P. 1
makalah ZAT ADIKTIF

makalah ZAT ADIKTIF

|Views: 1,896|Likes:
Published by dahidzahidah

More info:

Published by: dahidzahidah on Mar 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

ZAT ADIKTIF Masalah penatalaksanaan ketergantungan zat adiktif hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan permasalahan yang lebih

besar, yaitu penanggulangan atau pencegahan penyalahgunaan zat adiktif. Namun agar pengobatan ketergantungan zat adiktif dapat dilaksanakan yang mengarah kepada mendukung ikhtiar memperkecil masalah penyalahgunaannya, kita harus memahami terlebih dahulu jangkauan atau cakupan permasalahannya secara keseluruhan. Kemudian kita dapat memahami dimana harus berperan, bukan dalam arti memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan dalam upaya menolong para korban pengguna zat adktif itu. Tanpa memahami kepentingan menyeluruh dari aspek pencegahan. Kita dapat terlibat dalam lingkaran yang merupakan bagian dari permasalahan itu sendiri. Dalam kontek keseluruhan, kita dapat justru memberatkan masyarakat. Mungkin dalam penanganan kasus individual, hal tersebut dapat memberi hasil (walaupun terbatas). Seringkali terjadi bahwa dalam ikhtiar pengobatan ata rehabilitasi tidak dikemukaan data sebenarnya, melainkan hanya data keberhasilan yang dipapakan. Penyalahgunaan zat adiktif lebih merupakan masalah sosial. Pencegahannya harus ditangani secara terpadu, khususnya antara aspek tatanan kehidupan sosial, hukum dan penegakannya, administrasi dan pengawasan obat, pendidikan, serta terapi dan rehabilitasi ‘korban’ ketergantungan zat adiktif tersebut. Dengan demikian aspek terapi dan rehabilitasi sebenarnya, sekali lagi, hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan ikhtiar penanggulangan, meskipun saat ini merupakan hal yang ramai dipermasalahkan. Ketergantungan zat adiktif adalah penyakit yang dibuat oleh manusia sendiri. Terapi dan rehabilitasinya bergantung kepada manusia itu sendiri pula. Berbeda dengan masalah penanggulangan masalah zat adiktif yang lebih merupakan masalah sosial, masalah penanganan ‘pasien” ketergantungan zat merupakan masalah medikososial. Dengan demikian penanganan tersebut pun bergantung kepada aspek bio-psiko-sosial, memerlukan pendekatan menyeluruh yang didukung oleh suatu tim yang terdiri atas berbagai cabang ilmu kedokteran. Zat Psikoaktif (Zat Adiktif) Zat psikoaktif ialah zat atau bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan aktivitas mental-emosional dan perilaku. Apabila digunakan terus menerus akan menimbulkan ketergantungan (oleh karena itu disebut juga sebagai zat adiktif). Walaupun zat psikoaktif tertentu bermanfaat bagi pengobatan, tetapi apabila disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, akan sangat merugikan yang menggunakan. Kerugian juga akan dialami keluarga dan masyarakat bahkan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa, yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional. Untuk mencegah dan menanggulangi hal tersebut, penggunaan dan peredaran zat adiktif diatur

