P. 1
KIDUNG KELEPASAN PATANJALI - Edisi Indonesia (HAALTT)

KIDUNG KELEPASAN PATANJALI - Edisi Indonesia (HAALTT)

5.0

|Views: 1,098|Likes:
Dalam sebuah tulisan karyanya, Sri Swami Sivananda memperingatkan: “Sistem Yoga dari Patanjali tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Sebuah sutra berupa sebuah aphorisma pendek padat makna. Ia berupa ungkapan-ungkapan aphoristis. Ia mengandung kedalaman makna, serta signifikansi yang tersembunyi. Para Rshi di jaman dahulu kala memiliki suatu tradisi dalam mengekspresikan ide-ide filosofis maupun realisasinya hanya dalam bentuk sutra-sutra saja. Adalah amat sulit untuk mengertikan maksud yang terkandung di dalam sutra-sutra tersebut tanpa bantuan komentar atau penjelasan seorang pembimbing atau Guru yang telah memahami Yoga dengan baik”.
Dalam sebuah tulisan karyanya, Sri Swami Sivananda memperingatkan: “Sistem Yoga dari Patanjali tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Sebuah sutra berupa sebuah aphorisma pendek padat makna. Ia berupa ungkapan-ungkapan aphoristis. Ia mengandung kedalaman makna, serta signifikansi yang tersembunyi. Para Rshi di jaman dahulu kala memiliki suatu tradisi dalam mengekspresikan ide-ide filosofis maupun realisasinya hanya dalam bentuk sutra-sutra saja. Adalah amat sulit untuk mengertikan maksud yang terkandung di dalam sutra-sutra tersebut tanpa bantuan komentar atau penjelasan seorang pembimbing atau Guru yang telah memahami Yoga dengan baik”.

More info:

Published by: Herman Adriansyah AL Tjakraningrat on Mar 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2013

pdf

text

original

Sections

Ingatan termurnikan (smrti parisuddha), dengan demikian ia
kosong (sunya), kembali seperti keadaan sediakalanya, objek
bersinar—menjelaskan dirinya sendiri—dengan sendirinya
(nirbhasa) merupakan pencapaian transformasi batiniah tanpa
penalaran —Nirvitarka Samãdhi. Melalui proses yang sama serta
melalui pembeda (savicara) dan tanpa objek perenungan
(nirvicara), pemikiran-pemikiran halus terjelaskan. Alam
pemikiran-pemikiran halus berakhir dengan sifat yang tak-
terdefinisikan (nirvicara). Semua ini hanyalah meditasi dengan
benih—Sabija Samãdhi.
[YS. I.43 dan I.46]

Pemikiran-pemikiran halus disini dimaksudkan sebagai gagasan-gagasan
yang bersifat abstrak (arupam). Bahkan gagasan yang mengawali kegiatan
Samãdhi inipun musnah; namun ini disebut sebagai baru pencapaian
Sabija Samãdhi, karena masih diawali dengan benih (bija) yang berupa
gagasan-gagasan abstrak tadi.

Berbeda halnya bila ingatan termurnikan (smrti parisuddha) yang tak lagi
menyimpan, sehingga tidak lagi memunculkan ingatan-ingatan yang
menggoda dari pengalaman-pengalaman duniawi. Inilah yang
pencapaiannya disebut Nirvitarka Samãdhi. Ini erat kaitannya dengan
vairagya, dan kemahiran yang diperoleh dari pembiasaan praktek spiritual
berikut segala disiplin batiniah yang menyertainya (abhyasa).

Disebutkan bahwa ia sunya, sunyi, kosong, lenggang, lapang dalam
kejernihan dan kedamaian. Kondisi yang serupa ini disebut Tarka —yang
mengandung makna yang sama dengan Nirvitarka—di dalam Wrhaspati
Tattwa dan Maitri Upanishad. Wrhaspati Tattwa menggambarkannya
layaknya seperti kejernihan akasa. Apabila Patanjali menggunakan
nirbhasa, maka Wrhaspati Tattwa menggunakan istilah-istilah nis-
sabdam, nirupeksam, nirakalpam dan santa, untuk melukiskan apa yang
disebutnya sebagai Tarka Samãdhi.

Swami Satya Prakãs Saraswati menganggap Nirvicãra samprajñãta
Samãdhi sebagai yang tertinggi dibandingkan dengan delapan jenis
Samãdhi lainnya —yaitu: Savitarka, Nirvitarka, Savicãra, Nirvicãra,
Sãnanda, Nirananda, Sasmitã, Nirasmitã Samãdhi— karena ia mengantar

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 35

kepada kebijaksanaan transenden (tatra prajña), yakni suatu kesadaran
atau kebijaksanaan khusus, seperti yang akan dipaparkan lagi pada sutra
I.48 berikut.

Melampaui pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari Kitab-kitab
Suci.

