P. 1
Sistem Pengapian Konvensional

Sistem Pengapian Konvensional

|Views: 17,370|Likes:

More info:

Published by: Aditya Dwi Cahyo Nugroho on Mar 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

Sections

SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL

BAB I. PENDAHULUAN

A.DESKRIPSI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Penguasaan
ilmu dan teknologi harus disertai dengan pemahaman dasar-dasar keilmuwan yang
mendukung. Sistem Pengapian sebagai salah satu Standar Kompetensi Dasar
Kejuruan yang mempunyai peran yang sangat penting dalam mengantarkan siswa
untuk memahami dasar-dasar ilmu dan teknologi terutama dasar-dasar Sistem
Kelistrikan Otomotif. Standar Kompetensi Dasar Kejuruan ini membahas tentang
“Sistem Pengapian Konvensional”.

B.PRASYARAT

Materi ini merupakan materi awal atau materi dasar pada Standar Kompetensi
Dasar Kejuruan yaitu Sistem Pengapian. Dengan mempelajari materi ini diharapkan
siswa dapat mempelajari materi berikutnya dengan lebih mudah.

C.PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Untuk Siswa

Peserta diklat harap memperhatikan petunjuk-petunjuk dibawah ini:
a.Bacalah dengan seksama materi-materi yang ada
b.Catatlah hal-hal yang penting pada tiap materi, jika perlu buatlah
ringkasan-ringkasan rumus-rumusnya
c.Fahami maksud isi materi
d.Siapkan kertas kosong dan alat-alat tulis untuk mencatat hal-hal yang
penting dan ringkasan rumus
e.Kerjakan setiap latihan soal yang ada dan cobalah membuat model soal
lain untuk materi yang sama

f.

Ulangi lagi materi yang anda rasa belum paham dengan mecoba latihan
soalnya
g.Kerjakan soal-soal latihan dan mintalah nilai pada guru mata diklat untuk
tiap soal latihan. Jika anda dinyatakan berhasil maka anda boleh
melanjutkan ke materi berikutnya tetapi jika anda belum berhasil maka
ulangi lagi sampai anda dinyatakan berhasil

2. Untuk Guru

Dalam kegiatan pelajaran meteri ini, guru mempunyai peran sebagai berikut :
a.Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar
b.Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan
c.Melaksanakan penilaian
d.Mencatat pencapaian kemajuan siswa
e.Menjelaskan kepada siswa tentang sikap, pengetahuan dan keterampilan
dari suatu kompetensi yang perlu dibenahi dan merundingkan rencana
pemelajaran selanjutya

D.TUJUAN AKHIR

Setelah mempelajari materi modul Standar Kompetensi Dasar Kejuruan “Sistem
Pengapian” ini diharapkan siswa dapat:
1.Menambah pengetahuan dalam pelaksanaan Sitem Pengapian Konvensional.
2.Memberikan pengetahuan awal atau gambaran pelaksanaan praktek Sistem
Pengapian Konvensional.

E.KOMPETENSI

Mata Pelajaran

: Standar Kompetensi Dasar Kejuruan

Kelas/Semester

: XI/1

Standar Kompetensi

: Sistem Pengapian

Kode Kompetensi

: OPKR 50-011B

Alokasi Waktu

: 40 X @45 menit

By Tarmizi, S.Pd. 1

BAB II. PEMELAJARAN

A.

BELAJAR SISWA

Peserta diklat diharapkan mampu membuat rencana belajar yang mencakup hal-hal
berikut:

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat
belajar

Alasan
Perubahan

Tanda
Tangan

1.Pendahuluan
2.Bagian-bagian Sistem
Pengapian Baterai
3.Cara Kerja dan Data-data
Sistem Pengapian Baterai
4.Kontak Pemutus dan Sudut
Dwell
5.Kondensator

6.Koil dan Tahanan Balast

7.Busi

8.Saat Pengapian

9.Advans Sentrifugal

10.Advans Vakum

B.

KEGIATAN BELAJAR

Selama pemelajaran diharapkan peserta diklat melakukan kegiatan-kegiatan berikut
ini:

1.