dalam Undang-Undang, yaitu UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika, dan UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Menurut UU RI No.22/1997 tentang narkotika, yang dimaksud dengan narkotika ialah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintetik maupun semi sintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. Tiga golongan zat yang termasuk kategori ini ialah opioda tanaman ganja, dan kokain. Menurut UU R.I No. 5/1997 tentang Psikotropika, yang dimaksud dengan psikotropika ialah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik, bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. UU Narkotika (pasal 45) dan UU Psikotropika (pasal 37) menyebutkan bahwa pecandu/pengguna narkotika dan psikotropika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan. Dalam Ilmu Kedokteran Forensik, narkotika dan obat pada umumnya digolongkan sebagai racun, sebab bila zat tersebut masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat menyebabkan penyakit atau kematian. Penyakit atau kematian itu tentunya bergantung pada takaran (dosis), cara pemberian, bentuk fisik dan struktur kimia zat, serta kepekaan korban. Kepekaan korban dipengaruhi pula pada usia, penyakit terdahulu atau yang bersamaan, kebiasaan, keadaan hipersensitif tertentu, dan sebagainya. Narkotika masuk ke dalam tubuh koban dapat akibat unsur kesengajaan ataupun kebetulan. Kesengajaan dapat akibat ulah orang lain (penganiayaaan atau pembunuhan) maupun akibat ulah diri sendiri (penyalahgunaan atau usaha bunuh diri). Sedang unsur kebetulan dapat terjadi akibat kecelakaan industri, keteledoran dalam rumah tangga, kesalahan pengobatan, dan lain-lain. Opidia mempunyai potensi menimbulkan ketergantungan yang paling kuat bila dibandingkan dengan jenis narkotika lainnya. Golongan opidia terdiri dari turunan opium dan zat sintetiknya, seperti misalnya morpin, diasetilmorfin atau diamorfin (dikenal sebagai heroin, smack, horse, dope), metadon, kodein, oksikodon (percodan, percocet), hidromorfin (dilaidid, levodromoran), pentazosin (talwin), meferidin (demerol, petidin), dan propoksipen (darvon). Turunan opium menjadi sangat beragam dan luas pemakaiannya karena penggunaan medik dan kemajuan ilmu farmakologi. Jenis-jenis opidia yang digunakan dalam dunia kedokteran jarang sekali disalahgunakan karena ketatnya pengendalian dan pemantauan berdasarkan peraturan legal. Heroin adalah opidia yang paling sering disalahgunakan di dunia dengan penggunaan melalui suntikan. Praktek suntikan ilegal tersebut telah tersebar di lebih dari 80 negara, secara mantap jumlah penggunaan dengan cara suntikan tetap bertahan di negara maju, dan maikn menyebar pada negara-negara berkembang di Asia, Amerika Selatan dan Afrika. Meskipun kematian akibat suntikan heroin relatif kecil, namun perannya dalam penyebaran AIDS sangat menghawatirkan. Di Indonesia heroin dikenal dengan sebutan

putaw atau pt. Heroin berbentuk bubuk kristal yang larut dalam air, diperjual belikan secara gelap dalam bentuk paket-paket kecil atau gram-graman. Faktor Predisposisi Ketergantungan Obat Alasan atau latar belakang penggunaan zat adiktif berbeda-beda namun biasanya akibat interaksi beberapa faktor. Beberapa orang mempunyai risiko lebih besar menggunakannya karena sifat atau latar belakangnya yang disebut faktor risiko tinggi atau faktor kontributif, yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor individu dan faktor lingkungan. Faktor individu meliputi : a. Faktor konstitusi (a.l kerentanan sistem neurotransmitter, temperamen bawaan) atau faktor biologik dan genetik. Secara biologik, mekanisme kerja opioid didalam susunan saraf pusat akan diterangkan di bagian lain buku ini. Peran faktor genetik pada ketergantungan opioid belum dapat dibuktikan. b. Faktor kepribadian, yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu : - impulsif, diekspresikan dalam bentuk tidak dapat menunda keinginan - tidak mampu mengatasi perasaan-perasaan tidak enak (painful affect; misalnya amarah, rasa bersalah, kecemasan, ketakutan), takut akan kegagalan. - perasaan rendah diri, tidak mempunyai keyakinan diri yang mantap, kesulitan dalam mengungkapkan perasaan. - toleransi terhadap frustasi yang rendah - menghindar dari tanggungjawab tetapi menuntut hak. - mengalami depresi, baik yang jelas maupun yang terselubung, yang sering disertai kecemasan dan perilaku agitatif yang didasari agresi yang terpendam. Ciri-ciri itu bercampur dalam variasi yang berbeda antar individu. Bentuk kepribadian tersebut berkembang dan berbentuk melalui gabungan antara pola asuh orang tua pada masa pra-remaja dan faktor konstitusi. Pola asuh dan kehidupan keluarga berpengaruh terhadap pencapaian kematangan pribadi seorang anak sebagai modal untuk memasuki dunia remaja dan dewasa. Kematangan kepribadian dicerminkan oleh taraf kemandirian yang telah dicapai seseorang; taraf kemandirian ini menentukan apakah seorang remaja atau dewasa muda mampu menghadapi tantangan pengaruh globalisasi, tekanan pengaruh teman sebaya, serta apakah mampu mengisi waktu luang secara konstruktif. Beberapa bentuk pola asuh yang tampaknya berpengaruh negatif terhadap perkembangan kemandirian itu: - pola asuh yang diwarnai kritik, dominansi dan otoritas yang berlebihan. - pola asuh yang terlalu melindungi (over protective) - pola asuh yang konsisten Ciri-ciri individu penyalah guna zat ialah : - rasa ingin tahu yang kuat dan ingin mencoba - tidak bersikap tegas terhadap tawaran/pengaruh teman sebaya. - penilaian diri yang negatif (low self-esteem) seperti merasa kurang mampu dalam pelajaran, pergaulan penampilan diri atau tingkat/ status sosial ekonomi yang rendah.