Pada pencapaian kemurnian dan kemahiran nirvicãra, Sang Yogi
teranugrahi kejernihan spiritual (adhiyatma prasadah).
Disana kebijaksanaan khusus (tatra prajña) menjadi identik dengan
Kebenaran Sejati itu sendiri.
Apa yang diperoleh melalui pembelajaran kitab-kitab suci
(srutãnumana), esensinya berbeda dan tidak dapat dibandingkan
dengan Kebenaran Sejati ini.
[YS I.47 - I.49]

Nirvicãra Samãdhi menyajikan kejernihan spiritual. Penyakit atau
kekotoran batin (adhyatmika) terobati, dan Atman-pun kembali
memancarkan sinar-sucinya. Walaupun ia belum merupakan pencapaian
tertinggi bagi Sang Yogi, kejernihan spiritual ini sudah menghadirkan
ketajaman intuisi untuk bisa melihat Kebenaran seperti apa adanya.
Dapat melihat Kebenaran seperti apa adanya, oleh Patanjali disebut
sebagai Kebijaksanaan khusus (tatra prajña); oleh karena ia dicapai
melalui pengalaman spiritual-metafisis langsung.
Vicãra disini adalah perenungan suci. Perenungan yang mempertanyakan
tentang kebenaran hakiki, tentang kesujatian, langsung kepada
sumbernya (Isvara), tanpa perantara lagi. Manakala si perenung, yang
direnungkan dan proses perenungan itu sendiri telah lebur menyatu, maka
Samãdhi dicapai. Tiada lagi aktivitas merenung itu, atau tercapai kondisi
nirvicãra, tanpa perenungan lagi. Tentu yang diperoleh lewat
Samãdhi memiliki esensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hanya
perolehan dari mempelajari kitab-kitab suci manapun. Apa yang diperoleh
melalui mempelajari kitab-kitab suci barulah sebatas pengetahuan
(vidya); seperti Brahma-vidya, misalnya. Ia belum dapat dikategorikan
sebagai jñana, apalagi prajña.

Bukan maksudnya untuk mengecilkan arti dari pembelajaran kitab-kitab
suci disini. Itu penting; bahkan Patanjali menempatkannya sebagai
pendahuluan untuk bisa benar-benar memasuki yogasadhana. Untuk layak

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 36

dikategorikan sebagai Kriya Yoga, Svadhyaya masih mesti ditemani oleh
Tapa dan Isvarapranidhana. Mereka dilaksanakan guna mengkondisikan
batin sedemikian rupa, hingga bersih dari kléša atau berbagai jenis
kekotorannya.

Pada dasarnya, wahyu suci (sruti) hanya diturunkan kepada ia yang
berbatin suci dan melalui Samãdhi—penyatuan luhur dengan-Nya melalui
upaya spiritual (sadhana) langsung. Batin yang belum tersucikan, belumlah
layak untuk menerima pengetahuan suci ini; dimana ini amat logis adanya.
Kita tak mungkin berharap dapat meminum nektar yang murni dari gelas
yang kotor. Pengetahuan suci diturunkan oleh Yang Mahasuci lewat
penyatuan luhur dengan-Nya, bukan lewat ritual atau cara-cara lainnya.
Sementara itu, himpunan dari pengetahuan suci membentuk
Kebijaksanaan (prajña). Inilah yang tampaknya hendak ditegaskan oleh
Patanjali dalam sutra-sutra tadi.

Antara Sabija dan Nirbija Samãdhi.

Kesan-kesan mental (samskãra) luhur yang terbit atau diperoleh
dari Sabija Samãdhi menahan semua impresi lain.
Pengendalian dan pemusnahan (nirodha), bahkan pada pengendali
dan pemusnah itu sekalipun, dicapai hanya melalui Samãdhi tanpa
benih —Nirbija Samãdhi.
[YS I.50 - I.51]

Dalam sutra-sutra ini Patanjali menunjukkan betapa tingginya idealisasi
Samãdhi, ke arah mana kita diarahkan lewat Yoga Sutra ini. Jñana yang
diperoleh lewat Sabija Samãdhi sesungguhnya merupakan kesan juga.
Bedanya hanya pada kadar keluhuran dan kemurniannya. Citta yang
benar-benar jernih dan sesuai dengan svarupa-nya adalah tanpa kesan—
yang sehalus apapun—lagi. Kesinilah kita digiring oleh Patanjali. Sedikit
saja sisa kesan, kendati yang haluspun, masih berpotensi menggiring pada
Samsara, yang juga berarti kegagalan dalam mencapai Kaivalyam.

Sementara ini memang banyaknya istilah-istilah maupun sebutan yang
digunakan, yang tentu maksudnya memperjelas deskripsinya, namun
disadari malahan bisa mengundang kebingungan. Kebingungan oleh
peristilahan hanya terjadi bila kita belum terjun dan mengalaminya
sendiri, mengingat menguraikan kondisi batin tidaklah mudah. Namun
demi memperlancar proses pembelajaran, dan terutama untuk

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 37

mengantisipasinya, Swãmi Satya Prakãs Saraswati membantu kita dengan
memberi patokan berikut:

•Samprajñãta = sabija = savikalpa (kondisi supra-sadar rendahan)

•Asamprajñãta = nirbija = nirvikalpa (kondisi supra-sadar
transenden).