Membaca dan memahami

materi
2.

Mendiskusikan materi

bersama peserta diklat lain
3.

Membuat laporan hasil

diskusi sendiri dan kelompoknya

C.

SILABUS KOMPETENSI

Kompetensi Dasar

Indikator

Materi

Kegiatan Pemelajaran

Pembelajaran

Sikap

Pengetahuan

Keterampilan

•Sistem Pengapian •Pendahuluan

•Cara penyalaan
bahan bakar
pada motor
bakar
•Sistem
pengapian
konvensional
pada motor
bensin
•Cara

menaikkan
tegangan
•Dasar
transformasi
tegangan

•Teliti dalam
menerapkan
cara
penyalaan
bahan
bakar,
menaikkan
tegangan

•Memahami
cara penyalaan
bahan bakar,
menaikkan
tegangan

Dapat
mempraktekk
an

cara

penyalaan
bahan bakar,
cara
menaikkan
tegangan

•Bagian-
bagian sistem
pengapian

•Rangkaian
sistem
pengapian
baterai

•Teliti dalam
menerapkan
rangkaian
sistem
pengapian
baterai

•Memahami
rangkaian
sistem
pengapian
baterai

•Dapat
mempraktekka
n rangkaian
sistem
pengapian
baterai

•Cara kerja
dan data-data
sistem
pengapian
baterai

•Cara kerja
sistem
pengapian
baterai
•Data-data
sistem
pengapian
baterai

•Teliti dalam
menerapkan
cara kerja
sistem
pengapian
dan data-
data sistem
pengapian

•Memahami
cara kerja dan
data-data
sistem
pengapian

•Dapat
mempraktekka
n cara kerja
dan
pengukuran
data-data
sistem
pengapian
baterai

•Kontak
pemutus dan
sudut dwell

•Kegunaan dan
bagian-bagian
•Jalan arus pada
kontak pemutus
•Bentuk-bentuk
pada kontak
pemutus
•Sudut
pengapian
•Sudut dwell
•Hubungan
sudut dwell
dengan celah
kontak pemutus
•Besar sudut
dwell dengan
kemampuan
pengapian

•Teliti dalam
menerapkan
kegunaan,
bentuk
kontak
pemutus,
sudut
pengapian,
dwell dan
hubunganny
a

•Memahami
kegunaan,
bentuk kontak
pemutus,
susdut
pengapian,
dwell dan
hubungannya

•Dapat
mempraktekka
n kegunaan,
bentuk kontak
pemutus,
susdut
pengapian,
dwell dan
hubungannya

•Kondensator •Percobaan
sistem
pengapian
tanpa
kondensator
•Bunga api pada
kontak
•Sifat-sifat
induksi diri
•Sistem
pengapian
dengan

•Teliti dalam
menerapkan
percobaan
sistem
pengapian
tanpa dan
dengan
kondensator

•Memahami
percobaan
sistem
pengapian
tanpa dan
dengan
kondensator

•Dapat
mempraktekka
n percobaan
sistem
pengapian
tanpa dan
dengan
kondensator

By Tarmizi, S.Pd. 2

kondensator
•Kondensator
pada sistem
pengapian

•Koil dan
tahanan
ballast

•Kegunaan koil
•Macam-macam
jenis koil
•Koil dengan
tahanan balas
•Kegunaan
tahanan ballast
•Rangkaian
penambahan
start

•Teliti dalam
menerapkan
kegunaan
koil dan
tahanan
ballast

•Memahami
kegunaan,
macam-macam
koil

dan
tahanan ballast
serta rangkaian
penambahan
start

•Dapat
mempraktekka
n kegunaan
koil, tahanan
ballast dan
rangkaian
penambahan
start

•Busi

•Bagian-bagian
busi
•Beban dan
tuntutan pada
busi
•Nilai panas
•Permukaan busi
•Dudukan
•Ulir
•Celah elektroda
busi

dan

tegangan
pengapian

•Teliti dalam
menerapkan
celah
elektroda
busi dan
tegangan
pengapian

•Memahami
bagian-bagian,
beban dan
tuntutan, nilai
panas,
permukaan,
dudukan, ulir,
celah elektroda
busi dan
tegangan
pengapian