- rasa kurang percaya diri (low self-confidence) dalam menghadapi tugas - mengurangi rasa tidak enak, ingin menambah prestasi - tidak tekun dan cepat jenuh - sikap memberontak terhadap peraturan/tata tertib - pernyataan diri sudah dewasa - identitas diri yang kabur akibat proses identifikasi dengan orang tua/penggantinya yang kurang berjalan dengan baik, atau gangguan identitas jenis kelamin, merasa diri kurang jantan. - defresi, cemas, hiperkinetik - persepsi tidak realistik - kepribadian dissosial (perilaku menyimpang dari norma yang berlaku) - penghargaan sosial yang kurang - keyakinan penggunaan zat sebagai lambang keperkasaan atau kemodernan (anticipatory belief) - kurang menghayati ajaran agama Faktor lingkungan meliputi : - mudah diperolehnya zat adiktif - tekanan dari teman sebaya - komunikasi orangtua (ayah-ibu) yang kurang harmonis - orangtua atau anggota keluarga lainnya menggunakan zat adiktif - lingkungan sekolah yang tidak tertib - lingkungan sekolah yang tidak memberi fasilitas bagi penyaluran minat dan bakat para siswanya. Tingkat Pemakaian Zat Adiktif. Terdapat beberapa tingkatan pemakaian adiktif, yaitu : a. Pemakaian coba-coba (experimental use) yang bertujuan hanya ingin mencoba memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti menggunakannya dan sebagian lain meneruskan. b. Pemakaian sosial (social use) yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang (saat rekreasi atau santai). Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini, namun sebagian lagi meningkat ke tahapan selanjutnya. c. Pemakaian situasional (situasional use) pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu (ketegangan, kesedihan, kekecewaan) dengan maksud menghilangkan perasaan tersebut. d. Penyalahgunaan (abuse), pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik atau klinis (menyimpang), minimal satu bulan lamanya, dan telah terjadi gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaannya. e. Ketergantungan (defendence), telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian zat dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya. Komorbiditas dan Komplikasi Di antara pasien gangguan penggunaan zat sering terdapat komorbiditas psikiatrik yang sering menyulitkan penanganan pasien tersebut terutama kelainan dengan gejala perilaku agresif antara lain skizofrenia (agitasi dan paranoia), mania (kemarahan dan paranoid),