Sementara Sri Swami Sivananda memberi petunjuk bahwa, dalam
Savikalpa Samãdhi masih terdapat dualisme gagasan, yang baru
sepenuhnya musnah dalam Nirvikalpa Samãdhi. Inilah yang sempurna,
yang dituju oleh seorang Raja Yogi.

Sesungguhnya, paparan sutra I.46 hingga I.50, serta paparan dalam
sutra-sutra sebelumnya, telah cukup memberi kejelasan tentang apa yang
disebut oleh Patanjali sebagai pencapaian panunggalan dengan benih,
Sabija Samãdhi. Meditasi dengan objek tertentu, baik yang berwujud
maupun tidak, seperti bentuk-bentuk perenungan misalnya, diawali
dengan benih dan oleh karenanya meninggalkan benih juga. Ini dicirikan
oleh masih tertinggalnya impresi-impresi halus pada batin Sang Yogi.
Impresi-impresi halus—sehalus apapun itu adanya—tetap merupakan
benih yang akan menggiring pada kelahiran berikutnya di suatu alam
kehidupan tertentu, bilamana Sang Yogi mandek dan berpuas-hati hanya
sampai disitu saja.

Sebaliknya, Nirbija Samãdhi hanya dicapai bila tanpa lantaran dan tanpa
menyisakan benih sehalus apapun lagi; bahkan, ‘pengendali dan pemusnah’-
nyapun termusnahkan (pralina) dalam tataran batiniah Sang Yogi. Dengan
tercapai ini, tiada benih lagi yang mengharuskan kelahiran di alam atau
dalam jasad apapun. Inilah pencapaian sempurna, idealisasi Patanjali.
Inilah akhir dari Samsara. Ini amat mirip dengan konsepsi Nirvana, dalam
ajaran Buddha.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 38

KRIYA YOGA, MENGAWALI PENDAKIAN SPIRITUAL.

Memasuki Sãdhana Pãda, berarti memasuki paparan spiritual praktis
dalam rangka mencapai Samãdhi, dalam berbagai kategori, seperti yang
dipaparkan dalam Samãdhi Pãda sebelumnya. Dalam Samãdhi Pãda kita
telah disajikan idealisasi-idealisasi terpenting dari Yoga untuk dicapai;
dan kini, Patanjali mulai memaparkan bagaimana mencapai semua itu.

Sãdhana Pãda, sebagai paparan praktis praktek spiritual, dibuka oleh
Patanjali dengan Kriya Yoga melalui dua sutra berikut.

Hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapa), mempelajari
ajaran-ajaran suci secara mandiri (svadhyaya), dan penyerahan
diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepada-Nya
(Isvarapranidhana) guna meraih penunggalan, disebut Kriya Yoga.
Ini dilaksanakan guna melenyapkan kléša dan mencapai Samãdhi.
[YS II.1 dan II.2]

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana merupakan tiga sadhana utama
dari Kriya Yoga. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutnya sebagai
‘Yoga Pendahuluan’. Kenapa disebut 'Pendahuluan'?
Ketiga sadhana utama yang termaktub dalam Niyama hanyalah tiga dari
lima disiplin mental Niyama. Seperti dimaklumi —dan akan dijelaskan
pada sutra-sutra berikutnya—Niyama merupakan tahapan kedua dalam
delapan tahap Yoga-nya Patanjali, dan hanya diperuntukkan sebagai
pembentuk sikap batin yang merupakan landasan moral dari seorang Raja
Yogi. Bila hanya tiga dari disiplin moral-spiritual (brata) saja sudah layak
memperoleh sebutan Kriya Yoga, dapat dibayangkan betapa tingginya
ajaran Ashtanga Yoga yang dipersembahkan Patanjali kepada umat
manusia ini.

Kriya Yoga diperuntukkan guna melenyapkan kléša atau kekotoran batin,
yang merupakan hambatan-hambatan utama dalam praktek Yoga. Batin
yang telah lenyap kekotorannya menjadi suci atau murni (sauca).
Sementara itu sauca sendiri juga merupakan salah-satu disiplin dalam
Niyama. Ada kepaduan langkah pengembangan batin yang menyeluruh,
hanya dalam praktek Niyama saja. Kendati disebut sebagai ‘pendahuluan’
itu sudah dikategorikan sebagai Yoga. Di Barat, Kriya Yoga ini

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 39

dipopulerkan oleh Sri Paramahamsa Yogananda. Mengenai kléša akan
dibicarakan pada sutra II.3 sampai dengan II.9.

Menurut Shrii Shrii Anandamurti, Tapa diterapkan dengan menahan
kesulitan-kesulitan fisik maupun mental demi kebahagiaan orang atau
makhluk lain dan melakukan pengabdian tanpa pamerih. Dikatakan juga
bahwa Tapa, sebagai pengabdian tanpa pamerih sendiri, ada empat jenis
ragamnya, yakni:

•Bhuta Yajña —pengabdian untuk kepentingan alam ciptaan.

•Pitra Yajña —pengabdian kepada nenek-moyang atau leluhur.

•Adhyatma Yajña —pengabdian lewat jalan spiritual.

