyelesaian krisis PT. NMR tidak melewati tahap pengumpulan pendapat dan keterlibatan masyarakat juga melihat belum adanya teori-teori manajemen komunikasi krisis dalam penyelesaian kasus pencemaran Teluk Buyat.

STRATEGI MANAGEMENT KRISIS:
STRATEGI PENANGANAN LINGKUNGAN
Oleh: M. Eric Harramain

STRATEGI PENANGANAN KRISIS LINGKUNGAN
YANG AKAN KAMI LAKUKAN, DIANTARANYA: 1. STRATEGI TERKAIT DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH 2. STRATEGI TERKAIT DENGAN MASYARAKAT A) BERSKALA LOKAL B) BERSKALA NASIONAL 3. STRATEGI TERKAIT DENGAN SPONSORSHIP & PUBLIKASI 4. STRATEGI TERKAIT DENGAN RISET

STRATEGI TERKAIT DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
1. PT. NMR, Berusaha untuk meminta pemerintah agar menata kesesuaian kebijakan antara pusat dengan daerah. 2. Bersama-sama membantu pemerintah untuk proses pendanaan dalam dalam melaksanakan pengawasan & pembinaan Teluk Buyat. 3. Bersama-sama pemerintah, membuat sebuah peraturan yang jelas, untuk pemantauan lingkungan & pengkajian ulang mekanisme izin pembuangan tailing ke laut, serta mekanisme pemberian rekomendasi. 4. Meminta pemerintah untuk mempublikasikan tindaklanjut izin pengolahan limbah terkait AMDAL, sehingga kedepannya diharapkan tidak ada lagi, kesimpangsiuran, dan dis-orientasi kepada pihak investor, yang ingin menginvestasikan dananya di Indonesia. 5. Meminta pemerintah untuk membuat peraturan di masa mendatang, yang yang mampu menjelaskan jenis limbah dan peraturan yang terkait, serta membuat laboratorium yang memiliki kemampuan untuk menunjang dalam analisis. 6. Menyarankan kepada pemerintah, untuk segera mempublikasikan hasil temuan kepada masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang benar terkait dengan kasus teluk Buyat ini.

STRATEGI TERKAIT DENGAN MASYARAKAT Skala lokal
1. Berupaya untuk membersihkan laut yang tercemar, agar membantu kesejahteraan masyarakat di teluk Buyat kembali bangkit. 2. Ikut memantau lingkungan & sumber makanan sekitar teluk Buyat, dan berusaha proaktif mengevaluasi indikasi pencemaran lingkungan, lalu ikut serta dalam proses memperbaiki lingkungan masyarakat sekitar. 3. Mengadakan pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar teluk Buyat. 4. PT. NMR berencana di tahun 2010, untuk menanam massal tanaman Mallee, di sekitar pesisir Teluk Buyat, dengan tujuan untuk mereduksi karbon, merkuri dan zat tercemar di laut lainnya. (suara batu hijau Edisi XIII – 2009).

Skala Nasional
1. Ikut mendanai / mensponsori kegiatan promosi pariwisata Teluk Buyat dengan mengikut sertakan peserta dari seluruh Indonesia. 2. Ikut mensponsori kegiatan penyelaman nasional di Teluk Buyat.

STRATEGI TERKAIT DENGAN SPONSORSHIP & PUBLIKASI
1. PT. NMR mengadakan kegiatan sponsorship berbagai kegiatan lingkungan contohnya: Seminar Nasional Biologi Tahunan, Penanaman sejuta pohon, 2. PT NMR ikut berpartisipasi dalam kegiatan pameran lingkungan. 3. PT NMR ikut berpartisipasi dalam kegiatan promosi Pariwisata Sulawesi Utara. 4. PT. NMR mempublikasikan kegiatan-kegiatan yang terkait d engan ”kepedulian terhadap lingkungan”.

STRATEGI TERKAIT DENGAN RISET
1. PT. NMR memberikan kesempatan kepada berbagai laboratorium, untuk melakukan pengujian terkait pencemaran zat di Teluk Buyat.

STRATEGI MANAGEMENT KRISIS:
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
Oleh: Hermi Pujiyani

Corporate Social Responsibility
World Business Council on Sustainable Development Komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Tanggung jawab perusahaan untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan dan harapan stakeholders sehubungan dengan isu-isu etika, sosial dan lingkungan, di samping ekonomi. (Warta Pertamina, 2004).

Perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal, antara lain : 1. Hubungan yang baik dengan para pemuka masyarakat 2. Hubungan positif dengan pemerintah setempat 3. Resiko krisis yang lebih kecil 4. Rasa kebanggaan dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran 5. Saling pengertian antara khalayak sasaran (eksternal & internal) 6. Meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan. (Anggoro, 2002)

Dalam “Model Empat Sisi CSR” perusahaan memiliki: 1. Tanggung jawab ekonomis 2. Tanggung jawab legal 3. Tanggung jawab ethical atau etis 4. Tanggung jawab discretionary

Dalam pengamatannya, terkait dengan praktik CSR, pengusaha dikelompokkan menjadi empat, yaitu : 1. Kelompok Hitam adalah mereka yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. 2. Kelompok Merah adalah mereka yang mulai melaksanakan praktik CSR, tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungannya. 3. Kelompok Kuning adalah mereka yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya dan menilai CSR sebagai investasi, bukan biaya. 4. Kelompok Hijau adalah merupakan kelompok yang sepenuh hati melaksanakan praktik CSR. Mereka telah menempatkannya sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu keharusan, bahkan kebutuhan, dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas).

Membangun Citra Perusahaan Melalui Program CSR
*CSR dan Citra Korporat* Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra & reputasi perusahaan antara lain; 1. Kemampuan finansial 2. Mutu produk dan pelayanan 3. Fokus pada pelanggan 4. Keunggulan dan kepekaan SDM 5. Reliability 6. Inovasi 7. Tanggung jawab lingkungan 8. Tanggung jawab sosial 9. Penegakan Good Corporate Governance (GCG).

Berdasarkan sifatnya, pelaksanaan program CSR dapat dibagi dua, yaitu : 1. Program pengembangan Masyarakat (Community Development/CD) 2. Program Pengembangan Hubungan/Relasi dengan publik. (Relations Development/RD) Sasaran dari Program CSR (CD & RD) adalah: • Pemberdayaan SDM lokal (pelajar, pemuda dan mahasiswa termasuk di dalamnya) • Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat sekitar daerah operasi • Pembangunan fasilitas sosial/umum • Pengembangan kesehatan masyarakat • Sosial budaya, dan lain-lain.

STRATEGI MANAGEMENT KRISIS:
MEDIA RELATIONS
Oleh: Halimatusa’diah & Yusiatie

Media Relations di saat krisis
Media Relations pada masa krisis adalah bagian dari rencana besar dalam bidang komunikasi, dan rencana komunikasi pada dasarnya adalah merupakan bagian dari keseluruhan rencana yang dikembangkan tim manajemen krisis dalam menangani krisis.

Merespon media
langkah-langkah yang ditempuh adalah : Langkah pertama (persiapan) Dalam hal ini kami bersiaga dengan cara selalu memantau situasi dampak krisis melalui monitor berita media massa, baik cetak maupun elektronik. Selain itu kami juga menginformasikan kepada publik dan media dengan mengeluarkan pernyataan tertulis atau jumpa pers.

Mengumpulkan informasi
Agar informasi yang kami miliki akurat, maka ada beberapa hal yang kami lakukan : memverifikasi semua informasi yang kami terima, melaporkan setiap informasi baru kepada pimpinan, membahas informasi yang diterima dengan pihak-pihak yang terlibat dalam upaya penyelesaian krisis dan mengkoordinir penyebaran informasi dan menyiapkan informasi untuk media.

Mempersiapkan diri untuk media
1. Menunjuk juru bicara 2. Menyiapkan daftar informasi yang diinginkan media 3. Membahas strategi untuk menjawab pertanyaan media

Menindaklanjuti pemberitaan media dan membangun hubungan baik dengan media dengan cara : 1. Memonitor semua liputan media 2. Memeriksa dan memberikan koreksi atas kesalahan fakta yang di muat di media 3.Memberitahu media mengenai perkembangan baru yang terjadi 4.Melakukan evaluasi terhadap pemberitaan media massa.

Memperkirakan pertanyaan media
Pada dasarnya media mempunyai pola yang sama dalam menghimpun informasi mengenai krisis yang terjadi. Karenanya penting bagi kami selaku PR untuk memprediksi apa yang akan ditanya oleh media

Selama krisis, beberapa hal yang kami lakukan terkait dengan media adalah : 1. Hanya informasi yang telah di cek kebenarannya yang boleh diinformasikan ke media 2. Mendampingi media saat meliput di lokasi krisis 3. Menunjuk seorang juru bicara 4. Menyimpan catatan yang akurat megenai semua pertanyaan dan liputan media massa 5. Mengetahui deadline media dan berusaha untuk memenuhinya 6. Memberi kesempatan yang sama dan fasilitas yang sama untuk media cetak dan elektronik 7. Mengkoordinir perencanaan dan penerapan kegiatan PR dalam menangani krisis secara hati-hati.