depresif psikotik (keinginan/usaha bunuh diri atau orang lain/anggota keluarga), retardasi mental, conduct disorder pada anak-anak karena hilangnya pengendalian impuls, gangguan kepribadian (terutama borderline dan antisosial) Kondisi fisik pasien perlu diperhatian (termasuk pemeriksaan laboratorium lengkap) terutama apabila ditemukan perilaku agresif dengan kemungkinan adanya kelainan medik a.l hipertiroidisme, AIDS, tumor otak, ketidak seimbangan elektrolit, hipoksia, uremia, defisiensi vitamin B12 dan lain-lain. Sering terjadi komplikasi medik akibat penggunaan zat adiktif yang bisa disebabkan oleh : - kelebihan dosis yang dapat berakibat fatal; - bahan pencampur atau pelarut yang bersifat racun bagi tubuh pada pemakaian secara parental; - prosedur menyuntik yang tidak steril dapat menyebabkan sepsis, abses, hepatitis, dan infeksi HIV / AIDS; - pola hidup yang kurang menjaga kebersihan diri dan tidak memperhatikan gizi antara lain penyakit kulit, karies dentis, anemia. Komplikasi medik yang khas untuk setiap jenis zat : - opioida : obstipasi kronik, gangguan menstruasi, dan impotensi - ganja : bronkhitis, imunitas seluler menurun sehingga mudah terserang penyakit infeksi, aliran darah koroner diperburuk, fungsi kognitif terganggu. - kokain : ulserasi/perforasi septum nasal, aritmia kordis, malnutris anemia. - amfetamin : pendarahan intrakranial, aritma kordis, malnutrisi anemia - alkohol : gastritis, perlemakan hati, sirosi hepatis, kanker saluran cerna, kardiomiopati, gangguan metabolisme lemak, karbohidrat dan protein, cacat bawaan pada janin. - inhalasia : toksis terhadap hati, otak, sumsum tulang, ginjal, dan otot jantung. Beberapa Batasan Beberapa istilah yang sebaiknya diketahui antara lain : 1. Zat psikoaktif : adalah obat, bahan atau zat yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan kesadaran, aktivitas mental emosional, cara berfikir, persepsi dan perilaku seseorang (kini disebut NAZA, NAPZA, narkoba) 2. Penyalahgunaan zat (sunstance abuse) adalah penggunaan zat oleh seseorang secara berlebihan, bukan untuk tujuan pengobatan (tanpa petunjuk dokter), sehingga menimbulkan hendaya atau hambatan dalam kehidupan sosial, sekolah dan pekerjaan. 3. Ketergantungan zat (substance dependence)

ialah terdapatnya ketergantungan fisik terhadap zat, yang ditandai oleh adanya toleransi dan gejala-gejala putus zat. 4. Ketergantungan psikologik (craving) ialah suatu keadaan yang menimbulkan perasaan puas dan nikmat sehingga mendorong seseorang untuk mengulang kembali untuk mendapatkan sensasi tersebut dan menimbulkan perasaan tidak senang bila menghentikan pemakaiannya. 5. Sindroma putus zat (withdrawal) tanda atau gejala berupa keluhan fisik yang spesifik yang timbul setelah dilakukan penghentian atau pengurangan zat yang sebelumnya digunakan secara teratur oleh individu. 6. Intoksikasi/keracunan kondisi fisik dan perilaku abnormal akibat penggunaan zat yang dosisnya 7. Toleransi adalah peningkatan jumlah pemakaian zat yang semakin lama semakin banyak, untuk mendapatkan efek yang sama. Banyak sekali jenis obat-obatan yang beredar dan gampang didapat dijalanan dari seorang pengedar (Bandar/BD) yang nongkrong ditempat-tempat tertentu bahkan teman mainpun dapat menawarkan zat-zat tersebut. Awalnya diberikan secara gratis sampai pengguna Napza menjadi kecanduan, akhirnya mereka harus membeli sendiri dan harus.. harus.. harus… sehingga muncul budaya kriminalitas (berbohong) manipulasi, mencuri, menggadai barang, merampok). Heroin - Nama beken : Putaw, putih, bedak, pete, etep, white - Jenis-jenis : banana, snow white - Bentuk penampilan : berbentuk seperti bedak, berwarna putih dan dijual di dalam kertas (paketan) - Cara pakai : disedot melalui hidung (inhalasi), diseot melalui mulut (ngedrag), suntikan intra vena (kipe/nyepet/cucaw) - Efek setelah pakai : mata sayu, muka pucat tidak konsentrasi, hidung gatal, mual-mual (bagi pemula) mengantuk, bicara tidak jelas dan cadel, menjadi pendiam. - Efek negatif : Badan jadi kurus karena kurang nafsu makan, sulit berfikir, susah untuk konsentrasi, menjadi pemarah, sangat sensitif, gangguan fungsi lever dan ginjal, dapat menyebabkan kelumpuhan, vertigo bahkan kematian bila over dosis - Gejala putus : Mata berair, hidung berair, mual-mual, perut sakit, bulu kuduk berdiri (merinding), keringat keluar secara tak wajar, mulut mengucap, sukar tidur, merasa sangat kedinginan, nyeri otot (kejang) dan nyeri tulang belulang, nyeri kepala, mudah