•Nr Yajña atau Manusa Yajña —pengabdian untuk kepentingan
sesama manusia.

Jadi Yajña, persembahan suci yang tulus ikhlas ini, juga dimaknai sebagai
pelaksanaan Tapa oleh guru besar pendiri Ananda Marga itu. Pandangan
ini ternyata sejalan dengan wejangan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita
IV.28: “Ada yang beryajña dengan harta-benda miliknya (drawya yajña),
beryajña dengan Tapa (tapa yajña), beryajña dengan Yoga (yoga yajña)
dan yang lainnya ada pula yang beryajña dengan Svadhyaya (svadhyaya
yajña), serta dengan Jñana (jñana yajña); demikianlah mereka yang taat
melaksanakan disiplin hidup kerokhanian (vrata).” Dua sutra pembukaan
tadi ternyata memperoleh dukungan kuat dari Bhagavad Gita; bentuk-
bentuk persembahan dalam Isvarapranidhana-pun dipaparkan, sebagai
praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Bhagavan Sathya Narayana, dalam “Jñana Vahini”, membedakan Tapa
atas 3 hal, yakni: Tapa Mental, Tapa Fisik dan Tapa Pembicaraan.
Pembagian dan penjelasannya tentang ketiga hal yang di-tapa-kan ini,
amat mirip dengan konsep etika-moral Hindu, Trikaya Parisuddha, yang
sudah tak asing lagi di Nusantara, terdiri dari:

•pensucian pikiran (manacika),

•pensucian ucapan (wacika) dan

•pensucian perbuatan (kayika).

Ini merupakan upaya pensucian integral terhadap tiga modus utama
perbuatan. Dalam Trikaya Parisuddha secara inklusif terangkum hampir
semua landasan moral-etik Yoga, Yama-Niyama. Ia juga mewakili

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 40

pelaksanaan tiga dari Jalan Utama Beruas Delapan dari Buddhisme, yakni:
Pikiran Benar (sammã-sankappa), Ucapan Benar (sammã-vaca) dan
Perbuatan Benar (sammã-kammanta). Secara praktis, membiasakan tiga
etika-moral-spiritual (abhyasa) ini mengantarkan pada vairagya dan
viveka, yang akan amat diperlukan demi terjaminnya pencapaian tujuan
akhir.

Kena Upanishad menyebut Tapa sebagai salah-satu tiang Brahmavidya
(Pengetahuan Ketuhanan), disamping Dama (pengekangan diri) dan Karma
(kegiatan dalam kebajikan). Dalam Prasna Upanishad-pun Tapa mendapat
tempat istimewa dengan ditekankannya secara berulang-ulang. Swami
Satya Prakas Saraswati menyebutkan toleransi, kesabaran dan latihan
yang terus menerus dengan tekun sebagai tiga aspek dari Tapa, yang
mematangkan seorang siswa spiritual (sadhaka). Setiap usaha untuk
mencapai pengalaman duniawi maupun transenden merupakan Tapa. Hanya
dalam artian yang terbatas sajalah Tapa diartikan sebagai
kesederhanaan. Disebutkan pula, secara menyeluruh Tapa dilakukan
bukan saja pada lima indria sensorik dan lima indria motorik, akan tetapi
juga dilakukan bagi sikap mental dan daya vital (prana). Jadi, Tapa
merupakan upaya pensucian menyeluruh, lahir maupun batin. Manusmrti —
kitab suci Smrti yang hingga kini masih paling sering diacu dalam jenisnya
—juga

menyebutkannya

demikian.

Di dalam Manusmrti atau Manava Dharmasastra Tapa dan Brata
dipaparkan secara panjang lebar dalam banyak sloka-slokanya. Beberapa
diantaranya, yang khusus menyangkut Tapa pada adhyaya XI, dikutipkan
berikut ini.

Para Rshi mengendalikan diri beliau dengan hidup hanya dari buah-
buahan, umbi-umbian dan udara, beliau mengarungi triloka bertemu
dengan makhluk bergerak maupun tidak bergerak, hanya melalui
kesucian Tapa.
Apapun yang sukar untuk dilalui, apapun yang sukar untuk dicapai,
apapun yang sukar untuk diperoleh, apapun yang sukar untuk
dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa, karena
Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya. Mereka yang telah
melakukan dosa besar dan beberapa kesalahan lainnya, dapat
dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular, ngengat,
kumbang, burung dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 41

mencapai surga hanya karena Tapa-nya. Apapun dosa-dosa yang
telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya, perkataannya
ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan
dengan segera melalui Tapa-nya yang teguh, terjaga bak hartawan
menjaga kekayaannya. Para Dewa-Dewa menerima setiap
persembahan para Brahmana, yang telah disucikan oleh Tapa-nya,
akan menerima pahala dan dikabulkan semua permintaannya. Yang
Maha Kuasa
, Hyang Prajapati, menciptakan lembaga suci itu
melalui Tapa-Nya; demikian pula halnya dengan para Rshi,
menerima wahyu Veda karena Tapa mereka. Para Dewa-Dewa
melalui Tapa-nya kembali ke alam kesucian; demikianlah keutamaan
dari Tapa." [MDs. XI: 237, 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245]