Kami juga menghindari melakukan hal-hal berikut : 1. Secara sembrono membuat spekulasi mengenai sebab-sebab keadaan darurat 2. Membuat spekulasi mengenai kelanjutan bisnis perusahaan. 3. Membuat spekulasi mengenai pengaruh luar dari keadaan darurat 4. Membuat spekulasi mengenai nilai kerugian 5. Mengijinkan juru bicara yang tidak berwenang untuk memberikan penjelasan pada media 6. Berusaha menutup-nutupi atau secara sengaja menyesatkan media berita 7. Menyalahkan keadaan darurat.

ANGGARAN BIAYA &
KESIMPULAN
Oleh: Ulviah Muallivah

ANGGARAN BIAYA
Anggaran PR disusun dengan tujuan untuk mengetahui seberapa banyak dana yang diperlukan dalam rangka membiayai suatu program atau kampanye PR. Anggaran yang dibuat merupakan landasan yang kuat untuk mengubah, menambah atau mengurangi pos-pos anggaran tertentu sebelum rencana-rencana yang termuat di dalam anggaran yang telah disusun.

ANGGARAN BIAYA
Besar kecilnya anggaran humas ditentukan oleh empat faktor yaitu (Cultip-center-Broom dalam Morissan, 2006) sebagai berikut: 1. Keuntungan keseluruhan atau dana yang tersedia bagi perusahaan (Total income or funds avaiable to the enterprise). 2. Kebutuhan persaingan (Competitive necessity). 3. Tugas atau tujuan yang ditetapkan perusahaan (Overall task or goal set for the organization). 4. Sisa anggaran setelah dikurangi pengeluaran (Profit or surplus over expenses).

ANGGARAN BIAYA
Anggaran humas terdiri dari dua unsur yaitu biaya : 1. variable (variable cost) dan 2. biaya tetap (fixed cost).

ANGGARAN BIAYA
Menurut Jefkins (2002), anggaran humas memiliki pos-pos atau elemen-elemen pokok sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Tenaga Kerja. Biaya Kantor. Materi atau peralatan. Biaya lain-lain.

TABEL ANGGARAN BIAYA O. ITEM Tenaga KerjaManajer PR, para asisten, editor jurnal, fotografer, dll (30 tenaga kerja, 10 orang tenaga ahli) Biaya Kantor: sewa gedung, bunga, jasa kebersihan, dll (masa kerja 2 tahun) Depresiasi (penyusutan/pemeliharaan) Materi dan peralatan Resepsi Pers (12 kali ) @ 125 juta Jurnal Staf Presentasi slide Video News Release (24 kali) @ 25 juta Naskah virtual Kliping Jasa Informasi Rekaman Video Properti TV Literatur Cetak Penyediaan sponsor (kegiatan lingkugan ) 20 kali Konferensi dan seminar (6 kali) Fotografi Kunjungan pihak luar Ekshibisi (2 kali) : Pameran pemb.lingkungan Kendaraan Alat-alat kantor Telepon, dll Ongkos Perjalanan dinas Biaya lain-lain Cadangan (10% dari total biaya) TOTAL

Rp.___________ Rp. Rp. 8.400.000.000,-

2.500.000.000,Rp. 500.000.000,Rp. 29.500.000.000,Rp. 1.500.000.000,Rp. 300.000.000,Rp. 1.500.000.000,Rp. 1.500.000.000,Rp. 600.000.000,Rp. 100.000.000,Rp. 25.000.000,Rp. 75.000.000,Rp. 500.000.000,Rp. 1.500.000.000,Rp. 1.000.000.000,Rp. 6.000.000.000,Rp. 6 000.000.000,Rp. 500.000.000,Rp. 2.500.000.000,Rp. 2.000.000.000,Rp. 1.000.000.000,Rp. 500.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 750.000.000,Rp. 2.000.000.000,Rp. 4.200.000.000,-_______ Rp. 46.400.000.000,-

KESIMPULAN
KESIMPULAN DARI URAIAN DIATAS ADALAH SEBAGAI BERIKUT: 1. Dalam rangka penanganan kasus pencemaran Teluk Buyat oleh PT. NMR, Peranan PR sangat menentukan dalam pemulihan citra positif di Masyarakat. 2. Perencanaan Program Humas, dalam kasus ini meliputi: Management Strategi (Strategi menangani krisis dalam konteks PR dan Lingkungan, Corporate Sosial Responsibility (CSR), dan Strategi Komunikasi (Media Relations)

- TERIMA KASIH -

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->