•Dapat
mempraktekka
n penyetelan
celah elektroda
busi dan
tegangan
pengapian

•Saat

pengapian

•Macam-macam
contoh saat
pengapian
•Persyaratan
saat pengapian
•Saat pengapian
dan daya motor
•Hubungan saat
pengapian
dengan putaran
motor
•Hubungan saat
pengapian
dengan beban
motor
•Saat pengapian
dengan nilai
oktan

•Teleti dalam
menerapkan
macam-
macam saat
pengapian,
daya,
putaran,
beban motor
dan nilai
oktan

•Memahami
macam-
macam,
persyaratan
saat pengapian
dan
hubungannya
dengan daya,
putaran dan
beban motor
serta

nilai

oktan

•Dapat
menentukan
saat pengapian
idial

•Advans

sentrifugal •Contoh soal
•Fungsi advant
sentrifugal
(governor)

•Teliti dalam
menerapkan
fungsi
advant
sentrifugal(g
overnor)

•Memahami
fungsi advant
sentrifugal
(governor)

•Dapat
mempraktekka
n fungsi advant
sentrifugal
(governor)

•Advans
vakum

•Pendahuluan
•Cara kerja
advans vakum
•Macam-macam
kondisi vakum
pada
sambungan
advans vakum

•Teliti dalam
menerapkan
cara kerja,
macam-
macam
sambungan,
batas
toleransi
kurva advant

•Memahami
cara kerja,
macam-macam
kondisi vakum,
batas toleransi
kurva advant
vakum dan
saat pengapian
pada macam-

•Dapat
mempraktekka
n cara kerja
advant vakum
dan
menentukan
batas toleransi
kurva advant
vakum serta

•Batas toleransi
kurva advans
vakum
•Saat pengapian
pada macam-
macam
keadaan motor
•Kerja sistem
advans pada
macam-macam
keadaan motor

vakum dan
saat
pengapian
pada
macam-
macam
keadaan
motor

macam
keadaan motor

saat pengapian
pada macam-
macam
keadaan motor

D.URAIAN MATERI

Kegiatan Belajar 1

1.Pendahuluan

a.Cara Penyalaan Bahan Bakar pada Motor Bakar
Cara penyalaan bahan bakar pada motor bakar dibedakan dalam 2
macam:
1)Penyalaan sendiri (Motor Diesel)

Penjelasan:

Udara dikompresikan dengan tekanan kompresi tinggi yaitu 20-40
bar (2-4 Mpa), temperatur naik 700o

C-900o

C
Bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar → langsung terjadi
penyalaan atau pembakaran

By Tarmizi, S.Pd. 3

2)Penyalaan dengan bunga api listrik (Motor Bensin)

Penjelasan:

Campuran udara + bahan bakar dikompresikan dengan tekanan
kompresi rendah yaitu 8-13 bar (0,8-13 Mpa), temperatur naik
400o

C-600o

C. Busi meloncatkan bunga api terjadi penyalaan atau

pembakaran

b.Sistem Pengapian Konvensional pada Motor Bensin
Sistem pengapian konvensional pada motor bensin ada 2 macam:
1) Sistem pengapian baterai

2) Sistem pengapian magnet

c.Cara Menaikkan Tegangan
Cara menaikkan tegangan:
Tegangan baterai (12 V) dinaikkan menjadi tegangan tinggi 5000-25000
Volt dengan menggunakan transformator (Koil)

By Tarmizi, S.Pd. 4

Untuk menaikkan tegangan menggunakan:

d.Dasar Transformasi Tegangan
Transformasi tegangan berdasarkan prinsip induksi magnetis
1) Induksi magnetis
Jika magnet digerak-gerakkan dekat kumparan, maka:

Terjadi perubahan medan magnet

Timbul tegangan listrik
Tegangan tersebut disebut ”Tegangan Induksi”

2) Transformator

Jika pada sambungan primer transformator dihubungkan dengan
arus bolak-balik maka:

Ada perubahan arus listrik

Terjadi perubahan medan magnet

Terjadi tegangan induksi lampu

3) Perbandingan tegangan
Perbandingan tegangan sebanding dengan perbandingan jumlah
lilitan

Jumlah lilitan sedikit tegangan induksi kecil

Jumlah lilitan banyak tegangan induksi besar

By Tarmizi, S.Pd. 5

4) Transformasi dengan arus searah
Bagaimana jika transformator diberi arus searah?