marah emosional. Cannabis - Nama beken : cimeng, rumput atau grass, hash, mariyuana - Jenis-jenis : budha stick, ganja, hashis (minyak/lemak ganja) - Bentuk penampilan : berbetuk daun kering yang sudah dirajang kering dan ditempatkan (biasanya) dalam sebuah amplop kecil berukuran 25 x 15 cm. - Cara pakai : dilinting seperti rokok dan dihisap, dimakan - Efek setelah pakai : Kantung mata membengkak dan merah, bengong, pendengaran berkurang, susah berfikir/konsentrasi, perasaan menjadi gembira dan selalu tertawa untuk hal-hal yang tidak lucu, pandangan kabur, ingin tidur terus, nafsu makan besar. - Efek negatif : perasaan tidak tenang, rasa gelisah & panik, cepat marah, kebingungan depresi, halusinasi, gangguan dalam menilai realitas. Ectasi - Nama beken : kancing, I, Inex - Jenis-jenis : Electric, Buterfly, Bon Jovi, Madona, Gober, dll - Bentuk penampilan : berbentuk pil/kapsul - Cara pakai : dikunyah, dikulum, ditelan dengan air mineral - Efek setelah pakai : Energik, mata sayu, muka pucat, rasa pusing, detak jantung yang cepat, hilang nafsu makan. - Efek negatif : syaraf otak rusak, dehidrasi, liver rusak dan fungsi tidak baik tulang dan gigi keropos, syaraf mata rusak, waktu tidur terganggu dan selalu Shabu-Shabu - Nama beken : Ubas, SS, mecin - Jenis-jenis : Gold silver, coconut, crystal - Bentuk penampilan : bola kristal sebesar batu ketikil yang berbentuk serbuk - Cara pakai : dibakar diatas alumunium foil udara dihisap melalui alat yang disebut bong (botol dengan beberapa sedotan) - Efek setelah pakai : bersemangat, tidak bisa diam, selalu gembira tidak ingin makan, tidak bisa tidur - Efek negatif : Paranoia, otak sulit berfikir dan konsentrasi, kesehatan terganggu karena dapat menyerang fungsi lever dan darah, waktu tidur terganggu dan tidak nafsu makan. - Gejala putus : Cepat marah, tidak tenang, cepat lelah, tidak bisa berfikir baik dan jadi tidak bersemangat, defresif, ide mencelakakan/membunuh diri sendiri atau orang lain.