Dalam banyak pustaka suci dan ajaran mental-spiritual Tapa berkait erat
dengan Sauca, pensucian lahir-batin (yang dibicarakan nanti dalam
pembahasan sutra II.40 dan II.41); dan menduduki posisi fundamental
dalam praktek kehidupan spiritual. Tapa berkaitan langsung dengan
kehidupan suci itu sendiri. Bahkan, para rshi di jaman dahulu menerima
wahyu-wahyu melalui kehidupan suci ini.
Svadhyaya adalah upaya mempelajari kitab-kitab suci atau kitab-kitab
spiritual-filosofis secara mandiri, guna memperoleh pengertian yang
sejelas-jelasnya tentang hakekat yang terkandung di dalamnya.
Mempertanyakan (vicara), melakukan analisa-analisa penalaran (vitarka),
maupun perenungan-perenungan mendalam serta perbandingan dengan
kejadian sehari-hari terhadapnya, merupakan beberapa langkah dalam
pembelajaran secara mandiri yang amat bermanfaat dalam memberi
pengertian serta menumbuhkan pemahaman yang baik dan kian mendalam.
Yang pasti, svadhyaya hendaknya tidak hanya diartikan sebagai membaca
saja, belajar dari buku-buku saja, mengingat setiap bait sloka atau sutra,
bahkan setiap kata dari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-
filosofis—seperti Yoga Sutra ini misalnya—mempunyai makna yang padat
dan dalam. Mereka tak dapat dipahami dengan baik, bila hanya
mengartikan secara harfiah, seperti membaca koran, atau buku-buku
pelajaran sekolahan saja.

Mereka yang hanya berpegang dan terpatok pada arti harfiah, dan
memperlakukan kitab-kitab ajaran hanya seperti buku-buku pelajaran
sekolahan, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang amat

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 42

dangkal, sebatas kata-kata saja. Cara pembelajaran seperti inilah yang
punya andil besar di dalam melahirkan sikap dogmatis, yang menjurus
pada fanatisme. Dalam masyarakat heterogen, global dan terbuka seperti
sekarang ini, sikap-sikap dogmatis dan fanatis bisa amat membahayakan
masyarakat luas dan juga penganutnya. Bukti-bukti tentang fenomena ini,
dapat kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.

Dalam proses pembelajaran secara mandiri ini, ‘mengetahui’ adalah yang
mula pertama diperoleh. Apa yang kita ketahui harus dimatangkan lagi
sehingga kita menjadi benar-benar ‘mengerti’. Dari sinilah tumbuh
pengertian-pengertian tentang apa yang diketahui tersebut. Bersama
dengan berjalannya waktu, mendengar, membandingkan, bertukar-pikiran
atau berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dahulu mengetahui atau
mengerti, apalagi berpengalaman, secara akumulatif akan membentuk
‘pengertian’ yang semakin baik, lengkap dan kian mendalam tentang apa
yang kita pelajari. Melalui perenungan-perenungan serta pembuktian-
pembuktian seperlunya, pengertian kita lambat laun meningkat menjadi
‘pemahaman’. Nah....dengan semakin halus dan mendalamnya ‘pemahaman’
kita, pengetahuanpun semakin mengembang dengan sendirinya. Yang
pasti, dalam Yoga Sutra ini Patanjali telah telah menegaskan bahwa
‘pengamatan langsung (pratyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan
para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian
metode penalaran yang baik’.
Isvarapranidhana adalah penyerahan diri kepada Isvara (Tuhan), dengan
menerima sepenuhnya serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya
perlindungan. Bahkan disebutkan, nanti dalam sutra II.45, bahwa
pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana.
Menurut Swami Satya Prakas Saraswati, ia merupakan suatu istilah
spiritual-teknis khusus ciptaan Patanjali, yang tidak disebut-sebut oleh
Maharshi Kapila dalam Sankhya Darsana-nya.

Bilamana ketiganya diterapkan dengan baik dan benar, walaupun ia
disebut sebagai “Yoga Pendahuluan”, memberikan nilai manfaat spiritual
yang tinggi kepada penekunnya. Ia menumbuhkan sikap batin yang kokoh,
mantap, untuk mulai melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan
pemahaman yang baik, dan tanpa disertai sikap-sikap dogmatis dan
fanatis. Iapun mengarahkan penekun menjauh dari sikap ekstrim atau
mempertontonkan ke-ekstrim-an pada khalayak.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 43

Dalam Jñana Vahini, Bhagavan Sathya Narayana bahkan menyatakan
bahwa melalui Tapa (dalam arti luas) saja, seseorang dapat mencapai
tingkat yang tertinggi. Bukan main memang kekuatan yang dapat
dihasilkan Yoga guna mencapai realisasi Diri-Jati dan Kebebasan.

Dipublikasikan di majalah Media Hindu No. 15 — Edisi Mei 2005.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 44

HAMBATAN UTAMA DAN KIAT MEMUSNAHKANNYA.