Transformator tidak dapat berfungsi dengan arus searah,
karena

Arus tetap

Tidak terjadi perubahan medan magnet

Tidak ada induksi
Bagaimana agar terjadi perubahan medan magnet?

Dengan memberi saklar pada sambungan primer, jika saklar
dibuka atau ditutup (On/Off) maka:

Arus primer terputus-putus

Ada perubahan medan magnet

Terjadi induksi

Kegiatan Belajar 2

2.Bagian-Bagian Sistem Pengapian Baterai

a.

Kegunaan Bagian Sistem Pengapian Baterai
1)Baterai

Sebagai penyedia atau sumber arus listrik

2)Kunci kontak

Menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari baterai ke sirkuit
primer

By Tarmizi, S.Pd. 6

3)Koil

Mentransformasikan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi
(5000 – 25000 Volt)

4)Kontak pemutus

Menghubungkan dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi
tegangan tinggi pada sirkuit sekunder sistem pengapian

5)Kondensator
Kegunaan:

Mencegah loncatan bunga api diantara celah kontak pemutus
pada saat kontak mulai membuka

Mempercepat pemutusan arus primer sehingga tegangan
induksi yang timbul pada sirkuit sekunder tinggi

6)Distributor

Membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap busi
sesuai dengan urutan pengapian

By Tarmizi, S.Pd. 7

7)Busi

Meloncatkan bunga api listrik diantara kedua elektroda busi di
dalam ruang bakar, sehingga pembakaran dapat dimulai

b.Rangkaian Sistem Pengapian Baterai
Bagian-bagian
1.Baterai
2.Kunci kontak
3.Koil
4.Kontak pemutus
5.Kondensor
6.Distributor
7.Busi
Penjelasan:

Sirkuit tegangan rendah = Sirkuit primer
Aliran arus primer sirkuit primer
Baterai – Kunci kontak – Primer koil – Kontak pemutus – Kondensor –
Massa
Sirkuit tegangan tinggi = Sirkuit sekunder
Aliran arus sirkuit sekunder
Sekunder koil – Distributor – Busi – Massa

Kegiatan Belajar 3

3. Cara Kerja dan Data-data Sistem Pengapian Baterai

a.Cara Kerja Sistem Pengapian Baterai
Cara kerja:
1)Saat kunci kotak on, kontak pemutus menutup
Arus mengalir dari + Baterai – Kunci kontak – Kumparan primer koil
kontak pemutus – Masa
* Terjadi pembentukan medan magnet pada inti koil

By Tarmizi, S.Pd. 8

Cara kerja:
2)Saat kunci kontak on, kontak pemutus membuka
Arus primer terputus dengan cepat maka:

Ada perbedaan medan magnet (medan magnet jatuh)

Terjadi arus induksi tegangan tinggi pada saat sirkuit sekunder
(terjadi loncatan bunga api diantara elektroda busi)

b.Data-data Sistem Pengapian Baterai Secara Umum

Saat kontak pemutus menutup, arus primer 3-4 Amper

Kontak pemutus terbuka: 12-13 Volt

Kontak pemutus tertutup: maksimal 0,3 Volt

Motor hidup ± 300-400 Volt

(Tegangan induksi diri)

Kegiatan Belajar 4

4. Kontak Pemutus dan Sudut Dwell

a.Kegunaan dan Bagian-bagian
Kegunaan:
Menghubungkan dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi
tegangan tinggi pada sirkuit sekunder
Bagian-bagian:
1.Kam distributor
2.Kontak tetap (wolfram)
3.Kontak lepas (wolfram)
4.Pegas kontak pemutus
5.Lengan kontak pemutus
6.Sekerup pengikat
7.Tumit ebonit
8.Kabel (dari koil -)
9.Alur penyetel