Pengobatan/Perawatan Pasien Ketergantungan NAPZA Pasca Detoksifikasi dr. Hartati Kurniadi SpKJ., MHA
Tuesday, January 13, 2009

PENDAHULUAN Banyak orang, terutama yang awam tentang pengobatan ketergantunqan napza, beranggapan bahwa setelah detoksi-fikasi maka seharusnya anak/pasien itu sudah sembuh/baik kembali seperti sebelum mereka tergantung pada napza atau bahkan ada yang berharap bahwa anaknya dapat baik seperti apa yang mereka harapkan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kekecewaan baik bagi orangtua maupun anak/pasien tersebut. Detoksifikasi adalah langkah awal dari suatu proses penyembuhan pasien engan ketergantungan napza; jadi setelah langkah awal ini, perlu dilakukan langkah solanjutnya agar pasien dapat tetap terbebas dari penggunaan napza. Untuk fase awel ini masih dapat dilakukan pemaksaan pada pasien, misalnya dengan diborgol dan pengawasan ketat atau dilakukan dengan ultra rapid toxification. Tetapi untuk langkah selanjutnya perlu adanya kerjasama yang baik dari pasien tersebut, keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Selanjutnya akan dibicarakan mengenai perawatan pasien setelah terapi detoksifikasi yaitu habilitasi dan rehabilitasi. HABILITASI Perawatan ini ditujukan terutama untuk stabilisasi keadaan mental dan emosi pasien sehingga gangguan jiwa yang sering mendasari ketergantungan napza dapat dihilangkan atau diatasi. Keadaan ini merupakan langkah yang sangat panting, sebab usaha rehabilitasi dan resosialisasi banyak tergantung dari berhasil atau tidaknya tahap ini. Pada tahap ini kadang masih ditemukan juga keadaan yang kita sebut slip yang artinya episode penggunaan kembali napza setelah berhenti menggunakan selama kurun waktu tertentu. Atau dapat juga mereka terjatuh kembali menggunakan napza secara tidak terkontrol setelah berhenti menggunakan napza selama kurun waktu tertentu yang dikenal dengan istilah relaps. Oleh sebab itu pada tahap ini perlu dilakukan berbagai bentuk terapi atau kegiatan yang sesuai dengan individu/ keadaan pasien tersebut. Jadi penanganan pada setiap pasien tidak bisa disamaratakan, sangat personal. Pada tahap ini tidak jarang farmakoterapi masih diperlukan untuk mengobati gangguan jiwa yang mendasari ketergantungan napzanya. Dalam hal ini yang biasa dipakai adalah golongan antiancietas, anti-depresi atau anti-psikotik. Motivasi pasien untuk sembuh memang merupakan kunci keberhasilan pada tahap ini. Pasien yang baik, dapat bekerjasama dengan terapisnya tanpa pengaruh napza lagi. Sikap ini akan mempercepat tahap habilitasi, walaupun memang perlu waktu untuk dapat bersikap seperti itu. Selain itu, efek pemakaian napza di otak juga tidak dapat pulih dengan cepat karena berdasarkan penelitian, zat yang dipakai tersebut berkaitan dengan neurotransmitter dalam otak. Untuk mernpercepat rehabilitasi ini, peran lingkungan, terapis dan pendamping yang