Hambatan Utama Pendakian

Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya), egoisme (asmita),
kelekatan atau kecintaan ragawi (raga), kebencian (dvesa), dan
kecintaan yang amat sangat pada kehidupan sehingga amat takut
mati (abhinivesa) adalah lima kekotoran batin penghambat (panca
kléša).
Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya; apakah mereka
terpendam, kemudian menghilang, teratasi, ataupun malah lebih
meluas.
Terhubung dengan yang tak-kekal, tak-murni, yang bukan-jiwa,
yang dalam kondisi menyedihkan, yang kekal, murni, kesadaran dari
jiwa —yang sebetulnya berbahagia—juga jadi terselimuti oleh
avidya.
Ada dalam liputan kabut asmita, Sang Subjek tampak
teridentifikasikan dengan kekuatan penglihatan.
Terbenam di dalam kenikmatan dunia dan ragawi adalah
kemelekatan atau kecintaan (raga);
(Sebaliknya) tersusupi oleh penderitaan sehingga menimbulkan
sikap penolakan adalah dvesa.
Seakan-akan mengalir dengan sendirinya demikian, bahkan seorang
bijak-pun masih bisa mencintai hidupnya ini dan takut pada
kematian (abhinivesa).
[YS II.3 - II.9]

Disebutkan bahwa avidya adalah cikal-bakal Samsara. Yang satu ini
memang amat patut untuk ditakuti oleh seorang penekun jalan spiritual,
yang mendambakan kebebasan. Berpangkal pada avidya inilah
bermunculan kléša-kléša yang lainnya, yang pada gilirannya menjadi
sumber dari segala sumber penderitaan; persis seperti disebutkan
bahwa, Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya, apakah mereka
terpendam, menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.

Sebaliknya, terhapusnya avidya oleh vidya, berarti meniadakan 'bidang
gerak' dari kléša-kléša yang lainnya, sehingga merekapun tiada
menemukan pijakan dalam batin kita. Dalam konteks ini, vidya

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 45

dikelompokkan dalam dua kelompok besarkan yakni Paravidya
(pengetahuan duniawi atau yang umum sifatnya) dan Aparavidya atau
Brahmavidya (pengetahuan spiritual-filosofis, kebenaran atau
ketuhanan). Penguasaan Paravidya menunjang pencapaian Brahmavidya,
bila diarahkan dengan baik. Ia juga mengkondisikan dan menunjukkan
bukti-bukti konkret, yang mudah dicerap dan dimengerti, atas nilai-nilai
luhur dan kebenaran yang terkandung didalam Brahmavidya. Oleh
karenanyalah, Brahmavidya dapat pula disebut Dharmavidya.

Bukan saja sebagai penunjang dan pengkondisi, Paravidya juga merupakan
bekal hidup pada kehidupan ini. Ia memberi kemudahan-kemudahan dalam
menjalani hidup. Apa yang kita sebut sebagai sains dan teknologi adalah
Paravidya itu adanya. Bukankah penguasaannya memberi kemudahan-
kemudahan dan kenyamanan fisik dan psikis bagi manusia? Akan tetapi,
terhenti dan mandek hanya sampai disana, bukan saja perlu disayangkan
namun bisa berbahaya bagi penguasanya. Peningkatan penguasaan
Paravidya, mutlak perlu di-imbangi dengan dan dimanfaatkan sebesar-
besarnya untuk meraih Brahmavidya. Ini sejalan dengan lontaran Albert
Einstein, yang terkenal: “Pengetahuan tanpa agama adalah pincang.
Sedang agama tanpa pengetahuan adalah buta.” ini. Dengan penuh
keyakinan ia juga mengemukakan pandangannya: “Setiap orang yang
terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin
bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum semesta raya
—jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu
dimana di hadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita terasa
sedemikian lemahnya."
Avidya melahirkan ke-aku-an semu (asmita); hadirnya asmita melahirkan
suka-tidak-suka (raga-dvesa); segala penilaian yang berdasarkan atas
raga-dvesa, semakin mempertebal kabut avidya dan memperkuat asmita.
Dengan semakin kuatnya asmita, mempertebal kepemilikan atas segala
sesuatu, termasuk hidup atau kelahiran ini. “Kekayaan-ku, keluarga-ku,
anak-ku, istri-ku, suami-ku, tubuh-ku, diri-ku, hidup-ku....dll.”, demikianlah
ungkapan mereka yang tebal dan kuat asmita-nya. Dengan demikian
abhinivesa berkembang dengan subur.
Namun jangan keliru, mengikis abhinivesa bukan berarti membahayakan
atau menyiksa diri, atau sebaliknya menyia-nyiakan kelahiran dalam jasad
manusia ini dengan cara memanjakannya. Kitab Sarasamuschaya
menegaskan bahwa, hendaknya kelahiran dalam jasad manusia, yang

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 46

sangat berharga ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk
memupuk kebajikan dan mencapai kebebasan. Bagaimana itu bisa
dilakukan? Dalam sutra-sutra berikut akan kita temukan penjelasannya.