By Tarmizi, S.Pd. 9

b.Jalan Arus pada Kontak Pemutus
Arus mengalir dari minus koil – Kabel kontak pemutus – lengan kontak
pemutus – kontak lepas – kontak tetap – massa

c.Bentuk-bentuk Kontak Pemutus
1) Kotak berlubang
Keausan yang terjadi

Keausan permukaan rata

Pemindahan panas baik

2) Kontak pejal
Keausan yang terjadi

Keausan permukaan tidak merata

Pemindahan panas kurang baik

d.Sudut Pengapian
Sudut Pengapian adalah:
Sudut putar kam distributor dari saat kontak pemutus mulai membuka 1
sampai kontak pemutus mulai membuka pada tonjolan kam berikutnya 2
Contoh sudut pengapian:

By Tarmizi, S.Pd. 10

360o

α =

Z
Z = Jumlah silinder
Untuk motor 4 silinder
360o

α =

4
α = 90o

PK (Poros Kam)

e.Sudut Dwell

Sudut Dwell Sudut Putar Kam Distributor
A – B = Sudut buka Kp (Kontak pemutus)

B – C = Sudut tutup Kp

Sudut tutup kontak pemutus dinamakan sudut dwell

Kesimpulan:
Sudut dwell adalah sudut putar kam distributor pada saat kontak pemutus
menutup (B) sampai kontak pemutus mulai membuka (C) pada tonjolan
kam berikutnya.

f.

Hubungan Sudut Dwell dengan Celah Kontak Pemutus
1) Celah Kontak Pemutus Kecil

Sudut buka kecil (β)

Sudut dwell besar (α)

Kesimpulan:

Sudut dwell besar → celah kontak pemutus kecil

2) Celah Kontak Pemutus Besar

By Tarmizi, S.Pd. 11

Sudut buka besar (β)

Sudut dwell kecil (α)

Kesimpulan:

Sudut dwell kecil → celah kontak pemutus besar

Penjelasan:
(a)Sudut pengapian

360o

α =

Z
Z = Jumlah silinder
(b)Sudut dwell = 60% x Sudut pengapian
360o

60% x

Z
Contoh: Menghitung sudut dwell motor 4 silinder dan 6 silinder
Motor 4 Silinder

360o

360o
Sudut pengapian α = = = 90o

PK

Z 4

Sudut dwell = 60% x 90o

= 54o

Toleransi ± 2o
Besar sudut dwell = 54o

± 2o

Sudut dwell = 52o

– 56o

Motor 6 Silinder

360o

360o
Sudut pengapian α = = = 60o

PK

Z 6

Sudut dwell = 60% x 60o

= 36o

Toleransi ± 2o
Besar sudut dwell = 36o

± 2o

Sudut dwell = 34o

– 38o

g.Besar Sudut Dwell dan Kemampuan Pengapian
Kemapuan pengapian ditentukan oleh kuat arus primer

By Tarmizi, S.Pd. 12

Untuk mencapai arus primer maksimum, diperlukan waktu pemutusan
kontak pemutus yang cukup.
Sudut dwell kecil

• Waktu penutupan kontak pemutus pendek

• Arus primer tidak mencapai maksimum

• Kemapuan pengapian kurang

Sudut dwell besar
• Kemapuan pengapian baik, tetapi waktu mengalir arus terlalu
lama
• Kontak pemutus menjadi panas

• Kontak pemutus cepat aus

Kesimpulan:
Besar sudut dwell merupakan kompromis antara kemampuan pengapian
dan umur kontak pemutus

Kegiatan Belajar 5

5. Kondensor

a.Percobaan Sistem Pengapian tanpa Kondensator
1) Pada Sirkuit Primer
Pada saat kontak pemutus mulai membuka
Ada loncatan bunga api diantara kontak pemutus
Artinya:

Arus tidak terputus dengan segera

Kontak pemutus menjadi cepat aus (terbakar)

2) Pada Sirkuit Sekunder

By Tarmizi, S.Pd. 13

Bunga api pada busi lemah
Mengapa bunga api pada busi lemah?
Karena arus primer tidak terputus dengan segera, medan magnet
pada koil tidak jatuh dengan cepat → Tegangan induksi rendah

b.Bunga Api pada Kontak

Mengapa terjadi bunga api pada kontak saat arus primer diputus?
Pada saat kontak pemutus membuka arus dalam sirkuit primer diputus
maka terjadi perubahan medan magnet pada inti koil (medan magnet
jatuh).
Akibatnya terjadi induksi pada:
• Kumparan primer

• Kumparan sekunder

Induksi pada sirkuit primer disebut ”induksi diri”
Bunga api yang terjadi pada saat memutuskan suatu sirkuit arus selalu
disebabkan karena induksi diri

c.Sifat-sifat Induksi Diri

1) Tegangan bisa melebihi tegangan sumber arus, pada sistem
pengapian tegangannya ≈ 300 – 400 Volt
2) Arus induksi diri adalah penyebab timbulnya bunga api pada
kontak pemutus
3) Arah tegangan induksi diri menghambat perubahan arus primer
Pada waktu:
1) Kontak pemutus tutup, induksi diri memperlambatarus primer
mencapai maksimum
2) Kontak pemutus buka, induksi diri memperlambat pemutusan
arus primer, akibat adanya loncatan bunga api pada kontak
pemutus
d.Sistem Pengapian dengan Kondensator
Pada sistem pengapian, kondensator dihubungkan secara paralel
dengan kontak pemutus

By Tarmizi, S.Pd. 14

1) Cara Kerja:

Pada saat kontak pemutus mulai membuka, arus induksi diri diserap
kondensator
Akibatnya:

Tidak terjadi loncatan bunga api pada kontak pemutus

Arus primer diputus dengan cepat (medan magnet jatuh
dengan cepat)

Tegangan induksi pada sirkuit sekunder tinggi, bunga api pada
busi kuat (tegangan induksi tergantung pada kecepatan
perubahan kemagnetan)

2) Prinsip Kerja Kondensator
Kondensator terdiri dari dua plat penghantar yang terpisah oleh foil
isolator, waktu kedua plat bersinggungan dengan tegangan listrik,
plat negatif akan terisi elektron-elektron

Jika sumber tegangan dilepas, elektron-elektron masih tetap
tersimpan pada plat kondensator, ada penyimpanan muatan listrik

Jika kedua penghantar yang berisi muatan listrik tersebut
dihubungkan, maka akan terjadi penyeimbangan arus, lampu
menyala lalu pada

By Tarmizi, S.Pd. 15

e.Kondensator pada Sistem Pengapian
Pada sistem pengapian konvensional pada mobil umumnya
menggunakan kondensator model gulung

Bagian-bagian:

Data:

1. Dua foil alumunium

Kapasitas 0,1 – 0,3 mf

2. Dua foil isolator

Kemampuan isolator ≈ 500 volt

3. Rumah sambungan massa
4. Kabel sambungan positif

Kegiatan Belajar 6

6. Koil dan Tahanan Ballast

a.Kegunaan Koil

Untuk mentransformasikan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi
pada sistem pengapian

b.Macam-macam Jenis Koil
1) Koil Inti Batang (Standar)

Keuntungan:
Konstruksi sederhana dan ringkas
Kerugian:
Garis gaya magnet tidak selalu mengalir dalam inti besi, garis gaya
magnet pada bagian luar hilang, maka kekuatan/daya magnet
berkurang.
2) Koil dengan Inti Tertutup

By Tarmizi, S.Pd. 16

Keuntungan:
Garis gaya magnet selalu mengalir dalam inti besi ”daya magnet
kuat” hasil induksi besar.
Kerugian:
Sering terjadi gangguan interferensi pada radio tape dan TV yang
dipasang pada mobil/juga dirumah (TV).
3) Koil dengan Tahanan Ballast