mendukung proses penyembuhan pasien sangat diharapkan. Habilitasi dapat berupa berbagai bentuk terapi atau kegiatan yang dapat diberikan kepada pasien sesuai dengan indikasi yang ada. Jadi tidak semua bentuk terapi dan kegiatan harus diberikan kepada setiap pasien. Bentuk terapi/kegiatan tersebut antara lain : − Latihan Jasmani : misalnya lari-lari pagi; karena menurut penelitian, dapat meningkatkan kadar endorfin. − Akupunktur : dapat meningkatkan kadar andorfin sehingga mengurangi keadaan depresi. − Terapi Relaksasi : karena banyak pasien yang susah untuk relaks. − Terapi Tingkah Laku : teknik terapi yang dikembangkan berdasarkan teori belajar. Hukuman diberikan apabila pasien berperilaku yang tidak diinginkan (menggunakan napza) dan hadiah diberikan bila pasien berperilaku yang diinginkan (tidakmenggunakan napza). − Terapi Disulfiram (Antabuse) : merupakan terapi aversif pada ketergantungan alkohol; jadi merupakan suatu bentuk terapi tingkah laku. Disulfiram menghambat metabalisme alkohol dalam darah sehingga kadar asetaldehida dalam plasma meningkat. Jadi bila minum Disulfiram, lalu kemudian meminum juga alknhol, maka akan timbul suatu perasaan yang tidak enak misalnya mual, muntah, rasa penuh di kepala dan leher, nyeri kepala, muka merah, wajah berkeringat, berdebar-debar, rasa napas pendek, rasa tak enak di dada, vertigo, penglihatan kabur, dan kebingungan. Kontra indikasi pemberian disulfiram ialah penyakit jantung. Dosis 250 mg setiap hari atau 509 mg tiga kali seminggu selama satu tahun. Disulfiram sebaiknya diberikan bersama-lama dengan terapi lain seperti psikoterapi individual atau kelompok, konseling individual atau mengikuti pertemuan alkohol anonimus. Perlu pengawasan dari anggata kaluarga agar terjamin bahwa disulfiram tetap dimakan secara teratur. − Terapi antagonis opioida : misalnya neltrexon; kerjanya menghambat efek euforia dari opioida sehingga pasien akan merasa percuma menggunakan opioida karena tidak mengalami euforia. Di sini perlu sekali pengertian dari pasien, karena bila pasien tidak serius ingin berhenti memakai opioida, maka bila dia menggunakan naltrexon, dan juga menggunakan opioida, maka dapat terjadi overdosis opioida. Naltrexon diberikan sebanyak 50 mg perhari atau disesuaikan dengan dosis pemakaian opioida; sebaiknya diberikan selama minimal 6-12 bulan. Kontra indikasinya : 1. Pasien yang mendapat pengobatan dengan analgesik opioida. 2. Pasien yang kadang-kadang masih menggunakan opioida. 3. Pasien yang test urin untuk opioidanya masih positif. 4. Pasien dengan hepatitis akut atau fungsi hepar buruk. − Methadone Maintenance Program : biasanya yang menjalani program ini adalah mereka yang telah berkali-kali gagal mengikuti program terapi, habilitasi dan rehabilitasi lain. Untuk menjalankan program ini diperlukan administrasi yang baik; untuk menghindari kemungkinan adanya pasien yang mendapat jatah obat lebih. Jadi harus ada satu pusat catatan Medik terpadu.Sebelum mengikuti program ini pasien harus diperiksa secara medis dahulu termasuk pemeriksaan darah rutin, test fungsi hati, rontgen paruparu dan EKG. Dosis methadon setiap hari dimulai dari 30-40 mg, biasanya dosis maintenance sebesar 40-80 mg perhari. Jarang melebihi 120 mg perhari. Setiap hari