Kiat Memusnahkan Hambatan-hambatan.

Semua itu dapat diatasi lewat perambatan yang berlawanan
(pratiprasava) menuju penghalusannya (suksmah).
Meditasi (dhyana) mengatasi pengaruh pusaran atau modifikasi
(vritti)-nya.
Panca kléša menyebabkan pola-pola perbuatan yang menyebabkan
derita dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya.
Selama akar-akarnya semula masih ada, mereka mematangkan
tumimbal-lahir ke dalam golongan, kehidupan dan pengalaman
makhluk hidup.
Mereka menyajikan pahala berupa ‘kebahagiaan’ atau penderitaan,
yang disebabkan oleh kebajikan atau kejahatan.
[YS II.10 - II.14]

Yang menarik untuk dicermati lebih jauh adalah apa yang disebut dengan
istilah ‘pratiprasava’ atau mengatasi suatu kecenderungan melalui
perambatan atau menghadirkan serta membiasakan yang berlawanan
dengannya. Ini dapat disebut sebagai suatu ‘metode tandingan’, metode
untuk memusnahkan yang buruk dengan menandinginya dengan yang baik,
atau sejenis itu. Prinsip atau esensi serupa diulang lagi nanti pada sutra
II.33 oleh Patanjali dengan menyebutnya sebagai: Pratipaksa Bhavana.
Inilah metode praktis dalam yogasadhana yang diajukannya.

Bila panca kléša juga menghadirkan ‘kebahagiaan’ —seperti yang
disebutkan dalam sutra II.14.—mengapa mesti dihapus? Pertanyaan
seperti itu bisa saja muncul dalam benak kita bukan? Sesungguhnya,
dalam sutra sebelumnya, secara implisit, pertanyaan ini telah dijawab.
Tujuan utama kita adalah terbebas dari lingkaran tumimbal-lahir yang
tiada berkesudahan, yang tiada lain dari rangkaian kesengsaraan dan
penderitaan. Samsara, sesungguhnya juga terbaca Sangsara; seperti juga
Ahamkara dibaca Ahangkara, dan yang lainnya.
Kebahagiaan yang disebutkan tadi, yang merupakan pahala dari kebajikan
adalah kebahagiaan temporer dan semu, yang diperoleh dalam kehidupan
berjasad (kasar maupun halus) berupa kenikmatan-kenikmatan

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 47

pemenuhan nafsu dan keinginan-keinginan yang tak terhitung banyaknya
itu; bukan kebahagiaan sejati, anandam.

Bagi seorang pertapa yang telah menghacurkan kesan-kesan
pengalamannya (samskara) dan mengembangkan daya memilih dan
memilah-milah (viveka) memahami bahwa berbagai derita (dukha)
yang disebabkan oleh perubahan-perubahan (vritti) bentuk-bentuk
pikiran dan perasaan yang berlawanan (rwabhinneda, seperti:
senang-susah, untung-rugi, sehat-sakit dsb.)
dan pengaruh tiga sifat (sattva, rajas dan tamas) adalah derita
adanya.
Dukha yang belum muncul (anãgata), dapat dihindari.
Penghindaran dimungkinkan melalui peniadaan sebabnya;
sebabnya adalah ‘si pengamat’ (drastr) mengidentifikasikan-diri
sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh).
[YS II.15 - II.17]

Dalam dua sutra terakhir dengan gamblang disebutkan bahwa, sebab dari
dukha adalah adanya kecenderungan manusia untuk mengidentifikasikan-
diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh). Kecenderungan inilah yang
menimbulkan hasrat untuk memiliki atau ‘ingin menjadi’. Inilah yang
menggerakkan atau menjadi motivasi utama manusia untuk berbuat dan
berbuat atau menghindari perbuatan tertentu. Hampir semua
aktivitasnya bersandar pada motivasi ini. Semakin sempit lingkup manfaat
aktivitasnya, semakin menguatlah asmita-nya.

Namun secara keseluruhan, secara lebih luas lagi, paparan dalam kedua
sutra itu menunjukkan satu prinsip dasar yakni ‘meniadakan akibat
dengan cara meniadakan sebab yang mendahuluinya.’ Inilah sesungguhnya
pengejawantahan dari Hukum Kausalitas Universal yang mendasari semua
kejadian dan ciptaan. Paradigma ini akan lebih diperjelas lagi dalam
sutra-sutra berikut.

Dipublikasikan di majalah Media Hindu No.16—Edisi Juni 2005.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 48

MUSNAHNYA IDENTITAS-DIRI DALAM PENCERAHAN.

BUKAN PENCERAHAN KOLEKTIF.