Rangkaian prinsip

Persyaratan perlu tidaknya koil dirangkai dengan tahanan
ballast

Pada sistem pengapian konvensional yang memakai kontak
pemutus, arus primer tidak boleh lebih dari 4 ampere, untuk
mencegah:

Keausan yang cepat pada kontak pemutus

Kelebihan panas yang bisa menyebabkan koil meledak (saat
motor mati kunci kontak ON)
Dari persyaratan ini dapat dicari tahanan minimum pada sirkuit
primer

U 12
R min = = = 3 Ω
I maks 4
Jadi jika tahanan sirkuit primer koil < 3 Ω, maka koil harus dirangkai
dengan tahanan ballast
Catatan:
Untuk pengapianelektronis tahanan primer koil dapat kurang dari 3
Ω.
Contoh: Tahanan rangkaian primer 0,9 – 1 Ω dan dirangkai tanpa
tahanan ballast
4) Kegunaan Tahanan Balast
(a)Pembatas Arus Primer
Contoh Soal:
U = 12 V
I = 4 A
R2 = 1,5 Ω
R1 = ... Ω

U 12
R min = = = 3 Ω
I maks 4

By Tarmizi, S.Pd. 17

R1 dan R2 seri maka R = R1 + R2
R1 = R – R2 = 3 – 1,5 = 1,5 Ω
(b)Konpensasi panas
Pada koil yang dialiri arus, timbul panas akibat daya listrik.
Dengan menempatkan tahanan ballast diluar koil, dapat
memindahkan sebagian panas diluar koil, untuk mencegah
kerusakan koil.

Contoh Soal:
Kuat arus yang mengalir pada koil I = 4 A
Tahanan primer (R2) = 1,5 Ω
Tahanan ballast (R1) = 1,5 Ω
Daya panas pada koil
P. koil = I2

x R2

= 42

. 1,5 = 24 Watt
Daya panas pada tahanan ballast
P. ballast = I2

x R2

= 42

. 1,5 = 24 Watt

5) Rangkaian Penambahan Start
Selama motor distart, tegangan baterai akan turun karena
penggunaan beban starter. Akibatnya, kemampuan pengapian
berkurang.
Untuk mengatasi hal tersebut koil dapat dihubungkan langsung
dengan tegangan baterai selama motor distarter.

(a)Penambahan Start Melalui Terminal ST 2 pada kunci kontak

(b)Penambahan Start Melalui Terminal Motor Starter

By Tarmizi, S.Pd. 18

(c)Tahanan Ballast di dalam Koil (misal: Toyota Kijang)

(d)Penambahan Start dengan Menggunakan Relay

Kegiatan Belajar 7

7. Busi

a.Bagian-bagian Busi
1. Terminal
2. Rumah busi
3. Isolator
4. Elektrode (paduan nikel)
5. Perintang rambatan arus
6. Rongga pemanas
7. Elektroda massa (paduan nikel)
8. Cincin perapat
9. Cincin elektrode
10.Baut sambungan
11.Cincin perapat
12.Penghantar

By Tarmizi, S.Pd. 19

b.Beban dan Tuntutan pada Busi

1) Panas

Temperatur gas didalam ruang bakar berubah, temperatur pada
pembakaran 2000o

C – 3000o

C dan waktu pengisian 0o

C – 120o

C.

Hal-hal yang dituntut:
•Elektrode pusat dan isolator harus tahan terhadap temperatur
tinggi ≈ 800o

C
•Cepat memindahkan panas sehingga temepratur tidak lebih
baik dari 800o

C

2) Mekanis

Tekanan pembakaran 30 – 50 bar

Bahan harus kuat

Konstruksi harus rapat

3) Kimia

Erosi bunga api

Erosi pembakaran

Kotoran
Hal-hal yang dituntut:

Bahan elektroda harus tahan temperatur tinggi (nikel,
platinum)
•Bahan kaki isolator yang cepat mencapai temperatur
pembersih diri (± 400o

C)