pasien harus datang ke pusat terapi dan minum jatah methadon di hadapan petugas; biasanya diminum dengan segelas jus jeruk. Bagi mereka yang sekolah atau bekerja dan konditenya baik dapat datang ke pusat terapi dua kali seminggu dan membawa methadon pulang ke rumahnya (diberikan methadon yang berjangka waktu kerja lama yaitu LAAM - L Alfa Aceto-Methadol). Sewaktu-waktu urin harus diperiksa untuk memastikan bahwa methadon yang diperoleh dan dibawa pulang dipakai sendiri dan bukan dijual. − Psikoterapi individual : untuk mengatasi konflik intrapsikik dan gangguan mental yang terdapat pada pasien, termasuk gangguan kepribadian. − Konseling : dapat membantu pasien untuk rnengerti dan memecahkan masalah penyesuaian dirinya dengan lingkungan. − Terapi Keluarga : sangat diperlukan karena pada umumnya keluarga mempunyai andil dalam terjadinya ketergantung napza pada pasien. Terapi ini juga mempersiapkan keluarga beradaptasi dengan pasien setelah yang bersangkutan tidak menggunakan napza lagi. − Psikoterapi Kelompok : banyak dilakukan dalam program habilitasi karena dirasakan banyak manfaatnya. Pasien lebih dapat menerima kritik, konfrontasi, dan saran yang diberikan pasien lain daripada terapis. − Psikodrama : suatu drama yang dirancang berkisar pada suatu krisis kehidupan atau masalah khusus. Drama ini dapat membantu pemainnya (pasien) mengenali masalah bagaimana ia mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, terapi ini barmanfaat terutama bagi orang yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal. REHABILITASI Dalam pengobatan ketergantungan napza perlu dilakukan hingga tingkat rehabilitasi. Alasannya, selain menimbulkan gangguan fisik dan kesehatan jiwa, ketergantungan napza juga memberi dampak sosial bagi pasien, lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Rehabilitasi pada hakikatnya bertujuan agar penderita bisa melakukan perbuatan secara normal, bisa melanjutkan pendidikan sesuai kemampuannya, bisa bekerja lagi sesuai dengan bakat dan minatnya, dan yang terpemting bisa hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Satu hal lagi yang banyak diharapkan setelah mengikuti rehabilitasi, pasien dapat menghayati agamanya secara baik. Itulah sebabnya banyak lembaga rehabilitasi yang didirikan berdasarkan kepercayaan/agama. Terapi rehabilitasl ini meliputi beberapa hal : − Rehabilitasi Sosial : meliputi segala usaha yang bertujuan memupuk, membimbing, dan meningkatkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial bagi keluarga dan masyarakat. − Rehabilitasi Edukasional : bertujuan untuk memelihara dan maningkatkan pengetahuan dan mengusahakan agar pasien dapat mengikuti pendidikan lagi, jika mungkin memberi bimbingan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan intelegensia dan bakatnya. - Rehabilitasi Vokasional : bertujuan menentukan kemampuan kerja pasien serta cara mengatasi penghalang atau rintangan untuk penempatan dalam pekerjaan yang sesuai. Juga memberikan keterampilan yang belum dimiliki pasien agar dapat bermanfaat bagi pasien untuk mencari nafkah.

− Rehabilitasi Kehidupan Beragama : bertujuan membangkitkan kesadaran pasien akan kedudukan manusia di tengah-tengah mahluk hidup ciptaan Tuhan; menyadarkan kelemahan yang dimiliki manusia, arti agama bagi manusia, membangkitkan optimisme berdasarkan sifat-sifat Tuhan yang Mahabijaksana, Mahatahu, Maha pengasih, dan Maha pengampun. PENUTUP Satu hal yang harus disadari dan dipahami oleh semua pihak adalah bahwa detoksifikasi bukanlah terapi tunggal dari ketergantungan napza, melainkan langkah awal dari suatu proses terapi ketergantungan napza. Selain itu harus dimaklumi juga bahwa pengobatan ketergantungan napza membutuhkan waktu yang cukup panjang. Bahkan untuk mengetahui dengan pasti bahwa pasien tersebut betul-betul pulih, baru bisa dipastikan setelah yang bersangkutan meninggal. Oleh sebab itu agar pengobatan/perawatan ketergantungan napza berjalan dengan baik, perlu pemahaman diri (insight) pasien, dibantu dengan kerja sama yang baik dengan terapis serta dukungan yang kuat dari lingkungan terdekat. Untuk itu diperlukan usaha yang terus menerus dan perasaan yang selalu optimis baik dari pasien, terapis, maupun lingkungannya agar setiap kemajuan yang sekecil apapun, dapat disyukuri dan merupakan dorongan untuk mencapai kemajuan yang lebih banyak. KEPUSTAKAAN 1. Leow KF. Medical Aspect of Naltrexone. Symposium : Advances in the management of drug addiction - role of naltrexone in medical practice. Singapore, Feb. 11, 1996. 2. Joewana S. Gangguan Penggunaan Zat. Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif Lain. Jakarta: Gramedia, 1989. 3. Fisher GL, Harrison TC. Substance Abuse. Information for School Counselors, Social Workers, Therapists, and Counselors. Needham Heights, Massachusetts. A Simon & Schuster Company, 1997. 4. Bennett G. Treating Drug Abusers. Great Britain. Billing & Sons Ltd. 1989.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->