Kejelasan bahwasanya kegiatan (kriya), dan pemeliharaan
kelangsungannya (sthiti) di dalam kegiatan mengamati, hanya
merupakan kehebatan dari bekerjanya elemen-elemen dasar (bhuta)
dan sensasi-sensasi indriawi, yang terbentuk dari sari-sari makanan
(bhoga); makanya, pengalaman yang diperoleh dari pengamatan itu
hendaknyalah ditujukan hanya demi meraih Kebebasan.
Baik yang universal maupun tidak universal, yang pasti maupun yang
tak-pasti, hanyalah tahapan-tahapan spesifik dari bekerjanya tiga
sifat-dasar, triguna (sattvam, rajas dan tamas).
Si pengamat sesungguhnya hanyalah matra persepsi murni
(drsimatrah suddho); walaupun demikian, pengamatan berlangsung
melalui campur-tangan citra mental.
Padahal semua itu hanya dimaksudkan untuk pencarian Sang Diri-
Jati lewat mengamati semesta (drsyasãtma).
Walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi,
namun belum bagi kebanyakan orang.
[YS II.18 - II.22]

Ditegaskan kembali disini bahwasanya setiap kegiatan yang dilakukan
manusia melalui segenap indria-indrianya hendaknya ditujukan bagi
tercapainya Kebebasan itu sendiri—tentunya termasuk kebebasan dari
kungkungan indria-indria itu sendiri. Terlebih lagi kalau telah disadari
bahwa semua itu hanya kerja dari sintesa lima elemen-elemen dasar
(mahabhuta) pembentuknya yang kita peroleh dari sari-sari makanan dan
minuman yang dikonsumsi, yang punya tiga sifat-dasar—aktif, pasif dan
netral.

Si pengamat sendiri bukan semua itu. Ia bukan pelaku. Ia matra persepsi
murni yang tiada tercemar. Sayangnya, di dalam melangsungkan
pengamatan campur-tangan beraneka citra mental atau kesan-kesan batin—
yang terbentuk pada pengalaman-pengalaman sebelumnya—menodai
kemurnian persepsinya.

Terbitnya serta semakin dimatangkannya viveka merupakan pencerahan
buddhi, yang hanya dipengaruhi guna sattvam. Pencerahan ini merupakan
‘pencerahan awal’, sebagai pijakan yang semakin berkembang lewat
penguasaan jñana menuju semakin bersinarnya kebijaksanaan (prajña).
Semua ini mesti diperjuangkan secara mandiri, bukan secara kolektif atau
massal. Pencerahan yang dihasilkannyapun langsung dirasakan hanya oleh
Sang Yogi sendiri. Oleh karenanya pula disebutkan bahwa, ‘walaupun semua
itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi
kebanyakan orang’.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 49

Tidak seperti Bhakti dan Karma Yoga yang memang dirancang sebagai
praktek kolektif atau massal, Raja Yoga jelas merupakan praktek pribadi
yang mandiri. Pada tahap-tahap awal saja sang sadhaka masih punya
ketergantungan besar kepada Guru-nya ataupun saudara seperguruannya;
selanjutnya, secara berangsur-angsur mau-tak-mau ia mesti semakin
mandiri, hingga akhirnya sepenuhnya mandiri. Hanya sesudahnyalah beliau
benar-benar mampu dan berkompeten memberikan petunjuk dan
bimbingan bagi awam di jalan kecerahan dan kebebasan ini.

IDENTIFIKASI-DIRI DAN KEMUSNAHAN IDENTITAS-DIRI SEMU

Penyamaan (samyoga) antara orang yang memiliki kekuatan-
kekuatan spiritual dengan kekuatan-kekuatan spiritual (sakti) yang
dicapainya itu sendiri, melahirkan ‘identitas-diri semu’
(swarupopalabdhi).
Femomena itu disebabkan oleh Avidya.
Sebaliknya, dengan tidak hadirnya penyamaan itu, musnah pulalah
‘identitas-diri semu’ ini; inilah yang menghadirkan Kebebasan
(kaivalyam) bagi si pengamat (drseh).
[YS II.23 - II.25]

Samyoga disini adalah identifikasi-diri terhadap berbagai hal atau segala
sesuatu. Di permukaan ia berupa sikap ‘mengakui’, yang juga butuh
‘pengakuan’ pihak luar. Bila identifikasi ini tertuju pada pencapaian-
pencapain dalam Yoga, nyaris pasti menimbulkan keangkuhan, atau
setidaknya rasa bangga-diri. Akibatnya, ke-aku-an (asmita) dibuatnya kian
menjadi-jadi.

Identifikasi-diri seperti ini telah menjadi kebiasaan mental kita. Di kalangan
pejalan spiritual, bentuk halusnya adalah idenfikasi-diri pada Guru-nya.
Fenomena ini didorong oleh rasa ‘ingin menjadi’. Ia ingin menjadi ‘seperti’
Guru-nya. Walaupun ini teramat sangat halus —dan oleh karenanya
seringkali diwajarkan — hadirnya viveka memungkinkan sang penekun
menyadarinya. Bila belenggu halus dan kuat ini telat disadari, ia menjadi
semakin halus dan semakin kuat daya-ikatnya. Ia akan amat sulit
dikendorkan, apalagi dilepas. Akibatnya, kebebasan yang dicita-citakanpun
tak kunjung datang. Ini sangat patut diwaspadai oleh setiap sadhaka.

Dipublikasikan dalam majalah Media Hindu edisi 17 — Juli 2005.

Kidung Kelepasan Patanjali

Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana

Page 50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->