4) Elektris

Tegangan pengapian mencapai 25000 volt
Hal-hal yang dituntut:
•Bentuk kaki isolator yang cocok sehingga jarak elektroda pusat
ke massa jauh

Konstruksi perintang arus yang cocok

c.Nilai Panas

Nilai panas busi adalah suatu indek yang menunjukkan jumlah panas
yang dapat dipindahkan oleh busi
Kemampuan busi menyerap dan memindahkan panas tergantung pada
bentuk kaki isolator/luas permukaan isolator.
Nilai panas harus sesuai dengan kondisi operasi mesin

1) Busi panas

By Tarmizi, S.Pd. 20

Luas permukaan kaki isolator besar

Banyak menyerap panas

Lintasan pemindahan panas panjang, akibatnya pemindahan
panas sedikit

2) Busi dingin

Luas permukaan kaki isolator kecil

Sedikit menyerap panas

Lintasan pemindahan panas pendek, cepat menimbulkan
panas

d.Permukaan Busi

Permukaan muka busi menunjukkan kondisi operasi mesin dan busi

1) Normal

Isolator berwarna kuning atau coklat muda

Puncak isolator bersih, permukaan rumah isolator kotor
berwarna coklat muda atau abu-abu

Kondisi kerja mesin baik

Pemakaian busi dengan nilai panas yang tepat

2) Terbakar

Elektroda terbakar, pada permukaan kaki isolator ada partikel-
partikel kecil mengkilat yang menempel

Isolator berwarna putih atau kuning

Penyebab:

Nilai oktan bensin terlalu rendah

Campuran terlalu kurus

Knoking (detonasi)

Saat pengapian terlalu awal

By Tarmizi, S.Pd. 21

Tipe busi yang terlalu panas

3) Berkerak karena oli

Kaki isloator dan elektrode sangat kotor

Warna kotoran coklat

Penyebab:

Cincin torak aus

Penghantar katup aus

Pengisapan oli melalui sistem ventilasi karter

4) Berkerak karbon/jelaga

Kaki isolator, elektroda-elektroda, rumah busi berkerak jelaga
Penyebab:

Campuran terlalu kaya

Tipe busi yang terlalu dingin

5) Isolator retak

Penyebab:

Jatuh

Kelemahan bahan

Bunga api dapat meloncat dari isolator langsung ke massa

e.Dudukan

Penggunaan cinci perapat antara busi dan kepala silinder tergantung
pada tipe motor
1) Dudukan rata, harus dipasang cincin perapat

By Tarmizi, S.Pd. 22

2) Dudukan bentuk konis, tanpa cincin perapat

f.

Ulir
Panjang ulir busi harus sesuai dengan panjang ulir kepala silinder
1) Terlalu panjang

2) Terlalu pendek

3) Baik

g.Celah elektroda busi dan tegangan pengapian

By Tarmizi, S.Pd. 23

Celah elektroda busi mempengaruhi kebutuhan tegangan pengapian
• Celah elektroda busi besar → tegangan pengapian besar

Celah elektroda busi kecil → tegangan pengapian kecil

Contoh:
• Celah elektroda 0,6 mm → tegangan pengapian 12,5 kv

• Celah elektroda 0,8 mm → tegangan pengapian 15 kv

• Celah elektroda 1 mm → tegangan pengapian 17,5 kv

Kegiatan Belajar 8

8. Saat Pengapian

a.Macam-macam Contoh Saat Pengapian

1)Pengapian terjadi sebelum torak mencapai TMA (pengapian
awal)
2)Pengapian terjadi setelah torak melewati TMA (pengapian
lambat)
Kesimpulan:
Saat pengapian adalah saat busi meloncatkan bunga api
untuk mulai pembakaran, saat pengapian diukur dalam
derajat poros engkol (o

pe) sebelum atau sesudah TMA.

b.Persyaratan Saat Pengapian
• Mulai saat pengapian sampai proses pembakaran selesai
diperlukan waktu tertentu

Waktu rata-rata yang diperlukan selama pembakaran ≈ 2

ms (mili detik).

Penjelasan:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->